BAB I PENDAHULUAN. Kesadaran masyarakat Indonesia dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat telah pula meningkatkan tuntutan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. Kesadaran masyarakat Indonesia dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat telah pula meningkatkan tuntutan"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang. Kesadaran masyarakat Indonesia dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat telah pula meningkatkan tuntutan mendapatkan pelayanan yang lebih baik, sebagai hak warga negara, sebaliknya aparatur pemerintah berkewajiban memberikan pelayanan, karena untuk itulah negara ini ada. Dengan perkataan lain peningkatan kesejateraan masyarakat merupakan raiso d etre, Negara dan Pemeirintah, karena itu aparat penyelenggara pelayanan yang bertanggung jawab, wajib melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan, sekaligus memberi jaminan dan kepastian bahwa pejabat tata usaha negara akan memberikan pelayanan yang diperlukan kepada masyarakat. Salah satu segi pelayanan oleh Pemerintah adalah layanan bidang kesehatan, hal ini dikarenakan kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Pengelolaan kesehatan diarahkan untuk mempertinggi derajat kesehatan, yang besar artinya bagi pembinaan sumber daya manusia Indonesia dan sebagai modal bagi pelaksanaan pembangunan nasional. Pengelolaan kesehatan hakekatnya menyangkut semua segi kehidupan baik fisik, mental maupun sosial ekonomi, dan dalam bidang 1

2 kesehatan telah terjadi perubahan orientasi, baik tata nilai maupun pemikiran, terutama upaya pemecahan masalah dibidang kesehatan yang dipengaruhi oleh politik, ekonomi, social dan budaya, pertahanan dan keamanan serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan orientasi tersebut akan mempengaruhi proses penyelenggaraan pengelolaan kesehatan. Disamping hal tersebut dalam pengelolaan kesehatan perlu diperhatikan jumlah penduduk yang terdiri dari berbagai suku dan adat istiadat, menghuni ribuan pulau yang terpencar dengan keadaan penduduk, keadaan ekonomi, keadaan pendidikan, keadaan lingkungan serta keadaan perilaku masyarakat. Penjelasan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, secara tegas menyebutkan bahwa Upaya kesehatan yang semula dititik beratkan pada upaya penyembuhan penderita, secara bersangsur-angsur berkembang ke arah keterpaduan kesehatan yang menyangkut upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) harus dilaksanakan secara bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat. Berkenaan dengan itu peningkatan pelayanan kesehatan melalui perspektif hukum, diwujudkan dengan melengkapi perangkat hukum, sebagai landasan atau arah pengelolaan kesehatan yang saat ini ditengarai dengan, pertama Perubahan orientasi publik, kedua, peningkatan kesadaran mengenai arti kesehatan, ketiga, Negara dihadapkan suatu kenyataan untuk 2

3 melayani warga Negara yang menghuni di ribuan pulau yang tersebar dan kekurangan fasilitas kesehatan. Ditinjau dari aspek penyediaan peraturan perundang-undangan, pengelolaan hukum kesehatan, dapat dikatakan telah mencukupi, namun dalam kenyataan praktek, dan bervariasinya kasus kesehatan, tampak masih adanya celah kekosongan. Kompilasi hukum yang mendiskripsikan peraturan perundangundangan bidang Kesehatan, dimaksud untuk menjawab pertanyaan akademis, mengapa kasus-kasus di bidang kesehatan masih senantiasa terjadi padahal penyediaan perangkat peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan telah disediakan dan di sempurnakan dari tahun ke tahun mengikuti perubahan dan dinamika masyarakat. Guna memberikan gambaran yang konkrit, kompilasi ini berusaha untuk menghadapkan antara ketersediaan peraturan perundang-undangan dengan kenyataan yang terjadi dalam praktek. Sejauhmana perangkat lunak tersebut mampu menampung aspirasi publik yang bermaksud memperoleh layanan publik di bidang kesehatan, Mengingat luasnya cakupan dan tingkat kesadaran rakyat mengenai arti kesehatan, kompilasi ini memfokuskan bahasan, pada a). Ketentuan Peraturan Perundang-undangan mengenai kerumahsakitan b). Pelayanan kerumahsakitan terhadap masyarakat miskin c) Publik yang membutuhkan layanan kesehatan, berdomisili di wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. 3

4 Pemilihan wilayah Daerah Khusus Ibu kota Jakarta didasarkan pada anggapan bahwa kondisi kondisi itu akan mampu merefleksikan kenyataan praktek, mengingat sifat heterogenitas masyarakat dan tingkat kelayakan kehidupan masyarakat. Selain mengedepankan wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta juga akan diuraikan beberapa kasus dari daerah sekitar atau perbatasan dengan Jakarta, dan daerah lain yang memiliki criteria yang sama. Persoalan yang mengemuka adalah adanya suatu kenyataan bahwa dinamika masyarakat tidak selalu dapat diantisipasi dengan penyediaan perangkat peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, perlunya di kaji kembali metode relasi pengaturan di bidang Kesehatan yang saat ini telah diterapkan. 2. Maksud dan Tujuan. Maksud kompilasi ini adalah untuk mendiskripsikan problema peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan dalam penerapannya dan sejauhmana telah dapat memenuhi kebutuhan publik. Untuk itu, kegiatan kompilasi dilakukan melalui pengumpulan peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan pelayanan dan pengelolaan Kesehatan, khususnya di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan dihadapkan pada kenyataan praktek. Oleh karena itu, tujuan dari kompilasi ini adalah memperoleh suatu kumpulan berbagai peraturan perundang-undangan yang dapat digunakan sebagai pedoman bagi masyarakat, pengguna hukum.yang berkaitan 4

5 dengan pelayanan publik di bidang kesehatan sebagai salah satu fungsi utama Pemerintah Daerah. 3. Ruang Lingkup. Cakupan kompilasi ini dibatasi pada pelayanan publik dibidang kesehatan, termasuk didalamnya kebijakan Pemerintah Daerah Khusus Ibu kota tentang pengaturan retribusi kesehatan. D. Metodologi Kompilasi Berangkat dari makna secara etimologi, yang oleh Black Law Dictionary diartikan bahwa Compilation adalah: bringing togher of preexisting statutes in the form in which they were enected, with the removal of section which have been repeated and the substitution of amandement in an arrangement designed to facilitate their use. A literary production composed of the works or selected extracts of other and arranged methodical manner. Kompilasi ini dilakukan melalui pengumpulan Peraturan Perundangundangan, Peraturan Menteri, ada surat edaran Menteri, yang khusus mengatur hal-hal di bidang Kerumahsakitan, sebagai upaya memberikan gambaran pengelolaan kesehatan khususnya kerumahsakitan. Pemilihan peraturan perunang-undangan yang dikumpulkan tersebut, menggunakan bahan, literatur hasil penelitian, kajian, analisa dan evaluasi hukum di bidang pelayanan publik, sebagai parameternya. Hasil pengumpulan bahan dimaksud diintegrasikan dengan berbagai kebijakan 5

6 dan pengaturan yang khusus, bermaksud memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat miskin yang menggunakan jasa rumah sakit. Untuk mengetahui sejauhmana peranan Pemerintah Daerah, khususnya Pemerintah Propinsi Daerah Khusus IbuKota Jakarta, memberikan layanan kesehatan bagi golongan masyarakat miskin di Rumah Sakit, Kompilasi ini dilengkapi dengan berbagai evaluasi terhadap Kebijakan Pemerintah Provinsi mengatur besarnya retribusi 5. Jadual Kegiatan. Januari Maret, Persiapan/Penyusunan Proposal April Mei, Inventarisasi Bahan, pembahasan Proposal Juni Juli, Diskusi, Pembagian tugas Agustus September, pengumpulan tugas-tugas tim-diskusi lanjutan. Oktober Nopember, Penyusunan Laporan akhir Desember - Penyerahan Laporan akhir. 6. Susunan Persoanlia. Ketua Sekretaris Anggota : Nurmadjito, S.H.,M.H. : Dra. Diana Yusyanti, MH. : 1. Brian A. Prastyo, S.H. 2.Km Jauhhari, S.H. 3. Indah Harlina, S.H.,M.H 4. Rianti Anggraini, S.H.MARS. 5. Andriani, S.H. 6

7 6. Drs. Sularto, S.H. 7. Yunan Hilmy, S.H.,M.H. 8. Bungasan Hutapea, S.H. Asisten : 1. Drs. Seniman 2. Dadang Iskandar, S.Sos Pengetik : 1. Edi Wikarta 2. Tri Sadewo Y.. 7

8 BAB II GAMBARAN UMUM PELAYANAN PUBLIK PEMERINTAH 1. Dimensi Pelayanan Publik Amanat Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan: Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum yang layak, hakekatnya menegaskan tujuan Negara Republik Indonesia sebagaimana Pembukaan Undangundang Dasar Tahun 1945 bahwa penyelenggaraan negara dan pemerintahan semata-mata menciptakan masyarakat sejahtera (social welfare), adil dan makmur secara sosial, ekonomi, politik dan budaya. Tujuan tersebut harus dilaksanakan secara komprehensif melalui suatu penataan tugas dan kewenangan aparatur, dan hubungan hukum antar warga negara dengan pemerintah. Salah satu upaya pencapaian tujuan negara adalah menetapkan Pelayanan publik sebagai salah satu fungsi utama Pemerintah. Pelayanan publik dari perspektif politik dimaksudkan menjadi salah satu alasan sekaligus tujuan dibentuknya negara, sekaligus merupakan refleksi dari pelaksanaan peran negara melayani warga negara berdasarkan kontrak sosial (social contract) pembentukan negara. Peran negara dalam pelayanan publik dilaksanakan oleh suatu pemerintahan yang dijalankan oleh kekuatan politik yang berkuasa. Sehingga parameter aspiratif atau tidaknya 8

9 kekuatan politik dalam meraih dukungan masyarakat didasarkan pada komitmen dan pelaksanaan komitmen kekuatan politik tersebut dalam hal Pelayanan publilk. Dari perspektif sosial budaya, pelayanan publik merupakan sarana pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat demi mencapai kesejahteraan sosial yang di dalam pelaksanaannya penuh dengan nilai-nilai, sistem kepercayaan, dan bahkan unsur religi yang merupakan refleksi dari kebudayaan dan kearifan lokal yang berlaku. Dari sisi ini, pelayanan publik tidak hanya penting dari segi kualitas material, seperti ketetapan waktu, melainkan tingkat penyesuaian aparat pelayanan dengan sistem sosial budaya yang berlangsung di tempat melakukan pelayanan. Aspek yang dipuaskan bukan hanya lahir, termasuk bathin masyarakat, sehingga masyarakat makin memberikan kepercayaan kepada pemerintah. Pelayanan publik ditinjau dari dimensi ekonomi, dimaksudkan bahwa penyediaan pelayanan publik yang diharuskan dilakukan oleh pemerintah dikarenakan sektor swasta tidak bersedia memproduksi pelayanan tersebut sebagai akibat adanya kegagalan pasar (market failure) atau karena secara alamiah (natural), pelayanan tersebut harus disediakan secara eksklusif oleh negara. Dari sisi hukum, pelayanan publik merupakan suatu ketentuan konstitusi yang wajib diberikan oleh pemerintah guna memenuhi hakhak warga negara dan atau penduduk atas suatu pelayanan. Maknanya, tidak adanya suatu kewajiban dari pemerintah untuk memberikan layanan publik selama hal itu tidak dicantumkan dalam 9

10 ketentuan hukum, atau, sebaliknya tidak ada hak dari warga negara atau penduduk untuk menuntut suatu pelayanan dari pemerintah selama alas hak itu tidak tercantum dalam suatu aturan hukum. Dari berbagai dimensi tersebut, Pelayanan Publik dimaksud kan sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat; baik atas pengadaan barang, jasa maupun atas informasi yang diperlukan masyarakat. Tegaknya sistem pemerintahan sangat ditentukan oleh ada tidaknya pelayanan yang memenuhi kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Itu sebabnya Undang-Undang Dasar Tahun 1945 mengamanatkan kewajiban kepada pemerintah untuk memberikan kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat, karena Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 secara tegas menyatakan bahwa tujuan didirikan Negara Republik Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan bangsa. 2. Penyelenggaraan Pelayanan Publik oleh Negara Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat telah pula meningkatkan tuntutan mendapatkan pelayanan yang lebih baik, karena hal ini merupakan hak warga negara. Sebaliknya aparatur pemerintah berkewajiban memberikan pelayanan, karena untuk itulah negara didirikan. Dengan lain perkataan: peningkatan kesejahteraan masyarakat merupakan raison d'entre negara dan pemerintah. Karena itu aparat penyelenggara pelayanan yang bertanggung jawab, wajib melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan yang 10

11 telah ditetapkan, sekaligus memberi jaminan dan kepastian bahwa pejabat tata usaha negara akan memberikan pelayanan yang diperlukan kepada masyarakat. Pada umumnya, pelayanan publik harus diberikan oleh badan/pejabat tata usaha negara untuk dan atas nama Pemerintah/Lembaga Negara di Pusat dan Daerah, sangat luas ruang lingkupnya, antara lain meliputi kewenangan pemberian izin, sertifikat (tanda bukti), penyediaan barang atau jasa, dan pemberian informasi yang berkaitan dengan seluruh bidang pemerintahan. Dengan demikian, instansi pemerintah mempunyai kewajiban melayani masyarakat yang diperlukan. Pelayanan publik atau dalam artian pemenuhan tanggungjawab pemerintah menyediakan barang atau jasa publik untuk kebutuhan rakyat awalnya menjadi tuntutan dan lambat laun menjadikan mekanisme mengkontrol kebijakan pemerintah. Berdasarkan perspektif ini pelayanan publik menjadi tanggung jawab pemerintah dan oleh sebab itu harus memenuhi kriteria bahwa produk tersebut merupakan kebutuhan setiap orang atau masyarakat dalam kondisi tertentu dan atau sifatnya sedemikian rupa, sehingga: a. Apabila penyediaan dilakukan oleh swasta dapat menimbulkan ketidakadilan; b. ketidakbersediaan swasta dikarenakan tidak menguntungkan/ tidak memberikan benefit, atau terjadi kegagalan pasar. 11

12 Oleh karena kedudukannya itu, barang publik harus diproduksi secara efisien, efektif, transparan, sehingga biaya atau tarifnya murah, terjangkau oleh publik dan cukup tersedia disetiap saat rakyat membutuhkan. Dari kriteria itu, untuk memahami batasan barang publik, dilakukan dengan cara memasuki ruang lingkup publik sektor yang terdiri dari 4 (empa) jenis, yaitu: a. barang publik adalah semua barang atau jasa yang dibutuhkan oleh semua pihak yang tidak diproduksi oleh sektor swasta. b. produksi barang publik mengeksternalisasi pengaruh negatif dalam perhitungan biaya produksi, yang seharusnya dapat diinternalisasi. c. produk barang publik memiliki karakter monopoli secara alamiah yang hanya diproduksi oleh satu produsen. d. pendistribusian barang publik memerlukan intervensi pemerintah guna menghindari ketidakmerataan atau ketidaksetaraan antar individu, daerah, waktu sebagai akibat adanya hukum permintaan dan penawaran. Berdasarkan kriteria itu, peran pemerintah sangat menentukan untuk memaksimalkan kepentingan publik dan indikator keberhasilan menyediakan keperluan publik diukur dari social benefit yang pada gilirannnya akan memperoleh kepercayaan rakyat. Oleh karena itu acuan untuk melakukan pelayanan publik, digunakan hal-hal sebagai berikut: 12

13 a. pelayanan yang efisien, yaitu bekerja berdasarkan prinsip rasionalitas ekonomi seperti meminimumkan biaya; b. integritas dalam pelayanan dengan menghindarkan keterpengaruhan kepentingan pihak lain selain memaksimalkan kepentingan publik; c. pelayanan non-diskriminatif; d. keputusan dan pekerjaan pelayanan yang terakunkan (akuntable); e. keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan yang mampu memberikan alasan rasional dalam hal penyediaan pelayanan; dan f. pelayanan yang costumer oriented pada kepentingan publik. 3. Barang Publik: Jasa Publik dan Layanan Civil Berangkat dari kenyataan tersebut, Pelayanan Publik terkait dengan out put yaitu barang publik, dan barang publik ditengarai dalam dua jenis, yaitu, layanan civil, dan jasa publik, sebagai berikut: a. Layanan civil Layanan civil dikenal sebagai produk yang tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan, namun lebih dari itu yaitu sebagai pemenuhan hak warga negara. Produk ini sangat berlainan dengan jasa publik, karena layanan civil merupakan hak bagi setiap warga negara tanpa harus dibebani atau suatu kewajiban apapun. Bagi Indonesia, layanan civil yang wajib dilaksanakan pemerintah berdasarkan ketentuan konstitusi yang tercantum dalam pasal 26, 27, 28, 28A, 29, 31 dan 34 Undang-undang Dasar layanan civil 13

14 yang diatur adalah: (a) pengakuan sebagai warga negara; (b), pengakuan kedudukan di depan hukum; (c) memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak; (d). kemerdekaan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat; (e), kebebasan memilih keyakinan hidup dan memeluk agama; (f) memperoleh pengajaran; dan (g) memperoleh pemeliharaan sebagai fakir miskin dan anak terlantar. Layanan civil dilaksanakan oleh setiap unit kerja yang menjadi kewajiban pemerintah. Provider layanan civil adalah setiap unit kerja publik (eksekutif, legislatif dan yudikatif), termasuk pihak yang kegiatannya terkait dengan publik. Bentuk atau tampilan dan nilai layanan civil bervariasi seperti: pendirian, sikap, perilaku, ucapan, pidato, alat, cara, sarana yang digunakan, kegiatan, perbuatan dan tuntutan yang dilakukan oleh atau melalui sistem kelembagaan, kelompok dan pelaku pemerintahan. Wujud layanan civil adalah akting pelaku pemerintah. Layanan civii berfungsi mendukung jasa publik. b. Jasa publik. Jasa publik adalah produk untuk memenuhi kepentingan masyarakat seperti air minum, kesehatan, jalan raya, listrik, telekomunikasi dan sebagainya. Proses produksi setiap jasa publik disebut dengan pelayanan umum. Produk ini diproduksi dan diperjualbelikan berdasarkan peraturan, yang meliputi: (a) mutu, (b) harga, (c) pelayanan, (d) distribusi dan (e) ketersediaan saat dibutuhkan. 14

15 Jasa publik senantiasa terkait antara hak dan kewajiban, berbeda halnya dengan layanan civil yang tidak terbebani atau tidak terkait dengan kewajiban apapun. Setiap pihak yang memerlukan jasa publik harus membayar sesuai dengan besaran kebutuhan yang diperlukan. Namun transaksi demikian berbeda halnya dengan transaksi antara konsumen dan produsen swasta. Jasa publik sebagai bagian dari kewajiban pemerintah untuk menyediakannya, harus senantiasa memberikan pengaturan agar terhindar terjadinya keingkaran janji. Ketidakmampuan atau kegagalan memenuhi kewajiban tersebut akan menimbulkan ketidaksenangan publik atas kinerja pemerintah yang pada gilirannya akan menimbulkan ketidakpercayaan. 4. Asas Umum Penyelenggara Pemerintahan dan Pelayanan Publik Asas umum penyelenggaraan pemerintahan merupakan salah satu pedoman untuk memaksimalkan pelayanan pemerintah dalam pelayanan publik. Penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme harus menjadi tolok ukur yang digunakan mengukur seberapa jauh aparat pemerintah telah menyelenggarakan kewajiban pelayanan publik sebagaimana menjadi harapan seluruh bangsa. Khususnya sejauh mana penyelenggara pemerintahan telah memproduksi barang atau jasa yang diproduksi untuk kepentingan masyarakat secara efisien, efektif, berkualitas, dan cukup tersedia sehingga setiap orang dapat memperolehnya. Demikian pula pemerintah perlu menjamin agar setiap warga negara 15

16 dan penduduk memperoleh pelayanan yang diperlukanmya, sebagaimana diatur Undang-Undang Dasar Tahun Dalam kenyataannya, keluhan masyarakat yang sudah bertahun-tahun diungkapan dan bahkan keluhan dari pejabat Pemerintah sendiri. Aparatur masih menghasilkan kualitas pelayanan yang rendah dan malah terjadi berbagai praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, sebagai akibat peluang dan ineffisiensi dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan. Karena itu upaya perbaikan dan peningkatan kinerja birokrasi harus dilaksanakan secara sistemik dan internal agar dapat diwujudkan pelayanan yang cepat, murah, mudah, adil, pasti, transparan dan tanggung jawab, sehingga semakin meningkatkan kepercayaan dan kesejahteraan masyarakat. Pengaduan maupun keluhan yang disampaikan masyarakat baik melalui media massa maupun langsung kepada unit/kantor pelayanan merupakan indikasi bahwa sistem dan prosedur pelayanan masih belum berjalan dengan baik, sekali pun pemerintah telah mengupayakan berbagai upaya perbaikan. Namun pelayanan yang diberikan masih kurang akomodatif, kurang konsisten, sehingga tidak menjamin kepastian hukum, mengulur-ngulur waktu, dan masih dipungut biaya serta pungutan tidak resmi Kesepuluh Asas Umum Penyelenggara Pemerintahan yang dapat digunakan aparat untuk memberikan pelayanan, sebagai berikut: 16

17 a. Kecermatan dalam mengambil keputusan atau mengatur sesuatu b. Obyektivitas c. Keseimbangan d. Kesamaan (hal-hal yang sama harus diselesaikan sama pula) e. Keadilan f. Pemberian pertimbangan yang jelas dan benar g. Keputusan dan Undang-Undang tidak dapat berlaku surut h. Menumbuhkan/mengandalkan kepercayaan (trust) pada janji (pacta sunt sevanda) i. Menjamin kepastian j. Larangan untuk tidak melampui kewenangan atau menggunakan kewenangan untuk tujuan lain (abuse de droit/ onrechmatige overheidsdaad, detournement de pouvoir). 5. Perubahan Struktur Penyelenggaraan Pelayanan Publik Untuk memperlancar pelayanan umum kepada masyarakat, diperlukan serangkaian tindakan yang sistemik, dimulai dengan perubahan atau modernisasi struktur dan organisasi kelembagaan, perbaikan proses dan prosedur pemberian pelayanan, tenaga aparatur pemberi pelayanan umum, keterbukaan melalui pemberian informasi yang benar, tepat dan jelas, dan sebagainya. 17

18 Pelayanan umum menjadi penting untuk diatur secara jelas dan tegas karena: Pertama, sering menjadi sasaran isu politik. Kedua, telah terbitnya berbagai Undang-Undang sebagai perangkat keras yang mengatur tentang fungsi, tugas dan wewenang serta tanggung jawab setiap instansi pemerintah, dan ketiga untuk meningkatkan kerja profesional para pejabat negara dan pegawai negeri sipil lainnya, juga telah tersedianya berbagai perangkat hukum lunak seperti kode etik dan tata tertib lainnya. Namun, perangkat tersebut tampaknya berfungsi pada tataran memperkuat peran negara dan kurang berorientasi pada terciptanya peningkatan dan akuntabilitas aparatur dalam Pelayanan Umum. Penguatan peran negara melalui peningkatan fungsi birokrasi pemerintahan secara sektoral berdampak pada lahirnya model Pelayanan Umum yang mengecewakan dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, oleh karena itu perlunya suatu pemerintahan yang bersih, didukung oleh sistem politik demokratis, keterbukaan informasi, supremasi hukum, non diskriminatif dan adanyapartisipasi masyarakat dalam proses pembuatan keputusan. 6. Asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan sebagai tolok ukur Beberapa parameter, di samping asas umum penyelenggaraan pemerintahan, dapat menjadi sangat membantu untuk mengurangi berbagai hambatan, baik dari segi kepastian hukum dan sikap sebagian pejabat yang hanya mau dilayani. Juga ternyata karena struktur dan organisasi lembaga pemerintah serta aparat pemerintah 18

19 yang belum cukup profesional belum diperbaiki kinerja pelayanan yang kurang memuaskan masyarakat. Kurangnya orientasi tugas dan fungsi aparat pemerintah; antara lain disebabkan karena tiadanya peraturan hukum yang jelas tentang fungsi dan tugas masing-masing instansi pemerintah, tetapi juga belum adanya panduan yang secara komprehensif memberikan arahan bagi penyelenggara Pelayanan Umum secara menyeluruh. Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 sangat jelas menegaskan kembali tujuan dan tanggung jawab negara bagi pemenuhan kebutuhan dan hak-hak rakyat. Pasal 34, Undfangundang Dasar 1945, menetapkan bahwa negara dituntut menyelenggarakan Pelayanan Umum yang baik tanpa ada diskriminasi sosial, budaya, ekonomi dan politik. Amanat konstitusi sudah seharusnya diterjemahkan dan diuraikan oleh sistem, perangkat, aparat dan budaya politik dari penyelenggara negara itu. Di saat pelaksanaan Pelayanan Umum seharusnya ditingkatkan sesuai dengan harapan publik, Indonesia masih dihadapkan pada berbagai ketimpangan lain, seperti : (1) kesejangan ekonomi antar sektor; (2) ketimpangan penyebaran aset di kalangan swasta; (3) kesejangan antar wilayah; (4) Ketimpangan antar subwilayah; (5) kesenjangan antar golongan sosial ekonomi; (6) kesenjangan pembangunan diri manusia Indonesia; (7) ketimpangan antara desa dan kota; dan (8) ketimpangan dalam menjalankan pemerataan kesejahteraan. Ketidak merataan itu bukan hanya terjadi 19

20 antar sektor, melainkan juga disebabkan oleh sedikitnya perhatian Pemerintah pada penyelenggara Pelayanan Umum itu sendiri. Penurunan kualitas Pelayanan Umum di satu sisi dan di sisi lain pemerintahan berkewajiban mewujudkan peningkatan penyelenggaraan Pelayanan Umum karena merupakan kewajiban utama Pemerintah untuk menggerakkan perekonomian nasional. 7. Penyelenggaraan Pelayanan Publik oleh Pemerintahan Daerah Kebijakan politik memberikan otonomi kepada daerah ditandai dengan pemberian wewenang kepada Pemerintahan Daerah melaksanakan urusan pemerintahan, yang dilakukan oleh Pemerintah Propinsi, Kabupaten dan Kota. Kebijakan tersebut, sejak awal kemerdekaan telah diamanatkan, namun demikian belum dilaksanakan sepenuhnya dan setelah reformasi politik terjadi di Indonesia tahun 1999, langkah menyerahkan urusan ke daerah, di tandai dengan diundangkan Undang-undang No 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, selanjutnya diubah dengan Undangundang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undangundang ini diikuti dengan Undang-undang No 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Kebijakan ini merupakan hasil dari kesadaran bahwa model penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat sentral ternyata belum bisa menghasilkan pelayanan publik yang langsung diterima manfaatnya oleh publik. Desentralisasi, dilihat dari sudut pandang pemerintahan daerah, diakui oleh Smith (1985), memiliki nilai, 20

21 pertama, mewujudkan political equality, yakni terbukanya partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas politik di tingkat daerah. Kedua, adanya kemampuan pemerintah daerah dalam memperhatikan hakhak dari masyarakat, local accountability. Ketiga, pemerintah daerah dianggap mengetahui lebih banyak tentang berbagai masalah yang dihadapi oleh warganya, local responsiveness. Menurut Sjarif Hidayat, pelaksanaan desentralisasi diharapkan akan menjadi jalan terbaik untuk mengatasi sekaligus meningkatlkan akselerasi dan pembangunan sosial dan ekonomi daerah. Dari sudut teori, perubahan sistem penyelenggaraan menjadi kebijakan otonomi merupakan antithesis dari sistem ekonomi-poliitk yang sentral. Pelaksanaan otonomi daerah merupakan upaya menjaga keseimbangan kekuatan ekonomi-politik di Indonesia, yaitu kekuasaan ekonomi-politik didistribusikan kepada kekuasaan di daerah. Pelaksanaan kebijakan otonomi mengandung pengertian pendelegasian urusan kepada pemerintah daerah, terutama pemerintah kabupaten dan kota. Dari kebijakan ini, aparat birokrasi daerah dapat memahami dan melayani langsung kebutuhan masyarakat tanpa harus menunggu rantai birokrasi dari pusat. Pemerintah Daerah diberikan peran melayani dan memenuhi kebutuhan masyrakat, seperti ditetapkan dalam undang-undang : Bidang Pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, perhubungan, industri dan 21

22 perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, perumahan, social, koperasi dan tenaga kerja. Ketentuan ini dengan jelas menggambarkan urusan pemerintah daerah yang cukup luas dan selanjutnya menjadi media melayani masyarakat dan mengurusi hal-hal yang selama ini secara tidak langsung dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat. Pelayanan publik yang dilakukan oleh daerah, ditinjau dari sisi sosial budaya dapat diartikan bahwa birokrasi dapat dengan cepat mampu mengetahui kondisi dan kebutuhan masyarakat melalui pemahaman sosial budaya masyarakat. Karena pelayanan publik tidak bisa dilaksanakan dalam suasana vaccum of cultural and sosial life. Upaya pencapaian maksimal pelaksanaan pelayanan publik sudah seharusnya mendasarkan kepada nilai-nilai, sistem kepercayaan, religi masyarakat dimana pelayanan itu dilakukan. Dimensi ini mewakili seluruh capaian manusia dalam bidang kehidupan sosial dan budaya, sekaligus menciptakan hubungan kausalitas ketika menilai apakah pelayanan publik itu berhasil atau gagal; serta apakah sesuai dengan tuntutan masyarakat Diwujudkannya penyelenggaraan pelayanan publik ke pemerintahan yang terdekat dengan masyarakat menyebabkan munculnya keinginan untuk membangkitkan identitas kultural dalam skala paling mikro pada level daerah. Ketika modernisasi memunculkan urbanisasi dan peralihan identitas kultural, desentralisasi disambut dengan penggalian identitas kulural daerah. 22

23 Persoalannya apakah pemerintah daerah mampu membiayai pelayanan publik, sebab pelayanan publik tidak bisa dilepaskan dari tenaga kerja, sarana, teknologi, sampai biaya langsung yang digunakan. Pembiayaan ini tidak bias sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Pelayanan bukanlah sesuatu yang dilakukan secara gratis, masalahnya kemudian, seberapa besar perimbangan antara kualitas pelayanan yang didapatkan dengan biaya yang diberikan. Fasiltas umum atau fasilitas sosial sebagai salah bentuk pelayanan publik hakekatnya merupakan sarana memperoleh pendapatan daerah, dan warga masyarakat berkepentingan menggunakan. Oleh karena itu kesadaran menjaga fasilitas publik tersebut merupakan hakekat dari pelayanan publik. Kesadaran untuk menjaga fasilitas publik sama pentingnya membangun sosial budaya, dan dari sisi solidaritas sosial, semangat memelihara fasilitas publik melalui kesadaran, antri, tidak saling mendahului, dan memandang bahwa urusan orang lain sama pentingnya dengan urusan diri sendiri, sangat mendukung upaya mendapatkan pelayanan publik yang memuaskan. Pandangan ini hakekatnya menjadi bagian tak terpisahkan dari pelayanan publik, pemerintah yang melakukan pelayanan memerlukan publik yang sadar untuk memelihara fasilitas publik, atau sebaliknya kerusakan fasilitas publik merupakan kerugian bagi masyarakat. Begitu pula publik membutuhkan aparatur pemerintah yang memahami nilai-nilai social budaya ditempat mereka melakukan pelayanan. 23

24 Pendekatan budaya daerah merupakan salah satu upaya membangun standar pelayanan. Publik membutuhkan kenyamanan, keramahan dan kerendah-hatian dari orang-orang yang melayaninya. Sebaliknya publik akan antipati bilamana menemui aparat yang melakukan pelayanan bermuka masam, kasar dan menyebalkan. Publik akan sangat mendukung sebuah pemerintahan yang ramah terhadap kebutuhan publik. Begitu pula sistim religi juga mendapatkan kekhususan dalam pelayanan publik. 8. Pelayanan Publik di bidang Kesehatan Sebagaimana ditetapkan dalam tujuan pembentukan negara Republik Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, tujuan membangun masyarakat memperoleh kesehatan, kebahagiaan, toleransi dan kepercayaan merupakan aspek penting dalam pelayanan publik. Kegiatan pembangunan kesehatan masyarakat sebagai landasan menciptakan masyarakat yang sehat dan sejahtera diletakan dalam kerangka yang sistemik dalam penyelenggaraan negara. Ketentuan Undang-Undang Dasar 1945 yang diatur Pasal 34 ayat (3): Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak, merupakan landasan konstitusional dari tanggungjawab pemerintah menyelenggarakan kesehatan bagi seluruh rakyat, sebagai bagian dari pelayanan publik. Atas dasar ketentuan tersebut, dari sejak kemerdekaan, Pemerintah Indonesia senantiasa memiliki Departemen 24

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1173/MENKES/PER/X/2004 TENTANG RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1173/MENKES/PER/X/2004 TENTANG RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1173/MENKES/PER/X/2004 TENTANG RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT I. UMUM Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BINTAN TAHUN 2012 NOMOR 7 SERI D NOMOR 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR : 7 TAHUN 2012 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BINTAN TAHUN 2012 NOMOR 7 SERI D NOMOR 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR : 7 TAHUN 2012 TENTANG 1 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BINTAN TAHUN 2012 NOMOR 7 SERI D NOMOR 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR : 7 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 147/MENKES/PER/I/2010 TENTANG PERIZINAN RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 147/MENKES/PER/I/2010 TENTANG PERIZINAN RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 147/MENKES/PER/I/2010 TENTANG PERIZINAN RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG KLINIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG KLINIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG KLINIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk implementasi pengaturan

Lebih terperinci

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAWANG BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya

Lebih terperinci

C:/Datafile_2002/Undang-2/KepMenKes/Kepmenkes_228_MENKES_SK_III_2002. doc (Sri PC per 8/9/02 1:44 PM)

C:/Datafile_2002/Undang-2/KepMenKes/Kepmenkes_228_MENKES_SK_III_2002. doc (Sri PC per 8/9/02 1:44 PM) KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 228/MENKES/SK/III/2002 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL RUMAH SAKIT YANG WAJIB DILAKSANAKAN DAERAH Menimbang: a. bahwa untuk kemudahan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang

Lebih terperinci

WALIKOTA TANGERANG SELATAN. Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang kesehatan pada. dasarnya ditujukan untuk peningkatan

WALIKOTA TANGERANG SELATAN. Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang kesehatan pada. dasarnya ditujukan untuk peningkatan PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 26 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMBEBASAN RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI UNIT PELAKSANA TEKNIS PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT BAGI PENDUDUK KOTA TANGERANG

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG SALINAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 10 TAHUN 2009 PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 15 TAHUN 2003 IZIN PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PONTIANAK PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG

PEMERINTAH KOTA PONTIANAK PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAH KOTA PONTIANAK PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN DAN SERTIFIKASI BIDANG KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PONTIANAK,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KESEHATAN IBU, BAYI BARU LAHIR DAN ANAK BALITA (KIBBLA) DI KABUPATEN MADIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA STRATEGIS BISNIS DAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SULTAN IMANUDDIN PANGKALAN BUN DENGAN

Lebih terperinci

WALIKOTA BATAM PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 1 TAHUN 2007 TENTANG TARIF PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BATAM

WALIKOTA BATAM PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 1 TAHUN 2007 TENTANG TARIF PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BATAM WALIKOTA BATAM PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 1 TAHUN 2007 TENTANG TARIF PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BATAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BATAM, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 99 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 71 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN PADA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 3 TAHUN 2009 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN IBU, BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN ANAK BALITA (KIBBLA) DI KABUPATEN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG

PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMPANG NOMOR : 3 TAHUN 2009 TENTANG IZIN PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SAMPANG, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SAMARINDA

PEMERINTAH KOTA SAMARINDA PEMERINTAH KOTA SAMARINDA PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 08 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) I. A. MOEIS KOTA SAMARINDA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMENEP NOMOR : 4 TAHUN 2011 TENTANG PELAYANAN PUBLIK DI KABUPATEN SUMENEP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang Mengingat : : BUPATI SUMENEP

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang

Lebih terperinci

GUBERNUR SUMATERA BARAT

GUBERNUR SUMATERA BARAT GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 52 TAHUN 2016 TENTANG PENGATURAN INTERNAL (HOSPITAL BY LAWS) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SOLOK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG KEWAJIBAN RUMAH SAKIT DAN KEWAJIBAN PASIEN

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG KEWAJIBAN RUMAH SAKIT DAN KEWAJIBAN PASIEN PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG KEWAJIBAN RUMAH SAKIT DAN KEWAJIBAN PASIEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pelayanan kesehatan merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BONTANG,

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BONTANG, The linked image cannot be displayed. The file may have been moved, renamed, or deleted. Verify that the link points to the correct file and location. PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 560/MENKES/SK/IV/2003 TENTANG POLA TARIF PERJAN RUMAH SAKIT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 560/MENKES/SK/IV/2003 TENTANG POLA TARIF PERJAN RUMAH SAKIT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 560/MENKES/SK/IV/2003 TENTANG POLA TARIF PERJAN RUMAH SAKIT MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya Rumah Sakit

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH IDI KABUPATEN ACEH TIMUR ATAS RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA, BUPATI ACEH

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT 1 RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEBIDANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEBIDANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEBIDANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pemenuhan pelayanan kesehatan merupakan hak setiap

Lebih terperinci

HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN, PERAWAT, RUMAH SAKIT DASAR HUKUM

HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN, PERAWAT, RUMAH SAKIT DASAR HUKUM HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN, PERAWAT, RUMAH SAKIT DASAR HUKUM 1. UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan 2. PP No. 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan 3. Keputusan Menteri Kesehatan No. 647/Menkes/SK/IV/2000

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DI KABUPATEN BANDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG,

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN JAMINAN KESEHATAN DASAR PENDUDUK KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 48 TAHUN 2008 T E N T A N G TUGAS POKOK DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. DORIS SYLVANUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKAYANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKAYANG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKAYANG, Menimbang Mengingat : : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

BUPATI TRENGGALEK SALINAN PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 51 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI TRENGGALEK SALINAN PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 51 TAHUN 2012 TENTANG BUPATI TRENGGALEK SALINAN PERATURAN BUPATI TRENGGALEK NOMOR 51 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN BANTUAN SOSIAL PELAYANAN KESEHATAN BAGI PASIEN DENGAN JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT DAERAH DI RUMAH

Lebih terperinci

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT 1 BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2015 PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2015 PEDOMAN SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 34 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN LANDAK

PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 34 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN LANDAK PERATURAN BUPATI LANDAK NOMOR 34 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN LANDAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANDAK, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI LINGGA PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN LINGGA NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI LINGGA PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN LINGGA NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI LINGGA PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN LINGGA NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN STRUKTUR ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DAIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima

Lebih terperinci

BUPATI MAJENE PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAJENE NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI MAJENE PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAJENE NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG BUPATI MAJENE PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAJENE NOMOR 22 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN MAJENE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) RSUD Ambarawa

KATA PENGANTAR. Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) RSUD Ambarawa KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, taufik, dan karunia Nya, kami dapat menyelesaikan Penyusunan Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi

Lebih terperinci

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA,

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA, WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk menjamin mutu, keamanan dan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk

Lebih terperinci

TAR== BERITA DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2013 PERATURAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PERIZINAN RUMAH SAKIT

TAR== BERITA DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2013 PERATURAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PERIZINAN RUMAH SAKIT NOMOR 20 TAR== BERITA DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2013 PERATURAN BUPATI TANAH DATAR NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PERIZINAN RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANAH DATAR, SERI E

Lebih terperinci

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni 1 MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT Henni Djuhaeni I. Pendahuluan Pelayanan medik khususnya medik spesialistik merupakan salah satu Ciri dari Rumah Sakit yang membedakan antara Rumah Sakit dengan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 38 TAHUN 2013 TENTANG TATA KELOLA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOEDONO PROVINSI JAWA TIMUR

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 38 TAHUN 2013 TENTANG TATA KELOLA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOEDONO PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 38 TAHUN 2013 TENTANG TATA KELOLA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOEDONO PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a bahwa kesehatan merupakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT 2.1. Definisi Rumah Sakit Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan dengan memberdayakan berbagai kesatuan personel terlatih

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 24 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO Menimbang : Mengingat : 1.

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI G S A L I N A N PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEDIRI NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNIT SWADANA (RSUDUS) KABUPATEN KEDIRI

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 99 TAHUN : 2009 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2009

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 99 TAHUN : 2009 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2009 LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 99 TAHUN : 2009 SERI : D PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN IBU, BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN ANAK BALITA (KIBBLA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

WALIKOTA JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KOTA JAMBI

WALIKOTA JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KOTA JAMBI WALIKOTA JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT DI KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA JAMBI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 51 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT KABUPATEN BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM INFORMASI KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM INFORMASI KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM INFORMASI KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI

BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI,

Lebih terperinci

BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN PENERIMAAN RETRIBUSI JASA SARANA DAN JASA PELAYANAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

Lebih terperinci

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR

WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN WALIKOTA SURABAYA PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN KESEHATAN BAGI MASYARAKAT MISKIN YANG DIBIAYAI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM KESEHATAN KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM KESEHATAN KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM KESEHATAN KABUPATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang Mengingat BUPATI KARANGANYAR, : a. Bahwa kesehatan merupakan hak

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU

PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAPUAS HULU NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG PERIZINAN DI BIDANG KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KAPUAS HULU, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN INTERNAL STAF MEDIS (MEDICAL STAFF BY LAWS) RSUD

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN INTERNAL STAF MEDIS (MEDICAL STAFF BY LAWS) RSUD BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN INTERNAL STAF MEDIS (MEDICAL STAFF BY LAWS) RSUD SULTAN IMANUDDIN PANGKALAN BUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT. karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT 2.1 Definisi Rumah Sakit Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SUKAMARA

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SUKAMARA BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SUKAMARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKAMARA Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA PALEMBANG NOMOR 8 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI IZIN SARANA PELAYANAN KESEHATAN SWASTA DI BIDANG MEDIK

PERATURAN DAERAH KOTA PALEMBANG NOMOR 8 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI IZIN SARANA PELAYANAN KESEHATAN SWASTA DI BIDANG MEDIK 1 PERATURAN DAERAH KOTA PALEMBANG NOMOR 8 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI IZIN SARANA PELAYANAN KESEHATAN SWASTA DI BIDANG MEDIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PALEMBANG, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, LAMPIRAN II: Draft VIII Tgl.17-02-2005 Tgl.25-1-2005 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG 1 BUPATI BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BINTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO,

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO, - 1 - PERATURAN BUPATI MOJOKERTO NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RA. BASOENI KABUPATEN MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA 1 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 10 TAHUN 2010 SERI E ------------------------------------------------------------------------- PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 10 TAHUN 2010

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN INDRAGIRI HILIR

PEMERINTAH KABUPATEN INDRAGIRI HILIR PEMERINTAH KABUPATEN INDRAGIRI HILIR RANCANGAN PERATURAN DAERAH INDRAGIRI HILIR NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PURI HUSADA TEMBILAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 36 TAHUN : 2003 SERI : C PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 36 TAHUN 2003 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN TARIP PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM CIBABAT CIMAHI DENGAN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan primer yang dimiliki oleh setiap

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan primer yang dimiliki oleh setiap BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan primer yang dimiliki oleh setiap manusia. Dimana kebutuhan tersebut sangat mutlak untuk dipenuhi. Apabila tidak dipenuhi,

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR: 12 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.122, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Sistem Rujukan. Pelayanan Kesehatan. Perorangan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 001 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN IBU, BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN ANAK BALITA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN IBU, BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN ANAK BALITA PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN IBU, BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN ANAK BALITA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HULU SUNGAI SELATAN, Menimbang :

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT DAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT 2.1 Rumah Sakit

BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT DAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT 2.1 Rumah Sakit BAB II TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT DAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT 2.1 Rumah Sakit 2.1.1 Definisi Rumah Sakit Menurut Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009, rumah sakit adalah Institusi pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEPERAWATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEPERAWATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEPERAWATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk memajukan kesejahteraan umum sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 512/MENKES/PER/IV/2007 TENTANG IZIN PRAKTIK DAN PELAKSANAAN PRAKTIK KEDOKTERAN

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 512/MENKES/PER/IV/2007 TENTANG IZIN PRAKTIK DAN PELAKSANAAN PRAKTIK KEDOKTERAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 512/MENKES/PER/IV/2007 TENTANG IZIN PRAKTIK DAN PELAKSANAAN PRAKTIK KEDOKTERAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksanaan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG : TANGGUNGJAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG : TANGGUNGJAWAB SOSIAL PERUSAHAAN PERATURAN DAERAH KOTA BATAM NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG : TANGGUNGJAWAB SOSIAL PERUSAHAAN SALINAN OLEH : WALIKOTA BATAM NOMOR : 2 TAHUN 2012 TANGGAL : 30 MARET 2012 SUMBER : LD 2012/2; TLD NO. 82 WALIKOTA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara

I. PENDAHULUAN. yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2014 TENTANG TENAGA KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2014 TENTANG TENAGA KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2014 TENTANG TENAGA KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tenaga kesehatan memiliki peranan penting

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 38 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERIAN PELAYANAN KESEHATAN GRATIS BAGI PASIEN TIDAK MAMPU PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANTEN

PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 38 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERIAN PELAYANAN KESEHATAN GRATIS BAGI PASIEN TIDAK MAMPU PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 38 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERIAN PELAYANAN KESEHATAN GRATIS BAGI PASIEN TIDAK MAMPU PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR : 13 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MALINGPING

PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR : 13 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MALINGPING PERATURAN DAERAH PROVINSI BANTEN NOMOR : 13 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MALINGPING DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang : a. bahwa hak

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN, ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT DAERAH PANEMBAHAN SENOPATI KABUPATEN BANTUL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL,

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT, BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH, LEMBAGA TEKNIS DAERAH,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN PADA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN PADA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN PADA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN DI APOTEK INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT ISLAM AMAL SEHAT SRAGEN SKRIPSI

TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN DI APOTEK INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT ISLAM AMAL SEHAT SRAGEN SKRIPSI TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN DI APOTEK INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT ISLAM AMAL SEHAT SRAGEN SKRIPSI Oleh : MUTTI ATUN HAFSAH K 100 050 213 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG BESARNYA BIAYA JASA SARANA DAN BIAYA JASA PELAYANAN PADA PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT

BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG BESARNYA BIAYA JASA SARANA DAN BIAYA JASA PELAYANAN PADA PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG BESARNYA BIAYA JASA SARANA DAN BIAYA JASA PELAYANAN PADA PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TAPIN, Menimbang

Lebih terperinci

TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN DI APOTEK INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SRAGEN SKRIPSI

TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN DI APOTEK INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SRAGEN SKRIPSI TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN DI APOTEK INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SRAGEN SKRIPSI Oleh : MEILINA DYAH EKAWATI K 100 050 204 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG

PEMERINTAH KOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG PEMERINTAH KOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG SUSUNAN, KEDUDUKAN DAN TUGAS POKOK ORGANISASI LEMBAGA TEKNIS DAERAH, BADAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU DAN SATUAN POLISI

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO NOMOR TAHUN 2007 TENTANG PELAYANAN PUBLIK DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JENEPONTO

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 718 TAHUN : 2005 SERI : D PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 12 TAHUN 2005 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SERANG DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR : 14 TAHUN 2003 TENTANG PENYELENGGARAAN SARANA KESEHATAN DI KABUPATEN BANTUL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR : 14 TAHUN 2003 TENTANG PENYELENGGARAAN SARANA KESEHATAN DI KABUPATEN BANTUL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR : 14 TAHUN 2003 TENTANG PENYELENGGARAAN SARANA KESEHATAN DI KABUPATEN BANTUL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL, Menimbang: a. bahwa dalam rangka memberikan

Lebih terperinci

BAB II SISTEM PEMERINTAH DAERAH & PENGUKURAN KINERJA. Daerah. Reformasi tersebut direalisasikan dengan ditetapkannya Undang

BAB II SISTEM PEMERINTAH DAERAH & PENGUKURAN KINERJA. Daerah. Reformasi tersebut direalisasikan dengan ditetapkannya Undang 10 BAB II SISTEM PEMERINTAH DAERAH & PENGUKURAN KINERJA Semenjak krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia, Pemerintah Indonesia melakukan reformasi di bidang Pemerintahan Daerah dan Pengelolaan Keuangan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG IZIN PRAKTIK DOKTER DAN DOKTER GIGI

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG IZIN PRAKTIK DOKTER DAN DOKTER GIGI PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG IZIN PRAKTIK DOKTER DAN DOKTER GIGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci