Jika pada 2008 nilai ekspor sepatu Indonesia 562,5 juta pasang, pada 2009 mencapai 577,5 juta pasang, dan pada 2010 menjadi 585 juta pasang.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Jika pada 2008 nilai ekspor sepatu Indonesia 562,5 juta pasang, pada 2009 mencapai 577,5 juta pasang, dan pada 2010 menjadi 585 juta pasang."

Transkripsi

1 1 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN Peningkatan penjualan alas kaki dalam negeri Belanja sepatu di Indonesia pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp per kapita. Angka itu meningkat dibanding tahun lalu yang mencapai Rp per kapita. Belanja sepatu rata-rata masyarakat Indonesia diperoleh dari perbandingan pasar sepatu nasional dibagi jumlah penduduk negeri ini. Data Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menunjukkan, pasar sepatu domestik pada tahun ini diproyeksikan naik 30% dari 2010, dari Rp 25 triliun menjadi sebesar Rp27 triliun."pada 2011, penjualan semua jenis alas kaki di dalam negeri, mulai dari sandal hingga sepatu akan mencapai lebih dari Rp27 triliun," kata Wakil Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Djimanto. Menurut Djimanto, penjualan sepatu di pasar lokal pada tahun 2008 dan 2009 sempat menurun karena dampak dari krisis global. Namun, penjualan sepatu mulai meningkat pada 2010 dan berlanjut pada Dari data kementerian Perindustrian RI mencatat bahwa industri alas kaki (sepatu dan sandal) merupakan salah satu unggulan ekspor yang cukup berperan dalam mendukung perekonomian Tanah Air. Buktinya, Indonesia menempati peringkat ketiga setelah Cina dan Vietnam sebagai salah satu negara ekspotir alas kaki terbesar di dunia. Bahkan, nilai ekspor sepatu Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Tabel 1.1 Jumlah Produksi Sepatu Indonesia Tahun Jumlah Produksi ,5 Juta pasang ,5 Juta pasang Juta Pasang Jika pada 2008 nilai ekspor sepatu Indonesia 562,5 juta pasang, pada 2009 mencapai 577,5 juta pasang, dan pada 2010 menjadi 585 juta pasang ,5 Juta pasang ,5 Juta pasang 1 Sumber:http://duniaindustri.com/umum/415 belanja sepatu di indonesia rp per kapita.html Juta Pasang

2 2 Sayangnya, pangsa pasar alas kaki Indonesia di pasar dunia masih terbilang kecil, pada 2009 hanya 2,07% dari total kebutuhan ekspor alas kaki dunia yang nilainya US$ 84,05 miliar. Sementara itu, kapasitas produksi alas kaki di Indonesia pada tahun 2010 sebesar 1,2 miliar pasang, dengan nilai investasi Rp 4,34 triliun. Itu artinya, meningkat sebesar 40% selama tiga tahun terakhir. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pasar alas kaki masih sangat menjanjikan. Selain kurangnya tenaga terampil dan bahan baku, kendala utama dari industri alas kaki di Tanah Air adalah kurangnya promosi dan branding merek-merek lokal di kancah global. Jangan heran, jika merek alas kaki lokal masih belum ada yang popular di tingkat dunia. Diterangkan Peter Kern, Konsultan Sepatu Internasional, agar dapat sukses di tingkat dunia, produsen alas kaki lokal harus mampu menawarkan spesialisasi atau keunikan dari produknya. Selain itu, produsen lokal juga harus melakukan upaya komunikasi dan promosi. Antara lain, dengan mengikuti pameran-pameran di luar negeri, ungkapnya. Contohnya, mengikuti pameran terbesar industri sepatu Global Shoes yang bakal digelar kembali pada 7-9 September 2011 di Jerman. Mulai dari consumer insight, kesediaan segmen pasar, tren model, hingga mitra bisnis bisa diperoleh lewat keikutsertaan pameran internasional, tambah Marcus Mullers, Senior Project Manager Global Shoes Fenomena implikasi perjanjian perdagangan Bebas terhadap industri persepatuan Indonesia Berkembangnya kerjasama ekonomi regional sebagaimana dibuat ASEAN, yang akan menjadi Asean Free Trade Area seperti ditetapkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN menuntut Indonesia harus siap mengatur kegiatan investasi dan hukum investasi yang diharmonisasikan dengan ketentuan ACFTA tersebut. Oleh Karena itu berlakunya atau ditetapkannya ACFTA, baik sebagian maupun secara penuh akan membawa pengaruh pada perkembangan investasi dan hukum investasi di masa mendatang. Penetapan ACFTA sebagai suatu sistem perdagangan bebas dikawasan asia tenggara akan menimbulkan hubungan interdependensi dan integrasi dalam bidang investasi serta akan membawa dampak pengelolaan investasi ekonomi di Indonesia, dimana lalu lintas perdagangan akan bebas tanpa hambatan tarif bea masuk maupun non tarif, atinya barang hasil produksi negara-negara asean akan sangat bebas masuk pada setiap negara anggota ASEAN.

3 3 Dampak ini akan lebih terasa setelah arus globalisasi ekonomi semakin dikembangkan oleh prinsip liberalisasi perdagangan lainnya, yang telah diupayakan secara bersama oleh negara-negara di dunia dalam bentuk kerjasam regional maupun internasional. Pada masa kini arus globalisasi ekonomi itu harus diikuti megingat kecenderungan globalisasi ekonomi tersebut berkembang melalui perundingan dan perjanjian internasional. Implikasi globalisasi ekonomi itu terhadap hukum juga tidak dapat dihindarkan sebab globalisasi hukum mengikuti globalisasi ekonomi tersebut, dalam arti substansi undangundang dan perjanjian-perjanjian menyebar melewati batas-batas negara. Globalisasi itu dapat terjadi melalui perjanjian dan konvensi internasional, perjanjian privat, dan institusi ekonomi baru 2 Terkait lonjakan impor sepatu oleh China karena perdagangan bebas ini di pasar lokal, Djimanto menuturkan, Aprisindo memperkirakan akan terjadi peningkatan dua kali lipat pada Lonjakan impor semua jenis alas kaki akan terjadi pada tahun ini karena masih terkena dampak negatif perdagangan bebasn Asean-China (ACFTA). Ketua Umum Aprisindo Eddy Wijanarko pernah mengatakan, lonjakan impor terjadi karena penerapan ACFTA. Sebanyak 90% impor alas kaki yang masuk ke Indonesia berasal dari China. "Jenis sepatu impor yang banyak masuk Indonesia adalah sepatu plastik dan sepatu sekolah untuk segmen menengah ke bawah," kata dia. Eddy menyebutkan, minat masyarakat pada produk Cina terutama karena harganya yang relatif murah. Dia mencontohkan untuk sepatu sekolah dengan harga Rp75 ribu- Rp129 ribu per pasang harus bersaing dengan produk China yang harganya Rp35 ribu- Rp60 ribu per pasang. Sepatu plastik lokal dijual seharga Rp14 ribu-rp30 ribu, sedangkan sepatu plastik asal China hanya Rp7.000 per pasang. Selain penjualan di pasar domestik, Djimanto juga menyatakan, ekspor alas kaki nasional juga diperkirakan meningkat 30% pada tahun ini. Kinerja ekspor sepatu akan naik sekitar 30% melebihi US$ 2 miliar di 2011, jelas Djimanto Perkembangan produksi sepatu dalam negeri menghadapi perjanjian perdagangan bebas ACFTA 2 Sumber: 3 Sumber: (http://duniaindustri.com/umum/415 belanja sepatu di indonesia rp per kapita.html)

4 4 Dampak perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China masih terasa bagi industri alas kaki. Serbuan alas kaki impor sulit ditandingi oleh para produsen sepatu lokal. Di saat yang sama, kapasitas produksi terbatas lantaran penambahan pabrik baru minim. Untung, permintaan ekspor masih meningkat. Langkah industri alas kaki pada tahun depan, tampaknya, tidak akan jauh melampaui pencapaian tahun ini. Meski pasar ekspor bakal tumbuh signifikan, penjualan sepatu di dalam negeri justru terancam babak belur dihantam serbuan sepatu impor asal China. Eddy Widjanarko, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), memprediksi, tahun depan, bisnis industri alas kaki bakal lebih banyak ditopang oleh kinerja ekspor. "Sementara, penjualan sepatu di dalam negeri bakal stagnan," ujarnya. Eddy memperkirakan, tahun depan, ekspor sepatu bakal tumbuh 10% dibanding tahun ini. Artinya, nilai ekspor alas kaki ia prediksi akan meningkat dari US$ 2,1 miliar tahun ini menjadi US$ 2,4 miliar di Sebaliknya, penjualan alas kaki lokal di dalam negeri bakal melorot lantaran sulit menandingi serbuan sepatu asal China yang lebih murah. "Penurunan (di pasar domestik) bisa sampai 20%," imbuh Djimanto, Penasehat Aprisindo. Djimanto menghitung, sampai akhir 2010, nilai penjualan alas kaki di dalam negeri akan mencapai sekitar Rp 25 triliun. Sebanyak 60% di antaranya atau sekitar Rp 15 triliun disumbang sepatu lokal. "Sisanya sepatu impor yang sebagian besar dari China," tutur pemilik usaha sepatu merek Piero itu. Namun terkait dengan peluang ekspor tadi, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) dan perusahaan sepatu asal Amerika yang tergabung dalam Footwear Distributors and Retailer of America (FDRA) sepakat menjalin kerja sama untuk meningkatkan perdagangan sepatu antar-kedua negara.kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepamahaman (MoU) yang diteken belum lama ini. Eddy Widjanarko, Ketua Aprisindo, menilai kerja sama ini bakal menguntungkan kedua belah pihak. Sebab, Indonesia dan AS bisa saling meningkatkan eskpor sepatunya. Eddy mengatakan bahwa AS selama ini menjadi pangsa pasar utama ekspor sepatu Indonesia. Pada tahun 2010, kontribusi ekspor sepatu Indonesia ke Negeri Uwak Sam itu mencapai 22,6 persen dari total ekspor sepatu nasional yang sebesar 2,5 miliar dollar AS. "AS menjadi negara tujuan ekspor terbesar sepatu Indonesia," ujar Eddy di Jakarta, Selasa (21/6/2011). Dengan kerja sama ini, Eddy berharap kontribusi eskpor sepatu ke AS bisa mencapai 30 persen dari total ekspor sepatu Indonesia. Sebaliknya, perusahaan sepatu AS

5 5 juga memandang Indonesia sebagai mitra yang penting, baik sebagai pasar tujuan ekspor maupun sebagai pemasok sepatu (sourcing). Matt Priest, Presiden FDRA, mengatakan, sebagai pasar tujuan ekspor, pasar sepatu Indonesia terus tumbuh dalam dua tahun terakhir. Hal ini terlihat dari kinerja ekspor sepatu AS ke Indonesia yang terus meningkat. Pada tahun 2009, misalnya, ekspor sepatu AS ke Indonesia senilai 446 juta dollar AS. Setahun berselang, nilai itu naik menjadi 593 juta dollar AS. Hingga Juni 2011, ekspor sepatu ke Indonesia sudah sebesar 194 juta dollar AS, atau naik 32,1 persen dibanding Januari-Juni 2010 yang sebesar 147 juta dollar AS. Indonesia juga menjadi mitra penting yang menopang pasokan sepatu AS. Banyak perusahaan AS yang melakukan subkontrak pembuatan sepatu dengan pabrik lokal Indonesia. Dengan adanya kerja sama ini, para produsen sepatu asal AS bakal gencar menjalin kerja sama dengan pemasok lokal. "Kami akan mencari lebih banyak lagi pemasok Indonesia," ungkap Priest. Michael McBreen, Presiden Grup Operasional Global Wolverine World Wide HK Ltd bilang, perusahaannya sejauh ini sudah memiliki tiga pabrik joint venture dengan produsen lokal yang berada di Jakarta dan Surabaya. Ketiga pabrik itu berfungsi memasok sepatu Wolverine untuk kemudian dipasarkan ke negara-negara lain. Meski begitu, menurut McBreen, China saat ini masih menjadi pemasok utama sepatu perusahaannya. Negeri Tirai Bambu itu menyumbang 70 persen dari total kebutuhan sepatu Wolverine. Namun, ia berharap kontribusi Indonesia bisa meningkat. Itu sebabnya, selain bekerja sama dengan pemasok lokal, Wolverine juga terus menjajaki pembangunan pabrik baru di Indonesia. "Kami berharap pasokan sepatu dari Indonesia bisa meningkat menjadi 10 persen," kata McBreen. Sayangnya, McBreen belum bisa menginformasikan di mana pabrik itu bakal dibangun. Selain meningkatkan pasokan sepatu dari Indonesia, Wolverine juga akan terus meningkatkan penjualan sepatunya di Indonesia. McBreen mengatakan, penjualan produknya di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai informasi, Wolverine menawarkan produk yang khusus ditargetkan untuk konsumen atas karena harga sepatunya masuk kategori produk premium 4 4 RI ASSepakatDorongEksporSepatu,sumber:Kompas.com 22Juni2011

6 6 Namun penurunan sebesar 20% untuk pangsa lokal tahun depan akan tetap terjadi, artinya, penjualan sepatu merek lokal akan merosot dari Rp 15 triliun tahun ini menjadi Rp 12 triliun. Padahal, secara nasional, penjualan alas kaki di dalam negeri pada tahun 2011 diprediksi bakal tumbuh lebih dari 20%. Masih menurut Djimanto, yang menikmati pertumbuhan itu adalah sepatu impor, khususnya sepatu asal China berbahan plastik atau sepatu sekolah. Produk seperti ini lebih menyasar kelas menengah ke bawah. Eddy menambahkan, sepatu lokal sulit bersaing dengan sepatu asal China lantaran harganya lebih mahal. "Ini karena biaya ekonomi tinggi di Indonesia. Sedangkan sepatu China lebih murah karena kebijakan pemerintah China mendukung industri sepatu di sana," terang Djimanto. Kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) mau tidak mau membuat keran impor sepatu asal China semakin lebar. "Tapi, itu tidak menjadi masalah jika daya saing produsen sepatu lokal meningkat," katanya. Tak heran, dibandingkan mengurusi bisnis sepatu di dalam negeri, Aprisindo kini lebih memilih fokus pada peningkatan ekspor alas kaki. "Dengan nilai ekspor mencapai US$ 2 miliar lebih, pasokan sepatu dari Indonesia baru memenuhi 2% dari pangsa pasar sepatu di luar negeri," cetus Eddy. Padahal, permintaan ekspor sepatu buatan Indonesia sangat tinggi. Maklum, kualitas sepatu kelas menengah ke atas buatan produsen lokal sudah diakui dunia. "Ini terbukti, pesanan sepatu dari Nike dan Reebok terus naik," kata Eddy. Cuma, karena kapasitas produksi sepatu sudah mentok, produsen dalam negeri tidak bisa memenuhi semua permintaan ekspor. Kini, produksi sepatu nasional rata-rata sekitar 1,2 miliar pasang per tahun. Karena itu, kini, Aprisindo sedang berupaya keras menambah jumlah pabrik sepatu. Menurut Eddy, saat ini, jumlah pabrik sepatu di Indonesia tidak sampai 500. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan luas wilayah, jumlah penduduk Indonesia, serta tingginya permintaan sepatu, baik di dalam negeri maupun luar negeri. "Saat ini, pertumbuhan pabrik sepatu baru kurang dari 30 pabrik per tahun. Target kami, tiga tahun ke depan, pertumbuhan pabrik baru bisa mencapai 50 pabrik per tahun," ujarnya. Namun, tampaknya, target itu akan sulit tercapai selama pemerintah belum menyederhanakan proses birokrasi perizinan yang selama ini sering menjadi ganjalan. "Kalau dari sisi pengusaha, semua upaya sudah kami lakukan untuk mempromosikan bahwa bisnis sepatu di Indonesia menjanjikan," tandas Eddy. Selain masalah perizinan, tambah Djimanto, banyak investor yang masih ragu berinvestasi karena masalah tenaga kerja. Sebagian investor menilai, tenaga kerja di Indonesia cukup mahal.

7 7 Diperlukannya konsep besar industri lokal Ada banyak faktor yang membuat daya sepatu lokal melempem jika berhadapan dengan serbuan produk dari China. Salah satunya karena pemerintah Indonesia tidak memiliki konsep besar atau grand design yang jelas terhadap pengembangan industri sepatu lokal. "Yang sudah jalan dibiarkan berkembang begitu saja," tandas Eddy Widjanarko, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo). Seharusnya, dalam meningkatkan produksi sepatu, pemerintah membangun kawasan ekonomi khusus industri sepatu. "Pemerintah membebaskan tanah. Produsen sepatu atau investor tinggal membangun pabrik," tukas Eddy. Yang terjadi justru sebaliknya. Panjang dan berbelitnya prosedur birokrasi izin pembangunan pabrik baru membuat penambahan pabrik sepatu sangat lambat. Di sisi lain, sepatu China semakin deras membanjiri pasar dalam negeri. Dari sisi infrastruktur, belum ada perbaikan yang bisa mendukung kelancaran pasokan. "Untuk membawa sepatu dari pabrik ke pelabuhan butuh waktu tiga jam," keluh Eddy Fenomena kepopuleran kain tenun setelah batik Batik adalah kain khas asal Indonesia yang sudah lebih dulu populer hingga ke mancanegara. Namun Indonesia tidak hanya memliliki batik sebagai kain tradisional. Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia membuat banyak yang bisa dieksplorasi dan dipromosikan sebagai ciri citarasa nasional. Selain batik yang telah lebih dulu populer, tenun merupakan salah satu bukti kekayaan kain tradisional Indonesia yang juga tidak kalah menariknya. Warisan budaya yang bisa ditemui di hampir seluruh wilayah nusantara seperti Sumatra, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Lombok, Sumbawa dan lain sebagainya itu mempunyai makna, nilai sejarah serta teknik pembuatan tinggi dari segi pewarnaan, motif dan jenis bahan yang digunakan. Tenun yang tersebar di penjuru tanah air memiliki ciri khas yang masing-masing tentunya melambangkan jati diri bangsa. Mengingat begitu penting dan berharganya tenun bagi kekayaan budaya bangsa, sudah sepantasnyalah keasrian dan keberadaannya terus dijaga. Terkait dengan tren meningkatkanya permintaan akan kain tenun, selama periode 2010 hingga 2011 melalui perhelatan mode akbar Indonesia, Jakarta Fashion Week and Jakarta Fashion and Food Festival yang berlangsung di Jakarta. Semakin banyak desainer yang mengangkat kain tenun menjadi sebuah barang modern. Dan karena semakin meningkatnya antusiasme kepopuleran kain tenun ini untuk dijadikan sebagai material yang pantas untuk dipromosikan, sekumpulan wanita pecinta, dan pakar akan kain tenun pun mendirikan sebuah organisasi akan kain tenun yang dinamai Cita Tenun Indonesia.

8 8 Organisasi ini didirikan ntuk merancang perubahan dan pembinaan untuk meningkatkan harkat hidup dan kesejahteraan masyarakat perajin tenun Indonesia. Dengan visinya, Mewujudkan kekayaan tenun Indonesia menjadi beranda depan kreativitas bangsa Indonesia yang sejahtera dan diakui di dunia Internasional. dan misinya, Melaksanakan pelestarian, pembinaan, pengembangan, pemasaran tenun Indonesia melalui kerjasama pihak pakar, perajin, industri dan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia sebagai Sentra Tenun Dunia. Oscar Lawalata dalam perhelatan mode akbar Indonesia, Jakarta Fashion Week 2010/2011 lalu mengangkat tenun NTT, garut dan jawa tengah sebagai material utama untuk koleksinya. Koleksi ini dipersiapkan untuk tren busana tahun Gambar 1.1 Koleksi Weaving the Future yang mengangkat tenun NTT oleh Oscar Lawalata dan Laura Miles saat Jakarta Fashion Week 2010/2011. Koleksi ini disiapkan untuk tren busana tahun 2011.(Sumber:DokPribadi) Gambar 1.2 Cita Tenun Indonesia (kiri): karya Sebastian Gunawan untuk label Bubble Girl (kanan) karya Era Soekamto

9 9 Gambar 1.3 Cita Tenun Indonesia (kiri): karya Chossy Latu dengan gaya ala 30an, (kanan) karya Denny Wirawan Gambar 1.4 Cita Tenun Indonesia: (kiri) karya Priyo Oktaviano (kanan) karya Luwi Saluadji Gambar 1.5 Cita Tenun Indonesia (kiri): karya Oscar Lawalata (kanan) Oka Diputra Masih di acara yang sama, Jakarta Fashion Week 2010/2011, Cita Tenun Indonesia berkolaborasi dengan beberapa desainer pun memamerkan koleksi hasil tenun pengrajin yang mereka bina.

10 10 Sementara pada acara Jakarta Fashion and Food Festival yang digelar pada May 2011 lalu, tren akan tenun ikat semakin bertambah banyak menjadi material yang diangkat untuk menjadi sebuah koleksi. Gambar 1.6 Kumpulan busana dari tenun pada acar Jakarta Fashion & Food Festival 2011: (kiri atas) Adrian Gan (kiri bawah) Carmanita (kanan atas) Ari Seputra (kanan bawah) Defrico Audy Pada Jakarta Fashion Week 2011 pun, banyak pengolahan kain tenun sebagai material koleksi. Oscar Lawalata lagi lagi mengangkat kain tenun sebagai material koleksinya. Diikuti juga oleh Sofie dalam show APPMI dan Obin dalam Bin House Catwalk moment show.

11 11 Gambar 1.7 Kumpulan busana dari tenun pada acar Jakarta Fashion Week 2011: Oscar Lawalata (kiri), Sofie (kanan atas) dan Obin untuk Bin House (kanan bawah) Oleh karena tenun yang semakin populer, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu berjanji segera mendaftarkan tenun songket Palembang sebagai warisan budaya layaknya batik ke badan PBB UNESCO. Ini sebenarnya tugas kita bersama karena seandainya setelah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia seperti batik, maka tugas kita tidak berhenti sampai di situ saja, kata Mari. Dia mengatakan, tenun songket harus dilestarikan dalam berbagai cara sekaligus menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari alias living culture dan living tradition. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel melalui Dinas Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mendukung penuh keinginan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia dalam upaya mendaftarkan tenun songket ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Songket merupakan kain yang memiliki nilai sejarah tinggi dan sebagai warisan budaya turun temurun. Langkah itu sudah sangat tepat dalam upaya melindungi produk lokal Sumsel, kata Kepala Disperindag Sumsel Eppy Mirza. Menurut Eppy, untuk mendaftarkan songket tersebut diupayakan dapat melengkapi semua persyaratan yang harus ditetapkan pihak UNESCO.Sama seperti tahun lalu, dimana

12 12 Disperindag Sumsel berupaya mematenkan puluhan jenis songket ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Departemen Hukum dan HAM RI Permintaan akan kain tenun saat ini Permintaan akan tenun ikat juga semakin tinggi di daerah - daerah penghasil tenun di Indonesia. Apalagi ketika menjelang lebaran tahun 1431 Hijriyah ini. Pengrajin sarung tenun ikat khas Kota Kediri kebanjiran permintaan. Permintaan yang datang dari berbagai kota di Indonesia ini meningkat hingga 40 persen. Dimana untuk memenuhi pesanan, perajin harus menambah tenaga kerja. Datangnya bulan ramadhan dan lebaran tahun ini menjadi berkah sebagain perajin sarung tradisional tenun ikat khas Kota Kediri. Pasalnya sejak dua bulan menjelang datangnya lebaran, para perajin kebanjiran permintaan. Salah satunya perajin di pusat Gambar 1.8 Tenun khas Kediri kerajinan tenun ikat seperti Siti Ruqayah, perajin asal Kelurahan Sumber: Tenunku.com Bandar Kidul, Kota Kediri. Menurut Siti, sejak bulan Juli lalu permintaan sarung tradisional tenun ikat meningkat dibanding bulanbulan sebelumnya. Jika sebelumnya setiap bulan permintaan sarung hanya 450 potong, namun saat ini permintaan naik mencapai 625 potong lebih. Karena banyaknya permintaan, perajin harus menambah jumlah karyawanya, yang semula hanya 10 orang menjadi 15 orang. Selain permintaan kain untuk bahan sarung, perajin juga memproduksi kain untuk bahan pakaian. Untuk satu potong kain sarung, dijual seharga 125 ribu rupiah, sedang kain katun untuk pakaian dijual seharga 42 ribu rupiah per meternya. Sementara kain semi sutra dujial 72 ribu rupiah per meter dan kain sutra seharga 100 ribu per meter. Proses pembuatan kain tenun diawali dengan pemintalan bahan baku bola, kemudian dilanjutkan dengan proses membuat motif dan pengikatan sesuai motif. Selanjutnya proses pewarnaan dan pengeringan. Setelah bola kering, siap dilakukan proses tenun. Selain Kota Kediri, kain tenun ikat yang ditekuni perajin turun temurun sejak jaman jpenjajahan Jepang ini banyak digemari pembeli dari kota Malang, Nganjuk, Sura- 5 (http://www.seputar indonesia.com/edisicetak/content/view/443504/)

13 13 baya, Blitar, Ponorogo, Bandung, Jakarta, Palembang bahkan dari Singapura dan Malaysia. Di lombok, dengan digelarnya pawai kebudayaan rimpu (Pakaian Adat Dompu) saat pelaksanaan Festival Lakey, membawa berkah tersendiri bagi para Gambar 1.9 Tenun khas Rimpu yang dijadikan sebagai pengganti jilbab oleh masyarakat Bima pengerajin tentun kain tenun rimpu. Sumber: chuppy.blog.com Permintaan kain rimpu terus mengalami peningkatan, karena masyarakat mulai tertarik untuk kembali menggunakan rimpu. Belakangan ini, rimpu memang sudah mulai ditinggalkan masyarakat Dompu, khususnya para gadis. Rimpu ada dua jenis, yakni rimpu mpida (hanya kelihatan mata) bagi para gadis dan rimpu colo (kelihatan seluruh muka) bagi perempuan yang sudah menikah. Permintaan terus meningkat saat akan digelarnya pawai rimpu, sehingga kami kewalahan. Sekitar potong per hari. Kain rimpu yang banyak dipesan, yakni kain sarung nggoli dengan ukuran 4 meter kali 70 centimeter dengan harga Rp 120 ribu per potong. Proses penenunan memakan waktu sekitar 3 hari, ungkap pengelola Sentra Tenun Gedogan Traditional Flamboyan, Desa Ranggo Kecamatan Pajo, Dompu, Hj. Hajrah, kepada wartawan, Sabtu (16/7). Hajrah menuturkan, setra tenun ini merupakan binaan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Dompu yang beranggotakan 30 orang penenun. Para penenun bekerja di rumahnya masing-masing dan di sentra hanya terdapat 3 orang penenun. Apabila hasil tentun dari para penenun sudah jadi, maka kainnya dibawa ke sentra untuk dipasarkan. Kain hasil tentun juga di pasarkan melalui Showrom Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Dompu. Motif kain tenun rimpu lanjut Hajrah sangat beragam, seperti Bintang, Cori Waji (Kue Traditional Dompu), Samado (Daun di Sawah), Domokakando (Daun Rebung Bambu), Rumah Panggung Adat Dompu, Bunga Pa a Dompu dan lainnya. Jenis kain juga bermacam-macam, seperti Songket Nggoli yang dikerjakan selama 1 minggu dengan

14 14 harga Rp 160 ribu per potong. Kain yang paling mahal, yaknni Sutra yang dikerjakan 1 bulan lebih dengan harga Rp 400 ribu Rp 800 ribu per potong, tergantung motivnya Keistimewaan Tenun Nusa Tenggara Timur Keahlian menenun masyarakat NTT diperkirakan telah berlangsung pada tahun 700SM, sejak migrasi dari Gambar 1.10 Motif Tenun Ikat Daerah Sumba yang mengandung Dongson, Vietnam. Yang motif Biawak ditenun menggunakan alat gedongan (alat tenun yang terbuat dari bambu dan kayu) termasuk pewarnaan yang diolah dari pewarna alam. Seperti lumpur, bunga, buah. DIantaranya adalah phon Tarum (indigo tinctoria) untuk pewarna biru. Warna merah dari kulit pohon mengkudu (morinda Citrofolia) dan kunyit untuk warna kuning. Kemahiran menenun masyarakat Nusa Tenggara Timur merupakan spirit keluhuran terhadap alam sekitar. Saling silang yang dipengaruhi oleh pertukaran budaya yang dibawa oleh pedagang Sriwijaya, Sulawesi, bangsa China, India, Portugis hingga Belanda. Menurut desainer fashion Stephanus Hamy, Selembar tenun NTT bisa bercerita banyak hal. Tenunan NTT itu menampilkan sesuatu yang natural, diantaranya tidak menggunakan komponen emas di dalam tenunan itu sendiri. Inilah yang disukai masyarakat modern saat ini. Sebab, di mana-mana orang ingin memerangi pengaruh global warming. Selain itu, ada yang unik, dari delapan daerah yang pernah saya sambangi memiliki motif berbeda. Hal ini, disebabkan karena tak ada satupun teknik yang sama. Mereka juga tidak pernah mencatatkan atau mewariskan teknik menenun kepada turunannya. Setiap orang, bisa memiliki teknik berbeda. Karena itu, tak ada kain tenun NTT yang sama persis satu sama lain. Menariknya lagi, setiap karya tenun memiliki ciri khas yang sangat personal. Meski dibuat oleh orang yang sama, hasilnya berbeda bila mood-nya berbeda saat menenun. Jadi bisa dibilang, tak ada tenun NTT yang sama persis satu sama lain. Ini yang membuat saya tak henti-hentinya terpukau tenun NTT. Hal ini terjadi karena hampir sebagian besar motif pada kain tenun NTT menyimpan filosofi yang diambil dari keper- 6 Sumber: (DompuGlobalFM Lombok)

15 15 cayaan masyarakatnya. Contohnya, motif biawak/ tokek yang kerap menghiasi tenun ikat asal NTT. Biawak dipercaya sebagai hewan yang sakral, dan ketika dituangkan dalam kain sebagai motif, hal ini membuat kain terasa sakral dan terasa eksotik. Kain tenun Nusa Tenggara Timur ini diproduksi oleh hampir semua desa yang ada di sana dengan menggunakan bahan-bahan alami. Proses pewarnaan misalnya,untuk mendapatkan warna hijau, bahannya diambil dari daun suji atau dedaunan hijau lainnya,untuk warna merah diambil dari semacam buah mengkudu. Tidak ketinggalan,benangnya dipilih benang kapas sehingga ciri khas kain ini terletak pada ketebalannya. Oleh karena ketebalan kainnya itulah yang memungkinkan tenun Nusa Tenggara Timur dijadikan sebagai material sepatu. Namun di ranah tradisi dan adat istiadat, tidak sembarang motif dan warna dapat digunakan, semuanya memiliki makna dan strata sosial. Khususnya untuk masyarakat Sumba, kain merupakan media ekspresi untuk memuja leluhur sebagai perwujudan terhadap kekuatan alam, bahkan diyakini pada motif dan hewan tertentu dapat mengusir bala. Maka dapat dipastikan bahwa setiap motif kain memiliki makna simbol yang dipelajari atas dasar kearifan alam, sehingga ragam corak senantiasa menelusuri bentuk-bentuk flora dan fauna yang memiliki nilai sakral Profil Kemiskinan Masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur Kupang (ANTARA News) - Nusa Tenggara Timur termasuk 10 dari 33 provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statik (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT) Sumarwanto, di Kupang, Kamis, mengatakan, dari 10 provinsi itu, NTT berada di urutan ke-5 berdasarkan tingkat perolehan persentase kemiskinan tertinggi. Ia menyebut ke-10 provinsi yang dimaksud berdasarkan hasil survei tersebut berturutturut adalah Provinsi Papua Barat 36,80 persen, Papua 34,88 persen, Maluku 27,74 persen, Sulawesi Barat 23,19 persen, NTT 23,03 persen. Kemudian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) 21,55 persen, Aceh 20,98 persen, Bangka Belitung 18,94 persen, Gorontalo 7 Sumber: 1.http://www.floresnews.com/fn1/index.php?option=com_content&view=article&id=2682:stephanushamy tenun ntt memancarkan sesuatu yang natural&catid=140:wawancara&itemid=421 2.(http://www.visualartsmagazine.info/index.php/en/national/189 kain tenun ntt spirit keluhuran darimasa neolitikum )

16 16 18,70 persen, dan Sumatera Selatan 18,30 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan provinsi-provinsi ini masih menghadapi persoalan kemiskinan yang tinggi. Bahkan, kata dia, angka kemiskinan yang tertinggi itu justru terjadi di wilayah dengan kekayaan sumber alam melimpah, seperti Papua dan Papua Barat, dimana prosentase angka kemiskinannya mencapai persen atau jauh lebih besar dibandingkan rata-rata Gambar 1.11 Data persentase Penduduk miskin tiap provinsi di Indonesia tahun ) nasional sebesar 13,33 persen. Selain Papua, provinsi lain yang memiliki prosentase penduduk miskin tinggi adalah Maluku, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Aceh, Bangka Belitung. Menurut Sumarwanto, penduduk miskin Provinsi NTT pada Maret 2010 mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Maret 2009 dari sebesar 1013,2 ribu

17 17 menjadi 1014,1 ribu pada Maret Ia mengatakan pada periode jumlah penduduk miskin cenderung menurun dari 1273,9 ribu (29,34 persen) pada tahun 2006, menjadi 1163,6 ribu (27,51 persen) tahun 2007, 1098,3 ribu (25,65 persen) tahun 2008, 1013,2 ribu (23,31 persen) tahun 2009 dan menjadi 1014,1 ribu (23,03 persen) pada tahun Dia mengatakan peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin Provinsi NTT selama Februari 2009-Maret 2010 terjadi karena harga barang-barang kebutuhan pokok selama periode tersebut naik tinggi, yang digambarkan oleh inflasi umum sebesar 8,70 persen. Akibatnya kata Sarjana Demografi jebolan Jerman ini, penduduk yang tergolong tidak miskin namun penghasilannya berada disekitar garis kemiskinan banyak yang bergeser posisinya menjadi miskin. Ia menyebut jumlah penduduk miskin di NTT pada bulan Maret 2010 sebesar 1,014 juta orang (23,03 persen) dan jika ibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 sebesar 1,103 juta orang (23,31 persen), berarti jumlah penduduk miskin pada tahun 2010 naik sebesar 0,95 ribu. "Meskipun demikian persentase penduduk miskin pada Maret 2010 masih lebih rendah dibandingkan keadaan Maret 2009," katanya. Pada periode Maret 2009-Maret 2010, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan adanya perubahan. Indeks Kedalaman Kemiskinan pada keadaan Maret ,14 menjadi 4,74 pada keadaaan Maret Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan naik dari 1,14 menjadi 1,43 pada periode yang sama Menurut dia, besar-kecilnya atau tinggi-rendahnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan. Untuk wilayah NTT, selama Maret 2009-Maret 2010, garis kemiskinan naik sebesar 12,24 persen, yaitu dari Rp 156,191,- per kapita per bulan pada Maret 2009 menjadi Rp 175,308,- per kapita per bulan pada Maret Persentase kenaikan garis kemiskinan lebih tinggi terjadi di daerah pedesaan dibanding daerah perkotaan, yaitu masing-masing 12,82 persen dan 10,52 persen pada periode yang sama. "Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM)," katanya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia terdiri dari beberapa pulau yang memiliki keanekaragaman dan warisan budaya yang bernilai tinggi yang mencerminkan budaya bangsa. Salah satu warisan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 101 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini akan disimpulkan hasil penellitian yang telah dilakukan dalam penulisan skripsi yang berjudul Tenun Songket Palembang 1980-2000 (Kajian Sosial Budaya Tentang

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERDAGANGAN PADA ACARA PENCANANGAN HARI SEPATU INDONESIA JAKARTA, 9 MARET 2011

SAMBUTAN MENTERI PERDAGANGAN PADA ACARA PENCANANGAN HARI SEPATU INDONESIA JAKARTA, 9 MARET 2011 SAMBUTAN MENTERI PERDAGANGAN PADA ACARA PENCANANGAN HARI SEPATU INDONESIA JAKARTA, 9 MARET 2011 Yth. Para Wakil Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Yang kami Hormati dan Cintai, Perwakilan Solidaritas Isteri

Lebih terperinci

BAB I BUSINESS ENVIRONMENT ANALYSIS

BAB I BUSINESS ENVIRONMENT ANALYSIS BAB I BUSINESS ENVIRONMENT ANALYSIS 1.1 Latar Belakang Di era modern sekarang ini, berbelanja barang-barang fashion untuk menunjang penampilan menjadi kebutuhan rutin setiap orang baik pria maupun wanita.

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PADA PEMBUKAAN GELAR BATIK NUSANTARA 2015 JAKARTA CONVENTION CENTER JUNI 2015

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PADA PEMBUKAAN GELAR BATIK NUSANTARA 2015 JAKARTA CONVENTION CENTER JUNI 2015 SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA PADA PEMBUKAAN GELAR BATIK NUSANTARA 2015 JAKARTA CONVENTION CENTER 24 28 JUNI 2015 Yth. Presiden Republik Indonesia beserta istri; Yth. Para Menteri Kabinet

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi mencakup seluruh kehidupan manusia di dunia, terutama dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya. Budaya bangsa asing perlahan-lahan menghilangkan budaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2007) ekonomi gelombang ke-4 adalah

BAB I PENDAHULUAN. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2007) ekonomi gelombang ke-4 adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekonomi kreatif merupakan pengembangan konsep berdasarkan modal kreatifitas yang dapat berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Menurut Presiden Susilo Bambang

Lebih terperinci

Peluang Bisnis Batik

Peluang Bisnis Batik KARYA ILMIAH Peluang Bisnis Batik Oleh M.Firdaus Pradana NIM : 11.12.5658 Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer STMIK AMIKOM Yogyakarta 2012 Daftar Isi Cover Daftar Isi... i Kata Pengantar...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Jumlah Unit Usaha Kota Bandung Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Jumlah Unit Usaha Kota Bandung Tahun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Potensi UMKM Kota Bandung Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di kota Bandung yang semakin berkembang ternyata membuat jumlah unit usaha tetap

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata saat ini telah menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dunia terutama dalam penerimaan devisa negara melalui konsumsi yang dilakukan turis asing terhadap

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor industri sepatu di era globalisasi seperti sekarang ini berada dalam persaingan yang semakin ketat. Terlebih lagi sejak tahun 2010 implementasi zona perdagangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. anggota badan serta penutup untuk tangan, kaki, dan kepala. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. anggota badan serta penutup untuk tangan, kaki, dan kepala. Dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pakaian adalah kebutuhan pokok manusia selain makanan dan tempat berteduh/tempat tinggal (rumah). Umat manusia universal memakai pakaian pada tubuh untuk melindunginya

Lebih terperinci

Ragam Hias Tenun Ikat Nusantara

Ragam Hias Tenun Ikat Nusantara RAGAM HIAS TENUN IKAT NUSANTARA 125 Ragam Hias Tenun Ikat Nusantara A. RINGKASAN Pada bab ini kita akan mempelajari sejarah teknik tenun ikat pada saat mulai dikenal masyarakat Nusantara. Selain itu, akan

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang Kota Pekalongan, Jawa Tengah, sudah sejak lama terkenal dengan

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang Kota Pekalongan, Jawa Tengah, sudah sejak lama terkenal dengan 1 BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Kota Pekalongan, Jawa Tengah, sudah sejak lama terkenal dengan kerajinan batiknya. Kerajinan batik telah secara turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi,

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERDAGANGAN PADA ACARA HARI BATIK NASIONAL PEKALONGAN, 3 OKTOBER 2011

SAMBUTAN MENTERI PERDAGANGAN PADA ACARA HARI BATIK NASIONAL PEKALONGAN, 3 OKTOBER 2011 SAMBUTAN MENTERI PERDAGANGAN PADA ACARA HARI BATIK NASIONAL PEKALONGAN, 3 OKTOBER 2011 Yang terhormat Ibu Ani Yudhoyono; Yang terhormat Ibu Herawati Budiono; Yang terhormat Ibu-Ibu dari Solidaritas Istri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk menganalisis pembangunan ekonomi yang terjadi disuatu Negara yang diukur dari perbedaan PDB tahun

Lebih terperinci

ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara

ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara ASEAN didirikan di Bangkok 8 Agustus 1967 oleh Indonesia, Malaysia,

Lebih terperinci

1. Yulianty Widjaja (Direktur DAVINCI); dan 2. Para Hadirin Sekalian Yang Berbahagia.

1. Yulianty Widjaja (Direktur DAVINCI); dan 2. Para Hadirin Sekalian Yang Berbahagia. Menteri Perindustrian Republik Indonesia SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA PEMBUKAAN PAMERAN 22 TAHUN DAVINCI DI INDONESIA JAKARTA, 14 OKTOBER 2015 Yang Saya Hormati: 1. Yulianty Widjaja (Direktur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau dengan beragam suku dan budaya di tiap-tiap daerah. Dari tiap-tiap daerah di Indonesia mewariskan berbagai

Lebih terperinci

VHANY AGUSTINI WITARSA, 2015 EKSPLORASI APLIKASI ALAS KAKI YANG TERINSPIRASI DARI KELOM GEULIS

VHANY AGUSTINI WITARSA, 2015 EKSPLORASI APLIKASI ALAS KAKI YANG TERINSPIRASI DARI KELOM GEULIS BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Alas kaki atau lebih dikenal dengan sebutan sepatu/sandal adalah bagian yang penting dalam kehidupan sehari-hari untuk menunjang segala kegiatan, bukan hanya menjadi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Era globalisasi menuntut adanya keterbukaan ekonomi yang semakin luas dari setiap negara di dunia, baik keterbukaan dalam perdagangan luar negeri (trade openness) maupun

Lebih terperinci

BAB I. 1.1 Latar Belakang Permasalahan

BAB I. 1.1 Latar Belakang Permasalahan BAB I 1.1 Latar Belakang Permasalahan Sepatu adalah suatu jenis alas kaki (footwear) yang biasanya terdiri bagianbagian sol, hak, kap, tali, dan lidah yang fungsinya sebagai alas kaki. Pengelompokkan sepatu

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Pembukaan Pekan Raya Jakarta ke-43, 10 Juni 2010 Kamis, 10 Juni 2010

Sambutan Presiden RI pada Pembukaan Pekan Raya Jakarta ke-43, 10 Juni 2010 Kamis, 10 Juni 2010 Sambutan Presiden RI pada Pembukaan Pekan Raya Jakarta ke-43, 10 Juni 2010 Kamis, 10 Juni 2010 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA PEMBUKAAN PEKAN RAYA JAKARTA KE-43 DI ARENA PRJ-KEMAYORAN, JAKARTA

Lebih terperinci

Bab 2 DATA DAN ANALISIS. Data dan sumber informasi yang digunakan untuk mendukung proyek tugas akhir ini

Bab 2 DATA DAN ANALISIS. Data dan sumber informasi yang digunakan untuk mendukung proyek tugas akhir ini Bab 2 DATA DAN ANALISIS 2.1 Sumber Data Data dan sumber informasi yang digunakan untuk mendukung proyek tugas akhir ini diperoleh dari beberapa sumber, antara lain: 1. Wawancara dengan pihak terkait :

Lebih terperinci

Melestarikan Budaya Dengan Membuka Usaha Galeri Batik

Melestarikan Budaya Dengan Membuka Usaha Galeri Batik Melestarikan Budaya Dengan Membuka Usaha Galeri Batik Seni batik merupakan salah satu kebudayaan lokal yang telah mengakar di seluruh kalangan masyarakat Indonesia. Bila awalnya kerajinan batik hanya berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hal luasnya, hutan tropis Indonesia menempati urutan ke-3 setelah Brazil dan

BAB I PENDAHULUAN. hal luasnya, hutan tropis Indonesia menempati urutan ke-3 setelah Brazil dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagian dari hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia. Dalam hal luasnya, hutan tropis Indonesia menempati urutan ke-3 setelah Brazil dan Republik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Sentra industri yaitu pusat kegiatan dari kelompok industri pada suatu lokasi/tempat tertentu yang dimana terdiri dari berbagai usaha yang sejenis.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring berkembangnya zaman dari waktu ke waktu, yang diiringi dengan perkembangan ilmu dan tekhnologi, telah membawa manusia kearah modernisasi dan globalisasi.

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA PERESMIAN ACARA PESONA BATIK PESISIR UTARA JAWA BARAT. Di Hotel Sari Pan Pasific. Tanggal, 19 Mei 2016.

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA PERESMIAN ACARA PESONA BATIK PESISIR UTARA JAWA BARAT. Di Hotel Sari Pan Pasific. Tanggal, 19 Mei 2016. SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA PERESMIAN ACARA PESONA BATIK PESISIR UTARA JAWA BARAT Di Hotel Sari Pan Pasific. Tanggal, 19 Mei 2016. Yth. Pimpinan dan Pengurus Yayasan Batik Indonesia; Yth. Pimpinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam rangka pengembangan ekonomi daerah yang bertujuan. meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka pengembangan ekonomi lokal

BAB I PENDAHULUAN. Dalam rangka pengembangan ekonomi daerah yang bertujuan. meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka pengembangan ekonomi lokal BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam rangka pengembangan ekonomi daerah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka pengembangan ekonomi lokal sesuai potensinya menjadi sangat penting.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Hak kekayaan intelektual merupakan suatu hak milik hasil pemikiran yang bersifat

I. PENDAHULUAN. Hak kekayaan intelektual merupakan suatu hak milik hasil pemikiran yang bersifat I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hak kekayaan intelektual merupakan suatu hak milik hasil pemikiran yang bersifat tetap dan eksklusif serta melekat pada pemiliknya. Hak kekayaan intelektual timbul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelian dan cenderung mudah berpindah saluran dan retailer yang berbeda

BAB I PENDAHULUAN. pembelian dan cenderung mudah berpindah saluran dan retailer yang berbeda BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri ritel dihadapkan dengan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gejolak ekonomi dan kemajuan teknologi tergabung membentuk kembali lanskap

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebudayaan Indonesia tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh wilayahnya. Setiap daerah di Indonesia memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda-beda.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan mode pakaian pada era modern ini sudah menjadi sebuah

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan mode pakaian pada era modern ini sudah menjadi sebuah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan mode pakaian pada era modern ini sudah menjadi sebuah kebutuhan manusia untuk membeli pakaian sesuai tren yang ada. Bahkan mengikuti tren mode

Lebih terperinci

BAB 3 KONDISI PERDAGANGAN LUAR-NEGERI INDONESIA DENGAN KAWASAN ASEAN

BAB 3 KONDISI PERDAGANGAN LUAR-NEGERI INDONESIA DENGAN KAWASAN ASEAN BAB 3 KONDISI PERDAGANGAN LUAR-NEGERI INDONESIA DENGAN KAWASAN ASEAN Disepakatinya suatu kesepakatan liberalisasi perdagangan, sesungguhnya bukan hanya bertujuan untuk mempermudah kegiatan perdagangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tradisional yang berasal dari daerah Kalimantan Barat yang berbentuk selendang.

BAB I PENDAHULUAN. tradisional yang berasal dari daerah Kalimantan Barat yang berbentuk selendang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu warisan budaya Indonesia yang berasal dari daerah Kalimantan Barat adalah tenun ikat Dayak. Tenun ikat Dayak merupakan salah satu kerajinan tradisional yang

Lebih terperinci

Penggunaan Teknologi Informasi dalam Menyiasati Peluang Bisnis Batik

Penggunaan Teknologi Informasi dalam Menyiasati Peluang Bisnis Batik Karya Ilmiah Penggunaan Teknologi Informasi dalam Menyiasati Peluang Bisnis Batik Disusun sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah Lingkungan Bisnis Oleh SUTONO NIM : 10.12.4644 Sekolah Tinggi Manajemen Informatika

Lebih terperinci

Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia

Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia Tahun 2001, pada pertemuan antara China dan ASEAN di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam, Cina menawarkan sebuah proposal ASEAN-China

Lebih terperinci

Sambutan Gubernur Bank Indonesia Karya Kreatif Indonesia Pameran Kerajinan UMKM Binaan Bank Indonesia Jakarta, 26 Agustus 2016

Sambutan Gubernur Bank Indonesia Karya Kreatif Indonesia Pameran Kerajinan UMKM Binaan Bank Indonesia Jakarta, 26 Agustus 2016 Sambutan Gubernur Bank Indonesia Karya Kreatif Indonesia Pameran Kerajinan UMKM Binaan Bank Indonesia Jakarta, 26 Agustus 2016 Yang Terhormat, Ibu Mufidah Jusuf Kalla Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA PEMBUKAAN INTERNATIONAL FURNITURE & CRAFT FAIR INDONESIA (IFFINA

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA PEMBUKAAN INTERNATIONAL FURNITURE & CRAFT FAIR INDONESIA (IFFINA SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA PEMBUKAAN INTERNATIONAL FURNITURE & CRAFT FAIR INDONESIA (IFFINA 2016) Jakarta, 10 Maret 2016 Yang terhormat Sdr. Menteri Perdagangan; Sdr. Menteri Lingkungan

Lebih terperinci

BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA 81 BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN bersama dengan Cina, Jepang dan Rep. Korea telah sepakat akan membentuk suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Teknik ikat celup sudah mendunia di berbagai Negara, Contohnya di Negara India mempunyai teknik Bandhni, Jepang dengan Shibori, dan Thailand dengan Mudmeenya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. setiap negara agar tetap dapat unggul. Menurut Nurimansyah (2011), daya saing

BAB I PENDAHULUAN. setiap negara agar tetap dapat unggul. Menurut Nurimansyah (2011), daya saing BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tingkat persaingan dalam perdagangan internasional yang ketat mangharuskan setiap negara untuk menyiapkan industrinya agar dapat bersaing. Daya saing yang tinggi dalam

Lebih terperinci

ANALISIS STRATEGI PEMASARAN KAIN ENDEK BALI SEBAGAI INDUSTRI PARIWISATA KREATIF (STUDI KASUS DENPASAR)

ANALISIS STRATEGI PEMASARAN KAIN ENDEK BALI SEBAGAI INDUSTRI PARIWISATA KREATIF (STUDI KASUS DENPASAR) ANALISIS STRATEGI PEMASARAN KAIN ENDEK BALI SEBAGAI INDUSTRI PARIWISATA KREATIF (STUDI KASUS DENPASAR) Deannisa Hakika Putri I Wayan Suardana I GPB Sasrawan Mananda Email : deannisa@gmail.com PS. S1 Industri

Lebih terperinci

Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia kaya ragam budaya, adat istiadat, suku bangsa, bahasa, agama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari serangga atau hewan-hewan tertentu. Rumput, bambu, kupasan kulit dan otot-otot

BAB I PENDAHULUAN. dari serangga atau hewan-hewan tertentu. Rumput, bambu, kupasan kulit dan otot-otot BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia memiliki berbagai macam kebutuhan yang terdiri dari kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Kebutuhan pangan berupa makanan, sandang berupa pakaian, dan kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia yang terdiri dari pulau- pulau yang membentang luas memiliki ragam suku bangsa beserta adat istiadat yang terbentuk akibat percampuran ras dan kebudayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi

BAB I PENDAHULUAN. pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan dunia yang bersifat mendasar atau struktural dan akan berlangsung terus dalam Iaju yang semakin pesat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Pengadaan Proyek

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Pengadaan Proyek BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pengadaan Proyek Pelestarian budaya bukan hanya yang berhubungan dengan masa lalu, namun justru membangun masa depan yang menyinambungkan berbagai potensi masa lalu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana dan terus-menerus

BAB I PENDAHULUAN. lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana dan terus-menerus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan Nasional merupakan suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana dan terus-menerus dengan memanfaatkan kemajuan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan pengembangan Ekonomi Kreatif, dengan ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi jalan dan bertahannya perusahaan. Persaingan yang semakin pesat

BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi jalan dan bertahannya perusahaan. Persaingan yang semakin pesat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam organisasi, lingkungan merupakan faktor utama yang mempengaruhi jalan dan bertahannya perusahaan. Persaingan yang semakin pesat karena majunya teknologi dan globalisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu penyumbang terbesar perekonomian Indonesia. UMKM di negara berkembang seperti di Indonesia, sering dikaitkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kekayaan alam dan keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadikan bumi pertiwi terkenal di mata internasional. Tidak terlepas oleh pakaian adat dan

Lebih terperinci

Desain Sepatu Wanita Bermaterial Tenun NTT Dengan Konsep Modern & Edgy untuk Masyarakat Urban

Desain Sepatu Wanita Bermaterial Tenun NTT Dengan Konsep Modern & Edgy untuk Masyarakat Urban JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-5 1 Desain Sepatu Wanita Bermaterial Tenun NTT Dengan Konsep Modern & Edgy untuk Masyarakat Urban Anantama Rizky Putra, dan Ir. Baroto Tavip Indrojarwo, Msi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Pada bab sebelumnya telah diuraikan gambaran umum Kabupaten Kebumen sebagai hasil pembangunan jangka menengah 5 (lima) tahun periode yang lalu. Dari kondisi yang telah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sulawesi dan Papua serta ribuan pulau-pulau kecil lainnya (archipelagic

I. PENDAHULUAN. Sulawesi dan Papua serta ribuan pulau-pulau kecil lainnya (archipelagic I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara kesatuan yang memiliki wilayah daratan yang dipisahkan oleh lautan dan merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri atas lima

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat serta pengaruh perekonomian global. pemerintah yaitu Indonesia Desain Power yang bertujuan menggali

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat serta pengaruh perekonomian global. pemerintah yaitu Indonesia Desain Power yang bertujuan menggali BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap tahun perekonomian di Indonesia mengalami perkembangan, hal ini seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, pendapatan masyarakat serta pengaruh perekonomian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tenun ikat atau kain ikat adalah kriya tenun Indonesia berupa kain yang ditenun dari helaian benang pakan atau benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. moneter yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 yang memberikan dampak sangat

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. moneter yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 yang memberikan dampak sangat 15 BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Perekonomian Indonesia mengalami kegoncangan sejak adanya krisis moneter yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 yang memberikan dampak sangat luas dan mempengaruhi

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh, Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi kita semua.

Assalamu alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh, Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi kita semua. SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA PEMBUKAAN SRIWIJAYA EXHIBITION III TANGGAL, 6-9 OKTOBER 2015 Yth. Gubernur Provinsi Sumatera Selatan Yth. Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Selatan beserta jajarannya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Batik merupakan kain khas masyarakat Indonesia. Batik ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 yang juga ditetapkan sebagai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. terus mengenalkan produknya kepada masyarakat seluas mungkin dan

BAB 1 PENDAHULUAN. terus mengenalkan produknya kepada masyarakat seluas mungkin dan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan di dunia usaha fashion saat ini sudah sangatlah pesat. Apapun jenis dan bentuk dari produk dan jasanya, para wirausaha tentu ingin terus mengenalkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Industri kecil mempunyai peranan penting tidak saja di negara-negara sedang

I. PENDAHULUAN. Industri kecil mempunyai peranan penting tidak saja di negara-negara sedang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri kecil mempunyai peranan penting tidak saja di negara-negara sedang berkembang, tetapi juga di negara-negara maju. Di Indonesia, walaupun pada awalnya

Lebih terperinci

Strategi Pemasaran Produk Industri Kreatif Oleh Popy Rufaidah, SE., MBA., Ph.D 1

Strategi Pemasaran Produk Industri Kreatif Oleh Popy Rufaidah, SE., MBA., Ph.D 1 Strategi Produk Industri Kreatif Oleh Popy Rufaidah, SE., MBA., Ph.D 1 Hasil kajian Tim Inisiasi ( taskforce) Ekonomi Kreatif Propinsi Jawa Barat 2011, bersama Bappeda Jawa Barat, dimana penulis terlibat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam Todaro dan Smith (2003:91-92) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan

BAB I PENDAHULUAN. dalam Todaro dan Smith (2003:91-92) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara menuju ke arah yang lebih baik. Menurut Kutznets dalam Todaro dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Foto 1.1 Jenis Flatshoes 1. Sumber: Data Internal NSBWZ (2014)

BAB I PENDAHULUAN. Foto 1.1 Jenis Flatshoes 1. Sumber: Data Internal NSBWZ (2014) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Sejarah Perusahaan Nice Shoes Be Wonder Zhoes selanjutnya disingkat NSBWZ merupakan salah satu merek lokal di Indonesia yang khusus memproduksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah sebuah negara kepulauan terbesar di dunia dengan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah sebuah negara kepulauan terbesar di dunia dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Latar Belakang Obyek Indonesia adalah sebuah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.500 pulau dan dihuni 931 kelompok etnik, mulai dari Aceh di Sumatera

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. GambarI.1 Teknik pembuatan batik Sumber:

BAB I PENDAHULUAN. GambarI.1 Teknik pembuatan batik Sumber: <www.expat.or.id/infi/info.html#culture> BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberadaan museum tidak hanya sekedar untuk menyimpan berbagai bendabenda bersejarah saja. Namun dari museum dapat diuraikan sebuah perjalanan kehidupan serta

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pada tahap pembelian, konsumen seringkali menggunakan persepsi, afektif (perasaan), serta preferensinya untuk memutuskan pembelian suatu produk. Besarnya pengaruh persepsi, afektif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia yang terdiri dari bangsa yang multikultural disatukan oleh satu bahasa

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia yang terdiri dari bangsa yang multikultural disatukan oleh satu bahasa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang arbiter, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri tekstil merupakan industri penting sebagai penyedia kebutuhan sandang manusia. Kebutuhan sandang di dunia akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya. Untuk memulai hal tersebut akan dipaparkan contoh yang sangat sederhana.

BAB I PENDAHULUAN. tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya. Untuk memulai hal tersebut akan dipaparkan contoh yang sangat sederhana. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan manusia dalam kesehariannya memang tidak dapat dilepaskan dari berbagai aspek. Aspek tersebut antara lain seperti aspek hukum, ekonomi, sosial, budaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beberapa budaya dan karya seni Indonesia ini adalah seni kerajinan tangan. kerajinan logam, kerajinan gerabah, dan kerajinan tenun.

BAB I PENDAHULUAN. beberapa budaya dan karya seni Indonesia ini adalah seni kerajinan tangan. kerajinan logam, kerajinan gerabah, dan kerajinan tenun. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki berbagai macam budaya dan karya seni, diantara beberapa budaya dan karya seni Indonesia ini adalah seni kerajinan tangan. Beberapa seni kerajinan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. aspek. Banyak masyarakat dari daerah-daerah tertarik dan terinspirasi untuk masuk ke dalam

I. PENDAHULUAN. aspek. Banyak masyarakat dari daerah-daerah tertarik dan terinspirasi untuk masuk ke dalam 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hingga saat ini, kita dapat melihat perkembangan kota yang begitu maju dan pesat di segala aspek. Banyak masyarakat dari daerah-daerah tertarik dan terinspirasi untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara maritim yang besar dan memiliki berbagai macam kebudayaan, mulai dari tarian, pakaian adat, makanan, lagu daerah, kain, alat musik, lagu,

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif, dengan ini

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai Kain Tenun Ikat di Kampung Tenun (Analisis Deskriptif Ornamen Kain Tenun Ikat dengan Bahan Sutera Alam di Kampung Tenun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batik, merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang sudah sangat terkenal, baik lokal maupun di dunia internasional. Batik sudah diakui dunia sebagai salah satu

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. *

ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. * ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. * Era perdagangan bebas di negaranegara ASEAN tinggal menghitung waktu. Tidak kurang dari 2 tahun pelaksanaan

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H14104016 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang

I. PENDAHULUAN. di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya berusaha di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang besar, diharapkan

Lebih terperinci

2 masing-masing negara masih berhak untuk menentukan sendiri hambatan bagi negara non anggota. 1 Sebagai negara dalam kawasan Asia Tenggara tentunya p

2 masing-masing negara masih berhak untuk menentukan sendiri hambatan bagi negara non anggota. 1 Sebagai negara dalam kawasan Asia Tenggara tentunya p 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi yang semakin maju ini ada banyak isu-isu yang berkembang. Bukan hanya isu mengenai hard power yang menjadi perhatian dunia, tetapi isu soft

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pada Bab I ini akan dijabarkan mengenai latar belakang Galeri Kain Tenun Endek di Kota Denpasar, rumusan masalah, tujuan, dan metode penelitian yang digunakan. 1.1 Latar Belakang Kebudayaan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM. 15 Lintang Selatan dan antara Bujur Timur dan dilalui oleh

BAB IV GAMBARAN UMUM. 15 Lintang Selatan dan antara Bujur Timur dan dilalui oleh BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis Secara astronomis, Indonesia terletak antara 6 08 Lintang Utara dan 11 15 Lintang Selatan dan antara 94 45 141 05 Bujur Timur dan dilalui oleh garis ekuator atau

Lebih terperinci

produk batik fractal

produk batik fractal produk batik fractal 01 02 Pemakai Batik Fractal adalah konsumen yang mencintai batik dan menghargai proses pem-buatan batik sebagai craft fashion,mengutamakan kualitas pakaian dengan gaya batik modern.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Penanaman modal atau investasi merupakan langkah awal kegiatan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Penanaman modal atau investasi merupakan langkah awal kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penanaman modal atau investasi merupakan langkah awal kegiatan produksi. Pada posisi semacam ini investasi pada hakekatnya juga merupakan langkah awal kegiatan pembangunan

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Pada penelitian tentang penawaran ekspor karet alam, ada beberapa teori yang dijadikan kerangka berpikir. Teori-teori tersebut adalah : teori

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ketimpangan dapat diatasi dengan industri. Suatu negara dengan industri yang

BAB I PENDAHULUAN. ketimpangan dapat diatasi dengan industri. Suatu negara dengan industri yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi. Di era globalisasi ini, industri menjadi penopang dan tolak ukur kesejahteraan suatu negara. Berbagai

Lebih terperinci

PENUNJUK UNDANG-UNDANG PERINDUSTRIAN

PENUNJUK UNDANG-UNDANG PERINDUSTRIAN PENUNJUK UNDANG-UNDANG PERINDUSTRIAN 1 (satu) bulan ~ paling lama Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia di bidang Industri sebagaimana

Lebih terperinci

STUDI KASUS PERMASALAHAN KOMODITAS KEDELAI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

STUDI KASUS PERMASALAHAN KOMODITAS KEDELAI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA STUDI KASUS PERMASALAHAN KOMODITAS KEDELAI DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA BAB I PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena berkah kekayaan alam yang berlimpah, terutama di bidang sumber

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA PEMBUKAAN INDO LEATHER AND FOOTWEAR 2015 (ILF 2015) JAKARTA, 7 MEI 2015

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA PEMBUKAAN INDO LEATHER AND FOOTWEAR 2015 (ILF 2015) JAKARTA, 7 MEI 2015 SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA PEMBUKAAN INDO LEATHER AND FOOTWEAR 2015 (ILF 2015) JAKARTA, 7 MEI 2015 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua Yth. Sdr. Menteri Perdagangan Yth.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Definisi Batik

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Definisi Batik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Definisi Batik Batik, adalah salah satu bagian dari kebudayaan Indonesia, Belum ada di negara manapun yang memiliki kekayaan desain motif batik seperti yang dimiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri garmen semakin mengglobal. Perkembangan ini dimulai

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri garmen semakin mengglobal. Perkembangan ini dimulai BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Perkembangan industri garmen semakin mengglobal. Perkembangan ini dimulai dengan adanya mesin-mesin pembuat kain, baik yang menggunakan sistem rajut maupun dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak negara di dunia yang kaya akan kebudayaan. Kebudayaan di Indonesia tersebar di hampir semua aspek kehidupan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Busana merupakan kebutuhan dasar manusia sepanjang hidupnya. Semakin tinggi taraf ekonomi seseorang, kebutuhan berbusana juga akan meningkat. Peningkatan tersebut dapat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan penting bagi kehidupan manusia. Pertanian sebagai penyedia bahan kebutuhan primer manusia, meliputi: sandang, pangan, dan papan. Salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden

BAB I PENDAHULUAN. tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM merupakan sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebudayaan adalah kekayaan warisan yang harus tetap dijaga, dan dilestarikan dengan tujuan agar kebudayaan tersebut bisa bertahan terus menerus mengikuti perkembangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan dalam berbagai bidang, tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Menurut Todaro dan Smith (2006), globalisasi

Lebih terperinci