GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU LINGKUNGAN HIDUP DAN KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU LINGKUNGAN HIDUP DAN KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP"

Transkripsi

1 GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU LINGKUNGAN HIDUP DAN KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 ayat (4) Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup, perlu menetapkan Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup; b. bahwa Surat Rekomendasi dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Bali tanggal 15 Januari 2007 Nomor 640/131/DPRD perihal Rekomendasi; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Gubernur tentang Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1649);

2 2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1966 tentang Hygiene (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1966 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2604); 3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3274); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 5. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377); 6. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang - undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); 7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagiamana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838);

3 9. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3853); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 2000 tentang Pengendalian Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 267, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4068); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4161 ); 12. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2005 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali (Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 2005 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Bali Nomor 5) ; 13. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup (Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 2005 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Bali Nomor 3); MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN GUBERNUR TENTANG BAKU MUTU LINGKUNGAN HIDUP DAN KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP. Pasal 1 Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan : 1. Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lain.

4 2 Pencemaran adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat energi, dan/atau komponen lain kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. 3. Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar mahluk hidup, zat, energi atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. 4. Status mutu lingkungan adalah keterangan kondisi mutu lingkungan yang menunjuk kondisi cemar atau baik pada suatu lingkungan dalam waktu tertentu bila dibandingkan dengan baku mutu lingkungan yang ditetapkan. 5. Air adalah semua air yang terdapat diatas dan dibawah permukaan tanah, kecuali laut dan air fosil. 6. Mutu air adalah kondisi kualitas air yang diukur dan diuji berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metoda tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 7. Baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar mahluk hidup, zat, energi atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air. 8. Status mutu air adalah tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau kondisi baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan baku mutu air yang ditetapkan. 9. Baku mutu air laut adalah ukuran batas atas atau kadar mahluk hidup, zat, energi atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air laut. 10. Baku mutu udara ambien adalah ukuran batas atau kadar zat, energi, dan/atau komponen yang ada atau yang seharusnya ada dan/atau unsur pencemar yang ditenngang keberadaannya dalam udara ambien.

5 11. Status mutu udara ambien adalah keadaan mutu udara di suatu tempat pada saat dilakukan inventarisasi. 12. Emisi adalah zat, energi dan/atau komponen lain yang dihasilkan dalam suatu kegiatan yang masuk dan/atau dimasukkannya ke dalam udara ambien yang mempunyai dan/atau tidak mempunyai potensi sebagai unsur pencemar. 13. Baku mutu emisi adalah batas kadar maksimal dan/atau beban emisi maksimum yang diperbolehkan masuk atau dimasukkan ke dalam udara ambien. 14. Baku mutu tingkat kebauan adalah batas maksimal bau dalam udara yang diperbolehkan yang tidak mengganggu kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. 15. Baku mutu tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. 16. Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang menyebabkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan. 17. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang. 18. Kerusakan lingkungan penambangan adalah berubahnya karakteristik lingkungan penambangan sehingga tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. 19. Kriteria baku kerusakan lingkungan penambangan adalah berubahnya karakterisrik lingkungan penambangan yang menunjukkan indikator indikator terjadinya kerusakan lingkungan. 20. Status kerusakan lingkungan bagi kegiatan penambangan bahan Galian C adalah kondisi tanah ditempat dan waktu tertentu yang dinilai berdasarkan kriteria baku kerusakan lingkungan bagi kegiatan penambangan Galian C.

6 21 Kriteria baku kerusakan terumbu karang adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan atau hayati terumbu karang yang dapat ditenggang. 22. Status kondisi terumbu karang adalah kondisi terumbu karang suatu lokasi dalam waktu tertentu yang dinilai berdasarkan kriteria tertentu kerusakan terumbu karang dengan menggunakan prosentase luas tutupan terumbu karang yang hidup. 23. Air limbah adalah sisa dari suatu hasil usaha dan/atau kegiatan yang berwujud cair. 24. Baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau dilepas ke dalam sumber air dari suatu usaha dan/atau kegiatan. 25. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan, selanjutnya disebut penanggung jawab usaha adalah orang yang melakukan kegiatan menghasilkan limbah yang berpotensi mecemari dan/atau merusak lingkungan hidup. Pasal 2 (1) Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup meliputi: a. Baku Mutu Air Berdasarkan Kelas I s/d IV; b. Baku Mutu Air Laut untuk Wisata Bahari; c. Baku Mutu Air Laut untuk Perairan Pelabuhan; d. Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut; e. Baku Mutu Air Limbah Domestik; f. Baku Mutu Limbah Cair bagi kegiatan Industri Tekstil; g. Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Industri Pelapisan Logam; h. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri Minuman Ringan; i. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit; j. Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Hotel ; k. Baku Mutu Udara Ambien XI; l. Baku Mutu Emisi untuk Kegiatan Lain kecuali Industri Semen, Industri Pulp Kertas dan Industri Besi Baja; m. Baku Mutu Tingkat Kebauan; n. Baku Mutu Tingkat Kebisingan;

7 o. Baku Mutu Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru dan Kendaraan Bermotor Yang Sedang Diproduksi (Current Production); p. Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha Atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian C Jenis Lepas di Daratan; q. Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang. (2) Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran yang tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini. Pasal 3 (1) Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dilarang dilampaui setiap saat. (2) Dalam hal Baku Mutu Lingkungan dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terlampaui karena keadaan tertentu atau kondisi cuaca tertentu, penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan melaporkan dan menyampaikan kegiatan penanggulangan pencemaran atau perusakan lingkungan kepada Bupati/Walikota dengan tembusan kepada Gubernur. Pasal 4 (1) Baku Mutu Lingkungan Hidup sebagai ukuran untuk menetapkan status mutu lingkungan. (2) Status Mutu Lingkungan ditetapkan untuk menyatakan kondisi cemar dan/atau rusak serta kondisi baik. (3) Kondisi cemar dan/atau rusak serta kondisi baik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dibandingkan dengan Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).

8 Pasal 5 (1) Setiap orang atau Penanggung Jawab Usaha yang membuang limbah ke lingkungan harus mentaati Baku Mutu Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3. (2) Setiap orang atau Penanggung jawab Usaha yang kegiatannya menimbulkan kerusakan lingkungan harus mentaati kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). (3) Penanggung jawab usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), mempunyai kewajiban: a. melakukan pengelolaan limbah sebelum dibuang ke lingkungan sehingga tidak melampaui Baku Mutu Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1); b. mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lngkungan; c. menyampaikan laporan hasil pemantauan paling lama 6 (enam) bulan sekali kepada Gubernur dan Instansi Teknis yang membidangi kegiatan yang bersangkutan. Pasal 6 Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditinjau secara berkala paling singkat dalam 5 (lima) Tahun. Pasal 7 Bupati/Walikota dapat menetapkan Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup lebih ketat dari ketentuan sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini.

9 Pasal 8 Pada saat Peraturan Gubernur ini mulai berlaku, Keputusan Gubernur Bali Nomor 515 Tahun 2000 tentang Standar Baku Mutu Lingkungan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 9 Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Bali. Ditetapkan di Denpasar pada tanggal 1 Pebruari 2007 GUBERNUR BALI, Diundangkan di Denpasar pada tanggal 1 Pebruari 2007 SEKRETARIS DAERAH PROVINSI BALI, I NYOMAN YASA BERITA DAERAH PROVINSI BALI TAHUN 2007 NOMOR 8

10 LAMPIRAN I BAKU MUTU KUALITAS AIR BERDASARKAN KELAS PARAMETER SATUAN KELAS I II III IV KETERANGAN FISIKA Temperatur ºC Deviasi 3 Deviasi 3 Deviasi 3 Deviasi 5 Deviasi temperatur dari keadaan alamiahnya Residu terlarut mg/l Residu tersuspensi mg/l Bagi pengolahan air minum secara konvensional, residu tersuspensi 5000 mg/l KIMIA ANORGANIK ph Apabila secara alamiah diluar rentang tersebut, maka ditentukan berdasarkan kondisi alamiah BOD mg/l COD mg/l DO mg/l Angka batas minimum Total fosfat sbg P mg/l 0,2 0,2 1 5 NO 3 sebagai N mg/l NH3 - N mg/l 0,5 (-) (-) (-) Bagi perikanan, kandungan amonia bebas untuk ikan yang peka 0,02 mg/l sebagai NH3 Arsen mg/l 0, Kobalt mg/l 0,2 0,2 0,2 0,2 Barium mg/l 1 (-) (-) (-) Boron mg/l Selenium mg/l 0,01 0,05 0,05 0,05 Kadmium mg/l 0,01 0,01 0,01 0,01 Kroom (VI) mg/l 0,05 0,05 0,05 1 Tembaga mg/l 0,02 0,02 0,02 0,02 Bagi pengolahan air minum secara konvensional, Cu 1 mg/l Besi mg/l 0,3 (-) (-) (-) Bagi pengolahan air minum secara konvensional Fe 5 mg/l Timbal mg/l 0,03 0,03 0,03 1 Bagi pengolahan air minum secara konvensional Pb 0,1 mg/l

11 PARAMETER SATUAN KELAS KETERANGAN I II III IV FISIKA Mangan mg/l 0,1 (-) (-) (-) Air Raksa mg/l 0,001 0,002 0,002 0,005 Seng mg/l 0,05 0,05 0,05 2 Bagi pengolahan air minum secara konvensional Zn 5 mg/l Khlorida mg/l 600 (-) (-) (-) Sianida mg/l 0,02 0,02 0,02 (-) Fluorida mg/l 0,5 1,5 1,5 (-) Nitrit sebagai N mg/l 0,06 0,06 0,06 (-) Bagi pengolahan air minum secara konvensional, NO 2 N 1 mg/l Sulfat mg/l 400 (-) (-) (-) Khlorin bebas mg/l 0,03 0,03 0,03 (-) Bagi ABAM tidak dipersyaratkan Belerang sebagai H 2 S mg/l 0,002 0,002 0,002 (-) Bagi pengolahan air minum secara konvensional, S sebagai H 2 S < 0,1 mg/l MIKROBIOLOGI - Fecal Coliform Jml/100 ml Bagi pengolahan air minum secara konvensional, fecal coliform 2000 jml/100 ml dan total coliform jml/100 ml - Total coliform Jml/100 ml RADIO AKTIVIATAS - Gross - A Bq/L 0,1 0,1 0,1 0,1 - Gross - B Bq/L KIMIA ORGANIK Minyak dan lemak ug/l (-) Detergen sebagai MBAS ug/l (-) Senyawa fenol sebagai ug/l (-) fenol BHC ug/l (-) Aldrin/Dieldrin ug/l 17 (-) (-) (-) Chlordane ug/l 3 (-) (-) (-) DDT ug/l Keterangan : - mg = miligram - ug = mikrogram - ml = mililiter - l = Liter - Bq = Bequerel - MBAS = Methyne Blue Active Substance - ABAM = Air Baku Mutu untuk Air Minum

12 LAMPIRAN II BAKU MUTU KUALITAS AIR LIMBAH DOMESTIK NO. PARAMETER SATUAN KUALITAS AIR LIMBAH DOMESTIK FISIKA 1. Temperatur C Zat padat terlarut Mg/L Zat padat tersuspensi Mg/L 100 KIMIA 1. ph Besi terlarut (Fe) Mg/L 5 3. Mangan terlarut (Mn) Mg/L 2 4. Barium (Ba) Mg/L 2 5. Tembaga (Cu) Mg/L 2 6. Seng (Zn) Mg/L 5 7. Krom Heksavalen (Cr) Mg/L 0,1 8. Krom Total (Cr) Mg/L 0,5 9. Cadmium (Cd) Mg/L 0, Raksa (Hg) Mg/L 0, Timbal (Pb) Mg/L 0,1 12. Stanum (Sn) Mg/L Arsen (As) Mg/L 0,1 14. Selenium (Se) Mg/L 0, Nikel (Ni) Mg/L 0,2 16. Cobalt (Co) Mg/L 0,4 17. Sianida (CN) Mg/L 0, Sulfida (H2S) Mg/L 0, Flurida (F) Mg/L Klorin bebas (Cl2) Mg/L Amonia bebas (NH3N) Mg/L Nitrat (NO3-N) Mg/L Nitrit (NO2-N) Mg/L BOD Mg/L COD Mg/L Senyawa aktif biru meliten Mg/L Fenol total Mg/L 0,5 28. Minyak Nabati Mg/L Minyak Mineral Mg/L Radioaktivitas 31. Pestisida termasuk PCB

13 LAMPIRAN III BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK PARIWISATA DAN REKREASI (MANDI, RENANG DAN SELAM NO. PARAMETER SATUAN KADAR MAKSIMUM KETERANGAN FISIKA 1 Warna Cu Bau Alami 3. Kecerahan m Kekeruhan Turbidity unit Padatan tersuspensi Mg/L Benda Terapung Nihil 7. Lapisan minyak Nihil 8. Temperatur C KIMIA 1. ph 6,5-8,5 2. Salinitas 0 / 00 alami 3. Oksigen terlarut (DO) Mg/L 5 4. BOD 5 Mg/L COD Mg/L Amonia bebas ( NH3-N) Mg/L Nihil 7. Nitrit (NO2-N) Mg/L Nihil 8. Sianida (CN) Mg/L 0,05 9. Sulfida (H2S) Mg/L Nihil 10. Minyak Bumi Mg/L Nihil 11. Senyawa Fenol Mg/L Nihil 12. Pestisida organoklorin (DDT) Mg/L Nihil 13. Polikhorina ted bifenil (PCB) Mg/L Nihil 14. Surfaktan (detergen) Mg/L MBAS Nihil 15. Logam semi logam Mg/L - Raksa (Hg) Mg/L 0, Krom heksavalen (Cr) Mg/L 0, Arsen (As) Mg/L 0, Selenium (Se) Mg/L 0, Cadmium (Cd) Mg/L 0, Tembaga (Cu) Mg/L 0,00 - Timbal (Pb) Mg/L 0, Seng (Zn) Mg/L 0,002 - Nikel (Ni) Mg/L 0,007 - Perak (Ag) Mg/L 0,0004 BIOLOGI 1. Koli tinja Sel/100 ml Nihil 2. Patogen Sel/100 ml Nihil 3. Plankton Individu Tidak blooming RADIO NUKLIDA 1. PCi/L Nihil 2. PCi/L Nihil 3. Sr-90 PCi/L Nihil 4. Ra-226 PCi/L Nihil

14 LAMPIRAN IV BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK BIOTA LAUT (BUDIDAYA PERIKANAN) NO. PARAMETER SATUAN BAKU MUTU DIPERBOLEHKAN KETERANGAN FISIKA 1 Warna Cu = Color unit Bau Alami 3. Kecerahan m 3 4. Kekeruhan Turbidity unit Padatan tersuspensi Mg/L Benda Terapung Nihil 7. Lapisan minyak Nihil 8. Temperatur C Alami KIMIA 1. ph 6,0-9,0 2. Salinitas 0 / % alami 3. Oksigen terlarut (DO) Mg/L 4 4. BOD 5 Mg/L COD Mg/L Amonia bebas ( NH3-N) Mg/L 1 7. Nitrit (NO2-N) Mg/L Nihil 8. Sianida (CN) Mg/L 0,20 9. Sulfida (H2S) Mg/L 0, Minyak Bumi Mg/L Senyawa Fenol Mg/L 0, Pestisida organoklorin (DDT) Mg/L 0, Polikhorinated bifenil (PCB) Mg/L 0, Surfaktan (detergen) Mg/L MBAS 0, Logam semi logam 1,0 - Raksa (Hg) Mg/L 0,003 - Krom heksavalen (Cr) Mg/L 0,01 - Arsen (As) Mg/L 0,01 - Selenium (Se) Mg/L 0,005 - Cadmium (Cd) Mg/L 0,01 - Tembaga (Cu) Mg/L 0,06 - Timbal (Pb) Mg/L 0,01 - Seng (Zn) Mg/L 0,1 - Nikel (Ni) Mg/L 0,002 - Perak (Ag) Mg/L 0,05 BIOLOGI 1. Koli tinja Jumlah/100 ml Patogen Jumlah/100 ml Nihil 3. Plankton Individu Tidak blooming RADIO NUKLIDA 1. PCi/L 1 2. PCi/L Sr-90 PCi/L 1 4. Ra-226 PCi/L 3

15 LAMPIRAN V BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN INDUSTRI TEKSTIL NO. PARAMETER SATUAN KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMAR MAKSIMUM (kg/ton) FISIKA 1. Temperatur C Zat Padat larut Mg/L *3. Zat Padat tersuspensi (TSS) Mg/L KIMIA 1. ph Besi terlarut (Fe) Mg/L 5 0,75 3. Mangan terlarut (Mn) Mg/L 2 0,30 4. Barium (Ba) Mg/L 2 0,30 5. Tembaga (Cu) Mg/L 2 0,30 6. Seng (Zn) Mg/L 5 0,75 *7. Krom Heksavalen (Cr) Mg/L 0,1 0,015 *8. Krom Total (Cr) Mg/L 1 0, Cadmium (Cd) Mg/L 0,05 0, Raksa (Hg) Mg/L 0,002 0, Timbal (Pb) Mg/L 0,1 0, Arsen (As) Mg/L 0,1 0, Selenium (Se) Mg/L 0,05 0, Nikel (Ni) Mg/L 0,05 0, Sianida (CN) Mg/L 0,05 0,0075 *16. Sulfida (H2S) Mg/L 0,3 0, Flourida (F) Mg/L 2 0, Klorin bebas (Cl2) Mg/L 1 0,15 *19. Amonia bebas (NH3N) Mg/L 8 0, Nitrat (NO3-N) Mg/L Nitrit (NO2-N) Mg/L 1 0,15 *22. BOD5 Mg/L 60 12,75 *23. COD Mg/L , Senyawa aktif biru meliten Mg/L 5 0,75 *25. Fenol total Mg/L 0,5 0, Minyak Nabati Mg/L 3,0 0,75 *27. Minyak Mineral Mg/L 3,0 1,50 Debit limbah maksimum 150 m3 ton produk tekstil Keterangan : Tanda * = wajib uji

16 LAMPIRAN VI BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN INDUSTRI PELAPISAN LOGAM PELAPISAN TEMBAGA PELAPISAN NIKEL NO. PARAMETER SATUAN KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMAR MAKSIMUM (kg/ton) KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMAR MAKSIMUM (kg/ton) FISIKA 1. Temperatur C *2. Zat Padat larut Mg/L *3. Zat Padat tersuspensi Mg/L KIMIA *1. ph Besi terlarut (Fe) Mg/L Mangan terlarut (Mn) Mg/L 5 0,5 5 0,5 4. Barium (Ba) Mg/L 3 0,3 3 0,3 *5. Tembaga (Cu) Mg/L 3 0,3 3 0,3 6. Seng (Zn) Mg/L Krom Heksavalen (Cr) Mg/L 0,5 0,05 0,5 0,05 8. Krom Total (Cr) Mg/L 1 0,1 1 0,1 *9. Cadmium (Cd) Mg/L 0,05 0,005 0,05 0, Raksa (Hg) Mg/L 0,005 0,0005 0,005 0, Timbal (Pb) Mg/L 1 0,1 1 0,1 12. Arsen (As) Mg/L 0,5 0,05 0,5 0, Selenium (Se) Mg/L 0,5 0,05 0,5 0,05 *14. Nikel (Ni) Mg/L *15. Sianida (CN) Mg/L 0,5 0,05 0,5 0, Sulfida (H2S) Mg/L 0,1 0,01 0,1 0, Flurida (F) Mg/L 3 0,3 3 0,3 18. Klorin bebas (Cl2) Mg/L 2 0,2 2 0,2 19. Amonia bebas (NH3N) Mg/L 5 0,5 5 0,5 20. Nitrat (NO3-N) Mg/L Nitrit (NO2-N) Mg/L 3 0,3 3 0,3 22. BOD5 Mg/L COD Mg/L Senyawa aktif biru meliten Mg/L Fenol total Mg/L 1 0,1 1 0,1 26. Minyak Nabati Mg/L 12 1,2 12 1,2 27. Minyak Mineral Mg/L *28. Logam Total Mg/L 8 0,8 8 0,8 Debit Limbah maksimum 100 L per m 2 produk pelapisan logam 100 L per m 2 produk pelapisan logam Keterangan : Tanda * = wajib uji

17 LAMPIRAN VII BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN INDUSTRI MINUMAN RINGAN NO PARAMETER SATUAN KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMARAN MAKS. (GRAM/M 3 ) DENGAN PENCUCIAN BOTOL & DENGAN PEMBUATAN SIROP DENGAN PENCUCIAN BOTOL & TANPA PEMBUATAN SIROP TANPA PENCUCIAN BOTOL & DENGAN PEMBUATAN SIROP TANPA PENCUCIAN BOTOL & TANPA PEMBUATAN SIROP FISIKA 1. Temperatur C Zat Padat larut Mg/L 2000 *3. Zat Padat tersuspensi (TSS) Mg/L KIMIA *1. ph 6-9 6,0-9,0 6,0-9,0 6,0-9,0 6,0-9,0 2. Besi terlarut (Fe) Mg/L Mangan terlarut (Mn) Mg/L 5 4. Barium (Ba) Mg/L 3 5. Tembaga (Cu) Mg/L 3 6. Seng (Zn) Mg/L Krom Heksavalen (Cr) Mg/L 0,5 8. Krom Total (Cr) Mg/L 1 9. Cadmium (Cd) Mg/L 0,1 10. Raksa (Hg) Mg/L 0, Timbal (Pb) Mg/L Arsen (As) Mg/L 0,5 13. Selenium (Se) Mg/L 0,5 14. Nikel (Ni) Mg/L 0,5 15. Sianida (CN) Mg/L 0,5 16. Sulfida (H2S) Mg/L 0,1 17. Flurida (F) Mg/L Klorin bebas (Cl2) Mg/L Amonia bebas (NH3N) Mg/L Nitrat (NO3-N) Mg/L Nitrit (NO2-N) Mg/L 3 *22. BOD5 Mg/L COD Mg/L Senyawa aktif biru meliten Mg/L Fenol total Mg/L Minyak Nabati Mg/L Minyak Mineral Mg/L 50 *28. Minyak & Lemak Mg/L ,2 7,2 *29. Debit limbah maksimum 6 L per L produk minuman 3,5 L 2,8 L 1,7 L 1,2 L Keterangan : Tanda * = wajib uji

18 LAMPIRAN VIII BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN RUMAH SAKIT NO. PARAMETER SATUAN KADAR MAKSIMUM KETERANGAN FISIKA 1. Temperatur C 30 KIMIA 1. BOD5 Mg/L COD Mg/L TSS Mg/L NH3 Mg/L PO4 Mg/L 2 MIKROBIOLOGIK 1. Total coliform Jumlah/100mL 10 RADIOAKTIVITAS P Bq/L 7 x S Bq/L 2 x Ca Bq/L 3 x Cr Bq/L 7 x Ga Bq/L 1 x Sr Bq/L 4 x Mo Bq/L 7 x Sn Bq/L 3 x I Bq/L 1 x I Bq/L 7 x Ir Bq/L 1 x TI Bq/L 1 x 10 5

19 LAMPIRAN IX BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN HOTEL NO. PARAMETER SATUAN KADAR MAKSIMUM KETERANGAN FISIKA 1. Temperatur C Zat Padat larut Mg/L 1500 *3. Zat Padat tersuspensi Mg/L 50 KIMIA *1. ph Besi terlarut (Fe) Mg/L 1 3. Mangan terlarut (Mn) Mg/L 0,5 4. Barium (Ba) Mg/L 1 5. Tembaga (Cu) Mg/L 1 6. Seng (Zn) Mg/L 2 7. Krom Heksavalen (Cr) Mg/L 0,05 8. Krom Total (Cr) Mg/L 0,1 9. Cadmium (Cd) Mg/L 0, Raksa (Hg) Mg/L 0, Timbal (Pb) Mg/L 0, Arsen (As) Mg/L 0, Selenium (Se) Mg/L 0, Nikel (Ni) Mg/L 0,1 15. Sianida (CN) Mg/L 0, Sulfida (H2S) Mg/L 0, Flurida (F) Mg/L 1,5 18. Klorin bebas (Cl2) Mg/L 0,5 19. Amonia bebas (NH3N) Mg/L 0, Nitrat (NO3-N) Mg/L Nitrit (NO2-N) Mg/L 0,06 *22. BOD5 Mg/L 30 *23. COD Mg/L Senyawa aktif biru meliten Mg/L 0,5 25. Fenol total Mg/L 0, Minyak Nabati Mg/L Minyak Mineral Mg/L 1 Keterangan : Tanda * = wajib uji

20 LAMPIRAN X BAKU MUTU UDARA AMBIEN NO. PARAMETER WAKTU PENGUKURAN KADAR MAKSIMUM KETERANGAN SO 2 (Sulfur Dioksida) 2. CO (Karbon Dioksida) 3. NO 2 (Nitrogen Dioksida) 4. O 3 (Oksidan) 5. HC (Hidro Karbon) 6. PM 10 (Partikel < 10 μm) PM 2,5 (Partikel < 2,5 μm) 7. TSP (Debu Total) 8. Pb (Timah Hitam) 9. Dustfail (Debu Jatuh) 1 Jam 24 Jam 1 Tahun 1 Jam 24 Jam 1 Tahun 1 Jam 24 Jam 1 Tahun 1 Jam 1 Tahun 900 μg/nm μg/nm 3 60 μg/nm μg/nm μg/nm μg/nm μg/nm μg/nm μg/nm 3 50 μg/nm 3 3 Jam 160 μg/nm 3 24 Jam 150 μg/nm 3 24Jam 1 Jam 24 Jam 1 Tahun 24 Jam 1 Tahun 65 μg/nm 3 15 μg/nm μg/nm 3 90 μg/nm 3 2 μg/nm 3 1 μg/nm 3 30 Hari 10 ton/km 2 /bln (Pemukiman) 20 ton/km 2 /bln (Industri)

21 LAMPIRAN XI BAKU MUTU EMISI UNTUK JENIS KEGIATAN LAIN KECUALI INDUSTRI SEMEN, INDUSTRI PULP-KERTAS, DAN INDUSTRI BESI-BAJA NO. PARAMETER WAKTU PENGUKURAN KADAR MAKSIMUM KETERANGAN BUKAN LOGAM 1. Amoniak (NH 3 ) μg/m 3 0,5 2. Gas klorin (Cl 2 ) μg/m Hidrogen Klorida (HCl) μg/m Hidrogen Fluorida (HF) μg/m Nitrogen Dioksida (NO 2 ) μg/m Opasitas μg/m 3 30% 7. Partikel μg/m Sulfur Dioksida (SO 2 ) μg/m Total Sulfur tereduksi (H 2 S) μg/m 3 35 (Total Reduced Sulphur) LOGAM 10. Air Raksa (Hg) μg/m Arsen (As) μg/m Antimon (Sb) μg/m Kadmium (Cd) μg/m Seng (Zn) μg/m Timah Hitam (Pb) μg/m 3 12 Catatan : Volume gas dalam keadaan standar (25 o C dan tekanan 1 Atmosfir)

22 LAMPIRAN XII BAKU MUTU TINGKAT KEBAUAN Bau dari Odoran Tunggal NO. PARAMETER WAKTU PENGUKURAN KADAR MAKSIMUM Aminiak (NH 3 ) ppm Metil Merkaptan (CH 3 SH) ppm 0, Hidrogen Sulfida (H 2 S) ppm 0,02 4. Metil Sulfida (CH 3 ) 2 - S ppm 0,01 5. Stirena (C 5 H 5 CHCH 2 ) ppm 0,1 Bau dari Odoran Campuran Tingkat kebauan yang dihasilkan oleh campuran odoran dinyatakan sebagai amabang bau yang dapat diteksi secara sensorik oleh lebih dari 50% anggota penguji yang berjumlah minimal 8 (delapan) orang.

23 LAMPIRAN XIII BAKU MUTU TINGKAT KEBISINGAN PERUNTUKAN KAWASAN/ LINGKUNGAN KEGIATAN A. Peruntukan Kawasan TINGKAT KEBISINGAN db (A) 1. Perumahan dan Pemukiman Perdagangan dan Jasa Perkantoran dan Perdagangan Ruang Terbuka Hijau Industri Pemerintahan dan Fasilitas Umum Rekreasi Khusus : - Pelabuhan Laut 70 - Cagar Budaya 60 - Bandar udara *) WECPNL B. Lingkungan Kegiatan 1. Rumah Sakit atau Sejenisnya Sekolah atau sejenisnya Tempat ibadah dan sejenisnya 55 Keterangan : *) = disesuaikan dengan ketentuan Menteri Perhubungan. db(a) = Desibel WECPNL = Weighted Equivalent Continuous Perceived Noise Level

24 LAMPIRAN XIV I. AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU DAN KENDARAAN BERMOTOR YANG SEDANG DI PRODUKSI (CURRENT PRODUCTION) KENDARAAN BERMOTOR KATEGORI L NO. KATEGORI PARAMETER NILAI AMBANG BATAS (GRAM/KM) 1. a. L1 CO 1,0 HC + NO X 1,2 b. L2 CO HC + NO X c. L3 < 150 cm 2 CO HC NO X d. L3 > 150 cm 3 CO HC NO X e. L4 dan L5 motor bakar cetus api CO HC NO X f. L4 dan L5 motor bakar penyalaan kompresi CO HC NO X 3,6 1,2 5,5 1,2 0,3 5,5 3,0 0,3 7,0 1,5 0,4 2,0 1,0 0,65 METODE UJI ECE R 47 ECE R 47 ECE R 40 ECE R 40 ECE R 40 ECE R 40 Keterangan : - L1 = Kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm 3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. - L2 = Kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda sembarang dengan kapasitas silinder mesin tidak lebih dari 50 cm 3 dan dengan desain kecepatan maksimum tidak lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. - L3 = Kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm 3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya. - L4 = Kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan roda asimetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm 3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya (sepeda motor dengan kereta). - L5 = Kendaraan bermotor beroda tiga dengan susunan simetris dengan kapasitas silinder mesin lebih dari 50 cm 3 atau dengan desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya.

25 II. AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU DAN KENDARAAN BERMOTOR YANG SEDANG DI PRODUKSI (CURRENT PRODUCTION) DENGAN PENGGERAK MOTOR BELAKANG CETUS API BERBAHAN BAKAR BENSIN KENDARAAN BERMOTOR KATEGORI M DAN N NO. KATEGORI (1) PARAMETER 1. M1, GVW (2) < 2,5 TON, TEMPAT DUDUK < 5 TIDAK TERMASUK TEMPAT DUDUK PENGEMUDI 2. M1, TEMPAT DUDUK 6 8 TIDAK TERMASUK TEMPAT DUDUK PENGEMUDI GVW > 2,5 TON ATAU N1, GVW < 3,5 TON NILAI AMBANG BATAS (GRAM/KM) METODE UJI CO 2,2 HC + NO X 0,5 ECE R A. KELAS I, RM (3) < 1250 KG CO HC + NO X 2,2 0,5 ECE R B. KELAS II, 1250 KG<RM<1700 KG CO HC + NO X 4,0 0,6 ECE R C. KELAS III RM>1700 KG CO HC + NO X 5,0 0,7 ECE R Keterangan : - (1) = Dalam hal jumlah penumpang dan GVW tidak sesuai dengan pengkategorian tabel diatas maka nilai ambang batas mengacu kepada pengkategorian GVW - (2) = GVW Gross Vehicle Weight adalah jumlah berat yang diperbolehkan (JBB). - (3) = RM Reference Mass adalah berat kosong kendaraan ditambah massa 100 Kg. - M1 = Kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai tidak lebih dari 8 tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi. - N1 = Kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 3,5 ton. Untuk kendaraan kategori O, O1, dan O2 metode uji dan nilai ambang batas mengikuti kategori N1 ; - O = Kendaraan bermotor penarik untuk gandengan atau tempel. - O1 = Kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) tidak lebih dari 0,75 ton. - O2 = Kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 0,75 ton tetapi tidak lebih berat dari 3,5 ton.

26 III. AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU DAN KENDARAAN BERMOTOR YANG SEDANG DI PRODUKSI (CURRENT PRODUCTION) DENGAN PENGGERAK MOTOR BAKAR PENYALAAN KOMPRESI (DIESEL) KENDARAAN BERMOTOR KATEGORI BAHAN BAKAR DIESEL NO. KATEGORI (1) PARAMETER 1. M1, GVW (2) < 2,5 TON, TEMPAT DUDUK < 5 TIDAK TERMASUK TEMPAT DUDUK PENGEMUDI 2. M1, TEMPAT DUDUK 6 8 TIDAK TERMASUK TEMPAT DUDUK PENGEMUDI GVW > 2,5 TON ATAU N1, GVW < 3,5 TON CO HC + NO X PM NILAI AMBANG BATAS (GRAM/KM) METODE UJI 1,0 0,7 (0,9) (4) 0,08 (0,1) (4) ECE R A. KELAS I, RM (3) < 1250 KG CO HC + NO X PM 1,0 0,7 (0,9) (4) 0,08 (0,1) (4) ECE R B. KELAS II, 1250 KG<RM<1700 KG CO HC + NO X PM 1,25 1,0 (1,3) (4) 0,12 (0,14) (4) ECE R C. KELAS III RM>1700 KG CO HC + NO X PM 1,5 1,2 (1,6) (4) 0,17 (0,2) (4) ECE R M2, M3, N2, N3, O3 DAN O4, GVW (2) > 3,5 TON CO HC NO X PM 4,0 1,1 7,0 0,15 ECE R (1) = Dalam hal jumlah penumpang dan GVW tidak sesuai dengan pengkategorian tabel diatas maka nilai ambang batas mengacu kepada pengkategorian GVW - (2) = GVW Gross Vehicle Weight adalah jumlah berat yang diperbolehkan (JBB). - (3) = RM Reference Mass adalah berat kosong kendaraan ditambah massa 100 Kg. - (4) = Nilai ambang batas (untuk Diesel Injeksi Langsung) dan setelah 3 tahun nilai ambang batasnya. - M2 = Kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari 8 tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) sampai dengan 5 ton. - M3 = Kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan mempunyai lebih dari 8 tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 5 ton. - N2 = Kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3,5 ton tetapi tidak lebih dari 5 ton.

27 - N3 = Kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan barang dan mempunyai jumlah berat yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 12 ton. - O3 = Kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 3,5 ton tetapi tidak lebih dari 10 ton. - O4 = Kendaraan bermotor penarik dengan jumlah berat kombinasi yang diperbolehkan (GVW) lebih dari 10 ton.

28 LAMPIRAN XV BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK WISATA BAHARI NO. PARAMETER SATUAN BAKU MUTU FISIKA 1. Warna Pt.Co Bau Tidak berbau 3. Kecerahan a m >6 4. Kekeruhan a ntu 5 5. Padatan tersuspensi total b Mg/l Suhu c o C Alami 2 7. Sampah - Nihil 1(4) 8. Lapisan Minyak 5 - Nihil 1(5) KIMIA 1. ph d 7 8,5 (d) 2. Salinitas e %o Alami 3(e) 3. Oksigen Terlarut (DO) Mg/L >5 4. BOD 5 Mg/L Amoniak Bebas (NH 3 -N) Mg/L Nihil 1 6. Fospat (PO 4 -P) Mg/L 0, Nitrat (NO 3 -N) Mg/L 0, Sulfida (H 2 S) Mg/L Nihil 1 9. Senyawa Fenol Mg/L Nihil PAH (Poliaromatik hidrokarbon) Mg/L 0, PCB (Poliklor Bifenil) ug/l Nihil Surfaktan (detergen) Mg/L(MBAS) 0, Minyak dan Lemak Mg/L Pestisida f ug/l Nihil 1 LOGAM TERLARUT 1. Raksa (Hg) Mg/L 0, Kromium Heksavalen (Cr(VI)) Mg/L 0, Arsen (As) Mg/L 0, Cadmium (Cd) Mg/L 0, Tembaga (Cu) Mg/L 0, Timbal (Pb) Mg/L 0, Seng (Zn) Mg/L 0, Nikel (Ni) Mg/L 0,075 BIOLOGI 1. E.Coliform (inecal) MPN/100mL Coliform (total) g MPN/100mL 1000

29 RADIO NUKLIDA 1. Komposisi yang tidak diketahui Bq/L 4 Keterangan : 1. Nilai adalah tidak terdeteksi dengan batas deteksi alat yang digunakan (sesuai dengan metode yang digunakan). 2. Metode analisa mengacu pada metode analisa untuk air laut yang telah ada, baik internasional maupun nasional. 3. Alami adalah kondisi normal suatu lingkungan, bervariasi setiap saat (siang, malam dan musim). 4. Pengamatan oleh manusia (visual). 5. Pengamatan oleh manusia (visual). Lapisan minyak yang diacu adalah lapisan tipis (thin layer) dengan ketebalan 0,01 mm. a. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 10% kedalaman euophotic. b. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 10% konsentrasi rata-rata musiman. c. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 2 o C dari suhu alami. d. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 0,2 satuan ph. e. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 5% salinitas rata-rata musiman. f. Berbagai jenis pestisida seperti : DDT, endrin, endosulfan, dan heptachlor. g. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 10% konsentrasi rata-rata musiman.

30 LAMPIRAN XVI BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK PERAIRAN PELABUHAN NO. PARAMETER SATUAN BAKU MUTU FISIKA 1. Kecerahan a m >3 2. Kebauan a - Tidak berbau 3. Padatan tersuspensi total b Mg/l Sampah - Nihil 1(4) 5. Suhu c o C Alami 3 6. Lapisan Minyak 5 - Nihil 1(5) KIMIA 1. ph d 6,5 8,5 (d) 2. Salinitas e %o Alami 3(e) 3. Amonia total (NH 3 -N) Mg/L 0,3 4. Sulfida (H 2 S) Mg/L 0,03 5. Hidrokarbon total Mg/L 1 6. Senyawa Fenol total Mg/L 0, PCB (Poliklor Bifenil) ug/l 0,01 8. Surfaktan (detergen) Mg/L (MBAS) 1 9. Minyak dan Lemak Mg/L TBT (tri butil tin) 6 ug/l 0,01 LOGAM TERLARUT 1. Raksa (Hg) Mg/L 0, Cadmium (Cd) Mg/L 0, Tembaga (Cu) Mg/L 0,05 4. Timbal (Pb) Mg/L 0,05 5. Seng (Zn) Mg/L 0,1 BIOLOGI 1. Coliform (total) MPN/100mL 1000

31 Keterangan : 1. Nilai adalah tidak terdeteksi dengan batas deteksi alat yang digunakan (sesuai dengan metode yang digunakan). 2. Metode analisa mengacu pada metode analisa untuk air laut yang telah ada, baik internasional maupun nasional. 3. Alami adalah kondisi normal suatu lingkungan, bervariasi setiap saat (siang, malam dan musim). 4. Pengamatan oleh manusia (visual). 5. Pengamatan oleh manusia (visual). Lapisan minyak yang diacu adalah lapisan tipis (thin layer) dengan ketebalan 0,01 mm. 6. TBT adalah zat antifouling yang biasanya terdapat pada cat kapal. a. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 10% kedalaman euophotic. b. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 10% konsentrasi rata-rata musiman. c. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 2 o C dari suhu alami. d. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 0,2 satuan ph. e. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 5% salinitas rata-rata musiman. f. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 10% konsentrasi rata-rata musiman.

32 LAMPIRAN XVII BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK BIOTA LAUT NO. PARAMETER SATUAN BAKU MUTU FISIKA 1. Kecerahan a m Coral >6 Mangrove Lamun >3 2. Kebauan Alami 2 3. Kekeruhan a ntu <5 4. Padatan tersuspensi total b Mg/l Coral >20 Mangrove >80 Lamun >20 5. Sampah - Nihil 1(4) 6. Suhu d o C Alami 3 Coral : Mangrove : Lamun : Lapisan Minyak 5 - Nihil 1(5) KIMIA 1. ph d 7 8,5 (c) 2. Salinitas e %o Alami 3(e) Coral : (e) Mangrove : (e) Lamun : (e) 3. Oksigen Terlarut (DO) Mg/L >5 4. BOD 5 Mg/L Amoniak Bebas (NH 3 -N) Mg/L 0,3 6. Fospat (PO 4 -P) Mg/L 0, Nitrat (NO 3 -N) Mg/L 0, Sulfida (H 2 S) Mg/L 0,5 9. Senyawa Fenol Mg/L 0, PAH (Poliaromatik hidrokarbon) Mg/L 0, PCB (Poliklor Bifenil) ug/l 0, Surfaktan (detergen) Mg/L(MBAS) 0, Minyak dan Lemak Mg/L Pestisida f ug/l 0, TBT (tri butil tin) 6 ug/l 0,01 LOGAM TERLARUT 1. Raksa (Hg) Mg/L 0, Kromium Heksavalen (Cr(VI)) Mg/L 0, Arsen (As) Mg/L 0,012

33 Keterangan : 1. Nilai adalah tidak terdeteksi dengan batas deteksi alat yang digunakan (sesuai dengan metode yang digunakan). 2. Metode analisa mengacu pada metode analisa untuk air laut yang telah ada, baik internasional maupun nasional. 3. Alami adalah kondisi normal suatu lingkungan, bervariasi setiap saat (siang, malam dan musim). 4. Pengamatan oleh manusia (visual). 5. Pengamatan oleh manusia (visual). Lapisan minyak yang diacu adalah lapisan tipis (thin layer) dengan ketebalan 0,01 mm. 6. Tidak bloom adalah tidak terjadi pertumbuhan yang berlebihan yang dapat menyebabkan euthrofikasi. 7. Pertumbuhan plankton yang berlebihan dipengaruhi oleh nutrien, cahaya, suhu, kecepatan arus, dan kestabilan plankton itu sendiri. 8. TBT adalah zat antifouling yang biasanya terdapat pada cat kapal. a. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 10% kedalaman euophotic. b. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 10% konsentrasi rata-rata musiman. c. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 2 o C dari suhu alami. d. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 0,2 satuan ph. e. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 5% salinitas rata-rata musiman. f. Berbagai jenis pestisida seperti : DDT, endrin, endosulfan, dan heptachlor. g. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 10% konsentrasi rata-rata musiman.

34 LAMPIRAN XVIII KRITERIA KERUSAKAN LINGKUNGAN BAGI USAHA ATAU KEGIATAN PENAMBANGAN BAHAN GALIAN GOLONGAN C JENIS LEPAS DI DARATAN NO. ASPEK/SIFAT FISIK DAN HAYATI LINGKUNGAN PEMUKIMAN DAN DAERAH INDUSTRI TANAMAN TAHUNAN PERUNTUKAN TANAMAN PANGAN LAHAN BASAH TANAMAN PANGAN LAHAN KERING DAN PETERNAKAN TOPOGRAFI 1.1. Lubang Galian a. Kedalaman Lebih dalam 1 meter diatas muka air tanah pada musim hujan b. Jarak < 5 meter dari batas SIPD 1.2. Dasar Galian Melebihi muka air tanah pada musim hujan Lebih dari 10 cm di bawah muka air tanah pada musim hujan Melebihi muka air tanah pada musim hujan < 5 meter < 5 meter < 5 meter a. Perbedaan Relief dasar galian b. Kemiringan dasar galian 1.3. Dinding Galian 1 meter 1 meter 1 meter 1 meter 8 % 8 % 3 % 8 % a. Tebing Teras Tinggi 3 m Tinggi 3 m Tinggi 3 m Tinggi 3 m b. Dasar Teras Lebar < 6 m Lebar < 6 m Lebar < 6 m Lebar < 6 m 2. TANAH Tanah yang dikembalikan sebagai Tanah penutup < 25 cm < 50 cm < 25 cm < 25 cm 3. VEGETASI 3.1 Tutupan Tanaman budi daya 3.2 Tutupan tanaman tahunan 3.3 Tutupan tanaman lahan basah 3.4 Tutupan tanaman lahan kering/rumput < 20 % tanaman tumbuh di seluruh lahan penambangan < 50 % tanaman tumbuh di seluruh lahan penambangan < 50 % tanaman tumbuh di seluruh lahan penambangan < 50 % tanaman tumbuh di seluruh lahan penambangan

35 LAMPIRAN XIX KRITERIA BAKU KERUSAKAN TERUMBU KARANG PARAMETER KRITERIA BAKU KERUSAKAN KARANG (dalam %) Prosentase luas tutupan terumbu karang yang hidup Rusak Buruk 0 24,9 Sedang 25 49,9 Baik Baik 50 74,9 Baik sekali Keterangan : Prosentase Luas Tutupan Terumbu Karang yang Hidup yang dapat ditenggang : %

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 51 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU AIR LAUT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 51 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU AIR LAUT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR: 51 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU AIR LAUT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan laut

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR: 429/ MENKES/ PER/ IV/ 2010 TANGGAL: 19 APRIL 2010 PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR: 429/ MENKES/ PER/ IV/ 2010 TANGGAL: 19 APRIL 2010 PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR: 429/ MENKES/ PER/ IV/ 2010 TANGGAL: 19 APRIL 2010 PERSYARATAN KUALITAS AIR MINUM I. PARAMETER WAJIB No. Jenis Parameter Satuan Kadar Maksimum Yang Diperbolehkan 1. Parameter

Lebih terperinci

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM L A M P I R A N 268 BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM PARAMETER KADAR MAKSIMUM BEBAN PENCEMARAN MAKSIMUM (gram/ton) TSS 20 0,40 Sianida Total (CN) tersisa 0,2 0,004 Krom Total (Cr) 0,5

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG BAKU MUTU LINGKUNGAN HIDUP DAN KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG BAKU MUTU LINGKUNGAN HIDUP DAN KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG BAKU MUTU LINGKUNGAN HIDUP DAN KRITERIA BAKU KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a.

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perhitungan Jumlah Zooplankton yang ditemukan. Jumlah Individu/l St 1 St 2 St 3 St 4 St 5

Lampiran 1. Perhitungan Jumlah Zooplankton yang ditemukan. Jumlah Individu/l St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 75 LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan Jumlah Zooplankton yang ditemukan Genus Jumlah Individu/l St 1 St 2 St 3 St 4 St 5 Total Ind/l Rata-rata Nauplius 3 2 2 3 1 11 2,2 Cylopoid 3 3 2 2 1 11 2,2

Lebih terperinci

L A M P I R A N DAFTAR BAKU MUTU AIR LIMBAH

L A M P I R A N DAFTAR BAKU MUTU AIR LIMBAH L A M P I R A N DAFTAR BAKU MUTU AIR LIMBAH 323 BAKU MUTU AIR LIMBAH INDUSTRI KECAP PARAMETER BEBAN PENCEMARAN Dengan Cuci Botol (kg/ton) Tanpa Cuci Botol 1. BOD 5 100 1,0 0,8 2. COD 175 1,75 1,4 3. TSS

Lebih terperinci

BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN DOMESTIK

BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN DOMESTIK Lampiran II Tentang : Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN DOMESTIK NO. PARAMETER SATUAN KADAR PALING TINGGI FISIKA

Lebih terperinci

TARIF LAYANAN JASA TEKNIS BADAN PENGKAJIAN KEBIJAKAN, IKLIM DAN MUTU INDUSTRI BALAI RISET DAN STANDARDISASI INDUSTRI SAMARINDA

TARIF LAYANAN JASA TEKNIS BADAN PENGKAJIAN KEBIJAKAN, IKLIM DAN MUTU INDUSTRI BALAI RISET DAN STANDARDISASI INDUSTRI SAMARINDA TARIF LAYANAN JASA TEKNIS BALAI RISET DAN STANDARDISASI INDUSTRI SAMARINDA BADAN PENGKAJIAN KEBIJAKAN, IKLIM DAN MUTU INDUSTRI BALAI RISET DAN STANDARDISASI INDUSTRI SAMARINDA Jl. M.T. Haryono / Banggeris

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 51/MENLH/10/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN INDUSTRI

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 51/MENLH/10/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN INDUSTRI KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 51/MENLH/10/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN INDUSTRI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa untuk melestarikan lingkungan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2011 NOMOR 02 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2011 NOMOR 02 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2011 NOMOR 02 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PENETAPAN KELAS AIR PADA SUNGAI DI WILAYAH KABUPATEN TABALONG DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

TARIF LINGKUP AKREDITASI

TARIF LINGKUP AKREDITASI TARIF LINGKUP AKREDITASI LABORATORIUM BARISTAND INDUSTRI PALEMBANG BIDANG PENGUJIAN KIMIA/FISIKA TERAKREDITASI TANGGAL 26 MEI 2011 MASA BERLAKU 22 AGUSTUS 2013 S/D 25 MEI 2015 Bahan Atau Produk Pangan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT No Seri D

LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT No Seri D LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT No. 27 2000 Seri D PERATURAN DAERAH JAWA BARAT NOMOR : 39 TAHUN 2000 TENTANG PERUNTUKAN AIR DAN BAKU MUTU AIR PADA SUNGAI CITARUM DAN ANAK-ANAK SUNGAINYA DI JAWA BARAT

Lebih terperinci

FORMULIR ISIAN IZIN PEMBUANGAN LIMBAH CAIR KE LAUT. 1. Nama Pemohon : Jabatan : Alamat : Nomor Telepon/Fax. :...

FORMULIR ISIAN IZIN PEMBUANGAN LIMBAH CAIR KE LAUT. 1. Nama Pemohon : Jabatan : Alamat : Nomor Telepon/Fax. :... Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : Tanggal : FORMULIR ISIAN IZIN PEMBUANGAN LIMBAH CAIR KE LAUT I. INFORMASI UMUM A. Pemohon 1. Nama Pemohon :... 2. Jabatan :... 3. Alamat :...

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2011 NOMOR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2011 NOMOR LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TABALONG TAHUN 2011 NOMOR 02 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABALONG NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PENETAPAN KELAS AIR PADA SUNGAI DI WILAYAH KABUPATEN TABALONG DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PERIZINAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH KE LAUT

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PERIZINAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH KE LAUT SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2006 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PERIZINAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH KE LAUT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : bahwa dalam

Lebih terperinci

Lampiran A. Bagan Kerja Metode Winkler untuk Mengukur Kelarutan Oksigen (DO) 1 ml MnSO 4 1 ml KOH KI dikocok didiamkan

Lampiran A. Bagan Kerja Metode Winkler untuk Mengukur Kelarutan Oksigen (DO) 1 ml MnSO 4 1 ml KOH KI dikocok didiamkan Lampiran A. Bagan Kerja Metode Winkler untuk Mengukur Kelarutan Oksigen (DO) Sampel Air Sampel Dengan Endapan Putih/Coklat Larutan Sampel Berwarna Coklat 1 ml MnSO 4 1 ml KOH KI dikocok didiamkan 1 ml

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR SULAWESI BARAT NOMOR 34 TAHUN 2015 TENTANG BAKU MUTU AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI BARAT,

PERATURAN GUBERNUR SULAWESI BARAT NOMOR 34 TAHUN 2015 TENTANG BAKU MUTU AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI BARAT, SALINAN PERATURAN GUBERNUR SULAWESI BARAT NOMOR 34 TAHUN 2015 TENTANG BAKU MUTU AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI BARAT, Menimbang : a. bahwa pencemaran lingkungan hidup disebabkan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 07 TAHUN 2013

LEMBARAN DAERAH PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 07 TAHUN 2013 LEMBARAN DAERAH NOMOR 07 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 07 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 08 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH DENGAN

Lebih terperinci

NO SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO SERI. E

NO SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NO. 16 2008 SERI. E PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG

Lebih terperinci

SNI butir A Air Minum Dalam Kemasan Bau, rasa SNI butir dari 12

SNI butir A Air Minum Dalam Kemasan Bau, rasa SNI butir dari 12 LAMPIRAN SERTIFIKAT AKREDITASI LABORATORIUM NO. LP-080-IDN Bahan atau produk yang Jenis Pengujian atau sifat-sifat yang Spesifikasi, metode pengujian, teknik yang Kimia/Fisika Pangan Olahan dan Pakan Kadar

Lebih terperinci

Lampiran A. Prosedur Analisa Logam Berat Pb dan Cd Dalam Kerang Bulu (Anadara inflata) Diambil daging. Ditambah 25 ml aquades. Ditambah 10 ml HNO 3

Lampiran A. Prosedur Analisa Logam Berat Pb dan Cd Dalam Kerang Bulu (Anadara inflata) Diambil daging. Ditambah 25 ml aquades. Ditambah 10 ml HNO 3 Lampiran A. Prosedur Analisa Logam Berat Pb dan Cd Dalam Kerang Bulu (Anadara inflata) Kerang Diambil daging Ditambah 25 ml aquades Ditambah 10 ml HNO 3 Dipanaskan dengan suhu 120 0 C selama 30 menit Didinginkan

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah RI No. 20 tahun 1990, tanggal 5 Juni 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air

Peraturan Pemerintah RI No. 20 tahun 1990, tanggal 5 Juni 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air Lampiran Peraturan Pemerintah RI No. 20 tahun 1990, tanggal 5 Juni 1990 Tentang Pengendalian Pencemaran Air A. Daftar Kriteria Kualitas Air Golonagan A (Air yang dapat digunakan sebagai air minum secara

Lebih terperinci

Lampiran F - Kumpulan Data

Lampiran F - Kumpulan Data Lampiran F - Kumpulan Data TABEL 1.1.d. PEMANTAUAN KUALITAS AIR Jenis Perairan : Sungai Code Tahun Data : Desember 2006 Air Klas III Titik 1 Titik 2 1 1 Residu terlarut *** mg/l 1000 245 280 2 Residu tersuspensi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN, PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.59/Menlhk/Setjen/Kum.1/7/2016 TENTANG BAKU MUTU LINDI BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN TEMPAT PEMROSESAN AKHIR SAMPAH DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI KAWASAN INDUSTRI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI KAWASAN INDUSTRI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN Menimbang : PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI KAWASAN INDUSTRI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, a. bahwa dalam rangka pelestarian fungsi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 07 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI KETEL UAP

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 07 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI KETEL UAP SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 07 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI KETEL UAP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelestarian

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/1990 Tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air

PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/1990 Tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air SALINAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN Nomor : 416/MEN.KES/PER/IX/1990 Tentang Syaratsyarat Dan Pengawasan Kualitas Air MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 04 Tahun 2009 Tanggal : 25 Maret 2009

Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 04 Tahun 2009 Tanggal : 25 Maret 2009 Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 04 Tahun 2009 Tanggal : 25 Maret 2009 AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU A. KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU KATEGORI L DENGAN

Lebih terperinci

SURAT KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT NOMOR : /Sk/624/BKPMD/82 TENTANG

SURAT KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT NOMOR : /Sk/624/BKPMD/82 TENTANG SURAT KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT NOMOR : 660.31/Sk/624/BKPMD/82 TENTANG TATA CARA PENGENDALIAN DAN KRITERIA PENCEMARAN LINGKUNGAN AKIBAT INDUSTRI GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR : 169 TAHUN 2003

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR : 169 TAHUN 2003 KEPUTUSAN PROPINSI NOMOR : 169 TAHUN 2003 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK DI PROPINSI Menimbang Mengingat : a. Bahwa Baku Mutu Lingkungan Daerah untuk wilayah propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Lebih terperinci

Jenis pengujian atau sifat-sifat yang diukur

Jenis pengujian atau sifat-sifat yang diukur LAMPIRAN SERTIFIKAT AKREDITASI LABORATORIUM NO. LP-607-IDN Fisika/Kimia/ Tepung terigu Keadaan produk: Bentuk, Bau, Warna SNI 3751-2009, butir A.1 Mikrobiologi Benda asing SNI 3751-2009, butir A.2 Serangga

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1990 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1990 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR Lampiran PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 1990 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat

Lebih terperinci

Air mineral SNI 3553:2015

Air mineral SNI 3553:2015 Standar Nasional Indonesia ICS 67.160.20 Air mineral Badan Standardisasi Nasional BSN 2015 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI KAWASAN INDUSTRI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI KAWASAN INDUSTRI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI KAWASAN INDUSTRI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelestarian fungsi

Lebih terperinci

BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN BUPATI LOMBOK BARAT NOMOR 11 TAHUN 2016 T E N T A N G JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN DAERAH BUKAN PAJAK PADA BADAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.58, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Badan Layanan Umum. Balai Standardisasi Industri. Tarif. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11/PMK.05/2011 TENTANG TARIF LAYANAN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Masalah Air Limbah Rumah Sakit

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Masalah Air Limbah Rumah Sakit BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Masalah Air Limbah Rumah Sakit Pencemaran air limbah sebagai salah satu dampak pembangunan di berbagai bidang disamping memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat. Selain itu peningkatan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR, 4. Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 1999 tentang Perusahaan Umum Jasa Tirta I ;

GUBERNUR JAWA TIMUR, 4. Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 1999 tentang Perusahaan Umum Jasa Tirta I ; GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 28 / KPTS/013/2005 TENTANG PENUNJUKAN LABORATORIUM KUALITAS AIR PERUSAHAAN UMUM JASA TIRTA (PIT) I SEBAGAI LABORATORIUM LINGKUNGAN DI JAWA TIMUR

Lebih terperinci

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 11/PMK.OS/2015 TENTANG TARIF LAYANAN BADAN LAYANAN UMUM BALAI R!SET DAN STANDARDISASI INDUSTRI LAMPUNG PADA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN. MENTERIKEUANGAN TARIF LAYANAN

Lebih terperinci

LAMPIRAN I. No Jenis Parameter Satuan 1 Parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan

LAMPIRAN I. No Jenis Parameter Satuan 1 Parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan LAMPIRAN I Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 / Menkes / Per / IV / 2010 Tanggal 19 April 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. I. PARAMETER WAJIB No Jenis Parameter Satuan 1 Parameter yang berhubungan

Lebih terperinci

Air mineral alami SNI 6242:2015

Air mineral alami SNI 6242:2015 Standar Nasional Indonesia Air mineral alami ICS 67.160.20 Badan Standardisasi Nasional BSN 2015 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen

Lebih terperinci

LIMBAH. Pengertian Baku Mutu Lingkungan Contoh Baku Mutu Pengelompokkan Limbah Berdasarkan: 1. Jenis Senyawa 2. Wujud 3. Sumber 4.

LIMBAH. Pengertian Baku Mutu Lingkungan Contoh Baku Mutu Pengelompokkan Limbah Berdasarkan: 1. Jenis Senyawa 2. Wujud 3. Sumber 4. LIMBAH Pengertian Baku Mutu Lingkungan Contoh Baku Mutu Pengelompokkan Limbah Berdasarkan: 1. Jenis Senyawa 2. Wujud 3. Sumber 4.B3 PENGERTIAN Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 18/1999 Jo.PP 85/1999

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP-13/MENLH/3/1995 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP-13/MENLH/3/1995 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK KEPUTUSAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mencegah terjadinya pencemaran udara dari jenis-jenis kegiatan sumber tidak bergerak perlu dilakukan upaya pengendalian pencemaran udara dengan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP-13/MENLH/3/1995 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP-13/MENLH/3/1995 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP-13/MENLH/3/1995 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa untuk mencegah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 TENTANG BAKU MUTU EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU KATEGORI M, KATEGORI N, DAN KATEGORI

Lebih terperinci

BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA

BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Daftar Isi... iii Daftar Tabel... vi Daftar Gambar... ix Daftar Grafik... xi BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA A. LAHAN DAN HUTAN... Bab I 1 A.1. SUMBER

Lebih terperinci

No. BAK/TBB/SBG201 Revisi : 00 Tgl. 01 Mei 2008 Hal 1 dari 8 Semester I BAB I Prodi PT Boga BAB I MATERI

No. BAK/TBB/SBG201 Revisi : 00 Tgl. 01 Mei 2008 Hal 1 dari 8 Semester I BAB I Prodi PT Boga BAB I MATERI No. BAK/TBB/SBG201 Revisi : 00 Tgl. 01 Mei 2008 Hal 1 dari 8 BAB I MATERI Materi adalah sesuatu yang menempati ruang dan mempunyai massa. Materi dapat berupa benda padat, cair, maupun gas. A. Penggolongan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 23 III. METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di TPST Sampah Bantargebang, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, yang meliputi tiga kelurahan,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU UTARA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI ATAS PENGAWASAN KUALITAS AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU UTARA, Menimbang :

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN SUMBER AIR BAKU AIR MINUM

BAB IV TINJAUAN SUMBER AIR BAKU AIR MINUM BAB IV TINJAUAN SUMBER AIR BAKU AIR MINUM IV.1. Umum Air baku adalah air yang memenuhi baku mutu air baku untuk dapat diolah menjadi air minum. Air baku yang diolah menjadi air minum dapat berasal dari

Lebih terperinci

KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 582 TAHUN 1995 TENTANG

KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 582 TAHUN 1995 TENTANG LAMPIRAN 5 KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 582 TAHUN 1995 TENTANG PENETAPAN PERUNTUKAN DAN BAKU MUTU AIR SUNGAI/BADAN AIR SERTA BAKU LIMBAH CAIR DI WILAYAH DAERAH KHUSUS IBUKOTA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP. Baku Mutu Air Limbah. Migas. Panas Bumi.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP. Baku Mutu Air Limbah. Migas. Panas Bumi. No.582, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP. Baku Mutu Air Limbah. Migas. Panas Bumi. PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2010 TENTANG

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 69 TAHUN 2013 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI KEGIATAN DAN/ATAU USAHA

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 69 TAHUN 2013 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI KEGIATAN DAN/ATAU USAHA www.hukumonline.com PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 69 TAHUN 2013 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI KEGIATAN DAN/ATAU USAHA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 21/ KPTS/013/2005 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 21/ KPTS/013/2005 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 21/ KPTS/013/2005 TENTANG PENUNJUKAN LABORATORIUM BALAI BESAR TEKNIK KESEHATAN LINGKUNGAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR (BBTKLPPM) SURABAYA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. b. c. bahwa udara sebagai sumber daya alam yang mempengaruhi

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN. SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR, PADAT dan GAS di BAGIAN EKSPLORASI PRODUKSI (EP)-I PERTAMINA PANGKALAN SUSU TAHUN 2008

KUESIONER PENELITIAN. SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR, PADAT dan GAS di BAGIAN EKSPLORASI PRODUKSI (EP)-I PERTAMINA PANGKALAN SUSU TAHUN 2008 KUESIONER PENELITIAN SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR, PADAT dan GAS di BAGIAN EKSPLORASI PRODUKSI (EP)-I PERTAMINA PANGKALAN SUSU TAHUN 2008 Nama Perusahaan Jenis Industri Lokasi Kegiatan : PT. Pertamina

Lebih terperinci

POTENSI HIDROLOGI DANAU DAN LAHAN GAMBUT SEBAGAI SUMBERDAYA AIR (STUDI KASUS: DANAU AIR HITAM, PEDAMARAN, OKI)

POTENSI HIDROLOGI DANAU DAN LAHAN GAMBUT SEBAGAI SUMBERDAYA AIR (STUDI KASUS: DANAU AIR HITAM, PEDAMARAN, OKI) POTENSI HIDROLOGI DANAU DAN LAHAN GAMBUT SEBAGAI SUMBERDAYA AIR (STUDI KASUS: DANAU AIR HITAM, PEDAMARAN, OKI) Muh Bambang Prayitno dan Sabaruddin Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 52 TAHUN 2014 TENTANG

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 52 TAHUN 2014 TENTANG - 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 52 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2013 TENTANG BAGI INDUSTRI DAN/ATAU KEGIATAN USAHA LAINNYA

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 19 TAHUN 2010 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS SERTA PANAS BUMI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN AIR BAKU

BAB IV TINJAUAN AIR BAKU BAB IV TINJAUAN AIR BAKU IV.1 Umum Air baku adalah air yang berasal dari suatu sumber air dan memenuhi baku mutu air baku untuk dapat diolah menjadi air minum. Sumber air baku dapat berasal dari air permukaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA PRESI DEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA PRESI DEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA PRESI DEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : Bahwa udara sebagai sumber daya alam yang mempengaruhi kehidupan

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, S A L I N A N PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2007 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN MINYAK DAN GAS SERTA PANAS BUMI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO

PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO PEMERINTAH KABUPATEN MUKOMUKO PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUKOMUKO NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MUKOMUKO, Menimbang

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/231/KPTS/013/2005 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/231/KPTS/013/2005 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/231/KPTS/013/2005 TENTANG PENUNJUKAN LABORATORIUM PENGUJIAN DAN KALIBRASI BALAI RISET DAN STANDARDISASI (BARISTAND) SURABAYA SEBAGAI LABORATORIUM

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 13 TAHUN 1995 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 13 TAHUN 1995 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, KEPUTUSAN MENTERI NOMOR 13 TAHUN 1995 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER MENTERI, Menimbang : 1. bahwa untuk mencegah terjadinya pencemaran udara dari jenis-jenis kegiatan sumber tidak bergerak perlu dilakukan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.554, 2017 KEMEN-LHK. Baku Mutu Emisi. Kendaraan Bermotor. Kategori M, Kategori N, dan Kategori O. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 dicantumkan dalam izin Ortodonansi Gangguan.

Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 dicantumkan dalam izin Ortodonansi Gangguan. 1 KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR :KEP.13/MENLH/3/1995 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP Menimbang : a. bahwa untuk mencegah terjadinya pencemaran

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 09 TAHUN 2006 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BIJIH NIKEL

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 09 TAHUN 2006 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BIJIH NIKEL SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 09 TAHUN 2006 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BIJIH NIKEL MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 2. Sifat fisik dan kimia air permukaan

Tabel Lampiran 2. Sifat fisik dan kimia air permukaan LAMPIRAN 58 59 Tabel Lampiran 1. Sifat kimia air hujan No Contoh Air ph P-total (mg/l) Nitrat (mg/l) Pb (mg/l) 1 Air Hujan 1 6.3 0.25 6.2 0.13 2 Air Hujan 2 6.3 0.2 0 0.09 3 Air Hujan 3 6.1 0.33 6.2 0.13

Lebih terperinci

Lampiran 4. Tabel Hasil Analisa Pengambilan Sampel Air Laut Kota Surabaya Tahun 2012

Lampiran 4. Tabel Hasil Analisa Pengambilan Sampel Air Laut Kota Surabaya Tahun 2012 Lampiran 4. Tabel Hasil Analisa Pengambilan Sampel Air Laut Kota Surabaya Tahun 2012 NO 1 Uji Sampling Air Laut di Wisata Bahari Melampaui baku mutu pada : Lokasi : Kenjeran Pulau Pasir Fisika : [02 April

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR DALAM PERMEN LH NOMOR 5 TAHUN 2014

KEBIJAKAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR DALAM PERMEN LH NOMOR 5 TAHUN 2014 KEBIJAKAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR DALAM PERMEN LH NOMOR 5 TAHUN 2014 Oleh : IIM IBRAHIM DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

Lebih terperinci

MATERI 7 ANALISIS ASPEK LINGKUNGAN

MATERI 7 ANALISIS ASPEK LINGKUNGAN MATERI 7 ANALISIS ASPEK LINGKUNGAN Analisis aspek lingkungan dalam studi kelayakan bisnis mengacu pada Analisis Mengenai Dampak Lingkungan ( AMDAL ) yang disusun oleh konsultan AMDAL. Di Indonesia AMDAL

Lebih terperinci

ANALISIS BOD dan COD DI SUNGAI SROYO SEBAGAI DAMPAK INDUSTRI DI KECAMATAN JATEN

ANALISIS BOD dan COD DI SUNGAI SROYO SEBAGAI DAMPAK INDUSTRI DI KECAMATAN JATEN ISBN : 979-498-467-1 Kimia Anorganik, Analitik, Fisika, dan Lingkungan ANALISIS BOD dan COD DI SUNGAI SROYO SEBAGAI DAMPAK INDUSTRI DI KECAMATAN JATEN Nanik Dwi Nurhayati Program Studi P.Kimia FKIP UNS

Lebih terperinci

PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015

PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015 PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015 A. PEMANTAUAN KUALITAS AIR DANAU LIMBOTO Pemantauan kualitas air ditujukan untuk mengetahui pengaruh kegiatan yang dilaksanakan

Lebih terperinci

BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 50 TAHUN 2015

BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 50 TAHUN 2015 SALINAN BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 50 TAHUN 2015 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PERIZINAN PEMBUANGAN AIR LIMBAH KE SUMBER AIR DAN PEMANFAATAN AIR LIMBAH KE TANAH UNTUK

Lebih terperinci

Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 07 tahun 2007 Tanggal : 8 Mei 2007 BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI KETEL UAP YANG MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR BIOMASSA BERUPA SERABUT

Lebih terperinci

KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 551/2001 TENTANG

KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 551/2001 TENTANG KEPGUB DKI JAKARTA No. 551 TAHUN 2001 Tentang Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Tingkat Kebisingan Di Propinsi DKI Jakarta Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta KEPUTUSAN NOMOR 551/2001

Lebih terperinci

Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 07 tahun 2007 Tanggal : 8 Mei 2007

Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 07 tahun 2007 Tanggal : 8 Mei 2007 Lampiran I Nomor : 07 tahun 2007 YANG MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR BIOMASSA BERUPA SERABUT DAN/ATAU CANGKANG 1. Partikulat 300 mg/m 3 2. Sulfur Dioksida (SO 2 ) 600 mg/m 3 3. Nitrogen Oksida (NO 2 ) 800 mg/m

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Air merupakan sumber daya alam yang menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan. Sekitar tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Adapun langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini dapat dilihat pada diagram alir dibawah ini : Gambar 3.1 Tahapan Penelitian III-1 3.1 Penelitian Pendahuluan

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR :13 TAHUN 2014 TENTANG PENGUJIAN AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR :13 TAHUN 2014 TENTANG PENGUJIAN AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR :13 TAHUN 2014 TENTANG PENGUJIAN AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BIJIH BESI

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BIJIH BESI SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BIJIH BESI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2001

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2001 Menimbang : PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN KUALITAS AIR DAN PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1. bahwa air merupakan salah satu sumber

Lebih terperinci

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Usaha dan/atau kegiatan pembangkit listrik tenaga termal adalah usaha dan/atau kegiatan

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Usaha dan/atau kegiatan pembangkit listrik tenaga termal adalah usaha dan/atau kegiatan SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 08 TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA TERMAL MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa lingkungan laut beserta sumber daya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanah merupakan salah satu unsur alam yang sama pentingnya dengan air dan udara. Tanah adalah suatu benda alami, bagian dari permukaan bumi yang dapat ditumbuhi oleh

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1999 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN/ATAU PERUSAKAN LAUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa lingkungan laut beserta sumber daya

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, S A L I N A N KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 202 TAHUN 2004 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN BIJIH EMAS DAN ATAU TEMBAGA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 58/MENLH/12/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN RUMAH SAKIT LINGKUNGAN HIDUP

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 58/MENLH/12/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN RUMAH SAKIT LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 58/MENLH/12/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN RUMAH SAKIT LINGKUNGAN HIDUP Kementerian Lingkungan Hidup 2002 1 KEPUTUSAN MENTERI NEGARA

Lebih terperinci

EVALUASI KUALITAS DAN KUANTITAS AIR YANG DITERIMA PELANGGAN PDAM KECAMATAN WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK

EVALUASI KUALITAS DAN KUANTITAS AIR YANG DITERIMA PELANGGAN PDAM KECAMATAN WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK EVALUASI KUALITAS DAN KUANTITAS AIR YANG DITERIMA PELANGGAN PDAM KECAMATAN WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK Hadi Iswanto 1) dan Nieke Karnaningroem 2) 1) Teknik Sanitasi Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh

Lebih terperinci

GUBERNUR KEPALA DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA. Menimbang :

GUBERNUR KEPALA DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA. Menimbang : KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA AERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 582 TAHUN 1995 TENTANG PENETAPAN PERUNTUKAN AN BAKU MUTU AIR SUNGAI/BAAN AIR SERTA BAKU LIMBAH CAIR I WILAYAH AERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA GUBERNUR

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2009 TENTANG AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2009 TENTANG AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2009 TENTANG AMBANG BATAS EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR : 65 TAHUN 1999

KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR : 65 TAHUN 1999 KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR : 65 TAHUN 1999 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN PELAYANAN KESEHATAN DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA GUBERNUR KEPALA DAERAH

Lebih terperinci

Lampiran 1. Data Penentuan Panjang Gelombang Maksimum dari Larutan Seri Standar Fe(NH 4 ) 2 ( SO 4 ) 2 6H 2 O 0,8 mg/l

Lampiran 1. Data Penentuan Panjang Gelombang Maksimum dari Larutan Seri Standar Fe(NH 4 ) 2 ( SO 4 ) 2 6H 2 O 0,8 mg/l Lampiran 1. Data Penentuan Panjang Gelombang Maksimum dari Larutan Seri Standar Fe(NH 4 ) 2 ( SO 4 ) 2 6H 2 O 0,8 mg/l No Panjang Gelombang % T Absorbansi (nm) 1 500 75 0,1249 2 505 74 0,1308 3 510 73

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kualitas Air Kualitas air secara biologis ditentukan oleh banyak parameter, yaitu parameter mikroba pencemar, patogen dan penghasil toksin. Banyak mikroba yang sering bercampur

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERDANG BEDAGAI, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Diagram alir instalasi pengolahan air Dekeng

Lampiran 1. Diagram alir instalasi pengolahan air Dekeng 59 Lampiran 1. Diagram alir instalasi pengolahan air Dekeng 60 Lampiran 2. Diagram alir pengolahan air oleh PDAM TP Bogor 61 Lampiran 3. Perbandingan antara kualitas air baku dengan baku mutu pemerintah

Lebih terperinci

KAJIAN KUALITAS AIR DAN SEDIMEN DASAR SUNGAI KUTAI LAMA-KAB. KUTAI KARTANEGARA SEBAGAI PERTIMBANGAN AWAL RENCANA PENGERUKAN

KAJIAN KUALITAS AIR DAN SEDIMEN DASAR SUNGAI KUTAI LAMA-KAB. KUTAI KARTANEGARA SEBAGAI PERTIMBANGAN AWAL RENCANA PENGERUKAN KAJIAN KUALITAS AIR DAN SEDIMEN DASAR SUNGAI KUTAI LAMA-KAB. KUTAI KARTANEGARA SEBAGAI PERTIMBANGAN AWAL RENCANA PENGERUKAN Mardi Wibowo Balai Teknologi Infrstruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai BPPT

Lebih terperinci

4.1 Konsentrasi NO 2 Tahun 2011

4.1 Konsentrasi NO 2 Tahun 2011 4.1 Konsentrasi NO 2 Tahun 2011 Pada pengujian periode I nilai NO 2 lebih tinggi dibandingkan dengan periode II dan III (Gambar 4.1). Tinggi atau rendahnya konsentrasi NO 2 sangat dipengaruhi oleh berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Sewon dibangun pada awal

BAB I PENDAHULUAN. Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Sewon dibangun pada awal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang a. Profil IPAL Sewon Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Sewon dibangun pada awal Januari 1994 Desember 1995 yang kemudian dioperasikan pada tahun 1996. IPAL Sewon

Lebih terperinci