DATA MENCERDASKAN BANGSA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DATA MENCERDASKAN BANGSA"

Transkripsi

1 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI JANUARI 2014 TERJADI INFLASI SEBESAR 1,23 PERSEN Januari 2014 IHK Karawang mengalami kenaikan indeks. IHK dari 141,08 di Bulan Desember 2013 menjadi 142,82 di Bulan Januari Dengan demikian, terjadi inflasi sebesar 1,23 persen. Laju inflasi tahun kalender year to date Januari 2014 Karawang sebesar 1,23 persen, dan laju inflasi year on year 2014 (Januari 2014 terhadap Januari 2013) Karawang tercatat sebesar 8,71 persen. Pada bulan Januari 2014, semua kelompok pengeluaran rumahtangga yang mengalami inflasi. Kelompok bahan makanan mengalami inflasi sebesar 0,48 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 1,14 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 2,29 persen; kelompok sandang 2,39 persen, kelompok kesehatan 1,25 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,47 persen; dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,20 persen. Tingginya inflasi pada kelompok sandang sebesar 2,39 persen dipicu oleh melonjaknya harga emas di kuartal pertama bulan ini. Sedangkan inflasi kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 2,29 persen lebih diperngaruhi oleh kenaikan bahan bakar rumah tangga yaitu LPG 12 kg. DATA MENCERDASKAN BANGSA Berita Resmi Statistik Kabupaten Karawang, 1 Maret 2014

2 Bulan Januari Karawang mengalami inflasi (perkotaan) sebesar 1,23 persen atau terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 141,08 pada Desember 2013 menjadi 142,82 pada Januari Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok sandang sebesar 2,39 persen. Diikuti oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 2,29; kelompok kesehatan sebesar 1,25 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 1,14 persen; kelompok bahan makanan sebesar 0,48 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 0,47 persen dan kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,20 persen. Penyumbang inflasi terbesar pada Januari ini adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar. Disusul oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau; kelompok sandang; kelompok bahan makanan; kelompok kesehatan; kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga serta kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan. Komoditas yang memberikan andil terbesar yaitu bahan bakar rumah tangga yang diwakili oleh gas LPG 12 kg yaitu sebesar 0,38 persen. Selain itu, kontrak rumah juga ikut memberikan andil yang cukup besar yaitu sebesar 0,21 persen. Adanya kenaikan UMK Kabupaten Karawang mengakibatkan banyak pemilik kontrakan yang menyesuaikan harga atau tarif kontrakannya. Tabel 1. IHK dan Laju Inflasi Karawang Bulan Januari 2014 Menurut Kelompok Pengeluaran (IHK 2007=100) Kelompok Pengeluaran IHK Desember 2013 IHK Januari 2014 Inflasi Januari 2014*) Inflasi Tahun 2014**) Inflasi Tahun ke Tahun***) Andil terhadap Inflasi Januari 2014 Sumber : BPS KABUPATEN KARAWANG Keterangan : *) **) ***) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) U m u m (Headline) Bahan Makanan Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan perubahan IHK Januari 2014 terhadap IHK bulan sebelumnya perubahan IHK Januari 2014 terhadap IHK Desember 2013 perubahan IHK Januari 2014 terhadap IHK Januari

3 Perbandingan besarnya inflasi bulanan Januari selama kurun waktu terlihat pada Grafik 3. Inflasi Karawang pada Januari 2014 sebesar 1,23 persen lebih kecil dibanding inflasi Januari 2013 sebesar 1,38 persen tetapi lebih tinggi daripada inflasi Januari 2012 sebesar 1,18 persen. Laju inflasi tahun kalender 2014 (Januari-Januari 2014) sebesar 1,23 persen dan laju inflasi year on year (yoy) 2014 (Januari 2014 terhadap Januari 2013) sebesar 8,71 persen. Laju inflasi tahun kalender 2013 (Januari-Januari 2013) sebesar 1,38 persen dan laju inflasi tahun kalender 2012 (Januari-Januari 2012) sebesar 1,18 persen. Sedangkan laju inflasi yoy 2013 (Januari 2013 terhadap Januari 2012) sebesar 3,54 persen dan laju inflasi yoy 2012 (Januari 2012 terhadap Januari 2010) sebesar 3,65 persen. 3

4 Tabel 2. Sepuluh Komoditas dengan Inflasi/Deflasi Tertinggi di Karawang pada Januari 2014 No. Komoditas Inflasi (%) No. Komoditas Deflasi (%) 1 SEMANGKA MINUMAN KESEGARAN MELON LADA/MERICA PENYEDAP MASAKAN/VETSIN DAUN BAWANG KOL PUTIH/KUBIS BAWANG PUTIH TERONG PANJANG JERUK KACANG PANJANG PETAI PAMPERS AGAR-AGAR IKAN DALAM KALENG KETUMBAR KACANG HIJAU VITAMIN BAHAN BAKAR RUMAH TANGGA PEPAYA Tabel 3. Sepuluh Komoditas dengan Andil Inflasi/Deflasi Tertinggi di Karawang pada Januari 2014 No. Komoditas Andil Inflasi (%) No. Komoditas Andil Deflasi (%) 1 BAHAN BAKAR RUMAH TANGGA ROKOK KRETEK FILTER KONTRAK RUMAH JERUK NASI TEMPE ROKOK KRETEK SALAK BERAS BAWANG MERAH EMAS PERHIASAN PEPAYA TELUR AYAM RAS SUSU CAIR KEMASAN DAGING AYAM RAS KENTANG T E H MANIS BAWANG PUTIH MIE MINUMAN KESEGARAN Inflasi/Deflasi Berdasarkan Kelompok Pengeluaran Kelompok Bahan Makanan Kelompok bahan makanan pada Januari 2014 mengalami inflasi sebesar 0,48 persen, atau terjadi peningkatan indeks dari 197,48 pada Desember 2013 menjadi 198,43 pada Januari Dari 11 subkelompok pengeluaran dalam kelompok bahan makanan, delapan subkelompok mengalami inflasi dan tiga subkelompok mengalami deflasi. Subkelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah subkelompok lemak dan minyak dengan inflasi sebesar 3,74 persen. Disusul oleh subkelompok telur, susu dan hasil-hasilnya 2,07 persen; subkelompok daging dan hasil-hasilnya 1,75 persen; subkelompok bahan makanan lainnya 1,60 persen; subkelompok padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya 1,41 persen; ; subkelompok sayursayuran 1,37 persen; subkelompok ikan diawetkan 0,87 persen; dan subkelompok bumbu-bumbuan 0,50 persen. Sebaliknya, subkelompok yang mengalami deflasi adalah subkelompok kacang-kacangan 5,51 persen; subkelompok buah-buahan 4,63 persen dan subkelompok ikan segar -0,55 persen. Kelompok bahan makanan pada Januari 2014 memberikan andil inflasi sebesar 0,12 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain: beras 0,08 persen; telur ayam ras 0,07 persen; daging ayam ras 0,06 persen; minyak goreng 0,04 persen; serta semangka, mie kering instan dan cabe merah masing-masing sebesar 0,03 persen. 4

5 Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Bulan Januari 2014 kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,14 persen, atau terjadi peningkatan indeks dari 141,29 pada Desember 2013 menjadi 142,90 pada Januari Dari tiga sebkelompok pengeluaran dalam kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, dua subkelompok mengalami inflasi, dan satu subkelompok mengalami deflasi. Subkelompok makanan jadi dan subkelompok minuman tidak beralkohol masing-masing mengalami inflasi sebesar 2,17 persen dan 1,31 persen. Subkelompok tembakau dan minuman beralkohol mengalami deflasi sebesar 2,30 persen. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau ini pada Januari 2014 secara keseluruhan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,25 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi yaitu nasi dan rokok kretek yaitu sebesar 0,21 persen dan 0,13 persen. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada Januari 2014 mengalami inflasi sebesar 2,29 persen atau terjadi peningkatan indeks harga dari 120,05 pada Desember 2013 menjadi 122,80 pada Januari Keempat subkelompok pengeluaran pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami inflasi. Subkelompok bahan bakar, penerangan dan air mengalami inflasi tertinggi yaitu sebesar 5,82 persen. Subkelompok perlengkapan rumahtangga dan subkelompok biaya tempat tinggal masing-masing mengalami inflasi 1,80 persen dan 1,22 persen. Sedangkan inflasi terendah dialami oleh subkelompok penyelenggaraan rumahtangga yaitu sebesar 1,19 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar ini pada Januari 2014 memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,65 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah bahan bakar rumah tangga dan kontrak rumah masing-masing sebesar 0,38 persen dan 0,31 persen. Adanya kenaikan harga gas LPG 12 kg yang ditetapkan oleh pemerintah ternyata berdampak pada tingginya inflasi kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada bulan ini. Hal ini terlihat dari besarnya andil yang diberikan oleh komoditas bahan bakar rumah pada besarnya inflasi bulan ini. Selain itu, perubahan Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang mengalami kenaikan juga turut berperan pada naiknya tarif Kelompok Sandang Pada Januari 2014 kelompok sandang mengalami inflasi sebesar 2,39 persen, atau terjadi peningkatan indeks dari 158,38 pada Desember 2013 menjadi 162,16 pada Januari Keempat subkelompok pengeluaran pada kelompok sandang mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok barang pribadi dan sandang lainnya sebesar 3,85 persen. Sedangkan ketiga subkelompok lainnya yaitu subkelompok sandang laki-laki, subkelompok sandang wanita dan subkelompok sandang anak-anak masing-masing mengalami inflasi sebesar 1,46 persen; 1,33 persen dan 1,59 persen. Kelompok sandang ini pada Januari 2014 memberikan sumbangan inflasi 0,13 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah emas perhiasan 0,08 persen. Melonjaknya harga emas pada minggu pertama awal tahun ini turut berdampak pada tingginya inflasi kelompok sandang. Walaupun secara berangsur-angsur harga emas mulai menunjukkan harga yang stabil, tetapi secara keseluruhan efek kenaikannya tetap berpengaruh terhadap tingginya laju inflasi bulan ini. 5

6 Kelompok Kesehatan Kelompok kesehatan pada Januari 2014 mengalami inflasi sebesar 1,25 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 133,45 pada Desember 2013 menjadi 135,12 pada Januari Dari empat subkelompok yang ada pada kelompok kesehatan, hanya subkelompok perawatan jasmani dan kosmetik yang mengalami inflasi sebesar 2,45 persen. Sebaliknya, subkelompok obat-obatan mengalami deflasi sebesar 0,68 persen. Sedangkan subkelompok jasa kesehatan dan subkelompok jasa perawatan jasmani tidak mengalami perubahan indeks harga alias stabil. Kelompok kesehatan ini pada Januari 2014 memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,04 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi adalah pasta gigi dan bedak masing-masing sebesar 0,03 persen dan 0,02 persen. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Pada Januari 2014 kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga mengalami inflasi sebesar 0,47 persen, atau terjadi peningkatan indeks dari 123,08 pada Desember 2013 menjadi 123,66 pada Januari Dari lima subkelompok yang ada, dua subkelompok pengeluaran yaitu subkelompok perlengkapan/ peralatan pendidikan dan subkelompok rekreasi mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,94 persen dan 1,65 persen. Sedang subkelompok lainnya yaitu subkelompok jasa pendidikan; subkelompok kursus-kursus/ pelatihan dan subkelompok olahraga tidak mengalami perubahan indeks (stabil). Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga ini pada Januari 2014 memberikan sumbangan inflasi 0,02 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi adalah surat kabar harian. Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan pada Januari 2014 mengalami inflasi sebesar 0,20 persen atau terjadi peningkatan indeks harga dari 118,63 persen pada Desember 2013 menjadi 118,87 persen pada Januari Dari empat subkelompok pengeluaran yang ada pada kelompok ini, tiga subkelompok mengalami inflasi dan satu subkelompok pengeluaran lainnya tidak mengalami perubahan indeks (stabil). Subkelompok yang mengalami inflasi yaitu subkelompok transpor sebesar 0,24 persen; subkelompok komunikasi dan pengiriman 0,04 persen serta subkelompok sarana dan penunjang transport sebesar 0,38 persen. Sedangkan subkelompok jasa keuangan stabil atau tidak mengalami perubahan indeks. Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan ini pada bulan Januari 2014 secara keseluruhan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,02 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi adalah mobil. 6

7 Perbandingan Inflasi/Deflasi Antar Kota di Jawa Barat TABEL 4. PERBANDINGAN INFLASI KARAWANG DENGAN BEBERAPA KOTA DI JAWA BARAT (TAHUN 2007 = 100) (dalam persen) KOTA Inflasi Januari 2014 * Inflasi Tahun 2014** Inflasi Tahun ke Tahun*** (1) (2) (3) (4) Karawang 1,23 1,23 8,71 Bogor 0,74 0,74 8,87 Sukabumi 1,07 1,07 8,52 Bandung 1,09 1,09 7,75 Cirebon 0,68 0,68 8,01 Bekasi 1,15 1,15 8,08 Depok 0,77 0,77 8,85 Tasikmalaya 0,91 0,91 7,09 Gabungan Jawa Barat 0,98 0,98 8,18 Jakarta 1,05 1,05 7,85 Nasional 1,07 1,07 8,22 Sumber : BPS PROPINSI JAWA BARAT Keterangan : *) perubahan IHK Januari 2014 terhadap IHK bulan sebelumnya **) perubahan IHK Januari 2014 terhadap IHK Desember 2013 ***) perubahan IHK Januari 2014 terhadap IHK Januari 2013 Dari Tabel 4 terlihat bahwa pada bulan Januari 2014 Karawang mengalami inflasi sebesar 1,23 persen. Secara nasional, Indonesia mengalami inflasi sebesar 1,07 persen. Seluruh kota dalam Gabungan Kota Pengamatan di Jawa Barat (Bogor, Sukabumi, Bandung, Cirebon, Bekasi, Depok dan Tasikmalaya) mengalami inflasi. Gabungan tujuh kota pengamatan Jawa Barat pada bulan Januari 2014 mengalami inflasi sebesar 0,98 persen. Dari tujuh kota pantauan di Jawa Barat, inflasi tertinggi terjadi di Kota Bekasi sebesar 1,15 persen, sedang inflasi terendah terjadi di Kota Cirebon sebesar 0,68 persen. 7

8 TABEL 5. INDEKS HARGA KONSUMEN DAN PERSENTASE PERUBAHANNYA DI KARAWANG BULAN JANUARI 2014 ( 2007 = 100 ) 11 KELOMPOK/SUBKELOMPOK PENGELUARAN INDEKS Desember 13 Januari 14 Perubahan (%) Andil (%) (1) (2) (3) (4) (5) UMUM Bahan Makanan Padi-padian, Umbi-umbian dan Hasilnya Daging dan hasil-hasilnya Ikan Segar Ikan Diawetkan Telur, Susu dan hasil-hasilnya Sayur sayuran Kacang kacangan Buah buahan Bumbu bumbuan Lemak dan Minyak Bahan Makanan Lainnya Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau Makanan Jadi Minuman tidak beralkohol Tembakau dan Minuman beralkohol Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar Biaya Tempat Tinggal Bahan Bakar, Penerangan dan Air Perlengkapan Rumahtangga Penyelenggaraan Rumahtangga Sandang Sandang Laki-laki Sandang Wanita Sandang Anak-anak Barang Pribadi dan Sandang lainnya Kesehatan Jasa Kesehatan Obat-obatan Jasa Perawatan Jasmani Perawatan Jasmani dan Kosmetik Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Jasa Pendidikan Kursus-kursus/Pelatihan Perlengkapan/Peralatan Pendidikan Rekreasi Olahraga Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan Transpor Komunikasi dan Pengiriman Sarana dan Penunjang Transpor Jasa Keuangan

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DI PROVINSI RIAU

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DI PROVINSI RIAU No. 05/02/14/Th. XV, 3 Februari 2013 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DI PROVINSI RIAU Bulan 2014, Kota Pekanbaru inflasi 0,69 persen, Dumai 0,43 persen dan Tembilahan 2,58 persen. Indeks Harga

Lebih terperinci

Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi

Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Edisi 49 Juni 2014 Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi ISSN: 2087-930X Katalog BPS: 9199017 No. Publikasi: 03220.1407 Ukuran Buku: 18,2 cm x 25,7 cm Jumlah Halaman: xix + 135 halaman Naskah: Direktorat

Lebih terperinci

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia) dengan

Lebih terperinci

BAB IV DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT

BAB IV DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT BAB IV DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT Pendapatan masyarakat yang merata, sebagai suatu sasaran merupakan masalah yang sulit dicapai, namun jabatan pekerjaan, tingkat pendidikan umum, produktivitas, prospek

Lebih terperinci

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2006

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2006 BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 26 Kondisi ekonomi makro pada tahun 26 dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, memasuki tahun 26, stabilitas moneter di dalam negeri membaik tercermin dari stabilnya

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) JAWA TIMUR TRIWULAN 3 2013

PERKEMBANGAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) JAWA TIMUR TRIWULAN 3 2013 BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 75/11/35/Th. XI, 6 November PERKEMBANGAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) JAWA TIMUR TRIWULAN 3 ITK Triwulan 3 Jawa Timur sebesar 114,17 dan Perkiraan ITK Triwulan 4 sebesar 110,37

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA PADANGSIDIMPUAN

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA PADANGSIDIMPUAN BAB II GAMBARAN UMUM KOTA PADANGSIDIMPUAN 2.1 Kondisi Geografis 2.1.1 Luas dan Letak Geografis Kota Padangsidimpuan merupakan salah satu Kabupaten / Kota dari 28 Kabupaten / Kota di Provinsi Sumatera Utara.

Lebih terperinci

Asisten Peneliti: Aini Aqsa Arafah, SP Yuli Fitriyani, SP Aris Zaenal Muttaqin, SP

Asisten Peneliti: Aini Aqsa Arafah, SP Yuli Fitriyani, SP Aris Zaenal Muttaqin, SP Peneliti: DR. Drajat Martianto, MSi DR. Hadi Riyadi, MS DR. Dwi Hastuti, MSc Prof. Dr. Mien Ratu Oedjoe Ir. Edi Djoko Sulistijo, MP Ir. Ahmad Saleh, MP Asisten Peneliti: Aini Aqsa Arafah, SP Yuli Fitriyani,

Lebih terperinci

PENGARUH PERUBAHAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) TERHADAP TINGKAT INFLASI DI INDONESIA

PENGARUH PERUBAHAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) TERHADAP TINGKAT INFLASI DI INDONESIA PENGARUH PERUBAHAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) TERHADAP TINGKAT INFLASI DI INDONESIA PENDAHULUAN Sejak awal pemerintahan Orde Baru hingga di era Reformasi sekarang ini, perkembangan ekonomi Indonesia

Lebih terperinci

PROFIL DESA-DESA KABUPATEN MALINAU. Kondisi Sosial Ekonomi Desa-desa

PROFIL DESA-DESA KABUPATEN MALINAU. Kondisi Sosial Ekonomi Desa-desa I N T I M U N G PROFIL DESA-DESA DI KABUPATEN MALINAU Kondisi Sosial Ekonomi Desa-desa Godwin Limberg, Ramses Iwan, Made Sudana, Aan Hartono, Mathias Henry, Dody Hernawan, Sole, Dollop Mamung, Eva Wollenberg

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1 KONDISI FISIK 2.1.1 Geografi a. Letak Wilayah Secara geografis wilayah Kabupaten Sleman terbentang mulai 110 15 13 sampai dengan 110 33 00 Bujur Timur dan 7 34 51

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi rakyatnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi rakyatnya BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembangunan Manusia Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Tujuan utama dari pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi rakyatnya untuk menikmati

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH DALAM PENGOLAHAN SUSU KEDELAI PADA SKALA INDUSTRI RUMAH TANGGA DI KOTA MEDAN SKRIPSI OLEH : AMINAH NUR M.

ANALISIS NILAI TAMBAH DALAM PENGOLAHAN SUSU KEDELAI PADA SKALA INDUSTRI RUMAH TANGGA DI KOTA MEDAN SKRIPSI OLEH : AMINAH NUR M. ANALISIS NILAI TAMBAH DALAM PENGOLAHAN SUSU KEDELAI PADA SKALA INDUSTRI RUMAH TANGGA DI KOTA MEDAN SKRIPSI OLEH : AMINAH NUR M.L 090304067 PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN PER 31 DESEMBER 2013

PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN PER 31 DESEMBER 2013 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Maksud dan Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan Laporan Keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH.1. Aspek Geografi dan Demografi.1.1. Kondisi Geografis Daerah Provinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 5-7 5 Lintang Selatan dan 14 48-18 48 Bujur Timur,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA

PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA DRAF NOTA KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR : 26/NKB.YK/2014 03/NKB/DPRD/2014 TANGGAL : 21 NOVEMBER 2014 TENTANG KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH - 13 - BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Letak Geografis Secara geografis Kota Tasikmalaya terletak antara 108 o 08 38 BT- 108 o 24 02 BT dan antara 7 o 10 LS-7

Lebih terperinci

Pedoman Survei Harga Produsen Perdesaan (Sektor Pertanian)

Pedoman Survei Harga Produsen Perdesaan (Sektor Pertanian) Pedoman Survei Harga Produsen Perdesaan (Sektor Pertanian) 2013 BADAN PUSAT STATISTIK Pedoman Survei Harga Produsen Perdesaan (Sektor Pertanian) 2013 KATA PENGANTAR Buku Pedoman Survei Harga Produsen Perdesaan

Lebih terperinci

Sistem Komoditas Kedelai

Sistem Komoditas Kedelai CGPRT NO 17 Sistem Komoditas Kedelai di Indonesia Pusat Palawija Daftar Isi Halaman Daftar Tabel dan Gambar... vii Pengantar... xi Prakata... xii Pernyataan Penghargaan... xiii Ikhtisar... xv 1. Pendahuluan...

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH A. Kondisi Geografis 1. Batas Administrasi Kabupaten Semarang secara geografis terletak pada 110 14 54,75 sampai dengan 110 39 3 Bujur Timur dan 7 3 57 sampai dengan

Lebih terperinci

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1G01-02DBK

MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL SMKP1G01-02DBK MODUL DASAR BIDANG KEAHLIAN KODE MODUL PENGELOMPOKAN DAN PENYIMPANGAN MUTU HASIL PERTANIAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROYEK PENGEMBANGAN SISTEM DAN STANDAR PENGELOLAAN SMK DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH

Lebih terperinci

RENCANA KERJA TAHUNAN BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON TAHUN ANGGARAN 2014

RENCANA KERJA TAHUNAN BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON TAHUN ANGGARAN 2014 RENCANA KERJA TAHUNAN BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON TAHUN ANGGARAN 2014 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Pada era reformasi birokrasi sebagaimana telah dicanangkan

Lebih terperinci

JURUSAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2013

JURUSAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2013 PENGARUH KONDISI SOSIAL EKONOMI TERHADAP TINGKAT PENDIDIKAN ANAK KELUARGA NELAYAN DI KELURAHAN SUGIHWARAS KECAMATAN PEMALANG KABUPATEN PEMALANG TAHUN 2013 SKRIPSI Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Lebih terperinci

STRUKTUR ONGKOS USAHA PETERNAKAN JAWA TENGAH TAHUN 2014

STRUKTUR ONGKOS USAHA PETERNAKAN JAWA TENGAH TAHUN 2014 No. 78/12/33 Th. VIII, 23 Desember 2014 STRUKTUR ONGKOS USAHA PETERNAKAN JAWA TENGAH TAHUN 2014 TOTAL BIAYA PRODUKSI UNTUK USAHA SAPI POTONG SEBESAR 4,67 JUTA RUPIAH PER EKOR PER TAHUN, USAHA SAPI PERAH

Lebih terperinci

Iklim Usaha di Provinsi NTT: Kasus Perdagangan Hasil Pertanian di Timor Barat

Iklim Usaha di Provinsi NTT: Kasus Perdagangan Hasil Pertanian di Timor Barat Laporan Penelitian Widjajanti I. Suharyo Nina Toyamah Adri Poesoro Bambang Sulaksono Syaikhu Usman Vita Febriany Iklim Usaha di Provinsi NTT: Kasus Perdagangan Hasil Pertanian di Timor Barat Maret 2007

Lebih terperinci

LAPORAN TIM KOORDINASI PENYUSUNAN ASUMSI DASAR RAPBN 2013

LAPORAN TIM KOORDINASI PENYUSUNAN ASUMSI DASAR RAPBN 2013 LAPORAN TIM KOORDINASI PENYUSUNAN ASUMSI DASAR RAPBN 2013 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN KEBIJAKAN FISKAL PUSAT KEBIJAKAN EKONOMI MAKRO 2012 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kehadirat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Kondisi Pembangunan Perkotaan dan Potret Kemiskinan Kota (Studi Kasus : Kota Jakarta)

Kondisi Pembangunan Perkotaan dan Potret Kemiskinan Kota (Studi Kasus : Kota Jakarta) VERONICA ADELIN KUMURUR 4 Kondisi Pembangunan Perkotaan dan Potret Kemiskinan Kota (Studi Kasus : Kota Jakarta) 4.1. Pembangunan Kota Jakarta Pembangunan Kota Jakarta (Periode 2001-2007), merupakan suatu

Lebih terperinci

BAB II KONDISI UMUM. A. Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta

BAB II KONDISI UMUM. A. Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta BAB II KONDISI UMUM A. Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta merupakan daerah yang mempunyai pemerintahan sendiri atau disebut Daerah Swapraja, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta

Lebih terperinci

Sektor Pertanian: Perlu Upaya Akselerasi Pertumbuhan. Oleh: Hidayat Amir

Sektor Pertanian: Perlu Upaya Akselerasi Pertumbuhan. Oleh: Hidayat Amir Sektor Pertanian: Perlu Upaya Akselerasi Pertumbuhan Oleh: Hidayat Amir Peneliti Madya pada Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan Email: hamir@fiskal.depkeu.go.id

Lebih terperinci