PEDOMAN PERENCANAAN PROGRAM

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEDOMAN PERENCANAAN PROGRAM"

Transkripsi

1 Versi 5 Sept 12 PEDOMAN PERENCANAAN PROGRAM GERAKAN SADAR GIZI DALAM RANGKA SERIBU HARI PERTAMA KEHIDUPAN (1000 HPK) REPUBLIK INDONESIA AGUSTUS 2012

2 KATA PENGANTAR Sasaran pembangunan pangan dan gizi dalam RPJMN dan RAN-PG adalah menurunkan prevalensi kekurangan gizi pada balita, termasuk stunting. Beberapa program dan kegiatan pembangunan nasional telah dilakukan untuk mendukung sasaran tersebut. Seiring dengan hal tersebut, gerakan perbaikan gizi dengan fokus terhadap kelompok 1000 hari pertama kehidupan pada tataran global disebut Scalling Up Nutrition (SUN) dan di Indonesia disebut dengan Gerakan Nasional Sadar Gizi dalam Rangka Percepatan Perbaikan Gizi Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan dan disingkat Gerakan 1000 HPK). SUN (Scaling Up Nutrition) Movement merupakan upaya global dari berbagai negara dalam rangka memperkuat komitmen dan rencana aksi percepatan perbaikan gizi, khususnya penanganan gizi sejak hari dari masa kehamilan hingga anak usia 2 tahun. Gerakan ini merupakan respon negara-negara di dunia terhadap kondisi status gizi di sebagian besar negara berkembang dan akibat kemajuan yang tidak merata dalam mencapai Tujuan Pembangunan Milenium/MDGs (Goal 1). Gerakan 1000 HPK bukanlah inisiatif, institusi maupun pembiayaan baru melainkan meningkatkan efektivitas dari inisiatif yang telah ada yaitu meningkatkan koordinasi termasuk dukungan teknis, advokasi tingkat tinggi, dan kemitraan inovatif, dan partisipasi untuk meningkatkan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat, dan pembangunan. Hal ini perlu didukung dengan kepemimpinan nasional dan daerah yang cukup kuat, meningkatkan partisipasi seluruh pemangku kepentingan, bukan hanya dari pemerintah tetapi juga dunia usaha, organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan. Tiga elemen dari Gerakan 1000 HPK adalah: (i) Aksi pada tingkat Nasional. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang kuat, berdasarkan atas data epidemiologi gizi, dan kapasitas untuk menangani masalah gizi. (ii) Didasarkan atas bukti yang nyata dan intervensi yang cost-effective. (iii) Pendekatan bersifat multisektor dengan prinsip kemitraan dalam hal jaminan ketahanan pangan, proteksi sosial, kesehatan, pendidikan, air bersih dan sanitasi, kesetaraan gender, dan tata kelola Pemerintahan yang baik. Tiga strategi dalam Gerakan 1000 HPK adalah: (i) mobilisasi berbagai organisasi untuk melakukan upaya bersama secara efektif, (ii) mendorong keterpaduan antar institusi, dan (iii) mengidentifikasi dan mendorong kepemimpinan di bidang gizi. Dengan adanya Gerakan Nasional Sadar Gizi Dalam Rangka Percepatan Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan) diharapkan semua pemangku kepentingan mempunyai persepsi, komitmen dan langkah nyata yang terkoordinasi dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran untuk gerakan 1000 HPK ini di berbagai tingkat administrasi baik di pusat, provinsi, kabupaten dan kota. Keberhasilan dari gerakan 1000 HPK ini selain ditentukan oleh perencanaan yang sistematis dan terpadu, juga ditentukan oleh kepemimpinan di berbagai tingkat administrasi. Jakarta, Agustus 2012 TIM PENYUSUN 1

3 DAFTAR SINGKATAN ASI : Air Susu Ibu BBLR : Berat Badan Lahir Rendah GNP : Gross National Product IUGR : Intra Uterine Growth Retardation KIE : Komunikasi, Informasi dan Edukasi KMS : Kartu Menuju Sehat KUKP : Kebijakan Umum Ketahan Pangan PTM : Penyakit Tidak Menular RAN-PG : Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi RAD-PG : Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi RISKESDAS : Riset Dasar SUN : Scaling Up Nutrition 1000 HPK : Seribu Hari Pertama Kehidupan 2

4 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR 1 DAFTAR SINGKATAN.. 2 DAFTAR ISI.. 3 DAFTAR TABEL... 4 DAFTAR GAMBAR. 5 BAB I. PENDAHULUAN. 6 A. Latar Belakang B. Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan. 7 C. Tujuan Pedoman.. 7 D. Pengguna Pedoman. 7 BAB II. GERAKAN 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN. 8 A. Visi, Misi dan Goals Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan.. 8 B. Tahapan Gerakan. 8 C. Strategi Gerakan. 11 D. Kemitraan dalam Gerakan Pemangku Kepentingan Kegiatan Utama Pemangku Kepentingan.. 13 BAB III. KERANGKA PERUMUSAN INTERVENSI GIZI. 16 A. Kerangka Pikir Penyebab Masalah Gizi B. Jenis-jenis Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif C. Permasalahan dalam Pelaksanaan Intervensi Gizi.. 18 BAB IV. PERENCANAAN KEGIATAN UNTUK INTERVENSI GIZI SPESIFIK DAN SENSITIF A. Pengantar B. Langkah-langkah Penyusunan Rencana C. Rincian Kegiatan Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif.. 19 BAB V. MONITORING DAN EVALUASI GERAKAN 1000 HPK.. 22 A. Indikator Proses 22 B. Indikator Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif.. 23 C. Mekanisme Monitoring dan Evaluasi D. Indikator Hasil 25 E. Kelembagaan dan Mekanisme Monitoring dan Evaluasi.. 26 BAB VI. PENUTUP.. 28 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

5 DAFTAR TABEL Tabel 1 Indikator dan Data Dasar... 8 Tabel 2 Rencana Kegiatan Utama Pemerintah Tabel 3 Rencana Kegiatan Utama Donor Tabel 4 Rencana Kegiatan Utama Lembaga Sosial Kemasyarakatan Tabel 5 Rencana Kegiatan Utama Dunia Usaha.. 15 Tabel 6 Rencana Kegiatan Utama UN System Tabel 7 Identifikasi Masalah Dalam Pelaksanaan Pelayanan Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan Tabel 8 Kegiatan Dalam Rangka Intervensi Gizi Spesifik Tabel 9 Kegiatan Dalam Rangka Intervensi Gizi Sensitif Tabel 10 Indikator Proses Tabel 11 Indikator Spesifik Tabel 12 Indiaktor Sensitif Tabel 13 Indikator Hasil Tabel 14 Pelaporan. 30 Tabel 15 Daftar Kegiatan Intervensi Gizi Spesifik Pada Kelompok Ibu Hamil. 31 Tabel 16 Daftar Kegiatan Intervensi Gizi Spesifik pada Kelompok 0-6 Bulan 33 Tabel 17 Daftar Kegiatan Intervensi Gizi Spesifik pada Kelompok 7-24 Bulan. 34 Tabel 18 Daftar Kegiatan Intervensi Gizi Sensitif. 38 4

6 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Kerangka Pikir Penyebab Masalah Gizi

7 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ibu hamil, ibu menyusui, bayi baru lahir dan anak usia di bawah dua tahun (baduta) merupakan kelompok sasaran untuk meningkatkan kualitas kehidupan 1000 hari pertama manusia. Seribu hari pertama kehidupan adalah periode seribu hari mulai sejak terjadinya konsepsi hingga anak berumur 2 tahun. Seribu hari terdiri dari, 270 hari selama kehamilan dan 730 hari kehidupan pertama sejak bayi dilahirkan. Periode ini disebut periode emas (golden periode) atau disebut juga sebagai waktu yang kritis, yang jika tidak dimanfaatkan dengan baik akan terjadi kerusakan yang bersifat permanen (window of opportunity). Untuk itu diperlukan dua kelompok intervensi, yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Yang dimaksud dengan intervensi gizi sensitif adalah adalah berbagai kegiatan yang cukup cost effective untuk mengatasi masalah gizi khususnya masalah gizi stunting (anak pendek jika dibandingkan dengan standar normal). Berdasarkan data Riskesdas tahun 2010, prevalensi stunting rata-rata nasional sebesar 36 persen. Sedangkan yang dimaksud dengan intervensi spesifik adalah berbagai kegiatan program pembangunan yang memberi pengaruh terhadap status gizi masyarakat terutama kelompok 1000 hari pertama, misalnya penanggulangan kemiskinan, pendidikan, gender, air bersih, sanitasi dan kesehatan lingkungan. Kegiatan sensitif ini merupakan kegiatan yang bersifat multi dan lintas sektor. Intervensi gizi spesifik telah banyak dilaksanakan pada perbaikan gizi masyarakat di Indonesia dan umumnya ditangani oleh kementerian kesehatan. Hampir semua intervensi gizi spesifik telah dilaksanakan, namun cakupan dan kualitas kegiatan dari intervensi gizi spesifik itu masih rendah. Kegiatan gizi sensitif yang bersifat lintas sektoral, Indonesia telah mempunyai pengalaman yang cukup panjang dan menunjukkan hasil yang baik. Misalnya pada saat pelaksanaan program Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) pada tahun an. Pada Program UPGK tersebut paling tidak melibatkan sektor kesehatan, pertanian, BKKBN, dalam negeri dan organisasi kemasayarakatan (PKK). Namun sejak terjadinya krisis multi dimensi pada tahun , kegiatan gizi sensitif ini mengalami kemunduran. Contoh lain dari intervensi gizi sensitif adalah kegiatan yodisasi garam, yang melibatkan beberapa sektor penting yaitu kesehatan, perindustrian, Badan POM, perdagangan dan dalam negeri. Contoh lainnya adalah bantuan langsung bersyarat (conditional cash transfer) yang di Indonesia nama programnya dikenal dengan nama Program Keluarga Harapan (PKH) yang tujuannya untuk memperbaiki keadaan kesehatan dan gizi ibu hamil dan anak balita yang melibatkan sektor sosial, pendidikan, kesehatan, dan dalam negeri. Dalam perbaikan gizi masyarakat, kontribusi intervensi gizi sensitif lebih besar yaitu sekitar 70 persen dibanding dengan intervensi spesifik yang hanya 30 persen. Oleh karena itu kedua intervensi gizi tersebut harus dilaksanakan secara bersamaan dan komprehensif. Gerakan perbaikan gizi dengan fokus terhadap kelompok 1000 hari pertama kehidupan pada tataran global disebut Scalling Up Nutrition (SUN) dan di Indonesia disebut dengan Gerakan Nasional Sadar Gizi dalam Rangka Percepatan Perbaikan Gizi Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan dan disingkat Gerakan 1000 HPK). 6

8 B. Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan Gerakan 1000 HPK bukanlah inisiatif, institusi maupun pembiayaan baru melainkan meningkatkan efektivitas dari inisiatif yang telah ada yaitu meningkatkan koordinasi termasuk dukungan teknis, advokasi tingkat tinggi, dan kemitraan inovatif, dan partisipasi untuk meningkatkan keadaan gizi dan kesehatan masyarakat, dan pembangunan. Hal ini perlu didukung dengan kepemimpinan nasional dan daerah yang cukup kuat, meningkatkan partisipasi seluruh pemangku kepentingan, bukan hanya dari pemerintah tetapi juga dunia usaha, organisasi profesi dan lembaga kemasyarakatan. Tiga elemen dari Gerakan 1000 HPK adalah: (i) Aksi pada tingkat Nasional. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang kuat, berdasarkan atas data epidemiologi gizi, dan kapasitas untuk menangani masalah gizi. (ii) Didasarkan atas bukti yang nyata dan intervensi yang cost-effective. (iii) Pendekatan bersifat multisektor dengan prinsip kemitraan dalam hal jaminan ketahanan pangan, proteksi sosial, kesehatan, pendidikan, air bersih dan sanitasi, kesetaraan gender, dan tata kelola Pemerintahan yang baik. Tiga strategi dalam Gerakan 1000 HPK adalah: (i) mobilisasi berbagai organisasi untuk melakukan upaya bersama secara efektif, (ii) mendorong keterpaduan antar institusi, dan (iii) mengidentifikasi dan mendorong kepemimpinan di bidang gizi. C. Tujuan Pedoman Tujuan Umum Pedoman ini bertujuan untuk menjadi acuan bagi berbagai pihak terkait dalam menyusun perencanaan dan penganggaran serta pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kegiatankegiatan gizi yang bersifat spesifik dan sensitif. Tujuan Khusus 1. Tersedianya pilihan kegiatan gizi yang bersifat spesifik dan Sensitif, sesuai dengan masalah gizi dan tugas masing-masing pemangku kepentingan; 2. Teridentifikasinya kebutuhan sumber daya pendukung 3. Tersedianya bahan advokasi yang sederhana dan mudah dipahami. D. Pengguna Pedoman Pengguna dari buku pedoman ini adalah: : 1. Unit perencana dan pelaksana di dan Lembaga Pemerintahan yang terkait dengan perbaikan gizi masyarakat, 2. Unit perencana dan pelaksana pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, 3. Lembaga legislatif baik di tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten dan kota, 4. Pemangku kepentingan lain yang berasal dari lembaga swasta, LSM, organisasi profesi, perguruan tinggi, dan mitra kerja internasional. 7

9 BAB II. GERAKAN 1000 HARI PERTAMA KEHIDUPAN A. VISI, MISI DAN GOALS GERAKAN 1000 HPK i. Visi Terpenuhinya kebutuhan pangan dan gizi untuk memenuhi hak dan berkembangnya potensi ibu dan anak ii. Misi: 1. Menjamin kerjasama antar berbagai pemangku kepentingan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi setiap ibu dan anak 2. Menjamin dilakukannya pendidikan gizi secara tepat dan benar untuk meningkatkan kualitas asuhan gizi ibu dan anak iii. Goals Tabel 1. Tabel Indikator dan Data Dasar No Indikator Data Dasar (Baseline) RPJMN 2014 SUN Movement 2015 WHO Menurunkan proporsi anak balita yang stunting sebesar 40 persen 2 Menurunkan proporsi anak balilta yang menderita kurus (wasting) kurang dari 5 persen. 3 Menurunkan anak yang lahir berat badan rendah sebesar 30 persen 35,6 % (2010) 17,9 % (2010) 4 Tidak ada kenaikan proporsi anak yang mengalami gizi lebih 14,2 % (2010) 5 Menurunkan proporsi ibu usia subur yang menderita anemia sebanyak 50 persen 6 Meningkatkan prosentase ibu yang memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan paling kurang 50 persen < 32 % < 32 % < 15% 8,8 % (2010) < 8,5 % Kenaikan tidak melebihi 0,45% per tahun 40 % (2001) 25 % 15,3 % (2010) 20% < 32 % B. TAHAPAN GERAKAN 1000 HPK i. Tahap Satu: Analisa Kondisi saat ini 1. Komitmen politik untuk upaya perbaikan gizi masyarakat cukup kuat baik dalam bentuk UU, PP, Perpres, Permen, dan Perda. 2. Program perbaikan gizi secara nyata sudah dilaksanakan oleh K/L sesuai dengan tugas pokok misalnya oleh, Pertanian, Perindustrian, dalam Negeri, Pendidikan 8

10 dan Kebudayaan, Sosial. Namun demikian upaya dari setiap K/L tersebut masih terfragmentasi, belum diarahkan kepada goals yang disepakati. Untuk meningkatkan kerjasama antar K/L sejak tahun 2000 telah disusun Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional (RAPGN) untuk setiap 5 tahun. Di tingkat daerah telah pula disusun Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RADPG) melai tahun Sampai dengan tahun 2012 upaya perbaikan gizi masyarakat diarahkan terhadap semua kelompok umur dengan sasaran utama mengatasi masalah kekurangan gizi baik gizi kurang maupun gizi buruk. Sejak adanya Gerakan 1000 HPK dilakukan reorientasi penajaman sasaran yaitu fokus terhadap ibu hamil, ibu menyusui dan anak dibawah dua tahun terutama untuk mengatasi masalah stunting. Hal ini didasarkan atas hasil Riskesda 2007 dan 2010 yang menunjukkan bahwa prevalensi stunting adalah 36, 8 persen dan 35,6 persen. Data lain dari Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa prosentase anak BBLR 8,8 persen, wasting 13,3 persen, anemia pada wanita usia subur, ASI ekslusif 15,3 persen (2010). 4. Untuk mengatasi masalah gizi pada dasarnya telah dilaksanakan program gizi yang bersifat spesifik maupun program yang bersifat sensitif. Namun demikian ada beberapa kegiatan gizi spesifik yang belum dilaksanakan yaitu antara lain pemberian Kalsium pada ibu hamil dan pemberian Zink pada anak, selain itu cakupan dari kegiatan program spesifik masih rendah. Kegiatan gizi yang bersifat sensitif pada dasarnya sudah dilaksanakan sejak lama sejak UPGK, namun masih perlu ditingkatkan koordinasi perencanaan, pelaksanaan dan monitoring dan evaluasi di berbagai tingkat administrasi. 5. Dukungan sumber daya keuangan untuk pelaksanaan perbaikan gizi masih terbatas, baik dalam APBN maupun dalam APBD. Walaupun terdapat kecenderungan peningkatan anggaran setiap tahunnya terutama dalam APBN. ii. Tahap Dua: Penyiapan Gerakan 1. Komitmen politik untuk meningkatkan upaya perbaikan gizi cukup tinggi, hal ini dibuktikan dengan diterbitkannya Perpres No tentang Gerakan Nasional sadar gizi yang berisikan tentang tujuan, strategi, sasaran, kegiatan dan pelaksanaan perbikan gizi baik ditingkat nasional maupun tingkat daerah. Semua K/L yang mempunyai peranan penting dalam upaya perbaikan gizi telah ditetapkan sebagai naggota yang dipimpin oleh Menkokesra yangbertanggung jawab langsung kepada Presiden. 2. Untuk memperkuat platform kerjasama antar pemangku kepentingan dalam upaya perbaikan gizi telah dirumuskan Kerangka Kebijakan Akselerasi Perbaikan Gizi Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Untuk Negeri Dan Buku Pedoman Perencanaan Program Akselerasi Perbaikan Gizi Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Untuk Negeri. Diharapkan dengan adanya platform ini maka setiap pemangku kepentingan mempunyai persepsi dan langkah langkah yang sama untuk mempercepat pencapaian upaya perbaikan gizi. 9

11 3. Saat ini sedang disusun dua buah dokumen yaitu Naskah Akademik dan Pedoman Perencanaan Program Akselerasi Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan untuk Negeri yang menjadi landasan upaya percepatan perbaikan gizi baik di pusat maupun daerah yang didasarkan pada Perpres Gerakan Nasional Sadar Gizi. 4. Kegiatan intervensi gizi yang bersifat spesifik telah disepakati dan akan ditingkatkan pelaksanaannya dengan dukungan kerjasama lintas program dan lintas sektor yang terkait. 5. Peningkatan mobilisasi pembaiayaan untukmendukung pelaksanaan program perbaikan gizi terutama di daerah melaluipeningkatan APBD provinsi maupun kabupaten dan kota. iii. Tahap Tiga : Pelaksanaan dan Pengorganisasian Gerakan 1. Pada tataran eksekutif akan ditetapkan ketua gugus tugas Gerakan Nasional Sadar Gizi yang dipimpin oleh Menkokesra. Untuk membantu tugas gugus tugas ini terdapat tim teknis yang dipimpin oleh Wamen PPN/Waka Bappenas. Pada tataran legislatif telah dibentuk Kaukus yang tugas utamanya untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan politik dan anggaran dari anggota legeslatif untuk program-program kesehatan dan perbaikan gizi. 2. Berfungsinya gugus tugas Gerakan Nasional Sadar Gizi (dalam perpres) yang tugas pokoknya mengkoordinasikan dan mensinkronkan penyusunan rencana dan program kerja pada K/L dengan melaksanakan rapat koordinasi minimal satu kali setiap tiga bulan. 3. Terlaksananya pemantauan dan evaluasi berbagai kebijakan lintas sector dalam upaya perbaikan gizi baik di tingkat nacional maupun tingkat daerah dengan cara memonitor secara reguler pelaksanaan RANPG, RADPG dan platform Gerakan 1000 HPK. 4. Terlaksananya program gizi sensitif oleh berbagai K/L terkait untuk mendukung pelaksanaan program gizi yang spesifik. 5. Menganalisis kesenjangan kebutuhan dana untuk pelaksanaan program perbaikan gizi dan secara bertahap memenuhi kesenjangan tersebut baik dalam anggaran APBN maupun APBD. iv. Tahap Empat: Memelihara Kesinambungan Gerakan 1. Menjaga kelangsungan kepemimpinan untuk peningkatan program perbaikan gizi secara terus menerus sesuai dengan penugasan dalam Perpres. 2. Memperkuat kinerja gugus tugas baik ditingkat nasional maupun di tingkat daerah (provinsi dan kabupaten dan kota). 3. Memperkuat pelaksanaan kerjasama antar sektor melalui sinkronisasi kebijakan antar sektor baik di pusat maupun daerah. 10

12 4. Memperluas dan meningkatkan kegiatan gizi spesifik dan kegiatan gizi sensitif sehingga menjangkau seluruh sasaran program. 5. Menjamin ketersediaan anggaran yang memadai baik APBN maupun APBD untuk program perbaikan gizi dengan cara pemahaman bersama antara eksekutif dan legeslatif. C. STRATEGI GERAKAN 1000 HPK a. Strategi Nasional Tahap pertama: membangun komitmen dan kerjasama antar pemangku kepentingan. Tahap kedua: Mempercepat pelaksanaan Gerakan Nasional Sadar Gizi, meningkatkan efektifitas dan meningkatkan sumber pembiayaan. Tahap ketiga: Memperluas pelaksanaan program, meningkatkan kualitas pelaksanaan dan memelihara kesinambungan kegiatan untuk mencapai indikator dampak yang sudah disepakati. b. Strategi Pelaksanaan 1. Meningkatkan kapasitas kerjasama antar pemangku kepentingan untuk percepatan kegiatan perbaikan gizi berdasarkan bukti. 2. Meningkatkan kapasitas untuk memfasilitasi kerjasama antar pemangku kepentingan 3. Meningkatkan kapasitas untuk melaksanakan kerjasama yang saling menguntungkan antar berbagai pemangku kepentingan. 4. Meningkatkan kapasitas untuk pemantauan dan evaluasi kinerja bersama dalam rangka pencapaian sasaran perbaikan gizi. 5. Meningkatkan kapasitas untuk identifikasi dengan berbagi pengalaman atau model-model intervensi terkait untuk meningkatkan pemahaman dalam pencapaian sasaran dan hal-hal yang harus dicegah. 6. Meningkatkan kapasitas untuk advokasi dalam rangka peningkatan komitmen politik dan mobilisasi sumberdana dan bantuan teknis. c. Strategi Mobilisasi Sumber Daya 1. Menghitung kebutuhan anggaran untuk program perbaikan gizi. 2. Menghitung kesenjangan anggaran antara kebutuhan dan ketersediaan saat ini. 3. Membuktikan bahwa kegiatan yang dilakukan secara terpadu baik dalam penganggaran untuk intervensi spesifik gizi maupun kebijakan sensitif gizi jauh lebih efektif jika dibandingkan bila dilaksanakan secara terpisah. 4. Mengkoordinasikan kegiatan advokasi secara nasional dan global untuk mengurangi kesenjangan penganggaran dan untuk mobilisasi sumber daya 11

13 d. Prinsip-prinsip keterlibatan dalam Gerakan 1000 HPK 1. Transparan: semua pemangku kepentingan menunjukkan hasil dari aksi bersama secara transparan dan jujur. 2. Inklusif: melalui kerjasama kemitraan antar pemaku kepentingan untuk meningkatkan intervensi dan hasil yang diinginkan 3. Berbasis hak: bertindak sejalan dengan komitmen menegakkan keadilan dan hak bagi semua perempuan, pria, dan anak-anak. 4. Kemauan untuk bernegosiasi: saat konflik muncul, secara bersama bertekad untuk menyelesaikan konflik dan menuju arah yang lebih baik 5. Tanggungjawab bersama: semua pemangku kepentingan memiliki rasa tanggungjawab bersama dalam menyelenggarakan kegiatan secara kolektif sebagai bukti komitmen bersama. 6. Cost-effective: menyusun beberapa prioritas berdasarkan analisis berbasis bukti dan menetapkan prioritas yang mempunyai daya ungkit paling besar dalam pencapaian target namun dengan dana yang paling minimal. 7. Komunikasi terus menerus: komunikasi melalui berbagi pengalaman secara rutin antar pemangku kepentingan termasuk hal yang berhasil dan yang gagal. D. Kemitraan Dalam Gerakan 1. Pemangku Kepentingan a. Pemerintah Pemerintah berperan sebagai inisiator, fasilitator, dan motivator gerakan 1000 HPK, yang terdiri dari K/L, donor, organisasi masyarakat, dunia usaha dan mitra pembangunan. b. Donor Tugas donor adalah untuk memperkuat kepemilikan nacional dan kepemimpinan, berfokus pada hasil, mengadopsi pendekatan multisektoral, memfokuskan pada efektivitas, mempromosikan akuntabilitas dan memperkuat kolaborasi dan inklusi (melalui kerjasama kemitraan antar pemaku kepentingan untuk meningkatkan intervensi dan hasil yang diinginkan). c. Organisasi Kemasyarakatan Tugas organisasi kemasyarakatan adalah memperkuat mobilisasi, advokasi, komunikasi, riset dan analisasi kebijakan serta pelaksana pada tingkat masyarakat untuk menangani kekurangan gizi. d. Dunia Usaha Dunia usaha bertugas untuk pengembangan produk, control kualitas, distribusi, riset, pengembangan teknologi informasi, komunikasi, promosi perubahan perilaku untuk hidup sehat. 12

14 e. Mitra Pembangunan Mitra pembangunan bertugas untuk memperluas dan mengembangkan kegiatan gizi sensitif dan spesifik melalui harmonisasi kelahlian dan bantuan teknis antar mitra pembangunan antara lain UNICEF, WHO, FAO dan IFAD (International Fund for Agriculture and Development), SCN (Standing Committee on Nutrition). 2. Kegiatan Utama Gerakan 1000 HPK a. Pemerintah Tabel 2. Rencana Kegiatan Utama Pemerintah No Jangka Pendek (18 Bulan) No Jangka Menengah (36 bulan) 1 Menetapkan Perpres Gerakan 1000 HPK 1 Mobilisasi sumber dana dalam APBN dan APBD, termasuk PPP dan CSR dan mitra pembangunan internacional 2 Menyusun Naskah Akademik 2 Melakukan evaluasi pencapaian tujuan dan sasaran dan pelaksanaan kegiatan 3 Menyusun Kerangka Program SUN 3 Meningkatkan kemitraan dengan donor 4 Menyusun Pedoman Perencanaan Program SUN 4 Meningkatkan kemitraan dengan dunia usaha 5 Sosialiasi Gerakan 1000 HPK tingkat nacional dan di daerah 5 Meningkatkan kemitraan dengan Lembaga Kemasyarakatan 6 Penyusunan kerangka monitoring dan evaluasi 7 Pertemuan berkala Gugus Tugas Nasional 8 Pertemuan berkala Tim Teknis Gugus Tugas 9 Menyusun laporan berkala tentang kemajuan Gerakan 1000 HPK 6 Meningkatkan kerjasama dalam rangka sinkronisasi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan antar K/L 7 Meningkatkan kerjasama dalam rangka sinkronisasi perencanaan dan pengganggaran antar Pusat dan Daerah 8 Melakukan replikasi program/model yang terbukti efektif 9 Advokasi kepada legislatif dan eksekutif 10 Menjaga kesinambungan pelaksanaan Gerakan 1000 HPK 11 Mengintegrasikan Gerakan 1000 HPK pada RPJMN Menyusun laporan tahunan kemajuan Gerakan 1000 HPK kepada Presiden 13

15 b. Donor Tabel 3. Rencana Kegiatan Utama Donor No Jangka Pendek (18 Bulan) Jangka Menengah (36 bulan) 1 Memperkuat dan memperluas jaringan antar donor, untuk mendukung Gerakan 1000 HPK 2 Mendukung gizi sebagai isu prioritas nacional dan daerah 3 Mendukung intensitas kerjasama antar donor untuk menjamin efisiensi dan efektifitas antar donor 4 Bekerjasama dengan pemerintah untuk mengembangkan rencana pembiayaan Gerakan 1000 HPK 1. Meningkatkan skala dan kualitas bantuan kepada pemerintah 2. Meningkatkan kerjasama antara donor untuk menjamin efisiensi bantuan yang diberikan 3. Mendorong kerjasama antar negara dengan prevalensi kekurangan gizi yang tinggi 4. Melakukan review sector pangan dan gizi untuk basis kebijakan RPJMN Memutakhirkan perkiraan biaya untuk intervensi gizi yang bersifat spesifik dan sensitif 6 Memberikan bantuan teknis kepada pemerintah untuk intervensi gizi yang spesifik, gizi sensitif, pertanian dan kesejahteraan soial c. Lembaga Sosial Kemasyarakatan Tabel 4. Rencana Kegiatan Utama Lembaga Sosial Kemasyarakatan No Jangka Pendek (18 Bulan) Jangka Menengah (36 bulan) 1. Memperluas kepersertaan antar sector dan kelompok di tingkat nasional dan daerah 2 Memperkuat keterkaitan antara LSK dengan pemerintah dengan menggunakan mekanismee yang berlaku 3 Mengembangkan dan menyetujui prinsip2 mediasi jika tidak terjadi kesepahaman 4 Memberikan kontribusi dalam perumusan kerangka program SUN 5 Melakukan mobilisasi dalam rangka meningkatkan demand masyarakat 1. Mengintegrasikan Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan ke dalam kegiatan LSK 2. Membantu mengembangkan rencana nacional dan menetapkan sasaran yang ingin dicapai 3 Melakukan evaluasi dan penelitian yang mengaitkan antara gizi dengan gender, ketenagakerjaan, pertanian, pangan, kesehatan, kemiskinan, jaminan sosial dan pendidikan 4 Advokasi ke dunia internacional untuk mendukung Gerakan 1000 HPK 5 Advokasi kepada pemerintah untuk mobilisasi sumberdana yang lebih besar untuk menangani kekurangan gizi 14

16 d. Dunia Usaha Tabel 5. Rencana Kegiatan Utama Dunia Usaha No Jangka Pendek (18 Bulan) Jangka Menengah (36 bulan) 1. Memfasilitasi keterlibatan dunia usaha dalam Gerakan 1000 HPK 2 Memberikan pedoman dan contoh tentang keterlibatan dunia usaha dalam Gerakan 1000 HPK 3 Memberikan pedoman dan mediasi bila terjadi ketidak sepakahaman dalam kebijakan maupun pelaksanaan Gerakan 1000 HPK 4 Bekerja secara nyata untuk mendukung strategi Gerakan 1000 HPK 5 Tukar menukar pengalaman dalam sistem distribusi pangan dan gizi termasuk penggunaan teknologi/inovasi 1. Bekerja secara nyata untuk mendukung Gerakan 1000 HPK Nasional 2. Melaksanakan contoh bagaimana pengusaha internacional mendukung Gerakan 1000 HPK Global 3. Meningkatkan peran dunia usaha untuk memperbaiki keadaan gizi masyarakat terutama pada ibu hamil, ibu menyusui dan anak baduta melalui penerapan CSR sesuai dengan peraturan yang berlaku e. Mitra Pembangunan (UN sistem) Tabel 6. Rencana Kegiatan Utama Mitra Pembangunan (UN Sistem) No Jangka Pendek (18 Bulan) No Jangka Menengah (36 bulan) 1. Membangun jaringan dan memperluas kerjasama UN System diluar 4 organisasi utama (UNICEF, WFP, FAO dan WHO) 2 Membangun sistem untuk merespon permintaan pemerintah 3 Bekerjasama dengan pemerintah dan donor untuk mendukung rencana pembiayaan Gerakan 1000 HPK 4 Memutakhirkan perkiraan biaya untuk pelaksanaan program gizi spesifik dan program gizi sensitif 1. Melakukan sinergitas agenda kegiatan nasional dan global dalam rangka menyelaraskan dan menghindari duplikasi kegiatan 2. Bantuan teknis dan experties untuk memperkuat Gerakan 1000 HPK 15

17 BAB III. KERANGKA PERUMUSAN INTERVENSI GIZI A. Kerangka Pikir Penyebab Masalah Gizi Untuk menjelaskan berbagai faktor penyebab masalah gizi, termasuk "Stunting", lazimnya digunakan model UNICEF seperti diperlihatkan pada Gambar 1. Dari model tersebut diketahui penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung dari masalah gizi adalah kurangnya asupan gizi dan terbatasnya pelayanan kesehatan dasar. Penyebab tidak langsung adalah terbatasnya aksesibilitas pangan, pola asuh yang kurang baik, dan terbatasnya kesediaan air minum dan sanitasi yang layak. Akar masalah dari penyebab langsung dan tidak langsung adalah kemiskinan, tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, daya beli yang rendah, sanitasi lingkungan yang buruk. GAMBAR 1. KERANGKA PIKIR PENYEBAB MASALAH GIZI Sumber: World Bank 2011, diadaptasi dari UNICEF 1990 & Ruel 2008 dan disesuaikan dengan kondisi Indonesia B. Jenis-jenis Intervensi Gizi Spesifik dan Gizi Sensitif Untuk mengatasi penyebab langsung dilaksanakan berbagai intervensi gizi spesifik menurut kelompok sasaran, yaitu: I. Ibu hamil 1. Pemeriksaan kehamilan dan tablet tambah darah 2. Konseling menyusui 3. Suplementasi dengan zat gizi makro 4. Pengobatan kecacingan pada ibu hamil 5. Suplementasi kalsium 16

18 6. Pengobatan malaria pada ibu hamil 7. Menghindar dari perokok pasif 8. Penggunaan kelambu berinsentisida 9. Pemberian cash transfer bersyarat (PKH) II. Bayi Baru lahir 1. Konseling menyusui 2. Inisiasi Menyusu Dini 3. Pemeriksanaan kesehatan 4. Penundaan pengguntingan tali pusat 5. KIE Gizi 6. Imunisasi 7. Penanganan bayi BBLR 8. Pemantauan pertumbuhan III. Bayi dan Anak 1. Promosi ASI 2. KIE Pemberian MP ASI 3. Penanganan penyakit infeksi 4. Imunisasi 5. Cuci tangan 6. Penanganan gizi buruk akut 7. Pemberian MP ASI anak berusia diatas 6 bulan 8. Suplementasi vitamin A 9. Home fortification (micro nutrition fortification/sprinkle) 10. Pengobatan kecacingan 11. Penggunaan kelambu berinsektisida 12. Pemantauan pertumbuhan Beberapa jenis intervensi gizi sensitif yang perlu dilaksanakan di Indonesia antara lain: 1. Penyediaan air minum dan sanitasi yang layak 2. Ketahanan Pangan dan Gizi, termasuk pengendalian harga pangan 3. Keluarga Berencana 4. Perlindungan kepada ibu hamil dan menyusui 5. Jaminan Masyarakat 6. Jaminan Persalinan Universal 7. Program Beras Miskin 8. Program Keluarga Harapan 9. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Generasi 10. Fortifikasi 11. Pendidikan Gizi Masyarakat 12. Kawasan bebas rokok 13. Wajib belajar 9 tahun 14. Penyediaan Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) 15. Konseling calon pengantin 17

KATA PENGANTAR. September 2012. Tim Penyusun. Pedoman Perencanaan Program Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan

KATA PENGANTAR. September 2012. Tim Penyusun. Pedoman Perencanaan Program Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan Versi 8 Sept 12 KATA PENGANTAR Sasaran pembangunan pangan dan gizi dalam RPJMN 2010-2014 dan RAN-PG 2011-2015 adalah menurunkan prevalensi kekurangan gizi pada balita, termasuk stunting. Beberapa program

Lebih terperinci

Analisis Lanskap Kajian Negara Indonesia

Analisis Lanskap Kajian Negara Indonesia Analisis Lanskap Kajian Negara Indonesia Laporan Final 6 September 2 Analisis Lanskap Kajian Negara Indonesia Daftar Isi Ringkasan Eksekutif... 4. Pendahuluan... 6 2. Analisis Lanskap Proses Kajian Negara...

Lebih terperinci

Sekapur Sirih 3. Apa & Mengapa Pengarusutamaan Penanggulangan 5 Kemiskinan & Kerentanan (PPKK)

Sekapur Sirih 3. Apa & Mengapa Pengarusutamaan Penanggulangan 5 Kemiskinan & Kerentanan (PPKK) Daftar Isi Sekapur Sirih 3 Apa & Mengapa Pengarusutamaan Penanggulangan 5 Kemiskinan & Kerentanan (PPKK) PPKK & Upaya Penanggulangan Kemiskinan & 8 Kerentanan di Indonesia Kebijakan & Landasan Hukum 15

Lebih terperinci

1. Judul I. COMMUNITY HEALTH SERVICES 2. HEALTH DEVELOPMENT 3. PUBLIC HEATLH SERVICES

1. Judul I. COMMUNITY HEALTH SERVICES 2. HEALTH DEVELOPMENT 3. PUBLIC HEATLH SERVICES 351.077 Ind p Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI 351.077 Ind Indonesia. Kementerian Kesehatan. Pusat Promosi Kesehatan P Pedoman umum pengembangan desa dan keluarga siaga aktif: dalam rangka

Lebih terperinci

INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH

INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia INDONESIA 2005-2025 BUKU PUTIH Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bidang Kesehatan dan Obat Jakarta, 2006 MENTERI

Lebih terperinci

Jakarta, Maret 2013 Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, DR. Sudibyo Alimoeso, MA

Jakarta, Maret 2013 Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, DR. Sudibyo Alimoeso, MA 1 SAMBUTAN Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan SDM seutuhnya dimana untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas harus dimulai sejak usia dini. Berbagai studi menunjukkan bahwa periode

Lebih terperinci

RingkasanKajian. Masalah gizi, khususnya anak pendek, Gizi Ibu & Anak. Isu-isu penting. unite for children UNICEF INDONESIA OKTOBER 2012

RingkasanKajian. Masalah gizi, khususnya anak pendek, Gizi Ibu & Anak. Isu-isu penting. unite for children UNICEF INDONESIA OKTOBER 2012 UNICEF INDONESIA OKTOBER 2012 RingkasanKajian Gizi Ibu & Anak Isu-isu penting Masalah gizi, khususnya anak pendek, menghambat perkembangan anak muda, dengan dampak negatif yang akan berlangsung dalam kehidupan

Lebih terperinci

Penuntun Hidup Sehat

Penuntun Hidup Sehat Edisi Keempat Dengan Nasihat Tentang : Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir Perkembangan Anak & Pembelajaran Usia Dini Air Susu Ibu Gizi dan Pertumbuhan Imunisasi Diare Malaria HIV Perlindungan Anak dll i

Lebih terperinci

Pangan untuk Indonesia

Pangan untuk Indonesia Pangan untuk Indonesia Tantangan Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hakikat

Lebih terperinci

STRATEGI NASIONAL PENGENDALIAN TB DI INDONESIA 2010-2014

STRATEGI NASIONAL PENGENDALIAN TB DI INDONESIA 2010-2014 TEROBOSAN MENUJU AKSES UNIVERSAL STRATEGI NASIONAL PENGENDALIAN DI INDONESIA 2010-2014 Kementerian Kesehatan REPUBLIK INDONESIA Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 2011

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS TERCATAT KELAHIRANNYA

RENCANA STRATEGIS TERCATAT KELAHIRANNYA DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA RENCANA STRATEGIS SEMUA ANAK INDONESIA TERCATAT KELAHIRANNYA (RENSTRA ) DEPARTEMEN DALAM NEGERI 2008 DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA RENCANA STRATEGIS

Lebih terperinci

Laporan Independen NGO

Laporan Independen NGO Laporan Independen NGO Implementasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) Di Indonesia Pemenuhan Hak Asasi Perempuan Pedesaan Pasal 14, CEDAW Dipersiapkan oleh: Koalisi

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined.

DAFTAR ISI Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined. Error! Bookmark not defined. DAFTAR ISI Materi inti 1. PEDOMAN PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA DI PUSKESMAS... 2 Materi inti 2. JEJARING KERJA SAMA DALAM PELAYANAN KESEHATAN PEDULI REMAJA (PKPR)... 23 Materi Inti 3 TUMBUH KEMBANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG NASIONAL TAHUN 2005 2025

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG NASIONAL TAHUN 2005 2025 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG NASIONAL TAHUN 2005 2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

LAPORAN PENCAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN MILENIUM DI INDONESIA 2011

LAPORAN PENCAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN MILENIUM DI INDONESIA 2011 REPUBLIK INDONESIA LAPORAN PENCAPAIAN TUJUAN PEMBANGUNAN MILENIUM DI INDONESIA 2011 2012 Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) ISBN 978-979-3764-79-5

Lebih terperinci

Indonesia: Evaluasi Program Pembangunan Berbasis Masyarakat (CDD) Perkotaan

Indonesia: Evaluasi Program Pembangunan Berbasis Masyarakat (CDD) Perkotaan Indonesia: Evaluasi Program Pembangunan Berbasis Masyarakat (CDD) Perkotaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-Urban) CATATAN KEBIJAKAN JANUARI 2013 CATATAN KEBIJAKAN Indonesia:

Lebih terperinci

Laporan Penelitian INFID No. 1/2013. Jalan Terjal. Menurunkan Angka Kematian Ibu. editor: Irawan Saptono. didukung oleh:

Laporan Penelitian INFID No. 1/2013. Jalan Terjal. Menurunkan Angka Kematian Ibu. editor: Irawan Saptono. didukung oleh: Laporan Penelitian INFID No. 1/2013 Jalan Terjal Menurunkan Angka Kematian Ibu editor: Irawan Saptono didukung oleh: Jalan Terjal Menurunkan Angka Kematian Ibu INFID dan ISAI 2013 Jalan Terjal Menurunkan

Lebih terperinci

STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS HIDUP MANUSIA DI INDONESIA 1. Oleh: Widiyanto, SP, M.Si 2

STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS HIDUP MANUSIA DI INDONESIA 1. Oleh: Widiyanto, SP, M.Si 2 STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS HIDUP MANUSIA DI INDONESIA 1 Oleh: Widiyanto, SP, M.Si 2 Abstrak Menurut Human Development Report (HDR) tahun 2006, Indonesia menempati urutan 108 dari 177 negara dengan indeks

Lebih terperinci

LAPORAN PELAKSANAAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH KOTA MADIUN (LP2KD)

LAPORAN PELAKSANAAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH KOTA MADIUN (LP2KD) LAPORAN PELAKSANAAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAERAH KOTA MADIUN (LP2KD) PEMERINTAH KOTA MADIUN TAHUN 2012 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan KaruniaNya Laporan Pelaksanaan

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA Oleh : Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Direktorat Jenderal PHKA Departemen Kehutanan DIPA BA-29 TAHUN 2008 SATKER

Lebih terperinci

TANGGUH LNG PROGRAM INVESTASI KOMUNITAS 2011-2015

TANGGUH LNG PROGRAM INVESTASI KOMUNITAS 2011-2015 TANGGUH LNG PROGRAM INVESTASI KOMUNITAS 2011-2015 mewujudkan Operasi Yang BertanggungJawab & Berkelanjutan dicetak di atas kertas daur ulang Daftar Isi Daftar Gambar...7 Daftar Tabel...9 Akronim...11 Rangkuman

Lebih terperinci

RENCANA AKSI GLOBAL SUMBER DAYA GENETIK TERNAK dan DEKLARASI INTERLAKEN

RENCANA AKSI GLOBAL SUMBER DAYA GENETIK TERNAK dan DEKLARASI INTERLAKEN RENCANA AKSI GLOBAL SUMBER DAYA GENETIK TERNAK dan DEKLARASI INTERLAKEN PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PETERNAKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN Kementerian Pertanian 2011 COMMISSION ON

Lebih terperinci

Organisasi Perburuhan Internasional. PROGRAM PEKERJAAN LAYAK NASIONAL untuk INDONESIA 2012-2015

Organisasi Perburuhan Internasional. PROGRAM PEKERJAAN LAYAK NASIONAL untuk INDONESIA 2012-2015 Organisasi Perburuhan Internasional PROGRAM PEKERJAAN LAYAK NASIONAL untuk INDONESIA 2012 - PROGRAM PEKERJAAN LAYAK NASIONAL untuk INDONESIA 2012 - Daftar Singkatan Program Pekerjaan Layak Nasional untuk

Lebih terperinci

RANCANG TINDAK GLOBAL KEDUA UNTUK SUMBER DAYA GENETIK TANAMAN UNTUK PANGAN DAN PERTANIAN

RANCANG TINDAK GLOBAL KEDUA UNTUK SUMBER DAYA GENETIK TANAMAN UNTUK PANGAN DAN PERTANIAN RANCANG TINDAK GLOBAL KEDUA UNTUK SUMBER DAYA GENETIK TANAMAN UNTUK PANGAN DAN PERTANIAN KOMISI SUMBER DAYA GENETIK UNTUK PANGAN DAN PERTANIAN RANCANG TINDAK GLOBAL KEDUA UNTUK SUMBER DAYA GENETIK TANAMAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1 P a g e 2 P a g e Daftar Isi DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1.1. Latar Belakang...14 1.2. Perumusan Masalah...16

Lebih terperinci

Rancangan 5 September 2011 RENCANA PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN TAHUN 2011 2025

Rancangan 5 September 2011 RENCANA PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN TAHUN 2011 2025 Rancangan 5 September 2011 RENCANA PENGEMBANGAN TENAGA KESEHATAN TAHUN 2011 2025 JAKARTA, 2011 DAFTAR ISI Sambutan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat...... Sambutan Menteri Dalam Negeri...

Lebih terperinci

PENYUSUNAN RENJA DAN PELAKSANAAN MONEV TERPADU BIDANG KESEHATAN

PENYUSUNAN RENJA DAN PELAKSANAAN MONEV TERPADU BIDANG KESEHATAN PEDOMAN PENYUSUNAN RENJA DAN PELAKSANAAN MONEV TERPADU BIDANG KESEHATAN Kerjasama: Siskes Plus-GTZ dengan DinKes Prov. NTB & DinKes Prov.NTT 2009 PEDOMAN PENYUSUNAN RENJA DAN PELAKSANAAN MONEV TERPADU

Lebih terperinci

Tata Kelola Biaya Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) Seri Pembelajaran dari USAID-KINERJA

Tata Kelola Biaya Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) Seri Pembelajaran dari USAID-KINERJA Seri Pembelajaran dari USAID-KINERJA 2014 KATA PENGANTAR Peningkatan pelayanan publik oleh unit pelayanan yang dikelola oleh pemerintah daerah merupakan mandat yang diamanatkan dalam berbagai peraturan

Lebih terperinci