BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN"

Transkripsi

1 A. Tabel Data Perancangan BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN Tabel 2 : Tabel Data Perancangan 9

2 B. Data Berkaitan Fungsi Produk Rancangan 1. Sejarah dan Perkembangan sepatu Dahulu alas kaki terbagi dalam 2 jenis, yaitu tipe mokasin dan sandal. Mokasin biasa digunakan oleh masyarakat di kawasan subtropis dengan desain tertutup. Nah istilah mokasin ini sekarang lazim disebut dengan sepatu. Sandal biasa digunakan oleh masyarakat di kawasan tropis. Dari 2 jenis itu, mucul beberapa dasar tipe alas kaki. Menurut Saryoto BSc, dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Barang Kulit Karet dan Plastik (BBPPKP), Depperindag, ada lima bentuk pola dasar dalam merancang alas kaki, yaitu model pump, derby, moliere (oxford), pantofel, dan mokasin. Model pump merupakan bentuk dasar sepatu wanita. Alas kaki yang dulunya begitu simpel, telah mengalami beberapa perubahan, seperti terdapatnya hiasan dengan beragam aksesoris untuk memperindahnya 1 Manusia pertama kali melindungi kaki dengan cara mempergunakan daun dan rumput yang berukuran besar sebagai alas kaki yang diikat dengan tumbuhan merambat secara melingkar di seleliling kaki. Di negara negara panas, cara ini berkembang menjadi sandal yang dibuat dari daun palem yang ditenun, rumput atau serat tanaman lain yang dikaitkan ke kaki dengan cara dijepit oleh jari kaki, selain itu penggunaan bahan baku alas kaki berkembang mempergunakan kulit binatang terutama di negara beriklim dingin. Menurut sejarah Mesir, alas kaki yang pertama digunakan adalah sandal oleh orang Sumeria yaitu Naram Sin tahun 2500 SM pada masa kejayaan Stele. Alas kaki tersebut terbuat dari tanah liat sekitar tahun 3000 SM. Bentuk ujung depan melengkung ke atas, model ini dipergunakan oleh raja. Pada masa ini alas kaki telah berkembang menjadi bagian dari keserasian berbusana pada acara formal. 1 Mode Sepatu Dalam Sejarah, Gramedia, Jakarta,

3 Abad 12 sampai 14, di Eropa sepatu dari kulit telah berkembang. Modelnya berupa boot pendek yang disebut estvaux. Pemakaian boot pendek dilengkapi dengan kaos kaki sehingga kaki lebih terlindungi. model ini berkembang karena tahun 1320 Masehi pembuatan sepatu mulai dijahit karena ditemukannya mesin jahit. Pada masa ini ukuran panjang jari kaki sepatu menentukan status sosial dimasyarakat. Gambar 2 : Model sepatu yang ditemukan di Azerbaijan antar abad Masehi Sumber : Suciati, S.Pd., M.Ds, Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI Gambar 3 : Sepatu model Poulaines pada abab Masehi Sumber : Suciati, S.Pd., M.Ds, Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI Abad ke 15 model sepatu mengalami perkembangan. Tahun 1500 berkembang model sepatu dengan bentuk ujung jari tumpul. Tahun 1570 berkembang model sepatu dengan tali tali renda mulai dari ujung lidah sepatu 11

4 dengan tinggi tumit sepatu 2 3 inci. Tahun 1590 berkembang model sepatu dengan bentuk ujung jari melingkar. Gambar 4 : Sepatu model Eschapin dan sepatu model Escolleter abad 15 Masehi Sumber : Suciati, S.Pd., M.Ds, Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI Gambar 5 : Sepatu model Venetian pada abad 16 Masehi Sumber : Suciati, S.Pd., M.Ds, Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI Abad 17, pria memakai sepatu dengan bentuk ujung jari persegi atau melengkung seperti kubah. Tahun 1660 mulai ditemukan gesper untuk mengikat sepatu sehingga sepatu dengan tali renda berubah mempergunakan gesper. 12

5 Gambar 6 : Industri sepatu abad 17 Masehi Sumber : Suciati, S.Pd., M.Ds, Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI Gambar 7 : Model sandal dari bahan perak pada abad 16 Masehi Sumber : Suciati, S.Pd., M.Ds, Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI Gambar 8 : Sepatu dengan aplikasi dekorasi bahan renda dari Prancis pada abad 17 Masehi Sumber : Suciati, S.Pd., M.Ds, Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI Abad 18, wanita memakai sepatu dengan hiasan bordir berwarna metalik dengan tumit tinggi yang dihiasi pula dengan pita dan gesper serta bentuk ujung 13

6 kaki runcing. Sepatu laki laki terbuat dari kulit hitam dengan tumit rendah. Tahun 1760 bentuk tumit pada sepatu laki laki menjadi ramping. Akhir abad 18, tumit sepatu wanita menjadi lebih rendah bahkan tak bertumit dengan bentuk ujung jari oval yang sempit atau persegi. sepatu wanita saat ini berkembang pula pemakaian pita satin dan bahan sepatu dari sutera. Abad 19, laki laki dan wanita pada umumnya memakai sepatu boot. Model sepatu boot yang terkenal adalah Blutcher. Bahan untuk sepatu menjadi beragam seperti satin, sutera, kulit binatang dan bahan lain yang dipres. Model sepatu untuk pria berenda di bagian depan dengan bentuk ujung kaki lebar. Gambar 9 : Model sepatu untuk laki laki dengan hiasan bordir dan warna perak pada akhir abad 19 Masehi Sumber : Suciati, S.Pd., M.Ds, Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI Abad 20, muncul desainer desainer sepatu. Akibatnya banyak berbagai model sepatu untuk berbagai kesempatan pemakaian. Tahun orang cenderung memakai sepatu dengan dua warna. Tahun 1940 berkembang sepatu serba guna. tahun dikenal sepatu dengan merek Brothel Creeper, Winkle Pickers, Stilleto dan Palt Form Soles. Desainer sepatu yang terkenal diantaranya Patrick Cox, Red or Dead, Emma Hope dan Jeffrey West. 2 2 Suciati, S.Pd., M.Ds, Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI, Perkembangan Sepatu di Romawi Pada Abad ke 1 Masehi. 14

7 Gambar 10 : Model sepatu wanita dengan tumit tinggi, hiasan sepatu mempergunakan satun, bordir, payet dan mute Sumber : Suciati, S.Pd., M.Ds, Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI Menurut G Marion, A Nairn, "Kami membuat sepatu, Anda membuat cerita " pengalaman gadis remaja 'fashion: Bricolage, taktik dan identitas naratif. Caracara yang gadis gadis remaja Perancis menggunakan busana untuk membangun identitas mereka, yang berawal dari masa kecil yang mereka tinggalkan untuk berkembang menjadi perempuan dewasa. Teks verbatim dari 14 diskusi fenomenologis tentang pakaian, aksesoris, make up dan fashion diinterpretasikan menggunakan konsep bricolage (Levi Strauss), taktik (Certeau) dan identitas naratif (Ricoeur). Temuan beresonansi dengan Thompson dan Haytko, penggambaran hubungan dialogis antara konsumen dan sistem countervailing, makna fashion dengan eksposisi Murray dari ketegangan dialektis dan diskursif, antara tanda eksperimen dan sign dominasi. Tapi di luar ini kita menjelaskan proses dimana remaja juga memperoleh fashion dari lingkungan sosial pribadi, keterampilan dan taktik di mana mainan mereka dibatasi dengan simbolisme busana untuk membangun alur cerita dari kehidupan mereka sendiri yang mencerminkan masa lalu mereka, mendefinisikan diri mereka sekarang dan masa depan mereka. (Taylor & Francis : 2011) 15

8 2. Ergonomi Kaki Ergonomi berhubungan dengan studi tentang interaksi antara manusia dengan objek yang digunakannya serta dengan lingkungan kerja yang mereka gunakan. Definisi ergonomi secara praktis adalah perancangan objek yang akan digunakan oleh manusia (design for human use). Sanders dan Mc Cormick mendefinisikan secara lengkap tentang ergonomi. Mereka menjelaskan kedalam tiga pendekatan: fokus utama, sasaran dan pendekatan utama. Fokus utama ergonomi adalah mempertimbangkan faktor manusia dalam perancangan objek, peralatan dan juga lingkungannya. Sasaran utamanya adalah meningkatkan efektifitas hasil kerja system manusia mesin, pendekatan utama adalah dengan mengaplikasikan secara sistematis data tentang karakteristik kemampuan dan keterbatasan manusia dalam merancang suatu sistem ataupun prosedur. Fokus dari ergonomi adalah manusia dan interaksinya dengan produk, peralatan, fasilitas, prosedur serta lingkungan yang digunakan dalam bekerja dan hidup sehari hari. Perhatian utama dari ergonomi adalah pada manusia dan bagaimana rancangan suatu produk atau barang yang mempengaruhi manusia yang menggunakannya. Ergonomi yang juga disebut dengan human factors berusaha mencari perubahan terhadap produk atau barang yang digunakan manusia agar dapat meningkatkan kemampuan sekaligus mengatasi keterbatasan keterbatasan manusia. (Nurmianto, 1996)Permasalahan dalam bidang ini yaitu tentang dimensi tubuh manusia memang perlu dikaji karena banyak persoalan yang timbul dari tidak diperhatikannya aspek anthropometri dalam perancangan suatu system kerja. Hal ini dapat terjadi mulai dari ketidaknyamanan sampai rendahnya produktivitas atau kecelakaan kerja bahkan bencana bagi lingkungan.. Data pada penelitia ini didapatkan dengan pengukuran pada ukuran anggota tubuh manusia dandikumpulkan dari pengambilan sample yang 16

9 memenuhi syarat untuk mewakili populasi dan berdistribusi normal. Dari data tersebut dicari mean (rata rata) dan simpangan baku (standart deviasi). a. Data Kontur Kaki untuk Menentukan Kontur Produk Sepatu Data ini digunakan untuk mengetahui bentuk tubuh manusia, yaitu bentuk kaki manusia. Dalam perancangan produk sepatu wanita dewasa ini, penting sekali diperhatikan adanya data kontur kaki. Dengan didapatkannya data kontur kaki ini selanjutnya kita akan dapat menetukan kontur produk sepatu yang akan kita rancang. Adapun kontur kaki yang akan diukur adalah sebagai berikut: 1. Kontur kaki depan adalah bentuk kaki bagian depan dengan pengukuran mulai dari sisi kiri kaki depan melingkar keatas sampai sisi kanan kaki depan. 2. Kontur kaki tengah adalah bentuk kaki bagian tengah dengan pengukuran mulai dari sisi kiri kaki bagian tengah melingkar keatas sampai sisi kanan kaki bagian tengah. 3. Kontur kaki ujung adalah bentuk kaki bagian ujung (belakang) dengan pengukuran dari sisi kiri kaki bagian ujung melingkar keatas sampai sisi kanan kaki bagian ujung. 4. Kontur kaki atas adalah bentuk kaki bagian atas dengan pengukuran dari ujung jari kaki nomer dua (tulang metatarsal 2) naik keatas sampai kontur kaki ujung. 5. Kontur vertical belakang adalah bentuk kaki bagian belakang dengan pengukuran dari ujung tumit kaki naik keatas sampai horizontal mata kaki. Kontur horizontal belakang adalah bentuk kaki bagian belakang dengan pengukuran mulai dari sisi kiri kontur kaki tengah melingkar kebelakang arah horizontal sampai sisi kanan kontur kaki tengah. 3 3 Eko Nurmianto, Ergonomi Konsep dasar & Aplikasinya, Edisi 1, Gunawijaya, Jakarta,

10 Menurut C. Frey, Wanita berbeda dari laki laki dalam struktur dan biomekanik. Kaki pada wanita cenderung memiliki tumit sempit, dalam hubungan dengan kaki depan. Secara keseluruhan wanita memiliki kaki yang lebih sempit daripada pria yang memiliki kaki relatif lebih panjang. Wanita cenderung pronate kaki mereka lebih banyak dan memiliki Achilles tendon lebih kecil dibandingkan laki laki, kedua faktor memiliki implikasi untuk sepatu cocok. Meskipun sepatu telah dipakai selama ribuan tahun untuk tujuan utama melindungi kaki dari lingkungan, studi terbaru telah menyatakan bahwa sepatu sebagai penyebab utama gangguan kaki depan pada wanita. Beberapa penulis telah melaporkan efek berbahaya dari pemakaian sepatu dan faktor terbesar adalah sepatu yang sempit. Sehubungan dengan kelainan kaki pada wanita, penelitian ini akan mengeksplorasi anatomi, biomekanik, gangguan kaki depan umum, dan pemakaian sepatu melalui usia, pemakaian sepatu atletik, dan program penguatan kaki. (Clinical Orthopaedics and related research : 2000) Menurut S.W Balkin, "Perempuan Cina dari semua kelas sosial memiliki kaki yg dibebaskan." Meskipun dibebaskan dari mengikat kaki, kaki perempuan belum dibebaskan dari fashion sepatu yang menyebabkan deformity. Dua ratus tahun yang lalu, dokter Belanda Petrus Camper ( ), membahas absurditas fashion sepatu menulis, "Kami berikan kasih sayang yang wajar pada nasib perempuan Cina yang terkilir kakinya, dalam ketaatan kepada perintahperintah kustom barbar, namun kita sendiri telah mengajukan rasa tidak puas untuk usia penyiksaan yg kejam. " Hari ini masih berlaku sebagai perempuan elektif yg merusak kaki mereka dengan menggunakan sepatu yg sempit dan sakit saat digunakan. Dalam kelompok usia di atas 65 tahun, wanita banyak memiliki kelainan kaki kronis dibandingkan dengan pria, wanita memiliki dua kali lipat jumlah kuku tumbuh ke dalam, 3,5 kali lebih banyak luka dan kapalan, dan 13 kali lebih bunions. ( Jama : 1993) 18

11 Menurut SJ Park, Penelitian ini dirancang untuk mengetahui perubahan pada wanita lansia itu ukuran kaki dan bentuk oleh penuaan, untuk mengusulkan ukuran spesifikasi untuk sepatu wanita tua itu, dan untuk menghasilkan persamaan regresi menggunakan pengukuran perwakilan item untuk memperkirakan pengukuran lain biasanya sulit untuk mendapatkan. Subyek penelitian adalah 118 perempuan dari tahun dan 227 wanita lanjut usia lebih dari 60 tahun. Antropometri Martin dilakukan pada kaki kanan dari setiap mata pelajaran untuk 25 item. Dan 11 item pengukuran tidak langsung diukur di kedua kaki mencetak garis tunggal dan gambar di profil yang diambil oleh kamera digital. Untuk analisis statistik pada pengukuran antropometri dengan program SPSS, analisis varians, uji post hoc (SNK test), tabulasi silang, analisis korelasi berganda, analisis regresi dilakukan. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, ditemukan bahwa angka kaki wanita tua lebih dari 60 tahun lebih kecil di ketebalan dan lebar daripada di bawah 60 tahun. Selain itu, terungkap bahwa jempol kaki dan jari kelingking kaki wanita lanjut usia menunjukkan kecenderungan berkonsentrasi untuk poros tengah dari kaki. Indeks kaki lansia lebih kecil dengan lebar dan ketebalan. Kedua, kaki tabel distribusi ukuran kelompok lansia menunjukkan rentang ukuran yang lebih luas dan tertutup ukuran yang lebih kecil daripada di bawah usia 60, yang berarti variasi luas dalam ukuran kaki wanita lansia. Ketiga, analisis korelasi berganda menunjukkan korelasi yang tinggi dari panjang kaki / ketebalan pengukuran lain, menunjukkan kedua item dapat digunakan sebagai item representatif untuk ukuran sepatu spesifikasi wanita lansia sebagai kelompok usia lainnya. Persamaan regresi yang diproduksi menggunakan panjang kaki / ketebalan untuk memperkirakan pengukuran lain, menyarankan item tersebut dapat diperkirakan secara efektif dan dimanfaatkan di on / off line shop manufaktur sepatu sebagai tumit ke panjang besar kaki, tumit untuk sedikit panjang kaki, malleouls eksterior lebar, punggung kaki ketebalan, pergelangan kaki ketebalan, dll Hasil ini menyiratkan fitur bijaksana kaki wanita tua sebagai keragaman bentuk kaki dan ukuran lebar spesifikasi berbagai harus diterapkan untuk desain sepatu ergonomis bagi mereka. (2008) 19

12 Menurut Russel W. Belk, Di lain waktu dan tempat, termasuk Skotlandia (Wright 1922) dan Meksiko (Heyman 1994), kepemilikan sepatu saja sudah cukup untuk memberi status kekayaan yang dikenal sebagai "orang orang dengan sepatu." Dalam konteks lain, termasuk remaja Amerika, jenis sepatu yang dikenakan adalah penanda dari usia dan status ekonomi. Salah satu ritual yang lebih umum dari bagian yang melibatkan sepatu, adalah transformasi simbolis seorang gadis muda untuk kaum hawa melalui dirinya pasangan pertama sepatu bertumit tinggi. Ketajaman dan makna yang melekat pada pembelian ini jelas dalam laporan seperti ini: Aku berada di kelas 6 ketika saya memutuskan saya siap untuk menjelajah ke dunia kewanitaan; Saya perlu untuk memberkati kaki perawan saya dengan pasangan pertama mereka sepatu hak tinggi. Saya mulai menyimpan setiap sen dan nikel yg saya diterima. Aku bahkan dikenakan salah satu tamu rumah ayahku menyewa untuk tinggal di kamar saya. Setiap kali keluarga saya pergi berbelanja, saya memohon untuk pergi melihat apakah sepatu "saya" itu masih ada, memastikan bahwa tidak ada yang mencurinya dariku. Ketika saya akhirnya punya cukup uang, ibu saya membawa saya ke Payless untuk mendapatkan sepatu saya. Aku begitu senang. Dia terus bertanya padaku apakah aku yakin aku ingin sepatu, mereka putih, palsu kulit, sepatu sandal seperti dengan gabus tumit dua inci. Gentar, aku berjalan keluar dari toko celana pendek saya dengan sepatu hak tinggi saya baru. Aku mengenakan sepatu baru saya pulang dengan bangga, merasa seperti wanita sejati, seksi dan dewasa. Sama seperti upacara tradisional peralihan melibatkan menderita percobaan atau cobaan, banyak wanita melaporkan bahwa mereka menderita lecet, pergelangan kaki terkilir, jatuh, dan malu pada mengenakan sepatu hak pertama. Meskipun sepatu hak tinggi adalah ritual sepatu yang paling umum dari bagian untuk wanita muda, beberapa juga melaporkan bahwa pertama memiliki sandal balet, sepatu non ortopedi, atau stoking tanda tanda mereka menjadi seorang wanita. 20

13 Mendapatkan dan memakai sepatu tertentu juga dilihat sebagai suatu ritus peralihan untuk pria selama masa remaja mereka (lihat juga Barthelemy 2001). Ketika saya berumur sekitar dua belas tahun, saya selalu ingin memiliki sepasang sepatu kulit. Ada alasan beberapa mengapa saya selalu ingin memiliki sepatu kulit, sepatu kulit hitam terutama untuk sekolah. Pertama, itu adalah tentang waktu bahwa saya meninggalkan sekolah dasar dan bersiap siap untuk SMP. Saya merasa sepasang sepatu kulit hitam bisa meng upgrade status saya dari menjadi seorang anak untuk remaja. Sepasang sepatu kulit bisa membuat saya merasa bahwa saya lebih dewasa dan lebih banyak independen. Alasan mengapa saya merasa seperti itu karena orang tua saya bertekad untuk tidak membeli sepatu kulit untuk anak anak mereka sampai mereka lulus dari sekolah dasar. Mereka merasa anak anak anak anak dan mereka tidak perlu memakai barangbarang mahal. Namun, mereka merasa bahwa kelulusan dari sekolah dasar mencerminkan bahwa anak anak yang lebih luas dan self disiplin daripada sebelumnya. Sepatu tidak populer selama masa kanak kanak juga bisa menjadi stigmata (Goffman 1963). Beberapa dari mereka yang orang tuanya 'memaksa mereka untuk memakai alas kaki yang tidak populer mengundurkan diri diri untuk mengenakan sepatu membenci sampai mereka memakai keluar atau yang terlalu besar, sementara yang lain terpaksa strategi yang lebih licik dari superannuating sepatu mereka. Terima kasih kepada beberapa hambar cahaya biru khusus Ibu dan Ayah tiba di rumah satu malam dengan karung besar penuh sepatu. Hal mengejutkan adalah bahwa hanya satu dari kita pada saat itu membutuhkan sepasang sepatu kets baru. Kami memuncak ke dalam karung hanya untuk menemukan sepuluh sepasang sepatu kets hijau terang. Pikiran pertama saya adalah bagaimana UGLY mereka. Tentu saja, yang bisa melewatkan baik $ 1,99 per pasang kesepakatantentu, orang tua saya tidak bisa! Sejak saat itu selama 3 tahun saudara saudara saya dan saya dipaksa untuk memakai sepatu yang mengerikan. 21

14 Salah satu kenangan masa kecil saya dalam hal sepatu adalah ketika ayah saya membuat saya membeli sepasang sepatu karena mereka "kokoh". Saya berasal dari keluarga besar di mana uang adalah kekhawatiran dan, karena itu, kita masing masing sebagai anak anak hanya dimiliki satu atau, jika Anda beruntung, dua pasang sepatu. Situasi ini membuat lebih penting bahwa pembelian sepatu yang berkualitas baik. Tak perlu dikatakan, ayah saya membuat saya membeli "kokoh" sepatu. Dalam kasus ini, yang "kokoh" sepatu yang jelek. Aku membenci mereka. Itu hanya kepribadian persuasif ayahku yang membuat saya memecah dan mengatakan saya akan memakai sepatu ini. Aku mengenakan sepatu, tetapi membenci setiap detik. Saya sengaja mencoba untuk menghancurkan mereka. Aku menendang dinding, mengetuk mereka terhadap pembatasan, dan menyeret mereka di sepanjang trotoar saat mengendarai sepeda saya. Namun, tidak ada akan menghancurkan sepatu ini. Untuk cemas besar saya, mereka benar benar "kokoh" sepatu. Saya akhirnya memakai mereka untuk apa yang saya rasakan adalah sangat panjang, lama. Apa yang akan saya lakukan, adalah mendapatkan skateboard saya; dan aku akan pergi keluar dan naik skateboard saya dan duduk di skateboard dan pergi cepat menuruni bukit dan menyeret kakiku menuruni bukit. Peran orang tua sebagai penjaga gerbang dalam memutuskan kapan saatnya untuk dicari ritual sepatu jelas dalam komentar ini. Dengan menjaga anakanak di sepatu masa kecil mereka lebih lama, orang tua tersebut dianggap akan menahan dewasa (atau tahap berikutnya dari remaja) dari anak anak mereka. Ada beberapa indikasi pentingnya simbol simbol status perkembangan dalam laporan dari tidur dengan sepatu yang diinginkan setelah diakuisisi. Lampiran sepatu tersebut mirip dengan obyek transisi yang secara simbolis menjembatani kesenjangan antara anak dan orang tua tidak ada (misalnya, Gulerce 1991, Winicott 1953), kecuali bahwa dalam kasus ini mereka lebih akurat obyek pemisahan yang mencerminkan status baru merdeka dari anak dari orang tua. (Advances in Consumer Research : 2003) 22

15 C. Data Berkaitan Estetika Produk Rancangan 1. Budaya Jawa Indonesia mempunyai banyak sekali keragaman budaya yang menjadi ciri khas, keberagaman budaya ini dipengaruhi oleh letak geografis dan etnis Jawa yang paling dominan baik dari segi luas wilayahnya maupun populasinya, sehingga budayanyapun sangat beraneka ragam. Misalnya rumah adatnya, barang peninggalan sejarah, kesenian, tarian dan lain sebagainya. Kebudayaan Jawa ini tidak hanya menampilkan nilai nilai estetika, namun budaya ini juga mengedepankan nilai toleransi, keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan sehari hari. Tak hanya itu budaya jawa juga menjunjung tinggi nilai kesopanan dan kesederhanaan. Dari sekian banyak budaya yang ada di Indonesia, budaya Jawa merupakan budaya yang paling banyak diminati oleh orang asing. Budaya tersebut diantaranya tari tarian, wayang, batik, sastra dan keris. Motif ukiran yang ada di Indonesia memiliki kekayaan corak yang beraneka ragam. Bentuk bentuk motif ukiran yang beraneka ragam tersebut masing masing memiliki ciri khas tersendiri sesuai dengan daerahnya. Contoh motif ukiran tradisional Jawa 4 4 Soepratno, B. (1997). Ornamen Ukir Jawa Tradisional, Keterampilan Menggambar dan Mengukir Kayu Jilid 1. Semarang: Effhar. 23

16 Gambar 11 : Motif Pajajaran ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 12 : Motif Mataram ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 13 : Motif Bali ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 14 : Motif Majapahit ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 15 : Motif Jepara ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 16 : Motif Madura ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) 24

17 Gambar 17 : Motif Cirebon ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 18 : Motif Surakarta ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 19 : Motif Yogyakarta ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 20 : Motif Pekalongan ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 21 : Motif Semarangan ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 22 : Motif Karang ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Tabel 3 : Motif Ukiran Tradisional Jawa ( Sumber : Ornamen ukirjawa tradisional 1 ) 2. Objek Referensi & Inspirasi Objek referensi penulis dan inspirasinya antara lain dari ukiran Yogyakarta, motif motif kain dan keris. 25

18 Gambar 23 : Motif Awan ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 24 : Motif Bunga Cengkeh ( Sumber : Ornamen Ukir Jawa Tradisional 1 ) Gambar 25 : Sumber Inspirasi (Keris, Kain dan Ukiran Khas Yogyakarta ) Sumber : google 26

19 3. Jenis dan Warna Sepatu Wanita Pada prinsipnya sepatu wanita hanya terbagi menjadi 2 jenis, yaitu sepatu yang memiliki hak datar atau flat shoes dan sepatu yang memiliki hak tinggi atau high heels. Flat shoes atau sepatu yang memiliki hak datar sebenarnya adalah jenis sepatu yang paling aman dan sehat serta sesuai dengan fungsinya sebagai pelindung telapak kaki, meskipun diproduksi dengan berbagai jenis bahan dan didisain dengan beraneka ragam. Gambar 26 : Flat Shoes Kenzo Sumber : Retno Wulan F, 2015 High heels atau sepatu hak tinggi lebih mengutamakan penampilan dan kecantikan. Semakin ekstrim ukuran tinggi hak untuk sepatu ini, maka akan semakin ekslusif pula efek bagi penggunanya. Keanekaragaman disain dari kreativitas para perancang sepatu wanita berhak tinggi ini menghasilkan beraneka ragam model yang selalu menarik bagi para wanita. Model hak atau heels tersebut bisa diaplikasikan untuk sepatu wanita high heels, mid heels dan low heels. Pada perkembangannya, berdasarkan pada bentuk hak yang digunakan sepatu wanita high heels ini akhirnya terkoreksi dan terkelompok kemudian memiliki istilah sendiri, seperti berikut : 27

