BAB II STUDI LITERATUR. A. Kemampuan Matematis dan Revisi Taksonomi Bloom. Kemampuan matematis adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II STUDI LITERATUR. A. Kemampuan Matematis dan Revisi Taksonomi Bloom. Kemampuan matematis adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki"

Transkripsi

1 10 BAB II STUDI LITERATUR A. Kemampuan Matematis dan Revisi Taksonomi Bloom Kemampuan matematis adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki siswa dalam mata pelajaran matematika. Dalam penelitian ini, kemampuan matematis yang dimaksud adalah kemampuan matematis berdasarkan Revisi Taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom pada dasarnya adalah taksonomi tujuan pendidikan. Dikenal dengan nama Taksonomi Bloom, karena yang mencetuskan ide ini bernama Benjamin S. Bloom, meskipun tidak semua domain dikembangkan olehnya. Konsep mengenai taksonomi ini ditawarkan Bloom pada tahun 1948 di Boston. Pada awalnya, Taksonomi Bloom hanya terdiri dari dua bagian, yaitu domain kognitif (cognitive domain) dan domain afektif (affective domain). Domain kognitif dikembangkan Bloom pada tahun 1956, sedangkan domain afektif dikembangkan oleh David R. Krathwohl bersama dengan Bloom dan Bertram B. Masia pada tahun Kemudian, pada tahun 1972 Simpson mengembangkan domain psikomotor (psyco-motor domain). Sampai saat ini, Taksonomi Bloom sering dipergunakan di lembagalembaga pendidikan, khususnya di sekolah. Sebagaimana Suherman (2003: 1) menyatakan bahwa klasifikasi tujuan yang dikemukakan oleh Benyamin S.

2 11 Bloom dan kawan-kawan (1956), yang dikenal dengan Taksonomi Bloom lebih banyak dipergunakan. Seiring dengan perkembangan pengetahuan khususnya psikologi kognitif, salah seorang murid Bloom yang bernama Lorin W. Anderson dan salah satu penulis Handbook asli yang bernama David R. Krathwohl. merevisi Taksonomi Bloom pada tahun Hasil perbaikannya dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Pada Handbook yang asli Bloom mengklasifikasikan tujuan kognitif dalam enam level, yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation) dalam satu dimensi. Anderson dan Krathwohl merevisinya menjadi dua dimensi, yaitu dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan. Pada dimensi proses kognitif ada perubahan kata kunci, yaitu dari kata benda menjadi kata kerja. Pada level kesatu yang semula knowledge berubah menjadi remember (mengingat). Perubahan terjadi juga pada level kedua, yaitu comprehension yang dipertegas menjadi understand (memahami). Level ketiga diubah sebutan dari application menjadi apply (menerapkan). Level keempat juga diubah sebutan dari analysis menjadi analyze (menganalisis). Perubahan mendasar terletak pada level kelima dan keenam. evaluation versi lama diubah posisinya dari level keenam menjadi level kelima, juga dengan perubahan sebutan dari evaluation menjadi evaluate (mengevaluasi). Level kelima lama, yaitu synthesis hilang,

3 12 dinaikkan levelnya menjadi level keenam tetapi dengan perubahan mendasar, yaitu dengan nama create (berkreasi). Jadi taksonomi Bloom versi baru terdiri atas: remember (mengingat), understand (memahami), apply (menerapkan), analyze (menganalisis), evaluate (mengevaluasi), dan create (berkreasi). Sedangkan pada dimensi pengetahuan terdiri atas: factual knowledge (pengetahuan faktual), conceptual knowledge (pengetahuan konseptual), procedural knowledge (pengetahuan prosedural), dan metacognitive knowledge (pengetahuan metakognitif). Berikut ini gambaran perubahan taksonomi versi lama dan versi baru dalam hal dimensi proses kognitif: Evaluation Synthesis Analysis Application Comprehension Knowledge Old Version Create Evaluate Analyze Apply Understand Remember New Version Diagram 2.1 Perubahan Dimensi Proses Kognitif pada Revisi Taksonomi Bloom Penjabaran masing-masing level pada dimensi proses kognitif adalah sebagai berikut:

4 13 Kategori Proses Tabel 2.1 Enam Kategori Dimensi Proses Kognitif Contoh 1. Remember (Mengingat) Memunculkan kembali apa yang sudah diketahui dan tersimpan dalam ingatan jangka-panjang Recognizing (mengenali lagi) 1.2. Recalling (menyebutkan kembali) Mengenali lagi jumlah sisi pada bentuk geometri dasar (jumlah sisi persegi, segitiga). Menyebutkan kembali fakta perkalian bilangan bulat (7 x 9 = ). 2. Understand (Memahami) Menegaskan pengertian atau makna bahan-bahan yang sudah diajarkan, mencakup komunikasi lisan, tertulis, maupun gambar Interpreting (menafsirkan, mengartikan, menerjemahkan) 2.2. Exemplifying (memberi contoh) 2.3. Classifying (menggolonggolongkan, mengelompokkan) 2.4. Summarizing (merangkum, meringkas) Membuat grafik atau diagram berdasarkan data yang tersedia. Memberikan contoh-contoh kelompok yang bukan merupakan himpunan. Menentukan bilangan mana yang termasuk dalam kategori tertentu. Menuliskan sebuah ringkasan pendek mengenai sifat-sifat segiempat Inferring (melakukan inferensi) Memprediksi nilai suatu variabel bila diketahui data mengenai hubungan antara variabel tersebut dengan variabel lainnya. (jika x = 1, maka y = 0; jika x = 2, maka y = 3; jika x = 3, maka y = 8; jika x = 4, maka y =...) 2.6. Comparing (membandingkan) 2.7. Explaining (memberikan penjelasan) Membandingkan metode subtitusi dan eliminasi untuk menyelesaikan persamaan kuadrat. Menjelaskan suatu teorema limit fungsi trigonometri. 3. Apply (Menerapkan) Melakukan sesuatu atau menggunakan sesuatu prosedur dalam situasi tertentu.

5 Executing (melaksanakan) 3.2. Implementing (menerapkan) Membagi sebuah bilangan bulat dengan bilangan bulat yang lainnya. Menerapkan turunan fungsi untuk menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan kecepatan. 4. Analyze (Menganalisis) Menguraikan sesuatu ke dalam bagian-bagian yang membentuknya, dan menetapkan bagaimana bagian-bagian atau unsur-unsur tersebut satu sama lain saling terkait, serta bagaimana kaitan unsur-unsur tersebut kepada keseluruhan struktur atau tujuan sesuatu itu Differentiating (membedabedakan) 4.2. Organizing (menata atau menyusun) 4.3. Attributing (menetapkan sifat atau ciri) Membedakan antara bilangan yang relevan dan tidak relevan dalam permasalahan kata/istilah matematika. Menyusun keterangan tentang istilah-istilah statistik, formulanya, dan kondisi yang mendasari penggunaannya dalam sebuah tabel Menetapkan sifat yang berlaku pada bilangan dengan pangkat bulat positif. 5. Evaluate (Mengevaluasi) Menetapkan derajat sesuatu berdasarkan kriteria atau patokan tertentu Checking Mengecek kebenaran suatu pernyataan yang (mengecek) berhubungan dengan dimensi tiga. Menilai dari dua metode, mana cara yang 5.2. Critiquing paling baik untuk menyelesaikan (mengkritisi) permasalahan yang diberikan. 6. Create (Berkreasi) Memadukan unsur-unsur menjadi sesuatu bentuk utuh yang koheren dan baru, atau membuat sesuatu yang orisinil Generating (memunculkan) 6.2. Planning (merencanakan, membuat rencana) 6.3. Producing (menghasilkan karya). Memunculkan hipotesis untuk menghitung fenomena yang sudah diteliti. Merencanakan tahap-tahap yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan geometri. Menghasilkan bentuk baru dari teoremateorema limit yang diberikan. Penjabaran tipe-tipe dan sub tipe dari dimensi pengetahuan adalah sebagai berikut:

6 15 Tabel 2.2 Tipe-tipe dan Subtipe dari Dimensi Pengetahuan Tipe Utama dan Subtipe Contoh A. Factual Knowledge (Pengetahuan Faktual) Unsur dasar yang harus diketahui siswa untuk mempelajari mata pelajaran atau menyelesaikan permasalahannya. A. A. Knowledge of terminology (pengetahuan tentang istilah) A. B. Knowledge of specific details and elements (pengetahuan tentang perincian-perincian dan unsur-unsur secara khusus) Simbol-simbol dalam konsep himpunan (anggota himpunan, himpunan kosong, himpunan bagian) Perincian-perincian limit fungsi trigonometri. B. Conceptual Knowledge (Pengetahuan Konseptual) Hubungan diantara unsur-unsur dasar dan struktur lebih luas yang memungkinkan saling berfungsi satu sama lain. B. A. Knowledge of classification and categories (pengetahuan tentang pengklasifikasian dan pengkategorian) B. B. Knowledge of principles and generalizations (pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan generalisasi) B. C. Knowledge of theories, models, and structures (pengetahuan tentang teoriteori, model-model, dan struktur-struktur) Jenis-jenis segitiga berdasarkan sisisisinya dan jenis-jenis segitiga berdasarkan sudutnya. Teorema phytagoras, bentuk umum persamaan kuadrat. Model-model geometri dimensi tiga. C. Procedural Knowledge (Pengetahuan Prosedural) Bagaimana melakukan sesuatu, metode-metode penyelidikan, dan kriteria untuk menggunakan keterampilan-keterampilan, algoritmaalgoritma, teknik-teknik, serta metode-metode. C. A.Knowledge of subjectspecific skills and algorithms (pengetahuan tentang subjek - keterampilan dan algoritma-algoritma khusus) Algoritma pembagian bilangan bulat, algoritma khusus untuk menyelesaikan persamaan kuadrat.

7 16 C. B. Knowledge of subjectspecific techniques and methods (pengetahuan tentang subjek -teknik-teknik dan metode khusus) Teknik/metode untuk menentukan ukuran sisi-sisi segiempat jika diketahui bahwa luas bangun tersebut maksimum. C. C. Knowledge of criteria for determining when to use appropriate procedures (pengetahuan tentang kriteria untuk menentukan prosedur yang paling tepat digunakan) Kriteria yang digunakan untuk menentukan metode mana yang digunakan untuk menyelesaikan persamaan aljabar. D. Metacognitive Knowledge (Pengetahuan Metakognitif) Pengetahuan tentang pengertian dalam hal umum seperti kesadaran dan pengetahuan dari salah satu pengertian diri. D. A. Strategic Knowledge (pengetahuan strategi) D. B. Knowledge about cognitive tasks,including appropriate contextual and conditional knowledge (pengetahuan tentang tugastugas kognitif termasuk ilmu yang tepat kontekstual dan kondisional) D. C. Self-Knowledge (pengetahuan diri) Mengecek jawaban pada masalah matematika. Pengetahuan tentang bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dengan soal berbentuk uraian. Mengenali mengapa kesulitan dalam menyelesaikan soal trigonometri.

8 17 Berdasarkan dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan pada Revisi Taksonomi Bloom dapat dibuat tabel yang memadukan kedua dimensi tersebut, yang dikenal dengan sebutan Tabel Taksonomi, yaitu: Tabel 2.3 Tabel Taksonomi The Knowledge Dimension A. Factual Knowledge B. Conceptual Knowledge C. Procedural Knowledge D. Metacognitive Knowledge 1. Remember The Cognitive Process Dimension Apply Analyze 2. Understand 5. Evaluate 6. Create A1 A2 A3 A4 A5 A6 B1 B2 B3 B4 B5 B6 C1 C2 C3 C4 C5 C6 D1 D2 D3 D4 D5 D6 B. Evaluasi 1. Pengertian Evaluasi Pengertian evaluasi seringkali diartikan sama dengan pengukuran dan penilaian (asesmen), padahal ketiganya memiliki arti yang berbeda, namun saling berkaitan satu sama lain. Arikunto (2001: 3) mengemukakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan suatu ukuran, sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Adapun evaluasi meliputi kedua langkah tersebut, yaitu mengukur dan menilai. Pengukuran lebih bersifat

9 18 kuantitatif, sedangkan penilaian bersifat kualitatif. Untuk evaluasi tidak hanya menyangkut gambaran secara kuantitatif, tetapi juga secara kualitatif. Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (Echols dan Shadily dalam Thoha, 2001: 1). Sedangkan menurut pengertian istilah evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan (Thoha, 2001: 1). Sejalan dengan pendapat-pendapat di atas, Tyler (Arikunto, 2001: 3) mengemukakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Cronbanch dan Stufflebeam (Arikunto, 2001: 3) menambahkan bahwa proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan. Dari pengertian-pengertian tersebut, evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui keberhasilan suatu proses pendidikan. 2. Pentingnya Evaluasi Kegiatan evaluasi merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam pendidikan, khususnya dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan evaluasi kita akan mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada pada kegiatan

10 19 pembelajaran yang telah dilakukan, sehingga kita bisa melakukan perbaikan. Thoha (2001: 4-5) mengungkapkan tiga alasan utama mengapa dalam kegiatan pendidikan selalu memerlukan evaluasi, yaitu sebagai berikut: a. Untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah tercapai dengan baik dan untuk memperbaiki serta mengarahkan pelaksanaan proses belajar mengajar. b. Kegiatan mengevaluasi terhadap hasil belajar merupakan salah satu ciri dari pendidik profesional. c. Bila dilihat dari pendekatan kelembagaan, kegiatan pendidikan merupakan kegiatan manajemen, yang meliputi kegiatan: planning, programming, organizing, actuating, controlling, dan evaluating. 3. Fungsi Evaluasi Pendidikan merupakan salah satu aspek penting untuk kemajuan bangsa. Tetapi, pendidikan tanpa perkembangan (khususnya dalam hal prestasi belajar siswa dan umumnya dalam segala aspek pendidikan) tidak akan memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan bangsa. Kegiatan evaluasi akan memberikan gambaran tentang kemampuan dan kesulitan yang dihadapi siswa selama kegiatan pembelajaran, selain itu informasi tentang tingkat keberhasilan program pendidikan pun bisa diketahui. Lebih jelasnya, Purwanto (Budiani, 2007: 27) mengelompokkan fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran menjadi empat fungsi, yaitu:

11 20 a. Untuk mengetahui kemajuan, perkembangan, serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil evaluasi tersebut, selanjutnya digunakan untuk menentukan lulus tidaknya seorang siswa dari suatu lembaga pendidikan tertentu. b. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Komponenkomponen yang dimaksud antara lain: tujuan, materi pengajaran, metode dan kegiatan belajar mengajar, alat dan sumber pembelajaran, prosedur, serta alat evaluasi. c. Untuk keperluan Bimbingan Konseling (BK). Hasil-hasil evaluasi yang telah dilaksanakan oleh guru terhadap siswanya dapat dijadikan sumber informasi atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah atau guru pembimbing lainnya. d. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan. Pendidikan itu terdiri dari berbagai komponen, diantaranya: guru, peserta didik, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Oleh karena itu, untuk lebih jelasnya, Thoha (2001: 10-11) merinci lagi fungsi-fungsi evaluasi pendidikan bagi komponen-komponen tersebut, yaitu: a. Fungsi evaluasi pendidikan bagi guru 1) Mengetahui kemajuan belajar peserta didik. 2) Mengetahui kedudukan masing-masing individu peserta didik dalam kelompoknya. 3) Mengetahui kelemahan-kelemahan cara belajar mengajar dalam Proses Belajar Mengajar (PBM). 4) Memperbaiki PBM. 5) Menentukan kelulusan peserta didik. b. Fungsi evaluasi pendidikan bagi peserta didik 1) Mengetahui kemampuan dan hasil belajar.

12 21 2) Memperbaiki cara belajar. 3) Menumbuhkan motivasi dalam belajar. c. Fungsi evaluasi pendidikan bagi sekolah 1) Mengukur mutu hasil pendidikan. 2) Mengetahui kemajuan dan kemunduran sekolah. 3) Membuat keputusan kepada peserta didik. 4) Mengadakan perbaikan kurikulum. d. Fungsi evaluasi pendidikan bagi orang tua 1) Mengetahui hasil belajar anaknya. 2) Meningkatkan pengawasan dan bimbingan serta bantuan kepada anaknya dalam usaha belajar. 3) Mengarahkan pemilihan jurusan, atau jenis sekolah pendidikan lanjutan bagi anaknya. e. Fungsi evaluasi pendidikan bagi masyarakat dan pemakai jasa pendidikan 1) Mengetahui kemajuan sekolah. 2) Ikut mengadakan kritik dan saran perbaikan bagi kurikulum pendidikan pada sekolah tersebut. 3) Lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam usahanya membantu lembaga pendidikan.

13 22 4. Tujuan Evaluasi Sesuai dengan fungsi evaluasi yang dikemukakan oleh Purwanto, evaluasi menurut Sudjana (Budiani, 2007: 28) mempunyai tujuan sebagai berikut: a. Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa, sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya. b. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan yang diharapkan. c. Menentukan tindak lanjut hasil penelitian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya. d. Memberikan pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihakpihak yang berkepentingan. Pihak yang dimaksud meliputi: pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa. Dalam hal kurikulum, evaluasi pendidikan memiliki tujuan untuk melakukan penilaian total terhadap pelaksanaan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan, mencari faktor penghambat dan pendukung terhadap pelaksanaan kurikulum (Thoha, 2001: 9). Dengan melakukan evaluasi kurikulum, keberhasilan secara operasional suatu lembaga pendidikan dapat diukur, sehingga dapat dilakukan penilaian terhadap efektivitas kelembagaan pendidikan.

14 23 5. Ruang Lingkup Evaluasi Stufflebeam (Thoha, 2001: 14-15) membagi evaluasi pendidikan menjadi emapat ruang lingkup, yaitu: a. Evaluasi masukan (input) Adalah evaluasi yang berkaitan dengan kualitas masukan yang berupa calon peserta didik, baik menyangkut faktor kemampuan intelektualnya maupun aspek kepribadian yang bersifat nonintelektif. b. Evaluasi proses Merupakan evaluasi yang sasarannya adalah proses belajar mengajar, termasuk faktor instrumentalnya, seperti: evaluasi terhadap kemampuan guru dalam mengajar, kesesuaian metode yang digunakan oleh guru, evaluasi kurikulum, evaluasi terhadap media pendidikan, dan kelembagaan pendidikan. c. Evaluasi produk (output) Adalah penilaian pendidikan yang sasarannya hasil akhir suatu proses pendidikan, yaitu peserta didik. d. Evaluasi konteks Merupakan evaluasi yang berkaitan dengan masalah-masalah kompleks yang melibatkan hal-hal di luar proses pendidikan tetapi ia secara langsung mempengaruhi proses maupun hasil pendidikan.

TAKSONOMI BLOOM-REVISI. Ana Ratna Wulan/ FPMIPA UPI

TAKSONOMI BLOOM-REVISI. Ana Ratna Wulan/ FPMIPA UPI TAKSONOMI BLOOM-REVISI Ana Ratna Wulan/ FPMIPA UPI Revisi Taksonomi Bloom (Anderson, L.W. & Krathwohl, D.R.: 2001) Taksonomi Bloom lama C1 (Pengetahuan) C2 (Pemahaman) C3 (Aplikasi) C4 (Analisis) C5 (Sintesis)

Lebih terperinci

II. KAJIAN TEORI. Perkembangan sebuah pendekatan yang sekarang dikenal sebagai Pendekatan

II. KAJIAN TEORI. Perkembangan sebuah pendekatan yang sekarang dikenal sebagai Pendekatan II. KAJIAN TEORI A. Pendekatan Matematika Realistik Perkembangan sebuah pendekatan yang sekarang dikenal sebagai Pendekatan Matematika Realistik (PMR) dimulai sekitar tahun 1970-an. Yayasan yang diprakarsai

Lebih terperinci

Tugas Evaluasi Pendidikan RANAH PENGETAHUAN MENURUT BLOOM

Tugas Evaluasi Pendidikan RANAH PENGETAHUAN MENURUT BLOOM Tugas Evaluasi Pendidikan RANAH PENGETAHUAN MENURUT BLOOM Dosen Pembina: PROF. DR.Ahmad Fauzan,M.Pd, M.Sc. Oleh: Kelompok I Asmi yuriana Dewi Desi Delarosa Isra Marlinawaty Sri Rahayu KONSENTRASI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 42 BAB III METODE PENELITIAN A. Defenisi Operasional Untuk menyamakan persepsi mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka diperlukan adanya defenisi operasional mengenai istilah-istilah

Lebih terperinci

Penilaian Proses dan Hasil Belajar

Penilaian Proses dan Hasil Belajar Penilaian Proses dan Hasil Belajar Oleh: Dr. Ana Ratna Wulan, M.Pd. FPMIPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Revisi Taksonomi Bloom (Anderson, L.W. & Krathwohl, D.R.: 2001) Taksonomi Bloom C1 (Pengetahuan)

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Eksperimen mengandung makna belajar untuk berbuat, karena itu dapat dimasukkan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Eksperimen mengandung makna belajar untuk berbuat, karena itu dapat dimasukkan II. TINJAUAN PUSTAKA 1. Metode Eksperimen Eksperimen mengandung makna belajar untuk berbuat, karena itu dapat dimasukkan ke dalam metode pembelajaran. Menurut Djamarah dan Zain (2006: 136) metode eksperimen

