BAB IV HASIL PENELITIAN. IV.1 Penetapan Kebijakan Dan Prosedur Pengendalian Mutu

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL PENELITIAN. IV.1 Penetapan Kebijakan Dan Prosedur Pengendalian Mutu"

Transkripsi

1 BAB IV HASIL PENELITIAN IV.1 Penetapan Kebijakan Dan Prosedur Pengendalian Mutu Berdasarkan data-data yang diperoleh dari hasil pembicaraan dengan top manajemen KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan sebagaimana tersebut pada bab 3, dapat disimpulkan bahwa KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan telah memiliki dan menetapkan kebijakan dan Prosedur Pengendalian Mutu KAP yang dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang memadai bahwa dalam menjalankan profesinya KAP telah memenuhi Standar Profesional dan ketentuan yang berlaku baik yang ditetapkan oleh IAPI dalam Standar Profesional Akuntan Publik. Penerapan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan terhadap ketentuan Standar Profesional Akuntan Publik adalah sebagai berikut: a. Independensi Terkait dengan unsur Independensi, KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan telah memenuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh IAPI dalam SPAP. KAP telah menginformasikan kebijakan dan prosedur serta menekankan sikap independensi Pemantauan atas kepatuhan seluruh personel terhadap kebijakan dan prosedur mengenai independensi secara langsung dilakukan oleh Partner. b. Penugasan Personel Terkait dengan unsur Penugasan Personel, KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan telah memenuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh IAPI dalam SPAP. 49

2 Penunjukan personel yang akan bertanggung jawab dalam penugasan personel dilakukan secara langsung oleh Partner kepada Manager. Namun tidak menutup kemungkinan dalam kondisi peak seasons, Partner menunjuk Supervisor ataupun Partner terjun langsung sebagai orang yang bertanggung jawab (person in charge) dalam penugasan personel. Sedangkan untuk penyusunan skedul pelaksanaan dan kebutuhan personel untuk kegiatan audit atas klien-klien yang sudah melakukan perikatan audit dilakukan oleh Manager. c. Konsultasi Terkait dengan unsur Konsultasi, KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan telah memenuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh IAPI dalam SPAP. Konsultasi dilakukan secara berjenjang, Junior Auditor kepada Senior Auditor, Senior Auditor kepada Supervisor, Supervisor kepada Manager dan Manager kepada Partner. Hasil dari konsultasi didokumentasikan dalam working papers dan disimpan terpisah dari current working papers. d. Supervisi Terkait dengan unsur Supervisi, KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan telah memenuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh IAPI dalam SPAP. Supervisi dilakukan secara memadai pada semua tingkatan secara berjenjang dengan mempertimbangkan pelatihan, kemampuan dan pengalaman personel yang ditugasi. Sedangkan untuk perencanaan audit sepenuhnya dilakukan oleh Manager. Selain itu, KAP juga membuat dan menyediakan prosedur untuk menyelesaikan perbedaan pertimbangan profesional diantara anggota tim audit. 50

3 e. Pemekerjaan (Hiring) Terkait dengan unsur Pemekerjaan, KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan telah memenuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh IAPI dalam SPAP. KAP telah membuat pedoman atas penerimaan personel baru dan pedoman pada situasi khusus terkait dengan peneriman personel. Selain itu KAP juga mengevaluasi calon personel dengan perekrutan yang tidak umum, misal penerimaan personel langsung pada jenjang supervisor, untuk menentukan apakah calon personel telah memenuhi kualifikasi dan standar yang telah ditentukan oleh KAP. f. Pengembangan Profesional Terkait dengan unsur Pengembangan Profesional, KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan telah memenuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh IAPI dalam SPAP. KAP telah menyediakan literatur-literatur serta perkembangan terkini baik dalam standar profesional, materi umum profesi, panduan mengenai kebijakan dan prosedur KAP terkait hal teknis, serta mendorong personel untuk ikut berpartisipasi dalam pendidikan eksternal baik dalam bentuk seminar, konferensi, ataupun Program Pendidikan Akuntan (PPAk). g. Promosi Terkait dengan unsur Promosi, KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan telah memenuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh IAPI dalam SPAP. KAP telah membuat panduan serta pedoman yang menjelaskan tanggung jawab, kinerja dan kualifikasi untuk promosi pada setiap jenjang jabatan. KAP juga mengevaluasi kecakapan kinerja personel baik secara teknis maupun mental untuk melihat apakah personel sudah memenuhi kualifikasi dan standar yang telah ditetapkan untuk 51

4 dilakukannya promosi. h. Penerimaan dan Keberlanjutan Klien Terkait dengan unsur Penerimaan dan Keberlanjutan Klien, KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan telah memenuhi semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh IAPI dalam SPAP. KAP telah membuat pedoman atas pertimbangan prosedur evaluasi sebelum menerima klien ataupun sebelum melanjutkan hubungan dengan klien. Pedoman atas pertimbangan prosedur evaluasi mencakup review laporan keuangan atas calon klien, informasi dari pihak ketiga, informasi dari auditor terdahulu, independensi dan kemampuan KAP untuk menyediakan jasa bagi calon klien, berakhirnya jangka waktu tertentu serta perubahan signifikan yang terjadi pada klien. i. Inspeksi Terkait dengan unsur Inspeksi, KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan tidak menetapkan unsur tersebut. Sehubungan dengan tidak ditetapkannya kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang berkaitan dengan inspeksi, penulis melakukan konfirmasi secara langsung kepada pimpinan KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan dan diperoleh penegasan bahwa KAP memang tidak menetapkan kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan inspeksi karena dianggap tidak praktis dan KAP tidak membutuhkan kebijakan dan prosedur tersebut, mengingat skala KAP masih berada pada klasifikasi menengah. Sebagai prosedur alternatif pengganti kebijakan inspeksi, KAP menetapkan review silang atau review langsung oleh partner atas perikatan audit tertentu yang memiliki kekhususan tertentu atau dengan tingkat resiko diatas rata-rata. 52

5 IV.2 Pengujian Kepatuhan Terhadap Sistem Pengendalian Mutu KAP Pengujian kepatuhan dilaksanakan dengan menggunakan kuesioner dengan 58 pertanyaan yang berkaitan dengan delapan variabel penentu penerapan sistem pengendalian mutu pada Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan. Dengan perincian sebagai berikut: No. Variabel Jumlah Pertanyaan 1 Independensi 6 2 Penugasan Personel 7 3 Konsultasi 2 4 Supervisi 7 5 Pemekerjaan 17 6 Pengembangan Profesional 7 7 Promosi 7 8 Penerimaan & Keberlanjutan Klien 5 Total Pertanyaan 58 Penyebaran kuesioner dilakukan dengan mengadakan wawancara personal dengan beberapa responden pada bulan Mei Responden dalam penelitian ini dibatasi hanya staf profesional auditor yang berada pada kantor pusat (Jakarta) dan workshop dari tingkatan junior sampai tingkatan manager. Kuesioner yang dibagikan sebanyak 27 set. Pada bulan yang sama semua kuesioner telah diisi lengkap dan dikembalikan sebanyak 27 set. 53

6 IV.2.1 Karakteristik Demografi Responden Karakteristik demografi responden dalam penelitian ini dibedakan menurut data posisi, jabatan, lama bekerja dan pernah tidaknya mengikuti pelatihan atau kursus yang berkaitan dengan profesinya. IV.2.2 Klasifikasi Penilaian Analisis Kepatuhan Staf Auditor terhadap Prosedur Sistem Pengendalian Mutu KAP Untuk mengetahui klasifikasi penilaian terhadap unsur pengendalian mutu yang telah dilakukan oleh KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan, maka penulis mengklasifikasikan penilaian dengan perincian sebagai berikut: Tingkat Persentase Klasifikasi Penerapan Skor Penilaian Penilaian Tidak Sangat Tahu 0 0% - 20% Buruk Tidak Pernah 1 21% - 40% Buruk Jarang Sering 2 41% - 60% 3 61% - 80% Kurang Baik Cukup Baik Selalu 4 81%-100% Baik 54

7 Penilaian terhadap unsur Sistem Pengendalian Mutu KAP tidak memiliki standar khusus yang ditetapkan oleh badan pengatur, sehingga penetapan persentase penilaian pada tabel diatas diklasifikasikan berdasarkan bobot skor nilai yang ada pada opsi kuesioner sesuai dengan skala yang telah ditentukan. Penerapan unsur SPM untuk KAP tersebut disimpulkan sudah cukup baik apabila total jawaban positif diatas 61%. Apabila total jawaban positif kurang dari 61%, maka penerapan SPM KAP untuk unsur terkait tersebut disimpulkan masih kurang baik. IV.2.3 Analisis Kepatuhan Staf Auditor terhadap Prosedur Sistem Pengendalian Mutu KAP Untuk mengetahui dan menguji kesesuaian SPM KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan dengan standar profesional dan kepatuhan personel KAP dengan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu KAP, penulis telah menganalisa dan merekapitulasi hasil kuesioner dalam bentuk chart sebagaimana berikut: a. Independensi Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Independensi Dari pie chart independensi, dapat disimpulkan bahwa penerapan pengendalian mutu pada KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan ditinjau dari unsur independensi sudah 55

8 diterapkan dengan baik. Hal ini terlihat dari 66,7% responden menyatakan selalu diterapkan dan 18,5% responden menyatakan sering diterapkan (85,2% responden memberikan jawaban positif ). Hampir seluruh staf profesional KAP telah memahami akan pentingnya sikap independensi dalam menjalankan pekerjaannya dan melakukan perikatan audit. Partner dan Manajer Audit juga senantiasa mengingatkan para staf profesional auditor dalam setiap kesempatan yang ada, terutama sekali pada saat pelaksanaan supervisi dan konsultasi. Dari hasil wawancara dengan top manajemen KAP, untuk lebih menjaga independensi para staf profesional, penugasan para staf profesional dibatasi dan dilakukan rotasi maksimum tiga tahun buku. Artinya para staf profesional hanya ditugaskan pada klien yang sama maksimum tiga tahun buku secara berturut-turut. Dari hasil wawancara dengan beberapa staf profesional auditor yang bekerja dilapangan, tidak ada diantara mereka yang memegang klien selama lebih dari tiga tahun. b. Penugasan Personel Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Penugasan Personel Dari pie chart penugasan personel, dapat disimpulkan bahwa penerapan pengendalian 56

9 mutu KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan ditinjau dari segi penugasan personel sudah diterapkan dengan cukup baik. Hal ini terlihat dari 51,85% responden menyatakan selalu diterapkan dan 25,93% responden menyatakan sering diterapkan (77,78% responden memberikan jawaban positif). Penugasan personel dimaksudkan untuk memberikan keyakinan memadai bahwa penugasan akan dilakukan oleh staf profesional yang memiliki tingkat pelatihan dan keahlian teknis untuk penugasan tersebut. Dari komposisi tim audit yang ditugaskan yang tercermin dalam Surat Penugasan yang ditandatangani oleh Partner In Charge, tim audit selalu terdiri atas seorang manajer yang bertanggung jawab atas penugasan tersebut dan seorang supervisor yang mengawasi pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Sedangkan senior auditor yang sehari-hari secara penuh bertanggung jawab atas pelaksanaan di lapangan minimum berpendidikan formal sarjana (Strata 1) bidang akuntansi dengan kualifikasi yang memenuhi persyaratan. Misalnya untuk melakukan audit atas perusahaan manufaktur, senior auditor harus sudah memiliki pengalaman minimal tiga tahun dalam melakukan audit pada perusahaan yang sejenis. Demikian halnya untuk klien dengan jenis kegiatan karakteristik khusus seperti entitas yang mengerahkan dana masyarakat. Selain itu, terkadang senior auditor juga dipersyaratkan sudah mengikuti pendidikan khusus atau pelatihan atau seminar yang diselenggarakan oleh badan pengatur. Dari hasil wawancara dengan staf profesional auditor, didapat keterangan bahwa dalam prakteknya terkadang tidak dilakukan identifikasi khusus atas keahlian setiap personel terlebih dahulu dalam penugasan audit dan penetapan person in charge nya, namun dikaitkan dengan faktor-faktor judgement pribadi dari top manajemen KAP 57

10 sendiri terhadap karyawan tertentu. Hal ini mengidentifikasikan kurangnya pemerataan penugasan dalam KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan. Dalam kaitannya dengan penugasan personel, untuk menjamin bahwa staf auditor di lapangan melakukan pekerjaan audit secara terarah, sebelum mereka melakukan pemeriksaan lapangan, staf auditor selalu berpedoman kepada audit program yang berisi audit objective dan audit procedures. Selain itu mereka juga dibekali dengan audit memorandum yang dirancang oleh supervisor. Untuk dapat tetap bekerja dalam waktu yang sudah ditentukan, audit memorandum juga berisi skedul pelaksanaan pekerjaan. Skedul memang selalu ditetapkan di awal penugasan, namun dari hasil wawancara didapat keterangan bahwa sering kali terjadinya perpanjangan waktu dalam penugasan audit. Untuk mengawasi aktivitas auditor dalam melaksanakan pekerjaan lapangan, auditor juga diwajibkan untuk mengisi time sheet setiap minggu, yang menggambarkan pekerjaan lapangan yang dilakukan oleh auditor secara rinci setiap hari. c. Konsultasi Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Konsultasi Dari pie chart konsultasi, dapat disimpulkan bahwa penerapan pengendalian mutu 58

11 pada KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan ditinjau dari segi konsultasi sudah diterapkan dengan cukup baik. Hal ini terlihat dari 55,56% responden menyatakan selalu diterapkan dan 22,22% responden menyatakan sering diterapkan (77,78% responden memberikan jawaban positif). Dari hasil rekapitulasi kuesioner dalam kaitannya dengan apakah konsultasi dilakukan secara berjenjang, 7,4% menyatakan tidak pernah, 18,5% menyatakan sering dan 62,9% menyatakan selalu. Dapat ditarik kesimpulan bahwa konsultasi dalam KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan umumnya sudah dilakukan secara berjenjang, dalam hal auditor menghadapi masalah yang aturannya belum jelas atau belum diatur secara jelas, baik yang menyangkut praktik akuntansi maupun praktik auditing. Dalam konsultasi secara tertulis, dari menelusuri arsip-arsip administratif, penulis mendapatkan informasi bahwa KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan telah memiliki internal memo untuk konsultasi. d. Supervisi Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Supervisi Dari pie chart supervisi, dapat disimpulkan bahwa penerapan pengendalian mutu pada KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan sudah diterapkan dengan cukup baik 59

12 namun kurang efektif. Hal ini terlihat dari 37,04% responden menyatakan selalu diterapkan dan 29,63% responden menyatakan sering diterapkan (66,67% responden memberikan jawaban positif). Pelaksanaan penelitian atas unsur supervisi dilakukan melalui review atas time sheet dan working paper. Uraian terinci atas pelaksanaan supervisi disajikan pada sub bab selanjutnya yaitu Hasil Review atas Perikatan Terpilih. e. Pemekerjaan (Hiring) Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Pemekerjaan (Hiring) Dari pie chart pemekerjaan, dapat disimpulkan bahwa penerapan pengendalian mutu KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan ditinjau dari unsur pemekerjaan sudah diterapkan dengan cukup baik namun kurang efektif. Hal ini terlihat dari 48,15% responden menyatakan selalu diterapkan dan 22,22% responden menyatakan sering diterapkan (70,37% responden memberikan jawaban positif). Dari hasil rekapitulasi kuesioner, didapatkan data yang berkaitan dengan apakah KAP menyusun perencanaan kebutuhan personel, terdapat 40,7% yang menyatakan tidak pernah; 29,6% menyatakan jarang; 18,5% menyatakan sering; dan hanya 11,1% yang menyatakan selalu. Dari hal ini dapat diindikasikan bahwa KAP jarang menyusun 60

13 perencanaan kebutuhan personel. Dari hasil wawancara dengan staf auditor, didapatkan keterangan bahwa tidak dilakukannya perencanaan kebutuhan personel tersebut menyebabkan kurangnya jumlah tenaga auditor jika dibandingkan dengan jumlah klien yang ditangani (komposisi auditor yang tidak sesuai dengan jumlah klien) terutama di peak seasons. Hal ini tentunya membuat staf auditor menurun kinerjanya, karena harus menyelesaikan pekerjaan audit untuk beberapa klien sekaligus pada periode waktu yang sama. Berdasarkan penelitian arsip administrasi proses rekruitmen pegawai dilakukan secara umum telah memenuhi ketentuan yang ada. Hal ini terlihat dari adanya kewajiban calon pegawai untuk menyerahkan surat lamaran, menjalani test tertulis dan wawancara untuk memastikan bahwa KAP hanya melakukan rekruitmen atas karyawan yang memang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan oleh KAP. Namun ditemukan pula beberapa karyawan (14,8%) yang tidak menjalani tes tertulis tersebut dan langsung dipekerjakan. Dalam kaitannya dengan apakah KAP melakukan program orientasi bagi personel yang baru diterima, terdapat 11,1% yang menyatakan tidak pernah; 18,5% yang menyatakan jarang. Hal ini mengindikasikan bahwa di KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan, ada beberapa personel auditornya yang tidak mengalami masa orientasi saat mulai bekerja. 61

14 f. Pengembangan Profesional Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Pengembangan Profesional Dari pie chart pengembangan profesional, dapat disimpulkan bahwa penerapan pengendalian mutu KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan ditinjau dari unsur pengembangan profesional sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari 59,26% responden menyatakan selalu diterapkan dan 18,5% responden menyatakan sering diterapkan (77,76% responden memberikan jawaban positif). Dalam kaitannya dengan apakah KAP menyediakan bagi personel literatur profesional mengenai perkembangan terkini dalam standar profesional, dari hasil rekapitulasi kuesioner didapatkan data bahwa 3,7% menyatakan tidak pernah; 25,9% menyatakan jarang; 40,7% menyatakan sering dan 29,6% menyatakan selalu. Dari data tersebut dapat ditarik sebuah hipotesis bahwa KAP sudah melakukan sosialisasi atas perkembangan terkini dalam standar profesional yang penting sebagai sarana bagi staf profesional auditor untuk pengembangan diri dan profesi. Dari hasil wawancara dengan top manajemen KAP, literatur profesional sudah disediakan dengan memadai oleh kantor, di samping itu, KAP berlangganan cukup banyak majalah maupun tabloid profesi yang bisa dibaca oleh setiap karyawan KAP dengan bebas. 62

15 Top manajemen juga menambahkan selain akses akan literatur profesional, para staf profesional juga memiliki kesempatan secara mudah untuk mengakses buku-buku (text book), panduan atau peraturan dan perundangan yang dikeluarkan oleh badan pengatur. Sarana buku-buku dan kumpulan peraturan sebagaimana tersebut diatas telah dimiliki oleh KAP secara memadai. Satu hal yang menjadi kekurangan KAP adalah KAP tidak memiliki ruang khusus untuk kumpulan pustaka profesi KAP yang dapat dimanfaatkan oleh staf profesional auditor untuk melakukan studi literatur. Buku-buku dan pedoman serta peraturan dan panduan yang dimiliki KAP disimpan dalam ruang kerja manajer dan partner dengan susunan yang tidak teratur (tidak ada penomoran dan tindakan inventarisir) sehingga bagi staf profesional auditor terkadang tidaklah mudah untuk mencari buku atau literatur tertentu. Dalam kaitannya dengan pelatihan staf profesional auditor, selama tahun 2011, KAP telah mendorong staf profesionalnya untuk melakukan pengembangan profesional baik melalui Pendidikan Profesi Formal ataupun Pendidikan Profesi Lanjutan (PPL) yang diselenggarakan oleh IAPI dan badan pengatur lainnya.. Beberapa seminar dan workshop yang diikuti oleh staf profesional KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan adalah sebagai berikut: a. Pendidikan Profesi Akuntansi, Universitas Indonesia, pendidikan untuk memperoleh gelar akuntan dan register negara akuntan. b. Pendidikan Brevet Perpajakan A, B dan C. c. Tinjauan Hukum & Penerapan Akuntansi pada Special Purpose Vehicle di Indonesia, IAPI. 63

16 d. Workshop Profesi Penunjang untuk Akuntan Pasar Modal, BAPEPAM & IAPI. e. Review Materi Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP). Berdasarkan hasil review atas berkas administrasi dan juga wawancara dengan staf auditor mengenai Pendidikan Profesi Lanjutan (PPL) sebagaimana tersebut diatas, didapatkan informasi bahwa PPL tersebut sudah diikuti oleh personel profesional hampir secara merata. Hal ini terlihat dari hampir seluruh personel profesional pernah mengikuti PPL, bahkan ada satu orang personel yang mengikuti seminar PPL sampai 3 kali. Hanya 3,7% saja personel profesional yang tidak pernah mengikuti PPL selama tahun g. Promosi Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Penugasan Personel Dari pie chart promosi, dapat disimpulkan bahwa penerapan pengendalian mutu pada KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan ditinjau dari unsur promosi sudah cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil kuesioner dimana 51,85% responden memberikan jawaban selalu dan 25,93% responden memberikan jawaban sering (77,78% responden memberikan jawaban positif). 64

17 Selama tahun 2011, KAP tidak melakukan promosi atas jabatan auditor baik dari junior menjadi senior, maupun dari senior menjadi supervisor. Menurut penjelasan dari top manajemen KAP, promosi seharusnya diadakan setahun sekali dengan melihat dan mempertimbangkan atas aspek aspek pengetahuan teknis, kemampuan analisis dan judgment, kemahiran berkomunikasi, kemahiran memimpin, sikap mental pribadi (integritas, intelegensi, motivasi) dan jumlah pengalaman kerja. Namun tidak dilakukannya promosi atas jabatan auditor disebabkan karena jumlah pengalaman kerja (yang diukur dalam satuan waktu) belum ada yang memenuhi kualifikasi untuk dilakukannya promosi jabatan. Berdasarkan dari data hasil penelitian sampai tanggal 31 Mei 2012, KAP telah melakukan promosi atas jabatan auditor (junior auditor menjadi senior auditor) yang dilakukan pada tanggal 1 Mei h. Penerimaan & Keberlanjutan Klien Pie-Chart Hasil Kuesioner Variabel Penerimaan & Keberlanjutan Klien Dari pie chart penerimaan & keberlanjutan klien, dapat disimpulkan bahwa penerapan pengendalian mutu pada KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan ditinjau 65

18 dari unsur penerimaan & keberlanjutan klien sudah diterapkan dengan baik. Hal ini dapat diihat dari 62,96% responden menyatakan selalu diterapkan dan 22,22 responden menyatakan sering diterapkan (85,18% - lebih dari 75% jawaban positif). Dari hasil penelitian terhadap arsip administrasi, diperoleh data bahwa selama tahun 2011, KAP telah menerima tambahan penugasan (perikatan) atas klien baru sebanyak 21 perusahaan klien dari permintaan perikatan sebanyak 25 klien. KAP menolak perikatan atas empat calon klien tersebut dengan alasan skedul audit yang terlalu ketat (1 klien), audit fee yang terlalu rendah (2 klien) dan integritas manajemen yang diragukan (1 klien). Sedangkan atas 21 perusahaan yang diterima penugasannya, telah dilakukan prosedur evaluasi independensi dan kemampuan KAP untuk menyediakan jasa bagi calon klien. Dalam evalusi kemampuan KAP, telah dipertimbangkan kebutuhan akan keahlian teknis, pengetahuan industri dan personal. Pertimbangan sebagaimana tersebut diatas dilakukan berdasarkan hasil survei pendahuluan yang telah dilakukan oleh KAP. Survei pendahuluan atau initial meeting biasanya langsung ditangani oleh partner dan melibatkan audit manager. Untuk perusahaan yang berjenis group, maka initial meeting juga melibatkan audit manager ataupun supervisor. Hasil survei pendahuluan dituangkan dalam kertas kerja survei pendahuluan yang merupakan bahan utama dalam penyusunan audit memorandum. Hal berikutnya yang dilakukan oleh KAP adalah menyusun audit proposal yang berisi tentang ruang lingkup penugasan, pemisahan tanggung jawab antara auditor dengan manajemen, skedul audit, jenis laporan, besarnya fee perikatan dan hal lain yang relevan. Jika klien menyetujui proposal tersebut, maka proposal tersebut berfungsi sebagai engagement letter. 66

19 Komunikasi dengan auditor terdahulu juga dilakukan dengan secara tertulis untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang klien dan informasi tentang kemungkinan adanya kewajiban hukum terhadap pihak ketiga. IV.3 Hasil Review atas Perikatan Yang Dipilih Untuk kebutuhan review akan ketaatan dalam pelaksanaan field work audit, perikatan yang dipilih untuk menjadi objek review adalah perusahaan yang bergerak di bidang sebagai berikut : - Audit atas perusahaan industri : 2 Klien - Audit atas perusahaan jasa : 2 Klien - Audit atas perusahaan perdagangan : 2 Klien - Audit atas yayasan : 2 Klien - Audit atas perusahaan Real Estate : 2 Klien Objek yang di review adalah sejumlah Audit Working Paper yang mencakup Audit Planning Memorandum, Audit Program, top schedules, supporting schedules dan Audit Procedures yang dilakukan dalam pemberian jasa profesi. Beberapa kelemahan yang ditemukan dari hasil review terhadap perikatan terpilih adalah sebagai berikut: 1. Tidak mencantumkan cross index pada Working Paper. (2 Sampel) 2. Penomoran Working Paper yang tidak konsisten. (3 Sampel) 3. Tidak mencantumkan nama pembuat dan tanggal pembuatan pada supporting schedule dan top schedule. (2 Sampel) 67

20 4. Skedul utama yang tidak menunjukkan adanya jejak supervisi, baik oleh supervisor ataupun manajer. (4 Sampel) 5. Usulan jurnal koreksi yang tidak menjelaskan dasar pertimbangan diajukan jurnal tersebut beserta perhitungannya. (2 Sampel) Dari hasil wawancara dengan staf auditor, didapatkan keterangan bahwa penyebab prosedur supervisi atas working papers belum dapat diterapkan dengan efektif terutama karena kurangnya tenaga supervisor jika dibandingkan dengan jumlah senior auditor dan junior auditor. Berdasarkan analisis kepatuhan staf auditor terhadap Prosedur Sistem Pengendalian Mutu KAP, telah didapat penilaian baik terhadap unsur independensi serta penerimaan dan keberlanjutan klien. Untuk unsur penugasan personel, konsultasi, pengembangan profesional dan promosi, KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan mendapat penilaian cukup baik. Sedangkan untuk unsur pemekerjaan dan supervisi, KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan mendapat penilaian cukup baik namun kurang efektif. Penilaian kurang efektif terkait unsur pemekerjaan dan supervisi dalam penerapan sistem pengendalian mutu pada KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan didasari oleh hasil wawancara dengan staf profesional auditor dengan pertanyaan yang diambil dari kuesioner yang memiiki nilai negatif dengan jumlah yang signifikan. Berdasarkan hasil penilaian atas setiap unsur diatas, maka dapat disimpulkan bahwa KAP Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan memiliki penilaian cukup baik atas Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik. 68

PENERAPAN SISTEM PENGENDALIAN MUTU PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK JAMALUDIN, ARIA, SUKIMTO & REKAN

PENERAPAN SISTEM PENGENDALIAN MUTU PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK JAMALUDIN, ARIA, SUKIMTO & REKAN PENERAPAN SISTEM PENGENDALIAN MUTU PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK JAMALUDIN, ARIA, SUKIMTO & REKAN Kevin Muhammad Rizka, Hidayatullah Amri Universitas Bina Nusantara Jl. K. H. Syahdan No. 9 Kemanggisan/Palmerah

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan merupakan hasil

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan merupakan hasil BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN III.1 Objek Penelitian III.1.1 Sejarah Singkat Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Aria, Sukimto & Rekan merupakan hasil penggabungan dari: Kantor Akuntan Publik Jamaludin

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. II.1 Pemahaman Akan Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik

BAB II LANDASAN TEORI. II.1 Pemahaman Akan Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik BAB II LANDASAN TEORI II.1 Pemahaman Akan Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik Pengendalian mutu Kantor Akuntan Publik (KAP) harus diterapkan oleh setiap KAP pada semua jasa audit, atestasi,

Lebih terperinci

Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Kuesioner. Tidak Tahu

Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Kuesioner. Tidak Tahu L1 Lampiran 1 Daftar Pertanyaan Kuesioner No. 1 INDEPENDENSI 1 Saudara diwajibkan untuk mematuhi ketentuan independensi sebagaimana diatur oleh IAPI Tidak Tahu Tidak Pernah Jarang Hampir Selalu Selalu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Derasnya arus globalisasi yang mengarah pada perdagangan bebas kini

BAB I PENDAHULUAN. Derasnya arus globalisasi yang mengarah pada perdagangan bebas kini 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Derasnya arus globalisasi yang mengarah pada perdagangan bebas kini tengah melanda Negara-negara di dunia terutama di Indonesia yang sekarang ini sedang

Lebih terperinci

SISTEM PENGENDALIAN MUTU

SISTEM PENGENDALIAN MUTU SISTEM PENGENDALIAN MUTU KANTOR JASA AKUNTANSI YANISWAR & DIRGA KJA YANISWAR & DIRGA JL. RAWA INDAH RUKO BLOK A NO. 1 B PEKANBARU RIAU PEDOMAN SISTEM PENGENDALIAN MUTU KJA YANISWAR DAN DIRGA I. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Setelah penulis meneliti, memahami, dan menganalisis mengenai usaha

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Setelah penulis meneliti, memahami, dan menganalisis mengenai usaha BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Setelah penulis meneliti, memahami, dan menganalisis mengenai usaha akuntan publik dalam melaksanakan praktik audit yang sesuai dengan standar pengendalian mutu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada seluruh Kantor Akuntan Publik yang ada di Bandung. Penelitian dimulai pada bulan Mei 2006 sampai dengan selesai pada bulan Oktober 2006. BAB II

Lebih terperinci

2. Pertanyaan Mengenai Persepsi terhadap Kode Etik Akuntan

2. Pertanyaan Mengenai Persepsi terhadap Kode Etik Akuntan 2. Pertanyaan Mengenai Persepsi terhadap Kode Etik Akuntan Di bawah ini adalah pernyataan-pernyataan yang ditujukan untuk mengetahui persepsi Bapak/Ibu/Saudara/i terhadap Kode Etik. Bapak/Ibu/Saudara/i

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Sistem pengendalian mutu memberikan panduan bagi Kantor Akuntan Publik dalam melaksanakan pengendalian kualitas jasa yang dihasilkan oleh kantornya. Dalam perikatan jasa profesional, Kantor Akuntan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Key words : Pengauditan, Standar Pengendalian Mutu. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Key words : Pengauditan, Standar Pengendalian Mutu. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Dewasa ini profesionalisme dari kinerja akuntan publik memang banyak dipertanyakan berbagai pihak baik dari segi independensi, kualitas sumber daya manusianya, dan lainnya. Maka dari itu kantor

Lebih terperinci

Standar Audit SA 220. Pengendalian Mutu untuk Audit atas Laporan Keuangan

Standar Audit SA 220. Pengendalian Mutu untuk Audit atas Laporan Keuangan SA 0 Pengendalian Mutu untuk Audit atas Laporan Keuangan SA Paket 00.indb //0 :0: AM STANDAR AUDIT 0 Pengendalian mutu untuk audit atas laporan keuangan (Berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan

Lebih terperinci

Kuesioner Penelitian SKRIPSI FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

Kuesioner Penelitian SKRIPSI FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA Lampiran A Kuesioner Penelitian SKRIPSI FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA Kepada Yth. Bapak/Ibu Auditor ( Supervisor/Senior/Assistant Auditor ) di Tempat Dengan Hormat, Saya

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN KUESIONER PENELITIAN Bp/ Ibu/ Sdr dimohon untuk mengisi data demografi pada kotak di samping pertanyaan atau memberikan tanda ( ) pada tempat yang telah disediakan : Nama Responden : Nama KAP : Jenis Kelamin

Lebih terperinci

Perpustakaan Unika LAMPIRAN 59

Perpustakaan Unika LAMPIRAN 59 LAMPIRAN 59 Yth. Saudara Responden Bersama ini saya mohon kesediaan Saudara untuk mengisi kuesioner dalam rangka penelitian saya yang berjudul Pengaruh Pemahaman Good Governance Terhadap Kinerja Auditor

Lebih terperinci

BAB V. Kesimpulan dan Saran. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai gambaran

BAB V. Kesimpulan dan Saran. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai gambaran BAB V Kesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai gambaran secara umum variabel-variabel yang ada dalam penelitian ini, maka penulis mencoba menarik kesimpulan

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang Penelitian Guna menghadapi era globalisasi yang menuju ke arah pasar bebas, terutama di Indonesia akan banyak masuk akuntan luar

1.1 Latar Belakang Penelitian Guna menghadapi era globalisasi yang menuju ke arah pasar bebas, terutama di Indonesia akan banyak masuk akuntan luar 1.1 Latar Belakang Penelitian Guna menghadapi era globalisasi yang menuju ke arah pasar bebas, terutama di Indonesia akan banyak masuk akuntan luar negeri yang kualitasnya lebih baik. Seiring dengan hal

Lebih terperinci

: Tabel Distribusi Kuesioner pada KAP di Jakarta dan Tangerang

: Tabel Distribusi Kuesioner pada KAP di Jakarta dan Tangerang Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 : Tabel Distribusi Kuesioner pada KAP di Jakarta dan Tangerang : Kuesioner : Hasil Uji Deskriptif : Hasil

Lebih terperinci

ANALISIS PENERIMAAN PERIKATAN AUDIT PADA KAP HENDRAWINATA EDDY SIDDHARTA & TANZIL JAKARTA. Irene Victoria Go. A. Yanti Ardiarti

ANALISIS PENERIMAAN PERIKATAN AUDIT PADA KAP HENDRAWINATA EDDY SIDDHARTA & TANZIL JAKARTA. Irene Victoria Go. A. Yanti Ardiarti ANALISIS PENERIMAAN PERIKATAN AUDIT PADA KAP HENDRAWINATA EDDY SIDDHARTA & TANZIL JAKARTA Irene ictoria Go A. Yanti Ardiarti Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Lebih terperinci

PERBEDAAN ANTARA AUDITING DAN AKUNTANSI

PERBEDAAN ANTARA AUDITING DAN AKUNTANSI BAB XI. AUDITING AUDITING ; pengumpulan serta pengevaluasian bukti-bukti atas informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian informasi tersebut dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Derasnya arus globalisasi yang mengarah pada perdagangan bebas kini tengah melanda negara-negara di dunia.terutama Indonesia yang sekarang sedang berupaya

Lebih terperinci

2.4 KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA

2.4 KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA 40 4. Standar pelaporan Ke-4: Tujuan standar pelaporan adalah untuk mencegah salah tafsir tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh akuntan bila namanya dikaitkan dengan laporan keuangan: 01. Seorang akuntan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kantor akuntan publik (KAP) dari waktu ke waktu semakin

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan kantor akuntan publik (KAP) dari waktu ke waktu semakin BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan kantor akuntan publik (KAP) dari waktu ke waktu semakin berkembang, yang menyebabkan persaingan cukup ketat antar kantor akuntan publik untuk mendapatkan

Lebih terperinci

Struktur Organisasi. PT. Akari Indonesia. Pusat dan Cabang. Dewan Komisaris. Direktur. General Manager. Manajer Sumber Daya Manusia Kepala Cabang

Struktur Organisasi. PT. Akari Indonesia. Pusat dan Cabang. Dewan Komisaris. Direktur. General Manager. Manajer Sumber Daya Manusia Kepala Cabang 134 Struktur Organisasi PT. Akari Indonesia Pusat dan Cabang Dewan Komisaris Direktur Internal Audit General Manager Manajer Pemasaran Manajer Operasi Manajer Keuangan Manajer Sumber Daya Manusia Kepala

Lebih terperinci

5. Memastikan bahwa tidak ada kewajiban perusahaan yang belum dicatat per tanggal neraca

5. Memastikan bahwa tidak ada kewajiban perusahaan yang belum dicatat per tanggal neraca Subsequent Event Subsequent Events adalah : Peristiwa atau transaksi yang terjadi setelah tanggal neraca tetapi sebelum diterbitkannya Laporan Audit Mempunyai akibat yang material terhadap laporan keuangan

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK RESPONDEN. Pendidikan Terakhir : D3 S1 S2 S3 Lainnya. Jabatan di KAP : Senior Auditor Manajer Supervisor Partner.

KARAKTERISTIK RESPONDEN. Pendidikan Terakhir : D3 S1 S2 S3 Lainnya. Jabatan di KAP : Senior Auditor Manajer Supervisor Partner. KARAKTERISTIK RESPONDEN Nama Nama KAP : : Jenis Kelamin : Pria Wanita Usia :... Tahun Pendidikan Terakhir : D3 S1 S2 S3 Lainnya Lama Bekerja : 3 Tahun 4-5 Tahun 3 4 Tahun > 5 Tahun Jabatan di KAP : Senior

Lebih terperinci

Pertanyaan. Pertanyaan ini berhubungan dengan prosedur audit. (Sumber : Weningtyas, 2006 ) Tidak. selalu. Pernah. kadang

Pertanyaan. Pertanyaan ini berhubungan dengan prosedur audit. (Sumber : Weningtyas, 2006 ) Tidak. selalu. Pernah. kadang KUESIONER Mohon Bapak / Ibu / Saudara menjawab pertanyaan di bawah ini dengan tanda ( ) pada salah satu jawaban yang paling sesuai dengan diri Bapak / Ibu / Saudara. 1 ini berhubungan dengan prosedur audit.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik kewajarannya lebih dapat

BAB I PENDAHULUAN. keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik kewajarannya lebih dapat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu manfaat dari jasa akuntan publik adalah memberikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya untuk pengambilan keputusan. Laporan keuangan yang

Lebih terperinci

Gambar 2.1 Hirarki Standar Auditing Sumber: SPAP Per 1 Januari 2001 (IAI, 2001: )

Gambar 2.1 Hirarki Standar Auditing Sumber: SPAP Per 1 Januari 2001 (IAI, 2001: ) MODUL APLIKASI KOMPUTERISASI AUDITING BAB 1 PENGANTAR AUDITING 2.2 HIRARKI STANDAR AUDITING Landasan Konseptual Landasan Konseptual Umum Pekerjaan Lapangan Pelaporan Keahlian dan pelatihan teknis yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akuntan yang sesuai dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam Standar

BAB I PENDAHULUAN. akuntan yang sesuai dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam Standar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam bidang auditing, jasa yang diberikan oleh Akuntan Publik (AP) adalah melakukan audit terhadap laporan keuangan perusahaan dan memberikan pendapat (opini)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semua kepentingan menegakkan kebenaran, kemampuan teknis dan

BAB I PENDAHULUAN. semua kepentingan menegakkan kebenaran, kemampuan teknis dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Profesi akuntan harus memiliki integritas, independen dan bebas dari semua kepentingan menegakkan kebenaran, kemampuan teknis dan profesionalisme harus selalu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini: a. Keandalan pelaporan keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini: a. Keandalan pelaporan keuangan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengendalian Intern 1. Pengertian Pengendalian Intern SA Seksi 319 Paragraf 06 mendefinisikan pengendalian intern sebagai suatu proses yang dilakukan manajemen dan personel lain

Lebih terperinci

BAHAN AJAR PEMERIKSAAN AKUNTAN 1. Oleh: Erni Suryandari F, SE., M.Si

BAHAN AJAR PEMERIKSAAN AKUNTAN 1. Oleh: Erni Suryandari F, SE., M.Si BAHAN AJAR PEMERIKSAAN AKUNTAN 1 Oleh: Erni Suryandari F, SE., M.Si FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA TAHUN 2016 BAB I PROFESI AKUNTAN PUBLIK Timbul dan Berkembangnya Profesi Akuntan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jasa akuntan publik semakin tinggi dikarenakan bukan hanya perusahaanperusahaan

BAB I PENDAHULUAN. jasa akuntan publik semakin tinggi dikarenakan bukan hanya perusahaanperusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Akuntan Publik merupakan profesi yang semakin dibutuhkan oleh masyarakat. Khususnya bagi masyarakat yang mempunyai bisnis atau perusahaan, baik perusahaan perorangan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Akuntansi memiliki dua fungsi dasar yang saling melengkapi, yaitu : untuk

BAB I PENDAHULUAN. Akuntansi memiliki dua fungsi dasar yang saling melengkapi, yaitu : untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Akuntansi memiliki dua fungsi dasar yang saling melengkapi, yaitu : untuk melindungi kepentingan pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan dan menyediakan

Lebih terperinci

IAPI INSTITUT AKUNTAN PUBLIK INDONESIA PENERAPAN SPM 1 SECARA PROPORSIONAL SESUAI KARAKTERISTIK OPERASI DAN BESAR KECILNYA KANTOR AKUNTAN PUBLIK

IAPI INSTITUT AKUNTAN PUBLIK INDONESIA PENERAPAN SPM 1 SECARA PROPORSIONAL SESUAI KARAKTERISTIK OPERASI DAN BESAR KECILNYA KANTOR AKUNTAN PUBLIK PERTANYAAN DAN JAWABAN TJ 03 IAPI INSTITUT AKUNTAN PUBLIK INDONESIA PENERAPAN SPM 1 SECARA PROPORSIONAL SESUAI KARAKTERISTIK OPERASI DAN BESAR KECILNYA KANTOR AKUNTAN PUBLIK KOMITE ASISTENSI DAN IMPLEMENTASI

Lebih terperinci

Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan lingkup audit yang

Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan lingkup audit yang Pada Standar Pekerjaan Lapangan #1 (PSA 05) menyebutkan bahwa Pekerjaan (audit) harus direncanakan sebaik-baiknya, dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya Perencanaan audit meliputi

Lebih terperinci

DAN KODE ETIK AKUNTAN PUBLIK by Ely Suhayati SE MSi Ak Ari Bramasto SE Msi Ak

DAN KODE ETIK AKUNTAN PUBLIK by Ely Suhayati SE MSi Ak Ari Bramasto SE Msi Ak STANDAR AUDITING DAN KODE ETIK AKUNTAN PUBLIK by Ely Suhayati SE MSi Ak Ari Bramasto SE Msi Ak Standar Profesional Akuntan Publik merupakan standar auditing yang menjadi kriteria atau pedoman kerja minimum

Lebih terperinci

STANDAR AUDITING. SA Seksi 200 : Standar Umum. SA Seksi 300 : Standar Pekerjaan Lapangan. SA Seksi 400 : Standar Pelaporan Pertama, Kedua, & Ketiga

STANDAR AUDITING. SA Seksi 200 : Standar Umum. SA Seksi 300 : Standar Pekerjaan Lapangan. SA Seksi 400 : Standar Pelaporan Pertama, Kedua, & Ketiga STANDAR AUDITING SA Seksi 200 : Standar Umum SA Seksi 300 : Standar Pekerjaan Lapangan SA Seksi 400 : Standar Pelaporan Pertama, Kedua, & Ketiga SA Seksi 500 : Standar Pelaporan Keempat STANDAR UMUM 1.

Lebih terperinci

Standar Audit SA 230. Dokumentasi Audit

Standar Audit SA 230. Dokumentasi Audit SA 0 Dokumentasi Audit SA Paket 00.indb STANDAR AUDIT 0 DOKUMENTASI AUDIT (Berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai pada atau setelah tanggal: (i) Januari 0 (untuk Emiten),

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN

BAB III DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN BAB III DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterbukaan komunikasi, ketrampilan mempresentasikan bukti, frekuensi perselisihan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Bentuk, Bidang, dan Perkembangan Usaha

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Bentuk, Bidang, dan Perkembangan Usaha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Bentuk, Bidang, dan Perkembangan Usaha 1.1.1 Bentuk Usaha Akuntan Drs. Chaeroni adalah Kantor Akuntan Publik terdaftar yang menyediakan jasa professional dibidang audit,pajak, dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pesertanya pada saat itu 30 orang termasuk Prof. Soemardjo dan Prof. Hadibroto.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pesertanya pada saat itu 30 orang termasuk Prof. Soemardjo dan Prof. Hadibroto. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Kantor Akuntan Publik Pada masa pendudukan Jepang, pendidikan akuntansi hanya diselenggarakan oleh Departemen Keuangan berupa

Lebih terperinci

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12 SOP-6 PENELAAHAN MUTU Halaman 1 dari 12 Histori Tanggal Versi Pengkinian Oleh Catatan 00 Halaman 2 dari 12 KETENTUAN 1.1 Penelaahan Mutu dilakukan untuk memastikan pelaksanaan kerja oleh Penilai telah

Lebih terperinci

PELAPORAN REVIEW MUTU

PELAPORAN REVIEW MUTU Standar Pelaksanaan dan Pelaporan Review Mutu STANDAR SPM PELAKSANAAN Seksi 300 DAN PELAPORAN REVIEW MUTU Sumber: PSPM No. 03 01 Tujuan program review mutu IAI adalah untuk meningkatkan mutu kinerja anggota

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Kualitas Pelaksanaan Audit Internal Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyatakan bahwa audit yang dilakukan auditor dikatakan berkualitas, jika memenuhi standar

Lebih terperinci

BAB II. TINJAUAN TEORETIS dan PERUMUSAN HIPOTESIS. Definisi akuntansi yang dikemukakan oleh American Institute of Certified

BAB II. TINJAUAN TEORETIS dan PERUMUSAN HIPOTESIS. Definisi akuntansi yang dikemukakan oleh American Institute of Certified BAB II TINJAUAN TEORETIS dan PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1 Pengertian Mahasiswa Akuntansi Pengertian mahasiswa dalam peraturan pemerintah RI No. 60 Tahun 1999 adalah peserta didik yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dalam melakukan audit (Mulyadi dan Puradiredja, (1998)

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dalam melakukan audit (Mulyadi dan Puradiredja, (1998) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Profesi akuntan publik atau auditor merupakan profesi kepercayaan masyarakat. Masyarakat mengharapkan profesi akuntan publik melakukan penilaian yang bebas dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk menghindari perilaku menyimpang dalam audit (dysfunctional

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk menghindari perilaku menyimpang dalam audit (dysfunctional BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perilaku profesional akuntan publik salah satunya diwujudkan dalam bentuk menghindari perilaku menyimpang dalam audit (dysfunctional audit behavior). Perilaku

Lebih terperinci

DAFTAR PERTANYAAN MENGENAI PENGARUH AUDIT INTERN (VARIABEL INDEPENDEN) NO PERTANYAAN Y N T Independensi

DAFTAR PERTANYAAN MENGENAI PENGARUH AUDIT INTERN (VARIABEL INDEPENDEN) NO PERTANYAAN Y N T Independensi DAFTAR PERTANYAAN MENGENAI PENGARUH AUDIT INTERN (VARIABEL INDEPENDEN) NO PERTANYAAN Y N T Independensi 1 2 3 4 5 6 Apakah internal auditor memiliki kedudukan yang independen dalam melakukan pemeriksaan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. sistematik mendapatkan dan mengevaluasi bukti-bukti secara objektif sehubungan

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. sistematik mendapatkan dan mengevaluasi bukti-bukti secara objektif sehubungan BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1. Tinjauan Teoretis 2.1.1. Pengertian Audit Komite konsep audit dasar (committee on auditing concepts) telah merumuskan definisi umum dari audit: Audit

Lebih terperinci

Standar Audit SA 620. Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor

Standar Audit SA 620. Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor SA 0 Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor SA Paket 00.indb //0 :: AM STANDAR AUDIT 0 penggunaan PEKERJAAN PAKAR AUDITOR (Berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai pada

Lebih terperinci

by Ely Suhayati SE MSi AK Ari Bramasto SE MSi Ak

by Ely Suhayati SE MSi AK Ari Bramasto SE MSi Ak KERTAS KERJA AUDIT by Ely Suhayati SE MSi AK Ari Bramasto SE MSi Ak Kertas kerja audit adalah catatan-catatan yang diselenggarakan auditor mengenai prosedur audit yang diterapkan, pengujian-pengujian yang

Lebih terperinci

KUESIONER Profil Responden KOMPETENSI Dimensi Pernyataan Alternatif Jawaban STS TS N S SS

KUESIONER Profil Responden  KOMPETENSI Dimensi Pernyataan Alternatif Jawaban STS TS N S SS KUESIONER Profil Responden 1. Nama : 2. Umur : tahun 3. Jenis Kelamin : L / P 4. Masa Kerja : tahun 5. Golongan : 6. Pendidikan terakhir : 7. Pendidikan dan pelatihan tentang audit yang pernah diikuti:

Lebih terperinci

KUESIONER PENGARUH PERSEPSI ETIKA BISNIS DAN ETIKA PROFESI AKUNTAN TERHADAP PERILAKU ETIS AKUNTAN

KUESIONER PENGARUH PERSEPSI ETIKA BISNIS DAN ETIKA PROFESI AKUNTAN TERHADAP PERILAKU ETIS AKUNTAN KUESIONER PENGARUH PERSEPSI ETIKA BISNIS DAN ETIKA PROFESI AKUNTAN TERHADAP PERILAKU ETIS AKUNTAN Identitas Responden Nama : ( boleh tidak diisi ) Umur : tahun Jenis kelamin : Laki-laki Perempuan Lama

Lebih terperinci

Arens, dkk "Auditing and Assurance Services an Integrated Approach". England: Pearson Education International

Arens, dkk Auditing and Assurance Services an Integrated Approach. England: Pearson Education International Arens, dkk. 2012. "Auditing and Assurance Services an Integrated Approach". England: Pearson Education International KUESIONER Yth: Bapak/Ibu Responden Bersama ini saya mohon ketersediaan Bapak/Ibu untuk

Lebih terperinci

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER)

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT TOBA BARA SEJAHTRA Tbk 2013 Daftar Isi Hal Daftar Isi 1 Bab I Pendahuluan 2 Bab II Pembentukan dan Organisasi 4 Bab III Tugas, Tanggung Jawab dan Prosedur

Lebih terperinci

Chapter V KERTAS KERJA PEMERIKSAAN (AUDIT WORKING PAPERS)

Chapter V KERTAS KERJA PEMERIKSAAN (AUDIT WORKING PAPERS) Chapter V KERTAS KERJA PEMERIKSAAN (AUDIT WORKING PAPERS) Pengertian Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) adalah : Semua berkas/dokumentasi prosedur audit dan temuan pemeriksaan, yang dikumpulkan oleh auditor

Lebih terperinci

Kuesioner Peranan Controller Dalam Pengelolaan Persediaan Bahan baku Guna Menunjang Kelancaran Proses Produksi. No Variabel independen Ya Ragu-ragu

Kuesioner Peranan Controller Dalam Pengelolaan Persediaan Bahan baku Guna Menunjang Kelancaran Proses Produksi. No Variabel independen Ya Ragu-ragu Kuesioner Peranan Controller Dalam Pengelolaan Persediaan Bahan baku Guna Menunjang Kelancaran Proses Produksi. No Variabel independen Ya Ragu-ragu Tidak Kualitas Personal yang Baik 1. Apakah controller

Lebih terperinci

PANDUAN SISTEM PENGENDALIAN MUTU KANTOR JASA AKUNTANSI

PANDUAN SISTEM PENGENDALIAN MUTU KANTOR JASA AKUNTANSI PANDUAN SISTEM PENGENDALIAN MUTU KANTOR JASA AKUNTANSI Kompartemen Kantor Jasa Akuntansi Oleh Feroza Ranti Ketua Bidang Peningkatan Kompetensi & Implementasi IAI Kompartemen Akuntan Kantor Jasa Akuntansi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penelitian Perkembangan lingkungan bisnis yang semakin kompetitif menyebabkan peningkatan pesat tuntutan masyarakat atas mutu dan jenis usaha profesi akuntan publik.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sarana untuk pengambilan keputusan baik pihak internal. eksternal (Jensen dan Meckling, 1976) dalam (Arsih dan

BAB I PENDAHULUAN. sarana untuk pengambilan keputusan baik pihak internal. eksternal (Jensen dan Meckling, 1976) dalam (Arsih dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Laporan keuangan yang disajikan oleh suatu perusahaan menyediakan berbagai informasi yang nantinya diperlukan sebagai sarana untuk pengambilan keputusan baik pihak

Lebih terperinci

FORMULIR PENILAIAN PRAKTIK KERJA UJIAN PROFESIONAL AUDITOR PROFESSIONAL RECOGNITION PROGRAM CERTIFIED PROFESSIONAL AUDITOR OF INDONESIA

FORMULIR PENILAIAN PRAKTIK KERJA UJIAN PROFESIONAL AUDITOR PROFESSIONAL RECOGNITION PROGRAM CERTIFIED PROFESSIONAL AUDITOR OF INDONESIA FORMULIR PENILAIAN PRAKTIK KERJA UJIAN PROFESIONAL AUDITOR PROFESSIONAL RECOGNITION PROGRAM CERTIFIED PROFESSIONAL AUDITOR OF INDONESIA INSTITUT AKUNTAN PUBLIK INDONESIA Ujian Profesi Akuntan Publik Penilaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015 telah berlangsung. AFTA merupakan kerja

BAB I PENDAHULUAN. ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015 telah berlangsung. AFTA merupakan kerja BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015 telah berlangsung. AFTA merupakan kerja sama antara negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, yang bertujuan untuk meningkatkan daya

Lebih terperinci

ED SPM 1: PENGENDALIAN MUTU BAGI KJA YANG MELAKSANAKAN PERIKATAN SELAIN PERIKATAN ASURANS

ED SPM 1: PENGENDALIAN MUTU BAGI KJA YANG MELAKSANAKAN PERIKATAN SELAIN PERIKATAN ASURANS 1 ED SPM 1: PENGENDALIAN MUTU BAGI KJA YANG MELAKSANAKAN PERIKATAN SELAIN PERIKATAN ASURANS Grha Akuntan, 3 Agustus 2017 Materi ini dipersiapkan sebagai bahan pembahasan isu terkait, dan tidak merepresentasikan

Lebih terperinci

VISI, MISI, TUJUAN, KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB.

VISI, MISI, TUJUAN, KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB. LAMPIRAN II PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR TAHUN 2014 TENTANG STANDAR AUDIT DAN REVIU ATAS LAPORAN KEUANGAN BAGI APIP PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT STANDAR UMUM A. VISI, MISI, TUJUAN,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kantor Akuntan Publik (KAP) merupakan sebuah organisasi yang bergerak dibidang jasa. Jasa yang diberikan berupa jasa audit operasional, audit kepatuhan, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Profesi akuntan publik merupakan salah satu profesi yang dipercayai oleh

BAB I PENDAHULUAN. Profesi akuntan publik merupakan salah satu profesi yang dipercayai oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Profesi akuntan publik merupakan salah satu profesi yang dipercayai oleh masyarakat. Profesi ini dikenal masyarakat melalui jasa audit yang disediakan untuk pemakai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keputusan pada perusahaan tersebut. Akuntan publik atau auditor berfungsi

BAB I PENDAHULUAN. keputusan pada perusahaan tersebut. Akuntan publik atau auditor berfungsi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akuntan publik sangat dibutuhkan dalam menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap aktivitas dan kinerja perusahaan. Laporan akuntan publik atas aktivitas dan kinerja

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan tujuan Pemerintah dalam rangka mendukung perekonomian yang sehat dan efisien,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pendidikan akuntansi di Indonesia dewasa ini kian meningkat.

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pendidikan akuntansi di Indonesia dewasa ini kian meningkat. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan pendidikan akuntansi di Indonesia dewasa ini kian meningkat. Hal ini terbukti dengan makin bertambahnya lembaga-lembaga pendidikan baik lembaga

Lebih terperinci

Standar Audit SA 300. Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan

Standar Audit SA 300. Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan SA 00 Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan SA Paket 00.indb //0 ::0 AM STANDAR AUDIT 00 PERENCANAAN SUATU AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN (Berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN 70 KUESIONER PENELITIAN Pengaruh Time Pressure, Risiko Audit, Materialitas, Prosedur review dan Kontrol Kualitas, locus of control, Komitmen Profesi terhadap Penghentian Prematur atas Prosedur Audit Identitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Publik terdaftar yang menyediakan jasa professional dibidang audit, pajak, dan konsultasi manajemen. Rekan-rekan Drs.

BAB I PENDAHULUAN. Publik terdaftar yang menyediakan jasa professional dibidang audit, pajak, dan konsultasi manajemen. Rekan-rekan Drs. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Bentuk, Bidang dan Perkembangan Usaha 1.1.1. Bentuk Usaha Kantor Akuntan Publik Drs. Amir Hadyi adalah Kantor Akuntan Publik terdaftar yang menyediakan jasa professional dibidang

Lebih terperinci

PT INDOSAT Tbk. Piagam Komite Audit

PT INDOSAT Tbk. Piagam Komite Audit PT INDOSAT Tbk. Piagam Komite Audit Umum 1. PT INDOSAT Tbk. ( Perseroan ) merupakan suatu perusahan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) dan tunduk kepada ketentuan dan peraturan pasar modal.

Lebih terperinci

Topik 6 : Kertas Kerja Pemeriksaan (Audit Working Papers)

Topik 6 : Kertas Kerja Pemeriksaan (Audit Working Papers) Topik 6 : Kertas Kerja Pemeriksaan (Audit Working Papers) Tujuan : Setelah mempelajari topik ini, mahasiswa mampu memahami : 1. Pengertian kertas kerja pemeriksaan 2. Tujuan kertas kerja pemeriksaan 3.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dengan terbentuknya ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015,

BAB I PENDAHULUAN. Dengan terbentuknya ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan terbentuknya ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015, persaingan dunia usaha akan semakin ketat karena arus perdagangan barang dan jasa semakin luas.

Lebih terperinci

-2- Untuk itu, dalam rangka menjaga kepercayaan publik terhadap kualitas informasi keuangan, Pihak yang Melaksanakan Kegiatan Jasa Keuangan harus menj

-2- Untuk itu, dalam rangka menjaga kepercayaan publik terhadap kualitas informasi keuangan, Pihak yang Melaksanakan Kegiatan Jasa Keuangan harus menj TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I KEUANGAN OJK. Akuntan Publik. Jasa Keuangan. Penggunaan. Pencabutan. (Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 62) PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR: KEP- 20 /PM/2002 TENTANG INDEPENDENSI AKUNTAN YANG MEMBERIKAN JASA AUDIT DI PASAR MODAL

KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR: KEP- 20 /PM/2002 TENTANG INDEPENDENSI AKUNTAN YANG MEMBERIKAN JASA AUDIT DI PASAR MODAL KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL NOMOR: KEP- 20 /PM/2002 TENTANG INDEPENDENSI AKUNTAN YANG MEMBERIKAN JASA AUDIT DI PASAR MODAL KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL, Menimbang : a. bahwa untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kasus audit yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat. kepercayaan masyarakat terhadap kualitas audit menurun.

BAB I PENDAHULUAN. Kasus audit yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat. kepercayaan masyarakat terhadap kualitas audit menurun. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kasus audit yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat kepercayaan masyarakat terhadap kualitas audit menurun. Masyarakat menjadi bertanya-tanya mengenai

Lebih terperinci

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL. Bab I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Tujuan

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL. Bab I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Tujuan PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL Bab I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Tujuan Peraturan ini dibuat dengan tujuan menjalankan fungsi pengendalian internal terhadap kegiatan perusahaan dengan sasaran utama keandalan

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Berikut ini adalah pernyataan-pernyataan yang dirancang sedemikian rupa sesuai

LAMPIRAN. Berikut ini adalah pernyataan-pernyataan yang dirancang sedemikian rupa sesuai LAMPIRAN DAFTAR PERNYATAAN Berikut ini adalah pernyataan-pernyataan yang dirancang sedemikian rupa sesuai dengan tujuan penelitian. Oleh karena itu, mohon diperhatikan istilah yang belum dipahami dan letak

Lebih terperinci

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SUMBERDAYA SEWATAMA

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SUMBERDAYA SEWATAMA PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SUMBERDAYA SEWATAMA 1 DAFTAR ISI I. DEFINISI...3 II. VISI DAN MISI...4 III. TUJUAN PENYUSUNAN PIAGAM KOMITE AUDIT...4 IV. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB...4 V.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan perlu dijaga dan hal itu

BAB I PENDAHULUAN. Kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan perlu dijaga dan hal itu 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan perlu dijaga dan hal itu sepenuhnya tergantung pada praktek professional yang dijalankan oleh para akuntan,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. suatu KAP diharuskan untuk mentaati peraturan dan standar yang berlaku serta harus

BAB II LANDASAN TEORI. suatu KAP diharuskan untuk mentaati peraturan dan standar yang berlaku serta harus BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Pengendalian Mutu Sistem pengendalian mutu merupakan suatu konsep yang mensyaratkan bahwa suatu KAP diharuskan untuk mentaati peraturan dan standar yang berlaku serta harus

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Auditing Auditing merupakan ilmu yang digunakan untuk melakukan penilaian terhadap pengendalian intern dimana bertujuan untuk memberikan perlindungan dan pengamanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu perusahaan digunakan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan dan

BAB I PENDAHULUAN. suatu perusahaan digunakan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan yang didirikan, baik besar maupun kecil pada umumnya mempunyai tujuan yang sama yaitu memperoleh laba. Laba yang diperoleh oleh suatu perusahaan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI II.1 Kualitas Audit Mengukur kualitas audit adalah hal yang tidak mudah karena kualitas audit sulit diukur secara obyektif, maka para peneliti sebelumnya menggunakan berbagai dimensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nepotisme). Banyaknya kasus korupsi yang terjadi akhir-akhir ini menjadikan

BAB I PENDAHULUAN. Nepotisme). Banyaknya kasus korupsi yang terjadi akhir-akhir ini menjadikan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi saat ini, permasalahan yang sering dihadapi oleh suatu lembaga pemerintahan salah satunya adalah tindakan KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme). Banyaknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. milik Belanda yang beroperasi di Indonesia pada waktu itu, didirikan dan akuntansi sistem Amerika mulai dikenal, terutama melalui

BAB I PENDAHULUAN. milik Belanda yang beroperasi di Indonesia pada waktu itu, didirikan dan akuntansi sistem Amerika mulai dikenal, terutama melalui BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan. Profesi akuntansi di Indonesia masih tergolong muda. Pada masa penjajahan Belanda, jumlah perusahaan di Indonesia belum begitu banyak, sehingga akuntansi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 11 BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1 Teori Sikap dan Perilaku Etis Sikap adalah keadaan dalam diri manusia yang menggerakan untuk bertindak, menyertai manusia

Lebih terperinci

Standar Pengendalian Mutu SPM 1

Standar Pengendalian Mutu SPM 1 Standar Pengendalian Mutu SPM Pengendalian Mutu bagi Kantor Akuntan Publik yang Melaksanakan Perikatan Asurans (Audit, Reviu, dan Perikatan Asurans Lainnya) dan Perikatan Selain Asurans SPM.indd //0 :0:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sebuah organisasi baik swasta maupun pemerintah dapat didukung

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sebuah organisasi baik swasta maupun pemerintah dapat didukung BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam sebuah organisasi baik swasta maupun pemerintah dapat didukung dengan sistem kontrol yang baik, untuk menetukan apakah kinerja dari perusahaan tersebut berjalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya pertumbuhan profesi auditor berbanding sejajar dengan

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya pertumbuhan profesi auditor berbanding sejajar dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Meningkatnya pertumbuhan profesi auditor berbanding sejajar dengan meningkatnya pertumbuhan perusahaan dalam bentuk badan hukum di Indonesia. Perkembangan

Lebih terperinci

CHAPTER VI. Nyoman Darmayasa, Ak., CPMA., CPHR., BKP., CA., CPA. Politeknik Negeri Bali 2014

CHAPTER VI. Nyoman Darmayasa, Ak., CPMA., CPHR., BKP., CA., CPA. Politeknik Negeri Bali 2014 CHAPTER VI Nyoman Darmayasa, Ak., CPMA., CPHR., BKP., CA., CPA Politeknik Negeri Bali 2014 SPAP Pekerjaan Lapangan 1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR /PMK.01/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR /PMK.01/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR /PMK.01/2016 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG AKUNTAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL TABEL 3.1 OPERASI VARIABEL TABEL 3.2 BOBOT PENILAIAN KUESIONER TABEL 3.3 INTERVAL VARIABEL X DAN VARIABEL Y...

DAFTAR TABEL TABEL 3.1 OPERASI VARIABEL TABEL 3.2 BOBOT PENILAIAN KUESIONER TABEL 3.3 INTERVAL VARIABEL X DAN VARIABEL Y... DAFTAR TABEL TABEL 3.1 OPERASI VARIABEL... 42 TABEL 3.2 BOBOT PENILAIAN KUESIONER... 51 TABEL 3.3 INTERVAL VARIABEL X DAN VARIABEL Y... 52 TABEL 4.1 KELOMPOK RESPONDEN BERDASARKAN USIA... 62 TABEL 4.2

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DENGAN MANAJEMEN

KOMUNIKASI DENGAN MANAJEMEN SA Seksi 360 KOMUNIKASI DENGAN MANAJEMEN Sumber : PSA No. 68 PENDAHULUAN 01 Beberapa pernyataan standar auditing telah memberikan panduan tentang hubungan antara auditor dengan manajemen. Seksi ini menguraikan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Laporan keuangan merupakan sasaran utama bagi seorang auditor

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Laporan keuangan merupakan sasaran utama bagi seorang auditor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laporan keuangan merupakan sasaran utama bagi seorang auditor eksternal yang berprofesi sebagai akuntan publik. Terkait dengan itu, bahwa laporan keuangan sudah menjadi

Lebih terperinci

ATURAN ETIKA KOMPARTEMEN AKUNTAN PUBLIK

ATURAN ETIKA KOMPARTEMEN AKUNTAN PUBLIK AE ATURAN ETIKA KOMPARTEMEN AKUNTAN PUBLIK KETERTERAPAN (APPLICABILITY) Aturan Etika ini harus diterapkan oleh anggota Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI KAP) dan staf profesional

Lebih terperinci