Oleh : Sitor Situmorang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Oleh : Sitor Situmorang"

Transkripsi

1 Menelusuri Sejarah sebagai Dialog Terus- Menerus dengan Diri Sendiri dan Sesama Oleh : Sitor Situmorang Judul yang agak panjang dari ceramah saya di sarasehan ini adalah pinjaman dari serorang sejarahwan Belanda, aklau tak salah ingat dari Prof.Geyl. Maaf saya peminat sejarah, namun bukan seorang pakar yang hafal kepustakaan yang tersedia. Pokoknya judul tsb adalah semacam rumus yang sekiranya cukup memuaskan untuk membantu pendekatan kita menghindari sikap mutlakmutlakan, apalagi super-benar, dalam mengemukakan pandangan dan pendapat pribadi kita terhadap sejarah, atau salah satu aspek sejarah bangsa kita, yang menjadi pusat perhatian kita menyambut sarasehan yang diprakarsai oleh generasi baru Indonesia, yang ingin melengkapi penghayatannya tentang sejarah pada umumnya, dan sejarah nasional khususnya untuk lebih mengerti posisi dalam persoalan-persoalan kehidupan bersama. Dari surat undangan kepada saya, saya menyimpulkan saya diharapkan tampil sebagai pembicara, katakanlah generasi yang tua, yang mungkin dianggap tergolong sebagai saksi-sejarah. Anggapan demikian mungkin terkait dengan status saya, yang terkait dengan timbulnya kelompok warga bangsa yang dikategorikan sebagai eks- Tahpol barangkali, yang diharapkan dapat sumbang bahan penjelasan dari dunia pengalaman sebagai eks-tahpol. Pertanyaan yang disampaikan kepada saya terurai dalam 3 kalimat, yang saya sampaikan sekarang dalam susunan kata-kata saya sendiri : 1. Apa yang paling menyakitkan dan meninggalkan luka batin bagi pribadi anda dan keluarga dalam tragedi tsb. (maksudnya) rangkaian kejadian dan kemelut sebagai akibat langsung atau tidak langsung dari G-30-S, khususnya diakhir tahun 1965, permulaan 1966 dst 2. Bagaimana Anda mengolah pengalaman pahit di masa itu dan sesudahnya kemudian. 3. Pelajaran apa yang dapat ditarik bagi generasi baru dari peristiwa tsb? Dalam bacaan pertama pertanyaan dalam 3 kalimat tsb mengundang saya untuk memberikan semacam kesaksian, dan kesaksian dari pengalaman pribadi pula. Pembacaan demikian untuk saya memberatkan pilihan, yaitu bagaimana saya akan membungkus cerita memenuhi harapan, yang juga mengundang pembicara-pembicara lain baik sebagai pakar maupun yang tergolong saksi, dalam komposisi yang tentu dimaksud menciptakan pergabungan dan perimbangan antar berbagai pendekatan terhadap materi sarasehan. Pendekatan dari sudut pengalaman pribadi bagi saya kurang menarik, karena mengandung kemungkinan bahaya subjektivisme, bahkan kecengengan yang sia-sia, yang bakal tak berguna untuk tujuan sarasehan kita ini. FORUM SARASEHAN MAWAS DIRI PERISTIWA SEPTEMBER Leuven 1

2 Lagi pula, sebagai eks-tahpol pengalaman saya tak mungkin sepenuhnya representatif, kecuali hanya ingin sekedar bahan perbandingan bagi para pengamat akhli, yang menekuni kandungan sejarah umum di dalamnya. Itu adalah tugas para pakar, terutama sejarahwan generasi baru dan penelitianpenelitian yang mendalam dan bersifat komprehensif, tentang segala aspek sejarah kurun waktu yang terkait dalam usaha mencapai pengalaman (dan pendalaman) sejarah yang lebih utuh, dengan menghindari ilusi fungsi ilmu sejarah yang berpretensi kebenaran mutlak, melainkan sebagai sebuah dialog yang terus menerus, di antara sesama, dan dialog dengan diri sendiri sebagai individu dalam sejarah bangsa, sebagai persekutuan yang didasari wawasan kehidupan sosial, lagi pula yang lebih dimokratis dan beradab, tanpa perlu terjebak dalam ilusi tercapainya Utopia yang bagaimanapun, namun harus selalu diusahakan menangkisnya dengan menggunakan budhi dan nalar, mampu mengatasi konflik dan perpecahan, dan permusuhan berupa perang saudara tertutup, yang melembaga dalam sistem politik dan perangkat hukum, pemutlakan dan pengabadian permusuhan antara sesama, menutup pintu rekonsiliasi dengan sikap mutlak-mutlak. Kisah dan pengalaman pribadi Dengan pengantar sekadarnya seperti di atas, saya akan mencoba menyusun cerita saya, menurut pembabakan garis besarnya, antara tahun nahas peristiwa dahsyat 1965/1966. Cerita saya batasi pada ringkasan kesimpulan pribadi, terpusat pada keinginan manusiawi untuk menggali hikmah atau pelajaran dari pengalaman. Saya mulai dengan rumus hikmah. Saya sebagai nara sumber, tak bisa mewakili pengalaman eks-tahpol lain yang begitu banyak jumlahnya dan tersebar luas di seluruh tanah air, khusus di periode 1965 s/d 1979, periode masa pengalaman sebagai tahanan politik, tanpa peradilan, menjalani masa penjara bertahun-tahun, belasan tahun, dalam jumlah besar (menurut catatan berjumlah sampai 1.2 juta), terhitung yang disekap di penjara-penjara terutama di Jawa dan Sumatra, dan mereka yang kemudian di- manfaat -kan, alias dibuang ke Pulau Buru sampai tahun 1979, terpisah dari keluarga, dengan persyaratan yang paling minim dari perawatan kesehatan dan makanan. Kalau saya diharapkan akan menggambarkan pengalaman mereka itu, tentu saja saya tidak mampu. Tapi apakah kita lantas menganggap pengalaman mereka itu seperti tak pernah terjadi, untuk dilupakan? Tentu tidak dan tak mungkin. Demi hati-nurani, demi peri-kemanusiaan (lebih kurang abstrak), demi hukum dan demi keadilan. Dalam pengertian sejarah, maupun pengertian panggilan perikemanusiaan kita sendiri tak beda antara mereka yang objektif menjadi korban, dan mereka yang menjadi pelaku, sebagai pelanggar hukum dan keadilan. Pelajaran yang dapat ditimba justeru harus bermula dari usaha pembenahan oleh para saksi (korban atau aktor penindas), yang masih hidup dengan traumanya masing-masing, dan terus hidup dalam perang dingin abadi antara sini dan sana, sebagai warisan dari gejolak Perang Dingin global, yang ikut menjadi faktor penentu peristiwa Sept.65 dan buntutnya, termasuk malapetaka yang belakangan muncul dan masih belum teratasi, yaitu masalah Timor-Timur, sebagai bencana perikemanusiaan yang belum selesai. FORUM SARASEHAN MAWAS DIRI PERISTIWA SEPTEMBER Leuven 2

3 Faktor trauma Apabila harus dijawab sekarang di tahun 2000, 35 tahun setelah peristiwanya, bagi diri sendiri, tentang cara saya sebagai individu menempuh krisis kolektif tsb, jelas bahwa faktor jarak, waktu, sudah membantu saya untuk membebaskan diri dari beban yang disebut masa lalu, apalagi yang disebut trauma, demi panggilan kehidupan seterusnya, dengan ke masa depan dan tak terpaku pada derita luka di masa lalu. Namun, saya ulangi bahwa saya tak dapat menduga pada diri mereka, termasuk anggota keluarga saya sendiri yang selama ini mengalami dampaknya secara sosial, di tengah masyarakat, dalam suasana pengucilan struktural, lewat peraturan dan pengawasan terhadap keluarga tahpol /eks-tahpol. Semoga faktor waktu juga pada tiap diri mereka membuahkan kearifan meneruskan hidupnya dalam serba kesulitan yang masih melanjut buat kebanyakan, walaupun oleh sementara orang mungkin dianggap sudah tak relevan lagi diperhatikan. Namun kenangan yang tertutup atau ditutup-tutupi itu akhirnya muncul kembali ke permukaan, dengan tumbangnya hambatan-hambatan psikologis, sisa ketakutan dan self-sensor, buah intimidasi halus atau kasar, dari kekuasaan selama ini, muncul sebagai bagian dari arus yang kita sambut sebagai gerakan Reformasi, sejak 1998, disusul Pemilu 1999, yang belum sempurna tercapai, dan tak mungkin dicapai tanpa pemikiran, perjuangan lanjut, melalui tahap-tahap maju-mundur barangkali. Tahapan yang kita masuki sekarang ialah yang oleh seorang pengamat asing disebut pertarungan antara Power, truth and memory, atau The battle for Indonesia history after Soeharto. The battle for history Istilah battle for history adalah sebuah metafora yang tak berlebihan, yang kita harapkan kiranya jangan melanjut sebagai pertempuran fisik, melainkan sebagai usaha ikhlas memulai penelusuran sejarah, sebuah dialog, dipelopori oleh pakar-pakar kita yang terbaik, yang memiliki integritas, untuk berani memandu dialog bangsa menjadi dialog terbuka, dalam konteks tujuan akhir membina demokrasi dan rule of Law. Termasuk partisipasi para pakar sosiologi, politokologi bangsa kita, dengan atau tanpa melibatkan pengamatpengamat ilmuwan-ilmuwan asing yang berminat memperkaya wawasan dialog, karena persoalan yang kita hadapi sebagai bangsa, peristiwa 65 bukan hanya memiliki dimensi nasional tapi juga internasional, termasuk usaha penyelesaiannya di masa datang. Versi formal atau resmi Dialog sejarah yang kita harapkan bukan tidak diusahakan tetapi karena jelas menyangkut posisi kekuasaan dan legitimasi politik, bagi yang sedang berkuasa selama ini, selalu tersendat-sendat, berjalan fragmentaris, bahkan hampir secara gerilya dan cenderung dipandang oleh kekuasaan sebagai kekuatan subversif yang membahayakan stabilitas bermuatan makar. Yang berlaku sejak 65, terutama sejak resminya berdiri kekuasaan Order Baru / Soeharto, di Maret 1968 sampai jatuhnya di tahun 1998, tafsiran dan pegangan yang syah, sudah tertuang dalam berbagai dokumen penting, seperti berbagai ke-tetapan MPRS, yang dilahirkan oleh MPRS sejak 1966, yang kemudian membuahkan sejumlah dokumen operasional, berupa ketentuan dari lembaga resmi dari Orde Baru, dalam bentuk pegangan menurut faham dan kuasa sekuriti, sebagaimana dikeluarkan oleh Lemhanas, Menteri Dalam Negeri FORUM SARASEHAN MAWAS DIRI PERISTIWA SEPTEMBER Leuven 3

4 dan terakhir terbitan Sekneg, di tahun 1994, dengan kata pengantar oleh Moerdiono, sekretaris negara. Terbitan tersebut berjudul lengkap Gerakan 30 September Sub judul : Pemberontakan Partai Komunis Indonesia, Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya. Tulisan tersebut mengandung versi resmi peristiwa baik prolog (sejarah yang mendahuluinya) ; kejadiannya (aksi G-30-S) dan epilognya (penumpasannya yang menyusul). Jadi buku tersebut berupa dokumen sejarah atas nama negara, versi Orde Baru. Jadi kalau kita mau tahu apa itu G-30-S, prolog peristiwanya sendiri dan epilognya, sebagai warga negara seharusnya menjadikannya sebagai pegangan baik untuk penulisan sejarah, maupun untuk memahami kejadian itu sebagai dasar untuk menerima dan mendukung semua kebijakan Orde Baru, dan tunduk pada ketentuan berbagai UU, yang jadi produk pemerintahan Orde Baru khususnya yang mengenai kekuasaan Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, menurut aturan-aturan dan berbagai undang-undang yang pelaksanaannya dipegang oleh berbagai lembaga sekuriti dalam struktur pemerintahan Orde Baru sejak 1968, Kopkamtib, kemudian Bakostranas, yang eksistensinya berstatus legal dan konstitusional lewat berbagai TAP-MPR-S, , sebagai dokumen kebijakan politik tertinggi, yang mutlak diganti oleh kekuasaan masa sekarang dengan program Reformasi, yang kita sambut dengan Pemilu 1999, dan Pemerintahan baru, di bawah Presiden dan Wkl-Presiden baru. Reformasi dan Hukum Permulaan tahun ini, dunia politik parlementer, bersifat multi-party hasil Pemilu 1999 yang menimbulkan perbaikan, kebebasan bereksperimen demokrasi kembali, setelah terpasung selama 32 tahun mengalami kontroversi. Kontroversi tsb terpicu oleh sebuah ide yang dilontarkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, Gus Dur, dalam sebuah acara rutin di TV, yaitu ide yang merujuk pada tragedi di masa lalu, akhir 1965, permulaan 1966, buntut peristiwa G-30-S dan penumpasan nya, peristiwa dasyat berupa pembunuhan massal atas ratusan ribu manusia, atau lebih, yang terlibat sebagai komunis atau simpatisan komunis, di Jawa, Bali dan Sumatra, sebuah tragedi yang terus menghantui ingatan orang Indonesia, terutama keluarga korban, begitu pula agaknya orang-orang yang bertindak sebagai pembunuh, dengan traumanya masing-masing yang berkelanjutan sampai sekarang, namun tertutup dan ditutup-tutupi dengan alasan dan kepentingan masing-masing. Gus Dur yang kebetulan Presiden, atau Presiden yang kebetulan Gus Dur menggunakan kesempatan acara, melontarkan ide untuk menyatakan permintaan maaf atas tragedi besar di masa lalu itu, disusul dengan lontaran ide mengandung saran supaya salah satu dari berbagai TAP-MPR-S Orde Baru terpenting yang menghantarkan Soeharto pada kekuasaannya, yaitu TAP- MPR_S No:XXV/MPR- S/1966, berisi ketentuan Pembubaran PKI dan dasar-dasar pertimbangannya. Kontroversi Tgl 5 Maret saya menerima fax, dari Harian Media Indonesia-Jakarta, meminta wawancara berdasar 7 pertanyaan. Ringkasnya Media-Indoensia bersama tanggapan dari orang-orang lain, ingin memperoleh pendapat saya, sekitar apa yang disebut Kontroversi sekitar ide Presiden Abdurrahman Wahid, tentang usul pencabutan TAP-MPR-S No. XXV/MPR-S/1966 dan permintaan maaf oleh Gus Dur atas tragedi pembunuhan massal. Jawaban spontan Teks 7 pertanyaan wawancara M. Indonesia itu mendorong saya ikut menyambut gagasan Gus Dur. Tanpa pikir panjang saya mengemukakan sambutan dan FORUM SARASEHAN MAWAS DIRI PERISTIWA SEPTEMBER Leuven 4

5 persetujuan saya terhadap lontaran ide Gus Dur tsb. Persetujuan saya jelas sebuah spontanitas pribadi, yang saya kaitkan dengan gagasan Reformasi. Artinya : saya simpulkan, tanpa memikir-mikir segala detail prosedur politik dan hukum yang masih harus ditempuh, bahwa ide tsb cocok dan akan membantu usaha Reformasi Total, khususnya Reformasi hukum sebagai komponen utama dari ide reformasi. Sebulan kemudian saya menerima kliping-kliping pers yang memuat teks polemik yang rupanya terjadi di dalam kontroversi. Polemik itu berbentuk suatu Surat Terbuka, tulisan sastrawan Goenawan Mohmad teralamat Pramoedya Ananta Toer, yang kemudian membalasnya lewat wawancara, Surat Terbuka G. M. dapat dibaca dalam Maj. Tempo 9 April, sedang jawaban P.A.T dengan judul Saya bukan Mandela, di Maj. Tempo, 16 April. G.M. dalam Surat Terbukanya mengulangi dukungannya terhadap ide dan sikap Gus Dur, sambil mengemukakan argumentasi dan pertimbangannya, menghargai nilai-nilai moral dan peri-kemanusiaan, sebagaimana dia lihat melatarbelakangi pernyataan dan sikap Gus Dur. Sambil lalu, G.M. juga mengambil sikap Nelson Mandela sebagai contoh-teladan dalam penyelesaian tragedi Apartheid di Afrika-Selatan. Dari pihaknya P.A.T. memberi reaksi tiga bidang : 1. Bidang penanggungan pribadi dan keluarga, sebagai tahpol/buangan 2. Bidang prosedur hukum dan politik untuk memungkinkan gagasan minta maaf dll, yaitu harus lewat DPR/MPR 3. Bidang kepercayaan. Dalam wawancara Tempo, PAT menyatakan, ia menolak ïde Gus Dur, sebagai basa-basi saja, lagi pula, kata PAT : Saya sudah kehilangan kepercayaan. Saya tidak percaya Gus Dur. Dia juga seperti juga Goenawan Mohamad, adalah bagian dari Orde Baru. Ikut mendirikan rezim, dikatakannya pula saya tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tidak terkecuali para intelektualnya ; mereka selama ini memilih diam dan menerima fasisme. Mereka semua ikut bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan (yang dilakukan) Orde Baru. Bertolak dari polemik ini, saya sendiri mengulangi dukungan saya terhadap lontaran ide Gus Dur yang memicu polemik diantara dua tokoh sastra kita itu. Suatu Pengantar Pengharapan Sebagaimana dapat diduga, ide Gus Dur menimbulkan reaksi, sejenis reflex, tanggapan pro dan anti, mengingat situasi krisis yang begitu kompleks dan luas daftar urutan priorita penyelesaiannya. Gaya Gus Dur sebagai intelektual dan gaya kepemimpinannya sudah sejak Gus Dur memulai tugas barunya mendapat sorotan, secara terbuka dan demokratis, sesuai keinginannya sendiri sejak menerima tugasnya sebagai Presiden. Bersama parlemen hasil Pemilu, saya termasuk orang yang mengharapkan betul bahwa Gus Dur kiranya dalam bekerjasama erat dengan parlemen berhasil mengantar bangsa ke peletakan dasar-dasar reformasi, di segala bidang. Sekalipun ide Gus Dur yang sekarang memancing kontroversi tersebut, misalnya belum termasuk prioritas utama, namun materi yang terkait dan prakarsa Gus Dur menyatakan permintaan maafnya saya nilai suatu pengantar pengharapan masa depan, bisa masuk agenda di Parlemen hasil Pemilu berikutnya, sebagai prakarsa Presiden baru bersama Parlemen baru pula FORUM SARASEHAN MAWAS DIRI PERISTIWA SEPTEMBER Leuven 5

6 Sementara itu, tak berarti bahwa masyarakat luas mesti pasif, berhenti membicarakan, mendalami secara terbuka dan demokratis berbagai aspek persoalan yang tersangkut, bukan hanya ide sebagaimana dilontarkan oleh Gus Dur, tapi meliputi dan menjangkau keseluruhan, pada hemat saya, melatarbelakangi pemikiran Gus Dur tsb. Lontaran ide Gus Dur, bagi saya merupakan sebuah pengantar pengharapan dalam pengagasan program dan strategi reformasi, yang tanpa demikian rasanya akan sia-sia. Di sini saya mengkaitkannya dengan kebutuhan mutlak, yaitu perlunya program dan strategi Reformasi Hukum sebagai bagian dari program dan strategi Reformasi Menyeluruh. Reformasi Hukum dan TAP MPR-S XXV/MPR-S/1966 Perlu kita secara ringkas menelusur berbagai TAP, yang dibuat oleh MPR-S di periode , yang merupakan dasar ke-presidenan Soeharto dan perrmulaan formal dan efektif dari kekuasaan Orde Baru, sampe berakhir secara formal pula dengan turunnya Soeharto dari tahta keprabuannya di tahun Di masa selama 32 tahun kekuasaannya, Soeharto berhasil menjabarkan semua klaim Orde Baru di bidang politik dan sejarah berdasarkan berbagai TAP, mengakhiri kekuasaan Presiden Soekarno dan struktur Orde Baru, secara ideologis, politik, bahkan secara total terpusat pada diri dalam mana Lembaga Eksekutif, Legislagif, Yudikatif, terpusat tali temalinya pada person-nya, terlasuk penguasaan media informasi. Semua itu didukung dengan produksi berbagai undang-undang. Kekuasaan formal diktator Soeharto sudah berakhir, kita memasuki tahap usaha Reformasi, namun perangkat UU-nya dan berbagai sisa lembarga-lembaga kenegaraan yang ditinggalkannya, yang selama ini dikondisikan melaksanakan kekuasaan tunggalnya, lagi pula pernah diisi dengan personalia yang langsung atau tidak langsung melewati tapisan seleksi akhir yang berada di tangannya sendiri. Situasi umum di lapangan demikianlah yang dihadapi oleh masyarakat umum, oleh rakyat pemegang kedaulatan. Yang baru ingin kita praktekkan lewat a.l. Parlemen, MPR hasil Pemilu murni, serta Presiden pilihan MPR-murni. Situasi lapangan memperlihatkan sebuah struktur, katakanlah peranti halus, berupa berbagai perundang-undangan, peraturan-peraturan pelaksanaan, di tangan personalia yang boleh dikatakan masih utuh, dengan mentalitas yang belum tentu mampu mereformasi diri sendiri, akibat pembenaran diri yang lazim dan praktek kekuasaan yang didasar sejumlah perangkat ampuh berupa berbagai TAP MPR-S bersejarah, tapi yang sejarahnya kini dimasa Reformasi, dapat dan perlu disoroti secara jujur, terbuka, objektif, dengan metoda dan sudut memandang para pakar hukum, sejarawan yang objektif, punya integritas, dilengkapi pula dengan suara serta kesaksian dari begitu banyak warga yang selama ini kehilangan haknya bersuara, bahkan untuk hidup wajar sebagai makluk sosial, akibat stigma dan pengucilan, yang langsung maupun tidak langsung dikondisikan oleh sejumlah perangkat UU Order Baru, yang dijiwai dan berlatarbelakang wawasan hukum serba-darurat, dalam kadar faham sekuriti berlebihan, serta kecurigaan dan apriori terhadap setiap ungkapan yang dipandang oposisi dan akhirnya menciptakan faham dan ideologi bahaya laten, sebagai stigma golongan tertentu, dan dilanggengkannya sebagai wawasan stabilitas-semu. FORUM SARASEHAN MAWAS DIRI PERISTIWA SEPTEMBER Leuven 6

7 Ironinya, kita juga menyaksikan betapa tokoh-tokoh besar yang tergolong pendiri dan pemegang saham Orde Baru, akhirnya ikut menjadi sasaran dan korban cekalan perangkat jaringan serba sekuriti Orde Baru. Sebagi penutup saya sebagai seorang saksi yang mengalami hidup sebagai Tahpol selama 8 tahun lebih, akan mencoba secara ringkas memajukan sumbangan untuk reformasi, khususnya reformasi hukum dalam konteks Lontaran Ide Gus Dur. Sumbangan Eks-Tahpol untuk Reformasi Hukum Di bidang reformasi hukum sebagai bagian vital dari reformasi menyeluruh, kita telah menyambut pembebasan berbagai orang hukuman, yang menjalani vonis hukuman badan, ada yang puluhan tahun, berdasar keputusan Mahmilub, kemudian berbagai orang terpenjara yang menjalani vonis Pengadilan di masa menjelang jatuhnya Soeharto berupa pengadilan, bermotivasi politik. Semua itu patut kita syukuri, namun tugas kita sekarang ialah untuk membantu menggali dan mengangkat suara penderitaan serta kelaliman yang masih tertutup atau ditutup-tutupi, berupa pelanggaran HAM, menyangkut aktivitas politik maupun korban yang hilang atau tewas, dan para korban kerusuhan yang direkayasa. Dari sarasehan itu kita sepantasnya mengheningkan cipta memperingati mereka sebagai korban kelaliman dan pelaksananya, dengan tekad membantu usaha pulihnya rule of Law, dalam rangka Demokrasi, dan Demokrasi dalam rangka Rule Of Law. Untuk itu, saya mengajukan beberapa usul sebagai berikut : 1. Supaya kita membantu terbentuknya sebuah Mahkamah Konstitusi yang mandiri, jadi bukan alat kekuasaan, di masa depan sejalan dengan usaha penyempurnaan UUD-RI, lewat penyesuaian. 2. Supaya dipertimbangkan oleh masyarakat ilmuwan tanah-air, terbentuknya LEMBAGA SEJARAH NASIONAL, yang bebas pula dari campur tangan eksekutif, dipelopori dan diisi oleh sejarahwan-sejarahwan kita, yang punya integritas pula, generasi baru yang dinilai mampu melakukan tugas ilmiahnya, bebas dari oportunisme demi kedudukan. 3. Supaya sarasehan ini membuat rumusan tentang sebuah lembaga pendamping Komnas HAM yang telah ada, yaitu sebuah Komnas Pencari Fakta perihal penyelamatan data dan dokumen berharga, yang dinilai penting sebagai bahan sejarah setiap bidang dan lembaga-lembaga resmi, berdasarkan UU Perlindungan Ke-Arsipan. Komnas HAM demikian dapat disebut Komnas Pencari Fakta, dokumen pertanggungjawaban petugas penegak/ hukum (polisi dan mereka yang bukan polisi, tapi terlibat dalam tindakan kepolisian dimana darurat ) Bahan yang terkumpul oleh Komnas Pencari Fakta tsb. menjadi data untuk : 1. Komnas HAM, yang sudah ada sekarang. 2. Untuk semua Fakultas Hukum / Universitas, sebagai bahan studi 3. Lembaga Sejarah Nasional (apabila sudah terkumpul dan diatur :) 4. Terbuka bagi orang-orang yang tersangkut dalam berbagai dokumen tsb. Usul ini saya tawarkan untuk didiskusikan. Motif pemikiran saya demikian bermula dalam penjara sebagai wishfull thinking, menghibur hati, dengan anganangan kalau nanti, sudah bebas, nanti kalau sudah bebas, (dan sekarang ini saya bebas) saya ingin mengunjungi semua pos pemeriksaan dimana saya mengalami interogasi-interogasi, tanpa surat penahan, tanpa surat tuduhan yang jelas, dan FORUM SARASEHAN MAWAS DIRI PERISTIWA SEPTEMBER Leuven 7

8 akhirnya juga tanpa berita-acara (proses verbal) demikianlah a.l. angan-angan saya. Tentu saya tak dapat memperoleh apa-apa. Tapi diantara sekian interogasi, yang saya alami, saya yakin mestinya ada catatan-catatan petugas, baik hasil interogasi maupun daftar perkara yang diperintahkan kepada interogator oleh atasannya untuk dilitsus (diselidiki khusus). Saya yakin misalnya mesti ada catatan luas oleh team terdiri dari 7 perwira intel, tapi yang tak pernah hasilnya disodorkan ke saya untuk diteken. Ingin sekali saya catatan demikian digali dan diangkat ke permukaan, sehingga bukan saya saja akhirnya dapat mengetahui sebabnya saya ditahan, tetapi ribuan, puluhan ribuan eks-tahpol dan keluarganya, sebagai haknya, dan sebagai bagian dari terapi bagi setiap orang untuk, memulihkan normalitas dalam hidupnya, sekaligus bahan pelajaran maha penting, bagi mahasiswa-mahasiswa calon penegak hukum dan hakim dalam masyarakat yang menghormati law dan rule of Law. Suatu waktu, setelah beberapa tahun dalam penjara, saya mengalami akibat hukum dan tata tertib penjara, dimana saya dimasukkan ke isolasi, di blok-n, yang disebut blok kapal selam, sejenis, penjara dalam penjara, tanpa sedikitpun penjelasan, disimpan selama 6 bulan sebagai hukuman. Itupun misalnya saya ingin tahu dan ingin mendengar sekarang ini. Keinginan saya itu bisa dikali beribu kali, berpuluh ribu kali bahkan berjuta ribu kali lipat dari hati manusia Indonesia sampe sekarang tanpa memperoleh jawaban itu. Ini pun harus bisa diungkap, dalam arti : Dimasukkan dokumen sebagai peringatan supaya kiranya jangan bisa terulang di negeri kita. Kaitan Rerformasi dan situasi international Pengharapan saya di atas ada baiknya dipandang dalam perpekstif internasional. Betapapun sulitnya tugas Reformasi, tetapi situasi internasional berkembang demikian rupa, yang membuka jalan bagi perintisan jalan baru dalam mengurusi kepentingan bangsa. Peristiwa 1965 tak terlepas dari situasi internasional, sebagai konteks masa itu, yang ditandai kecamuknya Perang Dingin, yang bersifat global dan regional, yang ikut menentukan dan menjadi dimensi Perang Dingin Dalam tujuan baru kita, segi ini kita serahkan kepada pakar dan politisi kita, untuk menimba hikmahnya sebagai pengalaman bangsa, sebagai bahan pembenahan hubungan internasional kita sesuai cita-cita Proklamasi. Masalah Timor Timur diantaranya salah satu masalah dalam mana Perang Dingin dulu memainkan peranannya, dengan akibat kesalahan fatal bagi bangsa kita, dalam menggapi proses dekolonisasi di Timor Timur, dan jelas terpengaruh perang Dingin, khususnya di tahun 1975, tahun menentukan dalam perang ASdan Vietnam, yang tahun itu berakhir dengan kekalahan AS sebagai agresor. Jauh sebelum itu ada pula Perang Korea, 1956, tapi yang sekarang hampir setengah abad kemudian, akhirnya, berkat suatu refleksi nasional, Korea dapat melangkah memasuki rekonsialisasi antara sesama bangsa-bangsa Korea dalam konteks Perkembangan hubungan yang disebut (engagement) alias real politik antar China dan AS, sekarang ini. Ada baiknya kita merenungkan perkembangan demikian dan menempatkan perspektif kebutuhan rekonsialisasi nasional kita sendiri menurut wawasan yang kita warisi dari Founding Fathers kita. Bagaimanapun juga lontaran ide Gus Dur saya pandang sesuai dengan wawasan founding fathers kita, berbentuk prinsip Pancasila, yaitu sebagai KERANGKA RUJUKAN etika bagi negara-bangsa kita, sebagai persekutuan politik yang didasari rasionalitas, akal FORUM SARASEHAN MAWAS DIRI PERISTIWA SEPTEMBER Leuven 8

9 budhi beradab, sebagai bingkai semangat kesatuan dan persatuan. Sayang selama 32 tahun kenyataan demikian dikaburkan dengan gerak retorika manipulatif dengan monopoli tafsirnya ala indoktrinasi P7, bertameng pensakralan tafsir penguasa sendiri. Reformasi hukum yang kita perlukan ialah yang akan memulihkan prinsipprinsip etika nasional, sebagai kerangka rujuk bagi setiap UU dan sebagai pegangan mutlak bagi tiap kita, khususnya bagi para petugas / pelaksana yang harus tunduk pada kontrol kedaulatan rakyat berbenduk Parlemen dan prinsip HAM, rule of law dan demokrasi. Sekian! Terima kasih! Sitor Situmorang Sastrawan Eks-Tahpol, Periode , di penjara Salemba Jakarta, tanpa proses pengadilan dan proses hukum Pensiunan terakhir dosen Bahasa Indonesia, di jurusan studi Bahasa dan Kebudayaan Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Leiden, , Anggota aktif PNI ( ), Ketua Umum LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional), sesuai gagasan S. Mangunsarkoro, almarhum, tokoh Taman Siswa, salah satu pendiri PNI Pasca-Proklamasi. Sitor Situmorang Paslaan 43, 7311, AJ Apeldoorn, Nederland. Tel./fax.(055) FORUM SARASEHAN MAWAS DIRI PERISTIWA SEPTEMBER Leuven 9

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN

UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN Oleh : Slamet Luwihono U ERGULIRNYA arus reformasi di Indonesia telah menghadirkan harapan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap warga negara

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PADA ACARA MALAM TIRAKATAN DALAM RANGKA PERINGATAN HUT KE-69 PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 Hari/tgl : Sabtu, 16 Agustus 2014 Pukul : 22.00 WIB

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2000 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2000 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2000 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PERAN SERTA MASYARAKAT DAN PEMBERIAN PENGHARGAAN DALAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI PRESIDEN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL Jakarta, 16 Oktober 2012 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini. MUKADIMAH STMIK AMIKOM YOGYAKARTA didirikan untuk ikut berperan dalam pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dibidang manajemen, teknologi, dan kewirausahaan, yang akhirnya bertujuan untuk memperoleh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Orde Baru lahir dari tekad untuk melakukan koreksi total atas kekurangan sistem politik yang

I. PENDAHULUAN. Orde Baru lahir dari tekad untuk melakukan koreksi total atas kekurangan sistem politik yang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Orde Baru lahir dari tekad untuk melakukan koreksi total atas kekurangan sistem politik yang telah dijalankan sebelumnya. Dengan kebulatan tekad atau komitmen

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

Trio Hukum dan Lembaga Peradilan

Trio Hukum dan Lembaga Peradilan Trio Hukum dan Lembaga Peradilan Oleh : Drs. M. Amin, SH., MH Telah diterbitkan di Waspada tgl 20 Desember 2010 Dengan terpilihnya Trio Penegak Hukum Indonesia, yakni Bustro Muqaddas (58), sebagai Ketua

Lebih terperinci

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Mukadimah Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM I. UMUM Pemilihan Umum merupakan perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan yang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA www.legalitas.org UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa anak adalah bagian dari generasi muda sebagai

Lebih terperinci

SURATKU BUAT RI 1-2: "Dua Harapan Agar Generasi Muda dapat Berkarya" (112)

SURATKU BUAT RI 1-2: Dua Harapan Agar Generasi Muda dapat Berkarya (112) Tretes, 20 Agustus 2009 Kepada Yth : Bpk Presiden RI beserta Wakil Di Tempat Dengan hormat, Sebelumnya saya menyampaikan selamat atas terpilihnya Bapak Presiden beserta Wakil untuk memimpin Bangsa Indonesia

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG

Lebih terperinci

BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA A. KONDISI UMUM Penghormatan, pengakuan, dan

Lebih terperinci

Tentang: TANDA KEHORMATAN SEWINDU ANGKATAN PERANG REPUBLIK INDONESIA. Indeks: TANDA KEHORMATAN SEWINDU ANGKATAN PERANG REPUBLIK INDONESIA.

Tentang: TANDA KEHORMATAN SEWINDU ANGKATAN PERANG REPUBLIK INDONESIA. Indeks: TANDA KEHORMATAN SEWINDU ANGKATAN PERANG REPUBLIK INDONESIA. Bentuk: Oleh: UNDANG-UNDANG (UU) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 30 TAHUN 1954 (30/1954) Tanggal: 14 SEPTEMBER 1954 (JAKARTA) Sumber: LN 1954/85; TLN NO. 657 Tentang: TANDA KEHORMATAN SEWINDU ANGKATAN

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA IKHTISAR PUTUSAN PERKARA NOMOR 100/PUU-XI/2013 TENTANG KEDUDUKAN PANCASILA SEBAGAI PILAR BERBANGSA DAN BERNEGARA Pemohon Jenis Perkara Pokok Perkara Amar Putusan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

(Analisis Isi 2014/2015) persyaratan. Sarjana S-1. Diajukan Oleh: A220110047

(Analisis Isi 2014/2015) persyaratan. Sarjana S-1. Diajukan Oleh: A220110047 MUATAN MATERI PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA DAN PELAKSANAANNYA DALAM PROSESS PEMBELAJARAN (Analisis Isi Buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk Siswa Kelas VIII Terbitan Kemendikbud

Lebih terperinci

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG

VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG VI. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS KELOMPOK MANTAN TKW DI DESA CIBAREGBEG Dalam bagian ini akan disampaikan faktor yang mempengaruhi kapasitas kelompok yang dilihat dari faktor intern yakni: (1) motivasi

Lebih terperinci

KATA-KATA BIJAK 2 TOKOH INDONESIA. A. Kata-kata Bijak KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

KATA-KATA BIJAK 2 TOKOH INDONESIA. A. Kata-kata Bijak KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) KATA-KATA BIJAK 2 TOKOH INDONESIA A. Kata-kata Bijak (Gus Dur) 1. "Betapa banyak hal-hal tragis/ menyedihkan terjadi karena kita tidak dapat membedakan antara mengetahui dan mengerti akan perjalanan hidup."

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK. Oleh: Muchamad Ali Safa at

PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK. Oleh: Muchamad Ali Safa at PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK Oleh: Muchamad Ali Safa at 1. Salah satu ancaman yang dihadapi oleh aktivis adalah jeratan hukum yang diterapkan dengan menggunakan

Lebih terperinci

Memaknai Pancasila sebagai Dasar Negara*

Memaknai Pancasila sebagai Dasar Negara* Memaknai Pancasila sebagai Dasar Negara* Sejak Sebelum merdeka Pancasila dirumuskan dan kemudian sehari setelah merdeka ditetapkan sebagai dasar negara. Keputusan itu diterima oleh semua pihak karena Pancasila

Lebih terperinci

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 S T U D I K A S U S Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 F R A N C I S I A S S E S E D A TIDAK ADA RINTANGAN HUKUM FORMAL YANG MENGHALANGI PEREMPUAN untuk ambil bagian dalam

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi manusia, jika ide pokok di dalam wacana tersebut tidak dipahami.

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi manusia, jika ide pokok di dalam wacana tersebut tidak dipahami. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk yang butuh akan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan diharapkan akan membawa manusia semakin baik. Hanya saja ilmu pengetahuan tidak akan diperoleh

Lebih terperinci

= Eksistensi KORPRI dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sejalan dengan amanat UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN)

= Eksistensi KORPRI dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sejalan dengan amanat UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) Tema = Eksistensi KORPRI dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sejalan dengan amanat UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) KORPRI Cilacap, Dekat, Merekat, dengan Prioritas

Lebih terperinci

Pilkada Langsung; Entry Point Dalam Menuju Good Governance

Pilkada Langsung; Entry Point Dalam Menuju Good Governance Pilkada Langsung; Entry Point Dalam Menuju Good Governance Akhir-akhir ini gaung reformasi dan atau demokrasi mulai ditabuh lagi dalam tataran strategis. Salah satu bentuknya adalah akan dilaksanakannya

Lebih terperinci

Sesuatu Yang Baik itu Berita

Sesuatu Yang Baik itu Berita Pengantar Penulis: Sesuatu Yang Baik itu Berita Ketika melihat berbagai aksi, membaca berbagai buku dan tulisan tentang Pak Harto - setelah ia lengser dari jabatan Presiden RI yang hanya memunculkan kelemahan

Lebih terperinci

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 melalui resolusi 217 A (III) Mukadimah Menimbang, bahwa pengakuan atas martabat alamiah

Lebih terperinci

Wajib Lapor Tindak KDRT 1

Wajib Lapor Tindak KDRT 1 Wajib Lapor Tindak KDRT 1 Rita Serena Kolibonso. S.H., LL.M. Pengantar Dalam beberapa periode, pertanyaan tentang kewajiban lapor dugaan tindak pidana memang sering diangkat oleh kalangan profesi khususnya

Lebih terperinci

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat Naskah Soal Ujian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Petunjuk: Naskah soal terdiri atas 7 halaman. Anda tidak diperkenankan membuka buku / catatan dan membawa kalkulator (karena soal yang diberikan tidak

Lebih terperinci

SURAT PENGAJUAN CALON ANGGOTA PPS

SURAT PENGAJUAN CALON ANGGOTA PPS MODEL S-PPS-1 SURAT PENGAJUAN CALON ANGGOTA PPS Kami yang bertanda tangan : Kepala Kelurahan dan Ketua LMK Kelurahan.. mengusulkan nama-nama berikut ini sebagai calon Anggota PPS : 1... 2... 3... 4...

Lebih terperinci

amnesti internasional

amnesti internasional [Embargo: 11 Maret 2004] Umum amnesti internasional Indonesia Direktur-direktur Amnesti Internasional seluruh Asia Pacific mendesak partai-partai politik untuk menjadikan HAM sebagai prioritas Maret 2004

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN I. UMUM Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG LEMBAGA KEPRESIDENAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a bahwa Presiden sebagai Penyelenggara Pemerintahan

Lebih terperinci

kinerja DPR-GR mengalami perubahan, manakala ada keberanian dari lembaga legislatif untuk kritis terhadap kinerja eksekutif. Pada masa Orde Baru,

kinerja DPR-GR mengalami perubahan, manakala ada keberanian dari lembaga legislatif untuk kritis terhadap kinerja eksekutif. Pada masa Orde Baru, i K Tinjauan Mata Kuliah onsep perwakilan di Indonesia telah terejawantahkan dalam berbagai model lembaga perwakilan yang ada. Indonesia pernah mengalami masa dalam pemerintahan parlementer meski dinyatakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 35 Undang-undang Nomor 19 Tahun

Lebih terperinci

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN metrotvnews.com Komisi XI DPR i akhirnya memilih Agus Joko Pramono sebagai Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ii Pengganti

Lebih terperinci

Pengantar Ketua KPU. Assalamu alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Pengantar Ketua KPU. Assalamu alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Pengantar Ketua KPU Assalamu alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan YME, karena modul yang sudah lama digagas ini akhirnya selesai juga disusun dan diterbitkan oleh

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2009 2009 TENTANG GELAR, TANDA JASA, DAN TANDA KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2009 2009 TENTANG GELAR, TANDA JASA, DAN TANDA KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2009 2009 TENTANG GELAR, TANDA JASA, DAN TANDA KEHORMATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI l ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI P r o j e c t i t a i g D k a a n Arskal Salim Kolom Edisi 002, Agustus 2011 1 Islam di Antara Dua Model Demokrasi Perubahan setting politik pasca Orde Baru tanpa

Lebih terperinci

TEMA BAGAIMANA TATA CARA PEMBANGUNAN KSM

TEMA BAGAIMANA TATA CARA PEMBANGUNAN KSM Materi Tujuan TEMA BAGAIMANA TATA CARA PEMBANGUNAN KSM Membangun nilai dan lima aturan dasar Peserta memahami perlunya nilai dan aturan dasar dalam membangun kelompok Peserta meyakini bahwa nilai nilai

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGAWAS RUMAH SAKIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2003 PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME, MENJADI UNDANG-UNDANG DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

UNDANG-UNDANG DASAR IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA UNDANG-UNDANG DASAR IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya mahasiswa adalah pemuda-pemudi yang memiliki keyakinan kepada kebenaran dan telah tercerahkan pemikirannya

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS Pada Acara Temu Muka dan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa informasi merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA I. Umum Indonesia, merupakan negara kepulauan terbesar didunia, yang terletak di antara dua benua, yakni benua Asia dan benua Australia,

Lebih terperinci

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 23 TAHUN 1997 (23/1997) Tanggal : 19 SEPTEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber : LN 1997/68; TLN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: 1. bahwa berdasarkan kenyataan sejarah dan cara pandang

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1959 TENTANG SUMPAH JABATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DAN ANGGOTA ANGKATAN PERANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1959 TENTANG SUMPAH JABATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DAN ANGGOTA ANGKATAN PERANG PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1959 TENTANG SUMPAH JABATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DAN ANGGOTA ANGKATAN PERANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa perlu diadakan peraturan

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR (AD) AMAN Ditetapkan oleh Kongres Masyarakat Adat Nusantara Ke-Empat (KMAN IV) Tobelo, 24 April 2012

ANGGARAN DASAR (AD) AMAN Ditetapkan oleh Kongres Masyarakat Adat Nusantara Ke-Empat (KMAN IV) Tobelo, 24 April 2012 ANGGARAN DASAR (AD) AMAN Ditetapkan oleh Kongres Masyarakat Adat Nusantara Ke-Empat (KMAN IV) Tobelo, 24 April 2012 BAB I NAMA, BENTUK, WAKTU DAN KEDUDUKAN Pasal 1 1) Organisasi ini bernama Aliansi Masyarakat

Lebih terperinci

Hidup dibawah Masa Paus Terakhir: 12 Fakta Yang Harus Anda Ketahui

Hidup dibawah Masa Paus Terakhir: 12 Fakta Yang Harus Anda Ketahui Hidup dibawah Masa Paus Terakhir: 12 Fakta Yang Harus Anda Ketahui Dunia sedang berada dibawah masa pemerintahan Paus Francis I, raja ke-8 dan yang terakhir, sejak dia dinobatkan menjadi penguasa mutlak

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI PANCASILA PADA MASA ORDE BARU SKRIPSI

IMPLEMENTASI PANCASILA PADA MASA ORDE BARU SKRIPSI IMPLEMENTASI PANCASILA PADA MASA ORDE BARU SKRIPSI Oleh Muh. Arif Candra Jaya NIM 070210302105 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Pernyataan Prinsip: Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan hormat di tempat kerja 3M. Dihormati berarti diperlakukan secara jujur dan profesional dengan

Lebih terperinci

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012 IKLIM ORGANISASI Sebuah mesin memiliki batas kapasitas yang tidak dapat dilampaui berapapun besaran jumlah energi yang diberikan pada alat itu. Mesin hanya dapat menghasilkan produk dalam batas yang telah

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG KEARSIPAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG KEARSIPAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 2009 TENTANG KEARSIPAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

ANGGARAN RUMAH TANGGA PERSAUDARAAN KORBAN NAPZA INDONESIA BAB I NAMA, KEDUDUKAN DAN WAKTU. Pasal 1 Nama. Cukup Jelas. Pasal 2 Kedudukan.

ANGGARAN RUMAH TANGGA PERSAUDARAAN KORBAN NAPZA INDONESIA BAB I NAMA, KEDUDUKAN DAN WAKTU. Pasal 1 Nama. Cukup Jelas. Pasal 2 Kedudukan. ANGGARAN RUMAH TANGGA PERSAUDARAAN KORBAN NAPZA INDONESIA BAB I NAMA, KEDUDUKAN DAN WAKTU Pasal 1 Nama Cukup Jelas Pasal 2 Kedudukan Cukup Jelas Pasal 3 Waktu BAB II KEDAULATAN, BENTUK, SIFAT DAN FUNGSI

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

Akuntabilitas Wakil Rakyat Masih Rendah: Perlu Penyusunan Indikator Demokrasi dan Perbaikan Perundang-Undangan 1. LATAR BELAKANG

Akuntabilitas Wakil Rakyat Masih Rendah: Perlu Penyusunan Indikator Demokrasi dan Perbaikan Perundang-Undangan 1. LATAR BELAKANG Akuntabilitas Wakil Rakyat Masih Rendah: Perlu Penyusunan Indikator Demokrasi dan Perbaikan Perundang-Undangan Oleh Direktorat Politik, Komunikasi dan Informasi, Deputi Bidang Polhankamnas, Bappenas Abstrak

Lebih terperinci

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi : Account Representative Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT

Lebih terperinci

AMNESTY INTERNATIONAL SIARAN PERS

AMNESTY INTERNATIONAL SIARAN PERS AMNESTY INTERNATIONAL SIARAN PERS Tanggal Embargo: 13 April 2004 20:01 GMT Indonesia/Timor-Leste: Keadilan untuk Timor-Leste: PBB Berlambat-lambat sementara para pelaku kejahatan bebas berkeliaran Pernyataan

Lebih terperinci

PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI

PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI Disarikan dari Modul Sosialisasi Anti Korupsi BPKP tahun 2005 oleh Mohamad Risbiyantoro, Ak., CFE (PFA pada Deputi Bidang Investigasi BPKP). Mahasiswa dan sejarah

Lebih terperinci

SUMBER HUKUM A. Pendahuluan

SUMBER HUKUM A. Pendahuluan SUMBER HUKUM A. Pendahuluan Apakah yang dimaksud dengan sumber hukum? Dalam bahasa Inggris, sumber hukum itu disebut source of law. Perkataan sumber hukum itu sebenarnya berbeda dari perkataan dasar hukum,

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG MANAJEMEN PENYIDIKAN OLEH PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

KLIPING PEMBERITAAN. 03 Jan 2015

KLIPING PEMBERITAAN. 03 Jan 2015 KLIPING PEMBERITAAN CONTENTS Resume Daily Maps Influencers Media Share Media Clipping RESUME No Media Judul Ringkasan Tones 1 Kaltimpos Bantuan Pusat-Pemprov Tak Kunjung Tiba Ratusan nelayan asing (manusia

Lebih terperinci

Siap Hadapi Kerugian dalam Trading

Siap Hadapi Kerugian dalam Trading Siap Hadapi Kerugian dalam Trading Kerugian adalah hal yang pasti pernah dialami oleh trader manapun, bahkan sejago apapun pasti pernah merasakan kerugian satu-dua kali. Baik itu trader pemula maupun yang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KOMISI PEMILIHAN UMUM,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KOMISI PEMILIHAN UMUM, PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PENCALONAN PEMILIHAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR, BUPATI DAN WAKIL BUPATI, DAN/ATAU WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Perspektif Kesejahteraan Guru Kini Dalam setiap Peringatan Hari Guru, persoalan kesejahteraan guru selalu menjadi topik yang

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci