Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan"

Transkripsi

1 PUSAT STUDI HUKUM DAN KEBIJAKAN INDONESIA Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan LAPORAN HASIL PENELITIAN TIM PENELITI PSHK Imam Nasima, LLM Gita Putri Damayana, SH M. Nur Sholikin, SH Siti Maryam Rodja, SH April 2009 Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan dilakukan oleh PSHK, bekerjasama dengan DKJ, serta didukung oleh HIVOS, dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran umum peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah Indonesia yang menyangkut kegiatan kesenian dan kebudayaan. Selain untuk mendapatkan gambaran umum kebijakan pemerintah melalui peraturan-peraturan terkait, diberikan juga ulasan beberapa isu aktual dalam dunia seni dan budaya di Indonesia, berangkat dari analisa atas peraturan-peraturan tersebut.

2 DAFTAR ISI 1. Pendahuluan Latar Belakang Kajian Metodologi Sumber Data dan Narasumber Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan (Gambaran Umum) Hasil Penelitian Hipotesis Konteks Sosial Politik: Kebijakan Kebudayaan di Indonesia Kebijakan Kebudayaan di Indonesia Kebijakan Kebudayaan di Mata Seniman Kesimpulan Isu-Isu Pilihan Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan Seni dan Budaya sebagai Hak Dasar Pajak/Retribusi Daerah Kebijakan Fiskal (Kepabeanan) Dokumentasi Karya Seni Pelestarian Cagar Budaya Pendidikan Seni Posisi Seni dalam Kebijakan Pariwisata Hak Kekayaan Intelektual, Seni, dan Budaya Kesimpulan dan Rekomendasi Kesimpulan Rekomendasi LAMPIRAN: DAFTAR PERATURAN TERIDENTIFIKASI PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 1

3 1. Pendahuluan Tsze-lu said, "The ruler of Wei has been waiting for you, in order with you to administer the government. What will you consider the first thing to be done?" The Master replied, "What is necessary is to rectify names." "So! Indeed!" said Tsze-lu. "You are wide of the mark! Why must there be such rectification?" "If names be not correct, language is not in accordance with the truth of things. If language be not in accordance with the truth of things, affairs cannot be carried on to success. "When affairs cannot be carried on to success, proprieties and music do not flourish. When proprieties and music do not flourish, punishments will not be properly awarded. When punishments are not properly awarded, the people do not know how to move hand or foot. (Confucius, The Analects, Section 13; Part 3) Apabila sistem administrasi pemerintahan dapat dianggap sebagai sumber dari segala aspek kehidupan di dalam masyarakat, maka berkembangnya seni dan budaya dalam masyarakat tidak akan lepas pula dari bekerjanya suatu sistem pemerintahan. Bekerjanya sistem administrasi pemerintahan sendiri, seperti ujar-ujar Confucius di atas, diawali dengan perbaikan pada penamaan dengan kata lain ada sistem yang tertata secara teratur dan dimengerti, serta konsisten ditegakkan. Sehubungan dengan kebijakan kebudayaan di Indonesia, peran pemerintah melalui pemberlakuan suatu aturan, juga dipandang sebagai hal yang krusial oleh anggota komunitas dunia seni di Indonesia. 1 Tapi apa peran pemerintah selama ini? Mungkin mudah untuk menarik kesimpulan bahwa pemerintah tidak berbuat apaapa, sebagaimana kesimpulan bahwa pemerintah sudah berusaha optimal, namun ukuran yang dipakai untuk mengambil kesimpulan ini tidaklah jelas. Karenanya, untuk dapat memetakan peran pemerintah sehubungan dengan pengembangan sektor seni dan budaya di Indonesia, perlu ada penelaahan kebijakan pemerintah lebih lanjut lagi. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menelusuri peraturan-peraturan yang menyangkut kegiatan kesenian dan kebudayaan di Indonesia. Sudut pandang di atas, yaitu pandangan yang terfokus pada penelitian peraturanperaturan (yang notabene berangkat dari peran pemerintah), tidak harus diterjemahkan 1 Hal ini tidak hanya didukung dari proses perumusan kajian yang akan dijelaskan dalam latar belakang kajian ini, tetapi juga sangat terlihat dari pendapat-pendapat dari komunitas seni sendiri yang terlibat sebagai narasumber dalam penelitian ini. PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 2

4 sebagai adanya dukungan atau pembelaan terhadap suatu sistem pemerintahan yang terpusat (sentralistis). Bagaimanapun juga, peran yang diambil pemerintah akan selalu berpengaruh pada hak dan kewajiban warga negara, baik berupa pengaruh positif, maupun pengaruh negatif. Sehingga, pemetaan kebijakan melalui penelusuran dan penelaahan peraturan, tidak selalu berarti menafikan peran masyarakat sendiri. Dengan adanya pemetaan peraturan yang berhubungan dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan, justru diharapkan terbentuk gambaran yang jelas mengenai peran pemerintah di Indonesia, sekaligus ruang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Kemajuan kebudayaan nasional adalah tanggungjawab negara dan semestinya memberikan ruang yang lapang kepada masyarakat untuk mengembangkan budayanya masing-masing. Hal tersebut telah diatur secara jelas di dalam konstitusi. 2 Sebagai sebuah norma konstitusi yang abstrak, kewajiban negara tersebut tentu masih harus diwujudkan oleh pemerintah dalam suatu kebijakan yang bersifat lebih konkrit. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana norma tersebut diwujudkan. Pertanyaan inilah yang akan dijawab oleh penelitian ini. Selanjutnya, sebagaimana sudah dipaparkan sebelumnya, bahwa ada hubungan yang tak terpisahkan antara peran pemerintah (pengambil kebijakan) untuk mengatur dan posisi warga negara yang akan terkena pengaruh dari peraturan yang ditetapkan. Dengan demikian, selain menelusuri dan menelaah peraturan yang ada, perlu digali pula pengalaman dari pegiat dan pemerhati seni sendiri, sehubungan dengan peraturanperaturan (yang dimaksudkan) mengatur kegiatan-kegiatan yang akan mereka lakukan. Menurut hemat kami, hal ini tak kalah penting, karena implementasi (pelaksanaan) suatu aturan di lapangan, tidak dapat diukur hanya dari daftar peraturan perundangan yang ada. Pengalaman pihak yang berhubungan langsung dengan bidang kehidupan yang diatur itulah yang justru dapat menjadi gambaran nyata pelaksanaan suatu peraturan. Untuk itu, selain menelusuri dan menelaah peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan, maka dilakukan pula serangkaian wawancara dengan pegiat dan pemerhati seni (narasumber) untuk membandingkan antara data normatif (peraturan), dengan kenyataan di lapangan. Wawancara dengan narasumber tersebut juga dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kendala yang dihadapi atau harapan yang dimiliki oleh pemangku kepentingan sendiri, sehubungan dengan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kehidupan mereka. 2 Pasal 32 ayat 1: Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Selain aturan tersebut, menurut pasal 28C ayat (1) diatur pula tanggungjawab negara untuk menjamin hak setiap warga negara untuk mengembangkan diri, termasuk di bidang seni dan budaya: Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan manusia. PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 3

5 1.1. Latar Belakang Kajian Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan berawal dari advokasi yang diberikan oleh PSHK (Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia) kepada beberapa anggota komunitas seni di bawah koordinasi DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), sehubungan dengan diundangkannya Undang-Undang Pajak Penghasilan (UU PPh) yang baru pada tahun 2008 (UU No. 36/2008). 3 Dalam UU No. 36/2008, meskipun elemen pemberian insentif untuk sektor-sektor tertentu (non-komersial) sudah mulai dimasukkan, namun baru sebatas ditujukan kepada lembaga-lembaga pendidikan, penelitian, dan pengembangan. 4 Selain itu, insentif berupa pemotongan penghasilan bruto, baru mencakup sumbangan untuk bencana alam, sumbangan sosial, sumbangan untuk penelitian, pengembangan dan pendidikan. 5 Sumbangan untuk sektor seni dan budaya, ternyata tidak masuk ke dalam kategori tersebut. Perjuangan untuk menambahkan pemberlakuan insentif pada sektor seni dan budaya belum membuahkan hasil nyata. Alasan pemerintah untuk menolak memasukkan komponen tersebut, karena proses perumusan undang-undang yang telah selesai dan tinggal menunggu penetapan. 6 Meskipun begitu, pemerintah menjanjikan akan mengatur hal tersebut di dalam peraturan pemerintah (PP). Sebelumnya, beberapa anggota komunitas dunia film, telah mengajukan uji konstitusional terhadap UU No. 8/1992 tentang Perfilman. 7 Uji konstitusional tersebut diajukan karena adanya penolakan terhadap sistem sensor melalui Lembaga Sensor Film (LSF) yang dipandang oleh para pemohon telah melanggar hak-hak konstitusionalnya (hak untuk mengembangkan diri). Meskipun permohonan tersebut akhirnya tidak dikabulkan, Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa aturan mengenai Lembaga Sensor Film tersebut sudah tidak sesuai dengan semangat zamannya. 8 Menurut Mahkamah Konstitusi lebih lanjut lagi: sangat mendesak untuk dibentuk undang-undang perfilman yang baru yang lebih sesuai dengan semangat demokratisasi dan penghormatan terhadap HAM. 9 3 Pemberitaan di media, antara lain, dapat dilihat di artikel Wapres Setuju Insentif Pajak Untuk Kesenian, 12 September Lihat pasal 4 ayat (3) huruf m UU No. 36/ Lihat pasal 6 ayat 1 UU No. 36/ Komentar anggota Komisi XI (bidang keuangan dan perbankan), Drajad Hari Wibowo yang saat itu menyalahkan komunitas seni sendiri yang tidak pro aktif memperjuangkan usulan ini sedari awal. Seniman Minta Insentif Pajak, 21 Agustus Lihat Putusan MK No. 29/PUU-V/ Ibid. 9 Ibid. PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 4

6 Lepas dari hasil dari usaha-usaha yang telah diperjuangkan oleh komunitas seni tersebut di atas, hal yang mulai menarik digarisbawahi adalah bangkitnya kesadaran dan kepedulian dari komunitas seni untuk menuntut hak-haknya sebagai warga negara. Dari kesadaran dan kepedulian ini pula, PSHK atas permintaan DKJ dan didukung oleh HIVOS mengambil inisiatif untuk melangkah lebih jauh lagi (tidak terbatas pada pembahasan masalah insentif pajak dan perfilman), dengan melakukan penelitian yang terfokus pada penulusuran dan penelaahan peraturan-peraturan perundangan yang menyangkut kegiatan kesenian dan kebudayaan di Indonesia. Di samping kajian kerangka hukum ini, PSHK juga akan melakukan kajian khusus di bidang perfilman sebagai tindak lanjut dari Putusan MK No. 29/PUU-V/2007 yang mengamanatkan pembentukan undang-undang perfilman baru, serta kajian khusus mengenai status hukum DKJ. Karenanya, meskipun dua topik tersebut sangat menarik untuk dibahas, namun topik-topik tersebut tidak akan dibicarakan panjang lebar di sini Metodologi Kajian kerangka hukum mulai kami lakukan dengan cara mendata semua peraturan perundangan terkait kegiatan kesenian dan kebudayaan di Indonesia. Sebuah kajian kerangka hukum, idealnya dapat menyajikan gambaran yang utuh tentang peraturan perundangan dari level paling tinggi sampai level paling rendah. Data tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam klasifikasi-klasifikasi tertentu, jika nantinya ada klasifikasi tertentu yang muncul, untuk melihat strategi kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Meskipun terdengar sederhana, dalam melaksanakan Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan, kami menghadapi beberapa tantangan, baik teknis maupun substantif. Pertama, ada permasalahan definisi yang harus lebih dulu ditetapkan tentang apa yang dapat dikategorikan sebagai kegiatan kesenian dan kebudayaan. Definisi kesenian dan kebudayaan itu sendiri dapat berarti sangat luas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kesenian berarti perihal seni; keindahan, sedangkan kata kebudayaan berarti hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat; keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya. 10 Dari penjabaran definisi-definisi tersebut di atas (terutama definisi tentang kebudayaan yang dapat meliputi segala aspek kehidupan manusia) yang hampir mustahil untuk ditetapkan, maka kami mencoba untuk memulai penelusuran peraturan dengan menggunakan kata kunci seni dan budaya. 10 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed. 3, cet. 3, Jakarta: Balai Pustaka, PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 5

7 Penggunaan metode ini tentu mengandung kelemahan, karena tidak semua peraturan yang menyangkut kegiatan kesenian dan kebudayaan berjudul atau setidaknya memuat kata seni dan/atau budaya, seperti misalnya Undang-Undang Perfilman. Untuk mengantisipasi kelemahan tersebut, kami mencoba untuk menelusuri sendiri hal-hal yang termasuk ke dalam kegiatan kesenian dan kebudayaan, seperti misalnya aturan tentang perfilman tersebut. Selain itu, kami juga mengadakan pertemuan secara rutin dengan pihak DKJ, selain mengadakan wawancara dengan para pegiat dan pemerhati seni. Paling tidak, dari pengalaman anggota komunitas seni di lapangan, kami berharap kelemahan tersebut dapat diminimalisir. Kendala kedua yang kami hadapi dalam melakukan penelitian adalah keterbatasan sumber data yang dapat digunakan. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa belum ada lembaga pemerintahan di Indonesia yang dapat menjalankan sistem administrasi yang baik, termasuk sehubungan dengan pengumpulan dan penyediaan produk-produk peraturan. Sehingga, dalam penelitian ini, kami mengambil inisiatif untuk menggunakan sumber data kami sendiri yang berisi produk-produk peraturan di Indonesia. 11 Artinya, data peraturan yang berhasil kami kumpulkan, tidak dapat dikatakan telah ditelusuri dan disaring dari semua produk peraturan yang ada di Indonesia. Terakhir, ada kendala subtantif sehubungan dengan pemetaan kerangka hukum ini, sehubungan dengan konsistensi bentuk peraturan yang dikaji. Kerangka hukum yang kami telusuri dan telaah, meliputi peraturan-peraturan yang dibuat dalam sistem-sistem pemerintahan yang berbeda, dengan bentuk yang berbeda-beda pula. 12 Pengesahan perjanjian kerjasama bilateral, misalnya, dilakukan dengan penetapan undang-undang (masa demokrasi konstitusional), keputusan Presiden (masa Orde Baru hingga diundangkannya UU No. 10/2004), serta peraturan Presiden (pasca diundangkannya UU No. 10/2004). Menyadari bahwa permasalahan ini juga pasti akan terjadi pada penelitian-penelitian kerangka hukum lainnya atau dengan kata lain memang masih ada permasalahan keselarasan peraturan perundangan di Indonesia, maka kami tetap mendaftar semua bentuk peraturan tersebut dan menganggapnya setara dengan peraturan sejenis menurut aturan terbaru. Untuk pengesahan perjanjian kerjasama bilateral, misalnya, kami anggap bahwa peraturan-peraturan tersebut ada pada level Peraturan Presiden. 11 Sumber data tersebut berada di bawah pengelolaan Dan Lev Law Library dan selama ini dijadikan pendukung penelitian-penelitian yang dilakukan oleh PSHK. Kumpulan peraturan tersebut memuat sekitar 6600 data peraturan perundangan dari tahun 1946, meliputi produk undang-undang hingga instruksi presiden. 12 Peraturan tertua yang teridentifikasi ditetapkan pada tahun 1953 (masa demokrasi konstitusional). Sesudah masa demokrasi konstitusional yang secara formil berakhir pada tahun 1959, Indonesia mengalami masa pemerintahan demokrasi terpimpin (Orde Lama/ ), demokrasi Pancasila (Orde Baru/ ), dan terakhir masa reformasi (1998-sekarang). Harmonisasi peraturan terbaru ditetapkan pada tahun 2004 (UU No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan), meskipun baru pada tahap normatif dalam arti belum jelas status peraturan-peraturan yang terbit sebelum undang-undang tersebut. Meskipun beberapa data berasal dari pemerintahan demokrasi konstitusional atau Orde Lama, fokus penelitian ini (berdasar data yang berhasil ditemukan) terfokus pada masa Orde Baru dan masa reformasi. PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 6

8 Dalam penelitian ini kami juga mengumpulkan beberapa peraturan daerah terkait kegiatan kesenian dan kebudayaan. Untuk hal ini, kami menggunakan situs perdaonline (www.perdaonline.org) yang telah memuat peraturan-peraturan daerah di beberapa daerah di Indonesia. Meskipun dari segi kelengkapan tetap dapat dipertanyakan, dengan adanya beberapa contoh pengaturan oleh pemerintah daerah menyangkut kegiatan kesenian dan kebudayaan, kami berharap dapat memperoleh gambaran tentang kondisi di daerah. Dengan adanya berbagai kendala di atas, penelitian kajian kerangka hukum yang mungkin akan ideal dilakukan dengan menggunakan metode kwantitatif, sehingga dapat memetakan sebuah struktur yang utuh, dalam penelitian ini hanya dapat dilakukan terbatas pada sumber data yang kami miliki. Namun demikian, menurut hemat kami metode ini tetap penting, untuk membangun basis data peraturan terkait kegiatan kesenian dan kebudayaan. Untuk mengantisipasi kelemahan-kelemahan analisa yang mungkin timbul dengan penggunaan metode kwantitatif terbatas ini, selain karena beberapa informasi memang tidak mungkin ditemukan dalam peraturan itu sendiri (misalnya mengenai implementasi dan konteks sosial politik peraturan-peraturan tersebut), kami mencoba untuk menggunakan juga metode kwalitatif. Metode kwalitatif kami praktekkan melalui wawancara mendalam dengan para pegiat dan pemerhati seni untuk menggali dan mendalami isu-isu tertentu dalam dunia seni sendiri. Selain itu, untuk memperjelas konteks sosial politik peraturan yang kami analisa, kami menggunakan disertasi yang pernah ditulis oleh Tod Jones mengenai kebijakan kebudayaan di Indonesia. Dari informasi-informasi yang kami dapatkan tersebut, baik dari penelusuran dari sumber data peraturan, maupun wawancara, baru kami mencari lebih lanjut peraturanperaturan pada level yang lebih konkrit (misalnya Keputusan Menteri) untuk isu-isu tertentu yang menonjol. Sehingga, data yang kami kumpulkan dan analisa, sebagian besar meliputi produk perundangan berupa undang-undang atau peraturan pemerintah Sumber Data dan Narasumber Seperti sudah disebutkan di atas, kami menggunakan sumber data peraturan perundangan Dan Lev Law Library yang setidaknya berisi 6600 peraturan dari tahun Untuk peraturan-peraturan daerah kami juga melakukan penelusuran melalui situs perdaonline. Di samping itu, kami menggunakan sumber-sumber yang dapat ditemukan melalui internet berdasarkan pendalaman beberapa isu, maupun peraturanperaturan yang kami temukan dari studi literatur dan informasi dari narasumber atau pihak DKJ. PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 7

9 Pemilihan narasumber kami lakukan secara acak, sesuai dengan topik-topik (klasifikasiklasifikasi) peraturan teridentifikasi, serta informasi dari pihak DKJ. Narasumber yang berhasil kami wawancarai dalam penelitian ini adalah: - Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI ( ). - Biantoro, pemilik dan pengelola Nadi Gallery. - Dolorosa Sinaga, perupa, pemimpin redaksi majalah budaya batak Tapian. - Endo Suanda, etnomusikolog, aktif di Lembaga Pendidikan Seni Nusantara. - Ismid Hadad, ketua Perhimpunan Filantropi Indonesia. - John McGlynn, pemerhati budaya Indonesia, aktif di Yayasan Lontar. - Ratna Sarumpaet, sutradara teater, mantan ketua Dewan Kesenian Jakarta ( ). - Seno Gumira Ajidarma, penulis, dosen pada Institut Kesenian Jakarta. - Sita Laretna Adishakti, dosen pada Universitas Gajah Mada, aktif di Badan Pelestarian Purbakala Indonesia. - Suhadi Hadiwinoto, arsitek, aktif di Badan Pelestarian Purbakala Indonesia. - Tita Rubi, perupa. - Rohana Manggala, mantan Asisten Kesejahteraan Masyarakat (Askesmas) Pemda DKI Jakarta. Tanpa adanya bantuan masukan yang sangat berharga dari para narasumber tersebut, mustahil kami dapat memahami sektor seni dan budaya di Indonesia, hanya dengan melihat peraturan perundangan yang ada. Kami juga telah meminta pihak otoritas (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata) untuk diwawancarai sejak awal penelitian ini. Sayangnya, hingga waktu penelitian ini berakhir, wawancara tidak terlaksana. Jawaban yang kami dapatkan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata masih sibuk dengan permasalahan restrukturisasi lembaga. Selain masukan dari narasumber. Dalam penelitian kami, kami juga terbantu dengan adanya penelitian-penelitian yang sebelumnya dilakukan menyangkut kebijakan kebudayaan di Indonesia. Hasil-hasil penelitian sebelumnya yang berhasil kami telusuri, berkaitan dengan hal tersebut adalah: - Haryati Soebadio, Cultural Policy in Indonesia (based on Annual Reports of the Department of Education and Culture and material of Centres and Directorates of the Directorate-General of Culture), Unesco, Tim Peneliti LIPI, Kebijakan Kebudayaan di masa Orde Baru, Kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan-LIPI dengan the Ford Foundation, Tod Jones, Indonesian Cultural Policy, : Culture, Institutions, Government, Thesis, Curtin University of Technology, Helly Minarti & Alex Supartono, Pemetaan Pelaksanaan Program Seni di Indonesia: Lima Studi Kasus (dokumen dapat diunduh di PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 8

10 Seperti sudah disinggung sebelumnya, secara khusus kami menggunakan disertasi Tod Jones sebagai referensi untuk memperjelas konteks sosial dan politik dibuatnya peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan di Indonesia. Dibandingkan dengan penelitian-penelitian lainnya, kelebihan disertasi Tod Jones adalah adanya deskripsi yang cukup luas, meliputi sejarah kebijakan kebudayaan, dinamika sosial politik dari masa ke masa. Deskripsi semacam ini yang dibutuhkan oleh penelitian seperti kajian kerangka hukum yang mencoba untuk memberi gambaran utuh kebijakan kebudayaan di Indonesia melalui pendekatan normatif. PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 9

11 2. Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan (Gambaran Umum) Dalam Bab 2 ini akan dipaparkan hasil penelitian kajian kerangka hukum untuk kegiatan kesenian dan kebudayaan. Paparan ini merupakan bacaan umum (global) atas hasil penelitian, sehingga dapat memberikan informasi yang menyeluruh, meskipun tidak rinci (terfokus pada suatu topik tertentu). Tujuannya adalah memberikan gambaran umum dari kebijakan kebudayaan yang diambil pemerintah dari masa ke masa, sekaligus penjelasan topik-topik yang diatur. Dari hasil penelitian yang dipaparkan, akan dirumuskan beberapa hipotesis. Karena baru merupakan hipotesis, maka belum dapat diperlakukan seperti sebuah kesimpulan (baru merupakan data yang perlu diverifikasi lagi). Hipotesis-hipotesis tersebut akan diverifikasi lagi di dalam Bab 3 dengan mengaitkan sumber-sumber bacaan tambahan yang dapat menjelaskan latar belakang dibuatnya kebijakan tersebut. Sementara untuk pembahasan lebih mendalam, kami telah menentukan beberapa isu pilihan yang akan dibahas lebih lanjut di dalam Bab 4. Untuk memahami data-data hasil penelitian yang akan dipaparkan dalam Bab 2 ini, perlu ada pemahaman dasar mengenai jenis dan hierarki peraturan di Indonesia. Menurut aturan terakhir yang mengatur hal ini (UU No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan), jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan adalah sebagai berikut : 13 a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah; d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. Undang-Undang No. 10/2004 memang hanya mengatur secara lugas peraturanperaturan tersebut di atas. Meskipun begitu, beberapa peraturan peraturan lain diakui, selama didasarkan kepada peraturan yang lebih tinggi. 14 Perlu dipahami juga bahwa rentang waktu yang ditelusuri dalam penelitian ini meliputi beberapa struktur pemerintahan yang berbeda, dengan struktur peraturan perundangan yang berbeda pula. Untuk menghindari kebingungan dalam pembacaan data hasil penelitian, perlu diperhatikan peta berikut ini: 13 Pasal 7 ayat (1) UU No. 10/ Pasal 7 ayat (4) UU No. 10/2004 beserta penjelasannya. PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 10

12 Skema 2.1. Jenis dan Hierarki Peraturan Yang Teridentifikasi Dari tabel di atas, hanya peraturan-peraturan dalam kotak-kotak berwarna abu-abu saja (UUD, UU, PP, Perpres, dan Perda) yang diatur secara eksplisit (jenis dan hierarkinya) dalam UU No. 10/2004. Beberapa peraturan lain (Peraturan Menteri, Keputusan Gubernur, Keputusan Walikota) disebut dalam penjelasan pasal 7 ayat (4) UU No. 10/2004 dengan syarat diperintahkan oleh undang-undang di atasnya, walau penyebutan ini tidak menjelaskan hierarki peraturan-peraturan tersebut. Khusus untuk Keputusan Kepala Daerah (Gubernur atau Walikota) telah diatur pula oleh UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa peraturan seperti ini merupakan peraturan pelaksana Perda dan tidak boleh bertentangan, antara lain, dengan Perda. 15 Peraturan-peraturan berupa Keputusan Presiden, Instruksi Presiden, dan Instruksi Menteri yang ditemukan dalam penelusuran kami, berasal dari rezim peraturan sebelum diundangkannya UU No. 10/2004. Setelah adanya undang-undang tersebut, pengesahan perjanjian kerjasama bilateral yang tadinya diatur dengan Keputusan Presiden, diatur dengan menggunakan Peraturan Presiden, karena pengaturannya yang bersifat umum Pasal 146 ayat (2) UU No. 32/ Pengaturan bersifat umum diatur dengan menggunakan Peraturan dan pengaturan yang bersifat khusus diatur dengan menggunakan Keputusan Presiden. Lihat juga Pasal 56 UU No. 10/2004. PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 11

13 2.1. Hasil Penelitian Dari hasil penelusuran yang kami lakukan selama periode Desember 2008 Maret 2009, berhasil terkumpul 108 peraturan. Dari sekian banyak peraturan tersebut, kami membuat pengelompokan berdasarkan jenis peraturan, klasifikasi peraturan, dan tahun ditetapkan. Jenis Peraturan Untuk jenis peraturan, ada 10 (sepuluh) jenis peraturan yang dapat kami telusuri, yaitu Undang-Undang (UU), Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Perpres), Keputusan Presiden (Keppres), Instruksi Presiden (Inpres), Peraturan Menteri (Permen), Instruksi Menteri (Irmen), Peraturan Daerah (Perda), Keputusan Gubernur (Kepgub), dan Keputusan Walikota (Kepwali). Tabel Jenis Peraturan Yang Teridentifikasi Klasifikasi Peraturan Untuk klasifikasi peraturan, setidaknya terdapat 20 (dua puluh) isu yang berhasil kami petakan dari peraturan-peraturan yang ada. Di bawah ini daftar dua puluh klasifikasi tersebut, berikut penjelasan klasifikasi yang kami buat. Dari peraturan yang ada, bisa juga dipisahkan antara peraturan yang memang secara khusus ditujukan untuk mengatur kegiatan kesenian dan kebudayaan, maupun peraturan yang meskipun tidak ditujukan secara khusus, namun memiliki dampak pada kegiatan kesenian dan kebudayaan. PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 12

14 Tabel Klasifikasi Peraturan Yang Teridentifikasi Klasifikasi peraturan-peraturan yang secara langsung ditujukan untuk sektor seni dan budaya: Adat Budaya o Budaya daerah atau etnis tertentu di Indonesia yang diatur secara khusus dalam suatu peraturan. Dalam penelitian ini ditemukan aturan mengenai pencabutan pengaturan adat kebudayaan etnis Tionghoa dan Qanun (peraturan daerah) yang mengatur tentang Kebudayaan Aceh. Penghargaan Seni o Penghargaan yang diberikan oleh pemerintah dalam bentuk tanda jasa atau hadiah kepada warga negara yang dianggap berjasa dalam pengembangan seni dan atau budaya di Indonesia. Pada prinsipnya hadiah yang khusus ditujukan untuk kegiatan kesenian sendiri diatur di masa Orde Lama. Untuk pengaturan sesudahnya lebih mengatur kegiatan kebudayaan yang sifatnya lebih umum. Birokrasi o Aturan yang berhubungan dengan struktur lembaga pemerintahan yang berhubungan dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan di Indonesia, antara lain keputusan presiden yang mengatur pembentukan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 13

15 Cagar Budaya o Perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. Dewan Kesenian o Aturan yang berhubungan dengan dasar hukum pembentukan dewan-dewan kesenian di Indonesia. Dokumentasi o Usaha pemerintah untuk membuat dokumentasi atas karya-karya yang dibuat di Indonesia atau oleh warga negara Indonesia, meskipun mungkin motif politik pemerintah sendiri masih dapat diperdebatkan. Kami memilih klasifikasi dokumentasi sebagai sebuah klasifikasi yang netral, dengan tidak menutup kemungkinan adanya perdebatan mengenai motif politik pemerintah di balik itu. Pada prakteknya aturan ini tidak berjalan efektif. Film o Semua aturan yang berhubungan dengan film, termasuk aturan mengenai sensor dan penyelesaian sengketa di dalamnya. Kerjasama Bilateral Kebudayaan o Peraturan yang berisi pengesahan perjanjian kerjasama bilateral kebudayaan Republik Indonesia dengan negara sahabat. Isi perjanjian itu sendiri biasanya dicantumkan di dalam lampiran pengesahan perjanjian tersebut. Sayangnya, dalam penelitian kami, sebagian besar lampiran perjanjian-perjanjian tersebut tidak dapat ditemukan. Pajak/Retribusi Daerah o Peraturan yang menyangkut pajak/retribusi daerah adalah peraturanperaturan daerah mengenai pajak dan retribusi untuk hiburan. Dalam hal ini, kegiatan-kegiatan kesenian dapat dikategorikan sebagai obyek pajak. Pariwisata o Peraturan-peraturan yang menyangkut pengembangan pariwisata. Pendidikan Seni o Pengaturan mengenai pendidikan seni sebagian besar berupa dasar hukum pembentukan institut-institut seni di Indonesia (bersifat institusional). Penyiaran o Peraturan-peraturan yang menyangkut penyiaran, terutama peran dan tugas televesi dan radio negara. Perjanjian Internasional o Meskipun sama-sama berupa kebijakan luar negeri, perjanjian internasional dibedakan dengan perjanjian bilateral, karena biasanya tidak hanya menyangkut perjanjian antara dua negara saja. Selain itu, isi perjanjian tersebut bersifat lebih spesifik untuk hal-hal tertentu. Perpustakaan PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 14

16 o Pengaturan mengenai perpustakaan dapat dipandang sebagai bagian dari kebijakan kebudayaan. Hal ini paling tidak tampak dari usaha pemerintah untuk membuat sistem dokumentasi nasional yang sedianya ditempatkan di perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah (lihat penjelasan tentang Dokumentasi di atas). Klasifikasi peraturan-peraturan yang memiliki dampak pada kegiatan kesenian dan kebudayaan: Fiskal o Pada intinya aturan mengenai fiskal (lalu lintas barang masuk dan keluar dari wilayah Indonesia). Namun demikian, kami juga memasukkan beberapa peraturan tentang perpajakan ke dalam klasifikasi ini. Dalam peraturan-peraturan tersebut ada beberapa perkecualian untuk kegiatan kesenian. Hak atas Kekayaan Intelektual o Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) tidak ditujukan secara khusus untuk pengaturan kegiatan kesenian atau kebudayaan. Dalam prakteknya, peraturan-peraturan tersebut menjadi relevan untuk kegiatan kesenian dan kebudayaan, antara lain dengan adanya pengakuan hak cipta. Hak Asasi Manusia o Relevansi Hak Asasi Manusia dengan kegiatan kesenian dan kebudayaan, terutama berhubungan dengan adanya jaminan kebebasan berekspresi. Industri o Industri kecil dipandang sebagai peluang untuk mengembangkan seni sebagai karya inovatif yang memiliki nilai ekonomis. Otonomi Daerah o Adanya otonomi daerah, secara tidak langsung sangat mempengaruhi kebijakan kebudayaan, karena pengambilan keputusan dan kewenangan yang didelegasikan ke daerah. Pornografi o Pengaturan pornografi dalam konteks kegiatan kesenian dan kebudayaan sebenarnya berhubungan dengan isu kebebasan berekspresi. Namun karena sifatnya yang lebih khusus bahkan masih dapat diperdebatkan, kami sengaja membuat klasifikasi terpisah. Tahun Ditetapkan Untuk tahun penetapan peraturan bersangkutan, kami juga menemui beberapa fakta menarik, yaitu masa-masa di mana pengaturan menyangkut kegiatan kesenian dan PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 15

17 kebudayaan sedang marak-maraknya. Hal ini dapat dilihat dari periode penetapan yang ditunjukkan oleh tabel di bawah ini. Tabel Periode Penetapan Peraturan Yang Teridentifikasi Dari gambaran tabel di atas, bisa kita lihat bahwa terdapat dua periode yang cukup menonjol, yaitu periode dan sekitar waktu itu (selanjutnya disebut Periode I) dan periode dan sekitar waktu itu (selanjutnya disebut Periode II). Periodeperiode tersebut di saat jumlah peraturan yang ditetapkan terlihat cukup mencolok, menunjukkan bahwa ada aktivitas pemerintah yang cukup signifikan berkaitan dengan pengaturan kegiatan kesenian dan kebudayaan di Indonesia. Di samping itu, dari grafik tersebut, juga terlihat adanya kecenderungan peningkatan jumlah peraturan yang ditetapkan dari tahun ke tahun Hipotesis Berdasarkan hasil pengelompokan data penelitian sebagaimana telah dipaparkan di atas, dapat dibuat beberapa hipotesis atau dugaan, sebelum dapat diperdalam lagi. Pendalaman akan dijelaskan pada Bab 3 laporan ini, setelah memperhitungkan konteks sosial politik yang melatarbelakangi pengambilan kebijakan tersebut. Hipotesis-hipotesis yang akan kami sampaikan di bawah ini, murni berdasar pada data-data yang kami temukan. Hasil bacaan berdasarkan jenis peraturan yang teridentifikasi Hipotesis 1: terlihat kecenderungan pengaturan yang terfokus pada level pengaturan pada tataran abstrak (didominasi oleh UU, PP, dan Keppres). PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 16

18 Diagram Jenis Peraturan Yang Teridentifikasi Dari data jenis peraturan yang teridentifikasi, nampak jelas bahwa sebagian besar peraturan (produk kebijakan) berupa UU, PP, dan Keppres. Ini menunjukkan adanya indikasi pengaturan hanya pada tataran abstrak saja, serta tidak disertai pertimbangan implementasi aturan tersebut. Pertama-tama, harus diakui, bahwa dengan adanya sumber data terbatas yang kami pakai (yang hanya berisi aturan di level UU hingga Inpres), maka hasil penelitian ini didominasi oleh peraturan-peraturan di level abstrak saja. Meskipun demikian, apabila kita mencoba untuk melihat lebih lanjut lagi dalam beberapa topik tertentu, maka memang terdapat beberapa indikasi yang menunjukkan kecenderungan tersebut. Yang pertama adalah mengenai pengaturan tentang dokumentasi karya seni yang diatur dengan UU No. 4/1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam. Pelaksanaan serah simpan tersebut baru diatur sampai level PP. Pada kenyataannya tidak ada aturan yang mengatur tugas dan tanggungjawab pelaksana sendiri (perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah) dalam pengelolaan karya yang diserahsimpankan. Sehingga tidak aneh apabila peraturan tersebut tidak efektif. 17 Pada tahun 2006, di Jakarta justru muncul Perda yang menyerahkan penanggungjawaban pengelolaan kepada Gubernur (Perda DKI Jakarta No. 6/2006 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam). Padahal, sesuai dengan aturan di atasnya, masalah ini sebenarnya menjadi tugas dan tanggungjawab Kepala Perpustakaan Nasional Pembahasan lebih lanjut mengenai topik dokumentasi tersebut dapat dilihat pada Bab Lihat pasal 15 dan pasal 22 PP No. 70/1991. Kami menduga otonomi daerah dan perubahan struktur perpustakaan (dulu perpustakaan daerah ada di bawah kendali perpustakaan nasional) mempengaruhi hal ini. PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 17

19 Contoh ke dua adalah pengaturan mengenai pengesahan kerjasama bilateral kebudayaan. Pengaturan mengenai hal ini terbukti paling banyak teridentifikasi dalam penelitian kami (total 18 peraturan). Meskipun demikian, pada kenyataannya tidak semua kerjasama kebudayaan dilanjutkan dengan tindakan konkrit. Bahkan, tidak semua lampiran pengesahan yang memuat isi perjanjian mudah untuk didapatkan. Dari data penelusuran kami sendiri, salah satu perjanjian kerjasama bilateral yang disahkan, telah batal karena melewati jangka waktu, tanpa ada tindak lanjut yang nyata atas kerjasama tersebut. 19 Hasil bacaan berdasarkan klasifikasi peraturan yang paling banyak muncul Hipotesis 2: terlihat kecenderungan pengaturan yang bersifat formil (tidak tertuju pada pemecahan suatu masalah atau usaha untuk mewujudkan ide tertentu). Tabel Klasifikasi Peraturan Yang Teridentifikasi Lebih Dari 10 (Sepuluh) Peraturan Hipotesis 2 ini masih berhubungan dengan hipotesis 1 di atas. Pengaturan yang hanya ada di level abstrak, dengan sendirinya tidak akan menjangkau permasalahan hingga level implementasi. Hal ini mungkin saja disebabkan karena pembentukan peraturan itu sendiri tidak berangkat dari suatu masalah tertentu sehingga pada akhirnya juga menjadi tidak penting apakah hal yang diatur di dalam peraturan-peraturan tersebut terwujud ataupun tidak. Bisa juga, peraturan-peraturan tersebut telah didasari oleh suatu masalah tertentu yang ingin dipecahkan, namun tidak disertai dengan pertimbangan atau tindak lanjut dari ditetapkannya peraturan tersebut. Yang jadi pertanyaan kemudian, apa sebenarnya yang menjadi maksud pembuat kebijakan dalam menentukan aturan tersebut? Apakah kebijakan tersebut diambil memang untuk pengembangan kegiatan kesenian dan kebudayaan Indonesia? Mengapa tidak ada tindak lanjut? Untuk menjawab hal ini secara tepat, sebaiknya kita melihat Bagaimanapun juga, kalaupun ternyata itu terjadi, tidak ada antisipasi pengaturan yang dilakukan oleh pemerintah untuk memastikan efektivitas peraturan tersebut pada tataran implementasi. 19 Lihat Keppres No. 70/2000 tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Kuba mengenai kerjasama kebudayaan yang berlaku selama 5 (lima) tahun dengan kemungkinan diperpanjang. PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 18

20 aturan-aturan tersebut itu sendiri. Hal ini pula yang akan diperjelas di dalam Bab 4 nanti yang antara lain juga akan membahas pengaturan mengenai dokumentasi karya seni. Bagaimanapun juga, dari bacaan umum yang bisa kita dapatkan dari beberapa klasifikasi peraturan yang banyak muncul, terlihat beberapa fakta yang menunjukkan adanya kecenderungan pengaturan yang bersifat formil (tidak tertuju pada pemecahan suatu masalah atau usaha mewujudkan suatu ide tertentu). Kerjasama bilateral, misalnya, banyak dijumpai pada masa-masa awal pemerintahan suatu rezim tertentu. Pemerintah Orde Baru terlihat menonjol pada masa awal 70-an. Sedang pada masa reformasi terlihat giatnya pemerintahan Abdurrahman Wahid mengesahkan kerjasama bilateral kebudayaan (5 peraturan dalam waktu satu tahun). Dalam hal ini, motif politik untuk menjalin hubungan luar negeri pemerintah bersangkutan dengan pemerintah negara lain mungkin berperan besar dalam pengambilan keputusan, meskipun tak menutup kemungkinan ada motif pemerintah untuk menghapus hegemoni kebudayaan tertentu di Indonesia. 20 Tahun Ditetapkan Jumlah Kerjasama Bilateral Total 18 Tabel Pengesahan Perjanjian Kerjasama Bilateral Kebudayaan dari Tahun ke Tahun Selain kerjasama bilateral, pajak/retribusi daerah menempati posisi yang cukup menonjol, terutama pada awal tahun 2000-an. Data yang kami kumpulkan inipun belum mencakup data seluruh Perda di Indonesia. Maraknya pengaturan ini hampir pasti disebabkan oleh pemberlakuan otonomi daerah (UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah), sehingga membuat pengambilan keputusan (kebijakan) di 20 Wawancara Abdurrahman Wahid (13 Maret 2009). PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 19

21 daerah menjadi lebih aktif. Hal ini berlaku, tanpa kecuali, untuk pengaturan mengenai pajak/retribusi hiburan. Uniknya, pengaturan mengenai pajak masih cenderung seragam, sehingga belum nampak ada rasio obyektif yang dipakai sebagai patokan pengaturan tersebut. Sehingga, belum terlihat bagaimana instrumen ini digunakan oleh pemerintah sebagai sebuah strategi dalam pengembangan kegiatan kesenian dan kebudayaan. Topik ini akan dikaji lebih dalam lagi dalam Bab 4 nanti. Klasifikasi berikutnya yang juga sering muncul adalah menyangkut peraturan fiskal (12 peraturan). Pengaturan permasalahan fiskal sebenarnya tidak ditujukan secara khusus untuk mengatur kegiatan kesenian dan kebudayaan. Peraturan-peraturan ini lebih merupakan kebijakan keuangan yang untuk beberapa hal memang akan berdampak kepada kegiatan kesenian, seperti misalnya bea yang dikenakan untuk pengadaan pameran di luar negeri. Sehingga, meskipun bukannya tidak menarik untuk dibahas secara praktis (pengetahuan mengenai hal ini akan sangat bermanfaat bagi para seniman), namun secara umum hal ini sebagaimana peraturan mengenai pajak/retribusi daerah, hanya baru menunjukkan belum adanya penggunaan yang optimal dari instrumen ini untuk mendukung pengembangan kegiatan kesenian dan kebudayaan. Topik ini juga akan dibahas lagi secara lebih rinci di dalam Bab 4. Seperti klasifikasi-klasifikasi sebelumnya, peraturan-peraturan yang menyangkut pendidikan seni juga masih bersifat formil. Hal ini paling tidak nampak dari adanya peraturan-peraturan yang terfokus pada pembentukan sekolah seni dan penyesuaian lembaga tersebut dengan sistem pendidikan nasional yang baru (UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Sebagaimana topik-topik sebelumnya, topik ini juga akan kami bahas lagi di dalam Bab 4. Hasil bacaan tahun ditetapkannya peraturan-peraturan tersebut Hipotesis 3: terlihat kecenderungan tindakan aktif pemerintah pada periode dan yang ditujukan atau dapat berdampak pada kegiatan kesenian dan kebudayaan di Indonesia. Tabel Jumlah Peraturan dari Tahun ke Tahun PSHK Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan Kebudayaan 20

Mengenal Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik

Mengenal Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik Mengenal Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik Tim Penyusun: Dhoho A. Sastro M. Yasin Ricky Gunawan Rosmi Julitasari Tandiono Bawor JAKARTA 2010 Mengenal Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik

Lebih terperinci

Indonesia Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi

Indonesia Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi 1 Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi Manual untuk Peserta 2 Bagaimana Pemohon Bisa Memanfaatkan Hak atas Informasi Manual Peserta : Bagaimana Pemohon Bisa MemanfaatkanHak Atas Informasi

Lebih terperinci

SISTEM PERIJINAN GANGGUAN

SISTEM PERIJINAN GANGGUAN SISTEM PERIJINAN GANGGUAN SEBUAH LAPORAN TENTANG PENGENDALIAN KEKACAUAN JULI 2008 LAPORAN INI DISUSUN UNTUK DITELAAH OLEH THE UNITED STATES AGENCY FOR INTERNATIONAL DEVELOPMENT. LAPORAN INI DISUSUN OLEH

Lebih terperinci

Jurnal RechtsVinding BPHN

Jurnal RechtsVinding BPHN KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DALAM PEMERINTAHAN TERBUKA MENUJU TATA PEMERINTAHAN YANG BAIK (Public Information Disclosure in Open Government Towards Good Governance) Nunuk Febriananingsih Pusat Penelitian

Lebih terperinci

Laporan Penilaian Pelaksanaan Akses Informasi Publik di 5 Komisi Negara

Laporan Penilaian Pelaksanaan Akses Informasi Publik di 5 Komisi Negara Laporan Penilaian Pelaksanaan Akses Informasi Publik di 5 Komisi Negara KONTRAS CLD 1 Kata pengantar KONTRAS dan Centre for law and Democracy (CLD) Kebebasan informasi sebenarnya sudah diatur dalam peraturan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa

Lebih terperinci

PROYEK TINDAK LANJUT PROSES PERDAMAIAN ACEH

PROYEK TINDAK LANJUT PROSES PERDAMAIAN ACEH Crisis Management Initiative PROYEK TINDAK LANJUT PROSES PERDAMAIAN ACEH Laporan Akhir Crisis Management Initiative 1 PROYEK TINDAK LANJUT PROSES PERDAMAIAN ACEH Laporan Akhir Laporan ini diterbitkan dengan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa

Lebih terperinci

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 23 TAHUN 1997 (23/1997) Tanggal : 19 SEPTEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber : LN 1997/68; TLN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA... 79 A. Bali Dalam Era Otonomi Daerah... 79 B. Konsep Bali One Island One Management... 84 C. Hasil Analisa... 89

BAB IV ANALISA... 79 A. Bali Dalam Era Otonomi Daerah... 79 B. Konsep Bali One Island One Management... 84 C. Hasil Analisa... 89 DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Abstrak... iii Daftar Isi... v BAB I Pendahuluan... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Permasalah... 6 C. Maksud dan Tujuan... 6 D. Kegunaan... 6 E. Kerangka Teori dan Konsepsional...

Lebih terperinci

PENUTUP. Fondasi Tahun Politik 139

PENUTUP. Fondasi Tahun Politik 139 PENUTUP KESIMPULAN Tahun 2012 merupakan tahun legislasi. Sebagai tahun legislasi, sudah tentu harapan yang muncul adalah kinerja legislasi yang lebih baik dari tahun sebelumnya, baik secara kualitas maupun

Lebih terperinci

Desain Besar Penataan Daerah di Indonesia

Desain Besar Penataan Daerah di Indonesia Desain Besar Penataan Daerah di Indonesia Partnership for Governance Reform in Indonesia Policy Brief PSG layout.indd 1 4/19/2011 6:18:37 PM Partnership Policy Paper No. 1/2011 Desain Besar Penataan Daerah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional

Lebih terperinci

TANYA JAWAB STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK

TANYA JAWAB STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK TANYA JAWAB STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia Bekerjasama dengan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) Didukung oleh: The Asia Foundation dan Royal Netherlands

Lebih terperinci

Belajar dari 10 Propinsi di Indonesia: Upaya Pencapaian MDG s Melalui Inisiatif Multi Pihak

Belajar dari 10 Propinsi di Indonesia: Upaya Pencapaian MDG s Melalui Inisiatif Multi Pihak Belajar dari 10 Propinsi di Indonesia: Upaya Pencapaian MDG s Melalui Inisiatif Multi Pihak Belajar dari 10 Propinsi di Indonesia: Upaya Pencapaian MDG s Melalui Inisiatif Multi Pihak Editor Bahasa : Mirza

Lebih terperinci

Laporan Studi Pemanfaatan dan Kebutuhan Data Statistik Penegakan Hukum sebagai Upaya Penerapan Evidencebased Policy Pada Lembaga Penegak Hukum

Laporan Studi Pemanfaatan dan Kebutuhan Data Statistik Penegakan Hukum sebagai Upaya Penerapan Evidencebased Policy Pada Lembaga Penegak Hukum Laporan Studi Pemanfaatan dan Kebutuhan Data Statistik Penegakan Hukum sebagai Upaya Penerapan Evidencebased Policy Pada Lembaga Penegak Hukum Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia Puri Imperium Office

Lebih terperinci

Masa Depan Hak-Hak Komunal atas Tanah: Beberapa Gagasan untuk Pengakuan Hukum

Masa Depan Hak-Hak Komunal atas Tanah: Beberapa Gagasan untuk Pengakuan Hukum Akses Terhadap Keadilan, Penelitian Dan Rekomendasi Kebijakan Masa Depan Hak-Hak Komunal atas Tanah: Beberapa Gagasan untuk Pengakuan Hukum Rekomendasi Kebijakan Jakarta, Desember 2010 Kerjasama antara:

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PENELITIAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN

LAPORAN AKHIR PENELITIAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PADJADJARAN PELAYANAN PERIZINAN TERPADU SATU PINTU BAGI INDUSTRI DALAM UPAYA PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN DI KABUPATEN BANDUNG Oleh Amiruddin A. Dajaan

Lebih terperinci

PELAKSANAAN FUNGSI KOMUNIKASI POLITIK PARTAI DEMOKRAT (Studi Pemilihan Walikota Bandung 2013)

PELAKSANAAN FUNGSI KOMUNIKASI POLITIK PARTAI DEMOKRAT (Studi Pemilihan Walikota Bandung 2013) bidang SOSIAL PELAKSANAAN FUNGSI KOMUNIKASI POLITIK PARTAI DEMOKRAT (Studi Pemilihan Walikota Bandung 2013) DEWI KURNIASIH, TATIK ROHMAWATI Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Komputer Indonesia Partai

Lebih terperinci

Laporan Penelitian BADAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (BPTSP) DI PROVINSI DKI JAKARTA: PERSPEKTIF KEWENANGAN DAN KELEMBAGAAN.

Laporan Penelitian BADAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (BPTSP) DI PROVINSI DKI JAKARTA: PERSPEKTIF KEWENANGAN DAN KELEMBAGAAN. Laporan Penelitian BADAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU (BPTSP) DI PROVINSI DKI JAKARTA: PERSPEKTIF KEWENANGAN DAN KELEMBAGAAN Kerjasama: Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Foreign and

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa informasi merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

Pelembagaan Diskriminasi dalam Tatanan Negara-Bangsa Indonesia

Pelembagaan Diskriminasi dalam Tatanan Negara-Bangsa Indonesia Atas Nama Otonomi Daerah: Pelembagaan Diskriminasi dalam Tatanan Negara-Bangsa Indonesia Laporan Pemantauan Kondisi Pemenuhan Hak-Hak Konstitusional Perempuan di 16 Kabupaten/Kota pada 7 Provinsi Komnas

Lebih terperinci

Kementerian Pekerjaan Umum

Kementerian Pekerjaan Umum Kementerian Pekerjaan Umum S e k r e t a r i a t J e n d e r a l Satuan Kerja Pusat Kajian Strategis LAPORAN AKHIR Peningkatan Etos Kerja Sumber Daya Manusia PUSTRA Tahun 2010 PT. DDC CONSULTANTS Jl. Masjid

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

LAPORAN KOMPENDIUM PENGANTAR BIDANG HUKUM PERUNDANG-UNDANGAN

LAPORAN KOMPENDIUM PENGANTAR BIDANG HUKUM PERUNDANG-UNDANGAN LAPORAN KOMPENDIUM BIDANG HUKUM PERUNDANG-UNDANGAN Di bawah pimpinan: Prof. Dr. Maria Farida, S.H.,M.H PENGANTAR Kompendium ini dilatarbelakangi oleh banyaknya keraguan dari masyarakat yang terlibat dalam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN

Lebih terperinci

BAB V IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA SEKOLAH DASAR DI KOTA DENPASAR

BAB V IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA SEKOLAH DASAR DI KOTA DENPASAR 136 BAB V IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PADA SEKOLAH DASAR DI KOTA DENPASAR Sebagai bagian dari kajian budaya kritis (critical cultural studies) penelitian ini berfokus pada implementasi

Lebih terperinci