Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses"

Transkripsi

1 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses PBPSA Decentralized Basic Education 1 Management and Governance Edisi Juli 2011 KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

2

3 i

4 ii Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Kata Pengantar Panduan Penghitungan Biaya Pencapaian Standar Akses (PBPSA) ini berdasarkan peraturan pemerintah yang terbaru termasuk peraturan-peraturan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Dalam Negeri, yaitu: PP 65/2005 tentang Pedoman Penyusunan SPM Permendagri 6/2007 tentang Juknis Peyusunan dan Penerapan SPM Permendagri 79/2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana SPM. Mengikuti permintaan dari Wakil Menteri Pendidikan Nasional panduan ini memaparkan metode melakukan penghitungan biaya multi tahun untuk kabupaten kota untuk memenuhi: (1) Standar Pelayanan Minimum; (2) Sasaran Akses; dan (3) Kebutuhan Operasional Satuan Pendidikan. Panduan ini disertai dua panduan DBE1 terpisah, yaitu: Panduan Penggunaan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Kabupaten/Kota (SIMP-K) serta Penghitungan Biaya Operasi Satuan Pendidikan (BOSP). Dengan adanya panduan ini, diharapkan dapat membantu Dinas Pendidikan dalam melakukan penghitungan biaya untuk kebutuhan di atas, dan juga menjadi masukan pertimbangan dalam pengembangan perencanaan dan keuangan pendidikan.

5 iii Daftar Isi Kata Pengantar... ii Daftar Isi... iii Bab 1 Pengantar... 1 Struktur Panduan... 2 Bab 2 Penghitungan Pemenuhan dan Biaya Pencapaian SPM... 3 Langkah-langkah analisis... 5 Struktur Bab Ini Penghitungan Pemenuhan SPM... 7 PENGHITUNGAN SPM SECARA LANGSUNG... 8 SPM 2 Rombongan Belajar dan Ruang Kelas... 8 SPM 3 Ruang Laboratorium IPA SPM 4 Ruang Guru dan Ruang Kepala Sekolah SPM 5 Ketersediaan Guru Kelas di SD/MI SPM 6 Kecukupan Guru Mata Pelajaran SMP/MTs SPM 7 Kualifikasi Guru SD/MI SPM 8 Kualifikasi Guru SMP/MTs SPM 9 Kualifikasi Guru Mata Pelajaran SMP/MTs SPM 10 Kualifikasi Kepala SD/MI SPM 11 Kualifikasi Kepala SMP/MTs SPM 12 Kualifikasi Pengawas PENGHITUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN VARIABEL PROXY Pemenuhan SPM Pemenuhan SPM Pemenuhan SPM Pemenuhan SPM-15, SPM Pemenuhan SPM Pemenuhan SPM Penghitungan Pemenuhan SPM Alur Pemikiran Penghitungan Biaya Pemenuhan SPM Menggunakan Format Excel untuk Rekapitulasi Penghitungan Biaya Bab 3 Penghitungan Biaya Pencapaian Sasaran Akses Sasaran Akses Penghitungan Biaya Pencapaian Sasaran Akses... 46

6 iv Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses 1. Penghitungan proyeksi pertumbuhan AUS Proyeksi Penambahan Jumlah Siswa Penghitungan Kebutuhan Penambahan Rombongan Belajar Penghitungan Kebutuhan Sarana Prasarana Penghitungan Penambahan Kebutuhan Guru Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Bab 4 Penulisan Hasil PBPSA dan Penyajian Laporan Hasil Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Lampiran-1 Standar Harga Satuan Pemenuhan SPM Lampiran-2 Peralatan Lab IPA SMP/MTs... 62

7 1 Bab 1 Pengantar Dalam beberapa tahun terakhir ini Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan Nasional telah berupaya mencapai dua sasaran kebijakan utama. Pertama, wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yang dicapai dengan memperluas akses pendidikan di tingkat SD/MI dan SMP/MTs dalam bentuk investasi pada infrastruktur sekolah. Keterjangkauan layanan pendidikan oleh anak usia sekolah merupakan salah satu kebijakan utama pendidikan. Sasaran Akses tercantum dalam berbagai dokumen perencanaan seperti RPJMN, RPJMD, ataupun Rencana Strategis Pendidikan. Kedua, pemerataan mutu pendidikan, sebuah kebijakan yang penting untuk menjawab keluhan banyak pihak mengenai ketidakadilan di dalam penyediaan layanan pendidikan, disatu tempat ada anak yang belajar di sekolah dengan bangunan yang megah, dengan jumlah dan kualifikasi guru yang cukup, dan sarana penunjang yang memadai; sementara di lain tempat masih ada anak belajar di sekolah yang reyot, dengan guru tidak memadai baik jumlah maupun kualifikasinya, dan sarana yang hampir tidak ada. Salah satu instrumen kebijakan yang dianggap tepat dalam mendukung sasaran kedua ini adalah dengan memperkenalkan standar-standar di bidang pendidikan yang akan memberikan arahan penyediaan layanan pendidikan. Beberapa standar ini diantaranya adalah Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Biaya Operasional Non Personalia Satuan Pendidikan. Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah standar yang bergerak disusun sebagai sasaran antara di dalam road-map untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan (SNP). Setelah semua sekolah telah dapat memenuhi SPM, maka standar minimal ini akan ditingkatkan secara berkala sampai semua sekolah telah memenuhi SNP. Standar Biaya Operasional Non Personalia Satuan Pendidikan (BOSP) adalah standar yang bertujuan untuk meyakinkan bahwa sekolah memiliki pendanaan yang cukup untuk beroperasi sesuai dengan SNP. Untuk itu penghitungan standar ini dilakukan berdasarkan biaya-biaya operasional tingkat satuan pendidikan yang digariskan oleh SNP. Sasaran - sasaran ini tentu saja hanya dapat dicapai bila ada pendanaan yang cukup. Untuk itu maka manual ini disusun untuk membantu perencanaan pendidikan di kabupaten/kota dalam melakukan estimasi-estimasi biaya tambahan yang diperlukan untuk: Menyelenggarakan Wajardikdas Sembilan Tahun yang memenuhi SPM, Mencukupi kebutuhan operasional sekolah/madrasah Mencapai target nasional yang terkait dengan akses Kata tambahan disini perlu digarisbawahi karena dalam penghitungan ini, kita hanya menghitung tambahan pendanaan yang diperlukan untuk mencapai tiga sasaran di atas bukan total pendanaan yang diperlukan untuk meyelenggarakan pendidikan di sebuah kabupaten/kota. Pendekatan ini diambil untuk menghindari penghitungan yang terlalu kompleks dikarenakan banyaknya komponen anggaran pembiayaan pendidikan dan ditambah

8 2 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses cakupan yang berbeda-beda di setiap kabupaten/kota mengingat tupoksi dari SKPD Pendidikan tidaklah seragam. Struktur Panduan Panduan ini dibagi ke dalam beberapa Bab yang masing-masing mengulas hal yang berbeda, seperti tercantum di bawah ini: Bab 2 difokuskan pada analisis pencapaian penyelenggaraan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 tahun yang memenuhi SPM dan bagaimana melakukan penghitungan biaya pencapaian SPM dengan menggunakan hasil analisis itu Bab 3 penghitungan pencapaian sasaran terkait dengan akses Bab 4 berfokus bagaimana memaparkan hasil penghitungan ini kepada pemangku kepentingan Seperti telah diutarakan sebelumnya, selain panduan ini masih tersedia dua panduan terpisah: (1) Panduan Pengoperasian SIMPK, dan (2) Panduan Penghitungan Biaya Operasional Satuan Pendidikan [BOSP].

9 Bab 2 Penghitungan Pemenuhan dan Biaya Pencapaian SPM 3 Bab 2 Penghitungan Pemenuhan dan Biaya Pencapaian SPM Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 15 tahun 2010 menggariskan 27 butir peraturan yang membentuk standar pelayanan minimal. Butir-butir peraturan ini dapat dibagi menjadi dua yaitu 14 butir yang mengatur kabupaten/kota dan 13 butir yang mengatur satuan pendidikan. Butir-butir SPM ini sendiri memiliki tujuan dan sasaran yang bervariasi, untuk itu dalam menghitung pembiayaannya akan diperlukan pendekatan yang berbeda-beda. Secara garis besar 27 butir ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok: Tabel 1 Pengelompokan Butir-Butir SPM 1 SIMPK SPM Kabupaten/Kota SPM Tingkat Sekolah SPM 1 Lokasi Sekolah SPM 15 Buku Teks SD/MI SPM 2 Rombel dan Ruang Kelas SPM 16 Buku Teks SMP/MTs SPM 3 Laboratorium IPA SPM 17 Alat Peraga IPA SD/MI SPM 4 Ruang Guru dan Kepala SPM 18 Buku Pengayaan dan Referensi SPM 5 Guru SD/MI SPM 19 Jam Kerja Guru SPM 6 Guru SMP/MTs SPM 20 Jam Operasional Sekolah SPM 7 Kualifikasi Guru SD/MI SPM 21 Kualifikasi Guru SD/MI SPM 8 Kualifikasi Guru SMP/MTs SPM 22 Kualifikasi Guru SMP/MTs SPM 9 Kualifikasi Guru Mata Pelajaran SPM 23 Kualifikasi Guru Mata Pelajaran SPM 10 Kualifikasi Kepala SD/MI SPM 24 Kualifikasi Kepala SD/MI SPM 11 Kualifikasi Kepala SMP/MTs SPM 25 Kualifikasi Kepala SMP/MTs SPM 12 Kualifikasi Pengawas Sekolah SPM 26 Kualifikasi Pengawas Sekolah SPM 13 Pengembangan Kurikulum SPM 27 Pengembangan Kurikulum SPM 14 Kunjungan Pengawas 1 SIMPK 2 - BOSP Kelompok 1 SIMPK (SPM 2-18) Di dalam kelompok ini kinerja layanan pendidikan kabupaten/kota akan dihitung melalui data analisis yang dilakukan di tingkat kabupaten/kota. Analisis ini dilakukan dengan bantuan aplikasi SIMPK. SIMPK adalah aplikasi yang dikembangkan oleh DBE1 untuk menggabungkan dua database yaitu PadatiWeb yang merekam data sekolah/madrasah dan SIM-NUPTK yang merekam data pendidik dan tenaga kependidikan. SIMPK akan menghasilkan output berupa pivot table yang dapat digunakan untuk menghitung, menganalisis dan mengolah berbagai indikator-indikator pendidikan. Untuk petunjuk pengoperasian aplikasi ini dapat dibaca dari Panduan Penggunaan SIMPK yang terpisah. Melalui SIMPK dan analisis pada output pivot table, kita juga dapat menghitung kesenjangan kinerja yang harus dipenuhi, alternatif apa yang dapat diambil, dan biaya dari masing-masing alternatif tersebut. Karena SIMP memiliki data untuk setiap sekolah dan

10 4 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses guru, maka analisis yang dimungkinkan sangat luas. Sebagai contoh analisis adalah adanya kemungkinan untuk melihat kemungkinan redistribusi sumber daya dari sekolah melampaui SPM kepada sekolah sekolah yang masih belum memenuhi SPM. Kelompok 2 BOSP (SPM 21-27) SPM yang tercakup pada kelompok dua secara umum terkait dengan kegiatan pendidik dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tupoksinya seperti menyusun KTSP, penyiapan RPP, evaluasi hasil belajar dan pelaporannya. Butir-butir SPM ini pada dasarnya adalah kegiatan operasional di tingkat sekolah/madrasah. Karena tidak adanya pendataan yang cukup rinci dan dapat diandalkan mengenai kegiatan ini, maka penghitungan biaya dalam kelompok ini lebih ditekankan pada penyediaan biaya yang memadai untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan. Untuk itu pemenuhan ketujuh butir SPM ini digabungkan dalam penghitungan Biaya Operasional Non Personalia Satuan Pendidikan (BOSP). Analisa dan penghitungan BOSP akan dijelaskan dalam Panduan Penghitungan Biaya Operasional Sekolah (BOSP) yang terpisah dari panduan ini. Kelompok 3 Lainnya (SPM 1,19, dan 20) Ketiga butir SPM tersisa dikelompokkan terpisah karena ketiga butir ini tidak dapat dihitung bersama dengan dua kelompok sebelumnya. Butir pertama mengenai akses terhadap sekolah dapat dilakukan secara manual dengan melakukan identifikasi adanya daerah khusus dan apakah ada sekolah yang sudah melayaninya. Butir pada dasarnya adalah butir-spm yang berorientasi pada pengawasan di tingkat sekolah dan tidak memiliki implikasi biaya secara langsung. Oleh karena itu kedua butir ini tidak dihitung biaya pemenuhannya. Bab ini akan diberikan penjelasan dari setiap butir SPM yang termasuk dalam kelompok-1 yaitu SPM yang dihitung dengan output dari SIMP-K. Indikator-indikator pencapaian (IP) SPM Butir-butir SPM yang ada sering didefinisikan terlalu luas atau bahkan mencakup lebih dari satu indikator pendidikan. Oleh karena itu, dalam panduan ini SPM diterjemahkan menjadi beberapa indikator pencapaian dan sasarannya sehingga proses penghitungan selanjutnya akan lebih terarah, terukur dan spesifik (lihat Tabel 2 di bawah). Indikator-indikator merupakan operasionalisasi dari definisi tiap-tiap SPM dengan pendalaman dan penyesuaian yang dianggap perlu. Perubahan atau penyesuaian IP, bila dibutuhkan, masih dimungkinkan karena IP dalam panduan ini bukanlah indikator baku atau resmi dikarenakan belum adanya petunjuk pelaksanaan teknis dari Permendiknas 15/2010.

11 Bab 2 Penghitungan Pemenuhann dan Biayaa Pencapaian SPM 5 Langkah-langkah analisis Analisiss penghitungan biaya alur di bawah ini. untuk mencapai SPM sebetulnya dapat digambarkan seperti Gambar 1 Langkah-langkah Analisis Penentuan Standar atau Sasaran Identifikasi Kesenjangan Menyusun Alternatif Kebijakan Estimasi Biaya Memilih Kebijakan 1. Penerjemahan butir SPM menjadi indikator pencapaian yang lebih operasional Butir-butir SPM yang ada sering didefinisikan terlalu luas, atau bahkan mencakup lebih dari satu indikator. Langkah pertama adalah menerjemahkan SPM menjadi beberapa indikator pencapaian, dan sasarannya sehingga proses penghitungan selanjutnyaa akan lebih terarah, terukur dan spesifik. Sebagai contoh, SPM-2 adalah SPM yang paling lebar, karena mencakup tingkat SD/MI dan SMP/MTs, serta meliputi besaran rombongan belajar, ketersediaan ruang kelas, sarana ruang kelas dan juga kelayakan prasarana ruang kelas, sehingga ketika SPM ini dioperasionalkan, SPM ini terbagi menjadi delapan Indikator Pencapaian. 2. Identifikasi kesenjangan Identifikasii ini dilakukan dengan melihat berapa sekolah/madrasah yang sudah memenuhi SPM, dan seberapa jauh selisih antara kinerja sekarang dengan standar yang ada. Setelah kesenjangan dapat dihitung, mulai dipertimbangkan analisis-analisis secara tambahan seperti: perkembangan AUS, ketersediaan guru berkualifikasii umum dan outflow guru. Analisis-analisis tambahan ini, selain memberikan gambaran lebih dalam mengenai kesenjangan, juga akan digunakan dalam proses berikut yaitu penyusunan alternatif kebijakan yang dapat diambil. 3. Menyusun alternatif kebijakan pemenuhan SPM Secara umum, tersedia banyak alternatif untuk memenuhi SPM. Alternatif sangat bervariasi, dari berupa peraturan dan pembatasan seperti rayonisasi, redistribusi guru, sampai dengan penambahan guru, penambahan sekolah. Berdasarkan hasil analisis sebelumnya, kita akan melihat alternatif apa yang memungkinkan untuk digunakann kabupaten/kota dalam memenuhi SPM. 4. Menghitung biaya alternatif kebijakan Untuk memilih kebijakan yang efektif dan efisien, sangatlah penting untuk melihat kebutuhan biaya dari alternatif-alternatif yang mungkinn diambil.

12 6 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Dari sini kita dapat secara kasar menghitung berapa besar volume kegiatan pemenuhan SPM diperlukan untuk masing-masing alternatif dan berapa besar satuan biayanya. 5. Memilih alternatif kebijakan. Setelah melihat alternatif kebijakan dan biayanya, kabupaten/kota dapat menentukan pilihan alternatif kebijakan yang akan diambil. Di beberapa kesempatan akan sangat mungkin kabupaten/kota memilih untuk mengambil lebih dari satu alternatif kebijakan untuk pemenuhan satu IP-SPM. Hal ini terkait dengan bervariasinya kondisi sekolah/madrasah yang memerlukan penanganan yang berbeda untuk masalah yang sama. Struktur Bab Ini Dikarenakan penghitungan SPM itu sendiri memerlukan penjelasan yang cukup panjang, maka Bab 2 ini akan dibagi menjadi dua sub-bab, yaitu: (1) menghitung Pemenuhan SPM, yang berkonsentrasi menghitung kesenjangan dalam pencapaian SPM dan (2) menghitung Biaya Pemenuhan SPM.

13 Bab 2 Penghitungan Pemenuhan dan Biaya Pencapaian SPM Penghitungan Pemenuhan SPM Di bagian ini, akan diberikan penjelasan dari setiap butir SPM yang termasuk dalam kelompok-1 yaitu yang dihitung melalui SIMPK. Tahapan penghitungan pemenuhan SPM Tahap pertama Uraian SPM memberikan penjelasan tentang butir SPM dan akan memberikan Rincian indikator-indikator pencapaian SPM (IP) terkait dengan SPM itu yang akan digunakan dalam tahap selanjutnya. Kemudian tahap kedua Analisa identifikasi kesenjangan dan alternatif kebijakan dari setiap IP akan dilakukan analisis identifikasi kesenjangan yang diperlukan untuk melihat kinerja layanan pendidikan kabupaten/kota serta beberapa contoh alternatif kebijakan yang ada. Alternatif kebijakan yang mungkin diambil tidak terbatas pada alternatif yang tercantum di dalam panduan ini. Kemudian, tahap ketiga untuk beberapa IP--, akan dijelaskan analisis lebih lanjut. Analisis tambahan ini terkait dengan alternatif kebijakan yang ada. Pembagian SPM menurut metode analisa/perhitungan pemenuhan Dari 17-butir SPM dalam kelompok-1 (SIMPK), masih dibagi lagi menjadi dua kelompok yaitu 11 butir yang dapat dihitung langsung dan 6 butir yang harus dihitung melalui variabel proxy dikarenakan keterbatasan informasi atau sifat dari butir SPM itu sendiri. Standar Pelayanan Minimal Penghitungan Langsung Tabel 2 SPM Kelompok-1 Dan Jumlah IP Jml IP Standar Pelayanan Minimal Melalui Proxy SPM 4 Ruang Guru dan Kepala 5 SPM 3 Laboratorium IPA* 1 SPM 3 Laboratorium IPA* 2 SPM 13 Pengembangan Kurikulum 1 SPM 10 Kualifikasi Kepala SD/MI 1 SPM 14 Kunjungan Pengawas 1 SPM 11 Kualifikasi Kepala SMP/MTs 1 SPM 15 Buku Teks SD/MI 4 SPM 12 Kualifikasi Pengawas Sekolah 1 SPM 16 Buku Teks SMP/MTs 10 SPM 5 Guru SD/MI 1 SPM 17 Alat Peraga IPA 1 SPM 7 Kualifikasi Guru SD/MI 2 SPM 18 Buku Pengayaan dan Referensi 2 SPM 8 Kualifikasi Guru SMP/MTs 2 SPM 9 Kualifikasi Guru Mapel 4 SPM 6 Guru SMP/MTs 10 SPM 2 Rombel dan Ruang Kelas 8 Jml IP Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa SPM tidak ditampilkan secara berurutan seperti yang tercantum dalam Permendiknas 15/2010. Urutan ini adalah berdasarkan kompleksitas analisis dan penghitungan pemenuhan SPM. Untuk kali pertama melakukan analisis ini, sangat direkomendasikan agar menggunakan urutan ini, walau urutuan penjelasan di manual masih akan mengacu kepada Permendiknas 15/2010. Cara Perhitungan Langsung dan Perhitungan Melalui Proxy dijelaskan berikutnya.

14 8 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses PENGHITUNGAN SPM SECARA LANGSUNG SPM 2 Rombongan Belajar dan Ruang Kelas Uraian Standar Pelayanan Minimal Jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar untuk SD/MI tidak melebihi 32 orang dan untuk SMP/MTs tidak melebihi 36 orang. Untuk setiap rombongan belajar tersedia 1 (satu) ruang kelas yang dilengkapi dengan meja dan kursi yang cukup untuk peserta didik dan guru, serta papan tulis. Rincian Indikator SPM Nomor Indikator SPM 2-1 Jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar untuk untuk SD/MI tidak melebihi 32 orang 2-2 Jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar untuk untuk SMP/MTs tidak melebihi 36 orang 2-3 Untuk setiap rombongan belajar SD/MI tersedia 1 (satu) ruang kelas 2-4 Untuk setiap rombongan belajar SMP/MTs tersedia 1 (satu) ruang kelas 2-5 Untuk setiap ruang kelas SD/MI dilengkapi dengan meja dan kursi yang cukup untuk peserta didik dan guru, serta papan tulis 2-6 Untuk setiap ruang kelas SMP/MTs dilengkapi dengan meja dan kursi yang cukup untuk peserta didik dan guru, serta papan tulis 2-7 Setiap ruang Kelas SD/MI dalam keadaan layak 2-8 Setiap ruang Kelas SMP/MTs dalam keadaan layak Analisis IP-2.1. dan IP-2.2. Pemenuhan Indikator SPM ini dilakukan dengan menghitung rasio siswa per rombel tiaptiap sekolah dengan rumus berikut ini: Berdasarkan rasio tersebut kita membuat pengelompokan sekolah seperti contoh pivot di bawah ini.

15 SPM 2 Rombongan Belajar dan Ruang Kelas 9 Pivot 2.1. Sekolah/Madrasah Menurut Rasio Siswa Terhadap Rombel SD MI Total Jml Total % Negeri Swasta Negeri Swasta Jml % Jml % Jml % Jml % <=16 Siswa per Rombel % 1 9% 0% 62 36% % >16 24 Siswa per Rombel % 3 27% 2 100% 55 32% % >24 32 Siswa per Rombel % 6 55% 0% 29 17% % >32 40 Siswa per Rombel 36 6% 1 9% 0% 21 12% 58 8% >40 Siswa per Rombel 16 3% 0% 0% 1 1% 17 2% N/A 4 1% 0% 0% 2 1% 6 1% Grand Total % % 2 100% % % Dari pivot di atas kita dapat melihat hanya terdapat 75 sekolah (10%) yang mempunyai rasio siswa per rombel di atas 32 (belum memenuhi SPM). Alternatif Kebijakan Menambah Rombongan Belajar Melakukan Rayonisasi Melakukan Pembatasan Penerimaan Murid Tidak Mengambil Tindakan Analisis lebih lanjut Sebelum memutuskan alternatif kebijakan yang akan diambil, akan lebih tepat bila kita melihat dahulu gambaran umum rasio siswa terhadap rombel. Hal ini diperlukan untuk melihat penyebab dari tingginya rasio siswa terhadap rombel di sekolah-sekolah yang belum memenuhi SPM. Apakah disebabkan: (1) Tidak adanya alternatif sekolah/madrasah lain; (2) Ada alternatif sekolah lain tetapi juga memiliki rasio yang tinggi; (3) Keinginan orang tua murid untuk mendaftarkan anaknya di sekolah favorit. Untuk itu kita akan melihat Rasio Siswa terhadap Rombel per tingkat wilayah dari kabupaten ke tingkat kecamatan (untuk SMP/MTs) atau kabupaten ke tingkat desa (untuk SD/MI). Pivot 2.2. Rasio Siswa Terhadap Rombel di Tingkat Kabupaten Negeri Swasta Grand Total Sekolah Dasar Madrasah Ibtidaiyah Grand Total Dari pivot di atas kita dapat melihat bahwa rasio siswa per rombel secara keseluruhan di kabupaten ini masih jauh di bawah SPM.

16 10 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Pivot 2.3. Rasio Siswa Terhadap Rombel di Tingkat Kecamatan SD MI Grand Total Negeri Swasta Negeri Swasta Kec. Widang Kec. Singgahan Kec. Bangilan Kec. Merakurak Kec. Rengel Kec. Tambakboyo Kec. Bancar Kec. Palang Kec. Grabagan Kec. Soko Kec. Montong Kec. Semanding Kec. Tuban Grand Total Di sini kita juga melihat fakta yang sama bahwa di tingkat kecamatan pun rasio siswa per rombel masih dibawah SPM, hanya kecamatan Tuban yang memiliki rasio mendekati SPM. Pivot 2.4. Rasio Siswa Terhadap Rombel di Tingkat Desa <=16 >16 24 >24 32 >32 40 >40 Grand Total Kec. Tuban Kebonsari Kutorejo Latsari 1 1 Perbon 2 2 Ronggomulyo Sendangharjo Sidomulyo Sidorejo Sugiharjo 2 2 Sukolilo Grand Total Sekali lagi kita mencoba menelaah kondisi di tingkat desa. Dari sini kita dapat menarik beberapa kesimpulan atau mengambil alternatif kebijakan untuk membantu sekolah yang tidak memenuhi SPM. Misalkan: 1. Sekolah di desa Kebonsari, Sidomulyo, dan Sidorejo yang memiliki rasio diatas SPM dapat ditanggulangi dengan pembatasan penerimaan siswa agar kelebihan siswa dapat ditampung di sekolah lain yang memiliki rasio rendah. 2. Sekolah di desa Latsari dan Perbon karena semua SD Negeri sudah memiliki rasio di atas SPM maka harus dilakukan penambahan rombel atau bahkan unit sekolah baru. 3. Untuk kecamatan Tuban yang memiliki rasio Siswa per Rombel tinggi di atas kecamatan yang lain maka untuk menjaga agar SPM tetap dipenuhi dapat menerapkan rayonisasi.

