RUU TENTANG PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN SENDIRI DI ACHEH YANG MENGACU KEPADA MOU HELSINKI 15 AGUSTUS Ahmad Sudirman Stockholm - SWEDIA.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RUU TENTANG PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN SENDIRI DI ACHEH YANG MENGACU KEPADA MOU HELSINKI 15 AGUSTUS Ahmad Sudirman Stockholm - SWEDIA."

Transkripsi

1 Stockholm, 14 Januari 2006 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum wr wbr. RUU TENTANG PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN SENDIRI DI ACHEH YANG MENGACU KEPADA MOU HELSINKI 15 AGUSTUS Ahmad Sudirman Stockholm - SWEDIA. SEKILAS CONTOH RUU TENTANG PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN SENDIRI DI ACHEH YANG MENGACU KEPADA MOU HELSINKI 15 AGUSTUS Dibawah ini ada draft RUU Pemerintahan Sendiri di Acheh yang masuk ke Ahmad Sudirman dan telah diteliti, dipelajari, dianalisa dan dirobah disesuaikan dengan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki 15 Agustus Semua butir-butir yang terkandung dalam MoU Helsinki sudah tertuang dalam draft RUU Pemerintahan Sendiri di Acheh dibawah ini. Dasar yang paling penting yang perlu dijelaskan disini adalah karena Pemerintahan Sendiri di Acheh baru pertama kali ini dilahirkan, dibentuk dan dibangun sejak sejarah pertumbuhan dan perkembangan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Republik Indonesia Serikat 27 Desember 1949, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan UUD Sementara 1950 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan UUD Juli 1959, maka tidak satupun Undang-Undang yang berlaku sekarang termasuk UUD 1945 yang mengatur secara hukum Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri di Acheh. Jadi wujudnya Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri di Acheh ini adalah karena telah ditandatanganinya MoU Helsinki 15 Agustus 2005 dan berdasarkan dasar hukum MoU inilah RUU Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri di Acheh dibuat yang selanjutnya ditetapkan dan diundangkan di Acheh. Berdasarkan MoU Helsinki Pemerintahan sendiri di Aceh yang disebut pemerintahan Acheh adalah Pemerintahan sendiri di wilayah Aceh berdasarkan perbatasan 1 Juli 1956 dan berdasarkan perbatasan 1 Juli 1956 Acheh adalah bukan provinsi dan Acheh bukan otonomi, melainkan Acheh merupakan daerah yang dimasukkan kedalam wilayah propinsi Sumatra Utara. Dimana dasar hukumnya adalah karena Undang Undang Nomor 24 Tahun 1956 Tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Aceh dan Perubahan Peraturan Pembentukan Propinsi Sumatera Utara ditetapkan pada tanggal 29 Nopember 1956 oleh Presiden Republik Indonesia, Soekarno dan diundangkan pada tanggal 7 Desember 1956 oleh Menteri Kehakiman, Muljatno dan Menteri Dalam Negeri, Sunarjo. Jadi, Acheh pada tanggal 1 Juli 1956 masih berada dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara, sebab Acheh baru dipisahkan dari Propinsi Sumatera Utara menjadi Propinsi Acheh yang otonom pada tanggal 29 Nopember 1956.

2 Nah, berdasarkan dasar hukum inilah mengapa Acheh pada tanggal 1 Juli 1956 bukan propinsi dan bukan otonomi. Ketika Ahmad Sudirman mempelajari RUU Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri di Acheh ini, yang paling penting adalah: Pertama, RUU tersebut mengacu kepada MoU Helsinki 15 Agustus 2005 sebagai Self- Government atau Pemerintahan Sendiri di Acheh yang bukan propinsi dan tidak bersifat otonomi khusus atau otonomi istimewa. Kedua, RUU tersebut tidak mengacukan kepada UU yang ada sekarang di RI, karena UU yang ada tidak punya referensi hukum tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri di Acheh. Ketiga, RUU tersebut tidak mengacu kepada UUD 1945, karena dalam UUD 1945 tidak ada dasar hukum untuk membangun Pemerintahan Sendiri di Acheh, karena yang ada dalam UUD 1945 adalah seperti yang tertuang dalam Pasal 18B ayat (1) Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. Nah, yang dimaksud dengan satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa menurut UUD 1945 adalah satuan pemerintahan daerah oronomi, bukan Pemerintahan sendiri sebagaimana yang telah disepakati dalam MoU Helsinki. Jadi, berdasarkan dasar hukum inilah mengapa Ahmad Sudirman membuang semua yang menjadi dasar "Mengingat" dari mulai pasal-pasal dalam UUD 1945 sampai UU lainnya dan untuk gantinya dimasukkan MoU Helsinki sebagai acuan hukum pembuatan RUU Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri di Acheh. Karena kalau ada saja satu UU yang dijadikan referensi dalam pembuatan RUU Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri, maka menyimpanglah RUU tersebut dari isi MoU Helsinki yang telah disepakati antara pihak GAM dan Pemerintah RI. Inilah sedikit penjelasan RUU Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri di Acheh yang telah dipelajari oleh Ahmad Sudirman. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman

3 RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN SENDIRI DI ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Menimbang : a. Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka yang ditandatangi pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki Finlandia; b. bahwa penyelenggaraan pemerintahan sendiri di Aceh baru pertama kali ini wujud sejak sejarah pertumbuhan dan perkembangan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Republik Indonesia Serikat 27 Desember 1949, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar UUDSementara 1950 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar UUD Juli 1959; c. bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan sendiri di Aceh, dipandang perlu diberikan kewenangan Pemerintahan sendiri di Aceh sesuai dengan semangat dan butir-butir yang terkandung dalam Nota Kesepahaman Helsinki 15 Agustus 2005 yang diatur dengan undang-undang; d. bahwa salah satu karakter khas yang alami di dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh adalah adanya ketahanan dan daya juang yang tinggi yang bersumber pada pandangan hidup dan karakter sosial kemasyarakatan dengan budaya Islam yang kuat; e. bahwa berdasarkan hal-hal tersebut pada huruf a, b, c, dan d, maka perlu ditetapkan Undang-undang tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Sendiri di Aceh; Mengingat : Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka: 1. Penyelenggaraan Pemerintahan di Aceh Undang-undang tentang Penyelenggaraan Pemerintahan di Aceh Undang-undang baru tentang Penyelenggaraan Pemerintahan di Aceh akan diundangkan dan akan mulai berlaku sesegera mungkin dan selambat-lambatnya tanggal 31 Maret Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA Dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN SENDIRI DI ACEH

4 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang Undang ini yang dimaksudkan dengan : 1. Pemerintah Republik Indonesia selanjutnya disebut Pemerintah Indonesia adalah pemegang kekuasaan eksekutif Negara Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden serta para Menteri. 2. Pemerintahan sendiri di Aceh selanjutnya disebut pemerintahan Acheh adalah Pemerintahan sendiri di wilayah Aceh berdasarkan perbatasan 1 Juli 1956 yang diwujudkan melalui suatu proses demokratis yang jujur dan adil. 3. Pemerintah Aceh adalah pemegang kekuasaan eksekutif Aceh yang terdiri atas Kepala Pemerintahan Aceh dan perangkat-perangkatnya. 4. Pemerintah Aceh terdiri dari Pemerintahan Aceh dan Pemerintahan daerah Kabupaten/Kota. 5. Kepala Pemerintahan Aceh adalah pemegang kekuasaan eksekutif di Aceh yang menjalankan kekuasaan Pemerintahan sendiri di Aceh. 6. Kabupaten, adalah Daerah yang berada di bawah Pemerintahan Aceh yang dipimpin oleh Bupati/Kepala Pemerintahan Daerah. 7. Kota adalah Daerah yang berada di bawah Pemerintahan Aceh yang dipimpin oleh Walikota. 8. Kecamatan adalah perangkat daerah Kabupaten/Kota, yang dipimpin oleh Camat. 9. Mukim adalah kesatuan masyarakat yang merupakan organisasi pemerintahan dalam Kecamatan yang terdiri atas gabungan beberapa gampong yang mempunyai batas wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri, yang dipimpin oleh Imum Mukim. 10. Gampong adalah kesatuan masyarakat yang merupakan organisasi pemerintahan terendah yang berada langsung di bawah Mukim dan menempati wilayah tertentu, yang dipimpin oleh Geuchik serta berhak menyelenggarakan urusan rumah tangganya sendiri. 11. Wali Nanggroe adalah lembaga kepemimpinan rakyat yang berdiri sendiri untuk pelestarian dan penyelenggaraan kehidupan adat dan budaya serta pemersatu rakyat Aceh. 12. Legislatif Aceh untuk selanjutnya disebut Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum. 13. Majelis Perwakilan Daerah Aceh selanjutnya disebut MPDA adalah lembaga legislatif Aceh perwakilan daerah yang berada di wilayah Pemerintahan Aceh yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum. 14. Departemen adalah lembaga operasional strategis dan teknis yang bertugas membantu kepala pemerintahan Aceh 15. Dinas adalah lembaga operasional teknis yang bertugas membantu kepala daerah kabupaten/kota 16. Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama adalah lembaga peradilan yang mengadili perkara-perkara yang berkenaan dengan Agama Islam. 17. Qanun Aceh adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dengan persetujuan bersama Kepala Pemerintahan Aceh sebagai peraturan pelaksanaan undang-undang ini. 18. Qanun pada tingkat Kabupaten/Kota adalah produk perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota untuk mengatur hal ikhwal penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan masyarakat dalam lingkungan Kabupaten/Kota itu.

5 19. Partai Politik yang memenuhi persyaratan Nasional dan ada basisnya di Aceh adalah partai politik nasional sebagai sarana partisipasi politik secara damai dan demokratis melalui pemilihan umum. 20. Partai Politik Lokal adalah partai politik yang berbasis di Aceh dan hanya untuk di Aceh yang dibentuk dan didirikan di Aceh oleh Rakyat Aceh, sebagai sarana partisipasi politik secara damai dan Demokratis melalui pemilihan umum. 21. Rakyat Aceh adalah rakyat yang berasal dari berbagai bangsa yang telah menetap di Aceh secara turun temurun 22. Penduduk Aceh adalah semua orang yang menurut ketentuan yang berlaku terdaftar dan bertempat tinggal di wilayah-wilayah yang ada di Aceh BAB II PEMBAGIAN WILAYAH Pasal 2 (1) Aceh mencakup seluruh wilayah yang merujuk kepada perbatasan tanggal 1 Juli (2) Batas-batas geografis Aceh adalah di timur berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara, di sebelah barat dan selatan berbatasan dengan Samudera India dan di sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka. Pasal 3 (1) Pemerintahan Aceh dibagi dalam Kabupaten/Kota. (2) Kabupaten/kota terdiri atas kecamatan-kecamatan. (3) Kecamatan terdiri atas mukim-mukim. (4) Mukim terdiri atas gampong-gampong. Pasal 4 (1) Pemerintah Aceh bersama-sama pemerintahan daerah provinsi berbatasan dapat membentuk kawasan-kawasan strategis yang menunjang pertubuhan ekonomi. (2) Pemerintah Aceh dan atau bersama-sama Kabupaten/Kota dapat mengusulkan pembentukan kawasan-kawasan strategis untuk kebutuhan pengembangan ekonomi, konservasi dan lingkungan hidup, cagar budaya dan kebutuhan-kebutuhan strategis lainnya. (3) Pembentukan kawasan-kawasan strategis pada ayat (1) dan (2) ditetapkan dengan undangundang. BAB III KEWENANGAN PEMERINTAHAN ACEH Pasal 5 (1) Kewenangan Pemerintah Aceh mencakup kewenangan dalam semua sektor publik, kecuali dalam bidang hubungan luar negeri, pertahanan luar, keamanan nasional, hal ikhwal moneter dan fiskal, kekuasaan kehakiman dan kebebasan beragama, dimana kewenangan tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Indonesia.

6 (2) Persetujuan-persetujuan internasional yang diberlakukan oleh Pemerintah Indonesia yang terkait dengan hal ikhwal kepentingan khusus Aceh akan berlaku dengan konsultasi dan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. (3) Keputusan-keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang terkait dengan Aceh akan dilakukan dengan konsultasi dan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. (4) Kebijakan-kebijakan administratif yang diambil oleh Pemerintah Indonesia berkaitan dengan Aceh akan dilaksanakan dengan konsultasi dan persetujuan Kepala Pemerintahan Aceh. (5) Pemerintah Aceh dapat mengadakan kerjasama yang saling menguntungkan dengan negara lain atau lembaga/badan luar negeri yang diatur dengan keputusan bersama. (6) Pemerintah Aceh berwenang untuk melakukan perdagangan dan bisnis secara internal dan internasional serta menarik investasi dan wisatawan asing secara langsung ke Aceh. (7) Pemerintah Aceh berwenang untuk melakukan perdagangan bebas dengan semua daerah bagian Republik Indonesia tanpa hambatan pajak, tarif ataupun hambatan lainnya. (8) Pemerintah Aceh berwenang untuk mengakses langsung dan tanpa hambatan ke negara-negara asing, melalui laut dan udara. (9) Pemerintah Aceh berwenang untuk melaksanakan pembangunan dan pengelolaan semua pelabuhan laut dan pelabuhan udara dalam wilayah Aceh. (10) Pemerintah Aceh berwenang untuk mengelola sumber daya alam baik yang terdapat di darat maupun di laut teritorial di Aceh. (11) Pemerintah Aceh berwenang untuk membentuk kawasan pembangunan ekonomi terpadu dan kawasan pembangunan industri terpadu dalam pemberdayaan ekonomi rakyat. (12) Pemerintah Aceh berwenang untuk membentuk Majelis Permusyawaratan Ulama, Lembaga Pendidikan Daerah, Majelis Adat Aceh dan Lembaga-lembaga lain sesuai dengan kebutuhan. (13) Kewenangan Pemerintah Aceh yang tidak diatur dalam undang-undang ini akan diatur dalam qanun. BAB IV PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN Pasal 6 (1) Pemerintah Aceh menjalankan kekuasaan pemerintahan sendiri dalam menyelenggarakan semua sektor publik yang menjadi kewenangannya. (2) Kewenangan Pemerintah Indonesia yang tidak termasuk kewenangan pemerintah Aceh dapat: a. Diselenggarakan sendiri oleh Pemerintah Indonesia; b. Dilimpahkan kepada Pemerintah Aceh. Pasal 7 (1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan dibagi berdasarkan kriteria efisiensi, efektivitas, akuntabilitas dan transparansi dengan memperhatikan keserasian hubungan antara susunan pemerintahan. (2) Penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pelaksanaan hubungan kewenangan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Aceh dan antara Daerah di wilayah Aceh yang saling terkait dan sinergis sebagai satu sistem pemerintahan. (3) Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Aceh yang diselenggarakan berdasarkan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan.

7 Pasal 8 (1) Urusan pemerintahan yang diserahkan oleh pemerintah Indonesia kepada Pemerintah Aceh disertai dengan sumber pendanaan, pengalihan sarana dan prasarana, kepegawaian dan lainnya (2) Urusan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Pemerintah Aceh disertai dengan pendanaan sesuai dengan urusan yang dilimpahkan. Pasal 9 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan Pemerintah Aceh meliputi: a. Perencanaan dan pengendalian pembangunan; b. Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang. c. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat; d. Penyediaan sarana dan prasarana umum; e. Penanganan bidang kesehatan; f. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial; g. Penanggulangan masalah sosial; h. Pelayanan bidang penyediaan lapangan kerja dan ketenagakerjaan; i. Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah; j. Pengendalian lingkungan hidup; k. Pelayanan pertanahan; l. Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil; m. Pelayanan administrasi umum pemerintahan; n. Pelayanan administrasi penanaman modal; o. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota; dan p. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. (2) Urusan wajib lainnya yang menjadi kewenangan khusus Pemerintah Aceh antara lain meliputi: a. penyelenggaraan kehidupan beragama dengan tetap menjaga kerukunan hidup antar-umat beragama; b. penyelenggaraan dan pengelolaan ibadah haji; c. penyelenggaraan kehidupan adat dan budaya; d. penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas, bermoral serta menghargai nilai-nilai hak-hak asasi manusia; (3) Urusan pemerintahan Aceh yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata berpotensi meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi, industri, perdagangan dan jasa-jasa yang dapat menembus pasar dunia. Pasal 10 (1) Urusan wajib yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota meliputi: a. perencanaan dan pengendalian pembangunan; b. perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang; c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat; d. penyediaan sarana dan prasarana umum; e. penanganan bidang kesehatan; f. penyelenggaraan pendidikan;

8 g. penanggulangan masalah sosial; h. pelayanan bidang penyediaan lapangan kerja dan ketenagakerjaan; i. fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah; j. pengendalian lingkungan hidup; k. pelayanan pertanahan; l. pelayanan kependudukan, dan catatan sipil; m. pelayanan administrasi umum pemerintahan; n. pelayanan administrasi penanaman modal termasuk; o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. (2) Urusan wajib lainnya yang menjadi kewenangan khusus Kabupaten/Kota antara lain meliputi: a. penyelenggaraan kehidupan beragama dengan tetap menjaga kerukunan hidup antar-umat beragama; b. penyelenggaraan kehidupan adat dan budaya; c. penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas, bermoral dan menghargai nilai-nilai hak-hak asasi manusia; (3) Urusan pemerintah Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan Daerah yang bersangkutan. (4) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4, pasal 5, pasal 6, pasal 7, dan pasal 8 ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Qanun. BAB V SISTIM DAN SUSUNAN PENYELENGGARA PEMERINTAHAN UMUM Pasal 11 (1) Pemerintahan Aceh berbentuk pemerintahan sendiri dalam wilayah Acheh berdasarkan perbatasan tanggal 1 Juli (2) Penyelenggara Pemerintahan Aceh adalah Kepala Pemerintahan Aceh, Wakil Kepala Pemerintahan Aceh dan perangkat Pemerintahan Aceh. (3) Penyelenggara Pemerintahan Daerah Kabupaten atau nama lain adalah Bupati atau nama lain, Wakil Bupati dan perangkat pemerintah Kabupaten. (4) Penyelenggara Pemerintahan Kota atau nama lain adalah Walikota atau nama lain, Wakil Walikota dan perangkat pemerintah Kota. (5) Susunan penyelenggara pemerintahan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (3) dan (4) ditetapkan dengan Qanun Aceh. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT ACEH, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DAN MAJELIS PERWAKILAN DAERAH ACEH Pasal 12

9 (1) Kekuasaan Legislatif Aceh dilaksanakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang anggotanya dipilih oleh rakyat secara langsung. (2) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota mempunyai fungsi legislasi, penganggaran, pengawasan kebijakan Aceh dan daerah serta penyalur aspirasi rakyat. (3) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota mempunyai hak untuk membentuk alat-alat kelengkapannya sesuai dengan kebutuhan dan kekhususan daerah. (4) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota mempunyai hak untuk membentuk fraksi-fraksi atau gabungan antar fraksi sesuai hasil pemilihan umum. (5) Jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. TUGAS DAN WEWENANG DEWAN PERWAKILAN RAKYAT ACEH DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH Pasal 13 (1) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut: a. menetapkan Qanun setelah melalui proses pembahasan bersama dengan eksekutif; b. membahas dan menetapkan Qanun tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Pemerintahan Aceh bersama dengan eksekutif; c. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Qanun dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku di Aceh; d. melaksanakan dengan sungguh-sungguh amanat aspirasi rakyat; e. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Pemerintahan Aceh serta Wakil Kepala Pemerintahan Aceh kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh serta Majelis Perwakilan Daerah Aceh; Bupati/Walikota serta Wakil Bupati/Walikota kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah serta kepala pemerintah Aceh; f. memberitahukan kepada Kepala Pemerintahan Aceh, Bupati/Walikota dan Komisi Pemilihan (KP) tentang akan berakhirnya masa jabatan Kepala dan Wakil Kepala Daerah; g. memilih Wakil Kepala Pemerintahan Aceh, Bupati/Walikota dalam hal terjadinya kekosongan jabatan Wakil Kepala Daerah; h. memberikan pendapat, pertimbangan, dan persetujuan kepada Pemerintah Aceh terhadap rencana persetujuan internasional; i. memberikan persetujuan terhadap keputusan pemerintah Indonesia tentang persetujuanpersetujuan Internasional yang terkait dengan hal ikhwal kepentingan khusus Aceh; j. memberikan pertimbangan dan persetujuan terhadap keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang terkait dengan Aceh; k. memberikan pertimbangan terhadap rencana kerjasama antar daerah dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah; l. meminta laporan pertanggungjawaban Kepala Pemerintahan Aceh dan/atau Bupati/Walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah; m. membentuk Komisi Pemilihan (KP); n. melakukan pengawasan dan meminta laporan kegiatan dan penggunaan anggaran kepada KP dalam penyelenggaraan pemilihan Kepala pemerintahan dan Kepala daerah.

10 o. Dewan Perwakilan Rakyat Aceh akan merumuskan kembali ketentuan hukum bagi Aceh berdasarkan prinsip-prinsip universal Hak-hak Asasi Manusia sebagaimana tercantum dalam konvenan internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Hak-hak Sipil dan Politik dan mengenai Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya. p. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah hasil pemilihan umum tahun 2004 untuk masa sidang sampai dengan tahun 2009 tidak berwenang untuk mengesahkan peraturan perundangundangan apapun tanpa persetujuan Kepala Pemerintah Aceh. (2) Melaksanakan kewenangan lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. HAK DAN KEWAJIBAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT ACEH DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH Pasal 14 (1) Setiap anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah didalam menjalankan tugas mempunyai hak: a. interpelasi; b. angket; c. budget; d. mengajukan rancangan qanun; e. mengajukan pertanyaan; f. menyampaikan usul dan pendapat; g. protokoler; h. immunitas; i. memilih dan dipilih; j. keuangan dan administratif; k. hak membela diri. (2) Hak-hak sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a, b dan c hanya berlaku untuk Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. (3) Pelaksanaan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam tata tertib Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di Aceh. pasal 15 (1) Setiap anngota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di dalam menjalankan tugas mempunyai kewajiban: a. mengamalkan nilai-nilai Islam; b. membangun, mengembangkan dan mendorong kemajuan demokrasi; c. menghormati, melindungi dan menegakkan hak-hak asasi manusia sesuai dengan prinsipprinsip universal hak-hak asasi manusia, termasuk konvenan internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Hak-hak Sipil dan Politik dan mengenai Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya; d. menerima dan memperjuangkan aspirasi rakyat; e. meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat; f. mencerdaskan kehidupan rakyat Aceh; g. menghormati dan memberdayakan tradisi atau norma adat dalam masyarakat. (2) pelaksanaan kewajiban dimaksud pada ayat (1) diatur dalam tata tertib Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Aceh.

11 MAJELIS PERWAKILAN DAERAH ACEH Pasal 16 (1) MPDA adalah bagian dari Legislatif Aceh yang anggotanya dipilih oleh rakyat secara langsung untuk mewakili daerah-daerah kabupaten/kota di Aceh. (2) MPDA mempunyai fungsi legislasi, penganggaran, pengawasan kebijakan Aceh dan penyalur aspirasi daerah-daerah asal pemilihan. (3) Sumber keuangan MPDA berasal dari sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh. (4) MPDA mempunyai hak untuk membentuk alat-alat kelengkapannya sesuai dengan kebutuhan. (5) Jumlah anggota MPDA untuk masing-masing daerah kabupaten/kota sebanyak 2 (dua) orang. TUGAS DAN WEWENANG MAJELIS PERWAKILAN DAERAH ACEH Pasal 17 MPDA mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut: a. mengajukan usulan pembuatan Qanun kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh; b. menunjuk wakil-wakilnya untuk ikut di dalam proses pembuatan Qanun di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh; c. menunjuk wakil-wakilnya untuk ikut didalam proses penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh; d. melakukan pengawasan pelaksanaan pembangunan Aceh; e. melakukan pengawasan atas pemasukan/penerimaan dan pengeluaran/ penggunaan hasil pajak dan hak bagi hasil; f. hasil pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan dilaporkan kepada MPDA untuk dibahas dan dianalisa untuk digunakan sebagai data pengawasan keuangan Pemerintah Aceh. HAK DAN KEWAJIBAN MAJELIS PERWAKILAN DAERAH ACEH Pasal 18 (1) MPDA mempunyai hak: a. menyatakan pendapat; b. mengajukan rancangan qanun; c. mempunyai hak suara untuk memilih Wali Nanggroe; d. mengirim wakil-wakilnya di dalam penyusunan qanun dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. (2) Pelaksanaan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan tata tertib MPDA sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Aceh. Pasal 19 (1) Setiap anggota MPDA di dalam menjalankan tugas mempunyai kewajiban: a. mengamalkan nilai-nilai Islam; b. membangun, mengembangkan dan mendorong kemajuan demokrasi;

12 c. menghormati, melindungi dan menegakkan hak-hak asasi manusia sesuai dengan prinsipprinsip universal hak-hak asasi manusia, termasuk konvenan internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Hak-hak Sipil dan Politik dan mengenai Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya; d. menerima dan memperjuangkan aspirasi rakyat asal daerah pemlihannya; e. meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat; f. mencerdaskan kehidupan rakyat Aceh; g. menghormati dan memberdayakan tradisi atau norma adat dalam masyarakat. (2) Pelaksanaan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan tata tertib Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Aceh. BADAN EKSEKUTIF Pasal 20 (1) Pemerintah Aceh dan pemerintah Kabupaten/Kota dipimpin oleh seorang Kepala Pemerintahan Aceh, Bupati/Walikota dan Wakil Kepala Pemerintahan Aceh serta Wakil Bupati/Walikota sebagai pemegang kekuasaan eksekutif. (2) Kepala Pemerintahan Aceh dan Wakil Kepala Pemerintahan Aceh, Bupati dan Wakil Bupati serta Walikota dan Wakil Walikota dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh perangkat daerah. (3) Kepala Pemerintahan Aceh dan Wakil Kepala Pemerintahan Aceh, Bupati dan Wakil Bupati serta Walikota dan Wakil Walikota bertanggung jawab dalam penetapan kebijakan daerah termasuk keamanan, ketertiban, ketenteraman masyarakat dan kesejahteraan sosial. (4) Kepala Pemerintahan Aceh bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dalam menjalankan tugas dan kewenangannya. (5) Wakil Kepala Pemerintahan Aceh bertanggung jawab kepada Kepala Pemerintahan Aceh dalam menjalankan tugas dan kewenangannya. (6) Bupati dan Walikota bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugas dan kewenangannya. (7) Wakil Bupati dan Wakil Walikota bertanggung jawab kepada Bupati dan Walikota dalam menjalankan tugas dan kewenangannya. Pasal 21 (1) Tugas dan wewenang Kepala Pemerintahan Aceh adalah: a. menyelenggarakan pemerintahan Aceh sesuai dengan prinsip-prinsip pemerintahan sendiri; b. memberi persetujuan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintahan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia yang berkaitan dengan Aceh setelah terlebih dahulu dikonsultasikan dengan pemerintah Aceh; c. mengkoordinasi badan-badan daerah dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya masing-masing; d. di dalam hal tertentu dan apabila dibutuhkan dapat mengeluarkan dan menetapkan peraturanperaturan pemerintah Aceh dan instruksi-instruksi pemerintah Aceh sebagai pengganti Qanun. (2) Pelaksanaan tugas dan wewenang Kepala Pemerintahan Aceh selain dimaksud pada ayat (1) sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku di Aceh tetap berlaku. Pasal 22

13 Wakil Kepala Pemerintahan Aceh mempuyai tugas: a. membantu Kepala Pemerintahan Aceh dalam melaksanakan kewajibannya; b. membantu mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintah Aceh dan pemerintah Kabupaten/Kota; c. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Pemerintahan Aceh. Kepala Pemerintahan Aceh mempunyai kewajiban: Pasal 23 a. mengamalkan nilai-nilai Islam; b. menghormati kedaulatan rakyat; c. menghormati, melindungi, memenuhi dan menegakkan hak asasi manusia sesuai dengan prinsip-prinsip universal hak-hak asasi manusia; d. menegakkan dan melaksanakan seluruh peraturan perundang-undangan; e. meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat; f. mencerdaskan kehidupan rakyat Aceh; g. menghormati dan memberdayakan tradisi atau norma adat dalam masyarakat; h. memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat; i. mengajukan Rancangan Qanun bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh; j. menetapkannya sebagai Qanun setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh; k. menyelenggarakan pemerintahan dan melaksanakan pembangunan sesuai dengan rancangan pembangunan Aceh secara bersih, jujur, dan bertanggung jawab; l. mengawasi setiap kegiatan eksplorasi/eksploitasi sumber daya alam Aceh dengan membentuk Badan khusus untuk itu; m. mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi rakyat Aceh. KECAMATAN Pasal 24 (1) Kecamatan dibentuk di Kabupaten/Kota dengan Qanun. (2) Kecamatan dipimpin oleh Camat yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan sebagian wewenang Bupati atau Walikota untuk menangani urusan pemerintahan di tingkat kecamatan. (3) Selain tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Camat juga menyelengarakan tugas umum pemerintahan meliputi: a. mengkoordinasikan kegiatan pemberdayaan masyarakat; b. mengkoordinasikan upaya penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban umum; c. mengkoordinasikan penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan; d. mengkoordinasikan pemeliharaan prasarana dan fasilitas pelayanan umum; e. mengkoordinasikan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan; f. melaksanakan pelayanan masyarakat yang menjadi ruang lingkup tugasnya dan/atau yang belum dapat dilaksanakan pemerintahan mukim dan gampong; g. mendorong kegiatan-kegiatan yang menunjang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. (4) Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat sesuai perundang-undangan yang berlaku di Aceh untuk dipilih oleh Dewan Kecamatan. (5) Camat dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dibantu oleh perangkat Kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota. (6) Perangkat Kecamatan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) bertanggung jawab kepada Camat.

14 (7) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) ditetapkan dengan peraturan Bupati atau Walikota dengan berpedoman pada Qanun. TATA CARA PEMILIHAN CAMAT Pasal 25 (1) Seorang Camat dipilih setiap lima tahun sekali melalui pemilihan langsung yang demokratis, bebas, rahasia serta dilaksanakan secara jujur dan adil oleh Dewan kecamatan. (2) Dewan kecamatan adalah kumpulan Mukim dalam satu kecamatan. (3) Seorang Camat hanya dapat dipilih secara berturut-turut untuk dua periode masa jabatan. (4) Seseorang yang dapat ditetapkan menjadi calon Camat adalah rakyat Aceh yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut. a. Beragama Islam; b. berpendidikan sekurang-kurangnya sarjana muda atau D3 atau sederajat; c. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun; d. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dari tim dokter; e. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan karena melakukan tindak pidana korupsi; f. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau lebih; g. telah memperoleh amnesti atau abolisi dari pemerintah Indonesia bagi orang yang pernah dihukum penjara karena makar atau karena alasan-alasan politik; h. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. (5) Tata cara pemilihan ditetapkan dengan Qanun sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di Aceh. MUKIM Pasal 26 (1) Dalam pemerintahan daerah Kabupaten/Kota dibentuk pemerintahan Mukim dan Badan Permusyawaratan Mukim. (2) Imum Mukim atau nama lain adalah Kepala Pemerintahan Mukim yang dibantu oleh Tuha Peuet Mukim yang dipilih melalui musyawarah Mukim untuk masa jabatan 5 (lima) tahun. (3) Kedudukan, tugas dan fungsi, organisasi dan kelengkapan Mukim diatur lebih lanjut dengan Qanun. GAMPONG Pasal 27 (1) Dalam pemerintahan daerah Kabupaten/Kota dibentuk pemerintahan Gampong dan badan permusyawaratan Gampong. (2) Pembentukan, penghapusan, dan/atau penggabungan Gampong dengan memperhatikan asal-usul dan atas prakarsa masyarakat. (3) Ketentuan lebih lanjut tentang kedudukan, fungsi, pembiayaan, organisasi dan perangkat pemerintahan Gampong diatur dengan Qanun. BAB VI PERANGKAT DAN KEPEGAWAIAN PERANGKAT

15 Pasal 28 (1) Perangkat pemerintah Aceh terdiri atas sekretariat pemerintah, sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, departemen dan lembaga teknis. (2) Segala sesuatu mengenai perangkat pemerintah Aceh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan qanun. Pasal 29 Perangkat Kabupaten/Kota terdiri atas Sekretariat daerah, Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan, Mukim dan Gampong. LEMBAGA OPERASIONAL STRATEGIS DAN TEKNIS Pasal 30 (1) Lembaga operasional strategis dan teknis merupakan unsur pendukung tugas Kepala Pemerintahan Aceh dan Wakil Kepala Pemerintahan Aceh dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan Pemerintahan Aceh yang bersifat spesifik berbentuk badan dan kantor. (2) Lembaga teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas Bupati dan Wakil Bupati serta Walikota dan Wakil Walikota dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik berbentuk badan dan kantor. (3) Badan dan kantor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh kepala badan, kepala kantor yang diangkat oleh Kepala Pemerintahan Aceh, Bupati dan Walikota dari pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. (4) Kepala badan dan kantor sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) bertanggung jawab kepada Kepala Pemerintahan Aceh, Bupati/Walikota melalui sekretaris pemerintah Aceh/sekretaris Daerah. KEPEGAWAIAN Pasal 31 (1) Pemerintah Aceh melaksanakan pembinaan manajemen pegawai negeri sipil Aceh. (2) Segala sesuatu yang terkait dengan kepegawaian negeri sipil diatur sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku di Aceh. BAB VII PEMILIHAN KEPALA DAN WAKIL KEPALA PEMERINTAHAN ACEH Pasal 32 Pemilih adalah orang Aceh atau penduduk Aceh yang berdomisili di Aceh yang berumur 17 (tujuh belas) tahun ke atas atau yang sudah pernah menikah dan tidak sedang dicabut oleh pengadilan hak pilihnya. Pasal 33 (1) Pemilih di Aceh, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31, mempunyai hak: a. memilih Kepala Pemerintahan Aceh dan Bupati/Walikota, serta Wakil Kepala Pemerintahan Aceh dan Wakil Bupati/Walikota; b. mengawasi proses pemilihan Kepala Pemerintahan Aceh dan Bupati/Walikota, serta Wakil Kepala Pemerintahan Aceh dan Wakil Bupati/Walikota;

16 c. mengajukan usulan kebijakan pelaksanaan Pemerintahan Aceh dan pemerintahan daerah kabupaten/kota; d. mengajukan usulan penyempurnaan dan perubahan qanun; dan e. mengawasi penggunaan anggaran. (2) Hak-hak pemilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan qanun. Pasal 34 (1) Kepala Pemerintahan Aceh dan wakil Kepala Pemerintahan Aceh, dan Bupati/Walikota, dapat berhenti atau diberhentikan sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku di Aceh. (2) Seorang Kepala Pemerintahan Aceh dan Wakil Kepala Pemerintahan Aceh, Bupati dan Wakil Bupati serta Walikota dan Wakil Walikota hanya dapat dipilih secara berturutturut untuk dua periode masa jabatan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan qanun. Pasal 35 (1) Calon Kepala Pemerintahan Aceh atau Bupati/Walikota dan calon Wakil Kepala Pemerintahan Aceh atau Wakil Bupati/Walikota, yang ikut dalam pemilihan berasal dari partai politik, gabungan partai politik, partai politik lokal dan unsur independen. (2) Pemilihan Calon Kepala Pemerintahan Aceh atau Bupati/Walikota dan calon Wakil Kepala Pemerintahan Aceh atau Wakil Bupati/Walikota, dipilih dalam satu pasangan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. (3) Calon Kepala Pemerintahan Aceh atau Bupati/Walikota dan calon Wakil Kepala Pemerintahan Aceh atau Wakil Bupati/Walikota dengan syarat-syarat: a. Mengamalkan nilai-nilai Islam; b. Orang Aceh atau rakyat Aceh; c. berpendidikan sekurang-kurangnya sarjana (S-1) atau sederajat; d. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun pada saat pendaftaran; e. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dari tim dokter; f. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan karena melakukan tindak pidana korupsi. g. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau lebih kecuali dalam perkara tindak pidana makar atau politik; h. telah memperoleh amnesti atau abolisi dari pemerintah Indonesia bagi orang yang pernah dihukum penjara karena makar atau karena alasan-alasan politik; i. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 36 (1) Partai politik atau gabungan partai politik atau partai politik lokal sebagaimana dimaksud pada Pasal 45 ayat (1) dan ayat (2) dapat mendaftarkan pasangan calon apabila memenuhi persyaratan perolehan sekurang-kurangnya 15% (lima belas persen) dari jumlah kursi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh atau 15% (lima belas persen) dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilihan Umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di daerah yang bersangkutan. (2) Calon independen sebagaimana dimaksud pada Pasal 45 ayat (1) dan ayat (2) harus didukung setiap pasangan bakal calon dengan dukungan sekurang-kurangnya 1 % (satu persen) dari jumlah penduduk di daerah pemilihan.

17 (3) Dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan dalam bentuk daftar dukungan yang ditandatangani oleh pemilih di wilayah pemilihannya dengan melampirkan foto copy Kartu Tanda Penduduk yang sah. (4) Dukungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus tersebar sekurang-kurangnya; a. setengah (1/2) dari jumlah Kabupaten/Kota untuk pemilihan Kepala Pemerintahan Aceh/Wakil Kepala Pemerintahan Aceh; dan b. setengah (1/2) dari jumlah Kecamatan untuk pemilihan Bupati/Wakil Bupati atau Walikota/Wakil Walikota. (5) Tata cara perolehan dukungan, diatur dengan Qanun.

18 Pasal 37 (1) Komisi Pemilihan (KP) menyelenggarakan pemilihan Calon Kepala Pemerintahan Aceh atau Bupati/Walikota dan calon Wakil Kepala Pemerintahan Aceh atau Wakil Bupati/Walikota, dan bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. (2) Komisi Pemilihan (KP) menyampaikan laporan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh/Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tentang penyelenggaraan pemilihan Calon Kepala Pemerintahan Aceh atau Bupati/Walikota dan calon Wakil Kepala Pemerintahan Aceh atau Wakil Bupati/Walikota. (3) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh/Dewan Perwakilan Rakyat Daerah membentuk Komisi Pengawas Pemilihan untuk mengawasi penyelenggaraan pemilihan Calon Kepala Pemerintahan Aceh serta Wakil Kepala Pemerintahan Aceh dan Bupati/Walikota serta calon Wakil Bupati/Walikota, yang keanggotaannya terdiri atas unsur kepolisian, kejaksaan, perguruan tinggi, pers, lembaga non pemerintah/lembaga swadaya masyarakat dan tokoh masyarakat. (4) Anggota Komisi Pengawas Pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berjumlah 7 (tujuh) orang untuk pemilihan pemerintah Aceh, 7 (tujuh) orang untuk pemilihan bupati/walikota dan 3 (tiga) orang untuk pemilihan camat. (5) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menetapkan Panitia Pengawas Kecamatan berdasarkan usul Panitia Pengawas Kabupaten/Kota. (6) Dalam hal tidak didapatkan unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3), panitia pengawas kabupaten/kota/kecamatan dapat diisi oleh unsur tokoh agama atau tokoh masyarakat. (7) Panitia pengawas pemilihan Kepala Pemerintahan Aceh dan Wakil Kepala Pemerintahan Aceh atau Panitia pengawas pemilihan Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Walikota, dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh/ Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan berkewajiban menyampaikan laporannya. (8) Proses pengawasan jalannya pemilihan Kepala Pemerintahan Aceh atau Bupati/Walikota dan calon Wakil Kepala Pemerintahan Aceh atau Wakil Bupati/Walikota selain dilakukan oleh Komisi Pengawasan Pemilihan, juga dapat dilakukan oleh pemantau asing yang telah mendapat akreditasi di Komisi Pemilihan (KP) Aceh. Pasal 38 (1) Pemilihan Calon Kepala Pemerintahan Aceh serta calon Wakil Kepala Pemerintahan Aceh dan calon Bupati/Walikota serta calon Wakil Bupati/Walikota dilaksanakan melalui masa persiapan dan tahap pelaksanaan. (2) Masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: Pemberitahuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kepada Kepala Pemerintahan Aceh atau Bupati/Walikota mengenai berakhirnya masa jabatan; a. Pemberitahuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kepada Komisi Pemilihan Umum Daerah mengenai berakhirnya masa jabatan Kepala Pemerintahan Aceh atau Bupati/Walikota; b. Perencanaan penyelenggaraan, meliputi penetapan tata cara dan jadwal tahapan pelaksanaan pemilihan; c. Pembentukan Panitia Pengawas, Panitia Pemilihan Kecamatan, Panitia Pemilihan Gampong dan Panitia Pemungutan Suara. d. Pemberitahuan dan pendaftaran pemantau; e. Tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: f. Penetapan daftar pemilih; g. Pendaftaran dan Penetapan Calon Kepala Pemerintahan Aceh atau Bupati/Walikota dan calon Wakil Kepala Pemerintahan Aceh atau Wakil Bupati/Walikota; h. Kampanye; i. Pemungutan suara; j. Penghitungan suara;

19 k. Penetapan pasangan Calon Kepala Pemerintahan Aceh atau Bupati/Walikota dan calon Wakil Kepala Pemerintahan Aceh atau Wakil Bupati/Walikota terpilih, pengesahan, dan pelantikan; l. Tata cara pelaksanaan masa persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan tahap pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e diatur Komisi Pemilihan Umum Daerah dengan berpedoman pada Qanun. Pasal 39 Tugas, wewenang dan kewajiban Komisi Pemilihan (KP) dalam penyelenggaraan Pemilihan Kepala Pemerintahan Aceh serta Wakil Kepala Pemerintahan Aceh dan Bupati/Walikota serta Wakil Bupati/Walikota adalah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku di Aceh. Pasal 40 Biaya untuk pemilihan Kepala pemerintahan Aceh serta Wakil Kepala Pemerintahan Aceh dan Kepala Pemerintahan Daerah serta Wakil Kepala Pemerintaan Daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Dearah Kabupaten/Kota. Pasal 41 (1) Pemilihan Kepala Pemerintahan Aceh serta Wakil Kepala Pemerintahan Aceh dan Bupati/Walikota serta Wakil Bupati/Walikota dilaksanakan melalui tahap-tahap: pencalonan, kampanye, pelaksanaan pemilihan, pengesahan hasil pemilihan dan pelantikan. (2) Tahap pencalonan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan melalui: a. pendaftaran dan seleksi administratif pasangan bakal calon oleh Komisi Pemilihan (KP); b. pemaparan visi dan misi pasangan bakal calon di depan Komisi Pemilihan (KP); c. penetapan pasangan bakal calon oleh Komisi Pemilihan (KP); d. penetapan pasangan calon oleh Komisi Pemilihan (KP); e. pendaftaran pemilih oleh Komisi Pemilihan (KP) bersama dengan Pemerintah Aceh dan Kabupaten/kota. Pasal 42 Pelaksanaan Kampanye: a. dilaksanakan selama 14 (empat belas) hari dan berakhir 1 (satu) minggu sebelum hari pemungutan suara; b. diselenggarakan oleh tim kampanye yang dibentuk oleh pasangan calon dan didaftarkan pada Komisi Pemilihan (KP); c. jadwal pelaksanaan kampanye ditetapkan oleh Komisi Pemilihan (KP) dengan memperhatikan usul dari pasangan calon; d. dapat dilaksanakan melalui: pertemuan terbatas; tatap muka dan dialog; media cetak dan elektronik; rapat umum; debat publik/debat terbuka antar calon; dan/atau dalam bentuk kegiatan lain yang tidak melanggar ketentuan perundang-undangan; e. penyampaian materi kampanye yang berisi visi, misi dan program pasangan calon kepada masyarakat. Pasal 43 (1) Kepala Pemerintahan Aceh serta Wakil Kepala Pemerintahan Aceh dan Bupati/Walikota serta Wakil Bupati/Walikota dipilih secara langsung oleh rakyat. (2) Penghitungan suara secara transparan dan terintegrasi dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan (KP).

20 (3) Komisi Pemilihan (KP) Aceh menyerahkan ketetapan tentang hasil pemilihan pasangan Kepala Pemerintahan Aceh dan Wakil Kepala Pemerintahan Aceh kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh untuk diproses pengesahan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Aceh. (4) Komisi Pemilihan (KP) kabupaten/kota menyerahkan ketetapan tentang hasil pemilihan pasangan Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Walikota kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota untuk diproses pengesahan pengangkatannya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di Aceh. Pasal 44 (1) Pengesahan pengangkatan pasangan calon Kepala Pemerintahan Aceh dan Wakil Kepala Pemerintahan Aceh terpilih dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. (2) Pengesahan pengangkatan pasangan Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Walikota oleh Kepala Pemerintahan Aceh selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. (3) Pasangan calon kepala Daerah dan wakil kepala Daerah kabupaten/kota diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota, selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari, kepada Kepala Pemerintahan Aceh berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpilih dari Komisi Pemilihan (KP) kabupaten/kota untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan. BAB VIII PARTAI POLITIK Pasal 45 (1) Rakyat Aceh yang berdomisili di Aceh dapat membentuk dan mendirikan partai-partai politik yang berbasis Aceh serta berkriteria nasional. (2) Rakyat Aceh yang berdomisili di Aceh dapat membentuk dan mendirikan partai-partai politik lokal. (3) Partai-partai politik sebagaimana disebut dalam ayat (1) dan (2) didirikan dengan akta notaris yang memuat anggaran dasar dan anggaran rumah tangga disertai susunan kepengurusan dan selajutnya didaftarkan pada Departemen Hukum dan HAM untuk partai politik sebagaimana disebut dalam ayat (1) dan partai politik sebagaimana disebut dalam ayat (2) didaftarkan pada Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Aceh. (4) Partai politik berbasis Aceh serta berkriteria Nasional sebagaimana dimaksud ayat (1) diatas harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana ketentuan yang berlaku bagi partai yang bersifat nasional dan memiliki kantor Dewan Pimpinan Pusat di Aceh. (5) Partai politik lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus berkedudukan di Aceh dengan syarat-syarat sebagai berikut: a. Mempunyai kepengurusan sekurang-kurangnya 50 % (lima puluh persen) dari jumlah Kabupaten/Kota pada Aceh dan 50 % (lima puluh persen) dari jumlah Kecamatan pada setiap Kabupaten/Kota yang bersangkutan; b. Memiliki nama, lambang, dan tanda gambar yang ciri-cirinya tidak mempunyai persamaan dengan nama, lambang, dan tanda gambar partai politik lain; c. Mempunyai alamat kantor yang tetap dan dapat diverifikasi di tingkat pemerintahan Aceh dan Kabupaten/Kota. Pasal 46 (1) Pengesahan partai politik lokal sebagai badan hukum dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Aceh selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah penerimaan pendaftaran.

21 (2) Pengesahan partai politik lokal diumumkan dalam Berita Acara Pemerintahan Aceh (BAPA). Pasal 47 Dalam hal terjadi perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, nama, lambang, dan tanda gambar partai politik lokal atau ciri-ciri lainnya maka partai yang bersangkutan harus melakukan pendaftaran kembali ke Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Aceh. ASAS DAN CIRI Pasal 48 Asas partai politik dimaksud pasal 46 ayat (1) dan (2) diatas memiliki dasar: a. Demokrasi; b. Keadilan; c. Kesejahteraan; d. Perdamaian; e. Islam. TUJUAN PARTAI POLITIK LOKAL Pasal 49 (1) Tujuan partai politik lokal adalah: a. Memajukan demokrasi bagi Aceh; b. Mewujudkan keadilan sosial bagi Aceh; c. Meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh; d. Memajukan perdamaian; e. Menegakkan Hak-hak Asasi Manusia; f. Mewujudkan masyarakat yang bernilaikan Islam. (2) Tujuan partai politik lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwujudkan secara damai, jujur, adil dan demokratis. HAK DAN KEWAJIBAN PARTAI POLITIK LOKAL Pasal 50 (1) Partai politik lokal berhak : a. Memperoleh perlakuan yang sederajat dan adil dari pemerintahan Aceh dan pemerintah Indonesia; b. Mengatur dan mengurus rumah tangga organisasi secara mandiri; c. Memperoleh hak cipta atas nama, lambang, dan tanda gambar partainya dari Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Aceh; d. Ikut serta dalam pemilihan umum untuk pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; e. Mengajukan calon untuk mengisi keanggotaan di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; f. Mengusulkan pergantian atau pemberhentian antar waktu anggotanya di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; dan g. Mengusulkan pasangan calon Kepala Pemerintahan Aceh dan Wakil Kepala Pemerintahan Aceh, calon Bupati/Walikota dan wakil Bupati/wakil Walikota di Aceh, baik secara mandiri maupun berafiliasi dengan partai politik dan partai politik lokal lain. (2) Mekanisme tentang pengajuan pasangan calon Kepala Pemerintahan Aceh dan Wakil Kepala Pemerintahan Aceh, calon Bupati/Walikota dan wakil Bupati/wakil Walikota serta calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari partai politik lokal diatur dengan qanun. Pasal 51

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2001 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2001 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2001 TENTANG OTONOMI KHUSUS BAGI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH SEBAGAI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.245, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Pemilihan. Gubernur. Bupati. Walikota. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5588) PERATURAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PEMERINTAHAN DAERAH. Harsanto Nursadi

PEMERINTAHAN DAERAH. Harsanto Nursadi PEMERINTAHAN DAERAH Harsanto Nursadi Beberapa Ketentuan Umum Pemerintah pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

QANUN ACEH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PEMILIHAN DAN PEMBERHENTIAN IMUM MUKIM DI ACEH

QANUN ACEH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PEMILIHAN DAN PEMBERHENTIAN IMUM MUKIM DI ACEH QANUN ACEH NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PEMILIHAN DAN PEMBERHENTIAN IMUM MUKIM DI ACEH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR ACEH, Menimbang: a. bahwa imum mukim

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.23, 2015 PEMERINTAHAN DAERAH. Pemilihan. Gubernur. Bupati. Walikota. Penetapan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5656) UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN

Lebih terperinci

UU 22/2003, SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

UU 22/2003, SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH Copyright (C) 2000 BPHN UU 22/2003, SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH *14124 UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG

Lebih terperinci

2008, No.59 2 c. bahwa dalam penyelenggaraan pemilihan kepala pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pem

2008, No.59 2 c. bahwa dalam penyelenggaraan pemilihan kepala pemerintah daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pem LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.59, 2008 OTONOMI. Pemerintah. Pemilihan. Kepala Daerah. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844) UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

QANUN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 3 TAHUN 2005 TENTANG

QANUN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 3 TAHUN 2005 TENTANG QANUN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 3 TAHUN 2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS QANUN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR/WAKIL GUBERNUR, BUPATI/WAKIL BUPATI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA PENGAWAS PEMILIHAN ACEH, PANITIA PENGAWAS PEMILIHAN

Lebih terperinci

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pemilihan umum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 151 TAHUN 2000 (151/2000) TENTANG TATACARA PEMILIHAN, PENGESAHAN, DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BUPATI TORAJA UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

BUPATI TORAJA UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN BUPATI TORAJA UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TORAJA UTARA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENCALONAN, PEMILIHAN, PENGANGKATAN, DAN PELANTIKAN KEPALA LEMBANG DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PEMILIHAN, PENGESAHAN PENGANGKATAN, DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DAERAH

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 151 TAHUN 2000 TENTANG TATA CARA PEMILIHAN, PENGESAHAN, DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik

Lebih terperinci

QANUN ACEH NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DAN PEMILIHAN DI ACEH

QANUN ACEH NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DAN PEMILIHAN DI ACEH QANUN ACEH NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DAN PEMILIHAN DI ACEH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG ATAS RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

-1- QANUN ACEH NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR, BUPATI DAN WAKIL BUPATI, SERTA WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA

-1- QANUN ACEH NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR, BUPATI DAN WAKIL BUPATI, SERTA WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA -1- QANUN ACEH NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR, BUPATI DAN WAKIL BUPATI, SERTA WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2008 TENTANG 1 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PEMILIHAN, PENGESAHAN PENGANGKATAN, DAN PEMBERHENTIAN KEPALA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN, PEMBERHENTIAN, DAN PENGGANTIAN ANTAR WAKTU BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR... TAHUN... TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR... TAHUN... TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR... TAHUN... TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG, Menimbang : a. sesuai

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG UNDANG-UNDANG NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG PEMERINTAHAN PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA SEBAGAI IBUKOTA NEGARA KESATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa Provinsi Daerah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, Menimbang

Lebih terperinci

QANUN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG

QANUN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG QANUN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG SUSUNAN, KEDUDUKAN DAN KEWENANGAN KABUPATEN ATAU KOTA DALAM PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH

Lebih terperinci

1 of 5 02/09/09 11:52

1 of 5 02/09/09 11:52 Home Galeri Foto Galeri Video klip Peraturan Daerah Tahun 2001 Tahun 2002 Tahun 2003 Tahun 2004 Tahun 2005 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PELALAWAN NOMOR 22 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN BADAN PERWAKILAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PELALAWAN NOMOR 22 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN BADAN PERWAKILAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PELALAWAN NOMOR 22 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN BADAN PERWAKILAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : PERATURAN DAERAH KABUPATEN PELALAWAN NOMOR 22 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN BADAN PERWAKILAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PELALAWAN, a. bahwa dengan telah berlakunya

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR, BUPATI DAN WAKIL BUPATI, SERTA WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2003 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2003 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2003 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2003 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2003 TENTANG SUSUNAN DAN KEDUDUKAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 101, 2011 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5246) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN

Lebih terperinci

BUPATI KEPULAUAN MERANTI

BUPATI KEPULAUAN MERANTI [[ BUPATI KEPULAUAN MERANTI PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI NOMOR 14 TAHUN 20112011 TENTANG TATA CARA PENCALONAN, PEMILIHAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT BUPATI GARUT PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMILIHAN, PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

I. UMUM. serasi... serasi antara Pemerintah dan Daerah serta antar Daerah untuk menjaga keutuhan

I. UMUM. serasi... serasi antara Pemerintah dan Daerah serta antar Daerah untuk menjaga keutuhan PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG TATACARA PEMILIHAN, PENGESAHAN PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH I. UMUM Sejalan dengan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG PARTAI POLITIK LOKAL DI ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG PARTAI POLITIK LOKAL DI ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2007 TENTANG PARTAI POLITIK LOKAL DI ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

QANUN ACEH NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DI ACEH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM GUBERNUR NANGGROE ACEH DARUSSALAM,

QANUN ACEH NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DI ACEH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM GUBERNUR NANGGROE ACEH DARUSSALAM, QANUN ACEH NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DI ACEH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM GUBERNUR NANGGROE ACEH DARUSSALAM, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung, umum, bebas,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka mewujudkan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 19 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 19 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 19 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG Menimbang: a. bahwa Desa sebagai kesatuan masyarakat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 07 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PENCALONAN PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 07 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PENCALONAN PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 07 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN TATA CARA PENCALONAN PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH KOMISI PEMILIHAN UMUM, Menimbang : a. bahwa ketentuan Pasal

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DRAFT 24 SEPT 2014 - DPRD UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR, BUPATI DAN WAKIL BUPATI, SERTA WALIKOTA DAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH,

Lebih terperinci

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA

BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA BUPATI SIAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENGANGKATAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUBULUSSALAM DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUBULUSSALAM DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUBULUSSALAM DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BUPATI LAMONGAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI LAMONGAN NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI LAMONGAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI LAMONGAN NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN 1 BUPATI LAMONGAN PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI LAMONGAN NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA DI KABUPATEN LAMONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PEMILIHAN, PENGESAHAN PENGANGKATAN, DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG PEMERINTAHAN PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA SEBAGAI IBUKOTA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG KEWENANGAN PEMERINTAH YANG BERSIFAT NASIONAL DI ACEH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG KEWENANGAN PEMERINTAH YANG BERSIFAT NASIONAL DI ACEH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG KEWENANGAN PEMERINTAH YANG BERSIFAT NASIONAL DI ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk

Lebih terperinci

: 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan

: 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA, Menimbang : a. bahwa badan permusyawaratan

Lebih terperinci

QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG TUHA PEUET GAMPONG BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHUWATA ALA

QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG TUHA PEUET GAMPONG BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHUWATA ALA QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG TUHA PEUET GAMPONG BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHUWATA ALA WALIKOTA BANDA ACEH, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Pemerintahan

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR TAHUN 2014 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG,

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR TAHUN 2014 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG, RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR TAHUN 2014 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SEMARANG, Menimbang :a. bahwa sesuai dengan Pasal 65 ayat (2)

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2004 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan

Lebih terperinci

~ 1 ~ BUPATI KAYONG UTARA PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAYONG UTARA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA

~ 1 ~ BUPATI KAYONG UTARA PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAYONG UTARA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA ~ 1 ~ SALINAN BUPATI KAYONG UTARA PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAYONG UTARA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KAYONG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUBULUSSALAM DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUBULUSSALAM DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUBULUSSALAM DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG KEWENANGAN PEMERINTAH YANG BERSIFAT NASIONAL DI ACEH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG KEWENANGAN PEMERINTAH YANG BERSIFAT NASIONAL DI ACEH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG KEWENANGAN PEMERINTAH YANG BERSIFAT NASIONAL DI ACEH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENCALONAN, PEMILIHAN, PELANTIKAN DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci