Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik"

Transkripsi

1 Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik PERSATUAN DOKTER MANAJEMEN MEDIK INDONESIA (PDMMI) June 29, 2012 Authored by: PDMMI

2 Body of Knowledge dan Standar Kompetensi Dokter Manajemen Medik [Type the document subtitle] Pendahuluan Rumah-sakit adalah lembaga yang mempunyai kegiatan bisnis utama (core business) memberikan pelayanan klinis. Konsekuensinya, mutu klinis merupakan indikator utama bagi kinerja dan akuntabilitas rumah-sakit. Proses dan outcome pelayanan klinis tentunya dipengaruhi oleh kinerja tim klinis (para dokter, perawat, bidan serta tenaga klinis lainnya) serta sistem yang mendorong perbaikan mutu dan lingkungan yang kondusif. Sebagaimana sistem governance di manajemen, governance dalam pelayanan klinis telah pula dikembangkan, dipelopori oleh Inggris pada dekade 90-an dengan menggunakan istilah clinical governance. 1 Pengembangan ini diharapkan dapat mencapai outcome pelayanan klinis yang diharapkan, yang memenuhi dimensi keselamatan, efektivitas, berfokus pada pasien, tepat waktu, efisien dan keadilan (IOM, 2001). Konsep dasar clinical governance adalah (1) akuntabilitas (accountability), yaitu bahwa setiap upaya medik harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, etik dan moral dan berbasis pada bukti terkini dan terpercaya (evidence-based medicine); (2) perbaikan mutu berkelanjutan (continuous quality improvemen)t, yaitu bahwa upaya peningkatan mutu harus dilaksanakan secara sistematik, komprehensif dan berkesinambungan; (3) pelayanan bermutu tinggi (high quality standard of care), yang mengisyaratkan agar setiap upaya medik selalu didasarkan pada standard tertinggi yang diakui secara profesional; dan (4) memfasilitasi dan menciptakan lingkungan yang menjamin terlaksananya pelaksanaan pelayanan klinis yang bermutu. 2 Berdasarkan konsep di atas maka penting sekali artinya untuk melakukan kegiatan perbaikan mutu bersamaan dengan menciptakan lingkungannya yang mendukung. Terdapat hubungan timbal balik antara kegiatan clinical governance dengan lingkungan tempat metoda tersebut diterapkan 3 (gambar 1). Lingkungan yang diperlukan dalam menjalankan kegiatan terkait dengan tanggung jawab manajemen untuk menyediakan fasiltas yang diperlukan dan membangun budaya mutu yang mendukung kreativitas dan keterbukaan, melaporkan kekeliruan, kegagalan, dan kinerja yang belum optimal serta mengkaji upaya perbaikan dengan semangat pembelajaran yang tinggi. Di sisi lain, untuk menjalankan kegiatan clinical governance dengan metode yang tepat dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi yang spesifik. 1 1 Trisnantoro, 2004 Aplikasi manajemen strategis untuk rumah sakit, Gama press, Utarini, Dwiprahasto, 2003 Clinical governance: konsep, pengorganisasian, dan implementasi Program Pengembangan Eksekutif, MMR UGM, Jogjakarta, Desember Rukmono Siswihanto, 2005 Seminar Menuju Pelayanan RS Yang Bermutu Melalui Good Clinical Governance, Jakarta, 2 Desember 2004.

3 "10 Cs" of clinical governance Menggunakan metoda yang tepat Clinical performance Clinical leadership Clinical audit Clinical risk management Complaints Continuing health needs assessments Changing practice through evidence Continuing education Culture of excellence Clear accountability Menciptakan lingkungan yang mendukung Gambar 1: Hubungan antara berbagai kegiatan clinical governance dengan faktor yang mendukung keberhasilannya Berbagai pertimbangan di atas mendorong PDMMI untuk menyusun body of knowlege dan standar kompetensi bagi para klinisi (dokter) yang ingin memiliki kompetensi sebagai Dokter Manajemen Medik (clinical manager). Penerapan Clinical Governance Istilah clinical governance pertama kali diperkenalkan oleh Departemen Kesehatan Inggris sebagai kerangka kerja mutu dalam sistem kesehatan nasionalnya. Clinical governance menyediakan kesempatan untuk membangun pengertian dan menerapkan komponen dasar dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan, yaitu budaya tidak saling menyalahkan, peningkatan mutu terus menerus, organisasi pembelajaran, kepemimpinan, dan penghargaan bagi staf. Clinical governance timbul karena berbagai kenyataan buruk dalam sistem pelayanan kesehatan seperti tingginya kejadian pelayanan klinis yang bermutu rendah. Disamping itu, clinical governance muncul karena putus-asanya pemerintah dan manajer sarana pelayanan kesehatan di Inggris dalam mengimplementasi pendekatan continuous quality improvement (CQI) untuk pelayanan kesehatan dengan alasan tidak dapat diterima secara luas karena para staf klinis menilai CQI tersebut terlalu berbau manajemen tanpa identifikasi peran yang jelas untuk para klinisi dalam meningkatkan mutu tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, maka di dalam clinical governance diberikan aturan yang jelas bagi para pengambil keputusan dalam bidang klinis (terutama dokter dan perawat) untuk meningkatkan mutu pelayanan klinisnya (dengan intervensi yang minimal dari manajemen). Disamping itu clinical governance juga menyediakan petunjuk pelaksanaan yang jauh lebih detail dan terintegrasi dibanding pendekatan peningkatan mutu sebelumnya. 2

4 Kegiatan dalam clinical governance di Inggris diterapkan melalui model 10C seperti pada gambar 1, mencakup kinerja klinis, kepemimpinan klinis, audit klinis, manajemen risiko klinis, keluhan, penilaian kebutuhan kesehatan secara berlanjutan, mengubah praktek klinis berbasis bukti, pendidikan berlanjutan, budaya prima dan akuntabilitas yang jelas (ref). Sedangkan di Australia, kegiatan-kegiatan tersebut disederhanakan menjadi empat pilar utama yang perlu dibangun oleh manajemen rumah sakit, berupa nilai pelanggan, kinerja klinis dan evaluasi, manajemen risiko klinis serta pengembangan dan manajemen profesional. Setiap pilar tersebut memiliki outcome yang spesifik yang harus dicapai (ref). Pilar Clinical Governance Outcome yang diharapkan I. Consumer value Peningkatan pemahaman dan ketanggapan terhadap persyaratan pelanggan II. Clinical performance & evaluation Peningkatan pengetahuan dan partisipasi pasien dan pelanggan dalam pelayanan kesehatan Peningkatan kepercayaan pelanggan Peningkatan outcome pasien Pengembangan clinical care pathways yang disetujui bersama berdasarkan evidence-based clinical practices Peningkatan kepatuhan terhadap standar dan penurunan terjadinya variasi pelayanan klnik Peningkatan kinerja klinik (patient outcomes) Penurunan biaya pelayanan kesehatan karena upaya pencegahan terjadinya adverse events III. Clinical risk Peningkatan pemantauan dan pelaporan terjadinya incident dan adverse events IV. Profesional development & management Peningkatan pelaksanaan investigasi dari clinical incidents dan adverse events Perbaikan proses manajemen resiko Penurunan angka kejadian dan tingkat keparahan adverse events Perbaikan proses kredensial Perbaikan pengembangan profesional dan pelatihan keterampilan Perbaikan manajemen kinerja Peningkatan kepuasan kerja tim profesional 3

