REFORMASI TENTANG UNDANG-UNDANG KEPARTAIAN DI INDONESIA. Drs. ZAKARIA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "REFORMASI TENTANG UNDANG-UNDANG KEPARTAIAN DI INDONESIA. Drs. ZAKARIA"

Transkripsi

1 REFORMASI TENTANG UNDANG-UNDANG KEPARTAIAN DI INDONESIA Drs. ZAKARIA Jurusan Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara A. Pendahuluan Kehidupan Kepartaian selama Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto sangat menyedihkan dan menyakitkan rakyat. Dimana ruang gerak Partai Politik dibatasi dan dibuat tidak berdaya. Pada awal Orde Barn Partai Politik mendapat angin segar, dimana bemunculan Partai-partai Baru dan pada waktu dilaksanakan Pemilihan Umum pertama pada era Orde Baru (1971) ada 10 Kontestan peserta Pemilu yang terdiri dari 9 (sembilan) Partai Politik dan satu Golongan Karya. Kesembilan partai Politik itu adalah NU, PARMUSI, PSII, PERTI, PNI, PARKINDO, PARTAI KATHOLIK, IPKI, dan MURBA. Temyata angin segar yang dihirup oleh kesembilan Parpol itu tidak berlangsung lama. Karena kesembilan Parpol itu pada tabun 1975 difusikan oleh Pemerintahan Soeharto menjadi dua Partai Politik melalui undang-undang Nomor:3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golongan Karya. Adapun Partai Politik yang difusikan itu adalah NU, PARMUSI, PSII dan PERTI menjadi PPP, sedangkan PNI, PARKINDO, PARTAI KATHOLIK, IPKI dan MURBA menjadi PDI. Melalui UU No.3 Tahun 1975 itu ruang gerak Partai Politik dipersempit, sedangkan Golongan Karya yang menjadi kontestan Pemilu diberikan fasilitas dan kebebasan yang lebih luas dari partai politik. Pemerintah nampak tidak adil terhadap kontestan peserta pemilu. Keberpihakan Pemerintah terhadap Golkar sanyat menyolok. Akibatnya Golkar sebagai peserta pemilu yang mendominasi perolehan suara dalam pemilu lebih berorientasi pada memperjuangkan kepentingan Pemerintah dan Penguasa daripada memperjuangkan kepentingan rakyat. Karena Golkar selalu mendukung dan mendahulukan kepentingan Pemerintah dan penguasa daripada kepentingan rakyat, maka kehidupan politik pemerintah (supra struktur politik) menjadi lebih besar dan kuat, sedangkan kehidupan politik rakyat (infra struktur politik) menjadi lemah dan tak berdaya. Inilah salah satu penyebab Presiden Soeharto dapat mempertahankan kekuasaannya sampai 32 Tahun. Tetapi bila Golkar yang memperoleh suara mayoritas setiap kali Pemilu berpihak kepada rakyat dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Soeharto tidak mungkin bisa berkuasa sampai 32 tahun dan kehidupan politik masyarakat menjadi kuat Karena yang membuat Golkar itu besar dan kuat, salah satunya adalah UU No.3 Tahun 1975 dan UU No.3 Tabun 1985 tentang Parpol dan Golkar dan Golkar pula yang merupakan salah satu penyebab infra struktur politik itu lemah, maka sangat perlulah undang-undang tentang Parpol dan Golkar itu direformasi termasuk Golkarnya sendiri. B. Aspek-aspek Ketidakadilan Dalam UU No.3 /1975 dan UU No.3/1985 Tentang PARPOL dan GOLKAR Pengaturan tentang Kepartaian di Indonesia selama Pemerintahan Orde Baru diatur melalui UU NO. 3/1975 dan UU No.3/1985 yang terkenal dengan "Undang- Undang Partai Politik dan Golongan Karya" Digitized by USU digital library 1

2 Undang-Undang Parpol dan Golkar tersebut yang hanya terdiri dari 18 pasal saja, bila ditelaah isi UU tersebut secara rinci dan mendalam, banyak terdapat kelemahan, kekurangan dan tidak mencerminkan suasana keadilan dan demokratis. Sebagai contoh: 1. Partai Politik dan Golongan Karya disebut Organisasi Sosial Politik, tetapi Golkar sendiri tidak disebut Partai Politik, dan tidak pula disebut sebagai Ormas (Organisasi Kemasyarakatan). Dalam aktivitasnya ("Sang Golkar") pada waktu PEMILU dia ikut sebagai salah satu kontestan PEMILU dengan Partai Politik yang lain, artinya dia memakai baju partai, pada saat yang lain "Sang Golkar itu" menjalankan tugas-tugas birokrasi, dan bergaya sebagai birokrat dengan menggunakan baju KORPRI. Dengan kondisi atau fungsi ganda tersebut, maka Golkar bersifat Ambivalent atau posisinya tidak jelas. Hal ini akan mengacaukan sistem kepartaian dan membingungkan masyarakat. 2. Pegawai Negeri Sipil dapat menjadi anggota Partai Politik atau Golongan Karya dengan sepengetahuan yang berwenang. Kemudian "Pegawai Negeri Sipil" yang memegang jabatan-jabatan tertentu tidak dapat menjadi anggota Partai Politik atau Golongan Karya, kecuali dengan izin dari pejabat yang berwenang. (Pasal 8 ayat (2) huruf A clan B) UU No.3 /1975 dan UU No.3/1985. Ketentuan tersebut jelas sekali tidak mencerminkan keadilan dan demokratis, karena ketentuan tersebut sangat menguntungkan posisi Golkar yang bersifat ambivalent (sebagai Partai Politik pada satu sisi dan sebagai birokrasi pada posisi yang lain). Hal ini terlihat dari unsur-unsur yang menjadi komponen Golkar yaitu jalur A, B clan C, dimana jalur A yang merupakan kelompok ABRI, Jalur B yang merupakan kelompok Korpri, dan jalur C yang merupakan masyarakat umum. Khusus mengenai jalur B(Korpri), dimana sebahagian besar anggotanya berasal dari Pegawai Negeri Sipil RI yang menjalankan tugas di bidang birokrasi. Dengan sendirinya Pegawai Negeri Sipil secara otomatis menjadi anggota Golkar tanpa membedakan apakah memegang jabatan tertentu atau tidak, dan tidak perlu lagi meminta izin pejabat yang berwenang. lni berarti bahwa pasal 8 ayat (2) a dan b hanya berlaku bagi Partai Politik, sedangkan bagi Golongan Karya tidak berlaku. Dengan demikian pasai 8 ayat (2) UU No.3/1975 dan UU No.3/1985 tidak adil dan perlu dihapus. 3. Partai Politik dan Golongan Karya mendaftar anggota-anggotanya dan memelihara daftar anggotanya (pasal 9). Ketentuan yang terdapat pada pasal 9 UU No.3/1985 itu tidak demokratis. Karena bila anggota masyarakat atau anggota suatu lembaga sosial kemasyarakatan terdaftar menjadi anggota Partai Politik atau Golongan Karya maka secara otomatis anggota yang terdaftar tersebut terikat dengan ketentuan-ketentuan Partai dan Golkar. Pada waktu Pemilu dilakukan mereka harus mendukung dan memilih dimana ia terdaftar sebagai anggota Parpol atau Golkar. Dengan sendirinya Pemilu yang dilakukan tidak lagi bersifat Bebas dan Rahasia. Selain itu Golkar mendapat kesempatan dan kebebasan yang sangat luas dan besar untuk merekrut anggota masyarakat dan Pegawai Negeri Sipil beserta anggota ABRI untuk menjadi anggotanya. Sedangkan Partai Politik dalam merekrut masyarakat untuk menjadi anggota partainya terbatas, hanya pada kalangan anggota masyarakat yang bukan ABRI dan Pegawai Negeri Sipil. Oleh karena itu pasal 9 UU No.3/1985 tidak adil dan tidak demokratis, dan ini harus dihapus. 4. Dengan tidak mengurangi berlakunya ketentuan-ketentuan dalam semua Undangundang yang berlaku, pengawasan pasal 4, pasal 7 huruf A, dan pasal 12 dilakukan oleh Presiden/Mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat (pasal 13 ayat (1) UU No. 3/1985). Ketentuan yang terdapat pada pasal 13 ayat (1) ini banyak terdapat kelemahannya dan membuat Parpol dan Golkar tidak berdaya. Misalnya : 2003 Digitized by USU digital library 2

3 a. Membatasi kebebasan Parpol dan Golkar dalam melakukan aktivitasnya. b. Membuat kekuasaan Partai menjadi kecil dan lemah. c. Membuat fungsi. peran dan kekuasaan Presiden menjadi besar. Oleh karena itu pasal ini harus dihapus atau dihilangkan. 5. Dengan kewenangan yang ada padanya Presiden/Mandataris Permusyawaratan rakyat dapat membekukan Pengurus tingkat pusat Partai Politik dan Golongan Karya yang temyata melakukan tindakan-tindakan yang berhubungan dengan pasal 4. pasal 7 huruf A, dan pasal 12 (pasal 14 ayat (I) UU No.3/1985). Ketentuan yang terdapat pada pasal 14 ayat (I) UU No.3/1985). Ketentuan yang terdapat pada pasal 14 ayat (1) ini menunjukkan tidak bijaksana dan banyak terdapat kelemahannya, misalnya: a. Memperlemah kedudukan dan posisi Parpol dan Golkar sebagai Infra struktur politik. b. Membuat kedudukan Supra Struktur politik khususnya Presiden menjadi kuat. c. Bila suatu Parpol atau Golkar berkuasa dan memegang tampuk Pemerintahan (Presiden) seperti yang terjadi pada masa Orde Baru, maka Partai Politik atau Golkar dapat mempercundangi, atau mengentak alih Pimpinan Partai yang selalu mengkritik kelompok yang berkuasa melalui Presiden. Hal ini akan berbahaya bagi stabilitas kedudukan dan perkembangan Partai Politik atau Golkar. Oleh karena itu pasal ini harus dihapus. Melihat pada pasal-pasal dari UU No.3 /1975 dan UU No. 3/1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya pada Orde Baru banyak terdapat kelemahan. kekurangan. tidak adil dan tidak demokratis. rnaka UU No.3/1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya harus diganti secara total. C. Jangan Mengulangi Penyakit Lama Dalam Merubah UU. Undang-Undang No.3 Tabun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan Karya harus diganti secara total karena Undang-undang tersebut tidak mencerminkan keadilan, demokratis dan transparan dalam kehidupan Organisasi Sosial Politik di Indonesia. Oleh karena itu perlu dibuat undang-undang yang baru tentang Kepartaian di Indonesia sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Perlu disadari bahwa dalam membuat undang-undang kepartaian yang baru itu jangan sampai terulang lagi penyakit dan kebiasaan lama yang terjadi pada masa Pemerintahan Orde Baru, dalam membuat dan merubah undang-undang. Bila ditelaah produk undang-undang yang dibuat pada rnasa pemerintahan Orde Baru bahwa nampak undang-undang tersebut memiliki ciri-ciri atau sifat-sifat sebagai berikut: 1. Kurang transparan, karena tidak tegas dan jelas. 2. Tidak adil, karena selalu menguntungkan satu pihak atau kelompok. 3. Tidak demokratis, karena selalu mempersempit ruang gerak masyarakat dan infrastruktur. 4. Selalu memberikan peluang yang besar terhadap peran dan kekuasaan Pemerintahan. 5. Pemerintah selalu mau menang sendiri. Sebagai contoh ditelusuri 5 (lima) paket Undang-undang dalam bidang Politik dan undang-undang tentang Pemerintahan di daerah. 1. Tentang Undang-undang Partai Politik dan Golongan Karya. Undang-undang No.3 tahun 1975 tentang Parpol dan Golkar jauh lebih transparan, adil dan demokratis bila dibandingkan dengan UU No.3 Tahun Hal ini tampak secara jelas dari pasal-pasal pada Undang-undang tersebut. Pasal (1) Azas Politik dan Golongan Karya adalah Pancasila dan UUD Digitized by USU digital library 3

4 Pasal (2) Selain ketentuan tersebut daiam ayat (1) pasal ini, azas/ciri Partai Politik dan Golongan Karya yang telah ada pada saat diundangkannya UU ini adalah juga azas /ciri Partai Politik dan Golongan Karya. Kemudian dalam perubahan UU tersebut menjadi UU No.3 Tahun 1985 menetapkan pasal2 ayat (1) dan (2) sebagai berikut: Pasal 2 ayat (1). Partai Politik dan Golongan Karya berazaskan Pancasila sebagai satu-satunya azas. (2). Azas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bemegara. Dari pasal 2 ini dapat dipahami dan disimpulkan bahwa UU No.3 Tahun 1975 lebih demokratis karena memberikan kebebasan kepada Partai Politik dan Golongan Karya untuk menambah azas lain dan ciri-ciri yang berbeda-beda, sedangkan dalam UU No.3 Tahun 1975 Parpol dan Golkar tidak lagi diberikan kebebasan daiam menentukan azas dan cirinya. 2. Tentang Undang-undang Pemilu, yaitu UU No.I5 Tahun 1969 jauh lebih transparan, adil dan demokratis bila dibandingkan dengan UU No.4 Tahun 1975, UU No.2 Tahun 1980 dan UU No.1 Tahun Sebagai contoh pada Pasal 2 ayat (1) UU No. 15 Tahun 1969 menetapkan sebagai berikut: Pasal 2 ayat (1) Warganegara Republik Indonesia bekas anggota Organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk Organisasi massanya atau yang terlibat langsung ataupun tak langsung dalam "Gerakan Kontra Revolusi G.30 S/PKI" atau organisasi terlarang lainnya tidak diberikan hak untuk memilih dan dipilih. Kemudian dalam perubahan UU tersebut menjadi UU No.4 Tabun 1975 menjadi UU No.2 Tabun 1980, kemudian menjadi UU No.1 Tahun 1985 menetapkan pasal2 ayat (1) sebagai berikut: Pasal 2 ayat (1) Warganegara Republik Indonesia bekas anggota Organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk Organisasi Massanya atau yang terlibat langsung ataupun tak langsung dalam "Gerakan Kontra Revolusi G.30 S/PKI atau organisasi terlarang lainnya tidak diberi hak untuk memilih dan dipilih, kecuali apabila Pemerintah mempertimbangkan hak memilihnya, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Pasal2 ayat (1) UU No. 15 Tahun 1969 tentang Pemilu jauh lebih jelas, tegas dan transparan serta membuat pelaksanaan Pemilu menjadi jujur dan adil, tetapi setelah dilakukan perubahan, maka UU tersebut menjadi tidak transparan, adil dan demokratis karena Pemerintah diberi hak untuk menentukan penggunaan hak pilih dari warga negara RI bekas organisasi terlarang seperti yang dituangkan dalam Pasal 2 ayat (1) tersebut di atas. Dengan sendirinya Pemilu dilaksanakan tidak lagi LUBER (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia) dan JURDIL (Jujur dan Adil). 3. Tentang Undang-undang Susunan dan Kedudukan MPR/DPR, yaitu UU No. 16 Tahun 1969, UU No.5 Tahun 1975, dan UU No.2 Tahun 1985 tentang susunan dan Kedudukan MPR/DPR dan DPRD. Sarna sekali tidak adil, tidak demokratis, tidak transparan. Sebagai Contoh: Adanya anggota tambahan di MPR yang diangkat bukan melalui hasil Pemilihan Umum, tetapi ditentukan oleh Pejabat yang berwenang. Demikian pula untuk anggota DPR, ada sebahagian anggota DPR yang diangkat bukan melalui hasil Pemilu, tetapi ditunjuk oleh pejabat tertentu. Ini menunjukkan bahwa anggota DPR dan MPR yang merupakan wakil rakyat sulit untuk diterima sebagai wakil 2003 Digitized by USU digital library 4

5 rakyat karena tidak semuanya dipilih oleh rakyat melalui Pemilu. Bagi anggota DPR dan MPR yang diangkat oleh pejabat yang berwenang berarti mereka merupakan wakil Pejabat yang mengangkatnya, bukan wakil rakyat. Hal ini tentu sangat tidak adii, dan tidak demokratis. Agar supaya DPR dan MPR tersebut benar-benar merupakan lembaga Perwakilan Rakyat, maka semua anggota DPR dan MPR harus dipilih oleh rakyat secara langsung. Oleh karena itu Undangundang No.1 Tahun 1985 tentang Pemilihan Umum harus direvisi sesuai dengan tuntutan masyarakat. 4. Undang-undang No.5 Tahun 1985 tentang Referendum. Undang-undang tentang Referendum ini sangat bertentangan dengan Pasal 37 ayat (1) dan (2) UUD 1945, yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 37 (1). Untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota yang hadir. (2). Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota yang hadir. Pasal 37 ayat (1) dan (2) ini sudah cukupjelas, hal ini sudah dinyatakan dalarn penjelasan UUD Berdasarkan Pasal 37 tersebut, maka MPR mempunyai hak dan wewenang penuh untuk mengubah UUD. tidak lagi harus meminta pendapat rakyat melalui Referendum, karena MPR itu sudah dianggap sebagai penjelmaan rakyat yang memegang kedaulatan negara. Oleh karena UU No.1 Tahun 1985 tentang Referendum bertentangan dengan konstitusi (UUD 1945) dan harus dihapus. Pasal 37 ini dapat diperbandingkan dengan pasal 6 ayat (2) UUD Menurut Pasal 6 ayat (2), Presiden dad Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara terbanyak. Mengapa dalam melaksanakan Pasal 6 ayat (2) ini MPR tidak melakukan Referendum meminta pendapat rakyat). Oleh karena itu untuk melaksanakan Pasal 37, MPR dapat melakukannya sesuai dengan pelaksanaan Pasal 6 ayat (2) selama ini. 5. Undang-undang No.8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Bila ditelaah isi (pasal-pasal) yang terdapat pada Organisasi Kemasyarakatan yang dibuat oleh Pemerintah Orde Baru tidak jauh berbeda dengan UU tentang Parpol dan Golkar. Dimana orang dibatasi tingkat kebebasannya dan ruang geraknya. Peranan dan campur tangan Pemerintah terhadap aktivitas Ormas terlalu besar. Sehingga UU No.8 Tahun 1985 tentang Orrnas tersebut nampak tidak adil, tidak demokratis, dan tidak transparan. Oleh karena itu perlu ditinjau dan direvisi kembali. 6. Undang-undang No.5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan di Daerah. Sama halnya dengan 5 (lima) paket Undang-undang di bidang Politik, dimana UU tentang Pemerintahan di daerah yang sudah 4 (empat) kali mengalami perubahan yaitu 1, UU No. 22 Tahun 1948, diganti dengan UU No.1 Tahun 1957, diubah lagi menjadi UU No.5 Tahun Setiap kali melakukan percobaan, UU tentang Pemerintahan di Daerah tersebut menjadi tidak demokratis. Wewenang dan kebebasan Daerah semakin dibatasi. Sebaliknya wewenang dan kekuasaan pusat semakin besar. Oleh karena itu UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan di Daerah perlu direvisi sesuai dengan tuntutan masyarakat di daerah. D. Hal-hal Yang Perlu Diatur Dalam UU Kepartaian di Indonesia 1. Tentang Sistem Kepartaian dan Jumlah Kepartaian. a. Indonesia harns menganut sistem banyak partai (Multi Party System), karena masyarakat Indonesia heterogen baik dari aspek agama, budaya, geografi, 2003 Digitized by USU digital library 5

6 ethnisitas, dll. Diharapkan melalui sistem banyak partai aspirasi kelompok masyarakat akan terwakili. b. Perlu dilakukan pembatasan jumlah partai di dalam sistem banyak partai (Multi party System), karena bila jumlah partai terlalu banyak akan mudah terjadi hal-hal yang berdampak negatif, seperti: 1) Disintegrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bemegara semakin tinggi. 2) Sulit terbentuknya Partai Mayoritas. 3) Sulit membentuk Koalisi dalam Pemerintahan 4) Primordialisme dan Nepotisme akan semakin tinggi. c. Jumlah Partai dalarn sistem banyak partai cukup lima saja, hal ini sesuai dengan ideologi negara, sesuai dengan agama yang diakui di Indonesia, sesuai dengan ethnis yang menempati pulau-pulau besar di Indonesia yang mewarnai kondisi pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya. Melalui lima partai ini diharapkan aspirasi kelompok masyarakat akan tertampung, dan integrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bemegara akan mudah terwujud. 2. Tentang Azas, Tujuan dan Program Partai Politik. a. Semua partai Politik harus menggunakan Pancasila sebagai azasnya dan boleh ditambah dengan azas lain yang menurut Misi Pancasila. Tujuannya adalah apabila Partai yang menang dengan menguasai Pemerintahan tidak merubah-ubah sendi-sendi Pemerintahan. Oleh karena itu, setiap Partai Politik yang ada di Indonesia mempunyai azas yang sama. b. Tujuan partai politik, tujuan partai Politik di Indonesia ini juga diharapkan sama dan dianjurkan sesuai dengan tujuan Negara dan Pemerintah yang terdapat dalam pembukaan UUD Bila masing-masing Parpol mempunyai tujuan yang sama dengan tujuan negara dan pemerintah, maka setiap kali berganti penguasa didalam pemerintahan tujuannya akan sama, maka akan terjadi kesinarnbungan pelaksanaan pembangunan. c. Program partai Politik dalam mencapai tujuannya tidak perlu di atur sama. Kepada setiap Parpol diberikan kebebasan dalarn menentukan dan membuat serta mengembangkan programnya (Flatform). 3.Tentang Keanggotaan dan Kepengurusan Partai Politik a. Keanggotaan Partai Politik 1) Setiap Warganegara bebas untuk menjadi anggota dalam suatu Partai Politik. 2) Setiap Partai Politik bebas untuk merekrut anggota masyarakat menjadi anggota tetap partainya, dalam rangka Pengkaderan Pengurus Partai. 3) Pegawai Negeri tidak boleh terikat atau menjadi anggota tetap dari Partai Politik, karena hal ini akan mengganggu tugas pokoknya sebagai aparatur negara. 4) Setiap anggota ABRI tidak boleh terikat dan menjadi anggota tetap dari suatu Partai Politik, namun anggota ABRI dapat menjadi simpatisan dan memberikan suaranya kepada Partai Politik tertentu dalam pemilihan umum. 5) Setiap Warga negara termasuk Pegawai Negeri dan ABRI dapat menjadi simpatisan atau menjadi pendukung suatu Partai Politik. 6) Semua Partai Politik harus menerapkan sistem Massa Mengarnbang (Floating Mass), dimana anggota masyarakat tidak menjadi anggota tetap dari suatu Partai Politik, tetapi di dalarn pemilihan umum dapat memberikan suaranya kepada partai tertentu yang ia sukai dalam Pemilihan Umum. b. Kepengurusan Partai Politik Digitized by USU digital library 6

7 1) Kepengurusan Partai Politik ditetapkan oleh Partai Politik sendiri secara bebas. 2) Partai Politik tidak dibolehkan merekrut atau mendaftarkan Organisasi Kemasyarakatan menjadi pendukung partainya. 3) Rekruitmen yang dilakukan oleh Partai Politik pada suatu masyarakat atau organisasi tertentu adalah individunya bukan organisasinya. 4) Pegawai Negeri Sipil dan ABRI tidak boleh menjadi pengurus dari suatu Partai Politik, kecuali bila sudah berhenti atau meminta berhenti dari Pegawai Negeri Sipil atau ABRI. 5) Pengurus Partai Politik yang menduduki atau yang memegang jabatan politis dalam pemerintahan tidak boleh menilai atau menentukan jabatan karir sekarang. 4. Tentang Kedudukan Partai Politik a. partai Politik harus bebas dari campur tangan Pemerintah artinya Parpol itu bersifat Independent. b. Partai Politik harus dipisahkan dengan birokrasi secara nyata atau jelas. Sehingga ada pemisahan yang jelas antara Pejabat Politis yang diangkat berdasarkan kekuatan politik dengan pejabat birokrat yang diangkat berdasarkan karir. 5. Tentang Hak dan Wewenang Partai Politik. a. Setiap Partai Politik yang menang dalam Pemilihan Umum berhak mencalonkan Ketua atau Pengurus partainya menjadi Presiden dan Wakil Presiden. b. Setiap Partai Politik yang menang dalam Pemilihan Umum berhak mencalonkan orang-orang partainya menjadi anggota Kabinet. c. Setiap Partai Politik yang menang dalam Pemilihan Umurn pada tingkat Daerah Tingkat I atau II berhak mencalonkan orang-orangnya menjadi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. d. Setiap Partai Politik yang tidak duduk dalam pemerintahan berwenang untuk melakukan kritik terhadap pemerintah. e. Setiap Partai Politik memeiliki wewenang untuk mengambil jalannya roda pemerintahan di luar DPR sebagai anggota DPR. 6. Tentang Larangan Terhadap partai Politik. a. Partai Politik tidak boleh mendudukkan atau mengangkat orang-orang Partainya pada jabatan birokrasi. b. Pejabat politis di Pemerintahan tidak dibolehkan mengangkat orang-orang partai pada jabatan birokrasi. Penutup 1. Untuk membuat UU tentang kepartaian yang baru dan bersifat adil, demokratis dan transparan, maka perlu dilakukan perubahan terhadap Undang-undang tentang Pemilihan Umurn, undang-undang tentang susunan dan kedudukan MPR, DPR dan DPRD, Undang-undang tentang Referendum, Undang-undang tentang Organisasi Kemasyarakatan, dan termasuk Undang-undang tentang Pemilihan Daerah. 2. Perubahan terhadap 5 (lima) paket UU tersebut (pemilu, Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD, Referendum, Organisasi Kemasyarakatan dan Pemerintahan di Daerah) harus disesuaikan dengan Undang-undang tentang Kepartaian Digitized by USU digital library 7

8 DAFTAR BACAAN Amal, Ichlasul Teori-Teori Mutakhir Partai Politik. Tiara Wacana. Yogyakarta. Miriam, Budiardjo Dasar-Dasar Ilmu Politik. Gramedia. Jakarta. Undang-Undang Dasar Undang-Undang Nomor: 3 tahun Tentang Partai Politik dan Golongan Karya. Undang-Undang Nomor: 3 tahun Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor3 Tabun Undang-Undang Nomor: 1 tahun Tentang Pemilihan Umum. Undang-Undang Nomor: 2 tahun Tentang Susunan dan Kedudukan MPR/DPR Digitized by USU digital library 8

2015 PERKEMBANGAN SISTEM POLITIK MASA REFORMASI DI INDONESIA

2015 PERKEMBANGAN SISTEM POLITIK MASA REFORMASI DI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang didasarkan oleh suatu prinsip yaitu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi merupakan salah satu sistem

Lebih terperinci

Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Politik

Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Politik Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Politik Kuliah ke-11 suranto@uny.ac.id 1 Latar Belakang Merajalelanya praktik KKN pada hampir semua instansi dan lembaga pemerintahan DPR dan MPR mandul, tidak mampu

Lebih terperinci

d. Mendeskripsikan perkembangan politik sejak proklamasi kemerdekaan.

d. Mendeskripsikan perkembangan politik sejak proklamasi kemerdekaan. Kedaulatan Rakyat dan Sistem Untuk Kelas VII Kompetensi Kompetensi Dasar : Kemampuan menganalisis kedaulatan rakyat dan sistem politik Indikator : a. Menjelaskan makna kedaulatan rakyat b. Menguraikan

Lebih terperinci

SEJARAH PEMILU DI INDONESIA. Muchamad Ali Safa at

SEJARAH PEMILU DI INDONESIA. Muchamad Ali Safa at SEJARAH PEMILU DI INDONESIA Muchamad Ali Safa at Awal Kemerdekaan Anggota KNIP 200 orang berdasarkan PP Nomor 2 Tahun 1946 tentang Pembaharuan KNIP (100 orang wakil daerah, 60 orang wakil organisasi politik,

Lebih terperinci

LATIHAN SOAL TATA NEGARA ( waktu : 36 menit )

LATIHAN SOAL TATA NEGARA ( waktu : 36 menit ) LATIHAN SOAL TATA NEGARA ( waktu : 36 menit ) 1. Lembaga tinggi negara yang terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD adalah a. DPR c. DPD e. MK f. MA 2. Yang bukan Tugas MPR adalah a. Melantik Presiden

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA (Kuliah ke 13) suranto@uny.ac.id 1 A. UUD adalah Hukum Dasar Tertulis Hukum dasar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (a) Hukum dasar tertulis yaitu UUD, dan

Lebih terperinci

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 3 TAHUN 1975 (3/1975) Tanggal: 27 AGUSTUS 1975 (JAKARTA)

Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Nomor: 3 TAHUN 1975 (3/1975) Tanggal: 27 AGUSTUS 1975 (JAKARTA) Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 3 TAHUN 1975 (3/1975) Tanggal: 27 AGUSTUS 1975 (JAKARTA) Sumber: LN 1975/32; TLN NO. 3062 Tentang: PARTAI POLITIK DAN GOLONGAN KARYA

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 1996 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN CALON ANGGOTA TAMBAHAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT UTUSAN GOLONGAN KARYA ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

ASSALAMU'ALAIKUM WR.WB

ASSALAMU'ALAIKUM WR.WB ASSALAMU'ALAIKUM WR.WB KELOMPOK 11 Nama Anggota: Nur Ihsani Rahmawati (14144600186) Rizki Utami (14144600210) Siti Aminah (14144600198) Kelas: A5-14 FKIP/PGSD Tugas Kelompok : PKN Universitas PGRI Yogyakarta

Lebih terperinci

BAB II PELAKSANAAN HAK-HAK PILIH PERSPEKTIF DEMOKRASI. yaitu demos yang berarti rakyat dan cratos atau cratein yang berarti

BAB II PELAKSANAAN HAK-HAK PILIH PERSPEKTIF DEMOKRASI. yaitu demos yang berarti rakyat dan cratos atau cratein yang berarti BAB II PELAKSANAAN HAK-HAK PILIH PERSPEKTIF DEMOKRASI A. Konsep Demokrasi 1. Pengertian Demokrasi Dari sudut bahasa (etimologis), demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos yang berarti rakyat dan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1985 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1975 TENTANG PARTAI POLITIK DAN GOLONGAN KARYA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1985 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1975 TENTANG PARTAI POLITIK DAN GOLONGAN KARYA UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1985 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1975 TENTANG PARTAI POLITIK DAN GOLONGAN KARYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1999 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 56/PUU-XI/2013 Parlementary Threshold, Presidential Threshold, Hak dan Kewenangan Partai Politik, serta Keberadaan Lembaga Fraksi di DPR I. PEMOHON Saurip Kadi II. III.

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Modul ke: DEMOKRASI ANTARA TEORI DAN PELAKSANAANNYA Fakultas TEKNIK Martolis, MT Program Studi Teknik Mesin TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS 1. MENYEBUTKAN PENGERTIAN, MAKNA DAN MANFAAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1975 TENTANG PARTAI POLITIK DAN GOLONGAN KARYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1975 TENTANG PARTAI POLITIK DAN GOLONGAN KARYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1975 TENTANG PARTAI POLITIK DAN GOLONGAN KARYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a bahwa

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Bab ini merupakan hasil kajian, dan analisis dari data-data yang diperoleh

BAB V KESIMPULAN. Bab ini merupakan hasil kajian, dan analisis dari data-data yang diperoleh BAB V KESIMPULAN Bab ini merupakan hasil kajian, dan analisis dari data-data yang diperoleh selama penelitian yaitu tentang bagaimana upaya PPP dalam meningkatkan perolehan hasil suara pada Pemilu tahun

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. 1. Peran. Peran merupakan aspek yang dinamis dalam kedudukan (status)

BAB II KAJIAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. 1. Peran. Peran merupakan aspek yang dinamis dalam kedudukan (status) BAB II KAJIAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Peran Peran merupakan aspek yang dinamis dalam kedudukan (status) terhadap sesuatu. Apabila seseorang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya,

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 172 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dipaparkan dalam bab ini merujuk pada jawaban atas permasalahan penelitian yang telah dikaji oleh penulis di dalam skripsi yang berjudul Peta

Lebih terperinci

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya)

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya) PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya) Apakah Sistem Demokrasi Pancasila Itu? Tatkala konsep

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dikelola salah satunya dengan mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi

BAB I PENDAHULUAN. dikelola salah satunya dengan mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Founding fathers bangsa Indonesia telah memberikan ketegasan di dalam perumusan dasar pembentukan negara dimana Indonesia harus dibangun dan dikelola salah satunya dengan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1975 TENTANG PARTAI POLITIK DAN GOLONGAN KARYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1975 TENTANG PARTAI POLITIK DAN GOLONGAN KARYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1975 TENTANG PARTAI POLITIK DAN GOLONGAN KARYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyederhanaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1986

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1986 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1986 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1975 TENTANG PARTAI POLITIK DAN GOLONGAN KARYA SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1976 TENTANG TATACARA PEMENUHAN DAN PENELITIAN SYARAT-SYARAT SERTA KETENTUAN KEANGGOTAAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN

Lebih terperinci

TUGAS KEWARGANEGARAAN LATIHAN 4

TUGAS KEWARGANEGARAAN LATIHAN 4 1 TUGAS KEWARGANEGARAAN LATIHAN 4 DISUSUN OLEH: NAMA NIM PRODI : IIN SATYA NASTITI : E1M013017 : PENDIDIKAN KIMIA (III-A) S-1 PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MATARAM

Lebih terperinci

BAB 2 DATA DAN ANALISA. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data antara lain: - Tinjauan Pustaka : Buku Mengapa Kami Memilih Golput.

BAB 2 DATA DAN ANALISA. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data antara lain: - Tinjauan Pustaka : Buku Mengapa Kami Memilih Golput. BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 Sumber Data Metode yang digunakan untuk mendapatkan data antara lain: - Tinjauan Pustaka : Buku Mengapa Kami Memilih Golput. - Media Elektronik : Internet, tv, dan radio. - Survei

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dilaksanakan menurut UUD. Dalam perubahan tersebut bermakna bahwa

BAB I PENDAHULUAN. dilaksanakan menurut UUD. Dalam perubahan tersebut bermakna bahwa 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu ciri negara demokrasi adalah diselenggarakannya pemilihan umum (pemilu) yang terjadwal dan berkala. Amandemen UUD 1945 yakni Pasal 1 ayat (2), menyatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Organisasi adalah suatu wadah berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama, kemudian mengorganisasikan diri dengan bekerja bersamasama dan merealisasikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Pemilihan umum (Pemilu) dimaknai sebagai sarana kedaulatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Pemilihan umum (Pemilu) dimaknai sebagai sarana kedaulatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Pemilihan umum (Pemilu) dimaknai sebagai sarana kedaulatan rakyat. Melalui Pemilihan Umum juga diyakini akan melahirkan wakil dan pemimpin yang dikehendaki rakyatnya.

Lebih terperinci

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 017/PUU-I/2003

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 017/PUU-I/2003 RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 017/PUU-I/2003 I. PEMOHON SAID PRADONO BIN DJAJA dkk, yang dalam hal ini pemberi kuasa dan bertindak untuk sendiri dan atas nama anggota lembaga Perjuangan Rehabilitasi

Lebih terperinci

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 008/PUU-IV/2006 Perbaikan Tgl. 12 Mei 2006

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 008/PUU-IV/2006 Perbaikan Tgl. 12 Mei 2006 RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 008/PUU-IV/2006 Perbaikan Tgl. 12 Mei 2006 I. PEMOHON DJOKO EDHI SUTJIPTO ABDURRAHMAN. II. KUASA HUKUM DR.H.TEGUH SAMUDRA, S.H.,MH. Dkk. III. PENGUJIAN UNDANG-UNDANG A.

Lebih terperinci

Pimpinan dan anggota pansus serta hadirin yang kami hormati,

Pimpinan dan anggota pansus serta hadirin yang kami hormati, PANDANGAN FRAKSI PARTAI DAMAI SEJAHTERA DPR RI TERHADAP PENJELASAN PEMERINTAH ATAS RUU TENTANG PEMILU ANGGOTA DPR, DPD, DPRD, DAN RUU TENTANG PEMILU PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN Disampaikan Oleh : Pastor

Lebih terperinci

DEMOKRASI PANCASILA. Buku Pegangan: PANCASILA dan UUD 1945 dalam Paradigma Reformasi Oleh: H. Subandi Al Marsudi, SH., MH. Oleh: MAHIFAL, SH., MH.

DEMOKRASI PANCASILA. Buku Pegangan: PANCASILA dan UUD 1945 dalam Paradigma Reformasi Oleh: H. Subandi Al Marsudi, SH., MH. Oleh: MAHIFAL, SH., MH. DEMOKRASI PANCASILA Buku Pegangan: PANCASILA dan UUD 1945 dalam Paradigma Reformasi Oleh: H. Subandi Al Marsudi, SH., MH. Oleh: MAHIFAL, SH., MH. PENGERTIAN, PAHAM ASAS DAN SISTEM DEMOKRASI Yunani: Demos

Lebih terperinci

UU 4/2000, PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1999 TENTANG PEMILIHAN UMUM

UU 4/2000, PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1999 TENTANG PEMILIHAN UMUM Copyright (C) 2000 BPHN UU 4/2000, PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1999 TENTANG PEMILIHAN UMUM *11744 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 4 TAHUN 2000 (4/2000) TENTANG PERUBAHAN ATAS

Lebih terperinci

Ulangan Akhir Semester (UAS) Semester 1 Tahun Pelajaran

Ulangan Akhir Semester (UAS) Semester 1 Tahun Pelajaran Ulangan Akhir Semester (UAS) Semester 1 Tahun Pelajaran 2016 2017 Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kelas / Semester : VI (Enam) / 1 (Satu) Hari / Tanggal :... Waktu : 90 menit A. Pilihlah

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1966 TENTANG KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEMENTARA DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT GOTONG ROYONG MENJELANG PEMILIHAN UMUM DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. PRESIDEN,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1985 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 1969 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA-ANGGOTA BADAN PERMUSYAWAARATAN/PERWAKILAN RAKYAT SEBAGAIMANA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. basis agama Islam di Indonesia Perolehan suara PKS pada pemilu tahun 2004

I. PENDAHULUAN. basis agama Islam di Indonesia Perolehan suara PKS pada pemilu tahun 2004 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan salah satu partai politik dengan basis agama Islam di Indonesia Perolehan suara PKS pada pemilu tahun 2004 mengalami

Lebih terperinci

PENDIDIKAN PANCASILA

PENDIDIKAN PANCASILA Modul ke: PENDIDIKAN PANCASILA Pancasila Dalam Sejarah Perjuangan Bangsa (PASCA Kemerdekaan) Fakultas MKCU Dr. H. SyahrialSyarbaini, MA. Program Studi www.mercubuana.ac.id Indikator: Menguasai pengetahuan

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 123/PUU-XII/2014 Pengisian Pimpinan DPRD

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 123/PUU-XII/2014 Pengisian Pimpinan DPRD RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 123/PUU-XII/2014 Pengisian Pimpinan DPRD I. PEMOHON 1. Jimmy Willbaldus Sianto, 2. Ir.Yucundianus Lepa.M.Si, 3. Jefri Unbanunaek Kuasa Hukum Muhammad Syukur Mandar, SH.

Lebih terperinci

sherila putri melinda

sherila putri melinda sherila putri melinda Beranda Profil Rabu, 13 Maret 2013 DEMOKRASI YANG PERNAH BERLAKU DI INDONESIA DEMOKRASI YANG PERNAH BERLAKU DI INDONESIA Demokrasi berasal dari kata DEMOS yang artinya RAKYAT dan

Lebih terperinci

SOAL ULANGAN HARIAN. Hari / Tanggal : Rabu, Kelas / semester

SOAL ULANGAN HARIAN. Hari / Tanggal : Rabu, Kelas / semester SOAL ULANGAN HARIAN No Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan Hari / Tanggal : Rabu, 12-09 - 2012 Kelas / semester Waktu Standart Kompetensi : VI/I : 35 menit : - menghargai nilai-nilai juang dalam

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 1969 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

Pembaruan Parpol Lewat UU

Pembaruan Parpol Lewat UU Pembaruan Parpol Lewat UU Persepsi berbagai unsur masyarakat terhadap partai politik adalah lebih banyak tampil sebagai sumber masalah daripada solusi atas permasalahan bangsa. Salah satu permasalahan

Lebih terperinci

PERBAIKAN RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 26/PUU-VII/2009 Tentang UU Pemilihan Presiden & Wakil Presiden Calon Presiden Perseorangan

PERBAIKAN RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 26/PUU-VII/2009 Tentang UU Pemilihan Presiden & Wakil Presiden Calon Presiden Perseorangan PERBAIKAN RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 26/PUU-VII/2009 Tentang UU Pemilihan Presiden & Wakil Presiden Calon Presiden Perseorangan I. PEMOHON Sri Sudarjo, S.Pd, SH, selanjutnya disebut

Lebih terperinci

MPR sebelum amandemen :

MPR sebelum amandemen : Dalam UUD 1945, tidak dirinci secara tegas bagai mana pembentukan awal Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Penelusuran sejarah mengenai cikal-bakal terbentuknya majelis menjadi sangat penting dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan kebebasan berpendapat dan kebebasan berserikat, dianggap

BAB I PENDAHULUAN. dengan kebebasan berpendapat dan kebebasan berserikat, dianggap BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam negara demokrasi, Pemilu dianggap lambang, sekaligus tolak ukur, dari demokrasi. Hasil Pemilu yang diselenggarakan dalam suasana keterbukaan dengan kebebasan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 1969 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH SEBAGAIMANA DIUBAH DENGAN UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

PARTAI POLITIK. R. HERLAMBANG PERDANA WIRATRAMAN, SH., MA. Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga

PARTAI POLITIK. R. HERLAMBANG PERDANA WIRATRAMAN, SH., MA. Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga PARTAI POLITIK R. HERLAMBANG PERDANA WIRATRAMAN, SH., MA. Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga Al Kahfi - Surabaya, 19 Mei 2008 Sub Pokok Bahasan SejarahParpoldiIndonesia Parpol

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1999 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1999 TENTANG PEMILIHAN UMUM

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1999 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1999 TENTANG PEMILIHAN UMUM PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 1999 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1999 TENTANG PEMILIHAN UMUM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Negara yang dianggap demokratis selalu mencantumkan kata kedaulatan

BAB I PENDAHULUAN. Negara yang dianggap demokratis selalu mencantumkan kata kedaulatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Negara yang dianggap demokratis selalu mencantumkan kata kedaulatan rakyat didalam konstitusinya. Hal ini menunjukkan bahwa kedaulatan rakyat merupakan suatu

Lebih terperinci

RINGKASAN PUTUSAN. 2. Materi pasal yang diuji: a. Nomor 51/PUU-VI/2008: Pasal 9

RINGKASAN PUTUSAN. 2. Materi pasal yang diuji: a. Nomor 51/PUU-VI/2008: Pasal 9 RINGKASAN PUTUSAN Sehubungan dengan sidang pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 51,52,59/PUU-VI/2009 tanggal 18 Februari 2009 atas Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, dengan hormat dilaporkan

Lebih terperinci

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di KETERANGAN PENGUSUL ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1985 TENTANG REFERENDUM. Presiden Republik Indonesia,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1985 TENTANG REFERENDUM. Presiden Republik Indonesia, UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1985 TENTANG REFERENDUM Presiden Republik Indonesia, Menimbang : bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat berketetapan untuk mempertahankan Undang-Undang Dasar 1945, tidak berkehendak

Lebih terperinci

2 c. bahwa beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakila

2 c. bahwa beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakila LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.383, 2014 LEGISLATIF. MPR. DPR. DPD. DPRD. Kedudukan. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5650) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. partai lokal Aceh merupakan sebuah proses demokrasi yang wajib dilaksanakan di

BAB I PENDAHULUAN. partai lokal Aceh merupakan sebuah proses demokrasi yang wajib dilaksanakan di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemilihan umum legislatif tahun 2014 yang diikuti oleh 10 partai nasional dan 3 partai lokal Aceh merupakan sebuah proses demokrasi yang wajib dilaksanakan di Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG BADAN PERWAKILAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA B U P A T I M A G E L A N G

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG BADAN PERWAKILAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA B U P A T I M A G E L A N G Perda No. 12 / 2000 tentang Tatacara Pencalonan, Pemilihan, Pelantikan dan Pemberhentian Kepala Desa PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 10 TAHUN 2000 TENTANG BADAN PERWAKILAN DESA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

LAPORAN SINGKAT RAPAT KERJA KOMISI II DPR RI

LAPORAN SINGKAT RAPAT KERJA KOMISI II DPR RI TERBATAS (Untuk Kalangan Sendiri) LAPORAN SINGKAT RAPAT KERJA KOMISI II DPR RI (Bidang Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kepemiluan, Pertanahan dan

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MATERI AUDIENSI DAN DIALOG DENGAN FINALIS CERDAS CERMAT PANCASILA, UUD NEGARA RI TAHUN 1945, NKRI, BHINNEKA TUNGGAL IKA, DAN KETETAPAN MPR Dr. H. Marzuki Alie

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diwujudkan dengan adanya pemilihan umum yang telah diselenggarakan pada

BAB I PENDAHULUAN. diwujudkan dengan adanya pemilihan umum yang telah diselenggarakan pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pada Bab 1 pasal 1 dijelaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum dan negara

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perubahan Undang-Undang Dasar tahun 1945 (UUD tahun 1945) tidak hanya

I. PENDAHULUAN. Perubahan Undang-Undang Dasar tahun 1945 (UUD tahun 1945) tidak hanya I. PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Perubahan Undang-Undang Dasar tahun 1945 (UUD tahun 1945) tidak hanya didasari oleh keinginan untuk hidup berbangsa dan bernegara secara demokratis. Terdapat alasan lain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Presiden dan kepala daerah Pilihan Rakyat. Pilihan ini diambil sebagai. menunjukkan eksistensi sebagai individu yang merdeka.

BAB I PENDAHULUAN. Presiden dan kepala daerah Pilihan Rakyat. Pilihan ini diambil sebagai. menunjukkan eksistensi sebagai individu yang merdeka. 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Reformasi 1998 menghadirkan perubahan proses demokrasi di Indonesia. Pemilihan Presiden/ Wakil Presiden hingga Kepala Daerah dilaksanakan secara langsung,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pemilihan Umum (Pemilu) di Negara Indonesia merupakan sarana pelaksanaan

I. PENDAHULUAN. Pemilihan Umum (Pemilu) di Negara Indonesia merupakan sarana pelaksanaan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemilihan Umum (Pemilu) di Negara Indonesia merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat, hal tersebut sebagaimana dicantumkan dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun

Lebih terperinci

PENGELOLAAN PARTAI POLITIK MENUJU PARTAI POLITIK YANG MODERN DAN PROFESIONAL. Muryanto Amin 1

PENGELOLAAN PARTAI POLITIK MENUJU PARTAI POLITIK YANG MODERN DAN PROFESIONAL. Muryanto Amin 1 PENGELOLAAN PARTAI POLITIK MENUJU PARTAI POLITIK YANG MODERN DAN PROFESIONAL Muryanto Amin 1 Pendahuluan Konstitusi Negara Republik Indonesia menuliskan kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adanya amandemen besar menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis, transparan,

BAB I PENDAHULUAN. adanya amandemen besar menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis, transparan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berhentinya Presiden Soeharto di tengah-tengah krisis ekonomi dan moneter menjadi awal dimulainya era reformasi di Indonesia. 1 Dengan adanya reformasi, masyarakat berharap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara di dunia ini yang menggunakan sistem pemerintahan demokrasi, dimana dalam sistem ini kedaulatan berada ditangan rakyat

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS VERIFIKASI SYARAT CALON PENGGANTI ANTARWAKTU ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH PEMILIHAN UMUM TAHUN 2009

PEDOMAN TEKNIS VERIFIKASI SYARAT CALON PENGGANTI ANTARWAKTU ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH PEMILIHAN UMUM TAHUN 2009 PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 02 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN TEKNIS VERIFIKASI SYARAT CALON PENGGANTI ANTARWAKTU ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH PEMILIHAN UMUM TAHUN

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 53/PUU-XV/2017 Verifikasi Partai Peserta Pemilu serta Syarat Pengusulan Presiden dan Wakil Presiden

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 53/PUU-XV/2017 Verifikasi Partai Peserta Pemilu serta Syarat Pengusulan Presiden dan Wakil Presiden RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 53/PUU-XV/2017 Verifikasi Partai Peserta Pemilu serta Syarat Pengusulan Presiden dan Wakil Presiden I. PEMOHON Partai Islam Damai Aman (Partai IDAMAN) Ramdansyah diwakili

Lebih terperinci

Peran Strategis Komisi Pemilihan Umum dalam Pelaksanaan Pemilu

Peran Strategis Komisi Pemilihan Umum dalam Pelaksanaan Pemilu Peran Strategis Komisi Pemilihan Umum dalam Pelaksanaan Pemilu Oleh: Hardinata Abstract In the culture of Elections in Indonesia, one of new challenge for Indonesia is the Regional Election directly initiated

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN

Lebih terperinci

URGENSI UNDANG-UNDANG PEMILU DAN PEMANTAPAN STABILITAS POLITIK 2014

URGENSI UNDANG-UNDANG PEMILU DAN PEMANTAPAN STABILITAS POLITIK 2014 KETUA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA URGENSI UNDANG-UNDANG PEMILU DAN PEMANTAPAN STABILITAS POLITIK 2014 Disampaikan pada acara Round Table Discussion (RTD) Lemhannas, Jakarta, Rabu 12 Oktober

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemilihan umum adalah salah satu hak asasi warga negara yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Pemilihan umum adalah salah satu hak asasi warga negara yang sangat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan umum adalah salah satu hak asasi warga negara yang sangat prinsipil. Karenanya dalam rangka pelaksanaan hak-hak asasi adalah suatu keharusan bagi pemerintah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2002 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2002 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2002 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.

BAB I PENDAHULUAN. mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah. Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk

Lebih terperinci

Demokrasi di Indonesia

Demokrasi di Indonesia Demokrasi Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara

Lebih terperinci

PARTAI POLITIK PADA MASA ORDE BARU DAN ORDE LAMA. M. ARSYAD MAF UL Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar

PARTAI POLITIK PADA MASA ORDE BARU DAN ORDE LAMA. M. ARSYAD MAF UL Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar 76 Partai Politik pada Masa Orde Baru dan Orde Lama, M. Arsyad Maf ul PARTAI POLITIK PADA MASA ORDE BARU DAN ORDE LAMA M. ARSYAD MAF UL Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar Abstrak: Secara

Lebih terperinci

STRATEGI MENINGKATKAN KETERWAKILAN PEREMPUAN

STRATEGI MENINGKATKAN KETERWAKILAN PEREMPUAN STRATEGI MENINGKATKAN KETERWAKILAN PEREMPUAN Oleh: Ignatius Mulyono 1 I. Latar Belakang Keterlibatan perempuan dalam politik dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan. Salah satu indikatornya adalah

Lebih terperinci

Hukum Acara Pembubaran Partai Politik. Ngr Suwarnatha

Hukum Acara Pembubaran Partai Politik. Ngr Suwarnatha Hukum Acara Pembubaran Partai Politik 1 Pembubaran Partai Politik Hukum Acara Pembubaran Partai Politik diatur dalam Pasal 68 sampai dengan Pasal 73 Undang-Undang Mahkamah Konstitusi dan Peraturan Mahkamah

Lebih terperinci

Pancasila era Orde Lama reformasi

Pancasila era Orde Lama reformasi Pancasila era Orde Lama reformasi Modul ke: Pancasila terus berlanjut dari Orde Lama, Ore Baru, Orde Reformasi dan saat ini. Perjalanan Ideologi Pancasila mengalami Pasang surut dari Generasi ke generasi,

Lebih terperinci

S a o l a CP C N P S W w a a w s a a s n a Ke K b e a b n a g n s g a s a a n

S a o l a CP C N P S W w a a w s a a s n a Ke K b e a b n a g n s g a s a a n Soal CPNS Wawasan Kebangsaan 1. Pancasila merupakan penuntun dan pedoman bagi bangsa Indonesia dalam perjuangan mewujudkan cita-cita bangsa. Hal ini berarti pancasila berfungsi sebagai... A. dasar negara

Lebih terperinci

SMP. 1. Jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dan warga negara 2. Susunan ketatanegaraan suatu negara 3. Pembagian & pembatasan tugas ketatanegaraan

SMP. 1. Jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dan warga negara 2. Susunan ketatanegaraan suatu negara 3. Pembagian & pembatasan tugas ketatanegaraan JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN SMP VIII (DELAPAN) PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKN) KONSTITUSI YANG PERNAH BERLAKU A. Konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia Konstitusi (Constitution) diartikan

Lebih terperinci

MPR Pasca Perubahan UUD NRI Tahun 1945 (Kedudukan MPR dalam Sistem Ketatanegaraan)

MPR Pasca Perubahan UUD NRI Tahun 1945 (Kedudukan MPR dalam Sistem Ketatanegaraan) JURNAL MAJELIS MPR Pasca Perubahan UUD NRI Tahun 1945 (Kedudukan MPR dalam Sistem Ketatanegaraan) Oleh: Dr. BRA. Mooryati Sudibyo Wakil Ketua MPR RI n Vol. 1 No.1. Agustus 2009 Pengantar Tepat pada ulang

Lebih terperinci

SEKILAS PEMILU PARTAI POLITIK PESERTA PEMILU

SEKILAS PEMILU PARTAI POLITIK PESERTA PEMILU SEKILAS PEMILU 2004 Pemilihan umum (Pemilu) adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB VII KESIMPULAN. penguatan institusi pesantren dan parti politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

BAB VII KESIMPULAN. penguatan institusi pesantren dan parti politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) BAB VII KESIMPULAN Semua dapatan kajian yang telah dijelaskan pada Bab sebelumnya dirumuskan kembali di dalam Bab ini secara ringkas bagi memudahkan pemahaman terhadap objektif, hasil dan manfaat kajian.

Lebih terperinci

BAB VII PENUTUP. Universitas Indonesia. Pembubaran partai..., Muchamad Ali Safa at, FH UI., 2009.

BAB VII PENUTUP. Universitas Indonesia. Pembubaran partai..., Muchamad Ali Safa at, FH UI., 2009. BAB VII PENUTUP 7.1. KESIMPULAN 1. Pembubaran partai politik pada setiap periode diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan, kecuali pada masa Orde Baru yang tidak mengenal pembubaran partai politik.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemilu 1955 merupakan pemilihan umum pertama dengan sistem multi partai yang dilakukan secara terbuka,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemilu 1955 merupakan pemilihan umum pertama dengan sistem multi partai yang dilakukan secara terbuka, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemilu 1955 merupakan pemilihan umum pertama dengan sistem multi partai yang dilakukan secara terbuka, bebas dan jujur.tetapi pemilihan umum 1955 menghasilkan

Lebih terperinci

MEKANISME DAN MASALAH-MASALAH KRUSIAL YANG DIHADAPI DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG. Oleh : Nurul Huda, SH Mhum

MEKANISME DAN MASALAH-MASALAH KRUSIAL YANG DIHADAPI DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG. Oleh : Nurul Huda, SH Mhum MEKANISME DAN MASALAH-MASALAH KRUSIAL YANG DIHADAPI DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH SECARA LANGSUNG Oleh : Nurul Huda, SH Mhum Abstrak Pemilihan Kepala Daerah secara langsung, yang tidak lagi menjadi kewenangan

Lebih terperinci

Presiden Seumur Hidup

Presiden Seumur Hidup Presiden Seumur Hidup Wawancara Suhardiman : "Tidak Ada Rekayasa dari Bung Karno Agar Diangkat Menjadi Presiden Seumur Hidup" http://tempo.co.id/ang/min/02/18/nas1.htm Bung Karno, nama yang menimbulkan

Lebih terperinci

NOMOR 31 TAHUN 2002 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

NOMOR 31 TAHUN 2002 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2002 TENTANG PARTAI POLITIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang a. bahwa kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan

Lebih terperinci

FORMAT POLITIK ORDE BARU DAN KEBIJAKAN FUSI PARTAI POLITIK TAHUN 1973 SKRIPSI. Oleh: M. Iqbal Ibrahim Hamdani NIM

FORMAT POLITIK ORDE BARU DAN KEBIJAKAN FUSI PARTAI POLITIK TAHUN 1973 SKRIPSI. Oleh: M. Iqbal Ibrahim Hamdani NIM FORMAT POLITIK ORDE BARU DAN KEBIJAKAN FUSI PARTAI POLITIK TAHUN 1973 SKRIPSI Oleh: M. Iqbal Ibrahim Hamdani NIM 060210302244 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Lebih terperinci

2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rak

2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rak TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI LEGISLATIF. MPR. DPR. DPD. DPRD. Kedudukan. Perubahan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 383) PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD Tahun 1945) menyatakan

I.PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD Tahun 1945) menyatakan I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang menganut paham demokrasi. Dalam paham ini, rakyat memiliki kedudukan yang sangat penting, sebab kedaulatan berada di tangan rakyat. Pasal 1

Lebih terperinci

DEMOKRASI. Demokrasi berasal dari kata Yunani demos dan kratos. Demos artinya rakyat, Kratos berarti pemerintahan.

DEMOKRASI. Demokrasi berasal dari kata Yunani demos dan kratos. Demos artinya rakyat, Kratos berarti pemerintahan. PERTEMUAN KE 4 DEMOKRASI Demokrasi berasal dari kata Yunani demos dan kratos. Demos artinya rakyat, Kratos berarti pemerintahan. Jadi, demokrasi, artinya pemerintahan rakyat, yaitu pemerintahan yang rakyatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pasca reformasi tahun 1998, landasan hukum pemilihan umum (pemilu) berupa Undang-Undang mengalami perubahan besar meskipun terjadi

BAB I PENDAHULUAN. Pasca reformasi tahun 1998, landasan hukum pemilihan umum (pemilu) berupa Undang-Undang mengalami perubahan besar meskipun terjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pasca reformasi tahun 1998, landasan hukum pemilihan umum (pemilu) berupa Undang-Undang mengalami perubahan besar meskipun terjadi kesinambungan dibandingkan dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. daerah tidak lagi terbatas pada kewenangan yang bersifat administratif tapi telah

BAB 1 PENDAHULUAN. daerah tidak lagi terbatas pada kewenangan yang bersifat administratif tapi telah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan sistem pemilihan juga telah membawa perubahan hubungan tata Pemerintahan antar pusat dan daerah. Pendelegasian kekuasaan dari pusat ke daerah tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pencabutan undang-undang No.22 tahun 1999, oleh undang-undang No 32

BAB I PENDAHULUAN. Pencabutan undang-undang No.22 tahun 1999, oleh undang-undang No 32 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. Konsep yang dianut adalah konsep negara

Lebih terperinci

RINGKASAN PUTUSAN.

RINGKASAN PUTUSAN. RINGKASAN PUTUSAN Sehubungan dengan sidang pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22-24/PUU-VI/2008 tanggal 23 Desember 2008 atas Pengujian Undang- Undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum

Lebih terperinci

BAB II KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA. A. Sejarah Singkat Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Labuhan Batu

BAB II KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA. A. Sejarah Singkat Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Labuhan Batu 7 BAB II KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA A. Sejarah Singkat Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Labuhan Batu Utara Untuk melaksanakan tuntutan agenda reformasi Tahun 1998 di bidang politik,

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 02 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN TEKNIS VERIFIKASI SYARAT CALON PENGGANTI ANTARWAKTU ANGGOTA

Lebih terperinci

Jakarta, 12 Juli 2007

Jakarta, 12 Juli 2007 PENDAPAT FRAKSI PARTAI DEMOKRAT TERHADAP KETERANGAN PEMERINTAH TENTANG RANCANGAN UNDANG-UNDANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DPR, DPD, DPRD, DAN PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN Juru Bicara : drh. Jhony

Lebih terperinci

Ringkasan Putusan.

Ringkasan Putusan. Ringkasan Putusan Sehubungan dengan sidang pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 110,111,112,113/PUU-VII/2009 tanggal 7 Agustus 2009 atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum

Lebih terperinci