20 Gambar 27 : High Heels Christian Louboutin Sumber : Retno Wulan F, 2015 a. Cone Hak pada bawah tumit berbentuk setengah bulat. Gambar 28 : Sepatu Cone Heel Sumber : sepatu wanita.com b. Stiletto Memiliki hak yang tinggi, minimal 5cm dengan heel berdiameter tidak lebih dari 1cm. Stiletto boleh dibilang sebagai high heels dengan resiko paling tinggi, karena memiliki stabilitas paling rendah. Gambar 29 : Sepatu Stiletto 28

21 Sumber : c. Spool Hak berbentuk bulat persis di bawah tumit dan menyempit pada bagian tengah kemudian kembali melebar pada bagian titik kontak dengan lantai. Gambar 30 : Sepatu Spool Sumber : sepatu wanita.com 29

22 d. Curved Berbentuk setengah lingkaran seluas tumit kemudian mengecil di bagian tengah, kemudian melebar pada bagian bawah yang menyentuh lantai. Gambar 31 : Sepatu Curved Sumber : sepatu wanita.com e. Chunky Memiliki bentuk tumit yang tebal, sebagian dimodifikasi dengan bentuk lebih kecil pada bagian bawah. Gambar 32 : Sepatu Chunky Sumber : sepatu wanita.com f. Wedges dan Prism Wedges memiliki bentuk hak penuh ke bawah sesuai bentuk telapak kaki. Wedges termasuk high heels yang disukai wanita, sekalipun banyak pemerhati mode yang berpendapat bahwa keseksian wanita akan cenderung berkurang bila menggunakan wedges. 30

23 Wedges adalah model sepatu/sendal yang memiliki ciri bersol tebal. Dengan tebalnya sol, maka pemakai sepatu wedges mendapatkan manfaat yang sama dengan menggunakan high heels, yaitu menambah tinggi si pemakai. Satu yang unik dari wedges adalah dengan ciri khusus solnya yang tebal (yang berarti tebal di semua permukaan kaki), maka efek pegal atau lelah kaki dapat diminimalisasi. Tidak seperti high heels yang menumpu pada satu bagian saja, wedges membuat tumpuan badan merata pada telapak kaki, sehingga tidak mudah lelah/pegal ataupun efek gangguan pinggang atau tulang belakang. Desain wedges yang dapat digunakan di segala acara (flexible) membuat wedges sering dipilih menjadi alternatif alas kaki, apalagi model wedges yang sudah semakin berkembang sehingga semakin digemari masyarakat luas. Wedges dapat dipakai pada acara formal dengan dipadankan dengan blus atau blazer tetapi pantas juga jika digabungkan dengan legging dan kaos untuk kesan kasual. Namun, selain kelebihan kelebihan tersebut, wedges juga memiliki kekurangan, yaitu cenderung lebih berat. Tebalnya sol tentu akan menambah berat sepatu. Sol yang berat akan menyulitkan kita untuk bergerak, sehingga kita harus pandai pandai memilih jenis solnya agar tidak malah membebankan kaki untuk sepatu yang lebih berat. Disamping kelemahan dan kelebihannya, kembalinya trend menggunakan wedges (setelah trend pada tahun 80an) dan kecenderungan lebih mewabah mengisyaratkan bahwa sepatu yang menurut hasil riset memiliki tingkat kenyamanan sebesar 80 % ini sudah dapat dikatakan sebagai representasikan wanita jaman sekarang. Feminine namun simple di segala suasana. Prism juga memiliki bentuk hak penuh sesuai bentuk telapak kaki tetapi sisi belakang dan samping semakin mengecil pada titik kontak dengan lantai. Prism atau prisma pada prinsipnya tidak berbeda dengan wedges, hanya hak pada bagian bawah tumit semakin sempit. Prism lebih beresiko dibandingkan dengan wedges, tetapi lebih stylish. 31

24 Wedges dan prism, meskipun sebenarnya tidak termasuk dalam batasan sebagai hak atau heel karena tidak merupakan tumit yang berdiri sendiri, melainkan menjadi satu dengan seluruh sole sehingga merupakan platform dengan bentuk yang khas. Sebagian kalangan menganggap wedges dan prism merupakan model yang berbeda, tetapi kebanyakan orang menganggap prism juga sebagai wedges. Wedges dan prism paling banyak diaplikasi untuk low heels dan mid heels. Gambar 33 : Sepatu Wedges dan Prism Sumber : sepatu wanita.com g. Platform Platform bukan termasuk hak atau heel, karena pada dasarnya platform adalah alas kaki (bisa dalam bentuk sandal atau sepatu) yang memiliki dasar atau landasan (kemudian disebut dengan istilah Sole atau Sol) berukuran tinggi atau tebal. Platform bisa digunakan untuk sandal atau sepatu jenis hak datar atau hak tinggi. Efeknya, pengguna sandal atau sepatu platform akan menjadi lebih tinggi sesuai ukuran platform yang digunakan. 5 5 Wini Suwarni, Jenis dan Model Sepatu Wanita, sepatuwanita.com/2014/05/mengenal jenis sepatu wanita.html, diakses 9 November 2015, Jam

25 Gambar 34 : Sepatu Platform Sumber : sepatu wanita.com D. Data Berkaitan Teknis Produk Rancangan 1. Bahan Untuk Membuat Sepatu Wanita Jenis bahan untuk membuat sepatu wanita terdiri dari berbagai macam material, meskipun terus bertambah dengan ditemukannya material baru tetapi bahan dari kulit hewan terutama sapi masih tetap menjadi favorit. Jenis bahan sepatu wanita pada prinsipnya terdiri dari bahan yang bersifat alami dan bahan buatan atau sintetis. Bahan alami pada umumnya berasal dari kulit hewan Bahan sintetis seperti kulit imitasi, plastik dan akrilik baru digunakan di jaman modern sejalan dengan perkembangan teknologi. Jenis bahan sepatu wanita yang bersifat alami selain berasal dari kulit binatang, juga bisa berasal dari tanaman. Misalnya kayu yang diambil dari pepohonan tertentu atau serat dari tanaman semak yang diwarnai dan dianyam. Bahan bahan bersifat alami tersebut bisa menjadi bahan utama pembuatan sepatu atau saling dikombinasikan, tergantung pada desain sepatu mulai dari jenis flat sampai sepatu hak tinggi. 33

26 Gambar 35 : Kulit Alami Dari Tanaman Sumber : sepatu wanita.com Selain bahan dari kulit sapi, kulit hewan ternak lainnya yang bisa diproses dan digunakan untuk bahan sepatu adalah kulit kerbau, kambing, domba, kuda dan babi. Bahan untuk membuat sepatu yang berasal kulit dari hewan lainnya adalah kulit buaya, biawak, dan ular. Dengan proses tertentu, kulit ikan pari, kulit ikan tuna dan beberapa jenis ikan lainnya juga bisa dibuat menjadi bahan sepatu. Gambar 36 : Kulit Alami Dari Kulit Binatang sepatu wanita.com 34

27 Nama Keterangan Asal Full Grain Jenis kulit yang halus dan lembut, sangat baik untuk sepatu formal yang berkualitas baik Kulit sapi muda (6 12 Bulan) Brush Off Jenis kulit yang halus dan mengkilap. Akan nampak selalu mengkilap. Jika terkena kotoran bisa dengan mudah dibersihkan dan sekaligus dikilapkan kembali. Kulit sapi tua Nappa Jenis kulit yang lebih halus, mengkilap dan sudah diproses dengan berbagai warna. Kelemahan mudah retak, apalagi jika kualitas pewarna yang digunakan kurang bagus. Kulit kambing, kulit kerbau 35

28 Suede Jenis kulit yang lebih bertekstur dan berbulu kasar, bila kena noda sulit dibersihkan, tidak tahan air Kulit sapi yang dibelah menjadi 2 bagian Nubuck Jenis kulit seperti beludru, bila kena noda sulit untuk dibersihkan dan tidak tahan air Kulit sapi yang diamplas hingga mengeluarkan serabut Milling Jenis kulit dibuat dengan mengutamakan proses pengeringan sehingga diperoleh tekstur yang lembut. Biasanya digunakan untuk bahan membuat tas wanita, Kulit sapi, kulit reptil Tabel 4 : Karakter kulit binatang (Alami) Sumber : Universitas Negri Medan, Sepatu dan Pembuatannya 36

29 Nama Bludru Keterangan Kain halus dan lembut terbuat dari bahan sintetis yang bertumpukan dengan serat lainnya seperti katun, nilon, polyester. Mirip seperti bahan boneka. Canvas Denim Jenis bahan ini mudah dicuci atau dibersihkan hanya dengan di lap menggunakan kain. Jenis bahan kanvas berasal dari bahan turunan hemp dan sekarang juga telah terdiri atas bahan katun juga flax yang membuat bahan ini menjadi lebih tahan lama. Bahan jenis denim ini terbilang cukup kuat. Denim berasal dari eropa dan pertama kali muncul sekitar abad ke 18 dan berkembang hingga kini mmenjadi bahan utama untuk fashion. Nylon Nylon adalah jenis bahan sintetis yang biasa digunakan untuk bahan running shoes. Bahan nylon mulai dikembangkan pada tahun Nylon merupakan bahan yang cocok digunakan untuk bagian luar running shoes karena karakternya yang tipis atau enteng juga memiliki rongga untuk sirkulasi udara yang baik. Nylon menjadi bahan yang ideal karena memberikan ruang yang cukup untuk bernafas yang sangat dibutuhkan para atlet dengan pergerakan pergerakan yang sangat tinggi Tabel 5 : Karakter Kulit Sintetis Sumber : Universitas Negri Medan, Sepatu dan Pembuatannya 37

30 E. Data Berkaitan Ekonomi Produk Rancangan Perbedaan harga antara sepatu wedges yang ada dipasaran jika dibandingkan antara brand dalam negeri dan brand luar negeri dapat dilihat melalui tabel berikut: No Gambar Brand Lokal Merek Harga Gambar Brand Luar Negri Merek Harga 1 Yongki Rp. Hermes Rp. Komaladi Marie Rp. Valentino Rp. Claire Nicholas Rp. Christian Rp Edison Louboutin 0 Tabel 6 : Perbandingan harga brand lokal dengan brand luar negri 38

PERKEMBANGAN MODEL SEPATU DI ROMAWI PADA ABAD KE-1 MASEHI. Oleh Suciati, S.Pd., M.Ds Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI

PERKEMBANGAN MODEL SEPATU DI ROMAWI PADA ABAD KE-1 MASEHI. Oleh Suciati, S.Pd., M.Ds Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI PERKEMBANGAN MODEL SEPATU DI ROMAWI PADA ABAD KE-1 MASEHI Oleh Suciati, S.Pd., M.Ds Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI 1. Kajian Historis Terhadap Obyek Desain Seperti dikutif dari pengantar metode-metode

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK RANCANGAN Dalam perancangan produk clothing ini penulis melakukan analisa pada masing-masing produk yang akan

Lebih terperinci

Bab 2. Data dan Analisa. Data dan informasi yang digunakan untuk analisa dan konsep proyek ini didapat dari

Bab 2. Data dan Analisa. Data dan informasi yang digunakan untuk analisa dan konsep proyek ini didapat dari Bab 2 Data dan Analisa 2.1 Sumber Data dan informasi yang digunakan untuk analisa dan konsep proyek ini didapat dari berbagai sumber, dantara lain: a. Literatur: artikel elektronik maupun non elektronik,

Lebih terperinci

BAB II. METODE PERANCANGAN

BAB II. METODE PERANCANGAN BAB II. METODE PERANCANGAN A. Orisinalitas Sepatu wedges memiliki ciri tersendiri yaitu terdapat pada bagian solnya yang tebal dan mengikuti tapak kaki wanita. Sepatu wedges memberikan efek tinggi saat

Lebih terperinci

BAB III SURVEY LAPANGAN

BAB III SURVEY LAPANGAN BAB III SURVEY LAPANGAN 3.6 Perolehan Material Renda di Indonesia Renda yang banyak ditemukan di pasaran adalah jenis renda yang digunakan sebagai bahan dekorasi atau benda aplikasi. Biasanya renda digunakan

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN A. ORISINALITAS 1. Karya sejenis 1.1. Sepatu Boots Pengguna sepatu boots sekarang dapat memilih jenis apa yang akan mereka kenakan, apakah sepatu boot kulit, sepatu boot kanvas,

Lebih terperinci

KAJIAN KOMPARATIF DESAIN BUSANA NASIONAL WANITA INDONESIA KARYA BARON DAN BIYAN DENGAN KARYA ADJIE NOTONEGORO

KAJIAN KOMPARATIF DESAIN BUSANA NASIONAL WANITA INDONESIA KARYA BARON DAN BIYAN DENGAN KARYA ADJIE NOTONEGORO KAJIAN KOMPARATIF DESAIN BUSANA NASIONAL WANITA INDONESIA KARYA BARON DAN BIYAN DENGAN KARYA ADJIE NOTONEGORO Oleh Suciati, S.Pd, M.Ds Prodi Pendidikan Tata Busana JPKK FPTK UPI I. PRINSIP DASAR BUSANA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara tropis yang memiliki 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Sebagian besar penduduk Indonesia menggunakan motor sebagai alat transportasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Busana merupakan kebutuhan dasar manusia sepanjang hidupnya. Semakin tinggi taraf ekonomi seseorang, kebutuhan berbusana juga akan meningkat. Peningkatan tersebut dapat

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Review PT. Union Jaya Pratama PT Union Jaya Pratama merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan kasur busa. Hasil produksi dikelompokkan menjadi 3 jenis berdasarkan

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN A. ORISINALITAS 1. Ulasan Karya Sejenis a. Bohemian Style Produk 1 : Baju Blouse Lengan Kalong Gambar 2. 1 Baju Blouse (Sumber: www.pinterest.com, 2017) Gambar diatas adalah beberapa

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Busana Thailand Berbentuk Celemek Panggul, Kaftan atau Tunika

Gambar 3.1 Busana Thailand Berbentuk Celemek Panggul, Kaftan atau Tunika BAHAN AJAR BAGIAN III SEJARAH MODE PERKEMBANGAN BENTUK DASAR BUSANA DI NEGARA TIMUR A. Thailand Thailand adalah salah satu negara tetangga Indonesia sehingga busan antara kedua negara tersebut terdapat

Lebih terperinci

BAB V KONSEP DESAIN. Berdasarkan hasil studi dan analisa, maka didapatkam kriteria produk perancangan desain ini ialah:

BAB V KONSEP DESAIN. Berdasarkan hasil studi dan analisa, maka didapatkam kriteria produk perancangan desain ini ialah: BAB V KONSEP DESAIN Berdasarkan hasil studi dan analisa, maka didapatkam kriteria produk perancangan desain ini ialah: Gambar 5.1. Konsep desain. 5.1. Penerapan Solusi Desain pada Produk Berdasarkan hasil

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DATA. Berikut ini penulis akan memaparkan mengenai analisisis unsur westernisasi

BAB 3 ANALISIS DATA. Berikut ini penulis akan memaparkan mengenai analisisis unsur westernisasi BAB 3 ANALISIS DATA Berikut ini penulis akan memaparkan mengenai analisisis unsur westernisasi pada mode busana Gothic Lolita yang didasarkan pada jenis-jenis busana Gothic Lolita modern. 3.1 Westernisasi

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN/KOMUNITAS Di zaman yang sudah modern saat ini dan masuknya budaya asing kedalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tetapi Di Indonesia gaya bohemian ini sangat

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN/ KOMUNITAS Produk sepatu ini dirancang mencakup tataran non fisik, karena lebih menampilkan gaya hidup, fashion dan sosial budaya. Untuk tataran lingkungan,

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. Kelompok Data Berkaitan Dengan Aspek Fungsi Produk Rancangan 1. Fungsi Sandal dan totebag

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. Kelompok Data Berkaitan Dengan Aspek Fungsi Produk Rancangan 1. Fungsi Sandal dan totebag BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. Kelompok Data Berkaitan Dengan Aspek Fungsi Produk Rancangan 1. Fungsi Sandal dan totebag Tabel03 : Fungsi sandal dan totebag SANDAL FUNGSI TAS TOTE BAG Sandal berfungsi

Lebih terperinci

Nama jenis produk kerajinan tekstil beserta gambar dan komentarnya

Nama jenis produk kerajinan tekstil beserta gambar dan komentarnya Nama jenis produk kerajinan tekstil beserta gambar dan komentarnya kerajinan batik,batik merupakan warisan budaya indonesia. kerajinan pahat, kerajinan yang membutuhkan ketekunan. kerajinan ukir, adalah

Lebih terperinci

Desain Alas Kaki Casual untuk Anak Perempuan Usia 8-12 Tahun dengan Eksplorasi dan Aplikasi Motif Batik Anak

Desain Alas Kaki Casual untuk Anak Perempuan Usia 8-12 Tahun dengan Eksplorasi dan Aplikasi Motif Batik Anak Desain Alas Kaki Casual untuk Anak Perempuan Usia 8-12 Tahun dengan Eksplorasi dan Aplikasi Motif Batik Anak Sakina Mutiara Rahmawati dan Primaditya, S.Sn. M.Ds Jurusan Desain Produk Industri, Fakultas

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN A. Orisinalitas Sepatu sebagai sebuah produk yang telah banyak tersebar luas di dunia memiliki tempat tersendiri di hati orang-orang yang menggemari sepatu. Sepatu tidak hanya

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG KUMIHIMO

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG KUMIHIMO BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG KUMIHIMO 2.1 Sejarah Kumihimo Kumihimo dikenal mulai sejak zaman Edo. Kumihimo pertama kali diciptakan oleh suatu bentuk jari loop mengepang. Kemudian alat takaida seperti

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha. Gambar 1.1

BAB 1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha. Gambar 1.1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Negara Cina yang merupakan salah satu dengan penduduk terbanyak di dunia memiliki berbagai seni budaya maupun mitos yang masih sangat kental. Acara-acara besar yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sedikit pergeseran yaitu tidak hanya sebagai pelindung tubuh dari. gangguan alam dan untuk kesopanan, tetapi juga untuk menyalurkan

BAB I PENDAHULUAN. sedikit pergeseran yaitu tidak hanya sebagai pelindung tubuh dari. gangguan alam dan untuk kesopanan, tetapi juga untuk menyalurkan A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Seiring dengan berkembangnya zaman, fungsi busana mengalami sedikit pergeseran yaitu tidak hanya sebagai pelindung tubuh dari gangguan alam dan untuk kesopanan, tetapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kekayaan alam dan keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadikan bumi pertiwi terkenal di mata internasional. Tidak terlepas oleh pakaian adat dan

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4.1 Proses perancangan Bahan dasar Serat katun Tali katun Pewarnaan Simpul Eksplorasi Hasil eksplorasi terpilih Perancangan produk Proses produksi KARYA Proses perancangan 42

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya merupakan suatu pola hidup yang berkembang dalam masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, budaya memiliki kaitan yang sangat erat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penutup atau pelindung anggota tubuh. Pakaian digunakan sebagai pelindung

BAB I PENDAHULUAN. penutup atau pelindung anggota tubuh. Pakaian digunakan sebagai pelindung BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pengertiannya yang paling umum, pakaian dapat diartikan sebagai penutup atau pelindung anggota tubuh. Pakaian digunakan sebagai pelindung tubuh terhadap hal-hal

Lebih terperinci

Kain Sebagai Kebutuhan Manusia

Kain Sebagai Kebutuhan Manusia KAIN SEBAGAI KEBUTUHAN MANUSIA 1 Kain Sebagai Kebutuhan Manusia A. RINGKASAN Pada bab ini kita akan mempelajari kain sebagai kebutuhan manusia. Manusia sebagai salah satu makhluk penghuni alam semesta

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4.1. Ide Perancangan Desain Setiap keluarga memiliki kebiasaan yang berbeda, kebiasaan-kebiasaan ini secara tidak langsung menjadi acuan dalam memilih furnitur yang ada di dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu kebutuhan primer manuasia adalah sandang, atau lebih dikenal secara umum dengan nama pakaian. Pada awalnya, pakaian hanya memiliki fungsi dasar sebagai penutup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara maritim yang besar dan memiliki berbagai macam kebudayaan, mulai dari tarian, pakaian adat, makanan, lagu daerah, kain, alat musik, lagu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terpisahkan dari kemajuan peradapan suatu masyarakat. Hal itu dikarenakan

BAB I PENDAHULUAN. terpisahkan dari kemajuan peradapan suatu masyarakat. Hal itu dikarenakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dari dahulu hingga sekarang, fashion merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kemajuan peradapan suatu masyarakat. Hal itu dikarenakan fashion sering kali

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN FUNGSI PRODUK RANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN FUNGSI PRODUK RANCANGAN BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN FUNGSI PRODUK RANCANGAN Fungsi produk yang menjelaskan tentang data yang didapat dari berbagai sumber yang digunakan sebagai acuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring berkembangnya zaman dari waktu ke waktu, yang diiringi dengan perkembangan ilmu dan tekhnologi, telah membawa manusia kearah modernisasi dan globalisasi.

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN

BAB II METODE PERANCANGAN BAB II METODE PERANCANGAN 1. Orisinalitas Perbedaan karya rancangan penulis dengan karya desainer lain berdasarkan riset yang penulis kumpulkan adalah desainer lain ada juga yang membuat rancangan meja

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etika Profesi 2.1.1 Definisi Etika Etika menurut Rini dan Intan (2015:3), berasal dari kata Yunani Ethos (Ta Etha) berarti adat istiadat atau kebiasaan. Dalam pengertian ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Beberapa tahun belakangan ini semakin berkembang berbagai macam variasi model dan jenis dengan berbagai merk sepatu yang beredar di pasaran Indonesia. Selain variasi

Lebih terperinci

Bab VI Kesimpulan dan Saran

Bab VI Kesimpulan dan Saran Bab VI Kesimpulan dan Saran 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil yang diperoleh pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan antara lain sebagai berikut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia fashion sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Setiap harinya kita tidak lepas dari kebutuhan sandang baik sebagai kebutuhan pokok maupun kebutuhan sebagai

Lebih terperinci

BAB II PRODUK DAN JASA

BAB II PRODUK DAN JASA BAB II PRODUK DAN JASA 2.1 Spesifikasi Produk Dari segi bahan KetoBatik menggunakan bahan Cotton Combed 20s dan kemeja menggunakan bahan Teteron Cotton. Bahan batik yang KetoBatik gunakan adalah batik

Lebih terperinci

BAB 2 DATA DAN ANALISA. 2.1 SUMBER DATA Adapun sumber data yang akan digunakan untuk proyek tugas akhir ini berasal dari :

BAB 2 DATA DAN ANALISA. 2.1 SUMBER DATA Adapun sumber data yang akan digunakan untuk proyek tugas akhir ini berasal dari : 3 BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 SUMBER DATA Adapun sumber data yang akan digunakan untuk proyek tugas akhir ini berasal dari : Internet Wawancara dengan owner Survey terhadap target audience 2.2 DATA UMUM

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Kursi Kerja a. Pengertian Kursi Kerja Kursi kerja merupakan perlengkapan dari meja kerja atau mesin, sehingga kursi akan dapat dijumpai dalam jumlah yang lebih

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERANCANGAN SEPATU WEDGES DENGAN INSPIRASI BENTUK HEWAN

TUGAS AKHIR PERANCANGAN SEPATU WEDGES DENGAN INSPIRASI BENTUK HEWAN TUGAS AKHIR PERANCANGAN SEPATU WEDGES DENGAN INSPIRASI BENTUK HEWAN Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat dalam Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Oleh : Heppy Sugiarti NIM : 41911120014 Jurusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tenun ikat atau kain ikat adalah kriya tenun Indonesia berupa kain yang ditenun dari helaian benang pakan atau benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISIS PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK

BAB III DATA DAN ANALISIS PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK BAB III DATA DAN ANALISIS PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK Boneka bisa terbuat dari bermacam bahan, bahan yang bisa digunakan yaitu kain, kulit, kertas, fiber, tanah liat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan pertumbuhan perekonomian. Setiap pembangunan mall dapat meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. dengan pertumbuhan perekonomian. Setiap pembangunan mall dapat meningkatkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pusat pertokoan (mall) di Indonesia semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan perekonomian. Setiap pembangunan mall dapat meningkatkan pendapatan negara

Lebih terperinci

UJIAN SEKOLAH SMP/MTs TAHUN PELAJARAN Hari/Tanggal (60 menit) P - 01

UJIAN SEKOLAH SMP/MTs TAHUN PELAJARAN Hari/Tanggal (60 menit) P - 01 DOKUMEN SEKOLAH SANGAT RAHASIA UJIAN SEKOLAH SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2014-2015 Mata Pelajaran Tata Busana/Ketrampilan Paket 01/Utama Hari/Tanggal... Waktu 08.30 09.30 (60 menit) P - 01 PETUNJUK UMUM :

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Nako terdiri dari 7 orang pengrajin kemudian kelompok ketiga diketuai oleh Ibu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Nako terdiri dari 7 orang pengrajin kemudian kelompok ketiga diketuai oleh Ibu 37 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Jenis Kain Karawo Di Desa Tabongo Barat Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo terdapat empat kelompok pengrajin, kelompok pertama diketuai oleh Ibu Sarta Talib terdiri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pakaian merupakan salah satu kebutuhan yang paling penting bagi manusia. Pakaian termasuk barang yang mudah untuk didapatkan. Umumnya, orang-orang mendapatkan

Lebih terperinci

BAB II KARAKTERISTIK BUSANA ETNIK

BAB II KARAKTERISTIK BUSANA ETNIK BAB II KARAKTERISTIK BUSANA ETNIK Karakteristik busana etnik setiap daerah berbeda-beda. Karakterstik tersebut ditinjau dari model busananya, jenis dan corak kain yang dipergunakan, warna busana dan perlengkapan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS 4.1. Pembahasan Pembahasan membahas tentang perancangan rak sepatu berdasarkan data yang telah didapatkan dari populasi kelas 3ID02. Beberapa hal yang dibahas antara lain

Lebih terperinci

Ragam Hias Tenun Ikat Nusantara

Ragam Hias Tenun Ikat Nusantara RAGAM HIAS TENUN IKAT NUSANTARA 125 Ragam Hias Tenun Ikat Nusantara A. RINGKASAN Pada bab ini kita akan mempelajari sejarah teknik tenun ikat pada saat mulai dikenal masyarakat Nusantara. Selain itu, akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Wig yaitu rambut palsu yang terbuat dari serat alami (rambut manusia, rambut kuda, wol, bulu binatang) maupun sintetis (polyester, nylon) yang digunakan di

Lebih terperinci

PERANCANGAN INTERIOR/ RUANG BELAJAR YANG ERGONOMIS UNTUK SEKOLAH LUAR BIASA (SLB)

PERANCANGAN INTERIOR/ RUANG BELAJAR YANG ERGONOMIS UNTUK SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) PERANCANGAN INTERIOR/ RUANG BELAJAR YANG ERGONOMIS UNTUK SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) Julianus Hutabarat,Nelly Budiharti, Ida Bagus Suardika Dosen Jurusan Teknik Industri,Intitut Teknologi Nasional Malang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 14 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Ergonomi Kata Ergonomi berasal dari dua kata Latin yaitu ergon yang berarti kerja dan nomos yang berarti hukum alam. Ergonomi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Fungsi dan Bentuk Fungsi daripada furnitur dan aksesoris yang dibuat adalah untuk membantu setiap tamu untuk melakukan aktifitas meditasi, sehingga furnitur berupa sarana

Lebih terperinci

BAB II. Metodologi Perancangan

BAB II. Metodologi Perancangan BAB II Metodologi Perancangan A. Orisinalitas Sebuah desain tidak mungkin tercipta tanpa ada unsur-unsur pembentuknya dan tidak akan indah atau menarik di lihat tanpa mempertimbangkan prinsipprinsip desain.

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, kiranya. telah cukup menjawab berbagai permasalahan yang diajukan

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, kiranya. telah cukup menjawab berbagai permasalahan yang diajukan 305 BAB V KESIMPULAN Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, kiranya telah cukup menjawab berbagai permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini. Penjelasan yang terkait dengan keberadaan seni lukis

Lebih terperinci

REKAP KUESIONER TERBUKA

REKAP KUESIONER TERBUKA Lampiran A 1 Rekapitulasi Hasil Penyebaran Kuesioner Terbuka REKAP KUESIONER TERBUKA Nama Variabel Jumlah Harga Rp. 110.000 13 Harga Rp. 125.000 12 Harga Rp. 150.000 10 Hak 3cm 26 Hak 5cm 9 Hak Flat 35

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Teknik ikat celup sudah mendunia di berbagai Negara, Contohnya di Negara India mempunyai teknik Bandhni, Jepang dengan Shibori, dan Thailand dengan Mudmeenya

Lebih terperinci

BAB II PROFIL PERUSAHAAN. A. Sejarah Ringkas Butik Dorayaky Shop. menuangkan hobi nya di bidang fashion tersebut dia berkeinginan

BAB II PROFIL PERUSAHAAN. A. Sejarah Ringkas Butik Dorayaky Shop. menuangkan hobi nya di bidang fashion tersebut dia berkeinginan BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Ringkas Butik Dorayaky Shop Salah satu Butik yang di gemari di kawasan Jl. Bukit Siguntang No: 16 Medan adalah Butik Dorayaky Shop. Awal mulanya butik ini didirikan

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. DESAIN BENTUK DASAR Sebelum memasuki proses ini, Sebelumnya penulis berkordinasi dengan dosen pembimbing mengenai desain yang seperti apa yang nantinya akan diproduksi. Penilaian

Lebih terperinci

DENAH LT. 2 DENAH TOP FLOOR DENAH LT. 1

DENAH LT. 2 DENAH TOP FLOOR DENAH LT. 1 0.15 8.60 2.88 Pada area lantai,1 ruang parkir di perluas dari yang sebelumnya karena faktor jumlah kendaraan pada asrama yang cukup banyak. Terdapat selasar yang difungsikan sebagai ruang tangga umum

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar desain kemasan toko cemilan Abang None adalah dengan membuat packaging untuk produk makanan khas betawi cemilan Abang None yang terlanjur

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada setiap era dalam perkembangan mode, ada tren dan tema yang mendasari perubahannya, mulai dari warna hingga siluet dan potongan busana. Tren untuk tahun 2015 berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi negara yang kaya dengan keunikan dari masing-masing suku tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. menjadi negara yang kaya dengan keunikan dari masing-masing suku tersebut. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ragam hias merupakan ciri khas dari setiap suku yang memilikinya. Indonesia yang merupakan negara dengan suku bangsa yang beraneka ragam tentulah juga menjadi negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fashion dan wanita merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sejak zaman dahulu pakaian termasuk kebutuhan utama bagi manusia yang digunakan untuk melindungi tubuh

Lebih terperinci

Briefing , 18 July 2016 Day 1-3, July 2016 Day 4, 23 July 2016

Briefing , 18 July 2016 Day 1-3, July 2016 Day 4, 23 July 2016 Briefing, 18 July 2016 Celana : Pria : Celana Panjang Kain Putih standar WGG 2016 Wanita : Rok Kain Putih standar WGG 2016 2. Barang Bawaan Wajib : Berkas Pengambilan Jaket Almamater Alat tulis untuk mencatat

Lebih terperinci

BAB III PAKAIAN ADAT TRADISIONAL DAERAH BUKIT HULU BANYU KALIMANTAN SELATAN

BAB III PAKAIAN ADAT TRADISIONAL DAERAH BUKIT HULU BANYU KALIMANTAN SELATAN BAB III PAKAIAN ADAT TRADISIONAL DAERAH BUKIT HULU BANYU KALIMANTAN SELATAN 3.1 Pengertian Pakaian Adat Pakaian adat yaitu semua kelengkapan yang dipakai oleh seseorang yang menunjukkan kebudayaan suatu

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK RANCANGAN 1. Pengertian Sepatu Sepatu adalah pembungkus kaki yang biasanya dibuat dari kulit (karet dsb), bagian

Lebih terperinci

BAB III KONSEP PERANCANGAN. tindak lanjut dari proses analisis, dimana proses perancangan merupakan

BAB III KONSEP PERANCANGAN. tindak lanjut dari proses analisis, dimana proses perancangan merupakan BAB III KONSEP PERANCANGAN 3.1. Sintesis Perancangan sistem merupakan suatu kegiatan yang merupakan tindak lanjut dari proses analisis, dimana proses perancangan merupakan inti dari semua proses yang berhubungan

Lebih terperinci

Sepatu Formal. Penunjang penampilan. Faktor Ergonomis Pengguna

Sepatu Formal. Penunjang penampilan. Faktor Ergonomis Pengguna 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sepatu sebagai alas kaki memiliki tujuan tersendiri dari para penggunanya, berbagai jenis sepatu dengan model desain yang berbeda telah banyak di kembangkan. Tujuannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang

BAB I PENDAHULUAN. Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1. Pengertian Manajemen Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki definisi

Lebih terperinci

PENERAPAN REKAYASA NILAI UNTUK MENDAPATKAN NILAI TAMBAH PADA PERUSAHAAN SANDAL WANITA ( Studi Kasus : UD. CLARISSA )

PENERAPAN REKAYASA NILAI UNTUK MENDAPATKAN NILAI TAMBAH PADA PERUSAHAAN SANDAL WANITA ( Studi Kasus : UD. CLARISSA ) PENERAPAN REKAYASA NILAI UNTUK MENDAPATKAN NILAI TAMBAH PADA PERUSAHAAN SANDAL WANITA ( Studi Kasus : UD. CLARISSA ) Sumiati Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri ABSTRAK Sandal wanita pada

Lebih terperinci

Gambar: 5. 5a. Pasar Bali

Gambar: 5. 5a. Pasar Bali Kelompok lukisan yang secara utuh mengalami pembaharuan pada bidang tema, proporsi, anatomi plastis, pewarnaan, dan sinar bayangan dalam lukis Pita Maha Oleh: Drs. I Dewa Made Pastika a. Judul lukisan

Lebih terperinci

BAB IV. KONSEP RANCANGAN

BAB IV. KONSEP RANCANGAN BAB IV. KONSEP RANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN / KOMUNITAS Dalam tataran lingkungan, produk rancangan yang dibuat dengan memanfaatkan limbah kayu palet secara maksimal. Palet kayu biasa digunakan sebagai

Lebih terperinci

ESTETIKA BENTUK SEBAGAI PENDEKATAN SEMIOTIKA PADA PENELITIAN ARSITEKTUR

ESTETIKA BENTUK SEBAGAI PENDEKATAN SEMIOTIKA PADA PENELITIAN ARSITEKTUR ESTETIKA BENTUK SEBAGAI PENDEKATAN SEMIOTIKA PADA PENELITIAN ARSITEKTUR Jolanda Srisusana Atmadjaja Jurusan Arsitektur FTSP Universitas Gunadarma ABSTRAK Penelitian karya arsitektur dapat dilakukan melalui

Lebih terperinci

BAB V TEKNIK PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK

BAB V TEKNIK PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK BAB V TEKNIK PENATAAN DISPLAY INOVASI BUSANA ETNIK A. Teknik Dasar Penataan Display Menata display yang baik selain harus memperhatikan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan desain dan keserasian warna,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang memiliki tradisi dan hasil budaya yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang memiliki tradisi dan hasil budaya yang 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penciptaan Indonesia adalah negara yang memiliki tradisi dan hasil budaya yang beraneka ragam, salah satu hasil budaya tersebut adalah batik. Batik merupakan warisan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Perancangan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Perancangan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perancangan Di berbagai bidang, suatu penelitian yang berkaitan dengan suatu rancangan produk atau proses, kualitas menjadi hal yang sangat diperhitungkan. Kualitas

Lebih terperinci

Disampaikan pada Acara PKK Ibu-ibu Desa Trihanggo Sleman Yogyakarta Tahun 2004

Disampaikan pada Acara PKK Ibu-ibu Desa Trihanggo Sleman Yogyakarta Tahun 2004 MEMILIH BUSANA YANG TEPAT DAN BERETIKA UNTUK BERBAGAI MACAM KESEMPATAN Oleh : Widihastuti Staf Pengajar Program Studi Teknik Busana FT UNY widihastuti@uny.ac.id PENDAHULUAN Yang dimaksud dengan busana

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis / Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan Jenis penelitian ini adalah observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional atau studi belah lintang dimana variabel

Lebih terperinci

PERANCANGAN HELM ANAK YANG ERGONOMIS (STUDI KASUS DI TK AN-NAMIROH PEKANBARU)

PERANCANGAN HELM ANAK YANG ERGONOMIS (STUDI KASUS DI TK AN-NAMIROH PEKANBARU) PERANCANGAN HELM ANAK YANG ERGONOMIS (STUDI KASUS DI TK AN-NAMIROH PEKANBARU) Merry Siska 1 dan Henedy 2 Abstrak: Kenyamanan anak merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan oleh orang

Lebih terperinci

Natural Friendly Neoclassical Style. Architecture

Natural Friendly Neoclassical Style. Architecture Architecture Natural Friendly Neoclassical Style Teks: Widya Prawira Foto: BambangPurwanto Desain rumah yang everlasting dengan mengoptimalkan potensi lingkungan, menjadikan rumah ini bersahabat dengan

Lebih terperinci

Ringkasan Novel Grotesque

Ringkasan Novel Grotesque Ringkasan Novel Grotesque Sekolah Q merupakan sekolah elit yang diperuntukkan bagi siswa-siswi yang pandai. Ketika seorang anak berhasil menjadi murid sekolah Q, orang tua anak tersebut akan merasa sangat

Lebih terperinci

BAB IV PERANCANGAN KARYA

BAB IV PERANCANGAN KARYA BAB IV PERANCANGAN KARYA 4.1 Perancangan Perancangan dibuat untuk memberikan gagasan dan konsep untuk karya. 4.1.1 Tema Tema mengedepankan mengenai romantisme yang menjadi aksentuasi tepat untuk gaya feminin.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini kebutuhan akan namanya sarana transportasi merupakan hal yang semakin penting dan semakin perlu untuk dipenuhi, khususnya untuk masyarakat yang tinggal

Lebih terperinci

Thina Suteki : Sepatu Itu Harus yang Nyaman, Bukan Buat Keren-Kerenan Doang Majalah Teen Online - t

Thina Suteki : Sepatu Itu Harus yang Nyaman, Bukan Buat Keren-Kerenan Doang Majalah Teen Online - t Styling rambut udah oke, make up wajah udah cantik, gaun pesta udah anggun, tas udah yahud, aksesori udah komplet, bagaimana dengan sepatu? Gak lucu ah kalo udah dandan kece, tapi sepatunya gak nampol?

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP DESAIN. Ide dasar pedesain ialah mencoba untuk menjadikan suatu trend yang baru bagi dunia

BAB IV KONSEP DESAIN. Ide dasar pedesain ialah mencoba untuk menjadikan suatu trend yang baru bagi dunia BAB IV KONSEP DESAIN 4.1 Ide Dasar Ide dasar pedesain ialah mencoba untuk menjadikan suatu trend yang baru bagi dunia musik khususnya bagi pemilik instrument gitar dalam memilih suatu casing bagi instrument

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ready-to-wear di Indonesia saat ini sangat berkembang pesat, banyak para desainer dan brand lokal bermunculan dengan karakteristik yang berbeda-beda dan

Lebih terperinci

Jawa Timur secara umum

Jawa Timur secara umum Jawa Timur secara umum Rumah Joglo secara umum mempunyai denah berbentuk bujur sangkar, mempunyai empat buah tiang pokok ditengah peruangannya yang biasa disebut sebagai saka guru. Saka guru berfungsi

Lebih terperinci

- 1 - BUPATI KOLAKA TIMUR PROVINSI SULAWESI TENGGARA PERATURAN BUPATI KOLAKA TIMUR NOMOR TAHUN 2014 TENTANG

- 1 - BUPATI KOLAKA TIMUR PROVINSI SULAWESI TENGGARA PERATURAN BUPATI KOLAKA TIMUR NOMOR TAHUN 2014 TENTANG - 1 - BUPATI KOLAKA TIMUR PROVINSI SULAWESI TENGGARA PERATURAN BUPATI KOLAKA TIMUR NOMOR TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN KOLAKA TIMUR DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Busana merupakan pemenuh kebutuhan primer manusia akan sandang, terkhusus untuk tujuan utama busana sebagai pelindung tubuh terhadap cuaca. Selain kebutuhan untuk melindungi

Lebih terperinci

PERSYARATAN PAKAIAN STUDENT DAY 2016 UNIVERSITAS UDAYANA

PERSYARATAN PAKAIAN STUDENT DAY 2016 UNIVERSITAS UDAYANA PERSYARATAN PAKAIAN STUDENT DAY 2016 UNIVERSITAS UDAYANA A. HARI PERTAMA WANITA TAMPAK DEPAN WANITA TAMPAK SAMPING 13 1 6 11 & 12 7 5 3 10 2 8 4 9 1. Menggunakan baju batik berkerah, warna cerah dominan

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISIS PERANCANGAN E. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK RANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISIS PERANCANGAN E. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK RANCANGAN BAB III DATA DAN ANALISIS PERANCANGAN E. KELOMPOK DATA BERKAITAN DENGAN ASPEK FUNGSI PRODUK RANCANGAN Fashion sebagai sarana komunikasi, memiliki fungsi penyampaian pesan yang bersifat non-verbal. Fashion

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Batik merupakan karya seni budaya bangsa Indonesia yang dikagumi dunia.

BAB I PENDAHULUAN. Batik merupakan karya seni budaya bangsa Indonesia yang dikagumi dunia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Batik merupakan karya seni budaya bangsa Indonesia yang dikagumi dunia. Diantara berbagai jenis kain tradisional Indonesia lainnya yang dibuat dengan proses celup rintang

Lebih terperinci

Briefing Desain. Analisa. Sketsa Awasl. penyelesaian

Briefing Desain. Analisa. Sketsa Awasl. penyelesaian BAB II METODOLOGI A. STRATEGI DESAIN Briefing Desain Pengumpulan data Analisa Konsep Desain Proses digital Sketsa Awasl Proses Produksi penyelesaian Gambar 2.1: strategi desain Sumber : data pribadi KEBUTUHAN

Lebih terperinci

Hidup Sehat. Peta Konsep. Halaman 1 dari 8

Hidup Sehat. Peta Konsep. Halaman 1 dari 8 5 Hidup Sehat Pola hidup akan menentukan kualitas kesehatan seseorang. Pola hidup yang baik akan membawa seseorang pada kesehatan jasmani. Sebaliknya, pola hidup yang buruk dapat menimbulkan berbagai masalah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mereka dituntut membuat gambar perencanaan gedung sesuai dengan konsep dan

BAB I PENDAHULUAN. Mereka dituntut membuat gambar perencanaan gedung sesuai dengan konsep dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya pembangunan perumahan, sekolah dan gedung-gedung perkantoran membawa tren tersendiri bagi para arsitek dan desainer interior. Mereka dituntut membuat gambar

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN KARYA. Dalam pengkajian Tugas Akhir ini saya melakukan kajian dengan menggunakan

BAB IV TINJAUAN KARYA. Dalam pengkajian Tugas Akhir ini saya melakukan kajian dengan menggunakan BAB IV TINJAUAN KARYA 4.1. Pembahasan Karya Dalam pengkajian Tugas Akhir ini saya melakukan kajian dengan menggunakan pendekatan analisis. Pengkajian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, tahap pertama

Lebih terperinci