Volume 1, Nomor 1, Agustus 2011 ISSN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Volume 1, Nomor 1, Agustus 2011 ISSN. 2089-2950"

Transkripsi

1 Volume 1, Nomor 1, Agustus 2011 ISSN DAFTAR ISI : Pengaruh Penambahan Kapur dan Abu Layang Terhadap 1-15 Mortar Dengan Uji Kuat Tekan Serta Serapan Air Pada Bata Beton Berlobang (Asri Mulyadi) Uji Lendutan Pada Pelat Beton Ringan Dengan Penambahan Glassfiber (Asrullah) Silika Fume Dapat Menetralisir Penggunaan Air Rawa 25-8 Pada Pengadukan Beton Mutu K-225 (SS Purwanto) Pengaturan Tata Air Pada Drainase Lahan Persawahan Daerah 9-52 Rawa Desa Lumpatan-Bailangu Kabupaten Musi Banyuasin (Warnodin) Semen Baturaja, 5-65 Semen Padang dan Semen Holcim (Yudianto Yuanda)

2 tidak memerlukan persaratan khusus, seperti panas dan atau waktu hidrasi serta kondisi lingkungan agresif (SNI ). Yang mana harga semen dipasaran berbeda sesuai dengan merek semen tersebut. Berdasarkan hal tersebut maka dalam penelitian ini akan dibandingkan kuat tekan, modulus elastisitas, dan kuat tarik belah dari beton yang dibuat dengan tiga merek semen berbeda (Semen Baturaja, Semen Padang, Semen Holcim) pada umur hidrasi hari, 7 hari, 14 hari dan 28 hari Tujuan Penelitian. Tujuan yang akan dicapai dari penelitian ini antara lain : 1. Untuk mengetahui karakteristik bahan penyusun beton, meliputi : a. Agregat kasar : gradasi, ketahanan aus, berat jenis, berat satuan, kadar air, modulus halus butir, kekerasan butir agregat b. Agregat halus : gradasi, kadar lumpur, berat jenis, berat satuan 2. Untuk mengetahui nilai optimal kuat tekan, modulus elastisitas, dan kuat tarik belah pada beton dari komposisi campuran semen.. Untuk mengetahui merek semen yang ekonomis dengan kekuatan beton tinggi. 1.. Ruang Lingkup Penelitian. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini antara lain : 1. Bagaimana pengaruh semen yang berbeda merek terhadap kuat tekan, modulus elastisitas, dan kuat tarik belah beton dengan menggunakan agregat kasar dan halus yang sama serta faktor air semen yang sama. 2. Pada komposisi campuran semen berapa persenkah beton mampu menahan gaya tekan, modulus elastisitas, dan kuat tarik belah yang paling optimal. Untuk menghindari adanya kesalahan penelitian sesuai dengan tujuan yang dimaksud, maka dalam penelitian ini diperlukan adanya batasan batasan masalah sebagai berikut : 1. Semen yang digunakan adalah semen portland type I (Semen Baturaja, Semen Padang, Semen Holcim ) dengan kemasan dalam kantong 50 kg 2. Nilai faktor air semen yang digunakan sebesar 0,5.. Nilai berat semen yang digunakan sebesar 50 kg / m 4. Agregat halus dan agregat kasar yang digunakan sama. 5. Penelitian yang dilakukan meliputi kuat tekanbeton. 6. Mutu beton rencana K Pengujian dilakukan pada umur beton hari, 7 hari, 14 hari dan 28 hari.. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Beton Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang telah umum digunakan untuk bangunan gedung, jembatan, jalan, dan lain lain. Beton merupakan satu kesatuan yang homogen. Beton ini didapatkan dengan cara mencampur agregat halus (pasir), agregat kasar (split), atau jenis agregat lain dan air, dengan semen portland atau semen hidrolik yang lain, kadang kadang dengan bahan tambahan (additif) yang bersifat kimiawi ataupun fisikal pada perbandingan tertentu, sampai menjadi satu kesatuan yang homogen. Campuran tersebut akan mengeras seperti batuan. Pengerasan terjadi karena peristiwa reaksi kimia antara semen dengan air. Beton yang sudah mengeras dapat juga dikatakan sebagai batuan tiruan, dengan rongga rongga antara butiran yang besar (agregat kasar atau batu pecah), dan diisi oleh batuan kecil (agregat halus atau pasir), dan pori pori antara agregat halus diisi oleh semen dan air (pasta semen). Pasta semen juga berfungsi sebagai perekat atau pengikat dalam proses pengerasan, sehingga butiran butiran agregat saling terekat dengan kuat sehingga terbentuklah suatu kesatuan yang padat dan tahan lama. 54

3 2.2. Agregat - Agregat merupakan butiran mineral alami atau buatan yang berfungsi sebagai bahan pengisi campuran beton. Agregat menempati 70 % volume beton, sehingga sangat berpengaruh terhadap sifat ataupun kualitas beton, sehingga pemilihan agregat merupakan bagian penting dalam pembuatan beton. Semen Portland - Semen portland ialah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terdiri dari silikat - silikat kalsium yang bersifat hidrolis dengan gips sebagai bahan tambahan (PUBI 1982). Fungsi semen ialah untuk merekatkan butir butir agregat agar terjadi suatu massa yang kompak atau padat, selain itu juga untuk mengisi rongga diantara butiran butiran agregat. Air - Air merupakan bahan yang diperlukan untuk proses reaksi kimia, dengan semen untuk pembentukan pasta semen. Air juga digunakan untuk pelumas antara butiran dalam agregat agar mudah dikerjakan dan dipadatkan. Air dalam campuran beton menyebabkan terjadinya proses hidrasi dengan semen. Jumlah air yang berlebihan akan menurunkan kekuatan beton. Namun air yang terlalu sedikit akan menyebabkan proses hidrasi yang tidak merata. Pengunaan Air harus memenuhi syarat yang telah ditentukan tidak mengandung lumpur.. METODE PENELITIAN Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat antara satu sama lain dan membandingkan hasilnya. Pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pengujian bahan, yang meliputi pengujian agregat halus dan agregat kasar sertapengujian kuat tekan beton. Untuk pengujian yang dilakukan menggunakan standart Peraturan Beton Bertulang 1971 dan Petunjuk Praktikum Asistensi Teknik laboratorium pengujian beton dari pusat penelitian MBT (199). Untuk Pemeriksaan semen dilakukan dengan melihat fisiknya secara visual, apakah semen itu produksi baru ataukah produksi lama dengan melihat apakah butiran semen terdapat butiran padat atau tidak. Dengan kata lain semen yang digunakan adalah semen yang belum beku dan produksi terbaru. Pemeriksaan agregat halus meliputi pemeriksaan berat isi, berat jenis, analisa saringan dan kadar lumpur. Sedangkan pemeriksaan agregat kasar meliputi pemeriksaan berat isi, berat jenis, keausan, analisa saringan dan kadar lumpur. Sebelum melakukan penelitian harus dibuat bagan alir penelitian sebagaimana bagan dibawah ini hal ini penting mengingat alur proses penelitian agar didapat data yang valid. 55

4 BAGAN ALIR PENELITIAN Mulai Pengambilan Sampel Data Primer : - Semen 1.Semen Baturaja 2.Semen Padang.Semen Holcim - Split - Pasir - Air Laboratorium : - Kuat Tekan Data Sekunder : - Study Pustaka Analisa Data Hasil Output Semen dengan kuat tekan beton berbeda Kesimpulan.1. Analisa Karakteristik Bahan Analisa Semen Pada semen portland dilakukan analisa terhadap kandungan senyawa silika (S 1O2), Ferri Oksida (Fe2O), Kapur (CaO), Alumina (Al2O), Magnesium (MgO), Sulpurtrioksoda (SO) dan alkali. Pada penelitian ini dipakai semen portland semen Baturaja, Semen Padang, Semen Holcim, dan untuk selanjutnya tidak dilakukan analisa sebab sudah memenuhi spesifikasi teknis yang berlaku. Analisa Aggregat Analisa yang dilakukan pada agregat baik agregat halus dan kasar adalah sebagai berikut : Agregat Halus Organik Impuities Berat Jenis (ASTM C128-9) Analisa Saringan (ASTM C -92a) Berat Isi (ASTM C29) Apsorpsi (ASTM C566-89) Modulus Kehalusan (ASTM C16-92) Agregat Kasar 56

5 Berat Jenis (ASTM - 9) Analisa Saringan (ASTM C - 92a) Berat Isi (ASTM C29) Absorpsi (ASTM Cl28-9) Kadar Air (ASTM C566-9) Analisa Air Air yang digunakan dalam penelitian ini dianalisa sesuai dengan fungsinya sebagai campuran beton seperti keasaman, kandungan garam dan zat-zat organik. Dalam penelitian ini air yang digunakan sebagai campuran beton tidak boleh menggandung asam, alkali, bahan padat, bahan tersuspensi, bahan organik, minyak, sulfat, clorida, atau bahan-bahan lainnya yang dapat merusak beton, dalam hal ini dapat digunakan air bersih yang tersedia dilaboratorium dan sudah memenuhi syarat sesuai ASTM C685 92a,oleh karena itu tidak dilakukan analisa terhadap air..2. Perencanaan Campuran Beton Bahan yang digunakan adalah pasir yang berasal dari Pasir Ogan sedangkan agregat kasar berasal dari sungai Lematang Lahat. Untuk air yang dipakai air yang berada dilaboratorium. Perencanaan campuran beton ( mix design ) merupakan metode pendekatan dalam menentukan komposisi bahan-bahan pembentuk beton. Terdapat beberapa metode dalam perencanaan campuran beton yang digunakan sebagai acuan yaitu metode Dreux, metode British 1986, metode Aci (American Concrete Institute). Dalam penelitian ini digunakan metode SK SNI T Pencampuran Beton dengan varian agregat gabungan yaitu : Semen Portland Pasir Agregat Kasar Air 19,52 % 29,50 % 40,7 % 10,25 %.. Variabel Penelitian Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian. Variabel juga dapat diartikan sebagai faktor faktor yang berperan penting dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti. Variabel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan berat semen 50 kg/m dengan f.a.s 0,5. Variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1. berikut : Tabel 1. Variabel Penelitian. U m u r B e r a t F a k to r B e r a t J u m la h B e n d a h U ji B e to n S e m e n A ir A g r e g a t A g r e g a t U n tu k U ji ( fc ' & ε o ) ( k g /m S e m e n H a lu s K a s a r S e m e n S e m e n S em en ( k g /m ) ( k g /m ) B a tu r a ja P a d a n g R oda Sumber : 50 0, , , , , Petunjuk Praktikum Asistensi Teknik laboratorium pengujian beton dari pusat penelitian MBT (199) Keterangan : Fc Kuat tekan beton ε Regangan Beton 57

6 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemeriksaan Bahan Susun Beton Pemeriksaan terhadap bahan susun beton diperoleh hasil sebagai berikut : 1. Air Menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 air harus bersih, tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya yang dapat dilihat secara visual. Setelah dilakukan pengamatan secara visual terhadap air yang akan digunakan, menunjukkan sifat-sifat antara lain tidak berwarna, tidak berbau, jernih (tidak mengandung lumpur), dan benda terapung lainnya sehingga air tersebut dianggap memenuhi syarat. 2. Semen Pemeriksaan secara visual menyimpulkan bahwa semen dalam keadaan baik yaitu berbutir halus, tidak terdapat gumpalan-gumpalan, sehingga semen dapat digunakan sebagai bahan susun beton dengan berat jenis,15 ton/m.. Pasir Ogan a. Berat jenis Pemeriksaan yang dilakukan pada 2 sampel benda uji, kemudian dirata-rata. Pada kondisi kering didapat berat jenis Pasir Ogan 2,611 ton/m. Pasir Ogan termasuk dalam agregat normal (berat jenisnya antara 2,5-2,7), sehingga dapat dipakai untuk beton normal dengan kuat tekan MPa (Tjokrodimuljo 1996: 15). Hasil pemeriksaan berat jenis sebagaimana tabel dibawah ini. Tabel 2. Pemeriksaan berat jenis agregat halus. P e m e r ik s a a n B e n d a u ji S S D P ik n o m e te r P ik n o m e te r + A ir P ik n o m e te r + A ir + B e n d a U ji B e n d a u ji k e r in g o v e n je n is k e r in g -(E ) (F ) + (C ) (G ) B e r a t J e n is S S D (G - D ) P e n ye ra p a n % (A - E ) (E ) (B ) (C ) (D ) (E ) S a tu a n I II R a ta - r a ta x 100 b. Kadar lumpur Pemeriksaan kadar lumpur didapatkan sebesar,954% (lampiran 2), menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 kadar lumpur maksimum pasir ialah 5%. Dengan demikian pasir ogan dapat digunakan sebagai bahan susun beton. Untuk pasir dengan kandungan lumpur lebih dari 5%, maka sebelum dipakai hendaknya dicuci terlebih dahulu. Hasil pemeriksaan kadar lumpur sebagaimana tabel dibawah ini. Tabel. Pemeriksaan kadar lumpur agregat halus. P e m e rik s a a n T e m p a t A g re g a t s e b e lu m d i c u c i A g re g a t s e te la h d i c u c i K a d a r lu m p u r % (A - E ) (E ) S a tu a n (B ) (C ) x 100 I II R a ta -ra ta

7 c. Gradasi pasir Pemeriksaan gradasi pasir ogan dapat dilihat dalam (lampiran 1). Menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971, Pasir Ogan termasuk pada Zone II (pasir agak kasar) dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini. GRADASI PASIR OGAN PADA ZONA 2 (pasir agak kasar) Prosentase Lolos Ayakan (%) Batas Atas Batas Bawah Gradasi Pasir , Lubang Ayakan mm Gambar 1. Gradasi Pasir Ogan dan Batasan Gradasi Pasir Zone II Menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971, Pasir Ogan telah memenuhi syarat sebagai bahan penyusun beton normal. Modulus Halus Butir didapatkan sebesar 4, Split Lahat a. Berat jenis Pemeriksaan yang dilakukan pada 2 sampel benda uji, kemudian dirata-rata. Pada kondisi kering didapat berat jenis Split Lahat adalah 2,06 ton/m. Split Lahat termasuk dalam agregat normal (berat jenisnya antara 2,-2,5). Hasil pemeriksaan berat jenis sebagaimana tabel dibawah ini. Tabel 4. Pemeriksaan berat jenis agregat kasar P e m e rik s a a n B e n d a u ji S S D P ik n o m e te r P ik n o m e te r + A ir P ik n o m e te r + A ir + B e n d a U ji B e n d a u ji k e rin g o v e n je n is k e rin g -(E ) (F ) + (C ) (G ) J e n is S S D (G - D ) P e n y e ra p a n % (A - E ) (E ) S a tu a n (B ) (C ) (D ) (E ) x 100 I II R a ta -ra ta b. Kadar Lumpur Pemeriksaan kadar lumpur didapatkan sebesar 11,79%, menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia kadar lumpur maksimum Split ialah 1%. Dengan demikian Split Lahat harus dicuci sebelum digunakan sebagai bahan susun beton. Untuk Split dengan kandungan lumpur lebih dari 1%, maka sebelum dipakai hendaknya dicuci terlebih dahulu. Hasil pemeriksaan kadar lumpur sebagaimana tabel dibawah ini. 59

8 Tabel 5. Pemeriksaan kadar lumpur agregat kasar. P e m e rik s a a n T e m p a t A g re g a t s e b e lu m d i c u c i A g re g a t s e te la h d i c u c i K a d a r lu m p u r % (A - E ) (E ) S a tu a n (B ) (C ) x 100 I II R a ta -ra ta c. Keausan Agregat Pemeriksaan ketahanan aus agregat kasar menggunakan mesin Los Angeles. Pada (lampiran 6), didapat bagian yang hancur (lolos ayakan 2,8 mm) adalah 5,84%. Menurut Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 maksimum bagian yang hancur tidak lebih dari 50%, sehingga Split Lahat dapat digunakan untuk bahan susun beton. Hasil pemeriksaan kadar lumpur sebagaimana tabel dibawah ini. Tabel 6. Pemeriksaan keausan agregat dengan mesin los angeles. G ra d a s i P e m e rik s a a n U k u ra n S a rin g a n (m m ) L o lo s T e r ta h a n 7,5 2 5,4 2 5, ,5 1 2,5 9,5 9,5 6, 6, 4,7 5 4,7 5 2, 8 T o ta l B e r a t B o la J u m la h B o la B a ja C a ta ta n : K a li P u ta r a n B e r a t C o n to h A w a l B e r a t s e te la h d i a y a k s a r i n g a n n o. 2,8 m m S e s u d a h K e a u s a n (A -B ) x (B ) K e a u s a n r a ta - r a ta % F ra k s i ( m m ) S a m p e l ( ) (B ) (A -B ) A ,8 4 5, Perencanaan Adukan Beton Bahan susun beton yang dipakai meliputi agregat halus berupa Pasir Ogan, agregat kasar berupa batu pecah mesin asal Lahat dengan butir maksimum 20 mm, semen tipe 1 dengan merk Baturaja, Padang dan Holcim dengan ukuran 50 Kg, air dari laboratorium bahan Jurusan Teknik Sipil Politeknik Sriwijaya Palembang. Rancangan adukan unutk beton dengan kekuatan rencana K 00 didahului dengan pemeriksaan bahan susun beton (lampiran 1) dan analisis gradasi campuran dengan hasil yang terbaik seperti dalam (lampiran 1), yaitu Pasir Ogan 42% dan Split Lahat 58%. Perencanaan adukan beton dihitung dengan cara Laboratorium yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut : Persyaratan yang telah ditentukan antara lain : 1. Berat semen 428,57 Kg/m. 2. Faktor air semen 0,

9 Berdasarkan hasil penelitian di atas diperoleh : 1. Berat jenis Pasir 2, Berat jenis kerikil 2,06.. Perbandingan berat pasir dan kerikil 42%:58%. Penentuan berat beton : 1. Berat jenis agregat campuran : (2,611 x 42%) + (2,06 x 58%) 2, Kebutuhan air 0,525 x 428, Kg atau 225 Liter.. Dari gambar grafik tentang hubungan kandungan air, berat jenis agregat campuran, dan berat beton (Tjokrodimuljo 1996: 100) dengan Bj campuran 2,441 dan kebutuhan air 225 L, maka berat beton diperoleh : 2195,25 Kg/m. Penentuan berat agregat : 1. Penentuan berat campuran : W camp Wbeton Wair Wsemen 2195, ,68 Kg 2. Penentuan berat pasir : W pasir P/(P+K) x Wcamp 0,42/(0,42+0,58) x 1541,68 Kg 647,51 Kg. Penentuan berat split : W Split K/(P+K) x Wcamp 0,58/(0,42+0,58) x 1541,68 894,17 Kg Perbandingan kebutuhan pasir, kerikil, air, dan semen untuk 1m adalah 1. Pasir 647,51Kg 2. Split 894,17Kg. Air 225 Liter 4. Semen 428,57Kg Analisis kebutuhan pasir, split, air, dan semen untuk 7 kubus beton dengan ukuran (15 x 15 ) cm adalah 1. Volume 7 kubus 7x0.15x0,15x 0, m 2. Untuk pelaksanaannya proporsional volumenya ditambah 10%. Voleme m. Sehingga kebutuhannya untuk 7 kubus adalah : Pasir x Kg 16,82 Kg Split x Kg 2,2 Kg Air x 225 Liter 5,84 Liter Semen x 428,57 Kg 11,1 Kg 61

10 Tabel 7. No Jumlah kebutuhan bahan susun beton Merek Semen 1 Baturaja 2 Padang Holcim Split (Kg) 2,2 2,2 2,2 Kebutuhan bahan untuk 7 kubus Pasir Air (Kg) (Liter) 16,82 5,84 16,82 5,84 16,82 5,84 Semen (Kg) 11,1 11,1 11,1 4.. Pembahasan Kuat Tekan Beton Pengujian kuat tekan beton dilaksanakan setelah umur beton mencapai umur dan 7 hari yang mana kuat tekan beton pada hari berikutnya dapat dikonversikan dengan koefisien berdasarkan umur beton menurut PBI Adapun tabel koefisien berdasarkan umur beton menurut PBI 1971 adalah dibawah ini. Tabel 8. Koefisien berdasarkan umur beton menurut PBI Umur Beton (hari) Semen Biasa Semen dengan Kekuatan awal Sumber : Peraturan Beton Bertulang Indonesia Dari hasil pengujian kuat tekan beton yang dilakukan di Lab Beton Politeknik Sriwijaya yang dilakukan pada umur tiga dan tujuh hari harus dikonversi terlebih dahulu untuk mendapatkan kuat tekan beton pada umur 14, 21 dan 28 hari. 1. Penentuan Kuat Tekan Beton Dengan Semen Baturaja Trial Mix kg/cm kg/cm2 Kuat Tekan Beton Rata-rata Kuat Tekan Beton Rata-rata kg/cm2 62

11 Dengan emikian kuat tekan beton pada umur 14, 21 dapat dihitung sebagai berikut : Kuat Tekan Beton Umur 14 hari Kuat Tekan Rata-rata x Koef. PBI x kg/cm2 Kuat Tekan Beton Umur 21 hari Kuat Tekan Rata-rata x Koef. PBI x kg/cm2 2. Penentuan Kuat Tekan Beton Dengan Semen Padang Trial Mix kg/cm2 Trial Mix kg/cm2 Kuat Tekan Beton Rata-rata Kuat Tekan Beton Rata-rata kg/cm2 Dengan demikian kuat tekan beton pada umur 14, 21 dapat dihitung sebagai berikut : Kuat Tekan Beton Umur 14 hari Kuat Tekan Rata-rata x Koef. PBI x kg/cm2 Kuat Tekan Beton Umur 21 hari Kuat Tekan Rata-rata x Koef. PBI x kg/cm2. Penentuan Kuat Tekan Beton Dengan Semen Holcim Trial Mix 1 6

12 408.2 kg/cm2 Trial Mix kg/cm2 Kuat Tekan Beton Rata-rata Kuat Tekan Beton Rata-rata 58 kg/cm2 Dengan demikian kuat tekan beton pada umur 14, 21 dapat dihitung sebagai berikut : Kuat Tekan Beton Umur 14 hari Kuat Tekan Rata-rata x Koef. PBI x kg/cm2 Kuat Tekan Beton Umur 21 hari Kuat Tekan Rata-rata x Koef. PBI x kg/cm2 Hasil pengujian kuat tekan beton yang dilakukan di Lab Beton Politeknik Sriwijaya disajikan dalam (lampiran 19-5). Untuk melihat hasil pengujian kuat tekan beton dengan menggunakan semen baturaja, semen padang dan semen holcim dengan formula rencana K 00 disajikan dalam tabel 4. dibawah ini. Tabel 9. Kuat Tekan Beton dengan menggunakan semen baturaja, semen padang dan semen holcim untuk beton rencana K M e re k S e m e n (k g ) K u a t T e k a n B e to n B e rd a s a rk a n U m u r (k g /c m 2 ) B a tu ra ja P a d a ng H o lc im 1 9 7,8 2 5, 1 8 5,6 2 7, , 2 0 0,0 0 8,0 2 7,9 8 8, , ,1 4 0,1 Ket 4 4 2,1 K ,9 58 Dari tabel diatas dapat dibuat grafik hubungan antara kuat tekan beton berdasarkan umur beton dengan tiga merek semen berbeda seperti dibawah ini. 64

13 KUAT TEKAN BETON MENGGUNAKAN SEMEN BATURAJA, SEMEN PADANG DAN SEMEN HOLCIM Kuat Tekan Beton (kg/cm2) Semen Baturaja Semen Padang Semen Holcim Umur Beton (hari) 28 Gambar 2. Kuat Tekan Beton Dengan Menggunakan Semen Baturaja, Semen Padang dan Semen Holcim. 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian ini dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut : 1. Agregat halus yaitu pasir ogan dapat digunakan untuk pembuatan beton normal yang mana kadar lumpurnya sebesar.954%. Pasir ini dapat digunakan untun beton rencana K Agregat Kasar yaitu Split Lahat dapat digunakan untuk pembuatan beton normal dilapangan dengan terlebih dahulu dicuci, mengingat kadar lumpurnya sebesar 11,79%.. Kuat Tekan Beton yang paling tinggi adalah beton yang menggunakan semen baturaja. Adapun semen padang dan semen holcim tetap dapat digunakan untuk pembuatan beton normal dengan kuat tekan rencana K Saran Setelah melakukan penelitian tentang kuat tekan beton dengan menggunakan semen baturaja, semen padang dan semen holcim, maka perlu diperhatikan saran-saran sebagai berikut : - Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui lebih akurat kuat kuat tekan beton dengan menggunakan semen baturaja, semen padang dan semen hocim dengan jumlah sample yang lebih besar dengan margin error yang kecil. DAFTAR PUSTAKA Anonim Tata Cara Pengujian Kuat Tarik Beton (SK SNI M ). Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan: Jakarta. 2. Anonim Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Bertulang Untuk Bangunan Gedung (SK SNIT ). Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan: Jakarta.. Dipohusodo, I Struktur Beton Bertulang Berdasarkan SK SNI-T Departemen Pekerjaan Umum RI. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. 4. Mulyono, T Teknologi Beton. Andi: Yogyakarta. 5. Samekto dan Rahmadiyanto, Teknologi Beton. Kanisius: Yogyakarta. 6. Gani, M.S.J. Cement and Concrete. Chapman & Hall: Melbourne. 7. Wospakrik, Hans Mekanika Bahan. Erlangga: Surabaya. 8. Sorousihan, P. dan Bayazi, Z Concep of Fibre Reinforced Concrete, Proceeding of the International Seminar on Fibre Reinforced Concrete. Michigan State University: Michigan. 9. Suhendro, B Beton Fiber Konsep, Aplikasi, dan Permasalahannya. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta. 10. Suroso, H Pemanfaatan Pasir Pantai Sebagai Bahan Agregat Halus Pada Beton. Thesis Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA KAJIAN KUAT TEKAN BETON DENGAN PERBANDINGAN VOLUME DAN PERBANDINGAN BERAT UNTUK PRODUKSI BETON MASSA MENGGUNAKAN AGREGAT KASAR BATU PECAH MERAPI (STUDI KASUS PADA PROYEK PEMBANGUNAN SABO DAM) Oleh : Yudi

Lebih terperinci

BAB IV UJI LABORATORIUM

BAB IV UJI LABORATORIUM IV - 1 BAB IV UJI LABORATORIUM 4.1. Tinjauan Umum Sebelum beton serat polypropylene SikaFibre diaplikasikan pada rigid pavement di lapangan, perlu dilakukan suatu pengujian terlebih dahulu untuk mengetahui

Lebih terperinci

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT Pengaruh Kadar Air.. Kuat Tekan Beton Arusmalem Ginting PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON Arusmalem Ginting 1, Wawan Gunawan 2, Ismirrozi 3 1 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

TINJAUAN DAYA DUKUNG KOLOM BETON PERSEGI BERTULANGAN POKOK DARI BAMBU. Naskah Publikasi

TINJAUAN DAYA DUKUNG KOLOM BETON PERSEGI BERTULANGAN POKOK DARI BAMBU. Naskah Publikasi TINJAUAN DAYA DUKUNG KOLOM BETON PERSEGI BERTULANGAN POKOK DARI BAMBU Naskah Publikasi untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-1 Teknik Sipil diajukan oleh : SRIYATNO NIM : D 100

Lebih terperinci

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA PERCOBAAN

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA PERCOBAAN BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA PERCOBAAN 4.1 UMUM Pada bab ini berisi pengolahan data dan analisis data percobaan yang dilakukan di laboratorium. Pada umumnya, suatu penelitian perlu dilakukan berulang

Lebih terperinci

Analisis Pengaruh Temperatur terhadap Kuat Tekan Beton

Analisis Pengaruh Temperatur terhadap Kuat Tekan Beton Ahmad, dkk. ISSN 0853-2982 Jurnal Teoretis dan Terapan Bidang Rekayasa Sipil Analisis Pengaruh Temperatur terhadap Kuat Tekan Beton Irma Aswani Ahmad Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan Fakultas

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) Mata Kuliah : Teknologi Bahan Konstruksi Kode Mata Kuliah : MKT 1106 SKS : 2(2-0) Waktu Pertemuan : 100 Menit A. Tujuan Pembelajaran 1. Tujuan pembelajaran umum mata kuliah

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN ABU TERBANG (FLY ASH) TERHADAP KUAT TEKAN DAN SERAPAN AIR PADA MORTAR

PENGARUH PENGGUNAAN ABU TERBANG (FLY ASH) TERHADAP KUAT TEKAN DAN SERAPAN AIR PADA MORTAR PENGARUH PENGGUNAAN ABU TERBANG (FLY ASH) TERHADAP KUAT TEKAN DAN SERAPAN AIR PADA MORTAR SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pada Universitas Negeri Semarang Oleh: A N D O Y O 5101401020

Lebih terperinci

BAB II. A G R E G A T

BAB II. A G R E G A T BAB II. A G R E G A T 2.1. PENDAHULUAN Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran beton atau mortar. Agregat menempati sebanyak kurang lebih 70 % dari volume

Lebih terperinci

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat ICS 91.100.15 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

TINJAUAN KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS PADA BETON MENGGUNAKAN PASIR NORMAL DAN PASIR MERAPI SERTA PENAMBAHAN POZZOLAN LUMPUR LAPINDO SKRIPSI

TINJAUAN KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS PADA BETON MENGGUNAKAN PASIR NORMAL DAN PASIR MERAPI SERTA PENAMBAHAN POZZOLAN LUMPUR LAPINDO SKRIPSI digilib.uns.ac.id TINJAUAN KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS PADA BETON MENGGUNAKAN PASIR NORMAL DAN PASIR MERAPI SERTA PENAMBAHAN POZZOLAN LUMPUR LAPINDO Study of Concrete Compressive Strenght and Modulus

Lebih terperinci

Semen portland komposit

Semen portland komposit Standar Nasional Indonesia Semen portland komposit ICS 91.100.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...

Lebih terperinci

ADUKAN OLEH. Armeyn Syam

ADUKAN OLEH. Armeyn Syam PERENCANAAN CAMPURAN ADUKAN BETON NORMAL OLEH Ir.H.Armeyn Syamsuddin FAKULTAS TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI PADANG 20122 Armeyn Syam 1 Institut Teknologi Padang PERENCANAAN CAMPURAN ADUKAN

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN SERBUK KACA SEBAGAI SUBSTITUSI AGREGAT HALUS DENGAN BAHAN TAMBAH SUPERPLASTISIZER TERHADAP SIFAT MEKANIK BETON

PENGARUH PENGGUNAAN SERBUK KACA SEBAGAI SUBSTITUSI AGREGAT HALUS DENGAN BAHAN TAMBAH SUPERPLASTISIZER TERHADAP SIFAT MEKANIK BETON PENGARUH PENGGUNAAN SERBUK KACA SEBAGAI SUBSTITUSI AGREGAT HALUS DENGAN BAHAN TAMBAH SUPERPLASTISIZER TERHADAP SIFAT MEKANIK BETON Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Lebih terperinci

PENGGUNAAN DAMDEX SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN BETON

PENGGUNAAN DAMDEX SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN BETON PENGGUNAAN DAMDEX SEBAGAI BAHAN TAMBAH PADA CAMPURAN BETON Jhonson A. Harianja 1), Efraim Barus 2) 1) Jurusan Teknik Spil Fakultas Teknik UKRIM Yogyakarta 2) Jurusan Teknik Spil Fakultas Teknik UKRIM Yogyakarta

Lebih terperinci

Marsudi. Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang

Marsudi. Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang KAJIAN KOMPARATIF KUALITAS BETON ANTARA BAHAN TAMBAH SERAT KALENG, SERAT FIBER, SERAT KAWAT DENGAN SERAT KALENG DAN SERAT FIBER YANG BERBENTUK PENTAGONAL Marsudi Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri

Lebih terperinci

PENGARUH PEMAKAIAN SERAT BAJA HAREX SF TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN ARAH SERAT BETON

PENGARUH PEMAKAIAN SERAT BAJA HAREX SF TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN ARAH SERAT BETON PENGARUH PEMAKAIAN SERAT BAJA HAREX SF TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN ARAH SERAT BETON Lilis Zulaicha Jurusan Teknik Sipil Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Jl. Babarsari no. 1, Depok-Sleman, Yogyakarta lilis_zulaicha@yahoo.com

Lebih terperinci

TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS

TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS Saintek Vol 5, No 1 Tahun 2010 TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS ABSTRAK (STUDI KASUS BEBERAPA QUARRY DI GORONTALO) Fadly Achmad Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jalan merupakan infrastruktur yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lain yang sangat penting dalam sistem pelayanan masyarakat (Wirahadikusumah, 2007). Lapisan

Lebih terperinci

LABORATORIUM BAHAN BANGUNAN KUAT LEKAT DAN PANJANG PENYALURAN BAJA POLOS PADA BETON RINGAN DENGAN BERBAGAI VARIASI KAIT SKRIPSI

LABORATORIUM BAHAN BANGUNAN KUAT LEKAT DAN PANJANG PENYALURAN BAJA POLOS PADA BETON RINGAN DENGAN BERBAGAI VARIASI KAIT SKRIPSI KUAT LEKAT DAN PANJANG PENYALURAN BAJA POLOS PADA BETON RINGAN DENGAN BERBAGAI VARIASI KAIT The Bond Strength and Development Length Observation of Bar Reinforcement of Lightweight Concrete with Various

Lebih terperinci

KUAT LEKAT DAN PANJANG PENYALURAN BAJA POLOS PADA BETON DENGAN CAMPURAN METAKAOLIN,SLAG DAN KAPUR PADAM SEBAGAI PENGGANTI SEMEN SKRIPSI

KUAT LEKAT DAN PANJANG PENYALURAN BAJA POLOS PADA BETON DENGAN CAMPURAN METAKAOLIN,SLAG DAN KAPUR PADAM SEBAGAI PENGGANTI SEMEN SKRIPSI KUAT LEKAT DAN PANJANG PENYALURAN BAJA POLOS PADA BETON DENGAN CAMPURAN METAKAOLIN,SLAG DAN KAPUR PADAM SEBAGAI PENGGANTI SEMEN The Bond strength and Development Length Of Bar Reinforcement Of Concrete

Lebih terperinci

PENELITIAN MENGENAI PENINGKATAN KEKUATAN AWAL BETON PADA SELF COMPACTING CONCRETE

PENELITIAN MENGENAI PENINGKATAN KEKUATAN AWAL BETON PADA SELF COMPACTING CONCRETE Civil Engineering Dimension, Vol. 8, No., 87 9, September 6 ISSN 11-953 PENELITIAN MENGENAI PENINGKATAN KEKUATAN AWAL BETON PADA SELF COMPACTING CONCRETE Handoko Sugiharto Dosen Fakultas Teknik Sipil &

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG CAMPURAN BETON ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL PENETRASI 60 DAN PENETRASI 80. Pembimbing : Wimpy Santosa, Ph.

PERBANDINGAN KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG CAMPURAN BETON ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL PENETRASI 60 DAN PENETRASI 80. Pembimbing : Wimpy Santosa, Ph. PERBANDINGAN KUAT TARIK TIDAK LANGSUNG CAMPURAN BETON ASPAL DENGAN MENGGUNAKAN ASPAL PENETRASI 60 DAN PENETRASI 80 Shanti Destawati NRP : 9821010 Pembimbing : Wimpy Santosa, Ph.D FAKULTAS TEKNIK JURUSAN

Lebih terperinci

PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING

PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING TUGAS AKHIR PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING Oleh : Viego Kisnejaya Suizta 2104 100 043 Dosen Pembimbing

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2012. Cangkang kijing lokal dibawa ke Laboratorium, kemudian analisis kadar air, protein,

Lebih terperinci

PENGARUH FAS PADA BETON TERHADAP TEGANGAN LEKAT BAJA TULANGAN POLOS (BJTP) DENGAN PENGANGKERAN LURUS DAN KAIT STANDAR

PENGARUH FAS PADA BETON TERHADAP TEGANGAN LEKAT BAJA TULANGAN POLOS (BJTP) DENGAN PENGANGKERAN LURUS DAN KAIT STANDAR PENGARUH FAS PADA BETON TERHADAP TEGANGAN LEKAT BAJA TULANGAN POLOS (BJTP) DENGAN PENGANGKERAN LURUS DAN KAIT STANDAR Jhonson A. Harianja 1) 1) Jurusan Teknik Spil Fakultas Teknik UKRIM Yogyakarta Abstract

Lebih terperinci

OPTIMASI DAYA DUKUNG TANAH PADA STRUKTUR PONDASI TELAPAK DENGAN METODE SUB-SOIL IMPROVEMENT PADA PROYEK AUDITORIUM UNSYIAH BANDA ACEH

OPTIMASI DAYA DUKUNG TANAH PADA STRUKTUR PONDASI TELAPAK DENGAN METODE SUB-SOIL IMPROVEMENT PADA PROYEK AUDITORIUM UNSYIAH BANDA ACEH OPTIMASI DAYA DUKUNG TANAH PADA STRUKTUR PONDASI TELAPAK DENGAN METODE SUB-SOIL IMPROVEMENT PADA PROYEK AUDITORIUM UNSYIAH BANDA ACEH Iskandar Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Lhokseumawe Jl. Banda

Lebih terperinci

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO KOROSI PADA BETON BERTULANG DAN PENCEGAHANNYA Fahirah F. * Abstract Composition of concrete and steel of bone compiled better usable so that as optimum material. Corrosion

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS GENTENG BETON DENGAN BAHAN TAMBAH SERAT IJUK DAN PENGURANGAN PASIR

ANALISIS KUALITAS GENTENG BETON DENGAN BAHAN TAMBAH SERAT IJUK DAN PENGURANGAN PASIR ANALISIS KUALITAS GENTENG BETON DENGAN BAHAN TAMBAH SERAT IJUK DAN PENGURANGAN PASIR PROYEK AKHIR Diajukan kepada Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Guna Memenuhi sebagian Persyaratan Untuk

Lebih terperinci

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT MODUL: PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan sanitasi merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia, karena itu jika kebutuhan tersebut

Lebih terperinci

W A D I Y A N A S940907117

W A D I Y A N A S940907117 KAJIAN KARAKTERISTIK BATU ALAM LOKAL KABUPATEN GUNUNGKIDUL SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BATA MERAH PEJAL UNTUK PEMBANGUNAN DAN REHABILITASI RUMAH SEDERHANA CHARACTERISTIC S STUDY OF NATURAL LOCAL STONE

Lebih terperinci

BAB V KERAMIK (CERAMIC)

BAB V KERAMIK (CERAMIC) BAB V KERAMIK (CERAMIC) Keramik adalah material non organik dan non logam. Mereka adalah campuran antara elemen logam dan non logam yang tersusun oleh ikatan ikatan ion. Istilah keramik berasal dari bahasa

Lebih terperinci

METODE PENGUJIAN GUMPALAN LEMPUNG DAN BUTIR-BUTIR MUDAH PECAH DALAM AGREGAT

METODE PENGUJIAN GUMPALAN LEMPUNG DAN BUTIR-BUTIR MUDAH PECAH DALAM AGREGAT METODE PENGUJIAN GUMPALAN LEMPUNG DAN BUTIR-BUTIR MUDAH PECAH DALAM AGREGAT BAB I DESKRIPSI 1.1. Maksud dan Tujuan 1.1.1 Maksud Metode Pengujian Gumpalan Lempung dan Butir-butir Mudah Pecah Dalam Agregat

Lebih terperinci

PELAKSANAAN KONSTRUKSI JALAN. KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Jln. Pattimura 20 Jakarta Selatan

PELAKSANAAN KONSTRUKSI JALAN. KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Jln. Pattimura 20 Jakarta Selatan by : Ir. Indra Miduk Hutabarat, MM PELAKSANAAN KONSTRUKSI JALAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Jln. Pattimura 20 Jakarta Selatan TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM Setelah selesai mengikuti

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL CIPTA KARYA NOMOR: 111/KPTS/CK/1993 TANGGAL 28 SEPTEMBER 1993 TENTANG: PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA A. DASAR DASAR PERENCANAAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ALAT UJI PERMEABILITAS BETON

RANCANG BANGUN ALAT UJI PERMEABILITAS BETON Civil Engineering Dimension, Vol. 6, No. 2, 94 100, September 2004 ISSN 1410-9530 RANCANG BANGUN ALAT UJI PERMEABILITAS BETON Handoko Sugiharto, Wong Foek Tjong Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,

Lebih terperinci

PENGARUH BAHAN TAMBAH BERBASIS GULA TERHADAP KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS BETON SKRIPSI

PENGARUH BAHAN TAMBAH BERBASIS GULA TERHADAP KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS BETON SKRIPSI digilib.uns.ac.id PENGARUH BAHAN TAMBAH BERBASIS GULA TERHADAP KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS BETON (Influence of Sugar-Based Admixture on Concrete s Compressive Strength and Elasticity Modulus) SKRIPSI

Lebih terperinci

BETON TULANGAN BAMBU SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BALOK DAN KASAU DARI KAYU

BETON TULANGAN BAMBU SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BALOK DAN KASAU DARI KAYU BETON TULANGAN BAMBU SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BALOK DAN KASAU DARI KAYU F.X. Gunarsa Irianta Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang Jln. Prof. Soedarto, S.H., Tembalang Semarang 50275 Sipil.polines@yahoo.co.id

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

PENGARUH KEDALAMAN GEOTEKSTIL TERHADAP KAPASITAS DUKUNG MODEL PONDASI TELAPAK BUJURSANGKAR DI ATAS TANAH PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (Dr) = ± 23%

PENGARUH KEDALAMAN GEOTEKSTIL TERHADAP KAPASITAS DUKUNG MODEL PONDASI TELAPAK BUJURSANGKAR DI ATAS TANAH PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (Dr) = ± 23% PENGARUH KEDALAMAN GEOTEKSTIL TERHADAP KAPASITAS DUKUNG MODEL PONDASI TELAPAK BUJURSANGKAR DI ATAS TANAH PASIR DENGAN KEPADATAN RELATIF (Dr) = ± 23% Jemmy NRP : 0021122 Pembimbing : Herianto Wibowo, Ir,

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme : TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014.

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. III. MATERI DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN SUSKA Riau.

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PENANGANAN

BAB V RENCANA PENANGANAN BAB V RENCANA PENANGANAN 5.. UMUM Strategi pengelolaan muara sungai ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah pemanfaatan muara sungai, biaya pekerjaan, dampak bangunan terhadap

Lebih terperinci

BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH

BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH 4.1. Pengambilan Sampel Sampel tanah yang digunakan untuk semua pengujian dalam penelitian ini adalah tanah di sekitar jalan dari Semarang menuju Purwodadi

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN JALAN USAHATANI

RANCANG BANGUN JALAN USAHATANI RANCANG BANGUN JALAN USAHATANI JALAN USAHA TANI TRANSPORTASI SARANA PRODUKSI PERTANIAN: BENIH PUPUK PESTISIDA MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN TRANSPORTASI HASIL PRODUKSI PERTANIAN TRANSPORTASI KEGIATAN OPERASI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Daya Dukung Pondasi Tiang Pondasi tiang adalah pondasi yang mampu menahan gaya orthogonal ke sumbu tiang dengan jalan menyerap lenturan. Pondasi tiang dibuat menjadi satu

Lebih terperinci

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut Penyusun IPG Widjaja-Adhi NP Sri Ratmini I Wayan Swastika Penyunting Sunihardi Setting & Ilustrasi Dadang

Lebih terperinci

PENENTUAN BATAS PLASTIS TANAH DENGAN MODIFIKASI FALL CONE TEST PADA TANAH LEMPUNG DI DAERAH BANDUNG SELATAN

PENENTUAN BATAS PLASTIS TANAH DENGAN MODIFIKASI FALL CONE TEST PADA TANAH LEMPUNG DI DAERAH BANDUNG SELATAN PENENTUAN BATAS PLASTIS TANAH DENGAN MODIFIKASI FALL CONE TEST PADA TANAH LEMPUNG DI DAERAH BANDUNG SELATAN Suhenri NRP : 9721033 NIRM : 41077011970269 Pembimbing : Ibrahim Surya., Ir., M. Eng FAKULTAS

Lebih terperinci

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Rajiman A. Latar Belakang Pemanfaatan lahan memiliki tujuan utama untuk produksi biomassa. Pemanfaatan lahan yang tidak bijaksana sering menimbulkan kerusakan

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMENTAL PENGGUNAAN PEN- BINDER TERHADAP PERKUATAN KOLOM BETON BERTULANG ABSTRAK

STUDI EKSPERIMENTAL PENGGUNAAN PEN- BINDER TERHADAP PERKUATAN KOLOM BETON BERTULANG ABSTRAK STUDI EKSPERIMENTAL PENGGUNAAN PEN- BINDER TERHADAP PERKUATAN KOLOM BETON BERTULANG Ichsan Yansusan NRP: 1221901 Pembimbing: Dr. Anang Kristianto, ST.,MT ABSTRAK Indonesia merupakan wilayah yang rawan

Lebih terperinci

DAYA DUKUNG TIANG TERHADAP BEBAN LATERAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL UJI PADA TANAH PASIR

DAYA DUKUNG TIANG TERHADAP BEBAN LATERAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL UJI PADA TANAH PASIR DAYA DUKUNG TIANG TERHADAP BEBAN LATERAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL UJI PADA TANAH PASIR Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Lebih terperinci

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT PEDOMAN Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil LAMPIRAN SURAT EDARAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 22/SE/M/2015 TENTANG PEDOMAN PENGGUNAAN BAHAN TAMBAH KIMIA (CHEMICAL ADMIXTURE)

Lebih terperinci

KESETIMBANGAN. titik setimbang

KESETIMBANGAN. titik setimbang KESETIMBANGAN STANDART KOMPETENSI;. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktor-faktor yang berpengaruh, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. KOMPETENSI DASAR;.. Menjelaskan kestimbangan

Lebih terperinci

Jenis Bahaya Geologi

Jenis Bahaya Geologi Jenis Bahaya Geologi Bahaya Geologi atau sering kita sebut bencana alam ada beberapa jenis diantaranya : Gempa Bumi Gempabumi adalah guncangan tiba-tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman

Lebih terperinci

PENGELOLAAN AIR SECARA EKONOMIS DENGAN PENGGUNAAN TANGGUL BATANG KELAPA SERTA PENJERNIH AIR ALAMI

PENGELOLAAN AIR SECARA EKONOMIS DENGAN PENGGUNAAN TANGGUL BATANG KELAPA SERTA PENJERNIH AIR ALAMI ProceedingPESAT (Psikologi,Ekonomi,Sastra,Arsitektur& Sipil) PENGELOLAAN AIR SECARA EKONOMIS DENGAN PENGGUNAAN TANGGUL BATANG KELAPA SERTA PENJERNIH AIR ALAMI Banu Adhibaswara1 Indah Prasetiya RinP Muhammad

Lebih terperinci

Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon

Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon Nazava saringan air Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon Kami mengucapkan dan terima kasih atas kepercayaan anda membeli Saringan Air Nazava. Dengan Saringan Air Nazava anda bisa dapat

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Tim Penyusun

KATA PENGANTAR. Tim Penyusun KATA PENGANTAR Modul dengan judul Memasang Pondasi Batu Kali merupakan bahan ajar yang digunakan sebagai panduan praktikum peserta diklat (siswa) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk membentuk salah satu

Lebih terperinci

Studi Pengaruh Jenis Tanah dan Kedalaman Pembumian Driven Rod terhadap Resistansi Jenis Tanah

Studi Pengaruh Jenis Tanah dan Kedalaman Pembumian Driven Rod terhadap Resistansi Jenis Tanah Vokasi Volume 8, Nomor 2, Juni 2012 ISSN 1693 9085 hal 121-132 Studi Pengaruh Jenis Tanah dan Kedalaman Pembumian Driven Rod terhadap Resistansi Jenis Tanah MANAGAM RAJAGUKGUK Jurusan Teknik Elektro Fakultas

Lebih terperinci

Pengalaman Membuat dan Memasang Tanda Batas Di Taman Nasional Kepulauan Seribu

Pengalaman Membuat dan Memasang Tanda Batas Di Taman Nasional Kepulauan Seribu Pengalaman Membuat dan Memasang Tanda Batas Di Taman Nasional Kepulauan Seribu A. Pemilihan pelampung Ada beberapa bahan pelampung yang bisa dipilih, tapi alasan kami memilih drum plastik ukuran 200 liter

Lebih terperinci

TEKNOLOGI TEPAT GUNA Mentri Negara Riset dan Teknologi

TEKNOLOGI TEPAT GUNA Mentri Negara Riset dan Teknologi TEKNOLOGI TEPAT GUNA Mentri Negara Riset dan Teknologi TTG - PENGELOLAAN AIR DAN SANITASI PENJERNIHAN AIR MENGGUNAKAN ARANG SEKAM PADI I. PENDAHULUAN Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aktifitas Air (Aw) Aktivitas air atau water activity (a w ) sering disebut juga air bebas, karena mampu membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kreatinin Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Bahan Cetak Elastomer Bahan cetak elastomer merupakan bahan cetak elastik yang menyerupai karet. Bahan ini dikelompokkan sebagai karet sintetik. Suatu pengerasan elastomer

Lebih terperinci

Tata cara perencanaan dan pelaksanaan bangunan gedung menggunakan panel jaring kawat baja tiga dimensi (PJKB-3D) las pabrikan

Tata cara perencanaan dan pelaksanaan bangunan gedung menggunakan panel jaring kawat baja tiga dimensi (PJKB-3D) las pabrikan SNI 7392:2008 Standar Nasional Indonesia Tata cara perencanaan dan pelaksanaan bangunan gedung menggunakan panel jaring kawat baja tiga dimensi (PJKB-3D) las pabrikan ICS 91.080.10 Badan Standardisasi

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN MENGENAI PERTANAHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuklahan dan proses proses yang mempengaruhinya serta menyelidiki hubungan timbal balik antara bentuklahan dan proses

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) Mata Kuliah : Struktur Beton bertulang Kode Mata Kuliah : MKT 1303 SKS : 3(3-0) Waktu Pertemuan : 150 Menit SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) A. Tujuan Pembelajaran 1. Tujuan umum mata kuliah Mahasiswa dapat

Lebih terperinci

KOMPARASI PENGARUH GRADASI AGREGAT BATAS BAWAH DENGAN BERGRADASI BATAS ATAS TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA BETON ASPAL CAMPURAN PANAS.

KOMPARASI PENGARUH GRADASI AGREGAT BATAS BAWAH DENGAN BERGRADASI BATAS ATAS TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA BETON ASPAL CAMPURAN PANAS. KOMPARASI PENGARUH GRADASI AGREGAT BATAS BAWAH DENGAN BERGRADASI BATAS ATAS TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL PADA BETON ASPAL CAMPURAN PANAS Kusdiyono Jurusan Sipil Politeknik Negeri Semarang Jln. Prof.

Lebih terperinci

LAPORAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

LAPORAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA LAPORAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PEMANFAATAN ABU SEKAM PADI DALAM PROSES PEMBUATAN SABUN DENGAN MENGGUNAKAN MINYAK JELANTAH BIDANG KEGIATAN : BIDANG PKMP Diusulkan oleh : Suhardi 2010430068 (2010)

Lebih terperinci

STUDI PERBANDINGAN PERSYARATAN LUAS TULANGAN PENGEKANG KOLOM PERSEGI PADA BEBERAPA PERATURAN DAN USULAN PENELITIAN (166S)

STUDI PERBANDINGAN PERSYARATAN LUAS TULANGAN PENGEKANG KOLOM PERSEGI PADA BEBERAPA PERATURAN DAN USULAN PENELITIAN (166S) STUDI PERBANDINGAN PERSYARATAN LUAS TULANGAN PENGEKANG KOLOM PERSEGI PADA BEBERAPA PERATURAN DAN USULAN PENELITIAN (166S) Anang Kristianto 1 dan Iswandi Imran 2 1 Jurusan Teknik Sipil, Universitas Kristen

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM DISUSUN OLEH FITRI RAMADHIANI KELOMPOK 4 1. DITA KHOERUNNISA 2. DINI WULANDARI 3. AISAH 4. AHMAD YANDI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

Lebih terperinci

Sifat Sifat Material

Sifat Sifat Material Sifat Sifat Material Secara garis besar material mempunyai sifat-sifat yang mencirikannya, pada bidang teknik mesin umumnya sifat tersebut dibagi menjadi tiga sifat. Sifat sifat itu akan mendasari dalam

Lebih terperinci

SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR

SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR PEGUNUNGAN udara bersih, bebas polusi air hujan mengandung CO 2, O 2, N 2, debu & partikel dr atmosfer AIR

Lebih terperinci

MEMPLESTER BIDANG RATA

MEMPLESTER BIDANG RATA MEMPLESTER BIDANG RATA BAG- TKB.005.A-90 30 JAM Penyusun : TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN

Lebih terperinci

SIMULASI NUMERIK MODEL RUMAH TAHAN GEMPA TANPA BETON BERTULANG

SIMULASI NUMERIK MODEL RUMAH TAHAN GEMPA TANPA BETON BERTULANG SIMULASI NUMERIK MODEL RUMAH TAHAN GEMPA TANPA BETON BERTULANG SKRIPSI Diajukan sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Strata-I pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Andalas

Lebih terperinci

PENGOLAHAN AIR SUNGAI/GAMBUT SEDERHANA

PENGOLAHAN AIR SUNGAI/GAMBUT SEDERHANA PENGOLAHAN AIR SUNGAI/GAMBUT SEDERHANA Oleh Kelompok Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair Direktorat Teknologi Lingkungan, Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material dan Lingkungan

Lebih terperinci

INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro

INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang Abstract One of thrifty effort

Lebih terperinci

KINERJA ASPAL PERTAMINA PEN 60/70 DAN ASPAL BNA BLEND 75/25 PADA CAMPURAN ASPAL PANAS AC-WC

KINERJA ASPAL PERTAMINA PEN 60/70 DAN ASPAL BNA BLEND 75/25 PADA CAMPURAN ASPAL PANAS AC-WC KINERJA ASPAL PERTAMINA PEN 60/70 DAN ASPAL BNA BLEND 75/25 PADA CAMPURAN ASPAL PANAS AC-WC Leily Fatmawati Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang Jln. Prof. H. Sudarto, S.H. Tembalang, Semarang

Lebih terperinci

KONSEP DAN METODE PERENCANAAN

KONSEP DAN METODE PERENCANAAN 24 2 KONSEP DAN METODE PERENCANAAN A. Perkembangan Metode Perencanaan Beton Bertulang Beberapa kajian awal yang dilakukan pada perilaku elemen struktur beton bertulang telah mengacu pada teori kekuatan

Lebih terperinci

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI Teknik Pembuatan Pupuk Bokashi @ 2012 Penyusun: Ujang S. Irawan, Senior Staff Operation Wallacea Trust (OWT) Editor: Fransiskus Harum, Consultant

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Jembatan Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR ANALISIS KEKUATAN LAS BERBAHAN ALUMINIUM MAMPU LAS TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS

TUGAS AKHIR ANALISIS KEKUATAN LAS BERBAHAN ALUMINIUM MAMPU LAS TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS TUGAS AKHIR ANALISIS KEKUATAN LAS BERBAHAN ALUMINIUM MAMPU LAS TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Jurusan Teknik Mesin

Lebih terperinci

PELAKSANAAN KONSTRUKSI BANGUNAN TAHAN GEMPA: PENGALAMAN DARI BENCANA

PELAKSANAAN KONSTRUKSI BANGUNAN TAHAN GEMPA: PENGALAMAN DARI BENCANA PELAKSANAAN KONSTRUKSI BANGUNAN TAHAN GEMPA: PENGALAMAN DARI BENCANA Biemo W. Soemardi Peniliti pada KK Manajemen & Rekayasa Konstruksi, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung,

Lebih terperinci

PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS

PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS (Instalasi Pengolahahan Air Laut Sederhana): Transformasi Air Laut Menjadi Air Tawar dengan Pemisahan Elektron Cl - Menggunakan Variasi Batu Zeolit sebagai Upaya Penyediaan

Lebih terperinci

TINJAUAN TINGGI TEKANAN AIR DI BAWAH BENDUNG DENGAN TURAP DAN TANPA TURAP PADA TANAH BERBUTIR HALUS

TINJAUAN TINGGI TEKANAN AIR DI BAWAH BENDUNG DENGAN TURAP DAN TANPA TURAP PADA TANAH BERBUTIR HALUS TINJAUAN TINGGI TEKANAN AIR DI BAWAH BENDUNG DENGAN TURAP DAN TANPA TURAP PADA TANAH BERBUTIR HALUS Edy Harseno 1) Edi Daryanto 2) 1) Jurusan teknik Spil Fakultas Teknik UKRIM Yogyakarta 2) Jurusan teknik

Lebih terperinci

B U K U A J A R. Mata Kuliah : Rekayasa Jalan 2 (Perkerasan Jalan) SKS : 1 Semester : 4 Program Studi : Diploma III Jurusan Teknik Sipil

B U K U A J A R. Mata Kuliah : Rekayasa Jalan 2 (Perkerasan Jalan) SKS : 1 Semester : 4 Program Studi : Diploma III Jurusan Teknik Sipil 0 B U K U A J A R Mata Kuliah : Rekayasa Jalan 2 (Perkerasan Jalan) SKS : 1 Semester : 4 Program Studi : Diploma III Jurusan Teknik Sipil Oleh: Ir. Didik Purwadi, MT FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI

DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang... I-1 1.2. Permasalahan... I-2 1.3. Maksud dan tujuan... I-2 1.4. Lokasi studi... I-2 1.5. Sistematika penulisan... I-4 BAB II DASAR TEORI 2.1. Tinjauan

Lebih terperinci

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA MODUL: UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat.

Lebih terperinci

JURNAL APLIKASI FISIKA VOLUME 8 NOMOR 1 FEBRUARI 2012. Analisis Kualitas Briket Hybrid sebagai Bahan Bakar Alternatif

JURNAL APLIKASI FISIKA VOLUME 8 NOMOR 1 FEBRUARI 2012. Analisis Kualitas Briket Hybrid sebagai Bahan Bakar Alternatif JURNAL APLIKASI FISIKA VOLUME 8 NOMOR 1 FEBRUARI 212 Analisis Kualitas Briket Hybrid sebagai Bahan Bakar Alternatif M. Jahiding 1), L.O. Ngkoimani 2), E. S. Hasan 3), S. Muliani 4) 1,3,4) Laboratirum Fisika

Lebih terperinci

Stabilitas lereng (lanjutan)

Stabilitas lereng (lanjutan) Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana 12 MODUL 12 Stabilitas lereng (lanjutan) 6. Penanggulangan Longsor Yang dimaksud dengan penanggulangan longsoran

Lebih terperinci

Buku Pegangan Disain dan Konstruksi Bangunan Rumah Sederhana yang Baik di Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias

Buku Pegangan Disain dan Konstruksi Bangunan Rumah Sederhana yang Baik di Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias Manfaat Buku Buku pegangan ini berisi informasi sederhana tentang prinsip-prinsip rancangan dan konstruksi yang baik. Informasi tersebut ditujukan kepada pemilik rumah, perancang, kontraktor dan pengawas

Lebih terperinci

Laporan Tugas Akhir (KL-40Z0) Desain Dermaga General Cargo dan Trestle Tipe Deck On Pile di Pulau Kalukalukuang Provinsi Sulawesi Selatan

Laporan Tugas Akhir (KL-40Z0) Desain Dermaga General Cargo dan Trestle Tipe Deck On Pile di Pulau Kalukalukuang Provinsi Sulawesi Selatan Bab 7 DAYA DUKUNG TANAH Laporan Tugas Akhir (KL-40Z0) Desain Dermaga General Cargo dan Trestle Tipe Deck On ile di ulau Kalukalukuang rovinsi Sulawesi Selatan 7.1 Daya Dukung Tanah 7.1.1 Dasar Teori erhitungan

Lebih terperinci

baik berada di atas usus kecil (Kshirsagar et al., 2009). Dosis yang bisa digunakan sebagai obat antidiabetes 500 sampai 1000 mg tiga kali sehari.

baik berada di atas usus kecil (Kshirsagar et al., 2009). Dosis yang bisa digunakan sebagai obat antidiabetes 500 sampai 1000 mg tiga kali sehari. BAB I PENDAHULUAN Saat ini banyak sekali penyakit yang muncul di sekitar lingkungan kita terutama pada orang-orang yang kurang menjaga pola makan mereka, salah satu contohnya penyakit kencing manis atau

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kembang gula atau yang biasa disebut dengan permen merupakan produk makanan yang banyak disukai baik tua maupun muda karena permen mempunyai keanekaragaman rasa, warna,

Lebih terperinci

Kompetensi Siswa Hakikat Fisika

Kompetensi Siswa Hakikat Fisika MENGUKUR Kompetensi Siswa 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama,

Lebih terperinci

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III. Olimpiade Kimia Indonesia. Kimia UJIAN PRAKTEK

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III. Olimpiade Kimia Indonesia. Kimia UJIAN PRAKTEK OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III Olimpiade Kimia Indonesia Kimia UJIAN PRAKTEK Petunjuk : 1. Isilah Lembar isian data pribadi anda dengan lengkap (jangan disingkat) 2. Soal Praktikum terdiri dari 2 Bagian:

Lebih terperinci