\w/ 1w, VOLUNIE ffg TAIUITAS PEKTANIAN UNIVERSITAS SRHWIIAYA. DAN RAPAT TAHUNAI\ DE,IffiN ISBN : Bidang llmu-lln ru Fertai-ri,r ;

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "\w/ 1w, VOLUNIE ffg TAIUITAS PEKTANIAN UNIVERSITAS SRHWIIAYA. DAN RAPAT TAHUNAI\ DE,IffiN ISBN : 978-979.8389-18-4. Bidang llmu-lln ru Fertai-ri,r ;"

Transkripsi

1 SBN : z+.< (d&))... \w/ 1w, DAN RAPAT TAHUNA\ DE,ffiN Bidang llmu-lln ru Fertai-ri,r ; Badan Kerjasama Perguruan T inggi Negeri (BKS-']TN) \ ilayah Barar r.l l-.-a VOLUNE ffg 7:=:', f fl XE"&&* E f?n K Li &J TU K ffi mal&ex p f fl. ru *,&fqt RS B n KT; f E:' f e S E PF,S EAY$"&{ $ fj g geffi * ; t?4&ve i i{.1 i il,'i ga},{ ffi f, K}q gl"&rui U TAN TAUTAS PEKTANAN UNVERSTAS SRHWAYA PA,EMBANG, ME ZAl l

2 pnosrmnc SEMNAR NAS0NAL DAN RAPAT TAH,NAN DEKAN [td.rg tilullmu Pertanian Badan Keriasama Perguruan Tinggi Negeri -'(BK$PTN) WaYah Barat Tema: PERAN PTEK 'NTTK MENGANTSPAS PER'BAAN KLM DALAM PRESPEKTT PERTANAN BEATELA{JUTAN VOL'ME 3 FAKUTTAS PERTANAN UNVERSTAS SRW AYA PALEMBANG, ME 2011 i t f-. r: t i.

3 Perpustakaan Nasional R : Katalog Dalam Terbitan (KDT) PROSDNG SEMNAR NASONAL DAN RAPAT TAHUNAN DEKAN Bidang lmu-llmu Pertanian Perguruan Tinggi Negeri wilayah Barat Volume 3 ':'' Badan Penerbitan Fakultas Unsri, halaman, ukuran A4 SBN : 978-g7g-838g-t8-4 Tim Penyunting : Arfan Abrar Gatot Muslim Elly Rosana Thirtawati Selly Oktarina Hilda Agustina Desi Aryani Desain Sampul Tata Letak si : Arfan Abrar : Arfan Abrar Undang-Undang No.l9 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No. l2 Tahun 1997 Pasal 44 tentang Hak Cipta PasalT2 l. Barang Siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau member i izin untuk izin itu, dipidana dengan pidana penjara paling singkat (satu) bulan dan/atau denda sedikit Rp. L ,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) dan/atau denda paling banyak Rp ,00 (lima milyar rupiah). 2. Barang siapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan, mengedark4 atau menjualkan kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil penyelenggaraan Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (l), dipidana dengan pidana lama 5 (lirna) tahun danlatau denda paling banyak Rp ,00 (lima ratus juta rupiah)

4 Elrmlslus DAFTAR S M,A.NAKTERSTK PERSONAL PETAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP M'A]KA DAN KNERA KELOMPOK TAN NM{"qL$S KESANGGUPAN MEMBAYAR PAR DAN FAKTOR-FAKTOR YANG ilmil{pengaruhnya PADA PERTANAN PASANG SURUT ffihhmad Yazid. ilualsa KE.JNTUNGAN DAN DAYA SANG KOMPETTF DAN KOMPARATF rilnf,td[t LOBSTER D PROVNS BENGKULU: APLKAS MODEL PAM e &buno... MlreARUH HARGA MNYAK SAWT NTERNASONAL DAN RENDEMEN Mil!NN'AK SAWT TERHADAP NLA NDEKS K D SUMATERA SELATAN ilnfu -ilf,raluna, Nasir Dan Riswani... MMBAAN TARGA POKOK TBS SEBELUM DAN SETELAH PENURUNAN WMRG{ M{YAK SAWT DUNA DAN PENGARUHNYA TERHADAP ffitil-ikttvtas DAN PENDAPATAN USA{ATAN KELAPA SAWT D M.ffiM?ATEN OGAN KOMERNG LR,l[-#Ldr!- fun Maryati Mustopa Hahim MMfrNST,flS HARGA MNYAK SAWT DT]NA PADA }ARGA MNYAK SAWT M..ffi.{,L HARGA TBS DAN MARGN TARGA D SUMATERA SELATAN ry Xeiprq Riswani, dan Nasir, MEANDNGAN PENDAPATAN ANTARA KEGATAN USAA MMts,ASS LAHAN DENGANNON LAHAN RENDAH KARBON MM AHAN GAMBUT SEKTAR PERUSA{AAN HT,Ulmflh ffimlf,.u$s PERBANDNGAN PRODUKTVTAS DAN PENDAPATAN PETAN MN.,[PA SAWT SWADAYA DENGA} PLASMA D SUMATERA SELATAN.tffiwltzroni M.ATEG PENNGKATAN MUTU DAN PEMASARA} PEMPEK D SUMATERA rm[,at-{}-l mmjhega}. KARAKTERSTK NDTVDU PETAN DENGAN PERSEPSNYA flmmffiadap KNERA PENTruLUH PERTANAN LAPANGAN MMC.{X,{ATAN NDRALAYA UTARA OGAN LR ffi " *lly Oharino don RanggaAkbar Tyanson. MMN{C EFFCENCY OF CASSAVA FARMNG N LAMPUNG PROVNCE lffir*drfi&ss hlcaria.. ircen:as SEBAGA ALTERNATF FAKTOR KEBERHASLAN PRESTAS Mil,,AR.MAHASSWA ffihrml0 t ttffiffiscnr,a;oto BKS Borot Bidong tlmu pertanion 2011

5 Bida ng mu-t lmu perta n ia n B Ks-prN *, t.r" J;:1'?:ffj',#i SBN : ANALSA KEUNTUNGAN DAN DAYA SANG KOMPETTF DAN KOMPARATF KOMDT LOBSTER D PROVNS BENGKULU: APLKAS MODEL PAM Ketut Sukiyono Jurusan Sos ial Ekonomi P ertanian Fakultas PertanianUniversit as Bengkulu ABSTRACT This research is aimed at analyzing profitability, comparative and competitiveness dwtages of lobster in Province Bengkulu as well as examining the impact of government 'iwtention on Lobster industries. Model of Policy Analysis Matrix (PAM) is used to '*trieve goals aforementioned. The research shows that lobster commodity is profitable [bw* finoncially and economically as shown by ils private and social profitability value. W research also find that this commodity has high competitive and comparative futages as indicated by its value of PCR and DCR. Meanwhile, the government of fuesia doesnot enough protection on lobster price eventhough the fishermen has intemention on input price especally on fuel price. t is recomendated that fishermen Md not over-fish in order to sustain lobster availability both in size and Lobster, PAM Model, profitability, competitive and comparative advantages PENDAHULUAN Subsektor perikanan, khususnya perikanan tangkap, memiliki peranan sangat ffi is bagi perekonomian Propinsi Bengkulu. Dengan luas wilayah 1.978,870 km2 ini, Uryfr seluruh daerah provinsi ini terdapat pesisir pantai. Diperkirakan panjang garis mencapai 525 km membentang ke arah laut lepas (ZEE 200 mil) dengan &UFilpemanfaatanikanlautmencapai ,6 tonpadatahun Sementarapeluang glapan ikan tersebut mencapai ,4 ton per tahun (74,72%) (BPS 2008). Simigrtera itu, jenis ikan dapat dikonsumsi dari perairan Bengkulu antara lain ikan mno frs531', cakalang, tongkol, tenggiri, sentuhuk, pedang, layaran, pelagis kecil, demersal, eg penaide, lobster, cumi-cumi, serta ikan karang. Potensi laut cukup besar tersebut, subsektor kelautan dan perikanan menjadi semakin penting. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Apabila fuya a-#ingkan dengan potensi lautnya memiliki garis pantai lebih kurang 525 km, * Fduksi ikan laut dihasilkan para nelayan Provinsi Bengkulu tersebut rurrry rendah. Kondisi itu menyebabkan kontribusi subsektor perikanan (perikanan,h dm perikanan laut) dalam perekonomian Provinsi Bengkulu tidak terlalu menonjol. im lrrun waktu kontribusi subsektor perikanan dalam perekonomian fumdmsi Bengkulu kurang dari 5 persen per tahun. Meskipun demikian, pertumbuhan,mnban kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB),ffim bnik s besar 5,24 persen kurun waktu Masih kecilnya kontribusi ini ffi c#rrrya disebabkan oleh pemanfaatan potensi masih belum optimal mengingat,nfud lcstad sumberdaya ikan jauh lebih besar dari tingkat pemanafatan ada saat ffiw irli jenis ikan ditangkap merupakan komoditas bernilai tinggi baik flnkal/domestik maupun di pasar ekspor dan salah satu jenis'ikan hasil tangkapan rf,d&6m lang merupakan kelompok crustacea yaitu udang barong atau lebih dikenal f,mm lffiter. Prospek permintaan lobster ke depan semakin besar sehingga perlu lmnfimmm produksinya, permasalahannya adalah lobster di Bengkulu berasal dari Engkap (DKP Bengkulu 2005). Peningkatan jumlah tangkapan perlu dilakukan 17

6 Prosiding Semirata Bidan g m u-r m u perta nia n B KS-prN [,lilhfjjj-l[! 1?1i juga didukung oleh perkemban gan harga nominal lobster dalam kurun waktu lima tahun demikian' data terakhir menuniut tun penlingkatan cukup signifikan' Namun waktu ajaluga meiunjukkan bahwa produksi tangkapan l,obtt.. selama kurun melalui budidaya lobster produksi,n.rnpinyui kecenderungan tren penurunan, sementara belum berkembang. Oleh Lobster seperti produk perikanan lainnya sangat mudah rusak Qterishable)' ke dijual sampai produksi proses sebab itu, lobster harus dijaga bari kerusakan selama rantai dingin (cold chain) konsumen. Hal ini membutuhlkan pola pemasaran dengan sistem jalur pemasaran' Lebih pada setiap pi.alatan pendingin antaralain dengan membangun "proiuk ekspor,sehlngga pasar lobster dikarakterisasikan lanjut, lobtster *oufut* p",,ututu' lobster dapat terdiri dari sebagai pasar U*yuf. para pelakurya. Rantai pelaku di pasar ikan ini para suplier, processor dan distributor produk perikanan' Para berbeda'- Akibatnya seringkali menetapkan peraturan dan sistem operasiorial' sebelum sampai berbeda perdagangan lobster harus melalui saluran perda[angan pada tujuan akhir mereka. rantai pemasaran lobster panjtg dan besar Pelaku uraha menghadapi "'besar unt k mendistribusikan produknya kepada ini harus *"ng"tuuitii Ei"vu dan Jakarta' Persoalan rantai konsumen lokasinya reiatif jau'l, misalnya Lampung menghadapi tingkat pemasaran lobster mulai dari peningkapan lobster di iingkat nelayan ke luar pemasaran r*gut iinggi- karena pengaruh iklim serta ketidakpastian yan[ "akhiriya utii berpengaruh gfa besamya biaya produksi dan daerah. pada lobster asal Bengkulu pemasaran. Biaya Vung t*gut besalakan minyeujutan daya saing pasar iiargu menjadi tiaat"to*-petitif. Disisi lain ketidakstabilan harga lobster ditingkat pasar dunia di Cina dan Jepang menambah besar domestik [- r tn 3-S di Jakarta dan persaingan usaha lobster. daya saing komoditi berangkat dari permasalahan di atas, penelitian untuk mengetahui :k"biiuk* harga input dan output terhadap sistem lobster Bengkulu dan melihat dampak usaha penangkapan lobster. METODOLOG PENELTAN Metode Analisis Bengkulu Alat analisis digunakan untuk menganalisis daya-saing komoditi ]q!tj:t analisis (PAM)' Hasil Matrix adalah dengan menggirnakan metode unullit Policy Analysis pam memberikan iamba.an informasi tentang profitabilitas daya saing (keunggulan lobster dan dampak kompetitif), efisiensf ekonomi (keunggulan tomparatrjl-komoditi pada Tabel disajikan PAM f."uij** pemerintah terhadap sistem kjmoditi lobster. Tabel stu siklus periode sel dihitung dalam Gu"frrn*'et. al., 2004). Nilai pada masing-masing produksi dalam hal ini satu periode tangkap' Tohpl'l P lreien Matrix Penerimaan Kuntungan Biava c D=A-B-C B A Harga privat H=E-F-G G F E Harsa sosial L=-J-K=D-H K:C_G J:B_F :A_E f)iversensi Su*ber: Monke and Pearson (1989) : output Transfer; J: nput Transfer; K: Faktor Keterangan: D: keuntungan privat; H; Keuntungan Sosial; Transfer dan L: Net Transfer berikut (Malian et'al' Dari matriks di atas dapat ditentukan indikator-indikator sebagai 2004 danrusastra et al ): rh! h,ff qd ffidh6 dh: me lllhryr,r.,flhllhfr ffiuh ffin

7 iemirata un 2011 Bidang,m u-,m u perta nian BKs-pTN ts}18-4 *, tr, nt:::l'?:r r"ffii tsbn : 978_979_8389_18_4 l. t tahun r didaya Oleh ual ke chain) Lebih sikan ri dari m ini l' mpai besar ryda Pasar ngkat mditi isilem Analisis Efisiensi Finansial (keunggula" tj*p",rrio dan efisiensi Ekonomi ft eunggulan komparatif) : a. Private Cost Ratio (pcr): C(A_B) : ndikator profitabilitas nriyat menunjukkan iatnya rantai hgkat r luar i dan gkulu Analisis Keuntungan a. private profitability (pp): D:A_ (B+C) Merupakan indikator daya saing lcompeiitiveness) dari komoditas berdasarkan teknologi, niiai output,biayalnfui oun't*nsrer teul.lakan ada. Jika D > 0, maka usaha lobster layak untu-k diusahakan, kecuali jika sumbe rdayaterbatas atau adanya komoditas lain lebih menguntungkan. b. sociat p.rofirlbittty (sp) : n : E _ ri * q'.merupakan indikator keuntungan komparatif (comparative advantage) dari komoditas lobster pada kondisiiiaat uau aiu"rg"nsi harga baik akiuat kebijakan pemerintah maupun distorsi pasar. Jika H < 0, maka komoditas lobster tidak mampy bersaing tanpa adanya intervensi pemerintah. i- kemampuan komoditas untuk membayar biaya dom*,i\ letap klmpetitif. suatu komoditas disebut kompetitifjika nilai PCR < l. {y. Makin tlcl niiii pcr, berji;;ki; kompetitif. b. Domestic Resources Cosr (DRC= CliB+1,..' ndikator keungguran komparatif, yu.,g- ;"r]rnjukkan jumrah sumber daya domestik dapat dihemat y!tuk meighasilkan satu unti devisa. Komoditas memitiki keunggulan komparatifjita OC ii. Analisa Dampak kebijakan pemerintah p;drprr, output, input dan output a. Nominll protection Coeffecient'on npitovpcu: B/F: ndikator menunjukkan tingkat prot"trip"-rrintah terhadap harga input tradable' Kebijakan bersifat p.ot"ktir t"rnaaap input tradaul. iir."""irai Npc < 1'Semakin kecil nilai BPC, 6erarti r"-utint"ggi tingkat proteksi pemerintah terhadap input tradabre atauada kebijak*,uuriai input trdabre. b. Nominal protection Cofficient on OutputCVpCOl A/E: ndikator y.ang. tingkat' proi"tri pemerintah terhadap output. -menunjuklgn Kabijakan proiektif terhaiap orrpr,,lita nilai Npco > -u_e5]at r. semakin besar nilai NPCO, berarti semakin tinggi tirjr."t proteksi pemerintah terhadap output. c. Effecrive protective Cofficient(Epc) : (A_B/(E_F): ndikator.--menunjukkan tingkat piot.tri simultan terhadap output dan input tradable- Kebijakan bersifatlroteitifj-ika nilai Epc > l. maliin besar nilai : tsrlu ilisis Filao lpak bdr kh$ = k= lcra f, "?..*"ni makin tinggi tingkat p;t.'i;i-pemerintah t"rr,ffi komoditi fugro0ofasian Komponen Biaya Domestik donasing produksi dibedakan menurut i,nput tradable 'ilhwre liran input domestik. npu t tradable dhe*n' input diperdagangkan di pasar internasional, sedangkan input tidak di paiar intern-asion"r ii**rr.t.r;" ;;i". kerompok input domestik. llshffiimruei 'n i'ang dimaksud dengan harga privat adarah harga dibayarkan ':':n harga to:1ul (harga bian; yuit, rru.gu dalam suatu kondisi i^tterbentuk ]lwuilili'ulmr:rian tidak mengalami distorsi. Untukl*gu".oriut input tradable digunakan rrnr,mrurufir :L :erabuhan (borcrer price), yaitu harga freu oi board (FoB) untuk input fiiiiinrdiuqr"rrq;6- dan harga cost insurance a.nd freiygnt untuk input fcrrj diimpor. ur&irurrrmrgllli":"r harga sosial input domestik peral.", lobster' darr teiaga kerja uulmmmcm harga berraku.seperti disarankan oref "rg(ap M arian et.ar. (2004) 19

8 prosiding Semirata Bidang llmu-llmu Pertanian BKS-PTN Wilayah Barat Tahun 2011 SBN : Pengalokasion Komponan B iaya Domestik Pengalokasian komponen biaya ke dalam komponen domestik dan Asing memakai pendekatan langsung. Pendekatan langsung mengasumsikan bahwa seluruh biaya input tradable, baik diimpor maupun produksi domestik dinilai sebagai komponen biaya asing. Dalam penelitian ini barang-barang diasumsikan 100 persen domistik adalah kapa, mesin kapal, jaring, jerigen, tali kapal, jangkar, oli, dan tempat penyimpanan lobster. Penentuan biaya tenaga kerja diasumsikan 100 persen domestik mengingai biaya tenaga kerja dibayar dengan sistem bagi hasil atas penerimaan karena i"nigu kerja digunakan adalah tanaga kerja unskilled spesifikasinya berbeda paaa sistem perdagangan internasional. Justifikasi Penentuan Harga Sosial nput dan Output 1. Harga sosial BBM di tingkat nelayan digunakan adalah harga BBM telah dihilangkan komponen subsidinya. Hal ini didasarkan atas adanya subsidi diberikan oleh pemerintah pada harga jual BBM domestik. 2. Harga digunakan sebagai harga sosial lobster (harga baan output) adalah harga FoB, karena posisi ndonesia saat ini sebagai eksportir lobster. HASL DAN PEMBAHASAN Analisa profitabilitas Dalam bahasan ini, analisa profitabilitas atau analisa keuntungan terdiri dari keuntungan finansial dan keuntungan ekonomi. Keuntungan finansial merupakan selisih antara penerimaan dengan total biaya dibayarkan oleh nelayan penagkap lobster dimana dasar perhitungan adalah harga lobster diterima nelayan dan-harga input dibayar oleh nelayan. Total biayameliputi nilai biaya perawatan armada tangkap-dan alai " tangkap, biaya oprasional, biaya penyusutan dan biaya sewa. Dari hisil analisa didapatkan bahwa usahapenangkapan lobster di Provinsi Bengkulu secara finansial menguntungkan. Kesimpulan ini didasarkan oleh hasil nilai keuntungan privat sebesar np. SeJ37,- untuk sekali melaut. Keuntungan privat ini merupakan 32,47 Yo dari total plnerimaan privat sekali melaut. Perlu diinformasikan bahwa keuntungan finansial ini diperole pada kondisi aplikasi teknologi aktual sekarang digunakan oleh nelayan, pada-tingkui harg, yarg dibayar atau diterima oleh nelayan serta kebijakna diimplernentasikan oleh pemerintah pada saat penelitian dilakukan. ni berarti, usaha penangkapan lobster di Provinsi Bengkulu mempunyai keuntungan kompetitif tinggi secara finansial. Sementara dalam konteks profitabilitas ekonomi, analisa didasarkan pada kondisi dimana tidak ada kebijkan pemerintah diimplementasikan pada usaha ienangkapan obster atau tidak ada distorsi pasar. Akibatnya, harga harus dibayar atau diterima oleh nelayan merupakan harga atau biaya imbangan sosial yung r"tenarnya (social opportunity cost). Jika dilihat dari profitabilitas ekonomi mencerminkan keuntungan komparatif, usaha penangkapan lobster memiliki tingkat profitabilitas ekonomi sebesar i.p ,- atau 74,33 7o untuk sekali melaut. ni berarti dengan mengabaikan adanya segala bentuk subsidi, dan proteksi mendistorsi pasar dapai *"rnp.ngu.rhi -Bengkulu harga, maka dapat disimpulkan bahwa usaha penangkapan lobster di Provinsi juga rnemiliki tingkat keunggulan komparatif tinggi. Tabel 2 beriklrt,rr.ryi3ikun indikator - indikator daya saing usaha penangkapan obster di Provinsi Bengkulu. Tahcl2!{o Arlllr f,'rr.rygt fffin i pueti mranillik cfr y4 m,qr[na ;r t}_tg- A dr5l,'&sil BEmgH qilm 11tr lmqfr ii*rllil F uuil fr6<,ttffimrrlmnilh C,oqfiffi ffirl,ffied umcilii WEdo ild 5Mfufrqfi mmm r d,mmgm mi;inpmfr ;ffiu p5

9 Bidang ilm u-t lm u pertan ia n B KS-prN *,try.ht}:1'l:r rtffitl SBN : _8389_18_4 mnakai ya inprn E asins h kapat hbster- haga ie :nang r sisem \,". r, ndikator Besaran a. b. - Finan.sial (private prorttubility) Ekonomi (Social projitabitiryj' KeunggulanKompetityaorio*poriiil a. b. private Cost Ratio (pcr) Domestic Resources Cosi (ORC) Analisa Kebiiakan nsenty'. a. Nominal,protection Coffici.ent on nput Nof:::r p:ot.ect.iln ': b. rg tel,&h h ymg 1 rbl*h Li dari diffi lotffi uf yaag b.ls 4bmtr*, Fivat ondrif r oleh bdi mdisi hpan erima bcial ngan rrphnva Erhi fiulu iikan s SllmL'.Er. 0,63 0,t9 (N\C) loeec.ient y_o-rtpit 1xrbo1 0,63 0,35 Hasil Analisa A.nelisa Keun ggulan Komp etitif dan Komparatif usaha penangkapan Lobster di Provinsi Bengkulu menunjukkan tingkat emmietitif tinggi'-hut inl ai.r..intun oleh indikator pcr diperoleh yakni 0,63 \w Tabel 2)' Nilai ini lebih kecil dari satu yu;; ;;rginformasikan bahwa ndikator pmfrebilitas privat ini menunjukkan bahwa sistem,irju'p"nungkapan lobster di Begkulu mnmmiliki daya saing kompetitif tinggi."*p,,.iruuyu, korbanan biaya domestik pmg efisien dalam pemanfaatan tu-u.i ^s.*"n,uru auyu. itu, keunggulan komparatif ummrnn* penangkapan lobster memberikan nilai rata-rata DRC t.*n t".iluri,utu, yakni 'm:':9 "{ngka ini menunjukkan bahwa usa{ra p.nungtup* obster di Bengkulu memiliki saing tinggi dan untuk p"rg"rriuuigun usaha penangkapan lobster di di butuhkan kiibanan.sumberdala ai Jiam negeri lebih kecil dari -ryiah. yaitu Rp. 0,19. Hasil ini seirinj d;;g* 'r,u temuan rawan (2009),,'hr,{$li"xlr daya saing dengan pendekatan unit blaya uituk tingkat daya saing -.ngukur mdua lzng diajukan oreh coclburn and- Sigger g'eot,lssq. Dengan pendekatan ffiumqu:u hanya m!tr u: diperoleh usaha -bahwa geg, rzkni 0,56 (rawan 2009). penangkffi lotrt".'..miliki daya saing cost cukup Analisa Kebijakan Kebijakan. pemerintah diimplementasikan untuk mengembangkan dan neningkatkan usaha penangkapan ljbster dapat uerupa insentif input, output dan insetif rnut --output' Dampak kebijalan pemerintail iri aaiat ailihat dari tiga indikator "ug-:n*akan dalam penelitian ini. Ketiga indikator ini uaurun (a) Nominol protection J'c;l'ecienr on nput (Npcr, (b) Nominctr pro,::!r9! Co"y""irnt on output Q{pco), dan tt. Efective Protective coe.ficient (EPC). NPCLnffi*un ukuran tingkat proteksi puanerintah terhadap input digunakan oleh nelayan tangkap. nstrumen -domestik grcmg'ul-uran kebijakan pioteksi pemerintah terhadap input tercermin dalam nilai Npc mnca :saha penangkapa,.t9lster diperoleh nilai rata-ra,u i.ipct ebih kecil dari satu, rimm:: '-''53' (Tabel 2)' Nilai ini dimaknai bahwa p.rn..ir,u}, menerapkan kebijakan mrmureh:t terhadap nelayan penangkap lobster. uat lni terlihat dari harga input produksi 'qr:i'!,rr,' :'::1'Ar nerayan cenderung lebih rendah dari t u.go *riurnyu. -{nalisa NPCO menginformasikan berapa b"esar tingkat proteksi diberikan rd'rtmn :e:--:rintah terhadap produk lobster domestik. Semakin tinggi (j{pco > l), semakin -oteksi dari pemerintah terhadap ouput, dalam rrui'ii'ra"lr, lobster. Hasil ry imuiim$ :lenunjukkan bahwa secara umumn.layan lobster belum menikmati kebijakan 21

10 l'.. -- Prosiding Semirata Bid a ng mu_r rm u pertan i a n B KS_prN NHf ffi;;xhllo81i harga output dari pemerintah. Harga jual di tingkat nelayan cenderung lebih rendah dari huga output seharusnya (harga sosialnya). ni tercermin dari nilai indikator NPCO lebih kecil dari satu, yaitu 0,35. (Tabel 2). Temuan ini mengindikasikan bahwa produsen domestik menerima harga jual lobster jauh lebih rendah dibandingkan harga di pasar internasional. ni disebabkan karena sebagian besar marjin dinikmati oleh pedagang domestik. ndikator EPC digunakan untuk mengetahui dampak komulatif kebijakan input tradable dan output. Atau dengan kata lain, EPC menelaah pengaruh bersih dari kebijakan pemerintah. Suatu kebijakan pemerintah dianggap protektifjika nilai EPC lebih besar dari satu atu EPC > l. Hasil penelitian diketahui bahwa nilai EPC sebesar 0,3 lebih kecil dari satu(tabel 2). Angkaini dimaknai bahwa secara umum nelayan lobster tidak memperoleh perlindungan efektif dari pemerintah baik untuk hargainput maupun harga output. KESMPULAN DAN MPLKAS KEBJAKAN Secara umum dapat disimpulkan bahwa usaha penalkapan lobster di Provinsi Bengkulu sangat layak diusahakan karena menguntungkan baik dari analisa profitabilitas finansial maupun ekonomi. ni berarti, jika dipandang dari analisa ini semata, usaha penangkap lobster ini layak untuk terus dikembangkan dan ditingkatkan. Hal ini juga didukung oleh hasil analisa daya saing kompetitif dan komparatif usaha ini cukup tinggi. Daya saing kompetitif dicerminkan oleh nilai PCR < l, dan daya saing komparatif DRC < 1. Namun demikian, karena usaha penagkapan lobster merupakan usaha eksploitasi, karena lobster belum mampu dibudidayakan, maka pengusahaan ini harus dilakukan secara hati - hati untuk menjaga profitabilitas dan daya saing usaha ini. Pola - pola over Jishing perlu dihindari untuk mencegah kepunahan atau mulai menurunnya jumlah dan ukuran (size) dari lobster ini. Beberapa nelayan sudah melaporkan bahwa dalam beberapa tahun belakangan hasil tangkapannya sizenya lebih kecil dan jumlah tangkapannya menurun. ni tentunya akan berdampak pada harga diterima oleh nelayan, sementara harga input dibayar oleh nelayan cenderung mengalami kenaikan. Lobster adalah komoditi ekspor dan oleh sebab itu tampaknya pemerintah tidak memberikan perlindungan atau proteksi cukup terhadap komoditi ini. Hal ini dicerminkan oleh nilai NPCO lebih kecil dari satu. Nelayan dipaksa menerima harga lebih rendah dari harga sebenamya. Oleh sebab itu, untuk mencegah atau mengurangi nelayan melakukan overfishing, sebaiknya pemerintah dapat memberikan kebijakan insentif harga output sehingga nelayan dapat menikmati harga relatif lebih baik. Kebijakan insentif input dinikmati oleh nelayan juga selayaknya dilanjutkan. Hal ini juga akan mendorong nelayan untuk terus dapat berusaha. nsentif input dinikmati oleh nelayan adalah bahan bakar minyak (BBM) baik bensin atau solar. nsentif ini sebaiknya juga dibarengi dengan kebijakan untuk menjamin kelancaran ketersediaan input ini di lokasi nelayan. UCAPAN TERMA KASH Terima kasih penulis sampaikan kepada Dahny rawan telah membantu terlaksananya dan tersedianya data - data diperlukan untuk penelitian lobster di Provinsi Bengkulu serta data - data pendukung lainnya. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada M. Mustopha Romdhon atas kerjasamanya dalam penelitian ini.

11 rgsemirata tahun ) dah dari br NPCO an bahwa ftan harga mati oleh Lan input tebijakan besar dari kecil dari mperoleh L B i d a n g m u - m u pe rta n i a n B KS-prN *, t ry, J;:l'?:^t il;i; SBN : _4 DAT'TAR PUSTAKA Biro Pusat Statistik Provinsi Bengkulu Bengkulu Dalam Angka 200g. Bengkulu Cockburn, J. et al.. l99b,,measuring Competitiveness And lts Sources; The Case Of Mali's Manufacturing Sector,, African Economic Policy Paper Discussion paper No.16 Cockburn, J. et al 'Measuring competitiveness and its sources: the case of Mali,s manufacturing sector', working paper. CREFA: universit6 Laval. DKP Provinsi Bengkulu: potensi perikanan provinsi Bengkulu i Provinsi fitabilitas ia, usaha ini juga ng cukup t5ra saing rcnrpakan ehaan ini usaha ini. m mulai n sudah pya lebih Ega rcnderung ah tidak Hal ini Lna harga pgurangi hbijakan Hh baik. r Hal ini ilinikmati ;.^.. Fentrt rnt aan input rawan, Danny Dgla Saing (Jsaha Pemosaran Lobster di Kota Bengkulu (Studi Kasus UD qdi Koto Bengkulu. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas PertanianUniversitas Bengkulu. skripsi (tidak Diprublikasikan.)'-- Malian, A. Husni. Benny Rahman dan Adismesra Djulin permintaan Eksport dan Daya Saing Panili di Provinsi Sulawesi Utaia- Jurnal Agro Ekono,ii. zzlqrze - 45 Monke, E.A. and E.S.Pearson The Policy Analysis Matrix for Agricultural Development 2th edition. cornell university piess. London. Rachman,Handewi PS.; suprirlli; s_uryana dan Benny Rahman Efisiensi dan Daya Saing Usahatani Hortikultura. DalamProsiding "Efisiensi danbaya Saing Sistem Usahatani Beberapa Komoditas Pertanian di iahan Sawah 2004,, pp Rusastra, Wayan, Benny Rahman dan Supena Friyatno Analisa Daya Saing dan Struktur Proteksi Komoditi Palawija. DalamProsiding "Efisiensi dindayalaing Sistem Usahatani Beberapa Komoditas Pertanian di Lahan Sawah 2004" pp. 2g Benny, Rachman dan Tahlim sudaryanto Kemampuan Daya saing sistem Usahatani Padi. Jurnal SOSD "EKONOMKA,8(): 3t-44. Juni 2002, Fakultas Pertanian Universitas Lampung.Bandar Lampung. ' - rcmbantu bbster di sih juga mi. 23

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT

VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 83 VIII. DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KEUNTUNGAN DAN DAYA SAING RUMPUT LAUT 8.1. Struktur Biaya, Penerimaan Privat dan Penerimaan Sosial Tingkat efesiensi dan kemampuan daya saing rumput laut di

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Analisis Daya Saing Analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif digunakan untuk mempelajari kelayakan dan prospek serta kemampuan komoditi gula lokal yang dihasilkan

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karangasem dengan lokasi sampel penelitian, di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu. Penentuan lokasi penelitian dilakukan

Lebih terperinci

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe

Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 2, Agustus 2007 Hal: namun sering harganya melambung tinggi, sehingga tidak terjangkau oleh nelayan. Pe Jurnal EKONOMI PEMBANGUNAN Kajian Ekonomi Negara Berkembang Hal: 141 147 EFISIENSI EKONOMI DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP USAHA PENANGKAPAN LEMURU DI MUNCAR, JAWA TIMUR Mira Balai Besar Riset

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI VI. ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI JAMBU BIJI Daya saing usahatani jambu biji diukur melalui analisis keunggulan komparatif dan kompetitif dengan menggunakan Policy

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 45 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan daerah tersebut dilakukan secara purposive

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan 33 III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional dan Konsep Dasar Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Menurut penelitian Fery (2013) tentang analisis daya saing usahatani kopi Robusta di kabupaten Rejang Lebong dengan menggunakan metode Policy Analiysis

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Perdagangan Internasional pada dasarnya merupakan perdagangan yang terjadi antara suatu negara tertentu dengan negara yang

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITI PADI SAWAH DI KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI Denti Juli Irawati*), Luhut Sihombing **), Rahmanta Ginting***) *) Alumni

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Pasir Penyu dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kabupaten Indragiri Hulu terdiri

Lebih terperinci

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK

VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK VI. ANALISIS DAYASAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP KOMODITAS BELIMBING DEWA DI KOTA DEPOK 6.1 Analisis Keuntungan Sistem Komoditas Belimbing Dewa di Kota Depok Analisis keunggulan komparatif

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN 51 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di tiga tempat di Provinsi Bangka Belitung yaitu Kabupaten Bangka Selatan, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten Belitung.

Lebih terperinci

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini,

sesuaian harga yang diterima dengan cost yang dikeluarkan. Apalagi saat ini, RINGKASAN Kendati Jambu Mete tergolong dalam komoditas unggulan, namun dalam kenyataannya tidak bisa dihindari dan kerapkali mengalami guncangan pasar, yang akhirnya pelaku (masyarakat) yang terlibat dalam

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang. jagung per musim tanam yang, diukur dalam satuan ton. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis terhadap tujuan

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya)

DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya) Volume, Nomor 2, Hal. 09-6 ISSN 0852-8349 Juli - Desember 2009 DAYA SAING USAHA TERNAK SAPI RAKYAT PADA KELOMPOK TANI DAN NON KELOMPOK TANI (suatu survey di Kelurahan Eka Jaya) Muhammad Farhan dan Anna

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 1 Juni 2008) 1 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PENGUSAHAAN KOMODITI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN A. Faroby Falatehan 1 dan Arif Wibowo 2 1 Departemen Ekonomi Sumberdaya Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian

METODE PENELITIAN. A. Metode Dasar Penelitian II. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode deskriptif analitis. Menurut Nazir (2014) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam

Lebih terperinci

Oleh: Tobari dan Budi Dharmawan Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto (Diterima: 11 September 2004, disetujui: 21 September 2004)

Oleh: Tobari dan Budi Dharmawan Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto (Diterima: 11 September 2004, disetujui: 21 September 2004) PROFIL PENGEMBANGAN DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH (Tinjauan pada Pengembangan Komoditas Jagung) PROFILE OF POLICY AND AGRICULTURE DEVELOPMENT IN PURBALINGGA

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost )

STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) STUDI KELAYAKAN BISNIS ( Domestic Resource Cost ) Oleh: Dr Rita Nurmalina Suryana INSTITUT PERTANIAN BOGOR Domestic Resource Cost Of Earning or Saving a Unit of Foreign Exchange (Biaya Sumberdaya Domestik

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 23 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Daya Saing Daya saing merupakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditi dengan mutu yang baik dan biaya produksi

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING DAN DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PRODUKSI KAKAO DI JAWA TIMUR Dede Haryono 1, Soetriono 2, Rudi Hartadi 2, Joni Murti Mulyo Aji 2 1 Program Studi Agribisnis Program Magister

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW PROPINSI SULAWESI UTARA Zulkifli Mantau, Bahtiar, Aryanto Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Gorontalo Jl. Kopi No.270 Kec. Tilongkabila

Lebih terperinci

EMBRYO VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010 ISSN 0216-0188

EMBRYO VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010 ISSN 0216-0188 EMBRYO VOL. 7 NO. 2 DESEMBER 2010 ISSN 0216-0188 ANALISIS USAHA TANI DAN EVALUASI KEBIJAKAN PEMERINTAH TERKAIT KOMODITAS CABAI BESAR DI KABUPATEN MALANG DENGAN MENGGUNAKAN POLICY ANALYSIS MATRIX (PAM)

Lebih terperinci

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini

DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI. I Made Tamba Ni Luh Pastini DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT DAN SUBSIDI PUPUK TERHADAP KEUNTUNGAN USAHATANI PADI I Made Tamba Ni Luh Pastini ABSTRACT Rice is high-valued commodities since pre-independence era. The paper aims to analyze impact

Lebih terperinci

DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM

DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM 1043 DAYA SAING KACANG TANAH PRODUKSI KECAMATAN KUBU KABUPATEN KARANGASEM I Made Tamba, I Made Sukerta, I Ketut Widnyana Universitas Mahasaraswati made.tamba125@gmail.com ABSTRAK Pengembangan usahatani

Lebih terperinci

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI

DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI DAYA SAING JAGUNG, KETELA POHON, DAN KETELA RAMBAT PRODUKSI LAHAN KERING DI KECAMATAN KUBU, KABUPATEN KARANGASEM PROVINSI BALI I Made Tamba Universitas Mahasaraswati Denpasar ABSTRAK Jagung, ketela pohon

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian.

III. METODE PENELITIAN. untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian. 29 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang dipergunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF JERUK SIAM DI SENTRA PRODUKSI

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF JERUK SIAM DI SENTRA PRODUKSI ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF JERUK SIAM DI SENTRA PRODUKSI ANALYSIS OF CITRUS COMPARATIF AND COMPETITIVE ADVANTAGE IN PRODUCTION CENTRE Apri Laila Sayekti* dan Lizia Zamzami** Puslitbang

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN KUPANG

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN KUPANG ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KELAPA DI KABUPATEN KUPANG Competitiveness Analysis of Coconut Commodities in Kupang District Krisna Setiawan 1, Slamet Hartono 2, Any Suryantini 2 1 Politeknik Pertanian

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2

KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 KEUNGGULAN KOMPARATIF USAHATANI JAGUNG MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI NTT Yusuf 1 dan Rachmat Hendayana 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Analisis Daya Saing Dalam sistem perekonomian dunia yang semakin terbuka, faktor-faktor yang mempengaruhi perdagangan dunia (ekspor dan impor)

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA

EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA EFISIENSI DAN DAYA SAING USAHATANI HORTIKULTURA Handewi P.S. Rachman, Supriyati, Saptana, Benny Rachman Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF USAHA AGRIBISNIS AYAM RAS PEDAGING DI KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR NOVI ITSNA HIDAYATI Dosen Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan ABSTRACT:

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU Habitat Volume XXIV, No. 2, Bulan Agustus 2013 ISSN: 0853-5167 KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI INPUT TERHADAP PENGEMBANGAN KOMODITAS KENTANG DI KOTA BATU COMPARATIVE ADVANTAGE

Lebih terperinci

ANALYSIS ON COMPETITIVENESS OF ARABICA COFFEE IN NORTH TAPANULI (Case Study: Bahal Batu III Village, Siborong-borong Subdistrict)

ANALYSIS ON COMPETITIVENESS OF ARABICA COFFEE IN NORTH TAPANULI (Case Study: Bahal Batu III Village, Siborong-borong Subdistrict) ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS KOPI ARABIKA DI KABUPATEN TAPANULI UTARA ( Studi Kasus : Desa Bahal Batu III, Kecamatan Siborong-Borong) ANALYSIS ON COMPETITIVENESS OF ARABICA COFFEE IN NORTH TAPANULI (Case

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KEDELAI DI JAWA TIMUR

ANALISIS DAYA SAING KEDELAI DI JAWA TIMUR ANALISIS DAYA SAING KEDELAI DI JAWA TIMUR MUHAMMAD FIRDAUS *) *) Staf Pengajar pada STIE Mandala Jember Alamat. Jl Sumatera Jember 68121 ABSTRACT The objective of the study were (1) to know the trend of

Lebih terperinci

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI

EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI EFISIENSI DAN DAYA SAING SISTEM USAHATANI PADI Beny Rachman, Pantjar Simatupang, dan Tahlim Sudaryanto Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani No. 70 Bogor 16161 ABSTRACT

Lebih terperinci

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya)

Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Terhadap Beras Organik Ekspor (Suatu Kasus di Gapoktan Simpatik Kabupaten Tasikmalaya) Tirsa Neyatri Bandrang, Ronnie S. Natawidjaja, Maman Karmana Program Magister

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING MANGGIS INDONESIA DI PASAR DUNIA (STUDI KASUS DI SUMATERA BARAT)

ANALISIS DAYA SAING MANGGIS INDONESIA DI PASAR DUNIA (STUDI KASUS DI SUMATERA BARAT) ANALISIS DAYA SAING MANGGIS INDONESIA DI PASAR DUNIA (STUDI KASUS DI SUMATERA BARAT) Reni Kustiari, Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jl. A. Yani 70. Bogor. 16161 Email: renikustiari@yahoo.com

Lebih terperinci

(The analysis of profitability, comparative advantage, competitive advantage and import policy impact on beef cattle fattening in west java)

(The analysis of profitability, comparative advantage, competitive advantage and import policy impact on beef cattle fattening in west java) Analisis Tingkat Keuntungan, Keunggulan Kompetitif, Keunggulan Komparatif, dan Dampak Kebijakan Impor Pada Usaha Peternakan Sapi Potong di Provinsi Jawa Barat (The analysis of profitability, comparative

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman

TINJAUAN PUSTAKA. Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman 24 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Tebu 2.1.1 Budidaya Tebu Budidaya tebu adalah proses pengelolaan lingkungan tumbuh tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimum dan dicapai hasil yang diharapkan.

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. 4.1 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG

DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG DAYA SAING USAHATANI LADA DI LAMPUNG Abdul Muis Hasibuan dan Bedy Sudjarmoko Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kelayakan dan daya

Lebih terperinci

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang

Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II. binatang 131 Lampiran 1. Syarat Mutu Lada Putih Mutu I dan Mutu II No Jenis Uji Satuan 1 Cemaran Binatang 2 Warna 3 Kadar Benda Asing (b/b) 4 Kadar Biji Enteng (b/b) 5 Kadar Cemaran Kapang 6 Kadar Warna Kehitam-hitaman

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAN EFEK DIVERGENSI USAHA PERIKANAN JARING CUMI DI KECAMATAN JUWANA

ANALISIS DAYA SAING DAN EFEK DIVERGENSI USAHA PERIKANAN JARING CUMI DI KECAMATAN JUWANA ANALISIS DAYA SAING DAN EFEK DIVERGENSI USAHA PERIKANAN JARING CUMI DI KECAMATAN JUWANA Herna Octivia Damayanti 1), Indah Susilowati 2), Herry Boesono 3) 1,2,3 Magister Manajemen Sumberdaya Pantai, Universitas

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Komoditas Unggulan Agribisnis Komoditas unggulan adalah komoditas andalan yang paling menguntungkan untuk diusahakan atau dikembangkan pada suatu daerah (Depkimpraswil, 2003).

Lebih terperinci

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013 DAYA SAINGJAGUNG DI KECAMATAN SEKAMPUNG UDIK KABUPATEN LAMPUNG TIMUR (Competitiveness of Corn in Sekampung Udik District of East Lampung Regency) Cahya Indah Franiawati, Wan Abbas Zakaria, Umi Kalsum Jurusan

Lebih terperinci

DAYA SAING USAHA BUDI DAYA IKAN PATIN DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU ABSTRACT ABSTRAK

DAYA SAING USAHA BUDI DAYA IKAN PATIN DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU ABSTRACT ABSTRAK DAYA SAING USAHA BUDI DAYA IKAN PATIN DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU Silvia Hayandani *)1, Muhammad Firdaus **), dan Wiwik Rindayati **) *) Dinas Pendidikan Provinsi Riau Jl. Cut Nyak Dien No.

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN

ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN ANALISIS KEBIJAKAN KOPI ROBUSTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN DAYA SAING DAN PENGUATAN REVITALISASI PERKEBUNAN Anik Suwandari dan Soetriono Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

Program Studi Magister Sains Agribisnis, Sekolah Pascasarjana IPB 2

Program Studi Magister Sains Agribisnis, Sekolah Pascasarjana IPB 2 DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP USAHA TANI BERAS ORGANIK DI PROVINSI JAWA BARAT The Impacts of Government Policy towards Organic Rice Farming in West Java Ulpah Jakiyah 1, Lukman M Baga 2, Netti Tinaprilla

Lebih terperinci

DAYA SAING DAN SALURAN PEMASARAN RUMPUT LAUT: KASUS KABUPATEN JENEPONTO, SULAWESI SELATAN

DAYA SAING DAN SALURAN PEMASARAN RUMPUT LAUT: KASUS KABUPATEN JENEPONTO, SULAWESI SELATAN DAYA SAING DAN SALURAN PEMASARAN RUMPUT LAUT: KASUS KABUPATEN JENEPONTO, SULAWESI SELATAN Seaweed Competitiveness and Marketing Channels: The Case of Jeneponto Regency, South Sulawesi Erizal Mahatama,

Lebih terperinci

PERMINTAAN EKSPOR DAN DAYA SAING PANILI DI PROVINSI SULAWESI UTARA

PERMINTAAN EKSPOR DAN DAYA SAING PANILI DI PROVINSI SULAWESI UTARA PERMINTAAN EKSPOR DAN DAYA SAING PANILI DI PROVINSI SULAWESI UTARA A. Husni Malian, Benny Rachman dan Adimesra Djulin Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Jl. A. Yani 70 Bogor ABSTRACT

Lebih terperinci

JIIA, VOLUME 1 No. 3, JULI 2013

JIIA, VOLUME 1 No. 3, JULI 2013 ANALISIS DAYA SAING LADA HITAM DI KECAMATAN ABUNG TINGGI KABUPATEN LAMPUNG UTARA (Competitiveness Analysis of Black Pepper in Abung Tinggi Subdistrict of North Lampung Regency) Rossika Meliyana, Wan Abbas

Lebih terperinci

USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI

USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P P U K -S Y A R I A H ) U S A H A K O N V E K S I P A K A I A N J A D I P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H (

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING KOMODITI TEMBAKAU RAKYAT DI KLATEN JAWA TENGAH PENDAHULUAN

ANALISIS DAYASAING KOMODITI TEMBAKAU RAKYAT DI KLATEN JAWA TENGAH PENDAHULUAN ANALISIS DAYASAING KOMODITI TEMBAKAU RAKYAT DI KLATEN JAWA TENGAH SAPTANA, SUPENA FRIYATNO DAN TRI BASTUTI P. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor ABSTRACT Historically tobacco

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor-Faktor Penting yang Memengaruhi Dayasaing Suatu Komoditas Dayasaing sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu industri karena dayasaing merupakan kemampuan suatu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pengekspor jagung (net exporter), namun situasi ini secara drastis berubah setelah

I. PENDAHULUAN. pengekspor jagung (net exporter), namun situasi ini secara drastis berubah setelah I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sampai kurun waktu 1976 Indonesia masih termasuk salah satu negara pengekspor jagung (net exporter), namun situasi ini secara drastis berubah setelah kurun waktu tersebut,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya alam yang beraneka ragam dan memiliki wilayah yang cukup luas. Hal ini yang membuat Indonesia menjadi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan

I. PENDAHULUAN. Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Potensi perikanan laut meliputi perikanan tangkap, budidaya laut dan industri bioteknologi kelautan merupakan asset yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia,

Lebih terperinci

ANALISIS FINANSIAL UNIT PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DI DESA SUNGAI LUMPUR KABUPATEN OKI PROVINSI SUMATERA SELATAN

ANALISIS FINANSIAL UNIT PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DI DESA SUNGAI LUMPUR KABUPATEN OKI PROVINSI SUMATERA SELATAN MASPARI JOURNAL Januari 2015, 7(1): 29-34 ANALISIS FINANSIAL UNIT PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DI DESA SUNGAI LUMPUR KABUPATEN OKI PROVINSI SUMATERA SELATAN FINANSIAL ANALYSIS OF DRIFT GILL NET IN

Lebih terperinci

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 2 Desember 2008)

Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 2 Desember 2008) Jurnal Agribisnis dan Ekonomi Pertanian (Volume 2. No 2 Desember 2008) 39 ANALISIS DAYA SAING DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH PADA USAHATANI CABE MERAH (KASUS KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG DAN KECAMATAN

Lebih terperinci

ARTIKEL KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF KOMODITI JAGUNG PIPIL DI MINAHASA SELATAN WINDA TRISNAWATI KARAENG. Dosen Pembimbing :

ARTIKEL KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF KOMODITI JAGUNG PIPIL DI MINAHASA SELATAN WINDA TRISNAWATI KARAENG. Dosen Pembimbing : ARTIKEL KEUNGGULAN KOMPETITIF DAN KOMPARATIF KOMODITI JAGUNG PIPIL DI MINAHASA SELATAN WINDA TRISNAWATI KARAENG 100314059 Dosen Pembimbing : 1. Dr. Ir. Paulus A. Pangemanan, MS 2. Ir. Celsius Talumingan,

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori Perdagangan Internasional Teori perdagangan internasional merupakan teori yang digunakan untuk mengkaji dasar-dasar terjadinya perdagangan

Lebih terperinci

BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN

BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN A. KONDISI UMUM Sektor pertanian telah berperan dalam perekonomian nasional melalui sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penerimaan

Lebih terperinci

POLA KEMITRAAN PEMASARAN LOBSTER DI KOTA BENGKULU (PARTNERSHIP PATTERN IN MARKETING OF LOBSTER IN BENGKULU CITY)

POLA KEMITRAAN PEMASARAN LOBSTER DI KOTA BENGKULU (PARTNERSHIP PATTERN IN MARKETING OF LOBSTER IN BENGKULU CITY) POLA KEMITRAAN PEMASARAN LOBSTER DI KOTA BENGKULU (PARTNERSHIP PATTERN IN MARKETING OF LOBSTER IN BENGKULU CITY) M. Mustopa Romdhon Ketut Sukiyono Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI

VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI VII. DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN FAKTOR LAINNYA TERHADAP KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF PADA USAHATANI JAMBU BIJI Analisis sensitivitas perlu dilakukan karena analisis dalam metode

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Saat ini perekonomian domestik tidak bisa berdiri sendiri melainkan dipengaruhi juga oleh kondisi ekonomi global. Pengalaman telah menunjukkan bahwa pada triwulan III tahun

Lebih terperinci

PERANAN SEKTOR PERIKANAN PADA PEREKONOMIAN JAWA TENGAH : ANALISIS INPUT OUTPUT

PERANAN SEKTOR PERIKANAN PADA PEREKONOMIAN JAWA TENGAH : ANALISIS INPUT OUTPUT PERANAN SEKTOR PERIKANAN PADA PEREKONOMIAN JAWA TENGAH : ANALISIS INPUT OUTPUT Oleh : Abdul Kohar Mudzakir Dosen Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Jurusan Perikanan, FPIK, Universitas Diponegoro,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dapat dihasilkan dari berbagai cara yang berbeda. Metode produksi yang digunakan dalam proses

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dapat dihasilkan dari berbagai cara yang berbeda. Metode produksi yang digunakan dalam proses BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Produksi Produksi meliputi semua kegiatan untuk menciptakan atau menambah nilai atau guna suatu barang atau jasa. Proses produksi menunjukkan metode atau cara produksi.

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki wilayah perairan yang luas, yaitu sekitar 3,1 juta km 2 wilayah perairan territorial dan 2,7 juta km 2 wilayah perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE)

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. Rukmana (1995) menyatakan bahwa manggis merupakan tanaman buah

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. Rukmana (1995) menyatakan bahwa manggis merupakan tanaman buah 12 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN A. Tinjauan Pustaka 1. Tinjauan Agronomis Manggis a. Klasifikasi Tanaman Manggis Rukmana (1995) menyatakan bahwa manggis merupakan tanaman buah berupa pohon

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Permintaan dan penawaran pada dasarnya merupakan penyebab terjadinya

BAB I PENDAHULUAN. Permintaan dan penawaran pada dasarnya merupakan penyebab terjadinya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Permintaan dan penawaran pada dasarnya merupakan penyebab terjadinya perdagangan antar negara. Sobri (2001) menyatakan bahwa perdagangan internasional adalah

Lebih terperinci

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pelaksanaan Strategi

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pelaksanaan Strategi 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pelaksanaan Strategi Strategi adalah istilah yang sering kita dengar untuk berbagai konteks pembicaraan, yang sering diartikan sebagai cara untuk mencapai keinginan tertentu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Secara fisik Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Secara fisik Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya kelautan merupakan salah satu aset yang penting dan memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia. Secara fisik Indonesia

Lebih terperinci

IX. KESIMPULAN DAN SARAN

IX. KESIMPULAN DAN SARAN IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa: 1. Penawaran output jagung baik di Jawa Timur maupun di Jawa Barat bersifat elastis

Lebih terperinci

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. menembus dengan volume 67 ton biji gelondong kering (Direktorat Jenderal BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan ekspor jambu mete di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem selama Tahun 2009 mencapai volume sebanyak 57 ton biji gelondong kering dan diharapkan pada Tahun 2010

Lebih terperinci

DAYA SAING KOMODITAS PROMOSI EKSPOR MANGGIS, SISTEM PEMASARAN DAN KEMANTAPANNYA DI DALAM NEGERI (Studi Kasus di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat)

DAYA SAING KOMODITAS PROMOSI EKSPOR MANGGIS, SISTEM PEMASARAN DAN KEMANTAPANNYA DI DALAM NEGERI (Studi Kasus di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat) DAYA SAING KOMODITAS PROMOSI EKSPOR MANGGIS, SISTEM PEMASARAN DAN KEMANTAPANNYA DI DALAM NEGERI (Studi Kasus di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat) Chairul Muslim dan Tjetjep Nurasa Pusat Sosial Ekonomi

Lebih terperinci

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013

JIIA, VOLUME 1, No. 4, OKTOBER 2013 DAYA SAING LADA HITAM DI KECAMATAN ABUNG TINGGI KABUPATEN LAMPUNG UTARA (Competitiveness Black Pepper in Abung Tinggi Subdistrict of North Lampung Regency) Rossika Meliyana, Wan Abbas Zakaria, Indah Nurmayasari

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KOMODITI BIJI PALA DI MINAHASA UTARA. Lidya Mega Gerungan 1

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KOMODITI BIJI PALA DI MINAHASA UTARA. Lidya Mega Gerungan 1 ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KOMODITI BIJI PALA DI MINAHASA UTARA Lidya Mega Gerungan 1 Dr. Caroline B.D Pakasi, SP, Msi., Ir. Joachim N.K Dumais, ME., Lorraine W. Th. Sondak, SP, MP.

Lebih terperinci

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI INDONESIA. Competitiveness Analysis of Corn Farming in Indonesia

ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI INDONESIA. Competitiveness Analysis of Corn Farming in Indonesia ANALISIS DAYASAING USAHATANI JAGUNG DI INDONESIA Competitiveness Analysis of Corn Farming in Indonesia Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jl. A. Yani No. 70, Bogor 16161 E-mail: achsuryana@gmail.com

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan pustaka Tingkat kesejahteraan petani merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan sektor pertanian.

Lebih terperinci

VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN. perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah alokasi

VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN. perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah alokasi VIII. PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN TANGKAP YANG BERKELANJUTAN Hasil analisis LGP sebagai solusi permasalahan pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap di perairan Kabupaten Morowali memperlihatkan jumlah

Lebih terperinci

ANALISIS KONTRIBUSI SEKTOR PERIKANAN PADA STRUKTUR PEREKONOMIAN JAWA TENGAH

ANALISIS KONTRIBUSI SEKTOR PERIKANAN PADA STRUKTUR PEREKONOMIAN JAWA TENGAH ANALISIS KONTRIBUSI SEKTOR PERIKANAN PADA STRUKTUR PEREKONOMIAN JAWA TENGAH Analyzes of Fishery Sector Contribution on the Central Java Economic Structure Adhyaksa Dault 1, Abdul Kohar 2 dan Agus Suherman

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Selain berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, sektor

Lebih terperinci

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KOMODITAS KENTANG DAN KUBIS DI WONOSOBO JAWA TENGAH

ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KOMODITAS KENTANG DAN KUBIS DI WONOSOBO JAWA TENGAH ANALISIS KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KOMODITAS KENTANG DAN KUBIS DI WONOSOBO JAWA TENGAH SAPTANA, SUMARYANTO DAN SUPENA FRIYATNO 1) Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian,

Lebih terperinci

DAYA SAING TEMBAKAU VIRGINIA LOMBOK DI PASAR EKSPOR COMPETITIVENESS OF LOMBOK VIRGINIA TOBACCO IN EXPORT MARKET

DAYA SAING TEMBAKAU VIRGINIA LOMBOK DI PASAR EKSPOR COMPETITIVENESS OF LOMBOK VIRGINIA TOBACCO IN EXPORT MARKET 129 DAYA SAING TEMBAKAU VIRGINIA LOMBOK DI PASAR EKSPOR COMPETITIVENESS OF LOMBOK VIRGINIA TOBACCO IN EXPORT MARKET Hirwan Hamidi Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian UNRAM ABSTRAK Dalam era

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. Indonesia. Bawang merah bagi Kabupaten Brebes merupakan trademark

BAB 1. PENDAHULUAN. Indonesia. Bawang merah bagi Kabupaten Brebes merupakan trademark BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kapupaten Brebes merupakan sentra produksi bawang merah terbesar di Indonesia. Bawang merah bagi Kabupaten Brebes merupakan trademark mengingat posisinya sebagai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. masyarakat adil dan makmur. Dengan demikian segala upaya pelaksanaan

I. PENDAHULUAN. masyarakat adil dan makmur. Dengan demikian segala upaya pelaksanaan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Pada hakekatnya pembangunan nasional ditujukan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur. Dengan demikian segala upaya pelaksanaan kegiatan-kegiatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Tahun (Milyar rupiah)

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Tahun (Milyar rupiah) 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian dari mayoritas penduduknya. Sektor pertanian adalah salah satu

Lebih terperinci

KEBIJAKAN HARGA. Kebijakan Yang Mempengaruhi Insentif Bagi Produsen : Kebijakan Harga_2. Julian Adam Ridjal, SP., MP.

KEBIJAKAN HARGA. Kebijakan Yang Mempengaruhi Insentif Bagi Produsen : Kebijakan Harga_2. Julian Adam Ridjal, SP., MP. KEBIJAKAN HARGA Kebijakan Yang Mempengaruhi Insentif Bagi Produsen : Kebijakan Harga_2 Julian Adam Ridjal, SP., MP. Disampaikan pada Kuliah Kebijakan dan Peraturan Bidang Pertanian EMPAT KOMPONEN KERANGKA

Lebih terperinci

Lampiran 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Ubi Jalar Seluruh Provinsi Tahun 2009

Lampiran 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Ubi Jalar Seluruh Provinsi Tahun 2009 Lampiran 1. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Ubi Jalar Seluruh Provinsi Tahun 2009 Provinsi Luas Panen Produksi(Ton) Produktivitas(Ku/Ha) (Ha) Indonesia 183 874 2 057 913 111,92 Aceh 1 519

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS UDANG VANNAMEI DI DESA GLAGAH KABUPATEN LAMONGAN WACHIDATUS SA'ADAH

ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS UDANG VANNAMEI DI DESA GLAGAH KABUPATEN LAMONGAN WACHIDATUS SA'ADAH ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS UDANG VANNAMEI DI DESA GLAGAH KABUPATEN LAMONGAN WACHIDATUS SA'ADAH ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing usahatani budidaya udang vannamei intensifdan

Lebih terperinci

ANALISIS PROGRAM PENGEMBANGAN AGROBISNIS HOLTIKULTURA DENGAN METODE POLICY ANALYSIS MATRIX

ANALISIS PROGRAM PENGEMBANGAN AGROBISNIS HOLTIKULTURA DENGAN METODE POLICY ANALYSIS MATRIX ANALISIS PROGRAM PENGEMBANGAN AGROBISNIS HOLTIKULTURA DENGAN METODE POLICY ANALYSIS MATRIX Budiman Notoatmojo 1 ; Haryadi Sarjono 2 ABSTRACT In general, article present an evaluation to find out how far

Lebih terperinci

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MANDAILING NATAL PROVINSI SUMATERA UTARA

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MANDAILING NATAL PROVINSI SUMATERA UTARA ANALISIS SEKTOR UNGGULAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MANDAILING NATAL PROVINSI SUMATERA UTARA Andi Tabrani Pusat Pengkajian Kebijakan Peningkatan Daya Saing, BPPT, Jakarta Abstract Identification process for

Lebih terperinci

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Sektor pertanian sampai sekarang masih tetap memegang peran penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Peran

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/2008

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/2008 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/2008 TENTANG PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING INSANG (GILL NET) DI ZONA EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA MENTERI KELAUTAN

Lebih terperinci

ANALISIS DAMPAK KEMITRAAN PERIKANAN TANGKAP TERHADAP KONDISI EKONOMI WILAYAH YOISYE LOPULALAN*)

ANALISIS DAMPAK KEMITRAAN PERIKANAN TANGKAP TERHADAP KONDISI EKONOMI WILAYAH YOISYE LOPULALAN*) ANALISIS DAMPAK KEMITRAAN PERIKANAN TANGKAP TERHADAP KONDISI EKONOMI WILAYAH YOISYE LOPULALAN*) *) Staf pengajar Univ.Pattimura Abstract : The usage of fisheries resources has not been optimum since it

Lebih terperinci