Jika pada 2008 nilai ekspor sepatu Indonesia 562,5 juta pasang, pada 2009 mencapai 577,5 juta pasang, dan pada 2010 menjadi 585 juta pasang.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Jika pada 2008 nilai ekspor sepatu Indonesia 562,5 juta pasang, pada 2009 mencapai 577,5 juta pasang, dan pada 2010 menjadi 585 juta pasang."

Transkripsi

1 1 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN Peningkatan penjualan alas kaki dalam negeri Belanja sepatu di Indonesia pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp per kapita. Angka itu meningkat dibanding tahun lalu yang mencapai Rp per kapita. Belanja sepatu rata-rata masyarakat Indonesia diperoleh dari perbandingan pasar sepatu nasional dibagi jumlah penduduk negeri ini. Data Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menunjukkan, pasar sepatu domestik pada tahun ini diproyeksikan naik 30% dari 2010, dari Rp 25 triliun menjadi sebesar Rp27 triliun."pada 2011, penjualan semua jenis alas kaki di dalam negeri, mulai dari sandal hingga sepatu akan mencapai lebih dari Rp27 triliun," kata Wakil Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Djimanto. Menurut Djimanto, penjualan sepatu di pasar lokal pada tahun 2008 dan 2009 sempat menurun karena dampak dari krisis global. Namun, penjualan sepatu mulai meningkat pada 2010 dan berlanjut pada Dari data kementerian Perindustrian RI mencatat bahwa industri alas kaki (sepatu dan sandal) merupakan salah satu unggulan ekspor yang cukup berperan dalam mendukung perekonomian Tanah Air. Buktinya, Indonesia menempati peringkat ketiga setelah Cina dan Vietnam sebagai salah satu negara ekspotir alas kaki terbesar di dunia. Bahkan, nilai ekspor sepatu Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Tabel 1.1 Jumlah Produksi Sepatu Indonesia Tahun Jumlah Produksi ,5 Juta pasang ,5 Juta pasang Juta Pasang Jika pada 2008 nilai ekspor sepatu Indonesia 562,5 juta pasang, pada 2009 mencapai 577,5 juta pasang, dan pada 2010 menjadi 585 juta pasang ,5 Juta pasang ,5 Juta pasang 1 Sumber:http://duniaindustri.com/umum/415 belanja sepatu di indonesia rp per kapita.html Juta Pasang

2 2 Sayangnya, pangsa pasar alas kaki Indonesia di pasar dunia masih terbilang kecil, pada 2009 hanya 2,07% dari total kebutuhan ekspor alas kaki dunia yang nilainya US$ 84,05 miliar. Sementara itu, kapasitas produksi alas kaki di Indonesia pada tahun 2010 sebesar 1,2 miliar pasang, dengan nilai investasi Rp 4,34 triliun. Itu artinya, meningkat sebesar 40% selama tiga tahun terakhir. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pasar alas kaki masih sangat menjanjikan. Selain kurangnya tenaga terampil dan bahan baku, kendala utama dari industri alas kaki di Tanah Air adalah kurangnya promosi dan branding merek-merek lokal di kancah global. Jangan heran, jika merek alas kaki lokal masih belum ada yang popular di tingkat dunia. Diterangkan Peter Kern, Konsultan Sepatu Internasional, agar dapat sukses di tingkat dunia, produsen alas kaki lokal harus mampu menawarkan spesialisasi atau keunikan dari produknya. Selain itu, produsen lokal juga harus melakukan upaya komunikasi dan promosi. Antara lain, dengan mengikuti pameran-pameran di luar negeri, ungkapnya. Contohnya, mengikuti pameran terbesar industri sepatu Global Shoes yang bakal digelar kembali pada 7-9 September 2011 di Jerman. Mulai dari consumer insight, kesediaan segmen pasar, tren model, hingga mitra bisnis bisa diperoleh lewat keikutsertaan pameran internasional, tambah Marcus Mullers, Senior Project Manager Global Shoes Fenomena implikasi perjanjian perdagangan Bebas terhadap industri persepatuan Indonesia Berkembangnya kerjasama ekonomi regional sebagaimana dibuat ASEAN, yang akan menjadi Asean Free Trade Area seperti ditetapkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN menuntut Indonesia harus siap mengatur kegiatan investasi dan hukum investasi yang diharmonisasikan dengan ketentuan ACFTA tersebut. Oleh Karena itu berlakunya atau ditetapkannya ACFTA, baik sebagian maupun secara penuh akan membawa pengaruh pada perkembangan investasi dan hukum investasi di masa mendatang. Penetapan ACFTA sebagai suatu sistem perdagangan bebas dikawasan asia tenggara akan menimbulkan hubungan interdependensi dan integrasi dalam bidang investasi serta akan membawa dampak pengelolaan investasi ekonomi di Indonesia, dimana lalu lintas perdagangan akan bebas tanpa hambatan tarif bea masuk maupun non tarif, atinya barang hasil produksi negara-negara asean akan sangat bebas masuk pada setiap negara anggota ASEAN.

3 3 Dampak ini akan lebih terasa setelah arus globalisasi ekonomi semakin dikembangkan oleh prinsip liberalisasi perdagangan lainnya, yang telah diupayakan secara bersama oleh negara-negara di dunia dalam bentuk kerjasam regional maupun internasional. Pada masa kini arus globalisasi ekonomi itu harus diikuti megingat kecenderungan globalisasi ekonomi tersebut berkembang melalui perundingan dan perjanjian internasional. Implikasi globalisasi ekonomi itu terhadap hukum juga tidak dapat dihindarkan sebab globalisasi hukum mengikuti globalisasi ekonomi tersebut, dalam arti substansi undangundang dan perjanjian-perjanjian menyebar melewati batas-batas negara. Globalisasi itu dapat terjadi melalui perjanjian dan konvensi internasional, perjanjian privat, dan institusi ekonomi baru 2 Terkait lonjakan impor sepatu oleh China karena perdagangan bebas ini di pasar lokal, Djimanto menuturkan, Aprisindo memperkirakan akan terjadi peningkatan dua kali lipat pada Lonjakan impor semua jenis alas kaki akan terjadi pada tahun ini karena masih terkena dampak negatif perdagangan bebasn Asean-China (ACFTA). Ketua Umum Aprisindo Eddy Wijanarko pernah mengatakan, lonjakan impor terjadi karena penerapan ACFTA. Sebanyak 90% impor alas kaki yang masuk ke Indonesia berasal dari China. "Jenis sepatu impor yang banyak masuk Indonesia adalah sepatu plastik dan sepatu sekolah untuk segmen menengah ke bawah," kata dia. Eddy menyebutkan, minat masyarakat pada produk Cina terutama karena harganya yang relatif murah. Dia mencontohkan untuk sepatu sekolah dengan harga Rp75 ribu- Rp129 ribu per pasang harus bersaing dengan produk China yang harganya Rp35 ribu- Rp60 ribu per pasang. Sepatu plastik lokal dijual seharga Rp14 ribu-rp30 ribu, sedangkan sepatu plastik asal China hanya Rp7.000 per pasang. Selain penjualan di pasar domestik, Djimanto juga menyatakan, ekspor alas kaki nasional juga diperkirakan meningkat 30% pada tahun ini. Kinerja ekspor sepatu akan naik sekitar 30% melebihi US$ 2 miliar di 2011, jelas Djimanto Perkembangan produksi sepatu dalam negeri menghadapi perjanjian perdagangan bebas ACFTA 2 Sumber: 3 Sumber: (http://duniaindustri.com/umum/415 belanja sepatu di indonesia rp per kapita.html)

4 4 Dampak perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China masih terasa bagi industri alas kaki. Serbuan alas kaki impor sulit ditandingi oleh para produsen sepatu lokal. Di saat yang sama, kapasitas produksi terbatas lantaran penambahan pabrik baru minim. Untung, permintaan ekspor masih meningkat. Langkah industri alas kaki pada tahun depan, tampaknya, tidak akan jauh melampaui pencapaian tahun ini. Meski pasar ekspor bakal tumbuh signifikan, penjualan sepatu di dalam negeri justru terancam babak belur dihantam serbuan sepatu impor asal China. Eddy Widjanarko, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), memprediksi, tahun depan, bisnis industri alas kaki bakal lebih banyak ditopang oleh kinerja ekspor. "Sementara, penjualan sepatu di dalam negeri bakal stagnan," ujarnya. Eddy memperkirakan, tahun depan, ekspor sepatu bakal tumbuh 10% dibanding tahun ini. Artinya, nilai ekspor alas kaki ia prediksi akan meningkat dari US$ 2,1 miliar tahun ini menjadi US$ 2,4 miliar di Sebaliknya, penjualan alas kaki lokal di dalam negeri bakal melorot lantaran sulit menandingi serbuan sepatu asal China yang lebih murah. "Penurunan (di pasar domestik) bisa sampai 20%," imbuh Djimanto, Penasehat Aprisindo. Djimanto menghitung, sampai akhir 2010, nilai penjualan alas kaki di dalam negeri akan mencapai sekitar Rp 25 triliun. Sebanyak 60% di antaranya atau sekitar Rp 15 triliun disumbang sepatu lokal. "Sisanya sepatu impor yang sebagian besar dari China," tutur pemilik usaha sepatu merek Piero itu. Namun terkait dengan peluang ekspor tadi, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) dan perusahaan sepatu asal Amerika yang tergabung dalam Footwear Distributors and Retailer of America (FDRA) sepakat menjalin kerja sama untuk meningkatkan perdagangan sepatu antar-kedua negara.kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepamahaman (MoU) yang diteken belum lama ini. Eddy Widjanarko, Ketua Aprisindo, menilai kerja sama ini bakal menguntungkan kedua belah pihak. Sebab, Indonesia dan AS bisa saling meningkatkan eskpor sepatunya. Eddy mengatakan bahwa AS selama ini menjadi pangsa pasar utama ekspor sepatu Indonesia. Pada tahun 2010, kontribusi ekspor sepatu Indonesia ke Negeri Uwak Sam itu mencapai 22,6 persen dari total ekspor sepatu nasional yang sebesar 2,5 miliar dollar AS. "AS menjadi negara tujuan ekspor terbesar sepatu Indonesia," ujar Eddy di Jakarta, Selasa (21/6/2011). Dengan kerja sama ini, Eddy berharap kontribusi eskpor sepatu ke AS bisa mencapai 30 persen dari total ekspor sepatu Indonesia. Sebaliknya, perusahaan sepatu AS

5 5 juga memandang Indonesia sebagai mitra yang penting, baik sebagai pasar tujuan ekspor maupun sebagai pemasok sepatu (sourcing). Matt Priest, Presiden FDRA, mengatakan, sebagai pasar tujuan ekspor, pasar sepatu Indonesia terus tumbuh dalam dua tahun terakhir. Hal ini terlihat dari kinerja ekspor sepatu AS ke Indonesia yang terus meningkat. Pada tahun 2009, misalnya, ekspor sepatu AS ke Indonesia senilai 446 juta dollar AS. Setahun berselang, nilai itu naik menjadi 593 juta dollar AS. Hingga Juni 2011, ekspor sepatu ke Indonesia sudah sebesar 194 juta dollar AS, atau naik 32,1 persen dibanding Januari-Juni 2010 yang sebesar 147 juta dollar AS. Indonesia juga menjadi mitra penting yang menopang pasokan sepatu AS. Banyak perusahaan AS yang melakukan subkontrak pembuatan sepatu dengan pabrik lokal Indonesia. Dengan adanya kerja sama ini, para produsen sepatu asal AS bakal gencar menjalin kerja sama dengan pemasok lokal. "Kami akan mencari lebih banyak lagi pemasok Indonesia," ungkap Priest. Michael McBreen, Presiden Grup Operasional Global Wolverine World Wide HK Ltd bilang, perusahaannya sejauh ini sudah memiliki tiga pabrik joint venture dengan produsen lokal yang berada di Jakarta dan Surabaya. Ketiga pabrik itu berfungsi memasok sepatu Wolverine untuk kemudian dipasarkan ke negara-negara lain. Meski begitu, menurut McBreen, China saat ini masih menjadi pemasok utama sepatu perusahaannya. Negeri Tirai Bambu itu menyumbang 70 persen dari total kebutuhan sepatu Wolverine. Namun, ia berharap kontribusi Indonesia bisa meningkat. Itu sebabnya, selain bekerja sama dengan pemasok lokal, Wolverine juga terus menjajaki pembangunan pabrik baru di Indonesia. "Kami berharap pasokan sepatu dari Indonesia bisa meningkat menjadi 10 persen," kata McBreen. Sayangnya, McBreen belum bisa menginformasikan di mana pabrik itu bakal dibangun. Selain meningkatkan pasokan sepatu dari Indonesia, Wolverine juga akan terus meningkatkan penjualan sepatunya di Indonesia. McBreen mengatakan, penjualan produknya di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai informasi, Wolverine menawarkan produk yang khusus ditargetkan untuk konsumen atas karena harga sepatunya masuk kategori produk premium 4 4 RI ASSepakatDorongEksporSepatu,sumber:Kompas.com 22Juni2011

6 6 Namun penurunan sebesar 20% untuk pangsa lokal tahun depan akan tetap terjadi, artinya, penjualan sepatu merek lokal akan merosot dari Rp 15 triliun tahun ini menjadi Rp 12 triliun. Padahal, secara nasional, penjualan alas kaki di dalam negeri pada tahun 2011 diprediksi bakal tumbuh lebih dari 20%. Masih menurut Djimanto, yang menikmati pertumbuhan itu adalah sepatu impor, khususnya sepatu asal China berbahan plastik atau sepatu sekolah. Produk seperti ini lebih menyasar kelas menengah ke bawah. Eddy menambahkan, sepatu lokal sulit bersaing dengan sepatu asal China lantaran harganya lebih mahal. "Ini karena biaya ekonomi tinggi di Indonesia. Sedangkan sepatu China lebih murah karena kebijakan pemerintah China mendukung industri sepatu di sana," terang Djimanto. Kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) mau tidak mau membuat keran impor sepatu asal China semakin lebar. "Tapi, itu tidak menjadi masalah jika daya saing produsen sepatu lokal meningkat," katanya. Tak heran, dibandingkan mengurusi bisnis sepatu di dalam negeri, Aprisindo kini lebih memilih fokus pada peningkatan ekspor alas kaki. "Dengan nilai ekspor mencapai US$ 2 miliar lebih, pasokan sepatu dari Indonesia baru memenuhi 2% dari pangsa pasar sepatu di luar negeri," cetus Eddy. Padahal, permintaan ekspor sepatu buatan Indonesia sangat tinggi. Maklum, kualitas sepatu kelas menengah ke atas buatan produsen lokal sudah diakui dunia. "Ini terbukti, pesanan sepatu dari Nike dan Reebok terus naik," kata Eddy. Cuma, karena kapasitas produksi sepatu sudah mentok, produsen dalam negeri tidak bisa memenuhi semua permintaan ekspor. Kini, produksi sepatu nasional rata-rata sekitar 1,2 miliar pasang per tahun. Karena itu, kini, Aprisindo sedang berupaya keras menambah jumlah pabrik sepatu. Menurut Eddy, saat ini, jumlah pabrik sepatu di Indonesia tidak sampai 500. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan luas wilayah, jumlah penduduk Indonesia, serta tingginya permintaan sepatu, baik di dalam negeri maupun luar negeri. "Saat ini, pertumbuhan pabrik sepatu baru kurang dari 30 pabrik per tahun. Target kami, tiga tahun ke depan, pertumbuhan pabrik baru bisa mencapai 50 pabrik per tahun," ujarnya. Namun, tampaknya, target itu akan sulit tercapai selama pemerintah belum menyederhanakan proses birokrasi perizinan yang selama ini sering menjadi ganjalan. "Kalau dari sisi pengusaha, semua upaya sudah kami lakukan untuk mempromosikan bahwa bisnis sepatu di Indonesia menjanjikan," tandas Eddy. Selain masalah perizinan, tambah Djimanto, banyak investor yang masih ragu berinvestasi karena masalah tenaga kerja. Sebagian investor menilai, tenaga kerja di Indonesia cukup mahal.

7 7 Diperlukannya konsep besar industri lokal Ada banyak faktor yang membuat daya sepatu lokal melempem jika berhadapan dengan serbuan produk dari China. Salah satunya karena pemerintah Indonesia tidak memiliki konsep besar atau grand design yang jelas terhadap pengembangan industri sepatu lokal. "Yang sudah jalan dibiarkan berkembang begitu saja," tandas Eddy Widjanarko, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo). Seharusnya, dalam meningkatkan produksi sepatu, pemerintah membangun kawasan ekonomi khusus industri sepatu. "Pemerintah membebaskan tanah. Produsen sepatu atau investor tinggal membangun pabrik," tukas Eddy. Yang terjadi justru sebaliknya. Panjang dan berbelitnya prosedur birokrasi izin pembangunan pabrik baru membuat penambahan pabrik sepatu sangat lambat. Di sisi lain, sepatu China semakin deras membanjiri pasar dalam negeri. Dari sisi infrastruktur, belum ada perbaikan yang bisa mendukung kelancaran pasokan. "Untuk membawa sepatu dari pabrik ke pelabuhan butuh waktu tiga jam," keluh Eddy Fenomena kepopuleran kain tenun setelah batik Batik adalah kain khas asal Indonesia yang sudah lebih dulu populer hingga ke mancanegara. Namun Indonesia tidak hanya memliliki batik sebagai kain tradisional. Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia membuat banyak yang bisa dieksplorasi dan dipromosikan sebagai ciri citarasa nasional. Selain batik yang telah lebih dulu populer, tenun merupakan salah satu bukti kekayaan kain tradisional Indonesia yang juga tidak kalah menariknya. Warisan budaya yang bisa ditemui di hampir seluruh wilayah nusantara seperti Sumatra, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Lombok, Sumbawa dan lain sebagainya itu mempunyai makna, nilai sejarah serta teknik pembuatan tinggi dari segi pewarnaan, motif dan jenis bahan yang digunakan. Tenun yang tersebar di penjuru tanah air memiliki ciri khas yang masing-masing tentunya melambangkan jati diri bangsa. Mengingat begitu penting dan berharganya tenun bagi kekayaan budaya bangsa, sudah sepantasnyalah keasrian dan keberadaannya terus dijaga. Terkait dengan tren meningkatkanya permintaan akan kain tenun, selama periode 2010 hingga 2011 melalui perhelatan mode akbar Indonesia, Jakarta Fashion Week and Jakarta Fashion and Food Festival yang berlangsung di Jakarta. Semakin banyak desainer yang mengangkat kain tenun menjadi sebuah barang modern. Dan karena semakin meningkatnya antusiasme kepopuleran kain tenun ini untuk dijadikan sebagai material yang pantas untuk dipromosikan, sekumpulan wanita pecinta, dan pakar akan kain tenun pun mendirikan sebuah organisasi akan kain tenun yang dinamai Cita Tenun Indonesia.

8 8 Organisasi ini didirikan ntuk merancang perubahan dan pembinaan untuk meningkatkan harkat hidup dan kesejahteraan masyarakat perajin tenun Indonesia. Dengan visinya, Mewujudkan kekayaan tenun Indonesia menjadi beranda depan kreativitas bangsa Indonesia yang sejahtera dan diakui di dunia Internasional. dan misinya, Melaksanakan pelestarian, pembinaan, pengembangan, pemasaran tenun Indonesia melalui kerjasama pihak pakar, perajin, industri dan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia sebagai Sentra Tenun Dunia. Oscar Lawalata dalam perhelatan mode akbar Indonesia, Jakarta Fashion Week 2010/2011 lalu mengangkat tenun NTT, garut dan jawa tengah sebagai material utama untuk koleksinya. Koleksi ini dipersiapkan untuk tren busana tahun Gambar 1.1 Koleksi Weaving the Future yang mengangkat tenun NTT oleh Oscar Lawalata dan Laura Miles saat Jakarta Fashion Week 2010/2011. Koleksi ini disiapkan untuk tren busana tahun 2011.(Sumber:DokPribadi) Gambar 1.2 Cita Tenun Indonesia (kiri): karya Sebastian Gunawan untuk label Bubble Girl (kanan) karya Era Soekamto

9 9 Gambar 1.3 Cita Tenun Indonesia (kiri): karya Chossy Latu dengan gaya ala 30an, (kanan) karya Denny Wirawan Gambar 1.4 Cita Tenun Indonesia: (kiri) karya Priyo Oktaviano (kanan) karya Luwi Saluadji Gambar 1.5 Cita Tenun Indonesia (kiri): karya Oscar Lawalata (kanan) Oka Diputra Masih di acara yang sama, Jakarta Fashion Week 2010/2011, Cita Tenun Indonesia berkolaborasi dengan beberapa desainer pun memamerkan koleksi hasil tenun pengrajin yang mereka bina.

10 10 Sementara pada acara Jakarta Fashion and Food Festival yang digelar pada May 2011 lalu, tren akan tenun ikat semakin bertambah banyak menjadi material yang diangkat untuk menjadi sebuah koleksi. Gambar 1.6 Kumpulan busana dari tenun pada acar Jakarta Fashion & Food Festival 2011: (kiri atas) Adrian Gan (kiri bawah) Carmanita (kanan atas) Ari Seputra (kanan bawah) Defrico Audy Pada Jakarta Fashion Week 2011 pun, banyak pengolahan kain tenun sebagai material koleksi. Oscar Lawalata lagi lagi mengangkat kain tenun sebagai material koleksinya. Diikuti juga oleh Sofie dalam show APPMI dan Obin dalam Bin House Catwalk moment show.

11 11 Gambar 1.7 Kumpulan busana dari tenun pada acar Jakarta Fashion Week 2011: Oscar Lawalata (kiri), Sofie (kanan atas) dan Obin untuk Bin House (kanan bawah) Oleh karena tenun yang semakin populer, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu berjanji segera mendaftarkan tenun songket Palembang sebagai warisan budaya layaknya batik ke badan PBB UNESCO. Ini sebenarnya tugas kita bersama karena seandainya setelah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia seperti batik, maka tugas kita tidak berhenti sampai di situ saja, kata Mari. Dia mengatakan, tenun songket harus dilestarikan dalam berbagai cara sekaligus menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari alias living culture dan living tradition. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel melalui Dinas Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mendukung penuh keinginan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia dalam upaya mendaftarkan tenun songket ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Songket merupakan kain yang memiliki nilai sejarah tinggi dan sebagai warisan budaya turun temurun. Langkah itu sudah sangat tepat dalam upaya melindungi produk lokal Sumsel, kata Kepala Disperindag Sumsel Eppy Mirza. Menurut Eppy, untuk mendaftarkan songket tersebut diupayakan dapat melengkapi semua persyaratan yang harus ditetapkan pihak UNESCO.Sama seperti tahun lalu, dimana

12 12 Disperindag Sumsel berupaya mematenkan puluhan jenis songket ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Departemen Hukum dan HAM RI Permintaan akan kain tenun saat ini Permintaan akan tenun ikat juga semakin tinggi di daerah - daerah penghasil tenun di Indonesia. Apalagi ketika menjelang lebaran tahun 1431 Hijriyah ini. Pengrajin sarung tenun ikat khas Kota Kediri kebanjiran permintaan. Permintaan yang datang dari berbagai kota di Indonesia ini meningkat hingga 40 persen. Dimana untuk memenuhi pesanan, perajin harus menambah tenaga kerja. Datangnya bulan ramadhan dan lebaran tahun ini menjadi berkah sebagain perajin sarung tradisional tenun ikat khas Kota Kediri. Pasalnya sejak dua bulan menjelang datangnya lebaran, para perajin kebanjiran permintaan. Salah satunya perajin di pusat Gambar 1.8 Tenun khas Kediri kerajinan tenun ikat seperti Siti Ruqayah, perajin asal Kelurahan Sumber: Tenunku.com Bandar Kidul, Kota Kediri. Menurut Siti, sejak bulan Juli lalu permintaan sarung tradisional tenun ikat meningkat dibanding bulanbulan sebelumnya. Jika sebelumnya setiap bulan permintaan sarung hanya 450 potong, namun saat ini permintaan naik mencapai 625 potong lebih. Karena banyaknya permintaan, perajin harus menambah jumlah karyawanya, yang semula hanya 10 orang menjadi 15 orang. Selain permintaan kain untuk bahan sarung, perajin juga memproduksi kain untuk bahan pakaian. Untuk satu potong kain sarung, dijual seharga 125 ribu rupiah, sedang kain katun untuk pakaian dijual seharga 42 ribu rupiah per meternya. Sementara kain semi sutra dujial 72 ribu rupiah per meter dan kain sutra seharga 100 ribu per meter. Proses pembuatan kain tenun diawali dengan pemintalan bahan baku bola, kemudian dilanjutkan dengan proses membuat motif dan pengikatan sesuai motif. Selanjutnya proses pewarnaan dan pengeringan. Setelah bola kering, siap dilakukan proses tenun. Selain Kota Kediri, kain tenun ikat yang ditekuni perajin turun temurun sejak jaman jpenjajahan Jepang ini banyak digemari pembeli dari kota Malang, Nganjuk, Sura- 5 (http://www.seputar indonesia.com/edisicetak/content/view/443504/)

13 13 baya, Blitar, Ponorogo, Bandung, Jakarta, Palembang bahkan dari Singapura dan Malaysia. Di lombok, dengan digelarnya pawai kebudayaan rimpu (Pakaian Adat Dompu) saat pelaksanaan Festival Lakey, membawa berkah tersendiri bagi para Gambar 1.9 Tenun khas Rimpu yang dijadikan sebagai pengganti jilbab oleh masyarakat Bima pengerajin tentun kain tenun rimpu. Sumber: chuppy.blog.com Permintaan kain rimpu terus mengalami peningkatan, karena masyarakat mulai tertarik untuk kembali menggunakan rimpu. Belakangan ini, rimpu memang sudah mulai ditinggalkan masyarakat Dompu, khususnya para gadis. Rimpu ada dua jenis, yakni rimpu mpida (hanya kelihatan mata) bagi para gadis dan rimpu colo (kelihatan seluruh muka) bagi perempuan yang sudah menikah. Permintaan terus meningkat saat akan digelarnya pawai rimpu, sehingga kami kewalahan. Sekitar potong per hari. Kain rimpu yang banyak dipesan, yakni kain sarung nggoli dengan ukuran 4 meter kali 70 centimeter dengan harga Rp 120 ribu per potong. Proses penenunan memakan waktu sekitar 3 hari, ungkap pengelola Sentra Tenun Gedogan Traditional Flamboyan, Desa Ranggo Kecamatan Pajo, Dompu, Hj. Hajrah, kepada wartawan, Sabtu (16/7). Hajrah menuturkan, setra tenun ini merupakan binaan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Dompu yang beranggotakan 30 orang penenun. Para penenun bekerja di rumahnya masing-masing dan di sentra hanya terdapat 3 orang penenun. Apabila hasil tentun dari para penenun sudah jadi, maka kainnya dibawa ke sentra untuk dipasarkan. Kain hasil tentun juga di pasarkan melalui Showrom Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Dompu. Motif kain tenun rimpu lanjut Hajrah sangat beragam, seperti Bintang, Cori Waji (Kue Traditional Dompu), Samado (Daun di Sawah), Domokakando (Daun Rebung Bambu), Rumah Panggung Adat Dompu, Bunga Pa a Dompu dan lainnya. Jenis kain juga bermacam-macam, seperti Songket Nggoli yang dikerjakan selama 1 minggu dengan

14 14 harga Rp 160 ribu per potong. Kain yang paling mahal, yaknni Sutra yang dikerjakan 1 bulan lebih dengan harga Rp 400 ribu Rp 800 ribu per potong, tergantung motivnya Keistimewaan Tenun Nusa Tenggara Timur Keahlian menenun masyarakat NTT diperkirakan telah berlangsung pada tahun 700SM, sejak migrasi dari Gambar 1.10 Motif Tenun Ikat Daerah Sumba yang mengandung Dongson, Vietnam. Yang motif Biawak ditenun menggunakan alat gedongan (alat tenun yang terbuat dari bambu dan kayu) termasuk pewarnaan yang diolah dari pewarna alam. Seperti lumpur, bunga, buah. DIantaranya adalah phon Tarum (indigo tinctoria) untuk pewarna biru. Warna merah dari kulit pohon mengkudu (morinda Citrofolia) dan kunyit untuk warna kuning. Kemahiran menenun masyarakat Nusa Tenggara Timur merupakan spirit keluhuran terhadap alam sekitar. Saling silang yang dipengaruhi oleh pertukaran budaya yang dibawa oleh pedagang Sriwijaya, Sulawesi, bangsa China, India, Portugis hingga Belanda. Menurut desainer fashion Stephanus Hamy, Selembar tenun NTT bisa bercerita banyak hal. Tenunan NTT itu menampilkan sesuatu yang natural, diantaranya tidak menggunakan komponen emas di dalam tenunan itu sendiri. Inilah yang disukai masyarakat modern saat ini. Sebab, di mana-mana orang ingin memerangi pengaruh global warming. Selain itu, ada yang unik, dari delapan daerah yang pernah saya sambangi memiliki motif berbeda. Hal ini, disebabkan karena tak ada satupun teknik yang sama. Mereka juga tidak pernah mencatatkan atau mewariskan teknik menenun kepada turunannya. Setiap orang, bisa memiliki teknik berbeda. Karena itu, tak ada kain tenun NTT yang sama persis satu sama lain. Menariknya lagi, setiap karya tenun memiliki ciri khas yang sangat personal. Meski dibuat oleh orang yang sama, hasilnya berbeda bila mood-nya berbeda saat menenun. Jadi bisa dibilang, tak ada tenun NTT yang sama persis satu sama lain. Ini yang membuat saya tak henti-hentinya terpukau tenun NTT. Hal ini terjadi karena hampir sebagian besar motif pada kain tenun NTT menyimpan filosofi yang diambil dari keper- 6 Sumber: (DompuGlobalFM Lombok)

15 15 cayaan masyarakatnya. Contohnya, motif biawak/ tokek yang kerap menghiasi tenun ikat asal NTT. Biawak dipercaya sebagai hewan yang sakral, dan ketika dituangkan dalam kain sebagai motif, hal ini membuat kain terasa sakral dan terasa eksotik. Kain tenun Nusa Tenggara Timur ini diproduksi oleh hampir semua desa yang ada di sana dengan menggunakan bahan-bahan alami. Proses pewarnaan misalnya,untuk mendapatkan warna hijau, bahannya diambil dari daun suji atau dedaunan hijau lainnya,untuk warna merah diambil dari semacam buah mengkudu. Tidak ketinggalan,benangnya dipilih benang kapas sehingga ciri khas kain ini terletak pada ketebalannya. Oleh karena ketebalan kainnya itulah yang memungkinkan tenun Nusa Tenggara Timur dijadikan sebagai material sepatu. Namun di ranah tradisi dan adat istiadat, tidak sembarang motif dan warna dapat digunakan, semuanya memiliki makna dan strata sosial. Khususnya untuk masyarakat Sumba, kain merupakan media ekspresi untuk memuja leluhur sebagai perwujudan terhadap kekuatan alam, bahkan diyakini pada motif dan hewan tertentu dapat mengusir bala. Maka dapat dipastikan bahwa setiap motif kain memiliki makna simbol yang dipelajari atas dasar kearifan alam, sehingga ragam corak senantiasa menelusuri bentuk-bentuk flora dan fauna yang memiliki nilai sakral Profil Kemiskinan Masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur Kupang (ANTARA News) - Nusa Tenggara Timur termasuk 10 dari 33 provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statik (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT) Sumarwanto, di Kupang, Kamis, mengatakan, dari 10 provinsi itu, NTT berada di urutan ke-5 berdasarkan tingkat perolehan persentase kemiskinan tertinggi. Ia menyebut ke-10 provinsi yang dimaksud berdasarkan hasil survei tersebut berturutturut adalah Provinsi Papua Barat 36,80 persen, Papua 34,88 persen, Maluku 27,74 persen, Sulawesi Barat 23,19 persen, NTT 23,03 persen. Kemudian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) 21,55 persen, Aceh 20,98 persen, Bangka Belitung 18,94 persen, Gorontalo 7 Sumber: 1.http://www.floresnews.com/fn1/index.php?option=com_content&view=article&id=2682:stephanushamy tenun ntt memancarkan sesuatu yang natural&catid=140:wawancara&itemid=421 2.(http://www.visualartsmagazine.info/index.php/en/national/189 kain tenun ntt spirit keluhuran darimasa neolitikum )

16 16 18,70 persen, dan Sumatera Selatan 18,30 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan provinsi-provinsi ini masih menghadapi persoalan kemiskinan yang tinggi. Bahkan, kata dia, angka kemiskinan yang tertinggi itu justru terjadi di wilayah dengan kekayaan sumber alam melimpah, seperti Papua dan Papua Barat, dimana prosentase angka kemiskinannya mencapai persen atau jauh lebih besar dibandingkan rata-rata Gambar 1.11 Data persentase Penduduk miskin tiap provinsi di Indonesia tahun ) nasional sebesar 13,33 persen. Selain Papua, provinsi lain yang memiliki prosentase penduduk miskin tinggi adalah Maluku, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Aceh, Bangka Belitung. Menurut Sumarwanto, penduduk miskin Provinsi NTT pada Maret 2010 mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Maret 2009 dari sebesar 1013,2 ribu

17 17 menjadi 1014,1 ribu pada Maret Ia mengatakan pada periode jumlah penduduk miskin cenderung menurun dari 1273,9 ribu (29,34 persen) pada tahun 2006, menjadi 1163,6 ribu (27,51 persen) tahun 2007, 1098,3 ribu (25,65 persen) tahun 2008, 1013,2 ribu (23,31 persen) tahun 2009 dan menjadi 1014,1 ribu (23,03 persen) pada tahun Dia mengatakan peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin Provinsi NTT selama Februari 2009-Maret 2010 terjadi karena harga barang-barang kebutuhan pokok selama periode tersebut naik tinggi, yang digambarkan oleh inflasi umum sebesar 8,70 persen. Akibatnya kata Sarjana Demografi jebolan Jerman ini, penduduk yang tergolong tidak miskin namun penghasilannya berada disekitar garis kemiskinan banyak yang bergeser posisinya menjadi miskin. Ia menyebut jumlah penduduk miskin di NTT pada bulan Maret 2010 sebesar 1,014 juta orang (23,03 persen) dan jika ibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 sebesar 1,103 juta orang (23,31 persen), berarti jumlah penduduk miskin pada tahun 2010 naik sebesar 0,95 ribu. "Meskipun demikian persentase penduduk miskin pada Maret 2010 masih lebih rendah dibandingkan keadaan Maret 2009," katanya. Pada periode Maret 2009-Maret 2010, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan adanya perubahan. Indeks Kedalaman Kemiskinan pada keadaan Maret ,14 menjadi 4,74 pada keadaaan Maret Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan naik dari 1,14 menjadi 1,43 pada periode yang sama Menurut dia, besar-kecilnya atau tinggi-rendahnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan. Untuk wilayah NTT, selama Maret 2009-Maret 2010, garis kemiskinan naik sebesar 12,24 persen, yaitu dari Rp 156,191,- per kapita per bulan pada Maret 2009 menjadi Rp 175,308,- per kapita per bulan pada Maret Persentase kenaikan garis kemiskinan lebih tinggi terjadi di daerah pedesaan dibanding daerah perkotaan, yaitu masing-masing 12,82 persen dan 10,52 persen pada periode yang sama. "Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM)," katanya.

BAB I PENDAHULUAN. Hongkong, dan Australia. Selama periode Januari-November 2012, data

BAB I PENDAHULUAN. Hongkong, dan Australia. Selama periode Januari-November 2012, data 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri fashion di Indonesia saat ini berkembang dengan sangat pesat. Kondisi tersebut sejalan dengan semakin berkembangnya kesadaran masyarakat akan fashion yang

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. *

ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. * ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. * Era perdagangan bebas di negaranegara ASEAN tinggal menghitung waktu. Tidak kurang dari 2 tahun pelaksanaan

Lebih terperinci

LAPORAN MENTERI PERDAGANGAN PADA PEMBUKAAN PAMERAN EKONOMI KREATIF 2009 VIRUS K DAN PAMERAN PANGAN NUSA 2009 JAKARTA, 7 AGUSTUS 2009

LAPORAN MENTERI PERDAGANGAN PADA PEMBUKAAN PAMERAN EKONOMI KREATIF 2009 VIRUS K DAN PAMERAN PANGAN NUSA 2009 JAKARTA, 7 AGUSTUS 2009 LAPORAN MENTERI PERDAGANGAN PADA PEMBUKAAN PAMERAN EKONOMI KREATIF 2009 VIRUS K DAN PAMERAN PANGAN NUSA 2009 JAKARTA, 7 AGUSTUS 2009 Yth. Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, Yth. Ibu Hj. Mufidah Yusuf Kalla,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM PRODUK UMKM MELALUI HKI (HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL)

PERLINDUNGAN HUKUM PRODUK UMKM MELALUI HKI (HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL) PERLINDUNGAN HUKUM PRODUK UMKM MELALUI HKI (HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL) I. LATAR BELAKANG UMKM ( Usaha Mikro Kecil dan Menengah ) merupakan pelaku ekonomi nasional yang mempunyai peran yang sangat penting

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

EKSISTENSI SANGGAR TARI KEMBANG SORE PUSAT - YOGYAKARTA Theresiana Ani Larasati

EKSISTENSI SANGGAR TARI KEMBANG SORE PUSAT - YOGYAKARTA Theresiana Ani Larasati EKSISTENSI SANGGAR TARI KEMBANG SORE PUSAT - YOGYAKARTA Theresiana Ani Larasati Pengaruh era globalisasi sangat terasa di berbagai sendi kehidupan bangsa Indonesia, tidak terkecuali di Daerah Istimewa

Lebih terperinci

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 ASSALAMU ALAIKUM WAR, WAB, SALAM SEJAHTERA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dituntut untuk mampu meningkatkan daya saing dalam rangka

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dituntut untuk mampu meningkatkan daya saing dalam rangka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam menghadapi persaingan di era global perusahaan dituntut untuk bekerja lebih efisien dan efektif. Persaingan yang semakin ketat menyebabkan perusahaan dituntut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia merupakan salah satu negara berkembang, yang tidak terlepas dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa keterbukaan perdagangan

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

KETERAMPILAN AKSESORIS BUSANA MENGGUNAKAN TEKNIK MAKRAME DAN TEKNIK JUMPUTAN DI KECAMATAN KOTA TIMUR KOTA GORONTALO

KETERAMPILAN AKSESORIS BUSANA MENGGUNAKAN TEKNIK MAKRAME DAN TEKNIK JUMPUTAN DI KECAMATAN KOTA TIMUR KOTA GORONTALO KETERAMPILAN AKSESORIS BUSANA MENGGUNAKAN TEKNIK MAKRAME DAN TEKNIK JUMPUTAN DI KECAMATAN KOTA TIMUR KOTA GORONTALO Hariana (Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo) ABSTRAK Pelaksanaan kegiatan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 Kondisi ekonomi makro bulan Juni 2001 tidak mengalami perbaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kepercayaan masyarakat

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan

Lebih terperinci

LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005

LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005 LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005 1.1 Latar Belakang Seni dan budaya daerah mempunyai

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014

KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN BULAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA NASIONAL TAHUN 2015 2019

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELESTARIAN TRADISI

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELESTARIAN TRADISI SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELESTARIAN TRADISI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan pasar ritel terus berkembang sebagai akibat dari perubahan pada berbagai bidang. Pasar ritel yang terus bertumbuh secara nasional tidak hanya menguntungkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Bahasa selalu menggambarkan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan; lebih dalam lagi bahasa

Lebih terperinci

STABILISASI HARGA PANGAN

STABILISASI HARGA PANGAN STABILISASI HARGA PANGAN Oleh : Dr.Ir. Nuhfil Hanani AR DEWAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2008 PERANAN KOMODITAS PANGAN PRODUSEN KESEMPATAN KERJA DAN PENDAPATAN KONSUMEN RUMAH TANGGA AKSES UNTUK GIZI KONSUMEN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dunia bisnis semakin berkembang sesuai dengan kemajuan zaman dan teknologi. Perkembangan bisnis lem saat ini menunjukkan bahwa lem menjadi kebutuhan bagi beberapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki kawasan perairan yang hampir 1/3 dari seluruh kawasannya, baik perairan laut maupun perairan tawar yang sangat

Lebih terperinci

KESEMPATAN KERJA PERDAGANGAN. Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja. Jakarta, 5 Juli 2013

KESEMPATAN KERJA PERDAGANGAN. Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja. Jakarta, 5 Juli 2013 KESEMPATAN KERJA MENGHADAPI LIBERALISASI PERDAGANGAN Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja Jakarta, 5 Juli 2013 1 MATERI PEMAPARAN Sekilas mengenai Liberalisasi Perdagangan

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK 45 ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK Perilaku konsumen dalam mengkonsumsi dangke dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat setempat. Konsumsi dangke sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan bersifat turun

Lebih terperinci

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS Jakarta, 27 Mei 2015 Pendahuluan Tujuan Kebijakan Industri Nasional : 1 2 Meningkatkan produksi nasional. Meningkatkan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

B. Modernisasi Menyebabkan Terkikisnya Perhatian Generasi Muda Terhadap Budaya Bangsa

B. Modernisasi Menyebabkan Terkikisnya Perhatian Generasi Muda Terhadap Budaya Bangsa A. Latar Belakang KOPI, Dewasa ini, tradisi masyarakat menjadi perhatian aset warisan bangsa. Hal ini disebabkan karena dinamika zaman telah mengubah sikap dan perilaku masyarakat. Tradisi masyarakat selalu

Lebih terperinci

BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK. diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut

BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK. diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK 2.1 Rupiah Rupiah (Rp) adalah mata uang Indonesia (kodenya adalah IDR). Nama ini diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut Indonesia menggunakan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH I. UMUM Dengan adanya otonomi daerah Pemerintah Provinsi memiliki peran yang

Lebih terperinci

106 intisari-online.com

106 intisari-online.com 106 intisari-online.com BISNIS Reinkarnasi BISNIS MAK COMBLANG DI ZAMAN DIGITAL Penulis: M. Habib Asyhad Fotografer: Bhisma Adinaya Selama orang masih membutuhkan cinta, selama itu juga bisnis mak comblang

Lebih terperinci

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Nomor. 30/AN/B.AN/2010 0 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi

Lebih terperinci

Kerjasama Dalam Sentra UKM

Kerjasama Dalam Sentra UKM B A B Kerjasama Dalam Sentra UKM T ingkat Kerjasama dan Keberadaan Kelompok menjadi salah satu pemicu peningkatan aktivitas di dalam sentra. Hal ini menunjukkan dukungan pada pendekatan JICA yang mensyaratkan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan ekonomi dan teknologi pada saat ini membawa banyak

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan ekonomi dan teknologi pada saat ini membawa banyak BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ekonomi dan teknologi pada saat ini membawa banyak perusahaan di Indonesia untuk lebih maksimal, baik fungsi dan peran pemasaran dalam memasuki era globalisasi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Sejak zaman dahulu kala kosmetik sudah seperti sahabat setia wanita. Untuk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Sejak zaman dahulu kala kosmetik sudah seperti sahabat setia wanita. Untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak zaman dahulu kala kosmetik sudah seperti sahabat setia wanita. Untuk tampil cantik dan menarik tentunya sudah menjadi idaman bagi seluruh kaum hawa, tidak terkecuali.

Lebih terperinci

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Pengembangan ekspor tidak hanya dilihat sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga untuk mengembangkan ekonomi nasional. Perkembangan

Lebih terperinci

UNTUK DITERBITKAN SEGERA. 24 September 2014

UNTUK DITERBITKAN SEGERA. 24 September 2014 UNTUK DITERBITKAN SEGERA Corporate Communications Division Public Relations & Investor Relations Office 1-1-1 Shibaura, Minato-ku, Tokyo 105-8001, Japan URL : http://www.toshiba.co.jp/about/press/index.htm

Lebih terperinci

MENATA ULANG INDONESIA Menuju Negara Sejahtera

MENATA ULANG INDONESIA Menuju Negara Sejahtera MENATA ULANG INDONESIA Menuju Negara Sejahtera Ironi Sebuah Negara Kaya & Tumbuh Perekonomiannya, namun Kesejahteraan Rakyatnya masih Rendah KONFEDERASI SERIKAT PEKERJA INDONESIA Jl Condet Raya no 9, Al

Lebih terperinci

ANALISA PROSES PRODUKSI SULAMAN KERAWANG KHAS GORONTALO. Hariana Jurusan Teknik Kriya - Universitas Negeri Gorontalo

ANALISA PROSES PRODUKSI SULAMAN KERAWANG KHAS GORONTALO. Hariana Jurusan Teknik Kriya - Universitas Negeri Gorontalo ANALISA PROSES PRODUKSI SULAMAN KERAWANG KHAS GORONTALO Hariana Jurusan Teknik Kriya - Universitas Negeri Gorontalo Trifandi Lasalewo Jurusan Teknik Industri - Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK Setiap

Lebih terperinci

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS Hasil kajian dan analisis sesuai dengan tujuan dijelaskan sebagai berikut: 1. Profil Koperasi Wanita Secara Nasional Sebagaimana dijelaskan pada metodologi kajian ini maka

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani

I. PENDAHULUAN. nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani pada khususnya dan masyarakat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - 1 LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 TRIWULAN III KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin

Lebih terperinci

AMANAT MENTERI DALAM NEGERI PADA PERINGATAN HARI OTONOMI DAERAH KE XIX Tanggal 27 April 2015

AMANAT MENTERI DALAM NEGERI PADA PERINGATAN HARI OTONOMI DAERAH KE XIX Tanggal 27 April 2015 AMANAT MENTERI DALAM NEGERI PADA PERINGATAN HARI OTONOMI DAERAH KE XIX Tanggal 27 April 2015 Yth. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air Yth. Para peserta upacara sekalian. Assalamu alaikum Warrahmatullahi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU NOMOR : 1 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA ADAT MELAYU RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR RIAU,

PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU NOMOR : 1 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA ADAT MELAYU RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR RIAU, PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU NOMOR : 1 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA ADAT MELAYU RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR RIAU, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mempertahankan dan melestarikan adat

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019 Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 Pokok Bahasan 1. Keterpilihan Perempuan di Legislatif Hasil Pemilu 2014 2.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai produsen kerajinan tangan yang mampu

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai produsen kerajinan tangan yang mampu BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai produsen kerajinan tangan yang mampu bersaing di pasar dunia. Hasil produksinya merupakan barang ekspor Indonesia. Salah satu produksi barang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pendapatan pajak, bea cukai, BUMN, dan Migas, pariwisata juga menjadi andalan. Kayu olahan 3.3% Karet olahan 9.0%

I. PENDAHULUAN. pendapatan pajak, bea cukai, BUMN, dan Migas, pariwisata juga menjadi andalan. Kayu olahan 3.3% Karet olahan 9.0% I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pariwisata memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, baik sebagai salah satu sumber penerimaan devisa maupun penciptaan lapangan kerja serta kesempatan

Lebih terperinci

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun

Lebih terperinci

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 1 PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 DEPUTI BIDANG KELEMBAGAAN KOPERASI DAN UKM 1. Revitalisasi dan Modernisasi Koperasi; 2. Penyuluhan Dalam Rangka Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi;

Lebih terperinci

Fungsi, Sub Fungsi, Program, Satuan Kerja, dan Kegiatan Anggaran Tahun 2012 Kode. 1 010022 Provinsi : DKI Jakarta 484,909,154

Fungsi, Sub Fungsi, Program, Satuan Kerja, dan Kegiatan Anggaran Tahun 2012 Kode. 1 010022 Provinsi : DKI Jakarta 484,909,154 ALOKASI ANGGARAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN YANG DILIMPAHKAN KEPADA GUBERNUR (Alokasi Anggaran Dekonsentrasi Per Menurut Program dan Kegiatan) (ribuan rupiah) 1 010022 : DKI Jakarta 484,909,154

Lebih terperinci

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008 UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008 PANDUAN MATERI SMA DAN MA G E O G R A F I PROGRAM STUDI IPS PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BALITBANG DEPDIKNAS KATA PENGANTAR Dalam rangka sosialisasi kebijakan dan

Lebih terperinci

PENDUDUK LANJUT USIA

PENDUDUK LANJUT USIA PENDUDUK LANJUT USIA Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

- 458 - 2. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di bidang kebudayaan.

- 458 - 2. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di bidang kebudayaan. - 458 - Q. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA 1. Kebijakan Bidang Kebudayaan 1. Kebudayaan 1. Rencana induk pengembangan kebudayaan 1. Rencana induk pengembangan kebudayaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

SEMUA HAL YANG TERKAIT DENGAN KODE ETIK BPSDMKP, SILAHKAN BERKOMUNIKASI MELALUI ALAMAT EMAIL: kodeetik_bpsdmkp@kkp.go.id

SEMUA HAL YANG TERKAIT DENGAN KODE ETIK BPSDMKP, SILAHKAN BERKOMUNIKASI MELALUI ALAMAT EMAIL: kodeetik_bpsdmkp@kkp.go.id SEMUA HAL YANG TERKAIT DENGAN KODE ETIK BPSDMKP, SILAHKAN BERKOMUNIKASI MELALUI ALAMAT EMAIL: kodeetik_bpsdmkp@kkp.go.id hal 2.indd 2 1/24/2012 11:30:15 AM S U L U H Harus Komunikatif dan Strategis Penyuluh

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2035

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2035 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN INDUSTRI NASIONAL TAHUN 2015-2035 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

BUDAYA MARITIM NUSANTARA DAN GERAKAN KEMBALI KE LAUT

BUDAYA MARITIM NUSANTARA DAN GERAKAN KEMBALI KE LAUT BUDAYA MARITIM NUSANTARA DAN GERAKAN KEMBALI KE LAUT Gusti Asnan (Jur. Sejarah, Fak. Ilmu Budaya, Univ. Andalas Padang gasnan@yahoo.com) Berbincang mengenai budaya maritim Nusantara sesungguhnya membincangkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman dahulu, manusia hanya membutuhkan barang barang sehari-hari (barang umum) untuk kelangsungan hidupnya. Orientasi konsumen pada zaman tersebut hanya kepuasaan

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa pembangunan ekonomi yang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PENGESAHAN NAGOYA PROTOCOL ON ACCESS TO GENETIC RESOURCES AND THE FAIR AND EQUITABLE SHARING OF BENEFITS ARISING FROM THEIR UTILIZATION TO THE

Lebih terperinci

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender 1 Tujuan belajar 1. Memahami arti stereotip dan stereotip gender 2. Mengidentifikasi karakter utama stereotip gender 3. Mengakui stereotip gender dalam media

Lebih terperinci

PENGARUH CITRA MEREK (BRAND IMAGE) TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN PADA PRODUK PAKAIAN 3SECOND DI SHOWROOM JAVA MALL SEMARANG

PENGARUH CITRA MEREK (BRAND IMAGE) TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN PADA PRODUK PAKAIAN 3SECOND DI SHOWROOM JAVA MALL SEMARANG PENGARUH CITRA MEREK (BRAND IMAGE) TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN PADA PRODUK PAKAIAN 3SECOND DI SHOWROOM JAVA MALL SEMARANG PAULA TIERA PANGESTIKA B11.2009.01862 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Di dunia

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I 1 KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin diwujudkan dalam pengelolaan APBD. Untuk mendorong tercapainya tujuan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh penyerapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi pada saat ini sangatlah

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi pada saat ini sangatlah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi pada saat ini sangatlah penting. Pilihan penggunaan sarana transportasi sangat beragam jenisnya, misalnya sarana angkutan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL INDONESIA DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL (SERI 1) 24 JULI 2003 PROF. DAVID K. LINNAN UNIVERSITY OF

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang strip center mall Strip center mall

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang strip center  mall Strip center  mall BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pusat perbelanjaan modern adalah fenomena yang dapat ditemui baik di kota kecil maupun kota besar di Indonesia, keberadaan dari pusat perbelanjaan memiliki

Lebih terperinci

MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI

MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI A. Definisi Pengertian perdagangan internasional merupakan hubungan kegiatan ekonomi antarnegara yang diwujudkan dengan adanya proses pertukaran barang atau jasa atas dasar

Lebih terperinci

PRESS KIT MAY 2015 PERBURUAN HARTA KARUN MAKASSAR RAHAL ASIA - WIRELESS STARS

PRESS KIT MAY 2015 PERBURUAN HARTA KARUN MAKASSAR RAHAL ASIA - WIRELESS STARS PERBURUAN HARTA KARUN MAKASSAR RAHAL ASIA - WIRELESS STARS http://rahalasia.com http://wstars.com PERBURUAN HARTA KARUN MAKASSAR ʺPerburuan Harta Makassarʺ Rahal adalah serangkaian seri pertama yang menyenangkan

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 No. 17/03/34/Th.XVII, 2 Maret 2015 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Februari 2015, NTP

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN. A. Sejarah Balai Besar Kerajinan dan Batik. Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) adalah unit pelaksanan teknis

BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN. A. Sejarah Balai Besar Kerajinan dan Batik. Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) adalah unit pelaksanan teknis BAB II DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN A. Sejarah Balai Besar Kerajinan dan Batik Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) adalah unit pelaksanan teknis dilingkungan Kementerian Perindustrian yang berada di bawah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, beberapa tahun belakangan ini restoran Chinese di Indonesia semakin memudar dan tidak mempunyai ciri khas dari budaya

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG K E M E N T E R I A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L / B A D A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L ( B A

Lebih terperinci

BATIK TULIS BREBESAN PROFIL KOMODITI PEMERINTAH KABUPATEN BREBES DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

BATIK TULIS BREBESAN PROFIL KOMODITI PEMERINTAH KABUPATEN BREBES DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROFIL KOMODITI PEMERINTAH KABUPATEN BREBES DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN BATIK TULIS BREBESAN KELOMPOK INDU STRI TEKSTIL SENTRA INDUSTRI KERAJINAN BATIK TULIS SALEM Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG PEMBERLAKUAN SNI SEBAGIAN PARAMETER UNTUK HANDUK SECARA WAJIB

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG PEMBERLAKUAN SNI SEBAGIAN PARAMETER UNTUK HANDUK SECARA WAJIB PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG PEMBERLAKUAN SNI SEBAGIAN PARAMETER UNTUK HANDUK SECARA WAJIB DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Dampak Banjir Terhadap Inflasi

Dampak Banjir Terhadap Inflasi Dampak Banjir Terhadap Inflasi Praptono Djunedi, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari

Lebih terperinci

Eksotisme & GALLERY. Vol. 13 No. 05 Mei 2012

Eksotisme & GALLERY. Vol. 13 No. 05 Mei 2012 Eksotisme KONSEP RESTO & GALLERY Penulis Qisthi Jihan Fotografer Ahkamul Hakim Berwisata kuliner di Bali, tidak sekadar mencari makanan yang nikmat, tetapi kebanyakan dari pengunjung juga mencari sebuah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat ibukota. Pusat perbelanjaan sering disebut juga dengan sebutan Mal.

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat ibukota. Pusat perbelanjaan sering disebut juga dengan sebutan Mal. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pusat perbelanjaan merupakan istilah yang tak asing lagi, terlebih bagi masyarakat ibukota. Pusat perbelanjaan sering disebut juga dengan sebutan Mal. Mal merupakan

Lebih terperinci

DIEMBARGO SAMPAI 9 APRIL (07:00 WIB) Pendidikan untuk Semua 2000-2015: Tujuan pendidikan global hanya dicapai oleh sepertiga negara peserta

DIEMBARGO SAMPAI 9 APRIL (07:00 WIB) Pendidikan untuk Semua 2000-2015: Tujuan pendidikan global hanya dicapai oleh sepertiga negara peserta Siaran Pers UNESCO No. 2015-xx DIEMBARGO SAMPAI 9 APRIL (07:00 WIB) Pendidikan untuk Semua 2000-2015: Tujuan pendidikan global hanya dicapai oleh sepertiga negara peserta Paris/New Delhi, 9 April 2015

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA SALINAN - 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN SASTRA, SERTA PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Menghadapi Persaingan Pasar Global & Merancang Strategi Masuk Pasar Global

Menghadapi Persaingan Pasar Global & Merancang Strategi Masuk Pasar Global STMIK - AMIK RAHARJA INFORMATIKA MARKETING MANAJAMEN Menghadapi Persaingan Pasar Global & Merancang Strategi Masuk Pasar Global Pasar Global 1. Mendiskusikan pengaruh sitem perdagangan internasional, lingkungan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten Jembrana

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR TAHUN 2012 TENTANG PELESTARIAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN BAGIAN 2. PERKEMBANGAN PENCAPAIAN 25 TUJUAN 1: TUJUAN 2: TUJUAN 3: TUJUAN 4: TUJUAN 5: TUJUAN 6: TUJUAN 7: Menanggulagi Kemiskinan dan Kelaparan Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Mendorong Kesetaraan

Lebih terperinci