FUNGSI CAMPURAN KPPU SEBAGAI LEMBAGA QUASI-PERADILAN 1. Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. 2

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "FUNGSI CAMPURAN KPPU SEBAGAI LEMBAGA QUASI-PERADILAN 1. Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. 2"

Transkripsi

1 1 FUNGSI CAMPURAN KPPU SEBAGAI LEMBAGA QUASI-PERADILAN 1 Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. 2 A. DIFERENSIASI STRUKTURAL FUNGSI KEKUASAAN Mulai akhir tahun 1960-an, muncul kesadaran baru mengenai tidak efisiennya birokrasi banyak pemerintahan di dunia. Seorang sarjana psikologi sosial, Warren G. Bennis, misalnya, menggambarkan dalam tulisannya The Coming Death of Bureaucracy pada tahun 1966 bahwa dunia menghadapi gejala kematian birokrasi pemerintahan. Luasnya ketelibatan pemerintahan ke dalam pelbagai aspek dinamika kehidupan bermasyarakat sebagai akibat berkembangnya pengaruh paham sosialisme juga mulai mendapatkan kritik yang tajam. Bahkan, dalam bentuknya yang paling ekstrim paham sosialisme itu berkembang luas menjadi paham komunisme yang membawa organisasi negara ke dalam praktikpraktik yang sangat intervensionis ke dalam peri kehidupan masyarakat. Kesadaran baru itu lah yang turut mendorong berkembangnya kritik kepada doktrin negara kesejahteraan (welfare state) yang membenarkan intervensionisme negara ke dalam dinamika masyarakat. Bahkan kesadaran demikian itu juga lah yang menimbulkan perlawanan yang luas terhadap paham komunisme sebagai bentuk ekstrim dari paham sosialisme. Karena itu, sesudah komunisme dan negara-negara komunis mengalami keruntuhan dimana-mana, maka sejak tahun 1970-an berkembang pandangan yang kembali mengidealkan prinsip yang pernah berlaku di masa sebelum berkembangnya sosialisme, yaitu doktrin the best government is the least goverment. Pemerintahan yang dipandang paling baik adalah peerintahan yang paling sedikit memerintah atau paling sedikit ikut campur dalam urusan-urusan masyarakat. Gejala inilah yang mendorong terjadinya pengurangan peran negara di mana-mana. Pengurangan peran negara itu di bidang politik tercermin dengan berkembangnya gelombang demokratisasi dan hak asasi manusia pada beberapa dasawarsa terakhir abad ke 20, sedangkan di bidangg ekonomi tercermin dalam gelombang kebijakan deregulasi, debirokratisasi, dan privatisasi di mana-mana di seluruh dunia. Kekuasaan negara yang semula terpusat dan terkonsentrasi mulai mengendorkan kendalinya menjadi semakin terdesentralisasi dan terdekonsentrasi. Fungsi-fungsi yang semula ditangani oleh pemerintah secara kaku, dikendorkan menjadi ditangani secara independen di luar kendali pemerintah. Karena itu, muncul banyak lembaga-lembaga, badan-badan, komisi-komisi negara yang baru dengan maksud mengurangi tumpukan kekuasaan pemerintahan di satu tangan yang 1 Untuk bacaan lebih lanjut, lihat buku-buku saya, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, Gramedia, Jakarta, 2007; Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi, Sinar Grafika, Jakarta, 2010; dan Perihal Undang-Undang, Rajawali Pers, Jakarta, Guru Besar HTN Universitas Indonesia, Penasihat Komnasham, pendiri dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia ( ) dan mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bidang Hukum dan Ketatanegaraan, Ketua Dewan Pembina Ikatan Sarjana Hukum Indonesia (ISHI). 1

2 2 dapat menyebabkan terjadi inefisiensi pelayanan atau pun penyalahgunaan kekuasaan sebagai akibat otoritas yang menumpuk di satu tangan. Pada awal abad ke-21, gelombang demokratisasi, deregulasi, diberokratisasi, dan privatisasi itu terus berkembang karena kemenangan aliran neo-liberalisme tanpa kekuatan pengimbang. Kekuatan neo-liberalisme itu semakin merajalela pula karena dukungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat yang menyebabkan dunia makin mengalami globalisasi. Paham neo-liberal terus mempengaruhi cara berpikir para penentu kebijakan pemerintahan yang berusaha untuk semakin mengendurkan kendali kekuasaan pemerintahan menjadi semakin terdesentralisasi ke daerah-daerah serta semakin terdekonsentrasi dan terdistribusi ke banyak struktur baru. Sebagaii akibatnya, muncul lah ide untuk membentuk banyak sekali lembaga-lembaga baru dengan melembagakan tersendiri fungsi-fungsi tertentu dari lembaga lama atau melembagakan fungsi-fungsi baru yang sebelumnya belum pernah dalam kegiatan pemerintahan sebelumnya. B. PERKEMBANGAN KELEMBAGAAN PERADILAN 1. Tradisi Eropah Kontinental Perkembangan kebutuhan untuk memperluaskan bidang-bidang hukum yang perlu diselesaikan melalui peradilan, direspons secara berbeda dalam tradisi common law di Inggeris dan Amerika Serikat dengan tradisi civil law di Eropah Kontinental. Di Eropah, karena kebiasaan diadopsinya ide-ide baru ke dalam rumusan-rumusan teks undang-undang tertulis hasil perdebatan di forum-forum parlemen, maka fungsi-fungsi baru peradilan itu diidealkan untuk dilembagakan dalam struktur peradilan yang tersendiri. Karena itu, dalam perkembangan sejarah peradilan, misalnya, di Jerman, muncul 5 puncak peradilan secara bertahap. Pada mulanya, di Jerman, hanya terdapat lembaga peradilan pidana dan peradilan perdata yang berpuncak kepada Mahkamah Agung. Semakin berkembangnya gerakan liberalisasi dan demokratisasi yang memberikan tempat makin kuat kepada otonomi individu rakyat, maka berkembang pula ide untuk mengadili pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pejabat Negara yang dianggap merugikan warga Negara. Dari ide inilah muncul ide pembentukan pengadilan administrasi Negara yang pada abad ke-19 dipandang sebagai pilar keempat dari konsepsi rechtsstaat dalam arti klasik (ref. Julis Stahl tentang 4 ciri rechtsstaat ). Sampai sekarang, lembaga pengadilan administrasi itu, baik di Jerman, di Perancis, maupun di Austria mempunyai puncak mahkamahnya tersendiri. Karena itu, sejarah peradilan di Austria berkembang dimulai dari dibentuknya Mahkamah Agung di bidang pidana dan perdata, Mahkamah Hukum Administrasi Negara (Verwaltungsgericht), dan terakhir pada tahun 1920 terbentuk pula Mahkamah Konstitusi (Verfassungsgerichtshoft). Di Perancis, di samping adanya Cour d Cassation di bidang pidana dan perdata, ada pula Conseil d Etat di bidang hukum administrasi Negara, dan Conseil Constitutionnell di bidang peradilan konstitusi. Sedangkan di Jerman puncak peradilan terdiri atas lima mahkamah tertinggi, yaitu (i) Mahkamah Agung di bidang 2

3 3 pidana dan perdata, (ii) Mahkamah Administrasi Negara, (iii) Mahkamah Industrial Perburuhan, (iv) Mahkamah Sosial dan Keluarga, serta (v) Mahkamah Konstitusi (Verfassunggericht). 2. Tradisi Common Law Berbeda dari praktik di Eropah Kontinental, tradisi common law di Inggeris dan Amerika Serikat mempunyai pengalaman yang lain. Struktur lembaga-lembaga peradilan di Inggeris dan Amerika Serikat relatif tidak banyak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Kebutuhan-kebutuhan akan fungsifungsi peradilan yang baru tidak berakibat kepada pembentukan struktur baru, melainkan cukup dibebankan kepada struktur lembaga peradilan yang sudah ada. Misalnya, diterimanya ide untuk melakukan judicial review atas konstitusionalitas sesuatu produk undang-undang, maka hal itu dikembangkan saja secara alamiah menjadi tambahan kewenangan badan peradilan yang sudah ada yang berpuncak di Mahkamah Agung. Bahkan, inovasi atau penemuan hukum pertama praktek judicial review terhadap undang-undang justru dimulai oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat dalam perkara Marburry vs Madison (1803) di bawah kepemimpinan Chief Justice John Marshall yang kemudian dilanjutkan oleh hakim-hakim yang terkemudian. Bahkan, dalam sistem peradlan di Amerika Serikat tidak dikenal adanya lembaga peradilan administrasi negara yang khusus seperti di Jerman, Austra, dan Perancis. Sebagai akibatnya, kebutuhan-kebutuhan baru untuk melembagakan pelbagai fungsi baru di bidang peradilan hukum administrasi negara memunculkan ide untuk mengembangkan fungsi-fungsi penyelesaian sengketa di luar pengadilan atau sebelum pengadilan, sehingga beban pengadilan tidak melampaui kemampuan. Bersamaan dengan itu, berkembang pula gagasan untuk membentuk komisikomisi negara yang bersifat independen. Di Amerika Serikat, sejak pertengahan abad ke-20, banyak sekali komisi-komisi independen yang dibentuk dengan fungsi yang bersifat campuran antara fungsi regulasi, administrasi, dan juga semi-judisial. Lembaga-lembaga independen yang dianggap utama di Amerika Serikat dewasa ini antara lain adalah: (1) Central Intellligence Agency (CIA); (2) Environmental Protection Agency (EFA); (3) General Services Administration (GSA); (4) Commodity Futures Trading Commission (CFTC); (5) Federal Communication Commission (FCC); (6) Federal Trade Commission (FTC); (7) Federal Maritime Commission (FMC); (8) United States International Trade Commission (USITC); (9) Consumer Product Safety Commission (CPSC); (10) Equal Employment Opportunity Commission (EEOC); (11) Postal Rate Commission (PRC); (12) National Capital Planning Commission (NCPC); (13) Office of Government Ethics (OGE); 3

4 4 (14) Nuclear Regulatory Commission (NRC); (15) Federal Mine Safety and Health Review Commission; (16) Civil Righhts Commission (CRC); (17) Dan lain-lain sebagainya. Lembaga-lembaga independen tersebut hampir semuanya menjalankan fungsi-fungsi yang bersifat campuran, yaitu fungsi regulasi, fungsi administrasi, dan fungsi semi-peradilan sekaligus. Ada yang hanya menjalankan fungsi regulasi dan administrasi, ada pula yang hanya menjalankan fungsi regulasi dan judisial sekaligus. Dalam hal, komisi-komisi independen itu mempunyai fungsi semi-yudisial, maka pada umumnya apabila pihak-pihak tidak puas dengan putusannya, putusan tersebut baru diajukan ke badan pengadilan sebagaimana mestinya. Namun, seringkali putusan semi-yudisial oleh komisi negara itu dirasakan sudah cukup adil sehingga penyelesaiannya tidak berlanjut ke pengadilan. Dengan demikian, banyak masalah hukum yang dapat diselesaikan dengan cara yang lebih cepat dan efisien tanpa harus membebani pengadilan. Pembentukan lembaga-lembaga independen yang berfungsi semi-yudisial berkembang cukup populer dewasa ini, dan bahkan banyak ditiru juga di kalangan negera-negara Eropah Kontinental yang mempunyai tradisi civil law. Apalagi, dinamika perkembangan dunia usaha yang berkembang sangat pesat banyak sekali dipengaruhi oleh praktik-praktik yang terjadi di Amerika Serikat, sehingga sistem larangan monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat seperti di Amerika Serkat juga berkembang di Eropah Barat. Bahkan, ide pembentukan komisi-komisi pengawas persaingan usaha di Eropah Barat juga berkembang luas. Karena itu, ide pembentukan komisi pengawas persaingan usaha di Indonesia yang seperti negara-negara Eropah Barat menganut tradisi civil law -- juga menjadi suatu kebutuhan yang rasional. C. SISTEM DAN STRUKTUR KEKUASAAN KEHAKIMAN INDONESIA 1. Empat Lingkungan Peradilan Konsep tentang Lingkungan Peradilan diatur oleh UU No. XIV/1970, yang membedakan antara: (i) (ii) (iii) (iv) Lingkungan peradilan umum; Lingkungan peradilan agama; Lingkungan peradilan tata usaha Negara; dan Lingkungan peradilan militer. Lingkungan peradilan militer dianggap setara dengan ketiga lingkungan lainnya, karena dalam kenyataannya di akhir dasawarsa 60-an, peranan mahkamah militer luiar biasa (Mahmilub) sangat menonjol dalam menyelesaikan pelbagai kasus yang diakibatkan oleh terjadinya pemberontakan PKI. UU Pokok Kekuasaan Kehakiman No. XIV/1970 dibentuk oleh pemerintahan Jenderal Soeharto pada masa awal Orde Baru. 4

5 5 Konsepsi peradilan umum dan peradilan agama yang dibedakan satu sama lain sebagai produk sejarah di masa penjajahan. Keberadaan Landraad dan Priesterraad di masa Hindia Belanda secara praktis dilanjutkan di masa kemerdekaan dengan diterjemahkan menjadi Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama. Yang dapat dikatakan baru dalam konsep UU No. XIV/1970 itu adalah pengadilan tata usaha negara yang dikategorikan sebagai lingkungan peradilan yang tersendiri. Ide pembentukan badan peradilan tata usaha negara ini dinilai sangat penting karena sampai pertengahan abad ke-20, berkembang pandangan yang luas bahwa keberadaan lembaga peradilan tata usaha negara merupakan ciri pokok dari suatu negara hukum (rechtsstaat) menurut tradisi Eropah Kontinental (civil law) yang sangat berpengaruh dalam hukum Indonesia. Pembentukan pengadilan tata usaha negara berdasarkan UUD No.XIV Tahun 1970 itu sendiri di Indonesia baru terrealisasikan pada tahun Sejak itu lengkaplah pilar-pilar struktur peradilan kita ke dalam 4 lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan tata usaha negara, dan peradilan militer sebagaimana diatur dalam UU Pokok Kekuasaan Kehakiman tersebut. Keempat lingungan peradilan itu bahkan diadopsikan ke dalam rumusan Pasal 24 ayat (2) baru UUD 1945, ketika Perubahan Ketiga UUD 1945 disahkan pada tahun Peradilan Khusus Sekarang, sesudah reformasi, banyak sekali muncul ide-ide baru berkenaan dengan pelembagaan fungsi-fungsi peradilan ini. Dewasa ini setidaknya telah berdiri 11 jenis peradilan khusus dalam sistem peradilan Indonesia, yaitu: (i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi) (vii) (viii) (ix) (x) (xi) Pengadilan HAM; Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor); Pengadilan Niaga; Pengadilan Perikanan; Pengadilan Hubungan Industrial; Pengadilan Pajak; Pengadilan Anak; Pengadilan Pelayaran; Pengadilan Syar iyah; Pengadilan Adat; dan Pengadilan Tilang. Kesembilan pengadilan khusus tersebut pada pokoknya dikelompokkan dalam salah satu dari 4 lingkungan peradilan yang ditentukan berdasarkan Pasal 24 UUD 1945, yaitu lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan tata usaha negara, atau peradilan militer. Namun demikian, dalam praktik seringkali tidak mudah mengelompokkan pengadilan-pengadilan baru itu ke dalam salah satu dari keempat lingkungan itu. Setidaknya, pengelompokan lembaga-lembaga peradilan baru itu tidak seimbang antara satu lingkungan dengan lingkungan peradilan yang lain. Di pihak lain, di tiap-tiap sector pemerintahan terus berkembang pula keinginan untuk membentuk lembaga-lembaga peradilan baru. 5

6 6 Dalam rangka pembahasan pelbagai rancangan undang-undang baru, biasa muncul ide-ide baru untuk membentuk badan-badan peradilan khusus lain lagi, seperti misalnya Pengadilan Pemilu dan Pengadilan Kehutanan, dan sebagainya. Ada pula lembaga peradilan yang bersifat internal untuk menyelesaikan perselisihan internal partai politik yang disebut sebagai Mahkamah Partai Politik. Pendek kata, mudah sekali bermunculan ide-ide yang sebenarnya masuk akal untuk membentuk badan-badan baru dan badan peradilan baru. Akan tetapi rangkaian ide demi ide itu jikalau dilihat dalam potret yang menyeluruh, niscaya akan menimbulkan pertanyaan besar berkenaan dengan inefisiensi dan kekacauan sistemik yang ditimbulkannya. Untuk itu, pelembagaan semua badan peradilan tersebut secara konstitusional haruslah dilihat dalam konteks keempat lingkungan peradilan yang telah ditentukan oleh Pasal 24 UUD 1945 tersebut di atas. Di samping itu, pengertian peradilan juga harus diperluas ke dalam makna yang lebih substantive dan luas. Proses peradilan tidak hanya dilakukan melalui proses di pengadilan (in-court), tetapi dapat pula dilakukan di luar pengadilan (out of court). Karena itu, sejalan dengan perkembangan praktik peradilan di seluruh dunia dewasa ini, di Indonesia juga berkembang ide-ide untuk melembagakan mekanisme alternative penyelesaian sengketa yang dikenal dengan istilah ADR (alternative despute resolution). Dalam perspektif demikian, berkembang ide mengenai hakim perdamaian dan juga mengenai mediasi berdasarkan ketentuan UU. Sekarang bahkan telah dibentuk Asosiasi Mediator Indonesia yang dikukuhkan oleh Mahkamah Agung. Demikian pula lembaga arbitrase juga terus dikembangkan berdasarkan ketentuan undang-undang. Semua proses penyelesaian konflik hukum dan perasaan ketidakadilan itu dapat kita sebut sebagai proses peradilan dalam arti yang luas. Karena itu, meskipun tidak secara eksplisit sebagai lembaga pengadilan, lembaga-lembaga seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga dapat kita lihat dalam konteks penyelesaian masalah-masalah hukum di bidang persaingan usaha yang sehat yang dikembangkan secara luas sejak dibentuknya UU No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat 3. D. KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA (KPPU) 1. Lembaga Independen Campur-Sari Menurut Pasal 30 ayat (1) UU No. 5 Tahun 1999 itu, KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) dibentuk dalam rangka mengawasi pelaksanaan UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat itu. Sebagai lembaga yang bersifat campur-sari, KPPU ditentukan oleh ayat (2)nya merupakan lembaga independen dari pengaruh pemerintah dan pihak lainnya. Karena itu, keberadaannya dibentuk tersendiri dan dikeluarkan dari tugas dan tanggungjawab pemerintahan sehari-hari. Meskipun demikian, menurut ayat (3)-nya, komisi ini tetap bertanggungjawab 3 LNRI 1999 No. 33, TLN

7 7 secara langsung kepada Presiden. Artinya, keberadaan lembaga ini tetap berada dalam ranah pemerintahan eksekutif, meskipun dalam pelaksanaan tugas dan kegiatan pokoknya dijamin bersifat independen dari pengaruh fungsi-fungsi pemerintahan sehari-hari. Di samping itu, meskipun KPPU ditentukan harus bertanggungjawa kepada Presiden dan karena itu secara strktural berada dalam ranah kekuasaan pemerintahan eksekutif, tetapi proses penetapan para komisionernya melibatan peran DPR. Pasal 31 ayat (2) UU No.5/1999 menentukan bahwa anggota KPPU diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas persetujuan DPR. Artinya, DPR mempunyai hak konfirmasi (the right to confirm) atas pengangkatan ataupun pemberhentian anggota KPPU. Dengan demikian, terdapat hubungann checks and balances antara pemerintah dan DPR dalam proses penentuan para anggota KPPU. Dengan demikian, independensi dan netralitas lembaga KPPU ini cukup dijamin oleh UU. Baik secara struktural dan apalagi secara fungsional, KPPU bersifat independen. Dalam menjalankan tugas dan kewenangannya KPUU tidak dapat diintervensi atau dipenngaruhi oleh cabang-cabang kekuasaan yang lain. KPPU tidak boleh diintervensi untuk kepentingan politik ataupun untuk kepentinga bisnis pihak-pihak yang terkait. Meskipun demikian, dalam rangka prinsip checks and balances, banyak pihak yang dilibatkan dalam proses pembentukan atau penngangkatan anggotanya, yaitu Presiden dan DPR. Bahkan, jika diperlukan di masa depan, pelaksanaan code of ethics dan code of conduct KPPU ini dapat pula dikaitkan dengan peran Komisi Yudisial (KY) sebagai pengawas perilaku hakim, asalkan ditegaskan dalam UU yang masih harus disempurnakan di masa yang akan datang yaitu, bahwa para komisioner anggota KPPU, karena jabatannya, dapat digolongkan ke dalam pengertian hakim menurut UUD KPPU Sebagai Badan Quasi-Peradilan UU No. 5/1999 sama sekali tidak menyebut KPPU sebagai lembaga pengadilan. Tugas dan kerwenangannya juga tidak dikaitkan dengan tugas mengadili seperti halnya badan-badan peradilan yang resmi. Meskipun demikian, KPPU secara teoritis pada hakikatnya tetap merupakan lembaga semiyudisial atau quasi-yudisial. Jika dikaitkan dengan teori trias politica Montesquieu, KPPU itu lebih tepat dapat dipandang sebagai lembaga yang berfungsi campuran, tidak hanya eksekutif, tetapi juga yudikatif. Bahkan, sebagai lembaga quasi-peradian, jenis perkara yang ditangani oleh KPPU ini tidak hanya menyangkut urusan-urusan bisnis keperdataan, tetapi juga berkaitan dengan hukum administrasi negara dan bahkan hukum pidana yang masing-masing diatur menurut bidang hukum yang berbeda-beda, tetapi untuk kepentingan praktik perlu diintegrasikan dalam satu kesatuan sistem penanganan perkara melalui Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Beberapa ketentuan yang menegaskan kedudukannya sebagai lembaga peradilan dalam arti luas misalnya dapat dilihat dalam kaitannya dengan tugas dan kewenangannya untuk (i) memeriksa, (ii) memberikan penilaian, (iii) memutuskan dan menetapkan kerugian, dan (iv) memberikan sanksi berupakan tindakan administrasi (administrative treatment) dalam proses pembuktian kasus-kasus dugaan pelanggaran larangan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Pasal 35 (a), (b), (c), dan (d) serta Pasal 36 (c), (d), (e), (f), dan (h) UU No.5/

8 8 Pasal 35 menentukan bahwa Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), (a) melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 16; (b) melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 17 sampai dengan Pasal 24; (c) melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya penyalahgunaan posisi dominan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 28; dan (d) mengambil tindakan sesuai dengan wewenang Komisi sebagaimana diatur dalam Pasal 36. Pasal 36 menentukan melakukan pemeriksaan terhadap kasus dugaan praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat atau menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana dimaksud huruf e dan huruf f, yang tidak bersedia memenuhi panggilan Komisi ; (d) meminta keterangan dari instansi Pemerintah dalam kaitannya dengan pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang melanggar undang-undang ini ; (e) menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna pemeriksaan ; (f) memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak pelaku usaha lain atau masyafakat ; dan (h) menjatuhkan sanksi berupa tindakan administrative kepala pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini. Mengenai hukum acara penanganan perkara di KPPU, diatur cukup rinci dalam Bab VII tentang Tatacara Penanganan Perkara. Dalam pemeriksaan, KPPU menilai alat-alat bukti yang menurut Pasal 42 UU No. 5/1999 dapat terdiri atas (i) keterangan saksi, (ii) keterangan ahli, (iii) surat atau dokumen, (iv) petunjuk, dan (v) keterangan pelaku usaha. Proses pembuktian dalam pemeriksaan tidak ubahnya seperti pembuktian dalam proses peradilan pada umumnya. Dari contoh-contoh rumusan tugas dan wewenang KPPU seperti tersebut di atas, jelas bahwa pada hakikatnya KPPU adalah lembaga peradilan dalam arti yang luas, atau setidaknya dapat disebut sebagai lembaga semi-peradilan. Sebagai lembaga peradilan yang bersifat administratif, fungsi KPPU dapat digolongkan ke dalam lingkungan peradilan tata usaha negara, tetapi apabila dilihat dari bidang sengketa hak yang diselesaikannya, komisi ini dapat juga dikategorikan berada dalam lingkungan peradilan umum. Oleh sebab itu, menurut Pasal 46 ayat (2), eksekusi putusan KPPU dimintakan penetapannya kepada Pengadilan Negeri. Jika atas putusan KPPU itu, pihak yang dikalahkan merasa keberatan, maka penyelesaian selanjutnya dilakukan melalui proses peradilan di Pengadilan Negeri (Pasal 44 ayat 2). Pihak yang berkeberatan terhadap putusan Pengadilan Negeri dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (Pasal 45 ayat 3). Sebagai lembaga semi-peradilan atau quasi-peradilan, sanksi yang berupa tindakan administrasi dan sanksi hukum yang dapat dijatuhkan kepada pihak yang melanggar UU No. 5/1999 adalah sebagaimana diatur dalam Bab VIII Pasal 47, Pasal 48, dan Pasal 49. Sanksi administrasi yang dapat dijatuhkan adalah (a) penetapan pembatalan perjanjian, (b) perintah menghentikan integrasi vertikal, (c) perintah penghentian kegiatan, (d) perintah penghentian penyalahgunaan posisi dominan, (e) penetapan pembatalan atas penggabungan atau peleburan dan pengambil-alihan saham, (f) penetapan pembayaran ganti rugi, dan (g) pengenaan denda. Sedangkan ketentuan pidana ditentukan terdiri atas 8

9 9 pidana pokok sebagaimana diatur dalam Pasal 48 dan pidana tambahan sebagaimana diatur dala pasal 49 berupa (a) pencabutan izin usaha, (b) larangan menduduki jabatan direksi atau komisaris dalam batas waktu tertentu, dan (c) penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian pada pihak lain. 3. Komisioner sebagai Hakim Oleh karena Komisi Pengawas Persaingan Usaha merupakan lembaga yang menjalankan fungsi semi-peradilan atau quasi-peradilan, maka tentu para anggotanya atau para komisioner mempunyai kedudukan juga sebagai semi-hakim atau quasi-hakim. Dengan demikian, para komisioner KPPU haruslah bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip umum (universal) yang berlaku bagi para hakim, misalnya termasuk mengenai standar-standar etika (code of ethics) dan kode perilaku (code of conduct). Bagi para hakim dewasa ini berlaku prinsip-prinsip yang dikenal sebagai The Bangalore Principles of Judicial Conduct yang diakui di seluruh dunia. Dalam Judicial Conduct itu disepakati adanya prinsip-prinsip yang harus dijadikan pegangan oleh setiap hakim di seluruh dunia, yaitu prinsip-prinsip (i) independence (kemandirian), (ii) impartiality (netralitas atau ketidakberpihakan), (iii) integrity (keutuhan dan keseimbangan kepribadian), (iv) propriety (kepantasan dan kesopanan-santunan), (v) equality (kesetaraan), (vi) competence (kecakapan), dan (vii) diligence (keseksamaan). Prinsip-prinsip perilaku yang diidealkan bagi setiap hakim tersebut, tentu harus tercermin pula dalam perilaku setiap komisioner KPPU. Ketua, Wakil Ketua, dan para anggota KPPU tidak melanggar dan haruslah berusaha untuk mencegah dirinya masing-masing secara sengaja atau tidak sengaja melanggar ketujuh prinsip perilaku ideal tersebut. Untuk mengawasi pelaksanaan hal itu, baik juga dipertimbangkan mengenai kemungkinan memberikan kepada Komisi Yudisial kewenangan untuk turut mengawasi kode etik dank ode perilaku yang berlaku bagi para komisioner KPPU ini. Tentu saja, dalam rangka perubahan UU No. 5 Tahun 1999 kelak, perlu dipertimbangkan mengenai kemungkinan mencantumkan ketentuan demikian dalam undang-undang baru atau perubahan undang-undang. Caranya cukup dengan mencantumkan ketentuan yang menyatakan secara tegas atau setidaknya berbunyi sedemikian rupa sehingga dapat ditafsirkan bahwa Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) karena jabatannya adalah hakim. Dengan demikian, para komisioner KPPU dengan sendirinya akan menjadi subjek yang diawasi perilakunya oleh Komisi Yudisial sesuai dengan ketentuan UU tentang Komisi Yudisial (KY) jo Pasal 24B ayat (1) UUD Fungsi Regulatory Pasal 35 huruf f menentukan bahwa salah satu tugas KPPU adalah menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan undang-undang ini. Yang menjadi masalah adalah apakah tugas penyusunan pedoman itu dapat ditafsirkan memberikan kewenangan regulatori kepada KPPU untuk mengatur hal-hal yang diperlukan dalam rangka melaksanakan ketentuan UU No.5/1999 itu atau tidak. Dalam hukum tatanegara berdasarkan prinsip kedaulatan rakyat atau demokrasi, kewenangan regulasi yang bersifat mengikat untuk umum terkait erat dengan fungsi legislasi yang hanya dapat 9

10 10 dilakukan oleh kekuasaan negara apabila telah mendapat persetujuan rakyat yang berdaulat, yaitu melalui para wakilnya di lembaga perwakilan rakyat. Tidak satu orang rakyatpun yang dapat dikurangi haknya dan dibebani dengan kewajiban tanpa disetujui sendiri oleh rakyat yang berdaulat itu menurut prosedur demokrasi berdasarkan konstitusi yang berlaku (the principle of constitutional democracy). Oleh karena jika suatu lembaga atau pejabat public tertentu (staat organ, public office, public official) hendak mengatur, mengurangi hak, dan/atau membebankan sesuatu kewajiban tertentu kepada subjek hukum warga negara dalam lalu lintas hukum, maka satu-satu bentuk hukum yang diperbolehkan untuk mengatur hal itu adalah dalam bentuk undang-undang yang dibentuk menurutuud 1945, yaitu oleh DPR atas persetujuan bersama dengan Presiden. Bentuk peraturan lain yang bersifat mengikat hanya diperkenankan apabila peraturan itu secara eksplisit mendapatkan delegasi kewenangan mengatur dari undang-undang (legislative delegation of rule-making power) atau paling rendah mendapat sub-delegasi kewenangan pengaturan 1 tingkat ke bawah. Misalnya, UU memberikan delegasi kewenangan kepada PP, dan PP memberikan sub-delegasi kewenangan lagi kepada Peraturan Menteri. Kekecualian atas berlakunya prinsip legislative delegation of rule-making power itu hanya dimungkinkan atas pertimbangan bahwa dalam menjalankan tugas konstitusionalnya seorang kepala pemerintahan memerlukan keleluasaan bertindak berdasarkan prinsip frijes ermessen. Untuk itu, kepada Presiden diberi kewenangan karena kedudukannya sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan negara berdasarkan Pasal 4 ayat (1) UUD 1945, untuk menetapkan satu jenis peraturan yang bersifat administrative dan menyangkut urusan internal pemerintahan, yang oleh UU No. 10 Tahun 2004 tentang Peraturan Perundang-Undangan diberi nama Peraturan Presiden (Perpres). Peraturan Presiden ini dapat ditetapkan secara mandiri (otonom) oleh Presiden menurut kebutuhan hukum yang timbul dalam rangka kelancaran pelaksanaan tugas-tugas internal pemerintahan dengan tanpa didahului oleh atau didasarkan atas perintah pengaturan oleh UU. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selain Presiden, tidak ada lembaga lain atau pejabat lain yang diperbolehkan membuat peraturan yang bersifat mengikat untuk umum kecuali jika kewenangan demikian secara tegas didelegasikan oleh UU atau disubdelegasikan oleh suatu peraturan pelaksana undang-undang, seperti PP atau peraturan lain yang ditentukan oleh undang-undang. Oleh sebab itu, jika KPPU tidak secara eksplisit dan tegas diberi kewenangan mengatur lebih operasional oleh UU No. 5 Tahun 1999, maka KPPU tidak dapat disebut mempunyai kewenangan regulasi. Jika dipelajari, UU No. 5 Tahun 1999 sama sekali tidak member kewenangan untuk mengatur kepada KPPU. Karena itu, KPPU tidak dapat disebut sebagai self-regulatory body. KPPU memang bersifat independen, tetapi bukan dalam bidang regulasi. Jika dikaitkan dengan trias politica, campuran fungsi KPPU hanya menyangkut fungsi eksekutif dan yudikatif. Artinya, yang dimaksudkan dengan pedoman dalam Pasal 35 huruf (f) tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk peraturan (regels). Lembaga-lembaga lain seperti MA, MK, BI, dan KPU misalnya secara eksplisit memang dinyatakan dalam undang-undang diberi kewenangan untuk mengatur. Karena itu, MA berwenang menetapan Peraturan Mahkamah Agung (Perma), MK menetapkan Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK), BI menetapkan Peraturan Bank Indonesia (PBI), dan demikian pula KPU menetapkan Peraturan KPU. 10

11 11 Semua bentuk peraturan MA, MK, BI, dan KPU itu termasuk ke dalam pengertian peraturan perundang-undangan sebagai sub-ordinate legislation berdasarkan ketentuan undang-undang yang mengatur kewenangan lembaga-lembaga itu masing-masing. Sedangkan UU yang mengatur tentang KPPU sama sekali tidak memberikan kewenangan regulasi semacam itu. Pasal 35(f) UU No. 5 Tahun 1999 hanya memungkinkan bagi KPPU untuk menyusun pedoman kerja atau manual yang meskipun isinya dapat saja bersifat mengatur tetapi tidak dapat disebut sebagai peraturan dalam pengertian hukum. Dalam teori perundang-undangan, pedoman semacam itu hanya disebut sebagai beleids-regel atau policy rules. Pasal 35 huruf (f) itu, hanya menyatakan bahwa KPPU mempunyai tugas yang salah satunya adalah menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan undang-undang ini. Memang benar, dalam Bab VII UU No. 5 Tahun 1999 itu tentang Tata Cara Penanganan Perkara, pada Pasal 38 ayat (4) ditetukan bahwa Tata cara penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut oleh Komisi. Bahkan pada Pasal 40 ayat (2) ditentukan pula bahwa Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan tata cara sebagaimana diatur dalam Pasal 39. Ketentuan-ketentuan tersebut selama ini ditafisrkan oleh KPPU sebagai pemberian kewenangan kepada KPPU untuk mengatur, sehingga oleh karena itu, selama ini KPPU telah menerbitkan pelbagai peraturan KPPU yang dimaksudkan untuk melaksanakan perintah Pasal 38 ayat (4) tersebut di atas. Namun demikian, menurut pendapat saya, dalam rangka pelaksanakan prinsip checks and balances dan mencegah kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan, kewenangan regulasi sebaiknya tidak diberikan kepada KPPU. Fungsi regulator biarlah diberikan kepada Pemerintah, sedangkan KPPU hanya sebagai operator kegiatan pengawasan sampai ke fungsi peradilan. Lagi pula, rumusan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, seharusnya tidak ditafsirkan sebagai pemberian kewenangan menetapkan peraturan, kecuali hanya dimaksudkan untuk pengaturan-pengaturan yang bersifat teknis administratif yang cukup diatur dalam bentuk pedoman sebagai beleids-regel. Karena itulah kewenangan mengatur sama sekali tidak tercantum dalam ketentuan Pasal 35 mengenai tugas dan ketentuann Pasal 36 mengenai wewenang KPPU. Pasal 35 huruf (f) hanya menyebutkan tugas KPPU untuk menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan undang-undang ini. Demikian pula dala Pasal 36 tidak terdapat adanya ketentuan yang memberi wewenang kepada KPPU untuk menetapkan sesuatu peraturan. Oleh karena itu, ketentuan Pasal 38 ayat (4) sebagaimana dimaksud di atas sudah seharusnya dipahami dalam konteks Pasal 35 huruf (f). Tata cara penyampaian laporan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan dan pelaksanaan tugas KPPU menurut Pasal 38 ayat (4) dapat ditentukan sendiri aturannya oleh KPPU dalam bentuk pedoman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf (f). Dengan demikian pedoman dimaksud hanya berupa aturan kebijakan atau beleids-regels (policy rules), bukan dalam bentuk peraturan resmi atau regulation. Sebagai pedoman, tentu aturan kebijakan yang menjadi isinnya tidak dapat dipersoalkan atau dijadikan objek perkara di pengadilan. Namun, apabila bentuk hukumnya disebut resmi sebagai peraturan, maka tentu hal itu dapat dijadikan objek peradilan, yaitu 11

12 12 misalnya Peraturan KPPU itu dapat dimohonkan pengujiannya kepada Mahkamah Agung sesuai dengan yang dimaksudkan dalam Pasal 24A ayat (1) UUD Aturan kebijakan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (beleids-regel) yang disusun dalam bentuk pedoman itu tentu saja tidak boleh berisi norma-norma hukum baru. Isinya hanya berupa pedoman kerja, yang bersifat mengatur hal-hal teknis dan administratif. Tentu saja, praktik penetapan Peraturan KPPU yang sudah dijalankan selama ini dapat dipandang sebagai konvensi. Tetapi di masa yang akan datang hal itu haruslah diperbaiki. Diusulkan agar dalam perbaikan UU No. 5 Tahun 1999 yang akan datang, pelbagai ketentuan yang lebih tegas mengenai kewenangan pengaturan ini sebaiknya dimuat. Fungsi KPPU cukup dibatasi hanya sebagai pelaksana UU atau sebagai operator pengawasan sampai ke tingkat peradilan, sedangkan fungsi regulator tetap berada di tangan pembentuk undang-undang dan paling rendah di tangan pemerintah. 5. Fungsi Administrasi dan Penegakan Hukum Selain merupakan lembaga semi-peradilan atau quasi-peradilan, KPPU juga merupakan lembaga pelaksana atau lembaga eksekutif yang menjalankan fungsi pengawasan. Dalam rangka fungsi pengawasan tersebut, KPPU juga dilengkapi dengan kewenangan untuk memeriksa di luar persidangan, menggeledah dan bahkan dalam hal-hal tertentu dapat pula menyita dan merampas, seperti yang biasa dilakukan oleh polisi atau oleh jaksa. Dengan demikian, lingkup tugas dan kewenangan KPPU dapat mencakup bidang hukum yang luas, yaitu tidak saja mencakup bidang hukum bisnis (perdata), tetapi juga bidang hukum administrasi negara dan bahkan bidang hukum pidana. Dengan terkonsentrasinya pelbagai macam urusan dalam kekuasaan KPPU ini, memang terbuka peluang untuk terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dala praktik. Karena itu, adalah tepat jika UU menentukan aturan yang jelas dan rinci mengenai masing-masing bidang pekerjaan yang ditangani oleh KPPU ini, mana dan apa saja yang termasuk bidang administrasi dan mana dan apa saja yang termasuk bidang peradilan. Mana urusan yang dilakukan sebagai hakim, misalnya dalam memeriksa dalam persidangnan, dan mana pekerjaan yang dilakukan sebagai aparat pengawas yang berwenang menggeledah, menyadap dan sebagainya. Demikian pula mana yang menjadi urusan pengaturan atau policy making, dan mana yang termasuk policy executing, mana regulator dan mana operator, dapat dibedakan secara jelas agar tidak menimbulkan kekisruhan dan menyebabkan ketidakpastian hukum (legal uncertainty). Dalam pelaksanaan tugasnya, baik juga apabila KPPU membedakan antara proses administrasi seperti penerimaan laporan, dan proses pemeriksaan yang dapat pula dibedakan antara peeriksaan dalam sidang dan pemeriksaan di luar sidang. Misalnya, proses di luar sidang dapat dianggap sebagai proses administrasi, sedangkan pemeriksaan dalam sidang dapat dipandang sebagai proses peradilan yang harus tunduk kepada prinsip-prinsip hukum acara yang menjamin independensi, netralitas atau imparsialitas, keutuhan dan keseimbangan kepribadian (integritas) proporsionalitas, profesionalitas, kesetaraan, sopan santun, keterpercayaan, dan lain sebagainya. Seperti di pengadilan, maka setiap persidangan harus bersifat terbuka untuk umum, dan dalam persidangan itu, semua pihak yang terlibat 12

13 13 harus pula diberi kesempatan yang sama (equal opportunity) untuk membela dan mempertahankan kepetingannya masing-masing (audi et alteram partem). Sebaliknya, urusan-urusan administrasi perkara, termasuk berkaitan dengan tindakan-tindakan kepolisian seperti menyita, mengedelah, dan sebagainya harus dilakukan secara seksama berdasarkan perintah resmi yang ditetapkan dala persidangan terbuka. Pelaksanaannya pun haruslah dilakukan oleh pejabat yang memang berwenang di bawah tanggungjawab komisioner, bukan sekedar oleh pegawai administrasi. Pendek kata, tatacara hukum acara dan prosedur penanganan perkara haruslah benarbenar diatur dengan ketat sehingga dapat terhindari terjadinya penyalahgunaan wewenang yang melanggar hak-hak hukum dan hak konstitusional para pihak. Untuk itu, saya sangat menyetujui apabila UU No. 5 Tahun 1999 yang disusun dalam suasana krisis pada tahun dapat kita sempurnakan dengan mengatur kembali pelbagai aspek hukum acara secara lebih baik dengan menjadikan pengalaman-pengalaman praktik selama ini sebagai pelajaran. UU No.5/1999 memang belum lengkap mengatur mengenai hukum acara. Karena itu, seperti dikemukakan di atas, UU ini perlu disempurnakan di masa mendatang. Apalagi dalam perkembangan sesudah lahirnya UU ini pada tahun 1999 sudah sangat banyak sekali perubahan yang terjadi. Demikian pula pengalaman praktik selama 12 tahun terakhir telah memberikan banyak sekali pelajaran, sehingga kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalam UU No. 5 Tahun 1999 sangat terasa di lapangan. Kesimpulannya tidak lain adalah bahwa UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat ini memang perlu disempurnakan sesuai dengan kebutuhan zaman. E. CATATAN AKHIR Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kedudukan hukum Komisi Pengawas Persaingan Usaha jelas merupakan suatu lembaga independen yang menjalankan fungsi campuran di bidang administrasi dan yustisi. Karena itu, komisi ini dapat disebut sebagai lembaga yang berfungsi semiperadilan atau sebagai lembaga quasi peradilan. Lembaga ini bersifat independen dan dalam menjalankan tugas pokoknya berdasarkan undang-undang tidak dapat dicampuri oleh pemerintah dan pihak lain. Srebagai lembaga independen, KPPU tidak mempunyai fungsi regulasi sehingga tidak dapat disebut sebagai independent self-regulatory body. Fungsi KPPU hanya bersifat administrative dan yudikatif. Karena itu, fungsi lembaga ini hanya sebagai pelaksana undang-undang di bidang administrasi dan yudisial. Sebagai lembaga quasi peradilan, KPPU bekerja seperti pada umumnya pengadilan, yaitu melakukan pemanggilan terhadap pihak, mengadakan pemeriksaan dan penilaian terhadap alat-alat bukti, memutus dan mendeklarasikan atau memberitahukan putusan kepada para pihak. Hanya saja, untuk efektifitas eksekusi, diperlukan penetapan eksekusi oleh Pengadilan Negeri setempat. Pengadilan Negeri juga berfungsi sebagai pengadilan tingkat dua apabila ada pihak-pihak yang tidak puas dengan putusan KPPU. Pada tingkat ketiga atau terakhir, putusan komisi dapat pula diajukan ke Mahkamah Agung sebagai peradilan kasasi. 13

14 14 Oleh karena KPPU tidak secara tegas diberi kewenangan regulasi oleh pembentuk undangundang, maka KPPU sebaiknya tidak menetapkan sesuatu peraturan untuk mengatur pelaksanaan tugasnya berdasarkan undang-undang. Untuk memenuhi kebutuhan operasional, cukuplah bagi KPPU untuk menyusun dan menetapkan pedoman kerja sesuai tugas resmi KPPU sebagaimana dimaksud oleh Pasal 35 (f) UU No.5/1999. Kewenangan KPPU untuk menyusun pedoman kerja itu, bukanlah dan tidak dapat diidentikkan dengan kewenangan regulasi. Pedoman hanya berisi beleids-regel atau aturan kebijakan (policy rule) yang bukan atau tidak termasuk pengertian peraturan perundang-undangan. Pedoman hanya bersifat teknis administrative dan tidak boleh membuat atau menciptakan norma hukum baru yang sama sekali tidak diatur dalam undang-undang. Jika materi pedoman itu berisi norma hukum baru, maka norma hukum yang demikian dapat diabaikan daya ikatnya. Norma hukum yang demikian tidak dapat dipaksakan berlakunya dalam lalu lintas hukum. 14

PENGADILAN KHUSUS. Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. 1

PENGADILAN KHUSUS. Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. 1 PENGADILAN KHUSUS Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. 1 Catatan Pengantar Buku yang diprakarsai oleh Komisi Yudisial ini tergolong sangat penting mendapat perhatian yang sungguh-sungguh oleh kalangan

Lebih terperinci

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Hamdan Zoelva 2 Pendahuluan Negara adalah organisasi, yaitu suatu perikatan fungsifungsi, yang secara singkat oleh Logeman, disebutkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN I. UMUM

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN I. UMUM PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2004 TENTANG KEKUASAAN KEHAKIMAN I. UMUM Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PENGUATAN HUKUM DALAM UPAYA PENCEGAHAN KEKERASAN MASSA YANG MENGATASNAMAKAN AGAMA ATAU KELOMPOK 1. Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 2.

PENGUATAN HUKUM DALAM UPAYA PENCEGAHAN KEKERASAN MASSA YANG MENGATASNAMAKAN AGAMA ATAU KELOMPOK 1. Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 2. PENGUATAN HUKUM DALAM UPAYA PENCEGAHAN KEKERASAN MASSA YANG MENGATASNAMAKAN AGAMA ATAU KELOMPOK 1 Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 2. HUKUM YANG LEMAH Dengan menentukan judul sebagaimana tersebut

Lebih terperinci

MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**)

MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**) MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**) I Pembahasan tentang dan sekitar membangun kualitas produk legislasi perlu terlebih dahulu dipahami

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap

KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap pencari keadilan dimanapun. Undang-Undang Nomor 48 Tahun

Lebih terperinci

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang I. PEMOHON Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dalam hal ini diwakili oleh Irman Gurman,

Lebih terperinci

PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK. Oleh: Muchamad Ali Safa at

PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK. Oleh: Muchamad Ali Safa at PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK Oleh: Muchamad Ali Safa at 1. Salah satu ancaman yang dihadapi oleh aktivis adalah jeratan hukum yang diterapkan dengan menggunakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999

UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999 UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 08/PMK/2006 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM SENGKETA KEWENANGAN KONSTITUSIONAL LEMBAGA NEGARA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

Opini H ukum: Gugatan Ganti Kerugian dalam mekanisme Pengadilan Tipikor. Disiapkan oleh:

Opini H ukum: Gugatan Ganti Kerugian dalam mekanisme Pengadilan Tipikor. Disiapkan oleh: Opini H ukum: Gugatan Ganti Kerugian dalam mekanisme Pengadilan Tipikor Disiapkan oleh: Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) 1. Apa itu Gugatan Ganti Kerugian? Tuntutan ganti kerugian sebagaimana

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum berdasarkan

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

KEDUDUKAN LEMBAGA NEGARA BANTU DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

KEDUDUKAN LEMBAGA NEGARA BANTU DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA KEDUDUKAN LEMBAGA NEGARA BANTU DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA ( Analisis Kedudukan Komisi Pemberantasan Korupsi Sebagai Lembaga Negara Bantu) SKRIPSI Oleh : NAJIULLOH Nomor Mahasiswa :

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR: 05/PMK/2004 TENTANG PROSEDUR PENGAJUAN KEBERATAN ATAS PENETAPAN HASIL PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TAHUN 2004 MAHKAMAH

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR : 04/PMK/2004 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Pembentukan Peraturan Daerah

Pembentukan Peraturan Daerah Pembentukan Peraturan Daerah Oleh Himawan Estu Bagijo Staf Pengajar Fakultas Hukum Unair 1 D A F T A R I S I I. PENDAHULUAN II. DASAR HUKUM III. PERUMUSAN PERMASALAHAN IV. PENYUSUNAN DRAF RAPERDA V. PROSEDUR

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA)

Lebih terperinci

B A B I P E N D A H U L U A N. membutuhkan materi atau uang seperti halnya pemerintahan-pemerintahan

B A B I P E N D A H U L U A N. membutuhkan materi atau uang seperti halnya pemerintahan-pemerintahan B A B I P E N D A H U L U A N A. Latar Belakang Masalah Untuk menjalankan roda pemerintahan, Pemerintah Indonesia tentu membutuhkan materi atau uang seperti halnya pemerintahan-pemerintahan lain yang ada

Lebih terperinci

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik... 133 I. Umum... 133 II. Pasal Demi Pasal...

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik... 133 I. Umum... 133 II. Pasal Demi Pasal... DAFTAR ISI Hal - Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum... - BAB I Ketentuan Umum... 4 - BAB II Asas Penyelenggara Pemilu... 6 - BAB III Komisi Pemilihan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1977 TENTANG PERWAKAFAN TANAH MILIK (LNRI. No. 38, 1977; TLNRI No. 3107) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa wakaf adalah suatu lembaga

Lebih terperinci

MENGENAL JAKSA PENGACARA NEGARA

MENGENAL JAKSA PENGACARA NEGARA MENGENAL JAKSA PENGACARA NEGARA Sumber gambar: twicsy.com I. PENDAHULUAN Profesi jaksa sering diidentikan dengan perkara pidana. Hal ini bisa jadi disebabkan melekatnya fungsi Penuntutan 1 oleh jaksa,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk mewujudkan perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, enimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA www.legalitas.org UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa anak adalah bagian dari generasi muda sebagai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e)

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa

Lebih terperinci

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA 1 K 100 - Upah yang Setara bagi Pekerja Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya 2 Pengantar

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah I. PEMOHON Bernard Samuel Sumarauw. II. OBJEK PERMOHONAN Pengujian materiil Undang-Undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN. (Preambule)

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN. (Preambule) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 SALINAN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus

Lebih terperinci

KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING

KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA 1958 Konvensi mengenai Pengakuan

Lebih terperinci

Bergabungnya Pihak Ketiga Dalam Proses Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase dan Permasalahan Yang Mungkin Timbul

Bergabungnya Pihak Ketiga Dalam Proses Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase dan Permasalahan Yang Mungkin Timbul Bergabungnya Pihak Ketiga Dalam Proses Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase dan Permasalahan Yang Mungkin Timbul Oleh: Hengki M. Sibuea, S.H., C.L.A. apple I. Pendahuluan Arbitrase, berdasarkan ketentuan

Lebih terperinci

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Mukadimah Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UU R.I No.8/1995 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tujuan pembangunan nasional

Lebih terperinci

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Oleh Agung Putri Seminar Sehari Perlindungan HAM Melalui Hukum Pidana Hotel Nikko Jakarta, 5 Desember 2007 Implementasi

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

Penerbit Universitas Pancasila

Penerbit Universitas Pancasila NEGARA KESATUAN, DESENTRALISASI, DAN FEDERALISME Oleh : Edie Toet Hendratno Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2009 Hak Cipta 2009 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau

Lebih terperinci

GAGASAN NEGARA HUKUM INDONESIA

GAGASAN NEGARA HUKUM INDONESIA GAGASAN NEGARA HUKUM INDONESIA Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1. Pengantar Dalam rangka perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka dalam Perubahan Keempat pada tahun

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL 1 K-144 Konsultasi Tripartit untuk Meningkatkan Pelaksanaan Standar-Standar Ketenagakerjaan Internasional

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. hukum pada hakikatnya adalah proses perwujudan ide-ide. merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal. 1

II. TINJAUAN PUSTAKA. hukum pada hakikatnya adalah proses perwujudan ide-ide. merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal. 1 17 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Penegakan Hukum Penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Jadi penegakan hukum

Lebih terperinci

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 melalui resolusi 217 A (III) Mukadimah Menimbang, bahwa pengakuan atas martabat alamiah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 (yang dipadukan dengan Perubahan I, II, III & IV) PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab

Lebih terperinci

Written by tony Tuesday, 22 October 2013 09:10 - Last Updated Wednesday, 27 November 2013 07:24

Written by tony Tuesday, 22 October 2013 09:10 - Last Updated Wednesday, 27 November 2013 07:24 PERKEMBANGAN HUKUM LINGKUNGAN DI INDONESIA PROF.DR.TAKDIR RAHMADI, SH., LLM JAKARTA - HUMAS,Perkembangan hukum lingkungan modern di Indonesia lahir sejak diundangkannya Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 Tentang

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor 26/PUU-VII/2009

PUTUSAN Nomor 26/PUU-VII/2009 PUTUSAN Nomor 26/PUU-VII/2009 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama

Lebih terperinci

NOMOR : M.HH-11.HM.03.02.th.2011 NOMOR : PER-045/A/JA/12/2011 NOMOR : 1 Tahun 2011 NOMOR : KEPB-02/01-55/12/2011 NOMOR : 4 Tahun 2011 TENTANG

NOMOR : M.HH-11.HM.03.02.th.2011 NOMOR : PER-045/A/JA/12/2011 NOMOR : 1 Tahun 2011 NOMOR : KEPB-02/01-55/12/2011 NOMOR : 4 Tahun 2011 TENTANG PERATURAN BERSAMA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA KETUA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa informasi merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pemerintahan Daerah

Lebih terperinci

MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia, MAHKAMAH AGUNG Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 Tanggal 30 Desember 1985 Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, a. bahwa negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara menjamin hak konstitusional setiap orang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN ATAS TANAH BESERTA BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN ATAS TANAH BESERTA BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN ATAS TANAH BESERTA BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

PENINJAUAN KEMBALI LEBIH DARI SATU KALI, ANTARA KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM

PENINJAUAN KEMBALI LEBIH DARI SATU KALI, ANTARA KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM H U K U M Vol. VI, No. 06/II/P3DI/Maret/2014 Kajian Singkat terhadap Isu-Isu Terkini PENINJAUAN KEMBALI LEBIH DARI SATU KALI, ANTARA KEADILAN DAN KEPASTIAN HUKUM Shanti Dwi Kartika*) Abstrak Amar Putusan

Lebih terperinci

BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA A. KONDISI UMUM Penghormatan, pengakuan, dan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 1 K 150 - Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk menumbuhkembangkan perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa keuangan negara merupakan

Lebih terperinci

PUTUSAN NOMOR 52/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN NOMOR 52/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN NOMOR 52/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2006-2010 Sambutan Ketua BPK Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PENGAWASAN PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH

UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEKRETARIAT JENDERAL UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEKRETARIAT JENDERAL UNDANG UNDANG DASAR NEGARA

Lebih terperinci

HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : HUKUM ACARA PIDANA Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tanggal 31 Desember 1981 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa negara Republik Indonesia adalah negara hukum

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT ADAT

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT ADAT RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara mengakui

Lebih terperinci

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA 1 K-88 Lembaga Pelayanan Penempatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci