BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN"

Transkripsi

1 BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Sejak pertengahan tahun 2006, kondisi ekonomi membaik dari ketidakstabilan ekonomi tahun 2005 dan penyesuaian kebijakan fiskal dan moneter yang ditempuh untuk mengatasinya. Stabilitas ekonomi terjaga, tercermin dari laju inflasi yang terkendali, pergerakan nilai tukar rupiah yang relatif terjaga, dan cadangan devisa yang meningkat. Terjaganya stabilitas ekonomi telah membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi yang lebih baik. Momentum pertumbuhan ekonomi kembali terjaga dengan investasi yang meningkat, daya beli masyarakat yang lebih baik, dan daya saing ekspor yang terjaga. Dalam semester II/2006, perekonomian tumbuh 6,0 persen, lebih tinggi dari semester I/2006 yang tumbuh 5,0 persen. Selanjutnya dalam triwulan I dan II/2007,

2 ekonomi tumbuh 6,0 persen dan 6,3 persen sehingga dalam keseluruhan semester I/2007, ekonomi tumbuh 6,1 persen. Stabilitas ekonomi yang terjaga dan kegiatan ekonomi yang meningkat mendorong perbaikan kesejahteraan masyarakat. Dalam bulan Februari 2007, pengangguran terbuka menurun menjadi 10,55 juta (9,75 persen dari angkatan kerja). Pada bulan Maret 2007, jumlah penduduk miskin menurun sebesar 2,1 juta orang menjadi 37,2 juta orang (16,6 persen). Dalam keseluruhan tahun 2007, kebijakan ekonomi makro diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi serta meningkatkan kemampuannya dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi jumlah penduduk miskin. Perhatian juga diberikan dalam menjaga stabilitas ekonomi dari meningkatnya resiko eksternal dengan harga minyak mentah dunia yang kembali tinggi, inflasi global yang meningkat, serta sentimen negatif bursa saham global yang kemungkinan timbul. I. Ekonomi Dunia Perekonomian Indonesia tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia secara menyeluruh. Dalam tahun 2006, perekonomian dunia tumbuh 5,4 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun 2005 (4,9 persen) didorong oleh pertumbuhan ekonomi negara maju dan negara berkembang. Perekonomian AS tumbuh 3,3 persen dengan kecenderungan yang melambat antara lain karena melemahnya sektor perumahan. Perekonomian Jepang dan Eropah tumbuh relatif tinggi yaitu berturut-turut 2,2 persen dan 2,6 persen. Asia tetap merupakan penggerak ekonomi dunia terutama didorong oleh China, India, dan negara-negara emerging market lainnya. Pada tahun 2006 perekonomian China dan India tumbuh berturut-turut 10,7 persen dan 9,2 persen. Dalam tahun 2006, pertumbuhan ekonomi Asia mencapai 9,4 persen, tertinggi dibandingkan kawasan-kawasan lainnya. Pertumbuhan ekonomi dunia yang tinggi juga didorong oleh pertumbuhan ekonomi di kawasan lainnya. Kawasan Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika dalam tahun 2006 tumbuh lebih tinggi atau paling tidak sama 35-2

3 dengan tahun 2005, yaitu berturut-turut sebesar 5,5 persen, 5,7 persen, dan 5,5 persen. Ekonomi dunia yang tumbuh tinggi didukung oleh kegiatan perdagangan dunia dan harga komoditi yang meningkat. Dalam tahun 2006, volume perdagangan dunia meningkat 8,9 persen; lebih besar dari peningkatan tahun 2005 (7,4 persen). Tingginya pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2006 juga meningkatkan harga komoditi di pasar internasional. Harga ekspor komoditi nonmigas pada tahun 2006 meningkat sebesar 28,4 persen; jauh lebih tinggi dibandingkan peningkatan tahun 2005 (10,3 persen). Tingginya pertumbuhan ekonomi dunia meningkatkan permintaan akan minyak mentah dunia. Harga spot harian West Texas Intermediate (WTI) sempat mencapai lebih dari USD 75 per barel pada bulan Agustus Memasuki tahun 2007, harga minyak mentah dunia sempat menurun dan meningkat kembali antara lain karena permintaan yang tetap tinggi, komitmen OPEC yang cukup kuat untuk mengendalikan produksi, gangguan produksi di Nigeria, menurunnya cadangan minyak di beberapa negara maju, dan kekuatiran adanya badai di kawasan Amerika. Rata-rata harian harga spot WTI pada bulan Juli 2007 mencapai USD 74,2 per barel dan dalam tujuh bulan pertama tahun 2007 mencapai USD 63,3 per barel. Meskipun masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2006, harga minyak mentah dunia menunjukkan kecenderungan yang tetap tinggi. Dalam pada itu kesenjangan global masih lebar. Pertumbuhan ekonomi AS yang didorong oleh kebijakan moneter dan fiskal yang longgar selama beberapa tahun terakhir telah meningkatkan defisit neraca transaksi berjalan AS. Sejak tahun 2001, defisit transaksi berjalan AS meningkat masing-masing dari 3,8 persen PDB pada tahun 2001 menjadi 6,5 persen PDB pada tahun Dalam tahun 2006, defisit transaksi berjalannya mencapai USD 856,7 miliar (6,5 persen PDB). Upaya untuk mengurangi defisit transaksi berjalan AS dilakukan dengan mengendalikan defisit anggarannya. Pada tahun 2005 dan 2006 defisit anggaran AS menurun menjadi 2,6 persen dan 1,6 persen PDB; lebih rendah dibandingkan tahun 2003 (3,6 persen PDB). 35-3

4 Perekonomian dunia yang tumbuh tinggi berpengaruh terhadap bursa saham global. Pada akhir Juni 2007, Indeks Dow Jones di New York, Indeks Nikkei di Jepang, Indeks Strait Times di Singapura, dan Indeks Hang Seng di Hongkong meningkat masingmasing sebesar 22,4 persen, 19,9 persen, 50,2 persen dan 37,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun Dorongan terhadap bursa saham global juga disertai dengan resiko munculnya sentimen negatif. Pada pertengahan Mei 2006 terjadi gejolak pada bursa saham global dan nilai tukar mata uang di beberapa negara, termasuk Indonesia yang didorong oleh gejolak modal jangka pendek yang terjadi di Turki dan Brasil. Memasuki tahun 2007, terjadi beberapa sentimen negatif regional antara lain rencana pemberlakuan pengendalian modal jangka pendek di Thailand menjelang akhir tahun 2006, gejolak bursa saham di China pada bulan Maret 2007, dan meningkatnya kekuatiran kredit macet di AS menjelang akhir Juli Kebijakan moneter AS tetap netral dan negara-negara lainnya mulai berhati-hati dengan meningkatnya inflasi global. Sejak pertengahan tahun 2004, suku bunga Fed Funds dinaikkan secara bertahap sebanyak 17 kali hingga menjadi 5,25 persen pada akhir Juni Sampai dengan Juli 2007, kebijakan suku bunga AS dipertahankan tetap netral. Tingginya harga minyak mentah dunia dan harga komoditi dunia memberi tekanan inflasi pada berbagai negara dan mendorong bank sentral di beberapa negara berhati-hati dan meningkatkan suku bunganya. Dalam keseluruhan tahun 2007, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan tetap tinggi didorong oleh perekonomian Asia yang digerakkan oleh China, India, dan negara-negara emerging market lainnya. Disamping pengaruhnya yang positif bagi perekonomian nasional, pertumbuhan ekonomi dunia yang tinggi tersebut tetap membutuhkan kehati-hatian dengan resiko ketidakstabilan yang kemungkinan timbul. II. Moneter, Perbankan, dan Pasar Modal Upaya untuk meningkatkan stabilitas ekonomi yang bergejolak pada tahun 2005 antara lain melalui penyesuaian kebijakan moneter dan fiskal, telah memulihkan kembali 35-4

5 kepercayaan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas harga barang dan jasa. Stabilitas ekonomi yang membaik selanjutnya memberi ruang bagi penurunan suku bunga, mendorong kembali penyaluran kredit perbankan, dan meningkatkan kinerja bursa saham Indonesia. Setelah sempat melemah pada pertengahan bulan Mei 2006 oleh pengaruh regional, nilai tukar rupiah kembali menguat dan stabil pada rentang Rp9.000 Rp9.200 per USD hingga akhir tahun Surplus neraca transaksi berjalan, masuknya arus masuk modal jangka pendek, dan masih menariknya nilai imbal hasil rupiah menguatkan kembali nilai tukar rupiah. Dalam keseluruhan tahun 2006, rata-rata nilai tukar rupiah harian tercatat Rp9.168 per USD. Memasuki tahun 2007, nilai tukar rupiah tetap terjaga. Dalam tujuh bulan pertama tahun 2007, rata-rata nilai tukar rupiah sebesar Rp9.041 per USD. Menjelang akhir bulan Juli 2007, nilai tukar rupiah melemah disebabkan oleh gejolak global yang dipicu oleh kekuatiran meluasnya kredit macet di AS. Pelemahan nilai tukar rupiah ini tetap berada dalam batas yang wajar dan bersifat sementara. Dengan kebijakan moneter yang terarah didukung oleh fundamental ekonomi yang lebih baik, kepercayaan terhadap rupiah tetap terjaga. Pergerakan nilai tukar rupiah yang terjaga turut berperan dalam mengendalikan laju inflasi. Sejak bulan Oktober 2006, laju inflasi tahunan menurun menjadi satu digit dengan tidak lagi mencakup bulan kenaikan BBM (Oktober 2005). Dalam keseluruhan tahun 2006, laju inflasi mencapai 6,6 persen. Upaya-upaya untuk mengendalikan laju inflasi dalam tahun 2007 terus dilanjutkan. Pada bulan Juli 2007, laju inflasi tahun kalender (Januari Juli) 2007 terjaga sebesar 2,8 persen atau 6,1 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Terkendalinya laju inflasi serta terjaganya pergerakan nilai tukar rupiah memberi ruang bagi penurunan suku bunga untuk mendorong perkonomian. Sejak bulan Mei 2006, BI rate diturunkan sebesar 450 bps secara bertahap (13 kali) dari 12,75 persen menjadi 9,75 persen pada akhir tahun 2006 dan kemudian menjadi 8,25 persen pada bulan Juli

6 Suku bunga simpanan dan kredit menurun sejalan dengan penurunan suku bunga acuan. Suku bunga deposito 1 bulan dan 3 bulan turun dari 12,0 persen dan 11,8 persen pada akhir tahun 2005 menjadi 9,0 persen dan 9,7 persen pada akhir tahun 2006 serta menjadi 7,5 persen dan 7,9 persen pada bulan Juni Suku bunga kredit investasi, modal kerja masing-masing turun dari 15,7 persen dan 16,2 persen pada akhir tahun 2005 menjadi 15,1 persen dan 15,1 persen pada akhir tahun 2006 kemudian menjadi 14,0 persen dan 13,1 persen pada bulan Juni Membaiknya kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi nasional telah meningkatkan kinerja pasar modal. Pada akhir tahun 2006 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) ditutup pada tingkat 1.805,5 atau meningkat 55,3 persen dibandingkan akhir tahun Peningkatan terus berlanjut hingga tujuh bulan pertama tahun Pada akhir Juli 2007, IHSG di BEJ meningkat menjadi 2.348,7 atau naik 30,1 persen dibandingkan akhir tahun Pada awal-awal bulan Agustus 2007, IHSG melemah dipicu oleh kekuatiran meluasnya pengaruh kredit perumahan AS. Pelemahan ini bersifat sementara dan secara keseluruhan kinerja bursa saham Indonesia menunjukkan peningkatan yang baik. Kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional tetap terjaga. Penghimpunan dana masyarakat hingga bulan Desember 2006 meningkat menjadi Rp1.298,8 triliun atau naik 14,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada bulan Juni 2007, dana masyarakat yang dihimpun oleh perbankan mencapai Rp1.363,8 triliun atau naik 15,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Permodalan (capital adequacy ratio/car) perbankan nasional tetap terjaga dengan baik. Pada bulan Mei 2007, CAR terjaga pada tingkat 21,9 persen, relatif sama dengan akhir tahun 2006 (21,3 persen). Menurunnya suku bunga dan membaiknya ekspektasi terhadap perekonomian mendorong kembali penyaluran kredit perbankan. Pada bulan Juni 2007, kredit perbankan mencapai Rp855,0 triliun, atau meningkat 20,4 persen dibandingkan bulan yang sama tahun Meningkatnya penyaluran kredit perbankan ini didorong secara berimbang oleh kredit investasi, modal kerja, dan konsumsi. 35-6

7 III. Neraca Pembayaran Kondisi neraca pembayaran tetap terjaga didukung oleh lingkungan eksternal yang kondusif. Dengan kondisi neraca pembayaran yang baik tersebut, Pemerintah mempercepat pembayaran sisa utang kepada IMF. Dengan tetap menjaga kecukupan cadangan devisa, keseluruhan sisa utang yang seharusnya jatuh tempo tahun 2010 dilunasi pada bulan Juni dan Oktober Langkah Pemerintah dan Bank Indonesia tersebut memperoleh tanggapan positif dari masyarakat, lembaga internasional, dan pasar keuangan. Dalam keseluruhan tahun 2006, neraca transaksi berjalan serta neraca modal dan finansial mencatat surplus sebesar USD 10,0 miliar dan USD 2,6 miliar. Pada akhir bulan Desember 2006, cadangan devisa mencapai USD 42,6 miliar atau cukup untuk membiayai 4,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Pada neraca transaksi berjalan, penerimaan ekspor dalam tahun 2006 meningkat menjadi USD 103,5 miliar, terdiri dari ekspor migas sebesar USD 22,9 miliar dan ekspor nonmigas sebesar USD 80,6 miliar. Meningkatnya penerimaan ekspor nonmigas didorong oleh kenaikan harga dunia serta volume komoditi ekspor nasional. Sementara itu pengeluaran impor mencapai USD 73,9 miliar, terdiri impor migas dan impor nonmigas masing-masing sebesar USD 16,2 miliar dan USD 57,7 miliar. Dengan defisit neraca jasa-jasa (termasuk pendapatan dan transfer) yang mencapai USD 19,7 miliar, surplus neraca transaksi berjalan mencapai USD 10,0 miliar. Sementara itu surplus neraca modal dan finansial terutama didorong oleh investasi langsung asing dan portofolio. Investasi langsung asing di Indonesia dalam tahun 2006 berjumlah USD 5,6 miliar terutama disumbang oleh tambahan modal dan pendapatan yang ditanamkan kembali sebesar USD 5,3 miliar. Adapun investasi portofolio mengalami surplus sebesar USD 4,1 miliar terutama disumbang oleh penerbitan obligasi/surat berharga antara lain Surat Berharga Negara (SBN) internasional sebesar nominal USD 2,0 miliar. Defisit investasi lainnya mengalami penurunan yang cukup besar menjadi USD 4,8 miliar dengan menurunnya penempatan aset 35-7

8 di luar negeri. Dengan perkembangan ini, pada tahun 2006 neraca modal dan finansial mengalami surplus USD 2,6 miliar. Pada semester I/2007, kinerja ekspor tetap terjaga dengan penerimaan ekspor sebesar USD 55,9 miliar, terdiri dari ekspor migas sebesar USD 10,6 miliar dan ekspor nonmigas sebesar USD 45,3 miliar. Sementara itu pengeluaran impor mencapai USD 39,9 miliar, terdiri dari impor migas dan impor nonmigas masing-masing sebesar USD 8,2 miliar dan USD 31,7 miliar. Dengan defisit neraca jasa-jasa (termasuk pendapatan dan transfer) mencapai USD 10,9 miliar, surplus neraca transaksi berjalan mencapai USD 5,1 miliar. Kondisi neraca modal dan finansial dalam semester I/2007 ditandai dengan masih tingginya arus investasi jangka pendek (portofolio) dan terbatasnya investasi jangka panjang (FDI). Investasi portfolio mengalami surplus USD 7,9 miliar; sedangkan investasi langsung asing (neto) mengalami surplus USD 0,9 miliar. Investasi lainnya mengalami defisit sebesar USD 4,9 miliar antara lain oleh pembayaran utang luar negeri swasta dan pemerintah yang jatuh tempo masing-masing sebesar USD 3,7 miliar dan USD 2,9 miliar. Dalam semester I/2007, neraca modal dan finansial mencatat surplus sebesar USD 4,0 miliar. Surplus neraca transaksi berjalan serta transaksi modal dan finansial dalam semester I/2007 memperkuat kondisi neraca pembayaran. Surplus neraca pembayaran mencapai USD 8,0 miliar sehingga cadangan devisa pada akhir semester I/2007 meningkat menjadi USD 50,9 miliar atau atau cukup untuk membiayai 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Pada akhir bulan Juli 2007, cadangan devisa meningkat hingga mencapai USD 51,9 miliar. IV. Keuangan Negara Dalam tahun 2006, kebijakan keuangan negara diarahkan untuk memberi stimulus pada pertumbuhan ekonomi bagi perluasan penciptaan lapangan kerja dan penurunan kemiskinan dengan tetap mempertimbangkan kesinambungan fiskal. Konsolidasi fiskal 35-8

9 dilakukan melalui peningkatan penerimaan negara terutama penerimaan perpajakan, peningkatan efektivitas pengeluaran negara melalui penajaman alokasi belanja negara, serta pengurangan ketergantungan terhadap pembiayaan luar negeri. Di sisi penerimaan negara, langkah-langkah untuk meningkatkan penerimaan pajak terus dilakukan. Pada tahun 2006, keseluruhan penerimaan negara dan hibah mencapai Rp638,0 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2005 (Rp495,2 triliun). Peningkatan tersebut terutama bersumber dari penerimaan pajak yang mencapai Rp409,2 triliun dan penerimaan bukan pajak yang mencapai Rp 227,0 triliun. Di sisi belanja negara, kebijakan diarahkan untuk memperbaiki pelayanan umum melalui belanja ke daerah, kesejahteraan pegawai, dan membiayai pembangunan. Dalam tahun 2006, pengeluaran negara mencapai Rp667,1 triliun atau meningkat dibandingkan tahun 2005 (Rp509,6 triliun). Peningkatan tersebut terutama berupa belanja ke daerah yang naik menjadi Rp226,2 triliun dari Rp150,5 triliun pada tahun sebelumnya. Adapun pengeluaran pemerintah pusat mencapai Rp440,0 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2005 (Rp361,2 triliun). Peningkatan belanja pemerintah pusat terutama diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan aparatur negara dan investasi pemerintah. Belanja modal yang merupakan investasi pemerintah ditingkatkan menjadi Rp55,0 triliun, lebih tinggi dibandingkan tahun 2005 (Rp32,9 triliun). Dengan perkembangan tersebut, defisit anggaran pada tahun 2006 tetap terjaga pada batas yang aman yaitu 0,9 persen PDB. Dalam tahun 2007, kebijakan keuangan negara tetap ditekankan pada upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan menurunkan kemiskinan dengan tetap menjaga kesinambungan fiskal. Sampai dengan semester I/2007 (per 15 Juni 2007), penerimaan perpajakan mencapai Rp188,0 triliun atau sekitar 36,9 persen dari target APBN dan penerimaan negara bukan pajak mencapai Rp72,3 triliun atau sekitar 34,3 persen dari target APBN. Sementara itu, pengeluaran negara mencapai Rp237,0 triliun yang terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp149,6 triliun atau 29,6 persen dari target APBN dan belanja ke daerah sebesar Rp87,4 triliun atau 33,8 persen dari target APBN. 35-9

10 V. Pertumbuhan Ekonomi Ketidakstabilan ekonomi pada tahun 2005 yang menuntut dilakukannya penyesuaian kebijakan fiskal dan moneter berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi hingga semester I/2006. Dengan langkah-langkah yang terarah untuk mendorong perekonomian antara lain dengan pemberian stimulus fiskal, penurunan suku bunga, dan upaya-upaya untuk meningkatkan iklim investasi, sejak triwulan III/2006 kepercayaan masyarakat termasuk dunia usaha meningkat kembali. Dalam triwulan III dan IV/2006, perekonomian berturutturut tumbuh sebesar 5,9 persen dan 6,1 persen dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Dalam keseluruhan tahun 2006, perekonomian tumbuh 5,5 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya (5,7 persen). Pertumbuhan ekonomi tahun 2006 lebih didorong oleh konsumsi pemerintah yang tumbuh 9,6 persen dan ekspor barang dan jasa terjaga dengan peningkatan 9,2 persen untuk mengimbangi pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi (pembentukan modal tetap bruto) yang melambat masing-masing menjadi 3,2 persen dan 2,9 persen. Di sisi produksi, PDB nonmigas tumbuh sebesar 6,1 persen. Sektor pertanian, industri pengolahan, serta pertambangan dan penggalian masing-masing tumbuh sebesar 3,0 persen dan 4,6 persen, dan 2,2 persen. Adapun sektor lainnya, antara lain sektor perdagangan, hotel dan restoran; keuangan; bangunan; serta pengangkutan dan komunikasi yang masing-masing tumbuh sebesar 6,1 persen; 5,6 persen; 9,0 persen; serta 13,6 persen. Upaya-upaya untuk lebih meningkatkan investasi didukung oleh suku bunga yang menurun telah meningkatkan kepercayaan masyarakat. Dalam triwulan I/2007 dan triwulan II/2007, perekonomian tumbuh berturut-turut 6,0 persen dan 6,3 persen dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya sehingga dalam semester I/2007, ekonomi tumbuh sebesar 6,1 persen dibandingkan semester yang sama tahun Dalam keseluruhan semester I/2007, selain oleh kemampuan ekspor yang meningkat, perekonomian juga didorong oleh permintaan domestik yang lebih baik dengan sumbangan investasi yang terjaga dan daya beli masyarakat yang menguat. Pada semester 35-10

11 I/2007, ekspor barang dan jasa tumbuh sebesar 9,4 persen, pembentukan modal tetap bruto meningkat sebesar 7,3 persen, konsumsi masyarakat naik sebesar 4,7 persen, konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 3,9 persen; sedangkan impor barang dan jasa meningkat sebesar 7,8 persen dibandingkan semester yang sama tahun Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi semester I/2007 didorong oleh sektor pertanian, pertambangan, dan industri pengolahan yang tumbuh berturut-turut sebesar 0,7 persen, 4,9 persen, dan 5,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun Adapun sektor-sektor lainnya antara lain bangunan, serta pengangkutan dan komunikasi tumbuh berturut-turut sebesar 8,6 persen, dan 11,6 persen. VI. Pengangguran dan Kemiskinan Dalam bulan Februari 2007, penurunan pengangguran terbuka terus berlanjut. Pada bulan Februari 2007, angkatan kerja berjumlah 108,13 juta, bertambah 1,74 juta orang dibandingkan bulan Agustus 2006 atau meningkat 1,85 juta orang dibandingkan bulan Februari Sementara itu, lapangan kerja baru yang tercipta bertambah sekitar 2,12 juta dibandingkan bulan Agustus 2006 atau bertambah 2,40 juta dibandingkan Februari Dengan perkembangan ini, pengangguran terbuka pada bulan Februari 2007 menurun menjadi 10,55 (9,75 persen) dari 10,93 juta orang (10,28 persen) pada bulan Agustus 2006 dan 11,10 juta (10,40 persen) pada bulan Februari Penciptaan lapangan kerja pada bulan Februari 2007 dibandingkan bulan Agustus 2006 terutama didorong oleh kegiatan musim tanam yang menyerap tenaga kerja sebesar 2,47 juta orang. Sementara itu, sektor industri pengolahan serta sektor perdagangan, hotel dan restoran menyerap tenaga kerja baru masing-masing sekitar 0,2 juta. Dalam bulan Maret 2007, jumlah penduduk miskin berkurang sebesar 2,1 juta orang. Dalam bulan Februari 2007, jumlah penduduk miskin menurun dari 39,3 juta orang (17,7 persen) pada bulan Maret 2006 menjadi 37,2 juta orang (16,6 persen) dengan garis kemiskinan 35-11

12 sebesar Rp166,7 ribu atau meningkat 9,7 persen dibandingkan Maret Penurunan terbesar terjadi di daerah pedesaan yaitu sebesar 1,2 juta; sedangkan di perkotaan sebesar 0,9 juta. Menurunnya jumlah penduduk miskin antara lain didukung oleh stabilitas ekonomi yang terjaga, lapangan kerja yang meningkat, serta berbagai program pembangunan yang diarahkan untuk membantu golongan masyarakat yang masih berada di bawah garis kemiskinan

13 Tabel PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO Trwl I Trwl II Trwl III Trwl IV Total Trwl I Trwl II Kualitas Pertumbuhan Pengangguran Terbuka Jumlah (juta orang) 11,9 11, ,9-10,6 (% thd angkatan kerja) 11,2 10, ,3-9,8 Kemiskinan Jumlah (juta orang) 35, ,3 37,2 (% thd total penduduk) 16, ,7 16,6 Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan PDB (%) 5,7 5,0 5,0 5,9 6,1 5,5 6,0 6,3 PDB per Kapita Harga Konstan 2000 (Rp ribu) Stabilitas Ekonomi Laju Inflasi (%, y-o-y) 17,1 15,7 15,3 14,6 6,6 6,6 6,5 6,1*) Nilai Tukar Nominal (Rp/USD) **) Neraca Pembayaran Transaksi Berjalan/PDB (%) 0, ,7 - - Pertumb.Ekspor Nonmigas 22, ,7 22,2 20,4 (%, y-o-y) Cadangan Devisa (USD miliar) 34,7 40,1 40,1 42,4 42,6 42,6 47,2 51,9*) Keuangan Negara Keseimbangan Primer/PDB 1, ,5 - - (%) Surplus/Defisit APBN/PDB -0, ,9 - - (%) Penerimaan Pajak/PDB (%) 12, ,3 - - *) Akhir Juli 2007 **) Rata-rata harian 35-13

14 Tabel 35.2 STRUKTUR EKONOMI Trwl I Trwl II Trwl III Trwl IV Total Trwl I Trwl II Pertumbuhan Ekonomi 5,7 5,0 5,0 5,9 6,1 5,5 6,0 6,3 Pertumbuhan PDB Sisi Pengeluaran (%) Konsumsi Masyarakat 4,0 2,9 3,0 3,0 3,8 3,2 4,7 4,7 Konsumsi Pemerintah 6,6 11,5 28,8 1,7 2,2 9,6 3,7 3,8 Investasi (PMTB) 10,8 1,1 1,1 1,3 8,2 2,9 7,7 6,9 Ekspor Barang dan Jasa 16,4 11,6 11,3 8,2 6,1 9,2 8,9 9,8 Impor Barang dan Jasa 17,1 2,8 7,5 10,1 9,7 7,6 8,4 7,2 Pertumbuhan PDB Sisi Produksi (%) Pertanian 2,7 6,4 1,5 2,2 1,8 3,0-1,1 2,4 Pertambangan dan 3,1 2,7 4,0 1,6 0,7 2,2 6,5 3,4 Penggalian Industri Pengolahan 4,6 2,9 3,7 5,9 5,9 4,6 5,3 5,5 Nonmigas 5,9 4,0 4,3 6,9 5,8 5,3 5,8 6,0 Listrik, Gas, dan Air Bersih 6,3 5,1 4,5 5,8 8,1 5,9 8,5 10,5 Konstruksi 7,4 7,4 8,7 9,3 10,4 9,0 9,4 7,8 Perdagangan, Hotel, dan 8,4 4,4 5,5 7,5 7,0 6,1 8,1 8,3 Restoran Pengangkutan dan 13,0 11,5 13,3 13,6 15,9 13,6 11,1 11,9 Komunikasi Keuangan, Real Estat, dan 6,8 5,7 5,3 4,7 6,8 5,6 7,9 7,7 Jasa Keuangan Jasa-jasa 5,0 5,8 6,1 6,8 6,0 6,2 6,8 7,1 Peranan terhadap PDB (%) Pertanian 13,1 13,6 13,0 13,6 11,5 12,9 13,7 13,7 Industri Pengolahan 27,7 28,0 28,1 27,7 28,4 28,1 27,7 27,7 Nonmigas 22,7 22,7 22,7 22,7 23,2 22,8 23,2 23,1 Lainnya 59,2 58,4 58,9 58,6 60,1 59,1 58,6 58,6 Tenaga Kerja Kesempatan Kerja (juta org) 94,0 95, ,5-97,6 Pertanian 41,3 42, ,1-42,6 Industri Pengolahan 11,9 11, ,9-12,1 Lainnya 40,7 41, ,4-42,9 Pengangguran Terbuka Jumlah (juta orang) 11,9 11, ,9-10,6 % thd angkatan kerja 11,2 10, ,3-9,8 Setengah Menganggur Jumlah (juta orang) 28,9 29, ,1-30,2 % thd penduduk bekerja 30,8 31, ,5-31,

15 35-15

16 Tabel 35.3 NERACA PEMBAYARAN (USD Miliar) *) Trwl I Trwl II Trwl III Trwl IV Total Trwl I Trwl II Ekspor 87,0 23,3 25,5 27,6 27,2 103,5 26,8 29,1 Migas 20,2 5,5 5,9 6,0 5,5 22,9 5,1 5,5 Nonmigas 66,8 17,8 19,6 21,6 21,6 80,6 21,7 23,6 Impor -69,5-16,6-18,5-19,0-19,8-73,9-18,8-21,1 Migas -16,0-3,0-4,7-4,7-3,8-16,2-3,7-4,5 Nonmigas -53,4-13,6-13,8-14,4-16,0-57,7-15,1-16,6 Jasa-jasa -17,3-3,9-5,3-5,1-5,4-19,7-4,9-6,0 Pmbyrn Bunga Pinj. -2,3-0,4-0,8-0,3-0,8-2,2-0,4-0,8 Pemerintah Transaksi Berjalan 0,3 2,8 1,7 3,5 1,9 10,0 3,1 2,0 Neraca Modal dan Finansial 0,3 2,3 0,0-1,2 1,5 2,6 1,9 2,1 Neraca Modal 0,3 0,1 0,0 0,1 0,1 0,4 0,0 0,1 Neraca Finansial 0,0 2,2-0,0-1,3 1,3 2,2 1,9 1,9 Investasi Langsung Asing 5,3 0,7 0,6-0,0 1,6 2,9 0,1 0,8 Abroad -3,1-0,7-0,5-1,3-0,2-2,7-1,0-0,9 In Indonesia 8,3 1,3 1,1 1,3 1,8 5,6 1,2 1,7 Portofolio 4,2 3,7-1,1 0,2 1,3 4,1 2,8 5,1 Aset swasta -1,1-0,4-0,4-0,3-0,8-1,9-0,3-0,4 Liabilities 5,3 4,1-0,7 0,5 2,1 6,1 3,1 5,5 Pemerintah dan BI 4,8 4,0-1,1 0,5 1,1 4,5 2,5 4,2 Swasta 0,4 0,1 0,4 0,1 1,0 1,6 0,5 1,4 Lainnya -9,5-2,2 0,5-1,5-1,6-4,8-1,0-3,9 Aset swasta -8,6-1,6 1,5-0,5-2,0-2,6-0,6-3,0 Liabilities -0,8-0,6-0,9-1,0 0,3-2,2-0,4-0,9 Pemerintah dan BI -0,8-0,9-0,9-0,8 0,1-2,5-0,6-1,5 Swasta 0,0 0,3-0,1-0,2 0,2 0,3 0,2 0,5 Total 0,6 5,1 1,7 2,3 3,4 12,5 5,0 4,1 Selisih Perhitungan -0,2 0,7 1,6 0,3-0,7 2,0-0,6-0,5 Neraca Keseluruhan 0,4 5,8 3,4 2,6 2,7 14,5 4,4 3,6 Memorandum Item Penjadwalan Hutang 2, Cadangan Devisa 34,7 40,1 40,1 42,4 42,6 42,6 47,2 50,9 (bulan impor & pemb. utang L.N) 4,0 4,2 4,2 4,4 4,5 4,5 4,8 5,2 Keterangan: *) Angka perkiraan sementara Bank Indonesia 35-16

17 Tabel 35.4 ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA Rp. Triliun LKPP APBN-P LKPP Rancangan APBN-P 1) % Rp. % Rp. % Rp. PDB Triliun PDB Triliun PDB Triliun Sem. I 2) % PDB Rp. Trliun A. Pendapatan Negara 495,2 17,8 659,1 21,1 638,0 19,1 684,5 18,0 260,6 dan Hibah I. Penerimaan Dalam 493,9 17,7 654,9 21,0 636,2 19,1 681,8 17,9 260,3 Negeri 1. Penerimaan 347,0 12,5 425,1 13,6 409,2 12,3 489,9 12,9 188,0 Perpajakan 2. Penerimaan 146,9 5,3 229,8 7,4 227,0 6,8 191,9 5,0 72,3 Bukan Pajak II. Hibah 1,3 0,0 4,2 0,1 1,8 0,1 2,7 0,1 0,3 B. Belanja Negara 509,6 18,3 699,1 22,4 667,1 20,0 746,4 19,6 237,0 I. Belanja Pemerintah Pusat - o/w Subsidi BBM II. Belanja Pemerintah Daerah 361,2 13,0 478,2 15,3 440,0 13,2 493,9 13,0 149,6 104,8 3,8 62,7 2,0 64,2 1,9 56,4 1,5 26,3 150,5 5,4 220,8 7,1 226,2 6,8 252,5 6,6 87,4 C. Keseimbangan Primer 50,8 1,8 42,5 1,4 49,9 1,5 24,3 0,6 60,7 D. Surplus/Defisit Angggaran -14,4-0,5-39,9-1,3-29,1-0,9-62,0-1,6 23,6 E. Pembiayaan 11,1 0,4 39,9 1,3 29,4 0,9 62,0 1,6 8,6 I. Pembiayaan Dalam Negeri II. Pembiayaan Luar Negeri 21,4 0,8 55,3 1,8 56,0 1,7 74,6 2,0 29,8-10,3-0,4-15,3-0,5-26,6-0,8-12,6-0,3-21,2 Kelebihan/Kekurangan Anggaran -3,3-0,1 0,0 0,0 0,3 0,0 0,0 0,0 32,2 1) Menggunakan PDB dengan basis perhitungan realisasi PDB tahun ) Realiasi sampai dengan 15 Juni

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN I. Ekonomi Dunia Pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia. Sejak tahun 2004, ekonomi dunia tumbuh tinggi

Lebih terperinci

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Perkembangan ekonomi makro bulan Oktober 2004 hingga bulan Juli 2008 dapat diringkas sebagai berikut. Pertama, stabilitas ekonomi tetap terjaga

Lebih terperinci

BAB II PROSPEK EKONOMI TAHUN 2007

BAB II PROSPEK EKONOMI TAHUN 2007 BAB II PROSPEK EKONOMI TAHUN 2007 Prospek ekonomi tahun 2007 lebih baik dari tahun 2006. Stabilitas ekonomi diperkirakan tetap terjaga dengan nilai tukar rupiah yang stabil, serta laju inflasi dan suku

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2006 disempurnakan untuk memberikan gambaran ekonomi

Lebih terperinci

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2004

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2004 BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 24 Kondisi ekonomi menjelang akhir tahun 24 dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, sejak memasuki tahun 22 stabilitas moneter membaik yang tercermin dari stabil dan

Lebih terperinci

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN

PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN Kinerja perekonomian Indonesia masih terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa triwulan

Lebih terperinci

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 127 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 Tim Penulis

Lebih terperinci

INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER

INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER PANDANGAN GUBERNUR BANK INDONESIA PADA RAPAT KERJA PANITIA ANGGARAN DPR RI MENGENAI LAPORAN SEMESTER I DAN PROGNOSIS SEMESTER II APBN TA 2006 2006 Anggota Dewan yang terhormat, 1. Pertama-tama perkenankanlah

Lebih terperinci

Kondisi Perekonomian Indonesia

Kondisi Perekonomian Indonesia KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA Kondisi Perekonomian Indonesia Tim Ekonomi Kadin Indonesia 1. Kondisi perekonomian dunia dikhawatirkan akan benar-benar menuju jurang resesi jika tidak segera dilakukan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN SEPTEMBER 2001

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN SEPTEMBER 2001 REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN SEPTEMBER 2001 World Economic Report, September 2001, memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2001 hanya mencapai 2,6% antara lain

Lebih terperinci

BAB II PROSPEK EKONOMI TAHUN 2005

BAB II PROSPEK EKONOMI TAHUN 2005 BAB II PROSPEK EKONOMI TAHUN 2005 A. TANTANGAN DAN UPAYA POKOK TAHUN 2005 Meskipun secara umum pertumbuhan ekonomi semakin meningkat dan stabilitas moneter dalam keseluruhan tahun 2004 relatif terkendali,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Grafik... vii

DAFTAR ISI. Halaman Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Grafik... vii Daftar Isi DAFTAR ISI Halaman Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Grafik... vii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Umum... 1.2 Realisasi Semester I Tahun 2013... 1.2.1 Realisasi Asumsi Dasar Ekonomi Makro Semester

Lebih terperinci

LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN II/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001

LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN II/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001 REPUBLIK INDONESIA LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN II/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001 Dalam triwulan II/2001 proses pemulihan ekonomi masih diliputi oleh ketidakpastian.

Lebih terperinci

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV

ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2010 245 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2010 Tim Penulis

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2008 memberi gambaran kondisi ekonomi makro tahun 2006,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JANUARI 2002

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JANUARI 2002 REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JANUARI 2002 Posisi uang primer pada akhir Januari 2002 menurun menjadi Rp 116,5 triliun atau 8,8% lebih rendah dibandingkan akhir bulan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SAMPAI DENGAN 31 AGUSTUS 2009

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SAMPAI DENGAN 31 AGUSTUS 2009 PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SAMPAI DENGAN 31 AGUSTUS 2009 I. ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO 1. Pertumbuhan Ekonomi Dalam UU APBN 2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SEMESTER I 2009

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SEMESTER I 2009 PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SEMESTER I 2009 I. ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO 1. Pertumbuhan Ekonomi Dalam UU APBN 2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan sebesar 6,0%.

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN III/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN III/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001 REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN III/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001 Pada awal triwulan III/2001 perekonomian membaik seperti tercermin dari beberapa

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,

BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi, BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA 4.1 Perkembangan Laju Inflasi di Indonesia Tingkat inflasi merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi suatu negara selain faktor-faktor lainnya seperti

Lebih terperinci

TINJAUAN KEBIJAKAN MONETER

TINJAUAN KEBIJAKAN MONETER TINJAUAN KEBIJAKAN MONETER 1 1 2 3 2 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jan-12 Mar-12 May-12 Jul-12 Sep-12 Nov-12 Jan-13 Mar-13 May-13 Jul-13 Sep-13 Nov-13 Jan-14 Mar-14 May-14 Jul-14 Sep-14 Nov-14 Jan-15 35.0 30.0

Lebih terperinci

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2006

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2006 BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 26 Kondisi ekonomi makro pada tahun 26 dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, memasuki tahun 26, stabilitas moneter di dalam negeri membaik tercermin dari stabilnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap

BAB I PENDAHULUAN. saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Small open economic, merupakan gambaran bagi perekonomian Indonesia saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap perekonomian dunia,

Lebih terperinci

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran,Triwulan III - 2005 135 ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2005 Tim Penulis

Lebih terperinci

Perekonomian Suatu Negara

Perekonomian Suatu Negara Menteri Keuangan RI Jakarta, Maret 2010 Perekonomian Suatu Negara Dinamika dilihat dari 4 Komponen= I. Neraca Output Y = C + I + G + (X-M) AS = AD II. Neraca Fiskal => APBN Total Pendapatan Negara (Tax;

Lebih terperinci

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran

ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran 1 ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran Tim Penulis Laporan Triwulanan, Bank Indonesia I.1

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN FISKAL/KEUANGAN DAN EKONOMI MAKRO TAHUN 2010

ANALISIS KEBIJAKAN FISKAL/KEUANGAN DAN EKONOMI MAKRO TAHUN 2010 ANALISIS KEBIJAKAN FISKAL/KEUANGAN DAN EKONOMI MAKRO TAHUN 2010 Penyusun: 1. Bilmar Parhusip 2. Basuki Rachmad Lay Out Budi Hartadi Bantuan dan Dukungan Teknis Seluruh Pejabat/Staf Direktorat Akuntansi

Lebih terperinci

Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro

Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro Melemahnya nilai tukar rupiah dan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan membuat panik pelaku bisnis. Pengusaha tahu-tempe, barang elektronik, dan sejumlah

Lebih terperinci

BAB III PROSPEK EKONOMI TAHUN 2004

BAB III PROSPEK EKONOMI TAHUN 2004 BAB III PROSPEK EKONOMI TAHUN 2004 Bab ini membahas prospek ekonomi Indonesia tahun 2004 dalam dua skenario, yaitu skenario dasar dan skenario dimana pemulihan ekonomi berjalan lebih lambat. Dalam skenario

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun memberikan dampak pada

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun memberikan dampak pada 1 I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997-1998 memberikan dampak pada keuangan Indonesia. Berbagai peristiwa yang terjadi pada masa krisis mempengaruhi Anggaran Pendapatan

Lebih terperinci

BAB II PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO TAHUN

BAB II PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO TAHUN BAB II PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO TAHUN 2002 2004 Bab perkembangan ekonomi makro tahun 2002 2004 dimaksudkan untuk memberi gambaran menyeluruh mengenai prospek ekonomi tahun 2002 dan dua tahun berikutnya.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... HALAMAN DAFTAR TABEL... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR BOKS... KATA PENGANTAR...

DAFTAR ISI... HALAMAN DAFTAR TABEL... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR BOKS... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR BOKS... KATA PENGANTAR... i iii iv vi vii BAB I RINGKASAN EKSEKUTIF... I-1 A. PROSES PEMULIHAN EKONOMI TAHUN 2003... I-1 B. TANTANGAN DAN

Lebih terperinci

ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007

ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007 ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Makro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007 Nomor. 02/ A/B.AN/VII/2007 Perkembangan Ekonomi Tahun 2007 Pada APBN 2007 Pemerintah telah menyampaikan indikator-indikator

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan fenomena shock ini adalah sangat menarik berbicara tentang

BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan fenomena shock ini adalah sangat menarik berbicara tentang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Guncangan (shock) dalam suatu perekonomian adalah suatu keniscayaan. Terminologi ini merujuk pada apa-apa yang menjadi penyebab ekspansi dan kontraksi atau sering juga

Lebih terperinci

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia

Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia Perlambatan pertumbuhan Indonesia terus berlanjut, sementara ketidakpastian lingkungan eksternal semakin membatasi ruang bagi stimulus fiskal dan moneter

Lebih terperinci

Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016

Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016 Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016 Overview Beberapa waktu lalu Bank Indonesia (BI) dalam RDG 13-14 Januari 2016 telah memutuskan untuk memangkas suku bunga

Lebih terperinci

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2008 Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 Asumsi Dasar dan Kebijakan Fiskal 2008 Sesuai dengan ketentuan UU Nomor 17 Tahun 2003, Pemerintah Pusat diwajibkan untuk menyampaikan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SAMPAI DENGAN 30 SEPTEMBER 2009

PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SAMPAI DENGAN 30 SEPTEMBER 2009 PERKEMBANGAN ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO DAN REALISASI APBN SAMPAI DENGAN 30 SEPTEMBER 2009 I. ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO 1. Pertumbuhan Ekonomi Dalam UU APBN 2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditargetkan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2007

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2007 BPS PROVINSI DKI JAKARTA No. 30/08/31/Th.IX, 15 AGUSTUS 2007 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2007 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II tahun 2007 yang diukur berdasarkan PDRB atas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia pernah mengalami krisis pada tahun 1997, ketika itu nilai tukar rupiah merosot tajam, harga-harga meningkat tajam yang mengakibatkan inflasi yang tinggi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada tahun 2007, keadaan ekonomi di Indonesia dapat dikatakan baik

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pada tahun 2007, keadaan ekonomi di Indonesia dapat dikatakan baik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada tahun 2007, keadaan ekonomi di Indonesia dapat dikatakan baik dan stabil. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator yang memberikan nilai-nilai yang

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Kerangka ekonomi makro daerah akan memberikan gambaran mengenai kemajuan ekonomi yang telah dicapai pada tahun 2010 dan perkiraan tahun

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004 Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran Triwulan III 2004 185 PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004 Tim Penulis Laporan Triwulanan III 2004, Bank Indonesia

Lebih terperinci

LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN I/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001

LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN I/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001 REPUBLIK INDONESIA LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN I/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001 Dalam tahun 2000 pemulihan ekonomi terus berlangsung. Namun memasuki tahun

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN I/2002 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2002

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN I/2002 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2002 REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN I/22 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 22 Mengawali tahun 22, kepercayaan masyarakat kembali meningkat seperti yang tercermin dari

Lebih terperinci

Kinerja Perekonomian Indonesia dan Amanat Pasal 44 RUU APBN 2012

Kinerja Perekonomian Indonesia dan Amanat Pasal 44 RUU APBN 2012 Kinerja Perekonomian Indonesia dan Amanat Pasal 44 RUU APBN 2012 I. Pendahuluan Setelah melalui perdebatan, pemerintah dan Komisi XI DPR RI akhirnya menyetujui asumsi makro dalam RAPBN 2012 yang terkait

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seberapa besar kontribusi perdagangan internasional yang telah dilakukan bangsa

BAB I PENDAHULUAN. seberapa besar kontribusi perdagangan internasional yang telah dilakukan bangsa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perekonomian global yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan perkembangan dari proses perdagangan internasional. Indonesia yang ikut serta dalam Perdagangan internasional

Lebih terperinci

Realisasi Asumsi Dasar Ekonomi Makro APBNP 2015

Realisasi Asumsi Dasar Ekonomi Makro APBNP 2015 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nov Des Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2015 Asumsi Dasar Ekonomi Makro Tahun 2015 Indikator a. Pertumbuhan ekonomi (%, yoy) 5,7 4,7 *) b. Inflasi (%, yoy) 5,0 3,35

Lebih terperinci

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)

BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD) BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD) 3.1. Asumsi Dasar yang Digunakan Dalam APBN Kebijakan-kebijakan yang mendasari APBN 2017 ditujukan

Lebih terperinci

SEBERAPA JAUH RUPIAH MELEMAH?

SEBERAPA JAUH RUPIAH MELEMAH? Edisi Maret 2015 Poin-poin Kunci Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp13.000 per dollar AS, terendah sejak 3 Agustus 1998. Pelemahan lebih karena ke faktor internal seperti aksi hedging domestik

Lebih terperinci

International Monetary Fund UNTUK SEGERA th Street, NW 15 Maret 2016 Washington, D. C USA

International Monetary Fund UNTUK SEGERA th Street, NW 15 Maret 2016 Washington, D. C USA Siaran Pers No. 16/104 International Monetary Fund UNTUK SEGERA 700 19 th Street, NW 15 Maret 2016 Washington, D. C. 20431 USA Dewan Eksekutif IMF Menyimpulkan Konsultasi Pasal IV 2015 dengan Indonesia

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2008

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2008 BADAN PUSAT STATISTIK No.43/08/Th. XI, 14 Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II- Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013 No. 09/02/31/Th. XVI, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013 Secara total, perekonomian DKI Jakarta pada triwulan IV/2013 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan

Lebih terperinci

TABEL 1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA RINGKASAN (Juta USD) 2014*

TABEL 1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA RINGKASAN (Juta USD) 2014* TABEL 1 RINGKASAN 2014 2015 Q1 Q2 Q3 Q4 Total Q1 Q2 Q3 I. Transaksi Berjalan -4,926-9,592-7,040-5,958-27,516-4,178-4,250-4,011 A. Barang 1) 3,350-375 1,560 2,448 6,983 3,063 4,130 4,054 - Ekspor 43,937

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2008

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2008 BPS PROVINSI DKI JAKARTA PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2008 No. 08/02/31/Th. XI, 16 Februari 2009 Secara total, perekonomian DKI Jakarta pada triwulan IV tahun 2008 yang diukur berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perbankan berperan dalam mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan kerja melalui penyediaan sejumlah dana pembangunan dan memajukan dunia usaha.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk menciptakan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan dengan. mengurangi ketergantungan pada sumber dana luar negeri.

BAB I PENDAHULUAN. untuk menciptakan kemandirian dalam pembiayaan pembangunan dengan. mengurangi ketergantungan pada sumber dana luar negeri. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pajak merupakan sumber penerimaan yang sangat penting artinya bagi perekonomian suatu Negara. Demikian juga dengan Indonesia sebagai negara yang sedang membangun,

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014 No. 47/08/72/Thn XVII, 05 Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II TAHUN Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada triwulan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Grafik 1.1 Perkembangan NFA periode 1997 s.d 2009 (sumber : International Financial Statistics, IMF, diolah)

BAB 1 PENDAHULUAN. Grafik 1.1 Perkembangan NFA periode 1997 s.d 2009 (sumber : International Financial Statistics, IMF, diolah) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam beberapa dekade terakhir, perekonomian Indonesia telah menunjukkan integrasi yang semakin kuat dengan perekonomian global. Keterkaitan integrasi ekonomi

Lebih terperinci

PERPERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 2001

PERPERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 2001 No. 07/V/18 FEBRUARI 2002 PERPERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 2001 PDB INDONESIA TAHUN 2001 TUMBUH 3,32 PERSEN PDB Indonesia tahun 2001 secara riil meningkat sebesar 3,32 persen dibandingkan tahun 2000. Hampir

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008 No.05/02/33/Th.III, 16 Februari 2009 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008 PDRB Jawa Tengah triwulan IV/2008 menurun 3,7 persen dibandingkan dengan triwulan III/2007 (q-to-q), dan bila dibandingkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran.

BAB I PENDAHULUAN. 2. untuk mencapai tingkat kestabilan harga secara mantap. 3. untuk mengatasi masalah pengangguran. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan jangka panjang yang dilaksanakan di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dengan mengacu pada Trilogi Pembangunan (Rochmat Soemitro,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, seperti Indonesia serta dalam era globalisasi sekarang ini, suatu negara tidak terlepas dari kegiatan

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013

Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013 Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013 Asesmen Ekonomi Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II-2013 mengalami pelemahan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada

Lebih terperinci

LAPORAN PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN bulan April 2017

LAPORAN PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN bulan April 2017 LAPORAN PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN bulan April 2017 Table Daftar of Isi: Contents Perkembangan Ekonomi Ekonomi Global Global World Economic Outlook (WEO) April 2017; World Economic Outlook (WEO) April 2017;

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Berdasarkan strategi dan arah kebijakan pembangunan ekonomi Kabupaten Polewali Mandar dalam Rencana

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang akan melaju secara lebih mandiri

I. PENDAHULUAN. Pembangunan di negara-negara berkembang akan melaju secara lebih mandiri 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan di negara-negara berkembang akan melaju secara lebih mandiri apabila pembangunan itu sebagian besar dapat dibiayai dari sumber-sumber penerimaan dalam negeri,

Lebih terperinci

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Nomor. 30/AN/B.AN/2010 0 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi

Lebih terperinci

Tabel 1a APBN 2004 dan APBN-P 2004 (miliar rupiah)

Tabel 1a APBN 2004 dan APBN-P 2004 (miliar rupiah) Tabel 1a 2004 dan -P 2004 Keterangan -P ( (3) (4) (5) A. Pendapatan Negara dan Hibah 349.933,7 17,5 403.769,6 20,3 I. Penerimaan Dalam Negeri 349.299,5 17,5 403.031,8 20,3 1. Penerimaan Perpajakan 272.175,1

Lebih terperinci

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Penurunan momentum pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau di periode ini telah diperkirakan sebelumnya setelah mengalami tingkat pertumbuhan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2013 No. 37/08/31/Th. XV, 2 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2013 Secara total, perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II/2013 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan

Lebih terperinci

Ringkasan eksekutif: Pertumbuhan melambat; risiko tinggi

Ringkasan eksekutif: Pertumbuhan melambat; risiko tinggi Ringkasan eksekutif: Pertumbuhan melambat; risiko tinggi Melihat ke tahun 2014, Indonesia menghadapi perlambatan pertumbuhan dan risiko-risiko ekonomi yang signifikan yang membutuhkan fokus kebijakan tidak

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO INDONESIA

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO INDONESIA April 2015 Tim Riset SPMD Overview The Fed siap menaikan suku bunga acuan kapan saja yang berpotensi menarik dana tiba-tiba (sudden reversal) dari emerging market termasuk

Lebih terperinci

Ikhtisar Perekonomian Mingguan

Ikhtisar Perekonomian Mingguan 18 May 2010 Ikhtisar Perekonomian Mingguan Neraca Pembayaran 1Q-2010 Fantastis; Rupiah Konsolidasi Neraca Pembayaran 1Q-2010 Fantastis, Namun Tetap Waspada Anton Hendranata Ekonom/Ekonometrisi anton.hendranata@danamon.co.id

Lebih terperinci

NOTA KEUANGAN DAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN ANGGARAN 2014 REPUBLIK INDONESIA

NOTA KEUANGAN DAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN ANGGARAN 2014 REPUBLIK INDONESIA NOTA KEUANGAN DAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN ANGGARAN 2014 REPUBLIK INDONESIA Daftar Isi DAFTAR ISI Halaman Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Grafik... iv BAB 1 PENDAHULUAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 29 TAHUN 2002 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2003 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014 No.51/08/33/Th.VIII, 5 Agustus 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014 Perekonomian Jawa Tengah yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II tahun

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN I- 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN I- 2013 No. 027/05/63/Th XVII, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN I- 2013 Perekonomian Kalimantan Selatan triwulan 1-2013 dibandingkan triwulan 1- (yoy) tumbuh sebesar 5,56 persen, dengan

Lebih terperinci

Kinerja CARLISYA PRO FIXED

Kinerja CARLISYA PRO FIXED 29-Jan-16 NAV: Total Dana Kelolaan 1,728,431,985.66 Pasar Uang 0-80% Deposito Syariah 6.12% 93.88% Infrastruktur 87.50% Disetahunkaluncuran Sejak pe- Deskripsi Jan-16 YoY Keuangan 12.50% Yield 0.64% 7.66%

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2003

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2003 1 PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2003 Tim Penulis Laporan Triwulanan III 2003, Bank Indonesia Sampai dengan triwulan III-2003, kondisi perekonomian Indonesia masih mengindikasikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan dalam mengatur kegiatan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan dalam mengatur kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebijakan fiskal merupakan salah satu kebijakan dalam mengatur kegiatan ekonomi secara makro, di samping kebijakan fiskal juga terdapat kebijakan moneter yang merupakan

Lebih terperinci

Perkembangan Perekonomian dan Arah Kebijakan APBN 2014

Perkembangan Perekonomian dan Arah Kebijakan APBN 2014 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Perkembangan Perekonomian dan Arah Kebijakan APBN 2014 Jakarta, 10 Juni 2014 Kunjungan FEB UNILA Outline 1. Peran dan Fungsi APBN 2. Proses Penyusunan APBN 3. APBN

Lebih terperinci

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2005

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2005 BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 25 Kondisi ekonomi makro tahun 25 dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, sejak memasuki paruh kedua tahun 24, stabilitas moneter di dalam negeri mengalami tekanan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN IV 2003

PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN IV 2003 Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran Triwulan IV 2003 1 PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN IV 2003 Tim Penulis Laporan Triwulanan IV 2003, Bank Indonesia Sampai

Lebih terperinci

TABEL 1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA RINGKASAN (Juta USD)

TABEL 1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA RINGKASAN (Juta USD) TABEL 1 INGKASAN UAIAN I. Transaksi Berjalan -3,192-8,149-5,265-7,812-24,418-5,905-9,998-8,529-4,018-28,450 A. Barang 1 3,810 818 3,190 801 8,618 1,628-517 145 4,894 6,149 - Ekspor 48,353 47,538 45,549

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015 A. Perkembangan Perekonomian Saudi Arabia. 1. Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan pertumbuhan ekonomi di Saudi Arabia diatur melambat

Lebih terperinci

Kinerja CENTURY PRO FIXED

Kinerja CENTURY PRO FIXED 29-Jan-16 NAV: Total Dana Kelolaan 3,058,893,148.56 - Keuangan - Infrastruktur 0-80% AAA A - 66.33% 15.52% 18.15% - Inflasi (Jan 2016) - Inflasi (YoY) - BI Rate 0.51% 4.14% 7.25% Kinerja Sejak pe- Deskripsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini, era globalisasi membawa suatu pengaruh yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini, era globalisasi membawa suatu pengaruh yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, era globalisasi membawa suatu pengaruh yang sangat besar dalam perekonomian suatu negara. Era globalisasi ini terjadi dikarenakan adanya rasa saling ketergantungan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO

PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO Triwulan II-29 Perekonomian Indonesia secara tahunan (yoy) pada triwulan II- 29 tumbuh 4,%, lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya (4,4%). Sementara itu, perekonomian

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2008

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2008 No. 19/05/31/Th. X, 15 Mei 2008 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2008 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I tahun 2008 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan 2000 menunjukkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pada tahun 1997 kondisi perekonomian Indonesia mengalami krisis yang

I. PENDAHULUAN. Pada tahun 1997 kondisi perekonomian Indonesia mengalami krisis yang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada tahun 1997 kondisi perekonomian Indonesia mengalami krisis yang hebat, yang berdampak pada semua aktivitas bisnis di sektor riil. Selama dua tiga tahun terakhir

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013 No. 046/08/63/Th XVII, 2 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II- 2013 Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II-2013 tumbuh sebesar 13,92% (q to q) dan apabila dibandingkan dengan

Lebih terperinci

ANALISA PERUBAHAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA DALAM RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN 2014

ANALISA PERUBAHAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA DALAM RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN 2014 ANALISA PERUBAHAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA DALAM RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN 2014 Pendahuluan Akibat dari krisis ekonomi yang dialami Indonesia tahun

Lebih terperinci

Prospek Ekonomi Global dan Domestik 2017: Peluang dan Tantangan

Prospek Ekonomi Global dan Domestik 2017: Peluang dan Tantangan Prospek Ekonomi Global dan Domestik 2017: Peluang dan Tantangan 1 2 Siklus Ekonomi 3 Sumber: BI Ekonomi Domestik Beberapa Risiko Ekonomi Global Meningkatnya ketidakpastian yang dipicu oleh ekspektasi kenaikan

Lebih terperinci

Tabel 1 Neraca Pembayaran Indonesia: Ringkasan

Tabel 1 Neraca Pembayaran Indonesia: Ringkasan Tabel 1 Neraca Pembayaran Indonesia: Ringkasan I. Transaksi Berjalan I. Transaksi Berjalan A. Barang 1) A. Barang 1) - Ekspor - Ekspor 1. Nonmigas 1. Barang Dagangan Umum a. Ekspor - Ekspor b. Impor 2.

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO. PDRB Gorontalo Triwulan III-2013 Naik 2,91 Persen

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO. PDRB Gorontalo Triwulan III-2013 Naik 2,91 Persen No. 62/11/75/Th. VII, 6 November 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO PDRB Gorontalo Triwulan III-2013 Naik 2,91 Persen PDRB Provinsi Gorontalo triwulan III-2013 naik 2,91 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013 No. 45/08/72/Th. XVI, 02 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013 Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2007

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2007 BPS PROVINSI DKI JAKARTA No. 40/11/31/Th. IX, 15 November 2007 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2007 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan III tahun 2007 yang diukur berdasarkan PDRB

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010 BADAN PUSAT STATISTIK No. 31/05/Th. XIII, 10 Mei 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010 EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010 TUMBUH MENINGKAT 5,7 PERSEN Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan

Lebih terperinci