Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O"

Transkripsi

1 Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O Garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O telah diperoleh dari reaksi larutan kalsium asetat dengan larutan tembaga(ii) asetat. Reaksi menggunakan perbandingan mol Ca 2+ : Cu 2+ sebesar 4:1 dan 6:1. Kristal garam rangkap berwarna biru cerah terbentuk setelah 1 hari. Gambar IV.1. menunjukkan kristal garam rangkap yang dihasilkan. Gambar IV.1 Garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O Ketika kristal tersebut diamati dibawah mikroskop, untuk dilihat secara lebih jelas bentuknya diperoleh foto kristal yang ditampilkan pada Gambar IV.2. Gambar IV.2 Foto kristal garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O 20

2 Pada sintesis ini, pembuatan larutan tembaga asetat menggunakan pelarut yang panas karena diinginkan larutan yang jenuh. Kelarutan garam ini relatif kecil, pada suhu ruang (7,2 g/ 100 ml) dan untuk pembentukan kristal diperlukan larutan jenuh. Berbeda dengan larutan kalsium asetat. Pembuatan larutan ini tidak memerlukan pemanasan pelarut, karena kelarutan garam ini pada suhu yang sama relatif tinggi (37 g / 100 ml). Kelarutan garam kasium asetat tampak lima kali lipat lebih besar. Perbedaan kelarutan antara garam tembaga(ii) asetat dan kalsium asetat berpengaruh pada proses pembentukan garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O. Garam yang sukar larut, dalam larutan garam rangkapnya yang sesuai dengan stoikiometri reaksi akan mengkristal lebih dahulu 16 membentuk garam tunggal zat yang sukar larut itu. Garam rangkap tidak dapat terbentuk pada jumlah kation yang ekivalen, sekalipun pada rumus kimia garam rangkap tersebut kation-kation mempunyai jumlah mol sama. Oleh sebab itu pada pembentukan CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O digunakan komposisi mol Ca 2+ : Cu 2+ minimal 4:1. Ketika perbandingan mol Ca 2+ : Cu 2+ ditingkatkan sampai 6:1 hasilnya merupakan kristal yang sama. Rendemen yang diperoleh pada komposisi 6:1 sebanyak 61 % lebih besar dari pada komposisi 4:1 yaitu 40 %. Salah satu faktor yang menyebabkan kelimpahan produk 6:1 adalah komposisi ini melebihi perbandingan besarnya kelarutan kedua garam tunggal pembentuknya, yang besarnya 37 : 7,2. Komposisi 6:1 untuk Ca 2+ menyebabkan ion-ion Ca 2+ mencapai kondisi optimum untuk kristalisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O. Kelebihan ion-ion Ca 2+ dari harga perbandingan kelarutan kedua garam tunggal dapat melangsungkan reaksi terbentuknya garam rangkap secara lebih sempurna. Garam rangkap kalsium tembaga(ii) asetat mengandung sejumlah air kristal. Kadar air kristal diperoleh dari pengurangan massa sebanyak 0,1159 gram ketika 0,4754 gram garam rangkap ini dipanaskan pada suhu 120 o C. Ini sama dengan kehilangan massa 24,37 %. Hasil ini sesuai dengan massa 6 mol air dalam garam rangkap kalsium tembaga(ii) asetat. Data dan perhitungan dapat dilihat pada Lampiran A. 21

3 Data pada Lampiran A didukung pula informasi dari kurva TGA. Termogram garam rangkap menunjukkan suhu 115,2 o C ada pengurangan massa 27,1 %, lebih tinggi 2,73 % dari data 24,37 % di atas. Selisih ini dapat dijelaskan berdasarkan data termogram. Gambar IV.3 memperlihatkan kehilangan massa pada suhu 55.2 o C telah terjadi sebesar 0,6 % dan terus meningkat dengan kenaikansuhu. Gambar IV.3 Kurva TGA garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O Gas yang menguap pada suhu lebih rendah ini diduga oksigen yang terperangkap dalam instrumen atau oksigen yang sulit dipisahkan dari 100 % gas nitrogen. Dari 22

4 fakta ini, data gravimetri pada analisis pertama menentukan jumlah air kristal garam rangkap ini yaitu sebesar 6 mol. Kadar Cu 2+ dalam garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O diperoleh dari reaksi kation tersebut dengan iodida menghasilkan iodium yang setara dengan 9,85 ml larutan tiosulfat 0,0102 M. Dengan perhitungan stoikiometri diperoleh kadar Cu 2+ sebesar 14,20 %. Ini tidak jauh berbeda dengan yang dihitung secara teoritis yaitu 14,16 %. Data perhitungan kadar Cu 2+ dapat dilihat pada Lampiran B. Kadar ion-ion kalsium dalam garam rangkap yang sama, yaitu sebesar 8,67 % diketahui dari reaksi kation logam ini dengan EDTA. Reaksi ion logam Ca 2+ menghasilkan kompleks Ca-EDTA. Ion Ca 2+ diperoleh setara dengan 8,52 ml EDTA 0,0115 M. Data dan perhitungan kadar ion kalsium dapat dilihat pada Lampiran C. Sedangkan kadar C dan H dari analisis diperoleh sebanyak 21,67 % dan 5,39 % sangat sesuai dengan teoritis (21,41 % dan 5,36 %). Dari karakterisasi yang dilakukan diperoleh rumus kimia garam rangkap adalah CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O. Rangkuman kadar unsur penyusun garam rangkap dapat dilihat pada Tabel IV.1. Tabel IV.1 Kadar unsur-unsur penyusun kristal Rumus kimia Kadar unsur penyusunnya (%) Ca Cu C H CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O 8,62 (8,93) 14,20 (14,16) 21,67 (21,41) 5,39 (5,36) Keterangan : Nilai dalam tanda kurung merupakan kadar unsur secara teoritis Gugus asetat dari garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O diamati dari spektrum inframerah. Adanya serapan di daerah bilangan gelombang 1741,9 cm -1 menunjukkan ulur C=O dari karboksilat, sedangkan ulur O-H dimer gugus asetat ditunjukkan oleh serapan yang kuat dan lebar pada daerah bilangan gelombang 23

5 3307,5cm -1. Demikian juga adanya metil dapat diamati dari munculnya serapan pada daerah bilangan gelombang 2900 cm -1. Angka-angka tersebut sedikit berbeda dari besarnya bilangan gelombang untuk gugus yang sama secara teoritis (ulur O-H seharusnya 3150 cm -1 ). Perbedaan ini disebabkan pengaruh adanya ikatan hidrogen. Ikatan hidrogen dalam garam asetat memiliki kekuatan dan pengaruh lebih besar disebabkan saling pengaruh ikatan O dari ion asetat dengan logam. 7 Data selengkapnya ditampilkan pada Gambar IV. 4 berikut : Gambar IV.4 Spektrum inframerah garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O Garam rangkap berhidrat dengan ion-ion asetat terkandung didalamnya, dapat terdekomposisi pada beberapa rentang suhu. Pada kurva TGA dapat dilihat adanya tiga tahap dekomposisi. Tahap ke satu pada suhu 100 o C sampai 115,5 o C seluruh air kristal menguap sesuai reaksi : CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O CaCu(CH 3 COO) 4 + 6H 2 O Jumlah air kristal yang dihasilkan pada reaksi dekomposisi tersebut sama dengan massa yang hilang pada pemanasan garam rangkap. Pada kurva dapat diamati angka 72,9 % adalah massa garam rangkap anhidrat, sehingga dari angka tersebut 24

6 dapat dihitung massa air kristal adalah 27,1 %. Ini setara dengan 6,7 mol air. Selisih angka observasi dan teoritis (persamaan reaksi) sebesar 0,7 mol disebabkan pada pemanasan secara TGA ada sejumlah oksigen yang biasanya turut bersama nitrogen bersana-sama diuapkan. Terbukti dari massa yang hilang pada suhu 55,2 o C sudah ada sebesar 0,6 %. Tahap kedua dekomposisi garam rangkap terjadi suhu antara 243,8 o C sampai 282,5 o C Reaksi yang terjadi adalah : CaCu(CH 3 COO) 4 CaCO 3 + CuCO 3 + CO 2 + H 2 O Pada kurva tampak penurunan massa dari 67,7 % (setara 303,2 gram) menjadi 47,2 % atau kehilangan massa 20,5 %. Ternyata 20,5 % dari 303,2 gram sama dengan 62,1 gram. Massa ini sangat sesuai dengan massa 1 mol gas CO 2 dan 1 mol H 2 O yaitu 44 gram ditambah 18 gram. Tahap ketiga pada suhu 495,9 o C tampak pada kurva massa telah konstan menjadi tersisa sebesar 32,5 %. Angka ini setara dengan 98,54 gram dari massa pada awal tahap 2. Ada kemungkinan ini massa CaCO 3. Pada literatur, 12 dijelaskan suhu dekomposisi CaCO 3 sekitar 600 o C. Pada penjelasan yang lainnya Cu dapat menyublim dalam sistem dan bereaksi dengan oksigen membentuk Cu 2 O dan terjadi pada suhu sekitar 400 o C. 13 Garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O memiliki momen magnet sebesar 1,75 BM. Momen magnet ini diperoleh melalui perhitungan dari hasil pengukuran suseptibilitas sampel. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D. Data ini menunjukkan garam rangkap bersifat paramagnetik, yang disebabkan oleh satu elektron tidak berpasangan pada ion Cu 2+. Data pengukuran suseptibilitas magnet terangkum pada Tabel IV.2. Tabel IV.2 Data-data pada pengukuran suseptibilitas magnet. R 0 R s m 0 Rumus Kimia (gram) m s l m s -m o (gram) (cm) (gram) CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O , ,50 0,1275 1,75 μ 0bs 25

7 IV.2 Sintesis dan Karakterisasi Cu 2 (CH 3 COO) 4.2H 2 O Ketika sintesis dengan variasi perbandingan mol Ca 2+ : Cu 2+ sama dengan 2:1 yang diperoleh adalah kristal tembaga asetat, Cu 2 (CH 3 COO) 4.2H 2 O. Ternyata garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O tidak terbentuk, meskipun jumlah mol Ca 2+ dalam larutan mencapai 200 %. Garam sedrhana tembaga(ii) asetat ini terbentuk setelah satu hari. Rendemen tembaga(ii) asetat mencapai 46,3 %. Kristal garam ini berwarna hijau-kebiruan yang dapat dilihat pada Gambar IV.5. Gambar IV.5. kristal Cu 2 (CH 3 COO) 4.2H 2 O Ketika diamati warna dan bentuk kristal melalui foto mikroskop maka kristal garam sederhana ini menunjukkan warna yang hampir serupa dengan garam rangkapnya, hal ini disebabkan spektrum warna biru dan hijau kebiruan sangat berdekatan. Kristal garam sederhana ini memiliki bentuk sudut yang tajam, berbentuk segienam. Perbedaannya dengan garam rangkap kalsium tembaga(ii) asetat seperti tampak pada Gambar IV.6. a. Cu 2 (CH 3 COO) 4.2H 2 O b. CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O Gambar IV.6 Perbedaan Cu 2 (CH 3 COO) 4.2H 2 O dengan CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O 26

8 Berbeda dengan garam rangkap, kristal garam sederhana ini bersifat lebih kuat tidak mudah rapuh seperti garam rangkap kalsium tembaga(ii) asetat. Demikian juga ketika kedua garam ini dipanaskan pada suhu yang sama, garam sederhana Cu 2 (CH 3 COO) 4.2H 2 O belum mengalami perubahan berupa penurunan massa secara berarti. Pada suhu pemanasan yang relatif jauh lebih tinggi maka garam sederhana ini mulai menunjukkan kehilangan massa dan hanya sekitar 9 %. Kristal garam sederhana tembaga(ii) asetat mengikat satu molekul air untuk setiap unitnya, sehingga untuk bentuk dimernya terdapat dua molekul air kristal. Kadar air kristal yang senilai dengan 9,0 % massa molarnya ini diperoleh melalui pengukuran massa yang hilang, ketika 0,3482 gram garam ini dioven pada suhu 190 o C, mengahasilkan massa yang konstan sebesar 0,3144 gram. Pengurangan massa sebesar 0,0338 gram dan mendapatkan jumlah air kristal sebesar itu dihitung dan dituliskan pada Lampiran E. Secara termogravimetri, penentuan jumlah air kristal dari pengurangan massa ini kurva termogram menunjukkan pada suhu 182,5 o C massa garam yang tersisa sebesar 90,9 %. Massa yang hilang pada suhu tersebut 9,1 %. Ini sama dengan massa 1 mol air. Gambar IV.7 menunjukkan kurva TGA untuk garam tembaga(ii) asetat, Cu 2 (CH 3 COO) 4.2H 2 O. Rumus kimia garam sederhana untuk setiap unitnya telah ditentukan berdasarkan hasil penentuan kadar unsur-unsur yang terkandung di dalam garam tersebut. Kadar ion tembaga dalam larutan garam ini diperoleh melalui reaksinya terhadap iodida. Hasil reaksi berupa iodium ternyata setara dengan 9,82 ml larutan tiosulfat 0,0102 M. 27

9 Gambar IV.7 Kurva TGA garam tembaga(ii) asetat 28

10 Setelah dihitung didapatkan kadar Cu 2+ sebesar 31,75 %. Data dan perhitungan dapat dilihat pada Lampiran F. Garam tembaga(ii) asetat dalam karakterisasi ini diuji dengan tahap-tahap yang sama dengan pengujian garam rangkap. Setelah kadar Cu 2+ ditentukan dan dipisahkan dari filtrat jernih tidak berwarna, kandungan ion-ion kalsium dalam garam inipun diuji dengan perekasi EDTA. Hasilnya menunjukkan warna biru ketika indikator EBT/NaCl ditambahkan. Hal ini menunjukkan ion-ion kalsium tidak terdapat di dalam larutan tembaga(ii) asetat. Fakta ini didukung oleh kadar unsur C dan H yang sangat mendekati hasil hitungan secara teori yaitu sebesar 24,42 % (24,06%) dan 3,76 % (3,94%), nilai dalam tanda kurung merupakan kadar teoritis. Demikian pula data TGA untuk air kristal pada termogram di atas. Data ini selengkapnya disajikan dalam Tabel IV.3 Tabel IV.3 Kadar air krital dan unsur penyusun garam Cu(CH 3 COO) 2.H 2 O Rumus kimia Kadar unsur penyusunnya (%) H 2 O Cu C H Cu 2 (CH 3 COO) 4.2H 2 O 9,10 (9,01) 31,87 (31,72) 24,42 (24,00) 3,76 (4,03) Keterangan : Nilai dalam tanda kurung merupakan kadar secara teoritis Berdasarkan data-data pada Tabel IV.3 tersebut dapat dikatakan kristal tembaga(ii) asetat terbentuk dengan kemurnian yang cukup tinggi. Artinya keberadaan ion-ion kalsium yang cukup besar dalam larutan dengan perbandingan mol Ca 2+ : Cu 2+ sama dengan 2:1 tidak mempengaruhi proses terbentuknya kristal garam tersebut. Garam sederhana ini diketahui mengandung gugus asetat yang telah dibuktikan dari hasil uji spektrokopi infamerah. Spektrum infamerah menunjukan pada daerah bilangan gelombang sekitar 1700 cm -1 terdapat serapan akibat adanya vibrasi ulur C=O. Pada daerah bilangan gelombang 3303,7 cm -1 terdapat peak 29

11 yang kuat dan lebar menandakan terdapatnya OH yang dipengaruhi adanya ikatan hidrogen. Demikian juga adanya peak pada bilangan gelombang 1400 cm -1 menunjukan adanya vibrasi tekuk COOH. Gambar IV.8 menunjukkan spektrum inframerah garam tembaga(ii) asetat. Gambar IV.8 Spektrum inframerah garam sederhana Cu 2 (CH 3 COO) 4.2H 2 O Rumus kimia garam tembaga(ii) asetat lebih kuat lagi dibuktikan dari analisis difraksi sinar-x kristal tunggal. Data kristalografi garam sederhana ini menunjukkan sistem/group ruang I 4/m. Struktur kristal setiap unitnya berbentuk dimer dengan rumus empiris Cu 2 (CH 3 COO) 4.2H 2 O. Setiap atom Cu berkoordinasi 6 membentuk sistem oktahedral.. Struktur molekul garam sederhana ini dapat dilihat pada Gambar IV.9 berikut : 30

12 Gambar IV.9 Struktur molekul Cu(CH 3 COO) 2.H 2 O Gambar IV.9 menunjukkan ion-ion logam tembaga(ii) masing-masing mengikat 6 atom. Atom- atom O berasal dari dua gugus asetat bidentat sebanyak empat atom, dan satu atom O dari H 2 O. Ikatan Cu dengan O dari H 2 O tampak lebih panjang daripada 4 buah ikatan Cu dengan O dari asetat. Panjang ikatan antara Cu dengan O dari asetat adalah Cu(1) dengan O(5) sebesar 1,9423(18) Ǻ, Cu(1) dengan O(2) 1,9535(19) Ǻ, Cu(1) dengan O(1) 1,9802(19) Ǻ, dan Cu(1) dengan O(4) sebesar 1,9920(19) Ǻ Panjang ikatan rata-rata antara Cu dengan O dari asetat yaitu 1,9657(15) Ǻ. Empat ikatan Cu-O rata-rata lebih pendek dari pada Cu dengan O(3) dari H 2 O sebesar 2,152(2) Ǻ. Pada Gambar IV.13 juga tampak 2 atom Cu membentuk jembatan logam yang membelah posisi 4 gugus asetat secara simetris. Posisi 2 molekul H 2 O tampak berseberangan yang terpisah sejauh 6,9154 Ǻ. Hal ini diketahui dari panjang jembatan Cu----Cu sebesar 2,6114(7) Ǻ. Data panjang ikatan dan sudut ikatan kristal ini selengkapnya dirangkum pada tabel IV.4. 31

13 Tabel IV.4. Panjang dan sudut ikatan terseleksi dalam Cu 2 (CH 3 COO) 4 2H 2 O Ikatan Panjang (Ǻ) Ikatan Sudut ( o ) Cu(1)-O(5) 1,9423(18) O(5)-Cu(1)-O(2) 168,70(8) Cu(1)-O(2) 1,9535(19) O(5)-Cu(1)-O(1) 87,52(8) Cu(1)-O(1) 1,9802(19) O(2)-Cu(1)-O(1) 90.90(8) Cu(1)-O(4) 1,9920(19) O(5)-Cu(1)-O(4) 90,12(8) Cu(1)-Cu(1)#1 2,6114(70) O(2)-Cu(1)-O(4) 89,27(8) Cu(1)-O(3) 2,1520(20) O(1)-Cu(1)-O(4) 168,78(8) O(1)-C(2) 1,259(30) O(5)-Cu(1)-O(3) 97,80(8) O(2)-C(3)#1 1,254(30) O(2)-Cu(1)-O(3) 93,50(9) O(4)-C(2)#1 1,262(30) O(1)-Cu(1)-O(3) 98,04(9) Dari Tabel IV.4 tersebut, ikatan antara 4 atom O dengan atom Cu(1) membentuk segi empat datar dengan panjang ikatan rata-rata 1,9642(19) Ǻ. Harga ini lebih pendek daripada ikatan antara O(3) dengan Cu(1) dan Cu(1) dengan Cu(1)#1. Hal ini menyebabkan sistem terdistorsi membentuk segi empat datar. Sudut-sudut ikatan hampir sama pula antara O(5)-Cu(1)-O(2) dan O(1)-Cu(1)-O(4) yang mencapai rata-rata 168,74(8) o dan O(5)-Cu(1)-O(1) dengan O(2)-Cu(1)-O(4) rata-rata 88,35(8) o serta antara O(5)-Cu(1)-O(4) Ǻ dan O(2)-Cu(1)-O(1) sebesar 90,52(8) o. Pada struktur tersebut, on-ion asetat sebagai jembatan ligan menghubungkan antara Cu(1)-O(1)-C(2) dengan O(1)#1-Cu(1)#1 sebesar 6,4920 Ǻ hampir sama dengan jarak antara kedua molekul air yang dipisahkan melalui dua atom Cu-Cu. Garam Cu(CH 3 COO) 2 H 2 O menunjukkan tahap-tahap dekomposisi yang berbeda dengan garam rangkapnya. Perbedaan itu menyangkut suhu dekomposisi dan tahap akhir dekomposisi yang belum dicapai pada 500 o C. Tahap pertama dari dekomposisi ini pada suhu 182,5 o C. Massa yang hilang pada tahap ini 9,1 % yang sesuai dengan massa 1 mol air. Pada proses ini air mulai menguap pada 32

14 suhu 95,2 o C sebesar 0,1% dan massa konstan pada suhu 182,5 o 99,9%. yaitu sebesar Tahap berikutnya pada suhu 316,6 o C massa yang hilang mencapai 56,3%. Menunjukkan lebih banyak gas-gas yang diuapkan. Dekomposisi bisa menghasilkan CO 2, uap air dari ion-ion asetat yang terdekomposisi. Pada tahap ini, TGA tidak dapat menentukan jenis setiap zat yang didekomposisikan secara tepat, untuk menentukan diperlukan data spektrofotometri massa atau penunjang lainnya. Garam tembaga asetat seperti pada senyawa tembaga yang lainnya memiliki sifat paramagnetik juga. Hasil pengukuran menunjukkan momen magnet untuk garam ini sebesar 1,86 BM, lebih besar daripada garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.H 2 O. Nilai momen magnet ini lebih besar dari pada momen magnet garam rangkapnya. Hal ini disebabkan karena satu unit molekul garam ini berbentuk dimer. Dalam unit-unit dimer garam Cu 2 (CH 3 COO) 4.H 2 O ada interaksi yang menghasilkan perubahan nilai kemagnetan menjadi lebih meningkat. 33

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Garam rangkap Garam rangkap adalah garam yang terdiri dari dua kation yang berbeda dengan sebuah anion yang sama dalam satu kisi kristalnya. Garam rangkap biasanya lebih mudah

Lebih terperinci

Bab III Metodologi Penelitian. Sintesis CaCu(CH 3 COO) 4.xH 2 O. Karakterisasi. Penentuan Rumus kimia

Bab III Metodologi Penelitian. Sintesis CaCu(CH 3 COO) 4.xH 2 O. Karakterisasi. Penentuan Rumus kimia Bab III Metodologi Penelitian Penelitian ini terdiri dari dua bagian yaitu sintesis dan karakterisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O. Pada sintesis garam rangkap tersebut dilakukan variasi perbandingan

Lebih terperinci

SINTESIS DAN KARAKTERISASI GARAM RANGKAP KALSIUM TEMBAGA(II) ASETAT HEKSAHIDRAT CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O

SINTESIS DAN KARAKTERISASI GARAM RANGKAP KALSIUM TEMBAGA(II) ASETAT HEKSAHIDRAT CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O SINTESIS DAN KARAKTERISASI GARAM RANGKAP KALSIUM TEMBAGA(II) ASETAT HEKSAHIDRAT CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O TESIS Karya tulis ini sebagai salah satu syarat Untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Isolasi Kitin dan Kitosan Isolasi kitin dan kitosan yang dilakukan pada penelitian ini mengikuti metode isolasi kitin dan kitosan dari kulit udang yaitu meliputi tahap deproteinasi,

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI. STOIKIOMETRI adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi zat-zat kimia dan reaksi-reaksinya.

STOIKIOMETRI. STOIKIOMETRI adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi zat-zat kimia dan reaksi-reaksinya. STOIKIOMETRI STOIKIOMETRI adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi zat-zat kimia dan reaksi-reaksinya. 1.HUKUM KEKEKALAN MASSA = HUKUM LAVOISIER "Massa zat-zat sebelum

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk merubah karakter permukaan bentonit dari hidrofilik menjadi hidrofobik, sehingga dapat meningkatkan kinerja kitosan-bentonit

Lebih terperinci

LOGO STOIKIOMETRI. Marselinus Laga Nur

LOGO STOIKIOMETRI. Marselinus Laga Nur LOGO STOIKIOMETRI Marselinus Laga Nur Materi Pokok Bahasan : A. Konsep Mol B. Penentuan Rumus Kimia C. Koefisien Reaksi D. Hukum-hukum Gas A. Konsep Mol Pengertian konsep mol Hubungan mol dengan jumlah

Lebih terperinci

Hubungan koefisien dalam persamaan reaksi dengan hitungan

Hubungan koefisien dalam persamaan reaksi dengan hitungan STOIKIOMETRI Pengertian Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia) Stoikiometri adalah hitungan kimia Hubungan

Lebih terperinci

3. Metodologi Penelitian

3. Metodologi Penelitian 3. Metodologi Penelitian 3.1 Alat dan bahan 3.1.1 Alat Peralatan gelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelas kimia, gelas ukur, labu Erlenmeyer, cawan petri, corong dan labu Buchner, corong

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas 31 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis material konduktor ionik MZP, dilakukan pada kondisi optimum agar dihasilkan material konduktor ionik yang memiliki kinerja maksimal, dalam hal ini memiliki nilai

Lebih terperinci

SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS NIKEL(II) DENGAN LIGAN ETILENDIAMINTETRAASETAT (EDTA)

SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS NIKEL(II) DENGAN LIGAN ETILENDIAMINTETRAASETAT (EDTA) PENULIS : 1. Nur Chamimmah Lailis I,S.Si 2. Dr. rer. nat. Irmina Kris Murwani ALAMAT : JURUSAN KIMIA ITS SURABAYA JUDUL : SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS NIKEL(II) DENGAN LIGAN ETILENDIAMINTETRAASETAT

Lebih terperinci

KIMIA TERAPAN STOIKIOMETRI DAN HUKUM-HUKUM KIMIA Haris Puspito Buwono

KIMIA TERAPAN STOIKIOMETRI DAN HUKUM-HUKUM KIMIA Haris Puspito Buwono KIMIA TERAPAN STOIKIOMETRI DAN HUKUM-HUKUM KIMIA Haris Puspito Buwono Semester Gasal 2012/2013 STOIKIOMETRI 2 STOIKIOMETRI adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari hubungan kuantitatif dari komposisi

Lebih terperinci

Stoikiometri. Berasal dari kata Stoicheion (partikel) dan metron (pengukuran). Cara perhitungan dan pengukuran zat serta campuran kimia.

Stoikiometri. Berasal dari kata Stoicheion (partikel) dan metron (pengukuran). Cara perhitungan dan pengukuran zat serta campuran kimia. Stoikiometri Berasal dari kata Stoicheion (partikel) dan metron (pengukuran). Cara perhitungan dan pengukuran zat serta campuran kimia. Bilangan Avogadro Stoikometri: pengukuran kuantitatif sehingga perlu

Lebih terperinci

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT DI SUSUN OLEH : NAMA : IMENG NIM : ACC 109 011 KELOMPOK : 2 ( DUA ) HARI / TANGGAL : SABTU, 28 MEI 2011

Lebih terperinci

LATIHAN ULANGAN TENGAH SEMESTER 2

LATIHAN ULANGAN TENGAH SEMESTER 2 Pilihlah jawaban yang paling benar LATIHAN ULANGAN TENGAH SEMESTER 2 TATANAMA 1. Nama senyawa berikut ini sesuai dengan rumus kimianya, kecuali. A. NO = nitrogen oksida B. CO 2 = karbon dioksida C. PCl

Lebih terperinci

SINTESIS DAN UJI TOKSISITAS KOMPLEKS LOGAM Mn(II)/Zn(II) DENGAN LIGAN ASAM PIRIDIN-2,6-DIKARBOKSILAT

SINTESIS DAN UJI TOKSISITAS KOMPLEKS LOGAM Mn(II)/Zn(II) DENGAN LIGAN ASAM PIRIDIN-2,6-DIKARBOKSILAT 1 SINTESIS DAN UJI TOKSISITAS KOMPLEKS LOGAM Mn(II)/Zn(II) DENGAN LIGAN ASAM PIRIDIN-2,6-DIKARBOKSILAT Yulien Nilam Sari 1409 100 068 Dosen Pembimbing: Dr. Fahimah Martak, M.Si Jurusan Kimia Fakultas Matematika

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Pembuatan Serbuk Dispersi Padat Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan dihasilkan serbuk putih dengan tingkat kekerasan yang berbeda-beda. Semakin

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 5. Reaksi Transesterifikasi Minyak Jelantah Persentase konversi metil ester dari minyak jelantah pada sampel MEJ 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dihasilkan sebanyak 5 gram. Perbandingan ini dipilih karena peneliti ingin

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dihasilkan sebanyak 5 gram. Perbandingan ini dipilih karena peneliti ingin BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sintesis Katalis CuO/ZnO/Al 2 O 3 Katalis CuO/ZnO/Al 2 O 3 disintesis dengan metode kopresipitasi dengan rasio fasa aktif Cu, promotor ZnO, penyangga dan Al 2 O 3 yaitu

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang dan Masalah Penelitian

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang dan Masalah Penelitian Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang dan Masalah Penelitian Senyawa kompleks oktahedral yang mengandung ion logam pusat transisi seri pertama dengan konfigurasi d 4 d 7 dapat berada dalam dua keadaan elektronik

Lebih terperinci

Jurnal Kimia Indonesia

Jurnal Kimia Indonesia Jurnal Kimia Indonesia Vol. 1 (1), 2006, h. 7-12 Sintesis Senyawa Kompleks K[Cr(C 2 O 4 ) 2 (H 2 O) 2 ].2H 2 O dan [N(n-C 4 H 9 ) 4 ][CrFe(C 2 O 4 ) 3 ].H 2 O Kiki Adi Kurnia, 1 Djulia Onggo, 1 Dave Patrick,

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistirena Polistirena disintesis melalui polimerisasi adisi radikal bebas dari monomer stirena dan benzoil peroksida (BP) sebagai inisiator. Polimerisasi dilakukan

Lebih terperinci

Hukum Dasar Kimia Dan Konsep Mol

Hukum Dasar Kimia Dan Konsep Mol A. PENDAHULUAN Hukum Dasar Kimia Dan Konsep Mol Hukum dasar kimia merupakan hukum dasar yang digunakan dalam stoikiometri (perhitungan kimia), antara lain: 1) Hukum Lavoisier atau hukum kekekalan massa.

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan Kualitas minyak dapat diketahui dengan melakukan beberapa analisis kimia yang nantinya dibandingkan dengan standar mutu yang dikeluarkan dari Standar Nasional Indonesia (SNI).

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Determinasi Tumbuhan Tumbuhan yang akan diteliti dideterminasi di Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI Bandung untuk mengetahui dan memastikan famili dan spesies tumbuhan

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR KIMIA DASAR BAB IV STOIKIOMETRI

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR KIMIA DASAR BAB IV STOIKIOMETRI No. BAK/TBB/SBG201 Revisi : 00 Tgl. 01 Mei 2008 Hal 1 dari 6 BAB IV STOIKIOMETRI A. HUKUM GAY LUSSAC Bila diukur pada suhu dan tekanan yang sama, volum gas yang bereaksi dan volum gas hasil reaksi berbanding

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI Konsep mol

STOIKIOMETRI Konsep mol STOIKIOMETRI Konsep mol Dalam hukum-hukum dasar materi ditegaskan bahwa senyawa terbentuk dari unsur bukan dengan perbandingan sembarang tetapi dalam jumlah yang spesifik, demikian juga reaksi kimia antara

Lebih terperinci

BAB IV. karakterisasi sampel kontrol, serta karakterisasi sampel komposit. 4.1 Sintesis Kolagen dari Tendon Sapi ( Boss sondaicus )

BAB IV. karakterisasi sampel kontrol, serta karakterisasi sampel komposit. 4.1 Sintesis Kolagen dari Tendon Sapi ( Boss sondaicus ) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang dibahas pada bab ini meliputi sintesis kolagen dari tendon sapi (Bos sondaicus), pembuatan larutan kolagen, rendemen kolagen, karakterisasi sampel kontrol,

Lebih terperinci

Kata kunci: surfaktan HDTMA, zeolit terdealuminasi, adsorpsi fenol

Kata kunci: surfaktan HDTMA, zeolit terdealuminasi, adsorpsi fenol PENGARUH PENAMBAHAN SURFAKTAN hexadecyltrimethylammonium (HDTMA) PADA ZEOLIT ALAM TERDEALUMINASI TERHADAP KEMAMPUAN MENGADSORPSI FENOL Sriatun, Dimas Buntarto dan Adi Darmawan Laboratorium Kimia Anorganik

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Sintesis Polistiren (PS) Pada proses sintesis ini, benzoil peroksida berperan sebagai suatu inisiator pada proses polimerisasi, sedangkan stiren berperan sebagai monomer yang

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Pembuatan Asap Cair Asap cair dari kecubung dibuat dengan teknik pirolisis, yaitu dekomposisi secara kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap diazinon, terlebih dahulu disintesis adsorben kitosan-bentonit mengikuti prosedur yang telah teruji (Dimas,

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor) 23 Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Penyiapan Sampel Kualitas minyak kastor yang digunakan sangat mempengaruhi pelaksanaan reaksi transesterifikasi. Parameter kualitas minyak kastor yang dapat menjadi

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistiren Polistiren disintesis dari monomer stiren melalui reaksi polimerisasi adisi dengan inisiator benzoil peroksida. Pada sintesis polistiren ini, terjadi tahap

Lebih terperinci

D. 2 dan 3 E. 2 dan 5

D. 2 dan 3 E. 2 dan 5 1. Pada suhu dan tekanan sama, 40 ml P 2 tepat habis bereaksi dengan 100 ml, Q 2 menghasilkan 40 ml gas PxOy. Harga x dan y adalah... A. 1 dan 2 B. 1 dan 3 C. 1 dan 5 Kunci : E D. 2 dan 3 E. 2 dan 5 Persamaan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan

HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan 6 didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 3.3.3 Sintesis Kalsium Fosfat Sintesis kalsium fosfat dalam penelitian ini menggunakan metode sol gel. Senyawa kalsium fosfat diperoleh dengan mencampurkan serbuk

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Pembuatan Membran 4.1.1 Membran PMMA-Ditizon Membran PMMA-ditizon dibuat dengan teknik inversi fasa. PMMA dilarutkan dalam kloroform sampai membentuk gel. Ditizon dilarutkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan dan kemudian ditimbang. Penimbangan dilakukan sampai diperoleh bobot konstan. Rumus untuk perhitungan TSS adalah sebagai berikut: TSS = bobot residu pada kertas saring volume contoh Pengukuran absorbans

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Metoda Sintesis Membran Kitosan Sulfat Secara Konvensional dan dengan Gelombang Mikro (Microwave) Penelitian sebelumnya mengenai sintesis organik [13] menunjukkan bahwa jalur

Lebih terperinci

STUDI SPEKTROSKOPI UV-VIS DAN INFRAMERAH SENYAWA KOMPLEKS INTI GANDA Cu-EDTA

STUDI SPEKTROSKOPI UV-VIS DAN INFRAMERAH SENYAWA KOMPLEKS INTI GANDA Cu-EDTA PENULIS : 1. Sus Indrayanah, S.Si 2. Dr. rer. nat. Irmina Kris Murwani ALAMAT : JURUSAN KIMIA ITS SURABAYA JUDUL : STUDI SPEKTROSKOPI UV-VIS DAN INFRAMERAH SENYAWA KOMPLEKS INTI GANDA Cu-EDTA Abstrak :

Lebih terperinci

Hasil dan Pembahasan

Hasil dan Pembahasan Bab 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polimer Benzilkitosan Somorin (1978), pernah melakukan sintesis polimer benzilkitin tanpa pemanasan. Agen pembenzilasi yang digunakan adalah benzilklorida. Adapun

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN Bab ini peneliti menganalisis hasil penelitian, yaitu isi buku Teks Kimia SMA Kelas X jilid 1 Materi Pokok Stoikiometri karangan Unggul Sudarmo yang diterbitkan oleh Erlangga

Lebih terperinci

LOGO. Stoikiometri. Tim Dosen Pengampu MK. Kimia Dasar

LOGO. Stoikiometri. Tim Dosen Pengampu MK. Kimia Dasar LOGO Stoikiometri Tim Dosen Pengampu MK. Kimia Dasar Konsep Mol Satuan jumlah zat dalam ilmu kimia disebut mol. 1 mol zat mengandung jumlah partikel yang sama dengan jumlah partikel dalam 12 gram C 12,

Lebih terperinci

Stoikiometri. Bab 3. Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Secara Mikro atom & molekul.

Stoikiometri. Bab 3. Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Secara Mikro atom & molekul. Bab 3 Stoikiometri Secara Mikro atom & molekul Secara Makro gram Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Perjanjian internasional: 1 atom 12 C beratnya 12 sma Jika ditimbang

Lebih terperinci

dengan panjang a. Ukuran kristal dapat ditentukan dengan menggunakan Persamaan Debye Scherrer. Dilanjutkan dengan sintering pada suhu

dengan panjang a. Ukuran kristal dapat ditentukan dengan menggunakan Persamaan Debye Scherrer. Dilanjutkan dengan sintering pada suhu 6 Dilanjutkan dengan sintering pada suhu 900⁰C dengan waktu penahanannya 5 jam. Timbang massa sampel setelah proses sintering, lalu sampel dikarakterisasi dengan menggunakan XRD dan FTIR. Metode wise drop

Lebih terperinci

SKL 2 RINGKASAN MATERI. 1. Konsep mol dan Bagan Stoikiometri ( kelas X )

SKL 2 RINGKASAN MATERI. 1. Konsep mol dan Bagan Stoikiometri ( kelas X ) SKL 2 Menerapkan hukum-hukum dasar kimia untuk memecahkan masalah dalam perhitungan kimia. o Menganalisis persamaan reaksi kimia o Menyelesaikan perhitungan kimia yang berkaitan dengan hukum dasar kimia

Lebih terperinci

OLIMPIADE KIMIA INDONESIA

OLIMPIADE KIMIA INDONESIA OLIMPIADE KIMIA INDONESIA OLIMPIADE SAINS NASIONAL SELEKSI KABUPATEN / KOTA UjianTeori Waktu 2 Jam Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Managemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat

Lebih terperinci

OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2012 SELEKSI KABUPATEN / KOTA SOAL. UjianTeori. Waktu: 100 menit

OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2012 SELEKSI KABUPATEN / KOTA SOAL. UjianTeori. Waktu: 100 menit OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2012 SELEKSI KABUPATEN / KOTA SOAL UjianTeori Waktu: 100 menit Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah

Lebih terperinci

OLIMPIADE KIMIA INDONESIA

OLIMPIADE KIMIA INDONESIA OLIMPIADE KIMIA INDONESIA OLIMPIADE SAINS NASIONAL SELEKSI KABUPATEN / KOTA UjianTeori Waktu 2 Jam Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Managemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI. Massa molekul relatif suatu zat sama dengan jumlah massa atom relatif atomatom penyusun molekul zat tersebut.

STOIKIOMETRI. Massa molekul relatif suatu zat sama dengan jumlah massa atom relatif atomatom penyusun molekul zat tersebut. STOIKIOMETRI Istilah STOIKIOMETRI berasal dari kata-kata Yunani yaitu Stoicheion (partikel) dan metron (pengukuran). STOIKIOMETRI akhirnya mengacu kepada cara perhitungan dan pengukuran zat serta campuran

Lebih terperinci

2. Konfigurasi elektron dua buah unsur tidak sebenarnya:

2. Konfigurasi elektron dua buah unsur tidak sebenarnya: . Atom X memiliki elektron valensi dengan bilangan kuantum: n =, l =, m = 0, dan s =. Periode dan golongan yang mungkin untuk atom X adalah A. dan IIIB B. dan VA C. 4 dan III B D. 4 dan V B E. 5 dan III

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Mensintesis Senyawa rganotimah Sebanyak 50 mmol atau 2 ekivalen senyawa maltol, C 6 H 6 3 (Mr=126) ditambahkan dalam 50 mmol atau 2 ekivalen larutan natrium hidroksida,

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.I Sintesis dan Karakterisasi Zeolit Bahan baku yang digunakan pada penelitian ini adalah kaolin alam Cicalengka, Jawa Barat, Indonesia. Kaolin tersebut secara fisik berwarna

Lebih terperinci

dimana hasilnya dalam bentuk jumlah atau bilangan kadar.

dimana hasilnya dalam bentuk jumlah atau bilangan kadar. VOLUMETRI I Drs Kusumo Hariyadi Apt MS. Analisa Kimia dibagi 2 bagian : 1. Analisa Kualitatif ( analisa jenis) bertujuan mencari adanya unsur / senyawa dalam suatu sampel 2. Analisa Kuantitatif (analisa

Lebih terperinci

LEMBARAN SOAL 4. Mata Pelajaran : KIMIA Sat. Pendidikan : SMA Kelas / Program : XI IPA ( SEBELAS IPA )

LEMBARAN SOAL 4. Mata Pelajaran : KIMIA Sat. Pendidikan : SMA Kelas / Program : XI IPA ( SEBELAS IPA ) LEMBARAN SOAL 4 Mata Pelajaran : KIMIA Sat. Pendidikan : SMA Kelas / Program : XI IPA ( SEBELAS IPA ) PETUNJUK UMUM 1. Tulis nomor dan nama Anda pada lembar jawaban yang disediakan 2. Periksa dan bacalah

Lebih terperinci

Pilihan Ganda Soal dan Jawaban Sifat Koligatif Larutan 20 butir. 5 uraian Soal dan Jawaban Sifat Koligatif Larutan.

Pilihan Ganda Soal dan Jawaban Sifat Koligatif Larutan 20 butir. 5 uraian Soal dan Jawaban Sifat Koligatif Larutan. 1 Pilihan Ganda Soal dan Jawaban Sifat Koligatif Larutan 20 butir. 5 uraian Soal dan Jawaban Sifat Koligatif Larutan. Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D atau E di depan jawaban yang benar!

Lebih terperinci

K13 Revisi Antiremed Kelas 10 Kimia

K13 Revisi Antiremed Kelas 10 Kimia K13 Revisi Antiremed Kelas 10 Kimia Hukum Dasar Perhitungan Kimia - Latihan Soal Doc. Name: RK13AR10KIM0801 Version : 2016-11 halaman 1 01. Pernyataan yang paling sesuai tentang hukum Lavoisier (A) Jumlah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0 37 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini sampel komposit hidroksiapatit-gelatin dibuat menggunakan metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0 hari, 1 hari, 7 hari

Lebih terperinci

Penentuan struktur senyawa organik

Penentuan struktur senyawa organik Penentuan struktur senyawa organik Tujuan Umum: memahami metoda penentuan struktur senyawa organik moderen, yaitu dengan metoda spektroskopi Tujuan Umum: mampu membaca dan menginterpretasikan data spektrum

Lebih terperinci

STOKIOMETRI. Kimia Kelas X

STOKIOMETRI. Kimia Kelas X STOKIOMETRI Kimia Kelas X SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 12 SURABAYA 2015 STOKIOMETRI STOKIOMETRI Pada materi stokiometri, kita akan mempelajari beberapa hal seperti persamaan reaksi, hukum-hukum dasar kimia,

Lebih terperinci

Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma).

Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Bab 3 Stoikiometri Secara Mikro atom & molekul Secara Makro gram Massa atom merupakan massa dari atom dalam satuan massa atom (sma). Perjanjian internasional: 1 atom 12 C beratnya 12 sma Jika ditimbang

Lebih terperinci

Hasil dan Pembahasan

Hasil dan Pembahasan Bab 4 asil dan Pembahasan 4.1 Pembuatan dan Kitosan Kulit udang yang digunakan sebagai bahan baku kitosan terdiri atas kepala, badan, dan ekor. Tahapan-tahapan dalam pengolahan kulit udang menjadi kitosan

Lebih terperinci

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya.

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya. 30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya. 1. Semua pernyataan berikut benar, kecuali: A. Energi kimia ialah energi

Lebih terperinci

KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI

KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI BAB V KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI Dalam ilmu fisika, dikenal satuan mol untuk besaran jumlah zat. Dalam bab ini, akan dibahas mengenai konsep mol yang mendasari perhitungan kimia (stoikiometri). A. KONSEP

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 14 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan glukosamin hidroklorida (GlcN HCl) pada penelitian ini dilakukan melalui proses hidrolisis pada autoklaf bertekanan 1 atm. Berbeda dengan proses hidrolisis glukosamin

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam

I. PENDAHULUAN. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan

Lebih terperinci

SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS DARI Mn(NO 3 ) 2 DAN Co(NO 3 ) 2 DENGAN CAMPURAN LIGAN 8- HIDROKSIKUINOLINA DAN ANION DISIANAMIDA

SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS DARI Mn(NO 3 ) 2 DAN Co(NO 3 ) 2 DENGAN CAMPURAN LIGAN 8- HIDROKSIKUINOLINA DAN ANION DISIANAMIDA SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS DARI Mn(NO 3 ) 2 DAN Co(NO 3 ) 2 DENGAN CAMPURAN LIGAN 8- HIDROKSIKUINOLINA DAN ANION DISIANAMIDA Tri Silviana Purwanti 1, I Wayan Dasna 1, dan Neena Zakia 1.

Lebih terperinci

Kimia UMPTN Tahun 1981

Kimia UMPTN Tahun 1981 Kimia UMPTN Tahun 1981 UMPTN-81-51 Suatu atom unsury mempunyai susunan elektron : 1s s p 6 3s 3p 5. Unsur tersebut adalah A. logam alkali B. unsur halogen C. salah satu unsur golongan V D. belerang E.

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1. BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pada awal penelitian dilakukan determinasi tanaman yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran identitas botani dari tanaman yang digunakan. Hasil determinasi menyatakan

Lebih terperinci

K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Kimia

K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Kimia K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Kimia Stoikiometri Larutan - Soal Doc. Name: RK13AR11KIM0601 Doc. Version : 2016-12 01. Zat-zat berikut ini dapat bereaksi dengan larutan asam sulfat, kecuali... (A) kalsium

Lebih terperinci

KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI

KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI KONSEP MOL DAN STOIKIOMETRI HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA 1. Asas Lavoiser atau kekekalan massa jumlah sebelum dan setelah reaksi kimia adalah tetap 2. Hukum Gas Ideal P V = nrt Dengan P adalah tekanan (atm),

Lebih terperinci

STOIKIOMETRI STOIKIOMETRI

STOIKIOMETRI STOIKIOMETRI BAB V STOIKIOMETRI Standar Kompetensi Memahami hukum-hukum dasar kimia dan penerapannya dalam perhitungan kimia (stoikiometri) Kompetensi Dasar Mendeskripsikan tata nama senyawa anorganik dan organik sederhana

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan 19 Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Biodiesel Minyak jelantah semula bewarna coklat pekat, berbau amis dan bercampur dengan partikel sisa penggorengan. Sebanyak empat liter minyak jelantah mula-mula

Lebih terperinci

Emas yang terbentuk sebanyak 20 gram, jika ArAu = 198, maka tentukan Ar M!

Emas yang terbentuk sebanyak 20 gram, jika ArAu = 198, maka tentukan Ar M! 1. Suatu senyawa mengandung kadar unsur (% berat) sebagai berikut : S = 35,97%; O = 62,9%; dan H = 1,13%. Rumus molekul senyawa tersebut adalah. 2. Gas hidrogen dapat dibuat dari reaksi antara logam magnesium

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Penelitian ini pada intinya dilakukan dengan dua tujuan utama, yakni mempelajari pembuatan katalis Fe 3 O 4 dari substrat Fe 2 O 3 dengan metode solgel, dan mempelajari

Lebih terperinci

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam klorida 0,1 N. Prosedur uji disolusi dalam asam dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

3.5 Karakterisasi Sampel Hasil Sintesis

3.5 Karakterisasi Sampel Hasil Sintesis 7 konsentrasi larutan Ca, dan H 3 PO 4 yang digunakan ada 2 yaitu: 1) Larutan Ca 1 M (massa 7,6889 gram) dan H 3 PO 4 0,6 M (volume 3,4386 ml) 2) Larutan Ca 0,5 M (massa 3,8449) dan H 3 PO 4 0,3 M (volume

Lebih terperinci

BAB 2. PERSAMAAN KIMIA DAN HASIL REAKSI

BAB 2. PERSAMAAN KIMIA DAN HASIL REAKSI BAB 2. PERSAMAAN KIMIA DAN HASIL REAKSI 1. RUMUS KIMIA 2. MENULISKAN PERSAMAAN KIMIA YANG BALANS 3. HUBUNGAN MASSA DALAM REAKSI KIMIA 4. REAKTAN PEMBATAS 5. HASIL PERSENTASE Reaktan (Pereaksi) Produk (Hasil

Lebih terperinci

4 Pembahasan. 4.1 Sintesis Resasetofenon

4 Pembahasan. 4.1 Sintesis Resasetofenon 4 Pembahasan 4.1 Sintesis Resasetofenon O HO H 3 C HO ZnCl 2 CH 3 O Gambar 4. 1 Sintesis resasetofenon Pada sintesis resasetofenon dilakukan pengeringan katalis ZnCl 2 terlebih dahulu. Katalis ZnCl 2 merupakan

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. asil dan Pembahasan 4.1 Analisis asil Sintesis Pada penelitian ini aldehida didintesis dengan metode reduksi asam karboksilat menggunakan reduktor ab 4 / 2 dalam TF. 4.1.1 Sintesis istidinal dan Fenilalaninal

Lebih terperinci

Fraksi mol adalah perbandingan antara jumiah mol suatu komponen dengan jumlah mol seluruh komponen yang terdapat dalam larutan.

Fraksi mol adalah perbandingan antara jumiah mol suatu komponen dengan jumlah mol seluruh komponen yang terdapat dalam larutan. Konsentrasi Larutan Ditulis oleh Redaksi chem-is-try.org pada 02-05-2009 Konsentrasi merupakan cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut. Menyatakan konsentrasi larutan

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis PSDVB-PAR Senyawa 4-(2 Piridilazo) Resorsinol merupakan senyawa yang telah lazim digunakan sebagai indikator logam pada analisis kimia karena kemampuannya membentuk

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Surfaktan Gemini 12-2-12 Sintesis surfaktan gemini dilakukan dengan metode konvensional, yaitu dengan metode termal. Reaksi yang terjadi adalah reaksi substitusi bimolekular

Lebih terperinci

BAB IV HUKUM DASAR KIMIA

BAB IV HUKUM DASAR KIMIA BAB IV HUKUM DASAR KIMIA KOMPETENSI DASAR : 2.1 Membuktikan dan mengkomunikasikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia melalui percobaan Indikator : 1. Membuktikan berdasarkan percobaan bahwa massa zat sebelum

Lebih terperinci

TITRASI REDUKSI OKSIDASI OXIDATION- REDUCTION TITRATION

TITRASI REDUKSI OKSIDASI OXIDATION- REDUCTION TITRATION TITRASI REDUKSI OKSIDASI OXIDATION- REDUCTION TITRATION HERMAN, S.Pd., M.Si FARMASI UNMUL TITRASI REDUKSI OKSIDASI TITRASI REDUKSI OKSIDASI DEFINISI analisis titrimetri yang didasarkan pada reaksi reduksi

Lebih terperinci

MENYARING DAN MENDEKANTASI

MENYARING DAN MENDEKANTASI MENYARING DAN MENDEKANTASI MENYARING - Menyaring adalah suatu proses dimana partikelpartikel dipisahkan dari cairan dengan melewatkan cairan melalui bahan permeabel (kertas saring,dll). - Endapan : suatu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. senyawa kompleks bersifat sebgai asam Lewis sedangkan ligan dalam senyawa

I. PENDAHULUAN. senyawa kompleks bersifat sebgai asam Lewis sedangkan ligan dalam senyawa I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Senyawa kompleks merupakan senyawa yang memiliki warna yang khas yang diakibatkan oleh adanya unsur yang dari golongan transisi yang biasanya berperperan sebagai atom pusat

Lebih terperinci

Bab VIII Reaksi Penetralan dan Titrasi Asam-Basa

Bab VIII Reaksi Penetralan dan Titrasi Asam-Basa Bab VIII Reaksi Penetralan dan Titrasi Asam-Basa Sumber: James Mapple, Chemistry an Enquiry-Based Approach Pengukuran ph selama titrasi akan lebih akurat dengan menggunakan alat ph-meter. TUJUAN PEMBELAJARAN

Lebih terperinci

BAB I P ENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I P ENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I P ENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tembaga dalam tubuh manusia mempunyai peranan yang sangat penting, walaupun dalam jumlah yang sedikit (Caret, R.L.; Denniston,K.J.; Topping, J.J., 1993 : 61).

Lebih terperinci

OLIMPIADE SAINS NASIONAL CALON PESERTA INTERNATIONAL CHEMISTRY OLYMPIAD (IChO) Yogyakarta Mei Lembar Jawab.

OLIMPIADE SAINS NASIONAL CALON PESERTA INTERNATIONAL CHEMISTRY OLYMPIAD (IChO) Yogyakarta Mei Lembar Jawab. Hak Cipta Dilindungi Undang-undang OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2015 CALON PESERTA INTERNATIONAL CHEMISTRY OLYMPIAD (IChO) 2016 Yogyakarta 18-24 Mei 2015 Lembar Jawab Kimia TEORI Waktu: 240 menit KEMENTERIAN

Lebih terperinci

Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi

Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi Bab IV Pembahasan IV.1 Ekstraksi selulosa Kayu berdasarkan struktur kimianya tersusun atas selulosa, lignin dan hemiselulosa. Selulosa sebagai kerangka, hemiselulosa sebagai matrik, dan lignin sebagai

Lebih terperinci

Tugas Kimia STOIKIOMETRI

Tugas Kimia STOIKIOMETRI Tugas Kimia STOIKIOMETRI NAMA ANGGOTA : 1. Nyoman Dharma Triyasa (10) 2. Komang Jnana Shindu Putra (17) 3. I.G.A Dharsasasmitha Yani (19) 4. Ni Putu Riska Valentini (25) 5. Putu Ayu Rosita Octaviani (26)

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pelarut dengan penambahan selulosa diasetat dari serat nanas. Hasil pencampuran

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pelarut dengan penambahan selulosa diasetat dari serat nanas. Hasil pencampuran 37 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sampel plastik layak santap dibuat dari pencampuran pati tapioka dan pelarut dengan penambahan selulosa diasetat dari serat nanas. Hasil pencampuran ini diperoleh 6 sampel

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN BaTiO 3 merupakan senyawa oksida keramik yang dapat disintesis dari senyawaan titanium (IV) dan barium (II). Proses sintesis ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, tekanan,

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Padatan TiO 2 Amorf Proses sintesis padatan TiO 2 amorf ini dimulai dengan melarutkan titanium isopropoksida (TTIP) ke dalam pelarut etanol. Pelarut etanol yang digunakan

Lebih terperinci

SILABUS. Alokasi Sumber/ Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian

SILABUS. Alokasi Sumber/ Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian SILABUS Nama Sekolah : SMA Mata Pelajaran : KIMIA Kelas/Semester : X/1 Standar Kompetensi : 1. Memahami struktur atom, sifat-sifat periodik unsur, dan ikatan kimia Alokasi Waktu : 18 jam pelajaran (untuk

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 47 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Penelitian ini bertujuan untuk menunjukan pengaruh suhu sintering terhadap struktur Na 2 O dari Na 2 CO 3 yang dihasilkan dari pembakaran tempurung kelapa. Pada

Lebih terperinci

5009 Sintesis tembaga ftalosianin

5009 Sintesis tembaga ftalosianin P 59 Sintesis tembaga ftalosianin (H H ) 6 Mo 7 2 2. H2 + 8 + CuCl H 2-8 H 3-8 C 2 - H 2 - HCl Cu C 8 H 3 CH 2 CuCl H 2 Mo 7 6 2. H 2 C 32 H 16 8 Cu (18.1) (6.1) (99.) (1235.9) (576.1) Literatur Classic

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Sintesis dan Karakterisasi Resin Pengkhelat Sintesis resin pengkhelat dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari karakteristik retensi ion logam Cu 2+ pada resin PSDVB-NN. Untuk

Lebih terperinci

III. REAKSI KIMIA. Jenis kelima adalah reaksi penetralan, merupakan reaksi asam dengan basa membentuk garam dan air.

III. REAKSI KIMIA. Jenis kelima adalah reaksi penetralan, merupakan reaksi asam dengan basa membentuk garam dan air. III. REAKSI KIMIA Tujuan 1. Mengamati bukti terjadinya suatu reaksi kimia. 2. Menuliskan persamaan reaksi kimia. 3. Mempelajari secara sistematis lima jenis reaksi utama. 4. Membuat logam tembaga dari

Lebih terperinci