BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Transkripsi

1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembangunan pada suatu negara dapat dijadikan sebagai tolak ukur kualitas dari pemerintahan suatu negara. Pembangunan wilayah pada suatu negara dapat dikatakan berhasil jika hasil yang didapatkan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Perencanaan yang matang menjadi kunci keberhasilan dari suatu pembangunan, sehingga data yang digunakan dalam perencanaan haruslah baik. Salah satu media yang digunakan dalam perencanaan adalah peta. Pengadaan peta seluas negara Indonesia dalam waktu yang singkat sangatlah tidak mudah jika pengukuran yang dilakukan menggunakan metode konvensional. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan pemetaan menggunakan metode Penginderaan Jauh. Penginderaan Jauh merupakan teknologi untuk mendapatkan informasi mengenai obyek, area, atau fenomena dari analisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat yang tidak berhubungan langsung dengan obyek, area, atau fenomena tersebut (Lillesand, 1999). Penginderaan jauh juga memiliki data dan informasi waktu. Kelebihan pengukuran metode penginderaan jauh dibandingkan dengan metode konvensional adalah dalam segi tenaga dan biaya yang diperlukan relatif lebih kecil untuk kawasan yang sangat luas. Pada penelitian ini dilakukan proses fusi pada citra GeoEye-1 dengan menggunakan beberapa metode fusi pan-sharpening dengan studi kasus daerah sekitar Kali Gendol, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data citra GeoEye-1 yang lebih baik, sehingga lebih mudah dalam melakukan interpretasi citra secara visual guna identifikasi penutup lahan. Selain itu penelitian ini juga dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan citra GeoEye-1 dalam menunjukkan kenampakan daerah penelitian sebelum dan setelah dilakukannya proses fusi.

2 2 Metode fusi pan-sharpening ada beberapa macam, diantaranya yaitu Hue Saturation Value (HSV), Brovey, Principal Component Analysis (PCA), Gram- Schmidt, Wavelet dan lain sebagainya. Pada penelitian ini metode fusi pansharpening yang dibandingkan hasilnya yaitu Hue Saturation Value (HSV), Brovey dan Principal Component Analysis (PCA). Pemilihan metode fusi pan-sharpening yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan pada penelitian sejenis yang telah dilakukan oleh peneliti LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) dengan judul Aplikasi Teknik dan Metode Fusi Data Optik ETM Plus Landsat dan Sar Radarsat untuk Ekstraksi Informasi Geologi Pertambangan Batubara (Sitanggang, 2003). Pada penelitian yang dilakukan oleh Gokmaria Sitanggang data yang digunakan adalah Citra Landsat 7 ETM+ dan Citra tunggal SAR Radarsat. 1.2 Identifikasi Masalah Metode fusi pan-sharpening ada beberapa metode. Setiap metode fusi citra memiliki algoritma dan karakteristik masing masing sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam sebuah penelitian ataupun proyek. Dalam penelitian ini dilakukan proses perbandingkan beberapa metode fusi citra yaitu Hue Saturation Value (HSV), Brovey dan Principal Component Analysis (PCA). Metode fusi pansharpening HSV, Brovey, dan PCA digunakan karena belum banyak penelitian yang meneliti metode tersebut, sehingga kelebihan dan kekurangan masing masing metode belum diketahui. 1.3 Pertanyaan Penelitian Berdasarkan identifikasi masalah pada sub bab 1.2 maka dapat dirumuskan pertanyaan pertayaan penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimana melakukan proses fusi citra dengan menggunakan metode Intensity Hue Saturation Value (HSV), Brovey dan Principal Component Analysis (PCA)? 2. Metode fusi citra mana yang memberikan hasil terbaik untuk digunakan dalam identifikasi penutup lahan di lokasi penelitian? 3. Apa kelebihan dan kekurangan dari masing masing metode fusi pada lokasi penelitian?

3 3 1.4 Cakupan Masalah Batasan masalah yang dikaji pada penelitian ini adalah sebagai berikut 1. Penelitian ini menggunakan tiga metode fusi pada citra GeoEye-1 yaitu Hue Saturation Value (HSV), Brovey dan Principal Component Analysis (PCA). 2. Lokasi dilakukannya penelitian ini adalah di sekitar Kali Gendol, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. 3. Unsur unsur interpretasi visual yang digunakan yaitu bentuk (spasial), warna (spektral), dan tekstur. 1.5 Tujuan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk membandingkan beberapa metode fusi citra pansharpening untuk keperluan identifikasi penutup lahan pada lokasi penelitian. Metode tersebut adalah HSV, Brovey, dan PCA. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apa kelebihan dan kekurangan dari masing masing metode tersebut. 1.6 Manfaat Penelitian Manfaat yang didapatkan dari pelaksanaan penelitian ini adalah : 1. Penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar bagi peneliti maupun praktisi untuk menentukan metode fusi pan-sharpening yang akan digunakan dalam sebuah penelitian ataupun proyek. 2. Penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi kelebihan dan kekurangan dari masing masing metode fusi yang digunakan. 1.7 Tinjauan Pustaka Ernawati (2001) melakukan penelitian dengan judul Transformasi Komponen Utama Data Citra Landsat TM5 pada Areal Tanaman Padi. Data yang digunakan adalah data satelit Landsat TM5 pada tanggal 18 Juli dan 3 Agustus 1999, dengan menggunakan metode fusi Transformasi Komponen Utama (TKU) / Principal Component Analysis (PCA). Pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa perubahan nilai reflektansi tanaman padi citra Landsat TM5 lebih terlihat pada spektrum inframerah dekat. Pada penelitian yang dilakukan Ernawati dengan studi

4 4 kasus di wilayah Ciasem, Subang, Jawa barat ini kesimpulan yang didapat adalah transformasi komponen utama pada data nilai digital tanaman padi menghasilkan 3 komponen utama yang setara dengan transformasi kecerahan, kehijauan dan kelembapan Tasseled Cap. Sitanggang (2003) melakukan penelitian aplikasi teknik dan metode fusi data optik ETM-plus Landsat dan SAR Radarsat untuk ekstraksi informasi geologi pertambangan batubara. Data yang digunakan adalah data primer SAR-Radarsat tahun 1997 dan data ETM-plus Landsat-7 tahun Data sekunder yang digunakan adalah peta geologi dan peta rupa bumi daerah studi kasus di Kalimantan Timur. Metode yang digunakan yaitu metode fusi Intensity Hue Saturation (IHS), Brovey / Color Normalization (CN) dan Transformasi Komponen Utama (TKU) / Principal Component Analysis (PCA). Yang didapatkan dari penelitian tersebut adalah bahwa metode fusi Color Normalization (CN) memiliki hasil dengan kontras yang lebih baik dari pada metode Intensity Hue Saturation (IHS), dan metode Transformasi Komponen Utama (TKU) memberikan kenampakan yang jelas pada struktur batuan di daerah penelitian. Arum Wandayani (2007) melaksanakan penelitian aplikasi teknik dan metode fusi data citra ETM-plus Landsat dan data citra Quickbird. Penelitian yang dilakukan ini memiliki judul Perbandingan Metode Brovey dan PCA Dalam Fusi Citra Pankromatik dan Multispektral. Metode fusi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Brovey (Color Normalization) dan metode Principal Component Analysis (PCA). Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk membandingkan dan mengevaluasi sejauh mana metode transformasi Brovey dan Principal Component Analysis (PCA) mampu memberikan kedetailan informasi warna dan informasi spasial. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa citra hasil fusi dengan metode Brovey memberikan penambahan informasi spasial yang tinggi sedangkan citra hasil fusi dengan metode Principal Component Analysis (PCA) mampu memberikan informasi warna yang lebih baik.

5 5 Tabel I.1. Tinjauan Pustaka Peneliti Judul Data dan Metode yang digunakan Lokasi Hasil Penelitian Data : Citra Metode TKU pada Transformasi Landsat TM5 nilaidigital tanaman padi Ernawati (2001) Komponen Utama Data Citra Landsat TM5 pada Areal Metode : Transformasi Komponen Ciasem, Subang, Jawa Barat menghasilkan 3 komponen utama yang setara dengan transformasi kecerahan, Tanaman Padi Utama kehijauan dan kelembapan Tasseled Cap Aplikasi Teknik Data : Citra Metode fusi Color dan Metode Fusi Landsat ETM- Normalization (CN) Gokmaria Sitanggang, dkk (2003) Data Optik ETM- Plus Landsat dan SAR Radarsat Untuk Ekstraksi Informasi Geologi Plus dan Citra tunggal SAR Radarsat Metode : IHS, Color Sangatta, Kalimantan Timur memiliki kontras yang lebih baik dari metode IHS, dan metode TKU memberikan kenampakan yang jelas pada struktur Pertambangan Normalization, batuan di daerah Batubara dan TKU penelitian. Data : Citra Citra hasil fusi metode Landsat ETM- Brovey memberikan Arum Wandayani Perbandingan Metode Brovey dan PCA Dalam Fusi Plus dan Citra Quickbird Metode : Brovey Singkawang, Kalimantan penambahan informasi spasial yang tinggi sedangkan citra hasil fusi (2007) Citra Pankromatik dan Multispektral dan PCA Barat dengan metode PCA mampu memberikan informasi warna yang lebih baik.

6 6 1.8 Landasan Teori Citra GeoEye-1 Penginderaan jauh adalah suatu ilmu dan seni untuk mendapatkan informasi tentang obyek, area, atau fenomena dari analisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat yang tidak berhubungan langsung dengan obyek, area, atau fenomena tersebut. Dalam melakukan pekerjaan penginderaan jauh yang dilakukan adalah menginterpretasi atau menganalisis pantulan cahaya yang terekam pada sebuah sensor (Lillesand, 1999). Setiap sensor yang dimiliki oleh alat penginderaan jauh memiliki karakteristik yang berbeda beda. Sebagai contoh adalah satelit ALOS yang dapat menyajikan informasi pada daerah berawan karena gelombangnya dapat menembus tutupan awan, asap, dan kanopi hutan. Citra GeoEye-1 merupakan salah satu citra beresolusi tinggi. Satelit perekaman citra yang diluncurkan pada 6 September 2008 oleh Vandenberg Air Force Base, California, AS ini memiliki resolusi spasial yang dapat diakses secara komersil adalah resolusi 0,5 meter saluran pankromatik dan 2 meter untuk saluran multispektral. Resolusi temporal satelit Geoeye-1 adalah 3 hari. Citra GeoEye-1 merupakan satelit yang dkeluarkan oleh GeoEye Inc yang sebelumnya juga mengeluarkan satelit IKONOS. GeoEye-1 dilengkapi dengan teknologi tercanggih yang pernah digunakan dalam sistem satelit komersial yang dibuat oleh General Dynamics. Proses pembuatan citra ini disponsori oleh Google dan National Geospatial Intelligence Agency (NGA). Gambar 1.1 Satelit GeoEye-1 (

7 7 Tabel I.2 Karakteristik Citra GeoEye-1 ( geoeye-1/ dan directory.eoportal.org/web/eoportal/satellite-missions/g/geoeye-1) Karakteristik Informasi Keterangan 6 September 2008 pukul 11:50:57 sampai dengan pukul 11:52:21 Peluncuncuran Cara Perekaman Pankromatik dan Multispektral Resolusi Spektral 0.46 meter (pankromatik), 0.5 meter (yang dapat diakses umum) 1.84 meter (multispektral), 2,0 meter (yang dapat diakses umum) Panjang Gelombang Pankromatik Multispektral Biru Green Merah : nm : nm : nm : nm Inframerah Dekat : nm Akurasi Metrik CE stereo : 2 m / 6.6 ft LE stereo : 3 m / 9.84 ft CE mono : 2.5 m/8.20 ft Kecepatan Lebar Sapuan 7.5 km/detik 15.2 km Satelit Masa Operasi Kuantisasi Data Tipe Citra >10 tahun 11 bit Pushbroom imager. Lline direkam dengan sistem perekaman TDI (Time Delay Integration)

8 Interpretasi Citra Visual Interpretasi citra merupakan serangkaian kegiatan identifikasi, pengukuran dan penerjemahan data peginderaan jauh untuk mendapatkan informasi yang berguna bagi pengguna. Interpretasi data penginderaan jauh dapat dilakukan secara digital dan secara manual karena data penginderaan jauh dapat berupa data numerik maupun data visual. Interpretasi citra secara visual menurut Susanto (1987) terdiri dari dua kegiatan utama, yaitu : 1. Penyadapan data dari data citra, berupa pengenalan obyek dan elemen yang tergambar pada citra yang disajikan dalam bentuk tabel, grafik atau peta tematik. 2. Penggunaan data hasil penyadapan dari data citra digunakan untuk tujuan tertentu. Prinsip dari proses interpretasi obyek pada penginderaan jauh adalah menyelidiki karakteristik atau atributnya pada citra. Karakteristik obyek yang tergambar pada citra dan digunakan untuk mengenali obyek dapat disebut juga unsur interpretasi citra. Unsur unsur interpretasi citra tersebut adalah : 1. Rona, merupakan tingkatan gelap terangnya citra berdasarkan atas proporsi atau emisi spektrum elektromagnetik yang datang dari obyek dan ditangkap oleh sensor. 2. Ukuran, merupakan satuan dimensi berupa panjang, luas, tinggi, kemiringan dan volume dari suatu obyek. 3. Bentuk, merupakan karakteristik yang dimiliki oleh suatu obyek. Saat ini detil yang berupa bentang buatan manusia relatif lebih teratur dan memiliki ciri bentuk tertentu jika dibandingkan bentuk bentang alam. Jadi bisa dikatakan bahwa bentuk adalah kunci interpretasi yang sangat penting untuk saat ini. 4. Tekstur, merupakan frekuensi perubahan rona pada citra (Lillesand, 1999) atau pengulangan rona kelompok obyek yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual. 5. Pola, merupakan susunan keruangan yang teratur mengenai kenampakan topografi, geologi atau vegetasi. Pola juga terbentuk oleh campur tangan

9 9 manusia yang dimana dilakukannya beberapa bentuk umum pada suatu area yang sama, sehingga terciptalah pola. 6. Bayangan, merupakan hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses interpretasi karena daerah yang terkena bayangan memiliki karakteristik yang sulit diketahui dengan hanya terlihat samar samar atau bahkan tidak tampak sama sekali. 7. Situs (lokasi), merupakan lokasi topografi obyek berada dan hubungannya dengan lingkungan sekitar. 8. Asosiasi, merupakan keterkaitan antara obyek yang satu dengan obyek lainnya. Keterkaitan inilah yang mengakibatkan tidak jarang suatu obyek dijadikan dasar untuk menginterpretasi obyek lainnya Koreksi Radiometrik Koreksi radiometrik merupakan proses yang dilakukan untuk meningkatkan tingkat visibilitas citra sebelum diinterpretasi. Sama dengan koreksi geometrik, koreksi radiometrik merupakan pembetulan citra akibat kesalahan radiometrik. Koreksi radiometrik bertujuan untuk memperbaiki nilai piksel agar sesuai dengan warna asli. Efek atmosfer menyebabkan nilai pantulan obyek dipermukaan bumi yang terekam oleh sensor menjadi bukan merupakan nilai aslinya, tetapi menjadi lebih besar oleh karena adanya hamburan atau lebih kecil karena proses serapan. Metode-metode yang digunakan untuk menghilangkan efek atmosfer antara lain metode pergeseran histogram (histogram adjustment), metode regresi dan metode kalibrasi bayangan Klasifikasi Untuk Tutupan Lahan Klasifikasi secara umum dapat diartikan sebagai proses menetapkan objekobjek kenampakan atau unit menjadi kelompok - kelompok di dalam suatu sistem yang dilakukan berdasarkan kandungan isinya. Tahapan klasifikasi adalah mengenali, menentukan letak, dan melakukan pengelompokan obyek menjadi kelaskelas tertentu yang didasarkan pada kesamaan nilai spektral setiap piksel. Proses klasifikasi citra untuk tutupan lahan pengelompokkan obyek nya dapat dibagi atas vegetasi, tubuh air, awan, tanah, dan salju.

10 10 Penutup lahan dan penggunaan lahan memiliki defenisi yang berbeda. Menurut Lillesand dan Kiefer (1999), istilah penutup lahan berkaitan dengan jenis kenampakan yang ada di permukaan Bumi. Sedangkan istilah penggunaan lahan berkaitan dengan kegiatan manusia pada bidang lahan tertentu. Konecny (2003) menyatakan bahwa penutup lahan menggambarkan penampilan fisik dari permukaan Bumi. Sementara itu, penggunaan lahan diartikan sebagai kategori lahan yang berhubungan dengan hak penggunaan tanah tersebut secara ekonomi. Klasifikasi dapat dikatakan sebagai klasifikasi penutup lahan atau klasifikasi penggunaan lahan tergantung dengan kedetailan kelas klasifikasi yang digunakan. Penutup lahan secara umum hanya diklasifikasikan menjadi lima kelas yaitu vegetasi, tanah, awan, tubuh air, dan salju. Kelima kelas tersebut merupakan jenis kelas yang masih sangat umum karena untuk kelas vegetasi, tanah, dan tubuh air masih dapat dilakukan pembagian kelas yang lebih detail sesuai dengan keperluannya. Sebagai contoh untuk kelas vegetasi masih dapat dibagi kelas nya sebagai daerah sawah, hutan dan kebun. Proses klasifikasi penutup lahan meliputi dua langkah : (1) mengenali objek objek penutup lahan (2) pemberian nama-nama piksel untuk diklasifikasi menggunakan algoritma klasifikasi tertentu. Daerah yang dipilih haruslah mencakup kelas kelas utama yang ditentukan yaitu tanah, vegetasi, dan tubuh air. Hasil klasifikasi yang dilakukan secara visual inilah yang nantinya dijadikan pertimbangan utama untuk menentukan citra hasil fusi metode manakah yang sesuai untuk dilakukan proses interpretasi visual pada lokasi penelitian. Penentuan unsur interpretasi yang digunakan juga merupakan aspek penting guna mengetahui kualitas dari hasil klasifikasi citra nya. Pada penelitian ini digunakan tiga unsur interpretasi citra yang digunakan, yaitu bentuk, warna, dan tekstur. Unsur unsur interpretasi citra tersebut dipilih karena tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan citra yang mudah untuk diinterpretasi secara visual guna identifikasi penutup lahan. Pemilihan ketiga unsur tersebut juga mempertimbangkan ketelitian spasial citra Geoeye-1 yang digunakan pada penelitian ini, dimana resolusi spasial citra pankromatiknya adalah 0,5 meter.

11 11 Skema Klasifikasi yang digunakan pada penelitian ini adalah SNI yang membahas tentang klasifikasi penutup lahan dengan beberapa modifikasi. Modifikasi yang dilakukan adalah dengan menggabungkan level 2.1 Lahan terbuka dan level 2.2 Pemukiman dan lahan bukan pertanian yang berkaitan. Sehingga didapatkan kelas klasifikasi level 1 vegetasi dan klasifikasi level 2 berupa Perairan dan Lahan Terbuka yang di kombinasikan dengan Pemukiman dan lahan bukan pertanian yang berkaitan. 1. Daerah bervegetasi... Kelas pertama 1.1 Daerah Pertanian Sawah Daerah Bukan Pertanian 2. Daerah tak bervegetasi 2.1 Lahan Terbuka... Kelas Kedua 2.2 Pemukiman dan lahan bukan pertanian yang berkaitan... Kelas Kedua 2.3 Perairan... Kelas Ketiga Gambar I.2. Skema klasifikasi penelitian Metode Fusi Citra (Image Pan-sharpening) Fusi citra adalah proses penggabungan dua citra atau lebih dengan kualitas yang berbeda pada daerah yang sama dengan algoritma pengukuran yang berbeda beda untuk setiap metode fusi yang digunakan. Dalam pelaksanaannya kedua citra agar dapat dilakukan proses fusi harus mempunyai sistem proyeksi yang sama. Metode fusi citra dilakukan untuk menghasilkan citra yang memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan data citra masukannya. Citra hasil fusi memiliki kelebihan resolusi spasial dari data masukan citra pankromatik dan kelebihan resolusi spektral dari data masukan citra multispektralnya. Hal ini dilakukan karena banyak proses analisis dan interpretasi yang tidak dapat dilakukan pada satu buah citra karena setiap

12 12 citra memiliki kelebihan dan kekurangan. Beberapa metode fusi diantaranya adalah metode Hue Saturation Value (HSV), Brovey (Color Normalization) dan Principal Component Analysis (PCA) Metode fusi citra hue saturation value (HSV). Metode fusi citra Hue Saturation Value (HSV), pengertian dari Saturation adalah tingkat dari kecerahan warna tersebut secara keseluruhan atau brightness, sedangkan Hue menunjukkan dominasi ataupun rata rata panjang gelombang dari kontribusi cahaya ke suatu warna dan Value adalah tingkat kemurnian dari sebuah warna sampai keabu abuan atau pure color (Lillesand, 1999). Dalam Metode fusi dengan Hue Saturation Value (HSV) dilakukan transformasi warna HSV untuk memisahkan antara Value (V) dan spektral (H, S) dari sebuah citra RGB standar. Untuk 0 H 120 maka : R = Scos(H) cos (60 H), B = 1 (1 S), G = 31 - R G... (1.1) 3 Untuk 120 H 240 maka : G = Scos(H 120 ) cos (180 H), R = 1 (1 S), B = 31 - R B... (1.2) 3 Untuk 240 H 360 maka : B = Scos(H 240 ) cos (360 H), G = 1 (1 S), R = 31 - G B... (1.3) 3 Dimana S adalah nilai saturation (Adam, 2001) Metode fusi citra brovey. Metode fusi citra Brovey adalah salah satu metode sederhana untuk mengkombinasikan data dari beberapa sensor, dengan batasan hanya tiga kanal yang dapat disertakan. Metode ini merupakan metode yang efektif karena piksel dari data kedua citra diproses secara bersamaan. Metode ini dilakukan proses normalisasi terhadap sebuah citra RGB. Caranya dengan mengalikan hasilnya dengan sebuah data citra yang beresolusi lebih tinggi untuk meningkatkan komponen intensitas dari citra. Metode transformasi Brovey menggunakan kombinasi linear dari pasangan citra awal untuk mendapatkan citra multispektral baru dengan resolusi spasial menyamai resolusi citra pankromatik awal. Metode Brovey merupakan komposisi dari rasio ketiga nilai kanal

13 13 multispektral untuk keperluan tampilan (display), dalam hal ini kanal RGB yang dipadukan dengan nilai spasial dari citra pankromatik awal. Rumus Umum yang digunakan untuk metode Brovey (Pohl,1998) adalah : R = Band 1 / (Band 1 + Band 2 + Band 3)* S1... (1.4) G = Band 2 / (Band 1 + Band 2 + Band 3)* S1... (1.5) R = Band 3 / (Band 1 + Band 2 + Band 3)* S1... (1.6) Band 1, Band 2, dan Band 3 masing masing merupakan kanal citra multispektral dan S1 menunjukkan citra pankromatik Metode fusi citra principal component analysis (PCA). Metode fusi citra Principal Component Analysis (PCA) atau biasa juga disebut Transformasi Komponen Utama (TKU) adalah metode analisis peubah ganda yang bertujuan memperkecil dimensi peubah asal sehingga diperoleh peubah baru (komponen utama) yang tidak saling berkolerasi tetapi menyimpan sebagian besar informasi yang terkandung pada peubah asal (Morisson, 1976). Pada metode ini harus dihitung nilai kovarian matrik C x terlebih dahulu :... (1.7) Dimana X adalah jumlah dimensi dari variabel, M adalah rata rata vektor dan k adalah nilai dari pixel (Minhayenud, 2008) Teori Histogram Citra dan Statistika Citra Histogram adalah suatu bentuk grafik yang menunjukkan adanya dispersi data. Dari grafik ini kita dapat membuat analisa karakteristik dan penyebab dispersi tersebut. Tiap tampilan batang menunjukkan proporsi frekuensi pada masing-masing deret kategori yang berdampingan dengan interval yang tidak tumpang tindih. Histogram adalah hal yang sangat penting dalam pekerjaan yang berhubungan dengan citra. Dengan melihat histogram sebuah citra dapat disimpulkan apakah foto tersebut memiliki exposure yang baik atau tidak. Selain itu dengan melihat histogram juga dapat diketahui apakah cahaya yang ada dalam foto keras atau flat (datar).,

14 14 sehingga pada akhirnya bisa ditentukan proses editing mana yang paling pas untuk citra bersangkutan. Sebuah citra terdiri atas sejumlah banyak piksel dan setiap piksel memiliki elemen warna yang dihasilkan oleh campuran warna utama berupa Red, Green dan Blue (RGB). Masing-masing warna RGB memiliki tingkat keabuan yang bernilai dari nol sampai 255. Saat merekam sebuah citra satelit membaca nilai keabuan (tonal) dengan nilai antara nol sampai 255. Hasil perekaman tersebut diproyeksikan dalam bentuk grafik. Grafik inilah yang disebut histogram. Statistika Citra pada citra dapat dianalisis dengan melihat pada nilai min, nilai max dan juga nilai mean pada digital number citra. Citra dapat dikatakan memiliki kualitas yang baik jika nilai minimumnya adalah nol dan nilai maksimumnya adalah 255. Nilai mean digunakan untuk melihat persebaran digital number pada citra tersebut. Jika nilai mean lebih menuju ke nilai nol maka data citranya cenderung gelap, begitu juga sebaliknya jika nilai mean lebih mendekati ke nilai 255 maka data citra nya cenderung lebih terang. 1.9 Hipotesis Metode fusi citra pada citra GeoEye-1 akan memberikan hasil yang berbeda pada masing masing metode fusi citra. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dimiliki oleh masing masing metode maka dapat diambil hipotesis bahwa proses fusi metode Principal Component Analysis akan memberikan nilai spektral yang lebih baik dibandingkan dua metode lain yang digunakan dalam penelitian ini sehingga informasi yang terdapat pada citra menjadi maksimal dan lebih mudah untuk diinterpretasi.

5. PEMBAHASAN 5.1 Koreksi Radiometrik

5. PEMBAHASAN 5.1 Koreksi Radiometrik 5. PEMBAHASAN Penginderaan jauh mempunyai peran penting dalam inventarisasi sumberdaya alam. Berbagai kekurangan dan kelebihan yang dimiliki penginderaan jauh mampu memberikan informasi yang cepat khususnya

Lebih terperinci

Gambar 1. Satelit Landsat

Gambar 1. Satelit Landsat 3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penginderaan Jauh Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA Pemanfaatan Citra Satelit Untuk Pemetaan Perairan Dangkal

2. TINJAUAN PUSTAKA Pemanfaatan Citra Satelit Untuk Pemetaan Perairan Dangkal 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemanfaatan Citra Satelit Untuk Pemetaan Perairan Dangkal Data kedalaman merupakan salah satu data dari survei hidrografi yang biasa digunakan untuk memetakan dasar lautan, hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penginderaan jauh yaitu berbagai teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut berbentuk radiasi elektromagnetik

Lebih terperinci

Gambar 11. Citra ALOS AVNIR-2 dengan Citra Komposit RGB 321

Gambar 11. Citra ALOS AVNIR-2 dengan Citra Komposit RGB 321 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Spektral Citra yang digunakan pada penelitian ini adalah Citra ALOS AVNIR-2 yang diakuisisi pada tanggal 30 Juni 2009 seperti yang tampak pada Gambar 11. Untuk dapat

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lahan dan Penggunaan Lahan Pengertian Lahan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lahan dan Penggunaan Lahan Pengertian Lahan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lahan dan Penggunaan Lahan 2.1.1 Pengertian Lahan Pengertian lahan tidak sama dengan tanah, tanah adalah benda alami yang heterogen dan dinamis, merupakan interaksi hasil kerja

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Data 3.3 Tahapan Pelaksanaan

BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Data 3.3 Tahapan Pelaksanaan 15 BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli sampai dengan April 2011 dengan daerah penelitian di Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Cianjur,

Lebih terperinci

Citra Satelit IKONOS

Citra Satelit IKONOS Citra Satelit IKONOS Satelit IKONOS adalah satelit inderaja komersiil pertama yang dioperasikan dengan tingkat ketelitian 1 meter untuk model pankromatik dan 4 meter untuk model multispektral yang merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penginderaan jauh didefinisikan sebagai proses perolehan informasi tentang suatu obyek tanpa adanya kontak fisik secara langsung dengan obyek tersebut (Rees, 2001;

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lahan, Penggunaan Lahan dan Perubahan Penggunaan Lahan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lahan, Penggunaan Lahan dan Perubahan Penggunaan Lahan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lahan, Penggunaan Lahan dan Perubahan Penggunaan Lahan Lahan adalah suatu wilayah daratan yang ciri-cirinya menerangkan semua tanda pengenal biosfer, atsmosfer, tanah geologi,

Lebih terperinci

SAMPLING DAN KUANTISASI

SAMPLING DAN KUANTISASI SAMPLING DAN KUANTISASI Budi Setiyono 1 3/14/2013 Citra Suatu citra adalah fungsi intensitas 2 dimensi f(x, y), dimana x dan y adalahkoordinat spasial dan f pada titik (x, y) merupakan tingkat kecerahan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi suatu kawasan hunian yang berwawasan lingkungan dengan suasana. fungsi dalam tata lingkungan perkotaan (Nazaruddin, 1996).

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi suatu kawasan hunian yang berwawasan lingkungan dengan suasana. fungsi dalam tata lingkungan perkotaan (Nazaruddin, 1996). 5 TINJAUAN PUSTAKA Penghijauan Kota Kegiatan penghijauan dilaksanakan untuk mewujudkan lingkungan kota menjadi suatu kawasan hunian yang berwawasan lingkungan dengan suasana yang asri, serasi dan sejuk

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengolahan Awal Citra (Pre-Image Processing) Pengolahan awal citra (Pre Image Proccesing) merupakan suatu kegiatan memperbaiki dan mengoreksi citra yang memiliki kesalahan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam Pasal 12 Undang-undang Kehutanan disebutkan bahwa. penyusunan rencana kehutanan. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam Pasal 12 Undang-undang Kehutanan disebutkan bahwa. penyusunan rencana kehutanan. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan TINJAUAN PUSTAKA KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Dalam Pasal 12 Undang-undang Kehutanan disebutkan bahwa perencanaan kehutanan meliputi inventarisasi hutan, pengukuhan kawasan hutan, penatagunaan kawasan

Lebih terperinci

GEOGRAFI. Sesi PENGINDERAAN JAUH : 3 A. CITRA NONFOTO. a. Berdasarkan Spektrum Elektromagnetik

GEOGRAFI. Sesi PENGINDERAAN JAUH : 3 A. CITRA NONFOTO. a. Berdasarkan Spektrum Elektromagnetik GEOGRAFI KELAS XII IPS - KURIKULUM GABUNGAN 10 Sesi NGAN PENGINDERAAN JAUH : 3 A. CITRA NONFOTO Citra nonfoto adalah gambaran yang dihasilkan oleh sensor nonfotografik atau sensor elektronik. Sensornya

Lebih terperinci

BAB II TEORI DASAR. Beberapa definisi tentang tutupan lahan antara lain:

BAB II TEORI DASAR. Beberapa definisi tentang tutupan lahan antara lain: BAB II TEORI DASAR 2.1 Tutupan Lahan Tutupan Lahan atau juga yang biasa disebut dengan Land Cover memiliki berbagai pengertian, bahkan banyak yang memiliki anggapan bahwa tutupan lahan ini sama dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, bahwa mangrove merupakan ekosistem hutan, dengan definisi hutan adalah suatu ekosistem hamparan lahan berisi sumber daya

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK CITRA SATELIT Uftori Wasit 1

KARAKTERISTIK CITRA SATELIT Uftori Wasit 1 KARAKTERISTIK CITRA SATELIT Uftori Wasit 1 1. Pendahuluan Penginderaan jarak jauh merupakan salah satu teknologi penunjang pengelolaan sumber daya alam yang paling banyak digunakan saat ini. Teknologi

Lebih terperinci

KOMPONEN PENGINDERAAN JAUH. Sumber tenaga Atmosfer Interaksi antara tenaga dan objek Sensor Wahana Perolehan data Pengguna data

KOMPONEN PENGINDERAAN JAUH. Sumber tenaga Atmosfer Interaksi antara tenaga dan objek Sensor Wahana Perolehan data Pengguna data PENGINDERAAN JAUH KOMPONEN PENGINDERAAN JAUH Sumber tenaga Atmosfer Interaksi antara tenaga dan objek Sensor Wahana Perolehan data Pengguna data Lanjutan Sumber tenaga * Alamiah/sistem pasif : sinar matahari

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Identifikasi Tutupan Lahan di Lapangan Berdasarkan hasil observasi lapangan yang telah dilakukan di Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Utara, dan Kabupaten

Lebih terperinci

ix

ix DAFTAR ISI viii ix x DAFTAR TABEL Tabel 1.1. Emisivitas dari permukaan benda yang berbeda pada panjang gelombang 8 14 μm. 12 Tabel 1.2. Kesalahan suhu yang disebabkan oleh emisivitas objek pada suhu 288

Lebih terperinci

LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL

LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL Sumber Energi Resolusi (Spasial, Spektral, Radiometrik, Temporal) Wahana Metode (visual, digital, otomatisasi) Penginderaan jauh adalah ilmu pengetahuan dan

Lebih terperinci

PENGINDERAAN JAUH. --- anna s file

PENGINDERAAN JAUH. --- anna s file PENGINDERAAN JAUH copyright@2007 --- anna s file Pengertian Penginderaan Jauh Beberapa ahli berpendapat bahwa inderaja merupakan teknik yang dikembangkan untuk memperoleh data di permukaan bumi, jadi inderaja

Lebih terperinci

ISSN Jalan Udayana, Singaraja-Bali address: Jl. Prof Dr Soemantri Brodjonogoro 1-Bandar Lampung

ISSN Jalan Udayana, Singaraja-Bali  address: Jl. Prof Dr Soemantri Brodjonogoro 1-Bandar Lampung ISSN 0216-8138 73 SIMULASI FUSI CITRA IKONOS-2 PANKROMATIK DENGAN LANDSAT-7 MULTISPEKTRAL MENGGUNAKAN METODE PAN-SHARPEN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS CITRA DALAM UPAYA PEMANTAUAN KAWASAN HIJAU (Studi Kasus

Lebih terperinci

11/25/2009. Sebuah gambar mengandung informasi dari obyek berupa: Posisi. Introduction to Remote Sensing Campbell, James B. Bab I

11/25/2009. Sebuah gambar mengandung informasi dari obyek berupa: Posisi. Introduction to Remote Sensing Campbell, James B. Bab I Introduction to Remote Sensing Campbell, James B. Bab I Sebuah gambar mengandung informasi dari obyek berupa: Posisi Ukuran Hubungan antar obyek Informasi spasial dari obyek Pengambilan data fisik dari

Lebih terperinci

Image Fusion: Trik Mengatasi Keterbatasan Citra

Image Fusion: Trik Mengatasi Keterbatasan Citra Image Fusion: Trik Mengatasi Keterbatasan itra Hartanto Sanjaya Pemanfaatan cita satelit sebagai bahan kajian sumberdaya alam terus berkembang, sejalan dengan semakin majunya teknologi pemrosesan dan adanya

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Persiapan Tahap persiapan merupakan tahapan penting dalam penelitian tugas akhir ini. Proses ini sangat berpengaruh terhadap hasil akhir penellitan. Pada tahap ini dilakukan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Posisi Indonesia berada di daerah tropis mengakibatkan hampir sepanjang tahun selalu diliputi awan. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan citra optik untuk menghasilkan

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 HASIL KEGIATAN PKPP 2012

LAMPIRAN 1 HASIL KEGIATAN PKPP 2012 LAMPIRAN 1 HASIL KEGIATAN PKPP 2012 JUDUL KEGIATAN: PENGUATAN KAPASITAS DAERAH DAN SINERGITAS PEMANFAATAN DATA INDERAJA UNTUK EKSTRAKSI INFORMASI KUALITAS DANAU BAGI KESESUAIAN BUDIDAYA PERIKANAN DARAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hasil sensus jumlah penduduk di Indonesia, dengan luas wilayah kurang lebih 1.904.569 km 2 menunjukkan adanya peningkatan jumlah penduduk, dari tahun 2010 jumlah penduduknya

Lebih terperinci

INTERPRETASI CITRA SATELIT LANDSAT

INTERPRETASI CITRA SATELIT LANDSAT INTERPRETASI CITRA SATELIT LANDSAT Tujuan: Mahasiswa dapat mengidentifikasi objek yang ada pada citra landsat Mahasiswa dapat mendelineasi hasil interpretasi citra landsat secara teliti Mahasiswa dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Otonomi daerah di Indonesia lahir seiring bergulirnya era reformasi di penghujung era 90-an. Krisis ekonomi yang bermula dari tahun 1977 telah mengubah sistem pengelolaan

Lebih terperinci

SENSOR DAN PLATFORM. Kuliah ketiga ICD

SENSOR DAN PLATFORM. Kuliah ketiga ICD SENSOR DAN PLATFORM Kuliah ketiga ICD SENSOR Sensor adalah : alat perekam obyek bumi. Dipasang pada wahana (platform) Bertugas untuk merekam radiasi elektromagnetik yang merupakan hasil interaksi antara

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI 4.1. Waktu dan Lokasi

IV. METODOLOGI 4.1. Waktu dan Lokasi 31 IV. METODOLOGI 4.1. Waktu dan Lokasi Waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan penelitian ini adalah dimulai dari bulan April 2009 sampai dengan November 2009 yang secara umum terbagi terbagi menjadi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI. Gambar 1. Peta Administrasi Kota Palembang.

III. METODOLOGI. Gambar 1. Peta Administrasi Kota Palembang. III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober 2010. Lokasi penelitian di Kota Palembang dan Laboratorium Analisis Spasial Lingkungan, Departemen Konservasi Sumberdaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Era Teknologi merupakan era dimana informasi serta data dapat didapatkan dan ditransfer secara lebih efektif. Perkembangan ilmu dan teknologi menyebabkan kemajuan

Lebih terperinci

3. BAHAN DAN METODE. Penelitian yang meliputi pengolahan data citra dilakukan pada bulan Mei

3. BAHAN DAN METODE. Penelitian yang meliputi pengolahan data citra dilakukan pada bulan Mei 3. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian yang meliputi pengolahan data citra dilakukan pada bulan Mei sampai September 2010. Lokasi penelitian di sekitar Perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu,

Lebih terperinci

PERBANDINGAN RESOLUSI SPASIAL, TEMPORAL DAN RADIOMETRIK SERTA KENDALANYA

PERBANDINGAN RESOLUSI SPASIAL, TEMPORAL DAN RADIOMETRIK SERTA KENDALANYA PERBANDINGAN RESOLUSI SPASIAL, TEMPORAL DAN RADIOMETRIK SERTA KENDALANYA Oleh : Amelia Oktaviani dan Yarjohan Prodi Ilmu Kelautan Mahasiwa Ilmu Kelautan Universitas Bengkulu *E-mail : ameliaoktaviani049@gmail.com

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. permukaan lahan (Burley, 1961 dalam Lo, 1995). Konstruksi tersebut seluruhnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. permukaan lahan (Burley, 1961 dalam Lo, 1995). Konstruksi tersebut seluruhnya 5 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Penutupan Lahan dan Perubahannya Penutupan lahan menggambarkan konstruksi vegetasi dan buatan yang menutup permukaan lahan (Burley, 1961 dalam Lo, 1995). Konstruksi tersebut seluruhnya

Lebih terperinci

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL PENGOLAHAN CITRA DIGITAL Aditya Wikan Mahastama mahas@ukdw.ac.id Sistem Optik dan Proses Akuisisi Citra Digital 2 UNIV KRISTEN DUTA WACANA GENAP 1213 v2 Bisa dilihat pada slide berikut. SISTEM OPTIK MANUSIA

Lebih terperinci

BAB III METODA. Gambar 3.1 Intensitas total yang diterima sensor radar (dimodifikasi dari GlobeSAR, 2002)

BAB III METODA. Gambar 3.1 Intensitas total yang diterima sensor radar (dimodifikasi dari GlobeSAR, 2002) BAB III METODA 3.1 Penginderaan Jauh Pertanian Pada penginderaan jauh pertanian, total intensitas yang diterima sensor radar (radar backscattering) merupakan energi elektromagnetik yang terpantul dari

Lebih terperinci

q Tujuan dari kegiatan ini diperolehnya peta penggunaan lahan yang up-to date Alat dan Bahan :

q Tujuan dari kegiatan ini diperolehnya peta penggunaan lahan yang up-to date Alat dan Bahan : MAKSUD DAN TUJUAN q Maksud dari kegiatan ini adalah memperoleh informasi yang upto date dari citra satelit untuk mendapatkan peta penggunaan lahan sedetail mungkin sebagai salah satu paramater dalam analisis

Lebih terperinci

Indeks Vegetasi Bentuk komputasi nilai-nilai indeks vegetasi matematis dapat dinyatakan sebagai berikut :

Indeks Vegetasi Bentuk komputasi nilai-nilai indeks vegetasi matematis dapat dinyatakan sebagai berikut : Indeks Vegetasi Bentuk komputasi nilai-nilai indeks vegetasi matematis dapat dinyatakan sebagai berikut : NDVI=(band4 band3)/(band4+band3).18 Nilai-nilai indeks vegetasi di deteksi oleh instrument pada

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di kawasan perkotaan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Pada bulan Juni sampai dengan bulan Desember 2008. Gambar 3. Citra IKONOS Wilayah

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 10 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di laboratorium dan di lapang. Pengolahan citra dilakukan di Bagian Penginderaan Jauh dan Informasi Spasial dan penentuan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 27 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Penampilan Citra Dual Polarimetry PALSAR / ALOS Penampilan citra dual polarimetry : HH dan HV level 1. 5 PALSAR/ALOS masing-masing dapat dilihat pada ENVI 4. 5 dalam bentuk

Lebih terperinci

METODOLOGI. Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian

METODOLOGI. Gambar 4. Peta Lokasi Penelitian 22 METODOLOGI Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kota Sukabumi, Jawa Barat pada 7 wilayah kecamatan dengan waktu penelitian pada bulan Juni sampai November 2009. Pada lokasi penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Di era globalisasi saat ini, perkembangan suatu daerah semakin pesat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan sarana prasarana. Akibatnya, pembangunan

Lebih terperinci

Pengolahan citra. Materi 3

Pengolahan citra. Materi 3 Pengolahan citra Materi 3 Citra biner, citra grayscale dan citra warna Citra warna berindeks Subject Elemen-elemen Citra Digital reflectance MODEL WARNA Citra Biner Citra Biner Banyaknya warna hanya 2

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanah merupakan materi yang terdiri dari agregat (butiran) padat yang tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain serta dari bahan bahan organik yang telah

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Persiapan Tahap persiapan merupakan tahapan penting dalam penelitian ini. Proses persiapan data ini berpengaruh pada hasil akhir penelitian. Persiapan yang dilakukan meliputi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penginderaan Jauh Penginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemetaan Sawah Baku 2.2. Parameter Sawah Baku

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemetaan Sawah Baku 2.2. Parameter Sawah Baku II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemetaan Sawah Baku Mega isu pertanian pangan dan energi, mencakup: (1) perbaikan estimasi produksi padi, dari list frame menuju area frame, (2) pemetaan lahan baku sawah terkait

Lebih terperinci

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii INTISARI... iv ABSTRACT... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lahan merupakan bentang permukaan bumi yang dapat bermanfaat bagi manusia baik yang sudah dikelola maupun belum. Untuk itu peran lahan cukup penting dalam kehidupan

Lebih terperinci

PENGGUNAAN HIGH TEMPORAL AND SPASIAL IMAGERY DALAM UPAYA PENCARIAN PESAWAT YANG HILANG

PENGGUNAAN HIGH TEMPORAL AND SPASIAL IMAGERY DALAM UPAYA PENCARIAN PESAWAT YANG HILANG PENGGUNAAN HIGH TEMPORAL AND SPASIAL IMAGERY DALAM UPAYA PENCARIAN PESAWAT YANG HILANG Oleh : Yofri Furqani Hakim, ST. Ir. Edwin Hendrayana Kardiman, SE. Budi Santoso Bidang Pemetaan Dasar Kedirgantaraan

Lebih terperinci

KOREKSI RADIOMETRIK CITRA LANDSAT-8 KANAL MULTISPEKTRAL MENGGUNAKAN TOP OF ATMOSPHERE (TOA) UNTUK MENDUKUNG KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN

KOREKSI RADIOMETRIK CITRA LANDSAT-8 KANAL MULTISPEKTRAL MENGGUNAKAN TOP OF ATMOSPHERE (TOA) UNTUK MENDUKUNG KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN KOREKSI RADIOMETRIK CITRA LANDSAT-8 KANAL MULTISPEKTRAL MENGGUNAKAN TOP OF ATMOSPHERE (TOA) UNTUK MENDUKUNG KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN Rahayu *), Danang Surya Candra **) *) Universitas Jendral Soedirman

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 11 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan yaitu bulan Juli-Agustus 2010 dengan pemilihan lokasi di Kota Denpasar. Pengolahan data dilakukan di Laboratorium

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Lokasi Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei sampai dengan Juni 2013 dengan lokasi penelitian meliputi wilayah Pesisir Utara dan Selatan Provinsi Jawa Barat.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4 Subset citra QuickBird (uint16).

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4 Subset citra QuickBird (uint16). 5 Lingkungan Pengembangan Perangkat lunak yang digunakan pada penelitian ini adalah compiler Matlab versi 7.0.1. dengan sistem operasi Microsoft Window XP. Langkah persiapan citra menggunakan perangkat

Lebih terperinci

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini serta tahapan-tahapan yang dilakukan dalam mengklasifikasi tata guna lahan dari hasil

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.. Variasi NDVI Citra AVNIR- Citra AVNIR- yang digunakan pada penelitian ini diakuisisi pada tanggal Desember 008 dan 0 Juni 009. Pada citra AVNIR- yang diakuisisi tanggal Desember

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Suhu Permukaan Suhu permukaan dapat diartikan sebagai suhu terluar suatu obyek. Untuk suatu tanah terbuka, suhu permukaan adalah suhu pada lapisan terluar permukaan tanah. Sedangkan

Lebih terperinci

Suatu proses untuk mengubah sebuah citra menjadi citra baru sesuai dengan kebutuhan melalui berbagai cara.

Suatu proses untuk mengubah sebuah citra menjadi citra baru sesuai dengan kebutuhan melalui berbagai cara. Image Enhancement Suatu proses untuk mengubah sebuah citra menjadi citra baru sesuai dengan kebutuhan melalui berbagai cara. Cara-cara yang bisa dilakukan misalnya dengan fungsi transformasi, operasi matematis,

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS,

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS, Integrasi GISdan Inderaja Penginderaan jauh (remote sensing) adalah ilmu dan ketrampilan untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu

Lebih terperinci

Pembentukan Citra. Bab Model Citra

Pembentukan Citra. Bab Model Citra Bab 2 Pembentukan Citra C itra ada dua macam: citra kontinu dan citra diskrit. Citra kontinu dihasilkan dari sistem optik yang menerima sinyal analog, misalnya mata manusia dan kamera analog. Citra diskrit

Lebih terperinci

TEORI DASAR INTERPRETASI CITRA SATELIT LANDSAT TM7+ METODE INTERPRETASI VISUAL ( DIGITIZE SCREEN) Oleh Dwi Nowo Martono

TEORI DASAR INTERPRETASI CITRA SATELIT LANDSAT TM7+ METODE INTERPRETASI VISUAL ( DIGITIZE SCREEN) Oleh Dwi Nowo Martono TEORI DASAR INTERPRETASI CITRA SATELIT LANDSAT TM7+ METODE INTERPRETASI VISUAL ( DIGITIZE SCREEN) Oleh Dwi Nowo Martono I. PENGANTAR Penginderaan jauh adalah ilmu dan teknik untuk memperoleh informasi

Lebih terperinci

GD 319 PENGOLAHAN CITRA DIGITAL KOREKSI RADIOMETRIK CITRA

GD 319 PENGOLAHAN CITRA DIGITAL KOREKSI RADIOMETRIK CITRA LAPORAN PRAKTIKUM II GD 319 PENGOLAHAN CITRA DIGITAL KOREKSI RADIOMETRIK CITRA Tanggal Penyerahan : 2 November 2016 Disusun Oleh : Kelompok : 7 (Tujuh) Achmad Faisal Marasabessy / 23-2013-052 Kelas : B

Lebih terperinci

ULANGAN HARIAN PENGINDERAAN JAUH

ULANGAN HARIAN PENGINDERAAN JAUH ULANGAN HARIAN PENGINDERAAN JAUH 01. Teknologi yang terkait dengan pengamatan permukaan bumi dalam jangkauan yang sangat luas untuk mendapatkan informasi tentang objek dipermukaan bumi tanpa bersentuhan

Lebih terperinci

ISTILAH DI NEGARA LAIN

ISTILAH DI NEGARA LAIN Geografi PENGERTIAN Ilmu atau seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek

Lebih terperinci

menunjukkan nilai keakuratan yang cukup baik karena nilai tersebut lebih kecil dari limit maksimum kesalahan rata-rata yaitu 0,5 piksel.

menunjukkan nilai keakuratan yang cukup baik karena nilai tersebut lebih kecil dari limit maksimum kesalahan rata-rata yaitu 0,5 piksel. Lampiran 1. Praproses Citra 1. Perbaikan Citra Satelit Landsat Perbaikan ini dilakukan untuk menutupi citra satelit landsat yang rusak dengan data citra yang lainnya, pada penelitian ini dilakukan penggabungan

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bencana Alam

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bencana Alam II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bencana Alam Bencana alam pada dasarnya adalah sebuah konsekuensi dari gabungan proses-proses alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunungapi, gempa bumi, tanah longsor,

Lebih terperinci

MATERI 4 : PENGENALAN TATAGUNALAHAN DI GOOGLE EARTH

MATERI 4 : PENGENALAN TATAGUNALAHAN DI GOOGLE EARTH MATERI 4 : PENGENALAN TATAGUNALAHAN DI GOOGLE EARTH 1. Tata Guna Lahan 2. Identifikasi Menggunakan Foto Udara/ Citra Identifikasi penggunaan lahan menggunakan foto udara/ citra dapat didefinisikan sebagai

Lebih terperinci

RINGKASAN MATERI INTEPRETASI CITRA

RINGKASAN MATERI INTEPRETASI CITRA Lampiran 1 Ringkasan Materi RINGKASAN MATERI INTEPRETASI CITRA 1 Pengertian Intepretasi Citra Inteprtasi Citra adalah kegiatan menafsir, mengkaji, mengidentifikasi, dan mengenali objek pada citra, selanjutnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peta merupakan representasi dari permukaan bumi baik sebagian atau keseluruhannya yang divisualisasikan pada bidang proyeksi tertentu dengan menggunakan skala tertentu.

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Citra 5.1.1 Kompilasi Citra Penelitian menggunakan citra Quickbird yang diunduh dari salah satu situs Internet yaitu, Wikimapia. Dalam hal ini penulis memilih mengambil

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN APLIKASI FUSI CITRA (IMAGE FUSION) DARI DATA PENGINDERAAN JAUH MENGGUNAKAN METODE PANSHARPENING TUGAS AKHIR

RANCANG BANGUN APLIKASI FUSI CITRA (IMAGE FUSION) DARI DATA PENGINDERAAN JAUH MENGGUNAKAN METODE PANSHARPENING TUGAS AKHIR RANCANG BANGUN APLIKASI FUSI CITRA (IMAGE FUSION) DARI DATA PENGINDERAAN JAUH MENGGUNAKAN METODE PANSHARPENING TUGAS AKHIR Diajukan guna memenuhi sebagian persyaratan dalam rangka menyelesaikan studi Program

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS 4.1 Analisis Terhadap Citra Satelit yang digunakan 4.2 Analisis Terhadap Peta Rupabumi yang digunakan

BAB IV ANALISIS 4.1 Analisis Terhadap Citra Satelit yang digunakan 4.2 Analisis Terhadap Peta Rupabumi yang digunakan BAB IV ANALISIS 4.1 Analisis Terhadap Citra Satelit yang digunakan Citra SPOT 4 dan IKONOS yang digunakan merupakan dua citra yang memiliki resolusi spasial yang berbeda dimana SPOT 4 memiliki resolusi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kekeringan

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kekeringan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kekeringan Kekeringan (drought) secara umum bisa didefinisikan sebagai kurangnya persediaan air atau kelembaban yang bersifat sementara secara signifikan di bawah normal atau volume

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di bumi terdapat kira-kira 1,3 1,4 milyar km³ air : 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi kontinyu dari intensitas cahaya

BAB 2 LANDASAN TEORI. dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi kontinyu dari intensitas cahaya 5 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Citra Secara harfiah citra atau image adalah gambar pada bidang dua dimensi. Ditinjau dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi kontinyu dari intensitas cahaya pada

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMANTAUAN PERUBAHAN LUAS PERMUKAAN AIR DANAU MENGGUNAKAN DATA SATELIT PENGINDERAAN JAUH

PEDOMAN PEMANTAUAN PERUBAHAN LUAS PERMUKAAN AIR DANAU MENGGUNAKAN DATA SATELIT PENGINDERAAN JAUH 2015 PUSAT PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH LAPAN Danau Rawa Pening, Provinsi Jawa Tengah PEDOMAN PEMANTAUAN PERUBAHAN LUAS PERMUKAAN AIR DANAU MENGGUNAKAN DATA SATELIT PENGINDERAAN JAUH LI1020010101 PEDOMAN

Lebih terperinci

III. METODOLOGI. Gambar 2. Peta Orientasi Wilayah Penelitian. Kota Yogyakarta. Kota Medan. Kota Banjarmasin

III. METODOLOGI. Gambar 2. Peta Orientasi Wilayah Penelitian. Kota Yogyakarta. Kota Medan. Kota Banjarmasin III. METODOLOGI 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan Maret sampai bulan November 2009. Objek penelitian difokuskan pada wilayah Kota Banjarmasin, Yogyakarta, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Seiring dengan berkembangnya permintaan akan pemetaan suatu wilayah dalam berbagai bidang, maka semakin berkembang pula berbagai macam metode pemetaan. Dengan memanfaatkan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Identifikasi Objek di Lapangan Pengamatan lapangan dilakukan di 3 (tiga) kabupaten, yaitu : Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Cianjur. Titik pengamatan sebanyak

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 14 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan September dengan mengambil lokasi penelitian di wilayah Kecamatan Cikalong, Tasikmalaya (Gambar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perubahan penutupan lahan merupakan keadaan suatu lahan yang mengalami

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perubahan penutupan lahan merupakan keadaan suatu lahan yang mengalami II. TINJAUAN PUSTAKA A. Perubahan Penutupan Lahan Perubahan penutupan lahan merupakan keadaan suatu lahan yang mengalami perubahan kondisi pada waktu yang berbeda disebabkan oleh manusia (Lillesand dkk,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang Reformasi tahun 1998 membuka kesempatan seluas-luasnya bagi daerah dalam mengatur urusan rumah tangganya sendiri. Berbagai peraturan perundangundangan diterbitkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini perkembangan fisik penggunaan lahan terutama di daerah perkotaan relatif cepat dibandingkan dengan daerah perdesaan. Maksud perkembangan fisik adalah penggunaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk yang bermata pencaharian

Lebih terperinci

Evaluasi Indeks Urban Pada Citra Landsat Multitemporal Dalam Ekstraksi Kepadatan Bangunan

Evaluasi Indeks Urban Pada Citra Landsat Multitemporal Dalam Ekstraksi Kepadatan Bangunan Sukristiyanti et al. / Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan Jilid 17 No.1 ( 2007) 1-10 1 Evaluasi Indeks Urban Pada Citra Landsat Multitemporal Dalam Ekstraksi Kepadatan Bangunan SUKRISTIYANTI a, R. SUHARYADI

Lebih terperinci

Representasi Citra. Bertalya. Universitas Gunadarma

Representasi Citra. Bertalya. Universitas Gunadarma Representasi Citra Bertalya Universitas Gunadarma 2005 Pengertian Citra Digital Ada 2 citra, yakni : citra kontinu dan citra diskrit (citra digital) Citra kontinu diperoleh dari sistem optik yg menerima

Lebih terperinci

Proses memperbaiki kualitas citra agar mudah diinterpretasi oleh manusia atau komputer

Proses memperbaiki kualitas citra agar mudah diinterpretasi oleh manusia atau komputer Pengolahan Citra / Image Processing : Proses memperbaiki kualitas citra agar mudah diinterpretasi oleh manusia atau komputer Teknik pengolahan citra dengan mentrasformasikan citra menjadi citra lain, contoh

Lebih terperinci

Sudaryanto dan Melania Swetika Rini*

Sudaryanto dan Melania Swetika Rini* PENENTUAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DENGAN INDEX VEGETASI NDVI BERBASIS CITRA ALOS AVNIR -2 DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DI KOTA YOGYAKARTA DAN SEKITARNYA Sudaryanto dan Melania Swetika Rini* Abstrak:

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1. Hasil 4.1.1. Digitasi dan Klasifikasi Kerapatan Vegetasi Mangrove Digitasi terhadap citra yang sudah terkoreksi dilakukan untuk mendapatkan tutupan vegetasi mangrove di

Lebih terperinci

By. Lili Somantri, S.Pd.M.Si

By. Lili Somantri, S.Pd.M.Si By. Lili Somantri, S.Pd.M.Si Panjang Gelombang 1 m = 0,001 mm 1 m = 0,000001 m 0,6 m = 0,6 X 10-6 = 6 x 10-7 PANTULAN SPEKTRAL OBJEK Terdapat tiga objek utama di permukaan bumi, yaitu vegetasi, tanah,

Lebih terperinci

JENIS CITRA

JENIS CITRA JENIS CITRA PJ SENSOR Tenaga yang dipantulkan dari obyek di permukaan bumi akan diterima dan direkam oleh SENSOR. Tiap sensor memiliki kepekaan tersendiri terhadap bagian spektrum elektromagnetik. Kepekaannya

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print)

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print) ANALISA RELASI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN SUHU PERMUKAAN TANAH DI KOTA SURABAYA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MULTISPEKTRAL TAHUN 1994 2012 Dionysius Bryan S, Bangun Mulyo Sukotjo, Udiana Wahyu D Jurusan

Lebih terperinci

A JW Hatulesila. Analisis Spasial Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk Penanganan Perubahan Iklim di Kota Ambon. Abstrak

A JW Hatulesila. Analisis Spasial Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk Penanganan Perubahan Iklim di Kota Ambon. Abstrak A123-04-1-JW Hatulesila Analisis Spasial Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk Penanganan Perubahan Iklim di Kota Ambon Jan Willem Hatulesila 1), Gun Mardiatmoko 1), Jusuph Wattimury 2) 1) Staf Pengajar Fakultas

Lebih terperinci