Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses"

Transkripsi

1 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses PBPSA Decentralized Basic Education 1 Management and Governance Edisi Juli 2011 KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

2

3 i

4 ii Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Kata Pengantar Panduan Penghitungan Biaya Pencapaian Standar Akses (PBPSA) ini berdasarkan peraturan pemerintah yang terbaru termasuk peraturan-peraturan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Dalam Negeri, yaitu: PP 65/2005 tentang Pedoman Penyusunan SPM Permendagri 6/2007 tentang Juknis Peyusunan dan Penerapan SPM Permendagri 79/2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana SPM. Mengikuti permintaan dari Wakil Menteri Pendidikan Nasional panduan ini memaparkan metode melakukan penghitungan biaya multi tahun untuk kabupaten kota untuk memenuhi: (1) Standar Pelayanan Minimum; (2) Sasaran Akses; dan (3) Kebutuhan Operasional Satuan Pendidikan. Panduan ini disertai dua panduan DBE1 terpisah, yaitu: Panduan Penggunaan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Kabupaten/Kota (SIMP-K) serta Penghitungan Biaya Operasi Satuan Pendidikan (BOSP). Dengan adanya panduan ini, diharapkan dapat membantu Dinas Pendidikan dalam melakukan penghitungan biaya untuk kebutuhan di atas, dan juga menjadi masukan pertimbangan dalam pengembangan perencanaan dan keuangan pendidikan.

5 iii Daftar Isi Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii Bab 1 Pengantar... 1 Struktur Panduan... 2 Bab 2 Penghitungan Pemenuhan dan Biaya Pencapaian SPM... 3 Langkah-langkah analisis... 5 Struktur Bab Ini Penghitungan Pemenuhan SPM... 7 PENGHITUNGAN SPM SECARA LANGSUNG... 8 SPM 2 Rombongan Belajar dan Ruang Kelas... 8 SPM 3 Ruang Laboratorium IPA SPM 4 Ruang Guru dan Ruang Kepala Sekolah SPM 5 Ketersediaan Guru Kelas di SD/MI SPM 6 Kecukupan Guru Mata Pelajaran SMP/MTs SPM 7 Kualifikasi Guru SD/MI SPM 8 Kualifikasi Guru SMP/MTs SPM 9 Kualifikasi Guru Mata Pelajaran SMP/MTs SPM 10 Kualifikasi Kepala SD/MI SPM 11 Kualifikasi Kepala SMP/MTs SPM 12 Kualifikasi Pengawas PENGHITUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN VARIABEL PROXY Pemenuhan SPM Pemenuhan SPM Pemenuhan SPM Pemenuhan SPM-15, SPM Pemenuhan SPM Pemenuhan SPM Penghitungan Pemenuhan SPM Alur Pemikiran Penghitungan Biaya Pemenuhan SPM Menggunakan Format Excel untuk Rekapitulasi Penghitungan Biaya Bab 3 Penghitungan Biaya Pencapaian Sasaran Akses Sasaran Akses Penghitungan Biaya Pencapaian Sasaran Akses... 46

6 iv Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses 1. Penghitungan proyeksi pertumbuhan AUS Proyeksi Penambahan Jumlah Siswa Penghitungan Kebutuhan Penambahan Rombongan Belajar Penghitungan Kebutuhan Sarana Prasarana Penghitungan Penambahan Kebutuhan Guru Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Bab 4 Penulisan Hasil PBPSA dan Penyajian Laporan Hasil Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Lampiran-1 Standar Harga Satuan Pemenuhan SPM Lampiran-2 Peralatan Lab IPA SMP/MTs... 62

7 1 Bab 1 Pengantar Dalam beberapa tahun terakhir ini Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan Nasional telah berupaya mencapai dua sasaran kebijakan utama. Pertama, wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yang dicapai dengan memperluas akses pendidikan di tingkat SD/MI dan SMP/MTs dalam bentuk investasi pada infrastruktur sekolah. Keterjangkauan layanan pendidikan oleh anak usia sekolah merupakan salah satu kebijakan utama pendidikan. Sasaran Akses tercantum dalam berbagai dokumen perencanaan seperti RPJMN, RPJMD, ataupun Rencana Strategis Pendidikan. Kedua, pemerataan mutu pendidikan, sebuah kebijakan yang penting untuk menjawab keluhan banyak pihak mengenai ketidakadilan di dalam penyediaan layanan pendidikan, disatu tempat ada anak yang belajar di sekolah dengan bangunan yang megah, dengan jumlah dan kualifikasi guru yang cukup, dan sarana penunjang yang memadai; sementara di lain tempat masih ada anak belajar di sekolah yang reyot, dengan guru tidak memadai baik jumlah maupun kualifikasinya, dan sarana yang hampir tidak ada. Salah satu instrumen kebijakan yang dianggap tepat dalam mendukung sasaran kedua ini adalah dengan memperkenalkan standar-standar di bidang pendidikan yang akan memberikan arahan penyediaan layanan pendidikan. Beberapa standar ini diantaranya adalah Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Biaya Operasional Non Personalia Satuan Pendidikan. Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah standar yang bergerak disusun sebagai sasaran antara di dalam road-map untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan (SNP). Setelah semua sekolah telah dapat memenuhi SPM, maka standar minimal ini akan ditingkatkan secara berkala sampai semua sekolah telah memenuhi SNP. Standar Biaya Operasional Non Personalia Satuan Pendidikan (BOSP) adalah standar yang bertujuan untuk meyakinkan bahwa sekolah memiliki pendanaan yang cukup untuk beroperasi sesuai dengan SNP. Untuk itu penghitungan standar ini dilakukan berdasarkan biaya-biaya operasional tingkat satuan pendidikan yang digariskan oleh SNP. Sasaran - sasaran ini tentu saja hanya dapat dicapai bila ada pendanaan yang cukup. Untuk itu maka manual ini disusun untuk membantu perencanaan pendidikan di kabupaten/kota dalam melakukan estimasi-estimasi biaya tambahan yang diperlukan untuk: Menyelenggarakan Wajardikdas Sembilan Tahun yang memenuhi SPM, Mencukupi kebutuhan operasional sekolah/madrasah Mencapai target nasional yang terkait dengan akses Kata tambahan disini perlu digarisbawahi karena dalam penghitungan ini, kita hanya menghitung tambahan pendanaan yang diperlukan untuk mencapai tiga sasaran di atas bukan total pendanaan yang diperlukan untuk meyelenggarakan pendidikan di sebuah kabupaten/kota. Pendekatan ini diambil untuk menghindari penghitungan yang terlalu kompleks dikarenakan banyaknya komponen anggaran pembiayaan pendidikan dan ditambah

8 2 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses cakupan yang berbeda-beda di setiap kabupaten/kota mengingat tupoksi dari SKPD Pendidikan tidaklah seragam. Struktur Panduan Panduan ini dibagi ke dalam beberapa Bab yang masing-masing mengulas hal yang berbeda, seperti tercantum di bawah ini: Bab 2 difokuskan pada analisis pencapaian penyelenggaraan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun yang memenuhi SPM dan bagaimana melakukan penghitungan biaya pencapaian SPM dengan menggunakan hasil analisis itu Bab 3 penghitungan pencapaian sasaran terkait dengan akses Bab 4 berfokus bagaimana memaparkan hasil penghitungan ini kepada pemangku kepentingan Seperti telah diutarakan sebelumnya, selain panduan ini masih tersedia dua panduan terpisah: (1) Panduan Pengoperasian SIMPK, dan (2) Panduan Penghitungan Biaya Operasional Satuan Pendidikan [BOSP].

9 Bab 2 Penghitungan Pemenuhan dan Biaya Pencapaian SPM 3 Bab 2 Penghitungan Pemenuhan dan Biaya Pencapaian SPM Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 15 tahun 2010 menggariskan 27 butir peraturan yang membentuk standar pelayanan minimal. Butir-butir peraturan ini dapat dibagi menjadi dua yaitu 14 butir yang mengatur kabupaten/kota dan 13 butir yang mengatur satuan pendidikan. Butir-butir SPM ini sendiri memiliki tujuan dan sasaran yang bervariasi, untuk itu dalam menghitung pembiayaannya akan diperlukan pendekatan yang berbeda-beda. Secara garis besar 27 butir ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok: Tabel 1 Pengelompokan Butir-Butir SPM 1 SIMPK SPM Kabupaten/Kota SPM Tingkat Sekolah SPM 1 Lokasi Sekolah SPM 15 Buku Teks SD/MI SPM 2 Rombel dan Ruang Kelas SPM 16 Buku Teks SMP/MTs SPM 3 Laboratorium IPA SPM 17 Alat Peraga IPA SD/MI SPM 4 Ruang Guru dan Kepala SPM 18 Buku Pengayaan dan Referensi SPM 5 Guru SD/MI SPM 19 Jam Kerja Guru SPM 6 Guru SMP/MTs SPM 20 Jam Operasional Sekolah SPM 7 Kualifikasi Guru SD/MI SPM 21 Kualifikasi Guru SD/MI SPM 8 Kualifikasi Guru SMP/MTs SPM 22 Kualifikasi Guru SMP/MTs SPM 9 Kualifikasi Guru Mata Pelajaran SPM 23 Kualifikasi Guru Mata Pelajaran SPM 10 Kualifikasi Kepala SD/MI SPM 24 Kualifikasi Kepala SD/MI SPM 11 Kualifikasi Kepala SMP/MTs SPM 25 Kualifikasi Kepala SMP/MTs SPM 12 Kualifikasi Pengawas Sekolah SPM 26 Kualifikasi Pengawas Sekolah SPM 13 Pengembangan Kurikulum SPM 27 Pengembangan Kurikulum SPM 14 Kunjungan Pengawas 1 SIMPK 2 - BOSP Kelompok 1 SIMPK (SPM 2-18) Di dalam kelompok ini kinerja layanan pendidikan kabupaten/kota akan dihitung melalui data analisis yang dilakukan di tingkat kabupaten/kota. Analisis ini dilakukan dengan bantuan aplikasi SIMPK. SIMPK adalah aplikasi yang dikembangkan oleh DBE1 untuk menggabungkan dua database yaitu PadatiWeb yang merekam data sekolah/madrasah dan SIM-NUPTK yang merekam data pendidik dan tenaga kependidikan. SIMPK akan menghasilkan output berupa pivot table yang dapat digunakan untuk menghitung, menganalisis dan mengolah berbagai indikator-indikator pendidikan. Untuk petunjuk pengoperasian aplikasi ini dapat dibaca dari Panduan Penggunaan SIMPK yang terpisah. Melalui SIMPK dan analisis pada output pivot table, kita juga dapat menghitung kesenjangan kinerja yang harus dipenuhi, alternatif apa yang dapat diambil, dan biaya dari masing-masing alternatif tersebut. Karena SIMP memiliki data untuk setiap sekolah dan

10 4 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses guru, maka analisis yang dimungkinkan sangat luas. Sebagai contoh analisis adalah adanya kemungkinan untuk melihat kemungkinan redistribusi sumber daya dari sekolah melampaui SPM kepada sekolah sekolah yang masih belum memenuhi SPM. Kelompok 2 BOSP (SPM 21-27) SPM yang tercakup pada kelompok dua secara umum terkait dengan kegiatan pendidik dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tupoksinya seperti menyusun KTSP, penyiapan RPP, evaluasi hasil belajar dan pelaporannya. Butir-butir SPM ini pada dasarnya adalah kegiatan operasional di tingkat sekolah/madrasah. Karena tidak adanya pendataan yang cukup rinci dan dapat diandalkan mengenai kegiatan ini, maka penghitungan biaya dalam kelompok ini lebih ditekankan pada penyediaan biaya yang memadai untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan. Untuk itu pemenuhan ketujuh butir SPM ini digabungkan dalam penghitungan Biaya Operasional Non Personalia Satuan Pendidikan (BOSP). Analisa dan penghitungan BOSP akan dijelaskan dalam Panduan Penghitungan Biaya Operasional Sekolah (BOSP) yang terpisah dari panduan ini. Kelompok 3 Lainnya (SPM 1,19, dan 20) Ketiga butir SPM tersisa dikelompokkan terpisah karena ketiga butir ini tidak dapat dihitung bersama dengan dua kelompok sebelumnya. Butir pertama mengenai akses terhadap sekolah dapat dilakukan secara manual dengan melakukan identifikasi adanya daerah khusus dan apakah ada sekolah yang sudah melayaninya. Butir pada dasarnya adalah butir-spm yang berorientasi pada pengawasan di tingkat sekolah dan tidak memiliki implikasi biaya secara langsung. Oleh karena itu kedua butir ini tidak dihitung biaya pemenuhannya. Bab ini akan diberikan penjelasan dari setiap butir SPM yang termasuk dalam kelompok-1 yaitu SPM yang dihitung dengan output dari SIMP-K. Indikator-indikator pencapaian (IP) SPM Butir-butir SPM yang ada sering didefinisikan terlalu luas atau bahkan mencakup lebih dari satu indikator pendidikan. Oleh karena itu, dalam panduan ini SPM diterjemahkan menjadi beberapa indikator pencapaian dan sasarannya sehingga proses penghitungan selanjutnya akan lebih terarah, terukur dan spesifik (lihat Tabel 2 di bawah). Indikator-indikator merupakan operasionalisasi dari definisi tiap-tiap SPM dengan pendalaman dan penyesuaian yang dianggap perlu. Perubahan atau penyesuaian IP, bila dibutuhkan, masih dimungkinkan karena IP dalam panduan ini bukanlah indikator baku atau resmi dikarenakan belum adanya petunjuk pelaksanaan teknis dari Permendiknas 15/2010.

11 Bab 2 Penghitungan Pemenuhann dan Biayaa Pencapaian SPM 5 Langkah-langkah analisis Analisiss penghitungan biaya alur di bawah ini. untuk mencapai SPM sebetulnya dapat digambarkan seperti Gambar 1 Langkah-langkah Analisis Penentuan Standar atau Sasaran Identifikasi Kesenjangan Menyusun Alternatif Kebijakan Estimasi Biaya Memilih Kebijakan 1. Penerjemahan butir SPM menjadi indikator pencapaian yang lebih operasional Butir-butir SPM yang ada sering didefinisikan terlalu luas, atau bahkan mencakup lebih dari satu indikator. Langkah pertama adalah menerjemahkan SPM menjadi beberapa indikator pencapaian, dan sasarannya sehingga proses penghitungan selanjutnyaa akan lebih terarah, terukur dan spesifik. Sebagai contoh, SPM-2 adalah SPM yang paling lebar, karena mencakup tingkat SD/MI dan SMP/MTs, serta meliputi besaran rombongan belajar, ketersediaan ruang kelas, sarana ruang kelas dan juga kelayakan prasarana ruang kelas, sehingga ketika SPM ini dioperasionalkan, SPM ini terbagi menjadi delapan Indikator Pencapaian. 2. Identifikasi kesenjangan Identifikasii ini dilakukan dengan melihat berapa sekolah/madrasah yang sudah memenuhi SPM, dan seberapa jauh selisih antara kinerja sekarang dengan standar yang ada. Setelah kesenjangan dapat dihitung, mulai dipertimbangkan analisis-analisis secara tambahan seperti: perkembangan AUS, ketersediaan guru berkualifikasii umum dan outflow guru. Analisis-analisis tambahan ini, selain memberikan gambaran lebih dalam mengenai kesenjangan, juga akan digunakan dalam proses berikut yaitu penyusunan alternatif kebijakan yang dapat diambil. 3. Menyusun alternatif kebijakan pemenuhan SPM Secara umum, tersedia banyak alternatif untuk memenuhi SPM. Alternatif sangat bervariasi, dari berupa peraturan dan pembatasan seperti rayonisasi, redistribusi guru, sampai dengan penambahan guru, penambahan sekolah. Berdasarkan hasil analisis sebelumnya, kita akan melihat alternatif apa yang memungkinkan untuk digunakann kabupaten/kota dalam memenuhi SPM. 4. Menghitung biaya alternatif kebijakan Untuk memilih kebijakan yang efektif dan efisien, sangatlah penting untuk melihat kebutuhan biaya dari alternatif-alternatif yang mungkinn diambil.

