or ABSTRAK ABSTRACT

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Email: nafadala@gmail.com or nafadala@yahoo.com ABSTRAK ABSTRACT"

Transkripsi

1 UJI COBA DAN PENYEMPURNAAN STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) PELAYUAN DAN PENYULINGAN PROSES PRODUKSI MINYAK ATSIRI NILAM DI UNIT PRODUKSI MINYAK NILAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA, KESAMBEN EXPERIMENT AND IMPROVEMENT STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) OF WITHERING AND DISTILLATION THE PATCHOULI ESSENTIAL OIL PRODUCTION PROCESS IN UNIT OF PATCHOULI OIL PRODUCTION UNIVERSITY OF BRAWIJAYA, KESAMBEN Mohammead Lyna 1*, Nur Hidayat 2, Nur Lailatul Rahmah 2 1 Alumni Jurusan Teknologi Pertanian-Fak.Teknologi Pertanian-Univ.Brawijaya 2 Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pertanian-Fak.Teknologi Pertanian-Univ.Brawijaya or ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian Standard Operating Procedure (SOP) dan menetapkan tindakan perbaikan pada SOP proses pelayuan dan penyulingan minyak atsiri nilam di Unit Produksi Minyak Atsiri Universitas Brawijaya. Penelitian ini dilakukan dengan metode evaluasi deskriptif. Hasil uji coba SOP pelayuan dan penyulingan proses produksi minyak atsiri nilam didapatkan hasil yaitu SOP lama belum sesuai dan terdapat perbaikan SOP pelayuan dan penyulingan. Pada proses pelayuan terdapat koreksi terhadap penggunaan kalimat, bila terdapat ketidaksesuaian pengecekan akan kembali pada tahap staf produksi membuat permintaan daun nilam basah ke bagian gudang, penambahan tahap pengecilan ukuran dengan menggunakan gunting, penambahan tahap pembersihan dan pengikatan tanaman nilam menjadi 1,5 kg, koreksi terhadap cuaca panas dan hujan menjadi keadaan fisik daun nilam diperiksa. Pada proses penyulingan terdapat koreksi terhadap penggunaan kalimat, penetapan pemasukan jumlah bahan baku di dalam ketel suling yaitu 200kg, bila terdapat ketidaksesuaian sistem penyulingan akan kembali pada tahap staf produksi mengecek dan menyesuaikan sistem penyulingan, penentuan tekanan untuk boiler yaitu 2,4 3,4 bar, penambahan pemisahan minyak dan air dengan gayung dan penampungan minyak di decanter. Kata kunci : Minyak Nilam, Standard Operating Procedure ABSTRACT The purpose of this research was to determine the suitability of the Standard Operating Procedure (SOP) and establish corrective action on the process of withering and patchouli essential oil distillation in Essential Oil Production Unit using descriptive evaluation method. Experiment results of withering and distillation the Patchouli Essential Oil Production Process showed that the old SOP still not suitable and has been corrected. In the withering process there are corrections to the use of the sentence. If there is a mismatch checks will be returned at the step of production staff makes a request to warehouse for wet patchouli leaves. Additional step of size reduction using the scissors. Additional step of cleaning and fastening patchouli to 1.5 kg. Correction of sunny and rainy weather into the physical condition of patchouli leaves checked. In the distillation process there are corrections to the use of the sentence. The determination of income in the amount of raw material that is distilled kettle 200kg. When there is a mismatch distillation system will be returned at the step of production staff check and adjust the distillation system. The determination of the boiler pressure from 2.4 to 3.4 bar. Additional of separation oil and water with a scoop and oil storage in a decanter. Keywords: Patchouli Alcohol, Standard Operating Procedure

2 PENDAHULUAN Salah satu upaya yang dilakukan suatu industri untuk mengatasi permasalahan kualitas dari produk yang dihasilkan adalah dengan cara memperbaiki kualitas proses produksinya. Perbaikan kualitas proses produksi dapat dilakukan dengan merumuskan dan menerapkan suatu Standard Operating Procedure (SOP) yang benar dan sesuai, sehingga produk yang dihasilkan dapat memenuhi target yang diinginkan. SOP merupakan dokumen yang berisi prosedur operasi atau proses dimana seluruh aktivitas dari proses tersebut harus mengikuti standar operasi yang telah ditetapkan. Penyusunan SOP digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan secara aman, tanpa akibat yang merugikan bagi lingkungan, memaksimalkan syarat-syarat operasi dan hasil produksi (Anonymous, 2005). Penerapan SOP sangat penting karena dapat meyakinkan bahwa suatu pekerjaan dilakukan dengan konsisten dan berkelanjutan sehingga dapat mengurangi terjadinya kesalahan dalam pekerjaan tersebut. Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Blitar telah mendirikan pembangunan unit produksi minyak atsiri nilam modern di Kecamatan Kesamben, Blitar sebagai pusat rujukan bagi para Usaha Kecil Menegah (UKM) minyak atsiri umumnya dan minyak nilam khususnya. Minyak nilam adalah minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan batang dan daun tanaman nilam. Minyak nilam yang tergolong ke dalam minyak atsiri (essential oil) merupkan komponen penting dalam industry parfumery seperti minyak wangi, sabun, deodorant dan lain-lain (Alam, 2007). Menurut Nurdjannah et al. (2006) proses produksi minyak nilam meliputi beberapa tahapan yaitu pemanenan daun, pelayuan, perajangan, penyulingan, pemisahan minyak dari air dan pengemasan. Minyak nilam terdiri dari persenyawaan terpen dengan alcohol-alkohol. Aldehid dan ester-ester memberikan bau khas misalnya patchouli alcohol yang merupkan komponen terbesar (Septiana et al, 2013). Standar Nasional Indonesia menentukan kandungan patchouli alcohol dalam minyak nilam minimal 30% (Harunsyah, 2011). Pada kenyataannya unit produksi minyak nilam Universitas Brawijaya, Kesamben merupakan unit produksi baru dan SOP telah dibuat masih belum diterapkan sehingga perlu uji coba dan penyempurnaan SOP tersebut khususnya tahap pelayuan dan penyulingan. Menurut Friedman (2005) revisi perlu dilakukan ketika terjadi beberapa perubahan atau modifikasi untuk peralatan, mesin, bangunan atau struktur yang lain atau prosedur - prosedur area kerja yang mungkin mempengaruhi kinerja pekerjaan. Perumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah SOP yang ada telah sesuai dan bagaimana melaksanakan perbaikan SOP proses pelayuan dan penyulingan minyak atsiri nilam di Unit Produksi Minyak Atsiri Universitas Brawijaya. Tujuan penelitian adalah mengetahui kesesuaian SOP dan menetapkan tindakan perbaikan pada SOP proses pelayuan dan penyulingan minyak atsiri nilam. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di Unit Produksi Minyak Nilam Universitas Brawijaya, Kesamben, Blitar, pada bulan Maret 2012 sampai dengan Juni Alat-alat yang digunakan untuk memproduksi minyak atsiri nilam adalah timbangan, gunting, tali, karung terpal, gelas ukur, wadah penampung minyak, seperangkat mesin penyulingan yang terdiri dari ketel penyulingan, boiler, dan pompa air. Bahan digunakan adalah daun nilam segar, bahan bakar solar dan air.

3 Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode evaluasi deskriptif, yaitu penggambaran aktivitas pelayuan dan penyulingan di lapang yang disusun sebagai usulan perbaikan SOP berdasarkan hasil survei. Setelah diperoleh SOP perbaikan pelayuan dan penyulingan, dilanjutkan dengan penerapan SOP untuk menyakinkan bahwa aktivitas pelayuan dan penyulingan telah dilakukan sesuai dengan standar. Sampel yang ditetapkan pada penelitian ini adalah jumlah bahan baku, tekanan, waktu penyulingan dan pemakaian bahan solar. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Unit Produksi Minyak Atsiri Nilam Unit Produksi Minyak Atsiri Nilam Universitas Brawijaya didirikan sejak tahun 2011 dan mulai berproduksi pada bulan Maret Berlokasi di kecamatan Kesamben, kabupaten Blitar Jawa Timur. Unit produksi tersebut merupakan program kerja sama antara Universitas Brawijaya dan Pemerintah Kabupaten Blitar dengan bantuan dana hibah Program Hibah Kompentensi Tema C. Tujuan dari pelaksanaan program ini dalam rangka mengembangkan kabupaten Blitar sebagai pusat penghasil minyak atsiri terbesar di Indonesia Timur. Karyawan di unit produksi tersebut dapat digolongkan menjadi karyawan tetap dan karyawan kontrak. Jam kerja untuk karyawan mulai pukul dari Senin sampai Sabtu. Evaluasi Penerapan SOP Proses Pelayuan Daun Nilam Evaluasi penerapan pelayuan nilam pada penelitian ini adalah melakukan observasi terhadap penerapan SOP proses pelayuan yang telah disusun sebelumnya untuk mendapatkan SOP sesuai dengan kondisi di lapang. Observasi di lapang menunujukkan terjadi perubahan pada SOP yang telah dibuat dan perlu usulan perbaikan pada SOP. Hasil usulan tersebut akan diverifikasi oleh operator dan supervisor bagian produksi. Perubahan yang terdapat pada SOP lama dan perbaikan SOP proses pelayuan berikutnya dapat dilihat pada Tabel 1 Tabel 1. Perubahan pada SOP lama dan perbaikan SOP proses pelayuan No. SOP Lama SOP Perbaikan Penjelasan 1. Penggunaan kalimat dalam bentuk Penggunaan kalimat dalam Koreksi terhadap aktif bentuk pasif penggunaan kalimat 2. Apabila terdapat ketidaksesuaian Apabila terdapat Langkah ini untuk pengecekan staf produksi akan ketidaksesuaian pengecekan memastikan permintaan menghubungi staf gudang untuk jumlah bahan baku dan mereview permintaan dan pengiriman mulai dari pengiriminan awalnya proses pelayuan Tidak ada tahap pemotongan/pengecilan ukuran Tidak ada tahap pembersihan dan pengikatan Cuaca panas dan hujan akan kembali pada tahap pertama yaitu staf produksi mebuat permintaan daun nilam basah ke bagian gudang Ditambah dengan tahap pemotongan dengan gunting/pisau Ditambah dengan tahap pembersihan dan pengikatan tanaman nilam Keadaan fisik nilam diraba Penambahan tahap Penambahan tahap Proses pelayuan berlangsung hingga daun nilam menjadi kering

4 Evaluasi Penerapan SOP Proses Penyulingan Minyak Nilam Evaluasi penerapan SOP penyulingan minyak nilam pada penelitian ini sama halnya proses pelayuan adalah melakukan evaluasi terhadap SOP proses penyulingan yang telah disusun sebelumnya untuk mendapatkan SOP sesuai dengan kondisi di lapang. Observasi di lapang menunujukkan terjadi perubahan pada SOP yang telah dibuat dan perlu usulan perbaikan pada SOP. Hasil usulan tersebut akan diverifikasi oleh operator dan supervisor bagian produksi. Perubahan yang terdapat pada SOP lama dan perbaikan SOP proses penyulingan berikutnya dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Perubahan pada SOP lama dan perbaikan SOP proses penyulingan No. SOP Lama SOP Perbaikan Penjelasan 1. Penggunaan kalimat dalam bentuk Penggunaan kalimat dalam Koreksi terhadap aktif bentuk pasif penggunaan kalimat 2. Staf produksi mengambil daun Staf produksi mengambil Jika massa nilam terlalu nilam kering 300 kg dan daun nilam kering 200 kg dan padat akan mempengaruhi memasukkan ke tungku memasukkan ke tungku uap di dalam ketel suling penyulingan penyulingan untuk mengekstraksi tanaman nilam sehingga 3. Apabila terdapat ketidaksesuaian jaringan maka staf produksi akan menyesuaikan jaringan penyulingan Staf produksi menyalakan steam boiler Tidak ada tahap pemisahan minyak dan air Staf produksi menampung minyak dari decanter ke dalam drum Apabila terdapat ketidaksesuaian sistem penyulingan akan kembali pada tahap sebelumnya yaitu staf produksi mengecek dan menyesuaikan sistem penyulingan Staf produksi menyalakan steam boiler dan mengatur tekanan 2,4 3,4 bar Staf produksi memisahkan minyak dan air dengan gayung Staf produksi menampung minyak di decanter harus dikurangi jumlahnya Langkah tidak tepat dan harus kembali ke tahap sebelumnya Penentuan tekanan tepat untuk proses penyulingan Penambahan tahap Kondisi di lapang penampungan minyak di decanter merupakan tahapan terakhir Teknik pengolahan yang digunakan pada proses penyulingan minyak nilam di unit produksi Kesamben adalah penyulingan uap langsung. Pada penyulingan uap langsung sumber panas terdapat pada ketel uap yang letaknya terpisah dari ketel suling, dan menggunakan tekanan lebih tinggi. Kualitas produk minyak atsiri yang dihasilkan jauh lebih sempurna dibandingkan dengan kedua cara yang lainnya. Menurut Aisyah dan Masril (2012) penyulingan dengan uap dapat menghasilkan minyak nilam dengan kandungan patchouli alcohol lebih tinggi berkisar antara 40-55%. Proses penyulingan akan berlangsung selama beberapa jam. Pada kenyataan di lapang, proses penyulingan berlangsung dengan dua waktu yang berbeda yaitu 6 jam dan 8 jam. Hal ini dikarenakan unit produksi masih dalam taraf uji coba dan untuk memilih waktu penyulingan yang paling efisien. Data penyulingan dapat dilihat pada Tabel 3.

5 Tabel 3. Data proses penyulingan minyak atsiri nilam No Tanggal Jumlah Bahan Baku (kg) Tekanan uap (bar) Lama penyulingan (jam) Pemakaian solar (liter) ,0 s/d 7,0 6 58, ,4 s/d 3,4 6 38, ,4 s/d 3,4 6 38, ,4 s/d 3,4 8 41, ,4 s/d 3,4 8 60, ,4 s/d 3,4 8 50,5 Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa pada waktu penyulingan 6 jam pemakaian solar untuk jumlah bahan baku sebesar 200 kg dan 214 kg adalah 38,0 liter. Tekanan uap yang digunakan adalah sebesar 2,4 hingga 3,4 bar. Meskipun jumlah bahan baku tidak sama namun tekanan uap yang digunakan adalah sama sehingga tidak menyebabkan kenaikan pemakaian solar. Sedangkan pemakaian solar untuk jumlah bahan baku sebesar 220 kg adalah 58,0 liter. Tekanan uap yang digunakan adalah sebesar 4,0 hingga 7,0 bar. Hal ini dikarenakan tekanan tinggi memerlukan pemanasan terus menerus dan membutuhkan konsumsi solar untuk mencapai tekanan yang dibutuhkan. Menurut Geankoplis (1983) proses pengembunan uap menjadi cairan, dan penguapan suatu cairan menjadi uap melibatkan perubahan fase cairan dengan koefisien pindah panas yang besar. Sedangkan pada waktu penyulingan 8 jam pemakaian solar untuk jumlah bahan baku sebesar 250 kg adalah 41,5 liter. Halnya berbeda dengan pemakaian solar untuk jumlah bahan baku sebesar 202 kg dan 200 kg adalah 60,0 liter dan 50,5 liter. Meskipun tekanan uap yang digunakan adalah sama yaitu 2,4 sampai 3,4 bar akan tetapi jumlah pemakaian solar untuk massa bahan baku 202 kg dan 200 kg relatif lebih besar daripada jumlah bahan baku 250 kg. Menurut Uzwatania (2009), semakin tinggi kerapatan bahan dan pengisian yang terlalu padat mengakibatkan uap tertahan dan sulit untuk menembus bahan. Bila uap tidak mudah keluar maka tidak banyak mengkonsumsi solar. Kualitas Minyak Atsiri Nilam Hasil Penyulingan Menurut Sumami et al (2008) kualitas minyak atsiri ditentukan oleh karakteristik alamiah dari masing-masing minyak tsb dan bahan-bahan asing yang tercampur di dalamnya. Selain itu, factor lain yang menentukan mutu minyak adalah sifat-sifat fisika-kimia minyak, jenis tanaman, umur panen, perlakuan bahan sebelum penyulingan, jenis peralatan yang digunakan dan kondisi prosesnya, perlakuan minyak setelah penyulingan, kemasan dan penyimpanan. Pada proses penyulingan minyak nilam rendemen dihasilkan bervariasi berdasarkan jumlah bahan baku, pengaturan tekanan steam boiler, lama waktu penyulingan dan pemakaian bahan bakar solar. Hasil rendemen yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil perhitungan rendemen minyak atsiri nilam No Jumlah Bahan Baku (kg) Volume minyak Rendemen (%) Pemakaian solar (liter) Efisiensi pemakaian solar (%) (liter) ,80 2,18 58,0 8, ,80 2,40 38,0 12, ,80 2,24 38,0 12, ,11 1,64 41,5 9, ,20 2,57 60,0 8, ,02 3,01 50,5 11,92

6 Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa volume minyak atsiri nilam yang dihasilkan berbedabeda dan rendemen yang diperoleh bervariasi pula. Pada proses penyulingan dengan waktu 6 jam rendemen minyak cenderung menurun. Penyulingan dengan jumlah bahan baku sebanyak 200 kg menghasilkan rendemen sebesar 2,40%, jumlah bahan baku sebanyak 214 kg menghasilkan rendemen sebesar 2,24% dan jumlah bahan baku sebanyak 220 kg hanya menghasilkan rendemen sebesar 2,18%. Sedangkan pada proses penyulingan dengan waktu 8 jam juga mengalami hal yang sama dengan waktu penyulingan 6 jam yaitu rendemen minyak cenderung menurun. Penyulingan dengan jumlah bahan baku sebanyak 200 kg menghasilkan rendemen sebesar 3,01 %, jumlah bahan baku sebanyak 202 kg menghasilkan rendemen sebesar 2,57% dan jumlah bahan baku sebanyak 250 kg hanya menghasilkan rendemen sebesar 1,64%. Hal ini disebabkan dengan bobot bahan makin besar maka makin tinggi bahan dalam tangki penyulingan juga semakin meningkat, sehingga hambatan yang dialami uap air juga semakin besar (Ma mun, 1996). Menurut Uzwatania (2009), semakin tinggi kerapatan bahan dan pengisian yang terlalu padat dalam ketel penyulingan akan mengakibatkan uap tertahan dan sulit untuk menembus bahan. Uap yang telah melewati bahan dalam ketel umumnya mengandung minyak. Bila jalan uap yang mengandung minyak tersebut terhambat maka rendemen yang diperoleh akan menurun. Perbandingan efisiensi pemakaian solar pada waktu penyulingan 6 jam menunjukkan bahwa pengaturan tekanan boiler terlalu tinggi menghasilkan efisiensi paling rendah yaitu 8,27%. Hal ini dikarenakan tekanan tinggi memerlukan pemanasan terus menerus dan membutuhkan konsumsi solar untuk mencapai tekanan yang dibutuhkan. Waktu penyulingan berlangsung hanya 6 jam maka masih banyak minyak belum terekstraksi secara maksimal. Pada waktu penyulingan 8 jam efisiensi paling banyak yaitu 11,92% terdapat pada massa bahan baku sebesar 200 kg. Jumlah bahan baku 250 kg memiliki efisiensi proses lebih besar yaitu 9,90% dibandingkan dengan jumlah bahan 200 kg yaitu 8,67%. Hal ini dikarenakan. jumlah bahan baku terlalu padat akan mempengaruhi uap yang terdapat di dalam ketel suling. Jika uap sulit menembus bahan maka kebutuhan solar untuk menghasilkan uap tentu juga lebih sedikit. Selain itu terdapat kesalahan teknis yang terjadi di lapang. Jika kran boiler dibuka maksimal maka tutup ketel suling tidak dapat menahan tekanan maksimal dari boiler sehingga akan tembus keluar ketel suling. Pada proses penyulingan dengan waktu 8 jam menghasilkan rata-rata rendemen lebih banyak yaitu 2,40% dibandingkan dengan waktu 6 jam menghasilkan rata-rata rendemen yaitu 2,27%. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil rendemen minyak nilam. Ketaren (1985), menyatakan salah satu faktor yang mempengaruhi rendemen minyak nilam adalah perlakuan sebelum minyak nilam disuling atau perlakuan pendahuluan. Perlakuan tersebut adalah pengeringan daun nilam. Pengeringan adalah pengurangan sebagian kandungan air dalam bahan dengan cara termal. Selain itu proses pemanenan tanaman nilam juga mempengaruhi hasil rendemen. Panen dilakukan ketika daunnya masih berwarna hijau tua dan belum berubah menjadi cokelat. Pemanenan tanaman nilam dilakukan pada pagi atau sore hari agar diperoleh kandungan minyak yang tinggi. Untuk mengetahui senyawasenyawa kimia terutama kadar patchouli alcohol dari hasil rendemen yang diperoleh maka dilakukan analisa lab dengan menggunakan Gas Chromatography Mass Spectometry (GC-MS). Menurut Hernani (1988) senyawa yang terkandung dalam minyak atsiri nilam lebih dari sepuluh macam, akan tetapi yang dapat diindentifikasi antara lain adalah beta-patchoulen, alpha-guainen, bulsenen dan patchouli alcohol. Patchouli alcohol merupakan kompenen utama penyusun minyak nilam dan merupakan senyawa yang menentukan bau minyak nilam.berdasarkan hasil analisa GC-MS kadar patchouli alcohol pada setiap penyulingan memiliki nilai yang berbeda-berbeda dan dapat dilihat pada Tabel 5.

7 No Tabel 5. Hasil analisa kadar patchouli alcohol minyak atsiri nilam Lama Volume Rendemen (%) Kadar PA (%) Penyulingan minyak (jam) (liter) Jumlah Bahan Baku (kg) ,80 2,18 17, ,80 2,40 19, ,80 2,24 17, ,11 1,64 16, ,20 2,57 18, ,02 3,01 21,33 Pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa kadar Patchouli Alcohol (PA) pada waktu penyulingan 6 jam cenderung menurun. Sedangkan pada waktu penyulingan 8 jam juga mengalami hal yang sama dengan waktu penyulingan 6 jam yaitu kadar PA cenderung menurun. Perbandingan kadar PA antara pada proses penyulingan waktu 8 jam lebih besar yaitu 18,82 % daripada pada proses penyulingan 6 jam yaitu 18,01 %. Menurut Gusmaini dan Syakir (2012) rendahnya produktivitas dan mutu minyak nilam antara lain disebabkan teknologi budidaya yang masih sederhanan dan berkembangnya berbagai penyakit. Sedangkan menurut Guenther (1970) banyak faktor yang mempengaruhi kadar dan mutu minyak nilam, antara lain genetik, budi daya, lingkungan, panen, dan pascapanen. Nilam yang tumbuh di dataran tinggi. kadar minyaknya lebih rendah daripada yang tumbuh di dataran rendah, namun kadar patchouli alkoholnya lebih tinggi. Sebaliknya, nilam yang tumbuh di dataran rendah kadar minyaknya lebih tinggi, sedangkan kadar patchouli alkoholnya lebih rendah. Kadar PA tertinggi diperoleh pada waktu penyulingan 8 jam dengan penyulingan no.6. Hasil analisa menunjukkan bahwa penyulingan no.6 memiliki kadar PA paling tinggi di antara penyulingan lain yaitu 21,33%. Menurut Nurdjannah et al, (2006) makin lama waktu peyulingan, makin tinggi rendemen, bobot jenis, bilangan ester dan kadar patchouli alcohol dari minyak yang dihasilkan. Berdasarkan efisiensi hasil pemakaian solar dan kadar PA yang diperoleh maka perlakuan terbaik pada proses penyulingan minyak atsiri nilam ini adalah dengan berat bahan baku sebanyak 200kg, tekanan yang diatur sebesar 2,4 3,4 bar dan waktu penyulingan berlangsung selama 8 jam. KESIMPULAN Pelayuan: Koreksi terhadap penggunaan kalimat. Bila ketidaksesuaian pengecekan akan kembali pada tahap pertama yaitu staf produksi mebuat permintaan daun nilam basah ke bagian gudang. Penambahan tahap pengecilan ukuran dengan menggunakan pisau/gunting. Penambahan tahap pembersihan dan pengikatan tanaman nilam menjadi 1,5 kg. Koreksi terhadap cuaca panas dan hujan menjadi keadaan fisik daun nilam diperiksa Penyulingan: Koreksi terhadap penggunaan kalimat. Penetapan pemasukan jumlah bahan baku di dalam ketel suling yaitu 200 kg. Apabila terdapat ketidaksesuaian sistem penyulingan akan kembali pada tahap sebelumnya yaitu staf produksi mengecek dan menyesuaikan sistem penyulingan. Penentuan tekanan untuk boiler yaitu 2,4 3,4 bar. Penambahan tahap pemisahan minyak dan air secara manual dengan menggunakan gayung. Penampungan minyak di decanter. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih penulis mengucapkan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Republik Indonesia atas bantuan dana hibah Program Hibah Kompetensi Tema C serta Universitas Brawijaya dan Pemerintah Kabupaten Blitar yang telah membantu pembiayaan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Anonymous. (2005). What s a Standard Operating Procedure. Dilihat 10 Mei

8 Alam, P.C. (2007). Aplikasi Proses Pengkelatan untuk Peningkatan Mutu Minyak Nilam Aceh. Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan. 6 (2) : Aisyah,S. dan Masril,C. (2012). Pemisahan Senyawa Patchouli Alcohol Dari Minyak Nilam Dengan Cara Distilasi Fraksinasi. Jurnal Teknologi Industri Pertanian. (21) :89-93 Friedman, K. (2005). What Is a Standard Operating Procedures. Departement of Journalisim and Comunication. Lehigh University. Bethlehem. Dilihat 10 Mei Geankoplis, G.J., (1983). Transport Process and Unit Operation. Second Edition. Allyn and Bacon, Inc, Boston. Guenther, F., (1970). The Essential Oil. Vol.I and II. Van Nostrand Inc. New York. Gusmaini dan Syakir, M. (2012). Pengaruh Penggunaan Sumber Pupuk Kalium Terhadap Produksi dan Mutu Minyak Tanaman Nilam. Jurnal Litri. 18 (2) :60-65 Harunsyah. (2011). Peningkatan Mutu Minyak Nilam Rakyat Melalui Proses Pemurnian. Jurnal Teknologi. 11 (1) Ketaren, S. (1985). Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka. Jakarta. Ma mun. (1996). Pengaruh Bobot Bahan dan Lama Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Bunga Cengkeh. Dalam Prosiding Sumposium Nasional I Tumbuhan dan Aromatik Bogor. Nurdjannah, N., Hidayat, T., dan Winarti, B. (2006). Teknologi Pengolahan Minyak Nilam. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. Septiana,A.A., Arienata, F.H., dan Kumoro, A.C. (2013). Potensi Jus Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia) Sebagai Bahan Pengkelat Dalam Proses Pemurnian Minyak Nilam (Patchouli Alcohol) Dengan Metode Kompleksometri. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri. (2) : Sumami, Aji,N.B., dan Solekan. (2008). Pengaruh Volume Air dan Berat Bahan Pada Penyulingan Minyak Atsiri. Jurnal Teknologi. 1 (1) : Uzwatania, F. (2009). Analisis Kinerja dan Efisiensi Energi Prototipe Alat Penyulingan Untuk Industri Kecil Minyak Nilam. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Insitut Pertanian Bogor. Bogor. Hernani. (1988). Analisis Minyak Nilam Secara Kromatografi Lapis Tipis. Bull.Litro. 3 (2) : 89-92

Distilasi, Filtrasi dan Ekstraksi

Distilasi, Filtrasi dan Ekstraksi Distilasi, Filtrasi dan Ekstraksi Nur Hidayat Pengantar Teknologi Pertanian Minggu 9 Teori Produk hasil pertanian merupakan bahan komplek campuran dari berbagai komponen. Pemisahan atau ekstraksi diperlukan

Lebih terperinci

KONSEP DASAR PENYULINGAN DAN ANALISA SEDERHANA MINYAK NILAM

KONSEP DASAR PENYULINGAN DAN ANALISA SEDERHANA MINYAK NILAM KONSEP DASAR PENYULINGAN DAN ANALISA SEDERHANA MINYAK NILAM Disusun oleh: Jamaludin Al Anshori, M.Sc. Ace Tatang Hidayat, M.Si., MM. Dalam Rangka Pengabdian Kepada Masyarakat Di Unit Usaha Produksi Penyulingan

Lebih terperinci

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat ICS 91.100.15 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

Karakteristik Empat Aksesi Nilam

Karakteristik Empat Aksesi Nilam Empat Aksesi Nilam Yang Nuryani Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor ABSTRACT Characterization of four accessions of patchouli was conducted to obtain the information of characteristics to

Lebih terperinci

PENETAPAN KADAR EUGENOL DALAM MINYAK ATSIRI DARI TIGA VARIETAS BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) SECARA KROMATOGRAFI GAS

PENETAPAN KADAR EUGENOL DALAM MINYAK ATSIRI DARI TIGA VARIETAS BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) SECARA KROMATOGRAFI GAS PENETAPAN KADAR EUGENOL DALAM MINYAK ATSIRI DARI TIGA VARIETAS BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry) SECARA KROMATOGRAFI GAS Liliek Nurhidayati, Sulistiowati Fakultas Farmasi Universitas

Lebih terperinci

Menteri Perdagangan Republik Indonesia

Menteri Perdagangan Republik Indonesia Menteri Perdagangan Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 08/M-DAG/PER/3/2010 TENTANG ALAT-ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG, DAN PERLENGKAPANNYA (UTTP) YANG WAJIB DITERA DAN

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN PROTOTIPE BUKA TUTUP ATAP OTOMATIS UNTUK PENGERINGAN PROSES PRODUKSI BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR

RANCANG BANGUN PROTOTIPE BUKA TUTUP ATAP OTOMATIS UNTUK PENGERINGAN PROSES PRODUKSI BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR RANCANG BANGUN PROTOTIPE BUKA TUTUP ATAP OTOMATIS UNTUK PENGERINGAN PROSES PRODUKSI BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR Disusun Oleh : Ridwan Anas J0D007063 PROGRAM STUDI DIII INSTRUMENTASI DAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008 SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK TERMAL MENTERI NEGARA LINGKUNGAN

Lebih terperinci

Pengujian Meter Kadar Air

Pengujian Meter Kadar Air Pengujian Meter Kadar Air 1 POKOK BAHASAN 1 2 Meter Kadar Air (MKA) Pengujian MKA Pengujian MKA Metode Referensi Pengujian MKA Metode Master Meter Pengujian MKA Metode Master Sample 2 Review 1 2 Definisi

Lebih terperinci

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA (Role The Number of Seeds/Pod to Yield Potential of F6 Phenotype Soybean

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI Teknik Pembuatan Pupuk Bokashi @ 2012 Penyusun: Ujang S. Irawan, Senior Staff Operation Wallacea Trust (OWT) Editor: Fransiskus Harum, Consultant

Lebih terperinci

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus:

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus: 108 4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen Tujuan Intruksional Khusus: Setelah mengikuti course content ini mahasiswa dapat menjelaskan kriteria, komponen dan cara panen tanaman semusim dan tahunan

Lebih terperinci

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik Kimia dalam AIR Dr. Yuni K. Krisnandi KBI Kimia Anorganik Sifat fisika dan kimia AIR Air memiliki rumus kimia H2O Cairan tidak berwarna, tidak berasa TAPI air biasanya mengandung sejumlah kecil CO2 dalm

Lebih terperinci

PENGARUH KEHALUSAN BAHAN DAN LAMA EKSTRAKSI TERHADAP MUTU EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb)

PENGARUH KEHALUSAN BAHAN DAN LAMA EKSTRAKSI TERHADAP MUTU EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb) PENGARUH KEHALUSAN BAHAN DAN LAMA EKSTRAKSI TERHADAP MUTU EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb) Bagem Br. Sembiring, Ma mun dan Edi Imanuel Ginting Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik ABSTRAK

Lebih terperinci

EFEK RASIO TEKANAN KOMPRESOR TERHADAP UNJUK KERJA SISTEM REFRIGERASI R 141B

EFEK RASIO TEKANAN KOMPRESOR TERHADAP UNJUK KERJA SISTEM REFRIGERASI R 141B EFEK RASIO TEKANAN KOMPRESOR TERHADAP UNJUK KERJA SISTEM REFRIGERASI R 141B Kristian Selleng * * Abstract The purpose of this research is to find the effect of compressor pressure ratio with respect to

Lebih terperinci

STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) PENGHAPUSAN BARANG MILIK/KEKAYAAN NEGARA

STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) PENGHAPUSAN BARANG MILIK/KEKAYAAN NEGARA STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) PENGHAPUSAN BARANG MILIK/KEKAYAAN NEGARA 1. Tujuan: Standard Operating Procedure (SOP) Penghapusan Barang Milik/Kekayaan Negara bertujuan untuk menyeragamkan tata cara

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR VISI DAN MISI VISI Meningkatkan Kebersihan dan Keindahan Kota Denpasar Yang Kreatif dan Berwawasan

Lebih terperinci

Sosialisasi PENYUSUNAN SOP SAYURAN dan TANAMAN OBAT. oleh: Tim Fakultas Pertanian UNPAD, Bandung, 14 Maret 2012

Sosialisasi PENYUSUNAN SOP SAYURAN dan TANAMAN OBAT. oleh: Tim Fakultas Pertanian UNPAD, Bandung, 14 Maret 2012 Sosialisasi PENYUSUNAN SOP SAYURAN dan TANAMAN OBAT oleh: Tim Fakultas Pertanian UNPAD, Bandung, 14 Maret 2012 Issue : Kemampuan petani didalam menjamin mutu dan keamanan pangan segar yg dihasilkan relatif

Lebih terperinci

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kulit masohi SNI 7941:2013 Standar Nasional Indonesia ICS 65.020.99 Kulit masohi Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

BAB III. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan... 18 B. Cara Penelitian... 19 1. Pengambilan dan Determinasi Sampel... 19 2. Ekstraksi Sampel... 19 3.

BAB III. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan... 18 B. Cara Penelitian... 19 1. Pengambilan dan Determinasi Sampel... 19 2. Ekstraksi Sampel... 19 3. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... iii HALAMAN PERNYATAAN... iv HALAMAN PERSEMBAHAN... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR...

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aktifitas Air (Aw) Aktivitas air atau water activity (a w ) sering disebut juga air bebas, karena mampu membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

Lebih terperinci

APLIKASI MINYAK NILAM DALAM FORMULASI SABUN SEBAGAI ZAT ADITIF YANG BERSIFAT ANTISEPTIK DAN AROMATHERAPI INTISARI

APLIKASI MINYAK NILAM DALAM FORMULASI SABUN SEBAGAI ZAT ADITIF YANG BERSIFAT ANTISEPTIK DAN AROMATHERAPI INTISARI APLIKASI MINYAK NILAM DALAM FORMULASI SABUN SEBAGAI ZAT ADITIF YANG BERSIFAT ANTISEPTIK DAN AROMATHERAPI Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan minyak kelapa dan lemak sapi dalam pembuatan sabun

Lebih terperinci

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT Pengaruh Kadar Air.. Kuat Tekan Beton Arusmalem Ginting PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON Arusmalem Ginting 1, Wawan Gunawan 2, Ismirrozi 3 1 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2012. Cangkang kijing lokal dibawa ke Laboratorium, kemudian analisis kadar air, protein,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

WUJUD ZAT. Perubahan wujud zat dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut: Zat padat. Keterangan:

WUJUD ZAT. Perubahan wujud zat dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut: Zat padat. Keterangan: WUJUD ZAT A. Tiga Wujud Zat Di sekitar kita terdapat berbagai benda seperti air, besi, kayu. Alkohol, udara yang kita hirup, atau gas helium yang digunakan untuk mengisi gas helium. Benda-benda tersebut

Lebih terperinci

FORM D. A. Uraian Kegiatan. Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa :

FORM D. A. Uraian Kegiatan. Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa : FORM D A. Uraian Kegiatan Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: 1. Pemanenan jeruk kisar yang dilakukan petani di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) masih tradisional, diantaranya tingkat kematangan,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Banda dan Maluku, yang kemudian menyebar ke pulau-pulau lain disekitarnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Banda dan Maluku, yang kemudian menyebar ke pulau-pulau lain disekitarnya BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tumbuhan Pala Tanaman pala berasal dari Malaise Archipel, yaitu dari gugusan kepulauan Banda dan Maluku, yang kemudian menyebar ke pulau-pulau lain disekitarnya termasuk pulau

Lebih terperinci

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI Elemen Kompetensi III Elemen Kompetensi 1. Menjelaskan prinsip-prinsip konservasi energi 2. Menjelaskan

Lebih terperinci

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Usaha dan/atau kegiatan pembangkit listrik tenaga termal adalah usaha dan/atau kegiatan

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Usaha dan/atau kegiatan pembangkit listrik tenaga termal adalah usaha dan/atau kegiatan SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 08 TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA TERMAL MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang

Lebih terperinci

ISO 1001 By: Ryan Torinaga

ISO 1001 By: Ryan Torinaga ISO 1001 By: Ryan Torinaga Daftar Isi Arti ISO Tujuan ISO 9001 Klausul ISO 9001 Kunci Penerapan ISO Cara Penerapan ISO Arti dari ISO Berarti Sama Badan standarisasi dunia Didirikan sejak tahun 1947 Terdiri

Lebih terperinci

ANALISIS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA CV INDAH UTAMA 171

ANALISIS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA CV INDAH UTAMA 171 ANALISIS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA CV INDAH UTAMA 171 Suryanto Kanadi (Suryanto_Kanadi@yahoo.com) Lili Syafitri (Lili.Syafitri@rocketmail.com) Jurusan Akuntansi STIE MDP Abstrak Tujuan dari penelitian

Lebih terperinci

Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia - www.energyefficiencyasia.org

Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia - www.energyefficiencyasia.org DAFTAR PERIKSA OPSI NO. 8 : BOILER & PEMANAS FLUIDA TERMIS Tugas dan pemeriksaan berkala pada bagian luar boiler Seluruh pintu akses dan bidang kerja harus dirawat kedap udara dengan menggunakan paking

Lebih terperinci

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah Standardisasi Obat Bahan Alam Indah Solihah Standardisasi Rangkaian proses yang melibatkan berbagai metode analisis kimiawi berdasarkan data famakologis, melibatkan analisis fisik dan mikrobiologi berdasarkan

Lebih terperinci

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330 STUDI PENGARUH PERIODE TERANG DAN GELAP BULAN TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR AIR DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus L) YANG DI PROSES PADA MINI PLANT PANAIKANG KABUPATEN MAROS STUDY OF LIGHT AND DARK MOON

Lebih terperinci

4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol

4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol 4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol OH SOCl 2 Cl + HCl + SO 2 C 11 H 22 O C 11 H 21 Cl (170.3) (119.0) (188.7) (36.5) (64.1) Klasifikasi Tipe reaksi and penggolongan bahan Substitusi

Lebih terperinci

REFRAKTORI ( BATU TAHAN API )

REFRAKTORI ( BATU TAHAN API ) REFRAKTORI ( BATU TAHAN API ) DEPARTEMEN METALURGI DAN MATERIAL UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS TEKNIK 2008 REFRAKTORI (BATU TAHAN API) Tujuan Pengajaran Memahami material refraktori, teknologi pembuatannya

Lebih terperinci

Pengemasan dengan sterilisasi steam/gas. Sterilisasi dengan steam/gas. Pembungkus dapat ditembus oleh uap/gas Impermiabel bagi mikroba Tahan lama

Pengemasan dengan sterilisasi steam/gas. Sterilisasi dengan steam/gas. Pembungkus dapat ditembus oleh uap/gas Impermiabel bagi mikroba Tahan lama PERAWATAN DAN MAINTENANCE PREPARASI OPERASI Dr. Drh.Gunanti S,MS Bag Bedah dan Radiologi PERSIPAN PENGEMASAN Prinsip : bebas dari kontaminasi Peralatan dan bahan harus bersih : Alat dibersihkan manual/pembersih

Lebih terperinci

RIKA PUSPITA SARI 02 114 054 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

RIKA PUSPITA SARI 02 114 054 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG PERANAN BANTUAN PROGRAM PENGUATAN MODAL USAHA TERHADAP USAHA PENGOLAHAN PISANG PADA KELOMPOK WANITA TANI (KWT) MAJU BERSAMA DI KECAMATAN TANJUNG BARU KABUPATEN TANAH DATAR Oleh : RIKA PUSPITA SARI 02 114

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN OTOMATISASI PROSES MIXING PADA SISTEM OTOMATISASI PENYAJIAN KOPI SUSU BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR

RANCANG BANGUN OTOMATISASI PROSES MIXING PADA SISTEM OTOMATISASI PENYAJIAN KOPI SUSU BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR RANCANG BANGUN OTOMATISASI PROSES MIXING PADA SISTEM OTOMATISASI PENYAJIAN KOPI SUSU BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR Diajukan guna melengkapi persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan tingkat

Lebih terperinci

BENTH.) DI PASAMAN BARAT SUMATERA BARAT (Source of Nilam Seedlings Test at West Pasaman District, West Sumatera)

BENTH.) DI PASAMAN BARAT SUMATERA BARAT (Source of Nilam Seedlings Test at West Pasaman District, West Sumatera) UJI ASAL SUMBER BIBIT NILAM ( POGOSTEMON CABLIN BENTH.) DI PASAMAN BARAT SUMATERA BARAT (Source of Nilam Seedlings Test at West Pasaman District, West Sumatera) 1 Oleh/ By : Ahmad Junaedi & Asep Hidayat

Lebih terperinci

PELEBURAN LANGSUNG KONSENTRAT EMAS SEBAGAI ALTERNATIF MERKURI AMALGAMASI DI TAMBANG EMAS SKALA KECIL

PELEBURAN LANGSUNG KONSENTRAT EMAS SEBAGAI ALTERNATIF MERKURI AMALGAMASI DI TAMBANG EMAS SKALA KECIL PELEBURAN LANGSUNG KONSENTRAT EMAS SEBAGAI ALTERNATIF MERKURI AMALGAMASI DI TAMBANG EMAS SKALA KECIL Workshop on Sustainable Artisanal dan Small Scale Miners (PESK) Practices Mataram, Indonesia, 9-11 February

Lebih terperinci

Perbandingan Konfigurasi Pipa Paralel dan Unjuk Kerja Kolektor Surya Plat Datar

Perbandingan Konfigurasi Pipa Paralel dan Unjuk Kerja Kolektor Surya Plat Datar JURNAL TEKNIK MESIN Vol., No. 1, April : 68-7 Perbandingan Konfigurasi Pipa Paralel dan Unjuk Kerja Kolektor Surya Plat Datar Terhadap Ekadewi Anggraini Handoyo Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin

Lebih terperinci

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH Pengaruh Media.. Baja Karbon Rendah PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Janabadra INTISARI Las TIG adalah

Lebih terperinci

BEJANA UKUR. Tergolong alat ukur metrologi legal yang wajib ditera dan ditera ulang (Permendag No. 8 Tahun 2010);

BEJANA UKUR. Tergolong alat ukur metrologi legal yang wajib ditera dan ditera ulang (Permendag No. 8 Tahun 2010); Eka Riyanto Tanggo BEJANA UKUR Tergolong alat ukur metrologi legal yang wajib ditera dan ditera ulang (Permendag No. 8 Tahun 010); Bejana ukur wajib memiliki Ijin Tanda Pabrik atau Ijin Tipe; Tidak ada

Lebih terperinci

I. U M U M. TATA CARA PANEN.

I. U M U M. TATA CARA PANEN. LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 17/Permentan/OT.140/2/2010 TANGGAL : 5 Pebruari 2010 TENTANG : PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDA BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN TATA

Lebih terperinci

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL Siapa yang tak kenal ikan lele, ikan ini hidup di air tawar dan sudah lazim dijumpai di seluruh penjuru nusantara. Ikan ini banyak dikonsumsi karena rasanya yang enak

Lebih terperinci

UNIVERSITAS DIPONEGORO ANALISIS UNJUK KERJA KONDENSOR UNIT 2 TIPE N 16000 DI PLTU 1 JAWA TIMUR PACITAN TUGAS AKHIR

UNIVERSITAS DIPONEGORO ANALISIS UNJUK KERJA KONDENSOR UNIT 2 TIPE N 16000 DI PLTU 1 JAWA TIMUR PACITAN TUGAS AKHIR UNIVERSITAS DIPONEGORO ANALISIS UNJUK KERJA KONDENSOR UNIT 2 TIPE N 16000 DI PLTU 1 JAWA TIMUR PACITAN TUGAS AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya BAYU TRIWIJAYANTA

Lebih terperinci

Pengendalian Produk Yang Tidak Sesuai

Pengendalian Produk Yang Tidak Sesuai Kode Dokumen 00008 0400 Revisi Tanggal 0 Nop 01 Manual Prosedur Pengendalian Produk Yang Tidak Sesuai LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN (LP3) Universitas Brawijaya Malang 01 Manual Prosedur

Lebih terperinci

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA MODUL: UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat.

Lebih terperinci

Peningkatan Performance dengan Pendingin Udara Masuk pada Motor Diesel 4JA1

Peningkatan Performance dengan Pendingin Udara Masuk pada Motor Diesel 4JA1 Peningkatan Performance dengan Pendingin Udara Masuk pada Motor Diesel 4JA1 (Rahardjo Tirtoatmodjo) Peningkatan Performance dengan Pendingin Udara Masuk pada Motor Diesel 4JA1 Rahardjo Tirtoatmodjo Dosen

Lebih terperinci

APLIKASI SISTEM PENGELOLAAN ATK (ALAT TULIS KANTOR) AKADEMI ANGKATAN UDARA YOGYAKARTA

APLIKASI SISTEM PENGELOLAAN ATK (ALAT TULIS KANTOR) AKADEMI ANGKATAN UDARA YOGYAKARTA APLIKASI SISTEM PENGELOLAAN ATK (ALAT TULIS KANTOR) AKADEMI ANGKATAN UDARA YOGYAKARTA Deny Wiria Nugraha 1, Imat Rahmat Hidayat 2 1 Jurusan Teknik Elektro Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah 2 Jurusan

Lebih terperinci

STUDI KADAR HISTAMIN IKAN TONGKOL (Auxis thazard) ASAP YANG DIAWET DENGAN ASAM ASETAT. Verly DotuLong 1 ABSTRAK

STUDI KADAR HISTAMIN IKAN TONGKOL (Auxis thazard) ASAP YANG DIAWET DENGAN ASAM ASETAT. Verly DotuLong 1 ABSTRAK STUDI KADAR HISTAMIN IKAN TONGKOL (Auxis thazard) ASAP YANG DIAWET DENGAN ASAM ASETAT Verly DotuLong 1 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh asam asetat terhadap kadar histamin ikan tongkol

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini perkembangan teknologi informasi memberikan berbagai kemudahan pada berbagai badan usaha. Dari segi yuridis, badan hukum dapat terbagi menjadi tujuh

Lebih terperinci

KEPMEN NO. 235 TH 2003

KEPMEN NO. 235 TH 2003 KEPMEN NO. 235 TH 2003 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 235 /MEN/2003 TENTANG JENIS - JENIS PEKERJAAN YANG MEMBAHAYAKAN KESEHATAN, KESELAMATAN ATAU MORAL

Lebih terperinci

OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217

OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217 PERANCANGAN STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) SISTEM PENJUALAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN AKTIVIAS PENGENDALIAN INTERNAL (Studi Kasus Distributor Besi Beton di Sidoarjo) OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217

Lebih terperinci

SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR

SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR Untuk memenuhi persyaratan mencapai pendidikan Diploma III (D III) Program Studi Instrumentasi dan Elektronika

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES

PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES PT Semen Padang: Studi Kasus Perusahaan PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN PT. Semen Padang didirikan pada tahun 1910 dan merupakan pabrik semen tertua di Indonesia. Pabrik berlokasi di Indarung, Padang,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kembang gula atau yang biasa disebut dengan permen merupakan produk makanan yang banyak disukai baik tua maupun muda karena permen mempunyai keanekaragaman rasa, warna,

Lebih terperinci

PEMANASAN BAHAN BAKAR BENSIN DENGAN KOMPONEN RADIATOR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KINERJA MESIN BENSIN 4 LANGKAH. Toni Dwi Putra 1) & Budyi Suswanto 2)

PEMANASAN BAHAN BAKAR BENSIN DENGAN KOMPONEN RADIATOR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KINERJA MESIN BENSIN 4 LANGKAH. Toni Dwi Putra 1) & Budyi Suswanto 2) PEMANASAN BAHAN BAKAR BENSIN DENGAN KOMPONEN RADIATOR SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KINERJA MESIN BENSIN 4 LANGKAH Toni Dwi Putra 1) & Budyi Suswanto 2) ABSTRAK Tingkat pemakaian kendaraan bermotor semakin

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGOPERASIAN

PETUNJUK PENGOPERASIAN PETUNJUK PENGOPERASIAN LEMARI PENDINGIN MINUMAN Untuk Kegunaan Komersial SC-178E SC-218E Harap baca Petunjuk Pengoperasian ini sebelum menggunakan. No. Pendaftaran : NAMA-NAMA BAGIAN 18 17 16 1. Lampu

Lebih terperinci

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida Rumah Sehat edited by Ratna Farida Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap manusia dimanapun dia berada. * Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya

Lebih terperinci

THE VIET TRI PAPER DESKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES

THE VIET TRI PAPER DESKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES THE VIET TRI PAPER DESKRIPSI PERUSAHAAN THE VIET TRI PAPER, sebuah perusahaan negara, didirikan pada tahun 1961 dan berlokasi di propinsi Phu Tho. Viet Tri berada pada peringkat empat dalam hal kapasitas

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Daya Tumbuh Bibit Kakao Cabutan

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Daya Tumbuh Bibit Kakao Cabutan Pelita Perkebunan 2005, 21(2), 106 112 Rahardjo Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Daya Tumbuh Bibit Kakao Cabutan Effect of Storage Period on the Viability of Bare Root Cocoa Seedlings Pudji Rahardjo

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan pekerja dan akhirnya menurunkan produktivitas. tempat kerja harus dikendalikan sehingga memenuhi batas standard aman,

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan pekerja dan akhirnya menurunkan produktivitas. tempat kerja harus dikendalikan sehingga memenuhi batas standard aman, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tempat kerja merupakan tempat dimana setiap orang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun keluarga yang sebagian besar waktu pekerja dihabiskan

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain untuk minum, mandi dan mencuci, air bermanfaat juga sebagai sarana transportasi, sebagai sarana

Lebih terperinci

Draft. Sistem dan Standar Mutu Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarkat

Draft. Sistem dan Standar Mutu Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarkat Draft Sistem dan Standar Mutu Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarkat Lokakarya Sistem dan Standar Mutu Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor Bogor, IICC 28 November 2014

Lebih terperinci

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEKERASAN DAN WAKTU PEMECAHAN DAGING BUAH KAKAO (THEOBROMA CACAO L) 1) MUH. IKHSAN (G 411 9 272) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan OLLY SANNY HUTABARAT 3) ABSTRAK Permasalahan kakao Indonesia

Lebih terperinci

Prinsip Dasar Pengolahan Pangan. Nyoman Semadi Antara, Ph.D. Pusat Kajian Keamanan Pangan (Center for Study on Food Safety) Universitas Udayana

Prinsip Dasar Pengolahan Pangan. Nyoman Semadi Antara, Ph.D. Pusat Kajian Keamanan Pangan (Center for Study on Food Safety) Universitas Udayana Prinsip Dasar Pengolahan Pangan Nyoman Semadi Antara, Ph.D. Pusat Kajian Keamanan Pangan (Center for Study on Food Safety) Universitas Udayana Mengapa Makanan Penting? Untuk Hidup Untuk Kesehatan Untuk

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, No.36,2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. Pajak. PNBP. Jenis. Tarif. BPPT. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5663) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK

Lebih terperinci

PENGARUH PERSILANGAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) STRAIN GIFT DENGAN STRAIN NIFI TERHADAP NILAI HETEROSIS PANJANG, LEBAR, DAN BERAT BADAN

PENGARUH PERSILANGAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) STRAIN GIFT DENGAN STRAIN NIFI TERHADAP NILAI HETEROSIS PANJANG, LEBAR, DAN BERAT BADAN ARTIKEL ILMIAH Oleh Ikalia Nurfitasari NIM 061810401008 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2012 ARTIKEL ILMIAH diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

STUDI PENERAPAN PRODUKSI BERSIH UNTUK INDUSTRI KERUPUK

STUDI PENERAPAN PRODUKSI BERSIH UNTUK INDUSTRI KERUPUK 74 Studi penerapan produksi bersih...(banun) STUDI PENERAPAN PRODUKSI BERSIH UNTUK INDUSTRI KERUPUK Banun Diyah Probowati dan Burhan Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas

Lebih terperinci

PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN)

PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN) PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN) Masyarakat pertama kali mengenal tenaga nuklir dalam bentuk bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang Dunia II tahun 1945. Sedemikian

Lebih terperinci

LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH

LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH PROSEDUR IJIN KERJA No. Dokumen : PT-KITSBS-19 No. Revisi : 00 Tanggal : April Halaman : i dari iv LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH No Nama Jabatan Tanda Tangan 1. RM. Yasin Effendi PLT DM ADM Umum

Lebih terperinci

BAB 3 PROSES-PROSES MESIN KONVERSI ENERGI

BAB 3 PROSES-PROSES MESIN KONVERSI ENERGI BAB 3 PROSES-PROSES MESIN KONVERSI ENERGI Motor penggerak mula adalah suatu alat yang merubah tenaga primer menjadi tenaga sekunder, yang tidak diwujudkan dalam bentuk aslinya, tetapi diwujudkan dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai

BAB 1 PENDAHULUAN. Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai di mana-mana. Biasanya banyak tumbuh di pinggir jalan, retakan dinding, halaman rumah, bahkan di kebun-kebun.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK 45 ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK Perilaku konsumen dalam mengkonsumsi dangke dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat setempat. Konsumsi dangke sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan bersifat turun

Lebih terperinci

DATA MENCERDASKAN BANGSA

DATA MENCERDASKAN BANGSA PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI JANUARI 2014 TERJADI INFLASI SEBESAR 1,23 PERSEN Januari 2014 IHK Karawang mengalami kenaikan indeks. IHK dari 141,08 di Bulan Desember 2013 menjadi 142,82 di

Lebih terperinci

Materi. Motor Bakar Turbin Uap Turbin Gas Generator Uap/Gas Siklus Termodinamika

Materi. Motor Bakar Turbin Uap Turbin Gas Generator Uap/Gas Siklus Termodinamika Penggerak Mula Materi Motor Bakar Turbin Uap Turbin Gas Generator Uap/Gas Siklus Termodinamika Motor Bakar (Combustion Engine) Alat yang mengubah energi kimia yang ada pada bahan bakar menjadi energi mekanis

Lebih terperinci

Pure Crete Base jalan

Pure Crete Base jalan Pure Crete Base jalan Masalah khas dari jalan sekunder: Kegagalan Base Jalan Pure Crete Definisi produk Pure Crete adalah suatu formulasi kompleks non bakteri multi enzymatic yang mengubah karakteristik

Lebih terperinci

Oleh Team RB BPT MEKANISASI PERTANIAN JAWA BARAT DINAS PERTANIAN JAWA BARAT

Oleh Team RB BPT MEKANISASI PERTANIAN JAWA BARAT DINAS PERTANIAN JAWA BARAT Oleh Team RB BPT MEKANISASI PERTANIAN JAWA BARAT DINAS PERTANIAN JAWA BARAT Dimulai tahun 1800 >>Motor Tenaga Uap Tahun 1900>> Traktor dengan Tenaga uap Pada tahun 1898 Rudolf Diesel (Jerman) Seorang Insyiniur

Lebih terperinci

Petunjuk Operasional IPAL Domestik PT. UCC BAB 4 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SISTEM IPAL DOMESTIK

Petunjuk Operasional IPAL Domestik PT. UCC BAB 4 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SISTEM IPAL DOMESTIK BAB 4 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SISTEM IPAL DOMESTIK 29 4.1 Prosedur Start-Up IPAL Petunjuk Operasional IPAL Domestik PT. UCC Start-up IPAL dilakukan pada saat IPAL baru selesai dibangun atau pada saat

Lebih terperinci

Modul Pelatihan PEDOMAN PERSONAL HYGIENE

Modul Pelatihan PEDOMAN PERSONAL HYGIENE TROPICAL PLANT CURRICULUM PROJECT Modul Pelatihan PEDOMAN PERSONAL HYGIENE Nyoman Semadi Antara Pusat Studi Ketahanan Pangan Universitas Udayana 2012 DISCLAIMER This publication is made possible by the

Lebih terperinci

PRODUKSI TANAMAN NURSERY

PRODUKSI TANAMAN NURSERY PRODUKSI TANAMAN NURSERY Bambang B. Santoso Senen, 30 Maret 2009 PRODUKSI TANAMAN NURSERY A. Perencanaan Produksi B. Perbanyakan C. Produksi di Lapangan D. Produksi dalam Pot/wadah C. PRODUKSI DI LAPANGAN

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik

PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik PENDAHULUAN Dahulu bangsa Indonesia telah memiliki pengetahuan yang luas di bidang obat-obatan tradisional yang berasal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Motor bakar salah satu jenis mesin pembakaran dalam, yaitu mesin tenaga dengan ruang bakar yang terdapat di dalam mesin itu sendiri (internal combustion engine), sedangkan

Lebih terperinci

PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI

PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI Shelf Life Estimation of Instant Noodle from Sago Starch Using Accelerared Method Dewi Kurniati (0806113945) Usman Pato and

Lebih terperinci

KAJI TERAP TEKNOLOGI PENINGKATAN MUTU BUAH MANGGA SEGAR

KAJI TERAP TEKNOLOGI PENINGKATAN MUTU BUAH MANGGA SEGAR KAJI TERAP TEKNOLOGI PENINGKATAN MUTU BUAH MANGGA SEGAR Suhardi, Gunawan, Bonimin dan Jumadi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur ABSTRAK Produk buah mangga segar di Jawa Timur dirasa masih

Lebih terperinci