BAB III PERANCANGAN 3.1. Deskripsi Sistem Water Treatment Plant Wire Rod Mill

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III PERANCANGAN 3.1. Deskripsi Sistem Water Treatment Plant Wire Rod Mill"

Transkripsi

1 BAB III PERANCANGAN 3.1. Deskripsi Sistem Water Treatment Plant Wire Rod Mill Water treatment plant berfungsi sebagai tempat pengolahan air hasil proses produksi dan tempat pembersihan air yang telah kotor tersebut agar bisa dipergunakan untuk proses produksi kembali. Pada water treatment plant wire rod mill ini penggunaan air dibedakan dari jenis peralatan di mill produksi. Ada 2 tipe penyaluran air dari WTP berdasarkan peralatan produksi yaitu closed cooling dan open cooling. Gambar 3.1 Proses closed cooling dan open cooling Closed cooling merupakan proses penyaluran air dari WTP untuk peralatan yang berada dalam pipa atau tertutup, dalam aplikasi dilapangan closed cooling ini dipergunakan untuk hidrolik station, peralatan listrik (pendinginan motor, pendinginan Hot Metal Detector, dll), dan untuk pusher yang ada didalam furnace. Untuk closed cooling ini terdapat 3 motor pompa sebagai penunjang 33

2 kelancaran pendistribusian air. Motor yang dipakai mempunyai daya 110 kw 400V AC. Open cooling merupakan proses penyaluran air dari WTP untuk proses produksi batang kawat, dalam aplikasinya open cooling ini dipergunakan untuk pendinginan semua roll produksi, pendinginan batang kawat untuk proses transformasi kawat, penyemprotan water descaller (pembersih scale pada bar) dan untuk semua peralatan penunjang produksi. Pada sistem open cooling ini terdapat 4 motor pompa sebagai penunjang kelancaran pendistribusian airnya. Motor yang dipakai mempunyai daya 200 kw 400V AC dengan cos Φ 0,85. Saat ini closed cooling dan open cooling dioperasikan secara manual,tersebut mempunyai beberapa kekurangan diantaranya : 1. Personil harus lebih teliti melihat kondisi air di bak penampungan, jika tidak maka bisa terjadi banjir pada bak penampungan atau pun kekurangan air di bak penampungan yang mengakibatkan distribusi air ke Mill teganggu. 2. Dengan personil yang harus memperhatikan kondisi bak secara teliti maka resiko kerja personil tersebut akan lebih besar karena lokasi bak pada water treatment plant tergolong lokasi yang tidak aman. Dalam hal kontrol yang dipakainya pun masi tergolong konventional karena masi menggunakan relay dalam jumlah banyak dan hal tersebut dapat berpengaruh pada ketidak efisienan spare part dan jika terjadi masalah pada kontrol tersebut akan sulit dalam trouble shootingnya. Oleh karena itu maka kontrol akan diubah dengan menggunakan PLC yang tentunya dapat meminimalisir kekurangan kekurangan tersebut dan operasi kerja dari closed cooling dan open cooling akan dibuat manual dan otomatis sehingga operasi dapat lebih mudah. Pada kondisi otomatis motor yang ada pada closed cooling dan open cooling akan bekerja berdasarkan level air pada bak penampungan, semakin tinggi level air nya maka motor pompa yang akan bekerja pun semakin banyak begitu sebaliknya sehingga terjadi kestabilan level air pada bak penampungan.berikut adalah gambaran umum dari penggunaan PLC untuk closed cooling dan open cooling. 34

3 Gambar 3.2 Rangkaian instalasi PLC WTP Pada gambar tersebut peralatan yang dipakai sebagai input adalah Push Button, Selector Switch dan Level transmiter. peralatan input tersebut akan diolah pada PLC ABB Master Piece 200 dengan program yang ada didalamnya dan dikeluarkan berupa output untuk relay, lampu indikator, kontaktor dan motor Prosedur Perancang Program PLC Agar suatu sistrem yang dirancang dapat bekerja dengan baik, maka ada beberapa langkah yang harus diperhatikan yaitu : 1. Mempelajari urutan kerja dari suatu sistem yang akan dibuat programnya. 2. Membuat diagram alir atau flow chart dari sistem tersebut. 3. Membuat program dengan bahasa pemrograman yang dikuasai. Dari semua prosedur diatas maka dalam perancangan program PLC digunakan suatu metode untuk mempermudahnya yaitu. 1. Flowchart Setelah mempelajari deskripsi kerja dari suatu sistem yang akan dibuat programnya maka sebaiknya dibuat diagram alir dari sistem tersebut. Flow chart menggambarkan urutan kerja yang dijabarkan secara sistematis sesuai dengan kaidah-kaidah pembuatan flowchart. 2. Diagram Fungsi Setelah pembuatan flowchart maka diagram fungsi dapat dibuat. Diagram fungsi adalah sistem penggambaran urutan kerja parameter yang digunakan dalam pembuatan program PLC secara lengkap dan sistemtis. Pada diagram fungsi dapat dilihat parameter-parameter yang digunakan dalam pemrograman PLC, misalnya parameter input dan output. Selain itu jumlah parameter input dan output yang digunakan pada pemrograman PLC dapat dilihat dalam diagram ini. Pada diagram ini juga digambarkan urutan kerja 35

4 dari tiap-tiap parameter sesuai dengan flowchart yang telah dibuat sebelumnya. 3. Function Block Diagram Setelah mengetahui parameter-parameter dan urutan kerja dari tiap parameter yang akan digunakan pada pemrograman maka kita dapat memulai untuk membuat program dengan bahasa yang dikuasai. Dalam pembuatan program ini digunakan bahasa pemrograman function block diagram. Bahasa pemrograman ini merupakan penggambaran simbol-simbol instruksi pemrograman yang akan diolah oleh PLC sebagai sistem kontrol. Function block diagram inilah yang biasanya disebut sebagai program kontrol. Setelah rancangan dari program kontrol dibuat maka selanjutnya program tersebut harus ddimasukan ke dalam memori PLC sehingga dapat di proses oleh CPU PLC. Program ini dimasukan melalui suatu konsul atau komputer yang telah dilengkapi oleh software PLC tersebut. Jika program sudah dimasukan atau di upload ke dalam PLC maka PLC sudah siap untuk dioperasikan sebagai pengontrol sistem Perancangan Program PLC untuk Motor Open dan Close Cooling WTP Pemilihan Hardware PLC ABB MP200 Pada perancangan kontrol motor open cooling dan close cooling pada water treatment plant 1 ini digunakan PLC ABB MasterPiece 200 dengan spesifikasi sebagai berikut : 1. Cabinet PLC (Base Unit) Cabinet ialah suatu tempat semua modul PLC ditempatkan. Dalam sistem PLC ABB Master Piece 200 penggunaan jumlah cabinet bervariasi tergantung dari banyaknya subrack yang akan digunakan. Penggunaan banyaknya subrack tergantung dari banyaknya module atau circuit board yang digunakan pula. Versi cabinet yang digunakan ialah VSH200 dengan panjang 750 mm, lebar 650 mm dan tinggi 2300 mm. Dalam satu cabinet terdapat 4 subrack yang biasanya dipakai 1 subrack untuk CPU board dan 3 lainnya untuk I/O board sedangkan dalam pengerjaan untuk water 36

5 treatment plant ini subrack yang digunakan hanya 3 yaitu 1 subrack digunakan untuk CPU board dan 2 lainnya untuk I/O board. 2. Modul Catu Daya (Power Supply) Modul catu daya yang digunakan adalah tipe DSSA 165 dengan spesifikasi sebagai berikut : Connection power sebesar 900VA. Tegangan masuk yang dapat diterima oleh power supply ini adalah sebesar 120,220 atau 230 VAC. Arus maksimal untuk power supplyy ini ialah sebesar 25 A. Power supply ini mempunyai dimensi dengan panjang 446 mm, lebar 200 mm dan tinggi 117 mm. Gambar 3.3 Power supply DSSA Modul CPU Modul CPU yang dipakai dari PLC ABB MP200 ini adalah tipe CPU DSPC 172H. Gambar 3.4 CPU DSPC 172H 4. Modul Input Modul input terdiri dari 2 macam yaitu digital input dan analog input. Tipe modul yang digunakan pun berbeda untuk PLC ABB MP200. Tipe modul digital input yang digunakan untuk modifikasi control 37

6 water treatment plant ini ialah tipe DSDI 110A sedangkan tipe modul analog input yang digunakan ialah tipe DSAI 130. Tipe modul digital input DSDI 110A mempunyai spesifikasi sebagai berikut : Jumlah channels yang ada pada modul ini adalah sebanyak 32 channels. Nilai tegangan yang ada di modul ini ialah 24 VDC. Penggunaan daya pada modul ini ialah 5,5 W. Tipe analog input DSAI 130 mempunyai spesifikasi sebagai berikut : Jumlah channels yang ada pada modul ini adalah sebanyak 16 channels. Range pengukuran yang bisa menjadi input pada modul ini ialah 0- ± 10V, 0 - ±5V, 0 - ± 2,5V, 0- ± 20mA, 0- ± 10mA, 0- ± 5mA. Gambar 3.5 Modul DSAI Modul Output Modul output terdiri dari 2 macam yaitu modul digital input dan modul analog output. Tipe modul output yang ada untuk ABB MP200 pun bermacam-macam. Tipe digital input yang digunakan untuk modifikasi ini ialah tipe DSDO 110 dan DSDO 115 sedangkan untuk tipe analog output yang digunakan ialah tipe DSAO 120. Tipe modul digital output DSD0 110A mempunyai spesifikasi sebagai berikut : Jumlah channels yang ada pada modul output ini ialah sebanyak 32 buah. 38

7 Tipe modul output nya adalah tipe relay. Rated voltage yang diperboleh kan untuk tipe modul ini adalah VDC/AC Gambar 3.6 Modul DSDO 110A Tipe modul digital output DSD0 115 mempunyai spesifikasi sebagai berikut : Jumlah channels yang ada pada modul output ini ialah sebanyak 32 buah. Tipe modul output nya adalah tipe direct output. Rated voltage yang diperboleh kan untuk tipe modul ini adalah 24VDC. Gambar 3.7 Modul DSDO 115 Tipe modul digital output DSA0 120 mempunyai spesifikasi sebagai berikut : Jumlah channels yang ada pada modul output ini ialah sebanyak 8 buah. Range pengukuran dalam tegangan modul tipe ini ialah 0-10V. 39

8 Range pengukuran dalam arus modul tipe ini ialah 0-20mA. Gambar 3.8 Modul DSAO Modul Komunikasi Dalam satu cabinet terdapat beberapa subrack yang dalam tiap susunan modul nya terdapa modul komunikasi. Dalam sistem komunikasi PLC ABB MP200 terdapat 2 macam tipe modul komunikasi yaitu modul komunikasi untuk central rak sebagai tempat diterimanya semua data dari subrack dan modul komunikasi subrack. Modul komunikasi untuk central rak ialah DSBC 172 sedangkan modul komunikasi untuk Subrack ialah DSBC 173. Gambar 3.9 Modul DSBC 173A 40

9 Gambar 3.10 Modul DSBC Parameter Input dan Output Sebelum membuat program kontrol terlebih dahulu membuat parameter input dan output agar pada saat pembuatan program tidak terjadi kesalahan dan memudahkan dalam pengerjaan. Selain itu pembuatan paramenter ini berfungsi sebagai identitas dari tiap-tiap chanel pada modul input dan output yang dipasang pada jajaran modul PLC ABB Master Piece Parameter Input Open Cooling Pada program kontrol open cooling parameter input digunakan ialah sebagai berikut : 1. DI1.1 sebagai parameter input dari selektor switch yang berfungsi untuk operasi manual open cooling dengan initial OC_OP_MAN. 2. DI1.2 sebagai parameter input dari selektor switch yang berfungsi untuk operasi auto open cooling dengan initial OC_OP_AUTO. 3. DI1.3 sebagai parameter input dari button yang berfungsi untuk lamptest open cooling dengan initial OC_OP_LAMPTEST. 4. DI1.4 sebagai parameter input dari button yang berfungsi untuk menghidupkan motor 1 open cooling dengan initial OC_OP_P1_ON. 5. DI1.5 sebagai parameter input dari button yang berfungsi untuk mematikan motor 1 open cooling dengan initial OC_OP_P1_OFF. 6. DI1.6 sebagai parameter input dari button yang berfungsi untuk menghidupkan motor 2open cooling dengan initial OC_OP_P2_ON. 41

10 7. DI1.7 sebagai parameter input dari button yang berfungsi untuk mematikan motor 2 open cooling dengan initial OC_OP_P2_OFF. 8. DI1.8 sebagai parameter input dari button yang berfungsi untuk menghidupkan motor 3 open cooling dengan initial OC_OP_P3_ON. 9. DI1.9 sebagai parameter input dari button yang berfungsi untuk mematikan motor 3 open cooling dengan initial OC_OP_P3_OFF. 10. DI1.10 sebagai parameter input dari button yang berfungsi untuk menghidupkan motor 4 open cooling dengan initial OC_OP_P4_ON. 11. DI1.11 sebagai parameter input dari button yang berfungsi untuk mematikan motor 4 open cooling dengan initial OC_OP_P4_OFF. 12. DI1.12 sebagai parameter input dari selektor switch yang berfungsi untuk memilih motor 1 kondisi standby dengan initial OC_OP_P1_SEL. 13. DI1.13 sebagai parameter input dari selektor switch yang berfungsi untuk memilih motor 2 kondisi standby dengan initial OC_OP_P2_SEL. 14. DI1.4 sebagai parameter input dari selektor switch yang berfungsi untuk memilih motor 3 kondisi standby dengan initial OC_OP_P3_SEL. 15. DI1.15 sebagai parameter input dari button yang berfungsi untuk menghidupkan emergency stop dengan initial OC_EMER_STOP. 16. DI1.17 berfungsi sebagai sinyal masukan yang berasal dari aux MCB normally open (NO) untuk motor pump 1 dan juga berfungsi sebagai indikasi bahwa motor ready on dengan initial OC_CI_P1_ON. 17. DI1.18 berfungsi sebagai sinyal masukan dari aux MCB normally close (NC) untuk motor pump 1 indikasi motor not ready on atau MCB trip dengan initial OC_CI_P1_TRIP. 18. DI1.19 berfungsi sebagai sinyal masukan yang berasal dari aux MCB normally open (NO) untuk motor pump 2 dan juga berfungsi 42

11 sebagai indikasi bahwa motor ready on dengan initial OC_CI_P2_ON. 19. DI1.20 berfungsi sebagai sinyal masukan dari aux MCB normally close (NC) untuk motor pump 2 indikasi motor not ready on atau MCB trip dengan initial OC_CI_P2_TRIP. 20. DI1.21 berfungsi sebagai sinyal masukan yang berasal dari aux MCB normally open (NO) untuk motor pump 3 dan juga berfungsi sebagai indikasi bahwa motor ready on dengan initial OC_CI_P3_ON. 21. DI1.22 berfungsi sebagai sinyal masukan dari aux MCB normally close (NC) untuk motor pump 3 indikasi motor not ready on atau MCB trip dengan initial OC_CI_P3_TRIP. 22. DI1.23 berfungsi sebagai sinyal masukan yang berasal dari aux MCB normally open (NO) untuk motor pump 4 dan juga berfungsi sebagai indikasi bahwa motor ready on dengan initial OC_CI_P4_ON. 23. DI1.24 berfungsi sebagai sinyal masukan dari aux MCB normally close (NC) untuk motor pump 1 indikasi motor not ready on atau MCB trip dengan initial OC_CI_P4_TRIP. 24. DI1.25 sebagai parameter input untuk level minimun dengan initial OC_LVL_MIN. 25. AI1.1 sebagai parameter input yang berasal dari sensor level dengan initial FMC_OC. Close Cooling Pada program kontrol close cooling parameter input digunakan ialah sebagai berikut : 1. DI2.1 sebagai parameter input dari selektor switch yang berfungsi untuk operasi manual close cooling dengan initial CC_OP_MAN. 2. DI2.2 sebagai parameter input dari selektor switch yang berfungsi untuk operasi auto close cooling dengan initial CC_OP_AUTO. 3. DI2.3 sebagai parameter input yang berfungsi untuk lamptest close cooling dengan initial CC_OP_LAMPTEST. 43

12 4. DI2.4 sebagai parameter input yang berfungsi untuk menghidupkan motor 1 close cooling dengan initial CC_OP_P1_ON. 5. DI2.5 sebagai parameter input yang berfungsi untuk mematikan motor 1 close cooling dengan initial CC_OP_P1_OFF. 6. DI2.6 sebagai parameter input yang berfungsi untuk menghidupkan motor 2 close cooling dengan initial CC_OP_P2_ON. 7. DI2.7 sebagai parameter input yang berfungsi untuk mematikan motor 2 close cooling dengan initial CC_OP_P2_OFF. 8. DI2.8 sebagai parameter input yang berfungsi untuk menghidupkan motor 3 close cooling dengan initial CC_OP_P3_ON. 9. DI2.9 sebagai parameter input yang berfungsi untuk mematikan motor 3 close cooling dengan initial CC_OP_P3_OFF. 10. DI2.10 sebagai parameter input dari selektor switch yang berfungsi untuk memilih motor 1 kondisi standby dengan initial CC_OP_P1_SEL. 11. DI2.11 sebagai parameter input dari selektor switch yang berfungsi untuk memilih motor 2 kondisi standby dengan initial CC_OP_P2_SEL. 12. DI2.12 sebagai parameter input dari selektor switch yang berfungsi untuk memilih motor 3 kondisi standby dengan initial CC_OP_P3_SEL. 13. DI2.13 sebagai parameter input yang berfungsi untuk menghidupkan emergency stop dengan initial CC_EMER_STOP. 14. DI2.14 berfungsi sebagai sinyal masukan yang berasal dari aux MCB normally open (NO) untuk motor pump 1 dan juga berfungsi sebagai indikasi bahwa motor ready on dengan initial CC_CI_P1_ON. 15. DI2.15 berfungsi sebagai sinyal masukann dari aux MCB normally close (NC) untuk motor pump 1 indikasi motor not ready on atau MCB trip dengan initial CC_CI_P1_TRIP. 16. DI2.16 sebagai berfungsi sebagai sinyal masukan yang berasal dari aux MCB normally open (NO) untuk motor pump 2 dan juga 44

13 berfungsi sebagai indikasi bahwa motor ready on dengan initial CC_CI_P2_ON. 17. DI2.17 berfungsi sebagai sinyal masukann dari aux MCB normally close (NC) untuk motor pump 2 indikasi motor not ready on atau MCB trip dengan initial CC_CI_P2_TRIP. 18. DI2.18 berfungsi sebagai sinyal masukan yang berasal dari aux MCB normally open (NO) untuk motor pump 3 dan juga berfungsi sebagai indikasi bahwa motor ready on dengan initial CC_CI_P3_ON. 19. DI2.19 berfungsi sebagai sinyal masukann dari aux MCB normally close (NC) untuk motor pump 3 indikasi motor not ready on atau MCB trip dengan initial CC_CI_P3_TRIP. 20. DI1.20 sebagai parameter input yang berfungsi untuk dengan initial CC_LVL_MIN. 21. AI1.2 sebagai parameter input yang berfungsi untuk dengan initial FMC_CC Parameter Output Open Cooling Pada program kontrol open cooling parameter output digunakan ialah sebagai berikut : 1. DO1.1 sebagai parameter output indikasi lampu pompa 1 on dengan initial OC_IN_P1_ON. 2. DO1.2 sebagai parameter output indikasi lampu pompa 2 on dengan initial OC_IN_P2_ON. 3. DO1.3 sebagai parameter output indikasi lampu pompa 3 on dengan initial OC_IN_P3_ON. 4. DO1.4 sebagai parameter output indikasi lampu pompa 4 on dengan initial OC_IN_P4_ON. 5. DO1.5 sebagai parameter output indikasi lampu pompa fault dengan initial OC_IN_PUMP_FAULT. 6. DO1.20 sebagai parameter output indikasi lampu level air minim dengan initial OC_IN_LVL_MIN. 45

14 7. DO1.21 sebagai parameter output indikasi lampu level air setpoint dengan initial OC_IN_LVL_SPOINT. 8. DO1.22 sebagai parameter output indikasi lampu level air normal dengan initial OC_IN_LVL_NORMAL. 9. DO1.23 sebagai parameter output indikasi lampu level air maksimal dengan initial OC_IN_LVL_MAX. 10. DO3.1 berfungsi menghidupkan coil kontaktor untuk motor pompa 1 dengan initial OC_PUMP_P1_ON. 11. DO3.2 berfungsi menghidupkan coil kontaktor untuk motor pompa 2 dengan initial OC_PUMP_P2_ON. 12. DO3.3 berfungsi menghidupkan coil kontaktor untuk motor pompa 3 dengan initial OC_PUMP_P3_ON. 13. DO3.4 berfungsi menghidupkan coil kontaktor untuk motor pompa 4 dengan initial OC_PUMP_P4_ON. 14. DO3.11 adalah digital output relay yang berfungsi untuk memberikan input kepada DI1.25 yaitu level minim dengan initial OC_LVL_MIN. Close Cooling Pada program kontrol close cooling parameter output digunakan ialah sebagai berikut : 1. DO1.6 sebagai parameter output indikasi lampu pompa 1 on dengan initial CC_IN_P1_ON. 2. DO1.7 sebagai parameter output indikasi lampu pompa 2 on dengan initial CC_IN_P2_ON. 3. DO1.8 sebagai parameter output indikasi lampu pompa 3 on dengan initial CC_IN_P3_ON. 4. DO1.24 sebagai parameter output indikasi lampu level air minim dengan initial CC_IN_LVL_MIN. 5. DO1.25 sebagai parameter output indikasi lampu level air setpoint dengan initial CC_IN_LVL_SPOINT. 6. DO1.26 sebagai parameter output indikasi lampu level air normal dengan initial CC_IN_LVL_NORMAL. 7. DO1.27 sebagai parameter output indikasi lampu level air maksimal dengan initial CC_IN_LVL_MAX. 46

15 8. DO3.5 berfungsi menghidupkan coil kontaktor untuk motor pompa 1 dengan initial CC_PUMP_P1_ON. 9. DO3.6 berfungsi menghidupkan coil kontaktor untuk motor pompa 2 dengan initial CC_PUMP_P2_ON. 10. DO3.7 berfungsi menghidupkan coil kontaktor untuk motor pompa 3 dengan initial CC_PUMP_P3_ON. 11. DO3.12 adalah digital output relay yang berfungsi untuk memberikan input kepada DI2.20 yaitu level minim dengan initial CC_LVL_MIN Diagram Alir (Flow Chart) Flow Chart Open Cooling 1. Flowchart Motor Pump 1 47

16 2. Flowchart Motor Pump 2 48

17 3. Flowchart Motor Pump 3 49

18 4. Flowchart Motor Pump 4 50

19 Flow Chart Close Cooling 1. Flow Chart Motor Pump 1 51

20 2. Flow Chart Motor Pump 2 52

21 3. Flow Chart Motor Pump 3 53

22 3.3.4 Function Block Diagram Dalam proses pembuatan suatu sistem dengan menggunakan PLC maka hal yang sangat penting untuk kelancaran sistem tersebut adalah ada pada proses pembuatan program nya. Program yang dibuat mewakili kerja dari sistem yang akan dibuat. Program dalam PLC MP200 ini dibuat dalam software yang bernama One Line Builder dengan menggunakan bahasa pemrograman function block diagram. Program untuk open dan close cooling ini dibuat sama dengan proses kerja sistem yang dikehedakki yaitu sesuai dengan flowchart yang telah dibuat. Untuk lebih jelasnya Function block untuk open dan close cooling dapat dilihat pada Lampiran Open and Close Cooling Function Block Diagram. 54

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengujian Rancangan Pengujian rancangan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah sistem ini telah bekerja sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, pengujian ini dilakukan

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA 2012

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA 2012 TUGAS AKHIR MODIFIKASI KONTROL MOTOR OPEN DAN CLOSE COOLING WATER TREATMENT PLANT MENGGUNAKAN PLC ABB MP200 DI WIRE ROD MILL PT.KRAKATAU STEEL(PERSERO).tbk Diajukan guna melengkapi sebagai syarat Dalam

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT Terdapat dua jenis tahap pada perancangan dan pembuatan model sistem pemadam kebakaran dalam tugas akhir ini, yaitu perancangan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software).

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pemrograman. Pemrogramannya akan di deskripsikan berupa flowchart yang akan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pemrograman. Pemrogramannya akan di deskripsikan berupa flowchart yang akan BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Perancangan Alat Pada BAB pembuatan alat ini akan dibahas perencanaan dan realisasi pemrograman. Pemrogramannya akan di deskripsikan berupa flowchart yang akan dibuat.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Programmable Logic Controller Proses di berbagai bidang industri manufaktur biasanya sangat kompleks dan melingkupi banyak subproses. Setiap subproses perlu dikontrol secara seksama

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA 4.1. Model Kontrol Pompa Pemadam Kebakaran Berbasis Arduino Simulasi ini dibuat menyesuaikan cara kerja dari sistem kontrol pompa pemadam kebakaran berbasis Arduino, perlu

Lebih terperinci

BAB III RANCANG BANGUN

BAB III RANCANG BANGUN 26 BAB III RANCANG BANGUN 3.1. Tujuan Perancangan. Dalam pembuatan suatu alat, perancangan merupakan tahapan yang sangat penting dilakukan. Tahapan perancangan merupakan suatu tahapan mulai dari pengamatan,

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN PERANGKAT DAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN PERANGKAT DAN SISTEM BAB III PERANCANGAN PERANGKAT DAN SISTEM Dalam bab ini berisi tentang bagaimana alat dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menjadi suatu rangkaian yang dapat difungsikan. Selain itu juga membahas tentang

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN PEMBUATAN ALAT. otomatis mengambil alih kontrol ON-OFF pompa sehingga dengan rancangan

BAB III PERENCANAAN DAN PEMBUATAN ALAT. otomatis mengambil alih kontrol ON-OFF pompa sehingga dengan rancangan BAB III PERENCANAAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Deskripasi Project Sistem rancangan back-up kontrol peralatan lifting pump ini nantinya akan dirancang agar secara otomatis dapat memback-up sensor utama pompa

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN 3.1. PERANCANGAN SISTEM KONTROL

BAB III PERANCANGAN 3.1. PERANCANGAN SISTEM KONTROL BAB III PERANCANGAN 3.1. PERANCANGAN SISTEM KONTROL Pada awalnya sistem pompa transmisi menggunakan sistem manual dimana dalam menyalakan atau mematikan sistem diperlukan dua operator lebih. Tugas para

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 47 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam Bab ini berisi tentang bagaimana alat ini dapat bekerja sesuai dengan rancang bangun serta simulasi yang di targetkan. Dimana sistem mekanikal, elektrikal dapat dikontrol

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR RANCANGAN BACKUP KONTROL PERALATAN LIFTING PUMP BERBASIS PLC DI BANDARA SOEKARNO-HATTA

TUGAS AKHIR RANCANGAN BACKUP KONTROL PERALATAN LIFTING PUMP BERBASIS PLC DI BANDARA SOEKARNO-HATTA TUGAS AKHIR RANCANGAN BACKUP KONTROL PERALATAN LIFTING PUMP BERBASIS PLC DI BANDARA SOEKARNO-HATTA Disusun Oleh : Nama : Adita Kusuma NIM : 41414110126 Jurusan : Teknik Elektro FAKULTAS TEKNIK PROGRAM

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM 41 BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1 Tujuan Perancangan Dalam pembuatan suatu sistem kontrol atau kendali, perancangan merupakan tahapan yang sangat penting untuk dilalui atau dilakukan. Perancangan adalah

Lebih terperinci

BAB V ANALISA KERJA RANGKAIAN KONTROL

BAB V ANALISA KERJA RANGKAIAN KONTROL 82 BAB V ANALISA KERJA RANGKAIAN KONTROL Analisa rangkaian kontrol pada rangkaian yang penulis buat adalah gabungan antara rangkaian kontrol dari smart relay dan rangkaian kontrol konvensional yang terdapat

Lebih terperinci

Programmable Logic Controller (PLC) Pendahuluan

Programmable Logic Controller (PLC) Pendahuluan Modul 7 Programmable Logic Controller (PLC) Pendahuluan Numerical Control & Industrial Robotics menekankan pada pengendalian gerakan (proses kontinu) pengendalian gerakan (proses kontinu) Sedangkan untuk

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Dalam bab ini penulis akan menjelaskan mengenai perancangan sistem pemanasan air menggunakan SCADA software dengan Wonderware InTouch yang terdiri dari perangkat keras (hardware)

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Programmable Logic Control (PLC) PLC (Programmable Logic Controller) diperkenalkan pertama kali pada tahun 1969 oleh Richard E. Morley yang merupakan pendiri Modicon Corporation.

Lebih terperinci

MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK

MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK PENGENDALIAN MOTOR LISTRIK PADA BUKA TUTUP PINTU FURNACE DENGAN PLC SIMATIC S7-300 DALAM PROSES CONTINUOUS REHEATING FURNACE Dinas Perawatan Listrik Pabrik Baja Lembaran Panas

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM. menggunakan media filter untuk memisahkan kandungan partikel-partikel yang

BAB III PERANCANGAN SISTEM. menggunakan media filter untuk memisahkan kandungan partikel-partikel yang BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1. Sistem Water Filter Sistem water filter adalah sistem pengolahan air dengan metode penyaringan menggunakan media filter untuk memisahkan kandungan partikel-partikel yang

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA KERJA RANGKAIAN KONTROL

BAB IV ANALISA KERJA RANGKAIAN KONTROL BAB IV ANALISA KERJA RANGKAIAN KONTROL Untuk menjalankan proses produksi, program PLC, SCADA panel kontrol PLC dan MCC harus dalam kondisi ON atau hidup. Saat tombol atau intruksi pada SCADA dijalankan,

Lebih terperinci

BAB III METODE DAN PERANCANGAN

BAB III METODE DAN PERANCANGAN BAB III METODE DAN PERANCANGAN 1.1 Metode Metode yang digunakan dalam pembuatan modul ini adalah modifikasi rancang bangun yang dilakukan dengan eksperimen. Hasil dari penyusunan tugas akhir ini berupa

Lebih terperinci

Makalah Seminar Kerja Praktik

Makalah Seminar Kerja Praktik Makalah Seminar Kerja Praktik PENGENDALIAN CRANE SCRAVER PADA WATER TREATMENT PLANT (WTP) PABRIK WIRE ROD MILL PT KRAKATAU STEEL (PERSERO) TBK DENGAN PLC SIEMENS S7-300 ABSTRAK Fildzah Imanina [1], Dr.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lampung 2 x 100 MW unit 5 dan 6 Sebalang, Lampung Selatan. Pengerjaan tugas akhir ini

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. PLC adalah sebuah alat yang digunakan untuk menggantikan rangkaian sederetan

II. TINJAUAN PUSTAKA. PLC adalah sebuah alat yang digunakan untuk menggantikan rangkaian sederetan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Programmable Logic Controller (PLC) PLC adalah sebuah alat yang digunakan untuk menggantikan rangkaian sederetan rele yang dijumpai pada sistem kendali proses konvensional [1].

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Programmable Logic Controller (PLC) Programmable logic controller singkatnya PLC merupakan suatu bentuk khusus pengendalian berbasis mikroprossesor yang memanfaatkan memori

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN 4.1 PLC (Programmable Logic Controller) Pada sub bab ini penulis membahas tentang program PLC yang digunakan dalam system ini. Secara garis besar program ini terdiri

Lebih terperinci

Percobaan 3 Kendali Motor 3 Fasa 2 Arah Putar

Percobaan 3 Kendali Motor 3 Fasa 2 Arah Putar Percobaan 3 Kendali Motor 3 Fasa 2 Arah Putar A. Tujuan Mahasiswa mampu dan terampil melakukan instalasi motor listrik menggunakan kontaktor sebagai pengunci. Mahasiswa mampu dan terampil melakukan instalasi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian, perancangan, dan pembuatan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium

III. METODE PENELITIAN. Penelitian, perancangan, dan pembuatan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian, perancangan, dan pembuatan tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas Lampung (khususnya Laboratorium

Lebih terperinci

BAB I KOMPONEN DAN RANGKAIAN LATCH/PENGUNCI

BAB I KOMPONEN DAN RANGKAIAN LATCH/PENGUNCI BAB I KOMPONEN DAN RANGKAIAN LATCH/PENGUNCI 1. Tujuan Percobaan Mengetahui Dan Memahami Cara Kerja Komponen yang Menyusun Rangkaian Pengunci (Latch): Push Button, Relay, Kontaktor. Membuat Aplikasi Rangkaian

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN

BAB III METODE PERANCANGAN 33 BAB III METODE PERANCANGAN 3.1 Kerangka Pemikiran Kerangka pemikiran ini merupakan tahap-tahap yang dilakukan penulis dalam melakukan penelitian. Adapun garis besar dari metodologi penelitian ini akan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN PANEL KONTROL PENERANGAN. yang dibikin dipasaran menggunakan sistem manual saja, atau otomatis

BAB III PERANCANGAN PANEL KONTROL PENERANGAN. yang dibikin dipasaran menggunakan sistem manual saja, atau otomatis BAB III PERANCANGAN PANEL KONTROL PENERANGAN 3.1. Perakitan Panel Panel Lampu Luar merupakan salah satu panel yang telah dikenal luas, khususnya dalam instalasi lampu penerangan lampu jalan ( PJU ). Biasanya

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA Pada bab ini berisi tentang langkah-langkah pengujian dan analisa sistem pengereman motor induksi di mesin Open Mill. 4.1 Pengujian Alat Untuk mengetahui apakah sistem

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN. Sebelum membuat suatu alat atau sistem, hal yang paling utama adalah

BAB III PERANCANGAN. Sebelum membuat suatu alat atau sistem, hal yang paling utama adalah BAB III PERANCANGAN 3.1. Perancangan Sistem Sebelum membuat suatu alat atau sistem, hal yang paling utama adalah melakukan perancangan dengan memahami cara kerja alat atau sistem tersebut serta sifat dan

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN ALAT

BAB IV PENGUJIAN ALAT 47 BAB IV PENGUJIAN ALAT Dalam bab ini akan menguraikan persiapan komponen-komponen dan peralatan yang digunakan serta langkah-langkah praktek, kemudian menyiapkan data hasil pengukuran dari pengujian

Lebih terperinci

BAB IV PERAKITAN DAN PENGUJIAN PANEL AUTOMATIC TRANSFER SWITCH (ATS) DAN AUTOMATIC MAIN FAILURE (AMF)

BAB IV PERAKITAN DAN PENGUJIAN PANEL AUTOMATIC TRANSFER SWITCH (ATS) DAN AUTOMATIC MAIN FAILURE (AMF) BAB IV PERAKITAN DAN PENGUJIAN PANEL AUTOMATIC TRANSFER SWITCH (ATS) DAN AUTOMATIC MAIN FAILURE (AMF) 4.1 Komponen-komponen Panel ATS dan AMF 4.1.1 Komponen Kontrol Relay Relay adalah alat yang dioperasikan

Lebih terperinci

BAB 4. Rancang Bangun Sistem Kontrol

BAB 4. Rancang Bangun Sistem Kontrol BAB 4. Rancang Bangun Sistem Kontrol 4.1 Perancangan Umum Plant ini digunakan untuk proses pembuatan makanan surabi otomatis. Input sistem adalah adonan bahan dan adonan rasa sedangkan hasil yang diharapkan

Lebih terperinci

Pengantar Programable Logic Control. Dr. Fatchul Arifin, MT

Pengantar Programable Logic Control. Dr. Fatchul Arifin, MT Pengantar Programable Logic Control Dr. Fatchul Arifin, MT fatchul@uny.ac.id Definisi Secara mendasar PLC adalah suatu peralatan kontrol yang dapat diprogram untuk mengontrol proses atau operasi mesin.

Lebih terperinci

BAB IV. SISTEM KONTROL SENSOR PROXIMITI PADA MESIN BUILDING BTU DENGAN MENGGUNAKAN PLC DI PT GAJAH TUNGGAL Tbk.

BAB IV. SISTEM KONTROL SENSOR PROXIMITI PADA MESIN BUILDING BTU DENGAN MENGGUNAKAN PLC DI PT GAJAH TUNGGAL Tbk. BAB IV SISTEM KONTROL SENSOR PROXIMITI PADA MESIN BUILDING BTU DENGAN MENGGUNAKAN PLC DI PT GAJAH TUNGGAL Tbk. 4.1 Sensor Proximiti Sensor Proximiti adalah alat pendeteksi yang bekerja berdasarkan jarak

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM 4.1. Pendahuluan Sebelum digunakan untuk produksi, rancangan prototype robot auto spray ini harus diuji terlebih dahulu. Pengujian ini berfungsi untuk: Mengetahui kondisi

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM

BAB 3 PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM BAB 3 PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM 3.1. Spesifikasi Sistem Sebelum merancang blok diagram dan rangkaian terlebih dahulu membuat spesifikasi awal rangkaian untuk mempermudah proses pembacaan, spesifikasi

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 Pendahuluan Dalam suatu perancangan sistem, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan prinsip kerja dari suatu sistem yang akan dibuat. Untuk itu perlu disusun

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1. Flow chart Pembuatan Hybrid powder spray CNC 2 axis dengan pengendali Software Artsoft Mach3 Start Studi Literatur Penentuan Spesifikasi Mesin Perancangan Desain Tidak

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN ALAT

BAB IV PENGUJIAN ALAT 58 BAB IV PENGUJIAN ALAT 4.1 Metodologi Pengujian Alat Dengan mempelajari pokok-pokok perancangan yang sudah dibuat, maka diperlukan suatu pengujian terhadap alat yang sudah dirancang. Pengujian ini dimaksudkan

Lebih terperinci

BAB II SISTEM PEMANASAN AIR

BAB II SISTEM PEMANASAN AIR BAB II SISTEM PEMANASAN AIR Konsep dasar sistem pemanasan air ini memiliki 3 tahapan utama yang saling berhubungan. Tahapan pertama, yaitu operator menjalankan sistem melalui HMI InTouch. Operator akan

Lebih terperinci

APLIKASI PLC OMRON CPM 1A 30 I/O UNTUK PROSES PENGEPAKAN BOTOL SECARA OTOMATIS MENGGUNAKAN SISTEM PNEUMATIK

APLIKASI PLC OMRON CPM 1A 30 I/O UNTUK PROSES PENGEPAKAN BOTOL SECARA OTOMATIS MENGGUNAKAN SISTEM PNEUMATIK APLIKASI PLC OMRON CPM 1A 30 I/O UNTUK PROSES PENGEPAKAN BOTOL SECARA OTOMATIS MENGGUNAKAN SISTEM PNEUMATIK Dwi Aji Sulistyanto PSD III Teknik Elektro Universitas Diponegoro Semarang ABSTRAK Pada industri

Lebih terperinci

BAB III REALISASI DAN PERANCANGAN

BAB III REALISASI DAN PERANCANGAN BAB III REALISASI DAN PERANCANGAN 3.. Pendahuluan Rancangan yang baik dan matang dari sebuah sistem amat sangat diperlukan. Sebelum melakukan pembuatan alat, maka langkah awal adalah membuat suatu rancangan

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM Pada bab ini akan di jelaskan tentang tujuan pengujian alat, metode dan hasil pengujian. Selain itu akan dijelaskan juga jenis-jenis komponen elektrik yang terhubung

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT 37 BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 Diagram Blok Rangkaian Perancangan Automatic Spray Control ini menggunakan PLC NAiS buatan Panasonic tipe FP0-C14RS, yang berfungsi untuk mengontrol Counter, Relai, Timer,

Lebih terperinci

BAB III SPESIFIKASI TRANSFORMATOR DAN SWITCH GEAR

BAB III SPESIFIKASI TRANSFORMATOR DAN SWITCH GEAR 38 BAB III SPESIFIKASI TRANSFORMATOR DAN SWITCH GEAR 3.1 Unit Station Transformator (UST) Sistem PLTU memerlukan sejumlah peralatan bantu seperti pompa, fan dan sebagainya untuk dapat membangkitkan tenaga

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT. Sistem pengendali tension wire ini meliputi tiga perancangan yaitu perancangan

BAB III PERANCANGAN ALAT. Sistem pengendali tension wire ini meliputi tiga perancangan yaitu perancangan 31 BAB III PERANCANGAN ALAT Sistem pengendali tension wire ini meliputi tiga perancangan yaitu perancangan mekanik alat, perancanga elektronik dan perancangan perangkat lunak meliputi program yang digunakan,

Lebih terperinci

PENDETEKSI LOGAM BERBASIS PLC (PROGRAMMABLE LOGIC CONTROL) DENGAN SISTEM PNEUMATIK PADA KONVEYOR

PENDETEKSI LOGAM BERBASIS PLC (PROGRAMMABLE LOGIC CONTROL) DENGAN SISTEM PNEUMATIK PADA KONVEYOR PENDETEKSI LOGAM BERBASIS PLC (PROGRAMMABLE LOGIC CONTROL) DENGAN SISTEM PNEUMATIK PADA KONVEYOR 1 JURNAL JURUSAN TEKNIK ELEKTRO Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Lebih terperinci

BAB III TEORI PENUNJANG

BAB III TEORI PENUNJANG BAB III TEORI PENUNJANG 3.1 AUTOMATIC MIXING Automatic mixing adalah mesin yang bertugas untuk pencampurkan material dan nantinya campuran tersebut akan menjadi bahan baku pembuatan pipa PVC. adapun tahapan

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Wiring Diagram Direct On Line Starter (DOL)

Gambar 3.1 Wiring Diagram Direct On Line Starter (DOL) BAB III METODE STARTING MOTOR INDUKSI 3.1 Metode Starting Motor Induksi Pada motor induksi terdapat beberapa jenis metoda starting motor induksi diantaranya adalah Metode DOL (Direct Online starter), Start

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. tertentu yang biasa digunakan pada proses automasi. Smart relay memiliki ukuran

BAB III METODOLOGI. tertentu yang biasa digunakan pada proses automasi. Smart relay memiliki ukuran BAB III METODOLOGI 3.1. Alat dan bahan penelitian Smart relay adalah suatu alat yang dapat diprogram oleh suatu bahasa tertentu yang biasa digunakan pada proses automasi. Smart relay memiliki ukuran yang

Lebih terperinci

Optimalisasi Smart Relay Zelio sebagai Kontroler Lampu dan Pendingin Ruangan

Optimalisasi Smart Relay Zelio sebagai Kontroler Lampu dan Pendingin Ruangan Optimalisasi Smart Relay Zelio sebagai Kontroler Lampu dan Pendingin Ruangan Arif Ainur Rafiq Program Studi Teknik Elektronika, Jurusan Teknik Elektronika Politeknik Negeri Cilacap, Indonesia arifainurrafiq@politeknikcilacap.ac.id

Lebih terperinci

BAB IV PEMILIHAN KOMPONEN DAN PENGUJIAN ALAT

BAB IV PEMILIHAN KOMPONEN DAN PENGUJIAN ALAT BAB IV PEMILIHAN KOMPONEN DAN PENGUJIAN ALAT Pada bab sebelumnya telah diuraikan konsep rancangan dan beberapa teori yang berhubungan dengan rancangan ACOS (Automatic Change Over Switch) pada AC (Air Conditioning)

Lebih terperinci

BAB III TEORI PENUNJANG. a. SILO 1 Tujuannya untuk pengisian awal material dan mengalirkan material menuju silo 2 secara auto / manual.

BAB III TEORI PENUNJANG. a. SILO 1 Tujuannya untuk pengisian awal material dan mengalirkan material menuju silo 2 secara auto / manual. BAB III TEORI PENUNJANG 3.1 MESIN AUTOMATIC MIXING Mesin Automatic mixing berguna untuk proses pencampuran bahan mentah menjadi bahan jadi yang di gunakan untuk membuat pipa paralon atau pipa PVC. adapun

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR. AUTOMATIC SPRAY CONTROLLER UNTUK MESIN INJECTION PLASTIK MENGGUNAKAN PROGRAMMABLE LOGIC CONTROL (PLC) PANASONIC NAiS FP0-C14RS

TUGAS AKHIR. AUTOMATIC SPRAY CONTROLLER UNTUK MESIN INJECTION PLASTIK MENGGUNAKAN PROGRAMMABLE LOGIC CONTROL (PLC) PANASONIC NAiS FP0-C14RS TUGAS AKHIR AUTOMATIC SPRAY CONTROLLER UNTUK MESIN INJECTION PLASTIK MENGGUNAKAN PROGRAMMABLE LOGIC CONTROL (PLC) PANASONIC NAiS FP0-C14RS DISUSUN OLEH : MULYANA SASTRA BIDAYA 41409120025 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro Universitas Lampung, dari bulan Februari 2014 Oktober 2014. 3.2. Alat dan Bahan Alat

Lebih terperinci

Bab 2 Relay Prinsip dan Aplikasi

Bab 2 Relay Prinsip dan Aplikasi Bab 2 Relay Prinsip dan Aplikasi Sasaran : Mahasiswa mampu : Menjelaskan prinsip kerja relay Mengetahui macam macam relay dan bagaimana simbolnya dalam rangkaian Mendesain relay logic ladder untuk mengendalikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Model Pengembangan Tujuan dari tugas akhir ini adalah membuat pengaturan air dan nutrisi secara otomatis yang mampu mengatur dan memberi nutrisi A dan B secara otomatis berbasis

Lebih terperinci

BAB III CAPACITOR BANK. Daya Semu (S, VA, Volt Ampere) Daya Aktif (P, W, Watt) Daya Reaktif (Q, VAR, Volt Ampere Reactive)

BAB III CAPACITOR BANK. Daya Semu (S, VA, Volt Ampere) Daya Aktif (P, W, Watt) Daya Reaktif (Q, VAR, Volt Ampere Reactive) 15 BAB III CAPACITOR BANK 3.1 Panel Capacitor Bank Dalam sistem listrik arus AC/Arus Bolak Balik ada tiga jenis daya yang dikenal, khususnya untuk beban yang memiliki impedansi (Z), yaitu: Daya Semu (S,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 54 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada perancangan modifikasi sistem kontrol panel mesin boiler ini, selain menggunakan metodologi studi pustaka dan eksperimen, metodologi penelitian yang dominan digunakan

Lebih terperinci

sebagai perangkai peralatan control yang satu dengan yang lain.

sebagai perangkai peralatan control yang satu dengan yang lain. LADDER DIAGRAM Ladder Diagram atau yang sering disebut dengan diagram tangga pada PLC adalah mempunyai fungsi yang sama dengan gambar rangkaian kontrol pada system konvensional, yaitu sebagai perangkai

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT Pada bab ini menjelaskan tentang perancangan sistem alarm kebakaran menggunakan Arduino Uno dengan mikrokontroller ATmega 328. yang meliputi perancangan perangkat keras (hardware)

Lebih terperinci

PERANCANGAN SISTEM PENGOLAHAN AIR BERSIH BERBASIS PLC OMRON CPM 2A

PERANCANGAN SISTEM PENGOLAHAN AIR BERSIH BERBASIS PLC OMRON CPM 2A PERANCANGAN SISTEM PENGOLAHAN AIR BERSIH BERBASIS PLC OMRON CPM 2A Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Semarang email : assaffat@yahoo.com Abstrak : Air sebagai unsur utama

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. : Laboratorium Teknik Kendali Teknik Elektro Jurusan. Teknik Elektro Universitas Lampung

III. METODOLOGI PENELITIAN. : Laboratorium Teknik Kendali Teknik Elektro Jurusan. Teknik Elektro Universitas Lampung III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Waktu : November 2011 Maret 2013 Tempat : Laboratorium Teknik Kendali Teknik Elektro Jurusan Teknik Elektro Universitas Lampung B. Alat dan Bahan

Lebih terperinci

MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK

MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK PENGENDALIAN COOLING WATER VALVE DENGAN PLC SIMATIC S7-300 PADA FINISHING MILL Dinas Perawatan Listrik Pabrik Baja Lembaran Panas ( Hot Strip Mill ) PT. Krakatau Steel Cilegon

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN BUILDING AUTOMATION SYSTEM (BAS) DI GEDUNG LABORATORIUM DEPKES JAKARTA A. PENDAHULUAN

BAB IV PEMBAHASAN BUILDING AUTOMATION SYSTEM (BAS) DI GEDUNG LABORATORIUM DEPKES JAKARTA A. PENDAHULUAN BAB IV PEMBAHASAN BUILDING AUTOMATION SYSTEM (BAS) DI GEDUNG LABORATORIUM DEPKES JAKARTA A. PENDAHULUAN Untuk pembahasan ini penulis menganalisa data dari lapangan yang berupa peralatan meliputi PCD, jenis

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. PERNYATAAN... iii. INTISARI... iv. ABSTRACT... v. MOTTO... vi. PERSEMBAHAN...

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. LEMBAR PENGESAHAN... ii. PERNYATAAN... iii. INTISARI... iv. ABSTRACT... v. MOTTO... vi. PERSEMBAHAN... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii PERNYATAAN... iii INTISARI... iv ABSTRACT... v MOTTO... vi PERSEMBAHAN... vii PRAKATA... viii DAFTAR ISI... xii DAFTAR GAMBAR... xvi DAFTAR TABEL...

Lebih terperinci

27 Gambar 3.2 Rangkaian Sistem Monitoring Cara kerja keseluruhan sistem ini dimulai dari rangkaian catu daya sebagai power atau daya yang akan disalur

27 Gambar 3.2 Rangkaian Sistem Monitoring Cara kerja keseluruhan sistem ini dimulai dari rangkaian catu daya sebagai power atau daya yang akan disalur BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 Sistem Monitoring Secara umum sistem kerja alat monitoring mesin terdiri dari 3 blok sistem yakni blok input mesin, blok control dan blok output sistem. Dapat digambarkan dengan

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. pabrik PT. Boma Bisma Indra. Mesin ini digunakan untuk pelebaran lobang

BAB IV PEMBAHASAN. pabrik PT. Boma Bisma Indra. Mesin ini digunakan untuk pelebaran lobang BAB IV PEMBAHASAN 4.1 PLC Vertical Boring Mesin Vertical Boring adalah mesin pembubutan yang digunakan pada pabrik PT. Boma Bisma Indra. Mesin ini digunakan untuk pelebaran lobang silindris dan digunakan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT Perancangan sistem ini memerlukan sensor penerima radiasi sinar infra merah yang dapat mendeteksi adanya kehadiran manusia. Sensor tersebut merupakan sensor buka-tutup yang selanjutnya

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PROTOTIPE KONVEYOR SORTIR

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PROTOTIPE KONVEYOR SORTIR 26 BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PROTOTIPE KONVEYOR SORTIR 3.1. Pembuatan Alat Penelitian Dalam proses perancangan, dan pembuatan prototype konveyor sortir berbasis PLC ini diperlukan beberapa alat

Lebih terperinci

APLIKASI ZELIO SOFT 2 PADA SISTEM KEAMANAN SMART ROOM DENGAN MENGGUNAKAN SMART RELAY

APLIKASI ZELIO SOFT 2 PADA SISTEM KEAMANAN SMART ROOM DENGAN MENGGUNAKAN SMART RELAY APLIKASI ZELIO SOFT 2 PADA SISTEM KEAMANAN SMART ROOM DENGAN MENGGUNAKAN SMART RELAY C13 Nyayu Latifah Husni [1], Ade Silvia Handayani. [2], Rani Utami [3] Abstrak Teknologi yang semakin maju dan terus

Lebih terperinci

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN ALAT PEMBANDING TERMOMETER

BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN ALAT PEMBANDING TERMOMETER BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN ALAT PEMBANDING TERMOMETER 4.1 Pemilihan Komponen Dalam pemilihan komponen yang akan digunakan, diperlukan perhitunganperhitungan seperti perhitungan daya, arus, serta mengetahui

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Kerja Pompa Transmisi Sistem pompa transmisi merupakan salah satu proses yang terdapat dari WTP (Water Treatment Plant) yang berfungsi untuk menyalurkan air bersih ke konsumen.

Lebih terperinci

Bab 3 PLC s Hardware

Bab 3 PLC s Hardware Bab 3 PLC s Hardware Sasaran Mahasiswa mampu : o Memahami definisi PLC o Menyebutkan jenis jenis PLC o Menyebutkan bagian bagian hardware PLC o Menjelaskan prinsip kerja bagian bagian hardware PLC 3.1

Lebih terperinci

Praktikum 2 Pengenalan Simbol Ladder Diagram. A. Tujuan : 1. Mahasiswa mampu memahami dan menggunakan berbagai simbol dalam Ladder Diagram

Praktikum 2 Pengenalan Simbol Ladder Diagram. A. Tujuan : 1. Mahasiswa mampu memahami dan menggunakan berbagai simbol dalam Ladder Diagram Praktikum 2 Pengenalan Simbol Ladder Diagram A. Tujuan : 1. Mahasiswa mampu memahami dan menggunakan berbagai simbol dalam Ladder Diagram B. Dasar Teori PLC diprogram menggunakan pemrograman grafis yaitu

Lebih terperinci

TI-3222: Otomasi Sistem Produksi

TI-3222: Otomasi Sistem Produksi TI-: Otomasi Sistem Produksi Hasil Pembelajaran Umum ahasiwa mampu untuk melakukan proses perancangan sistem otomasi, sistem mesin NC, serta merancang dan mengimplementasikan sistem kontrol logika. Diagram

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN SISTEM

BAB III PERENCANAAN SISTEM BAB III PERECAAA SISTEM Perencanaan system control dan monitoring rumah ini untuk memudahkan mengetahui kondisi lingkungan rumah pada titik - titik tertentu serta dapat melakukan pengendalian. Dimulai

Lebih terperinci

BAB III TEORI DASAR. o Lebih mudah untuk menemukan kesalahan dan kerusakan karena PLC memiliki fasilitas self diagnosis.

BAB III TEORI DASAR. o Lebih mudah untuk menemukan kesalahan dan kerusakan karena PLC memiliki fasilitas self diagnosis. BAB III TEORI DASAR 3.1 Programmable Logic Controller (PLC) Programmable logic controller (PLC) adalah sebuah perangkat yang dirancang untuk menggantikan sistem control elektrik berbasis relai yang mulai

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN. operasi di Rumah Sakit dengan memanfaatkan media sinar Ultraviolet. adalah alat

BAB III PERENCANAAN. operasi di Rumah Sakit dengan memanfaatkan media sinar Ultraviolet. adalah alat 29 BAB III PERENCANAAN Pada bab ini penulis akan menjelaskan secara lebih rinci mengenai perencanaan dan pembuatan dari alat UV Room Sterilizer. Akan tetapi sebelum melakukan pembuatan alat terlebih dahulu

Lebih terperinci

Yudha Bhara P

Yudha Bhara P Yudha Bhara P. 2208 039 004 1. Pertanian merupakan pondasi utama dalam menyediakan ketersediaan pangan untuk masyarakat Indonesia. 2. Pertanian yang baik, harus didukung dengan sistem pengairan yang baik

Lebih terperinci

BAB IV BAGIAN PENTING MODIFIKASI

BAB IV BAGIAN PENTING MODIFIKASI 75 BAB IV BAGIAN PENTING MODIFIKASI Pada bab IV ada beberapa hal penting yang akan disampaikan terkait dengan perancangan modifikasi sistem kontrol panel mesin boiler ini, terutama mengenai penggantian,

Lebih terperinci

SIMULASI TIMER DAN COUNTER PLC OMRON TYPE ZEN SEBAGAI PENGGANTI SENSOR BERAT PADA JUNK BOX PAPER MILL CONTROL SYSTEM

SIMULASI TIMER DAN COUNTER PLC OMRON TYPE ZEN SEBAGAI PENGGANTI SENSOR BERAT PADA JUNK BOX PAPER MILL CONTROL SYSTEM Simulasi Timer dan Counter PLC Omron Type ZEN sebagai (David A. Kurniawan dan Subchan Mauludin) SIMULASI TIMER DAN COUNTER PLC OMRON TYPE ZEN SEBAGAI PENGGANTI SENSOR BERAT PADA JUNK BOX PAPER MILL CONTROL

Lebih terperinci

BAB V PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER

BAB V PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER 5 1 BAB V PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER 5.1 Pengantar Pada aplikasi industri, banyak dibutuhkan implementasi pengontrol proses yang akan beraksi menghasilkan output sebagai fungsi dari state, perubahan

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN SIMULATOR INSTALASI LISTRIK DOMESTIK DAN PENGOLAHAN AIR LIMBAH BERBASIS PLC OMRON CP1L

RANCANG BANGUN SIMULATOR INSTALASI LISTRIK DOMESTIK DAN PENGOLAHAN AIR LIMBAH BERBASIS PLC OMRON CP1L RANCANG BANGUN SIMULATOR INSTALASI LISTRIK DOMESTIK DAN PENGOLAHAN AIR LIMBAH BERBASIS PLC OMRON CP1L DESIGN AND IMPLEMENTATION OF DOMESTIC ELECTRICAL INSTALATION AND WATER PUMPING SIMULATOR USING PLC

Lebih terperinci

Lab. Instalasi Dan Bengkel Listrik Job II Nama : Syahrir Menjalankan Motor Induksi 3 Fasa. Universitas Negeri Makassar On Line) Tanggal :

Lab. Instalasi Dan Bengkel Listrik Job II Nama : Syahrir Menjalankan Motor Induksi 3 Fasa. Universitas Negeri Makassar On Line) Tanggal : Lab. Instalasi Dan Bengkel Listrik Job II Nama : Syahrir Jurusan Pend. Teknik Elektro Menjalankan Motor Induksi 3 Fasa Nim : 1224040001 Fakultas Teknik Sistem DOL (Direct elompok : VIII (Pagi) Universitas

Lebih terperinci

OTOMASI ALAT PEMBUAT BRIKET ARANG MENGGUNAKAN PLC

OTOMASI ALAT PEMBUAT BRIKET ARANG MENGGUNAKAN PLC OTOMASI ALAT PEMBUAT BRIKET ARANG MENGGUNAKAN PLC Nama Mahasiswa : Alifa Rachma Husaeni 2208 039 006 Alvian 220803033 Nama Pembimbing : Suwito, ST, MT. Program Studi D3 Teknik Elektro Jurusan Teknik Elektro

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI. blok diagram dari sistem yang akan di realisasikan.

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI. blok diagram dari sistem yang akan di realisasikan. 33 BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI 3.1 Perancangan Diagram Blok Sistem Dalam perancangan ini menggunakan tiga buah PLC untuk mengatur seluruh sistem. PLC pertama mengatur pergerakan wesel-wesel sedangkan

Lebih terperinci

TI3105 Otomasi Sistem Produksi

TI3105 Otomasi Sistem Produksi TI105 Otomasi Sistem Produksi Diagram Elektrik Laboratorium Sistem Produksi Prodi. Teknik Industri @01 Umum Hasil Pembelajaran ahasiwa mampu untuk melakukan proses perancangan sistem otomasi, sistem mesin

Lebih terperinci

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN: RANCANG BANGUN PENGATURAN MOTOR PENGGERAK PINTU AIR OTOMATIS DENGAN MENGGUNAKAN LEVEL CONTROL

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN: RANCANG BANGUN PENGATURAN MOTOR PENGGERAK PINTU AIR OTOMATIS DENGAN MENGGUNAKAN LEVEL CONTROL RANCANG BANGUN PENGATURAN MOTOR PENGGERAK PINTU AIR OTOMATIS DENGAN MENGGUNAKAN LEVEL CONTROL Anderianes Wira 1*, Djoko Setyanto 2, Isdaryanto Iskandar 3 Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, FakultasTeknik,

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengenalan PLC Awalnya PLC dirancang untuk menggantikan rangkaian logic atau relay, dengan menambahkan fungsi aritmatika, timer, dan counter, yang banyak digunakan dan merupakan

Lebih terperinci

Penggunaan PLC di industri dimaksudkan untuk menggantikan penggunaan rangkaian relay dan timer. Keuntungan penggunaan PLC antara lain :

Penggunaan PLC di industri dimaksudkan untuk menggantikan penggunaan rangkaian relay dan timer. Keuntungan penggunaan PLC antara lain : Pengenalan PLC (Programmable Logic Controller ) PLC (Programmable Logic Controller) adalah suatu komputer industri yang digunakan untuk pengendalian suatu proses atau mesin. Prinsip kerja secara garis

Lebih terperinci

PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER (PLC) SUATU PEMAHAMAN DASAR PERALATAN PENGENDALI DI INDUSTRI BAGI MAHASISWA TEKNIK INDUSTRI

PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER (PLC) SUATU PEMAHAMAN DASAR PERALATAN PENGENDALI DI INDUSTRI BAGI MAHASISWA TEKNIK INDUSTRI PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER (PLC) SUATU PEMAHAMAN DASAR PERALATAN PENGENDALI DI INDUSTRI BAGI MAHASISWA TEKNIK INDUSTRI Pengenalan PLC PLC merupakan sistem operasi elektronik digital yang dirancang untuk

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN ALAT

BAB IV PENGUJIAN ALAT BAB IV PENGUJIAN ALAT Dalam uji coba ini penulis akan melakukan simulasi alat dari kerja rangkaian sistem pengeruk sampah secara otomatis ini. Pengujian ini dilakukan untuk menguji sekaligus membuktikan

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN REALISASI BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI

PERANCANGAN DAN REALISASI BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI Perancangan merupakan sebuah proses yang sangat menentukan untuk merealisasikan alat tersebut. Proses perancangan dapat dilakukan dengan cara mempelajari karakteristik

Lebih terperinci

Praktikum 2 Pembuatan Program PLC

Praktikum 2 Pembuatan Program PLC Praktikum 2 Pembuatan Program PLC A. Tujuan : 1. Mahasiswa mampu memahami prosedur baku dalam pembuatan program PLC 2. Mahasiswa mengerti mengenai pemilihan modul input output dan alokasinya dalam program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PDAM memanfaatkan sungai sebagai sumber air baku. Pada kenyataannya air yang dihasilkan PDAM yang telah dikonsumsi oleh masyarakat selama ini masih menemukan beberapa

Lebih terperinci