Tidak Ada Paksaan Dalam Islam

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Tidak Ada Paksaan Dalam Islam"

Transkripsi

1 Tidak Ada Paksaan Dalam Islam Thursday, March 17, Oleh : Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si [Klik disini untuk profile Penulis] it's me - Salah satu, atau mungkin satu-satunya, intelektual Muslim di Australia yang memiliki perhatian dan minat besar terhadap isu tentang Islam dan kebebasan beragama dalam konteks modern ialah Abdullah Saeed. Beliau adalah seorang profesor di Universitas Melbourne, yang menurut pengakuannyaberasal dari keluarga religius tradisional. Selain pernah terdidik dalam tradisi kesarjanaan Islam klasik dan bahasa Arab di Arab Saudi, dia kemudian terdidik dalam tradisi kesarjanaan modern (Barat). Oleh karena itu, pandangan-pandangannya tentang isu-isu keagamaan dalam konteks modern tidak bisa dipisahkan dari pengetahuannya tentang tradisi Islam dan penguasaannya atas pelbagai perangkat metodologis modern. Saeed termasuk pemikir dan intelektual Muslim di Australia yang percaya kepada universalitas hak asasi manusia seperti yang dirumuskan dalam DUHAM. Dia berpendapat bahwa hak-hak yang terdapat dalam DUHAM bukanlah sesuatu yang asing dari sudut pandang al-qur an, dan bahwa dalam kenyataan hampir semua hak tersebut dapat didukung oleh al-qur an dan praktik Nabi Muhammad. Jika terdapat keberatan beberapa kalangan Muslim terhadap hak mengganti agama, hal itu lebih didasarkan pada pembacaan yang keliru terhadap bagian-bagian tertentu dalam al-qur an dan pendasarannya kepada hukum Islam pramodern, kata Saeed. "... tugas Nabi dan utusan-tusan lainnya sebelum Nabi hanyalah menyampaikan risalah, tidak untuk memaksa siapa pun menerima risalah itu." Pernyataan dalam pasal 18 DUHAM mengenai hak untuk change religion or belief sangat penting karena pasal tersebut menyentuh wilayah kontroversial tentang apostasi dalam Islam. Saeed dan Saeed berpendapat bahwa hak kebebasan beragama mungkin adalah hak asasi manusia tertua yang diakui secara internasional. Namun demikian, kebebasan semacam ini dilihat sebagai melanggar ajaran yang berkaitan dengan apostasy dalam Islam. Hal ini memberikan wilayah diskusi sengit karena perlakuan terhadap apostasi tidak berbeda secara esensial dari konseptualisasinya pada abad ke-2 Islam sampai saat ini. Ini adalah hukum yang tidak bisa diubah, dan dijelaskan bahwa hukumannya adalah hudud. Skala hukuman ini diperdebatkan di kalangan para sarjana (ulama) Muslim, karena hal itu tidak didasarkan pada hukum al-qur an tetapi pada hadits Nabi.54 Perdebatan dalam Islam tentang apostasi berpusat pada soal kejamnya hukuman, tidak pada legalitas tindakan. Beberapa ulama mengklaim bahwa tidak ada dasar al- Qur an untuk penerapan hukuman mati untuk apostasy dan, selain itu, bahwa kebebasan beragama merupakan prinsip dasar dari Islam. Saeed and Saeed berpendapat bahwa hukuman mati untuk apostasy awalnya terbatas pada tindakan pengkhianatan, tetapi kemudian dibajak oleh mereka yang berusaha 1 / 8

2 menerapkannya untuk kasus konversi dari atau penghinaan terhadap Islam. Saeed menegaskan ada banyak ayat al-qur an yang dengan jelas menyatakan tidak ada seorang pun yang bisa dipaksa untuk menerima atau mengikuti suatu keyakinan atau agama. Menurutnya, tugas Nabi dan utusan-tusan lainnya sebelum Nabi hanyalah menyampaikan risalah, tidak untuk memaksa siapa pun menerima risalah itu. Tema tidak ada pemaksaan keyakian atau agama sangat dominan sepanjang periode pewahyuan al-qur an baik di Mekkah maupun di Madinah. Secara khusus, di Mekkah pesan toleransi sangat menonjol. Ini tidak berarti bahwa pesan al-qur an berubah ketika Nabi hijrah ke Madinah dan membangun basis yang kuat untuk Islam. Banyak ayat dari periode Madinah juga menunjukkan dengan jelas bahwa apa yang dituntut dari Nabi dan orang-orang Muslim ialah menyampaikan risalah Tuhan kepada manusia, tidak dengan paksaan atau kekuatan, melainkan dengan diskusi dan persuasi. Untuk mendukung argumentasinya, Saeed menyajikan beberapa ayat al-qur an dalam konteks historis (Mekkah dan Madinah) yang menunjukkan isu tanggungjawab personal yang terdapat dalam al-qur an. Setiap orang diberi kapasitas untuk membedakan yang benar dari yang salah. Memilih dan mengikuti suatu sistem keyakinan adalah pilihan atau keputusan pribadi (personal). Ayat-ayat tersebut meliputi: QS 17:15 (Mekkah); 18:29 (Mekkah); 6:104 (Mekkah). Menurut al-qur an, seperti ditegaskan oleh Saeed, rencana Tuhan untuk umat manusia bukanlah bahwa semuanya harus mengikuti jalan yang sama. Manusia memiliki pilihan apakah mau mengikuti jalan Tuhan atau tidak. Karena hal ini merupakan prinsip dasar, maka tugas Nabi hanyalah memberikan penjelasan kepada manusia tentang perbedaan antara yang benar dan yang salah, tidak untuk memaksa manusia menjadi orang yang beriman. Jika sekiranya Tuhan menghendaki niscaya Dia buat semua manusia memilih jalan yang sama. QS 10:99 (Mekkah); 1:31 (Medinah); 16:9 (Mekkah); 6:149 (Mekkah); 6:35 (Mekkah). "Al-Qur an tidak hanya memberi manusia kebebasan beragama atau berkeyakinan, tetapi juga mengakui bahwa orang-orang yang berbeda mengikuti sistem keyakinan dan agama yang berbeda." Tugas Nabi adalah menyampaikan risalah, tidak untuk menentukan siapa yang harus beriman atau siapa yang tidak beriman kepada risalahnya. QS 24:54 (Medinah); 5:99 (Medinah); 64:12 (Medinah); 3:20 (Medinah). Nabi juga tidak bertanggungjawab atas apa yang dilakukan oleh orang lain. Setiap orang bertanggungjawab atas keputusan mereka sendiri, dan hasil dari keputusan tersebut akan ditanggung oleh orang tersebut. Dalam wilayah keyakinan khususnya, tanggungjawab pribadi ini sangat utama. Karena setiap orang di hari akhir nanti akan ditanya tentang perbuatan mereka, maka konsekuensinya ialah bahwa urusan keyakinan dan agama juga dikembalikan atau diserahkan kepada masing-masing individu untuk menentukan. Ayat-ayat al-qur an (Mekkah dan madinah) mengingatkan Nabi dan seluruh umat Muslim mengenai hal ini: QS 10:41; 109:1-6; 50:45; 10:108; 27:92; 6:66; 4:80; 88:21. Mereka yang menolak untuk menjadi mu min akan menerima hukumannya di hari akhir. Tidak ada hukuman yang ditetapkan di dunia ini: QS 4:115 (Medinah); 6:48-49 (Mekkah); 72:23 (Mekkah). 2 / 8

3 Dalam menegaskan kebebasan individu untuk memilih, al-qur an menganggap bahwa seorang itu mampu membuat pilihan. Asumsi ini penting karena ia memberi makna kepada pilihan itu. Manusia diberi kemampuan memilih dan kemampuan untuk mengetahui yang benar dan yang salah. Dari sudut pandang al-qur an, ini merupakan hal yang unik bagi manusia di antara makhluk Tuhan yang lain. Berbeda dari makhluk lainnya, manusia sejak awal dipandang sebagai makhluk yang dianugerahi kemampuan untuk membuat pilihan moral dan kemampuan mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan tersebut. Al-Qur an tidak hanya memberi manusia kebebasan beragama atau berkeyakinan, tetapi juga mengakui bahwa orang-orang yang berbeda mengikuti sistem keyakinan dan agama yang berbeda. Al-Qur an merujuk agama lain khususnya agama wahyu seperti Yahudi dan Kristen, denga hormat. Dalam beberapa kesempatan, al-qur an menyarankan atau menganjurkan orang-orang Kristen dan Yahudi yang skeptis untuk kembali kepada kitab suci mereka untuk menemukan kebenaran. Mereka dianjurkan untuk memecahkan masalah-masalah mereka dengan merujuk kepada apa yang dinyatakan oleh kitab suci mereka. Lebih lanjut, al-qur an menyatakan bahwa mereka yang percaya (beriman) kepada Tuhan dan berbuat kebaikan akan mendapatkan balasan dari Tuhan (5:69). Berdasarkan gagasan tentang kebebasan berkeyakinan dan konsep yang lebih luas tentang toleransi beragama, al-qur an mengajarkan bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa adalah sepenuhnya terserah kepada individu untuk memilih agama apa yang mereka anut. Al-Qur an menegaskan tidak boleh memaksa orang lain untuk menerima Islam (2:256). Ayat ini sangat sentral dalam kaitanya dengan ide kebebasan beragama. Saeed mengutip pendapat ahli tafsir al-suyuti yang menegaskan tidak adanya paksaan dalam agama, berdasakan berbagai riwayat dan peristiwa sejarah baik pada masa Nabi maupun setelahnya. Sejumlah ulama Muslim percaya bahwa ayat di atas hanya berkaitan dengan ahl al-kitab yang tidak boleh dipaksa untuk memeluk Islam jika mereka membayar jizyah, sedangkan ulama yang lain percaya bahwa ayat itu telah di-mansukh oleh ayat-ayat yang memerintahkan orang Muslim untuk berperang (qital). Menurut ulama terakhir, semua orang dari semua tradisi agama harus diajak memeluk Islam; jika mereka menolak masuk Islam atau membayar jizyah, mereka harus diperangi sampai mereka terbunuh. Kebanyakan ahli hukum dan tafsir memiliki pemahaman yang demikian. Ayat yang dianggap menghapus QS 2:256 ialah QS 9:123. Namun demikian, beberapa riwayat yang dikutip seperti menunjukkan bahwa paksaan dapat digunakan kepada orang-orang Arab penyembah berhala, tidak kepada ahl al-kitab. Jika riwayat itu bisa diterima, tampak bahwa konsep kebebasan beragama sepertinya merupakan konsep yang sempit dan diberlakukan secara spesifik. Namun demikian, menurut Saeed, penafsiran ini mengandung problem serius karena al- Qur an dalam berbagai ayat menyatakan bahwa paksaan tidak boleh digunakan untuk mengajak orang lain masuk Islam. Sejumlah ayat al-qur an (Mekkah dan Madinah) menekankan bahwa seseorang tidak boleh dipaksa untuk beriman kepada Tuhan. Pandangan ini tampaknya menjadi pembolehan yang membingungkan untuk memerangi kaum kafir (tidak beriman) dengan penggunaan kekuatan untuk memaksa orang agar beriman. Berperang dibolehkan untuk membela agama, keyakinan dan wilayah melawan agresi yang nyata atau potensial, atau untuk mengakhiri penganiayaan atau penindasan, tidak untuk memaksa orang lain pindah agama (convert). Tidak ada satu ayat pun yang menyatakan bahwa orang boleh dipaksa beriman kepada Tuhan atau masuk agama Islam. Beragama atau berkeyakinan adalah pilihan yang bersifat sukarela.58 3 / 8

4 Ahli-ahli tafsir seperti al-suyuti, al-razi dan bahkan Sayyid Qutb menekankan pandangan bahwa tidak ada paksaan dalam agama, seperti yang ditegaskan dalam al-qur an. Qutb, misalnya, seperti dikutip oleh Saeed, menegaskan bahwa kebebasan beragama atau berkeyakinan adalah hak asasi manusia yang pertama yang memberikan sifat kemanusiaan kepada manusia. Barang siapa yang merampok hak kebebasan beragama dari manusia berarti dia merampok kemanusian itu sendiri. Al-Qur an tidak mengizinkan perang dengan tujuan untuk memindahkan orang lain ke agama Islam, tetapi membolehkan perang dalam konteks menghancurkan orang-orang yang tidak beriman yang mengancam keamanan atau keselamatan negara Islam yang baru berdiri pada masa Nabi. Al-Qur an memerintahkan orang Muslim untuk tidak memerangi orang kafir yang punya perjanjian perdamaian dengan mereka atau mereka yang tidak menganiaya dan berbuat jahat kepad aorang Muslim. Memang terdapat beberapa ayat al-qur an yang memerintahkan orang Muslim untuk membunuh kaum musyrik, dan mengimplikasikan bahwa hanya penyerahan diri (tunduk) kepada Nabi yang bisa diterima. Ayat-ayat tersebut diwahyukan menjelang akhir periode kenabian, dan dikaitkan dengan situasi politik komunitas Muslim berhadapan dengan sebagain non-muslim yang masih aktif berupaya mengancam komunitas Muslim. Beberapa alasan diberikan untuk perintah kepada Nabi memerangi kaum musyrik, di manapun mereka ditemukan. Jika kaum non-muslim mencapai keunggulan atas orang-orang Muslim, mereka akan (1) tidak menghormati isi atau syarat perjanjian damai yang ada, (2) melanggar sumpah mereka meskipun ada perjanjian; (3) menyerang agama atau keyakinan kaum Muslim; (4) merencanakan pengusiran Nabi dari Madinah; (5) berinisiatif menyerang orang-orang Muslim. Efek-efek gabungan yang mungkin mengkhawatirkan ini menyebabkan al-qur an memerintahkan orang Muslim untuk siap berperang jika diperlukan. Ayat-ayat yang memerintahkan Muslim untuk memerangi kaum tidak beriman merujuk ke kasus-kasus khusus, dan tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa kebebasan beragama dalam Islam hanya diberikan pada periode awal Islam ketika Islam masih lemah, atau bahwa kebebasan beragama itu tidak dimaksudkan berlaku untuk sepanjang waktu dan keadaan. Jika ayat-ayat perintah memerangi kaum kafir itu dipahami sebagai abrogasi (naskh, menghapus) ayat-ayat yang lebih awal tentang kebebasan beragama, maka hasilnya adalah penghapusan banyak ayat yang menekankan tidak hanya kebebasan beragama tetapi juga sifat dari hubungan antara Tuhan dan manusia, dan arti penting dari ketulusan beragama. Pembacaan yang seksama terhadap teks-teks al-qur an dan hadits yang relevan menunjukkan bahwa tidak ada alasan untuk percaya bahwa kebebasan beragama dihapuskan. Tidak ada petunjuk dari Nabi bahwa ayat-ayat yang berhubungan dengan tidak ada paksaan (non-coercion) dalam agama dihapuskan. Memang ada hadits atau ayat al-qur an (seperti Surat 9) yang menunjukkan bahwa menjelang akhir misi kenabian Nabi diharapkan untuk menggunakan kekuatan (force) melawan kelompok-kelompok tertentu dari kaum musyrik Arab atau ahl al-kitab. Jika hal itu dimaksudkan memaksa mereka menerima Islam, maka prinsip umum bahwa tidak boleh ada paksaan dalam agama harus dipikirkan kembali. Tetapi, tidak ada petunjuk dalam al-qur an yang menegaskan bahwa konversi paksa menjadi tujuan. Ayat ini muncul hanya sebagai respon terhadap tuntutan politik dan keamanan komunitas Muslim waktu itu. Beberapa ayat dalam al-qur an menunjukkan bahwa ada hukuman untuk dosa karena menolak Islam atau 4 / 8

5 menjadi murtad. Namun hukuman itu diberikan di akhirat, dalam kehidupan setelah mati (QS 2:217). Dalam praktik sejarah pada masa Nabi, mereka yang dianggap sebagai murtad diperlakukan dengan baik, misalnya tercermin dalam Perjanjian Hudaybiyah (6/628), yang dibuat oleh Nabi dengan para musuh dari Mekkah. Salah satu isi perjanjian tersebut membolehkan seorang Muslim untuk melepaskan atau meninggalkan Islam, kembali ke Mekkah sebagai murtad, dan menetap di Mekkah. Jika riddah (keluar dari Islam) adalah kejahatan yang harus dihukum mati, Nabi tidak akan pernah mengizinkan dimasukkannya isi perjanjian seperti itu. Sebaliknya, Nabi memperlakukan dengan baik mereka yang keluar dari Islam secara terbuka, tetapi tidak memberontak melawan komunitas Muslim, atau mereka yang Muslim nominal tanpa keyakinan yang kuat. Nabi tidak pernah memerintahkan penghinaan terhadap mereka apalagi pembunuhan. Namun demikian, perdebatan tentang hukuman terhadap murtad berlangsung sepanjang sejarah. Meskipun dalam al-qur an dalam praktik Nabi tidak dinyatakan hukuman mati terhadap murtad, tetapi sebagian kalangan ulama fiqh mempercayai bahwa hukuman untuk murtad adalah hukuman mati. Bahkan sebagian ulama sangat keras terhadap orang-orang yang murtad dan mengingkari mereka, termasuk kesempatan mereka untuk bertobat. Sedangkan yang lain tetap memberikan kesempatan kepada murtad untuk bertobat dan kembali ke Islam dan karenanya memperoleh kembali kebebasan dan hak hidup. Hukum murtad dikembangkan dalam Islam berdasarkan pada sedikit hadits (ahad) pada waktu dan keadaan yang sangat berbeda dari keadaan dewasa ini. Ketika itu, Islam adalah agama dominan, Islam juga secara politik, militer dan ekonomi sangat kuat. Orang-orang diorganisasikan menurut afiliasi keagamaan mereka; hubungan dalam kelompok diatur secara ketat oleh hukum agama, dan hukum tersebut pada umumnya berada di tangan otoritas agama. Mobilitas sosial tergantung pada asal-usul keluarga, afiliasi agama atau keduanya. Pengkafiran dan pelabelan seseorang sebagai sesat merupakan cara mudah untuk mengurangi hak-hak dasar dari manusia. Berbeda dari keadaan sekarang, tidak ada otoritas independen yang peduli dan memberi perhatian kepada hak asasi orang-orang. Tidak ada juga konsep negara-bangsa seperti yang ada saat ini. Kelompok minoritas agama pada waktu itu biasanya tidak dianggap sama dengan mayoritas yang dominan, dan loyalitas kelompok minoritas kepada komunitas tuan rumah sering dipertanyakan. Kejahatan yang hukum temporalnya ditetapkan dalam al-qur an terutama adalah tindakan-tindakan di mana seseorang merampas dari orang lain hak untuk berfungsi secara harmonis dalam masyarakat. Beberapa ulama Muslim mengakui fungsi sentral agama jauh hari dengan membagi hak-hak seorang Muslim menjadi hak-hak Tuhan dan hak-hak manusia. Untuk melindungi apa yang disebut hak-hak manusia, hukum yang sesuai dan juga hukuman harus ditegakkan. Adapun pelanggaran terhadap hak Tuhan, hukumannya tidak di dunia ini (temporal); hukumannya diberikan hanya oleh Tuhan di akhirat nanti. Misalnya. Al-Qur an menetapkan hukum yang jelas bagi pencurian, meskipun larangan mencuri hanya sekali disebutkan dalam teks. Tetapi al-qur an tidak menetapkan hukuman temporal untuk tindakan meninggalkan salat atau membayar zakat, meskipun al-qur an menyebutkan istilah salat dan turunanya lebih dari 99 kali, dan zakat dan turunannya lebih dari 32 kali, dengan memerintahkan orang Muslim untuk menjalankan kewajiban tersebut. Semuanya ini menunjukkan bahwa hukuman temporal secara keseluruhan hanya wajib untuk tindakan-tindakan yang melanggar hak-hak orang lain, seperti pencurian dan pembunuhan. Ini menegaskan bahwa hukum temporal tidak punya tempat dalam wilayah keyakinan yang lebih tidak kentara (subtle). 5 / 8

6 Islam bukanlah agama yang cenderung untuk menghukum mereka yang tidak percaya kepadanya, atau mereka yang meninggalkannya untuk satu alasan atau lainnya. Islam mengakui keragaman agama, meskipun Islam tidak menyetujui bentuk-bentuk agama yang berasal dari sumber-sumber non-ilahi. Islam menganggap kehidupan sebagai tempat ujian, salah satu aspeknya yang penting ialah kebebasan untuk memilih suatu sistem keyakinan dan jalan hidup. Jika hak ini dicabut, maka ujian menjadi tidak memiliki makna. Tindakan-tindakan tidak boleh dilakukan oleh otoritas agama atau politik untuk mengurangi kebebasan fundamental yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia ini, bahkan atas nama mencegah mereka dari jatuh ke dalam kesalahan. Pengurangan kebebasan semacam itu adalah melawan hak yang diberikan oleh al-qur an kepada individu. Al-Qur an menegaskan bahwa manusia harus bertanggungjawab di hadapan Tuhan di hari akhir untuk pelaksanaan hak ini dan utuk tindakan-tindakan mereka. Dalam perdebatan yang luas tentang hak-hak asasi manusia, salah satu hak yang menjadi target kritik oleh orang-orang Muslim ialah hak kebebasan beragama untuk saudara-saudara Muslim mereka. Para pengkritik itu berpendapat bahwa kebebasn beragama bagi orang mulsim seperti yang dirumuskan dalam instrumen hak-hak asasi manusia tidak sejalan dengan norma, nilai dan hukum Islam, dan karena itu harus ditolak. Orang Muslim lainnya berpandangan bahwa hak kebebasan beragama sangat sejalan dengan petunjuk al-qur an dan Nabi. Kelompok terakhir ini mencakup kalangan intelektual, sarjana dan bahkan tokoh-tokoh agama yang terkemuka. Pengkajian yang seksama tentang wacana hak asasi manusia menunjukkan bahwa dewasa ini wacana tersebut tidak mesti wacana Barat; tema itu menjadi kepedulian mayoritas Muslim juga. Kebanyakan negara-negara Muslim, sebagai angota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menerima secara prinsipal Deklarasi Universal Hahk-Hak Asasi Manusia dan beberapa bahkan telah meratifikasi konvensi hak asasi manusia yang utama. Lebih lanjut, sebagai tanda partisipasi global dalam wacana ini, beberapa Muslim telah mengembangkan apa yang mereka anggap sebagai dokumen hak asasi Muslim. Secara keseluruhan, dokumen-dokumen itu dimodel berdasarkan DUHAM atau konvensi hak asasi manusia yang serupa tetapi menggunakan ide dan terminologi Islam dan seringkali dijustifikasi oleh teks-teks al-qur an. Dalam sejarah hukum Islam pre-modern, hak kebebasan beragama mengalami marginalisasi melalui hukum irtidad atau murtad dan hukuman mati yang dihubungkan dnegan tindakan irtidad. Saeed mengelaborasi latar belakang dari perumusan hukum murtadd, khususnya konteks politik dan intoleransi intra-islam yang memainkan peranan penting dalam perkembangan hukum. Apa yang penting adalah tingkat keragaman yang tinggi dalam memahami apa yang merupakan apostasi, suatu keadaan yang digunakan oleh tokoh politik dan agama untuk mengontrol, menindas, menganiaya atau menghabisi musuh. Untuk alasan ini potensi penyalahgunaan hukum apostasi sangat besar sepanjan sejarah Islam. Saeed menentang pandangan bahwa hukuman apostasi dengan hukuman mati didasarkan pada petunjuk al- Qur an atau hadits yang jelas. Saeed menegaskan bahwa tidak ada satu ayat pun dalam al-qur an yang menjustifikasi hukuman temporal untuk apostasi, dan sangat sedikit yang menjustifikasi beberapa dari hukum apostasi yang dikaitkan dengannya. Kebanyakan hukum apostasi dikembangkan dari hadits ahad dan interpretasi terhadap hadits tersebut, atau berdasarkan analogi dan ijtihad. Karena tidak satu pun yang menjamin kepastian pengetahuan seperti dipahami dalam prinsip jurisprudensi Islam, orang Muslim pada masa modern punya kesempatan untuk memikirkan kembali hukum-hukum tersebut. Jika hukum-hukum tersebut tidak lagi dipraktikkan atau relevan bagi Muslim, ada justifikasi yang kuat untuk mempertimbangkan kembali hukum tersebut. Argumen bahwa hukum tersebut didukung oleh ijma tidak boleh menghalangi Muslim untuk menyetujui jalan ini. Pelbagai hukum lain yang tidak ada konsensus 6 / 8

7 dalam sejarah Islam terbuka untuk direvisi dan dalam beberapa kasus tidak dipakai sama sekali. Dalam soal kebebasan beragama, jelas bahwa al-qur an mendukung gagasan tentang kebebasan beragama dan keyakinan keagamaan sebagai pilihan pribadi (individual). Kebebasan beragama dinyatakan dalam al-qur an dalam berbagai konteks dan cara. Namun demikian, dalammenafsirkan teksteks itu para ulama mulsim periode pra-modern umumnya membatasi ruang lingkup kebebasan yang tersedia bagi seorang Muslim dalam memilih dan mengadopsi suatu agama atau sistem keyakinan. Mereka memilih definisi sempit tentang kebebasan beragama, membatasinya sebatas kebebasan yang diberikan kepada non-muslim untuk tetap di bawah kekuasaan Islam sebagai minoritas yang dilindungi (ahl al-dhimmah) atau masuk Islam. Sedangkan bagi orang Muslim, sekali mereka menjadi muslim, pindah agama dari Islam tidak diperbolehkan. Untuk mencegah konversi, ahli hukum Islam mengembangkan hukum irtidad atau murtad dengan hukuman mati sebagai hukuman tertinggi, yang dijustifikasi berdasarkan hadits ahad. Sikap ahli hukum awal itu tidak harus mengherankan kita karena mereka bekerja pada saat ketika kebebasan beragama dan martabat manusia mungkin tidak dikaitkan dengan cara seperti dewasa ini. Lebih lanjut, pada periode awal itu dan lingkungan sosial seperti itu, individu menjadi orang dengan dihubungkan kepada agama atau suku tertentu. Dalam kasus Islam, Islam adalah agama ketimbang suku. Dengan ikut Islam, seorang individu dengan sendirinya menjadi bagian dari komunitas orang beriman. Komunitas orang beriman ini juga berfungsi sebagai unit politik: khilafah atau imarah. Jadi ada pertemuan antara identitas keagamaan yang berakar dalam masyarakat dan identitas politik. Secara umum, karena konsep tersebut berkembang dalam hukum Islam pra-modern, jika seseroang menolak komunitas orang beriman dengan pindah ke agama yang lain, mereka dengan sendirinya dikucilkan dari komunitas politik juga. Ini berarti hilangnya hak dasar individu sebagai orang (seperti hak hidup, hak memiliki kekayaan) yang diberikan ketika menjadi seorang Muslim. Karena hak dasar individu tergantung pada menjadi bagian dari komunitas, maka gagasan tentang apostasi dan hal-hal yang dihubungkan dengannya pada periode pra-modern dapat dimengerti. Sebaliknya, kebanyakan Muslim dewasa ini telah bergeser dari pertemuan antara komunitas agama dan identitas politik ini kepada pemisahan antara keduanya. Dewasa ini komunitas politik dalam pengertian negara-bangsa tidak harus didasarkan pada komunitas agama, dan dalam kenyataan sebagian besar negarabangsa di dunia ini, termasuk dunia Islam, tidak didasarkan kepada identifikasi yang ketat ini. Seseorang individu bisa menjadi warga negara dari unit politik ini terlepas dari afiliasi keagamaannya, yang merupakan kasus dalam mayoritas negara Muslim, di mana konstitusi modern menjamin kebebasan beragama dan persamaan di depan hukum bagi semua. Jadi kebebasan beragama dan kebebasan berkeyakinan menjadi hak paling utama pada periode modern dalam menjalankan negara-bangsa. Dunia modern ditandai dengan pergerakan manusia yang cepat dari satu tempat ke tempat yang lain, perpindahan manusia atau perjalanan dalam rangka pendidikan, bisnis, rekreasi dan pekerjaan. Hal ini meniscayakan terjadinya interaksi antara orang-orang dari berbagai macam latar belakang, termasuk agama. Interaksi dan pluralisme yang tak pernah terbayangkan ini memberi tekanan kepada semua sarjana Muslim untuk menawarkan gagasan-gagasan tentang kebebasan beragama yang relevan dengan dunia yang multi-agama dan multi-budaya dewasa ini. Penegasan kembali hukum pra-modern yang dikembangkan pada waktu, tempat dan keadaan yang berbeda tidak lagi membantu atau praktis. Banyak Muslim membatalkan aspek-aspek dari hukum apostasi pra-modern, khususnya hukuman mati. Selain dipandang tidak relevan dengan keadaan modern, hukum apostasi sangat potensial untuk disalahgunakan. Ada banyak sekali posisi teologis, hukum atau religio-politik di kalangan Muslim, dan sangat sulit untuk menetapkan satu set kredo yang dapat diterapkan untuk dan diterima oleh semuanya. Ada orang Muslim 7 / 8

8 Powered by TCPDF ( Tidak Ada Paksaan Dalam Islam yang punya kecenderungan mengklaim memiliki otoritas untuk memberi cap apostasi, sesat atau kafir kepada orang lain, atau negara-negara Muslim tertentu menganggap bertangungjawab melindungi ortodoksi, dan mereka yang tidak menganut ortodokasi yang ditetapkan pemerintah bisa dicap sebagai menyimpang, sesat atau murtad. Karena itu, penting kiranya merumuskan ide kebebasan beragama yang selaras dengan realitas yang ada saat ini dan dapat mempertimbangkan keyakinan Islam dan diversitas budaya dalam konteks negarabangsa. Lebih-lebih, dewasa ini banyak orang Muslim hidup sebagai kelompok minoritas di banyak negara Eropa, Amerika Serikat, China, dan Australia. Di negara-negara yang sekular itu, hukum apostasi tidak memiliki arti dan posisi dalam struktur hukum negara-negara tersebut. Orang-orang musim bebas untuk pindah agama atau sekedar tidak mengikuti suatu agama sama sekali, tanpa kehilangan hak-hak dasar mereka. Dalam konteks ini, pemilahan wilayah Islam dan wilayah non-islam menjadi tidak jelas. Kategori pra-modern seperti dar al-islam dan dar al-harb menjadi tidak berguna. Berkat globalisasi dan mobilitas yang cepat, menjadi hal yang lazim bagi orang yang berbeda agama hidup berdampingan. Salah satu alasan mengapa sebagain Muslim dan rejim Muslim merasa perlu membuat hukum apostasi dewasa ini ialah untuk mengurangi konversi dari Islam. Namun, orang-orang Muslim juga berupaya mengonversi orang-orang non-muslim ke dalam Islam. Jika orang Muslim atau negara Muslim membuat hukum apostasi, orang Muslim dapat dilarang untuk mengkonversi non-muslim ke dalam Islam. Menurut Saeed, mengkriminalisasi orang murtad tidak menyelesaikan masalah; hal itu hanya memberi kesan bahwa Islam adalah agama yang dipaksakan. Padahal, dalam pandangan Saeed, banyak orang Muslim yang bergeser dari gagasan mengenai agama yang dipaksakan menjadi gagasan menganut agama sebagai perjanjian antara manusia dan Tuhan. Ini lebih dekat kepad ide al-qur an tentang tidak ada paksaan dalam agama atau keyakinan, yang sangat ditekankan dalam al-qur an dalam pelbagai konteks. Berbeda dari periode pra-modern di mana tidak ada paksaan dalam agama diangap telah dihapuskan (mansukh), pandangan modern yang berkembang di kalangan Muslim ialah bahwa non-coercion tetap menjadi prinsip yang dundamental dan bahwa Islam menjamin kebebasan beragama untuk semua. 8 / 8

Memutus Rantai Pelanggaran Kebebasan Beragama Oleh Zainal Abidin

Memutus Rantai Pelanggaran Kebebasan Beragama Oleh Zainal Abidin Memutus Rantai Pelanggaran Kebebasan Beragama Oleh Zainal Abidin Saat ini, jaminan hak asasi manusia di Indonesia dalam tataran normatif pada satu sisi semakin maju yang ditandai dengan semakin lengkapnya

Lebih terperinci

PERSATUAN DAN KERUKUNAN

PERSATUAN DAN KERUKUNAN PERSATUAN DAN KERUKUNAN PENGERTIAN PERSATUAN DAN KESATUAN A. PERSATUAN Dari segi bahasa persatuan berarti gabungan, ikatan atau kumpulan. Sedangkan menurut istilah persatuan adalah kumpulan individu manusia

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Pada bagian terakhir ini penulis berusaha untuk menyimpulkan dari

BAB V PENUTUP. Pada bagian terakhir ini penulis berusaha untuk menyimpulkan dari BAB V PENUTUP Pada bagian terakhir ini penulis berusaha untuk menyimpulkan dari berbagai permasalahan yang telah diuraikan secara panjang lebar, guna untuk mempermudah dalam memahami isi yang terkandung

Lebih terperinci

FUNDAMENTALISME ISLAM. 1. Ikfan Febriyana Ulul Azmi Najitama Indah Septia D.N

FUNDAMENTALISME ISLAM. 1. Ikfan Febriyana Ulul Azmi Najitama Indah Septia D.N FUNDAMENTALISME ISLAM 1. Ikfan Febriyana 10313244016 2. Ulul Azmi Najitama 10313244028 3. Indah Septia D.N 10313244029 Fundamentalisme Islam ASAL USUL & PENGERTIANNYA LAHIRNYA GERAKAN ISLAM FUNDAMENTALIS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekali. Selain membawa kemudahan dan kenyamanan hidup umat manusia.

BAB I PENDAHULUAN. sekali. Selain membawa kemudahan dan kenyamanan hidup umat manusia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era global, plural, multikultural seperti sekarang setiap saat dapat saja terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak dapat terbayangkan dan tidak terduga sama

Lebih terperinci

Deklarasi Penghapusan Semua Bentuk Intoleransi dan Diskriminasi berdasarkan Agama...

Deklarasi Penghapusan Semua Bentuk Intoleransi dan Diskriminasi berdasarkan Agama... DEKLARASI PENGHAPUSAN SEMUA BENTUK INTOLERANSI DAN DISKRIMINASI BERDASARKAN AGAMA ATAU KEPERCAYAAN (Diumumkan oleh resolusi Sidang Perserikatan Bangsa- Bangsa No. 36/55 pada tanggal 25 Nopember 1981) -

Lebih terperinci

MEMBANGUN KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA: Perspektif Sosiologis. Prof. Dr. H. Nur Syam, MSi Guru Besar Sosiologi IAIN Sunan Ampel

MEMBANGUN KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA: Perspektif Sosiologis. Prof. Dr. H. Nur Syam, MSi Guru Besar Sosiologi IAIN Sunan Ampel MEMBANGUN KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA: Perspektif Sosiologis Prof. Dr. H. Nur Syam, MSi Guru Besar Sosiologi IAIN Sunan Ampel Dasar Filosofis Rukun: Orang Indonesia (khususnya Orang Jawa) selalu mengedepankan

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA HUBUNGAN ANTAR AGAMA DI INDONESIA Dosen : Mohammad Idris.P, Drs, MM Nama : Dwi yuliani NIM : 11.12.5832 Kelompok : Nusa Jurusan : S1- SI 07 SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA

Lebih terperinci

Digantung karena menjadi seorang Kristen di Iran

Digantung karena menjadi seorang Kristen di Iran Digantung karena menjadi seorang Kristen di Iran Delapan belas tahun lalu, ayah dari Rashin Soodmand digantung di Iran karena ia meninggalkan Islam dan menjadi seorang Kristen. Saat ini, saudara laki-lakinya

Lebih terperinci

Konvensi Internasional mengenai Penindasan dan Penghukuman Kejahatan Apartheid

Konvensi Internasional mengenai Penindasan dan Penghukuman Kejahatan Apartheid Konvensi Internasional mengenai Penindasan dan Penghukuman Kejahatan Apartheid disetujui dan terbuka untuk penandatanganan dan ratifikasi oleh Resolusi Majelis Umum 3068 (XXVIII) 30 November 1973 Negara-negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN 1. Permasalahan A. Latar Belakang Al-Ikhlash adalah surah ke-22 yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad di Mekkah. Tetapi, sebagian ulama berpendapat bahwa surah ini merupakan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN. a. Keharusan saling mengenal, b. Keberagamaan keyakinan, c. Keberagamaan etnis.

BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN. a. Keharusan saling mengenal, b. Keberagamaan keyakinan, c. Keberagamaan etnis. BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN A. Keharusan Saling Mengenal Di sini akan dijelaskan tentang persamaan dan perbedaan pemikiran pluralisme agama dalam Islam dan pluralisme agama menurut Alwi Shihab, meliputi:

Lebih terperinci

Saleem Achia, Aktivis Hizbut Tahrir Inggris

Saleem Achia, Aktivis Hizbut Tahrir Inggris Saleem Achia, Aktivis Hizbut Tahrir Inggris Buku Defeating the New Caliphate menyerukan kepada orang Kristen dan Yahudi untuk bersama-sama membendung tegaknya khilafah. Seruan itu bukan basi-basi, tapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah salah satu negara yang dilihat dari letak geografis

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah salah satu negara yang dilihat dari letak geografis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah salah satu negara yang dilihat dari letak geografis merupakan negara yang kaya dibandingkan dengan negara yang lainnya, hal ini dapat dibuktikan

Lebih terperinci

Mengapa HT terus mendesak pemerintah mengirimkan tentara perang melawan Israel?

Mengapa HT terus mendesak pemerintah mengirimkan tentara perang melawan Israel? Hafidz Abdurrahman Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI Inggris melakukan berbagai upaya untuk mendudukkan Yahudi di Palestina namun selalu gagal. Tapi setelah khilafah runtuh dan ruh jihad mati barulah negara

Lebih terperinci

Daftar Pustaka. Glosarium

Daftar Pustaka. Glosarium Glosarium Daftar Pustaka Glosarium Deklarasi pembela HAM. Pernyataan Majlis Umum PBB yang menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak secara sen-diri sendiri maupun bersama sama untuk ikut serta dalam

Lebih terperinci

RATIOLEGIS HUKUM RIDDAH

RATIOLEGIS HUKUM RIDDAH BAB IV KOMPARASI KONSEP HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA TENTANG KEBEBASAN BERAGAMA DALAM STUDI RATIOLEGIS HUKUM RIDDAH A. Persamaan Konsep Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia Tentang

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM AL-QURAN TELAAH PENDIDIKAN ISLAM

BAB IV ANALISIS TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM AL-QURAN TELAAH PENDIDIKAN ISLAM BAB IV ANALISIS TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM AL-QURAN TELAAH PENDIDIKAN ISLAM A. Hakikat Toleransi dalam Al-Quran Telaah Pendidikan Islam Allah telah membimbing manusia kepada toleransi melalui

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Islam Bab 11 ISLAM DAN TOLERANSI

Pendidikan Agama Islam Bab 11 ISLAM DAN TOLERANSI Modul ke: 13 Pendidikan Agama Islam Bab 11 ISLAM DAN TOLERANSI Fakultas Teknik Alimudin, S.Pdi, M.Si Program Studi Teknik Industri www.mercubuana.ac.id PENGANTAR Toleransi beragama adalah sikap sabar dan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TOLERANSI ATAR UMAT BERAGAMA DI KALANGAN SISWA DI SMA NEGERI 3 PEKALONGAN

BAB IV ANALISIS TOLERANSI ATAR UMAT BERAGAMA DI KALANGAN SISWA DI SMA NEGERI 3 PEKALONGAN BAB IV ANALISIS TOLERANSI ATAR UMAT BERAGAMA DI KALANGAN SISWA DI SMA NEGERI 3 PEKALONGAN Setelah penulis mengumpulkan data penelitian di lapangan tentang toleransi antar umat beragama di kalanga siswa

Lebih terperinci

Tanggung Jawab Komando Dalam Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia Oleh : Abdul Hakim G Nusantara

Tanggung Jawab Komando Dalam Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia Oleh : Abdul Hakim G Nusantara Tanggung Jawab Komando Dalam Pelanggaran Berat Hak Asasi Manusia Oleh : Abdul Hakim G Nusantara Impunitas yaitu membiarkan para pemimpin politik dan militer yang diduga terlibat dalam kasus pelanggaran

Lebih terperinci

Diadopsi oleh resolusi Majelis Umum 53/144 pada 9 Desember 1998 MUKADIMAH

Diadopsi oleh resolusi Majelis Umum 53/144 pada 9 Desember 1998 MUKADIMAH Deklarasi Hak dan Kewajiban Individu, Kelompok dan Badan-badan Masyarakat untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar yang Diakui secara Universal Diadopsi oleh resolusi Majelis

Lebih terperinci

Dengan membaca buku ini kita akan banyak dibantu mengambil keputusan-keputusan etis yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.

Dengan membaca buku ini kita akan banyak dibantu mengambil keputusan-keputusan etis yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Di dalam kehidupan kita banyak menjumpai persoalan-persoalan etika. Kalau persoalan itu jelas benar atau salah, kita dengan mudah dapat membuat keputusan. Tetapi kalau keputusan menyangkut banyak hal yang

Lebih terperinci

C. Konsep HAM dalam UU. No. 39 tahun 1999

C. Konsep HAM dalam UU. No. 39 tahun 1999 6. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan Hak mendapatkan pengajaran Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat C. Konsep

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Al-Quran yang ditelaah melalui konsep Pendidikan Islam, penulis menemukan

BAB V PENUTUP. Al-Quran yang ditelaah melalui konsep Pendidikan Islam, penulis menemukan BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan pembahasan tentang toleransi antar umat beragama dalam Al-Quran yang ditelaah melalui konsep Pendidikan Islam, penulis menemukan beberapa kesimpulan, diantaranya mengenai

Lebih terperinci

Perjuangan Nabi di Kota Madinah dalam Menegakan Agama Islam

Perjuangan Nabi di Kota Madinah dalam Menegakan Agama Islam Perjuangan Nabi di Kota Madinah dalam Menegakan Agama Islam Kelompok 2 Arum Suci Alfiani Innesyifa Haqien Syifa Fatimah Azzahra Keadaan Masyarakat Madinah sebelum Islam Terdapat suku Aus dan suku Khazraj,

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP Kesimpulan

BAB V PENUTUP Kesimpulan BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setelah melalui pembahasan dan analisis dari bab I sampai bab IV, maka ada beberapa hal yang sekiranya perlu penulis tekankan untuk menjadi kesimpulan dalam skripsi ini, yaitu

Lebih terperinci

MENJADI MUSLIM DI NEGARA SEKULER

MENJADI MUSLIM DI NEGARA SEKULER l Edisi 001, Oktober 2011 Edisi 001, Oktober 2011 P r o j e c t i t a i g D k a a n MENJADI MUSLIM DI NEGARA SEKULER Ihsan Ali Fauzi 1 Edisi 001, Oktober 2011 Informasi Buku: Abdullahi Ahmed An- Na`im,

Lebih terperinci

PROTOKOL OPSIONAL KONVENSI HAK-HAK ANAK MENGENAI KETERLIBATAN ANAK DALAM KONFLIK BERSENJATA

PROTOKOL OPSIONAL KONVENSI HAK-HAK ANAK MENGENAI KETERLIBATAN ANAK DALAM KONFLIK BERSENJATA PROTOKOL OPSIONAL KONVENSI HAK-HAK ANAK MENGENAI KETERLIBATAN ANAK DALAM KONFLIK BERSENJATA Negara-Negara Pihak pada Protokol ini, Didorong oleh dukungan penuh terhadap Konvensi tentang Hak-Hak Anak, yang

Lebih terperinci

A. PERMASALAHAN DAN ALASAN PEMILIHAN JUDUL

A. PERMASALAHAN DAN ALASAN PEMILIHAN JUDUL BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN DAN ALASAN PEMILIHAN JUDUL A.1. Pluralitas Agama di Indonesia Pluralitas agama merupakan sebuah realita yang wajib digumuli. Berbagai agama besar yang pemeluknya tersebar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Allah Swt. menciptakan makhluk-nya tidak hanya wujudnya saja, tetapi

BAB I PENDAHULUAN. Allah Swt. menciptakan makhluk-nya tidak hanya wujudnya saja, tetapi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Allah Swt. menciptakan makhluk-nya tidak hanya wujudnya saja, tetapi dilengkapi dengan perangkat lain yang menunjang segala kehidupan makhluk- Nya di muka bumi.

Lebih terperinci

Otentisitas Alkitab vs Quran

Otentisitas Alkitab vs Quran Otentisitas Alkitab vs Quran Dengan berjalannya waktu dan Muslim mengadakan kontak dengan orang Kristen dan Yahudi dan memiliki kesempatan untuk membaca Alkitab, perlahan-lahan Muslim menyadari bahwa isi

Lebih terperinci

PANCASILA PANCASILA DAN AGAMA. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM. Program Studi Sistem Informasi.

PANCASILA PANCASILA DAN AGAMA. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM. Program Studi Sistem Informasi. PANCASILA Modul ke: PANCASILA DAN AGAMA Fakultas FASILKOM Nurohma, S.IP, M.Si Program Studi Sistem Informasi www.mercubuana.ac.id PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA ABSTRACT Menjelaskan ideologi Pancasila

Lebih terperinci

Persatuan Dalam al-quran dan Sunnah

Persatuan Dalam al-quran dan Sunnah Persatuan Dalam al-quran dan Sunnah Umat Islam di seluruh penjuru dunia bersuka cita menyambut maulid Nabi Muhammad Saw pada bulan Rabiul Awal. Muslim Sunni merayakan hari kelahiran Rasulullah pada tanggal

Lebih terperinci

DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA 1 MUKADIMAH

DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA 1 MUKADIMAH DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA 1 MUKADIMAH Bahwa pengakuan atas martabat yang melekat pada dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut dari semua anggota keluarga manusia adalah landasan bagi

Lebih terperinci

INTISARI. Judul Skripsi : Politik Keterbukaan Arab Saudi Dibawah Kepemimpinan. RajaAbdullah Bin Abdul Aziz Sejak Tahun 2005

INTISARI. Judul Skripsi : Politik Keterbukaan Arab Saudi Dibawah Kepemimpinan. RajaAbdullah Bin Abdul Aziz Sejak Tahun 2005 INTISARI Nama : Lintar Setyanto NIM : 151090234 Judul Skripsi : Politik Keterbukaan Arab Saudi Dibawah Kepemimpinan RajaAbdullah Bin Abdul Aziz Sejak Tahun 2005 Arab Saudi merupakan salah satu negara di

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERILAKU MORAL

PERKEMBANGAN PERILAKU MORAL TEORI ETIKA PERKEMBANGAN PERILAKU MORAL Beberapa konsep yang memerlukan penjelasan, antara lain: perilaku moral (moral behavior), perilaku tidak bermoral (immoral behavior), perilaku di luar kesadaran

Lebih terperinci

Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Shadiq

Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Shadiq Persatuan Islam dalam Perspektif Imam Shadiq Pada Jumat, 17 Rabiul Awal 83 H (702 M), lahir seorang manusia suci dan penerus risalah Nabi Muhammad Saw. Pada hari yang bertepatan dengan maulid Rasulullah

Lebih terperinci

DEKLARASI PEMBELA HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI PEMBELA HAK ASASI MANUSIA DEKLARASI PEMBELA HAK ASASI MANUSIA Disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tanggal 9 Desember 1998 M U K A D I M A H MAJELIS Umum, Menegaskan kembalimakna penting dari ketaatan terhadap

Lebih terperinci

PENDAPAT TERPISAH HAKIM ZEKIA

PENDAPAT TERPISAH HAKIM ZEKIA Saya menyetujui, dengan segala hormat, bagian pengantar keputusan terkait prosedur dan fakta dan juga bagian penutup tentang dengan penerapan Pasal 50 (pas. 50) dari Konvensi terhadap kasus ini. Saya juga

Lebih terperinci

WAJAH ISLAM YANG SEBENARNYA

WAJAH ISLAM YANG SEBENARNYA WAJAH ISLAM YANG SEBENARNYA Pada 11 September 2001, saya melihat wajah Islam yang sebenarnya. Saya melihat kegembiraan di wajah bangsa kami karena ada begitu banyak orang kafir yang dibantai dengan mudahnya...saya

Lebih terperinci

IMA>MIYAH TENTANG HUKUM MENERIMA HARTA WARISAN DARI

IMA>MIYAH TENTANG HUKUM MENERIMA HARTA WARISAN DARI BAB IV ANALISIS TERHADAP PANDANGAN IMAM SYAFI I DAN SYI> AH IMA>MIYAH TENTANG HUKUM MENERIMA HARTA WARISAN DARI PEWARIS NON MUSLIM A. Persamaan Pandangan Imam Syafi i dan Syi> ah Ima>miyah tentang Hukum

Lebih terperinci

UNOFFICIAL TRANSLATION

UNOFFICIAL TRANSLATION UNOFFICIAL TRANSLATION Prinsip-prinsip Siracusa mengenai Ketentuan Pembatasan dan Pengurangan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik Annex, UN Doc E / CN.4 /

Lebih terperinci

Konstitusi Rancangan Rusia untuk Suriah: Pertimbangan tentang Pemerintahan di Kawasan Tersebut

Konstitusi Rancangan Rusia untuk Suriah: Pertimbangan tentang Pemerintahan di Kawasan Tersebut Konstitusi Rancangan Rusia untuk Suriah: Pertimbangan tentang Pemerintahan di Kawasan Tersebut Leif STENBERG Direktur, AKU- Dalam makalah berikut ini, saya akan mengambil perspektif yang sebagiannya dibangun

Lebih terperinci

PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA

PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA Disajikan dalam kegiatan pembelajaran untuk Australian Defence Force Staff di Balai Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung, Indonesia 10 September 2007

Lebih terperinci

Kelompok 4. Sadri wahyudi Siti cholifah Sarah haikal

Kelompok 4. Sadri wahyudi Siti cholifah Sarah haikal Kelompok 4 Sadri wahyudi Siti cholifah Sarah haikal MENU UTAMA F Perjalanan hijrah Nabi Muhamm. SAW Usaha-usaha Rasulullah SAW dalam mewujudkan masyarakat Islam: Strategi Dakwah Rasulullah SAW Periode

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. harmoni kehidupan umat beragama di Indonesia. 1. Syiah di Sampang pada tahun 2012 yang lalu.

BAB I PENDAHULUAN. harmoni kehidupan umat beragama di Indonesia. 1. Syiah di Sampang pada tahun 2012 yang lalu. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada tanggal 30 Mei 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapatkan penghargaan World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation yang berkedudukan di

Lebih terperinci

PERAN AGAMA DI DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT. Yuliandre

PERAN AGAMA DI DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT. Yuliandre PERAN AGAMA DI DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT A. Pendahuluan Yuliandre yyuliandre@gmail.com Agama berasal dari bahasa Sankskrit. Ada yang berpandangan bahwa agama terdiri dari atas dua kata, a berarti tidak

Lebih terperinci

KESINAMBUNGAN AGAMA-AGAMA

KESINAMBUNGAN AGAMA-AGAMA c Demokrasi Lewat Bacaan d KESINAMBUNGAN AGAMA-AGAMA Oleh Nurcholish Madjid Kemarin, 28 Maret 1999, umat Islam merayakan hari raya Idul Adha 1419 H, yang merupakan perayaan pengingatan kembali (sebuah

Lebih terperinci

*** Bahaya Vonis Kafir

*** Bahaya Vonis Kafir Bahaya Vonis Kafir Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, Siapa saja yang berkata kepada saudaranya, hai orang kafir, maka (hukum) kafir itu telah kembali kepada salah seorang dari keduanya.

Lebih terperinci

K143 KONVENSI PEKERJA MIGRAN (KETENTUAN TAMBAHAN), 1975

K143 KONVENSI PEKERJA MIGRAN (KETENTUAN TAMBAHAN), 1975 K143 KONVENSI PEKERJA MIGRAN (KETENTUAN TAMBAHAN), 1975 1 K-143 Konvensi Pekerja Migran (Ketentuan Tambahan), 1975 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang

Lebih terperinci

Islam Satu-Satunya Agama Yang Benar

Islam Satu-Satunya Agama Yang Benar Islam Satu-Satunya Agama Yang Benar Khutbah Pertama:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????:?????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN l Edisi 001, Agustus 2011 EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN P r o j e c t i t a i g k a a n D Luthfi Assyaukanie Edisi 001, Agustus 2011 1 Edisi 001, Agustus 2011 Empat Agenda Islam yang Membebaskan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. A. Simpulan

BAB V PENUTUP. A. Simpulan BAB V PENUTUP A. Simpulan Dari keseluruhan kajian mengenai pemikiran Kiai Ṣāliḥ tentang etika belajar pada bab-bab sebelumnya, diperoleh beberapa kesimpulan penting, terutama mengenai konstruksi pemikiran

Lebih terperinci

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam (Ali Imran: 19)

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam (Ali Imran: 19) Kesesatan Paham Pluralisme Agama Pluralisme,sebuah pemahaman yang saat ini sedang gencar menyerang dalam tubuh kaum muslimin. Kata ini dimaknakan dengan Semua agama sama, Semua agama mengajarkan kebaikan,

Lebih terperinci

MENDAMAIKAN PERSAUDARAAN SEIMAN

MENDAMAIKAN PERSAUDARAAN SEIMAN c Menghormati Kemanusiaan d MENDAMAIKAN PERSAUDARAAN SEIMAN Oleh Nurcholish Madjid Sidang Jumat yang berbahagia. Dalam kesempatan khutbah kali ini, saya ingin mengajak semuanya untuk merenungkan ajaran

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. yang sering dilakukan adalah dengan kriminalisasi melalui instrumen hukum.

