Nopia, Mahyudin, Yasir Haskas Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Nopia, Mahyudin, Yasir Haskas Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar"

Transkripsi

1 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PERAWAT DALAM MENJALANKAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMASANGAN KATETER URETRA DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM FAISAL MAKASSAR Nopia, Mahyudin, Yasir Haskas Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar Dosen Tetap Program S1 Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar Dosen Tetap Program S1 Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar ABSTRAK NOPIA. Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Perawat Dalam Menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemasangan Kateter Uretra Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar Tahun Dibimbing oleh Pembimbing I : Mahyudin dan Pembimbing II: Yasir Haskas Katerisasi urine adalah tindakan memasukkan selang kateter kedalam kandung kemih melalui uretra dengan tujuan mengeluarkan urine. Katerisasi dapat menyebabkan hal-hal yang mengganggu kesehatan sehingga hanya dilakukan bila benar-benar diperlukan serta harus dilakukan dengan hati-hati. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Perawat Dalam Menjalankan SOP Pemasangan Kateter Uretra Di Ruang Rawat Inap RSI. Tahun Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif analitik dengan. Jumlah sampel 43 perawat. besarnya sampel ditentukan dengan menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan observasi. Pengoalahan data menggunakan computer program SPSS 16.00, dengan analisis statistic menggunakan uji Chi-square. yang disajikan dalam bentuk tabel, tabel dan narasi. Dari hasil olah data diperoleh ada hubungan bermakna antara sikap, pengetahuan perawat dan keteresediaan alat terhadap kepatuhan menjalankan SOP dengan nilai masing-masing, sikap : 0,003, pengetahuan : 0,004 dan ketersediaan alat : 0,018 dan tidak ada hubungan bermakna antara pendidikan terhadap kepatuhan menjalankan SOP dengan nilai 1,00. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan bermakna antara sikap, pengetahuan perawat dan ketersediaan alat dan tidak ada hubungan bermakna antara pendidikan terhadap kepatuhan menjalankan SOP Pemasangan Kateter Uretra di ruang rawat inap RSI. tahun Saran bagi perawat agar meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang sesuai dengan SOP. Kata Kunci: Pendidikan,sikap, pengetahuan perawat, ketersediaan alat. PENDAHULUAN Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang tepat, cepat dan akurat semakin meningkat sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan sosial ekonomi. Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan tersebut yang memegang peranan penting salah satunya adalah perawat. Di mana seorang perawat harus menerapkan secara benar tentang pengetahuan dan keterampilan yang dia ketahui (BPKP, 2010). Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan diharapkan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di tempat instansi bekerja. Sebab hal ini harus mengacu pada kemampuan mempertahankan program-program yang berkaitan dengan promosi kesehatan yang ditentukan oleh penyelenggara perawatan kesehatan (BPKP, 2010). Sebuah rumah sakit wajib menyusun Standar Operasional Prosedur. Setidaknya ada 13 jenis standar yang diperlukan. Diantaranya adalah untuk pelayanan medis, penunjang medis, keperawatan, sumber daya manusia, keuangan dan administrasi, pelayanan umum, pemasaran, manajemen infus, kebersihan dan keselamatan kerja, kamar bayi, dan penyebaran bahan - bahan berbahaya dari rumah sakit (Anonim, 2007). Pelayanan keperawatan diberikan secara menyeluruh salah satunya memenuhi kebutuhan eliminasi (buang air kecil). Eliminasi normal sisa tubuh melalui saluran gastrointestinal dan perkemihan merupakan fungsi dasar yang banyak orang mengalaminya. Bila salah satu sistem terganggu dan eliminasi normal tidak terjadi, Volume 2 Nomor 1 Tahun 2013 ISSN :

2 sistem tubuh lain mengalami resiko terpengaruh (Potter, 2007). Tindakan perawat dalam hal ini salah satunya memasang dan merawat kateter uretra sesuai dengan Standar Opersional Prosedur (SOP) yang berlaku. Dari beberapa penelitian, Infeksi saluran kemih merupakan 40% dari seluruh infeksi nosokomial dan dilaporkan 80% infeksi saluran kemih terjadi sesudah instrumentasi, terutama oleh katerisasi. Oleh karena itu, pencegahan infeksi saluran kemih (Nosokomial) merupakan suatu keharusan (Darmadi, 2008). Katerisasi harus dilakukan pada seorang pasien hanya bila benar-benar diperlukan mengingat tindakan katerisasi sering menimbulkan infeksi pada traktus urinarius. Tindakan katerisasi merupakan tindakan invasif dan dapat menimbulkan nyeri, sehingga jika dikerjakan dengan cara yang keliru akan menimbulkan kerusakan saluran uretra yang permanen (Basuki, B. Purnomo, 2008). Standar Operasional Prosedur keperawatan merupakan bagian dari standar mutu yang dikembangkan oleh pihak rumah sakit, secara umum penyusunan Standar Operasional Prosedur meliputi: analisis kebutuhan Standar Operasional Prosedur, pengembangan Standar Operasional Prosedur, penerapan Standar Operasional Prosedur, monitoring dan evaluasi (Darmono, 2007). Setiap prosedur pemasangan kateter harus diperhatikan prinsip-prinsip yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu : pemasangan kateter dilakukan secara aseptic dengan melakukan desinfeksi secukupnya memakai bahan yang tidak menimbulkan rasa sakit pada pasien, pakai kateter dengan ukuran terkecil yang masih cukup efektif untuk melakukan drainase urine, jika dibutuhkan pemakaian kateter menetap, diusahakan memakai sistem tertutup, kateter menetap dipertahankan sesingkat mungkin sampai dilakukan tindakan defenitif terhadap penyebab retensi urune (Basuki,B.Purnomo,2008). Menurut (Haslina, 2011) bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah : a. Pendidikan Pendidikan adalah pendidikan formal yang pernah didapatkan oleh seseorang. Secara umum kategori perawat dapat dibedakan tehnikal dan perawat profesional. Perawat dengan pendidikan keperawatan diploma dikategorikan sebagai perawat tehnikal sedangkan perawat dengan pendidikan di perguruan tinggi lebih dari empat sampai enam tahun disebut perawat profesional. Di mana seorang perawat profesional mempunyai pengalaman dan jenjang pendidikan lebih lama dari pada diploma sehingga perawat profesional lebih memahami resiko-resiko dari apa yang dilakukan. b. Pengetahuan perawat Pengetahuan adalah suatu uraian lengkap dan tersusun sebagai suatu objek. Di mana pengetahuan itu berasal dari kata tahu, yang berarti seseorang mempunyai pengetahuan tentang suatu cakrawala tertentu, bisa didapat dari pendidikan formal, nonformal dan informal dan Pengetahuan bisa didapat dari pengalaman seseorang (sesuatu yang pernah dialami seseorang tentang sesuatu hal). Setiap pengetahuan yang didapat dari manapun, seorang perawat harus melakukan suatu tindakan sesuai dengan prosedur yang berlaku. c. Sikap Sikap adalah kecenderungan bertindak dari individu, berupa respon tertutup terhadap stimulus ataupun objek tertentu. Dari sikap sehingga muncullah berbagai problema, apakah pengertian sikap sebagai kepribadian, sikap yang berkaitan motif dan mendasari tingkah laku seseorang dan pengertian sikap sebagai suatu keyakinan, kebiasaan, pendapat atau suatu konsep. d. Ketersediaan alat Tanpa tersedianya alat steril perawat tidak dapat melakukan tindakan yang akan dilaksanakan sesuai dengan prosedur. Oleh sebab itu, ketersediaan alat sangat penting. Dimana kita ketahui bahwa ketersediaan alat bertujuan untuk mencegah penyebab infeksi atau untuk menjamin alat tersebut dalam kondisi steril dan siap pakai. Semua alat bahan dan obat yang akan dimasukkan ke dalam jaringan dibawah kulit harus dalam keadaan steril. Sterilisasi dalam pengertian medis merupakan suatu proses dengan metode tertentu yang dapat memberikan hasil akhir, yaitu suatu bentuk keadaan yang tidak dapat ditunjukkan lagi adanya mikroorganisme hidup. Metode sterilisasi cukup banyak, namun alternatif yang dipilih sangat bergantung pada keadaan serta kebutuhan setempat ( Darmadi, 2008). Volume 2 Nomor 1 Tahun 2013 ISSN :

3 Berdasarkan fenomena yang ada, bahwa telah ditetapkannya Standar Opersaional Prosedur Keperawatan Medikal Bedah dalam pelaksanaan pemasangan kateter uretra dilingkungan Rumah Sakit Islam sesuai dengan surat keputusan Derektur Rumah Sakit Islam No.108/A.6/RSIF/2008 tentang penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP). Dimana setiap ruang perawatan di RSIF telah memiliki buku Standar Operasional Prosedur Keperawatan Medikal Bedah, yang digunakan sebagai standar dalam melaksanakan prosedur pemasangan Kateter Uretra. Bertitik tolak dari uraian diatas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul Faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur Pemasangan Kateter Uretra Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar tahun BAHAN DAN METODE Lokasi, populasi, dan sampel penelitian Berdasarkan permasalahan yang diteliti, maka jenis penelitian ini adalah Deskriptif Analitik dengan metode pendekatan cross sectiona studyl. Penelitian ini dilaksanakan di RSI. pada tanggal 21 April 05 Mei tahun Populasi Penelitian adalah adalah perawat yang memberikan pelayanan keperawatan di ruang rawat Inap Rumah Sakit Islam yang terdiri dari 48 perawat pada ruang perawatan I sebanyak 11 perawat, ruang perawatan II sebanyak 15 perawat, ruang perawatan IV sebanyak 11 perawat dan ruang perawatan V sebanyak 12 perawat. Jadi jumlah populasi pada ruang Rawat Inap sebanyak 49 perawat pada tahun Penentuan jumlah besar sampel dengan menggunakan rumus didapatkan 43 responden sesuai dengan kriteria inklusi. Jumlah responden di RSI. Faisal Makassar yang sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 43 orang diambil dengan menggunakan rumus, Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian adalah 43 responden. 1. Kriteria Sampel a. Kriteria Inklusi 1) Perawat yang hadir di saat penelitian 2) Perawat yang berada di ruang Rawat Inap 3) Perawat yang bersedia di teliti b. Kriteria Ekslusi 1) Perawat pelaksana yang sedang mengikuti pendidikan/sedang menjalankan cuti/sakit. 2) Perawat yang tidak bersedia diwawancara Pengumpulan data Pengumpulan data dengan data primer yaitu data yang diperoleh dari responden dengan menggunakan kuesioner data primer dari kuisioner dan lembar observasi. Pengolahan data dilakukan dengan: 1. Editing Editing yaitu dilakukan penyuntingan data yang telah terkumpul dengan cara memeriksakan kelengkapan pengisian, kejelasan pengisian dan adanya kesalahan. 2. Coding Coding yaitu proses pemberian kode pada tiap variabel dengan tujuan untuk memudahkan dalam analisis 3. Entri data Entri data yaitu setelah dilakukan kegiatan editing dan koding dilanjutkan dengan pengelompokan data ke dalam master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian. 4. Prosessing Prosessing adalah proses analisa data yang telah terbentuk angka menggunakan master tabel atau perangkat lunak (software) komputer. 5. Cleaning Cleaning adalah memeriksa kembali data yang telah dientri ke dalam komputer untuk memeriksa kebenaran data. Analisis data Setelah data terkumpul kemudian ditabulasi dalam tabel dengan variabel yang hendak diukur.analisa data dilakukan melalui tahap editing, koding,tabulasi dan uji statistik.analisis univariat dilakukan dengan menggunakan analisis distribusi frekuensi. Menggunakan bantuan program SPSS for windows 16,0. Melalui tahapan-tahapan, kemudian data dianalisis dengan menggunakan metode uji statistik univariat dilakukan untuk variabel tunggal yang dianggap terkait dengan penelitian dan analisis bivariat untuk melihat distribusi atau hubungan beberapa variabel yang dianggap terkait dengan menggunakan uji chisquare. Analisis data dilakukan dengan pengujian hipotesis Nol (Ho) atau hipotesis Volume 2 Nomor 1 Tahun 2013 ISSN :

4 yang akan ditolak. Dengan menggunakan uji chi-square. Batas kemaknaan = 0,05, Ho ditolak jika p < 0,05 dan Ho diterima jika p > 0,05. Jika p < α (0,05) maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima yang berarti ada hubungan antara pengetahuan,sikap, dan ketersediaan alat dengan kepatuhan menjalankan SOP pemasangan Kateter uretra. Sedangkan jika p > α (0,05) maka hipotesis nol diterima dan hipotesis alternatif ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara pendidikan dengan kepatuhan menjalankan SOP pemasangan kateter uretra. HASIL PENELITIAN 1. Analisa Univariat Tabel 5.1 : Distribusi Frekuensi Berdasarkan jenis Kelamin Di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar Jenis kelamin n % Laki-laki 8 18,6 Perempuan 35 81,4 Dari tabel 5.1 menunjukkan bahwa distribusi tertinggi yaitu perawat dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 35 responden (81,4 %) dan terendah perawat dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 8 responden (18,6 %). Tabel 5.2 : Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur di Rumah Sakit Islam Umur n % , ,3 Dari tabel 5.2 menunjukkan bahwa distribusi tertinggi pada kelompok umur tahun sebanyak 39 responden (90,7%) dan pada kelompok umur tahun sebanyak 4 responden (9,3%). Tabel 5.3 : Distribusi Frekuensi Berdasarkan Masa Kerja di Rumah Sakit Islam Masa kerja n % , ,3 >10 1 2,3 Dari tabel 5.3 Menunjukkan bahwa distribusi terbanyak adalah perawat pada masa kerja 1-5 tahun yaitu 35 responden (81,4%), terendah masa kerja 6-10 tahun sebanyak 7 responden (16,3%) dan masa kerja > 10 tahun sebanyak 1 responden (2,3%). Tabel 5.4 : Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pendidikan di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar Pendidikan N % S1 3 7,0 D ,0 Data tabel 5.4 menunjukkan bahwa distribusi tertinggi adalah perawat dengan pendidikan D3 sebanyak 40 responden (93,0%), sedangkan yang terendah adalah perrawat dengan pendidikan S1 sebanyak 3 responden (7,0%). Tabel 5.5 :Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar Pengetahuan n % Baik 23 53,5 Kurang 20 46,5 Dari tabel 5.5 menunujukkan bahwa distribusi terbanyak adalah tingkat pengetahuan baik yaitu sebanyak 23 responden (53,5%) sedangkan tingkat pengetahuan pada kategori kurang yaitu sebanyak 20 responden (46,5%) Tabel 5.6 : Distribusi Frekuensi Berdasarkan Sikap Di Rumah Sakitt Islam Volume 2 Nomor 1 Tahun 2013 ISSN :

5 Sikap n % Setuju 19 44,2 setuju 24 55,8 Dari tabel 5.6 menunjukkan bahwa distribusi tertinggi adalah sikap perawat dengan kategori tidak setuju sebanyak 24 responden (55,8%) dan sikap perawat terendah adalah setuju 19 responden (44,2%). Tabel 5.7 : Distribusi Frekuensi Berdasarkan Ketersediaan Alat di Rumah Sakit Islam Alat n % Tersedia 16 37,2 tersedia 27 62,8 Dari tabel 5.7 menunjukkan bahwa responden yang menganggap alat telah cukup tersedia sebanyak 16 responden (37,2%) dan dan responden yang menganggap alat kurang tersedia sebanyak 27 responden (62,8%). Tabel 5.8 : Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kepatuhan di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar Kepatuhan n % Patuh 14 32,6 Patuh 29 67,4 Dari tabel 5.8 menunjukkan bahwa distribusi terbanyak adalah perawat dengankategori tidak patuh sebanyak 29 responden (67,4%) dan terendah adalah kategori perawat patuh sebanyak 14 responden (32,6%). 2. Analisa Bivariat Untuk melihat hubungan Pendidikan,sikap perawat, pengetahuan perawat dan ketersediaan alat dengan kepatuhan menjalankan SOP pemasangan kateter uretra di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar maka digunakan Uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α < 0,05. Ketentuan dikatakan ada hubungan bermakna apabila : Antara variabel dengan kepatuhan menjalankan SOP mempunyai nilai ρ < 0,05. Tabel 5.9 :Hubungan antara Pendidikan dengan Kepatuhan Perawat Dalam Pemasangan Kateter Uretra Di Rumah Sakit Islam KEPATUHAN Pendidikan Patuh patuh Total n % n % n % Tinggi 1 2,3 2 4,7 3 7,0 Rendah 13 30, , ,0 Total 14 32, , p=1,00 Berdasarkan tabel 5.9 menunjukkan bahwa distribusi tertinggi adalah perawat dengan pendidikan D3 sebanyak 40 responden (93,0%), sedangkan yang terendah adalah perawat dengan pendidikan S1 sebanyak 3 responden (7,0%). Berdasarkan hasil uji chi-square dengan pembacaan fisher exact Test diperoleh nilai p=1,00 yang berarti tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan menjalnkan SOP di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam faisal Tabel 5.10 :Hubungan antara Pengetahuan dengan Kepatuhan Perawat Dalam Pemasangan Kateter Uretra Di Rumah Sakit Islam KEPATUHAN Pengetahuan Patuh Total patuh n % n % n % Baik 12 27, , ,5 Kurang 2 4, , ,5 Total 14 32, p=0,004 Berdasarkan tabel 5.10 menunjukkan bahwa distribusi tertinggi adalah tingkat pengetahuan baik sebanyak 23 responden (53,5%) sedangkan yang Volume 2 Nomor 1 Tahun 2013 ISSN :

6 terendah adalah tingkat pengetahuan kurang sebanyak 20 responden (46,5%). Berdasarkan hasil uji chi-square dengan pembacaan fisher exact Test diperoleh nilai p=0,004 yang berarti ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan menjalankan SOP di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam faisal Tabel 5.11 :Hubungan antara Sikap dengan Kepatuhan Perawat Dalam Pemasangan Kateter Uretra Di Rumah Sakit Islam KEPATUHAN Sikap Patuh patuh Total n % n % n % Setuju 11 25,6 8 18, ,2 setuju 3 7, , ,8 Total 14 32, p=0,003 Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan bahwa distribusi tertinggi adalah sikap perawat dengan kategori tidak setuju sebanyak 24 responden (55,8%) sedangkan yang terendah adalah sikap perawat dengan kategori setuju sebanyak 19 responden (44,2%). Berdasarkan hasil uji chi-square dengan pembacaan fisher exact Test diperoleh nilai p=0,003 yang berarti ada hubungan antara sikap perawat dengan kepatuhan menjalnkan SOP di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam faisal Tabel 5.12 :Hubungan antara Ketersediaan Alat dengan Kepatuhan Perawat Dalam Pemasangan Kateter Uretra Di Rumah Sakit Islam KEPATUHAN Ketersediaan Patuh Alat patuh Total n % n % n % Tersedia 9 20,9 7 16, ,2 tersedia 5 11, , ,8 Total 14 32, p=0,018 Berdasarkan tabel 5.12 menunjukkan bahwa perawat yang menganggap alat telah cukup tersedia sebanyak 16 responden (37,2%) sedangkan perawat yang menganggap alat tidak tersedia sebanyak 27 responden (62,8%). Berdasarkan hasil uji chi-square dengan pembacaan fisher exact Test diperoleh nilai p=0,018 yang berarti ada hubungan antara ketersediaan alat dengan kepatuhan menjalankan SOP di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam faisal PEMBAHASAN 1. Hubungan Pendidikan dengan Kepatuhan Perawat Menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemasangan Kateter Uretra Dari hasil analisa univariat menunjukkan bahwa distribusi tertinggi adalah perawat dengan pendidikan D3 sebanyak 40 responden (93,0%), sedangkan yang terendah adalah perrawat dengan pendidikan S1 sebanyak 3 responden (7,0%). Berdasarkan hasil analisa uji statistic chi-square dengan pembacaan fisher exact Test diperoleh nilai p=1,00 yang berarti tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan menjalankan SOP di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam faisal Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Haslina dengan judul skripsi Gambaran Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) terhadap pelaksanaan Pelayanan Keperawatan di RSUD. Kab. Kolaka tahun Adapun asumsi menurut peneliti sendiri mengapa pendidikan tidak ada hubungannya dengan kepatuhan menjalankan Standar Operasional, karena masih adanya sebagian perawat yang memiliki pendidikan yang tinggi tetapi tidak patuh atau kurang patuh dalam pemasangan kateter, hal ini disebabkan karena adanya perawat yang menganggap pendidikannya lebih tinggi maka kepatuhannya dalam pemasangan kateter dianggap kurang penting. selain itu, hal yamg menyebabkan perawat dengan pendidikan yang tinggi namun kurang patuh dalam pemasangan kateter uretra adalah adanya beban kerja yang tinggi. Menurut Rifa i (2008), mengatakan bahwa segala sesuatu yang akan dilakukan tergantung dari cara kita memandang suatu hal atau masalah. Adapun responden yang kurang pendidikannya dan responden Volume 2 Nomor 1 Tahun 2013 ISSN :

7 tersebut tidak mau berupaya, maka hal tersebut kembali pada individu masing masing. Karena responden tersebut pasti sudah mengetahui konsekuensi yang akan ditanggung nantinya. 2. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan Perawat dalam Menjalan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemasangan Kateter Uretra Dari hasil analisa univariat menunjukkan kategori tertinggi adalah tingkat pengetahuan baik sebanyak 23 responden (53,5%) sedangkan yang terendah adalah tingkat pengetahuan kurang sebanyak 20 responden (46,5%). Berdasarkan hasil analisa uji chisquare dengan pembacaan fisher exact Test diperoleh nilai p=0,004 yang berarti ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan menjalankan SOP di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam faisal Hal ini sejalan dengan penelitian yang juga dilakukan oleh Irwan halek dengan judul skripsi Faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap pemasangan oksigenasi di ruang ICU RSUD. Daya Menurut Rudi (2007), pengetahuan sangat penting dimana pengetahuan seseorang dapat merubah prilaku. Makin tahu sesuatu maka seseorang akan lebih mudah termotivasi untuk melakukan hal yang positif bagi dirinya maupun orang lain. Pengetahuan itu sendiri bukan hanya berasal dari pendidikan formal, akan tetapi pengetahuan juga dapat berasal dari pendidikan non formal. Adapun asumsi menurut peneliti sendiri tentang hubungan pengetahuan dengan kepatuhan menjalankan Standar Operasional Prosedur yaitu karena dengan semakin tingginya tingkat pengetahuan tentang pemasangan kateter uretra dari perawat tersebut, maka semakin luas pula pemahaman terhadap masalah sehingga dapat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan dalam setiap tindakan yang akan dilakukan. Berarti hal ini menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan perawat dengan kepatuhan dalam menjalankan Standar Operasional uretra. Adapun perawat yang memiliki pengetahuan yang cukup tetapi tidak patuh dalam pemasangan kateter uretra mungkin disebabkan karena beban kerja yang tinggi dan persediaan alat yang kurang. Dengan demikian, Penelitian ini membuktikan bahwa perawat yang memiliki pengetahuan yang baik lebih patuh menjalankan Standar Opersaional Prosedur Pemasangan Kateter Uretra. 3. Hubungan Sikap Perawat dengan Kepatuhan Menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemasangan Kateter Uretra Dari hasil analisa univariat menunjukkan responden dengan sikap setuju 19 responden (44,2%), sedangkan perawat dengan sikap tidak setuju sebanyak 24 responden (55,8%). Berdasarkan hasil analisa uji statistic chi-square dengan pembacaan fisher exact Test diperoleh nilai p=0,003 yang berarti ada hubungan antara sikap dengan kepatuhan menjalankan SOP di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam faisal Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Irwan halek dengan judul skripsi Faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam melaksanakan protap pemasangan oksigenasi di ruangan (ICU) RSUD. Daya Notoatmojo (2007) sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang. Semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu. Adapun asumsi menurut peneliti sendiri tentang adanya hubungan sikap perawat dengan kepatuhan menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) karena sikap merupakan reaksi perasaan maka sikap mutlak dibutuhkan oleh seorang perawat agar dapat memberikan dorongan dalam diri perawat dalam berperilaku atau bertindak dan munculnya sikap positif pada diri perawat sangat besar peranannya dalam membantu perawat untuk menjalankan Standar Operasional uretra. 4. Hubungan Antara Ketersediaan Alat dengan Kepatuhan Perawat Dalam Menjalankan Standar Operasional Volume 2 Nomor 1 Tahun 2013 ISSN :

8 Prosedur (SOP) Pemasangan Kateter Uretra Dari hasil univariat menunjukkan bahwa perawat yang menganggap alat telah cukup tersedia sebanyak 16 responden (37,2%) sedangkan perawat yang menganggap alat tidak tersedia sebanyak 27 responden (62,8%). Berdasarkan hasil analisa uji chisquare dengan pembacaan fisher exact Test diperoleh nilai p=0,018 yang berarti ada hubungan antara ketersediaan alat dengan kepatuhan menjalankan SOP di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam faisal Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wilhelmina mataheru dengan judul skripsi Hubungan alat pelindung diri dengan penularan penyakit dalam melaksanakan tindakan keperawatan di ruang rawat inap RSUD. Dr. M. Haulussy Ambon. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Supadi (2007), dimana ketersediaan alat mempengaruhi kepatuhan dalam menjalankan Standar Operasional uretra, semakin lengkap yang dibutuhkan maka semakin semakin memungkinkan seorang perawat patuh dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP). Adapun asumsi menurut peneliti sendiri tentang adanya hubungan ketersediaan alat dengan kepatuhan perawat dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) yaitu mengingat peranan alat dalam setiap tindakan itu sangat penting dimana dengan adanya alat yang lengkap dan steril maka akan memudahkan perawat dalam menjalankan pemasangan kateter uretra sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Dimana kita ketahui bahwa ketersediaan alat bertujuan mencegah penyebaran infeksi atau untuk menjamin alat tersebut dalam kondisi steril dan siap pakai. Dengan demikian, ketersediaan alat mempengaruhi kepatuhan perawat dalam pemasangan kateter uretra sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Adapun ketersediaan alat yang tersedia namun masih terdapat perawat yang tidak atau kurang patuh dalam pemasangan kateter uretra, hal ini disebabkan karena masih adanya perawat yang memiliki pengetahuan yang kurang dan beban kerja yang tinggi. KESIMPULAN Hasil penelitian tentang Faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemasangan kateter uretra di ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar Tahun 2012 dapat disimpulkan : 1. ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan perawat dalam menjalankan Standar Operasional uretra di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam tahun Ada hubungan antara sikap dengan kepatuhan perawat dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) pemasangan kateter uretra di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Faisal Makassar tahun Ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) pemasangan kateter uretra di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam tahun Ada hubungan antara ketersediaan alat dengan kepatuhan perawat dalam menjalankan Standdar Operasional uretra di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam tahun2012. SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dan kesimpulan yang diperoleh, maka dapat diberikan saran berupa: 1. Bagi Rumah Sakit Diharapkan perlunya peningkatan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang pemasangan kateter uretra tanpa mengesampingkan pendidikan, sikap perawat, pengetahuan dan ketersediaan alat. 2. Bagi Akademik Menambah jumlah jam mata kuliah Riset Keperawatan guna memberikan cukup banyak ilmu sehingga menambah wawasan mahasiswa dalam penyusunan skripsi. 3. Bagi Mahasiswa Disarankan mahasiswa yang berminat meneliti judul yang sama, agar variabel yang diteliti bisa diperdalam dan diteliti dalam variabel yang lebih besar. Volume 2 Nomor 1 Tahun 2013 ISSN :

9 DAFTAR PUSTAKA Agustin. 2008, Analisa lama waktu pelaksanaan perawatan kateter dan infus Di ruang Penyakit Dalam RSUP. DR. Wahidin Sudirohusodo Skripsi tidak diterbitkan Makassar, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Arlinawaty. S Efektifitas tehnik pemberian jelly terhadap keluhan nyeri pada Pasien dengan kateterisasi urine di ruang IGD RSUD. Pangkep Skripsi, tidak diterbitkan- Makassar, Program S1 Keperawatan,Nani Hasanuddin. Anonim http: // www. Sinarharapan. Co.id. (online). Diakses 11 Maret Badan Pengawasan Keungan Pembangunan Penelitian mengenai kepuasaan Masyarakat terhadap pelayanan pemerintah di bidang kesehatan danpendidikan di makassar dan yogyakarta. (online).http : // diakses 20 agustus Darmadi Infeksi Nosokomial Problema dan Pengendaliannya. Salemba Medika : Jakarta Darmono Pengembang Standar Operating Procedures untuk perpustakaan Perguruan tinggi. (online). library.um.ac.id/indeks.php/artikel-pustakawan.html. diakses 20 juni Depkes RI Pedoman Teknis Pemasangan Kateter. Depkes RI: Jakarta.. Haslina Faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat Dalam menjalankan Protap pemasangan Kateter Uretra Di ruang perawatan bedah dan internarsud Syekh Yusuf Gowa Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Ilmu Keperawatan UMI. Hidayat, Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Salemba Medika: Jakarta Luran, F, Anwar, N Buku Standar Operasional Prosedur Keperawatan Medikal Bedah Rumah Sakit Islam Faisal diterbitkan : RSIF. Nursalam Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta. Notoatmijo, Soekidjo Pendidikan dan Prilaku Kesehatan. Baduose Media. Jakarta. Purnomo, B. Basuki Dasar-dasar Urologi. Edisi 2. Sagung Seto: Jakarta. Potter. S. Dan Yenny. S Kamus bahasa Indonesia kontemporer, Modem English. Press : Jakarta. Priharjo, Perawat Sebagai Pendidik (Prinsip-prinsip Pengajaran dan Pembelajaran). EGC: Jakarta. Suharyanto, Toto dan Abdul madjid Askep pada klien dengan Gangguan sistem Perkemihan: Jakarta.Sunaryo Psikologi untuk keperawatan. EGC: Jakarta. Sunaryo, Psikologi Untuk Keperawatan. EGC: Jakarta Teguh sugianto Prosedur pemasangan kateter kandung kemih. (online). (http:// Teguhsugianto. Blogspot. Com/2009/06/prosedur pemasangan kateter -Kandung.html). Di akses 12 juni WHO SEA NURS Materi pelatihan standar, indikator kinerja dan evaluasi. di akses 14 maret Volume 2 Nomor 1 Tahun 2013 ISSN :

Rauf Harmiady. Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK

Rauf Harmiady. Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAKSANAAN PRINSIP 6 BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT OLEH PERAWAT PELAKSANA DI RUANG INTERNA DAN BEDAH RUMAH SAKIT HAJI MAKASSAR Rauf Harmiady Poltekkes Kemenkes Makassar

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV. SULAWESI SELATAN Beatris F. Lintin 1. Dahrianis 2. H. Muh. Nur 3 1 Stikes Nani Hasanuddin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang di berikan kepada pasien melibatkan tim multi disiplin termasuk tim keperawatan.

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENERAPAN METODE TIM (MPKP) DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP DI RSUD KABUPATEN MAJENE

HUBUNGAN PENERAPAN METODE TIM (MPKP) DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP DI RSUD KABUPATEN MAJENE HUBUNGAN PENERAPAN METODE TIM (MPKP) DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP DI RSUD KABUPATEN MAJENE Hardianti Anthon. P, Muh. Yassir, Adriani Kadir Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Rumah sakit merupakan salah satu unit usaha yang memberikan pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan,

Lebih terperinci

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross BAB VI PEMBAHASAN Pembahasan adalah kesenjangan yang muncul setelah peneliti melakukan penelitian kemudian membandingkan antara teori dengan hasil penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian tentang

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013 Zuraidah, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit, komponen penting dari mutu layanan kesehatan, prinsip dasar dari

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit, komponen penting dari mutu layanan kesehatan, prinsip dasar dari 16 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keselamatan Pasien (Patient Safety) merupakan isu global dan nasional bagi rumah sakit, komponen penting dari mutu layanan kesehatan, prinsip dasar dari

Lebih terperinci

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR Novendra Charlie Budiman, Muh. Askar, Simunati Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar Dosen

Lebih terperinci

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BATU SALURAN KEMIH DI RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BATU SALURAN KEMIH DI RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BATU SALURAN KEMIH DI RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR A k m a l STIKES Nani Hasanuddin Makassar ABSTRAK Batu Saluran kemih adalah penyakit yang timbul akibat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanan prima rumah. factor.adapun factor yang apling dominan adalah sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanan prima rumah. factor.adapun factor yang apling dominan adalah sumber daya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan salah satu bentuk sarana kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah berfungsi untuk melakukan upaya kesehatan, rujukan dan atau upaya penunjang,

Lebih terperinci

Diah Eko Martini ...ABSTRAK...

Diah Eko Martini ...ABSTRAK... PERBEDAAN LAMA PELEPASAN TALI PUSAT BAYI BARU LAHIR YANG MENDAPATKAN PERAWATAN MENGGUNAKAN KASSA KERING DAN KOMPRES ALKOHOL DI DESA PLOSOWAHYU KABUPATEN LAMONGAN Diah Eko Martini.......ABSTRAK....... Salah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif, dimana penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif, dimana penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis atau rancangan penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif, dimana penelitian diarahkan untuk mendiskripsikan suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo,

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS DI SMA NEGERI 1 BULA KABUPATEN SERAM BANGIAN TIMUR AMBON

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS DI SMA NEGERI 1 BULA KABUPATEN SERAM BANGIAN TIMUR AMBON HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS DI SMA NEGERI 1 BULA KABUPATEN SERAM BANGIAN TIMUR AMBON Saharbanun Rumbory 1, Chaeruddin², Sri Darmawan³ 1 STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2 STIKES

Lebih terperinci

HUBUNGAN TEHNIK MENYUSUI YANG BENAR DENGAN KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEUREUDU KABUPATEN PIDIE JAYA MISRINA

HUBUNGAN TEHNIK MENYUSUI YANG BENAR DENGAN KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEUREUDU KABUPATEN PIDIE JAYA MISRINA ,Jurnal Karya Tulis Ilmiah HUBUNGAN TEHNIK MENYUSUI YANG BENAR DENGAN KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEUREUDU KABUPATEN PIDIE JAYA MISRINA Mahasiswi Pada STIKes U Budiyah

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN. Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN. Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com) FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com) Jurusan Kesehatan Masyarakat FIKK Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK: Dalam upaya penurunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembuahan dalam kandungan sampai umur lanjut (GBHN, 1999). yang terus berkembang (Depkes RI, 1999).

BAB I PENDAHULUAN. pembuahan dalam kandungan sampai umur lanjut (GBHN, 1999). yang terus berkembang (Depkes RI, 1999). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan diarahkan kepada peningkatan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat, yang memberikan

Lebih terperinci

Jurnal Kesehatan Kartika 27

Jurnal Kesehatan Kartika 27 HUBUNGAN MOTIVASI KERJA BIDAN DALAM PELAYANAN ANTENATAL DENGAN KEPATUHAN PENDOKUMENTASIAN KARTU IBU HAMIL DI PUSKESMAS UPTD KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2008 Oleh : Yulia Sari dan Rusnadiah STIKES A. Yani Cimahi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dr H Abdul Moeloek Propinsi Lampung. Obyek penelitian ini adalah pasien peserta

BAB III METODE PENELITIAN. Dr H Abdul Moeloek Propinsi Lampung. Obyek penelitian ini adalah pasien peserta BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Lingkup penelitian ini mempelajari analisis mutu dan pengaruhnya terhadap keputusan pasien BPJS ASKES memilih layanan kesehatan di Rumah Sakit Dr

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak pada hakikatnya merupakan aset terpenting dalam tercapainya keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa selanjutnya. Derajat kesehatan anak

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN 2012

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN 2012 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN Aulia Andarnita Mahasiswa S Kesehatan Masyarakat U budiyah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 34 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Posyandu wilayah binaan Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat. Puskesmas ini terletak di Jalan Angsana Raya

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. 1.1. Latar Belakang Masalah...1. 1.2. Identifikasi Masalah... 11. 1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian... 11. 1.3.1. Maksud Penelitian...

DAFTAR ISI. 1.1. Latar Belakang Masalah...1. 1.2. Identifikasi Masalah... 11. 1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian... 11. 1.3.1. Maksud Penelitian... ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai derajat tingkah laku prososial pada remaja usia 13-15 tahun dalam masyarakat Kasepuhan kawasan Gunung Halimun Jawa Barat. Sesuai dengan

Lebih terperinci

PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN.

PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN. PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN Suratmi.......ABSTRAK....... Kinerja perawat merupakan salah satu faktor penting

Lebih terperinci

FACTORS-FACTORS WITH ROLE RELATED MIDWIFE VILLAGE IN EFFORT DERIVE MATERNAL MORTALITY WORKING WOMEN HEALTH REGION LHOONG DISTRICT OF ACEH BESAR

FACTORS-FACTORS WITH ROLE RELATED MIDWIFE VILLAGE IN EFFORT DERIVE MATERNAL MORTALITY WORKING WOMEN HEALTH REGION LHOONG DISTRICT OF ACEH BESAR FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERAN BIDAN DESA DALAM UPAYA MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU HAMIL DIWILAYAH KERJA LHOONG KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2012 FACTORS-FACTORS WITH ROLE RELATED MIDWIFE VILLAGE

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Alat kesehatan meliputi barang, instrumen atau alat lain yang termasuk tiap komponen, bagian atau perlengkapannya yang diproduksi, dijual atau dimaksudkan untuk digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Enuresis atau yang lebih kita kenal sehari-hari dengan istilah mengompol, sudah tidak terdengar asing bagi kita khususnya di kalangan orang tua yang sudah memiliki

Lebih terperinci

Imelda Erman, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik Kesehatan Palembang ABSTRAK

Imelda Erman, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik Kesehatan Palembang ABSTRAK HUBUNGAN PARITAS DAN SIKAP AKSEPTOR KB DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI JANGKA PANJANG DI KELURAHAN MUARA ENIM WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERUMNAS KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2012 Imelda Erman, Yeni Elviani

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini berjudul Studi deskriptif mengenai tingkat kematangan bawahan pada pramugara PT X Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat kematangan

Lebih terperinci

HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH

HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH NURLAILA RAMADHAN 1 1 Tenaga Pengajar Pada STiKes Ubudiyah Banda Aceh Abtract

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk ,,* N _ PENn. \. I s ^ rut r >, Wit al" BAB III 3w^v METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai pelaksanaan tugas atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sarana pelayanan kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian BAB III METODE PENELITIAN III.1 Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti sehingga

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00-

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00- BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian akan dilakukan di peternakan ayam CV. Malu o Jaya Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa dan peternakan ayam Risky Layer Desa Bulango

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN DENGAN MOTIVASI KUNJUNGAN ULANG DI POS KESEHATAN DESA KARANGKEPOH KARANGGEDE BOYOLALI TAHUN 2012.

HUBUNGAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN DENGAN MOTIVASI KUNJUNGAN ULANG DI POS KESEHATAN DESA KARANGKEPOH KARANGGEDE BOYOLALI TAHUN 2012. HUBUNGAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN DENGAN MOTIVASI KUNJUNGAN ULANG DI POS KESEHATAN DESA KARANGKEPOH KARANGGEDE BOYOLALI TAHUN 2012 Oleh Etik Sulistyorini 1) dan Tutik Hartanti 2) 1) Dosen

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah metodologi karena ketepatan metodologi yang digunakan untuk memecahkan

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN. A. Gambaran Umum Klinik Herbal Insani Depok. Bulan Maret 2007. Di atas tanah seluas 280 m 2 dengan luas bangunan

BAB V HASIL PENELITIAN. A. Gambaran Umum Klinik Herbal Insani Depok. Bulan Maret 2007. Di atas tanah seluas 280 m 2 dengan luas bangunan BAB V HASIL PENELITIAN Hasil penelitian ini terlebih dahulu akan membahas gambaran umum wilayah penelitian, proses penelitian dan hasil penelitian yang mencakup analisa deskriptif (univariat) serta analisa

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA CARA BELAJAR, HASIL BELAJAR MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN I DENGAN KEMAMPUAN ANTENATAL CARE MAHASISWA TINGKAT II AKKES SWAKARSA TAHUN

HUBUNGAN ANTARA CARA BELAJAR, HASIL BELAJAR MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN I DENGAN KEMAMPUAN ANTENATAL CARE MAHASISWA TINGKAT II AKKES SWAKARSA TAHUN HUBUNGAN ANTARA CARA BELAJAR, HASIL BELAJAR MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN I DENGAN KEMAMPUAN ANTENATAL CARE MAHASISWA TINGKAT II AKKES SWAKARSA TAHUN 2012/2013 ABSTRAK Berdasarkan UU RI No. 20 Tahun 2003

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Kehamilan merupakan proses alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita. Lama kehamilan sampai aterm adalah 280 sampai 300 hari atau 39

PENDAHULUAN Kehamilan merupakan proses alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita. Lama kehamilan sampai aterm adalah 280 sampai 300 hari atau 39 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN, PERSALINAN DAN NIFAS TERHADAP PERILAKU ANC PUSKESMAS LATAMBAGA KABUPATEN KOLAKA The Relationship Of Knowledge And Attitude Of Pregnant

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang yang mendasari latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Pada November 1999, the American Hospital

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan sarana penyedia layanan kesehatan untuk masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan membahas tentang: latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Di jaman

Lebih terperinci

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 Variabel: suatu objek yang dapat memiliki lebih dari satu nilai. Contoh variabel: Jenis kelamin: ada dua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era globalisasi ini masyarakat cenderung menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu. Pengukur mutu sebuah pelayanan dapat dilihat secara subjektif dan objektif.

Lebih terperinci

HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD Dr. M.

HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD Dr. M. HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD Dr. M. ZEIN PAINAN ABSTRAK Vina Sulistia Nengsih, Yani Maidelwita* Rumah sakit

Lebih terperinci

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK Sri Rezki Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Pontianak ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Responden dalam Penelitian ini adalah karyawan PT. Telkom Indonesia.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Responden dalam Penelitian ini adalah karyawan PT. Telkom Indonesia. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Karakteristik Responden Penelitian Responden dalam Penelitian ini adalah karyawan PT. Telkom Indonesia. Tbk Divisi Acess Makassar sebanyak 50 orang terpilih berdasarkan populasinya.

Lebih terperinci

HUBUNGAN OBESITAS, AKTIVITAS FISIK, DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DR

HUBUNGAN OBESITAS, AKTIVITAS FISIK, DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DR HUBUNGAN OBESITAS, AKTIVITAS FISIK, DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR Anugrah 1, Suriyanti Hasbullah, Suarnianti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena selain memiliki fungsi sebagai pelayanan, rumah sakit juga menjalankan fungsi pendidikan,

Lebih terperinci

50 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787

50 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 50 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 PERBEDAAN TUMBUH KEMBANG ANAK 1 3 TAHUN DARI YANG DILAHIRKAN DAN NON DIWILAYAH PUSKESMAS MENINTING KABUPATEN LOMBOK BARAT Oleh: Maria Ulfah STIKES Yahya Bima Abstrak:

Lebih terperinci

UJI CHI SQUARE ( 2 ) PRINSIP : 1. merupakan analisis data kategorial. data kualitatif (nominal) data kategorial. data semikuantitatif (ordinal)

UJI CHI SQUARE ( 2 ) PRINSIP : 1. merupakan analisis data kategorial. data kualitatif (nominal) data kategorial. data semikuantitatif (ordinal) ( 2 ) UJI CHI SQUARE ( 2 ) PRINSIP : 1. merupakan analisis data kategorial data kualitatif (nominal) data kategorial data semikuantitatif (ordinal) lebih tepat menggunakan analisis data semikuantitatif

Lebih terperinci

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt Press Release Implementasi Standar Akreditasi Untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan & Keselamatan Pasien RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang, merupakan rumah sakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk

BAB I PENDAHULUAN. atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perpustakaan adalah kumpulan materi tercetak dan media non cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pengguna (Sulistyo-Basuki,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dipersiapkan untuk menjadi produktif dan diharapkan menjadi pewaris

BAB I PENDAHULUAN. dipersiapkan untuk menjadi produktif dan diharapkan menjadi pewaris BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pelayanan kesehatan remaja penting sebab remaja harus dipersiapkan untuk menjadi produktif dan diharapkan menjadi pewaris bangsa yang bermutu. Akhir-akhir ini

Lebih terperinci

ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN

ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN GELADIKARYA Oleh : AMERINA SYAFHARINI, ST 087007074 KONSENTRASI PEMASARAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Definisi konseptual, Operasional dan Pengukuran Variabel

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Definisi konseptual, Operasional dan Pengukuran Variabel BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi konseptual, Operasional dan Pengukuran Variabel 1. Definisi Konseptual Menurut teori teori yang di uraikan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud

Lebih terperinci

STUDI TENTANG KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN PASIEN KELAS III RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL WAHAB SJAHRANIE KOTA SAMARINDA

STUDI TENTANG KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN PASIEN KELAS III RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL WAHAB SJAHRANIE KOTA SAMARINDA ejournal Administrasi Negara, 2013, 1 (2): 788-801 ISSN 0000-0000, ejournal.ip.fisip-unmul.org Copyright 2013 STUDI TENTANG KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN PASIEN KELAS III RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL WAHAB

Lebih terperinci

POPULASI, SAMPLING DAN BESAR SAMPEL

POPULASI, SAMPLING DAN BESAR SAMPEL POPULASI, SAMPLING DAN BESAR SAMPEL Didik Budijanto Pusdatin Kemkes RI Alur Berpikir dalam Metodologi Research: Masalah Identifikasi Mslh [ Batasan ] Rumusan Masalah - Tujuan Penelitian/ Manfaat Tinjauan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Pelayanan Publik Pada Badan

KATA PENGANTAR. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Pelayanan Publik Pada Badan LAMPIRAN 1 KATA PENGANTAR Kuesioner ini dibuat semata-mata untuk maksud penelitian dengan judul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peningkatan Pelayanan Publik Pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Tangerang

Lebih terperinci

3.1 KERANGKA ANALISIS KAJIAN

3.1 KERANGKA ANALISIS KAJIAN Metodologi kajian yang akan dilakukan sangatlah erat kaitannya dengan tujuan yang akan dicapai dan ketersedian data dan informasi yang didapat serta beberapa pertimbangan lainnya, seprti pemenuhan tujuan

Lebih terperinci

TINJAUAN TATA LAKSANA PELAYANAN KESEHATAN MELALUI SISTEM ASURANSI KESEHATAN DI RSUD PROF. DR. WZ. JOHANNES KUPANG TAHUN 2009

TINJAUAN TATA LAKSANA PELAYANAN KESEHATAN MELALUI SISTEM ASURANSI KESEHATAN DI RSUD PROF. DR. WZ. JOHANNES KUPANG TAHUN 2009 TINJAUAN TATA LAKSANA PELAYANAN KESEHATAN MELALUI SISTEM ASURANSI KESEHATAN DI RSUD PROF. DR. WZ. JOHANNES KUPANG TAHUN 2009 Felix Kasim, Aurelia Maria Liliweri Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas

Lebih terperinci

KUESIONER. Variabel Dependen. wawancara dengan responden sesuai pada option jawaban yaitu : 1. Ya bobot nilai 1 2. Tidak bobot nilai 0

KUESIONER. Variabel Dependen. wawancara dengan responden sesuai pada option jawaban yaitu : 1. Ya bobot nilai 1 2. Tidak bobot nilai 0 KUESIONER Variabel Independen Petunjuk : Beri tanda checklist ( ) pada kolom ng telah disediakan terhadap hasil pengamatan anda sesuai dengan option jawaban : 1. Sesuai bobot nilai 1 2. Tidak sesuai bobot

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Tanggung jawab sosial merupakan tanggung jawab perusahan terhadap lingkungan dan para pemangku kepentingan. Tanggung jawab sosial menjadikan perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan

BAB I PENDAHULUAN. upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan pemulihan 7 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Rumah sakit merupakan suatu institusi di mana segenap lapisan masyarakat bisa datang untuk memperoleh upaya penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Upaya

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERSALINAN KALA II LAMA DENGAN ASFIKSIA BAYI BARU. LAHIR DI RSUD.Dr.H. MOCH ANSARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2011. Husin :: Eka Dewi Susanti

HUBUNGAN PERSALINAN KALA II LAMA DENGAN ASFIKSIA BAYI BARU. LAHIR DI RSUD.Dr.H. MOCH ANSARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2011. Husin :: Eka Dewi Susanti HUBUNGAN PERSALINAN KALA II LAMA DENGAN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR DI RSUD.Dr.H. MOCH ANSARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2011 Husin :: Eka Dewi Susanti ISSN : 2086-3454 VOL 05. NO 05 EDISI 23 JAN 2011 Abstrak

Lebih terperinci

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG IRA YUMIRA EMAIL: http // i.yumira@yahoo.co.id STKIP SILIWANGI

Lebih terperinci

Tahap-Tahap Penelitian Eksperimental. Semester genap

Tahap-Tahap Penelitian Eksperimental. Semester genap Tahap-Tahap Penelitian Eksperimental Semester genap Pendahuluan Penelitian eksperimental merupakan suatu metode penelitian yang meliputi delapan tahap, yaitu: 1. Memilih ide atau topik penelitian 2. Merumuskan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANC DI KLINIK DINA BROMO UJUNG LINGKUNGAN XX MEDAN TAHUN 2013

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANC DI KLINIK DINA BROMO UJUNG LINGKUNGAN XX MEDAN TAHUN 2013 HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANC DI KLINIK DINA BROMO UJUNG LINGKUNGAN XX MEDAN TAHUN 2013 Oleh: ARIHTA BR. SEMBIRING Dosen Poltekkes Kemenkes

Lebih terperinci

ABSTRAK. PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia)

ABSTRAK. PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia) ABSTRAK PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia) Seiring dengan semakin ketatnya dunia usaha, maka perusahaan dituntut untuk dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini, di seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. ABSTRAKSI... iii. KATA PENGANTAR iv. DAFTAR ISI vi. DAFTAR GAMBAR ix. DAFTAR TABEL x. I.1. Latar Belakang Masalah..

DAFTAR ISI. ABSTRAKSI... iii. KATA PENGANTAR iv. DAFTAR ISI vi. DAFTAR GAMBAR ix. DAFTAR TABEL x. I.1. Latar Belakang Masalah.. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pengembangan produk untuk menumbuhkan minat beli konsumen dalam kaitannya dengan kualitas produk Oli S.P.C. di P.T.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 27 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif karena dalam pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi tentang arti dan data yang

Lebih terperinci

TAHAP-TAHAP PENELITIAN

TAHAP-TAHAP PENELITIAN TAHAP-TAHAP PENELITIAN Tiga tahap utama penelitian yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap penulisan laporan. A. TAHAP PERENCANAAN 1. Pemilihan masalah, dengan kriteria: Merupakan tajuk penting,

Lebih terperinci

GAMBARAN CARA PERAWATAN TALI PUSAT DAN LAMA WAKTU PELEPASAN TALI PUSAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN BAKI SUKOHARJO

GAMBARAN CARA PERAWATAN TALI PUSAT DAN LAMA WAKTU PELEPASAN TALI PUSAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN BAKI SUKOHARJO GAMBARAN CARA PERAWATAN TALI PUSAT DAN LAMA WAKTU PELEPASAN TALI PUSAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN BAKI SUKOHARJO SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Meraih Derajat Sarjana

Lebih terperinci

DESI MAHFUDHAH 1. Intisari

DESI MAHFUDHAH 1. Intisari HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PEKERJAAN IBU TERHADAP PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA TATANAN RUMAH TANGGA DI DESA REUKIH DAYAH KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR THE RELATIONSHIPBETWEENT KNOWLEDGE,

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO Kata Pengantar Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia Sehat,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 3.1.1 Definisi Konseptual Kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan kinerja organisasi

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui derajat stress kerja yang dialami oleh para manajer madya di perusahaan X Bandung. Sesuai dengan tujuan penelitian ini, maka metode yang digunakan adalah

Lebih terperinci

LAPORAN DATA INDIKATOR MUTU PELAYANAN RSUD KABUPATEN PACITAN TAHUN 2015

LAPORAN DATA INDIKATOR MUTU PELAYANAN RSUD KABUPATEN PACITAN TAHUN 2015 A. INDIKATOR KLINIK LAPORAN DATA INDIKATOR MUTU PELAYANAN RSUD KABUPATEN PACITAN TAHUN 25 NO JUDUL INDIKATOR FORMULA DATA. Pengkajian awal Jumlah tindakan pengkajian pasien baru < 24 jam awal yang dilakukan

Lebih terperinci

RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016

RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016 - 0 - RENCANA INDUK PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT ( RIPPM ) STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG TAHUN 2012-2016 Disiapkan, Disetujui, Disahkan, Ketua, Sarwono, SKM Eri Purwati, M.Si Giyatmo, S.Kep., Ns.

Lebih terperinci

HUBUNGAN PEMBERIAN REWARD UCAPAN TERIMA KASIH DENGAN KEDISIPLINAN WAKTU SAAT MENGIKUTI TIMBANG TERIMA PERAWAT RUANG BEDAH DI RSUP Dr.

HUBUNGAN PEMBERIAN REWARD UCAPAN TERIMA KASIH DENGAN KEDISIPLINAN WAKTU SAAT MENGIKUTI TIMBANG TERIMA PERAWAT RUANG BEDAH DI RSUP Dr. HUBUNGAN PEMBERIAN REWARD UCAPAN TERIMA KASIH DENGAN KEDISIPLINAN WAKTU SAAT MENGIKUTI TIMBANG TERIMA PERAWAT RUANG BEDAH DI RSUP Dr. KARIADI SEMARANG SKRIPSI Disusun untuk memenuhi persyaratan mencapai

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan.

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan. 52 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Sesuai dengan judul yang peneliti angkat, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, fenomenologis dan berbentuk diskriptif.

Lebih terperinci

KONSEP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN PERUMAHAN BTN BAUMATA, KOTA KUPANG

KONSEP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN PERUMAHAN BTN BAUMATA, KOTA KUPANG TESIS KONSEP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN PERUMAHAN BTN BAUMATA, KOTA KUPANG ROLIVIYANTI JAMIN 3208201833 DOSEN PEMBIMBING Ir. Purwanita S, M.Sc, Ph.D Dr. Ir. Rimadewi

Lebih terperinci

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT Hubungan Tingkat Kepositivan Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) dengan Gambaran Luas Lesi Radiologi Toraks pada Penderita Tuberkulosis Paru yang Dirawat Di SMF Pulmonologi RSUDZA Banda Aceh Mulyadi *,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian itu sebagai factor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau segala

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian itu sebagai factor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau segala BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Menurut Sumadi suryabrata, variable sering dikatakan sebagai gejala yang menjadi obyek pengamatan penelitian. Sering juga dinyatakan variable penelitian

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. bulan, sejak bulan Oktober 2007 sampai dengan bulan April 2008. Tabel 1 Jadwal Penelitian Tahapan

METODE PENELITIAN. bulan, sejak bulan Oktober 2007 sampai dengan bulan April 2008. Tabel 1 Jadwal Penelitian Tahapan 14 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SMK Negeri 1 Ngawen Kabupaten Gunungkidul.. Waktu Penelitian Aktivitas penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengambil lokasi di Matahari Department Store Mall Ratu Indah. Waktu yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengambil lokasi di Matahari Department Store Mall Ratu Indah. Waktu yang 57 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah dimana penelitian tersebut akan dilakukan. Adapun penelitian yang dilakukan oleh penulis

Lebih terperinci

MANAJEMEN PENCATATAN dan PELAPORAN EPIDEMIOLOGI

MANAJEMEN PENCATATAN dan PELAPORAN EPIDEMIOLOGI MANAJEMEN PENCATATAN dan PELAPORAN EPIDEMIOLOGI A. Pengertian Pencatatan dan Pelaporan merupakan kegiatan yang harus diperhatikan oleh tenaga kesehatan (khususnya Epidemiolog) dalam rangka memberikan pelayanan

Lebih terperinci

LAPORAN KINERJA TRIWULANAN RSUD LAWANG TAHUN 2015

LAPORAN KINERJA TRIWULANAN RSUD LAWANG TAHUN 2015 LAMPIRAN LAPORAN KINERJA TRIWULANAN RSUD LAWANG TAHUN 2015 RSUD Lawang mempunyai 2 sasaran srategis, yaitu : 1. Meningkatnya sumber daya manusia, sarana, prasarana, peralatan, dan kebijakan untuk pengembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit pada umumnya menyediakan keperluan untuk pemeliharaan

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit pada umumnya menyediakan keperluan untuk pemeliharaan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Rumah sakit pada umumnya menyediakan keperluan untuk pemeliharaan dan pemulihan kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 983/Menkes/SK/XI/1992

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara ilmiah yang dilakukan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu.(lasa,2009:207). Kata ilmiah dalam Kamus Besar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri, ketegangan otot, atau kekakuan lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

Lebih terperinci

Written by Winarno Monday, 17 December 2012 00:00 - Last Updated Monday, 24 December 2012 03:07

Written by Winarno Monday, 17 December 2012 00:00 - Last Updated Monday, 24 December 2012 03:07 Skripsi... Oh... Skripsi... Skripsi merupakan tugas akhir perkuliahan yang terkadang menjadi momok bagi sebagian mahasiswa. karena skripsi inilah yang membuat seseorang terkadang menjadi mahasiswa abadi

Lebih terperinci

MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS. Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha)

MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS. Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha) MANAJEMEN KASUS HIV/AIDS Sebagai Pelayanan Terpadu Bagi Orang dengan HIV/AIDS (Odha) Tujuan Peserta mampu : 1. Menjelaskan dan menerapkan prinsip-prinsip dasar manajemen kasus HIV/AIDS 2. Memahami fungsi/kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi perlu perawatan diri yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang normal

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi secara kuantitatif dan kualitatif. Dimana analisis

Lebih terperinci

Penulisan Tesis Bab I & II. Frida Chairunisa

Penulisan Tesis Bab I & II. Frida Chairunisa Penulisan Tesis Bab I & II Frida Chairunisa Peta Wisata Tesis Pintu gerbang penelitian tesis Bab I Pendahuluan Bab III Metodologi Penelitian Bab V Kesimpulan dan Saran Magister Peneliti Bab II Tinjauan

Lebih terperinci