12 6 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Dari sini kita dapat secara kasar menghitung berapa besar volume kegiatan pemenuhan SPM diperlukan untuk masing-masing alternatif dan berapa besar satuan biayanya. 5. Memilih alternatif kebijakan. Setelah melihat alternatif kebijakan dan biayanya, kabupaten/kota dapat menentukan pilihan alternatif kebijakan yang akan diambil. Di beberapa kesempatan akan sangat mungkin kabupaten/kota memilih untuk mengambil lebih dari satu alternatif kebijakan untuk pemenuhan satu IP-SPM. Hal ini terkait dengan bervariasinya kondisi sekolah/madrasah yang memerlukan penanganan yang berbeda untuk masalah yang sama. Struktur Bab Ini Dikarenakan penghitungan SPM itu sendiri memerlukan penjelasan yang cukup panjang, maka Bab 2 ini akan dibagi menjadi dua sub-bab, yaitu: (1) menghitung Pemenuhan SPM, yang berkonsentrasi menghitung kesenjangan dalam pencapaian SPM dan (2) menghitung Biaya Pemenuhan SPM.

13 Bab 2 Penghitungan Pemenuhan dan Biaya Pencapaian SPM Penghitungan Pemenuhan SPM Di bagian ini, akan diberikan penjelasan dari setiap butir SPM yang termasuk dalam kelompok-1 yaitu yang dihitung melalui SIMPK. Tahapan penghitungan pemenuhan SPM Tahap pertama Uraian SPM memberikan penjelasan tentang butir SPM dan akan memberikan Rincian indikator-indikator pencapaian SPM (IP) terkait dengan SPM itu yang akan digunakan dalam tahap selanjutnya. Kemudian tahap kedua Analisa identifikasi kesenjangan dan alternatif kebijakan dari setiap IP akan dilakukan analisis identifikasi kesenjangan yang diperlukan untuk melihat kinerja layanan pendidikan kabupaten/kota serta beberapa contoh alternatif kebijakan yang ada. Alternatif kebijakan yang mungkin diambil tidak terbatas pada alternatif yang tercantum di dalam panduan ini. Kemudian, tahap ketiga untuk beberapa IP--, akan dijelaskan analisis lebih lanjut. Analisis tambahan ini terkait dengan alternatif kebijakan yang ada. Pembagian SPM menurut metode analisa/perhitungan pemenuhan Dari 17-butir SPM dalam kelompok-1 (SIMPK), masih dibagi lagi menjadi dua kelompok yaitu 11 butir yang dapat dihitung langsung dan 6 butir yang harus dihitung melalui variabel proxy dikarenakan keterbatasan informasi atau sifat dari butir SPM itu sendiri. Standar Pelayanan Minimal Penghitungan Langsung Tabel 2 SPM Kelompok-1 Dan Jumlah IP Jml IP Standar Pelayanan Minimal Melalui Proxy SPM 4 Ruang Guru dan Kepala 5 SPM 3 Laboratorium IPA* 1 SPM 3 Laboratorium IPA* 2 SPM 13 Pengembangan Kurikulum 1 SPM 10 Kualifikasi Kepala SD/MI 1 SPM 14 Kunjungan Pengawas 1 SPM 11 Kualifikasi Kepala SMP/MTs 1 SPM 15 Buku Teks SD/MI 4 SPM 12 Kualifikasi Pengawas Sekolah 1 SPM 16 Buku Teks SMP/MTs 10 SPM 5 Guru SD/MI 1 SPM 17 Alat Peraga IPA 1 SPM 7 Kualifikasi Guru SD/MI 2 SPM 18 Buku Pengayaan dan Referensi 2 SPM 8 Kualifikasi Guru SMP/MTs 2 SPM 9 Kualifikasi Guru Mapel 4 SPM 6 Guru SMP/MTs 10 SPM 2 Rombel dan Ruang Kelas 8 Jml IP Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa SPM tidak ditampilkan secara berurutan seperti yang tercantum dalam Permendiknas 15/2010. Urutan ini adalah berdasarkan kompleksitas analisis dan penghitungan pemenuhan SPM. Untuk kali pertama melakukan analisis ini, sangat direkomendasikan agar menggunakan urutan ini, walau urutuan penjelasan di manual masih akan mengacu kepada Permendiknas 15/2010. Cara Perhitungan Langsung dan Perhitungan Melalui Proxy dijelaskan berikutnya.

14 8 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses PENGHITUNGAN SPM SECARA LANGSUNG SPM 2 Rombongan Belajar dan Ruang Kelas Uraian Standar Pelayanan Minimal Jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar untuk SD/MI tidak melebihi 32 orang dan untuk SMP/MTs tidak melebihi 36 orang. Untuk setiap rombongan belajar tersedia 1 (satu) ruang kelas yang dilengkapi dengan meja dan kursi yang cukup untuk peserta didik dan guru, serta papan tulis. Rincian Indikator SPM Nomor Indikator SPM 2-1 Jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar untuk untuk SD/MI tidak melebihi 32 orang 2-2 Jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar untuk untuk SMP/MTs tidak melebihi 36 orang 2-3 Untuk setiap rombongan belajar SD/MI tersedia 1 (satu) ruang kelas 2-4 Untuk setiap rombongan belajar SMP/MTs tersedia 1 (satu) ruang kelas 2-5 Untuk setiap ruang kelas SD/MI dilengkapi dengan meja dan kursi yang cukup untuk peserta didik dan guru, serta papan tulis 2-6 Untuk setiap ruang kelas SMP/MTs dilengkapi dengan meja dan kursi yang cukup untuk peserta didik dan guru, serta papan tulis 2-7 Setiap ruang Kelas SD/MI dalam keadaan layak 2-8 Setiap ruang Kelas SMP/MTs dalam keadaan layak Analisis IP-2.1. dan IP-2.2. Pemenuhan Indikator SPM ini dilakukan dengan menghitung rasio siswa per rombel tiaptiap sekolah dengan rumus berikut ini: Berdasarkan rasio tersebut kita membuat pengelompokan sekolah seperti contoh pivot di bawah ini.

15 SPM 2 Rombongan Belajar dan Ruang Kelas 9 Pivot 2.1. Sekolah/Madrasah Menurut Rasio Siswa Terhadap Rombel SD MI Total Jml Total % Negeri Swasta Negeri Swasta Jml % Jml % Jml % Jml % <=16 Siswa per Rombel % 1 9% 0% 62 36% % >16 24 Siswa per Rombel % 3 27% 2 100% 55 32% % >24 32 Siswa per Rombel % 6 55% 0% 29 17% % >32 40 Siswa per Rombel 36 6% 1 9% 0% 21 12% 58 8% >40 Siswa per Rombel 16 3% 0% 0% 1 1% 17 2% N/A 4 1% 0% 0% 2 1% 6 1% Grand Total % % 2 100% % % Dari pivot di atas kita dapat melihat hanya terdapat 75 sekolah (10%) yang mempunyai rasio siswa per rombel di atas 32 (belum memenuhi SPM). Alternatif Kebijakan Menambah Rombongan Belajar Melakukan Rayonisasi Melakukan Pembatasan Penerimaan Murid Tidak Mengambil Tindakan Analisis lebih lanjut Sebelum memutuskan alternatif kebijakan yang akan diambil, akan lebih tepat bila kita melihat dahulu gambaran umum rasio siswa terhadap rombel. Hal ini diperlukan untuk melihat penyebab dari tingginya rasio siswa terhadap rombel di sekolah-sekolah yang belum memenuhi SPM. Apakah disebabkan: (1) Tidak adanya alternatif sekolah/madrasah lain; (2) Ada alternatif sekolah lain tetapi juga memiliki rasio yang tinggi; (3) Keinginan orang tua murid untuk mendaftarkan anaknya di sekolah favorit. Untuk itu kita akan melihat Rasio Siswa terhadap Rombel per tingkat wilayah dari kabupaten ke tingkat kecamatan (untuk SMP/MTs) atau kabupaten ke tingkat desa (untuk SD/MI). Pivot 2.2. Rasio Siswa Terhadap Rombel di Tingkat Kabupaten Negeri Swasta Grand Total Sekolah Dasar Madrasah Ibtidaiyah Grand Total Dari pivot di atas kita dapat melihat bahwa rasio siswa per rombel secara keseluruhan di kabupaten ini masih jauh di bawah SPM.

16 10 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Pivot 2.3. Rasio Siswa Terhadap Rombel di Tingkat Kecamatan SD MI Grand Total Negeri Swasta Negeri Swasta Kec. Widang Kec. Singgahan Kec. Bangilan Kec. Merakurak Kec. Rengel Kec. Tambakboyo Kec. Bancar Kec. Palang Kec. Grabagan Kec. Soko Kec. Montong Kec. Semanding Kec. Tuban Grand Total Di sini kita juga melihat fakta yang sama bahwa di tingkat kecamatan pun rasio siswa per rombel masih dibawah SPM, hanya kecamatan Tuban yang memiliki rasio mendekati SPM. Pivot 2.4. Rasio Siswa Terhadap Rombel di Tingkat Desa <=16 >16 24 >24 32 >32 40 >40 Grand Total Kec. Tuban Kebonsari Kutorejo Latsari 1 1 Perbon 2 2 Ronggomulyo Sendangharjo Sidomulyo Sidorejo Sugiharjo 2 2 Sukolilo Grand Total Sekali lagi kita mencoba menelaah kondisi di tingkat desa. Dari sini kita dapat menarik beberapa kesimpulan atau mengambil alternatif kebijakan untuk membantu sekolah yang tidak memenuhi SPM. Misalkan: 1. Sekolah di desa Kebonsari, Sidomulyo, dan Sidorejo yang memiliki rasio diatas SPM dapat ditanggulangi dengan pembatasan penerimaan siswa agar kelebihan siswa dapat ditampung di sekolah lain yang memiliki rasio rendah. 2. Sekolah di desa Latsari dan Perbon karena semua SD Negeri sudah memiliki rasio di atas SPM maka harus dilakukan penambahan rombel atau bahkan unit sekolah baru. 3. Untuk kecamatan Tuban yang memiliki rasio Siswa per Rombel tinggi di atas kecamatan yang lain maka untuk menjaga agar SPM tetap dipenuhi dapat menerapkan rayonisasi.

17 SPM 2 Rombongan Belajar dan Ruang Kelas 11 Analisis IP-2.3. dan IP-2.4. Pemenuhan Indikator SPM ini dilakukan dengan menghitung rasio ruang kelas per rombel tiap-tiap sekolah dengan rumus berikut ini: Berdasarkan rasio tersebut kita membuat pengelompokan sekolah seperti contoh pivot di bawah ini. Pivot 2.5. Sekolah/Madrasah menurut Rasio Siswa terhadap Rombel SD MI Total Jml Total % Negeri Swasta Negeri Swasta Jml % Jml % Jml % Jml % <0.5 RK per Rombel 3 1% 1 9% 0% 2 1% 6 1% 0.5 <1 RK per Rombel % 3 27% 1 50% 41 24% % 1 RK per Rombel % 6 55% 1 50% 93 55% % >1 2 RK per Rombel % 1 9% 0% 30 18% % >2 RK per Rombel 3 1% 0% 0% 1 1% 4 1% N/A 16 3% 0% 0% 3 2% 19 2% Grand Total % % 2 100% % % Alternatif Kebijakan Membangun Ruang Kelas Baru Melakukan Penggabungan Sekolah Melaksanakan pembelajaran kelas rangkap Tidak mengambil tindakan Analisis lebih lanjut Sebelum mengambil alternatif kebijakan, akan lebih tepat bila dilihat lebih dahulu variablevariabel lain dari sekolah tersebut. Seperti dapat dilakukan tabulasi silang antara rasio siswa-rombel dengan ruangkelas-rombel. Pivot 2.6. Tabulasi Silang Rasio Siswa Rombel dengan Rasio Ruang Kelas Rombel Rasio Siswa Rombel <16 >16 24 >24 32 >32 40 >40 Grand Total <0.5 RK per Rombel <1 RK per Rombel Grand Total Dari pivot di atas kita dapat melihat, dari 188 sekolah yang kekurangan Ruang Kelas, 66 di antaranya memiliki Rasio Siswa Rombel dibawah 16. Tentunya tidak disarankan untuk menerapkan pembangunan RKB untuk sekolah tersebut. Untuk sekolah yang sangat kekurangan Ruang Kelas akan lebih disarankan untuk dilakukan penggabungan sekolah. Sedangkan untuk sekolah yang sedikit kekurangan ruang kelas dapat mencukupi kebutuhannya dengan melakukan pembelajaran kelas rangkap. Sedangkan penambahan Ruang Kelas akan diprioritaskan pada sekolah yang memiliki siswa per rombel tinggi, atau bahkan di atas SPM.

18 12 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Analisis IP-2.5. dan IP-2.6. Untuk menghitung pemenuhan indikator SPM ini, kita harus melakukan perhitungan kebutuhan masing-masing sarana yang disebutkan dalam indikator ini, dengan rumus seperti berikut: Analisis kebutuhan Lemari untuk Ruang Guru yang ada pada Analisis IP-4.3 dan IP-4.4 juga akan kita hitung bersama dengan sarana lain yang ada pada analisis ini. Berikut adalah rumus kebutuhan lemari di ruang guru. Setelah mengetahui kebutuhan masing-masing sarana kita dapat melakukan penghitungan rasio kecukupan untuk masing-masing sarana. Dari sini kita dapat melihat tingkat pemenuhan sarana di masing-masing sekolah/madrasah, sehingga dapat melihat beberapa banyak sekolah yang sudah atau belum memenuhi SPM untuk masing-masing sarana. Seperti contoh di bawah ini adalah rasio kecukupan untuk kursi siswa. Pivot 2.7. Sekolah/Madrasah menurut kecukupan Kursi Siswa SD MI Total Jml Total % Negeri Swasta Negeri Swasta Jml % Jml % Jml % Jml % Rasio Kecukupan < % 2 18% 0% 25 15% 65 9% Rasio Kecukupan 0.5 < % 4 36% 0% 77 45% % Rasio Kecukupan % 1 9% 0% 16 9% 70 9% Rasio Kecukupan > % 3 27% 2 100% 44 26% % Rasio Kecukupan >2 22 4% 0% 0% 5 3% 27 4% N/A 19 3% 1 9% 0% 3 2% 23 3% Grand Total % % 2 100% % % Setelah kita mengetahui adanya sekolah yang masih mengalami kekurangan jumlah sarana, disini kursi siwa, maka kita dapat mulai mengidentifikasi kebutuhan tambahan sarana yang diperlukan agar sekolah/madrasah tersebut memenuhi SPM.

19 SPM 2 Rombongan Belajar dan Ruang Kelas 13 Pivot 2.8. Kebutuhan Tambahan Kursi Siswa Sekolah/Madrasah SD MI Grand Total Negeri Swasta Swasta Jumlah Sekolah Jumlah Siswa 40,480 1,186 14,323 55,989 Ketersediaan Kursi 28, ,100 37,970 Kebutuhan Tambahan 12, ,223 18,019 Alternatif Kebijakan Pengadaan Sarana Tambahan Hibah Sarana Analisis IP-2.7. dan IP-2.8. Seperti penghitungan-penghitungan sebelumnya, disini kita akan melihat seberapa banyak sekolah yang masih memiliki Ruang Kelas dalam keadaan tidak layak. Asumsi keadaan ruang kelas layak adalah ruang kelas milik dalam keadaan baik dan rusak ringan. Asumsi ini diambil dengan dasar bahwa perbaikan untuk kerusakan ringan sudah masuk dalam anggaran operasional sekolah, dan bukan anggaran investasi. Tahap pertama penghitungan kita mulai dengan melihat berapa sekolah yang masih menggunakan Ruang Kelas yang tidak layak untuk rombongan belajarnya. Dalam perhitungan pemenuhan SPM kita hanya akan menghitung biaya yang mungkin timbul dari perbaikan RK Tidak Layak yang digunakan. Untuk itu, kita harus menghitung berapa Ruang Kelas layak yang digunakan, dan berapa RK tidak layak yang digunakan menggunakan rumus di bawah ini... Setelah ini kita bisa menghitung Rasio Ruang Kelas Tidak Layak yang digunakan 100% Pivot 2.9. Sekolah/Madrasah menurut Rasio Ruang Kelas Layak Digunakan SD MI Total Jml Total % Negeri Swasta Negeri Swasta Jml % Jml % Jml % Jml % [1] <25% RK Layak 5 1% 0% 0% 0% 5 1% [2] 25 <50% RK Layak 8 2% 0% 0% 0% 8 2% [3] 50 <75% RK Layak 61 12% 0% 0% 0% 61 12% [4] 75 <100% RK layak 52 10% 0% 0% 0% 52 10% [5] 100% layak % 9 100% 2 100% 1 100% % [6] N/A 5 1% 0% 0% 0% 5 1% Grand Total % 9 100% 2 100% 1 100% %

20 14 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Dari pivot ini kita bisa melihat seberapa banyak sekolah yang tidak memenuhi SPM, dan sejauh mana Ruang Kelas Tidak Layak digunakan di sekolah tersebut. Dari pivot ini pula kita bisa memulai prioritas renovasi dari ruang-ruang kelas tersebut. Untuk menghitung berapa ruang kelas yang harus direnovasi, maka digunakan pivot lain, yang menampilkan total Ruang Kelas Tidak Layak yang digunakan. Pivot Jumlah Ruang Kelas Tidak Layak yang Digunakan SD MI Grand Total Negeri Swasta Jumlah Sekolah Jumlah Ruang Kelas Ruang Kelas digunakan Ruang Kelas Tidak Layak Alternatif Kebijakan Melakukan rehabilitasi/renovasi ruang kelas dengan kondisi tidak layak Memberikan dukungan kepada sekolah untuk menggiatkan perawatan preventif untuk menjaga kondisi ruang kelas yang masih layak Melakukan penggabungan sekolah untuk sekolah-sekolah yang memiliki ruang kelas tidak layak ukuran rombel kecil Melakukan pembelajaran kelas rangkap untuk mengurangi kebutuhan ruang kelas

21 SPM 3 Ruang Laboratorium IPA 15 SPM 3 Ruang Laboratorium IPA Uraian Standar Pelayanan Minimal Di setiap SMP dan MTs tersedia ruang laboratorium IPA yang dilengkapi dengan meja dan kursi yang cukup untuk 36 peserta didik dan minimal satu set peralatan praktek IPA untuk demonstrasi dan eksperimen peserta didik. Rincian Indikator SPM Nomor Indikator SPM 3-1 Di setiap SMP/MTs tersedia satu ruang laboratorium IPA 3-2 Di setiap laboratorium IPA tersedia meja dan kursi yang cukup untuk 36 peserta didik 3-3 Di setiap laboratorium IPA tersedia satu set peralatan praktek IPA untuk demontrasi dan eksperimen peserta didik Analisis IP-3.1 Untuk menghitung pemenuhan SPM pada indikator ini, maka kita dapat menggunakan informasi jumlah ruang laboratorium IPA di tiap sekolah yang tercatat dalam database PadatiWEB. Berikut adalah output pivoting yang digunakan untuk melihat pemenuhan indikator ini. Pivot 3.1. SMP/MTs Menurut Kepemilikan Laboratorium IPA SD MI Grand Total Negeri Swasta Negeri Swasta Tidak Memiliki Jumlah Persen 38% 9% 0% 10% 31% Memiliki Jumlah Persen 62% 91% 100% 90% 69% Total Jumlah Total Persen 100% 100% 100% 100% 100% Alternatif Kebijakan Melakukan pembangunan laboratorium IPA Menyediakan laboratorium IPA yang dapat digunakan untuk lebih dari satu sekolah Analisis IP-3.2 Untuk menghitung pemenuhan jumlah meja dan kursi di dalam laboratorium, karena tidak adanya data spesifik meja dan kursi khusus untuk laboratorium kita dapat menggunakan salah satu asumsi sebagai berikut: 1. Meja dan kursi laboratorium sudah menjadi komponen integral di dalam laboratorium sehingga tidak perlu dihitung terpisah 2. Meja dan kursi laboratorium dianggap menggunakan meja dan kursi siswa biasa, sehingga dihitung bersamaan dengan kebutuhan meja-kursi-siswa yang dihitung dalam IP-2.5 dan IP-2.6

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2010 TANGGAL 31 AGUSTUS 2010 NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang :

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 82 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012

Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012 Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012 I. Pilihlah jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (X) huruf A, B, C, atau D pada lembar jawaban! 1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS GURU DAN PENGAWAS

PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS GURU DAN PENGAWAS - 0 - PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS GURU DAN PENGAWAS DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2009 KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Peraturan Menteri Pendidikan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2013 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA ANALISIS

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan

Lebih terperinci

Disusun Oleh : LIA YULIANA, M.Pd LIA YULIANA FIP UNY 1

Disusun Oleh : LIA YULIANA, M.Pd LIA YULIANA FIP UNY 1 Manajemen Sarana Pendidikan Disusun Oleh : LIA YULIANA, M.Pd LIA YULIANA FIP UNY 1 PENGERTIAN MANAJEMEN SARANA PENDIDIKAN Manajemen Sarana (manajemen materiil) : segenap proses penataan yang bersangkutan

Lebih terperinci

ANALISIS PERBANDINGAN EVALUASI DIRI SEKOLAH DENGAN AKREDITASI SEKOLAH

ANALISIS PERBANDINGAN EVALUASI DIRI SEKOLAH DENGAN AKREDITASI SEKOLAH ANALISIS PERBANDINGAN EVALUASI DIRI SEKOLAH DENGAN AKREDITASI SEKOLAH AINUN FARIDA LPMP Sulawesi Selatan ainun_farida@yahoo.com Hal. 1 ABSTRAK Penjaminan mutu pendidikan ini bertujuan untuk melindungi

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN DASAR KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR:105/C/KEP/LN/2014 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN DASAR KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR:105/C/KEP/LN/2014 TENTANG SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN DASAR KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR:105/C/KEP/LN/2014 TENTANG PETUNJUK TEKNIS KERJA SAMA PENYELENGGARAAN DAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN DASAR OLEH

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2014 TENTANG PERAN GURU TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DAN GURU KETERAMPILAN KOMPUTER DAN PENGELOLAAN INFORMASI

Lebih terperinci

Kata Pengantar. Jakarta, Desember 2011. Tim Penyusun

Kata Pengantar. Jakarta, Desember 2011. Tim Penyusun Kata Pengantar Dalam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Oleh karena itu, guru wajib

Lebih terperinci

RAKER GUBERNUR KALBAR HUT PEMDA KALBAR KE 53 KOORDINASI PEMANTAPAN PENYELENGGARAAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2010

RAKER GUBERNUR KALBAR HUT PEMDA KALBAR KE 53 KOORDINASI PEMANTAPAN PENYELENGGARAAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2010 RAKER GUBERNUR KALBAR HUT PEMDA KALBAR KE 53 KOORDINASI PEMANTAPAN PENYELENGGARAAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2010 Drs. Alexius Akim, MM. Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Barat RAKOR GUBERNUR KALBAR

Lebih terperinci

Nama Desa / Kelurahan di Kecamatan Se Kabupaten Tuban

Nama Desa / Kelurahan di Kecamatan Se Kabupaten Tuban Nama Desa / Kelurahan di Kecamatan Se Kabupaten Tuban 1. Kecamatan Tuban 1 Baturetno 2 Doromukti 3 Karangsari 4 Kebonsari 5 Kembangbilo 6 Kingking 7 Kutorejo 8 Latsari 9 Mondokan 10 Perbon 11 Ronggomulyo

Lebih terperinci

INFO PTK Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dikdas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

INFO PTK Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dikdas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan INFO PTK Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dikdas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Data Individu Berdasarkan Dapodik Update data terakhir 00

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

INFO PTK Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dikdas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

INFO PTK Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dikdas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan INFO PTK Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dikdas Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Data Individu Berdasarkan Dapodik Update data terakhir 00

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG WAJIB BELAJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG WAJIB BELAJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG WAJIB BELAJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

LAMPIRAN 3 INSTRUMEN PK GURU DENGAN TUGAS TAMBAHAN YANG RELEVAN DENGAN FUNGSI SEKOLAH/MADRASAH

LAMPIRAN 3 INSTRUMEN PK GURU DENGAN TUGAS TAMBAHAN YANG RELEVAN DENGAN FUNGSI SEKOLAH/MADRASAH LAMPIRAN 3 INSTRUMEN PK GURU DENGAN TUGAS TAMBAHAN YANG RELEVAN DENGAN FUNGSI SEKOLAH/MADRASAH 139 INSTRUMEN PENILAIAN KINERJA KEPALA PERPUSTAKAAN (IPKKPS/M) A. PETUNJUK PENILAIAN 1. Penilai penilaian

Lebih terperinci

INSTRUMEN MONITORING DAN EVALUASI HASIL PELAKSANAAN PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SMP TAHUN 2013

INSTRUMEN MONITORING DAN EVALUASI HASIL PELAKSANAAN PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SMP TAHUN 2013 INSTRUMEN MONITORING DAN EVALUASI HASIL PELAKSANAAN PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SMP TAHUN 2013 Nama Sekolah :... Alamat Sekolah :... Kabupaten/Kota :... Provinsi :...... Nama Petugas :...

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011 TENTANG

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

TANYA JAWAB PERTANYAAN UMUM TENTANG

TANYA JAWAB PERTANYAAN UMUM TENTANG TANYA JAWAB PERTANYAAN UMUM TENTANG EKUIVALENSI KEGIATAN PEMBELAJARAN/PEMBIMBINGAN BAGI GURU YANG BERTUGAS PADA SMP/SMA/SMK YANG MELAKSANAKAN KURIKULUM 2013 PADA SEMESTER PERTAMA MENJADI KURIKULUM TAHUN

Lebih terperinci

Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (Implikasinya terhadap Tugas Guru Matematika SMP/MTs dalam Pengembangan KTSP)

Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (Implikasinya terhadap Tugas Guru Matematika SMP/MTs dalam Pengembangan KTSP) PAKET FASILITASI PEMBERDAYAAN KKG/MGMP MATEMATIKA Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (Implikasinya terhadap Tugas Guru Matematika SMP/MTs dalam Pengembangan KTSP) Penulis: Dra. Sri Wardhani Penilai:

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) ONLINE JENJANG SMP, SMA DAN SMK NEGERI TAHUN 2015

PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) ONLINE JENJANG SMP, SMA DAN SMK NEGERI TAHUN 2015 PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) ONLINE JENJANG SMP, SMA DAN SMK NEGERI TAHUN 015 I. Pengertian Dalam petunjuk teknis yang dimaksud dengan: 1. Dinas adalah Dinas Pendidikan Kabupaten

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 25 B. TUJUAN 25 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 25 D. UNSUR YANG TERLIBAT 26 E. REFERENSI 26 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 26

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 25 B. TUJUAN 25 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 25 D. UNSUR YANG TERLIBAT 26 E. REFERENSI 26 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 26 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 25 B. TUJUAN 25 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 25 D. UNSUR YANG TERLIBAT 26 E. REFERENSI 26 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 26 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 27 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH/MADRASAH

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH/MADRASAH SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHAESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 16 TAHUN 2009 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL GURU DAN ANGKA KREDITNYA

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 16 TAHUN 2009 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL GURU DAN ANGKA KREDITNYA PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 16 TAHUN 2009 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL GURU DAN ANGKA KREDITNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN

Lebih terperinci

Revisi ke : 02 Tanggal : 15 M e i 2014

Revisi ke : 02 Tanggal : 15 M e i 2014 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN : SATU SET DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN A. DASAR HUKUM : 1. UU No. 17 Tahun 23 tentang Keuangan Negara. 2. UU No. 1 Tahun 24 tentang Perbendaharaan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2014 TENTANG PENGGUNAAN DANA KAPITASI JAMINAN KESEHATAN NASIONAL UNTUK JASA PELAYANAN KESEHATAN DAN DUKUNGAN BIAYA OPERASIONAL PADA FASILITAS

Lebih terperinci

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN PETIKAN TAHUN ANGGARAN 2014 NOMOR : SP DIPA-025.04.2.600782/2014 DS: 8989-5707-1542-6081

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN PETIKAN TAHUN ANGGARAN 2014 NOMOR : SP DIPA-025.04.2.600782/2014 DS: 8989-5707-1542-6081 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN : Satu set DIPA Petikan A. Dasar : 1. UU No. 17 Tahun 23 tentang Keuangan Negara. 2. UU No. 1 Tahun 24 tentang Perbendaharaan Negara. 3. UU No. 23 Tahun

Lebih terperinci

ii KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayahnya, sehingga dunia pendidikan kita telah memiliki Standar Nasional Pendidikan. Standar Nasional

Lebih terperinci

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2/VII/PB/2014 NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU PADA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009 SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah ii KATA PENGANTAR Dalam rangka mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan

Lebih terperinci

PENGATURAN JADWAL KELAS MINGGUAN January 15, 2015

PENGATURAN JADWAL KELAS MINGGUAN January 15, 2015 PENGATURAN JADWAL KELAS MINGGUAN January 15, 2015 Jadwal kelas mingguan berisi informasi jadwal kegiatan belajar mengajar di sekolah, seperti jadwal mata pelajaran perkelas tiap minggunya. Pada panduan

Lebih terperinci

MA NEGERI 19 JAKARTA

MA NEGERI 19 JAKARTA PENDAHULUAN Assalamualaikum Wr. Wb. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Dzat Maha hidup yang telah menciptakan ayat-ayat Qur aniyah dan Kauniyah sebagai pelita yang membimbing kehidupan manusia. Shalawat

Lebih terperinci

PERSYARATAN DAN SELEKSI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU JALUR REGULER ONLINE SMP DAN SMA NEGERI KOTA BANDAR LAMPUNG

PERSYARATAN DAN SELEKSI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU JALUR REGULER ONLINE SMP DAN SMA NEGERI KOTA BANDAR LAMPUNG PERSYARATAN DAN SELEKSI PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU JALUR REGULER ONLINE SMP DAN SMA NEGERI KOTA BANDAR LAMPUNG 1. Sistem PPDB Online Kota Bandar Lampung Pelaksanaan PPDB yang seluruh prosesnya dilaksanakan

Lebih terperinci

BAHAN AJAR (MINGGU KE 1) MATA KULIAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP)

BAHAN AJAR (MINGGU KE 1) MATA KULIAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) BAHAN AJAR (MINGGU KE 1) MATA KULIAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) VISI PENDIDIKAN NASIONAL Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa

Lebih terperinci

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN 2006 KATA PENGANTAR Buku Panduan ini dimaksudkan sebagai pedoman sekolah/madrasah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2009/2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2009/2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2009/2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 13 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989

Lebih terperinci

Maksud dan Tujuan. Hasil

Maksud dan Tujuan. Hasil Judul Penelitian : Kerangka Kebijakan Sosial Budaya dan Pemerintahan Umum Kabupaten Sidoarjo Pelaksana : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Salah

Lebih terperinci

Penulis: Penilai: Editor: Ilustrator: Dra. Supinah. Drs. Markaban, M.Si. Hanan Windro Sasongko, S.Si. Fadjar Noer Hidayat, S.Si., M.Ed.

Penulis: Penilai: Editor: Ilustrator: Dra. Supinah. Drs. Markaban, M.Si. Hanan Windro Sasongko, S.Si. Fadjar Noer Hidayat, S.Si., M.Ed. PAKET FASILITASI PEMBERDAYAAN KKG/MGMP MATEMATIKA Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Matematika SD dalam Rangka Pengembangan KTSP Penulis: Dra. Supinah Penilai: Drs. Markaban,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2013 TENTANG JABATAN

Lebih terperinci

Alat Evaluasi Diri Sekolah

Alat Evaluasi Diri Sekolah Alat Evaluasi Diri Sekolah Instrumen untuk Evaluasi Diri Sekolah Pedoman Penggunaan di Sekolah Daftar Isi Nomor Bagian Halaman 1. Standar Sarana dan Prasarana 8 1.1. Apakah sarana sekolah sudah memadai?

Lebih terperinci

RENCANA KERJA ( RENJA ) BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2014

RENCANA KERJA ( RENJA ) BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2014 RENCANA KERJA ( RENJA ) BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2014 BAGIAN BINA PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN

Lebih terperinci

Petunjuk dan Mekanisme Pengisian Profil Lembaga RA / Madrasah di Lingkungan Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Tahun 2015

Petunjuk dan Mekanisme Pengisian Profil Lembaga RA / Madrasah di Lingkungan Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Tahun 2015 Petunjuk dan Mekanisme Pengisian Profil Lembaga RA / Madrasah di Lingkungan Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Tahun 2015 I. Pendahuluan A. Latar Belakang Perkembangan Teknologi yang ada saat ini dapat

Lebih terperinci

PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR

PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR ARTIKEL PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR Oleh Dra. Theresia Widyantini, M.Si PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA 2013 1 Abstrak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa

BAB I PENDAHULUAN. yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sekolah Dasar (selanjutnya disingkat menjadi SD) merupakan pendidikan yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa menyelesaikan pendidikan

Lebih terperinci

DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL. SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014

DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL. SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014 DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014 1 DasarPelaksanaanUjianNasional 1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Lebih terperinci

PERATURAN BERSAMA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA DAN. KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR : PB.1/Menhut-IX/2014 NOMOR : 05 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN BERSAMA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA DAN. KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR : PB.1/Menhut-IX/2014 NOMOR : 05 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN BERSAMA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA DAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR PB.1/Menhut-IX/2014 NOMOR 05 TAHUN 2014 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR

Lebih terperinci

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat Naskah Soal Ujian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Petunjuk: Naskah soal terdiri atas 7 halaman. Anda tidak diperkenankan membuka buku / catatan dan membawa kalkulator (karena soal yang diberikan tidak

Lebih terperinci

PERSYARATAN DAN TATA CARA PENERIMAAN CALON PESERTA DIDIK BARU PPDB On-line Tahun Pelajaran 2015-2016

PERSYARATAN DAN TATA CARA PENERIMAAN CALON PESERTA DIDIK BARU PPDB On-line Tahun Pelajaran 2015-2016 PERSYARATAN DAN TATA CARA PENERIMAAN CALON PESERTA DIDIK BARU PPDB On-line Tahun Pelajaran -2016 A. Persyaratan 1. Persyaratan PPDB SMA Calon Peserta didik : a. telah lulus SMP/MTs/sederajat, memiliki

Lebih terperinci

Estimasi Anggaran Pendidikan Dasar melalui Penghitungan Unit Cost Guna Mewujudkan Pendidikan Terjangkau di Daerah Istimewa Yogyakarta

Estimasi Anggaran Pendidikan Dasar melalui Penghitungan Unit Cost Guna Mewujudkan Pendidikan Terjangkau di Daerah Istimewa Yogyakarta Estimasi Anggaran Pendidikan Dasar melalui Penghitungan Unit Cost Guna Mewujudkan Pendidikan Terjangkau di Daerah Istimewa Yogyakarta Prof. Zamroni, P.h. D. Aula Ahmad Hafidh, M. Si. Sri Sumardiningsih,

Lebih terperinci

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR TENAGA PERPUSTAKAAN SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

IKHTISAR DATA PENDIDIKAN TAHUN 2011/2012

IKHTISAR DATA PENDIDIKAN TAHUN 2011/2012 IKHTISAR DATA PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT DATA DAN STATISTIK PENDIDIKAN 2012 Alamat : JL. Jenderal Sudirman, Kompleks Kemeneterian Pendidikan dan Kebudayaan

Lebih terperinci

PEDOMAN PENETAPAN ANGKA KREDIT DAN KENAIKAN JABATAN/PANGKAT PENGAWAS MADRASAH

PEDOMAN PENETAPAN ANGKA KREDIT DAN KENAIKAN JABATAN/PANGKAT PENGAWAS MADRASAH PEDOMAN PENETAPAN ANGKA KREDIT DAN KENAIKAN JABATAN/PANGKAT PENGAWAS MADRASAH Oleh : Team Penyusun KEMENTERIAN AGAMA RI DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM DIREKTORAT PENDIDIKAN MADRASAH JAKARTA 2014

Lebih terperinci

KISI-KISI UJI KOMPETENSI PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH

KISI-KISI UJI KOMPETENSI PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH KISI-KISI UJI KOMPETENSI PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH DIMENSI KOMPETENSI INDIKATOR Supervisi Manajerial Menguasai metode, teknik dan prinsipprinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah

Lebih terperinci

LEMBAGA PENJAMINAN MUTU BUKU PEDOMAN MONITORING DAN EVALUASI

LEMBAGA PENJAMINAN MUTU BUKU PEDOMAN MONITORING DAN EVALUASI LEMBAGA PENJAMINAN MUTU BUKU PEDOMAN MONITORING DAN EVALUASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU 2013 SAMBUTAN REKTOR Sistem monitoring dan evaluasi diperlukan untuk menjamin agar strategi

Lebih terperinci

Manajemen Laboratorium Komputer di Sekolah 1 Sabar Nurohman, M.Pd.Si 2 Email: sabarnurohman@yahoo.com Weblog : shobru.wordpress.

Manajemen Laboratorium Komputer di Sekolah 1 Sabar Nurohman, M.Pd.Si 2 Email: sabarnurohman@yahoo.com Weblog : shobru.wordpress. Manajemen Laboratorium Komputer di Sekolah 1 Sabar Nurohman, M.Pd.Si 2 Email: sabarnurohman@yahoo.com Weblog : shobru.wordpress.com I. Pendahuluan Salah satu arus utama yang mengalir pada dunia pendidikan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG PENDIDIKAN KEDINASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG PENDIDIKAN KEDINASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG PENDIDIKAN KEDINASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa dalam rangka pelaksanaan

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN PEMENUHAN BEBAN KERJA PENGAWAS MADRASAH

PEDOMAN PELAKSANAAN PEMENUHAN BEBAN KERJA PENGAWAS MADRASAH PEDOMAN PELAKSANAAN PEMENUHAN BEBAN KERJA PENGAWAS MADRASAH DIREKTORAT PENDIDIKAN MADRASAH DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM KEMENTERIAN AGAMA RI JAKARTA 2014 KATA PENGANTAR Keberhasilan penyelenggaraan

Lebih terperinci

PROGRAM BEASISWA PENUH SMA VICTORY PLUS Tahun Pelajaran 2013/2014

PROGRAM BEASISWA PENUH SMA VICTORY PLUS Tahun Pelajaran 2013/2014 PROGRAM BEASISWA PENUH SMA VICTORY PLUS Tahun Pelajaran 2013/2014 I. Latar Belakang Sekolah Victory Plus (SVP) merasa terpanggil untuk berperan serta dalam memajukan pendidikan di Indonesia khususnya di

Lebih terperinci

Denpasar, 22 April 2015

Denpasar, 22 April 2015 PEMERINTAH PROVINSI BALI DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Alamat : Jalan Raya Puputan Niti Mandala Phone : (0361) 226119, 235105, Fax (0361) 226319 Denpasar Bali 80235 Denpasar, 22 April 2015 Nomor

Lebih terperinci

Kebijakan Program dan Anggaran Pendidikan Menengah Tahun 2015

Kebijakan Program dan Anggaran Pendidikan Menengah Tahun 2015 Kebijakan Program dan Anggaran Pendidikan Menengah Tahun 2015 DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Jakarta, 2014 1 2 3 4 5 6 7 AGENDA ISU STRATEGIS Draft RPJMN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung:

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan unsure yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Dalam pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, pendidik merupakan

Lebih terperinci

Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs. Oleh. Dra. Theresia Widyantini, M.Si

Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs. Oleh. Dra. Theresia Widyantini, M.Si ARTIKEL Penerapan model pembelajaran langsung dalam mata pelajaran matematika SMP/MTs Oleh Dra. Theresia Widyantini, M.Si PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah ii KATA PENGANTAR Dalam rangka mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan

Lebih terperinci

4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan;

4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan; /b PERATURAN GUBISBNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBLfKOTA JAKARTA NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG BIAYA OPERASIONAL PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2012 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa pendidikan nasional

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG EKUIVALENSI KEGIATAN PEMBELAJARAN/PEMBIMBINGAN BAGI GURU YANG

Lebih terperinci

PANDUAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 1 SUMENEP TAHUN PELAJARAN 2015/2016

PANDUAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 1 SUMENEP TAHUN PELAJARAN 2015/2016 PEMERINTAH KABUPATEN PPDB SUMENEP Tahun 2015 DINAS PENDIDIKAN UPT SMA NEGERI 1 SUMENEP Jln. Payudan Timur (0328) 662368 Fax (0328) 665987 69411 E-Mail: sumenepsmansa@yahoo.com, Website: www.sumenepsmansa.sch.id

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental, yang bertujuan untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok

Lebih terperinci

USAID PRIORITAS: Mengutamakan Pembaharuan, Inovasi, dan Kesempatan bagi Guru, Tenaga Kependidikan, dan Siswa SWARA PRIORITAS

USAID PRIORITAS: Mengutamakan Pembaharuan, Inovasi, dan Kesempatan bagi Guru, Tenaga Kependidikan, dan Siswa SWARA PRIORITAS Edisi 08 Juli - Sept 2014 USAID PRIORITAS: Mengutamakan Pembaharuan, Inovasi, dan Kesempatan bagi Guru, Tenaga Kependidikan, dan Siswa www.prioritaspendidikan.org SWARA PRIORITAS Media Informasi Pendidikan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa pembukaan Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

BAB IV SOSIAL BUDAYA A. PENDIDIKAN

BAB IV SOSIAL BUDAYA A. PENDIDIKAN A. PENDIDIKAN BAB IV SOSIAL BUDAYA Pendidikan merupakan salah satu unsur terpenting dalam pembangunan, karena dengan pendidikan masyarakat akan semakin cerdas yang selanjutnya akan membentuk Sumber Daya

Lebih terperinci

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 66/KEP/M.PAN/7/2003

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 66/KEP/M.PAN/7/2003 MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 66/KEP/M.PAN/7/2003 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL PRANATA KOMPUTER DAN ANGKA KREDITNYA MENTERI

Lebih terperinci

dari atau sama dengan S2 ( S2) yaitu 291 orang (0,9%) pengajar (Gambar 4.12). A.2. Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN)

dari atau sama dengan S2 ( S2) yaitu 291 orang (0,9%) pengajar (Gambar 4.12). A.2. Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN) dari atau sama dengan S2 ( S2) yaitu 291 orang (0,9%) pengajar (Gambar 4.12). A.2. Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN) Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN) adalah proses

Lebih terperinci

DINAS PENDIDIKAN KOTA DEPOK

DINAS PENDIDIKAN KOTA DEPOK DINAS PENDIDIKAN KOTA DEPOK KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA DEPOK NOMOR: 421 / 2067 / Disdik Tahun 2015 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) PADA TK, SD, SMP, SMA DAN SMK

Lebih terperinci

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah ii KATA PENGANTAR Dalam rangka mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan

Lebih terperinci

TATA KELOLA PENERAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG PENDIDIKAN DASAR UNTUK KABUPATEN/KOTA

TATA KELOLA PENERAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG PENDIDIKAN DASAR UNTUK KABUPATEN/KOTA IMPLEMENTED BY RTI INTERNATIONAL AND PARTNERS TATA KELOLA PENERAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG PENDIDIKAN DASAR UNTUK KABUPATEN/KOTA PENGHITUNGAN KEBUTUHAN PEMENUHAN TARGET SPM PENDIDIKAN DASAR

Lebih terperinci

SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 16 TAHUN 2007 TANGGAL 4 MEI 2007 STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU

SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 16 TAHUN 2007 TANGGAL 4 MEI 2007 STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 16 TAHUN 2007 TANGGAL 4 MEI 2007 STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU A. KUALIFIKASI AKADEMIK GURU 1. Kualifikasi Akademik Guru

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG PENDIRIAN PERGURUAN TINGGI

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG PENDIRIAN PERGURUAN TINGGI SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG PENDIRIAN PERGURUAN TINGGI NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Lebih terperinci

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII Oleh Adi Wijaya, S.Pd, MA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH TAHUN 2015 KABUPATEN LAMANDAU

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH TAHUN 2015 KABUPATEN LAMANDAU RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN 2015 KABUPATEN LAMANDAU SKPD : BADAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN PERLINDUNGAN ANAK DAN KB INDIKATOR KINERJA URUSAN WAJIB PEMERINTAHAN UMUM PEMBERDAYAAN PEREMPUAN BADAN PEMBERDAYAAN

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, Juni 2010. Kepala Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementerian Kesehatan RI

KATA PENGANTAR. Jakarta, Juni 2010. Kepala Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementerian Kesehatan RI 1 KATA PENGANTAR Dalam rangka mendukung prioritas pembangunan nasional bidang kesehatan sebagaimana tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 yaitu untuk meningkatkan akses dan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG SERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATAN

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG SERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATAN SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG SERTIFIKASI BAGI GURU DALAM JABATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) SUMATERA UTARA 2013 Jl. Bunga Raya No.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci