PERSEPSI KOGNITIF MURNI SERTA BEBERAPA ASPEK YANG BERHUBUNGAN DENGAN STIMULUS RESPON

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERSEPSI KOGNITIF MURNI SERTA BEBERAPA ASPEK YANG BERHUBUNGAN DENGAN STIMULUS RESPON"

Transkripsi

1 PERSEPSI KOGNITIF MURNI SERTA BEBERAPA ASPEK YANG BERHUBUNGAN DENGAN STIMULUS RESPON Persepsi kognitif murni (pure perception) mirip dengan appersepsi,yaitu suatu proses yang sebetulnya berlawanan dengan appersepsi distorsi, contoh hasil karya seni seniman yang berbeda antara yang satu dengan yang lain,walaupun themanya sama. Contoh : Hutan =pohon hijau Hutan =pohon kuning Persepsi kognitif = Tingkah laku yang umumnya rasional atau bias disebut tingkah laku adaptif EKPERIMEN BELLAK Bellak menemukan bahwa subyek lebih sering menunjukkan sifat agresif terhadap obyek yang mengandung unsur agresi,walaupun dalam keadaan biasa menurut individu benda tersebut terlihat biasa Contoh: belati / cerita agresi(kegunaan belati) Apperseptive psycology individu dalam memberikan respon berdasarkan keadaan obyektif tersebut. Oleh Allport disebut adaptive behavior PRINSIP-PRINSIP ADAPTIVE BEHAVIOR 1. Adaptive behavior berbanding terbalik dengan kejelasan stimulus,semakin jelas stimulus semakin kecil variasi adaptive behavior Contoh: tes TAT variasi respon< respon tes RO

2 Tes Proyektif umumnya unstructured,dengan tujuan agar menghasilkan sebanyak mungkin respon apersepsi distorsi 2. Adaptive behavior sangat di tentukan oleh pola Contoh: a. Itu gambar apa? dari pada b. Ceritakan gambar ini Dengan contoh yang di atas sudah terlihat pola (b) lebih banyak variasi daripada pola (a),pola (b) melihat dari sisi subyektif,sedangkan pola (a) melkihat dari sisi obyektif 3. Yang mempengaruhi adaptive behavior adalah kondisi fisik psikis individu, individu yang dalam keadaan normal lebih sedikit variasi adaptive behaviornya daripada yang tidak normal. Contoh:Orang yang lapar respon nya akan terarah ke makanan,beda dengan yang tidak lapar Perbedaan ini disebut oleh Allport Expresive behavior Dapat disimpulkan bahwa Adaptive behavior dan juga Apperception merupakan tingkah laku yang di tekankan pada apa yang dilakukan (obyektif) Expresive behavior merupakan tingkah laku yang di titik beratkan pada perbuatan sebagai reaksi stimulus yang di hadapi.

3 USAHA UNTUK MENYATUKAN KONSEP-KONSEP APPERSEPSI DISTORSI DENGAN KONSEP DASAR PSIKOANALISA Apperceptive psychology dan instrumennya merupakan turunan dari konsep psikoanalisa dan psikologi klinis.tetapi proses penyatutan dua konsep tersebut sering dijumpai ketidak sepakatan pendapat antara dua kelompok, Contoh missal dalam teori Gestalt,khususnya membicarakan learning dan persepsi, sering dijumpai kurangnya integrasi metode pendekatan dari kelompok psikoanalisa dan kelompok non psikoanalisa Konsep psikoanalisa Banyak berkaitan dengan teori belajar Banyak berkaitan dengan sejarah kehidupan,terutama masa lalu Adanya hukum- hukum terjadinya interaktif antara persepsi 2. Fenomena dalam Massa Dalam Massa dapat terjadi apperseptive distortion, dimana individu yang menjadi anggota massa akan memproyerksikan massa sebagai faktor yang melemahkan ego atau super ego,dimana individu mengikuti dinamika massa 3. Proses transference Transference merupakan hubungan antara klien dengan analisnya,disini di tekankan kepada analist agar tidak terlalu memberikan celaan dan pujian.dalam proses transference klien mentransfer sentimennya yang terbentuk dari masa lalu kepada analist.klien sebenarnya mengharapkan celaan,pujian dan hukaman untuk mengurangi kecemasan yang dirasakan,tetapi celaan dan pujian dapat memicu apperseptive distortion,yang mana banyak hal yang terjadi klient mempunyai perasaan terhadap analist,karena klient memandang analist dengan parental images yang di dapat waktu masa kecil.

4 4. Pada Penderita Psikosis Psikosis adalah orang yang mengalami keadaan dimana jiwanya tergoncang,mengalami halusinasi,emosi tidak stabil mudah berbuat hal-hal yang bersifat appersepsi distorsi. Dimana hal ini di pengaruhi pengalaman masa lalu yang ditekan ke daerah ketidak sadaran,sehingga control ego yang lemah dan mengganggu aktivitas individu 5. Proses Dalam Terapi Menurut psikoanalisa ada 4 tahap: a. Komunikasi Dengan cara ini therapist berusaha menemukan element-element terkecil(denominator)yang menyebabkan timbulnya tingkah laku yang disebut COMMON DENOMINATION. b. Interpretasi Setelah menemukan denominator pada pasien maka di dapatkan polapola tingkah laku yang salah,kemudian terapis berusaha memperlihatkan kepada pasien tingkah laku yang salah agar pasien menyadari dan menguranginya,ada 3 tahap dalam interpretasi yaitu: 1. Horisontal study Mencari common denomination dari tingkah laku yang berhungan dengan interpersonalnya 2. Vertical study Studi ini menitik beratkan pada pengalaman masa lalu 3. Relationship to the Therapist Dalam usaha melacak kehidupan pasien sangat besar bantuan hubungan pasien dengan terapis,sehingga diperlukan analisa terhadap situasi transference c. Insight Insight merupakan keadaan dimana si pasien menyadari akan dirinya sakit,proses insight dapat di analisis dari 2 segi yaitu; 1. Intellectual insight

5 Disini pasien memperlihatkan proses berfikir sehingga dapat mempelajari dan bertingkah laku yang lebih baik. 2. Emotional Insight Pasien mampu memperlihatkan perasaan sebagai kelanjutan dari Intelektual insight d. Working Through Merupakan realisasi dari Insight,dimana klien di minta untuk menguasai konflik-konflik yang membawa dia kepada terapis Realisasi Working Through tidak lepas dari: 1. Kognisi (secara intelektual) Secara intelektual klien memahami danmengaplikasikan apa yang sudah di pelajari dari terapis,sehingga dia dapatmenyesuaikan dirinya dengan beberapa kondisi 2. Emosi (secara therapeutic) Tingkah laku emosional dalam bentuk transferan oleh klien supaya di terapkan dalam kehidupan sehari-hari 3. Konasi ( secara behavioral) Dengan mental set yang baru,klien menghadapi berbagai masalah dengan cara dianalisa seksamadan diselesaikan dengan adjustment yang kontan dan readjustment antara mental set dan realita

6 PENDEKATAN TERHADAP KEMUNGKINAN PROYEKTIF Psikologi Proyektif merupakan protes terhadap aliran bersifat struktualism dan kurang mengenal kehidupan psikis terlalu mendalam, dalam perkembangannya psikologi proyektifd ad 2 tipe pendekatan yaitu: 1. Behavioral Approach Mementingkan yang tampak dari luar dan melupakan peranan ketidaksadaran yang berperan menentukan struktur pribadi individu Hanya mendasarkan pada tingkah laku dan sifat hubungannya,yang bersifat konstan Hanya berkembang pada pendekatan kuantitatif dan sifatnya obyektif Memunculkan psikotest yang sifatnya kuantitatif dan bersifat eksak Misal : Tes Intelegensi 2. Functional Approach Memandang tingkah laku manusia yang bersifat dinamis dan aktif,dengan tujuan dapat menyesuaikan diri dengan sekitar Lebih memperhatikan hal- hal internal yang tidak disadari justru mempengaruhi bperbuatan yang sifatnya proyeksi Berkembang ke pendekatan kuantitatif dan melahirkan instrument tes yang bersifat subyektif dan proyektif Catatan:Keduanya mempunyai peran yang penting dan saling mengisi

7 SIFAT DAN KLASIFIKASI TEST PROYEKTIF Sebenarnya setiap orang memproyeksikan bagian dari dirinya dalam tingkah laku sehari-hari,melalui aktivitasnya dapat diketahui jiwa seseorang, Setelah dilakukan eksperiman detemukan autistic perception yaitu proses peningkatan efisiensi kognitif dalam ego dengan tujukan untuk meredakan depresi yang dialaminya. Prinsip dasar Banyak bidang yang bisa digunakan dalam test proyektif, dengan sarat harus memiliki priunsip dasar tes proyektif, ciri- cirinya: 1. Bersifat Unstruktur Mempunyai efek subyektif dan memiliki alternatif pilihan yang banyak 2. Bersifat Ambiguous Memungkinkan seseorang memproyeksikan need,emosi dan perasaan tanpa disadari dan memberikan jawaban dangan interpretasinya sendiri 3. Bersifat Global Approach Hal ini disebabkan karena obyek yang relatif mengakibatkan terjadi perbedaan kesimpulan 4. Bersifat Berkesimpulan Luas Mengakibatkan validitas dan rellabilitas tes proyektif jauh lebih sulit. Oleh karena itu dituntut betul betul menguasiai teorinya Sifat- sifat lain Test Proyektif Ciri ciri test proyektif hanya dimiliki test TAT,yaitu : 1. Poly valensi Test tersebut dapat disajikan dalam berbagai situasi, missal :figur/ manusia kabur latar belakang jelas atau sebaliknya 2. Poly Semi Klien harus dapat memberikan kepastian atau kejelasan pada gambar yang kabur 3. Mono semi

8 Kalau kedua gambarnya sama jelasnya,maka kemungkinan respon testee relative sama 4. A- semi Apabila kedua gambarnya kabur,maka akan mengakibatkan timbulnya variasi jawaban yang banyak dan ini adalah sifat yang baik karena dapat mengungkap lebih dalam aspek- aspek ketidaksadaran dalam diri individu Klasifikasi Test Proyektif Ada 2 macam metode yaitu : L.K.FRANK: menganalisa sifat respon yang diberikan subyek ZUBIN : melakukan klasifikasi dengan asumsi dasar sifat materi test Klasifikasi Frank ada 5 yaitu: Teknik Konstitutif : testee dihadapkan pada situasi materi yang belum berstruktur dan diharapkaan subyek mengaturnya menjadi berstruktur missal :tes wartegg,dct,tes Ro Teknik Konstruktif : Subyek diminta membuat sesuatu dari materi yang relative belum terbentuk,missal : Mozaic tes,block design, Human figure drawing. Teknik Interpretatif : subyek dihadapkan pada materi, kemudian menginterpretasikan stimulus dengan alasan masing masing. MISAL : TAT, CAT, Word Associate, SSCT Teknbik Katartif : Subyek diharapkan memberikan reaksi,.dari reaksi ini diharapkan segala hambatan psikis yanga ada pada individu bias di ekspresikan sehingga timbul efek-efek seperti (kelegaan,ketenangan, dan lain-lain)misal: play technique, psikodrama, role playing Teknik Refraktif : Subyek dihadapkan pada materi,dan diharapkan dapat meng ekspresikan kebutuhan,perasaan, dan sentiment melalui tingkah laku, oleh Allport disebut metode ekspresif. Misal: graphology test,bender Gestalt, Baum Test

9 Dari ke 5 macam klasifikasi di atas ada overlap diantara satu sma lainnya,yang jelas dalam teknik-teknik ini mendasarkan pada visual dalam sifat- sifatnya dan ini sesuai dengan syarat- syarat tes proyektif Klasifikasi WUND lebih sederhana ada 2 yaitu : Impressi: subyek menjelaskan pengalaman yang berkesan.misal :EPPS(buat jawaban ya atau tidak) Expressi: proses dan penyesuaian individu terhadap lingkungan Teknik ini didapatkan Wund terhadap feeling, emotion dan adjustment,sedangkan klasifikasi yang dikemukakan oleh Lindzey lebih menekankan pada jawaban ada 5 macam yaitu: Teknik assosiasi :subyek dihadapkan pada materi dan diminta merespon stimulusnya yang pertama kali muncul dalam pikiran missal: tes Ro,SSCT Teknik Konstruksi : subyek menyusun cerita bergambar,sehingga gambar menghasilkan cerita,disini subyek dituntut kreatifitasnya, missal: TAT,CAT,TAT model M Clelland,MAPS Teknik Completion:subyek diberikan materi yang tidak berstruktur dan diminta untuk melengkapi materi(kalimat atau cerita) yang belum lengka.penyekoran relatif lebih sederhana,missal SSCT,Wartegg Teknik Choise or Ordering : Subyek disodorkan materi dan disuruh memilih beberapa alternatif yang sudah disediakan. Misal: study of values(allport, Vermon, Lyndzey dengan dasar teori dari E.Spanger) tes ini ada 2 yaitu: 1. Masalah umpan jawaban(a,b,c,d) Tugas subyek:mengurut jawaban. Misal : no. 1-a,2-b,3-c dst 2. Ingin mengukur tingkat need berprestasi seseorang. Bentuknya seperangkat gambar dan subyek diminta mengurutkan Teknik Expressive : Subyek diberi materi kasar dan diminta membentuk materinya, yang diutamakan cara mengerjakan,bukan hasilnya,karena disini subyek diharapkan ekpresi need, emosi, motif. Misal : role playing, menggambar, bermain

10

11 BEBERAPA PANDANGAN TENTANG PROYEKSI Pandangan Tentang Proyeksi Ada 3 macam pandangan tentang proyeksi: 1. Proyeksi = pengamatan normal yang berwujud perpindahan penghayatan dari individu ke dunia luar/ orang lain dan saling mempengaruhi hasil pengamatan individu dengan kenyataan obyektif yang ada di dunia luar 2. Proyeksi = gejala yang mengarah pada halusinasi,sesuatu yang ada pada individu diproyeksikan dalam bentuk sesuatu 3. Proyeksi = gejala yang mengarah pada ilusi, dua pengamatan individu diorganisir berdasarkan prinsip afeksi, sehingga ada pengaruh emosi, missal adanya harapan kuat individu yang mempengaruhi pengamatan Corak corak proyeksi meliputi: a. Dimana individu dilibatkan pada orang lain dan tidak mengikutsertakan orang tersebut dalam diri sendiri b. Proyeksi yang bersifat timbal balik antara individu dengan orang lain atau dunia luar yang di proyeksikan. Misal :orang yang berbuat salah, kemudian melihat orang lain yang dapat dikenai kesalahan itu dan menganggap orang lain tersebut yang menyalahkan dirinya c. Proyeksi diarahkan secara afeksi kepada orang lain dan dirinya sendiri. Missal :A simpati pada B Terjadinya Proyeksi B menganggap A mencintainya 1. PENOLAKAN: orang yang ingin meringankan beban tetapi memanifestasikan dengan penolakan keinginan yang sudah ada. Misal : Seseorang yang ingin menjadi dosen tetapi tidak diterima saya memang tidak ingin jadi dosen kok,maka tidak serius waktu tes

12 2. Suatu usaha pendekatan pada diri seseorang: pendekatan subyek dengan subyek yang lain yang sebelumnya ada pemutusan hubungan. Misal: Orang yang putus dan ingin kembali menjalin asmara dengan kekasihnya lagi 3. Merupakan bentuk hubungan antara subyek dengan obyek: suatu kesatuan yang terjadi bukan karena komunikasi, tetapi didasari emosi. Misal: seseorang yang ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain.

13 TEKNIK PROYEKTIF Teknik proyektif merupakan cara pengungkapan motif, nilai, keadaan emosi, need yang sukar diungkapkan dalam keadaan wajar,dengan cara subyek diberikan gambar yang ambiguous,kemudian subyek memberikan respon pada stimulus,dan tanpa disadari dalam respon tersebut subyek memproyeksikan dorongan yang ada pada dirinya melalui koreksidangan tuntunan yang bersifat eksternal.menurut Murray reaksi individu terhadap stimulus ambiguous tersebut merupakan kerjasama antara need dan press yang disebut thema Ada 2 macam teknik/ metode proyektif, yaitu: 1. Teknik Verbal: materi dan komunikasi antara tester dan testee atau respon subyek berwujud verbal( lisan atau tulisan) 2. Teknik Non Verbal: materi bukan dalam bentuk bahasa, bahasa hanya berperan sebagai media komunikasi antara tester dan testee Dalam teknik proyeksi verbal dan noverbal, keduanya banyak membutuhkan respon verbal. Tetapi dalam teknik non verbal yang banyak ditekankan adalah performance atau ekspresi. Sebaliknya dalam teknik verbal, stimulus yang diberikan juga berbentuk verbal. Jawaban yang diharapkan dari subyek juga menitikberatkan pada sejauh mana kemampuan subyek dalam menggunakan bahasa. Teknik Verbal Bentuk jawaban teknik verbal ada dua macam. Bentuk oral (wawancara) dan bentuk tulisan yaitu dengan meneruskan essay. Kelemahan yang dimiliki teknik ini adalah teknik ini hanya bias digunakan kepada mereka yang mempunyai kemampuan verbal. Orang bisu, buta huruf, atau mereka yang berpendidikan rendah.

14 Sejarah Timbulnya tes verbal Metode asosiasi bebas, teknik verbal belum berupa tulisan. Selanjutnya Galton (1829) menggunakan 75 kata yang masing-masing tertulis dalam sebuah karton, dan testee diharapkan langsung merespon dengan sebanyak-banyaknya kata. Kemudian Wund mengadakan perbaikan yaitu subyek hanya diperbolehkan menjawab satu respon saja. Kemudian muncul Cattle dan Jung yang muncul dengan alat tesnya. Rappaport menggunakan 60 kata yang didasarkan pada psikoanalisa. Kent dan Roranoff mengembangkan tes asosiasi kata-kata. Macam-macam Tes Verbal 1. SSCT Pengembangan dari teknik kata-kata Dibuat oleh Joseph Sacks & Sidney Levy di New York Sifat: sederhana, fleksibel, interpretasinya mudah dan dapat dipakai pada ranah pendidikan dan klinis. Bentuk: terdiri dari 60 kalimat. Sifat anstruktur pada kalimat yang belum selesai harus subyek selesaikan. Instruksi: selesaikan kalimat-kalimat ini secepat mungkin yaitu setelah anda selesai membaca kalimat-kalimat yang telah disediakan. Jangan berhenti terlalu lama untuk melanjutkan kalimat tersebut. Dalam menyelesaikan kalimat tersebut, dengan apa yang pertama kali muncul dari pikiran anda. Tujuan tes: mengungkap kemungkinan kegagalan individu dalam menyesuaikan diri Karena melum ada standarisasi, maka SSCT perlu rater pembanding dan alat tes pembanding guna memperkuat hasil yang telah didapat. Alat ini juga dapat mengetahui tingkah laku apakah respensif atau tidak terhadap lingkungan. 2. EPPS Tujuan tes: mengungkap needs manusia

15 Power tes yang menekankan penyelesaian tugas tanpa membatasi waktu Bias dilakukan secara individual maupun klasikal Ditunjukkan untuk ilmu pengetahuan, penelitian personal variable dan kemudian digunakan untuk konseling Orientasi: orang-orang normal Untuk mengungkap 15 Needs Penyusunannya berdasarkan tes yang dibuat Murray yang mengungkap 20 Needs Terdiri dari pandangan-pandangan pernyataan. Ada 15 pasangan pernyataan yang sama dan diatur sedemikian rupa sehingga tidak menyolok. Ini berguna untuk mengetahui kesungguhan dalam mengerjakan tes. Syarat untuk bias diskor: minimal 9 pasang sama. Jika kurang dari itu, maka tes harus diulang. Kelemahan: o Kecenderungan testee menjawap atas social desirability o Sifat dualism. Dimana dalam skoring dibutuhkan table persentil yang berdasarkan rata-rata populasi, tapi hasil yang didapat tidak bias dibandingkan dengan orang lain. o Disebut juga Forced choice. Karena subyek dipaksa hanya memilih jawaban yang ada saja. o Hasil akhir ditentukan oleh profil kebutuhan o Bersifat IPSATIVE yaitu need seseorang tidak bias dibandingkan dengan needs orang lain 3. MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) Sering digunakan untuk kepentingan klinis Digunakan oleh individu usia tahun Terdiri dari 556 item Subyek diminta mengelompikkan item dalam golongan benar atau salah Pencipta: Hath Ways dan Mc Kinley Tes verbal lainnya seperti Kuder, SOV Teknik Non Verbal

16 Asumsi diciptakannya tes non verbal ini adalah bahwa individu memerlukan kebebasan untuk mengekspresikan diri. Biasanya berupa rangsang berbentuk gambar yang sangat ambigu. Individu akan mencoba menerapkan persepsinya yang yang sudah dipengaruhi oleh berbagai pengalaman dai masa lampau. Contoh tes non verbal seperti TAT, CAY, Draw a Man, dan Wartegg. Tes proyektif yang bersifat non verbal lainnya adalah seperti: 1. CATH (Chlid Apperception Test Human) 2. CATS (Child Apperception Test Supplement) 3. SAT (Senior Apperception Technique) 4. GPPT (Group Personality Projective Test) 5. Szondy Test Tes proyektif yang berupa goresan tangan adalah; 1. Tes Grafis 2. Tes Wartegg 3. Goodenough-Harris Drawing Test 4. VMI 5. Bender Gestalt Tes proyektif yang berupa bercak adalah: 1. Tes Rorschach 2. HIT (Holtzman Inkblot Technique) PENGGUNAAN TES PROYEKTIF Dalam Bidang klinis Dalam bidang klinis, tes proyektif sering digunakan sebagai alat untuk penelitian kepribadian, diagnosis, dan psikoterapi. Dengan demikian memungkinkan untuk dilakukannya revisi terhadap alat tersebut. Tes proyektif yang digunakan biasanya sudah familiar atau sudah dipahami dengan baik kegunaanya. Dalam Bidang Non Klinis Selain digunakan dalam bidang klinis, tes ini juga digunakan dalam bidang non klinis. Misalnya dalam bidang industry organisasi, pendidikan, social, serta

17 dalam bidang penelitian tindakan.tes dalam teknik proyektif memiliki keunggulan dapat memunculkan respon spontan. Karena pada umumnya tes proyektif dibuat sedemikian rupa sehingga bersifat ambiguous. Stimulus yang demikian akanm erangsang subyek untuk memberikan respon yang sesuai dengan apa yang dirasakannya tanpa merasa terpaksa atau khawatir terhadap akibat dari respon yang diberikan.

A. Klasifikasi Pendekatan Menurut Northrop

A. Klasifikasi Pendekatan Menurut Northrop BAB III Berkembangnya proyektif sbg protes terhadap teori yang bersifat Strukturalism & Behaviorism, yang memandang manusia sebagai suatu kumpulan dari berbagai aspek. 1 A. Klasifikasi Pendekatan Menurut

Lebih terperinci

PENGGUNAAN TES PROYEKSI

PENGGUNAAN TES PROYEKSI PENDEKATAN DALAM TES PROYEKSI Pendekatan dalam tes proyeksi adalah cara individu untuk mendekati suatu situasi. Pemeriksa harus percaya bahwa cara pendekatan yang dilakukan individu adalah yang dinilai

Lebih terperinci

Tes Inventori: SSCT. Modul ini akan menjelaskan tentang cara pengadministrasian dan skoring tes SSCT (Saks Sentence Completion Test)

Tes Inventori: SSCT. Modul ini akan menjelaskan tentang cara pengadministrasian dan skoring tes SSCT (Saks Sentence Completion Test) Modul ke: Tes Inventori: SSCT Modul ini akan menjelaskan tentang cara pengadministrasian dan skoring tes SSCT (Saks Sentence Completion Test) Fakultas PSIKOLOGI Karisma Riskinanti, M.Psi., Psi. Program

Lebih terperinci

TEKNIK PEMERIKSAAN PSIKOLOGI (DITINJAU DARI SEGI PENDEKATAN)

TEKNIK PEMERIKSAAN PSIKOLOGI (DITINJAU DARI SEGI PENDEKATAN) TEKNIK PEMERIKSAAN PSIKOLOGI (DITINJAU DARI SEGI PENDEKATAN) Tiga kelompok teknik pemeriksaan (Sundberg, 1977) 1. Teknik behavioral 2. Teknik objektif 3. Teknik proyektif Teknik pemeriksaan Teknik behavioral

Lebih terperinci

Konteks assessment dan Klasifikasi Pemeriksaan Psikologis

Konteks assessment dan Klasifikasi Pemeriksaan Psikologis Konteks assessment dan Klasifikasi Pemeriksaan Psikologis Pengukuran Aspek2 Psikologik Dalam psikodiagnostik, kepribadian individu dapat diketahui melalui: 1) Aspek2 yg dicari dalam lingkungannnya (interpsikis)

Lebih terperinci

Nursakinah Oktaviana Sasmita, S.Psi, M.Si

Nursakinah Oktaviana Sasmita, S.Psi, M.Si Modul ke: DAP (Draw A Person) Fakultas PSIKOLOGI Nursakinah Oktaviana Sasmita, S.Psi, M.Si Program Studi Tes Proyektif SEJARAH DAP Sejarah Perkembangan Tes DAP Tes DAP (Draw A Person) atau juga sering

Lebih terperinci

PROFISIENSI PRESTASI TERSTANDAR TIDAK TERSTANDAR

PROFISIENSI PRESTASI TERSTANDAR TIDAK TERSTANDAR PENGANTAR TES Pengertian Tes Tes merupakan salah satu cara untuk mendapatkan informasi tentang tingkah laku atau hasil belajar siswa (Elliott, 1999) Tes merupakan rangkaian prosedur tes dari administrasi

Lebih terperinci

Pengertian Pengukuran

Pengertian Pengukuran KONSEP DASAR TES Pengertian Pengukuran Proses untuk mengkuantifikasikan suatu gejala/atribut kuantifikasi terhadap karakteristik manusia melalui prosedur dan aturan yang sistematis Pemaknaan angka sebagai

Lebih terperinci

PEDOMAN PRAKTIKUM PSIKODIAGNOSTIK: TES PROYEKTIF

PEDOMAN PRAKTIKUM PSIKODIAGNOSTIK: TES PROYEKTIF PEDOMAN PRAKTIKUM PSIKODIAGNOSTIK: TES PROYEKTIF PENDAHULUAN Kegiatan praktikum dalam mata kuliah psikodiagnostik diperlukan sebagai upaya untuk membekali mahasiswa agar memiliki kompetensi afektif dan

Lebih terperinci

C. Teknik-teknik Gambar

C. Teknik-teknik Gambar C. Teknik-teknik Gambar 1. Thematic Apperception Test (TAT) Dikembangkan oleh Henry Murray Stimulusnya lebih terstruktur dan meminta respon verbal yang lebih kompleks & terorganisasi secara bermakna Terdiri

Lebih terperinci

KONSEP DASAR TES. Oleh Farida Agus Setiawati, M.Si.

KONSEP DASAR TES. Oleh Farida Agus Setiawati, M.Si. KONSEP DASAR TES Oleh Farida Agus Setiawati, M.Si faridaagus@yahoo.co.id Pengertian Pengukuran Proses untuk mengkuantifikasikan suatu gejala/atribut kuantifikasi terhadap karakteristik manusia melalui

Lebih terperinci

DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id Mail :

DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id Mail : ASESMEN DALAM PSIKOLOGI KLINIS DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id Mail : dita.lecture@gmail.com PENGERTIAN Evaluasi sistematis dan pengukuran faktor psikologis, biologis dan sosial dari

Lebih terperinci

CLINICAL CHILD PSYCHOLOGY ISU UNIK PADA PSIKOLOGI KLINIS ANAK

CLINICAL CHILD PSYCHOLOGY ISU UNIK PADA PSIKOLOGI KLINIS ANAK CLINICAL CHILD PSYCHOLOGY ISU UNIK PADA PSIKOLOGI KLINIS ANAK Psikologi Klinis berpijak pada jalur akademik dan praktik. Klinik pertama yang didirikan witmer adalah untuk membantu anak-anak yang mempunyai

Lebih terperinci

Tes Inventory. Pengertian Personality Test, Proses Asesmen, Aspek yang Diukur. Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI

Tes Inventory. Pengertian Personality Test, Proses Asesmen, Aspek yang Diukur. Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI Modul ke: Tes Inventory Pengertian Personality Test, Proses Asesmen, Aspek yang Diukur Fakultas PSIKOLOGI Maria Ulfah, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Personality Test Dalam

Lebih terperinci

Modul ini akan menjelaskan tentang cara pengadministrasian dan skoring tes MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory

Modul ini akan menjelaskan tentang cara pengadministrasian dan skoring tes MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory Modul ke: Tes Inventori: MMPI Modul ini akan menjelaskan tentang cara pengadministrasian dan skoring tes MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory Fakultas PSIKOLOGI Karisma Riskinanti, M.Psi.,

Lebih terperinci

PERSONALITY : OVERVIEW. Novia sinta R

PERSONALITY : OVERVIEW. Novia sinta R PERSONALITY : OVERVIEW Novia sinta R PENGERTIAN KEPRIBADIAN Meskipun sulit mendefinisikan kepribadian Biasanya dibedakan mnrt 2ciri : 1. konsisten : orang memiliki sifat yg melekat & pola tindakan yg muncul

Lebih terperinci

MODUL VII COGNITIVE THERAPY AARON BECK

MODUL VII COGNITIVE THERAPY AARON BECK www.mercubuana.ac.id MODUL VII COGNITIVE THERAPY AARON BECK Aaron Beck adalah psikiater Amerika yang merintis penelitian pada psikoterapi dan mengembangkan terapi kognitif. Ia dianggap sebagai bapak cognitive

Lebih terperinci

EPPS. EPPS-Kusrohmaniah

EPPS. EPPS-Kusrohmaniah EPPS EPPS-Kusrohmaniah Tes kepribadian Teknik proyeksi tidak terstruktur : Rorschach (populer awal abad 20an tapi lalu menurun popularitasnya) Teknik terstruktur : misal self-report inventories dan behavioral

Lebih terperinci

Rahasia Psikotest terbongkar [buat yg mw nglamar kerja masuk]

Rahasia Psikotest terbongkar [buat yg mw nglamar kerja masuk] Rahasia Psikotest terbongkar [buat yg mw nglamar kerja masuk] Buat agan2 yang mw ngelamar kerja, ni ane dapat bocoran dari teman ane yang staff HRD dari perusahaan ternama. Dia mau bocorin gimana tips

Lebih terperinci

Alat Ukur Kepribadian

Alat Ukur Kepribadian Kita telah membahas mengenai metode pengukuran kepribadian. Dalam melakukan pengukuran kepribadian, kita membutuhkan alat ukur kepribadian. Alat ukur tersebut dapat berupa panduan wawancara, panduan observasi,

Lebih terperinci

Self-Report Personality Inventories. Kuliah 13 PD I

Self-Report Personality Inventories. Kuliah 13 PD I Self-Report Personality Inventories Kuliah 13 PD I Pengantar Personality test : instrument yang digunakan untuk mengukur emosi, motivasi, hubungan interpersonal, dan sikap dari seorang individu. Self report

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Tes psikologi merupakan alat yang digunakan oleh Psikolog dalam

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Tes psikologi merupakan alat yang digunakan oleh Psikolog dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekarang ini tes Psikologi bukan merupakan hal yang asing lagi bagi masyarakat. Tes psikologi merupakan alat yang digunakan oleh Psikolog dalam melakukan penilaian

Lebih terperinci

ASESMEN KLINIS. DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id

ASESMEN KLINIS. DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id ASESMEN KLINIS DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id PENGERTIAN Evaluasi sistematis dan pengukuran faktor psikologis, biologis dan sosial dari individu yang memungkinkan terjadinya gangguan

Lebih terperinci

Metode-metode dalam Psikologi. By Hiryanto, M.si.

Metode-metode dalam Psikologi. By Hiryanto, M.si. Metode-metode dalam Psikologi Metode-metode dalam Psikologi Untuk menyelidiki obyek psikologi dibutuhkan metode Obyek psikologi sifatnya hidup dan dinamis, sehingga dibutuhkan metode yang sesuai dengan

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN-FAKULTAS PSIKOLOGI- UNIVERSITAS GUNADARMA MATA KULIAH : PSIKOLOGI UMUM 2 * KODE MATAKULIAH / SKS = MKK / 3 SKS

SATUAN ACARA PERKULIAHAN-FAKULTAS PSIKOLOGI- UNIVERSITAS GUNADARMA MATA KULIAH : PSIKOLOGI UMUM 2 * KODE MATAKULIAH / SKS = MKK / 3 SKS TIU : Agar mahasiswa mampu memahami beberapa teori tentang sikap, motivasi, dan emosi, proses berpikir dan faktor-faktor yang mempengaruhi, serta abnormalitas (penyimpangan) perilaku Mingg u ke Pokok Bahasan

Lebih terperinci

A. Pedoman Wawancara

A. Pedoman Wawancara LAMPIRAN A. Pedoman Wawancara PEDOMAN WAWANCARA A. Menggali Emosi Outgoing Emosi Seklusif 1. Berapa banyak teman dan sahabat yang anda miliki? 2. Bagaimana hubungan anda dengan teman-teman anda? 3. Saat

Lebih terperinci

NO KESAN/DETAIL DESKRIPSI ANALISIS 1. Garis Penarikan satu kali garis pada bagian cabang, Garis tipis yang dipertebal pada bagian batang

NO KESAN/DETAIL DESKRIPSI ANALISIS 1. Garis Penarikan satu kali garis pada bagian cabang, Garis tipis yang dipertebal pada bagian batang LAPORAN TES KEPRIBADIAN (TES GRAFIS) BAUM, DAP, dan HTP a. Tes Kepribadian (Tes Grafis) Nama alat tes : BAUM Tujuan : Mengetahui karakter dan kepribadian seseorang berdasarkan fungsi Id, Ego, Super Ego

Lebih terperinci

PERSONALITY AND PREFERENCE INVENTORY

PERSONALITY AND PREFERENCE INVENTORY LABORATORIUM LANJUT PSIKOLOGI PERSONALITY AND PREFERENCE INVENTORY (PAPI) KOSTICK 2015/2016 PERSONALITY AND PREFERENCE INVENTORY (PAPI) KOSTICK I. Sejarah PAPI ( Personality and Preference Inventory) adalah

Lebih terperinci

MODEL TERAPI KONSELING. Teori dan Praktek

MODEL TERAPI KONSELING. Teori dan Praktek MODEL TERAPI KONSELING Teori dan Praktek Ragam model terapi konseling Terapi Psikoanalitik / Freud, Jung, Adler Terapi Eksistensial humanistik / May, Maslow, Frank Jourard Terapi Client-Centered / Carl

Lebih terperinci

INTERVENSI DALAM PSIKOLOGI KLINIS. DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id

INTERVENSI DALAM PSIKOLOGI KLINIS. DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id INTERVENSI DALAM PSIKOLOGI KLINIS DITA RACHMAYANI, S.Psi., M.A dita.lecture.ub.ac.id dita.lecture@gmail.com INTERVENSI? Penggunaan prinsip-prinsip psikologi untuk menolong orang mengalami masalah-masalah

Lebih terperinci

Penilaian Hasil Belajar Budi Astuti, M.Si (NIP )

Penilaian Hasil Belajar Budi Astuti, M.Si (NIP ) Penilaian Hasil Belajar Budi Astuti, M.Si (NIP. 3239829) Lampiran-2. KISI KISI SOAL OBYEKTIF Program studi : Bimbingan dan Konseling Mata Kuliah : Psikologi Umum Semester/Tahun : Satu (Gasal) /2006 Lama

Lebih terperinci

DAFTAR INVENTARIS ALAT TES LABORATORIUM PSIKOLOGI

DAFTAR INVENTARIS ALAT TES LABORATORIUM PSIKOLOGI DAFTAR INVENTARIS ALAT TES LABORATORIUM PSIKOLOGI NO NAMA ALAT FUNGSI INTELEGENSI 1 WAIS Tes inteligensi usia 16 tahun ke atas, individual. 2 BINET Tes inteligensi anak usia 2-12 tahun, individual. 3 WPPSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gangguan perkembangan seseorang bisa dilihat sejak usia dini, khususnya pada usia

BAB I PENDAHULUAN. Gangguan perkembangan seseorang bisa dilihat sejak usia dini, khususnya pada usia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dipandang sebagai proses yang dinamis yang dipengaruhi oleh sifat bakat seseorang dan pengaruh lingkungan dalam menentukan tingkah laku apa yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah

BAB I PENDAHULUAN. semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan jaman yang semakin maju menuntut masyarakat untuk semakin menyadari pentingnya mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Salah satu tujuan seseorang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam metode penelitian ini diuraikan mengenai identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, populasi dan metode pengambilan sampel, metode pengumpulan

Lebih terperinci

DAFTAR HARGA ALAT TES PSIKOLOGIS

DAFTAR HARGA ALAT TES PSIKOLOGIS Instruksi Umum pengantar psikotes 0000-97,000 lembar a. DAFTAR HARGA ALAT TES PSIKOLOGIS (Berlaku mulai Juni 00) Army Alpha Intelligence Test a. Instruksi Army Alpha 00-96,000 lembar b. Formulir Army Alpha

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa, salah satu dari tugas perkembangan kehidupan sosial remaja ialah kemampuan memahami

Lebih terperinci

Psikologi Kepribadian I Analytical Psychology Carl Gustav Jung

Psikologi Kepribadian I Analytical Psychology Carl Gustav Jung Modul ke: Fakultas Psikologi Psikologi Kepribadian I Analytical Psychology Carl Gustav Jung Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Manusia dalam Pandangan Carl G. Jung

Lebih terperinci

Psikologi Konseling Psychoanalysis Therapy and Person Center Therapy

Psikologi Konseling Psychoanalysis Therapy and Person Center Therapy Modul ke: Fakultas Psikologi Psikologi Konseling Psychoanalysis Therapy and Person Center Therapy Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Psychoanalysis Therapy

Lebih terperinci

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

PSIKOLOGI PENDIDIKAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN POKOK-POKOK BAHASAN Pengantar Gejala Jiwa dalam Pendidikan Perbedaan Individu dan Aplikasinya dalam pendidikan Masalah Belajar Masalah Pembelajaran Pengukuran dan Penilaian Diagnostik

Lebih terperinci

TEORI ORGANISMIK KURT GOLDSTEIN

TEORI ORGANISMIK KURT GOLDSTEIN 1878-1965 TEORI ORGANISMIK KURT GOLDSTEIN 1 Kurt Goldstein Teori organismik / holistik (holism : holos :Yunani = lengkap, utuh, seluruhnya). Gestalt : wertheimer, Koffka & Kohler menentang Wundt. Bertolak

Lebih terperinci

Tes Inventori: EPPS Test

Tes Inventori: EPPS Test Modul ke: Tes Inventori: EPPS Test Modul ini akan menjelaskan tentang cara pengadministrasian dan skoring tes EPPS Fakultas PSIKOLOGI Karisma Riskinanti, M.Psi., Psi. Program Studi PSIKOLOGI www.mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

TES PSIKOLOGIS (TES KRAEPELIN) Dra. Hj. SW. Indrawati, M.Pd., Psi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP UPI Bandung

TES PSIKOLOGIS (TES KRAEPELIN) Dra. Hj. SW. Indrawati, M.Pd., Psi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP UPI Bandung TES PSIKOLOGIS (TES KRAEPELIN) Dra. Hj. SW. Indrawati, M.Pd., Psi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP UPI Bandung TES KRAEPELIN Dibuat oleh seorang psikiater bernama Kraepelin, dan mulamula

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tujuan pendidikan banyak bergantung pada proses belajar yang dialami siswa

BAB I PENDAHULUAN. tujuan pendidikan banyak bergantung pada proses belajar yang dialami siswa 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Seluruh proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok, ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak

Lebih terperinci

KEEFEKTIFAN METODE INSIDE OUTSIDE CIRCLE

KEEFEKTIFAN METODE INSIDE OUTSIDE CIRCLE JURNAL KEEFEKTIFAN METODE INSIDE OUTSIDE CIRCLE DALAM BIMBINGAN KELOMPOK UNTUK MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL PADA SISWA KELAS VIII B SMP ISLAM NGORO JOMBANG TAHUN AJARAN 2016 2017 The Effectiveness Inside

Lebih terperinci

Psikologi Kepribadian I Teori Personologi Henry Murray

Psikologi Kepribadian I Teori Personologi Henry Murray Modul ke: Fakultas Psikologi Psikologi Kepribadian I Teori Personologi Henry Murray Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Pandangan Murray sangat holistik,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. muncul berbagai tantangan dan persoalan serba kompleksitasnya.

BAB I PENDAHULUAN. muncul berbagai tantangan dan persoalan serba kompleksitasnya. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.I Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia hidup di zaman global yang menuntut perubahan sangat pesat, serta muncul berbagai tantangan dan persoalan serba kompleksitasnya. Di bidang

Lebih terperinci

Tes Inventori: PAPI Kostick

Tes Inventori: PAPI Kostick Modul ke: Tes Inventori: PAPI Kostick Modul ini akan menjelaskan tentang Norma, Administrasi dan skoring tes PAPI Kostick Fakultas PSIKOLOGI Karisma Riskinanti, M.Psi., Psi. Program Studi PSIKOLOGI www.mercubuana.ac.id

Lebih terperinci

BAB II. Landasan Teori

BAB II. Landasan Teori BAB II Landasan Teori 2.1 Pengertian Tes Pauli Tes Pauli dikembangkan oleh Dr. Richard Pauli (1938) Dr.Wilhem Arnold dan Prof.Dr.Van Hiss yang di modifikasi dari tes Kraeplin, untuk tujuan melihat daya

Lebih terperinci

Psikologi Konseling Konseling Analisis Transaksional

Psikologi Konseling Konseling Analisis Transaksional Modul ke: Psikologi Konseling Konseling Analisis Transaksional Fakultas Psikologi Agustini, M.Psi., Psikolog Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Analisis Transaksional (TA): Model

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah quasi experiment. Dengan desain

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah quasi experiment. Dengan desain 29 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah quasi experiment. Dengan desain eksperimen yang digunakan adalah one group before after atau pre-test and

Lebih terperinci

adalah proses diterimanya rangsang (objek, kualitas, hubungan antar gejala, maupun

adalah proses diterimanya rangsang (objek, kualitas, hubungan antar gejala, maupun BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi Persepsi menurut Irwanto, et al (dalam Rangkuti & Anggaraeni, 2005), adalah proses diterimanya rangsang (objek, kualitas, hubungan antar gejala, maupun peristiwa) sampai

Lebih terperinci

Profil Kepribadian Tes Wartegg (Studi Deskriptif pada Seleksi Karyawan)

Profil Kepribadian Tes Wartegg (Studi Deskriptif pada Seleksi Karyawan) Profil Kepribadian Tes Wartegg (Studi Deskriptif pada Seleksi Karyawan) Adhyatman Prabowo, Amelia Choirun Nisa', Gerdaning Tyas Jadmiko Universitas Muhammadiyah Malang adhyatman@umm.ac.id Abstrak. Tes

Lebih terperinci

PENILAIAN PERKEMBANGAN ANAK SANTI E. PURNAMASARI

PENILAIAN PERKEMBANGAN ANAK SANTI E. PURNAMASARI PENILAIAN PERKEMBANGAN ANAK SANTI E. PURNAMASARI Fak. Psikologi UMBY Tujuan Agar tenaga kesehatan dapat ; a. Mengetahui kelainan perkembangan anak dan hal-hal lain yang merupakan risiko terjadinya kelainan

Lebih terperinci

PRIBADI CARL ROGERS. Setelah mendapat gelar doktor dalam psikologi Rogers menjadi staf pada Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi

PRIBADI CARL ROGERS. Setelah mendapat gelar doktor dalam psikologi Rogers menjadi staf pada Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi 9 PRIBADI CARL ROGERS Carl Rogers adalah seorang psikolog yang terkenal dengan pendekatan terapi klinis yang berpusat pada klien (client centered). Rogers kemudian menyusun teorinya dengan pengalamannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan, dan klinis (Anastasi dan Urbina, 1997; Aslam, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan, dan klinis (Anastasi dan Urbina, 1997; Aslam, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Psikologi adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia. Terdapat banyak cara untuk mempelajari perilaku manusia, salah satunya adalah dengan menggunakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. pembelajaran siswa pada masalah yang nyata sehingga siswa dapat menyusun

II. TINJAUAN PUSTAKA. pembelajaran siswa pada masalah yang nyata sehingga siswa dapat menyusun II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Problem Based Learning Model pembelajaran PBL merupakan model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah yang nyata sehingga siswa dapat menyusun

Lebih terperinci

KONSEP INTERAKSI KOMUNIKASI PENDAHULUAN

KONSEP INTERAKSI KOMUNIKASI PENDAHULUAN KONSEP INTERAKSI KOMUNIKASI PENDAHULUAN Keterampilan berkomunikasi merupakan suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap individu. Melalui komunikasi individu akan merasakan kepuasan, kesenangan atau

Lebih terperinci

CARA PENGUMPULAN DATA KEGIATAN BIDANG ILMU ALAT UKUR HASIL PENGUKURAN DAN CONTOH

CARA PENGUMPULAN DATA KEGIATAN BIDANG ILMU ALAT UKUR HASIL PENGUKURAN DAN CONTOH Pengumpulan Data Terdapat 2 jenis data : a. Data Primer : Data yang langsung dikumpulkan/diperoleh dari sumber pertama. b. Data Sekunder : Data yang tidak langsung diperoleh dari sumber pertama, dan telah

Lebih terperinci

Dasar-Dasar Perilaku Manusia O L E H M U N A E R A W A T I, S. P S I, M. S I

Dasar-Dasar Perilaku Manusia O L E H M U N A E R A W A T I, S. P S I, M. S I Dasar-Dasar Perilaku Manusia O L E H M U N A E R A W A T I, S. P S I, M. S I Psikologi itu apa? Psikologi berasal dari dua kata dalam bahasa Latin yaitu psyche =jiwa dan logos =ilmu Psikologi adalah studi

Lebih terperinci

Novia Sinta R, M.Psi

Novia Sinta R, M.Psi Novia Sinta R, M.Psi validitas tes sangat dipengaruhi oleh administrasi atau penyajian tes. Oleh karena itu cara penyajian dan kesiapan untuk tes harus betul-betul diperhatikan. Hal-hal yang harus diperhatikan

Lebih terperinci

TEORI BELAJAR KOGNITIF

TEORI BELAJAR KOGNITIF Pengertian Teori Kognitif TEORI BELAJAR KOGNITIF Istilah Cognitive berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan,

Lebih terperinci

PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN MELALUI PENINGKATAN MUTU PROSES DAN EVALUASI PEMBELAJARAN. ( As ari Djohar )

PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN MELALUI PENINGKATAN MUTU PROSES DAN EVALUASI PEMBELAJARAN. ( As ari Djohar ) PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN MELALUI PENINGKATAN MUTU PROSES DAN EVALUASI PEMBELAJARAN ( As ari Djohar ) A. Asumsi Dasar 1. Peningkatan mutu pendidikan tinggi merupakan kebutuhan utama yang selalu harus

Lebih terperinci

METODOLOGI PEMBELAJARAN INOVATIF. blog: Pendidikan Ilmu Komputer Universitas Pendidikan Indonesia

METODOLOGI PEMBELAJARAN INOVATIF. blog:  Pendidikan Ilmu Komputer Universitas Pendidikan Indonesia METODOLOGI INOVATIF dedir@upi.edu blog: http://dedi.staf.upi.edu Pendidikan Ilmu Komputer Universitas Pendidikan Indonesia Belajar adalah proses perubahan perilaku secara aktif, proses mereaksi terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG MASALAH Perguruan Tinggi merupakan salah satu jenjang yang penting dalam pendidikan. Perguruan Tinggi diadakan dengan tujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan berinteraksi dengan orang lain demi kelangsungan hidupnya. Karena pada

BAB I PENDAHULUAN. dan berinteraksi dengan orang lain demi kelangsungan hidupnya. Karena pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk individu dan sekaligus makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia perlu berkomunikasi dan berinteraksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS. 1. Persepsi Siswa Tentang Keterampilan Mengajar Guru

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS. 1. Persepsi Siswa Tentang Keterampilan Mengajar Guru II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka 1. Persepsi Siswa Tentang Keterampilan Mengajar Guru Menurut Slameto (2003:102) pengertian persepsi adalah proses yang menyangkut

Lebih terperinci

Pertemuan 5 PENDEKATAN TRANSORIENTASIONAL

Pertemuan 5 PENDEKATAN TRANSORIENTASIONAL Pertemuan 5 PENDEKATAN TRANSORIENTASIONAL Mempelajari psikologi individu melalui fungsi biologi/tubuh Fokus : Bagaimana tubuh mempengaruhi perilaku, perasaan dan pikiran seseorang Biologi mempengaruhi

Lebih terperinci

BAB II TINJUAN PUSTAKA

BAB II TINJUAN PUSTAKA BAB II TINJUAN PUSTAKA A. Minat 1. Pengertian Minat yaitu suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciriciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginankeinginan atau kebutuhan-kebutuhannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran di tingkat perguruan tinggi, baik di universitas, institut

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran di tingkat perguruan tinggi, baik di universitas, institut BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mahasiswa merupakan orang yang sedang dalam proses pembelajaran di tingkat perguruan tinggi, baik di universitas, institut maupun akademi. Mahasiswa adalah generasi

Lebih terperinci

TEORI BELAJAR GESTALT DAN GAGNE PERT-4

TEORI BELAJAR GESTALT DAN GAGNE PERT-4 TEORI BELAJAR GESTALT DAN GAGNE PERT-4 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA 2014 Teori Gagne Gagne beranggapan bahwa hirarki belajar

Lebih terperinci

Siti Wuryan Indrawati, M.Pd, Psi Ita Juwitaningrum, S.Psi Hani Yulindrasari, S.Psi, M.StatGend Diah Z Wyandini, M.Si

Siti Wuryan Indrawati, M.Pd, Psi Ita Juwitaningrum, S.Psi Hani Yulindrasari, S.Psi, M.StatGend Diah Z Wyandini, M.Si Siti Wuryan Indrawati, M.Pd, Psi Ita Juwitaningrum, S.Psi Hani Yulindrasari, S.Psi, M.StatGend Diah Z Wyandini, M.Si Psikologi sebagai suatu ilmu berkembang pesat kegunaan dan manfaatnya dirasakan dalam

Lebih terperinci

TEORI DAN PRAKTIK PEMAHAMAN INDIVIDU TEKNIK TESTING. Drs. Susilo Rahardjo, M.Pd., Kons. & Edris Zamroni, S.Pd., M.Pd.

TEORI DAN PRAKTIK PEMAHAMAN INDIVIDU TEKNIK TESTING. Drs. Susilo Rahardjo, M.Pd., Kons. & Edris Zamroni, S.Pd., M.Pd. TEORI DAN PRAKTIK PEMAHAMAN INDIVIDU TEKNIK TESTING Drs. Susilo Rahardjo, M.Pd., Kons. & Edris Zamroni, S.Pd., M.Pd. PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan anak terjadi mulai aspek sosial, emosional, dan intelektual. Salah satu aspek

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan anak terjadi mulai aspek sosial, emosional, dan intelektual. Salah satu aspek BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak merupakan karunia dari Allah SWT yang tiada bandingnya, kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga merupakan kebahagiaan dan memberikan sinar terang untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. latihan sehingga mereka belajar untuk mengembangkan segala potensi yang

BAB I PENDAHULUAN. latihan sehingga mereka belajar untuk mengembangkan segala potensi yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan formal yang menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional dan mempunyai tujuan untuk menyiapkan peserta didik

Lebih terperinci

METODIK TES 1 Rencana Mutu Pembelajaran

METODIK TES 1 Rencana Mutu Pembelajaran ` FAKULTAS PSIKOLOGI Universitas Muhammadiyah Surakarta METODIK TES 1 Rencana Mutu Pembelajaran TIM Pertemuan : 1 1 Mahasiswa mampu menjelaskan ruang lingkup metodik tes 1 dan teori dasar kepribadian dan

Lebih terperinci

BK KELOMPOK Diana Septi Purnama HUBUNGAN INTERPERSONAL

BK KELOMPOK Diana Septi Purnama   HUBUNGAN INTERPERSONAL BK KELOMPOK Diana Septi Purnama Email: dianaseptipurnama@uny.ac.id HUBUNGAN INTERPERSONAL Pembelajaran intereprsonal adalah faktor terapeutik yang luas dan kompleks dalam analog konseling kelompok seperti

Lebih terperinci

Tes bagian yg integral dari pengukuran.pengukuran hanya bagian dari evaluasi

Tes bagian yg integral dari pengukuran.pengukuran hanya bagian dari evaluasi PENGUKURAN PSIKOLOGI Peristilahan Tes Penilaian Ujian Assesmen Pengukuran Evaluasi Tes bagian yg integral dari pengukuran.pengukuran hanya bagian dari evaluasi Pengukuran psikologi mengandung makna diagnostik

Lebih terperinci

GEJALA KONASI--MOTIVASI. PERTEMUAN KE 10

GEJALA KONASI--MOTIVASI. PERTEMUAN KE 10 GEJALA KONASI--MOTIVASI PERTEMUAN KE 10 aprilia_tinalidyasari@uny.ac.id MOTIVASI Motivasi adalah sesuatu daya yang menjadi pendorong seseorang bertindak, dimana rumusan motivasi menjadi sebuah kebutuhan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Konsep Diri Istilah konsep diri biasanya mengarah kepada sebuah pembentukan konsep pribadi dari diri seseorang. Secara umum konsep diri adalah pandangan dan sikap

Lebih terperinci

Pengertian psikologi dan psikologi komunikasi_01. Rahmawati Z, M.I.Kom

Pengertian psikologi dan psikologi komunikasi_01. Rahmawati Z, M.I.Kom Pengertian psikologi dan psikologi komunikasi_01 Rahmawati Z, M.I.Kom kontrak perkuliahan TUGAS : 40 % MID : 30 % UAS : 30 % KEAKTIFAN : BONUS NILAI TAMBAHAN TUGAS DIKUMPULKAN ON TIME darumzulfie@gmail.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Belajar merupakan key term, istilah kunci yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan (Muhibbin,

Lebih terperinci

Kuliah 2 Adriatik Ivanti, M.Psi

Kuliah 2 Adriatik Ivanti, M.Psi Kuliah 2 Adriatik Ivanti, M.Psi 1. Sejarah Tes Psikologi 2. Klasifikasi Tes 3. Syarat-syarat dan definisi tes Sebenarnya, yang memulai membuat tes bukan hanya bidang psikologi saja, tapi sudah dimulai

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Banyak orang belum mengetahui apa itu leaflet dan apa perbedaannya dengan

TINJAUAN PUSTAKA. Banyak orang belum mengetahui apa itu leaflet dan apa perbedaannya dengan 12 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Leaflet Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan/dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara cermat dilengkapi

Lebih terperinci

PENGARUH PENYESUAIAN DIRI AKADEMIK TERHADAP KECENDERUNGAN SOMATISASI DI SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA

PENGARUH PENYESUAIAN DIRI AKADEMIK TERHADAP KECENDERUNGAN SOMATISASI DI SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA PENGARUH PENYESUAIAN DIRI AKADEMIK TERHADAP KECENDERUNGAN SOMATISASI DI SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Sebagian Syaratan Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalami gangguan fungsi mental berupa frustasi, defisit perawatan diri, menarik diri

BAB I PENDAHULUAN. mengalami gangguan fungsi mental berupa frustasi, defisit perawatan diri, menarik diri BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) merupakan salah satu permasalahan yang menjadi ancaman serius bagi Bangsa Indonesia. Penyalahgunaan NAPZA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang terjadi. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik

I. PENDAHULUAN. yang terjadi. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Pendidikan merupakan kebutuhan utama suatu bangsa sebagai proses membantu manusia menghadapi perkembangan, perubahan, dan permasalahan yang

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI 166 BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI Bab lima memuat simpulan penelitian dan rekomendasi yang dapat diberikan peneliti berdasar temuan di lapangan. Simpulan menyajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap

Lebih terperinci

Pengantar Psikodiagnostik

Pengantar Psikodiagnostik Modul ke: Pengantar Psikodiagnostik Dasar-Dasar Interpretasi Tes Psikologi Fakultas PSIKOLOGI Muhammad Ramadhan, M.Psi, Psikolog. Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Tes Psikologis menginterprestasikan

Lebih terperinci

SISTEM KEKERABATAN Pengertian kelompok kekerabatan merupakan deskripsi mengenai suku bangsa tertentu Perkawinan merupakan unsur universal yang

SISTEM KEKERABATAN Pengertian kelompok kekerabatan merupakan deskripsi mengenai suku bangsa tertentu Perkawinan merupakan unsur universal yang SISTEM KEKERABATAN SISTEM KEKERABATAN Pengertian kelompok kekerabatan merupakan deskripsi mengenai suku bangsa tertentu Perkawinan merupakan unsur universal yang dilakukan oleh masyarakat di dunia, Perkawinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang melibatkan respon-respon mental dan tingkah laku, di mana individu

BAB I PENDAHULUAN. yang melibatkan respon-respon mental dan tingkah laku, di mana individu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam rentang kehidupan manusia, manusia akan mengalami perubahan, baik perubahan dari luar maupun dari dalam. Dari dalam seperti fisik, pertumbuhan tinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. prasarana, fisik sekolah, kualitas guru, pemutakhiran kurikulum,dan juga tidak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. prasarana, fisik sekolah, kualitas guru, pemutakhiran kurikulum,dan juga tidak 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini Pemerintah Republik Indonesia tengah gencar melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, baik peningkatan sarana prasarana,

Lebih terperinci

Sejarah dan Aliran-Aliran Psikologi

Sejarah dan Aliran-Aliran Psikologi Sejarah dan Aliran-Aliran Psikologi Modul ke: Eksistensialisme dan Humanisme Fakultas Psikologi Dra. Anna Amanah, Psi., MSi. www.mercubuana.ac.id Program Studi Psikologi Perkembangan Aliran-Aliran Pesatnya

Lebih terperinci

IFA HANIFAH MISBACH, S.Psi, Psikolog UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

IFA HANIFAH MISBACH, S.Psi, Psikolog UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA IFA HANIFAH MISBACH, S.Psi, Psikolog UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Interview merupakan salah satu alat ukur untuk memperoleh informasi antara dua orang yang dilakukan dengan cara dua arah di dalam melakukan

Lebih terperinci

Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Rasional Emotif (Rational Emotive Therapy)

Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Rasional Emotif (Rational Emotive Therapy) Modul ke: Psikologi Konseling Pendekatan Konseling Rasional Emotif (Rational Emotive Therapy) Fakultas Psikologi Program Studi Psikologi www.mercubuana.ac.id Pendekatan Kognitif Terapi kognitif: Terapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fenomena---teori adalah untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena.

BAB I PENDAHULUAN. fenomena---teori adalah untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai suatu kegiatan profesional dan ilmiah, pelaksaan konseling bertitik tolak dari teori-teori yang dijadikan sebagai acuannya. Pada umumnya teori diartikan

Lebih terperinci

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) :

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) : KONSEP PERILAKU A. Pengertian Perilaku Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja,

Lebih terperinci

PERSOALAN DEPRESI PADA REMAJA

PERSOALAN DEPRESI PADA REMAJA Artikel PERSOALAN DEPRESI PADA REMAJA Mardiya Depresi merupakan penyakit yang cukup mengganggu kehidupan. Saat ini diperkirakan ratusan juta jiwa penduduk di dunia menderita depresi. Depresi dapat terjadi

Lebih terperinci

PENINGKATAN SELF EFFICACY PESERTA DIDIK MELALUI KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK KOGNITIF. Oleh: Andi Riswandi Buana Putra, M.

PENINGKATAN SELF EFFICACY PESERTA DIDIK MELALUI KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK KOGNITIF. Oleh: Andi Riswandi Buana Putra, M. PENINGKATAN SELF EFFICACY PESERTA DIDIK MELALUI KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK KOGNITIF Oleh: Andi Riswandi Buana Putra, M.Pd ABSTRAK Banyak peserta didik yang masih belum percaya dengan kemampuan yang

Lebih terperinci