PEMBAHASAN. 5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pengembalian Kredit. Karakteristik responden baik yang lancar maupun yang menunggak dalam

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEMBAHASAN. 5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pengembalian Kredit. Karakteristik responden baik yang lancar maupun yang menunggak dalam"

Transkripsi

1 55 II. PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pengembalian Kredit Karakteristik responden baik yang lancar maupun yang menunggak dalam pengembalian Kredit Mikro Utama diidentifikasi berdasarkan variabel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap tingkat pengembalian kredit yang terdiri dari karakteristik personal, karakteristik usaha, dan karakteristik kredit. Karakteristik personal mencakup jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status nasabah, dan tanggungan keluarga. Karakteristik usaha mencakup pengalaman usaha, aset usaha, omzet usaha, dan total pendapatan usaha bersih. Sedangkan karakteristik kredit mencakup plafond pinjaman, jangka waktu, pengalaman kredit, jaminan kredit, dan tingkat suku bunga. Dilihat dari karakteristik personal, sebagian besar nasabah Kredit Mikro Utama yang menjadi responden berjenis kelamin pria yang jumlahnya 53 orang, sedangkan debitur wanita berjumlah 17 orang, usia debitur berkisar antara 23 tahun hingga 66 tahun, tingkat pendidikan nasabah diantara sekolah dasar hingga sarjana. Debitur yang baru mengajukan kredit berjumlah 41 orang, sedangkan yang sudah pernah mengajukan kredit berjumlah 29 orang, dan jumlah tanggungan dalam keluarga berkisar antara nol hingga tujuh orang. Dilihat dari karakteristik usaha, pengalaman usaha nasabah KMU yang menjadi responden berkisar antara satu hingga 24 tahun, aset usaha berkisar antara 10 juta hingga 300 juta rupiah, omzet usaha diantara 5 juta hingga 350 juta rupiah per bulan, sedangkan total pendapatan usaha bersih berkisar antara 300 ribu rupiah sampai 7,5 juta rupiah. Berdasarkan karakteristik kredit, nilai plafond

2 56 nasabah responden antara 5 juta hingga 95 juta rupiah, jangka waktu pelunasan berkisar antara 12 bulan hingga 60 bulan, pengalaman kredit antara nol sampai dua kali, jaminan kredit berkisar antara 6,5 juta sampai 420 juta rupiah, dan tingkat suku bunga berada di kisaran 16 persen dan 16,5 persen Perbandingan Karakteristik Personal Responden Karakteristik personal responden baik dengan kategori lancar maupun menunggak diklasifikasikan berdasarkan variabel jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status nasabah, dan tanggungan keluarga yaitu: a) Jenis Kelamin Seorang wanita biasanya lebih mengedepankan perasaan daripada pikiran dalam melakukan suatu tindakan, sedangkan pria sebalikanya. Wanita juga disinyalir lebih perhatian terhadap permasalahan utang dibanding pria. Kaitannya dengan pengembalian KMU, diduga bahwa perilaku pengembalian KMU (lancar maupun menunggak) berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin tersebut. Tabel 5.1 Perbandingan Sebaran Jenis Kelamin Responden per Kategori Jenis Kelamin Lancar Menunggak Total Pria 37 75, , ,71 Wanita 12 24, , ,29 Berdasarkan Tabel 5.1 dapat diketahui bahwa jenis kelamin responden secara keseluruhan didominasi oleh pria sebesar 75,71 persen yakni sebanyak 53 orang dan sisanya adalah wanita. Nasabah yang berjenis kelamin pria juga mendominasi masing-masing kategori pengembalian kredit baik yang lancar maupun yang menunggak (75,51 persen dan 76,19 persen).

3 57 b) Usia Usia diduga berpengaruh positif terhadap kelancaran pengembalian kredit karena usia yang lebih muda menunjukkan produktifitas yang lebih tinggi dibanding dengan usia yang lebih tinggi yang mempengaruhi perkembangan usaha ke arah yang lebih baik. Tabel 5.2 Perbandingan Sebaran Usia Responden per Kategori Usia (tahun) Lancar Menunggak Total ,12 0 0,00 3 4, , , , , , ,43 > , , ,28 Berdasarkan Tabel 5.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berada pada kisaran usia 31 tahun hingga 55 tahun yakni sebesar 81,43 persen (40,00% + 41,43%). Sebagian besar responden yang lancar dalam pengembalian kredit berada pada kisaran usia 31 tahun hingga 40 tahun yakni sebesar 44,90 persen, sedangkan sebagian besar responden yang menunggak dalam pengembalian kredit berada pada kisaran usia 41 tahun hingga 55 tahun. c) Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan diduga berpengaruh positif terhadap kelancaran pengembalian kredit karena semakin tinggi tingkat pendidikan nasabah menunjukkan kemampuan manajerial yang semakin baik dalam pengelolaan usaha.

4 58 Tabel 5.3 Perbandingan Sebaran Tingkat Pendidikan Responden per Kategori Lancar Menunggak Total Pendidikan SD 12 24,49 1 4, ,57 SMP 8 16, , ,86 SMA 25 51, , ,43 Diploma 1 2,04 0 0,00 1 1,43 Sarjana 3 6,12 1 4,76 4 5,71 Berdasarkan Tabel 5.3 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden berpendidikan SMP hingga SMA yakni sebesar 74,29 persen (22,86% + 51,43 %). Sebagian besar responden yang lancar dalam pengembalian kredit berpendidikan SMA yakni sebanyak 51,02 persen, dan sebagian besar responden yang menunggak dalam pengembalian kredit juga berpendidikan SMA yakni sebanyak 52,38 persen. Namun sebagian besar responden yang berpendidikan SD lancar dalam pengembalian kredit yakni sebanyak dua belas orang, sedangkan yang menunggak hanya satu orang. d) Status Nasabah Nasabah lama pastinya memiliki rekam jejak pengembalian kredit dengan lancar di peminjaman sebelumnya sehingga diharapkan dapat mengembalikan kredit dengan lancar dibanding dengan nasabah yang baru meminjam kredit untuk pertama kalinya yang tentunya belum memiliki rekam jejak dalam pengembalian kredit.

5 59 Tabel 5.4 Perbandingan Sebaran Status Nasabah Responden per Kategori Status Nasabah Nasabah Lama Nasabah Baru Lancar Menunggak Total 24 48, , , , , ,57 Berdasarkan Tabel 5.4 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden adalah nasabah baru yakni sebesar 58,57 persen. Responden yang lancar dalam pengembalian kredit tidak begitu jauh perbedaannya antara nasabah baru maupun nasabah lama yakni masing-masing sebanyak 48,98 persen dan 51,02 persen. Namun, responden yang menunggak dalam pengembalian kredit sebagian besar berasal dari nasabah baru yakni sebesar 76,19 persen. e) Tanggungan Keluarga Banyaknya jumlah tanggungan dalam suatu keluarga akan mengakibatkan bertambahnya biaya yang harus dikeluarkan dan pada akhirnya akan mengurangi proporsi pendapatan yang sedianya dialokasikan untuk membayar kredit. Hal tersebut tentunya dapat mengurangi kemampuan seseorang dalam membayar angsuran kredit. Tabel 5.5 Perbandingan Sebaran Tanggungan Keluarga Responden per Kategori Tanggungan Keluarga Lancar Menunggak Total , , ,00 > , , ,00

6 60 Berdasarkan Tabel 5.5 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki jumlah tanggungan keluarga di atas dua orang yakni sebesar 60 persen. Sebagian besar responden yang lancar dalam pengembalian kredit memiliki tanggungan keluarga di atas dua orang sebesar 59,18 persen, dan responden yang menunggak dalam pengembalian kredit umumnya juga memiliki tanggungan keluarga diatas dua orang sebesar 61,90 persen Perbandingan Karakteristik Usaha Responden Perbandingan karakteristik usaha masing-masing responden diidentifikasi berdasarkan pengalaman usaha, aset usaha, omzet usaha per bulan, dan total pendapatan usaha bersih per bulan yaitu: a) Pengalaman Usaha Pengalaman usaha menunjukkan kemapanan seseorang dalam menjalankan suatu usaha. Semakin lama pengalaman usaha seseorang maka kemampuannya dalam mengelola usaha akan semakin baik. Harapannya, semakin lama usaha yang digeluti nasabah KMU, maka peluang keberhasilan usaha akan semakin besar pula dan dengan sendirinya dapat menjamin kemampuan nasabah KMU dalam mengembalikan kredit. Tabel 5.6 Perbandingan Sebaran Pengalaman Usaha Responden per Kategori Pengalaman Lancar Menunggak Total Usaha (tahun) , , , , , , ,21 0 0,00 5 7,14 > , , ,71

7 61 Berdasarkan Tabel 5.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pengalaman usaha di bawah sembilan tahun yakni sebesar 67,15 persen (32,86 % + 34,29%). Sebagian besar responden yang lancar dalam pengembalian kredit memiliki pengalaman usaha kurang dari sembilan tahun yakni sebesar 59,18 persen (28,57% + 30,61%), demikian juga responden yang menunggak dalam pengembalian kredit sebagian besar memiliki pengalaman usaha kurang dari sembilan tahun yakni sebesar 85,72 persen (42,86% + 42,86%). b) Aset Usaha Aset usaha menunjukkan kemampuan membayar dan menalangi suatu pinjaman sehingga nasabah KMU yang memlilki aset yang besar dinilai mampu mengembalikan kredit dengan lancar dibandingkan dengan nasabah KMU yang aset usahanya lebih kecil. Tabel 5.7 Perbandingan Sebaran Aset Usaha Responden per Kategori Aset Usaha (juta rupiah) Lancar Menunggak Total , , ,29 > , , ,71 > , , ,00 Berdasarkan Tabel 5.7 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki aset usaha di bawah seratus juta rupiah yakni sebesar 70 persen (34,29% + 35,71%). Responden yang lancar dalam pengembalian kredit sebagian besar memiliki aset usaha di bawah lima puluh juta rupiah yakni sebesar 40,82 persen, sedangkan responden yang menunggak dalam pengembalian kredit sebagian besar

8 62 memiliki aset usaha di atas lima puluh juta rupiah yakni sebesar 80,95 persen (47,62% + 33,33%). c) Omzet Usaha Semakin tinggi omzet usaha yang dimiliki nasabah KMU tentunya akan meningkatkan keseluruhan jumlah penjualan usahanya dalam kurun waktu tertentu sehingga diharapkan mampu mengembalikan kredit dengan lancar. Tabel 5.8 Perbandingan Sebaran Omzet Usaha Responden per Kategori Omzet Usaha Lancar Menunggak Total (juta rupiah/bulan) , , ,71 > , , ,86 > , , ,43 Berdasarkan Tabel 5.8 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki omzet usaha per bulan di bawah lima puluh juta rupiah yakni sebesar 78,57 persen (45,71% + 32,86%). Responden yang lancar dalam pengembalian kredit sebagian besar memiliki omzet usaha per bulan di bawah dua puluh lima juta rupiah yakni sebesar 48,98 persen, sedangkan responden yang menunggak dalam pengembalian kredit sebagian besar memiliki omzet usaha per bulan antara dua puluh lima juta rupiah hingga lima puluh juta rupiah yakni sebesar 42,86 persen. d) Total Pendapatan Usaha Bersih Pendapatan merupakan sumber pemenuhan kebutuhan hidup bagi pelaku usaha dan keluarganya. Semakin tinggi total pendapatan usaha nasabah KMU maka semakin tinggi pula kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan. Kaitannya dalam pengembalian kredit ialah dengan tingginya total pendapatan nasabah

9 63 KMU maka kemampuannya dalam mengembalikan kredit dengan lancar akan terjamin. Tabel 5.9 Perbandingan Sebaran Total Pendapatan Bersih Usaha Responden per Kategori Total Lancar Menunggak Total Pendapatan (juta rupiah/bulan) , , ,58 > 1 2, , , ,71 > 2, , , ,71 Berdasarkan Tabel 5.9 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki total pendapatan per bulan di atas satu juta rupiah yakni sebesar 71,42 persen (35,71% + 35,71 %). Responden yang lancar dalam pengembalian kredit sebagian besar memiliki total pendapatan per bulan di atas dua setengah juta rupiah yakni sebesar 40,82 persen, sedangkan responden yang menunggak dalam pengembalian kredit sebagian besar memiliki total pendapatan per bulan di bawah dua setengah hingga satu juta rupiah yakni sebesar 57,14 persen Perbandingan Karakteristik Kredit Responden Karakteristik kredit responden baik dengan kategori lancar maupun menunggak diklasifikasikan berdasarkan variabel plafond pinjaman, jangka waktu pelunasan kredit, pengalaman kredit, jaminan kredit, dan tingkat suku bunga yaitu: a) Plafond Pinjaman Besarnya plafond kredit yang diberikan oleh bank tergantung dari jumlah permintaan dan penilaian kemampuan pembayaran seorang debitur. Namun, jumlah plafond yang besar juga akan mengakibatkan beban angsuran yang besar

10 64 pula bagi nasabah KMU dalam pelunasannya sehingga menimbulkan resiko terhambatnya pengembalian kredit oleh debitur. Tabel 5.10 Perbandingan Sebaran Plafond Pinjaman Responden per Kategori Plafond Lancar Menunggak Total Pinjaman (juta rupiah) , , ,72 > , , ,57 > , , ,57 > ,17 1 4,76 5 7,14 Berdasarkan Tabel 5.10 dapat diketahui bahwa sebagian besar reponden memperoleh plafond kredit antara >Rp 25 juta hingga Rp 50 juta yakni sebesar 38,57 persen. Sebagian besar responden yang tergolong lancar maupun yang menunggak dalam pengembalian kredit juga memperoleh plafond dengan kisaran nilai tersebut yaitu sebanyak 32,65 persen dari responden yang lancar dan 52,38 persen dari responden yang menunggak. b) Jangka Waktu Pelunasan Kredit Jangka waktu pelunasan kredit merupakan waktu jatuh tempo seorang nasabah KMU dalam membayar seluruh nilai pinjaman yang diberikan termasuk pembayaran bunganya. Semakin panjang waktu yang diberikan, maka beban debitur dalam membayar angsuran akan semakin ringan/longgar.

11 65 Tabel 5.11 Perbandingan Sebaran Jangka Waktu Pelunasan Kredit Responden per Kategori Jangka Waktu Pelunasan Kredit (tahun) Lancar Menunggak Total 1 3 6,12 0 0,00 3 4,28 > , , ,00 > , , ,86 > 3 0 0, , ,86 Berdasarkan Tabel 5.11 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden menerima kredit dengan jangka waktu pelunasan di atas satu hingga dua tahun yakni sebesar 50,00 persen. Responden yang lancar dalam pengembalian kredit sebagian besar menerima kredit dengan jangka waktu pelunasan di atas satu hingga dua tahun yakni sebesar 55,10 persen, sedangkan responden yang menunggak dalam pengembalian kredit sebagian besar menerima kredit dengan jangka waktu pelunasan di atas tiga tahun yakni sebesar 42,86 persen. c) Pengalaman Kredit Pengalaman kredit merupakan frekuensi/intensitas nasabah KMU dalam memperoleh pinjaman kredit dari lembaga keuangan. Pihak Bank Jabar Banten tentunya akan memberikan kepercayaan lebih pada nasabah KMU yang telah melunasi seluruh pinjaman kreditnya dengan lancar pada masa lalu. Tabel 5.12 Perbandingan Sebaran Pengalaman Kredit Responden per Kategori Pengalaman Lancar Menunggak Total Kredit (kali) , , , , , , ,12 1 4,76 4 5,71

12 66 Berdasarkan Tabel 5.12 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden belum pernah memiliki pengalaman dalam menerima kredit yakni sebesar 64,29 persen. Sebagian besar responden yang tergolong lancar maupun yang menunggak dalam pengembalian kredit juga belum memiliki pengalaman kredit yakni sebesar 57,14 persen dari responden yang lancar dan 80,95 persen dari responden menunggak. d) Jaminan Kredit Jaminan kredit yaitu aset pihak nasabah KMU yang dijanjikan kepada kreditur jika nasabah KMU tidak dapat mengembalikan pinjaman tersebut. Semakin besar nilai jaminan yang diberikan nasabah KMU pada saat penerimaan kredit maka keseriusannya dalam mengembalikan kredit akan semakin tinggi juga agar jaminannya kembali sehingga diharapkan mampu mengembalikan kredit dengan lancar. Tabel 5.13 Perbandingan Sebaran Jaminan Kredit Responden per Kategori Jaminan Lancar Menunggak Total Kredit (juta rupiah) , , ,28 > , , ,43 > , , ,29 Berdasarkan Tabel 5.13 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki jaminan kredit di atas lima puluh juta rupiah yakni sebesar 75,72 persen (41,43% + 34,29%). Sebagian besar responden yang tergolong lancar maupun yang menunggak dalam pengembalian kredit juga memiliki jaminan kredit di atas

13 67 lima puluh juta rupiah yakni sebesar 75,51 persen dari responden yang lancar dan 75,72 persen dari yang menunggak. e) Tingkat Suku Bunga Tingkat suku bunga yaitu persentase dari pokok utang yang dibayarkan sebagai imbal jasa (bunga) dalam suatu periode tertentu. Semakin tinggi tingkat suku bunga kredit maka beban angsuran bunga akan semakin tinggi juga yang mengakibatkan peluang nasabah KMU dalam pengembalian kredit akan semakin kecil. Tabel 5.14 Perbandingan Sebaran Tingkat Suku Bunga Responden per Kategori Tingkat Lancar Menunggak Total Suku Bunga , , ,57 16,5 0 0, , ,43 Berdasarkan Tabel 5.14 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden meminjam kredit dengan tingkat suku bunga 16 persen yakni sebesar 88,57 persen. Sebagian besar responden yang tergolong lancar maupun menunggak dalam pengembalian kredit juga meminjam kredit pada tingkat suku bunga 16 persen yakni sebesar 100 persen dari responden yang lancar dan 61,90 persen dari responden yang menunggak. 5.2 Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Pengembalian Kredit Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi nasabah dalam mengembalikan Kredit Mikro Utama adalah jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, tanggungan keluarga, pengalaman usaha, aset usaha, omzet usaha, total pendapatan usaha

14 68 bersih, plafond kredit, jangka waktu pengembalian kredit, status nasabah, pengalaman kredit, jaminan kredit, dan tingkat suku bunga. Variabel respon dalam hal ini terdiri dari dua alternatif pilihan yaitu debitur yang lancar dalam pengembalian angsuran pokok maupun bunga (1), dan debitur yang tidak lancar dalam pengembalian angsuran pokok maupun bunga (0). Berdasarkan output hasil pengolahan SPSS 13 dengan tingkat kepercayaan 90 persen (α = 0,1), nilai uji statistik G untuk model regresi logistik ini adalah 85,521 dengan nilai P 0,001. Hal ini berarti menolak H 0 atau minimal ada satu nilai β tidak sama dengan nol. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa minimal ada satu variabel diantara jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, tanggungan keluarga, pengalaman usaha, aset usaha, omzet usaha, total pendapatan, plafond kredit, jangka waktu pengembalian kredit, status nasabah, pengalaman kredit, jaminan kredit, dan tingkat suku bunga berpengaruh nyata terhadap pengembalian Kredit Mikro Utama di Bank Jabar Banten KCP Dramaga. Uji Goodness of Fit yang terdiri dari uji Hosmer-Lemeshow menunjukkan bahwa semua nilai P sebesar 0,743 atau lebih besar dari 10 persen (α = 0,1). Hal ini menunjukkan bahwa model yang diperoleh dari analisis regresi logistik sudah fit. Hasil uji persentase kebenaran model menunjukkan kemampuan model dalam memprediksi kebenaran dari sub kategori menunggak adalah sebesar 81 persen, sedangkan untuk sub kategori lancar sebesar 98 persen, dan total persentase kebenaran model dalam memprediksi data penelitian ini adalah sebesar 92,9 persen. Hasil pengolahan regresi logistik mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengembalian Kredit Mikro Utama dapat dilihat pada Tabel 5.15.

15 69 Tabel 5.15 Hasil Pengolahan Regresi Logistik Mengenai Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembalian Kredit Mikro Utama pada BPD Jabar Banten KCP Dramaga Variabel Koefisien P-Value Odds Ratio Jenis Kelamin (0) 1,706 0,224 5,50 Usia -0, ,843 Tingkat Pendidikan -0,504 0,087 0,604 Status Nasabah (0) -3,506 0,248 0,030 Tanggungan Keluarga -0,037 0,964 0,964 Pengalaman Usaha -25,376 0,999 0,000 Pengalaman Usaha (1) -25,740 0,999 0,000 Pengalaman Usaha (2) -25,586 0,999 0,000 Aset Usaha 0,000 0,377 1,000 Omzet Usaha -5,814 0,111 0,003 Omzet usaha (1) -3,275 0,225 0,038 Total Pendapatan -7,029 1,000 0,001 Total Pendapatan (1) -6,966 1,000 0,001 Plafond Pinjaman -13,012 1,000 0,000 Plafond Pinjaman (1) -8,100 1,000 0,000 Plafond Pinjaman (2) -1,480 0,441 0,228 Jangka Waktu Pelunasan -1,181 0,128 0,834 Pengalaman Kredit -1,304 0,562 0,271 Jaminan Kredit 0,000 0,018 1,000 Tingkat Suku Bunga (0) -17,131 1,000 0,000 Dari hasil pengolahan dengan menggunakan regresi logistik dapat diketahui variabel-variabel yang berpengaruh nyata (signifikan) dan tidak berpengaruh nyata (tidak signifikan) terhadap pengembalian tunggakan kredit

16 70 mikro utama. Identifikasi variabel yang signifikan dapat dilihat dari nilai P variabel yang bersangkutan. Bila nilai P suatu variabel lebih kecil dari 10 persen (P < 0,1) maka variabel tersebut berpengaruh nyata terhadap pengembalian kredit mikro utama. Demikian juga sebaliknya, jika nilai P suatu variabel lebih besar dari 10 persen (P > 0,1) maka variabel tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap pengembalian kredit mikro utama. Adapun variabel-variabel yang signifikan dari hasil analisis regresi logistik adalah usia, tingkat pendidikan, dan jaminan kredit. Hal ini dapat dilihat dari nilai P variabel-variabel tersebut dimana untuk variabel usia sebesar 0,039, variabel tingkat pendidikan adalah sebesar 0,087, dan untuk variabel jaminan kredit sebesar 0,018, dimana nilai P masing-masing variabel tersebut lebih kecil dari 10 persen (P < 0,1). Sedangkan variabel independen yang tidak signifikan pengaruhnya bagi pengembalian kredit mikro utama adalah jenis kelamin, tanggungan keluarga, pengalaman usaha, aset usaha, omzet usaha, total pendapatan usaha bersih, plafond kredit, jangka waktu pengembalian kredit, status debitur, pengalaman kredit, dan tingkat suku bunga. dimana nilai P dari masing-masing variabel-variabel tersebut lebih besar dari 10 persen (P > 0,1) Analisis Pengaruh Karakteristik Personal terhadap Tingkat Pengembalian Kredit Karakteristik personal yang diduga berpengaruh terhadap tingkat pengembalian Kredit Mikro Utama terdiri dari varibel jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, tanggungan keluarga, dan pengalaman usaha. Berdasarkan output hasil olahan SPSS 13, pengaruh masing-masing variabel tersebut diuraikan sebagai berikut:

17 71 a. Variabel Jenis Kelamin Seorang wanita biasanya lebih mengedepankan perasaan daripada pikiran dalam melakukan suatu tindakan, sedangkan pria sebalikanya. Wanita juga disinyalir lebih perhatian terhadap permasalahan utang dan dinilai memiliki kesungguhan yang lebih dalam membayar angsuran kredit dibanding pria, sehingga diduga bahwa perilaku pengembalian KMU (lancar maupun menunggak) berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin tersebut. Didukung oleh penjelasan tersebut di atas, maka jenis kelamin wanita diberi nilai 1 sebagai variabel dummy yang artinya mendukung kelancaran pengembalian KMU dan jenis kelamin pria diberi nilai 0. Bardasarkan output hasil olahan, ternyata variabel dummy jenis kelamin tidak memiliki pengaruh yang nyata dalam kelancaran pengembalian kredit. Nilai P variabel jenis kelamin pria lebih besar dari 10 persen (P > 0,1) yaitu sebesar 0,224 sehingga belum cukup bukti untuk mengatakan bahwa jenis kelamin pria berpengaruh nyata pada kelancaran pengembalian KMU. b. Variabel Usia Usia diduga berpengaruh positif terhadap kelancaran pengembalian kredit karena usia yang lebih muda menunjukkan produktifitas yang lebih tinggi dibanding dengan usia yang lebih tinggi yang mempengaruhi perkembangan usaha ke arah yang lebih baik. Nilai odds ratio variabel usia sebesar 0,843. Hal ini menandakan bahwa peluang nasabah KMU yang berusia lebih tua satu tahun dalam mengembalikan kredit dengan lancar adalah 0,843 kalinya dibandingkan dengan nasabah KMU yang umurnya lebih muda (satu tahun), dengan asumsi variabel lainnya tetap.

18 72 Atau dengan kata lain semakin tinggi usia nasabah KMU, maka peluang mengembalikan KMU dengan lancar semakin kecil. Nilai P variabel usia sebesar 0,040 atau lebih kecil dari 10 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sudah cukup bukti untuk mengatakan bahwa veriabel usia berpengaruh nyata terhadap pengembalian Kredit Mikro Utama. c. Variabel Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan diduga berpengaruh positif terhadap kelancaran pengembalian kredit karena semakin tinggi tingkat pendidikan nasabah menunjukkan kemampuan manajerial yang semakin baik dalam pengelolaan usaha. Berdasarkan output hasil olahan didapat nilai nilai odds ratio tingkat pendidikan sebesar 0,604. Hal ini menunjukkan peluang nasabah KMU yang tingkat pendidikannya satu tingkat lebih tinggi dalam mengembalikan kredit dengan lancar adalah 0,604 kalinya dibandingkan dengan nasabah KMU yang tingkat pendidikannya lebih rendah (satu tingkat dibawah), dengan asumsi variabel lainnya tetap. Atau dengan kata lain semakin tinggi tingkat pendidikan nasabah KMU maka peluang mengembalikan KMU dengan lancar semakin kecil. Nilai P variabel tingkat pendidikan sebesar atau lebih kecil dari 10 persen, sehingga sudah cukup bukti untuk menyatakan bahwa variabel tingkat pendidikan berpengaruh nyata terhadap pengembalian Kredit Mikro Utama. d. Variabel Status Nasabah Nasabah KMU lama pastinya memiliki rekam jejak pengembalian kredit dengan lancar di peminjaman sebelumnya sehingga diharapkan dapat mengembalikan kredit dengan lancar dibanding dengan nasabah KMU yang baru

19 73 meminjam kredit untuk pertama kalinya yang tentunya belum memiliki rekam jejak dalam pengembalian kredit. Berdasarkan output hasil olahan didapat nilai P variabel nasabah baru adalah 0,248 atau lebih besar dari 10 persen sehingga belum cukup bukti untuk mengatakan bahwa variabel status nasabah baru berpengaruh nyata dalam pengembalian kredit. e. Variabel Tanggungan Keluarga Banyaknya jumlah tanggungan dalam suatu keluarga akan mengakibatkan bertambahnya biaya yang harus dikeluarkan dan pada akhirnya akan mengurangi proporsi pendapatan yang sedianya dialokasikan untuk membayar kredit. Hal tersebut tentunya dapat mengurangi kemampuan nasabah KMU dalam membayar angsuran kredit. Nilai P variabel tanggungan keluarga sebesar 0,964 atau lebih besar dari 0,1 sehingga dapat dikatakan bahwa variabel tanggungan keluarga tidak berpengaruh nyata terhadap pengembalian Kredit Mikro Utama Analisis Pengaruh Karakteristik Usaha terhadap Tingkat Pengembalian Kredit Karakteristik usaha yang diduga berpengaruh terhadap tingkat pengembalian Kredit Mikro Utama terdiri dari variabel pengalaman usaha, aset usaha, omzet usaha, dan total pendapatan usaha. Berdasarkan output hasil olahan SPSS 13, pengaruh masing-masing variabel tersebut diuraikan sebagai berikut: a. Variabel Pengalaman Usaha Pengalaman usaha menunjukkan kemapanan seseorang dalam menjalankan suatu usaha. Semakin lama pengalaman usaha seseorang maka kemampuannya dalam mengelola usaha akan semakin baik. Harapannya, semakin lama usaha yang digeluti maka peluang keberhasilan usaha akan semakin besar pula dan dengan sendirinya dapat menjamin kemampuan nasabah KMU dalam

20 74 mengembalikan kredit. Nilai P variabel pengalaman usaha lebih besar dari 0,1 yakni 0,999 sehingga belum cukup bukti untuk menyatakan bahwa variabel pengalaman usaha berpengaruh nyata pada kelancaran pengembalian Kredit Mikro Utama. b. Variabel Aset Aset usaha menunjukkan kemampuan membayar dan menalangi suatu pinjaman sehingga nasabah KMU yang memiliki aset usaha yang besar dinilai mampu mengembalikan KMU dengan lancar dibandingkan dengan nasabah KMU yang aset usahanya lebih kecil. Nilai P variabel aset sebesar 0,377 atau lebih besar dari 0,1 sehingga dapat dikatakan bahwa variabel aset usaha tidak berpengaruh nyata terhadap pengembalian Kredit Mikro Utama. c. Variabel Omzet Usaha Semakin tinggi omzet usaha yang dimiliki nasabah KMU tentunya akan meningkatkan keseluruhan jumlah penjualan usahanya dalam kurun waktu tertentu sehingga diharapkan mampu mengembalikan kredit dengan lancar. Nilai P variabel omzet usaha lebih besar dari 0,1 yakni masing-masing per kategori sebesar 0,279, 0,111, dan 0,225. Hal ini menandakan bahwa variabel omzet usaha tidak signifikan dalam pengembalian kredit. d. Total Pendapatan Usaha Pendapatan merupakan sumber pemenuhan kebutahan hidup bagi pelaku usaha dan keluarganya. Semakin tinggi total pendapatan usaha seseorang maka semakin tinggi pula kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan. Kaitannya dalam pengembalian kredit ialah dengan tingginya total pendapatan usaha nasabah KMU maka kemampuannya dalam mengembalikan KMU dengan lancar akan

21 75 terjamin. Nilai P variabel total pendapatan usaha lebih besar dari 1 yakni 1,000. Hal ini menandakan bahwa variabel total pendapatan usaha tidak berpengaruh nyata dalam pengembalian Kredit Mikro Utama Analisis Pengaruh Karakteristik Kredit terhadap Tingkat Pengembalian Kredit Karakteristik kredit yang diduga berpengaruh terhadap tingkat pengembalian Kredit Mikro Utama terdiri dari varibel plafond pinjaman, jangka waktu pelunasan. pengalaman kredit, jaminan kredit, dan tingkat suku bunga. Berdasarkan output hasil olahan SPSS 13, pengaruh masing-masing variabel tersebut diuraikan sebagai berikut: a. Variabel Plafond Pinjaman Besarnya plafond kredit yang diberikan oleh bank tergantung dari jumlah permintaan dan penilaian kemampuan pembayaran seorang debitur. Namun, jumlah plafond yang besar juga akan mengakibatkan beban angsuran yang besar pula bagi nasabah KMU dalam pelunasannya sehingga menimbulkan resiko terhambatnya pengembalian KMU. Nilai P variabel plafond pinjaman semuanya di atas 10 persen yakni masing-masing per kategori sebesar 1,000, 1,000, dan 0,441 sehingga variabel plafond pinjaman tidak berpengaruh nyata terhadap pengembalian kredit. b. Variabel Jangka Waktu Pelunasan Jangka waktu pelunasan kredit merupakan waktu jatuh tempo seorang debitur dalam membayar seluruh nilai pinjaman yang diberikan termasuk pembayaran bunganya. Semakin panjang waktu yang diberikan maka beban nasabah KMU dalam membayar angsuran akan semakin ringan/longgar. Nilai P variabel jangka waktu pelunasan adalah 0,128 atau lebih besar dari 0,1. Hal ini

22 76 menandakan bahwa variabel jangka waktu pelunasan tidak berpengaruh nyata terhadap pengembalian Kredit Mikro Utama. c. Variabel pengalaman kredit Pengalaman kredit merupakan frekuensi/intensitas debitur dalam memperoleh pinjaman kredit dari lembaga keuangan. Pihak Bank Jabar Banten tentunya akan memberikan kepercayaan lebih pada nasabah KMU yang telah melunasi seluruh pinjaman kreditnya dengan lancar pada masa lalu. Berdasarkan output hasil olahan didapat nilai P variabel pengalaman kredit adalah 0,562 atau lebih besar dari 10 persen sehingga belum cukup bukti untuk mengatakan bahwa variabel pengalaman kredit berpengaruh nyata terhadap pengembalian KMU. d. Variabel Jaminan Kredit Jaminan kredit yaitu aset pihak debitur yang dijanjikan kepada kreditur jika debitur tidak dapat mengembalikan pinjaman tersebut. Semakin besar nilai jaminan yang diberikan nasabah KMU pada saat penerimaan kredit maka keseriusannya dalam mengembalikan KMU akan semakin tinggi juga agar jaminannya kembali sehingga diharapkan mampu mengembalikan KMU dengan lancar. Nilai odds ratio variabel jaminan adalah 1,000. Hal ini menandakan bahwa peluang nasabah dengan jaminan yang nilainya besar dalam mengembalikan kredit dengan lancar adalah sama dengan peluang nasabah yang nilai jaminan kreditnya lebih kecil kecil atau dengan kata lain menandakan bahwa besar kecilnya nilai jaminan yang diberikan nasabah pada saat penerimaan kredit tidak dapat dijadikan patokan dalam pengembalian kredit dengan lancar. Nilai P variabel jaminan adalah 0,018 atau di atas 10 persen sehingga sudah cukup bukti

23 77 untuk mengatakan bahwa variabel jaminan berpengaruh nyata terhadap pengembalian KMU. e. Variabel tingkat suku bunga Tingkat suku bunga yaitu persentase dari pokok utang yang dibayarkan sebagai imbal jasa (bunga) dalam suatu periode tertentu. Semakin tinggi tingkat suku bunga kredit maka beban angsuran bunga akan semakin tinggi juga yang mengakibatkan peluang nasabah KMU dalam pengembalian kredit akan semakin kecil. Berdasarkan output hasil olahan didapat nilai P variabel tingkat suku bunga 16,5 persen adalah 1,00 atau lebih besar dari 0,1 sehingga dapat dikatakan bahwa variabel tingkat suku 16,5 persen bunga tidak berpengaruh pada tingkat pengembalian Kredit Mikro Utama..

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Bank Jabar Banten KCP Dramaga dan juga

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Bank Jabar Banten KCP Dramaga dan juga 37 METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bank Jabar Banten KCP Dramaga dan juga cabang Cibinong. Pelaksanaan penelitian berlangsung bulan Juli 2009 sedangkan upaya

Lebih terperinci

VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBALIAN KREDIT USAHA RAKYAT MIKRO

VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBALIAN KREDIT USAHA RAKYAT MIKRO VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBALIAN KREDIT USAHA RAKYAT MIKRO Faktor-faktor yang diduga akan mempengaruhi pengembalian KUR Mikro adalah usia, jumlah tanggungan keluarga, jarak tempat tinggal

Lebih terperinci

VI. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENGEMBALIAN KUPEDES PADA BRI UNIT CIJERUK

VI. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENGEMBALIAN KUPEDES PADA BRI UNIT CIJERUK VI. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PENGEMBALIAN KUPEDES PADA BRI UNIT CIJERUK 6.1. Hubungan Karakteristik Individu dan Karakteristik Usaha dengan Peluang Pengembalian Kupedes Pada BRI

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Mengenai Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Realisasi Kredit

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Mengenai Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Realisasi Kredit II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Mengenai Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Realisasi Kredit Hasil analisis deksriptif (Wangi SP, 2008) memperlihatkan bahwa semakin besar nilai pengajuan dan

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENGEMBALIAN KREDIT MIKRO PT BPD JABAR BANTEN KCP DRAMAGA OLEH FRANSISCUS HALOHO H

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENGEMBALIAN KREDIT MIKRO PT BPD JABAR BANTEN KCP DRAMAGA OLEH FRANSISCUS HALOHO H ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENGEMBALIAN KREDIT MIKRO PT BPD JABAR BANTEN KCP DRAMAGA OLEH FRANSISCUS HALOHO H14053267 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT

Lebih terperinci

VI. KARAKTERISTIK RESPONDEN

VI. KARAKTERISTIK RESPONDEN VI. KARAKTERISTIK RESPONDEN 6.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Kelancaran Di dalam penelitian ini terdapat 36 orang responden, dengan proporsi 31 orang berjenis kelamin pria dan lima orang

Lebih terperinci

VII. ANALISIS REALISASI KUR DI BRI UNIT TONGKOL

VII. ANALISIS REALISASI KUR DI BRI UNIT TONGKOL VII. ANALISIS REALISASI KUR DI BRI UNIT TONGKOL 7.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Realisasi KUR Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi KUR dapat dimodelkan kedalam suatu fungsi permintaan.

Lebih terperinci

Analisis Efektivitas Pemberian Pinjaman Program Pembiayaan UMKM Oleh Koperasi Di Jepara (Studi Kasus UJKS Mitra Usaha Jepara)

Analisis Efektivitas Pemberian Pinjaman Program Pembiayaan UMKM Oleh Koperasi Di Jepara (Studi Kasus UJKS Mitra Usaha Jepara) Analisis Efektivitas Pemberian Pinjaman Program Pembiayaan UMKM Oleh Koperasi Di Jepara (Studi Kasus UJKS Mitra Usaha Jepara) Hadi Ismanto *, Tohir Diman Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Unisnu Jepara *email:

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN IV.

METODE PENELITIAN IV. IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Lalabata Rilau. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) dengan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembalian pembiayaan sudah banyak dilakukan sebelumnya, yaitu pada pembiayaan yang disalurkan oleh lembaga keuangan bank.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Kredit 2.1.1.1 Pengertian Kredit Kegiatan bank yang kedua setelah menghimpun dana dari masyarakat luas dalam bentuk simpanan giro,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. (a) (b) (c)

HASIL DAN PEMBAHASAN. (a) (b) (c) 5 b. Analisis data daya tahan dengan metode semiparametrik, yaitu menggunakan regresi hazard proporsional. Analisis ini digunakan untuk melihat pengaruh peubah penjelas terhadap peubah respon secara simultan.

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 3 Januari 2012 hingga 20 Februari 2012 pada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Cibungbulang. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

VII FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBALIAN KREDIT DAN REPAYMENT CAPACITY

VII FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBALIAN KREDIT DAN REPAYMENT CAPACITY VII FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBALIAN KREDIT DAN REPAYMENT CAPACITY 7.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengembalian KUR Analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengembalian

Lebih terperinci

VI. MEKANISME PENYALURAN KUR DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

VI. MEKANISME PENYALURAN KUR DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN VI. MEKANISME PENYALURAN KUR DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 6.1. Mekanisme Penyaluran KUR di BRI Unit Tongkol Dalam menyalurkan KUR kepada debitur, ada beberapa tahap atau prosedur yang harus dilaksanakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. penelitian ini adalah MS.Excell 2003, Answertree 2.01 dan SPSS for Windows versi Tabel 1. Karakteristik debitur

HASIL DAN PEMBAHASAN. penelitian ini adalah MS.Excell 2003, Answertree 2.01 dan SPSS for Windows versi Tabel 1. Karakteristik debitur Software yang digunakan dalam penelitian ini adalah MS.Excell 2003, Answertree 2.01 dan SPSS for Windows versi 15.0. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Karakteristik Debitur Banyaknya debitur kredit konsumtif

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. 1. Kebijakan yang diberikan PT. Bank Nagari Cabang Sijunjung dalam. a. Kredit Kepada Masyarakat yang Berpenghasilan Tetap (Kredit

BAB V PENUTUP. 1. Kebijakan yang diberikan PT. Bank Nagari Cabang Sijunjung dalam. a. Kredit Kepada Masyarakat yang Berpenghasilan Tetap (Kredit BAB V PENUTUP 1.1 Kesimpulan PT. Bank Nagari berdiri pada tanggal 12 Maret 1962 yang sebelumnya bernama PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat merupakan suatu lembaga keuangan dengan kegiatan simpan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Kredit, Teori Permintaan dan Penawaran Kredit Berdasarkan asal mulanya, Kasmir (2003) menyatakan kredit berasal dari kata credere yang artinya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Dan Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan (field research), karena penulis terlibat langsung dalam penelitian. Field research adalah

Lebih terperinci

VII FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REALISASI PEMBIAYAAN SYARIAH UNTUK SEKTOR AGRIBISNIS

VII FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REALISASI PEMBIAYAAN SYARIAH UNTUK SEKTOR AGRIBISNIS VII FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REALISASI PEMBIAYAAN SYARIAH UNTUK SEKTOR AGRIBISNIS 7.1. Karakteristik Responden Responden yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 38 responden yang menjadi mitra

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELANCARAN PENGEMBALIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) (Studi Kasus pada PT Bank BRI Unit Cimanggis, Cabang Pasar Minggu)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELANCARAN PENGEMBALIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) (Studi Kasus pada PT Bank BRI Unit Cimanggis, Cabang Pasar Minggu) FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELANCARAN PENGEMBALIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) (Studi Kasus pada PT Bank BRI Unit Cimanggis, Cabang Pasar Minggu) SKRIPSI VIRGITHA ISANDA AGUSTANIA H34050921 DEPARTEMEN

Lebih terperinci

VII. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBIAYAAN AGRIBISNIS PADA KOPERASI BAYTUL IKHTIAR

VII. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBIAYAAN AGRIBISNIS PADA KOPERASI BAYTUL IKHTIAR VII. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBIAYAAN AGRIBISNIS PADA KOPERASI BAYTUL IKHTIAR 7.1. Karakteristik Umum Responden Responden penelitian ini adalah anggota Koperasi Baytul Ikhtiar yang sedang memperoleh

Lebih terperinci

Tugas pemimpin cabang adalah : d. Mengelola pelaksanaan sistem dan prosedur. bisnis di wilayah kerja kantor cabang. layanan unggul kepada nasabah.

Tugas pemimpin cabang adalah : d. Mengelola pelaksanaan sistem dan prosedur. bisnis di wilayah kerja kantor cabang. layanan unggul kepada nasabah. 40 4.1.4 Deskripsi Jabatan 1. Pemimpin Cabang Tugas pemimpin cabang adalah : a. Bertugas memimpin kantor cabang ditempat kedudukannya dan bertindak atas nama direksi baik di dalam maupun di luar pengadilan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menjawab

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menjawab BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menjawab rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya dengan berdasarkan tingkat eksplanasinya 54.

Lebih terperinci

PENGARUH KARAKTERISTIK DEBITUR UMKM TERHADAP TINGKAT PENGEMBALIAN KREDIT PUNDI BALI DWIPA

PENGARUH KARAKTERISTIK DEBITUR UMKM TERHADAP TINGKAT PENGEMBALIAN KREDIT PUNDI BALI DWIPA PENGARUH KARAKTERISTIK DEBITUR UMKM TERHADAP TINGKAT PENGEMBALIAN KREDIT PUNDI BALI DWIPA (Studi Kasus Nasabah Pada PT. Bank Pembangunan Daerah Bali Kantor Cabang Singaraja) Luh Ikka Widayanthi Fakultas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi ekonomi suatu negara menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi ekonomi suatu negara menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kondisi ekonomi suatu negara menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang dengan cepat, sumber-sumber dana diperlukan untuk membiayai usaha tersebut. Salah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam kehidupan sehari-hari, kata kredit bukan merupakan perkataan yang

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam kehidupan sehari-hari, kata kredit bukan merupakan perkataan yang 12 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi dan Unsur-Unsur Kredit Dalam kehidupan sehari-hari, kata kredit bukan merupakan perkataan yang asing bagi masyarakat kita. Istilah kredit berasal dari bahasa Yunani (credere)

Lebih terperinci

BAB VI KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN PROFIL USAHA

BAB VI KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN PROFIL USAHA BAB VI KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN PROFIL USAHA 6.1 Karakteristik Responden Responden untuk penelitian ini berjumlah 90 responden yang terdiri dari 30 orang yang bergerak di sektor perdagangan, 30 orang

Lebih terperinci

Jurnal Gradien Vol 8 No 2 Juli 2012: Yuli Andriani, Uxti Mezulianti, dan Herlina Hanum

Jurnal Gradien Vol 8 No 2 Juli 2012: Yuli Andriani, Uxti Mezulianti, dan Herlina Hanum Jurnal Gradien Vol 8 No 2 Juli 2012:809-814 Model Tingkat Kelancaran Pembayaran Kredit Bank Menggunakan Model Regresi Logistik Ordinal (Studi Kasus: Bank Rakyat Indonesia Tbk Unit Pasar Bintuhan) Yuli

Lebih terperinci

Kuisioner Penelitian untuk Debitur ANALISIS MANAJEMEN RISIKO KREDIT PRODUK KREDIT MASYARAKAT DESA KOMERSIL DI BANK X BOGOR

Kuisioner Penelitian untuk Debitur ANALISIS MANAJEMEN RISIKO KREDIT PRODUK KREDIT MASYARAKAT DESA KOMERSIL DI BANK X BOGOR LAMPIRAN 65 66 Lampiran 1. Kuisioner penelitian Kuisioner Penelitian untuk Debitur ANALISIS MANAJEMEN RISIKO KREDIT PRODUK KREDIT MASYARAKAT DESA KOMERSIL DI BANK X BOGOR Gambaran Ringkas Penelitian Sektor

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. PUAP, adalah bagian dari pelaksanaan program PNPM-Mandiri melalui

III. METODE PENELITIAN. PUAP, adalah bagian dari pelaksanaan program PNPM-Mandiri melalui 41 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan yang selanjutnya disingkat PUAP, adalah bagian dari pelaksanaan program PNPM-Mandiri melalui bantuan modal usaha

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Kredit

TINJAUAN PUSTAKA Kredit TINJAUAN PUSTAKA Kredit Kredit adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu pemberian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu janji pembayarannya akan dilakukan pada suatu jangka waktu yang disepakati.

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Pertumbuhan suatu usaha dipengaruhi dari beberapa aspek diantaranya ketersediaan modal. Sumber dana yang berasal dari pelaku usaha agribisnis sendiri

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PERUSAHAAN DAERAH BADAN KREDIT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Pembangunan nasional merupakan rangkaian pembangunan pada seluruh aspek kehidupan manusia yang berkesinambungan, yaitu meliputi kehidupan bermasyarakat,

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum BRI Unit Cijeruk Berdasarkan Instruksi Presiden RI nomor 4 tahun 1973 tanggal 5 Mei 1973 tentang unit desa, maka Unit Desa Bank Rakyat Indonesia menjadi

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tabel 1

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tabel 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemberdayaan Usaha Mikro (UM) menjadi sangat strategis, karena potensinya yang besar dalam menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat, dan sekaligus menjadi tumpuan sumber

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 35 /PBI/2008 TENTANG FASILITAS PENDANAAN JANGKA PENDEK BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 35 /PBI/2008 TENTANG FASILITAS PENDANAAN JANGKA PENDEK BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 10/ 35 /PBI/2008 TENTANG FASILITAS PENDANAAN JANGKA PENDEK BAGI BANK PERKREDITAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa berhubung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perantara keuangan antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang

BAB I PENDAHULUAN. perantara keuangan antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bank adalah lembaga financial intermediary yang berfungsi sebagai perantara keuangan antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang memerlukan dana serta sebagai

Lebih terperinci

V. FAKTOR PENENTU KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

V. FAKTOR PENENTU KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR V. FAKTOR PENENTU KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Penelitian ini menggunakan model regressi logistik ordinal untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Data Kredit UMKM Bank X merupakan kredit dengan jumlah nasabah terbanyak dibandingkan dengan jenis kredit lainnya. Jasa layanan kredit usaha pada Bank ini diantaranya meliputi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kegiatan pinjam meminjam uang telah dilakukan sejak lama dalam

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kegiatan pinjam meminjam uang telah dilakukan sejak lama dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan pinjam meminjam uang telah dilakukan sejak lama dalam kehidupan masyarakat, di mana masyarakat telah mengenal uang sebagai alat pembayaran. Dapat diketahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi tersebut harus dapat diusahakan dengan kemampuan dan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi tersebut harus dapat diusahakan dengan kemampuan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diakui bahwa usaha kecil dan menengah mempunyai peran penting di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi merupakan hal yang mutlak yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah masalah perekonomian. Dengan sempitnya lapangan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah masalah perekonomian. Dengan sempitnya lapangan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu masalah yang dihadapi oleh masyarakat pada umumnya di Indonesia adalah masalah perekonomian. Dengan sempitnya lapangan pekerjaan, masyarakat sulit untuk

Lebih terperinci

dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh negative terhadap tingkat pengembalian kredit TRI. Penelitian Sarianti (1998) berjudul faktor-faktor yang

dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh negative terhadap tingkat pengembalian kredit TRI. Penelitian Sarianti (1998) berjudul faktor-faktor yang II TINJAUAN PUSTAKA Penilaian tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembalian kredit sudah banyak dilakukan sebelumnya, baik pada kredit yang disalurkan oleh lembaga keuangan (bank) maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bank. Kegiatan utama dari perbankan adalah menghimpun dana dari masyarakat dan

BAB I PENDAHULUAN. Bank. Kegiatan utama dari perbankan adalah menghimpun dana dari masyarakat dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan perekonomian dan dunia bisnis yang semakin pesat menuntut adanya persaingan usaha yang semakin ketat pula. Hal inilah yang menjadi pemikiran penting

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PEMBERIAN PINJAMAN PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR KEPADA PT BANK PEMBANGUNAN DAERAH JAWA TIMUR Tbk DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. 4.1 Karakteristik Pembudidaya dan Keragaan Kegiatan Budidaya Ikan di KJA Jatiluhur

BAB IV HASIL PENELITIAN. 4.1 Karakteristik Pembudidaya dan Keragaan Kegiatan Budidaya Ikan di KJA Jatiluhur BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Karakteristik Pembudidaya dan Keragaan Kegiatan Budidaya Ikan di KJA Jatiluhur Karakteristik pembudidaya ikan KJA di Jatiluhur dilihat dari umur, pengalaman dan pendidikan.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang terdaftar

BAB III METODE PENELITIAN. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang terdaftar BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2010-2014. Teknik pengampilan sampel dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tujuan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tujuan pembangunan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional merupakan rangkaian pembangunan pada seluruh aspek kehidupan manusia yang berkesinambungan, yaitu meliputi kehidupan bermasyarakat, berbangsa,

Lebih terperinci

ANALISIS KARAKTERISTIK DEBITUR UMKM BIDANG PERTANIAN TERPADU BANK NTT KANTOR CABANG UTAMA KUPANG

ANALISIS KARAKTERISTIK DEBITUR UMKM BIDANG PERTANIAN TERPADU BANK NTT KANTOR CABANG UTAMA KUPANG Jurnal Nukleus Peternakan (Juni 2014), Volume 1, No. 1: 50-57 ISSN : 2355-9942 ANALISIS KARAKTERISTIK DEBITUR UMKM BIDANG PERTANIAN TERPADU BANK NTT KANTOR CABANG UTAMA KUPANG (CHARACTERISTICS ANALYSIS

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subyek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada koperasi di Kabupaten Bantul. Objek yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah para debitur yang mengalami kredit

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/19/PBI/2006 TENTANG KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN PEMBENTUKAN PENYISIHAN PENGHAPUSAN AKTIVA PRODUKTIF

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/19/PBI/2006 TENTANG KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN PEMBENTUKAN PENYISIHAN PENGHAPUSAN AKTIVA PRODUKTIF PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 8/19/PBI/2006 TENTANG KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN PEMBENTUKAN PENYISIHAN PENGHAPUSAN AKTIVA PRODUKTIF BANK PERKREDITAN RAKYAT GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

Others Institution Credit Job Code

Others Institution Credit Job Code 4. Residence status (status kepemilikan rumah) yang dinotasikan dengan RS. Peubah ini dibagi menjadi enam kelompok. 5. Job code (kode pekerjaan) yang dinotasikan dengan JC. Peubah ini dibagi menjadi lima

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL PENELITIAN. Pada bagian hasil penelitan ini memuat deskripsi hasil penelitian meliputi

BAB 5 HASIL PENELITIAN. Pada bagian hasil penelitan ini memuat deskripsi hasil penelitian meliputi 40 41 BAB 5 HASIL PENELITIAN Pada bagian hasil penelitan ini memuat deskripsi hasil penelitian meliputi letak dan luas geografis kota Surabaya, keadaan demografis,. Lalu dipaparkan juga hasil penelitian

Lebih terperinci

VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI DAN SIKAP RESPONDEN TERHADAP PRODUK OREO SETELAH ADANYA ISU MELAMIN

VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI DAN SIKAP RESPONDEN TERHADAP PRODUK OREO SETELAH ADANYA ISU MELAMIN VI. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI DAN SIKAP RESPONDEN TERHADAP PRODUK OREO SETELAH ADANYA ISU MELAMIN Penelitian ini menggunakan regresi logistik untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi

Lebih terperinci

PERJANJIAN PENANAMAN MODAL USAHA PENGOLAHAN LIMBAH KERTAS

PERJANJIAN PENANAMAN MODAL USAHA PENGOLAHAN LIMBAH KERTAS PERJANJIAN PENANAMAN MODAL USAHA PENGOLAHAN LIMBAH KERTAS Antara Penanam Modal BFC Wikusama Dengan Putra Anggara PERJANJIAN PENANAMAN MODAL USAHA PENGOLAHAN LIMBAH KERTAS Antara Penanam Modal BFC-Wikusama

Lebih terperinci

PENGALOKASIAN DANA BANK

PENGALOKASIAN DANA BANK PENGALOKASIAN DANA BANK Alokasi Dana : menjual kembali dana yang diperoleh dari penghimpunan dana dalam bentuk simpanan. Wujud dari pengalokasian dana adalah kredit atau aset yang dianggap menguntungkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai investasi, mengingat nilainya yang

BAB I PENDAHULUAN. sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai investasi, mengingat nilainya yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rumah merupakan kebutuhan primer bagi setiap keluarga, bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai investasi, mengingat nilainya yang semakin meningkat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendahuluan Sebelum melakukan pembahasan mengenai permasalahan dari skripsi ini, akan diuraikan beberapa teori penunjang antara lain: Kredit Macet, Regresi Logistik, Model Terbaik

Lebih terperinci

Jumlah Penduduk Kabupaten/Kota di DIY (Jiwa)

Jumlah Penduduk Kabupaten/Kota di DIY (Jiwa) BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan ekonomi saat ini sedang dibangun oleh pemerintah, karena pembangunan ekonomi merupakan bagian dari pembangunan nasional. Pembangunan ekonomi merupakan upaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mencolok agar anak-anak tertarik untuk mengisinya dengan tabungan

BAB I PENDAHULUAN. yang mencolok agar anak-anak tertarik untuk mengisinya dengan tabungan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada umumnya bank dikenal sebagai sebuah tempat dimana kita menyimpan uang kita, tempat yang sangat identik dengan kata menabung. Orang tua kita selalu mengajari kita

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Kredit

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Kredit BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kredit 2.1.1 Pengertian Kredit Pengertian kredit secara umum, kredit adalah sesuatu yang mempunyai nilai ekonomis pada saat sekarang ini atas dasar kepercayaan sebagai pengganti

Lebih terperinci

PENINGKATAN PENDAPATAN PENGUSAHA KECIL MIKRO DITINJAU DARI PEMBERIAN KREDIT OLEH PERUSAHAAN DAERAH BADAN KREDIT KECAMATAN KARANGANYAR PADA TAHUN 2014

PENINGKATAN PENDAPATAN PENGUSAHA KECIL MIKRO DITINJAU DARI PEMBERIAN KREDIT OLEH PERUSAHAAN DAERAH BADAN KREDIT KECAMATAN KARANGANYAR PADA TAHUN 2014 PENINGKATAN PENDAPATAN PENGUSAHA KECIL MIKRO DITINJAU DARI PEMBERIAN KREDIT OLEH PERUSAHAAN DAERAH BADAN KREDIT KECAMATAN KARANGANYAR PADA TAHUN 2014 NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah explanatory research. Menurut. Singarimbun&Efendi (1995) explanatory research adalah penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah explanatory research. Menurut. Singarimbun&Efendi (1995) explanatory research adalah penelitian 33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah explanatory research. Menurut Singarimbun&Efendi (1995) explanatory research adalah penelitian pengujian hipotesis. Penelitian

Lebih terperinci

BUPATI LEBAK PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI LEBAK PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN BUPATI LEBAK PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Pengaruh Pendapatan, Pinjaman Lain, dan Jumlah Tanggungan Keluarga. Secara Simultan Terhadap Pengembalian Pembiayaan

BAB V PEMBAHASAN. A. Pengaruh Pendapatan, Pinjaman Lain, dan Jumlah Tanggungan Keluarga. Secara Simultan Terhadap Pengembalian Pembiayaan BAB V PEMBAHASAN A. Pengaruh Pendapatan, Pinjaman Lain, dan Jumlah Tanggungan Keluarga Secara Simultan Terhadap Pengembalian Pembiayaan Perkembangan dan kemajuan seorang debitur bergantung pada kapasitas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. maupun di luar negeri. Hal ini dikarenakan salah satu tolak ukur kemajuan suatu

BAB 1 PENDAHULUAN. maupun di luar negeri. Hal ini dikarenakan salah satu tolak ukur kemajuan suatu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya perekonomian di dunia meskipun kini tengah dilanda krisis ekonomi global, dunia bisnis merupakan dunia yang paling ramai

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Uji Kelayakan Persamaan VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebuah persamaan regresi logistik akan dinyatakan layak dan signifikan apabila telah memenuhi persyaratan uji persamaan yang dapat dilakukan dengan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 301/KMK.01/2002 TENTANG PENGURUSAN PIUTANG NEGARA KREDIT PERUMAHAN BANK TABUNGAN NEGARA

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 301/KMK.01/2002 TENTANG PENGURUSAN PIUTANG NEGARA KREDIT PERUMAHAN BANK TABUNGAN NEGARA KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 301/KMK.01/2002 TENTANG PENGURUSAN PIUTANG NEGARA KREDIT PERUMAHAN BANK TABUNGAN NEGARA Menimbang : MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa Piutang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 3 TAHUN TENTANG PEMBENTUKAN PERSEROAN TERBATAS PENJAMINAN KREDIT DAERAH BANTEN

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 3 TAHUN TENTANG PEMBENTUKAN PERSEROAN TERBATAS PENJAMINAN KREDIT DAERAH BANTEN PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR 3 TAHUN 2013... TENTANG PEMBENTUKAN PERSEROAN TERBATAS PENJAMINAN KREDIT DAERAH BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang : a. bahwa Koperasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index selama 2012 sampai 2014.

BAB III METODE PENELITIAN. perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index selama 2012 sampai 2014. BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index selama 2012 sampai 2014. B. Teknik Pengambilan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan terssebut diperoleh melalui pinjaman-pinjaman atau

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan terssebut diperoleh melalui pinjaman-pinjaman atau BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam rangka memelihara dan meneruskan pembangunan yang berkesinambungan, para pelaku pembangunan baik pemerintah maupun masyarakat, baik perorangan maupun badan

Lebih terperinci

A B S T R A K S I. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan Negara Republik Indonesia ditujukan bagi seluruh

A B S T R A K S I. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan Negara Republik Indonesia ditujukan bagi seluruh 1 A B S T R A K S I A. Latar Belakang Masalah Pembangunan Negara Republik Indonesia ditujukan bagi seluruh Bangsa Indonesia dan juga pembangunan harus dapat dirasakan oleh setiap warga negara, maka sebagai

Lebih terperinci

perembesan zat pencemar dari limbah yang berasal dari aktivitas domestik.

perembesan zat pencemar dari limbah yang berasal dari aktivitas domestik. VIII. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PENDUDUK UNTUK MELAKUKAN TINDAKAN PENCEGAHAN AKIBAT PENCEMARAN AIR TANAH Pertambahan jumlah penduduk yang semakin tinggi di Kota Bekasi mengakibatkan

Lebih terperinci

BAB III SOLUSI BISNIS

BAB III SOLUSI BISNIS BAB III SOLUSI BISNIS Dengan melihat permasalahan yang terjadi pada Bank X, maka perlu adanya cara untuk menganalisa variabel-variabel apa saja yang akan menentukan kredit macet atau lancar dengan menggunakan

Lebih terperinci

VI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBALIAN PEMBIAYAAN AGRIBISNIS

VI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBALIAN PEMBIAYAAN AGRIBISNIS VI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBALIAN PEMBIAYAAN AGRIBISNIS 6.1. Uji Kelayakan Persamaan Sebuah persamaan regresi logistik akan dinyatakan layak dan signifikan apabila telah memenuhi persyaratan uji

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG DANA PENGUATAN MODAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA

MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA Nomor : 13 /Per/M.KUKM/VII/2006 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PROGRAM SEKURITISASI ASET KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ketentuan Umum Perkreditan Bank 2.2. Unsur-unsur dan Tujuan Kredit

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ketentuan Umum Perkreditan Bank 2.2. Unsur-unsur dan Tujuan Kredit II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ketentuan Umum Perkreditan Bank Penyaluran kredit merupakan salah satu jasa perbankan yang utama dalam mendukung perputaran ekonomi. Melalui kredit, sektor usaha akan mendapatkan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Pembiayaan Syariah Al-Anshari di Kota Bukittinggi. Penelitian dilakukan dengan

BAB V PENUTUP. Pembiayaan Syariah Al-Anshari di Kota Bukittinggi. Penelitian dilakukan dengan BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Penelitian ini melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kredit macet dengan menggunakan empat variabel yaitu margin, jangka waktu pinjaman, stabilitas penjualan, dan komitmen

Lebih terperinci

Ika Kusumaningtyas: Pengaruh Karakteristik Personal,...

Ika Kusumaningtyas: Pengaruh Karakteristik Personal,... Ika Kusumaningtyas: Pengaruh Karakteristik Personal,... PENGARUH KARAKTERISTIK PERSONAL, KARAKTERISTIK USAHA, KARAKTERISTIK KREDIT, DAN JAMINAN TERHADAP TINGKAT PENGEMBALIAN KREDIT DI BPR NUSAMBA ADIWERNA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. untuk menanggung pembayaran kembali suatu hutang, oleh karena itu

I. PENDAHULUAN. untuk menanggung pembayaran kembali suatu hutang, oleh karena itu 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jaminan dalam perjanjian kredit secara umum dapat diartikan sebagai penyerahan kekayaan dan pernyataan kesanggupan seseorang atau badan untuk menanggung pembayaran kembali

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Metode Penentuan Sampel

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Metode Penentuan Sampel IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Cibinong, Cabang Bogor, Jawa Barat. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

BUPATI LEBAK PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI LEBAK PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN BUPATI LEBAK PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

II. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. HASIL DAN PEMBAHASAN II. HASIL DAN PEMBAHASAN 2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan jawaban responden yang telah diklasifikasikan menurut jenis kelamin, umur, pendidikan, jenis pekerjaan, dan pengeluaran dalam satu bulan,

Lebih terperinci

ANALISIS EFEKTIVITAS PEMBERIAN PINJAMAN PROGRAM PEMBIAYAAN UMKM OLEH KOPERASI

ANALISIS EFEKTIVITAS PEMBERIAN PINJAMAN PROGRAM PEMBIAYAAN UMKM OLEH KOPERASI ANALISIS EFEKTIVITAS PEMBERIAN PINJAMAN PROGRAM PEMBIAYAAN UMKM OLEH KOPERASI Hadi Ismanto & Tohir Diman Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisnu Jepara, Indonesia hadi.febunisnu@gmail.com Abstrak: Analisis

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel yang diambil yaitu perusahaan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peranan Kredit di Dalam Perkembangan Usaha

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peranan Kredit di Dalam Perkembangan Usaha II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peranan Kredit di Dalam Perkembangan Usaha Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2011) mengenai pengaruh kredit program kemitraan dan bina lingkungan terhadap produksi

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 13/26/PBI/2011 TENTANG

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 13/26/PBI/2011 TENTANG PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 13/26/PBI/2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 8/19/PBI/2006 TENTANG KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN PEMBENTUKAN PENYISIHAN PENGHAPUSAN AKTIVA PRODUKTIF

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/PMK.05/2015 TENTANG TINGKAT SUKU BUNGA DAN PENATAUSAHAAN PENERUSAN PINJAMAN LUAR NEGERI

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/PMK.05/2015 TENTANG TINGKAT SUKU BUNGA DAN PENATAUSAHAAN PENERUSAN PINJAMAN LUAR NEGERI MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40/PMK.05/2015 TENTANG TINGKAT SUKU BUNGA DAN PENATAUSAHAAN PENERUSAN PINJAMAN LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan atau usaha tersebut dapat dikatakan mengalami perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan atau usaha tersebut dapat dikatakan mengalami perkembangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peningkatan pendapatan dalam suatu kegiatan usaha yang telah dilakukan dalam periode tertentu sangat penting bagi setiap pengusaha atau perusahaan. Salah satu

Lebih terperinci

PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA OBLIGASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN TINGKAT BUNGA MENGAMBANG SERI SBR001. Bagian A : Penerbit dan Bentuk Obligasi

PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA OBLIGASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN TINGKAT BUNGA MENGAMBANG SERI SBR001. Bagian A : Penerbit dan Bentuk Obligasi DRAFT PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA OBLIGASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN TINGKAT BUNGA MENGAMBANG SERI SBR001 Bagian A : Penerbit dan Bentuk Penerbit : Pemerintah Republik Indonesia. Dasar Hukum :

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PENGUSAHA UMKM DALAM MENGAMBIL ATAU MENGGUNAKAN KREDIT USAHA RAKYAT (BRI) DI KABUPATEN SRAGEN

FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PENGUSAHA UMKM DALAM MENGAMBIL ATAU MENGGUNAKAN KREDIT USAHA RAKYAT (BRI) DI KABUPATEN SRAGEN FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PENGUSAHA UMKM DALAM MENGAMBIL ATAU MENGGUNAKAN KREDIT USAHA RAKYAT (BRI) DI KABUPATEN SRAGEN Liana Vivin Wihartanti Prodi Pendidikan Akuntansi Universitas PGRI Madiun lianavivin1987@gmail.com

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN III.

KERANGKA PEMIKIRAN III. III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1.Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Pengendalian Kredit Bank Pada penyaluran kredit bank, perlu diperhatikan beberapa aspek yang terkait dengan nasabah penerima kredit untuk

Lebih terperinci

BUPATI PAKPAK BHARAT

BUPATI PAKPAK BHARAT BUPATI PAKPAK BHARAT PERATURAN BUPATI PAKPAK BHARAT NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PERKUATAN PERMODALAN USAHA BAGI MASYARAKAT MELALUI KREDIT NDUMA PAKPAK BHARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERHITUNGAN HARGA SETELMEN SURAT PERBENDAHARAAN NEGARA

PERHITUNGAN HARGA SETELMEN SURAT PERBENDAHARAAN NEGARA LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 45/PMK.06/2005 TENTANG LELANG SURAT UTANG NEGARA DIPASAR PERDANA PERHITUNGAN HARGA SETELMEN SURAT PERBENDAHARAAN NEGARA Cara perhitungan Harga Setelmen per unit

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 43 TAHUN 2006 TENTANG

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 43 TAHUN 2006 TENTANG GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 43 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN DANA PENGUATAN MODAL UNTUK USAHA EKONOMI PRODUKTIF MASYARAKAT MISKIN SERTA PENGUSAHA MIKRO DAN KECIL DI PROVINSI BALI GUBERNUR

Lebih terperinci

No.16/3 /DPTP Jakarta, 3 Maret 2014 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA DAN PT. PERMODALAN NASIONAL MADANI (PERSERO)

No.16/3 /DPTP Jakarta, 3 Maret 2014 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA DAN PT. PERMODALAN NASIONAL MADANI (PERSERO) No.16/3 /DPTP Jakarta, 3 Maret 2014 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA DAN PT. PERMODALAN NASIONAL MADANI (PERSERO) Perihal : Pelaksanaan Pengalihan Pengelolaan Kredit Likuiditas

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. polis asuransi jiwa di PT Asuransi Jiwasraya Cabang Yogyakarta ini

BAB V PENUTUP. polis asuransi jiwa di PT Asuransi Jiwasraya Cabang Yogyakarta ini 94 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pembebanan objek jaminan pada perjanjian kredit dengan jaminan polis asuransi jiwa di PT Asuransi Jiwasraya Cabang Yogyakarta ini menggunakan lembaga jaminan gadai. Pelaksanaan

Lebih terperinci