LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2009 NOMOR : 14 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 14 TAHUN 2009 TENTANG

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2009 NOMOR : 14 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 14 TAHUN 2009 TENTANG"

Transkripsi

1 LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2009 NOMOR : 14 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 14 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CILEGON, Menimbang : a. bahwa penyelengggaraan Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil di Kota Cilegon telah diatur dengan Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 7 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan ; b. bahwa memperhatikan perkembangan peraturan yang baru di bidang kependudukan, kondisi dan dinamika penduduk yang semakin berkembang, serta kewajiban Pemerintah Kota Cilegon untuk memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap penentuan status pribadi dan status hukum atas setiap Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialami penduduk Kota Cilegon, maka Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 7 Tahun 2003 sebagaimana huruf a perlu disesuaikan ; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan b di atas, maka perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan. Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 ; 2. Undang... Agung s Comp/Per-UU-an/Penyampaian DPRD/Juni 2009

2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019); 3. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 33, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3474); 4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok Dan Kotamadya Daerah Tingkat II Cilegon (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3828); 5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235); 6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389); 7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844) ; 8. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4634); 9. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4674); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1975 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3050) ; 11. Peraturan...

3 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan ; 12. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741) ; 13. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4768) ; 14. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1980 tentang Perubahan Status Kewarganegaraan berdasarkan Naturalisasi ; 15. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina ; 16. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) ; 17. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil ; 18. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Penerapan Kartu Tanda Penduduk Berbasis NIK Secara Nasional ; 19. Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 4 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Kota Cilegon (Lembaran Daerah Kota Cilegon Tahun 2008 Nomor 4) ; 20. Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 7 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi Dinas Daerah Kota Cilegon (Lembaran Daerah Kota Cilegon Tahun 2008 Nomor 7). Dengan...

4 - 4 - Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA CILEGON dan WALIKOTA CILEGON MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kota Cilegon ; 2. Pemerintah Daerah adalah Walikota Cilegon beserta perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah ; 3. Walikota adalah Walikota Cilegon ; 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disebut DPRD adalah DPRD Kota Cilegon ; 5. Dinas adalah satuan kerja yang diberikan kewenangan menangani masalah kependudukan dan pencatatan sipil ; 6. Camat adalah Camat di Wilayah Kota Cilegon ; 7. Lurah adalah Lurah di Wilayah Kota Cilegon ; 8. Administrasi kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan informasi administrasi kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain. 9. Penduduk adalah Warga Negara Indonesia dan orang asing yang tinggal di Indonesia. 10. Warga...

5 Warga Negara Indonesia yang selanjutnya disingkat WNI adalah orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai WNI. 11. Orang asing adalah orang bukan WNI. 12. Dokumen Kependudukan adalah dokumen resmi yang diterbitkan oleh Dinas yang mempunyai kekuatan hukum sebagai alat bukti autentik yang dihasilkan dari pelayanan Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. 13. Data Kependudukan adalah data perseorangan dan/atau data agregat yang terstruktur sebagai hasil dari kegiatan Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. 14. Peristiwa Kependudukan adalah kejadian yang dialami Penduduk yang harus dilaporkan karena membawa akibat terhadap penerbitan atau perubahan Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk dan/atau surat keterangan kependudukan lainnya meliputi pindah datang, perubahan alamat, serta status tinggal terbatas menjadi tinggal tetap. 15. Pencatatan Sipil adalah Pencatatan Peristiwa Penting yang dialami oleh seseorang dalam register Pencatatan Sipil pada Dinas. 16. Peristiwa Penting adalah kejadian yang dialami oleh seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir mati, perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak, perubahan nama dan perubahan status kewarganegaraan. 17. Izin Tinggal Terbatas adalah izin tinggal yang diberikan kepada Orang Asing untuk tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam jangka waktu yang terbatas sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. 18. Izin Tinggal Tetap adalah izin tinggal yang diberikan kepada Orang Asing untuk tinggal menetap di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangundangan. 19. Surat Keterangan Tempat Tinggal yang selanjutnya disingkat SKTT adalah surat keterangan yang dikeluarkan oleh Instansi Pelaksana yang diberikan kepada orang asing yang telah mempunyai izin tinggal terbatas yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang dalam jangka waktu tertentu. 20. Petugas...

6 Petugas Registrasi adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas dan tanggung jawab memberikan pelayanan pelaporan Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting serta pengelolaan dan penyajian Data Kependudukan di Kelurahan. 21. Sistem Informasi Administrasi Kependudukan yang selanjutnya disingkat SIAK adalah sistem informasi yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi pengelolaan informasi administrasi kependudukan di tingkat Penyelenggara dan Instansi Pelaksana sebagai satu kesatuan. 22. Database adalah kumpulan berbagai jenis data kependudukan yang tersimpan secara sistematik, terstruktur dan saling berhubungan dengan menggunakan perangkat lunak, perangkat keras dan jaringan komunikasi data. 23. Hak akses adalah hak yang diberikan oleh Menteri kepada petugas yang ada pada Penyelenggara dan Instansi Pelaksana untuk dapat mengakses database kependudukan sesuai dengan izin yang diberikan. 24. Pengguna data pribadi penduduk adalah instansi pemerintah dan swasta yang membutuhkan informasi data sesuai dengan bidangnya. 25. Penduduk Rentan Administrasi Kependudukan yang selanjutnya disebut Penduduk Rentan adminduk adalah penduduk yang mengalami hambatan dalam memperoleh dokumen penduduk yang disebabkan oleh bencana alam, bencana sosial dan orang terlantar. 26. Biodata Penduduk adalah keterangan yang berisi elemen data tentang jati diri, informasi dasar serta riwayat perkembangan dan perubahan keadaan yang dialami oleh penduduk sejak awal kelahiran. 27. Pindah Datang Penduduk adalah perubahan lokasi tempat tinggal adalah untuk menetap karena perpindahan dari tempat lama ke tempat yang baru. 28. Keluarga adalah seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai hubungan darah dan atau orang lain yang bertempat tinggal dalam satu rumah/bangunan dan terdaftar dalam kartu keluarga. 29. Kepala...

7 Kepala Keluarga adalah : a. Orang yang bertempat tinggal dengan orang lain baik mempunyai hubungan darah maupun tidak, yang bertanggung jawab dalam keluarga itu. b. Orang yang bertempat tinggal seorang diri. c. Kepala Kesatrian, asrama, Rumah yatim piatu, dan lain-lain dimana beberapa orang bertempat tinggal bersama-sama. 30. Anggota keluarga adalah orang-orang yang nama dan identitas biodatanya tercantum dalam Kartu Keluarga dan secara kemasyarakatan menjadi tanggung jawab Keluarga. 31. Pendaftaran Penduduk adalah Pencatatan biodata Penduduk, Pencatatan atas pelaporan Peristiwa Kependudukan dan pendataan Penduduk rentan Administrasi Kependudukan serta penerbitan Dokumen Kependudukan berupa kartu identitas atau surat keterangan kependudukan. 32. Nomor Induk Kependudukan, selanjutnya disingkat NIK, adalah nomor identitas Penduduk yang bersifat unik atau khas, tunggal dan melekat pada seseorang yang terdaftar sebagai Penduduk Indonesia. 33. Dokumen pendaftaran penduduk adalah keterangan tertulis hasil pendaftaran penduduk yang dapat berupa Kartu Identitas, dan Surat Keterangan yang dijadikan bukti otentik. 34. Dokumen Pencatatan Sipil adalah bukti otentik hasil Pencatatan berupa akta-akta Pencatatan Sipil yang meliputi Akta Kelahiran, Akta Perkawinan, Akta Perceraian, Pengakuan Anak, Pengangkatan Anak, Akta Pengakuan dan Pengesahan Anak dan Akta Kematian. 35. Kartu Keluarga yang selanjutnya disingkat KK adalah kartu identitas keluarga yang memuat data tentang nama, susunan, hubungan dan jumlah anggota keluarga. 36. Kartu Tanda Penduduk yang selanjutnya disingkat KTP adalah kartu identitas resmi penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh Dinas dan berlaku di seluruh wilayah Republik Indonesia. 37. Kantor Urusan Agama yang selanjutnya disingkat KUA adalah satuan kerja yang melaksanakan pencatatan nikah, talak, cerai, dan rujuk bagi penduduk yang beragama Islam. 38. Rukun...

8 Rukun tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) adalah lembaga masyarakat yang dibentuk oleh masyarakat, diakui dan dibina oleh pemerintah untuk memelihara dan melestarikan nilai-nilai kehidupan masyarakat kehidupan masyarakat Indonesia berdasarkan kegotongroyongan dan kekeluargaan serta untuk membantu meningkatkan kelancaran tugas pemerintah, pembangunan dan kemasyarakatan di Kelurahan. 39. Akta Pencatatan Sipil adalah Pencatatan Otentik hasil Pencatatan tentang peristiwa kelahiran, Perkawinan dan Perceraian bagi yang bukan beragama Islam, Pengakuan anak, Pengesahan Anak, Pengangkatan Anak serta Kematian, perubahan nama dan perubahan status kewarganegaraan. 40. Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut PPNS adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di Lingkungan Pemerintah Kota Cilegon yang diberi wewenang khusus oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran peraturan daerah. BAB II TUJUAN Pasal 2 Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan bertujuan: a. Memberikan keabsahan identitas dan kepastian hukum atas dokumen kependudukan untuk setiap peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang dialami oleh penduduk; b. Memberikan perlindungan, pengakuan, penentuan status pribadi, dan status hukum penduduk; c. Mengelola, menyajikan data dan informasi kependudukan mengenai pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil secara akurat, lengkap dan mutakhir; d. Mewujudkan tertib administrasi kependudukan secara terpadu; e. Memberikan perlindungan atas data pribadi penduduk; dan f. Menyediakan data dan informasi kependudukan yang menjadi rujukan dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. BAB...

9 - 9 - BAB III RUANG LINGKUP Pasal 3 (1) Pendaftaran penduduk dilakukan pada Dinas yang daerah tugasnya meliputi domisili atau tempat tinggal penduduk ; (2) Pencatatan sipil dilakukan pada Dinas yang daerah tugasnya meliputi tempat terjadinya peristiwa penting. BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN PENDUDUK Pasal 4 Setiap penduduk mempunyai hak untuk memperoleh : a. Dokumen Kependudukan; b. Pelayanan yang sama dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil ; c. Perlindungan atas Data Pribadi; d. Kepastian hukum atas kepemilikan dokumen; e. Informasi mengenai data hasil Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil atas dirinya dan atau keluarganya; dan f. Ganti rugi dan pemulihan nama baik sebagai akibat kesalahan dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil serta penyalahgunaan Data Pribadi oleh Dinas. Pasal 5 Setiap penduduk wajib melaporkan Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialaminya kepada Dinas dengan menyerahkan persyaratan sesuai ketentuan dalam Peraturan Daerah ini. Pasal 6 Penduduk yang berada di luar Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib melaporkan peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang dialaminya kepada Dinas Pencatatan Sipil Negara setempat dan/atau kepada Perwakilan Republik Indonesia dengan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. BAB...

10 BAB V KEWENANGAN PENYELENGGARA Bagian Pertama Kewenangan Pemerintah Daerah Pasal 7 (1) Dalam penyelenggaraan administrasi kependudukan, Walikota mempunyai kewenangan meliputi : a. Pengkoordinasian penyelenggaraan administrasi kependudukan ; b. Pengaturan teknis penyelenggaraan administrasi kependudukan sesuai dengan ketentuan perundangundangan; c. Pembinaan dan sosialisasi penyelenggaraan administrasi kependudukan; d. Pelaksanaan kegiatan pelayanan masyarakat dibidang administrasi kependudukan; e. Penugasan kepada kelurahan dan/atau Satuan Kerja Perangkat Daerah lainnya untuk menyelenggarakan sebagian urusan administrasi kependudukan berdasarkan tugas dan pembantuan; f. Pengelolaan dan penyajian data kependudukan berskala Kota; g. Pengkoordinasian pengawasan atas penyelenggaraan administrasi kependudukan. (2) Pemerintah Daerah berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan urusan administrasi kependudukan yang dilakukan oleh Walikota yang meliputi : a. Pencatatan biodata untuk penerbitan NIK, Pencatatan peristiwa kependudukan dan pendataan penduduk rentan administrasi kependudukan ; b. Pencatatan peristiwa penting ; c. Penerbitan...

11 c. Penerbitan dokumen hasil pendaftaran penduduk, meliputi : 1. Biodata Penduduk; 2. KK; 3. KTP; dan 4. Surat Keterangan Kependudukan. d. Penerbitan dokumen hasil Pencatatan sipil, meliputi : 1. Akta Kelahiran; 2. Akta Kematian: 3. Akta Perkawinan; 4. Akta Perceraian; dan 5. Akta pengakuan anak. e. Perubahan akta Pencatatan sipil karena terjadinya peristiwa penting, meliputi : 1. Pengangkatan anak; 2. Pengesahan anak; 3. Perubahan Nama; 4. Perubahan Kewarganegaraan; dan 5. Peristiwa penting lainnya. (3) Penyelenggaraan administrasi kependudukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan (2) dilaksanakan oleh Dinas. Bagian Kedua Kewenangan Dinas Pasal 8 (1) Dinas melaksanakan urusan administrasi kependudukan dengan kewenangan yang meliputi : a. Memperoleh keterangan dan data yang benar tentang peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang dilaporkan penduduk; b. Memperoleh...

12 b. Memperoleh data mengenai peristiwa penting yang dialami penduduk atas dasar putusan atau penetapan pengadilan; c. Memberikan keterangan atas laporan peristiwa kependudukan dan peristiwa penting untuk kepentingan penyelidikan, penyidikan dan pembuktian kepada lembaga peradilan; dan d. Mengelola data dan mendayagunakan informasi hasil pendaftaran penduduk dan Pencatatan sipil untuk kepentingan pemerintahan, kemasyarakatan dan pembangunan. (2) Selain kewenangan urusan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dinas mempunyai kewenangan untuk mendapatkan data hasil Pencatatan peristiwa perkawinan, perceraian dan rujuk bagi penduduk yang beragama Islam dari KUA Kecamatan. Pasal 9 (1) Dinas melaksanakan urusan administrasi kependudukan dengan kewajiban yang meliputi : a. Mendaftar peristiwa kependudukan dan mencatat peristiwa penting; b. Memberikan pelayanan yang sama dan profesional kepada setiap penduduk atas pelaporan peristiwa kependudukan dan peristiwa penting; c. Menerbitkan dokumen kependudukan; d. Mendokumentasikan hasil pendaftaran penduduk dan Pencatatan sipil; e. Menjamin kerahasiaan dan keamanan data atas peristiwa kependudukan dan peristiwa penting; dan f. Melakukan verifikasi dan validasi data dan informasi yang disampaikan oleh penduduk dalam pelayanan pendaftaran penduduk dan Pencatatan sipil. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dikecualikan untuk Pencatatan nikah, talak, cerai, dan rujuk bagi penduduk yang beragama Islam ; (3) Kewajiban...

13 (3) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk persyaratan dan tata cara pencatatan peristiwa penting bagi penduduk yang agamanya belum diakui sebagai agama berdasarkan ketentuan perundang-undangan atau bagi penghayat kepercayaan berpedoman pada peraturan dan perundang-undangan. Bagian Ketiga Kewenangan Pejabat Pencatatan Sipil dan Petugas Registrasi Pasal 10 (1) Pejabat Pencatatan Sipil mempunyai kewenangan melakukan verifikasi kebenaran data, melakukan pembuktian Pencatatan atas nama jabatannya, mencatat data dalam register akta pencatatan sipil, menerbitkan kutipan akta Pencatatan sipil dan membuat pencatatan pinggir pada akta-akta pencatatan sipil ; (2) Pejabat Pencatatan sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diangkat dan diberhentikan oleh Walikota atas usul Dinas dari Pegawai Negeri Sipil yang mengelola pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil yang memenuhi persyaratan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku ; (3) Dalam hal pejabat pencatatan sipil berhalangan, Walikota dapat menunjuk pejabat lain dari Dinas yang mengelola pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil. Pasal 11 (1) Petugas registrasi membantu Lurah dan Dinas dalam pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil ; (2) Petugas registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diangkat dan diberhentikan oleh Walikota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi persyaratan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. BAB...

14 BAB VI PENDAFTARAN PENDUDUK Bagian Pertama Nomor Induk Kependudukan (NIK) Pasal 12 (1) Setiap Penduduk Wajib memiliki NIK ; (2) NIK sebagaimana dimaksud ayat (1) berlaku seumur hidup dan selamanya yang diberikan oleh Pemerintah dan diterbitkan oleh Dinas kepada setiap penduduk setelah dilakukan pencatatan biodata ; (3) NIK sebagaimana dimaksud ayat (1), dicantumkan dalam setiap dokumen kependudukan. Bagian Kedua Pencatatan dan Penerbitan Biodata Penduduk, Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk Paragraf 1 Pencatatan dan Penerbitan Biodata Penduduk Pasal 13 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia wajib melaporkan kepada Dinas melalui Kelurahan dan Kecamatan untuk dicatat biodatanya ; (2) Warga Negara Indonesia yang datang dari Luar Negeri karena pindah, orang asing yang memiliki Ijin Tinggal Terbatas dan orang asing Tinggal Tetap wajib melapor kepada Dinas untuk dicatatkan biodatanya ; (3) Pencatatan biodata penduduk dilakukan sebagai dasar pengisian dan pemutakhiran database kependudukan. Pasal 14 (1) Dalam hal terjadi perubahan biodata penduduk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) dan (2), penduduk wajib melaporkan kepada Dinas untuk dicatatkan perubahan biodatanya ; (2) Pencatatan...

15 (2) Pencatatan perubahan biodata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menggunakan : a. Surat Pernyataan Perubahan Data Kependudukan ; b. Formulir Perubahan Biodata Penduduk WNI ; c. Formulir Perubahan Biodata Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas ; atau d. Formulir Perubahan Biodata Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap. (3) Pencatatan perubahan biodata penduduk WNI di Dinas dilakukan dengan cara melakukan verifikasi dan validasi data penduduk serta merekam data ke dalam database kependudukan ; (4) Kepala Dinas menerbitkan dan menandatangani biodata penduduk yang telah diubah ; (5) Kepala Dinas menerbitkan dan menandatangani biodata Orang Asing yang telah diubah ; (6) Perubahan Biodata Penduduk WNI, maupun Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas dan Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap yang mengalami peristiwa penting di luar wilayah Republik Indonesia, wajib dilaporkan kepada Dinas paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak kembali ke Republik Indonesia. Paragraf 2 Penerbitan Kartu Keluarga Pasal 15 (1) Penduduk WNI wajib melaporkan susunan keluarganya pada Dinas melalui Kelurahan dan Kecamatan ; (2) Orang asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap wajib melaporkan Susunan Keluarganya pada Dinas ; (3) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) sebagai dasar untuk penerbitan Kartu Keluarga ; (4) Penerbitan Kartu Keluarga baru bagi penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan memenuhi persyaratan yang ditentukan ; (5) Penduduk...

16 (5) Penduduk Warga Negara Indonesia dan Orang Asing Tinggal Tetap hanya diperbolehkan terdaftar dalam 1 (satu) Kartu Keluarga ; (6) Nomor Kartu Keluarga berlaku selamanya, kecuali terjadi perubahan Kepala Keluarga. Pasal 16 (1) Perubahan susunan keluarga dalam Kartu Keluarga wajib dilaporkan kepada Dinas selambat-lambatnya 30 (tigapuluh) hari sejak terjadinya perubahan ; (2) Perubahan KK dilakukan apabila : a. Terjadi penambahan anggota keluarga akibat kelahiran; b. Menumpang ke dalam KK bagi penduduk yang pindah datang; c. Karena pengurangan akibat kematian; d. Karena hilang atau rusak. Pasal 17 (1) Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap wajib melapor kepada Dinas dengan menyerahkan persyaratan yang telah ditentukan sebagai dasar untuk menerbitkan KK ; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas memproses penerbitan atau perubahan KK ; (3) Kepala Dinas menerbitkan dan menandatangani KK. Paragraf 3 Penerbitan Kartu Tanda Penduduk Pasal 18 (1) Penduduk Warga Negara Indonesia yang telah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau pernah kawin, Wajib memiliki Kartu Tanda Penduduk ; (2) Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap yang telah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin atau pernah kawin wajib memiliki KTP ; (3) Setiap penduduk sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) hanya diperbolehkan memiliki 1 (satu) Kartu Tanda Penduduk ; (4) Kartu...

17 (4) Kartu Tanda Penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2) dan (3) berlaku secara nasional ; (5) Orang Asing yang mengikuti status orang tuanya yang memiliki ijin tinggal tetap dan sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau pernah kawin, wajib memiliki Kartu Tanda Penduduk ; (6) Penduduk yang telah memiliki Kartu Tanda Penduduk wajib dibawa pada saat bepergian. Pasal 19 (1) KTP untuk WNI berlaku selama masa waktu 5 (lima) tahun kecuali terjadi perubahan data ; (2) Dalam hal Dinas menerima laporan perubahan data sebagaimana dimaksud pada ayat(1), kepada penduduk diterbitkan KTP baru ; (3) Masa berlaku KTP untuk Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap disesuaikan berlakunya IzinTinggal Tetap ; (4) Bagi penduduk WNI yang berusia 60 (enam puluh) tahun keatas, masa berlaku KTP adalah seumur hidup. Pasal 20 (1) Dalam rangka penerbitan KTP baru, penduduk WNI wajib melapor secara berjenjang mulai dari RT, RW, Kelurahan, sampai dengan kecamatan ; (2) Dalam rangka penerbitan KTP baru, penduduk Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap wajib melapor ke Dinas ; (3) Penduduk WNI dan Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap wajib melapor ke Kelurahan dan Dinas dalam rangka penerbitan KTP karena perpanjangan, karena hilang atau rusak, karena pindah datang dan perubahan data ; (4) Penerbitan KTP bagi WNI yang baru datang dari luar negeri dilakukan setelah diterbitkan Surat Keterangan Datang dari luar negeri oleh Dinas. Pasal 21 (1) Setiap penduduk wajib melaporkan perpanjangan masa berlaku KTP kepada Dinas paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sesudah masa berlaku KTP habis ; (2) Dalam hal KTP diterbitkan karena perpanjangan, KTP lama ditarik oleh Dinas. Pasal...

18 Pasal 22 (1) Pembetulan KTP hanya dilakukan untuk KTP yang mengalami kesalahan tulis redaksional ; (2) Pembetulan KTP sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan dengan atau tanpa permohonan dari orang yang menjadi subjek KTP ; (3) Pembetulan KTP dimaksud pada ayat (1), dilakukan oleh Dinas. Bagian Ketiga Pendaftaran Peristiwa Kependudukan Paragraf 1 Perubahan Alamat Pasal 23 Dalam hal terjadi perubahan alamat Dinas wajib menyelenggarakan penerbitan perubahan dokumen Pendaftaran Penduduk. Paragraf 2 Pendaftaran Pindah Datang Penduduk WNI Dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 24 (1) Penduduk WNI yang pindah datang wajib melapor kepada Instansi Pelaksana dengan membawa Surat Keterangan Pindah dari daerah asal ; (2) Pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah berdomisilinya penduduk di Daerah untuk waktu lebih dari 1 (satu) tahun atau berdasarkan kebutuhan yang bersangkutan untuk waktu yang kurang dari 1 (satu) tahun ; (3) Berdasarkan surat keterangan pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penduduk yang bersangkutan wajib melapor kepada Dinas, dan Dinas menerbitkan Surat Keterangan Pindah Datang ; (4) Surat keterangan pindah datang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan sebagai dasar perubahan atau penerbitan KK dan KTP bagi penduduk yang bersangkutan. Paragraf...

19 Paragraf 3 Pendaftaran Pindah Penduduk WNI Dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 25 (1) Persyaratan dan tata cara perpindahan Penduduk Warga Negara Indonesia dilakukan dengan memperhatikan klasifikasi perpindahan Penduduk ; (2) Klasifikasi perpindahan penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sebagai berikut : a. Dalam satu Kelurahan ; b. Antar Kelurahan dalam satu Kecamatan ; c. Antar Kecamatan dalam satu Kota ; d. Antar Kota atau kabupaten dalam satu Propinsi ; atau e. Antar Propinsi. Pasal 26 (1) Pelaporan pendaftaran perpindahan penduduk WNI dengan klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e, dilakukan dengan memenuhi syarat berupa surat pengantar RT/RW, KK, dan KTP untuk mendapatkan Surat Keterangan Pindah ; (2) Surat keterangan pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berlaku selama 30 (Tiga puluh) hari kerja ; (3) Pada saat diserahkan Surat Keterangan Pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada penduduk, KTP yang bersangkutan dicabut dan dimusnahkan oleh instansi yang menerbitkan Surat Keterangan Pindah ; (4) Surat Keterangan Pindah Sebagaimana dimaksud pada ayat (3), berlaku sebagai pengganti KTP selama KTP yang baru belum selesai diterbitkan. Pasal 27 (1) Penduduk WNI yang bermaksud pindah dengan klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) huruf a, melapor kepada Kelurahan dengan memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (2) Berdasarkan...

20 (2) Berdasarkan laporan pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kelurahan mengeluarkan Surat Keterangan Pindah Datang. (3) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan sebagai dasar untuk : a. Proses perubahan KK bagi kepala/anggota keluarga dalam KK yang tidak pindah; b. Proses penerbitan KK dan KTP dengan alamat baru; dan c. Perekaman ke dalam database kependudukan. Pasal 28 (1) Penduduk WNI yang bermaksud pindah dengan klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) huruf b, melapor kepada Kelurahan dengan memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk mendapatkan Surat Keterangan Pindah ; (2) Surat Keterangan Pindah Datang Sebagaimana dimaksud pada ayat (1), digunakan sebagai dasar : a. Proses perubahan KK bagi kepala Keluarga/Anggota Keluarga dalam KK yang tidak pindah; dan b. Perekaman ke dalam database kependudukan Pasal 29 (1) Penduduk WNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), melaporkan kedatangannya kepada Kelurahan tempat tujuan dengan menunjukan Surat Keterangan Pindah. (2) Berdasarkan Surat Keterangan Pindah sebagaimana dimaksud dalam pada ayat (1), Kelurahan tempat tujuan mengeluarkan Surat Keterangan Pindah Datang. (3) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan sebagai dasar : a. Proses penerbitan KK dan KTP dengan alamat baru; dan b. Perekaman ke dalam database kependudukan. Pasal... Pasal 30

21 (1) Penduduk WNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2), huruf c, melapor kepada Lurah sesuai ketentuan yang berlaku ; (2) Lurah meneruskan berkas formulir permohonan pindah ke Kecamatan dan Camat mengeluarkan Surat Keterangan Pindah ; (3) Surat Keterangan Pindah sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), digunakan sebagai dasar : a. Proses perubahan KK bagi Kepala/Anggota Keluarga dalam KK yang tidak pindah; dan b. Perekaman ke dalam database kependudukan. Pasal 31 (1) Penduduk WNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1), melaporkan kedatangannya kepada Kelurahan ditempat tujuan dengan menunjukan Surat Keterangan Pindah; (2) Berdasarkan Surat Keterangan Pindah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Lurah menandatangani dan meneruskan formulir permohonan pindah datang kepada Camat untuk selanjutnya dikeluarkan Surat Keterangan Pindah Datang dan ditandatangani atas nama Kepala Dinas ; (3) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan sebagai dasar : a. Proses Penerbitan KK dan KTP dengan alamat baru; dan b. Perekaman ke dalam database kependudukan. Pasal 32 (1) Penduduk WNI yang bermaksud pindah dengan klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) huruf d dan huruf e, melaporkan kepada Lurah ; (2) Lurah menerbitkan Surat Pengantar Pindah dan meneruskan berkas permohonan pindah kepada Kepala Dinas melalui Camat sesuai ketentuan yang berlaku ; (3) Kepala Dinas menerbitkan dan menandatangi Surat Keterangan Pindah serta menyerahkan kepada penduduk untuk dilaporkan ke daerah tujuan ; (4) Surat...

22 (4) Surat Keterangan Pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan sebagai dasar : a. Proses perubahan KK bagi Kepala Keluarga/anggota keluarga yang tidak pindah; dan b. Perekaman ke dalam database kependudukan. Paragraf 4 Pendaftaran Penduduk Yang Bertransmigrasi Pasal 33 Persyaratan pelaporan pendaftaran penduduk yang akan bertransmigrasi akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Walikota. Pasal 34 (1) Setiap penduduk yang akan bertransmigrasi, berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1), (2) dan (3) ; (2) Pelaporan penduduk yang akan bertransmigrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibantu oleh SKPD terkait. Paragraf 5 Pendaftaran Pindah Datang Orang Asing Dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 35 (1) Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas dan Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap yang pindah dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib melaporkan rencana kepindahannya kepada Instansi Pelaksana di daerah asal ; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas mendaftar dan menerbitkan Surat Keterangan Pindah Datang ; (3) Orang Asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1), melaporkan kedatangan kepada Dinas paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak diterbitkannya Surat Keterangan Pindah Datang ; (4) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai dasar perubahan atau penerbitan KK, KTP atau Surat Keterangan Tempat Tinggal Bagi Orang Asing yang bersangkutan. Pasal...

23 Pasal 36 (1) Persyaratan dan tata cara perpindahan Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Sementara dan Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dilakukan dengan memperhatikan klasifikasi perpindahan Penduduk ; (2) Klasifikasi perpindahan orang asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai berikut : a. Dalam Kota ; b. Antar Kota / kabupaten dalam satu Propinsi ; atau c. Antar Propinsi. Pasal 37 (1) Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas atau Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap yang bermaksud pindah dengan klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) huruf a, melapor kepada Kepala Dinas sesuai dengan ketentuan yang berlaku ; (2) Berdasarkan Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2), digunakan sebagai dasar : a. Perubahan KK bagi Kepala Keluarga/anggota keluarga yang tidak pindah; b. Penerbitan Surat Keterangan Tempat Tinggal dengan alamat baru bagi Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas; atau c. Penerbitan KK dan KTP dengan alamat baru bagi Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap. Pasal 38 (1) Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas atau Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap yang bermaksud pindah dengan klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) huruf b dan huruf c, melapor kepada Dinas sesuai dengan ketentuan yang berlaku ; (2) Kepala Dinas menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Pindah Datang. Pasal...

24 Pasal 39 (1) Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas atau Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap yang bermaksud pindah dengan klasifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2) huruf b dan huruf c, melaporkan kedatangannya kepada Kepala Dinas daerah tujuan dengan menyerahkan Surat Keterangan Pindah Datang ; (2) Berdasarkan Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka Dinas menandatangani Surat Keterangan Pindah Datang ; (3) Surat Keterangan Pindah Datang sebagaimana dimaksud pada ayat (2), digunakan sebagai dasar : a. Penerbitan KK dan KTP dengan alamat baru bagi Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap; b. Penerbitan Surat Keterangan Tempat Tinggal dengan alamat baru bagi Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas. Bagian Keempat Pendaftaran Pindah Datang Antar Negara Pasal 40 (1) Penduduk WNI yang pindah ke luar negeri wajib melaporkan rencana kepindahannya kepada Dinas ; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Dinas mendaftar dan menerbitkan Surat Keterangan Pindah ke Luar Negeri ; (3) Penduduk WNI yang telah pindah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan berstatus menetap di luar negeri wajib melaporkan kepada Perwakilan Republik Indonesia paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak kedatangannya. Pasal 41 Perpindahan penduduk antar Negara, meliputi klasifikasi sebagai berikut : a. Penduduk WNI pindah ke luar negeri untuk menetap dalam jangka waktu 1 (satu) tahun atau lebih berturut-turut; b. WNI datang dari luar negeri karena pindah dan menetap di Daerah ; c. Orang...

25 c. Orang Asing datang dari luar negeri dengan izin Tinggal Terbatas; dan d. Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas atau Izin Tinggal Tetap yang akan pindah ke luar negeri. Pasal 42 (1) WNI yang datang dari luar negeri wajib melaporkan kedatangannya kepada Dinas paling lambat 14 (empat belas) hari sejak kedatangannya ; (2) Berdasarkan laopran sebagaimana dimaksud ayat (1), Dinas mendaftar dan menerbitkan Surat Keterangan Datang dari luar negeri sebagai dasar penerbitan KK dan KTP ; Pasal 43 (1) Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas yang datang dari luar negeri dan Orang Asing yang memiliki izin lainnya yang telah berubah status sebagai pemegang Izin Tinggal Terbatas yang berencana bertempat tinggal di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib melaporkan kepada Dinas paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterbitkannya Izin Tinggal Terbatas; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas mendaftar dan menerbitkan Surat Keterangan Tempat Tinggal ; (3) Masa berlaku Surat Keterangan Tempat Tinggal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disesuaikan dengan masa berlaku Izin Tinggal Terbatas ; (4) Surat Keterangan Tempat Tinggal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dibawa pada saat bepergian. Pasal 44 (1) Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas yang telah berubah status menjadi Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap wajib melaporkan kepada Dinas paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterbitkannya Izin Tinggal Tetap ; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas mendaftar dan menerbitkan KK dan KTP. Pasal...

26 Pasal 45 (1) Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas atau Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap yang akan pindah ke luar negeri wajib melaporkan kepada Dinas paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum rencana kepindahannya ; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas melakukan pendaftaran. Bagian Kelima Pendataan Penduduk Rentan Administrasi Kependudukan Pasal 46 Pendataan penduduk rentan administrasi kependudukan meliputi klasifikasi : a. Penduduk korban bencana alam; b. Penduduk korban bencana sosial; dan c. Orang terlantar. Pasal 47 (1) Pendataan penduduk korban bencana alam dan penduduk korban bencana sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf a dan b, dilakukan oleh Dinas dengan menyediakan : a. Formulir pernyataan kehilangan dokumen kependudukan; b. Formulir pendataaan; dan c. Dokumen kependudukan yang tercatat dalam data kependudukan Dinas. (2) Pendataan Orang Terlantar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf c dilakukan oleh Dinas dengan menyediakan : a. Formulir pernyataan tidak memiliki dokumen kependudukan; dan b. Surat Keterangan Orang Terlantar bagi Orang terlantar. (3) Pendataan penduduk rentan administrasi Kependudukan dalam Pasal 46 huruf a dan b dapat dilakukan di tempat sementara ; (4) Pendataan Penduduk Rentan Administrasi Kependudukan dilakukan oleh Tim Pendataan yang dibentuk Walikota. Pasal...

27 Pasal 48 (1) Kepala Dinas menerbitkan dan menandatangani : a. Surat Keterangan Pengganti Tanda Identitas dan Surat Keterangan Pencatatan Sipil bagi Korban bencana alam dan bencana sosial, serta b. Surat Keterangan Orang Terlantar bagi Orang Terlantar. (2) Surat Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi dasar bagi Kepala Dinas menerbitkan dokumen kependudukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bagian Keenam Pelaporan Penduduk yang Tidak Mampu Mendaftarkan Sendiri Pasal 49 (1) Penduduk yang tidak mampu melaksanakan sendiri pelaporan terhadap Peristiwa Kependudukan yang menyangkut dirinya sendiri dapat dibantu oleh Instansi Pelaksana atau meminta bantuan kepada orang lain ; (2) Penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penduduk yang tidak mampu karena faktor umur, sakit keras, cacat fisik atau cacat mental ; (3) Orang lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah keluarganya atau orang lain yang diberi kuasa. Pasal 50 Pelaporan penduduk yang tidak mampu melaporkan sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1), dilakukan dengan pengisian formulir yang telah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bagian Ketujuh Formulir dan Buku Pendaftaran Penduduk Pasal 51 Formulir dan Buku yang digunakan dalam pendaftaran penduduk berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB...

28 BAB VII PENCATATAN SIPIL Bagian Kesatu Pencatatan Kelahiran Paragraf 1 Pencatatan Kelahiran di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 52 (1) Setiap peristiwa Kelahiran wajib dilaporkan oleh orang tua atau kuasanya dan dicatatkan pada Dinas ditempat terjadinya kelahiran selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak kelahiran ; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta kelahiran dan menerbitkan Kutipan Akta Kelahiran. (3) Pencatatan kelahiran dalam Register Akta Kelahiran dan penerbitan Kutipan Akta Kelahiran terhadap peristiwa kelahiran seseorang yang tidak diketahui asal usulnya atau keberadaan orang tuanya, didasarkan pada laporan orang yang menemukan dilengkapi Berita Acara Pemeriksaaan dari Kepolisian ; (4) Kutipan Akta Kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diterbitkan oleh pejabat Pencatatan Sipil dan disimpan oleh Dinas. Paragraf 2 Pencatatan Kelahiran Di Luar Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 53 (1) Kelahiran WNI di luar Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib dicatatkan pada Instansi yang berwenang di negara setempat dan dilaporkan kepada perwakilan Republik Indonesia ; (2) Apabila...

29 (2) Apabila Negara setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menyelenggarakan Pencatatan kelahiran bagi orang asing, Pencatatan dilakukan pada perwakilan Republik Indonesia setempat ; (3) Perwakilan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencatat Persitiwa Kelahiran dalam Register Akta Kelahiran dan menerbitkan Kutipan Akta Kelahiran ; (4) Pencatatan Kelahiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dilaporkan kepada Dinas ditempat Domisili paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak Warga Negara Indonesia bersangkutan kembali ke Indonesia dengan membawa Bukti Pelaporan atau Pencatatan kelahiran dari Luar Negeri ; (5) Atas Pelaporan Pencatatan kelahiran sebagaimana dimaksud ayat (4) diterbitkan surat tanda bukti pelaporan kelahiran Luar Negeri. Paragraf 3 Pencatatan Kelahiran Yang Melampaui Batas Pasal 54 (1) Pelaporan kelahiran yang melampaui batas waktu 60 (enam puluh) hari sampai dengan 1 (satu) tahun sejak tanggal kelahiran, Pencatatan dilaksanakan setelah mendapatkan persetujuan Kepala Dinas ; (2) Pencatatan Kelahiran yang melampaui batas 1 (satu) tahun dilaksanakan berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri. Paragraf 4 Pencatatan Lahir Mati Pasal 55 (1) Setiap bayi yang dilahirkan mati dari seorang penduduk wajib dilaporkan oleh orang tuanya, keluarganya atau kuasanya ke Dinas paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak lahir mati ; (2) Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menerbitkan Surat Keterangan Lahir Mati. Bagian...

30 Bagian Kedua Pencatatan Perkawinan Pasal 56 (1) Perkawinan yang syah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan wajib dilaporkan kepada Dinas ditempat terjadinya perkawinan selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak tanggal perkawinan ; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada register Akta perkawinan dan menerbitkan kutipan Akta perkawinan ; (3) Kutipan Akta perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) masing-masing diberikan kepada suami dan isteri ; (4) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi penduduk yang beragama Islam dilakukan oleh KUA Kecamatan ; (5) Data hasil Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib disampaikan oleh KUA Kecamatan ke Dinas selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari setelah Pencatatan perkawinan dilaksanakan ; (6) Hasil Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak memerlukan penerbitan Kutipan Akta Pencatatan Sipil. Pasal 57 Pencatatan Perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 berlaku pula bagi : a. Perkawinan yang ditetapkan oleh Pengadilan ; b. Perkawinan WNA yang dilakukan di Indonesia atas permintaan WNA yang bersangkutan berdasarkan ketentuan peraturan perundangan mengenai perkawinan di Wilayah Republik Indonesia. Pasal 58 Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta perkawinan, pencatatan perkawinan dilakukan setelah adanya penetapan Pengadilan. Pasal...

31 Pasal 59 (1) Setiap perkawinan yang dilangsungkan di Luar Negeri baik antar penduduk WNI atau salah satunya penduduk WNI, wajib dilaporkan oleh yang bersangkutan dan atau kuasanya ke Dinas selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah yang bersangkutan kembali ke Indonesia ; (2) Setiap pelaporan perkawinan sebagaiman dimaksud pada ayat (1), diterbitkan surat tanda bukti pelaporan perkawinan Luar Negeri. Bagian Ketiga Pencatatan Pembatalan Perkawinan Pasal 60 (1) Pembatalan Perkawinan wajib dilaporkan oleh penduduk yang mengalami pembatalan Perkawinan kepada Dinas paling lambat 90 (sembilan puluh) hari setelah adanya putusan Pengadilan tentang pembatalan perkawinan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pejabat Pencatatan Sipil mencabut kutipan Akta perkawinan dari kepemilikan subyek Akta dan mengeluarkan Surat Keterangan Pembatalan Perkawinan. Bagian Keempat Pencatatan Perceraian Pasal 61 (1) Setiap perceraian wajib dilaporkan oleh yang bersangkutan atau kuasanya ke Dinas tempat peristiwa perceraian selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak tanggal putusan Pengadilan tentang perceraian yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap ; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada register Akta Perceraian dan menerbitkan Kutipan Akta Perceraian. Pasal...

32 Pasal 62 Pencatatan Perceraian yang terjadi di Luar Negeri baik antar penduduk WNI atau salah satunya penduduk WNI wajib dilaporkan oleh yang bersangkutan atau kuasanya ke Dinas paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak yang bersangkutan kembali ke Indonesia. Bagian Kelima Pencatatan Pembatalan Perceraian Pasal 63 (1) Pembatalan Perceraian wajib dilaporkan oleh penduduk kepada Dinas paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah putusan Pengadilan tentang Pembatalan Perceraian yang mempunyai kekuatan hukum tetap ; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Dinas mencabut kutipan Akta perceraian dari kepemilikan subyek Akta dan mengeluarkan Surat Keterangan Pembatalan Perceraian. Bagian Keenam Pencatatan Kematian Pasal 64 (1) Setiap kematian wajib dilaporkan oleh keluarga atau kuasanya ke Dinas, paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal kematian ; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud ayat (1) pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Kematian dan menerbitkan Kutipan Akta Kematian ; (3) Pencatatan kematian dilakukan oleh Dinas, ditempat terjadinya kematian ; (4) Pencatatan Kematian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan berdasarkan keterangan Kematian dari pihak yang berwenang ; (5) Dalam hal tidak diketahui keberadaan seseorang karena hilang atau mati tetapi tidak ditemukan jenazahnya, maka Pencatatan oleh pejabat Pencatatan Sipil baru dilakukan setelah adanya penetapan Pengadilan ; (6) Dalam hal terjadi kematian seseorang yang tidak jelas identitasnya, Dinas melakukan Pencatatan kematian berdasarkan dari keterangan Kepolisian. Pasal...

33 Pasal 65 (1) Setiap kematian WNI yang terjadi di Luar Negeri yang telah memperoleh Akta kematian dari lembaga yang berwenang di Luar Negeri, wajib dilaporkan oleh orang tua, keluarga, atau kuasanya ke Dinas selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak keluarga yang bersangkutan tiba dan menetap kembali di Indonesia ; (2) Atas pelaporan Pencatatan kematian sebagaimana dimaksud ayat (1) diterbitkan surat tanda bukti pelaporan kematian Luar Negeri. Bagian Ketujuh Pencatatan Pengangkatan Anak, Pengakuan dan Pengesahan Anak Paragraf 1 Pencatatan Pengangkatan anak Pasal 66 (1) Pencatatan pengangkatan anak dilaksanakan berdasarkan penetapan Pengadilan di tempat tinggal pemohon ; (2) Pencatatan pengangkatan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh yang bersangkutan pada Dinas yang menerbitkan Kutipan Akta Kelahiran paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya salinan Penetapan Pengadilan oleh yang bersangkutan atau kuasanya ; (3) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pejabat Pencatatan Sipil membuat Catatan pinggir pada register Akta kelahiran dan Kutipan Akta Kelahiran. Pasal 67 (1) Pengangkatan anak WNA yang dilakukan oleh Warga Negara Indonesia di Luar Negeri wajib dicatatkan pada Instansi yang berwenang di Negara setempat ; (2) Hasil Pencatatan pengangkatan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan kepada perwakilan Republik Indonesia ; (3) Apabila...

34 (3) Apabila Negara setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menyelenggarakan Pencatatan pengangkatan anak bagi WNA, Warga Negara yang bersangkutan melaporkan kepada perwakilan Republik Indonesia setempat untuk mendapatkan Surat Keterangan Pengangkatan Anak ; (4) Pengangkatan anak WNA sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (3) dilaporkan oleh penduduk kepada Dinas ditempat tinggalnya paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak yang bersangkutan kembali ke Indonesia ; (5) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Dinas mengukuhkan Surat Keterangan Pengangkatan Anak. Paragraf 2 Pencatatan Pengakuan Anak Pasal 68 (1) Setiap pengakuan anak wajib dilaporkan oleh orang tuanya kepada Dinas paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal surat pengakuan anak ditanda tangani oleh ayah dan disetujui oleh ibu dari anak yang bersangkutan ; (2) Kewajiban melaporkan sebagaimana dimaksud ayat (1), dikecualikan bagi orang tua yang agamanya tidak membenarkan pengakuan anak yang lahir diluar hubungan perkawinan yang syah ; (3) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada register Akta pengakuan anak dan menerbitkan kutipan Akta pengakuan anak. Paragraf 3 Pencatatan Pengesahan Anak Pasal 69 (1) Setiap pengesahan anak wajib dilaporkan oleh orang tuanya kepada Dinas paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak ayah dan ibu dari anak yang bersangkutan melakukan perkawinan dan mendapatkan Akta perkawinan ; (2) Kewajiban...

35 (2) Kewajiban melaporkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi orang tua yang agamanya tidak membenarkan pengesahan anak yang lahir diluar hubungan perkawinan yang syah ; (3) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pejabat Pencatatan Sipil membuat Catatan pinggir pada Akta kelahiran. Bagian Kedelapan Pencatatan Perubahan Nama dan Perubahan Status Kewarganegaraan Paragraf 1 Pencatatan Perubahan Nama Pasal 70 (1) Pencatatan perubahan nama dilaksanakan berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri tempat pemohon ; (2) Pencatatan Perubahan Nama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan oleh penduduk kepada Dinas paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak diterimanya salinan Penetapan Pengadilan Negeri ; (3) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud ayat (2) pejabat Pencatatan Sipil membuat Catatan pinggir pada Register Akta Pencatatan Sipil dan Kutipan Akta Pencatatan Sipil. Paragraf 2 Pencatatan Perubahan Status Kewarganegaraan di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 71 (1) Perubahan status Kewarganegaraan dari WNA menjadi WNI wajib dilaporkan oleh penduduk yang bersangkutan kepada Dinas ditempat peristiwa perubahan status Kewarganegaraan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak Berita Acara Pengucapan Sumpah atau Pernyataan Janji Setia oleh Pejabat ; (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pejabat Pencatatan Sipil membuat Catatan pinggir pada register Akta Pencatatan Sipil dan Kutipan Akta Pencatatan Sipil. Paragraf...

36 Paragraf 3 Pencatatan Perubahan status Kewarganegaraan dari WNI menjadi WNA Di Luar Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 72 (1) Setiap perubahan status kewarganegaraan dari WNI menjadi WNA diluar negeri wajib dilaporkan kepada Dinas setelah mendapatkan surat keterangan Pelepasan Kewarganegaraan Indonesia dari perwakilan Republik Indonesia setempat ; (2) Pelepasan Kewarganegaraan Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan oleh perwakilan Republik Indonesia setempat kepada Menteri yang berwenang didasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan untuk diteruskan kepada dinas yang menerbitkan Akta Pencatatan Sipil yang bersangkutan ; (3) Berdasarkan laporan dimaksud pada ayat (2) pejabat Pencatatan Sipil membuat Catatan pinggir pada register Akta Pencatatan Sipil dan Kutipan Akta Pencatatan Sipil. Bagian Kesembilan Pencatatan Peristiwa Penting Lainnya Pasal 73 Pencatatan peristiwa penting lainnya agar dilaporkan ke Dinas atas permintaan yang bersangkutan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak penetapan pengadilan negeri yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Bagian Kesepuluh Dokumen Pencatatan Sipil Paragraf 1 Pengelolaan Dokumen Pencatatan Sipil Pasal 74 (1) Pengelolaan dokumen Pencatatan Sipil meliputi perekaman, penyimpanan, pemeliharaan dan pemanfaatan dilaksanakan oleh Dinas. (2) Dokumen Pencatatan Sipil berlaku selamanya dan tidak boleh dimusnahkan. Pasal...

37 Pasal 75 Akta Pencatatan Sipil terdiri dari : a. Register Akta Pencatatan Sipil ; dan b. Kutipan Akta Pencatatan Sipil. Pasal 76 (1) Register Akta Pencatatan Sipil memuat seluruh Data Peristiwa Penting ; (2) Data Peristiwa Penting yang berasal dari KUA Kecamatan diintegrasikan ke dalam database kependudukan dan tidak diterbitkan Kutipan Akta Pencatatan Sipil ; (3) Register Akta Pencatatan Sipil memuat: a. Jenis Peristiwa Penting ; b. NIK dan status kewarganegaraan ; c. Nama orang yang mengalami Peristiwa Penting ; d. Nama dan identitas pelapor; e. Tempat dan tanggal peristiwa; f. Nama dan identitas saksi ; g. Tempat dan tanggal dikeluarkannya Akta ; dan h. Nama dan tanda tangan Pejabat yang berwenang. Pasal 77 (1) Kutipan Akta Pencatatan Sipil terdiri atas kutipan Akta : a. Kelahiran ; b. Kematian ; c. Perkawinan ; d. Perceraian ; dan e. Pengakuan Anak. (2) Kutipan Akta Pencatatan Sipil memuat : a. Jenis Peristiwa Penting; b. NIK dan status kewarganegaraan; c. Nama orang yang mengalami Peristiwa Penting; d. Tempat dan tanggal Peristiwa; e. Tempat dan tanggal dikeluarkannya Akta ; dan f. Nama dan tanda tangan Pejabat yang berwenang. Paragraf...

38 Paragraf 2 Pembetulan dan Pembatalan Akta Pasal 78 (1) Pembetulan Akta Pencatatan Sipil hanya dilakukan untuk Akta yang mengalami kesalahan tulis redaksional ; (2) Pembetulan Akta Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan atau tanpa permohonan dari orang yang menjadi subjek Akta ; (3) Pembetulan Akta Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pejabat Pencatatan Sipil sesuai dengan kewenangannya. Pasal 79 (1) Pembatalan Akta Pencatatan Sipil dilakukan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap ; (2) Berdasarkan putusan pengadilan mengenai pembatalan Akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejabat Pencatatan Sipil membuat Catatan pinggir pada Register Akta dan mencabut kutipan Akta-Akta Pencatatan Sipil yang dibatalkan dari kepemilikan subjek Akta. Pasal 80 Dalam hal wilayah hukum Dinas yang menerbitkan Akta berbeda dengan pengadilan yang memutus pembatalan Akta, salinan putusan pengadilan disampaikan kepada Dinas yang menerbitkan Akta Pencatatan Sipil oleh pemohon atau Pengadilan. Pasal 81 Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara Pencatatan pembetulan dan pembatalan Akta Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 dan Pasal 79 diatur dalam Peraturan Walikota. Pasal...

39 Pasal 82 (1) Setiap Kutipan Akta Catatan Sipil yang hilang atau rusak atas permintaan yang bersangkutan, keluarganya atau kuasanya dapat diterbitkan kutipan duplikat atau salinan lengkap Akta Catatan Sipil ; (2) Setiap Kutipan Akta Catatan Sipil yang hilang atau rusak dibuatkan Catatan Pinggir dalam Register Akta ; (3) Catatan Pinggir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengubah Nomor dan Materi Akta aslinya. BAB VII PENGOLAHAN DATA, INFORMASI DAN PELAPORAN DATA Bagian Kesatu Data Kependudukan Pasal 83 (1) Data kependudukan terdiri dari data perseorangan dan/atau data agregat penduduk ; (2) Data perseorangan meliputi : a. Nomor KK; b. NIK; c. Nama Lengkap; d. Jenis kelamin; e. Tempat lahir; f. Tanggal/bulan/tahun lahir; g. Golongan darah; h. Agama/kepercayaan; i. Status perkawinan; j. Status hubungan dalam keluarga; k. Cacat fisik dan/atau mental; l. Pendidikan terakhir; m. Jenis... m. Jenis pekerjaan;

40 n. NIK Ibu kandung; o. Nama Ibu kandung; p. NIK ayah; q. Nama ayah; r. Alamat sebelumnya; s. Alamat sekarang; t. Kepemilikan akta kelahiran/surat kenal lahir; u. Nomor akta kelahiran/nomor surat kenal lahir; v. Kepemilikan akta perkawinan/buku nikah; w. Nomor akta perkawinan/nomor buku nikah; x. Tanggal perkawinan; y. Kepemilikan akta perceraian; z. Nomor akta perceraian/surat cerai; aa. Tanggal perceraian. (3) Data agregat meliputi himpunan data perseorangan yang berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Bagian Kedua Dokumen kependudukan Pasal 84 (1) Dokumen kependudukan meliputi : a. Biodata penduduk; b. KK; c. KTP; d. Surat keterangan kependudukan; e. Akta Pencatatan sipil. (2) Surat keterangan kependudukan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) huruf d, meliputi : a. Surat Keterangan Pindah ; b. Surat Keterangan Pindah Datang ; c. Surat Keterangan Pindah ke Luar Negeri ; d. Surat...

41 d. Surat Keterangan Datang dari Luar Negeri ; e. Surat Keterangan Tempat Tinggal ; f. Surat Keterangan Kelahiran ; g. Surat Keterangan Lahir Mati ; h. Surat Keterangan Pembatalan Perkawinan ; i. Surat Keterangan Pembatalan Perceraian ; j. Surat Keterangan Kematian ; k. Surat Keterangan Pengangkatan Anak ; l. Surat Keterangan Pelepasan Kewarganegaraan Indonesia ; m. Surat Keterangan Pengganti Tanda Identitas ; dan n. Surat Keterangan Pencatatan Sipil. (3) Kewenangan penerbitan dan penandatanganan dokumen kependudukan : a. Kepala Dinas 1. Biodata penduduk; 2. KK; 3. KTP; 4. Surat keterangan pindah penduduk WNI antar Kabupaten/ Kota dalam satu propinsi antar propinsi dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; 5. Surat keterangan pindah datang penduduk WNI antar Kabupaten/Kota dalam satu propinsi antar propinsi dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; 6. Surat keterangan pindah datang penduduk orang asing dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; 7. Surat keterangan pindah ke luar negeri; 8. Surat keterangan datang dari luar negeri; 9. surat keterangan tempat tinggal untuk orang asing tinggal terbatas; 10. Surat Keterangan kelahiran untuk orang asing; 11. Surat...

42 Surat Keterangan lahir mati untuk orang asing; 12. Surat Keterangan kematian untuk orang asing; 13. Surat Keterangan Pembatalan Perkawinan; 14. Surat Keterangan Pembatalan Perceraian; 15. Surat Keterangan Pengganti Tanda Identitas; 16. Surat Keterangan Orang Terlantar. b. Camat atas nama Kepala Dinas 1. Surat keterangan pindah penduduk antar kecamatan dalam Kota; 2. Surat keterangan pindah datang penduduk antar kecamatan dalam Kota; c. Lurah atas nama Kepala Dinas 1. Surat keterangan pindah penduduk antar kelurahan dalam satu Kecamatan; 2. Surat keterangan pindah datang penduduk antar kelurahan dalam satu Kecamatan; 3. Surat keterangan kelahiran untuk WNI; 4. Surat keterangan lahir mati untuk WNI; 5. Surat keterangan kematian untuk WNI. (4) Dokumen kependudukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dikenakan retribusi yang diatur dalam Peraturan Daerah tersendiri. Pasal 85 Dinas atau pejabat yang diberi kewenangan, sesuai tanggung jawabnya, wajib menerbitkan dokumen pendaftaran penduduk sebagai berikut : a. KK atau KTP paling lambat 14 (empat belas) hari; b. Surat keterangan pindah paling lambat 14 (empat belas) hari; c. Surat keterangan pindah datang paling lambat 14 (empat belas) hari; d. Surat...

43 d. Surat keterangan pindah ke luar negeri paling lambat 14 (empat belas) hari; e. Surat keterangan datang dari luar negeri paling lambat 14 (empat belas) hari; f. Surat keterangan tempat tinggal untuk orang asing yang memiliki izin tinggal terbatas paling lambat 14 (empat belas) hari; g. Surat keterangan kelahiran paling lambat 14 (empat belas) hari; h. Surat keterangan lahir mati paling lambat 14 (empat belas) hari; i. Surat keterangan kematian paling lambat 3 (tiga) hari; j. Surat keterangan pembatalan perkawinan paling lambat 7 (tujuh) hari; k. Surat keterangan pembatalan perceraian paling lambat 7 (tujuh) hari; sejak tanggal dipenuhinya semua persyaratan. Bagian Ketiga Pengelolaan Data dan Informasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil Pasal 86 (1) Pengelolaan informasi administrasi kependudukan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) ; (2) SIAK sebagaimana dimaksud ayat (1) bertujuan : a. Meningkatkan kualitas pelayanan Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. b. Menyediakan data dan informasi mengenai hasil pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil yang akurat, lengkap, mutakhir dan mudah diakses. c. Menunjukan pertukaran data secara sistematik melalui sistem pengenal tunggal, dengan tetap menjamin kerahasiaan. Pasal 87 SIAK merupakan satu kesatuan kegiatan terdiri dari unsur : a. Database; b. Perangkat Teknologi Informasi; c. Sumber Daya Manusia; d. Pemegang...

44 d. Pemegang hak akses; e. Lokasi database; f. Pengelolaan database; g. Pemeliharaan database; h. Pengamanan database; i. Pengawasan database; dan j. Cadangan. Pasal 88 (1) Database kependudukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 huruf a merupakan kumpulan berbagai jenis data kependudukan yang sistematis, terstruktur dan tersimpan yang berhubungan satu sama lain dengan menggunakan perangkat lunak, perangkat keras, dan jaringan komunikasi data. (2) Database sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada pada Dinas. Pasal 89 (1) Petugas yang diberikan hak akses pada Dinas diberi hak untuk membaca, memasukan, mengubah, meralat, menyimpan dan menghapus serta mencetak, mengkopi data dan dokumen kependudukan. (2) Petugas sebagaimana tersebut pada ayat (1) ditetapkan menurut peraturan perundang-undangan. Pasal 90 Perangkat teknologi informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 huruf b diperlukan untuk mengakomodasi penyelenggaraan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan di Daerah secara tersambung (online). Pasal 91 (1) Sumber Daya Manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 huruf c adalah pranata komputer ; (2) Dalam hal pranata komputer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum tersedia, dapat menggunakan Sumber Daya Manusia yang mempunyai kemampuan di bidang komputer. Pasal...

45 Pasal 92 Pemegang hak akses sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 huruf d adalah petugas yang diberi hak akses sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (1). Pasal 93 Lokasi database sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 huruf e berada di Dinas. Pasal 94 Pengelolaan database sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 huruf f meliputi kegiatan : a. Perekaman data pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil ke dalam database kependudukan; b. Pengolahan data pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil sebagaimana dimaksud pada huruf a; c. Penyajian data sebagaimana dimaksud pada huruf b sebagai informasi data kependudukan; dan d. Pendistribusian data sebagaimana dimaksud pada huruf c untuk kepentingan perumusan kebijakan di bidang pemerintahan dan pembangunan. Pasal 95 (1) Pemeliharaan, pengamanan dan pengawasan database kependudukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 huruf g, huruf h, huruf i dilakukan oleh Dinas ; (2) Pemeliharaan, pengamanan dan pengawasan database kependudukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi data dalam database, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi, data center dan data cadangan. Pasal 96 Segala biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan penyelenggaraan SIAK dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan sumber pendapatan lain yang sah dan tidak mengikat. BAB...

46 BAB VIII KEADAAN DARURAT DAN LUAR BIASA Pasal 97 (1) Dalam hal terjadi keadaan yang luar biasa, sehingga Kota atau sebagian Kota dinyatakan dalam keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer atau keadaan darurat sipil, maka pejabat sipil yang ditunjuk diberi kewenangan membuat surat keterangan tentang Peristiwa Penting dan Peristiwa Kependudukan ; (2) Surat keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sebagai dasar penerbitan dokumen kependudukan ; (3) Dalam hal keadaan Kota sudah dinyatakan pulih, Dinas secara aktif memberikan pelayanan kepada penduduk untuk melakukan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil. Pasal 98 (1) Dalam hal terjadi keadaan yang luar biasa, sebagai akibat dari bencana alam, Dinas wajib melakukan pendataan penduduk bagi pengungsi dan korban bencana alam. (2) Dinas menerbitkan surat keterangan pengganti tanda identitas dan surat keterangan pengganti identitas dan surat keterangan Pencatatan sipil berdasarkan hasil pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Surat keterangan pengganti tanda identitas atau surat keterangan pencatatan sipil digunakan sebagai tanda bukti diri dan bahan pertimbangan untuk penerbitan dokumen kependudukan. BAB IX SANKSI ADMINISTRASI Pasal 99 (1) Setiap penduduk dikenai sanksi administratif berupa denda apabila melampaui batas waktu pelaporan Peristiwa Kependudukan dalam hal : a. Pindah...

47 a. Pindah datang bagi Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas atau Orang Asing yang memiliki Izin tinggal tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (3). b. Pindah datang ke luar negeri bagi Penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3). c. Pindah datang dari Luar Negeri bagi penduduk Warga Negara Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2). d. Pindah datang dari luar negeri bagi Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (3). e. Perubahan status Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas menjadi Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1). f. Pindah ke Luar negeri bagi orang asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas atau Orang Asing yang memiliki Izin tinggal tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2). g. Perubahan susunan keluarga dalam KK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1). h. Perpanjangan KTP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1). (2) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap penduduk Warga Negara Indonesia ditetapkan sebesar Rp ,- (lima puluh ribu rupiah) dan penduduk Orang Asing sebesar Rp ,- (tujuh puluh lima ribu rupiah). Pasal 100 (1) Setiap penduduk dikenai sanksi administratif berupa denda apabila melampaui batas waktu pelaporan peristiwa penting dalam hal : a. Kelahiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1), Pasal 53 ayat (4), dan Pasal 55 ayat (1). b. Perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1), dan Pasal 59 ayat (1). c. Pembatalan Perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1). d. Perceraian...

48 d. Perceraian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (1) atau Pasal 62 ayat (1). e. Pembatalan Perceraian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1). f. Kematian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (1) dan Pasal 65 ayat (1). g. Pengangkatan Anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2) atau pasal 67 ayat (4). h. Pengakuan anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1). i. Pengesahan Anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1). j. Perubahan nama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (2). k. Perubahan status kewarganegaraan di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1). l. Peristiwa penting lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73. (2) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhadap penduduk Warga Negara Indonesia ditetapkan sebesar Rp ,- (lima puluh ribu rupiah) dan penduduk Orang Asing sebesar Rp ,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah). Pasal 101 (1) Setiap penduduk yang saat bepergian tidak membawa KTP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (6) dikenakan denda administratif sebesar Rp ,- (lima puluh ribu rupiah) ; (2) Setiap Orang Asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas saat bepergian tidak membawa Surat Keterangan Tempat Tinggal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (4) dikenai denda administratif paling banyak Rp ,- (seratus ribu rupiah). Pasal...

49 Pasal 102 Dalam hal pejabat pada Dinas melakukan tindakan atau sengaja melakukan tindakan yang memperlambat pengurusan Dokumen Kependudukan dalam batas waktu yang ditentukan dalam Peraturan Daerah ini dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp ,- (lima puluh ribu rupiah). BAB X KETENTUAN PIDANA Pasal 103 Setiap Penduduk yang dengan sengaja memalsukan Surat dan atau Dokumen kepada Dinas dalam melaporkan peristiwa kependudukan dan peristiwa penting dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan atau denda paling banyak Rp ,- (lima puluh juta rupiah). Pasal 104 Setiap penduduk yang dengan sengaja mendaftarkan diri sebagai kepala keluarga atau anggota keluarga lebih dari satu KK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (5) dan atau untuk memiliki KTP lebih dari satu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp ,- (dua puluh lima juta rupiah). BAB XI PENYIDIKAN Pasal 105 (1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di Lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana ; (2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini, dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya berdasarkan Peraturan Daerah Kota Cilegon tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang berlaku ; (3) Penyidik...

50 (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikan pada penuntut umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. BAB XII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 106 (1) Penerbitan dokumen kependudukan bagi petugas rahasia khusus dilaksanakan sesuai prosedur berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku ; (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara penyelenggaraan administrasi kependudukan diatur dengan Peraturan Walikota. BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 107 (1) Semua dokumen kependudukan yang telah diterbitkan atau yang telah ada pada saat Peraturan daerah ini diundangkan dinyatakan tetap berlaku ; (2) Untuk KK dan KTP dinyatakan masih tetap berlaku sampai dengan batas waktu berlakunya atau diterbitkannya KK dan KTP yang sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini ; (3) Semua ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara penyelenggaraan administrasi kependudukan yang telah ada wajib disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini paling lambat 1 (satu) tahun sejak tanggal ditetapkannya Peraturan Daerah ini. Pasal 108 Dalam rangka sosialisasi kepada masyarakat dan mempersiapkan sarana dan prasarana serta personalia, maka pelaksanaan Peraturan Daerah ini berlaku paling lambat 1 Januari BAB...

51 BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 109 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kota Cilegon Nomor 7 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi. Pasal 110 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Cilegon. Ditetapkan di Cilegon pada tanggal 12 Oktober 2009 WALIKOTA CILEGON, ttd H. Tb. AAT SYAFA AT Diundangkan di Cilegon pada tanggal 12 Oktober 2009 SEKRETARIS DAERAH KOTA CILEGON, H. EDI ARIADI LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN 2009 NOMOR 14

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG. Nomor 07 Tahun 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 07 TAHUN 2010 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG. Nomor 07 Tahun 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 07 TAHUN 2010 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG Nomor 07 Tahun 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 07 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG

LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2008 NOMOR 5 PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 2 TAHUN 2008 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SRAGEN, Menimbang : a. bahwa untuk memberikan perlindungan,

Lebih terperinci

PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN MERANGIN NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL

PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN MERANGIN NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN MERANGIN NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MERANGIN, Menimbang

Lebih terperinci

PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN MERANGIN NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL

PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN MERANGIN NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN MERANGIN NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MERANGIN, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2012

PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2012 PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang : Mengingat

Lebih terperinci

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN MAGELANG

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN MAGELANG BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan

Lebih terperinci

BUPATI DHARMASRAYA PERATURAN DAERAH KABUPATEN DHARMASRAYA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

BUPATI DHARMASRAYA PERATURAN DAERAH KABUPATEN DHARMASRAYA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN BUPATI DHARMASRAYA PERATURAN DAERAH KABUPATEN DHARMASRAYA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI DHARMASRAYA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWOREJO, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 13 TAHUN TENTANG PENYELENGGARAAN KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 13 TAHUN TENTANG PENYELENGGARAAN KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KOTA SERANG NOMOR 13 TAHUN TENTANG PENYELENGGARAAN KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SERANG, Menimbang : a. Bahwa memperhatikan perkembangan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUDUS, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

TENTANG BUPATI PATI,

TENTANG BUPATI PATI, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 14 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI TANGERANG TENTANG TATA CARA DAN PERSAYARATAN PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BUPATI TANGERANG TENTANG TATA CARA DAN PERSAYARATAN PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA DAN PERSAYARATAN PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANGERANG, Menimbang : a. bahwa Penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA KEDIRI

PEMERINTAH KOTA KEDIRI PEMERINTAH KOTA KEDIRI SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR 7 TAHUN 2009 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN RETRIBUSI BIAYA PELAYANAN PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABANAN NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABANAN NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABANAN NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TABANAN, Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 13 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 13 TAHUN 2013

LEMBARAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 13 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 13 TAHUN 2013 LEMBARAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 13 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. b.

Lebih terperinci

BUPATI SINTANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BUPATI SINTANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT BUPATI SINTANG PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINTANG NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SINTANG, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BLORA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PEMERINTAH KABUPATEN BLORA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN Menimbang : PEMERINTAH KABUPATEN BLORA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA, a. bahwa dengan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG

PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PADANG

PEMERINTAH KOTA PADANG PADANG KOTA TERCINTA PEMERINTAH KOTA PADANG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, Menimbang

Lebih terperinci

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019); 3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Repub

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019); 3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Repub PADANG KOTA TERCINTA PEMERINTAH KOTA PADANG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, Menimbang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 177 TAHUN : 2014 PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 177 TAHUN : 2014 PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 177 TAHUN : 2014 PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KOTA CIMAHI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 2 TAHUN 2012 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 2 TAHUN 2012 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 2 TAHUN 2012 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 1 TAHUN 2009

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 1 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARAWANG NOMOR : 1 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang Mengingat B U P A T I K A R A W A N G, : bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KATINGAN NOMOR : 5 TAHUN 2011 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KATINGAN NOMOR : 5 TAHUN 2011 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KATINGAN NOMOR : 5 TAHUN 2011 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KATINGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memberikan perlindungan dan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten Bantul

Lebih terperinci

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TAPANULI

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK

PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN DEMAK NOMOR 5 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN DAN RETRIBUSI PELAYANAN PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA KEDIRI

PEMERINTAH KOTA KEDIRI PEMERINTAH KOTA KEDIRI PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR 4 TAHUN 2012 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK KARTU TANDA PENDUDUK DAN AKTA CATATAN

Lebih terperinci

BUPATI TANA TORAJA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

BUPATI TANA TORAJA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN BUPATI TANA TORAJA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANA TORAJA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANA TORAJA, Menimbang : Mengingat

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LD. 12 2009 R PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GARUT, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 2 TAHUN 2011 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 2 TAHUN 2011 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 2 TAHUN 2011 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLUNGKUNG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberian

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TORAJA UTARA

PEMERINTAH KABUPATEN TORAJA UTARA PEMERINTAH KABUPATEN TORAJA UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TORAJA UTARA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PENGGANTIAN BIAYA CETAK KARTU TANDA PENDUDUK DAN AKTA CATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG SALINAN NOMOR 7/E, 2009 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG

PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG PEMERINTAH KOTA SINGKAWANG PERATURAN DAERAH KOTA SINGKAWANG NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SINGKAWANG, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TASIKMALAYA, Menimbang

Lebih terperinci

WALIKOTA BLITAR PERATURAN WALIKOTA BLITAR NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG

WALIKOTA BLITAR PERATURAN WALIKOTA BLITAR NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG 1 WALIKOTA BLITAR PERATURAN WALIKOTA BLITAR NOMOR 26 TAHUN 2011 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DI KOTA BLITAR WALIKOTA BLITAR, Menimbang : bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN NOMOR 16 TAHUN 2010

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN NOMOR 16 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN NOMOR 16 TAHUN 2010 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN PENYELENGGARAAN SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA PALEMBANG

PERATURAN DAERAH KOTA PALEMBANG 1 PERATURAN DAERAH KOTA PALEMBANG NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALEMBANG, Menimbang : a. bahwa administrasi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HULU SUNGAI TENGAH,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 05 TAHUN 2010

LEMBARAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 05 TAHUN 2010 LEMBARAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 05 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR 05 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH

BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOYOLALI, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI HULU SUNGAI TENGAH

BUPATI HULU SUNGAI TENGAH BUPATI HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DI

Lebih terperinci

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASER NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL DI KABUPATEN PASER

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASER NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL DI KABUPATEN PASER Menimbang Mengingat : : PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASER NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL DI KABUPATEN PASER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL

BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BONDOWOSO, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MUSI RAWAS

PEMERINTAH KABUPATEN MUSI RAWAS PEMERINTAH KABUPATEN MUSI RAWAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUSI RAWAS NOMOR 19 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUSI RAWAS, Menimbang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 3 TAHUN 2009 SERI : E NOMOR : 1

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 3 TAHUN 2009 SERI : E NOMOR : 1 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 3 TAHUN 2009 SERI : E NOMOR : 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA

PEMERINTAH KOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2010 NOMOR 10 PEMERINTAH KOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL PERATURAN PRESIDEN NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MALINAU

PEMERINTAH KABUPATEN MALINAU PEMERINTAH KABUPATEN MALINAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALINAU NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DI KABUPATEN MALINAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGANYAR, Menimbang : a. bahwa untuk memberikan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN NOMOR : 5 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN ASAHAN NOMOR : 5 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN ASAHAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN TRENGGALEK

PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN TRENGGALEK PEMERINTAH KABUPATEN TRENGGALEK PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN TRENGGALEK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TRENGGALEK, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPULAUAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH DAERAH NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PEMERINTAH DAERAH NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN PEMERINTAH DAERAH NGAWI PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGAWI NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGAWI, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2011 S A L I N A N

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2011 S A L I N A N 24 PEBRUARI 2011 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG TAHUN 2011 S A L I N A N SERI E NOMOR 10 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JOMBANG NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN

Lebih terperinci

. PEMERINTAH KABUPATEN BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

. PEMERINTAH KABUPATEN BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN . PEMERINTAH KABUPATEN BOYOLALI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOYOLALI NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOYOLALI, Menimbang : a.

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NO. 05 TH PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 05 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NO. 05 TH PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 05 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NO. 05 TH. 2007 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 05 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DEPOK, Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK KARTU TANDA PENDUDUK DAN AKTA CATATAN SIPIL DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI GUNUNGKIDUL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GUNUNGKIDUL,

BUPATI GUNUNGKIDUL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GUNUNGKIDUL, BUPATI GUNUNGKIDUL PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 26 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PONTIANAK,

PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PONTIANAK, PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PONTIANAK, Menimbang : a. bahwa untuk memberikan perlindungan, pengakuan,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA, Menimbang Mengingat : a. bahwa dengan semakin

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN WONOGIRI

PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN WONOGIRI BUPATI WONOGIRI PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN WONOGIRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI WONOGIRI, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 7 TAHUN 2010 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN KABUPATEN LANDAK

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 7 TAHUN 2010 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN KABUPATEN LANDAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 7 TAHUN 2010 T E N T A N G PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN KABUPATEN LANDAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANDAK, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

BUPATI BUTON PERATURAN DAERAH KABUPATEN BUTON NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BUTON PERATURAN DAERAH KABUPATEN BUTON NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN BUPATI BUTON PERATURAN DAERAH KABUPATEN BUTON NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BUTON, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 07 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 07 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG 1 LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2009 NOMOR : 07 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 07 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARA ENIM NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARA ENIM NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARA ENIM NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUARA ENIM, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan kependudukan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN 1 PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BREBES LEMBARAN DAERAH NO. 8 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN BREBES LEMBARAN DAERAH NO. 8 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN BREBES LEMBARAN DAERAH NO. 8 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN BREBES DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOM0R : 9 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOGOR NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOGOR,

Lebih terperinci

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR BUPATI GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI GRESIK NOMOR 32 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENDAFTARAN DAN PENERBITAN DOKUMEN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BUPATI KEPULAUAN MERANTI

BUPATI KEPULAUAN MERANTI BUPATI KEPULAUAN MERANTI PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI NOMOR 07 TAHUN 2012 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPULAUAN MERANTI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GRESIK Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI TANAH DATAR PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG

BUPATI TANAH DATAR PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG SALINAN BUPATI TANAH DATAR PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 2 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2005 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2005 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2005 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk memberikan

Lebih terperinci

WALIKOTA KEDIRI PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 56 TAHUN 2009

WALIKOTA KEDIRI PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 56 TAHUN 2009 WALIKOTA KEDIRI PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 56 TAHUN 2009 T E N T A N G PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN RETRIBUSI

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN SALINAN PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO PERATURAN DAERAH KABUPATEN WONOSOBO NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI WONOSOBO, Menimbang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA BATU

PEMERINTAH KOTA BATU PEMERINTAH KOTA BATU PERATURAN DAERAH KOTA BATU NOMOR 41TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BATU, Menimbang : a. bahwa dalam rangka tertib

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARO NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARO,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARO NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARO, PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARO NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARO, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 3 2015 SERI : E PERATURAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR 03 TAHUN 20152014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 06 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 2 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 2 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 2 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN KABUPATEN SUMEDANG SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2012 NOMOR : 08

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2012 NOMOR : 08 LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2012 NOMOR : 08 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR: 08 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PEMERINTAH KOTA SURABAYA SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI KABUPATEN BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG Nomor : 830 Tahun : 2012 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2012

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2012 LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2012 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 05 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS

PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SAMBAS, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA BLITAR

PEMERINTAH KOTA BLITAR PEMERINTAH KOTA BLITAR PERATURAN DAERAH KOTA BLITAR NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BLITAR, Menimbang : a. bahwa Penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

BUPATI LANNY JAYA PROVINSI PAPUA

BUPATI LANNY JAYA PROVINSI PAPUA BUPATI LANNY JAYA PROVINSI PAPUA PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANNY JAYA NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANNY JAYA, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO

PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO PERATURAN DAERAH KOTA PROBOLINGGO NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PROBOLINGGO, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG TIMUR, Menimbang : a. b. c. bahwa dalam

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENDAFTARAN PENDUDUK DAN PENCATATAN SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci