HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KEPERGURUAN TINGGI DI SMA XAVERIUS II KOTA JAMBI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KEPERGURUAN TINGGI DI SMA XAVERIUS II KOTA JAMBI"

Transkripsi

1 1 HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA DENGAN MINAT ORANG TUA MENYEKOLAHKAN ANAKNYA KEPERGURUAN TINGGI DI SMA XAVERIUS II KOTA JAMBI Shanmada Smanjuntak 1), Dr.Hj. Farda Kohar, MP ), St Syuhada, S.Pd. ME 3) 1) Mahasswa Prod Penddkan Ekonom Jurusan PIPS FKIP Unverstas Jamb Emal: ) Pembmbng Utama, Dosen Penddkan Ekonom Jurusan PIPS FKIP Unverstas Jamb 3) Pembmbng Pendampng, Dosen Penddkan Ekonom Jurusan PIPS FKIP Unverstas Jamb. Kata Kunc: Tngkat Penddkan Orang tua, Mnat orang tua. ABSTRAK Penyebab mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg yatu tngkat penddkan orang tua. dmana masng-masng- masng pandangan orang tua tentang penddkan anaknya akan cenderung berbeda beda. Tujuan dlakukan peneltan n adalah untuk mengetahu hubungan Tngkat Penddkan Orang Tua dengan Mnat orang tua menyekolahkan anaknya ke Perguruan Tngg d SMA Xaverus II Kota Jamb. Jens peneltan n adalah Deskrptf kuanttatf. Subjek dalam peneltan n adalah orang tua sswa kelas XII SMA Xaverus II Kota Jamb sebanyak 30 orang. Data dperoleh dengan cara menyebarkan angket dan danalss statstk dengan menggunakan rumus product moment. Hasl peneltan n menunjukkan bahwa: terdapat hubungan yang postf Tngkat Penddkan Orang Tua dengan Mnat Orang Tua Menyekolahkan Anaknya ke Perguruan Tngg Pada Orang Tua SMA Xaverus II Kota Jamb 01/013 Dar hasl analss perhtungan hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg dapat dlhat bahwa pada sgnfkan α = 0,05 dengan N = 30 dan r tabel = 0,361. Jka r htung = 0,606 lebh besar dar r tabel = 0,361 maka terdapat sgnfkan. Jad dapat dsmpulkan hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg terdapat hubungan sgnfkan karna r htung lebh besar dar r tabel atau atau 0,606 0,361.Hasl n kemudan dkonsultaskan kedalam tabel nterpretas koefsen korelas. Berdasarkan tabel nterpretas koefsen korelas, maka tngkat penddkan orang tua (X) dengan mnat orang tua keperguruan tngg memlk hubungan yang kuat. Berdasarkan hasl peneltan n dharapkan akan menjad bahan nforms dan masukan bag orang tua agar dapat menngkatkan mnat terhadap penddkan putra/putr untuk menyekolahkan sampa keperguruan tngg serta memperhatkan penddkan anaknya.

2 PENDAHULUAN Dalam Undang-Undang No. 0 tahun 003 dsebutkan bahwa: Penddkan nasonal berfungs untuk mengembangkan kemampuan serta menngkatkan mutu penddkan dan martabat bangsa Indonesa dalam mencerdaskan kehdupan bangsa dan mengembangkan manusa Indonesa seutuhnya. Menurut Hasbullah (009:) penddkan adalah member kta pembekalan yang tdak ada pada masa kanak-kanak akan tetap kta membutuhkannya pada waktu dewasa. Menurut Ihsan (011:17) dtnjau dar seg kelembagaan maka penyelenggaraan penddkan d Indonesa melalu dua jalur, yatu jalur penddkan sekolah dan jalur penddkan luar sekolah. Jalur penddkan sekolah merupakan penddkan dsekolah melalu kegatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesnambungan, sedang kan jalur penddkan luar sekolah merupakan penddkan yang dselenggarakan dluar sekolah melalu kegatan belajar mengajar tdak harus berkesnambungan. tngkat penddkan menurut UU No. 0 tahun 003 tentang sstem Penddkan Nasonal dsebut juga bahwa jenjang penddkan yang termasuk jalur penddkan sekolah terdr atas penddkan dasar (SD-SLTP), Penddkan menengah (SMU dan SMK), Penddkan Tngg (Unverstas, Insttut, Akademk dan Sekolah Tngg), Rulam (014:7) bahwa penddkan adalah tndakan khas manusa, penddkan berlansung dar oleh dan untuk manusa. Slameto, (010:180) menyatakan mnat adalah satu rasa lebh suka dan rasa keterkatan pada suatu hal atau aktvtas tanpa ada yang menyuruh, mnat pada dasarnya adalah penermaan suatu hubungan antara dr sendr dan sesuatu d luar dr, semakn kuat atau dekat hubungan tersebut, semakn besar mnat. Menurut abdllah (dalam ahart 013:15) mnat adalah sesuatu perangkat mental yang melput perasaan, harapan pendran, prasangka yang cenderung mengarahkan ndvdu kepada suatu plhan tertentu. Menurut ahmad (003:41) orang tua menjad penddk utama dan pertama bag anak-anaknya, orang tua mengasuh dan menddk anaknya dengan penuh tanggung jawab. Menurut Ihsan (011:66) kedua orang tua harus serng berjumpa dan berdalog dengan anakanaknya. Pergaulan dalam keluarga harus terjaln secara mesra dan harmons. Menurut Hdayanto (1988:45) orang tua dan juga keluarga adalah penddk kodrat yang berlansung selama hdup yang ddasarkan cnta kash. Ia merupakan penddk yang pertama dan utama dalam memberkan pengaruh kepada keprbadan anak. Orang tua adalah orang dewasa yang telah mampu berseda menerma pertanggungan jawab menddk keluarganya. Perguruan tngg juga dapat dartkan dengan suatu lembaga penddkan yang menyelenggarakan penddkan dan berbaga macam keahlan, msalnya: bdang penddkan, ekonom, hukum, pskolog, teknk, kesehatan dan lan-lan yang sesua dengan Undangundang No. 0 Tahun 003 menetapkan perguruan tngg berupa akademk, polteknk, sekolah tngg, nsttut atau unverstas yang dtetapkan oleh pemerntah. menjejangkan karr d perguruan tngg, akan mematangkan sswa bak ddalam memperoleh lmu, berperlaku dan cara berfkr. adapun tujuan dar perguruan tngg yatu: mempersapkan peserta ddk yang berlmu, kreatf, berdspln derdkas tngg dan dem kemajuan bangsa dan Negara dengan berbekal man dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengembangkan wadah kelmuan bag tenaga pengajar dan mahasswa-mahasswa sehngga dapat menngkatkan dan mengembangkan prestasnya.

3 Penyebab mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg yatu tngkat penddkan orang tua, dmana Masng-masng- masng pandangan orang tua tentang penddkan anaknya akan cenderung berbeda - beda, ada orang tua yang cenderung menganggap lulus sekolah menengah sudah cukup karena orang tua beranggapan bahwa ada yang tamat keperguruan tngg menganggur. jad orang tua tdak bermnat untuk menyekolahkan anaknya keperguruan tngg, tetap ada juga orang tua yang menganggap penddkan anak harus sampa perguruan tngg karena tamat sampa dsekolah menengah saja susah mencar pekerjaan jad karena tu orang tua bermnat menyekolahkan anaknya sampa keperguruan tngg. Adapun tujuan masalah peneltan n adalah untuk mengetahu Hubungan Tngkat Penddkan Orang Tua Dengan Mnat Orang Tua Menyekolahkan Anaknya Keperguruan Tngg D SMA Xaverus II Kota Jamb. KAJIAN PUSTAKA Slameto mendefenskan (010:180) mnat adalah suatu rasa lebh suka dan rasa keterkatan pada suatu hal atau aktvtas, tanpa ada yang menyuruh, mnat pada dasarnya adalah penermaan akan suatu hubungan antara dr sendr dengan sesuatu d luar dr. Mnat tdak dbawa sejak lahr, melankan dperoleh kemudan. Menurut Gntng (dalam Varny 009:3) mnat adalah kecenderungan hat akan sesuatu kengnan, kesukaan terhadap sesuatu, semakn besar mnat seseorang terhadap sesuatu, perhatannya lebh mudah tercurah pada hal tersebut. Schunk, (1996) membag defns mnat secara umum menjad tga, yatu: mnat prbad, mnat stuas dan mnat dalam cr pskolog. Dantaranya adalah sebaga berkut: Mnat prbad, dartkan sebaga karakterstk keprbadan seseorang yang relatf stabl, yang cendrung menetap pada dr seseorang. Mnat prbad basanya dapat langsung membawa seseorang pada beberapa aktftas atau topk yang spesfk. Mnat prbad dapat dlhat ketka seseorang menjadkan sebuah aktvtas atau topk sebaga plhan untuk hal yang past, secara umum menyuka topk atau aktvtas tersebut, menmbulkan kesenangan prbad serta topk atau aktvtas yang djalan memlk art pentng bag seseorang tersebut,. Mnat stuas merupakan mnat yang sebagan besar dbangktkan oleh konds lngkungan, 3. Mnat dalam cr pskolog merupakan nteraks dar mnat prbad seseorang dengan cr-cr mnat lngkungan. Rennnger menjelaskan bahwa mnat pada defns n tdak hanya pada karena seseorang lebh menyuka sebuah aktvtas atau topk, tetap karena aktvtas atau topk tersebut memlk nla yang tngg dan mengetahu lebh banyak mengena topk atau aktvtas tersebut.( (Psklog Penddkan dakses tanggal 15 jul 014). Menurut Hlgard (dalam slameto 010:57) mendefenskan mnat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatkan dan mengenang beberapa kegatan. Kegatan yang dmnat seseorang, dperhatkan terus-menerus yang dserta dengan rasa senang, mnat slalu dkut dengan perasaan senang dan dar stu dperoleh kepuasan. Iskandar (dalam Hermansyah 013:1) mendefnskan mnat adalah usaha dan kemauan untuk mempelajar dan mencar sesuatu, selanjutnya mnat sebaga sesuatu konds yang terjad apabla seseorang melhat cr-cr sementara atau sementara stuas yang dhubungkan dengan kengnan-kengnan sendr. Tngkat atau jenjang penddkan adalah tahap penddkan yang berkelanjutan yang dtetapkan berdasarkan tngkat perkembangan peserta ddk, tngkat kerumtan bahan pengajaran dan cara menyajkan bahan pengajaran. Jenjang penddkan sekolah terdr dar penddkan dasar, menengah dan penddkan tngg ( Ihsan, 011: ). 3

4 Ddalam Undang-Undang No.0 tahun 003 tentang sstem Penddkan Nasonal dsebutkan bahwa jenjang penddkan adalah tahapan penddkan yang dtetapkan berdasarkan tngkat perkembangan peserta ddk, tujuan yang akan dcapa, dan kemampuan yang dkembangkan. dan ddalam Undang-Undang No. 0 tahun 003 tentang sstem Penddkan Nasonal dsebut juga bahwa jenjang penddkan yang termasuk jalur penddkan sekolah terdr atas penddkan dasar (SD-SLTP), Penddkan menengah (SMU dan SMK), Penddkan Tngg (Unverstas, Insttut, Akademk dan Sekolah Tngg). 1. Penddkan Formal Menurut Rulam (014:9) Penddkan formal dkenal sepert sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtdayah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Madrasah Tsanawyah (M.Ts.), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Alyah (MA). Menurut Undang- Undang RI No 0 Tahun 003 dsebutkan bahwa penddkan formal adalah jalur penddkan yang berstruktur dan berjenjang yang terdr atas penddkan dasar, penddkan menengah dan penddkan tngg. Dengan demkan yang termasuk dalam jalur penddkan formal adalah sebaga berkut: A. Penddkan dasar Dalam UU No. 0 Tahun 003 Pasal 17 ayat () tentang SISDIKNAS Mengatakan bahwa Penddkan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtdayah (MI) atau bentuk lannya yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan Madrasa Tsyanawah (MTS), atau bentuk lan yang sederajat. Penddkan dasar untuk tngkat SD dan MI umumnya dtempuh selama 6 tahun, dan untuk tngkat SMP dan MTs sederajat umumnya dtempuh dengan masa penddkan 3 tahun, sehngga untuk menamatkan penddkan dasar seseorang harus menempuh masa penddkan dsekolah selama 9 tahun. Menurut Bastan (006:5) sekolah dasar adalah tahapan penddkan awal yang basanya dmula oleh anak yang berumur 6 atau 7 tahun. Sekolah dasar dtempuh dalam masa 6 tahun yatu dar kelas 1 sampa kelas 6. Pada akhrnya kelas 6, murd sekolah dasar dwajbkan mengkut ujan nasonal untuk menentukan kelulusan dar sekolah. Berdasarkan uraan datas jelaslah bahwa seharusnya mengenyam penddkan setdaknya sampa penddkan dasar agar mereka tahu apa yang dbutuhkan seorang sehngga mereka merasa bertanggung jawab atas keberhaslan dan kegagalan dalam belajar. B. Penddkan Menengah Penddkan menengah merupakan kelanjutan dar penddkan dasar. penddkan menengah terdr atas penddkan menengah umum dan menengah kejuruan yang lama penddkannya 3 tahun. Sedangkan penddkan menengah kejuruan yang fungsnya untuk mempersapkan peserta ddk untuk memasuk duna atau lapangan kerja. peserta ddk dtuntut untuk dapat menghubungkan kemampuannya yang akan dmasuknya kelak dan masyarakat dmana a berada. Menurut Ihsan (011:3) Penddkan menengah adalah penddkan yang mempersapkan peserta ddk menjad anggota masyarakat yang memlk kemampuan mengadakan hubungan tmbal balk dengan lngkungan sosal budaya, dan alam sektar, serta dapat mengembangkan kemampuan lebh lanjut dalam duna kerja atau penddkan tngg, setelah menyelesakan tngkat penddkan dasar, seseorang dapat melanjutkan penddkannya ketngkat penddkan menengah yang merupakan kelanjutan dar penddkan dasar. Dalam Undang-Undang No. 0 Tahun 003 Pasal 18 Ayat () penddkan menengah terdr atas penddkan menengah umum dan menengah kejuruan dan ayat (3) penddkan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan Madrasah Alyah (MAK) atau bentuk lan sederajat. penddkan umum merupakan penddkan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang dperlukan oleh peserta ddk untuk melanjutkan penddkan ketngkat yang lebh tngg, sedangkan penddkan kejuruan yang mempersapkan peserta ddk untuk bekerja dalam bdang tertentu, lama penddkan yang dtempuh selama 3 tahun. Peserta ddk dtuntut untuk dapat 4

5 mengaplkaskan kemampuannya sesua dengan lngkungan sosal dan budaya serta duna kerja yang akan dmasuknya. C. Penddkan Tngg Undang-Undang No Tahun 003 Pasal 19 ayat 1 penddkan tngg merupakan jenjang penddkan setelah penddkan menengah yang mencakup program penddkan dploma, sarjana, megster, spesals dan doktor yang dselenggarakan oleh perguruan tngg. tngkat penddkan dperguruan tngg dapat dtempuh dalam masa penddkan yang beranekaragam sesua dengan bdang dan tngkatan yang mereka ambl. pada umumnya Dploma 1 (D1) dselesakan dalam satu tahun, Dploma II (D ) dselesakan dalam waktu dua tahun, Dploma III (D 3 ) Dselesakan dalam 3 tahun, sedangkan dploma 4 (D4) Dselesakan dalm waktu empat tahun dan strata satu ( S1) Dselesakan dalam masa stud tujuh tahun sampa empat belas semester (3.5-7 Tahun) Sesua dengan kemampuan peserta ddk. Tngkat penddkan dperguran tngg dlaksanakan secara terbuka dengan sstem kredt Semester (SKS) sehngga member kesempatan yang luas bag mereka yang memlk kemampuan tngg untuk dapat menyelesakan penddkannya lebh cepat. Menurut Ihsan (011:3), penddkan tngg dartkan sebaga penddkan yang mempersapkan peserta ddk untuk menjad anggota masyarakat yang memlk tngkat kemampuan tngg yang bersfat akademk dan atau profesonal sehngga dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau mencptakan lmu pengetahuan, teknolog dan sen dalam rangka pembangunan nasonal dan menngkatkan kesejahteraan manusa. Dalam peraturan pemerntah PP No 61 (dalam Bastan 006:7) penddkan tngg adalah penddkan djalur penddkan sekolah yang jenjangnya lebh tngg darpada penddkan menengah. Penddkan tngg terdr dar : 1. Perguruan tngg, yatu satuan penddkan yang menyelenggarakan penddkan tngg,. Penddkan akademk, yatu penddkan tngg yang terutama darahkan pada penguasaan lmu pengetahuan dan pengembangannya, 3. Penddkan profesonal, yatu penddkan tngg yang terutama darahkan pada kesapan penerapan keahlan tertentu. Penddkan formal adalah penddkan yang dtempuh seseorang dar lembaga penddkan yang telah d sah kan oleh menurut Undang-Undang atau peraturan yang berlaku mula dar penddkan dasar (SD dan SMP), penddkan menengah (SMA/SMK), sampa dengan penddkan tngg (Dploma dan Strata). Penddkan nonformal bsa terjad, bak ddalam maupun d luar lembaga-lembaga penddkan dan melayan orang-orang semua usa. penddkan yang dselenggarakan dengan sengaja, tertb, dan berencana, dluar kegatan persekolahan dan pada umumnya tdak dbag atas jenjang. Jad ndkator-ndkator tngkat penddkan formal orang tua Menurut UUD No. 0 Tahun 003 adalah SD, SMP, SMA, dan penddkan tngg atau perguruan tngg( D1,D,D3, S1 S, dan S3). Menurut Ihsan (011:130-13) Penddkan Tngg merupakan lanjutan penddkan menengah yang dselenggarakan untuk menyapkan peserta untuk menjad anggota masyarakat yang memlk kemampuan akademk atau profesonal yang dapat menerapkan, mengembangkan dan mencptakan pengetahuan, teknolog dan kesenan. satuan penddkan yang menyelenggarakan penddkan tngg dsebut perguruan tngg yang dapat terbentuk akademk, polteknk, sekolah tngg, nsttut dan unverstas. Akademk merupakan perguruan tngg yang menyelenggarakan penddkan terapan dalam satu cabang atau sebagan cabang pengetahuan, teknolog, atau kesenan tertentu. Polteknk merupakan perguruan tngg yang menyelenggarakan penddkan terapan dalam sejumlah pengetahuan khusus, sekolah tngg merupakan perguruan tngg yang menyelenggarakan penddkan akademk atau profesonal dalam suatu dspln lmu tertentu, nsttut merupakan perguruan tngg yang terdr atas sejumlah fakultas yang 5

6 menyelenggarakan penddkan akademk atau profesonal dalam kelompok dspln lmu tertentu. Menurut Hdayanto (1988:7) Penddkan orang tua adalah kegatan penddkan yang dselenggarakan untuk membentuk keprbadan secara utuh. Menurut Uhbyat (003: 41) orang tua (ayah dan bu) menjad penddk utama dan pertama bag anak-anaknya. Orang tua sebaga penddk adalah kodrat. Menurut Hdayanto (1988:45) orang tua adalah tempat menggantungkan dr bag anak sewajarnya. oleh karena tu orang tua berkewajban memberkan penddkan bag anaknya. Menurut Soemanto (006:9) setap orang tua mengdam-damkan agar anak cucunya kelak dapat hdup bahaga. mereka menghendak suatu kehdupan yang lebh layak, lebh bak dan lebh maju dar kehdupan yang dalam oleh mereka para orangtua. Begtu besarnya harapan para orangtua mengena kehdupan anak-anak yang sejahtera dmasa depan, namun mereka kurang mengert bagamana mereka mempersapkan anak-anak tu agar memlk potens untuk mengatas permasalahan hdup anak-anak dmasa mendatang. bahkan banyak dantara para orangtua yang dengan berbaga macam alasan ngn melepaskan dr dar tanggung jawab mempersapkan mental dan potens anak-anak mereka, mereka tdak membekal anak-anak dengan keprbadan yang kuat. Menurut UU nomor 0 Tahun 003 Tngkat penddkan orang tua adalah jenjang penddkan formal yang berkelanjutan dan pernah dtempuh oleh orang tua sswa. Penddkan formal adalah penddkan yang melalu jalur lembaga sekolah dar TK, SD, SMP, SMA sampa Perguruan Tngg, sedangkan penddkan nonformal adalah penddkan yang dperoleh dar pelathan dluar jalur penddkan formal. Slameto, (010:180) menyatakan mnat adalah satu rasa lebh suka dan rasa keterkatan pada suatu hal atau aktvtas tanpa ada yang menyuruh, mnat pada dasarnya adalah penermaan suatu hubungan antara dr sendr dan sesuatu d luar dr, semakn kuat atau dekat hubungan tersebut, semakn besar mnat. Menurut Hlgard (dalam slameto 010:57) mendefenskan mnat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatkan dan mengenang beberapa kegatan. Kegatan yang dmnat seseorang, dperhatkan terus-menerus yang dserta dengan rasa senang, mnat slalu dkut dengan perasaan senang dan dar stu dperoleh kepuasan. Jad berdasarkan uraan datas, penelt dapat menympulkan bahwa dar tngkat penddkan orang tua ada katannya dengan mnat orang tua dalam penddkan anaknya atau dalam menyekolahkan anak-anaknya kejenjang lebh tngg dan orang tua orang tua menghendak suatu kehdupan yang lebh layak, lebh bak dan lebh maju dar kehdupan yang dalam oleh mereka para orangtua. METODOLOGI PENELITIAN Peneltan n dmaksudkan untuk memperoleh data secara terukur, tentang hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg. Sesua dengan tujuan yang telah dkemukakan maka rancangan peneltan n menggunakan rancangan peneltan deskrpsf kuanttatf yatu peneltan tentang data yang dkumpulkan dan dnyatakan dalam bentuk angka-angka. Populas dalam peneltan n adalah orang tua sswa kelas XII SMA Xaverus II Kota Jamb yang berjumlah 104. Jens peneltan n adalah Deskrptf kuanttatf. Subjek dalam peneltan n adalah orang tua sswa kelas XII SMA Xaverus II Kota Jamb sebanyak 30 orang. 6

7 Instrumen atau alat peneltan dalam peneltan n adalah Angket/kuesoner hl n sesua dengan pendapat Menurut Sugyono (1997:97), nstrumen peneltan adalah suatu alat yang dgunakan untuk mengukur varabel peneltan. Peneltan n menggunakan angket dengan cara lansung dberkan kepada responden yatu orang tua sswa kelas XII SMA Xaverus II Kota Jamb. Teknk pengumpulan data yang dgunakan dalam peneltan n adalah dlakukan melalu angket dan dokumentas. Analss data adalah Menurut Haryad (009:167) Untuk menganalss data dperlukan suatu cara atau metode analss data hasl peneltan agar dapat dnterprestaskan sehngga laporan yang dhaslkan mudah dpaham, Analss data yang dgunakanyatu statstk dengan menggunakan rumus product moment. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Adapun pada bagan n akan ddeskrpskan data yang dperoleh dar hasl pengukuran dua varabel, yatu varabel tentang tngkat penddkan orang tua (X), dengan Mnat Orang Tua Menyekolahkan anaknya keperguruan tngg (Y). Tngkat penddkan orang tua yang dmaksud dalam peneltan n adalah tngkat penddkan menurut jenjang penddkan yang telah dtempuh, melalu penddkan formal dsekolah berjenjang dar tngkat yang palng rendah sampa tngkat yang palng tngg, yatu dar SD, SMP, SMA sampa perguruan tngg. 7 Tabel 4.3 Data tentang Tngkat penddkan orang tua (X) Dengan Mnat orang tua (Y) Penddkan Mnat TT T T T T Jumlah No SD SD SMP SMA PT 1 Sangat Bermnat Bermnat Cukup Bermnat Kurang Bermnat Tdak Bermnat Jumlah Berdasarkan tabel 4.3 Data Tngkat penddkan orang tua dengan Mnat orang tua. dalam peneltan n status tngkat penddkan orang tua tergolong tdak tamat SD dengan sangat bermnat sebanyak 1 orang, tdak tamat SD dengan bermnat sebanyak 0 orang, tdak tamat SD dengan cukup bermnat sebanyak 0 orang, tdak tamat SD dengan kurang bermnat sebanyak 0 orang, tdak tamat SD dengan tdak bermnat sebanyak 0 orang. tamat SD dengan sangat bermnat sebanyak 1 orang, tamat SD dengan bermnat sebanyak orang, tamat SD dengan cukup bermnat sebanyak 0 orang, tamat SD dengan kurang bermnat sebanyak 0 orang, tamat SD dengan tdak bermnat sebanyak 0 orang, tamat SMP dengan sangat bermnat sebanyak 5 orang, tamat SMP dengan bermnat sebanyak 4 orang, tamat SMP dengan cukup bermnat sebanyak 1 orang, tamat SMP dengan kurang bermnat sebanyak 0 orang, tamat SMP dengan tdak bermnat sebanyak 0 orang. tamat SMA dengan sangat bermnat sebanyak 4 orang, tamat SMA dengan bermnat sebanyak orang, tamat SMA dengan sangat cukup bermnat sebanyak 0 orang, tamat SMA dengan kurang bermnat sebanyak 0 orang, tamat SMA dengan tdak bermnat sebanyak 0 orang. tamat PT dengan sangat bermnat sebanyak 1 orang, tamat PT dengan bermnat sebanyak 8 orang, tamat PT

8 rxy n n X XY X n X Y Y Y dengan sangat cukup bermnat sebanyak 1 orang, tamat PT dengan kurang bermnat sebanyak 0 orang, tamat PT dengan tdak bermnat sebanyak 0 orang. Dar hasl perhtungan dengan menggunakan rumus product moment. dperoleh hasl koefsen korelas sebaga berkut: r = n( xy) ( x) ( y) [n ( x ) ( x) ][ n( y ) ( y) ] 8 Ket: r = Koefsen Korelas yang dcar y = Jumlah varabel y xy = Jumlah perkalan x dan y x = Jumlah pangkat varabel x x = Jumlah nla varabel x y = Jumlah pangkat varabel y menggunakan rumus Person Produck Moment, adalah sebaga berkut : rxy n n X X Y X n X Y Y Y rxy = ( 30 ) ( ) - ( 3 ) ( 447 ) {( 30 )( 1769 ) - ( 3 ) } {( 30 )( 0933 ) - ( 447 ) } rxy = { 3341 } { } rxy = rxy = ,93703 rxy = 0,606 r htung = 0,606 r table = 0,361

9 Dar hasl analss perhtungan hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg dapat dlhat bahwa pada sgnfkan α = 0,05 dengan N = 30 dan r tabel = 0,361. Jka r htung = 0,606 lebh besar dar r tabel = 0,361 maka terdapat sgnfkan. Jad dapat dsmpulkan hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg terdapat hubungan sgnfkan karna r htung lebh besar dar r tabel atau atau 0,606 0,361. Hasl n kemudan dkonsultaskan kedalam tabel nterpretas koefsen korelas. Berdasarkan tabel nterpretas koefsen korelas, maka tngkat penddkan orang tua (X) dengan mnat orang tua keperguruan tngg memlk hubungan yang kuat. Berdasarkan rumusan masalah yang dajukan dalam peneltan n adalah: Apakah Terdapat Hubungan Tngkat Penddkan Orang Tua Dengan Mnat Orang Tua Menyekolahkan Anaknya Keperguruan Tngg d SMA Xaverus II Kota Jamb. Dalam rumusan masalah tentang apakah terdapat hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg d SMA Xaverus II Kota Jamb, Berdasarkan analss dengan menggunakan Korelas product moment dperoleh r htung 0,606 nla r tabel 0,361, Hasl n kemudan dkonsultaskan kedalam tabel nterpretas koefsen korelas. Berdasarkan tabel nterpretas koefsen korelas, maka tngkat penddkan orang tua (X) dengan mnat orang tua keperguruan tngg (Y) memlk hubungan yang kuat maka hpotess menyatakan terdapat hubungan/korelas tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg d SMA Xaverus II Kota Jamb. Hal In dkarenakan tngkat penddkan orang tua mampu mempengaruh cara berfkr orang tua atau pandangan orang tua terhadap penddkan terutama dalam penddkan anaknya dan bermnat untuk menyekolahkan atau mengngnkan anaknya lebh dar drnya (orang tua), Hal n sesua dengan Undang-Undang No. 0 tahun 003 dsebutkan bahwa: Penddkan nasonal berfungs untuk mengembangkan kemampuan serta menngkatkan mutu penddkan dan martabat bangsa Indonesa dalam mencerdaskan kehdupan bangsa dan mengembangkan manusa Indonesa seutuhnya. Menurut Soemanto (006:9) setap orang tua mengdam-damkan agar anak cucunya kelak dapat hdup bahaga. Mereka menghendak suatu kehdupan yang lebh layak, lebh bak dan lebh maju dar kehdupan yang dalam oleh mereka para orangtua. Begtu besarnya harapan para orangtua mengena kehdupan anak-anak yang sejahtera dmasa depan, namun mereka kurang mengert bagamana mereka mempersapkan anak-anak tu agar memlk potens untuk mengatas permasalahan hdup anak-anak dmasa mendatang. Bahkan banyak dantara para orangtua yang dengan berbaga macam alasan ngn melepaskan dr dar tanggung jawab mempersapkan mental dan potens anak-anak mereka, mereka tdak membekal anak-anak dengan keprbadan yang kuat. Dan sedangkan mnat menurut Slameto, (003:180) menyatakan mnat adalah satu rasa lebh suka dan rasa keterkatan pada suatu hal atau aktvtas tanpa ada yang menyuruh, mnat pada dasarnya adalah penermaan suatu hubungan antara dr sendr dan sesuatu d luar dr, semakn kuat atau dekat hubungan tersebut, semakn besar mnat. Jad dapat dsmpulkan bahwa, tngkat penddkan orang tua akan menentukan orang tua dalam membmbng dan mengarahkan anaknya dalam hal penddkan. skap yang terbentuk pada masng-masng orang tua pada setap jenjang penddkan formal akan berbeda-beda antara lulusan sekolah dasar (SD), lulusan sekolah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), atau lulusan perguruan tngg (Dploma, Strata) hal n yang menjad latar belakang tngkat penddkan orang tua menjad faktor yang mempengaruh orang tua dalam membmbng dan mengarahkan anaknya dalam hal penddkan yang akan dtempuh anaknya. Berdasarkan teor dan analss data terdapat hubungan tngkat penddkan orang tua dengan mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg pada orang tua sswa kelas XII SMA Xaverus II Kota Jamb. 9

10 KESIMPULAN DAN SARAN Kesmpulan Berdasarkan hasl perhtungan dan pembahasan pada peneltan yang dlakukan d SMA Xaverus II Kota Jamb, maka peneltan n dapat dsmpulkan bahwa: Terdapat hubungan tngkat Penddkan Orang Tua dengan Mnat Orang Tua Menyekolahkan Anaknya Keperguruan Tngg d SMA Xaverus II Kota Jamb, sebesar rxy htung 0,606, sehngga dapat dkatakan semakn tngg tngkat penddkan orang tua maka semakn mnat orang tua menyekolahkan anaknya keperguruan tngg. Saran Dlhat dar hasl analss data ternyata tngkat penddkan memlk hubungan dengan mnat orang tua menyekolahkan anak keperguruan tngg. bag orang tua berdasarkan hasl peneltan n dharapkan akan menjad bahan nformas dan masukan agar orang tua dapat menngkatkan mnat terhadap penddkan putra/putr untuk menyekolahkan sampa keperguruan tngg. 10

11 11 DAFTAR PUSTAKA Ahart, 013. Hubungan Status Sosal Ekonom Orang Tua Dan Prestas Belajar Dengan Mnat Sswa Melanjutkan Keperguruan Tngg Pada Sswa Kelas XII Sman Merangn, Skrps, unverstas jamb.. Ahmad Abu, 009.Ilmu Sosal Dasar. Jakarta: PT. Rneka Cpta. Ahmad Abu dan Uhbyat, 003. Ilmu Penddkan, Jakarta: PT. Rneka Cpta. Arkunto, 010. Prosedur peneltan. Jakarta: PT. Rneka Cpta. Bastan, 006. Akuntans Penddkan. Jakarta Penerbt Erlangga. Haryad, 009. Statstk Penddkan. PT. Prestas Pustakaraya Jakarta. Hasbullah, 009. Dasar-Dasar Ilmu Penddkan. Penerbt PT RajaGrafndo Persada, Jakarta. Hermansyah, 013. Hubungan Status Sosal Ekonom Orang Tua Dan Prestas Praktek Kerja Industr Dengan Mnat Berwrausaha Sswa Smk Neger Sman 1 Kota Jamb, Skrps, unverstas jamb. Hdayanto, Mengenal manusa dan penddkan. Penerbt Lbertty, Yogyakarta. dakses tanggal 15 jul 014. http//amr daper.blogspot.com dakses november 014. Ihsan, Puad, 011. Dasar-Dasar Kependdkan. Penerbt Rneka Cpta, Jakarta. Rulam, 014. Pengantar penddkan. Yogyakarta Slameto, 010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruh. Jakarta: Rneka Cpta. Soemanto, Wasty Penddkan Wraswasta. Jakarta: PT Bum Aksara Sutn, 01. Hubungan Tngkat Ekonom Orang Tua Terhadap Mnat Menyekolahkan Anak D Dusun Mendongan Desa Banyukunng Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Tahun 01. Undang-undang RI No 0 Tahun 003. SstemPenddkan Nasonal. Bandung : Ctra Umbara. Undang-undang RI No 0 Tahun 004. SstemPenddkan Nasonal. Bandung : Ctra Umbara. Varny. 009, Hubungan Persapan Penerapan Penddkan Percakapan Hdup (Lfe Skll)Dengan Mnat Berwrausaha Pada Sswa Smk 4 Kota Jamb, Skrps, unverstas jamb

12 1

PowerPoint Slides by Yana Rohmana Education University of Indonesian

PowerPoint Slides by Yana Rohmana Education University of Indonesian SIFAT-SIFAT ANALISIS REGRESI PowerPont Sldes by Yana Rohmana Educaton Unversty of Indonesan 2007 Laboratorum Ekonom & Koperas Publshng Jl. Dr. Setabud 229 Bandung, Telp. 022 2013163-2523 Hal-hal yang akan

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN PENDAPATAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG RUMAH TANGGA BERBAHAN BAKU UTAMA SAGU DAN IKAN

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN PENDAPATAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG RUMAH TANGGA BERBAHAN BAKU UTAMA SAGU DAN IKAN ANALISIS NILAI TAMBAH DAN PENDAPATAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG RUMAH TANGGA BERBAHAN BAKU UTAMA SAGU DAN IKAN (THE ANALYSIS OF ADDED VALUE AND INCOME OF HOME INDUSTRY KEMPLANG BY USING FISH AND TAPIOCA AS

Lebih terperinci

PENGARUH DIFERENSIASI JASA DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN PADA RUMAH SAKIT ISLAM GORONTALO

PENGARUH DIFERENSIASI JASA DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN PADA RUMAH SAKIT ISLAM GORONTALO PENGARUH DIFERENSIASI JASA DAN KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN PADA RUMAH SAKIT ISLAM GORONTALO Oleh; Zulfah Abdussamad Dosen FEB Unverstas Neger Gorontalo Abstrak Persangan bsns d bdang kesehatan

Lebih terperinci

Mengetahui Prosedur. Sistem Pendidikan di Jepang P.10. Merencanakan Belajar ke Luar Negeri P.11. Memilih Sekolah P.12. Jadwal P.14

Mengetahui Prosedur. Sistem Pendidikan di Jepang P.10. Merencanakan Belajar ke Luar Negeri P.11. Memilih Sekolah P.12. Jadwal P.14 Mengetahu Prosedur Sstem Penddkan d Jepang P.10 Merencanakan Belajar ke Luar Neger P.11 Memlh Sekolah P.12 Jadwal P.14 Mengumpulkan Informas P.16 Sstem Penddkan d Jepang Mengetahu Prosedur Sstem Penddkan

Lebih terperinci

Sri Indra Maiyanti, Irmeilyana,Verawaty Jurusan Matematika FMIPA Unsri. Yanti_Sri02@Yahoo.com

Sri Indra Maiyanti, Irmeilyana,Verawaty Jurusan Matematika FMIPA Unsri. Yanti_Sri02@Yahoo.com Apled Customer Satsfacton Index (CSI) and Importance- Performance Analyss (IPA) to know Student Satsfacton Level of Srwjaya Unversty Lbrary Servces Sr Indra Mayant, Irmelyana,Verawaty Jurusan Matematka

Lebih terperinci

BAB X RUANG HASIL KALI DALAM

BAB X RUANG HASIL KALI DALAM BAB X RUANG HASIL KALI DALAM 0. Hasl Kal Dalam Defns. Hasl kal dalam adalah fungs yang mengatkan setap pasangan vektor d ruang vektor V (msalkan pasangan u dan v, dnotaskan dengan u, v ) dengan blangan

Lebih terperinci

IMAGE CLUSTER BERDASARKAN WARNA UNTUK IDENTIFIKASI KEMATANGAN BUAH TOMAT DENGAN METODE VALLEY TRACING

IMAGE CLUSTER BERDASARKAN WARNA UNTUK IDENTIFIKASI KEMATANGAN BUAH TOMAT DENGAN METODE VALLEY TRACING IMAGE CLUSTER BERDASARKAN WARNA UNTUK IDENTIFIKASI KEMATANGAN BUAH TOMAT DENGAN METODE VALLEY TRACING M. Helmy Noor 1, Moh. Harad 2 Program Pasasarjana, Jurusan Teknk Elektro, Program Stud Jarngan Cerdas

Lebih terperinci

Bab 1 Ruang Vektor. R. Leni Murzaini/0906577381

Bab 1 Ruang Vektor. R. Leni Murzaini/0906577381 Bab 1 Ruang Vektor Defns Msalkan F adalah feld, yang elemen-elemennya dnyatakansebaga skalar. Ruang vektor atas F adalah hmpunan tak kosong V, yang elemen-elemennya merupakan vektor, bersama dengan dua

Lebih terperinci

III PEMODELAN MATEMATIS SISTEM FISIK

III PEMODELAN MATEMATIS SISTEM FISIK 34 III PEMODELN MTEMTIS SISTEM FISIK Deskrps : Bab n memberkan gambaran tentang pemodelan matemats, fungs alh, dagram blok, grafk alran snyal yang berguna dalam pemodelan sstem kendal. Objektf : Memaham

Lebih terperinci

ALGORITMA UMUM PENCARIAN INFORMASI DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS METODE VEKTORISASI KATA DAN DOKUMEN

ALGORITMA UMUM PENCARIAN INFORMASI DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS METODE VEKTORISASI KATA DAN DOKUMEN ALGORITMA UMUM PENCARIAN INFORMASI DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS METODE VEKTORISASI KATA DAN DOKUMEN Hendra Bunyamn Jurusan Teknk Informatka Fakultas Teknolog Informas Unverstas Krsten Maranatha

Lebih terperinci

: Prodi D III Keperawatan STIKes ICMe Jombang

: Prodi D III Keperawatan STIKes ICMe Jombang KEJADIAN INSOMNIA PADA LANJUT USIA STUDI DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA JOMBANG Ika candra fbrant,rulat,s.km.m,kes,agus Muslm.,S.Kep.Ns Korespondens : Ika candra fbrant : Prod D III Keperawatan STIKes

Lebih terperinci

KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN 2010 2014

KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN 2010 2014 KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN 2010 2014 DEWAN KETAHANAN PANGAN 2010 . PESAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Ketahanan Pangan mash merupakan su yang pentng bag bangsa Indonesa. Sekalpun saat n Indonesa telah

Lebih terperinci

PENINGKATAN PERFORMANSI SISTEM TEMU BALIK INFORMASI DENGAN METODE PHRASAL TRANSLATION DAN QUERY EXPANSION

PENINGKATAN PERFORMANSI SISTEM TEMU BALIK INFORMASI DENGAN METODE PHRASAL TRANSLATION DAN QUERY EXPANSION PENINGKATAN PERFORMANSI SISTEM TEMU BALIK INFORMASI DENGAN METODE PHRASAL TRANSLATION DAN QUERY EXPANSION Ar Wbowo Teknk Multmeda dan Jarngan, Polteknk Neger Batam wbowo@polbatam.ac.d Abstract Development

Lebih terperinci

Analisis Regresi Linear Sederhana

Analisis Regresi Linear Sederhana Analss Regres Lnear Sederhana Al Muhson Pendahuluan Menggunakan metode statstk berdasarkan data yang lalu untuk mempredks konds yang akan datang Menggunakan pengalaman, pernyataan ahl dan surve untuk mempredks

Lebih terperinci

ANALISIS PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN EMPAT MATA UANG NEGARA ASEAN OLEH RUSNIAR H14102056

ANALISIS PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN EMPAT MATA UANG NEGARA ASEAN OLEH RUSNIAR H14102056 ANALISIS PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN EMPAT MATA UANG NEGARA ASEAN OLEH RUSNIAR H14102056 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 RINGKASAN RUSNIAR. Analss

Lebih terperinci

PERBANDINGAN TERAPI CAIRAN KRISTALOID DAN KOLOID TERHADAP PENURUNAN HEMOKONSENTRASI PADA PASIEN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER

PERBANDINGAN TERAPI CAIRAN KRISTALOID DAN KOLOID TERHADAP PENURUNAN HEMOKONSENTRASI PADA PASIEN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER PERBANDINGAN TERAPI CAIRAN KRISTALOID DAN KOLOID TERHADAP PENURUNAN HEMOKONSENTRASI PADA PASIEN DENGUE HEMORRHAGIC FEVER Karya Tuls Ilmah Dsusun untuk Memenuh Sebagan Syarat Memperoleh Derajat Sarjana

Lebih terperinci

Universitas Gadjah Mada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan VARIABEL RANDOM. Statistika dan Probabilitas

Universitas Gadjah Mada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan VARIABEL RANDOM. Statistika dan Probabilitas Unverstas Gadjah Mada Fakultas Teknk Jurusan Teknk Sl dan Lngkungan VARIABEL RANDOM Statstka dan Probabltas 2 Pengertan Random varable (varabel acak) Jens suatu fungs yang ddefnskan ada samle sace Dscrete

Lebih terperinci

EVALUASI UNJUK KERJA REAKTOR ALIR TANGKI BERPENGADUK MENGGUNAKAN PERUNUT RADIOISOTOP

EVALUASI UNJUK KERJA REAKTOR ALIR TANGKI BERPENGADUK MENGGUNAKAN PERUNUT RADIOISOTOP EVALUASI UNJUK KERJA REAKTOR ALIR TANGKI BERPENGADUK MENGGUNAKAN PERUNUT RADIOISOTOP NOOR ANIS KUNDARI, DJOKO MARJANTO, ARDHANI DYAH W Sekolah Tngg Teknolog Nuklr, BATAN Yogyakarta Jl.Babarsar Kotak Pos

Lebih terperinci

FAKTO OR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEPATUHAN IMUNISASI DI WILAYAH PUSKESMAS GODEAN II SLEMAN YOGYAKARTA

FAKTO OR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEPATUHAN IMUNISASI DI WILAYAH PUSKESMAS GODEAN II SLEMAN YOGYAKARTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKATT KEPATUHAN IMUNISASI DI WILAYAH PUSKESMAS GODEAN III SLEMAN YOGYAKARTA Karya Tuls Ilmah Dsusun Untuk Memenuh Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan Pada Program

Lebih terperinci

EVALUASI UNJUK KERJA POMP A SEKUNDER REAKTOR G.A SIW ABESSY SETELAH BEROPERASI SELAMA 15 TAHUN1)

EVALUASI UNJUK KERJA POMP A SEKUNDER REAKTOR G.A SIW ABESSY SETELAH BEROPERASI SELAMA 15 TAHUN1) Prosdng Semnar Hasl Peneltan P2TRR SSN 0854-5278 EVALUAS UNJUK KERJA POMP A SEKUNDER REAKTOR SERBAGUNA G.A SW ABESSY SETELAH BEROPERAS SELAMA 15 TAHUN1) Pusat Pengembangan Suroso, Slamet Wranto Teknolog

Lebih terperinci

Dalam rangka persiapan pelaksanaan seleksi CPNS Tahun 2013 bagi tenaga

Dalam rangka persiapan pelaksanaan seleksi CPNS Tahun 2013 bagi tenaga N{ENTER P},NDA\ AGUNAAN,\PAR{TUR NEGARA DAN REFOR\TAS BROKRAS REPBL1K NDONESA Yth. 1. Pejabat Pembna Kepegawaan Pusat; 2. Pejabat Pembna Kepegawaan Daerah. d Tempat SURAT EDARAN Nomor: SE/ l0 /M.PAN-R8rc812013

Lebih terperinci

S A R I 1. PENDAHULUAN 2. KEADAAN GEOLOGI. Oleh : Eddy R. Sumaatmadja dan Iskandar Sub Direktorat Batubara

S A R I 1. PENDAHULUAN 2. KEADAAN GEOLOGI. Oleh : Eddy R. Sumaatmadja dan Iskandar Sub Direktorat Batubara PENYELIDIKAN BATUBARA BERSISTIM DALAM CEKUNGAN SUMATERA SELATAN DI DAERAH NIBUNG DAN SEKITARNYA, KABUPATEN SAROLANGUN, PROVINSI JAMBI; KABUPATEN BATANGHARILEKO DAN MUSI RAWAS, PROVINSI SUMATERA SELATAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Optimisasi Operasi Sistem Tenaga Listrik dengan Konstrain Kapabilitas Operasi Generator dan Kestabilan Steady State Global

Optimisasi Operasi Sistem Tenaga Listrik dengan Konstrain Kapabilitas Operasi Generator dan Kestabilan Steady State Global Optmsas Operas Sstem Tenaga Lstr dengan Konstran Kapabltas Operas Generator dan Kestablan Steady State Global Johny Custer,, Indar Chaerah Gunadn, Ontoseno Penangsang 3, Ad Soeprjanto 4,,3,4 Jurusan Ten

Lebih terperinci

SOLUSI SISTEM PERSAMAAN DIFFERENSIAL NON LINEAR MENGGUNAKAN METODE EULER BERBANTUAN PROGRAM MATLAB SKRIPSI

SOLUSI SISTEM PERSAMAAN DIFFERENSIAL NON LINEAR MENGGUNAKAN METODE EULER BERBANTUAN PROGRAM MATLAB SKRIPSI SOLUSI SISTEM PERSAMAAN DIFFERENSIAL NON LINEAR MENGGUNAKAN METODE EULER BERBANTUAN PROGRAM MATLAB SKRIPSI oleh: RILA DWI RAHMAWATI NIM: 0350050 JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003 PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003 Dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengejar ketertinggalan di segala aspek kehidupan dan menyesuaikan

Lebih terperinci

PENENTUAN KOMBINASI WAKTU PERAWATAN PREVENTIF DAN JUMLAH PERSEDIAAN KOMPONEN GUNA MENINGKATKAN PELUANG SUKSES MESIN DALAM MEMENUHI TARGET PRODUKSI

PENENTUAN KOMBINASI WAKTU PERAWATAN PREVENTIF DAN JUMLAH PERSEDIAAN KOMPONEN GUNA MENINGKATKAN PELUANG SUKSES MESIN DALAM MEMENUHI TARGET PRODUKSI PENENTUAN KOMBINASI WAKTU PERAWATAN PREVENTIF DAN JUMLAH PERSEDIAAN KOMPONEN GUNA MENINGKATKAN PELUANG SUKSES MESIN DALAM MEMENUHI TARGET PRODUKSI Imam Sodkn Juusan Teknk Indust, Fakultas Teknolog Indust

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG WAJIB BELAJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG WAJIB BELAJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG WAJIB BELAJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

STUDI ALIRAN DAYA TIGA FASA UNTUK SISTEM DISTRIBUSI DENGAN METODE PENDEKATAN LANGSUNG

STUDI ALIRAN DAYA TIGA FASA UNTUK SISTEM DISTRIBUSI DENGAN METODE PENDEKATAN LANGSUNG No. 29 ol.2 Thn. X Aprl 2008 SSN: 085-871 STUD ALRAN DAYA TGA FASA UNTUK SSTEM DSTRBUS DENGAN METODE PENDEKATAN LANGSUNG Adrant, Slva ran Jurusan Ten Eletro Faultas Ten Unverstas Andalas, Padang Abstra

Lebih terperinci

UKURAN GEJALA PUSAT (UGP)

UKURAN GEJALA PUSAT (UGP) UKURAN GEJALA PUSAT (UGP) Pegerta: Rata-rata (average) alah suatu la yag mewakl suatu kelompok data. Nla dsebut juga ukura gejala pusat karea pada umumya mempuya kecederuga terletak d tegah-tegah da memusat

Lebih terperinci

LANGKAH-LANGKAH UJI HIPOTESIS DENGAN 2 (Untuk Data Nominal)

LANGKAH-LANGKAH UJI HIPOTESIS DENGAN 2 (Untuk Data Nominal) LANGKAH-LANGKAH UJI HIPOTESIS DENGAN (Utuk Data Nomal). Merumuska hpotess (termasuk rumusa hpotess statstk). Data hasl peelta duat dalam etuk tael slag (tael frekues oservas) 3. Meetuka krtera uj atau

Lebih terperinci

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011 TENTANG

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011

Lebih terperinci

FREQUENCY RESPONSE ANALYSIS

FREQUENCY RESPONSE ANALYSIS V FREQUENCY RESPONSE ANALYSIS Tujuan: Mhs mampu melakukan analss respon proses terhadap perubahan nput snus Mater:. arakterstk respon sstem order satu terhadap perubahan snus nput. Nyqust Plot 3. Bode

Lebih terperinci

Ruang Banach. Sumanang Muhtar Gozali UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Ruang Banach. Sumanang Muhtar Gozali UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Ruag Baach Sumaag Muhtar Gozal UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Satu kose etg d kulah Aalss ugsoal adalah teor ruag Baach. Pada baga aka drevu defs, cotoh-cotoh, serta sfat-sfat etg ruag Baach. Kta aka

Lebih terperinci

- Kuesioner Awal. - Kuesioner Penelitian Pendahuluan

- Kuesioner Awal. - Kuesioner Penelitian Pendahuluan - Kuesoner Awal - Kuesoner Peneltan Pendahuluan KUESIONE AWAL Saya Albertus Isha, mahasswa yang sedang menyusun Tugas Ahr. Saya mohon esedaan saudara untu meluangan watu saudara yang berharga untu mengs

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa pembukaan Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

Asset pricing model selection: Indonesian Stock Exchange

Asset pricing model selection: Indonesian Stock Exchange MPA Munch Personal epc Archve Asset prcng model selecton: Indonesan Stock xchange owland Bsmark Fernando Pasaru ABFI Insttute Peranas Jakarta Decemer 010 Onlne at http://mpra.u.un-muenchen.de/39817/ MPA

Lebih terperinci

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2/VII/PB/2014 NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU PADA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pembukaan Undang-Undang Dasar

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pembukaan Undang-Undang Dasar

Lebih terperinci

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) Bagian I (dari 5 bagian) Oleh, Dadang Yunus L, S.Pd.

Lebih terperinci

KAJIAN SIFAT KEKOMPAKAN PADA RUANG BANACH. Ariyanto* ABSTRACT

KAJIAN SIFAT KEKOMPAKAN PADA RUANG BANACH. Ariyanto* ABSTRACT Aryato, Kaja Sfat Keompaa pada Ruag Baah KAJIAN SIFAT KEKOMPAKAN PADA RUANG BANACH Aryato* ABSTRACT The propertes of ompatess Baah spaes ths paper s a geeralzato of a ompat uderstadg the system o the real

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG PEMBINAAN PRESTASI PESERTA DIDIK YANG MEMILIKI POTENSI KECERDASAN DAN/ATAU BAKAT ISTIMEWA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

KALENDER PENDIDIKAN. TK, TKLB, SD, SDLB, SMP, SMPLB, SMA, SMALB, SMK dan PNFI TAHUN PELAJARAN 2012/2013 KATA PENGANTAR

KALENDER PENDIDIKAN. TK, TKLB, SD, SDLB, SMP, SMPLB, SMA, SMALB, SMK dan PNFI TAHUN PELAJARAN 2012/2013 KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR KALENDER PENDIDIKAN TK, TKLB, SD, SDLB, SMP, SMPLB, SMA, SMALB, SMK dan PNFI TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Buku Kalender Pendidikan ini disusun sebagai pedoman dalam membuat rencana dan program

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN 2006 KATA PENGANTAR Buku Panduan ini dimaksudkan sebagai pedoman sekolah/madrasah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung:

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan unsure yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Dalam pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, pendidik merupakan

Lebih terperinci

MELALUI MODIFIKASI ALAT PEMBELAJARAN DAPAT MENINGKATKAN GERAK DASAR MENANGKAP BOLA MENDATAR DALAM BOLA TANGAN KELAS V SDN 1 SEPANGJAYA KEC

MELALUI MODIFIKASI ALAT PEMBELAJARAN DAPAT MENINGKATKAN GERAK DASAR MENANGKAP BOLA MENDATAR DALAM BOLA TANGAN KELAS V SDN 1 SEPANGJAYA KEC MELALUI MODIFIKASI ALAT PEMBELAJARAN DAPAT MENINGKATKAN GERAK DASAR MENANGKAP BOLA MENDATAR DALAM BOLA TANGAN KELAS V SDN 1 SEPANGJAYA KEC. KEDATON TAHUN PELAJARAN 2012/2013 (SKRIPSI) HARYATI 1013068068

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian itu sebagai factor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau segala

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian itu sebagai factor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau segala BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Menurut Sumadi suryabrata, variable sering dikatakan sebagai gejala yang menjadi obyek pengamatan penelitian. Sering juga dinyatakan variable penelitian

Lebih terperinci

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II PADA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT DITINJAU DARI POLA BELAJAR SISWA KELAS VII SEMESTER 2

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II PADA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT DITINJAU DARI POLA BELAJAR SISWA KELAS VII SEMESTER 2 EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II PADA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT DITINJAU DARI POLA BELAJAR SISWA KELAS VII SEMESTER 2 ( MTs Negeri Bekonang Tahun Ajaran 2008/2009 ) SKRIPSI Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode memiliki arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.1 Sedangkan penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seseorang. Sesuai dengan aktivitas yang di tekuni dan dilakukan seorang anak. Penguasaan

BAB I PENDAHULUAN. seseorang. Sesuai dengan aktivitas yang di tekuni dan dilakukan seorang anak. Penguasaan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gerak merupakan kemampuan dasar yang dimiliki manusia dari sejak lahir ke dunia ini sampai akhir hayat, gerak merupakan inti dari aktivitas kehidupan. Gerak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa

BAB I PENDAHULUAN. yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sekolah Dasar (selanjutnya disingkat menjadi SD) merupakan pendidikan yang paling penting keberadaannya. Setiap orang mengakui bahwa tanpa menyelesaikan pendidikan

Lebih terperinci

Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (Implikasinya terhadap Tugas Guru Matematika SMP/MTs dalam Pengembangan KTSP)

Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (Implikasinya terhadap Tugas Guru Matematika SMP/MTs dalam Pengembangan KTSP) PAKET FASILITASI PEMBERDAYAAN KKG/MGMP MATEMATIKA Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan (Implikasinya terhadap Tugas Guru Matematika SMP/MTs dalam Pengembangan KTSP) Penulis: Dra. Sri Wardhani Penilai:

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) IBU DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 1-12 BULAN DI KELURAHAN ANTIROGO KABUPATEN JEMBER

HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) IBU DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 1-12 BULAN DI KELURAHAN ANTIROGO KABUPATEN JEMBER HUBUNGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) IBU DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 1-12 BULAN DI KELURAHAN ANTIROGO KABUPATEN JEMBER SKRIPSI Oleh Sska Ar Puspta Sar NIM 072310101039 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini, penggunaan bahasa kedua (misal: bahasa Inggris) di Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini, penggunaan bahasa kedua (misal: bahasa Inggris) di Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, penggunaan bahasa kedua (misal: bahasa Inggris) di Indonesia bukan merupakan sesuatu yang asing lagi ditelinga kita bahkan sudah merupakan hal yang perlu

Lebih terperinci

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2010 TANGGAL 31 AGUSTUS 2010 NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI (Permendikbud no 49/2014) Hotel Harris, Bandung, 18 Agustus 2014

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI (Permendikbud no 49/2014) Hotel Harris, Bandung, 18 Agustus 2014 NASIONAL PENDIDIKAN TINGGI (Permendikbud no 49/2014) Hotel Harris, Bandung, 18 Agustus 2014 Doktor (S3) Doktor (S3) Terapan 9 Magister (S2) Magister (S2) Terapan 8 7 Sarjana (S1) Diploma 4 (D4) 6 Fokus

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan bagi seorang anak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan bagi seorang anak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan bagi seorang anak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari persoalan mencerdaskan anak bangsa. Melalui pendidikan dapat diasah dengan seperangkat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N W A L I K O T A B A N J A R M A S I N PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG WAJIB BACA TULIS AL-QURAN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR / MADRASAH IBTIDAIYAH, SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 13 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelak menjadi motor penggerak bagi kehidupan bermasyarakat, dan bernegara demi

BAB I PENDAHULUAN. kelak menjadi motor penggerak bagi kehidupan bermasyarakat, dan bernegara demi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Anak adalah pelita dan harapan bagi suatu masyarakat, bangsa, dan negara yang kelak menjadi motor penggerak bagi kehidupan bermasyarakat, dan bernegara demi terwujudnya

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) ONLINE JENJANG SMP, SMA DAN SMK NEGERI TAHUN 2015

PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) ONLINE JENJANG SMP, SMA DAN SMK NEGERI TAHUN 2015 PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) ONLINE JENJANG SMP, SMA DAN SMK NEGERI TAHUN 015 I. Pengertian Dalam petunjuk teknis yang dimaksud dengan: 1. Dinas adalah Dinas Pendidikan Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk

BAB I PENDAHULUAN. atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perpustakaan adalah kumpulan materi tercetak dan media non cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pengguna (Sulistyo-Basuki,

Lebih terperinci

IKHTISAR DATA PENDIDIKAN TAHUN 2011/2012

IKHTISAR DATA PENDIDIKAN TAHUN 2011/2012 IKHTISAR DATA PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT DATA DAN STATISTIK PENDIDIKAN 2012 Alamat : JL. Jenderal Sudirman, Kompleks Kemeneterian Pendidikan dan Kebudayaan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009 SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 12 TAHUN 2012 TENTANG WAJIB BELAJAR DINIYAH TAKMILIYAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 12 TAHUN 2012 TENTANG WAJIB BELAJAR DINIYAH TAKMILIYAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 12 TAHUN 2012 TENTANG WAJIB BELAJAR DINIYAH TAKMILIYAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI INDRAMAYU, Menimbang : a. bahwa pendidikan nasional disamping

Lebih terperinci

KEPUTUSAN. Nomor : HK.02.03/I/3/2/03478/2013. Tentang

KEPUTUSAN. Nomor : HK.02.03/I/3/2/03478/2013. Tentang KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN Nomor : HK.02.03/I/3/2/03478/2013 Tentang PEDOMAN PENYELENGGARAAN SELEKSI PENERIMAAN MAHASISWA BARU POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN (SIPENMARU POLTEKKES KEMENKES)

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL STUDI LANJUT BAGI PNS DOSEN DALAM KAITANNYA DENGAN KENAIKAN JABATAN, KEPANGKATAN, SERTIFIKASI DOSEN DAN EVALUASI BEBAN KERJA DOSEN Oleh : Trisno Zuardi, SH., MM Kepala Bagian Mutasi Dosen KEMENTERIAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015

Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015 1 Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015 NO Kepala Dinas Pendidikan 1 Provinsi DKI Jakarta 2 Provinsi Jawa Barat 3 Provinsi Jawa Tengah 4 Provinsi DI Yogyakarta 5 Provinsi Jawa Timur 6 Provinsi Aceh 7 Provinsi

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN ALAT EVALUASI PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER DENGAN WONDESHARE QUIZ CREATOR PADA MATERI PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

PENGEMBANGAN ALAT EVALUASI PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER DENGAN WONDESHARE QUIZ CREATOR PADA MATERI PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 PENGEMBANGAN ALAT EVALUASI PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER DENGAN WONDESHARE QUIZ CREATOR PADA MATERI PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 Elyn Rachmawati Agung Listiyadi Prodi Pendidikan Akuntansi, Jurusan Pendidikan

Lebih terperinci

E-book Statistika Gratis... Statistical Data Analyst. Uji Asumsi Klasik Regresi Linear

E-book Statistika Gratis... Statistical Data Analyst. Uji Asumsi Klasik Regresi Linear E-boo Sasa Gras... Sascal Daa Anals Uj Asums Klas Regres Lnear Pada penulsan enang Regres Lnear n, penuls aan memberan bahasan mengena Uj Asums Klas epada para pembaca unu memberan pemahaman dan solus

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2009/2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2009/2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2009/2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PENGARUH PENDIDIKAN AKHLAQ TERHADAP PEMBENTUKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA MTS NU SALATIGA TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI

PENGARUH PENDIDIKAN AKHLAQ TERHADAP PEMBENTUKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA MTS NU SALATIGA TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI PENGARUH PENDIDIKAN AKHLAQ TERHADAP PEMBENTUKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA MTS NU SALATIGA TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN. Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN. Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com) FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com) Jurusan Kesehatan Masyarakat FIKK Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK: Dalam upaya penurunan

Lebih terperinci

Analisis Tingkat Partisipasi Pendidikan Siswa Madrasah

Analisis Tingkat Partisipasi Pendidikan Siswa Madrasah Analisis Tingkat Partisipasi Pendidikan Siswa Madrasah Oleh : Ir Zainal Achmad, M.Si 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Pendidikan merupakan indikator utama pembangunan dan kualitas SDM suatu bangsa. Salah

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi

NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi KONTRIBUSI PEMBERIAN BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAHDAN KEMAMPUAN EKONOM ORANG TUA TERHADAP HASIL BELAJAR IPS EKONOMI PADA SISWA KELAS VIII SMP N 1 SAMBIREJO TAHUN AJARAN 2012/2013 NASKAH PUBLIKASI Diajukan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG PENETAPAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL GURU

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG PENETAPAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL GURU PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG PENETAPAN ANGKA KREDIT JABATAN FUNGSIONAL GURU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang

Lebih terperinci

Denpasar, 22 April 2015

Denpasar, 22 April 2015 PEMERINTAH PROVINSI BALI DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA Alamat : Jalan Raya Puputan Niti Mandala Phone : (0361) 226119, 235105, Fax (0361) 226319 Denpasar Bali 80235 Denpasar, 22 April 2015 Nomor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru.

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang giat-giatnya dilakukan oleh bangsa saat ini adalah upaya membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya, baik mental, spiritual dan fisik material. Salah

Lebih terperinci

TINJAUAN MATA KULIAH BAB I PENDAHULUAN

TINJAUAN MATA KULIAH BAB I PENDAHULUAN TINJAUAN MATA KULIAH BAB I PENDAHULUAN I. Beberapa Defs Dalam berbaga meda serg djumpa hasl jejak pedapat dar masarakat tetag su tertetu, jejak pedapat tu dlakuka utuk megetahu gambara pedapat dar masarakat

Lebih terperinci

SISTEM PENDINGIN UTAMA REAKTOR SERBA GUNA G.A. SIWABESSY SI'ATIJ TINJAUAN TENTANG FAKTOR-FAKTOR KELEMAHANNYA Oleh Sudiyono

SISTEM PENDINGIN UTAMA REAKTOR SERBA GUNA G.A. SIWABESSY SI'ATIJ TINJAUAN TENTANG FAKTOR-FAKTOR KELEMAHANNYA Oleh Sudiyono SJ VI Presdng Semnar Teknolog Pendayagunaan Reaklor Rset G. A. Swabessy; 130-137 SISTEM PENDINGIN UTAMA REAKTOR SERBA GUNA G.A. SIWABESSY SI'ATIJ TINJAUAN TENTANG FAKTOR-FAKTOR KELEMAHANNYA Oleh Sudyono

Lebih terperinci

dari atau sama dengan S2 ( S2) yaitu 291 orang (0,9%) pengajar (Gambar 4.12). A.2. Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN)

dari atau sama dengan S2 ( S2) yaitu 291 orang (0,9%) pengajar (Gambar 4.12). A.2. Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN) dari atau sama dengan S2 ( S2) yaitu 291 orang (0,9%) pengajar (Gambar 4.12). A.2. Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN) Program Pendidikan Terpadu Anak Harapan (DIKTERAPAN) adalah proses

Lebih terperinci

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG IRA YUMIRA EMAIL: http // i.yumira@yahoo.co.id STKIP SILIWANGI

Lebih terperinci

PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG SOSIAL TERHADAP PERILAKU BERMORAL SISWA KELAS VII F SMP 4 BAE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012

PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG SOSIAL TERHADAP PERILAKU BERMORAL SISWA KELAS VII F SMP 4 BAE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012 PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG SOSIAL TERHADAP PERILAKU BERMORAL SISWA KELAS VII F SMP 4 BAE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh LAILA NI MAH NIM 200731059 PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING FAKULTAS

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK, PENYELENGGARAAN UJIAN NASIONAL,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 0 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PANDUAN AKADEMIS REGULASI PEREDARAN INSTRUMEN UKUR METROLOGI DI INDONESIA UNTUK MENDORONG KUALITAS PRODUK INDUSTRI

PANDUAN AKADEMIS REGULASI PEREDARAN INSTRUMEN UKUR METROLOGI DI INDONESIA UNTUK MENDORONG KUALITAS PRODUK INDUSTRI PANDUAN AKADEMS REGULAS PEREDARAN NSTRUMEN UKUR METROLOG D NDONESA UNTUK MENDORONG KUALTAS PRODUK NDUSTR JMMY PUSAKA D D ERAWAN M!GO PNANDTO MA'RUF HASAN YULAN @201Olndonesian nstitute ofsciences - LP!

Lebih terperinci

SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK

SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK Nur Auliah Hafid Widyaiswara LPMP Sulsel 1 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah Seni dapat meningkatkan Kecerdasan Emosional

Lebih terperinci

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR Baiq Neni Sugiatni, Jumailiyah, dan Baiq Rohiyatun Administrasi pendidikan, FIP IKIP Mataram Email :Baiqnenysugiatni@gmail.com

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 82 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci