BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA"

Transkripsi

1 81 BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN bersama dengan Cina, Jepang dan Rep. Korea telah sepakat akan membentuk suatu kawasan perdagangan bebas. Persetujuan tersebut resmi ditandatangani pada bulan Oktober 2009 di Thailand. FTA ini akan menjadi kawasan FTA terbesar di seluruh dunia karena akan menyebabkan terjadinya integrasi perekonomian yang melibatkan jumlah konsumen yang sangat besar. Implikasi bagi Indonesia dan negara lain yang terlibat adalah tentu saja harus menghadapi pasar bebas kawasan ASEAN Plus Three dengan tingkat persaingan yang lebih ketat. Karena hambatan-hambatan perdagangan yang salah satu bentuknya adalah tarif akan dihapuskan. Dalam bab ini akan dibahas lebih dalam mengenai dampak dari diberlakukannya FTA ASEAN Plus Three (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Cina, Jepang dan Rep. Korea) terhadap ekonomi makro dan sektoral, khususnya bagi Indonesia Dampak ASEAN Plus Three Free Trade Area (FTA) terhadap Ekonomi Makro Indonesia Pengaruh penghapusan tarif terhadap beberapa peubah ekonomi makro di masing-masing negara (ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea) sesuai dengan kesepakatan kerjasama ASEAN Plus Three (ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea) pada komoditi yang diperdagangkan dapat dilihat pada Tabel 6.2. Penghapusan tarif berdampak pada peningkatan kesejahteraan semua negara anggota ASEAN dan Cina, Jepang serta Rep. Korea yang terlihat dari adanya peningkatan nilai equivalent variation pada masing-masing negara ASEAN Plus Three. Hal ini mengimplikasikan bahwa pembentukan kerjasama FTA ASEAN Plus Three setidaknya memiliki pengaruh positif bagi negara yang terlibat. Peningkatan kesejahteraan yang terjadi pada ASEAN Plus Three karena adanya trade creation effect dimana kesejahteraan masyarakat meningkat karena memperoleh barang dengan harga yang relatif lebih murah. Trade creation adalah penggantian produk domestik negara yang melakukan FTA dengan produk impor yang lebih murah dari anggota lain. Jika seluruh sumber daya digunakan secara

2 82 full employment dan dengan melakukan spesialisasi berdasarkan comparative advantage, masing-masing negara akan memperoleh dampak positif berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat karena memperoleh barang dengan harga yang relatif lebih murah. Indonesia mengalami peningkatan kesejahteraan sebesar US$ juta. Sementara peningkatan terkecil dialami oleh Filipina yaitu sebesar US$ juta dan peningkatan paling besar dialami oleh Jepang yaitu sebesar US$ juta. Jika dibandingkan dengan negara sesama ASEAN lainnya seperti Thailand dan Malaysia, Indonesia masih mengalami peningkatan yang jauh lebih kecil. Hal ini mencerminkan bahwa trade creation effect di Thailand dan Malaysia lebih berpengaruh positif dibanding di Indonesia. Jika dilihat dampak FTA dalam skema ASEAN Plus Three terhadap performa pertumbuhan nasional, maka secara keseluruhan terjadi peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) riil di semua negara ASEAN Plus Three, kecuali Singapura yang mengalami penurunan PDB riil sebesar 0.03 persen. Sebagai negara berkembang yang masih mengandalkan ekspor sebagai instrumen untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, peningkatan PDB riil yang dialami Indonesia relatif kecil, yaitu hanya sebesar 0.18 persen. Lebih kecil dibanding Filipina, Malaysia dan Thailand. Dimana Thailand mengalami peningkatan PDB riil paling besar yaitu sebesar 1.34 persen. Di kawasan Asia Timur, Rep. Korea mengalami peningkatan PDB riil paling besar, yaitu 0.56 persen. Sementara peningkatan PDB riil pada Cina dan Jepang masing-masing hanya sebesar 0.13 persen dan 0.05 persen. Kuantitas PDB meningkat dengan besaran yang relatif kecil dan lebih disebabkan oleh peningkatan konsumsi walaupun di satu sisi investasi meningkat, tetapi peningkatannya relatif kecil untuk mendorong peningkatan PDB kuantitas (volume). Uraian tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.2. Peningkatan PDB riil Indonesia dan negara ASEAN Plus Three lainnya lebih disebabkan karena peningkatan investasi dan konsumsi rumah tangga. Namun investasi yang terjadi di Indonesia jauh lebih kecil dari yang terjadi di Malaysia dan Thailand. Ini menunjukkan bahwa daya tarik Investasi di Indonesia lebih lemah jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand. Hal ini diperkuat dengan data Global Competitiveness Index dalam World Economic Forum (2010), dimana peringkat Indonesia jauh berada di bawah Malaysia dan Thailand.

3 83 Indonesia berperingkat 44, sementara Thailand berada pada peringkat 38 dan Malaysia peringkat 26. Jika dilihat hasil simulasi penghapusan tarif terhadap PDB deflator atau tingkat inflasi di negara ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea meski meningkatkan inflasi, namun peningkatannya relatif kecil, bahkan untuk Malaysia dan Filipina terjadi penurunan tingkat inflasi yakni masing-masing sebesar 0.29 persen dan 0.17 persen. Sedangakan Indonesia meningkat sebesar 0.25 persen, Singapura sebesar 1.12 persen, Thailand sebesar 3.53 persen. Untuk Cina, Jepang dan Rep. Korea meningkat masing-masing sebesar 0.35 persen; 1,07 persen dan 1.58 persen. Meningkatnya PDB deflator di negara-negara ASEAN ini, termasuk Indonesia, salah satunya karena masih tingginya tingkat ketergantungan beberapa komoditi impor khususnya dari Cina yang harganya menjadi meningkat sehingga mempengaruhi indeks harga umum. Secara umum hal tersebut mengartikan bahwa antar sesama negara ASEAN Plus Three mengalami saling ketergantungan terhadap barang-barang impor dari sesama negara ASEAN Plus Three itu sendiri. Dengan adanya saling ketergantungan tersebut, ketika tarif impor dihapuskan, maka permintaan terhadap barang-barang impor dapat dipastikan langsung meningkat, sehingga harganya pun akan meningkat menyesuaikan tingkat permintaan dan mempengaruhi indeks harga umum. Variabel Term of Trade (TOT) atau kurs riil mencerminkan harga relatif barang-barang antara dua negara. Dari hasil simulasi, TOT negara ASEAN menjadi meningkat karena adanya penghapusan tarif impor (kecuali Filipina). Kurs riil atau TOT tinggi mencerminkan barang-barang impor relatif lebih murah dan barang-barang domestik di negara-negara ASEAN relatif lebih mahal. Hal ini berarti dengan adanya penghapusan tarif impor maka negara ASEAN semakin turun daya saingnya, dimana dalam hal ini Thailand yang paling besar mengalami peningkatan TOT. Sedangkan TOT Cina, menurun sebesar persen, yang menandakan produk yang diperdagangkan dari Cina sedikit meningkat daya saingnya dengan penghapusan tarif di negara-negara ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea. Lebih jauh, dampak kenaikan atau penurunan ekspor dan impor secara total masing-masing sektor di negara ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea maupun sebaliknya berdampak pada neraca perdagangan di hampir seluruh negara

4 84 yang terlibat. Pada Tabel 6.2 terlihat bahwa neraca perdagangan semua negara mengalami penurunan, namun sebenarnya dengan adanya FTA ini justru memperbaiki neraca perdagangan diantara sesama negara ASEAN Plus Three. Karena pada kondisi awal sebelum diberlakukannya FTA neraca perdagangan di hampir seluruh negara yang terlibat sudah mengalami defisit yang jauh lebih besar (Tabel 6.1). Pada Tabel 6.1 terlihat perbedaan neraca perdagangan antara sebelum FTA dan sesudah FTA. Pada umumnya neraca perdagangan setiap negara menjadi lebih baik setelah adanya FTA, kecuali yang dialami oleh Thailand. Perubahan neraca perdagangan yang relatif paling baik dialami oleh Singapura, yaitu dari US$ -3, juta menjadi US$ juta. Sementara Indonesia berubah dari US$ -4, juta menjadi US$ juta. Karena semakin kecilnya defisit neraca perdagangan, hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya FTA mampu memperbaiki kinerja perdagangan masing-masing negara yang terlibat. Tabel 6.1. Neraca Perdagangan Sebelum dan Setelah ASEAN Plus Three FTA (Juta dolar) Neraca Perdagangan Neraca Perdagangan Negara Sebelum FTA Setelah FTA Indonesia -4, Malaysia -4, , Filipina -1, Singapura -3, Thailand -5, , Cina -18, , Jepang -23, , Korea -12, , Sumber: Data Base GTAP versi 7.0 (diolah) Peningkatan TOT (term of trade) atau kurs riil mengakibatkan barangbarang dan jasa Indonesia relatif lebih mahal dibandingkan barang dan jasa dari luar negeri. Hal ini mengakibatkan peningkatan impor Indonesia masih lebih besar dari peningkatan ekspornya (Tabel 6.2). Walaupun demikian, perubahan penurunannya tergolong kecil dibandingkan Malaysia dan Thailand serta lebih kecil juga dibandingkan negara-negara Asia Timur. Neraca perdagangan yang negatif juga merupakan signal bahwa peningkatan investasi dibiayai oleh saving (tabungan). Secara teoritis, kenaikan permintaan investasi akan menurunkan tabungan bersih dan mengurangi persediaan rupiah yang diinvestasikan ke luar

5 85 negeri, sehingga kurs riil keseimbangan akan meningkat dan mengakibatkan kurs rupiah mengalami apresiasi, barang-barang domestik menjadi relatif lebih mahal terhadap barang luar negeri, dan ekspor netto turun. Pada gilirannya, hal ini mengakibatkan neraca perdagangan menjadi negatif. Dilihat dari neraca perdagangan dengan negara-negara selain ASEAN Plus Three maka terjadi peningkatan. Misalnya pada rest of Asia dan rest of the World. Hal ini menunjukkan bahwa defisit neraca perdagangan yang dialami oleh negaranegara yang terlibat dalam ASEAN Plus Three FTA dapat dikompensasi apabila negara-negara tersebut melakukan perdagangan dengan kawasan lain. Variabel investasi pada masing-masing negara menunjukkan performa yang berbeda-beda akibat skema FTA ASEAN Plus Three. Diharapkan dengan FTA ASEAN Plus Three akan memberikan fasilitas bagi penanam modal. Bentuk fasilitas yang diberikan kepada penanam modal sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Bab X Pasal 4(a) pajak penghasilan melalui pengurangan penghasilan netto sampai tingkat tertentu terhadap jumlah penanaman modal yang dilakukan dalam waktu tertentu, (b) pembebasan atau keringanan bea masuk atas impor barang modal, mesin, atau peralatan untuk keperluan produksi yang belum dapat diproduksi di dalam negeri, (c) pembebasan atau keringanan bea masuk bahan baku atau bahan penolong untuk keperluan produksi untuk jangka waktu tertentu dan persyaratan tertentu, (d) pembebasan atau penangguhan Pajak Pertambahan Nilai (PPn) atas impor barang modal atau mesin atau peralatan untuk keperluan produksi di dalam negeri selama jangka waktu tertentu, (e) penyusutan atau amortisasi yang dipercepat, (f) keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Berdasarkan hasil simulasi yang ditunjukkan pada Tabel 6.2, investasi Indonesia meningkat relatif kecil yaitu sebesar 1.57 persen, sedangkan Thailand mengalami peningkatan terbesar mencapai persen dan Malaysia sebesar persen. Walaupun untuk Indonesia peningkatan investasi relatif kecil diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja yang disertai dengan peningkatan keahlian dan keterampilan sehingga dalam jangka panjang output dapat ditingkatkan dan efisiensi dapat tercapai. Dengan peningkatan output domestik maka dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan akan mengurangi volume impor.

6 86 Jika seluruh sumber daya digunakan secara penuh dan dengan melakukan spesialisasi berdasarkan comparative advantage, masing-masing negara akan memperoleh dampak positif akibat liberalisasi berupa peningkatan kesejahteraan karena memperoleh barang dengan harga yang relatif murah. Efek positif dari trade creation tidak hanya berlaku bagi masyarakat yang melakukan konsumsi namun Pemerintah yang juga melakukan belanja negara, juga mengalami peningkatan. Pengeluaran Pemerintah menjadi meningkat dengan adanya penghapusan tarif impor. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan pengeluaran Pemerintah yang positif dialami kedua belah pihak yaitu negaranegara ASEAN maupun Cina, Jepang dan Rep. Korea. Pengeluaran pemerintah yang terbesar terjadi pada negara Thailand yaitu sebesar 6.63 persen, diikuti Jepang dan Rep Korea masing-masing sebesar 1.16 persen dan 2.49 persen. Sementara itu pengeluaran pemerintah yang terjadi bagi Indonesia meningkat sebesar 0.53 persen. Dibukanya perdagangan antara ASEAN, Cina, Jepang dan Rep Korea mempunyai konsekuensi yang luas terhadap perekonomian, salah satunya terhadap konsumsi (consumption effect). Secara teori, salah satu pengaruh pada konsumsi masyarakat adalah bergesernya garis Consumption Possibility Frontier (CPF) ke atas. Ini berarti bahwa adanya perdagangan membuat masyarakat bisa mengkonsumsi dalam jumlah yang lebih besar daripada sebelum adanya perdagangan. Dengan kata lain bahwa pendapatan riil masyarakat (yaitu pendapatan yang diukur dari berapa jumlah barang yang bisa dibeli oleh jumlah uang tersebut) meningkat dengan adanya perdagangan. Hasil simulasi kebijakan menunjukkan bahwa konsumsi di negara ASEAN Plus Three naik akibat dihapusnya tarif impor dikedua belah pihak. Konsumsi Indonesia mengalami peningkatan sebesar 0.5 persen. Persentase peningkatan konsumsi tertinggi diduduki oleh Thailand sebesar 6.25 persen. Sementara konsumsi di negara Filipina hanya akan meningkat sebesar 0.17 persen. Cina, jepang dan Rep Korea juga mengalami peningkatan konsumsi, yaitu masing-masing sebesar 0.57 persen, 1.13 persen dan 2.03 persen. Seluruh informasi mengenai dampak ASEAN Plus Three FTA terhadap konsumsi pada masing-masing negara ditunjukkan pada Tabel 6.2.

7 87 Tabel 6.2. Dampak FTA dalam Skema ASEAN Plus Three terhadap Peubah Ekonomi Makro Neraca Term of PDB Pengeluaran Konsumsi Kesejahteraan PDB riil Investasi Negara Perdagangan trade Deflator Pemerintah Rumah (US$ juta) (%) (%) (US$ juta) (%) (%) (%) Tangga(%) Indonesia Malaysia Filipina Singapura Thailand Cina Jepang Rep. Korea Rest Of Asia Rest Of World Sumber: Hasil Analisi GTAP

8 88 Dampak FTA secara makro ekonomi tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Oktaviani, et al (2007) yang mengalisis dampak FTA ASEAN-Cina dan ASEAN-Rep. Korea. Hasil penelitian tersebut menyebutkan antara lain PDB negara-negara ASEAN meningkat walaupun relatif kecil. Peningkatan PDB lebih banyak didorong oleh pengeluaran atau konsumsi masyarakat yang lebih tinggi. Dengan adanya penghapusan tarif impor negara ASEAN semakin turun dayasaingnya, terlihat dari peningkatan TOT Dampak Free Trade Area (FTA) ASEAN Plus Three terhadap Ekonomi Sektoral Dampak terhadap ekonomi sektoral dapat dijelaskan dengan melihat dampak FTA ASEAN, Cina, Jepang dan Rep Korea terhadap ekspor, impor, output dan harga masing-masing komoditi. Tabel 6.3 menunjukkan pengaruh penghapusan tarif impor di ASEAN Plus Three terhadap beberapa peubah ekonomi sektoral di Indonesia sesuai dengan kesepakatan kerjasama ASEAN Plus Three FTA pada komoditi yang diperdagangkan. Seperti pada uraian sebelumnya, dampak ASEAN Plus Three FTA mengakibatkan neraca perdagangan di hampir seluruh negara yang terlibat menjadi lebih baik, terlihat dari semakin kecilnya defisit neraca perdagangan, kecuali untuk negara Thailand. Walaupun Indonesia banyak melakukan ekspor pada sektor-sektor tertentu, seperti batu bara, minyak mentah, produk kimia, karet dan plastik serta logam dan barang-barang dari logam, namun hampir keseluruhan impor Indonesia meningkat dengan peningkatan antara 1.35 hingga persen. Impor Indonesia dari sektor kimia, karet dan plastik, mesin dan peralatannya, peralatan elektronik serta kilang minyak dan produk batu bara juga merupakan komoditi andalan ekspor bagi Indonesia ke pasar ASEAN Plus Three. Hal demikian dapat terjadi karena selama ini Indonesia masih dilindungi oleh tingkat tarif impor yang relatif tinggi (Bab V). Sebagai contoh adalah kasus yang terjadi pada sektor makanan olahan, dimana tarif rata-rata sebelum FTA adalah persen. Ketika tarif ini dihilangkan, maka yang terjadi adalah meningkatnya impor Indonesia akan makanan olahan yakni sebesar persen. Kemudian untuk kendaraan bermotor dan suku cadangnya, tarif rata-rata yang berlaku sebelum FTA adalah sebesar 8.74 persen. Ketika tarif dihapuskan, maka impor kendaraan

9 89 bermotor meningkat sebesar 9 persen. Berbeda halnya pada sektor yang tingkat tarifnya relatif kecil seperti pada minyak mentah dan mineral, dengan rata-rata tingkat tarif masing-masing sebesar 0.63 persen dan 1.92 persen (Tabel 5.4 Bab V). Peningkatan impor yang dialami oleh sektor tersebut juga relatif kecil yakni untuk sektor minyak mentah sebesar 2.67 persen dan mineral sebesar 1.35 persen. Ekspor di masing-masing komoditi ada yang mengalami peningkatan dan ada pula yang mengalami penurunan. Penurunan yang akan terjadi berkisar antara -0.2 hingga persen. Peningkatan terbesar terjadi pada komoditi makanan olahan yaitu sebessar persen, diikuti mesin dan perlengkapannya dan tanaman pangan masing-masing sebesar 8.29 persen dan 7.87 persen. Komoditikomoditi yang merupakan andalan ekspor Indonesia ke pasar ASEAN Plus Three yang diharapkan akan mengalami peningkatan namun tidak terjadi pada seluruh komoditinya, misalnya pada komoditi batu bara, gas alam, mineral, serta minyak nabati dan hewani. Namun penurunan yang terjadi hanya berkisar -0.2 persen hingga Sektor andalan ekspor Indonesia yang mengalami peningkatan cukup besar diantaranya adalah adalah kilang minyak (6.54 persen), produk kimia, karet dan plastik (5.78 persen) serta peralatan elektronik (6.5 persen). Fenomena dibalik menurunnya ekspor andalan Indonesia salah satunya adalah karena pengaruh tarif. Sebelum terjadi FTA, tarif Indonesia di negaranegara ASEAN Plus Three lainnya untuk sektor andalan ekspor Indonesia sudah relatif rendah (Tabel 5.3 Bab V). Seperti sektor batu bara (1,05 persen), gas alam (0.13 persen) dan mineral (0.59 persen). Oleh sebab itu ketika tarif dihapuskan, maka tidak akan terlalu berpengaruh terhadap performa ekspor sektor-sektor tersebut. Dampak terhadap perubahan impor Indonesia juga dapat dilihat dalam Tabel 6.3. Secara keseluruhan, impor Indonesia mengalami peningkatan. Peningkatan terbesar justru terjadi pada komoditi gas alam (31.81 persen) yang merupakan komoditi andalan ekspor Indonesia ke ASEAN Plus Three. Peningkatan impor yang besar juga terjadi pada komoditi makanan olahan dan tekstil yang meningkat masing-masing sebesar persen dan persen. Peningkatan impor yang terjadi pada seluruh komoditi ini adalah akibat dari

10 90 penghapusan tarif impor, sehingga harga barang-barang impor menjadi lebih murah, yang pada akhirnya tingkat permintaan pun semakin meningkat. Dampak penghapusan tarif terhadap output juga dapat dilihat pada Tabel 6.3. Hasilnya adalah terjadi penurunan output pada hampir seluruh komoditi yang diperdagangkan Indonesia ke ASEAN, Cina, Jepang dan Rep Korea. Kecuali pada komoditi tanaman pangan; peternakan, kehutanan, perikanan; produk kimia, karet, plastik; peralatan elektronik; serta mesin dan peralatannya. Penurunan terbesar terjadi pada komoditi kendaraan bermotor dan suku cadang yakni sebesar persen dan diikuti logam besi sebesar persen. Untuk kendaraan bermotor dan suku cadangnya menunjukkan bahwa jika dibukanya FTA ASEAN Plus Three industri kendaraan bermotor dan suku cadang domestik dapat semakin terpuruk karena tingginya permintaan impor. Hal ini disebabkan karena daya saing indutri ini belum dapat menandingi negara-negara lain khusnya dari Jepang, Cina dan Rep Korea. Terlihat dari nilai RCA yang rendah pada industri ini (Bab 5, Tabel 5.5). Hal yang sama dapat terjadi pada industri logam besi Indonesia. Bagi komoditi-komoditi yang mengalami peningkatan ouput maka dapat dikatakan bahwa komoditi ini masih mempunyai potensi untuk berdaya saing baik di pasar domestik ataupun di pasar impor. Pada tabel yang sama dapat pula dilihat dampak FTA ASEAN Plus Three terhadap harga output. Harga ouput pada sektor-sektor yang diperdagangkan Indonesia secara keseluruhan mengalami kenaikan antara 0.27 hingga 1.08 persen. Penurunan harga ouput juga terjadi khususnya pada komoditi-komoditi yang menjadi impor terbesar Indonesia, seperti kendaraan bermotor dan suku cadang. Peningkatan harga output dan penurunan output pada sebagian besar komoditi yang diperdagangkan Indonesia ASEAN Plus Three menunjukkan Indonesia belum siap melakukan Free Trade Area dengan ASEAN Plus Three. Liberalisasi akan memberikan guncangan di sektor riil. Walaupun beberapa komoditi outputnya mengalami peningkatan, namun secara total neraca perdagangan pun menunjukkan nilai yang negatif. Sementara itu, jika dilihat dampak FTA ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea terhadap jumlah tenaga kerja, maka pada sebagian besar industri terjadi penurunan jumlah tenaga kerja (kesempatan kerja) baik tenaga kerja yang terdidik

11 91 maupun yang tidak terdidik. Penurunan tersebut terjadi pada industri yang outputnya mengalami penurunan, seperti industri kendaraan bermotor dan suku cadang, industri logam besi dan sebagian pada industri manufaktur lainnya. Sedangkan peningkatan jumlah tenaga kerja yang terdidik maupun yang tidak terdidik terjadi pada sektor pertanian, seperti tanaman pangan, peternakan, kehutanan dan perikanan, serta industri tekstil, kimia, karet, plastik dan peralatan elektronik. Hal tersebut wajar terjadi, karena peningkatan output akan menyebabkan produsen memerlukan tambahan tenaga kerja baik yang terdidik maupun tidak terdidik demikian pula sebaliknya. Peningkatan jumlah tenaga kerja terbesar terjadi pada sektor industri peralatan elektronik, yaitu sebesar 5.54 persen untuk tenaga kerja yang terdidik dan 5.44 persen pada tenaga kerja yang tidak terdidik. Hal ini menyebabkan ouput peralatan elektronik meningkat sebesar 6.5 persen. Sementara itu peningkatan yang cukup besar terjadi juga pada sektor industri mesin dan peralatannya yaitu sebesar 3.86 persen untuk tenaga kerja yang terdidik dan 3.76 persen pada tenaga kerja yang tidak terdidik yang menyebabkan ouput pada industri ini meningkat sebesar 8.29 persen. Penurunan jumlah tenaga kerja yang terbesar terjadi pada industri kendaraan bermotor dan suku cadang, yaitu turun sebesar 9.07 persen pada tenaga kerja yang terdidik dan 9.17 persen pada tenaga kerja yang tidak terdidik. Hal ini menyebabkan ouput pada industri ini mengalami penurunan yang cukup besar yaitu turun sebesar 9.09 persen. Kemudian menyebabkan ekspor industri ini mengalami penurunan. Kebutuhan domestik akan barang-barang kendaraan bermotor dan suku cadang lebih banyak diperoleh dari impor, terlihat dari peningkatan impor kendaraan bermotor dan suku cadang yang cukup besar yaitu sebesar 9 persen. Hal yang serupa terjadi pula pada industri logam besi, dimana jumlah tenaga kerjanya menurun menyebabkan ouput dan ekspornya mengalami penurunan, sementara impornya mengalami peningkatan.

12 92 Tabel 6.3. Sektor Dampak Free Trade Area dalam Skema ASEAN, Cina, Jepang dan Rep. Korea terhadap Ekspor, Impor, Output dan Harga Domestik Indonesia (perubahan persen) Ekspor (qxw) Impor (qiw) Output (q0) Harga ouput (ppd) Tenaga Kerja Terdidik Tidak Terdidik Tanaman pangan Peternakan, kehutanan dan perikanan Batu bara Minyak mentah Gas alam Mineral Makanan olahan Minyak nabati dan hewani Tekstil Kilang minyak Kimia, karet dan plastik Logam besi Logam non besi Kendaraan bermotor dan suku cadang Peralatan transportasi Peralatan elektronik Mesin dan peralatannya Industri manufaktur lain Listrik, gas, air bersih Jasa transportasi dan komunikasi Jasa lain

13 93 Hasil analisis dampak sektoral dari adanya FTA tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktaviani, et al (2007), yang menganalisis dampak FTA ASEAN-Cina dan ASEAN-Rep.Korea. Dalam penelitian itu menyebutkan bahwa terjadi penurunan hampir keseluruhan pada output yang diperdagangkan Indonesia ke Cina yang menunjukkan Indonesia belum siap melakukan FTA dengan Cina. Walaupun beberapa komoditi outputnya mengalami peningkatan, namun secara total neraca perdagangan pun menunjukkan nilai yang negatif. Demikian juga FTA ASEAN-Rep. Korea, walaupun penurunnya relatif lebih kecil dibandingkan FTA ASEAN-Cina. Harga output yang diperdagangkan Indonesia secara keseluruhan mengalami kenaikan. Peningkatan kesempatan kerja, baik tenaga kerja yang terdidik maupun yang tidak terdidik, terjadi pada sektor-sektor yang outputnya mengalami peningkatan. Dibukanya kerjasama FTA ASEAN Plus Three membawa konsekuensi dibukanya liberalisasi perdagangan barang. Salah satu sarana untuk mencapainya adalah dengan mengurangi atau menghilangkan hambatan tarif bea masuk yang merupakan salah satu pos dalam pendapatan negara. Oleh karena itu dampaknya dapat terlihat turunnya penerimaan Pemerintah dari pos tarif bea masuk. Namun demikian, sesuai dengan tujuan dari liberalisasi perdagangan, melalui pengurangan/penghapusan hambatan tarif maka akan terjadi peningkatan volume perdagangan barang yang mencakup ekspor dan impor barang diantara negaranegara anggota maupun meningkatnya kegiatan investasi. Walaupun untuk saat ini neraca perdagangan Indonesia menunjukkan nilai negatif namun untuk investasi menunjukkan nilai yang positif. Dengan meningkatnya volume perdagangan maka akan mendatangkan multiplier effect terhadap kegiatan ekonomi lainnya yang selanjutnya akan membawa perubahan terhadap penerimaan negara dari sektor pajak. Sehingga diharapkan penerimaan Pemerintah dalam jangka panjang akan meningkat. Namun yang perlu mendapat perhatian khusus Pemerintah Indonesia bahwa ASEAN Plus Three FTA dapat dilakukan namun dengan beberapa persyaratan, yaitu: 1. ASEAN Plus Three FTA dibuka hanya bagi sektor sektor yang memiliki dayasaing tinggi (competitive), seperti sektor gas alam, minyak nabati dan

14 94 hewani atau sektor batu bara. Jadi Pemerintah harus memiliki komitmen tinggi untuk membuka perdagangan bagi sektor-sektor yang berdayasaing, sedangkan yang belum memiliki daya saing perlu mendapat dukungan untuk pengembangan kapasitas kelembagaan ekspor seperti memfasilitasi promosi tetap, peningkatan kemampuan negosiasi, dan usaha membangun kepercayaan internasional. 2. Sektor yang lebih padat karya (menyerap tenaga kerja banyak) apabila belum mempunyai kemampuan untuk berkompetisi atau berdayasaing tinggi hendaknya jangan dibuka FTA dahulu, mengingat apabila dibuka FTA maka sektor yang belum mampu bersaing akan terancam gulung tikar, sehingga berpengaruh terhadap nasib tenaga kerja yang dipekerjakan (pengangguran akan meningkat). 3. Indonesia harus meningkatkan dayasaing pada sektor-sektor non primer, seperti sektor industri pengolahan agar dapat berkompetisi dalam perdagangan global, sebab sektor tersebut lebih memiliki nilai tambah jika dibandingkan sektor-sektor primer. Jika Indonesia mampu mengekspor lebih banyak pada produk-produk dari sektor industri pengolahan maka keuntungan yang didapat Indonesia tentunya akan lebih besar. FTA ASEAN Plus Three nantinya harus dipahami oleh Pemerintah dengan perspektif yang lebih luas. Terlepas dari pilihan mana yang akan diambil, apakah memandang keluar guna mempromosikan ekspor dan menganut perdagangan bebas atau sebaliknya memandang ke dalam sambil menjalankan kebijakan proteksionis atau berusaha menjalankan keduanya sekaligus, Pemerintah harus memahami kondisinya yang ada sekarang ini serta prospeknya di masa yang akan datang di tengah-tengah pergaulan masyarakat dunia. Membuka perekonomian dengan perdagangan dunia itu baik, namun ada batasnya. Karena selain mengandung manfaat dan keuntungan, FTA juga membawa resiko yang harus diperhitungkan, yaitu: 1. Karena Indonesia tidak mempunyai pilihan, yang mana harus terlibat secara aktif dalam perdagangan global, maka alternatif terbaik adalah menyesuaikan arah atau orientasi perdagangan internasional, yakni lebih mengutamakan kerjasama atau hubungan dagang dengan sesama negara ASEAN Plus Three.

15 95 Bagi Indonesia akan sangat baik seandainya memperkuat upaya integrasi ekonomi diantara sesama demi menggalang kekuatan, memaksimalkan skala ekonomis, dan juga memperbesar pasar. 2. FTA ASEAN Plus Three dibuka hanya bagi komoditi Indonesia yang memiliki daya saing tinggi (competitive). Jadi Pemerintah harus memiliki komitmen tinggi untuk membuka perdagangan bagi sektor yang berdaya saing sedangkan yang belum memiliki dayasaing perlu mendapat dukungan untuk pengembangan kapasitas kelembagaan ekspor seperti memfasilitasi promosi tetap, peningkatan kemampuan negosiasi, dan usaha membangun kepercayaan internasional.

BAB V ALIRAN PERDAGANGAN, KONDISI TARIF DAN PERFORMA EKSPOR INDONESIA DI PASAR ASEAN PLUS THREE

BAB V ALIRAN PERDAGANGAN, KONDISI TARIF DAN PERFORMA EKSPOR INDONESIA DI PASAR ASEAN PLUS THREE BAB V ALIRAN PERDAGANGAN, KONDISI TARIF DAN PERFORMA EKSPOR INDONESIA DI PASAR ASEAN PLUS THREE 5.1. Aliran Perdagangan dan Kondisi Tarif Antar Negara ASEAN Plus Three Sebelum menganalisis kinerja ekspor

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3 IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3 4.1.1 Produk Domestik Bruto (PDB) Selama kurun waktu tahun 2001-2010, PDB negara-negara ASEAN+3 terus menunjukkan tren yang meningkat

Lebih terperinci

V. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI INDONESIA. dari waktu ke waktu. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi merupakan proses

V. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI INDONESIA. dari waktu ke waktu. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi merupakan proses 115 V. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI INDONESIA 5.1. Pertumbuhan Ekonomi Petumbuhan ekonomi pada dasarnya merupakan proses perubahan PDB dari waktu ke waktu. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi merupakan proses

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003)

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) menyatakan bahwa pertumbuhan

Lebih terperinci

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN 2012-2014 Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Jakarta, 1 Februari 2012 Daftar Isi I. LATAR BELAKANG II. ISU STRATEGIS DI SEKTOR INDUSTRI III.

Lebih terperinci

VI. SIMPULAN DAN SARAN

VI. SIMPULAN DAN SARAN VI. SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain: 1. Selama tahun 1999-2008, rata-rata tahunan harga minyak telah mengalami peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seluruh negara sebagian anggota masyarakat internasional masuk dalam blokblok

BAB I PENDAHULUAN. seluruh negara sebagian anggota masyarakat internasional masuk dalam blokblok BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Liberalisasi perdagangan kini telah menjadi fenomena dunia. Hampir di seluruh negara sebagian anggota masyarakat internasional masuk dalam blokblok perdagangan bebas

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata saat ini telah menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dunia terutama dalam penerimaan devisa negara melalui konsumsi yang dilakukan turis asing terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ketimpangan dapat diatasi dengan industri. Suatu negara dengan industri yang

BAB I PENDAHULUAN. ketimpangan dapat diatasi dengan industri. Suatu negara dengan industri yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi. Di era globalisasi ini, industri menjadi penopang dan tolak ukur kesejahteraan suatu negara. Berbagai

Lebih terperinci

BAB IV PENUTUP. IV.1 Kesimpulan

BAB IV PENUTUP. IV.1 Kesimpulan 95 BAB IV PENUTUP IV.1 Kesimpulan Dengan masuknya China ke dalam ASEAN Free Trade Area akan meningkatkan pemasukan dari masing-masing negara anggota, karena pangsa pasar China yang begitu besar, dan begitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi

BAB I PENDAHULUAN. pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan dunia yang bersifat mendasar atau struktural dan akan berlangsung terus dalam Iaju yang semakin pesat

Lebih terperinci

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5. HASIL DAN PEMBAHASAN 5. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Simulasi Model Pertumbuhan kegiatan kepariwisataan di Indonesia yang dikaitkan dengan adanya liberalisasi perdagangan, dalam penelitian ini, dianalisis dengan menggunakan model

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan liberalisasi perdagangan barang dan jasa semakin tinggi intensitasnya sehingga

BAB 1 PENDAHULUAN. dan liberalisasi perdagangan barang dan jasa semakin tinggi intensitasnya sehingga BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perekonomian dalam perdagangan internasional tidak lepas dari negara yang menganut sistem perekonomian terbuka. Apalagi adanya keterbukaan dan liberalisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor industri merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berperan

BAB I PENDAHULUAN. Sektor industri merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berperan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor industri merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berperan penting terhadap pembangunan perekonomian suatu negara. Struktur perekonomian suatu negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tercermin dari kegiatan perdagangan antar negara. Perdagangan antar negara

BAB I PENDAHULUAN. tercermin dari kegiatan perdagangan antar negara. Perdagangan antar negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini interaksi antar negara merupakan hal yang tidak bisa dihindari dan hampir dilakukan oleh setiap negara di dunia, interaksi tersebut biasanya tercermin dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Proses globalisasi yang bergulir dengan cepat dan didukung oleh kemajuan

BAB I PENDAHULUAN. Proses globalisasi yang bergulir dengan cepat dan didukung oleh kemajuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses globalisasi yang bergulir dengan cepat dan didukung oleh kemajuan teknologi tertentu di bidang komunikasi dan informasi telah mengakibatkan menyatunya pasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang wajib dimiliki dalam mewujudkan persaingan pasar bebas baik dalam kegiatan maupun

Lebih terperinci

BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014

BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014 BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014 1.1 LATAR BELAKANG Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2014 sebesar 5,12 persen melambat dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun

Lebih terperinci

Keseimbangan Ekonomi Empat Sektor. Oleh: Ruly Wiliandri, SE., MM

Keseimbangan Ekonomi Empat Sektor. Oleh: Ruly Wiliandri, SE., MM Keseimbangan Ekonomi Empat Sektor Oleh: Ruly Wiliandri, SE., MM Perekonomian empat sektor adalah perekonomian yg terdiri dari sektor RT, Perusahaan, pemerintah dan sektor LN. Perekonomian empat sektor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, seperti Indonesia serta dalam era globalisasi sekarang ini, suatu negara tidak terlepas dari kegiatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Era globalisasi menuntut adanya keterbukaan ekonomi yang semakin luas dari setiap negara di dunia, baik keterbukaan dalam perdagangan luar negeri (trade openness) maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan dan pariwisata atau dalam istilah tertentu pariwisata memimpin

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan dan pariwisata atau dalam istilah tertentu pariwisata memimpin 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada prinsipnya, pertumbuhan ekonomi dapat dirangsang oleh perdagangan dan pariwisata atau dalam istilah tertentu pariwisata memimpin pertumbuhan, pertumbuhan dipimpin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam Todaro dan Smith (2003:91-92) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan

BAB I PENDAHULUAN. dalam Todaro dan Smith (2003:91-92) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara menuju ke arah yang lebih baik. Menurut Kutznets dalam Todaro dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian internasional, diantaranya yaitu impor. Kegiatan impor yang dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian internasional, diantaranya yaitu impor. Kegiatan impor yang dilakukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, seperti Indonesia serta dalam era globalisasi sekarang ini, suatu negara tidak terlepas dari kegiatan perekonomian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. moneter terus mengalami perkembangan. Inisiatif kerjasama mulai dikembangkan

I. PENDAHULUAN. moneter terus mengalami perkembangan. Inisiatif kerjasama mulai dikembangkan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses integrasi di berbagai belahan dunia telah terjadi selama beberapa dekade terakhir, terutama dalam bidang ekonomi. Proses integrasi ini penting dilakukan oleh masing-masing

Lebih terperinci

BAB V. Kesimpulan dan Saran. 1. Guncangan harga minyak berpengaruh positif terhadap produk domestik

BAB V. Kesimpulan dan Saran. 1. Guncangan harga minyak berpengaruh positif terhadap produk domestik BAB V Kesimpulan dan Saran 5. 1 Kesimpulan 1. Guncangan harga minyak berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto. Indonesia merupakan negara pengekspor energi seperti batu bara dan gas alam. Seiring

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perdagangan internasional berawal dari adanya perbedaan

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perdagangan internasional berawal dari adanya perbedaan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan perdagangan internasional berawal dari adanya perbedaan sumber daya yang dimiliki setiap negara dan keterbukaan untuk melakukan hubungan internasional

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA 4.1. Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua Provinsi Papua terletak antara 2 25-9 Lintang Selatan dan 130-141 Bujur Timur. Provinsi Papua yang memiliki luas

Lebih terperinci

Ekspor Nonmigas 2010 Mencapai Rekor Tertinggi

Ekspor Nonmigas 2010 Mencapai Rekor Tertinggi SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 111 Telp: 21-386371/Fax: 21-358711 www.kemendag.go.id Ekspor Nonmigas 21 Mencapai Rekor Tertinggi Jakarta,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. ASEAN sebagai organisasi regional, kerjasama ekonomi dijadikan sebagai salah

I. PENDAHULUAN. ASEAN sebagai organisasi regional, kerjasama ekonomi dijadikan sebagai salah 17 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ASEAN terbentuk pada tahun 1967 melalui Deklarasi ASEAN atau Deklarasi Bangkok tepatnya pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok oleh Wakil Perdana Menteri merangkap

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015 A. Perkembangan Perekonomian Saudi Arabia. 1. Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan pertumbuhan ekonomi di Saudi Arabia diatur melambat

Lebih terperinci

Masih Perlukah Kebijakan Subsidi Energi Dipertahankan Rabu, 22 Oktober 2014

Masih Perlukah Kebijakan Subsidi Energi Dipertahankan Rabu, 22 Oktober 2014 Masih Perlukah Kebijakan Subsidi Energi Dipertahankan Rabu, 22 Oktober 2014 Akhir-akhir ini di berbagai media ramai dibicarakan bahwa â œindonesia sedang mengalami krisis energiâ atau â œindonesia sedang

Lebih terperinci

BAB VI PERANCANGAN KEBIJAKAN. 6.1 Arah Kebijakan dan Proses Perancangan Kebijakan

BAB VI PERANCANGAN KEBIJAKAN. 6.1 Arah Kebijakan dan Proses Perancangan Kebijakan BAB VI PERANCANGAN KEBIJAKAN 6.1 Arah Kebijakan dan Proses Perancangan Kebijakan Dalam rangka untuk mencapai tujuan negara, yaitu menjadikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi maka diperlukan berbagai kebijakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembangunan jangka panjang, sektor industri merupakan tulang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembangunan jangka panjang, sektor industri merupakan tulang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam pembangunan jangka panjang, sektor industri merupakan tulang punggung perekonomian. Tumpuan harapan yang diletakkan pada sektor industri dimaksudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk menganalisis pembangunan ekonomi yang terjadi disuatu Negara yang diukur dari perbedaan PDB tahun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan dalam berbagai bidang, tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Menurut Todaro dan Smith (2006), globalisasi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Dalam beberapa dekade belakangan ini, perdagangan internasional telah

PENDAHULUAN. Dalam beberapa dekade belakangan ini, perdagangan internasional telah PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam beberapa dekade belakangan ini, perdagangan internasional telah tumbuh dengan pesat dan memainkan peranan penting dan strategis dalam perekonomian global. Meningkatnya

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI DESEMBER 2014

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI DESEMBER 2014 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI DESEMBER 2014 A. Perkembangan perekonomian dan perdagangan Thailand 1. Selama periode Januari-Desember 2014, neraca perdagangan Thailand

Lebih terperinci

ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara

ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara ASEAN didirikan di Bangkok 8 Agustus 1967 oleh Indonesia, Malaysia,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA OKTOBER 2009

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA OKTOBER 2009 BADAN PUSAT STATISTIK No. 72/12/Th. XII, 1 Desember PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA OKTOBER A. PERKEMBANGAN EKSPOR Nilai ekspor Indonesia mencapai US$11,88 miliar atau mengalami peningkatan sebesar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nominal ini tidak mampu meningkatkan daya beli masyarakat secara signifikan

BAB I PENDAHULUAN. nominal ini tidak mampu meningkatkan daya beli masyarakat secara signifikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendapatan nominal per kapita masyarakat Indonesia meningkat cukup besar hingga 11.6% per tahun sejak 2001. Namun kenaikan pertumbuhan secara nominal ini tidak

Lebih terperinci

Kinerja Ekspor Nonmigas Januari-April Lampui Target *Sinyal bahwa FTA/EPA Semakin Efektif dan Pentingnya Diversifikasi Pasar

Kinerja Ekspor Nonmigas Januari-April Lampui Target *Sinyal bahwa FTA/EPA Semakin Efektif dan Pentingnya Diversifikasi Pasar SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110 Telp: 021-3860371/Fax: 021-3508711 www.kemendag.go.id Kinerja Ekspor Nonmigas Januari-April Lampui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan luar negeri yang mempunyai peranan penting bagi suatu negara,

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan luar negeri yang mempunyai peranan penting bagi suatu negara, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam perjalanan waktu yang penuh dengan persaingan, negara tidaklah dapat memenuhi sendiri seluruh kebutuhan penduduknya tanpa melakukan kerja sama dengan

Lebih terperinci

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN I. Ekonomi Dunia Pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia. Sejak tahun 2004, ekonomi dunia tumbuh tinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Fenomensa globalisasi dalam bidang ekonomi mendorong perkembangan ekonomi yang semakin dinamis antar negara. Dengan adanya globalisasi, terjadi perubahan sistem ekonomi

Lebih terperinci

VII. ANALISIS DAMPAK EKONOMI PARIWISATA INTERNASIONAL. Indonesia ke luar negeri. Selama ini devisa di sektor pariwisata di Indonesia selalu

VII. ANALISIS DAMPAK EKONOMI PARIWISATA INTERNASIONAL. Indonesia ke luar negeri. Selama ini devisa di sektor pariwisata di Indonesia selalu VII. ANALISIS DAMPAK EKONOMI PARIWISATA INTERNASIONAL 7.1. Neraca Pariwisata Jumlah penerimaan devisa melalui wisman maupun pengeluaran devisa melalui penduduk Indonesia yang pergi ke luar negeri tergantung

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI JULI 2014

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI JULI 2014 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI JULI 2014 A. Perkembangan perekonomian dan perdagangan Thailand 1. Selama periode Januari-Juli 2014, neraca perdagangan Thailand dengan Dunia

Lebih terperinci

BAB VI. KESIMPULAN. integrasi ekonomi ASEAN menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: perdagangan di kawasan ASEAN dan negara anggotanya.

BAB VI. KESIMPULAN. integrasi ekonomi ASEAN menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: perdagangan di kawasan ASEAN dan negara anggotanya. BAB VI. KESIMPULAN 6.1. Kesimpulan Hasil penelitian mengenai aliran perdagangan dan investasi pada kawasan integrasi ekonomi ASEAN menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Integrasi ekonomi memberi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur perekonomian internasional yang lebih bebas dengan jalan menghapuskan semua hambatanhambatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mengalami perubahan relatif pesat. Beberapa perubahan tersebut ditandai oleh: (1)

I. PENDAHULUAN. mengalami perubahan relatif pesat. Beberapa perubahan tersebut ditandai oleh: (1) I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam dua dasawarsa terakhir perkembangan perekonomian dunia telah mengalami perubahan relatif pesat. Beberapa perubahan tersebut ditandai oleh: (1) mulai bergesernya

Lebih terperinci

BAB 3 KONDISI PERDAGANGAN LUAR-NEGERI INDONESIA DENGAN KAWASAN ASEAN

BAB 3 KONDISI PERDAGANGAN LUAR-NEGERI INDONESIA DENGAN KAWASAN ASEAN BAB 3 KONDISI PERDAGANGAN LUAR-NEGERI INDONESIA DENGAN KAWASAN ASEAN Disepakatinya suatu kesepakatan liberalisasi perdagangan, sesungguhnya bukan hanya bertujuan untuk mempermudah kegiatan perdagangan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3

IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3 IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3 4.1 Gambaran Umum Kesenjangan Tabungan dan Investasi Domestik Negara ASEAN 5+3 Hubungan antara tabungan dan investasi domestik merupakan indikator penting serta memiliki

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor Alat analisis Input-Output (I-O) merupakan salah satu instrumen yang secara komprehensif dapat digunakan untuk

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA MARET 2008

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA MARET 2008 BADAN PUSAT STATISTIK No. 22/05/Th. XI, 2 Mei PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA MARET A. Perkembangan Ekspor Nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 11,90 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 12,96

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JULI 2015

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JULI 2015 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JULI 2015 A. Perkembangan Perekonomian Saudi Arabia. 1. Laju pertumbuhan Produk domestik bruto (PDB) Saudi Arabia selama kuartal kedua tahun 2015

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat rata-rata penyerapan tenaga

I. PENDAHULUAN. nasional. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat rata-rata penyerapan tenaga I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya berusaha di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang besar, diharapkan

Lebih terperinci

EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA

EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA Ekspor dan Impor DKI Jakarta No. 38/08/31/Th.XIX, 1 Agustus EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA NILAI EKSPOR PRODUK DKI JAKARTA BULAN JUNI TURUN 21,69 PERSEN DIBANDINGKAN BULAN SEBELUMNYA Nilai ekspor melalui

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND BULAN : JANUARI 2015

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND BULAN : JANUARI 2015 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND BULAN : JANUARI 2015 A. Perkembangan perekonomian dan perdagangan Thailand 1. Selama bulan Januari 2015, neraca perdagangan Thailand dengan Dunia defisit sebesar

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BANTEN JANUARI 2017

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BANTEN JANUARI 2017 No. 16/03/36/Th. XI, 1 Maret 2017 PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BANTEN JANUARI 2017 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JANUARI 2017 TURUN 3,84 PERSEN MENJADI US$904,45 JUTA Nilai ekspor Banten pada turun 3,84

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era globalisasi ekonomi yang disertai dengan pesatnya perkembangan teknologi, berdampak kepada ketatnya persaingan, dan cepatnya perubahan lingkungan usaha. Perkembangan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan salah satu pendorong peningkatan perekonomian suatu negara. Perdagangan internasional, melalui kegiatan ekspor impor memberikan keuntungan

Lebih terperinci

BAB VII PERPAJAKAN. Tahun 8 10: pengurangan pajak penghasilan badan dan perorangan sebesar 50%

BAB VII PERPAJAKAN. Tahun 8 10: pengurangan pajak penghasilan badan dan perorangan sebesar 50% BAB VII PERPAJAKAN PERPAJAKAN DI INDONESIA DIRASAKAN KURANG BERSAING UNTUK MENARIK INVESTASI. Pandangan ini umumnya diutarakan dalam 3 hal, yaitu: pelayanan pajak yang rendah, tarif pajak yang kurang bersaing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kebutuhan komponen otomotif baik untuk kendaraan baru (original equipment manufacture) dan spare parts (after market) cukup besar. Menurut data statistik jumlah populasi

Lebih terperinci

Proyeksi pertumbuhan

Proyeksi pertumbuhan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Krisis finansial global yang bermula dari krisis subprime mortgage di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2007, dalam waktu yang relatif singkat berubah menjadi krisis ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perlindungan, hiburan dan kebutuhan hidup lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. perlindungan, hiburan dan kebutuhan hidup lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia selama hidupnya selalu melakukan kegiatan dalam memenuhi kebutuhannya, baik berupa kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat perlindungan, hiburan dan kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk. meningkatkan pembangunan, dengan sasaran utama adalah mewujudkan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk. meningkatkan pembangunan, dengan sasaran utama adalah mewujudkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara sedang berkembang selalu berupaya untuk meningkatkan pembangunan, dengan sasaran utama adalah mewujudkan masyarakat demokratis, yang

Lebih terperinci

SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 273 VII. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 7.1. Simpulan Berdasarkan hasil analisis deskripsi, estimasi, dan simulasi peramalan dampak kebijakan subsidi harga BBM terhadap kinerja perekonomian, kemiskinan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pada awal setiap tahun anggaran, pemerintah Indonesia selalu menetapkan

I. PENDAHULUAN. Pada awal setiap tahun anggaran, pemerintah Indonesia selalu menetapkan I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pada awal setiap tahun anggaran, pemerintah Indonesia selalu menetapkan indikator makroekonomi yang menjadi target untuk dicapai tahun berjalan. Indikator makroekonomi

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan net ekspor baik dalam

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN. dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan net ekspor baik dalam 219 VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 8.1. Kesimpulan 8.1.1. Berdasarkan pengujian, diperoleh hasil bahwa guncangan ekspor nonagro berpengaruh positip pada kinerja makroekonomi Indonesia, dalam

Lebih terperinci

MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI

MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI A. Definisi Pengertian perdagangan internasional merupakan hubungan kegiatan ekonomi antarnegara yang diwujudkan dengan adanya proses pertukaran barang atau jasa atas dasar

Lebih terperinci

Kinerja Ekspor Nonmigas November 2010 Memperkuat Optimisme Pencapaian Target Ekspor 2010

Kinerja Ekspor Nonmigas November 2010 Memperkuat Optimisme Pencapaian Target Ekspor 2010 SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 111 Telp: 21-386371/Fax: 21-358711 www.kemendag.go.id Kinerja Ekspor Nonmigas November 21 Memperkuat Optimisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri

BAB I PENDAHULUAN. Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri Indonesia bertumpu kepada minyak bumi dan gas sebagai komoditi ekspor utama penghasil

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN 5.1 KESIMPULAN A. Hasil tipologi berdasarkan tingkat penggangguran dan openness dalam penelitian ini menemukan: 1. Posisi negara Indonesia dan Filipina rata-rata

Lebih terperinci

SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta Telp: /Fax:

SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta Telp: /Fax: SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110 Telp: 021-3860371/Fax: 021-3508711 Kinerja Ekspor Nonmigas Triwulan I Mencapai Tingkat Tertinggi Memperkuat

Lebih terperinci

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perekonomian Indonesia tahun 2004 yang diciptakan UKM berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bagi sebuah negara, keberhasilan pembangunan ekonominya dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2007) menyatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran.

BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan jangka panjang yang dilaksanakan di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dengan mengacu pada Trilogi Pembangunan (Rochmat Soemitro,

Lebih terperinci

DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT)

DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT) DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT) OLEH SRI MULYANI H14103087 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN

Lebih terperinci

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DAN PERUBAHAN LINGKUNGAN EKONOMI TERHADAP DINAMIKA EKSPOR KARET ALAM

VII. DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DAN PERUBAHAN LINGKUNGAN EKONOMI TERHADAP DINAMIKA EKSPOR KARET ALAM VII. DAMPAK KEBIJAKAN PERDAGANGAN DAN PERUBAHAN LINGKUNGAN EKONOMI TERHADAP DINAMIKA EKSPOR KARET ALAM 7.1. Dampak Kenaikan Pendapatan Dampak kenaikan pendapatan dapat dilihat dengan melakukan simulasi

Lebih terperinci

EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA

EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA Ekspor dan Impor Provinsi DKI Jakarta No. 30/06/31/Th.XIX, 2 Juni EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA Nilai ekspor melalui DKI Jakarta bulan April mencapai 3.830,69 juta dollar Amerika, turun 10,45 persen dari

Lebih terperinci

Neraca Perdagangan Januari-Oktober 2015 Surplus USD 8,2 M, Lebih Baik dari Tahun Lalu yang Defisit USD 1,7 M. Kementerian Perdagangan

Neraca Perdagangan Januari-Oktober 2015 Surplus USD 8,2 M, Lebih Baik dari Tahun Lalu yang Defisit USD 1,7 M. Kementerian Perdagangan Neraca Perdagangan Januari-Oktober 2015 Surplus USD 8,2 M, Lebih Baik dari Tahun Lalu yang Defisit USD 1,7 M Kementerian Perdagangan 17 Oktober 2015 1 Neraca perdagangan Oktober 2015 kembali surplus Neraca

Lebih terperinci

Kondisi Perekonomian Indonesia

Kondisi Perekonomian Indonesia KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA Kondisi Perekonomian Indonesia Tim Ekonomi Kadin Indonesia 1. Kondisi perekonomian dunia dikhawatirkan akan benar-benar menuju jurang resesi jika tidak segera dilakukan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

MEDIA BRIEFING Pusat HUMAS Departemen Perdagangan Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta Tel: /Fax:

MEDIA BRIEFING Pusat HUMAS Departemen Perdagangan Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta Tel: /Fax: KEMENTERIAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA MEDIA BRIEFING Pusat HUMAS Departemen Perdagangan Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110 Tel: 021-23528446/Fax: 021-23528456 www.depdag.go.id Prospek Ekspor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terpuruk. Konsekuensi dari terjadinya krisis di Amerika tersebut berdampak pada

BAB I PENDAHULUAN. terpuruk. Konsekuensi dari terjadinya krisis di Amerika tersebut berdampak pada 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kredit macet sektor perumahan di Amerika Serikat menjadi awal terjadinya krisis ekonomi global. Krisis tersebut menjadi penyebab ambruknya pasar modal Amerika

Lebih terperinci

Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan

Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan Oleh : Feryanto W. K. Sub sektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian serta bagi perekonomian nasional pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang sangat cepat

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang sangat cepat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era globalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang sangat cepat dan berdampak luas bagi perekonomian di dalam negeri maupun di dunia internasional. Dampak yang

Lebih terperinci

Fokus Negara IMF. Fokus Negara IMF. Ekonomi Asia yang Dinamis Terus Memimpin Pertumbuhan Global

Fokus Negara IMF. Fokus Negara IMF. Ekonomi Asia yang Dinamis Terus Memimpin Pertumbuhan Global Fokus Negara IMF Orang-orang berjalan kaki dan mengendarai sepeda selama hari bebas kendaraan bermotor, diadakan hari Minggu pagi di kawasan bisnis Jakarta di Indonesia. Populasi kaum muda negara berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seberapa besar kontribusi perdagangan internasional yang telah dilakukan bangsa

BAB I PENDAHULUAN. seberapa besar kontribusi perdagangan internasional yang telah dilakukan bangsa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perekonomian global yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan perkembangan dari proses perdagangan internasional. Indonesia yang ikut serta dalam Perdagangan internasional

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM NEGARA-NEGARA TUJUAN EKSPOR. tersebut juga menjadi tujuan ekspor utama bagi Indonesia.

BAB V GAMBARAN UMUM NEGARA-NEGARA TUJUAN EKSPOR. tersebut juga menjadi tujuan ekspor utama bagi Indonesia. BAB V GAMBARAN UMUM NEGARA-NEGARA TUJUAN EKSPOR Negara tujuan ekspor yang dibahas dalam bab ini hanya dibatasi pada 10 negara dengan tingkat konsumsi karet alam terbesar di dunia. Negara-negara tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang disebut perdagangan internasional. Hal ini dilakukan guna memenuhi

BAB I PENDAHULUAN. yang disebut perdagangan internasional. Hal ini dilakukan guna memenuhi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap negara di dunia ini melakukan perdagangan antar bangsa atau yang disebut perdagangan internasional. Hal ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan baik barang maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap

BAB I PENDAHULUAN. saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Small open economic, merupakan gambaran bagi perekonomian Indonesia saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap perekonomian dunia,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI SEPTEMBER 2013

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI SEPTEMBER 2013 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI SEPTEMBER 2013 A. Perkembangan perekonomian dan perdagangan Thailand 1. Selama periode Januari-September 2013, neraca perdagangan Thailand

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam dunia modern sekarang suatu negara sulit untuk dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri tanpa kerjasama dengan negara lain. Dengan kemajuan teknologi yang sangat

Lebih terperinci

VIII. DAYA SAING EKSPOR KARET ALAM. hanya merujuk pada ketidakmampuan individu dalam menghasilkan setiap barang

VIII. DAYA SAING EKSPOR KARET ALAM. hanya merujuk pada ketidakmampuan individu dalam menghasilkan setiap barang VIII. DAYA SAING EKSPOR KARET ALAM Dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi, penting artinya pembahasan mengenai perdagangan, mengingat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia memerlukan orang lain untuk

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Suatu negara tidak akan dapat memenuhi seluruh permintaan atas barang atau jasa di dalam negerinya karena keterbatasan sumber daya (Wild, 2008). Sebagai contoh negara

Lebih terperinci

EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA

EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA BPS PROVINSI DKI JAKARTA EKSPOR DAN IMPOR DKI JAKARTA No. 16/04/31/Th. XIX, 3 April NILAI EKSPOR PRODUK DKI JAKARTA BULAN FEBRUARI NAIK 9,70 PERSEN DIBANDINGKAN BULAN SEBELUMNYA Nilai ekspor melalui DKI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perekonomian menjadi semakin terbuka. Kini hampir semua

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perekonomian menjadi semakin terbuka. Kini hampir semua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini perekonomian menjadi semakin terbuka. Kini hampir semua negara menerapkan perekonomian terbuka yang mengarah kepada sistem perdagangan internasioal. Dengan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA BULAN SEPTEMBER 2004

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA BULAN SEPTEMBER 2004 No. 56 / VII / 1 NOVEMBER PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA BULAN SEPTEMBER EKSPOR Nilai ekspor Indonesia bulan menembus angka US$ 7 milyar, yakni mencapai US$ 7,15 milyar, atau 13,33 persen lebih

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H14104016 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci