Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal"

Transkripsi

1 Jurnal Ultima Humaniora, Maret 2013, hal ISSN Volume 1, Nomor 1 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal EDISIUS RIYADI TERRE Salah satu Pendiri dan Redaktur Pelaksana Jurnal Hak Asasi Manusia, DIGNITAS ( ) Surel: Diterima: 29 Oktober 2012 Disetujui: 5 November 2012 ABSTRACT This article examines human rights not primarily as ideas and concepts but as a movement of consciousness. The consciousness this article will employ is based on the negative experiences of humankind around the world, experiences of losses, rather than on philosophical reflection. However, this article is a philosophical survey in the sense that it does not explore the philosophical thoughts of thinkers on human rights, ethics, politics and law, but it tries to trace its own way of apprehending human rights by using genealogical journey of human rights in history since the Enlightenment. Tracing genealogically will offer a new paradigm on how to understand human rights as universal standards and norms on how politics should walk beyond the debate between the idealist and pragmatist, particularist and universalist, Islam and the West. The new paradigm is purposefully captured, by referring to Adorno, as negative dialectics, in which one knows what he/she has when losing it. By tracing genealogically, one will find a new understanding on the universality of human rights not as abstract universal norms but mainly as the same voices of victims of humankind in each country, culture and civilization around the world. Keywords: Genealogi, dialektika negatif, kesadaran, filsafat, korban Pendahuluan Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa abad 20 dan sesudahnya adalah abad hak asasi manusia (Henkin, 1990; Bobbio, 1996:32). Penamaan itu tentu saja mengandung dua aspek tak terpisahkan yaitu diskursus dan gerakan, atau teori dan praksis. Pada tingkat diskursus kita saksikan merebaknya pelbagai terbitan, tulisan, diskusi, training, bahkan kuliah di pelbagai belahan dunia yang menjadikan HAM sebagai subjek kajian utama. Pada tingkat gerakan, kita saksikan isu HAM sebagai agenda dan program utama mulai dari tingkat PBB hingga ke tingkat masyarakat sipil di pelbagai belahan dunia dengan didampingi pelbagai lembaga non-pemerintah yang bergerak di bidang hak asasi manusia. Penamaan abad hak asasi manusia, kalau kita telusuri realitas di baliknya, tentu saja muncul dari sebuah realitas kelam dan negatif dalam sejarah umat manusia, yaitu pengalaman penderitaan. Penderitaan yang dimaksud adalah penderitaan yang disebabkan oleh 06-Hak Asasi.indd 59 4/18/2013 8:31:39 PM

2 60 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal Voleme 1, 2013 perbuatan manusia itu sendiri. Maka, sebagaimana dikatakan Magnis-Suseno: hak-hak asasi tidak diciptakan dari udara kosong, melainkan mengungkapkan sejarah pengalaman sekelompok orang yang secara mendalam mempengaruhi cara seluruh masyarakat menilai kembali tatanan kehidupannya dari segi martabat manusia. Sejarah itu berwujud penderitaan, ketidakadilan, dan pemerkosaan (Magnis-Suseno, 1991:136). Realitas negatif itulah yang kemudian direfleksikan dan lalu diteorikan 1 serta diperdebatkan oleh para pemikir hingga dewasa ini. Biasanya, ada dua pertanyaan yang selalu menyibukkan para pemikir tentang hak asasi manusia: apa itu hak asasi manusia, dan mengapa dinamakan hak asasi manusia? Apa pun dan bagaimanapun perdebatan dan jawabannya, negativitas itu tetap mencekam dan menghentak nurani kemanusiaan. Karena itu, pertanyaan tentang pendasaran sesuatu sebagai hak asasi manusia akan dijawab: karena manusia sendiri tidak tega, ngeri, jijik terhadap penderitaan itu, dan sekaligus ingin keluar dari realitas negatif itu. Secara antropologis, manusia, bahkan makhluk hidup secara keseluruhan, mempunyai mekanisme internal dan alamiah untuk keluar dari penderitaan. Dari situlah kemudian para filosof dapat, dan memang sebaiknya, menjelaskan belakangan, bahwa hak asasi itu memang dapat dimengerti dari latar belakang prinsip-prinsip moral dasar interaksi manusiawi (Magnis-Suseno, 1991:136). Dengan pertama-tama melihat ide hak asasi manusia muncul dari kesadaran dan keprihatinan akan pembantaian dan pemerkosaan manusia, berarti kita memahaminya, berpikir dan bertindak de ngan cara dialektika negatif (Adorno, 1973), yaitu dengan menempatkan para korban realitas negatif itu sebagai subjek utama, sebagai perhatian prima facie. 2 Tanpa keberpihakan seperti ini, semua pembicaraan dan perjuangan atas nama hak asasi manusia tak berarti apa-apa, bahkan menjadi alat penindasan baru dengan gaya serigala berbulu domba. Inilah posisi saya dalam menelusuri sejarah, prinsip dan kandungan hak asasi manusia. Penelusuran ini saya dekati secara genealogis. Pendekatan genealogis yang saya maksud adalah penelusuran hak asasi manusia sebagai sebuah kesadaran, sebuah genealogi kesadaran, yaitu kesadaran dalam ide dan sekaligus gerakan yang terkait-kelindan dan tidak terputusputus. Namun, penelusuran genealogis ini saya batasi pada era modern yaitu mulai zaman Pencerahan hingga era kontemporer. 3 Selain itu, penelusuran genealogis 1 Dilihat sejarah etimologisnya, teori memang menyusuli praksis. Teori berasal dari kata Theoros (Yunani), yakni seorang yang diutus oleh suatu masyarakat untuk melakukan theoria, memandang, memaknai, melakukan, dst Jadi, dalam pengertian pra-modernnya yang kemudian dicoba diangkat kembali oleh Teori Kritis Mazhab Frankfurt, dengan berhutang besar pada Marx, sebagai gugatan terhadap paradigma ilmu pengetahuan modern teori selain memang menyusuli praksis, juga berarti bahwa antara teori dan praksis itu sendiri tak dapat dipisahkan. Bahkan, teori adalah praksis itu sendiri. 2 Prinsip prima facie, yang secara harfiah berarti kesan pertama, pertama kali dikemukakan oleh William David Ross untuk mengatasi dilema tindakan etis dalam teori etika deontologi Immanuel Kant. Prima facie berarti tindakan etis yang diambil di antara pelbagai pilihan yang tampak pada pandangan pertama dan diyakini saat itu sebagai tindakan yang benar, terlepas dari hal itu benar atau tidak di masa depan. Pada tingkat yang lebih luas, prinsip prima facie ini sering disamakan sebagai rasa keadilan. Lihat Ross, W. D. (1930). The Right and the Good. Gloucestershire: Clarendon Press. 3 Jadi, meskipun berhutang banyak pada konteks perbudakan di Yunani kuno dan pemikiran filosofis para pemikir besarnya semisal Plato, Aristoteles, konteks Romawi Kuno, dan pelbagai sejarah bangsa-bangsa lainnya, penelusuran genealogis saya di sini tidak mencakupi itu, melainkan pelbagai konteks dan refleksi zaman itu saya pandang sebagai referensi yang terartikulasi secara lebih signifikan dalam era kontemporer sebagaimana saya maksudkan dalam tulisan ini. 06-Hak Asasi.indd 60 4/18/2013 8:31:40 PM

3 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal EDISIUS RIYADI TERRE 61 ini dibagi atas fase-fase dengan berangkat dari tonggak-tonggak penting gerakan hak asasi manusia, jadi bukan pada asal-usul perdebatan teoretisnya---meskipun tidak bisa dinafikan bahwa tonggak sejarah yang dimaksud tidak mungkin terlepas dari diskursus gagasan yang diketengahkan oleh para pemikir berpengaruh pada zamannya. Karena itu, saya membagi fase genealogis hak asasi manusia atas tiga fase, yaitu: Fase I, Praperang Dunia I-II yang meliputi tonggak sejarah penentangan monarki absolut di Inggris dan Prancis hingga perjuangan kemerdekaan di Amerika; Fase II, Pasca-perang Dunia I-II yang merupakan era penegakan rule of law dan demokratisasi; Fase III, fase kontemporer yang ditandai globalisasi dan neoliberalisme. Bagian berikut tulisan ini akan melompat pada butir-butir permenungan para filosof tentang konsep dan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Bagian berikutnya lagi akan mencoba mempertemukan hasil telusuran genealogis dengan butir-butir permenungan para pemikir hak asasi manusia yang melihat adanya sebuah keterarahan ide dan gerakan hak asasi manusia dari kewargaan kepada kemanusiaan universal. Tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan. Genealogi Hak Asasi Manusia Dalam perbincangan tentang hak asasi manusia, kebanyakan orang berdiri di dua kubu yang saling bertentangan. Kubu pertama adalah kubu idealis-rasional, kebanyakan didominasi oleh para filosof, yang mencoba mengurai persoalan hak asasi manusia dari asal usul ide dan gagasannya. Karena itu, pertanyaan yang menyibukkan mereka adalah: apakah hak asasi manusia itu memang ada, kalau ada apa hakikatnya, apa isinya, dan apa yang menjadi landasan keberadaannya itu. Selain itu, didukung oleh kelompok anti-modern, anti-liberalisme, dan terutama mengental pada kaum pascamodernis, persoalan universalitas hak asasi manusia sangat menyita perhatian mereka. Sebaliknya, kubu kedua, yang kita namakan kaum empiris-pragmatis, tidak begitu peduli dengan pertanyaan-pertanyaan omong-kosong tersebut. Bagi kubu ini, yang terpenting adalah gerakan. Tidak perlu banyak disibukkan dengan pelbagai teori yang abstrak dan membingungkan, yang terpenting adalah gerakan dan advokasi terus menerus dengan memanfaatkan instrumen-instrumen yang sudah ada. Instrumen hak asasi manusia internasional, kemudian, menjadi semacam kitab suci bagi para pejuang gagah berani ini. Mereka tidak peduli apakah di balik instrumen-instrumen tersebut tersembunyi kepentingan-kepentingan hegemonik dan dominatif dari kelompok dan ideologi tertentu yang pada gilirannya mempersendat implementasinya di lapangan. Bagi mereka, ketersendatan itu adalah semata-mata persoalan tidak adanya good will dari pihak pemegang kewajiban hak asasi manusia baik itu negara, masyarakat itu sendiri, dan loci kekuasaan global lainnya seperti institusi ekonomi global. Alih-alih memasuki arena pertentangan mereka itu, di sini saya justru langsung menawarkan cara memandang dari posisi yang tidak berada pada keduanya, yaitu penelusuran genealogis: genealogi kesadaran. Yang saya maksud adalah bahwa kita menelusuri genealogi hak asasi manusia dalam ranah kesadaran praksis, dengan berpegang pada tonggak-tonggak sejarah penting gerakannya, namun de ngan memasuki ranah kesadaran reflektif sebelum dan sesudah tonggak sejarah itu terpancang, yang berarti memasuki wilayah permenungan para pemikir. Dengan cara ini, pembagian fase genealogis di sini sama 06-Hak Asasi.indd 61 4/18/2013 8:31:40 PM

4 62 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal Voleme 1, 2013 sekali tidak terputus dan tanpa saling pengaruh, melainkan berwatak heuristik, artinya selalu bergerak dalam wilayah dialektika antara praksis dan kontemplasi, selain dialektika antara praksis itu sendiri dan teori itu sendiri. Singkatnya, genealogi kesadaran heuristik yang kita maksud di sini berarti memperhatikan hubungan antara aksi dan refleksi. Namun, kembali saya tegaskan, penelusuran genealogi hak asasi manusia kita di sini, dibatasi pada era modern yaitu mulai zaman Pencerahan hingga era kontemporer. 1. Fase I: Pra-Perang Dunia I dan II Fase pertama ini merentang dari tonggak sejarah penentangan monarki absolut di Inggris hingga Prancis dan perjuangan kemerdekaan di Amerika. Lazimnya, kebanyakan orang mengamini bahwa paham hak asasi untuk pertama kali lahir di Inggris pada abad ke-17, tepatnya pada tahun 1679 dengan lahirnya Habeas Corpus, suatu dokumen bersejarah yang menjadi cikal bakal prinsip rule of law untuk menggantikan kesewenangan rule by man yang terutama pada masa itu terpersonalisasi pada sang raja sebagai penguasa monarki absolut. Inti dokumen ini adalah bahwa orang yang ditahan harus dihadapkan dalam waktu paling lambat tiga hari kepada seorang hakim untuk diproses dan diadili. Jadi, ini merupakan tonggak pertama yang sekarang dikenal sebagai kebebasan dari penangkapan sewenang-wenang dan hak untuk mendapatkan peradilan yang jujur (fair trial). Tonggak ini bukannya tanpa preseden dan anteseden. Jauh sebelum itu, pada tahun 1215, didorong oleh kepentingan bangsawan dan feodalis yang merasa keberadaannya terancam oleh kekuasaan raja yang sewenang-wenang, dikeluarkanlah sebuah piagam yang kita kenal dengan nama Magna Charta Libertatum. Sebuah piagam yang melarang penahanan, penghukuman, dan perampasan benda sewenangwenang. Sejarah terus bergulir. Kurang lebih empat ratus tahun setelah itu, tepatnya pada tahun 1640, terjadi Revolusi Inggris yang dipimpin Oliver Cromwell, dan kemudian memegang tampuk pemerintahan menggantikan raja, dan mendirikan pertama kalinya pemerintahan republik di Inggris yang kemudian dalam sejarah selanjutnya menjadi satu-satunya, karena setelah itu (1660) hingga sekarang Inggris kembali menjadi monarki. Revolusi ini berangkat dari kesewenangan raja yang mengebiri hak atas partisipasi politik dan kebebasan beragama serta kebebasan untuk mengawasi pemerintahan. Ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan monarki tidak dengan sendirinya menggerakan mereka untuk memusnahkan monarki, melainkan menjinakkan monarki. Demikianlah, pada tahun 1688, terjadi apa yang dalam sejarah disebut sebagai Glorious Revolution, di mana rakyat men dukung Pangeran William dari Oranye untuk melengserkan Raja James II. Antara raja baru dan rakyat terjadi kesepakatan berupa lahirnya An Act Declaring the Rights and Liberties of the Subject and Settling the Succession of the Crown yang lazim dikenal dengan sebutan Bill of Rights setahun kemudian (1689). Undangundang ini mengandung ketentuan hakhak positif 4 tertentu yang harus dimiliki oleh setiap rakyat dan penduduk dalam sebuah negara yang bebas dan demokratis. Ia menjamin hak warga untuk memberikan petisi kepada raja dan hak Subjek (rakyat) 4 Tentang hak positif, silahkan baca uraian di belakang tentang paradigma hak asasi manusia: hak positif: paradigma rule of law. 06-Hak Asasi.indd 62 4/18/2013 8:31:40 PM

5 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal EDISIUS RIYADI TERRE 63 untuk membela negara. Ia juga menjamin bahwa keputusan raja harus mendapat persetujuan dari rakyat yang dalam hal ini diwakili oleh parlemen. Singkatnya, undang-undang ini berisikan pengakuan hakhak dan kebebasan warga negara terutama hak politik dan hak-hak parlemen dalam pemerintahan raja, dan ini menjadi tonggak sejarah dunia dalam hal pemerintahan konstitusional modern. Peristiwa tahun 1215 dan 1640 di atas kemudian mempengaruhi renungan politik filosof terkenal Inggris yaitu John Locke ( ). 5 Renungannya, selain realitas politik yang meresahkan, memberi pengaruh signifikan pada kelahiran Bill of Rights tahun 1689 tersebut, bahkan hingga masa sesudahnya termasuk hingga sekarang. Inti pandangan Locke adalah bahwa semua orang diciptakan sama dan memiliki hakhak alamiah (natural rights) yang tidak dapat dilepaskan (inalienable). John Locke menekankan empat hak utama yaitu: hak atas hidup, kebebasan (kemerdekaan), hak atas properti (hak milik), dan hak untuk mengusahakan kebahagiaan. Pemikiran-pemikiran John Locke dengan cepat menyebar ke pelbagai daratan Eropa terutama ke Prancis dan ke Amerika, yang dibawa oleh para pelarian dari Inggris dan Eropa lainnya. Gagasan Locke, hampir sejalan dengan gagasan Thomas Aquinas ( ), seorang teolog dan filosof besar abad pertengahan yang terkenal dengan Teori Hukum Kodrat-nya, yang mengemukakan bahwa berdasarkan hukum kodrat, tidak seorang pun boleh merampas hak atas hidup, keamanan (kesehatan), kebebasan dan milik orang lain. Pandangan ini berimplikasi politis, karena membatasi peran pemerintah dengan prinsip bahwa tak seorang pun boleh tunduk di bawah kekuasaan orang lain tanpa persetujuan orang yang hendak dikuasai itu. Prinsip ini kemudian menjadi dasar digugatnya sebuah kekuasaan oleh yang dikuas ai. Pandangan ini menemukan tanahnya yang subur dalam pengalaman pahit para pelari an Eropa (terutama Inggris) di Amerika baik selama sebelumnya berada di Inggris maupun selama berada di Amerika namun masih di bawah kekuasaan Inggris. Dialektika sejarah berlangsung terus, dan sintesisnya pun lahir dalam Declaration of Independence Amerika Serikat pada tahun 1776 (disusun oleh Thomas Jefferson) yang mempertegas sebuah deklarasi yang dikeluarkan sebulan sebelumnya yaitu Bill of Rights of Virginia atau kadang disebut Virginia Declaration of Rights (yang disusun oleh George Mason). Deklarasi Virginia itu berisikan daftar hak asasi yang lengkap pertama kali dalam sejarah dan hampir memasukkan semua daftar hak versi John Locke yang diturunkan atas pelbagai jenis hak lainnya lagi. Sayangnya, kendati Deklarasi itu berisi ketentuan persamaan hak untuk semua umat manusia namun dalam pelaksanaannya hak itu hanya melekat pada kaum kulit putih dan laki-laki. Pengaruh pemikiran hukum kodrat Aquinas yang diartikulasikan Locke juga menemukan lahan suburnya dalam pengalaman pahit rakyat Prancis yang mengalami penindasan di bawah raja yang memerintah dengan semboyan negara adalah saya. Revolusi Prancis yang dimulai tahun 1788 kemudian berbuah pada lahirnya pernyataan tentang hak-hak manusia dan warga negara (Déclaration des droits de l homme et du citoyen Declaration of the Rights of Man and of the Citizen). Deklara si ini membedakan hak-hak yang 5 Tentang filsafat politiknya, lihat Locke (1988). 06-Hak Asasi.indd 63 4/18/2013 8:31:40 PM

6 64 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal Voleme 1, 2013 dimiliki manusia sebagai manusia yang sekarang lazim kita sebut sebagai paham hak asasi manusia dan hak-hak yang diperoleh manusia sebagai warga masyarakat dan negara yang sekarang lazim kita mengerti se bagai hak hukum dan civil liberties. Memang kemudian, dalam kenyataannya, deklarasi hasil revolusi tersebut jauh panggang dari api karena teror yang dikomandani Maximilien de Robespierre ( ). Cita-cita penghormatan hak asasi manusia dengan bertolak dari paham kebebasan total malah berakhir pada raibnya kebebasan itu dari ranah kehidupan manusia. Namun, dialektika sejarah terus berlangsung, yang implikasinya pada hak asasi manusia terus kita rasakan hingga sekarang. Masa-masa selanjutnya hingga sebelum Perang Dunia merupakan masa ambigu, di mana di satu sisi ada upaya penegakan hak warga negara di negaranegara yang menjadi tonggak sejarah hak asasi manusia itu, namun di sisi lain negara-negara itu dan juga negara Eropa lainnya terlibat dalam nafsu kolonialisme yang justru bertentangan dengan paham hak asasi manusia yang mereka anut di negerinya sendiri. Namun demikian, perlu kita catat bahwa ciri khas paham dan gerakan hak asasi manusia pada fase ini 6 terletak pada perlawanan kaum borjuasi liberal terhadap pemerintah yang feodal dan absolutik dengan mengedepankan negara konstitusional. Pada abad XIX, selain kaum borjuis liberal, kaum buruh pun memasuki arena. Di satu sisi mereka, pada mulanya, mendukung perjuangan kaum borjuis liberal me lawan feodalisme, namun di sisi lain, kemudian, mereka juga melawan kawan seiring itu untuk memperjuangkan hakhak mereka sebagai manusia pekerja. Di bawah ideologi sosialisme, dengan motor besarnya Marxisme, perjuangan mereka kemudian melahirkan ide hak-hak asasi sosial. Bagaimanapun juga, dalam fase pertama ini, kalau kita cermati, kesadaran akan hak terutama berangkat dari pengalaman ketertindasan penguasa. Hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan karena pengalaman bersama akan ketertindasan itu turut serta memberi warna pada klaim universalitas hak asasi manusia, dan bukan sekadar berangkat dari paham kodrati. Universalitas yang tumbuh dari negativitas pengalaman bersama ini bergayung sambut dengan renungan antropologi filosofis, sosial dan politik para pemikir, semisal John Locke dengan mengetengahkan tesis antropologis bahwa semua manusia diciptakan sama dengan hak yang sama pula dan tak dapat dicerabut. Nyatalah kini, meski baru masuk pada penelusuran fase pertama, bahwa kita tidak ikut terjerembab dalam pertikaian dua kubu utama perdebatan masalah hak asasi manusia, melainkan melihat dialektikanya. 2. Fase II: Fase Pasca-Perang Dunia I dan II Fase ini merupakan fase penegakan rule of law dan demokratisasi. Semua citacita dan perjuangan luhur abad XIX seolah raib tak berbekas pada abad XX, yang oleh Frederico Mayor 7 dinamakan sebagai abad terkelam dalam sejarah kehidupan manusia. Abad ini ditandai perang dunia dua kali, perang saudara, otoritarianisme, 6 Tentang kekhasan konsep dan gerakan hak asasi manusia pada masa ini, terutama pada abad XIX, yang dalam artikel telusuran genealogis ini saya masukkan sebagai fase pertama, lihat Magnis-Suseno (1991:124). 7 Frederico Mayor adalah Direktur UNESCO. Pendapat itu disampaikannya dalam kata pengantarnya untuk buku karangan Baechler, Jean. (1999). Democracy, an Analytical Survey. Perancis: UNESCO Publishing. 06-Hak Asasi.indd 64 4/18/2013 8:31:40 PM

7 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal EDISIUS RIYADI TERRE 65 diktatorisme, kekacauan sosial, perang dingin, ketidakadilan yang merajalela, kemiskinan dan pembodohan yang akut, dan bahkan diindikasikan sebagai abad kegamangan. Kembali universalitas negativitas berupa pengalaman penderitaan menyatukan ma nusia yang terwakili dalam diri beberapa gelintir pemimpin dengan dukungan hampir seluruh umat manusia yang jijik dan ngeri pada kekelaman dan penderitaan akibat nafsu manusia sendiri. Kekejaman Nazi Jerman merupakan klimaks dari kengerian dan kejijikan manusia terhadap penderitaan. Didahului oleh preseden terbentuknya Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1919 setelah berakhirnya Perang Dunia I, kemudian dipertegas lagi dengan terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa yang secara resmi berdiri pada 24 Oktober 1945, lahirlah sebuah deklarasi yang kita kenal sebagai Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM). 8 DUHAM inilah yang lalu menjadi tonggak baru perjuangan dan gerakan hak asasi manusia hingga masa kontemporer. Bersama dengan turunannya dalam bentuk dua kovenan utama yaitu Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR), DUHAM telah menjadi semacam kitab suci bagi para pejuang dan subjek pemegang hak asasi manusia di seluruh dunia, yang dikenal dengan sebutan International Bills of Human Rights. Apakah dengan lahirnya DUHAM (1948) dan kedua Kovenan (1966) itu, perjuangan hak asasi manusia lalu menjadi lebih mudah? Sejarah kembali bertutur bahwa instrumentalisasi hak asasi manusia saja tidak cukup. Setelah itu memang PBB masih terus mengeluarkan pelbagai konvensi yang melarang perbudakan, 9 penghapusan penyiksaan, 10 tentang hak anak, 11 tentang larangan diskriminasi terhadap perempuan, 12 anti-diskriminasi, 13 bahkan belakangan deklarasi hak-hak masyarakat adat, 14 dll. Namun, semua konvensi dan deklarasi yang dikeluarkan PBB itu tak berbunyi apa-apa tanpa adanya upaya perjuangan terus-menerus oleh para pembela kemanusiaan. Setelah paruh pertama abad XX dunia dihentakkan oleh kekejaman totaliterisme 8 Untuk uraian tentang kandungan DUHAM lihat pada bagian tentang Bill of Human Rights di belakang nanti dalam tulisan ini. 9 Supplementary Convention on the Abolition of Slavery, the Slave Trade, and Institutions and Practices Similar to Slavery (Konvensi Pelengkap tentang Penghapusan Perbudakan, Perdagangan Budak, dan Institusi dan Praktik yang Sama dengan Perbudakan), disahkan oleh PBB dengan Resolusi ECOSOC 608 (XXI) pada 30 April 1956 di New York dan kemudian di Jenewa pada 7 September 1956, dan mulai berlaku pada 30 April 1957, untuk melengkapi Konvensi Menentang Perbudakan (Slavery Convention) yang dibuat pra-lahirnya PBB, yaitu pada tahun 1926, yang kemudian dibuat protokol untuk mengamendemennya oleh PBB pada tahun Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaan dan Tindakan atau Pengukuman Kejam Lainnya, Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia; biasa disebut singkat Konvensi Menentang Penyiksaan - CAT) yang disahkan oleh PBB pada 10 Desember 1984 dengan Resolusi GA 39/46, dan mulai berlaku 26 Juni Convention on the Rights of the Child (CRC Konvensi Hak Anak) yang disahkan PBB pada 20 Desember 1989 dengan Resolusi GA 44/25, dan mulai berlaku pada 2 September Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan) yang disahkan oleh PBB dengan Resolusi GA 34/180 pada 18 Desember 1979 dan mulai berlaku pada 3 September International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination (CERD Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial) yang disahkan oleh PBB dengan Resolusi GA 2106 A (XX) pada 21 Desember 1965, dan mulai berlaku pada 4 Januari Declaration on the Rights of Indigenous Peoples yang disahkan oleh PBB dengan Resolusi GA 61/295 pada 13 September 2007, sebelumnya sudah ada Konvensi ILO Hak Asasi.indd 65 4/18/2013 8:31:40 PM

8 66 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal Voleme 1, 2013 Nazi, memasuki paruh kedua, hampir seluruh seluruh dunia dilanda kekejaman totaliterisme sosialis-komunis, otoritarianisme, despotisme, fasisme yang membentang mulai dari Eropa Timur, Amerika Latin, hingga Asia, termasuk Indonesia. Hak asasi manusia kembali menjumpai tantangan berat. Mendekati akhir abad XX, kengerian itu semakin memuncak yang sekali lagi melahirkan universalitas penderitaan manusia dalam diskursus dan gerakan demokratisasi yang hampir merata di seluruh dunia. Fenomena demokratisasi dan liberalisasi mendekati akhir abad XX ini oleh Huntington disebut sebagai gelombang ketiga demokratisasi (Huntington, 1991). Pada era ini jugalah muncul sebuah paradigma baru dalam perjuangan kemanusiaan, sebagai bentuk yang lebih artikulatif yang berangkat dari dialektika negatif penderitaan para korban berhadapan dengan kekejaman penguasa totaliter, fasis dan otoriter, yang kita kenal dengan sebutan keadilan transisional. 15 Ciri khas perjuangan dan diskursus hak asasi pada fase ini yang terutama terartikulasi secara signifikan pada akhir abad XX adalah penekanan pada hakhak korban. 16 Namun, belum juga proses demokratisasi dan penegakan keadilan transisional menunjukkan hasilnya yang menggembirakan, hak asasi manusia kembali mendapatkan tantangan baru dan serius yaitu dengan gempuran globalisasi dan neoliberalisme yang menyebarkan lokus kekuasaan bukan lagi semata pada negara melainkan juga pada pelaku-pelaku ekonomi internasional. Hal ini tentu saja berakibat pada mekanisme dan logika pertanggungjawaban dan penagihan kewajiban yang baru (diperbarui) untuk menjamin pemenuhan hak asasi manusia. 3. Fase III: Era Globalisasi dan Neo-liberalisme Fase III yang merupakan fase kontemporer ditandai globalisasi dan neoliberalisme. Ciri khas fase ini adalah bahwa epistemologi konvensional seputar hak asasi manusia mulai dipandang tidak memadai sekaligus digugat. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa lokus kekuasaan politik sebagai pengampu kewajiban pemenuhan hak asasi manusia tidak lagi berada pada satu aktor yaitu negara (state actor) melainkan sudah tersebar ke mana-mana terutama aktor-aktor ekonomi global. Hampir tidak ada kebijakan negara yang berimplikasi pada hak asasi manusia yang imun dan netral dari pengaruh kekuasaan ekonomi global itu. Maka, menagih kewajiban semata kepada Negara untuk memenuhi, menghargai dan melindungi di satu sisi dan menggugat Negara atas kejahatan dan pelanggaran yang dilakukannya baik dengan cara aktif (by commission) maupun secara pasif (by omission) tampak tidak realistis dan rasional. Logika politik kontemporer dengan mudah bisa memandang hal ini. Namun, yang susah adalah bagaimana logika filsafat politik kontemporer itu menjadi efektif sampai pada mempengaruhi kebijakan. Lagi-lagi PBB mengambil peran penting. Beberapa tahun belakangan ini, PBB menginisiasi tindakan penyusunan dan lahirnya beberapa instrumen, baik berupa deklarasi maupun konvensi, yang menegaskan per- 15 Tentang diskursus keadilan transisional ini, sudah ada banyak sekali literatur yang muncul dan memenuhi pustaka intelektual dari para pembela demokrasi dan hak asasi manusia. Salah satu yang terpenting adalah dari Teitel (2000). 16 Tentang hak-hak korban pelanggaran hak asasi manusi, silahkan baca Van Boven (2003). Buku ini merupakan terjemahan dari dokumen yang diterbitkan PBB, hasil studi yang dilakukan Boven tentang hak-hak korban pelanggaran hak asasi manusia. 06-Hak Asasi.indd 66 4/18/2013 8:31:41 PM

9 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal EDISIUS RIYADI TERRE 67 lunya institusi-institusi ekonomi global bertanggung jawab atas masalah hak asasi manusia. Yang terakhir adalah disusunnya UN Draft Norms on Business and Human Rights. 17 Pada fase inilah lahir generasi baru dalam diskursus hak asasi manusia, yang sering disebut sebagai hak asasi manusia generasi ketiga, yaitu hak asasi manusia atas pembangunan, lingkungan yang sehat, termasuk di dalamnya hak-hak minoritas dan kelompok-kelompok rentan. Paradigma yang dikembangkan oleh para pejuang hak asasi manusia pada fase ini adalah paradigma ekonomi politik dengan fokus pada etika tanggung jawab terutama yang berkaitan dengan masa depan (Jonas, 1984). Etika tanggung jawab bertolak dari asumsi ketidakterkiraan (unpredictibilty) dampak dari tindakan manusia, bahkan dari tindakan yang semula dipandang baik dan berguna sekalipun. Karena itu, pelbagai kebijakan atas nama kebaikan, harus sudah dengan sendirinya membawa serta tanggung jawab atas dampak negatif di masa depan, apalagi kalau kebijakan itu memang dinilai buruk dari awal. Gerakan hak asasi manusia pada fase ini kemudian memunculkan inisiatif-inisiatif--- kembali PBB memainkan peran penting di sini- --berupa CSR (Corporate Social Responsibility) dengan nama UN Global Compact 18. Perjalanan hak asasi manusia dalam dialektika sejarah masih terus berlangsung, dan kita masih belum bisa menangkap sintesis absolutnya selain hanya sintesissintesis sementara. Universalitas kengerian akan penderitaan, jadi bukan sekadar universalitas etis artinya kemauan bersama seluruh umat manusia untuk mengatakan Nie wieder (Jerman), atau nunca más (Spanyol) yang keduanya berarti imperatif negatif tidak boleh terjadi lagi terhadap penderitaan, dan bukan sekadar sebuah hasil refleksi etis dan rasional merupakan pendorong utama untuk sampai pada sintesis absolut itu. Konsep Umum dan Prinsip-Prinsip Hak Asasi Manusia Sekarang kita memasuki pembahasan tentang konsep umum dan prinsip-prinsip hak asasi manusia yang direnungkan oleh para filosof guna memahami hak asasi manusia dan pada gilirannya akan mempengaruhi cara para pengambil kebijakan untuk peka terhadap hak asasi manusia atau bahkan memunculkan substansi hak asasi manusia yang baru. 1. Konsep Umum Konsep umum hak asasi manusia dapat dijelaskan dengan mengangkat beberapa karakternya, tanpa harus disibukkan dengan daftar hak yang termaktub di dalamnya. Dengan cara itu, orang mungkin saja bisa berbeda pendapat tentang apa saja yang layak dan harus menjadi hak asasi dan apa yang tidak, namun mereka bisa sependapat mengenai karakternya. Paling tidak ada delapan karakter yang bisa kita angkat di sini, terutama dalam pengertian kontemporernya (bdk. Nickel 2005; 2010). Pertama, hak asasi manusia bukan sekadar norma moral biasa yang diterapkan dalam hubungan interpersonal semata melainkan norma-norma politik yang berkaitan dengan bagaimana orang diperlakukan oleh negara dan institusi-institusinya. Memang ada juga jenis hak asasi yang secara 17 Versi draf bisa dilihat di www2.ohchr.org/english/issues/business/docs/lawhouse2.doc 18 Lihat situs yang memuat ikhtiar ini di 06-Hak Asasi.indd 67 4/18/2013 8:31:41 PM

10 68 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal Voleme 1, 2013 utama diarahkan pada hubungan interpersonal yaitu hak atas anti-diskriminasi rasial dan seksual. Namun, pemerintah dan negara juga termasuk di dalamnya yang dilarang untuk mempraktikan diskriminasi, dan bahkan bertanggung jawab jika terjadi diskriminasi interpersonal dengan analisis sistemik. Kedua, hak asasi manusia eksis sebagai hak moral dan/atau legal. Hak asasi manusia eksis sebagai norma bersama dalam kesadaran moral aktual manusia yaitu sebagai norma moral absah yang didukung oleh penalaran yang kuat selain juga sebagai hak legal baik di tingkat nasional (yang biasanya diacu sebagai hak-hak sipil dan juga politik, atau hak konstitusional ) maupun di tingkat internasional yang diakui dalam hukum internasional. Hak asasi manusia paling tidak eksis dalam empat cara, yaitu: (1) melalui pemberlakuan hukum dan keputusan judisial baik di tingkat nasional maupun internasional; (2) sebagai norma prapositif berdasarkan paham hukum kodrat dan pemberian sang Pencipta, jadi tidak atau belum diakuinya suatu hak dalam hukum tidak menghilangkan eksistensi hak itu sebagai hak asasi manusia; (3) sebagai norma yang diterima oleh hampir semua umat manusia, terlepas dari percaya atau tidak pada sang Pencipta, yaitu norma moral berdasarkan pandangan dan kesadaran umum tentang moralitas aktual manusia, semisal kesadaran moral umum manusia bahwa membunuh itu tidak baik; dan (4) sebagai norma moral yang diabsahkan dalam ranah politik dan hukum, jalan yang kebanyakan ditempuh dalam gerakan dan diskursus hak asasi manusia kontemporer. Ketiga, hak asasi manusia sangat beragam dan banyak, bukan hanya segelintir. Hak asasi manusia yang digambarkan John Locke hak atas hidup, kebebasan, dan hak milik hanyalah segelintir dari hak asasi yang kita kenal sekarang. Hak asasi manusia kontemporer tidak abstrak sebagaimana paham klasik, juga mengarah pada problem-problem spesifik dan konkret, semisal penjaminan pengadilan yang jujur, pengentasan perbudakan, pelarang an genosida, penjaminan hak-hak perempuan, anak-anak, dll. Karena itu, paham hak asasi manusia kontemporer kendati tetap mengacu pada sejarah kelahirannya, namun ia telah melampaui sejarahnya itu. Keempat, hak asasi manusia merupakan patokan minimal (minimal standards). Mereka lebih memberi perhatian pada menghindari kekejaman dan kengerian daripada mencapai yang terbaik. Fokusnya adalah pemberian perlindungan secara minimal pada kebaikan hidup manusia. Karena itu, konsep dan kandungan hak asasi manusia bersifat dinamis dan toleran terhadap perbedaan kultural dan ideologi, namun tetap menjadi patokan minimal. Kelima, hak asasi manusia merupakan norma internasional yang mencakupi semua negara dan seluruh umat manusia dewasa ini. Mereka adalah norma-norma yang sangat direkomendasikan kepada seluruh umat manusia, karena lahir dari hasil refleksi mendalam atas universalitas pen deritaan umat manusia pada abad sebelumnya yang diimbuhi dengan kerinduan untuk mencegah kembali terulangnya tragedi yang sama. Keenam, hak asasi manusia merupakan norma berprioritas tinggi (high-priority norms). Artinya, pengingkaran terhadap hak asasi manusia hanya akan berbuah pada ketidakadilan dan realitas tidak manusiawi. Kedudukannya yang berprioritas tinggi bermakna bahwa suatu masyarakat yang adil dan manusiawi hanya terjadi sejauh hak-hak asasi dijadikan patokan dan ukuran. Ketujuh, hak asasi manusia memiliki nilai justifikasi yang kuat yang berlaku di mana pun dan mendukung prioritasnya 06-Hak Asasi.indd 68 4/18/2013 8:31:41 PM

11 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal EDISIUS RIYADI TERRE 69 yang tinggi. Tanpa karakter ini, hak asasi manusia itu tidak dapat menyeberangi dan melampaui perbedaan kultural dan mengatasi klaim kedaulatan nasional. Justifikasi yang kuat ini sangat dibutuhkan, namun juga tidak berarti absolut dan tak dapat dikurangi dalam tuntutannya. Tuntutan yang kuat ini masih harus dihadapkan pada konteks aktual problemnya. Kedelapan, hak asasi manusia adalah hak, tetapi tidak harus dalam pengertiannya yang kaku. Sebagai hak, mereka memiliki beberapa unsur. Yang pertama sekali adalah bahwa mereka memiliki pemegang hak (rightholder) seorang atau suatu badan yang memilik hak tertentu. Umumnya, yang diakui sebagai pemegang hak dari hak asasi adalah semua orang yang hidup. Lebih tepatnya, kadangkadang mereka adalah semua umat manusia, kadang-kadang semua penduduk di suatu negara, kadang semua anggota dari suatu kelompok dengan kerentanan tertentu (seperti perempuan, anak-anak, kelompok-kelompok minoritas rasial dan religius, masyarakat adat, dll.) dan kadang semua kelompok etnik (seperti halnya hak anti-genosida). Unsur lainnya adalah bahwa mereka berfokus pada kebebasan, perlindungan, status atau keuntungan. Hak selalu berkaitan dengan sesuatu yang berfokus pada kepentingan pemegangnya (Brandt, 1983). Yang kedua adalah bahwa hak selalu mengarah pada pengampu tanggung jawab atau kewajiban untuk memenuhi, melindungi, atau menjamin hak tersebut. Yang terakhir adalah bahwa hak selalu bersifat mandatoris, dalam arti melimpahkan kewajiban kepada pengampu tanggung jawab, namun tidak murni merupakan tanggung jawab pengampu kewajiban semata, melainkan dipenuhi dengan mengandaikan adanya langkah proaktif dari pemegang hak sendiri, seperti hak atas makanan, pakaian, rumah, dan pendidikan. 2. Prinsip-prinsip Setelah kita mengikuti telusuran genealogisnya dan membedah pengertianpengertian kunci dari hak asasi manusia, berikut ini kita masuki beberapa prinsip utama yang dicerna dari uraian kita sebelumnya. Beberapa prinsip utama yang saya maksud antara lain adalah bahwa hak asasi manusia itu bersifat universal, tak terpisahkan, non-diskriminatif, mengandaikan ada - nya partisipasi, dan penjaminannya dilakukan dengan remedi (upaya hukum) yang efektif. Kita ikuti satu per satu secara singkat dan umum saja, tanpa terlalu jauh memasuki perdebatan argumentatifnya. Universal Prinsip universalitas hak asasi manusia umumnya diderivasikan dari pandangan atau teori hukum kodrat Thomas Aquinas, yang diartikulasikan lebih tajam oleh John Locke. Intinya bahwa secara kodrati semua manusia itu sama, dan sudah membawa serta dalam eksistensinya hak sebagai manusia. Karena itu, sebagai manusia yang sama dengan hak yang sama, hak-hak itu bersifat universal. Argumen universalitas ini juga mendapatkan landasan rasionalnya dalam teori rasionalitas Immanuel Kant yang mengedepankan bahwa ide-ide transendental bersifat umum pada semua manusia. Pada gilirannya, universalitas rasio ini juga tertuang dalam teori etikanya. Namun demikian, sebagaimana telah saya kemukakan di depan, universalitas hak asasi manusia tidak hanya terletak pada universalitas kodrat dan ide-ide transendental, melainkan juga terletak pada universalitas penderitaan manusia. Secara antropologis, hampir tidak ada manusia yang menyukai penderitaan, demi alasan 06-Hak Asasi.indd 69 4/18/2013 8:31:41 PM

12 70 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal Voleme 1, 2013 apa pun. Kalaupun toh seseorang harus menyukai dan melalui penderitaan, itu dilakukannya untuk suatu tujuan di luar penderitaan itu, bukan untuk penderitaan itu sendiri. Hanya orang sado-masokis saja yang menyukai penderitaan, dan jumlah mereka tidak banyak, karena itu disebut abnormal. Penderitaan masif dan fenomenal umat manusia pada abad-abad sebelumnya, terutama abad XX, mengukuhkan universalitas hak asasi manusia bukan sekadar pada tataran etis dan rasional, melainkan pada tataran eksistensial dan empiris. Kesalingtergantungan dan Ketakterpisahan Pengelompokan hak-hak asasi manusia atas hak negatif, positif, aktif dan hak so sial tidak berarti bahwa hak-hak itu terpisah satu sama lain. Alih-alih terpisah, hak-hak itu saling mengandaikan dan karena itu saling tergantung. Memang dalam sejarah instrumentalisasinya kemudian pertama sekali dikelompokkan menjadi dua besar yang tertuang dalam dua kovenan. Juga kemudian muncul pelbagai konvensi yang memberikan perhatian khusus pada problem khusus berkaitan dengan ras, etnis, dan kelompok-kelompok rentan. Namun, itu semua tidak berarti bahwa eksistensi hak asasi manusia terpecah-pecah dan terlepas. Mengapa demikian? Alasan pertama sekali bersifat ontologis-antropologis yaitu bahwa hak itu dimiliki oleh manusia yang dalam eksistensinya otonom dan utuh, tidak terpecah-pecah. Dalam eksistensinya, ia hadir sebagai manusia utuh, terlepas dari ia sebagai seorang manusia sopir taksi, manusia guru, manusia birokrat, manusia presiden, manusia perempuan, manusia agama A, dst. Namun ia dalam pelbagai fungsi sosialnya itu tetaplah membawa serta statusnya sebagai manusia utuh. Alasan kedua adalah bahwa dalam praktiknya, misalnya hak atas kebebasan berpendapat (sebagai hak sipil dan politik) hanya akan terjamin sejauh hak atas pendidikannya (sebagai hak ekonomi, sosial dan budaya) terjamin. 19 Non-diskriminasi Prinsip ketiga dalam hak asasi manusia adalah bahwa ia berlaku sama pada semua orang, tanpa pandang ras, etnis, keyakinan, ideologi, bangsa, status, seks dan golongan. Memang terdapat konvensi yang mengatur hak-hak khusus semisal konvensi pelarang an genosida, konvensi anti-diskriminasi rasial, konvensi hak-hak anak, konvensi anti-diskriminasi terhadap perempuan, lalu konvensi ILO 169 (dan usulan draf deklara si) tentang hak-hak masyarakat adat. Namun, keberadaan konvensi-konvensi khusus itu justru menekankan signifikansi prinsip non-diskriminasi itu. Karena dalam praktiknya, prinsip itu tidak terlaksana jika kondisi-kondisi kemungkinannya tidak mendukung. Karena itu, ditempuh jalan untuk lebih mengefektifikan pemenuhannya dengan memberi perhatian khusus pada perrmasalahan tertentu. Terhadap pemegang hak dari konvensikonvensi khusus tersebut, pemberlakuan dua koven an utama hak asasi manusia tetaplah sama dan non-diskriminatif. Partisipasi Kendatipun ada pemilahan antara pemegang hak dan pengampu kewajiban untuk menjamin hak asasi itu, dalam pelaksanaannya hak itu tidak akan terjamin tanpa partisipasi aktif dari pemegang hak itu 19 Tentang uraian komprehensif menyangkut interdependensi dan indivisibilitas hak asasi manusia, namun tanpa argumen ontologis-antropologis seperti yang saya kemukakan, silakan baca Donnely (1989:28-37). 06-Hak Asasi.indd 70 4/18/2013 8:31:41 PM

13 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal EDISIUS RIYADI TERRE 71 sendiri. Hal ini terutama nyata dalam hakhak demokratis. Remedi yang Efektif Sebagaimana telah dikemukakan pada urai an tentang konsep di depan, penegakan hak asasi manusia terjamin, meski bukan satu-satunya jalan, melalui remedi atau upaya hukum yang efektif. Tanpa law enforcement, daftar hak asasi manusia itu hanyalah tinggal daftar. Karena itu, hakhak asasi manusia yang tertuang dalam pelbagai instrumen internasional perlu diadopsi di dalam sistem hukum nasional setiap negara, dan diperjuangkan terus untuk diterapkan hingga pemenuhannya paling tidak pada taraf minimal. Subjek Hak Asasi Manusia: Warga atau Manusia-manusia? Hak asasi manusia baik sebagai substansi maupun sebagai ide tidak pernah dapat dimengerti dengan melihat subjeknya, dengan mengacu pada Arendt ([1958] 1998) sebagai Manusia (dengan huruf awal besar), melainkan manusia-manusia. Itu berarti bahwa berbicara tentang hak asasi manusia tidak pernah dapat dimengerti dengan melihat manusia sebagai sebuah individu tanpa mengandaikan kesosialannya baik dalam bentuk negara, masyarakat, maupun keluarga. Bahkan keberadaan negara sebagai kondisi kemungkinan bagi pemenuhan hak asasi manusia ditegaskan oleh Arendt dalam The Origin of Totalitarianism (1973) sebagai hak atas hak asasi manusia. Dengan kata lain, keberadaan suatu kehidupan politik yang etis merupakan jaminan bagi tegaknya hak asasi manusia. Apakah itu berarti bahwa manusia dalam konsep hak asasi manusia dilihat Arendt sebagai warga negara? Saya kira tidak, karena kehidupan politik yang dimengerti Arendt adalah sebuah tatanan yang di mana-mana sama, dan karena itu para warganya memiliki kesamaan universal. Gerakan pelampauan dari kewargaan ke kemanusiaan ini tidak hanya berada di tataran filosofis, tetapi juga di ranah gerakan praksis-pragmatis, yang antara lain tercermin dari kebijakan dan doktrin hak asasi manusia internasional di mana beberapa kejahatan hak asasi manusia (mi salnya kejahatan terhadap kemanusiaan, genosida, teror, dsb.) digelari sebagai hostis humanis generis (musuh seluruh umat manusia). Selain itu, doktrin kedaulatan nasio nal sekarang ini tidak lagi menjadi penghalang bagi campur tangan negara lain atau dunia internasional untuk menindak sebuah ne gara yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang berat kepada warganya. Persis karena warga negara bersangkutan dilihat sebagai sesama manusia oleh negara-negara dan warga negara-negara lain. Klaim universalitas hak asasi manusia yang berangkat dari refleksi filsafat manusia selalu berbenturan dengan klaim pluralitas budaya, antara lain penolakan dunia Islam terhadap konsep hak asasi manusia yang dinilai terlalu terhegemoni oleh Barat dan Kristen (Budi Hardiman, 2006: ) atau usulan negara-negara kawasan Asia untuk mengedepankan nilai-nilai Asia dalam konsep hak asasi manusia, dsb. Menurut hemat saya, semua klaim dan kontra-klaim itu dapat diselesaikan de ngan mengajukan pertanyaan berikut: Jika tak ada filsafat, apakah hak asasi manusia ada? Jawabannya bersifat terbukti-daridirinya sendiri yaitu Ada. Jika demikian, mungkin sebaiknya hak asasi manusia didekati sebagai fenomen-fenomen Husserlian yang menampilkan diri apa adanya dan kita mendekatinya dengan sikap sebagai seorang pemula yang tidak tahu apa-apa. Mari kita copot baju filsafat atau 06-Hak Asasi.indd 71 4/18/2013 8:31:42 PM

14 72 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal Voleme 1, 2013 konsep kita yang rentan dengan beban ideologi dan asumsi filosofis tertentu, dan yang tertinggal adalah manusia-manusia yang terancam kehilangan hak hidupnya. Berhadapan dengan realitas ini saya berani tegaskan bahwa bukanlah manusia jika seseorang, entah dengan latar belakang Barat, Kristen, Islam, Asia, dan se bagainya, masih mempersoalkan universalitas hak asasi manusia dan menolak konsep hak asasi manusia yang dicurigai sebagai sarat dengan agenda hegemonik Barat. Wajah-wajah manusia-manusia yang terancam kehilangan hak hidupnya merupakan momen-momen etis, mengacu pada Emmanuel Levinas, yang sudah-selalu me ngundang rasa tanggung jawab kita sebagai manusia. Momen-momen etis itu adalah momen-momen universal. Momen-momen universal itu berarti kita tidak lagi melihat seseorang sebagai warga dari negara tertentu, anggota dari kultur tertentu, penganut dari keyakinan tertentu, melainkan sebagai manusia yang sama-sama memiliki kesamaan dengan saya yaitu kita sama-sama berbeda, mengacu pada Arendt ([1958] 1998). Memahami kebedaan yang sama-sama kita miliki itu melahirkan relasi kebebasan antar-manusia, dan kebebasan itulah yang membuat kita mengerti akan hak orang lain yang sudah-selalu-dengan-sendirinya menuntut untuk dihargai. Refleksi teoretis ini tampak terlalu tinggi bagi orang yang hidup, andai ada, selama tiga fase genealogis yang telah saya uraikan di depan. Bagi orang yang hidup pada ketiga fase genealogis itu, lagi-lagi kita bayangkan saja ada orang yang demikian, hak asasi manusia adalah hak-hak warga negara dan anggota masyarakat berhadapan dengan setiap bentuk kekuasaan entah politis, kultur, sosiologis, familial dan ekonomi, yang berlaku sama di setiap tatanan sosial-ekonomi-kultur-politik di mana pun di dunia ini, dan itulah universalitasnya. Para warga negara dalam fase genealogis pertama, para korban dalam fase genealogis kedua, dan para konsumen dalam fase genealogis ketiga, sama-sama merupakan manusia-manusia yang kehilangan hak hidupnya sebagai manusia. Manusia-manusia yang demikian adalah ma nusia-manusia yang telanjang, tidak berbaju Barat, tidak berbaju Kristen, tidak berbaju Islam, tidak juga berbaju Asia, dsb., melainkan manusia yang berbungkus kulit kemanusiaan universal. Ide dan gerakan hak asasi manusia telah muncul sebagai sebuah gerakan humanisme universal yang tidak lagi bertumpu pada idealitas manusia yang rasional dan otonom, tetapi pada manusia yang rentan dan saling bergantung. Kesimpulan Sekarang mari kita coba tarik beberapa kesimpulan dari telusuran genealogis, konseptual dan filosofis di atas. Pertama, hak asasi manusia pertamatama muncul bukan sebagai ide melainkan sebagai respon kodrati manusia terhadap ancaman akan hidupnya. Respon itu muncul pertama kali dalam bentuk tindakan yang lalu kemudian oleh pribadi-pribadi tertentu yang memiliki cukup waktu dan intelek untuk merenungkannya dalam bentuk pemikiran. Gerakan hak asasi manusia modern yang pertama kali direkam oleh penulisan sejarah Eropa muncul pertama kali di Inggris, kemudian berlanjut ke Amerika Serikat lalu dimimesis dan dipercanggih oleh rakyat Perancis pada fase genealogis pertama, pertama-tama bukan merupakan gerakan pemikiran melainkan gerakan politik riil. Gerakan politik riil ini direnungkan oleh para pemikir dan sekaligus okum arahan agar tetap berjalan 06-Hak Asasi.indd 72 4/18/2013 8:31:42 PM

15 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal EDISIUS RIYADI TERRE 73 dalam koridor rasional dan etis, supaya tidak muncul ekses-ekses seperti yang dilakukan oleh Maximilien de Robespierre di Perancis pasca revolusi. Implikasinya adalah bahwa pendasaran hak asasi manusia pada paham Hukum Kodrat tetapi yang aplikasinya diserahkan pada dimensi legalitas politik (paham Positivisme Hukum) tidak dipertentangkan karena politik itu sendiri merupakan bawaan kodrati manusia (Aristotelian). Kedua, hak asasi manusia tumbuh sebagai gerakan internasional pada fase kedua bukan terutama lahir dari refleksi filosofis melainkan sebagai keprihatinan internasional terhadap korban-korban yang berguguran dalam jumlah yang tak pantas disebutkan bagi manusia yang berhati nurani. Korban-korban itu oleh para algojonya tidak lagi dilihat sebagai warga politik tertentu seperti dalam fase pertama melainkan anggota etnis, kelas, kultur dan okum tertentu. Karena itu gerakan pembantaian ini bergerak melintasi batas okum dan bergerak ke seluruh dunia. Itulah yang dilakukan oleh NAZI, algojo Komunisme, Fasisme dan Totalitarianisme. Tetapi itu tidak berarti bahwa pengaruh pemikiran filosofis tidak berperan. Para pemimpin dunia yang melahirkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia dan yang kemudian diturunkan dalam pelbagai Kovenan dan Konvensi serta Deklarasi Internasional memang bukan filosof, tetapi mereka adalah pemimpin-pemimpin yang membawa serta dalam diri mereka pemikiran filosofis para pemikir dunia sekaligus terutama berbekalkan keprihatinan mereka berupa imperatif tidak boleh terjadi lagi berhadapan dengan realitas okum pembantaian manusia yang irasional dan okum. Gerakan keadilan transisional pada abad XXI merupakan kelanjutan dari semangat tersebut. Ketiga, hak asasi manusia tidak hanya tumbuh sebagai gerakan internasional melainkan sebagai gerakan global yaitu bahwa ia tidak lagi dibatasi oleh legitimasi okum dan politik tertentu melainkan tumbuh menjadi kesadaran bersama seluruh umat manusia melampaui sekat ruang politik dan okum. Inilah yang ditandai dalam fase genealogis ketiga dalam uraian di depan. Para warga dan para korban dalam kedua fase sebelumnya kini diperlakukan sebagai konsumen dalam fase ketiga di mana kekuasaan yang menjadi algojo bukan lagi politik melainkan ekonomi. Politik telah lengser dari kehidupan manusia dan digantikan oleh pasar. Relasi antarmanusia berubah menjadi relasi transaksional. Kendatipun politik tetap ada, tetapi ia hanya berlaku sebagai pelayan pasar. Pada fase ini, pemimpin-pemimpin dunia tampak gelagapan dan terpecah belah dengan parah. Pada fase inilah gerakan masyarakat sipil menemukan bentuknya yang sangat mengesankan dengan didukung oleh para pemikir-pemikir terkemuka di bidang ekonomi politik tetapi juga dengan gerakan kembali kepada warisan pemikir-pemikir kuno dari era Yunani Kuno dan zaman Pertengahan (yang pada era modern sering dicaci maki sebagai pembawa kegelapan bagi manusia). Keempat, konsep dan prinsip-prinsip hak asasi manusia merupakan abstraksi yang ditarik dari pengalaman riil konkret warga okum dan korban kejahatan terhadap kemanusiaan, genosida, okum dan perang. Para pemikir bisa saja berbeda pendapat atas abstraksi itu tetapi hak asasi manusia tetaplah hak-hak dari manusia dalam kapasitas kesosialannya yang kodrati. Nuansa individualitas dalam konsep dan substansi ayat-ayat dokumen okum hak asasi manusia hanyalah sebuah model aplikasi agar lebih mengena pada manusia 06-Hak Asasi.indd 73 4/18/2013 8:31:42 PM

16 74 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal Voleme 1, 2013 sebagai pribadi, bukan sebuah cara pandang bahwa manusia dalam hak asasi manusia adalah manusia yang soliter. Kemunculan hak asasi manusia generasi ketiga yang salah satunya adalah hak-hak kolektif dan komunal kiranya mencerminkan pandangan tersebut. Will Kymlicka (1996) bisa dikatakan sebagai salah satu pemikir kontemporer yang berhasil menyintesiskan pertentangan antara hak individual dan kolektif/komunal dalam paham hak asasi manusia sekaligus memperlihatkan bahwa keduanya bersifat saling mengandaikan. Kelima, gerakan hak asasi manusia yang bermula dari konteks politik sebuah okum lalu kemudian bergerak melampaui batas dan sekat okum dan okum positif tertentu kiranya berjalan demikian seiring karakter kejahatan terhadap hak asasi manusia yang telah melampaui lokalitas politik tertentu sebagaimana telah diuraikan dalam analisis dan kesimpulan tentang fase genealogis kedua di atas. Hak asasi manusia telah bergerak dari konteks kewargaan menuju kemanusiaan universal bukan sematamata karena jasa pemikiran filosofis dan etika yang memandang manusia secara universal melainkan terutama karena di satu sisi universalitas penderitaan manusia di mana pun di dunia ini dan di sisi lain kejahatan yang mengancam kehidupan manusia itu juga berkarakter internasional, global dan universal. Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa meskipun hak asasi manusia dipahami sebagai hak kodrati manusia tetapi hak asasi manusia hanya dikatakan sebagai hak asasi manusia sejauh ada kesadaran terhadapnya. Kesadaran terhadap hak asasi manusia itu bukan pertama-tama lahir dalam refleksi pemikiran melainkan pada pengalaman kehilangan manusia atas dimensi-dimensi tertentu dalam hidupnya, yang lalu dimengerti sebagai hak. Selama manusia tidak mengalami kehilangan, kesadaran akan sesuatu yang hilang itu tidak ada, atau kalaupun ada tetapi tidak benar-benar disadari. Hal ini mirip seperti cerita tentang seekor ikan yang bertanya kepada ibunya di manakah yang disebut samudra itu. Ibunya mengatakan bahwa tempat ia berenang, melayang, dan hidup itulah samudra. Ia menerimanya tetapi tidak mengerti, sampai ia kemudian ditangkap oleh nelayan dan merasa kehilangan samudra yang ia pertanyakan. Saat itulah ia mengerti apa itu samudra. Daftar Pustaka Adorno, Theodor W. (1973). Negative Dialectics. Diterjemahkan oleh E.B.A dari versi asli bahasa Jerman, Negative Dialektik. (1966). New York: The Seabury Press. Arendt, Hannah. ([1958], 1998) Human Condition, edisi kedua, dengan Kata Pengantar oleh Margaret Canovan. Chicago dan London: The University of Chicago Press. Arendt, Hannah. (1973). The Origins of Totalitarianism. New York: Harcourt, Brace & World. Baechler, Jean. (1999). Democracy: an Analytical Survey. Prancis: UNESCO Publishing. Bobbio, N. (1996). The Age of Rights. Diterjemahkan oleh A. Cameron. Cambridge: Polity Press. Brandt, Richard B. (1983). The Concept of a Moral Right and its Function. Journal of Philosophy 80(1): Donnely, Jack. (1989). Universal Human Rights in Theory and Practice. Itacha dan London: Cornell University Press. Henkin, Louis. (1990). The Age of Rights. New York: Columbia University Press. Huntington, Samuel P. (1991). The Third Wave: Democratization in the Late Twen- 06-Hak Asasi.indd 74 4/18/2013 8:31:42 PM

17 Hak Asasi Manusia, dari Kewargaan ke Humanisme Universal EDISIUS RIYADI TERRE 75 tieth Century. Oklahoma: University of Oklahoma Press. Jonas, Hans. (1984). The Imperative of Responsibility, in Search of an Ethics for the Technological Age. Chicago: University of Chicago Press. Kymlicka, Will. (1996, 2003). Multicultural Citizenship: A Liberal Theory of Minority. Oxford: Clarendon Press. Diterjemahkan oleh Edlina Hafmini Eddin ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kewargaan Multikultural. Jakarta: LP3ES. Locke, John. ([1689] 1988). Two Treatises of Government. Disunting oleh Peter Laslett. Cambridge: Cambridge University Press. Magnis-Suseno, Franz. (1991). Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: Gramedia, Nickel, James. Human Rights, sebuah lema dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, 24 Agustus 2010, dapat diakses online pada: (1987, 1996). Making Sense of Human Rights, Philosophical Reflections on the Universal Declaration of Human Rights, Los Angeles: University of California Press. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Hak Asasi Manusia, Refleksi Filosofis atas Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Jakarta: Gramedia. Ross, W.D. (1930). The Right and the Good. Gloucestershire: Clarendon Press. Teitel, Ruti G. (2000). Transitional Justice. New York: Oxford University Press. van Boven, Theo. (2003). Mereka yang Menjadi Korban, tentang Hak-Hak Korban atas Restitusi, Reparasi, dan Kompensasi. Jakarta: ELSAM. Buku ini merupakan terjemahan dari dokumen yang diterbitkan PBB, hasil studi yang dilakukan Boven tentang hak-hak korban pelanggaran hak asasi manusia. 06-Hak Asasi.indd 75 4/18/2013 8:31:42 PM

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA)

Lebih terperinci

HAK AZASI MANUSIA DAN PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM

HAK AZASI MANUSIA DAN PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM HAK AZASI MANUSIA DAN PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM Oleh : ANI PURWANTI, SH.M.Hum. FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 PENGERTIAN HAM HAM adalah hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat

Lebih terperinci

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional.

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional. Definisi Global Profesi Pekerjaan Sosial Pekerjaan sosial adalah sebuah profesi yang berdasar pada praktik dan disiplin akademik yang memfasilitasi perubahan dan pembangunan sosial, kohesi sosial dan pemberdayaan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2005 TENT ANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON CIVIL AND POLITICAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK SIPIL DAN POLITIK) DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB 10 PENGHAPUSAN DISKRIMINASI

BAB 10 PENGHAPUSAN DISKRIMINASI BAB 10 PENGHAPUSAN DISKRIMINASI DALAM BERBAGAI BENTUK Diskriminasi merupakan bentuk ketidakadilan. Pasal 1 ayat 3 Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, menjelaskan bahwa pengertian

Lebih terperinci

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 melalui resolusi 217 A (III) Mukadimah Menimbang, bahwa pengakuan atas martabat alamiah

Lebih terperinci

PERADABAN AMERIKA MODERN DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI

PERADABAN AMERIKA MODERN DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI FISIP HI UNJANI CIMAHI 2011 PERADABAN MODERN DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI Revolusi Amerika 1776 Perang Sipil di Amerika 1861-1845 Perkembangan Amerika Serikat dan Amerika Latin Amerika Serikat Sebagai

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON CIVIL AND POLITICAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK SIPIL DAN

Lebih terperinci

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Mukadimah Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan

Lebih terperinci

"Itu Kejahatan": Perampasan kemerdekaan secara tidak sah

Itu Kejahatan: Perampasan kemerdekaan secara tidak sah Siapapun dia, termasuk Hakim, Jaksa dan Polisi, tak sah merampas kemerdekaan tanpa dasar yang sah. Perampasan kemerdekaan, apakah itu penangkapan, penahanan, atau pemenjaraan wajib dengan perintah yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NO. 182 CONCERNING THE PROHIBITION AND IMMEDIATE ACTION FOR THE ELIMINATION OF THE WORST FORMS OF CHILD LABOUR ( KONVENSI

Lebih terperinci

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Oleh Agung Putri Seminar Sehari Perlindungan HAM Melalui Hukum Pidana Hotel Nikko Jakarta, 5 Desember 2007 Implementasi

Lebih terperinci

MATERI KULIAH ILMU NEGARA MATCH DAY 6 ASAL MULA DAN LENYAPNYA NEGARA

MATERI KULIAH ILMU NEGARA MATCH DAY 6 ASAL MULA DAN LENYAPNYA NEGARA MATERI KULIAH ILMU NEGARA MATCH DAY 6 ASAL MULA DAN LENYAPNYA NEGARA A. TEORI ASAL MULA NEGARA Perihal asal mula negara secara substansial sesungguhnya membahas teori-teori mengenai bagaimana timbulnya

Lebih terperinci

K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja

K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 1 K 122 - Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan

Lebih terperinci

BAB 4. Dapat Kita Sampaikan Nilai. dengan Mengajar Etika?

BAB 4. Dapat Kita Sampaikan Nilai. dengan Mengajar Etika? BAB 4 Dapat Kita Sampaikan Nilai dengan Mengajar Etika? Dalam artikel ini kita mencoba berefleksi tentang peluang dan keterbatasan yang menandai pengajaran etika. Sebagai orientasi awal, dalam bagian pertama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Etika merupakan refleksi atas moralitas. Akan tetapi, sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, etika bukan sekedar refleksi tetapi refleksi ilmiah tentang tingkah

Lebih terperinci

Filsafat Ilmu : Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan RESENSI BUKU

Filsafat Ilmu : Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan RESENSI BUKU RESENSI BUKU Judul : Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan Penulis : Mohammad Muslih Penerbit : Belukar Yogyakarta Cetakan : I, 2005 Tebal : XI + 269 halaman

Lebih terperinci

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER Kami meyakini bahwa bisnis hanya dapat berkembang dalam masyarakat yang melindungi dan menghormati hak asasi manusia. Kami sadar bahwa bisnis memiliki tanggung

Lebih terperinci

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN l Edisi 001, Agustus 2011 EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN P r o j e c t i t a i g k a a n D Luthfi Assyaukanie Edisi 001, Agustus 2011 1 Edisi 001, Agustus 2011 Empat Agenda Islam yang Membebaskan

Lebih terperinci

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL 1 K-144 Konsultasi Tripartit untuk Meningkatkan Pelaksanaan Standar-Standar Ketenagakerjaan Internasional

Lebih terperinci

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA 1 K 100 - Upah yang Setara bagi Pekerja Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya 2 Pengantar

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP NEGARA- NEGARA ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN GEORGE WALKER BUSH DAN BARACK OBAMA RESUME

PERBANDINGAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP NEGARA- NEGARA ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN GEORGE WALKER BUSH DAN BARACK OBAMA RESUME PERBANDINGAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP NEGARA- NEGARA ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN GEORGE WALKER BUSH DAN BARACK OBAMA RESUME Dinamika politik internasional pasca berakhirnya Perang

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

amnesti internasional

amnesti internasional [Embargo: 11 Maret 2004] Umum amnesti internasional Indonesia Direktur-direktur Amnesti Internasional seluruh Asia Pacific mendesak partai-partai politik untuk menjadikan HAM sebagai prioritas Maret 2004

Lebih terperinci

Mengakui, bahwa hak-hak ini berasal dari harkat dan martabat yang melekat pada setiap manusia.

Mengakui, bahwa hak-hak ini berasal dari harkat dan martabat yang melekat pada setiap manusia. 1 KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK SIPIL DAN POLITIK Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) Tertanggal 16 Desember 1966, Terbuka untuk penandatangan, Ratifikasi dan Aksesi MUKADIMAH Negara-negara

Lebih terperinci

KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN. Slamet Widodo

KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN. Slamet Widodo KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN Slamet Widodo Teori modernisasi ternyata mempunyai banyak kelemahan sehingga timbul sebuah alternatif teori yang merupakan antitesis dari teori modernisasi. Kegagalan

Lebih terperinci

DISAMPAIKAN OLEH : YUDA IRLANG, KORDINATOR ANSIPOL, ( ALIANSI MASYARAKAT SIPIL UNTUK PEREMPUAN POLITIK)

DISAMPAIKAN OLEH : YUDA IRLANG, KORDINATOR ANSIPOL, ( ALIANSI MASYARAKAT SIPIL UNTUK PEREMPUAN POLITIK) DISAMPAIKAN OLEH : YUDA IRLANG, KORDINATOR ANSIPOL, ( ALIANSI MASYARAKAT SIPIL UNTUK PEREMPUAN POLITIK) JAKARTA, 3 APRIL 2014 UUD 1945 KEWAJIBAN NEGARA : Memenuhi, Menghormati dan Melindungi hak asasi

Lebih terperinci

Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya

Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya Disahkan Melalui Resolusi Majelis Umum PBB 45/158 pada tanggal 18 Desember 1990 Pembukaan Negara-Negara

Lebih terperinci

KONSTITUSI IBU PERTIWI KAMI

KONSTITUSI IBU PERTIWI KAMI Bumi, Jan 7, 2011 Dalam perjalanan peristiwa manusia, umat manusia dengan segala kecerdikan mampu untuk pergi ke bulan dan mengirim melalui udara dengan dengan kecepatan cahaya, tapi selama ribuan tahun

Lebih terperinci

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT

KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT Prof. Dr. Almasdi Syahza,, SE., MP Peneliti Senior Universitas Riau Email : asyahza@yahoo.co.id syahza.almasdi@gmail.com Website : http://almasdi.staff.unri.ac.id Pengertian

Lebih terperinci

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender 1 Tujuan belajar 1. Memahami arti stereotip dan stereotip gender 2. Mengidentifikasi karakter utama stereotip gender 3. Mengakui stereotip gender dalam media

Lebih terperinci

Mengatasi diskriminasi etnis, agama dan asal muasal: Persoalan dan strategi penting

Mengatasi diskriminasi etnis, agama dan asal muasal: Persoalan dan strategi penting Mengatasi diskriminasi etnis, agama dan asal muasal: Persoalan dan strategi penting Kesetaraan dan non-diskriminasi di tempat kerja di Asia Timur dan Tenggara: Panduan 1 Tujuan belajar Menetapkan konsep

Lebih terperinci

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5 KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5.1. Substansi Otonom Daerah Secara subtantif otonomi daerah mengandung hal-hal desentralisasi dalam hal bidang politik, ekonomi dalam rangka kemandirian ekonomi daerah dan

Lebih terperinci

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI l ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI P r o j e c t i t a i g D k a a n Arskal Salim Kolom Edisi 002, Agustus 2011 1 Islam di Antara Dua Model Demokrasi Perubahan setting politik pasca Orde Baru tanpa

Lebih terperinci

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 S T U D I K A S U S Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 F R A N C I S I A S S E S E D A TIDAK ADA RINTANGAN HUKUM FORMAL YANG MENGHALANGI PEREMPUAN untuk ambil bagian dalam

Lebih terperinci

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM 01/01/2014 PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM PENDAHULUAN Pembangunan berkelanjutan adalah bagian penggerak bagi strategi Alstom. Ini berarti bahwa Alstom sungguhsungguh

Lebih terperinci

K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL

K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL 1 K-27 Mengenai Pemberian Tanda Berat pada Barang-Barang Besar yang Diangkut dengan Kapal 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI RASIAL SEBUAH KAJIAN HUKUM TENTANG PENERAPANNYA DI INDONESIA

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI RASIAL SEBUAH KAJIAN HUKUM TENTANG PENERAPANNYA DI INDONESIA Seri Kursus HAM untuk Pengacara X Tahun 2005 KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENGHAPUSAN SEGALA BENTUK DISKRIMINASI RASIAL SEBUAH KAJIAN HUKUM TENTANG PENERAPANNYA DI INDONESIA Ester Indahyani Jusuf, S.H.

Lebih terperinci

Written by tony Tuesday, 22 October 2013 09:10 - Last Updated Wednesday, 27 November 2013 07:24

Written by tony Tuesday, 22 October 2013 09:10 - Last Updated Wednesday, 27 November 2013 07:24 PERKEMBANGAN HUKUM LINGKUNGAN DI INDONESIA PROF.DR.TAKDIR RAHMADI, SH., LLM JAKARTA - HUMAS,Perkembangan hukum lingkungan modern di Indonesia lahir sejak diundangkannya Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 Tentang

Lebih terperinci

Hak Asasi Manusia dan Hubungan Internasional 1

Hak Asasi Manusia dan Hubungan Internasional 1 Hak Asasi Manusia dan Hubungan Internasional 1 Oleh: Yanyan Mochamad Yani, Ph.D. 2 Secara harfiah hak asasi manusia (HAM) dapat dimaknakan sebagai hakhak yang dimiliki seseorang karena keberadaannya sebagai

Lebih terperinci

Dalam dua dekade terakhir, tren jumlah negara yang melakukan eksekusi hukuman mati menurun

Dalam dua dekade terakhir, tren jumlah negara yang melakukan eksekusi hukuman mati menurun Konferensi Pers SETARA Institute Temuan Pokok Riset tentang Pemetaan Implikasi Politik Eksekusi Mati pada Hubungan Internasional Indonesia Jakarta, April 2015-04- Dalam dua dekade terakhir, tren jumlah

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS Pada Acara Temu Muka dan

Lebih terperinci

MISI PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA UNIVERSITAS AIRLANGGA

MISI PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA UNIVERSITAS AIRLANGGA MISI PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA UNIVERSITAS AIRLANGGA 1. Menjadi institusi keilmuan yang unggul dalam pengkajian strategis, terutama di bidang kajian ilmu administrasi negara. 2. Menjadi institusi

Lebih terperinci

MENELAAH ARTI HAK UNTUK HIDUP SEBAGAI HAK ASASI MANUSIA

MENELAAH ARTI HAK UNTUK HIDUP SEBAGAI HAK ASASI MANUSIA MENELAAH ARTI HAK UNTUK HIDUP SEBAGAI HAK ASASI MANUSIA Oleh: EVA ACHJANI ZULFA Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonusa Esa Unggul dan Universitas Indonesia ABSTRAK Dasar dan keberadaan dari hak asasi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a b c d e bahwa manusia, sebagai makhluk ciptaan

Lebih terperinci

dicita-citakan, maka struktur organisasi desa harus diberi ruang gerak untuk hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya sendiri.

dicita-citakan, maka struktur organisasi desa harus diberi ruang gerak untuk hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya sendiri. PROLOGUE Gagasan yang ditawarkan oleh buku ini sangat jelas, yaitu memperkenalkan pemikiran baru perihal konstitusi sosial sebagai suatu konsep tentang sistem rujukan normatif tertinggi dalam peri kehidupan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, Bentuk: Oleh: UNDANG-UNDANG (UU) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 7 TAHUN 1984 (7/1984) Tanggal: 24 JULI 1984 (JAKARTA) Sumber: LN 1984/29; TLN NO. 3277 Tentang: PENGESAHAN KONVENSI MENGENAI PENGHAPUSAN

Lebih terperinci

Bab 1. Hak-hak Pasal 1 Setiap orang berhak atas penghidupan, kemerdekaan dan keselamatan pribadinya.

Bab 1. Hak-hak Pasal 1 Setiap orang berhak atas penghidupan, kemerdekaan dan keselamatan pribadinya. 1 Region Amerika Deklarasi Amerika tentang Hak dan Tanggung jawab Manusia (1948) Deklarasi Amerika tentang Hak dan Tanggung jawab Manusia Diadopsi oleh Konferensi Internasional Negara-negara Amerika Ke-9

Lebih terperinci

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 1 K 150 - Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI)

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, dan terbuka untuk penandatangan, ratifikasi, dan aksesi MUKADIMAH

Lebih terperinci

K19 PERLAKUKAN YANG SAMA BAGI PEKERJA NASIONAL DAN ASING DALAM HAL TUNJANGAN KECELAKAAN KERJA

K19 PERLAKUKAN YANG SAMA BAGI PEKERJA NASIONAL DAN ASING DALAM HAL TUNJANGAN KECELAKAAN KERJA K19 PERLAKUKAN YANG SAMA BAGI PEKERJA NASIONAL DAN ASING DALAM HAL TUNJANGAN KECELAKAAN KERJA 1 K-19 Perlakukan Yang Sama Bagi Pekerja Nasional dan Asing dalam Hal Tunjangan Kecelakaan Kerja 2 Pengantar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1994: 136 ) mengatakan tujuan dari welfere state ( negara kesejahteraan ) pada hakikatnya

BAB I PENDAHULUAN. 1994: 136 ) mengatakan tujuan dari welfere state ( negara kesejahteraan ) pada hakikatnya BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Sebagai negara berkembang, indonesia sedang giat- giatnya melakukan pembangunan baik dikota maupun di pedesaan. Pembangunan yang dilakukan merupakan rangkaian gerakan

Lebih terperinci

Kekerasan Seksual. Sebuah Pengenalan. Bentuk

Kekerasan Seksual. Sebuah Pengenalan. Bentuk Kekerasan Seksual Sebuah Pengenalan Bentuk 1 Desain oleh : Thoeng Sabrina Universitas Bina Nusantara untuk Komnas Perempuan 2 Komnas Perempuan mencatat, selama 12 tahun (2001-2012), sedikitnya ada 35 perempuan

Lebih terperinci

"Bencana di NTT dan Komitmen Forum Parlemen NTT" *) IPI SELI SENG

Bencana di NTT dan Komitmen Forum Parlemen NTT *) IPI SELI SENG "Bencana di NTT dan Komitmen Forum Parlemen NTT" *) IPI SELI SENG Syukurlah, akhirnya fakta bencana di NTT mendapat perhatian serius dari para pengambil kebijakan. Sabtu (27/10) dalam kesempatan sosialisasi

Lebih terperinci

PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI

PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI Disarikan dari Modul Sosialisasi Anti Korupsi BPKP tahun 2005 oleh Mohamad Risbiyantoro, Ak., CFE (PFA pada Deputi Bidang Investigasi BPKP). Mahasiswa dan sejarah

Lebih terperinci

Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi

Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi 1. Prinsip- prinsip Kerangka Kerja Hukum dan Gambaran Umum Hak akan informasi dikenal sebagai hak asasi manusia yang mendasar, baik di dalam hukum internasional

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. *

ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. * ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. * Era perdagangan bebas di negaranegara ASEAN tinggal menghitung waktu. Tidak kurang dari 2 tahun pelaksanaan

Lebih terperinci

LATAR BELAKANG: Tentang Prinsip-Prinsip Yogyakarta

LATAR BELAKANG: Tentang Prinsip-Prinsip Yogyakarta Diterjemahkan oleh: Ardhanary Institute (Women LBT Research, Publishes & Advocacy Center) 2007 Yogyakarta Principles LATAR BELAKANG: Tentang Prinsip-Prinsip Yogyakarta Dokumen ini memberikan informasi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Bahasa selalu menggambarkan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan; lebih dalam lagi bahasa

Lebih terperinci

BEBERAPA KOMPONEN YANG MENDUKUNG DALAM PELAKSANAAN SISTEM ADMINISTRASI DANDOKUMENTASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL*

BEBERAPA KOMPONEN YANG MENDUKUNG DALAM PELAKSANAAN SISTEM ADMINISTRASI DANDOKUMENTASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL* BEBERAPA KOMPONEN YANG MENDUKUNG DALAM PELAKSANAAN SISTEM ADMINISTRASI DANDOKUMENTASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL* Oleh: Abdul Bari Azed 1. Kami menyambut baik pelaksanaan seminar ten tang Penegakan Hukum

Lebih terperinci

Piagam Tranparansi bagi Institusi Keuangan Internasional: Menagih Hak untuk Mengetahui. Pembukaan

Piagam Tranparansi bagi Institusi Keuangan Internasional: Menagih Hak untuk Mengetahui. Pembukaan Piagam Tranparansi bagi Institusi Keuangan Internasional: Menagih Hak untuk Mengetahui Pembukaan Hak untuk mengakses informasi bagi badan publik adalah hak asasi manusia yang paling mendasar, seperti tercantum

Lebih terperinci

QANUN ACEH NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI ACEH

QANUN ACEH NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI ACEH QANUN ACEH NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI ACEH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG ATAS RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL Jakarta, 16 Oktober 2012 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

Dua Sisi Mata Uang Dampak Teknologi Jumat, 14 Februari 2014 17:15. Oleh Ahmad Turmudzi*

Dua Sisi Mata Uang Dampak Teknologi Jumat, 14 Februari 2014 17:15. Oleh Ahmad Turmudzi* Oleh Ahmad Turmudzi* Sebelum masuk ke inti tulisan singkat ini, saya ingin mengulas terlebih dahulu arti remaja. Menurut akar katanya, remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau

Lebih terperinci

Hal-Hal Penting Terkait Penangkapan Yang Harus Diatur RKUHAP

Hal-Hal Penting Terkait Penangkapan Yang Harus Diatur RKUHAP Hal-Hal Penting Terkait Penangkapan Yang Harus Diatur RKUHAP Oleh : Supriyadi W. Eddyono ICJR Pada prinsipnya, segala bentuk tindakan atau upaya paksa yang mencabut atau membatasi kebebasan merupakan tindakan

Lebih terperinci

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA 1 K-88 Lembaga Pelayanan Penempatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi

Lebih terperinci

HAK ASASI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

HAK ASASI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM HAK ASASI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Oleh : Dr. H. Abd. Salam, SH. MH. Wakil Ketua Pengadilan Agama Sidoarjo Pendahuluan Kata melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), telah menjadi kata yang amat populer

Lebih terperinci

Peta Jalan untuk Mencapai Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (BPTA) pada tahun 2016

Peta Jalan untuk Mencapai Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (BPTA) pada tahun 2016 Peta Jalan untuk Mencapai Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (BPTA) pada tahun 2016 Illustratie Dick Bruna copyright Mercis bv, 1997 Dokumen Hasil Konferensi Global Pekerja Anak Den

Lebih terperinci

K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR

K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR 1 K-120 Hygiene dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan

Lebih terperinci

MASYARAIZAT LANON -7-

MASYARAIZAT LANON -7- f r MASYARAIZAT LANON f Hingga kini, khususnya di tanah Siantan masih terjadi silang sengketa dan perdebatan serius dikalangan tokoh masyarakat dan para intelektuallokal, bahwa apakah asalmuasal masyarakat

Lebih terperinci

DRAFT PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI

DRAFT PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI As of 14 November 2013 I. Pendahuluan 1. Salah satu tujuan ASEAN seperti yang diatur dalam Piagam ASEAN adalah untuk memajukan ASEAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN I. UMUM Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

Lebih terperinci

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012 IKLIM ORGANISASI Sebuah mesin memiliki batas kapasitas yang tidak dapat dilampaui berapapun besaran jumlah energi yang diberikan pada alat itu. Mesin hanya dapat menghasilkan produk dalam batas yang telah

Lebih terperinci

Memaknai Pancasila sebagai Dasar Negara*

Memaknai Pancasila sebagai Dasar Negara* Memaknai Pancasila sebagai Dasar Negara* Sejak Sebelum merdeka Pancasila dirumuskan dan kemudian sehari setelah merdeka ditetapkan sebagai dasar negara. Keputusan itu diterima oleh semua pihak karena Pancasila

Lebih terperinci

DOMINASI PENUH MUSLIHAT AKAR KEKERASAN DAN DISKRIMINASI

DOMINASI PENUH MUSLIHAT AKAR KEKERASAN DAN DISKRIMINASI H A R Y A T M O K O DOMINASI PENUH MUSLIHAT AKAR KEKERASAN DAN DISKRIMINASI Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan

Lebih terperinci

Latar Belakang. Mengapa UN4U?

Latar Belakang. Mengapa UN4U? UN4U Indonesia adalah salah satu program penjangkauan terbesar dalam kampanye UN4U global dilaksanakan di beberapa kota di seluruh dunia selama bulan Oktober. Dalam foto di atas, para murid di Windhoek,

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PENGESAHAN FINAL ACTS OF THE PLENIPOTENTIARY CONFERENCE, GUADALAJARA, 2010 (AKTA-AKTA AKHIR KONFERENSI YANG BERKUASA PENUH, GUADALAJARA, 2010) DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten Jembrana

Lebih terperinci

KONVENSI-KONVENSI ILO TENTANG KESETARAAN GENDER DI DUNIA KERJA

KONVENSI-KONVENSI ILO TENTANG KESETARAAN GENDER DI DUNIA KERJA KONVENSI-KONVENSI ILO TENTANG KESETARAAN GENDER DI DUNIA KERJA Kantor Perburuhan Internasional i ii Konvensi-konvensi ILO tentang Kesetaraan Gender di Dunia Kerja Pengantar Kaum perempuan menghadapi beragam

Lebih terperinci

Plan de Vida - sebuah inisiatif masyarakat adat untuk kelestarian budaya (cultural survival)

Plan de Vida - sebuah inisiatif masyarakat adat untuk kelestarian budaya (cultural survival) Plan de Vida - sebuah inisiatif masyarakat adat untuk kelestarian budaya (cultural survival) Ditulis oleh: HermissionBastian CSQ Issue: 23.4 (Winter 1999) Visions of the Future: The Prospect for Reconciliation

Lebih terperinci

Bahasa Indonesia Version: UN Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Member of Their Families

Bahasa Indonesia Version: UN Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Member of Their Families Bahasa Indonesia Version: UN Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Member of Their Families Konvensi Internasional Tentang Perlindungan Hak Semua Buruh Migran dan Anggota

Lebih terperinci

3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan

3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan 3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan legal? 6. Sebutkan sasaran yang dikritik Nabi Amos! 7.

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan upaya

Lebih terperinci

Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011

Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011 Terjemahan Tanggapan Surat dari AusAID, diterima pada tanggal 24 April 2011 Pak Muliadi S.E yang terhormat, Terima kasih atas surat Anda tertanggal 24 Februari 2011 mengenai Kalimantan Forests and Climate

Lebih terperinci

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Hamdan Zoelva 2 Pendahuluan Negara adalah organisasi, yaitu suatu perikatan fungsifungsi, yang secara singkat oleh Logeman, disebutkan

Lebih terperinci

KATA-KATA BIJAK 2 TOKOH INDONESIA. A. Kata-kata Bijak KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

KATA-KATA BIJAK 2 TOKOH INDONESIA. A. Kata-kata Bijak KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) KATA-KATA BIJAK 2 TOKOH INDONESIA A. Kata-kata Bijak (Gus Dur) 1. "Betapa banyak hal-hal tragis/ menyedihkan terjadi karena kita tidak dapat membedakan antara mengetahui dan mengerti akan perjalanan hidup."

Lebih terperinci

Dari cuplikan berita di atas, maka yang keliru ada lah penggunaan istilah kantor»pemerintah«(lihat bab II, III dan IV).

Dari cuplikan berita di atas, maka yang keliru ada lah penggunaan istilah kantor»pemerintah«(lihat bab II, III dan IV). 1 VII. Netralitas Negara (dan Lembaga Negara) Ingat kasus larangan pengunaan jilbab di sekolah-sekolah Perancis dan Jerman sekitar 2 atau tiga tahun lalu? Sayangnya, perdebatan di tanah air dalam soal

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

Parpol dan Masyarakat ASEAN 2015. Oleh: Tirta N. Mursitama, PhD

Parpol dan Masyarakat ASEAN 2015. Oleh: Tirta N. Mursitama, PhD Parpol dan Masyarakat ASEAN 2015 Oleh: Tirta N. Mursitama, PhD Dua peristiwa penting terjadi hampir bersamaan di dua ranah yang berbeda belakangan ini. Di tataran domestik, prosesi pemilihan umum (pemilu)

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO. Jl. Lanto Dg Pasewang No. 34 Telp. (0411) 21022 Kode Pos 92311 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO. Jl. Lanto Dg Pasewang No. 34 Telp. (0411) 21022 Kode Pos 92311 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO Jl. Lanto Dg Pasewang No. 34 Telp. (0411) 21022 Kode Pos 92311 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO NOMOR : 03 TAHUN 2011 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN

Lebih terperinci

BAB I PARTAI POLITIK PADA MASA PENJAJAHAN

BAB I PARTAI POLITIK PADA MASA PENJAJAHAN BAB I PARTAI POLITIK PADA MASA PENJAJAHAN Kepartaian yang terjadi di Indonesia, sudah mulai tumbuh dan berkembang sejak masa kolonial Belanda, untuk hal yang menarik untuk disimak dalam buku ini, dimulai

Lebih terperinci

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Pernyataan Prinsip: Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan hormat di tempat kerja 3M. Dihormati berarti diperlakukan secara jujur dan profesional dengan

Lebih terperinci

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG Dalam bagian ini akan disampaikan faktor yang mempengaruhi kapasitas kelompok yang dilihat dari faktor intern yakni: (1) motivasi

Lebih terperinci

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini. MUKADIMAH STMIK AMIKOM YOGYAKARTA didirikan untuk ikut berperan dalam pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dibidang manajemen, teknologi, dan kewirausahaan, yang akhirnya bertujuan untuk memperoleh

Lebih terperinci

Hidup dibawah Masa Paus Terakhir: 12 Fakta Yang Harus Anda Ketahui

Hidup dibawah Masa Paus Terakhir: 12 Fakta Yang Harus Anda Ketahui Hidup dibawah Masa Paus Terakhir: 12 Fakta Yang Harus Anda Ketahui Dunia sedang berada dibawah masa pemerintahan Paus Francis I, raja ke-8 dan yang terakhir, sejak dia dinobatkan menjadi penguasa mutlak

Lebih terperinci