SUMMARY ABSTRAK. Kata kunci : Tingkat Kecemasan, Keluarga, Stroke

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SUMMARY ABSTRAK. Kata kunci : Tingkat Kecemasan, Keluarga, Stroke"

Transkripsi

1 SUMMARY ABSTRAK Prily Apriliany S. Husain, Gambaran Tingkat dalam Merawat Anggota Keluarga yang Menderita Stroke di Ruangan Neuro RSUD. Prof. Dr. Hi. Aloei saboe Kota Gorontalo. Skripsi, Jurusan Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan dan Keolahragaan, Universitas Negeri Gorontalo. Pembimbing I Dra. Hj. Rany Hiola, M.Kes dan Pembimbing II, Andriani, S.Kep, Ns, M.Kes. Stroke merupakan penyakit bahaya dan dapat menyebabkan kematian, masalah-masalah yang timbul pada penderita stroke dapat menyebabkan kecemasan pada keluarga. Sehingga setiap anggota keluarga akan merasakan cemas apabila salah seorang keluarganya masuk rumah sakit akibat penyakit stroke. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke di ruangan neuro RSUD. Prof Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, subjek penelitian berjumlah 30 responden dengan menggunakan metode accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan HRS-A dengan kuisioner berupa skala kecemasan dan observasi. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan presentase menggunakan SPSS. Hasil dari penelitian ini diperoleh responden yang tidak mengalami kecemasan sebanyak 5 responden (16,6%), kecemasan ringan 8 responden (6,6%), kecemasan sedang 11 responden (36,6%), kecemasan berat 4 responden (13,3%), kecemasan berat sekali /panik responden (6,6%). keluarga disebabkan karena keluarga sebelumnya belum pernah merawat anggota keluarga yang menderita stroke. Kesimpulan dari penelitian bahwa tingkat kecemasan yang banyak dialami keluarga di ruangan neuro adalah kecemasan sedang. Saran bagi perawat lebih meningkatkan mutu pelayanan khususnya dalam menangani pasien dan keluarga dengan memberikan penyuluhan kesehatan. Kata kunci : Tingkat, Keluarga, Stroke

2 I. PENDAHULUAN Dewasa ini tingkat kepedulian masyarakat akan pemelihara kesehatan terhadap berbagai resiko yang dapat menimbulkan stroke masih sangat rendah, terlihat dari insiden stroke cenderung meningkat setiap tahunnya. Stroke merupakan penyebab kecacatan serius menetap nomor 1 dan penyebab kematian ketiga di Negara maju setelah penyakit kardiovaskular dan kanker (Goldszmidt, 011). Data yang berhasil dikumpulkan oleh Yayasan Stroke Indonesia, masalah stroke semakin penting dan mendesak karena kini jumlah penderita stroke di Indonesia terbanyak dan menduduki urutan pertama di Asia. Masalah-masalah yang timbul pada penderita stroke menyebabkan kecemasan pada keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Andarmoyo, 01). atau ansietas dalam diri pasien dan keluarganya selama pasien di rumah sakit, salah satunya karena khawatir dengan keadaan pasien. Keluarga akan mengalami cemas ketika anggota keluarganya mengalami sakit yang harus dirawat di rumah sakit. Pasien yang dirawat di Rumah sakit dalam waktu yang lama akan lebih membuat cemas (Kaplan, 007). Hasil terakhir yang didapatkan dari rekam medik RSUD Prof Dr. Aloei Saboe pada Tahun 010 tentang jumlah pasien stroke yang di rawat inap di ruangan Neuro sebanyak 338 Pasien (9,6%), Tahun 011 pasien stroke sebanyak 5 pasien (37,74%), sedangkan pada Tahun 01 pasien stroke sebanyak 590 pasien (38,63%). Dengan demikian dapat dilihat bahwa jumlah pasien stroke masih cukup banyak dan akan meningkat dalam setiap tahunnya. Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Syarifah Taufik (008) tentang Gambaran tingkat kecemasan keluarga pasien stroke yang dirawat di Ruang Mawar RSUD Undata Palu Tahun 008 didapatkan hasil bahwa responden yang berumur < 9 Tahun lebih banyak mengalami kecemasan berat sekali/ panik yaitu 83,3%, responden yang tingkat pendidikan tinggi ( SMA) lebih banyak mengalami kecemasan berat yaitu 63,6%, sedangkan responden yang tidak bekerja lebih banyak mengalami kecemasan berat yaitu 81,3%. Pada Tahun 01 Muhammad Afif Sasmita melakukan penelitian tentang kecemasan keluarga yang berjudul Gambaran respon kecemasan keluarga klien yang mengalami stroke di RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi. Hasil penelitian bahwa seluruhnya dari responden (100%) mengalami respon kecemasan sedang. Dari aspek fisiologis distribusi frekuensi respon kecemasan keluarga klien yang mengalami stroke yaitu hampir seluruhnya dari responden (86,95%) mengalami respon kecemasan sedang, dan sebagian kecil responden (13,05%) mengalami respon kecemasan ringan. Dari aspek psikologis distribusi frekuensi respon kecemasan keluarga klien yang mengalami stroke yaitu seluruhnya dari responden (100%) mengalami respon kecemasan sedang. Sedangkan dari aspek psikolososial distribusi frekuensi respon kecemasan keluarga klien yang mengalami stroke yaitu sebagian besar dari responden

3 (73,91%) mengalami respon kecemasan sedang, sebagian kecil dari responden (6,09%) mengalami respon kecemasan ringan. Sehubungan hal tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk mengambil judul Gambaran Tingkat dalam Merawat Anggota Keluarga yang Menderita Stroke di Ruangan Neuro di RSUD Prof Dr. Hi. Aloei Saboe Tahun 013. II. METODE PENELITIAN.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Ruangan Neuro RSUD Prof Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo... Waktu Penelitian Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 16 Mei s.d 31 Mei..3. DESAIN PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian Deskriptif..4. SAMPEL Sampel dari penelitian ini adalah semua keluarga penderita Stroke yang di rawat inap di ruangan Neuro RSUD Prof Dr. Hi. Aloei Saboe berjumlah 30 responden..5. Teknik Analisa Data Pengolahan data dalam penelitian ini melalui beberapa tahap, yaitu (Setiadi,013): 1. Editing Setelah data terkumpul peneliti akan memeriksa kelengkapan data.. Coding Data yang telah dikumpulkan diberi kode 3. Scoring Jawaban kuesioner yang telah dijawab oleh responden, diberikan penilaian untuk setiap butir pertanyaan. 4. Processing Setelah semua kuesioner terisi penuh dan benar maka dilakukan pemprosesan data ke program computer yaitu SPPS. 5. Tabuler Setelah semua masalah editing, coding, dan scoring serta processing selesai dilakukan tabulasi dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan analisa presentase. III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 HASIL PENELITIAN Distribusi Responden Berdasarkan Umur Aloei Saboe Kota Gorontalo diperoleh distribusi responden berdasarkan umur yang digolongkan menjadi 6 golongan umur dan dapat diperoleh pada tabel 4.1 berikut ini : Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur

4 No Golongan Umur (Tahun) Total Jumlah n % 7 3,3 6, ,3 5 16,6 4 13,3 6, Tabel 4.1 diatas menunjukan bahwa responden yang golongan umurnya paling banyak merawat anggota keluarga yang menderita stroke yaitu Tahun sebanyak 10 responden (33,3%) sedangkan golongan umur paling sedikit dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke yaitu pada umur Tahun dan umur Tahun sebanyak responden (6,7%) Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Aloei Saboe Kota Gorontalo diperoleh distribusi responden berdasarkan pendidikan terakhir digolongkan menjadi 4 tingkatan pendidikan yang dapat dilihat pada tabel 4. berikut ini : Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Jumlah No Pendidikan Terakhir SD SMP SMA Perguruan Tinggi Total n % 33,3 10,0 40,0 16,7 100 Tabel 4. diatas menunjukan bahwa frekuensi tingkat pendidikan terakhir responden yang tertinggi dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke adalah SMA sebanyak 1 responden (40,0%), sedangkan tingkat pendidikan yang paling sedikit dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke adalah adalah SMP yaitu 3 responden (10,0%) Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Aloei Saboe Kota Gorontalo diperoleh distribusi responden berdasarkan pekerjaan terdiri dari tidak bekerja dan bekerja yang dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini :

5 No 1 Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Ruang Neuro RSUD. Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo Jumlah Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja Total n % 46,7 53,3 100 Tabel 4.3 diatas menunjukan bahwa frekuensi anggota keluarga yang memiliki pekerjaan lebih banyak jumlahnya dari pada frekuensi anggota keluarga yang tidak bekerja. Jumlah anggota keluarga yang bekerja sebanyak 16 responden (53,3%), sedangkan anggota keluarga yang tidak bekerja sebanyak 14 responden (46,7%) Distribusi Responden Berdasarkan hubungan dengan klien Aloei Saboe Kota Gorontalo diperoleh distribusi responden berdasarkan hubungan dengan klien terdiri dari pasangan hidup (Suami/ Istri), anak dan orangtua yang dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini : Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan dengan Klien di Ruang Neuro RSUD. Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo Jumlah No Hubungan dengan klien 1 3 Pasangan hidup Anak orangtua Total n % 46,6 53,3-100 Tabel 4.4 menunjukkan bahwa anggota keluarga yang sering merawat anggota keluarganya adalah anak dari klien yang menderita stroke sebanyak 16 responden (53,3%), dan tidak terdapat responden orangtua Distribusi Responden Berdasarkan Umur dan Tingkat Aloei Saboe Kota Gorontalo diperoleh distribusi responden berdasarkan umur dan tingkat kecemasan dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini : Tabel 4.5 Distribusi antara Umur dengan Tingkat dalam Merawat Anggota Keluarga yang Menderita Stroke

6 Tingkat Golongan Umur (Tahun) Tidak cemas ringan Sedang Berat Berat Sekali/ panik n % n % n % n % n % , ,1 8, Berdasarkan tabel 4.5 tersebut menunjukan tingkat kecemasan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke yang mendominasi adalah kecemasan sedang sebanyak 4 responden ( 57,1% ) pada golongan umur 4 30 Tahun Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan dan Tingkat Aloei Saboe Kota Gorontalo diperoleh distribusi responden berdasarkan pendidikan dan tingkat kecemasan dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini : Tabel 4.6 Distribusi antara Pendidikan dengan Tingkat dalam Merawat Anggota Keluarga yang Menderita Stroke Tingkatan Pendidikan Terakhir Tidak cemas ringan Sedang Berat Berat Sekali/ panik n % n % n % n % n % SD SMP 1 33, ,

7 SMA 16,6 16, ,6 0 0 Perguruan Tinggi Berdasarkan tabel 4.6 diatas menunjukan bahwa tingkat kecemasan keluarga yang tertinggi dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke yang dilihat dari pendidikan terakhir adalah pendidikan SD dengan tingkat kecemasan berat sekali/ panik yang dialami oleh responden (0%) Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan dan Tingkat Aloei Saboe Kota Gorontalo diperoleh distribusi responden berdasarkan pekerjaan dan tingkat kecemasan dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut ini : Tabel 4.7 Distribusi antara Pekerjaan dengan Tingkat dalam Merawat Anggota Keluarga yang Menderita Stroke Tingkatan Pekerjaan Tidak cemas Kecemasa n ringan Sedang Berat Berat Sekali/ panik n % n % n % n % n % Tidak Bekerja 14,3 3 1,4 3 1,4 4 8,6 14,3 Bekerja 3 18,7 5 31, Berdasarkan tabel 4.7 diatas menunjukan bahwa frekuensi terbanyak keluarga yang tidak bekerja dan merawat anggota keluarganya yang menderita stroke adalah 4 responden (8,6%) dengan tingkat kecemasan berat, sedangkan frekuensi terbanyak keluarga yang bekerja dan sering merawat anggota keluarga yang menderita stroke adalah 8 responden (50%) dengan tingkat kecemasn sedang Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan Klien dengan Tingkat Aloei Saboe Kota Gorontalo diperoleh distribusi responden berdasarkan hubungan klien dengan tingkat kecemasan dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut ini :

8 Tabel 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan Klien dengan Tingkat dalam Merawat Anggota Keluarga yang Menderita Stroke Tingkatan Hubungan dengan Klien Pasangan Hidup Tidak cemas Kecemasa n ringan Sedang Berat Berat Sekali/ panik n % n % n % n % n % 4 13,3 4 13,3 5 16,6 1 3,3 - - Anak 1 3,3 4 13, ,6 Orangtua Berdasarkan tabel 4.8 diatas menunjukan bahwa tingkat kecemasan keluarga yang tertinggi dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke dilihat dari hubungan dengan klien yang lebih merasakan cemas adalah Anak klien Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Hasil jawaban responden berdasarkan 14 gejala kecemasan dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke digolongkan dalam tingkat kecemasan yang diperoleh dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat dalam Merawat Anggota Keluarga yang Menderita Stroke Jumlah No Tingkat Tidak Cemas Ringan Sedang Berat Berat Sekali/ panik Total n % 16,6 6,6 36,6 13,3 6,6 100 Berdasarkan tabel 4.9 diatas menunjukan bahwa frekuensi terbanyak yang mengalami kecemasan dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke

9 yaitu kecemasan sedang yang dialami oleh 11 responden (36,6%), dan frekuensi responden yang terendah mengalami kecemasan adalah kecemasan berat sekali/ panik yang hanya dirasakan oleh responden (6,6%) Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan pada Kuisioner Aloei Saboe Kota Gorontalo diperoleh hasil jawaban responden dalam pengisian kuisioner dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut ini : Tabel 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Pertanyaan pada Kuisioner N o pertanyaan Gejala Gejala n % 1 Perasaan Cemas Ketegangan 3 Ketakutan 4 Gangguan Tidur Gangguan kecerdasan Perasaan depresi (murung) Gejala somatik atau fisik (otot) Firasat buruk 15 50,0 Takut akan pikiran sendiri 0 66,6 Mudah Tersinggung 7 3,3 Merasa Tegang 13 43,3 Lesu 13 43,3 Tidak Bisa Istiraahat 73,3 Mudah terkejut 10 3,3 Mudah menangis 9 30,0 Gemetar 6 0,0 Gelisah 14 46,4 Ketakutan pada gelap 9 30,0 Ditinggal sendiri 1 70,0 Ketakutan pada orang asing - - Ketakutan pada kerumunan orang banyak - - Terbangun malam hari 73,3 Tidur tidak nyenyak 19 63,3 Bangun dengan lesu 5 16,6 Mimpi buruk 6,6 Sukar konsentrasi 17 56,6 Sering bingung 14 46,6 Daya ingat buruk 6 0,0 Hilangnya minat 1 3,3 Sedih 1 70,0 Bangun tidur dini 3 10,0 Perasan berubah-rubah tiap hari 16 53,3 Nyeri otot 73,3 Kaku 6 0,0 Kedutan otot 1 3,3 Suara tidak stabil 8 6,6

