BAB I PENDAHULUAN. Tuhan Allah tidak hanya menciptakan laki-laki saja atau perempuan saja, tetapi lakilaki dan perempuan.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. Tuhan Allah tidak hanya menciptakan laki-laki saja atau perempuan saja, tetapi lakilaki dan perempuan."

Transkripsi

1 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Ketika Tuhan Allah menciptakan dunia ini, Dia menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan. Termasuk juga manusia. Tuhan Allah tidak menciptakan manusia satu jenis saja, tetapi berlawanan jenis, diciptakannyalah laki-laki dan perempuan. Hal ini sangat jelas dikatakan di dalam Kitab Kejadian 1 : 27 yang berbunyi demikian : Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-nya, menurut gambar Allah diciptakan-nya dia: laki-laki dan perempuan diciptakan- Nya mereka. Tuhan Allah tidak hanya menciptakan laki-laki saja atau perempuan saja, tetapi lakilaki dan perempuan. Pada kisah penciptaan tersebut, Tuhan Allah juga memerintahkan kepada manusia untuk bertambah banyak, dengan kata lain, Tuhan Allah memerintahkan kepada manusia untuk meneruskan keturunannya di muka bumi ini, sehingga kepada manusia dianugerahkan instink untuk mempertahankan dan meneruskan keturunan. Tuhan Allah telah memperlengkapi itu dengan alat kelamin dan hasrat (nafsu) seks untuk saling bercinta kepada manusia, agar manusia dapat meneruskan keturunannya 1. Hal ini mengisyaratkan bahwa sejak awal Tuhan Allah menciptakan manusia, sejak itu pula seks berada di muka bumi ini. Ketika Tuhan Allah menciptakan manusia, di saat itu pula seks diciptakan, dengan demikian bisa dibilang bahwa seks juga merupakan anugerah yang diberikan Tuhan Allah kepada manusia, sebagai salah satu ciptaannya. Seks merupakan naluri lahiriah yang ada di dalam diri manusia. Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa sudah semestinya seksualitas 2 bukanlah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, akan tetapi pada saat ini 1 Abdullah Saleh Hadrami, Seks Naluri Manusia. Diambil pada tanggal 19 November Dari 2 Pemahaman mengenai seksualitas dalam skripsi ini, selanjutknya akan dipahami dalam konsep permasalahan hubungan seks.

2 2 hal itu hanya terjadi pada sekelompok orang saja, dengan kata lain hanya sekelompok atau sebagian orang saja yang menganggap bahwa pembicaraan tentang seksualitas pada saat ini bukan lagi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Sedangkan kelompok lainnya masih menganggap bahwa pembicaraan tentang seksualitas adalah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Menurut Michel Foucault di dalam bukunya yang berjudul Sejarah Seksualitas: Seks dan Kekuasaan, menyatakan bahwa selama ini kita dipengaruhi dan dibayangi oleh norma-norma zaman Victoria, seorang ratu yang angkuh dan puritan, yang selama ini sangat mempengaruhi pandangan kita tentang seksualitas, yang berciri menahan diri, diam dan munafik 3. Apalagi dibicarakan di hadapan atau dengan anak-anak. Seksualitas dianggap sesuatu yang harus dijauhkan dari pikiran anak-anak. Sekitar abad 17, seks bukanlah sesuatu yang harus ditutupi, kata-kata yang bernada seksualitas diucapkan tanpa merasa ragu-ragu, segala sesuatu yang berkaitan dengan seksualitas tidak lagi disamarkan. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi sejak abad 19 sampai dengan sekarang, walaupun pada saat ini seksualitas sedikit demi sedikit mulai terbebas dari segala sesuatu yang membatasinya, dimana seksualitas tampaknya dipingit dan dibatasi pergerakkannya. Orang-orang tidak lagi berani membicarakan seksualitas secara vulgar di tempat-tempat umum. Seksualitas hanya menjadi pembicaraan antara sepasang suami istri, dan menjadi rahasia di antara mereka saja. Semua orang berpegang pada norma-norma yang mengatur tentang masalah-masalah seksualitas. Ketika ada orang yang dengan vulgar membicarakan tentang seksualitas, maka orang tersebut akan mendapat sanksi-sanksi berdasarkan norma-norma yang ada. Misalnya ketika ada orang yang membicarakan tentang seksualitas, maka dengan seketika orang-orang yang ada di sekitarnya akan menunjukkan sikap sinis kepada orang tersebut, semua orang harus menahan diri, diam dan munafik terhadap seksualitas. Seksualitas benar-benar hilang pada setiap pembicaraan umum. Ketika ada pembicaraan tentang seksualitas muncul di dalam suatu percakapan, maka segera ditumpas dan dialihkan arah pembicaraannya. Hal ini 3 Michel Foucoult, Sejarah Seksualitas: Seks Dan Kekuasaan, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1997, p.1.

3 3 sama saja tidak memperbolehkan seksualitas hadir di dalam pembicaraan atau percakapan umum. Ada begitu banyak ekspresi atau tanggapan dari orang-orang ketika ada pembicaraan tentang seksualitas. Ada yang marah, ada yang tertawa, ada yang tersenyum malumalu, ada yang takut, dan berbagai reaksi lainnya. Hal ini sering kali terjadi. Setiap orang memiliki pandangan sendiri tentang apa itu seksualitas. Mereka ada yang cukup terbuka untuk membicarakan seksualitas di tempat umum, ada juga yang sedikit terbuka, akan tetapi ada yang sangat tertutup untuk membicarakan seksualitas di tempat umum. Bagi sebagian kelompok orang yang menganggap tabu untuk membicarakan seksualitas di tempat umum, mereka akan sangat marah, kalau mendengar ada orang yang membicarakan tentang seksualitas, apalagi kalau seksualitas itu dibicarakan di depan anak-anak kecil (di bawah umur) 4. Menurut mereka, anak-anak belum boleh mengetahui tentang seksualitas kalau umurnya belum cukup, karena akan mempengaruhi perkembangan kejiwaan anak. Seksualitas bukanlah bahan pembicaraan umum, seksualitas hanyalah dibicarakan di tempat-tempat tertentu saja. Menurut Foulcoult pembatasan pembicaraan tentang seksualitas pada anak-anak ditabukan karena menurut golongan Victorian (pengikut pandangan Ratu Victoria di dalam memandang seksualitas) anak-anak tidak mempunyai seks, seks hanyalah dimiliki oleh orang dewasa, oleh karena itu seksualitas sengaja ditabukan bagi anakanak, sehingga anak-anak dilarang untuk membicarakan tentang seksualitas, melihat segala sesuatu yang berkaitan dengan seksualitas, menyumbat telinga ketika mendengar pembicaraan tentang seksualitas, anak-anak dibungkam dari segala sesuatu yang berhubungan dengan seksualitas 5. 4 Istilah di bawah umur ini diperuntukkan bagi anak-anak yang berusia 8 18 Tahun, dan belum menikah, menurut Undang-Undang Perlindungan Anak. Sedangkan kalau menurut agama Islam, di bawah umur berarti dia belum akil bhalig. 5 Michel Foucoult, Sejarah Seksualitas: Seks Dan Kekuasaan, p.2

4 4 Mereka menganggap seksualitas adalah sesuatu yang negatif, bahkan tidak jarang seksualitas diindentikkan dengan dosa perzinahan. Sehingga pembicaraan tentang seksualitas adalah sesuatu yang harus dihindarkan. Ketika pembicaraan saja sudah dilarang, maka demikian juga dengan perbuatan-perbuatan yang menjurus kepada seksualitas. Selain ada yang menganggap tabu, ada juga yang menganggap bahwa seksualitas merupakan sesuatu yang biasa. Sesuatu yang bisa diumbar sesuka hatinya. Hal ini pada akhirnya membuat seksualitas dapat dikomersilkan. Bahkan bisa dikatakan bahwa harga jual seksualitas sangat tinggi, sehingga membuat banyak produsenprodusen dari berbagai bidang berlomba-lomba mengeksploitasi seksualitas menjadi sebuah komoditi yang memiliki harga jual yang sangat tinggi. Media-media komunikasi berlomba-lomba menjadikan seksualitas menjadi salah satu produk yang ditampilkan, hal ini tidak hanya terbatas pada media cetak saja, akan tetapi juga media elektronik. Hampir di setiap koran, majalah, dan tabloid yang menggelar rubrik-rubrik atau kolom-kolom khusus yang membahas tentang seksualitas dan permasalahannya. Stasiun-stasiun televisi dan radio-radio menyediakan sebuah tayangan khusus yang juga membahas tentang permasalahan seksualitas ataupun segala sesuatu yang berkaitan dengan seksualitas. Hal ini mungkin tanpa kita sadari, memang segala acara yang berkaitan dengan pornografi dilarang untuk ditayangkan, akan tetapi secara terselubung segala sesuatu yang berkaitan dengan seksualitas dapat kita saksikan pada beberapa mata acara di beberapa stasiun televisi, bahkan film-film yang menurut kita tidak menampilkan tentang seksualitas, di dalamnya juga terdapat hal-hal yang menjurus kepada seksualitas, bahkan pada saat ini ada beberapa stasiun televisi yang menayangkan secara gamblang film-film yang bermuatan seksualitas, dan mata acara itu sendiri menjadi salah satu mata acara favorit, mata acara yang banyak ditonton oleh pemirsa-pemirsa. Tidak hanya itu, pada saat ini bahkan kita sudah dapat dengan mudah menemukan majalah-majalah, buku-buku dan tabloidtabloid yang khusus membahas dan menceritakan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan seksualitas. Seksualitas menjadi sesuatu yang murahan.

5 5 B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang di atas, dapat kita lihat bahwa di dalam kehidupan manusia pada saat ini, terdapat dua ekstrim yang cukup bertentangan pemahamannya tentang seksualitas. Ekstrim yang satu memandang bahwa seksualitas merupakan sesuatu yang sangat tabu, sehingga diperlukan aturan-aturan yang mengatur dan menjaga agar tidak terjadi tindakkan-tindakkan yang mengarah kepada ekploitasi seksualitas, khususnya di dalam kehidupan masyarakat. Hal ini bisa kita lihat dari dikeluarkannya perda-perda yang mengatur tentang pornografi dan pornoaksi, bahkan bukan hanya perda-perda di tingkat daerah saja, akan tetapi pemerintah Indonesia juga sedang membuat RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Di dalam RUU tersebut diatur segala sesuatu yang berkaitan dengan seksualitas. Pornografi dan pornoaksi dianggap sebagai salah satu hal yang berkaitan dengan seksualitas. Sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan apa yang dinamakan pornografi dan pornoaksi ataupun segala sesuatu yang pada akhirnya akan berakhir pada perbuatan-perbuatan seks atau pornografi dan pornoaksi (seperti pelacuran, cara berpakaian, dan lain-lain) diatur di dalam perda-perda di beberapa daerah. Hal ini terlebih khusus kita jumpai di daerahdaerah yang bisa dibilang sebagai basis umat Islam di Indonesia, sehingga ajaran agama Islam benar-benar diterapkan di dalam kehidupan masyarakat di daerah-daerah tersebut, daerah-daerah tersebut ialah: 1. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan perda-perda yang mengatur cara berpakaian dan bermesraan di depan umum. 2. Provinsi Sumatera Barat dengan perda yang mengatur cara berpakaian, bahkan pada perda-perda diharuskan berpakaian muslim dan muslimah bagi para warganya. 3. Kabupaten Lahat, Povinsi Sumatera Selatan dengan perda yang melarang adanya pelacuran dan ketunasusilaan. 4. Dan beberapa daerah-daerah lainnya yang juga mengatur hal-hal tentang seksualitas atau apa pun yang berkaitan dengan seksualitas.

6 6 Di dalam ajaran Islam, terdapat pemahaman tentang aurat-aurat pada tubuh manusia yang harus ditutupi, tidak boleh terlihat oleh mata lawan jenisnya. Hal ini dikarenakan, apabila terlihat mata lawan jenisnya maka dapat menimbulkan nafsu sahwat, oleh karena itu aurat harus ditutup, sebagai bagian dari kehormatan manusia. Oleh karena itu para kaum wanita diharuskan untuk memakai pakaian jilbab dan pakaian yang menutupi seluruh tubuh, karena dengan memakai jilbab semua auratnya tertutupi, di dalam ajaran Islam, yang boleh terlihat hanyalah wajah dan telapak tangan. Akan tetapi ada beberapa kelompok di agama Islam yang bahkan sangat ekstrim, karena mereka menutupi seluruh tubuh mereka, termasuk wajah dan telapak tangan. Hal ini terjadi karena adanya pemahaman yang menyatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat sehinggga seluruh tubuhnya harus ditutupi. 6 Sedangkan untuk kaum pria, auratnya hanyalah antara pusar sampai dengan lutut 7. Di dalam kitab suci Al Quran Surah An Nuur (24) ayat 30-31, dijelaskan tentang masalah aurat di dalam ajaran agama Islam. Ayat-ayat ini menjadi pedoman pergaulan antara lakilaki dan wanita yang bukan mahram. Ayat-ayat ini bila diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia maka akan berbunyi : Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putraputra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putraputra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orangorang yang beriman supaya kamu beruntung. (An Nuur[24]:30 31) Al Quran dan Terjemahannya

7 7 Selain ayat-ayat tersebut, ada juga ayat-ayat lain di dalam Al Quran ada juga beberapa ayat yang lain yang juga menerangkan tentang aturan untuk menutupi aurat, bagi para penganut agama Islam. Hal-hal itulah yang membuat perlu adanya aturan yang mengatur tentang cara berpakaian, dan hal itu sendiri sudah tercantum di dalam RUU APP dan perda-perda di masing-masing daerah. Menurut kelompok tersebut, dengan adanya perda-perda di masing-masing daerah dan RUU APP tersebut, masalah-masalah yang berkaitan dengan seksualitas akan sedikit teratasi, karena dengan adanya aturan-aturan tersebut diharapkan setiap orang yang berada di wilayah daerah-daerah tersebut dapat mematuhi apa yang diatur di dalam perda-perda tersebut. Pada ekstrim yang lain terdapat kelompok yang menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang biasa, yang tidak perlu diatur. Bahkan seksualitas bagai suatu barang yang dapat dikomersilkan. Dari kelompok ini, tampaknya seksualitas sebagai sesuatu yang dapat diperjualbelikan, seksualitas bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Seksualitas bukanlah sesuatu yang menakutkan. Akan tetapi di dalam kenyataannya, tampaknya pemahaman kelompok ini pada saat ini sudah sangat jauh melangkah. Seksualitas menjadi sesuatu yang murahan, seksualitas bukanlah sesuatu yang asing lagi di dalam kehidupan kelompok ini. Penulis tertarik untuk melihat dan membahas lebih lanjut mengenai permasalahan ini karena menurut penulis, seksualitas bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau dianggap tabu, pendidikan seksualitas bukanlah sesuatu yang harus ditabukan, sehingga anak-anak di bawah umur tidak diperbolehkan menerima pendidikan seksualitas. Abdulah Saleh Hadrami di dalam artikelnya menyatakan bahwa dalam survey yang diadakan terhadap anak-anak gadis yang hamil di luar pernikahan ditemukan bahwa pada umumnya mereka tidak pernah mendapatkan pendidikan seksualitas di sekolah maupun di rumah. 9 Sehingga pemahaman yang menyatakan 9 Abdullah Saleh Hadrami, Apakah Pendidikan Seks Itu?. Diambil pada tanggal 19 November Dari

8 8 seks adalah sesuatu yang tabu dan menganggap bahwa seks adalah sesuatu yang amat kotor dan tidak patut untuk diajarkan, menurut penulis adalah sesuatu yang keliru dan salah. Akan tetapi, seksualitas itu sendiri bukanlah sesuatu yang murahan sehingga dapat dikomersilkan, mungkin tidak hanya presepsi seksualitas itu murah, yang pada akhirnya akan membuat seksualitas dapat dikomersilkan, ada juga faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan seksualitas menjadi dapat dikomersilkan, yaitu faktor kemiskinan yang juga sangat mempengaruhi kehidupan manusia pada saat ini, atau pun hal-hal kain yang pada akhirnya membuat seks menjadi sangat mudah untuk dikomersilkan. Hal ini walaupun pada saat ini masih terselubung, akan tetapi sedikit demi sedikit keterbukaan akan seksualitas akan kembali kepada masa kejayaannya, yaitu sebelum abad ke-17. Pada saat itu, seksualitas bukanlah sesuatu yang ditabukan, sehingga orang-orang dapat dengan sesuka hatinya mengeksploitasi kehidupan seksualitasnya. Baik itu yang normal atau konvesional ataupun yang melakukan dengan cara yang sedikit berbeda dengan orang lain. Pada saat ini fantasi orang-orang terhadap seksualitas sudah sangat menakutkan. Kebanyakkan orang sudah merasa bosan menggunakan seks metode-metode lama, mereka sendiri berfantasi, hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan kepuasan yang lebih dari ketika mereka melakukan seks dengan cara-cara tradisional. Pada saat ini juga penyimpangan-penyimpangan seksualitas sudah sangat banyak terjadi. Ada begitu banyak penyimpangan seksual yang berkembang saat ini, misalnya: transseksual (orang-orang yang memiliki kepribadian seperti jenis kelamin yang dimilikinya), biseksual, menyukai sesama jenis, pedofilia (suka melakukan hubungan seksual dengan anak-anak), melakukan hubungan seksual dengan hewan, bahkan ada yang suka melakukan hubungan seksual dengan mayat, dan kelainan-kelainan seksual lainnya. Perilaku seksual seperti ini juga membuat berbagai Penyakit Menular Seksual (PMS), khususnya HIV/AIDS, semakin berkembang. PMS yang dahulu hanya sangat jarang kita tahu kasus-kasusnya, pada saat ini semakin banyak orang

9 9 yang mengidapnya. Mulai dari yang bisa disembuhkan sampai yang harus berujung pada kematian. Berdasarkan kenyataan ini, penulis ingin mencoba untuk memahami dan melihat bagaimana agama Islam memandang permasalahan mengenai seksualitas, khususnya yang terkait dengan masalah hubungan seks yang terjadi di dalam kehidupan umat Islam. Penulisan skripsi ini akan mengacu pada pemahaman seksualitas di dalam ajaran agama Islam. Hal ini diambil karena menurut penulis ajaran Islam cukup keras dan ekstrim dalam memahami seksualitas. Ajaran agama Islam cukup keras menganggap seksualitas adalah sesuatu yang tabu, sehingga diperlukan segala sesuatu aturan mengenai seksualitas di dalam kehidupan umat Islam. Apakah hal tersebut yang sebenarnya terjadi di dalam kehidupan Islam? Apakah Islam begitu tertutup tentang permasalahan seksualitas yang terjadi di dalam kehidupan umatnya? Hal-hal inilah yang ingin dilihat oleh penulis di dalam penulisan skripsi ini. C. Rumusan Judul Dari permasalahan yang ada, penulis akan menggumuli permasalahan ini dengan judul: Hubungan Seks Dalam Ajaran Islam Penulis memilih judul ini dengan alasan: Hubungan seks adalah sesutau yang langsung terkait ketika berbicara tentang seksualitas. Penulis ingin mencoba melihat pemahaman dan aturan-aturan yang ada di dalam ajaran Islam mengenai hubungan seks.

10 10 D. Pembatasan Masalah Di dalam penulisan skripsi ini penulis akan secara khusus membahas tentang pemahaman ajaran agama Islam di dalam memahami seks, ataupun hal-hal yang terkait dengan pemasalahan seks, seperti orientasi seks yang menyimpang dan hubungan seks itu sendiri sebagai sarana pemuasan hasrat atau nafsu seks yang ada di dalam diri manusia, khususnya hubungan seks. Penulisan skripsi ini akan mengacu pada buku-buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh Islam yang berkaitan dengan pemahaman Islam mengenai seksualitas. Selain itu, penulis juga membatasi permasalahannya pada pemahaman etika seksual di dalam agama kristen, sebagai landasan utama di dalam melihat dan merefleksikan pemahaman sesualitas di dalam kekristenan. E. Tujuan Penulisan Penulisan skripsi ini ditulis oleh penulis dengan tujuan untuk membuka pemahaman yang baru tentang seksualitas. Penulis berharap dari pembahasan di dalam skripsi ini, kita dapat melihat sejauh mana agama Islam memahami seks, dan juga hal-hal lain yang terkait dengan seksualitas, khususnya mengenai hubungan seks dalam ajaran Islam. Bagaimana ajaran Islam sangat memperhatikan permasalahan seksualitas umatnya. Dari penulisan skripsi ini dapat ditemukan makna seksualitas sesungguhnya di dalam ajaran Islam. F. Metode Penelitian dan Penulisan F.1 Metode Penelitian Literer atau Kepustakaan Di dalam penulisan skripsi ini penulis akan memakai sumber-sumber literer atau kepustakaan yang di dalamnya membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan pemahaman ajaran agama Islam di dalam memahami seksualitas. Penulis akan mengumpulkan data-data melalui sumber-sumber seperti buku-buku, artikel-artikel, makalah-makalah, dan sebagainya. Terkait dengan ayat-ayat Al Quran yang penulis kutip dari Al Qur an dan Terjemahannya yang diterbitkan oleh CV. Al Waah, Semarang, tahun tebit Dan ayat-ayat Alkitab, penulis kutib dari Alkitab yang diterbitkan oleh LAI (Lembaga Alkitab Indonesia), Jakarta, tahun terbit 2001.

11 11 F.2 Metode Penulisan Deskriptif-Analitis Penulisan skripsi ini akan menggunakan metode deskriptif analitis. Yaitu memaparkan data-data yang didapat kemudian menganalisanya. Deskriptif yaitu menguraikan suatu keadaan atau kondisi yang didasarkan pada datadata yang didapat melalui studi literer atau kepustakaan Analitis yaitu menganalisa data-data yang didapatkan. Sehingga pada akhirnya mampu menemukan benang merah dari pemasalahan yang ada dan dapat ditemukan suatu jalan tengah di antara dua ektrim yang sangat bertentangan di dalam memahami seksualitas. Penulis akan juga akan memberikan tanggapan terhadap pemahaman seksualitas di dalam Islam dan merefleksikan hal tersebut di dalam pemahaman kristen. G. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan Pada bagian ini berisi tentang hal-hal yang mendasar meliputi latar belakang permasalahan, pokok permasalahan, rumusan judul, batasan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian dan penulisan, dan sistematika penulisan Bab II Pemahaman Umum Tentang Seksualitas Pada bab ini berisi tentang pemahaman tentang seksualitas dan segala sesuatu yang berkaitan dengan seksualitas secara umum. Bab III Seksualitas Di Dalam Ajaran Agama Islam Pada bagian ini, berisi tentang pemahaman seksualitas di dalam ajaran agama Islam. Sejauh mana ajaran agama Islam memahami tentang seksualitas. Bab IV Tanggapan Kritis Terhadap Pemahaman Seksual Di Dalam Ajaran Agama Islam Dan Refleksi Teologis.

12 12 Pada bagian berisi tentang tanggapan kritis penulis terhadap pemahaman seksualitas di dalam ajaran agama Islam. Pada bagian ini juga penulis akan menyampaikan refleksi Teologis tentang pemahaman seksualitas yang ada di dalam kehidupan Islam. Penulis akan memakai pemahaman seksualitas di dalam kekristenan sebagai landasan utama di dalam merefleksikan tentang pemahaman seksualitas. Bab V Penutup Pada bagian ini penulis akan menuliskan tentang kesimpulan dan saran mengenai permasalahan seksualitas yang ada di dalam ajaran Islam.

NOMOR : U-287 TAHUN Bismillahirohmanirohimi. Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, setelah : MENIMBANG :

NOMOR : U-287 TAHUN Bismillahirohmanirohimi. Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, setelah : MENIMBANG : NOMOR : U-287 TAHUN 2001 Bismillahirohmanirohimi Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, setelah : MENIMBANG : 1. Bahwa pornografi dan pornoaksi serta hal-hal lain yang sejenis akhir-akhir ini semakin merebak

Lebih terperinci

I. A. PERMASALAHAN I. A.

I. A. PERMASALAHAN I. A. BAB I PENDAHULUAN I. A. PERMASALAHAN I. A. 1. Latar Belakang Masalah Dalam bukunya yang berjudul Menyingkap Seksualitas, Anton Konseng menceritakan satu pengalamannya yang menarik terkait dengan seksualitas.

Lebih terperinci

Islam memiliki tatanan sosial yang paripurna untuk menjaga seluruh lapisan masyarakat.

Islam memiliki tatanan sosial yang paripurna untuk menjaga seluruh lapisan masyarakat. Islam memiliki tatanan sosial yang paripurna untuk menjaga seluruh lapisan masyarakat. Liberalisasi tidak hanya menyasar bidang politik dan ekonomi tapi juga sosial. Pelan tapi pasti, masyarakat dicabut

Lebih terperinci

2016 REPRESENTASI SENSUALITAS PEREMPUAN DALAM IKLAN

2016 REPRESENTASI SENSUALITAS PEREMPUAN DALAM IKLAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Parfum Casablanca merupakan produk perawatan tubuh yang berupa body spray. Melalui kegiatan promosi pada iklan di televisi, Casablanca ingin menyampaikan pesan bahwa

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 80 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Pelaksanaan tradisi pingit pengantin Tradisi pingit pengantin adalah kebiasaan yang telah biasa dilakukan oleh masyarakat di Desa Urung Kampung Dalam Kecamatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seorang individu. Masa ini merupakan masa transisi dari kanak-kanak ke masa

BAB I PENDAHULUAN. seorang individu. Masa ini merupakan masa transisi dari kanak-kanak ke masa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja merupakan aset sumber daya manusia yang merupakan penerus generasi bangsa di masa mendatang. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) remaja adalah suatu fase

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. laku serta keadaan hidup pada umumnya (Daradjat, 1989). Pendapat tersebut

BAB I PENDAHULUAN. laku serta keadaan hidup pada umumnya (Daradjat, 1989). Pendapat tersebut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat Indonesia adalah masyarakat religius yang berpegang pada nilai-nilai yang ada dalam ajaran agamanya dalam sikap atau tingkah laku serta keadaan hidup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk mayoritas beragama Islam. Dalam ajarannya, Islam memerintahkan wanita yang telah memasuki usia akil baligh

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam sebagai mahasiswa aktif tahun

BAB V PEMBAHASAN. mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam sebagai mahasiswa aktif tahun BAB V PEMBAHASAN Populasi pada penelitian ini ialah para mahasiswi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di IAIN Tulungagung yang terdiri dari tiga jurusan yaitu akuntansi syariah, ekonomi syariah

Lebih terperinci

Pakaian bersih rapih indah

Pakaian bersih rapih indah Pakaian bersih rapih indah Author : admin Asal usul mengenai perlunya berpakaian bagi manusia adalah dari Allah, sebagaimana di jelaskan : Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah pergaulan ini tapi hanya dampak secara riel yang menjadi akibat dari

BAB I PENDAHULUAN. masalah pergaulan ini tapi hanya dampak secara riel yang menjadi akibat dari 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Yang melatar belakangi munculnya melakukan sex phone ini, menurut penulis ada beberapa hal diantaranya: yang pertama adalah, akibat arus globalisasi yang merajai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seks selalu menarik untuk dibicarakan, tapi selalu menimbulkan kontradiksi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seks selalu menarik untuk dibicarakan, tapi selalu menimbulkan kontradiksi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seks selalu menarik untuk dibicarakan, tapi selalu menimbulkan kontradiksi di masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa pendidikan seks perlu

Lebih terperinci

Allah Adalah Pola Bagi Hidup Kita

Allah Adalah Pola Bagi Hidup Kita Allah Adalah Pola Bagi Hidup Kita Banyak negara yang memiliki peribahasa seperti "Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga." Suatu hal yang menarik tentang keluarga ialah kemiripan antara anggotaanggota

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang tinggal di desa lebih menghargai sungai. Penghargaan itu antara lain dicirikan

BAB I PENDAHULUAN. yang tinggal di desa lebih menghargai sungai. Penghargaan itu antara lain dicirikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ruang pemukiman pada dasarnya merupakan pencerminan budaya masyarakat setempat, dimana antara satu wilayah dengan wilayah lain dapat berbeda. Mereka yang tinggal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Permasalahan Seksualitas merupakan pemberian dari Allah. Artinya bahwa Allah yang membuat manusia bersifat seksual. Masing-masing pribadi merupakan makhluk seksual

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan sehari-hari manusia selalu melakukan berbagai upaya dalam memenuhi kebutuhan yang beragam. Kebutuhan adalah salah satu aspek yang menggerkan manusia

Lebih terperinci

BAB. I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Permasalahan. menerima ilmu kemudian menyebarkannya. Kaum muslimin (pria) wajib

BAB. I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Permasalahan. menerima ilmu kemudian menyebarkannya. Kaum muslimin (pria) wajib BAB. I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Permasalahan Terdapat perbedaan pada hak dan kewajiban antara pria dan wanita dalam menjalankan ajaran agama Islam. Perbedaan ini telah diatur dalam kitab suci Al-Quran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Masa remaja merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Masa remaja merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang disertai dengan berbagai perubahan baik secara fisik, psikis, maupun

Lebih terperinci

BAB I. Seks dan Problematikanya. A. Pendahuluan

BAB I. Seks dan Problematikanya. A. Pendahuluan BAB I Seks dan Problematikanya A. Pendahuluan Seks bagi sebagian orang, khususnya bagi masyarakat peradaban Timur terdengar sangat menyeramkan. Membicarakannya merupakan suatu hal yang tabu, apalagi mengaitkannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dimana pada masa ini akan terjadi perubahan fisik, mental, dan psikososial yang cepat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hidup tanpa bantuan orang lain untuk melakukan hubungan atau interaksi dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hidup tanpa bantuan orang lain untuk melakukan hubungan atau interaksi dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era globalisasi ini, manusia pada dasarnya akan merasakan kesulitan jika hidup tanpa bantuan orang lain untuk melakukan hubungan atau interaksi dan melanjutkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia. Sebagian besar penghuni planet bumi kita dengan berbagai latar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia. Sebagian besar penghuni planet bumi kita dengan berbagai latar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Agama merupakan hal yang boleh dikatakan universal dalam hidup manusia. Sebagian besar penghuni planet bumi kita dengan berbagai latar belakang lingkungan,

Lebih terperinci

Bahaya Zina dan Sebab Pengantarnya

Bahaya Zina dan Sebab Pengantarnya Bahaya Zina dan Sebab Pengantarnya Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

(e) Uang saku rata-rata perbulan kurang dari Rp ,- (64,8%) dan sisanya (35,3%) lebih dari Rp per bulan.

(e) Uang saku rata-rata perbulan kurang dari Rp ,- (64,8%) dan sisanya (35,3%) lebih dari Rp per bulan. Laporan Hasil Survey Tentang Kekerasan terhadap Perempuan dan Perilaku Seksual Terhadap Siswa SMA di Klaten Laporan Hasil Survey Tentang Kekerasan terhadap Perempuan dan Perilaku Seksual Terhadap Siswa

Lebih terperinci

DOAKAN PARA WANITA DAN PARA GADIS AGAR MEREKA MEMILIH KESUCIAN

DOAKAN PARA WANITA DAN PARA GADIS AGAR MEREKA MEMILIH KESUCIAN KALENDER DOA PROYEK HANA FEBRUARI 2013 DOAKAN PARA WANITA DAN PARA GADIS AGAR MEREKA MEMILIH KESUCIAN Para wanita dan para gadis yang merindukan romantika, cinta, penerimaan, dan keamanan. Akibatnya, berkali-kali

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman modern saat ini semua informasi tidak tertutup oleh ruang dan waktu, karena saat ini telah terjadi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga memudahkan

Lebih terperinci

COPING KAUM GAY DALAM PENYESUAIAN SOSIAL MASYARAKAT DI YOGYAKARTA

COPING KAUM GAY DALAM PENYESUAIAN SOSIAL MASYARAKAT DI YOGYAKARTA COPING KAUM GAY DALAM PENYESUAIAN SOSIAL MASYARAKAT DI YOGYAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S1 Psikologi Diajukan oleh : ANDRI SUCI LESTARININGRUM F 100

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. a. Kurangnya perhatian orang tau terhadap anak. yang bergaul secara bebas karena tidak ada yang melarang-larang mereka

BAB V PENUTUP. a. Kurangnya perhatian orang tau terhadap anak. yang bergaul secara bebas karena tidak ada yang melarang-larang mereka 67 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Hasil penelitian tentang Faktor dan Dampak Maraknya Fenomena Hamil di Luar Nikah pada Masyarakat Desa wonokromo Kecamatan Alian Kabupaten Kebumen ini menunjukan bahwa: 1.

Lebih terperinci

SKRIPSI. Proposal skripsi. Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S-1 Kesehatan Masyarakat

SKRIPSI. Proposal skripsi. Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S-1 Kesehatan Masyarakat SKRIPSI HUBUNGAN SUMBER INFORMASI DAN PENGETAHUAN TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA REMAJA DI SMP MUHAMMADIYAH 7 SURAKARTA TAHUN 2011 Proposal skripsi Skripsi ini Disusun untuk

Lebih terperinci

PENGANTAR SISTEM PERGAULAN ISLAM. Suplemen Mata Kuliah Ahwal Syakhsiyyah

PENGANTAR SISTEM PERGAULAN ISLAM. Suplemen Mata Kuliah Ahwal Syakhsiyyah PENGANTAR SISTEM PERGAULAN ISLAM Suplemen Mata Kuliah Ahwal Syakhsiyyah Sistem Pergaulan (an-nidhâm al-ijtimâ i): sistem yg mengatur pertemuan laki-laki dgn wanita, atau wanita dgn laki-laki, serta mengatur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan orang lain, perubahan nilai dan kebanyakan remaja memiliki dua

BAB I PENDAHULUAN. dengan orang lain, perubahan nilai dan kebanyakan remaja memiliki dua BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik maupun psikologis diantaranya peningkatan emosional, kematangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dengan mayoritas penduduk muslim.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dengan mayoritas penduduk muslim. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara dengan mayoritas penduduk muslim. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia pada tahun 2010 sekitar 217 juta jiwa dari total penduduk

Lebih terperinci

Air Mata. Pernikahan

Air Mata. Pernikahan Air Mata Pernikahan Air Mata Pernikahan Billy Kristanto Penerbit Momentum Air Mata Penikahan Oleh: Billy Kristanto Tata Letak: Djeffry Imam Pengoreksi: Irenaeus Herwindo Desain Sampul: Patrick Serudjo

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bergaul, bersosialisasi seperti masyarakat pada umumnya. Tidak ada salahnya

BAB I PENDAHULUAN. bergaul, bersosialisasi seperti masyarakat pada umumnya. Tidak ada salahnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Fenomena gay dan lesbi nampaknya sudah tidak asing lagi di masyarakat luas. Hal yang pada awalnya tabu untuk dibicarakan, kini menjadi seolah-olah bagian dari

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Karya sastra selain dapat dikatakan sebuah karya seni dalam bentuk tulisan

BAB 1 PENDAHULUAN. Karya sastra selain dapat dikatakan sebuah karya seni dalam bentuk tulisan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Karya sastra selain dapat dikatakan sebuah karya seni dalam bentuk tulisan juga dapat dikatakan sebagai hasil pemikiran manusia tentang penggambaran kenyataan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Aspek Positif dan Negatif dalam Ketentuan Pemberian Dispensasi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Aspek Positif dan Negatif dalam Ketentuan Pemberian Dispensasi BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Aspek Positif dan Negatif dalam Ketentuan Pemberian Dispensasi Perkawinan di Bawah Umur a. Hasil Wawancara pada Pengadilan Agama Berdasarkan hasil penelitian

Lebih terperinci

IDHA WAHYUNINGSIH NIM F

IDHA WAHYUNINGSIH NIM F TINGKAT KEBIASAAN MENONTON BLUE FILM DENGAN FREKUENSI PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana-S1 Bidang Psikologi dan Fakultas Psikologi

Lebih terperinci

Munakahat ZULKIFLI, MA

Munakahat ZULKIFLI, MA Munakahat ZULKIFLI, MA Perkawinan atau Pernikahan Menikah adalah salah satu perintah dalam agama. Salah satunya dijelaskan dalam surat An Nuur ayat 32 : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. peka adalah permasalahan yang berkaitan dengan tingkat kematangan seksual

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. peka adalah permasalahan yang berkaitan dengan tingkat kematangan seksual 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Permasalahan remaja sekarang ini cukup kompleks. Salah satu yang paling peka adalah permasalahan yang berkaitan dengan tingkat kematangan seksual remaja. Hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelompok yang rentan untuk terbawa arus adalah para remaja. Kenapa? Tak lain

BAB I PENDAHULUAN. kelompok yang rentan untuk terbawa arus adalah para remaja. Kenapa? Tak lain 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Globalisasi lengkap dengan teknologinya tentu membawa dampak yang bersifat positif dan tidak sedikit pula dampak negatif yang ditimbulkan. Salah satu kelompok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tersebut terjadi akibat dari kehidupan seksual remaja yang saat ini semakin bebas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tersebut terjadi akibat dari kehidupan seksual remaja yang saat ini semakin bebas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman membawa masalah seks tidak lagi tabu untuk dibahas dan diperbincangkan oleh masyarakat khusunya di kalangan remaja. Hal tersebut terjadi akibat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalami perubahan-perubahan yang dramatis. Perubahan-perubahan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. mengalami perubahan-perubahan yang dramatis. Perubahan-perubahan tersebut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja adalah suatu tahap dalam perkembangan di mana seseorang mengalami perubahan-perubahan yang dramatis. Perubahan-perubahan tersebut terutama ditandai oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terkecuali setiap individu akan mengalami masa peralihan ini.

BAB I PENDAHULUAN. terkecuali setiap individu akan mengalami masa peralihan ini. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja adalah masa peralihan, yang bukan hanya dalam arti psikologis, tetapi juga fisiknya. Peralihan dari anak ke dewasa ini meliputi semua aspek perkembangan

Lebih terperinci

, 2015 GAMBARAN KONTROL DIRI PADA MAHASISWI YANG MELAKUKAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH

, 2015 GAMBARAN KONTROL DIRI PADA MAHASISWI YANG MELAKUKAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Meningkatnya perilaku seksual pranikah di kalangan generasi muda mulai mengancam masa depan bangsa Indonesia. Banyaknya remaja yang melakukan perilaku seksual pranikah

Lebih terperinci

MACAM-MACAM MAHRAM 1. MAHRAM KARENA NASAB Allah berfirman:

MACAM-MACAM MAHRAM 1. MAHRAM KARENA NASAB Allah berfirman: Mahram Bagi Wanita Masalah mahram bagi wanita banyak diantara kaum muslimin yang kurang memahaminya. Padahal banyak sekali hukum tentang pergaulan wanita yang berkaitan erat dengan masalah mahram ini.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. reproduksi adalah kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, sosial dan

BAB I PENDAHULUAN. reproduksi adalah kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, sosial dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang World Health Organization (WHO), menguraikan bahwa kesehatan reproduksi adalah kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, sosial dan lingkungan serta bukan semata-mata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat melekat pada diri manusia. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh makhluk

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat melekat pada diri manusia. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh makhluk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sampai saat ini masalah seksualitas selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Hal ini dimungkinkan karena permasalahan seksual telah menjadi suatu hal yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lain walaupun hanya satu ayat.sebagaimana hadist Rosullulah Ballighu anni. sendiri, keluarga dan lingkungan sosial tempat tinggal.

BAB I PENDAHULUAN. lain walaupun hanya satu ayat.sebagaimana hadist Rosullulah Ballighu anni. sendiri, keluarga dan lingkungan sosial tempat tinggal. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap orang Muslim berkewajiban menyampaikan Islam kepada orang lain walaupun hanya satu ayat.sebagaimana hadist Rosullulah Ballighu anni walau ayatan. Setiap

Lebih terperinci

Kalender Doa Agustus 2015 Berdoa Bagi Wanita Korban Kekerasan Rumah Tangga

Kalender Doa Agustus 2015 Berdoa Bagi Wanita Korban Kekerasan Rumah Tangga Kalender Doa Agustus 2015 Berdoa Bagi Wanita Korban Kekerasan Rumah Tangga Suami Rosa biasa memukulinya. Ia memiliki dua anak dan mereka tidak berani berdiri di hadapan ayahnya karena mereka takut akan

Lebih terperinci

a. Tidak sekolah b. SD c. SMP d. SMU e. Perguruan tinggi II. Pertanyaan tentang Pengetahuan 1. Menurut anda apakah yang dimaksud dengan internet?

a. Tidak sekolah b. SD c. SMP d. SMU e. Perguruan tinggi II. Pertanyaan tentang Pengetahuan 1. Menurut anda apakah yang dimaksud dengan internet? No. Responden : Umur : tahun Kelas/jurusan : Jenis kelamin : L/P Tempat tinggal : Uang saku : Rp. Perhari Pendidikan terakhir Orangtua : Pendidikan terakhir Ayah Ibu Pekerjaan Orangtua : Penghasilan Orang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk sosial terdiri dari laki-laki dan perempuan yang

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk sosial terdiri dari laki-laki dan perempuan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial terdiri dari laki-laki dan perempuan yang hidup bersama-sama di masyarakat dan berinteraksi satu sama lain karena kepentingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seks mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan seksnya, mereka

BAB I PENDAHULUAN. seks mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan seksnya, mereka 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa remaja disebut masa persiapan untuk menempuh masa dewasa. Taraf perkembangan ini pada umumnya disebut masa pancaroba atau masa peralihan dari masa anak-anak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hanya sesuatu yang bersifat biologis dan fisik, tetapi semata juga merupakan suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hanya sesuatu yang bersifat biologis dan fisik, tetapi semata juga merupakan suatu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perilaku seksual memiliki nilai simbolik yang sangat besar sehingga dapat menjadi barometer masyarakat. Dari dahulu sampai sekarang, seksualitas bukan hanya

Lebih terperinci

Penulis : Yohanes Tema : Yesus, Putra Allah. Tanggal Penulisan: M Latar Belakang

Penulis : Yohanes Tema : Yesus, Putra Allah. Tanggal Penulisan: M Latar Belakang SUPLEMEN MATERI KHOTBAH PELKAT 10 11 MARET 2017 Penulis : Yohanes Tema : Yesus, Putra Allah Tanggal Penulisan: 80-95 M Latar Belakang YOHANES 4 : 27 54 Injil Yohanes adalah unik di antara keempat Injil.

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. bahwa film ini banyak merepresentasikan nilai-nilai Islami yang diperankan oleh

BAB V PENUTUP. bahwa film ini banyak merepresentasikan nilai-nilai Islami yang diperankan oleh BAB V PENUTUP 5.1. Simpulan Setelah dilakukan penelitian, kajian pustaka dan analisis data film Cinta Subuh mengenai nilai-nilai Islami di dalam film tersebut, maka dapat dikatakan bahwa film ini banyak

Lebih terperinci

FAKULTAS SYARI'AH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA 2015 M/1436 H

FAKULTAS SYARI'AH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA 2015 M/1436 H Status Perkawinan Orang Murtad (Studi Komparatif Mazhab Syafi'i dan KHI) SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Pada Fakultas Syari'ah/Jurusan Ahwal Asy-Syakhsiyah

Lebih terperinci

01147_299_ChastitySM.qxd 5/1/13 11:50 AM Page iii Kemu K rnian Akh A lak

01147_299_ChastitySM.qxd 5/1/13 11:50 AM Page iii Kemu K rnian Akh A lak Kemurnian Akhlak Bapa Surgawi Anda mengasihi Anda dan menginginkan Anda untuk menjadi bahagia hari ini dan selama-lamanya. Dia telah memberikan nasihat dan perintah melalui para nabi-nya untuk menolong

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Qanun merupakan Peraturan Perundang-undangan sejenis Peraturan

BAB 1 PENDAHULUAN. Qanun merupakan Peraturan Perundang-undangan sejenis Peraturan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Qanun merupakan Peraturan Perundang-undangan sejenis Peraturan Daerah yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan masyarakat di Propinsi atau daerah Kabupaten.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kenakalan yang paling banyak terjadi yaitu sifatnya pelanggaran terhadap norma

BAB I PENDAHULUAN. Kenakalan yang paling banyak terjadi yaitu sifatnya pelanggaran terhadap norma BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini kenakalan remaja semakin menarik perhatian. Permasalahannya semakin meningkat, bukan dalam frekuensinya tetapi yang lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Cinta dan seksual merupakan salah satu permasalahan yang terpenting yang dialami oleh remaja saat ini. Perasaan bersalah, depresi, marah pada gadis yang mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa BAB I PENDAHULUAN I.A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Perubahan pada masa remaja mencakup perubahan fisik, kognitif, dan sosial. Perubahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUIAN. A. Latar Belakang Masalah. meningkat. Remaja menjadi salah satu bagian yang sangat penting terhadap

BAB I PENDAHULUIAN. A. Latar Belakang Masalah. meningkat. Remaja menjadi salah satu bagian yang sangat penting terhadap BAB I PENDAHULUIAN A. Latar Belakang Masalah Perilaku seksual yang tidak sehat khususnya dikalangan remaja cenderung meningkat. Remaja menjadi salah satu bagian yang sangat penting terhadap penyalahgunaan

Lebih terperinci

PENJAJAHAN TV TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

PENJAJAHAN TV TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK PENJAJAHAN TV TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK Oleh : Lukman Aryo Wibowo, S.Pd.I. 1 Siapa yang tidak kenal dengan televisi atau TV? Hampir semua orang kenal dengan televisi, bahkan mungkin bisa dibilang akrab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dewasa ini, perilaku seksual pranikah pada remaja jumlahnya meningkat yang terlihat dari data survey terakhir menunjukkan kenaikan 8,3% dari total remaja

Lebih terperinci

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA JAMBI dan WALIKOTA JAMBI M E M U T U S K A N :

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA JAMBI dan WALIKOTA JAMBI M E M U T U S K A N : WALIKOTA JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERANTASAN PELACURAN DAN PERBUATAN ASUSILA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA JAMBI, Menimbang a. bahwa pelacuran dan perbuatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebuah kotak yang bernama televisi, seseorang dapat melihat peristiwa yang

BAB I PENDAHULUAN. sebuah kotak yang bernama televisi, seseorang dapat melihat peristiwa yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan industri televisi telah menimbulkan berbagai dampak terhadap kehidupan masyarakat. Salah satu dampak positifnya yaitu masyarakat semakin mudah dan cepat

Lebih terperinci

BAB IV. Mahasiswi Berjilbab di FKIP- PGSD UKSW Salatiga

BAB IV. Mahasiswi Berjilbab di FKIP- PGSD UKSW Salatiga BAB IV Mahasiswi Berjilbab di FKIP- PGSD UKSW Salatiga UKSW merupakan satu-satunya Universitas Swasta yang ada di kota Salatiga. Kebanyakan masyarakat mengeanal UKSW sebagai Indonesia mini. Karena didalamnya

Lebih terperinci

KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG PERILAKU SEKSUAL DI SMK PENCAWAN MEDAN TAHUN 2014

KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG PERILAKU SEKSUAL DI SMK PENCAWAN MEDAN TAHUN 2014 KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG PERILAKU SEKSUAL DI SMK PENCAWAN MEDAN TAHUN 2014 I. Identitas Responden No.Responden : Jenis kelamin : Umur : Alamat rumah : Uang saku/bulan : II.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diberikan oleh orang dewasa untuk mencapai kedewasaan. Henderson dalam Djumhur

BAB I PENDAHULUAN. diberikan oleh orang dewasa untuk mencapai kedewasaan. Henderson dalam Djumhur BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada umumnya pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses bantuan yang diberikan oleh orang dewasa untuk mencapai kedewasaan. Henderson dalam Djumhur mengertikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang jangka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang jangka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang jangka waktunya berbeda bagi setiap orang, tergantung faktor sosial dan budaya. Dengan terbentuknya

Lebih terperinci

ISLAM RAMAH DAN MULIAKAN PEREMPUAN. Oleh: DUSKI SAMAD. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol

ISLAM RAMAH DAN MULIAKAN PEREMPUAN. Oleh: DUSKI SAMAD. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol ISLAM RAMAH DAN MULIAKAN PEREMPUAN Oleh: DUSKI SAMAD Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol Tema bahwa Islam ramah dan muliakan perempuan terasa mengejutkan batin, ketika diperhadapkan dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara. dua orang yang berlainan jenis kelamin (Dariyo, 2004).

BAB 1 PENDAHULUAN. alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara. dua orang yang berlainan jenis kelamin (Dariyo, 2004). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim antara laki-laki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Islam merupakan agama pradominan sepanjang Timur Tengah, juga disebagian besar Afrika dan Asia. Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi umat Islam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalami pelecehan-pelecehan yang dilakukan oleh aparat-aparat yang. beralasan dari masyarakat pada umumnya.

BAB I PENDAHULUAN. mengalami pelecehan-pelecehan yang dilakukan oleh aparat-aparat yang. beralasan dari masyarakat pada umumnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era zaman modern ini, keberadaan kaum waria seakan penuh dengan nilai-nilai negatif dalam pribadi seseorang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupannya,

Lebih terperinci

Ketagihan Onani. Kitab suci dengan sangat jelas menyatakan bahwa hanya mereka yang murni yang akan mewarisi kehidupan yang kekal:

Ketagihan Onani. Kitab suci dengan sangat jelas menyatakan bahwa hanya mereka yang murni yang akan mewarisi kehidupan yang kekal: Ketagihan Onani Rencana keselamatan memberikan pemulihan gambar ilahi di dalam jiwa manusia. Yahuwah adalah murni. Dia kudus dan sempurna. Barangsiapa yang ingin menjadi ahli waris bersama Yahushua di

Lebih terperinci

PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH DI KALANGAN REMAJA (Studi Kasus di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan)

PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH DI KALANGAN REMAJA (Studi Kasus di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan) PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH DI KALANGAN REMAJA (Studi Kasus di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan) NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH Untuk memenuhi sebagian persyaratan

Lebih terperinci

BAB 1. Pendahuluan. daripada karya fiksi (Wellek & Warren, 1995:3-4). Sastra memiliki fungsi sebagai

BAB 1. Pendahuluan. daripada karya fiksi (Wellek & Warren, 1995:3-4). Sastra memiliki fungsi sebagai BAB 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Karya sastra merupakan karya imajinatif yang dipandang lebih luas pengertiannya daripada karya fiksi (Wellek & Warren, 1995:3-4). Sastra memiliki fungsi sebagai hiburan

Lebih terperinci

Kalender Doa Februari 2017

Kalender Doa Februari 2017 Kalender Doa Februari 2017 Berdoa Bagi Pernikahan Dan Pertalian Keluarga Alkitab memberi gambaran mengenai pengabdian keluarga dalam Kitab Rut. Bisa kita baca di sana bagaimana Naomi dengan setia bepergian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjalankan segala aktivitas hidup manusia. Seperti penelitian, penyuluhan,

BAB I PENDAHULUAN. menjalankan segala aktivitas hidup manusia. Seperti penelitian, penyuluhan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Di dalam berinteraksi kita membutuhkan alat komunikasi yang relevan agar komunikasi tersebut berjalan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian Setiap manusia akan selalu dihadapkan pada suatu pilihan atau keputusan yang harus diambil dalam mencari makna hidupnya. Beberapa perempuan telah mengambil

Lebih terperinci

Itu? Apakah. Pernikahan

Itu? Apakah. Pernikahan Apakah Pernikahan Itu? Pemikahan adalah hasil dari suam rencana ilahi Itu bukan hasil kerja atau penemuan manusia, melainkan penciptaan Allah. Tempat yang dipilih untuk memulaikannya adalah Taman Eden.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Lesbi merupakan suatu fenomena sosial yang tidak lagi mampu disangkal

BAB I PENDAHULUAN. Lesbi merupakan suatu fenomena sosial yang tidak lagi mampu disangkal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lesbi merupakan suatu fenomena sosial yang tidak lagi mampu disangkal dan keberadaannya disadari sebagai sebuah realita di dalam masyarakat dan menimbulkan berbagai

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. dalam buku At Tarbiyah al jinsiyyah lil athfal wa al balighin maka dapat. 1. Konsep pendidikan seks dalam islam

BAB V PENUTUP. dalam buku At Tarbiyah al jinsiyyah lil athfal wa al balighin maka dapat. 1. Konsep pendidikan seks dalam islam 112 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan tentang konsep Pendidikan Seks Bagi Anak dalam buku At Tarbiyah al jinsiyyah lil athfal wa al balighin maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. umumnya memiliki pola pikir yang dikotomis, seperti hitam-putih, kayamiskin,

BAB I PENDAHULUAN. umumnya memiliki pola pikir yang dikotomis, seperti hitam-putih, kayamiskin, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejatinya jalan hidup setiap manusia berbeda-beda termasuk dalam hal orientasi seksualnya. Secara ekstrim, sebagian besar masyarakat pada umumnya memiliki pola

Lebih terperinci

Bab 5. Ringkasan. Ruka Kishimoto Dalam Serial Drama Jepang Last Friends. Adapun tujuan dan metode penelitian juga tercantum dalam pendahuluan.

Bab 5. Ringkasan. Ruka Kishimoto Dalam Serial Drama Jepang Last Friends. Adapun tujuan dan metode penelitian juga tercantum dalam pendahuluan. Bab 5 Ringkasan 5.1 Ringkasan Isi Skripsi Mengenai Analisis Psikologi Transgender Pada Tokoh Ruka Kishimoto Dalam Serial Drama Jepang Last Friends. Dalam bab ini, penulis akan menjabarkan ringkasan dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sastra adalah gejala budaya yang secara universal dapat dijumpai pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sastra adalah gejala budaya yang secara universal dapat dijumpai pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sastra adalah gejala budaya yang secara universal dapat dijumpai pada semua masyarakat (Chamamah-Soeratno dalam Jabrohim, 2003:9). Karya sastra merupakan

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian Panti Sosial Asuhan Anak Putra Utama 5 Duren Sawit beralamatkan di Jalan Swadaya Raya No. 100 Rt.03 Rw. 05 Kec. Duren Sawit, Jakarta Timur. Tujuan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Islam adalah Agama yang ditetapkan Allah SWT untuk manusia, segala

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Islam adalah Agama yang ditetapkan Allah SWT untuk manusia, segala BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam adalah Agama yang ditetapkan Allah SWT untuk manusia, segala sesuatu yang di perbuat oleh manusia ada tuntunannya baik untuk diri sendiri maupun untuk

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN Lampiran 1 Kuesioner Lampiran 2 Surat Pemohonan Izin Survei Pendahuluan I Lampiran 3 Surat Pemohonan Izin Survei Pendahuluan II Lampiran 4 Surat Pengambilan Data Penelitian Lampiran 5 Surat Selesai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Masalah 13 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah Jilbab merupakan jenis pakaian yang memiliki arti sebagai kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada (kbbiweb.id). Jilbab

Lebih terperinci

SURAT TERBUKA UNTUK WANITA YANG BEKERJA BERSAMA LAKI-LAKI

SURAT TERBUKA UNTUK WANITA YANG BEKERJA BERSAMA LAKI-LAKI SURAT TERBUKA UNTUK WANITA YANG BEKERJA BERSAMA LAKI-LAKI [ Indonesia Indonesian ] Penyusun : Div. Ilmiyah www.saaid.net Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad 2009-1430 : :

Lebih terperinci

Pernikahan Kristen Sejati (2/6)

Pernikahan Kristen Sejati (2/6) Pernikahan Kristen Sejati (2/6) Nama Kursus   : Pernikahan Kristen yang Sejati Nama Pelajaran : Memilih Pasangan Kode Pelajaran : PKS-P02                    Pelajaran 02 - MEMILIH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memungkinkan untuk dikembangkan (Ali, 2000: 13). Dalam hal ini,

BAB I PENDAHULUAN. memungkinkan untuk dikembangkan (Ali, 2000: 13). Dalam hal ini, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai makhluk bergelar khalifah yang merupakan ciptaan Allah SWT dengan bentuk dan susuan sempurna yang terdiri atas jasmani dan rohani ini, manusia memiliki berbagai

Lebih terperinci

Semua ini telah didorong oleh sistem kapitalis yang mengeksploitasi wanita sedemikian rupa untuk mengeruk keuntungan.

Semua ini telah didorong oleh sistem kapitalis yang mengeksploitasi wanita sedemikian rupa untuk mengeruk keuntungan. Semua ini telah didorong oleh sistem kapitalis yang mengeksploitasi wanita sedemikian rupa untuk mengeruk keuntungan. Barat memandang wanita sebagai komoditas seksual belaka. Pandangan ini menjadikan kaum

Lebih terperinci

Perbedaan Kepuasan Seksual pada Pasangan Suami Istri yang Menonton Blue Film dan Tidak Menonton Blue Film S K R I P S I

Perbedaan Kepuasan Seksual pada Pasangan Suami Istri yang Menonton Blue Film dan Tidak Menonton Blue Film S K R I P S I Perbedaan Kepuasan Seksual pada Pasangan Suami Istri yang Menonton Blue Film dan Tidak Menonton Blue Film S K R I P S I Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Oleh : LAILIYANI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hubungan antarmasyarakat, antara masyarakat dan seseorang, antarmanusia, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hubungan antarmasyarakat, antara masyarakat dan seseorang, antarmanusia, dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat, ia terikat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pernikahan merupakan suatu institusi sosial yang diakui disetiap kebudayaan

BAB I PENDAHULUAN. Pernikahan merupakan suatu institusi sosial yang diakui disetiap kebudayaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pernikahan merupakan suatu institusi sosial yang diakui disetiap kebudayaan atau masyarakat. Sekalipun makna pernikahan berbeda-beda, tetapi praktekprakteknya pernikahan

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 1 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan sesungguhnya

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. karena kehidupan manusia sendiri tidak terlepas dari masalah ini. Remaja bisa dengan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. karena kehidupan manusia sendiri tidak terlepas dari masalah ini. Remaja bisa dengan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian A. 1 Perilaku Seks Sebelum Menikah Masalah seksual mungkin sama panjangnya dengan perjalanan hidup manusia, karena kehidupan manusia sendiri tidak

Lebih terperinci

CHAPTER II REVIEW OF RELATED LITERATURE. pada penulisan skripsi ini. Teori yang ada pada bab ini adalah teori teori yang

CHAPTER II REVIEW OF RELATED LITERATURE. pada penulisan skripsi ini. Teori yang ada pada bab ini adalah teori teori yang CHAPTER II REVIEW OF RELATED LITERATURE Dalam bab ini, penulis menguraikan teori-teori yang berhubungan dengan penelitian ini dan selanjutnya teori yang telah diuraikan digunakan sebagai acuan pada penulisan

Lebih terperinci