BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Kajian Teori

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Kajian Teori"

Transkripsi

1 BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. Permainan Kippers A. Kajian Teori a. Pengertian Permainan Kippers Menurut Saputra (1999) yang dikutip oleh Dadan Heryana dan Giri Verianti (2010:3) bahwa, Nama permainan kippers berasal dari bahasa Belanda, yaitu kiepers. Permainan ini dimainkan oleh dua regu, yang masing-masing regu terdiri atas 12 orang. Regu pemukul harus mengumpulkan angka atau nilai sebanyak mungkin. Sementara itu regu penjaga harus berusaha supaya lawan tidak memperoleh angka atau nilai. Seorang pemain dapat memperoleh nilai jika dapat memukul dengan baik. Selanjutnya lari menuju tiang hinggap dan kembali ke daerah regu pemukul. Menurut Eko Suwarso (2010:70), kippers termasuk cabang olahraga permainan dengan menggunakan bola kecil. Permainan kippers hampir sama dengan permainan kasti, baik teknik dasarnya maupun cara bermainnya. Perbedaannya, dalam permainan bola kasti bola di lambung oleh lawan, sedangkan dalam permainan kippers bola di lambung sendiri (melambung sendiri dan memukul sendiri). Perbedaan permainan kippers yang lain adalah, jika pukulan tidak kena tidak lari, tetapi berlindung di ruang bebas, sambil menunggu giliran memukul kembali dan dianggap mati satu. Adapun dalam permainan kasti, bola di pukul kena atau tidak, pemukul tetap lari menuju tiang. b. Perlengkapan Permainan Kippers Menurut Dadan Heryana dan Giri Verianti (2010:3-4) perlengkapan dalam permainan kippers adalah sebagai berikut. 6

2 7 1) Lapangan Lapangan permainan kippers berukuran 65 x 30 meter. Ruang pukul 5 x 15 meter. Ruang regu pemukul 5 x 15 meter. 2) Alat Gambar 1. Lapangan permainan kippers (Dadan Heryana dan Giri Verianti 2010: 03) a) Pemukul Terbuat dari kayu dengan panjang 60 cm. Garis tengah pemukul 3,5 cm. b) Bola Bola terbuat dari karet elastis, berat bola 80 gram dan garis tengah 7 cm. c) Tiang hinggap Dua buah tiang hinggap yang terbuat dari besi atau bambu. Panjang tiang 1,5 m dengan garis tengah 2 cm. Bagian atas tiang berbentuk melingkar. d) Tiang bendera Ukurannya sama dengan tiang hinggap, berjumlah 2 buah dan di bagian atas tiang diberi bendera dengan warna terang agar mudah dilihat. e) Tiang kecil Tiang kecil diletakkan disudut-sudut lapangan, ujung tiang diberi bendera.

3 c. Teknik-Teknik Dasar Permainan Kippers Untuk dapat memainkan permainan kippers, harus menguasai beberapa teknik dasar. Teknik dasar permainan kippers adalah sebagai berikut: 1) Menangkap bola Cara menangkap bola dalam permainan kippers adalah sebagai berikut: a. Buka kaki agak lebar, lutut agak ditekuk. b. Kedua tangan di depan dada dengan jari-jari tangan terbuka. c. Perhatikan datangnya bola, bola ditangkap dengan rileks dan searah dengan arah larinya bola (Dadan Heryana dan Giri Verianti 2010: 4). 2) Melempar bola Mengoper bola harus menggunakkan teknik yang benar. Tujuannya adalah supaya bola mudah untuk ditangkap oleh teman seregu. Dengan demikian kemengan regu dapat diraih. Menurut Dadan Heryana dan Giri Verianti (2010: 4-5), beberapa cara melempar bola dalam permainan kippers, adalah sebagai berikut: a) Lemparan ayunan atas Lemparan ayunan atas, sikap kaki kuda-kuda. Kaki kanan dan tangan kanan memegang bola direntangkan ke kanan belakang agak ke atas. Awalan melempar, condongkan badan ke belakang, tangan kanan ditarik ke belakang dan tangan kiri mengambil sikap keseimbangan. Ayunkan tangan kanan kuat ke depan dengan kaki kanan melangkah ke depan (sebagai gerak ikutan). Pada akhir pelepasan bola pergelangan tangan menghadap ke bawah. Kegunaan lemparan ini akan mencapai jarak sedang. b) Lemparan ayunan bawah Sikap kuda-kuda kaki kanan di belakang. Badan condong ke belakang, tekuklah kaki lebih dalam. Julurkan tangan kanan memegang bola dengan lurus, dan tegak lurus dengan badan. Ayunkan lengan tangan kanan sedemikian rupa hingga perlepasan bola itu kira-kira membentuk sudut 45o dengan garis horizontal. Guna lemparan ini untuk mencapai jarak jauh 3) Memukul bola Menurut Dadan Heryana dan Giri Verianti (2010: 5-6), teknik memukul sesuai dengan tujuan arah bola dapat dibedakan yaitu : 8

4 a. Pukulan melambung jauh (1) Peganglah pemukul pada bagian pangkalnya. (2) Setelah bola dilambungkan, rentangkan salah satu kaki sesuai dengan tangan yang digunakan unutk memukul. (3) Berat badan pada kaki yang direntangkan, badan condong ke belakang, tekukan lutut yang direntangkan, tetapi tetap dalam keseimbangan. (4) Tangan pemukul dijulurkan lurus, tegak lurus dengan badan dan membentuk sudut 45o dengan garis datar. (5) Usahakan bola terkena tepat pada ujung pemukul, hingga lengan ayunan pukulan sepanjang mungkin dan lepasnya bola membentuk sudut 45o. (6) Perkenaan bola lebih kurang setinggi bahu. (7) Arah bola tergantung arah pemukul saat perkenaan dengan bola. b. Pukulan datar ke depan (1) Sikap seperti pada pukulan melambung jauh, hanya badan tetap tegap dan kaki tidak di tekuk. (2) Perkenaan kayu pemukul dan bola saling tegak lurus dan kayu pemukul dalam gerakan horizontal. (3) Arah bola akan ke kanan atau ke kiri tergantung kepada arah hadap kayu pemukul saat perkenaan dengan bola. c. Pukulan menyamping ke kiri (1) Sikap seperti pada pukulan datar ke depan, tetapi kaki kanan diubah ke depan agak ke kanan. (2) Badan diputar searah dengan arah pukulan. (3) Ayunan lengan sedemikian rupa hingga perkenaan kayu pemukul dan bola sedikit dari atas menuju ke bawah. d. Pukulan menyamping ke kanan (1) Ayunan dari belakang kepala menuju ke depan. (2) Sikap seperti pada pukulan datar ke depan, hanya lengan ditarik ke atas sedikit ke belakang. (3) Arah pukulan dari atas menuju ke bawah dengan sudut pukulan sesuai dengan arah yang di kehendaki. 9 d. Cara Bermain Kippers Menurut Dadan Heryana dan Giri Verianti (2010: 7), cara bermain permainan kippers adalah sebagai berikut.

5 1) Peserta didik dibagi dua regu, yaitu masing-masing regu terdiri atas 12 orang dengan nomor dada 1 sampai 12. 2) Sebelum bermain kapten regu melakukan undian. 3) Setiap pemain berhak memukul satu kali, kecuali pemain pembebas (pemain terakhir), ia berhak memukul tiga kali. 4) Pemukul dengan pukulan yang benar dan dapat kembali dengan selamat, bila ada teman lainnya memukul dengan benar maka mendapat nilai satu. 5) Lemparan harus mengenai bagian bahu ke bawah. Penjaga tidak boleh berlari dengan membawa bola. Jadi, harus mengoper dengan kawan supaya dapat mendekati pelari. Lemparan yang mengenai pelari dapat menyebabkan pergantian. Operan bola menggunakan satu tangan dan bola tangkap harus dilakukan dengan dua tangan. 6) Waktu permainan berupa inning (masing-masing regu mempunyai kesempatan sama untuk menjadi regu jaga dan regu pemukul). 10 e. Peraturan Permainan Kippers Menurut Dadan Heryana dan Giri Verianti (2010: 7-9), peraturan permainan kippers adalah sebagai berikut: 1) Waktu permainan berupa inning (masing-masing regu mempunyai kesempatan sama untuk menjadi regu jaga dan regu pemukul). 2) Satu regu terdiri atas 12 pemain mengenakan nomor dada dari 1 sampai 12. Dasar nomor dada untuk tiap regu harus berbeda. 3) Kewajiban regu pemukul: memukul bola, lari ke tiang hinggap, dan kembali ke ruang pemukul. 4) Kewajiban regu penjaga: a) Menangkap bola yang dipukul. b) Mematikan pelari dengan melempar bola. c) Membakar ruang regu pemukul bila tidak ada pemukul. 5) Pemukul harus melambungkan bola sendiri. 6) Pukulan dinyatakan baik, bila bola jatuh didaerah lapangan (30 meter) dan boleh berlari menuju tiang hinggap 7) Ketentuan pelari sebagai berikut: a) Bila bola dikembalikan ke ruang regu pemukul atau ruang pukul,baik melambung atau menyusur tanah, melewati garis batas ruang regu pemukul dari lapangan permainan, pelari harus berhenti di tempat.

6 b) Bila bola hilang pelari harus berhenti, dan boleh berlari lagi bila bola sudah ditemukan dan dimasukan ke dalam lapangan permainan. c) Seorang pemain yang tidak terkena lemparan boleh langsung masuk ke ruang pemukul, tanpa menuju tiang hinggap lebih dulu. d) Seorang pemukul yag sah pukulannya, boleh tetap tinggal di ruang pukul, kalau dipandangnya membahayakan. e) Seorang pelari yang menurut perhitungannya dalam situasi membahayakan, boleh kembali ke tiang hinggap atau ke ruang pukul. f) Pemukul yang salah atau meleset pukulannya tidak boleh berlari, tetapi harus menunggu atas pukulan yang sah dari teman berikutnya. g) Bila regu pemukul tinggal seorang lagi maka pemukul ini diberi kesempatan untuk memukul 3 kali pukulan yang sah. 8) Lemparan untuk mematikan lawan Lemparan harus mengenai bagian bahu ke bawah. Penjaga tidak boleh berlari dengan membawa bola. Jadi, harus mengoper dengan kawan supaya dapat mendekati pelari. Lemparan yang mengenai pelari dapat menyebabkan pergantian. Operan bola harus dilakukan dengan satu tangan. 9) Bola tangkap dan cara pergantian Bola tangkap harus dilakukan dengan tangan satu. Pada waktu bola tangkap yang ketiga si penangkap harus melemparkan bola tegak lurus ke atas, dengan membelakangi ruang pukul dan regu jaga secepatnya menuju ke ruang regu pemukul atau ke tiang hinggap. Hal ini karena pada peristiwa ini dapat dikenai lemparan. Bola yang dilemparkan oleh penjaga, dapat ditangkap oleh bekas regu pemukul untuk mematikan lawan. 10) Penilaian a) Bola tangkap memperoleh nilai 1 (satu). b) Kembali ke ruang partai pemukul, dengan pukulan yang sah atas pukulan sendiri memperoleh nilai 2 (dua). c) Kembali atas pukulan kawan, dan pelari itu tidak melakukan kesalahan pukul, mendapat nilai 1 (satu). 2. Belajar dan Pembelajaran a. Pengertian Belajar Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Belajar dan mengajar merupakan 11

7 12 dua konsep yang tidak dipisahkan satu sama lain dan bahkan terjadi kaitan dan interaksi saling mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain. Inilah makna belajar mengajar dan mengajar sebagai suatu proses. Interaksi guru dengan peserta didik sebagai makna utama proses pengajaran memegang peranan penting untuk mencapai tujuan pengajaran yang efektif. Karena kedudukan peserta didik sebagai subjek sekaligus objek dalam pengajaran, maka inti pengajaran adalah kegiatan belajar peserta didik untuk mencapai tujuan pengajaran. Belajar, seperti ditulis Toho Cholik M. & Rusli Lutan (2001: 32) adalah Suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat dari latihan atau pengalaman, proses yang menghasilkan adanya modifikasi tingkah laku sebagai suatu akibat latihan dan penyesuaian pada lingkungan yang baru. Perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman, bukan karena pengaruh faktor keturunan atau kematangan. Perubahan perilaku yang diharapkan dari belajar bersifat melekat secara permanen. Proses belajar itu sendiri tidak dapat diamati secara langsung. Namun demikian keterlaksanaannya hanya dapat ditafsirkan berdasarkan perilaku nyata yang diamati. Perubahan-perubahan perilaku akan terjadi melalui proses mengajar yang disengaja, yang kebetulan, tidak disengaja, bahkan mungkin karena seseorang melakukan kesalahan-kesalahan belajar. Menurut Sudjana (1996), belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek yang ada pada individu yang belajar. (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2012:2) Sedangkan Menurut Hamalik (2003), menyajikan dua definisi yang umum tentang belajar, yaitu :

8 13 1) Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing); 2) Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2012:2) Berdasarkan batasan belajar yang dikemukakan para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, belajar merupakan suatu proses yang terjadi di dalam diri seseorang yang menimbulkan perubahan-perubahan yang bersifat lebih baik daripada sebelumnya. b. Ciri-ciri Perilaku Belajar Menurut Muhibbin (2003), ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang penting adalah : 1) Perubahan intensional dalam arti bukan pengalaman atau praktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari, atau dengan kata lain bukan kebetulan. 2) Perubahan positif dan aktif dalam arti baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan. Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan, tetapi karena usaha peserta didik itu sendiri. 3) Perubahan efektif dan fungsional dalam arti perubahan tersebut membawa pengaruh, makna, dan manfaat tertentu bagi peserta didik. Perubahan prose belajar fungsional dalam arti bahwa ia relatif menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat diproduksi dan dimanfaatkan. (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2012:6) Sedangkan menurut Aunurrahman (2012: 35) menyatakan dalam kegiatan belajar terdapat ciri-ciri didalamya. Beberapa ciri umum kegiatan belajar sebagai berikut: (1) Belajar menunjukkan suatu aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja; (2) Belajar merupakan

9 14 interaksi individu dengan lingkungannya; (3) Hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku. Berdasarkan pendapat tersebut menunjukkan bahwa, seseorang dikatakan belajar apabila kegiatan belajar tersebut disadari atau disengaja, berinteraksi dengan lingkungannya dan terjadi perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam dirinya. Perubahan dari hasil belajar inilah yang merupakan tujuan dari kegiatan belajar. c. Pengertian Pembelajaran Menurut Suherman (1992), Pembelajaran merupakan suatu proses yang terdiri dari kombinasi dua aspek, yaitu : belajar tertuju kepada apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, mengajar berorientasi pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pemberi pelajaran. Kedua aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi antara guru dengan peserta didik, serta antara peserta didik dengan peserta didik disaat pembelajaran sedang berlangsung. Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi antar peserta didik dengan pendidik serta antar peserta didik dalam rangka perubahan sikap. (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2012:11) 4) Dalam proses pembelajaran, baik guru maupun peserta didik bersama-sama menjadi pelaku terlaksananya tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini akan mencapai hasil yang maksimal apabila pembelajaran berjalan secara efektif. Pembelajaran adalah inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Sedangkan menurut Wragg (1997), pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang memudahkan peserta didik untuk mempelajari sesuatu yang bermanfaat seperti fakta, ketrampilan, nilai, konsep dan bagaimana hidup serasi dengan sesama, atau suatu hasil belajar yang diinginkan. (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2012:12)

10 15 Dari uraian di atas terlihat bahwa proses pembelajaran bukan sekedar transfer ilmu dari guru kepada peserta didik, melainkan suatu proses kegiatan, yaitu terjadi interaksi antara guru dengan peserta didik serta peserta didik dengan peserta didik. Pembelajaran hendaknya tidak menganut peserta didik sebagai objek dari belajar namun upaya membelajarkan peserta didik. d. Mekanisme Pembelajaran Menurut Dini Rosdiani (2013: 94) menjelaskan mekanisme pembelajaran sebagai berikut : 1) Tahap Persiapan Persiapan proses pembelajaran menyangkut penyusunan desain (rancangan) kegiatan belajar-mengajar, tujuan, metode, media, sumber, evaluasi, dan kegiatan belajar peserta didik. 2) Tahap Pelaksanaan Keberhasilan proses pembelajaran banyak bertumpu pada sikap dan cara belajar peserta didik, baik perorangan maupun kelompok. Memelihara suasana pembelajaran yang dinamis dan yang menyenangkan merupakan kondisi esensial yang perlu tercipta dalam setiap proses pembelajaran. 3) Tahap Evaluasi Merupakan laporan (akhir) dari proses pembelajaran, khususnya laporan tentang kemajuan dan prestasi belajar peserta didik. Evaluasi yang baik adalah menggunakan alat ukur yang tepat (valid), dapat dipercaya (reliable) dan memadai (adequate). Pengukuran tingkat keberhasilan belajar peserta didik dapat dilakukan dengan menggunankan tes tertulis (written test), tes lisan (oral test), dan ataupun tes praktik (performance). 4) Tahap Tindak lanjut Dilakukan dengan dua cara yaitu : 1) Promosi adalah penetapan untuk melangkah dan peningkatan lebuh lanjut atas keberhasilan peserta didik. Bentuk promosi bisa berupa melanjutkan bahasan atau keputusan tentang kenaikan kelas. 2) Rehabilitas adalah perbaikan atas kekurangan yang telah terjadi dalam proses pembelajaran. Bentuknya berupa remedial (remedial teaching).

11 e. Komponen-komponen Pembelajaran Kegiatan belajar mengajar akan dapat berjalan dengan lancar dan tujuan dapat tercapai tidak terlepas dari beberapa komponen yang terlibat di dalamnya. Menurut Sugandi (2004) yang dikutip oleh Dr. Hamdani, M.A (2011:48), Komponen-komponen pembelajaran sebagai berikut : a. Tujuan, secara eksplisitdiupayakan melalui kegiatan pembelajaran instructional effect, biasanya berupa pengetahuan dan ketrampilan atau sikap yang dirumuskan secara ekslisit dalam tujuan pembelajaran. b. Subjek belajar, dalam sistem pembelajaran merupakan komponen utama karena berperan sebagai subjek sekaligus objek. c. Materi pelajaran, merupakan komponen utama dalam proses pembelajaran karena materi pelajaran akan memberi warna dan bentuk kegiatan pembelajaran. d. Strategi pembelajaran, merupakan pola umum mewujudkan proses pembelajaran yang diyakini efektivitasnya untuk mencapai tujuan pembelajaran. e. Media pembelajaran adalah alat atau wahana yang dignakan guru dalam proses pembelajaran untuk membantu penyampaian pesan pembelajaran. Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan peranan strategi pembelajaran. f. Penunjang, dalam sistem pembelajaran adalah fasilitas belajar, sumber belajar, alat pelajaran, bahan pelajaran, dan semacamnya. Penunjang berfungsi memperlancar dan mempermudah terjadinya proses pembelajaran. Sedangkan menurut Dini Rosdiani (2013:95) komponen pembelajaran sebagai berikut : a. Raw Input, yaitu kondisi dan keberadaan peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran, meliputi kapasistas dasar peserta didik, bakat khusus, motivasi, minat, kematangan, kesiapan, sikap dan kebiasaan. 16

12 b. Instrumental Input, yaitu sarana dan prasarana yang terkait dengan proses pembelajaran, meliputi : kualitas kelengkapan dan penggunanya, guru, metode, dan teknik, media, bahan dan sumber belajar, program. c. Environmental Input, merujuk pada situasi dan keberadaan lingkungan, baik fisik maupun budaya, dimana kegiatan pembelajaran (sekolah) dilaksanakan. d. Expected Output,merujuk pada rumusan normatif/ yang harus menjadi milik peserta didik setelah melaksanakan proses pembelajaran, yang menggambarkan aspek kognitif, afektif, atupun psikomotor. 17 f. Pengertian Hasil Belajar Menurut Abdurrahman (1999), Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2012:14). Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seeorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative menetap. Sedangkan menurut Sudjana (2004), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2012:15) Setelah melalui proses belajar maka peserta didik diharapkan dapat mencapai tujuan belajar yaitu kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah setelah menjalani proses kegiatan belajarnya. Ada lima macam hasil belajar menurut Gagne, yaitu : 1) Ketrampilan intelektual, atau pengetahuan procedural yang mencangkup belajar konsep, prinsip dan pemecahan masalah yang diperoleh melalui penyajian materi di sekolah. 2) Strategi kognitif, yaitu kemampuan untuk memecahkan masalahmasalah baru dengan jalan mengaturproses internal masing-masing individu dalam memperhatikan, belajar, mengingat, dan berfikir. 3) Informasi verbal, yaitu kemampuan untuk mendiskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasi yang relevan. 4) Ketrampilan motorik, yaitu kemampuan untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot.

13 18 5) Sikap, yaitu suatu kemampuan internal yang dipengaruhi tingkah laku seseorang yang didasari oleh emosi, kepercayaan-kepercayaan serta faktor intelektual. ( Aunurrahman, 2012 : 47) Berdasarkan berbagai pengertian tersebut di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh oleh peserta didik setelah terjadinya proses pembelajaran yang ditujukan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setiap selesai memberikan suatu materi. 3. Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar a. Hakikat Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Pendidikan jasmani merupakan wahana pendidikan, yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mempelajari hal-hal yang penting. Oleh karena itu, pendidikan jasmani tidak kalah penting dibandingkan dengan pelajaran lain. Pendidikan jasmani merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan umum. Tujuannya adalah untuk membantu anak agar tumbuh dan berkembang secara wajar dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Pencapaian tujuan berpangkal pada perencanaan pengalaman gerak yang sesuai dengan karakteristik anak. Secara umum pendidikan jasmani di sekolah memberikan banyak manfaat kepada anak. Dini Rosdiani (2013:37)sebagai berikut: 1) Memenuhi kebutuhan anak. 2) Mengenalkan anak pada lingkungan dan potensi dirinya. 3) Menanamkan dasar-dasar keterampilan yang berguna. 4) Menyalurkan energi yang berlebihan. 5) Merupakan proses pendidikan secara serempak baik fisik,mental maupun emosional. Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta

14 19 emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk tetal, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya. Pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang luas, titik perhatiannya yaitu peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi,pendidikan jasmani berkaitan dengan hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh pekembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikan unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia guna membentuk manusia seutuhnya. b. Karakteristik Anak SD Pada usia Sekolah Dasar (6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan kognitif (seperti membaca, menulis, dan menghitung). Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti peraturan atau tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak sudah dapat memahami alas an yang mendasari suatu peraturan. Di samping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan bentuk perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk. Misalnya, dia memandang atau menilai bahwa perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada Orang tua merupakan suatu yang salah atau buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil, dan sikap hormat kepada Orang tua dan Guru merupakan suatu yang benar atau dengan baik. Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Pada masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk

15 belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik ini, seperti berenang, bermain bola, dan atletik. Menurut Chasiyah dan Chadidjah (2009:42) Sesuai dengan perkembangan fisik (motorik) maka di kelas-kelas permulaan sangat tepat diajarkan : 1) Dasar-dasar keterampilan untuk menulis dan menggambar. 2) Keterampilan dalam mempergunakan alat-alat olahraga (menerima, menendang, dan memukul). 3) Gerakan-gerakan untuk meloncat, berlari, berenang, dan sebagainya. 4) Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan, ketertiban, dan kedisiplinan. Menurut Achmad MK (2009 : 2) karakteristik anak usia sekolah dasar secara umum sebagai berikut : 1) Secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik akan dunia sekitar yang mengelilingi mereka sendiri. 2) Senang bermain dan lebih suka bergembira/riang 3) Suka mengatur dirinya untuk menangani berbagai hal, mengeksplorasi suatu situasi dan mencobakan usaha-usaha yang baru. 4) Biasanya bergetar perasaannya dan terdorong untung berprestasi sebagaimana mereka tidak suka mengalami ketidak puasan dan menolak kegagalan. 5) Belajar secara efektif ketika mereka merasa puas dengan situasi yang terjadi. (http://pgsdic2009.blogspot.com/2009/11/memahamikarakteristik-anak-sekolah.html?m=l) Seorang anak usia sekolah dasar memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak pada usia lainnya. Menurut Nursidik Kurniawan anak usia Sekolah Dasar memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Anak lebih senang bermain 2) Lebih senang bergerak 3) Seorang anak akan lebih senang berkumpul atau berkelompok 4) Lebih senang mempraktekkan sesuatu hal yang baru. (http://howizer.multiply.com/ ) Dapat disimpulkan bahwa pada usia sekolah dasar yaitu umur 6-12 tahun seorang anak akan lebih banyak bergerak dan bermain dengan temannya. Untuk itu pembelajaran olahraga yang sesuai adalah 20

16 permainan. Permainan dengan peraturan yang sederhana diharapkan gerak anak lebih optimal Gerak Dasar Lempar Tangkap Bola a. Pengertian Kemampuan Gerak Dasar Gerak dasar merupakan pola gerakan yang menjadi dasar meraih ketrampilan gerak yang lebih kompleks (Heri Rahyubi, 2012 : 304). Tiap-tiap pola gerak pertama kali harus terbebas antara satu gerak dengan lainnya, dan baru dihubungkan dengan gerak lainnya dalam berbagai macam kombinasi. Pergerakan-pergerakan dari daya gerak berlari, melompat, dan melenting, atau pergerakan-pergerakan manipulatif dari melempar, menangkap, menendang, dan mengait merupakan contohcontoh kemampuan gerak dasar. Gerak dasar ada tiga macam, yaitu : gerak lokomotor, gerak non lokomotor, dan gerak manipulatif. 1) Gerak Lokomotor Gerak dasar lokomotor merupakan salah satu domain dari gerak dasar fundamental, di samping gerak dasar non lokomotor, dan gerak dasar manipulatif. Gerak dasar lokomotor diartikan sebagai gerakan atau ketrampilan yang menyebabkan tubuh berpindah tempat, sehingga dibuktikan dengan adanya perpindahan tubuh dari satu titik ke titik lain. Gerakan-gerakan tersebut erentang dari gerak yang sifatnya sangat alamiah dan mendasar seperti merangkak, berjalan, berlari, dan melompat, hingga ke gerakan yang suda berupa ketrampilan khusus seperti meroda, guling depan, hingga handspring dan back-handspring. 2) Gerak Non Lokomotor Gerak non lokomotor merupakan lawan atau kebalikan dari gerakan lokomotor. Gerakan non lokomotor adalah gerakan yang tidak menyebabkan tubuh berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dalam gerakan non lokomotor hanya sebagian anggota tubuh tertentu saja yang digerakkan, namun tidak berpindaah tempat. Contohnya : membungkuk, mengayun, meliuk, dan semacamnya. 3) Gerak Manipulatif Gerak manipulatif merupakan gerakan yang memerlukan koordinasi dengan ruang dan benda yang ada di sekitarnya. Gerak atau ketrampilan manipulatif melibatkan tindakan mengontrol suatu obyek, khususnya dengan tangan dan kaki.

17 Dalam gerak manipulatif, ada sesuatu yang digerakkan, misalnya melempar, menangkap, menyepak, menendang,memukul,memantul-mantulkan, melambungkan, memukul dengan raket, memukul dengan alat lainnya, dan gerakan lain yang berkaitan dengan melempar dan menangkap sesuatu, (Heri Rahyubi, 2012 : 304). 22 b. Gerak Dasar Melempar Bola Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, melempar adalah membuang jauh-jauh. Sedangkan menurut Toho Cholik M. dan Rusli Lutan (2001 : 140) melempar adalah kemampuan mendorong suatu objek melalui udara dengan menggunakan tangan. Dalam kaitan ini yang dimaksud objek adalah bola. Melempar dapat dilakukan dengan berbagai bentuk dan ukuran bola serta berbagai cara. Melempar bola yang baik berarti melempar bola dengan ketepatan, jarak dan tinggi serta putaran dan kecepatan yang sesuai. Pada saat melakukan lemparan pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu. Tujuan pokok dalam melempar adalah memindahkan /meneruskan momentum dari tubuh ke bola. Dapat disimpulkan bahwa melempar adalah suatu gerakan yang sifatnya menyalurkan tenaga pada suatu benda yang bertujuan untuk membuang jauh, memindahkan suatu benda kearah depan atau atas. Setiap permainan memiliki keterampilan dasar yang harus dikuasai agar dapat memainkan permainan tersebut dengan baik dan lancar. Begitu juga dalam permainan kippers memiliki teknik dasar yang harus dikuasai. keterampilan dasar dalam permainan kippers salah satunya adalah melempar bola. Menurut Slamet dan Edy Sih Mitranto (2010:84) cara melempar bola ada 3 macam, yaitu : lemparan ke atas, lemparan mendatar, dan lemparan bawah. 1) Lemparan atas Peganglah bola di tangan kanan dan tangan kiri diarahkan ke atas diikuti dengan pandangan mata. Kedudukan tangan kanan agak ke bawah pinggang. Kemudian lemparkan bola sesuai arah pandangan mata.

18 23 Gambar 2. Lemparan atas (Edy Sih Mitranto dan Slamet 2010:84 ) 2) Lemparan mendatar Langkah-langkahnya adalah : Berdiri tegak, kaki kiri di depan Tangan kanan memegang bola, Tangan kiri menunjukkan kea rah yang dituju, Tangan kanan berada di samping, Ayunkan sekuatnya ke depan, Lemparan akan mendatar sesuai dengan arah pandangan. Gambar 3. Lemparan mendatar (Edy Sih Mitranto dan Slamet 2010:85) 3) Lemparan ke bawah Langkah-langkahnya adalah : Kaki kiri di depan, Angkat tangan yang memegang bola tinggi-tinggi,

19 24 Pandangan ke arah yang dituju, Ayunkan bola ke arah depan ke bawah. Gambar 4. Lemparan ke bawah (Edy Sih Mitranto dan Slamet 2010:85) Setiap lemparan dalam permainan kippers memiliki tujuan yang berbeda-beda. Dapat sebagai operan, dan juga untuk mematikan lawan. Pada prinsipnya perbedaan saat melakukan lemparan hanya pada saat pelepasan bola. Pada lemparan atas arah pelepasan bola yaitu kearah depan atas, sedangkan lemparan mendatar pelepasan bola kearah depan dan lemparan ke bawah pelepasan bola pada arah depan bawah. Kemampuan otot lengan sangat berpengaruh terhadap hasil lemparan. Kemampuan tidak didapat dengan cara instan melainkan memerlukan latihan yang teratur. Sehingga diperlukan kemampuan otot yang baik sehingga hasil lemparan yang maksimal. Yang dimaksud kemampuan melempar adalah kesanggupan atau keterampilan yang dimiliki setiap individu untuk menyalurkan tenaga ke suatu benda yang menghasilkan daya atau kekuatan ke depan atau atas. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil lemparan : 1) Cara memegang bola Dalam memegang bola, anak-anak mempunyai kebiasaan dengan menggenggam bola, padahal cara ini sangat merugikan karena bola yang digenggam sukar untuk segera dilepaskan. Cara memegang bola yang benar adalah menggunakan tiga jari atau dengan empat jari.

20 25 Pegangan dengan tiga jari caranya ialah bola diletakkan pada pangkal-pangkal ruas jari tangan yaitu jari tengah, jari telunjuk dan ibu jari sedangkan jari kelingking hanya melekat secara wajar pada bola. Ketiga jari tersebut di atas agak merenggang. Pegangan dengan empat jari lebih mudah dilakukan oleh anakanak, caranya ialah bola diletakkan pada pangkal ruas jari telunjuk, jari tengah dan jari manis, sedangkan ketiga jari tersebut bersamasama dengan ibu jari memegang bola dan jari kelingking hanya melekat di bawah jari manis. Keempat jari yang memegang bola saling merenggang dan diantara bola dan telapak tangan masih ada rongga. 2) Sikap permulaan Berdiri menghadap ke arah sasaran yang akan dilempar dengan kedua kaki kangkang muka belakang dan kaki kiri berada di depan kaki kanan dengan jarak 1,5 2 panjang kaki. Berat badan berada di kedua kaki. Ujung jari kaki kiri dan pandangan mata menghadap ke arah lemparan, sedangkan ujung jari kaki kanan menghadap ke kanan disertai badan miring kea rah kanan. Semua otot-otot rileks (kendor). Bola dipegang kedua tangan di depan dada. 3) Gerakan pertama Tangan kanan yang memegang bola dijulurkan ke belakang dengan badan condong ke belakang, sehingga berat badan berada di kaki kanan dengan sedikit menekuk kedua lutut. Kaki kiri yang berada di depan pasif, ujung kaki menyentuh tanah dan pandangan tetap kearah sasaran dengan mengacungkan tangan kiri ke depan. 4) Gerakan kedua Tangan kanan diayunkan ke depan dengan kuat, lutut kaki kanan diluruskan bersamaan dengan badan dan pinggang diputar kearah menuju kearah sasaran. Berat badan dari kaki kanan dipindahkan ke kaki kiri dan untuk membantu gerakan, bagian badan sebelah kiri ditarik ke belakang.

21 26 5) Gerakan terakhir Setelah lengan diayunkan ke depan, bola dilepaskan dengan diikuti pergelangan tangan kemudian diteruskan dengan gerak lanjutan kaki kanan melangkah ke depan di muka kaki kiri dan berat badan berada di kaki kanan, sedangkan lutut kaki kiri lurus dengan ujung jari di tanah. Pandangan tetap kearah sasaran yaitu teman yang diberi operan bola. Keterampilan melempar bola sangat menentukan keberhasilan regu dalam menangkap suatu permainan. Pemain penjaga belakang, penjaga base, dan pelambung harus mampu melempar dengan cermat, kuat, dan tepat. c. Gerak Dasar Menangkap Bola Menurut Toho Cholik M. dan Rusli Lutan (2001:141) Menangkap bola merupakan kemampuan sesorang anak menggunakan penglihatan untuk mengikuti arah dan jalannya bola dan kemudian mengontrolnya dengan cepat dan efisien dengan mengunakan bagian dari tubuhnya, biasanya tangan atau kaki (trapping). Dalam permainan kippers menangkap bola adalah suatu usaha yang dilakukan oleh regu penjaga agar dapat menguasai bola dengan menggunakan tangan dari hasil pukulan lawan atau lemparan teman. Menangkap bola dalam permainan kippers merupakan keterampilan yang harus dikuasai pemain regu lapangan, terutama untuk memperoleh nilai tangkap bola dari pukulan lawan. Menangkap bola dalam permainan kippers dapat dilakukan ketika mendapat lemparan dari teman, dari pukulan regu pemukul, dan bagi pemain penangkap belakang (catcher) yang berada di belakang pemukul. Menurut Dadan Heryana dan Giri Verianti (2010:70) dilihat dari datangnya bola, menangkap bola dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu : (1) Teknik menangkap bola melambung ; (2) Teknik menangkap bola mendatar ; (3) Teknik menangkap bola menyusur tanah.

22 27 1)Teknik menangkap bola melambung Cara melakukannya adalah sebagai berikut. a. Ikuti datangnya bola. b. Menangkap bola dapat dilakukan dengan merapatkan kedua tangan di depan dada. c. Pada saat bola tertangkap, jari-jari segera ditutup dan cepat ditarik kearah badan. Gambar 5. Menangkap bola melambung (Dadan Heryana dan Giri Verianti 2010:70) 2)Teknik menangkap bola mendatar a. Jika bola dating mendatar dan tepat di depan badan, bola dapat ditangkap seperti menangkap bola yang datangnya melambung. b.jika bola dating mendatar di samping kanan atau kiri badan, maka cara mengkapnya dengan menjulurkan lengan ke samping kanan atau kiri badan. c. Jika sudah mahir, maka dapat dilakukan dengan satu tangan. Gambar 6. Menangkap bola mendatar (Dadan Heryana dan Giri Verianti 2010:70)

23 28 3)Teknik menangkap bola menyusur tanah Cara melakukannya adalah sebagai berikut. a.dengan sikap membungkuk, kedua lutut ditekuk, dan kedua lengan lurus ke bawah. b.dengan sikap hampir berlutut, kemudian menangkap bola. Gambar 7. menangkap bola menyusur tanah (Dadan Heryana dan Giri Verianti 2010:70) Keterampilan menangkap bola sangat menentukan keberhasilan tim untuk mencapai kemenagan. Untuk itu penjaga lapangan pelambung, penjaga belakang (catcher), dan penjaga base harus terampil, cermat, dan cepat dalam menangkap bola, baik bola yang datangnya melambung, mendatar, maupun menyusur tanah. 5. Bermain dan Permainan ( Play and Game ) a. Bermain Bermain merupakan cara untuk bereksplorasi dan bereksperimen dengan dunia sekitar sehingga anak akan menemukan sesuatu dari pengalaman bermain. Menurut Loy, Mcpherson, dan Kenyon (1978), mendefinisikan bahwa bermain adalah sebagai aktivitas yang bersifat : (1) Bebas, (2) Terpisah, (3) Tak pasti atau berubah-ubah, (4) Secara spontan, (5) Tidak mempertimbangkan hasil, (6) Diatur oleh peraturan serta membuat kepercayaan. (M. Furqon Hidayatullah, 2008:4)

24 29 Sedangkan menurut M. Furqon Hidayatullah (2008:4) bermain adalah aktivitas yang menyenangkan, serius, dan sukarela, di mana anak berada dalam dunia yang tidak nyata atau sesungguhnya. Bermain bersifat menyenangkan karena anak diikat oleh sesuatu yang menyenangkan, dengan tidak banyak memerlukan pemikiran. Bermain bersifat serius karena bermain memberikan kesempatan untuk meningkatkan perasaan anak untuk menguasai sesuatu dan untuk memunculkan rasa menjadi manusia penting. Bermain bersifat tidak nyatakarena anak berada di luar kenyataan, dan memasuki suatu dunia imajiner. Bermain memberikan suatu arena di mana anak masuk atau terlibat untuk menghilangkan dirinya, namun secara berlawanan asas anak kadang-kadang menemukan dirinya melalui bermain. b. Permainan Menurut Loy, Mcpherson, dan Kenyon (1978), Permainan adalah berbagai bentuk kompetisi bermain penuh yang hasilnya ditentukan oleh : (1) Ketrampilan fisik, (2) Strategi, (3) Atau kesempatan, (4) Yang dilakukan secara perorangan atau gabungan. (M. Furqon Hidayatullah, 2008:5) Permainan secara garis besar dibagi ke dalam dua kelompok,yaitu permainan rekreatif dan permainan edukatif. Permainan rekreatif adalah permainan yang bersifat menyenangkan dan menumbuhkan imajinasi yang tinggi, sedangkan permainan edukatif adalah permainan yang menyenangkan dirancang untuk tujuan latihan tertentu. Tujuan permainan edukatif bagi anak yaitu : 1) Mengembangkan ketrampilan motoric halus dan wawasan berfikir anak. Dengan bergerak, seperti berlari atau melompat, seorang anak akan terlatih motorik kasarnya, sehingga memiliki sistem perototan yang terbentuk secara baik dan sehat. Kemampuan motorik halusnya akan terlatih dengan permainan puzzle, membedakan bentuk besar dan kecil, dan sebagainya.

25 30 2) Mengembangkan kemampuan sosial-emosional kepada anak. Anak melakukan aktivitas bermain karena ia merasa senang untuk melakukannya. Pada tahap-tahap awal anak melakukan aktivitas bermain karena ia merasa senang untuk melakukannya. Pada tahaptahap awal kembangannya, orang tua merupakan kawan utama dalam bermain. Pergeseran akan terjadi seiring dengan bertambahnya umur anak, terutama setelah memasuki usia sekolah. Di sekolah, anak akan mengalami proses sosialisasi bergaul dengan kawan sebaya dan dengan gurunya. 3) Mengembangkan kemampuan kognitif (kecerdasan) kepada anak. Prinsip-prinsip pada permainan edukatif: 1. Prinsip Produktivitas ; 2. Prinsip Aktivitas; 3. Prinsip Efektivitas dan Efisiensi ; 4. Prinsip Kreativitas ; 5. Prinsip Mendidik dengan Menyenangkan. (http://riastypurwandari.blogspot.co.id/2014/05/permainan-edukatifsebagai-media.html) Permainan dimainkan dengan membutuhkan banyak keterikatan dan banyak energy, lebih kuat dan serius daripada bermain, dan lebih memungkinkan memberikan penghargaan terhadap pemenuhan dan keberhasilan. Oleh karena itu, permainan dapat didefinisikan sebagai aktivitas yang dibatasi oleh aturan-aturan yang lengkap dan terdapat suatu kontes di antara para pemain agar menghasilkan hasil yang dapat diprediksi. Menurut Morris, dan Stiehl (1989) menyatakan, permainan adalah kontes sukarela yang didasari peraturan dan tujuan-tujuan yang dinyatakan dengan jelas. (M. Furqon Hidayatullah, 2008:5) 6. Pendekatan Bermain a. Pengertian Pendekatan Bermain Pendekatan bermain merupakan suatu cara yang ditetapkan seorang guru dalam kegiatan pembelajaran yang dikemas dalam bentuk bermain atau permainan. Pengajaran melalui pendekatan bermain dapat

26 31 meningkatkan kesadaran peserta didik tentang konsep bermain melalui penerapan teknik yang tepat sesuai dengan masalah atau situasi dalam permainan sesungguhnya. Pendekatan bermain merupakan bentuk pembelajaran yang mengaplikasikan teknik ke dalam suatu permainan. Tidak menutup kemungkinan teknik yang buruk atau rendah mengakibatkan permainan kurang menarik. Dikutip dari yang di unduh pada tanggal 08 maret 2014, pukul 21:00. Sedangkan Benny A. Pribadi (2009:43-44) berpendapat : metode pembelajaran bermain bersifat kompetetif dan mengarahkan peserta didik untuk dapat mencapai dan mengarahkan peserta didik untuk dapat mencapai prestasi atau hasil belajar tertentu. Permainan harus menyenangkan dan memberi pengalaman belajar baru bagi peserta didik. Pada umumnya dalam metode pembelajaran bermain ada pihak yang menang ada pihak yang kalah. Pihak yang menang akan mendapat reward, sedangkan pihak yang kalah perlu berlatih lebih keras untuk memenangkan permainan". Berdasarkan pengertian pendekatan bermain yang dikemukakan oleh dua ahli tersebut dapat disimpulkan, pendekatan bermain merupakan bentuk pembelajaran yang mengaplikasikan teknik ke dalam suatu permainan atau belajar teknik suatu cabang olahraga yang dikemas dalam bentuk permainan. Dalam pelaksanaan pendekatan bermain peserta didik belajar teknik suatu cabang olahraga yang dikemas dalam bentuk permainan. b. Pembelajaran Lempar-Tangkap Bola Melalui Pendekatan Bermain Memberikan pembelajaran gerak dasar lempar tangkap dengan bermain sangat penting bagi anak sekolah dasar. Pembelajaran lempar tangkap dapat dilakukan dengan beberapa alternatif, supaya anak tidak merasakan kebosanan dalam melakukan kegiatan belajar. Pembelajaran dengan bermain sangat sederhana dengan memanfaatkan barang-barang

27 32 disekitar kita yang sudah tidak terpakai. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih gerak dasar lempar tangkap bola. Supaya terjadi otomatisasi gerak pada anak yang melakukannyaa. Karena dalam bermain anak akan termotivasi untuk melakukan percobaan. Apalagi dalam permainan terselip kompetisi yang memberikan dorongan anak untuk memenangkan permainan dengan melakukan gerak dasar lempar tangkap yang baik secara berulang-ulang. Pembelajaran permainan lempar tangkap bola dimulai dari tahapan yang paling sederhana ke tahapan yang kompleks, yaitu pembelajaran pengenalan, kemudian dilanjutkan pembelajaran bertahap ( tahap penemuan, tahap pengembangan, dan tahap penguatan ) 1) Permainan lempar tangkap berpasangan Tujuan Gambar 8. Permainan lempar tangkap berpasangan : Mengenalkan bola yang digunakan dan peserta didik dapat menemukan cara gerakan melempar dan menangkap bola. Perlengkapan : bola kasti, cone, dan lapangan. Aktivitas : dan 1 tangan. 1) Peserta didik melakukan gerakan melempar bola lambung kemudian menangkapnya sendiri 2) Peserta didik melakukan pantulan bola kemudian menangkapnya sendiri. 3) Peserta didik melakukan gerakan melempar bola ( melambung, mendatar, dan menyusur tanah ) ke depan untuk di tangkap temannya. Di variasikan dengan melakukan lempar tangkap 2 tangan

28 33 2) Permainan Pantul Tembok Gambar 9. Permainan pantul tembok Tujuan : Peserta didik dapat menemukan cara gerakan melempar dan menangkap bola. Perlengkapan : Bola kasti, sasaran (tembok) Aktivitas : 1) Peserta didik melakukan gerakan melempar bola memantulkan ke tembok. 2) Peserta didik melakukan gerakan menangkap bola. Divariasi dengan jarak bertahap. 3) Permainan Tembak Sasaran 1 Gambar 10. Permainan tembak sasaran 1 Tujuan : Peserta didik dapat menemukan cara gerakan melempar dan menangkap bola (melambung) ke depan arah sasaran. Perlengkapan : Bola kasti, sasaran (ban bekas, bambu tiang penyangga)

29 34 Aktivitas : 1) Peserta didik melakukan gerakan melempar bola kearah sasaran. 2) Peserta didik melakukan gerakan menangkap bola. Divariasi dengan jarak bertahap. 4) Permainan Tembak Sasaran 2 Gambar 11. Permainan tembak sasaran 2 Tujuan : Peserta didik dapat menemukan cara gerakan melempar dan menangkap bola (menyusur tanah) ke depan arah sasaran. Perlengkapan : Bola kasti, sasaran ( cone, botol bekas ) Aktivitas : 1) Peserta didik melakukan gerakan melempar bola kearah sasaran. 2) Peserta didik melakukan gerakan menangkap bola. Divariasi dengan jarak bertahap.

30 35 5) Permainan Tembak Sasaran 3 Gambar 12. Permainan tembak sasaran 3 Tujuan : Peserta didik dapat menemukan cara gerakan melempar dan menangkap bola (mendatar) ke depan arah sasaran. Perlengkapan : Bola kasti, sasaran ( cone, bola sepak, tiang penyangga) Aktivitas : 1) Peserta didik melakukan gerakan melempar bola kearah sasaran. 2) Peserta didik melakukan gerakan menangkap bola. Divariasi dengan jarak bertahap. 6) Permainan Bola Kardus Gambar 13. Permainan bola kardus Tujuan : Peserta didik dapat melakukan gerakan melempar dan menangkap bola dengan baik.

31 36 Perlengkapan : Kardus berukuran besar sebagai target, bola berukuran kecil/bola kasti sebagai alat menyerang target. Aktivitas : 1) Peserta didik melakukan gerakan melempar bola kearah sasaran. 2) Peserta didik melakukan gerakan menangkap bola. Divariasi dengan jarak bertahap. 7) Permainan Bola Tembak Bola Gambar 14. Permainan bola tembak bola Tujuan : Peserta didik dapat melakukan gerakan melempar dan menangkap bola dengan baik. Perlengkapan : Bola berukuran besar sebagai target, bola berukura kecil sebagai alat menyerang target. Aktivitas : Terdiri dari 4 tim. 1 tim terdiri dari 5 peserta didik. Masing-masing tim menempatkan posisi di salah satu sisi lapangan. Kemudian berusaha melempar target agar bergeser ke sisi lapangan lawan. Bola yang menuju ke salah satu sisi lapangan, tim yang menempati sisi tersebut tim yang kalah.

32 37 8) Permainan Bola dan Tangan Gambar 15. Permainan bola dan tangan Tujuan : Peserta didik dapat melakukan gerakan melempar dan menangkap dalam bola dengan baik. Perlengkapan : Bola berukuran kecil/ bola kasti, botol bekas sebagai target atau gawang, lapangan. 1 tim terdiri dari 5-7 peserta didik. Aktivitas : 1 tim berusaha menjaga gawangnya dari serangan lawan, dan juga bertugas menyerang gawang lawan. Penyerangan dilakukan dengan mengumpan ke teman dengan melempar dan menangkap bola.tim yang paling banyak mencetak gol (menjatuhkan botol lawan) tim yang memenangkan pertandingan

33 38 B. Kerangka Berpikir Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dikemukakan di atas dapat dibuat skema kerangka berpikir sebagai berikut : Kondisi Awal Tindakan Kondisi Akhir Pembelajaran berpusat pada guru, Keaktifan gerak peserta didik rendah Meningkatkan gerak dasar lempar tangkap bola kippers melalui pendekatan bermain Melalui pendekatan bermain gerak dasar lempar tangkap bola kippers peserta didik meningkat 1. Peserta didik kurang tertarik dan cepat bosan dalam mengikuti pembelajaran 2. Hasil pembelajaran lempar tangkap bola peserta didik masih Siklus 1 : Peneliti dan Kolaborator menyusun pembelajaran dengan bermain guna meningkatkan hasil belajar gerak dasar lempar tangkap bola. Gambar 16. Bagan Konseptual Kerangka Berpikir Kippers merupakan bentuk permainan bola kecil yang cara dan peraturan permainanya hampir sama dengan permainan kasti. Permaianan ini biasanya diajarkan dalam pendidikan jasmani di tingkat Sekolah Dasar, salah satunya yaitu di SD Negeri 02 Pablengan. Permainan ini tidak hanya mengandalkan ketrampilan memukul dan kecepatan berlari saja, namun sangat dibutuhkan juga kemampuan melempar dan menangkap bola yang baik. Karena dalam permainan ini sangat mengandalkan keakuratan dan ketepatan dalam melempar dan menangkap bola. Penguasaan gerak dasar lempar-tangkap bola yang baik

34 39 diharapkan dapat meningkatkan kerjasama yang baik saat melakukan permainan kippers. Untuk dapat meningkatkan gerak dasar lempar-tangkap bola dalam permainan kippers dapat digunakan pendekatan pembelajaran yaitu pendekatan melalui permainan atau pendekatan bermain. Dengan pendekatan bermain menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan peran aktif peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, peserta didik melaksanakan tugas gerak dasar dengan rasa senang tanpa ada paksaan dan menjadi termotivasi untuk melakukan gerak dasar lempar tangkap yang baik. Dengan demikian pendekatan bermain diharapkan akan dapat meningkatkan hasil belajar gerak dasar lempar-tangkap bola dalam permainan kippers.

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. pemberi bola kepada si pemukul. Namun pada permaianan kippers si pemukul

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. pemberi bola kepada si pemukul. Namun pada permaianan kippers si pemukul BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teoritis. 2.1.1 Hakikat Permainan Kippers Pada dasarnya permaianan kippers sama dengan permainan kasti, baik dari segi teknik melempar, menangkap,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. ini, belajar adalah merupakan salah satu proses suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau hasil

TINJAUAN PUSTAKA. ini, belajar adalah merupakan salah satu proses suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau hasil II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Belajar Mengajar Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang belajar. Belajar adalah modifikasi atau memperteguhkan kelakuan melalui pengalaman.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. terbentuknya keterampilan dari seseorang. Setiap individu memiliki. kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain.

BAB II KAJIAN TEORI. terbentuknya keterampilan dari seseorang. Setiap individu memiliki. kemampuan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. BAB II KAJIAN TEORI A. DESKRIPSI TEORI 1. Hakikat Kemampuan Melempar Bola Kemampuan sering dianggap sebagai suatu hal yang mendasari terbentuknya keterampilan dari seseorang. Setiap individu memiliki kemampuan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN DAN HIPOTESIS TINDAKAN. beregu. Permainan kasti dimainkan dilapangan terbuka. Jika ingin menguasai

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN DAN HIPOTESIS TINDAKAN. beregu. Permainan kasti dimainkan dilapangan terbuka. Jika ingin menguasai 7 BAB II KAJIAN TEORITIS DAN DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teoritis 2.1.1 Hakikat Permainan Kasti Permainan kasti termasuk salah satu olahraga permainan bola kecil beregu. Permainan kasti dimainkan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Belajar Mengajar Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang belajar. Belajar adalah modifikasi atau memperteguhkan kelakuan melalui pengalaman.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Belajar Mengajar Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang belajar. Belajar adalah modifikasi atau memperteguhkan kelakuan melalui pengalaman.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Belajar Mengajar Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang belajar. Belajar adalah modifikasi atau memperteguhkan kelakuan melalui pengalaman.

Lebih terperinci

Permainan Bola Voli. 1. Sejarah Permainan Bola Voli. 2. Pengertian Bola Voli. 3. Lapangan Bola Voli

Permainan Bola Voli. 1. Sejarah Permainan Bola Voli. 2. Pengertian Bola Voli. 3. Lapangan Bola Voli B Permainan Bola Voli Apakah kamu menyukai permainan bola voli? Sebenarnya permainan bola voli telah memasyarakat. Apakah kamu telah dapat melakukan gerak dasar permainan bola voli dengan benar? Ayo kita

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS. permainan kasti dengan baik, maka harus menguasai teknik-teknik dasarnya.

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS. permainan kasti dengan baik, maka harus menguasai teknik-teknik dasarnya. BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS 2.1. KAJIAN TEORI 2.1.1. Hakekat Permainan Kasti Permainan kasti termasuk salah satu olahraga permainan bola kecil beregu. Permainan kasti dimainkan dilapangan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. hidupnya. Sedangkan menurut Suparno (2001 : 2) mengungkapkan Belajar. sebagai akibat dari upaya-upaya yang dilakukannya.

TINJAUAN PUSTAKA. hidupnya. Sedangkan menurut Suparno (2001 : 2) mengungkapkan Belajar. sebagai akibat dari upaya-upaya yang dilakukannya. 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Belajar Ahmadi (2004 : 128) mengemukakan : Menurut pengertian secara psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan di dalam tingkah laku sebagai

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN. Satuan Pendidikan : SMP Negeri 1 Mungkid : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN. Satuan Pendidikan : SMP Negeri 1 Mungkid : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Satuan Pendidikan : SMP Negeri Mungkid Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Pokok Bahasan : Passing bawah bola volli Kelas/Semester : VII / Alokasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah KTSP Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah KTSP Standar Kompetensi Kompetensi Dasar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan melalui aktivitas jasmani atau olahraga. Yang membedakan pendidikan jasmani dengan mata pelajaran lain adalah

Lebih terperinci

bab 1 gerak dasar kata kunci berjalan memutar melempar berlari mengayun menangkap melompat menekuk menendang

bab 1 gerak dasar kata kunci berjalan memutar melempar berlari mengayun menangkap melompat menekuk menendang bab 1 gerak dasar sumber www.sdialazhar14.wordpress.com tanggal 11 Juni 2009 kata kunci berjalan memutar melempar berlari mengayun menangkap melompat menekuk menendang meloncat menggiring setiap hari kamu

Lebih terperinci

I. KAJIAN PUSTAKA. manusia dan menghasilkan pola-pola prilaku individu yang bersangkutan.

I. KAJIAN PUSTAKA. manusia dan menghasilkan pola-pola prilaku individu yang bersangkutan. I. KAJIAN PUSTAKA A. Pendidikan Jasmani Pendidikan Jasmani merupakan bagian dari pendidikan (secara umum) yang berlangsung melalui aktifitas yang melibatkan mekanisme gerak tubuh manusia dan menghasilkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan kondisi dan karakter siswa. Dengan melihat secara langsung, anak

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan kondisi dan karakter siswa. Dengan melihat secara langsung, anak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru sebagai faktor utama keberhasilan pengajaran dituntut kemampuannya untuk dapat menyampaikan bahan ajar kepada siswa dengan baik. Untuk itu guru perlu mendapat

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang belajar.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang belajar. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar Dan Pembelajaran Hampir para ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang belajar. Belajar adalah modifikasi atau memperteguhkan kelakuan melalui pengalaman.

Lebih terperinci

A. Daya Tahan dan Kekuatan Otot

A. Daya Tahan dan Kekuatan Otot Kebugaran jasmani harus dipenuhi oleh setiap orang. Kebugaran jasmani merupakan pendukung keberhasilan dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Latihan kebugaran jasmani meliputi daya tahan, kekuatan, kelenturan,

Lebih terperinci

Pada olahraga softball, bola dilempar dari bawah ke atas. Sedangkan Baseball dari atas lurus ke arah pemukul (Batter)

Pada olahraga softball, bola dilempar dari bawah ke atas. Sedangkan Baseball dari atas lurus ke arah pemukul (Batter) Mengenal Olahraga Softball Olahraga softball yang berasal dari Amerika, adalah salah satu cabang yang termasuk baru diperkenalkan di Indonesia. Sehingga umumnya beberapa orang belum terlalu mengenal dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Lompat Jauh a. Pengertian Lompat Jauh Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompatdalam cabang olahraga atletik. Lompat jauh merupakan suatu bentuk gerakan melompat,

Lebih terperinci

1 Asimetri Kemampuan usia 4 bulan. selalu meletakkan pipi ke alas secara. kedua lengan dan kepala tegak, dan dapat

1 Asimetri Kemampuan usia 4 bulan. selalu meletakkan pipi ke alas secara. kedua lengan dan kepala tegak, dan dapat Perkembangan gerakan kasar Bulan Pencapaian Titik Pencapaian 1 Asimetri Kemampuan usia 4 bulan 2 Setengah miring jika dalam posisi tengkurap, selalu meletakkan pipi ke alas secara bergantian disebut titik

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) 1 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Materi Pokok Alokasi Waktu : SMA Negeri 1 Godean : Penjasorkes : XII/Satu : Permainan Bola Basket : 6 JP (6 X 45 menit) A.

Lebih terperinci

Makalah Pendidikan Jasmani Olahraga Softball

Makalah Pendidikan Jasmani Olahraga Softball Makalah Pendidikan Jasmani Olahraga Softball Oleh: Rizka Melina F. (24/X MIA 5) SMA Negeri 1 Malang Jl. Tugu Utara No. 1 Telp (0341)366454 fax. (0341) 329487 Malang 65111 Website : http://www.sman1-mlg.sch.id

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN TEHNIK DASAR PERMAINAN BOLA VOLLI OLEH SUARDI. B

PEMBELAJARAN TEHNIK DASAR PERMAINAN BOLA VOLLI OLEH SUARDI. B PEMBELAJARAN TEHNIK DASAR PERMAINAN BOLA VOLLI OLEH SUARDI. B Latar Belakang Pendidikan Jasmani merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktifitas jasmani dan direncanakan secara sistimatis dan bertujuan

Lebih terperinci

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PASSING ATAS BOLA VOLI MELALUI PENDEKATAN BERMAIN DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA BOLA PLASTIK

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PASSING ATAS BOLA VOLI MELALUI PENDEKATAN BERMAIN DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA BOLA PLASTIK PENINGKATAN HASIL BELAJAR PASSING ATAS BOLA VOLI MELALUI PENDEKATAN BERMAIN DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA BOLA PLASTIK Devi Catur Winata Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan Dan Rekreasi Stok Bina Guna Medan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. mendorong, membimbing mengembangkan dan membina kemampuan

II. TINJAUAN PUSTAKA. mendorong, membimbing mengembangkan dan membina kemampuan 6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pendidikan yang diarahkan untuk mendorong, membimbing mengembangkan dan membina kemampuan jasmaniah

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. regu yang saling berhadapan dengan masing-masing regu terdiri dari sebelas

II. TINJAUAN PUSTAKA. regu yang saling berhadapan dengan masing-masing regu terdiri dari sebelas II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hakikat Sepakbola 1. Pengertian Sepakbola Pada hakikatnya permainan sepakbola merupakan permainan beregu yang menggunakan bola sepak. Sepakbola dimainkan dilapangan rumput oleh

Lebih terperinci

BAB 1 PERMAINAN BOLA BESAR

BAB 1 PERMAINAN BOLA BESAR BAB 1 PERMAINAN BOLA BESAR A. Peraturan Dasar Permainan Bola Basket Setiap permainan tentunya memiliki peraturan tersendiri. Sekarang, Anda akan mendalami berbagai peraturan dan strategi yang lebih terperinci.

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN INTERAKTIF KEMAMPUAN GERAK DASAR PADA SISWA SEKOLAH DASAR. Isa Ansori dan Sukardi PGSD FIP UNNES

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN INTERAKTIF KEMAMPUAN GERAK DASAR PADA SISWA SEKOLAH DASAR. Isa Ansori dan Sukardi PGSD FIP UNNES PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN INTERAKTIF KEMAMPUAN GERAK DASAR PADA SISWA SEKOLAH DASAR Isa Ansori dan Sukardi PGSD FIP UNNES Abstrak Usia siswa Sekolah Dasar merupakan proses pengembangan dan perbaikan kemampuan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Banyak ahli pendidikan jasmani yang menjelaskan tentang pengertian

II. TINJAUAN PUSTAKA. Banyak ahli pendidikan jasmani yang menjelaskan tentang pengertian 5 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pendidikan jasmani Banyak ahli pendidikan jasmani yang menjelaskan tentang pengertian pendidikan jasmani, salah satu diantaranya Engkos Kosasih (1995 : 2) mengatakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan jasmani dan kesehatan merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan disekolah - sekolah yang sama kedudukan dan pentingnya dengan mata pelajaran yang

Lebih terperinci

OLAHRAGA PILIHAN SEPAKTAKRAW

OLAHRAGA PILIHAN SEPAKTAKRAW BAHAN AJAR MATA KULIAH OLAHRAGA PILIHAN SEPAKTAKRAW Oleh Drs. H. M. Husni Thamrin, M.Pd Disampaikan untuk memenuhi tugas mandiri dalam rangka Pelatihan APPLIED APPROACH (AA) Universitas Negeri Yogyakarta

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. pemukul dan regu penjaga. Regu pemukul berusaha mendapatkan nilai dengan

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. pemukul dan regu penjaga. Regu pemukul berusaha mendapatkan nilai dengan 1 BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN 1.1 Kajian Teoritis 2.1.1 Hakikat Permainan Kasti Sukrisno (2007: 2) menjelaskan bahwa permainan kasti merupakan salah satu permainan bola kecil. Permainan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS. teknik-teknik dasar dan teknik-teknik lanjutan untuk bermain bola voli secara

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS. teknik-teknik dasar dan teknik-teknik lanjutan untuk bermain bola voli secara BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Teoritis 2.1.1 Hakikat Bola Voli Permainan bola voli merupakan suatu permainan yang kompleks yang tidak mudah untuk dilakukan oleh setiap orang. Diperlukan

Lebih terperinci

Perseptual motorik pada dasarnya merujuk pada aktivitas yang dilakukan. dengan maksud meningkatkan kognitif dan kemampuan akademik.

Perseptual motorik pada dasarnya merujuk pada aktivitas yang dilakukan. dengan maksud meningkatkan kognitif dan kemampuan akademik. Mata Kuliah Kode Mata Kuliah : IOF 220 : Perkembangan Motorik Materi 9: Peseptual Motorik HAKIKAT PERSEPTUAL MOTORIK Perseptual motorik pada dasarnya merujuk pada aktivitas yang dilakukan dengan maksud

Lebih terperinci

Sepak Bola. 1. Lapangan dan Peralatan Sepak Bola

Sepak Bola. 1. Lapangan dan Peralatan Sepak Bola Sepak Bola Sepak bola termasuk salah satu permainan bola besar. Sepak bola merupakan olahraga yang paling akbar di dunia. Setiap kejuaraan sepak bola akan mengundang banyak penonton. Jumlah penonton sepak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan Jasmani merupakan pendidikan yang mengaktulisasikan potensipotensi

I. PENDAHULUAN. Pendidikan Jasmani merupakan pendidikan yang mengaktulisasikan potensipotensi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan Jasmani merupakan pendidikan yang mengaktulisasikan potensipotensi aktivitas manusia berupa sikap, tindakan dan karya yang diberi bentuk, isi, dan arah untuk

Lebih terperinci

2.4.1 Menunjukkan kemauan bekerjasama dalam melakukan berbagai aktivitas fisik Menunjukkan perilaku disiplin selama pembelajaran.

2.4.1 Menunjukkan kemauan bekerjasama dalam melakukan berbagai aktivitas fisik Menunjukkan perilaku disiplin selama pembelajaran. I. Penilaian 1. Instrumen Penilaian sikap Indikator : 1.2.1 Tumbuhnya kesadaran bahwa tubuh harus dipelihara dan dibina, sebagai wujud syukur kepada sang Pencipta. 2.2.1 Menunjukkan sikap tanggung jawab.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan, mata pelajaran ini

TINJAUAN PUSTAKA. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan, mata pelajaran ini II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hakikat Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan, mata pelajaran ini berorientasi pada pelaksanaan misi pendidikan melalui aktivitas

Lebih terperinci

MODEL PERMAINAN UNTUK ANAK USIA 11 TAHUN (13 Model Permainan)

MODEL PERMAINAN UNTUK ANAK USIA 11 TAHUN (13 Model Permainan) MODEL PERMAINAN UNTUK ANAK USIA 11 TAHUN (13 Model Permainan) A. Permainan Target (usia 11) 1. Permainan melempar bola diantara 2 kerucut/botol secara berpasangan Permainan melempar bola diantara 2 kerucut

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SatuanPendidikan : SMP Negeri 1 Geger Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SatuanPendidikan : SMP Negeri 1 Geger Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SatuanPendidikan : SMP Negeri 1 Geger Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan Materi Pokok : Permainan Bola Kecil Tema/Sub Tema : Permainan Tradisional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional,

BAB I PENDAHULUAN. keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan jasmani merupakan satu kesatuan dari sistem pendidikan secara keseluruhan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Menurut Kurikulum Tingkat Satuan

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SMP/MTs :... Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas/Semester : VII (Tujuh )/1 (satu) Alokasi Waktu : 6 x 40 menit (3 x pertemuan ) A. Standar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan sebagai sebuah upaya sadar yang dikerjakan oleh manusia untuk

I. PENDAHULUAN. Pendidikan sebagai sebuah upaya sadar yang dikerjakan oleh manusia untuk I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan sebagai sebuah upaya sadar yang dikerjakan oleh manusia untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang memerlukan proses, waktu dan melibatkan banyak faktor serta

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN HAKEKAT LOMPAT TINGGI GAYA STRADDLE. straddle.(farida Mulyaningsih dkk, 2010:64)

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN HAKEKAT LOMPAT TINGGI GAYA STRADDLE. straddle.(farida Mulyaningsih dkk, 2010:64) 1 BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1. KAJIAN TEORI 2.1.1. HAKEKAT LOMPAT TINGGI GAYA STRADDLE Lompat tinggi termasuk cabang olahraga atletik nomor lompat. Untuk pemula, lompat tinggi yang paling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan bermakna. Menurut Morse (1964) dalam Suherman (2000: 5) membedakan

BAB I PENDAHULUAN. dan bermakna. Menurut Morse (1964) dalam Suherman (2000: 5) membedakan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya merupakan rekonstruksi aneka pengalaman dan peristiwa yang dialami individu agar segala sesuatu yang baru menjadi lebih terarah dan bermakna.

Lebih terperinci

Latihan Kekuatan Otot Tubuh Bagian Atas

Latihan Kekuatan Otot Tubuh Bagian Atas Latihan Kekuatan Otot Tubuh Bagian Atas Kekuatan otot adalah tenaga, gaya, atau tegangan yang dapat dihasilkan oleh otot atau sekelompok otot pada suatu kontraksi dengan beban maksimal. Otot-otot tubuh

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN Hakekat Belajar dan Pembelajaran

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN Hakekat Belajar dan Pembelajaran 1 BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1. KAJIAN TEORI 2.1.1. Hakekat Belajar dan Pembelajaran Belajar pada hakikatnya adalah proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari pengalaman

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. yaitu Athlon yang berarti memiliki makna bertanding atau berlomba (Yudha

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. yaitu Athlon yang berarti memiliki makna bertanding atau berlomba (Yudha 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakekat Atletik BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN Atletik merupakan istilah dalam olahraga yang berasal dari bahasa yunani yaitu Athlon yang berarti memiliki makna bertanding

Lebih terperinci

BAB I PERMAINAN BOLA BESAR. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 1

BAB I PERMAINAN BOLA BESAR. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 1 BAB I PERMAINAN BOLA BESAR Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan 1 PERMAINAN BOLA BESAR Permainan bola besar melalui permainan sepak bola Permainan bola besar melalui permainan bola voli Permainan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dua kelompok yang akan saling bertanding, dimana setiap kelompok

BAB II KAJIAN PUSTAKA. dua kelompok yang akan saling bertanding, dimana setiap kelompok BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hakikat Permainan Bola Voli Permainan bola voli merupakan permainan beregu yang terdiri dari dua kelompok yang akan saling bertanding, dimana setiap kelompok

Lebih terperinci

Tinjauan Mata Kuliah Masa TK : perkembangan fisik dan kemampuan anak berlangsung sangat cepat. Perkembangan Motorik Perkembangan motorik identik denga

Tinjauan Mata Kuliah Masa TK : perkembangan fisik dan kemampuan anak berlangsung sangat cepat. Perkembangan Motorik Perkembangan motorik identik denga Metode Pengembangan Fisik Drs. Rumpis Agus Sudarko, M.S. FIK-UNY Tinjauan Mata Kuliah Masa TK : perkembangan fisik dan kemampuan anak berlangsung sangat cepat. Perkembangan Motorik Perkembangan motorik

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teoritis 2.1.1 Hakikat Tolak Peluru Atletik merupakan salah satu cabang olahraga yang terdiri atas nomor lari, jalan, tolak dan lempar. Pada nomor

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS. siapa saja baik anak-anak atau orang dewasa, kaya atau miskin, laki-laki atau

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS. siapa saja baik anak-anak atau orang dewasa, kaya atau miskin, laki-laki atau BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS 2.1. KAJIAN TEORI 2.1.2. Hakekat Permainan Permainan merupakan suatu kegiatan yang menjadikan orang senang melakukannya, dan dilakukan oleh seseorang atau

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) : SMK Muda Patria Kalasan : Pend. Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. : Bola Volley (Passing Atas dan Smash)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) : SMK Muda Patria Kalasan : Pend. Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. : Bola Volley (Passing Atas dan Smash) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Materi Pokok Alokasi Waktu : SMK Muda Patria Kalasan : Pend. Jasmani, Olahraga dan Kesehatan : XI/satu : Bola Volley (Passing

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS. dan kemantapan mental setiap pemainya. Ahmadi (2007: 33)

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS. dan kemantapan mental setiap pemainya. Ahmadi (2007: 33) BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS 2.1 KajianTeori 2.1.1 Hakikat Permainan Bola Basket Permainan bola basket adalah permainan yang banyak menuntut kesiapan dan kemantapan mental setiap pemainya. Ahmadi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan jasmani dan kesehatan secara umum bertujuan membantu siswa

I. PENDAHULUAN. Pendidikan jasmani dan kesehatan secara umum bertujuan membantu siswa 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan jasmani dan kesehatan secara umum bertujuan membantu siswa maupun mahasiswa untuk meningkatkan kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan gerak dasar serta

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pelajaran yang diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pelajaran yang diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Pengertian Pembelajaran Di Dalam pembelajaran guru harus memahami dan menguasai materi pelajaran yang diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan

Lebih terperinci

PENGERTIAN Cara yg digunakan untuk mempelajari suatu keterampilan motorik sangat berpengaruh terhadap kualitas keterampilan yg dipelajari. Meskipun se

PENGERTIAN Cara yg digunakan untuk mempelajari suatu keterampilan motorik sangat berpengaruh terhadap kualitas keterampilan yg dipelajari. Meskipun se CARA MEMPELAJARI KETERAMPILAN MOTORIK PENGERTIAN Cara yg digunakan untuk mempelajari suatu keterampilan motorik sangat berpengaruh terhadap kualitas keterampilan yg dipelajari. Meskipun semua cara mampu

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teoretis 2.1.1 Hakikat Permainan Sepakbola Permainan sepak bola adalah permainan beregu yang dimainkan masingmasing oleh sebelas orang pemain termasuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal terpenting dan utama dalam kehidupan. Pendidikan merupakan suatu hak bagi setiap lapisan masyarakat di Indonesia. Pendidikan juga telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. badan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Manusia sadar dengan

BAB I PENDAHULUAN. badan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Manusia sadar dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang selalu melakukan aktifitas jasmani, aktifitas itu berupa gerak yang membutuhkan keaktifan setiap anggota badan sesuai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Permainan bola basket memiliki

I. PENDAHULUAN. banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Permainan bola basket memiliki I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bola basket adalah salah satu cabang olahraga yang termasuk populer dan banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Permainan bola basket memiliki karakteristik tersendiri,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang diajarkan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Soreang. Meskipun

BAB I PENDAHULUAN. yang diajarkan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Soreang. Meskipun 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lay up shoot merupakan salah satu teknik dalam permainan bolabasket yang diajarkan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Soreang. Meskipun tidak spesifik

Lebih terperinci

TEKNIK PASING BAWAH. Oleh : Sb Pranatahadi

TEKNIK PASING BAWAH. Oleh : Sb Pranatahadi TEKNIK PASING BAWAH Oleh : Sb Pranatahadi Teknik Pasing Bawah Dua Tangan Terima Servis Float Teknik pasing bawah dua tangan untuk terima servis float, dan untuk bertahan terhadap smes sangat berbeda. Bola

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Pendidikan Jasmani mengandung dua pengertian yaitu pendidikan untuk

TINJAUAN PUSTAKA. Pendidikan Jasmani mengandung dua pengertian yaitu pendidikan untuk II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pendidikan Jasmani Pendidikan Jasmani mengandung dua pengertian yaitu pendidikan untuk jasmani dan pendidikan melalui aktivitas jasmani. Pendidikan untuk jasmani mengandung pengertian

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Hakikat Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di Sekolah Dasar

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.1 Hakikat Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di Sekolah Dasar BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Hakikat Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan di Sekolah Dasar 2.1.1 Hakikat Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah : SMPN 43 BANDUNG Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas/Semester : XII / 1 Pertemuan : 1 kali pertemuan (2,4,6,8,10,12) Alokasi

Lebih terperinci

Lampiran 15. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Passing Bawah

Lampiran 15. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Passing Bawah Lampiran 15. Rencana Pelaksanaan Passing Bawah RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SMP : SMP Negeri 1 Puring Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas/Semester : VIII/Ganjil

Lebih terperinci

ANALISIS MATERI. Pentingnya meningkatkan perkembangan motorik, diantaranya :

ANALISIS MATERI. Pentingnya meningkatkan perkembangan motorik, diantaranya : ANALISIS MATERI Dalam buku Anak Prasekolah (2000), masa 5 tahun pertama pertumbuhan dan perkembangan anak sering disebut sebagai masa keemasan karena pada masa itu keadaan fisik ataupun segala kemampuan

Lebih terperinci

Analisis SKKD Gerak. Aris Fajar Pambudi FIK UNY

Analisis SKKD Gerak. Aris Fajar Pambudi FIK UNY Analisis SKKD Gerak Aris Fajar Pambudi FIK UNY Kelas I semester 1 1. Mempraktikkan gerak dasar ke dalam permainan sederhana/ aktivitas jasmani dan nilai yang terkandung di dalamnya 1. Mempraktikkan gerak

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. baik (Djumidar A. Widya, 2004: 65). kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya.

BAB II KAJIAN TEORI. baik (Djumidar A. Widya, 2004: 65). kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya. BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Hakikat Lompat Jauh Gaya Jongkok a. Pengertian Lompat Jauh Lompat adalah suatu gerakan mengangkat tubuh dari suatu titik ke titik yang lain yang lebih jauh atau

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam melaksanakan fungsi-fungsi kehidupan manusia tidak akan lepas dari pendidikan, karena pendidikan berfungsi untuk meningkatkan kualitas manusia, baik sebagai individu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sepaktakraw merupakan olahraga permainan asli dari Indonesia. Awal

I. PENDAHULUAN. Sepaktakraw merupakan olahraga permainan asli dari Indonesia. Awal 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sepaktakraw merupakan olahraga permainan asli dari Indonesia. Awal mulanya permainan ini dikenal dengan istilah sepakraga. Sepaktakraw dimainkan di atas lapangan yang

Lebih terperinci

terdiri dari Langkah Berirama terdiri dari Latihan Gerak Berirama Senam Kesegaran Jasmani

terdiri dari Langkah Berirama terdiri dari Latihan Gerak Berirama Senam Kesegaran Jasmani Gerak Berirama Gerak berirama disebut juga gerak ritmik. Gerak ini dilakukan dalam gerakan dasar di tempat. Contoh dari gerakan yang berirama adalah gerak jalan, menekuk, mengayun, dan sebagainya. Ayo

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semua aspek, baik kognitif, efektif maupun fisik motorik. besar, sebagian atau seluruh anggota tubuh. Contohnya berjalan, berlari,

BAB I PENDAHULUAN. semua aspek, baik kognitif, efektif maupun fisik motorik. besar, sebagian atau seluruh anggota tubuh. Contohnya berjalan, berlari, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak usia dini mempunyai kemampuan dan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Pada usia ini anak mengalami perkembangan yang pesat dari semua aspek, baik kognitif,

Lebih terperinci

Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SIKLUS PERTAMA

Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SIKLUS PERTAMA Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SIKLUS PERTAMA Nama Sekolah : SD Negeri 1 Triharjo Wates Mata Pelajaran : Pendidikan jasmani Olahraga dan Kesehatan Kelas/Semester

Lebih terperinci

Suwandi Fendi Fengky Bamar Oktanto Masturi SD/MI

Suwandi Fendi Fengky Bamar Oktanto Masturi SD/MI Suwandi Fendi Fengky Bamar Oktanto Masturi SD/MI 2 Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi oleh Undang-undang. Untuk SD/MI Kelas II Penulis : Suwandi Fendi Fengky Bamar Oktanto

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. di sekolah. Mata pelajaran ini beroreantasi pada pelaksanaan misi. berbagai aktivitas jasmani (Depdikbud, 1993: 1).

TINJAUAN PUSTAKA. di sekolah. Mata pelajaran ini beroreantasi pada pelaksanaan misi. berbagai aktivitas jasmani (Depdikbud, 1993: 1). 1 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran dalam kurikulum di sekolah. Mata pelajaran ini beroreantasi pada pelaksanaan misi pendidikan melalui

Lebih terperinci

di sekolah. Mata pelajaran ini beroreantasi pada pelaksanaan misi berbagai aktivitas jasmani (Depdikbud, 1993: 1).

di sekolah. Mata pelajaran ini beroreantasi pada pelaksanaan misi berbagai aktivitas jasmani (Depdikbud, 1993: 1). 10 II. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran dalam kurikulum di sekolah. Mata pelajaran ini beroreantasi pada pelaksanaan misi pendidikan melalui

Lebih terperinci

KAJIAN PUSTAKA. pendidikan jasmani, salah satu diantaranya Engkos Kosasih (1995 : 2)

KAJIAN PUSTAKA. pendidikan jasmani, salah satu diantaranya Engkos Kosasih (1995 : 2) 6 II. KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Pendidikan Jasmani Banyak ahli pendidikan jasmani yang menjelaskan tentang pengertian pendidikan jasmani, salah satu diantaranya Engkos Kosasih (1995 : 2) mengatakan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS. sepak bola. Karena dengan jump heading pemain bisa melakukan tehnik bertahan

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS. sepak bola. Karena dengan jump heading pemain bisa melakukan tehnik bertahan BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakekat Jump Heading Tehnik dasar heading (jump heading) sangat penting dalam permainan sepak bola. Karena dengan jump heading

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dari kegiatan pendidikan. Manusia membutuhkan pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan dari kegiatan pendidikan. Manusia membutuhkan pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Manusia dapat mengerti dan memahami berbagai ilmu pengetahuan dari kegiatan

Lebih terperinci

untuk SD/MI SD/MI kelas V Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 49 Tahun 2009, tanggal 12 Agustus 2009

untuk SD/MI SD/MI kelas V Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 49 Tahun 2009, tanggal 12 Agustus 2009 untuk SD/MI V kelas Supardi Suroyo Penjasorkes untuk SD/MI kelas V 5 Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-undang. Penjasorkes untuk SD/MI kelas V Penulis : Supardi

Lebih terperinci

MODEL PERMAINAN UNTUK ANAK USIA 12 TAHUN ( 15 Model Permainan)

MODEL PERMAINAN UNTUK ANAK USIA 12 TAHUN ( 15 Model Permainan) MODEL PERMAINAN UNTUK ANAK USIA 12 TAHUN ( 15 Model Permainan) A. Permainan Target (usia 12) 1. Permainan melempar bola ke sasaran Permainan ini sangat digemari oleh anak-anak karena pola permainannya

Lebih terperinci

MODEL PERMAINAN UNTUK ANAK USIA 10 TAHUN (16 model permainan)

MODEL PERMAINAN UNTUK ANAK USIA 10 TAHUN (16 model permainan) A. Permainan Target (usia 10) MODEL PERMAINAN UNTUK ANAK USIA 10 TAHUN (16 model permainan) 1. Permainan melempar bola ke sasaran Permainan ini bertujuan untuk melatih ketepatan dan koordinassi mata/tangan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. ini juga merupakan salah satu materi permainan yang diajarkan di tingkat SD

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. ini juga merupakan salah satu materi permainan yang diajarkan di tingkat SD 1 BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teoretis 2.1.1 Hakikat Permainan Kasti Permainan kasti pada hakikatnya merupakan salah satu jenis permainan menggunakan bola dan tergolong ke

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS. atau ke sisi (Depdikbud, 1995). Sedangkan Takraw berarti bola atau barang

BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS. atau ke sisi (Depdikbud, 1995). Sedangkan Takraw berarti bola atau barang 1 BAB II KAJIAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakikat Permainan Sepak Takraw Sepak takraw berasal dari dua kata yaitu sepak dan takraw. Sepak berarti gerakan menyepak sesuatu

Lebih terperinci

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian Lampiran. Surat Izin Penelitian 63 64 65 66 Lampiran 2. Surat Pernyataan Kolaborator SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : PURWANTO NIM : 060422706 Program Studi : PJKR/PKS D2-S Fakultas

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. menghasilkan lompatan yang sejauh-jauhnya. Dalam pelaksanaannya,lompat jauh

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. menghasilkan lompatan yang sejauh-jauhnya. Dalam pelaksanaannya,lompat jauh 1 BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakekat Lompat Jauh Lompat jauh merupakan salah satu nomor bergengsi dalam cabang olahraga atletik khususnya dalam nomor lompat. Lompat

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. pembelajaran akan berlangsung baik hingga mencapai hasil yang baik pula.

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. pembelajaran akan berlangsung baik hingga mencapai hasil yang baik pula. BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1. Kajian Teori 2.1.1. Metode Jigsaw Secara umum metode merupakan suatu cara untuk melangsungkan proses belajar mengajar sehingga tujuan dapat dicapai. Metode

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang dalam upaya pembinaan mutu sumber daya manusia.

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang dalam upaya pembinaan mutu sumber daya manusia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas kehidupan bangsa ditentukan oleh faktor pendidikan. Pendididikan memegang peranan penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka dan

Lebih terperinci

Hak Cipta 2016 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang

Hak Cipta 2016 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang Hak Cipta 2016 pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang MILIK NEGARA TIDAK DIPERDAGANGKAN Penulis Penyunting Materi Penyunting bahasa : Muhajir dan Budi Santosa : Sismadiyanto

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SERVIS ATAS BOLA VOLI MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN LEMPAR PUKUL BOLA KERTAS PADA SISWA KELAS VII SMP

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SERVIS ATAS BOLA VOLI MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN LEMPAR PUKUL BOLA KERTAS PADA SISWA KELAS VII SMP UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SERVIS ATAS BOLA VOLI MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN LEMPAR PUKUL BOLA KERTAS PADA SISWA KELAS VII SMP Muhammad Syaleh Sekolah Tinggi Olahraga Kesehatan Bina Guna Medan msyaleh3@gmail.com

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh Sri Gunani NIM

SKRIPSI. Oleh Sri Gunani NIM TINGKAT KECAKAPAN MELEMPAR MENANGKAP DAN MEMUKUL BOLA KASTI PADA SISWA KELAS IV DAN V SEKOLAH DASAR NEGERI KROYOKULON KECAMATAN KEMIRI KABUPATEN PURWOREJO SKRIPSI Oleh Sri Gunani NIM. 13604227113 PROGRAM

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1. INSTRUMEN PENELITIAN Test of Gross Motor Development 2 (TGMD-2)

LAMPIRAN 1. INSTRUMEN PENELITIAN Test of Gross Motor Development 2 (TGMD-2) LAMPIRAN 1 INSTRUMEN PENELITIAN Test of Gross Motor Development 2 (TGMD-2) Tes ini memiliki total 12 keterampilan. Untuk 6 keterampilan pertama saya akan meminta anak untuk berpindahdarisatutempatketempat

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. kesebelasan yang memasukkanbola ke gawang lawan lebih banyak. Permainan

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN. kesebelasan yang memasukkanbola ke gawang lawan lebih banyak. Permainan BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Kajian Teoretis 2.1.1 Hakikat Permainan Sepak Bola Sepak bola merupakan permainan bola besar yang digemarisemua lapisan masyarakat di seluruh pelosok.

Lebih terperinci

PEDOMAN BENTUK LATIHAN GERAK DASAR LOKOMOTOR (LOMPAT DAN LONCAT) MELALUI PERMAINAN UNTUK ANAK TUNAGRAHITA TINGKAT SMALB- C

PEDOMAN BENTUK LATIHAN GERAK DASAR LOKOMOTOR (LOMPAT DAN LONCAT) MELALUI PERMAINAN UNTUK ANAK TUNAGRAHITA TINGKAT SMALB- C PEDOMAN BENTUK LATIHAN GERAK DASAR LOKOMOTOR (LOMPAT DAN LONCAT) MELALUI PERMAINAN UNTUK ANAK TUNAGRAHITA TINGKAT SMALB- C A. Deskripsi Dalam buku pedoman bentuk latihan ini berisikan tentang variasivariasi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. gerak. Dalam kehidupan sehari-hari kemampuan gerak sangat dibutuhkan baik

BAB II KAJIAN PUSTAKA. gerak. Dalam kehidupan sehari-hari kemampuan gerak sangat dibutuhkan baik BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hakikat Kemampuan Dasar Setiap manusia pada umumnya dibekali kemampuan dasar berupa gerak. Dalam kehidupan sehari-hari kemampuan gerak sangat dibutuhkan baik

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 MOTORIK KASAR 2.1.1 Motorik Kasar Untuk merangsang motorik kasar anak menurut Sujiono, dkk, (2008) dapat di lakukan seperti melatih anak untuk meloncat, memanjat,berlari, berjinjit,

Lebih terperinci

BAB 1. KISI-KISI PENJASKES Smtr 1 Kls XI SMK INFORMATIKA PUGER 1

BAB 1. KISI-KISI PENJASKES Smtr 1 Kls XI SMK INFORMATIKA PUGER 1 BAB 1 PERMAINAN BOLA BESAR A. Permainan Sepak Bola 1. Bermain Sepak Bola Menggunakan Berbagai Variasi Tujuan permainan sepak bola adalah memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan. Menendang merupakan

Lebih terperinci