PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN : "PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK"

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN 401-2000 : "PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK""

Transkripsi

1 PEDOMAN KAN PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN : "PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK" Komite Akreditasi Nasional Adopsi dari IAF-GD Issue 2 1

2 KATA PENGANTAR The International Accreditation Forum, Inc. (IAF) adalah asosiasi dari lembagalembaga akreditasi penilaian kesesuaian diseluruh dunia dan lembaga lain yang terkait dengan penilaian kesesuaian di bidang sistem manajemen, produk, jasa, personel dan program penilaian kesesuaian lain yang serupa. Sebagai anggota dari International Accreditation Forum (IAF), KAN disyaratkan untuk melaksanakan akreditasi terhadap Lembaga Sertifikasi Produk berdasarkan Pedoman BSN (ISO/IEC Guide ) dan panduan yang diterbitkan oleh IAF untuk penerapan ISO/IEC Guide (Pedoman BSN ). Pedoman ini diadopsi oleh KAN dari dokumen yang diterbitkan oleh IAF pada tanggal 8 Desember 2006 dan ditetapkan untuk dapat dipergunakan oleh Lembaga Sertifikasi Produk sejak tanggal 8 Desember Pedoman ini menggantikan Pedoman KAN Untuk informasi lebih lanjut dan untuk memperoleh salinan dari dokumen ini dalam bahasa aslinya, dapat menghubungi Komite Akreditasi Nasional (KAN), atau mengunduh (down load) dari website IAF. 2

3 DAFTAR ISI Halaman Pendahuluan untuk Panduan 5 1. RUANG LINGKUP Panduan untuk butir 1.1 (G.1.1) 7 Panduan untuk butir 1.2 (G.1.2) 7 2. ACUAN 8 3. DEFINISI 8 Panduan untuk butir 3 (G.3.1) 8 4. LEMBAGA SERTIFIKASI 4.1 Ketentuan Umum 10 Panduan untuk butir 4.1 (G G.4.1.5) 4.2 Organisasi 11 Panduan untuk butir 4.2 (G G ) 4.3 Pelaksanaan 19 Panduan untuk butir 4.3 (G G.4.3.3) 4.4 Subkontrak 20 Panduan untuk butir 4.4 (G G.4.4.6) 4.5 Sistem Mutu 22 Panduan untuk butir 4.5 (G.4.5.1) 4.6 Kondisi dan Prosedur untuk Pemberian, Pemeliharaan, 22 Perluasan, Pembekuan dan Pencabutan Sertifikasi Panduan untuk butir 4.6 (G.4.6.1) 4.7 Audit Internal dan Kaji Ulang Manajemen 22 Panduan untuk butir 4.7 (G G.4.7.2) 4.8 Dokumentasi 23 Panduan untuk butir 4.8 (G.4.8.1) 4.9 Rekaman Kerahasiaan 23 3

4 5. PERSONEL LEMBAGA SERTIFIKASI 5.1 Umum Kriteria Kualifikasi 23 Panduan untuk butir 5.2 (G G.5.2.2) 6. PERUBAHAN PERSYARATAN SERTIFIKASI NAIK BANDING, KELUHAN DAN PERSELISIHAN 24 Panduan untuk butir 7 (G.7.1 G.7.3) 8. PERMOHONAN SERTIFIKASI PERSIAPAN UNTUK EVALUASI EVALUASI LAPORAN EVALUASI KEPUTUSAN SERTIFIKASI 25 Panduan untuk butir 12 (G.12.1 G.12.9) 13. SURVAILEN 27 Panduan untuk butir 13 (G.13.1 G.13.5) 14. PENGGUNAAN LISENSI, SERTIFIKAT, & TANDA KESESUAIAN 29 Panduan untuk butir 14 (G.14.1 G.14.6) 15. KELUHAN TERHADAP PEMASOK 30 LAMPIRAN 1 SERTIFIKASI JASA 31 4

5 LAMPIRAN 2 SERTIFIKASI PROSES 33 PANDUAN INTERPRETASI UNTUK BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN : "PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK" PENDAHULUAN UNTUK PANDUAN Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) adalah pedoman internasional yang berisi kriteria untuk lembaga yang melaksanakan sistem sertifikasi produk, jasa dan proses. Bila suatu lembaga ingin diakreditasi, sesuai dengan persyaratan Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) yang telah diharmonisasikan di seluruh dunia, maka diperlukan beberapa panduan untuk digunakan sebagai pedoman. Panduan ini memberikan penjelasannya. Salah satu tujuannya adalah untuk menjamin badan akreditasi dapat mengharmonisasikan permohonan mereka terhadap standar yang diperlukan dalam mengases lembaga sertifikasi. Ini merupakan salah satu langkah penting ke arah saling pengakuan dalam bidang akreditasi. Diharapkan bahwa panduan ini juga akan berguna untuk lembaga sertifikasi itu sendiri dan untuk siapa saja yang memperoleh sertifikatnya Panduan ini tidak mencantumkan teks dari Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65). Pengguna harus membeli dokumen tersebut dari organisasi standar yang sesuai. Panduan yang diberikan diidentifikasi dengan huruf G. Persyaratan terhadap kesesuaian yang ditetapkan, ditemukan dalam Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65). Panduan ini tidak membuat persyaratan yang lebih lanjut Panduan ini akan menjadi dasar Perjanjian Saling Pengakuan (MRA) antara badan akreditasi dan perlu untuk dipergunakan dalam penerapan Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) secara konsisten. Anggota dari Perjanjian Multilateral (MLA) IAF, dan calon anggotanya akan mengases satu sama lainnya atas penerapan Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), dan seluruh panduan ini 5

6 diharapkan akan diadopsi oleh badan akreditasi sebagai bagian dari peraturan umum pelaksanaannya Istilah harus (shall) yang dipergunakan di dalam seluruh dokumen ini, menunjukkan aturan-aturan dari persyaratan Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) yang sifatnya wajib (mandatory). Istilah sebaiknya (should) dipergunakan untuk menunjukkan panduan, yang meskipun tidak wajib (mandatory), diberikan oleh IAF sebagai cara yang diakui untuk memenuhi persyaratan. Lembaga Sertifikasi yang sistemnya tidak mengikuti Panduan IAF, hanya akan sesuai untuk akreditasi bila LS tersebut dapat membuktikan kepada badan akreditasi bahwa solusi yang dilakukan memenuhi butir yang relevan dari Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), dengan cara yang ekivalen Lembaga Sertifikasi dapat meminta saran dari badan akreditasi untuk setiap hal yang dapat mempengaruhi akreditasinya. Badan akreditasi sebaiknya menanggapi dengan saran atau keputusan IAF telah menyusun dokumen ini sebagai panduan untuk penerapan Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65). IAF juga menyusun dokumen panduan untuk Pedoman ISO/IEC 61, 62, 66 dan

7 PANDUAN INTERPRETASI UNTUK PENERAPAN BUTIR-BUTIR PEDOMAN BSN : "PERSYARATAN UMUM LEMBAGA SERTIFIKASI PRODUK" 1. RUANG LINGKUP Panduan untuk Butir 1.1 G Materi atau penjelasan yang terdapat di panduan ini terutama ditujukan untuk sertifikasi yang biasa digunakan untuk produk yang nyata. Panduan ini juga dapat diterapkan untuk sertifikasi produk tidak nyata (misalnya perangkat lunak, jasa) dan untuk sertifikasi proses. Gambaran spesifik dari sertifikasi jasa dan sertifikasi proses dijelaskan secara respektif dalam Lampiran 1 dan Lampiran 2. Kecuali dinyatakan lain, kata produk dimaksudkan untuk mencakup jasa dan proses. Panduan untuk Butir 1.2 (G G.1.2.4) G Dalam menetapkan sistem sertifikasi produk, tujuannya adalah untuk membuktikan kepada pasar dan/atau regulator bahwa pemasok dapat dan memproduksi produk sesuai dengan dokumen normative. G Dalam sistem sertifikasi produk peran dari pemasok dan lembaga sertifikasi adalah saling melengkapi, pemasok bertanggung jawab untuk kesesuaian produk (lihat butir 3.1 Pedoman BSN 401) dan lembaga sertifikasi bertanggung jawab terhadap pelaksanaan skema sertifikasi yang memberikan kepercayaan kesesuaian produk terhadap pasar dan/atau regulator. G Dalam beberapa kasus inspeksi adalah bagian dari seritifikasi produk. Tujuan dari inspeksi adalah untuk memberikan informasi pemenuhan dari suatu produk tertentu kepada pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan inspeksi. Bila inspeksi adalah bagian dari skema sertifikasi produk maka pihak tersebut adalah lembaga sertifikasi. 7

8 G Panduan untuk tipe-tipe yang berbeda dari sistem sertifikasi produk termasuk beberapa tipe asesmen, dapat diperoleh dari PSN (ISO/IEC Guide 67) atau dari dokumen lain yang relevan. 2. ACUAN PSN (ISO/IEC Guide 67) Penilaian kesesuaian Fundamental sertifikasi produk; PSN (ISO/IEC 17000) Penilaian kesesuaian Kosakata dan prinsip umum; ISO/IEC Penilaian kesesuaian Persyaratan umum untuk badan akreditasi yang mengakreditasi lembaga penilaian kesesuaian; SNI (ISO/IEC 17020) Persyaratan umum pengoperasian berbagai lembaga inspeksi SNI (ISO/IEC 17025) Persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi PSN (ISO/IEC 17030) Penilaian kesesuaian Ketentuan umum penggunaan tanda kesesuaian produk terhadap SNI SNI (ISO/IEC 19011) Panduan audit sistem manajemen mutu dan/atau lingkungan 3. DEFINISI Panduan untuk Butir 3 (G.3.1) G.3.1 Dalam dokumen ini, digunakan definisi berikut ; Dokumen Normatif : Dokumen yang memberikan aturan, pedoman atau karakteristik untuk kegiatan atau hasil dari kegiatan. Istilah dokumen normatif adalah istilah umum yang mencakup dokumen-dokumen seperti standar, spesifikasi teknis, aturan pelaksanaan dan regulasi. Suatu dokumen dipahami sebagai media dengan informasi yang terekam di dalamnya. Istilah untuk jenis 8

9 yang berbeda dari dokumen normatif didefenisikan dengan mempertimbangkan dokumen dan isinya sebagai satu kesatuan yang tunggal (PSN ) Sistem sertifikasi : Sistem penilaian kesesuaian yang mencakup seleksi, determinasi, kaji ulang dan akhirnya sertifikasi yang merupakan kegiatan atestasi Skema Sertifikasi : Sistem sertifikasi untuk produk tertentu dimana persyaratan, aturan spesifik dan prosedur standar yang sama diterapkan (PSN ). Skema dapat dikembangkan oleh antar lembaga sertifikasi atau oleh pemilik skema yang mewakili kelompok spesifik dari pihak yang berkepentingan. Skema dapat mencakup persyaratan prosedur penilaian kesesuaian dan fungsi lembaga sertifikasi untuk melengkapi persyaratan yang ditetapkan di Pedoman BSN 401. Ketidaksesuaian : Penyimpangan (deviasi) dari persyaratan yang ditetapkan, terkait dengan produk atau dengan persyaratan sertifikasi yang ditetapkan oleh lembaga sertifikasi. Lembaga sertifikasi bebas untuk menetapkan perbedaan tingkat atau deviasi dan bidang untuk perbaikan (misalnya ketidaksesuaian mayor atau minor, observasi, dst). Namun seluruh deviasi yang dapat mengakibatkan keraguan terhadap kesesuaian produk dengan persyaratan yang ditetapkan sebaiknya harus diselesaikan seperti yang dijelaskan di butir G Survailen : pengulangan yang sistematis dari kegiatan penilaian kesesuaian yang merupakan dasar untuk pemeliharaan dari keabsahan pernyataan kesesuaian (PSN ). Dokumen sertifikasi formal : dokumen yang diterbitkan sesuai prosedur sistem sertifikasi dan pengesahan bahwa suatu produk dibuktikan telah memenuhi persyaratan spesifik. 9

10 4. LEMBAGA SERTIFIKASI 4.1 Ketentuan Umum Panduan untuk butir 4.1 (G G.4.1.5) G Lembaga sertifikasi tidak boleh melakukan segala bentuk diskriminasi termasuk diskriminasi tersembunyi dengan cara mempercepat atau menunda proses permohonan. G Untuk memenuhi sertifikasi produk, lembaga sertifikasi mewajibkan pemohon untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab dalam menjamin produk memenuhi persyaratan sertifikasi. G Dokumen yang dimaksud pada butir dari Pedoman BSN 401, yang menetapkan persyaratan produk dan persyaratan lain yang berlaku, harus disediakan bagi pemohon dan public sesuai permintaan. Dokumen normative sebaiknya dikembangkan, divalidasi dan dipelihara melalui proses yang dapat menjamin masukan teknis dari pihak yang berkepentingan seperti pemasok, regulator dan pengguna produk. Validasi sebaiknya konsisten dengan karakteristik dari produk yang disertifikasi. G Dokumen yang dimaksud pada butir dari Pedoman BSN 401 mencakup dokumen yang dikembangkan oleh pemilik skema (lihat definisi skema sertifikasi). Pemilik skema sebaiknya menganut prinsip yang sama untuk mengembangkan dan memelihara dokumen tersebut. G Untuk kasus sertifikasi proses, dokumen yang dimaksud pada butir dari Pedoman BSN 401 harus secara jelas mengidentifikasi proses yang diases, persyaratan yang relevan dan metode untuk asesmen kesesuaian. 10

11 4.2 Organisasi Panduan untuk butir 4.2 (G G ) G Akreditasi hanya diberikan kepada lembaga yang memiliki status legal seperti yang disebutkan dalam butir 4.2.d) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), dan akan dibatasi untuk ruang lingkup dan lokasi yang dideklarasikan. Ruang lingkup akreditasi untuk lembaga sertifikasi produk sebaiknya mengidentifikasi skema sertifikasi, produk dan dokumen normative yang digunakan untuk sertifikasi. G Ruang lingkup akreditasi untuk lembaga sertifikasi dapat ditetapkan dengan jenis kategori produk atau kelompok dokumen normatif yang membuktikan bahwa lembaga sertifikasi produk memiliki kapabilitas sebagai pensertifikasi produk dan menunjukkan bahwa lembaga sertifikasi memiliki : Akses untuk personel yang kompeten dalam mendukung kategori produk Kemampuan teknis untuk mengembangkan, memperluas dan memodifikasi skema sertifikasi Prosedur untuk validasi skema yang diperluas atau yang dimodifikasi G Bila kegiatan sertifikasi dilaksanakan oleh suatu lembaga yang status legalnya merupakan bagian dari suatu organisasi yang lebih besar, hubungan dengan bagian lain dari organisasi besar tersebut harus dinyatakan dengan jelas dan sebaiknya ditunjukkan bahwa tidak ada konflik kepentingan seperti yang disebutkan dalam panduan G sampai dengan G Informasi terkait tentang kegiatan yang dilaksanakan oleh bagian lain dari organisasi yang lebih besar tersebut, harus diberikan oleh lembaga sertifikasi kepada badan akreditasi. G Peragaan bahwa lembaga sertifikasi adalah suatu institusi legal seperti yang dipersyaratkan pada butir 4.2.d) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), mempunyai arti bahwa bila lembaga sertifikasi pemohon hanya dapat menunjukkan status legal institusinya adalah bagian dari suatu institusi legal 11

12 yang lebih besar, akreditasi hanya harus diberikan kepada institusi legal yang lebih besar. Dalam situasi dimana lembaga sertifikasi adalah bagian dari institusi legal yang lebih besar, dan dalam rangka melaksanakan tahapan audit tertentu dan/atau mengkaji ulang rekaman yang terkait dengan lembaga sertifikasi, fungsi lain dari institusi legal yang lebih besar dapat diases. Hal ini harus dibatasi untuk fungsi yang kegiatannya dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan Pedoman BSN 401. G Bagian dari institusi legal yang membentuk lembaga sertifikasi dapat memasarkan (diidentifikasi) jasanya dengan nama tersendiri, dan nama tersebut sebaiknya menunjukkan sertifikat akreditasi dan sertifikat yang diterbitkan untuk organisasi yang disertifikasi. G Untuk maksud dari butir 4.2.d) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), lembaga sertifikasi yang merupakan bagian dari organisasi pemerintah atau departemen pemerintah, akan dianggap sebagai institusi legal berdasarkan status lembaga pemerintahnya. Status dan struktur dari lembaga tersebut harus didokumentasikan secara resmi dan lembaga tersebut harus memenuhi seluruh persyaratan Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65). G Bila lembaga sertifikasi dan kliennya adalah bagian dari organisasi pemerintah, kedua lembaga tersebut tidak boleh secara langsung melapor kepada personel atau kelompok yang memiliki tanggung jawab operasional terhadap keduanya. Ditinjau dari persyaratan kenetralan, lembaga sertifikasi harus mampu mendemonstrasikan bagaimana dia memenuhi persyaratan tersebut apabila lembaga sertifikasi dan kliennya adalah merupakan bagian dari pemerintah. Lembaga sertifikasi harus menunjukkan bahwa pemohon tidak menerima perlakuan istimewa dan kenetralannya dapat dijamin. G Kenetralan dan keindependenan dari lembaga sertifikasi tersebut sebaiknya dijamin pada tiga level berikut: 1. Strategi dan Kebijakan; 12

13 2. Keputusan Sertifikasi; 3. Evaluasi G Kenetralan seperti yang dipersyaratkan oleh butir 4.2.a) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), hanya dapat dibuktikan melalui struktur seperti yang dipersyaratkan dalam butir 4.2.e) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), yang menjamin partisipasi dari seluruh pihak yang terlibat langsung dalam pengembangan kebijakan dan prinsip yang berkaitan dengan materi dan fungsi dari sistem sertifikasi. G Struktur yang menjamin kenetralan seperti yang dipersyaratkan oleh butir 4.2 e) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), sebaiknya terpisah dari manajemen yang ditetapkan untuk memenuhi persyaratan Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) butir 4.2 c), kecuali fungsi manajemen keseluruhan dilaksanakan oleh komite atau kelompok yang disusun untuk menjamin partisipasi dari seluruh pihak seperti yang dipersyaratkan oleh Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) butir 4.2 e). G Struktur yang dipersyaratkan oleh butir 4.2 e) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) sebaiknya juga merupakan struktur dimana pertimbangan komersial atau pertimbangan keuangan lain tidak mempengaruhi konsistensi, dan ketentuan objektif dari jasa lembaga sertifikasi. G Butir 4.2 e) Pedoman BSN 401 mensyaratkan bahwa struktur yang terdokumentasi dari lembaga sertifikasi mencakup ketentuan untuk partisipasi dari seluruh pihak yang secara signifikan terkait. Biasanya struktur ini dbentuk melalui beberapa jenis komite atau melalui mekanisme masukan lain yang sama. G Struktur ini harus secara resmi ditetapkan pada tingkat yang paling tinggi di organisasi baik di dalam dokumentasi yang menetapkan status legal lembaga sertifikasi atau melalui cara lain yang mencegah struktur tersebut dirubah dengan cara yang dapat mengkompromosikan kenetralannya. Setiap 13

14 perubahan dalam struktur ini sebaiknya mempertimbangkan saran dari komite, atau yang ekuivalen, yang diacu di butir 4.2 e). Komite ini, atau yang ekuivalen, harus a) membantu dalam pengembangan kebijakan yang terkait dengan kenetralan dari kegiatan sertifikasinya b) meniadakan setiap kecenderungan dari pihak pemilik lembaga sertifikasi untuk memberikan pertimbangan komersial atau pertimbangan lain yang mempengaruhi konsistensi ketentuan objektif dari kegiatan sertifikasi c) memberikan saran untuk setiap hal yang mempengaruhi kepercayaan sertifikasi, termasuk keterbukaan dan persepsi publik G Penerapan butir 4.2 e) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) mensyaratkan bahwa seluruh pihak yang secara signifikan terkait di dalam sistem mampu untuk berpartisipasi. Yang paling penting adalah bahwa seluruh kepentingan utama yang teridentifikasi sebaiknya diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dengan memperhatikan keseimbangan kepentingan sehingga tidak terjadi dominasi kepentingan dari salah satu pihak. Anggota biasanya dipilih minimal dari antara perwakilan kelompok berikut : pabrikan atau pemasok, pengguna, konsumen, tenaga ahli penilaian kesesuaian. Untuk alasan pelaksanaan, dimungkinkan adanya kebutuhan untuk membatasi jumlah personel. G Sesuai permintaan komite atau tim lain yang sejenis seperti yang disebutkan di dalam butir 4.2 e) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), manajemen yang bertanggung jawab atas berbagai fungsi seperti yang diuraikan dalam butir 4.2 c) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), sebaiknya memberikan kepada komite/tim, seluruh informasi yang diperlukan, termasuk alasan untuk seluruh keputusan dan kegiatan yang penting, dan pemilihan personel yang bertanggung jawab untuk kegiatan tertentu yang terkait dengan sertifikasi, untuk menjamin lembaga sertifikasi dapat menjaga keabsahan dan kenetralan sertifikasi. Bila saran dari komite atau tim lain yang sejenis ini tidak ditanggapi oleh pihak manajemen, komite atau tim lain yang sejenis tersebut, 14

15 harus mengambil tindakan yang tepat, termasuk menginformasikannya kepada badan akreditasi. G Persyaratan stabilitas keuangan (diacu dalam butir 4.2 i) mensyaratkan lembaga sertifikasi untuk menunjukkan bahwa dia memiliki harapan yang layak untuk mampu memberikan dan melanjutkan jasanya sesuai dengan kewajiban kontraknya. Lembaga sertifikasi bertanggung jawab untuk menyediakan buktibukti yang memadai kepada badan akreditasi perihal kelangsungan kegiatannya misalnya laporan atau risalah manajemen, laporan tahunan, laporan audit keuangan, rencana keuangan. G Bila keputusan untuk menerbitkan atau mencabut sertifikasi yang sesuai dengan butir 4.2.n) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) diambil oleh komite yang anggotanya antara lain merupakan perwakilan dari salah satu atau lebih kliennya, prosedur pelaksanaan lembaga sertifikasi tersebut sebaiknya menjamin bahwa perwakilan tersebut tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap pengambilan keputusan tersebut. Hal ini dapat dijamin melalui distribusi hak suara atau cara-cara lain yang ekivalen. G Butir 4.2.o) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) memperlihatkan dua persyaratan yang terpisah. Pertama, lembaga sertifikasi bersama dengan eksekutif senior dan stafnya tidak boleh memberikan jasa seperti yang disebutkan dalam sub-butir 1), 2), dan 3) dari butir tersebut. Kedua, meskipun tidak ada batasan yang khusus untuk jasa atau kegiatan yang diberikan oleh lembaga terkait, namun hal ini tidak boleh mempengaruhi kerahasiaan, objektifitas atau kenetralan dari lembaga sertifikasi tersebut. G Jasa konsultasi untuk hal-hal yang menghambat sertifikasi dapat dilakukan dengan cara yang kreatif, untuk pengembangan dan pemantauan/perbaikan yang terus menerus dari produk, proses, atau jasa, melalui cara seperti contoh berikut : a) memberikan dukungan/saran spesifik untuk elemen disain 15

16 b) menyusun atau membuat manual, buku pegangan atau prosedur c) keterlibatan dalam pemantauan pemasok, kaji ulang dan proses pengambilan keputusan yang diterapkan untuk produk G Kegiatan oleh lembaga terkait dan lembaga sertifikasi seperti yang disebutkan di butir 4.2 o) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) sebaiknya tidak dipasarkan dengan cara yang dapat memberikan kesan bahwa kedua kegiatan tersebut adalah terkait sehingga dapat mengkompromosikan kenetralan dari lembaga sertifikasi. G Sebaiknya tidak ada satupun yang dinyatakan oleh lembaga sertifikasi yang akan menunjukkan bahwa sertifikasi tersebut akan lebih sederhana, mudah atau lebih murah bila beberapa kegiatan seperti yang disebutkan di butir 4.2 o) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), digunakan. G Lembaga terkait seperti yang disebutkan dalam butir 4.2 o) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65), adalah suatu lembaga yang memiliki hubungan dengan lembaga sertifikasi melalui kepemilikan umum baik sebagian atau keseluruhan, direktur umum, perjanjian kontrak, nama yang dipergunakan, perjanjian tidak formal atau melalui cara lain yang menunjukkan bahwa lembaga terkait tersebut memiliki kepentingan yang legal/sah dalam beberapa keputusan sertifikasi atau memiliki kemampuan yang potensial untuk mempengaruhi proses. G Lembaga sertifikasi sebaiknya menganalisa dan mendokumentasikan hubungannya dengan lembaga-lembaga terkaitnya, untuk menentukan kemungkinan adanya konflik kepentingan dengan ketentuan sertifikasi dan mengidentifikasi kegiatan dari lembaga-lembaga tersebut yang tidak ditujukan untuk pengendalian tertentu, mempengaruhi kerahasiaan, objektifitas atau kenetralan. G Lembaga sertifikasi harus mendemostrasikan bagaimana mereka mengatur bisnis sertifikasi mereka dan kegiatan-kegiatan lain sehingga dapat 16

17 menghilangkan konflik kepentingan yang timbul dan mengurangi resiko yang teridentifikasi atas kenetralannya. Demonstrasi tersebut harus mencakup seluruh sumber-sumber yang potensial dari konflik kepentingan baik yang timbul dari dalam lembaga sertifikasi tersebut atau dari kegiatan badan terkaitnya. Badan akreditasi mengharapkan lembaga sertifikasi untuk menjelaskan secara terbuka proses audit mereka. Hal ini dapat termasuk, kemampuan dan kebenaran dari prakteknya, tujuan dari setiap kegiatan audit dengan meninjau rekaman dari lembaga sertifikasi dan lembaga terkaitnya untuk setiap kegiatan yang diipertimbangkan. Dalam hal perhitungan biaya pelaksanaan audit, sebaiknya dilaksanakan secara netral oleh lembaga sertifikasi. Bila ditemukan kegagalan dalam menjaga kenetralannya, maka lembaga sertifikasi perlu meninjau kembali tahap kegiatan audit terhadap lembaga terkaitnya untuk memberikan jaminan bahwa konflik kepentingan yang terjadi diluar kendali telah ditetapkan kembali. G Persyaratan dari butir 4 dan butir Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) mempunyai arti bahwa personel, termasuk personel yang bertindak dalam kapasitas manajerial, tidak boleh ditugaskan untuk melaksanakan evaluasi yang merupakan bagian dari proses sertifikasi, bila keterlibatannya dengan pemohon atau pemasok atau lembaga yang terkait dengan pemasok (lihat G ), dalam kegiatan seperti yang diuraikan di butir 4.2 o) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) belum lebih dari 2 tahun. Situasi dimana telah ada keterlibatan awal atau keterlibatan personel dengan pemasok yang akan dievaluasi, dapat menyebabkan konflik kepentingan. Lembaga sertifikasi memiliki tanggung jawab untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi situasi seperti tersebut di atas dan menetapkan tangggung jawab dan tugas yang dapat menjamin bahwa kenetralannya tidak akan dapat dipengaruhi. G Butir 4.2 f) Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) mensyaratkan bahwa setiap keputusan sertifikasi diambil oleh personel yang berbeda dari yang 17

18 melaksanakan evaluasi. Pengujian dan inspeksi, atau salah satu diantaranya, adalah tugas evaluasi. Tugas evaluasi mencakup verifikasi setiap tindakan koreksi yang dilakukan untuk menyelesaikan setiap ketidaksesuaian yang diidentifikasi. G Eksekutif senior, staf dan/atau personel tidak diharuskan personel yang full-time (permanen) namun kegiatan profesional lainnya tidak boleh mengkompromikan kenetralannya. G Lembaga sertifikasi sebaiknya mensyaratkan seluruh subkontrak yang terlibat dalam evaluasi atau asesor/auditor eksternal untuk memberikan pengertian yang terkait dengan pemasaran dari kegiatan seperti yang disebutkan di butir 4.2 o) setara dengan yang dipersyaratkan di dalam panduan G dan G G Lembaga sertifikasi sebaiknya bertanggung jawab untuk menjamin bahwa lembaga terkait lainnya atau sub-kontraktor, atau asesor/auditor eksternal melakukan kegiatannya dalam batas-batas yang telah diberikan. Disamping itu sebaiknya juga bertanggung jawab untuk menerapkan tindakan perbaikan yang sesuai untuk hal-hal yang telah diidentifikasikan. G Lembaga sertifikasi diijinkan untuk menjelaskan temuannya dan/atau mengklarifikasikan persyaratan dari dokumen normative tetapi tidak boleh memberikan saran yang sangat rinci atau konsultansi sebagai bagian dari evaluasi. Hal ini tidak menghambat pertukaran informasi yang umum dengan klien dan pihak yang berkepentingan lainnya. G Hak-hak seperti yang disebut di butir 4.2 g) dapat mencakup kontrak dengan pemilik skema atau pengakuan lain yang ditetapkan sesuai denga aturan skema. 18

19 G Cara yang dilakukan oleh lembaga sertifikasi untuk memperoleh dukungan keuangan sebaiknya mengijinkan lembaga sertifikasi mempertahankan kenetralannya. 4.3 Pelaksanaan Panduan untuk butir 4.3 (G G.4.3.3) G Lembaga sertifikasi harus mampu menunjukkan kepada badan akreditasi bahwa seluruh pelaksanaan kegiatan penilaian kesesuaian (pengujian, inspeksi, evaluasi sistem manajemen mutu, survailen, dst) dilaksanakan dengan cara yang kompeten dan dipercaya, konsisten dengan persyaratan yang diterapkan dari dokumen normative untuk kegiatan tersebut. Pembuktian kompetensi dari kegiatan pengujian dapat didasarkan kepada evaluasi terdokumentasi yang dilaksanakan oleh personel kompeten dari internal atau eksternal sesuai dengan prosedur terkait. Bila bukti-bukti yang disediakan oleh lembaga sertifikasi tidak memberikan kepercayaan dalam kegiatan pengujian, asesmen tambahan pada lokasi pengujian sebaiknya dipertimbangkan oleh badan akreditasi. Hal yang sama diterapkan untuk kegiatan penilaian kesesuaian lainnya. (Untuk kegiatan subkontrak lihat G.4.4.2) G Persyaratan dari skema sertifikasi spesifik harus tersedia bagi pemohon dan bila diminta, bagi masyarakat. Hal tersebut dapat mencakup dokumen yang menjabarkan kegiatan seperti pengambilan contoh, pengujian, inspeksi, survailen dan asesmen dari sistem manajemen yang sesuai. Dokumen skema sebaiknya dikembangkan dan dipelihara melalui proses yang mempertimbangkan pandangan dari pihak yang berkepentingan. G Dokumen yang disebut dalam butir 4.3 mencakup dokumen yang dikembangkan oleh pemilik skema (lihat definisi skema sertifikasi dalam G.3.1). Contoh dari jenis persyaratan pelengkap dari pemilik skema adalah : Persyaratan kualifikasi, pengalaman, pelatihan dan registrasi auditor; Persyaratan laporan audit; 19

20 Persyaratan durasi dan frekuensi audit; Panduan lain untuk prosedur penilaian kesesuaian lembaga sertifikasi 4.4 Subkontrak Panduan untuk butir 4.4 (G G.4.4.6) G Lembaga sertifikasi dapat mensubkontrakkan kegiatan ke lembaga lain (misalnya pengujian atau inspeksi atau evaluasi sistem manajemen mutu), yang memberikan pengaturan bahwa lembaga yang disubkontrak disyaratkan untuk memenuhi seluruh persyaratan yang relevan dari Pedoman BSN 401 (ISO/IEC Guide 65) dan bila mungkin SNI dan SNI serta Pedoman BSN Bila jaminan ini didasarkan untuk sebagian atau keseluruhan akreditasi dari subkontraktor, ruang lingkup akreditasi sebaiknya mencakup kegiatan yang dilaksanakan di bawah skema sertifikasi dan lembaga sertifikasi harus memiliki rekaman yang dapat menunjukkan bahwa status akreditasi dari subkontraktor telah diperiksa. G Bila lembaga subkontrak yang digunakan tidak diakreditasi sesuai dengan standar relevan untuk kegiatan spesifik yang disyaratkan oleh skema sertifikasi, lembaga sertifikasi harus menunjukkan kompetensi dari lembaga yang disubkontrak melalui cara lain, seperti evaluasi terdokumentasi yang dilaksanakan oleh personel yang kompeten sesuai dengan prosedur yang mencakup evaluasi awal kompetensi dan pemantauan yang terus menerus terhadap unjuk kerja dari lembaga yang disubkontrak. G Evaluasi dari laporan dan keputusan sertifikasi harus dibuat hanya oleh lembaga sertifikasi itu sendiri dan tidak oleh lembaga lain. Bila evaluasi gabungan dilaksanakan, maka setiap lembaga sertifikasi harus menyakinkan dirinya sendiri bahwa seluruh kegiatan evaluasi telah dilaksanakan secara memuaskan oleh personel yang kompeten. 20

21 Individu yang bekerja berdasarkan perjanjian resmi dengan lembaga sertifikasi, dalam sistem yang diakreditasi, dan dibawah wewenang dan pengendalian dari manajemen lembaga sertifikasi tidak dianggap sebagai subkontraktor. G Bila fasilitas pengujian yang independen tidak digunakan, lembaga sertifikasi harus memastikan bahwa pengendalian/kontrol tertentu ada di lokasi fasilitas pengujian pemasok, yang diatur dengan cara yang dapat memberikan kepercayaan terhadap hasil yang diperoleh dari pengujian dan bahwa rekaman tersedia untuk menentukan kepastian. Dalam hal ini ketentuan dari G dan/atau G juga diterapkan dan tergantung dari cakupan pengendalian yang ditetapkan oleh lembaga sertifikasi dan beberapa persyaratan dari SNI dapat tidak disyaratkan atau tidak diterapkan. Hal yang sama diterapkan untuk kegiatan penilaian kesesuaian yang lain. G Catatan 2 menguraikan situasi dimana lembaga sertifikasi percaya terhadap hasil kerja dari lembaga lain. Kepercayaan tersebut perlu didukung oleh evaluasi teknis dari hasil kerja yang dilaksanakan. Evaluasi tersebut harus didokumentasikan oleh lembaga sertifikasi. Catatan 3 juga menjelaskan situasi dimana lembaga sertifikasi percaya terhadap hasil kerja dari lembaga lain. Sebaiknya juga dijamin bahwa informasi terhadap evaluasi hasil kerja yang dipercayakan adalah mutakhir dan sesuai. Dalam hal dimana lembaga sertifikasi bertanggung jawab terhadap terhadap hasil kerja yang sebelumnya dilaksanakan oleh lembaga sertifikasi lain, lembaga sertifikasi harus memiliki seluruh laporan dan rekaman yang relevan untuk membuktikan kompetensi dan kesesuaian dengan persyaratan (ditetapkan oleh lembaga sertifikasi) dari lembaga sertifikasi lain untuk periode waktu dimana kegiatan dilaksanakan. G Lembaga sertifikasi sebaiknya mengkonfirmasikan ruang lingkup, kemutakhiran dan penerapan dari sertifikasi atau akreditasi yang ditetapkan (seperti yang dipersyaratkan oleh skema sertifikasi yang relevan dari lembaga sertifikasi). 21

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM DP.01.07 SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM Komite Akreditasi Nasional National Accreditation Body of Indonesia Gedung Manggala Wanabakti, Blok IV, Lt. 4 Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan SNI ISO 9001-2008 Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional SNI ISO 9001-2008 Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1

Lebih terperinci

Pedoman KAN 403-2011 Penilaian Kesesuaian Ketentuan umum penggunaan tanda kesesuaian berbasis SNI dan/atau regulasi teknis

Pedoman KAN 403-2011 Penilaian Kesesuaian Ketentuan umum penggunaan tanda kesesuaian berbasis SNI dan/atau regulasi teknis Pedoman KAN 403-2011. Penilaian Kesesuaian Ketentuan umum penggunaan tanda kesesuaian berbasis SNI dan/atau regulasi teknis Komite Akreditasi Nasional Pedoman KAN 403-2011 Daftar isi Kata pengantar...ii

Lebih terperinci

PERJANJIAN LISENSI PENGGUNAAN TANDA SNI No. : /ABI-Pro/X/2014

PERJANJIAN LISENSI PENGGUNAAN TANDA SNI No. : /ABI-Pro/X/2014 PERJANJIAN LISENSI PENGGUNAAN TANDA SNI No. : /ABI-Pro/X/2014 Agro-Based Industry Product Certification (ABI-Pro), beralamat di Jalan Juanda 11, yang selanjutnya disebut sebagai ABI-Pro, dengan ini memberikan

Lebih terperinci

PSN 307 2006. Pedoman Standardisasi Nasional

PSN 307 2006. Pedoman Standardisasi Nasional Pedoman Standardisasi Nasional Penilaian kesesuaian - Pedoman bagi lembaga sertifikasi untuk melakukan tindakan koreksi terhadap penyalahgunaan tanda kesesuaian atau terhadap produk bertanda kesesuaian

Lebih terperinci

Penilaian kesesuaian Pedoman pelaksanaan sertifikasi produk oleh pihak ketiga

Penilaian kesesuaian Pedoman pelaksanaan sertifikasi produk oleh pihak ketiga PSN 304-2006 Pedoman Standardisasi Nasional Penilaian kesesuaian Pedoman pelaksanaan sertifikasi produk oleh pihak ketiga Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar Isi... i Prakata... ii Pendahuluan...

Lebih terperinci

PERSYARATAN UMUM TEMPAT UJI KOMPETENSI LSP PPT MIGAS

PERSYARATAN UMUM TEMPAT UJI KOMPETENSI LSP PPT MIGAS PERSYARATAN UMUM TEMPAT UJI KOMPETENSI LSP PPT MIGAS 1. RUANG LINGKUP DAN ACUAN Ruang lingkup: Pedoman ini menguraikan kriteria Tempat Uji Kompetensi Tenaga Kerja yang mencakup persyaratan manajemen dan

Lebih terperinci

PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA. Logo perusahaan

PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA. Logo perusahaan PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA Logo perusahaan DISETUJUI OLEH: PRESIDEN DIREKTUR Dokumen ini terkendali ditandai dengan stempel DOKUMEN TERKENDALI. Dilarang mengubah atau menggandakan dokumen tanpa seizing

Lebih terperinci

Sistem Manajemen Keamanan pangan Persyaratan untuk organisasi dalam rantai pangan

Sistem Manajemen Keamanan pangan Persyaratan untuk organisasi dalam rantai pangan Standar Nasional Indonesia Sistem Manajemen Keamanan pangan Persyaratan untuk organisasi dalam rantai pangan Food safety management system Requirements for any organization in the food chain (ISO 22000:2005,

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN PERATURAN KEPALA BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SELAKU OTORITAS

Lebih terperinci

SKEMA SERTIFIKASI AHLI TEKNIK TEROWONGAN

SKEMA SERTIFIKASI AHLI TEKNIK TEROWONGAN 1. Justifikasi 1.1 Tuntutan persyaratan kompetensi Tenaga kerja untuk pekerjaan perencana, pengawas dan pelaksana jasa konstruksi harus bersertifikat keahlian kerja dan atau keterampilan kerja (UU No.

Lebih terperinci

SYARAT DAN ATURAN TAMBAHAN AKREDITASI LEMBAGA VERIFIKASI LEGALITAS KAYU

SYARAT DAN ATURAN TAMBAHAN AKREDITASI LEMBAGA VERIFIKASI LEGALITAS KAYU DPLS 14 Rev. 0 SYARAT DAN ATURAN TAMBAHAN AKREDITASI LEMBAGA VERIFIKASI LEGALITAS KAYU Komite Akreditasi Nasional National Accreditation Body of Indonesia Gedung Manggala Wanabakti, Blok IV, Lt. 4 Jl.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah

Lebih terperinci

SISTEM AKREDITASI DAN SERTIFIKASI PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL) DAN LEGALITAS KAYU (LK)

SISTEM AKREDITASI DAN SERTIFIKASI PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL) DAN LEGALITAS KAYU (LK) SISTEM AKREDITASI DAN SERTIFIKASI PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL) DAN LEGALITAS KAYU (LK) Komite Akreditasi Nasional KOMITE AKREDITASI NASIONAL Dasar hukum : PP 102 tahun 2000 tentang Nasional

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG LABORATORIUM LINGKUNGAN.

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG LABORATORIUM LINGKUNGAN. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 06 TAHUN 2009 TENTANG LABORATORIUM LINGKUNGAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang: a. bahwa untuk menjamin akuntabilitas jasa pengujian parameter

Lebih terperinci

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12 SOP-6 PENELAAHAN MUTU Halaman 1 dari 12 Histori Tanggal Versi Pengkinian Oleh Catatan 00 Halaman 2 dari 12 KETENTUAN 1.1 Penelaahan Mutu dilakukan untuk memastikan pelaksanaan kerja oleh Penilai telah

Lebih terperinci

PSN 05-2006 PSN. Pedoman Standardisasi Nasional. Tenaga Ahli Standardisasi untuk Pengendali Mutu Perumusan SNI. Badan Standardisasi Nasional

PSN 05-2006 PSN. Pedoman Standardisasi Nasional. Tenaga Ahli Standardisasi untuk Pengendali Mutu Perumusan SNI. Badan Standardisasi Nasional PSN 05-2006 PSN Pedoman Standardisasi Nasional Tenaga Ahli Standardisasi untuk Pengendali Mutu Perumusan SNI Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar Isi...i Kata Pengantar... ii 1 Ruang Lingkup...

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG AUDIT LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG AUDIT LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG AUDIT LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 52 Undang- Undang

Lebih terperinci

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS PERNYATAAN DAN PRINSIP KEBIJAKAN Sesuai dengan Undang-undang Intelijen Keuangan dan Anti Pencucian Uang 2002 (FIAMLA 2002), Undang-undang Pencegahan Korupsi 2002

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BADAN PENJAMINAN MUTU (BPM) PENGESAHAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BADAN PENJAMINAN MUTU (BPM) PENGESAHAN Halaman 1 dari 10 PENGESAHAN Dibuat Oleh Diperiksa Oleh Dr. H. Abdi Fitria, S.Hut. MP Nama Jabatan Tanda Tangan Ir. Hairil Ifansyah, MP Ketua Bidang Monev Wakil Manajemen Mutu Disahkan Oleh Dr.Ir.H.Rustam

Lebih terperinci

PELAKSANAAN AUDIT INTERNAL MUTU PERGURUAN TINGGI

PELAKSANAAN AUDIT INTERNAL MUTU PERGURUAN TINGGI PELAKSANAAN AUDIT INTERNAL MUTU PERGURUAN TINGGI 1 9 Evaluasi 1 Seleksi auditee 2 Persiapan penugasan 8 Monitoring tindak lanjut 7 Pelaporan hasil audit PROSES AUDIT 3 Survei Pendahuluan 4 Penyusunan Audit

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

SISTEM OPERASIONAL PROCEDURE (SOP) JASA PELAYANAN TEKNIS BBIA

SISTEM OPERASIONAL PROCEDURE (SOP) JASA PELAYANAN TEKNIS BBIA SISTEM OPERASIONAL PROCEDURE (SOP) JASA PELAYANAN TEKNIS BBIA 1. Sistem dan Prosedur Sertifikasi ABI-HACCP Lembaga Sertifikasi ABI-HACCP merupakan lembaga yang melayani industri dalam pemberian sertifikat

Lebih terperinci

CERTIFICATION PROCEDURE. CHANGE HISTORY Rev. Effective Date Reason / Nature of Changes DCR # Dibuat oleh: Diperiksa oleh: Disetujui oleh:

CERTIFICATION PROCEDURE. CHANGE HISTORY Rev. Effective Date Reason / Nature of Changes DCR # Dibuat oleh: Diperiksa oleh: Disetujui oleh: of 5 CHANGE HISTORY Rev. Effective Date Reason / Nature of Changes DCR # 0 11.07.2007 - Dokumen dibuat - /- 1 12.12.2011 Revisi referensi Pedoman KAN - /- 2 3 4 5 Dibuat oleh: Diperiksa oleh: Disetujui

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

STANDAR INTERNASIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERNAL (STANDAR)

STANDAR INTERNASIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERNAL (STANDAR) STANDAR INTERNASIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERNAL (STANDAR) Direvisi: Oktober 2012 Halaman 1 DAFTAR ISI PENDAHULUAN... 4 STANDAR ATRIBUT... 7 1000 - Tujuan, Kewenangan, dan Tanggung Jawab... 7 1010

Lebih terperinci

PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER

PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER PEDOMAN ETIKA DALAM BERHUBUNGAN DENGAN PARA SUPPLIER 2 PALYJA GDF SUEZ - Pedoman Etika Dalam Berhubungan Dengan Supplier GDF SUEZ berjuang setiap saat dan di semua tempat untuk bertindak baik sesuai dengan

Lebih terperinci

UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA

UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA Informasi Umum Inisiatif Tungku Sehat Hemat Energi (Clean Stove

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 07 TAHUN 2010

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 07 TAHUN 2010 SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 07 TAHUN 2010 TENTANG SERTIFIKASI KOMPETENSI PENYUSUN DOKUMEN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP DAN PERSYARATAN LEMBAGA PELATIHAN KOMPETENSI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

PROSEDUR PERSELISIHAN DAN BANDING. LSPro Qualis. Dibuat oleh Diperiksa oleh Disahkan oleh. Manager Mutu General Manager LSPro Managing Director

PROSEDUR PERSELISIHAN DAN BANDING. LSPro Qualis. Dibuat oleh Diperiksa oleh Disahkan oleh. Manager Mutu General Manager LSPro Managing Director 01 1 of 6 LSPro Qualis Dibuat oleh Diperiksa oleh Disahkan oleh Manager Mutu General Manager LSPro Managing Director 01 2 of 6 DAFTAR PEMEGANG SALINAN DOKUMEN Salinan Ke Nama Pemegang Salinan Kedudukan

Lebih terperinci

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA -Tahun 2005- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pengurus Pusat PPNI, Sekretariat: Jl.Mandala Raya No.15 Patra Kuningan Jakarta Tlp: 62-21-8315069 Fax: 62-21-8315070

Lebih terperinci

Pengendalian Produk Yang Tidak Sesuai

Pengendalian Produk Yang Tidak Sesuai Kode Dokumen 00008 0400 Revisi Tanggal 0 Nop 01 Manual Prosedur Pengendalian Produk Yang Tidak Sesuai LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN (LP3) Universitas Brawijaya Malang 01 Manual Prosedur

Lebih terperinci

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT SA Seksi 312 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi auditor dalam mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan

Lebih terperinci

Total Quality Purchasing

Total Quality Purchasing Total Quality Purchasing Diadaptasi dari Total quality management, a How-to Program For The High- Performance Business, Alexander Hamilton Institute Dalam Manajemen Mutu Total, pembelian memainkan peran

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG TATA LAKSANA REGISTRASI KOMPETENSI BIDANG LINGKUNGAN

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG TATA LAKSANA REGISTRASI KOMPETENSI BIDANG LINGKUNGAN SALINAN PERATURAN LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG TATA LAKSANA REGISTRASI KOMPETENSI BIDANG LINGKUNGAN Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Pasal 7 Peraturan Menteri Negara Lingkungan

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PROSES SERTIFIKASI

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PROSES SERTIFIKASI 1/20 DIBUAT OLEH KASUBBAG SERTIFIKASI DISAHKAN OLEH KA LSP TITA MEITIA, S.Sos., M.Pd. AKBP NRP. 61050330 Drs. SUROTO, M.Si. KOMBES POL. NRP.65040678 1. Tujuan Untuk memastikan seluruh kegiatan proses sertifikasi

Lebih terperinci

ECD Watch. Panduan OECD. untuk Perusahaan Multi Nasional. alat Bantu untuk pelaksanaan Bisnis yang Bertanggung Jawab

ECD Watch. Panduan OECD. untuk Perusahaan Multi Nasional. alat Bantu untuk pelaksanaan Bisnis yang Bertanggung Jawab ECD Watch Panduan OECD untuk Perusahaan Multi Nasional alat Bantu untuk pelaksanaan Bisnis yang Bertanggung Jawab Tentang Panduan OECD untuk perusahaan Multi nasional Panduan OECD untuk Perusahaan Multi

Lebih terperinci

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 No. Urut 05 ASESMEN MANDIRI SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 Lembaga Sertifikasi Profesi Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat 2013 Nomor Registrasi Pendaftaran

Lebih terperinci

Syarat dan Aturan Tambahan Akreditasi Lembaga Penilai Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (LP PHPL)

Syarat dan Aturan Tambahan Akreditasi Lembaga Penilai Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (LP PHPL) DPLS 13 Rev. 0 Syarat dan Aturan Tambahan Akreditasi Lembaga Penilai Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (LP PHPL) Komite Akreditasi Nasional National Accreditation Body of Indonesia Gedung Manggala Wanabakti,

Lebih terperinci

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia)

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) Syarat dan ketentuan pembelian barang ini akan mencakup semua barang dan jasa yang disediakan oleh PT. SCHOTT IGAR GLASS

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR: 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan tujuan Pemerintah dalam rangka mendukung perekonomian yang sehat dan efisien,

Lebih terperinci

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit Standar Prof SA Seksi 3 1 2 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi

Lebih terperinci

Program "Integritas Premium" Program Kepatuhan Antikorupsi

Program Integritas Premium Program Kepatuhan Antikorupsi Program "Integritas Premium" Program Kepatuhan Antikorupsi Tanggal publikasi: Oktober 2013 Daftar Isi Indeks 1 Pendekatan Pirelli untuk memerangi korupsi...4 2 Konteks regulasi...6 3 Program "Integritas

Lebih terperinci

Komite Akreditasi Nasional

Komite Akreditasi Nasional PEDOMAN 12-2004 Penggunaan Logo Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk digunakan oleh Lembaga Sertifikasi, Lembaga Inspeksi dan Laboratorium yang telah diakreditasi oleh KAN Komite Akreditasi Nasional

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa jasa konstruksi mempunyai peran strategis dalam pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA Hand-out Industrial Safety Dr.Ir. Harinaldi, M.Eng Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Tempat Kerja Produk/jasa Kualitas tinggi Biaya minimum Safety comes

Lebih terperinci

Menteri Perindustrian Republik Indonesia

Menteri Perindustrian Republik Indonesia Menteri Perindustrian Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 114/M- IND/PER/l0/2010 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA SEPEDA RODA DUA SECARA WAJIB DENGAN

Lebih terperinci

Kode Dokumen 00008 04004 Revisi 2 Tanggal 02 Nop 2012. Manual Prosedur Audit Internal Mutu

Kode Dokumen 00008 04004 Revisi 2 Tanggal 02 Nop 2012. Manual Prosedur Audit Internal Mutu Kode Dokumen 00008 04004 Revisi Tanggal 0 Nop 01 Manual Prosedur Audit Internal Mutu LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN (LP3) Universitas Brawijaya Malang 01 Manual Prosedur Audit Internal

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2014 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa pembangunan bidang ekonomi khususnya

Lebih terperinci

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 Apa saja prasyaarat agar REDD bisa berjalan Salah satu syarat utama adalah safeguards atau kerangka pengaman Apa itu Safeguards Safeguards

Lebih terperinci

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER Kami meyakini bahwa bisnis hanya dapat berkembang dalam masyarakat yang melindungi dan menghormati hak asasi manusia. Kami sadar bahwa bisnis memiliki tanggung

Lebih terperinci

PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA

PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA PEDOMAN PENILAIAN PELAKSANAAN PRINSIP-PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK LEMBAGA PEMBIAYAAN EKSPOR INDONESIA 1. Penilaian terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola yang baik Lembaga Pembiayaan Ekspor

Lebih terperinci

SISTEM JAMINAN PRODUK HALAL

SISTEM JAMINAN PRODUK HALAL SISTEM JAMINAN PRODUK HALAL sinergi implementasi UU No. 20 tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian dan UU No 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal BADAN STANDARDISASI NASIONAL Bogor,

Lebih terperinci

PANDUAN UJI KOMPETENSI

PANDUAN UJI KOMPETENSI PANDUAN UJI KOMPETENSI KLASTER JUNIOR NETWORKING LSP TIK INDONESIA Jl. Pucang Anom Timur 23 Surabaya 60282, Jawa Timur Telp: +62 31 5019775 Fax: +62 31 5019776 Daftar Isi 1. Latar Belakang... 2 2. Persyaratan

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.34.11.12.7542 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN TEKNIS CARA DISTRIBUSI OBAT

Lebih terperinci

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

Kode Etik. .1 Yang Harus Dilakukan Kode Etik Kode Etik Dokumen ini berisi "Kode Etik" yang harus dipatuhi oleh para Direktur, Auditor, Manajer, karyawan Pirelli Group, serta secara umum siapa saja yang bekerja di Italia dan di luar negeri

Lebih terperinci

UJI PROFISIENSI LABORATORIUM. Dyah Styarini

UJI PROFISIENSI LABORATORIUM. Dyah Styarini UJI PROFISIENSI LABORATORIUM Dh Strini Pendahuluan Dalam kehidupan modern saat ini kualitas hidup masrakat dunia mendapat perhatian ng serius dalam berbagai aspek kehidupan. Kualitas produk, jasa maupun

Lebih terperinci

KEGIATAN: PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROCEDURES PENYELENGGARAAN TUGAS DAN FUNGSI BATAN TAHAP: PEDOMAN EVALUASI SOP

KEGIATAN: PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROCEDURES PENYELENGGARAAN TUGAS DAN FUNGSI BATAN TAHAP: PEDOMAN EVALUASI SOP BATAN D11-2 Rev. 0 KEGIATAN: PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROCEDURES PENYELENGGARAAN TUGAS DAN FUNGSI BATAN TAHAP: PEDOMAN EVALUASI SOP TIM KERJA PENATAAN TATALAKSANA REFORMASI BIROKRASI BATAN Badan Tenaga

Lebih terperinci

Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification System - SQS)

Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification System - SQS) Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification System - SQS) untuk dapat dilihat oleh para pemasok Shell secara global www.shell.com/supplier/qualification Sistem Kualifikasi Pemasok (Supplier Qualification

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan

Lebih terperinci

STANDAR INTERNATIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERN (STANDAR) PENGANTAR

STANDAR INTERNATIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERN (STANDAR) PENGANTAR STANDAR INTERNATIONAL PRAKTIK PROFESIONAL AUDIT INTERN (STANDAR) PENGANTAR Audit intern diselenggarakan pada berbagai lingkungan hukum, dan budaya; pada berbagai organisasi yang memiliki beraneka ragam

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN DARI ORDER PEMBELIAN ( KETENTUAN ) Dalam Ketentuan ini, kecuali terdapat maksud lainnya:

SYARAT DAN KETENTUAN DARI ORDER PEMBELIAN ( KETENTUAN ) Dalam Ketentuan ini, kecuali terdapat maksud lainnya: SYARAT DAN KETENTUAN DARI ORDER PEMBELIAN ( KETENTUAN ) 0. Definisi Dalam Ketentuan ini, kecuali terdapat maksud lainnya: Afiliasi berarti, suatu entitas yang (a) mengendalikan suatu Pihak; (b) dikendalikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Pedoman Akreditasi final 06/dir.pedoman dan bodang akred 07 1

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Pedoman Akreditasi final 06/dir.pedoman dan bodang akred 07 1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang -undang No.20 tahun 2003 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana

Lebih terperinci

Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan

Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan Ikhtisar Layanan Keterangan Layanan ini ("Keterangan Layanan") ditujukan untuk Anda, yakni pelanggan ("Anda" atau "Pelanggan") dan pihak Dell yang

Lebih terperinci

MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society

MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society ANGGARAN DASAR ANGGARAN RUMAH TANGGA 2003-2006 ANGGARAN DASAR MASTEL MUKADIMAH Bahwa dengan berkembangnya teknologi, telah terjadi

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN NOMOR : P.14/VI-BPPHH/2014 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN NOMOR : P.14/VI-BPPHH/2014 TENTANG PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN NOMOR : P.14/VI-BPPHH/2014 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PELAKSANAAN PENILAIAN KINERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL) DAN VERIFIKASI LEGALITAS

Lebih terperinci

GARANSI TERBATAS. (i) memperbaiki bagian Perangkat BlackBerry yang cacat tanpa mengenakan biaya kepada ANDA dengan bagian baru atau yang direkondisi;

GARANSI TERBATAS. (i) memperbaiki bagian Perangkat BlackBerry yang cacat tanpa mengenakan biaya kepada ANDA dengan bagian baru atau yang direkondisi; GARANSI TERBATAS Hak-hak Tambahan Di Bawah Undang-undang Konsumen. Jika ANDA seorang konsumen, ANDA mungkin memiliki hak hukum (menurut undang-undang), selain hak yang ditetapkan dalam Garansi Terbatas

Lebih terperinci

ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME

ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME 1. RUANG LINGKUP & APLIKASI 1.1. Perjanjian Lisensi BlackBerry Solution ("BBSLA") berlaku untuk seluruh distribusi (gratis dan berbayar)

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET

PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Proses dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, telah membuat bangsa kita sadar akan

Lebih terperinci

TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN,

TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN, SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 125/PMK.01/2008 TENTANG JASA PENILAI PUBLIK MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan tujuan Pemerintah dalam rangka mendukung perekonomian yang sehat

Lebih terperinci

PEDOMAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN INDONESIA (INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL/ISPO)

PEDOMAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN INDONESIA (INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL/ISPO) LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 19/Permentan/OT.140/3/2011 TANGGAL : 29 Maret 2011 PEDOMAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN INDONESIA (INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL/ISPO) I. PENGERTIAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL

Lebih terperinci

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku.

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku. KODE UNIT : KOM.PR01.005.01 JUDUL UNIT : Menyampaikan Presentasi Lisan Dalam Bahasa Inggris DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan profesi humas

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan mengenai penyelengaraan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19/PRT/M/2015 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI TERINTEGRASI RANCANG DAN BANGUN (DESIGN AND BUILD)

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR KEP-183/BL/2009 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN

Lebih terperinci

PIAGAM AUDIT INTERNAL. PT GOLDEN EAGLE ENERGY Tbk. diatur dalam Peraturan Nomor IX-I. 7, Surat Ketua Badan

PIAGAM AUDIT INTERNAL. PT GOLDEN EAGLE ENERGY Tbk. diatur dalam Peraturan Nomor IX-I. 7, Surat Ketua Badan PIAGAM AUDIT INTERNAL PT GOLDEN EAGLE ENERGY Tbk 1. PENDAHUlUAN Mengacu Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan diatur dalam Peraturan Nomor IX-I. 7, Surat Ketua Badan Pasar Modal Lembaga Keuangan No. KEP-496!BL!2008

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

Perjanjian BlackBerry ID

Perjanjian BlackBerry ID Perjanjian BlackBerry ID Perjanjian BlackBerry ID atau "Perjanjian" merupakan suatu perjanjian hukum antara Research In Motion Limited, atau anak perusahaannya atau afiliasinya sebagaimana tertera dalam

Lebih terperinci

STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA

STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA I. VISI, MISI, DAN TUJUAN UNIVERSITAS A. VISI 1. Visi harus merupakan cita-cita bersama yang dapat memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN I. UMUM Untuk mencapai tujuan dibentuknya Pemerintah Negara Republik Indonesia yang diamanatkan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 11 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN TANAH DAN BANGUNAN MILIK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 11 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN TANAH DAN BANGUNAN MILIK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2011 NOMOR : 11 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 11 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN TANAH DAN BANGUNAN MILIK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : T E N T A N G PEMBERLAKUAN SECARA WAJIB STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BATERAI PRIMER

PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : T E N T A N G PEMBERLAKUAN SECARA WAJIB STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BATERAI PRIMER PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : T E N T A N G PEMBERLAKUAN SECARA WAJIB STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BATERAI PRIMER MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

Terakhir dimodifikasi: 20 Januari 2013

Terakhir dimodifikasi: 20 Januari 2013 Syarat dan Ketentuan Layanan Terakhir dimodifikasi: 20 Januari 2013 Selamat datang di LPMA STMA Trisakti, sebuah Layanan pembelajaran asuransi syariah berbasis elearning ("Layanan") disediakan oleh Sekolah

Lebih terperinci

GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi

GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi Terbatas ini mengatur tanggung jawab Research In Motion dan grup perusahaan afiliasinya ( RIM ) tentang BlackBerry

Lebih terperinci

FAKTOR PENILAIAN: PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS

FAKTOR PENILAIAN: PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS II. PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARISIS Tujuan Untuk menilai: kecukupan jumlah, komposisi, integritas dan kompetensi anggota Dewan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG KEINSINYURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keinsinyuran merupakan kegiatan penggunaan

Lebih terperinci

ISO 1001 By: Ryan Torinaga

ISO 1001 By: Ryan Torinaga ISO 1001 By: Ryan Torinaga Daftar Isi Arti ISO Tujuan ISO 9001 Klausul ISO 9001 Kunci Penerapan ISO Cara Penerapan ISO Arti dari ISO Berarti Sama Badan standarisasi dunia Didirikan sejak tahun 1947 Terdiri

Lebih terperinci

(APP) (5 2013) RENCANA EVALUASI TANGGAL DIKELUARKAN:

(APP) (5 2013) RENCANA EVALUASI TANGGAL DIKELUARKAN: Evaluasi Independen terhadap Perkembangan Pemenuhan Komitmen Asia Pulp and Paper (APP) sesuai Kebijakan Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy/FCP) Perusahaan (5 Februari 2013) RENCANA EVALUASI TANGGAL

Lebih terperinci

SKEMA SERTIFIKASI PRODUK ORGANIK IMPOR

SKEMA SERTIFIKASI PRODUK ORGANIK IMPOR SKEMA SERTIFIKASI PRODUK ORGANIK IMPOR PT BIOCert Indonesia biocert@biocert.co.id www.biocert.co.id Copy right of PT BIOCert Indonesia 1 Kebijakan Produk Organik Impor Pemerintah Indonesia mewajibkan produk

Lebih terperinci

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG PENDIDIKAN KEDINASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG PENDIDIKAN KEDINASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG PENDIDIKAN KEDINASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa dalam rangka pelaksanaan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 67 TAHUN 2005 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN

Lebih terperinci

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Pihak yang Memiliki Hubungan Istimewa SA Se k si 3 3 4 PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Sumber: PSA No. 34 PEN DAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan tentang prosedur yang harus dipertimbangkan

Lebih terperinci

PROSEDUR MUTU SISTEM Universitas Nusa Cendana TINJAUAN MANAJEMEN (02)

PROSEDUR MUTU SISTEM Universitas Nusa Cendana TINJAUAN MANAJEMEN (02) 1. TUJUAN Prosedur ini mengatur tata cara pelaksanaan Tinjauan (kaji ulang) Manajemen, untuk memastikan bahwa sistem mutu telah dijalankan dengan baik. 2. RUANG LINGKUP Prosedur ini mencakup pelaksanaan

Lebih terperinci