Lebih terperinci

EVALUASI PEMBELAJARAN

EVALUASI PEMBELAJARAN EVALUASI PEMBELAJARAN TUGAS 1 Taksonomi Bloom, Dimensi Belajar Marzano Oleh : Nama : Septri Rahayu NIM : 06101011019 Program Studi Dosen Pengasuh : Pendidikan Fisika : 1. Dr. Ketang Wiyono 2. Drs. Abidin

Lebih terperinci

3/30/2010 Rustaman file 1

3/30/2010 Rustaman file 1 3/30/2010 Rustaman file 1 3/30/2010 Rustaman file 2 MATERI PERKULIAHAN Pertemuan 3 Prosedur dan Alat Penilaian: Ranah 17 09-2009 kognitif (C1-C6) relevansi dengan tujuan pembelajaran Pertemuan 4 Perbandingan

Lebih terperinci

TAKSONOMI KOGNITIF. Oleh: Ikhlasul Ardi Nugroho. Anderson et al. (2001: 66 91) mengemukakan enam taksonomi kognitif yang merupakan

TAKSONOMI KOGNITIF. Oleh: Ikhlasul Ardi Nugroho. Anderson et al. (2001: 66 91) mengemukakan enam taksonomi kognitif yang merupakan TAKSONOMI KOGNITIF Oleh: Ikhlasul Ardi Nugroho Anderson et al. (2001: 66 91) mengemukakan enam taksonomi kognitif yang merupakan revisi dari Taksonomi Bloom, yakni mengingat (remembering), memahami (understanding),

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kress et al dalam Abdurrahman, R. Apriliyawati, & Payudi (2008: 373)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kress et al dalam Abdurrahman, R. Apriliyawati, & Payudi (2008: 373) II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritis 1. Representasi Matematika Kress et al dalam Abdurrahman, R. Apriliyawati, & Payudi (2008: 373) mengatakan bahwa secara naluriah manusia menyampaikan, menerima,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Kegiatan Evaluasi Dalam Pendidikan Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran. Stufflebeam (1971)

Lebih terperinci

Taksonomi Tujuan Pembelajaran

Taksonomi Tujuan Pembelajaran Taksonomi Tujuan Pembelajaran Ari Widodo Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudhi 229 Bandung Email: widodo@upi.edu September 2005 Dari penulis Taksonomi pembelajaran

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIK. 1. Kemampuan berpikir matematika tingkat tinggi

BAB II KAJIAN TEORITIK. 1. Kemampuan berpikir matematika tingkat tinggi 8 BAB II KAJIAN TEORITIK A. Deskripsi Konseptual 1. Kemampuan berpikir matematika tingkat tinggi Berpikir menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. pikiran adalah dengan mengalokasikan waktu untuk meninjau kembali apa

II. TINJAUAN PUSTAKA. pikiran adalah dengan mengalokasikan waktu untuk meninjau kembali apa II. TINJAUAN PUSTAKA A. Strategi Pencocokan Kartu Indeks Salah satu cara yang pasti untuk membuat pembelajaran tetap melekat dalam pikiran adalah dengan mengalokasikan waktu untuk meninjau kembali apa

Lebih terperinci

BAB II. POE adalah singkatan dari Predict-Observe-Explain. POE ini sering juga

BAB II. POE adalah singkatan dari Predict-Observe-Explain. POE ini sering juga BAB II STRATEGI PEMBELAJARAN POE (PREDICT, OBSERVE, EXPLAIN) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA KONSEP DIFUSI DAN OSMOSIS A. Strategi POE (Predict, Observe, Explain)

Lebih terperinci

Abstrak. Pendahuluan. Anas et al., Analisis Deskriptif Soal Ujian Nasional Matematika...

Abstrak. Pendahuluan. Anas et al., Analisis Deskriptif Soal Ujian Nasional Matematika... 1 ANalisis Deskriptif Soal Ujian Nasional Matematika Tingkat Sekolah Menengah Pertama Tahun Ajaran 2012/2013 dan 2013/2014 Berdasarkan Taksonomi Bloom Revisi (Descriptive Analysis of Mathematics National

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Berdasarkan hal tersebut, negara-negara di dunia berkompetisi dalam

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Berdasarkan hal tersebut, negara-negara di dunia berkompetisi dalam 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tingkat pendidikan menjadi salah satu indikator dari kemajuan suatu bangsa. Berdasarkan hal tersebut, negara-negara di dunia berkompetisi dalam meningkatkan

Lebih terperinci

PENGERTIAN TUJUAN PEMBELAJARAN

PENGERTIAN TUJUAN PEMBELAJARAN PENGERTIAN TUJUAN PEMBELAJARAN Tujuan pembelajaran adalah tahapan penting dalam merancang analisis kebutuhan Tujuan pembelajaran merupakan pengikat aktivitas guru dan siswa ALASAN TUJUAN PEMBELAJARAN DIRUMUSKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maju, meningkatkan diri, punya motivasi, dan jiwa pencari pengetahuan

BAB I PENDAHULUAN. maju, meningkatkan diri, punya motivasi, dan jiwa pencari pengetahuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Adi Satrisman, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Adi Satrisman, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, yang berfungsi untuk mengembangkan

Lebih terperinci

Deskripsi Singkat Revisi Taksonomi Bloom Elisabeth Rukmini. Keywords: Bloom s taxonomy, cognitive, meta-cognitive

Deskripsi Singkat Revisi Taksonomi Bloom Elisabeth Rukmini. Keywords: Bloom s taxonomy, cognitive, meta-cognitive Deskripsi Singkat Revisi Taksonomi Bloom Elisabeth Rukmini Abstract The Bloom s taxonomy revision mainly consisted of curriculum, instructional design, and assessment. Educational development, sociocultural

Lebih terperinci

PERANGKAT ASESMEN MODEL PKM YANG MELIBATKAN SCAFFOLDING METAKOGNITIF BERDASARKAN REVISI TAKSONOMI BLOOM

PERANGKAT ASESMEN MODEL PKM YANG MELIBATKAN SCAFFOLDING METAKOGNITIF BERDASARKAN REVISI TAKSONOMI BLOOM Awi, Perangkat Asesmen Model 11 PERANGKAT ASESMEN MODEL PKM YANG MELIBATKAN SCAFFOLDING METAKOGNITIF BERDASARKAN REVISI TAKSONOMI BLOOM Awi dan Sukarna Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Lebih terperinci

ANALISIS SOAL UJIAN NASIONAL IPA SMP TAHUN 2014 BERDASARKAN DIMENSI PENGETAHUAN DAN DIMENSI PROSES KOGNITIF

ANALISIS SOAL UJIAN NASIONAL IPA SMP TAHUN 2014 BERDASARKAN DIMENSI PENGETAHUAN DAN DIMENSI PROSES KOGNITIF 22-199 ANALISIS SOAL UJIAN NASIONAL IPA SMP TAHUN 2014 BERDASARKAN DIMENSI PENGETAHUAN DAN DIMENSI PROSES KOGNITIF Herni Budiati SMP Negeri 22 Surakarta hernibudiati@yahoo.co.id Abstrak- Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan upaya penting untuk mengembangkan potensi diri dalam penguasaan ilmu.ada beberapa pengklasifikasian tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh ahli

Lebih terperinci

PERKULIAHAN 3: EVALUASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA ALAT EVALUASI

PERKULIAHAN 3: EVALUASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA ALAT EVALUASI PERKULIAHAN 3: EVALUASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA ALAT EVALUASI 1. Taksonomi Bloom Bloom dan kawan-kawan membagi tujuan pendidikan ke dalam tiga daerah (domain), yaitu daerah kognitif (cognitive domain),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. paling digemari dan menjadi suatu kesenangan. Namun bagi sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. paling digemari dan menjadi suatu kesenangan. Namun bagi sebagian besar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika bagi sebagian kecil siswa merupakan mata pelajaran yang paling digemari dan menjadi suatu kesenangan. Namun bagi sebagian besar siswa yang lain, matematika

Lebih terperinci

Kreano 6 (1) (2015): Kreano. Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif

Kreano 6 (1) (2015): Kreano. Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif Kreano 6 (1) (2015): 65-73 Kreano Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kreano Analisis Tingkat Kognitif Uji Kompetensi pada Buku Sekolah Elektronik (BSE) Matematika

Lebih terperinci

BBM VIII EVALUASI PEMBELAJARAN IPA

BBM VIII EVALUASI PEMBELAJARAN IPA BBM VIII EVALUASI PEMBELAJARAN IPA Pendahuluan Setelah pada bab sebelumnya Anda mempelajari tentang merancang pendekatan dan model pembelajaran, pada bab ini Anda akan mempelajari tentang asesmen dan evaluasinya.

Lebih terperinci

REVISI TAKSONOMI BLOOM (A REVISION OF BLOOM S TAXONOMY)

REVISI TAKSONOMI BLOOM (A REVISION OF BLOOM S TAXONOMY) REVISI TAKSONOMI BLOOM (A REVISION OF BLOOM S TAXONOMY) Oleh: Dr. Rochmad, M.Si Dosen Jurusan Matematika FMIPA UNNES Dosen PPS UNNNES 2012 Taksonomi tujuan pendidikan (the taxonomy of educational objective)

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan salah metode yang sering

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan salah metode yang sering II. TINJAUAN PUSTAKA A. Metode Inkuiri Terbimbing Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan salah metode yang sering digunakan oleh para guru. Khususnya pembelajaran biologi, ini disebabkan karena kesesuaian

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) menegaskan bahwa evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan

Lebih terperinci

T E K N I K B E R T A N Y A

T E K N I K B E R T A N Y A T E K N I K B E R T A N Y A Susiwi S 6/1/2010 1 Pentingnya Teknik Bertanya dalam Kegiatan Pembelajaran Bertanya sebagai indikator berpikir. Keterampilan bertanya sangat dekat dengan kemampuan berkomunikasi

Lebih terperinci

TAKSONOMI BLOOM REVISI RANAH KOGNITIF: KERANGKA LANDASAN UNTUK PEMBELAJARAN, PENGAJARAN, DAN PENILAIAN. Imam Gunawan * Anggarini Retno Palupi **

TAKSONOMI BLOOM REVISI RANAH KOGNITIF: KERANGKA LANDASAN UNTUK PEMBELAJARAN, PENGAJARAN, DAN PENILAIAN. Imam Gunawan * Anggarini Retno Palupi ** TAKSONOMI BLOOM REVISI RANAH KOGNITIF: KERANGKA LANDASAN UNTUK PEMBELAJARAN, PENGAJARAN, DAN PENILAIAN Imam Gunawan * Anggarini Retno Palupi ** Abstract The Cognitive domain of Bloom s taxonomy often serves

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sistem pendidikan di Indonesia telah lama menggunakan teori taksonomi pendidikan secara adaptif sebagai landasan pendekatan belajar. Implikasi dari penggunaan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. dan Ely (dalam Arsyad, 2000: 3) mengatakan bahwa media apabila dipahami

TINJAUAN PUSTAKA. dan Ely (dalam Arsyad, 2000: 3) mengatakan bahwa media apabila dipahami 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Media Kartu Bergambar Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar (Arsyad, 2000:3). Secara lebih jelas Gerald dan

Lebih terperinci

KONSEP REVISI TAKSONOMI BLOOM DAN IMPLEMENTASINYA PADA PELAJARAN MATEMATIKA SMP

KONSEP REVISI TAKSONOMI BLOOM DAN IMPLEMENTASINYA PADA PELAJARAN MATEMATIKA SMP KONSEP REVISI TAKSONOMI BLOOM DAN IMPLEMENTASINYA PADA PELAJARAN MATEMATIKA SMP Ramlan Effendi SMP Negeri 2 Lahat, Jl. Letnan Amir Hamzah 1 Lahat ramlan.effendi@gmail.com Abstrak. Tujuan kajian ini adalah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional 1. Analisis Struktur Analisis struktur yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu dilakukan pemecahan setiap aspek yang ada pada desain kegiatan laboratorium

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoretis 1. Pengertian Belajar Belajar merupakan proses perkembangan yang dialami oleh siswa menuju kearah yang lebih baik. Belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara

Lebih terperinci

Panduan Evaluasi Kurikulum

Panduan Evaluasi Kurikulum Panduan Evaluasi Kurikulum Umum Isi Panduan Evaluasi Kurikulum Panduan Evaluasi Kurikulum ini digunakan untuk melengkapi Pedoman Evaluasi Kurikulum dan menjelaskan mengenai: a. Dokumen Lengkap Kurikulum:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akhirnya akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sejalan dengan hal tersebut Brandt (1993) menyatakan bahwa hampir

BAB I PENDAHULUAN. akhirnya akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sejalan dengan hal tersebut Brandt (1993) menyatakan bahwa hampir 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Berbagai macam permasalahan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia dewasa ini, antara lain adalah masih lemahnya proses pembelajaran yang dilakukan

Lebih terperinci

BERPIKIR TINGKAT RENDAH MENUJU BERPIKIR TINGKAT TINGGI

BERPIKIR TINGKAT RENDAH MENUJU BERPIKIR TINGKAT TINGGI Prima: Jurnal Program Studi Pendidikan dan Penelitian Matematika Vol. 6, No. 1, Januari 2017, hal. 61-76 P-ISSN: 2301-9891 BERPIKIR TINGKAT RENDAH MENUJU BERPIKIR TINGKAT TINGGI Kus Andini Purbaningrum

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Pembelajaran Matematika 2.1.2 Pengertian Matematika Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari.

Lebih terperinci

Februl Defila ( )

Februl Defila ( ) 1 2 3 5 6 4 Tugas Evaluasi Pendidikan RANAH PENGETAHUAN MENURUT BLOOM, CANGELOSI DAN MARZANO Dosen Pembina: Rina Febriana, M.Pd. Oleh: Februl Defila (10050051) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA SEKOLAH

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subyek Penelitian Sekolah yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Bandung. Pemilihan sekolah tersebut menjadi

Lebih terperinci

KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA DALAM MEMBACA TEKS EKONOMI KELAS XI- IPS K3 DI SMA NEGERI 10 MALANG

KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA DALAM MEMBACA TEKS EKONOMI KELAS XI- IPS K3 DI SMA NEGERI 10 MALANG KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA DALAM MEMBACA TEKS EKONOMI KELAS XI- IPS K3 DI SMA NEGERI 10 MALANG Riris Dwi Novianti Mit Witjaksono Agung Haryono Abstract Cognitive ability is a behavior that emphasizes the

Lebih terperinci

II. KERANGKA TEORETIS. Harlen & Russel dalam Fitria (2007: 17) mengatakan bahwa kemampuan

II. KERANGKA TEORETIS. Harlen & Russel dalam Fitria (2007: 17) mengatakan bahwa kemampuan 6 II. KERANGKA TEORETIS A. Tinjaun Pustaka 1. Keterampilan Eksperimen Harlen & Russel dalam Fitria (2007: 17) mengatakan bahwa kemampuan merancanakan percobaan merupakan kegiatan mengidenfikasi berapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahan ajar merupakan kebutuhan penting dalam proses belajar mengajar, karena dengan adanya bahan ajar maka dapat terselenggara pembelajaran yang baik. Menurut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang sering

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang sering BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pertanyaan Siswa Banyak kegiatan atau aktivitas yang dilakukan siswa di sekolah. Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang sering dilakukan di

Lebih terperinci

HOTS (High Order Thinking Skills) dan Kaitannya dengan Kemampuan Literasi Matematika

HOTS (High Order Thinking Skills) dan Kaitannya dengan Kemampuan Literasi Matematika PRISMA 1 (2018) https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/prisma/ HOTS (High Order Thinking Skills) dan Kaitannya dengan Kemampuan Literasi Matematika Husna Nur Dinni Program Pascasarjana, Univeritas Negeri

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Sampel Penelitian Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal-soal kimia yang diujikan pada Cambridge International Examination (CIE) level International General

Lebih terperinci

Analisis Buku Siswa Matematika SMP Ruang Lingkup Statistika dengan Kesesuaian Unsur Unsur Karakteristik Berpikir Kreatif

Analisis Buku Siswa Matematika SMP Ruang Lingkup Statistika dengan Kesesuaian Unsur Unsur Karakteristik Berpikir Kreatif SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA UNY 2015 PM - 121 Analisis Buku Siswa Matematika SMP Ruang Lingkup Statistika dengan Kesesuaian Unsur Unsur Karakteristik Berpikir Kreatif R. Ach.

Lebih terperinci

MANFA NFA TUJUAN PEMBELAJARAN

MANFA NFA TUJUAN PEMBELAJARAN Retno Wahyuningsih 1 PENGERTIAN Ranah hasil belajar siswa dikelompokkan sebuah taksonomi Taksonomi adalah usaha pengelompokan yang disusun dan diurut berdasarkan ciri-ciri tertentu. 1 MANFAAT Untuk menentukan

Lebih terperinci

PEMBUKTIAN, PENALARAN, DAN KOMUNIKASI MATEMATIKA. (Bahan PLPG)

PEMBUKTIAN, PENALARAN, DAN KOMUNIKASI MATEMATIKA. (Bahan PLPG) PEMBUKTIAN, PENALARAN, DAN KOMUNIKASI MATEMATIKA (Bahan PLPG) DARHIM Dosen Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung Staf Akhli Direktorat Profesi Pendidik, Ditjen PMPTK, Jakarta PEMBUKTIAN Menunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemakaian Buku Teks (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), 50. Pendidikan (Jakarta: Depdikbud, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. Pemakaian Buku Teks (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), 50. Pendidikan (Jakarta: Depdikbud, 2013). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran di kelas biasanya menggunakan fasilitas pendukung seperti buku paket. Menurut Muclish buku paket dapat diartikan sebagai buku yang berisi uraian

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Taksonomi Anderson yang merupakan revisi dari Taksonomi Bloom.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Taksonomi Anderson yang merupakan revisi dari Taksonomi Bloom. 10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritis 2.1 Pemahaman Guru Pemahaman merupakan salah satu bagian daripada domain kognitif dari Taksonomi Anderson yang merupakan revisi dari Taksonomi Bloom. Menurut

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN A. KAJIAN TEORI 1. Lingkungan Sekolah a. Pengertian Lingkungan Sekolah Manusia sebagai makhluk sosial pasti akan selalu bersentuhan dengan lingkungan sekitar,

Lebih terperinci

ANALISIS HASIL BELAJAR SISWA KELAS AKSELERASI

ANALISIS HASIL BELAJAR SISWA KELAS AKSELERASI digilib.uns.ac.id ANALISIS HASIL BELAJAR SISWA KELAS AKSELERASI PADA PROSES KOGNITIF DALAM REVISI TAKSONOMI BLOOM PADA MATERI TURUNAN FUNGSI (Penelitian Dilakukan di SMA Negeri 1 Surakarta Tahun Ajaran

Lebih terperinci

Mutiara O. Panjaitan, Kemampuan Tim Pengembang Kurikulum Merancang Kegiatan Pembelajaran dan Penilaian

Mutiara O. Panjaitan, Kemampuan Tim Pengembang Kurikulum Merancang Kegiatan Pembelajaran dan Penilaian Mutiara O. Panjaitan, Kemampuan Tim Pengembang Kurikulum Merancang Kegiatan Pembelajaran dan Penilaian Kemampuan Tim Pengembang Kurikulum Merancang Kegiatan Pembelajaran dan Penilaian Yang Mengembangkan

Lebih terperinci

Tugas Evaluasi Pembelajaran

Tugas Evaluasi Pembelajaran Tugas Evaluasi Pembelajaran Nama : Yuyun Zulhiyati NIM : 06101011031 Pend. Fisika Taksonomi Tujuan Pendidikan menurut Bloom ( belum revisi) Klsifikasi kemampuan hasil belajar (Benyamin Bloom) : Ranah Kognitif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan

Lebih terperinci

Keberhasilan suatu proses pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa komponen. Dalam prosesnya, siswa dituntut untuk meningkatkan kompetensinya dengan

Keberhasilan suatu proses pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa komponen. Dalam prosesnya, siswa dituntut untuk meningkatkan kompetensinya dengan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan suatu komponen penting dalam mentransformasi pengetahuan, keahlian, dan nilai-nilai akhlak dalam pembentukan jati diri bangsa. Pendidikan

Lebih terperinci

KONSEP DASAR PENILAIAN. Tujuan, Fungsi, Prinsip, Cakupan, Jenis & Teknik Penilaian

KONSEP DASAR PENILAIAN. Tujuan, Fungsi, Prinsip, Cakupan, Jenis & Teknik Penilaian KONSEP DASAR PENILAIAN Pengukuran-Penilaian-Tes-Evaluasi Tujuan, Fungsi, Prinsip, Cakupan, Jenis & Teknik Penilaian Indikator Membedakan pengertian pengukuran, penilaian, tes dan evaluasi Menjelaskan tujuan,

Lebih terperinci

1. PERSOALAN PENILAIAN BELAJAR

1. PERSOALAN PENILAIAN BELAJAR Substansi 1. Identifikasi persoalan penilaian pembelajaran 2. Tujuan penilaian pembelajaran 3. Ranah tujuan penilaian pembelajaran 4. Strategi penilaian pembelajaran 5. Beberapa contoh aplikasi pd aspek

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Media Video Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar Media adalah berbagai jenis komponen

Lebih terperinci

Kurikulum Berbasis TIK

Kurikulum Berbasis TIK PENGEMBANGAN TUJUAN KURIKULUM Tujuan pendidikan menjadi arah semua kegiatan pendidikan termasuk dalam pengembangan kurikulum. Menetapkan dan mengembangkan tujuan merupakan langkah awal dalam mengembangkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Taksonomi SOLO 1. Pengertian Taksonomi Pembelajaran Taksonomi pembelajaran adalah suatu klasifikasi pembelajaran yang digolongkan pada tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif

Lebih terperinci

Penelitian ini mempelajari efektivitas pembelajaran kesebangunan dalam. teori yang relevan antara lain belajar dan pembelajaran matematika, pemecahan

Penelitian ini mempelajari efektivitas pembelajaran kesebangunan dalam. teori yang relevan antara lain belajar dan pembelajaran matematika, pemecahan BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori Penelitian ini mempelajari efektivitas pembelajaran kesebangunan dalam goal free problems secara kolaboratif ditinjau dari kemampuan transfer. Beberapa teori yang

Lebih terperinci

TAKSONOMI BLOOM REVISI RANAH KOGNITIF: KERANGKA LANDASAN UNTUK PEMBELAJARAN, PENGAJARAN, DAN PENILAIAN. Imam Gunawan * Anggarini Retno Palupi **

TAKSONOMI BLOOM REVISI RANAH KOGNITIF: KERANGKA LANDASAN UNTUK PEMBELAJARAN, PENGAJARAN, DAN PENILAIAN. Imam Gunawan * Anggarini Retno Palupi ** TAKSONOMI BLOOM REVISI RANAH KOGNITIF: KERANGKA LANDASAN UNTUK PEMBELAJARAN, PENGAJARAN, DAN PENILAIAN Imam Gunawan * Anggarini Retno Palupi ** Abstract The Cognitive domain of Bloom s taxonomy often serves

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN ANALISIS KONSEP EKONOMI KREATIF MELALUI METODE PEMBELAJARAN RESITASI

PENINGKATAN KEMAMPUAN ANALISIS KONSEP EKONOMI KREATIF MELALUI METODE PEMBELAJARAN RESITASI Peningkatan Kemampuan Analisis (Nanik Sri Setyani) PENINGKATAN KEMAMPUAN ANALISIS KONSEP EKONOMI KREATIF MELALUI METODE PEMBELAJARAN RESITASI Nanik Sri Setyani STKIP PGRI JOMBANG nanik.stkipjb@gmail.com

Lebih terperinci

LEVEL KOGNITIF SOAL PADA BUKU TEKS MATEMATIKA KURIKULUM 2013 KELAS VII UNTUK PENDIDIKAN MENENGAH. Intan Sari Rufiana Universitas Muhammadiyah Ponorogo

LEVEL KOGNITIF SOAL PADA BUKU TEKS MATEMATIKA KURIKULUM 2013 KELAS VII UNTUK PENDIDIKAN MENENGAH. Intan Sari Rufiana Universitas Muhammadiyah Ponorogo LEVEL KOGNITIF SOAL PADA BUKU TEKS MATEMATIKA KURIKULUM 2013 KELAS VII UNTUK PENDIDIKAN MENENGAH Intan Sari Rufiana Universitas Muhammadiyah Ponorogo Email: rufiana13@yahoo.co.id Abstrak Penelitian ini

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari.

II. TINJAUAN PUSTAKA. transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Efektivitas Pembelajaran Suatu cara untuk mengukur efektivitas adalah dengan jalan menentukan transferbilitas (kemampuan memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari. Jika kemampuan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI A.

BAB II KAJIAN TEORI A. BAB II KAJIAN TEORI A. Simbol-simbol Matematika 1. Definisi Matematika Matematika merupakan salah satu ilmu pasti yang wajib dipelajari oleh siswa. Matematika berasal dari bahasa Yunani: mathêmatiká yang

Lebih terperinci

KUALITAS TES UJIAN NASIONAL MATA PELAJARAN MATEMATIKA JENJANG SLTP SE-KABUPATEN KONAWE SELATAN TAHUN AJARAN 2010/2011 DAN TAHUN AJARAN 2011/2012

KUALITAS TES UJIAN NASIONAL MATA PELAJARAN MATEMATIKA JENJANG SLTP SE-KABUPATEN KONAWE SELATAN TAHUN AJARAN 2010/2011 DAN TAHUN AJARAN 2011/2012 KUALITAS TES UJIAN NASIONAL MATA PELAJARAN MATEMATIKA JENJANG SLTP SE-KABUPATEN KONAWE SELATAN TAHUN AJARAN 2010/2011 DAN TAHUN AJARAN 2011/2012 Devi Nopita 1), Anwar Bey 2), Utu Rahim 3) 1) Alumni Program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan matematika merupakan salah satu unsur utama dalam. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hakikatnya matematika

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan matematika merupakan salah satu unsur utama dalam. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hakikatnya matematika 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan matematika merupakan salah satu unsur utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hakikatnya matematika berkedudukan sebagai ilmu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menumbuhkembangkan kemampuan dan pribadi siswa yang sejalan dengan tuntutan

BAB I PENDAHULUAN. menumbuhkembangkan kemampuan dan pribadi siswa yang sejalan dengan tuntutan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika adalah salah satu ilmu dasar yang sangat berperan penting dalam upaya penguasaan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu matematika dipelajari pada semua

Lebih terperinci

Revisi Taksonomi Bloom dan Pengembangan Butir Soal. Ari Widodo Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI

Revisi Taksonomi Bloom dan Pengembangan Butir Soal. Ari Widodo Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI Revisi Taksonomi Bloom dan Pengembangan Butir Soal Ari Widodo Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI Email: widodo@upi.edu Bagi guru dan praktisi pendidikan, kata Jenjang Kognitif atau sering disingkat

Lebih terperinci

BAB II KEMAMPUAN BERTANYA DAN BERKOMUNIKASI SISWA MELALUI METODE FIELD TRIP PADA KONSEP PENCEMARAN LINGKUNGAN

BAB II KEMAMPUAN BERTANYA DAN BERKOMUNIKASI SISWA MELALUI METODE FIELD TRIP PADA KONSEP PENCEMARAN LINGKUNGAN 8 BAB II KEMAMPUAN BERTANYA DAN BERKOMUNIKASI SISWA MELALUI METODE FIELD TRIP PADA KONSEP PENCEMARAN LINGKUNGAN A. Kemampuan Bertanya Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya karena

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP

PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP Rudiansyah Pendidikan Matematika, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan terdiri dari akademik dan non akademik. Pendidikan. matematika merupakan salah satu pendidikan akademik.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan terdiri dari akademik dan non akademik. Pendidikan. matematika merupakan salah satu pendidikan akademik. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus menerus berkembang pesat akan membawa dampak kemajuan pada bidang kehidupan dan teknologi,

Lebih terperinci

MODEL BERPIKIR INDUKTIF:ANALISIS PROSES KOGNITIF DALAM MODEL BERPIKIR INDUKTIF

MODEL BERPIKIR INDUKTIF:ANALISIS PROSES KOGNITIF DALAM MODEL BERPIKIR INDUKTIF MODEL BERPIKIR INDUKTIF:ANALISIS PROSES KOGNITIF DALAM MODEL BERPIKIR INDUKTIF Winahyu Arif Wicaksono, Moh Salimi, Imam Suyanto Universitas Sebelas Maret arifwinahyu@students.uns.ac.id Abstrak Model berpikir

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. kooperatif. Pembelajaran kooperatif berdasarkan pendapat Rusman (2010:

II. TINJAUAN PUSTAKA. kooperatif. Pembelajaran kooperatif berdasarkan pendapat Rusman (2010: II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Banyak ahli yang telah mencoba mengemukakan pengertian pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif berdasarkan pendapat Rusman

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tengertian Belajar Belajar adalah suatu proses yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan

Lebih terperinci

Penanaman Nilai-nilai Keagamaan pada Siswa. Oleh: Siti Bahiroh

Penanaman Nilai-nilai Keagamaan pada Siswa. Oleh: Siti Bahiroh Penanaman Nilai-nilai Keagamaan pada Siswa Oleh: Siti Bahiroh TAKSONOMI TUJUAN PENDIDIKAN (BLOOM) COGNITIVE Knowledge (pengetahuan) Siswa dapat menghafal, menulis dan menerjemahkan surat Al-`Ashr sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mampu mengerjakan dan memahami matematika dengan benar. keadaan di dalam kehidupan sehari-hari dan di dunia yang selalu berkembang

BAB I PENDAHULUAN. mampu mengerjakan dan memahami matematika dengan benar. keadaan di dalam kehidupan sehari-hari dan di dunia yang selalu berkembang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai salah satu disiplin ilmu mempunyai peranan penting dalam menentukan masa depan. Oleh karena itu, pembelajaran matematika di sekolah harus

Lebih terperinci

Membaca mengenai berbagai ekspresi yang dapat diubah menjadi persamaan kuadrat, strategi untuk menyelesaikan

Membaca mengenai berbagai ekspresi yang dapat diubah menjadi persamaan kuadrat, strategi untuk menyelesaikan 3.9 Mendeskripsikan berbagai bentuk ekspresi yang dapat diubah menjadi persamaan kuadrat. 3.10Mendeskripsikan persamaan dan fungsi kuadrat, memilih strategi dan menerapkan untuk persamaan dan fungsi kuadrat

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. Rahmawati, 2013:9). Pizzini mengenalkan model pembelajaran problem solving

BAB II KAJIAN TEORI. Rahmawati, 2013:9). Pizzini mengenalkan model pembelajaran problem solving BAB II KAJIAN TEORI A. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis, Model Pembelajaran Search, Solve, Create and Share (SSCS), Pembelajaran Konvensional dan Sikap 1. Model Pembelajaran Search, Solve, Create and

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pola pikir siswa adalah pembelajaran matematika. Hal ini sesuai dengan yang

BAB I PENDAHULUAN. pola pikir siswa adalah pembelajaran matematika. Hal ini sesuai dengan yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran merupakan suatu proses pembentukan kepribadian dan pola pikir siswa. Salah satu pembelajaran yang mampu membentuk kepribadian dan pola pikir siswa

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. Arthur T. Jersild menyatakan bahwa belajar adalah modification of behavior through experience

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. Arthur T. Jersild menyatakan bahwa belajar adalah modification of behavior through experience BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teoritis 2.1.1 Hakekat Belajar Belajar merupakan komponen ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1. Program Studi Pendidikan Matematika

NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1. Program Studi Pendidikan Matematika PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN SCIENTIFIC LEARNING (PTK Bagi Siswa Kelas VIIG Semester Gasal SMP Negeri 1 Tawangharjo Tahun Ajaran 2013/2014) NASKAH PUBLIKASI

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. interaksi antara seseorang dengan lingkungan. Menurut Sugandi, (2004:10), dirinya dengan lingkungan dan pengalaman.

II. TINJAUAN PUSTAKA. interaksi antara seseorang dengan lingkungan. Menurut Sugandi, (2004:10), dirinya dengan lingkungan dan pengalaman. 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Berbasis Laboratorium Belajar adalah suatu proses yang kompleks terjadi pada setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar berlangsung karena adanya interaksi karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Peran pendidikan sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan dan

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Peran pendidikan sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan terpenting dalam kehidupan manusia. Peran pendidikan sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan dan mengembangkan sumber

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu. Istilah cognitive berasal

BAB II KAJIAN TEORI. perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu. Istilah cognitive berasal BAB II KAJIAN TEORI A. Proses Kognitif Arti kata proses dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah runtutan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu. Istilah cognitive berasal dari kata cognition

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. peningkatan lingkungan belajar bagi siswa. Agar proses belajar. media pembelajaran, khususnya penggunaan komputer.

II. TINJAUAN PUSTAKA. peningkatan lingkungan belajar bagi siswa. Agar proses belajar. media pembelajaran, khususnya penggunaan komputer. 6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoretis 1. Simulasi Dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran perlu adanya usaha peningkatan lingkungan belajar bagi siswa. Agar proses belajar mengajar terlaksana

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Learning Cycle (LC) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. Learning Cycle (LC) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Learning Cycle 5E (LC 5E) Learning Cycle (LC) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student centered). LC merupakan rangkaian tahap-tahap

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Penilaian merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran. Penilaian juga seringkali digunakan sebagai cara untuk mengetahui adanya indikator keberhasilan

Lebih terperinci

1.Identitas mata pelajaran: berisi mata pelajaran yang akan diajarkan, kelas, semester, alokasi waktu yang digunakan dan banyaknya jam pertemuan.

1.Identitas mata pelajaran: berisi mata pelajaran yang akan diajarkan, kelas, semester, alokasi waktu yang digunakan dan banyaknya jam pertemuan. KOMPONEN RANCANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN MELIPUTI: 1. Identitas mata pelajaran 2. Standar kompetensi dan Kompetensi dasar 3. Kemampuan awal dan karakteristik peserta didik 4. Indikator pencapaian 5. Tujuan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Karakteristik Pembelajaran Matematika SD. Pembelajaran matematika pada tingkat SD berbeda dengan pembelajaran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Karakteristik Pembelajaran Matematika SD. Pembelajaran matematika pada tingkat SD berbeda dengan pembelajaran BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Karakteristik Pembelajaran Matematika SD Pembelajaran matematika pada tingkat SD berbeda dengan pembelajaran pada tingkat SMP maupun SMA. Karena disesuaikan dengan perkembangan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN RELEVAN, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN RELEVAN, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 9 BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN RELEVAN, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Kajian Teori 1. Pembelajaran Menurut Syaiful Sagala (2009, hlm. 61) pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan

Lebih terperinci

KEMAMPUAN ANALISIS MAHASISWA PGSD TERHADAP TUJUAN PEMBELAJARAN DIMENSI KOGNITIF PADA MATA KULIAH PERENCANAAN PEMBELAJARAN SD

KEMAMPUAN ANALISIS MAHASISWA PGSD TERHADAP TUJUAN PEMBELAJARAN DIMENSI KOGNITIF PADA MATA KULIAH PERENCANAAN PEMBELAJARAN SD KEMAMPUAN ANALISIS MAHASISWA PGSD TERHADAP TUJUAN PEMBELAJARAN DIMENSI KOGNITIF PADA MATA KULIAH PERENCANAAN PEMBELAJARAN SD Via Yustitia via.yustitia@yahoo.com Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Pembelajaran matematika membutuhkan proses bernalar yang tinggi

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Pembelajaran matematika membutuhkan proses bernalar yang tinggi 7 BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Landasan Teori 1. Pembelajaran Matematika Pembelajaran matematika membutuhkan proses bernalar yang tinggi dalam mengaitkan simbol-simbol dan mengaplikasikan konsep matematika

Lebih terperinci