PERANCANGAN ELEMEN-ELEMEN RUMAH TINGGAL DENGAN MEMPERTIMBANGKAN DATA ANTHROPOMETRI

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERANCANGAN ELEMEN-ELEMEN RUMAH TINGGAL DENGAN MEMPERTIMBANGKAN DATA ANTHROPOMETRI"

Transkripsi

1 PERANCANGAN ELEMEN-ELEMEN RUMAH TINGGAL DENGAN MEMPERTIMBANGKAN DATA ANTHROPOMETRI BASUKI ARIANTO Program Studi Teknik Industri Universitas Suryadarma Jakarta ABSTRAK Rumah tinggal adalah rumah yang menjadi tempat tinggal kita sehari-hari. Rumah tinggal yang ideal adalah rumah yang nyaman dan aman untuk ditempati. Rumah tinggal terdiri dari beberapa elemen penting antara lain pintu, plafon, penempatan cermin, penempatan wastafel, tempat duduk, dan lain-lain. Rumah yang nyaman ditunjang oleh elemen rumah yang nyaman pula. Salah satu yang menentukan tingkat kenyamanan dari masing-masing elemen rumah adalah dimensinya. Dimensi elemen rumah meliputi panjang, lebar, dan tinggi. Dimensi elemen rumah yang membuat nyaman adalah dimensi yang disesuaikan dengan dimensi manusia dengan segala keterbatasannya. Data yang digunakan untuk penulisan ini adalah data anthropometri masyarakat hongkong yang diekuivalenkan dengan masyarakat Indonesia. Karena rumah tinggal mempunyai banyak elemen, maka dalam penulisan ini hanya dipilih beberapa elemen saja yang dianggap penting. Penggunaan ilmu ergonomi khususnya penggunaan data anthropometri, maka diperoleh dimensi elemen-elemen rumah tinggal yang nyaman. Perancangan meliputi perancangan dimensi pintu, perancangan tinggi plafon, perancangan tinggi & dimensi cermin, perancangan tinggi wastafel, perancangan dimensi tempat duduk, dan perancangan dimensi tempat tidur. Berdasarkan data anthropometri dan hasil perhitungan yangdilakukan maka diperoleh bahwa dimensi pintu adalah sebagai berikut tinggi 194,5 cm, lebar 62,2 cm, dengan tinggi pegangan 96,5 cm,tinggi plafon minimum adalah 235,5 cm, tinggi pemasangan cermin adalah 170,6 cm dari lantai dengan dimensi cermin adalah panjang 90,75 cm dan lebar 49,2 cm, tinggi wastafel adalah 87 cm dari lantai, dimensi tempat duduk adalah sebagai berikut tinggi duduk 40,5 cm, lebar 38,4 cm, dan dalam duduk 36,8 cm, dan dimensi tempat tidur adalah panjang 191,5 cm, lebar minimum 118,4 cm, dan tinggi 40,5 cm. Kata Kunci : Ergonomi, Anthropometri, Rumah Tinggal PENDAHULUAN Rumah tinggal adalah rumah yang menjadi tempat tinggal kita sehari-hari. Rumah tinggal yang ideal adalah rumah yang nyaman dan aman untuk ditempati. Rumah tinggal terdiri dari beberapa elemen penting antara lain pintu, plafon, penempatan cermin, penempatan wastafel, tempat duduk, dan lain-lain. Rumah yang nyaman ditunjang oleh elemen rumah yang nyaman pula. Salah satu yang menentukan tingkat kenyamanan dari masing-masing elemen rumah adalah dimensinya. Dimensi elemen rumah meliputi panjang, lebar, dan tinggi. Dimensi elemen rumah yang membuat nyaman adalah dimensi yang disesuaikan dengan dimensi manusia dengan segala keterbatasannya. Data yang digunakan untuk penulisan ini adalah data anthropometri masyarakat hongkong yang diekuivalenkan dengan masyarakat Indonesia. Rumah tinggal mempunyai banyak elemen, maka dalam penulisan ini hanya dipilih beberapa elemen saja yang dianggap penting. 169

2 METODE Metode yang digunakan dalam penentuan dimensi elemen-elemen rumah tinggal yang nyaman adalah menggunakan ilmu ergomoni khususnya data anthropometri. Istilah Ergomoni berasal dari dua kata yaitu Ergon yang berarti kerja dan Nomos yang berarti hukum alam. Ergonomi didefinisikan studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerja yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain/perancangan. Fokus Perhatian dari Ergonomi adalah adanya keterbatasan kemampuan Manusia baik secara fisik maupun mental dan adanya interaksi dalam sistem manusia mesin yang integral. Tujuan Pendekatan Ergonomi meliputi: a. Memperbaiki performans kerja manusia (kecepatan, akurasi, keselamatan) b. Meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan produktivitas kerja. c. Mengurangi kecepatan datangnya kelelahan d. Meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan oleh kesalahan manusia. Ruang Lingkup Ergonomi meliputi: a. Kinesiologi Biomekanika yaitu aplikasi ilmu mekanika teknik untuk analisis sistem kerangka-otot manusia b. Anthropometri yaitu pengukuran dimensi tubuh manusia c. Ilmu Statistik yang meliputi pengambilan sampel, distribusi normal dan persentil. Aspek-aspek ergonomi dalam suatu proses rancang bangun fasilitas kerja merupakan suatu faktor penting dalam menunjang peningkatan pelayanan jasa produksi. Perlunya memperhatikan faktor ergonomi dalam proses rancang bangun fasilitas merupakan sesuatu yang tidak dapat ditunda lagi. Hal tersebut tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai ukuran anthropometri tubuh operator maupun penerapan data-data anthropometrinya.(nurmianto, 2004, 51). Ukuran suatu alat atau produk berupa benda kerja maupun instalasi yang baik seharusnya didesain dengan ukuran tubuh manusia (anthropometri0, jadi bukan manusia yang harus menyesuaikan alat tetapi alat yang harus disesuaikan dengan manusia. Agar dapat mendesain suatu alat sesuai dengan ukuran manusia, maka dalam mendesain suatu alat atau produk harus disesuaikan dengan ukuran terbesar tubuh (persentil 95) dan ukuran terkecil tubuh (persentil 5) atau hasil kalibrasi ukuran setiap bagian tubuh (anthropometri), sehingga produk yang dihasilkan dapat digunakan pada orang yang bertubuh besar maupun orang yang bertubuh kecil. (Santoso, 2004, 37). Desain yang berpusat pada manusia adalah untuk mengintegrasikan teknologi dan sumber daya lainnya (Rouse dalam Restantin et.al, 2012, 55), sedangkan menurut Madyana, (Madyana dalam Restantin et.al, 2012, 55), desain adalah kegiatan pemecahan masalah atau inovasi teknologis yang bertujuan untuk mencari solusi terbaik (sistem, proses, konfigurasi fisikal) dengan jalan memformulasikan terlebih dahulu gagasan inovatif tersebut ke dalam suatu model dan kemudian merealisasikan kenyataan kreatif. Proses rancang bangun fasilitas tidak hanya diterapkan pada fasilitas produksi dan pendukungnya, tetapi dapat juga diterapkan pada rumah tinggal, di mana keseharian kita berada. Sumber variabilitas Anthropometri antar populasi adalah keacakan / random, jenis kelamin, suku bangsa (ethnic variability), usia, jenis pekerjaan, pakaian, faktor kehamilan pada wanita, dan cacat fisik pada tubuh. 170

3 Dimensi Tubuh yang diukur meliputi : a. Tinggi tubuh posisi berdiri tegak b. Tinggi mata c. Tinggi bahu d. Tinggi siku e. Jarak dari pantat ke lutut f. Tinggi lutut g. Lebar bahu h. Tinggi pegangan tangan pada posisi tangan vertikal ke atas dan berdiri Pendekatan yang digunakan dalam penggunaan data anthropometri adalah sebagai a. Pilihlah standar deviasi yang sesuai untuk perancangan yang dimaksud. b. Carilah data pada rata-rata dan distribusi dari dimensi yang dimaksud untuk populasi yang sesuai. c. Pilihlah nilai persentil yang sesuai sebagai dasar perancangan. d. Pilihlah jenis kelamin yang sesuai. Data anthropometri yang digunakan dalam penulisan ini adalah seperti terlihat pada tabel 1. Tabel 1 Anthropometri Masyarakat Hongkong yang Diekuivalenkan dengan Masyarakat Indonesia *(mm) *Sumber Data : Pheasant, 1986 dan Nurmianto,

4 Gambar 1. Anthropometri Tubuh Manusia Yang Diukur Dimensinya (Sumber Data: Stevenson, 1989; Nurmianto, 1991) HASIL DAN PEMBAHASAN Perancangan beberapa elemen rumah tinggal dengan menggunakan data anthropometri: a. Perancangan dimensi pintu b. Perancangan tinggi plafon c. Perancangan tinggi dan dimensi cermin d. Perancangan tinggi wastafel e. Perancangan dimensi tempat duduk f. Perancangan dimensi tempat tidur Perancangan dari masing-masing elemen rumah tinggal tersebut diuraikan sebagai a. Perancangan Dimensi Pintu 1) Tinggi Minimum Pintu. Penentuan tinggi pintu rumah, baik yang berada di bagian depan, belakang, dan di dalam rumah sangat terkait dengan tinggi badan orang berdiri sehingga dipilih ukuran persentil 99 tinggi tubuh pria dewasa posisi berdiri tegak. Orang yang melewati pintu ada kecenderungan dalam kondisi berjalan (dinamis) sehingga diperlukan penyesuai (penambahan) yang meliputi tebal sepatu yang digunakan, tinggi topi yang digunakan, dan kelonggaran pada saat berjalan. Hal tersebut dilakukan dengan harapan kepala orang yang melewati pintu tidak terantuk bagian atas pintu. Perhitungannya adalah sebagai = 99%ile tinggi tubuh pria posisi berdiri tegak + tebal sepatu + tinggi topi + kelonggaran dinamis = ( ) mm = 1945 mm = 194,5 cm 2) Lebar Minimum Pintu. Penentuan lebar pintu rumah sangat terkait dengan lebar bahu orang dewasa yang melewati pintu tersebut. Agar sebagian besar orang bisa mudah melewati pintu tersebut maka dipilih persentil 99 lebar bahu orang dewasa. Untuk memudahkan orang 172

5 melewati pintu tersebut, maka diberi kelonggaran tebal baju 30 mm atau 3 cm dan kelonggaran dinamis 100 mm atau 10 cm, dengan kata lain 5 cm kiri dan 5 cm kanan. = 99%ile lebar bahu pria + tebal baju + kelonggaran dinamis = ( )mm = 622 mm = 62,2 cm 3) Tinggi Maksimum Pegangan Pintu. Penentuan tinggi pegangan cukup terkait dengan tinggi siku orang dewasa. Agar tinggi pegangan pintu ini tidak terlalu tinggi untuk wanita dewasa persentil kecil dan tidak terlalu rendah untuk pria dewasa persentil besar maka dipilih persentil 50 tinggi siku wanita dewasa ditambah dengan rata-rata tinggi sepatu yang digunakan. = 50%ile tinggi siku wanita+tebal sepatu = (935+30)mm = 965 mm = 96,5 cm b. Perancangan Tinggi Plafon Minimum Tinggi plafon rumah merupakan batas atas anggota keluarga bisa beraktivitas dalam rumah. Semakin tinggi plafon sebuah rumah, maka makin leluasa anggotakeluarga dapat berinteraksi dan makin banyak udara yang dapat masuk ke dalam rumah. Agar tinggi plafon ini tidak mengganggu sebagian besar orang yang mendiami rumah tersebut maka dipilih dimensi tinggi pegangan tangan pria dewasa pada posisi tangan vertikal ke atas dan berdiri tegak dengan persentil 99. Penyesuai untuk dimensi ini meliputi tebal sepatu, tinggi topi, dan kelonggaran dinamis untuk bergerak yang besarnya berturut-turut 30 mm, 50 mm, dan 100 mm. =99%ile tinggi pegangan tangan pria pada posisi tangan vertikal ke atas dan berdiri tegak + tebal sepatu + tinggi topi + kelonggaran dinamis =( )mm =2350 mm =235,5 cm c. Perancangan Tinggi dan Dimensi Cermin. 1) Tinggi Minimum Pemasangan Cermin. Tinggi pemasangan cermin sangat terkait dengan tinggi mata orang posisi berdiri. Untuk orang maka yang dipilih adalah tinggi mata pria dewasa persentil 99. Penyesuai yang dilakukan untuk tinggi pemasangan cermin adalah rata-rata tebal sepatu sebesar 30 mm. = 99%ile tinggi mata pria + tebal sepatu = ( )mm = 1706 mm = 170,6 cm 2) Panjang Minimum Cermin. Panjang minimum cermin ditentukan dengan tujuan agar orang yang bercermin dapat melihat seluruh bagian tubuhnya (dari kepala sampai dengan kaki). Orang yang bercermin diasumsikan dekat dengan cermin, sehingga untuk melihat seluruh bagian tubuh orang, hanya memerlukan panjang setengahnya. Dimensi yang dianggap cocok dengan panjang minimum cermin adalah tinggi tubuh pria dewasa posisi berdiri tegak persentil 99 dibagi dua. Perhitungannya adalah sebagai = ½ x 99%ile tinggi tubuh pria posisi berdiri tegak = ½ x 1815 mm = 907,5 mm = 90,75 cm 173

6 3) Lebar Cermin. Penentuan lebar cermin dilakukan berdasarkan lebar bahu. Untuk mengakomodasi sebagian besar orang sehingga mudah untuk melihat seluruh bagian tubuh paling kiri sampai dengan bagian tubuh paling kanan maka menggunakan persentil 99 pria dewasa. Perhitungannya adalah sebagai = 99%ile lebar bahu pria dewasa = 492 mm = 49,2 cm d. Perancangan Tinggi Maksimum Wastafel. Penentuan tinggi maksimum wastafel sangat terkait dengan tinggi siku orang dewasa. Untuk sehingga dapat menggunakan wastafel tersebut dengan baik, maka dipilih tinggi siku wanita dewasa persentil 1 ditambah dengan rata-rata tebal sepatu. = 1%ile tinggi siku wanita+ tebal sepatu = (840+30) mm = 870 mm = 87 cm e. Perancangan Dimensi Tempat Duduk. Perancangan dimensi utama tempat duduk meliputi tinggi dudukan, lebar tempat duduk, dan kedalaman dudukan. 1) Tinggi Dudukan. Tinggi dudukan kursi ditentukan berdasarkan tinggi lipat lutut karena akan memudahkan kaki untuk diletakkan di atas lantai. Untuk mengakomodasi sebagian besar orang dewasa, maka dipilih tinggi lipat lutut wanita dewasa persenti 50. Dasar pertimbangannya adalah pria dewasa dengan persentil besar, beban tubuh tidak terlalu tertumpu hanya pada telapak kaki dan pantat, tetapi masih terdistribusi di sebagian paha. Penyesuaian tinggi dudukan dilakukan dengan menambah rata-rata tebal sepatu. = 50%ile tinggi lipat lutut wanita + tebal sepatu = (375+30)mm = 405 mm = 40,5 cm 2) Lebar Tempat Duduk. Lebar tembat duduk ditentukan berdasarkan lebar panggul. Untuk mengakomodasi sebagian besar orang dewasa maka dipilih persentil 99 lebar panggul pria dewasa. Perhitungannya adalah sebagai = 99%ile lebar panggul pria = 384 mm = 38,4 cm 3) Kedalaman Maksimum Dudukan. Kedalaman dudukan ditentukan berdasarkan jarak dari lipat lutut ke pantat karena akan memudahkan orang yang duduk untuk bersandar. Untuk mengakomodasi sebagain besar orang dewasa maka dipilih persenti 1 jarak dari lipat lutut ke pantat wanita dewasa. = 1%ile Jarak dari lipat lutut ke pantat wanita = 368 mm = 36,8 cm f. Perancangan Dimensi Tempat Tidur. Perancangan dimensi tempat tidur meliputi panjang, lebar minimum, dan tinggi maksimum. 1) Panjang. Panjang tempat tidur ditentukan berdasarkan tinggi tubuh posisi berdiri. Dimensi ini mewakili panjang tubuh dari orang. Untuk orang dewasa maka dipilih persentil 99 tinggi tubuh posisi berdiri tegak pria dewasa. Penyesuaian dilakukan dengan menambahkan toleransi dinamis karena orang yang sedang tidur ada kalanya bergerak (tidak 174

7 statis). Perhitungannya adalah sebagai = 99%ile tinggi tubuh posisi berdiri tegak pria + toleransi dinamis = ( )mm = 1915 mm = 191,5 cm 2) Lebar Minimum. Lebar minimum untuk tempat tidur ditentukan berdasarkan lebar bahu. Untuk orang dewasa maka dipilih persentil 99 lebar bahu pria dewasa. Penyesuai dilakukan dengan menambahkan toleransi dinamis. Tempat tidur ini dirancang untuk digunakan oleh dua orang sehingga perhitungannya harus dikalikan dua. = 2 x (99%ile lebar bahu pria + toleransi dinamis) = 2 x ( )mm =1184 mm = 118,4 cm 3) Tinggi Maksimum. Tinggi maksimum tempat tidur ditentukan berdasarkan tinggi lipat lutut, karena dengan menggunakan dimensi ini, orang dapat duduk dalam posisi telapak kaki menempel dilantai (tidak menggantung). Untuk orang dewasa maka dipilih persentil 50 tinggi lipat lutut wanita dewasa. = 50%ile tinggi lipat lutut wanita + tebal sepatu = (375+30)mm = 405 mm = 40,5 cm 62,2 Gambar 2 Hasil Perancangan Beberapa Elemen Rumah Tinggal (cm) Pembahasan a. Perancangan dimensi pintu Hasil perhitungan untuk menentukan dimensi pintu adalah tinggi minimum 191,5 cm, lebar minimum 62,2 cm, dan tinggi maksimum pegangan pintu 96,5 cm. Hasil perhitungan untuk tinggi pintu menunjukkan nilainya lebih rendah dari tinggi pintu yang biasa kita temui. Hal ini menunjukkan bahwa tinggi pintu yang dibuat untuk perumahan, 175

8 kantor, hotel dan sebagainya sudah ergonomis untuk masyarakat Indonesia, demikian juga dengan lebar minimum pintu, dan tinggi maksimum pegangan pintu. Lebar pintu kurang dari 62,2 cm hanya ditemui pada pintu kamar mandi, hal ini dapat dimaklumi karena frekuensi orang melewati pintu kamar mandi relatif kecil dibanding dengan orang melewati pintu utama dan pintu ruang yang lain. b. Perancangan tinggi plafon Hasil perhitungan untuk menentukan tinggi minimum plafon adalah 235,5 cm Hasil pehitungan untuk tinggi minimum plafon menunjukkan nilainya lebih rendah dari tinggi plafon yang biasa kita temui. Hal ini menunjukkan bahwa tinggi minimum plafon yang dibuat untuk perumahan, kantor, hotel dan sebagainya sudah ergonomis untuk masyarakat Indonesia. c. Perancangan tinggi dan dimensi cermin Hasil perhitungan untuk mentukan tinggi dan dimensi cermin adalah tinggi pemasangan 170,6 cm, panjang cermin 90, 75 cm, dan lebar 49,2 cm. Hasil perancangan tinggi dan dimensi cermin ini, paling banyak kita temui di fasilitas umum seperti kantor pemerintahan, hotel, pasar swalayan dan sebagainya, terutama di area kamar kecil. Sedangkan di rumah tinggal, masih sebagian kecil yang menggunakan dimensi ini. d. Perancangan tinggi wastafel Hasil perhitungan untuk menentukan tinggi maksimum wastafel adalah 87 cm. Hasil perancangan tinggi maksimum wastafel ini sudah banyak diaplikasikan di fasilitas umum dan rumah tinggal. Hal ini menunjukkan bahwa pengembang sudah memperhatikan sisi ergonomi dalam pemasangan wastafel. e. Perancangan dimensi tempat duduk Hasil perhitungan untuk menentukan dimensi tempat duduk adalah tinggi dudukan 40,5 cm, lebar dudukan 38,4 cm, dan kedalaman dudukan 36,8 cm. Aplikasi dimensi kursi seperti ini sudah banyak dilakukan oleh industri pembuat kursi, terutama untuk kursi tamu dan kursi makan. f. Perancangan dimensi tempat tidur Hasil perhitungan untuk menentukan dimensi tempat tidur adalah panjang 191,5 cm, lebar 118,4 cm, dan tinggi 40,5 cm. Aplikasi dimensi tempat tidur seperti ini sudah banyak dilakukan oleh industri pembuat tempat tidur, terutama untuk dimensi panjang dan lebar tempat tidur. Panjang tempat tidur yang sering kita temui di pasaran adalah 200 cm, hal ini menunjukkan bahwa industri tempat tidur sudah panjang tubuh orang Indonesia. Lebar tempat tidur untuk orang yang sering kita temui di pasaran adalah 160 cm, 180 cm, dan 200 cm. Ukuran-ukuran ini juga menunjukkan bahwa industri tempat tidur sudah memperhatikan sisi ergonomi dari lebar tempat tidur. Dimensi yang belum banyak mendapat perhatian dari industri tempat tidur adalah dimensi tingginya. Sering kali kita temui, tempat tidur yang mempunyai tinggi lebih 176