BAB V KESIMPULAN. yang sering dilakukan adalah dengan kriminalisasi melalui instrumen hukum. 152 BAB V KESIMPULAN Ketidaksetujuan masyarakat terhadap kelompok keagamaan yang berbeda seringkali berujung pada upaya untuk mengeliminasi perbedaan tersebut, salah satu yang sering dilakukan adalah dengan

Lebih terperinci

MENEGAKKAN TANGGUNG JAWAB MELINDUNGI: PERAN ANGGOTA PARLEMEN DALAM PENGAMANAN HIDUP WARGA SIPIL

MENEGAKKAN TANGGUNG JAWAB MELINDUNGI: PERAN ANGGOTA PARLEMEN DALAM PENGAMANAN HIDUP WARGA SIPIL MENEGAKKAN TANGGUNG JAWAB MELINDUNGI: PERAN ANGGOTA PARLEMEN DALAM PENGAMANAN HIDUP WARGA SIPIL Resolusi disahkan oleh konsensus* dalam Sidang IPU ke-128 (Quito, 27 Maret 2013) Sidang ke-128 Inter-Parliamentary

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HAK-HAK MINORITAS DAN DEMOKRASI

PERLINDUNGAN HAK-HAK MINORITAS DAN DEMOKRASI PERLINDUNGAN HAK-HAK MINORITAS DAN DEMOKRASI Antonio Prajasto Roichatul Aswidah Indonesia telah mengalami proses demokrasi lebih dari satu dekade terhitung sejak mundurnya Soeharto pada 1998. Kebebasan

Lebih terperinci

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Modul ke: 13 Yayah Fakultas Ekonomi Materi Ini Memuat : 1.Praktek Demokrasi di Madinah 2.Kepedulian sosial cermin demokrasi 3.Pandangan pluralisme dalam Islam Hidayah, Dra. M.Si

Lebih terperinci

KONSEP RIBA SESI III ACHMAD ZAKY

KONSEP RIBA SESI III ACHMAD ZAKY KONSEP RIBA SESI III ACHMAD ZAKY Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan rizki-mu yang halal dari rizki-mu yang haram dan cukupkanlah diriku dengan keutamaan-mu dari selain-mu. (HR. At-Tirmidzi dalam Kitabud

Lebih terperinci

KONSEP TOLERANSI DAN KEBEBASAN BERAGAMA

KONSEP TOLERANSI DAN KEBEBASAN BERAGAMA KONSEP TOLERANSI DAN KEBEBASAN BERAGAMA Abu Bakar UIN Sultan Syarif Kasim Riau jambuair58@gmail.com Abstrak Toleransi merupakan suatu sikap atau perilaku manusia yang mengikuti aturan, di mana seseorang

Lebih terperinci

UMMI> DALAM AL-QUR AN

UMMI> DALAM AL-QUR AN UMMI> DALAM AL-QUR AN (Kajian Tematik Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab) Muji Basuki I Di dalam Al-Qur an kata ummi> disebutkan sebanyak 6 kali, dua kali dalam bentuk mufrad dan 4 kali dalam bentuk

Lebih terperinci

??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? Nikah Beda Agama Khutbah Pertama:??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ISLAM DAN DEMOKRASI

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ISLAM DAN DEMOKRASI Modul ke: 13Fakultas Didin EKONOMI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ISLAM DAN DEMOKRASI Hikmah P, SE, MM Program Studi MANAJEMEN Pengantar: Sistem Demokrasi Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana seluruh warga

Lebih terperinci

Oleh: Hafidz Abdurrahman, Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI

Oleh: Hafidz Abdurrahman, Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI Oleh: Hafidz Abdurrahman, Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI Orang-orang non-muslim belum pernah mendapatkan keistimewaan sebagaimana keistimewaan yang mereka dapatkan ketika mereka hidup di bawah naungan Islam,

Lebih terperinci

DEKLARASI TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN. Diproklamasikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa

DEKLARASI TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN. Diproklamasikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa DEKLARASI TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN Majelis Umum, Diproklamasikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 20 Desember 1993 [1] Mengikuti perlunya penerapan secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Kebebasan merupakan hal yang menarik bagi hampir semua orang. Di Indonesia, kebebasan merupakan bagian dari hak setiap individu, oleh karena itu setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam kehidupan di Indonesia pluralitas agama merupakan realitas hidup yang tidak mungkin dipungkiri oleh siapapun. Di negeri ini semua orang memiliki kebebasan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Tesis ini berupaya untuk memberikan sebuah penjelasan mengenai

BAB V PENUTUP. Tesis ini berupaya untuk memberikan sebuah penjelasan mengenai BAB V PENUTUP Tesis ini berupaya untuk memberikan sebuah penjelasan mengenai hubungan antara kebangkitan gerakan politik Islam dalam pergolakan yang terjadi di Suriah dengan persepsi Amerika Serikat, yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejarah kehidupan beragama di dunia banyak diwarnai konflik antar

BAB I PENDAHULUAN. Sejarah kehidupan beragama di dunia banyak diwarnai konflik antar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejarah kehidupan beragama di dunia banyak diwarnai konflik antar pemeluk agama, misalnya Hindu, Islam, dan Sikh di India, Islam, Kristen dan Yahudi di Palestina,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang A. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang mengedepankan hukum seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 dalam Pasal 1 ayat 3 sebagai tujuan utama mengatur negara.

Lebih terperinci

UNIT KEGIATAN BELAJAR (UKB PABP ) a. Nama Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti b. Semester : Genap c. Kompetensi Dasar :

UNIT KEGIATAN BELAJAR (UKB PABP ) a. Nama Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti b. Semester : Genap c. Kompetensi Dasar : PAIBP-1.11/2.11/3.11/4.11/2/5-7 UNIT KEGIATAN BELAJAR (UKB PABP 2.11.11) 1. Identitas a. Nama Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti b. Semester : Genap c. Kompetensi Dasar : 1.11 Meyakini

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. A. Analisis Pemahaman Ayat Al-Qur an Terhadap Pendidikan. Multikultural yang Megajarkan Pengembangan Aqidah

BAB IV ANALISIS DATA. A. Analisis Pemahaman Ayat Al-Qur an Terhadap Pendidikan. Multikultural yang Megajarkan Pengembangan Aqidah 78 BAB IV ANALISIS DATA A. Analisis Pemahaman Ayat Al-Qur an Terhadap Pendidikan Multikultural yang Megajarkan Pengembangan Aqidah 1. Surat Al Baqarah ayat 62 Menurut tafsir Sayyid Quthb, yang ditekankan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Permasalahan A.1. Latar Belakang Permasalahan.

BAB I PENDAHULUAN A. Permasalahan A.1. Latar Belakang Permasalahan. BAB I PENDAHULUAN A. Permasalahan A.1. Latar Belakang Permasalahan. Keadaan Indonesia beberapa tahun terakhir ini sering mengalami masa krisis, misalnya saja krisis di bidang ekonomi, politik, keamanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Restu Nur Karimah, 2015

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Restu Nur Karimah, 2015 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dalam mempelajari suatu agama, aspek yang pertama dipertimbangkan sekaligus harus dikaji ialah konsep ketuhanannya. Dari konsep ketuhanan, akan diketahui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beragama itu dimungkinkan karena setiap agama-agama memiliki dasar. damai dan rukun dalam kehidupan sehari-hari.

BAB I PENDAHULUAN. beragama itu dimungkinkan karena setiap agama-agama memiliki dasar. damai dan rukun dalam kehidupan sehari-hari. 1 BAB I A. Latar Belakang Masalah PENDAHULUAN Dengan tumbuhnya pengetahuan tentang agama-agama lain, menimbulkan sikap saling pengertian dan toleran kepada orang lain dalam hidup sehari-hari, sehingga

Lebih terperinci

Tinggal di kawasan Semenanjung Tanah Arab Terdapat wilayah seperti Syam, Nadz,Yaman, Oman Mekah, Madinah dan Thaif merupakan ibu kota penting

Tinggal di kawasan Semenanjung Tanah Arab Terdapat wilayah seperti Syam, Nadz,Yaman, Oman Mekah, Madinah dan Thaif merupakan ibu kota penting Soalan 1 berdasarkan petikan di bawah Tinggal di kawasan Semenanjung Tanah Arab Terdapat wilayah seperti Syam, Nadz,Yaman, Oman Mekah, Madinah dan Thaif merupakan ibu kota penting 1. Petikan diatas merujuk

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara REKONSTRUKSI DATA B.1. Analisa

Universitas Sumatera Utara REKONSTRUKSI DATA B.1. Analisa REKONSTRUKSI DATA B. NO Analisa Analisa dan koding tematik Perceive threat Adanya ketidakadilan terhadap pelebelan terorisme yang dirasakan umat Islam FGD.B..8 FGD.B..04 FGD.B.. FGD.B..79 FGD.B..989 Umat

Lebih terperinci

Ia mendesak dunia Barat untuk mengambil langkah agar khilafah bisa dicegah.

Ia mendesak dunia Barat untuk mengambil langkah agar khilafah bisa dicegah. Ia mendesak dunia Barat untuk mengambil langkah agar khilafah bisa dicegah. Ideologi tak pernah mati. Begitu juga Islam. Meski telah kehilangan institusinya sejak 3 Maret 1924, ideologi Islam tetap tertanam

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN RIFFAT HASSAN DAN MANSOUR FAKIH TENTANG KESETARAAN JENDER DALAM ISLAM: SEBUAH PERBANDINGAN

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN RIFFAT HASSAN DAN MANSOUR FAKIH TENTANG KESETARAAN JENDER DALAM ISLAM: SEBUAH PERBANDINGAN BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN RIFFAT HASSAN DAN MANSOUR FAKIH TENTANG KESETARAAN JENDER DALAM ISLAM: SEBUAH PERBANDINGAN A. Persamaan antara Pemikiran Riffat Hassan dan Mansour Fakih tentang Kesetaraan Jender

Lebih terperinci

TERMINOLOGIS KONSEP AGAMA SECARA ETIMOLOGIS DAN

TERMINOLOGIS KONSEP AGAMA SECARA ETIMOLOGIS DAN KONSEP AGAMA KONSEP AGAMA SECARA ETIMOLOGIS DAN TERMINOLOGIS UNSUR AGAMA SECARA UMUM PENGERTIAN ISLAM SECARA ETIMOLOGIS DAN TERMINOLOGIS PENGERTIAN AGAMA ISLAM KONSEP AGAMA SECARA ETIMOLOGIS DAN TERMINOLOGIS

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. sehingga berada dalam ujung tanduk kehancuran, momentum yang tepat ini

BAB V KESIMPULAN. sehingga berada dalam ujung tanduk kehancuran, momentum yang tepat ini BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan Historis Kekalahan Uni Soviet dalam perang dingin membuatnya semakin lemah sehingga berada dalam ujung tanduk kehancuran, momentum yang tepat ini dimanfaatkan oleh negara-negara

Lebih terperinci

Di antaranya pemahaman tersebut adalah:

Di antaranya pemahaman tersebut adalah: MENYOAL PEMAHAMAN ATAS KONSEP RAHMATAN LI AL- ÂLAMÎN Kata Rahmatan li al- Âlamîn memang ada dalam al-quran. Namun permasalahan akan muncul ketika orang-orang menafsirkan makna Rahmatan li al- Âlamîn secara

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. kalangan masyarakat, bahwa perempuan sebagai anggota masyarakat masih

BAB V PENUTUP. kalangan masyarakat, bahwa perempuan sebagai anggota masyarakat masih BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Munculnya feminisme memang tak lepas dari akar persoalan yang ada di kalangan masyarakat, bahwa perempuan sebagai anggota masyarakat masih dianggap sebagai makhluk inferior.

Lebih terperinci

BAB III PANDANGAN DAN METODE IJTIHAD HUKUM JILTERHADAP PERKAWINAN BEDA AGAMA. A. Pandangan JIL terhadap Perkawinan Beda Agama

BAB III PANDANGAN DAN METODE IJTIHAD HUKUM JILTERHADAP PERKAWINAN BEDA AGAMA. A. Pandangan JIL terhadap Perkawinan Beda Agama BAB III PANDANGAN DAN METODE IJTIHAD HUKUM JILTERHADAP PERKAWINAN BEDA AGAMA A. Pandangan JIL terhadap Perkawinan Beda Agama Ulil Abshar Abdalla, koordinator JIL mempunyai pandangan bahwa larangan kawin

Lebih terperinci

UNIVERSALISME DAN RELATIVISME BUDAYA DALAM HAK ASASI MANUSIA

UNIVERSALISME DAN RELATIVISME BUDAYA DALAM HAK ASASI MANUSIA UNIVERSALISME DAN RELATIVISME BUDAYA DALAM HAK ASASI MANUSIA Materi Perkuliahan Hukum dan HAM ke-4 FH Unsri UNIVERSALISME ALL HUMAN RIGHTS FOR ALL HUMAN Hak Asasi Manusia untuk Semua hak asasi manusia

Lebih terperinci

MEMILIH PEMIMPIN YANG BENAR PERSPEKTIF ISLAM Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag.

MEMILIH PEMIMPIN YANG BENAR PERSPEKTIF ISLAM Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. MEMILIH PEMIMPIN YANG BENAR PERSPEKTIF ISLAM Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. Islam adalah sebuah totalitas yang padu yang menawarkan pemecahan terhadap semua masalah kehidupan. Sebagai agama rahmatan lil alamin

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA. masyarakat Jemur Wonosari yang beragama Islam meyakini bahwa al-qur an

BAB IV ANALISA. masyarakat Jemur Wonosari yang beragama Islam meyakini bahwa al-qur an BAB IV ANALISA Melihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan, bahwa mayoritas masyarakat Jemur Wonosari yang beragama Islam meyakini bahwa al-qur an merupakan acuan moral untuk memecahkan problem

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. sama lain. Lebih jauh standarisasi ini tidak hanya mengatur bagaimana

BAB V KESIMPULAN. sama lain. Lebih jauh standarisasi ini tidak hanya mengatur bagaimana BAB V KESIMPULAN Tidak dapat dipungkiri, setelah dianutnya gagasan hak asasi dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), masyarakat internasional sejak saat itu telah memiliki satu standar bersama dalam

Lebih terperinci

PIAGAM MADINAH. Pasal 1 Sesungguhnya mereka adalah satu bangsa negara (ummat), bebas dari (pengaruh dan kekuasaan) manusia lainnya.

PIAGAM MADINAH. Pasal 1 Sesungguhnya mereka adalah satu bangsa negara (ummat), bebas dari (pengaruh dan kekuasaan) manusia lainnya. PIAGAM MADINAH MUKADDIMAH Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang "Inilah Piagam Tertulis dari Nabi Muhammad SAW di kalangan Orang-orang yang beriman dan memeluk Islam (yang berasal) dari

Lebih terperinci

Pidato Bapak M. Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia Pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa Ke-71 New York, 23 September 2016

Pidato Bapak M. Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia Pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa Ke-71 New York, 23 September 2016 Pidato Bapak M. Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia Pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa Ke-71 New York, 23 September 2016 Bapak Presiden SMU PBB, Saya ingin menyampaikan ucapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sulit diterima bahkan mustahil diamalkan (resistensi) 4. Dan yang lebih parah,

BAB I PENDAHULUAN. sulit diterima bahkan mustahil diamalkan (resistensi) 4. Dan yang lebih parah, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Al-Quran diwahyukan Allah untuk menjadi petunjuk (huda) dan pembeda (al-furqan) antara kebenaran dan kebatilan, sekaligus menjadi pedoman dan kebanggaan umat

Lebih terperinci

TWO VISIONS OF REFORMATION

TWO VISIONS OF REFORMATION l Edisi 024, Oktober 2011 TWO VISIONS OF REFORMATION P r o j e c t i t a i g k a a n D Robin Wright Dua Visi Reformasi Islam Review Paper oleh Hamid Basyaib 1 Edisi 024, Oktober 2011 Sumber Artikel: Two

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. poligami dalam bentuknya yang beragam telah ada dalam tahap-tahap awal dari

BAB I PENDAHULUAN. poligami dalam bentuknya yang beragam telah ada dalam tahap-tahap awal dari 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Poligami memiliki akar sejarah yang panjang dalam perjalanan peradaban manusia, poligami merupakan permasalahan dalam perkawinan yang paling banyak diperdebatkan

Lebih terperinci

Serikat (telah menandatangani, namun belum bersedia meratifikasi), menguatkan keraguan akan perjanjian ini.

Serikat (telah menandatangani, namun belum bersedia meratifikasi), menguatkan keraguan akan perjanjian ini. BAB V KESIMPULAN Melalui perjalanan panjang bertahun-tahun, Majelis Umum PBB berhasil mengadopsi Perjanjian Perdagangan Senjata (Arms Trade Treaty/ATT), perjanjian internasional pertama yang menetapkan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS KONFLIK

BAB IV ANALISIS KONFLIK BAB IV ANALISIS KONFLIK A. Posisi Konflik Posisi konflik yang berkepanjangan antara Pemerintah Thailand dengan Masyarakat Muslim Patani dapat dianalisis melalui 2 (dua) perspektif; Pertama dari prespektif

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. merumuskannya dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 2 negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap

BAB V PENUTUP. merumuskannya dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 2 negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap BAB V PENUTUP V.1. Kesimpulan Konteks kemajemukan beragama di Indonesia menjadikan prinsip kebebasan beragama begitu penting. Para pendiri bangsa telah menyadari akan pentingnya hal ini yang kemudian merumuskannya

Lebih terperinci

c 1 Ramadan d 28 RAMADAN Oleh Nurcholish Madjid

c 1 Ramadan d 28 RAMADAN Oleh Nurcholish Madjid c 1 Ramadan d 28 RAMADAN Oleh Nurcholish Madjid Dan orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak melebih-lebihkan, dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) tengah-tengah antara yang

Lebih terperinci