BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perdagangan internasional semakin besar peranannya terhadap

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perdagangan internasional semakin besar peranannya terhadap"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan internasional semakin besar peranannya terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sehingga keadaan suatu negara dalam dunia perdagangan internasional menjadi fokus bagi pihak-pihak yang terlibat didalamnya. Persoalan yang dihadapi suatu negara dalam sebuah perdagangan internasional adalah adanya surplus dan defisit neraca perdagangan. Suatu negara mengalami surplus neraca perdagangan ketika nilai ekspor negara tersebut lebih besar dibandingkan nilai impornya. Dampak utama dari surplus yang dialami suatu negara adalah bertambahnya jumlah valuta asing yang masuk ke dalam negara tersebut dan memicu terjadinya inflasi. Sedangkan, suatu negara mengalami defisit neraca perdagangan ketika nilai impor negara tersebut lebih tinggi dari nilai ekspornya. Dampak utama dari defisit neraca perdagangan yang dialami suatu negara adalah jumlah valuta asing yang semakin berkurang. Penguasa pasar dunia mengalami pergeseran sejak tahun 2000an. Amerika Serikat dan Jepang yang menjadi penguasa pasar dunia selama bertahun-tahun, secara perlahan mulai dikalahkan dengan hadirnya Tiongkok. Secara perlahan Tiongkok menjadi kekuatan utama perekonomian dunia. Kondisi tersebut berdampak pada ASEAN. Tiongkok secara perlahan menjadi partner dagang utama dari ASEAN. Gambar 1.1 merupakan gambar negara asal impor utama dari

2 2 ASEAN pada tahun Pada gambar 1.1 dapat dilihat bahwa Tiongkok merupakan negara asal impor utama ASEAN dengan besar lebih dari 14 persen dari keseluruhan total impor yang dilakukan oleh ASEAN. Tingkat impor dari Tiongkok ini berada pada peringkat teratas melebihi impor ASEAN dari Jepang (11,2 persen), EU-28 (9,6 persen), USA (7,5 persen), Korea Selatan (6,2 persen), dan Taiwan (5 persen). Tingkat impor dari Tiongkok hanya kalah dari impor yang dilakukan pada sesama negara anggota ASEAN (22,8 persen). Kondisi hampir serupa juga terjadi pada negara tujuan ekspor utama ASEAN (gambar 1.2). Tiongkok masih menduduki peringkat pertama sebagai negara tujuan ekspor utama ASEAN dengan lebih dari 11 persen dari total keseluruhan ekspor ASEAN. Tujuan ekspor ASEAN lainnya antara lain Jepang (10,1 persen), EU-28 (10 persen), USA (8 persen), Hong Kong (6,4 persen), dan Korea Selatan (4,6 persen). Kondisi ini semakin memperjelas bahwa Tiongkok merupakan mitra dagang utama ASEAN. Gambar 1.1

3 3 Sumber: ASEAN Statistical Yearbook 2013 Gambar 1.2 Sumber: ASEAN Statistical Yearbook 2013 ASEAN mengalami defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok, baik secara total maupun bilateral dalam beberapa tahun terakhir. Tabel 1.1 merupakan tabel neraca perdagangan ASEAN menurut negara tujuan pada tahun Dalam tabel tersebut dapat dilihat bahwa defisit neraca perdagangan bilateral ASEAN terhadap Tiongkok merupakan yang tertinggi diantara mitra dagang ASEAN lainnya. Nilai defisit neraca perdagangan bilateral ASEAN dan Tiongkok pada tahun 2005 sebesar 8 juta USD dan meningkat menjadi 21 juta USD pada tahun Defisit neraca perdagangan bilateral ASEAN terhadap Tiongkok sempat mengalami penurunan pada tahun 2009 hingga tahun 2010,yang disebabkan adanya krisis global dan disepakatinya ASEAN Tiongkok Free Trade

4 4 Area (ACFTA), menjadi 15 juta USD pada tahun 2009 dan, mencapai angka terendah selama 6 tahun, menjadi 6 juta USD pada tahun Namun, angka defisit neraca perdagangan bilateral ASEAN dan Tiongkok kembali mengalami peningkatan pada tahun 2011 dan 2012 menjadi 24 juta USD pada tahun 2011 dan mencapai angka tertinggi menjadi 35 juta USD pada tahun Hubungan bilateral antara ASEAN dan Tiongkok mulai mengalami perkembangan sejak awal tahun Hubungan bilateral ASEAN-Tiongkok dalam bidang perdagangan diawali dengan ditandatanganinya Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation 1 pada bulan November Selanjutnya secara berturut-turut ditantangani Trade in Goods Agreement, Trade in Service Agreement, dan The Investment Agreement pada tanggal 29 November 2004, 14 Jamuari 2007, dan 15 Agustus Pada tanggal 1 Januari 2010 ACFTA resmi berlaku di ASEAN-6 (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) dan Tiongkok. Sedangkan untuk negara CLMV (Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam) ACFTA berlaku pada tanggal 1 Januari Mangapul (2011) dalam penelitiannya berkesimpulan bahwa salah satu penyebab terjadinya peningkatan hubungan dagang bilateral antara negara anggota ASEAN dan Tiongkok adalah bahwa komoditas yang diperdagangkan antara kedua belah pihak sama-sama dianggap penting oleh rekan dagangnya. Selain itu, dalam penelitiannya, penyebab utama adanya defisit neraca perdagangan ASEAN dan Tiongkok secara terus menerus adalah disebabkan oleh kapasitas prosduksi Tiongkok yang melampaui kapasitas produksi negara 1 Lihat Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation

5 5 individual anggota ASEAN, baik dari sisi kuantitas (GDP Tiongkok sekitar tiga kali lipat GDP total ASEAN) maupun kualitas atau keragaman komoditas yang diperdagangkan karena adanya pengalaman yang lebih yang dimilik oleh Tiongkok. Tabel 1.1 Neraca Perdagangan ASEAN Menurut Negara Tujuan, Sumber: ASEAN Secretariat database Peningkatan volume perdagangan ekspor dan impor antara ASEAN dan Tiongkok disebabkan peningkatan volume perdagangan dari masing-masing negara anggota ASEAN terhadap Tiongkok.. Tabel 1.2 merupakan volume ekspor negara anggota ASEAN ke Tiongkok. Nilai ekspor semua negara anggota

6 6 ASEAN ke Tiongkok mengalami peningkatan dari tiap tahunnya. Nilai ekspor masing-masing negara anggota ASEAN ke Tiongkok mencapai nilai tertinggi pada tahun Peningkatan nilai ekspor negara anggota ASEAN diikuti dengan peningkatan nilai impor negara anggota ASEAN dari Tiongkok. Tabel 1.4 merupakan nilai impor negara anggota ASEAN dari Tiongkok pada tahun Semua negara anggota ASEAN mengalami peningkatan volume impor dari Tiongkok pada tiap tahunnya. Sebagai contoh, Indonesia mengalami peningkatan nilai impor dari Tiongkok dari sebesar 14 juta USD pada tahun 2009 dan meningkat menjadi 35 juta USD. Kenaikan nilai impor dari Tiongkok ini dapat diartikan semakin meningkatnya ketergantungan perdagangan dengan Tiongkok sebagai mitra dagang utama. Seperti halnya nilai ekspor ke Tiongkok, nilai impor dari Tiongkok mencapai titik maksimal pada tahun 2013 dan diperkirakan akan terus meningkat untuk tahun-tahun selanjutnya. Tabel 1.2 Ekspor 10 Negara ASEAN ke Tiongkok (USD) Tahun Negara Kamboja Indonesia Filipina Malaysia Thailand Singapura Vietnam Laos Myanmar Brunei Sumber: UNComtrade, data diolah

7 7 Tabel 1.3 Pertumbuhan Ekspor 10 Negara ASEAN ke Tiongkok (%) Tahun No. Negara Kamboja Indonesia Filipina Malaysia Thailand Singapura Vietnam Laos Myanmar Brunei Sumber: UNComtrade, data diolah Tabel 1.4 Impor 10 Negara ASEAN daritiongkok (USD) Tahun Negara Kamboja Indonesia Filipina Malaysia Thailand Singapura Vietnam Laos Myanmar Brunei Sumber: UNComtrade, data diolah Tabel 1.5 Pertumbuhan Impor 10 Negara ASEAN dari Tiongkok (%) Tahun No. Negara Kamboja Indonesia Filipina Malaysia Thailand Singapura

8 8 7 Vietnam Laos Myanmar Brunei Sumber: UNComtrade, data diolah Beberapa negara anggota ASEAN mengalami kondisi dimana peningkatan nilai ekspor ke Tiongkok lebih kecil dari nilai peningkatan nilai impor dari Tiongkok. Kondisi ini menyebabkan nilai defisit neraca perdagangan bilateral negara tersebut terhadap Tiongkok semakin membesar. Tabel 1.6 memberikan gambaran neraca perdagangan bilateral negara anggota ASEAN terhadap Tiongkok pada tahun Dari 10 negara anggota ASEAN, hanya Singapura yang tidak mengalami defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok selama lima tahun terakhir. Sedangkan untuk sembilan (9) negara anggota ASEAN lainnya mengalami peningkatan nilai defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok. Peningkatan nilai defisit neraca perdagangan negara anggota ASEAN secara individu yang menjadi salah satu penyebab defisitnya neraca perdagangan kawasan ASEAN terhadap Tiongkok beberapa waktu ini. Tabel 1.6 Neraca Perdagangan Negara Anggota ASEAN Terhadap Tiongkok Negara Kamboja Indonesia Filipina Malaysia Thailand Singapura Vietnam Laos

9 9 Myanmar Brunei Source: UNComtrade (data diolah) Defisit perdagangan yang dialami ASEAN dalam perdagangan bilateral dengan Tiongkok menjadi masalah bagi negara anggota ASEAN. Sehingga kondisi ini perlu diatasi. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menganalisis apa yang menjadi penyebab terjadinya defisit neraca perdagangan bilateral ASEAN terhadap Tiongkok. Faktor-faktor penyebab dari defisit neraca perdagangan suatu negara dapat secara langsung terkait pada kinerja perdagangan komoditas negara tersebut. Telah banyak penelitian akan penyebab langsung dari defisit neraca perdagangan bilateral ASEAN dan Tiongkok. Yang&Heng (2010) beranggapan bahwa salah satu penyebab defisit neraca perdagangan yang dialami ASEAN dalam perdagangan bilateralnya dengan Tiongkok adalah ASEAN mengekspor barang primer dan mengimpor barang manufaktur dari Tiongkok. Hal ini membuat ASEAN harus mengeluarkan lebih banyak biaya dibandingkan dengan Tiongkok. Penyebab lainnya, menurut Yang&heng (2010), adalah nilai tukar masing-masing negara Anggota ASEAN terhadap Yuan 2. Semakin terapresiasi nilai mata uang negara anggota ASEAN, maka akan semakin mahal barang tersebut. Dengan kata lain mengurangi tingkat ekspor ASEAN ke Tiongkok. Mangapul (2011) dalam penelitiannya menemukan beberapa faktor yang menjadi penyebab defisit neraca perdagangan yang dialami oleh ASEAN 2 Yuan di pegged ke dalam US Dollar, lihat dalam Yang dan Heng, Promoting China- ASEAN Economic Cooperation under CAFTA Framework, December 2010, pp , dalam International Journal of China Studies.

10 10 dalam perdagangan bilateralnya dengan Tiongkok. Faktor yang pertama adalah rasio harga ekspor ASEAN terhadap harga impor ASEAN. Faktor lainnya adalah perbedaan pendapatan negara anggota ASEAN dengan Tiongkok. Faktor yang terakhir adalah nilai tukar masing-masing negara anggota ASEAN terhadap Yuan. Penyebab dari defisit neraca perdagangan suatu negara yang lain adalah faktor eksternal. Faktor eksternal tersebut dapat berasal dari dalam negara tersebut dan/atau dapat berasal dari negara rekan dagang. John M Keynes membangun sebuah model yang mampu menjelaskan pengaruh faktor eksternal, yang berasal dalam negara tersebut, dan faktor eksternal yang berasal dari negara rekan dagang, yang lazim dikenal dengan nama model Two Gap Approach. Model Two Gap Approach menjelaskan bahwa neraca perdagangan suatu negara dipengaruhi oleh faktor eksternal yang berasal dari negara itu sendiri, yang dinyatakan dalam gap anggaran negara yang bersangkutan, dan faktor eksternal yang berasal dari rekan dagang, dijelaskan oleh gap tabungan-investasi di negara rekan dagang. Contoh kasus yang menggunakan model Two Gap Approach adalah kasus defisit neraca perdagangan bilateral Amerika Serikat terhadap Jepang. Pada saat tersebut, Amerika Serikat menuding surplus neraca tabungan-investasi Jepang sebagai penyebab defisit neraca perdagangan bilateral Amerika Serikat terhadap Jepang. Dipihak lain, Jepang menuding kebijakan defisit anggaran Amerika Serikat sebagai penyebab dari defisit neraca perdagangan bilateral Amerika Serikat terhadap Jepang. Pada penelitian ini model Two Gap Approach diharapkan mampu menjelaskan penyebab terjadinya defisit neraca perdagangan bilateral ASEAN terhadap Tiongkok apakah disebabkan oleh gap anggaran negara anggota

11 11 ASEAN, dalam arti kesalahan kebijakan negara anggora ASEAN, atau disebabkan oleh gap tabungan-investasi Tiongkok, dalam arti merupakan skenario dari Tiongkok sebagai rekan dagang ASEAN. Berdasarkan uraian diatas, maka judul penelitian ini adalah Penerapan Model Two Gap Approach 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa selama beberapa waktu terakhir, dalam perdagangan bilateral ASEAN dan Tiongkok, pihak ASEAN selalu mengalami defisit neraca perdagangan. Untuk mengatasi masalah tersebur dilakukan dengan mencari penyebab dari defisit neraca perdagangan yang dialami ASEAN tersebut. Penelitian ini fokus menganalisis penyebab terjadinya defisit neraca perdagangan bilateral antara negara anggota ASEAN dengan Tiongkok menggunakan Model Two Gap Approach. Untuk itu, masalah dalam penelitian ini dirumuskan dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut; 1. Apakah defisit neraca perdagangan negara anggota ASEAN, dalam perdagangan bilateralnya dengan Tiongkok, disebabkan oleh defisit anggaran di negara anggota ASEAN itu sendiri? 2. Apakah defisit neraca perdagangan negara angora ASEAN, dalam perdagangan bilateralnya dengan Tiongkok, disebabkan oleh surplus neraca tabungan-investasi di Tiongkok?

12 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk menganalisis pengaruh defisit anggaran negara anggota ASEAN terhadap defisit neraca perdagangan negara anggota ASEAN dalam perdagangan bilateralnya dengan Tiongkok. 2. Untuk menganalisis penegaruh surplus neraca tabungan-investasi Tiongkok terhadap defisit neraca perdagangan negara anggota ASEAN dalam perdagangan bilateralnya dengan Tiongkok. 1.4 Manfaat Penelitian Kontribusi yang dapat diberikan penelitian ini adalah: 1. Sebagai syarat untuk dapat memperoleh gelar Sarjana di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. 2. Bagi rekan mahasiswa, dapat menambah perbendaharaan literatur penelitian di bidang perdagangan intenasional di kawasan ASEAN. 3. Bagi khalayak umum, dapat menambah informasi tentang perdagangan bilateral antara kawasan ASEAN dengan Tiongkok. 1.5 Metodologi Analisis Model Penelitian Model yang digunakan pada penelitian kali ini menggunakan model Two Gap Approach. Model ini merupakan modifikasi model pendapatan nasional Keynes pada perekonomian terbuka. Model Two Gap Approach, yaitu:

13 13 Y = C + I + G + (X M) (1) Ditambahkan variabel pajak (T T) pada ruas kanan persamaan (1), menjadi Y = C + I + G + (X M) + T T (2) Atau X M = Y C I G + T T (3) X M = Y T C I + T G (4) Dimana, S = Y C T Dengan memasukkan variabel S pada persamaan 4, maka model tersebut menjadi: (X M) = (S I) + (T G) (5) Keterangan: NX (X M): nilai ekspor bersih; S: nilai tabungan; I: nilai investasi; T: penerimaan pajak pemerintah; G: pengeluaran pemerintah Dari persamaan (5) diatas dapat dijelaskan bahwa neraca perdagangan suatu negara dipengaruhi oleh gap tabungan-investasi negara tersebut dan gap anggaran negara tersebut. a. Two gap approach pada negara anggota ASEAN: (X M)* = (S I) + (T G)* (6) Dengan mengasumsikan nilai gap tabungan-investasi negara anggota ASEAN tetap dan tidak berpengaruh terhadap nilai neraca perdagangannya, maka nilai neraca perdagangan masing-masing negara anggota ASEAN tersebut dipengaruhi oleh nilai gap anggaran masingmasing negara.

14 14 b. Two gap approach pada Tiongkok (X M)* = (S I)* + (T G) (7) Dengan mengasumsikan nilai gap anggaran Tiongkok tetap dan tidak mempengaruhi nilai neraca perdagangan Tiongkok, maka nilai neraca perdagangan Tiongkok dipengaruhi oleh gap tabungan-investasi dari Tiongkok. Berdasarkan persamaan (6) dan (7), maka bentuk fungsi persamaan model Two Gap Approach yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Y = ƒ (X 1, X 2 ) Dimana: Y = X ASEAN - M ASEAN X 1 = T ASEAN - G ASEAN X 2 = S Tiongkok I Tiongkok Sehingga model regresi yang digunakan sebagai model empirik adalah: Y it = α 0 + α X1 it + α 2 X2 it + e it Dimana: Y = nilai ekspor bersih (NX) beberapa negara ASEAN, sebagai neraca perdagangan X1 = gap anggaran pemerintah negara anggota ASEAN X2 = gap tabungan-investasi Tiongkok α 1, α 2 = bobot hubungan antara X1 dan X2 terhadap Y

15 15 t = periode waktu i = negara e = error term Penelitian ini menggunakan data sekunder dari tahun yang bersumber dari IMF (International Monetary Fund)-International Financial Statistic, situs Economic watch, dan UNComtrade. Data yang digunakan merupakan data tahunan. Negara yang menjadi objek penelitian adalah Indonesia, Malaysia, Brunei, Myanmar, Filipina, Kamboja, Thailand, dan Vietnam Hipotesis Penelitian Sebagai pedoman pelaksanaan penelitian disusun sebuat hipotesa penelitian. Penelitian ini menggunakan hipotesa satu sisi karena penulis reasonably sure bahwa hipotesa yang berlawanan tidak mungkin terjadi, maka hipotesis penelitian ini yaitu: 1. Defisit anggaran negara anggota ASEAN berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap defisit perdagangan bilateral ASEAN terhadap Tiongkok. Berpengaruh positif artinya semakin membesar defisit anggaran negara anggoata ASEAN, yang berarti negara anggota ASEAN melakukan kebijakan fiskal longgar, mengakibatkan pendapatan nasional negara anggoata ASEAN naik, yang akan mendorong kenaikan impor negara anggota ASEAN, yang akan memperbesar defisit neraca perdagangan bilateral negara anggota ASEAN dengan tiongkok. Disamping itu, semakin besar defisit anggaran negara anggoata asean, dalam rangka meningkatkan capital inflow untuk membiayai defisit tersebut, otoritas

16 16 akan meningkatkan suku bunga yang akan mengakibatkan ongkos produksi naik dan menyebabkan ekspor tidak menarik dan impor menjadi menarik, yang akhirnya memperbesar defisit neraca perdagangan bilateral negara anggota ASEAN dengan Tiongkok. 2. Kebijakan fiskal ketat Tiongkok berpengaruh signifikan dan positif terhadap defisit perdagangan bilateral ASEAN dan Tiongkok. Berpengaruh positif artinya semakin membesar surplus neraca tabunganinvestasi Tiongkok, yang berarti Tiongkok melakukan kebijakan fiskal ketat, akan menyebabkan pendapatan nasional Tiongkok turun, mendorong tiongkok mengurangi impornya, yang berati ekspor negara anggota ASEAN turun dan berdampak memperbesar defisit neraca perdagangan bilateral ASEAN dengan Tiongkok Batasan Masalah Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; 1. Model analisis yang digunakan adalah model Two Gap Approach. 2. Alat analisis yang digunakan adalah model data panel. 3. Negara anggota ASEAN yang dilibatkan adalah Indonesia, Malaysia, Brunei Darusallam, Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos, Filipina, dan Kamboja. Singapura tidak dilibatkan karena Singapura mengalami surplus neraca perdagangan bilateralnya dengan Tiongkok. 4. Tahun penelitian ang digunakan adalah tahun. Pemilihan tahun tersebut didasarkan pada tahun tersebut terjadi defisit neraca

17 17 perdagangan ASEAN terhadap Tiongkok baik secara bilateral maupun total Keaslian Penelitian Model yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan model Two Gap Approach. Telah banyak penelitian yang menggunakan Two Gap Approach sebagai model penelitiannya. Namun terdapat perbedaan dari masing-masing penelitian, seperti penggunaan model untuk melihat hubungan variabel hanya dalam satu negara dan pembuktian hipotesis yang saling bertentangan. Tabel 1.7 merupakan gambaran penelitian terdahulu yang dilakukan oleh beberapa peneliti. Penelitian tersebut menggunakan model Two Gap Approach dengan tujuan dan kesimpulan yang berbeda-beda. Tabel 1.7 Penelitian Terdahulu Menggunakan Two Gap Approach Model Peneliti Tujuan dan Objek Penelitian Dasar Teori dan Variabel Utama yang Diteliti Hasil Penelitian Akbostanci dan Tunc (2002) Menganalisis hubungan defisit anggaran Turki dengan defisit neraca perdagangan Turki pada periode Menggunakan Two Gap Approach dan menggunakan Error Correction Model sebagai metodologi penelitian. Terjadi twin deficit di Turki untuk periode penelitian. Ghancev (2010) Menganalisis kevalidasian hipotesis twin deficits di Bulgaria pada tahun 2010 Menggunakan model Two Gap Approach dan Granger Causality,VAR Twin deficits tidak terjadi dalam jangka pendek, namun mengindikasikan

18 dan VECM sebagai metodologi penelitian. kemungkinan terjadi dalam jangka panjang. Nizar (2013) Menganalisis pengaruh defisit anggaran terhadap defisit transaksi berjalan di Indonesia dalam periode tahun Menggunakan model Two Gap Approach dan VAR sebagai metodologi penelitian. Defisit anggaran berpengaruh positif terhadap defisit transaksi berjalan Indonesia. Asrafuzzaman et al. (2013) Membuktikan hipotesis twin deficits di Bangladesh Menggunakan model Two Gap Approach dan VAR sebagai metode penelitian. Terdapat hubungan kausalitas antara defisit anggaran Bangladesh dengan defisit neraca perdagangan Bangladesh hanya dalam jangka pendek. Ekrem et al. (2013) Menganalisis kevalidan hipotesis triple deficits di Turki pada periode Menggunakan model Two Gap Approach. Triple deficits valid di turki pada periode Cahyadin (2004) Menganalisis pengaruh defisit anggaran Indonesia dan gap tabungan-investasi Jepang terhadap neraca perdagangan Indonesia-Jepang pada periode Menggunakan model Two Gap Approach dan PAM sebagai metodologi penelitian. Terdapat pengaruh defisit anggaran Indonesia dan gap tabunganinvestasi Jepang terhadap neraca perdagangan Indonesia- Jepang selama periode yang diteliti.

19 Alat Analisis Uji ekonometrik dan uji statistik digunakan sebagai alat pengujian pada penelitian ini. Beberapa pengujian yang dilakukan pada penelitian ini yaitu: 1. Uji MWD yang berguna untuk menentukan persamaan regresi yang akan digunakan berupa dalm bentuk linear atau dalam bentuk non linear. 2. Uji Chow, LM test, dan Hausman Test yang berguna untuk menentukan pemilihan model common effect, random effect, atau fixed effect. 3. Uji asumsi klasik 4. Regresi menggunakan model data panel yang telah ditentukan dan melakukan Uji t sebagai alat pengujian hipotesa. 1.6 Metodologi Penulisan Penelitian ini mempunyai sistematis sebagai berikut: 1. BAB I adalah pendahuluan. BAB I berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, metodologi penelitian, pembatasan masalah, hipotesis penelitian, keaslian penelitian, dan manfaat penelitian. 2. BAB II adalah tinjauan pustaka. BAB II merupakan penjelasan landasan teori yang digunakan dalam penelitian 3. BAB III adalah gambaran umum keadaan perekonomian ASEAN dan Tiongkok yang berhubungan dengan tema penelitian ini. 4. BAB IV adalah analisis data. BAB IV merupakan penjabaran dari analisis data. 5. BAB V adalah kesimpulan dan saran. BAB V berisikan kesimpulan dan implikasi.

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Fenomensa globalisasi dalam bidang ekonomi mendorong perkembangan ekonomi yang semakin dinamis antar negara. Dengan adanya globalisasi, terjadi perubahan sistem ekonomi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan laporan WTO (World Trade Organization) tahun 2007

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan laporan WTO (World Trade Organization) tahun 2007 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Berdasarkan laporan WTO (World Trade Organization) tahun 2007 (Business&Economic Review Advisor, 2007), saat ini sedang terjadi transisi dalam sistem perdagangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pergerakan globalisasi perekonomian yang dewasa ini bergerak begitu

BAB I PENDAHULUAN. Pergerakan globalisasi perekonomian yang dewasa ini bergerak begitu 1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Pergerakan globalisasi perekonomian yang dewasa ini bergerak begitu cepat diiringi dengan derasnya arus globalisasi yang semakin berkembang maka hal ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur perekonomian internasional yang lebih bebas dengan jalan menghapuskan semua hambatanhambatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas

BAB I PENDAHULUAN. dalam suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan suatu negara, terutama untuk negara-negara yang sedang berkembang. Peningkatan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) / ASEAN Economic Community (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini merupakan agenda utama negara

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3 IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3 4.1.1 Produk Domestik Bruto (PDB) Selama kurun waktu tahun 2001-2010, PDB negara-negara ASEAN+3 terus menunjukkan tren yang meningkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nilai tukar sering digunakan untuk mengukur tingkat perekonomian suatu

BAB I PENDAHULUAN. Nilai tukar sering digunakan untuk mengukur tingkat perekonomian suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nilai tukar sering digunakan untuk mengukur tingkat perekonomian suatu negara. Nilai tukar mata uang memegang peranan penting dalam perdagangan antar negara, dimana

Lebih terperinci

ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara

ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara ASEAN didirikan di Bangkok 8 Agustus 1967 oleh Indonesia, Malaysia,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara berkembang tidak dapat menutup diri terhadap

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara berkembang tidak dapat menutup diri terhadap I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara berkembang tidak dapat menutup diri terhadap hubungan kerjasama antar negara. Hal ini disebabkan oleh sumber daya dan faktor produksi Indonesia

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan dua analisis untuk membuat penilaian mengenai pengaruh ukuran negara dan trade facilitation terhadap neraca perdagangan, yaitu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. ASEAN sebagai organisasi regional, kerjasama ekonomi dijadikan sebagai salah

I. PENDAHULUAN. ASEAN sebagai organisasi regional, kerjasama ekonomi dijadikan sebagai salah 17 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ASEAN terbentuk pada tahun 1967 melalui Deklarasi ASEAN atau Deklarasi Bangkok tepatnya pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok oleh Wakil Perdana Menteri merangkap

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data sekunder selama enam tahun pengamatan (2001-2006). Pemilihan komoditas yang akan diteliti adalah sebanyak lima komoditas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perekonomian dunia mulai mengalami liberalisasi perdagangan ditandai dengan munculnya General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) pada tahun 1947 yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang harus dihadapi dan terlibat didalamnya termasuk negara-negara di kawasan

BAB I PENDAHULUAN. yang harus dihadapi dan terlibat didalamnya termasuk negara-negara di kawasan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi ekonomi bagi seluruh bangsa di dunia adalah fakta sejarah yang harus dihadapi dan terlibat didalamnya termasuk negara-negara di kawasan ASEAN. Globalisasi

Lebih terperinci

BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA 81 BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN bersama dengan Cina, Jepang dan Rep. Korea telah sepakat akan membentuk suatu

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata saat ini telah menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dunia terutama dalam penerimaan devisa negara melalui konsumsi yang dilakukan turis asing terhadap

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan liberalisasi perdagangan barang dan jasa semakin tinggi intensitasnya sehingga

BAB 1 PENDAHULUAN. dan liberalisasi perdagangan barang dan jasa semakin tinggi intensitasnya sehingga BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perekonomian dalam perdagangan internasional tidak lepas dari negara yang menganut sistem perekonomian terbuka. Apalagi adanya keterbukaan dan liberalisasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, hal ini

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, hal ini I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, hal ini ditunjukkan dengan hubungan multilateral dengan beberapa negara lain di dunia. Realisasi dari

Lebih terperinci

PENGARUH ASEAN- CHINA FREE TRADE AREA ( ACFTA ) TERHADAP BISNIS INDONESIA DAN INTERNASIONAL

PENGARUH ASEAN- CHINA FREE TRADE AREA ( ACFTA ) TERHADAP BISNIS INDONESIA DAN INTERNASIONAL PENGARUH ASEAN- CHINA FREE TRADE AREA ( ACFTA ) TERHADAP BISNIS INDONESIA DAN INTERNASIONAL Oleh : Daniel E Syauta ( P056100493.36E ) dan Asniar ( P056100 ) LATAR BELAKANG ASEAN- China Free Trade Area

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. moneter terus mengalami perkembangan. Inisiatif kerjasama mulai dikembangkan

I. PENDAHULUAN. moneter terus mengalami perkembangan. Inisiatif kerjasama mulai dikembangkan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses integrasi di berbagai belahan dunia telah terjadi selama beberapa dekade terakhir, terutama dalam bidang ekonomi. Proses integrasi ini penting dilakukan oleh masing-masing

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia tiga tahun terakhir lebih rendah dibandingkan Laos dan Kamboja.

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia tiga tahun terakhir lebih rendah dibandingkan Laos dan Kamboja. BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di kawasan ASEAN, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sejak 1980 sampai dengan 2012 (dihitung dengan persentase

Lebih terperinci

BAB 7 PERDAGANGAN BEBAS

BAB 7 PERDAGANGAN BEBAS BAB 7 PERDAGANGAN BEBAS Pengaruh Globalisasi Terhadap Perekonomian ASEAN Globalisasi memberikan tantangan tersendiri atas diletakkannya ekonomi (economy community) sebagai salah satu pilar berdirinya

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN. 4.1 Gambaran Umum Pertumbuhan Ekonomi Negara ASEAN

BAB IV GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN. 4.1 Gambaran Umum Pertumbuhan Ekonomi Negara ASEAN BAB IV GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 4.1 Gambaran Umum Pertumbuhan Ekonomi Negara ASEAN Pertumbuhan ekonomi negara ASEAN periode 1980-2009 cenderung fluktuatif (Gambar 4.1). Hal ini disebabkan dominansi pengaruh

Lebih terperinci

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN I. Ekonomi Dunia Pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia. Sejak tahun 2004, ekonomi dunia tumbuh tinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses pembangunan yang

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses pembangunan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses pembangunan yang terjadi secara terus menerus dan bersifat dinamis. Sasaran pembangunan yang dilakukan oleh negara sedang

Lebih terperinci

Materi Minggu 12. Kerjasama Ekonomi Internasional

Materi Minggu 12. Kerjasama Ekonomi Internasional E k o n o m i I n t e r n a s i o n a l 101 Materi Minggu 12 Kerjasama Ekonomi Internasional Semua negara di dunia ini tidak dapat berdiri sendiri. Perlu kerjasama dengan negara lain karena adanya saling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. internasional tidak bisa lepas dari hal-hal yang sedang dan akan berlangsung di

BAB I PENDAHULUAN. internasional tidak bisa lepas dari hal-hal yang sedang dan akan berlangsung di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, keadaan dan perkembangan perdagangan luar negeri serta neraca pembayaran internasional tidak

Lebih terperinci

Kinerja Ekspor Nonmigas November 2010 Memperkuat Optimisme Pencapaian Target Ekspor 2010

Kinerja Ekspor Nonmigas November 2010 Memperkuat Optimisme Pencapaian Target Ekspor 2010 SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 111 Telp: 21-386371/Fax: 21-358711 www.kemendag.go.id Kinerja Ekspor Nonmigas November 21 Memperkuat Optimisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan sebuah negara. Hal ini serupa dengan pendapat yang

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan sebuah negara. Hal ini serupa dengan pendapat yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perdagangan Internasional merupakan salah satu kegiatan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan sebuah negara. Hal ini serupa dengan pendapat yang disampaikan Salvatore

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat ditunjang oleh indikator tabungan dan investasi domestik yang digunakan untuk menentukan tingkat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. negeri, seperti tercermin dari terdapatnya kegiatan ekspor dan impor (Simorangkir dan Suseno, 2004, p.1)

BAB 1 PENDAHULUAN. negeri, seperti tercermin dari terdapatnya kegiatan ekspor dan impor (Simorangkir dan Suseno, 2004, p.1) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ekonomi internasional semakin pesat sehingga hubungan ekonomi antar negara menjadi saling terkait dan mengakibatkan peningkatan arus perdagangan barang,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Era globalisasi menuntut adanya keterbukaan ekonomi yang semakin luas dari setiap negara di dunia, baik keterbukaan dalam perdagangan luar negeri (trade openness) maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini, era globalisasi membawa suatu pengaruh yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dewasa ini, era globalisasi membawa suatu pengaruh yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, era globalisasi membawa suatu pengaruh yang sangat besar dalam perekonomian suatu negara. Era globalisasi ini terjadi dikarenakan adanya rasa saling ketergantungan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Tanaman Apel Apel adalah jenis buah-buahan, atau buah yang dihasilkan dari pohon buah

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. para pemimpin yang mampu membawa China hingga masa dimana sektor

BAB V KESIMPULAN. para pemimpin yang mampu membawa China hingga masa dimana sektor BAB V KESIMPULAN China beberapa kali mengalami revolusi yang panjang pasca runtuhnya masa Dinasti Ching. Masa revolusi yang panjang dengan sendirinya melahirkan para pemimpin yang mampu membawa China hingga

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perekonomian secara umum.

BAB 1 PENDAHULUAN. salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perekonomian secara umum. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai perekonomian terbuka kecil, perkembangan nilai tukar merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perekonomian secara umum. Pengaruh nilai tukar

Lebih terperinci

Skripsi ANALISA PENGARUH CAPITAL INFLOW DAN VOLATILITASNYA TERHADAP NILAI TUKAR DI INDONESIA OLEH : MURTINI

Skripsi ANALISA PENGARUH CAPITAL INFLOW DAN VOLATILITASNYA TERHADAP NILAI TUKAR DI INDONESIA OLEH : MURTINI Skripsi ANALISA PENGARUH CAPITAL INFLOW DAN VOLATILITASNYA TERHADAP NILAI TUKAR DI INDONESIA OLEH : MURTINI 0810512077 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS Mahasiswa Strata 1 Jurusan Ilmu Ekonomi Diajukan

Lebih terperinci

Bab 5 PEREKONOMIAN TERBUKA

Bab 5 PEREKONOMIAN TERBUKA Bab 5 PEREKONOMIAN TERBUKA Makroekonomi Perekonomian Terbuka : Konsep Dasar Perekonomian Tertutup dan Terbuka Perekonomian tertutup adalah perekonomian yang tidak berinteraksi dengan perekonomian lain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi di suatu negara (trade as engine of growth).

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi di suatu negara (trade as engine of growth). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan suatu negara dalam membangun perekonomian negaranya adalah laju pertumbuhan ekonomi. Setiap

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam

I. PENDAHULUAN. Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian setiap negara di dunia. Dengan perdagangan internasional, perekonomian akan saling terjalin

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003)

I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) menyatakan bahwa pertumbuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Isu globalisasi sering diperbincangkan sejak awal tahun Globalisasi

I. PENDAHULUAN. Isu globalisasi sering diperbincangkan sejak awal tahun Globalisasi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu globalisasi sering diperbincangkan sejak awal tahun 1980. Globalisasi selain memberikan dampak positif, juga memberikan dampak yang mengkhawatirkan bagi negara yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi mencakup seluruh kehidupan manusia di dunia, terutama dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya. Budaya bangsa asing perlahan-lahan menghilangkan budaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan depresiasi. Ketidakpastian pemulihan ekonomi dunia juga telah

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. 5.1 Tahapan Pemilihan Pendekatan Model Terbaik

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. 5.1 Tahapan Pemilihan Pendekatan Model Terbaik BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Tahapan Pemilihan Pendekatan Model Terbaik Estimasi model pertumbuhan ekonomi negara ASEAN untuk mengetahui pengaruh FDI terhadap pertumbuhan ekonomi negara ASEAN yang menggunakan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN KERJA SAMA ASEAN PASCA IMPLEMENTASI AEC 2015

PERKEMBANGAN KERJA SAMA ASEAN PASCA IMPLEMENTASI AEC 2015 PERKEMBANGAN KERJA SAMA ASEAN PASCA IMPLEMENTASI AEC 2015 J.S. George Lantu Direktur Kerjasama Fungsional ASEAN/ Plt. Direktur Kerja Sama Ekonomi ASEAN Jakarta, 20 September 2016 KOMUNITAS ASEAN 2025 Masyarakat

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU, AGUSTUS 2016

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU, AGUSTUS 2016 No. 57/10/17/Th. VII, 3 Oktober PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU, AGUSTUS Total Ekspor Provinsi Bengkulu mencapai nilai sebesar US$ 18,26 juta. Nilai Ekspor ini mengalami peningkatan sebesar

Lebih terperinci

Ekspor Nonmigas 2010 Mencapai Rekor Tertinggi

Ekspor Nonmigas 2010 Mencapai Rekor Tertinggi SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 111 Telp: 21-386371/Fax: 21-358711 www.kemendag.go.id Ekspor Nonmigas 21 Mencapai Rekor Tertinggi Jakarta,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekitar dua puluh tahun yang lalu negara maju seperti U.S. selalu dicirikan sebagai negara kaya yang tinggi tingkat tabungannya, sedikit investasi dan surplus

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Globalisasi dalam bidang ekonomi menyebabkan berkembangnya sistem

BAB 1 PENDAHULUAN. Globalisasi dalam bidang ekonomi menyebabkan berkembangnya sistem BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi dalam bidang ekonomi menyebabkan berkembangnya sistem perekonomian ke arah yang lebih terbuka antar negara.perekonomian terbuka membawa suatu dampak ekonomis

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan dalam berbagai bidang, tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Menurut Todaro dan Smith (2006), globalisasi

Lebih terperinci

HUBUNGAN KAUSALITAS ANTARA EKSPOR NON MIGAS TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN SKRIPSI

HUBUNGAN KAUSALITAS ANTARA EKSPOR NON MIGAS TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN SKRIPSI HUBUNGAN KAUSALITAS ANTARA EKSPOR NON MIGAS TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TAHUN 1980-2008 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dinamika perekonomian global masih diliputi oleh nuansa ketidakpastian yang tinggi yang tercermin dari perubahan yang berlangsung sangat cepat dan sulit diprediksi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi pada dasarnya untuk memenuhi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat (social welfare) tidak bisa sepenuhnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut di banding dengan mata uang negara lain. Semakin tinggi nilai tukar mata

BAB I PENDAHULUAN. tersebut di banding dengan mata uang negara lain. Semakin tinggi nilai tukar mata BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Salah satu indikator yang menunjukan bahwa perekonomian sebuah negara lebih baik dari negara lain adalah melihat nilai tukar atau kurs mata uang negara tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seberapa besar kontribusi perdagangan internasional yang telah dilakukan bangsa

BAB I PENDAHULUAN. seberapa besar kontribusi perdagangan internasional yang telah dilakukan bangsa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perekonomian global yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan perkembangan dari proses perdagangan internasional. Indonesia yang ikut serta dalam Perdagangan internasional

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3

IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3 IV. GAMBARAN UMUM NEGARA ASEAN 5+3 4.1 Gambaran Umum Kesenjangan Tabungan dan Investasi Domestik Negara ASEAN 5+3 Hubungan antara tabungan dan investasi domestik merupakan indikator penting serta memiliki

Lebih terperinci

SIARAN PERS Pusat Hubungan Masyarakat Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta Telp: /Fax:

SIARAN PERS Pusat Hubungan Masyarakat Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta Telp: /Fax: SIARAN PERS Pusat Hubungan Masyarakat Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 1 Telp: 021-3860371/Fax: 021-3508711 www.kemendag.go.id Ekspor Bulan Februari 2012 Naik 8,5% Jakarta, 2 April 2012

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Nominal perbandingan antara mata uang asing dengan mata uang dalam

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Nominal perbandingan antara mata uang asing dengan mata uang dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nominal perbandingan antara mata uang asing dengan mata uang dalam negeri biasa sering dikenal sebagai kurs atau nilai tukar. Menurut Bergen, nilai tukar mata uang

Lebih terperinci

V. PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN MAKROEKONOMI INDONESIA. Asia Tenggara, yang pemicunya adalah krisis ekonomi di Thailand.

V. PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN MAKROEKONOMI INDONESIA. Asia Tenggara, yang pemicunya adalah krisis ekonomi di Thailand. 74 V. PERGERAKAN NILAI TUKAR RUPIAH DAN MAKROEKONOMI INDONESIA 5.1. Awal Krisis Asia Krisis yang terjadi di Indonesia tidak terlepas dari krisis yang terjadi di Asia Tenggara, yang pemicunya adalah krisis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. global, tidak terkecuali Indonesia ikut merasakan dampak tersebut. Pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. global, tidak terkecuali Indonesia ikut merasakan dampak tersebut. Pertumbuhan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Krisis yang terjadi pada tahun 2008 berdampak besar bagi perekonomian global, tidak terkecuali Indonesia ikut merasakan dampak tersebut. Pertumbuhan ekonomi Indonesia

Lebih terperinci

BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK. diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut

BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK. diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK 2.1 Rupiah Rupiah (Rp) adalah mata uang Indonesia (kodenya adalah IDR). Nama ini diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut Indonesia menggunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Asosiasi negara- negara Asia Tenggara (ASEAN) didirikan pada tanggal 8

BAB I PENDAHULUAN. Asosiasi negara- negara Asia Tenggara (ASEAN) didirikan pada tanggal 8 BAB I PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Asosiasi negara- negara Asia Tenggara (ASEAN) didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok, Thailand dengan ditandatanganinya deklarasi Bangkok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia

BAB I PENDAHULUAN. proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memasuki era globalisasi, perekonomian dunia memberikan peluang yang besar bagi berbagai negara untuk saling melakukan hubunga antarnegara, salah satunya dibidang ekomomi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diakibatkan oleh adanya currency turmoil, yang melanda Thailand dan menyebar

BAB I PENDAHULUAN. diakibatkan oleh adanya currency turmoil, yang melanda Thailand dan menyebar 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tinggi rendahnya nilai mata uang ditentukan oleh besar kecilnya jumlah penawaran dan permintaan terhadap mata uang tersebut (Hadiwinata, 2004:163). Kurs

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perekonomian Indonesia saat ini sudah tidak dapat terpisahkan lagi dengan

I. PENDAHULUAN. Perekonomian Indonesia saat ini sudah tidak dapat terpisahkan lagi dengan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perekonomian Indonesia saat ini sudah tidak dapat terpisahkan lagi dengan perekonomian dunia. Hal ini terjadi setelah dianutnya sistem perekonomian terbuka yang dalam aktivitasnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. cara yang tepat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat suatu negara

BAB I PENDAHULUAN. cara yang tepat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat suatu negara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perekonomian Indonesia diestimasikan akan mengalami tantangan baru di masa yang akan datang. Di tengah liberalisasi ekonomi seperti sekarang suatu negara akan

Lebih terperinci

Keseimbangan Ekonomi Empat Sektor. Oleh: Ruly Wiliandri, SE., MM

Keseimbangan Ekonomi Empat Sektor. Oleh: Ruly Wiliandri, SE., MM Keseimbangan Ekonomi Empat Sektor Oleh: Ruly Wiliandri, SE., MM Perekonomian empat sektor adalah perekonomian yg terdiri dari sektor RT, Perusahaan, pemerintah dan sektor LN. Perekonomian empat sektor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi pada dasarnya berhubungan dengan setiap upaya

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi pada dasarnya berhubungan dengan setiap upaya 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi pada dasarnya berhubungan dengan setiap upaya untuk mengatasi masalah keterbatasan sumber daya (Abdullah, 2003). Pembangunan mengharuskan

Lebih terperinci

Poppy Ismalina, M.Ec.Dev., Ph.D., Konsultan ILO

Poppy Ismalina, M.Ec.Dev., Ph.D., Konsultan ILO DAMPAK LIBERALISASI PERDAGANGAN PADA HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA DAN TIGA NEGARA (CHINA, INDIA, DAN AUSTRALIA) TERHADAP KINERJA EKSPOR-IMPOR, OUTPUT NASIONAL DAN KESEMPATAN KERJA DI INDONESIA: ANALISIS

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Pengujian Stasioneritas Data Pengujian kestasioneran data merupakan tahap yang paling penting dalam menganalisis data panel untuk melihat ada tidaknya panel unit root yang terkandung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sembilan persen pertahun hingga disebut sebagai salah satu the Asian miracle

I. PENDAHULUAN. sembilan persen pertahun hingga disebut sebagai salah satu the Asian miracle I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini peranan minyak bumi dalam kegiatan ekonomi sangat besar. Bahan bakar minyak digunakan baik sebagai input produksi di tingkat perusahaan juga digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. iklimnya, letak geografisnya, penduduk, keahliannya, tenaga kerja, tingkat harga,

BAB I PENDAHULUAN. iklimnya, letak geografisnya, penduduk, keahliannya, tenaga kerja, tingkat harga, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap negara selalu berbeda bila ditinjau dari sumber daya alamnya, iklimnya, letak geografisnya, penduduk, keahliannya, tenaga kerja, tingkat harga, keadaan struktur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. internasional untuk memasarkan produk suatu negara. Ekspor dapat diartikan

BAB I PENDAHULUAN. internasional untuk memasarkan produk suatu negara. Ekspor dapat diartikan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekspor merupakan salah satu bagian penting dalam perdagangan internasional untuk memasarkan produk suatu negara. Ekspor dapat diartikan sebagai total penjualan barang

Lebih terperinci

BAB II TELAAH PUSTAKA. memainkan peranan penting dalam perdagangan internasional, karena nilai. dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai negara.

BAB II TELAAH PUSTAKA. memainkan peranan penting dalam perdagangan internasional, karena nilai. dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai negara. BAB II TELAAH PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Nilai Tukar (Kurs) Krugman dan Obstfeld (1994:73) mendefinisikan nilai tukar sebagai harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Nilai tukar memainkan peranan

Lebih terperinci

SEBERAPA JAUH RUPIAH MELEMAH?

SEBERAPA JAUH RUPIAH MELEMAH? Edisi Maret 2015 Poin-poin Kunci Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp13.000 per dollar AS, terendah sejak 3 Agustus 1998. Pelemahan lebih karena ke faktor internal seperti aksi hedging domestik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Prinsip umum perdagangan bebas adalah menyingkirkan hambatan-hambatan

BAB I PENDAHULUAN. Prinsip umum perdagangan bebas adalah menyingkirkan hambatan-hambatan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Prinsip umum perdagangan bebas adalah menyingkirkan hambatan-hambatan teknis perdagangan (technical barriers to trade) dengan mengurangi atau menghilangkan tindakan

Lebih terperinci

BAB VI. KESIMPULAN. integrasi ekonomi ASEAN menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: perdagangan di kawasan ASEAN dan negara anggotanya.

BAB VI. KESIMPULAN. integrasi ekonomi ASEAN menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: perdagangan di kawasan ASEAN dan negara anggotanya. BAB VI. KESIMPULAN 6.1. Kesimpulan Hasil penelitian mengenai aliran perdagangan dan investasi pada kawasan integrasi ekonomi ASEAN menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Integrasi ekonomi memberi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lebih terbuka (openness). Perekonomian terbuka dalam arti dimana terdapat

BAB I PENDAHULUAN. lebih terbuka (openness). Perekonomian terbuka dalam arti dimana terdapat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Globalisasi ekonomi mendorong perekonomian suatu negara ke arah yang lebih terbuka (openness). Perekonomian terbuka dalam arti dimana terdapat aktivitas perdagangan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN Tinjauan Pustaka Tanaman Jeruk Buah jeruk merupakan salah satu jenis buah-buahan yang paling banyak digemari oleh masyarakat kita. Buah jeruk selalu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam Todaro dan Smith (2003:91-92) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan

BAB I PENDAHULUAN. dalam Todaro dan Smith (2003:91-92) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara menuju ke arah yang lebih baik. Menurut Kutznets dalam Todaro dan

Lebih terperinci

VI. PERKEMBANGAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Karet Alam Indonesia

VI. PERKEMBANGAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Karet Alam Indonesia VI. PERKEMBANGAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA 6.1. Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Karet Alam Indonesia Permintaan terhadap karet alam dari tahun ke tahun semakin mengalami peningkatan. Hal ini dapat

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU, APRIL 2017

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU, APRIL 2017 No. 33/06/17/Th. VIII, 2 Juni 2017 PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU, APRIL 2017 Total ekspor Provinsi Bengkulu mencapai nilai sebesar US$ 24,17 juta. Nilai ekspor ini mengalami peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Oleh. masyarakat Indonesia yang maju dan mandiri.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Oleh. masyarakat Indonesia yang maju dan mandiri. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Oleh karena itu Indonesia harus giat melaksanakan pembangunan disegala bidang. Tujuan utama pembangunan adalah tercapainya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemungkinan kelebihan produksi barang dan jasa tersebut demikian juga negara lain. Jika

BAB I PENDAHULUAN. kemungkinan kelebihan produksi barang dan jasa tersebut demikian juga negara lain. Jika BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap negara berusaha memenuhi kebutuhannya baik barang dan jasa, atinya akan ada kemungkinan kelebihan produksi barang dan jasa tersebut demikian juga negara lain.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Kurs (Nilai Tukar) a. Pengertian Kurs Beberapa pengertian kurs di kemukakan beberapa tokoh antara lain, menurut Krugman (1999) kurs atau exchange rate adalah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan salah satu pendorong peningkatan perekonomian suatu negara. Perdagangan internasional, melalui kegiatan ekspor impor memberikan keuntungan

Lebih terperinci

No. 03/07/81/Th. VI, 1 Juli PERKEMBANGAN EKSPOR & IMPOR MALUKU MEI A. PERKEMBANGAN EKSPOR Nilai ekspor Maluku bulan Mei adalah sebesar US$ 15,90 juta, naik signifikan 5.832,66 persen dibandingkan nilai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian internasional, diantaranya yaitu impor. Kegiatan impor yang dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian internasional, diantaranya yaitu impor. Kegiatan impor yang dilakukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, seperti Indonesia serta dalam era globalisasi sekarang ini, suatu negara tidak terlepas dari kegiatan perekonomian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan negara yang menganut sistem perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan negara yang menganut sistem perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang menganut sistem perekonomian terbuka. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang berintegrasi dengan banyak negara lain baik dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perjanjian Perdagangan Bebas Asean-China (ACFTA) semakin

BAB I PENDAHULUAN. Perjanjian Perdagangan Bebas Asean-China (ACFTA) semakin 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perjanjian Perdagangan Bebas Asean-China (ACFTA) semakin membuka peluang China untuk melakukan penetrasi pasar di Indonesia. Dalam enam tahun terakhir sebelum perjanjian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Cadangan devisa didefenisikan sebagai saham eksternal aset, yang tersedia

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Cadangan devisa didefenisikan sebagai saham eksternal aset, yang tersedia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cadangan devisa didefenisikan sebagai saham eksternal aset, yang tersedia untuk suatu negara dalam otoritas moneter yang digunakan untuk menutupi ketidakseimbangan

Lebih terperinci

BPS PROVINSI JAWA BARAT A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR MARET 2015 MENCAPAI US$ 2,23 MILYAR

BPS PROVINSI JAWA BARAT A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR MARET 2015 MENCAPAI US$ 2,23 MILYAR BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR No. 24/04/32/Th.XVII, 15 April PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT MARET A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR MARET MENCAPAI US$ 2,23 MILYAR Nilai ekspor

Lebih terperinci

Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia

Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia Tahun 2001, pada pertemuan antara China dan ASEAN di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam, Cina menawarkan sebuah proposal ASEAN-China

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Uang merupakan suatu alat tukar yang memiliki peranan penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. Uang merupakan suatu alat tukar yang memiliki peranan penting dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Uang merupakan suatu alat tukar yang memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Uang mempermudah manusia untuk saling memenuhi kebutuhan hidup dengan cara melakukan

Lebih terperinci

V. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI INDONESIA. dari waktu ke waktu. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi merupakan proses

V. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI INDONESIA. dari waktu ke waktu. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi merupakan proses 115 V. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI INDONESIA 5.1. Pertumbuhan Ekonomi Petumbuhan ekonomi pada dasarnya merupakan proses perubahan PDB dari waktu ke waktu. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi merupakan proses

Lebih terperinci

BPS PROVINSI JAWA BARAT

BPS PROVINSI JAWA BARAT BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT JULI 2016 No. 51/09/32/Th.XVIII, 01 September 2016 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JULI 2016 MENCAPAI USD 1,56

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin bertambah tinggi dalam kondisi perekonomian global seperti yang

BAB I PENDAHULUAN. semakin bertambah tinggi dalam kondisi perekonomian global seperti yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kompleksitas sistem pembayaran dalam perdagangan internasional semakin bertambah tinggi dalam kondisi perekonomian global seperti yang berkembang akhir-akhir ini.

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN. antar negara. Nilai tukar memainkan peran vital dalam tingkat perdagangan

I.PENDAHULUAN. antar negara. Nilai tukar memainkan peran vital dalam tingkat perdagangan I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nilai tukar atau kurs merupakan indikator ekonomi yang sangat penting karena pergerakan nilai tukar berpengaruh luas terhadap aspek perekonomian suatu negara. Saat

Lebih terperinci