KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK"

Transkripsi

1 KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK Sri Rezki Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Pontianak ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan yang telah diberikan kepada pasien. Rekam medis mempunyai banyak fungsi diantaranya untuk menceritakan perjalanan penyakit. Pemerintah mengatur pelaksanaan rekam medis dalam Permenkes 269 tahun Penyakit umum dan penyakit gigi adalah dua hal yang berbeda, sehingga rekam medisnyapun berbeda. Bagaimanakah sebenarnya pelaksanaan rekam medis gigi setelah Permenkes 269 tahun 2008 berumur dua tahun. Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui bagaimanakah pelaksanaan rekam medis gigi rawat jalan di kota Pontianak, apakah sesuai dengan Permenkes 269 tahun 2008 dan apakah mampu memberi perlindungan hukum bagi Puskesmas. Metode: Merupakan studi empiris, penelitian deskriptif dengan analisa data kualitatif. Lokasi penelitian di 9 Puskesmas Kota Pontianak. Obyek penelitian adalah berkas rekam medis gigi rawat jalan. Subyek penelitian adalah tenaga pengisi rekam medis gigi (dokter gigi), tenaga pengelola rekam medis (petugas rekam medis Puskesmas), pembina dan pengawas di lingkungan Puskesmas (pimpinan Puskesmas), pihak pembina dan pengawas di luar Puskesmas (Dinas Kesehatan Kota Pontianak dan Persatuan dokter gigi cabang Pontianak). Pengumpulan data dengan menggunakan analisa dokumen, dan wawancara terstruktur pada setiap responden penelitian. Hasil: Pelaksanaan rekam medis gigi rawat jalan di kota Pontianak belum sesuai dengan amanat yang ditetapkan oleh Permenkes 269 tahun Pengisian yang tidak lengkap, tidak adanya format kartu rekam medis gigi, ketidaktahuan petugas tentang pengelolaan rekam medis dan belum adanya sosialisasi serta pengawasan oleh pihak terkait. Hambatan yang paling utama adalah tidak pernahnya dilakukan sosialisasi, tidak adanya pengawasan membuat petugas merasa tidak berkewajiban melaksanakan rekam medis dengan baik. Secara keseluruhan rekam medis yang ada di puskesmas belum bisa memberi perlindungan hukum bagi Puskesmas di Kota Pontianak. Kata kunci: Rekam Medis Gigi, Rawat Jalan, Puskesmas PENDAHULUAN Seorang dokter dalam melaksanakan tugasnya mempunyai alasan yang mulia, yaitu berusaha menyehatkan tubuh pasien, atau setidaknya mengurangi penderitaan pasien. Oleh karenanya wajar apabila yang dilakukan oleh dokter mendapat perlindungan hukum sampai batas batas tertentu 1. Seorang dokter mendapat perlindungan hukum dalam menjalankan prakteknya jika telah melaksanakan standar profesi dan standar operasional praktek. Ada tiga dokrin utama pelayanan kesehatan, yaitu rekam medis, persetujuan tindakan medis dan rahasia kedokteran 2. Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lainnya yang telah diberikan kepada pasien. Setiap upaya kesehatan kepada pasien Insidental, Vol. 1, No. 1, November

2 harus ditulis dalam rekam medis. Undang Undang no 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran pada paragraf 3, Pasal 46 ayat (1) menyatakan bahwa setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktek kedokteran wajib membuat rekam medis. Pada Bab X, Pasal 79 dinyatakan tentang sanksi pidana jika tidak melaksanakan, yang bunyinya: Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1(satu) tahun atau denda paling banyak Rp ,00 (lima puluh juta rupiah), setiap dokter atau dokter gigi yang: b. dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1). Tenaga kesehatan berhak mendapat perlindungan hukum jika telah melaksanakan pekerjaannya sesuai SOP (standar operasional prosedur) dan standar profesi. Rekam medis gigi rawat jalan merupakan bukti tentang terapi apa yang berikan pada pasien, apakah sudah sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. Isi rekam medis gigi rawat jalan adalah sebuah petunjuk tentang jalannya usaha penyembuhan yang dilakukan oleh dokter. Menurut KUHAP salah satu bukti petunjuk bisa didapat dari surat. Menurut KUHAP dan KUHPerdata, alat bukti hukum yang sah ada beberapa katagori, yang salah satunya adalah bukti surat. Rekam medis dapat berfungsi sebagai bukti surat dan bukti petunjuk. Isi rekam medis gigi juga merupakan hal yang harus dirahasiakan oleh tenaga medis, sehingga diperlukan suatu aturan tata kelola. Dalam pelaksanaannya dan pengelolaannya rekam medis gigi melibatkan beberapa pihak seperti yang disebutkan dalam Permenkes 269 tahun Pihak-pihak yang terlibat pengaturannya terkait dalam fungsi sosialisasi, pembinaan, pengawasan, pengisian, pelaksanaan pengelolaan dan penyedia sarana dan prasarana. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian Diskriptif yang bersifat campuran antara Empiris dan Normative, dengan metode analisa data Kualitatif. Lokasi penelitian di 9 (Sembilan) Puskesmas di Kota Pontianak. Responden dalam penelitian ini adalah tenaga pengisi rekam medis gigi rawat jalan (dokter gigi), tenaga pengelola rekam medis (petugas rekam medis Puskesmas), pembina dan pengawas di lingkungan Puskesmas (pimpinan Puskesmas), pihak pembina dan pengawas di luar Puskesmas (Dinas Kesehatan Kota Pontianak dan Persatuan dokter gigi cabang Pontianak). Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara mendalam terhadap responden penelitian, meliputi masalah sosialisasi, pengisian, pengelolaan, pembinaan dan pengawasan terhadap rekam medis gigi rawat jalan. Data sekunder diperoleh dari berkas rekam medis gigi rawat jalan sebagai uji petik, dari setiap Puskesmas, akan diambil 30 rekam medis gigi yang dibuat selama tahun 2010 secara acak, dengan kriteria merupakan kasus baru (kunjungan pertama pada kasus penyakit tersebut). Data tentang Profil Kesehatan Kota Pontianak, jumlah Puskesmas, dokter gigi fungsional Puskesmas, tenaga rekam medis dan kepala Puskesmas diambil dari data Dinas Kesehatan Kota Pontianak. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Pelaksanaan Rekam Medis Gigi Rawat Jalan Di Puskesmas Kota Pontianak a. Sosialisasi dan Informasi Informasi dan dan sosialisasi tentang rekam medis yang didapat oleh petugas Puskesmas, umumnya didapat dari : masa pendidikan dan mengikuti aturan yang telah berlaku sebelumnya (learning by doing). 33% responden pernah mengikuti pelatihan di Dinas Kesehatan Kota Pontianak, yaitu pelatihan tentang sistim SIK (Sistim Informasi Kesehatan), dan bukan pelatihan tentang rekam medis. Responden cenderung mendapatkan Insidental, Vol. 1, No. 1, November

3 informasi tentang pelaksanaan rekam medis dengan mengikuti aturan yang telah berlaku sebelumnya (learning by doing). Permenkes 269 tahun 2008 pada Pasal 18 menyatakan : Dokter, dokter gigi dan sarana pelayanan kesehatan harus menyesuaikan dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan ini paling lambat 1(satu) tahun terhitung sejak tanggal ditetapkan. Tidak adanya informasi tentang Permenkes 269 tahun 2008, membuat semua responden menjadi tidak tahu aturan yang sebenarnya. Pengaturan tentang rekam medis ini merupakan hukum yang wajib ditaati, karena pada prinsipnya hukum mempunyai kekuatan memaksa untuk dijalankan bagi warga negara hukum. Permenkes 269 tahun 2008 merupakan hukum bagi pengelola pelaksanaan rekam medis di pelayanan kesehatan di Indonesia. Prilaku teman sejawat terdahulu umumnya menjadi contoh yang baik, karena dengan berprilaku seperti itu, terbukti tidak ada masalah yang timbul selama ini. Pengalaman juga membuat prilaku responden menjadi suatu kebiasaan. Prilaku dipengaruhi oleh motivasi, pengetahuan dan ketrampilan. Motivasi yang kuat sekalipun, tanpa adanya informasi atau pengetahuan tidak dapat menghasilkan prilaku yang cukup baik, semua hal akan saling terkait. 3 b. Pengisian Rekam Medis Gigi Rawat Jalan 1. Data Identitas Dari hasil penelitian data identitas pasien dalam format kartu rekam medis cukup lengkap, walaupun ada satu kekurangan yaitu data nomor telpon yang tidak ada. Nomor telpon penting untuk menghubungi pasien jika diperlukan, misalnya dalam kondisi tertentu. Menurut Standar Nasional Rekam Medis Kedokteran Gigi Tahun , data identitas adalah pengenalan jati diri seseorang. Data identitas cukup diisi sekali saja pada saat pasien pertama kali datang. Data identitas selalu disesuaikan jika ada perubahan seperti pindah alamat dan sebagainya. Data identitas minimal berisi nomor register, tanggal pembuka kartu status, nama, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir/umur, alamat rumah dan nomor telp, pekerjaan dan alamat pekerjaan beserta nomor telponnya Secara garis besar data identitas diperlukan untuk membedakan pasien satu dengan pasien lainnya, dengan semakin lengkapnya identitas maka semakin tinggilah tingkat keakuratannya, yang menyebabkan semakin kecil risiko tertukarnya rekam medis pasien. 2. Data Perawatan Kedokteran Gigi Rawat Jalan Tabel 1. Data Perawatan Kedokteran Gigi Dalam Rekam Medis Gigi Rawat Jalan Di Puskesmas Kota Pontianak No Riwayat Jumlah Persentase Pelayanan Penyakit Gigi 1 Tgl, bulan, % tahun 2 Anamnese 97 36% 3 Pemeriksaan % penunjang gigi 4 Diagnose % 5 Rencana 0 0% perawatan 6 Pengobatan dan % atau tindakan lain 7 Odontogram 0 0% Pengisian kartu rekam medis gigi rawat jalan di Puskesmas kota Pontianak belum sesuai dengan Permenkes 269 tahun Jika dibandingkan dengan data yang harus ada menurut SIK yaitu keterangan (terkait dengan alasan pengobatan dilakukan atau tidak), elemen gigi, diagnose, kode penyakit, dan terapi/tindakan (nama obat). Ini menunjukkan data yang ada di kartu rekam medis pasien memang hanya mengacu pada data yang harus diisi pada SIK. Insidental, Vol. 1, No. 1, November

4 Menurut Gondodipuro 5, rekam medis terbagi menjadi dua bagian, yaitu rekam medis individu dan rekam medis manajemen. Rekam medis individu, dimana informasi tentang kondisi kesehatan dan penyakit pasien yang bersang-kutan atau disebut patient record. Rekam medis manajemen, suatu informasi tentang pertanggungjawaban dari segi manajemen maupun keuangan dari kondisi kesehatan dan penyakit pasien yang bersangkutan. Pengaturan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Pontianak lebih untuk memenuhi jalannya sistim pelaporan (SIK) atau dengan kata lain rekam medis gigi yang ada di Puskesmas lebih sebagai rekam medis manajemen, dibandingkan dengan rekam medis individu. 3. Pengelolaan Rekam Medis Gigi Rawat Jalan Aturan atau kebijakan tentang pelaksanaan rekam medis cenderung mengikuti apa yang sudah ada sebelumnya, perubahan terjadi jika ada perubahan aturan dari Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Petunjuk Rekam medis manual dari WHO 6, mengatakan bahwa catatan medis yang baik penting tidak hanya untuk masa kini dan masa perawatan pasien, tetapi juga sebagai dokumen hukum untuk melindungi pasien dan rumah sakit. Untuk itu harus lengkap, akurat, dan tersedia saat dibutuhkan. Ketika Rumah Sakit menerima pasien, maka terjadilah kontrak eksplisit untuk memberikan layanan yang diperlukan dalam perawatan dan pengobatan pasien tersebut. Kondisi ini menyebabkan terjadinya kewajiban Rumah Sakit, untuk menyimpan catatan kronologis perawatan dan pengobatan yang diberikan oleh petugas rumah sakit, sehingga nantinya akan tersedia data pasien jika diperlukan untuk perawatan selanjutkan. Selain itu, catatan medis juga disimpan sebagai panduan bagi dokter, dan untuk pendidikan perawat dan petugas kesehatan lain 4. Pengecekan (pengawasan) kelengkapan pengisian rekam medis secara harian telah dilakukan oleh petugas rekam medis, tapi pengecekan hanya mengacu pada data yang harus ada sesuai input data SIK. 4. Pembinaan Pembinaan dan pengawasan menurut Permenkes 269 tahun 2008 Pasal 16 adalah : Kepala Dinas Kesehatan Propinsi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan organisasi profesi terkait melakukan pembinaan dan pengawasan pelaksana-an peraturan ini sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Pembinaan dan pengawasan dalam pelaksanaan rekam medis gigi rawat jalan belum pernah dilakukan di lakukan oleh pihak Dinas Kesehatan maupun oleh pihak PDGI. Secara garis besar pelaksanan rekam medis rawat jalan di Puskesmas Kota Pontianak belum dilaksanakan secara optimal oleh para pelaksananya, baik dari sisi tenaga pengisi, pengelola, pengawas dan pembina. Berdasarkan model prilaku dari Glahz (2008), prilaku dipengaruhi pengetahuan dan ketrampilan; lingkungan yang menonjol; motivasi atau niat untuk berprilaku (sikap, norma dan kontrol); dan tidak adanya hambatan dari lingkungan dan kebiasaan. Norma dalam hal ini adalah aturan tertulis di Indonesia yang mengharuskan pelaksanaan rekam medis sesuai hukum yang berlaku, dalam hal ini hukum tertulisnya adalah Permenkes 269 tahun Aturan tidak tertulis yang biasanya berdasarkan perintah dari atasan belum dilakukan. Kontrol ditentukan oleh diri sendiri dari pengalaman masa lalu serta pengawasan dari pihak terkait. Pengalaman masa lalu menyatakan bahwa tidak pernah ada masalah yang terjadi dengan pelaksanaan kartu rekam medis di Puskesmas Kota Pontianak. Bekerja sesuai aturan jelas lebih baik karena jika suatu saat terjadi masalah, maka rekam medis yang Insidental, Vol. 1, No. 1, November

5 telah dilaksanakan dengan baik mampu memberi perlindungan hukum bagi Puskesmas dan pegawainya. 2. Fungsi Hukum Rekam Medis Gigi Rawat Jalan a. Bukti Surat Tabel 2. Data Penunjang Legalitas Dalam Rekam Medis Gigi Rawat Jalan Di Puskesmas Kota Pontianak No Data Jumlah Persentase Penunjang Legalitas 1 Waktu % 2 Tandatangan 83 31% operator (pemberi layanan kesehatan) 3 Nama operator 30 10% (pemberi layanan kesehatan) 4 Informed consent (tandatangan persetujuan pasien) 0 0% Rekam medis menjadi alat bukti yang sah menurut KUHAP, karena dibuat oleh pejabat, yang merupakan bagian tugas dan tanggung jawabnya. Untuk itu dalam sebuah rekam medis harus ada nama, waktu dan tandatangan dari orang yang mengerjakan dan mengisi rekam medis tersebut. Karena tidak adanya ketiga unsur itu dalam rekam medis gigi rawat jalan di Puskesmas Kota Pontianak, maka dapat dikatakan bahwa rekam medis yang ada belum baik dan tidak bisa menjadi bukti surat jika dibutuhkan. Keadaan ini akan merugikan pihak Puskesmas sendiri (termasuk petugas Puskesmas yang terlibat didalammnya dan Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan), karena rekam medis yang dibuat tidak dapat melindunginya secara hukum. Informed consent tidak terdapat dalam berkas rekam medis gigi rawat jalan di Puskesmas Kota Pontianak, selama ini informed consent telah dilakukan tapi hanya secara lisan saja, sehingga tidak ada dalam dokumentasi rekam medis. Selayaknya Puskesmas menyediakan blangko informed consent, karena jika suatu saat diperlukan sudah tersedia. Walaupun pelayanan kedokteran gigi di Puskesmas termasuk tindakan yang tidak beresiko, tapi jika persetujuan lisan meragukan, persetujuan tertulis lebih aman untuk dilakukan. b. Bukti Petunjuk Tabel 3. Data Perawatan Yang Terdapat Dalam Rekam Medis ( Bukti Petunjuk Pelayanan Yang Diberikan) No Riwayat Jumlah Persentase Pelayanan Penyakit Gigi 1 Tgl, bulan, % tahun 2 Anamneses 97 36% 3 Pemeriksaan % penunjang gigi 4 Diagnose % 5 Pengobatan dan % atau tindakan lain Di Puskesmas Kota Pontianak, masih sedikit rekam medis gigi yang menulis secara lengkap ke 5 point minimal tersebut (36%). Penulisan anamnese dan pemeriksan penunjang cenderung singkat dan tidak lengkap. Walaupun dalam prakteknya pengobatan dan tindakan sudah sesuai dengan SOP, tapi jika tidak ditulis dengan lengkap di rekam medis, maka rekam medis ini tidak bisa menjadi bukti petunjuk hukum yang kuat bagi Puskesmas. Untuk menceritakan suatu proses upaya penyembuhan, minimal dilakukan dengan (1)anamnese, (2)kemudian pasien diperiksa (pemeriksaan klinis), setelah itu baru dapat ditentukan apa (3)diagnosanya, dari diagnose Insidental, Vol. 1, No. 1, November

6 dibuatlah (4) rencana perawatan. Setelah rencana perawatan dibicarakan dengan pasien dan pasien menyetujuinya baru dilakukan upaya kesehatan berupa (5)tindakan atau pengobatan. Ini diluar odontogram dan pelayanan lain, karena odontogram tidak termasuk dalam SOP, dan pelayanan lain hanya ada jika diperlukan, tidak untuk semua pasien. Jika semua dijalankan dengan benar dan kemudian ditulis dengan lengkap, baik dan jelas, rekam medis ini dapat menjadi suatu bukti petunjuk tentang riwayat penyakit dan pengobatan. Rekam medis yang baik adalah yang lengkap dan jelas, sehingga setiap keputusan atau tindakan yang dilakukan berdasarkan atas fakta-fakta yang juga tertulis lengkap disana. Semua pengobatan atau tindakan harus sesuai dengan standar operasional praktek (SOP) dan standar profesi. Semakin baik pelaksanaan rekam medis akan semakin baik juga perlindungan yang diberikan, baik untuk petugas pelayanan kesehatan maupun perlindungan bagi pasien. Begitupun sebaliknya jika rekam medis yang dilaksanakan tidak baik. 3. Hambatan Pelaksanaan Rekam Medis Gigi Rawat Jalan a. Pengisian 1) Tidak ada informasi/tidak tahu Hambatan terbesar dalam pelaksanaan rekam medis gigi rawat jalan yang mengacu pada Permenkes 269 tahun 2008 adalah tidak adanya informasi atau sosialisasi. Notonegoro 7 mengatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupa-kan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan ini mempunyai 6 tingkatan yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi. 2) Tidak tercantum dalam kartu status. Kartu status yang berukuran kecil dengan kolom pengisian yang kecil merupakan penghambat dalam menulis. Bagaimana responden dapat menulis lengkap, jika tempat untuk menulis tidak ada. Dalam pengisian odontogram selain memang tidak ada formatnya, waktu yang dibutuhkan untuk penulisan juga agak lama. ini akan mengalami kesulitan jika jumlah pasien dalam banyak. 3) Keterbatasan sarana dan prasarana Keterbatasan yang terjadi adalah karena format rekam medis khusus gigi belum ada di Puskesmas. Format rekam medis gigi masih mengikuti format rekam medis umum. b. Pengelolaan Petugas rekam medis umumnya tidak begitu memahami tentang pengelolan rekam medis menurut Permenkes 269 tahun 2008, jadi hambatan yang diutarakan cenderung masalah umum biasa, seperti : Kartu pasien sering hilang, Ketidaksabaran pasien, Tulisan dokter yang sulit dibaca, Pola pelaporan yang sering berubah. Pimpinan Puskesmas merasa tidak ada hambatan dalam pelaksanaan rekam medis di lapangan baik rekam medis gigi maupun rekam medis yang lain. Pola pengaturan sudah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan kota, dan semua sudah dilaksanakan. Selama inipun tidak pernah ada masalah yang terjadi karena rekam medis. c. Pembinaan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak menyatakan bahwa hambatan dalam pelaksanaan rekam medis gigi di lapangan, cenderung disebabkan oleh kurangnya sumber daya manusia, meliputi dokter gigi dan tenaga rekam medis berpendidikan dan kurangnya motivasi dari petugas untuk bekerja lebih baik. Untuk pelaksanaan rekam medis gigi di Kota Pontianak, diskresi dimungkin-kan sampai semua sarana dan prasarana tersedia dan petugas pelaksana siap, tapi secepatnya Insidental, Vol. 1, No. 1, November

7 pelaksanaan rekam medis gigi rawat jalan harus dilakukan sesuai dengan peraturan yang telah ada, sebab peraturan ini melindungi kepentingan pemerintah sendiri dalam hal ini memberi perlindungan hukum bagi Puskesmas, disamping juga memberi perlindungan bagi pasien. Ketua PDGI menyatakan bahwa tidak dilaksanakannya rekam medis secara lengkap disebabkan oleh unsur manusiawi, dimana manusia cenderung melaku-kan hal-hal yang lebih mudah dan gampang. Selain itu tidak adanya sosialisasi tentang kewajiban mengisi rekam medis secara benar dan sesuai dengan hukum. KESIMPULAN 1. Permenkes 269 tahun 2008 belum diterapkan dalam pelaksanaan rekam medis gigi rawat jalan di Puskesmas Kota Pontianak, pelaksanaan rekam medis di Puskesmas Kota Pontianak lebih mengacu pada rekam medis manajemen daripada rekam medis individu. a. Pengisian rekam medis gigi rawat jalan belum lengkap. Banyak point yang diwajibkan oleh Permenkes 269 tahun 2008 belum dilaksanakan. b. Pengelolaan rekam medis gigi rawat jalan di Puskesmas kota Pontianak tidak berbeda dengan pengelolaan rekam medis lainnya, pola pengaturan cenderung mengikuti aturan yang sudah ada sebelumnya. Selama tidak ada masalah yang timbul, aturan lama tetap akan dipergunakan. c. Pengawasan hanya dilakukan oleh petugas rekam medis di puskesmas untuk aspek pengisian rekam medis, itupun mengacu pada informasi yang harus ada pada SIK. Pihak dan instansi terkait belum melaksanakan fungsi pengawasan secara optimal. 2. Rekam medis gigi rawat jalan di Kota Pontianak belum dapat memberikan perlindungan hukum bagi Puskesmas (sebagai sarana pelayanan kesehatan beserta petugasnya, yaitu dokter gigi, tenaga rekam medis dan pimpinan Puskesmas), ini disebabkan tidak diisinya rekam medis gigi rawat jalan secara lengkap. 3. Faktor yang menghambat pelaksanaan rekam medis gigi rawat jalan di Puskesmas kota Pontianak adalah : a. Tidak adanya informasi dan sosialisasi. b. Tidak tercantum dalam format kartu status. c. Kecenderung untuk melakukan hal-hal yang lebih mudah dan gampang. d. Kurangnya sumber daya manusia, meliputi dokter gigi dan tenaga rekam medis berpendidikan. e. Kurangnya motivasi dari petugas untuk bekerja lebih baik SARAN 1. Rekam medis gigi rawat jalan di Puskesmas Kota Pontianak harus dilaksanakan secara baik dan benar sesuai Permenkes 269 tahun 2008, agar dapat memberi perlindungan hukum bagi Puskesmas. 2. Pengaturan pelaksanaan pelaksanaan rekam medis gigi hendaknya menyatukan antara aturan yang ada di Permenkes 269 tahun 2008 dan sistim informasi kesehatan (SIK) yang dilaksanakan di Puskesmas Kota Pontianak, agar fungsi rekam medis sebagai rekam medis individu dan rekam medis manajemen dapat tercapai. 3. Perlu adanya format kartu rekam medis gigi yang lebih akurat tapi simpel dalam penulisannya sebab kartu rekam medis gigi yang ada sekarang dirasa belum begitu efisien dan masih memerlukan waktu yang lama untuk pengisiannya. KEPUSTAKAAN 1. Nasution, Bahder Johan, 2005, Hukum Kesehatan Pertanggungjawaban Dokter, PT Asdi Mahasatya, Jakarta. 2. Purnomo, Bambang, 2000, Hukum Kesehatan, Aditya Media, Yogyakarta Insidental, Vol. 1, No. 1, November

8 3. Glanz,K., Rimer, Barbara.K., Vismanath,K.,2008, Health Behavior and Health Education, Theory, Research and Practice, 4 thedition, Jossey-Bass, San Francisco,USA, Depkes RI, 2004, Standar Nasional Rekam Medik Kedokteran Gigi, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI, Jakarta 5. Gondodipuro, Sharon, 2007, rekam medis dan sistim informasi kesehatan di sarana pelayanan kesehatan primer (Puskesmas), IKM UNPAD, Bandung, Unsri.co.id 6. World Health Organization, 2006, Medical Record Manual, A Guide for Developing Countries, WHO 7. Notonegoro, 2007, Promosi Kesehatana dan Ilmu Prilaku, Rineka Cipta, Jakarta Insidental, Vol. 1, No. 1, November

DASAR HUKUM PENYELENGGARAAN REKAM MEDIS

DASAR HUKUM PENYELENGGARAAN REKAM MEDIS DASAR HUKUM PENYELENGGARAAN REKAM MEDIS Landasan hukum yang mendasari penyelenggaraan rekam medis di Indonesia: a. UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 pada pasal 53, disebutkan bahwa setiap tenaga kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Rumah Sakit merupakan institusi pelayanan umum di bidang kesehatan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Rumah Sakit merupakan institusi pelayanan umum di bidang kesehatan yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah Sakit merupakan institusi pelayanan umum di bidang kesehatan yang membutuhkan keberadaan suatu sistem yang handal dan cukup untuk meningkatkan kualitas pelayanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Salah satu fungsi dari Rumah Sakit

BAB I PENDAHULUAN. inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Salah satu fungsi dari Rumah Sakit 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan UU RI no 44 tahun 2009, pengertian Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

Lebih terperinci

ASPEK HUKUM REKAM MEDIS By: Raden Sanjoyo D3 Rekam Medis FMIPA Universitas Gadjah Mada

ASPEK HUKUM REKAM MEDIS By: Raden Sanjoyo D3 Rekam Medis FMIPA Universitas Gadjah Mada ASPEK HUKUM REKAM MEDIS By: Raden Sanjoyo D3 Rekam Medis FMIPA Universitas Gadjah Mada Status hukum dan peraturan tentang catatan kesehatan harus dijaga oleh institusi pelayanan kesehatan. Istitusi kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. kesehatan (dokter, perawat, terapis, dan lain-lain) dan dilakukan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. kesehatan (dokter, perawat, terapis, dan lain-lain) dan dilakukan sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Informasi menjadi sangat penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Rekam medis dalam bentuk manual ataupun elektronik menjadi sumber dari informasi medis yang menggambarkan

Lebih terperinci

RIATI ANGGRIANI,SH,MARS,MHum ANGGOTA PERHUKI DKI

RIATI ANGGRIANI,SH,MARS,MHum ANGGOTA PERHUKI DKI RIATI ANGGRIANI,SH,MARS,MHum ANGGOTA PERHUKI DKI DASAR HUKUM UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 1992 TENTANG KESEHATAN. UNDANG-UNDANG NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan SK Menteri kesehatan Nomor:269/Menkes/Per/III/2008

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan SK Menteri kesehatan Nomor:269/Menkes/Per/III/2008 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rekam Medis 1. Pengertian Rekam Medis Berdasarkan SK Menteri kesehatan Nomor:269/Menkes/Per/III/2008 tentang rekam medis menjelaskan bahwa rekam medis adalah berkas yang berisikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelaksanaan pemberian pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. pelaksanaan pemberian pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rekam medis merupakan salah satu bagian penting dalam membantu pelaksanaan pemberian pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Dalam Permenkes No.269/MENKES/PER/III/2008

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran menimbulkan

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran menimbulkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran menimbulkan persaingan antar rumah sakit. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya badan atau institusi yang

Lebih terperinci

FORM CHECKLIST KELENGKAPAN REKAM MEDIS RS. SIAGA RAYA- JAKARTA SELATAN

FORM CHECKLIST KELENGKAPAN REKAM MEDIS RS. SIAGA RAYA- JAKARTA SELATAN FORM CHECKLIST KELENGKAPAN REKAM MEDIS RS. SIAGA RAYA- JAKARTA SELATAN Lampiran 6 No. No. RM IDENTITAS PASIEN Nama TTL JK Pekerjaan SP Agama Ayah Ibu Alamat anamnesis diagnosis Tindakan/ Pengobatan Dokter/

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan fungsi profesional baik di bidang teknik medis maupun. dilaksanakan surat persetujuan tindakan kedokteran.

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan fungsi profesional baik di bidang teknik medis maupun. dilaksanakan surat persetujuan tindakan kedokteran. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah Sakit merupakan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang penting bagi masyarakat. Rumah Sakit adalah pusat dimana pelayanan kesehatan masyarakat, pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. No.269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis bab III pasal 5 yang

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. No.269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis bab III pasal 5 yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Satu diantara pelayanan rumah sakit yang baik dapat dilihat dari cara pengelolaan berkas rekam medis pasien yang ada di rumah sakit tersebut. Rekam medis merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan di berbagai instansi kesehatan dengan dukungan dari

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan di berbagai instansi kesehatan dengan dukungan dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyedia sarana pelayanan kesehatan harus selalu memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh lapisan masyarakat agar dapat terwujud derajat kesehatan yang optimal.

Lebih terperinci

dapat berakibat pada keterlambatan penanganan medis terhadap pasien yang sedang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Rekam medis kertas yang

dapat berakibat pada keterlambatan penanganan medis terhadap pasien yang sedang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Rekam medis kertas yang 2 dapat berakibat pada keterlambatan penanganan medis terhadap pasien yang sedang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Rekam medis kertas yang digunakan dalam pelayanan medis tidak selalu mampu

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI REKAM MEDIK DI POLIKLINIK PT. AIR MANCUR. Oleh: Dahlan Susilo Teknik Informatika, Universitas Sahid Surakarta

SISTEM INFORMASI REKAM MEDIK DI POLIKLINIK PT. AIR MANCUR. Oleh: Dahlan Susilo Teknik Informatika, Universitas Sahid Surakarta SISTEM INFORMASI REKAM MEDIK DI POLIKLINIK PT. AIR MANCUR Oleh: Dahlan Susilo Teknik Informatika, Universitas Sahid Surakarta ABSTRAKSI Perkembangan teknologi informasi telah mendorong manusia untuk menyelesaikan

Lebih terperinci

PROFIL TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA KUSTA TENTANG PENYAKIT KUSTA DI PUSKESMAS KEMUNINGSARI KIDUL KABUPATEN JEMBER

PROFIL TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA KUSTA TENTANG PENYAKIT KUSTA DI PUSKESMAS KEMUNINGSARI KIDUL KABUPATEN JEMBER PROFIL TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA KUSTA TENTANG PENYAKIT KUSTA DI PUSKESMAS KEMUNINGSARI KIDUL KABUPATEN JEMBER Rosida 1, Siti Anawafi 1, Fanny Rizki 1, Diyan Ajeng Retnowati 1 1.Akademi Farmasi Jember

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sakit pasal 1 ayat 1 menyatakan rumah sakit adalah suatu institusi. pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. Sakit pasal 1 ayat 1 menyatakan rumah sakit adalah suatu institusi. pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 1 ayat 1 menyatakan rumah sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan

Lebih terperinci

Inform Consent. Purnamandala Arie Pradipta Novita Natasya Calvindra L

Inform Consent. Purnamandala Arie Pradipta Novita Natasya Calvindra L Inform Consent Purnamandala Arie Pradipta Novita Natasya Calvindra L 1 PENDAHULUAN Malpraktek pada dasarnya adalah tindakan tenaga profesional (profesi) yang bertentangan dengan Standard Operating Procedure

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan. Rumah Sakit menjadi

BAB I PENDAHULUAN. berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan. Rumah Sakit menjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Wolper dan Pena dalam Azwar (1996) rumah sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik

Lebih terperinci

Buku 3: Bahan Ajar Pertemuan Ke - 4

Buku 3: Bahan Ajar Pertemuan Ke - 4 UNIVERSITAS GADJAH MADA SEKOLAH VOKASI DIPLOMA REKAM MEDIS Buku 3: Bahan Ajar Pertemuan Ke - 4 DESAIN FORMULIR REKAM MEDIS Ganjil/III/VMR 2103 oleh Savitri Citra Budi, SKM.M.P.H Didanai dengan dana BOPTN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomer 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, menyebutkan bahwa kesehatan merupakan hak asasi setiap manusia dan

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomer 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, menyebutkan bahwa kesehatan merupakan hak asasi setiap manusia dan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kesehatan merupakan hak setiap orang, didalam Undang-undang Republik Indonesia Nomer 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, menyebutkan bahwa kesehatan merupakan hak asasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Rekam medis merupakan berkas yang berisikan informasi tentang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Rekam medis merupakan berkas yang berisikan informasi tentang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rekam medis merupakan berkas yang berisikan informasi tentang identitas pasien, anamnese, penentuan fisik laboratorium, diagnosa segala pelayanan dan tindakan

Lebih terperinci

TINJAUAN PELAKSANAAN PROSEDUR PEMINJAMAN DOKUMEN REKAM MEDIS DI UNIT PENYIMPANAN RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2015 SUHERI PARULIAN GULTOM ABSTRAK

TINJAUAN PELAKSANAAN PROSEDUR PEMINJAMAN DOKUMEN REKAM MEDIS DI UNIT PENYIMPANAN RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2015 SUHERI PARULIAN GULTOM ABSTRAK TINJAUAN PELAKSANAAN PROSEDUR PEMINJAMAN DOKUMEN REKAM MEDIS DI UNIT PENYIMPANAN RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 015 SUHERI PARULIAN GULTOM ABSTRAK Peminjaman dokumen rekam medis di rumah sakit digunakan

Lebih terperinci

PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN RM

PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN RM PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN RM Lily Widjaja SKM, MM Lilywi 1 PERATURAN Peraturan yang terkait dg.r M/ RK Isi dari struktur RM Pentingnya Keamanan Informasi Mengidentifikasi Peran dan Tanggung jawab dari

Lebih terperinci

Semakin banyak laporan yang dibutuhkan semakin banyak berkas yang harus disiapkan dan diisikan dan semakin banyak pula waktu serta tenaga yang

Semakin banyak laporan yang dibutuhkan semakin banyak berkas yang harus disiapkan dan diisikan dan semakin banyak pula waktu serta tenaga yang BAB I PENDAHULUAN Rumah Sakit Paru Provinsi Jawa Barat merupakan Rumah Sakit tipe C khusus milik pemerintah. Kegiatan pelayanan yang diselenggarakan berupa pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Analisa Kuantitatif : a. Identifikasi b. pelaporan c. pencatatan d. Autentifikasi Analisa Kualitatif : a. kelengkapan dan kekonsistenan diagnosa b. kekonsistenan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit tersebut, maka terkena kewajiban menyelenggarakan. pelayanan rekam medis sesuai dengan PERMENKES RI No.

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit tersebut, maka terkena kewajiban menyelenggarakan. pelayanan rekam medis sesuai dengan PERMENKES RI No. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit adalah tempat rujukan kesehatan yang melayani pasien rawat jalan, rawat darurat dan rawat inap dengan berbagai jenis pelayanan medis dan penunjang medis

Lebih terperinci

PENGARUH WAKTU TUNGGU PETUGAS PELAYANAN REKAM MEDIS TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI PENDAFTARAN RAWAT JALAN DI RSUD. DR. R. M. DJOELHAM BINJAI TAHUN 2015

PENGARUH WAKTU TUNGGU PETUGAS PELAYANAN REKAM MEDIS TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI PENDAFTARAN RAWAT JALAN DI RSUD. DR. R. M. DJOELHAM BINJAI TAHUN 2015 PENGARUH WAKTU TUNGGU PETUGAS PELAYANAN REKAM MEDIS TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI PENDAFTARAN RAWAT JALAN DI RSUD. DR. R. M. DJOELHAM BINJAI TAHUN 05 ESRAIDA SIMANJUNTAK ABSTRAK Pengaruh waktu tunggu pelayanan

Lebih terperinci

Fungsi dan Tata Kelola RM dalam Pelayanan Kesehatan. Radita Ikapratiwi Fetty Siti N Tiara Melodi M

Fungsi dan Tata Kelola RM dalam Pelayanan Kesehatan. Radita Ikapratiwi Fetty Siti N Tiara Melodi M Fungsi dan Tata Kelola RM dalam Pelayanan Kesehatan Radita Ikapratiwi Fetty Siti N Tiara Melodi M Definisi RM Menurut Edna K Huffman: Rekam Medis adalah berkas yang menyatakan siapa, apa, mengapa, dimana,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Informasi Rumah Sakit 2.1.1 Sistem Sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling dihubungkan dengan suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 tentang

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 tentang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 tentang rekam medis, untuk mewujudkan peningkatan

Lebih terperinci

PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIK [ INFORMED CONSENT ]

PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIK [ INFORMED CONSENT ] PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIK [ INFORMED CONSENT ] Tujuan Belajar Setelah mempelajari keterampilan medik mengenai Persetujuan Tindakan Medik (Informed Consent) ini, mahasiswa diharapkan: 1. Memahami kepentingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keseimbangan yang dinamis dan mempunyai fungsi utama melayani

BAB I PENDAHULUAN. keseimbangan yang dinamis dan mempunyai fungsi utama melayani BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan dan tempat penyelenggaraan upaya kesehatan serta suatu organisasi dengan sistem terbuka dan selalu berinteraksi dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kuliah pengelolaan system rekam medis 1 yang diberikan dosen pengasuh, juga

BAB I PENDAHULUAN. kuliah pengelolaan system rekam medis 1 yang diberikan dosen pengasuh, juga BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Salah satu fungsi yang paling penting dari sebuah rumah sakit adalah menyediakan perawatan berkualitas tinggi terhadap pasien. Pimpinan rumah sakit bertanggung jawab

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 749a MENKES/PER/XII/1989 TENTANG REKAM MEDIS/MEDICAL RECORDS

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 749a MENKES/PER/XII/1989 TENTANG REKAM MEDIS/MEDICAL RECORDS PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 749a MENKES/PER/XII/1989 TENTANG REKAM MEDIS/MEDICAL RECORDS MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, nimbang n gingat b. bahwa dalam rangka mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbedaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbedaan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbedaan yang terjadi setiap daerah, banyak menyebabkan perubahan dalam segi kehidupan manusia baik fisik, mental,

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DOKTER DENGAN KELENGKAPAN DOKUMEN REKAM MEDIS RAWAT JALAN DI POLIKLINIK NEUROLOGI RSUP DR. KARIADI SEMARANG OKTOBER 2008.

HUBUNGAN PENGETAHUAN DOKTER DENGAN KELENGKAPAN DOKUMEN REKAM MEDIS RAWAT JALAN DI POLIKLINIK NEUROLOGI RSUP DR. KARIADI SEMARANG OKTOBER 2008. JURNAL VISIKES - Vol. 9 / No. 1 / April 20 HUBUNGAN PENGETAHUAN DOKTER DENGAN KELENGKAPAN DOKUMEN REKAM MEDIS RAWAT JALAN DI POLIKLINIK NEUROLOGI RSUP DR. KARIADI SEMARANG OKTOBER 2008. Yayuk Eny*), Enny

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bagi pengguna jasa rumah sakit itu sendiri.

BAB I PENDAHULUAN. bagi pengguna jasa rumah sakit itu sendiri. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit memberikan pelayanan yang berdaya guna dan berhasil guna, maka dibutuhkan berbagai sumber daya yang harus diatur dengan manajemen yang baik. Dengan kecanggihan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rekam medis adalah berkas yang berfungsi sebagai alat komunikasi dan sumber ingatan yang harus didokumentasikan, dipertanggungjawabkan dan dilaporkan oleh setiap tenaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menerima pengakuan ini adalah Imhotep dari Mesir yang jauh lebih tua

BAB I PENDAHULUAN. menerima pengakuan ini adalah Imhotep dari Mesir yang jauh lebih tua BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kedokteran modern mengakui Hipocrates merupakan orang pertama yang menggunakan tanaman berkhasiat. Akan tetapi lebih tepatnya yang menerima pengakuan ini adalah Imhotep

Lebih terperinci

Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran (Informed Consent)

Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran (Informed Consent) Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran (Informed Consent) Rumah Sakit xy Pedoman Pelaksanaan Persetujuan Tindakan Kedokteran 1. Umum a. Bahwa masalah kesehatan seseorang (pasien) adalah tanggung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, memiliki peran

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, memiliki peran BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat

Lebih terperinci

tindakan pendidikan serta kondisi dan situasi pasien.

tindakan pendidikan serta kondisi dan situasi pasien. Informed Consent Informed Consent atau Persetujuan Tindakan Medik (PTM) adalah suatu cara bagi pasien untuk menunjukkan preferensi atau pilihannya. Secara harifiah Informed Consent memiliki dua unsur yaitu:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. 1

BAB I PENDAHULUAN. menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemberi pelayanan kesehatan harus meningkatkan pelayanannya dari berbagai. mampu memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. pemberi pelayanan kesehatan harus meningkatkan pelayanannya dari berbagai. mampu memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuntutan akan pelayanan rumah sakit yang bermutu seiring dengan semakin baiknya kesadaran masyarakat tentang mutu, membuat rumah sakit sebagai pemberi pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan 1 BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan pasal 5 ayat (2) menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bermutu, dan terjangkau. Hak warga negara dijamin oleh pemerintah dalam

BAB I PENDAHULUAN. bermutu, dan terjangkau. Hak warga negara dijamin oleh pemerintah dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Warga negara Indonesia berhak atas pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Hak warga negara dijamin oleh pemerintah dalam Undang-undang Kesehatan No.

Lebih terperinci

Tinjauan Ketidaklengkapan Pengisian Resume Medis Di RS. X, Mei - Juni 2013

Tinjauan Ketidaklengkapan Pengisian Resume Medis Di RS. X, Mei - Juni 2013 Tinjauan Ketidaklengkapan Pengisian Resume Medis Di RS. X, Mei - Juni 2013 Rinto Rivanto 1, Nur Saputri 1 1 Program Studi D3 Manajemen Pelayanan Rumah Sakit STIKes MH. Thamrin Alamat korespondensi: Jln.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian non eksperimental ini menggunakan metode penelitian kuantitatif

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian non eksperimental ini menggunakan metode penelitian kuantitatif BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian non eksperimental ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan penelitian survei. Data yang dipelajari semata-mata

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, TINDAKAN DAN KOMITMEN PIMPINAN TERHADAP KELENGKAPAN PENGISIAN DOKUMEN REKAM MEDISDI RUMAH SAKIT UMUM M

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, TINDAKAN DAN KOMITMEN PIMPINAN TERHADAP KELENGKAPAN PENGISIAN DOKUMEN REKAM MEDISDI RUMAH SAKIT UMUM M HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, TINDAKAN DAN KOMITMEN PIMPINAN TERHADAP KELENGKAPAN PENGISIAN DOKUMEN REKAM MEDISDI RUMAH SAKIT UMUM M. DJAMIL PADANG TAHUN 2011 Skripsi Diajukan Ke Program Studi Ilmu Kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang. klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar baik umum

BAB I PENDAHULUAN. menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang. klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar baik umum 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perancangan Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 tahun 2014 tentang Klinik, klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan dan tempat

BAB 1 PENDAHULUAN. Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan dan tempat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah Sakit merupakan salah satu sarana kesehatan dan tempat penyelenggaraan upaya kesehatan serta suatu organisasi dengan sistem terbuka dan selalu berinteraksi dengan

Lebih terperinci

ANALISIS KELENGKAPAN PENGISIAN RESUME MEDIS PASIEN HYPERPLASIA OF PROSTATE

ANALISIS KELENGKAPAN PENGISIAN RESUME MEDIS PASIEN HYPERPLASIA OF PROSTATE ANALISIS KELENGKAPAN PENGISIAN RESUME MEDIS PASIEN HYPERPLASIA OF PROSTATE PADA DOKUMEN REKAM MEDIS RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT MULIA HATI WONOGIRI TAHUN 2013 ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH Untuk Memenuhi Salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tantangan pembangunan kesehatan menuntut adanya dukungan sumber daya yang cukup serta arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan yang tepat. Namun, seringkali

Lebih terperinci

disebut dengan Persetujuan Tindakan Medik. Secara harfiah, Informed Consent terdiri

disebut dengan Persetujuan Tindakan Medik. Secara harfiah, Informed Consent terdiri Informed Consent adalah istilah yang telah diterjemahkan dan lebih sering disebut dengan Persetujuan Tindakan Medik. Secara harfiah, Informed Consent terdiri dari dua kata, yaitu : Informed dan Consent.

Lebih terperinci

KESESUAIAN DIAGNOSIS PADA BERKAS REKAM MEDIS DAN EHR PASIEN INSTALASI GAWAT DARURAT

KESESUAIAN DIAGNOSIS PADA BERKAS REKAM MEDIS DAN EHR PASIEN INSTALASI GAWAT DARURAT KESESUAIAN DIAGNOSIS PADA BERKAS REKAM MEDIS DAN EHR PASIEN INSTALASI GAWAT DARURAT Danik Lestari 1, Nuryati 2 1,2 Rekam Medis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada email: daniqq_27@yahoo.co.id, nur3yati@yahoo.com

Lebih terperinci

Please download full document at Thanks

Please download full document at  Thanks Rekam medis tidak boleh keluar dari ruang peyimpanan tanpa tanda keluar/kartu peminjaman rekam medis. Peraturan ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang di luar rekam medis, tetapi jugabagi petugas rekam

Lebih terperinci

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dengan 26 Puskesmas rawat jalan dan tiga Puskesmas

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dengan 26 Puskesmas rawat jalan dan tiga Puskesmas BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. GAMBARAN UMUM Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang memiliki 29 unit Puskesmas dengan 26 Puskesmas rawat jalan dan tiga Puskesmas PONED. Penelitian ini dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seseorang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Hal ini sesuai

BAB I PENDAHULUAN. seseorang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Hal ini sesuai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan manusia dimana keadaan dari badan dan jiwa tidak mengalami gangguan sehingga memungkinkan seseorang untuk hidup produktif secara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian : 1. Pusat Kesehatan Masyarakat Gayamsari 2. Pusat Kesehatan Masyarakat Kedungmundu 3. Pusat Kesehatan Masyarakat Tlogosari

Lebih terperinci

Pedoman Wawancara Mendalam Untuk Dokter

Pedoman Wawancara Mendalam Untuk Dokter Pedoman Wawancara Mendalam Untuk Dokter Nama Pewawancara Tanggal Wawancara Waktu Wawancara Tempat Wawancara I. Petunjuk Umum 1. Sampaikan ucapan terimakasih kepada informan atas kesediaannya dan waktu

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 609 TAHUN 2012 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 609 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 609 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KASUS KECELAKAAN KERJA DAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. waktu penelitian di laksanakan selama 1 bulan dari tanggal 10 Mei sampai

BAB III METODE PENELITIAN. waktu penelitian di laksanakan selama 1 bulan dari tanggal 10 Mei sampai 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Lokasi penelitian di Puskesmas Bonepantai Kabupaten Bone Bolango dan waktu penelitian di laksanakan selama 1 bulan dari tanggal 10 Mei sampai tanggal

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Analisa Kuantitatif dan Kualitatif DRM rawat Inap Kasus Demam Thypoid

BAB III METODE PENELITIAN. Analisa Kuantitatif dan Kualitatif DRM rawat Inap Kasus Demam Thypoid BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep DRM Rawat Inap Penyakit Demam Thypoid Analisa Kuantitatif dan Kualitatif DRM rawat Inap Kasus Demam Thypoid 1. Review Identifikasi 2. Review Pelaporan 3. Review

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2010 Seri : E PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG IZIN PRAKTEK DOKTER, PRAKTEK PERAWAT, PRAKTEK BIDAN DAN PRAKTEK APOTEKER

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG IZIN PRAKTEK DOKTER, PRAKTEK PERAWAT, PRAKTEK BIDAN DAN PRAKTEK APOTEKER PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG IZIN PRAKTEK DOKTER, PRAKTEK PERAWAT, PRAKTEK BIDAN DAN PRAKTEK APOTEKER DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap rumah sakit diwajibkan menyelenggarakan rekaman atau. rekam medis. Menurut Huffman (1994), rekam medis adalah rekaman atau

BAB I PENDAHULUAN. Setiap rumah sakit diwajibkan menyelenggarakan rekaman atau. rekam medis. Menurut Huffman (1994), rekam medis adalah rekaman atau BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap rumah sakit diwajibkan menyelenggarakan rekaman atau catatan dari segala pelayanan yang diberikan kepada pasien yang disebut rekam medis. Menurut Huffman (1994),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia akan bisa menjalani aktifitas kehidupannya dengan baik.

BAB I PENDAHULUAN. manusia akan bisa menjalani aktifitas kehidupannya dengan baik. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan kebutuhan dasar manusia, baik itu sehat jasmani maupun rohani. Dengan tubuh dan jiwa yang sehat, setiap manusia akan bisa menjalani aktifitas kehidupannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, pengertian Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki derajat kesehatan yang optimal, adil dan. berkesinambungan diseluruh wilayah Republik Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki derajat kesehatan yang optimal, adil dan. berkesinambungan diseluruh wilayah Republik Indonesia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan dari pembangunan kesehatan ditetapkan dalam suatu sistem yang kita kenal dengan sisitem kesehatan nasional, yang memuat arahan dan tujuan yang menjadi pedoman

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN

Lebih terperinci

Buku 3: Bahan Ajar Pertemuan Ke - 2

Buku 3: Bahan Ajar Pertemuan Ke - 2 UNIVERSITAS GADJAH MADA SEKOLAH VOKASI DIPLOMA REKAM MEDIS Buku 3: Bahan Ajar Pertemuan Ke - 2 DESAIN FORMULIR REKAM MEDIS Ganjil/III/VMR 2103 oleh Savitri Citra Budi, SKM.M.P.H Didanai dengan dana BOPTN

Lebih terperinci

PENGARUH SIKAP PERAWAT DALAM KETERLAMBATAN BERKAS REKAM MEDIS TERHADAP PENGISIAN REKAPITULASI LAPORAN PELAYANAN RL 3.1 RAWAT INAP DI RSU HERNA MEDAN

PENGARUH SIKAP PERAWAT DALAM KETERLAMBATAN BERKAS REKAM MEDIS TERHADAP PENGISIAN REKAPITULASI LAPORAN PELAYANAN RL 3.1 RAWAT INAP DI RSU HERNA MEDAN PENGARUH SIKAP PERAWAT DALAM KETERLAMBATAN BERKAS REKAM MEDIS TERHADAP PENGISIAN REKAPITULASI LAPORAN PELAYANAN RL 3.1 RAWAT INAP DI RSU HERNA MEDAN SITI PERMATA SARI LUBIS ABSTRAK Sikap merupakan reaksi

Lebih terperinci

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG OUTLINE PENDAHULUAN TENAGA KESEHATAN MENURUT UNDANG-UNDANG TUGAS & WEWENANG PERAWAT PENDELEGASIAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1019/MENKES/SK/VII/2000 TENTANG REGISTRASI DAN IZIN KERJA PERAWAT GIGI

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1019/MENKES/SK/VII/2000 TENTANG REGISTRASI DAN IZIN KERJA PERAWAT GIGI KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1019/MENKES/SK/VII/2000 TENTANG REGISTRASI DAN IZIN KERJA PERAWAT GIGI MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disediakan oleh pemerintah. Menurut Kepmenkes RI No. 128/Menkes/SK/II/2004 Puskesmas adalah unit pelaksanaan teknik dinas

BAB I PENDAHULUAN. disediakan oleh pemerintah. Menurut Kepmenkes RI No. 128/Menkes/SK/II/2004 Puskesmas adalah unit pelaksanaan teknik dinas 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Puskesmas merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah. Menurut Kepmenkes RI No. 128/Menkes/SK/II/2004 Puskesmas adalah unit pelaksanaan

Lebih terperinci

6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: PER. 12/MEN/VI/2007 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pemba

6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: PER. 12/MEN/VI/2007 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pemba MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 609 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KASUS KECELAKAAN KERJA DAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap instansi baik instansi pemerintah maupun swasta memiliki dokumen-dokumen penting yang harus tetap disimpan dan dijaga dengan baik, karena berkaitan langsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai pusat pembangunan kesejahteraan, pusat pembinaan peran serta

BAB I PENDAHULUAN. sebagai pusat pembangunan kesejahteraan, pusat pembinaan peran serta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Puskesmas merupakan suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesejahteraan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pasien, dikenal dengan istilah transaksi terapeutik. Menurut Veronica

BAB 1 PENDAHULUAN. pasien, dikenal dengan istilah transaksi terapeutik. Menurut Veronica BAB 1 PENDAHULUAN Dalam hal pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh seorang dokter terhadap pasien, kedua belah pihak mempunyai hak dan kewajiban, adanya hak dan kewajiban dikarenakan adanya perjanjian.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

ANALISIS KELENGKAPAN PENGISIAN DAN PENGEMBALIAN REKAM MEDIS RAWAT INAP RUMAH SAKIT

ANALISIS KELENGKAPAN PENGISIAN DAN PENGEMBALIAN REKAM MEDIS RAWAT INAP RUMAH SAKIT 345 ANALISIS KELENGKAPAN PENGISIAN DAN PENGEMBALIAN REKAM MEDIS RAWAT INAP RUMAH SAKIT ANALYSIS OF MEDICAL RECORD FILLING COMPLETENESS AND RETURNING IN HOSPITAL INPATIENT UNIT Winarti, Stefanu Supriyanto

Lebih terperinci

Perancangan Berkas Rekam Medis Kedokteran Gigi di Klinik Sakinah Kabupaten Jember

Perancangan Berkas Rekam Medis Kedokteran Gigi di Klinik Sakinah Kabupaten Jember Perancangan Berkas Rekam Medis Kedokteran Gigi di Klinik Sakinah Kabupaten Jember Rinda Nurul Karimah 1, Ida Nurmawati 2 Jurusan Kesehatan, Politeknik Negeri Jember Jl. Mastrip Jember Kotak Pos 164 Kode

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan zaman yang begitu pesat, diera globalisaasi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan zaman yang begitu pesat, diera globalisaasi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan zaman yang begitu pesat, diera globalisaasi teknologi dan komunikasi menuntut perkembangan kebutuhan informasi yang cepat dan akurat. Sehubung dengan

Lebih terperinci

Ulil Kholili, Pengenalan Ilmu Rekam Medis Pada Masyarakat Serta Kewajiban Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit 2011

Ulil Kholili, Pengenalan Ilmu Rekam Medis Pada Masyarakat Serta Kewajiban Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit 2011 Pengenalan Ilmu Rekam Medis Pada Masyarakat Serta Kewajiban Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit Introduction to Medical Records In Community Health Workers And Liabilities at hospital Ulil Kholili*. *Staf

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 269/Menkes/Per/III/2008 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. 269/Menkes/Per/III/2008 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sarana pelayanan kesehatan menurut Permenkes Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan yang dapat digunakan untuk praktik

Lebih terperinci

2 Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28H ayat (1), dan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetuju

2 Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28H ayat (1), dan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetuju LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.185, 2014 KESEHATAN. Jiwa. Kesehatan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5571) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rumah Sakit 1. Pengertian Rumah Sakit Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan

Lebih terperinci

PENGARUH SIKAP PETUGAS REKAM MEDIS TERHADAP KELENGKAPAN PENGISIAN FORMULIR PEMERIKSAAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM HERNA MEDAN TAHUN 2015

PENGARUH SIKAP PETUGAS REKAM MEDIS TERHADAP KELENGKAPAN PENGISIAN FORMULIR PEMERIKSAAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM HERNA MEDAN TAHUN 2015 PENGARUH SIKAP PETUGAS REKAM MEDIS TERHADAP KELENGKAPAN PENGISIAN FORMULIR PEMERIKSAAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM HERNA MEDAN TAHUN 2015 FITRIYANI LUBIS ABSTRAK Kelengkapan rawat inap adalah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR : 13 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MALINGPING

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR : 13 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MALINGPING PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR : 13 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MALINGPING DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang : a. bahwa hak

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1. PENDAHULUAN Pada BAB 1 tercakup pembahasan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan pembahasan, ruang lingkup kajian, sumber data, dan sistematika penyajian dalam laporan. Perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. harus dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan sehingga mencapai

BAB I PENDAHULUAN. harus dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan sehingga mencapai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan Indonesia telah diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat

Lebih terperinci

Panduan Penggunaan Aplikasi e Health (e Puskesmas)

Panduan Penggunaan Aplikasi e Health (e Puskesmas) 2010 Panduan Penggunaan Aplikasi e Health (e Puskesmas) Direktorat e Business Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI PETUNJUK OPERASIONAL PETUGAS PENDAFTARAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manajemen pada hakekatnya adalah proses pengambilan keputusan dalam. kemampuan manajemen menggunakan informasi tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. Manajemen pada hakekatnya adalah proses pengambilan keputusan dalam. kemampuan manajemen menggunakan informasi tersebut. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manajemen Rumah Sakit pada dasarnya terdiri atas manajemen medis / profesi yang berupa pengelolaan pelayanan medis dan manajemen non medis yang berupa pengelolaan

Lebih terperinci

ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH

ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG REKAM MEDIS DAN DOKUMENTASI KEPERAWATAN DENGAN KELENGKAPAN PENCATATAN DOKUMENTASI KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT MULIA HATI WONOGIRI ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH Untuk

Lebih terperinci

Dyah Ernawati 1, Eni Mahawati Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang 50131

Dyah Ernawati 1, Eni Mahawati Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang 50131 PAPER 12 Peran Tenaga Medis dan Koder dalam Mewujudkan Kelengkapan Data dan Akurasi Klaim INA-CBG s (Studi Kasus Sectio Cesaria Pasien Jamkesmas di RSU Kota Semarang) Dyah Ernawati 1, Eni Mahawati 2 1

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 14 TAHUN 2009 T E N T A N G RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKOHARJO,

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. kinerja sumber daya manusia tepatnya pada staf medis fungsional di. Instalasi Gawat Darurat adalah berupa uraian pembagian tugas (job

BAB V PENUTUP. kinerja sumber daya manusia tepatnya pada staf medis fungsional di. Instalasi Gawat Darurat adalah berupa uraian pembagian tugas (job 234 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Dari analisis data maka dapat di simpulkan bahwa beban kerja dan kualitas kinerja sumber daya manusia tepatnya pada staf medis fungsional di Instalasi Gawat Darurat adalah

Lebih terperinci