HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KEPERGURUAN TINGGI DI SMA XAVERIUS II KOTA JAMBI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KEPERGURUAN TINGGI DI SMA XAVERIUS II KOTA JAMBI"

Transkripsi

1 1 HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KEPERGURUAN TINGGI DI SMA XAVERIUS II KOTA JAMBI Shanmada Smanjuntak 1), Dr.Hj. Farda Kohar, MP ), St Syuhada, S.Pd. ME 3) 1) Mahasswa Prod Penddkan Ekonom Jurusan PIPS FKIP Unverstas Jamb Emal: ) Pembmbng Utama, Dosen Penddkan Ekonom Jurusan PIPS FKIP Unverstas Jamb 3) Pembmbng Pendampng, Dosen Penddkan Ekonom Jurusan PIPS FKIP Unverstas Jamb. Kata Kunc: Tngkat Penddkan Orang tua, Mnat orang tua. ABSTRAK Penyebab mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg yatu tngkat penddkan orang tua. dmana masng-masng- masng pandangan orang tua tentang penddkan anaknya akan cenderung berbeda beda. Tujuan dlakukan peneltan n adalah untuk mengetahu hubungan Tngkat Penddkan Orang Tua dengan Mnat orang tua menyekolahkan anaknya ke Perguruan Tngg d SMA Xaverus II Kota Jamb. Jens peneltan n adalah Deskrptf kuanttatf. Subjek dalam peneltan n adalah orang tua sswa kelas XII SMA Xaverus II Kota Jamb sebanyak 30 orang. Data dperoleh dengan cara menyebarkan angket dan danalss statstk dengan menggunakan rumus product moment. Hasl peneltan n menunjukkan bahwa: terdapat hubungan yang postf Tngkat Penddkan Orang Tua dengan Mnat Orang Tua Menyekolahkan Anaknya ke Perguruan Tngg Pada Orang Tua SMA Xaverus II Kota Jamb 01/013 Dar hasl analss perhtungan hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg dapat dlhat bahwa pada sgnfkan α = 0,05 dengan N = 30 dan r tabel = 0,361. Jka r htung = 0,606 lebh besar dar r tabel = 0,361 maka terdapat sgnfkan. Jad dapat dsmpulkan hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg terdapat hubungan sgnfkan karna r htung lebh besar dar r tabel atau atau 0,606 0,361.Hasl n kemudan dkonsultaskan kedalam tabel nterpretas koefsen korelas. Berdasarkan tabel nterpretas koefsen korelas, maka tngkat penddkan orang tua (X) dengan mnat orang tua keperguruan tngg memlk hubungan yang kuat. Berdasarkan hasl peneltan n dharapkan akan menjad bahan nforms dan masukan bag orang tua agar dapat menngkatkan mnat terhadap penddkan putra/putr untuk menyekolahkan sampa keperguruan tngg serta memperhatkan penddkan anaknya.

2 PENDAHULUAN Dalam Undang-Undang No. 0 tahun 003 dsebutkan bahwa: Penddkan nasonal berfungs untuk mengembangkan kemampuan serta menngkatkan mutu penddkan dan martabat bangsa Indonesa dalam mencerdaskan kehdupan bangsa dan mengembangkan manusa Indonesa seutuhnya. Menurut Hasbullah (009:) penddkan adalah member kta pembekalan yang tdak ada pada masa kanak-kanak akan tetap kta membutuhkannya pada waktu dewasa. Menurut Ihsan (011:17) dtnjau dar seg kelembagaan maka penyelenggaraan penddkan d Indonesa melalu dua jalur, yatu jalur penddkan sekolah dan jalur penddkan luar sekolah. Jalur penddkan sekolah merupakan penddkan dsekolah melalu kegatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesnambungan, sedang kan jalur penddkan luar sekolah merupakan penddkan yang dselenggarakan dluar sekolah melalu kegatan belajar mengajar tdak harus berkesnambungan. tngkat penddkan menurut UU No. 0 tahun 003 tentang sstem Penddkan Nasonal dsebut juga bahwa jenjang penddkan yang termasuk jalur penddkan sekolah terdr atas penddkan dasar (SD-SLTP), Penddkan menengah (SMU dan SMK), Penddkan Tngg (Unverstas, Insttut, Akademk dan Sekolah Tngg), Rulam (014:7) bahwa penddkan adalah tndakan khas manusa, penddkan berlansung dar oleh dan untuk manusa. Slameto, (010:180) menyatakan mnat adalah satu rasa lebh suka dan rasa keterkatan pada suatu hal atau aktvtas tanpa ada yang menyuruh, mnat pada dasarnya adalah penermaan suatu hubungan antara dr sendr dan sesuatu d luar dr, semakn kuat atau dekat hubungan tersebut, semakn besar mnat. Menurut abdllah (dalam ahart 013:15) mnat adalah sesuatu perangkat mental yang melput perasaan, harapan pendran, prasangka yang cenderung mengarahkan ndvdu kepada suatu plhan tertentu. Menurut ahmad (003:41) orang tua menjad penddk utama dan pertama bag anak-anaknya, orang tua mengasuh dan menddk anaknya dengan penuh tanggung jawab. Menurut Ihsan (011:66) kedua orang tua harus serng berjumpa dan berdalog dengan anakanaknya. Pergaulan dalam keluarga harus terjaln secara mesra dan harmons. Menurut Hdayanto (1988:45) orang tua dan juga keluarga adalah penddk kodrat yang berlansung selama hdup yang ddasarkan cnta kash. Ia merupakan penddk yang pertama dan utama dalam memberkan pengaruh kepada keprbadan anak. Orang tua adalah orang dewasa yang telah mampu berseda menerma pertanggungan jawab menddk keluarganya. Perguruan tngg juga dapat dartkan dengan suatu lembaga penddkan yang menyelenggarakan penddkan dan berbaga macam keahlan, msalnya: bdang penddkan, ekonom, hukum, pskolog, teknk, kesehatan dan lan-lan yang sesua dengan Undangundang No. 0 Tahun 003 menetapkan perguruan tngg berupa akademk, polteknk, sekolah tngg, nsttut atau unverstas yang dtetapkan oleh pemerntah. menjejangkan karr d perguruan tngg, akan mematangkan sswa bak ddalam memperoleh lmu, berperlaku dan cara berfkr. adapun tujuan dar perguruan tngg yatu: mempersapkan peserta ddk yang berlmu, kreatf, berdspln derdkas tngg dan dem kemajuan bangsa dan Negara dengan berbekal man dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengembangkan wadah kelmuan bag tenaga pengajar dan mahasswa-mahasswa sehngga dapat menngkatkan dan mengembangkan prestasnya.

3 Penyebab mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg yatu tngkat penddkan orang tua, dmana Masng-masng- masng pandangan orang tua tentang penddkan anaknya akan cenderung berbeda - beda, ada orang tua yang cenderung menganggap lulus sekolah menengah sudah cukup karena orang tua beranggapan bahwa ada yang tamat keperguruan tngg menganggur. jad orang tua tdak bermnat untuk menyekolahkan anaknya keperguruan tngg, tetap ada juga orang tua yang menganggap penddkan anak harus sampa perguruan tngg karena tamat sampa dsekolah menengah saja susah mencar pekerjaan jad karena tu orang tua bermnat menyekolahkan anaknya sampa keperguruan tngg. Adapun tujuan masalah peneltan n adalah untuk mengetahu Hubungan Tngkat Penddkan Orang Tua Dengan Mnat Orang Tua Menyekolahkan Anaknya Keperguruan Tngg D SMA Xaverus II Kota Jamb. KAJIAN PUSTAKA Slameto mendefenskan (010:180) mnat adalah suatu rasa lebh suka dan rasa keterkatan pada suatu hal atau aktvtas, tanpa ada yang menyuruh, mnat pada dasarnya adalah penermaan akan suatu hubungan antara dr sendr dengan sesuatu d luar dr. Mnat tdak dbawa sejak lahr, melankan dperoleh kemudan. Menurut Gntng (dalam Varny 009:3) mnat adalah kecenderungan hat akan sesuatu kengnan, kesukaan terhadap sesuatu, semakn besar mnat seseorang terhadap sesuatu, perhatannya lebh mudah tercurah pada hal tersebut. Schunk, (1996) membag defns mnat secara umum menjad tga, yatu: mnat prbad, mnat stuas dan mnat dalam cr pskolog. Dantaranya adalah sebaga berkut: Mnat prbad, dartkan sebaga karakterstk keprbadan seseorang yang relatf stabl, yang cendrung menetap pada dr seseorang. Mnat prbad basanya dapat langsung membawa seseorang pada beberapa aktftas atau topk yang spesfk. Mnat prbad dapat dlhat ketka seseorang menjadkan sebuah aktvtas atau topk sebaga plhan untuk hal yang past, secara umum menyuka topk atau aktvtas tersebut, menmbulkan kesenangan prbad serta topk atau aktvtas yang djalan memlk art pentng bag seseorang tersebut,. Mnat stuas merupakan mnat yang sebagan besar dbangktkan oleh konds lngkungan, 3. Mnat dalam cr pskolog merupakan nteraks dar mnat prbad seseorang dengan cr-cr mnat lngkungan. Rennnger menjelaskan bahwa mnat pada defns n tdak hanya pada karena seseorang lebh menyuka sebuah aktvtas atau topk, tetap karena aktvtas atau topk tersebut memlk nla yang tngg dan mengetahu lebh banyak mengena topk atau aktvtas tersebut.( (Psklog Penddkan dakses tanggal 15 jul 014). Menurut Hlgard (dalam slameto 010:57) mendefenskan mnat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatkan dan mengenang beberapa kegatan. Kegatan yang dmnat seseorang, dperhatkan terus-menerus yang dserta dengan rasa senang, mnat slalu dkut dengan perasaan senang dan dar stu dperoleh kepuasan. Iskandar (dalam Hermansyah 013:1) mendefnskan mnat adalah usaha dan kemauan untuk mempelajar dan mencar sesuatu, selanjutnya mnat sebaga sesuatu konds yang terjad apabla seseorang melhat cr-cr sementara atau sementara stuas yang dhubungkan dengan kengnan-kengnan sendr. Tngkat atau jenjang penddkan adalah tahap penddkan yang berkelanjutan yang dtetapkan berdasarkan tngkat perkembangan peserta ddk, tngkat kerumtan bahan pengajaran dan cara menyajkan bahan pengajaran. Jenjang penddkan sekolah terdr dar penddkan dasar, menengah dan penddkan tngg ( Ihsan, 011: ). 3

4 Ddalam Undang-Undang No.0 tahun 003 tentang sstem Penddkan Nasonal dsebutkan bahwa jenjang penddkan adalah tahapan penddkan yang dtetapkan berdasarkan tngkat perkembangan peserta ddk, tujuan yang akan dcapa, dan kemampuan yang dkembangkan. dan ddalam Undang-Undang No. 0 tahun 003 tentang sstem Penddkan Nasonal dsebut juga bahwa jenjang penddkan yang termasuk jalur penddkan sekolah terdr atas penddkan dasar (SD-SLTP), Penddkan menengah (SMU dan SMK), Penddkan Tngg (Unverstas, Insttut, Akademk dan Sekolah Tngg). 1. Penddkan Formal Menurut Rulam (014:9) Penddkan formal dkenal sepert sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtdayah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Madrasah Tsanawyah (M.Ts.), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Alyah (MA). Menurut Undang- Undang RI No 0 Tahun 003 dsebutkan bahwa penddkan formal adalah jalur penddkan yang berstruktur dan berjenjang yang terdr atas penddkan dasar, penddkan menengah dan penddkan tngg. Dengan demkan yang termasuk dalam jalur penddkan formal adalah sebaga berkut: A. Penddkan dasar Dalam UU No. 0 Tahun 003 Pasal 17 ayat () tentang SISDIKNAS Mengatakan bahwa Penddkan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtdayah (MI) atau bentuk lannya yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan Madrasa Tsyanawah (MTS), atau bentuk lan yang sederajat. Penddkan dasar untuk tngkat SD dan MI umumnya dtempuh selama 6 tahun, dan untuk tngkat SMP dan MTs sederajat umumnya dtempuh dengan masa penddkan 3 tahun, sehngga untuk menamatkan penddkan dasar seseorang harus menempuh masa penddkan dsekolah selama 9 tahun. Menurut Bastan (006:5) sekolah dasar adalah tahapan penddkan awal yang basanya dmula oleh anak yang berumur 6 atau 7 tahun. Sekolah dasar dtempuh dalam masa 6 tahun yatu dar kelas 1 sampa kelas 6. Pada akhrnya kelas 6, murd sekolah dasar dwajbkan mengkut ujan nasonal untuk menentukan kelulusan dar sekolah. Berdasarkan uraan datas jelaslah bahwa seharusnya mengenyam penddkan setdaknya sampa penddkan dasar agar mereka tahu apa yang dbutuhkan seorang sehngga mereka merasa bertanggung jawab atas keberhaslan dan kegagalan dalam belajar. B. Penddkan Menengah Penddkan menengah merupakan kelanjutan dar penddkan dasar. penddkan menengah terdr atas penddkan menengah umum dan menengah kejuruan yang lama penddkannya 3 tahun. Sedangkan penddkan menengah kejuruan yang fungsnya untuk mempersapkan peserta ddk untuk memasuk duna atau lapangan kerja. peserta ddk dtuntut untuk dapat menghubungkan kemampuannya yang akan dmasuknya kelak dan masyarakat dmana a berada. Menurut Ihsan (011:3) Penddkan menengah adalah penddkan yang mempersapkan peserta ddk menjad anggota masyarakat yang memlk kemampuan mengadakan hubungan tmbal balk dengan lngkungan sosal budaya, dan alam sektar, serta dapat mengembangkan kemampuan lebh lanjut dalam duna kerja atau penddkan tngg, setelah menyelesakan tngkat penddkan dasar, seseorang dapat melanjutkan penddkannya ketngkat penddkan menengah yang merupakan kelanjutan dar penddkan dasar. Dalam Undang-Undang No. 0 Tahun 003 Pasal 18 Ayat () penddkan menengah terdr atas penddkan menengah umum dan menengah kejuruan dan ayat (3) penddkan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan Madrasah Alyah (MAK) atau bentuk lan sederajat. penddkan umum merupakan penddkan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang dperlukan oleh peserta ddk untuk melanjutkan penddkan ketngkat yang lebh tngg, sedangkan penddkan kejuruan yang mempersapkan peserta ddk untuk bekerja dalam bdang tertentu, lama penddkan yang dtempuh selama 3 tahun. Peserta ddk dtuntut untuk dapat 4

5 mengaplkaskan kemampuannya sesua dengan lngkungan sosal dan budaya serta duna kerja yang akan dmasuknya. C. Penddkan Tngg Undang-Undang No Tahun 003 Pasal 19 ayat 1 penddkan tngg merupakan jenjang penddkan setelah penddkan menengah yang mencakup program penddkan dploma, sarjana, megster, spesals dan doktor yang dselenggarakan oleh perguruan tngg. tngkat penddkan dperguruan tngg dapat dtempuh dalam masa penddkan yang beranekaragam sesua dengan bdang dan tngkatan yang mereka ambl. pada umumnya Dploma 1 (D1) dselesakan dalam satu tahun, Dploma II (D ) dselesakan dalam waktu dua tahun, Dploma III (D 3 ) Dselesakan dalam 3 tahun, sedangkan dploma 4 (D4) Dselesakan dalm waktu empat tahun dan strata satu ( S1) Dselesakan dalam masa stud tujuh tahun sampa empat belas semester (3.5-7 Tahun) Sesua dengan kemampuan peserta ddk. Tngkat penddkan dperguran tngg dlaksanakan secara terbuka dengan sstem kredt Semester (SKS) sehngga member kesempatan yang luas bag mereka yang memlk kemampuan tngg untuk dapat menyelesakan penddkannya lebh cepat. Menurut Ihsan (011:3), penddkan tngg dartkan sebaga penddkan yang mempersapkan peserta ddk untuk menjad anggota masyarakat yang memlk tngkat kemampuan tngg yang bersfat akademk dan atau profesonal sehngga dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau mencptakan lmu pengetahuan, teknolog dan sen dalam rangka pembangunan nasonal dan menngkatkan kesejahteraan manusa. Dalam peraturan pemerntah PP No 61 (dalam Bastan 006:7) penddkan tngg adalah penddkan djalur penddkan sekolah yang jenjangnya lebh tngg darpada penddkan menengah. Penddkan tngg terdr dar : 1. Perguruan tngg, yatu satuan penddkan yang menyelenggarakan penddkan tngg,. Penddkan akademk, yatu penddkan tngg yang terutama darahkan pada penguasaan lmu pengetahuan dan pengembangannya, 3. Penddkan profesonal, yatu penddkan tngg yang terutama darahkan pada kesapan penerapan keahlan tertentu. Penddkan formal adalah penddkan yang dtempuh seseorang dar lembaga penddkan yang telah d sah kan oleh menurut Undang-Undang atau peraturan yang berlaku mula dar penddkan dasar (SD dan SMP), penddkan menengah (SMA/SMK), sampa dengan penddkan tngg (Dploma dan Strata). Penddkan nonformal bsa terjad, bak ddalam maupun d luar lembaga-lembaga penddkan dan melayan orang-orang semua usa. penddkan yang dselenggarakan dengan sengaja, tertb, dan berencana, dluar kegatan persekolahan dan pada umumnya tdak dbag atas jenjang. Jad ndkator-ndkator tngkat penddkan formal orang tua Menurut UUD No. 0 Tahun 003 adalah SD, SMP, SMA, dan penddkan tngg atau perguruan tngg( D1,D,D3, S1 S, dan S3). Menurut Ihsan (011:130-13) Penddkan Tngg merupakan lanjutan penddkan menengah yang dselenggarakan untuk menyapkan peserta untuk menjad anggota masyarakat yang memlk kemampuan akademk atau profesonal yang dapat menerapkan, mengembangkan dan mencptakan pengetahuan, teknolog dan kesenan. satuan penddkan yang menyelenggarakan penddkan tngg dsebut perguruan tngg yang dapat terbentuk akademk, polteknk, sekolah tngg, nsttut dan unverstas. Akademk merupakan perguruan tngg yang menyelenggarakan penddkan terapan dalam satu cabang atau sebagan cabang pengetahuan, teknolog, atau kesenan tertentu. Polteknk merupakan perguruan tngg yang menyelenggarakan penddkan terapan dalam sejumlah pengetahuan khusus, sekolah tngg merupakan perguruan tngg yang menyelenggarakan penddkan akademk atau profesonal dalam suatu dspln lmu tertentu, nsttut merupakan perguruan tngg yang terdr atas sejumlah fakultas yang 5

6 menyelenggarakan penddkan akademk atau profesonal dalam kelompok dspln lmu tertentu. Menurut Hdayanto (1988:7) Penddkan orang tua adalah kegatan penddkan yang dselenggarakan untuk membentuk keprbadan secara utuh. Menurut Uhbyat (003: 41) orang tua (ayah dan bu) menjad penddk utama dan pertama bag anak-anaknya. Orang tua sebaga penddk adalah kodrat. Menurut Hdayanto (1988:45) orang tua adalah tempat menggantungkan dr bag anak sewajarnya. oleh karena tu orang tua berkewajban memberkan penddkan bag anaknya. Menurut Soemanto (006:9) setap orang tua mengdam-damkan agar anak cucunya kelak dapat hdup bahaga. mereka menghendak suatu kehdupan yang lebh layak, lebh bak dan lebh maju dar kehdupan yang dalam oleh mereka para orangtua. Begtu besarnya harapan para orangtua mengena kehdupan anak-anak yang sejahtera dmasa depan, namun mereka kurang mengert bagamana mereka mempersapkan anak-anak tu agar memlk potens untuk mengatas permasalahan hdup anak-anak dmasa mendatang. bahkan banyak dantara para orangtua yang dengan berbaga macam alasan ngn melepaskan dr dar tanggung jawab mempersapkan mental dan potens anak-anak mereka, mereka tdak membekal anak-anak dengan keprbadan yang kuat. Menurut UU nomor 0 Tahun 003 Tngkat penddkan orang tua adalah jenjang penddkan formal yang berkelanjutan dan pernah dtempuh oleh orang tua sswa. Penddkan formal adalah penddkan yang melalu jalur lembaga sekolah dar TK, SD, SMP, SMA sampa Perguruan Tngg, sedangkan penddkan nonformal adalah penddkan yang dperoleh dar pelathan dluar jalur penddkan formal. Slameto, (010:180) menyatakan mnat adalah satu rasa lebh suka dan rasa keterkatan pada suatu hal atau aktvtas tanpa ada yang menyuruh, mnat pada dasarnya adalah penermaan suatu hubungan antara dr sendr dan sesuatu d luar dr, semakn kuat atau dekat hubungan tersebut, semakn besar mnat. Menurut Hlgard (dalam slameto 010:57) mendefenskan mnat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatkan dan mengenang beberapa kegatan. Kegatan yang dmnat seseorang, dperhatkan terus-menerus yang dserta dengan rasa senang, mnat slalu dkut dengan perasaan senang dan dar stu dperoleh kepuasan. Jad berdasarkan uraan datas, penelt dapat menympulkan bahwa dar tngkat penddkan orang tua ada katannya dengan mnat orang tua dalam penddkan anaknya atau dalam menyekolahkan anak-anaknya kejenjang lebh tngg dan orang tua orang tua menghendak suatu kehdupan yang lebh layak, lebh bak dan lebh maju dar kehdupan yang dalam oleh mereka para orangtua. METODOLOGI PENELITIAN Peneltan n dmaksudkan untuk memperoleh data secara terukur, tentang hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg. Sesua dengan tujuan yang telah dkemukakan maka rancangan peneltan n menggunakan rancangan peneltan deskrpsf kuanttatf yatu peneltan tentang data yang dkumpulkan dan dnyatakan dalam bentuk angka-angka. Populas dalam peneltan n adalah orang tua sswa kelas XII SMA Xaverus II Kota Jamb yang berjumlah 104. Jens peneltan n adalah Deskrptf kuanttatf. Subjek dalam peneltan n adalah orang tua sswa kelas XII SMA Xaverus II Kota Jamb sebanyak 30 orang. 6

7 Instrumen atau alat peneltan dalam peneltan n adalah Angket/kuesoner hl n sesua dengan pendapat Menurut Sugyono (1997:97), nstrumen peneltan adalah suatu alat yang dgunakan untuk mengukur varabel peneltan. Peneltan n menggunakan angket dengan cara lansung dberkan kepada responden yatu orang tua sswa kelas XII SMA Xaverus II Kota Jamb. Teknk pengumpulan data yang dgunakan dalam peneltan n adalah dlakukan melalu angket dan dokumentas. Analss data adalah Menurut Haryad (009:167) Untuk menganalss data dperlukan suatu cara atau metode analss data hasl peneltan agar dapat dnterprestaskan sehngga laporan yang dhaslkan mudah dpaham, Analss data yang dgunakanyatu statstk dengan menggunakan rumus product moment. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Adapun pada bagan n akan ddeskrpskan data yang dperoleh dar hasl pengukuran dua varabel, yatu varabel tentang tngkat penddkan orang tua (X), dengan Mnat Orang Tua Menyekolahkan anaknya keperguruan tngg (Y). Tngkat penddkan orang tua yang dmaksud dalam peneltan n adalah tngkat penddkan menurut jenjang penddkan yang telah dtempuh, melalu penddkan formal dsekolah berjenjang dar tngkat yang palng rendah sampa tngkat yang palng tngg, yatu dar SD, SMP, SMA sampa perguruan tngg. 7 Tabel 4.3 Data tentang Tngkat penddkan orang tua (X) Dengan Mnat orang tua (Y) Penddkan Mnat TT T T T T Jumlah No SD SD SMP SMA PT 1 Sangat Bermnat Bermnat Cukup Bermnat Kurang Bermnat Tdak Bermnat Jumlah Berdasarkan tabel 4.3 Data Tngkat penddkan orang tua dengan Mnat orang tua. dalam peneltan n status tngkat penddkan orang tua tergolong tdak tamat SD dengan sangat bermnat sebanyak 1 orang, tdak tamat SD dengan bermnat sebanyak 0 orang, tdak tamat SD dengan cukup bermnat sebanyak 0 orang, tdak tamat SD dengan kurang bermnat sebanyak 0 orang, tdak tamat SD dengan tdak bermnat sebanyak 0 orang. tamat SD dengan sangat bermnat sebanyak 1 orang, tamat SD dengan bermnat sebanyak orang, tamat SD dengan cukup bermnat sebanyak 0 orang, tamat SD dengan kurang bermnat sebanyak 0 orang, tamat SD dengan tdak bermnat sebanyak 0 orang, tamat SMP dengan sangat bermnat sebanyak 5 orang, tamat SMP dengan bermnat sebanyak 4 orang, tamat SMP dengan cukup bermnat sebanyak 1 orang, tamat SMP dengan kurang bermnat sebanyak 0 orang, tamat SMP dengan tdak bermnat sebanyak 0 orang. tamat SMA dengan sangat bermnat sebanyak 4 orang, tamat SMA dengan bermnat sebanyak orang, tamat SMA dengan sangat cukup bermnat sebanyak 0 orang, tamat SMA dengan kurang bermnat sebanyak 0 orang, tamat SMA dengan tdak bermnat sebanyak 0 orang. tamat PT dengan sangat bermnat sebanyak 1 orang, tamat PT dengan bermnat sebanyak 8 orang, tamat PT

8 rxy n n X XY X n X Y Y Y dengan sangat cukup bermnat sebanyak 1 orang, tamat PT dengan kurang bermnat sebanyak 0 orang, tamat PT dengan tdak bermnat sebanyak 0 orang. Dar hasl perhtungan dengan menggunakan rumus product moment. dperoleh hasl koefsen korelas sebaga berkut: r = n( xy) ( x) ( y) [n ( x ) ( x) ][ n( y ) ( y) ] 8 Ket: r = Koefsen Korelas yang dcar y = Jumlah varabel y xy = Jumlah perkalan x dan y x = Jumlah pangkat varabel x x = Jumlah nla varabel x y = Jumlah pangkat varabel y menggunakan rumus Person Produck Moment, adalah sebaga berkut : rxy n n X X Y X n X Y Y Y rxy = ( 30 ) ( ) - ( 3 ) ( 447 ) {( 30 )( 1769 ) - ( 3 ) } {( 30 )( 0933 ) - ( 447 ) } rxy = { 3341 } { } rxy = rxy = ,93703 rxy = 0,606 r htung = 0,606 r table = 0,361

9 Dar hasl analss perhtungan hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg dapat dlhat bahwa pada sgnfkan α = 0,05 dengan N = 30 dan r tabel = 0,361. Jka r htung = 0,606 lebh besar dar r tabel = 0,361 maka terdapat sgnfkan. Jad dapat dsmpulkan hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg terdapat hubungan sgnfkan karna r htung lebh besar dar r tabel atau atau 0,606 0,361. Hasl n kemudan dkonsultaskan kedalam tabel nterpretas koefsen korelas. Berdasarkan tabel nterpretas koefsen korelas, maka tngkat penddkan orang tua (X) dengan mnat orang tua keperguruan tngg memlk hubungan yang kuat. Berdasarkan rumusan masalah yang dajukan dalam peneltan n adalah: Apakah Terdapat Hubungan Tngkat Penddkan Orang Tua Dengan Mnat Orang Tua Menyekolahkan Anaknya Keperguruan Tngg d SMA Xaverus II Kota Jamb. Dalam rumusan masalah tentang apakah terdapat hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg d SMA Xaverus II Kota Jamb, Berdasarkan analss dengan menggunakan Korelas product moment dperoleh r htung 0,606 nla r tabel 0,361, Hasl n kemudan dkonsultaskan kedalam tabel nterpretas koefsen korelas. Berdasarkan tabel nterpretas koefsen korelas, maka tngkat penddkan orang tua (X) dengan mnat orang tua keperguruan tngg (Y) memlk hubungan yang kuat maka hpotess menyatakan terdapat hubungan/korelas tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg d SMA Xaverus II Kota Jamb. Hal In dkarenakan tngkat penddkan orang tua mampu mempengaruh cara berfkr orang tua atau pandangan orang tua terhadap penddkan terutama dalam penddkan anaknya dan bermnat untuk menyekolahkan atau mengngnkan anaknya lebh dar drnya (orang tua), Hal n sesua dengan Undang-Undang No. 0 tahun 003 dsebutkan bahwa: Penddkan nasonal berfungs untuk mengembangkan kemampuan serta menngkatkan mutu penddkan dan martabat bangsa Indonesa dalam mencerdaskan kehdupan bangsa dan mengembangkan manusa Indonesa seutuhnya. Menurut Soemanto (006:9) setap orang tua mengdam-damkan agar anak cucunya kelak dapat hdup bahaga. Mereka menghendak suatu kehdupan yang lebh layak, lebh bak dan lebh maju dar kehdupan yang dalam oleh mereka para orangtua. Begtu besarnya harapan para orangtua mengena kehdupan anak-anak yang sejahtera dmasa depan, namun mereka kurang mengert bagamana mereka mempersapkan anak-anak tu agar memlk potens untuk mengatas permasalahan hdup anak-anak dmasa mendatang. Bahkan banyak dantara para orangtua yang dengan berbaga macam alasan ngn melepaskan dr dar tanggung jawab mempersapkan mental dan potens anak-anak mereka, mereka tdak membekal anak-anak dengan keprbadan yang kuat. Dan sedangkan mnat menurut Slameto, (003:180) menyatakan mnat adalah satu rasa lebh suka dan rasa keterkatan pada suatu hal atau aktvtas tanpa ada yang menyuruh, mnat pada dasarnya adalah penermaan suatu hubungan antara dr sendr dan sesuatu d luar dr, semakn kuat atau dekat hubungan tersebut, semakn besar mnat. Jad dapat dsmpulkan bahwa, tngkat penddkan orang tua akan menentukan orang tua dalam membmbng dan mengarahkan anaknya dalam hal penddkan. skap yang terbentuk pada masng-masng orang tua pada setap jenjang penddkan formal akan berbeda-beda antara lulusan sekolah dasar (SD), lulusan sekolah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), atau lulusan perguruan tngg (Dploma, Strata) hal n yang menjad latar belakang tngkat penddkan orang tua menjad faktor yang mempengaruh orang tua dalam membmbng dan mengarahkan anaknya dalam hal penddkan yang akan dtempuh anaknya. Berdasarkan teor dan analss data terdapat hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg pada orang tua sswa kelas XII SMA Xaverus II Kota Jamb. 9

10 KESIMPULAN DAN SARAN Kesmpulan Berdasarkan hasl perhtungan dan pembahasan pada peneltan yang dlakukan d SMA Xaverus II Kota Jamb, maka peneltan n dapat dsmpulkan bahwa: Terdapat hubungan tngkat Penddkan Orang Tua dengan Mnat Orang Tua Menyekolahkan Anaknya Keperguruan Tngg d SMA Xaverus II Kota Jamb, sebesar rxy htung 0,606, sehngga dapat dkatakan semakn tngg tngkat penddkan orang tua maka semakn mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg. Saran Dlhat dar hasl analss data ternyata tngkat penddkan memlk hubungan dengan mnat orang tua menyekolahkan anak keperguruan tngg. bag orang tua berdasarkan hasl peneltan n dharapkan akan menjad bahan nformas dan masukan agar orang tua dapat menngkatkan mnat terhadap penddkan putra/putr untuk menyekolahkan sampa keperguruan tngg. 10

11 11 DAFTAR PUSTAKA Ahart, 013. Hubungan Status Sosal Ekonom Orang Tua Dan Prestas Belajar Dengan Mnat Sswa Melanjutkan Keperguruan Tngg Pada Sswa Kelas XII Sman Merangn, Skrps, unverstas jamb.. Ahmad Abu, 009.Ilmu Sosal Dasar. Jakarta: PT. Rneka Cpta. Ahmad Abu dan Uhbyat, 003. Ilmu Penddkan, Jakarta: PT. Rneka Cpta. Arkunto, 010. Prosedur peneltan. Jakarta: PT. Rneka Cpta. Bastan, 006. Akuntans Penddkan. Jakarta Penerbt Erlangga. Haryad, 009. Statstk Penddkan. PT. Prestas Pustakaraya Jakarta. Hasbullah, 009. Dasar-Dasar Ilmu Penddkan. Penerbt PT RajaGrafndo Persada, Jakarta. Hermansyah, 013. Hubungan Status Sosal Ekonom Orang Tua Dan Prestas Praktek Kerja Industr Dengan Mnat Berwrausaha Sswa Smk Neger Sman 1 Kota Jamb, Skrps, unverstas jamb. Hdayanto, Mengenal manusa dan penddkan. Penerbt Lbertty, Yogyakarta. dakses tanggal 15 jul 014. http//amr daper.blogspot.com dakses november 014. Ihsan, Puad, 011. Dasar-Dasar Kependdkan. Penerbt Rneka Cpta, Jakarta. Rulam, 014. Pengantar penddkan. Yogyakarta Slameto, 010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruh. Jakarta: Rneka Cpta. Soemanto, Wasty Penddkan Wraswasta. Jakarta: PT Bum Aksara Sutn, 01. Hubungan Tngkat Ekonom Orang Tua Terhadap Mnat Menyekolahkan Anak D Dusun Mendongan Desa Banyukunng Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Tahun 01. Undang-undang RI No 0 Tahun 003. SstemPenddkan Nasonal. Bandung : Ctra Umbara. Undang-undang RI No 0 Tahun 004. SstemPenddkan Nasonal. Bandung : Ctra Umbara. Varny. 009, Hubungan Persapan Penerapan Penddkan Percakapan Hdup (Lfe Skll)Dengan Mnat Berwrausaha Pada Sswa Smk 4 Kota Jamb, Skrps, unverstas jamb

12 1

PROPOSAL SKRIPSI JUDUL:

PROPOSAL SKRIPSI JUDUL: PROPOSAL SKRIPSI JUDUL: 1.1. Latar Belakang Masalah SDM kn makn berperan besar bag kesuksesan suatu organsas. Banyak organsas menyadar bahwa unsur manusa dalam suatu organsas dapat memberkan keunggulan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Penggunaan metode eksperimen ini

III. METODE PENELITIAN. Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Penggunaan metode eksperimen ini III. METODE PENELITIAN A. Metode Peneltan Metode dalam peneltan n adalah metode ekspermen. Penggunaan metode ekspermen n bertujuan untuk mengetahu apakah suatu metode, prosedur, sstem, proses, alat, bahan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Karangkajen, Madrasah Tsanawiyah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta,

BAB III METODE PENELITIAN. Karangkajen, Madrasah Tsanawiyah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Peneltan Peneltan n dlakukan pada 6 (enam) MTs d Kota Yogyakarta, yang melput: Madrasah Tsanawyah Neger Yogyakarta II, Madrasah Tsanawyah Muhammadyah Gedongtengen,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri 2 Bandar Lampung dengan populasi siswa

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri 2 Bandar Lampung dengan populasi siswa III. METODE PENELITIAN A. Populas dan Sampel Peneltan n dlakukan d MTs Neger Bandar Lampung dengan populas sswa kelas VII yang terdr dar 0 kelas yatu kelas unggulan, unggulan, dan kelas A sampa dengan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun yang menjadi objek penelitian adalah siswa MAN Model Gorontalo.

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun yang menjadi objek penelitian adalah siswa MAN Model Gorontalo. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Peneltan 3.1.1 Tempat Peneltan Adapun yang menjad objek peneltan adalah sswa MAN Model Gorontalo. Penetapan lokas n ddasarkan pada beberapa pertmbangan yakn,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan dalam sektor energi wajib dilaksanakan secara sebaik-baiknya. Jika

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan dalam sektor energi wajib dilaksanakan secara sebaik-baiknya. Jika BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Energ sangat berperan pentng bag masyarakat dalam menjalan kehdupan seharhar dan sangat berperan dalam proses pembangunan. Oleh sebab tu penngkatan serta pembangunan

Lebih terperinci

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 0 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD BAB V STATISTIKA Dra.Hj.Rosdah Salam, M.Pd. Dra. Nurfazah, M.Hum. Drs. Latr S, S.Pd., M.Pd. Prof.Dr.H. Pattabundu, M.Ed. Wdya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam diri sendiri ataupun yang ditimbulkan dari luar. karyawan. Masalah stress kerja di dalam organisasi menjadi gejala yang

BAB I PENDAHULUAN. dalam diri sendiri ataupun yang ditimbulkan dari luar. karyawan. Masalah stress kerja di dalam organisasi menjadi gejala yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pekerjaan merupakan suatu aspek kehdupan yang sagat pentng. Bag masyarakat modern bekerja merupakan suatu tuntutan yang mendasar, bak dalam rangka memperoleh

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Peneltan Metode peneltan yang dgunakan dalam peneltan n adalah metode ekspermen dengan bentuk kuas ekspermen. Pre test dlakukan d awal peneltan dan post tes dlakukan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi eksperimen dengan populasi penelitian yaitu

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi eksperimen dengan populasi penelitian yaitu 4 III. METODE PENELITIAN A. Populas Peneltan Peneltan n merupakan stud ekspermen dengan populas peneltan yatu seluruh sswa kelas VIII C SMP Neger Bukt Kemunng pada semester genap tahun pelajaran 01/013

Lebih terperinci

BAB III METODELOGIPENELITIAN. pada semester genap tahun ajaran 2012/2013. Penelitian ini dilaksanakan selama ±4 bulan dari persiapan sampai

BAB III METODELOGIPENELITIAN. pada semester genap tahun ajaran 2012/2013. Penelitian ini dilaksanakan selama ±4 bulan dari persiapan sampai 3 BAB III METODELOGIPENELITIAN 3. Lokas dan Waktu Peneltan 3.. Lokas Peneltan Peneltan n dlaksanakan d SMA Neger Bonepanta pada kelas X pada semester genap tahun ajaran 0/03. 3.. Waktu Peneltan Peneltan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskrps Data Hasl Peneltan Satelah melakukan peneltan, penelt melakukan stud lapangan untuk memperoleh data nla post test dar hasl tes setelah dkena perlakuan.

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE BUZZ GROUP DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN LKS PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 BATANG ANAI

PENERAPAN METODE BUZZ GROUP DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN LKS PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 BATANG ANAI PENERAPAN METODE BUZZ GROUP DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN LKS PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 BATANG ANAI Yuwta Srmela 1 Fazr Zuzano 1 Nnwat 1 1 Jurusan Penddkan Matematka dan IPA,

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INDEKS PRESTASI MAHASISWA FSM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMASTER PERTAMA DENGAN MOTODE REGRESI LOGISTIK BINER

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INDEKS PRESTASI MAHASISWA FSM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMASTER PERTAMA DENGAN MOTODE REGRESI LOGISTIK BINER UNIVERSITAS DIPONEGORO 013 ISBN: 978-60-14387-0-1 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INDEKS PRESTASI MAHASISWA FSM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMASTER PERTAMA DENGAN MOTODE REGRESI LOGISTIK BINER Saftr Daruyan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jens Peneltan Jens peneltan n adalah peneltan quas expermental dengan one group pretest posttest desgn. Peneltan n tdak menggunakan kelas pembandng namun sudah menggunakan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam pembuatan tugas akhr n, penulsan mendapat referens dar pustaka serta lteratur lan yang berhubungan dengan pokok masalah yang penuls ajukan. Langkah-langkah yang akan

Lebih terperinci

PROSEDUR MENGGUNAKAN STRATIFIED RANDOM SAMPLING METHOD DALAM MENGESTIMASI PARAMETER POPULASI

PROSEDUR MENGGUNAKAN STRATIFIED RANDOM SAMPLING METHOD DALAM MENGESTIMASI PARAMETER POPULASI JEMI, Vol 1, No 1, Desember 2010 PROSEDUR MENGGUNAKAN STRATIFIED RANDOM SAMPLING METHOD DALAM MENGESTIMASI PARAMETER POPULASI Des Rahmatna, SPd, MSc (Unverstas Martm Raja Al Haj) ABSTRAKSI Peneltan n dmaksudkan

Lebih terperinci

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN MODELING TERHADAP HASIL BELAJAR KETERAMPILAN DASAR PERMAIAN SEPAK BOLA PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 GORONTALO

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN MODELING TERHADAP HASIL BELAJAR KETERAMPILAN DASAR PERMAIAN SEPAK BOLA PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 GORONTALO JURNAL PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN MODELING TERHADAP HASIL BELAJAR KETERAMPILAN DASAR PERMAIAN SEPAK BOLA PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 GORONTALO Ruslan S. Aljuana 1), Harad Sad ), Ruslan 3) 1 FIKK,

Lebih terperinci

ZULIA HANUM Jurnal Ilmiah Ekonomikawan ISSN: Edisi 11 Des 2012 ABSTRAK

ZULIA HANUM Jurnal Ilmiah Ekonomikawan ISSN: Edisi 11 Des 2012 ABSTRAK PENGARUH WITH HOLDING TA SYSTEM PADA PENGUSAHA KENA PAJAK TERHADAP PENERIMAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (STUDI KASUS KPP PRATAMA MEDAN PETISAH) ZULIA HANUM Jurnal Ilmah Ekonomkawan ISSN: 1693-7600 Eds 11

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menghasilkan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) pada materi Geometri dengan

BAB III METODE PENELITIAN. menghasilkan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) pada materi Geometri dengan BAB III METODE PENELITIAN A. Jens Peneltan Peneltan n merupakan peneltan pengembangan yang bertujuan untuk menghaslkan Lembar Kegatan Sswa (LKS) pada mater Geometr dengan pendekatan pembelajaran berbass

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. penelitian, hal ini dilakukan untuk kepentingan perolehan dan analisis data.

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. penelitian, hal ini dilakukan untuk kepentingan perolehan dan analisis data. BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Peneltan Metode peneltan harus dsesuakan dengan masalah dan tujuan peneltan, hal n dlakukan untuk kepentngan perolehan dan analss data. Mengena pengertan metode peneltan,

Lebih terperinci

PERTEMUAN I PENGENALAN STATISTIKA TUJUAN PRAKTIKUM

PERTEMUAN I PENGENALAN STATISTIKA TUJUAN PRAKTIKUM PERTEMUAN I PENGENALAN STATISTIKA TUJUAN PRAKTIKUM 1) Membuat dstrbus frekuens. 2) Mengetahu apa yang dmaksud dengan Medan, Modus dan Mean. 3) Mengetahu cara mencar Nla rata-rata (Mean). TEORI PENUNJANG

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN. Pola Kecenderungan Penempatan Kunci Jawaban Pada Soal Tipe-D Melengkapi Berganda. Oleh: Drs. Pramono Sidi

LAPORAN PENELITIAN. Pola Kecenderungan Penempatan Kunci Jawaban Pada Soal Tipe-D Melengkapi Berganda. Oleh: Drs. Pramono Sidi LAPORAN PENELITIAN Pola Kecenderungan Penempatan Kunc Jawaban Pada Soal Tpe-D Melengkap Berganda Oleh: Drs. Pramono Sd Fakultas Matematka dan Ilmu Pengetahuan Alam Me 1990 RINGKASAN Populas yang dambl

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori Galton berkembang menjadi analisis regresi yang dapat digunakan sebagai alat

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori Galton berkembang menjadi analisis regresi yang dapat digunakan sebagai alat BAB LANDASAN TEORI. 1 Analsa Regres Regres pertama kal dpergunakan sebaga konsep statstk pada tahun 1877 oleh Sr Francs Galton. Galton melakukan stud tentang kecenderungan tngg badan anak. Teor Galton

Lebih terperinci

KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MEDIA MACROMEDIA FLASH DAN MICROSOFT POWERPOINT YANG DISAMPAIKAN MELALUI PENDEKATAN CHEMO-EDUTAINTMENT

KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MEDIA MACROMEDIA FLASH DAN MICROSOFT POWERPOINT YANG DISAMPAIKAN MELALUI PENDEKATAN CHEMO-EDUTAINTMENT Sgt Pratmoko, dkk. Komparas Hasl Belajar Sswa... 99 KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MEDIA MACROMEDIA FLASH DAN MICROSOFT POWERPOINT YANG DISAMPAIKAN MELALUI PENDEKATAN CHEMO-EDUTAINTMENT Sgt Pratmoko,

Lebih terperinci

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: X D-324

JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: X D-324 JURNAL SAINS DAN SENI IS Vol. 1, No. 1, (Sept. ) ISSN: 3-98X D-3 Analss Statstk entang Faktor-Faktor yang Mempengaruh Waktu unggu Kerja Fresh Graduate d Jurusan Statstka Insttut eknolog Sepuluh Nopemper

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Peneltan Untuk memperoleh data tentang efektftas penggunaan model Group Investgaton (GI) terhadap Hasl Belajar Sswa Kelas VIII MTs Fatahllah Brngn Ngalyan

Lebih terperinci

SOLUSI TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA II

SOLUSI TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA II SOLUSI TUGAS MATA KULIAH STATISTIKA II SOAL : Suatu Peneltan dlakukan untuk menelaah empat metode pengajaran, yatu Metode A (ceramah d kelas), Metode B (mengajak dskus langsung dengan sswa), Metode C (ceramah

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. diteliti. Banyaknya pengamatan atau anggota suatu populasi disebut ukuran populasi,

BAB 2 LANDASAN TEORI. diteliti. Banyaknya pengamatan atau anggota suatu populasi disebut ukuran populasi, BAB LANDASAN TEORI.1 Populas dan Sampel Populas adalah keseluruhan unt atau ndvdu dalam ruang lngkup yang ngn dtelt. Banyaknya pengamatan atau anggota suatu populas dsebut ukuran populas, sedangkan suatu

Lebih terperinci

Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Penelitian Terdahulu

Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Penelitian Terdahulu Bab 2 Tnjauan Pustaka 2.1 Peneltan Terdahulu Pemlhan stud pustaka tentang sstem nformas penlaan knerja karyawan n juga ddasar pada peneltan sebelumnya yang berjudul Penerapan Metode TOPSIS untuk Pemberan

Lebih terperinci

Indah Mariahyati Fakultas Ekonomi, Unesa, Kampus Ketintang Surabaya ABSTRACT. Keywords: motivation study, achievement study

Indah Mariahyati Fakultas Ekonomi, Unesa, Kampus Ketintang Surabaya ABSTRACT. Keywords: motivation study, achievement study PENGARUH MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI ANGKATAN 2009 MATA KULIAH AKUNTANSI PERPAJAKAN DI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Indah Marahyat Fakultas Ekonom,

Lebih terperinci

BOKS A SUMBANGAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI BALI TERHADAP EKONOMI NASIONAL

BOKS A SUMBANGAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI BALI TERHADAP EKONOMI NASIONAL BOKS A SUMBANGAN SEKTOR-SEKTOR EKONOMI BALI TERHADAP EKONOMI NASIONAL Analss sumbangan sektor-sektor ekonom d Bal terhadap pembangunan ekonom nasonal bertujuan untuk mengetahu bagamana pertumbuhan dan

Lebih terperinci

PowerPoint Slides by Yana Rohmana Education University of Indonesian

PowerPoint Slides by Yana Rohmana Education University of Indonesian SIFAT-SIFAT ANALISIS REGRESI PowerPont Sldes by Yana Rohmana Educaton Unversty of Indonesan 2007 Laboratorum Ekonom & Koperas Publshng Jl. Dr. Setabud 229 Bandung, Telp. 022 2013163-2523 Hal-hal yang akan

Lebih terperinci

DISTRIBUSI FREKUENSI

DISTRIBUSI FREKUENSI BAB DISTRIBUSI FREKUENSI Kompetens Mampu membuat penyajan data dalam dstrbus frekuens Indkator 1. Menjelaskan dstrbus frekuens. Membuat dstrbus frekuens 3. Menjelaskan macam-macam dstrbus frekuens 4. Membuat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB PEDAHULUA. Latar Belakang Rsko ddentfkaskan dengan ketdakpastan. Dalam mengambl keputusan nvestas para nvestor mengharapkan hasl yang maksmal dengan rsko tertentu atau hasl tertentu dengan rsko yang

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Peneltan Peneltan n dlakukan d SMA Muhammadyah 2 Bandar Lampung dan pada waktu semester genap (dua) tahun ajaran 2010/2011. B. Metode Peneltan Metode peneltan

Lebih terperinci

Bab III Analisis Rantai Markov

Bab III Analisis Rantai Markov Bab III Analss Ranta Markov Sstem Markov (atau proses Markov atau ranta Markov) merupakan suatu sstem dengan satu atau beberapa state atau keadaan, dan dapat berpndah dar satu state ke state yang lan pada

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH (PBL) TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP PELAJARAN 2014/2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH (PBL) TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP PELAJARAN 2014/2015 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALA (PBL) TERADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP PELAJARAN 14/15 Ftra Yand 1), Nurrahmawat ) dan era Deswta 3) 1) Fakultas Keguruan Dan Ilmu Penddkan,

Lebih terperinci

Corresponding Author:

Corresponding Author: Perbandngan Fungs Ketahanan Hdup Dengan Metode Non Parametrk Menggunakan Uj Gehan Dan Uj Cox-Mantel (Lvng wth Securty Functon Comparson Method Usng Non Paremetrk Gehan test and Cox-Mantel Tes Ans Sept

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pemodelan persamaan struktural atau Structural Equation Modeling

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pemodelan persamaan struktural atau Structural Equation Modeling BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Pemodelan Persamaan Struktural Pemodelan persamaan struktural atau Structural Equaton Modelng (SEM) merupakan analss multvarat yang dapat menganalss hubungan varabel secara

Lebih terperinci

PENENTUAN LOKASI PEMANCAR TELEVISI MENGGUNAKAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING

PENENTUAN LOKASI PEMANCAR TELEVISI MENGGUNAKAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING Meda Informatka, Vol. 2, No. 2, Desember 2004, 57-64 ISSN: 0854-4743 PENENTUAN LOKASI PEMANCAR TELEVISI MENGGUNAKAN FUZZY MULTI CRITERIA DECISION MAKING Sr Kusumadew Jurusan Teknk Informatka, Fakultas

Lebih terperinci

---- ~,~ _~-

---- ~,~ _~- ---- ~,~-----..---..._~- BABV SMPULAN, MPLKAS DAN SARAN A. Smpulan ~... f. Smpulan-smpulan yang dapat dtark dar kajan peneltan adalah sebaga berkut: v. (:.Q / Pertama, kegatan pembelajaran yang dlaksanakan

Lebih terperinci

PEMBUATAN GRAFIK PENGENDALI BERDASARKAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA (PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS)

PEMBUATAN GRAFIK PENGENDALI BERDASARKAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA (PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS) PEMBUATAN GRAFIK PENGENDALI BERDASARKAN ANALISIS KOMPONEN UTAMA (PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS) Wrayant ), Ad Setawan ), Bambang Susanto ) ) Mahasswa Program Stud Matematka FSM UKSW Jl. Dponegoro 5-6 Salatga,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian merupakan suatu cara yang dilakukan oleh setiap

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian merupakan suatu cara yang dilakukan oleh setiap BAB III METODE PENELITIAN 3. Metode Peneltan Metode peneltan merupakan suatu cara yang dlakukan oleh setap penelt untuk memecahkan berbaga permasalahan yang terjad dalam peneltannya, sehngga tujuan peneltan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat, Subek, Waktu dan Jens Peneltan Pada bagan n akan dbahas tentang tempat peneltan, waktu peneltan dar perencanaan sampa penulsan hasl peneltan, serta ens peneltan n.

Lebih terperinci

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 1 PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KAJIAN ANALITIS METODE SAMPLING YANG TEPAT DENGAN AKURASI TINGGI UNTUK ESTIMASI PEMENANG PEMILU PADA QUICK COUNT Stud Kasus : Pemlhan Gubernur Jawa Barat 008 BIDANG KEGIATAN

Lebih terperinci

BAB VB PERSEPTRON & CONTOH

BAB VB PERSEPTRON & CONTOH BAB VB PERSEPTRON & CONTOH Model JST perseptron dtemukan oleh Rosenblatt (1962) dan Mnsky Papert (1969). Model n merupakan model yang memlk aplkas dan pelathan yang lebh bak pada era tersebut. 5B.1 Arstektur

Lebih terperinci

Menggugat Kinerja Profesor

Menggugat Kinerja Profesor Haran Kompas, 11 November 2015 Menggugat Knerja Profesor Jumlah profesor d negara kta terlalu sedkt. Itu pun sebagan dnla kurang berkualtas dan tdak produktf. Hal n terkuak dalam Semnar Nasonal Keprofesoran

Lebih terperinci

III PEMBAHASAN. merupakan cash flow pada periode i, dan C. berturut-turut menyatakan nilai rata-rata dari V. dan

III PEMBAHASAN. merupakan cash flow pada periode i, dan C. berturut-turut menyatakan nilai rata-rata dari V. dan Pada bab n akan dbahas mengena penyelesaan masalah ops real menggunakan pohon keputusan bnomal. Dalam menentukan penlaan proyek, dapat dgunakan beberapa metode d antaranya dscounted cash flow (DF). DF

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat Peneltan Peneltan n dlakukan d Jurusan Penddkan Teknk Spl, Fakultas Penddkan Teknolog dan Kejuruan, Unverstas Penddkan Indonesa.Yang terdr dar 3 program stud yatu: Penddkan

Lebih terperinci

KWARTIL, DESIL DAN PERSENTIL

KWARTIL, DESIL DAN PERSENTIL KWARTIL, DESIL DAN PERSENTIL 1. KWARTIL Kwartl merupakan nla yang membag frekuens dstrbus data menjad empat kelompok yang sama besar. Dengan kata lan kwartl merupakan nla yang membag tap-tap 25% frekuens

Lebih terperinci

Jurnal Matik Penusa Volume 19 No. 1 Juni 2016 ISSN

Jurnal Matik Penusa Volume 19 No. 1 Juni 2016 ISSN Jurnal Matk Penusa Volume 19 No. 1 Jun 016 ISSN 088-3943 PENGARUH PERSIAPAN ELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI ELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK AHASAN KUADRAT DAN AKAR KUADRAT ILANGAN ULAT SISWA SMP SWASTA ANDUNG

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Model Pengembangan Peneltan n adalah peneltan pengembangan yang berorentas pada pembuatan meda dan pengembangan meda pembelajaran IPA tentang pesawat sederhana. Meda Ajar

Lebih terperinci

REGRESI DAN KORELASI LINEAR SEDERHANA. Regresi Linear

REGRESI DAN KORELASI LINEAR SEDERHANA. Regresi Linear REGRESI DAN KORELASI LINEAR SEDERHANA Regres Lnear Tujuan Pembelajaran Menjelaskan regres dan korelas Menghtung dar persamaan regres dan standard error dar estmas-estmas untuk analss regres lner sederhana

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penulis dalam penelitian ini mengambil lokasi di salah satu Sekolah

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penulis dalam penelitian ini mengambil lokasi di salah satu Sekolah 33 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokas dan Subjek Peneltan Penuls dalam peneltan n mengambl lokas d salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Neger d Kabupaten Canjur tepatnya d SMK Neger 1 Tanggeung Kabupaten

Lebih terperinci

SEARAH (DC) Rangkaian Arus Searah (DC) 7

SEARAH (DC) Rangkaian Arus Searah (DC) 7 ANGKAAN AUS SEAAH (DC). Arus Searah (DC) Pada rangkaan DC hanya melbatkan arus dan tegangan searah, yatu arus dan tegangan yang tdak berubah terhadap waktu. Elemen pada rangkaan DC melput: ) batera ) hambatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1 Tnjauan Pustaka Dar peneltan yang dlakukan Her Sulstyo (2010) telah dbuat suatu sstem perangkat lunak untuk mendukung dalam pengamblan keputusan menggunakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Profil Sekolah Dasar di Kecamatan Posigadan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Profil Sekolah Dasar di Kecamatan Posigadan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskrps Data Hasl Peneltan a. Profl Sekolah Dasar d Kecamatan Posgadan Kecamatan Posgadan merupakan salah satu kecamatan yang ada d wlayah Kabupaten Bolaang Mongondow

Lebih terperinci

Hubungan Motivasi Kerja Dan Tingkat Stress Dengan Prestasi Kerja Karyawan di Kentucky Fried Chicken UGM Yogyakarta

Hubungan Motivasi Kerja Dan Tingkat Stress Dengan Prestasi Kerja Karyawan di Kentucky Fried Chicken UGM Yogyakarta Hubungan Motvas Kerja Dan Tngkat Stress Dengan Prestas Kerja Karyawan d Kentucky Fred Chcken UGM Yogyakarta Yur Murdo *) Abstract Ths study analyzes the relatonshp work motvaton and the level of stress

Lebih terperinci

HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN KARYAWAN RECEPTION FRONT OFFICE DEPARTMENT DENGAN KEPUASAN PELANGGAN GRAND ZURI HOTEL PADANG RAHAYU PRATAMY

HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN KARYAWAN RECEPTION FRONT OFFICE DEPARTMENT DENGAN KEPUASAN PELANGGAN GRAND ZURI HOTEL PADANG RAHAYU PRATAMY HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN KARYAWAN RECEPTION FRONT OFFICE DEPARTMENT DENGAN KEPUASAN PELANGGAN GRAND ZURI HOTEL PADANG RAHAYU PRATAMY PROGRAM STUDI MANAJEMEN PERHOTELAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI

Lebih terperinci

MINGGU KE- V: UKURAN PENYEBARAN

MINGGU KE- V: UKURAN PENYEBARAN MINGGU KE- V: UKURAN PENYEBARAN Tujuan Instruksonal Umum :. Mahasswa mampu memaham apa yang dmaksud dengan ukuran penyebaran. Mahasswa mampu memaham berbaga pengukuran untuk mencar nla ukuran penyebaran

Lebih terperinci

Pande Made Dwi Putranjaya 1, Dessy Seri Wahyuni 2, I Gede Mahendra Darmawiguna 3. Kumpulan Artikel Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika (KARMAPATI)

Pande Made Dwi Putranjaya 1, Dessy Seri Wahyuni 2, I Gede Mahendra Darmawiguna 3. Kumpulan Artikel Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika (KARMAPATI) Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatf Tpe Insde Outsde Crcle Terhadap Hasl Belajar Sswa Kelas VII (Stud Kasus : SMPN 2 Sawan Tahun Ajaran 2012/2013) Pande Made Dw Putranjaya 1, Dessy Ser Wahyun

Lebih terperinci

APLIKASI FUZZY LINEAR PROGRAMMING UNTUK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI LAMPU (Studi Kasus di PT. Sinar Terang Abadi )

APLIKASI FUZZY LINEAR PROGRAMMING UNTUK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI LAMPU (Studi Kasus di PT. Sinar Terang Abadi ) APLIKASI FUZZY LINEAR PROGRAMMING UNTUK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI LAMPU (Stud Kasus d PT. Snar Terang Abad ) Bagus Suryo Ad Utomo 1203 109 001 Dosen Pembmbng: Drs. I Gst Ngr Ra Usadha, M.S Jurusan Matematka

Lebih terperinci

Perhitungan Bunga Kredit dengan Angsuran

Perhitungan Bunga Kredit dengan Angsuran Perhtungan Kredt dengan / Mengapa Perhtungan Kredt Perlu Dketahu? Perhtungan bunga kredt yang dgunakan bank akan menentukan besar keclnya angsuran pokok dan bunga yang harus dbayar Debtur atas kredt yang

Lebih terperinci

ANALISA DEMAND DAN SUPPLY ANGKUTAN UMUM TRAYEK FAFAK KOKAS DENGAN MEMPERHATIKAN FAKTOR KEPUASAN PENUMPANG

ANALISA DEMAND DAN SUPPLY ANGKUTAN UMUM TRAYEK FAFAK KOKAS DENGAN MEMPERHATIKAN FAKTOR KEPUASAN PENUMPANG Program Stud MMT-ITS, Surabaya 3 Jul 011 ANALISA DEMAND DAN SUPPLY ANGKUTAN UMUM TRAYEK FAFAK KOKAS DENGAN MEMPERHATIKAN FAKTOR KEPUASAN PENUMPANG Paulus Pappang 1 dan Hera Wdyastut Pasca Sarjana Bdang

Lebih terperinci

Untuk memperoleh buku ini hubungi:

Untuk memperoleh buku ini hubungi: 2004 Badan Perencanaan Pembangunan Nasonal Untuk memperoleh buku n hubung: Pusat Data dan Informas Perencanaan Pembangunan Jl. Taman Suropat No. 2, Jakarta Pusat 10310 Telepon/Fax: 021-31934973 atau Webste:

Lebih terperinci

Dekomposisi Nilai Singular dan Aplikasinya

Dekomposisi Nilai Singular dan Aplikasinya A : Dekomposs Nla Sngular dan Aplkasnya Gregora Aryant Dekomposs Nla Sngular dan Aplkasnya Oleh : Gregora Aryant Program Stud Penddkan Matematka nverstas Wdya Mandala Madun aryant_gregora@yahoocom Abstrak

Lebih terperinci

STATISTICAL STUDENT OF IST AKPRIND

STATISTICAL STUDENT OF IST AKPRIND E-mal : statstkasta@yahoo.com Blog : Analss Regres SederhanaMenggunakan MS Excel 2007 Lsens Dokumen: Copyrght 2010 sssta.wordpress.com Seluruh dokumen d sssta.wordpress.com dapat dgunakan dan dsebarkan

Lebih terperinci

PENGANTAR TEKNIK SAMPLING

PENGANTAR TEKNIK SAMPLING PENGANTAR TEKNIK SAMPLING Dalam banyak hal, penelt dhadapkan kepada keputusan untuk dapat menentukan banyaknya elemen yang akan mereka amat. Setap elemen yang terplh dharapkan dapat mewakl objek yang sedang

Lebih terperinci

RANGKAIAN SERI. 1. Pendahuluan

RANGKAIAN SERI. 1. Pendahuluan . Pendahuluan ANGKAIAN SEI Dua elemen dkatakan terhubung ser jka : a. Kedua elemen hanya mempunya satu termnal bersama. b. Ttk bersama antara elemen tdak terhubung ke elemen yang lan. Pada Gambar resstor

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN PENDAPATAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG RUMAH TANGGA BERBAHAN BAKU UTAMA SAGU DAN IKAN

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN PENDAPATAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG RUMAH TANGGA BERBAHAN BAKU UTAMA SAGU DAN IKAN ANALISIS NILAI TAMBAH DAN PENDAPATAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG RUMAH TANGGA BERBAHAN BAKU UTAMA SAGU DAN IKAN (THE ANALYSIS OF ADDED VALUE AND INCOME OF HOME INDUSTRY KEMPLANG BY USING FISH AND TAPIOCA AS

Lebih terperinci

PERSEPSI PENGAWAS TENTANG STANDAR KINERJA GURU DAN PENGARUHNYA TERHADAP PELAYANAN BELAJAR Oleh: Nugraha Suharto, M. Pd.

PERSEPSI PENGAWAS TENTANG STANDAR KINERJA GURU DAN PENGARUHNYA TERHADAP PELAYANAN BELAJAR Oleh: Nugraha Suharto, M. Pd. PERSEPSI PENGAWAS TENTANG STANDAR KINERJA GURU DAN PENGARUHNYA TERHADAP PELAYANAN BELAJAR Oleh: Nugraha Suharto, M. Pd. ABSTRAK Seorang guru dalam katannya dengan tugas penddkan dan melayan sswa terutama

Lebih terperinci

PENGARUH DIFERENSIASI JASA DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN PADA RUMAH SAKIT ISLAM GORONTALO

PENGARUH DIFERENSIASI JASA DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN PADA RUMAH SAKIT ISLAM GORONTALO PENGARUH DIFERENSIASI JASA DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN PADA RUMAH SAKIT ISLAM GORONTALO Oleh; Zulfah Abdussamad Dosen FEB Unverstas Neger Gorontalo Abstrak Persangan bsns d bdang kesehatan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata I Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan. Oleh: : Hetty Setyowati NIM :

SKRIPSI. Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata I Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan. Oleh: : Hetty Setyowati NIM : KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING LEARNING) DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI SUB POKOK BAHASAN TUMBUHAN BERBIJI DI KELAS VII SMPN I DAWE KUDUS TAHUN AJARAN 005/006 SKRIPSI Dajukan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Tnjauan Pustaka Kegatan pemberan beasswa dlakukan oleh nstans penddkan maupun non penddkan. Secara khusus nstans penddkan memberkan beberapa jens beasswa setap tahunnya. Persyaratan

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN ACCELERATED LEARNING

PENERAPAN PENDEKATAN ACCELERATED LEARNING PENERAPAN PENDEKATAN ACCELERATED LEARNING DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG DITEMPELKAN DI PAPAN TULIS DIIRINGI LKS PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII SMP N 3 PARIAMAN Elsa Ftra

Lebih terperinci

Analisis Conjoint Sebagai Alat Menentukan Model Preferensi Nasabah Menabung Di Bank

Analisis Conjoint Sebagai Alat Menentukan Model Preferensi Nasabah Menabung Di Bank Analss Conjont Sebaga Alat Menentukan Model Preferens Nasabah Menabung D Bank Budono Nan Hdayat Program Stud Statstka Terapan FMIPA Unv.Gajayana Jl.Merjosar- Dnoyo Malang Abstrak :Tngkat persangan antar

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam melakukan penelitian, terlebih dahulu menentukan metode penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam melakukan penelitian, terlebih dahulu menentukan metode penelitian 57 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desan Peneltan Dalam melakukan peneltan, terlebh dahulu menentukan metode peneltan yang akan dgunakan sehngga akan mempermudah proses peneltan tersebut. Desan Peneltan

Lebih terperinci

Ketidakpastian dan Pengukuran

Ketidakpastian dan Pengukuran Modul Ketdakpastan dan Pengukuran Paken Pandangan, S.S., M.S. Artoto Arkundato, S.S., M.S. P PENDAHULUAN engamatan atas suatu besaran fss basanya akan berlanjut dengan pengukuran suatu besaran fss tertentu,

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN MEMPERTIMBANGKAN WAKTU KADALUWARSA DAN FAKTOR UNIT DISKON

PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN MEMPERTIMBANGKAN WAKTU KADALUWARSA DAN FAKTOR UNIT DISKON PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN BAHAN BAKU DENGAN MEMPERTIMBANGKAN WAKTU KADALUWARSA DAN FAKTOR UNIT DISKON Har Prasetyo Jurusan Teknk Industr Unverstas Muhammadyah Surakarta Jl. A. Yan Tromol Pos 1, Pabelan,

Lebih terperinci

EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VII

EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VII EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VII MTs N 1 SEMARANG PADA MATERI POKOK KALOR SKRIPSI Dajukan untuk memenuh tugas dan melengkap

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA KIT FLUIDA STATIS SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA SUB MATERI FLUIDA STATIS DI KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 MOJOSARI, MOJOKERTO

PENGEMBANGAN ALAT PERAGA KIT FLUIDA STATIS SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA SUB MATERI FLUIDA STATIS DI KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 MOJOSARI, MOJOKERTO Jurnal Inovas Penddkan Fska Vol. 02 No. 03 Tahun 2013, 70 74 PENGEMBANGAN ALAT PERAGA KIT FLUIDA STATIS SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA SUB MATERI FLUIDA STATIS DI KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 MOJOSARI, MOJOKERTO

Lebih terperinci

Model Matematis Pembandingan Tingkat Kepentingan Dan Kinerja Yang Dirasakan Untuk Menentukan Tingkat Kepuasan Pelanggan

Model Matematis Pembandingan Tingkat Kepentingan Dan Kinerja Yang Dirasakan Untuk Menentukan Tingkat Kepuasan Pelanggan Model Matemats Pembandngan Tngkat Kepentngan Dan Knerja ang Drasakan Untuk Menentukan Tngkat Kepuasan Pelanggan an Prhat Fakultas Ilmu Komputer Unverstas AKI Abstract Customer s satsfacton and dssatsfacton

Lebih terperinci

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS BAHASA DAN SENI RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) MATA KULIAH : TARI NUSANTARA II

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS BAHASA DAN SENI RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) MATA KULIAH : TARI NUSANTARA II 1. Fakultas / Program Stud : _Bahasa dan Sen/ Pend Sen Tar 2. Mata Kulah & Kode : Tar Nusantara II Kode : TAR 248 3. Jumlah SKS : Teor : - SKS Praktk : 2 SKS : Sem : v Waktu : 300 ment 4. Standar Kompetens

Lebih terperinci

OVERVIEW 1/40

OVERVIEW 1/40 http://www..deden08m.wordpress.com OVERVIEW 1/40 Konsep-konsep dasar dalam pembentukan portofolo optmal. Perbedaan tentang aset bersko dan aset bebas rsko. Perbedaan preferens nvestor dalam memlh portofolo

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU KIMIA MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW MELALUI SUPERVISI KLINIS. Haholongan Simanjuntak

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU KIMIA MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW MELALUI SUPERVISI KLINIS. Haholongan Simanjuntak MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU KIMIA MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW MELALUI SUPERVISI KLINIS Haholongan Smanjuntak SMA Neger 1 Sanjur Mulamula, Kabupaten Samosr, SUMUT haholongansmanjuntak@yahoo.co.d

Lebih terperinci

Komang Suardika; ;Undiksha; 2010

Komang Suardika; ;Undiksha; 2010 Komang Suardka;09004;Undksha; 00 PERCOBAAN PESAWAT ATWOOD. Tujuan Percobaan Tujuan dar dlakukannya percobaan n adalah untuk memperlhatkan berlakunya hukum Newton dan menghtung momen nersa katrol.. Landasan

Lebih terperinci

BAB IV TRIP GENERATION

BAB IV TRIP GENERATION BAB IV TRIP GENERATION 4.1 PENDAHULUAN Trp Generaton td : 1. Trp Producton 2. Trp Attracton j Generator Attractor - Setap tempat mempunya fktor untuk membangktkan dan menark pergerakan - Bangktan, Tarkan

Lebih terperinci

BAB X RUANG HASIL KALI DALAM

BAB X RUANG HASIL KALI DALAM BAB X RUANG HASIL KALI DALAM 0. Hasl Kal Dalam Defns. Hasl kal dalam adalah fungs yang mengatkan setap pasangan vektor d ruang vektor V (msalkan pasangan u dan v, dnotaskan dengan u, v ) dengan blangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penlaan Prestas Kerja 2.1.1 Pengertan Pretas Kerja Menurut Prawrosentono (2009: 2) prestas kerja adalah hasl kerja yang dcapa oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu

Lebih terperinci

Sri Indra Maiyanti, Irmeilyana,Verawaty Jurusan Matematika FMIPA Unsri. Yanti_Sri02@Yahoo.com

Sri Indra Maiyanti, Irmeilyana,Verawaty Jurusan Matematika FMIPA Unsri. Yanti_Sri02@Yahoo.com Apled Customer Satsfacton Index (CSI) and Importance- Performance Analyss (IPA) to know Student Satsfacton Level of Srwjaya Unversty Lbrary Servces Sr Indra Mayant, Irmelyana,Verawaty Jurusan Matematka

Lebih terperinci

PENDUGAAN RASIO, BEDA DAN REGRESI

PENDUGAAN RASIO, BEDA DAN REGRESI TEKNIK SAMPLING PENDUGAAN RASIO, BEDA DAN REGRESI PENDAHULUAN Pendugaan parameter dar peubah Y seharusnya dlakukan dengan menggunakan nformas dar nla-nla peubah Y Bla nla-nla peubah Y sult ddapat, maka

Lebih terperinci

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 4.

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 4. TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 4 KONSEP DASAR 2/40 Ada tga konsep dasar yang perlu dketahu untuk memaham pembentukan portofolo optmal, yatu: portofolo efsen dan portofolo optmal fungs utltas dan

Lebih terperinci

Optimasi Fungsi Keanggotaan Fuzzy

Optimasi Fungsi Keanggotaan Fuzzy Optmas Fungs Keanggotaan Fuzzy Tsukamoto Dua Tahap Menggunakan Algortma Genetka Pada Pemlhan Calon Penerma Beasswa dan BBP-PPA (Stud Kasus: PTIIK Unverstas Brawjaya Malang) Bunga Amela Restuputr 1, Wayan

Lebih terperinci

Konsep Berpikir Anababe sebagai Solusi Pembelajaran Fisika pada Materi Listrik DC dan Listrik AC di SMA

Konsep Berpikir Anababe sebagai Solusi Pembelajaran Fisika pada Materi Listrik DC dan Listrik AC di SMA Jurnal Mater dan Pembelajaran Fska (JMPF) 26 Konsep Berpkr nababe sebaga Solus Pembelajaran Fska pada Mater Lstrk DC dan Lstrk C d SM 1 1 SM Neger 2 Kebumen Jln. Cncn Kota 8. Kebumen E-mal : by_fs@yahoo.co.d.

Lebih terperinci

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 4 BABV PEMILIHAN PORTOFOLIO. E o\r S landellll~ PH D (_\'vm

TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 4 BABV PEMILIHAN PORTOFOLIO. E o\r S landellll~ PH D (_\'vm TEORI INVESTASI DAN PORTFOLIO MATERI 4 BABV PEMILIHAN PORTOFOLIO E o\r S landellll~ PH D (_\'vm KONSEP DASAR 2/40 Ada tga konsep dasar yang perlu dketahu untuk memaham pembentukan portofolo optmal, yatu:

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN DAN TEKNIK ANALISIS DATA

BAB III METODE PENELITIAN DAN TEKNIK ANALISIS DATA 33 III METODE PENELITIN DN TEKNIK NLII DT. Tujuan Peneltan esua dengan permasalahan yang sudah dkemukakan pada bab sebelumnya, peneltan n dlakukan dengan tujuan:. Untuk mendeskrpskan proses penerapan strateg

Lebih terperinci

Mengetahui Prosedur. Sistem Pendidikan di Jepang P.10. Merencanakan Belajar ke Luar Negeri P.11. Memilih Sekolah P.12. Jadwal P.14

Mengetahui Prosedur. Sistem Pendidikan di Jepang P.10. Merencanakan Belajar ke Luar Negeri P.11. Memilih Sekolah P.12. Jadwal P.14 Mengetahu Prosedur Sstem Penddkan d Jepang P.10 Merencanakan Belajar ke Luar Neger P.11 Memlh Sekolah P.12 Jadwal P.14 Mengumpulkan Informas P.16 Sstem Penddkan d Jepang Mengetahu Prosedur Sstem Penddkan

Lebih terperinci

PELABELAN HARMONIOUS PADA GRAF TANGGA DAN GRAF KIPAS

PELABELAN HARMONIOUS PADA GRAF TANGGA DAN GRAF KIPAS PELABELAN HARMONIOUS PADA GRAF TANGGA DAN GRAF KIPAS SKRIPSI Oleh Dony Rusdanto NIM 041810101044 JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 011 PELABELAN HARMONIOUS

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kamus Buku acuan yang memuat kata dan ungkapan, basanya dsusun menurut abjad berkut keterangan tentang makna, pemakaan, atau terjemahannya, kamus juga dsebut buku yang memuat

Lebih terperinci