BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA"

Transkripsi

1 BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 UMUM Bagian ini akan menjelaskan hasil pengolahan data yang didapat melalui survey kuisioner maupun survey wawancara, beserta analisis perbandingan hasil pengolahan data dengan contoh yang terdapat dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003. Untuk mendapatkan hasil terhadap metode penilaian kualifikasi penyedia jasa konstruksi yang telah disusun berdasarkan hierarki kualifikasi, maka disusunlah perancangan kuisioner untuk kemudian disebarkan kepada para praktisi maupun ahli sehingga didapatkan data primer. Survey kuisioner dilakukan sekaligus dengan survey wawancara sehingga responden dapat memahami dengan baik tujuan dan arti yang terkandung dalam pertanyaan kuisioner tersebut. Bentuk kuisioner pada penelitian ini dapat dilihat pada lembar lampiran, yang merupakan penjelmaan dari struktur hierarki yang telah disusun. Data berdasarkan kuisioner ini dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu bagian (A) merupakan daftar pertanyaan yang mencari latar belakang ahli yang ditunjuk sebagai responden dan bagian (B) adalah penilaian dari para responden tersebut sehingga diperoleh data yang kemudian disusun dalam matriks perbandingan berpasangan untuk mengetahui tingkat kepentingan (bobot) antar elemen dalam satu tingkatan hierarki. 4.2 REKAPITULASI DATA Data Responden Responden sebagian besar berasal dari berbagai instansi Pemerintah yang ada di Jawa Barat, khususnya Bandung. Kode Responden dan Instansi asal responden ditunjukkan dalam tabel 4.1.

2 Kode Responden R1 R2 R3 R4 R6 R5 R7 R8 R9 R10 R11 Tabel 4.1 Data Responden INSTANSI SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan Jawa Barat SNVT Pembangunan Jalan dan Jembatan Jawa Barat Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Jawa Barat Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Jawa Barat Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Jawa Barat Puslitbang Sumber Daya Air Jawa Barat Universitas Padjajaran Bandung Universitas Diponegoro Semarang Universitas Diponegoro Semarang Dinas Pengembangan Sumber Daya Air Jawa Barat Institut Teknologi Bandung Survey Pendahuluan Sebelum semua kuisioner disebarkan dilakukan terlebih dahulu uji pertanyaan yang ada pada kuisioner. Uji ini disebut sebagai survey pendahuluan kuisioner yang bertujuan untuk melihat pertanyaan yang valid dan yang tidak. Yang dimaksud dengan pertanyaan tidak valid adalah pertanyaan yang membingungkan responden untuk menjawab karena pertanyaan tidak jelas maksudnya atau pertanyaan mengandung kata yang ambigu. Dalam penelitian ini pertanyaan yang tidak valid dan tidak sesuai dengan tujuan penelitian akan dibuang atau diganti dengan pertanyaan baru, setelah itu baru kuisioner disebarkan kembali untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Survey pendahuluan dilakukan dengan menyebarkan tiga (3) buah kuisioner kepada responden. Pada survey pendahuluan didapatkan bahwa responden belum mengerti dengan baik maksud dan tujuan penelitian sehingga perlu dijelaskan secara langsung dengan tatap muka. Responden dalam mengisi kuisioner masih terpaku pada regulasi yang berlaku yaitu Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah sehingga jawaban yang diberikan umumnya berpedoman kepada regulasi tersebut. Hal ini mengakibatkan responden menjadi bingung dalam menentukan tingkat kepentingan yang dibandingkan. Masalah yang muncul selama survey pendahuluan yaitu: 1. Responden tidak memahami cara mengisi lembar pertanyaan dalam kuisioner, sehingga data yang diperoleh tidak dapat diolah dan dianalisis.

3 2. Responden kesulitan dalam mendefinisikan perbedaan tingkat kepentingan antar hal yang dibandingkan ke bentuk angka yang digunakan dalam kuisioner. 3. Responden merasa bahwa dalam peraturan tidak biasanya membandingkan dua hal, karena semua yang ada dalam peraturan adalah mutlak dan tidak bisa diubah. 4. Responden menjumpai adanya aspek maupun kriteria yang tidak bisa dibandingkan karena berbeda tujuannya Data Bagian (A) Pertanyaan kuisioner bagian (A) ini disusun untuk mengetahui latang belakang responden, yang mencerminkan tingkat kepakaran responden dalam penilaian kualifikasi penyedia barang dan jasa pemerintah. Pertanyaan kuisioner bagian (A) yang pertama: Sejauh mana responden memahami Keputusan Presiden No. 80 tahun 2003 beserta perubahannya tentang pedoman pelaksanaan barang dan jasa pemerintah? ditujukan untuk mengetahui pemahaman responden, sehingga dapat diketahui kepakaran responden di mana jika pemahaman responden dibawah angka 50% maka data yang disampaikan responden dianggap tidak valid. Data yang diberikan digambarkan seperti berikut: 0 % % 2 6 % % 5 1 % % 7 6 % % Tabel 4.2 Pemahaman responden terhadap KepPres no 80 tahun 2003 R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 PEMAHAMAN RESPONDEN TERHADAP KEPRES 82% 0% 18% 50 % - 75 % 76 % % Gambar 4.1 Komposisi tingkat pemahaman responden terhadap Kepres

4 Pertanyaan kuisioner bagian (A) yang kedua: Sejauh mana responden memahami Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah no. 339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah atau Peraturan Menteri Pekerjaan Umum no. 43/PRT/M/2007 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi? ditujukan untuk mengetahui pemahaman responden, sehingga dapat diketahui kepakaran responden di mana jika pemahaman responden dibawah angka 50% maka data yang disampaikan responden dianggap tidak valid. Data yang diberikan digambarkan seperti berikut: Tabel 4.3 Pemahaman responden terhadap KepMen no 339/KPTS/M/ % - 25 % 26 % - 50 % 51 % - 75 % 76 % % R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 PEMAHAMAN RESPONDEN TERHADAP KEPMEN 82% 0% 18% 50 % - 75 % 76 % % Gambar 4.2 Komposisi tingkat pemahaman responden terhadap Kepmen Pertanyaan kuisioner bagian (A) yang ketiga: Sejak kapankah responden terlibat dalam proses penilaian kualifikasi pengadaan jasa pelaksana konstruksi pemerintah baik sebagai panitia pengadaan maupun sebagai peneliti? ditujukan untuk mengetahui lamanya keterlibatan responden dalam proses penilaian kualifikasi jasa pelaksana konstruksi pemerintah, sehingga dapat dinilai pengalaman responden, ditunjukkan seperti gambar berikut:

5 0-3 Tahun 4-7 Tahun 8-11 Tahun 12 Tahun atau lebih Tabel 4.4 Pengalaman Responden dalam penilaian kualilifikasi R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 PENGALAMAN RESPONDEN DALAM KUALIFIKASI 27% 18% 27% 28% 0-3 tahun 4-7 tahun 8-11 tahun = 12 tahun Gambar 4.3 Komposisi pengalaman responden dalam penilaian kualifikasi Data Bagian (B) Pertanyaan kuisioner bagian (B) ini disusun untuk mengetahui ragam pembobotan dari perbandingan berpasangan tiap-tiap kriteria penilaian yang telah disebutkan sebelumnya. Data yang didapat akan diolah menggunakan metode AHP (Analitycal Hierachy Process) sehingga akan didapatkan bobot dari tiap aspek maupun kriteria aspek dalam proses penilaian kualifikasi pengadaan jasa pelaksana konstruksi. Dibawah ini disajikan contoh hasil survey kuisioner yang telah disebarkan: Perbandingan antar Aspek Tabel 4.5 Contoh tampilan hasil kuisioner R2 R4 R5 R6 R7 R8 R10 R11 Keuangan - Pengalaman Keuangan - Kemampuan Teknis Keuangan - Inovasi Pengalaman - Kemampuan Teknis Pengalaman - Inovasi Kemampuan Teknis - Inovasi Adapun hasil dari pengisian dan pengolahan data yang didapat dalam survey kuisioner disajikan dalam lampiran.

6 4.2.5 Proses Pembobotan Hasil penilaian kuisioner dapat diterjemahkan kedalam bentuk matriks perbandingan dan selanjutnya dapat dilakukan proses pembobotan. Untuk mendapatkan bobot penilaian dari pertanyaan kuisioner digunakan alat bantu berupa Microsoft Office Excel yang hasil keseluruhan pengolahan data dapat dilihat dalam lampiran. Berikut ditampilkan contoh perhitungan untuk mendapatkan bobot dari satu orang responden: Proses Pembobotan ASPEK 1. Membuat Matriks perbandingan berpasangan dari hasil kuisioner kemudian menjumlahkan nilai dalam satu kolom untuk mendapatkan matriks normalisasi Tabel 4.6 Matriks A1 perbandingan antar aspek Keuangan Pengalaman Kemampuan Teknis Inovasi Keuangan 1 0,500 3,000 3,000 Pengalaman 2, ,000 3,000 Kemampuan Teknis 0,333 1, ,000 Inovasi 0,333 0,333 0,500 1 Total 3,667 2,833 5,500 9, Membagi tiap-tiap nilai dalam kolom dengan penjumlahan masing-masing kolom, perhitungan ini akan menghasilkan matriks bobot prioritas lokal yang disebut dengan matriks A2. Tabel 4.7 Matriks A2 terhadap aspek penilaian kualifikasi Keuangan Pengalaman Kemampuan Teknis Inovasi Keuangan 0,2727 0,1765 0,5455 0,3333 Pengalaman 0,5455 0,3529 0,1818 0,3333 Kemampuan Teknis 0,0909 0,3529 0,1818 0,2222 Inovasi 0,0909 0,1176 0,0909 0,1111 Total Matriks yang didapatkan selanjutnya di uji konsistensinya dengan tahapan sebagai berikut:

7 a. Mengalikan setiap baris elemen pada matriks A2 dengan bobot prioritas lokal yang saling bersesuaian dan kemudian menjumlahkan hasil perkalian tersebut dengan jumlah elemen yang sama. b. Menjumlahkan hasil perkalian tersebut c. Menghitung λ maks dengan cara merata-rata yang diperoleh dari langkah sebelumnya (b) d. Menghitung CI = λ e. Menghitung maks CI CR = RI ( n) n n ( 1) f. Membandingkan nilai CR yang didapat, dimana jika nilai rasio konsistensi (CR) lebih kecil dari 10 % maka hasil penilaian menggunakan AHP dapat diterima. Tabel 4.8 Matriks A3 uji konsistensi aspek penilaian kualifikasi Keuangan Pengalaman Kemampuan Teknis Inovasi Bobot Eigen Keuangan Pengalaman Kemampuan Teknis Inovasi Total Π maks CI n = 4 RI (n) CR CR = 10,06 % > 10 % ; Responden TIDAK KONSISTEN Dalam perhitungan bobot aspek, yang diambil adalah nilai bobot dari responden yang konsisten dimana nilai ini adalah rata-rata dari perhitungan setiap aspek yang konsisten seperti digambarkan dalam tabel berikut: Tabel 4.9 Bobot ASPEK gabungan berdasarkan persepsi responden yang konsisten R2 R4 R5 R6 R7 R8 R10 R11 RtGAB Keuangan Pengalaman Kemampuan Teknis Inovasi

8 Proses Pembobotan KRITERIA KEUANGAN 1. Membuat Matriks perbandingan berpasangan dari hasil kuisioner kemudian menjumlahkan nilai dalam satu kolom untuk mendapatkan matriks normalisasi Tabel 4.10 matriks A1 perbandingan antar Kriteria Keuangan SDB SKK SDB 1 0,333 SKK 3,000 1 Total 4,000 1,333 SDB = Surat Dukungan Bank SKK = Surat Jaminan Keuangan 2. Membagi tiap-tiap nilai dalam kolom dengan penjumlahan masing-masing kolom, perhitungan ini akan menghasilkan matriks bobot prioritas lokal yang disebut dengan matriks A2. Tabel 4.11 Matriks A2 terhadap Kriteria Keuangan SDB SKK Total Rata-Rata SDB 0,2500 0,2500 0,5000 0,2500 SKK 0,7500 0,7500 1,5000 0,7500 Total Matriks yang didapatkan selanjutnya di uji konsistensinya dengan tahapan sebagai berikut: a. Mengalikan setiap baris elemen pada matriks A2 dengan bobot prioritas lokal yang saling bersesuaian dan kemudian menjumlahkan hasil perkalian tersebut dengan jumlah elemen yang sama. b. Menjumlahkan hasil perkalian tersebut c. Menghitung λ maks dengan cara merata-rata yang diperoleh dari langkah sebelumnya (b) d. Menghitung CI = λ e. Menghitung maks CI CR = RI ( n) n n ( 1) f. Membandingkan nilai CR yang didapat, dimana jika nilai rasio konsistensi (CR) lebih kecil dari 10 % maka hasil penilaian menggunakan AHP dapat diterima.

9 Karena pada kriteria ini kriteria yang dibandingkan hanya dua maka apapun perbandingannya akan selalu konsisten karena nilai RI (n) adalah 0,00 Tabel 4.12 Matriks A3 uji konsistensi kriteria keuangan SDB SKK Bobot Eigen SDB 0,25 0,25 0,25 2 SKK 0,75 0,75 0,75 2 Total 4,000 maks 2,000 CI 0,000 n = 2 RI (n) 0,000 CR 0,000 CR = 0 % < 10 % ; Responden KONSISTEN Dalam perhitungan bobot kriteria keuangan, yang diambil adalah nilai bobot dari responden yang konsisten dimana nilai ini adalah rata-rata dari perhitungan setiap kriteria keuangan yang konsisten seperti digambarkan dalam tabel berikut: Tabel 4.13 Bobot KRITERIA KEUANGAN gabungan berdasarkan persepsi responden yang konsisten R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 RtGAB SDB 0,250 0,750 0,500 0,667 0,500 0,200 0,833 0,833 0,250 0,125 0,750 0,5144 SKK 0,750 0,250 0,500 0,333 0,500 0,800 0,167 0,167 0,750 0,875 0,250 0, Proses Pembobotan KRITERIA PENGALAMAN 1. Membuat Matriks perbandingan berpasangan dari hasil kuisioner kemudian menjumlahkan nilai dalam satu kolom untuk mendapatkan matriks normalisasi Tabel 4.14 Matriks A1 perbandingan antar Kriteria Pengalaman PS NK KP PG PS NK KP PG Total PS = Pekerjaan Sejenis NK = Nilai Kontrak 7 Tahun Terakhir KP = Kerjasama Dengan Pemerintah 4 Tahun Terakhir PG = Banyaknya Proyek Yang Gagal

10 2. Membagi tiap-tiap nilai dalam kolom dengan penjumlahan masing-masing kolom, perhitungan ini akan menghasilkan matriks bobot prioritas lokal yang disebut dengan matriks A2. Tabel 4.15 Matriks A2 terhadap Kriteria Pengalaman PS NK KP PG PS NK KP PG Total Matriks yang didapatkan selanjutnya di uji konsistensinya dengan tahapan sebagai berikut: a. Mengalikan setiap baris elemen pada matriks A2 dengan bobot prioritas lokal yang saling bersesuaian dan kemudian menjumlahkan hasil perkalian tersebut dengan jumlah elemen yang sama. b. Menjumlahkan hasil perkalian tersebut c. Menghitung λ maks dengan cara merata-rata yang diperoleh dari langkah sebelumnya (b) d. Menghitung CI = λ e. Menghitung maks CI CR = RI ( n) n n ( 1) f. Membandingkan nilai CR yang didapat, dimana jika nilai rasio konsistensi (CR) lebih kecil dari 10 % maka hasil penilaian menggunakan AHP dapat diterima.

11 Tabel 4.16 Matriks A3 uji konsistensi Kriteria Pengalaman PS NK KP PG Bobot Eigen PS NK KP PG Total maks CI n = 4 RI (n) CR CR = 4,9 % < 10 % ; Responden KONSISTEN Dalam perhitungan bobot aspek, yang diambil adalah nilai bobot dari responden yang konsisten dimana nilai ini adalah rata-rata dari perhitungan setiap aspek yang konsisten seperti digambarkan dalam tabel berikut: Tabel 4.17 Bobot KRITERIA PENGALAMAN gabungan berdasarkan persepsi responden yang konsisten R2 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 R11 RtGAB PS NK KP PG Proses Pembobotan KRITERIA KEMAMPUAN TEKNIS 1. Membuat Matriks perbandingan berpasangan dari hasil kuisioner kemudian menjumlahkan nilai dalam satu kolom untuk mendapatkan matriks normalisasi Tabel 4.18 Matriks A1 perbandingan antar Kriteria Kemampuan Teknis TA KD KP PM TA KD KP PM Total TA = Tenaga Ahli KD = Kemampuan Dasar KP = Kemampuan Paket PM = Peralatan beserta bukti kepemilikan

12 2. Membagi tiap-tiap nilai dalam kolom dengan penjumlahan masing-masing kolom, perhitungan ini akan menghasilkan matriks bobot prioritas lokal yang disebut dengan matriks A2. Tabel 4.19 matriks A2 terhadap Kriteria Kemampuan Teknis TA KD KP PM Total Rata-Rata TA KD KP PM Total Matriks yang didapatkan selanjutnya di uji konsistensinya dengan tahapan sebagai berikut: a. Mengalikan setiap baris elemen pada matriks A2 dengan bobot prioritas lokal yang saling bersesuaian dan kemudian menjumlahkan hasil perkalian tersebut dengan jumlah elemen yang sama. b. Menjumlahkan hasil perkalian tersebut c. Menghitung λ maks dengan cara merata-rata yang diperoleh dari langkah sebelumnya (b) d. Menghitung CI = λ e. Menghitung maks CI CR = RI ( n) n n ( 1) f. Membandingkan nilai CR yang didapat, dimana jika nilai rasio konsistensi (CR) lebih kecil dari 10 % maka hasil penilaian menggunakan AHP dapat diterima. Tabel 4.20 matriks A3 uji konsistensi Kriteria Kemampuan Teknis TA KD KP PM Bobot Eigen TA KD KP PM Total maks CI n = 4 RI (n) CR CR = 8,3 % < 10 % ; Responden KONSISTEN

13 Dalam perhitungan bobot aspek, yang diambil adalah nilai bobot dari responden yang konsisten dimana nilai ini adalah rata-rata dari perhitungan setiap aspek yang konsisten seperti digambarkan dalam tabel berikut: Tabel 4.21 Bobot KRITERIA KEMAMPUAN TEKNIS gabungan berdasarkan persepsi responden yang konsisten R1 R2 R3 R4 R5 R6 R8 R9 R1 0 RtGAB TA KD KP PM Proses Pembobotan KRITERIA INOVASI 1. Membuat Matriks perbandingan berpasangan dari hasil kuisioner kemudian menjumlahkan nilai dalam satu kolom untuk mendapatkan matriks normalisasi Tabel 4.22 matriks A1 perbandingan antar Kriteria Inovasi MM K3 PT MM K PT Total Membagi tiap-tiap nilai dalam kolom dengan penjumlahan masing-masing kolom, perhitungan ini akan menghasilkan matriks bobot prioritas lokal yang disebut dengan matriks A2. Tabel 4.23 matriks A2 terhadap Kriteria Inovasi MM K3 PT MM K PT Total Matriks yang didapatkan selanjutnya di uji konsistensinya dengan tahapan sebagai berikut:

14 a. Mengalikan setiap baris elemen pada matriks A2 dengan bobot prioritas lokal yang saling bersesuaian dan kemudian menjumlahkan hasil perkalian tersebut dengan jumlah elemen yang sama. b. Menjumlahkan hasil perkalian tersebut c. Menghitung λ maks dengan cara merata-rata yang diperoleh dari langkah sebelumnya (b) d. Menghitung CI = λ e. Menghitung maks CI CR = RI ( n) n n ( 1) f. Membandingkan nilai CR yang didapat, dimana jika nilai rasio konsistensi (CR) lebih kecil dari 10 % maka hasil penilaian menggunakan AHP dapat diterima. Tabel 4.24 matriks A3 uji konsistensi Kriteria Inovasi MM K3 PT Bobot Rata-Rata MM K PT Total maks CI n = 3 RI (n) CR CR = 0 % < 10 % ; Responden KONSISTEN Dalam perhitungan bobot aspek, yang diambil adalah nilai bobot dari responden yang konsisten dimana nilai ini adalah rata-rata dari perhitungan setiap aspek yang konsisten seperti digambarkan dalam tabel berikut: Tabel 4.25 Bobot KRITERIA INOVASI gabungan berdasarkan persepsi responden yang konsisten R1 R3 R4 R5 R6 R8 R9 R10 R11 RtGAB MM K PT

15 Dari hasil pengolahan data diatas, maka diperoleh bobot tiap-tiap aspek maupun kriteria. Hierarki Aspek dan Kriteria penilaian kualifikasi beserta bobotnya dapat dilihat pada Gambar ANALISIS DATA Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini berupa Analisis Deskriptif di mana data hasil olahan tersebut kemudian harus dianalisis, data deskriptif kualitatif sering hanya dianalisis menurut isinya dan karenanya analisis seperti ini juga disebut analisis isi (content analysis). Dalam analisis deskriptif, data disajikan dalam bentuk tabel data yang berisi frekuensi, dan kemudian dihitung mean, median, modus, persentase, standar deviasi atau lainnya. Untuk analisis statistik, model analisis yang digunakan harus sesuai dengan rancangan penelitiannya. Apabila penelitian yang dilakukan hanya berhenti pada penjelasan masalah dan upaya pemecahan masalah yang telah dilakukan, maka setelah disajikan data hasil wawancara, angket, pengamatan atau dokumentasi, maka selanjutnya dianalisis atau dibahas dan diberi makna atas data yang disajikan tersebut. Tetapi apabila penelitian juga dimaksudkan untuk mengetahui tingkat hubungan maka harus dilakukan pengujian hipotesis sebagaimana hipotesis yang telah ditetapkan untuk diuji (Sugiono, 2006). Misalnya uji statistik yang dilakukan adalah uji hubungan, maka akan diperoleh hasil uji dalam dua kemungkinan, yaitu hubungan antar variabel-variabel penelitian atau perbedaan antara sampel-sampel yang diteliti, dengan taraf signifikansi tertentu, misalnya 5% atau 10%., atau dapat terjadi hubungan antar variabel penelitian atau perbedaan antara sampel yang diteliti tidak signifikan. Dalam penelitian ini, Saaty menegaskan bahwa simpangan dari uji yang dilakukan harus berada pada rasio 0 % - 10 %. Apabila ternyata dari hasil pengujian diketahui bahwa hipotesis alternatif diterima (hipotesis nol ditolak) berarti menyatakan bahwa dugaan tentang adanya saling hubungan atau adanya perbedaan diterima sebagai hal yang benar, karena telah terbukti demikian Analisis Latar Belakang Responden Berdasarkan kuisioner yang telah disebarkan, mayoritas Responden (82%) memahami isi dari Keputusan Presiden no. 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, dan hanya dua responden

16 (18%) yang tingkat pemahamannya antara 51%-75%. Untuk pengalaman responden dalam hal penilaian kualifikasi, baik sebagai peneliti maupun panitia pengadaan, sebanyak 27% responden sudah berpengalaman lebih dari 12 tahun, dan 27% memiliki pengalaman selama 0-3 tahun. Dari pernyataan tersebut, maka semua responden diasumsikan dapat mengisi pertanyaan bagian B, mengenai perbandingan berpasangan antar aspek, dan kriteria dalam tiap aspek, karena semua responden dianggap merupakan pakar dalam penilaian kualifikasi, dan data kuisioner yang diambil dianggap valid Analisis Perbandingan Berpasangan dan Pembobotan Perbandingan berpasangan adalah proses untuk membuat pilihan mengenai kepentingan relatif dari aspek atau kriteria di setiap tingkatan dengan memperhatikan tingkat hierarki diatasnya menggunakan AHP. Sebagai contoh dalam penelitian ini tiap-tiap aspek (keuangan, pengalaman, kemampuan teknis, inovasi) di susun dalam bentuk matriks, dan pembuat keputusan membuat penilaian mengenai seberapa penting aspek tersebut agar tujuan tercapai, meggunakan skala perbandingan berpasangan Analisis ASPEK Dari pengolahan data di atas didapatkan bobot untuk tiap ASPEK yang dinilai dalam proses penilaian kualifikasi, seperti ditunjukkan pada tabel di bawah: Tabel 4.26 Bobot perbandingan antara AHP dan contoh Kepmen ASPEK BOBOT BERDASARKAN AHP CONTOH PEMBOBOTAN KEPMEN KEUANGAN PENGALAMAN KEMAMPUAN TEKNIS INOVASI 10 N/A 1. ASPEK KEUANGAN Berdasarkan sudut pandang dari responden didapatkan bobot ASPEK KEUANGAN merupakan bobot terbesar ketiga dibanding aspek lainnya yaitu sebesar 15 %. Hal tersebut disebabkan karena penyedia jasa pelaksana perlu untuk menyiapkan sejumlah uang agar

17 dapat menyelesaikan pekerjaan yang diterimanya dan sebagai jaminan agar pihak penyedia jasa pelaksana bertanggung jawab terhadap penyelesaian proyek. Status keuangan yang tidak baik dapat mengarah kepada terlambatnya pekerjaan, kurangnya mutu pekerjaan dari yang disyaratkan, maupun keselamatan dan keamanan pekerjaan. Akan tetapi sejumlah responden juga menganggap bahwa faktor ini tidak bisa menjadi jaminan selesainya proyek tepat waktu karena status keuangan penyedia jasa yang mengikuti proses kualifikasi belum semuanya di audit oleh akuntan publik. Dalam penilaiannya status keuangan penyedia jasa harus dilihat dari status keuangan pekerjaan sebelumnya, yang menyangkut hutang maupun aset calon penyedia jasa. Bobot yang didapatkan dari penelitian ini lebih besar dari yang dicontohkan dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah yang memberikan nilai maksimum dari kemampuan keuangan adalah sebesar 10 %. 2. ASPEK PENGALAMAN Berdasarkan sudut pandang dari responden didapatkan bobot ASPEK PENGALAMAN merupakan bobot terbesar dibanding aspek lainnya yaitu sebesar 45 %. Hal tersebut disebabkan karena aspek pengalaman merupakan panduan yang menuntun untuk mengukur kemampuan penyedia jasa pelaksana konstruksi untuk menyelesaikan pekerjaan yang dilelangkan tersebut. Responden juga menganggap bahwa pengalaman adalah aspek terpenting dalam menilai penyedia jasa pelaksana konstruksi, karena hampir disetiap penilaian kualifikasi, meskipun biaya penawaran penyedia jasa pelaksana konstruksi merupakan yang terendah tetapi jika performa mereka tidak baik berdasarkan pengalaman pada pekerjaan sebelumnya, kemungkinan besar penyedia jasa tersebut akan memiliki kecenderungan yang tinggi untuk gagal dalam melaksanakan pekerjaan. Bobot yang didapatkan dari penelitian ini lebih kecil dari yang dicontohkan dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah yang memberikan contoh bobot dari kemampuan keuangan adalah sebesar 60 %. Akan tetapi, bobot pengalaman masih tetap merupakan bobot tertinggi, berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan.

18 3. ASPEK KEMAMPUAN TEKNIS Berdasarkan sudut pandang dari responden didapatkan bobot ASPEK KEMAMPUAN TEKNIS merupakan bobot terbesar kedua dibanding aspek lainnya yaitu sebesar 30 %. Hal tersebut disebabkan karena aspek kemampuan teknis menentukan efektifitas penyedia jasa pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan dalam kontrak jika terpilih nantinya. Umumnya responden juga berpendapat bahwa penyedia jasa harus mampu memenuhi persyaratan yang diminta dalam pekerjaan baik dari macam peralatan dan tenaga ahli maupun dari spesifikasi teknis. Persyaratan ini bersifat mutlak dalam menentukan nilai akhir yang diperoleh oleh penyedia jasa nantinya. Dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, Aspek Kemampuan Teknis mempunyai bobot sebesar 30 %. Berdasarkan perbandingan antara hasil pengolahan dan contoh bobot kemampuan teknis dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum, didapatkan bobot yang sama. 4. ASPEK INOVASI Berdasarkan sudut pandang dari responden didapatkan bobot ASPEK INOVASI merupakan bobot terkecil dibanding aspek lainnya yaitu sebesar 10%. Hal tersebut disebabkan karena faktor-faktor inovasi belumlah dianggap cukup penting dalam proses penilaian kualifikasi penyedia jasa pelaksana konstruksi karena responden umumnya berpandangan bahwa pengguna jasa tidaklah terlalu bermasalah dengan inovasi penyedia selama ketentuan dan persyaratan didalam perjanjian pekerjaan dipenuhi semuanya Analisis KRITERIA Kriteria yang disusun didasarkan pada studi pustaka mengenai hal-hal yang dibutuhkan dalam menilai perusahaan penyedia jasa pelaksana konstruksi. Perbandingan antara bobot kriteria yang didapatkan dari hasil pengolahan data dan bobot kriteria yang dicontohkan dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah ditunjukkan dalam tabel dibawah ini:

19 Tabel 4.27 Bobot perbandingan antara AHP dan contoh Kepmen K R ITE R IA B O B O T B E R D A S A R K A N A H P C O N TO H P E M B O B O TA N K E P M E N S isa K e m a m p u a n 7,5 % 7,5 % K e u a n g a n D u k u n g a n B a n k 7,5 % 2,5 % P e k e rja a n 2 0,2 5 % 2 5 % S e je n is N ila i k o n tra k 9 % 2 5 % 7 ta h u n te ra k h ir S ta tu s b a d a n u sa h a N A 1 0 % K e rja sa m a d e n g a n 6,7 5 % N A P e m e rin ta h a ta u sw a sta 4 ta h u n B a n y a k n y a P ro y e k 9 % N A y a n g g a g a l Te n a g a A h li 1 0,5 % 1 0 % K e m a m p u a n D a sa r 6 % ta n p a b o b o t P e ra la ta n d a n b u k ti 1 0,5 % 1 5 % k e p e m ilik a n K e m a m p u a n P a k e t 3 % ta n p a b o b o t M a n a je m e n M u tu 3,5 % 5 % (IS O ) S e rtifik a t K e se la m a ta n 3 % N A d a n K e se h a ta n K e rja P e n e ra p a n Te k n o lo g i 3,5 % N A B o b o t d ia ta s d id a sa rk a n p a d a k e se lu ru h a n b o b o t p e n ila ia n k u a lifik a si a d a la h % 1. Kriteria Sisa Kemampuan Keuangan Kriteria Sisa Kemampuan Keuangan, berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 7,5%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, dicontohkan bahwa bobot untuk Sisa Kemampuan Keuangan sebesar 7,5%. Bobot yang sama antara hasil pengolahan data dengan hasil Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 terjadi karena responden menganggap bahwa: a. Pada kondisi sebenarnya, SKK dibuat oleh penyedia jasa dan belum tentu diaudit oleh akuntan publik karena belum ada peraturan yang mengharuskan hal tersebut, sehingga bobot yang diberikan oleh responden masih tidak cukup signifikan. b. Dalam satu kepanitiaan yang mengurusi pengadaan jasa konstruksi instansi pemerintah, terkadang tidak terdapat orang yang mengerti neraca keuangan perusahaan.

20 2. Kriteria Surat Dukungan Bank Kriteria Surat Dukungan Bank, berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 7,5%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, dicontohkan bahwa bobot untuk Sisa Kemampuan Keuangan sebesar 2,5%. Bobot yang didapat dari hasil pengolahan data jauh lebih besar jika dibandingkan dengan hasil bobot yang dicontohkan dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003, menurut responden bahwa SDB lebih riil untuk menjadi salah satu faktor penilaian keuangan karena untuk memperoleh SDB penyedia jasa harus menyimpan sejumlah uang di bank tersebut. 3. Kriteria Pekerjaan sejenis Kriteria Pekerjaan sejenis, berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 20,25%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, dicontohkan bahwa bobot untuk Sisa Kemampuan Keuangan sebesar 25%. Bobot yang didapat dari hasil pengolahan data lebih kecil jika dibandingkan dengan hasil bobot yang dicontohkan dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003, hal ini karena dalam penilaian aspek pengalaman, kriteria yang disusun dalam hierarki dibagi menjadi 4 (empat) kriteria dan lebih banyak daripada kriteria yang dituliskan dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum. Bobot kriteria pekerjaan sejenis menjadi bobot terbesar jika dibandingkan dengan kriteria lainnya dalam penilaian aspek pengalaman hal ini dikarenakan menurut responden dalam penilaian kualifikasi penyedia jasa pelaksana konstruksi faktor kesesuaian antara jenis pekerjaan yang telah dilakukan oleh pihak penyedia dengan pekerjaan yang dilelangkan menjadi pertimbangan utama untuk melihat kompetensi penyedia jasa dalam melakukan pekerjaan yang akan dilelangkan. 4. Kriteria Nilai Kontrak 7 Tahun Terakhir Kriteria Nilai Kontrak 7 Tahun Terakhir, berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 9%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa

21 Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, dicontohkan bahwa bobot untuk Sisa Kemampuan Keuangan sebesar 25%. Bobot yang didapat dari hasil pengolahan data jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan hasil bobot yang dicontohkan dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003, hal ini berakibat bahwa nilai kontrak yang dilakukan oleh penyedia jasa pelaksana konstruksi dalam 7 (tujuh) tahun terakhir kurang untuk melihat pengalaman dari penyedia jasa karena seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pengguna jasa lebih melihat pengalaman penyedia jasa dari banyaknya pekerjaan yang sejenis dengan pekerjaan yang akan dilelangkan. 5. Kriteria Kerja sama dengan Pemerintah atau swasta 4 tahun terakhir Kriteria Kerja sama dengan Pemerintah atau swasta 4 tahun terakhir, berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 6,75%. Berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, kriteria tersebut dimasukkan kedalam persyaratan administrasi sebagai syarat lulus atau gugurnya peserta dalam penilaian kualifikasi. Bobot yang didapat dari pengolahan data menjadikan kriteria ini sebagai pertimbangan terakhir untuk menilai aspek pengalaman penyedia jasa pelaksana konstruksi. Menurut responden kriteria ini tidak terlalu penting karena dari faktor kerja sama selama 4 tahun terakhir tidak bisa dilihat jenis pengalaman penyedia. 6. Kriteria Banyaknya kegagalan proyek Kriteria Banyaknya kegagalan proyek, berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 9%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, tidak terdapat kriteria yang mencantumkan mengenai bobot dari kriteria tersebut. Kriteria mengenai banyaknya proyek yang gagal erat kaitannya dengan masuk atau tidaknya penyedia jasa kedalam daftar hitam. Dalam Keputusan Presiden No. 80 tahun 2003 tentang pedoman pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah pasal 11 butir (h) bahwa persyaratan penyedia barang/jasa adalah tidak masuk dalam daftar hitam. Dalam

22 bagian penjelasan dituliskan bahwa merupakan kewajiban panitia/pejabat pengadaan untuk mencari informasi dalam rangka untuk meyakini atau memastikan suatu badan usaha tidak masuk dalam daftar hitam instansi pemerintah manapun dengan cara menghubungi pengguna barang/jasa sebelumnya. Untuk mempercepat kerja panitia/pejabat pengadaan, cukup penyedia membuat pernyataan bahwa penyedia barang/jasa tidak masuk dalam daftar hitam. Kepada seluruh penyedia jasa juga tidak diwajibkan mempunyai surat keterangan tidak masuk dalam daftar hitam dari instansi/lembaga baik pemerintah maupun swasta. 7. Kriteria Tenaga Ahli Kriteria Tenaga Ahli, berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 10,5%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, dicontohkan bahwa bobot untuk Kriteria Tenaga Ahli atau Personil sebesar 10%. Bobot yang didapat dari hasil pengolahan data tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan hasil bobot yang dicontohkan dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003. Bobot kriteria Tenaga Ahli menjadi salah satu bobot yang terbesar jika dibandingkan dengan kriteria lainnya dalam penilaian aspek kemampuan teknis hal ini dikarenakan menurut responden dalam penilaian kualifikasi penyedia jasa pelaksana konstruksi faktor kinerja dan kemampuan tenaga ahli menjadi pertimbangan utama untuk melihat kompetensi penyedia jasa dalam melakukan pekerjaan yang akan dilelangkan, walaupun kriteria ini bergantung pada tingkat kompleksitas pekerjaan. 8. Kriteria Kemampuan Dasar Kriteria Kemampuan Dasar, berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 6%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, kriteria Kemampuan Dasar tidak mempunyai bobot. Kriteria kemampuan dasar dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum tercantum dalam persyaratan administrasi dimana penyedia jasa harus memiliki kemampuan dasar sebesar 2 (dua) kali dari nilai pengalaman tertingginya dalam 7 (tujuh) tahun terakhir.

23 Kriteria kemampuan dasar sangat berkaitan dengan pengalaman penyedia jasa dalam 7 (tujuh) tahun terakhir, sehingga jika bobot dua kriteria ini maka jika digabungkan kedua kriteria ini akan memiliki bobot sebesar 15%. 9. Kriteria Peralatan yang Dimiliki Kriteria Peralatan yang Dimiliki, berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 10,5%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, dicontohkan bahwa bobot untuk Kriteria Tenaga Ahli atau Personil sebesar 15%. Bobot yang didapat dari hasil pengolahan data lebih kecil jika dibandingkan dengan hasil bobot yang dicontohkan dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003. Dalam kondisi sebenarnya sulit bagi pengguna jasa untuk melihat kebenaran dari kepemilikan peralatan tersebut, karena panitia pengadaan hanya melihat bukti tertulis dari surat-surat kepemilikan peralatan penyedia jasa. Bobot kriteria peralatan yang dimiliki juga menjadi yang terbesar jika dibandingkan dengan kriteria lainnya dalam penilaian aspek kemampuan teknis, dan sama dengan bobot tenaga ahli, hal ini dikarenakan menurut responden dalam penilaian kualifikasi penyedia jasa pelaksana konstruksi peralatan yang dimiliki penyedia jasa menjadi pertimbangan utama untuk melihat kompetensi penyedia jasa dalam melakukan pekerjaan yang akan dilelangkan. 10. Kriteria Kemampuan Paket Kriteria Kemampuan Paket, berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 3%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, tidak terdapat kriteria yang mencantumkan mengenai bobot dari kriteria tersebut. Kriteria kemampuan paket merupakan ukuran berapa banyak paket pekerjaan yang dapat dikerjakan penyedia jasa dalam waktu yang bersamaan, menjadi batasan bagi penyedia jasa untuk menawar paket pekerjaan yang dilelangkan.

24 11. Kriteria Manajemen Mutu (ISO) Dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum kriteria manajemen mutu dimasukkan kedalam aspek kemampuan teknis. Kriteria Manajemen Mutu (ISO), berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 3,5%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, dicontohkan bahwa bobot untuk Manajemen Mutu (ISO) sebesar 5%. Bobot yang didapat dari hasil pengolahan data lebih kecil jika dibandingkan dengan hasil bobot yang dicontohkan dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003, hal tersebut karena pada aspek inovasi dibagi menjadi 3 (tiga) kriteria dan hanya dibutuhkan jika pekerjaan yang dilakukan termasuk kedalam pekerjaan kompleks. Bobot kriteria ini juga karena pada umumnya dalam persepsi responden kriteria mengenai manajemen mutu sebaiknya harus diterapkan dalam pekerjaan dan tidak hanya sebatas pada sertifikasi. 12. Kriteria Sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kriteria Sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 3%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, tidak dicantumkan bobot untuk menilai Kriteria Sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Dalam persepsi responden kriteria ini hanya sebatas tambahan dalam penilaian kualifikasi sehingga tingkat kepentingannya lebih kecil jika dibandingkan dengan dua kriteria lainnya dalam aspek inovasi. 13. Kriteria Penerapan Teknologi Kriteria Penerapan Teknologi, berdasarkan pengolahan data diperoleh bobot sebesar 3,5%, dan berdasarkan contoh dalam Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.339/KPTS/M/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konstruksi oleh Instansi Pemerintah, tidak dicantumkan bobot untuk menilai Kriteria Penerapan Teknologi.

25 Kriteria penerapan teknologi berkaitan dengan metoda pelaksanaan dan kemampuan penyedia jasa dalam menerapkan teknologi terbaru seperti perangkat lunak. Dalam persepsi responden kriteria ini bukanlah hal yang terlalu penting karena selama syarat yang ditetapkan dalam perjanjian kerja dipenuhi oleh pihak penyedia jasa maka metoda pelaksanaan tidak menjadi perhatian yang utama. Untuk lebih jelasnya, hierarki bobot fungsional hasil pengolahan data dapat dilihat pada gambar 4.4, dan hierarki contoh bobot penilaian berdasarkan KepMen KimPrasWil no. 339/KPTS/M/2003 dapat dilihat pada gambar ,76% 1 KEUANGAN 51,44% 48,56% 1.A Dukungan Bank 1.B Sisa kemampuan keuangan 44,67% 2.A Pekerjaan Sejenis 22,08% 2.B Nilai kontrak 7 tahun terakhir 46,80% 2 PENGALAMAN 13,78% 2.C Kerjasama dengan pemerintah 4 tahun terakhir 19,47% 2.D. Banyaknya kegagalan pelaksanaan proyek PENILAIAN KUALIFIKASI 34,17% 3.A Tenaga Ahli 18,34% 3.B Kemampuan Dasar 28,15% 3 KEMAMPUAN TEKNIS 34,69% 3.C. Peralatan beserta bukti kepemilikan 12,80% 3.D Kemampuan paket 37,37% 4.A Manajemen Mutu (ISO) 12,29% 4 INOVASI 25,57% 4.B Sertifikat keselamatan dan kesehatan kerja (K3) 37,06% 4.C Penerapan teknologi Gambar 4.4 Bobot Fungsional Gabungan dari pengolahan data

26 15 % 1 KEUANGAN 50% 50% 1.A Dukungan Bank 1.B Sisa kemampuan keuangan 45% 2.A Pekerjaan Sejenis 20% 2.B Nilai kontrak 7 tahun terakhir 45% 2 PENGALAMAN 15% 2.C Kerjasama dengan pemerintah 4 tahun terakhir 20% 2.D. Banyaknya kegagalan pelaksanaan proyek PENILAIAN KUALIFIKASI 35% 3.A Tenaga Ahli 20% 3.B Kemampuan Dasar 30% 3 KEMAMPUAN TEKNIS 35% 3.C. Peralatan beserta bukti kepemilikan 10% 3.D Kemampuan paket 35% 4.A Manajemen Mutu (ISO) 10% 4 INOVASI 30% 4.B Sertifikat keselamatan dan kesehatan kerja (K3) 35% 4.C Penerapan teknologi Gambar 4.5 Bobot Fungsional Gabungan hasil analisis

27 Gambar 4.6 Contoh penilaian Kepmen Kimpraswil no.339/kpts/m/2003

28 Gambar 4.7 Contoh penilaian Permen PU no.43/kpts/m/2007

29 Tabel 4.26 Perbandingan Bobot dan Kriteria antara pengolahan data dengan contoh dalam Keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah Bobot (%) Aspek Kriteria Contoh dalam Hasil AHP KepMen Keuangan Ο Dukungan Bank Ο Sisa Kemampuan Keuangan Pengalaman Ο Pekerjaan Sejenis Ο Nilai Kontrak 7 tahun terakhir Ο Kerjasama dengan pemerintah 15-4 tahun terakhir Ο Banyaknya Kegagalan 20 - Pelaksanaan Proyek Ο Status Badan Usaha - 16 Kemampuan Teknis Ο Tenaga Ahli Ο Kemampuan Dasar 20 - Ο Peralatan Beserta Bukti Kepemilikan Ο Kemampuan Paket 10 - Ο Inovasi - 17 Inovasi 10 - Ο Manajemen Mutu (ISO) 35 - Ο Sertifikat Keselamatan dan 30 - Kesehatan Kerja (K3) Ο Penerapan Teknologi 35 -

PENILAIAN KUALIFIKASI PEKERJAAN JASA PEMBORONGAN BERDASARKAN KEPPRES NOMOR 80 TAHUN 2003 DAN KEPMEN KIMPRASWIL NOMOR 339/KPTS/M/2003 * Edy Sriyono **

PENILAIAN KUALIFIKASI PEKERJAAN JASA PEMBORONGAN BERDASARKAN KEPPRES NOMOR 80 TAHUN 2003 DAN KEPMEN KIMPRASWIL NOMOR 339/KPTS/M/2003 * Edy Sriyono ** PENILAIAN KUALIFIKASI PEKERJAAN JASA PEMBORONGAN BERDASARKAN KEPPRES NOMOR 80 TAHUN 2003 DAN KEPMEN KIMPRASWIL NOMOR 339/KPTS/M/2003 * Edy Sriyono ** INTISARI Tujuan disajikannya makalah ini adalah agar

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN 56 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 PENDAHULUAN Pada bab ini akan dipaparkan mengenai perancangan penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penulisan ini. Penelitian ini memiliki 2 (dua) tujuan,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH Nomor: 339 /KPTS/M/2003

KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH Nomor: 339 /KPTS/M/2003 KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH Nomor: 339 /KPTS/M/2003 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI OLEH INSTANSI PEMERINTAH MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH MENIMBANG

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH Nomor: 339/KPTS/M/2003

KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH Nomor: 339/KPTS/M/2003 KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH Nomor: 339/KPTS/M/2003 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI OLEH INSTANSI PEMERINTAH MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH MENIMBANG

Lebih terperinci

PENENTUAN URUTAN PRIORITAS USULAN PENANGANAN RUAS-RUAS JALAN DI KOTA SAMARINDA

PENENTUAN URUTAN PRIORITAS USULAN PENANGANAN RUAS-RUAS JALAN DI KOTA SAMARINDA PENENTUAN URUTAN PRIORITAS USULAN PENANGANAN RUAS-RUAS JALAN DI KOTA SAMARINDA Desy Damayanti Mahasiswa Magister Manajemen Aset FTSP ITS Ria Asih Aryani Soemitro Dosen Pembina Magister Manajemen Aset FTSP

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan Penelitian Ruang Lingkup Penelitian Sistematika Penelitian...

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan Penelitian Ruang Lingkup Penelitian Sistematika Penelitian... ABSTRAK Pemilihan calon kontraktor dalam pengadaan barang/jasa pemborongan di bidang konstruksi pada prinsipnya dilakukan dengan metode pelelangan umum pascakualifikasi, terutama pada proyek pemerintah.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 11 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) ini dilaksanakan di PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat pada

Lebih terperinci

PENERAPAN AHP (ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS) UNTUK MEMAKSIMALKAN PEMILIHAN VENDOR PELAYANAN TEKNIK DI PT. PLN (PERSERO) AREA BANYUWANGI

PENERAPAN AHP (ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS) UNTUK MEMAKSIMALKAN PEMILIHAN VENDOR PELAYANAN TEKNIK DI PT. PLN (PERSERO) AREA BANYUWANGI PENERAPAN AHP (ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS) UNTUK MEMAKSIMALKAN PEMILIHAN VENDOR PELAYANAN TEKNIK DI PT. PLN (PERSERO) AREA BANYUWANGI Harliwanti Prisilia Jurusan Teknik Industri Universitas 17 Agustus

Lebih terperinci

MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH

MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH MENIMBANG KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH Nomor : 339 /KPTS/M/2003 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI OLEH INSTANSI PEMERINTAH MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH

Lebih terperinci

PENGARUH METODE EVALUASI PENAWARAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH TERHADAP HASIL PEKERJAAN DENGAN PENDEKATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

PENGARUH METODE EVALUASI PENAWARAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH TERHADAP HASIL PEKERJAAN DENGAN PENDEKATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS PENGARUH METODE EVALUASI PENAWARAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH TERHADAP HASIL PEKERJAAN DENGAN PENDEKATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS ( Studi Kasus di Pemerintah Kabupaten Temanggung ) RINGKASAN

Lebih terperinci

BAB III METODE KAJIAN

BAB III METODE KAJIAN 47 BAB III METODE KAJIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Meningkatnya aktivitas perkotaan seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi masyarakat yang kemudian diikuti dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk akan

Lebih terperinci

ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP

ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP ANALISIS DATA Data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan konsumen dan pakar serta tinjauan langsung ke lapangan, dianalisa menggunakan metode yang berbeda-beda sesuai kebutuhan dan kepentingannya.

Lebih terperinci

MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH. KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH Nomor : 339 /KPTS/M/2003

MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH. KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH Nomor : 339 /KPTS/M/2003 MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH KEPUTUSAN MENTERI PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH Nomor : 339 /KPTS/M/2003 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI OLEH INSTANSI PEMERINTAH MENTERI

Lebih terperinci

BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP)

BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP) BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK 3.1 Pengertian Proses Hierarki Analitik Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP) pertama kali dikembangkan oleh Thomas Lorie Saaty dari Wharton

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang tujuannya untuk menyajikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh barang dan jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat

BAB I PENDAHULUAN. memperoleh barang dan jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengadaan barang dan jasa pemerintah merupakan kegiatan untuk memperoleh barang dan jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi lainnya. Prosesnya

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat

III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data-data yang digunakan untuk penelitian ini merupakan gabungan antara data primer dan data sekunder. Data primer mencakup hasil penggalian pendapat atau

Lebih terperinci

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA. S U R A T E D A R A N Nomor : 03/SE/M/2005

MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA. S U R A T E D A R A N Nomor : 03/SE/M/2005 MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA Kepada Yth. Para Pejabat Eselon I di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum di- J A K A R T A. S U R A T E D A R A N Nomor : 03/SE/M/2005 Perihal : Penyelenggaraan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. dalam proyek konstruksi dapat diaplikasikan oleh manajer proyek secara tepat.

BAB II LANDASAN TEORI. dalam proyek konstruksi dapat diaplikasikan oleh manajer proyek secara tepat. BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Konstruksi Manajemen konstruksi adalah bagaimana agar sumber daya yang terlibat dalam proyek konstruksi dapat diaplikasikan oleh manajer proyek secara tepat. Sumber

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Perkembangan teknologi yang begitu pesat, secara langsung mempengaruhi pola pikir masyarakat dan budaya hidup yang serba praktis dan modern.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Dengan semakin meningkatnya volume pembangunan bangunan gedung negara, serta terbatasnya sumber daya yang tersedia, semakin dirasakan perlu adanya standarisasi yang

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 27 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendahuluan Metode penelitian berkaitan erat dengan prosedur, alat serta desain penelitian yang digunakan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 TAHAP KUALIFIKASI 2.1.1 Pengertian kualifikasi Tahapan kualifikasi adalah penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan tertentu lainnya dari penyedia barang/jasa

Lebih terperinci

ANALISA PEMILIHAN LOKASI PEMBANGUNAN PASAR BARU DI KECAMATAN MUARADUA KABUPATEN OKU SELATAN

ANALISA PEMILIHAN LOKASI PEMBANGUNAN PASAR BARU DI KECAMATAN MUARADUA KABUPATEN OKU SELATAN ANALISA PEMILIHAN LOKASI PEMBANGUNAN PASAR BARU DI KECAMATAN MUARADUA KABUPATEN OKU SELATAN Yusrinawati Mahasiswa Magister Manajemen Aset FTSP ITS Email: yusri47@yahoo.com Retno Indryani Eko Budi Santoso

Lebih terperinci

PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) GUNA PEMILIHAN DESAIN PRODUK KURSI SANTAI

PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) GUNA PEMILIHAN DESAIN PRODUK KURSI SANTAI PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) GUNA PEMILIHAN DESAIN PRODUK KURSI SANTAI Dwi Nurul Izzhati Fakultas Teknik, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang 50131 E-mail : dwinurul@dosen.dinus.ac.id

Lebih terperinci

Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah

Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah 3.1. Flowchart Penelitian Agar penelitian ini berjalan dengan sistematis, maka sebelumnya peneliti membuat perencanaan tentang langkah-langkah pemecahan masalah yang akan

Lebih terperinci

ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS)

ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS) ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS) M.Fajar Nurwildani Dosen Prodi Teknik Industri, Universitasa Pancasakti,

Lebih terperinci

Freza Surya Asrina Strata Satu Sistem Informasi Universitas Dian Nuswantoro ABSTRAK

Freza Surya Asrina Strata Satu Sistem Informasi Universitas Dian Nuswantoro ABSTRAK Analytical Hierarchi Process Modelling Dalam Pendukung Keputusan Reward and Punishment Pada Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah Freza Surya Asrina Strata Satu

Lebih terperinci

SURAT EDARAN Nomor: 08/SE/M/2006

SURAT EDARAN Nomor: 08/SE/M/2006 MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA Kepada Yth, Para Pejabat Eselon I di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum di Jakarta Perihal: Pengadaan Jasa Konstruksi untuk Instansi Pemerintah Tahun Anggaran

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 14 LANDASAN TEORI 2.1 Proses Hierarki Analitik 2.1.1 Pengenalan Proses Hierarki Analitik Proses Hierarki Analitik (Analytical Hierarchy Process AHP) dikembangkan oleh Dr. Thomas L. Saaty dari Wharton

Lebih terperinci

PEMILIHAN LOKASI PERGURUAN TINGGI SWASTA DI JAWA BARAT BERDASARKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Oleh : RATNA IMANIRA SOFIANI, SSi

PEMILIHAN LOKASI PERGURUAN TINGGI SWASTA DI JAWA BARAT BERDASARKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Oleh : RATNA IMANIRA SOFIANI, SSi PEMILIHAN LOKASI PERGURUAN TINGGI SWASTA DI JAWA BARAT BERDASARKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Oleh : RATNA IMANIRA SOFIANI, SSi ABSTRAK Tulisan ini memaparkan tentang penerapan Analitycal

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI PERSOLAN DOMINAN PENYEDIA BARANG/JASA KONSTRUKSI BERDASARKAN DOKUMEN PENAWARANNYA

IDENTIFIKASI PERSOLAN DOMINAN PENYEDIA BARANG/JASA KONSTRUKSI BERDASARKAN DOKUMEN PENAWARANNYA IDENTIFIKASI PERSOLAN DOMINAN PENYEDIA BARANG/JASA KONSTRUKSI BERDASARKAN DOKUMEN PENAWARANNYA Albani Musyafa 1 1 Program Studi Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia, Jl Kaliurang Km 14,4 Yogyakarta

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Bab ini menjelaskan mengenai metode Analytic Hierarchy Process (AHP) sebagai metode yang digunakan untuk memilih obat terbaik dalam penelitian ini. Disini juga dijelaskan prosedur

Lebih terperinci

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA DALAM PEMILIHAN TEMPAT KERJA MELALUI METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA DALAM PEMILIHAN TEMPAT KERJA MELALUI METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) JIMT Vol. 12 No. 2 Desember 2016 (Hal 160-171) ISSN : 2450 766X FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA DALAM PEMILIHAN TEMPAT KERJA MELALUI METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) E. Salim 1, S. Musdalifah

Lebih terperinci

repository.unisba.ac.id DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

repository.unisba.ac.id DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... i ii iv viii xv xvi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah... 1 1.2 Perumusan Masalah...

Lebih terperinci

BAB 5 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

BAB 5 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 67 BAB 5 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA 5.1 Pendahuluan Pada bab ini akan dibahas mengenai pengumpulan data berdasarkan tujuan penelitian yang telah ditentukan pada awal penelitian. Analisa data data yang

Lebih terperinci

PENENTUAN PRIORITAS PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG SEKOLAH DASAR NEGERI DI KABUPATEN TABALONG

PENENTUAN PRIORITAS PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG SEKOLAH DASAR NEGERI DI KABUPATEN TABALONG PENENTUAN PRIORITAS PEMELIHARAAN BANGUNAN GEDUNG SEKOLAH DASAR NEGERI DI KABUPATEN TABALONG Haris Fakhrozi 1, Putu Artama Wiguna 2, Anak Agung Gde Kartika 3 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Bidang Keahlian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Vendor Dalam arti harfiahnya, vendor adalah penjual. Namun vendor memiliki artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam industri yang menghubungkan

Lebih terperinci

PENILAIAN KINERJA KONSULTAN PERENCANA BANGUNAN DENGAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (Studi pada Perencana Bangunan di Manado)

PENILAIAN KINERJA KONSULTAN PERENCANA BANGUNAN DENGAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (Studi pada Perencana Bangunan di Manado) PENILAIAN KINERJA KONSULTAN PERENCANA BANGUNAN DENGAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (Studi pada Perencana Bangunan di Manado) Mycle Wala Alumni Program Pascasarjana S2 Teknik Sipil Universitas Sam

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor mulai Desember 2010 Maret 2011. 3.2 Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sistem Pendukung Keputusan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sistem Pendukung Keputusan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Pendukung Keputusan Sistem pendukung keputusan adalah sebuah sistem yang efektif dalam membantu mengambil suatu keputusan yang kompleks, sistem ini menggunakan aturan

Lebih terperinci

SURAT EDARAN NOMOR : 03/SE/IJ/2006

SURAT EDARAN NOMOR : 03/SE/IJ/2006 Jakarta, 26 Juni 2006 Kepada yang terhormat : Para Pejabat Eselon II di lingkungan Inspektorat Jenderal Departemen Pekerjaan Umum Perihal : Tata Cara Pemeriksaan Pemilihan Penyedia Jasa Pelaksanaan Konstruksi/

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI UNTUK SISWA YANG MELANJUTKAN KULIAH PADA SMA N 1 TEGAL

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI UNTUK SISWA YANG MELANJUTKAN KULIAH PADA SMA N 1 TEGAL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI UNTUK SISWA YANG MELANJUTKAN KULIAH PADA SMA N 1 TEGAL Asep Nurhidayat Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERUMAHAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERUMAHAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS ISSN : 2338-4018 SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERUMAHAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS Ambar Widayanti (ambarwidayanti@gmail.com) Muhammad Hasbi (hasbb63@yahoo.com) Teguh Susyanto (teguh@sinus.ac.id)

Lebih terperinci

ANALISIS PENENTUAN URUTAN PRIORITAS USULAN KEGIATAN PENINGKATAN JALAN KOTA DI KOTA BANDAR LAMPUNG

ANALISIS PENENTUAN URUTAN PRIORITAS USULAN KEGIATAN PENINGKATAN JALAN KOTA DI KOTA BANDAR LAMPUNG ANALISIS PENENTUAN URUTAN PRIORITAS USULAN KEGIATAN PENINGKATAN JALAN KOTA DI KOTA BANDAR LAMPUNG Victory Hasan 1, Ria Asih Aryani Soemitro 2, Sumino 3 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Bidang Keahlian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai langkah-langkah yang ditempuh untuk mendapatkan metodologi penelitian yang merupakan suatu tahapan yang harus diterapkan agar penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Metode yang digunakan Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. yang di lakukan oleh Agus Settiyono (2016) dalam penelitiannya menggunakan 7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. yang di lakukan oleh Agus Settiyono (2016) dalam penelitiannya menggunakan 7 BAB 2 2.1. Tinjauan Pustaka TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Tinjauan pustaka yang dipakai dalam penelitian ini didapat dari penelitian yang di lakukan oleh Agus Settiyono (2016) dalam penelitiannya menggunakan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PENELITIAN. penelitian ini, terlebih dahulu dideskripsikan karakteristik responden secara

BAB 4 HASIL PENELITIAN. penelitian ini, terlebih dahulu dideskripsikan karakteristik responden secara BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Karakteristik Responden Sebelum disajikan data hasil penelitian setiap variabel yang dikaji dalam penelitian ini, terlebih dahulu dideskripsikan karakteristik responden secara

Lebih terperinci

PERBANDINGAN PENENTUAN PEMBOBOTAN EVALUASI TEKNIS JASA KONSULTANSI MENGGUNAKAN METODE AHP DAN FUZZY

PERBANDINGAN PENENTUAN PEMBOBOTAN EVALUASI TEKNIS JASA KONSULTANSI MENGGUNAKAN METODE AHP DAN FUZZY PERBANDINGAN PENENTUAN PEMBOBOTAN EVALUASI TEKNIS JASA KONSULTANSI MENGGUNAKAN METODE AHP DAN FUZZY M. Adhitya Verdian 1 Mahasiswa Magister Teknik Sipil Konsentrasi Manajemen Proyek Konstruksi Program

Lebih terperinci

ANALISIS LOKASI CABANG TERBAIK MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS

ANALISIS LOKASI CABANG TERBAIK MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS ANALISIS LOKASI CABANG TERBAIK MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS Muhammad Yusuf Teknik Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Email : yusuf@akprind.ac.id ABSTRAK Pemilihan lokasi yang

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara

METODE PENELITIAN. Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di daerah sepanjang jalan Cicurug-Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. lokasi penelitian secara sengaja (purposive) yaitu dengan pertimbangan bahwa

BAB III METODE PENELITIAN. lokasi penelitian secara sengaja (purposive) yaitu dengan pertimbangan bahwa BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Tempat Penelitian Objek penelitian ini adalah strategi pengadaan bahan baku agroindustri ubi jalar di PT Galih Estetika Indonesia Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Lebih terperinci

MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PENILAIAN DESA DALAM PROGRAM DESA MAJU INHIL JAYA. Muh. Rasyid Ridha

MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PENILAIAN DESA DALAM PROGRAM DESA MAJU INHIL JAYA. Muh. Rasyid Ridha MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PENILAIAN DESA DALAM PROGRAM DESA MAJU INHIL JAYA Muh. Rasyid Ridha Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitasi Islam Indragiri

Lebih terperinci

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENENTUKAN NASABAH KARTU KREDIT BANK RAKYAT INDONESIA DENGAN METODE FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENENTUKAN NASABAH KARTU KREDIT BANK RAKYAT INDONESIA DENGAN METODE FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENENTUKAN NASABAH KARTU KREDIT BANK RAKYAT INDONESIA DENGAN METODE FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS Fratika Aprilia Purisabara, Titin Sri Martini, dan Mania Roswitha Program

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI RISIKO DALAM ASPEK PRASARANA LINGKUNGAN PERUMAHAN YANG BERPENGARUH TERHADAP KINERJA BIAYA DEVELOPER SKRIPSI

IDENTIFIKASI RISIKO DALAM ASPEK PRASARANA LINGKUNGAN PERUMAHAN YANG BERPENGARUH TERHADAP KINERJA BIAYA DEVELOPER SKRIPSI NO.815/FT.01/SKRIP/07/2008 IDENTIFIKASI RISIKO DALAM ASPEK PRASARANA LINGKUNGAN PERUMAHAN YANG BERPENGARUH TERHADAP KINERJA BIAYA DEVELOPER SKRIPSI Oleh ANTON TIMOR SAPUTRO 04 03 01 008 9 DEPARTEMEN TEKNIK

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 43 /PRT/M/2007 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 43 /PRT/M/2007 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 43 /PRT/M/2007 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI BUKU 2 PEDOMAN KUALIFIKASI PELELANGAN NASIONAL PEKERJAAN

Lebih terperinci

PEMILIHAN RANGE PLAFOND PEMBIAYAAN TERBAIK BMT DENGAN METODE AHP. Dwi Yuniarto, S.Sos., M.Kom. Program Studi Teknik Informatika STMIK Sumedang

PEMILIHAN RANGE PLAFOND PEMBIAYAAN TERBAIK BMT DENGAN METODE AHP. Dwi Yuniarto, S.Sos., M.Kom. Program Studi Teknik Informatika STMIK Sumedang PEMILIHAN RANGE PLAFOND PEMBIAYAAN TERBAIK BMT DENGAN METODE AHP Dwi Yuniarto, S.Sos., M.Kom. Program Studi Teknik Informatika STMIK Sumedang ABSTRAK Penentuan range plafond diperlukan untuk menentukan

Lebih terperinci

Kebijakan Penerapan Standar Pedoman dan Manual Sekretariat Komite Teknis Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil

Kebijakan Penerapan Standar Pedoman dan Manual Sekretariat Komite Teknis Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil 1 Kebijakan Penerapan Standar Pedoman dan Manual Sekretariat Komite Teknis 91-01 Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan

Lebih terperinci

ISSN VOL 15, NO 2, OKTOBER 2014

ISSN VOL 15, NO 2, OKTOBER 2014 PENERAPAN METODE TOPSIS DAN AHP PADA SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN PENERIMAAN ANGGOTA BARU, STUDI KASUS: IKATAN MAHASISWA SISTEM INFORMASI STMIK MIKROSKIL MEDAN Gunawan 1, Fandi Halim 2, Wilson 3 Program

Lebih terperinci

Pengertian Metode AHP

Pengertian Metode AHP Pengertian Metode AHP Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika. Metode ini adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan yang kompleks dengan

Lebih terperinci

Perancangan Penilaian Karyawan di Bank X

Perancangan Penilaian Karyawan di Bank X Prosiding Teknik Industri ISSN: 2460-6502 Perancangan Penilaian Karyawan di Bank X 1 Andre Wardhana, 2 Dewi Shofi, 3 Asep Nana 1,2,3 Prodi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung, Jl.

Lebih terperinci

1. KUESIONER KEPADA MANAJEMEN (MENCARI BOBOT FAKTOR) Responden Yangterhormat, Mulai

1. KUESIONER KEPADA MANAJEMEN (MENCARI BOBOT FAKTOR) Responden Yangterhormat, Mulai 1. KUESIONER KEPADA MANAJEMEN (MENCARI BOBOT FAKTOR) Responden Yangterhormat, Terima kasih atas kesediaannya mengisi kuesioner ini. Kuesioner ini merupakan bagian dari penelitian untuk memenuhi persyaratan

Lebih terperinci

PENENTUAN PRIORITAS KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN DAERAH IRIGASI DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) (185A)

PENENTUAN PRIORITAS KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN DAERAH IRIGASI DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) (185A) PENENTUAN PRIORITAS KEGIATAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN DAERAH IRIGASI DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) (185A) Fauzia Mulyawati 1, Ig. Sudarsono 1 dan Cecep Sopyan 2 1 Jurusan Teksik

Lebih terperinci

PENGAMBILAN KEPUTUSAN ALTERNATIF ELEMEN FAKTOR TENAGA KERJA GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA DENGAN SWOT DAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS

PENGAMBILAN KEPUTUSAN ALTERNATIF ELEMEN FAKTOR TENAGA KERJA GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA DENGAN SWOT DAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS PENGAMBILAN KEPUTUSAN ALTERNATIF ELEMEN FAKTOR TENAGA KERJA GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA DENGAN SWOT DAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS Endang Widuri Asih 1 1) Jurusan Teknik Industri Institut Sains

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM III.1. Analisis Masalah Perlunya hiburan untuk menikmati keindahan alam dan menyegarakn fikiran. Untuk itu kebanyakan masyarakat mempergunakan waktu liburan panjang mereka

Lebih terperinci

Gambar 4. Tahapan kajian

Gambar 4. Tahapan kajian III. METODE KAJIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Kajian Survei lapangan dilakukan untuk menganalisa kinerja bisnis usaha tahu dan kebutuhan pasar. Hasil analisa kebutuhan pasar menjadi masukan dalam pengembangan

Lebih terperinci

Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing dan Penguji Skipsi Dengan Menggunakan Metode AHP

Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing dan Penguji Skipsi Dengan Menggunakan Metode AHP Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing dan Penguji Skipsi Dengan Menggunakan Metode AHP A Yani Ranius Universitas Bina Darama, Jl. A. Yani No 12 Palembang, ay_ranius@yahoo.com ABSTRAK Sistem

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE ANP DALAM MELAKUKAN PENILAIAN KINERJA KEPALA BAGIAN PRODUKSI (STUDI KASUS : PT. MAS PUTIH BELITUNG)

PENERAPAN METODE ANP DALAM MELAKUKAN PENILAIAN KINERJA KEPALA BAGIAN PRODUKSI (STUDI KASUS : PT. MAS PUTIH BELITUNG) PENERAPAN METODE ANP DALAM MELAKUKAN PENILAIAN KINERJA KEPALA BAGIAN PRODUKSI (STUDI KASUS : PT. MAS PUTIH BELITUNG) Frans Ikorasaki 1 1,2 Sistem Informasi, Tehnik dan Ilmu Komputer, Universitas Potensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefit), dampak

BAB I PENDAHULUAN. masukan (input), keluaran (output), hasil (outcome), manfaat (benefit), dampak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kinerja sering digunakan sebagai tolak ukur dalam menilai suatu hasil yang dicapai terhadap sesuatu. Sehingga kesuksesan suatu perusahaan dapat diukur dari kinerja

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB IV HASIL DAN UJI COBA BAB IV HASIL DAN UJI COBA IV.1. Tampilan Hasil Berikut ini dijelaskan tentang tampilan hasil dari Sistem Pendukung Keputusan Evaluasi Karyawan pada CV. Fountain dengan menggunakan metode AHP berbasis WEB

Lebih terperinci

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kebutuhan sistem, implementasi

BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kebutuhan sistem, implementasi BAB IV IMPEMENTASI DAN EVAUASI Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kebutuhan sistem, implementasi dan evaluasi sistem pendukung keputusan penentuan prioritas penugasan kendaraan dengan menggunakan metode

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 12 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlokasi di kawasan agropolitan Cendawasari, Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Kegiatan analisis data dilakukan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. METODOLOGI PENELITIAN Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif,adapun metode yang digunakan adalah dengan pendekatan Analitycal Hierarchy

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Dalam bab ini akan dibahas beberapa teori yang mendukung terhadap studi kasus yang akan dilakukan seperti: Strategic Planning Decision Support System (DSS) Evaluasi Supplier 2.1 Strategic

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 43 /PRT/M/2007 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 43 /PRT/M/2007 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 43 /PRT/M/2007 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DATA 4.1. PENDAHULUAN

BAB IV ANALISA DATA 4.1. PENDAHULUAN BAB IV ANALISA DATA 4.1. PENDAHULUAN Pada Bab ini akan dijelaskan mengenai proses analisa data, termasuk gambaran umum data yang di analisa guna mendapatkan jawaban dari pertanyaan penelitian dan pengolahan

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERUMAHAN DENGAN METODE AHP (Analytical Hierarchy Process)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERUMAHAN DENGAN METODE AHP (Analytical Hierarchy Process) SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERUMAHAN DENGAN METODE AHP (Analytical Hierarchy Process) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Komputer (S.Kom)Pada Jurusan

Lebih terperinci

LAMPIRAN. SURAT EDARAN Nomor : SE - 237/MK.1/2011 TENTANG

LAMPIRAN. SURAT EDARAN Nomor : SE - 237/MK.1/2011 TENTANG LAMPIRAN SURAT EDARAN Nomor : SE - 237/MK.1/2011 TENTANG PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH TAHUN ANGGARAN 2011 DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN Lampiran Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor

Lebih terperinci

Analisa Manfaat Dan Biaya Rusunawa Jemundo, Sidoarjo

Analisa Manfaat Dan Biaya Rusunawa Jemundo, Sidoarjo JURNAL TEKNIK POMITS Vol 1, No 1, (2012) 1-5 1 Analisa Manfaat Dan Biaya Rusunawa Jemundo, Sidoarjo Novan Dwi Aryansyah, Retno Indryani Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 09/PER/M/2008

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 09/PER/M/2008 MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 09/PER/M/2008 TENTANG PEDOMAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM DENGAN

Lebih terperinci

ANALISIS KRITERIA SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BEASISWA BELAJAR BAGI GURU MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

ANALISIS KRITERIA SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BEASISWA BELAJAR BAGI GURU MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) ANALISIS KRITERIA SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BEASISWA BELAJAR BAGI GURU MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) Sunggito Oyama 1, Ernawati 2, Paulus Mudjihartono 3 1,2,3) Jurusan Teknik Informatika,

Lebih terperinci

3.2 Analisa Prosedur Yang Sedang Berjalan. dimaksudkan untuk mencari informasi lebih dalam akan pendefinisian

3.2 Analisa Prosedur Yang Sedang Berjalan. dimaksudkan untuk mencari informasi lebih dalam akan pendefinisian 40 3.2 Analisa Prosedur Yang Sedang Berjalan Dalam memodelkan suatu aplikasi diperlukan adanya penggambaran mengenai proses bisnis yang terjadi pada sistem, dalam hal ini adalah kegiatan penentuan pemenang.

Lebih terperinci

STUDI HARGA PENAWARAN DAN FAKTOR PENENTU PEMENANG TENDER PROYEK KONSTRUKSI DI DIY UNTUK KUALIFIKASI NON KECIL (234K)

STUDI HARGA PENAWARAN DAN FAKTOR PENENTU PEMENANG TENDER PROYEK KONSTRUKSI DI DIY UNTUK KUALIFIKASI NON KECIL (234K) STUDI HARGA PENAWARAN DAN FAKTOR PENENTU PEMENANG TENDER PROYEK KONSTRUKSI DI DIY UNTUK KUALIFIKASI NON KECIL (234K) Zaenal Arifin 1 dan Dara Juwanti 2 1 Jurusan Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia,

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN MAHASISWA BERPRESTASI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN MAHASISWA BERPRESTASI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) ISSN : 2338-4018 SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN MAHASISWA BERPRESTASI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Nurma Agus Sari (nurmaaguss@gmail.com) Bebas Widada (bbswdd@sinus.ac.id)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Metode Analytical Hierarchy Process 2.2.1 Definisi Analytical Hierarchy Process (AHP) Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika. Metode ini adalah

Lebih terperinci

BERITA ACARA PENJELASAN PEKERJAAN (BAPP) Nomor : 03/POKJA.K1/ULP.PROV/PU/APBD/IV/2012 : PEMBANGUNAN PERKANTORAN KWARDA PRAMUKA PROVINSI

BERITA ACARA PENJELASAN PEKERJAAN (BAPP) Nomor : 03/POKJA.K1/ULP.PROV/PU/APBD/IV/2012 : PEMBANGUNAN PERKANTORAN KWARDA PRAMUKA PROVINSI BERITA ACARA PENJELASAN PEKERJAAN (BAPP) Nomor 03/POKJA.K1/ULP.PROV/PU/APBD/IV/2012 PEKERJAAN LOKASI PEKERJAAN PEMBANGUNAN PERKANTORAN KWARDA PRAMUKA PROVINSI PANGKALPINANG Pada hari ini Jum at tanggal

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BERAS UNTUK KELUARGA MISKIN ( RASKIN ) MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) Ilyas

IMPLEMENTASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BERAS UNTUK KELUARGA MISKIN ( RASKIN ) MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) Ilyas IMPLEMENTASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BERAS UNTUK KELUARGA MISKIN ( RASKIN ) MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) Ilyas Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Teknik dan Ilmu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. perwalian terhadap kepuasan pengguna dengan menggunakan metode Webqual

BAB III METODE PENELITIAN. perwalian terhadap kepuasan pengguna dengan menggunakan metode Webqual BAB III METODE PENELITIAN Tahapan Penelitian Terdapat empat tahapan penelitian pada analisis pengaruh kualitas Website perwalian terhadap kepuasan pengguna dengan menggunakan metode Webqual 4.0, yaitu:

Lebih terperinci

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT Multi-Attribute Decision Making (MADM) Permasalahan untuk pencarian terhadap solusi terbaik dari sejumlah alternatif dapat dilakukan dengan beberapa teknik,

Lebih terperinci

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS DI PT. EWINDO BANDUNG)

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS DI PT. EWINDO BANDUNG) PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS DI PT. EWINDO BANDUNG) Hendang Setyo Rukmi Hari Adianto Dhevi Avianti Teknik Industri Institut Teknologi

Lebih terperinci

ANALISA PEMILIHAN APLIKASI BERITA BERBASIS MOBILE MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

ANALISA PEMILIHAN APLIKASI BERITA BERBASIS MOBILE MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Konferensi Nasional Ilmu Sosial & Teknologi (KNiST) Maret 2017, pp. 521~526 521 ANALISA PEMILIHAN APLIKASI BERITA BERBASIS MOBILE MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Maria Hestiningsih

Lebih terperinci

BAB 3 PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB 3 PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 63 BAB 3 PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Pada Bab 3 ini dijelaskan mengenai data-data apa saja yang dibutuhkan dalam penelitian ini, bagaimana cara memperoleh datanya, pembuatan model pemilihan mitra kerja

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.347, 2011 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM. Pengadaan. Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi. Standar.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.347, 2011 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM. Pengadaan. Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi. Standar. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.347, 2011 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM. Pengadaan. Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi. Standar. PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07/PRT/M/2011

Lebih terperinci

AHP (Analytical Hierarchy Process)

AHP (Analytical Hierarchy Process) AHP (Analytical Hierarchy Process) Pengertian Metode AHP dikembangkan oleh Saaty dan dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek dimana data dan informasi statistik dari masalah yang dihadapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan perumahan dan

BAB I PENDAHULUAN. Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan perumahan dan BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Permasalahan Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan perumahan dan pemukiman adalah agar seluruh rakyat Indonesia dapat menghuni rumah yang layak dalam lingkungan

Lebih terperinci

UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) PAPUA

UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) PAPUA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) PAPUA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT POKJA 1 SNVT PENYEDIAAN PERUMAHAN PROVINSI PAPUA Jln. Sumatera No. 15 DOK IV Jayapura BERITA ACARA EVALUASI DOKUMEN PENAWARAN

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SISWA DALAM MENGIKUTI LOMBA LKS DI SMK NEGERI 3 SEMARANG DENGAN METODE ANALITHICAL HIERARCHI PROCESS

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SISWA DALAM MENGIKUTI LOMBA LKS DI SMK NEGERI 3 SEMARANG DENGAN METODE ANALITHICAL HIERARCHI PROCESS SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SISWA DALAM MENGIKUTI LOMBA LKS DI SMK NEGERI 3 SEMARANG DENGAN METODE ANALITHICAL HIERARCHI PROCESS Nova Widyantoro Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer,

Lebih terperinci

Sistem pendukung keputusan pemilihan program studi pada perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN pada SMA N 16 Semarang

Sistem pendukung keputusan pemilihan program studi pada perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN pada SMA N 16 Semarang Sistem pendukung keputusan pemilihan program studi pada perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN pada SMA N 16 Semarang Nufus Wirastama Strata satu Sistem Imformasi Universitas Dian Nuswantoro ABSTRAK Sistem

Lebih terperinci

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Definisi AHP (Analytic Hierarchy Process) merupakan suatu model pengambil keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty yang menguraikan masalah multifaktor

Lebih terperinci