BAB I PENDAHULUAN. Kesadaran masyarakat Indonesia dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat telah pula meningkatkan tuntutan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. Kesadaran masyarakat Indonesia dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat telah pula meningkatkan tuntutan"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang. Kesadaran masyarakat Indonesia dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat telah pula meningkatkan tuntutan mendapatkan pelayanan yang lebih baik, sebagai hak warga negara, sebaliknya aparatur pemerintah berkewajiban memberikan pelayanan, karena untuk itulah negara ini ada. Dengan perkataan lain peningkatan kesejateraan masyarakat merupakan raiso d etre, Negara dan Pemeirintah, karena itu aparat penyelenggara pelayanan yang bertanggung jawab, wajib melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan, sekaligus memberi jaminan dan kepastian bahwa pejabat tata usaha negara akan memberikan pelayanan yang diperlukan kepada masyarakat. Salah satu segi pelayanan oleh Pemerintah adalah layanan bidang kesehatan, hal ini dikarenakan kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Pengelolaan kesehatan diarahkan untuk mempertinggi derajat kesehatan, yang besar artinya bagi pembinaan sumber daya manusia Indonesia dan sebagai modal bagi pelaksanaan pembangunan nasional. Pengelolaan kesehatan hakekatnya menyangkut semua segi kehidupan baik fisik, mental maupun sosial ekonomi, dan dalam bidang 1

2 kesehatan telah terjadi perubahan orientasi, baik tata nilai maupun pemikiran, terutama upaya pemecahan masalah dibidang kesehatan yang dipengaruhi oleh politik, ekonomi, social dan budaya, pertahanan dan keamanan serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan orientasi tersebut akan mempengaruhi proses penyelenggaraan pengelolaan kesehatan. Disamping hal tersebut dalam pengelolaan kesehatan perlu diperhatikan jumlah penduduk yang terdiri dari berbagai suku dan adat istiadat, menghuni ribuan pulau yang terpencar dengan keadaan penduduk, keadaan ekonomi, keadaan pendidikan, keadaan lingkungan serta keadaan perilaku masyarakat. Penjelasan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, secara tegas menyebutkan bahwa Upaya kesehatan yang semula dititik beratkan pada upaya penyembuhan penderita, secara bersangsur-angsur berkembang ke arah keterpaduan kesehatan yang menyangkut upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) harus dilaksanakan secara bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat. Berkenaan dengan itu peningkatan pelayanan kesehatan melalui perspektif hukum, diwujudkan dengan melengkapi perangkat hukum, sebagai landasan atau arah pengelolaan kesehatan yang saat ini ditengarai dengan, pertama Perubahan orientasi publik, kedua, peningkatan kesadaran mengenai arti kesehatan, ketiga, Negara dihadapkan suatu kenyataan untuk 2

3 melayani warga Negara yang menghuni di ribuan pulau yang tersebar dan kekurangan fasilitas kesehatan. Ditinjau dari aspek penyediaan peraturan perundang-undangan, pengelolaan hukum kesehatan, dapat dikatakan telah mencukupi, namun dalam kenyataan praktek, dan bervariasinya kasus kesehatan, tampak masih adanya celah kekosongan. Kompilasi hukum yang mendiskripsikan peraturan perundangundangan bidang Kesehatan, dimaksud untuk menjawab pertanyaan akademis, mengapa kasus-kasus di bidang kesehatan masih senantiasa terjadi padahal penyediaan perangkat peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan telah disediakan dan di sempurnakan dari tahun ke tahun mengikuti perubahan dan dinamika masyarakat. Guna memberikan gambaran yang konkrit, kompilasi ini berusaha untuk menghadapkan antara ketersediaan peraturan perundang-undangan dengan kenyataan yang terjadi dalam praktek. Sejauhmana perangkat lunak tersebut mampu menampung aspirasi publik yang bermaksud memperoleh layanan publik di bidang kesehatan, Mengingat luasnya cakupan dan tingkat kesadaran rakyat mengenai arti kesehatan, kompilasi ini memfokuskan bahasan, pada a). Ketentuan Peraturan Perundang-undangan mengenai kerumahsakitan b). Pelayanan kerumahsakitan terhadap masyarakat miskin c) Publik yang membutuhkan layanan kesehatan, berdomisili di wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. 3

4 Pemilihan wilayah Daerah Khusus Ibu kota Jakarta didasarkan pada anggapan bahwa kondisi kondisi itu akan mampu merefleksikan kenyataan praktek, mengingat sifat heterogenitas masyarakat dan tingkat kelayakan kehidupan masyarakat. Selain mengedepankan wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta juga akan diuraikan beberapa kasus dari daerah sekitar atau perbatasan dengan Jakarta, dan daerah lain yang memiliki criteria yang sama. Persoalan yang mengemuka adalah adanya suatu kenyataan bahwa dinamika masyarakat tidak selalu dapat diantisipasi dengan penyediaan perangkat peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, perlunya di kaji kembali metode relasi pengaturan di bidang Kesehatan yang saat ini telah diterapkan. 2. Maksud dan Tujuan. Maksud kompilasi ini adalah untuk mendiskripsikan problema peraturan perundang-undangan di bidang kesehatan dalam penerapannya dan sejauhmana telah dapat memenuhi kebutuhan publik. Untuk itu, kegiatan kompilasi dilakukan melalui pengumpulan peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan pelayanan dan pengelolaan Kesehatan, khususnya di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan dihadapkan pada kenyataan praktek. Oleh karena itu, tujuan dari kompilasi ini adalah memperoleh suatu kumpulan berbagai peraturan perundang-undangan yang dapat digunakan sebagai pedoman bagi masyarakat, pengguna hukum.yang berkaitan 4

5 dengan pelayanan publik di bidang kesehatan sebagai salah satu fungsi utama Pemerintah Daerah. 3. Ruang Lingkup. Cakupan kompilasi ini dibatasi pada pelayanan publik dibidang kesehatan, termasuk didalamnya kebijakan Pemerintah Daerah Khusus Ibu kota tentang pengaturan retribusi kesehatan. D. Metodologi Kompilasi Berangkat dari makna secara etimologi, yang oleh Black Law Dictionary diartikan bahwa Compilation adalah: bringing togher of preexisting statutes in the form in which they were enected, with the removal of section which have been repeated and the substitution of amandement in an arrangement designed to facilitate their use. A literary production composed of the works or selected extracts of other and arranged methodical manner. Kompilasi ini dilakukan melalui pengumpulan Peraturan Perundangundangan, Peraturan Menteri, ada surat edaran Menteri, yang khusus mengatur hal-hal di bidang Kerumahsakitan, sebagai upaya memberikan gambaran pengelolaan kesehatan khususnya kerumahsakitan. Pemilihan peraturan perunang-undangan yang dikumpulkan tersebut, menggunakan bahan, literatur hasil penelitian, kajian, analisa dan evaluasi hukum di bidang pelayanan publik, sebagai parameternya. Hasil pengumpulan bahan dimaksud diintegrasikan dengan berbagai kebijakan 5

6 dan pengaturan yang khusus, bermaksud memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat miskin yang menggunakan jasa rumah sakit. Untuk mengetahui sejauhmana peranan Pemerintah Daerah, khususnya Pemerintah Propinsi Daerah Khusus IbuKota Jakarta, memberikan layanan kesehatan bagi golongan masyarakat miskin di Rumah Sakit, Kompilasi ini dilengkapi dengan berbagai evaluasi terhadap Kebijakan Pemerintah Provinsi mengatur besarnya retribusi 5. Jadual Kegiatan. Januari Maret, Persiapan/Penyusunan Proposal April Mei, Inventarisasi Bahan, pembahasan Proposal Juni Juli, Diskusi, Pembagian tugas Agustus September, pengumpulan tugas-tugas tim-diskusi lanjutan. Oktober Nopember, Penyusunan Laporan akhir Desember - Penyerahan Laporan akhir. 6. Susunan Persoanlia. Ketua Sekretaris Anggota : Nurmadjito, S.H.,M.H. : Dra. Diana Yusyanti, MH. : 1. Brian A. Prastyo, S.H. 2.Km Jauhhari, S.H. 3. Indah Harlina, S.H.,M.H 4. Rianti Anggraini, S.H.MARS. 5. Andriani, S.H. 6

7 6. Drs. Sularto, S.H. 7. Yunan Hilmy, S.H.,M.H. 8. Bungasan Hutapea, S.H. Asisten : 1. Drs. Seniman 2. Dadang Iskandar, S.Sos Pengetik : 1. Edi Wikarta 2. Tri Sadewo Y.. 7

8 BAB II GAMBARAN UMUM PELAYANAN PUBLIK PEMERINTAH 1. Dimensi Pelayanan Publik Amanat Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan: Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum yang layak, hakekatnya menegaskan tujuan Negara Republik Indonesia sebagaimana Pembukaan Undangundang Dasar Tahun 1945 bahwa penyelenggaraan negara dan pemerintahan semata-mata menciptakan masyarakat sejahtera (social welfare), adil dan makmur secara sosial, ekonomi, politik dan budaya. Tujuan tersebut harus dilaksanakan secara komprehensif melalui suatu penataan tugas dan kewenangan aparatur, dan hubungan hukum antar warga negara dengan pemerintah. Salah satu upaya pencapaian tujuan negara adalah menetapkan Pelayanan publik sebagai salah satu fungsi utama Pemerintah. Pelayanan publik dari perspektif politik dimaksudkan menjadi salah satu alasan sekaligus tujuan dibentuknya negara, sekaligus merupakan refleksi dari pelaksanaan peran negara melayani warga negara berdasarkan kontrak sosial (social contract) pembentukan negara. Peran negara dalam pelayanan publik dilaksanakan oleh suatu pemerintahan yang dijalankan oleh kekuatan politik yang berkuasa. Sehingga parameter aspiratif atau tidaknya 8

9 kekuatan politik dalam meraih dukungan masyarakat didasarkan pada komitmen dan pelaksanaan komitmen kekuatan politik tersebut dalam hal Pelayanan publilk. Dari perspektif sosial budaya, pelayanan publik merupakan sarana pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat demi mencapai kesejahteraan sosial yang di dalam pelaksanaannya penuh dengan nilai-nilai, sistem kepercayaan, dan bahkan unsur religi yang merupakan refleksi dari kebudayaan dan kearifan lokal yang berlaku. Dari sisi ini, pelayanan publik tidak hanya penting dari segi kualitas material, seperti ketetapan waktu, melainkan tingkat penyesuaian aparat pelayanan dengan sistem sosial budaya yang berlangsung di tempat melakukan pelayanan. Aspek yang dipuaskan bukan hanya lahir, termasuk bathin masyarakat, sehingga masyarakat makin memberikan kepercayaan kepada pemerintah. Pelayanan publik ditinjau dari dimensi ekonomi, dimaksudkan bahwa penyediaan pelayanan publik yang diharuskan dilakukan oleh pemerintah dikarenakan sektor swasta tidak bersedia memproduksi pelayanan tersebut sebagai akibat adanya kegagalan pasar (market failure) atau karena secara alamiah (natural), pelayanan tersebut harus disediakan secara eksklusif oleh negara. Dari sisi hukum, pelayanan publik merupakan suatu ketentuan konstitusi yang wajib diberikan oleh pemerintah guna memenuhi hakhak warga negara dan atau penduduk atas suatu pelayanan. Maknanya, tidak adanya suatu kewajiban dari pemerintah untuk memberikan layanan publik selama hal itu tidak dicantumkan dalam 9

10 ketentuan hukum, atau, sebaliknya tidak ada hak dari warga negara atau penduduk untuk menuntut suatu pelayanan dari pemerintah selama alas hak itu tidak tercantum dalam suatu aturan hukum. Dari berbagai dimensi tersebut, Pelayanan Publik dimaksud kan sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat; baik atas pengadaan barang, jasa maupun atas informasi yang diperlukan masyarakat. Tegaknya sistem pemerintahan sangat ditentukan oleh ada tidaknya pelayanan yang memenuhi kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Itu sebabnya Undang-Undang Dasar Tahun 1945 mengamanatkan kewajiban kepada pemerintah untuk memberikan kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat, karena Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 secara tegas menyatakan bahwa tujuan didirikan Negara Republik Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan bangsa. 2. Penyelenggaraan Pelayanan Publik oleh Negara Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat telah pula meningkatkan tuntutan mendapatkan pelayanan yang lebih baik, karena hal ini merupakan hak warga negara. Sebaliknya aparatur pemerintah berkewajiban memberikan pelayanan, karena untuk itulah negara didirikan. Dengan lain perkataan: peningkatan kesejahteraan masyarakat merupakan raison d'entre negara dan pemerintah. Karena itu aparat penyelenggara pelayanan yang bertanggung jawab, wajib melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan yang 10

11 telah ditetapkan, sekaligus memberi jaminan dan kepastian bahwa pejabat tata usaha negara akan memberikan pelayanan yang diperlukan kepada masyarakat. Pada umumnya, pelayanan publik harus diberikan oleh badan/pejabat tata usaha negara untuk dan atas nama Pemerintah/Lembaga Negara di Pusat dan Daerah, sangat luas ruang lingkupnya, antara lain meliputi kewenangan pemberian izin, sertifikat (tanda bukti), penyediaan barang atau jasa, dan pemberian informasi yang berkaitan dengan seluruh bidang pemerintahan. Dengan demikian, instansi pemerintah mempunyai kewajiban melayani masyarakat yang diperlukan. Pelayanan publik atau dalam artian pemenuhan tanggungjawab pemerintah menyediakan barang atau jasa publik untuk kebutuhan rakyat awalnya menjadi tuntutan dan lambat laun menjadikan mekanisme mengkontrol kebijakan pemerintah. Berdasarkan perspektif ini pelayanan publik menjadi tanggung jawab pemerintah dan oleh sebab itu harus memenuhi kriteria bahwa produk tersebut merupakan kebutuhan setiap orang atau masyarakat dalam kondisi tertentu dan atau sifatnya sedemikian rupa, sehingga: a. Apabila penyediaan dilakukan oleh swasta dapat menimbulkan ketidakadilan; b. ketidakbersediaan swasta dikarenakan tidak menguntungkan/ tidak memberikan benefit, atau terjadi kegagalan pasar. 11

12 Oleh karena kedudukannya itu, barang publik harus diproduksi secara efisien, efektif, transparan, sehingga biaya atau tarifnya murah, terjangkau oleh publik dan cukup tersedia disetiap saat rakyat membutuhkan. Dari kriteria itu, untuk memahami batasan barang publik, dilakukan dengan cara memasuki ruang lingkup publik sektor yang terdiri dari 4 (empa) jenis, yaitu: a. barang publik adalah semua barang atau jasa yang dibutuhkan oleh semua pihak yang tidak diproduksi oleh sektor swasta. b. produksi barang publik mengeksternalisasi pengaruh negatif dalam perhitungan biaya produksi, yang seharusnya dapat diinternalisasi. c. produk barang publik memiliki karakter monopoli secara alamiah yang hanya diproduksi oleh satu produsen. d. pendistribusian barang publik memerlukan intervensi pemerintah guna menghindari ketidakmerataan atau ketidaksetaraan antar individu, daerah, waktu sebagai akibat adanya hukum permintaan dan penawaran. Berdasarkan kriteria itu, peran pemerintah sangat menentukan untuk memaksimalkan kepentingan publik dan indikator keberhasilan menyediakan keperluan publik diukur dari social benefit yang pada gilirannnya akan memperoleh kepercayaan rakyat. Oleh karena itu acuan untuk melakukan pelayanan publik, digunakan hal-hal sebagai berikut: 12

13 a. pelayanan yang efisien, yaitu bekerja berdasarkan prinsip rasionalitas ekonomi seperti meminimumkan biaya; b. integritas dalam pelayanan dengan menghindarkan keterpengaruhan kepentingan pihak lain selain memaksimalkan kepentingan publik; c. pelayanan non-diskriminatif; d. keputusan dan pekerjaan pelayanan yang terakunkan (akuntable); e. keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan yang mampu memberikan alasan rasional dalam hal penyediaan pelayanan; dan f. pelayanan yang costumer oriented pada kepentingan publik. 3. Barang Publik: Jasa Publik dan Layanan Civil Berangkat dari kenyataan tersebut, Pelayanan Publik terkait dengan out put yaitu barang publik, dan barang publik ditengarai dalam dua jenis, yaitu, layanan civil, dan jasa publik, sebagai berikut: a. Layanan civil Layanan civil dikenal sebagai produk yang tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan, namun lebih dari itu yaitu sebagai pemenuhan hak warga negara. Produk ini sangat berlainan dengan jasa publik, karena layanan civil merupakan hak bagi setiap warga negara tanpa harus dibebani atau suatu kewajiban apapun. Bagi Indonesia, layanan civil yang wajib dilaksanakan pemerintah berdasarkan ketentuan konstitusi yang tercantum dalam pasal 26, 27, 28, 28A, 29, 31 dan 34 Undang-undang Dasar layanan civil 13

14 yang diatur adalah: (a) pengakuan sebagai warga negara; (b), pengakuan kedudukan di depan hukum; (c) memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak; (d). kemerdekaan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat; (e), kebebasan memilih keyakinan hidup dan memeluk agama; (f) memperoleh pengajaran; dan (g) memperoleh pemeliharaan sebagai fakir miskin dan anak terlantar. Layanan civil dilaksanakan oleh setiap unit kerja yang menjadi kewajiban pemerintah. Provider layanan civil adalah setiap unit kerja publik (eksekutif, legislatif dan yudikatif), termasuk pihak yang kegiatannya terkait dengan publik. Bentuk atau tampilan dan nilai layanan civil bervariasi seperti: pendirian, sikap, perilaku, ucapan, pidato, alat, cara, sarana yang digunakan, kegiatan, perbuatan dan tuntutan yang dilakukan oleh atau melalui sistem kelembagaan, kelompok dan pelaku pemerintahan. Wujud layanan civil adalah akting pelaku pemerintah. Layanan civii berfungsi mendukung jasa publik. b. Jasa publik. Jasa publik adalah produk untuk memenuhi kepentingan masyarakat seperti air minum, kesehatan, jalan raya, listrik, telekomunikasi dan sebagainya. Proses produksi setiap jasa publik disebut dengan pelayanan umum. Produk ini diproduksi dan diperjualbelikan berdasarkan peraturan, yang meliputi: (a) mutu, (b) harga, (c) pelayanan, (d) distribusi dan (e) ketersediaan saat dibutuhkan. 14

15 Jasa publik senantiasa terkait antara hak dan kewajiban, berbeda halnya dengan layanan civil yang tidak terbebani atau tidak terkait dengan kewajiban apapun. Setiap pihak yang memerlukan jasa publik harus membayar sesuai dengan besaran kebutuhan yang diperlukan. Namun transaksi demikian berbeda halnya dengan transaksi antara konsumen dan produsen swasta. Jasa publik sebagai bagian dari kewajiban pemerintah untuk menyediakannya, harus senantiasa memberikan pengaturan agar terhindar terjadinya keingkaran janji. Ketidakmampuan atau kegagalan memenuhi kewajiban tersebut akan menimbulkan ketidaksenangan publik atas kinerja pemerintah yang pada gilirannya akan menimbulkan ketidakpercayaan. 4. Asas Umum Penyelenggara Pemerintahan dan Pelayanan Publik Asas umum penyelenggaraan pemerintahan merupakan salah satu pedoman untuk memaksimalkan pelayanan pemerintah dalam pelayanan publik. Penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme harus menjadi tolok ukur yang digunakan mengukur seberapa jauh aparat pemerintah telah menyelenggarakan kewajiban pelayanan publik sebagaimana menjadi harapan seluruh bangsa. Khususnya sejauh mana penyelenggara pemerintahan telah memproduksi barang atau jasa yang diproduksi untuk kepentingan masyarakat secara efisien, efektif, berkualitas, dan cukup tersedia sehingga setiap orang dapat memperolehnya. Demikian pula pemerintah perlu menjamin agar setiap warga negara 15

16 dan penduduk memperoleh pelayanan yang diperlukanmya, sebagaimana diatur Undang-Undang Dasar Tahun Dalam kenyataannya, keluhan masyarakat yang sudah bertahun-tahun diungkapan dan bahkan keluhan dari pejabat Pemerintah sendiri. Aparatur masih menghasilkan kualitas pelayanan yang rendah dan malah terjadi berbagai praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, sebagai akibat peluang dan ineffisiensi dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan. Karena itu upaya perbaikan dan peningkatan kinerja birokrasi harus dilaksanakan secara sistemik dan internal agar dapat diwujudkan pelayanan yang cepat, murah, mudah, adil, pasti, transparan dan tanggung jawab, sehingga semakin meningkatkan kepercayaan dan kesejahteraan masyarakat. Pengaduan maupun keluhan yang disampaikan masyarakat baik melalui media massa maupun langsung kepada unit/kantor pelayanan merupakan indikasi bahwa sistem dan prosedur pelayanan masih belum berjalan dengan baik, sekali pun pemerintah telah mengupayakan berbagai upaya perbaikan. Namun pelayanan yang diberikan masih kurang akomodatif, kurang konsisten, sehingga tidak menjamin kepastian hukum, mengulur-ngulur waktu, dan masih dipungut biaya serta pungutan tidak resmi Kesepuluh Asas Umum Penyelenggara Pemerintahan yang dapat digunakan aparat untuk memberikan pelayanan, sebagai berikut: 16

17 a. Kecermatan dalam mengambil keputusan atau mengatur sesuatu b. Obyektivitas c. Keseimbangan d. Kesamaan (hal-hal yang sama harus diselesaikan sama pula) e. Keadilan f. Pemberian pertimbangan yang jelas dan benar g. Keputusan dan Undang-Undang tidak dapat berlaku surut h. Menumbuhkan/mengandalkan kepercayaan (trust) pada janji (pacta sunt sevanda) i. Menjamin kepastian j. Larangan untuk tidak melampui kewenangan atau menggunakan kewenangan untuk tujuan lain (abuse de droit/ onrechmatige overheidsdaad, detournement de pouvoir). 5. Perubahan Struktur Penyelenggaraan Pelayanan Publik Untuk memperlancar pelayanan umum kepada masyarakat, diperlukan serangkaian tindakan yang sistemik, dimulai dengan perubahan atau modernisasi struktur dan organisasi kelembagaan, perbaikan proses dan prosedur pemberian pelayanan, tenaga aparatur pemberi pelayanan umum, keterbukaan melalui pemberian informasi yang benar, tepat dan jelas, dan sebagainya. 17

18 Pelayanan umum menjadi penting untuk diatur secara jelas dan tegas karena: Pertama, sering menjadi sasaran isu politik. Kedua, telah terbitnya berbagai Undang-Undang sebagai perangkat keras yang mengatur tentang fungsi, tugas dan wewenang serta tanggung jawab setiap instansi pemerintah, dan ketiga untuk meningkatkan kerja profesional para pejabat negara dan pegawai negeri sipil lainnya, juga telah tersedianya berbagai perangkat hukum lunak seperti kode etik dan tata tertib lainnya. Namun, perangkat tersebut tampaknya berfungsi pada tataran memperkuat peran negara dan kurang berorientasi pada terciptanya peningkatan dan akuntabilitas aparatur dalam Pelayanan Umum. Penguatan peran negara melalui peningkatan fungsi birokrasi pemerintahan secara sektoral berdampak pada lahirnya model Pelayanan Umum yang mengecewakan dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, oleh karena itu perlunya suatu pemerintahan yang bersih, didukung oleh sistem politik demokratis, keterbukaan informasi, supremasi hukum, non diskriminatif dan adanyapartisipasi masyarakat dalam proses pembuatan keputusan. 6. Asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan sebagai tolok ukur Beberapa parameter, di samping asas umum penyelenggaraan pemerintahan, dapat menjadi sangat membantu untuk mengurangi berbagai hambatan, baik dari segi kepastian hukum dan sikap sebagian pejabat yang hanya mau dilayani. Juga ternyata karena struktur dan organisasi lembaga pemerintah serta aparat pemerintah 18

19 yang belum cukup profesional belum diperbaiki kinerja pelayanan yang kurang memuaskan masyarakat. Kurangnya orientasi tugas dan fungsi aparat pemerintah; antara lain disebabkan karena tiadanya peraturan hukum yang jelas tentang fungsi dan tugas masing-masing instansi pemerintah, tetapi juga belum adanya panduan yang secara komprehensif memberikan arahan bagi penyelenggara Pelayanan Umum secara menyeluruh. Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 sangat jelas menegaskan kembali tujuan dan tanggung jawab negara bagi pemenuhan kebutuhan dan hak-hak rakyat. Pasal 34, Undfangundang Dasar 1945, menetapkan bahwa negara dituntut menyelenggarakan Pelayanan Umum yang baik tanpa ada diskriminasi sosial, budaya, ekonomi dan politik. Amanat konstitusi sudah seharusnya diterjemahkan dan diuraikan oleh sistem, perangkat, aparat dan budaya politik dari penyelenggara negara itu. Di saat pelaksanaan Pelayanan Umum seharusnya ditingkatkan sesuai dengan harapan publik, Indonesia masih dihadapkan pada berbagai ketimpangan lain, seperti : (1) kesejangan ekonomi antar sektor; (2) ketimpangan penyebaran aset di kalangan swasta; (3) kesejangan antar wilayah; (4) Ketimpangan antar subwilayah; (5) kesenjangan antar golongan sosial ekonomi; (6) kesenjangan pembangunan diri manusia Indonesia; (7) ketimpangan antara desa dan kota; dan (8) ketimpangan dalam menjalankan pemerataan kesejahteraan. Ketidak merataan itu bukan hanya terjadi 19

20 antar sektor, melainkan juga disebabkan oleh sedikitnya perhatian Pemerintah pada penyelenggara Pelayanan Umum itu sendiri. Penurunan kualitas Pelayanan Umum di satu sisi dan di sisi lain pemerintahan berkewajiban mewujudkan peningkatan penyelenggaraan Pelayanan Umum karena merupakan kewajiban utama Pemerintah untuk menggerakkan perekonomian nasional. 7. Penyelenggaraan Pelayanan Publik oleh Pemerintahan Daerah Kebijakan politik memberikan otonomi kepada daerah ditandai dengan pemberian wewenang kepada Pemerintahan Daerah melaksanakan urusan pemerintahan, yang dilakukan oleh Pemerintah Propinsi, Kabupaten dan Kota. Kebijakan tersebut, sejak awal kemerdekaan telah diamanatkan, namun demikian belum dilaksanakan sepenuhnya dan setelah reformasi politik terjadi di Indonesia tahun 1999, langkah menyerahkan urusan ke daerah, di tandai dengan diundangkan Undang-undang No 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, selanjutnya diubah dengan Undangundang No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undangundang ini diikuti dengan Undang-undang No 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Kebijakan ini merupakan hasil dari kesadaran bahwa model penyelenggaraan pemerintahan yang bersifat sentral ternyata belum bisa menghasilkan pelayanan publik yang langsung diterima manfaatnya oleh publik. Desentralisasi, dilihat dari sudut pandang pemerintahan daerah, diakui oleh Smith (1985), memiliki nilai, 20

21 pertama, mewujudkan political equality, yakni terbukanya partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas politik di tingkat daerah. Kedua, adanya kemampuan pemerintah daerah dalam memperhatikan hakhak dari masyarakat, local accountability. Ketiga, pemerintah daerah dianggap mengetahui lebih banyak tentang berbagai masalah yang dihadapi oleh warganya, local responsiveness. Menurut Sjarif Hidayat, pelaksanaan desentralisasi diharapkan akan menjadi jalan terbaik untuk mengatasi sekaligus meningkatlkan akselerasi dan pembangunan sosial dan ekonomi daerah. Dari sudut teori, perubahan sistem penyelenggaraan menjadi kebijakan otonomi merupakan antithesis dari sistem ekonomi-poliitk yang sentral. Pelaksanaan otonomi daerah merupakan upaya menjaga keseimbangan kekuatan ekonomi-politik di Indonesia, yaitu kekuasaan ekonomi-politik didistribusikan kepada kekuasaan di daerah. Pelaksanaan kebijakan otonomi mengandung pengertian pendelegasian urusan kepada pemerintah daerah, terutama pemerintah kabupaten dan kota. Dari kebijakan ini, aparat birokrasi daerah dapat memahami dan melayani langsung kebutuhan masyarakat tanpa harus menunggu rantai birokrasi dari pusat. Pemerintah Daerah diberikan peran melayani dan memenuhi kebutuhan masyrakat, seperti ditetapkan dalam undang-undang : Bidang Pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, perhubungan, industri dan 21

22 perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, perumahan, social, koperasi dan tenaga kerja. Ketentuan ini dengan jelas menggambarkan urusan pemerintah daerah yang cukup luas dan selanjutnya menjadi media melayani masyarakat dan mengurusi hal-hal yang selama ini secara tidak langsung dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat. Pelayanan publik yang dilakukan oleh daerah, ditinjau dari sisi sosial budaya dapat diartikan bahwa birokrasi dapat dengan cepat mampu mengetahui kondisi dan kebutuhan masyarakat melalui pemahaman sosial budaya masyarakat. Karena pelayanan publik tidak bisa dilaksanakan dalam suasana vaccum of cultural and sosial life. Upaya pencapaian maksimal pelaksanaan pelayanan publik sudah seharusnya mendasarkan kepada nilai-nilai, sistem kepercayaan, religi masyarakat dimana pelayanan itu dilakukan. Dimensi ini mewakili seluruh capaian manusia dalam bidang kehidupan sosial dan budaya, sekaligus menciptakan hubungan kausalitas ketika menilai apakah pelayanan publik itu berhasil atau gagal; serta apakah sesuai dengan tuntutan masyarakat Diwujudkannya penyelenggaraan pelayanan publik ke pemerintahan yang terdekat dengan masyarakat menyebabkan munculnya keinginan untuk membangkitkan identitas kultural dalam skala paling mikro pada level daerah. Ketika modernisasi memunculkan urbanisasi dan peralihan identitas kultural, desentralisasi disambut dengan penggalian identitas kulural daerah. 22

23 Persoalannya apakah pemerintah daerah mampu membiayai pelayanan publik, sebab pelayanan publik tidak bisa dilepaskan dari tenaga kerja, sarana, teknologi, sampai biaya langsung yang digunakan. Pembiayaan ini tidak bias sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Pelayanan bukanlah sesuatu yang dilakukan secara gratis, masalahnya kemudian, seberapa besar perimbangan antara kualitas pelayanan yang didapatkan dengan biaya yang diberikan. Fasiltas umum atau fasilitas sosial sebagai salah bentuk pelayanan publik hakekatnya merupakan sarana memperoleh pendapatan daerah, dan warga masyarakat berkepentingan menggunakan. Oleh karena itu kesadaran menjaga fasilitas publik tersebut merupakan hakekat dari pelayanan publik. Kesadaran untuk menjaga fasilitas publik sama pentingnya membangun sosial budaya, dan dari sisi solidaritas sosial, semangat memelihara fasilitas publik melalui kesadaran, antri, tidak saling mendahului, dan memandang bahwa urusan orang lain sama pentingnya dengan urusan diri sendiri, sangat mendukung upaya mendapatkan pelayanan publik yang memuaskan. Pandangan ini hakekatnya menjadi bagian tak terpisahkan dari pelayanan publik, pemerintah yang melakukan pelayanan memerlukan publik yang sadar untuk memelihara fasilitas publik, atau sebaliknya kerusakan fasilitas publik merupakan kerugian bagi masyarakat. Begitu pula publik membutuhkan aparatur pemerintah yang memahami nilai-nilai social budaya ditempat mereka melakukan pelayanan. 23

24 Pendekatan budaya daerah merupakan salah satu upaya membangun standar pelayanan. Publik membutuhkan kenyamanan, keramahan dan kerendah-hatian dari orang-orang yang melayaninya. Sebaliknya publik akan antipati bilamana menemui aparat yang melakukan pelayanan bermuka masam, kasar dan menyebalkan. Publik akan sangat mendukung sebuah pemerintahan yang ramah terhadap kebutuhan publik. Begitu pula sistim religi juga mendapatkan kekhususan dalam pelayanan publik. 8. Pelayanan Publik di bidang Kesehatan Sebagaimana ditetapkan dalam tujuan pembentukan negara Republik Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, tujuan membangun masyarakat memperoleh kesehatan, kebahagiaan, toleransi dan kepercayaan merupakan aspek penting dalam pelayanan publik. Kegiatan pembangunan kesehatan masyarakat sebagai landasan menciptakan masyarakat yang sehat dan sejahtera diletakan dalam kerangka yang sistemik dalam penyelenggaraan negara. Ketentuan Undang-Undang Dasar 1945 yang diatur Pasal 34 ayat (3): Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak, merupakan landasan konstitusional dari tanggungjawab pemerintah menyelenggarakan kesehatan bagi seluruh rakyat, sebagai bagian dari pelayanan publik. Atas dasar ketentuan tersebut, dari sejak kemerdekaan, Pemerintah Indonesia senantiasa memiliki Departemen 24

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAWANG BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA STRATEGIS BISNIS DAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SULTAN IMANUDDIN PANGKALAN BUN DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH IDI KABUPATEN ACEH TIMUR ATAS RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA, BUPATI ACEH

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR: 12 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2014 TENTANG TENAGA KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2014 TENTANG TENAGA KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2014 TENTANG TENAGA KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tenaga kesehatan memiliki peranan penting

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) RSUD Ambarawa

KATA PENGANTAR. Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) RSUD Ambarawa KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, taufik, dan karunia Nya, kami dapat menyelesaikan Penyusunan Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi

Lebih terperinci

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA,

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA, WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KERANGKA KERJA MUTU PELAYANAN KESEHATAN WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk menjamin mutu, keamanan dan

Lebih terperinci

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO,

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO, - 1 - PERATURAN BUPATI MOJOKERTO NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RA. BASOENI KABUPATEN MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Organisasi. Tata Kerja. Rumah Sakit Pengayoman. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

BERITA NEGARA. KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Organisasi. Tata Kerja. Rumah Sakit Pengayoman. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA No.959, 2011 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Organisasi. Tata Kerja. Rumah Sakit Pengayoman. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni 1 MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT Henni Djuhaeni I. Pendahuluan Pelayanan medik khususnya medik spesialistik merupakan salah satu Ciri dari Rumah Sakit yang membedakan antara Rumah Sakit dengan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2010 Seri : E PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, LAMPIRAN II: Draft VIII Tgl.17-02-2005 Tgl.25-1-2005 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan 7 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Rumah sakit merupakan suatu institusi di mana segenap lapisan masyarakat bisa datang untuk memperoleh upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Upaya

Lebih terperinci

Maksud dan Tujuan. Hasil

Maksud dan Tujuan. Hasil Judul Penelitian : Kerangka Kebijakan Sosial Budaya dan Pemerintahan Umum Kabupaten Sidoarjo Pelaksana : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Salah

Lebih terperinci

BUPATI SERANG PERATURAN BUPATI SERANG NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG POLA TATA KELOLA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SERANG

BUPATI SERANG PERATURAN BUPATI SERANG NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG POLA TATA KELOLA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SERANG BUPATI SERANG PERATURAN BUPATI SERANG NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG POLA TATA KELOLA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SERANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG, Menimbang : a. bahwa bidang

Lebih terperinci

PEDOMAN UMUM PENYELENGARAAN PELAYANAN PUBLIK

PEDOMAN UMUM PENYELENGARAAN PELAYANAN PUBLIK KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUS NEGARA NOMOR : 63/KEP/M.PAN/7/2003 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYELENGARAAN PELAYANAN PUBLIK MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan

Lebih terperinci

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG OUTLINE PENDAHULUAN TENAGA KESEHATAN MENURUT UNDANG-UNDANG TUGAS & WEWENANG PERAWAT PENDELEGASIAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.298, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESRA. Tenaga Kesehatan. Penyelenggaraan. Pengadaan. Pendayagunaan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5607) UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena selain memiliki fungsi sebagai pelayanan, rumah sakit juga menjalankan fungsi pendidikan,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM INFORMASI KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM INFORMASI KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2014 TENTANG SISTEM INFORMASI KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 5 TAHUN 2008 SERI : C NOMOR : 2

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 5 TAHUN 2008 SERI : C NOMOR : 2 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 5 TAHUN 2008 SERI C NOMOR 2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI IZIN PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN SWASTA, IZIN INDUSTRI

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG

LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG LEMBARAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR : 07 PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

dr. H R Dedi Kuswenda, MKes Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Ditjen Bina Upaya Kesehatan

dr. H R Dedi Kuswenda, MKes Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Ditjen Bina Upaya Kesehatan dr. H R Dedi Kuswenda, MKes Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar Ditjen Bina Upaya Kesehatan Dasar Hukum Pengertian Akreditasi Maksud dan Tujuan Akreditasi Proses Akreditasi Undang-Undang Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

APLIKASI PENATAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG KOTA SESUAI KEBIJAKAN PEMERINTAH. Budiman Arif 1

APLIKASI PENATAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG KOTA SESUAI KEBIJAKAN PEMERINTAH. Budiman Arif 1 APLIKASI PENATAAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG KOTA SESUAI KEBIJAKAN PEMERINTAH Budiman Arif 1 PENDAHULUAN Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih menghadapi permasalahan

Lebih terperinci

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA -Tahun 2005- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pengurus Pusat PPNI, Sekretariat: Jl.Mandala Raya No.15 Patra Kuningan Jakarta Tlp: 62-21-8315069 Fax: 62-21-8315070

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1191/MENKES/PER/VIII/2010 TENTANG PENYALURAN ALAT KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1191/MENKES/PER/VIII/2010 TENTANG PENYALURAN ALAT KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1191/MENKES/PER/VIII/2010 TENTANG PENYALURAN ALAT KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG

- 1 - GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG - 1 - GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Dengan Persetujuan Bersama. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA dan GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

Dengan Persetujuan Bersama. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA dan GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN

BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN YANG BERSIH DAN BERWIBAWA Salah satu agenda pembangunan nasional adalah menciptakan tata pemerintahan yang bersih, dan berwibawa. Agenda tersebut merupakan upaya untuk

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN BAB II LANDASAN PEMIKIRAN 1. Landasan Filosofis Filosofi ilmu kedokteran Ilmu kedokteran secara bertahap berkembang di berbagai tempat terpisah. Pada umumnya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa seorang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pancasila dan Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

G U B E R N U R J A M B I

G U B E R N U R J A M B I G U B E R N U R J A M B I PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG POLA TATA KELOLA RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAMBI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sarana pelayanan kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelanggan untuk meningkatkan kepuasan pemakai jasa. Dalam Undang-

BAB I PENDAHULUAN. pelanggan untuk meningkatkan kepuasan pemakai jasa. Dalam Undang- BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan bagian penting dari sistem kesehatan. Rumah sakit menyediakan pelayanan kuratif komplek, pelayanan gawat darurat, pusat alih pengetahuan dan teknologi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KESEJAHTERAAN SOSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00

PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00 DAFTAR INDUK DOKUMEN RSUD TUGUREJO PROVINSI JAWA TENGAH TU & HUMAS PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00 1 No. 1 Tahun 2013 Kebijakan Pelayanan Rumah Sakit RSUD Tugurejo

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara berkewajiban melayani setiap warga

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara menjamin hak konstitusional setiap orang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK TAHUN 2002 NOMOR 12 SERI C PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 09 TAHUN 2002 TENTANG PENGELOLAAN AIR BAWAH TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DEPOK, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara menjamin setiap orang hidup

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2010 TENTANG HAK-HAK ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2010 TENTANG HAK-HAK ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2010 TENTANG HAK-HAK ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, Menimbang : a. bahwa dunia usaha dan perusahaan,

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR 20 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR PER-12/MEN/VI/2007

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hakikat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Lebih terperinci

PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI BIRO KEPEGAWAIAN

PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI BIRO KEPEGAWAIAN PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI BIRO KEPEGAWAIAN SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN OKTOBER 2012 1. Krisis ekonomi Tahun 1997 berkembang menjadi krisis multidimensi.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2014 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2009 NOMOR : 14

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2009 NOMOR : 14 LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2009 NOMOR : 14 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 14 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN ORGANISASI RUMAH SAKIT KHUSUS IBU DAN ANAK KOTA BANDUNG DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. sistem informasi terdiri dari input, proses dan output seperti yang terlihat pada

BAB II LANDASAN TEORI. sistem informasi terdiri dari input, proses dan output seperti yang terlihat pada BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Sebelum merancang sistem perlu dikaji konsep dan definisi dari sistem. Pengertian sistem tergantung pada latar belakang cara pandang orang yang mencoba mendefinisikannya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Namun seiring berkembangnya zaman, rumah sakit pada era globalisasi

BAB I PENDAHULUAN. Namun seiring berkembangnya zaman, rumah sakit pada era globalisasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit merupakan sebuah institusi perawatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya. Namun seiring berkembangnya

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 70 TAHUN 2010 TENTANG POLA TATA KELOLA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BADUNG

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 70 TAHUN 2010 TENTANG POLA TATA KELOLA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BADUNG BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 70 TAHUN 2010 TENTANG POLA TATA KELOLA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN BADUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa dengan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 56 TAHUN 2013 TENTANG ORIENTASI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

INSTRUMEN AKREDITASI RUMAH SAKIT STANDAR AKREDITASI VERSI 2012

INSTRUMEN AKREDITASI RUMAH SAKIT STANDAR AKREDITASI VERSI 2012 KOMISI AKREDITASI RUMAH SAKIT INSTRUMEN AKREDITASI RUMAH SAKIT STANDAR AKREDITASI VERSI 212 Edisi 1, tahun 212 KATA PENGANTAR KETUA KOMISI AKREDITASI RUMAH SAKIT (Dr. dr. Sutoto, M.Kes) Puji syukur kita

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN 3.1 Arah Strategi dan kebijakan Nasional Arah strategi dan kebijakan umum pembangunan nasional 2010-2014 adalah sebagai berikut: 1. Melanjutkan pembangunan mencapai

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : Menetapkan :

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan sarana penyedia layanan kesehatan untuk masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2014

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2014 PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2014 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN DALAM PROGRAM JAMINAN PEMELIHARAAN KESEHATAN BAGI KETUA, WAKIL KETUA, DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan fungsi dan tujuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI NOMOR 9/SP/SETWAPRES/D-5/TUPEG/11/2011 BAGIAN KESATU PENDAHULUAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN KEDOKTERAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara menjamin hak setiap warga negara

Lebih terperinci

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN

Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN panduan praktis Program Rujuk Balik Bagi Peserta JKN 07 02 panduan praktis Program Rujuk Balik Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa masyarakat adil dan makmur

Lebih terperinci

Buku Saku FAQ. (Frequently Asked Questions) BPJS Kesehatan

Buku Saku FAQ. (Frequently Asked Questions) BPJS Kesehatan Buku Saku FAQ (Frequently Asked Questions) BPJS Kesehatan BPJS_card_6.indd 1 3/8/2013 4:51:26 PM BPJS Kesehatan Buku saku FAQ (Frequently Asked Questions) Kementerian Kesehatan RI Cetakan Pertama, Maret

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

Lebih terperinci

SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 004/ PP.IAI/1418/VII/2014. Tentang

SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 004/ PP.IAI/1418/VII/2014. Tentang SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN APOTEKER INDONESIA Nomor : PO. 004/ PP.IAI/1418/VII/2014 Tentang PERATURAN ORGANISASI TENTANG PEDOMAN DISIPLIN APOTEKER INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN PADA DINAS KEPENDUDUKAN DAN TAHUN 2013 6 DINAS KEPENDUDUKAN DAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN PERMOHONAN DATA KEPENDUDUKAN

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN PERATURAN WALIKOTA SAMARINDA NOMOR 16 TAHUN 2013

BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN PERATURAN WALIKOTA SAMARINDA NOMOR 16 TAHUN 2013 BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN PERATURAN WALIKOTA SAMARINDA NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PENANGANAN PENGADUAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA SAMARINDA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci