DRAFT PROSEDUR TETAP MANAJEMEN PEMELIHARAAN SATUAN PEMELIHARAAN 15 (PTMP SATHAR 15) BAB I PENDAHULUAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DRAFT PROSEDUR TETAP MANAJEMEN PEMELIHARAAN SATUAN PEMELIHARAAN 15 (PTMP SATHAR 15) BAB I PENDAHULUAN"

Transkripsi

1 PROSEDUR TETAP MANAJEMEN PEMELIHARAAN SATUAN PEMELIHARAAN 15 () BAB I PENDAHULUAN 1.Komando Pemeliharaan Materiil TNI Angkatan Udara adalah Kotama Fungsional yang memiliki tugas pokok melaksanakan pemeliharaan dan produksi materiil TNI Angkatan Udara serta pemeliharaan dan pembekalan senjata dan amunisi. Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut Koharmatau membawahi tujuh Depo Pemeliharaan yang disingkat Depohar yang terdiri dari Depohar 10 yang berlokasi di Lanud Husein Sastranegara, Depohar 20 di Lanud Sulaeman, Depohar 30 di Lanud Abd Saleh, Depohar 40 di Lanud Sulaeman, Depohar 50 di Lanud Adi Sumarmo, Depohar 60 di Lanud Iswahjudi dan Depohar 70 di Lanud Sulaeman. Setiap Depohar memiliki Satuan Pemeliharaan (Sathar) di bawah jajarannya untuk melaksanakan tugas yang dimiliki oleh masing-masing Depohar. 2.Satuan Pemeliharaan 15 adalah satuan dibawah jajaran Depohar 10 memiliki tugas melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat C-130 Hercules series yang dimiliki TNI Angkatan Udara. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi Structural Integrity Programe (SIP), Retrofit C-130B, Bantuan Pemeliharaan Lapangan / Rectifikasi C-130 yang ada di satuan operasional dan tugas-tugas lainnya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Sesuai kemampuan yang dimiliki dalam melaksanakan tugas tersebut setiap tahun anggaran dibuat program kerja sebagai bentuk penjabaran dari program kerja Depo 1

2 pemeliharaan 10 yang digunakan sebagai pedoman untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan pesawat C-130 Hercules series di Sathar Dengan diterbitkannya Prosedur Tetap ini diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman bagi seluruh unsur di Satuan Pemeliharan 15 dalam menyelesaikan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga diperoleh kesamaan pola pikir dan pola tindak untuk menyelesaikan tugas pokok Sathar 15 secara optimal. Maksud dan Tujuan 4.Maksud Prosedur Tetap Satuan Pemeliharaan 15 ini adalah memberikan pedoman tentang prosedur dan tata cara pelaksanaan kegiatan serta pembinaan kemampuan seluruh unsur pemeliharaan di Satuan Pemeliharaan 15 yang mengatur tentang pembagian kerja, pentahapan kegiatan dan waktu pengerjaan yang jelas dengan tujuan pelaksanaan kegiatan di Satuan Pemeliharaan 15 dapat berjalan dengan baik dan lancar sehingga tercapainya tingkat produksi pemeliharaan yang optimal sesuai standar operasi yang dipersyaratkan. 5. Ruang Lingkup dan Tata Urut. Ruang Lingkup Buku Prosedur Tetap Manajemen Pemeliharaan Satuan Pemeliharaan 15 meliputi ketentuan, tata cara, dan prosedur dilingkungan Sathar 15 dengan tata urut sebagai berikut: a. Bab I Pendahuluan. b. Bab II Kedudukan Sathar 15. c. Bab III Organisasi Sathar15. d. Bab IV Kualifikasi Personel Sathar 15. e. Bab V Fasilitas Sathar 15. 2

3 f. Bab VI Manajemen Pemeliharaan Pesawat di Sathar 15 g. Bab VII Manajemen Dukungan Kebutuhan Materiil di Sathar 15 h. Bab VIII Pmeiharaan/Perbaikan Komponen. h. Bab IXKeselamatan Terbang dan kerja Sahar 15. i. Bab X Pelaksanaan Pemeliharaan di Satar15. j. Bab XI Penutup. 6. Landasan. Landasan yang digunakan dalam penyusunan Buku Prosedur Tetap Manajemen Pemeliharaan Sathar 15 adalah sebagai berikut: a. Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara nomor : Kep/5/III/2004 tanggal 1 Maret 2004 tentang Pokok-pokok Organisasi dan Prosedur Kotama Fungsional TNI Angkatan Udara. b. Naskah sementara Buku Petunjuk Induk tentang Logistik TNI AU berdasarkan Skep Kasau Nomor Skep/474/XII/2006 tanggal 28 Desember c. Peraturan Kasau Nomor Perkasau/123/XII/2010 tentang Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur Jajaran Koharmatau tanggal 22 Desember d. PTU No. 80 tanggal 18 Maret 1986 perbaikan IX tahun 2000 tentang Sistem Inspeksi Pesawat Terbang TNI Angkatan Udara. e. Peraturan Teknik Udara No 83 tanggal 9 April 2008 tentang Inspeksi Progressive SMP-515-AU-02 untuk Pesawat C-130 Series TNI Angkatan Udara. 3

4 f. PTU No. 132 tanggal 18 Maret 1986 tentang Buku Pedoman Perencanaan Pemeliharaan Alutsistaud (BP3A) perbaikan XXXIX tanggal 31 Agustus g. Sertifikat Kelaikan dari Dislambangjau dengan nomor SLAIK/ FH/ AU/VII/2011/DISLAMBANGJAAU tanggal 29 Juli h. Juklak TNI AU tentang Mekanisme Penyelenggaraan Jaminan Kualitas Pemeliharaan Sistem Senjata dan Fabrikasi di lingkungan TNI Angkatan Udara No Skep/124/IX/1995 tanggal 5 September Kedudukan. Kedudukan Buku Prosedur Tetap Manajemen Pemeliharaan Sathar 15 merupakan penjabaran dari Sistem dan Prosedur Depo Pemeliharaan Pengertian. Untuk memperoleh kesamaan persepsi dan pemahaman terhadap istilah-istilah dalam buku prosedur tetap manajemen pemeliharaan Sathar 15, dijelaskan beberapa pengertian sebagai berikut: a. Manajemen adalah suatu ilmu yang mempelajari usaha manusia untuk mencapai tujuan yang telah dikalkulasikan dengan bantuan sejumlah sumber dengan cara efisien dan efektif. b. Pemeliharaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mempertahankan materiil/fasilitas tetap dalam keadaan baik serviceable atau memulihkan kondisi materiil/fasilitas kedalam kondisi siap pakai. c. Prosedur Tetap adalah kumpulan instruksi, perintah dan sebagainya yang berlaku tetap untuk waktu yang cukup panjang bagi suatu organisasi, lembaga, satuan, komando dan sebagainya bagi pelaksanaan kegiatan rutin sehari-hari baik taktis maupun administrasi. 4

5 d. Manajemen Pemeliharaan adalah segala usaha yang dilakukan manusia dengan tujuan untuk mempertahankan materiil/fasilitas tetap dalam keadaan baik serviceable dengan cara yang efektif dan efisien. 5

6 BAB II KEDUDUKAN SATHAR Koharmatau. Koharmatau merupakan kotama fungsional TNI Angkatan Udara yang bertugas melaksanakan pemeliharaan dan produksi materiil TNI Angkatan Udara serta pemeliharaan dan pembekalan senjata dan amunisi. 10. Depohar 10. Depohar 10 merupakan satuan pelaksana Koharmatau yang berkedudukan langsung dibawah Dankoharmatau, Depohar 10 bertugas melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang bersayap tetap (Fixed Wing) dan bersayap putar (Rotary Wing), pemeliharaan komponen, kalibrasi alat ukur presisi, pemeriksaan Non Destructive Inspection (NDI) dan produksi materiil. 11. Sathar 15. Sathar 15 adalah pelaksana Depohar 10 yang bertugas melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan tingkat berat pesawat terbang jenis Hercules C-130 series. 12. Kemampuan Sathar 15. Kemampuan Sathar 15 secara terinci ada kemampuan dasar, kemampuan kondisional dan kemampuan tambahan antara lain : a. Kemampuan Dasar. Satuan Pemeliharaan 15 memiliki Kemampuan Dasar untuk melaksanakan kegiatan pemeliharaan SIP (Struktural Integrity Program) yaitu kegiatan pemeliharaan yang merupakan pemeliharaan tingkat Depohar yang dilaksanakan setiap 3600 jam terbang atau 6 tahun waktu kalender mana yang dicapai lebih dulu, pemeriksaan dititik beratkan pada struktur rangka pesawat terbang dengan menggunakan metoda NDI, sesuai dengan PTU No. 83 tanggal 9 April 2008 tentang Inspeksi Progressive SMP-515-AU-02 untuk Pesawat C-130 Series TNI Angkatan Udara. 6

7 b. Kemampuan Kondisional. Kemampuan kondisional merupakan kemampuan yang dapat mendukung pada kondisi tertentu antara lain: 1) OWR ( Outer Wing Repair/Replacement ) adalah kegiatan pemeliharaan/perbaikan terhadap Outer Wing pesawat C-130 Hercules yang mengalami kerusakan berat ( Corrotion Out of limit ) sehingga perlu dilaksanakan penggantian wing plank sedangkan kerusakan yang bersifat ringan dilaksanakan perbaikan ( Repair/Doubler ). 2) Harsus / Aging Inspection adalah Pemeliharaan tingkat berat pesawat C-130 apabila tidak dapat dilaksanakan pemeliharaan SIP pada saat pesawat mencapai usia 6 tahun kalender namun belum mencapai usia 3600 JT pada interval SIP. c. Kemampuan Tambahan 1) Avionic Up-Dating adalah Pemeliharaan avionic pesawat terbatas pada penyesuaian/up-dating terhadap system avionic yang terpasang dipesawat yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dengan memenuhi standar system avionic yang terbaru (update). 2) Reactified Tanker adalah kegiatan pengaktifan kembali system pengisian bahan bakar/air refueling pada pesawat C-130 Hercules ( A-1309 dan A-1310 ). 3) Structure Reconditioning adalah Perbaikan terhadap structure pesawat yang mengalami penurunan kemampuan pada rangka/structure pesawat akibat Crack/korosi. 7

8 4) Bleed Air Duct Reconditioning adalah Kegiatan perbaikan/rekondisi terhadap seluruh bleed air duct yang terpasang di pesawat C-130 Hercules. 5) Wire Harness Reconditioning adalah Pemeliharaan/perbaikan yang bertujuan mengembalikan kondisi wire harness assy yang mengalami kerusakan serta melaksanakan modifikasi. 6) Pelaksanaan SB/TCTO/ITU adalah Kegiatan melaksanakan Service Buletin yang diterbitkan oleh pabrik pembuat pesawat yang bertujuan untuk safety/keamanan dalam kegiatan operasional. 13. Sertifikat Kemampuan Sathar 15. Sathar 15 memiliki kemampuan yang telah disahkan oleh Dislambangjaau tentang Spesifikasi Kemampuan (Term of Approval) Sathar 15 Depohar 10 yang memuat kemampuan Sathar 15 dalam melaksanakan pemeliharaan/perbaikan tingkat berat pesawat C130 Hercules meliputi Pemeliharaan SIP, Aging, TYI, OWR, Minor/Major structure Repair, Recondition Bleed Air Duct, Avionik Up Dating, Retrofit, pemeliharaan khusus dan Reactivating Air Refueling Tanker. Masa berlaku sertifikat kemampuan Sathar 15 selama 2 tahun dan dapat diperpanjang kembali setelah dilaksanakan audit oleh Dislambangjaau sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 8

9 BAB III ORGANISASI SATHAR Daftar Susunan Personel. Daftar susunan personel disingkat dengan DSP merupakan komposisi yang ideal dalam menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan kepada Sathar 15. Berdasarkan skep kasau nomor Skep /212 / X /2011 DSP Sathar 15 berjumlah 118 yang terdiri dari 1 Letkol, 2 Mayor, 7 Kapten, 16 Lettu dan 1 Letda serta 91 Anggota. 15. Komandan Sathar 15. Komandan Sathar 15 bertanggung jawab langsung kepada Komandan Depohar 10 dalam menjamin berjalannya organisasi Sathar 15 secara keseluruhan untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada Sathar 15. Dalam melaksanakan tugas tersebut Komandan Sathar 15 dibantu para stafnya yaitu Kasihar, Kasiins, Kepala Dock dan Ka Urdal. 16. Kasihar Sathar 15. Kasihar Sathar 15 adalah staf pelaksana Sathar 15 yang bertugas melaksanakan urusan pemeliharaan, tata usaha teknik, pembekalan, keselamatan terbang dan kerja. Dalam melaksanakan tugasnya Kasihar dibantu Kasubsi Lambangja, Kasubsikal, Ka TB. a. Kasubsi Lambangja. Kasubsi Lambangja merupakan staf pembantu Kasihar yang bertugas melaksanakan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang berhubungan engan keselamatan terbang dan kerja. b. Kasubsikal. Kasubsikal merupakan staf pembantu Kasihar yang bertugas melaksanakan perencanaan kebutuhan materiil/pembekalan guna mendukung pemeliharaan dan perbaikan pesawat terbang. 9

10 c. Ka TUT. Ka TUT merupakan staf pembantu Kasihar yang melaksanakan tata usaha teknik. d. Ka TB. Ka TB merupakan staf pembantu Kasihar yang bertugas melaksanakan kegiatan pembekalan untuk mendukung kegiatan pemeliharaan. 17. Kasiins Sathar 15. Kasiins Sathar 15 adalah staf pelaksana Sathar 15 yang melaksanakan jaminan kualitas hasil pemeliharaan/perbaikan pesawat terbang/ komponen Sathar 15. Kasiins dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Kasubsikualhar. Kasubsikualhar. Kasubsikualhar merupakan staf pembantu Kasiins yang bertugas melaksanakan audit kualitas hasil pemeliharaan dan perbaikan pesawat terbang. 18. Kepala Dock A. Kepala Dock A adalah pelaksana Sathar 15 yang bertugas melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan pesawat terbang jenis C-130 Hercules series yang dibebankan kepada Dock A. Dalam melaksanakan tugasnya Ka Dock A dibantu oleh Ka Unit Structure Repair A dan Ka Unit Corrotion Control A. a. Kepala Unit Structure Repair A. Ka Unit Structure Repair A merupakan pembantu Ka Dock A yang melaksankan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan tingkat berat Structure Repair pesawat C-130 Hercules Series. b. Kepala Unit Corrotion Control A. Ka Unit Corrotion Control A merupakan pembantu Ka Dock A yang melaksankan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan tingkat berat Corrotion Control pesawat C-130 Hercules Series. 19. Kepala Dock B. Ka Dock B adalah pelaksana Sathar 15 yang bertugas melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan pesawat terbang jenis C-130 Hercules series yang dibebankan kepada Dock B. Dalam melaksanakan tugasnya Ka Dock B dibantu oleh Ka Unit Structure Repair B dan Ka Unit Corrotion Control B. 10

11 a. Kepala Unit Structure Repair B. Ka Unit Structure Repair B merupakan pembantu Kasi Dock B yang melaksankan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan tingkat berat Structure Repair pesawat C-130 Hercules Series b. Kepala Unit Corrotion Control B. Ka Unit Corrotion Control B merupakan pembantu Kasi Dock B yang melaksankan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan tingkat berat Corrotion Control pesawat C-130 Hercules Series. 20. Kepala Dock C. Ka Dock C adalah pelaksana Sathar 15 yang bertugas melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan sistem power plant, fuel, listrik & instrument, avionic, pneumatic & hydraulic, flight control dan GSE pesawat terbang jenis C-130 Hercules series. a. Kepala Unit Power Plant. Ka Unit power plant merupakan pembantu Ka Dock C yang melaksankan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan sistem power plant. b. Kepala Unit Avionik. Ka unit Avionik merupakan pembantu Ka Dock C yang melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan system Avionik. c. Kepala Unit listment. Ka unit listment merupakan pembantu Ka Dock C yang melaksankan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan system lisment. d. Kepala Unit Pneudraulic. Ka unit pneudraulic merupakan pembantu Ka Dock C yang melaksankan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan sistem pneudraulic. e. Kepala Unit Fuel Sistem. Ka unit fuel sistem merupakan pembantu Ka Dock C yang melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan fuel system. 11

12 f. Kepala Unit Ext/Int. Ka unit Ext/Int merupakan pembantu Kepala Dock C yang melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan Ext/Int. e. Kepala Unit GSE. Ka unit GSE merupakan pembantu Ka Dock C yang bertugas mendukung keperluan peralatan GSE pada pelaksanaan kegiatan pemeliharaan tingkat berat pesawat C-130 Hercules series. 21. Kepala Urusan Dalam. Ka Urdal merupakan pembantu Dansathar 15 yang melaksanakan urusan dalam Sathar 15 yang termasuk didalamnya pemeliharaan lingkungan Sathar 15 dan Peraturan Urusan Dinas Dalam (PUDD).. BAB IV KUALIFIKASI PERSONEL SATHAR 15 12

13 22. Kualifikasi personel. Kegiatan penyelenggaraan kelaikan kualifikasi personel meliputi penelitian persyaratan personel yang melaksanakan pemeriksaan dan pengujian kelaikan alutsista udara dan sarana bantuan dalam rangkaian kegiatan administratif dan teknis yang memerlukan penangganan secara tepat, terarah dan terpadu serta berkesinambungan berdasarkan Bujuknis TNI AU tentang Penyelenggaraan kelaikan kualifikasi personel pemeriksa/penguji Alutsista Udara dan Sarana Bantuan. Personel Sathar 15 dalam mengawaki jabatan dalam stuktur organisasi mempunyai wewenang dan tanggung jawab sesuai dengan kualifikasi masing-masing sesuai dengan sertifikasi kelaikan kualifikasi personel. Sehingga pada saat pelaksanaan pengambilan keputusan dalam proses pengerjaan pesawat diperoleh hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Penunjukan personel tersebut berdasarkan Skep Kasau. Berikut adalah beberapa jabatan dan kualifikasi personel yang mengawaki Struktur Sathar 15 : a. Komandan Sathar 15. Dansathar 15 memiliki kewenangan untuk memimpin Sathar 15 dan melaksanakan supervisi (mengoordinasi, mengawasi, mengendalikan, dan mengevaluasi) pelaksanaan Program Kerja Sathar 15 serta bertanggung jawab kepada Komandan Depohar 10. Adapun persyaratan untuk menjadi Komandan satahar 15 antara lain adalah berpangkat Letnan Kolonel ( promosi), pendidikan militer lulus Sekolah Komando dan Staf, memiliki kualifikasi JMU C-130 dan Inspektor kelaikan serta sehat secara fisik maupun jasmani. Komandan Sathar 15 di tunjuk oleh Kasau berdasarkan rekomendasi dari Binprof Teknik. b. Kasihar Sathar 15. Kasihar Sathar 15 merupakan staf Dansathar 15 yang bertanggung jawab terlaksananya pemeliharaan pesawat. Kasihar 15 dijabat oleh Perwira menengah dengan pangkat Mayor dengan kualifikasi harus lulus Sekkau, memiliki kualifikasi JMU dan sudah mengikuti kursus kelaikan udara. Penunjukan berdasarkan rekomendasi dari Dansathar 15 dan ditetapkan berdasarkan Skep Kasau. 13

14 c. Kasiins Sathar 15. Kasiins bertanggung jawab atas terlaksananya pemeriksaan dan jaminan kualitas Harpesbang C-130 Hercules di Sathar 15, dijabat oleh perwira menengah dengan pangkat Mayor, memiliki kualifikasi inspektor kelaikan, selain bertanggung jawab secara garis komando ke Dansathar 15 kasiins juga merupakan perpanjangan tanggan kadisdalkual Depohar 10. Penunjukan berdasarkan rekomendasi dari Dansathar 15 dan ditetapkan berdasarkan Skep Kasau. d. Kepala Dock. Ka Dock merupakan pelaksana pemeliharaan pesawat yang langsung bertanggung jawab kepada Dansathar 15, melaksanakan perencanaan mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan pesawat. Ka Dock dijabat oleh perwira pertama dengan pangkat Kapten yang sudah mengikuti kualifikasi suspa enghar. Sathar 15 memiliki 3 Dock pemeliharan pesawat yaitu Dock A, Dock B dan Dock C penunjukan Ka Dock berdasarkan pengajuan Dansathar 15 dan ditetapkan dengan Skep Kasau. e. Kasubsilambangja. Kasubsilambangja merupakan pembantu Kasihar yang bertanggung jawab terhadap keselamatan terbang dan kerja, dijabat perwira pertama berpangkat kapten dan sudah mengikuti kursus lambangja. penunjukan Kasubsilambangja berdasarkan pengajuan Dansathar 15 dan ditetapkan dengan Skep Kasau. f. Kasubsikal. Kasubsikal merupakan pembantu Kasihar yang bertanggung jawab terhadap perencanaan kebutuhan materiil/pembekalan guna mendukung pemeliharaan dan perbaikan pesawat terbang, dijabat perwira pertama berpangkat kapten dan sudah mengikuti kursus pembekalan, penunjukan Kasubsikal berdasarkan pengajuan Dansathar 15 dan ditetapkan dengan Skep Kasau. 14

15 g. Kasubsikualhar. Kasubsikualhar merupakan pembantu Kasiins yang bertugas melaksanakan audit kualitas hasil pemeliharaan.dan perbaikan pesawat terbang, dijabat perwira pertama berpangkat kapten dan sudah memiliki kualifikasi suspaenghar dan suspalaikud, penunjukan Kasubsikualhar berdasarkan pengajuan Dansathar 15 dan ditetapkan dengan Skep Kasau. h. Ka Unit/ Ka Urdal. Kaunit/Kaurdal merupakan pelaksana lapangan yang bertanggung jawab kepada Kadock, berpangkat letda/lettu yang sudah mengikuti kursus kecabangan. Penunjukan Kaunit/Kaurdal berdasarkan pengajuan Dansathar 15 dan ditetapkan Skep Kasau. i. Ka TB. Ka TB merupakan pembantu Kasihar yang bertanggung jawab terhadap kegiatan pembekalan untuk mendukung kegiatan pemeliharaan, dijabat perwira pertama berpangkat letda dan sudah mengikuti kursus pembekalan, penunjukan Kasubsikal berdasarkan pengajuan Dansathar 15 dan ditetapkan dengan Skep Kasau. j. Inspektor Pemeliharaan. Inspektor Pemeliharaan merupakan perpanjangan dari Kasiins yang bertugas melaksanakan pemeriksaan terhadap proses pekerjaan dan hasil pekerjaan yang dilaksanakan oleh mekanik disetiap unit. Untuk menjadi Inspektor pemeliharaan harus memiliki rasa tanggung jawab memahami pekerjaan yang dilaksanakan, ulet dan teliti dalam melaksanakan pemeriksaan terhadap hasil pemeliharaan, sudah mengikuti kursus inspektor pemeliharaan dengan minimal pangkat sertu atau masa dinas 5 tahun. k. Juru Montir Udara. JMU merupakan sepesialisasi yang sudah mengikuti sekolah juru montir udara, memiliki pengetahuan dan kemampuan akan sistem pesawat. JMU memiliki sertifikat sebagai operator pesawat yang bertanggung jawab kepada Kasihar Sathar15. g. Mekanik senior. Mekanik senior merupakan mekanik yang sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan pekerjaan 15

16 pemeliharaan selama 15 tahun, dan sudah melaksanaan sekolah kejuruan D2, berpangkat serma, pelda atau peltu yang merupakan motor pelaksanaan pemeliharaan. h. Mekanik junior. Mekanik junior merupakan mekanik yang masih berfungsi sebagai mekanik pembantu, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang masih dini. Mekanik junior berasal dari penerimaan personil yang baru dan baru selesai melaksanakan pendidikan kejuruan atau setingkat kursus D1. BAB V FASILITAS PEMELIHARAAN SATHAR 15 16

17 23. Fasilitas Pemeliharaan alutsista udara merupakan suatu perangkat pemeliharaan untuk melaksanakan pemeliharaan alutssta dalam rangka mendukung kesiapan alutsista. Untuk terselenggaranya kegiatan pemeliharaan dengan aman dan lancer maka perlu dijaga tingkat keandalan dari fasilitas pemeliharaan alutsista udara. Penyelenggaraan kelaikan kemampuan fasilitas pemeliharaan alutsista udara sesuai dengan Bujuknis TNI AU Nomor skep/198/x/1999 tanggal 12 Oktober 1999 tentang Penyelenggaraan Kelaikan Kemampuan Fasilitas Pemeliharaan Alutsista Udara. Fasilitas Pemeliharaan yang dimiliki Sathar 15 antara lain: a. Hanggar. Hanggar Sathar 15 terdiri dari Hanggar sebelah timur dan Hanggar sebelah barat, berkapasitas dapat menampung 4 pesawat Hercules pada posisi on Jack. Hanggar dilengkapi dengan penerangan untuk pelaksanaan pekerjaan pada malam hari, memiliki Fixed Crane dan Compressor Stasionery serta dukungan listrik 3 hase dan 1 phase. b. Apron. Apron Sathar 15 terletak di posisi sebelah Utara Hanggar langsung berdekatan dengan Taxy Way, sehingga mempermudahkan apabila pesawat yang datang ke Sathar 15 untuk di Parkir. Parking di Apron Sathar 15 dapat menampung sebanyak 2 pesawat C-130 Hercules dan dilengkapi dengan untuk safety. c. Run Up Area. Run up area merupakan area yang digunakan untuk pelaksanaan pengujian pesawat terbang (Run Up), Run Up Area dilengkapi dengan Wind Deflector yang berfungsi untuk mengarahkan wash dari putaran engine agar mengarah ketempat yang aman. 17

18 d. Washing Area. Washing area merupakan area tempat pelaksanaan pencucian dan Paint Striping pesawat terbang, yang dilaksanakan dalam proses pemeliharaan, tempat ini dilengkapi dengan sumur static yang berfungsi u n t u k menyaring chemical bekas pencucian pesawat yang membahayakan lingkungan. Untuk kelancaran pelaksanaan Pencucian dan Paint Striping, Washing Area juga dilengkapi dengan Jet pump sebagi pendorong air dari bak penampungan ke Washing Area. e. Gudang TB. Gudang TB Sathar 15 digunakan utuk tempat penyimpanan komponen, expendable item, chemical dan Raw materiil serta Consumat untuk mendukung pelaksanaan pemeliharaan. Penyimpanan komponen dan kebutuhan tersebut secara spesifik dibedakan dikelompokkan berdasarkan jenis barang/komponen sesuai dengan aturan pergudangan. Gudang TB Sathar 15 terbagi menjadi 5 Gudang antara lain : 1) Gudang 01 yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan expandable item. 2) Gudang 02 berfungsi sebagai gudang penyimpanan komponen. 3) Gudang 03 berfungsi sebagai penyimpanan sementara komponen yang dilepas dari pesawat. 4) Gudang 04 berfungsi sebagai penyimpanan Chemical Product yang digunakan untuk mendukung pemeliharaan. 5) Gudang 05 berfungsi sebagai penyimpanan Consmat dan Rawmat yang digunakan untuk mendukung pemeliharaan. 18

19 f. Hanggar GSE. Hanggar GSE terpisah dari hangar pesawat, terletak disebelah barat hangar pesawat yang digunakan sebagai tempat penyimpanan fasilitas Ground Support Equipment baik GSE Power maupun Non Power, Kepala Unit GSE bertanggung jawab atas pengaturan peralatan GSE tersebut, termasuk perbaikan ringan apabila ada kerusakan. g. Ruang Compressor dan Converter. Ruang compressor dan Converter digunakan sebagai ruang control untuk pengoperasian compressor utama dan converter untuk mendukung kegiatan pemeliharaan pesawat Personel yang bertanggung jawab untuk pengoperasian Compressor dan Converter adalah personel yang memiliki spesialisasi khusus (personel GSE). h. Ruang Tools Crip 1 dan 2. Ruangan tools crip 1 dan tools crip 2 merupakan tempat penyimpanan general tools dan special tools yang digunakan untuk mendukung pemeliharaan pesawat terbang di Sathar 15. Proses pelaksanaan peminjaman dan pengembalian tools yang digunakan sesuai dengan aturan intern Sathar 15, dilaksanakan oleh perwira yang ditunjuk yang bertanggung jawab terhadap kelancaran proses pelaksanaan dan ditetapkan oleh komandan Sathar 15. Melalui surat perintah intern Sathar 15. i. Ruang Control Panel Listrik. Ruangan panel listrik merupakan ruangan khusus yang digunakan sebagai pusat control panel listrik Sathar 15. Pengunaan listrik untuk penerangan didalam hangar maupun listrik untuk mendukung pemeliharaan yang digunakan penerangan dan elektrik yang digunakan sebagai fasilitas pendukung hangggar dan juga pelaksanaan pemeliharaan pesawat. 19

20 j. Ruang Control Water Pump. Ruangan ini merupakan ruangan yang digunakan untuk penempatan fasilitas pompa air utama yang digunakan sebagai fasilitas pendukung proses kegiatan pemeliharaan pesawat dimana tempat ini juga dilengkapi dengan sumur artesis yang digunakan untuk menampung cadangan air yang berkapasitas besar sehingga dapat mencukupi kebutuhan seluruh aktifitas kegiatan di hangggar maupun perkantoran. k. Perkantoran. Terdiri dari Ruang Komandan Sathar 15, Ruang Perwira, Ruang TUT, Ruang briefing dan Ruang Perpustakaan. Ruangan-ruangan ini merupakan pusat dari lokasi perencanaan, pengerjaan dan kegiatan pemeliharaan. Tempat ini merupakan tempat kerja dari Perwira Pemeliharaan, baik Komandan Pemeliharaan sampai dengan bagian terkecil yaitu kepala unit disetiap team. Setiap pesawat yang masuk pemeliharaan diberi tanggung jawab kepada perwira lapangan (Ka Dock), yang bertanggung jawab terhadap penyelesaian pemeliharaan pesawat dari mulai penerimaan pesawat sampai dengan pesawat dikirim kembali kepada Skadron Udara. Semua kegiatan perencanaan pekerjaan dikoordinasikan di tempat ini. BAB VI 20

21 MANAJEMEN PEMELIHARAAN PESAWAT DI SATHAR Pelaksanaan pemeliharaan pesawat terbang C-130 berdasarkan PTU 83 Revisi ke XV pada tanggal 29 Desember 2006, pelaksanaan pemeliharaan SIP dilaksanakan setiap 3600 jam terbang atau 6 tahun mana yang tercapai lebih dahulu. Selain pelaksanaan pemeliharaan SIP yang dikerjakan secara rutin, karena kebutuhan operasional Sathar 15 juga melaksanakan Bantuan Pemeliharaan Lapangan (Banharlap). 25. Pesawat C-130 Hercules melaksanakan Pemeliharaan SIP. Berdasarkan Program Kerja yang telah ditetapkan, kasihar Skadron akan berkoordinasi dengan Komandan Sathar 15 tentang pengiriman pesawat ke Sathar 15 untuk melaksanakan pemeliharaan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Prosedur penerimaan pesawat sampai dengan pesawat delivery kembali skadron: a. Serah terima pesawat dari pejabat yang menyerahkan kepada Pejabat yang menerima (bentuk 14100), yang dilengkapi dengan Daftar inventaris Pesawat terbang (bentuk 14101), Catatan Kerusakan Pengantian Komponen (Bentuk 1402), Keterangan Lulusan Pesawat Terbang (Bentuk 1403), Riwayat Komponen (21500), Riwayat Pesawat (Bentuk 21100) dan Riwayat M o t o r / Propeller (Bentuk 21200). b. Pembuatan Laporan Pemeriksaan Awal/LPA (Bentuk 10002) oleh Ka TUT sebagai dasar awal untuk proses pemeliharaan lebih lanjut yang dianjurkan kepada staf rendalhar sebagai dasar pembuatan PKU (Perintah Kerja Utama). c. Menerima Perintah Kerja Utama (Bentuk 12000) dari Staf Rendalhar Depohar 10 sebagai dasar pelaksanaan pemeliharaan. 21

22 d. Berdasarkan Perintah Kerja Utama dari Depohar 10 dikeluarkan Kartu kerja( Bentuk 25001) dan Lembar Pekerjaan (Bentuk 25002) serta STK/ITU Service Buletin (SB). e. Hasil pemeriksaan yang dilaksanakan berdasarkan kartu kerja dan STK/ ITU apabila diperlukan tambahan pekerjaan dikeluarkan WO/MDR (Bentuk 10006/1001A Depohar 10). f. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan membutuhkan bantuan dari satuan diluar Sathar 15 (masih Depohar 10), dan dalam pelaksanaan pekerjaan batuan tersebut tidak membutuhkan pemakaian materiil dapat mengunakan Pesanan Pekerjaan Bantuan (PPB) Bentuk g. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan membutuhkan bantuan dari satuan diluar Sathar 15 (dalam lingkungan Depohar 10), dan dalam pelaksanaan pekerjaan batuan tersebut membutuhkan pemakaian materiil, dengan bentuk pembekalan dari TB Sathar 15 dapat dijadikan dasar pembuatan Permintaan Pesanan Pekerjaan (PPP) yang di keluarkan oleh PPP (P3) Depohar 10. h. Setelah semua Kartu Kerja/WO/MDR selesai dikerjakan oleh mekanik tiap-tiap unit, Inspektor pemeliharaan melaksanakan pemeriksaan hasil pelaksanaan pekerjaan. i. Selesai pemeriksaan oleh Inspektor pemeliharaan dan disetujui, akan dilaksanakan double Check oleh Inspektor kelaikan. j. Setelah semua persyaratan untuk pelaksanaan test flight selesai, dibuat Nota Dinas permintaan dukungan crew dari skadron melaksanakan test flight. k. Setelah melaksanakan Test flight dinyatakan Serviceable ''S'' diajukan Nota Dinas permintaan verifikasi dari Dislambangjaau, setelah pesawat lulus verifikasi akan 22

23 dibuatkan sertifikat kelaikan pesawat yang merupakan pengesahan kembalinya pesawat ke Skadron. 26. Pesawat C-130 Hercules Melaksanakan Bantuan Pemeliharaan Lapangan (Banharlap). Berdasarkan Program Kerja yang telah d i t e t a p k a n, Kadishar Skadron udara akan berkoordinasi dengan Komandan Sathar 15 tentang pengiriman pesawat ke Sathar 15 untuk mendapatkan Bantuan pemeliharaan Lapangan. Berdasarkan tempat pelaksanaan bantuan pemeliharaan lapangan dapat dipisahkan menjadi dua yaitu Bantuan pemeliharaan lapangan di Sathar 15 dan Bantuan Pemeliharaan Lapangan di luar Sathar 15. a. Banharlap dilaksanakan di Sathar 15. Pelaksanaan Banharlap yang dilaksanakan disathar 15 dimulai dengan pesawat datang ke Sathar 15 setelah koordinasi dari pihak skadron udara dengan Dansathar 15, Prosedur penerimaan pesawat sampai dengan pesawat delivery kembali Skadron Udara : 1) Serah terima pesawat dari pejabat yang menyerahkan kepada Pejabat yang menerima (bentuk 14100), yang dilengkapi dengan Daftar inventaris Pesawat terbang (bentuk 14101), Catatan Keruskan Pengantian Komponen (Bentuk 1402), Keterangan Lulusan Pesawat Terbang (Bentuk 1403), Riwayat Komponen (21500), Riwayat Pesawat (Bentuk 21100) dan Riwayat Motor/Propeller (Bentuk 21200). 2) Pembuatan Laporan Pemeriksaan Awal/LPA (Bentuk 10002) oleh Ka TUT sebagai dasar awal untuk proses pemeliharaan lebih lanjut sampai dengan SIP. 3) Menerima Perintah Kerja Utama (Bentuk 12000) dari Staf Rendalhar Depohar 10 sebagai dasar pelaksanaan pemeliharaan. 23

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTRIAN PERTAHANAN. Pokok. Pokok. Materiil. Pembinaan. Pemeliharaan. Pencabutan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTRIAN PERTAHANAN. Pokok. Pokok. Materiil. Pembinaan. Pemeliharaan. Pencabutan. No.385, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTRIAN PERTAHANAN. Pokok. Pokok. Materiil. Pembinaan. Pemeliharaan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG POKOK-POKOK PEMBINAAN

Lebih terperinci

MEMPERTAHANKAN OPERATIONAL READINESS FLIGHT SIMULATOR TNI AU :

MEMPERTAHANKAN OPERATIONAL READINESS FLIGHT SIMULATOR TNI AU : MEMPERTAHANKAN OPERATIONAL READINESS FLIGHT SIMULATOR TNI AU : SUATU IDE PEMBENTUKAN ORGANISASI PEMELIHARAAN FLIGHT SIMULATOR TNI AU Oleh : Mayor Lek Ir. Arwin D.W. Sumari, FSI, FSME, VDBM, SA 1 Dalam

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1225, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTAHANAN. Komoditi Militer. Standardisasi. Penyelenggaraan. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN

Lebih terperinci

TERBATAS. 8. Kemampuan Tempur TNI AU pada dasarnya sangat bergantung pada Kesiapan Tempur yang terdiri dari elemen-elemen :

TERBATAS. 8. Kemampuan Tempur TNI AU pada dasarnya sangat bergantung pada Kesiapan Tempur yang terdiri dari elemen-elemen : 9 Kondisi Kemampuan Tempur TNI AU Saat Ini 8. Kemampuan Tempur TNI AU pada dasarnya sangat bergantung pada Kesiapan Tempur yang terdiri dari elemen-elemen : a. Personil (Man). Para personil TNI AU yang

Lebih terperinci

PROSEDUR PENERBITAN SERTIFIKAT PENDAFTARAN DAN SERTIFIKAT KELAIKAN UDARA PERTAMA DI INDONESIA

PROSEDUR PENERBITAN SERTIFIKAT PENDAFTARAN DAN SERTIFIKAT KELAIKAN UDARA PERTAMA DI INDONESIA PROSEDUR PENERBITAN SERTIFIKAT PENDAFTARAN DAN SERTIFIKAT KELAIKAN UDARA PERTAMA DI INDONESIA A. Dasar hukum : 1. UU No. 15 Tahun 1992, tentang Penerbangan. 2. PP No. 3 Tahun 2001, tentang Keselamatan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 551/MPP/Kep/10/1999 TENTANG BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR

KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 551/MPP/Kep/10/1999 TENTANG BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN NOMOR : 551/MPP/Kep/10/1999 TENTANG BENGKEL UMUM KENDARAAN BERMOTOR KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Struktur Organisasi Perusahaan. Struktur organisasi perusahaan merupakan suatu bagan yang

Struktur Organisasi Perusahaan. Struktur organisasi perusahaan merupakan suatu bagan yang Struktur Organisasi Perusahaan. Struktur organisasi perusahaan merupakan suatu bagan yang memperlihatkan adanya suatu hubungan kerja diantara setiap bagian, serta menggambarkan hubungan tanggung jawab

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI ORGANISASI Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Denma Mabes TNI

BAB II DESKRIPSI ORGANISASI Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Denma Mabes TNI BAB II DESKRIPSI ORGANISASI 2.1. Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Denma Mabes TNI Sesuai surat keputusan nomor Skep / 89 / IX / 2001 tanggal 10 September 2001 tentang pemberlakuan buku petunjuk teknis ( Bujuknis)

Lebih terperinci

PEDOMAN SURAT - MENYURAT

PEDOMAN SURAT - MENYURAT PEDOMAN SURAT - MENYURAT DANA PENSIUN PERHUTANI 2007 DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN... 1 II. MAKSUD DAN TUJUAN... 2 III. RUANG LINGKUP... 3 3.1 Pengolongan Surat..... 3 3.2 Teknik Pembuatan dan Penyusunan Surat...

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA MENTERI PERHUBUNGAN

REPUBLIK INDONESIA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA MENTERI PERHUBUNGAN PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL (P.K.P.S.) BAGIAN 143 SERTIFIKASI DAN PERSYARATAN PENGOPERASIAN BAGI PENYELENGGARA PELATIHAN PELAYANAN LALU LINTAS PENERBANGAN

Lebih terperinci

PROSEDUR TETAP MANAJEMEN KESELAMATAN TERBANG DAN KERJA DI SATHAR 15

PROSEDUR TETAP MANAJEMEN KESELAMATAN TERBANG DAN KERJA DI SATHAR 15 DEPO PEMELIHARAAN 10 SATUAN PEMELIHARAAN 15 PROSEDUR TETAP MANAJEMEN KESELAMATAN TERBANG DAN KERJA DI SATHAR 15 PENDAHULUAN 1. Sathar 15 Depohar 10 sebagai satuan pelaksana pemeliharaan dibawah Komando

Lebih terperinci

e. Merencanakan / Design Uninterruptible Power Supply (UPS) dan Solar f. Mengevaluasi pekerjaan / sistem Uninterruptible Power Supply (UPS)

e. Merencanakan / Design Uninterruptible Power Supply (UPS) dan Solar f. Mengevaluasi pekerjaan / sistem Uninterruptible Power Supply (UPS) e. Merencanakan / Design Uninterruptible Power Supply (UPS) dan Solar Cell. f. Mengevaluasi pekerjaan / sistem Uninterruptible Power Supply (UPS) dan Solar Cell. 4. STANDAR KOMPETENSI PERSONEL BIDANG MEKANIKAL

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) BAG OPS POLRES PARIAMAN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) BAG OPS POLRES PARIAMAN 1 KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH SUMATERA BARAT RESOR PARIAMAN Jalan Imam Bonjol 37 Pariaman 25519 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) BAG OPS POLRES PARIAMAN Pariaman, 02 Januari 2012 2 KEPOLISIAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.55, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUT. Pesawat Terbang. Microlight Trike. Pengoperasian. Perawatan. Pemeliharaan. Pedoman. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.5/Menhut-II/2014

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER. 17/MEN/VII/2007

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER. 17/MEN/VII/2007 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER. 17/MEN/VII/2007 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN PENDAFTARAN LEMBAGA PELATIHAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 30 berbunyi

BAB I PENGANTAR. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 30 berbunyi 1 BAB I PENGANTAR 1.1. Latar Belakang Masalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 30 berbunyi : Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan

Lebih terperinci

INSTRUKSI DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : INST.03 TAHUN 2011 TENTANG

INSTRUKSI DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : INST.03 TAHUN 2011 TENTANG INSTRUKSI DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : INST.03 TAHUN 2011 TENTANG TINDAK LANJUT HASIL RAPAT KOORDINASI TEKNIS DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA TAHUN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2001 TENTANG KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2001 TENTANG KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2001 TENTANG KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP. 570 TAHUN 2011 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP. 570 TAHUN 2011 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP. 570 TAHUN 2011 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER. 17/MEN/VII/2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER. 17/MEN/VII/2007 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER. 17/MEN/VII/2007 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN PENDAFTARAN LEMBAGA

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK 7 TAHUN 2015 TENTANG INSPEKTUR PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PADA KECELAKAAN PESAWAT UDARA BADAN SAR NASIONAL

PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK 7 TAHUN 2015 TENTANG INSPEKTUR PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PADA KECELAKAAN PESAWAT UDARA BADAN SAR NASIONAL KEPALA BADAN SAR NASIONAL PERATURAN KEPALA BADAN SAR NASIONAL NOMOR PK 7 TAHUN 2015 TENTANG INSPEKTUR PENCARIAN DAN PERTOLONGAN PADA KECELAKAAN PESAWAT UDARA BADAN SAR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 23 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 23 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 23 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PERATURAN KESELAMATAN PENERBANGAN SIPIL BAGIAN

Lebih terperinci

PENINGKATAN FUNGSI PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN

PENINGKATAN FUNGSI PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PM 22 TAHUN 2015 TENTANG PENINGKATAN FUNGSI PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN OLEH KANTOR OTORITAS BANDAR UDARA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM. Administrasi. PNS. Pemberhentian. Pedoman.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM. Administrasi. PNS. Pemberhentian. Pedoman. No.166, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM. Administrasi. PNS. Pemberhentian. Pedoman. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-26.KP.10.09

Lebih terperinci

BATAN KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL,

BATAN KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL, PERATURAN KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL NOMOR : 196/KA/XI/2011 TENTANG PEDOMAN KUALIFIKASI DAN SERTIFIKASI PETUGAS DAN SUPERVISOR IRADIATOR (STANDAR BATAN BIDANG APLIKASI TEKNOLOGI ISOTOP DAN RADIASI)

Lebih terperinci

ORGANISASI, MUTASI, TATA USAHA, DAN TATA KERJA PENETAPAN ANGKA KREDIT BAGI PEJABAT FUNGSIONAL AUDITOR DI LINGKUNGAN BPKP

ORGANISASI, MUTASI, TATA USAHA, DAN TATA KERJA PENETAPAN ANGKA KREDIT BAGI PEJABAT FUNGSIONAL AUDITOR DI LINGKUNGAN BPKP ORGANISASI, MUTASI, TATA USAHA, DAN TATA KERJA PENETAPAN ANGKA KREDIT BAGI PEJABAT FUNGSIONAL AUDITOR DI LINGKUNGAN BPKP SURAT EDARAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR : SE-060400-22/K/1999

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA SEKRETARIAT JENDERAL BADAN PENGAWAS PEMILIHAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 86, 2012 KEMENTERIAN PERTAHANAN. Kebijakan. Sistem Informasi. Pertahanan Negara. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG KEBIJAKAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa transportasi mempunyai peranan

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 229 /MEN/2003 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN PENDAFTARAN LEMBAGA PELATIHAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa transportasi mempunyai peranan penting dalam

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN INVENTORI PADA PERUSAHAAN LAYANAN JASABOGA PESAWAT UDARA

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN INVENTORI PADA PERUSAHAAN LAYANAN JASABOGA PESAWAT UDARA SISTEM INFORMASI MANAJEMEN INVENTORI PADA PERUSAHAAN LAYANAN JASABOGA PESAWAT UDARA Oleh: Staf Pengajar Program Studi Teknik Elektro, Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran Bali Intisari Sistem Informasi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2001 TENTANG KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2001 TENTANG KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2001 TENTANG KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2010 TENTANG ADMINISTRASI PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

DESKRIPSI KERJA DENGAN ATASAN KABAG UMUM DAN SDM

DESKRIPSI KERJA DENGAN ATASAN KABAG UMUM DAN SDM DESKRIPSI KERJA DENGAN ATASAN KABAG UMUM DAN 1) DESKRIPSI KERJA KASUBAG PERSONALIA 2) DESKRIPSI KERJA KASUBAG PELAYANAN UMUM DAN KERUMAHTANGGAAN 3) DESKRIPSI KERJA KASUBAG ASET DAN TRANSPORTASI DESKRIPSI

Lebih terperinci

DOKUMENTASI

DOKUMENTASI DOKUMENTASI PENDAHULUAN Dokumentasi adalah suatu bukti yang dapat dipercaya pada penerapan/pemenuhan CPOTB. Mutu yang direncanakan adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi keluhan yang terkait dengan

Lebih terperinci

PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER- 022 /A/JA/03/2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGAWASAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER- 022 /A/JA/03/2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGAWASAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA 1 PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER- 022 /A/JA/03/2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGAWASAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. Bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 13 Mei 2015

KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 13 Mei 2015 KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 13 Mei 2015 Topik #1 Manajemen Guru Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2015-2019 secara eksplisit menyebutkan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2003 TENTANG ORGANISASI PERWAKILAN REPUBLIK INDONESIA DI LUAR NEGERI

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2003 TENTANG ORGANISASI PERWAKILAN REPUBLIK INDONESIA DI LUAR NEGERI KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2003 TENTANG ORGANISASI PERWAKILAN REPUBLIK INDONESIA DI LUAR NEGERI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa perubahan dan perkembangan yang

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2003 TENTANG ORGANISASI PERWAKILAN REPUBLIK INDONESIA DI LUAR NEGERI

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2003 TENTANG ORGANISASI PERWAKILAN REPUBLIK INDONESIA DI LUAR NEGERI KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2003 TENTANG ORGANISASI PERWAKILAN REPUBLIK INDONESIA DI LUAR NEGERI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perubahan dan perkembangan yang

Lebih terperinci

BUKU PETUNJUK PELAKSANAAN PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA

BUKU PETUNJUK PELAKSANAAN PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA PENGURUS PUSAT BUKU PETUNJUK PELAKSANAAN PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA CETAKAN PERTAMA TAHUN 2015 DISAHKAN DENGAN SURAT KEPUTUSAN KETUA UMUM PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NO. 17 TH 2007 PERATURAN

PERATURAN MENTERI NO. 17 TH 2007 PERATURAN PERATURAN MENTERI NO. 17 TH 2007 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-17/MEN/VI/2007 TENTANG TATA CARA PERIZINAN DAN PENDAFTARAN LEMBAGA PELATIHAN KERJA MENTERI

Lebih terperinci

Gubernur Jawa Barat GUBERNUR JAWA BARAT,

Gubernur Jawa Barat GUBERNUR JAWA BARAT, Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG TUGAS POKOK, FUNGSI, RINCIAN TUGAS UNIT DAN TATA KERJA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA BARAT GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

URAIAN TUGAS/JABATAN (JOB DESCRIPTION) DAN PROFIL TUGAS/JABATAN (JOB PROFILE)

URAIAN TUGAS/JABATAN (JOB DESCRIPTION) DAN PROFIL TUGAS/JABATAN (JOB PROFILE) URAIAN TUGAS/JABATAN (JOB DESCRIPTION) DAN PROFIL TUGAS/JABATAN (JOB PROFILE) Nama Jabatan Analis Analisa kebijakan Melaksanakan fungsi analisis kebijakan dan fungsi penyusunan rancangan kebijakan. 1)

Lebih terperinci

PERATURAN BADAN SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO NO: 1 / 1 / PBSMR / 2007 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN UJIAN SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO

PERATURAN BADAN SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO NO: 1 / 1 / PBSMR / 2007 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN UJIAN SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO PERATURAN BADAN SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO NO: 1 / 1 / PBSMR / 2007 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN UJIAN SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO DEWAN BADAN SERTIFIKASI MANAJEMEN RISIKO, Menimbang : a. bahwa pelaksanaan

Lebih terperinci

SOP PENGELOLAAN SURAT MASUK DAN BERKAS PERKARA

SOP PENGELOLAAN SURAT MASUK DAN BERKAS PERKARA Telp./Fax. : (0388) 304-3042 mor SOP : 00 Tanggal Pembuatan : 0 Mei 203 Tanggal Revisi : 0 Pebruari 204 Tanggal Efektif : 0 Maret 204 SOP PENGELOLAAN SURAT MASUK DAN BERKAS PERKARA. Undang-Undang mor 49

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGAMATAN DAN PENGELOLAAN DATA METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP 503 / A / J.A / 12 / 2000 TENTANG

JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP 503 / A / J.A / 12 / 2000 TENTANG JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP 503 / A / J.A / 12 / 2000 TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN PENYELENGGARAAN PENGAWASAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA NOMOR : PER. 05/MEN/1996 TENTANG SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA Menimbang Mengingat a. Bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pemilihan umum

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGAMATAN DAN PENGELOLAAN DATA METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.572,2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN KENDALI MUTU AUDIT APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH KEMENTERIAN PERTAHANAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 18 TAHUN 1995 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 18 TAHUN 1995 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG NOMOR 18 TAHUN 1995 TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BADUNG DENGAN

Lebih terperinci

d. penyiapan bahan sertifikasi kecakapan personil serta penyiapan sertifikasi peralatan informasi dan peralatan pengamatan bandar udara.

d. penyiapan bahan sertifikasi kecakapan personil serta penyiapan sertifikasi peralatan informasi dan peralatan pengamatan bandar udara. b. pemberian bimbingan teknis di bidang peralatan informasi dan komunikasi bandar udara dan peralatan pengamanan bandar udara; c. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang peralatan informasi dan komunikasi

Lebih terperinci

TABEL 1 DAFTAR PERTANYAAN EFEKTIVITAS AUDIT INTERNAL

TABEL 1 DAFTAR PERTANYAAN EFEKTIVITAS AUDIT INTERNAL NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 TABEL 1 DAFTAR EFEKTIVITAS AUDIT INTERNAL Indepedensi Auditor Internal Apakah auditor internal yang ada pada perusahaan merupakan fungsi yang terpisah dari fungsi operasional

Lebih terperinci

J udul Dokumen : R IWAYAT REVISI MANUAL SISTEM MANAJEMEN K3 MANUAL K3 M - SPS - P2K3. Perubahan Dokumen : Revisi ke Tanggal Halaman Perubahan

J udul Dokumen : R IWAYAT REVISI MANUAL SISTEM MANAJEMEN K3 MANUAL K3 M - SPS - P2K3. Perubahan Dokumen : Revisi ke Tanggal Halaman Perubahan Kode Dokumentasi : M SPS SMK3 Halaman : 1 dari 2 J udul Dokumen : M - SPS - P2K3 Dokumen ini adalah properti dari PT SENTRA PRIMA SERVICES Tgl Efektif : 09 Februari 2015 Dibuat Oleh, Disetujui Oleh, Andhi

Lebih terperinci

KISI UJI KOMPETENSI 2013 PROGRAM STUDI KEAHLIAN TEKNOLOGI PESAWAT UDARA

KISI UJI KOMPETENSI 2013 PROGRAM STUDI KEAHLIAN TEKNOLOGI PESAWAT UDARA Keahlian: -Air Frame dan Power Plant -Pemesinan -Konstuksi Badan -Konstruksi rangka Kompetensi -Elektronika -Pemeliharaan dan Perbaikan Instrumen Elektronika Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PROSES SERTIFIKASI

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PROSES SERTIFIKASI 1/20 DIBUAT OLEH KASUBBAG SERTIFIKASI DISAHKAN OLEH KA LSP TITA MEITIA, S.Sos., M.Pd. AKBP NRP. 61050330 Drs. SUROTO, M.Si. KOMBES POL. NRP.65040678 1. Tujuan Untuk memastikan seluruh kegiatan proses sertifikasi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

Lebih terperinci

SOP PENGELOLAAN SURAT MASUK

SOP PENGELOLAAN SURAT MASUK MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA PENGADILAN AGAMA AMBON KLAS I.A Jalan. KH.Ahmad Dahlan Wara Air Kuning Website www.pa ambon Email.paambon42@yahoo.co.id Nomor SOP : 001 Tanggal Pembuatan : 02 Januari

Lebih terperinci

PERSONALIA

PERSONALIA PERSONALIA 1. Persyaratan Umum Jumlah dan Pengetahuan: Memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sesuai dengan tugasnya. Mempunyai sikap dan kesadaran yang tinggi untuk melaksanakan Cara Pembuatan

Lebih terperinci

Pengoperasian Sistem Pesawat Tanpa Awak di Wilayah Ruang Udara Indonesia

Pengoperasian Sistem Pesawat Tanpa Awak di Wilayah Ruang Udara Indonesia Pengoperasian Sistem Pesawat Tanpa Awak di Wilayah Ruang Udara Indonesia Tujuan PM 90 Tahun 2015 Peningkatan keselamatan penerbangan terkait pengoperasian pesawat udara tanpa awak di ruang udara yang di

Lebih terperinci

mengenai kewenangan Inspektur Navigasi Penerbangan dalam melaksanakan pengawasan; bahwa dalam melaksanaan pengawasan sebagaimana

mengenai kewenangan Inspektur Navigasi Penerbangan dalam melaksanakan pengawasan; bahwa dalam melaksanaan pengawasan sebagaimana KEMENTERIAN PERHUBUNGAN nirf.ktorat JF.NUERAL PERHUBUNGAN UDARA PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA NOMOR : KP 429 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PENGAWASAN INSPEKTUR NAVIGASI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN PESAWAT TEMPUR IF-X

PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN PESAWAT TEMPUR IF-X Final Draft Menunggu Paraf KEMENTERIAN PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN PESAWAT TEMPUR IF-X DENGAN

Lebih terperinci

LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH

LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH PROSEDUR IJIN KERJA No. Dokumen : PT-KITSBS-19 No. Revisi : 00 Tanggal : April Halaman : i dari iv LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH No Nama Jabatan Tanda Tangan 1. RM. Yasin Effendi PLT DM ADM Umum

Lebih terperinci

Apabila ada tanggapan terhadap draft ini mohon dikirimkan ke:

Apabila ada tanggapan terhadap draft ini mohon dikirimkan ke: Apabila ada tanggapan terhadap draft ini mohon dikirimkan ke: puu.sdbh.minerba@gmail.com MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR...

Lebih terperinci

WALIKOTA MADIUN PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 38 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

WALIKOTA MADIUN PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 38 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA WALIKOTA MADIUN PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 38 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA WALIKOTA MADIUN, Menimbang : a. bahwa sebagai tindak lanjut

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 04-P/Ka-BAPETEN/I-03 TENTANG PEDOMAN PELATIHAN OPERATOR DAN SUPERVISOR REAKTOR NUKLIR

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 04-P/Ka-BAPETEN/I-03 TENTANG PEDOMAN PELATIHAN OPERATOR DAN SUPERVISOR REAKTOR NUKLIR KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 04-P/Ka-BAPETEN/I-03 TENTANG PEDOMAN PELATIHAN OPERATOR DAN SUPERVISOR REAKTOR NUKLIR KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR, Menimbang : bahwa sesuai dengan

Lebih terperinci

PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk

PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk I. Pengertian 1. Aanwijzing adalah pemberian penjelasan kepada Peserta Pengadaan Barang dan Jasa mengenai Rencana Kerja

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 4 TAHUN 2005 TENTANG PEDOMAN ANALISIS JABATAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN DALAM NEGERI DAN PEMERINTAH DAERAH MENTERI DALAM NEGERI,

Lebih terperinci

Adapun bagian dari Accounting Departement yang berperan penting dalam pengadaan makanan di hotel yaitu : 1. Cost Control

Adapun bagian dari Accounting Departement yang berperan penting dalam pengadaan makanan di hotel yaitu : 1. Cost Control Adapun bagian dari Accounting Departement yang berperan penting dalam pengadaan makanan di hotel yaitu : 1. Cost Control Cost sontrol merupakan salah satu bagian dari departemen accounting yang bertanggung

Lebih terperinci

RAHASIA PENGETAHUAN BINTEMAN BAB I PENDAHULUAN

RAHASIA PENGETAHUAN BINTEMAN BAB I PENDAHULUAN KODIKLAT TNI ANGKATAN DARAT PUSAT PENDIDIKAN AJUDAN JENDERAL RAHASIA Lampiran III Keputusan Danpusdikajen Nomor Kep/ / /2010 Tanggal 2010 PENGETAHUAN BINTEMAN BAB I PENDAHULUAN 1. Umum. a. Sumber daya

Lebih terperinci

WALIKOTA MADIUN PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 50 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH WALIKOTA MADIUN,

WALIKOTA MADIUN PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 50 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH WALIKOTA MADIUN, WALIKOTA MADIUN PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 50 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH WALIKOTA MADIUN, Menimbang : a. bahwa sebagai tindak lanjut ketentuan Pasal 37 Peraturan

Lebih terperinci

Ujian Akhir Semester Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan Semester Pendek Oleh: Arrigo Dirgantara

Ujian Akhir Semester Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan Semester Pendek Oleh: Arrigo Dirgantara Ujian Akhir Semester Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan Semester Pendek 2012 Oleh: Arrigo Dirgantara 1106069664 Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Indonesia 2012 Pertanyaan:

Lebih terperinci

BAB VI. KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

BAB VI. KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) BAB VI. KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) 51 Uraian Pendahuluan 1 1. Latar Belakang Setiap pelaksanaan konstruksi fisik bangunan pemerintah yang dilakukan oleh penyedia jasa harus mendapatkan pengawasan secara

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 13 TAHUN 2006 PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 9 TAHUN 2005 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 13 TAHUN 2006 PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 9 TAHUN 2005 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 13 TAHUN 2006 PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 9 TAHUN 2005 TENTANG RETRIBUSI IZIN MENDIRIKAN LEMBAGA PELATIHAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

DESKRIPSI : PROSEDUR PENGELOLAAN SURAT MASUK DAN SURAT KELUAR A. PENERIMAAN DAN PENGELOLAAN SURAT MASUK

DESKRIPSI : PROSEDUR PENGELOLAAN SURAT MASUK DAN SURAT KELUAR A. PENERIMAAN DAN PENGELOLAAN SURAT MASUK DESKRIPSI : PROSEDUR PENGELOLAAN SURAT MASUK DAN SURAT KELUAR A. PENERIMAAN DAN PENGELOLAAN SURAT MASUK B. PENYELESAIAN SURAT MASUK C. PENGARSIPAN SURAT MASUK Setiap surat masuk diterima dan disortir untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan

Lebih terperinci

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG - 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN BANDAR UDARA ABDULRACHMAN SALEH MALANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.2 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.2 LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN 1.2 LATAR BELAKANG Pesawat terbang merupakan moda transportasi yang sudah banyak digunakan orang, persaingan antar maskapai penerbangan pun membuat suasana persaingan bisnis semakin

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA SUKABUMI

PERATURAN WALIKOTA SUKABUMI BERITA DAERAH KOTA SUKABUMI TAHUN 2011 NOMOR 11 PERATURAN WALIKOTA SUKABUMI TANGGAL : 1 AGUSTUS 2011 NOMOR : 11 TAHUN 2011 TENTANG : TATA NASKAH DINAS DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA SUKABUMI Sekretariat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KAB UPATENCI LAC AP NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG IZIN LINGKUNGAN DAN IZIN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2014 TENTANG PENATAAN WILAYAH PERTAHANAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2014 TENTANG PENATAAN WILAYAH PERTAHANAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2014 TENTANG PENATAAN WILAYAH PERTAHANAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PROSEDUR KERJA Tanggal Revisi : 19 April 2011 Pengendalian Dokumen Tanggal Berlaku : 26 April 2011 Kode Dokumen : PK STEKPI PPMA 001/R2

PROSEDUR KERJA Tanggal Revisi : 19 April 2011 Pengendalian Dokumen Tanggal Berlaku : 26 April 2011 Kode Dokumen : PK STEKPI PPMA 001/R2 PROSEDUR KERJA Tanggal Revisi : 19 April 2011 Pengendalian Dokumen Tanggal Berlaku : 26 April 2011 Kode Dokumen : PK STEKPI PPMA 001/R2 HALAMAN PENGESAHAN Dibuat oleh: Diperiksa oleh: Disahkan oleh: Nama

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2014 TENTANG PENATAAN WILAYAH PERTAHANAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2014 TENTANG PENATAAN WILAYAH PERTAHANAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2014 TENTANG PENATAAN WILAYAH PERTAHANAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

SOP Penyediaan Bandwidth

SOP Penyediaan Bandwidth SOP Penyediaan Bandwidth 1. Pimpinan unit kerja mengirimkan surat permohonan pengubahan bandwidth kepada ketua UPT TIK. 2. Ketua UPT TIK mendisposisikan surat tersebut kepada Koordinator Divisi Infastruktur

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN DEKONSENTRASI KEMENTERIAN PARIWISATA

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN DEKONSENTRASI KEMENTERIAN PARIWISATA SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN DEKONSENTRASI KEMENTERIAN PARIWISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PARIWISATA REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.57, 2008 DEPARTEMEN. PERTAHANAN. TNI. Telekomunikasi. Khusus.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.57, 2008 DEPARTEMEN. PERTAHANAN. TNI. Telekomunikasi. Khusus. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.57, 2008 DEPARTEMEN. PERTAHANAN. TNI. Telekomunikasi. Khusus. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI KHUSUS DI LINGKUNGAN

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL HSL RPT TGL 13 JULI 2009 PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN

Lebih terperinci

Terminal kargo bandar udara

Terminal kargo bandar udara Standar Nasional Indonesia Terminal kargo bandar udara ICS 93.120 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...

Lebih terperinci