KESELAMATAN KERJA. Keselamatan & Kesehatan Kerja

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KESELAMATAN KERJA. Keselamatan & Kesehatan Kerja"

Transkripsi

1 KESELAMATAN KERJA K3 Keselamatan & Kesehatan Kerja

2 SEJARAH KESELAMATAN KERJA DUNIA - Revolusi Industri Serap Banyak Buruh - Kecelakaan Kerja = Resiko Kerja - Buruh Desak Work Compensation - Buruh Desak Work Compensation Law - Keluhan Industriawan / Pengusaha - WH Heinrich Industrial Accident Prevention (1931)

3 SEJARAH KESELAMATAN KERJA INDONESIA -JAMAN KOLONIAL BELANDA : a. Represif b. Ruang lingkup terbatas c. Titik berat pada pesawat/mesin/alat kerja -JAMAN SETELAH MERDEKA : (UU No. 1 Tahun 1970 ) a. Preventif b. Ruang lingkup lebih luas c. Titik berat pada tenaga kerja

4 SEJARAH KESELAMATAN KERJA POLA PIKIR MANUSIA : -KECELAKAAN KERJA BAGAIMANA MENOLONG KORBAN -BERULANG-ULANG BISAKAH KECELAKAAN DICEGAH -KECELAKAAN ADA PENYEBABNYA MENCARI PENYEBAB TIMBUL ILMU KESELAMATAN KERJA.

5 PENGERTIAN 1. KESELAMATAN KERJA : a. Filosofi jamin keutuhan - kesejahteraan b. Keilmuan IP penanggulangan kecelakaan c. Praktis / Teknis orang aman, proses produksi lancar 2. KECELAKAAN KERJA : Tidak dikehendaki tidak diduga - kerugian 3. AMAN / SELAMAT : Bebas malapetaka / potensi bahaya 4. TINDAKAN BERBAHAYA Perbuatan menyimpang dari prosedur aman 5. KONDISI BERBAHAYA : Keadaan memungkinkan terjadi kecelakaan

6 TUJUAN KESELAMATAN KERJA 1. TENAGA KERJA / ORANG DI TEMPAT KERJA SELAMAT / SEHAT 2. SUMBER PRODUKSI DAPAT DIGUNAKAN SECARA EFISIEN 3. PROSES PRODUKSI LANCAR

7 KECELAKAAN KERJA PENGERTIAN -Kecelakaan : -Kecelakaan Kerja Kecelakaan yang berhubungan dengan hubungan kerja a. di perjalanan b. bekerja di tempat kerja c. bekerja di luar tempat kerja. (termasuk penyakit akibat kerja)

8 KECELAKAAN KERJA KERUGIAN 1. EKONOMI : a. Langsung : pengobatan, perawatan, ganti rugi bangunan/alat kerja/mesin/bahan produksi rusak proses produksi terhambat latih pekerja baru dll. b. Tidak langsung : trauma pekerja produktifitas turun 2. NON EKONOMI penderitaan kurban / keluarga dll.

9 KECELAKAAN KERJA PERMASALAHAN : a. Kurang kesadaran pengusaha : pekerja = alat kerja bukan mitra kerja b. Perhitungan ekonomi yang keliru : penerapan keselamatan kerja = kerugian. - Takut hukum bukan pada esensi - Kelabuhi pengawas hukum - Suap pengawas hukum

10 PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA SEMUA KEJADIAN SEBAB AKIBAT (Tidak ada sebab tidak ada akibat) 1. MENCARI PENYEBAB KECELAKAAN a. Teori / Ilmu Pengetahuan b. Mempelajari pengalaman / kasus c. Penelitian 2. MENGENDALIKAN PENYEBAB KECELAKAAN a. Menghilangkan b. Menurunkan tingkat bahaya c. Mengisolasi - cegah kontak dengan tenaga kerja / proses terjadinya kecelakaan

11 MENCARI PENYEBAB KECELAKAAN KERJA BERDASARKAN TEORI / IP : a. Unsafe Condition : bisa dari alat kerja, bahan kerja, tempat kerja. b. Unsafe act : bisa karena kurang trampil/ahli, cara kerja, kelelahan, cacat tubuh, sembrono tingkah laku.

12 MENCARI PENYEBAB KECELAKAAN KERJA BERDASARKAN PENGALAMAN STUDY KASUS : (Analisa Kecelakaan Kerja) Tahap-tahapnya : a. Datangi TKP secepatnya beri batas penelitian (line) b. Amati kondisi semua benda/barang rusak/berubah catat c. Wawancara pelaku & saksi d. Buat gambaran /rekonstruksi / reka ulang beberapa versi e. Kumpulkan bukti-bukti pendukung / keterangan tambahan analisa - Cari penyebab yang paling memungkinkan - Tetapkan sumber penyebab, proses kontak shg terjadi kecelakaan - Buat kronologisnya / reka ulang akhir - Buat rekomendasi pencegahan kecelakaan serupa - Buat sistem pengaman

13 MENCARI PENYEBAB KECELAKAAN KERJA BERDASARKAN PENELITIAN (Job Safety Analisis) a. Amati proses kerja dari awal sampai akhir bagi beberapa tahap makin banyak makin baik b. Amati tiap tahap cari potensi bahaya (pb) yang ada (pb = sesuatu yg memungkinkan terjadinya kecelakaan kerja) Catat : - Titik / letak pb - Bilamana pb tsb dapat menimbulkan kecelakaan - Bentuk / sifat pb - Derajat propabilitas pb c.rancang sistem pengaman : eliminasi potensi bahaya

14 UPAYA PENDUKUNG : PERATURAN UNDANG-UNDANG STANDARISASI INSPEKSI / PEMERIKSAAN BERKALA / KHUSUS RISET DIKLAT / PENYULUHAN PERSUASI / ASURANSI

15 UNDANG UNDANG TAHUN 1970 Pasal 8 : Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja : awal, khusus, berkala Pasal 9 : A. Menjelaskan / menunjukan pada pekerja baru : (1) Kondisi bahaya di tempat kerja (2) Pengaman yang harus dipasang (3) APD yang wajib dipakai (4) Cara / sikap kerja yang aman dalam bekerja (SOP) Pekerja paham - baru dipekerjakan

16 B. Pembinaan pada pekerja secara berkala : (1) Pencegahan kecelakaan kerja (2) Pemberantasan kebakaran (3) PPPK (4) Peningkatan program K3 Pasal 10 : Kewjiban membentuk P2K3 Pasal 11 : Kewajiban lapor bila terjadi kecelakaan kerja

17 Pasal 12 : A. Kewajiban pekerja : (1) Memberi keterangan bila diminta oleh ahli/pengawas keselamatan kerja (2) Memakai APD yang diwajibkan (3) Mentaati semua syarat K3 B. Hak pekerja : (1) Minta pengurus penuhi semua syarat K3 (2) menyatakan keberatan bekerja pada pekerjaan yang syarat K3 / APD diragukan olehnya

18 Pasal 13 : (1) Memasang syarat2 K3 di tempat kerja (2) Memasang gambar2/bahan2 pembinaan K3 di tempat kerja (3) Menyediakan APD yang diperlukan secara cuma2

19 STATISTIK KECELAKAAN KERJA YANG DICATAT DALAM LAPORAN KECELAKAAN KERJA : 1. Waktu Kejadian : Jam, hari, tanggal 2. Tempat Kejadian : Bagian / unit kerja, Perusahaan, (Sektor - KLUI, wilayah, Propinsi) 3. Jumlah Korban : - dirinci berdasar kelamin - dirinci berdasar usia (kurang 10 thn, thn, thn, thn, thn, diatas 50 thn) 4. Akibat kecelakaan : - pada pekerja : meninggal, cacat/cidera tetap, stmb, cidera ringan.

20 - jumlah hari hilang - kerugian material 5. Bagian Cidera : Anggota badan pekerja yang cidera (mis. Kepala, mata, telinga, badan, lengan, tangan, jari tangan, paha, kaki, jari kaki, organ dalam) 6. Faktor Kecelakaan : A. Sumber kecelakaan : alat/bahan/mesin penyebab kecelakaan. B. Corak kecelakaan : proses kontak tk sb. Cidera (mis. Terbentur, terpukul, tertangkap pada/dalam/dan diantara benda, jatuh, tergelincir, terpapar, penghisapan/penyerapan, tersengat listrik dll.)

21 C. Kondisi Berbahaya : Misal : - pengaman rusak - alat/mesin kerja tidak sempurna - cacat/tidak sempurna kondisi kerja - prosedur tdk aman - dll D. Tindakan berbahaya : Misal : - bekerja bukan wewenang - kecepatan kerja yang berbahaya - pengaman tidak difungsikan - kerja pada bagian berbahaya - sembrono, lalai dll.

22 PENYAJIAN DATA : -Uraian -Tabel -Grafik -Gambar

23 MENGUKUR TINGKAT KECELAKAAN KERJA Frequensi Rate : (Tingkat kekerapan kecelakaan kerja) = Jumlah Kecelakaan X jumlah jam kerja orang Saverity Rate : (Tingkat keparahan kecelakaan kerja) = Jumlah hari hilang X Jumlah jam kerja orang

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2014 TENTANG PEDOMAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SEBAGAI WUJUD DARI KEBIJAKAN K3 DI PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, Tbk

PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SEBAGAI WUJUD DARI KEBIJAKAN K3 DI PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, Tbk LAPORAN KHUSUS PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SEBAGAI WUJUD DARI KEBIJAKAN K3 DI PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, Tbk Oleh: Indria Indah Susiani NIM. R0006048 PROGRAM D-III HIPERKES DAN KESELAMATAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03/MEN/98 TAHUN 1998 TENTANG TATA CARA PELAPORAN DAN PEMERIKSAAN KECELAKAAN

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03/MEN/98 TAHUN 1998 TENTANG TATA CARA PELAPORAN DAN PEMERIKSAAN KECELAKAAN PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03/MEN/98 TAHUN 1998 TENTANG TATA CARA PELAPORAN DAN PEMERIKSAAN KECELAKAAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. b. bahwa sebagai

Lebih terperinci

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk

Lebih terperinci

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 23 TAHUN 1997 (23/1997) Tanggal : 19 SEPTEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber : LN 1997/68; TLN

Lebih terperinci

MATERI PELAJARAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TENAGA KERJA ASING - BIDANG ELEKTRONIK

MATERI PELAJARAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TENAGA KERJA ASING - BIDANG ELEKTRONIK 印 尼 文 版 Versi Bahasa Indonesia MATERI PELAJARAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TENAGA KERJA ASING - BIDANG ELEKTRONIK 0 Topik 1. Penjelasan mengenai sistem manajemen keselamatan dan kesehatan tenaga kerja

Lebih terperinci

MELAKSANAKAN PERSIAPAN PEKERJAAN AWAL

MELAKSANAKAN PERSIAPAN PEKERJAAN AWAL M.PTL.KON. 001.(1).A. 01 MELAKSANAKAN PERSIAPAN PEKERJAAN AWAL BIDANG KEAHLIAN : TEKNIK KETENAGALISTRIKAN PROGRAM KEAHLIAN: TEKNIK PEMANFAATAN TENAGA LISTRIK DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT DEPARTEMEN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER.04/MEN/1987

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER.04/MEN/1987 PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER.04/MEN/1987 T E N T A N G PANITIA PEMBINA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SERTA TATA CARA PENUNJUKAN AHLI KESELAMATAN KERJA MENTERI TENAGA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA R.I NOMOR: PER.04/MEN/1993 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA,

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA R.I NOMOR: PER.04/MEN/1993 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA, MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA R.I NOMOR: PER.04/MEN/1993 TENTANG JAMINAN KECELAKAAN KERJA MENTERI TENAGA KERJA, Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksana pasal 19

Lebih terperinci

Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja

Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja [Untuk Orang Asing yang Bekerja di Jepang] インドネシア 語 版 Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja Pembayaran Asuransi Yang Dapat Diklaim (Ditagihkan) Asuransi kecelakaan kerja juga diterapkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Lalu Lintas dan Angkutan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur yang merata materiil

Lebih terperinci

Asuhan Keperawatan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Oleh : Retno Indarwati S.Kep.Ns

Asuhan Keperawatan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Oleh : Retno Indarwati S.Kep.Ns Asuhan Keperawatan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Oleh : Retno Indarwati S.Kep.Ns Definisi K3 Filosofi : Pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan : -Tenaga kerja baik jasmani maupun

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PENGATURAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PENGATURAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, S A L I N A N Nomor : 02/E, 2005 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PENGATURAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa dengan

Lebih terperinci

Undang-undang Nomor I Tahun 1970

Undang-undang Nomor I Tahun 1970 KESELAMATAN KERJA Undang-undang Nomor I Tahun 1970 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk

Lebih terperinci

(JUVENILE JUSTICE SYSTEM) DI INDONESIA

(JUVENILE JUSTICE SYSTEM) DI INDONESIA ANALISA SITUASI SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK (JUVENILE JUSTICE SYSTEM) DI INDONESIA Disusun oleh: Purnianti Departemen Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia Mamik Sri

Lebih terperinci

Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang terkait khususnya dalam bidang ketenagakerjaan.

Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang terkait khususnya dalam bidang ketenagakerjaan. KATA PENGANTAR Pada tahun anggaran 2014 salah satu kegiatan Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan adalah Penyusunan Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Data dan Informasi Jaminan Sosial

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-24/MEN/VI/2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-24/MEN/VI/2006 TENTANG PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER24/MEN/VI/2006 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA BAGI TENAGA KERJA YANG MELAKUKAN PEKERJAAN

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU

- 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU - 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BENGKULU, Menimbang Mengingat : bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG CARA PRODUKSI KOSMETIKA YANG BAIK MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa langkah utama untuk menjamin keamanan kosmetika adalah penerapan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2009 TENTANG PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN KELUARGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hakikat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa pembangunan bidang ekonomi khususnya

Lebih terperinci

PENERAPAN PRINSIP TANGGUNG JAWAB MUTLAK (STRiCT LiABiLiTy) DALAM RANGKA PERLINDUNGAN KONSUMEN

PENERAPAN PRINSIP TANGGUNG JAWAB MUTLAK (STRiCT LiABiLiTy) DALAM RANGKA PERLINDUNGAN KONSUMEN PENERAPAN PRINSIP TANGGUNG JAWAB MUTLAK (STRiCT LiABiLiTy) DALAM RANGKA PERLINDUNGAN KONSUMEN Oleh : Yudha hadian Nur 1 Dwi Wahyuniarti Prabowo 2 Naskah diterima : 20 Juni 2011 Disetujui diterbitkan :

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI

GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAMBI, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci