PARTISIPASI MASYARAKAT PETANI DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT FILARIASIS DI KABUPATEN ASAHAN TAHUN 2007 AZHARI / AKK

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PARTISIPASI MASYARAKAT PETANI DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT FILARIASIS DI KABUPATEN ASAHAN TAHUN 2007 AZHARI / AKK"

Transkripsi

1 PARTISIPASI MASYARAKAT PETANI DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT FILARIASIS DI KABUPATEN ASAHAN TAHUN 2007 TESIS Oleh AZHARI / AKK SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008

2 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Filariasis atau Elephantiasis atau disebut juga penyakit kaki gajah adalah penyakit menular yang disebabkan infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Sumber tempat penularan (hospes definitif), adalah lingkungan geografis seperti ; persawahan, perkebunan karet, rawa-rawa, hutan belukar, sehingga masyarakat yang terkena gigitan nyamuk ini kebanyakan masyarakat berdomisili berdekatan dengan daerah lingkungan geografis tersebut yang salah satunya masyarakat petani, yang menimbulkan banyak masalah. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis seperti cacat fisik yang ditimbulkan tetapi meluas sampai masalah ekonomi/kemiskinan, dan masalahmasalah sosial lainnya. Perkembangan penyakit pada diri penderita bila tidak ditangani secara cermat baik gejala klinis akut dan kronis dapat menurunkan derajat kesehatan dan kualitas sumber daya manusia dan berpengaruh pada produktivitas, yang mengakibatkan kerugian ekonomi yang cukup besar karena penderita tidak dapat bekerja secara optimal dalam waktu yang lama (seumur hidup), yang membuat penderita akan menjadi beban keluarga dan negara (Depkes RI 2005). Di Indonesia Filariasis pertama dilaporkan pada tahun Sejak tahun 2001, mf rate tertinggi terdapat di Propinsi Papua, Aceh, Maluku dan NTT dengan kisaran 6,9 % - 11,6 %. Berdasarkan hasil survei cepat yang dilakukan oleh Depkes RI tahun 2000, diperkirakan lebih 10 juta penduduk sudah terinfeksi Filariasis,

3 dengan jumlah penderita kronis lebih 65,000 orang yang tersebar di 1,553 desa, 231 Kabupaten, 26 Propinsi. Beberapa daerah tersebut terisolir karena tidak adanya pengobatan, keadaan ekonomi yang sulit, konflik dan kerusuhan (Depkes RI 2001). Tingkat endemisitas penyakit filariasis di Indonesia, hasil survei darah jari pada tahun 1999 mencapai rata-rata Mf rate 3,1 % dengan kisaran 0,5-19,64 %, hal ini berdasarkan perhitungan jumlah semua yang positif dibagi dengan jumlah yang diperiksa dikali seratus persen (Depkes RI.2001). Pemberantasan penyakit Filariasis terus dilaksanakan di seluruh Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari segi kegiatan dan program yang dilakukan untuk menangani persoalan pemberantasan penyakit Filariasis. Pada tahun 1994, WHO menyatakan bahwa penyakit kaki gajah dapat di eliminasi. Selanjutnya pada tahun 1997 WHA (The World Health Assembly) membuat resolusi tentang eliminasi penyakit kaki gajah. Pada tahun 2000 WHO menetapkan komitmen global untuk mengeliminasi penyakit kaki gajah. Menyusul kesepakatan global tersebut, pada tahun 2002, Indonesia mencanangkan gerakan eliminasi penyakit kaki gajah disingkat Elkaga pada tahun 2020 (Depkes RI 2002), eliminasi Filariasis bertujuan untuk menurunkan prevalensi Microfilaria (Mf) hingga di bawah 1 %. Sehingga Filariasis tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2005). Di Propinsi Sumatera Utara, program pemberantasan penyakit Filariasis juga telah dilaksanakan dengan berbagai kebijakan dan strategi, seperti mengadakan program penyuluhan kepada masyarakat, surveilans dini, pegobatan massal, Survei

4 Darah Jari. Namun hasilnya belum optimal karena masih ada daerah endemis filariasis, bahkan Survei Darah jari (SDJ) yang dilakukan Depkes RI pada tahun 2005, menunjukkan ada 6 (enam) Kabupaten yang dinyatakan endemis Filariasis, yakni berturut-turut : Asahan dengan Mf (2,1 %), Serdang Bedagai dengan Mf (1,3 %), Deli Serdang dengan Mf (1,4 %), Nias dengan Mf (2,2 %), Tapanuli Selatan dengan Mf (3 %) dan Labuhan Batu dengan Mf (1,4 %). Hal ini menunjukkan prevalens Mf-rate Filariasis secara umum di Propinsi Sumatera Utara, masih tinggi dan jauh dari angka yang telah ditetapkan oleh WHO yaitu prevalens SDJ Mf (< 1 %). Artinya bahwa daerah tersebut sudah dalam kategori endemis filariasis dan memenuhi syarat untuk dilakukan pengobatan massal, (Depkes RI 2005). Di Kabupaten Asahan, telah dilakukan 3 tahun berturut-turut Survei Darah Jari oleh Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan. Pertama pada tahun 2003 di Desa Simodong, Kecamatan Air Putih menunjukkan Mf 1,66 % yang kedua pada tahun 2004 di Desa Kuala Si Kasim Kecamatan Sei Balai dan hasilnya menunjukkan Mf 1,9 %, kemudian terakhir dilakukan pada tahun 2005 oleh Depkes RI di Desa Sei Paham Kecamatan Sei Kepayang di mana Mf semakin meningkat yaitu 2,1 % (Subdinas Kesehatan Kabupaten Asahan 2006). Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan dalam program pencegahan penyakit filariasis telah melaksanakan program tersebut, seperti mengadakan penyuluhan kepada masyarakat, surveilans dini, pengobatan massal, Survei Darah Jari, tetapi hasilnya belum optimal karena Mf masih di > 1 %.

5 Menurut keterangan petugas P2P Penyakit Filariasis pada observasi awal, peningkatan prevalens Mf rate Filariasis diduga disebabkan oleh perilaku masyarakat itu sendiri yang kurang aktif dalam program pencegahan penyakit filariasis, seperti tidak mau ikut dalam pemeriksaan darah jari, karena pemeriksaannya dilakukan pada malam hari. Dari hal kurang aktifnya masyarakat berpartisipasi dalam pencegahan penyakit filariasis, yang salah satunya dalam kegiatan survey darah jari pada malam hari dapat terlihat dari dua kali kegiatan dilakukan pada bulan Nopember tahun 2006, dan bulan Januari 2007, di daerah yang sama di Desa Sei Paham Kecamatan Sei Kepayang, hanya sebagian kecil masyarakat yang berkunjung (Subdinas P2P Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan 2006/2007). Selain hal tersebut, menolak sewaktu diadakan penyemprotan rumah penduduk dengan alasan ternaknya akan mati terkena racunnya, rumah menjadi kotor, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya yang ditimbulkan oleh penyakit filariasis, menolak memakan obat yang diberikan pada program pengobatan massal, alasannya obat tersebut mengandung rasa yang kurang enak dan mempunyai efek samping seperti mual, pusing dan lain-lain, perilaku yang tidak aktif dalam mencegah tidak digigit nyamuk (tidur tidak pakai kelambu atau tidak memakai anti nyamuk), alasannya kurang nyaman tidur bahkan sebagian masyarakat pedesaan menganggap bahwa penyakit ini merupakan penyakit keturunan dan ada juga yang mengatakan karena mistik dan lain sebagainya. Padahal jika dicermati data hasil SDJ yang dilakukan Depkes RI tersebut, Sumatera Utara harus segera melakukan berbagai tindakan nyata di lapangan untuk

6 mengurangi bertambahnya penderita penyakit yang dapat menimbulkan cacat menetap pada tubuh. Perilaku manusia menjadi faktor yang menentukan terjangkitnya seseorang akan penyakit ini, sebab sebagus apapun program yang dilakukan oleh pemerintah tanpa peran aktif masyarakat program tersebut tidak akan mencapai hasil yang diharapkan. (Yustina I 2005) Khairuddin ( 2005), mengemukakan penelitian tentang penyakit filariasis di daerah Jawa Tengah (Solo) penyebab terjadinya penyakit filariasis antara lain tingginya populasi nyamuk Culex, Anopheles dan perantara lainnya, serta adanya hospes definitive (hewan), selain itu juga disebabkan oleh faktor lingkungan, kebersihan diri, kepercayaan, pendidikan dan pengetahuan masyarakat tentang penyakit filariasis (kaki gajah) Parewasi (2001), pernah mengadakan penelitian tentang penyakit filariasis di daerah Budong-Budong Mamuju, Sulawesi Selatan, hasil penelitiannya bahwa faktor yang paling mendukung dalam meningkatnya Mf filariasis di daerah tersebut adalah kurangnya peran serta masyarakat dalam program termasuk lingkungan, budaya, kepercayaan masyarakat itu sendiri. Sedangkan faktor pendidikan dan pengetahuan sangat besar pengaruhnya terhadap keikutsertaan masyarakat dalam program tersebut. Populasi yang menjadi penelitian adalah masyarakat asli setempat yang mayoritas masyarakat petani. Sumarni dan Soeyoko (Tarigan 2000), pernah melakukan penelitian di Kabupaten Jambi, mengemukakan hasilnya bahwa penularan penyakit filariasis

7 banyak berkaitan dengan aspek sosial budaya, antara lain, pengetahuan, kepercayaan, sikap dan kebiasaan masyarakat setempat. Populasi yang diteliti masyarakat petani (bersawah), petani penyadap karet, pencari rotan banyak terinfeksi penyakit filariasis, penelitian tersebut dilakukan pada tahun Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Apakah ada Pengaruh Karakteristik Masyarakat Petani meliputi : Umur, Pendapatan, Tingkat Pendidikan, Pengetahuan dan Sikap terhadap Partisipasi dalam Pencegahan penyakit Filariasis di Kabupaten Asahan Tahun Tujuan Penelitian Untuk menganalisis Pengaruh Karakteristik Masyarakat petani meliputi : Umur, Pendapatan, Tingkat Pendidikan, Pengetahuan dan Sikap terhadap Partisipasi dalam Pencegahan Penyakit filariasis di Kabupaten Asahan tahun Manfaat Penelitian 1. Sebagai masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan dalam mengambil kebijakan dan strategi dalam pelaksanaan program pencegahan penyakit filariasis. 2 Sebagai tambahan informasi dan referensi mengenai filarisasi sehingga menjadi dasar dilakukannya penelitian selanjutnya.

8 3. Sebagai sumbangan pikiran yang mungkin dapat digunakan untuk pengembangan ilmu dan bacaan yang dapat menimbulkan aksi terhadap epidemiologi untuk meneliti penyakit filariasis Hipotesis Ada pengaruh karakteristik masyarakat petani meliputi ; umur, pendapatan, tingkat pendidikan, pengetahuan dan sikap terhadap partisipasi masyarakat petani dalam pencegahan penyakit filariasis di Kabupaten Asahan tahun 2007.

9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Partisipasi Masyarakat Mikkelsen dalam Soetomo (2006), mengatakan bahwa pembangunan pada dasarnya merupakan proses perubahan, dan salah satu bentuk perubahan yang diharapkan adalah perubahan sikap dan perilaku. Partisipasi masyarakat yang semakin meningkat baik secara kualitatif maupun kuantitatif merupakan salah satu perwujudan dari perubahan sikap dan perilaku tersebut. Ada enam jenis tafsiran mengenai partisipasi masyarakat tersebut antara lain : 1. Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat kepada proyek atau program pembangunan tanpa ikut serta dalam pengambil keputusan. 2. Partisipasi adalah usaha membuat masyarakat semakin peka dalam meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan menanggapi proyek-proyek atau programprogram pembangunan. 3. Partisipasi adalah proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok terkait mengambil insiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu. 4. Partisipasi adalah penetapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf dalam melakukan persiapan, pelaksanaan dan monitoring proyek/program agar memperoleh informasi mengenai konteks lokal dan dampak-dampak sosial. 5. Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri.

10 6. Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan dan lingkungan mereka. Conyers dalam Soetomo (2006), mengemukakan bahwa partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat secara sukarela yang didasari oleh determinan dan kesadaran diri masyarakat itu sendiri dalam proyek/program pembangunan. Ada lima cara untuk melibatkan keikutsertaan masyarakat yaitu : 1. Survei dan konsultasi lokal untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan. 2. Memanfaatkan petugas lapangan, agar melaksanakan tugasnya sebagai agen pembaharu juga menyerap berbagai informasi yang dibutuhkan dalam perencanaan. 3. Perencanaan yang bersifat desentralisasi agar lebih memberikan peluang yang semakin besar kepada masyarakat untuk berpartisipasi. 4. Perencanaan melalui pemerintah lokal. 5. Menggunakan strategi pengembangan komunitas (community development). Cary dalam Notoatmodjo (2005), mengatakan bahwa partisipasi dapat tumbuh jika tiga kondisi berikut terpenuhi : 1. Merdeka untuk berpartisipasi, berarti adanya kondisi yang memungkinkan anggota-anggota masyarakat untuk berpartisipasi. 2. Mampu untuk berpartisipasi, adanya kapasitas dan kompetensi anggota masyarakat sehingga mampu untuk memberikan sumbang saran yang konstruktif untuk program.

11 3. Mau berpartisipasi, kemauan atau kesediaan anggota masyarakat untuk berpartisipasi dalam program. Ketiga kondisi itu harus hadir secara bersama-sama. Apabila orang mau dan mampu tetapi tidak merdeka untuk berpartisipasi, maka orang tidak akan berpartisipasi. Ross dalam Notoatmodjo (2005), berpendapat ada tiga prakondisi tumbuhnya partisipasi, yaitu : 1. Mempunyai pengetahuan yang luas dan latar belakang pendidikan yang memadai sehingga dapat mengidentifikasi masalah, prioritas masalah dan melihat secara komprehensif. 2. Mempunyai kemampuan untuk belajar cepat tentang permasalahan, dan belajar untuk mengambil keputusan. 3. Kemampuan mengambil tindakan dan bertindak efektif. 4. Mempunyai persepsi/sikap serta keyakinan yang positif tentang masalah yang dihadapi. Chapin dalam Notoatmodjo (2005), mengemukakan partisipasi dapat diukur dari yang terendah sampai yang tertinggi, yaitu : 1. Kehadiran individu dalam pertemuan-pertemuan 2. Memberikan bantuan dan sumbangan keuangan 3. Keanggotaan dalam kepanitiaan 4. Posisi kepemimpinan

12 Sutton dan Kolaja dalam Notoatmodjo (2005), membagi peran-peran dalam partisipasi program menjadi tiga, yaitu : 1. Pelaku adalah pihak yang mengambil peran dan tindakan yang aktif dalam program 2. Penerima adalah pihak yang nantinya akan menerima manfaat dari program yang dijalankan 3. Publik adalah pihak yang tidak terlibat secara langsung dalam pelaksanaan program, tetapi dapat membantu pihak pelaku. Dirjen PP & PL Depkes RI (1994), mengemukakan bahwa partisipasi adalah keadaan di mana individu, keluarga, maupun masyarakat umum ikut serta bertanggung jawab terhadap kesehatan diri, keluarga, ataupun kesehatan masyarakat lingkungannya. Dalam suatu masyarakat, bagaimanapun sederhananya, selalu ada suatu stimulus. Mekanisme ini disebut mekanisme pemecahan masalah atau proses pemecahan masalah. Mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat sebenarnya tidak lain dari pada mengembangkan mekanisme atau proses pemecahan masalah tersebut agar berlangsung lebih rasional. Sayangnya seringkali apa yang rasional menurut petugas kesehatan, tidak selamanya dianggap rasional pula oleh masyarakat. Perbedaan persepsi tersebut menyebabkan hambatan dalam perkembangannya mekanisme atau proses pemecahan masalah tersebut, sehingga berpengaruh pula terhadap perkembangan dan pembinaan partisipasi itu sendiri. Sesuai dengan tahap-tahap

13 dalam proses pemecahan masalah, maka tahap-tahap partisipasi juga dapat dikelompokkan menjadi : 1. Partisipasi dalam tahap pengenalan masalah dan penentuan prioritas masalah. 2. Partisipasi dalam tahap penentuan cara pemecahan alias tahap perencanaan. 3. Partisipasi dalam tahap pelaksanaan, termasuk penyediaan sumber daya. 4. Partisipasi dalam tahap penelitian dan pemantapan. Dari tahap-tahap partisipasi ini jelas bahwa pada setiap tahap, bentuk ikut sertanya masyarakat bertanggung jawab dalam perencanaan, dan sebagainya. Dirjen PP & PL Depkes RI (2005), mengemukakan bahwa, partisipasi diartikan sebagai keikutsertaan seseorang atau kelompok anggota masyarakat dalam suatu kegiatan. Wujud dari keikutsertaan dimaksud tentu saja adalah perilaku tertentu, yang positif bagi pencapaian tujuan kegiatan. Dalam program pemberantasan penyakit filariasis partisipasi masyarakat salah satu kunci keberhasilannya. Craig dan Mayo dalam Yustina (2005), mengatakan Empowerment is road to participation. Pemberdayaan merupakan syarat bagi terciptanya suatu partisipasi dalam masyarakat. Belum adanya partisipasi aktif dalam masyarakat untuk menciptakan kondisi yang kondusif pada proses pembangunan mengisyaratkan belum berdayanya sebagian masyarakat kita. Keberdayaan memang menjadi syarat untuk berpartisipasi, karena merupakan sesuatu yang sulit bagi masyarakat ketika mereka dikehendaki berpartisipasi namun tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang segala aktivitas yang mendukung proses pembangunan.

14 Blum dalam Notoatmodjo (2003), mengemukakan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat yaitu : 1. Lingkungan. 2. Pelayanan Kesehatan. 3. Keturunan 4. Perilaku. Menurut hasil penelitian Blum tersebut lingkungan mempunyai andil yang paling besar terhadap status kesehatan masyarakat, disusul oleh perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Namun demikian pula negara-negara sedang berkembang, seperti halnya Indonesia, perilaku memiliki kontribusi yang paling besar pengaruhnya terhadap status kesehatan masyarakat. Mengingat pentingnya perilaku, aspek ini dijadikan sebagai pilar utama dalam standar derajat kesehatan masyarakat. Berbagai strategi ditetapkan oleh Depkes untuk mengeliminasi filariasis, seperti memutuskan mata rantai penularan melalui pengobatan massal di daerah endemis, mengendalikan vektor, memperkuat kerja sama lintas batas daerah, dan memperkuat surveilans. Namun demikian, langkah strategis lainnya yang perlu dilakukan adalah memberdayakan masyarakat melalui berbagai pendidikan non formal. Masyarakat perlu diberi pemahaman yang utuh tentang apa, mengapa, dan untuk apa mereka menghindari penyakit filariasis. Meningkatnya pengetahuan masyarakat diharapkan dapat mengubah sikap dan tindakan mereka tentang filariasis ke arah yang positif Depkes RI (Yustina.I, 2005).

15 2.2. Keadaan Lingkungan Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi penyebaran dan keberadaan serta transmisi penularan penyakit filariasis. Lingkungan rawa-rawa, hutan bakau, kolamkolam yang ditumbuhi tumbuhan air merupakan daerah endemis filariasis. Lingkungan ini dibedakan atas beberapa jenis yaitu : 1 Lingkungan Fisik. Lingkungan fisik mencakup antara lain keadaan iklim, keadaan gegrafis, struktur geologi dan sebagainya. Faktor lingkungan fisik erat kaitannya dengan kehidupan nyamuk, keadaan lingkungan yang cocok dan serasi untuk siklus hidup nyamuk, maka akan sangat potensial untuk terjadinya penyebaran dan penularan penyakit filariasis. Lingkungan fisik diperlukan nyamuk untuk terjadinya penyebaran dan penularan penyakit filariasis, lingkungan fisik diperlukan nyamuk untuk tempat perindukan dan istirahat. Keadaan suhu dan kelembaban juga dapat mempengaruhi tempat perindukan nyamuk. Keadaan lingkungan yang banyak ditumbuhi tumbuhan air (merupakan tempat perindukan) yang biasanya berada di daerah rawa-rawa dan adanya binatang sebagai hospes reserpoir seperti kera, lutung, sangat mempengaruhi terjadinya penyebaran penyakit filarisis (Priyanto, 1998). 2. Lingkungan Biologik. Lingkungan biologik erat kaitannya dengan sistem tranmisi untuk penyebaran dan penularan penyakit filariasis. Lingkungan biologik yang paling dominan terhadap sistem transmisi adalah lingkungan hayati.

16 Lingkungan hayati yaitu lingkungan yang terdapat banyak tumbuh-tumbuhan seperti tumbuhan air, daerah perkebunan, daerah yang masih terdapat hutan serta tanaman-tanaman lainya. Ekosistem lingkungan hayati merupakan salah satu tempat perindukan nyamuk dan juga merupakan lingkungan tempat mayarakat berinteraksi. Oleh sebab itu dengan adanya kontak antara lingkungan hayati, masyarakat dan nyamuk terjadilah system transmisi penularan penyakit filariasis. 3. Lingkungan Sosial, Ekonomi dan Budaya. Lingkungan sosial, ekonomi dan budaya adalah lingkungan yang timbul sebagai akibat adanya interaksi antara manusia di dalam bermasyarakat. Di dalam lingkungan ini termasuk perilaku, adat istiadat, kebudayaan dan tradisi-tradisi penduduk. Perilaku masyarakat setempat yang perlu diperhatikan antara lain adalah kebiasaan masyarakat dalam bekerja dalam hal ini bertani atau berkebun, kebiasaan masyarakat dalam bekerja pada malam hari atau siang hari, kebiasaan keluar rumah pada malam hari (sebelum tidur) atau siang hari (Depkes RI, 2002) 2.3. Konsep Perilaku Pengertian Perilaku Pengertian perilaku dapat dibatasi sebagai keadaan jiwa (berpikir, berpendapat, bersikap) untuk memberikan respon terhadap situasi di luar subjek tersebut. Respon ini dapat bersikap pasif (tanpa tindakan) dan juga bersikap aktif (dengan tindakan).

17 Pada dasarnya bentuk perilaku itu hanya dapat dilihat dari sikap dan tindakan saja, Sedangkan perilaku manusia adalah hasil pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungan yang berwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dapat juga diartikan sebagai suatu kegiatan yang dapat diamati secara langsung maupun dengan menggunakan alat (Sarwono, 2004). Manusia adalah makhluk hidup yang unik, perilaku manusia sangatlah kompleks dan mempunyai ruang lingkungan lingkup yang sangat luas, Blum (1908), dikutif dari Notoatmodjo (1993), membedakan perilaku dalam tiga bagian yaitu Kognitif (menyakut kesadaran atau gerakan). Afektif (menyangkut sikap atau emosi) dan psikomotoric (tindakan atau gerakan). Menurut Guilbert yang dikutip dari Notoatmodjo (1993), perilaku dibagi menjadi tiga bidang (domain) yaitu bidang tindakan (motoric domain). Terbentuknya suatu perilaku baru terutama pada orang dewasa dimulai pada saat domain kognitif, dalam arti subjek atau terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek diluarnya. Sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut dan selanjut menimbulkan respon bathin dalam bentuk respon subjek terhadap objek yang diketahui itu. Akhirnya rangsangan yakni objek yang telah disadari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon lebih jauh lagi berupa tindakan terhadap stimulus atau objek tadi. Namun pada kenyataannya stimulus yang diterima oleh subjek dapat langsung menimbulkan tindakan. Dengan kata lain tindakan seseorang tidak selalu didasari oleh pengetahuan dan sikap (Notoatmodjo, 2003).

18 Pengertian Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang atau organisme terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Respon atau reaksi manusia dapat bersifat (pengetahuan, persepsi, keyakinan, dan sikap) maupun bersifat aktif (tindakan nyata). Stimulus atau rangsangan dibagi menjadi empat unsur antara lain : 1. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia merespon baik pasif (mengetahui, bersikap dan berperspsi) tentang penyakit yang ada pada dasarnya dari luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilaksanakan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut disesuaikan dengan tingkattingkat pencegahan penyakit. a. Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health promotion behavior) b. Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan (health seeking behavior) c. Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior) 2. Perilaku terhadap system pelayanan kesehatan merupakan respon terhadap system pelayanan kesehatan baik modern maupun tradisional. Perilaku ini menyangkut respon terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan petugas kesehatan, dan obatobatannya, yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap, keyakinan, penggunaan fasilitas/petugas dan obat-obatan.

19 3. Perilaku terhadap makanan adalah respon seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital kehidupan yang meliputi pengetahuan, persepsi, sikap, dan praktek terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung di dalamnya (zat gizi), pengolahan makanan yang berhubungan dengan kebutuhan tubuh kita. 4. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri yang mencakup perilaku yang sehubungan dengan rumah yang sehat, perilaku sehubungan dengan kebersihan sarang-sarang nyamuk (vector dan sebagainya) 2.4. Karakteristik Masyarakat Umur Vaughant (1983) mengemukakan bahwa umur adalah usia manusia sejak lahir sampai meninggal dan membedakan proses pertumbuhan dan perkembangan dalam beberapa tahap menurut periode tertentu Pendapatan Purwani (Mufidah, 2001), mengatakan pendapatan atau penghasilan merupakan suatu gambaran tentang posisi ekonomi seseorang atau keluarga dalam perkapita di masyarakat yang dihitung berdasarkan bulanan, yang kemudian ditambah dengan penghasilan tambahan lainnya. Hal ini diukur dan disesuaikan dengan pengeluaran seseorang atau keluarga tersebut.

20 2.4.3 Pendidikan Cumming, dkk dalam Azhari (2002), mengemukakan bahwa pendidikan sebagai suatu proses atau kegiatan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan individu atau masyarakat. Ini berarti bahwa pendidikan adalah suatu pembentukan watak yaitu nilai dan sikap disertai dengan kemampuan dalam bentuk kecerdasan, pengetahuan, dan keterampilan. Seperti diketahui bahwa pendidikan formal yang ada di Indonesia adalah tingkat sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan tingkat atas dan tingkat akademi/perguruan tinggi. Tingkat pendidikan sangat menentukan daya nalar seseorang, yang lebih baik sehingga memungkinkan untuk menyerap informasiinformasi juga dapat berpikir secara rasional dalam menanggapi informasi atau setiap masalah yang dihadapi (Syahrial, 1997) Pengetahuan Purwodarminto dalam Syahrial (1997), menyatakan bahwa pengetahuan adalah segala apa yang diketahui berkenaan dengan sesuatu hal objek. Pengetahuan merupakan hasil tahu dan hal ini terjadi setelah orang melakukan pengideraan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Margono dalam Zulkifli (1978), menyatakan bahwa pengetahuan adalah kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi.

21 Hwakins dan Carry (1975), menyatakan bahwa pengetahuan menunjukkan kemampuan seseorang untuk memikirkan orang lain atau objek yang dihadapi. Notoatmodjo (1985), menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu unsur yang diperlukan seseorang agar dapat melakukan sesuatu, unsur unsur tersebut adalah : 1. Pengetahuan/pengertian dan pemahaman tentang apa yang akan dilakukannya. 2.Keyakinan dan kepercayaan tentang manfaat dan kebenaran dari apa yang dilakukannya. 3. Sarana yang diperlukan untuk melakukannya. 4. Dorongan atau motivasi untuk berbuat yang dilandasi oleh kebutuhan yang dirasakan. Staton dalam Azhari(2002), menyebutkan pengetahuan atau knowlwdge adalah individu tahu apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya Sikap Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap stimulasi atau objek. Sikap juga menggambarkan suka atau tidak suka, setuju atau tidak setujunya seseorang terhadap semua objek dan sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain. Sikap cenderung memberikan pendapat, penelitian terhadap sesuatu hal (Syahrial, 1979). Purwanto (1999), menyatakan bahwa sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap yang objektif. Jadi

22 sikap senantiasa terarah terhadap sesuatu hal. Manusia dapat mempunyai sikap terhadap bermacam-macam hal. Sikap juga mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. Sikap bukan dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan seseorang. 2. Sikap dapat berubah-ubah karena dapat dipelajari. 3. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan terhadap suatu objek. 4. Sikap mempunyai segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat inilah yang membedakan sikap dari kecakapan-kecakapan atau pengetahuan yang dimiliki seseorang. Allport dalam Syahrial (1979), mengemukakan sikap dapat bersifat positif dan dapat bersifat negative. Pada sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu, sedangkan pada sikap negative terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindar, membenci, tidak menyukai objek tertentu. Sikap tersebut mempunyai 3 komponen pokok yaitu : 1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep suatu objek 2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek 3. Kecenderungan untuk bertindak Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh, dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan dan emosi memegang peranan penting.

23 2.5. Penyakit Filariasis Filariasis pertama dilaporkan di Indonesia pada Ada tiga jenis spesies cacing filaria di Indonesia. 1) Wucheria bancrofti, 2) Brugia malayi, 3) Brugia timori. Dari ketiga jenis cacing B. Malayi mempunyai penyebaran paling luas di Indonesia. B.timori hanya terdapat di Indonesia Timur di Pulau Timor, Flores, Rote, Alor dan beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara Timur. Filariasis limfatik adalah infeksi oleh cacing parasit yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk dan berdampak pada kerusakan system limfa di tubuh manusia. Pada saat nyamuk betina menggigit manusia, larva infektif keluar dari kelenjar ludah nyamuk dan jatuh di kulit serta masuk ke tubuh melewati luka yang telah dibuat oleh probosis nyamuk. Selanjutnya apabila sudah masuk ke dalam tubuh, larva-larva tersebut akan berpindah ke system limfa yang merupakan system pertahanan tubuh manusia (bagian tubuh yang memberikan perlindungan) terhadap infeksi dan penyakit). Dalam system limfa, selama 3 12 bulan larva tumbuh menjadi cacing dewasa jantan dan betina kemudian kawin dalam kelenjar limfa dan menghasilkan berjuta-juta microfilariae (Mf) selama hidupnya sekitar 7 tahun atau lebih. Adanya cacing dewasa dan Mf yang dihasilkan dapat mengakibatkan kerusakan pada system limfa karena pada awalnya terjadi pelebaran saluran limfa sehingga mengganggu jalannya cairan limfa dan sirkulasi sel-sel kekebalan. Akibatnya, cairan terkumpul dan menyebabkan odema. Lama kelamaan akan terjadi pembentukan jaringan ikat fibrosis sehingga terjadi limfodema berupa pembengkakan pada kaki, lengan, payudara, atau alat kelamin, kerusakan saluran sistem limfa yang disebabkan

24 cacing dewasa ini bersifat permanen, walaupun cacing dewasa sudah mati (Oemijati 1999). Di Indonesia ada 23 spesies nyamuk dari 5 genus yang salah satunya jenis Mansonia, Anopheles, Culex, Aedes, dan Armigeres, yang menularkan penyakit filariasis. Sebagian besar spesies cacing Filaria tersebut bersifat periodic noctural, artinya mirofilaria ada dalam sirkulasi darah pada waktu malam hari dimulai pukul malam waktu setempat dan puncaknya antara pukul 24 malam 02 dini hari. Pada waktu siang hari, microfilaria tidak berasa dalam darah tetapi karena mereka hidup dalam organ-organ tubuh seperti lien, paru-paru dan organ lain. WHO (Oemijati, 1999). Filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria di dalam darah/jaringan, dan dapat disebarkan dari sumber infeksi ke manusia sehat yang rentan (susceptible) dengan perantara berbagai jenis nyamukdari genus Mansonia, culex, Anopheles dan berdampak pada kerusakan sistem limfa di tubuh manusia. Beradanya mikrofilaria di dalam darah tepi menentukan periodesitasnya. Faktor ini berhubungan erat dengan kebiasaan makan/menghisap darah dari nyamuknyamuk penular. Terlihat bahwa aktivitas vektor utama di suatu daerah sesuai dengan priodesitas mikrofilaria di daerah tersebut. Nyamuk-nyamuk penular (vektor) filaria di Indonesia merupakan nyamuk-nyamuk aktif menggigit terutama pada malam hari. (Oemijati 1999).. Lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap distribusi kasus filariasis dan mata rantai penularannya. Biasanya daerah endemis Brugia Malayi adalah daerah

25 dengan hutan rawan, sepanjang sungai atau badan air lain yang ditumbuhi tanaman air. Adapun daerah endemis Wuchereria Bancrofti tipe perkotaan (urban) adalah daerah-daerah perkotaan yang kumuh. Padat penduduknya dan banyak genangan air kotor (rural) secara umum kondisi lingkungannya sama dengan daerah endemis Brugia Malayi, WHO (Oemijiati, 1999) Gejala Penyakit Filariasis Pada tahap awal, penderita yang terkena penyakit ini mengalami demam berulang 1 2 kali atau lebih setiap bulan selama 3 5 hari, terutama bila bekerja berat. Demam ini dapat sembuh sendiri tanpa diobati. Setelah itu timbul benjolan dan terasa nyeri pada lipat paha atau ketiak tanpa adanya luka badan. Selain itu teraba adanya urat seperti tali yang berwarna merah dan sakit mulai dari pangkal paha atau ketiak, berjalan searah ujung kaki, atau tangan. Pada tahap lanjut, terjadi pembesaran yang hilang timbul pada kaki, tangan, kantong buah zakar, payudara dan alat kelamin wanita, yang lama kelamaan menjadi cacat menetap. Namun demikian, tidak semua penderita menunjukkan gejala yang dimaksud. Bisa saja tubuhnya terlihat sehat. Tetapi dalam tubuh sudah terdapat cacing dewasa dan anak cacing yang beredar dalam darah. Pengambilan darah jari untuk memeriksa adanya cacing filaritas dalam tubuh seseorang dilakukan pada malam hari karena anak cacing beredar di darah pada malam hari. (Depkes RI, 2000).

26 Pengobatan Penderita Penanggulangan penyakit filariasis telah banyak dilakukan antara lain dengan melalui program pemberantasan penyakit filariasis dengan pengobatan Massal (MDA) yang bertujuan untuk menurunkan prevalens (Mf-rate) hingga dibawah 1 %. Pengobatan kepada penderita filariasis dan masyarakat salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. Pengobatan jangka pendek dapat mencegah penularan penyakit dan mencegah kecacatan, sedangkan jangka panjang dapat menyembuhkan penderita. Pengobatan penderita filariasis di Indonesia adalah dengan pemberian obat, yaitu Mass Drug Administration MDA dan Garam DEC Deithylcarbamazine, (Depkes RI, 2000) Pencegahan Penyakit Filariasis Mengingat nyamuk merupakan penular dari penyakit ini, tentu saja upaya pencegahannya yang utama adalah terhindar dari gigitan nyamuk dengan berbagai cara seperti : tidur memakai kelambu, menutup ventilasi rumah dengan kawat kasa halus, memasang obat nyamuk, dan memakai anti nyamuk. Upaya penting lain yang perlu dilakukan adalah membersihkan tempat-tempat perindukan nyamuk, dan juga penyemprotan untuk membunuh nyamuk dewasa. Depkes RI, 2000) Eliminasi Filariasis Untuk mencapai tujuan nasional eliminasi filariasis, pemerintah dalam melaksanakan program pemberantasan filariasis dengan memutuskan mata rantai

27 penularan untuk menurunkan insiden penyakit, mengobati dan menyembuhkan penderita, serta mencegah timbulnya cacat. Secara nasional tujuan tersebut terbagi menjadi : tujuan jangka panjang yaitu eradikasi filariasis di Indonesia, Tujuan Jangka Menengah yaitu menurunnya angka kesakitan filariasis lebih kecil dari 1/1000 penduduk atau Mf < 1 %, dan Tujuan Jangka Pendek yaitu penemuan penderita (Case Finding) sedini mungkin, meningkatkan pengobatan yaitu dengan melakukan pengobatan MDA dengan memakai dua jenis obat selama minimal lima tahun berturut-turut untuk semua masyarakat di daerah endemis atau pengobatan massal dengan menggunakan garam DEC (Diethycarbamazine), sebagai obat standar bagi penderita terdaftar atau penderita baru, pembinaan pengobatan (Case Holding), mencegah cacat pada penderita yang telah terdaftar sehingga tidak akan cacat baru, melakukan penyuluhan kesehatan masyarakat tentang penyakit filariasis, agar masyarakat mengerti, memahami filariasis yang sebenarnya, dan mengurangi filariaphobia, pengawasan sesudah pengobatan dengan memberikan motivasi kepada masyarakat dan penderita agar datang memeriksakan diri setiap 1 tahun setelah selesai masa pengobatan, selama 5 tahun berturut masyarakat dan penderita. Melaksanakan survey darah jari diwaktu malam hari untuk mendeteksi sedini mungkin timbulnya kasus baru, (Depkes RI, 1998). Dalam konteks kampanye eliminasi filariasis, perilaku manusia jelas menjadi faktor yang menentukan terjangkitnya seseorang akan penyakit ini sebab sebagus apapun program yang dilakukan oleh Pemerintah, tanpa peran serta aktif masyarakat program tersebut tidak akan mencapai hasil yang optimal.

28 Program pengobatan massal (MDA) yang bertujuan untuk menurunkan prevalensi (Mf) rate hingga dibawah 1 % misalnya, tentu saja menuntut partisipasi aktif masyarakat di daerah endemis untuk mengkonsumsi obat sekali setahun selama 5 tahun. Dengan berbagai pendidikan, budaya, dan sebagainya, tentunya diperlukan kerja keras untuk meyakinkan masyarakat pentingnya mengkonsumsi obat dimaksud. Terkait dengan perilaku masyarakat, permasalahan yang ditemui, diantaranya kurangnya partisipasi dalam pemeriksaan dan pengambilan darah pada malam hari, tidak tuntasnya pengobatan massal, dan perilaku yang tidak aktif dalam mencegah agar tidak digigit nyamuk. (Depkes RI, 2000) 2.7. Landasan Teori Secara umum partisipasi masyarakat dapat diartikan sebagai keikutsertaan, keterlibatan, dan kebersamaan anggota masyarakat dalam suatu kegiatan tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterlibatan tersebut dimulai dari gagasan, perumusan kebijaksanaan, hingga pelaksanaan program. Partisipasi secara langsung berarti anggota masyarakat tersebut ikut memberikan bantuan tenaga dalam kegiatan yang dilaksanakan. Partisipasi tidak lansung berupa bantuan keuangan, pemikiran, dan materi yan dibutuhkan. Partisipasi juga sering diartikan sebagai sumbangan dana, material, tanah atau pada suatu proram atau kegiatan pembangunan yang belum tentu dikehendaki atau menjadi prioritas masyarakat tersebut, karena prakarsa dan rencana datang dari luar atau dari atas, partisipasi semacam ini dapat diterima masyarakat sebagai suatu beban.

29 Meningkatkan partisispasi masyarakat tidaklah semata-mata berarti melibatkan masyarakat dalam tahap perencanaan atau dalam evaluasi program belaka. Dalam partisipasi tersirat makna dan integritas keseluruhan program itu. Partisipasi merupakan sikap keterbukaan terhadap persepsi dan perasaan pihak lain : partisipasi berarti perhatian mendalam mengenai perbedaan atau perubahan yang akan dihasilkan suatu program sehubungan dengan kehidupan masyarakat. Partisipasi masyarakat dapat menjadi kunci keberhasilan pembangunan sampai pada tingkat bawah. Partisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan programprogram dapat mengembangkan kemandirian (self-reliance) yang dibutuhkan oleh para anggota masyarakat pedesaan demi akselerasi pembangunan. (Depkes 1994) Dalam upaya mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat ada beberapa faktor yang bisa membantu atau mendorong upaya tersebut. Faktor-faktor tersebut sebagian kita jumpai di masyarakat, sebagian di provider dan dapat dibagi dalam : 1. Faktor Pendorong a. Faktor-faktor di masyarakat Konsep partisipasi masyarakat sebenarnya bukan hal baru bagi kita di Indonesia. Dari sejak nenek moyang kita, telah adanya semangat gotong royong ini bertolak dari nilai-nilai budaya yang menyangkut hubungan antar manusia. semangat ini mendorong timbulnya partisipasi masyarakat. b. Faktor-faktor pendorong di pihak provider

30 Faktor pendororng terpenting yang ada dipihak provider ialah adanya kesadaran di lingkungan provider, bahwa perilaku merupakan faktor penting dan besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan. Kesadaran ini melandasi pemikiran pentingnya partisipasi masyarakat. Selain itu keterbatasan sumber daya di pihak provider juga merupakan faktor yang sangat mendorong pihak provider untuk mengembangkan partisipasi masyarakat. 2. Faktor Penghambat Seperti halnya faktor pendorong, faktor penghambat juga bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu : a. Faktor penghambat yang terdapat di masyarakat terdiri dari ; 1. Sikap/Persepsi masyarakat yang sangat berbeda dengan persepsi provider tentang masalah kesehatan yang dihadapi 2. Susunan masyarakat yang sangat heterogen dengan kondisi sosial budaya yang sangat berbeda-beda pula 3. Pengalaman pahit masyarakat tentang program sebelumnya 4. Adanya vested interest dari beberapa pihak di masyarakat 5. Sistem pengambilan keputusan dari atas ke bawah 6. Adanya berbagai macam kesenjangan sosial 7. Ekonomi sosial masyarakat 8. Pengetahuan masyarakat 9. Pendidikan masyarakat

31 b. Faktor penghambat yang terdapat di pihak provider. 1. Terlalu mengejar target, hingga terjerumus dalam pendekatan yang tidak partisipatif 2. Pelaporan yang tidak objektif (ABS), hingga provider keliru menafsirkan situasi birokrasi, yang sering memperlambat kecepatan dan ketepatan respons pihak provider terhadap perkembangan masyarakat. 3. Persepsi yang berbeda antara provider dan masyarakat. (Sunber I.B Mantara (1994), dalam Pendekatan edukatif suatu alternative pendekatan dalam membangun masyarakat) Ada tiga prakondisi tumbuhnya partisipasi, yaitu : 1. Mempunyai pengetahuan yang luas dan latar belakang pendidikan yang memadai sehingga dapat mengidentifikasi masalah, prioritas masalah dan melihat secara komprehensif. 2. Mempunyai kemampuan untuk belajar cepat tentang permasalahan, dan belajar untuk mengambil keputusan. 3. Kemampuan mengambil tindakan dan bertindak efektif. 4. Mempunyai Sikap serta keyakinan yang positif tentang masalah yang dihadapi. (Ross dalam Notoatmodjo 2005)

32 2.8. Kerangka Konsep Variabel Independen Karakteristik Masyarakat Petani 1. Umur 2. Pendapatan. 3. Tingkat Pendidikan 4. Pengetahuan 5. Sikap Variabel Dependen Partisipasi Masyarakat Petani dalam Pencegahan Penyakit Filariasis Faktor Pendukung 1. Lingkungan Fisik 2. Fasilitas Program 3. Jarak Fasilitas Kesehatan Faktor Pendorong 1. Sikap Petugas 2. Pengetahuan Keterangan Diteliti Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian Tidak diteliti

33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah explanatory research. Penelitian explanatory (penjelasan) adalah suatu penelitian untuk menjelaskan hubungan kausal antara variable variabel melalui pengujian hipotesa ( Singarimbun, 1989). Penelitian ini menekankan variabel karakteristik masyarakat petani meliputi ; umur, pendapatan, tingkat pendidikan, pengetahuan dan sikap terhadap partisipasi masyarakat petani dalam pencegahan penyakit filariasis Lokasi dan waktu penelitian Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Sei Kepayang Kabupaten Asahan dengan mengambil lokasi desa Sei Paham. Adapun alasan pengambilan lokasi adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan hasil survei darah jari oleh Depkes RI (2005) merupakan daerah endemis filariasis dan angka Mf rate > 1%. 2. Belum pernah dilakukan penelitian yang sejenis Waktu Penelitian Waktu penelitian mulai bulan Juli 2007 sampai dengan Agustus 2007.

34 3.3. Populasi dan Sampel Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga penduduk (bekerja sebagai petani sawah) Desa Sei Paham Kecamatan Sei Kepayang dengan jumlah kepala keluarga yang tercatat sebanyak 569 KK Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2005). Teknik sampling dalam penelitian ini adalah probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik probability sampling yang dipilih adalah simple random sampling karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi. Pertimbangan atau persyaratan yang mendasari dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut : 1. Masyarakat petani 2. Kepala keluarga 3. Bertempat tinggal di Desa Sei Paham Kecamatan Sei Kepayang Kabupaten Asahan

35 Besarnya sampel dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus uji hipotesis satu sampel (Lemeshow, 1997) n = Z 1 α P o (1 P o ) + Z 1 β P a (1 P a ) (P a P o ) 2 2 Keterangan : n = Besar Sampel. a = 5 % = 0,05 maka Z 1 α = 1,645 P o = Tingkat Partisipasi Masyarakat Petani = 2,7 % P a = 12,7 % Power (kekuatan uji) = 90% (β = 10%), maka Z 1 β = 1,282 Berdasarkan perhitungan diperoleh jumlah sampel yang akan diteliti sebanyak 75 orang Metode Pengumpulan Data Data primer Data primer penelitian diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang telah disusun dan mengacu pada variabel yang diteliti.

36 Data sekunder Data sekunder penelitian diperoleh dari laporan laporan maupun dokumen dokumen resmi yang digunakan untuk membantu analisa terhadap data primer Uji Validitas dan Reliabilitas Pengukuran validitas dan reliabilitas instrumen pada penelitian ini dilakukan kepada 20 orang masyarakat petani di desa Sei Paham tahun Uji validitas kuesioner dilakukan dengan membandingkan nilai r tabel dengan nilai r hitung. Nilai r tabel dilihat dengan tabel r dengan menggunakan df = n 2, pada tingkat kemaknaan 5 % maka angka r tabel adalah : df = n - 2 = 20 2 = 18 = r tabel = 0,444 Nilai r hasil dari masing-masing pertanyaan dibandingkan dengan nilai r tabel (0,444), bila r hasil > r tabel, maka pertanyaan tersebut valid, sedangkan hasil perhitungan r alpha adalah (0,8262, variabel pengetahuan), (0,8244 variabel sikap) dan (0,8539 variabel partisipasi) sehingga bila r alpha > r tabel maka pertanyaan tersebut adalah reliabel. Dari hasil uji tersebut terlihat bahwa semua pertanyaan nilai r hasil lebih besar dari r tabel demikian juga alpha lebih besar dari r tabel, dengan demikian kuesioner yang digunakan untuk penelitian tentang partisipasi masyarakat petani

37 dalam pencegahan penyakit filariasis di Kabupaten Asahan tahun 2007, adalah valid dan reliabel. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1. Hasil Perhitungan Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Pengetahuan, Sikap dan Partisipasi No Variabel r tabel r hasil Alpha Keterangan Pengetahuan P1 0,444 0,5014 0,8262 Valid dan reliabel P2 0,444 0,4978 0,8262 Valid dan reliabel P3 0,444 0,6139 0,8262 Valid dan reliabel P4 0,444 0,5171 0,8262 Valid dan reliabel 1. P5 0,444 0,4574 0,8262 Valid dan reliabel P6 0,444 0,5006 0,8262 Valid dan reliabel P7 0,444 0,5906 0,8262 Valid dan reliabel P8 0,444 0,5545 0,8262 Valid dan reliabel P9 0,444 0,4607 0,8262 Valid dan reliabel P10 0,444 0,4570 0,8262 Valid dan reliabel Sikap P11 0,444 0,5132 0,8244 Valid dan reliabel P12 0,444 0,4618 0,8244 Valid dan reliabel P13 0,444 0,5008 0,8244 Valid dan reliabel P14 0,444 0,5335 0,8244 Valid dan reliabel 2. P15 0,444 0,4679 0,8244 Valid dan reliabel P16 0,444 0,4542 0,8244 Valid dan reliabel P17 0,444 0,6361 0,8244 Valid dan reliabel P18 0,444 0,4770 0,8244 Valid dan reliabel P19 0,444 0,4833 0,8244 Valid dan reliabel P20 0,444 0,5899 0,8244 Valid dan reliabel Partisipasi P21 0,444 0,5506 0,8244 Valid dan reliabel P22 0,444 0,4636 0,8244 Valid dan reliabel P23 0,444 0,4709 0,8244 Valid dan reliabel P24 0,444 0,5259 0,8244 Valid dan reliabel 3. P25 0,444 0,4856 0,8244 Valid dan reliabel P26 0,444 0,6394 0,8244 Valid dan reliabel P27 0,444 0,5848 0,8244 Valid dan reliabel P28 0,444 0,6115 0,8244 Valid dan reliabel P29 0,444 0,5848 0,8244 Valid dan reliabel

38 3.5. Definisi Operasional Variabel Variabel Independen 1. Umur adalah usia responden dalam tahun yang disampaikan pada saat diwawancarai. 2. Pendapatan adalah penghasilan atau posisi ekonomi masyarakat atau keluarga yang dihitung dalam sebulan menurut upah minimum daerah Kabupaten Asahan 3. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang dicapai oleh responden. 4. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh responden tentang penyakit filariasis yang meliputi, pengertian, gejala-gejala, penyebab, cara penularan, cara pencegahan, dan cara penyembuhannya. 5. Sikap adalah pendapat/kesiapan/kesediaan responden dalam peran serta /partisipasi pada pencegahan penyakit filariasis Variabel Dependen 1. Penyuluhan adalah keikutsertaan/kesediaan masyarakat dalam bimbingan dan arahan oleh petugas kesehatan tentang penyakit dan pencegahan penyakit filariasis. 2. Penyemprotan adalah keikutsertaan/kesediaan masyarakat dalam salah satu usaha atau cara untuk membunuh nyamuk dewasa sebagai vektor penularan filariasis yang dilakukan ke rumah-rumah penduduk dan lingkugannya pada daerah endemis filariasis, menggunakan racun serangga.

39 3. Pengobatan massal adalah keikutsertaan/kesediaan masyarakat dalam pengobatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan di daerah endemis filariasis setelah diketahui terinfeksi penyakit filariasis. 4. Survei Darah Jari adalah keikutsertaan/kesediaan masyarakat dalam pengambilan darah jari yang dilakukan di malam hari untuk mengetahui dan survey tingkat infeksitas masyarakat yang dicurigai di daerah endemis filariasis. 5. Kelambunisasi adalah keikutsertaan/kesediaan masyarakat dalam salah satu upaya mengatasi atau tindakan preventif terhadap atau menghindari dari gigitan nyamuk sebagai vektor penularan di daerah endemis penyakit filariasis Aspek Pengukuran Aspek Pengukuran Variabel Bebas (Independen) Aspek pengukuran variabel bebas adalah karakteristik masyarakat petani yang meliputi : umur, pendapatan, tingkat pendidikan, pengetahuan dan sikap. 1. Variabel Umur Untuk mengetahui umur responden diajukan satu butir pertanyaan berbentuk kuesioner yang didasarkan pada skala rasio 2. Variabel pendapatan Untuk mengetahui pendapatan responden diberikan satu butir pertanyaan berbentuk kuesioner yang didasarkan pada skala interval

40 3 Variabel tingkat pendidikan Untuk mengetahui tingkat pendidikan responden diajukan satu butir pertanyaan berbentuk kuesioner yang didasarkan pada skala ordinal. 4. Variabel pengetahuan Untuk mengetahui pengetahuan responden tentang penyakit filariasis diajukan sepuluh butir pertanyaan berbentuk kuesioner, dengan perincian kategori baik diberi skor 3, kategori kurang baik diberi skor 2 dan kategori tidak baik diberi skor 1, maka interval skor untuk variabel pengetahuan adalah 30 paling tinggi dan 10 paling rendah dengan demikian pengelompokan rentang skor variabel pengetahuan dibagi menjadi 3 kelompok sama besar yaitu : 1. Baik : apabila total skor berada di antara Kurang baik : apabila total skor berada di antara Tidak baik : apabila total skor berada di antara Variabel sikap Untuk mengetahui sikap responden tentang penyakit filariasis diajukan sepuluh butir pertanyaan berbentuk kuesioner, dengan perincian kategori baik diberi skor 3, kategori kurang baik diberi skor 2 dan kategori tidak baik diberi skor 1, maka interval skor untuk variabel sikap adalah 30, paling tinggi dan 10 paling rendah rentang skor variabel sikap dibagi menjadi 3 kelompok sama besar yaitu : 1. Baik : apabila total skor berada di antara Kurang baik : apabila total skor berada di antara

Proses Penularan Penyakit

Proses Penularan Penyakit Bab II Filariasis Filariasis atau Penyakit Kaki Gajah (Elephantiasis) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Filariasis disebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang penularannya melalui

BAB I PENDAHULUAN. penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang penularannya melalui BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Filariasis atau Elephantiasis atau disebut juga penyakit kaki gajah adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang penularannya melalui gigitan berbagai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Deklarasi Milenium yang merupakan kesepakatan para kepala negara dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Deklarasi Milenium yang merupakan kesepakatan para kepala negara dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Deklarasi Milenium yang merupakan kesepakatan para kepala negara dan perwakilan dari 189 negara dalam sidang Persatuan Bangsa-Bangsa di New York pada bulan September

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Prioritas pembangunan kesehatan dalam rencana strategis kementerian

BAB I PENDAHULUAN. Prioritas pembangunan kesehatan dalam rencana strategis kementerian 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Prioritas pembangunan kesehatan dalam rencana strategis kementerian kesehatan tahun 2010-2014 difokuskan pada delapan fokus prioritas, salah satunya adalah pengendalian

Lebih terperinci

Bab I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Bab I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Bab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Filariasis limfatik adalah penyalit menular yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk dan berdampak pada kerusakan sistem limfe

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular yang menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, Culex, Armigeres.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kaki gajah, dan di beberapa daerah menyebutnya untut adalah penyakit yang

BAB 1 PENDAHULUAN. kaki gajah, dan di beberapa daerah menyebutnya untut adalah penyakit yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Filariasis atau elephantiasis dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai penyakit kaki gajah, dan di beberapa daerah menyebutnya untut adalah penyakit yang disebabkan infeksi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.

BAB 1 PENDAHULUAN. disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penyakit kaki gajah (filariasis) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Cacing filaria

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Filariasis atau elephantiasis atau penyakit kaki gajah, adalah penyakit yang disebabkan infeksi cacing filaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini tersebar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN.

BAB I PENDAHULUAN. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Filariasis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria (Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori). Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles,

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, Culex, Armigeres.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang disebabkan oleh berjangkitnya penyakit-penyakit tropis. Salah satu

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang disebabkan oleh berjangkitnya penyakit-penyakit tropis. Salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai negara yang beriklim tropis banyak menghadapi masalah kesehatan yang disebabkan oleh berjangkitnya penyakit-penyakit tropis. Salah satu penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1

BAB I PENDAHULUAN.  1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Filariasis merupakan penyakit menular yang terdapat di dunia. Sekitar 115 juta penduduk terinfeksi W. Bancrofti dan sekitar 13 juta penduduk teridentifikasi sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Filariasis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh cacing Wuchereria Bancrofti (W. Bancrofti), Brugia(B) Malayi dan B. Timori. Penyakit ini menyebabkan pembengkakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Filariasis atau yang dikenal juga dengan sebutan elephantiasis atau yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Filariasis atau yang dikenal juga dengan sebutan elephantiasis atau yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Filariasis atau yang dikenal juga dengan sebutan elephantiasis atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai penyakit kaki gajah dan di beberapa daerah menyebutnya

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria yang

BAB 1 : PENDAHULUAN. Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria yang BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit menular merupakan penyakit yang ditularkan melalui berbagai media. Penyakit menular menjadi masalah kesehatan yang besar hampir di semua negara berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Akibat yang paling fatal bagi penderita yaitu kecacatan permanen yang sangat. mengganggu produktivitas (Widoyono, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. Akibat yang paling fatal bagi penderita yaitu kecacatan permanen yang sangat. mengganggu produktivitas (Widoyono, 2008). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Filariasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit nematoda, penyakit ini jarang menyebabkan kematian, tetapi dapat menurunkan produktivitas penderitanya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Filariasis 2.1.1. Pengertian Filariasis atau yang lebih dikenal juga dengan penyakit kaki gajah merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menetap dan berjangka lama terbesar kedua di dunia setelah kecacatan mental (WHO,

BAB I PENDAHULUAN. menetap dan berjangka lama terbesar kedua di dunia setelah kecacatan mental (WHO, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Filariasis merupakan salah satu penyakit tertua dan paling melemahkan yang dikenal dunia. Filariasis limfatik diidentifikasikan sebagai penyebab kecacatan menetap dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh plasmodium yang

BAB I PENDAHULUAN. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh plasmodium yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Nyamuk anopheles hidup di daerah tropis dan

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penyakit Filariasis Limfatik atau penyakit Kaki Gajah merupakan salah

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penyakit Filariasis Limfatik atau penyakit Kaki Gajah merupakan salah BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Filariasis Limfatik atau penyakit Kaki Gajah merupakan salah satu penyakit parasitik tertua di dunia. Penyakit menular ini bersifat menahun yang disebabkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2025 adalah meningkatnya kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pada tahun 2013 jumlah kasus baru filariasis ditemukan sebanyak 24 kasus,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pada tahun 2013 jumlah kasus baru filariasis ditemukan sebanyak 24 kasus, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Filariasis Pada tahun 2013 jumlah kasus baru filariasis ditemukan sebanyak 24 kasus, jumlah ini menurun dari tahun 2012 yang ditemukan sebanyak 36 kasus (Dinkes Prov.SU, 2014).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria merupakan salah satu penyakit penyebab masalah kesehatan masyarakat terutama di negara tropis dan sub tropis yang sedang berkembang. Pertumbuhan penduduk yang

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. A. latar belakang. Di indonesia yang memiliki iklim tropis. memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dengan baik

BAB I. Pendahuluan. A. latar belakang. Di indonesia yang memiliki iklim tropis. memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dengan baik BAB I Pendahuluan A. latar belakang Di indonesia yang memiliki iklim tropis memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dengan baik dan dapat berfungsi sebagai vektor penyebar penyakitpenyakit seperti malaria,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tenggara. Terdapat empat jenis virus dengue, masing-masing dapat. DBD, baik ringan maupun fatal ( Depkes, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. Tenggara. Terdapat empat jenis virus dengue, masing-masing dapat. DBD, baik ringan maupun fatal ( Depkes, 2013). BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Demam berdarah adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit ini ditemukan di daerah tropis dan sub tropis, dan menjangkit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menular (emerging infection diseases) dengan munculnya kembali penyakit menular

BAB I PENDAHULUAN. menular (emerging infection diseases) dengan munculnya kembali penyakit menular BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu indikator dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu negara. Konsep kesehatan

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI FILARIASIS YANG DISEBABKAN OLEH CACING NEMATODA WHECERERIA

IDENTIFIKASI FILARIASIS YANG DISEBABKAN OLEH CACING NEMATODA WHECERERIA IDENTIFIKASI FILARIASIS YANG DISEBABKAN OLEH CACING NEMATODA WHECERERIA Editor: Nama : Istiqomah NIM : G1C015022 FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN KEPERAWATAN TAHUN AJARAN 2015 /2016 1 IDENTIFIKASI FILARIASIS

Lebih terperinci

Prevalensi pre_treatment

Prevalensi pre_treatment Prevalensi pre_treatment BAB 4 HASIL Sebanyak 757 responden berpartisipasi pada pemeriksaan darah sebelum pengobatan masal dan 301 responden berpartisipasi pada pemeriksaan darah setelah lima tahun pengobatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Malaria merupakan salah satu penyakit tropik yang disebabkan oleh infeksi

BAB 1 PENDAHULUAN. Malaria merupakan salah satu penyakit tropik yang disebabkan oleh infeksi 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria merupakan salah satu penyakit tropik yang disebabkan oleh infeksi parasit yaitu Plasmodium yang menyerang eritrosit.malaria dapat berlangsung akut maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lebih dari 2 miliar atau 42% penduduk bumi memiliki resiko terkena malaria. WHO

BAB I PENDAHULUAN. lebih dari 2 miliar atau 42% penduduk bumi memiliki resiko terkena malaria. WHO BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria merupakan penyakit menular yang dominan di daerah tropis dan sub tropis dan dapat mematikan. Setidaknya 270 penduduk dunia menderita malaria dan lebih dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah

BAB I PENDAHULUAN. Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di dunia termasuk Indonesia. Penyakit malaria menjadi salah satu perhatian

Lebih terperinci

BAB 1 RANGKUMAN Judul Penelitian yang Diusulkan Penelitian yang akan diusulkan ini berjudul Model Penyebaran Penyakit Kaki Gajah.

BAB 1 RANGKUMAN Judul Penelitian yang Diusulkan Penelitian yang akan diusulkan ini berjudul Model Penyebaran Penyakit Kaki Gajah. BAB 1 RANGKUMAN 1.1. Judul Penelitian yang Diusulkan Penelitian yang akan diusulkan ini berjudul Model Penyebaran Penyakit Kaki Gajah. 1.2. Pemimpin / Penanggung Jawab Penelitian akan dipimpin langsung

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Penyakit ini mempengaruhi

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Penyakit ini mempengaruhi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Filariasis limfatik merupakan penyakit tular vektor dengan manifestasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Filariasis limfatik merupakan penyakit tular vektor dengan manifestasi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Filariasis limfatik merupakan penyakit tular vektor dengan manifestasi klinis yang luas yang menyebabkan angka kesakitan dan kecacatan yang tinggi pada mereka yang

Lebih terperinci

FAKTO-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN FILARIASIS DI PUSKESMAS TIRTO I KABUPATEN PEKALONGAN

FAKTO-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN FILARIASIS DI PUSKESMAS TIRTO I KABUPATEN PEKALONGAN FAKTO-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN FILARIASIS DI PUSKESMAS TIRTO I KABUPATEN PEKALONGAN 7 Candriana Yanuarini ABSTRAK Filariasis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. salah satu perhatian global karena kasus malaria yang tinggi dapat berdampak luas

BAB 1 PENDAHULUAN. salah satu perhatian global karena kasus malaria yang tinggi dapat berdampak luas BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di dunia termasuk Indonesia. Penyakit malaria menjadi salah satu perhatian

Lebih terperinci

SARANG NYAMUK DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DI DESA KLIWONAN MASARAN SRAGEN

SARANG NYAMUK DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DI DESA KLIWONAN MASARAN SRAGEN HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DI DESA KLIWONAN MASARAN SRAGEN SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan mencapai derajat

Lebih terperinci

FAKTOR DOMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN FILARIASIS DI KOTA PADANG TAHUN

FAKTOR DOMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN FILARIASIS DI KOTA PADANG TAHUN SKRIPSI FAKTOR DOMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN FILARIASIS DI KOTA PADANG TAHUN 2011 Penelitian Keperawatan Komunitas WELLY BP. 07121017 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. distribusinya kosmopolit, jumlahnya lebih dari spesies, stadium larva

BAB I PENDAHULUAN. distribusinya kosmopolit, jumlahnya lebih dari spesies, stadium larva BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nyamuk adalah serangga yang bentuknya langsing, halus, distribusinya kosmopolit, jumlahnya lebih dari 3.000 spesies, stadium larva dan pupanya hidup di air (Garcia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang optimal dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu : faktor

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang optimal dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu : faktor BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Menurut Hendrik L. Blum dalam Kusnoputranto (1986), derajat kesehatan masyarakat yang optimal dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu : faktor lingkungan, perilaku

Lebih terperinci

PENGOBATAN FILARIASIS DI DESA BURU KAGHU KECAMATAN WEWEWA SELATAN KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA

PENGOBATAN FILARIASIS DI DESA BURU KAGHU KECAMATAN WEWEWA SELATAN KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA PENGOBATAN FILARIASIS DI DESA BURU KAGHU KECAMATAN WEWEWA SELATAN KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA Ira Indriaty P.B Sopi 1 *, Majematang Mading 1 1 Loka Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit Bersumber

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan bagi

BAB 1 PENDAHULUAN. salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan bagi BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penyakit malaria telah diketahui sejak zaman Yunani. Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat dunia yang dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam proses terjadinya penyakit terdapat tiga elemen yang saling berperan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam proses terjadinya penyakit terdapat tiga elemen yang saling berperan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam proses terjadinya penyakit terdapat tiga elemen yang saling berperan dan berinteraksi, ketiga nya adalah host, agent dan lingkungan. Ketiga komponen ini dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang World Malaria Report (2011) menyebutkan bahwa malaria terjadi di 106 negara bahkan 3,3 milyar penduduk dunia tinggal di daerah berisiko tertular malaria. Jumlah kasus

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. terhadap ketahanan nasional, resiko Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) pada ibu

BAB 1 PENDAHULUAN. terhadap ketahanan nasional, resiko Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) pada ibu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria sebagai salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, berdampak kepada penurunan kualitas sumber daya manusia yang dapat menimbulkan

Lebih terperinci

DESCRIPTION OF KNOWLEDGE, ATTITUDE AND BEHAVIOR OF THE PEOPLE AT NANJUNG VILLAGE RW 1 MARGAASIH DISTRICT BANDUNG REGENCY WEST JAVA ABOUT FILARIASIS

DESCRIPTION OF KNOWLEDGE, ATTITUDE AND BEHAVIOR OF THE PEOPLE AT NANJUNG VILLAGE RW 1 MARGAASIH DISTRICT BANDUNG REGENCY WEST JAVA ABOUT FILARIASIS GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT DI RW 1 DESA NANJUNG KECAMATAN MARGAASIH KABUPATEN BANDUNG JAWA BARAT TENTANG FILARIASIS TAHUN 2014 DESCRIPTION OF KNOWLEDGE, ATTITUDE AND BEHAVIOR OF

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dari genus Plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin

BAB 1 PENDAHULUAN. dari genus Plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. harus dipenuhi oleh setiap bangsa dan negara. Termasuk kewajiban negara untuk

BAB I PENDAHULUAN. harus dipenuhi oleh setiap bangsa dan negara. Termasuk kewajiban negara untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap individu masyarakat yang harus dipenuhi oleh setiap bangsa dan negara. Termasuk kewajiban negara untuk memproteksi masyarakatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Turki dan beberapa Negara Eropa) beresiko terkena penyakit malaria. 1 Malaria

BAB I PENDAHULUAN. Turki dan beberapa Negara Eropa) beresiko terkena penyakit malaria. 1 Malaria BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit malaria umumnya menyerang daerah tropis (Cina daerah Mekong, Srilangka, India, Indonesia, Filipina) dan subtropis (Korea Selatan, Mediternia Timur, Turki

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Diantara kota di Indonesia, Kota Bandar Lampung merupakan salah satu daerah

I. PENDAHULUAN. Diantara kota di Indonesia, Kota Bandar Lampung merupakan salah satu daerah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dangue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty. Diantara kota di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhagic Fever

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhagic Fever BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhagic Fever (DHF) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Epidemiologi perubahan vektor penyakit merupakan ancaman bagi kesehatan manusia, salah satunya adalah demam berdarah dengue (DBD). Dengue hemorraghic fever (DHF) atau

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PENELITIAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN BAB 4 HASIL PENELITIAN Sebanyak 362 anak-anak sekolah dasar berusia 6-13 tahun berpartisipasi pada pemeriksaan darah setelah lima tahun pengobatan masal dengan kombinasi obat DEC-albendazol. Sampel diambil

Lebih terperinci

PENYAKIT-PENYAKIT DITULARKAN VEKTOR

PENYAKIT-PENYAKIT DITULARKAN VEKTOR PENYAKIT-PENYAKIT DITULARKAN VEKTOR dr. I NYOMAN PUTRA Kepala Bidang Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok DEMAM BERDARAH DENGUE (DHF) Definisi Merupakan penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dijumpai adalah Plasmodium Falciparum dan Plasmodium. Vivax. Di Indonesia Timur yang terbanyak adalah Plasmodium

BAB I PENDAHULUAN. dijumpai adalah Plasmodium Falciparum dan Plasmodium. Vivax. Di Indonesia Timur yang terbanyak adalah Plasmodium BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria di Indonesia tersebar di seluruh pulau dengan derajat endemisitas yang berbeda. Spesies yang terbanyak dijumpai adalah Plasmodium Falciparum dan Plasmodium

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Filariasis 2.1.1 Etiologi dan Penularan Filariasis Filariasis atau penyakit kaki gajah adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing Filaria. Filariasis di Indonesia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sejak lama tetapi kemudian merebak kembali (re-emerging disease). Menurut

BAB 1 PENDAHULUAN. sejak lama tetapi kemudian merebak kembali (re-emerging disease). Menurut BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Chikungunya merupakan suatu penyakit dimana keberadaannya sudah ada sejak lama tetapi kemudian merebak kembali (re-emerging disease). Menurut sejarah, diduga penyakit

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. manusia di seluruh dunia setiap tahunnya. Penyebaran malaria berbeda-beda dari satu

BAB 1 PENDAHULUAN. manusia di seluruh dunia setiap tahunnya. Penyebaran malaria berbeda-beda dari satu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang sangat dominan di daerah tropis dan sub tropis serta dapat mematikan (membunuh) lebih dari satu juta manusia di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Malaria masih merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia, terutama di negara-negara tropis dan subtropis. Kurang lebih satu miliar penduduk dunia pada 104 negara (40%

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sebagai salah satu negara yang ikut menandatangani deklarasi Millenium

BAB 1 PENDAHULUAN. Sebagai salah satu negara yang ikut menandatangani deklarasi Millenium 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai salah satu negara yang ikut menandatangani deklarasi Millenium Development Goals (MDGs), Indonesia mempunyai komitmen untuk melaksanakannya serta menjadikannya

Lebih terperinci

Faktor Risiko Kejadian Filarisis Limfatik di Kecamatan Maro Sebo Kabupaten Muaro Jambi

Faktor Risiko Kejadian Filarisis Limfatik di Kecamatan Maro Sebo Kabupaten Muaro Jambi Faktor Risiko Kejadian Filarisis Limfatik di Kecamatan Maro Sebo Kabupaten Muaro Jambi Praba Ginandjar* Esther Sri Majawati** Artikel Penelitian *Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae, ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia GH

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae, ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia GH 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai ke masalah sosial, ekonomi, budaya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa parasit yang

BAB I PENDAHULUAN. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa parasit yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa parasit yang merupakan golongan plasmodium. Parasit ini hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit campak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit campak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit campak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit campak sangat berbahaya karena dapat menyebabkan cacat dan kematian yang diakibatkan

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia, salah satunya penyakit Demam

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia, salah satunya penyakit Demam BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit yang disebabkan oleh vektor masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia, salah satunya penyakit Demam Berdarah Dengue

Lebih terperinci

TUGAS PERENCANAAN PUSKESMAS UNTUK MENURUNKAN ANGKA KESAKITAN FILARIASIS KELOMPOK 6

TUGAS PERENCANAAN PUSKESMAS UNTUK MENURUNKAN ANGKA KESAKITAN FILARIASIS KELOMPOK 6 TUGAS PERENCANAAN PUSKESMAS UNTUK MENURUNKAN ANGKA KESAKITAN FILARIASIS KELOMPOK 6 Devi Rahmadianti 04091041003 Nyimas Praptini Nurani 04091041009 Lutfia Rahmawati 04091041016 Dwi Yunia Meriska 04091041018

Lebih terperinci

Rencana Nasional Program Akselerasi Eliminasi Filariasis di Indonesia. No ISBN :

Rencana Nasional Program Akselerasi Eliminasi Filariasis di Indonesia. No ISBN : 2010-2014 No ISBN : Rencana Nasional Program Akselerasi Eliminasi Filariasis di Indonesia S U B D I T F I L A R I A S I S & S C H I S T O M I A S I S D I R E K T O R A T P 2 B 2, D I T J E N P P & P L

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Nasional (RPJMN, ) di bidang kesehatan yang mencakup programprogram

BAB 1 PENDAHULUAN. Nasional (RPJMN, ) di bidang kesehatan yang mencakup programprogram BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Arah kebijaksanaan pembangunan bidang kesehatan, diantaranya menyebutkan bahwa pembangunan kesehatan diarahkan untuk mempertinggi derajat kesehatan termasuk di dalamnya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit demam berdarah dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang menempati posisi penting dalam deretan penyakit infeksi yang masih

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (Harijanto, 2014). Menurut World Malaria Report 2015, terdapat 212 juta kasus

BAB 1 PENDAHULUAN. (Harijanto, 2014). Menurut World Malaria Report 2015, terdapat 212 juta kasus BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, baik dunia maupun Indonesia (Kemenkes RI, 2011). Penyakit malaria adalah penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dengan kasus 58 orang anak, 24 diantaranya meninggal dengan Case Fatality Rate (CFR) = 41,3%. Sejak itu

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kelurahan Kayubulan Kecamatan Limboto terbentuk/lahir sejak tahun 1928 yang

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kelurahan Kayubulan Kecamatan Limboto terbentuk/lahir sejak tahun 1928 yang BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Kelurahan Kayubulan Kelurahan Kayubulan Kecamatan Limboto terbentuk/lahir sejak tahun 1928 yang pada saat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Pencapaian tujuan

BAB I PENDAHULUAN. daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Pencapaian tujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan pembangunan bidang kesehatan menurut Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. serta semakin luas penyebarannya. Penyakit ini ditemukan hampir di seluruh

BAB I PENDAHULUAN. serta semakin luas penyebarannya. Penyakit ini ditemukan hampir di seluruh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit malaria sampai saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung meningkat jumlah klien serta semakin luas penyebarannya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Chikungunya merupakan penyakit re-emerging disease yaitu penyakit

BAB I PENDAHULUAN. Chikungunya merupakan penyakit re-emerging disease yaitu penyakit BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Chikungunya merupakan penyakit re-emerging disease yaitu penyakit yang keberadaannya sudah ada sejak lama, tetapi kemudian merebak kembali. Chikungunya berasal dari

Lebih terperinci

ABSTRAK. Pembimbing I : Rita Tjokropranoto, dr., M.Sc Pembimbing II : Hartini Tiono, dr.,m. Kes

ABSTRAK. Pembimbing I : Rita Tjokropranoto, dr., M.Sc Pembimbing II : Hartini Tiono, dr.,m. Kes ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN SIKAP DAN PERILAKU PENDUDUK TERHADAP PENYAKIT FILARIASIS LIMFATIK DI DESA BONGAS KECAMATAN PAMANUKAN KABUPATEN SUBANG TAHUN 2011 Ayu Faujiah, 2011. Pembimbing I : Rita Tjokropranoto,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. negara khususnya negara-negara berkembang. Berdasarkan laporan The World

BAB 1 PENDAHULUAN. negara khususnya negara-negara berkembang. Berdasarkan laporan The World BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Malaria sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan utama di berbagai negara khususnya negara-negara berkembang. Berdasarkan laporan The World Malaria Report 2005

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit akibat virus yang ditularkan oleh vektor nyamuk dan menyebar dengan cepat. Data menunjukkan peningkatan 30 kali lipat dalam

Lebih terperinci

Gambaran Pengobatan Massal Filariasis ( Studi Di Desa Sababilah Kabupaten Barito Selatan Kalimantan Tengah )

Gambaran Pengobatan Massal Filariasis ( Studi Di Desa Sababilah Kabupaten Barito Selatan Kalimantan Tengah ) Gambaran Pengobatan Massal Filariasis ( Studi Di Desa Sababilah Kabupaten Barito Selatan Kalimantan Tengah ) Supatmi Dewi *) Lintang Dian Saraswati **) M.Sakundarno Adi **) Praba Ginandjar **) Bagian Epidemiologi

Lebih terperinci

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PENCEGAHAN FILARIASIS DI RASAU JAYA II KABUPATEN KUBU RAYA ABSTRAK

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PENCEGAHAN FILARIASIS DI RASAU JAYA II KABUPATEN KUBU RAYA ABSTRAK ORIGINAL RESEARCH HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PENCEGAHAN FILARIASIS DI RASAU JAYA II KABUPATEN KUBU RAYA Tutur Kardiatun 1 1 Staf Pengajar Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. klinis, penyakit ini menunjukkan gejala akut dan kronis. Gejala akut berupa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. klinis, penyakit ini menunjukkan gejala akut dan kronis. Gejala akut berupa BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Penyakit Filariasis 2.1.1. Pengertian Penyakit Filariasis Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular yang disebabkan karena cacing filaria, yang hidup

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR LAMPIRAN... viii BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Rumusan Masalah... 6 1.3. Tujuan Penelitian...

Lebih terperinci

UPAYA KELUARGA DALAM PENCEGAHAN PRIMER FILARIASIS DI DESA NANJUNG KECAMATAN MARGAASIH KABUPATEN BANDUNG

UPAYA KELUARGA DALAM PENCEGAHAN PRIMER FILARIASIS DI DESA NANJUNG KECAMATAN MARGAASIH KABUPATEN BANDUNG UPAYA KELUARGA DALAM PENCEGAHAN PRIMER FILARIASIS DI DESA NANJUNG KECAMATAN MARGAASIH KABUPATEN BANDUNG Yohannie Vicky Putri, Mamat Lukman, Raini Diah Susanti Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2010), program pencegahan dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2010), program pencegahan dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Kementerian Kesehatan RI (2010), program pencegahan dan pemberantasan DBD telah berlangsung lebih kurang 43 tahun dan berhasil menurunkan angka kematian dari

Lebih terperinci

Juli Desember Abstract

Juli Desember Abstract Volume 15, Nomor 2, Hal. 39-50 Juli Desember 2013 ISSN:0852-83 PENGARUH KARAKTERISTIK KEPALA KELUARGA TERHADAP TINDAKAN PENCEGAHAN PENYAKIT FILARIASIS DI DESA KEMINGKING DALAM KABUPATEN MUARO JAMBI PROPINSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang optimal bagi masyarakat diselenggarakan upaya kesehatan dengan

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang optimal bagi masyarakat diselenggarakan upaya kesehatan dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. miliar atau 42% penduduk bumi memiliki risiko terkena malaria. WHO mencatat setiap tahunnya

BAB I PENDAHULUAN. miliar atau 42% penduduk bumi memiliki risiko terkena malaria. WHO mencatat setiap tahunnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria merupakan penyakit menular yang sangat dominan di daerah tropis dan sub-tropis serta dapat mematikan. Setidaknya 270 juta penduduk dunia menderita malaria dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1.Latar Belakang. Filariasis limfatik atau Elephantiasis adalah. penyakit tropis yang disebabkan oleh parasit di mana

BAB I PENDAHULUAN. I.1.Latar Belakang. Filariasis limfatik atau Elephantiasis adalah. penyakit tropis yang disebabkan oleh parasit di mana BAB I PENDAHULUAN I.1.Latar Belakang Filariasis limfatik atau Elephantiasis adalah penyakit tropis yang disebabkan oleh parasit di mana saat dewasa hanya bisa hidup di sistem limfatik manusia. Penularannya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN. tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama jumlah penderita DBD

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada anggota badan terutama pada tungkai atau tangan. apabila terkena pemaparan larva infektif secara intensif dalam jangka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pada anggota badan terutama pada tungkai atau tangan. apabila terkena pemaparan larva infektif secara intensif dalam jangka BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Filariasis 1. Filariasis Filariasis adalah suatu infeksi cacing filaria yang menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk dan dapat menimbulkan pembesaran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat karena menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian (Profil

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat karena menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian (Profil BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, sering muncul sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Filariasis merupakan penyakit zoonosis menular yang banyak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Filariasis merupakan penyakit zoonosis menular yang banyak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Filariasis merupakan penyakit zoonosis menular yang banyak ditemukan di daerah tropis seluruh dunia. Filariasis atau penyakit kaki gajah adalah suatu infeksi

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. yang akan memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomis.

BAB 1 : PENDAHULUAN. yang akan memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomis. BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sehat baik fisik, mental, spiritual maupun sosial yang akan memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial ekonomis. Pemerintah

Lebih terperinci

Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat. Disusun Oleh TIWIK SUSILOWATI J

Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat. Disusun Oleh TIWIK SUSILOWATI J HUBUNGAN PERILAKU MASYARAKAT DAN KONDISI FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN MALARIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANA RARA KECAMATAN LOLI KABUPATEN SUMBA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Nyamuk merupakan serangga yang seringkali. membuat kita risau akibat gigitannya.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Nyamuk merupakan serangga yang seringkali. membuat kita risau akibat gigitannya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nyamuk merupakan serangga yang seringkali membuat kita risau akibat gigitannya. Salah satu bahaya yang disebabkan oleh gigitan nyamuk adalah berbagai macam

Lebih terperinci

LAMPIRAN I DOKUMENTASI PENELITIAN

LAMPIRAN I DOKUMENTASI PENELITIAN 93 LAMPIRAN I DOKUMENTASI PENELITIAN Gambar 1. Keadaan Rumah Responden Gambar 2. Keaadaan Rumah Responden Dekat Daerah Pantai 94 Gambar 3. Parit/selokan Rumah Responden Gambar 4. Keadaan Rawa-rawa Sekitar

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan,

BAB 1 : PENDAHULUAN. fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan, BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit berbasis lingkungan merupakan penyakit yang proses kejadiannya atau fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan, berakar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk

Lebih terperinci