9 dari 40,5 cm. Hal ini akan menyebabkan sebagian besar pengguna tempat tidur, saat bangun dalam posisi duduk, ada kecenderungan kedua kaki menggantung. Hal ini tentu tidak diharapkan. KESIMPULAN Dari data anthropometri dan hasil perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa : a. Dimensi pintu adalah sebagai berikut tinggi 194,5 cm, lebar 91,6 cm, dengan tinggi pegangan 96,5 cm. b. Tinggi plafon minimum adalah 235,5 cm. c. Tinggi pemasangan cermin adalah 170,6 cm dari lantai dengan dimensi cermin adalah panjang 90,75 cm dan lebar 49,2 cm. d. Tinggi wastafel adalah 87 cm dari lantai. e. Dimensi tempat duduk adalah sebagai tinggi duduk 40,5 cm, lebar 38,4 cm, dan dalam duduk 36,8 cm. f. Dimensi tempat tidur adalah panjang 191,5 cm, lebar minimum 118,4 cm, dan tinggi 40,5 cm. DAFTAR PUSTAKA Nurmianto,E., 2004, Ergonomi - Konsep Dasar dan Aplikasinya, Penerbit Guna Widya, Surabaya. Restantin, N. Y, Ushada M, dan Ainuri M, 2012, Desain Prototipe Meja dan Kursi Pantai Portabel Dengan Integrasi Pendekatan Ergonomi, Value Engineering, dan Kansei Engineering, Jurnal Teknik Industri, Volume 14, Nomor 1, Universitas Kristen Petra, Surabaya. Santoso, Gempur, 2004, Ergonomi Manusia, Peralatan, dan Lingkungan, Sidoarjo, Prestasi Pustaka Sudiajeng, Lilik, 2004, Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Produktivitas, Surakarta, Uniba Press Tarwaka,et.al., 2004, Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas.Uniba Press, Surakarta. Wibowo, Daniel S, 2005, Anatomi Tubuh Manusia, Grasindo, Jakarta. Wignjosoebroto, S, 2003, Ergonomi: Studi Gerak dan Waktu, Penerbit Guna Widya,Surabaya. 177

PERANCANGAN ALSIN YANG ERGONOMIS

PERANCANGAN ALSIN YANG ERGONOMIS PERANCANGAN ALSIN YANG ERGONOMIS Rini Yulianingsih Bagaimanakah perancangan yang baik? Aktivitas yang dilakukan oleh perancang adalah untuk menciptakan alat/mesin/sturktur/proses yang memenuhi kebutuhan:

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Anthropometri Menurut Sritomo (1989), salah satu bidang keilmuan ergonomis adalah istilah anthropometri yang berasal dari anthro yang berarti manusia dan metron yang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. tersebut digunakan sebagai dasar dan penunjang pemecahan masalah.

BAB 2 LANDASAN TEORI. tersebut digunakan sebagai dasar dan penunjang pemecahan masalah. BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori Penyelesaian masalah yang diteliti dalam penelitian ini memerlukan teoriteori atau tinjauan pustaka yang dapat mendukung pengolahan data. Beberapa teori tersebut

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Ergonomi Ergonomi adalah ilmu yang menemukan dan mengumpulkan informasi tentang tingkah laku, kemampuan, keterbatasan, dan karakteristik manusia untuk perancangan mesin, peralatan,

Lebih terperinci

Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 16 Nomor ISSN

Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 16 Nomor ISSN Jurnal Ilmiah Widya Teknik Volume 16 Nomor 1 2017 ISSN 1412-7350 PERANCANGAN ALAT ANGKUT TABUNG LPG 3 KG YANG ERGONOMIS (STUDI KASUS DI UD. X) Ronal Natalianto Purnomo, Julius Mulyono *, Hadi Santosa Jurusan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang penting di lingkungan sekolah maupun universitas. Pada proses belajar mengajar ini diperlukan suatu fasilitas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 BAB 1 PENDAHULUAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keluhan terbanyak dari mahasiswa Universitas Kristen Maranatha mengenai kursi kuliah yang digunakan saat ini adalah kurang memberikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia tidak lepas dari pekerjaan rutin yang biasa dilakukan sehari-hari seperti mencuci pakaian. Pastinya tidak semua

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada dasarnya ruang kuliah yang digunakan untuk sarana penunjang dalam proses belajar mengajar antara dosen dan mahasiswa adalah sarana yang sangat penting,

Lebih terperinci

1 Pendahuluan. 2 Tinjauan Literatur

1 Pendahuluan. 2 Tinjauan Literatur Malikussaleh Industrial Engineering Journal Vol.4 No. (015) 17-3 ISSN 30 934X Ergonomic and Work System Perancangan Kursi yang Ergonomis sebagai Alat Bantu di Stasiun Kerja Produksi Air Galon ( Studi Kasus

Lebih terperinci

ASPEK ERGONOMI DALAM PERBAIKAN RANCANGAN FASILITAS PEMBUAT CETAKAN PASIR DI PT X.

ASPEK ERGONOMI DALAM PERBAIKAN RANCANGAN FASILITAS PEMBUAT CETAKAN PASIR DI PT X. ASPEK ERGONOMI DALAM PERBAIKAN RANCANGAN FASILITAS PEMBUAT CETAKAN PASIR DI PT X. ABSTRAK PT. X adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur pengolahan logam spesialis pembuatan cetakan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM SEKOLAH

BAB II GAMBARAN UMUM SEKOLAH BAB II GAMBARAN UMUM SEKOLAH 2.1 Sejarah Sekolah Sekolah Dasar Negeri (SDN) 060798 merupakan salah satu sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah. SDN 060798 beralamat di Jalan Medan Area Selatan. Kel.

Lebih terperinci

METHOD ENGINEERING & ANTROPOMETRI PERTEMUAN #10 TKT TAUFIQUR RACHMAN ERGONOMI DAN PERANCANGAN SISTEM KERJA

METHOD ENGINEERING & ANTROPOMETRI PERTEMUAN #10 TKT TAUFIQUR RACHMAN ERGONOMI DAN PERANCANGAN SISTEM KERJA METHOD ENGINEERING & ANTROPOMETRI PERTEMUAN #10 TKT207 ERGONOMI DAN PERANCANGAN SISTEM KERJA 6623 TAUFIQUR RACHMAN PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ESA UNGGUL KEMAMPUAN AKHIR YANG

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam dunia pariwisata, hotel mempunyai peran yang sangat penting dimana hotel merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih seseorang atau beberapa orang

Lebih terperinci

PERANCANGAN KURSI KERJA BERDASARKAN PRINSIP-PRINSIP ERGONOMI PADA BAGIAN PENGEMASAN DI PT. PROPAN RAYA ICC TANGERANG

PERANCANGAN KURSI KERJA BERDASARKAN PRINSIP-PRINSIP ERGONOMI PADA BAGIAN PENGEMASAN DI PT. PROPAN RAYA ICC TANGERANG PERANCANGAN KURSI KERJA BERDASARKAN PRINSIP-PRINSIP ERGONOMI PADA BAGIAN PENGEMASAN DI PT. PROPAN RAYA ICC TANGERANG Tri Widodo & Heli Sasmita Tiga_wd@yahoo.co.id Program Studi Teknik Industri, Fakultas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini, komputer merupakan perangkat yang dibutuhkan pada suatu perguruan tinggi, diantaranya digunakan untuk bagian administrasi, dosen, maupun para mahasiswa

Lebih terperinci

PERANCANGAN MEJA DAN KURSI TAMAN UNTUK MAHASISWA (STUDI KASUS : MAHASISWA UNIVERSITAS KADIRI)

PERANCANGAN MEJA DAN KURSI TAMAN UNTUK MAHASISWA (STUDI KASUS : MAHASISWA UNIVERSITAS KADIRI) PERANCANGAN MEJA DAN KURSI TAMAN UNTUK MAHASISWA (STUDI KASUS : MAHASISWA UNIVERSITAS KADIRI) Sri Rahayuningsih 1,*, Sanny Andjar Sari 2 1 Universitas Kadiri, 2 Institut Teknologi Nasional Malang Kontak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah Di masa yang semakin maju dan berkembang ini, setiap orang perlu bekerja untuk mempertahankan hidupnya. Dengan demikian, kesibukan dalam bekerja sudah menjadi

Lebih terperinci

PERANCANGAN ULANG KURSI ANTROPOMETRI UNTUK MEMENUHI STANDAR PENGUKURAN

PERANCANGAN ULANG KURSI ANTROPOMETRI UNTUK MEMENUHI STANDAR PENGUKURAN PERANCANGAN ULANG KURSI ANTROPOMETRI UNTUK MEMENUHI STANDAR PENGUKURAN Agung Santoso 1, Benedikta Anna 2,Annisa Purbasari 3 1 Program Studi Teknik Industri, Universitas Riau Kepulauan Batam 2,3 Staf Pengajar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Bab 1 - Pendahuluan

BAB 1 PENDAHULUAN. Bab 1 - Pendahuluan Bab 1 - Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semakin banyaknya bengkel di Kota Bandung menyebabkan terjadinya persaingan ketat, dimana masing-masing bengkel berlomba menawarkan harga

Lebih terperinci

ANTROPOMETRI. Antropometri adalah suatu studi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia ANTROPOMETRI

ANTROPOMETRI. Antropometri adalah suatu studi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia ANTROPOMETRI ANTROPOMETRI PENGERTIAN Antropometri adalah suatu studi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia ANTROPOMETRI Antropometri Statis Antropometri Dinamis Antropometri statis pengukuran dilakukan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1. Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1. Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia tidak akan pernah lepas dari kebutuhan akan sandang. Kebutuhan akan sandang semakin hari semakin meningkat. Hal ini terlihat dari tempat-tempat berjualan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah.

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam era globalisasi ini, informasi merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk diketahui. Informasi dapat diperoleh melalui beberapa sarana, antara

Lebih terperinci

ANALISIS DAN PERBAIKAN BENTUK FISIK KURSI KERJA OPERATOR MENJAHIT DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK ERGONOMI (STUDI KASUS PADA PD.

ANALISIS DAN PERBAIKAN BENTUK FISIK KURSI KERJA OPERATOR MENJAHIT DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK ERGONOMI (STUDI KASUS PADA PD. ANALISIS DAN PERBAIKAN BENTUK FISIK KURSI KERJA OPERATOR MENJAHIT DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK ERGONOMI (STUDI KASUS PADA PD. SONATA JAYA) PURWATI Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Industri, Universitas

Lebih terperinci

Desain Troli Ergonomis sebagai Alat Angkut Gas LPG

Desain Troli Ergonomis sebagai Alat Angkut Gas LPG Desain Troli Ergonomis sebagai Alat Angkut Gas LPG Darsini Teknik Industri Fakultas Teknik - Univet Bantara Sukoharjo e-mail: dearsiny@yahoo.com Abstrak Tujuan Penelitian ini adalah merancang desain troli

Lebih terperinci

B A B III METODOLOGI PENELITIAN

B A B III METODOLOGI PENELITIAN B A B III METODOLOGI PENELITIAN Dalam penulisan laporan ini, penulis membagi metodologi pemecahan masalah dalam beberapa tahap, yaitu : 1. Tahap Indentifikasi Masalah 2. Tahap Pengumpulan Data dan Pengolahan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Ergonomi Menurut Adnyana Manuaba (2000) Ergonomi didefinisikan sebagai suatu upaya dalam bentuk ilmu, teknologi dan seni untuk menyerasikan peralatan, mesin,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hotel merupakan suatu tempat atau akomodasi bagi orang yang berada di luar daerah atau mancanegara. Kota Bandung merupakan kota pariwisata yang banyak menerima

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi aktivitas manusia. Jika kesehatan manusia terganggu, maka aktivitas pun akan terganggu. Hal ini

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Kursi Kerja a. Pengertian Kursi Kerja Kursi kerja merupakan perlengkapan dari meja kerja atau mesin, sehingga kursi akan dapat dijumpai dalam jumlah yang lebih

Lebih terperinci

Analisa Ergonomi Fasilitas Duduk Ruang Kuliah Bagi Pengguna dengan Kelebihan Berat Badan

Analisa Ergonomi Fasilitas Duduk Ruang Kuliah Bagi Pengguna dengan Kelebihan Berat Badan Analisa Ergonomi Fasilitas Duduk Ruang Kuliah Bagi Pengguna dengan Kelebihan Berat Badan Grace Mulyono Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra Email: gracem@petra.ac.id

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat. Oleh karena itu pemerintah Indonesia ikut serta untuk memajukan pendidikan, dengan cara

Lebih terperinci

ANALISIS SERTA USULAN PERBAIKAN FASILITAS FISIK DAN LINGKUNGAN FISIK DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI (Studi kasus di Mini Market 5001 Mart Cabang Cimahi)

ANALISIS SERTA USULAN PERBAIKAN FASILITAS FISIK DAN LINGKUNGAN FISIK DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI (Studi kasus di Mini Market 5001 Mart Cabang Cimahi) ANALISIS SERTA USULAN PERBAIKAN FASILITAS FISIK DAN LINGKUNGAN FISIK DENGAN PENDEKATAN ERGONOMI (Studi kasus di Mini Market 5001 Mart Cabang Cimahi) Effie Yuswandi 1 Abstrak Dalam sebuah mini market, faktor

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dengan semakin berkembangnya jaman, maka semakin bertambah dan berkembang pula teknologi yang ada pada setiap industri. Perkembangan teknologi tersebut, tentunya

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 14 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Ergonomi Kata Ergonomi berasal dari dua kata Latin yaitu ergon yang berarti kerja dan nomos yang berarti hukum alam. Ergonomi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang

Lebih terperinci

DESAIN BENTUK FISIK KERETA DORONG SESUAI ANTROPOMETRI ANAK-ANAK UNTUK PENJUAL COBEK ANAK

DESAIN BENTUK FISIK KERETA DORONG SESUAI ANTROPOMETRI ANAK-ANAK UNTUK PENJUAL COBEK ANAK DESAIN BENTUK FISIK KERETA DORONG SESUAI ANTROPOMETRI ANAK-ANAK UNTUK PENJUAL COBEK Abstrak ANAK Delta Pralian - NPM : 30402264 Program Studi Teknik Industri, Universitas Gunadarma E-mail : dpralian@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendahuluan

BAB 1 PENDAHULUAN. Pendahuluan Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kerja merupakan suatu hal yang selalu dilakukan manusia dalam kehidupannya. Kerja yang baik selain diukur dari hasil yang dicapai, diukur pula melalui

Lebih terperinci

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) ISSN : X

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) ISSN : X ANALISA KELUHAN DAN USULAN PERANCANGAN TROLI ERGONOMIS SEBAGAI ALAT BANTU ANGKUT DENGAN MENGGUNAKAN METODE REBA ( Studi Kasus : Pelelangan Ikan Muara Angke ) Renty Anugerah Mahaji Puteri 1*, Yakub 2 12

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bab 1 Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Untuk dapat menunjang sarana belajar mengajar maka diperlukan adanya laboratorium. Laboratorium merupakan salah satu tempat yang sangat penting

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Bab 1 Pendahuluan

BAB 1 PENDAHULUAN. Bab 1 Pendahuluan Bab 1 Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berkembangnya dunia industri dan teknologi yang terjadi sekarang ini, menyebabkan semakin meningkatnya persaingan. Untuk dapat memenangkan

Lebih terperinci

PERANCANGAN GERGAJI LOGAM UNTUK PENGURANGAN KELUHAN FISIK DI BENGKEL LAS SEJATI MULIA JAKARTA SELATAN

PERANCANGAN GERGAJI LOGAM UNTUK PENGURANGAN KELUHAN FISIK DI BENGKEL LAS SEJATI MULIA JAKARTA SELATAN PERANCANGAN GERGAJI LOGAM UNTUK PENGURANGAN KELUHAN FISIK DI BENGKEL LAS SEJATI MULIA JAKARTA SELATAN Daryono Mahasiswa (S1) Jurusan Teknik Industri Universitas Gunadarma Scochuu_kuro@yahoo.co.id ABSTRAKSI

Lebih terperinci

BAB II STUDI LITERATUR

BAB II STUDI LITERATUR BAB II STUDI LITERATUR 2.1 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data penelitian untuk perencanaan atau perancangan arsitektur atau kota dibagi dalam tiga kelompok yaitu survei, observasi dan arsip.

Lebih terperinci

ABSTRAK. vii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. vii Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Kursi roda menjadi alat bantu yang sangat penting bagi penyandang cacat fisik khususnya penyandang cacat bagian kaki dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Akan tetapi, kursi roda yang digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam acara resmi atau keluarga, makanan menjadi sarana yang melengkapi. Penyajian makanan untuk acara tertentu tidak sama dengan di restoran atau di rumah.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Ergonomi Kata ergonomi berasal dari bahasa Yunani: ergon (kerja) dan nomos (peraturan, hukum). Ergonomi adalah penerapan ilmu ilmu biologis tentang manusia bersama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perindustrian merupakan salah satu sektor usaha yang cukup banyak diminati oleh banyak orang di seluruh dunia. Di Indonesia, perkembangan usaha dalam sektor

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Review PT. Union Jaya Pratama PT Union Jaya Pratama merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan kasur busa. Hasil produksi dikelompokkan menjadi 3 jenis berdasarkan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA A. GEBOT (PAPAN PERONTOK PADI)

TINJAUAN PUSTAKA A. GEBOT (PAPAN PERONTOK PADI) II. TINJAUAN PUSTAKA A. GEBOT (PAPAN PERONTOK PADI) Perontokan merupakan tahap penanganan pasca panen setelah pemotongan, penumpukan, dan pengumpulan padi. Pada tahap ini, kehilangan akibat ketidak tepatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Beragam aktivitas dilakukan manusia setiap harinya baik itu makan, bekerja, belajar, beristirahat, ataupun bermain. Aktivitas belajar dan bekerja merupakan

Lebih terperinci

Dian Kemala Putri Bahan Ajar : Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi Teknik Industri Universitas Gunadarma

Dian Kemala Putri Bahan Ajar : Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi Teknik Industri Universitas Gunadarma ANTROPOMETRI Dian Kemala Putri Bahan Ajar : Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi Teknik Industri Universitas Gunadarma Definisi Antropos = manusia Metrikos = pengukuran Ilmu yang berhubungan dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. istilah "ergonomi" berasal dari bahasa Latin yaitu. ERGON (KERJA) dan NOMOS (HUKUM ALAM) dan dapat didefinisikan sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. istilah ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu. ERGON (KERJA) dan NOMOS (HUKUM ALAM) dan dapat didefinisikan sebagai 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ergonomi Nurmianto : (2008) istilah "ergonomi" berasal dari bahasa Latin yaitu ERGON (KERJA) dan NOMOS (HUKUM ALAM) dan dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek

Lebih terperinci

LAMPIRAN A Data Anthropometry Orang Dewasa Di Indonesia

LAMPIRAN A Data Anthropometry Orang Dewasa Di Indonesia L A M P I R A N LAMPIRAN A Data Anthropometry Orang Dewasa Di Indonesia L-1 1. DATA ANTHROPOMETRY Anthropometry Masyarakat Indonesia yang didapat dari interpolasi masyarakat British dan Hongkong (Pheasant,1996)

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 36 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengumpulan Data 4.1.1. Data Meja Belajar Tabel 4.1 Data pengukuran meja Pengukuran Ukuran (cm) Tinggi meja 50 Panjang meja 90 Lebar meja 50 4.1.. Data Kursi Belajar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses persalinan merupakan tantangan bagi seorang ibu dan bayi yaitu antara hidup dan mati. Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1. Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1. Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, maka kebutuhan manusia juga makin meningkat. Banyak produk yang dirancang dan diproduksi untuk memberi kepuasan

Lebih terperinci

REDESAIN SHELTER BUS TRANS JOGJA DENGAN PENDEKATAN ANTHROPOMETRI DAN AKSESIBILITAS

REDESAIN SHELTER BUS TRANS JOGJA DENGAN PENDEKATAN ANTHROPOMETRI DAN AKSESIBILITAS REDESAIN SHELTER BUS TRANS JOGJA DENGAN PENDEKATAN ANTHROPOMETRI DAN AKSESIBILITAS Bambang Suhardi 1, Pringgo Widyo Laksono 2 dan Yoseph Tri Minarto 3 Abstract: Pada makalah ini disampaikan kajian mengenai

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT BELAJAR DAN BERMAIN YANG ERGONOMIS DI TAMAN KANAK-KANAK ISLAM PERMATA SELAT PANJANG

PERANCANGAN ALAT BELAJAR DAN BERMAIN YANG ERGONOMIS DI TAMAN KANAK-KANAK ISLAM PERMATA SELAT PANJANG Jurnal Ilmiah Teknik Industri, Vol. 10, No. 1, Juni 2011 ISSN 1412-6869 PERANCANGAN ALAT BELAJAR DAN BERMAIN YANG ERGONOMIS DI TAMAN KANAK-KANAK ISLAM PERMATA SELAT PANJANG Nofirza 1 dan Zul Infi 2 Abstrak:

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kursi Roda adalah alat bantu untuk melakukan aktifitas bagi penderita cacat fisik seperti patah tulang kaki, cacat kaki, atau penyakit-penyakit lain yang menyebabkan

Lebih terperinci

Perbaikan Fasilitas Kerja Divisi Decal Preparation pada Perusahaan Sepeda di Sidoarjo

Perbaikan Fasilitas Kerja Divisi Decal Preparation pada Perusahaan Sepeda di Sidoarjo Perbaikan Fasilitas Kerja Divisi Decal Preparation pada Perusahaan Sepeda di Sidoarjo Herry Christian Palit Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Hasil Perhitungan Seluruh Tahapan Menggunakan Metode REBA, REBA, OWAS & QEC

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Hasil Perhitungan Seluruh Tahapan Menggunakan Metode REBA, REBA, OWAS & QEC BAB V ANALISA HASIL 5.1 Hasil Perhitungan Seluruh Tahapan Menggunakan Metode REBA, OWAS & QEC Berdasarkan bab sebelumnya, maka pada bab ini akan dilakukan analisis hasil pengolahan data terhadap pengukuran

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN A. Kelompok Data Berkaitan Dengan Aspek Fungsi Produk Rancangan Duduk nyaman di kursi adalah factor cukup penting untuk diperhatikan, apapun itu model kursi minimalis,

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Dari pengolahan data dan analisis yang telah dilakukan maka dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut : 1. Keergonomisan Sarana Fasilitas Fisik Gerbong Kereta Makan

Lebih terperinci

PERANCANGAN MEJA DAN KURSI KERJA YANG ERGONOMIS PADA STASIUN KERJA PEMOTONGAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS

PERANCANGAN MEJA DAN KURSI KERJA YANG ERGONOMIS PADA STASIUN KERJA PEMOTONGAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS Jurnal Ilmiah Teknik Industri, Vol. 10, No. 2, Desember 2011 ISSN 1412-6869 PERANCANGAN MEJA DAN KURSI KERJA YANG ERGONOMIS PADA STASIUN KERJA PEMOTONGAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS Pendahuluan

Lebih terperinci

Perancangan Alat Bantu Pemasangan Stiker Gitar untuk Mengurangi Keluhan dan Memperbaiki Postur Kerja di Tarjo Guitar Sukoharjo

Perancangan Alat Bantu Pemasangan Stiker Gitar untuk Mengurangi Keluhan dan Memperbaiki Postur Kerja di Tarjo Guitar Sukoharjo Performa (2011) Vol. 10, No. 2: 119-130 Perancangan Alat Bantu Pemasangan Stiker Gitar untuk Mengurangi Keluhan dan Memperbaiki Postur Kerja di Tarjo Guitar Sukoharjo Maria Puspita Sari, Rahmaniyah Dwi

Lebih terperinci

DESAIN KAMAR MANDI UNTUK ORANG LANJUT USIA (STUDI KASUS PANTI WREDHA DHARMA BAKTI)

DESAIN KAMAR MANDI UNTUK ORANG LANJUT USIA (STUDI KASUS PANTI WREDHA DHARMA BAKTI) DESAIN KAMAR MANDI UNTUK ORANG LANJUT USIA (STUDI KASUS PANTI WREDHA DHARMA BAKTI) Bambang Suhardi 1, Brian Pujo Utomo 2, Taufiq Rochman 3 1,2,3 Laboratorium Perancangan Sistem Kerja & Ergonomi Industri

Lebih terperinci

Antropometri Dan Aplikasinya Dalam Perancangan Fasilitas Kerja

Antropometri Dan Aplikasinya Dalam Perancangan Fasilitas Kerja Modul- 3 Antropometri Dan Aplikasinya Dalam Perancangan Fasilitas Kerja Ir. MUH. ARIF LATAR, MSc Kegiatan Belajar -4 POKOK BAHASAN KONSEP DASAR DAN APLIKASI PENGUKURAN ANTROPOMETRI VARIABEL ANTROPOMETRI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KELELAHAN 1. Pengertian Kelelahan Kelelahan merupakan suatu perasaan yang bersifat subjektif. Kelelahan adalah aneka keadaan yang disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan dalam

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ergonomi 2.1.1. Definisi Ergonomi Istilah Ergonomi disebut pula sebagai human factors di Amerika, human engineering di dunia militer. Istilah ergonomi lebih dikenal di Eropa

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PRODUK BERBASIS ANTHROPOMETRI

PENGEMBANGAN PRODUK BERBASIS ANTHROPOMETRI PENGEMBANGAN PRODUK BERBASIS ANTHROPOMETRI Bernard Sianipar Bina Nusantara University, Jl. Pustaka Kencana 2 Blok U2 No.16 Sektor 12.5 Bumi Serpong Damai Tangerang Selatan, 0812-1897-6330, bernard9nipar@yahoo.com

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR ABSTRAKSI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR ISI. Halaman KATA PENGANTAR ABSTRAKSI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN ABSTRAKSI Meja Printing merupakan salah satu fasilitas dan sarana yang sangat penting dan menunjang dalam kegiatan proses produksi. Karena Meja printing tempat dimana aktivitas operator untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pentingnya Konsep Ergonomi untuk Kenyamanan Kerja Ergonomi adalah ilmu, teknologi dan seni yang berupaya menserasikan antara alat, cara, dan lingkungan kerja terhadap kemampuan,

Lebih terperinci

ANALISIS PERBAIKAN BENTUK ROMPI PELINDUNG TUBUH PENGENDARA SEPEDA MOTOR

ANALISIS PERBAIKAN BENTUK ROMPI PELINDUNG TUBUH PENGENDARA SEPEDA MOTOR ANALISIS PERBAIKAN BENTUK ROMPI PELINDUNG TUBUH PENGENDARA SEPEDA MOTOR ABSTRAKSI Rinadi Mappunna Mahasiswa (S1) Jurusan Teknik Industri Universitas Gunadarma *Email : Rinaldi_aldimd@yahoo.com Perlindungan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB V HASIL DAN ANALISA 138 BAB V HASIL DAN ANALISA 5.2. Hasil PT. Intan Pertiwi Industri merupakan perusahaan industri yang bergerak dalam pembuatan elektroda untuk pengelasan. Untuk menemukan permasalahan yang terdapat pada

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB V HASIL DAN ANALISA BAB V HASIL DAN ANALISA 5.1 Rancangan Meja dan Kursi Sekarang Penulis dalam melakukan penelitian ini melihat dan mengamati model meja dan kuesi warnet yang sekarang digunakan. Adapun rancangan meja dan

Lebih terperinci

APLIKASI ANTHROPOMETRI UNTUK PERANCANGAN STASIUN KERJA DI LOBBY PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS X, SURABAYA

APLIKASI ANTHROPOMETRI UNTUK PERANCANGAN STASIUN KERJA DI LOBBY PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS X, SURABAYA APLIKASI ANTHROPOMETRI UNTUK PERANCANGAN STASIUN KERJA DI LOBBY PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS X, SURABAYA Suryawirawan Widiyanto Program Studi Teknik Industri, Universitas Ma Chung, Malang Villa Puncak Tidar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pakaian merupakan salah satu kebutuhan yang paling penting bagi manusia. Pakaian termasuk barang yang mudah untuk didapatkan. Umumnya, orang-orang mendapatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kawasan Pusat Industri Kecil (PIK) yang bergerak dalam bidang

BAB I PENDAHULUAN. dalam kawasan Pusat Industri Kecil (PIK) yang bergerak dalam bidang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah UD. M Irfan Shoes merupakan usaha kecil menengah yang berada di dalam kawasan Pusat Industri Kecil (PIK) yang bergerak dalam bidang pembuatan sepatu. Proses

Lebih terperinci

Bab 1 : Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN

Bab 1 : Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN Bab 1 : Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekarang ini jaringan internet sudah banyak digunakan oleh manusia, khususnya di lingkungan mahasiswa. Melalui jaringan internet, manusia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1. Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1. Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini sarana transportasi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam aktivitas kehidupan manusia sehari hari. Bahkan dapat dikatakan keberadaannya sudah

Lebih terperinci

PERANCANGAN INTERIOR/ RUANG BELAJAR YANG ERGONOMIS UNTUK SEKOLAH LUAR BIASA (SLB)

PERANCANGAN INTERIOR/ RUANG BELAJAR YANG ERGONOMIS UNTUK SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) PERANCANGAN INTERIOR/ RUANG BELAJAR YANG ERGONOMIS UNTUK SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) Julianus Hutabarat,Nelly Budiharti, Ida Bagus Suardika Dosen Jurusan Teknik Industri,Intitut Teknologi Nasional Malang

Lebih terperinci

BAB 6 HASIL PENELITIAN

BAB 6 HASIL PENELITIAN BAB 6 HASIL PENELITIAN 6.1. Hasil Penelitian Hasil penelitian disajikan dalam bentuk narasi, tabel, dan gambar berdasarkan data antropometri, data pengukuran kursi kantor di bagian Main Office khususnya

Lebih terperinci

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Perencanaan rancangan produk perlu mengetahui karakteristik

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN. Perencanaan rancangan produk perlu mengetahui karakteristik 15 BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Perancangan Alat Perencanaan rancangan produk perlu mengetahui karakteristik perancangan dan perancangnya. Beberapa karakteristik perancangan, yaitu: 1. Berorientasi

Lebih terperinci

Lampiran 1. Daftar pertanyaan wawancara (kuesioner) KUESIONER PENGGUNAAN KNAPSACK SPRAYER

Lampiran 1. Daftar pertanyaan wawancara (kuesioner) KUESIONER PENGGUNAAN KNAPSACK SPRAYER LAMPIRAN 60 Lampiran 1. Daftar pertanyaan wawancara (kuesioner) KUESIONER PENGGUNAAN KNAPSACK SPRAYER Tanggal: Lokasi: Nama: Usia: (L/P) tahun 1. Lama penyemprotan (per proses): 3 jam 2.

Lebih terperinci

Usulan Perbaikan Meja Kerja Yang Ergonomis Untuk Proses Pemasangan Karet Kaca Pada Kendaraan Niaga Jenis TD di PT XYZ

Usulan Perbaikan Meja Kerja Yang Ergonomis Untuk Proses Pemasangan Karet Kaca Pada Kendaraan Niaga Jenis TD di PT XYZ Usulan Perbaikan Meja Kerja Yang Ergonomis Untuk Proses Pemasangan Karet Kaca Pada Kendaraan Niaga Jenis TD di PT XYZ Ririn Regiana Dwi Satya Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Indraprasta

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di tengah gemerlapnya dunia fashion dan persaingan ketat antar perusahaan yang bergerak dalam bidang garmen, maka perusahaan harus selalu meningkatkan performansinya,

Lebih terperinci

Tujuan penggunaan antropometri pemakai :

Tujuan penggunaan antropometri pemakai : ANTROPOMETRI Ilmu yang secara khusus mempelajari tentang pengukuran tubuh manusia guna merumuskan perbedaan-perbedaan ukuran pada tiap individu atau kelompok. Ukuran tubuh manusia bervariasi berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Postur kerja kurang ergonomis saat bekerja bersumber pada posisi kerja operator

BAB I PENDAHULUAN. Postur kerja kurang ergonomis saat bekerja bersumber pada posisi kerja operator BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Postur kerja adalah sikap tubuh pekerja saat melaksanakan aktivitas kerja. Postur kerja kurang ergonomis saat bekerja bersumber pada posisi kerja operator yang kurang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan kemajuan teknologi, perkembangan animasi saat ini cukup pesat dan mampu menarik minat masyarakat dari berbagai kalangan. Di Indonesia, saat ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seluruh aktivitas yang terjadi di alam semesta ini, seluruhnya selalu berhubungan dengan kepentingan manusia. Manusia selalu dijadikan objek dalam pengembangan design

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Bab 1 Pendahuluan

BAB 1 PENDAHULUAN. Bab 1 Pendahuluan Bab 1 Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada saat sekarang ini perkembangan musik di Indonesia sangat tinggi. Banyak penyanyi baru yang bermunculan baik penyanyi solo maupun penyanyi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu cara yang dilakukan perusahaan adalah dengan meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu cara yang dilakukan perusahaan adalah dengan meningkatkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Pada era globalisasi sekarang ini, dimana persaingan dunia usaha semakin ketat dan perusahaan dituntut untuk selalu menghasilkan produk berkualitas. Salah

Lebih terperinci

PDF Compressor Pro KATA PENGANTAR. Jurnal Ilmiah Teknik Industri dan Informasi -- 1

PDF Compressor Pro KATA PENGANTAR. Jurnal Ilmiah Teknik Industri dan Informasi -- 1 Jurnal Ilmiah Teknik Industri dan Informasi -- 1 KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah, kami sampaikan ke hadirat Allah YME, karena terealisasinya Tekinfo, Jurnal Ilmiah Teknik Industri dan Informasi

Lebih terperinci

Ergonomic and Work System Usulan Fasilitas Kerja yang Ergonomis Pada Stasiun Perebusan Tahu di UD. Geubrina

Ergonomic and Work System Usulan Fasilitas Kerja yang Ergonomis Pada Stasiun Perebusan Tahu di UD. Geubrina Industrial Engineering Journal Vol.5 No.2 (2016) 17-22 ISSN 2302 934X Ergonomic and Work System Usulan Fasilitas Kerja yang Ergonomis Pada Stasiun Perebusan Tahu di UD. Geubrina Amri 1*, Syarifuddin, As

Lebih terperinci

RANCANG ULANG WHEELBARROW YANG ERGONOMIS DAN EKONOMIS

RANCANG ULANG WHEELBARROW YANG ERGONOMIS DAN EKONOMIS PKMT-2-1-1 RANCANG ULANG WHEELBARROW YANG ERGONOMIS DAN EKONOMIS Mirta Widia, Mia Monasari, Vera Methalina Afma, Taufik Azali Jurusan Teknik Industri, Universitas Andalas, Padang ABSTRAK Perancangan wheelbarrow

Lebih terperinci

DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAN UCAPAN TERIMA KASIH

DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR DAN UCAPAN TERIMA KASIH ABSTRAK Ada dua macam jenis layar komputer yang dikenal saat ini yaitu layar CRT dan LCD. Semua laboratorium komputer di Lantai 9 Grha Widya Maranatha masih menggunakan jenis layar CRT. Mahasiswa banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Istilah ergonomi berasal dari bahasa latin yaitu ergon (kerja) dan nomos (hukum alam) dan dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan

Lebih terperinci

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN Bab 7 Kesimpulan dan Saran 7-1 BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan 7.1.1 Fasilitas Fisik Sekarang 1. Meja Kasir Ukuran ketinggian meja kasir saat ini sudah ergonomis, namun tinggi monitor ke lantai

Lebih terperinci

ANTROPOMETRI TEKNIK TATA CARA KERJA PROGRAM KEAHLIAN PERENCANAAN PRODUKSI MANUFAKTUR DAN JASA

ANTROPOMETRI TEKNIK TATA CARA KERJA PROGRAM KEAHLIAN PERENCANAAN PRODUKSI MANUFAKTUR DAN JASA ANTROPOMETRI TEKNIK TATA CARA KERJA PROGRAM KEAHLIAN PERENCANAAN PRODUKSI MANUFAKTUR DAN JASA Definisi Antropometri adalah suatu studi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia Antropometri

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Antropometri Istilah Antropometri berasal dari kata Anthro yang berarti manusia dan metri yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai

Lebih terperinci

III. TINJAUAN PUSTAKA

III. TINJAUAN PUSTAKA III. TINJAUAN PUSTAKA A. ENGINEERING DESIGN PROCESS Engineering design process atau proses desain engineering merupakan proses atau tahapan dimana seorang engineer merancang sebuah produk/alat atau mesin

Lebih terperinci