III. METODE PENCIPTAAN TOPENG SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI RUPA. A. Implementasi Teoritis

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "III. METODE PENCIPTAAN TOPENG SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI RUPA. A. Implementasi Teoritis"

Transkripsi

1 III. METODE PENCIPTAAN TOPENG SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI RUPA A. Implementasi Teoritis Penulis menyadari bahwa topeng merupakan sebuah bagian peninggalan prasejarah yang sekarang masih mampu bertahan dan berkembang dengan berbagai macam variasi dalam penampilannya. Setiap topeng pada dasarnya memiliki banyak sekali makna dan cerita dilihat dari karakter, mimik wajah, dan tekstur topeng. Mulai dari dulu topeng memiliki banyak peranan dan mengalami perkembangan sampai sekarang. Dulu topeng merupakan sebuah alat upacara, dimana memiliki peranan dalam segi mistis. Sekarang lama-kelamaan topeng mengalami pergeseran fungsi yaitu sebagai salah satu karya seni yang mempunyai nilai seni tinggi tetapi tetap memiliki nilai mistis pada topeng tertentu. Daya tarik topeng semakin terlihat ketika topeng digunakan dalam sebuah pertunjukan topeng. Topeng yang terletak didepan wajah orang yang memakai menutupi wajah asli dari pemakai dan menggambarkan sebuah karakter baru. Keunikan topeng yang dapat menyatu denga pemakai menunjukan bahwa topeng mampu berdiri sendiri dalam pengambaran tokoh tertentu. Karakter yang kuat pada setiap topeng merupakan suatu ciri khas dan keunikan pada setiap topeng memberikan warna tersendiri. Lahirnya topeng-topeng modern memberikan warna baru dan semakin memperkaya jenis dan bentuk topeng. Keunikan lain dari topeng adalah banyaknya bentuk, karakter, dan model baru sehingga sampai sekarang sangat sulit untuk menggolongkan setiap topeng. Kemunculan topeng modern tidak serta merta mampu mengusir keberadaan topeng tradisional. Topeng tradisional dengan pakem-pakemnya tetap mampu bertahan karena mempunyai keunikan lebih dari topeng-topeng modern, seperti nilainilai magis dan karakter yang khas pada topeng. 56

2 Penulis melihat dan mengagumi topeng sebagai karya seni masa lampau yang mempunyai nilai istimewa dan unik. Ketertarikan penulis terhadap topeng diperkuat oleh teori Endo Suanda tentang makna dan cerita pada setiap topeng tradisional yang kemudian ditangkap penulis dalam bentuk ide dan mengembangkan apa yang terdapat dalam bentuk dan karakter topeng tersebut, dan menjadikannya sebagai tema yang akan ditujukan sebagai sebuah pesan dalam karya yang akan penulis ciptakan pada karya Tugas Akhir dalam bentuk karya seni. Karya pada Tugas Akhir ini dibuat dengan berbagai media sebagai bentuk apresiasi terhadap keberanekaragaman bentuk, karakter, dan tekstur topeng. Berdasarkan visualisasi objek, penulis berpegang pada teori Guntur dan Nur Rokhim tentang keberanekaragaman topeng. Penulis memvisualisasikan topeng dalam bentuk tidak terbatas sebagai bukti keberanekaragaman topeng. Topeng dalam karya seni rupa ini merupakan gambaran dari fenomena-fenomena sosial yang kemudian divisualkan dalam figur-figur topeng dan diharapkan mampu memberikan pesan kepada penikmat seni dan memberikan pandangan lain terhadap kesenian masa lampau terutama kesenian topeng tradisional yang kaya akan makna dan sejarah. B. Konsep Visual Penulis mengetahui bahwa topeng sudah merupakan suatu bentuk karya seni. Karya seni topeng ini sengaja dijadikan sebuah tema dalam menciptakan karya seni rupa. Proses dari penciptaan karya seni ini dimulai dari ketertarikan penulis yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah sketsa. Sketsa yang dibuat juga berdasarkan pengamatan-pengamatan dari objek topeng yang kemudian dikembangkan dalam bentuk baru. Pertimbangan unsur-unsur seni dan prinsip organisasi seni merupakan hal yang sangat penting dalam menciptakan karya seni. Hal ini merupakan pedoman khusus untuk menciptakan sebuah karya seni yang memiliki nilai seni tinggi. Bentuk yang diperlihatkan 57

3 dalam karya ini merupakan bentuk topeng yang dikembangkan dengan bentuk-bentuk lain sehingga menciptakan karya seni baru dengan konsep karya seni tradisional. Karya seni ini sengaja dibuat dengan bentuk-bentuk baru karena pada dasarnya topeng merupakan suatu gambaran manusia, hewan atau dewa dengan karakternya masing-masing kemudian dikaitkan dengan karakter-karakter manusia yang ditemui penulis. Secara tidak langsung penulis ingin menciptakan topeng dengan karakter manusia jaman sekarang. Selain itu penulis hanya menciptakan karya seni topeng tanpa unsur tambahan seperti manusia pemakainya. Hal ini bertujuan bahwa topeng pada dasarnya mampu bercerita sendiri. Dalam mewujudkan karya seni penulis mengolah bentuk-bentuk yang terlihat dalam objek topeng pada umumnya dan kemudian mencampurnya dengan bentuk-bentuk yang terlintas dalam khayalan penulis. Bentuk-bentuk aneh dalam karya seni ini sering dijumpai, ini sebagai kesan dari fenomena-fenomena sosial yang terjadi. Karya seni ini juga diciptakan dari berbagai media sebagai bentuk kebebasan dalam menciptakan karya. 1. Unsur-unsur Dalam Karya Seni a. Elemen-elemen Seni Elemen dalam karya seni ini adalah keseluruhan aspek yang mencakup garis, bidang, warna, tekstur dan cahaya. Penulis akan menjelaskan karya tugas akhir ini dalam unsur-unsur karya seni dimana akan diuraikan beberapa tentang unsur-unsur seni rupa untuk mempermudah penikmat seni dalam menikmati karya seni ini. 1) Garis Penulis menggunakan garis nyata dan garis semu dalam setiap karya dua dimensi dan tiga dimensi. Garis yang ditorehkan berupa garis lurus dan lengkung. Garis tersebut digunakan dalam membentuk kontur, arsiran, batas bentuk serta objek visual yang lain. Dalam karya dua dimensi sebagian besar garis nyata terlihat untuk membentuk objek topeng dan garis semu hanya sebagai aspek 58

4 penunjang dalam memperindah karya. Sedangkan pada karya tiga dimensi garis semu terlihat dalam batas bentuk objek topeng dan sebagai pembentuk kontur dalam karya, sedangkan garis nyata hanya sedikit terlihat sebagai penunjang karya seni. 2) Bidang Bidang pada karya penulis terdiri dari bidang organis atau bidang tidak beraturan. Penulis menggunakan bidang yang tidak beraturan yaitu guna menghasilkan bidang yang bebas, tak beraturan, dan dapat disesuaikan dengan keinginan penulis dalam membuat karya seni. 3) Warna Karya seni ini menggunakan warna-warna primer seperti merah, biru dan kuning untuk kemudian dicampur menjadi warna-warna sekunder dan tersier serta pengolahan value (warna tint/terang, tone/sedang, dan shade/gelap). warna yang digunakan pada karya-karya penulis merupakan warna sebagai simbol dan warna hanya sebagai warna. Warna sebagai simbol artinya penulis tetap menggunakan fungsi warna pada topeng untuk menggambarkan karakter seperti warna merah untuk menggambarkan karakter yang penuh nafsu. Sedangkan warna hanya sebagai warna yaitu dimana warna hanya digunakan untuk memperindah atau melengkapi warna-warna asli pada objek topeng. Warna pada karya seni ini dipadupadankan dengan isi atau makna pada karya tersebut sehingga mempermudah penikmat seni dalam memahami karya seni ini. 4) Tekstur atau Barik Tekstur yang digunakan pada karya penulis yakni tekstur alamiah dan buatan. Pada karya dua dimensi penulis menggunakan tekstur buatan. Efek goresan cat ke media menimbulkan tekstur buatan yang sengaja ditimbulkan untuk 59

5 memberikan kesan estetis pada karya. Sedangkan pada karya tiga dimensi penulis lebih banyak menggunakan tekstur alamiah untuk menunjukan media karya seni. 5) Cahaya dan Bayang-bayang Fungsi gelap terang cahaya pada karya ini adalah untuk memperjelas kehadiran unsur-unsur seni rupa lainnya. Peralihan dari gelap dan terang adalah upaya untuk mempertegas volume suatu bentuk sehingga mampu memberikan kesan bahwa terdapat suatu ilusi visual pada objek. b. Prinsip Organisasi Karya Seni 1) Kesatuan (Unity) Kesatuan didalam karya penulis ditunjukkan dengan adanya penggunaan unsur-unsur rupa yang disusun sedemikian rupa sehingga memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain. Penulis mengolah unsur karya seperti penempatan (lay out) objek, permainan warna pada objek dan ukuran objek. 2) Keseimbangan (Balance) Penulis menggunakan keseimbangan asimetris yang berarti keseimbangan yang diterapkan pada pengaturan benda, bidang atau objek yang tidak sama ukuran besar kecilnya atau tidak sama posisi cara peletakkannya pada media karya. 3) Harmoni (Ritme dan Repetisi) Karya seni yang diciptakan penulis menggunakan objek topeng yang diulang-ulang yang kemudian disusun dalam sebuah susunan sehingga menimbulkan sebuah harmoni. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian penikmat seni terhadap karya seni dengan objek-objek topeng dengan bentuk yang tak lazim. 60

6 4) Dominan (Domination) Penulis berpendapat bahwa hal menarik pertama yang bisa dinikmati penikmat seni adalah unsur dominasi pada objek topeng yang memiliki kesan paling mencolok dari lainnya. 5) Konsep Bentuk Perubahan bentuk merupakan unsur yang diperlukan dalam penciptaan sebuah karya seni. Ini bertujuan untuk memperkaya unsur bentuk dalam sebuah karya seni sehingga seorang seniman tidak semata-mata hanya memindahkan objek kedalam media seni. Selain itu bisa dikatakan bahwa perubahan bentuk merupakan proses kreatif dari seorang seniman dalam penciptaan karya seni. Dalam proses pembuatan karya dengan tema topeng melewati beberapa proses yaitu diantaranya: a) Abstraksi Penulis dengan sengaja memecah setiap unsur yang ada dalam topeng kemudian menyusun kembali dalam bentuk yang tak lazim seperti struktur muka topeng yang diperbesar sebagian, raut wajah yang aneh dan beberapa unsur topeng yang dihilangkan. Bentuk abstraksi ini merupakan penggambaran fenomena-fenomena sosial yang disangkutkan dengan fungsi topeng pada dasarnya. Penulis beranggapan bahwa struktur topeng tidak mempunyai batas sehingga bebas dipermainkan sehingga memperkaya bentuk topeng itu senidiri. b) Distorsi Proses ini terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan dengan abstraksi, di mana penggambaran ulang dalam bentuk sederhana tersebut sudah sedikit diubah bentuknya, namun bagian inti dari topeng yang menjadi 61

7 fokus perhatian masih dibiarkan mirip aslinya agar karakter topeng masih bisa dilihat. Distorsi yang dilakukan penulis pada karyanya merupakan hasil pengolahan bentuk dari komponen-komponen topeng, seperti mata, hidung, mulut, wajah dan lainnya. Namun, meskipun mengalami distorsi, secara sekilas karakter topeng masih tetap terlihat. Distorsi yang dilakukan penulis dalam menciptakan karya seni ini memberikan pengertian bahwa topeng merupakan bentuk karya seni yang masih bisa dikembangkan dan disatupadankan menjadi karya seni baru. c) Stilasi Penulis mengeksplorasi objek topeng kemudian memvisualisasikan dalam gaya dan bentuk yang berbeda tanpa menghilangkan unsur dan struktur pada topeng. Ini bertujuan untuk memberikan kesan baru pada objek topeng tetapi tetap memiliki kesan yang masih memperlihatkan bentuk topeng tersebut. d) Deformasi Deformasi dilakukan penulis pada semua bagian topeng, karena penulis memiliki penggambaran suasana atau perasaan berbeda di setiap karyanya. Setiap karya memiliki bentuk yang berbeda dan makna yang berbeda kemudian dijadikan satu menjadi sebuah karya utuh yang memiliki makna yang berbeda. Ini dilandasi dari perasaan dan pemikiran penulis yang merupakan kebebasan ekspresi seniman. 2. Medium dan Teknik Di dalam mewujudkan ide topeng menjadi karya seni penulis menggunakan beberapa media seni yang berusaha dikemas sehingga menciptakan karya seni yang berbeda. Penulis memilih menggunakan beberapa media seni sebagai bentuk kebebasan 62

8 seniman dalam membuat karya seni sesuai dengan angan-angan dan ide. Selain itu penulis juga berharap mendapatkan kepuasan batin dan sebagai tantangan khususnya bagi penulis dalam menciptakan karya seni yang tidak hanya terpaku pada media tertentu. Karya seni yang pertama menggunakan kanvas. Kanvas dipilih sebagai media karya ini dikarenakan kanvas merupakan medium konvensional, selain itu kanvas juga memiliki keunikan tersendiri seperti kelenturan bahan dan kelembutan sehingga penulis memiliki tantangan tersendiri dalam mengerjakan karya seni ini. Media pada karya pertama ini menggunakan cat minyak di atas kanvas dengan ukuran kanvas 130 cm x 90 cm dengan teknik sapuan kuas sehingga menghasilkan tekstur kasar dan abstrak. Tujuan karya ini adalah menciptakan sebuah ilusi garis yang membentuk beberapa objek lukisan. Karya yang kedua merupakan karya seni patung tiga dimensi dengan media kayu. Media kayu dipilih karena memiliki karakter mudah dibentuk tetapi tahan lama. Kayu yang dipilih penulis merupakan kayu utuh berbentuk tabung dengan panjang 72 cm dan diameter 17 cm. Keunikan media ini karena terdapat sentuhan estetis dari alam berbentuk lubang memanjang pada permukaan media dan lubang sepanjang media pada tengah media. Teknik pembuatan karya ini menggunakan teknik pahat, kayu dipahat sehingga berbentuk topeng dengan ukuran kecil. Karya yang ketiga adalah karya seni lukis dengan media kanvas. Media kanvas yang digunakan berjumlah Sembilan buah dengan ketebalan dan ukuran berbeda yang kemudian disusun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah lukisan panel. Ketebalan pada setiap kanvas merupakan keunikan yang coba dihadirkan penulis. Ketebalan yang dihadirkan dengan sengaja bertujuan menghadirkan efek dimensi sehingga menambah nilai estetis pada karya ini. Karya seni yang keempat adalah karya seni keramik dengan media tanah liat yang dibentuk menjadi objek topeng. Alasan dari pemilihan media ini dikarenakan sifat tanah 63

9 liat yang plastis sehingga perlu menggunakan ketrampilan tertentu dalam pembuatan karya seni ini. Teknik dalam pembuatan karya seni ini menggunakan teknik pijit atau yang disebut pinching. tujuan menggunakan teknik ini adalah melatih kerampilan tangan dalam membuat sebuah karya dengan media yang bersifat plastis. Karya seni yang kelima merupakan karya seni instalasi dimana media yang digunakan adalah media kayu yang dibentuk dengan ukuran yang sama tetapi dengan panjang yang berbeda. Kayu-kayu tersebut kemudian direkatkan satu persatu untuk membentuk figur. Pembentukan ini juga terinspirasi dari ukuran Pixel foto rendah dimana figur yang dihadirkan memiliki efek kotak-kotak. Tujuan dari pembuatan karya ini adalah melatih imajinasi penulis dalam menciptakan bentuk geometris. Karya seni yang keenam merupakan karya seni lukis kaca dengan menggunakan media cat minyak dan kaca. Kaca merupakan sebuah media yang berbeda dengan kanvas. Teknik yang digunakan pada media ini hampir sama dengan teknik pada media kanvas yaitu sapuan cat pada media, tetapi dengan tahapan yang terbalik. Penulis sengaja memilih media ini guna mencoba ikut mengembangkan seni lukis kaca dan sebagai tolak ukur kemampuan berkarya penulis. Karya yang terakhir yaitu karya ketujuh merupakan karya dengan media tali dan paku yang ditempelkan pada media hardboard. Paku ditancapkan pada media hardboard sebagai acuan untuk mengaitkan media tali. Tali dililitkan pada setiap paku untuk membentuk figur-figur topeng. 3. Penyajian Karya Penyajian merupakan hal utama dalam menunjang kelengkapan sebuah karya seni yang disajikan kepada publik atau penikmat seni guna memperindah dan memiliki nilai pada suatu karya. Teknik penyajian sangat penting guna menambah nilai estetis pada 64

10 karya tersebut. Selain itu, teknik penyajian juga berguna untuk mempermudah penikmat karya dalam menikmati karya seni. Penyajian karya yang pertama, ketiga dan ketujuh yaitu dengan cara ditempel pada dinding. Karya lukis yang pertama ini tidak menggunakan pigura karena penulis menciptakan karya lukis dengan konsep minimalis. Karya seni yang ketiga merupakan karya lukis dengan kanvas berjumlah Sembilan buah yang akan disusun berhimpitan dengan susunan tertentu yang akan memberikan kesan saling menyambung menjadi satu dan menciptakan dimensi pada objek topeng. Karya ketujuh menggunakan pigura kayu dengan motif mencolok. Pemilihan pigura guna menambah nilai estetis pada karya seni yang ketujuh. Pigura yang digunakan memiliki bentuk persegi dengan setiap ujung menjorok atau memanjang keluar. Pemilihan cara penyajian pada karya ketujuh untuk menambah kesan ketidakteraturan sehingga mampu mempertegas isi dan makna karya. Penyajian karya yang kedua, kelima dan keenam yaitu dengan cara diletakkan pada meja. Karya seni kedua ini akan disajikan dengan cara berdiri dengan memberikan kaki pada media objek karya sebagai simbol pelengkap pada karya. Tujuan dari penyajian tersebut adalah agar penikmat seni bisa menikmati setiap objek yang terletak menyebar pada media. Karya seni kelima disajikan dengan cara hanya diletakkan pada atas meja dengan posisi serong agar penikmat seni bisa menikmati sisi depan, samping, dan belakang yang merupakan bagian dari isi dan makna karya. Karya seni keenam yaitu karya seni kaca yang disajikan dengan cara disusun berjajar sehingga terlihat sebuah ilusi dimensi pada setiap objek. Karya seni kaca ini akan diletakkan pada media kayu untuk membuat media kaca berdiri dan diletakkan dengan background hitam untuk memperjelas objek. Karya keempat merupakan karya seni keramik. Karya seni ini akan disajikan dengan cara digantung menggunakan tali. Penggantungan karya keempat disusun 65

11 sedemikian rupa sehingga seolah-olah tersusun secara dinamis. Penulis membiarkan setiap objek tergantung bebas dan bergerak bebas sehingga penikmat seni bisa menikmati setiap bagian objek. 66

BAB III CELENG SEBAGAI TEMA DALAM KARYA SENI LUKIS. A. Implementasi Teoritis

BAB III CELENG SEBAGAI TEMA DALAM KARYA SENI LUKIS. A. Implementasi Teoritis BAB III CELENG SEBAGAI TEMA DALAM KARYA SENI LUKIS A. Implementasi Teoritis Istilah kata celeng berasal dari sebagian masyarakat Jawa berarti babi liar. Jika dilihat dari namanya saja, sudah nampak bahwa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritis

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritis BAB III METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritis 1. Tematik (tema karya yang diangkat) Penulis mengangkat bentuk visualisasi bermain boneka ke dalam karya seni lukis karena bermain merupakan salah satu

Lebih terperinci

BAB III BURUNG HANTU SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS. A. Implementasi Teori

BAB III BURUNG HANTU SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS. A. Implementasi Teori BAB III BURUNG HANTU SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS A. Implementasi Teori Penulis menjadikan burung hantu sebagai sumber tema dalam penciptaan karya seni karena burung hantu memiliki beragam

Lebih terperinci

III. METODE PENCIPTAAN

III. METODE PENCIPTAAN III. METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritik 1. Tematik Kucing adalah hewan yang memiliki karakter yang unik dan menarik. Tingkah laku kucing yang ekspresif, dinamis, lincah, dan luwes menjadi daya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1 I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1. Batasan Masalah Karya seni mempunyai pengertian sangat luas sehingga setiap individu dapat mengartikannya secara berbeda. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, karya

Lebih terperinci

III. METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritis

III. METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritis III. METODE PENCIPTAAN 1. Tematik A. Implementasi Teoritis Kehidupan dunia anak-anak yang diangkat oleh penulis ke dalam karya Tugas Akhir seni lukis ini merupakan suatu ketertarikaan penulis terhadap

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritis

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritis BAB III METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritis Alasan penulis mengangkat momen keluarga sebagai sumber ide dalam penciptaan seni grafis, sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan YME yang telah memberi

Lebih terperinci

III. METODE PENCIPTAAN

III. METODE PENCIPTAAN III. METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritis 1. Tema Karya yang di Angkat Penulis mengangkat bentuk visualisasi gaya renang indah ke dalam karya seni grafis karena berenang merupakan salah satu bagian

Lebih terperinci

III. METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

III. METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik III. METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritik 1. Tematik Tema kekerasan terhadap anak (child abuse) akan diwujudkan dalam suatu bentuk karya seni rupa. Perwujudan tema tersebut didukung dengan adanya

Lebih terperinci

III. PROSES PENCIPTAAN

III. PROSES PENCIPTAAN III. PROSES PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritik 1. Tematik Dunia virtual dalam media sosial memang amat menarik untuk dibahas, hal ini pulalah yang membuat penulis melakukan sebuah pengamatan, perenungan

Lebih terperinci

Pengamatan Medium Pengafdrukan METODE PENCIPTAAN. terhadap tumbuhan paku sejati (Pteropsida) ini sehingga menghasilkan pemikiran.

Pengamatan Medium Pengafdrukan METODE PENCIPTAAN. terhadap tumbuhan paku sejati (Pteropsida) ini sehingga menghasilkan pemikiran. Proses Sumber Persiapan gagasan Sketsa Pengalaman Ide atau Gagasan Karya Pewarnaan Konsultasi BAB I I I Pengamatan Medium Pengafdrukan METODE PENCIPTAAN Media Teknik massa Pencetakan A. Implementasi Teoritik

Lebih terperinci

NIRMANA DUA DIMENSI. Oleh: Dr. Kasiyan, M.Hum. Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta 2013

NIRMANA DUA DIMENSI. Oleh: Dr. Kasiyan, M.Hum. Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta 2013 NIRMANA DUA DIMENSI Oleh: Dr. Kasiyan, M.Hum. Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta 2013 PENGERTIAN NIRMANA Berasal dari dua akar kata, yakni nir yang artinya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN BAB III METODE PENCIPTAAN A. Riset Ide Kemunafikan merupakan salah satu fenomena dalam masyarakat, oleh karena itu riset idenya merupakan forming dari beberapa kasus yang terjadi di masyarakat berdasarkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritis

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritis BAB III METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritis 1. Tematik Penulis mengangkat bentuk makhluk-makhluk mitologi sebagai sumber ide dalam penciptaan karya seni grafis karena penulis merasa tertarik dengan

Lebih terperinci

BAB III. A. Implementasi Teoritis. subjek petani padi sebagai sumber ide, Secara pribadi hal ini menarik untuk

BAB III. A. Implementasi Teoritis. subjek petani padi sebagai sumber ide, Secara pribadi hal ini menarik untuk BAB III A. Implementasi Teoritis Penulis mengangkat karya yang bertemakan Ironi kemakmuran dengan subjek petani padi sebagai sumber ide, Secara pribadi hal ini menarik untuk dijadikan tema dalam karya

Lebih terperinci

III. METODE PENCIPTAAN

III. METODE PENCIPTAAN digilib.uns.ac.id III. METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritis 1. Tematik Pembuatan sebuah karya seni lukis sebelumnya telah dilakukan riset yang terkait dengan informasi dan data yang akan digunakan

Lebih terperinci

TOPENG TRADISIONAL SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI RUPA

TOPENG TRADISIONAL SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI RUPA TOPENG TRADISIONAL SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI RUPA PENGANTAR KARYA TUGAS AKHIR MINAT UTAMA SENI LUKIS Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Meraih Gelar Sarjana Seni Progam Studi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik BAB III METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritik 1. Tematik Gagasan atau ide merupakan hal yang harus dimiliki seorang pencipta karya seni dalam proses penciptaan karya seni. Subjektifitas dari seorang

Lebih terperinci

BAB III PROSES PENCIPTAAN KARYA. memberikan ingatan segar kembali akan pengalaman-pengalaman kita dimasa

BAB III PROSES PENCIPTAAN KARYA. memberikan ingatan segar kembali akan pengalaman-pengalaman kita dimasa BAB III PROSES PENCIPTAAN KARYA A. Implementasi Teoritis Mengamati anak-anak baik dalam kehidupan dirumah ataupun diluar rumah, memberikan ingatan segar kembali akan pengalaman-pengalaman kita dimasa kecil

Lebih terperinci

pribadi pada masa remaja, tentang kebiasaan berkumpul di kamar tidur salah seorang teman

pribadi pada masa remaja, tentang kebiasaan berkumpul di kamar tidur salah seorang teman DESKRIPSI KARYA SENI LUKIS BERJUDUL: THREE GIRLS IN THE BEDROOM Judul : Three Girls in the Bedroom Ukuran : 100x100 cm Tahun : 2006 Media : Oil on canvas Dipamerkan pada acara: Pameran Seni Rupa dengan

Lebih terperinci

beberapa keranjang penuh bunga didepan figur-figur wanita tersebut selain

beberapa keranjang penuh bunga didepan figur-figur wanita tersebut selain DESKRIPSI KARYA SENI LUKIS BERJUDUL: GADIS PEMETIK BUNGA Judul : Gadis Pemetik Bunga Ukuran : 100x70 cm Tahun : 2007 Media : Oil on canvas Dipamerkan pada acara: Pameran Nasional Seni Rupa Nusantara tingkat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik BAB III METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritik 1. Tematik Pada dasarnya fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dan pada umumnya ada tiga elemen dalam berkomunikasi yaitu pembicara, pendengar dan sebuah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. gagasan, ekspresi atau ide pada bidang dua dimensi.

BAB I PENDAHULUAN. gagasan, ekspresi atau ide pada bidang dua dimensi. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seni lukis adalah karya seni rupa dua dimensional yang menampilkan citra visual melalui unsur titik, garis, bidang, tekstur, dan warna. Sebagai karya seni murni,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Kajian Penciptaan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Kajian Penciptaan BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Penciptaan 1. Pengertian Seni Pengertian mengenai seni, salah satunya adalah karya manusia yang mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman batinnya, pengalaman batin itu disajikan

Lebih terperinci

Unsur dasar senirupa. Pertemuan ke 1

Unsur dasar senirupa. Pertemuan ke 1 Unsur dasar senirupa Pertemuan ke 1 Titik Titik adalah unsur seni rupa dua dimensi yang paling dasar. Titik dapat dikembangkan menjadi garis dan bidang. Titik merupakan unsur penting dalam seni rupa. Sebagai

Lebih terperinci

Bagan 3.1 Proses Berkarya Penulis

Bagan 3.1 Proses Berkarya Penulis A. Pemilihan Ide Pengkaryaan BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN Lingkungan Pribadi Ide Lingkungan Sekitar Kontemplasi Stimulasi Sketsa Karya Proses Berkarya Apresiasi karya Karya Seni Bagan 3.1 Proses

Lebih terperinci

BAB III. A. Implementasi Teoritis

BAB III. A. Implementasi Teoritis BAB III A. Implementasi Teoritis Penciptaan karya seni merupakan usaha untuk merealisasikan suatu keinginan, pikiran, perasaan dan sebuah harapan tertentu yang ada dalam batin seniman yang diwujudkan melalui

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik BAB III METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritik 1. Tematik Ide dalam proses penciptaan karya seni dapat diperoleh dari hasil pengalaman pribadi maupun pengamatan lingkungan. Kemudian, melalui proses

Lebih terperinci

MENGAPRESIASI KARYA SENI LUKIS

MENGAPRESIASI KARYA SENI LUKIS SENI BUDAYA MENGAPRESIASI KARYA SENI LUKIS Nama : Alfina Nurpiana Kelas : XII MIPA 3 SMAN 84 JAKARTA TAHUN AJARAN 2016/2017 Karya 1 1. Bentuk, yang merupakan wujud yang terdapat di alam dan terlihat nyata.

Lebih terperinci

BAB III MASA ANAK-ANAK SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS. A. Implementasi Teoritis

BAB III MASA ANAK-ANAK SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS. A. Implementasi Teoritis BAB III MASA ANAK-ANAK SEBAGAI TEMA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS A. Implementasi Teoritis Penulis mengangkat karya yang bertemakan masa kanak-kanak dalam penciptaan karya seni grafis, karena masa

Lebih terperinci

III. METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik. Perupa mengangkat tema ini karena ketertarikan terhadap kupu-kupu

III. METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik. Perupa mengangkat tema ini karena ketertarikan terhadap kupu-kupu III. METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritik 1. Tematik Perupa mengangkat tema ini karena ketertarikan terhadap kupu-kupu yang sangat kaya akan permainan warna dari sayapnya. Warna-warna pada sayap

Lebih terperinci

SOAL PENGAYAAN A. FLORA, FAUNA DAN ALAM BENDA

SOAL PENGAYAAN A. FLORA, FAUNA DAN ALAM BENDA SOAL PENGAYAAN A. FLORA, FAUNA DAN ALAM BENDA 1 Jelaskan apa yang dimaksud dengan aktivitas fisik dan mental dalam menggambar! 2 Sebutkan dan jelaskan dua komposisi dalam menggambar! 3 Sebutkan contoh

Lebih terperinci

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN Sebuah karya seni dapat terlihat dari dorongan perasaan pribadi pelukis. Menciptakan karya seni selalu di hubungkan dengan ekspresi pribadi senimannya. Hal itu di awali

Lebih terperinci

pendidikan seni tersebut adalah pendidikan seni rupa yang mempelajari seni mengolah kepekaan rasa, estetik, kreativitas, dan unsur-unsur rupa menjadi

pendidikan seni tersebut adalah pendidikan seni rupa yang mempelajari seni mengolah kepekaan rasa, estetik, kreativitas, dan unsur-unsur rupa menjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan seni merupakan bagian dari Sistem Pendidikan Nasional yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Salah satu pendidikan

Lebih terperinci

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN. kebenaran, hal ini terkait sekali dengan realitas.

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN. kebenaran, hal ini terkait sekali dengan realitas. 68 BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN Menciptakan karya seni selalu di hubungkan dengan ekspresi pribadi senimannya, hal itu diawali dengan adanya dorongan perasaan untuk menciptakan sesuatu yang baru

Lebih terperinci

Gambar: 5. 5a. Pasar Bali

Gambar: 5. 5a. Pasar Bali Kelompok lukisan yang secara utuh mengalami pembaharuan pada bidang tema, proporsi, anatomi plastis, pewarnaan, dan sinar bayangan dalam lukis Pita Maha Oleh: Drs. I Dewa Made Pastika a. Judul lukisan

Lebih terperinci

BAB III IKAN LELE SEBAGAI TEMA DALAM KARYA SENI GRAFIS. A. Implementasi Teoristis

BAB III IKAN LELE SEBAGAI TEMA DALAM KARYA SENI GRAFIS. A. Implementasi Teoristis BAB III IKAN LELE SEBAGAI TEMA DALAM KARYA SENI GRAFIS A. Implementasi Teoristis Penulis mengangkat Ikan Lele sebagai tema dalam seni grafis, karena ikan lele adalah ikan air tawar yang memiliki bentuk

Lebih terperinci

Elemen Elemen Desain Grafis

Elemen Elemen Desain Grafis Elemen Elemen Desain Grafis Desain grafis sebagai seni dekat dengan apa yang kita sebut sebagai keindahan (estetika). Keindahan sebagai kebutuhan setiap orang, mengandung nilai nilai subyektivisme. Oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kriya merupakan suatu proses dalam berkesenian dengan berkegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Kriya merupakan suatu proses dalam berkesenian dengan berkegiatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kriya merupakan suatu proses dalam berkesenian dengan berkegiatan mengolah benda-benda dan kekayaan alam lingkungan sekitar kita menjadi suatu benda yang mempunyai

Lebih terperinci

BAB III. A. Implementasi Teoritis. yang menarik dan umumnya tampak cantik. Selain fungsi alamiah sebagai

BAB III. A. Implementasi Teoritis. yang menarik dan umumnya tampak cantik. Selain fungsi alamiah sebagai BAB III A. Implementasi Teoritis Bunga merupakan bagian pada tanaman yang memiliki bentuk dan warna yang menarik dan umumnya tampak cantik. Selain fungsi alamiah sebagai pembiakan pada tanaman, juga dianggap

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, kiranya. telah cukup menjawab berbagai permasalahan yang diajukan

BAB V KESIMPULAN. Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, kiranya. telah cukup menjawab berbagai permasalahan yang diajukan 305 BAB V KESIMPULAN Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, kiranya telah cukup menjawab berbagai permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini. Penjelasan yang terkait dengan keberadaan seni lukis

Lebih terperinci

Seni Rupa. (Sumber: Dok. Kemdikbud)

Seni Rupa. (Sumber: Dok. Kemdikbud) Seni Rupa Bab 1 Pembelajaran Menggambar Flora, Fauna, dan Alam Benda Kompetensi Inti KI 1 : Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya KI 2 : Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin,

Lebih terperinci

Unsur-unsur dan Prinsip-prinsip dasar Seni Rupa

Unsur-unsur dan Prinsip-prinsip dasar Seni Rupa Kegiatan Belajar 1 Unsur-unsur dan Prinsip-prinsip dasar Seni Rupa Seorang seniman atau desainer (perancang) mengolah unsur-unsur seni rupa sesuai dengan keahlian dan kepekaan yang dimilikinya dalam mewujudkan

Lebih terperinci

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN 50 BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN A. Perwujudan Karya Seni Kemajuan yang tengah dialami oleh kaum feminis (perempuan) merupakan suatu titik puncak kejenuhan atas ideologi patriarki, penulis sendiri

Lebih terperinci

Pengertian Seni Rupa. Prinsip - prinsip Seni

Pengertian Seni Rupa. Prinsip - prinsip Seni Pengertian Seni Rupa Secara sederhana, seni rupa adalah ungkapan ide atau perasaan yang estetis dan bermakna dari pembuatnya yang diwujudkan melalui media rupa yang bisa ditangka dan dirasakan dengan rabaan.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN 53 BAB III METODE PENCIPTAAN A. Ide atau Gagasan Beberapa faktor dapat mempengaruhi sebagian karya dari ide yang dihasilkan seorang seniman, faktor tersebut bisa datang dari dalam maupun luar yang menjadikan

Lebih terperinci

DESKRIPSI KARYA SENI LUKIS BERJUDUL: HOME SWEET HOME Karya: Dwi Retno Sri Ambarwati, MSn

DESKRIPSI KARYA SENI LUKIS BERJUDUL: HOME SWEET HOME Karya: Dwi Retno Sri Ambarwati, MSn 1 DESKRIPSI KARYA SENI LUKIS BERJUDUL: HOME SWEET HOME Karya: Dwi Retno Sri Ambarwati, MSn Judul : Home Sweet Home Ukuran : 100x100 cm Tahun : 2006 Media : Oil on canvas Dipamerkan pada acara Penciptaan

Lebih terperinci

II. KAJIAN PUSTAKA. apakah perbedaan penyebutan sadō dan chanoyu. Arti kata chanoyu. secara harafiah yaitu air panas untuk teh. Chanoyu mempunyai nama

II. KAJIAN PUSTAKA. apakah perbedaan penyebutan sadō dan chanoyu. Arti kata chanoyu. secara harafiah yaitu air panas untuk teh. Chanoyu mempunyai nama II. KAJIAN PUSTAKA A. Sumber Pustaka 1. Rujukan Istilah sadō atau chanoyu mengundang banyak pertanyaan seperti apakah perbedaan penyebutan sadō dan chanoyu. Arti kata chanoyu secara harafiah yaitu air

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik BAB III METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritik 1. Tematik Tikus termasuk dalam mamalia kecil, memiliki setidaknya 28 famili. Tikus dimasukkan dalam Ordo Rodentia yang artinya Hewan Pengerat. Ada sekitar

Lebih terperinci

55. Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB D) A. Latar Belakang

55. Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB D) A. Latar Belakang 55. Mata Pelajaran Seni Budaya dan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB D) A. Latar Belakang Muatan seni budaya dan keterampilan sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PRODUKSI. Perubahan terjadi seiring dengan perkembangan gaya hidup masyarakat

BAB IV PROSES PRODUKSI. Perubahan terjadi seiring dengan perkembangan gaya hidup masyarakat BAB IV PROSES PRODUKSI 4.1 Ide Karya Perubahan terjadi seiring dengan perkembangan gaya hidup masyarakat yang menjadi serba praktis dan semakin individual, yang membuat teko menjadi sangat jarang digunakan.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik BAB III METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritik 1. Tematik Gagasan penulis tentang gamelan timbul karena penulis melihat dan merasakan kurangnya apresiasi terhadap gamelan khususnya remaja-remaja masa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak zaman prasejarah manusia sudah mengenal hiasan yang berfungsi

BAB I PENDAHULUAN. Sejak zaman prasejarah manusia sudah mengenal hiasan yang berfungsi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak zaman prasejarah manusia sudah mengenal hiasan yang berfungsi untuk memperindah sesuatu atau sebagai simbol yang mengandung makna untuk mencapai sesuatu yang ada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. B. Tujuan Tujuan kami menulis makalah ini ialah untuk menginformasikan lebih dalam mengenai karya seni rupa dua dimensi.

BAB I PENDAHULUAN. B. Tujuan Tujuan kami menulis makalah ini ialah untuk menginformasikan lebih dalam mengenai karya seni rupa dua dimensi. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Latar belakang kami menulis makalah ini ialah untuk menjelaskan karya seni rupa dua dimensi secara lebih rinci. Penjelasan karya seni rupa dua dimensi akan meliputi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sangat cepat. Begitu pula dengan gaya hidup masyarakat yang juga

BAB I PENDAHULUAN. menjadi sangat cepat. Begitu pula dengan gaya hidup masyarakat yang juga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan jaman yang semakin modern membuat arus globalisasi menjadi sangat cepat. Begitu pula dengan gaya hidup masyarakat yang juga mengikuti arus globalisasi

Lebih terperinci

DESKRIPSI KARYA SENI MONUMENTAL Judul Karya Seni Monumental (kriya Seni): Predator. Pencipta I Made Sumantra, S.Sn, M.Sn

DESKRIPSI KARYA SENI MONUMENTAL Judul Karya Seni Monumental (kriya Seni): Predator. Pencipta I Made Sumantra, S.Sn, M.Sn DESKRIPSI KARYA SENI MONUMENTAL Judul Karya Seni Monumental (kriya Seni): Predator Pencipta I Made Sumantra, S.Sn, M.Sn FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR 2017 DESKRIPSI KARYA

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN

BAB III METODE PENCIPTAAN BAB III METODE PENCIPTAAN A. Ide Berkarya Penemuan ide berkarya diawali ketika penulis teringat sewaktu masih kecil yang pernah diceritakan oleh ibu, tentang kisah sosok Puteri yang cantik dari negeri

Lebih terperinci

II. KAJIAN PUSTAKA. A. Sumber Pustaka. sangat cemerlang dan sangat indah. Untuk menjadi kupu-kupu yang. Kupu-kupu memiliki banyak jenis dan memiliki

II. KAJIAN PUSTAKA. A. Sumber Pustaka. sangat cemerlang dan sangat indah. Untuk menjadi kupu-kupu yang. Kupu-kupu memiliki banyak jenis dan memiliki II. KAJIAN PUSTAKA A. Sumber Pustaka 1. Rujukan Serangga bersayap sisik ini biasanya memiliki sayap yang sangat cemerlang dan sangat indah. Untuk menjadi kupu-kupu yang bersayap indah, terdapat beberapa

Lebih terperinci

KONSEP KARYA. Penari: Oil on Canvas, 90 x 60 cm. Oleh: Zulfi Hendri, S.Pd NIP:

KONSEP KARYA. Penari: Oil on Canvas, 90 x 60 cm. Oleh: Zulfi Hendri, S.Pd NIP: KONSEP KARYA Penari: Oil on Canvas, 90 x 60 cm Oleh: Zulfi Hendri, S.Pd NIP: 19750525 200112 1002 JURUSAN PENDIDIKAN SENI RUPA FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGRI YOGYAKARTA 2013 0 A. Kajian Sumber

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Penjelasan Tema / Ide /Judul Perancangan B. Latar Belakang Perancangan

I. PENDAHULUAN A. Penjelasan Tema / Ide /Judul Perancangan B. Latar Belakang Perancangan I. PENDAHULUAN A. Penjelasan Tema / Ide /Judul Perancangan Perancangan desain produk furnitur rak buku dengan gaya pop art, furnitur yang dibuat ialah furnitur rak buku dengan menampilkan berbagai macam

Lebih terperinci

2 Berkarya Seni Rupa. Bab. Tiga Dimensi (3D) Peta Materi. Di unduh dari : Bukupaket.com. Jenis Karya. Berkarya Seni Rupa 3 D.

2 Berkarya Seni Rupa. Bab. Tiga Dimensi (3D) Peta Materi. Di unduh dari : Bukupaket.com. Jenis Karya. Berkarya Seni Rupa 3 D. Bab 2 Berkarya Seni Rupa Tiga Dimensi (3D) Peta Materi Pengertian Jenis Karya Berkarya Seni Rupa 3 D Simbol Karya Nilai Estetis Proses Berkarya 32 Kelas X SMA / MA / SMK / MAK Setelah mempelajari Bab 2

Lebih terperinci

3.1. MATERI 1 - GAMBAR DAUN

3.1. MATERI 1 - GAMBAR DAUN BAB 3: TANAMAN POHON Dalam proses belajar menggambar, umumnya dapat dimulai dengan belajar menggambar alam benda yang ada di sekitar kita dan yang paling dekat dan sering di temui adalah tanaman pohon,

Lebih terperinci

Bab. Berkarya Seni Rupa Dua Dimensi (2D) Peta Materi. Semester 1. Pengertian. Unsur dan Objek. Berkarya Seni Rupa 2 D. Medium, Bahan, dan Teknik

Bab. Berkarya Seni Rupa Dua Dimensi (2D) Peta Materi. Semester 1. Pengertian. Unsur dan Objek. Berkarya Seni Rupa 2 D. Medium, Bahan, dan Teknik Semester 1 Bab 1 Berkarya Seni Rupa Dua Dimensi (2D) Peta Materi Pengertian Unsur dan Objek Berkarya Seni Rupa 2 D Medium, Bahan, dan Teknik Proses Berkarya 1 Setelah mempelajari Bab 1 ini peserta didik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN. Batik Lukis (Batik Tulis) diajukan konsep berkarya. Pada dasarnya, manusia baik

BAB III METODE PENCIPTAAN. Batik Lukis (Batik Tulis) diajukan konsep berkarya. Pada dasarnya, manusia baik 43 BAB III METODE PENCIPTAAN A. Konsep Berkarya Pada tugas akhir penciptaan berjudul Padi sebagai Sumber Ide Penciptaan Batik Lukis (Batik Tulis) diajukan konsep berkarya. Pada dasarnya, manusia baik secara

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. Tataran Lingkungan/Komunitas Dalam pemilihan material yang akan digunakan untuk membuat sebuah rak, perlu memperhatikan juga unsur kelestarian bagi lingkungan. Penggunaan kayu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penciptaan Seni lukis merupakan salah satu bagian dari cabang seni yang memiliki unsur dua dimensi dan sangat terkait dengan gambar. Secara historis terlihat bahwa sejak

Lebih terperinci

III. METODE PENCIPTAAN

III. METODE PENCIPTAAN III. METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritis 1. Tematik Kisah dongeng tentang Raja Arthur memiliki sesuatu yang membuat penulis memiliki sebuah pandangan tertentu yang membawa penulis untuk melakukan

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN Batik merupakan warisan budaya dari Indonesia yang sudah disahkan oleh pihak UNESCO. Batik Yogyakarta atau Batik Jogja merupakan bagian dari budaya Jawa.

Lebih terperinci

Aug 14, '08 2:21 PM untuk. Konsep Seni Rupa

Aug 14, '08 2:21 PM untuk. Konsep Seni Rupa Konsep Seni Rupa Aug 14, '08 2:21 PM untuk 1. Konsep Seni Rupa meliputi: Hakikat Seni Rupa, Aspek-aspek Karya Seni Rupa dan Ragam Seni Rupa. 2. Dalam pengertian luas, seni rupa dapat dipahami sebagai produk

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis penelitian penulis berkenaan dengan Kajian

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis penelitian penulis berkenaan dengan Kajian BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis penelitian penulis berkenaan dengan Kajian Gambar Pada Pendidikan Anak Usia Dini (Studi Deskriptif Analitik Terhadap Karakteristik Gambar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pengalaman dan pengamatan penulis dalam melihat peristiwa yang terjadi

I. PENDAHULUAN. pengalaman dan pengamatan penulis dalam melihat peristiwa yang terjadi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seni pada dasarnya digunakan untuk mewakili perasaan manusia. Melalui seni lukis seseorang dapat menuangkan ide atau gagasannya ke dalam bentuk visual yang menggambarkan

Lebih terperinci

Kompetensi Dasar : Mengidentifikasi kaidah estetika dan etika seni grafis (nirmana) Presented By : Anita Iskhayati, S.Kom NIP

Kompetensi Dasar : Mengidentifikasi kaidah estetika dan etika seni grafis (nirmana) Presented By : Anita Iskhayati, S.Kom NIP Kompetensi Dasar : Mengidentifikasi kaidah estetika dan etika seni grafis (nirmana) Presented By : Anita Iskhayati, S.Kom NIP. 198311292010012034 Presented By : Anita Iskhayati, S.Kom NIP. 198311292010012034

Lebih terperinci

KOMSEP KARYA SENI. Oleh: Zulfi Hendri, S.Pd NIP:

KOMSEP KARYA SENI. Oleh: Zulfi Hendri, S.Pd NIP: KOMSEP KARYA SENI Oleh: Zulfi Hendri, S.Pd NIP: 19750525 200112 1002 JURUSAN PENDIDIKAN SENI RUPA FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGRI YOGYAKARTA 2013 0 A. Pendahuluan Saat ini kita dapat melihat

Lebih terperinci

IV. ANALISIS KARYA. di kota Surakarta. Penulis tertarik memvisualisasikan tradisi upacara minum teh

IV. ANALISIS KARYA. di kota Surakarta. Penulis tertarik memvisualisasikan tradisi upacara minum teh IV. ANALISIS KARYA Pada Bab ini, penulis menampilkan hasil karya beserta deskripsi dari masing-masing judul karya. Karya-karya ini terinspirasi dari upacara minum teh Jepang yang sering dijumpai pada festival

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Seni lukis batik berawal dari seni batik yang sudah tua usianya. Seni batik

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Seni lukis batik berawal dari seni batik yang sudah tua usianya. Seni batik BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Studi Pustaka 1. Seni Batik Lukis Seni lukis batik berawal dari seni batik yang sudah tua usianya. Seni batik lukis dikerjakan dengan teknik tutup celup, menggunakan malam bahkan

Lebih terperinci

BAB III ELABORASI TEMA

BAB III ELABORASI TEMA BAB III ELABORASI TEMA 3.1. Ruang aktif. 3.1.1. Pengertian ruang aktif. Ruang aktif adalah ruang yang memilki berbagai macam kegiatan, didalam ruangan tersebut adanya perubahan interior atau eksterior

Lebih terperinci

III. Kerajinan dari Daur Ulang A. Produk Kerajinan dari Kertas Daur Ulang Banyak hal yang dapat diciptakan dari kertas seni (handmade paper).

III. Kerajinan dari Daur Ulang A. Produk Kerajinan dari Kertas Daur Ulang Banyak hal yang dapat diciptakan dari kertas seni (handmade paper). III. Kerajinan dari Daur Ulang A. Produk Kerajinan dari Kertas Daur Ulang Banyak hal yang dapat diciptakan dari kertas seni (handmade paper). Akan tetapi, pada dasarnya unsur kreativitas dan pengalaman

Lebih terperinci

Desain Kerajinan. Unsur unsur Desain. Titik 9/25/2014

Desain Kerajinan. Unsur unsur Desain. Titik 9/25/2014 Desain Kerajinan Unsur unsur Desain Unsur desain merupakan bagian-bagian dari desain yang disusun untuk membentuk desain secara keseluruhan. Dalam sebuah karya desain masing-masing unsur tidak dapat dilepaskan

Lebih terperinci

V. ULASAN KARYA PERANCANGAN A. Konsep Perancangan Dalam proses perancangan desain furniture dengan tujuan untuk pemberian nilai baru dengan menggunakan desain mainan tradisional yang sekarang sudah jarang

Lebih terperinci

MODUL SENI RUPA KELAS X (Semester 1) TAHUN AJARAN BAB 1 BERKARYA SENI RUPA 2 DIMENSI

MODUL SENI RUPA KELAS X (Semester 1) TAHUN AJARAN BAB 1 BERKARYA SENI RUPA 2 DIMENSI YAYASAN WIDYA BHAKTI SEKOLAH MENENGAH ATAS SANTA ANGELA TERAKREDITASI A Jl. Merdeka No. 24 Bandung 022. 4214714 Fax.022. 4222587 http//: www.smasantaangela.sch.id, e-mail : smaangela@yahoo.co.id 043 MODUL

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS KARYA

BAB IV ANALISIS KARYA 42 BAB IV ANALISIS KARYA Karya 1 Gambar 4.1 Judul : Momen 1 Edisi : 3/5 Tahun : 2016 Karya pertama ini merupakan salah satu momen bahagia dalam keluarga dimana ada sepasang suami istri yang tidak sabar

Lebih terperinci

DESKRIPSI PEMELAJARAN

DESKRIPSI PEMELAJARAN DESKRIPSI PEMELAJARAN MATADIKLAT : NIRMANA TUJUAN : 1. Memiliki kemampuan membuat eksplorasi pengembangan komposisi elemen estetis, membuat komposisi elemen estetis, dan membuat komposisi warna prinsip

Lebih terperinci

PILIHLAH SALAH SATU JAWABAN YANG PALING TEPAT!

PILIHLAH SALAH SATU JAWABAN YANG PALING TEPAT! PILIHLAH SALAH SATU JAWABAN YANG PALING TEPAT! 1. Teknik komposisi biasanya berkaitan dengan... a. Garis Horizon b. Gelap Terang c. keselarasan d. Garis tebal-tipis e. Jauh dekat 2. Warna asli dan bukan

Lebih terperinci

SENI RUPA 2 DIMENSI DAN 3 DIMENSI

SENI RUPA 2 DIMENSI DAN 3 DIMENSI SENI RUPA 2 DIMENSI DAN 3 DIMENSI Disusun Oleh : Nama : Kelas : X Mipa 6 Pelajaran : Seni Budaya SMA TAHUN AJARAN 2016/2017 Seni Rupa Seni rupa adalah salah satu cabang seni yang membentuk sebuah karya

Lebih terperinci

Apa itu Rupa dasar?desain dasar?

Apa itu Rupa dasar?desain dasar? Rupadasar 2D Apa itu Rupa dasar?desain dasar? Ilmu yang mempelajari Nirmana Ilmu yang mengajarkan unsur elemen yang ada pada sebuah karya seni/desain. Ilmu yang mengorganisasi unsur atau elemen agar menjadi

Lebih terperinci

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN 21 BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN A. Langkah-Langkah Proses Berkarya Legenda yang dulu lahir dan tumbuh dalam masyarakat sendiri perlahan hilang atau dilupakan karena tak ada pola pewarisan yang

Lebih terperinci

BAB III PROSES PERANCANGAN

BAB III PROSES PERANCANGAN BAB III PROSES PERANCANGAN A. Bagan Pemecahan Masalah Kuliah Kerja Nyata Potensi Peningkatan Wisata Batik Perancangan batik dengan sumber ide kekayaan alam dan lingkungan Kepulauan Seribu Rumusan Masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendukung karya ( Van De Ven, 1995:102 ) seperti figure manusia, tokoh

BAB I PENDAHULUAN. pendukung karya ( Van De Ven, 1995:102 ) seperti figure manusia, tokoh 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Boneka adalah salah satu karya seni yang berupa macam-macam bentuk, Bentuk ini merupakan organisasi atau satu kesatuan, atau komposisi dari unsurunsur pendukung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1

BAB I PENDAHULUAN. 1 BAB I PENDAHULUAN Keragaman seni budaya bangsa Indonesia, diantaranya terlihat melalui produk kriya tradisional tersebar di berbagai daerah di Indonesia dengan karakter dan gaya seni masing-masing. Kehadiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat signifikan, baik dari segi teknik maupun bahan yang digunakan. Seni

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat signifikan, baik dari segi teknik maupun bahan yang digunakan. Seni BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Seiring dengan perkembangan jaman seni rupa mengalami perkembangan yang sangat signifikan, baik dari segi teknik maupun bahan yang digunakan. Seni rupa terdiri

Lebih terperinci

54. Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunarungu (SDLB B) A. Latar Belakang

54. Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunarungu (SDLB B) A. Latar Belakang 54. Mata Pelajaran Seni Budaya dan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunarungu (SDLB B) A. Latar Belakang Muatan seni budaya dan keterampilan sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik

BAB III METODE PENCIPTAAN. A. Implementasi Teoritik BAB III METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritik 1. Tematik Zaman edan merupakan salah satu zaman yang penuh dengan suatu keanehan yang luar biasa yang tidak disadari oleh manusia. Sebagai makhluk Tuhan

Lebih terperinci

A. Implementasi Teoritik

A. Implementasi Teoritik BAB III METODE PENCIPTAAN A. Implementasi Teoritik 1. Tematik Lebah Madu adalah serangga kaya manfaat, dalam klasifikasi dunia binatang, lebah dimasukan dalam Ordo Hymenoptera yang artinya sayap bening.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masyarakat Indonesia mengenal adanya keramik sudah sejak dahulu.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masyarakat Indonesia mengenal adanya keramik sudah sejak dahulu. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia mengenal adanya keramik sudah sejak dahulu. Namun mereka menyebutnya dengan istilah gerabah atau tembikar. Terbukti dengan ditemukannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jika kita berbicara tentang peradaban manusia, tidaklah akan lepas dari persoalan seni dan

BAB I PENDAHULUAN. Jika kita berbicara tentang peradaban manusia, tidaklah akan lepas dari persoalan seni dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penciptaan Karya Jika kita berbicara tentang peradaban manusia, tidaklah akan lepas dari persoalan seni dan budaya yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri. Seni dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PEMBUATAN PATUNG GAJAH IDE. Eksplorasi

BAB III METODE PEMBUATAN PATUNG GAJAH IDE. Eksplorasi 36 BAB III METODE PEMBUATAN PATUNG GAJAH A. Bagan Proses Penciptaan IDE Kajian teoritik tentang kesenirupaan dan bahasan yang berhubungan dengan karya (Studi literatur) Eksplorasi Obervasi Pemotretan Objek

Lebih terperinci

Bayanaka Canggu. tentang sebuah rumah peristirahatan di Bali, 2007 oleh: Fransiska Prihadi 1

Bayanaka Canggu. tentang sebuah rumah peristirahatan di Bali, 2007 oleh: Fransiska Prihadi 1 Bayanaka Canggu tentang sebuah rumah peristirahatan di Bali, 2007 oleh: Fransiska Prihadi 1 Sebuah harmoni dalam karya arsitektur tercipta ketika seluruh unsur dalam bangunan termasuk konsep arsitektur,

Lebih terperinci

PERSEMBAHAN. Karya Tugas Akhir ini kupersembahkan. kepada: 1. Tuhan Yang Maha Esa yang selalu. memberikan berkat. 2. Ayah dan Ibu tercinta.

PERSEMBAHAN. Karya Tugas Akhir ini kupersembahkan. kepada: 1. Tuhan Yang Maha Esa yang selalu. memberikan berkat. 2. Ayah dan Ibu tercinta. PERSEMBAHAN Karya Tugas Akhir ini kupersembahkan kepada: 1. Tuhan Yang Maha Esa yang selalu memberikan berkat. 2. Ayah dan Ibu tercinta. 3. Saudaraku yang tercinta. 4. Teman-teman dan almamaterku. v MOTTO

Lebih terperinci

BAB III PROSES PERANCANGAN

BAB III PROSES PERANCANGAN BAB III PROSES PERANCANGAN A. Bagan Pemecahan Masalah Kekayaan alam hayati, salah satunya Indigofera dan serat kayu putih Tekstil Bahan : Tencel terbuat dari serat kayu putih Pewarna : Indigofera tinctoria

Lebih terperinci

1. Identitas a. Nama Mata Pelajaran : Seni Budaya X (Wajib) b. Semester : Ganjil c. Kompetensi Dasar :

1. Identitas a. Nama Mata Pelajaran : Seni Budaya X (Wajib) b. Semester : Ganjil c. Kompetensi Dasar : 1 pasangan KD, 1 UKB, 1 RPP UNIT KEGIATAN BELAJAR (UKB sb 1.1.02) Arti kode UKB 1.1.02: UKB ini ada di semester 1 urutan KD ke 2 1. Identitas a. Nama Mata Pelajaran : Seni Budaya X (Wajib) b. Semester

Lebih terperinci