PERATURAN INSPEKTUR JENDERAL KEMENTERIAN KEHUTANAN NOMOR : P.07/III-SET/2012 TENTANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERATURAN INSPEKTUR JENDERAL KEMENTERIAN KEHUTANAN NOMOR : P.07/III-SET/2012 TENTANG"

Transkripsi

1 PERATURAN INSPEKTUR JENDERAL KEMENTERIAN KEHUTANAN NOMOR : P.07/III-SET/2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENILAIAN MANDIRI PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI (PMPRB) LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA INSPEKTUR JENDERAL, Menimbang : a. bahwa berdasarkan pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB), Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah harus melaksanakan PMPRB; b. bahwa berdasarkan Lampiran Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 1 Tahun 2012, model PMPRB memiliki 2 komponen yaitu komponen pengungkit (enablers) dan hasil (results) yang dijabarkan sampai tingkat sub kriteria; c. bahwa untuk menentukan di fase mana pencapaian sub kriteria dalam komponen pengungkit (enablers) dan hasil (results), perlu disusun Petunjuk Teknis PMPRB Lingkup Kementerian Kehutanan; d. bahwa sehubungan hal tersebut pada huruf c maka perlu ditetapkan Petunjuk Teknis PMPRB Lingkup Kementerian Kehutanan dengan Peraturan Inspektur Jenderal Kementerian Kehutanan. Mengingat : a. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Idonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan /(Lembaran Negara...

2 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412); b. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); c. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3874) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4150); d. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); e. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4890); f. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4890); g. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi ; h. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 93/MENPAN/1989 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Melekat, sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 46/M.PAN/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Melekat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan; /i. Peraturan Menteri...

3 i. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.40/Menhut-II/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan; Jo Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.33/Menhut-II/2012 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.40/Menhut-II/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan; j. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi; k. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 31 Tahun 2012 Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Secara Online; l. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.32/Menhut-II/2012 tentang Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah di Lingkungan Kementerian Kehutanan. MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN INSPEKTUR JENDERAL KEMENTERIAN KEHUTANAN TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENILAIAN MANDIRI PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI (PMPRB) LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN PERTAMA : Petunjuk Teknis PMPRB Lingkup Kementerian Kehutanan sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisah dari Peraturan ini. KEDUA : Petunjuk Teknis PMPRB Lingkup Kementerian Kehutanan pada amar PERTAMA digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan PMPRB. KETIGA : Peraturan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal September 2012 INSPEKTUR JENDERAL, Ir. IRHAM JAFAR LAN PUTRA, MH.

4 Lampiran I Peraturan Inspektur Jenderal Kementerian Kehutanan Nomor : Tentang : Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam rangka menilai pelaksanaan reformasi birokrasi secara mandiri oleh masing-masing Kementerian/Lembaga, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN dan RB) telah menerbitkan Peraturan Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB). Penerapan PMPRB memanfaatkan dan mengolah lebih lanjut berbagai data/informasi, materi serta dokumen yang sebagian besar sudah dikembangkan dan tersedia, sehingga tidak menambahbeban administratif instansi pemerintah. Data/informasi dimaksud antara lain dokumen persiapan dan pelaksanaan RB, dokumen pelaksanaan tugas pokok dan fungsi instansi di masing-masing instansi, dokumen pelaporan pelaksanaan akuntabilitas dan kinerja instansi serta dokumen lain yang relevan yang pada umumnya telah diterapkan dan dimiliki oleh instansi pemerintah. Model PMPRB memiliki 2 komponen yaitu pengungkit (enablers) dan hasil (results) yang dijabarkan sampai ke tingkat sub kriteria. Komponen pengungkit memuat 5 kriteria yang menunjang keberhasilan pengungkit yaitu Kriteria Kepemimpinan, Kriteria Perencanaan Stratejik (Renstra), Kriteria Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur, Kriteria Kemitraan dan Sumber Daya, dan Kriteria Proses dengan sub kriteria untuk masing-masing kriteria. Komponen hasil memuat 4 kriteria yang menunjang keberhasilannya yaitu Kriteria Hasil Pada Masyarakat/Pengguna Layanan, Kriteria Hasil Pada Sumber Daya Manusia (SDM), Kriteria Hasil Pada Komunitas Lokal, Nasional dan Internasional, dan Kriteria Hasil Kinerja Utama. Guna meminimalkan timbulnya perbedaan persepsi asesor dalam menetapkan fase capaian sub kriteria pada komponen pengungkit dan penentuan skor penilaian hasil maka diperlukan petunjuk teknis PMPRB Lingkup Kementerian Kehutanan. Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan 1

5 1.2. Maksud dan Tujuan Maksud penyusunan Petunjuk teknis ini agar menjadi pedoman bagi Tim Pelaksana PMPRB dalam melaksanakan tugasnya guna memperoleh hasil yang optimal. Tujuan penyusunan Petunjuk teknis ini adalah untuk memperoleh hasil PMPRB yang obyektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan 2

6 BAB II. KOMPONEN PMPRB Komponen dalam PMPRB meliputi pengungkit (enablers) dan hasil (results) yang memiliki hubungan sebab akibat. Dengan mengetahui keterkaitan antara pengungkit dan hasil, instansi dapat merumuskan perbaikan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerja instansi. Komponen pengungkit berperan dalam menentukan keberhasilan tugas instansi, sedangkan komponen hasil berhubungan dengan kepuasan stakeholders. Komponen pengungkit memiliki 5 kriteria yang menjadi penentu keberhasilan sedangkan komponen hasil terdiri dari 4 kriteria. Masing-masing kriteria tersebut dijabarkan ke dalam sub kriteria sebagaimana disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Penjabaran Komponen Pengungkit dan Komponen Hasil Sampai Ke Tingkat Sub Kriteria No. Kriteria Sub Kriteria KOMPONEN PENGUNGKIT 1. Kepemimpinan 1.1. Menentukan arah bagi instansi untuk pencapaian visi dan misi 1.2. Mendorong penyempurnaan manajemen dan memimpin perubahan 1.3. Memberikan motivasi, inspirasi, dan mendukung pegawai serta menjadi panutan (role model) 1.4. Mengelola hubungan dengan pemangku kepentingan 2. Perencanaan Stratejik (Renstra) 2.1. Mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan kebutuhan pemangku kepentingan saat ini 2.2. Mengembangkan, mereviu, dan memperbaharui Renstra dengan memperhatikan kebutuhan pemangku kepentingan dan ketersediaan sumber daya 2.3. Melaksanakan renstra 2.4. Merencanakan, melaksanakan dan mereviu modernisasi dan inovasi 3. Sumber Daya Manusia Aparatur 3.1. Merencanakan, mengelola dan meningkatkan kualitas SDM Aparatur secara transparan dan akuntabel sesuai dengan Renstra dan Road Map Reformasi Birokrasi Instansi Pemerintah 3.2. Mengidentifikasi, mengembangkan dan menggunakan kompetensi pegawai serta menyelaraskan tujuan individu dan instansi 3.3. Melibatkan pegawai dengan dialog terbuka dan dengan pemberdayaan 4. Kemitraan dan Sumber Daya 1.1. Pengembangan dan pelaksanaan hubungan kemitraan utama 1.2. Pengembangan dan pelaksanaan kemitraan dengan masyarakat 1.3. Pengelolaan keuangan 1.4. Pengelolaan informasi dan pengetahuan 1.5. Pengelolaan teknologi 1.6. Pengelolaan fasilitas 5. Proses 5.1. Mengidentifikasi, merancang, menerapkan dan memperbaiki proses bisnis/tata laksana secara berkelanjutan 5.2. Mengembangkan dan menyediakan pelayanan yang Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan 3

7 No. Kriteria Sub Kriteria berorientasi pada kebutuhan masyarakat/pengguna layanan 5.3. Inovasi proses yang melibatkan masyarakat/pengguna layanan KOMPONEN HASIL 6. Hasil Pada Masyarakat/ Pengguna Layanan 6.1. Hasil Pengukuran Kepuasan Masyarakat Pengguna Layanan 6.2. Indikator Pengukuran Yang Berorientasi Pada Masyarakat/Pengguna Layanan 7. Hasil Pada SDM Aparatur 7.1. Hasil Pengukuran Motivasi dan Kepuasan Pegawai 7.2. Indikator Dalam Hal SDM Aparatur 8. Hasil Pada Komunitas Lokal, Nasional, dan Internasional 8.1. Hasil Yang Dirasakan Oleh Para Pemangku Kepentingan Berdasarkan Hasil Pengukuran Sosial 8.2. Indikator Kinerja Dalam Bidang Kemasyarakatan Yang Dicapai Oleh Institusi 9. Hasil Kinerja Utama 9.1. Pemenuhan Target Indikator Internal 9.2. Pemenuhan Target Indikator Eksternal Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan 4

8 BAB III. MEKANISME PENILAIAN Penilaian dilakukan secara self assesment oleh asesor terhadap masing-masing kriteria dan sub kriteria disertai dengan bukti-bukti pendukung yang menguatkan hasil penilaian tersebut. Pada tahap akhir, Tim Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi akan melakukan pendalaman atas hasil penilaian untuk memastikan bahwa proses penilaian mandiri ini dilakukan secara benar Asesor Asesor merupakan bagian dari Tim Pelaksana PMPRB dengan tugas sebagai berikut : 1. Memberikan penilaian dengan kriteria : a. Melakukan proses penilaian sesuai dengan ketentuan b. Memberikan nilai sesuai aturan c. Melakukan diskusi dalam grup dengan baik untuk mencapai konsensus dalam hal penilaian d. Menyelesaikan semua pekerjaan sesuai dengan jadwal 2. Membuat Laporan Rencana Perbaikan dan Tindak Lanjut beserta Rencana Aksi sesuai standar yang ada/format yang diberikan 3. Menyampaikan Laporan PMPRB Dalam pelaksanaan tugasnya asesor dikoodinasikan oleh Inspektur Jenderal Metode Pengumpulan dan Analisis Data Dalam rangka melakukan penilaian, Tim asesor mengumpulkan data/informasi dan bukti (evidence) serta melakukan survei. Bukti yang dikumpulkan dapat berupa dokumen tertulis yang dihasilkan instansi yang dinilai, hasil wawancara atau diskusi dengan para pegawai, maupun audio visual yang dimiliki instansi. Survei yang dilakukan dibagi menjadi dua yaitu : - Survei internal Survei dilakukan secara internal dengan sasaran pegawai pada instansi yang dinilai. Survei internal dilakukan untuk menilai semua komponen pengungkit, dan sebagian komponen hasil yaitu Kriteria Hasil pada SDM Aparatur. - Survei eksternal Survei dilakukan secara eksternal dengan sasaran pengguna layanan instansi dan masyarakat. Survei eksternal dilakukan dilakukan untuk menilai sebagian komponen hasil yaitu Kriteria Hasil Pada Masyarakat/Pengguna Layanan, serta Kriteria Hasil Pada Komunitas Lokal, Nasional, dan Internasional. Responden survei dipilih secara acak dengan ketentuan sebagai berikut : - Responden untuk survei kriteria dan sub kriteria Komponen Pengungkit adalah pegawai instansi pemerintah yang dinilai dan terpilih secara acak - Responden untuk survei kriteria Hasil Pada SDM Aparatur adalah pegawai instansi pemerintah yang dinilai dan terpilih secara acak Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan 5

9 - Responden untuk survei kriteria Hasil Pada Masyarakat/Pengguna Layanan dan Hasil Pada Komunitas Lokal, Nasional, dan Internasional adalah pengguna layanan dari instansi yang dinilai dan masyarakat Jumlah sampel sebaiknya sebanyak mungkin dengan mempertimbangkan karakteristik populasi agar lebih representatif. Besarnya sampel didapatkan dengan menggunakan rumus Slovin : di mana, n adalah jumlah sampel/responden n = N : (1+N(d 2 )) N adalah jumlah populasi/pegawai tetap terdaftar di instansi d adalah derajat kesalahan diambil sebesar 5% dengan tingkat keyakinan sebesar 95%) Selanjutnya bukti dan hasil survei dianalisis dan dinilai oleh Asesor untuk menentukan skor. a. Penilaian Komponen Pengungkit Penilaian terhadap komponen pengungkit dilakukan dengan 2 metode yaitu penilaian terhadap bukti-bukti yang ada guna menetapkan level/fase PDCA yang dicapai, dan survei. Penentuan capaian fase PDCA pada komponen pengungkit berdasarkan bukti-bukti yang dimiliki instansi sebagaimana Lampiran I Peraturan ini. Sarana untuk melakukan survei menggunakan kuesioner tertutup (close ended questions) seperti yang tercantum pada Lampiran II Peraturan ini. Jawaban atas pertanyaan survei, diukur dengan menggunakan skala Likert dari 0 sampai dengan 5. Skala 0 menunjukkan sangat tidak dan skala 5 menunjukkan sangat. Rentang skor hasil survei berbeda dengan rentang skor hasil penilaian bukti sehingga harus dinormalisasi dengan cara dikalikan dengan angka 20. Hasil penilaian terhadap masing-masing sub kriteria pada komponen pengungkit terdiri dari hasil penilaian mandiri yang dilakukan terhadap buktibukti yang ada dan hasil survei dengan proporsi hasil penilaian mandiri sebesar 60 % dan hasil survei sebesar 40%. Selanjutnya nilai akhir setiap kriteria didapatkan dengan menghitung rata-rata dari nilai sub kriteria penyusunnya. Tabel 2. Format Penilaian Komponen Pengungkit (Enablers) Fase Panel Penilaian Pengungkit Skor Kami belum melakukan hal 0-10 ini/tidak memiliki informasi mengenai hal ini Perencanaan (P) Kami telah merencanakan hal ini Pelaksanaan (D) Kami telah melaksanakan hal ini Pemantauan (C) Kami telah memantau pelaksanaan hal ini Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan 6

10 Tindak Lanjut (A) PDCA Kami telah melakukan langkah penyesuaian/perbaikan terkait hal berdasarkan hasil pemantauan Kami telah melakukan semua fase PDCA dan telah belajar dari pengalaman instansi lain. Saat ini kami sedang berada dalam siklus perbaikan secara terus menerus atau berkelanjutan terhadap hal ini Contoh penilaian : Kriteria Kepemimpinan pada Komponen Pengungkit memiliki 4 sub kriteria dengan nilai sebagai berikut : Sub Kriteria Penilaian Mandiri Survei Nilai Nilai Bobot (%) Nilai Akhir Skor Nilai (Skor x 20) Bobot (%) Nilai Akhir Akhir , , Rata-Rata Nilai Akhir Kriteria 1 75,5 Nilai akhir masing-masing sub kriteria dimasukkan ke dalam aplikasi PMPRB online. Jika terdapat perbedaan signifikan antara hasil survei dengan penilaian mandiri terhadap bukti maka dilakukan diskusi dan pembahasan lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang lebih handal (catatan : dengan tidak mengubah skor yang diperoleh dari hasil survei). b. Penilaian Komponen Hasil Penilaian komponen hasil pada 3 kriteria yaitu kriteria Hasil Pada SDM Aparatur, Hasil Pada Masyarakat/Pengguna Layanan, dan Hasil Pada Komunitas Lokal-Nasional-Internasional murni menggunakan hasil survei, dengan kata lain bobot yang dimiliki adalah 100%. Kuesioner yang digunakan untuk melakukan survei ini sebagaimana tercantum pada Lampiran III Peraturan ini. Adapun penilaian pada kriteria Hasil Kinerja Utama, dilakukan secara mandiri berdasarkan bukti-bukti yang ada dengan bobot 100%. Tabel 3. Format Penilaian Komponen Hasil (Results) Panel Penilaian Hasil Tidak ada hasil dan/atau tidak tersedia informasi terkait hal ini Hasil menunjukkan kecenderungan negatif dan/atau hasil yang dicapai tidak relevan dengan target yang ingin dicapai Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan Skor

11 Hasil menunjukkan kecenderungan mendatar dan/atau beberapa target yang relevan terpenuhi Hasil menunjukkan kecenderungan perbaikan dan/atau beberapa target yang relevan terpenuhi Hasil menunjukkan perkembangan yang substansial dan/atau semua target yang relevan terpenuhi Hasil yang sangat baik dan berkesinambungan telah dicapai dan/atau semua target yang relevan telah terpenuhi. Perbandingan dengan instansi lain untuk semua hasil yang dicapai bersifat positif Rencana Perbaikan dan Tindak Lanjut Berdasarkan hasil penilaian terhadap masing-masing sub kriteria dan kriteria, disusun Rencana Perbaikan dan Tindak Lanjut Perbaikan untuk masing-masing sub kriteria dan kriteria yang memuat informasi sebagai berikut : - Hal-hal baik yang sudah dilakukan - Hal-hal yang masih perlu diperbaiki - Tindak lanjut perbaikan Selanjutnya untuk menjamin ditindaklanjutinya rencana perbaikan maka diperlukan lembar operasional dan kontrol bagi instansi yang dinilai dengan format sebagaimana tabel di bawah ini. Tabel 4. Format Rencana Aksi PROGRAM RENCANA AKSI KRITERIA - Rencana Aksi Sub Kriteria : Deskripsi Rencana Aksi... - Sponsor : - Pimpinan Tim Rencana Aksi : - Anggota Tim Rencana Aksi : - Sekretariat Tim Rencana Aksi : - Ruang Lingkup Rencana Aksi : - Pemangku Kepentingan : - Hal-hal Yang Sudah Baik : - Konteks dan Area Perbaikan : - Alternatif Aksi Yang Dapat Dilakukan : - Hambatan Yang Mungkin Timbul : - SDM Yang Dibutuhkan : - Biaya Pelaksanaan Rencana Aksi : - Hasil Akhir/Output : - Tanggal Awal Pelaksanaan : - Tanggal Akhir Penyelesaian : 3.4. Panel Panel ini dilakukan oleh Inspektorat Jenderal dalam proses pengambilan keputusan akhir PMPRB. Tahapan panel ada 3 yaitu : Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan 8

12 - Panel I Panel I adalah tahapan panel untuk melakukan verifikasi dan melihat kelengkapan penilaian - Panel II Panel II adalah tahapan panel untuk menghitung dan men-set up nilai pelaporan mandiri instansi - Panel III Panel III adalah tahapan panel untuk menyampaikan hasil akhir penilaian mandiri instansi Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan 9

13 BAB IV. PENUTUP Dalam rangka mempermudah pelaksanaan PMPRB maka Inspektorat Jenderal telah menetapkan Petunjuk Teknis PMPRB Lingkup Kementerian Kehutanan sebagai pedoman untuk melaksanakan penilaian. Dengan demikian, tugas-tugas yang sudah dibebankan kepada Tim Pelaksana PMPRB Lingkup Kementerian Kehutanan agar dapat dilaksanakan dengan tertib, bertanggung jawab, dan tepat waktu. Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan 10

14 Lampiran II Peraturan Inspektur Jenderal Kementerian Kehutanan Nomor : Tentang : Petunjuk Teknis Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) Lingkup Kementerian Kehutanan 1. UNSUR KRITERIA KEPEMIMPINAN No Sub Kriteria Indikator Penjabaran Indikator Bukti Fase (Skor) PDCA 1.1 Menentukan arah bagi organisasi untuk pencapaian visi dan misi 1. Mengembangkan dan merumuskan visi dan misi instansi dengan melibatkan pegawai dan pemangku kepentingan 2. Menjabarkan visi dan misi menjadi tujuan dan sasaran 3. Menerapkan prinsip-prinsip Good Governance (Transparency, Accountability, Responsibility, Independency, Fairness) 1) Apakah Visi dan Misi telah dituangkan dalam dokumen yang ditetapkan dan disahkan oleh Pimpinan? 2) Apakah dalam penyusunan dokumen tersebut telah melibatkan pegawai atau diwakili pejabat struktural terkait? 1) Apakah visi dan misi tersebut telah ditetapkan secara jelas dalam dokumen Renstra? 2) Apakah Visi dan Misi dalam Renstra tersebut telah dijabarkan menjadi Tujuan dan Sasaran? Apakah telah diterapkan prinsipprinsip Good Governance, yaitu : 1) Wawasan ke depan (Visioner) yang menunjukkan adanya kejelasan dan ketepatan visi, strategi, dan tujuan 2) Keterbukaan dan transparansi, ditampilkan dengan tersedianya akses yang memadai pada setiap informasi kinerja organisasi dan proses pelayanan publik. 1) Dokumen Renstra 2010 s.d 2014 Kemenhut dan masing-masing Eselon I Permenhut Nomor P.8/Menhut- II/2010 Keputusan terkait. Direktur Jenderal 2) Dokumen pendukung rapat pembahasan penyusunan Renstra Undangan, notulen, dan dokumentasi Dokumen Renstra 2010 s.d 2014 dan Renja 2012 Kemenhut dan masingmasing Eselon I yang memadai (sesuai kaidah yang berlaku) 1) Dokumen Renstra yang memadai 2) Tersedianya : a) Website Kemenhut, Eselon I, dan UPT b) portal data perijinan, data spasial kehutanan dan P jika : - masih dalam tahap pemberian perintah/instruksi/ disposisi oleh pimpinan mengenai penyusunan/pembuatan buktibukti dimaksud; - masih dalam tahap rapatrapat dalam rangka penyusunan/pembuatan buktibukti dimaksud; - bukti-bukti masih berupa draft (belum ditetapkan). D jika : - bukti-bukti berupa dokumen sudah disusun dan ditetapkan - bukti-bukti berupa sistem/aplikasi sudah ada dan diterapkan C jika : - sudah dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap penerapan bukti-bukti dimaksud A jika : - implementasi hasil monitoring dan evaluasi terhadap penerapan bukti-bukti dimaksud PDCA jika bukti telah melalui L a m p i r a n 10

15 No Sub Kriteria Indikator Penjabaran Indikator Bukti Fase (Skor) PDCA 3) Akuntabilitas, dengan indikasi kesesuaian pelaksanaan program dan kegiatan dengan standar prosedur (dokumen perencanaan target program dan kegiatan). 4) Rule of Law, ditampilkan dengan kepastian dan penegakan hukum dan sanksi bagi pelanggarnya. 5) Profesionalisme, ditampilkan dengan kinerja yang baik, taat azas, dan berkualifikasi di bidangnya. pengaduan masyarakat terintegrasi pada website kemenhut c) pelayanan perizinan secara online, contoh : SK Menhut 324 Tahun 2012, Persekjen 2 Tahun 2012 (perizinan yang dilayani secara on line yang portalnya terintegrasi dengan website kemenhhut 3) Laporan Akuntabilitas (LAKIP) setiap Eselon I 4) Pengenaan sanksi terhadap pelanggaran sesuai kode etik PP 53 Tahun 2010 Permenhut P.48/Menhut-II/2011 Tentang Pengenaan Pelanggaran Kode Etik PNS Kemenhut - Tersedianya dokumen standar pelaksanaan kegiatan contoh : Pedoman audit kinerja (Itjen) - Tersedianya sistem manajemen mutu terhadap hasil pelaksanaan kegiatan Sertifikasi ISO Pola rekruitmen dan pengembangan SDM sesuai kompetensi APIP yang sudah sertifikasi JFA Rekruitmen pegawai berkesesuaian antara jabatan dengan background pendidikan formal. proses pada semua level L a m p i r a n 11

16 No Sub Kriteria Indikator Penjabaran Indikator Bukti Fase (Skor) PDCA 5) Daya tanggap (responsiveness), tersedianya layanan untuk mengakomodasi aspirasi masyarakat dan bagaimana mekanisme tindak lanjutnya. 6) Tersedianya media yang menampung aspirasi dari masyarakat. contoh untuk bidang pengawasan : Portal DUMAS pada website Kemenhut dan mekanisme audit investigasi sebagai salah satu tindak lanjut 7) Efisien dan efektif, terkait dengan penyelenggaraan organisasi yang tepat guna dan berdaya guna. 7) Tersedianya indikator kinerja yang terukur (Renstra, Renja) 8) Desentralisasi, ditampilkan dengan kejelasan pembagian tugas dan wewenang dalam pengelolaan organisasi 8) Struktur organisasi yang jelas pembagian tugas dan wewenangnya, - Permenhut 40 Tahun Permenhut mengenai pembentukan organisasi UPT 4. Memperkuat rasa saling percaya dan saling menghormati antar pegawai Apakah pimpinan telah melaksanakan pembinaan terhadap pegawai yang bertujuan untuk memperkuat hubungan antar pegawai? Contoh : Pembinaan pegawai SK Pembinaan, dan dokumentasi) 5. Menciptakan suasana kondusif untuk komunikasi yang efektif, memastikan dan mengkomunikasikan visi, misi, nilai, tujuan, dan sasaran kepada pegawai dan pemangku kepentingan utama lainnya Apakah pimpinan telah menyedikan forum sebagai media komunikasi penyampaian visi, misi, nilai, dan sasaran? - Rapat koordinasi teknis - Rapat koordinasi regional pembangunan kehutanan - Rapat kordinasi pembangunan kehutanan nasional Undangan, dokumentasi, dan prosiding kegiatan 1.2 Mendorong penyempurnaan manajemen dan memimpin perubahan 1. Menetapkan tujuan, sasaran dan indikator kinerja utama (IKU) yang terukur untuk semua unit kerja Telah jelas - Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.6/Menhut-II/2011 Penetapan 18 IKU Kemenhut dan Penetapan IKU yang terukur untuk 8 Eselon I (unit P jika : - masih dalam tahap pemberian perintah/instruksi/ disposisi oleh pimpinan mengenai L a m p i r a n 12

17 No Sub Kriteria Indikator Penjabaran Indikator Bukti Fase (Skor) PDCA 2. Menerapkan sistem informasi manajemen termasuk Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) 3. Menerapkan sistem manajemen kinerja - Adanya peraturan Menteri/pimpinan organisasi tentang penyelenggaraan SPIP - Pelaksanaan SPIP pada setiap unit kerja - Adanya sistem informasi manajemen lainnya Apakah telah menerapkan Manajemen Kinerja dengan tahapan: 1) perencanaan target kinerja dan anggaran 2) monitoring dan evaluasi secara berkala 3) manajemen SDM - job grading dalam rangka remunerasi (RB) - peningkatan kapasitas SDM 4) pemberian penghargaan sesuai kompetensi kerja) - Peraturan Menteri Kehutanan dan Keputusan Eselon I terkait mengenai penetapan Renstra - Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.27/menhut-II/2010 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan SPIP lingkup Kemenhut. - Laporan pelaksanaan SPIP pada setiap unit kerja. - Sistem Informasi Kepegawaian (SIMPEG) 1) Perencanaan target kinerja lima tahun (Renstra) dan target tahunan (Renja), anggaran tahunan (DIPA, RKAKL), Rencana Operasional Kegiatan (ROK). 2) Monitoring terhadap pelaksanaan anggaran (laporan bulanan, triwulan, tahunan), pencapaian target kinerja (laporan akutabilitas) 3) Diklat teknis, Diklat non teknis (PIM), dan In house training (PKS) Data/informasi jenis diklat teknis dan jumlah pegawai yang mengikutinya; undangan dan notulen PKS 4) Dokumen RB yang memuat job grading 5) Pola karir, promosi, mutasi sesuai kompetensi; pemberian penghargaan masa kerja tertentu dll. Notulen Baperjakat, satyalencana 10 tahun dll. penyusunan/pembuatan buktibukti dimaksud; - masih dalam tahap rapatrapat dalam rangka penyusunan/pembuatan buktibukti dimaksud; - bukti-bukti masih berupa draft (belum ditetapkan). D jika : - bukti-bukti berupa dokumen sudah disusun dan ditetapkan - bukti-bukti berupa sistem/aplikasi sudah ada dan diterapkan C jika : - sudah dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap penerapan bukti-bukti dimaksud A jika : - implementasi hasil monitoring dan evaluasi terhadap penerapan bukti-bukti dimaksud PDCA jika bukti telah melalui proses pada semua level 4. Memperkuat akuntabilitas kinerja instansi Apakah ada mekanisme kontrol terhadap akuntabilitas kinerja? 1) Pembahasan laporan akuntabilitas (LAKIP) dan laporan keuangan (LK) L a m p i r a n 13

18 No Sub Kriteria Indikator Penjabaran Indikator Bukti Fase (Skor) PDCA 5. Membentuk tim manajemen perubahan 6. Menerapkan strategi manajemen perubahan dan strategi komunikasi Telah Jelas 1) Tersedianya dokumen manajemen perubahan (RB)? 2) Tersedianya instruksi dari Menhut untuk percepatan RB? 3) Tersedianya kode etik/aturan perilaku pegawai dan mekanisme pengenaan sanksi? 4) Tersedianya Rencana aksi Pencegahan Korupsi? 2) Penandatangan pakta integritas pejabat struktural/fungsional terhadap pencapaian kinerja instansi. 1) Pembentukan Tim Reformasi Birokrasi, fungsi : - Penyusunan grand desain RB - Koordinasi dengan unit organisasi dalam melaksanakan RB - Sosialisasi dan internalisasi kepada pihak yang berkepentingan - Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan RB Kepmenhut Nomor SK.25/Menhut-II/2011 2) Pembentukan Tim Pelaksana Penilaian Mandiri RB sebagai quailty assurance Keputusan Inspektur Jenderal Nomor SK.15/III-SET/2012 tanggal 28 Mei ) Road Map Reformasi Birokrasi yang sudah disahkan oleh Menhut 2) Instruksi Menteri Kehutanan No. Ins. 4/menhut-II/2011 Tentang Percepatan RB 3) Kode Etik PNS Kemenhut : - Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.11/Menhut-II/2011 tentang Pedoman Kode etik PNS Kemenhut - Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.10/Menhut-II/2012 tentang Pedoman Perilaku PNS Kemenhut - Peraturan Menteri Kehutanan L a m p i r a n 14

19 No Sub Kriteria Indikator Penjabaran Indikator Bukti Fase (Skor) PDCA 1.3 Memberikan motivasi, inspirasi, dan mendukung pegawai, serta menjadi panutan (role model) 7. Melakukan sosialisasi dan internalisasi manajemen perubahan dalam rangka reformasi birokrasi 1. Menjadi panutan bagi para pegawai di instansi 1) Tersedianya gugus tugas dan tata waktu, strategi pelaksana sosialisasi dan internalisasi RB? 2) Tersedianya media dan forum sosialisasi dan internalisasi RB? 3) Pegawai dan pihak yang berkepentingan mengetahui pelaksanaan RB Kemenhut? Kriteria panutan (role model) sesuai 9 nilai dasar rimbawan, yaitu : Jujur, Tanggung jawab, Ikhlas, Disiplin, Visoner, Adil, Peduli, Kerjasam, dan Profesinal Nomor P.48/Menhut-II/2011 Pengenaan sanksi terhadap pelanggaran kode etik PNS Kementerian Kehutanan - Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.133/Menhut-II/2012 tentang Dewan Kehormatan Penegakan Kode Etik dan Kode Perilaku PNS Kemenhut - Keputusan/peraturan Eselon I terkait mengenai kode etik PNS 4) Keputusan Menteri Kehutanan Nomor Ins. 01/Menhut-III/ 2011 tentang Instruksi Menteri Kehutanan tentang Rencana aksi pencegahan korupsi Kementerian Kehutanan Pembentukan Tim Reformasi Birokrasi, salah satu tugasnya yaitu sosialisasi dan internalisasi RB Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.25/Menhut-II/2011 1) Forum rapat, PKS, capasity building berkaitan dengan pelaksanaan RB undangan, notulen, dokumentasi 2) Media sosialisasi pemasangan baliho RB dll Hasil survey internal 2. Menyampaikan informasi Telah jelas 1) Surat edaran Hasil survei internal P jika : - masih dalam tahap pemberian perintah/instruksi/ disposisi oleh pimpinan mengenai penyusunan/pembuatan buktibukti dimaksud; L a m p i r a n 15

20 No Sub Kriteria Indikator Penjabaran Indikator Bukti Fase (Skor) PDCA tentang isu-isu aktual yang berkaitan dengan instansi kepada pegawai 3. Membantu pegawai untuk melaksanakan tugas, rencana, dan tujuan dalam rangka mendukung pencapaian tujuan dan sasaran instansi 4. Mendorong pendelegasian wewenang, tanggung jawab dan peningkatan kompetensi 5. Mendorong berkembangnya budaya inovatif 6. Menghargai upaya tim dan individu 1) Tersedianya uraian tugas setiap pejabat struktural, fungsional, dan non struktural secara jelas 2) Tersedianya Standar Operasional Kerja (SOP) 1) Pendistribusian wewenang dan tanggung jawab sesuai dengan tugas dan fungsi 2) Tersedianya sistem diklat, forum PKS, tugas dan ijin belajar Melakukan sosialisasi budaya organisasi yang mempromosikan budaya kreatif, inovasi, pengambilan resiko, pemberian penghargaan Pemberian penghargaan sesuai kompetensi 2) Penyampaian informasi melalui Disposisi 3) Pembinaan teknis pegawai 1) Dokumen uraian tugas yang disahkan kepala unit kerja. 2) SOP pada tiap Eselon I/II terkait - Disposisi - Peningkatan kompetensi Data/informasi jenis diklat dan jumlah pegawai yang mengikuti; Undangan dan notulen PKS Data/informasi pegawai yang sedang melaksanakan tugas/ijin belajar Undangan dan notulen sosialisasi Pola karir, promosi, mutasi sesuai kompetensi; pemberian penghargaan masa kerja tertentu dll. Notulen Baperjakat, satyalencana 10 tahun dll. - masih dalam tahap rapatrapat dalam rangka penyusunan/pembuatan buktibukti dimaksud; - bukti-bukti masih berupa draft (belum ditetapkan). D jika : - bukti-bukti berupa dokumen sudah disusun dan ditetapkan - bukti-bukti berupa sistem/aplikasi sudah ada dan diterapkan C jika : - sudah dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap penerapan bukti-bukti dimaksud A jika : - implementasi hasil monitoring dan evaluasi terhadap penerapan bukti-bukti dimaksud PDCA jika bukti telah melalui proses pada semua level 1.4 Mengelola hubungan dengan pemangku kepentingan 1. Mendorong dan memelihara komunikasi dengan para pemangku kepentingan 1) Strategi komunikasi dengan para pemangku kepentingan? 2) Realisasi komunikasi dengan para pemangku kepentingan? 1) Terakomodasasinya kegiatan rapat atau forum lainnya dalam RKAKL 2) Rakorbangnas, Rakornis, Rakorbanghutreg, Rakorbanghutda, forum DAS Undangan, dokumentasi, prosiding kegiatan 2. Membangun reputasi, kesadaran masyarakat, dan 1) Tersedianya unit humas? 2) Tersedianya media kampanye 1) Pusat Humas Kemenhut Peraturan Menteri Kehutanan L a m p i r a n 16

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI 2010-2014

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI 2010-2014 PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI 2010-2014 MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2006-2010 Sambutan Ketua BPK Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa

Lebih terperinci

Kata Pengantar. Road Map Reformasi Birokrasi

Kata Pengantar. Road Map Reformasi Birokrasi Kata Pengantar P ada tahun 2011, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dahulu Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) telah berhasil menyusun dokumen usulan dan peta jalan (roadmap) reformasi

Lebih terperinci

Alhamdullilahi robbil alamin, Puji syukur kehadirat Allah

Alhamdullilahi robbil alamin, Puji syukur kehadirat Allah Pemerintah Kota Yogyakarta Lakip Tahun 2013 i Kata Pengantar Assalamu alaikum Wr, Wb. Alhamdullilahi robbil alamin, Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat, taufik, hidayah serta

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ADMINISTRASI PEMERINTAHAN PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ADMINISTRASI PEMERINTAHAN KEMENTERIAN TAHUN 2012 PERATURAN MENTERI NOMOR 35 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ADMINISTRASI

Lebih terperinci

KONSEP DASAR (GRAND DESIGN) DAN TATALAKSANA Peningkatan Kompetensi SDM Bidang Penataan Ruang

KONSEP DASAR (GRAND DESIGN) DAN TATALAKSANA Peningkatan Kompetensi SDM Bidang Penataan Ruang KONSEP DASAR (GRAND DESIGN) DAN TATALAKSANA Peningkatan Kompetensi SDM Bidang Penataan Ruang KONSEP DASAR (GRAND DESIGN) DAN TATALAKSANA PENINGKATAN KOMPETENSI SDM BIDANG PENATAAN RUANG Direktorat Jenderal

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2013

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2013 PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2013 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBERIAN TUNJANGAN KINERJA BAGI PEGAWAI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKsANAAN PROGRAM MANAJEMEN PERUBAHAN

PEDOMAN PELAKsANAAN PROGRAM MANAJEMEN PERUBAHAN BUKU 4 PEDOMAN PELAKsANAAN PROGRAM MANAJEMEN PERUBAHAN PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMAsi BIROKRAsi NOMOR 10 TAHUN 2011 KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI

Lebih terperinci

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI SALINAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN STANDAR

Lebih terperinci

REFORMASI BIROKRASI KEMENTERIAN LUAR NEGERI Hasil-hasil yang Ingin Dicapai

REFORMASI BIROKRASI KEMENTERIAN LUAR NEGERI Hasil-hasil yang Ingin Dicapai REFORMASI BIROKRASI KEMENTERIAN LUAR NEGERI Hasil-hasil yang Ingin Dicapai BABAK BARU SEBUAH PERUBAHAN MENUJU KEMENTERIAN LUAR NEGERI YANG LEBIH BAIK BIRO PERENCANAAN DAN ORGANISASI SEKRETARIAT JENDERAL

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 24 TAHUN 2012 TENTANG SATU DATA PEMBANGUNAN JAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 24 TAHUN 2012 TENTANG SATU DATA PEMBANGUNAN JAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 24 TAHUN 2012 TENTANG SATU DATA PEMBANGUNAN JAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendukung perencanaan

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG PENETAPAN INDIKATOR KINERJA UTAMA KEMENTERIAN TENAGA

Lebih terperinci

Bab 2 KEBIJAKAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK. Strategic Governance Policy. Kebijakan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik

Bab 2 KEBIJAKAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK. Strategic Governance Policy. Kebijakan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Bab 2 KEBIJAKAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK Kebijakan Strategik Tata Kelola Perusahaan Perum LKBN ANTARA Hal. 7 Bagian Kedua KEBIJAKAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK II.1. Kebijakan GCG ANTARA ANTARA

Lebih terperinci

Kementerian Pekerjaan Umum

Kementerian Pekerjaan Umum Kementerian Pekerjaan Umum S e k r e t a r i a t J e n d e r a l Satuan Kerja Pusat Kajian Strategis LAPORAN AKHIR Peningkatan Etos Kerja Sumber Daya Manusia PUSTRA Tahun 2010 PT. DDC CONSULTANTS Jl. Masjid

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN SISTEM PELATIHAN KERJA NASIONAL

Lebih terperinci

MENTERI DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG

MENTERI DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DI LINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN (CODE OF CORPORATE GOVERNANCE)

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN (CODE OF CORPORATE GOVERNANCE) PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN (CODE OF CORPORATE GOVERNANCE) BAB I, PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penerapan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik/Good Corporate Governance (GCG), tetap memperhatikan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Pengguna Narkoba Lebih Baik Direhabilitasi daripada Dipenjara LAKIP BNN Tahun 2013

Pengguna Narkoba Lebih Baik Direhabilitasi daripada Dipenjara LAKIP BNN Tahun 2013 1 KATA PENGANTAR tas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Badan Narkotika Nasional Tahun 2013. Azas akuntabilitas seperti yang tertuang

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Liwa, Februari 2011 Ketua. ttd. Drs. Sahrudin, SH., MHI NIP. 19590117 198903 1 001

KATA PENGANTAR. Liwa, Februari 2011 Ketua. ttd. Drs. Sahrudin, SH., MHI NIP. 19590117 198903 1 001 1 KATA PENGANTAR Puji syukur pertama tama kita panjatkan kehadirat Allah, Swt. Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat, hidayah dan inayahnya sehingga Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA UTAMA

INDIKATOR KINERJA UTAMA INDIKATOR KINERJA UTAMA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL TAHUN 2010-2011-2012-2013 BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL JALAN JEND. GATOT SUBROTO NO.44 JAKARTA SELATAN 12190 KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN UNIT KEARSIPAN PADA LEMBAGA NEGARA

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN UNIT KEARSIPAN PADA LEMBAGA NEGARA Jalan Ampera Raya No. 7, Jakarta Selatan 12560, Indonesia Telp. 62 21 7805851, Fax. 62 21 7810280 http://www.anri.go.id, e-mail: info@anri.go.id PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

PELAKSANAAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK Pengalaman Empirik : Kab. Solok, Kota Pekanbaru, Prov. Gorontalo, Kab. Wonosobo, Kota Yogyakarta, Kota

PELAKSANAAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK Pengalaman Empirik : Kab. Solok, Kota Pekanbaru, Prov. Gorontalo, Kab. Wonosobo, Kota Yogyakarta, Kota PELAKSANAAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK Pengalaman Empirik : Kab. Solok, Kota Pekanbaru, Prov. Gorontalo, Kab. Wonosobo, Kota Yogyakarta, Kota Surakarta, Kab. Sragen, Kab. Gianyar dan Kab. Jembrana

Lebih terperinci

IKHTISAR EKSKUTIF Terwujudnya Pengelolaan Keuangan dan Aset terbaik se Indonesia " .

IKHTISAR EKSKUTIF Terwujudnya Pengelolaan Keuangan dan Aset terbaik se Indonesia  . KATA PENGANTAR Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, mengamanatkan setiap instansi pemerintah menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

Lebih terperinci

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2 /SEOJK.05/2015 TENTANG PENILAIAN TINGKAT RISIKO DANA PENSIUN

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2 /SEOJK.05/2015 TENTANG PENILAIAN TINGKAT RISIKO DANA PENSIUN Yth. Pengurus Dana Pensiun di tempat. SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2 /SEOJK.05/2015 TENTANG PENILAIAN TINGKAT RISIKO DANA PENSIUN Sehubungan dengan amanat ketentuan Pasal 5 ayat (4), Pasal

Lebih terperinci

bagaimana menetapkan bobot dan target. Ini perlu menjadi perhatian agar SKI yang disusun berbobot, bisa menjadi alat ukur yang obyektif dan tidak

bagaimana menetapkan bobot dan target. Ini perlu menjadi perhatian agar SKI yang disusun berbobot, bisa menjadi alat ukur yang obyektif dan tidak bagaimana menetapkan bobot dan target. Ini perlu menjadi perhatian agar SKI yang disusun berbobot, bisa menjadi alat ukur yang obyektif dan tidak sekedar menjadi SKI atau istilahnya gaming KPI. a. Sasaran

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berpendapat bahwa istilah control sebagaimana dikutip Muchsan, artinya :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berpendapat bahwa istilah control sebagaimana dikutip Muchsan, artinya : BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengawasan 1. Pengawasan secara umum Kata Pengawasan berasal dari kata awas berarti penjagaan. Istilah pengawasan dikenal dalam ilmu manajemen dengan ilmu administrasi yaitu

Lebih terperinci

PANDUAN PELAKSANAAN SISTEM PENJAMINAN MUTU PERGURUAN TINGGI (SPM-PT) BIDANG AKADEMIK

PANDUAN PELAKSANAAN SISTEM PENJAMINAN MUTU PERGURUAN TINGGI (SPM-PT) BIDANG AKADEMIK PANDUAN PELAKSANAAN SISTEM PENJAMINAN MUTU PERGURUAN TINGGI (SPM-PT) BIDANG AKADEMIK DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2006 PENGANTAR Upaya peningkatan mutu perguruan

Lebih terperinci