17 SPM 2 Rombongan Belajar dan Ruang Kelas 11 Analisis IP-2.3. dan IP-2.4. Pemenuhan Indikator SPM ini dilakukan dengan menghitung rasio ruang kelas per rombel tiap-tiap sekolah dengan rumus berikut ini: Berdasarkan rasio tersebut kita membuat pengelompokan sekolah seperti contoh pivot di bawah ini. Pivot 2.5. Sekolah/Madrasah menurut Rasio Siswa terhadap Rombel SD MI Total Jml Total % Negeri Swasta Negeri Swasta Jml % Jml % Jml % Jml % <0.5 RK per Rombel 3 1% 1 9% 0% 2 1% 6 1% 0.5 <1 RK per Rombel % 3 27% 1 50% 41 24% % 1 RK per Rombel % 6 55% 1 50% 93 55% % >1 2 RK per Rombel % 1 9% 0% 30 18% % >2 RK per Rombel 3 1% 0% 0% 1 1% 4 1% N/A 16 3% 0% 0% 3 2% 19 2% Grand Total % % 2 100% % % Alternatif Kebijakan Membangun Ruang Kelas Baru Melakukan Penggabungan Sekolah Melaksanakan pembelajaran kelas rangkap Tidak mengambil tindakan Analisis lebih lanjut Sebelum mengambil alternatif kebijakan, akan lebih tepat bila dilihat lebih dahulu variablevariabel lain dari sekolah tersebut. Seperti dapat dilakukan tabulasi silang antara rasio siswa-rombel dengan ruangkelas-rombel. Pivot 2.6. Tabulasi Silang Rasio Siswa Rombel dengan Rasio Ruang Kelas Rombel Rasio Siswa Rombel <16 >16 24 >24 32 >32 40 >40 Grand Total <0.5 RK per Rombel <1 RK per Rombel Grand Total Dari pivot di atas kita dapat melihat, dari 188 sekolah yang kekurangan Ruang Kelas, 66 di antaranya memiliki Rasio Siswa Rombel dibawah 16. Tentunya tidak disarankan untuk menerapkan pembangunan RKB untuk sekolah tersebut. Untuk sekolah yang sangat kekurangan Ruang Kelas akan lebih disarankan untuk dilakukan penggabungan sekolah. Sedangkan untuk sekolah yang sedikit kekurangan ruang kelas dapat mencukupi kebutuhannya dengan melakukan pembelajaran kelas rangkap. Sedangkan penambahan Ruang Kelas akan diprioritaskan pada sekolah yang memiliki siswa per rombel tinggi, atau bahkan di atas SPM.

18 12 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Analisis IP-2.5. dan IP-2.6. Untuk menghitung pemenuhan indikator SPM ini, kita harus melakukan perhitungan kebutuhan masing-masing sarana yang disebutkan dalam indikator ini, dengan rumus seperti berikut: Analisis kebutuhan Lemari untuk Ruang Guru yang ada pada Analisis IP-4.3 dan IP-4.4 juga akan kita hitung bersama dengan sarana lain yang ada pada analisis ini. Berikut adalah rumus kebutuhan lemari di ruang guru. Setelah mengetahui kebutuhan masing-masing sarana kita dapat melakukan penghitungan rasio kecukupan untuk masing-masing sarana. Dari sini kita dapat melihat tingkat pemenuhan sarana di masing-masing sekolah/madrasah, sehingga dapat melihat beberapa banyak sekolah yang sudah atau belum memenuhi SPM untuk masing-masing sarana. Seperti contoh di bawah ini adalah rasio kecukupan untuk kursi siswa. Pivot 2.7. Sekolah/Madrasah menurut kecukupan Kursi Siswa SD MI Total Jml Total % Negeri Swasta Negeri Swasta Jml % Jml % Jml % Jml % Rasio Kecukupan < % 2 18% 0% 25 15% 65 9% Rasio Kecukupan 0.5 < % 4 36% 0% 77 45% % Rasio Kecukupan % 1 9% 0% 16 9% 70 9% Rasio Kecukupan > % 3 27% 2 100% 44 26% % Rasio Kecukupan >2 22 4% 0% 0% 5 3% 27 4% N/A 19 3% 1 9% 0% 3 2% 23 3% Grand Total % % 2 100% % % Setelah kita mengetahui adanya sekolah yang masih mengalami kekurangan jumlah sarana, disini kursi siwa, maka kita dapat mulai mengidentifikasi kebutuhan tambahan sarana yang diperlukan agar sekolah/madrasah tersebut memenuhi SPM.

19 SPM 2 Rombongan Belajar dan Ruang Kelas 13 Pivot 2.8. Kebutuhan Tambahan Kursi Siswa Sekolah/Madrasah SD MI Grand Total Negeri Swasta Swasta Jumlah Sekolah Jumlah Siswa 40,480 1,186 14,323 55,989 Ketersediaan Kursi 28, ,100 37,970 Kebutuhan Tambahan 12, ,223 18,019 Alternatif Kebijakan Pengadaan Sarana Tambahan Hibah Sarana Analisis IP-2.7. dan IP-2.8. Seperti penghitungan-penghitungan sebelumnya, disini kita akan melihat seberapa banyak sekolah yang masih memiliki Ruang Kelas dalam keadaan tidak layak. Asumsi keadaan ruang kelas layak adalah ruang kelas milik dalam keadaan baik dan rusak ringan. Asumsi ini diambil dengan dasar bahwa perbaikan untuk kerusakan ringan sudah masuk dalam anggaran operasional sekolah, dan bukan anggaran investasi. Tahap pertama penghitungan kita mulai dengan melihat berapa sekolah yang masih menggunakan Ruang Kelas yang tidak layak untuk rombongan belajarnya. Dalam perhitungan pemenuhan SPM kita hanya akan menghitung biaya yang mungkin timbul dari perbaikan RK Tidak Layak yang digunakan. Untuk itu, kita harus menghitung berapa Ruang Kelas layak yang digunakan, dan berapa RK tidak layak yang digunakan menggunakan rumus di bawah ini... Setelah ini kita bisa menghitung Rasio Ruang Kelas Tidak Layak yang digunakan 100% Pivot 2.9. Sekolah/Madrasah menurut Rasio Ruang Kelas Layak Digunakan SD MI Total Jml Total % Negeri Swasta Negeri Swasta Jml % Jml % Jml % Jml % [1] <25% RK Layak 5 1% 0% 0% 0% 5 1% [2] 25 <50% RK Layak 8 2% 0% 0% 0% 8 2% [3] 50 <75% RK Layak 61 12% 0% 0% 0% 61 12% [4] 75 <100% RK layak 52 10% 0% 0% 0% 52 10% [5] 100% layak % 9 100% 2 100% 1 100% % [6] N/A 5 1% 0% 0% 0% 5 1% Grand Total % 9 100% 2 100% 1 100% %

20 14 Penghitungan Biaya Pencapaian Standar dan Akses Dari pivot ini kita bisa melihat seberapa banyak sekolah yang tidak memenuhi SPM, dan sejauh mana Ruang Kelas Tidak Layak digunakan di sekolah tersebut. Dari pivot ini pula kita bisa memulai prioritas renovasi dari ruang-ruang kelas tersebut. Untuk menghitung berapa ruang kelas yang harus direnovasi, maka digunakan pivot lain, yang menampilkan total Ruang Kelas Tidak Layak yang digunakan. Pivot Jumlah Ruang Kelas Tidak Layak yang Digunakan SD MI Grand Total Negeri Swasta Jumlah Sekolah Jumlah Ruang Kelas Ruang Kelas digunakan Ruang Kelas Tidak Layak Alternatif Kebijakan Melakukan rehabilitasi/renovasi ruang kelas dengan kondisi tidak layak Memberikan dukungan kepada sekolah untuk menggiatkan perawatan preventif untuk menjaga kondisi ruang kelas yang masih layak Melakukan penggabungan sekolah untuk sekolah-sekolah yang memiliki ruang kelas tidak layak ukuran rombel kecil Melakukan pembelajaran kelas rangkap untuk mengurangi kebutuhan ruang kelas

21 SPM 3 Ruang Laboratorium IPA 15 SPM 3 Ruang Laboratorium IPA Uraian Standar Pelayanan Minimal Di setiap SMP dan MTs tersedia ruang laboratorium IPA yang dilengkapi dengan meja dan kursi yang cukup untuk 36 peserta didik dan minimal satu set peralatan praktek IPA untuk demonstrasi dan eksperimen peserta didik. Rincian Indikator SPM Nomor Indikator SPM 3-1 Di setiap SMP/MTs tersedia satu ruang laboratorium IPA 3-2 Di setiap laboratorium IPA tersedia meja dan kursi yang cukup untuk 36 peserta didik 3-3 Di setiap laboratorium IPA tersedia satu set peralatan praktek IPA untuk demontrasi dan eksperimen peserta didik Analisis IP-3.1 Untuk menghitung pemenuhan SPM pada indikator ini, maka kita dapat menggunakan informasi jumlah ruang laboratorium IPA di tiap sekolah yang tercatat dalam database PadatiWEB. Berikut adalah output pivoting yang digunakan untuk melihat pemenuhan indikator ini. Pivot 3.1. SMP/MTs Menurut Kepemilikan Laboratorium IPA SD MI Grand Total Negeri Swasta Negeri Swasta Tidak Memiliki Jumlah Persen 38% 9% 0% 10% 31% Memiliki Jumlah Persen 62% 91% 100% 90% 69% Total Jumlah Total Persen 100% 100% 100% 100% 100% Alternatif Kebijakan Melakukan pembangunan laboratorium IPA Menyediakan laboratorium IPA yang dapat digunakan untuk lebih dari satu sekolah Analisis IP-3.2 Untuk menghitung pemenuhan jumlah meja dan kursi di dalam laboratorium, karena tidak adanya data spesifik meja dan kursi khusus untuk laboratorium kita dapat menggunakan salah satu asumsi sebagai berikut: 1. Meja dan kursi laboratorium sudah menjadi komponen integral di dalam laboratorium sehingga tidak perlu dihitung terpisah 2. Meja dan kursi laboratorium dianggap menggunakan meja dan kursi siswa biasa, sehingga dihitung bersamaan dengan kebutuhan meja-kursi-siswa yang dihitung dalam IP-2.5 dan IP-2.6

KABUPATEN ACEH TENGGARA TAHUN 2012 DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN ACEH TENGGARA

KABUPATEN ACEH TENGGARA TAHUN 2012 DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN ACEH TENGGARA Buku Laporan Hasil Perhitungan SPM Pendidikan Dasar Dengan Menggunakan TRIMS KABUPATEN ACEH TENGGARA TAHUN 212 DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN ACEH TENGGARA 2 Laporan Standar Pelayanan Minimal

Lebih terperinci

Hasil Perhitungan SPM

Hasil Perhitungan SPM THE WORLD BANK Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Aceh Utara Juli 2012 Buku Laporan Hasil Perhitungan SPM Menggunakan Aplikasi TRIMS (Tool for Reporting and Information Management by Schools)

Lebih terperinci

Penerapan Dan Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan Tahun 2013

Penerapan Dan Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan Tahun 2013 Laporan Tahun 2013 Bidang Penerapan Dan Pencapaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Tahun 2013 I PENDIDIKAN DASAR OLEH KABUPATEN / KOTA 1. Tersedia satuan pendidikan dalam jarak yang terjangkau dengan

Lebih terperinci

RENCANA AKSI STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DASAR

RENCANA AKSI STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DASAR RENCANA AKSI STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DASAR NO JENIS PELAYANAN INDIKATOR SUB INDIKATOR KEGIATAN VOL SATUAN NILAI JUMLAH TARGET JUMLAH DANA TARGET JUMLAH DANA 2013 Rp 2014 Rp 1 2 3 1

Lebih terperinci

Indikator Kinerja Program. A. Standar Pelayanan Minimal (SPM)

Indikator Kinerja Program. A. Standar Pelayanan Minimal (SPM) No. Indikator Kinerja Program A. Standar Pelayanan Minimal (SPM) Satuan Tabel 2.7. Pencapaian Kinerja pelayanan Dinas Pendidikan Kabupaten Kulon Progo Tahun 2011-2016 Target Target Kinerja Program Realisai

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 14 TAHUN : PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 14 TAHUN TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KULON

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2013 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

Lebih terperinci

ANALISIS STANDAR BELANJA (ASB)

ANALISIS STANDAR BELANJA (ASB) SLINN LMPIRN III PERTURN MENTERI PENDIDIKN DN KEBUDYN NOMOR 23 THUN 2013 TENTNG PERUBHN TS PERTURN MENTERI PENDIDIKN NSIONL NOMOR 15 THUN 2010 TENTNG STNDR MINIML PENDIDIKN DSR DI KBUPTEN/KOT. NLISIS STNDR

Lebih terperinci

BUPATI BANGKA SALINAN PERATURAN BUPATI BANGKA NOMOR 36 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN BANGKA

BUPATI BANGKA SALINAN PERATURAN BUPATI BANGKA NOMOR 36 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN BANGKA BUPATI BANGKA SALINAN PERATURAN BUPATI BANGKA NOMOR 36 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN BANGKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA, Menimbang

Lebih terperinci

PERHITUNGAN INDIKATOR PENCAPAIAN (IP)

PERHITUNGAN INDIKATOR PENCAPAIAN (IP) SALINAN LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 23 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Statistik Pendidikan Dasar Kabupaten Banjarnegara Tahun Pelajaran 2011/2012

Statistik Pendidikan Dasar Kabupaten Banjarnegara Tahun Pelajaran 2011/2012 Statistik Pendidikan Dasar Kabupaten Banjarnegara Tahun Pelajaran 2011/2012 EUROPEAN UNION LEMBAR PENGESAHAN STATISTIK PENDIDIKAN DASAR TP. 2011/2012 KABUPATEN BANJARNEGARA Mengetahui/Mengesahkan: KEPALA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG MATRIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG MATRIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG MATRIK RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2015-2019 V I S I M I S I 1 : TERWUJUDNYA MASYARAKAT LUMAJANG YANG SEJAHTERA DAN BERMARTABAT : Meningkatkan Kualitas

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA TANGERANG

PEMERINTAH KOTA TANGERANG RINGKASAN RENSTRA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KOTA TANGERANG PERIODE TAHUN 2014-2018 Penyusunan Rencana Strategis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan periode 2014-2019 merupakan amanat perundang-undangan

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 29 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DASAR KABUPATEN BELITUNG

BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 29 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DASAR KABUPATEN BELITUNG SALINAN BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 29 TAHUN 2013 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DASAR KABUPATEN BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG, Menimbang

Lebih terperinci

jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt

jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt - 1 - jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR 74 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PENCAPAIAN DAN PENERAPAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KOTA TASIKMALAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

2. JELASKAN DENGAN SINGKAT GAMBARAN SESUNGGUHNYA DI KABUPATEN/KOTA ANDA TERKAIT FORMULA DI ATAS.

2. JELASKAN DENGAN SINGKAT GAMBARAN SESUNGGUHNYA DI KABUPATEN/KOTA ANDA TERKAIT FORMULA DI ATAS. PROVINSI : KAB/KOTA : Formula SD/MI - SNP RASIO ROMBONGAN BELAJAR PER RUANG KELAS.. Formula SD/MI - SNP RASIO SISWA SD/MI PER RUANG KELAS Formula SD/MI - SNP RASIO ROMBONGAN BELAJAR PER SEKOLAH SD/MI Formula

Lebih terperinci

CAPAIAN, TARGET, DAN RENCANA PEMBIAYAAN SPM BIDANG PENDIDIKAN DASAR

CAPAIAN, TARGET, DAN RENCANA PEMBIAYAAN SPM BIDANG PENDIDIKAN DASAR CAPAIAN, TARGET, DAN RENCANA PEMBIAYAAN SPM BIDANG PENDIDIKAN DASAR KABUPATEN/KOTA : BANYUWANGI PROVINSI : JAWA TIMUR NO TARGET (%) PROGRAM/ KEGIATAN masukkan bahan RENCANA PEMBIAYAAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan Kabupaten Bangka

BAB V PEMBAHASAN. A. Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan Kabupaten Bangka BAB V PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan Kabupaten Bangka Tengah Sebagaimana yang dijelaskan dalam bab sebelumnya, pada bab pembahasan ini peneliti akan menjelaskan evaluasi

Lebih terperinci

PENGINTEGRASIAN SPM DALAM PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KABUPATEN/KOTA

PENGINTEGRASIAN SPM DALAM PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KABUPATEN/KOTA SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 23 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PENERAPAN MUTU PENDIDIKAN PADA SATUAN PENDIDIKAN

PENERAPAN MUTU PENDIDIKAN PADA SATUAN PENDIDIKAN PENERAPAN MUTU PENDIDIKAN PADA SATUAN PENDIDIKAN Suplemen MK Pengelolaan Oleh: Suryadi, M.Pd Mutu pendidikan didasarkan atas mutu input, mutu proses, dan mutu output/ outcome, sebagaimana termuat pada

Lebih terperinci

Lampiran data-data hasil wawancara dengan Kementrian Pendidikan dan. via pada hari Selasa tanggal 31 Mei 2016, pada pukul 14:21 WIB.

Lampiran data-data hasil wawancara dengan Kementrian Pendidikan dan. via  pada hari Selasa tanggal 31 Mei 2016, pada pukul 14:21 WIB. Lampiran 1 Lampiran data-data hasil wawancara dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Anies Baswedan. Wawancara dilakukan via E-mail pada hari Selasa tanggal 31 Mei 2016, pada pukul

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 64 B. TUJUAN 64 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 65 D. UNSUR YANG TERLIBAT 65 E. REFERENSI 65 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 66

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 64 B. TUJUAN 64 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 65 D. UNSUR YANG TERLIBAT 65 E. REFERENSI 65 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 66 JUKNIS ANALISIS STANDAR SARANA DAN PRASARANA SMA DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 64 B. TUJUAN 64 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 65 D. UNSUR YANG TERLIBAT 65 E. REFERENSI 65 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 66 G. URAIAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 64 B. TUJUAN 65 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 65 D. UNSUR YANG TERLIBAT 65 E. REFERENSI 65 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 66

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 64 B. TUJUAN 65 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 65 D. UNSUR YANG TERLIBAT 65 E. REFERENSI 65 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 66 JUKNIS ANALISIS STANDAR SARANA DAN PRASARANA SMA DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 64 B. TUJUAN 65 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 65 D. UNSUR YANG TERLIBAT 65 E. REFERENSI 65 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 66 G. URAIAN

Lebih terperinci

PEMENUHAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR PENERIMA DANA BOS 2014 DI KABUPATEN PONOROGO

PEMENUHAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR PENERIMA DANA BOS 2014 DI KABUPATEN PONOROGO PEMENUHAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR PENERIMA DANA BOS 2014 DI KABUPATEN PONOROGO Subangun FKIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo pak.b.jozz@gmail.com Abstrak Penelitian ini bertujuan

Lebih terperinci

PENGINTEGRASIAN SPM DALAM PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KABUPATEN/KOTA

PENGINTEGRASIAN SPM DALAM PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KABUPATEN/KOTA SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 23 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Mewujudkan Peningkatan Pendidikan yang berkualitas tanpa meninggalkan kearifan lokal.

Mewujudkan Peningkatan Pendidikan yang berkualitas tanpa meninggalkan kearifan lokal. Mewujudkan Peningkatan Pendidikan yang berkualitas tanpa meninggalkan kearifan lokal. Pada misi IV yaitu Mewujudkan Peningkatan Pendidikan yang berkualitas tanpa meninggalkan kearifan lokal terdapat 11

Lebih terperinci

PANDUAN PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN/KOTA. Renstra-SKPD. Decentralized Basic Education 1 Management and Governance

PANDUAN PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN/KOTA. Renstra-SKPD. Decentralized Basic Education 1 Management and Governance PANDUAN PENYUSUNAN RENCANA STRATEGIS DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN/KOTA (Renstra SKPD) Renstra-KL dan Renstra-KL SKPD Kabupaten/ dan Provinsi Renstra Kabupaten/ Kota Kota Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan

Lebih terperinci

SALINAN. b. bahwa untuk menjamin tercapainya mutu pendidikan yang diselenggarakan daerah perlu menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan dasar;

SALINAN. b. bahwa untuk menjamin tercapainya mutu pendidikan yang diselenggarakan daerah perlu menetapkan standar pelayanan minimal pendidikan dasar; SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKANASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2O1O TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA DENGAN RAHMA TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB VI INDIKATOR KINERJA DINAS PENDIDIKAN KEBUDAYAAN PEMUDA DAN OLAH RAGA YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

BAB VI INDIKATOR KINERJA DINAS PENDIDIKAN KEBUDAYAAN PEMUDA DAN OLAH RAGA YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD BAB VI INDIKATOR DINAS PENDIDIKAN KEBUDAYAAN PEMUDA DAN OLAH RAGA YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD Keberhasilan penyelenggaraan suatu urusan dapat dilihat dari indikator kinerja yang telah ditetapkan.

Lebih terperinci

2. KTSP dikembangkan oleh program keahlian dengan melibatkan berbagai pihak sesuai dengan tahapan penyusunan KTSP.

2. KTSP dikembangkan oleh program keahlian dengan melibatkan berbagai pihak sesuai dengan tahapan penyusunan KTSP. I. STANDAR ISI 1. Program keahlian melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA INDUK PENDIDIKAN TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA INDUK PENDIDIKAN TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 35, 2014 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA INDUK PENDIDIKAN TAHUN 2013-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : bahwa dalam rangka perluasan

Lebih terperinci

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 52 TAHUN 2008 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/ JASA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN TAHUN ANGGARAN 2011

RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/ JASA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN TAHUN ANGGARAN 2011 RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/ JASA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN TAHUN ANGGARAN 2011 Lampiran : Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Kab. Tuban Selaku Pengguna

Lebih terperinci

P E N G U M U M A N RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/ JASA PEMERINTAH

P E N G U M U M A N RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/ JASA PEMERINTAH 02. 05 32 Unit 01. 13 LANGSUNG P E N G U M U M A N RENCANA UMUM BARANG/ JASA PEMERINTAH Nomor : 602.1/ 4678/ 414.050/ 2013 Tanggal : 03 Oktober 2013 PEMERINTAH KABUPATEN TUBAN DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR NEGERI 2 DONO ARUM KECAMATAN SEPUTIH AGUNG KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

IMPLEMENTASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR NEGERI 2 DONO ARUM KECAMATAN SEPUTIH AGUNG KABUPATEN LAMPUNG TENGAH Nurlatifah, dkk. Implementasi Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal Pendidikan di SD 22 IMPLEMENTASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR NEGERI 2 DONO ARUM KECAMATAN SEPUTIH

Lebih terperinci

Kondisi baik 425 Kondisi rusak ringan 0 Kondisi rusak berat 0

Kondisi baik 425 Kondisi rusak ringan 0 Kondisi rusak berat 0 e-pemantauan dan Evaluasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan Dasar KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR BAGIAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN Nama

Lebih terperinci

GUBERNUR PROVINSI MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR PENDIDIKAN DASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR PROVINSI MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR PENDIDIKAN DASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1 SALINAN GUBERNUR PROVINSI MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR PENDIDIKAN DASAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR MALUKU, Menimbang : a. bahwa pembaharuan

Lebih terperinci

RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG / JASA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG / JASA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Lampiran Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab. Tuban Nomor : 027/220/KPTS/414.012/2012 Tanggal : 13 Januari 2012 RENCANA UMUM DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA NO NAMA KEGIATAN

Lebih terperinci

Biaya Operasional. Satuan Pendidikan. untuk Kabupaten/Kota. Biaya Operasional. per Peserta Didik. Panduan Penghitungan

Biaya Operasional. Satuan Pendidikan. untuk Kabupaten/Kota. Biaya Operasional. per Peserta Didik. Panduan Penghitungan Standar Nasional Pembiayaan Pendidikan BOSP Biaya Operasional Satuan Pendidikan untuk Kabupaten/Kota Penentuan Volume dan Harga Standar Kabupaten/Kota Biaya Operasional per Peserta Didik Panduan Penghitungan

Lebih terperinci

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). A.

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). A. I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

TIM PPG DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN LABUHANBATU

TIM PPG DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN LABUHANBATU LAPORAN PENATAAN DAN PEMERATAAN GURU (PPG) DI KABUPATEN LABUHANBATU Disusun oleh TIM PPG DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN LABUHANBATU 2014 Page 1 of 40 KATA PENGANTAR Isu tentang ketidakseimbangan ketersediaan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12 JUKNIS PENYUSUNAN RENCANA KERJA SMA DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12 G. URAIAN PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

KEMENTERIAN AGAMA KELOMPOK KERJA PENGAWAS PAI (POKJAWAS PAI) KANTOR KABUPATEN CILACAP Alamat : Jalan DI. Panjaitan No.44 Telp. (0282) Cilacap

KEMENTERIAN AGAMA KELOMPOK KERJA PENGAWAS PAI (POKJAWAS PAI) KANTOR KABUPATEN CILACAP Alamat : Jalan DI. Panjaitan No.44 Telp. (0282) Cilacap KEMENTERIAN AGAMA KELOMPOK KERJA PENGAWAS PAI (POKJAWAS PAI) KANTOR KABUPATEN CILACAP Alamat : Jalan DI. Panjaitan No.44 Telp. (0282)531155 Cilacap PENILAIAN SEKOLAH /MADRASAH BERDASARKAN STANDAR NASIONAL

Lebih terperinci

2013, No.71 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 T

2013, No.71 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 T LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.71, 2013 PENDIDIKAN. Standar Nasional Pendidikan. Warga Negara. Masyarakat. Pemerintah. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Departemen Pendidikan Nasional Materi 2 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 Tentang STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Sosialisasi KTSP LINGKUP SNP 1. Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria minimal

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF 5.1. Program dan Kegiatan yang Direncanakan Pembangunan pendidikan di Kabupaten Barru didesain dalam rangka

Lebih terperinci

Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan KTSP.

Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan KTSP. I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan) muatan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR TAHUN 009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN/MADRASAH ALIYAH KEJURUAN (SMK/MAK) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan atau revenue

BAB II KAJIAN TEORI. dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan atau revenue 8 BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Pembiayaan Pendidikan 1. Pengertian Biaya Menurut Supriyono (2000:16), biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan

Lebih terperinci

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP.

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP. I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 (sembilan) komponen muatan KTSP. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 (delapan)

Lebih terperinci

INSTRUMEN PENGUKURAN SEKOLAH KATEGORI MANDIRI JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

INSTRUMEN PENGUKURAN SEKOLAH KATEGORI MANDIRI JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH INSTRUMEN PENGUKURAN SEKOLAH KATEGORI MANDIRI JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2007 21b. Sekolah Kategori mandiri 2007

Lebih terperinci

PENATAAN DAN PEMERATAAN GURU : ANALISIS KEBUTUHAN, KETERSEDIAAN, DAN KECUKUPAN GURU DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH

PENATAAN DAN PEMERATAAN GURU : ANALISIS KEBUTUHAN, KETERSEDIAAN, DAN KECUKUPAN GURU DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH P 85 PENATAAN DAN PEMERATAAN GURU : ANALISIS KEBUTUHAN, KETERSEDIAAN, DAN KECUKUPAN GURU DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH Wiwik Wijayanti dan Mada Sutapa wiwikashari@gmail.com> Dosen Administrasi Pendidikan

Lebih terperinci

BAB IV BAB IV LANGKAH-LANGKAH TEROBOSAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR

BAB IV BAB IV LANGKAH-LANGKAH TEROBOSAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR BAB IV LANGKAH-LANGKAH TEROBOSAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR BAB IV LANGKAH-LANGKAH TEROBOSAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR 41 LANGKAH-LANGKAH TEROBOSAN PENDIDIKAN TAMAN

Lebih terperinci

RINGKASAN RENJA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KOTA TANGERANG TAHUN 2015

RINGKASAN RENJA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KOTA TANGERANG TAHUN 2015 RINGKASAN RENJA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KOTA TANGERANG TAHUN 2015 Rencana Kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Tahun 2015 disusun dengan berpedoman pada RKPD Tahun 2015 Kota Tangerang.

Lebih terperinci

LAPORAN ANALISIS HASIL EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS) PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2011

LAPORAN ANALISIS HASIL EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS) PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2011 LAPORAN ANALISIS HASIL EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS) PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2011 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) SULAWESI SELATAN Laporan Hasil Analisis

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN NOMOR : 420/2476/ /2016 TENTANG

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN NOMOR : 420/2476/ /2016 TENTANG KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN NOMOR : 420/2476/414.050/ TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU PADA SATUAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN TUBAN TAHUN

Lebih terperinci

~ 1 ~ PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2008 TENTANG GURU

~ 1 ~ PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2008 TENTANG GURU ~ 1 ~ PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR Draf 03 12 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2008 TENTANG GURU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2009 TANGGAL 4 MARET 2009

SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2009 TANGGAL 4 MARET 2009 SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2009 TANGGAL 4 MARET 2009 INSTRUMEN AKREDITASI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI) 1. Periksalah kelengkapan perangkat Akreditasi

Lebih terperinci

PROYEKSI PRASARANA DAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN TAHUN 2012/ /2021

PROYEKSI PRASARANA DAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN TAHUN 2012/ /2021 PROYEKSI PRASARANA DAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN TAHUN 2012/2013--2020/2021 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PUSAT DATA DAN STATISTIK PENDIDIKAN Jakarta, Desember 2013 KATALOG DALAM TERBITAN

Lebih terperinci

Kondisi baik 102 Kondisi rusak ringan 0 Kondisi rusak berat 0

Kondisi baik 102 Kondisi rusak ringan 0 Kondisi rusak berat 0 e-pemantauan dan Evaluasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan Dasar KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR BAGIAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN Nama

Lebih terperinci

Perpustakaan sekolah

Perpustakaan sekolah Standar Nasional Indonesia Perpustakaan sekolah Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi... 1 3 Misi... 2 4 Tujuan... 3 5 Koleksi...

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI INDIKATOR STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENCIRI AKREDITASI SMP DAN MTS DENGAN METODE CHAID DAN REGRESI LOGISTIK ORDINAL FAHMI SALAM AHMAD

IDENTIFIKASI INDIKATOR STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENCIRI AKREDITASI SMP DAN MTS DENGAN METODE CHAID DAN REGRESI LOGISTIK ORDINAL FAHMI SALAM AHMAD IDENTIFIKASI INDIKATOR STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENCIRI AKREDITASI SMP DAN MTS DENGAN METODE CHAID DAN REGRESI LOGISTIK ORDINAL FAHMI SALAM AHMAD DEPARTEMEN STATISTIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci

BAB III PELAYANAN PUBLIK BIDANG PENDIDIKAN

BAB III PELAYANAN PUBLIK BIDANG PENDIDIKAN BAB III PELAYANAN PUBLIK BIDANG PENDIDIKAN Deskripsi : Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan, di mulai pada pemahaman hirarkhi peraturan perundang-undangan di Indonesia menurut UU Nomor

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA. NOMOR 129a/U/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN

KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA. NOMOR 129a/U/2004 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 129a/U/2004 TENTANG BIDANG PENDIDIKAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan

Lebih terperinci

MODUL K_1 KATA PENGANTAR

MODUL K_1 KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar (SPM Dikdas) adalah salah satu tolak ukur kinerja pelayanan pendidikan dasar. Sebagaimana telah diatur di dalam Peraturan Peraturan Menteri Pendidikan

Lebih terperinci

Peraturan Presiden No. 29 Tahun 2014 Tentang Sistem Akuntabilitas. Kinerja Instansi Pemerintah mengarahkan bahwa pelaksanaan pemerintahan

Peraturan Presiden No. 29 Tahun 2014 Tentang Sistem Akuntabilitas. Kinerja Instansi Pemerintah mengarahkan bahwa pelaksanaan pemerintahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peraturan Presiden No. 29 Tahun 2014 Tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah mengarahkan bahwa pelaksanaan pemerintahan harus berdayaguna, berhasil

Lebih terperinci

C. ANALISIS CAPAIAN KINERJA

C. ANALISIS CAPAIAN KINERJA C. ANALISIS CAPAIAN KINERJA Analisis capaian kinerja dilaksanakan pada setiap sasaran yang telah ditetapkan dalam pelaksanaan setiap urusan pemerintahan daerah baik urusan wajib maupun urusan pilihan.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12 JUKNIS PENYUSUNAN RENCANA KERJA SMA DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 11 B. TUJUAN 11 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 11 D. UNSUR YANG TERLIBAT 12 E. REFERENSI 12 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 12 G. URAIAN PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

Penyusunan Usulan DAK Bidang Pendidikan Tahun 2017

Penyusunan Usulan DAK Bidang Pendidikan Tahun 2017 Penyusunan Usulan DAK Bidang Pendidikan Tahun 2017 Bahan Presentasi Biro Perencanaan Kemdikbud Pada Workshop Usulan DAK Fisik TA 2017 Jakarta, Mei 2016 DAFTAR ISI 1 2 3 Kebijakan Umum, Tujuan, Sasaran,

Lebih terperinci

PROGRAM PRIORITAS PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

PROGRAM PRIORITAS PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PROGRAM PRIORITAS PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH Prof. Suyanto, Ph.D. Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional 1 Tahapan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI)

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI) SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 11 TAHUN 2009 TENTANG KRITERIA DAN PERANGKAT AKREDITASI SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN NOMOR : 420 / 3274 / / 2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN NOMOR : 420 / 3274 / / 2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN NOMOR : 420 / 3274 / 414.050 / 2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU PADA SATUAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN

Lebih terperinci

Dr.Burhanuddin Tola, M.A. NIP i

Dr.Burhanuddin Tola, M.A. NIP i KATA PENGANTAR Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagaimana disebutkan dalam

Lebih terperinci

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). A.

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). A. I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

I. STANDAR ISI. hal. 1/61. Instrumen Akreditasi SMP/MTs

I. STANDAR ISI. hal. 1/61. Instrumen Akreditasi SMP/MTs I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

LAPORAN FINAL SQA PKP SPM PENDIDIKAN DASAR KABUPATEN BANTUL

LAPORAN FINAL SQA PKP SPM PENDIDIKAN DASAR KABUPATEN BANTUL 1.1 2.1 2.3 3.1 4.1 4.3 5.2 7.1 8.1 9 11 13 14.2 15.2 16.2 18.1 19.1 19.3 20.2 21.1 22.1 22.3 23.2 24.1 25.1 25.3 26.2 27.1 27.3 LAPORAN FINAL SQA PKP SPM PENDIDIKAN DASAR KABUPATEN BANTUL 120,00% Capaian

Lebih terperinci

ISBN LAPORAN EKSEKUTIF

ISBN LAPORAN EKSEKUTIF ISBN 978 603 8613 08 8 LAPORAN EKSEKUTIF PENGKAJIAN PENINGKATAN MUTU, RELEVANSI, DAN DAYA SAING PENDIDIKAN SECARA KOMPREHENSIF: PENDIDIKAN KEJURUAN DALAM PENYIAPAN TENAGA KERJA PUSAT PENELITIAN, KEBIJAKAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN PETIKAN TAHUN ANGGARAN 2014 NOMOR : DIPA /2014 I A. INFORMASI KINERJA

DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN PETIKAN TAHUN ANGGARAN 2014 NOMOR : DIPA /2014 I A. INFORMASI KINERJA 1 Fungsi 10 PENDIDIKAN Sub Fungsi 10.02 PENDIDIKAN DASAR 10.90 PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN LAINNYA 2 Program 025.04.07 Program Pendidikan Islam Hasil (Outcome) 01 Meningkatnya Akses, Mutu, dan Daya Saing

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Pembina Tk.I NIP Bandung, 28 Februari 2015 KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA BANDUNG, Dr. H. ELIH SUDIAPERMANA, M.Pd.

KATA PENGANTAR. Pembina Tk.I NIP Bandung, 28 Februari 2015 KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA BANDUNG, Dr. H. ELIH SUDIAPERMANA, M.Pd. KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang lebih berdayaguna, berhasilguna, bertanggung jawab dan untuk lebih

Lebih terperinci

8.1 Target Dakar Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing merupakan salah satu dari tiga masalah besar pendidikan yang dihadapi bangsa ini atau

8.1 Target Dakar Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing merupakan salah satu dari tiga masalah besar pendidikan yang dihadapi bangsa ini atau 8.1 Target Dakar Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing merupakan salah satu dari tiga masalah besar pendidikan yang dihadapi bangsa ini atau disebut sebagai tantangan pembangunan pendidikan skala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pendidikan dianggap sebagai sebagai suatu investasi yang paling berharga

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pendidikan dianggap sebagai sebagai suatu investasi yang paling berharga BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan dianggap sebagai sebagai suatu investasi yang paling berharga dalam bentuk peningkatan sumber daya manusia untuk pembangunan bangsa. Seringkali

Lebih terperinci

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2010 TANGGAL 31 AGUSTUS 2010 NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BIAYA SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN KEBUTUHAN DANA UNTUK PENDIDIKAN DASAR GRATIS

BIAYA SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN KEBUTUHAN DANA UNTUK PENDIDIKAN DASAR GRATIS BIAYA SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN KEBUTUHAN DANA UNTUK PENDIDIKAN DASAR GRATIS Abbas Ghozali FEB Universitas Islam Negeri Jakarta (e-mail: abbas.ghozali@gmail.com) Abstrak: Biaya Satuan dan Dana yang Dibutuhkan

Lebih terperinci

TAMAN KANAK-KANAK Tabel 5 : Jumlah TK, siswa, lulusan, Kelas (rombongan belajar),ruang kelas, Guru dan Fasilitas 6

TAMAN KANAK-KANAK Tabel 5 : Jumlah TK, siswa, lulusan, Kelas (rombongan belajar),ruang kelas, Guru dan Fasilitas 6 DAFTAR TABEL DATA NONPENDIDIKAN Tabel 1 : Keadaan Umum Nonpendidikan 1 Tabel 2 : Luas wilayah, penduduk seluruhnya, dan penduduk usia sekolah 2 Tabel 3 : Jumlah desa, desa terpencil, tingkat kesulitan

Lebih terperinci

Pelaksanaan, Monitoring, Evaluasi, Pelaporan, dan Pemutakhiran RKS/M/RKT/RKAS

Pelaksanaan, Monitoring, Evaluasi, Pelaporan, dan Pemutakhiran RKS/M/RKT/RKAS Untuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pedoman Untuk Kepala Sekolah/Madrasah Pelaksanaan, Monitoring, Evaluasi, Pelaporan, dan Pemutakhiran RKS/M/RKT/RKAS KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

Lebih terperinci

Pengembangan. peningkatan sumberdaya lainnya secara nasional serta intervensi terutama pada sekolah dan kabupaten/ kota tertinggal

Pengembangan. peningkatan sumberdaya lainnya secara nasional serta intervensi terutama pada sekolah dan kabupaten/ kota tertinggal MATRIK BAHASAN SIDANG KOMISI I PADA REMBUK NASIONAL PENDIDIKAN TAHUN 2009 TOPIK BAHASAN : PENDIDIKAN GRATIS DAN STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM) No Keadaan Saat Ini Permasalahan 1 Standar Kompetensi Lulusan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 823, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENAG. Madrasah. Pendirian. Penegerian. Masyarakat. PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2014 TENTANG PENDIRIAN MADRASAH YANG DISELENGGARAKAN

Lebih terperinci

Industri & sektor lainnya berkembang sehingga pertumbuhan dan pemerataan lebih cepat

Industri & sektor lainnya berkembang sehingga pertumbuhan dan pemerataan lebih cepat KEBIJAKAN FISKAL MELALUI REFORMULASI DAK PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL UNTUK PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung menurun, (dan juga ketimpangan pendapatan

Lebih terperinci

1. Program keahlian melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

1. Program keahlian melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) I. STANDAR ISI 1. Program keahlian melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) A. Melaksanakan kurikulum berdasarkan 9 muatan KTSP B. Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

RENCANA KERJA ANGGARAN SATKER RENCANA KINERJA SATUAN KERJA TAHUN ANGGARAN 2014

RENCANA KERJA ANGGARAN SATKER RENCANA KINERJA SATUAN KERJA TAHUN ANGGARAN 2014 UNIT ORG KERJA RENCANA KINERJA KERJA Halaman 1 25.4.7 Program Pendidikan Islam 1.352.855. 1.352.855. Indikator Kinerja Utama Program 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 12 13 14 15 16 17 18 19 2 21 22 23 24 25 26 27

Lebih terperinci

Modul Evaluasi Diri Sekolah/Madrasah

Modul Evaluasi Diri Sekolah/Madrasah Modul Evaluasi Diri Sekolah/Madrasah Evaluasi Diri Sekolah/Madrasah i Pengembangan modul ini didukung oleh: Asian Develoment Bank (ADB), Australia Agency for International Development (AusAID), World Bank/Bank

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 40 B. TUJUAN 40 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 40 D. UNSUR YANG TERLIBAT 41 E. REFERENSI 41 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 41

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 40 B. TUJUAN 40 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 40 D. UNSUR YANG TERLIBAT 41 E. REFERENSI 41 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 41 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 40 B. TUJUAN 40 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 40 D. UNSUR YANG TERLIBAT 41 E. REFERENSI 41 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 41 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 44 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 50 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 50 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51 JUKNIS ANALISIS STANDAR PENGELOLAAN SMA DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 50 B. TUJUAN 50 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 50 D. UNSUR YANG TERLIBAT 51 E. REFERENSI 51 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 51 G. URAIAN PROSEDUR

Lebih terperinci

Pusat Kurikulum Balitbang Diknas Departemen Pendidikan Nasional Instrumen SKM 2

Pusat Kurikulum Balitbang Diknas Departemen Pendidikan Nasional Instrumen SKM 2 INSTRUMEN SEKOLAH KATEGORI MANDIRI Pandidikan Dasar dan Menengah Pusat Kurikulum Balitbang Diknas Departemen Pendidikan Nasional 2007 Instrumen SKM 2 1. Proses penyelenggaraan. a. Standar Isi. 1 Kerangka

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN NOMOR : 420/ 2426 / /2015 TENTANG

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN NOMOR : 420/ 2426 / /2015 TENTANG KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN TUBAN NOMOR : 420/ 2426 /414.050/ TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU PADA SATUAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN TUBAN TAHUN

Lebih terperinci

RPJMD Kab. Temanggung Tahun I X 31

RPJMD Kab. Temanggung Tahun I X 31 AWAL TARGET SASARAN MISI 212 213 214 215 216 217 218 218 SD/MI % 33.22 33.22 33.22 33.22 33.22 33.22 33.22 33.22 Dinas Pendidikan Jumlah SD/MI jumlah SD/MI kali 1% diharapkan di tahun 218 tinggal 1,1%

Lebih terperinci

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). I. STANDAR ISI 1. Sekolah/Madrasah melaksanakan kurikulum berdasarkan muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melaksanakan kurikulum berdasarkan 8 muatan KTSP Melaksanakan kurikulum berdasarkan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 82 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci