: 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download ": 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;"

Transkripsi

1 87t /"^".* %*rht"i q"*r*b QYG*,* Qfl'ript* dfrft*f- PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 136 TAHUN 200e TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL DALAM HUBUNGAN KERJA DI LUAR JAM KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang : a" Mengingat b. bahwa pekerja/buruh merupakan sumber daya utama dalam proses produksi baring dan jasa di perusahaan dan resiko kecelakaan diri serta kematian dapat ierjadi pada setiap saat terhadap pel<erjalbu.ruh dalam hubungan kerja, - baik dalam jam kerja maupun dl luar jam kerja; bahwa dalam rangka memberikan perlindungan kepada pekerjai buruh apabila terjadi kecelakaan diri dan kematian dalam hubungan kerja untuk di luir jam kerja, perlu disusun suatu peraturan tentang f*muerian perlindungan d-an jaminan sosial dalam hubungan kerja untuk di luar jam kerja; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dinraksud pada huruf a dan huruf b, serta sebagai tindak lanjut ketentuan Pasal 64 ayat(4)peraturandaerahnomor6tahun2004tentang X'etena'giferjaan, pertu menetapkan Peraturan Gubernur tentang pelaksanaan Program Jaminan Sosial Dalam Hubungan Kerja untuk di Luar Jam Kerja; : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan; 2.Undang-UndangNomorl0Tahun2004tentangPembentukan Peraturan Perundang-undangan; 3.Undang-UndangNomor32Tahun2ao4tentangPetnerintahan Daerah s"oag;muna telah beberapa kati diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun?008'

2 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus lbukota Jakarta sebagai lbukota Negara Kesatuan Republik Indonesia; Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota; Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2004 tentang Ketenagakerjaan; 7. Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi Perangkat Daerah; MEMUTUSKAN : MenetaPKAN : PERATURAN GUBERNUR TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL DALAM HUBUNGAN KERJA DI LUAR JAM KERJA. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Gubernur ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Provinsi Daerah Khusus lbukota Jakarta- 2. Pemerintah Daerah adalah Gubernur dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah 3. Gubernur adalah Kepala Daerah Provinsi Daerah Khusus lbukota Jakarta. 4. Satuan Kerja Perangkat Daerah/Urrit Kerja Perangkat Daerah terkait yang selanjutnya disebut SKPD/UKPD terkait adalah Satuan Kerja Perangkat DaerahiUnit Kerja Perangkat Daerah yang berwenang dalam pemberian perizinan yang dimohonkan oieh penjamin kepesertaan Program. 5. Dinas adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemetintah Provinsi Daerah Khusus lbukota Jakarta yang bertanggung javrrab di Bidaltg Ketenagakerjaan. 6. Kepala Dinas adalah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi Daerah Khusus lbukota Jakarta yang bertanggung jawab di Bidang Keteqagakerjaan'

3 7. Perusahaan adalah : a. setiap bentuk usaha yang berbadah hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan atau milik badan hukum atau milik swasta maupun milik Negara, yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain; dan b. usaha-usaha sosial dan usaha*usaha lain yang rnempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. 8. Pekerja/Buruh adalah Setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. 9. Hubungan Kerja adalah Hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, mempurryai unsur pekerjaan, upah dan perintah Upah adalah Hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan rnenurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah dan akan dilakukan. Jaminan Sosial dalam Hubungarr Kerja di Luar Jam Kerja yang selanjutnya disebut JSHK di luar jam kerja adalan.jaminan perlindungan bagi pekerjaiburuh atas risiko kecelakaan diri dan kematian di luar jam kerja bagi pekerja/buruh dalam hubungan kerja yang bekerja di Perusahaan. Perjanjian Kerja Sama adalah Perjanjian pelaksanaan program JSHK di luar jam kerja antara Pemerintah Daerah dengan penyelenggara program. Penyelenggara program adalah Badan usaha yang melaksanakan program JSHK di luar jam kerja dan telah bekerja sama dengan Pemerintah Daerah. Penjamin kepesertaan program adalah Perusahaan yang mengikutsertakan seluruh pekerjaiburuh baik pekerjalburuh dalam hubungan kerja waktu tertentu, hubungan kerja waktu ticiak tertentu maupun pekerja/buruh harian lepas dan terdaftar sebagai peserta dalam program JSHK di luar jam kerja. Peserta program adalah Pekerja/buruh yang oleh penjantin kepesertaan program tempat ia bekerja diikutsertakan dalam program JSHK di luar jam kerja.

4 4 16. luran JSHK di luar jam kerja adalah Sejumlah uang yang dibayar secara teratur oleh penjamin kepesertaan program JSHK di luar jam kerja (perusahaan/pemberi kerja) dalam rangka pelaksanaan program jaminan sosial dalanr hubungan kerja untuk di luar jam kerja Tim Pembina adalah Tim Pembina Pelaksana Progrant JSHK di luar jam kerja bagi pekerja/buruh pada perusahaan di Daerait Kecelakaan Diri adalah Peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, tidak terduga sebelumnya datang dari luar diri peserta program yang dapat bersifat kekerasan, tidak dikehendaki dan tidak ada unsur-unsur kesengajaan dalam peristiwa tersebut. Jaminan Kecelakaan Diri adalah Jaminan atas peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, tidak terduga sebelumnya datang dari luar diri peserta program yang dapat bersifat kekerasan, tidak dikehendaki dan tidak ada unsur-unsur kesengajaan dalam peristiwa tersebut, serta terjadi dalam hubungan kerja untuk di luar jam kerja. Kematian adalah Meninggalnya seseorang bukan karena akibat kecelakaan diri dan dapat dibuktikan secara medis. Santunan uang duka adalah Santunan yang diberikan kepada pekerja/buruh yang meninggal bukan akibat kecelakaan diri dan berlaku selama pekerja/buruh menjadi peserta program. Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan adalah Pegawai teknis Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang berkeahlian khusus dan ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk mengawasi dan menegakkan pelaksanaan peraturan perundang-undan.<;an Bidang Ketenagakerjaan. BAB II U PROGRAM JSHK DI LUAR JAM KERJA Bagian Kesatt.t Kebijakan Pasal 2 (1) Setiap pekerja/buruh berhak atas program JSHK di luar jam kerja. (2) Setiap perusahaan yang belum melaksanakan progranr JSHK di luar jam kerja wajib mengikjtsertakan seluruh pekerja/buruh yang berada pada petu"ai'""nnya sebagaimana diatur dalam Peraturait Gubernur ini.

5 (3) Bagi pe'usshasn yiir'tg inenyelenggnrakarr senijiri atau n'lelaksanakan prosjrafrr.jsf{l( di luar j;lnr kerja yang tijak bekerja sanra dengan Porr;erintah Daerah harus rrr,etaporka,r kerpada Kepala Dinas. (a) Kepesertaan prograrn J$F{K dr luar jarn lrerja merupakan salah satu persyara*.an dalam setierp 5-rernbtlrian per'zinan, pengesahan rnallpun pendaftaran yang dikeiuarkan olel"r S}(F'D/Ul(PD terkait. Parsa! "3 (1) Prograr'n,JStr-{K di luar jurrr $terja serb;rgainrana dirnaksud daieim Pasal 2 ayat ('i) diperuntukkan bagi : a. pektirla/burufr dalarii i'rr.:bungarr kerja waktu tidak tertentu dan waiitr-t tertentr-i; datt b. pekerrjafk;r-iruh hariun lepas. (2) Prograrn JSf'{K di ltrar jarn kerja sebagaimana dirnaksud pada ayat (1) dilaksi*nr:kan dengan cara ftengikutserlaka r pekerja/l.itrluh rnelalul jaininan sosial dalarrr frul:t.rngan kerja di lr.rar jam ketja' Bagii:rr K,'clua \' i,l,ii,i,janiilran Fa:,;ll 4 (1) Jeflis,j$FiK di luiar i;*rrr lterja sr:bagaimana dirnakstld darlam Pasal 3 tarrciiri i:kis. a. Tunjangdrl $t';rnsrllara tidak t:-iol]lpu Llekerja, b. Iurijangan cacat tetap; c. Tunjangan kematian; d. Biaya pengobatan; e. Perrggantiarr alat bantu; L Penggantlan 6igi palsu datt/atau kaca rnata; g. BiaYa Pengarlgkutan, d*it fr. Santunan uang duka' (2) Perhitungari tr*saran ponlbayaran iiflt(.ji luaf Jarn kcrla setlagairnana cjin'raksu'j pacla ayat ('i) dirjasrrrks'r pfidi" upalr bul'ari terakltir yarrg dllap'rrkan oieh Pt illsilhaan' (3) Prosr:nrase besara i preftrf;ayaran tuniangan oacat tetap Program JSi-lK di luar.;airr Frerja sebugarimana cjinraksud pada ayat 1 i) iruruf b' I'i,rn!:lian I Peraturarr G'irbernur ini'

6 (1 ) Pendaftaran kepesertaan program. (2) Pekeria/buruh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). huruf a.-, d;-''h;ilf- 6, -ag-urpaikan perusahaan \"p"9".penyelengga[a ;.br;; paling l;;b;t'-to (tiqa'putuh) ha.ri sejak diterimanya formulir data rfdma pekerja/buruh yang 6 Bagian Ketiga Pemberian Jaminan Pasal 5 ' (1) Pemberian JSHK di luar jam kerja sebagaimana dimaksurd dalam Pasal 4 ayat (1) dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : a. tunjangan sementara tidak mampu bekerja diberikan selama peserta program tidak mampu bekerja sebagai akibat mengalami kecelakaan -diri sampai yang bersangkutan dinyatakan sembuh atau menderita cacat permanen yang ditetapkan oleh dokter; b. tunjangan cacat tetap diberikan setelah pesetta program dinyatakan cacat permanen secara total atau cacat permanen sebagian atau cacat berkurangnya fungsi orgen tubuh yang ditetapkan oleh dokter sebagai akibat kecelakaan diri; c. tunjangan kematian diberikan kepada ahli waris setelah.peserta prograh dinyatakan meninggal dunia akibat kecelakaan diri yang dibuktikan secara medis oleh dokter; d. biaya pengobatan diberikan untuk biaya pengobatan dan per-awatan ilalam 1 (satu) kali peristiwa yang telatt dikeluarkan oleh peserta program berdasarkan bukti-bukti pembayaran asli akibat kecelakaan diri; e. penggantian alat bantu diberikan kepada peserta. proeram yang mengelami kehilangan fungsi anggota badan akibat kecelakaan diri; f. penggantian gigi palsu dan/atau kaca mata diberikan. kepada ileserta progrim sesuai standar harga gigi palsu dan/atau kaca mata akibat kecelakaan diri; dan g. biaya pengangkutan diberikan dengan perhitulgal besaran dari - tenipat tefadi-nya kecelakaan ke rumah sakit atau ke rumah peserta program akibat kecelakaan diri. (2) Bagi pekerja/buruh yang meninggal dunia bukan.karena kecelakaan ' ' diri-dalam hubunqan keria di luar iam kerja, diberikan santunan uang duka sebagaimaila dimaksud daldm Pasal.4 ayat (1). huruf h kepada ahl i waris/k-eluarganya u ntuk peng gantia n biaya pemaka.nan. (3) Santunan uang duka sebagaimana dimaksud papa.ay?t (?),.diberikan ' ' setelah pesert--a program dinyatakan meninggal dunia oleh instansi yang berwenang. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian dan be.saran jaminan ' ' proqrim JSHK di 'luar iari kerjh sebagaimana dimaksud pada ayai (t ) dan ayat (2) diatdr dengan Peraturan Kepala Dinas. Bagian Keempat Pendaftaran Pasal 6

7 (3) (4) Data nama pekerjalburuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan apabila terjadi perubahan data nama peserta program, penjamin kepesertaan harus menyampaikan pemberitahuan kepada penyelenggara program dengan menggunakan formulir F2. Bentuk formulir F1 dan formulir F2, sebagaimana tercantum pada Lampiran ll Peraturan Gubernur ini. Bagian Kelima luran Pasal 7 (1) Perusahaan yang telah terdaftar sebagai penjamin kepesertaan program JSHK di luar jam kerja sebagaimana dimaksud daiam Pasal 6 ayat (1) wajib membayar iuran JSHK di luar jam kerja. (2) luran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibayarkan oleh perusahaan selambat-lambatnya tanggal 5 bulan berikutnya. Pasal B Besarnya iuran program JSHK di luar jam kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2), bagi pekerja/buruh dalam hubungan kerja waktu tidak tertentu, waktu tertentu dan pekerja/buruh harian lepas adalah sebesar 0,24oh (nol koma dua puluh empat persen) dari upah terakhir perbulan yang diterima pekerja/buruh. BAB III PROSEDUR PENETAPAN JAI\4INAN Pasal 9 (1) Apabila terjadi kecelakaan diri menimpa pekerja/bttruh peserta program JSHK di luar jam kerja, penjamin kepesertaan program harus melaporkan kepada Dinas paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah terjadi kecelakaan dengan mengisi forrnulir laporan kecelakaan diri (F3) dan tembusannya disampaikan kepada penyelenggara program. (2) Bentuk formulir F3 sebagaimana tercantum dalam Lampiran ll Peraturan Gubernur ini. Pasal 10 (1) Setelah terjadi kecelakaan diri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ' ' ayat (1) ying menyebabkan pekerja/buruh peserta program {SryK Oi tuar jain tc-eria dinyatakan sembuh, cacat atau menirrggal dunia, penjamin kepe-sertaan program harus melaporkan kepada- Dinas batihg tambdt Z (tujuh)' hali Xgtjq. dgng?l menggunakan formulir iepo'4nkecerakaan:i:, j**:lj*); j,l'"?i1e53l115"j:';',.:n3* j*l:'

8 B (2) Bentuk formulir F4 dan formulir F5 sebagaimana tercantum pada Lampiran ll Peraturan Gubernur ini. Pasal 1 1 (1) Apabila pekerja/buruh peserta program JSHK di luar jam kerja meninggal dunia bukan karena akibat kecelakaan diri, penjamin kepesertaan program harus melaporkan kepada Dinas paling lambat 7 (tujuh) hari kerja dengan menggunakan formulir F6 dan tembusannya disampaikan kepada penyelenggara progr?ln. (2) Bentuk formulir F6 sebagaimana tercantum pada Lampiran ll Peraturan Gubernur ini. Pasal 12 (1) Apabila penjamin kepesertaan program JSHK di luar jam kerja tidak melaporkan terjadinya kecelakaan diri dan meninggal dunia yang dialami oleh peserta program sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dan Pasal 11 ayat {1), maka Kepala Dinas menetapkan adanya kejadian dimaksud sebagai dasar pembayaran jarninan oleh penyelenggara program. (2) Penetapan Kepala Dinas sebagaimana dimaksud pacia ayat dikeluarkan berdasarkan laporan dari peserta prograrn atau waris/keluarga atau pegawai pengawas ketenagakerjaan. Pasal 13 (1 ), ahli Penetapan besarnya jaminan kecelakaan diri atau santunan uang duka program JSHK di luar jam kerja dikeluarkan periyelenggara program selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja setelah menerima dokumen pengaduan secara lengkap dan sah dari peserta program atau ahli waris/keluarga. Pasal 14 Pembayaran besarnya jaminan program JSHK di luar jarn kerja oleh penyelenggara program kepada peserta program sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dilaksanakan selambat-lambatnya dalam 14 (empat belas) hari kerja. (1) (2) BAB IV PENYELENGGARA Pasal 15 Program JSHK di luar jam kerja diselenggarakan oleh penyelenggara program. untuk dapat diproses sebagai penyelenggara prcgram. JSHK di luar jah kerj'a sebagaimana dimaksud pad?.ayat (1)' gqlon penyeler-iggara ' prograri dipeqsyarat[u.1..- untuk, nrengajukan

9 I (3) Ketentuan lebih lanjut yang bersifat pemilihan penyelenggara program sebagaimana dimaksud pada ayat., Kepala Dinas. teknis mengenai persyaratan JSHK di luar jam kerja (2) diatur dengan peraturan Pasal 16 (1) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15, selanjutnya dilakukan penelitian oleh rim Pembina yang ditetapkan oleh Gubernur. (2) Hasil penelitian Tim Pembina sebagaimana dimaksud pada ayat (1), selanjutnya disampaikan kepada Gubernur melalui Kepala Dinas untuk ditetapkan sebagai penyeleng ga ra prog ram. Pasal 17 (1) (2) Penyelenggara program JSHK di luar jam kerja yang telah ditetapkan oleh Gubernur, selanjutnya dibuatkan perjanjian kerja sama antara Pemerintah Daerah dengan penyelenggara program. Jangka waktu perjanjian kerja sama sebagaimana dirrraksud pada ayat (1) ditetapkan selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang setelah dilakukan evaluasi. (1) (2) Pasal 1B Terhadap penyelenggara program JSHK di luar.iam kerja yang telah berakhir jangka waktu perjanjian kerja sama dan tidak ditetapkan kembali sebagai penyelenggara proglam, wajib menyerahkan kembali dokumen kepesertaan program JSHK di luar jam kerja kepada Gubernur melalui Kepala Dinas. Penyelenggara program sebagaimana dimaksud pada ayat (1), selanjutnya dilarang melakukan pungutan kepesertaan program JSHK di luar jama kerja. (3) Kepala Dinas dapat melanjutkan program JSHK di luar jam kerja kepada penyelenggara program lainnya. Pasal 19 (1) Penyelenggara program yang telah ditetapkan dan/atau melakukan ' ' kerji sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 avat (2) _q?n Pa6al 17 ayat (1), harus melaporkan data kepesertaan program JSHK di luar jam kerja kepada Kepala Dinas. (2) Data kepesertaan yang dilaporkan sebagaimana dirnaksud pada ayat (1) meliputi : a. penjamin kepesertaan Program; b. jumlah peserta Program; dan 'i -

10 10 c. jumlah iuran serta pembayaran jaminan prograrn JSHK di luar jam kerja. BAB V PENGENDALIAN, PENGAWASAN, EVALUASI DAN PELAPORAN Bagian Kesatu Pengendalian dan pengawasan Pasal 20 (1) P..gqgqndalian terhadap pelaksanaan peraturan Gubernur ini dilakukan oleh Kepala Dinad. (2) P.elSawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Gubernur ini dilakukan oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan. Bagian Kedua Evaluasi dan Pelaporan Pasal 21 (1) Evaluasi terhadap pelaksanaan program JSHK di hrar jam kerja dilakukan oleh Tim Pembina. (2) Hasil. ev_aluasi sebagaim.qna dimaksud pada ayat (1) dilaporkan kepada Gubernur melalui Kepala Dinas. BAB VI SANKSI Pasal 22 (1) setiap.perusahaan dan penjamin kepesertaan pr'cgram JSHK di luar jam kg ju yang melakukan pelanggaran terhbtja-p ketentuan Pasal 2 ayat (2) dan Pasal 7, dikenakan sanksi administra.si berupa : a. teguran; b. peringatan tertulis; dan c. penun9.aan pemberian perizinan, pengesahan dan pendaftaran yang dikeluarkan oleh SKPD/UKPD terkait. (2) Setiap penyelenggara program JSHK di luar ianr keria yanq melakukan pelanggaran terhadap Pasal 18 ayat (1) dan ayai (2) dikenakan sanksi administrasi berupa : a. teguran; b. peringatan tertulis; dan c. pemutusan perjanjian kerja sama. (3) Pemberian sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ryqt (2) dilakukan secara berjenjang oleh Kepala Dinas atas nama

11 11 (4) Apabila pelanggaran sebagainrana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), terkait dengan masalah keperdataan atau.pidana, terhadap perusahaan dan peniamin kepesertaan proqram serta penvelenqqara frogram JSHK di tuar jam 'kerja dapat-dikenakan'sanksi s"e"suai deng an ketentuan peraturan perunda ng-undangan. (1) (2) BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 23 Terhadap perjanjian kerja sama yang telah dilakukan antara Pemerintah Daerah dengan penyelenggara program JSHK di luar jam kerja sebelum diberlakukannya Peraturan Gubernur ini, masih tetap ber'laku sampai berakhirnya' jangka waktu perjanjian kerja samb dimaksud. Guna tetap terselenggaranya perlindungan dan jaminan sosial bagi oekeria/buruh vano telah diikutsertakan oleh oerusahaan oada broqram Jaminan-Kecelakaan Diri dan Kematian (.lkdk) d'alam Hudunqan Keria untuk di Luar Jam Keria (JKDK) berdasarkan Peratuian Gubernur Nomor 82 Tahun 200'6 tenianq Petunir.rk Pelaksanaan Program JKDK, pekerja/buruh yang bersanglutan teiap menjadi peserta program. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 24 Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Aqar setiap oranq menqetahuinya, memerintahkan pengundangan P6raturan Gubernu-r ini de:ngan penempatannya dalam'berita Daelah Provinsi Daerah Khusus lbukota Jakarta. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 2009 GUBERNUR P IBU VINSI DAERAH KHUSUS A JAKARTA, Diundanqkan di Jakarta padatanlgal 2I Agustus 2009 SEKRETARIS DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS UHAYAT p

12 Lampiran I : Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus lbukota Jakarta Nomor 136 TAHUN zoog Tanggal 13 Agustus 2oo9 PROSENTASE TUNJANGAN CACAT TETAP Cacat Tetap Sebagian - Lengan kanan dari sendi bahu ke bawah - Lengan kiri dari sendi bahu ke bawah - Lengan kanan dan/atau dari atas siku ke bawah - Lengan kiri dan/atau dari siku ke bawah - Tangan kanan dan/atau dari atas pergelangan ke bawah - Tangan kiri dan/atau dari pergelangan ke bawah - Kedua belah kaki dari pangkal paha ke bawah - Sebelah kaki dari pangkal paha ke bawah - Kedua belah kaki dari mata kaki ke bawah - Sebelah kaki dari mata kaki ke bawah - Kedua belah mata - Sebelah mata - Pendengaran pada kedua belah telinga - Pendengaran pada sebelah telinga - lbu jari tangan kanan - lbu jari tangan kiri - Telunjuk tangan kanan - Telunjuk tangan kiri - Salah satu jari tangan kanan - Salah satu jari lain tangan kiri - Salah satu ibu jari kiri - Salah satu iari kaki Cacat tetap lainnya - Terkelupasnya kulit kepala - lmpotensi - Kaki memendek sebelah : kurang dari 5 cm - Kaki memendek sebelah : 5-7,5 cm - kaki memendek sebelah : 7,5 cm atau lebih - Penurunan daya dengar kedua belah telinga setiap 10 desibel - Kehilangan daun telinga sebelah - Kehilangan kedua belah daun telinga - Cacat hilangnya cuping hidung - Perforasi sekat rongga hidung - Kehilangan daya penciuman - Kehilangan sebagian fungsi penglihatan - setiap kehilangan fungsi tajam penglihatan - kehilangan penglihatan warna - setiap penglihatan lapangan pandanq 10 % Keterangan a. Bagi orang kidal yang kehilangan salah satu "kanan" "kiri" sebaqaimana lengan atau jari, ter'sebut di' atas o/rt x gaji/upah 4A% 35% 35% 30% 30% 28% 7C% :i5 0/o s0% 2s% 7C% 3C% 40% 10% 15% 12% 9% 7% 4% 3% 3% 2% o/o x gaji/upah % 30 Yo C% 20 o/o 3A% 6% 3% 10% 30% 1s% 10% 7% 10% 7%

13 2 b. Dalam hal kehilangan beberapa anggota badan sebagiirnana tersebut di atas, maka besarnya tunjangan ditetapkan dengan badan, menjumlahkan banyaknya persentase dhri tiap-tiap anggota dengan ketentuan tunjangan yang diperoleh tidak boleh Iebih dari 70 % dari gaji/upah c. Anggota badan yang tidak dapat dipakai sama sekali karena lumpuh atau hilang dianggap cacat tetap d. Anggota badan yang mengalami pengurangan fungsi akan mendapat penggantian sebesar persentase pengurangan fungsi yang ditetapkan oleh dokter dikaitkan dengan persentase pada tabel ini e. Dalam hal dibayar sekaligus tunjangan cacat tetap dibayarkan maksimal 70 % x saii/upah 60 bulan GUBERNUR PROVINSI DAERAH KI{USUS TBUKCyTA JAKARTA,

14 Lampiran ll : Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus lbukota Jakarta Nomor Tanggal RINCIAN DAFTAR LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR PRCVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA Formulir F 1 : FORMULIR PENDAFTARAN KEPESERTAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL DALAM HUBUNGAN KERJA D! LUAR JAM KERJA PADA PERUSAHAAN DI PROVINSI DKI JAKARTA Formulir F 2 : DATA NAMA PEKERJA/BURUH DATA PERUBAHAN KEPESERTAAN PROGRAM Formulir F 3 : LAPORAN KECELAKAAN DIRI Formulir F 4 : LAPORAN KECELAKAAN DIRI LANJUTAN Formulir F 5 : SURAT KETERANGAN DOKTER Formulir F 6 : PERMINTAAN PEMBAYARAN SANTUNAN UANG DUKA GUBERNUR PROVINSI DAERAi.I KHUSUS TBUKOTA JAKARTA,

15 Jabatan : Formulir Fl (Satu) FORMULIR PENDAFTARAN KEPE$ERTAAN PROGRAM JAMTNAN soslal DALAM nue[tntclru xenja oiluen JAM KERJA PADA PERUSAHAAN DI PROVINSI DKI JAKARTA {berdasarkan PERATURAN DAERAH Nomor6-Tahun 2004 jo peraturan Gubemur Nomor... Tahun 2009 tentang Petaksanaan prgoram Jaminan sosiardaram Huuun'gln K;q!;j;;";;; Kerja) l. Data Umum Perusahaan 1. Nama Perusahaan Alamat Nomor Telepon 2. Jenis Usaha 3. Status Perusahaan 4. Kepemilikan _5. Jumlah Tenaga Kerja Kode Pos Nomor Fax: pusavanak pu-sur,""niil;;;)t;i":i;i; ;i ir"i"-i"i"'o"l'uiii"nl Swasta Nasional/Swasta Asin g/joint Venture/BuM N /BU MD /Yayasan/Koperasi *) ll. Data Kepesertaan,luaran dan Jaminan JSHK Di Luar Jam Kerja 1. Jumlah Peserta program 2. Jumlah Upah Per bulan ;$: : ::,o*t' 3. Prosentase 4. Jumlah luran Per bulan 5. Jenis Jaminan 6. Kepesertaan/Jaminan dimulai lll. Pembayaran luran 1. Cara pembayaran 2. Tempat pembayaran melalui : ( beri tanda silang ( X ) sesuaidomisili perusahaan ) orans 0,24o/o X Jumlah Upah/Bulan 0,24o/o X Rp = Rp.... sesuaijaminan Program Jaminan sosial Dalam Hubungan Kerja Di Luar Jam Kerja sebagaimana diatur daram peraturan drbernu.. Nomor Tahun 2009 berikut lampirannya. [-l Oinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKlJakarta l--lsuoinakertrans Kr:ta Administrasi Bank DKI Jakarta - Nomor Rekening :... -Jakarta Selatan Bank DKlJakarta a/n. Penyelenggara Program l{omor Rekening :... a/n. Penyelenggara Program Su dinakertrans Kota Adm inistrasi Jakarta Tim ur Bank DKlJakarta Nomor Rekening :... a/n. Penyelenggara Program Sudinakertrans Kota Administrasi Jakarta Barat Bank DKlJakarta Nomor Rekening :... a/n. Penyelenggara Program Su dinakertrans Kota Administrasi Jakarta Pusat Bank DKlJakarta Nomor Rekening :... a/n. Penyelenggara Program Sudinakertrans Kota Administrasi Jakarta Utara Bank DKlJakarta Nomor Rekening :... a/n. Penyelenggara Program Penandatanganan di bawah ini menyatakan bahwa keterangan-keterangan di atas telah diisi dengan sej uj ur-j uj urnya tan pa menyembunyikan sesuatu apapun. ") Coret yang tidak perlu Menyetujui : Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi DKlJakarta, Dibuat di : Pada Tanggal : Pernohon/Perusahaan

16 .c E (! c n o c(u (I'.C C' E c s a (U U' o (L = d (t qe '-O 'E o- a 3Z' al< i ; as El liv t UH.= fip o-il.3 t <y E= f f* r-[l {= od ul o. F () =-() o)c -gt =)Y.cG' o: F-I (g $ an :f -9. L- C) #t?: U) E],fiF co EE zz o(u.= (l' J (I' o, o, F o o_ o- (u J ct) c o J G' E (x' z I z o z UJ o o- z z 5 I z (, z o- I J =f, ;oq, c(! L o 0) :< furc L\U (l);io-.f -v q),l l( L 0) - = -Ygc (U :''!c(! JLh.: :g;' m " o)q) E 9! * : {/) C! g l- 9r.,- A.\. F L! v:xo:.: (/)ll :ooo t- :y *y. rl, :N}(c.j

17 FoRUULIRF3(Ttga) - TAPORAN KECEL/\KAAN DIRI LAPOMN KECELAKAAN TAHAP I Wajib dilaporkan selambat-tambatnya 3 (tiga) hari kerja setelah terjadinya kecelakaan usanaan Alamat Nomor Telepon Jenis Usaha : _Nomor Sertifikat Program JSHK Di Luar Jam K Alamat : No.Telepon. Tanggal Lahir : Macam Pekerjaan, UniUBagian dalam perusahaan g Pengha a Upah Berupa Uang : b Pemberian Makan Cuma-Cuma : c Pemberian Perumahan Cuma-Cuma d Pemberian Pakaian Cuma-Cuma : e Penghasilan Lain-Lain : Diisi oloh Penyelenggara prograrn No.Rogistrasi Pormintaan Jaminarr Diterima Tanooal NomorFax Nomor KP.Program JSHK Di Luar Jam Keria Umur : Tahun _ Tangga! Kecglakaaq _ : Jam : ver rvor I Jsrds (qt trdt tg rgtjdu tya kecelakaan (jika pedu dapat ditambah lembar yang lain) b Sebutkan benda/zat yang mengakibatkan r) a b sakiuluka/meninggal dunia Akibat yang diderita korban Jelaskan bagian tubuh yang sakiuluka a Nama Dokterffenaga Medis yang memb ri portolongan portama b AIamat o.rirpa yang memoayar otaya angkutan, pengobatan dan porawatan 9 k a a Berobat jalan o ii:il;, o' : Ueninggat dunia/sakiufie-ilia:i : sambil bekerja/tidak bekerja") : Rumah SakiUpuskesmas/iotiktinik") 10 Kec lakaan di daftar dalam modol 11 Perkiraan kerugian waktu... Harilorang Rp Keterangan lain-lain yang perlu : ') Coret yang tidak perlu r Dibuat di : pada tanggal : I I P megang Sortifikat (Ponjamin Kepesertaan Program) I I ( ) _

18 LAPORAN KECELAKAAN LANJ UTAN Wajib dilaporkan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah dinyatakan sembuh,cacai,atau dunia 1 Nama Perusahaan Alamat Nomor Telepon Jenis Usaha Nomor Sertifikat JSHK Di Luar Jam 2 Nama Alamat Tempat Kecelakaan Tanggal Kecelakaan 4 LaporanKecelakaanffi Biaya yang telatr OiOaya*an oiel-f,egieana Biaya pengangkutan dari tempat kec lakaan ke Rumah Sakit atau Rumah penderita b Biaya pengobatan dan perawatan c. Biaya Kubur d. Biaya Prothese/Orthose 6 Tunjangan semenrara tioax mamp[uereeieie]ej5na hari pertama s.d. hari ke 120 b hari ke 121 s.d.240 c hari ke 241 dan 7 Pihak B Nama dan atamat p nerima tunpnd;lahiilari; Untuk ahli waris denqan daftar Ft r(rultrfij(empat) I.APORAN KECELAI(MI.I Orfu T..CNJUTAN - Diisi oloh Penyolonggara program No.Registrasi permintaan Jaminan Diterima Tanggal Nomor Fax Nomor KP.Program m pada tanqqal : :100 % X :75% X :50% X I' p rusahaan setiap hari (lx Rp Rp 9 a Pekerja/Buruh OalamTonntriiiFS - Bekerja kembali tanggal - Dinyatakan cacat tetap tanggal - Meninggal dunia tanggal b Tidak bekorja lagi tanggal alasan 10 Uraian tentang cacat tetap yang diderita tersebut 0x HK Di LuarJam Kerja aṟ Rp =Rp 1 1 Besarnya kerugian/tunjangan yang teiah oleh : Dibuat di pada tanggal : Pomogang Sortifikat (Penjamin Kepesortaan program)

19 FORMULIRFs(Ltma) SURAT KETERANGAN DOKTER Dengan ini saya, dokter... Nama Perusahaan Alamat...JabaLan....meneran9kan dongan sesungguhnya bahwa : Nomor Telepon Nama Pekerja/Buruh Tempat dan Tanggal lahir Nomor KP 2 Kecelakaan pada tanggal JSHK Di LuarJam Nomqt Fax: 3 Pemeriksaan pertama tanggal 4 Dari hasil pemeriksaan pertama didapatkan : a. Keadaan, tompatdan ukuran, luka-lukanya : b. Perlu dirawauberobat jalan sambil bekorjafterobat jalan tidak beksrja. 5 Diagnosis 6 Tindakan medis yang dilakukan 7 Setelah selesainya pengobatan/perawatan a. Sembuh tanpa cacat b. Cacat Anatomls (Tunjukkan juga pada gambar) c. Apabila terdapat cacat tetapi tidak mengakibatkan kehilangan anggota badan, berapa p rson b rkurangnya fungsi anggota badan yang cacat tersebut.,...% d. Memerlukan Prothese/Orthose e. Setelah sembuh ia dapat melakukan pekerjaan : biasa/ringan Aak dapat bekorja sama sekali ') terhitung tan99al... rm* Hqan panltal largan kvun kanan htn ib kilbnkid B Tanggal meninggal dunia perawalan/pengobatan 10 Diberikan istirahat Dibuat oleh dokter Alamat s.d. tanggal :... : Rumah sakil/puskesmas/polikliniupraktek Swasta') Dokter yang morawat

20 Yang bertanda tangan dibawah ini 1 Nama 2 Hubungan dengan pekerja/buruh - lstri/suami - Anak - Orang Tua 3 Alamat 4 Pekerja/buruh a. Nama b No. KTP c TanggalLahir d TanggalMeninggalDunia e Sebab meninggal Dunia f Perusahan lerakhir Nomor Pendaftaran g Upah terakhir h Tanggal berhenti Dengan ini mengajukan permintaan pembayaran yang menjadihak dari pekerjarburuh tersebr.rt diatas, dengan santunan uang duka sebesar Rp.... Permintaan pembayaran santunan uang duka inidirengkapidengan : 1 Surat Keterangan Kematian daripetugas medis benuenang, atau Lurah/Kepala Desa setempat 2 Kartu Peserta 3 salinan/copy Kartu Keluarga atau surat keterangan keluarga setempat Keterangan tersebut diatas saya buat dengan sebenamya, jika dikemudian hari ternyata terdapat hal yang tidak benar, saya wajib mengembalikan semua uang yang saya terima dari hak tersebut di atas, serta bersedia dituntut dimuka pengadilan 200 Nama Ahli Waris Peserta Program

2015, No Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150,

2015, No Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2076, 2015 KEMENAKER. Jaminan. Kecelakaan Kerja. Kematian. Usaha Jasa Kontruksi. Program Penyelenggaraan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA R.I NOMOR: PER.04/MEN/1993 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA,

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA R.I NOMOR: PER.04/MEN/1993 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA, MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA R.I NOMOR: PER.04/MEN/1993 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA, Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksana pasal 19

Lebih terperinci

LAMPIRAN III PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN

LAMPIRAN III PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN LAMPIRAN III PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN I. MANFAAT JAMINAN KECELAKAAN KERJA Peserta penerima

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2007 PERUBAHAN KELIMA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993 PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2007 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KELIMA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN TENTANG PERUBAHAN KETUJUH ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 199 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN KETUJUH ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BUPATI BULUNGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 05 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DI KABUPATEN BULUNGAN

BUPATI BULUNGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 05 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DI KABUPATEN BULUNGAN SALINAN BUPATI BULUNGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 05 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DI KABUPATEN BULUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI BULUNGAN,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2005 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2005 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN KETUJUH ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2005 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG

LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA I. BESARAN MANFAAT JAMINAN KECELAKAAN KERJA

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.212, 2015 ADMINISTRASI KEPEMERINTAHAN. Jaminan Kematian. Jaminan Kecelakaan. Aparatur Sipil Negara. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDELAPAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENGAMATAN

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENGAMATAN BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENGAMATAN Dalam bab ini penulis mendiskripsikan hasil pengamatan mengenai prosedur pendaftaran dan pembayaran program jaminan jasa konstruksi di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDELAPAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 15 TAHUN 2008

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 15 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DI KABUPATEN BERAU BUPATI BERAU, Menimbang Mengingat : a. Bahwa dalam upaya memberikan perlindungan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.154, 2015 KESRA. Jaminan Sosial. Kecelakaan Kerja. Kematian. Program. Penyelenggaraan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5714). PERATURAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 34 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 34 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 34 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI PURWAKARTA NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN DI KABUPATEN PURWAKARTA

PERATURAN BUPATI PURWAKARTA NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN DI KABUPATEN PURWAKARTA BUPATI PURWAKARTA PERATURAN BUPATI PURWAKARTA NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN DI KABUPATEN PURWAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWAKARTA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA No.156, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESRA. Jaminan Sosial. Hari Tua. Program. Penyelenggaraan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5716). PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

WALIKOTA DUMAI PROVINSI RIAU PERATURAN WALIKOTA DUMAI NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG

WALIKOTA DUMAI PROVINSI RIAU PERATURAN WALIKOTA DUMAI NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG WALIKOTA DUMAI PROVINSI RIAU PERATURAN WALIKOTA DUMAI NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DUMAI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

RINGKASAN INFORMASI INHEALTH GROUP PERSONAL ACCIDENT*) PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia.

RINGKASAN INFORMASI INHEALTH GROUP PERSONAL ACCIDENT*) PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia. RINGKASAN INFORMASI INHEALTH GROUP PERSONAL ACCIDENT*) 1. Ringkasan Produk : 1.1 Nama produk 1.2 Jenis Produk 1.3 Nama Penerbit 1.4 Tertanggung 1.5 Masa Pertanggungan Inhealth Group Personal Accident (Asuransi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF KEPADA PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA DAN SETIAP ORANG, SELAIN PEMBERI KERJA, PEKERJA,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF KEPADA PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA DAN SETIAP ORANG, SELAIN PEMBERI KERJA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1992 TENTANG JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional sebagai pengamalan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.07/MEN/V/2010 TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang

Lebih terperinci

-2-1. Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/bu

-2-1. Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/bu LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.237, 2015 TENAGA KERJA. Pengupahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5747). PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003

UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003 UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003 BAB XII PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Pasal 150 Ketentuan mengenai pemutusan hubungan kerja dalam undang-undang ini meliputi pemutusan hubungan kerja yang terjadi di badan usaha

Lebih terperinci

BAB II PELAKSANAAN FUNGSI PENGAWASAN TERHADAP PELAKSANAAN JAMSOSTEK OLEH PENGAWAS KETENAGAKERJAAN. A. Gambaran Umum Seputar Pengawas Ketenagakerjaan

BAB II PELAKSANAAN FUNGSI PENGAWASAN TERHADAP PELAKSANAAN JAMSOSTEK OLEH PENGAWAS KETENAGAKERJAAN. A. Gambaran Umum Seputar Pengawas Ketenagakerjaan 23 BAB II PELAKSANAAN FUNGSI PENGAWASAN TERHADAP PELAKSANAAN JAMSOSTEK OLEH PENGAWAS KETENAGAKERJAAN A. Gambaran Umum Seputar Pengawas Ketenagakerjaan 1. Pengertian Pengawas Ketenagakerjaan Ada banyak

Lebih terperinci

NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA,

NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA, MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NTERI KETENAGAKERJAANPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAH TANGGA DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN

Lebih terperinci

SOSIALISASI PROGRAM TASPEN THT PENSIUN JKK& JKM BAGI APARATUR SIPIL NEGARA

SOSIALISASI PROGRAM TASPEN THT PENSIUN JKK& JKM BAGI APARATUR SIPIL NEGARA SOSIALISASI PROGRAM TASPEN THT PENSIUN JKK& JKM BAGI APARATUR SIPIL NEGARA PT TASPEN (PERSERO) 17 APRIL 1963 PROGRAM THT PROGRAM PENSIUN PROGRAM JKK & JKm DASAR HUKUM THT PP 25/1981 dan PP 26/1981 dengan

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR BANTEN

PERATURAN GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA JASA KONSTRUKSI DI PROVINSI BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang

Lebih terperinci

NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1993 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undangundang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN No.155, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KESRA. Jaminan Sosial. Pensiun. Program. Penyelenggaraan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5715). PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH

GUBERNUR JAWA TENGAH 1 GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 11 TAHUN 20122 TENTANG PELAKSANAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN PENSIUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

PT. Asuransi Sinar Mas. simas personal accident PT. Bangun Nusa Insan Indonesia

PT. Asuransi Sinar Mas. simas personal accident PT. Bangun Nusa Insan Indonesia PT. Asuransi Sinar Mas simas personal accident PT. Bangun Nusa Insan Indonesia www.sinarmas.co.id Email : cs_simassehat@sinarmas.co.id Customer Care (24hours) : 021. 235 67 888 / 5050 7888 Whatsapp : 08811070

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG MENTERI KETENAGAKERJAAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA PUBLIKDONESIA PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN

Lebih terperinci

TUJUAN PELAPORAN KECELAKAAN KERJA DAN PAK

TUJUAN PELAPORAN KECELAKAAN KERJA DAN PAK TUJUAN PELAPORAN KECELAKAAN KERJA DAN PAK - Perlindungan keselamatan dan kesehatan tenaga kerja beserta Kompensasinya - Diperoleh data kecelakaan dan PAK - Memudahkan identifikasi & analisis guna menemukan

Lebih terperinci

perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia;

perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia; KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP-78/]VIEN/2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS BEBERAPA PASAL KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESTA NOMOR KEP-150/]VIEN/2OOO

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN PERUSAHAAN SERTA PEMBUATAN DAN PENDAFTARAN PERJANJIAN KERJA

Lebih terperinci

NOMOR... TAHUN... TENTANG PROGRAM JAMINAN KOMPENSASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

NOMOR... TAHUN... TENTANG PROGRAM JAMINAN KOMPENSASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Senin, 29 Oktober 2007 RR. Dirjen PPTKDN RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PROGRAM JAMINAN KOMPENSASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA DAN JAMINAN KEMATIAN BAGI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

2 Republik Indonesia Tahun 1951 Nomor 4); Menetapkan 2. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh (Lembaran Negara Repub

2 Republik Indonesia Tahun 1951 Nomor 4); Menetapkan 2. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh (Lembaran Negara Repub BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2099, 2014 KEMENAKER. Peraturan Perusahaan. Pembuatan dan Pendaftaran. Perjanjian Kerja Sama. Pembuatan dan Pengesahan. Tata Cara. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG GANTI KERUGIAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG GANTI KERUGIAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG GANTI KERUGIAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG SYARAT-SYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG SYARAT-SYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.102 /MEN/VI/2004 TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.102 /MEN/VI/2004 TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.102 /MEN/VI/2004 TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 1981 TENTANG PERAWATAN, TUNJANGAN CACAD, DAN UANG DUKA PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 1981 TENTANG PERAWATAN, TUNJANGAN CACAD, DAN UANG DUKA PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 1981 TENTANG PERAWATAN, TUNJANGAN CACAD, DAN UANG DUKA PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa ketentuan-ketentuan tentang

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG WAKTU KERJA DAN WAKTU ISTIRAHAT PADA KEGIATAN USAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 97 Undang-Undang

Lebih terperinci

MMS CONSULTING Advocates & Counselors at Law

MMS CONSULTING Advocates & Counselors at Law KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP-150/MEN/1999 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA HARIAN LEPAS, BORONGAN DAN PERJANJIAN KERJA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2007 TENTANG SANTUNAN DAN TUNJANGAN CACAT PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2007 TENTANG SANTUNAN DAN TUNJANGAN CACAT PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2007 TENTANG SANTUNAN DAN TUNJANGAN CACAT PRAJURIT TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03/MEN/98 TAHUN 1998 TENTANG TATA CARA PELAPORAN DAN PEMERIKSAAN KECELAKAAN

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03/MEN/98 TAHUN 1998 TENTANG TATA CARA PELAPORAN DAN PEMERIKSAAN KECELAKAAN PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03/MEN/98 TAHUN 1998 TENTANG TATA CARA PELAPORAN DAN PEMERIKSAAN KECELAKAAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. b. bahwa sebagai

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 609 TAHUN 2012 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 609 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 609 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KASUS KECELAKAAN KERJA DAN

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.11/MEN/VII/2010 TENTANG WAKTU KERJA DAN ISTIRAHAT DI SEKTOR PERIKANAN

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 150, 2004 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456).

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 150, 2004 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456). LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 150, 2004 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456). UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM JAMINAN SOSIAL

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa hubungan industrial

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER.17/MEN/XI/2008 TENTANG PENGANGKATAN, PEMBERHENTIAN, DAN TATA KERJA

Lebih terperinci

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1. 1) Setiap bentuk usaha milik swasta yang memperkerjakan pekerjaan dengan tujuan mencari keuntungan atau tidak.

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1. 1) Setiap bentuk usaha milik swasta yang memperkerjakan pekerjaan dengan tujuan mencari keuntungan atau tidak. PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA TENTANG PENYELESAIAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DAN PENETAPAN UANG PESANGON, UANG JASA DAN GANTI KERUGIAN DI PERUSAHAAN SWASTA Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I. Nomor: PER-03/MEN/1996

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003

UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003 UNDANG-UNDANG NO. 13 TH 2003 BAB IX HUBUNGAN KERJA Pasal 50 Hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja/buruh. Pasal 51 1. Perjanjian kerja dibuat secara tertulis

Lebih terperinci

: KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.48/MEN/IV/2004 TENTANG

: KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.48/MEN/IV/2004 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.48/MEN/IV/2004 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN PERUSAHAAN SERTA PEMBUATAN DAN PENDAFTARAN PERJANJIAN

Lebih terperinci

MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA Kirim ke PNK3 MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENILAIAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG - 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH POVINSI JAWA TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2011 TENTANG PEMERIKSAAN KESEHATAN DAN PSIKOLOGI CALON TENAGA KERJA INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2011 TENTANG PEMERIKSAAN KESEHATAN DAN PSIKOLOGI CALON TENAGA KERJA INDONESIA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2011 TENTANG PEMERIKSAAN KESEHATAN DAN PSIKOLOGI CALON TENAGA KERJA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB II

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB II BAB II BENTUK DAN JENIS SANKSI YANG BISA DIKENAKAN TERHADAP PENGENDARA MOBIL TERSEBUT DAN TANGGUNGJAWAB PEMERINTAH DALAM MENYELENGGARAKAN KESELAMATAN LALU LINTAS 1. Bentuk dan Jenis Sanksi yang Bisa Dikenakan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1301, 2015 BPJS Ketenagakerjaan. Jaminan Hari Tua. Pembayaraan Manfaat. Petunjuk Pelaksanaan. PERATURAN BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN NOMOR 07 TAHUN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 48/MEN/IV/2004 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 48/MEN/IV/2004 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 48/MEN/IV/2004 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN PERUSAHAAN SERTA PEMBUATAN DAN PENDAFTARAN PERJANJIAN

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 48/MEN/IV/2004 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN PERUSAHAAN SERTA PEMBUATAN DAN PENDAFTARAN PERJANJIAN

Lebih terperinci

GUBERNUR SUMATERA BARAT

GUBERNUR SUMATERA BARAT GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR 30 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PEMBUATAN PERATURAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: PER. 12/MEN/VI/2007 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pemba

6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: PER. 12/MEN/VI/2007 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran Kepesertaan, Pembayaran Iuran, Pemba MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 609 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KASUS KECELAKAAN KERJA DAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR UTAMA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR UTAMA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN, PERATURAN BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA DAN MEKANISME KERJA PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN DALAM PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF BAGI TENAGA KESEHATAN DAN PENYELENGGARA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DALAM TINDAKAN

Lebih terperinci

file://\\ \web\prokum\uu\2004\uu htm

file://\\ \web\prokum\uu\2004\uu htm Page 1 of 38 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG PEMBERIAN KOMPENSASI, RESTITUSI, DAN BANTUAN KEPADA SAKSI DAN KORBAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG PEMBERIAN KOMPENSASI, RESTITUSI, DAN BANTUAN KEPADA SAKSI DAN KORBAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG PEMBERIAN KOMPENSASI, RESTITUSI, DAN BANTUAN KEPADA SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MURUNG RAYA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MURUNG RAYA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MURUNG RAYA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG IJIN PENYELENGGARAAN ANGKUTAN ORANG DI JALAN DENGAN KENDARAAN UMUM DI KABUPATEN MURUNG RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MURUNG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF BAGI TENAGA KESEHATAN, PENYELENGGARA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN, PENYELENGGARA SATUAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG PEMBERIAN KOMPENSASI, RESTITUSI, DAN BANTUAN KEPADA SAKSI DAN KORBAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG PEMBERIAN KOMPENSASI, RESTITUSI, DAN BANTUAN KEPADA SAKSI DAN KORBAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG PEMBERIAN KOMPENSASI, RESTITUSI, DAN BANTUAN KEPADA SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-05/MEN/ III /2005 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-05/MEN/ III /2005 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-05/MEN/ III /2005 TENTANG KETENTUAN SANKSI ADMINISTRATIF DAN TATA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG SANKSI ADMINISTRATIF DALAM PELAKSANAAN PENEMPATAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NO. 20 TH 2007

PERATURAN MENTERI NO. 20 TH 2007 PERATURAN MENTERI NO. 20 TH 2007 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-20/MEN/X/2007. TENTANG ASURANSI TENAGA KERJA INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2007 TENTANG PERLINDUNGAN BURUH/PEKERJA INFORMAL DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tam

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tam BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1895, 2016 KEMENAKER. Pemagangan Dalam Negeri. Penyelenggaraan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 10 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI SURAT PERSETUJUAN PENEMPATAN ANTAR KERJA ANTAR DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci