PENINGKATAN NILAI TAMBAH PROYEK INFRASTRUKTUR MELALUI PENDEKATAN VALUE ENGINEERING (Studi Kasus : Jembatan Selat Sunda)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENINGKATAN NILAI TAMBAH PROYEK INFRASTRUKTUR MELALUI PENDEKATAN VALUE ENGINEERING (Studi Kasus : Jembatan Selat Sunda)"

Transkripsi

1 82, Inovtek, Volume 3, Nomor 1, Juni 2013, hlm PENINGKATAN NILAI TAMBAH PROYEK INFRASTRUKTUR MELALUI PENDEKATAN VALUE ENGINEERING (Studi Kasus : Jembatan Selat Sunda) Gunawan 1, Mohammed Ali Berawi, Bambang Susantono, Perdana Miraj, Albert Husin 2 Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Bengkalis 1 Jl. Bathin Alam, Sungai Alam Bengkalis Innovative Design and Technology (IDTech) Fakultas Teknik Universitas Indonesia 2 Abstrak Proyek infrastruktur Jembatan Selat Sunda (JSS) dapat meningkatkan gerak laju perekonomian negara Indonesia. Proyek infrastruktur yang investasi dan risikonya tinggi memerlukan upaya penambahan fungsi dan manfaat proyek untuk mendapatkan nilai tambah ekonomi yang optimum. Dalam mencapai sasaran tersebut, metode rekayasa nilai (value engineering) digunakan untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi, menciptakan gagasan kreatif dan inovatif diikuti dengan evaluasi terhadap biaya siklus hidup (Life Cycle Cost LCC) proyek sehingga dapat menghasilkan pilihan terbaik. Pengembangan fungsi dasar JSS sebagai fungsi transportasi ditambah dengan fungsi energi, pariwisata, telekomunikasi, kawasan industri dapat menjadi alternatif konseptual desain JSS. Proyek JSS dengan hanya fungsi dasar transportasi menghasilkan IRR 1,41%, sedangkan setelah dilakukan pengembangan fungsi mendapatkan nilai IRR 7,25%. Kata kunci : Infrastruktur, Jembatan Selat Sunda, Inovatif, Nilai Tambah, Value Enggineering Abstract Sunda Strait Bridge (SSB) infrastructure project would be able to increase Indonesia s national economic growth. This infrastructure project whose high investment and risk needs an effort in adding functions and project benefits in order to get optimum economical added value. In achieving that objective, value engineering method is used to identify the functions creating creative and innovative idea followed by evaluation to its project life cycle cost (LCC) therefore the best alternative can be formed. Developing SSB basic function for transportation with energy, recreation, telecommunication, and industrial estate can be the alternative conceptual design for SSB. SSB project with basic function for transportation resulted 1,41% on its IRR, whilst after the functions have been developed, the IRR increases to 7,25%. Key Words: Infrastructure, Sunda Strait Bridge, Innovative, Added Value, Value Engineering. Pendahuluan Negara-negara yang mempunyai infrastruktur yang baik sebagian besar PDB (Produk Domestik Bruto) perkapitanya diatas US$ pertahun (Schwab, 2012). Bahkan studi dari World Bank (1994) disebutkan elastisitas PDB terhadap infrastruktur di suatu negara adalah antara 0,07 sampai dengan 0,44. Hal ini berarti dengan kenaikan 1 (satu) persen saja ketersediaan infrastruktur akan menyebabkan partumbuhan PDB sebesar 7% sampai dengan 44%, variasi angka yang cukup signifikan. Secara empiris dapat ditarik kesimpulan bahwa pembangunan infrastruktur berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi (makro dan mikro) serta perkembangan suatu negara atau wilayah (Haris, 2009). Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, (2011) menjelaskan bahwa Pulau Sumatera sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional serta pulau Jawa sebagai pendorong industri dan jasa nasional dengan kontribusi sebesar 23,6 % dan 57,5 % terhadap PDB (BPS, 2012), merupakan kawasan strategis nasional yang perlu dihubungkan infrastruktur konektivitasnya dalam rangka memperkokoh kesatuan nasional dan meningkatkan integrasi perekonomian Jawa dan Sumatera khususnya (Perpres No 86, 2011). Proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) yang akan menghubungkan pulau sumatera dan Jawa dengan panjang ± 30 kilometer merupakan salah satu proyek infrastruktur

2

3 83, Inovtek, Volume 3, Nomor 2, November 2013, hlm konektivitas yang ditawarkan pemerintah dalam buku Private Public Partnership 2011 pada proyek Pembangunan Kawasan Infrastruktur Strategis Selat Sunda, Lampung-Banten dan diperkirakan akan menghabiskan biaya investasi sebesar 25 miliar dollar AS. Pembiayaan proyek JSS menggunakan skema Kerjasama antara Pemerintah dan Swasta / Public Private Patnership (KPS/ PPP). Melalui kerjasama ini, sektor pemerintah dan swasta memberikan kemampuan dan aset masing-masing dalam memberikan layanan atau fasilitas untuk kepentingan masyarakat umum (Alfen, 2009). Salah satu elemen kunci sukses dari KPS/ PPP adalah; Investor swasta meraih pendapatan (keuntungan) dari pengguna fasilitas yang dibangunnya selama masa konsesi yang tercantum dalam kontrak (Yescombe, 2007). Sehingga pihak swasta mendapat keuntungan dari investasi yang telah dikeluarkan sejalan dengan manfaat yang didapat oleh pemerintah untuk pelayanan masyarakat. Namun hal ini menjadi pertimbangan dan perdebatan yang panjang dalam proyek JSS, karena jika hanya menyediakan jalan tol dan kereta api sebagai fungsi utamanya maka manfaat yang didapat belum sebanding dengan biaya yang akan diinvestasikan (Wei ; Matsuno,2012). Perubahan lingkup dan biaya proyek JSS dari sebelumnya membangun infrastruktur Jembatan yang bernilai 11 milyar USD tahun 2010 (Bap penas,2010) menjadi Pembangunan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda sebesar 25 milyar USD tahun (Bappenas, 2011), mengindikasikan terjadinya penambahan lingkup proyek yang dirasakan belum memenuhi kelayakan investasi. Upaya kreatif dan inovatif untuk menambah fungsi dan manfaat proyek patut dicoba untuk meningkatkan nilai tambah proyek yang berujung kepada kelayakan proyek. Memahami konsep fungsi dari suatu proyek adalah langkah penting untuk dapat berinovasi secara kreatif (Chang-Taek Hyun, 2010). Value Engineering (VE) adalah aplikasi sebuah proses sistematis yang digunakan oleh tim multi disiplin untuk meningkatkan nilai (value) dari sebuah proyek melalui analisa terhadap fungsi-fungsinya (SAVE, 2007). Metode Value Engineering (VE) telah teruji secara sistematis menganalisa fungsi suatu system (Berawi & Woodhead, 2005a); (Berawi & Woodhead, 2005b) yang diharapkan akan memproduksi keluaran optimal untuk kualitas proyek (Rahman dan Berawi, 2002); Berawi, (2004), teknologi (Berawi & Woodhead, 2005c); (Berawi, Rahman, H & Siang, 2008), efisiensi (Rahman & Berawi, 2006); (Berawi & Woodhead, 2008) dan inovasi (Berawi & Woodhead, 2008). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi tambahan yang dapat diintegrasikan pada proyek jembatan Selat Sunda, serta melakukan kajian nilai tambah ekonomi proyek jembatan Selat Sunda yang telah dikembangkan fungsinya melalui pendekatan Value engineering. Tinjauan Teori Value Enggineering Value engineering (VE) adalah aplikasi metodologi nilai (value methodology) pada sebuah proyek atau layanan yang telah direncanakan atau dikonsepkan untuk mencapai peningkatan nilai (value). Metodologi nilai ( value methodology) adalah sebuah proses sistematis yang digunakan oleh tim multi disiplin untuk meningkatkan nilai (value) dari sebuah proyek melalui analisa terhadap fungsi-fungsinya (SAVE, 2007). Konsep utama metodologi VE terletak pada nilai (value) dengan hubungan antara fungsi dan biaya sebagai berikut (Kelly, Male, & Graham, 2004) : ݑ ሺ ௨ ௧ ሻ...(1) ௬ ሺ ௦௧ሻ ௨௦ Berdasarkan rumusan di atas, Nilai (Value) dapat ditingkatkan melalui 4 cara : 1. Fungsi ditingkatkan tetapi biaya tetap 2. Fungsi tetap tetapi biaya berkurang 3. Fungsi ditingkatkan dan biaya berkurang 4. Fungsi ditingkatkan dan biaya juga meningkat.

4 Peningkatan Nilai Tambah Proyek Infrastruktur..84 Gambar 1. Pendekatan Nilai Sumber : (Che Mat, 2002) Proses VE dilakukan dalam suatu kegiatan Studi VE, yaitu suatu urutan aktifitas di dalam studi nilai yang dilakukan untuk Aktivitas Aktifitaspra- pra-studi suatu objek (proyek, proses, produk) yang meliputi pendefinisian fungsi-fungsi, pengembangan dan evaluasi gagasan yang akan menghasilkan proposal VE dan diselenggarakan dalam bentuk workshop (Miles, 1972). Function Analyisis System Techniques Diagram (FAST Diagram) digunakan untuk menunjukan hubungan logika antara fungsi-fungsi suatu sistem,dan sub sistem secara grafis. TahaTpah1ap 1p rapwraowrkosrhkoshpo/ps/tsutuddii TahaTpah2a p w2 orwsohrokps/hsotupd/situ(dvia(lvuaelujeobjobplpalnan)) tidak Fase Informasi Fase analisa Fase analise fungsi Fase kreativitas Fase evaluasi fungsi Hasil Ok? Fase presentasi Fase Fase pengembangan pengembangan ya Taha T p a 3 ha p p 3 a sc pas w ca o w rk o s r h k o sh p o /s p t / u st d u i di Hasil Ok? ya tidak Fase pelaksanan pelaksanaan Life Cycle Cisting (LCC) Life cycle cost (LCC) didefinisikan sebagai nilai saat ini yang mencakup keseluruhan biaya proyek meliputi biaya investtasi awal, biaya operasional, biaya kepemilikan dan nilai akhir proyek pada umur rencana yang ditentukan (RICS, 1999). Periode waktu yang digunakan adalah masa guna efektif yang direncanakan untuk fasilitas yang bersangkutan. Analisis LCC dalam VE dilakukan berbasis pada nilai dan digunakan untuk menentukan alternatif dengan biaya paling rendah. Di dalam VE seluruh gagasan dapat dibandingkan atas dasar LCC bila seluruh alternatif didefinisikan untuk menghasilkan fungsi dasar atau sekumpulan fungsi yang sama. Selain fungsi yang sebanding, analisis ekonomi A A k k ti t f i i v t i a t s as ti t n in d d a a k k la l n a j n u j t u / t b /b er e i r k ik u u t t n n y y a a Fase-fase Studi Fase studi nilai Nilai Aktifitas Aktivitas tambahan Gambar 2. Tahapan studi Value Engineering Sumber : SAVE, 2007 mensyaratkan bahwa altenatif-alternatif dipertimbangkan atas dasar kesamaan kerangka waktu, kuantitas, tingkat kualitas, tingkat pelayanan, kondisi ekonomi, kondisi pasar, dan kondisi operasi. Elemen-elemen biaya yang diperhitungkan meliputi: biaya awal, biaya tahunan dan biaya tidak berulang. Beberapa teknik menghitung LCC tersedia, mulai dari simple payback (yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan investasi) sampai teknik discountting techniques yang memasukkan perhitungan time value of money, diantaranya adalah : Simple Payback Method, Discounted Payback Method, Net Present Value, Equivalent Annual Cost, Internal Rate of Return.

5 85, Inovtek, Volume 3, Nomor 2, November 2013, hlm Gambaran Umum Proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) Mega proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) bertujuan untuk memperkokoh kesatuan nasional dan meningkatkan integrasi perekonomian jawa dan sumatera pada khususnya serta untuk mendukung pengembangan kawasan strategis Selat Sunda. Dengan lingkup proyek yaitu Pengembangan kawasan strategis dan Infrastruktur Selat Sunda meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan konstruksi, hingga pengoperasian dan pemeliharaan kawasan strategis dan infrastruktur Selat Sunda. Infrastruktur Selat Sunda meliputi jembatan tol, jalan kereta api, utilitas, sistem navigasi pelayaran dan infrastruktur lainnya di Selat Sunda, termasuk energi terbarukan yang terintegrasi, menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera (Perpres No 86, 2011). Sedangkan manfaat yang diharapkan dari adanya JSS adalah mengembangkan kawasan ekonomi baru, mempercepat perkembangan pulau Sumatera, mengurangi sentralisasi ekonomi di pulau jawa, menciptakan kesempatan kerja (Dardak, 2012). Konsep desain yang telah ada sampai saat ini adalah yang diusulkan oleh Wangsadinata (1997) dengan : 1. Panjang = 29 km (Jembatan viaduct + Jembatan Suspension) 2. Lebar = 60 m untuk 6 jalur jalan Tol, 2 jalur rel kereta api, 2 jalur servis dan emergency, 2 jalur untuk pejalan kaki 3. Biaya sebesar USD 9,253 miliar (2009) Kajian Pengembangan Inovasi Inovasi JSS dilakukan dengan menganalisa potensi sumber daya alam disekitar Selat Sunda, termasuk pergerakan angin yang besar, pergerakan arus tidal (pasang surut) yang berpotensi menghasilkan daya listrik, hingga efisiensi distribusi minyak dan gas melalui pipa dan pengembangan jaringan fiber optic. Selain itu pengembangan kawasan wisata di sekitar selat sunda khusunya pulau Sangiang. Beberapa inovasi yang dapat diterapkan pada Jembatan Selat Sunda adalah : 1. Tidal Power Pembangkit listrik tenaga pasang surut (tidal power) adalah pembangkit yang memanfaatkan tenaga kinetik dari perbedaan tinggi pasang surut air laut yang dapat menggerakkan turbin sehingga menghasilkan energi listrik (Dominic S.F. Lee, 2009). Gambar 4. Tidal Power jenis Tidal Fence 2. Wind Power Pembangkit listrik tenaga angin (wind power) adalah pembangkit yang memanfaatkan tenaga kinetik dari hembusan angin (dalam hal ini angin laut) yang dapat menggerakkan turbin sehingga menghasilkan energi listrik. Gambar 3. Potongan Jembatan Selat Sunda Sumber : (Wangsadinata, 1997) Gambar 5. Ilustrasi Integrasi Wind Energi pada Jembatan

6 Peningkatan Nilai Tambah Proyek Infrastruktur Integrasi jalur distribusi pipa minyak dan gas Penggabungan pipa migas ke dalam fisik jembatan selama ini telah dilakukan dan dibangun dengan berbagai jalan. Salah satu contohnya adalah The Grand Tower Pipeline Bridge. Gambar 8. Disneyland Hongkok (Theme Park) Gambar 6. Jembatan Pipa Minyak dan Gas 4. Integrasi jalur fiber optic Sebagaimana integrasi pada distribusi minyak dan gas, integrasi jalur fiber optic ke dalam sistem jembatan Selat Sunda dapat memberikan manfaat yang signifikan, antara lain memperlancar komunikasi, Efisiensi biaya, Memudahkan dalam pemeliharaan, Memudahkan dalam pelaksanaan konstruksi (Williams, 2010). 5. Pengembangan Pariwisata Ada beberapa wahana yang dapat dikembangkan dan dintegrasikan pada proyek JSS ini antara lain: Hangging Train dan Theme park di pulau Sangiang. Gambar 7. Hanging Train Wuppertal, Jerman METODE PENELITIAN Pendekatan kualitatif dan kuantitatif ber-basis survei kuesioner dan focus group discussion (FGD) digunakan dalam metode penelitian ini. Instrumen pada kuesioner menggunakan multiplechoice dengan tujuan untuk mendapatkan data yang tersusun secara berurutan serta memudahkan responden dalam melakukan pengisian. Survei kuesioner didistribusikan melalui online dan offline survey. Offline survey dilakukan dengan menditribusikan kuesioner ke 90 responden dari investor, BUMN, swasta, akademisi, kementrian dan pemerintah daerah. Sedangkan Online survey dilakukan dengan mendistribusikan kuesioner ke 7 (tujuh) mailing list yang berhubungan dengan stakeholder JSS yaitu HAMKI, APAKSINDO, Indo Energi, Praktisi Jalan dan Jembatan, Informasi Proyek konstruksi, Pelaku Bisnis Konstruksi dan Forum Arsitek. Focus group discussion (FGD) dilakukan sebagai validasi hasil kuesioner dengan para pakar dari Investor, Akademisi, Praktisi dan Instansi Pemerintah, serta koreksi perhitungan LCC yang ditinjau dari sudut pandang ekonomi dengan klarifikasi dari para pakar bidang ilmu ekonomi. Data kuesioner dianalisa dengan menggunakan analisa deskriptif dan statistik inferensial. Distribusi frekuensi dan rata- rata pada analisa deskiptif digunakan untuk mendapatkan kesimpulan dari sampel yang digunakan yang disajikan dalam bentuk grafik. Sementara cronbach s alpha dan one-sample t-test pada statistik inferensial

7 87, Inovtek, Volume 3, Nomor 2, November 2013, hlm digunakan untuk menganalisa reliabilitas dan signifikansi nilai dari data yang diperoleh berdasarkan tingkat keyakinan sebesar 95% dan nilai cronbach s alpha di atas 0,60, kemudian dilakukan studi rekayasa nilai yang digunakan dalam rangka mengidentifikasi fungsi-fungsi tambahan sebagai inovasi sehingga dapat meningkatkan nilai tambah proyek JSS. Analisa perhitungan biaya akan menggunakan pendekatan life cycle cost yaitu perhitungan seluruh biaya yang relevan dalam jangka waktu invetasi melalui penyesuaian terhadap nilai waktu dari uang (time value for money) yang terdiri dari biaya awal, biaya operasional dan pemeliharaan serta revenue yang didapat selama masa operasional. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Fungsi Tambahan Tidal Power Menghasilkan energi listrik Mengurangi emisi gas Efisiensi sumber daya alam Biaya pemeliharaan lebih rendah Tidak menghasilkan polusi Melindungi garis pantai dari gelombang pasang yang tinggi Menghindari terjadinya pemanasan global Meningkatkan perekonomian Negara Langkah baru penerapan energi terbarukan Value for money 26 (74,3) 16 (45,7) 19 (54,3) 14 (40,0) 16 (45,7) 3 (8,60) 11 (31,4) 8 (22,9) 25 (71,4) 9 (25,7) Hasil Analisis Total jumlah kuesioner yang terkirim melalui online dan offline survey berjumlah kuesioner. Sedangkan jumlah yang tara untuk cronbach s alpha menunjukkan kembali adalah 35 buah. Dari data tersebut nilai 0,261 yang mengindikasikan bahwa 43% responden bekerja pada perusahaan data tersebut hanya 26,1% dapat dipercaya swasta, dan 25% lainnya bekerja pada instansi sehingga tidak dapat dijadikan acuan (tidak pemerintah. Berdasarkan latar belaka- adanya variabel yang konsisten). Tabel 1. Ringkasan analisis variabel manfaat dari fungsi tambahan Faktor Manfaat Frekuensi Ratarata Cronbach s t Sig. (2-tailed) (%) Alpha ng pendidikan 57% responden memiliki gelar sarjana dan 40% gelar master, Sementara itu 40% responden merupakan engineer/ arsitek, 20% manajer dan 11% direktur jenderal, dengan lama pengalaman bekerja selama 1-10 tahun sebesar 51% responden. Penambahan Fungsi (Inovasi) Bagian ini menerangkan identifikasi fungsi yang dapat ditambahkan dalam sistem Jembatan Selat Sunda untuk dapat menciptakan integrasi yang sitematis dan menguntungkan beserta berapa kisaran biaya yang dapat ditolerir untuk dapat menciptakan integrasi tersebut. Dari 5 variabel penambahan fungsi baru pada JSS, ada 3 fungsi baru yang dominan yaitu pembangunan jalur fiber optic dengan 28 respon dan t-value sebesar 4,373, pengem-bangan kawasan priwisata dengan 26 res-pon dan t-value sebesar 3,240 serta jalur pipa distribusi minyak dan gas dengan 23 respon dan t-value sebesar 1,930. Semen- 13,55 3,240-0,502 0,502-1,190-0,502-8,629-2,333-3,769 2,766-3,240 0,003 0,619 0,619 0,242 0,619 0,026 0,001 0,009 0,003 0,791 Wind Power Menghasilkan energi listrik 28 (80,0) 12,45 4,373 0,710

8 Peningkatan Nilai Tambah Proyek Infrastruktur..88 Tabel 1. Lanjutan Faktor Manfaat Wind Power Menghasilkan energi listrik Menghindari terjadinya pemanasan global Value for money Mengurangi emisi gas Biaya pemeliharaan lebih rendah Tidak menghasilkan polusi Tidak menghasilkan ruang (space) yang besar Mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi tradisional Mempertahankan sumber daya air Tampilan estetika Frekuensi (%) 28 (80,0) 11 (31,4) 7 (20,0) 18 (51,4) 14 (40,0) 20 (57,1) 8 (22,9) 21 (60) 7 (20,0) 3 (8,60) Ratarata 12,45 4,373-2,333 t -4,373 0,167-1,190 0,842-3,769 1,190-4,373-8,629 Sig. (2-tailed) 0,026 0,869 0,242 0,406 0,001 0,242 Cronbach s Alpha 0,710 Integrasi pipa distribusi minyak dan gas Memperlancar distibusi minyak dan gas Memudahkan dalam pemeliharaan Kemudahaan aksesibilitas Mengurangi emisi Keamanan personil lebih terjamin Meminimalkan resiko Memudahkan dalam pelaksanaan konstruksi Efisiensi biaya Tidak menimbulkan permasalahan lingkungan 29 (82,9) 14 (40,0) 16 (45,7) 4 (11,4) 1 (2,9) 5 (14,3) 7 (20,0) 26 (74,3) 1 (2,9) 11,00 5,083-1,190-0,502-7,069 16,50-5,951-4,373 3,240-4,373 0,242 0,619 0,551 Integrasi jalur Fiber Optic Memperlancar komunikasi dan infromasi Efisiensi biaya Kemudahan aksesibilitas Tidak menimbulkan permasalahan lingkungan Meudahkan pelaksanaan konstruksi Kemananan prsonil lebih terjamin Meminimalkan resiko Meudahkan dalam pemeliharaan 31 (88,6) 24 (68,6) 18 (51,4) 10 (28,6) 10 (28,6) 0 (0,00) 6 (17,1) 10 (28,6) 12,22 8,629 2,333 0,167-2,766-2,766-5,083-2,766 0,026 0,869 0,009 0,009 0,009 0,658 Pengembangan sektor pariwisata Meningkatkan servis publik Menarik turis dalam negeri dan mancanegara Membuat lapangan kerja baru Meningkatkan fasilitas 16 (45,7) 26 (74,3) 25 (71,4) 15 (42,9) 17,56-0,502 3,240 2,766-0,842 0,619 0,003 0,009 0,406 0,699

9 89, Inovtek, Volume 3, Nomor 2, November 2013, hlm Tabel 1. Lanjutan Faktor Manfaat Frekuensi Rata- Cronbach s (%) t Sig. (2-tailed) rata Alpha Menarik investor 20 (57, 1) 0,842 0,406 Meningkatkan pendapatan 20 (57, 1) 0,842 0,406 Meningkatan ekonomi regional 22 (62, 9) 1,552 0,130 Merangsang pertumbuhan ke- 14 (40, 0) -1,190 0,242 budayaan asli Indonesia Pengembangan Kawasan Pembangkit listrik 19 (54, 3) 14,38 0,502 0,619 0,577 Pelabuhan Nasional/ Internasional 15 (42, 9) -0,842 0,406 Pengembangan industry berat 14 (40) -1,190 0,242 (mis. Baja) Pengembangan industri perikanan 20 (57, 1) 0,842 0,406 Pengembangan industri manufak- 17 (48, 8) -0,167 0,869 tur Pertanian dan perkebunan 15 (42, 9) -1,190 0,242 Pengembangan industri material 14 (40) -1,190 0,242 Sumber : Data Olahan, 2013 Create Added Value Develop Infrastructure Connectivity Resist Natural Desaster Ensure Safety All the Time Function Increase Economic and Social benefit Gambar 9. FAST Diagram Jembatan selat Sunda

10 Peningkatan Nilai Tambah Proyek Infrastruktur..90 Untuk faktor manfaat yang diharapkan oleh responden dari tiap-tiap fungsi baru tersebut dapat dilihat pada Tabel.1. Peningkatan biaya yang masih dapat ditoleransikan oleh responden jika dilakukan dan tidak dilakukan penambahan fungsi adalah 1-15% dengan 68% dan 48% dari total responden. Pembahasan Analisa Fungsi (FAST diagram) Analisa fungsi merupakan inti dari proses studi value engineering, dari analisa fungsi kemudian dibuat hubungan logika antara. fungsi sehingga menghasilkan FAST diagram seperti yang terlihat pada Gambar 9. Perhitungan Life Cycle Cost Terdapat 5 fungsi yang akan diintegrasikan pada sistem jembatan Selat Sunda ini yaitu: Fungsi Transportasi, Energi, Pariwisata, Telekomunikasi, Kawasan Industri. Fungsi Transportasi Konsep Struktur jembatan yang akan dibuat terdiri dari dua jenis struktur jembatan yaitu: Jembatan Gantung (Suspention Gambar 2. Penampang Melintang JSS Pengembangan Fungsi Bridge) dan Jembatan benton (Viaduct beton), dengan prasarana transportasi diatasnya yaitu berupa 6 (enam) jalur jalan Tol dan jalan rel Kereta api Double Track. Harga satuan jembatan didasarkan pada harga satuan jembatan Messina di Itali (Wangsadinata, 1997) sebagai dasar perhitungan biaya awal (Initial Cost), dengan rincian sebagai berikut : 1. Jembatan Gantung ( Suspention Bridge) 7,6 km; Rp Jembatan Viaduct beton 21,4 km; Rp Total biaya awal Rp Untuk biaya Operational & Maintenance (O&M) struktur jembatan dilakukan Benchmarking ke biaya O&M Jembatan Suramadu. Untuk O&M prasarana jalan Toll yang merupakan konstruksi aspal diambil harga O&M jalan aspal provinsi Jawa Barat. Dengan rincian sebagai berikut : 1. Struktur Jembatan 29 km ; Rp. 609 milyar/thn. 2. Jalan Toll 29 km ; Rp. 6,003 milyar/thn

11 91, Inovtek, Volume 3, Nomor 2, November 2013, hlm Jalan Rel Kereta Api; Rp. 14,5 milyar/thn Total biaya Operational & Maintenance (O&M) Rp. 629,503 milyar/thn. Perhitungan Revenue untuk fungsi transportasi didasarkan pada data forecasting volume kendaraan yang akan melewati JSS dari tahun 2024 sampai dengan 2050, dihitung oleh Husin (2013). Harga tiket untuk setiap moda angkutan di benchmarking terhadap harga penyeberangan ferry Ro-Ro tahun 2012 yang dikalikan 2. Untuk tiket kereta api diasumsikan Rp /org. Dan tarif angkutan barang diasumsikan sebesar Rp. 500 /ton/km atau Rp /ton (Ven, 2009). Fungsi Energi Fungsi energi terbagi menjadi dua fungsi yaitu : Pembangkit energi (Tidal power dan Wind Power), dan Distribusi energi (Pipa Minyak dan Gas). Biaya konstruksi tidal power tergantung dengan besar daya listrik yang direncanakan, sedangkan besar daya tergantung dari kecepatan arus pasang surut, luas penampang turbin, dan efisiensi (O.Siddiqui, 2005). Teknologi tidal turbin yang digunakan dalam konsep ini adalah jenis Davis Hydro Turbin (Blue Energy, 2010). Dengan daya rencana sebesar 551 mw. Turbin angin ( Wind Power) dibuat sepanjang jembatan dengan jarak antar turbin adalah 50 meter. Sehingga akan dibutuhkan sekitar 1160 Unit wind turbine dengan total daya yang dihasilkan adalah 464 kw. Turbin yang digunakan berjenis vertikal menggunakan teknologi dari Shenzhen Huaxiong International China. Pipa minyak dan gas berdiameter 42 dibangun sepanjang 90 km. Untuk jalur pipa gas dibutuhkan penambahan fasilitas 2 depot tangki gas yang berkapasitas BOE. Rincian inital cost untuk fungsi energi adalah: 1. Tidal Power 551 mw; sumber dari Devine Tarbell & associates, Inc, 2008) 2. Wind Power 1160 Unit ; bersumber dari Shenzhen Huaxiong International China, (2012) ; Rp Pipa Minyak 42 P=90 km ; Rp (Parker, 2004). 4. Pipa Gas 42 P= 90 km ; Rp (Parker, 2004) 5. Stasiun Depot gas 2 unit, Vol= BOE; Rp (ESDM, 2012). Total biaya awal Rp Dengan rincian biaya Operational & Maintenance (O&M) sebagai berikut : 1. Tidal Power ; Rp /thn (Hammons, 1993) 2. Wind Power ; Rp (Shenzhen Huaxiong International China, 2012) 3. Pipa Minyak ; Rp (Parker, 2004) 4. Pipa Gas + Depot ; Rp (Parker, 2004) Perhitungan revenue fungsi energi didasarkan pada kapasitas maksimal layanan yang dapat dihasilkan dari tiap-tiap komponen fungsi, dengan rincian : 1. Tidal Power ; kwh/ tahun 2. Wind Power ; kwh/tahun 3. Pipa Minyak ; barrel/ tahun 4. Pipa Gas + Depot ; mmbtu/tahun Harga tarif listrik mengikuti harga yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.4 Tahun 2012 yaitu sebesar Rp. 1000,4 /kwh. Tarif toll fee untuk pengiriman minyak Rp /barrel, sedangkan untuk pengiriman gas sebesar Rp.563 /mmbtu (Farid, 2013). Fungsi Pariwisata Fungsi ini dibentuk dari 3 komponen yaitu Hanging Train, Cable car serta Sangiang resort (Theme Park dan Hotel) (Arief, 2013). Dengan rincian initial cost sebagai berikut :

12 Peningkatan Nilai Tambah Proyek Infrastruktur Hanging Train 29 km bersumber dari (Wuppertal Schwebebahn, Jerman); Rp Genting Malaysia,Cable Car 8 km ; Rp Sangiang resort 126 Ha (Hong Kong Disneyland resort) sebesar ; Rp Jalan Akses 15 km (Dinas PU, jawa Barat) ; Rp Adapun rincian biaya O&M untuk tiap komponen fungsi pariwisata adalah : 1. Hanging Train; bersumber Wuppertal Schwebebahn, Jerman Rp. Rp /thn. 2. Genting Malaysia Cable Car ; Rp Sangiang resort 126 Ha ; Rp (Hong Kong Disneyland Resort) 4. Jalan Akses 15 km ; Rp (Dinas PU Jawa Barat) Perhitungan Revenue untuk fungsi Pariwisata didasarkan pada data forecasting volume pengunjung wisata pulau sangiang/ sangiang resort dari tahun 2024 sampai dengan 2050 yang dihitung oleh Husin (2013). Proyeksi wisatawan yang akan menggunakan fasilitas hanging train adalah sebesar 60% dari pengunjung Sangiang Resort, sama halnya juga dengan Sangiang Cable Car. Untuk tarif yang akan dibebankan pada hanging train ini adalah sebesar Rp , begitu juga halnya dengan Cable Car. Untuk tarif /harga tiket masuk Sangiang Resort sebesar Rp (Arief, 2013). Fungsi Telekomunikasi Komponen fungsi telekomunikasi yang diintegrasikan ke JSS adalah jaringan backbone data pita lebar Fiber Optic (FO). Dengan rincian initial cost sebagai berikut, Jaringan Fiber Optic 29 km; PT. Telkom, (2010) Rp , (Ware, 2013), (D.J.Williams, 2010). Untuk Biaya O&M di benchmarking kepada biaya yang dikeluarkan oleh U.S Departement of Transportation Research and Innovative Technology Administration yaitu sebesar 1900 USD/mile/cable/thn atau Rp /km/cable/thn (Ware, 2013). Perhitungan revenue untuk FO didasarkan pada data forecasting volume sewa kanal jaringan backbone FO JSS dari tahun 2024 sampai dengan 2050 yang dihitung oleh Husin (2013). Dengan harga tarif sewa jaringan backbone per bulannya Rp /kanal, atau Rp /thn (PT. Telekomunikasi Indonesia, 2012). Fungsi Kawasan Industri Dalam konsep desain ini, kawasan industri berada di 2 lokasi yaitu di Provinsi Banten (Jawa) seluas 2000 ha dan di Provinsi Lampung (Sumatera) seluas 3000 ha. Komponen biaya terbesar untuk pembangunan kawasan industri adalah biaya pembebasan lahan dan pembangunan infrastruktur (jalan, air bersih dan utilitas lainnya). Biaya pembebasan lahan diambil dari harga jual lahan di daerah Banten yaitu sekitar Rp / m 2 (BKPM, 2012). Biaya pembangunan infrastruktur diambil dari data Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kementrian Industri yaitu Rp /m 2 (Briliantono, 2013). Sehingga total unit cost untuk pembangunan kawasan industri adalah Rp /m 2. Dengan luas rencana 5000 ha maka total initial cost adalah Rp.35 Triliun. Areal kawasan industri ini diasumsikan akan dijual, sehingga tidak diperhitungkan biaya O&M nya. Sedangkan perhitungan revenuenya berdasarkan pada data forcesting volume penjualan area kawasan Industri sekitar JSS (Banten dan Lampung) dari tahun 2024 sampai dengan 2050 yang dihitung oleh Albert Husen (2013). Harga jual area kawasan industri di benchmarking terhadap harga jual yang dikeluarkan oleh Colliers International dalam laporan Research & Forecast Report Industrial Sector tahun 2012, yaitu sebesar Rp /m 2. Metode yang digunakan dalam analisa ini adalah metode Net Present Value (NPV) d

13 93, Inovtek, Volume 3, Nomor 2, November 2013, hlm dan metode Internal Rate of Return (IRR). Untuk melakukan analisa tersebut digunakan asumi-asumsi sebagai berikut : Tabel 2. Asumsi analisa finansial Asumsi Nilai Keterangan Discount Rate 6,81% Rata-rata tingkat suku bunga Bank Indonesia 5 Tahun terakhir Inflasi umum 5,95% Rata-rata tingkat inflasi 5 tahun terakhir (Lap. Bank Indonesia) Inflasi Sektor Transportasi Inflasi Sektor Bahan Bakar Inflasi Sektor Listrik Inflasi Sektor Pariwisata Inflasi Sektor Telekomunikasi Inflasi Sektor Properti Sumber : BI dan BPS (2012) 1,63% Rata rata tingkat inflasi 7 tahun terakhir ( Lap. Badan Pusat Statistik 2013) 4,52% Rata-rata tingkat inflasi 7 tahun terakhir ( Lap. Badan Pusat Statistik 2013) 4,52% Rata-rata tingkat inflasi 7 tahun terakhir ( Lap. Badan Pusat Statistik 2013) 5,09% Rata-rata tingkat inflasi 7 tahun terakhir ( Lap. Badan Pusat Statistik 2013) 1,63% Rata-rata tingkat inflasi 7 tahun terakhir ( Lap. Badan Pusat Statistik 2013) 4,52% Rata-rata tingkat inflasi 7 tahun terakhir ( Lap. Badan Pusat Statistik 2013) Kenaikan harga tarif per tahun dari setiap fungsi mengikuti inflasi sektor yang sesuai dengan fungsi masing-masing. Fungsi dihitung nilai IRR dan NPV-nya, setelah itu dihitung juga nilai IRR dan NPV untuk keseluruhan fungsi yang terintegrasi. Dengan hasil sebagai berikut : 1. Seluruh fungsi terintegrasi ; Initial Cost = Rp , IRR = 7,25%, NPV = Rp Fungsi Transportasi ; Initial Cost = Rp , IRR = 1,41%, NPV = Rp Fungsi Energi ; Initial Cost = Rp , IRR = 17,19%, NPV = Rp Fungsi Pariwisata ; Initial Cost = Rp , IRR = 12,40%, NPV = Rp Fungsi Telekomunikasi ; Initial Cost = Rp , IRR = 29,13%, NPV = Rp Fungsi Kawasan Industri ; Initial Cost = Rp , IRR = 8,30%, NPV = Rp Incremental ROR analysis dan Pola share modal Dari hasil analisa finansial didapat bahwa fungsi telekomunikasi mempunyai IRR terbesar, kemudian fungsi energi, fungsi pariwisata, industri dan transportasi. Dikarenakan fungsi transportasi merupakan fungsi dasar dari JSS, maka diperlukan share modal (Initial cost) antara fungsifungsi lainnya dengan fungsi transportasi, sehingga diharapkan adanya kesetaraan keuntungan dari masing-masing fungsi, yang dapat dilihat dari nilai IRR yang tidak terlalu berbeda antara fungsi transportasi dengan fungsi lainnya. Untuk itu perlu dilakukan incremental ROR analisis supaya dapat menentukan peringkat investasi terbaik dari fungsi-fungsi yang mempunyai IRR lebih besar dari discount rate (6,81%). Dari hasil ini kita dapat melakukan rekayasa besaran share modal (Initial cost) dari fungsi-fungsi pendukung ke fungsi dasar (transportasi), dengan tetap menjaga nilai IRR fungsi pendukung tetap diatas nilai discount rate. Ha-

14 Peningkatan Nilai Tambah Proyek Infrastruktur..94 Rang king Tabel 3. Peringkat Investasi dan Pola Share Modal antar fungsi Initial Cost Share Initial Cost IRR Item Sesudah Modal Sebelum (Juta) Sebelum (Juta) IRR Sesudah 1 Fungsi Pariwisata 35,5 % Rp ,94 Rp ,91 12,40 % 7,23 % 2 Fungsi Energi 16,0 % Rp ,44 Rp ,50 17,19 % 7,17 % 3 Fungsi kawasan Industri 3,5 % Rp ,00 Rp ,86 8,30 % 7,40 % 4 Fungsi Telekomunikasi 0,03 % Rp ,00 Rp ,47 29,13 % 7,24 % 5 Fungsi Transportasi - Rp ,60 Rp ,25 1,41 % 7,23 % Sumber : data olahan, 2013 KESIMPULAN Pemahaman mengenai potensi disekitar proyek dapat menjadi panduan bagi pengembangan fungsi melalui pendekatan VE. Inovasi yang dapat dilakukan pada pembangunan JSS melalui penambahan fungsi; Pengembangan pembangkit listrik berbasis renewable energy melalui tidal power dan wind power, Integrasi jalur pipa minyak dan gas serta jalur fiber optic, Pengembangan kawasan pariwisata di Pulau Sangiang melalui pengembangan aksesibilitas jalur jembatan dan hanging train, Pengembangan berbagai jenis industri untuk kawasan di area Selat Sunda. Hasil perhitungan nilai IRR Proyek JSS berbasis fungsi transportasi sebagai fungsi dasar mendapatkan nilai 1,41%, lebih kecil dari discount rate 6,81%. Nilai IRR Proyek JSS setelah dilakukan pengembangan fungsi mendapatkan nilai 7,25% lebih besar dari discount rate 6,81%. Terjadi peningkatan nilai tambah ekonomi proyek dari yang sebelumnya yaitu NPV = Rp. -50,328 triliun (Fungsi Transportasi), kemudian menjadi NPV = Rp.10,07 triliun (Fungsi Transportasi + Fungsi pendukung). DAFTAR PUSTAKA Arief, J. G. (2013). Analisis Life Cycle Cost Pengembangan Potensi Pariwisata Pada Conceptual Design Proyek Jembatan Selat Sunda dengan Pendekatan Value Engineering, Skripsi, Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Alfen, H.W., Kalidindi, S.N., Ogunlana, S., Wang, S., Abednego, M.P., Frank- Jungbecker,A., Jan, Y.C.A., Ke, Y., Liu, Y.W., Singh, L.B., Zhao, G. (2009), Public-Private Partnership in Infrastructure Development: Case Studies from Asia and Europe, Bauhaus-Universität Weimar, Germany. Berawi, M. A. (2004). Quality Revolution: Leading the Innovation and Competitive Advantages. International Journal of Quality & Reliability Management, 21 (4), Berawi, M. A., & Woodhead, R. M. (2005a). Application of Knowledge Management in Production Management, Human Factors and Ergonomics in Manufacturing. Human Factors and Ergonomics in Manufacturing, 15 (3), Berawi, M. A., & Woodhead, R. M. (2005b). How-Why Logic Paths and Intentionality. Value World, 28 (2), Berawi, M. A., & Woodhead, R. M. (2005c), The If-Then Modelling Relationship of Causal Function and Their Conditioning Effect on Intentionality. Value World, 28 (2), Berawi, M. A., & Woodhead, R. M. (2008). Stimulating Innovation Using Function Models: Adding Product Value. Value World, 31 (2), 4-7. Berawi, M. A., Abdul-Rahman, H., & H & Siang, K. W. ( 2008). Strengthening Codes of Professional Ethics in the Construction Industry. Building Engineer, pp. 6-11, The Association of Building Engineers (ABE) Press, United Kingdom.

15 95, Inovtek, Volume 3, Nomor 2, November 2013, hlm Blue Energy. (2010). Dipetik May 2013, dari Blue Energy.com : bluenergy.com/technology_methodt idal_bridge.html. Che. M., M. (2002). Value Management: Principles and Application; towards achieving better value for money. Prentice Hall, Selangor, Malaysia. Dardak, H (2012) Pembangunan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda. Seminar Public Works Day, Jakarta. Devine Tarbell & Associates, Inc. (2008). Review Of Marine Energy Technologies and Canada's R&D Capacity, Toronto, CANMET Energy Technology Centre (CETC), Natural Resources Canada. Dominic. S.F., Lee, P. (2009). Turnagain Arm Tidal Bridge Electric Generation Plan. Anchorage, Little Susitna Construction Company, Inc. Hammons, T. J. (199 3). Tidal Power. Proceeding of The IEEE 8 (3), , Soctland, UK. Haris. A (2009) Pengaruh Penatagunaan Tanah Terhadap Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur dan Ekonomi, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Bappenas, Jakarta. Husin. A. E (2013). Model Inovasi Fungsi Proyek Untuk Meningkatkan Nilai Jual Mega Proyek Infrastruktur Skema SA-PPP Menggunakan Value Engineering. Laporan Penelitian 1, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Indonesia, Depok. Kelly, J., Male, S., & Graham, D (2004) Value Management of Construction Projects, USA, Blackwell Science Ltd, a Blackwell Publishing Company. Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian (2011) Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta. Klaus. S, (2012). The Global Competitiveness Report. World Economic Forum. Geneva. Matsuno, S. ( 2012). Sumatra-Java Linkage, Project Of Feasibility, Universitas IBA, Palembang. Taek Hyun. C., Yeob Song. C., Jin Son. M., Min Jo. S and Won Han. S (2010), Development of Improved Value Engineering Subject Selection and Functional Analysis at Planning Phase for Program Level, Value World. Parker, N. (20 04). Using Natural Gas Transmission Pipeline Costs to Estimate Hydrogen Pipeline Costs. Recent Work, Institute of Transportation Studies (UCD), UC Davis. Peraturan Presiden No 86. (2011). Pengembangan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda. Presiden Republik Indonesia, Jakarta. PT.Telkom (2010) Laporan Tahunan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. PT. Telekomunikasi Indonesia, Jakarta. Save (2007) Value Standard and Body of Knowledge, Save International, United State of America. Siddiqui, O. E. E. (2005). Feasibility Assessment of Offshore Wave and Tidal Current Power Production, A Collaborative Public/Private Partnership. IEEE. Ven, J. V. (2009) Potensi Pasar Kereta Api Indonesia, Indonesia Infrastructure Initiative, Jakarta. Wangsadinata, P. (1997) Advance Suspension Bridge Technology and The Feasibility Of The Sunda Strait Bridge, Wiratman & Associate, Jakarta. Ware, T. (2013) Unit Cost Component - Fiber optic cable installation. U.S Department of Transportation, Florida Department of Transportation Listing of Master Pay Items PES- PO03. Florida: Florida DOT, USA. Wei, L. C. (2012, July 26). Insight: Sunda Strait Bridge and public-private partnership confusion. Dipetik April 16, 2013, dari The Jakarta Post:

16 Peningkatan Nilai Tambah Proyek Infrastruktur..96 Williams. D.,J.,M. (2010). Broadband For Africa, Developing Backbone Communications Networks, The World Bank, Washington DC. Yescombe, E. (2007). Public-Private Partnerships: Principles of Policy and Finance. Oxford: Butterworth-Heinemann.

ANALISIS LIFE CYCLE COST PENGEMBANGAN POTENSI PARIWISATA PADA CONCEPTUAL DESIGN PROYEK JEMBATAN SELAT SUNDA DENGAN PENDEKATAN VALUE ENGINEERING

ANALISIS LIFE CYCLE COST PENGEMBANGAN POTENSI PARIWISATA PADA CONCEPTUAL DESIGN PROYEK JEMBATAN SELAT SUNDA DENGAN PENDEKATAN VALUE ENGINEERING ANALISIS LIFE CYCLE COST PENGEMBANGAN POTENSI PARIWISATA PADA CONCEPTUAL DESIGN PROYEK JEMBATAN SELAT SUNDA DENGAN PENDEKATAN VALUE ENGINEERING Juanda Guardy Arief 1, Mohammed Ali Berawi 1, dan Rosmariani

Lebih terperinci

Pembiayaan Komersial sebagai Upaya Mempercepat Penyelenggaraan Infrastruktur Berkelanjutan

Pembiayaan Komersial sebagai Upaya Mempercepat Penyelenggaraan Infrastruktur Berkelanjutan Pembiayaan Komersial sebagai Upaya Mempercepat Penyelenggaraan Infrastruktur Berkelanjutan Oleh: Zulkifli Zaini, B.Sc., M.B.A Presiden Direktur PT Bank Mandiri Tbk Overview Sektor Infrastruktur Pembangunan

Lebih terperinci

ROADMAP PENELITIAN KOMUNITAS BIDANG ILMU MANAJEMEN DAN REKAYASA KONSTRUKSI TAHUN

ROADMAP PENELITIAN KOMUNITAS BIDANG ILMU MANAJEMEN DAN REKAYASA KONSTRUKSI TAHUN ROADMAP PENELITIAN KOMUNITAS BIDANG ILMU MANAJEMEN DAN REKAYASA KONSTRUKSI TAHUN 2007-2011 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL - FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN 2006 ROADMAP PENELITIAN KBI MANAJEMEN

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA UNIVERSITAS INDONESIA MODEL ALIANSI STRATEGIS DALAM KEMITRAAN PEMERINTAH DAN SWASTA PADA MEGA PROYEK INFRASTRUKTUR BERBASIS VALUE ENGINEERING UNTUK MENINGKATKAN NILAI KELAYAKAN PROYEK DISERTASI ALBERT

Lebih terperinci

PEMASARAN PRODUK INDUSTRI KONSTRUKSI PRACETAK PRATEGANG

PEMASARAN PRODUK INDUSTRI KONSTRUKSI PRACETAK PRATEGANG PEMASARAN PRODUK INDUSTRI KONSTRUKSI PRACETAK PRATEGANG Dibawakan oleh Bp. Ir. Wilfred I. A. singkali *) PENGERTIAN PASAR : Pasar Produk Industri Pracetak dan Prategang : Adalah pasar konstruksi yang menggunakan

Lebih terperinci

STRUKTUR HARGA PLTMH. Gery Baldi, Hasan Maksum, Charles Lambok, Hari Soekarno

STRUKTUR HARGA PLTMH. Gery Baldi, Hasan Maksum, Charles Lambok, Hari Soekarno STRUKTUR HARGA PLTMH Topik Utama Gery Baldi, Hasan Maksum, Charles Lambok, Hari Soekarno Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi h_maksum@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disamping fungsinya sebagai alat pemersatu bangsa. Dalam kaitannya dengan sektorsektor

BAB I PENDAHULUAN. disamping fungsinya sebagai alat pemersatu bangsa. Dalam kaitannya dengan sektorsektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infrastruktur Transportasi baik transportasi darat, laut maupun udara merupakan sarana yang sangat berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan wilayah

Lebih terperinci

ROADMAP PENELITIAN KOMUNITAS BIDANG ILMU MANAJEMEN DAN REKAYASA KONSTRUKSI TAHUN

ROADMAP PENELITIAN KOMUNITAS BIDANG ILMU MANAJEMEN DAN REKAYASA KONSTRUKSI TAHUN ROADMAP PENELITIAN KOMUNITAS BIDANG ILMU MANAJEMEN DAN REKAYASA KONSTRUKSI TAHUN 2012-2016 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL - FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN 2012 ROADMAP PENELITIAN KBI MANAJEMEN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan mengorganisasi beragam sumber daya selama masa proyek, yang tujuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan mengorganisasi beragam sumber daya selama masa proyek, yang tujuan 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Manajemen Proyek Manajemen proyek dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengelola dan mengorganisasi beragam sumber daya selama masa proyek, yang tujuan akhirnya adalah

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Terima kasih. Tim Penyusun. Penyusunan Outlook Pembangunan dan Indeks Daya Saing Infrastruktur

KATA PENGANTAR. Terima kasih. Tim Penyusun. Penyusunan Outlook Pembangunan dan Indeks Daya Saing Infrastruktur KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karunia- Nya, dapat menyelesaikan Executive Summary Penyusunan Outlook Pembangunan dan Indeks Daya Saing

Lebih terperinci

KAJIAN AWAL KELAYAKAN FINANSIAL INVESTASI JALAN REL

KAJIAN AWAL KELAYAKAN FINANSIAL INVESTASI JALAN REL KAJIAN AWAL KELAYAKAN FINANSIAL INVESTASI JALAN REL Herman Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional Jln. PHH Mustapa No. 23 Bandung, 40124 Tlp. 022-7272215

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. adanya ketimpangan dan ketidakmerataan. Salah satu penyebabnya adalah

I. PENDAHULUAN. adanya ketimpangan dan ketidakmerataan. Salah satu penyebabnya adalah I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan yang sering dihadapi dalam perencanaan pembangunan adalah adanya ketimpangan dan ketidakmerataan. Salah satu penyebabnya adalah penyebaran investasi yang

Lebih terperinci

FAKTOR DOMINAN PENENTU PELAKSANAAN PROYEK PLTU SKALA KECIL

FAKTOR DOMINAN PENENTU PELAKSANAAN PROYEK PLTU SKALA KECIL FAKTOR DOMINAN PENENTU PELAKSANAAN PROYEK PLTU SKALA KECIL Nugroho Artursuwignyo 1) *), Christiono Utomo 2) Program Studi Magister Manajemen Teknologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Jalan Cokroaminoto

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dengan semakin meningkatnya penggunaan energi sejalan dengan

BAB I PENDAHULUAN. Dengan semakin meningkatnya penggunaan energi sejalan dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Dengan semakin meningkatnya penggunaan energi sejalan dengan berkembangnya perekonomian dan industri, maka disadari pula pentingnya penghematan energi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Peningkatan kinerja..., Suntana Sukma Djatnika, FT UI.,

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Peningkatan kinerja..., Suntana Sukma Djatnika, FT UI., BAB I PENDAHULUAN 1.1. Permasalahan penelitian. 1.1.1. Latar belakang. Jalan merupakan sarana transportasi darat yang mempunyai peranan besar dalam arus lalu lintas barang dan orang, sebagai penghubung

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS DATA. Dalam penelitian ini, tahapan analisis yang dilakukan adalah:

BAB V ANALISIS DATA. Dalam penelitian ini, tahapan analisis yang dilakukan adalah: BAB V ANALISIS DATA V.1. Pendahuluan Berdasarkan data yang diperoleh dari data sekunder (data dari feasibility study jalan tol Solo Kertosono) dan data primer yang berupa pendapat dari responden, kemudian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan di industri building construction yang sudah masuk di listing Bursa Efek Indonesia per 8 Agustus 2011.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan jalan tol dengan asumsi biaya sekitar Rp miliar per km. Sedangkan lapangan kerja yang tercipta sekitar

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan jalan tol dengan asumsi biaya sekitar Rp miliar per km. Sedangkan lapangan kerja yang tercipta sekitar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyediaan infrastruktur jalan menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk membuka akses transportasi guna menggairahkan aktivitas perekonomian dan sebagai sarana pemerataan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional, penyediaan tenaga listrik di

BAB I PENDAHULUAN. Dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional, penyediaan tenaga listrik di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional, penyediaan tenaga listrik di Indonesia tidak hanya semata-mata dilakukan oleh PT PLN (Persero) saja, tetapi juga dilakukan

Lebih terperinci

Special Submission: PENGHEMATAN ENERGI MELALUI PEMANFAATAN GAS BUANG DENGAN TEKNOLOGI WASTE HEAT RECOVERY POWER GENERATION (WHRPG)

Special Submission: PENGHEMATAN ENERGI MELALUI PEMANFAATAN GAS BUANG DENGAN TEKNOLOGI WASTE HEAT RECOVERY POWER GENERATION (WHRPG) Special Submission: PENGHEMATAN ENERGI MELALUI PEMANFAATAN GAS BUANG DENGAN TEKNOLOGI WASTE HEAT RECOVERY POWER GENERATION (WHRPG) PT. SEMEN PADANG 2013 0 KATEGORI: Gedung Industri Special Submission NAMA

Lebih terperinci

Dari hasil perhitungan PDRB Kota Bandung selama periode dapat disimpulkan sebagai berikut :

Dari hasil perhitungan PDRB Kota Bandung selama periode dapat disimpulkan sebagai berikut : Penyajian statistik Produk Domestik Regional Bruto dapat digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan nasional dan regional khususnya di bidang ekonomi karena angka-angkanya dapat dipakai sebagai ukuran

Lebih terperinci

BAB I Pembangunan Infrastruktur di Indonesia

BAB I Pembangunan Infrastruktur di Indonesia 2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.1.1 Pembangunan Infrastruktur di Indonesia Pembangunan Infrastruktur akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja, peningkatan investasi dan bahkan juga mampu memberikan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PENILAIAN

BAB IV ANALISIS DAN PENILAIAN BAB IV ANALISIS DAN PENILAIAN IV.1 Prinsip Perhitungan Keekonomian Migas Pada prinsipnya perhitungan keekonomian eksplorasi serta produksi sumber daya minyak dan gas (migas) tergantung pada: - Profil produksi

Lebih terperinci

V. PENGEMBANGAN ENERGI INDONESIA DAN PELUANG

V. PENGEMBANGAN ENERGI INDONESIA DAN PELUANG V. PENGEMBANGAN ENERGI INDONESIA 2015-2019 DAN PELUANG MEMANFAATKAN FORUM G20 Siwi Nugraheni Abstrak Sektor energi Indonesia mengahadapi beberapa tantangan utama, yaitu kebutuhan yang lebih besar daripada

Lebih terperinci

SURVEI MENGENAI BIAYA OVERHEAD SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

SURVEI MENGENAI BIAYA OVERHEAD SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA SURVEI MENGENAI BIAYA OVERHEAD SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA Henry Pascal Magaline 1, Alvin Januar Haryono 2, Andi 3 ABSTRAK : Biaya overhead sebuah proyek merupakan salah satu unsur harga pokok

Lebih terperinci

Daya Saing Global Indonesia versi World Economic Forum (WEF) 1. Tulus Tambunan Kadin Indonesia

Daya Saing Global Indonesia versi World Economic Forum (WEF) 1. Tulus Tambunan Kadin Indonesia Daya Saing Global Indonesia 2008-2009 versi World Economic Forum (WEF) 1 Tulus Tambunan Kadin Indonesia Tanggal 8 Oktober 2008 World Economic Forum (WEF), berkantor pusat di Geneva (Swis), mempublikasikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Di era globalisasi saat ini, tingkat daya saing menjadi tolak ukur yang wajib dimiliki dalam mewujudkan persaingan pasar bebas baik dalam kegiatan maupun

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Proses penelitian dalam rangka untuk memecahkan masalah diperlukan data-data dan informasi mengenai faktor-faktor yang berpengaruh dan berkaitan secara sistematis dengan masalah

Lebih terperinci

TANTANGAN DAN PELUANG PERCEPATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR INDONESIA

TANTANGAN DAN PELUANG PERCEPATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR INDONESIA TANTANGAN DAN PELUANG PERCEPATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR INDONESIA Oleh : FRANS SATYAKI SUNITO Managing Director PT Pembangunan Jaya Infrastruktur Seminar : Research & Industrial Lingkage For Suistanable

Lebih terperinci

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER F-0653 Issue/Revisi : A0 Tanggal Berlaku : 1 Juli 2015 Untuk Tahun Akademik : 2015/2016 Masa Berlaku : 4 (empat) tahun Jml Halaman : 15 halaman Mata Kuliah : Ekonomi Transportasi

Lebih terperinci

ANALISA PENENTUAN MASA KONSESI DENGAN MODEL SIMULASI PADA PROYEK PPP JALAN TOL KERTOSONO- MOJOKERTO

ANALISA PENENTUAN MASA KONSESI DENGAN MODEL SIMULASI PADA PROYEK PPP JALAN TOL KERTOSONO- MOJOKERTO ANALISA PENENTUAN MASA KONSESI DENGAN MODEL SIMULASI PADA PROYEK PPP JALAN TOL KERTOSONO- MOJOKERTO Rizki Hari Wahyunarso 1), Tri Joko Wahyu Adi 2), dan Farida Rachmawati 3) 1) Jurusan Teknik Sipil, Institut

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Studi Kelayakan Proyek Dalam menilai suatu proyek, perlu diadakannya studi kelayakan untuk mengetahui apakah proyek tersebut layak untuk dijalankan atau tidak. Dan penilaian tersebut

Lebih terperinci

TINJAUAN EKONOMIS ALIH FUNGSI KAPAL FERI PENYEBERANGAN SURABAYA - MADURA SEBAGAI KAPAL PARIWISATA

TINJAUAN EKONOMIS ALIH FUNGSI KAPAL FERI PENYEBERANGAN SURABAYA - MADURA SEBAGAI KAPAL PARIWISATA TINJAUAN EKONOMIS ALIH FUNGSI KAPAL FERI PENYEBERANGAN SURABAYA - MADURA SEBAGAI KAPAL PARIWISATA Agung Laksana Y A H 1, Indra Taufiqi R I B 2, Bambang Teguh Setiawan 3, Gaguk Suhardjito 4, 1,2,3,4 Politeknik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jaringan jalan sebagai bagian dari sektor transportasi memiliki peran untuk

BAB I PENDAHULUAN. Jaringan jalan sebagai bagian dari sektor transportasi memiliki peran untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Transportasi merupakan salah satu sektor penting bagi perkembangan perekonomian wilayah dan kehidupan masyarakat. Adanya pertumbuhan dan perkembangan aktivitas di suatu

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sayangan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sayangan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Lokasi yang digunakan dalam penelitian ini berada di Kampung Sayangan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta. B. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang

Lebih terperinci

PRESENTASI TUGAS AKHIR CF 1380

PRESENTASI TUGAS AKHIR CF 1380 PRESENTASI TUGAS AKHIR CF 1380 ANALISIS EKONOMI PROYEK IMPLEMENTASI ERP DENGAN MEMPERHATIKAN FAKTOR TIDAK LANGSUNG DAN TIDAK BERWUJUD (Studi Kasus: PT. TELKOM Divre V, Financial Service ) Penyusun Tugas

Lebih terperinci

DIRECTORATE GENERAL OF NEW RENEWABLE AND ENERGY COSERVATION. Presented by DEPUTY DIRECTOR FOR INVESTMENT AND COOPERATION. On OCEAN ENERGY FIELD STUDY

DIRECTORATE GENERAL OF NEW RENEWABLE AND ENERGY COSERVATION. Presented by DEPUTY DIRECTOR FOR INVESTMENT AND COOPERATION. On OCEAN ENERGY FIELD STUDY MINISTRY OF ENERGY AND MINERAL RESOURCES DIRECTORATE GENERAL OF NEW RENEWABLE AND ENERGY COSERVATION DIRECTORAT OF VARIOUS NEW ENERGY AND RENEWABLE ENERGY Presented by DEPUTY DIRECTOR FOR INVESTMENT AND

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS DAN INFRASTRUKTUR SELAT SUNDA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS DAN INFRASTRUKTUR SELAT SUNDA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS DAN INFRASTRUKTUR SELAT SUNDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan menggunakan jenis data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber data secara langsung.

Lebih terperinci

RENCANA PEMBANGUNAN JEMBATAN SELAT SUNDA

RENCANA PEMBANGUNAN JEMBATAN SELAT SUNDA RENCANA PEMBANGUNAN JEMBATAN SELAT SUNDA APRIL 2011 SEKRETARIAT TIMNAS PERSIAPAN PEMBANGUNAN JEMBATAN SELAT SUNDA OUTLINE Latar Belakang Ruang Lingkup Jalan Tol Trans Sumatera dan Jembatan Selat Sunda

Lebih terperinci

Gambar 3.A.1 Peta Koridor Ekonomi Indonesia

Gambar 3.A.1 Peta Koridor Ekonomi Indonesia - 54 - BAB 3: KORIDOR EKONOMI INDONESIA A. Postur Koridor Ekonomi Indonesia Pembangunan koridor ekonomi di Indonesia dilakukan berdasarkan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah yang tersebar di

Lebih terperinci

PERBANDINGAN AD WIKA DAN USULAN AD WIKA ANGGARAN DASAR PADA SAAT INI PENYESUAIAN ANGGARAN DASAR REFERENSI

PERBANDINGAN AD WIKA DAN USULAN AD WIKA ANGGARAN DASAR PADA SAAT INI PENYESUAIAN ANGGARAN DASAR REFERENSI Usulan AD WIKA (Matriks) (12-06-2015) 1 PERBANDINGAN AD WIKA DAN USULAN AD WIKA -MAKSUD DAN TUJUAN SERTA KEGIATAN USAHA- ------- ---------------------- Pasal 3 ----------------------------------- 1. Maksud

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis lakukan pada Warnet Pelangi, maka penulis menyimpulkan bahwa: 1. Warnet Pelangi belum menerapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri konstruksi sebagai salah satu sektor usaha yang memberikan sumbangan yang cukup terlihat bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Peranan penting industri konstruksi

Lebih terperinci

Boks 1. Dampak Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Provinsi Riau : Preliminary Study IRIO Model

Boks 1. Dampak Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Provinsi Riau : Preliminary Study IRIO Model Boks 1 Dampak Pembangunan Industri Hilir Kelapa Sawit di Provinsi Riau : Preliminary Study IRIO Model I. Latar Belakang Perkembangan ekonomi Riau selama beberapa kurun waktu terakhir telah mengalami transformasi.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Transportasi Transportasi dapat didefinisikan sebagai usaha dan kegiatan mengangkut atau membawa barang atau penumpang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Pengangkutan atau pemindahan

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Sekitar 4,7 juta pembaca majalah Time yang terbit di Amerika Serikat

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. Sekitar 4,7 juta pembaca majalah Time yang terbit di Amerika Serikat BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Sekitar 4,7 juta pembaca majalah Time yang terbit di Amerika Serikat menetapkan Bali sebagai pulau wisata terbaik di Dunia. Demikian pula organisasi Travel Leisure di

Lebih terperinci

Analisa Pembeayaan Investasi Proyek Perumahan Green Pakis Regency Malang

Analisa Pembeayaan Investasi Proyek Perumahan Green Pakis Regency Malang JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 2, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) C-67 Analisa Pembeayaan Investasi Proyek Perumahan Green Pakis Regency Malang M. Altof Syahrizal dan Christiono Utomo Jurusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dasa warsa terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup stabil

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dasa warsa terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup stabil 11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam dasa warsa terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup stabil dengan pertumbuhan rata-rata Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5.8%. Untuk meningkatkan

Lebih terperinci

Gambar 1.1. Perkembangan Konsumsi Minyak Nabati Dunia

Gambar 1.1. Perkembangan Konsumsi Minyak Nabati Dunia 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa sawit telah menjadi komoditas andalan sebagai sumber devisa negara non migas, penciptaan lapangan kerja dan pelestarian lingkungan hidup. Berdasarkan informasi

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS DAN INFRASTRUKTUR SELAT SUNDA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS DAN INFRASTRUKTUR SELAT SUNDA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2011 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS DAN INFRASTRUKTUR SELAT SUNDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

ANALISIS FINANSIAL PADA INVESTASI JALAN TOL CIKAMPEK-PADALARANG

ANALISIS FINANSIAL PADA INVESTASI JALAN TOL CIKAMPEK-PADALARANG ANALISIS FINANSIAL PADA INVESTASI JALAN TOL CIKAMPEK-PADALARANG Lulu Widia Roswita NRP : 9721055 Pembimbing : V. Hartanto, Ir., M. Sc FAKULTAS TEKNIK JURUSAN SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat. (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tantangan ke depan pembangunan ekonomi Indonesia tidaklah mudah untuk diselesaikan. Dinamika ekonomi domestik dan global mengharuskan Indonesia senantiasa siap terhadap

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Diskusi

Bab IV Hasil dan Diskusi Bab IV Hasil dan Diskusi Studi ini adalah untuk mengevaluasi model kontrak dan harga Gas Metana-B di Indonesia. Beberapa model kontrak mulai dari model Kontrak PSC Konvensional, model kontrak negara lain

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN EKONOMI PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIKTENAGA AIR (PLTA) KALIBEBER KABUPATEN WONOSOBO

STUDI KELAYAKAN EKONOMI PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIKTENAGA AIR (PLTA) KALIBEBER KABUPATEN WONOSOBO STUDI KELAYAKAN EKONOMI PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIKTENAGA AIR (PLTA) KALIBEBER KABUPATEN WONOSOBO Vika Arini 1), Siti Qomariyah 2), Agus Hari Wahyudi 3 ) 1) Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Universitas

Lebih terperinci

KOMPONEN PENENTU HARGA JUAL TENAGA LISTRIK DARI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP BATUBARA SKALA KECIL (PLTU B-SK) Hasan Maksum dan Abdul Rivai

KOMPONEN PENENTU HARGA JUAL TENAGA LISTRIK DARI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP BATUBARA SKALA KECIL (PLTU B-SK) Hasan Maksum dan Abdul Rivai KOMPONEN PENENTU HARGA JUAL TENAGA LISTRIK DARI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP BATUBARA SKALA KECIL (PLTU B-SK) Hasan Maksum dan Abdul Rivai Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan,

Lebih terperinci

PERENCANAAN PROYEK BERBASIS RISIKO PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ASET DI PDAM KOTA MALANG BERBASIS ISO/FDIS 31000:2009

PERENCANAAN PROYEK BERBASIS RISIKO PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ASET DI PDAM KOTA MALANG BERBASIS ISO/FDIS 31000:2009 PERENCANAAN PROYEK BERBASIS RISIKO PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ASET DI PDAM KOTA MALANG BERBASIS ISO/FDIS 31000:2009 Antonius Gatot Yudo Pratomo, Aris Tjahyanto Magister Manajemen Teknologi,

Lebih terperinci

POTENSI UNGGULAN DI PROVINSI BALI

POTENSI UNGGULAN DI PROVINSI BALI POTENSI UNGGULAN DI PROVINSI BALI MAIN REGIONAL POTENCIAL IN BALI PROVINCE RENCANA PEMBANGUNAN JALAN TOL GILIMANUK PENGAMBENGAN Permasalahan : 1.Pertumbuhan arus lalu lintas terus meningkat dari tahun

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : TENTANG TATA CARA DAN KRITERIA PENETAPAN SIMPUL DAN LOKASI TERMINAL PENUMPANG SERTA LOKASI FASILITAS PERPINDAHAN MODA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Disusunoleh: Prof. Prayatni Soewondo dan Emenda Sembiring

Disusunoleh: Prof. Prayatni Soewondo dan Emenda Sembiring Disusunoleh: Prof. Prayatni Soewondo dan Emenda Sembiring TL-4202 Kuliah ke-2 POKOK BAHASAN: Sasaran kuliah ke 2 Istilah dalam siklus hidup proyek Siklus hidup proyek (Project life cycle) Siklus Perencanaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pangsa pasar terbesar di dunia. Pertumbuhan industri penerbangan juga cenderung

BAB I PENDAHULUAN. pangsa pasar terbesar di dunia. Pertumbuhan industri penerbangan juga cenderung BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang penelitian Industri penerbangan merupakan salah satu sektor industri yang memiliki pangsa pasar terbesar di dunia. Pertumbuhan industri penerbangan juga cenderung relatif

Lebih terperinci

TKS 7338 EKONOMI TRANSPORTASI Dr. GITO SUGIYANTO, S.T., M.T.

TKS 7338 EKONOMI TRANSPORTASI Dr. GITO SUGIYANTO, S.T., M.T. TKS 7338 EKONOMI TRANSPORTASI Dr. GITO SUGIYANTO, S.T., M.T. Investment is not just about cold cash, BUT ALSO about imagination and innovation. Imagination to make better use of what we have already. Innovation

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi. Kegiatan investasi berhubungan dengan pengelolaan aset

BAB I PENDAHULUAN. investasi. Kegiatan investasi berhubungan dengan pengelolaan aset BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu aktivitas bisnis yang dilakukan perusahaan adalah kegiatan investasi. Kegiatan investasi berhubungan dengan pengelolaan aset finansial terutama sekuritas

Lebih terperinci

III. KERANGKA KONSEP PENELITIAN. Kebijaksanaan pembangunan nasional di sektor transportasi adalah

III. KERANGKA KONSEP PENELITIAN. Kebijaksanaan pembangunan nasional di sektor transportasi adalah 1 III. KERANGKA KONSEP PENELITIAN 3.1. Kerangka Pikir Penelitian Kebijaksanaan pembangunan nasional di sektor transportasi adalah untuk memperlancar arus barang dan jasa serta meningkatkan mobilitas manusia,

Lebih terperinci

Pengambilan Keputusan Investasi dengan menggunakan Metode Life Cycle Cost Anaysis

Pengambilan Keputusan Investasi dengan menggunakan Metode Life Cycle Cost Anaysis Pengambilan Keputusan Investasi dengan menggunakan Metode Life Cycle Cost Anaysis Thesa D. Junus dan Dian Fitria Green Building Engineers, Divisi Sustainability, PT Asdi Swasatya Abstrak Dalam pembangunan

Lebih terperinci

Studi Pembangunan PLTGU Senoro (2 x 120 MW) Dan Pengaruhnya Terhadap Tarif Listrik Regional di Sulawesi Tengah

Studi Pembangunan PLTGU Senoro (2 x 120 MW) Dan Pengaruhnya Terhadap Tarif Listrik Regional di Sulawesi Tengah Studi Pembangunan PLTGU Senoro (2 x 120 MW) Dan Pengaruhnya Terhadap Tarif Listrik Regional di Sulawesi Tengah Tedy Rikusnandar NRP 2208 100 643 Dosen Pembimbing Ir. Syariffuddin Mahmudsyah, M. Eng Ir.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Prospek pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) sangat besar dan beragam. Berdasarkan data cadangan dan produksi energi terbarukan Indonesia 2007, (http://www.ebtke.esdm.go.id/energi/...pltmh.html)

Lebih terperinci

BAB I P E N D A H U L U A N. sebagai sarana untuk memperlancar mobilisasi barang dan jasa serta sebagai

BAB I P E N D A H U L U A N. sebagai sarana untuk memperlancar mobilisasi barang dan jasa serta sebagai BAB I P E N D A H U L U A N 1.1 Latar Belakang Investasi infrastruktur transportasi dalam pembangunan ekonomi penting sebagai sarana untuk memperlancar mobilisasi barang dan jasa serta sebagai sarana untuk

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Tulang Bawang. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli

III. METODE PENELITIAN. Tulang Bawang. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Lokasi penelitian pendirian agroindustri berbasis ikan dilaksanakan di Kabupaten Tulang Bawang. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei sampai dengan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. Bagan Alir Penelitian

BAB III METODOLOGI. Bagan Alir Penelitian BAB III METODOLOGI III.1 Bagan Alir Penelitian Pelaksanaan penelitian ini didasarkan pada diagram alir seperti yang terlihat pada Gambar III.1. Penelitian ini mengkaji pelaksanaan PPPs di Indonesia, yaitu

Lebih terperinci

Ekonomi Rekayasa. (Engineering Economy) Ir Donny M. Mangitung, M.Sc., Ph.D. Untad Press Palu

Ekonomi Rekayasa. (Engineering Economy) Ir Donny M. Mangitung, M.Sc., Ph.D. Untad Press Palu (Engineering Economy) Ir Donny M. Mangitung, M.Sc., Ph.D Untad Press Palu 2009 Oleh Ir. Donny M. Mangitung, M.Sc., Ph.D Hak cipta 2009, pada penulis Hak cipta dilindungi undang undang. Dilarang memperbanyak

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. KERANGKA BERPIKIR Dalam melakukan penelitian ini, ada beberapa langkah yang menjadi kerangka berpikir yang dijadikan acuan jalan penelitian. Urutan kerangka perpikir tersebut

Lebih terperinci

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2008 Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 Asumsi Dasar dan Kebijakan Fiskal 2008 Sesuai dengan ketentuan UU Nomor 17 Tahun 2003, Pemerintah Pusat diwajibkan untuk menyampaikan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN Upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi minyak bumi, salah satunya dengan menerapkan teknologi Enhanched Oil Recovery (EOR) pada lapangan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, Negara dengan jumlah penduduk ± jiwa dengan laju

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, Negara dengan jumlah penduduk ± jiwa dengan laju BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia, Negara dengan jumlah penduduk ± 244.775.796 jiwa dengan laju pertumbuhan sebesar 1.49%/tahun dapat diperkirakan bahwa penduduk Indonesia akan menembus angka

Lebih terperinci

BAB 5 ANALISA KEUANGAN

BAB 5 ANALISA KEUANGAN BAB 5 ANALISA KEUANGAN 5.1 Ekuitas (Equity) Tiga elemen penting dari bisnis adalah aset, hutang, dan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Menurut Weygandt, Kimmel, dan Kieso (2011:12), terdapat hubungan

Lebih terperinci

PERENCANAAN DAN STUDI KELAYAKAN INVESTASI PROYEK PERUMAHAN TAMAN SENTOSA TAHAP II BOYOLALI

PERENCANAAN DAN STUDI KELAYAKAN INVESTASI PROYEK PERUMAHAN TAMAN SENTOSA TAHAP II BOYOLALI PERENCANAAN DAN STUDI KELAYAKAN INVESTASI PROYEK PERUMAHAN TAMAN SENTOSA TAHAP II BOYOLALI (The Planning and Study of Investment Feasibility on the Taman Sentosa Tahap II Boyolali House Project) SKRIPSI

Lebih terperinci

POTENSI ENERGI ANGIN DAN KELAYAKAN HARGA LISTRIK YANG DIHASILKAN. Verina J. Wargadalam

POTENSI ENERGI ANGIN DAN KELAYAKAN HARGA LISTRIK YANG DIHASILKAN. Verina J. Wargadalam POTENSI ENERGI ANGIN DAN KELAYAKAN HARGA LISTRIK YANG DIHASILKAN Verina J. Wargadalam Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi vwarga@cbn.net.id

Lebih terperinci

PERENCANAAN MASTER PLAN PENGEMBANGAN TI/SI MENGGUNAKAN STANDAR COBIT 4.0 (STUDI KASUS DI STIKOM)

PERENCANAAN MASTER PLAN PENGEMBANGAN TI/SI MENGGUNAKAN STANDAR COBIT 4.0 (STUDI KASUS DI STIKOM) Sholiq, Perencanaan Master Plan Pengembangan TI/SI V - 75 PERENCANAAN MASTER PLAN PENGEMBANGAN TI/SI MENGGUNAKAN STANDAR COBIT 4.0 (STUDI KASUS DI ) Erwin Sutomo 1), Sholiq 2) 1) Jurusan Sistem Informasi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian Objek penelitian adalah perusahaan perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia yang termasuk ke dalam sub sektor Transportation. Penentuan

Lebih terperinci

Analisa Highest And Best Use (HBU) pada Lahan Bekas SPBU Biliton Surabaya

Analisa Highest And Best Use (HBU) pada Lahan Bekas SPBU Biliton Surabaya JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D-181 Analisa Highest And Best Use (HBU) pada Lahan Bekas SPBU Biliton Surabaya T. Defi Anysa Rasyid, Christiono Utomo Jurusan

Lebih terperinci

D194. JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print)

D194. JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print) D194 Studi Pengambilan Keputusan Investasi Dengan Risiko Pada Pengembangan Proyek Caspian Tower, Grand Sungkono Lagoon Surabaya Fenny Herwitasari, Christiono Utomo Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Kontraktor), maka diperoleh rating keseluruhan infrastruktur yang diteliti di Provinsi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Kontraktor), maka diperoleh rating keseluruhan infrastruktur yang diteliti di Provinsi BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan review dari 38 responden yang merupakan praktisi dan akademisi teknik sipil (Pemerintah DPU, Konsultan, Pengembang, Kontraktor),

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Maju Bersama, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian

Lebih terperinci

TESIS ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PEMBANGUNAN JALAN TOL BENOA-BANDARA-NUSA DUA A.A. ASTRI DEWI

TESIS ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PEMBANGUNAN JALAN TOL BENOA-BANDARA-NUSA DUA A.A. ASTRI DEWI TESIS A.A. ASTRI DEWI PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2012 TESIS A.A ASTRI DEWI NIM 1091561021 PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

Lebih terperinci

PERENCANAAN DAN STUDI KELAYAKAN INVESTASI PROYEK PERUMAHAN TAMAN SENTOSA TAHAP II BOYOLALI

PERENCANAAN DAN STUDI KELAYAKAN INVESTASI PROYEK PERUMAHAN TAMAN SENTOSA TAHAP II BOYOLALI PERENCANAAN DAN STUDI KELAYAKAN INVESTASI PROYEK PERUMAHAN TAMAN SENTOSA TAHAP II BOYOLALI Nida Inayati Mufidatul Khasanah 1), Siti Qomariyah 2), Adi Yusuf Muttaqien 3) 1),2),3) Fakultas Teknik, Jurusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan konsumsi yang cukup pesat. Konsumsi minyak nabati dunia antara

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan konsumsi yang cukup pesat. Konsumsi minyak nabati dunia antara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Selama lebih dari 3 dasawarsa dalam pasar minyak nabati dunia, terjadi pertumbuhan konsumsi yang cukup pesat. Konsumsi minyak nabati dunia antara tahun 1980 sampai

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang penting dalam perekonomian Indonesia, baik karena banyaknya penduduk yang bekerja di sektor pertanian, maupun karena kontribusinya yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sosial. Selain itu pembangunan adalah rangkaian dari upaya dan proses yang

BAB I PENDAHULUAN. sosial. Selain itu pembangunan adalah rangkaian dari upaya dan proses yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pembangunan adalah kemajuan yang diharapkan oleh setiap negara. Pembangunan adalah perubahan yang terjadi pada semua struktur ekonomi dan sosial. Selain itu

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2011, bertempat di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

Produk Domestik Bruto (PDB)

Produk Domestik Bruto (PDB) Produk Domestik Bruto (PDB) Gross Domestic Product (GDP) Jumlah nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unitunit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun.

Lebih terperinci

METODE FAST & ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM REKAYASA NILAI PADA PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG (STUDI KASUS GEDUNG KANTOR BUPATI ALOR)

METODE FAST & ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM REKAYASA NILAI PADA PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG (STUDI KASUS GEDUNG KANTOR BUPATI ALOR) METODE FAST & ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM REKAYASA NILAI PADA PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG (STUDI KASUS GEDUNG KANTOR BUPATI ALOR) Ahmad Syamsudin 1), Putu Gede Wiranata 2), Ni Komang Armaeni 2) 1)

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) PENYIAPAN DOKUMEN PROYEK INVESTASI PENYELENGGARAAN MONOREL DI PULAU BATAM

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) PENYIAPAN DOKUMEN PROYEK INVESTASI PENYELENGGARAAN MONOREL DI PULAU BATAM KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) PENYIAPAN DOKUMEN PROYEK INVESTASI PENYELENGGARAAN MONOREL DI PULAU BATAM BADAN PENGUSAHAAN BATAM Tahun anggaran 2013 KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) PENYIAPAN DOKUMEN PROYEK INVESTASI

Lebih terperinci

PROGRAM KEGIATAN DITJEN PPI TAHUN 2011 DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS

PROGRAM KEGIATAN DITJEN PPI TAHUN 2011 DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS PROGRAM KEGIATAN DITJEN PPI TAHUN 2011 DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PRIORITAS DIREKTORAT JENDERAL PENGEMBANGAN PERWILAYAHAN INDUSTRI 28 Februari 2011 Indonesia memiliki keunggulan komparatif

Lebih terperinci

PENENTUAN KISARAN HARGA JUAL TENAGA LISTRIK DAN RISIKO INVESTASI REHABILITASI GAS TURBINE DI PT X

PENENTUAN KISARAN HARGA JUAL TENAGA LISTRIK DAN RISIKO INVESTASI REHABILITASI GAS TURBINE DI PT X PENENTUAN KISARAN HARGA JUAL TENAGA LISTRIK DAN RISIKO INVESTASI REHABILITASI GAS TURBINE DI PT X Eko Purwanto 1) dan I Ketut Gunarta 2) 1) Program Studi Magister Manajemen Teknologi, Institut Teknologi

Lebih terperinci

LAPORAN PENGELOLAAN PINJAMAN DAN HIBAH

LAPORAN PENGELOLAAN PINJAMAN DAN HIBAH LAPORAN PENGELOLAAN PINJAMAN DAN HIBAH EDISI SEPTEMBER 2014 Direktorat Pinjaman dan Hibah Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Laporan Pengelolaan Pinjaman dan Hibah Edisi Agustus

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016

Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016 Menteri Perindustrian Republik Indonesia PAPARAN MENTERI PERINDUSTRIAN PADA ACARA RAKER KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 27 JANUARI 2016 Yth. : 1. Menteri Perdagangan; 2. Menteri Pertanian; 3. Kepala BKPM;

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini tentu akan meningkatkan resiko dari industri pertambangan.

BAB I PENDAHULUAN. ini tentu akan meningkatkan resiko dari industri pertambangan. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang membutuhkan investasi besar, teknologi yang memadai serta beresiko tinggi terutama pada tahap eksplorasi. Untuk

Lebih terperinci

Studi Kelayakan HOTEL BERBINTANG di PROVINSI KEPULAUAN RIAU, Mohon Kirimkan. eksemplar. Posisi : Nama (Mr/Mrs/Ms) Nama Perusahaan.

Studi Kelayakan HOTEL BERBINTANG di PROVINSI KEPULAUAN RIAU, Mohon Kirimkan. eksemplar. Posisi : Nama (Mr/Mrs/Ms) Nama Perusahaan. 021 31930108 9 marketing@cdmione.com P T. CENTRAL DATA MEDIATAMA INDONESIA () dikenal luas oleh kalangan bisnis nasional dan internasional sebagai perusahaan konsultan yang banyak mengeluarkan studi kelayakan

Lebih terperinci