5 Secara garis besar penerapan konsep dasar clinical governance adalah sebagai berikut 4 : 1. Membangun kepemimpinan yang efektif: yaitu dengan menyusun visi, nilai, dan metode untuk meningkatkan mutu klinis serta disosialisasikan dengan efektif ke seluruh staf (klinis). Disamping itu juga dilakukan dengan memberdayakan team-work, membangun budaya keterbukaan dan budaya untuk selalu mempertanyakan/mencari kebenaran, serta memastikan bahwa hal-hal tersebut di atas terlaksana dalam kegiatan sehari-hari dalam setiap pelayanan kesehatan. 2. Menyusun rencana mutu: clinical governance tidak dapat dilakukan hanya dengan mengerjakan apa yang kelihatan/kira-kira benar. RS harus memiliki rencana untuk meningkatkan mutu pelayanan klinisnya, rencana tersebut harus berdasarkan penilaian yang objektif akan kebutuhan pasien, risiko klinis, persyaratan regulasi yang ada, kemampuan staf, kebutuhan pelatihan, dan perbandingan terhadap kinerja pelayanan klinis yang telah diberikan selama ini dengan standar kinerja yang terbaik. 3. Fokus kepada pasien: RS harus memahami bagaimana informasi dan umpan-balik yang berasal dari lapangan terutama dari pasien dapat digunakan untuk mengukur dan meningkatkan mutu pelayanan. Peran serta pasien akan mempengaruhi proses yang kemudian akan dapat meningkatkan mutu/kinerja, sehingga seluruh staf harus mengambil fokus kepada pasien dalam setiap pekerjaan mereka, mulai dari dokter yang mendiskusikan pilihan terapi kepada pasien, perawat yang memastikan bahwa pasien dapat mengerti mengenai tujuan perawatan yang diberikan, hingga manajer RS yang mengalokasikan waktu di bangsal untuk melihat pelaksanaan pelayanan klinis diberikan dan mendengar komentar pasien. 4. Informasi, analisis, pemahaman: RS harus membangun cara memilih, mengelola, dan menggunakan secara efektif informasi dan data untuk mendukung keputusan yang terkait dengan kebijakan dan proses pelayanan klinis. Informasi dan data tersebut harus dipastikan valid, up to date, dan disajikan sedimikian rupa hingga mudah dipahami agar dapat menjadi petunjuk yang baik. Informasi ini merupakan hal yang penting bagi para staf untuk menunjukan seberapa baik mereka bekerja dan apakah masih ada kemungkinan untuk meningkatkan kinerja tersebut. 5. Orang biasa yang mengerjakan hal luar biasa: Para staf yang bekerja di RS harus menunjukan kemampuan untuk memberikan konstribusi yang terbaik secara individu maupun bersama dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. Salah satu langkah untuk menuju hal ini adalah dengan pendidikan dan pelatihan. Namun tidak hanya sekedar hal tersebut, perlu ada upaya untuk memastikan bahwa para staf merasa dihargai, ada peran mereka dalam keputusan kebijakan mengenai clinical governance, dan manajemen terbukti telah mencoba untuk mengatasi masalahmasalah mereka serta memperhatikan mereka dengan mencari ide-ide untuk improvement dan inovasi dalam bidang pelayanan klinis. Para staf juga memerlukan dukungan tehnis yang tepat, misalnya akses kepada evidence based medicine, membangun budaya yang bebas dari budaya saling menyalahkan dan mendorong kepada penilaian terbuka terhadap kesalahan dan kegagalan. 6. Merancang pelayanan yang baik: Adalah suatu hal yang penting untuk melihat dan mengevaluasi kembali bagaimana proses pelayanan klinis selama ini diberikan. RS yang akan mewujudkan clinical governance dapat memulai dari sesuatu yang baru atau memodifikasi pelayanan kepada pasien secara spesifik, hal ini dapat termasuk bagaimana melihat persyaratan pasien, bagaimana proses 4 Halligan, Donaldson, 2001 Implementing clinical governance: turning vision into reality BMJ 322:

6 pelayanan kesehatan dirancang untuk memenuhi persyaratan tersebut tanpa menyampingkan persyaratan operasional, dan bagaimana rancangan dan proses pelayanan tersebut dapat dikoordinasikan serta diuji-coba untuk memastikan tidak ada masalah. Bagian integral lainnya adalah proses manajemen untuk menilai bagaimana rancangan tersebut dapat dievaluasi dan ditingkatkan kinerjanya. 7. Memastikan adanya keberhasilan: Kemampuan untuk mengukur mutu dari pelayanan yang dilakukan adalah hal penting dalam implementasi clinical governance, misalnya mengukur waktu tunggu, jumlah test yang terpaksa harus diulang, dan indikator strategis seperti jumlah inovasi, efektivitas inovasi dan sebagainya. Standar Kompetensi Untuk dapat menerapkan standar clnical governance tersebut maka dibutuhkan para Dokter Manajemen Medik yang memiliki kompetensi yang spesifik. Standar kompetensi Dokter Manajemen Medik Indonesia diusulkan terdiri dari 5 (lima) area kompetensi yang diturunkan dari gambaran tugas, peran dan fungsi seorang Dokter Manajemen Medik menerapkan konsep dasar clinical governance. Setiap area kompetensi ditetapkan definisinya, yang disebut sebagai kompetensi inti. Setiap area kompetensi dijabarkan menjadi beberapa komponen kompetensi, yang diperinci lebih lanjut menjadi kemampuan dalam bentuk penjabaran kompetensi. Standar kompetensi merupakan format terstruktur yang menunjukkan spesifikasi bagaimana seseorang melakukan peran yang terkait dengan suatu jabatan, pekerjaan atau profesi. Standar ini mencakup berbagai dimensi yang secara keseluruhan menggambarkan kinerja yang kompeten. Terdapat dua bentuk standar kompetensi, yaitu yang diakui di tingkat nasional dan digunakan sebagai dasar penilaian atau kualifikasi format, dan yang disusun dan berlaku di ruang lingkup organisasi tertentu. Standar kompetensi yang disusun oleh PDMMI diharapkan merupakan standar nasional yang diterapkan untuk profesi manajer medis. Berbagai standar kompetensi dan sistem pendidikan berbasis kompetensi telah dihasilkan di berbagai bidang pendidikan, pelatihan dan pengembangan profesional. Spesifikasi dan evaluasi kompetensi merupakan suatu langkah untuk meningkatkan pendidikan profesi dan untuk menjamin kesesuaian antara pengembangan individual serta kebutuhan organisasi dan profesi. Di Indonesia, contoh standar kompetensi di bidang profesi kesehatan yang telah digunakan untuk mendorong pengembangan kurikulum berbasis kompetensi serta dasar penilaian kualifikasi profesi adalah standar kompetensi dokter. Oleh karenanya, format penyusunan dan terminologi yang digunakan pada standar kompetensi ini juga akan mengacu pada standar kompetensi dokter (area kompetensi, komponen kompetensi dan penjabaran kompetensinya). Di bidang pelayanan kesehatan, beberapa inisiatif standar kompetensi yang telah dikembangkan antara lain: standar kompetensi untuk S2 Kesehatan Masyarakat oleh the Association of Schools of Public Health (ASPH) dan kompetensi inti untuk kesehatan masyarakat di Kanada (Public Health Agency of Canada), standar kompetensi bagi eksekutif pelayanan kesehatan oleh the American College of Healthcare Executives, kompetensi inti tenaga pelayanan kesehatan untuk penanganan 5

7 penyakit kronis oleh WHO, kompetensi manajerial bagi eksekutif pelayanan kesehatan di Canada oleh the Canadian College of Health Service Executives, kompetensi manajer rumah sakit di Afrika Selatan dan lainnya. Dari berbagai standar kompetensi tersebut, area kompetensi yang digunakan dalam standar kompetensi bagi manajer medis ini merujuk pada model yang dikembangkan oleh the American College of Healthcare Executives serta Clinical Governance Guidelines yang dikembangkan di Western Australia. Berikut adalah draft hasil kompetensi bagi manajer medik di Indonesia: Area Kompetensi 1. Komunikasi dan Nilai Pelanggan 2. Sistem Manajemen Klinis dan Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) 3. Tata Kelola Organisasi dan Klinis pada level Rumah Sakit 4. Kepemimpinan Klinis 5. Manajemen dan Pengembangan Profesional Masing-masing Area Kompetensi tersebut kemudian dijabarkan dalam Komponen Kompetensi sebagai berikut: Komponen Kompetensi 1. Komunikasi dan Nilai Pelanggan a. Persyaratan dan nilai pelanggan b. Pengetahuan dan partisipasi pasien dan pelanggan c. Kepercayaan pelanggan d. Komunikasi dengan pasien dan pelanggan e. Pelayanan yang berfokus pada pasien dan masyarakat f. Keluhan pelanggan dan respons terhadap keluhan 2. Sistem Manajemen Klinis dan Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) a. Keselamatan pasien dan outcome klinis b. Praktek klinis berbasis bukti c. Standard pelayanan klinis dan care pathways d. Perbaikan proses dan outcome klinis e. Siklus manajemen risiko klinis f. Audit klinis g. Indikator klinis h. Budaya keselamatan pasien dan pelayanan klinis i. Biaya dan mutu 3. Tata Kelola Organisasi dan Klinis pada level Rumah Sakit a. Rencana stratejik berbasis pelayanan klinis b. Regulasi pelayanan klinis dan organisasinya c. Manajemen kinerja klinis d. Sistem informasi klinis 6

8 e. Interdepedensi tim pelayanan klinis 4. Kepemimpinan Klinis a. Peran dan fungsi pemimpin klinis b. Team work c. Manajemen konflik d. Manajemen perubahan 5. Manajemen dan Pengembangan Profesional a. Kredensial b. Manajemen pengembangan profesional c. Pendidikan berkelanjutan d. Pelatihan keterampilan e. Kepuasan kerja tim klinis Dari setiap Komponen Kompetensi tersebut kemudian dijabarkan lebih lanjut menjadi kompetensi detail yang perlu dimiliki oleh para manajer medik sebagai berikut: Komponen Kompetensi Penjabaran Kompetensi 1. Area Kompetensi Communication And Consumer Value a. Persyaratan dan nilai pelanggan Mampu mengidentifikasi persyaratan pasien dan keluarga pasien saat menerima pelayanan kesehatan Mampu memahami nilia-nilai yang dianut oleh pasien dan keluarga pasien b. Pengetahuan dan partisipasi pasien dan pelanggan Mampu mengidentifikasi tingkat pengetahuan pasien dan masyarakat Mampu meningkatkan keterlibatan pasien dalam pelayanan kesehatannya c. Kepercayaan pelanggan Mampu menilai tingkat kepercayaan pelanggan Mampu meningkatkan tingkat kepercayaan pelanggan d. Komunikasi dengan pasien dan pelanggan Mampu berkomunikasi dengan pasien dan pelanggan Mampu menggunakan metode e. Pelayanan yang berfokus pada pasien dan masyarakat komunikasi yang berbeda Mampu mendesain pelayanan yang berfokus pada pasien 7

9 f. Keluhan pelanggan dan respons terhadap keluhan Mampu mengidentifikasi adanya komplain pelanggan Mampu mengelola komplain pelanggan 2. Area Kompetensi Clinical Management System And Knowledge Management a. Keselamatan pasien dan outcome klinis Mampu mengidentifikasi resiko yang mungkin terjadi Mampu menyusun indikator outcome klinis Mampu mengukur indikator outcome klinis Mampu meningkatkan pencapaian indikator outcombe klinis b. Praktek klinis berbasis bukti Mampu mengidentifikasi sumbersumber referensi praktek klinis berbasis bukti c. Standard pelayanan klinis dan care pathways Mampu menyusun pedoman pelayanan klinis Mampu menyusun clinical pathways d. Perbaikan proses dan outcome klinis Mampu mengidentifikasi masalah dalam proses dan outcome klinis Mampu meningkatkan mutu proses dan outcome klinis e. Siklus manajemen risiko klinis Mampu mengidentifikasi resiko Mampu menganalisa resiko Mampu mengelola resiko Mampu menghitung biaya pengelolaan resiko f. Audit klinis Mampu mengidentifikasi topik audit Mampu menyusun instrumen audit Mampu mengambil data audit Mampu mengelola data audit Mampu menganalisa data audit Mampu menyusun rencana perbaikan g. Indikator klinis Mampu menyusun indikator klinis Mampu mengembangkan sistem pengukuran dan evaluasi indikator klinis Mampu meningkatkan kinerja indikator klinis h. Budaya keselamatan pasien dan pelayanan klinis Mampu mengukur budaya keselamatan Mampu melakukan perubahan budaya 8

10 i. Biaya dan mutu Mampu mengidentifikasi biaya pengukuran mutu Mampu mengidentifikasi biaya peningkatan mutu Mampu menghubungkan antara upaya mutu dengan biaya yang dikeluarkan 3. Area Kompetensi Clinical-Corporate Governance at The Hospital Level a. Rencana stratejik berbasis pelayanan klinis Mampu melakukan analisa SWOT dari sudut pandang manajemen klinis Mampu mengidentifikasi isu-isu manajemen klinis yang penting Mampu menetapkan sasaran dan inisiatif stratejik pelayanan klinis Mampu mengkaitkan antara pengembangan klinis dengan aspek manajemen RS secara keseluruhan b. Regulasi pelayanan klinis dan organisasinya Mampu memahami regulasi yang terkait pelayanan klinis c. Manajemen kinerja klinis Mampu menetapkan indikator kinerja klinis Mampu mengambil data indikator kinerja klinis Mampu mengolah data indikator kinerja klinis Mampu menganalisa data indikator kinerja klinis Mampu menyusun rencana perbaikan indikator kinerja klinis d. Sistem informasi klinis Mampu menyusun analisa sistem informasi kinerja klinis Mampu mengidentifikasi kebutuhan pengguna dalam penggunaan sistem informasi klinis e. Interdepedensi tim pelayanan klinis Mampu membangun jaringan informasi dan kerjasama tim pelayanan klinis 4. Area Kompetensi Clinical Leadership a. Peran dan fungsi pemimpin klinis Mampu mengidentifikasi peran para pimpinan klinis Mampu mengidentifikasi fungsi para pimpinan klinis b. Team work Mampu membangun kerjasama tim Mampu mengidentifikasi 9

11 karakteristik tim Mampu menyusun tujuan bersama yang mengikat seluruh anggota tim c. Manajemen konflik Mampu mengidentifikasi konflik yang terjadi atau yang potensial akan terjadi Mampu menganalisa konflik Mampu mengelola konflik dengan efektif d. Manajemen perubahan Mampu mengidentifikasi perubahan yang perlu dilakukan Mampu 5. Area Kompetensi Profesional Development And Management a. Kredensial b. Manajemen pengembangan profesional Mampu melakukan professional need assessement Mampu mengidentifikasi mitra pendidikan berkelanjutan Mampu merancang metode evaluasi pendidikan c. Pendidikan berkelanjutan Mampu melakukan professional need assessement Mampu mengidentifikasi mitra pendidikan berkelanjutan Mampu merancang metode evaluasi pendidikan d. Pelatihan keterampilan Mampu melakukan professional need assessement Mampu mengidentifikasi mitra pelatihan keterampilan Mampu merancang metode evaluasi pendidikan e. Kepuasan kerja tim klinis Mampu mengukur tingkat kepuasan kerja tim klinis Mampu meningkatkan kepuasan kerja tim klinis 10

12 Lampiran: Tabel Area, Komponen dan Penjabaran Kompetensi Area kompetensi Komponen kompetensi Penjabaran kompetensi 1. Communication and Consumer value Persyaratan dan nilai pelanggan Pengetahuan dan partisipasi pasien dan pelanggan Kepercayaan pelanggan Komunikasi dengan pasien dan pelanggan Pelayanan yang berfokus pada pasien dan masyarakat Keluhan pelanggan dan respons terhadap keluhan 2. Clinical management system and knowledge management Keselamatan pasien dan outcome klinis Praktek klinis berbasis bukti Standard pelayanan klinis dan care pathways Perbaikan proses dan outcome klinis Siklus manajemen risiko klinis Audit klinis Indikator klinis Budaya keselamatan pasien dan pelayanan klinis Biaya dan mutu 3. Clinical-corporate governance at the hospital level Rencana stratejik berbasis pelayanan klinis Regulasi pelayanan klinis dan organisasinya Manajemen kinerja klinis 11

13 Sistem informasi klinis Interdepedensi tim pelayanan klinis 4. Clinical leadership Peran dan fungsi pemimpin klinis Team work Manajemen konflik Manajemen perubahan 5. Profesional development and management Kredensial Manajemen pengembangan profesional Pendidikan berkelanjutan Pelatihan keterampilan Kepuasan kerja tim klinis 12

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN PENERAPAN CLINICAL GOVERNANCE MELALUI ISO 9000: STUDI KASUS DI DUA RSUD PROVINSI JAWA TIMUR

JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN PENERAPAN CLINICAL GOVERNANCE MELALUI ISO 9000: STUDI KASUS DI DUA RSUD PROVINSI JAWA TIMUR JURNAL MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN VOLUME 09 No. 03 September l 2006 Halaman 121-128 Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Artikel Penelitian PENERAPAN CLINICAL GOVERNANCE MELALUI ISO 9000: STUDI KASUS

Lebih terperinci

FRAUD DALAM SISTEM MIKRO PELAYANAN KESEHATAN. Hanevi Djasri, dr, MARS Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-UGM

FRAUD DALAM SISTEM MIKRO PELAYANAN KESEHATAN. Hanevi Djasri, dr, MARS Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-UGM FRAUD DALAM SISTEM MIKRO PELAYANAN KESEHATAN Hanevi Djasri, dr, MARS Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-UGM DEFINISI FRAUD Fraud adalah kesengajaan melakukan kesalahan terhadap kebenaran

Lebih terperinci

Konsep Dasar Clinical Governance dan penerapannya di RS

Konsep Dasar Clinical Governance dan penerapannya di RS Konsep Dasar Clinical Governance dan penerapannya di RS Latar belakang: Inggris Clinical governance muncul karena putus-asanya thd pendekatan total quality management (TQM) atau continuous quality improvement

Lebih terperinci

Contoh topik penelitian manajemen rumahsakit

Contoh topik penelitian manajemen rumahsakit Contoh topik penelitian manajemen rumahsakit Adi Utarini Penelitian di bidang manajemen rumah sakit merupakan penelitian terapan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan manajemen.

Lebih terperinci

KASYFI HARTATI Disampaikan pada ASM 2014

KASYFI HARTATI Disampaikan pada ASM 2014 KASYFI HARTATI Disampaikan pada ASM 2014 Yogyakarta, 15 Maret 2014 Tinjauan Pustaka Pendahuluan Metode Penelitian Hasil & Pembahasan Kesimpulan A. Latar Belakang Masalah B. Perumusan Masalah Bagaimanakah

Lebih terperinci

PROGRAM PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN RSUD PASAR REBO

PROGRAM PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN RSUD PASAR REBO PROGRAM PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN RSUD PASAR REBO I. PENDAHULUAN Pelayanan kesehatan merupakan rangkaian kegiatan yang mengandung risiko karena menyangkut keselamatan tubuh dan nyawa seseorang.

Lebih terperinci

BAB 3. TATA KELOLA, KEPEMIMPINAN, DAN PENGARAHAN (TKP)

BAB 3. TATA KELOLA, KEPEMIMPINAN, DAN PENGARAHAN (TKP) BAB 3. TATA KELOLA, KEPEMIMPINAN, DAN PENGARAHAN (TKP) GAMBARAN UMUM Memberikan pelayanan prima kepada pasien menuntut adanya kepemimpinan yang efektif. Kepemimpinan ini dalam sebuah rumah sakit dapat

Lebih terperinci

Peran dan Fungsi Komite Medik di Rumah Sakit

Peran dan Fungsi Komite Medik di Rumah Sakit Peran dan Fungsi Komite Medik di Rumah Sakit Dr. Dody Firmanda, Sp.A, MA Ketua Komite Medis RSUP Fatmawati Jakarta. Pendahuluan Dengan terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan RI yang baru tentang penyelenggaran

Lebih terperinci

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA -Tahun 2005- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pengurus Pusat PPNI, Sekretariat: Jl.Mandala Raya No.15 Patra Kuningan Jakarta Tlp: 62-21-8315069 Fax: 62-21-8315070

Lebih terperinci

MENJADI RISK & CONTROL EXPERT : MEMELIHARA PROFESIONALISME DAN KOMPETENSI PENGAWAS INTERN. Oleh : Slamet Susanto, Ak., CRMP.

MENJADI RISK & CONTROL EXPERT : MEMELIHARA PROFESIONALISME DAN KOMPETENSI PENGAWAS INTERN. Oleh : Slamet Susanto, Ak., CRMP. MENJADI RISK & CONTROL EXPERT : MEMELIHARA PROFESIONALISME DAN KOMPETENSI PENGAWAS INTERN Oleh : Slamet Susanto, Ak., CRMP Abstract Auditor Internal dituntut untuk mampu melaksanakan perannya memberikan

Lebih terperinci

I. PRASYARAT BUSINESS PLAN

I. PRASYARAT BUSINESS PLAN I. PRASYARAT BUSINESS PLAN 1 Business Plan : pernyataan yang memuat tujuan-tujuan dari suatu usaha dan kegiatankegiatan yang ingin dilakukan dalam usaha tersebut untuk mencapai tujuantujuan itu. memberi

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA Nomor: 7/25/PBI/2005 TENTANG SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO BAGI PENGURUS DAN PEJABAT BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA Nomor: 7/25/PBI/2005 TENTANG SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO BAGI PENGURUS DAN PEJABAT BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA Nomor: 7/25/PBI/2005 TENTANG SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO BAGI PENGURUS DAN PEJABAT BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kondisi eksternal dan internal perbankan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berbahaya, salah satunya medical error atau kesalahnan medis. Di satu sisi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berbahaya, salah satunya medical error atau kesalahnan medis. Di satu sisi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini yang paling dibutuhkan dalam dunia kesehatan adalah kerja sama tim antar sesama profesi kesehatan. Keselamatan dan kualitas pelayanan kesehatan bergantung

Lebih terperinci

Clinical Leadership. Modul. Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran- UGM Tim Fasilitator. Prof dr Laksono Trisnantoro, MSc.

Clinical Leadership. Modul. Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran- UGM Tim Fasilitator. Prof dr Laksono Trisnantoro, MSc. Modul Clinical Leadership Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran- UGM 2011 Tim Fasilitator Prof dr Laksono Trisnantoro, MSc., PhD Dr Endro Basuki, SpBS Dr. Wiryawan, M., SpBS Dr Andreasta

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Profesi adalah kelompok disiplin individu yang mematuhi standar etika dan mampu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Profesi adalah kelompok disiplin individu yang mematuhi standar etika dan mampu BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Profesi Profesi adalah kelompok disiplin individu yang mematuhi standar etika dan mampu menegakkan diri dan diterima oleh masyarakat sebagai seorang yang memiliki ketrampilan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menyebutkan bahwa diperkirakan pasien rawat inap per tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. menyebutkan bahwa diperkirakan pasien rawat inap per tahun 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Globalisasi dan liberalisasi dalam bidang pelayanan kesehatan telah menghantarkan tantangan persaingan dan lingkungan yang kompetitif bagi industri rumah sakit di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia, serta penyelenggaraan penelitian, pengembangan dan penapisan teknologi

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia, serta penyelenggaraan penelitian, pengembangan dan penapisan teknologi BAB I PENDAHULUAN Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. segala sesuatu yang terjadi di rumah sakit sebagaimana dimaksud dalam pasal. 46 UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit.

BAB I PENDAHULUAN. segala sesuatu yang terjadi di rumah sakit sebagaimana dimaksud dalam pasal. 46 UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.744, 2014 KONSIL KEDOKTERAN. Rencana Strategis. Rancangan. Penyusunan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.744, 2014 KONSIL KEDOKTERAN. Rencana Strategis. Rancangan. Penyusunan. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.744, 2014 KONSIL KEDOKTERAN. Rencana Strategis. Rancangan. Penyusunan. PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG PENYUSUNAN RANCANGAN RENCANA

Lebih terperinci

KRITERIA SNI AWARD 2015

KRITERIA SNI AWARD 2015 Halaman : 1 dari 10 KRITERIA SNI AWARD 2015 KUESIONER SNI AWARD 2015 DAN BESAR BARANG DAN JASA 1 Halaman : 2 dari 10 A. KEPEMIMPINAN A.1 Visi, Misi dan Tata Nilai Klausul ini dimaksudkan untuk menilai

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 11/ 19 /PBI/2009 TENTANG SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO BAGI PENGURUS DAN PEJABAT BANK UMUM

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 11/ 19 /PBI/2009 TENTANG SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO BAGI PENGURUS DAN PEJABAT BANK UMUM PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 11/ 19 /PBI/2009 TENTANG SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO BAGI PENGURUS DAN PEJABAT BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menunjukkan keunggulan masing-masing agar bisa bertahan. Rumah sakit

BAB I PENDAHULUAN. menunjukkan keunggulan masing-masing agar bisa bertahan. Rumah sakit BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada era globalisasi yang padat dengan informasi, teknologi dan pengetahuan, segala sesuatu akan bergerak dan berubah dengan cepat. Perubahan ini akan menimbulkan

Lebih terperinci

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nur Hasyim Auladi Skep Ns Email : nurhasyim77@ymail.com, No. Telp. 081228112321 JL. Grafika Barat VI Rt 03 RW 08 Kel. Banyumanik. Kec Banyumanik Kota Semarang Riwayat Pendidikan 2007-2008

Lebih terperinci

INTERNAL AUDIT CHARTER

INTERNAL AUDIT CHARTER Halaman : 1 dari 5 I. PENDAHULUAN Tujuan utama Piagam ini adalah menentukan dan menetapkan : 1. Pernyataan Visi dan Misi dari Divisi Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) Bank Woori Saudara 2. Tujuan dan ruang

Lebih terperinci

Medical management in primary care

Medical management in primary care Medical management in primary care Pendahuluan Pelayanan primer merupakan kontak pertama pasien terhadap pelayan kesehatan, seperti dokter umum, dokter gigi, farmasi dalam periode sakit. Struktur praktek

Lebih terperinci

Perawat & Program Perawatan di Rumah Sakit

Perawat & Program Perawatan di Rumah Sakit Perawat & Program Perawatan di Rumah Sakit SEPTO PAWELAS ARSO, SKM, MARS Materi Kuliah Organisasi Manajemen Rumah Sakit Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat UNIVERSITAS DIPONEGORO Persyaratan RS Minimal

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang-

BAB 1 PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang- BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang harus diwujudkan dengan upaya peningkatan

Lebih terperinci

BLOCK 4 CORPORATE-CLINICAL GOVERNANCE AND BUSINESS ENVIRONMENT. Koordinator: Laksono Trisnantoro

BLOCK 4 CORPORATE-CLINICAL GOVERNANCE AND BUSINESS ENVIRONMENT. Koordinator: Laksono Trisnantoro BLOCK 4 CORPORATE-CLINICAL GOVERNANCE AND BUSINESS ENVIRONMENT Koordinator: Laksono Trisnantoro Review Block 1: Analisis perubahan lingkungan usaha rumah sakit dan sense making di organisasi PENGANTAR

Lebih terperinci

Standar Audit SA 300. Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan

Standar Audit SA 300. Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan SA 00 Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan SA Paket 00.indb //0 ::0 AM STANDAR AUDIT 00 PERENCANAAN SUATU AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN (Berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRATEGIS di rumahsakit: dengan pendekatan klinik

PERENCANAAN STRATEGIS di rumahsakit: dengan pendekatan klinik PERENCANAAN STRATEGIS di rumahsakit: dengan pendekatan klinik Disampaikan oleh: Laksono Trisnantoro Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM STRATEGIC THINKING Orientasi eksternal Analisis

Lebih terperinci

1.1. Dasar/ Latar Belakang Penyusunan Piagam Audit Internal

1.1. Dasar/ Latar Belakang Penyusunan Piagam Audit Internal Piagam Audit Intern 1.0 PENDAHULUAN 2.0 VISI 3.0 MISI 1.1. Dasar/ Latar Belakang Penyusunan Piagam Audit Internal a. Peraturan Bank Indonesia No.1/6/PBI/1999 tanggal 20 September 1999 tentang Penugasan

Lebih terperinci

PEDOMAN SISTIM PENGENDALIAN INTERN

PEDOMAN SISTIM PENGENDALIAN INTERN PEDOMAN SISTIM PENGENDALIAN INTERN DANA PENSIUN PERHUTANI 2007 DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN... 1 II. MAKSUD DAN TUJUAN... 2 III. RUANG LINGKUP... 2 3.1 Pihak Yang Berkepentingan... 3 3.2 Lingkungan Pengendalian

Lebih terperinci

KRITERIA SNI AWARD 2015

KRITERIA SNI AWARD 2015 Halaman : 1 dari 9 KRITERIA SNI AWARD 2015 KUESIONER SNI AWARD 2015 1 Halaman : 2 dari 9 A. KEPEMIMPINAN A.1 Visi, Misi dan Tata Nilai Klausul ini dimaksudkan untuk menilai karakteristik dan budaya serta

Lebih terperinci

STANDAR PERIKATAN AUDIT

STANDAR PERIKATAN AUDIT EXPOSURE DRAFT EXPOSURE DRAFT STANDAR PERIKATAN AUDIT ( SPA ) 300 PERENCANAAN SUATU AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN Exposure draft ini diterbitkan oleh Dewan Standar Profesi Institut Akuntan Publik Indonesia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk seluruh masyarakat. Untuk dapat mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak hal yang

BAB 1 PENDAHULUAN. untuk seluruh masyarakat. Untuk dapat mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak hal yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Terwujudnya keadaan sehat adalah kehendak semua pihak, tidak hanya satu orang, tetapi untuk seluruh masyarakat. Untuk dapat mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak

Lebih terperinci

PROFESIONALISME DAN INTERPROFESIONALISME DALAM MASYARAKAT YANG SEDANG BERUBAH

PROFESIONALISME DAN INTERPROFESIONALISME DALAM MASYARAKAT YANG SEDANG BERUBAH PROFESIONALISME DAN INTERPROFESIONALISME DALAM MASYARAKAT YANG SEDANG BERUBAH IRAWAN YUSUF Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin DEFINISI PROFESIONAL Sebagai seorang profesional, tenaga kesehatan

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG PENYUSUNAN RANCANGAN RENCANA STRATEGIS KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

SALINAN PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG PENYUSUNAN RANCANGAN RENCANA STRATEGIS KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA SALINAN PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG PENYUSUNAN RANCANGAN RENCANA STRATEGIS KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di segala bidang termasuk bidang kesehatan. Peralatan kedokteran baru banyak

BAB I PENDAHULUAN. di segala bidang termasuk bidang kesehatan. Peralatan kedokteran baru banyak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era globalisasi yang terjadi belakangan ini membawa dampak perubahan di segala bidang termasuk bidang kesehatan. Peralatan kedokteran baru banyak diketemukan demikian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi penilaian risiko, identifikasi dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi penilaian risiko, identifikasi dan 14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keselamatan Pasien 2.1.1 Definisi Keselamatan Pasien Keselamatan pasien didefinisikan sebagai layanan yang tidak mencederai dan merugikan pasien ataupun sebagai suatu sistem

Lebih terperinci

SURAT KEPUTUSAN BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI NO.SKB.003/SKB/I/2013

SURAT KEPUTUSAN BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI NO.SKB.003/SKB/I/2013 SURAT KEPUTUSAN BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI NO.SKB.003/SKB/I/2013 TENTANG INTERNAL AUDIT CHARTER (PIAGAM AUDIT INTERNAL) PT ASURANSI JASA INDONESIA (PERSERO) 1. VISI, MISI DAN STRUKTUR ORGANISASI

Lebih terperinci

Laporan pelaksanaan Seminar Nasional Patient Safety dalam rangka Dies Ke-60 FK-UGM dan Dies Ke-24 RS Dr. Sardjito

Laporan pelaksanaan Seminar Nasional Patient Safety dalam rangka Dies Ke-60 FK-UGM dan Dies Ke-24 RS Dr. Sardjito Buletin IHQN Volume II/Nomor. 03/2006 Hal. 1 dari 6 Laporan pelaksanaan Seminar Nasional Patient Safety dalam rangka Dies Ke-60 FK-UGM dan Dies Ke-24 RS Dr. Sardjito Kemungkinan terjadinya kecelakaan di

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

I.PENDAHULUAN LATAR BELAKANG I.PENDAHULUAN Undang undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehtan menyatakan bahwa upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan / atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Peningkatan jumlah sarana pelayanan kesehatan di Indonesia masih belum diikuti dengan peningkatan kualitas layanan medik. Rumah sakit yang sudah terakreditasi pun belum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit (RS) diakui merupakan institusi yang sangat kompleks dan berisiko tinggi, terlebih dalam kondisi lingkungan regional dan global yang sangat dinamis perubahannya.

Lebih terperinci

Uraian Pekerjaan dan Jabatan

Uraian Pekerjaan dan Jabatan KEPALA DIVISI LITIGASI 1. IDENTIFIKASI PEKERJAAN Nama Posisi : Kepala Divisi Litigasi Tanggal Berlaku : 2012 Direktorat/Divisi : Pangkat : Hukum dan Peraturan / Litigasi Vice President Senior Vice President

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2015 TENTANG RUMAH SAKIT PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2015 TENTANG RUMAH SAKIT PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2015 TENTANG RUMAH SAKIT PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2015 TENTANG RUMAH SAKIT PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2015 TENTANG RUMAH SAKIT PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2015 TENTANG RUMAH SAKIT PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

KRITERIA PENILAIAN SNI AWARD 2016

KRITERIA PENILAIAN SNI AWARD 2016 KRITERIA PENILAIAN SNI AWARD 2016 KATEGORI ORGANISASI MENENGAH DAN BESAR BARANG Pusat Sistem Penerapan Standar Badan Standardisasi Nasional Gedung l BPPT Lantai 10 Jl. MH Thamrin No. 8 Jakarta 10340 Telp

Lebih terperinci

Diklat Penjenjangann. Auditor Utama. Auditor Madya. Auditor Muda. Diklat Pembentukann. Auditor Ahli. Auditor

Diklat Penjenjangann. Auditor Utama. Auditor Madya. Auditor Muda. Diklat Pembentukann. Auditor Ahli. Auditor Diklat Penjenjangann Auditor Utama Auditor Madya Auditor Muda Diklat Pembentukann Auditor Ahli Auditor Terampil KEPUTUSAN BERSAMA KEPALA PUSAT PEMBINAAN JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR BADAN PENGAWASAN KEUANGAN

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.295, 2015 KESEHATAN. Rumah Sakit Pendidikan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5777). PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14/SEOJK.03/2015 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO TERINTEGRASI BAGI KONGLOMERASI KEUANGAN

LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14/SEOJK.03/2015 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO TERINTEGRASI BAGI KONGLOMERASI KEUANGAN LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14/SEOJK.03/2015 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO TERINTEGRASI BAGI KONGLOMERASI KEUANGAN - 1 - PEDOMAN PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO TERINTEGRASI Konglomerasi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong dan memperbaiki,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong dan memperbaiki, BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Supervisi 2.1.1 Pengertian Supervisi Menurut Kron (1987) Supervisi adalah merencanakan, mangarahkan, membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong dan memperbaiki, memerintah,

Lebih terperinci

BAB 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

BAB 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Kinerja bursa saham secara tidak langsung mempengaruhi kemajuan perekonomian nasional. Pasar modal kini memiliki peranan penting dalam perekonomian suatu negara, baik

Lebih terperinci

Gambar 1 : Continuous Quality Improvement pada Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan

Gambar 1 : Continuous Quality Improvement pada Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Kesehatan Tata Nilai LAM PTKes terdiri atas : a. Nilai Dasar : Amanah dan Mandiri b. Nilai Operasional Dalam rangka mewujudkan Visi dan Misinya berlandaskan pada Nilai Dasarnya, LAM- PTKes menganut 5 Prinsip Operasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepemimpinan klinis. Menurut The Victorian Quality Council (2005),

BAB I PENDAHULUAN. kepemimpinan klinis. Menurut The Victorian Quality Council (2005), BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan memerlukan kemampuan kepemimpinan klinis. Menurut The Victorian Quality Council (2005), kepemimpinan klinis merupakan

Lebih terperinci

THE IMPORTANCE OF HOSPITAL SPECIFIC CLINICAL PRACTICE GUIDELINES TOWARDS BETTER CLINICAL MANAGEMENT

THE IMPORTANCE OF HOSPITAL SPECIFIC CLINICAL PRACTICE GUIDELINES TOWARDS BETTER CLINICAL MANAGEMENT THE IMPORTANCE OF HOSPITAL SPECIFIC CLINICAL PRACTICE GUIDELINES TOWARDS BETTER CLINICAL MANAGEMENT DIREKTORAT MEDIK DAN KEPERAWATAN BIDANG PELAYANAN MEDIK 26 JULI 2016 PENDAHULUAN Peningkatan pelayanan

Lebih terperinci

STRATEGI PEMBENTUKAN LEMBAGA AKREDITASI PENDIDIKAN PROFESI KESEHATAN (HPEQ Project)

STRATEGI PEMBENTUKAN LEMBAGA AKREDITASI PENDIDIKAN PROFESI KESEHATAN (HPEQ Project) STRATEGI PEMBENTUKAN LEMBAGA AKREDITASI PENDIDIKAN PROFESI KESEHATAN (HPEQ Project) oleh : Soedarmono Soejitno disampaikan pada acara : Tindak Lanjut Pembahasan Business Plan LAM Menara Peninsula Hotel

Lebih terperinci

Sumber Daya Manusia. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan

Sumber Daya Manusia. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan 158 Profil Singkat BCA Laporan kepada Pemegang Saham Tinjauan Bisnis Pendukung Bisnis Sumber Daya Manusia Filosofi BCA membina pemimpin masa depan tercermin dalam berbagai program pelatihan dan pengembangan

Lebih terperinci

Strategic Management for Government Organization. Yodhia Antariksa. Pusdiklat Spimnas. Bidang Kepemimpinan.

Strategic Management for Government Organization. Yodhia Antariksa. Pusdiklat Spimnas. Bidang Kepemimpinan. Strategic Management for Government Organization Yodhia Antariksa 1 Fasilitator Anda Yodhia Antariksa Master of Science in Human Resource Development, Texas A&M University under Fubright Scholarship Program

Lebih terperinci

BAB II RUMAH SAKIT MARTHA FRISKA BRAYAN. dengan Type Madya.Kapasitas Rawat Inap 270 Bed. Sakit Martha Friska Brayan adalah sebagai berikut :

BAB II RUMAH SAKIT MARTHA FRISKA BRAYAN. dengan Type Madya.Kapasitas Rawat Inap 270 Bed. Sakit Martha Friska Brayan adalah sebagai berikut : BAB II RUMAH SAKIT MARTHA FRISKA BRAYAN A. Sejarah Ringkas Rumah Sakit Martha Friska berdiri sejak tanggal 2 Maret 1981 beralamat di jalan Komodor Laut Yos Sudarso No. 91 Medan, Sumatera Utara.Dengan status

Lebih terperinci

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Umum Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan), yang dalam Pedoman ini disebut BADAN, adalah badan hukum publik yang dibentuk dengan

Lebih terperinci

PT Wintermar Offshore Marine Tbk

PT Wintermar Offshore Marine Tbk PT Wintermar Offshore Marine Tbk ( Perusahaan ) Piagam Audit Internal I. Pembukaan Sebagaimana yang telah diatur oleh peraturan, yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 56/POJK.04/2015 yang ditetapkan

Lebih terperinci

MEMBANGUN KAPASITAS DAN KAPABILITAS UNTUK MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN. Compliance for QPS standard

MEMBANGUN KAPASITAS DAN KAPABILITAS UNTUK MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN. Compliance for QPS standard MEMBANGUN KAPASITAS DAN KAPABILITAS UNTUK MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN Compliance for QPS standard Dr. Hermanto Nurya, MM Direktur Eka Hospital BSD Jakarta 19 November 2013 Jaringan Layanan Eka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang yang mendasari latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Pada November 1999, the American Hospital

Lebih terperinci

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM HADAPI

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM HADAPI TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM HADAPI DILEMA ETIK/MORAL Teori-teori etika: 1. Teori Utilitariansme (tindakan dimaksudkan untuk memberikan kebahagiaan yang maksimal); 2. Teori Deontologi (tindakan berlaku

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i ABSTRACT... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN...

DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i ABSTRACT... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN... vi DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK... i ABSTRACT... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN... xiv BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

Lebih terperinci

Salah satu indikator keberhasilan dalam pelayanan rumah sakit adalah rendahnya angka infeksi atau Healthcare Associated Infections (HAIs) di rumah

Salah satu indikator keberhasilan dalam pelayanan rumah sakit adalah rendahnya angka infeksi atau Healthcare Associated Infections (HAIs) di rumah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rumah sakit merupakan salah satu mata rantai pelayanan kesehatan yang mempunyai fungsi utama sebagai tempat penyembuhan dan pemulihan penderita. Perkembangan

Lebih terperinci

Manajemen Kualitas Terpadu (MKT) Total Quality Management (TQM)

Manajemen Kualitas Terpadu (MKT) Total Quality Management (TQM) Manajemen Kualitas Terpadu (MKT) Total Quality Management (TQM) Definisi 1 : Suatu cara meningkatkan kinerja secara terus-menerus (continuous performance improvement) pada setiap level operasi atau proses,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pekerjaan Kefarmasian Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran

Lebih terperinci

B A B 2 TINJAUAN PUSTAKA. Audit medis menurut National Institute for Clinical Excellence adalah suatu

B A B 2 TINJAUAN PUSTAKA. Audit medis menurut National Institute for Clinical Excellence adalah suatu 10 B A B 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Audit medis Audit medis menurut National Institute for Clinical Excellence adalah suatu proses peningkatan mutu guna perbaikan perawatan kepada pasien dan luarannya melalui

Lebih terperinci

ANGKA KEMATIAN DI RUMAH SAKIT, ADA APA DENGANNYA,.

ANGKA KEMATIAN DI RUMAH SAKIT, ADA APA DENGANNYA,. ANGKA KEMATIAN DI RUMAH SAKIT, ADA APA DENGANNYA,. oleh: JONI RASMANTO, SKM, MKES* Tulisan ini terinspirasi dari pesan singkat seorang sahabat yang sedang mengikuti RAPAT di BAPPEDA, entah apa pembahasannya

Lebih terperinci

Survey Budaya Aman Rumah Sakit 2016 Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita

Survey Budaya Aman Rumah Sakit 2016 Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Survey Budaya Aman Rumah Sakit 2016 Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita PENDAHULUAN JCI Standard GLD 13. Hospital leadership creates and supports a culture of safety program throughout

Lebih terperinci

KERANGKA KERJA SATUAN PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS PADJADJARAN 2016 SATUAN PENJAMINAN MUTU SATUAN PENJAMINAN MUTU UNPAD.

KERANGKA KERJA SATUAN PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS PADJADJARAN 2016 SATUAN PENJAMINAN MUTU SATUAN PENJAMINAN MUTU UNPAD. KERANGKA KERJA SATUAN PENJAMINAN MUTU 2016-2020 SATUAN PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS PADJADJARAN 2016 Page1 Kerangka Kerja SPM 2016-2020 Page 1 Kerangka Kerja Satuan Penjaminan Mutu (SPM) Unpad 2016-2020

Lebih terperinci

Minggu 3: Manajemen Modern

Minggu 3: Manajemen Modern Minggu 3: Manajemen Modern TI4002-Manajemen Rekayasa Industri Teknik Industri, FTI ITB Tujuan Pembelajaran Mempelajari dasar-dasar yang menjadi pemikiran manajemen moderen Mengetahui arah pengembangan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

RPKPS (RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER)

RPKPS (RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER) RPKPS (RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER) Berdasarkan : KBK (KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI) KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN KUI 661 Koordinator mata kuliah: Laksono Trisnantoro BAGIAN

Lebih terperinci

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12 SOP-6 PENELAAHAN MUTU Halaman 1 dari 12 Histori Tanggal Versi Pengkinian Oleh Catatan 00 Halaman 2 dari 12 KETENTUAN 1.1 Penelaahan Mutu dilakukan untuk memastikan pelaksanaan kerja oleh Penilai telah

Lebih terperinci

PENERAPAN PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL: Dewi Irawaty, MA, PhD

PENERAPAN PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL: Dewi Irawaty, MA, PhD PENERAPAN PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL: KENDALA DAN TANTANGANNYA Dewi Irawaty, MA, PhD PERSI, 10 November 2012 1 PERAWAT INDONESIA ADALAH PROFESI Disepakati dan dideklarasikan dalam Lokakarya Nasional

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYELENGGARAAN KOMITE KEPERAWATAN RUMAH SAKIT BAB I PENDAHULUAN

PEDOMAN PENYELENGGARAAN KOMITE KEPERAWATAN RUMAH SAKIT BAB I PENDAHULUAN 11 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG KOMITE KEPERAWATAN RUMAH SAKIT PEDOMAN PENYELENGGARAAN KOMITE KEPERAWATAN RUMAH SAKIT BAB I PENDAHULUAN Rumah sakit adalah institusi

Lebih terperinci

KONTRIBUSI SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DALAM PENGEMBANGAN MUTU PERGURUAN TINGGI

KONTRIBUSI SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DALAM PENGEMBANGAN MUTU PERGURUAN TINGGI PRAKTIK BAIK SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DI PERGURUAN TINGGI Manfaat yang diperolah Setelah Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal di Perguruan Tinggi KONTRIBUSI SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jaminan Kesehatan Nasional Jaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi

Lebih terperinci

Kompetensi, Mutu Layanan dan Keselamatan Pasien

Kompetensi, Mutu Layanan dan Keselamatan Pasien Kompetensi, Mutu Layanan dan Keselamatan Pasien Zubairi Djoerban zubairidjoerban.org Tantangan kedokteran sekarang: Memberikan layanan kesehatan dg kualitas yang terbaik (EBM, KOMPETEN), yg komprehensif

Lebih terperinci

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA,

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA, WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk menjamin mutu, keamanan dan

Lebih terperinci

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I No. 5777 KESEHATAN. Rumah Sakit Pendidikan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 295). PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MANAJEMEN KINERJA PERAWAT DAN BIDAN SEBAGAI STRATEGI DALAM PENINGKATAN MUTU KLINIS

PENGEMBANGAN MANAJEMEN KINERJA PERAWAT DAN BIDAN SEBAGAI STRATEGI DALAM PENINGKATAN MUTU KLINIS JMPK Vol. 08/No.03/September/2005 Pengembangan Manajemen Kinerja Perawat dan Bidan PENGEMBANGAN MANAJEMEN KINERJA PERAWAT DAN BIDAN SEBAGAI STRATEGI DALAM PENINGKATAN MUTU KLINIS PERFORMANCE MANAGEMENT

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kenyamanan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang

Lebih terperinci

Strategi Penanganan Kasus Pelanggaran Disiplin Praktik Kedokteran dalam Rangka Pembinaan Profesi Dokter/Dokter Gigi pada Era MEA #

Strategi Penanganan Kasus Pelanggaran Disiplin Praktik Kedokteran dalam Rangka Pembinaan Profesi Dokter/Dokter Gigi pada Era MEA # Strategi Penanganan Kasus Pelanggaran Disiplin Praktik Kedokteran dalam Rangka Pembinaan Profesi Dokter/Dokter Gigi pada Era MEA # Dody Firmanda Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)

Lebih terperinci

lain rumah sakit atau prosedur hari pusat dicabut, ditangguhkan atau memiliki kondisi tempat

lain rumah sakit atau prosedur hari pusat dicabut, ditangguhkan atau memiliki kondisi tempat Praktisi status akreditasi sebagai mengunjungi petugas medis (apapun namanya) pada setiap lain rumah sakit atau prosedur hari pusat dicabut, ditangguhkan atau memiliki kondisi tempat praktek mereka. Praktisi

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, penulis mengambil kesimpulan bahwa: 1. Komite Audit dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PELAYANAN MEDIK DAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT *) dr. Henni D. Supriadi K, MARS

PENGEMBANGAN PELAYANAN MEDIK DAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT *) dr. Henni D. Supriadi K, MARS PENGEMBANGAN PELAYANAN MEDIK DAN KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT *) dr. Henni D. Supriadi K, MARS 1. Pendahuluan Rumah Sakit merupakan unit pelayanan kesehatan dari sistem kesehatan dan merupakan unsur strategis

Lebih terperinci

Borang Audit Internal Mutu (AIM) Lingkup ISO: Program Studi

Borang Audit Internal Mutu (AIM) Lingkup ISO: Program Studi Borang Audit Internal Mutu (AIM) Lingkup ISO:9001-008 Program Studi Program Studi Fakultas : PROGRAM DOKTOR ILMU EKONOMI : EKONOMI DAN BISNIS No. Item/Proses Narasi dan Kelengkapan Dokumen A1. Perolehan

Lebih terperinci

Andi Ansharullah. Workshop Pengembangan Kompetensi dan Sistem Pendidikan Kebidanan, JW Marriott Surabaya, 5-6 Juli 2010.

Andi Ansharullah. Workshop Pengembangan Kompetensi dan Sistem Pendidikan Kebidanan, JW Marriott Surabaya, 5-6 Juli 2010. Andi Ansharullah Medical Education Unit Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Workshop Pengembangan Kompetensi dan Sistem Pendidikan Kebidanan, JW Marriott Surabaya, 5-6 Juli 2010 Output Workshop 1.

Lebih terperinci

Patient Safety dalam Keperawatan. Sumijatun Oktober 2007

Patient Safety dalam Keperawatan. Sumijatun Oktober 2007 Patient Safety dalam Keperawatan Sumijatun Oktober 2007 Issue yang terjadi dikalangan konsumen kesehatan terhadap pelayanan di RS Jangan sakit dong.., soalnya mahal banget Amit amit. Jangan sampai saya

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Interprofessional education a. Definisi interprofessional education Centre for the Advancement of Interprofessional Education (CAIPE, 2002) menyebutkan, IPE

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sejak tahun 1960-an. Hal ini terjadi sebagai bentuk respon ketidakpuasan terhadap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sejak tahun 1960-an. Hal ini terjadi sebagai bentuk respon ketidakpuasan terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peran tenaga kefarmasian telah mengalami perubahan yang cukup besar sejak tahun 1960-an. Hal ini terjadi sebagai bentuk respon ketidakpuasan terhadap norma praktik

Lebih terperinci

PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management. Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang

PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management. Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang mengkhususkan diri pada pengembangan manajemen proyek. PMBOK merupakan

Lebih terperinci

Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk

Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk Pendahuluan Piagam Audit Internal ( Internal Audit Charter ) adalah dokumen formal yang berisi pengakuan keberadaan

Lebih terperinci

8 PRINSIP MANAJEMEN MUTU

8 PRINSIP MANAJEMEN MUTU 8 PRINSIP MANAJEMEN MUTU 1. ORGANISASI YANG BERFOKUS PADA PELANGGAN Mengerti akan kebutuhan-kebutuhan sekarang dan di masa mendatang dari pelanggan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan dan melebihi harapan-harapannya

Lebih terperinci