10 N o pertanyaan Gejala Gejala n % 8 Gejala sensori Gejala kardiovaskuler Gejala respiratori Gejala gastrointestinal Gejala Urogenital Gejala autonomi Tingkah laku responden Tinitus ( telinga berdenging) 6,6 Penglihatan kabur 11 36,6 Muka merah/ pucat 9 30,0 Merasa lemas 5 83,3 Denyut jantung cepat 11 36,6 Nyeri atau sakit di dada 19 63,3 Rasa lesu atau lemas seperti mau pingsan 13 43,3 Rasa tertekan atau sempit di dada 8 6,6 Sering menarik nafas 17 56,6 Nafas pendek atau sesak 11 36,6 Perasaan tercekik 7 3,3 Sulit menelan 10 33,3 Perut melilit 5 16,6 Rasa penuh atau kembung - - Mual 17 56,6 Muntah 6,6 BAB Lembek 4 13,3 Sukar BAB 4 13,3 Kehilangan BB 11 36,6 Sering kencing 4 80,0 Tidak dapat menahan air seni 4 13,3 Tidak datang bulan 7 3,3 Darah haid berlebihan 9 30,0 Darah haid sedikit - - Mulut kering 14 46,6 Muka merah - - Mudah berkeringat 0 66,6 Kepala pusing 4 80,0 Gelisah 14 46,6 Jari gemetar 4 80,0 Muka tegang 9 30,0 Nafas pendek dan cepat - - Muka merah - - Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil dari pembagian kuisioner, gejala yang banyak dirasakan oleh anggota keluarga yang menderita stroke adalah pertanyaan tentang gejala sensori sebanyak 83,3% yaitu klien sering merasakan lemas.

11 3. PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo yang tidak mengalami kecemasan sebanyak 5 responden (16,6%), kecemasan ringan 8 responden (6,6%), kecemasan sedang 11 responden (36,6%), kecemasan berat 4 responden (13,3%), kecemasan berat sekali/ panik responden (6,6%). Berdasarkan pengamatan peneliti bahwa kecemasan sedang yang banyak dirasakan oleh 11 responden disebabkan karena anggota keluarga yang dirawat dalam kondisi yang menurun tetapi, responden sebelumnya pernah merawat anggota keluarga yang menderita stroke. Hasil pembagian kuisioner dengan menggunakan HARS yang berisi 14 pertanyaan, yang lebih banyak dicentang adalah pertanyaan tentang gejala sensori sebanyak 83,3% yaitu klien sering merasakan lemas saat merawat anggota keluarga yang menderita stroke. Responden merasakan lemas karena responden meluangkan waktu sepanjang hari dalam merawat anggota keluarganya yang menderita stroke. Keluarga akan mengalami cemas ketika anggota keluarganya mengalami sakit yang harus dirawat di rumah sakit. Pasien yang dirawat di Rumah sakit dalam waktu yang lama akan lebih membuat cemas. Hal ini karena mereka takut akan kematian, kecacatan atau biaya yang banyak. Semua stressor ini menyebabkan keluarga jatuh pada kondisi krisis dimana mekanisme koping yang digunakan menjadi tidak efektif dan perasaan menyerah atau apatis dan kecemasan akan mendominasi perilaku keluarga Gambaran kecemasan dilihat dari umur responden Berdasarkan penelitian peneliti tentang tingkat kecemasan yang dilakukan di Ruangan Neuro RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo yang ditinjau dari umur responden didapatkan presentasi tingkat kecemasan yang banyak dialami oleh keluarga yang merawat anggota keluarga yang menderita stroke adalah kecemasan sedang sebanyak 4 responden (57,1%) pada golongan umur 4 30 tahun. Berdasarkan asumsi peneliti bahwa tingkat kecemasan responden dipengaruhi oleh umur, karena semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan berfikir seseorang akan lebih matang. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Na im (010) bahwa individu yang memiliki kematangan kepribadian akan lebih sukar mengalami kecemasan, sebab individu mempunyai adaptasi yang besar terhadap stressor, sedangkan individu yang kepribadian tidak matang lebih peka terhadap rangsangan sehingga sangat mudah mengalami kecemasan. Dan menurut Feist (009) semakin bertambahnya umur kematangan psikologis semakin baik. penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Syarifah Taufik di Ruangan Mawar RSU Undata Palu tahun 008 didapatkan hasil pada umur < 9 tahun lebih banyak mengalami kecemasan berat/ panik yaitu 83,3%, sedangkan pada umur 9 tahun yang mengalami kecemasan berat yaitu 50%.

12 3... Gambaran kecemasan dilihat dari tingkat pendidikan terakhir responden Berdasarkan penelitian peneliti tentang tingkat kecemasan yang dilakukan di Ruangan Neuro RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo yang ditinjau dari pendidikan terakhir responden didapatkan tingkat kecemasan keluarga yang tertinggi dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke adalah pendidikan SD dengan tingkat kecemasan berat sekali/ panik yang dialami oleh responden (0%). Menurut asumsi peneliti, kecemasan seseorang dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan kepada anggota keluarga dengan tingkat pendidikan terakhir SD bahwa responden salah dalam memahami tentang penyakit yang diderita oleh klien. Mereka berfikir penyakit stroke adalah penyakit yang sangat parah dan dapat menyebabkan kematian. Sedangkan pada responden yang tingkat pendidikannya yang lebih tinggi dari SD tidak merasakan kecemasan berat sekali/ panik, hal ini disebabkan seseorang dengan pendidkan tinggi akan lebih paham tentang informasi yang diberikan terutama informasi tentang keadaan pasien yang sedang dirawat. Kuncoroningrat (1999) mengatakan pendidikan kesehatan merupakan usaha kegiatan untuk membantu individu, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan kemampuan baik pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk mencapai hidup yang optimal. Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi, sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Hasil penelitian sebelumnya bahwa pada tingkat pendidikan tinggi ( SMA) lebih banyak mengalami kecemasan berat yaitu 63,3%, sedangkan pada tingkat pendidikan rendah (< SMA) yang mengalami kecemasan berat sekali/ panik yaitu 6,5% Gambaran kecemasan dilihat dari pekerjaan responden Berdasarkan penelitian peneliti tentang tingkat kecemasan yang dilakukan di Ruangan Neuro RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo yang ditinjau dari pekerjaan responden bahwa frekuensi terbanyak keluarga yang tidak bekerja dan merawat anggota keluarganya yang menderita stroke adalah 4 responden (8,6%) dengan tingkat kecemasan berat, sedangkan frekuensi terbanyak keluarga yang bekerja dan sering merawat anggota keluarga yang menderita stroke adalah 8 responden (50%) dengan tingkat kecemasn sedang. Setelah di lakuakan pendekatan dan wawancara kepada responden yang tidak bekerja, responden merasa cemas akan penyakit yang dialami oleh keluarganya tersebut. Karena waktu dalam menjaga dan merawat anggota keluarga lebih terfokus pada anggota keluarganya tersebut. Serta sering memikirkan tentang biaya perawatan kelurga yang menderita stroke. keadaan ini yang mempengaruhi kecemasan keluarga karena keluarga tidak memiliki penghasilan yang tetap. Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Narbuko (00) bahwa pekerjaan merupakan kegiatan utama atau penghasil utama dalam kehidupan manusia. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Syarifah taufik (008) bahwa responden yang tidak bekerja lebih banyak mengalami kecemasan berat yaitu 81,3%, sedangkan responden yang bekerja menagalmi kecemasan berat yaitu 4,9%. Diperoleh hasil bahwa seorang keluarga yang tidak bekerja lebih banyak

13 waktu dalam menjaga keluarga yang sakit dan pikirannya tersebut terpusat dengan keluarga yang sakit Gambaran kecemasan dilihat dari hubungan dengan klien Berdasarkan penelitian peneliti yang dilakukan di Ruangan Neuro RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo tentang tingkat kecemasan keluarga yang tertinggi dalam merawat anggota keluarga yang menderita stroke dilihat dari hubungan dengan klien yang lebih merasakan cemas adalah Anak klien. Menurut hasil penelitian, menunjukan bahwa pada saat mendengarkan keputusan dokter mengenai diagnosis anggota keluarga yang dirawat, yang paling merasakan cemas adalah Anak klien. Hal ini disebabkan hubungan antara orangtua dan anak yang begitu dekat sehingga anak merasakan tingkat kecemasan yang tinggi terhadap keadaan orangtuanya. Sedangkan ketika stroke menyerang pasangan hidup hanya berpengaruh pada perannya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya ketika stroke menyerang istri, suami akan berfikir tentang mengasuh anak, dan menggantikan semua pekerjaan rumah tangga yang dilakukan oleh istrinya sebelum sakit. IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tentang tingkat kecemasan keluarga yang merawat anggota keluarga yang menderita stroke di Ruangan Neuro RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo, didapatkan bahwa masih banyak anggota keluarga yang cemas dalam merawat anggota keluarganya yang menderita stroke. yang paling banyak dialami adalah kecemasan sedang sebanyak 11 responden (36,6%), hal ini disebabkan karena anggota keluarga sebelumnya belum pernah merawat anggota keluarga yang menderita stroke. 4.. SARAN Berdasarkan kesimpulan tersebut maka ada beberapa hal yang dapat disarankan oleh peneliti antara lain sebagai berikut : 1. Bagi institusi RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo Meningkatkan program pelayanan kesehatan bukan saja kepada pasien, tetapi juga kepada anggota keluarga terutama kepada anggota keluarga yang sering merawat keluarganya.. Bagi Perawat Lebih meningkatkan mutu pelayanan khususnya dalam menangani pasien dan keluarga dengan memberikan penyuluhan kesehatan 3. Bagi Anggota Keluarga Diharapkan kepada anggota keluarga jangan terlalu terlalu cemas dalam merawat anggota keluarganya yang menderita stroke karena dengan adanya kecemasan dari keluarga maka akan mempengaruhi fisiologi dari pasein yang dirawat.

14 DAFTAR PUSTAKA Andarmoyo, sulistiyo. 01. Keperawatan Keluarga Konsep Teori, Proses dan Praktik Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Arbi, 008. Penyakit-penyakit di Masa Tua. Jakarta: EGC Atkkinson Rita dkk, 00. Pengantar Psikologi. Jakarta: Interaksara. Goldszmidt Adrian, 011. Esensial stroke. Jakarta: EGC Hawari Dadang, 001. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hidayat,a.azis, 011. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta Selatan: Salemba Medika Lumbantobing, S. M, 003. Stroke Bencana Peredaran Darah di Otak. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Mansjoer, Arif dkk, 000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Murwani, Arita, 010. Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Fitratama Price, Sylvia dkk, 003. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC Setiadi, 013. Konsep dan Praktik Penulisan Riset keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu Soeharto, Iman, 004. Serangan Jantung Dan Stroke Hubungannya Dengan Lemak dan Kolestrol Edisi Kedua. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Stuart, G.W dan Sundeen, S.J., Keperawatan Jiwa Edisi 3. Jakarta: EGC Taufik Syarifah, 008. Gambaran Tingkat Keluarga Pasien Stroke yang Dirawat Di Ruang Mawar. Skripsi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Palu. ( http// -Keluarga-Pasien-Stroke-Yang-Dirawat-Di-Ruang-Mawar)

LAMPIRAN. Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER. 1. Jenis Kelamin : 2. Usia : Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A)

LAMPIRAN. Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER. 1. Jenis Kelamin : 2. Usia : Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) LAMPIRAN Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER DATA UMUM RESPONDEN NOMOR PIN: 1. Jenis Kelamin : 2. Usia : Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) Silakan anda memberi tanda di kolom isi sesuai

Lebih terperinci

Lembar Persetujuan Responden

Lembar Persetujuan Responden Lampiran 1 Lembar Persetujuan Responden Saya yang bernama Sri Lestari Mei Donna Siregar/ 1102334 adalah Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia

Lebih terperinci

Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS)

Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS) 61 Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS) Nomor Responden : Nama Responden : Tanggal Pemeriksaan : Skor : 0 = tidak ada 1 = ringan 2 = sedang 3 =

Lebih terperinci

Kata Pengantar. Jawaban dari setiap pernyataan tidak menunjukkan benar atau salah, melainkan hanya pendapat dan persepsi saudara/i belaka.

Kata Pengantar. Jawaban dari setiap pernyataan tidak menunjukkan benar atau salah, melainkan hanya pendapat dan persepsi saudara/i belaka. LAMPIRAN Kata Pengantar Melalui kuesioner ini, kami dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha bermaksud untuk melakukan penelitian mengenai Derajat kecemasan pada siswa kelas XI SMA Santa

Lebih terperinci

LAMPIRAN KUESIONER DATA UMUM RESPONDEN NOMOR PIN :

LAMPIRAN KUESIONER DATA UMUM RESPONDEN NOMOR PIN : 11 LAMPIRAN Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER DATA UMUM RESPONDEN NOMOR PIN : 1. Jenis Kelamin : 2. Usia : Hamilton Rating Scale for Anxiety ( HRS-A) Silahkan Anda memberikan tanda di kolom isii

Lebih terperinci

Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS)

Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS) Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS) Nomor Responden : Nama Responden : Tanggal Pemeriksaan : Skor : 0 = tidak ada 1 = ringan 2 = sedang 3 = berat

Lebih terperinci

Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS)

Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS) Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS) Nomor Responden : Nama Responden : Tanggal Pemeriksaan : Skor : 0 = tidak ada 1 = ringan 2 = sedang 3 = berat

Lebih terperinci

LEMBAR INFORMASI PENELITIAN. akan melakukan penelitian dengan judul Gambaran Tingkat Kecemasan Wanita

LEMBAR INFORMASI PENELITIAN. akan melakukan penelitian dengan judul Gambaran Tingkat Kecemasan Wanita LAMPIRAN Lampiran 1. Lembar Informasi Penelitian LEMBAR INFORMASI PENELITIAN Assalammu laikum Wr Wb Saya, Sitti Nursanti dari Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Lebih terperinci

LAMPIRAN A. Cara Pengukuran Kecemasan

LAMPIRAN A. Cara Pengukuran Kecemasan LAMPIRAN A. Cara Pengukuran Kecemasan a. HARS Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran tingkat kecemasan menurut alat ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Skala HARS merupakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS. atau ancaman atau fenomena yang sangat tidak menyenangkan serta ada

BAB II TINJAUAN TEORITIS. atau ancaman atau fenomena yang sangat tidak menyenangkan serta ada BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Kecemasan 1. Defenisi Kecemasan adalah keadaan yang menggambarkan suatu pengalaman subyektif mengenai ketegangan mental kesukaran dan tekanan yang menyertai suatu konflik atau

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara Lampiran 2 LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Judul : Tingkat kecemasan keluarga pada pasien operasi di Rumah Sakit Umum Daerah Langsa Peneliti : Dedi Nim : 101121098 Alamat : Fakultas Keperawatan

Lebih terperinci

LEMBAR PENGANTAR RESPONDEN

LEMBAR PENGANTAR RESPONDEN KUESIONER LEMBAR PENGANTAR RESPONDEN Kepada: Yth. Bapak/Ibu/Saudara responden Dengan hormat, yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Setiyoningsih NIM : A11000647 Alamat : Ambalkumolo, 01/03, Buluspesantren,

Lebih terperinci

LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN

LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN Lampiran 1 LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN Saya yang benama Eva Sartika Simbolon sedang menjalani Program Pendidikan D-IV Bidan Pendidik di Fakultas Keperawatan. Untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan

Lebih terperinci

LEMBAR PERSTUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN

LEMBAR PERSTUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN Lampiran 4 LEMBAR PERSTUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN Judul Penelitian : Hubungan Tingkat Kecemasan Klien Pre Operasi Dengan Gangguan Pola Tidur Di Ruang Kenanga RS. PELNI Jakarta Tahun 2010 Peneliti

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada, Yth, Calon Responden di Tempat. Responden yang saya hormati, Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama : Nurul Maulidah NIM : 20120320079 Adalah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS DATA

BAB IV HASIL PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS DATA BAB IV HASIL PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS DATA A. Hasil Pengolahan Data Pengolahan data dalam suatu penelitian merupakan suatu hal yang sangat penting dan mutlak untuk dilakukan. Data yang terkumpul dari

Lebih terperinci

Lampiran 1 Lembar Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 1 Lembar Permohonan Menjadi Responden Lampiran 1 Lembar Permohonan Menjadi Responden Kepada Yth. Calon Responden Penelitian Di Tempat Dengan hormat, Saya sebagai mahasiswa Program DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kelurahan Wongkaditi, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo. Rumah Sakit ini

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kelurahan Wongkaditi, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo. Rumah Sakit ini BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Merupakan Rumah Sakit Umum (RSU) terbesar yang ada di Wilayah Provinsi

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

BAB III PROSEDUR PENELITIAN 27 BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode merupakan cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Tujuan penelitian adalah untuk mengungkapkan, menggambarkan dan menyimpulkan hasil

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU - ILMU KESEHATAN PROGAM STUDI ILMU KEPERAWATAN KUESIONER PENELITIAN

UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU - ILMU KESEHATAN PROGAM STUDI ILMU KEPERAWATAN KUESIONER PENELITIAN LAMPIRAN - LAMPIRAN SURAT DARI KAMPUS.. Lampiran 2 UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU - ILMU KESEHATAN PROGAM STUDI ILMU KEPERAWATAN KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN TENTANG

Lebih terperinci

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA KLIEN PRA BEDAH MAYOR DI RUANG RAWAT INAP MEDIKAL BEDAH GEDUNG D LANTAI 3 RUMAH SAKIT UMUM CIBABAT CIMAHI

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA KLIEN PRA BEDAH MAYOR DI RUANG RAWAT INAP MEDIKAL BEDAH GEDUNG D LANTAI 3 RUMAH SAKIT UMUM CIBABAT CIMAHI GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA KLIEN PRA BEDAH MAYOR DI RUANG RAWAT INAP MEDIKAL BEDAH GEDUNG D LANTAI 3 RUMAH SAKIT UMUM CIBABAT CIMAHI Ibrahim N. Bolla ABSTRAK Tindakan pembedahan adalah suatu tindakan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN Dalam Bab ini akan dipaparkan metode atau cara untuk mendapatkan data penelitian. Metode penelitian terdiri dari tipe penelitian, variabel penelitian, definisi operasional

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Komunikasi Terapeutik BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan atau dirancang untuk tujuan terapi. Seorang penolong atau perawat

Lebih terperinci

Informed Consent. kecemasan dengan intensitas nyeri pada pasien nyeri punggung.

Informed Consent. kecemasan dengan intensitas nyeri pada pasien nyeri punggung. Lampiran 1 Informed Consent Saya yang bernama Hanum Maftukha Ahda adalah mahasiswa Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Saat ini, saya sedang melakukan

Lebih terperinci

LAMPIRAN I INSTRUMEN PENELITIAN

LAMPIRAN I INSTRUMEN PENELITIAN LAMPIRAN I INSTRUMEN PENELITIAN PENJELASAN TENTANG PENELITIAN Judul Penelitian : Pengaruh Progressive Muscle Relaxation terhadap Kecemasan Pasien Penyakit Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa Peneliti

Lebih terperinci

TINGKAT KECEMASAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI SERANGAN STROKE DI RUANG STROKE RUMAH SAKIT FAISAL MAKASSAR

TINGKAT KECEMASAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI SERANGAN STROKE DI RUANG STROKE RUMAH SAKIT FAISAL MAKASSAR 892 TINGKAT KECEMASAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI SERANGAN STROKE DI RUANG STROKE RUMAH SAKIT FAISAL MAKASSAR * Yourisna Pasambo * Dosen Tetap Akademi Keperawatan Sandi Karsa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Kecemasan a. Pengertian Kecemasan Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam Bab ini akan dikemukan hal hal yang berkaitan dengan hasil penelitian yaitu gambaran penelitian, tahap pelaksanaan penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. gagal bisa juga berakibat buruk. Hal ini sangat tergantung kapan, bagaimana,

BAB I PENDAHULUAN. gagal bisa juga berakibat buruk. Hal ini sangat tergantung kapan, bagaimana, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam segala proses kehidupan komunikasi merupakan hal paling pokok. HAM (Hubungan Antar Manusia) bisa terjadi tidak lain karena adanya sistem komunikasi. Berbagai

Lebih terperinci

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN GANGGUAN KARDIOVASKULAR YANG DIRAWAT DIRUANGAN ALAMANDA TAHUN 2015

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN GANGGUAN KARDIOVASKULAR YANG DIRAWAT DIRUANGAN ALAMANDA TAHUN 2015 HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN GANGGUAN KARDIOVASKULAR YANG DIRAWAT DIRUANGAN ALAMANDA TAHUN 2015 Fransisca Imelda Ice¹ Imelda Ingir Ladjar² Mahpolah³ SekolahTinggi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Kecemasan a. Pengertian Kecemasan Kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan, yang ditandai dengan kekhawatiran, keprihatinan, rasa takut yang kadang kita

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN TEORI 7 BAB II TINJAUAN TEORI A. Tinjauan Teori 1. Pasien Kritis a) Definisi pasien kritis Pasien kritis menurut AACN (American Association of Critical Nursing) didefinisikan sebagai pasien yang berisiko tinggi

Lebih terperinci

Study Tingkat Kecemasan Penderita Diabetes Mellitus Di Poli Rawat Jalan Puskesmas Ngawi Purba Kabupaten Ngawi

Study Tingkat Kecemasan Penderita Diabetes Mellitus Di Poli Rawat Jalan Puskesmas Ngawi Purba Kabupaten Ngawi Study Tingkat Kecemasan Penderita Diabetes Mellitus Di Poli Rawat Jalan Puskesmas Ngawi Purba Kabupaten Ngawi Oleh : Nurul Hidayah, S.Kep.Ns ABSTRAK Latar belakang : Diabetes mellitus adalah penyakit kronis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nasional (Susenas) tahun 2010 di daerah perkotaan menurut kelompok usia 0-4

BAB I PENDAHULUAN. Nasional (Susenas) tahun 2010 di daerah perkotaan menurut kelompok usia 0-4 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka kesakitan anak di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Nasional (Susenas) tahun 2010 di daerah perkotaan menurut kelompok usia 0-4 tahun sebesar 25,8%, usia

Lebih terperinci

MEKANISME KOPING BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN KEMOTERAPI DI RUANG KEMOTERAPI RS URIP SUMOHARJO LAMPUNG

MEKANISME KOPING BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN KEMOTERAPI DI RUANG KEMOTERAPI RS URIP SUMOHARJO LAMPUNG MEKANISME KOPING BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN KEMOTERAPI DI RUANG KEMOTERAPI RS URIP SUMOHARJO LAMPUNG Asri Rahmawati, Arena Lestari, Ferry Setiawan ABSTRAK Salah satu penyakit yang menjadi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebenarnya, secara linguistik kata yang lebih tepat adalah menocease yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebenarnya, secara linguistik kata yang lebih tepat adalah menocease yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Menopause 1. Pengertian Menopause berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata men yang berarti bulan dan kata peuseis yang berarti penghentian sementara. Sebenarnya, secara linguistik

Lebih terperinci

dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.

dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tingkat Kecemasan Remaja yang Menjalani Perawatan (Hospitalisasi) Remaja 1. Kecemasan Kecemasan merupakan suatu sinyal yang menyadarkan dan mengingatkan adanya bahaya yang mengancam

Lebih terperinci

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA YANG DILAKUKAN HOME CARE

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA YANG DILAKUKAN HOME CARE HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA YANG DILAKUKAN HOME CARE DI WILAYAH KERJA RUMAH SAKIT RAJAWALI CITRA BANGUNTAPAN BANTUL NASKAH PUBLIKASI Disusun Oleh : AYU PUTRI UTAMI NIM

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA KONSEP

BAB III KERANGKA KONSEP BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah formulasi atau simplikasi dari kerangka teori/teori-teori yang mendukung penelitian tersebut. Kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Operasi adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan,

BAB 1 PENDAHULUAN. Operasi adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Operasi adalah tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa semua pembedahan yang dilakukan adalah pembedahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membuka dinding perut dan dinding uterus (Sarwono, 2005). Sectio caesarea

BAB I PENDAHULUAN. membuka dinding perut dan dinding uterus (Sarwono, 2005). Sectio caesarea BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Operasi atau pembedahan merupakan salah satu bentuk terapi pengobatan dan merupakan upaya yang dapat mendatangkan ancaman terhadap integritas tubuh dan jiwa

Lebih terperinci

Melki Usman 1. Sunarto Kadir. Iqbal D. Husain Jurusan Keperawatan. Fakultas FIKK. Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK

Melki Usman 1. Sunarto Kadir. Iqbal D. Husain Jurusan Keperawatan. Fakultas FIKK. Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN KELUARGA PASIEN (Studi Penelitian di Ruang ICU RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo) Melki Usman 1. Sunarto Kadir. Iqbal D. Husain

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kecemasan adalah suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kecemasan adalah suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Kecemasan 1.1 Pengertian Kecemasan Kecemasan adalah suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diagnosa menderita kanker leher rahim (Groom,2007). Kanker leher rahim ini menduduki

BAB I PENDAHULUAN. diagnosa menderita kanker leher rahim (Groom,2007). Kanker leher rahim ini menduduki BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan salah satu kanker yang paling sering menyerang perempuan dan menjadi ancaman berbahaya bagi para perempuan di

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan. perubahan fisik seperti meningkatnya tekanan darah.

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan. perubahan fisik seperti meningkatnya tekanan darah. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Kazdin (2000) dalam American Psychological Association mengatakan kecemasan merupakan emosi yang ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan perubahan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. operasi melalui tiga fase yaitu pre operasi, intraoperasi dan post. kerja dan tanggung jawab mendukung keluarga.

BAB 1 PENDAHULUAN. operasi melalui tiga fase yaitu pre operasi, intraoperasi dan post. kerja dan tanggung jawab mendukung keluarga. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani. Tindakan operasi

Lebih terperinci

PENGARUH ORIENTASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA SEKOLAH DI BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT BHAKTI WIRA TAMTAMA SEMARANG. Eni Mulyatiningsih ABSTRAK

PENGARUH ORIENTASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA SEKOLAH DI BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT BHAKTI WIRA TAMTAMA SEMARANG. Eni Mulyatiningsih ABSTRAK PENGARUH ORIENTASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA SEKOLAH DI BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT BHAKTI WIRA TAMTAMA SEMARANG 6 Eni Mulyatiningsih ABSTRAK Hospitalisasi pada anak merupakan suatu keadaan krisis

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KEMAMPUAN MOBILISASI DINI IBU POST SCDI DETASEMEN KESEHATAN RUMAH SAKIT TK IV KEDIRI

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KEMAMPUAN MOBILISASI DINI IBU POST SCDI DETASEMEN KESEHATAN RUMAH SAKIT TK IV KEDIRI HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KEMAMPUAN MOBILISASI DINI IBU POST SCDI DETASEMEN KESEHATAN RUMAH SAKIT TK IV 05.07.02 KEDIRI Mulazimah Akademi Kebidanan PGRI Kediri mulazimah@gmail.com ABSTRAK Latar

Lebih terperinci

KECEMASAN (ANSIETAS) Niken Andalasari

KECEMASAN (ANSIETAS) Niken Andalasari KECEMASAN (ANSIETAS) Niken Andalasari 1. Definisi Kecemasan mengandung arti sesuatu yang tidak jelas dan berhubungan dengna perasaan yang tidak menentu dan tidak berdaya (stuart & sundeeen,1995). Kecemasan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pekerja kesehatan rumah sakit yang terbanyak adalah perawat yang berjumlah

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pekerja kesehatan rumah sakit yang terbanyak adalah perawat yang berjumlah BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit adalah salah satu tempat pelayanan yang beroperasi 24 jam di mana pelayanan tersebut dilaksanakan oleh pekerja kesehatan rumah sakit. Pekerja kesehatan rumah

Lebih terperinci

PEDOMAN WAWANCARA DAN OBSERVASI

PEDOMAN WAWANCARA DAN OBSERVASI PEDOMAN WAWANCARA DAN OBSERVASI Pedoman Wawancara 1. Latar belakang berkaitan dengan timbulnya kecemasan - Kapan anda mulai mendaftar skripsi? - Bagaimana perasaan anda ketika pertama kali mendaftar skripsi?

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Deskripsi Umum Lokasi Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Deskripsi Umum Lokasi Penelitian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Umum Lokasi Penelitian Rumah Sakit Harapan Ibu Purbalingga yang merupakan salah satu Rumah Sakit Swasta kelas D milik Yayasan Islam Bani Shobari.

Lebih terperinci

Endah Tri Wijayanti 1) 1 Prodi DIII Keperawatan, UN PGRI Kediri.

Endah Tri Wijayanti 1) 1 Prodi DIII Keperawatan, UN PGRI Kediri. Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Mekanisme Koping Mahasiswa Semester II D-III Keperawatan Dalam Menghadapi Praktek Klinik Keperawatan Di Universitas Nusantara PGRI Kediri Endah Tri Wijayanti 1) 1 Prodi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. negara-negara maju penyebab kematian karena kanker menduduki urutan kedua

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. negara-negara maju penyebab kematian karena kanker menduduki urutan kedua 15 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit kanker kini telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang kompleks di Indonesia, yang perlu ditanggulangi secara menyeluruh, terpadu, efisien, ekonomis

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. subyek, nama subyek, usia subyek dan subyek penelitian berjumlah 70 sampel ibu

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. subyek, nama subyek, usia subyek dan subyek penelitian berjumlah 70 sampel ibu 43 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Subyek Gambaran umum subyek penelitian ini diperoleh dari data yang di isi subyek, nama subyek, usia subyek dan subyek penelitian berjumlah 70

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun. 1. Pengertian Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun. 1. Pengertian Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun 1. Pengertian Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun Kecemasan diartikan sebagai perasaan tidak menentu, panik, takut tanpa mengetahui apa yang ditakutkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kadar gula darah, dislipidemia, usia, dan pekerjaan (Dinata, dkk., 2015). Angka

BAB I PENDAHULUAN. kadar gula darah, dislipidemia, usia, dan pekerjaan (Dinata, dkk., 2015). Angka 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke merupakan penyakit akibat gangguan peredaran darah otak yang dipengaruhi oleh banyak faktor resiko yang terdiri dari hipertensi, peningkatan kadar gula darah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kanker merupakan penyakit yang menakutkan karena berpotensi menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. Kanker merupakan penyakit yang menakutkan karena berpotensi menyebabkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker merupakan penyakit yang menakutkan karena berpotensi menyebabkan kematian. Dewasa ini tehnologi telah berkembang pesat dalam mendiagnosis dan menangani penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. gangguan kesuburan atau infertilitas (Agarwa et al, 2015). Infertil merupakan

BAB I PENDAHULUAN. gangguan kesuburan atau infertilitas (Agarwa et al, 2015). Infertil merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bagi pasangan suami istri memiliki keturunan merupakan hal yang di sangat diharapkan. Namun, sebanyak 15% pasangan didunia memiliki gangguan kesuburan atau infertilitas

Lebih terperinci

Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Stroke Yang di Rawat di Ruang ICU Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta ABSTRACT

Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Stroke Yang di Rawat di Ruang ICU Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta ABSTRACT Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Stroke Yang di Rawat di Ruang ICU Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta Joko Raharjo 1, Wahyu Rima Agustin 2), Ika Subekti Wulandari 2) ABSTRACT Anxuiety is a response to

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan kapan saja (Muttaqin, 2008). Corwin (2009) menyatakan dalam Buku Saku

BAB I PENDAHULUAN. dan kapan saja (Muttaqin, 2008). Corwin (2009) menyatakan dalam Buku Saku BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke atau gangguan peredaran darah otak (GPDO) merupakan penyakit neurologis yang sering dijumpai dan harus ditangani secara cepat dan tepat. Stroke merupakan kelainan

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT KECERDASAN SPIRITUAL DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI

HUBUNGAN TINGKAT KECERDASAN SPIRITUAL DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI JURNAL EDU HEALTH, VOL. 1, N0. 1, SEPTEMBER 2010 33 HUBUNGAN TINGKAT KECERDASAN SPIRITUAL DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI Kurniawati, Utomo Heri S, Abstrak Operasi merupakan tindakan medik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. [CDC], 2013). Data dari Riset Kesehatan Dasar ( 2013), prevalensi. gangguan mental emosional (gejala -gejala depresi

BAB I PENDAHULUAN. [CDC], 2013). Data dari Riset Kesehatan Dasar ( 2013), prevalensi. gangguan mental emosional (gejala -gejala depresi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kecemasan merupakan jenis gangguan mental paling sering terjadi di dunia dengan prevalensi lebih dari 15%, dengan persentase wanita lebih banyak dibandingkan pria

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang

BAB II TINJAUAN TEORI. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang BAB II TINJAUAN TEORI A. Kecemasan 1. Definisi Kecemasan Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai keluhan

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS I. PENGKAJIAN PASIEN ANSIETAS 1. DEFINISI Ansietas adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu

Lebih terperinci

HUBUNGAN KOMUNIKASI TEURAPETIK BIDAN DENGAN KECEMASAN IBU BERSALIN DI RUANG KEBIDANAN DAN BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN PIDIE

HUBUNGAN KOMUNIKASI TEURAPETIK BIDAN DENGAN KECEMASAN IBU BERSALIN DI RUANG KEBIDANAN DAN BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN PIDIE Jurnal Kesehatan Masyarakat HUBUNGAN KOMUNIKASI TEURAPETIK BIDAN DENGAN KECEMASAN IBU BERSALIN DI RUANG KEBIDANAN DAN BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN PIDIE RITA YUSNITA Mahasiswi D-III Kebidanan

Lebih terperinci

KISI-KISI PERTANYAAN UNTUK RESPONDEN

KISI-KISI PERTANYAAN UNTUK RESPONDEN 70 Lampiran KISI-KISI PERTANYAAN UNTUK RESPONDEN Variabel indikator Jumlah Soal Tingkat. Keadaan Depresi perasaansedih 2. Persaan bersalah 3. Bunuh diri 4. Gangguan pola tidur (initial insomnia) 5. Gangguan

Lebih terperinci

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN REMAJA KELAS VII DAN VIII YANG MENGALAMI PUBERTAS DI SMP BUDI LUHUR CIMAHI. Lela Juariah

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN REMAJA KELAS VII DAN VIII YANG MENGALAMI PUBERTAS DI SMP BUDI LUHUR CIMAHI. Lela Juariah GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN REMAJA KELAS VII DAN VIII YANG MENGALAMI PUBERTAS DI SMP BUDI LUHUR CIMAHI Lela Juariah ABSTRAK Masa remaja merupakan masa seorang anak mengalami pubertas dan mulai melakukan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang bekerja sama dengan ikatan saling berbagi dan kedekatan emosi dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang bekerja sama dengan ikatan saling berbagi dan kedekatan emosi dan BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Peran Keluarga 1.1 Pengertian Keluarga Friedman (1992) mendefinisikan keluarga sebagai dua atau lebih individu yang bekerja sama dengan ikatan saling berbagi dan kedekatan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. experimental dengan pendekatan pretest and posttest with control group

BAB III METODE PENELITIAN. experimental dengan pendekatan pretest and posttest with control group BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat quasy experimental dengan pendekatan pretest and posttest with control group design. Penelitian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN TEORI BAB II TINJAUAN TEORI A. Kecemasan 1. Pengertian Kecemasan merupakan pengalaman manusia yang universal, suatu respon emosional yang tidak baik dan penuh kekhawatiran. Suatu rasa yang tidak terekspresikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kecemasan 1. Definisi Menurut Stuart (2006) definisi kecemasan merupakan kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak ditemui

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak ditemui BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak ditemui pada wanita. Setiap tahun lebih dari 250.000 kasus baru kanker payudara terdiagnosa di Eropa dan kurang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Ruang ICU merupakan ruang rawat di Rumah sakit yang dilengkapi dengan staf dan peralatan khusus untuk merawat dan mengobati pasien

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kematian nomor dua di dunia setelah penyakit jantung. Di tahun 2008, stroke dan

BAB I PENDAHULUAN. kematian nomor dua di dunia setelah penyakit jantung. Di tahun 2008, stroke dan 1 BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Data epidemiologis menunjukkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia setelah penyakit jantung. Di tahun 2008, stroke dan penyakit cerebrovaskular

Lebih terperinci

DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... iii DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... vii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR DIAGRAM...

DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... iii DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... vii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR DIAGRAM... DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... i ii UCAPAN TERIMA KASIH... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... vii DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR DIAGRAM... ix DAFTAR LAMPIRAN... x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Lebih terperinci

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN TB PARU YANG DI RAWAT DIRUANG RAWAT INAP G 4 TROPIK RSUD. PROF. DR.

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN TB PARU YANG DI RAWAT DIRUANG RAWAT INAP G 4 TROPIK RSUD. PROF. DR. HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN TB PARU YANG DI RAWAT DIRUANG RAWAT INAP G 4 TROPIK RSUD. PROF. DR. H. ALOE SABOE KOTA GORONTALO Tugiyem Markuat (1) NIM : 841410118

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengertian antara pemberi informasi dengan penerima informasi. mendapatkan pengetahuan (Taylor, 1993 dalam Uripni, dkk. 2003).

BAB I PENDAHULUAN. pengertian antara pemberi informasi dengan penerima informasi. mendapatkan pengetahuan (Taylor, 1993 dalam Uripni, dkk. 2003). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi adalah proses pertukaran informasi atau proses yang menimbulkan dan meneruskan makna atau arti, berarti dalam komunikasi terjadi penambahan pengertian antara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut WHO (2001) stroke adalah tanda tanda klinis mengenai gangguan

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut WHO (2001) stroke adalah tanda tanda klinis mengenai gangguan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut WHO (2001) stroke adalah tanda tanda klinis mengenai gangguan fungsi serebral secara fokal ataupun global yang berkembang dengan cepat, dengan gejala berlangsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (2010) diketahui komplikasi kehamilan secara nasional dialami oleh 6,5% ibu hamil. Ibu melahirkan dengan cesaria adalah 15,3%.

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN PRESTASI UJI OSCA I PADA MAHASISWA AKPER PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN PRESTASI UJI OSCA I PADA MAHASISWA AKPER PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN PRESTASI UJI OSCA I PADA MAHASISWA AKPER PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA Ida Untari STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta ABSTRAK Peningkatan mutu pendidikan merupakan tuntunan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hospitalisasi 1. Pengertian Hospitalisasi merupakan suatu proses karena alasan berencana atau darurat yang mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi

Lebih terperinci

Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia ISSN : e-issn : Vol. 2, No 2 Februari 2017

Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia ISSN : e-issn : Vol. 2, No 2 Februari 2017 Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia ISSN : 251-089 e-issn : 258-1398 Vol. 2, No 2 Februari 2017 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA KECEMASAN PADA LANJUT USIA DI PANTI WREDHA WELAS ASIH

Lebih terperinci

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin. angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik.

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin. angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Pengertian Kecemasan Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Menurut Freud (dalam Alwisol, 2005:28) mengatakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Penelitian 1. Gambaran Lokasi Penelitian Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr.Amino Gondohutomo Semarang (RSJD Dr.Amino Gondohutomo Semarang) yang beralamat di Jl. Brigjend

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. adalah penelitian rancangan Survei Analitik dimana mengetahui hubungan antara

BAB III METODE PENELITIAN. adalah penelitian rancangan Survei Analitik dimana mengetahui hubungan antara BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi & Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo pada bulan Mei tahun 2013. 3.2. Jenis dan Rancangan Penelitian Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam otak yang mengakibatkan kematian sel otak. dan ada riwayat keluarga yang menderita stroke (Lewis, 2009).

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam otak yang mengakibatkan kematian sel otak. dan ada riwayat keluarga yang menderita stroke (Lewis, 2009). BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan besar dalam kehidupan modern saat ini. Jumlah penderitanya semakin meningkat setiap tahun, tidak hanya menyerang usia tua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. riskan pada perkembangan kepribadian yang menyangkut moral,

BAB I PENDAHULUAN. riskan pada perkembangan kepribadian yang menyangkut moral, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak usia sekolah mempunyai berbagai resiko yang lebih mengarah pada kecerdasan, moral, kawasan sosial dan emosional, fungsi kebahasaan dan adaptasi sosial.

Lebih terperinci

FORMULIR PERSETUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN

FORMULIR PERSETUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN 35 Lampiran 1 FORMULIR PERSETUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mobilisasi Dini Pada Ibu Post Partum Normal dan Sectio Sesarea di Rumah Sakit Umum H. Abdul Manan Simatupang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi penelitian Penelitian akan dilaksanakan di SDN Gegerkalong Girang 2, di ruangan kelas VI. Pengambilan data akan dilakukan pada hari senin

Lebih terperinci

HOSPITAL MAJAPAHIT Vol 2. No. 1, Februari 2010

HOSPITAL MAJAPAHIT Vol 2. No. 1, Februari 2010 TINGKAT KECEMASAN PADA IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III DALAM MENGHADAPI PERSALINAN DI RSUD PROF. Dr. SOEKANDAR MOJOSARI MOJOKERTO Dr. Rahmi Syarifatun Abidah Dosen Politeknik Kesehatan Majapahit Mojokerto

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dismenore primer merupakan nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada

BAB I PENDAHULUAN. Dismenore primer merupakan nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dismenore primer merupakan nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata. Sifat rasa nyeri ialah kejang berjangkit-jangkit, biasanya terbatas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau lebih. Kelumpuhan adalah cacat paling umum dialami oleh penderita stroke.

BAB I PENDAHULUAN. atau lebih. Kelumpuhan adalah cacat paling umum dialami oleh penderita stroke. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Merujuk pada istilah medis stroke didefinisikan sebagai gangguan saraf permanen akibat terganggunya peredaran darah ke otak, yang terjadi sekitar 24 jam atau lebih.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian pustaka 2.1.1 Kehamilan 2.1.1.1 Definisi Kehamilan adalah suatu keadaan mengandung embrio atau fetus di dalam tubuh, setelah bertemunya sel telur

Lebih terperinci

Jurnal Kesehatan Kartika 1

Jurnal Kesehatan Kartika 1 TINGKAT KECEMASAN PADA IBU PRIMIGRAVIDA DI POLIKLINIK KANDUNGAN RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG Oleh : Tri Ardayani STIK Immanuel Bandung ABSTRAK Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dengan data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika. Pada

BAB III METODE PENELITIAN. dengan data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika. Pada BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif yang analisisnya dengan data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika. Pada dasarnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar. manusia yang termasuk kedalam kebutuhan dasar dan juga

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar. manusia yang termasuk kedalam kebutuhan dasar dan juga BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang termasuk kedalam kebutuhan dasar dan juga universal karena umumnya semua individu dimanapun ia berada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyesuaikan diri yang mengakibatkan orang menjadi tidak memiliki. suatu kesanggupan (Sunaryo, 2007).Menurut data Badan Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. menyesuaikan diri yang mengakibatkan orang menjadi tidak memiliki. suatu kesanggupan (Sunaryo, 2007).Menurut data Badan Kesehatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Chaplin,gangguan jiwa adalah ketidakmampuan menyesuaikan diri yang mengakibatkan orang menjadi tidak memiliki suatu kesanggupan (Sunaryo, 2007).Menurut data

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap kanker payudara seperti dapat melakukan sadari (periksa payudara

BAB I PENDAHULUAN. terhadap kanker payudara seperti dapat melakukan sadari (periksa payudara 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker payudara merupakan salah satu penyakit kronik yang paling banyak ditemukan pada wanita dan ditakuti karena sering menyebabkan kematian. Angka kematian akibat

Lebih terperinci