PROSEDUR TETAP DEKLARASI KONDISI PEMBANGKIT DAN INDEKS KINERJA PEMBANGKIT. No. PLN/DKP-IKP/ JUNI 2007

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PROSEDUR TETAP DEKLARASI KONDISI PEMBANGKIT DAN INDEKS KINERJA PEMBANGKIT. No. PLN/DKP-IKP/2007-01 JUNI 2007"

Transkripsi

1 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 PROSEDUR TETAP DEKLARASI KONDISI PEMBANGKIT DAN INDEKS KINERJA PEMBANGKIT No. PLN/DKP-IKP/ JUNI 2007 PT PLN Edisi 01 Revisi 03 Halaman 1

2 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 (Halaman ini sengaja dikosongkan) Edisi 01 Revisi 03 Halaman 2

3 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 KATA PENGANTAR Informasi mengenai kondisi dan kesiapan Pembangkit berdasarkan Standar Internasional sangat diperlukan dalam operasi sistem. Operator sistem akan menggunakan informasi tersebut sebagai dasar dalam pengambilan keputusan perintah dispatch. Akurasi tingkat sekuriti dan keandalan sistem akan tergantung kepada kebenaran atau kemutakhiran dari informasi tentang kondisi dan kesiapan Pembangkit tersebut. Disamping itu, kebutuhan operasi sistem saat ini juga menghendaki diberlakukannya; a). mekanisme niaga yang mendorong kesiapan Pembangkit, dan b). pengertian yang sama tentang cara perhitungan indeks kinerja pembangkit. Informasi mengenai kesiapan Pembangkit aktual menjadi salah satu parameter yang penting dalam menentukan besar pembayaran yang akan diperoleh Pembangkit. Oleh karena itu mekanisme deklarasi kondisi Pembangkit dan cara perhitungan Indeks Kinerja Pembangkit perlu disusun agar dapat membantu operasi sistem dalam mempertahankan sekuriti dan keandalan, serta merupakan sumber informasi kesiapan aktual Pembangkit untuk keperluan perhitungan pembayaran dan agar semua pihak terkait dapat menggunakan parameter dan metode perhitungan yang sama untuk keperluan operasi sistem maupun pembangkit. Dengan prosedur tetap deklarasi kondisi Pembangkit dan indeks kinerja pembangkit ini diharapkan operasi sistem dan pelaksanaan mekanisme niaga sistem tenaga listrik Jawa Bali dapat berjalan lebih baik dan lancar. Juni 2007 PT PLN (Persero) Edisi 01 Revisi 03 Halaman i

4 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 A. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i A. DAFTAR ISI...ii B. KELENGKAPAN DOKUMEN PROTAP...iv B.1. LEMBAR PENGESAHAN...iv B.2. DAFTAR DISTRIBUSI...vi B.3. NOMOR PENGENDALIAN DOKUMEN...vi B.4. CATATAN PERUBAHAN DOKUMEN...vi C. PENDAHULUAN... 1 C.1. UMUM... 1 C.2. DEFINISI C.3. MAKSUD DAN TUJUAN... 2 C.4. REFERENSI... 2 D D.1. RUANG LINGKUP... 3 D.2. DEKLARASI DAN KONFIRMASI KONDISI PEMBANGKIT... 5 D.2.1. PETUGAS PELAKSANA DAN PENANGGUNG JAWAB... 5 D.2.2. TATA-CARA... 7 E. PROSEDUR TETAP PERHITUNGAN INDEKS KINERJA PEMBANGKIT. 10 E.1. RUANG LINGKUP...10 E.2. DIAGRAM KONDISI (STATUS) UNIT PEMBANGKIT...11 E.3. PERPINDAHAN KONDISI PEMBANGKIT YANG DIIZINKAN...12 E.4. DEFINISI E.4.1. OUTAGE...13 E.4.2. DERATING...15 E.4.3. RESERVE SHUTDOWN (RS) DAN NON CURTAILING (NC)...16 E.4.4. CATATAN OUTAGE DAN DERATING...16 E.5. DURASI E.7. FORMULA PERHITUNGAN INDEKS KINERJA PEMBANGKIT...22 E.7.1. UNIT PEMBANGKIT TUNGGAL...22 Edisi 01 Revisi 03 Halaman ii

5 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 E.7.2. UNIT PEMBANGKIT GABUNGAN/KOMPOSIT (BASIS WAKTU)...24 E.7.3. UNIT PEMBANGKIT GABUNGAN/KOMPOSIT (BASIS KAPASITAS)...25 E.7.4. FORMULA TANPA OMC...26 E.8. PENGELOMPOKAN KODE PENYEBAB (CAUSE CODE) KONDISI PEMBANGKIT...28 F. PENUTUP LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran D-1 DAFTAR ALAMAT KOMUNIKASI...30 Lampiran D-2 DIAGRAM ALIR PROSES DEKLARASI KONDISI PEMBANGKIT...31 Lampiran D-3 Form. H-DKP-P3B...33 Lampiran D-4 Form. H-DKP-Pembangkit...34 Lampiran D-5 Form. H-DKP-S-P3B...35 Lampiran D-6 Form. H-DKP-TS-P3B...36 Lampiran D-7 Form. H-DKP-TS-Pembangkit...37 Lampiran E-1 KODE PENYEBAB (CAUSE CODE) KONDISI PEMBANGKIT...38 Lampiran E-1A RINCIAN KODE PENYEBAB KONDISI PEMBANGKIT - PLTA...39 Lampiran E-1B RINCIAN KODE PENYEBAB KONDISI PEMBANGKIT - PLTG...45 Lampiran E-1C RINCIAN KODE PENYEBAB KONDISI PEMBANGKIT - PLTGU...54 Lampiran E-1D RINCIAN KODE PENYEBAB KONDISI PEMBANGKIT - PLTU...74 Lampiran E-1E RINCIAN KODE PENYEBAB KONDISI PEMBANGKIT - PLTD...96 Lampiran E-1F RINCIAN KODE PENYEBAB KONDISI PEMBANGKIT - PLTP Lampiran E-2 KODE PENYEBAB DILUAR TANGGUNG JAWAB PENGENDALIAN PEMBANGKIT (OMC - OUTSIDE PLANT MANAGEMENT CONTROL) Lampiran E-3A INTERPRETASI OUTAGE DAN DERATING Lampiran E-3B LAPORAN KONDISI PEMBANGKIT Lampiran E-4 METODA SINTESIS & FLEET-TYPE ROLL UP UNTUK MENGHITUNG KONDISI DAN KINERJA BLOK Edisi 01 Revisi 03 Halaman iii

6 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 B. KELENGKAPAN DOKUMEN PROTAP B.1. LEMBAR PENGESAHAN No. Pembuat Pedoman Jabatan Tanda Tangan Tanggal 1. Sunardjito DM-OPSIS BOPS P3B JB 2. Nyoman Wisnawa DM-TRATL BOPS`P3B JB 3. Harjadi DM-RENOP P3B JB 4. S. Januwarsono Staf Ahli PKT PLN Pusat 5. Darwanto Maadin Spv-EOOP BOPS P3B JB 6. Yogi Surwiatmadi Spv-RENOP BOPS P3B JB 7. Suwito Spv-OPSIS BOPS P3B JB 8. Ahmad Sifa PT IP 9. Supriyadi APEE PT IP 10. Edy Hartono ASMAN ME PT PJB 11. Retno Handayani Spesialis ME PT PJB 12. Arif Wahyu Adi ASMAN KINERJA PT PJB 13. Zutesta Iskandar DM OPHAR PT PLN PMT 14. Sapto Nugroho AM PK PLTU Tanjung Jati B 15. Karyawan Adji AMA EP PLTU Tanjung Jati B 16. Purwoko ME PLTGU Cilegon 17. Zuhdi Rahmanto AM EP PLTGU Cilegon 18. M. Taufik AM KOPKIT BOPS P3B JB Edisi 01 Revisi 03 Halaman iv

7 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 DIPERIKSA dan DISAHKAN Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal Nur Pamudji Manajer BOPS P3B JB Ulysses R. Simandjuntak DD PTL PT PLN (Persero) Agus Darmadi DD PKT PT PLN (Persero) M. Nasai Hamid Nusyirwan Sudirmanto Chusnul Hidayat Bernadus Sudarmanto Prawoko Basuki Siswanto Paingot Marpaung Vice President Pengendalian Niaga PT IP Vice President Pengusahaan Pembangkitan I PT IP Vice President Pengusahaan Pembangkitan II PT IP Manajer Manajemen Energi PT PJB Manajer Manajemen Niaga PT PJB General Manager Pembangkitan Muaratawar (PMT) General Manager Pembangkitan PLTU Tanjung Jati B General Manager Pembangkitan PLTGU Cilegon Edisi 01 Revisi 03 Halaman v

8 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 B.2. DAFTAR DISTRIBUSI No. Bidang / Unit / Pelaksana Personil 1. Bidang Operasi Sistem P3B JB Manajer, DMOPSIS, DMTRATL, DMRENOP 2. DD PTL PT PLN (Persero) Ulysses R. Simandjuntak 3. DD PKT PT PLN (Persero) Agus Darmadi 4. PT Indonesia Power VPAGA, VPKIT-I, VPKIT-II 5. PT PJB MME, MAGA 6. PLN PMT GM Pembangkitan 7. PLN TANJUNG JATI B GM Pembangkitan 8. PLN PLTGU CILEGON GM Pembangkitan B.3. NOMOR PENGENDALIAN DOKUMEN B.4. CATATAN PERUBAHAN DOKUMEN Revisi ke Tanggal Halaman Paragraf Alasan Disahkan Oleh Fungsi/ Jabatan Tanda Tangan 1 /02/ /05/ DEFINISI 1.3 REFERENSI Penyesuaian dan penambahan definisi Penambahan Sub Bab Nur Pamudji I Made Ro Sakya Manager UBOS P3B Manager USEM P3B RUANG LINGKUP Penyempurnaan dan penambahan Definisi Outages Ulysses R. Simandjuntak DD PKP PLN Pusat Edisi 01 Revisi 03 Halaman vi

9 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni DEKLA- RASI & KONFIRMA- SI KETIDAK- SIAPAN PEMBANG- KIT Perubahan dan penambahan - Petugas Pelaksana dan Penanggung Jawab - Tata Cara M. Nasai Hamid Sudirmanto Djoko Susanto M. Karamoy MSAGA PT IP MSPT PT IP MME PT PJB PH GM PT PLN PMT 3 30/05/07 - Penggabungan dua protap (PROTAP HDKS dan PROTAP IKP) menjadi satu protap (PROTAP DKP dan IKP) - Meniadakan perubahan FO ke MO pada sub Bab Definisi Outage dan Derating - Penambahan definisi Planned Extention (PE), Maintenance Extention (ME), Non Curtailing Event (NC), dan Outside Plant Management Control (OMC). - Melengkapi Kode Penyebab Komponen lebih terperinci mengacu ke standar GADS-DRI NERC - Penambahan kelompok Formula; 1). Perhitungan Pembangkit Gabungan (basis waktu); dan 2). Formula Perhitungan Pembangkit OMC (Outside Management Control) - Penambahan Lampiran-lampiran 1). Lampiran D-2 Diagram Alir Proses Deklarasi Laporan Kondisi Pembangkit; 2). Lampiran E-2 Kode Penyebab OMC; 3). Lampiran E-3A & E 3B Interpretasi dan Pelaporan Outage/Derataing; 4). Lampiran E-4 Perhitungan Kinerja PLTGU (Blok) dengan metode Sintesis dan Fleet-type Roll Up. Nur Pamudji Ulysses R. Simandjuntak Agus Darmadi M. Nasai Hamid Nusyirwan Sudirmanto Chusnul Hidayat Bernadus Sudarmanto Prawoko Basuki Siswanto Paingot Marpaung MBOPS P3B JB DD PTL PT PLN (Persero) DD PKT PT PLN (Persero) VPAGA PT IP VPKIT-I PT IP VPKIT-II PT IP MME PT PJB Manager MAGA PT PJB GM PLN PMT GM PLN Tanjung Jati B GM PLN PLTGU Cilegon *) *) Catatan Ruang/Space ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Edisi 01 Revisi 03 Halaman vii

10 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 C. PENDAHULUAN C.1. UMUM Sesuai dengan amanat RUPS PT PLN (Persero) dan Anak Perusahaan yang mengharuskan mengukur Kinerja Pembangkit dengan menggunakan standar internasional (NERC 2007), maka diperlukan Tata Cara dan Rumusan Perhitungan Indeks Kinerja Pembangkit yang digunakan di lingkungan Unit Pembangkit PT PLN (Persero). Data Indeks Kinerja Pembangkit tersebut di atas dapat digunakan untuk perhitungan Kesiapan Komersial Pembangkit sebagai dasar Perhitungan Pembayaran Kapasitas Pembangkit sesuai Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL)/Kesepakatan Transfer Tenaga listrik antara PT PLN (Persero) dengan Perusahaan Pembangkit/PLN Pembangkitan. Dalam Protap ini Pihak Pihak yang terkait adalah PT Indonesia Power selaku pihak penjual, selanjutnya disebut IP; PT Pembangkitan Jawa Bali selaku pihak penjual, selanjutnya disebut PJB; PT PLN (Persero) Pembangkitan Muara Tawar selaku pihak pemasok, selanjutnya disebut PMT; PT PLN (Persero) Pembangkitan Tanjung Jati B selaku pihak pemasok, selanjutnya disebut TJB; PT PLN (Persero) Pembangkitan PLTGU Cilegon selaku pihak pemasok, selanjutnya disebut CLG; PT PLN (Persero) selaku pihak pembeli, selanjutnya disebut PLN; PT PLN (Persero) P3B Jawa Bali selaku pelaksana kontrak jual beli tenaga listrik yang bertindak untuk dan atas nama pembeli, selanjutnya disebut P3B JB; Semua Perusahaan Pembangkit lain yang terhubung ke grid Sistem Jawa Bali. C.2. DEFINISI UBP adalah Unit Bisnis Pembangkit PT IP UP adalah Unit Pembangkitan PT PJB VPAGA adalah Vice President Niaga PT IP VPKIT-I/II adalah Vice President Pengusahaan Pembangkit I/II PT IP MME adalan Manajer Manajemen Energi PT PJB MMAGA adalan Manajer Manajemen Niaga PT PJB REGION adalah Region Jawa Barat, Region Jakarta dan Banten, Region Jawa Tengah dan DIY serta Region Jawa Timur dan Bali PT PLN (Persero) P3B Jawa Bali Jawa Bali Edisi 01 Revisi 03 Halaman 1

11 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 BOPS adalah Bidang Operasi Sistem yang merupakan bidang dari PT PLN (Persero) P3B Jawa Bali dan bertugas menjalankan fungsi operator sistem dan menjalankan fungsi pengelolaan transaksi tenaga listrik di sistem Jawa-Bali termasuk didalamnya pengelolaan sistem metering. DMN adalah daya mampu netto Pembangkit sesuai kontrak jual beli tenaga listrik antara IP atau Pembangkit dengan PLN. Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) adalah kontrak/perjanjian/ kesepakatan tentang jual beli tenaga listrik atau Transfer Tenaga Listrik antara PLN dengan masing-masing Penjual, yaitu IP, PJB, PMT, TJB, CLG. Aplikasi Dispatch adalah aplikasi pencatatan perintah dispatch. Aplikasi HDKP adalah aplikasi pencatatan harian deklarasi kondisi pembangkit. Aplikasi GAIS (Generation Availability Information System) adalah aplikasi perhitungan Indeks Kinerja Pembangkit. C.3. MAKSUD DAN TUJUAN Protap ini dibuat dengan maksud untuk menjadi pedoman tetap bagi pelaksanaan pencatatan kondisi unit Pembangkit aktual. Data yang diperoleh melalui proses sebagaimana diuraikan pada Protap ini akan digunakan untuk 1. Keperluan perhitungan Indeks Kinerja Pembangkit yang mengacu pada NERC 2007 (North American Electric Reliability Council); 2. Keperluan perhitungan kesiapan komersial Pembangkit sesuai PJBTL. C.4. REFERENSI Protap ini mengacu pada dokumen berikut 1. Aturan Jaringan Sistem Jawa-Madura-Bali versi Generation Availability Data System - Data Reporting Instructions (GADS DRI) NERC PJBTL antara PT PLN (Persero) dengan Pembangkit yang masih berlaku. Edisi 01 Revisi 03 Halaman 2

12 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 D. D.1. RUANG LINGKUP Protap ini meliputi proses deklarasi dan konfirmasi kondisi aktual Pembangkit yang diakibatkan oleh kondisi berikut PEMBANGKIT KELUAR (FULL OUTAGE) 1. SO - Scheduled Outage, meliputi PO - Planned Outage (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.1. Protap ini). MO - Maintenance Outage (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.1. Protap ini). 2. SE - Scheduled Outage Extension, meliputi PE - Planned Outage Extension (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.1. Protap ini). ME - Maintenance Outage Extension (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.1. Protap ini). 3. FO - Forced Outage, meliputi FO1 (U1) - Unplanned (Forced) Outage Immediate (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.1. Protap ini). FO2 (U2) - Unplanned (Forced) Outage Delayed (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.1. Protap ini). FO3 (U3) - Unplanned (Forced) Outage Postponed (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.1. Protap ini). SF - Startup Failure ((Lihat definisi Outage pada Sub E.4.1. Protap ini). 4. RS - Reserve Shutdown (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.3. Protap ini). 5. NC - Noncurtailing Event (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.3. Protap ini). PEMBANGKIT DERATING (PARTIAL OUTAGE) 1. SD - Scheduled Derating, meliputi Edisi 01 Revisi 03 Halaman 3

13 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 PD - Planned Derating (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.2. Protap ini). MD (D4) - Maintenance Derating (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.2. Protap ini). 2. DE (Scheduled) Derating Extension, meliputi PDE (DP) Planned Derating Extension (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.2. Protap ini). MDE (DM) - Maintenance Derating Extension (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.2. Protap ini). 3. FD - Forced Derating, meliputi FD1 (D1) - Unplanned (Forced) Derating Immediate (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.2. Protap ini). FD2 (D2) - Unplanned (Forced) Derating Delayed (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.2. Protap ini). FD3 (D3) - Unplanned (Forced) Derating Postponed (Lihat definisi Outage pada Sub E.4.2. Protap ini). CATATAN TAMBAHAN Pada Lampiran E-2, Lampiran E-3, dan Lampiran E-4 diuraikan beberapa contoh interpretasi dan laporan Outage/Derating (termasuk kondisi OMC) yang diharapkan dapat memperjelas pengertian kondisi-kondisi Pembangkit. Kondisi yang tidak dapat digolongkan sebagai derating adalah sebagai berikut a) Daya mampu aktual Pembangkit yang lebih besar dari atau sama dengan 98% (sembilan puluh delapan persen) dari DMN pembangkit dalam selang waktu setengah jam secara terus-menerus. b) Apabila diminta oleh Dispatcher BOPS atau REGION P3B untuk mencapai tingkat pembebanan tertentu, dan pembebanan Pembangkit aktual mencapai tingkat pembebanan tersebut dengan rentang -2% (minus dua persen) dari DMN dalam selang waktu setengah jam secara terus-menerus. c) Derating saat Unit Startup Tiap unit mempunyai waktu "standar" atau "normal" untuk mencapai beban penuh setelah/dari keadaan outage. Jika suatu unit dalam proses start up dari kondisi outage ke tingkat beban penuh atau ke tingkat beban yang ditentukan sesuai periode yang normal, Edisi 01 Revisi 03 Halaman 4

14 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 maka tidak ada derating pada unit. Jika unit memerlukan waktu lebih panjang dibanding waktu start up normal menuju beban penuh atau menuju beban yang ditentukan dispatcher, maka unit dianggap mengalami derating. Kapasitas unit pada akhir periode normal akan menentukan derate dan derate akan berlangsung sampai unit dapat mencapai kemampuan beban penuh atau tingkat beban yang ditentukan dispatcher. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan kondisi Pembangkit adalah sebagai berikut a) Apabila selisih waktu aktual sinkronisasi Pembangkit ke sistem sesuai perintah sinkron dispatcher lebih besar dari 5 (lima) menit (sesuai Grid Code SDC a) dari target waktu yang disampaikan oleh Dispatcher BOPS atau REGION P3B berdasarkan infromasi dari IP atau Pembangkit, maka hal ini diperhitungkan sebagai kondisi Pembangkit. b) Apabila tidak terdapat target waktu spesifik yang diminta oleh Dispatcher BOPS atau REGION P3B dan tingkat pembebanan Pembangkit dicapai melebihi 2 (dua) menit dari prakiraan waktu berdasarkan deklarasi ramping ratenya (sesuai Grid Code b), maka Pembangkit dianggap mengalami derating. Butir ini diberlakukan jika telah tersedia infrastruktur (hardware dan software) yang mendukung. c) Apabila terdapat target waktu spesifik yang diminta oleh Dispatcher BOPS dan REGION P3B, dan bila tingkat pembebanan tersebut dicapai melebihi 2 (dua) menit dari target waktu tersebut (sesuai Grid Code SDC c), maka Pembangkit dianggap mengalami derating. Butir ini diberlakukan jika telah tersedia infrastruktur (hardware dan software) yang mendukung. Kondisi-kondisi tersebut di atas yang dapat mempengaruhi perhitungan pembayaran kepada perusahaan Pembangkit, merupakan kondisi awal yang akan digunakan. Jika terdapat ketentuan pada PJBTL yang mutakhir antara perusahaan Pembangkit dan PLN yang menyatakan lain, maka kondisi seperti tersebut diatas akan disesuaikan berdasarkan kontrak tersebut. D.2. DEKLARASI DAN KONFIRMASI KONDISI PEMBANGKIT D.2.1. PETUGAS PELAKSANA DAN PENANGGUNG JAWAB Petugas pelaksana pencatatan real time kondisi pembangkit dan perintah dispatch, melalui Aplikasi Dispatch apabila ada, ditentukan sebagai berikut a) P3B Dispatcher BOPS untuk Pembangkit yang terhubung ke sistem 500 kv dan dispatcher REGION P3B untuk Pembangkit yang terhubung ke sistem 150 kv dan 70 kv. b) IP Supervisor Operasi atau Operator Pembangkit yang mewakili Supervisor Operasi. c) PJB Supervisor Produksi atau Operator Pembangkit yang mewakili Supervisor Produksi. Edisi 01 Revisi 03 Halaman 5

15 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 d) PMT Operator pembangkit PLTGU Muara Tawar milik PMT e) TJB Operator pembangkit PLTU Tanjung Jati B f) CLG Operator pembangkit PLTGU Cilegon Pelaksana proses acknowledgement penerimaan rekap data kondisi Pembangkit untuk periode tertentu dalam operasi hari berjalan adalah sebagai berikut a) P3B Supervisor Operasi Real Time BOPS b) IP Pelaksana Pengendalian Niaga UBP PT IP c) PJB Supervisor Produksi atau Operator Pembangkit yang mewakili Supervisor Produksi. d) PMT Operator pembangkit PLTGU Muara Tawar milik PMT e) TJB Shift Leader Operator Pembangkit PLTU Tanjung Jati B f) CLG Supervisor Produksi Pembangkit PLTGU Cilegon Pelaksana proses konfirmasi harian kondisi Pembangkit harian ditentukan sebagai berikut a) P3B Supervisor Operasi Real Time BOPS b) IP Supervisor Operasi dan Niaga UBP PT IP dan atau Staf Senior Meter dan Setelmen c) PJB Supervisor RENDALOP dan atau staf yang mewakili di Unit Pembangkit d) PMT Asisten Manager Operasi Real Time e) TJB Edisi 01 Revisi 03 Halaman 6

16 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 Enjinir Operasi Operator Pembangkit PLTU Tanjung Jati B f) CLG Supervisor Produksi Pembangkit PLTGU Cilegon D.2.2. TATA-CARA a) Unit Pembangkit dengan DMN unit Pembangkit lebih besar atau sama dengan 15 MW harus mendeklarasikan kepada dispatcher BOPS atau dispatcher REGION P3B atau dispatcher Sub- Region Bali sesuai kewenangannya mengenai setiap kondisi Pembangkit aktual baik yang parsial (derating), tidak siap sepenuhnya (DMN = 0) akibat PO, MO, atau FO, kondisi Unit yang siap, maupun kondisi non event curtailing (NC) untuk periode Mingguan (RDM) berikut Cause Code nya. Data pembangkit yang tidak siap akan dimasukkan oleh BOPS ke dalam database HDKP. Data unit Pembangkit yang siap akan di Dispatch dalam ROH (Rencana Operasi Harian). b) Jika terjadi perubahan kondisi pembangkit dari RDM/ROH, maka pihak Pembangkit atau BOPS/REGION P3B JB akan mendeklarasikan perubahan kondisi Pembangkit tersebut dengan menyebutkan nama dan nomor unit Pembangkit, daya mampu Pembangkit maksimum, waktu mulai dan berakhirnya kondisi tersebut, alasan kejadian, cause code komponen/kelompok dan nama operator/supervisor yang melaporkan dalam Deklarasi Harian Kondisi Pembangkit (HDKP). Jika tidak terdapat deklarasi perubahan kondisi Pembangkit maka daya mampu aktual Pembangkit yang digunakan untuk keperluan perhitungan kondisi Pembangkit adalah daya mampu mutakhir sesuai RDM yang disampaikan ke BOPS. Setiap Operator atau Supervisor Operasi yang berkomunikasi secara elektronik, tertulis maupun suara dengan Dispatcher adalah sah sebagai juru bicara unit Pembangkit. c) Apabila telah menggunakan Aplikasi Dispatch, Supervisor Operasi atau Operator Pembangkit yang mewakili Supervisor Operasi Pembangkit atau yang mewakili harus mengakui telah menerima (acknowledgement) perintah dispatch atau daya mampu maksimum atau informasi lainnya yang di-klaim oleh Dispatcher BOPS melalui Aplikasi Dispatch dan memberikan komentar/informasi/persetujuan kondisi pembangkit atas perintah dispatcher. Apabila dalam perintah Dispasthcer tidak ada waktu untuk memberikan perintah, maka Supervisor Operasi atau Operator Pembangkit yang mewakili Supervisor Operasi Pembangkit wajib mengisikan dalam aplikasi atas perintah dispathcer dan selanjutnya dispatcher hanya melakukan acknowledgement. d) Apabila Aplikasi Dispatch tidak dapat berfungsi atau belum diimplementasikan, maka Dispatcher BOPS, REGION dan Sub Region Bali harus mencatat semua data dari deklarasi yang dilakukan operator Pembangkit dan informasi operasi pembangkit lainnya pada logbook operasi sistem/logsheet. Komunikasi operasi tersebut harus pula direkam oleh BOPS dengan sarana voice recorder. Hasil dari koordinasi mengenai data/informasi selanjutnya akan dimasukkan oleh BOPS kedalam data base Aplikasi HDKP. e) Supervisor Operasi Real Time BOPS akan mengirim rekap Data Awal kondisi Pembangkit harian seperti daya mampu maksimum, penyebab kejadian dan cause codenya untuk data yang Edisi 01 Revisi 03 Halaman 7

17 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 sudah terkumpul pada periode tugas/shiftnya kepada Supervisor Pembangkit atau yang mewakili melalui Web Aplikasi HDKP f) Supervisor Pembangkit atau yang mewakili akan melakukan acknowledgement atas Data Awal kondisi Pembangkit meliputi daya mampu maksimum, penyebab kejadian dan cause codenya melalui Web Aplikasi HDKP. g) Form H-DKP-P3B yang berisi Rekap Final data kondisi Pembangkit periode operasi mulai pukul 0000 WIB hingga 2400 WIB satu hari sebelumnya akan dikirim selambat-lambatnya pukul WIB setiap harinya oleh Supervisor Operasi Real Time BOPS melalui Web Aplikasi HDKP untuk selanjutnya dikonfirmasi oleh Supervisor Pembangkit atau yang mewakili. Lihat Lampiran D-3. h) Supervisor Operasi dan Niaga UBP IP, Supervisor di Unit Pembangkit PJB, dan Asisten Manager Operasi real Time - PLN PMT, Enjinir Operasi TJB, Supervisor Produksi CLG, melakukan konfirmasi mengenai data kondisi Pembangkit periode operasi satu hari sebelumnya mulai pukul 0000 WIB hingga 2400 WIB satu hari sebelumnya melalui Web Aplikasi HDKP Form H-DKP-Pembangkit (lihat Lampiran D-4) selambat-lambatnya pukul 1500 setiap harinya. Konfirmasi yang perlu dilakukan yaitu Mengisi ruang "Konfirmasi" dengan huruf S jika data kondisi Pembangkit disepakati atau mengisinya dengan huruf "TS" jika data kondisi Pembangkit belum disepakati. IP, PJB, PMT, TJB dan CLG apabila diperlukan, memberikan penjelasan pada kolom "Keterangan" terhadap data kondisi Pembangkit yang belum disepakati. Mengisi, memperbaiki atau melengkapi data Cause Code penyebab kejadian pada ruang yang terdapat di Aplikasi HDKP. Jika a) tidak terdapat konfirmasi atas data kondisi harian hingga pukul 1500 WIB keesokan harinya atau pada hari kerja terdekat setelah hari libur; atau b) terdapat data yang tidak dilengkapi dengan konfirmasi S atau TS, maka data kondisi yang disampaikan BOPS dianggap sebagai data yang benar. Apabila jadwal penyampaian deklarasi dan konfirmasi harian jatuh pada hari Sabtu, Minggu atau hari libur, maka proses deklarasi dan konfirmasi sesuai Protap ini dilakukan pada hari kerja terdekat setelah hari libur tersebut. i) Selanjutnya, BOPS P3B akan memfasilitasi penyelesaian mengenai data kondisi yang belum disepakati (berstatus TS ) oleh IP, PJB, PMT, TJB, dan CLG berdasarkan data pendukung yang ada. j) Data kondisi yang telah disepakati akan digunakan oleh BOPS P3B sebagai dasar perhitungan Indeks Kinerja Pembangkit... k) Jika masih terdapat data kondisi yang belum disepakati, maka harus diselesaikan secara kesepakatan bersama antara BOPS dan Pembangkit atau dilanjutkan kepada komisi Grid Code Edisi 01 Revisi 03 Halaman 8

18 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 l) BOPS harus menyampaikan hasil akhir penyelesaian data kondisi yang berstatus TS. Data tersebut dapat dikoreksi dengan alasan yang disepakati oleh BOPS dan perusahaan Pembangkit. (Lihat Lampiran D-6 dan D-7). m) Apabila terdapat kendala pada saluran komunikasi untuk penggunaan Web Aplikasi HDKP, maka proses konfirmasi dilakukan melalui , facsimile atau ftp. Alamat BOPS, UBP - IP, PJB, PMT, TJB dan CLG serta server ftp dapat dilihat pada Lampiran D-1. Selanjutnya BOPS akan mengisikan data tersebut ke database HDKP. n) Untuk memperjelas proses pelaksanaan deklarasi kondisi pembangkit dapat dilihat pada Diagram Alir pada Lampiran D-2 o) Penunjukan waktu di ruang kontrol P3B Gandul (berdasarkan GPS) digunakan sebagai Waktu Standar untuk semua pencatatan dan pelaporan kejadian Pembangkit. Edisi 01 Revisi 03 Halaman 9

19 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 E. PROSEDUR TETAP PERHITUNGAN INDEKS KINERJA PEMBANGKIT E.1. RUANG LINGKUP Terdapat 4 metode perhitungan Indeks Kinerja Pembangkit yang disepakati, yaitu 1. Perhitungan Pembangkit Tunggal (basis waktu) 2. Perhitungan Pembangkit Gabungan (basis waktu) 3. Perhitungan Pembangkit Gabungan (basis energi) 4. Perhitungan Pembangkit Tunggal/Gabungan OMC (Outside Management Control) Indeks kinerja pembangkit yang disepakati untuk mengacu pada Protap ini yaitu PER UNIT PEMBANGKIT (Termasuk OMC) ** 1. Availability Factor (AF) 2. Equivalent Availabity Factor (EAF) 3. Service Factor (SF) 4. Planned Outage Factor (POF) 5. Maintenance Outage Factor (MOF) 6. Forced Outage Factor (FOF) 7. Reserve Shutdown Factor (RSF) 8. Unit Derating Factor (UDF) 9. Seasonal Derating Factor (SEDF) 10. Forced Outage Rate (FOR) 11. Forced Outage Rate Demand (FOR d ) 12. Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) 13. Eq. Forced Outage Rate demand (EFOR d ) 14. Net Capacity Factor (NCF) 15. Net Output Factor (NOF) UNIT PEMBANGKIT GABUNGAN (Termasuk OMC) ** 1. Weighted Availability Factor (WAF) 2. Weighted Equivalent Availability Factor (WEAF) 3. Weighted Service Factor (WSF) 4. Weighted Planned Outage Factor (WPOF) 5. Weighted Maintenance Outage Factor (WMOF) 6. Weighted Forced Outage Factor (WFOF) 7. Weighted Reserve Shutdown Factor (WRSF) 8. Weighted Unit Derating Factor (WUDF) 9. Weighted Seasonal Derating Factor (WSEDF) 10. Weighted Forced Outage Rate (WFOR) 11. Weighted Equivalent Forced Outage Rate (WFORd) 12. W. Equivalent Forced Outage Rate (WEFOR) 13. W. Equivalent Forced Outage Rate demand (WEFOR d ) 14. Weighted Net Capacity Factor (WNCF) 15. Weighted Net Output Factor (WNOF) 16. Plant Factor (PF) 16. Weighted Plant Factor (WPF) ** Formula OMC digunakan untuk menghitung kinerja pembangkit tanpa peristiwa-peristiwa diluar tangguang jawab managemen pembangkit tersebut. Formula OMC sama dengan Formula Non OMC. Untuk membedakannya, gunakan tanda X di awal persamaan. Contoh AF menjadi XAF; FOR menjadi XFOR; WEAF menjadi XWEAF; dan seterusnya. Formula masing-masing indeks kinerja tersebut diuraikan pada sub E.7.1 s.d. E.7.4 Edisi 01 Revisi 03 Halaman 10

20 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 E.2. DIAGRAM KONDISI (STATUS) UNIT PEMBANGKIT Berikut digambarkan pengelompokan status unit pembangkit sebagai acuan dalam Protap ini. TIDAK AKTIF Inactive Reserve Mothballed Retired AKTIF Available (Zero to Full Load) Unavailable (No Load) Reserve *) In Service **) Planned Outage Unplanned O. Planned Deratings No Deratings Unplanned Deratings Planned P. Extension Maintenance (D4) Ext.M. Forced Maintenance Ext. M. Forced Scheduled D1 D2 D3 Scheduled U1 U2 U3 SF *) Not connected, **) Connected Gambar-1. Pengelompokan Status Unit Pembangkit Dua kategori utama status unit pembangkit ditunjukkan pada Gambar-1, yaitu AKTIF dan TIDAK AKTIF. TIDAK AKTIF didefinisikan sebagai status unit tidak siap operasi untuk jangka waktu lama karena unit dikeluarkan untuk alasan ekonomi atau alasan lainnya yang tidak berkaitan dengan peralatan/instalasi pembangkit. Dalam kondisi ini, unit pembangkit memerlukan persiapan beberapa hari sampai minggu/bulan untuk dapat siap operasi. Yang termasuk dalam kondisi ini adalah INACTIVE RESERVE yaitu status bagi unit pembangkit yang direncanakan sebagai cadangan untuk jangka panjang, MOTHBALLED yaitu status unit pembangkit yang sedang disiapkan untuk idle dalam jangka panjang, dan RETIRED yaitu unit yang untuk selanjutnya diharapkan tidak beroperasi lagi namun belum dibongkar instalasinya. Bagian bawah Gambar-1 diatas menunjukkan berbagai status operasi unit pembangkit dengan rincian hingga empat tingkatan. Rincian status demikian merupakan data input yang digunakan dalam program perhitungan indeks kinerja pembangkit pada Aplikasi GAIS (Generation Availability Information System). Edisi 01 Revisi 03 Halaman 11

21 No. Dokumen Berlaku Efektif PLN/DKP-IKP/ Juni 2007 E.3. PERPINDAHAN KONDISI PEMBANGKIT YANG DIIZINKAN Perpindahan kondisi outage ke kondisi outage lainnya dapat dilakukan setelah persoalan yang mengakibatkan outage awal sudah diselesaikan dan unit siap dioperasikan sebagaimana sebelum outage awal terjadi. Tabel-E.3. dibawah ini menunjukkan perpindahan kondisi yang diizinkan. Tabel-E.3. Perpindahan Kondisi Yang Diizinkan DARI KE U1 U2 U3 SF MO PO SE ME PE RS DE DM DP FO1 (U1) Y T T Y Y Y T T T Y FO2 (U2) Y T T Y Y Y T T T Y FO3 (U3) Y T T Y Y Y T T T Y SF Y T T Y Y Y T T T Y MO Y T T Y Y Y Y Y T Y PO Y T T Y T Y Y T Y Y ME Y T T Y T T Y Y T Y PE Y T T Y T T Y T Y Y SE Y T T Y T T Y Y Y Y RS Y T T Y Y Y T T T Y FD1 (D1) T T T FD2 (D2) T T T FD3 (D3) T T T MD (D4) Standar IEEE 762 tidak mengizinkan perpindahan Y Y T dari/ke status derating ke/dari jenis peristiwa yang lain PD kecuali yang telah ditunjukkan (pada Tabel ini) Y T Y DE Y MDE (DM) Y T PDE (DP) T Y CATATAN Y berarti bisa pindah status; T bearti tidak bisa pindah status Edisi 01 Revisi 03 Halaman 12

Bagian I. Persyaratan Umum

Bagian I. Persyaratan Umum RENCANAA KERJA DAN SYARAT-SYARAT (RKS) PT. PEMBANGKITAN JAWA BALI UNIT PEMBANGKITAN MUARA KARANG JL. PLUIT UTARA NO 2A JAKARTA NAMA PENGADAAN NOMOR RKS NOMOR PP TANGGAL : DIGITAL INDICATING CONTROLLER

Lebih terperinci

PENGOPERASIAN OPTIMUM SISTEM TENAGA LISTRIK

PENGOPERASIAN OPTIMUM SISTEM TENAGA LISTRIK PENGOPERASIAN OPTIMUM SISTEM TENAGA LISTRIK Ontoseno Penangsang Text Book : Power Generation Operation and Control Allen J. Wood & Bruce F. Wollenberg Power System Analysis Hadi Saadat INTRODUCTION Acquaint

Lebih terperinci

GPRS adalah General Packet Radio Service; Layanan Health Concierge adalah layanan sebagaimana dimaksud di dalam Lampiran 1;

GPRS adalah General Packet Radio Service; Layanan Health Concierge adalah layanan sebagaimana dimaksud di dalam Lampiran 1; -1- Peralatan adalah handset EPI yang diperlukan untuk menggunakan Layanan yang dibeli oleh Pelanggan dan yang disebutkan di dalam Kontrak dan peralatan pengawasan lain dan/atau aksesorisnya; GPRS adalah

Lebih terperinci

PROSEDUR PERENCANAAN & OPERASI

PROSEDUR PERENCANAAN & OPERASI PROSEDUR PERENCANAAN & No. Dokumen : PT-KITSBS-23 No. Revisi : 00 : i dari iv LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH No Nama Jabatan Tanda Tangan 1. RM. Yasin Effendi PLT DM ADM Umum & Fas 2. Abdan Syakuro

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: KEP-122/BL/2009 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN DALAM RANGKA PENAWARAN UMUM KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008 SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK TERMAL MENTERI NEGARA LINGKUNGAN

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUANNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

SYARAT DAN KETENTUANNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT: SYARAT & KETENTUAN INFOSEKITAR (WEBSITE DAN APLIKASI) ADALAH LAYANAN ONLINE YANG DIMILIKI DAN DIOPERASIKAN OLEH GALAKSI KOMPUTER YAITU APLIKASI YANG MENYEDIAKAN INFORMASI PROMO DISKON/POTONGAN HARGA UNTUK

Lebih terperinci

LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH

LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH PROSEDUR IJIN KERJA No. Dokumen : PT-KITSBS-19 No. Revisi : 00 Tanggal : April Halaman : i dari iv LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH No Nama Jabatan Tanda Tangan 1. RM. Yasin Effendi PLT DM ADM Umum

Lebih terperinci

PERJANJIAN PEMBUKAAN REKENING EFEK

PERJANJIAN PEMBUKAAN REKENING EFEK Pada hari ini, hari... tanggal... di Jakarta, telah dibuat Perjanjian Pembukaan Rekening Efek, oleh dan antara : 1. PT Primasia Securities, dalam hal ini diwakili oleh Heliodorus Sungguhria, dalam jabatannya

Lebih terperinci

PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk

PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk PERSYARATAN UMUM PENGADAAN BARANG & JASA eprocurement PT. Bukit Asam (Persero) Tbk I. Pengertian 1. Aanwijzing adalah pemberian penjelasan kepada Peserta Pengadaan Barang dan Jasa mengenai Rencana Kerja

Lebih terperinci

PENGANTAR OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK. toto_sukisno@uny.ac.id

PENGANTAR OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK. toto_sukisno@uny.ac.id PENGANTAR OPERASI SISTEM TENAGA LISTRIK Operasi adalah pelaksanaan rencana yang telah dikembangkan Tenaga Listrik adalah suatu bentuk energi sekunder yang dibangkitkan, ditransmisikan dan didistribusikan

Lebih terperinci

PT UOB KAY HIAN SECURITIES ( PTUOBKH )

PT UOB KAY HIAN SECURITIES ( PTUOBKH ) SYARAT DAN KETENTUAN TRADING VIA INTERNET PT UOB KAY HIAN SECURITIES ( PTUOBKH ) ( Trading Via Internet PT UOB Kay Hian Securities ) Penting: Syarat dan Ketentuan ( SYARAT DAN KETENTUAN ) dibawah ini dan

Lebih terperinci

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI Elemen Kompetensi III Elemen Kompetensi 1. Menjelaskan prinsip-prinsip konservasi energi 2. Menjelaskan

Lebih terperinci

PROSEDUR TINJAUAN MANAJEMEN

PROSEDUR TINJAUAN MANAJEMEN PROSEDUR TINJAUAN MANAJEMEN No. Dokumen : PT-KITSBS-05 No. Revisi : 00 Halaman : i dari iv LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH No Nama Jabatan Tanda Tangan 1. RM. Yasin Effendi PLT DM ADM Umum & Fas

Lebih terperinci

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Usaha dan/atau kegiatan pembangkit listrik tenaga termal adalah usaha dan/atau kegiatan

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Usaha dan/atau kegiatan pembangkit listrik tenaga termal adalah usaha dan/atau kegiatan SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 08 TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA TERMAL MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang

Lebih terperinci

Terakhir dimodifikasi: 20 Januari 2013

Terakhir dimodifikasi: 20 Januari 2013 Syarat dan Ketentuan Layanan Terakhir dimodifikasi: 20 Januari 2013 Selamat datang di LPMA STMA Trisakti, sebuah Layanan pembelajaran asuransi syariah berbasis elearning ("Layanan") disediakan oleh Sekolah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. terbentuklah suatu sistem tenaga listrik. Setiap GI sesungguhnya merupakan pusat

TINJAUAN PUSTAKA. terbentuklah suatu sistem tenaga listrik. Setiap GI sesungguhnya merupakan pusat II. TINJAUAN PUSTAKA A. Operasi Sistem Tenaga Listrik Pusat-pusat listrik dan gardu induk satu sama lain dihubungkan oleh saluran transmisi agar tenaga listrik dapat mengalir sesuai dengan kebutuhan dan

Lebih terperinci

Virtual Office Semester Ganjil 2014 Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika. caca.e.supriana@unpas.ac.id

Virtual Office Semester Ganjil 2014 Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika. caca.e.supriana@unpas.ac.id Virtual Office Semester Ganjil 2014 Fak. Teknik Jurusan Teknik Informatika Universitas i Pasundan Caca E Supriana S Si MT Caca E. Supriana, S.Si., MT. caca.e.supriana@unpas.ac.id Kantor virtual 2 Kantor

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN BTPN SINAYA ONLINE dan BTPN SINAYA MOBILE

SYARAT DAN KETENTUAN BTPN SINAYA ONLINE dan BTPN SINAYA MOBILE SYARAT DAN KETENTUAN BTPN SINAYA ONLINE dan BTPN SINAYA MOBILE I. Istilah 1. BTPN Sinaya Online adalah produk layanan perbankan untuk mengakses Rekening Nasabah Pengguna melalui jaringan internet dengan

Lebih terperinci

PERJANJIAN PEMBELIAN TENAGA LISTRIK. UNTUK PLTP UNIT... dan... (... x... MW) [...] ANTARA. PT... DAN PT PLN (Persero)

PERJANJIAN PEMBELIAN TENAGA LISTRIK. UNTUK PLTP UNIT... dan... (... x... MW) [...] ANTARA. PT... DAN PT PLN (Persero) DAFTAR ISI PASAL 1 DEFINISI DAN INTERPRETASI...4 PASAL 2 TUJUAN DAN LINGKUP PERJANJIAN... 10 PASAL 3 JAMINAN PELAKSANAAN... 10 PASAL 4 JANGKA WAKTU... 11 PASAL 5 SYARAT DAN KONDISI... 12 PASAL 6 PENDANAAN,

Lebih terperinci

REGULASI PANAS BUMI DAN KEBIJAKAN INVESTASI DI JAWA BARAT

REGULASI PANAS BUMI DAN KEBIJAKAN INVESTASI DI JAWA BARAT REGULASI PANAS BUMI DAN KEBIJAKAN INVESTASI DI JAWA BARAT LATAR BELAKANG Jumlah penduduk di Jawa Barat 44,28 juta jiwa (2012) dengan tingkat pertumbuhan mencapai 1,7% per tahun dan diprediksi akan mencapai

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB 14 SISTEM PERDAGANGAN ALTERNATIF

BAB 14 SISTEM PERDAGANGAN ALTERNATIF BAB 14 SISTEM PERDAGANGAN ALTERNATIF 1400. KETENTUAN UMUM Tanpa mengesampingkan pengertian yang tercantum dalam Bab 1 Peraturan dan Tata Tertib Lembaga Kliring, maka setiap istilah yang tercantum dalam

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 9/14/PBI/2007 TENTANG SISTEM INFORMASI DEBITUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 9/14/PBI/2007 TENTANG SISTEM INFORMASI DEBITUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 9/14/PBI/2007 TENTANG SISTEM INFORMASI DEBITUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa berdasarkan perundang-undangan yang berlaku,

Lebih terperinci

SURAT PERJANJIAN KERJA ANTARA CV. WADITRA REKA CIPTA DENGAN HERO YUDO MARTONO TENTANG PEMBUATAN APLIKASI INTEROPERABILITAS INTER-DEPARTEMEN

SURAT PERJANJIAN KERJA ANTARA CV. WADITRA REKA CIPTA DENGAN HERO YUDO MARTONO TENTANG PEMBUATAN APLIKASI INTEROPERABILITAS INTER-DEPARTEMEN SURAT PERJANJIAN KERJA ANTARA CV. WADITRA REKA CIPTA DENGAN HERO YUDO MARTONO TENTANG PEMBUATAN APLIKASI INTEROPERABILITAS INTER-DEPARTEMEN Nomor: Pada hari Kamis, tanggal Satu bulan April tahun Dua Ribu

Lebih terperinci

PROSEDUR SELEKSI DAN EVALUASI REKANAN

PROSEDUR SELEKSI DAN EVALUASI REKANAN PROSEDUR SELEKSI DAN EVALUASI REKANAN No. Dokumen : PT-KITSBS-20 No. Revisi : 00 Tanggal : April Halaman : i dari iv LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH No Nama Jabatan Tanda Tangan 1. RM. Yasin Effendi

Lebih terperinci

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM DP.01.07 SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM Komite Akreditasi Nasional National Accreditation Body of Indonesia Gedung Manggala Wanabakti, Blok IV, Lt. 4 Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta

Lebih terperinci

Prediksi Beban Listrik Pulau Bali Dengan Menggunakan Metode Backpropagasi

Prediksi Beban Listrik Pulau Bali Dengan Menggunakan Metode Backpropagasi Prediksi Beban Listrik Pulau Bali Dengan Menggunakan Metode Backpropagasi Qoriatul Fitriyah 1),Didi Istardi 2) 1) Jurusan Teknik Elektro Politeknik Batam, Batam 29461, email: fitriyah@polibatam.ac.id Jurusan

Lebih terperinci

KETENTUAN BERLANGGANAN

KETENTUAN BERLANGGANAN KETENTUAN BERLANGGANAN Pasal 1 Definisi 1. Ketentuan Berlangganan adalah ketentuan yang wajib dipatuhi baik oleh Mitra maupun D&K sehubungan dengan pelayanan PEMBUKAAN AKSES ONLINE PAYMENT POINT berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG KEGIATAN USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG KEGIATAN USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG KEGIATAN USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12 SOP-6 PENELAAHAN MUTU Halaman 1 dari 12 Histori Tanggal Versi Pengkinian Oleh Catatan 00 Halaman 2 dari 12 KETENTUAN 1.1 Penelaahan Mutu dilakukan untuk memastikan pelaksanaan kerja oleh Penilai telah

Lebih terperinci

Syarat dan Ketentuan

Syarat dan Ketentuan Syarat dan Ketentuan Persyaratan Bisnis dan Lisensi Penggunaan aplikasi Legentas dan layanan yang berkaitan (yang selanjutnya disebut sebagai "Layanan Legentas" atau "Layanan") diatur oleh ketentuan kontraktual

Lebih terperinci

PROSEDUR PENANGANAN KECELAKAAN, INSIDEN & PENYAKIT AKIBAT KERJA

PROSEDUR PENANGANAN KECELAKAAN, INSIDEN & PENYAKIT AKIBAT KERJA PROSEDUR PENANGANAN KECELAKAAN, INSIDEN & PENYAKIT AKIBAT KERJA No. Dokumen : PT-KITSBS-14 No. Revisi : 00 Halaman : i dari iv LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH No Nama Jabatan Tanda Tangan 1. RM.

Lebih terperinci

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS NASKAH PUBLIKASI ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7.0 Diajukan oleh: FAJAR WIDIANTO D 400 100 060 JURUSAN

Lebih terperinci

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2015-2024. iii

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2015-2024. iii iii iv v vi vii KATA PENGANTAR Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2015-2024 ini disusun untuk memenuhi amanat Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2012 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan

Lebih terperinci

Ir. Eddon M. Moenif, MT Inspektur Ketenagalistrikan Distamben - Riau

Ir. Eddon M. Moenif, MT Inspektur Ketenagalistrikan Distamben - Riau KEBIJAKAN ENERGI BARU-TERBARUKAN POTENSI, PENGEMBANGAN DAN TARGET IMPLEMENTASI ENERGI TERBARUKAN DI PROPINSI RIAU (Kebijakan Potensi - Investasi Teknologi) Ir. Eddon M. Moenif, MT Inspektur Ketenagalistrikan

Lebih terperinci

PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA PT. DWIDA JAVA TAMA DENGAN BADAN INFORMASI GEOSPASIAL TENTANG VERIFIKASI PETA CETAK PRODUKSI PT.

PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA PT. DWIDA JAVA TAMA DENGAN BADAN INFORMASI GEOSPASIAL TENTANG VERIFIKASI PETA CETAK PRODUKSI PT. BADAN INFORMASt GEOSPASIAL PERJANJIAN KERJA SAMA ANTARA PT. DWIDA JAVA TAMA DENGAN BADAN INFORMASI GEOSPASIAL TENTANG VERIFIKASI PETA CETAK PRODUKSI PT. DWIDA JAVA TAMA NOMOR: 036/DJT/DIR/V/2015 NOMOR:

Lebih terperinci

Hal-hal penting yang perlu nasabah perhatikan, antara lain:

Hal-hal penting yang perlu nasabah perhatikan, antara lain: Hal-hal penting yang perlu nasabah perhatikan, antara lain: 1. Risiko atas transaksi efek (pada bagian : Pernyataan Nasabah), a. Bagian A No. 7, yaitu : Saya/Kami dengan ini membebaskan Perseroan dari

Lebih terperinci

No. 16/ 2 /DPM Jakarta, 28 Januari 2014 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM. Transaksi Swap Lindung Nilai Kepada Bank Indonesia.

No. 16/ 2 /DPM Jakarta, 28 Januari 2014 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK UMUM. Transaksi Swap Lindung Nilai Kepada Bank Indonesia. No. 16/ 2 /DPM Jakarta, 28 Januari 2014 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM Perihal : Transaksi Swap Lindung Nilai Kepada Bank Indonesia. Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia

Lebih terperinci

CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUMAH SUSUN

CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUMAH SUSUN CONTOH SURAT PERJANJIAN SEWA MENYEWA RUMAH SUSUN SURAT PERJANJIAN Nomer: ------------------------------------------------------ Tentang SEWA-MENYEWA RUMAH SUSUN PERUSAHAAN DENGAN KARYAWAN PERUSAHAAN YANG

Lebih terperinci

PROSEDUR PENGADAAN BARANG & JASA

PROSEDUR PENGADAAN BARANG & JASA PROSEDUR PENGADAAN BARANG & JASA No. Dokumen PT-KITSBS-24 No. Revisi 00 Tanggal April Halaman i dari iv LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH No Nama Jabatan Tanda Tangan 1. RM. Yasin Effendi PLT DM ADM

Lebih terperinci

Work Flow (SOP) Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII)

Work Flow (SOP) Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) Work Flow (SOP) Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) Overview Yang harus dilakukan pada Tahap 1: Melakukan sinkronisasi waktu (NTP) Melakukan standarisasi format

Lebih terperinci

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 23 DESEMBER 2014 METODOLOGI 1 ASUMSI DASAR Periode proyeksi 2013 2050 dimana tahun 2013 digunakan sebagai tahun dasar. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata sebesar

Lebih terperinci

ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE

ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE VrusiUinx Presentasi Ilmiah Tehmlogi Keselamatan Nukllr-V ISSN No. : 1410-0533 Serpong 2H Juni 2000 ' ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE Oleh : Demon

Lebih terperinci

Mobile Meter Reading adalah paket aplikasi. Aplikasi. (Mobile Meter Reading)

Mobile Meter Reading adalah paket aplikasi. Aplikasi. (Mobile Meter Reading) Aplikasi M M R (Mobile Meter Reading) Mobile Meter Reading adalah paket aplikasi yang lengkap dan mudah yang didesain untuk kemudahan dalam pengambilan data maupun penyajian data. Aplikasi ini dibuat dengan

Lebih terperinci

PERJANJIAN KESEPAKATAN KERJA SAMA. Nomor : 011. Pada hari ini, Senin tanggal Dua Puluh Enam desember tahun dua ribu sebelas (26-12-2011)

PERJANJIAN KESEPAKATAN KERJA SAMA. Nomor : 011. Pada hari ini, Senin tanggal Dua Puluh Enam desember tahun dua ribu sebelas (26-12-2011) PERJANJIAN KESEPAKATAN KERJA SAMA Nomor : 011 Pada hari ini, Senin tanggal Dua Puluh Enam desember tahun dua ribu sebelas (26-12-2011) Berhadapan dengan saya, RAFLES DANIEL, Sarjana Hukum, Magister Kenotariatan,

Lebih terperinci

MANAJEMEN WAKTU PROYEK

MANAJEMEN WAKTU PROYEK MANAJEMEN WAKTU PROYEK Waktu proyek atau biasa disebut umur proyek merupakan salah satu atribut proyek yang sangat penting dalam manajemen proyek. Kegagalan mengelola waktu proyek akan berakibat pada penyelesaian

Lebih terperinci

DEFINISI. Definisi-definisi berikut berlaku untuk maksud-maksud dari publikasi yang sekarang.

DEFINISI. Definisi-definisi berikut berlaku untuk maksud-maksud dari publikasi yang sekarang. DEFINISI Definisi-definisi berikut berlaku untuk maksud-maksud dari publikasi yang sekarang. Batas-batas Yang Dapat Diterima (Acceptable limits) Batas-batas yang dapat diterima oleh badan pengaturan. Kondisi

Lebih terperinci

LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN

LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN A.1. Daftar parameter operasi dan peralatan berikut hendaknya dipertimbangkan dalam menetapkan

Lebih terperinci

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7.

ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7. ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TIGA FASE PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 13 BUS DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ETAP POWER STATION 7.0 Fajar Widianto, Agus Supardi, Aris Budiman Jurusan TeknikElektro

Lebih terperinci

FEEDER PROTECTION. Penyaji : Ir. Yanuar Hakim, MSc.

FEEDER PROTECTION. Penyaji : Ir. Yanuar Hakim, MSc. FEEDER PROTECTION Penyaji : Ir. Yanuar Hakim, MSc. DIAGRAM SATU GARIS PEMBANGKIT TRAFO UNIT TRANSMISI SISTEM GENERATOR BUS HV TRAFO P.S BUS TM GARDU INDUK PERLU DIKOORDINASIKAN RELAI PENGAMAN OC + GF ANTARA

Lebih terperinci

KONTRAK PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN/RENOVASI RUMAH TINGGAL. Pada hari ini,., tanggal.. kami yang bertanda tangan di bawah ini : :..

KONTRAK PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN/RENOVASI RUMAH TINGGAL. Pada hari ini,., tanggal.. kami yang bertanda tangan di bawah ini : :.. KONTRAK PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN/RENOVASI RUMAH TINGGAL Pada hari ini,., tanggal.. kami yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Alamat No. /HP No. KTP :...... Dan; Dalam hal ini bertindak sebagai

Lebih terperinci

PROSEDUR KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

PROSEDUR KOMUNIKASI DAN KONSULTASI PROSEDUR KOMUNIKASI DAN No. Dokumen : PT-KITSBS-17 Halaman : i dari iv LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH No Nama Jabatan Tanda Tangan 1. RM. Yasin Effendi PLT DM ADM Umum & Fas 2. Abdan Syakuro PLT

Lebih terperinci

Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia - www.energyefficiencyasia.org

Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia - www.energyefficiencyasia.org DAFTAR PERIKSA OPSI NO. 8 : BOILER & PEMANAS FLUIDA TERMIS Tugas dan pemeriksaan berkala pada bagian luar boiler Seluruh pintu akses dan bidang kerja harus dirawat kedap udara dengan menggunakan paking

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN MESIN INDUSTRI

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN MESIN INDUSTRI PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN MESIN INDUSTRI (STUDI KASUS: PT UNIBELT INTI PERKASA MALANG) NURUL HUDHA 6907040018 POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA INSTITUT

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 67 TAHUN 2005 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan SNI ISO 9001-2008 Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional SNI ISO 9001-2008 Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1

Lebih terperinci

PENGERTIAN MANAJEMEN ASSET

PENGERTIAN MANAJEMEN ASSET PENGERTIAN MANAJEMEN ASSET 1 Bab 1 001 002 Manajemen Aset Fisik Strategis Refleksi Implementasi di PLN UPJB Tahun 2013, PLN membutuhkan subsidi negara sebesar 101 triliun rupiah Salah satu sebabnya Tarif

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN DESAIN

BAB IV ANALISA DAN DESAIN 26 BAB IV ANALISA DAN DESAIN 4.1 Identifikasi Masalah Sebelum proses analisa dilakukan, tahapan yang terlebih dahulu dilakukan adalah identifikasi permasalahan yang terdiri dari survey, wawancara kepada

Lebih terperinci

Seminar Nasional IENACO 2015 ISSN 2337-4349

Seminar Nasional IENACO 2015 ISSN 2337-4349 ANALISIS PERAWATAN KOMPONEN KERETA API DI DIPO RANGKASBITUNG Mutmainah Mattjik, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat Abstrak

Lebih terperinci

BAB 4 PERANCANGAN SISTEM INFORMASI KOPERASI SIMPAN PINJAM

BAB 4 PERANCANGAN SISTEM INFORMASI KOPERASI SIMPAN PINJAM BAB 4 PERANCANGAN SISTEM INFORMASI KOPERASI SIMPAN PINJAM 4.1 The Requirements Dicipline 4.1.1 Purpose Perancangan Sistem Koperasi Simpan Pinjam pada Koperasi Surianita bertujuan untuk mendukung proses

Lebih terperinci

Makalah Seminar Tugas Akhir. Judul

Makalah Seminar Tugas Akhir. Judul 1 Judul ANALISA PENGGUNAAN ECLOSE 3 PHASA 20 KV UNTUK PENGAMAN AUS LEBIH PADA SUTM 20 KV SISTEM 3 PHASA 4 KAWAT DI PT. PLN (PESEO) APJ SEMAANG Disusun oleh : Kunto Herwin Bono NIM : L2F 303513 Jurusan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENENTUAN JUMLAH, PEMBAYARAN, DAN PENYETORAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG TERUTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB 1 KETENTUAN UMUM

BAB 1 KETENTUAN UMUM BAB 1 KETENTUAN UMUM 1.1. Definisi Kecuali diberikan pengertian secara khusus, maka semua kata dan atau istilah dalam peraturan ini mempunyai pengertian yang sama sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang

Lebih terperinci

DAFTAR STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERENCANAAN OPERASI PLTD

DAFTAR STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERENCANAAN OPERASI PLTD DAFTAR STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PERENCANAAN OPERASI PLTD LEVEL 2.. 1 Kode Unit : KMD.ROK.001 (2) A...3 Judul Unit : Membuat Rencana

Lebih terperinci

Fungsi Library EX-word TextLoader

Fungsi Library EX-word TextLoader EW-ID2000 Kamus Elektronik EX-word Fungsi Library EX-word TextLoader Pedoman Pemakaian Pendahuluan Pedoman Pemakaian ini menjelaskan cara menggunakan software EX-word TextLoader dan fungsi Library Kamus

Lebih terperinci

PERATURAN TRANSAKSI INDEKS ON-LINE TRADING

PERATURAN TRANSAKSI INDEKS ON-LINE TRADING PERATURAN TRANSAKSI INDEKS ON-LINE TRADING Waktu Trading INDEKS Indeks Saham Jepang (ISJ) Senin sampai Jumat dimulai pukul : 06.45 13.30 WIB ( sesi I ) 14.15 01.00 WIB ( sesi II ) Indeks Saham Hongkong

Lebih terperinci

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia)

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) Syarat dan ketentuan pembelian barang ini akan mencakup semua barang dan jasa yang disediakan oleh PT. SCHOTT IGAR GLASS

Lebih terperinci

Bab 6 : Pinjaman. Bab 6 Pinjaman

Bab 6 : Pinjaman. Bab 6 Pinjaman Bab 6 Pinjaman Lakukan transaksi pinjaman (angsuran dan realisasi) Anda urut berdasarkan hari demi hari, dengan melakukannya Anda sudah otomatis memiliki kartu pinjaman untuk masing-masing nama peminjam,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN SWASTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk

Lebih terperinci

ANALISIS HUBUNG SINGKAT 3 FASA PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 18 BUS DENGAN ADANYA PEMASANGAN DISTRIBUTED GENERATION (DG)

ANALISIS HUBUNG SINGKAT 3 FASA PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 18 BUS DENGAN ADANYA PEMASANGAN DISTRIBUTED GENERATION (DG) ANALISIS HUBUNG SINGKAT 3 FASA PADA SISTEM DISTRIBUSI STANDAR IEEE 18 BUS DENGAN ADANYA PEMASANGAN DISTRIBUTED GENERATION (DG) Agus Supardi 1, Tulus Wahyu Wibowo 2, Supriyadi 3 1,2,3 Jurusan Teknik Elektro,

Lebih terperinci

Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014)

Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014) Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014) Joint Commission International (JCI) International Patient Safety Goals (IPSG) Care of Patients ( COP ) Prevention & Control of Infections (PCI) Facility

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 14/ 12 /PBI/2012 TENTANG LAPORAN KANTOR PUSAT BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 14/ 12 /PBI/2012 TENTANG LAPORAN KANTOR PUSAT BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 14/ 12 /PBI/2012 TENTANG LAPORAN KANTOR PUSAT BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka efektivitas pelaksanaan

Lebih terperinci

BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO

BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO Edisi Januari 2009 1 PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO Pendaftaran Uji Kompetensi Manajemen Risiko dapat dilakukan secara kolektif dari

Lebih terperinci

BAB I DEFINISI DAN INTERPRETASI

BAB I DEFINISI DAN INTERPRETASI BAB I DEFINISI DAN INTERPRETASI 100. DEFINISI Kecuali konteksnya menunjukkan makna yang lain, istilah-istilah yang ditulis dalam huruf kapital dalam Peraturan ini akan mengandung pengertian-pengertian

Lebih terperinci

Jl. Kaliurang Km 14.4 Sleman, DIY 55184 1,2)Email: teknik.industri@uii.ac.id ABSTRAK

Jl. Kaliurang Km 14.4 Sleman, DIY 55184 1,2)Email: teknik.industri@uii.ac.id ABSTRAK Penerapan Metode Total Productive Maintenance (TPM) untuk Mengatasi Masalah Six-Big Losess dalam Mencapai Efisiensi Proses Produksi (Studi Kasus pada PT. Itokoh Ceperindo) Aldila Samudro Mukti 1, Hudaya

Lebih terperinci

DATA dan INFORMASI DATA INFORMASI

DATA dan INFORMASI DATA INFORMASI KONSEP INFORMASI 1 DATA dan INFORMASI DATA benda, kejadian,aktivitas, dan transaksi, yg tidak mempunyai makna atau tidak berpengaruh secara langsung kepada pemakai INFORMASI data yg telah diproses sedemikian

Lebih terperinci

BAB V PERANAN INFORMASI DALAM KUALITAS PRODUK DAN JASA

BAB V PERANAN INFORMASI DALAM KUALITAS PRODUK DAN JASA BAB V PERANAN INFORMASI DALAM KUALITAS PRODUK DAN JASA Kualitas didefinisikan dalam banyak cara. Menurut James Martin, konsultan komputer terkenal, mendeskripsikan kualitas perangkat lunak sebagai tepat

Lebih terperinci

PROSEDUR IDENTIFIKASI POTENSI BAHAYA & ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN SERTA PMT

PROSEDUR IDENTIFIKASI POTENSI BAHAYA & ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN SERTA PMT No. Dokumen : PT-KITSBS-06 No. Revisi : 00 Halaman : i dari iv LEMBAR PENGESAHAN DOKUMEN DIBUAT OLEH No Nama Jabatan Tanda Tangan 1. RM. Yasin Effendi PLT DM ADM Umum & Fas 2. Abdan Syakuro PLT DM Akuntansi

Lebih terperinci

Manajemen Proyek Minggu 2

Manajemen Proyek Minggu 2 Project Management Process Manajemen Proyek Minggu 2 Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng Initiating / Requirement :...awal siklus! Planning : perencanaan... Executing : Lakukan! Monitoring and Controlling

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 257/PMK.02/2014 TENTANG TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2015

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 257/PMK.02/2014 TENTANG TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2015 SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 257/PMK.02/2014 TENTANG TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan

Lebih terperinci

Klik File setup.exe lalu akan muncul tampilan seperti gambar dibawah ini.

Klik File setup.exe lalu akan muncul tampilan seperti gambar dibawah ini. 1. Instalasi Net Support Manager Klik File setup.exe lalu akan muncul tampilan seperti gambar dibawah ini. Tekan Next, maka akan muncul tampilan License Agreement Pilih Accept lalu tekan Next, lalu akan

Lebih terperinci

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut:

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: SYARAT & KETENTUAN Safe Deposit Box A. DEFINISI Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: 1. Anak Kunci

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 13/ 5 /PBI/2011 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENYALURAN DANA BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 13/ 5 /PBI/2011 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENYALURAN DANA BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 13/ 5 /PBI/2011 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENYALURAN DANA BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut memanfatkan Radio Frequency Identification (RFID) Reader sebagai

BAB I PENDAHULUAN. tersebut memanfatkan Radio Frequency Identification (RFID) Reader sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dunia pendidikan saat ini tingkat kedisplinan lebih diutamakan agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, terutama

Lebih terperinci

OKTOBER 2011. KONTROL DAN PROTEKSI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO By Dja far Sodiq

OKTOBER 2011. KONTROL DAN PROTEKSI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO By Dja far Sodiq OKTOBER 2011 KONTROL DAN PROTEKSI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO By Dja far Sodiq KLASIFIKASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR A. KAPASITAS MICRO-HYDRO SD 100 KW MINI-HYDRO 100 KW 1 MW SMALL-HYDRO 1

Lebih terperinci

Informasi Produk Asuransi Allianz

Informasi Produk Asuransi Allianz Informasi Produk Asuransi Allianz Nama Produk Permata Proteksi Ku Permata Proteksi Plus Permata KTA Proteksi Jenis Produk Asuransi jiwa berjangka untuk perlindungan tagihan kartu kredit Asuransi jiwa berjangka

Lebih terperinci

Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 59 tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan

Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 59 tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 59 tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan DIY tgl 19 29 November 2012 Latar Belakang Masyarakat Provider/fasyankes

Lebih terperinci

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL BKPM Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik Panduan Penggunaan Aplikasi Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) PANDUAN PENGGUNAAN APLIKASI LKPM DAFTAR ISI 1. Persayaratan

Lebih terperinci

SURAT PERJANJIAN KERJA PEKERJAAN PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR TAHAP II KANTOR PENGADILAN AGAMA MUARA BULIAN

SURAT PERJANJIAN KERJA PEKERJAAN PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR TAHAP II KANTOR PENGADILAN AGAMA MUARA BULIAN SURAT PERJANJIAN KERJA PEKERJAAN PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR TAHAP II KANTOR PENGADILAN AGAMA MUARA BULIAN Nomor : W5-A2/ /PL.01/V/2012 Tanggal : 16 Mei 2011 Pada hari ini, Rabu tanggal enam belas bulan

Lebih terperinci

PENGUKURAN KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP HUMAN RESOURCE SCORECARD DI PT JB

PENGUKURAN KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP HUMAN RESOURCE SCORECARD DI PT JB PENGUKURAN KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP HUMAN RESOURCE SCORECARD DI PT JB Moses L. Singgih 1, Sri Gunani Partiwi 2 dan Arum S. Dani 3 Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi

Lebih terperinci

Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification System - SQS)

Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification System - SQS) Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification System - SQS) untuk dapat dilihat oleh para pemasok Shell secara global www.shell.com/supplier/qualification Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification

Lebih terperinci

SIMULASI DAN ANALISIS ALIRAN DAYA PADA SISTEM TENAGA LISTRIK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK ELECTRICAL TRANSIENT ANALYSER PROGRAM (ETAP) VERSI 4.

SIMULASI DAN ANALISIS ALIRAN DAYA PADA SISTEM TENAGA LISTRIK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK ELECTRICAL TRANSIENT ANALYSER PROGRAM (ETAP) VERSI 4. SIMULASI DAN ANALISIS ALIRAN DAYA PADA SISTEM TENAGA LISTRIK MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK ELECTRICAL TRANSIENT ANALYSER PROGRAM (ETAP) VERSI 4.0 Rudi Salman 1) Mustamam 2) Arwadi Sinuraya 3) mustamam1965@gmail.com

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. dibahas arti dari proses yaitu : Proses adalah suatu cara, metode maupun

BAB II LANDASAN TEORI. dibahas arti dari proses yaitu : Proses adalah suatu cara, metode maupun BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Proses Produksi Dewasa ini banyak dijumpai perusahaan yang memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan masyarakat. Untuk memproduksi barang dan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN & RPP DI KEBIJAKAN & RPP BIDANG ENERGI BARU TERBARUKAN BARU

KEBIJAKAN & RPP DI KEBIJAKAN & RPP BIDANG ENERGI BARU TERBARUKAN BARU KEBIJAKAN & RPP DI BIDANG ENERGI BARU TERBARUKAN Oleh: Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Direktorat Jenderal Listrik ik dan Pemanfaatan Energi - DESDM Disampaikan pada: Workshop Peran

Lebih terperinci

ANALISA APLIKASI VOIP PADA JARINGAN BERBASIS MPLS

ANALISA APLIKASI VOIP PADA JARINGAN BERBASIS MPLS ANALISA APLIKASI VOIP PADA JARINGAN BERBASIS Dwi Ayu Rahmadita 1,M.Zen Samsono Hadi 2 1 Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Jurusan Teknik Telekomunikasi 2 Dosen Politeknik Elektronika Negeri

Lebih terperinci

Analisis Pohon Kejadian (ETA)

Analisis Pohon Kejadian (ETA) Analisis Pohon Kejadian (ETA) Analisis induktif : Suatu analisis diawali dengan kejadian awal dan diikuti dengan bekerja atau tidaknya sistem-sistem keselamatan/mitigasi Hal yang penting : Menghubungkan

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 211/PMK.01/2014 TENTANG HARI DAN JAM KERJA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 211/PMK.01/2014 TENTANG HARI DAN JAM KERJA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 211/PMK.01/2014 TENTANG HARI DAN JAM KERJA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR 1 dari 5 DIKELUARKAN: 1. TUJUAN Untuk memastikan semua insiden yang terjadi diselidiki, tindakan perbaikan dan pencegahan telah dilaksanakan untuk setiap ketidaksesuaian, insiden (termasuk kecelakaan dan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 7/47/PBI/2005 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 7/47/PBI/2005 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 7/47/PBI/2005 TENTANG TRANSPARANSI KONDISI KEUANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun

Lebih terperinci