POLA PENDEKATAN YANG BERBEDA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "POLA PENDEKATAN YANG BERBEDA"

Transkripsi

1 POLA PENDEKATAN YANG BERBEDA Pla pendekatan yang terpisah seperti dibicarakan dalam lima bab pertama dalam buku ini adalah baik, apabila tidak terlalu banyak simbul dipakai. Berapa banyak simbul dan FD yang dianggap sebagai "terlalu banyak " adalah masalah pendapat pribadi; akan tetapi, kebanyakan rang berpendapat bahwa bila jumlah simbul yang lebih dari duapuluh, sistim terpisah-pisah akan menjadi agak susah. Dalam hal sepeni ini, di mana jumlah simbul akan menyulitkan dipakainya sistem terpisah-pisah, harns dipikirkan pla-pla sistem yang lain. Pla sistem yang dapat dipakai dalam hal ini adalah "Entity Relatinship Methd" (sistem kesatuan hubungan). sistem ini berbeda di mana FD akan terlibat hanya pada akhir pemrsesan daripada permulaan KESATUAN-KESATUAN HUBUNGAN DAN HUBUNGAN- Untuk mendapatkan suatu perasaan bagaimana sistem itu bekerja, suatu cnth yang khusus akan diselidiki. Ambillah bahan suatu database dirancang untuk menyimpan keterangan atau infrmasi mengenai anggta-anggta fakultas suatu universitas danjurusan -jurusan yang mereka ajarkan. Dua bjek utama, atau kesatuan-kesatuan yang penting di sini adalah Fakultas (faculty) dan jurusan (curse). 56

2 Kedua kesatuan ini berhubungan satu sarnalain, atau bersekutu, dengan perkembangan kata ajarkan (teach), dengan demikian kita katakan : (Falkutas Ajarkan Jurusan) Hubungan yang berada antaraduakesatuan dan dapat dilukiskan dengan gambar melalui banyak cara, tetapi di sini hanya dibicarakan dua saja. Gambar 6.1 memperlihatkan dipakainya suatu ER cclirrance diagram dengan suatu cnth memperlihatkan anggta falkutas mana persisnya mengajarkan () jurusan yang mana. Dalam cnth ini, tiap anggta falkutas di-identifikasikan dengan nmr falkutas (FNO), dan tiap jurusan (Curse) di-indentifikasikan dengan nmr jurusan (CNO). Gambar 6.2 disebut ER type diagram dengan menyimpan keterangan/infrmasi umum yang sarna seperti terdapat dalam gambar 6.1. Sekalipun tidak mungkin tidak jelas pada saat ini, gambar 6.2 mencakup semua keterangan yang diperlukan untuk mencapai/menghasilkan pla perhubungan tingkat pertama untuk database. Sebelum melanjutkan, beberapa terminlgi yang dipakai perlu dijelaskan. Sayang, beberapa istilah yang dipakai dengan sistem ER hanya dapat ditentukan secara garis besarnya, tetapi mereka harus ditentukan. ENTITY ( KESATUAN ) : suatu kesatuan dapat merupakan sebagai suatu benda yang penting untuk perusahaan. Benda ini harus memiliki kejadian-kejadian yang dapat di-identifikasi secara khusus antara yang satu dengan yang lain. Yang hanya dapat menentukan untuk membantu dalam mendapatkan kesatuan-kesatuan adalah suatu kesatuan yang biasanya merupakan nama benda. Cnth-cnth kesatuan-kesatuan adalah mesin-mesin, rekening bank, karyawan, seklah-seklah dan perjanjian-perjanjian. Dalam gambar 6.1 dan 6.2, kesatuan-kesatuan adalah dan, sedang kejadian-kejadian individual dari tiap kesatuan diindentifikasi masing-masing dengan nmr jurusan (curse number) dan nmr fakultas (faculty number). FI CIS I Gambar 6.1 sebuah cnth untuk diagram ER ccurrance. ~... Gambar 6.2 sebuah cnth untuk diagram type ER 57

3 RELATIONSHIP ( HUBUNGAN): Suatu hubungan adalah suatu asssiasi atau perhubungan antara dua atau lebih kesatuan. Bantuan utama dalam mendapatkan hubungan adalah memahami bahwa hubungan biasanya merupakan suatu kata kerja. Cnth yang khas dari hubungan antara dua kesatuan adalah Emplyees wrk fr departements, student STUDY subjects dan wrkers maintain machines. Ikatan dalam knsep suatu kesatuan dan hubungan adalah knsep ketiga yang penting, yaitu yang dinamakan attribute (simbul). ATTRmUTE ( SIMBUL ): Simbul merupakan suatu pemilikan dari su~tu kesatuan. Umpama, simbul-simbul yang dapat menjadi milik dari kesatuan jurusan ( entity curse) adalah curse number, sectin number, rubric, trem _ in _ which _ ffered, enrllment (pendaftaran pegawai) dan prerequisite (syarat mutlak). Definisi-definisi untuk kesatuan, hubungan dan simbl tidak terlalu spesifik, tetapi cukup baik untuk dipergunakan melalui cara yang diperuntukkan bagi mereka. Satu fakta yang membingungkan, dengah menghargai sistim ER, adalah bahwa dua perancang dapatmelihat dua masalah yang sarna dari sudut pandangan yang lain, dan menghasilkan beberapa kesatuan dan hubungan yang berbeda. Untuk menentukan mana dari dua yang dua adalah paling baik, adalah melalui pilihan yang ketal. Untuk menggambarkan lebih lanjut bentuk-bentuk dari grafik penunjuk, harap dicatat bahwa dalam ER OCCUITance diagram (gambar 6.1) tiap kesatuan disebut dengan huruf besar diatas entity OCCUITances, sedangkan tiap entity OCCUITance diidentifikasi dengan simbl. Jadi (jurusan) adalah kesatuan dan CIS 130 adalah entity OCCUITance yang spesifik. Hubungan juga disebut dan berhuruf besar diatas relatinship OCCUITances, masing-masing relatinship OCCUITance diberikan garis antara kedua entity OCCUITances yang ada hubungannya. Relatinship ccurranees yang ada antara CIS 130dan, umpama,berarti bahwa anggta fakultas yang nmr fakultasnya adalah mengajari jurusan dengan nmr jurusan.cis130. Oalam beberapa hal dapat diambil suatu susunan/kelmpk simbl-simbl untuk diidentifikasikan tiap entity ccuitapce. Simbl itu, atau kelmpk simbl yang dipakai untuk mengidentifikasikan suatu entity OCCUITance dinamakan entity key (kunci kesatuan). Tiap relatinship OCCUITance dapat dibedakan dengan mempergunakan kelmpk entity key yang ada hubungannya. Jadi, (, CIS 130) adalah satu relatinship key. Pada titik ini dalam prses perencanaan, simbl-simbl yang dibutuhkan hanyalah yang terpaut dengannya, akan ditambah kemudian dalam prses perencanaan. Oalam ER type diagram, seperti gambar 6.2, kesatuan-kesatuan diidentifikasi dengan bentuk segi empat panjang, sedangkan hubungan diidentifikasi dengan bentuk berlian. Oi bawah tiap kesatuan ditempatkan simbl, atau kelmpk simbl, yang merupakan entity key untuk kesatuan. Angka" 1" yang timbul dalam ER type diagram seperti dalam gambar 6.2, demikian juga titik bundar, akan dibicarakan dalam bagian berikutnya. Oalam kebanyakan hal, ER type diagram dipakai untuk menentukan kelmpk hubungan untuk database yang dibuat, daripada OCCUITance diagfam.. 58

4 6. 2 TINGKAT DARI SUATU HUBUNGAN Aspek yang penting dari suatu hubungan antara dua atau lebih kesatuan adalah "Tingkat dari suatu hubungan" (degress f relatinship). Knsep ini akan dikembangkan melalui perluasan data sepeni tenera dalam gambar 6.1. Gambar 6.3 memperlihatkan semua kemungkinan bentuk dari ER ccurrance diagrams yang terdapat antara kesatuan-kesatuan (fakultas) dan (jurusan), bila tingkat hubungan adalah I: I. Tiap diagram mewakili suatu kelmpk aturanaturan yang memungkinkan tapi berbeda di bawah nama perusahaan (dalam hal universitas) itu berperasi. Hanya satu dari ccurrance diagrams yang dapat dipakai leh perusahaan pada suatu waktu tenentu. Kelmpk aturan yang disimpan untuk bennacam-macam diagram seperti dalam gambar 6.3 yang benar adalah sebagai berikut : Gambar 6.3 (a): tiap anggta fakultas akan mengajari tidak lebih dari satu jurusan, dan tiap jurusan akan diajari leh tidak lebih dari satu anggta fakultas. (Kesimpulan yang spesifik disini adalah bahwa mungkin ada fakultas yang tidak mengajari suatujurusan, dan bisa adajurusan yang tidak diajari leh anggta fakultas. 01eh karena itu, tidak ada anggta fakultas yang akan mengajari lebih dari satu jurusan, dan tidak adajurusan yang akan diajari leh lebih dari satu anggta fakultas). Gambar 6.3 (b): Tiap anggta fakultas hanya mengajari satu jurusan, dan tiap jurusan akan diajari leh tidak lebih dari satu anggta fakultas. Gambar 6.3 (c): Tiap anggta fakultas akan mengajari tidak lebih dari satu jurusan, dan tiap jurusan diajari hanya leh satu anggta fakultas. Gambar 6.3 (d): Tiap anggta fakultas hanya mengajari satu jurusan, dan tiap jurusan hanya diajari leh satu anggta fakultas. Sejak tiap entity ccurrance di sisi manapun dari diagram berhubungan dengan, paling banyak, satu entity ccurrance yang berhadapan pada sisi dari diagram, tiap ccurrance diagram dalam gambar 6.3 dianggap mempunyai tingkat I: 1. Beda antara macam-macam diagram dalam gambar berhubungan dengan keadaan dimana tiap entity ccurrance harus berpanisipasi dalam hubungan atau tidak. Dalam gabar 6.3 (a), tidak semua entity ccurrances dari suatu kesatuan yang harus berpanisipasi dalam hubungan. FI CIS130 0 PHY109 Gambar 6.3 (a) 59

5 FI CIS 130 PHYl09 Gambar 6.3 (b) FI CIS 130 PHY109 0 Gambar 6.3 (c) FI CIS130 PHY 109 (d) Tingkat 1 : 1 dengan kedua isi keanggtaan bligatry. Gambar 6. 3 Macam-macam kelas keanggtaan dengan tingkat 1 : 1 Dalam gambar 6.3 (b), tiap faculty ccurrance harus berpartisipasi, sedangkan sebagian curse hams berpartisipasi. Dalam gambar 6.3 (c), tiap curse ccurrance hams berpartisipasi, sedangkan sebagian faculty ccurrance tidak perlu berpartisipasi. Dalam gambar 6.3 (d), semua entity ccurrance dari kedua macam kesatuan harus berpartisipasi dalam hubungan sebagai berikut : fn,.. (a) cn,.. fnq,.. (b) cn,.. 60

6 Cn,.. (c) cn,.. I 1 Cn,.. (d) cn,.. Gambar 6. 4 Type diagram yang berhubungan dengan diagram menurut kejadian diagram dalam gambar 6. 3 Gambar 6.4 memperlihatkan bagaimana.infrmasi dari gambar 6.3 dapat ditempatkan dalam bentuk yang lebih ringkas. Bila kejadian-kejadian ( ccurrances) dari satu kesatuan yang diberikan harus berpartisipasi dalam hubungan, partisipasi itu disebut sebagai berkewajiban ( bligatry ), dan fakta ini dicatat dengan menempatkan suatu titik bundar kecil dalam ktak kesatuan tersebut. Bila kejadiankejadian dari satu kesatuan yang diberikan tidak perlu berpartisipasi dalam hubungan, berpartisipasi dalam hubungan, partisipasi itu disebut "tidak berkewajiban" ( nn bligatri ), dan titik bundar kecil tidak dimasukan dalam ktak kecil. Kelas keanggtaan ( membership class) dari satu kesatuan harus berkewajiban atau tidak berkewajiban, dan ditentukan leh aturan-aturan di bawah perusahaan berperasi. Sejak "1" tampak pada kedua sisi dari hubungan seperti dalam gambar 6.4, malcaini berarti bahwa tingkat dari hubungan semuanya 1:1.Tingkat-tingkat lain dari pada 1:1 mungkin saja, yang akan dibicarakan lebih lanjut dalam bagian ini. Dalam ER type diagram, kunci kesatuan ( entity key) untuk tiap kesatuan di bawah dan digaris bawahi, secepatnya di bawah tiap ktak kesatuan: fn ( faculty number) untuk, dan cn (curse number) untuk. Titik yang di depan setiap simbul ditempatkan disana untuk menunjukkan bahwa, sekalipun simbl-simbl lainikut terpaut dengan kesatuan yang khusus itu, tidak satu dari simbl-simbl tambahan itu termasuk bagian dari entity key. Simbl-simbllain ini akan ditambah kemudian, bila hubungan-hubungan telah dikembangkan. Peraturan-peraturan perusahaan untuk mengembangkan diagram-diagram dalam gambar 6.1 sid gambar6.4, semuanya tidak mempunyai anggta fakultas yang mengajar lebih dari satu jurusan, dan tidak ada jurusan yang diajari leh lebih dari satu anggta fakultas. Dalam kebanyakan universitas pengaturan-pengaturan seperti ini tidak dilakukan. Ada aturan-aturan lain yang dipakai leh banyak universitas. CASE 1: Tiap anggta fakultas bleh mengajar berbagai jurusan, tetapi tiap jurusan diajari, paling banyak leh satu anggta fakultas. 61

7 CASE CASE 2: Tiap anggta fakultas mengajari, paling banyak satujurusan, tetapi tiap jurusan bleh diajari leh berbagai anggta fakultas. 3: Tiap anggta fakultas bleh mengaj'lri berbagai jurusan dan tiap jurusan bleh diajari leh berbagai anggta fakultas. Tiap kasus ( case) mempunyai beberapa variasi: umpama, kelas keanggtaan ( membership class) dapat sebagai berkewajiban dan tidak berkewajiban, baik untuk kesatuan atau bukan kesatuan, atau untuk kedua kesatuan. Bentuk-bentuk yang mungkin untuk setiap kasus akan dipelajari pada waktunya. Nampaknya kasus 1dan kasus 2 ada persamaam bentuk. Gambar 6.5 memperlihatkan berbagai ccurrance diagram yang berhubungan dengan CASE 1, sedangkan gambar 6.6 memperlihat type diagram-diagram yang sarna. Dalam bagian-bagian (a), kelas keanggtaan dari tiap sisi bukanlah berkewajiban. Di dalam bagian-bagian (b) dan (c) satu sisi dari kelas keanggtaan yang berkewajiban. Dalam bagian (d) kedua sisi dari kelas keanggtaan yang berkewajiban. Dalam tiap bagian, tingkat dari hubungan ditentukan l:n ( 1 berbanding n ), karena tiap curse ccurrance diikat ke, paling banyak, satu faculty ccurrance dapat diikat pada lebih dari satu curse ccurrance ( yang diberikan n ). FI 0 0 F6 F7 PHY 109 MTH257 PHY456 (a) Degree 1 : n with neither entity's membership bligatry FI CSIl30 t-1th234 MTH257 PHY456 (b) Degree 1: n with the entily's membership bligatry. 62

8 CSIl30 0 F6 0 MTH257 F7 0 PHY456 (c) Degree 1 : n with the entity's membership bligatry. MTH257 PHY456 (d) Degree 1 : n wilh blh emily's membership bligalry. Gambar 6. 5 Cnth dari ER kejadian diagram ketika tingkat hubungannya adalah 1 :r.

9 (d) Gambar 6. 6 Diagram tipe ER berhubungan dengan kejadian ER dalam gambar 6. 5 Gambar 6.7 memperlihatkan berbagai ccurrance diagrams yang berhubungan dengan CASE 2, sedangkan gambar 6.8 memperlihatkan type diagrams yang sarna. Dalam bagian (a), kelas keanggtaan dari tiap sisi berkewajiban. Dalam bagian (b) dan (c), hanya satu sisi dari kelas keanggtaan yang berkewajiban. Dalam masingmasing bagian, tingkat dari hubungan ditentukan n: I (n berbanding 1), karena tiap curse ccurrance dapat diikat pada lebih dari satu faculty ccurance diikat pada paling banyak satu curse ccurrance (yang diberi 1). Gambar 6.9 memperlihatkan berbagai ccurrance diagrams yang berhubungan dengan CASE 3, sedangkan gambar 6.10 memperlihatkan type diagram yang sarna. Dalam bagian (a), kedua sisi dari kelas keanggtaan bukanlah berkewajiban. Dalam bagian (b) dan (c) hanya satu sisi yang berkewajiban. Dalam bagian (d) kedua sisi dari kelas keanggtaan berkewajiban. Dalam tiap bagian t:ngkat dari hubungan ditentukan m:n, karena tiap curse ccurrance dapat diikat pada lebih dari satu faculty ccurrance ( yang diberi m ), dan tiap faculty ccurrance dapat diikat pada lebih dari satu ccurrance (yang diberi n). 6.3 TANGGAPAN ATAS PEMBUATAN GRAFIK Tidak ada satu bentuk, yang diterima secara umum, dalam pembuatan grafik yang dipakai dalam sistem ER. Sekalipun sistem-sistem yang dikeluarkan leh berbagai penulis adalah sarna sifatnya, tetapi tidak berbeda dari satu dengan yang lain dalam arti kata kecil maupun besamya. Pembuatan grafik dan terminlgi yang diberikan di sini mengikuti pendapat Hwe. Suatu standart pembuatan yang baik dipakai leh Ullman, sedangkan pendekatan yang lebih rumit, dengan memakai semantic nets, dikemukakan leh Hawryszkiewycz. Pembaca dipaha untuk mencari sistem':sistem lain, dan memakai yang paling baik. Dirasakan sistem yang diberikan di sini adalah langsung dan mudah dipakai. 64

10 F6 0 F7 (a) Degree n : 1 with neither entity's membership bligatry. FI F6 F7 MTH257 PHY456 (b) Degree n : 1 with the entity's membership bligatry. F6 PHY 109 F7 0 (c) Degree n : 1 with the entity's membership bligatry. FI F6 F7 (d) Degree n : 1 with bth entity's membership bligatry Gambar

11 Cd) Gambar SOAL-SOAL UNTUK BAB 6 1. Gambarkan diagram-diagram entity eeurranee yang khas untuk tiap keadaan seperti berikut ini. Catat perkiraan-perkiraan yang diperleh untuk masingmasing kasus. a). Serang penjual rantai ingin menyimpan keterangan untuk tiap-tiap tk dan penjual dari siapa tiap tk membeli barangnya. Tiap tk membeli barang dari berbagai penjual dan setiap penjual menyerahkan barang kepada berbagai tk. b). Suatu Bir Jasa Pengecatan rumah ingin mengawasi sejumlah rang pengeeat dan rumah yang sedang diear leh tiap rang pengeeat. Tiap rang pengeeat, mengecat hanya satu rumah untuk waktu tertentu, tetapi berapa rang pengeeat dapat inengeeat satu rumah. Beberapa pengeeat dapat saja tidak bekerja. Hanya rumah-rumah yang dieat dapat dipertimbangakan. 66

12 F6 0 F7 0 (a) Degree m : n with neither entity's membership bligatry. CSIl30 PHY109 MTH257 PHY456 C~130. F6 0 MTH257 F7 0 0 PHY456 (b) Degree m : n with the entity's membership bligatry. 0 F6 F7 (c) Degree m : n with the entity's membership bligatry. F6 F7 (d) Degree m : n with bth entity's membership bligatry. CSIl30 MTH257 PHY456 MTH257 PHY456 Gambar 6.9 Cnth-cnth diagram pemunculan ER ketika tingkatan dari hubungan adalah m : n 67

13 c). Suatu bengkel mbil mempunyai mntir-mntir yang sedang memperbaiki mbil-mbil. Setiap mntir memperbaiki beberapa mbil, tetapi tiap mbil hanya dikerjakan leh satu mntir. 2. Gambarkan ER type diagram untuk tiap ccurrance diagram dari sal nmr I. Perhatikan entity key dalam tiap gambar. (d) Gambar Tipe diagram ER yang berhubungan dengan diagram pemunculan dalam gambar

BAB 4 NORMALISASI DATA

BAB 4 NORMALISASI DATA 1 BAB 4 NORMALISASI DATA Perancangan basis data diperlukan, agar kita bisa memiliki basis data yang kmpak dan efisien dalam penggunaan ruang penyimpanan, cepat dalam pengaksesan dan mudah dalam pemanipulasian

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN

SILABUS PEMBELAJARAN SILABUS PEMBELAJARAN Seklah :... Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam Kelas / Semester : VII / 2 Standar Kmpetensi : 5. Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan Kmpetensi Pkk Kegiatan pembelajaran

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. tumbuh berkembang secara harmonis dan optimal sehingga mampu. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.

I. TINJAUAN PUSTAKA. tumbuh berkembang secara harmonis dan optimal sehingga mampu. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. I. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pendidikan Jasmani Pendidikan Jasmani adalah suatu prses pendidikan yang diarahkan untuk mendrng, membimbing, mengembangkan dan membina kemampuan jasmaniah dan rhaniah

Lebih terperinci

HIMPUNAN (I)

HIMPUNAN (I) www.ujiannasinal.weid Panduan Teri Ujian Nasinal SMP / MTs 011 Disesuaikan dengan Kisi-kisi UN 011 Disusun leh : Tim www.ujiannasinal.weid HIMPUNAN (I) PETA KONSEP Mendaftar anggtaanggtanya Dengan katakata

Lebih terperinci

BUKU AJAR PERANCANGAN DAN PRINSIP PENGEMBANGANNYA. Oleh: Trini Prastati, dkk

BUKU AJAR PERANCANGAN DAN PRINSIP PENGEMBANGANNYA. Oleh: Trini Prastati, dkk BUKU AJAR PERANCANGAN DAN PRINSIP PENGEMBANGANNYA Oleh: Trini Prastati, dkk Buku Ajar Kumpulan materi kuliah yang digunakan leh mahasiswa untuk belajar mandiri yang disusun secara sistematis, dilengkapi

Lebih terperinci

PERTEMUAN 3. Model E-R (Lanjutan)

PERTEMUAN 3. Model E-R (Lanjutan) PERTEMUAN 3 Model E-R (Lanjutan) Model ER Relationship Constraints Merupakan kendala yang membatasi kemungkinan kombinasi entitas yang terlibat dalam relationship instance Contoh: setiap pegawai hanya

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Pengertian Dasar Penjadwalan Prduksi Lading dan Scheduling merupakan salah satu pin dalan fungsi dan kegiatan pengawasan prduksi. Pemuatan (Lading) mempunyai

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Materi Pkk Metde : Termdinamika : Pertama dn Kedua / 4 x 45 menit : Ceramah dan mengerjakan sal A. Kmpetensi Dasar 3.2 Menganalisis perubahan keadaan gas ideal dengan menerapkan hukum termdinamika B. Indikatr

Lebih terperinci

TUGAS ARTIKEL RENCANA WIRAUSAHA

TUGAS ARTIKEL RENCANA WIRAUSAHA TUGAS ARTIKEL RENCANA WIRAUSAHA Oleh : MOCH AFIF BAHTIYAR NIM : 04113029 PROGRAM STUDI SISTEM KOMPUTER FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA 1. ALASAN PENDIRIAN USAHA Mendirikan usaha sendiri

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Identifikasi Masalah, Peluang dan Tujuan Tahap pertama yaitu melakukan identifikasi masalah dan melakukan pengumpulan data dengan cara wawancara pemilik perusahaan

Lebih terperinci

sering dihadapi oleh petugas perpustakaan SD Muhammadiyah 4 Surabaya.

sering dihadapi oleh petugas perpustakaan SD Muhammadiyah 4 Surabaya. 24 BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1. Metde Penelitian Pada bab ini menjelaskan mengenai tahapan-tahapan dalam merancang bangun Sistem Infrmasi Perpustakaan berbasis web pada SD Muhammadiyah

Lebih terperinci

Konsep Basisdata Bab 1

Konsep Basisdata Bab 1 Knsep Basisdata Bab 1 Sebuah Pengantar Pengampu Matakuliah A Didimus Rumpak, M.Si. hp.: 085691055061 dimurumpak@yah.cm 1 Bab Tujuan Identifikasi tujuan dan ruang lingkup buku ini Survei mengapa, apa, dan

Lebih terperinci

D.Persepsi Kedalaman ( Depth Perception )

D.Persepsi Kedalaman ( Depth Perception ) D.Persepsi Kedalaman ( Depth Perceptin ) Persepsi kedalaman merupakan kemampuan indera penglihatan untuk mengindera ruang. Akan tetapi ruang berdimensi tiga, sedang kan penginderaan visual kita hanya berdimensi

Lebih terperinci

Kompresi Pohon dengan Kode Prüfer

Kompresi Pohon dengan Kode Prüfer Kmpresi Phn dengan Kde Prüfer Ygi Salm Mangntang Pratama(13511059) 1 Prgram Studi Teknik Infrmatika Seklah Teknik Elektr dan Infrmatika Institut Teknlgi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indnesia

Lebih terperinci

[Summary] Sistem Informasi Perusahaan Chapter 1 & 2

[Summary] Sistem Informasi Perusahaan Chapter 1 & 2 [Summary] Sistem Infrmasi Perusahaan Chapter 1 & 2 CHAPTER 1 PENGANTAR Integrated enterprise infrmatin system: Enterprise (perusahaan): rganisasi yang didirikan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan

Lebih terperinci

SPK REVISI PRESENTASI

SPK REVISI PRESENTASI SPK REVISI PRESENTASI -Beasiswa Kelmpk: 1. Nunias Selegani 2. Bryan kurniawan 3. Respati yuda UNIVERSITAS MERCU BUAYOGYAKARTA 2016/2017 A. Latar Belakang Masalah Setiap warga Negara usia seklah mulai dari

Lebih terperinci

Kebijakan tentang Benturan Kepentingan dan Benturan Komitmen

Kebijakan tentang Benturan Kepentingan dan Benturan Komitmen Kebijakan tentang Benturan Kepentingan dan Benturan Kmitmen Versi 29 Juni 2009 I. Pendahuluan Partisipasi aktif atau kegiatan staf akademik SBM dalam berbagai kegiatan yang berperan dalam meningkatkan

Lebih terperinci

BAB V PERANCANGAN DAN PEMBANGUNAN MODEL KOMPETENSI

BAB V PERANCANGAN DAN PEMBANGUNAN MODEL KOMPETENSI BAB V PERANCANGAN DAN PEMBANGUNAN MODEL KOMPETENSI 5.1 Kerangka Identitas MEDIOR 1. Dasar Pemikiran Kelmpk Media Olahraga (MEDIOR) merupakan anggta KKG (Kelmpk Kmpas Gramedia) yang bertujuan untuk ikut

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MODUL YANG DIAWALI PETA KONSEP PADA MATERI SISTEM EKSKRESI UNTUK SMA

PENGEMBANGAN MODUL YANG DIAWALI PETA KONSEP PADA MATERI SISTEM EKSKRESI UNTUK SMA PEGEMBAGA MODUL YAG DIAWALI PETA KOSEP PADA MATERI SISTEM EKSKRESI UTUK SMA Elsa Harkhian Putri, Renny Risdawati, Diana Susanti Prgram Studi Pendidikan Bilgi Seklah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Lebih terperinci

MANUAL BOOK SYSTEM INFORMASI KEGIATAN AIPNI (SIKAIPNI) Versi Untuk Institusi AIPNI-AINEC

MANUAL BOOK SYSTEM INFORMASI KEGIATAN AIPNI (SIKAIPNI) Versi Untuk Institusi AIPNI-AINEC MANUAL BOOK SYSTEM INFORMASI KEGIATAN AIPNI (SIKAIPNI) Versi Untuk Institusi AIPNI-AINEC WWW.SIKAIPNI.AIPNI-AINEC.COM DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 HALAMAN PESERTA KEGIATAN... 2 1. Link Halaman Umum Web...

Lebih terperinci

27 Tahun 2000 tentang

27 Tahun 2000 tentang BUPATI BtllruilG PRATURAN BUPATI BLITUNG NOMOR 55 TAHUN 2OO8 TNTANG ORGANISASI UNIT PLAKSANA TKNIS DINAS (UPTD) BALAI LATIHAN KRJA (BLK) PADA DINAS SOSIAL, TNAGA KRJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATN BLITUNG

Lebih terperinci

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PERKULIAHAN (GBPP)

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PERKULIAHAN (GBPP) GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PERKULIAHAN (GBPP) Matakuliah : Lgika Fuzzy Kde : TSK-710 Teri : 2 sks Praktikum : - Deskripsi Matakuliah Standar Kmpetensi Prgram Studi : Himpunan Fuzzy dan Lgika Fuzzy: mtivasi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sebagai negara agraris, Indnesia memiliki kekayaan alam dan hayati yang sangat beragam yang jika dikella dengan tepat, kekayaan tersebut mampu diandalkan menjadi andalan

Lebih terperinci

Bohal K. Simorangkir UTSU Agustus 2013

Bohal K. Simorangkir UTSU Agustus 2013 BASIS DATA I 1 Bhal K. Simrangkir UTSU Agustus 2013 PENDAHULUAN (1) Aplikasi basis data tradisinal merupakan infrmasi yang disimpan dan diakses melalui kumpulan data dalam bentuk data teks maupun numerik.

Lebih terperinci

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER PROGRAM STUDI D3 KOMPUTERISASI AKUNTANSI FAKULTAS ILMU TERAPAN TELKOM UNIVERSITY

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER PROGRAM STUDI D3 KOMPUTERISASI AKUNTANSI FAKULTAS ILMU TERAPAN TELKOM UNIVERSITY RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER PROGRAM STUDI D3 KOMPUTERISASI AKUNTANSI FAKULTAS ILMU TERAPAN TELKOM UNIVERSITY MATA KULIAH KODE RUMPUN MK BOBOT (SKS) SEMESTER DIREVISI P = 1 Analisis dan Perancangan Sistem

Lebih terperinci

Teknik Informatika S1

Teknik Informatika S1 Teknik Infrmatika S1 Object Oriented Analysis and Design Pendahuluan Disusun Oleh: Egia Rsi Subhiyakt, M.Km, M.CS Teknik Infrmatika UDINUS egia@dsn.dinus.ac.id +6285740278021 AGENDA PERKULIAHAN Kntrak

Lebih terperinci

SISTEM BANTU ADMINISTRASI PENDATAAN PENDUDUK DESA KARANGREJO KAB TULUNGAGUNG

SISTEM BANTU ADMINISTRASI PENDATAAN PENDUDUK DESA KARANGREJO KAB TULUNGAGUNG Artikel Skripsi SISTEM BANTU ADMINISTRASI PENDATAAN PENDUDUK DESA KARANGREJO KAB TULUNGAGUNG SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperleh Gelar Sarjana Sistem Kmputer (S. Km) Pada Prgram

Lebih terperinci

Konsep Sistem Informasi Manajemen

Konsep Sistem Informasi Manajemen Knsep Sistem Infrmasi Manajemen Sistem Infrmasi Sistem Infrmasi telah menjadi pndasi bagi mdel dan prses bisnis Sistem Infrmasi memungkinkan distribusi pengetahuan: suatu sistem kmunikasi antara manusia

Lebih terperinci

MODUL LIMA KOMUNIKASI DAN OPINI PUBLIK

MODUL LIMA KOMUNIKASI DAN OPINI PUBLIK MODUL LIMA KOMUNIKASI DAN OPINI PUBLIK Istilah pini publik sering diterjemahkan pini umum atau pini masyarakat. Hal ini kurang tepat, karena istilah masyarakats lebih mengarah kepada pengertian sciety.

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN

SILABUS PEMBELAJARAN SILABUS PEMBELAJARAN Nama Seklah :...... Mata Pelajaran : IPA Kelas/Prgram : IV / SD-MI Semester : 2 (dua) Standar Kmpetensi : 7. Memahami gaya dapat mengubah gerak /atau bentuk suatu benda Kmpetensi Dasar

Lebih terperinci

D LAM PENDI D D I I D K I A K N

D LAM PENDI D D I I D K I A K N PERSPEKTIF PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN PERSPEKTIF BEHAVIORISME PERSPEKTIF KOGNITIF PERSPEKTIF HUMANISME (FENOMENOLOGIS) PERSPEKTIF BEHAVIORISME (Thrndike dan Skinner) Perkembangan perilaku manusia akibat

Lebih terperinci

LESSON 5 : INFORMED SEARCH Part I

LESSON 5 : INFORMED SEARCH Part I LESSON 5 : INFORMED SEARCH Part I 3.1 Pengantar Kita telah menunjukan beberapa metda pencarian yang berbeda. Di bagian bagian awal bab ini kita telah menunjukan beberapa metde pencarian buta (blind search).

Lebih terperinci

bergantung pada keberadaan entitas lainnya[9]. relasi yang merekatkan dua entitas adalah bersifat

bergantung pada keberadaan entitas lainnya[9]. relasi yang merekatkan dua entitas adalah bersifat a. Istilah Basis Data Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan database[4], yaitu : Entity Entity adalah orang, tempat, kejadian atau konsep yang informasinya direkam. Pada bidang administrasi siswa

Lebih terperinci

Desain Proyek Efektif: Menggunakan Pengetahuan Pemecahan Masalah

Desain Proyek Efektif: Menggunakan Pengetahuan Pemecahan Masalah Desain Pryek Efektif: Menggunakan Pengetahuan Pemecahan Masalah Menciptakan Slusi Menyelesaikan masalah mengambil tempat di mana pun kita dihadapi leh halangan atau tantangan untuk mencapai sebuah cita-cita.

Lebih terperinci

A. IDENTITAS B. DESKRIPSI MATAKULIAH C. TUJUAN MATAKULIAH

A. IDENTITAS B. DESKRIPSI MATAKULIAH C. TUJUAN MATAKULIAH A. IDENTITAS Nama Mata Kuliah : Sistem Infrmasi Akuntansi Kde Mata Kuliah : AKT 207 Tipe : Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB) Bbt SKS : 3 SKS / 3 JP Prasyarat : Aplikasi Kmputer Pengantar B. DESKRIPSI

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK. agar pekerjaan jauh lebih efisien serta meminimalisir terjadinya human eror. Untuk

BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK. agar pekerjaan jauh lebih efisien serta meminimalisir terjadinya human eror. Untuk BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK Berdasarkan hasil analisis sistem yang sedang berjalan pada CV. Sinergi Design, prses perhitungan gaji masih menggunakan rumus sendiri sehingga dalam prses pembuatan lapran

Lebih terperinci

Jenis Informasi yang Terbuka dan Dikecualikan

Jenis Informasi yang Terbuka dan Dikecualikan Jenis Infrmasi yang Terbuka dan Dikecualikan Kelmpk Infrmasi Publik yang diatur dalam UU KIP mencakup Infrmasi Publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala; Infrmasi Publik yang wajib diumumkan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL SALINAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 55933/A4.2/KP/211 TENTANG PENETAPAN KELULUSAN HASIL SELEKSI GALON PESERTA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA MANUAL REGISTRASI REGISTRASI REGISTRASI

KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA MANUAL REGISTRASI REGISTRASI REGISTRASI KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA MANUAL REGISTRASI NASION REGISTRASI NAL PMKM REGISTRASI SEKAPUR SIRIH i DAFTAR ISI SEKAPUR SIRIH... I DAFTAR ISI...II DAFTAR GAMBAR...III

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK. sistem informasi agar dapat mengorganisir permasalahan dengan baik dan jelas.

BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK. sistem informasi agar dapat mengorganisir permasalahan dengan baik dan jelas. BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK Analisis merupakan cara untuk mengetahui permasalahan berdasarkan data yang telah diperleh dari hasil studi lapangan selama beberapa waktu. Sedangkan desain sistem merupakan

Lebih terperinci

Standar Operating Procedure (SOP)

Standar Operating Procedure (SOP) Standar Operating Prcedure (SOP) PENGERTIAN PROSEDUR Gambaran umum untuk karyawan tentang cara kerja yang dilakukan sebagai pegangan bila terjadi perubahan staff serta dapat digunakan utk menilai efektivitas

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN 3.1 Analisis Sistem Tahap analisis merupakan langkah awal dalam pembuatan sebuah perangkat lunak. Pada tahapan ini penulis menganalisa kebutuhan sistem. Analisa dilakukan

Lebih terperinci

PROPOSAL PENELITIAN. Proposal penelitian merupakan perumusan pernyataan dari calon peneliti mengenai

PROPOSAL PENELITIAN. Proposal penelitian merupakan perumusan pernyataan dari calon peneliti mengenai PROPOSAL PENELITIAN Prpsal penelitian merupakan perumusan pernyataan dari caln peneliti mengenai apa yang ingin diketahui serta apa yang akan dikerjakannya terkait dengan apa yang ingin diketahui tersebut.

Lebih terperinci

SISTEM PENJUALAN PADA TOKO PAKAIAN QUEEN BEER DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT VISUAL FOXPRO 9.0

SISTEM PENJUALAN PADA TOKO PAKAIAN QUEEN BEER DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT VISUAL FOXPRO 9.0 SISTEM PENJUALAN PADA TOKO PAKAIAN QUEEN BEER DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT VISUAL FOXPRO 9.0 NAMA : Lidya Haning Iqrouri NPM : 14112197 JURUSAN : Sistem Informasi PEMBIMBING : Lely Prananingrum, S.Kom.,MMSi

Lebih terperinci

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN PSAK N. 3 IKATAN AKUNTAN INDONESIA Lapran Keuangan Interim Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) N.3 tentang Lapran Keuangan Interim disetujui dalam Rapat Kmite

Lebih terperinci

RANGKUMAN APLIKASI PENGOLAHAN DATABASE (Menggunakan Microsoft Access 2007)

RANGKUMAN APLIKASI PENGOLAHAN DATABASE (Menggunakan Microsoft Access 2007) RANGKUMAN APLIKASI PENGOLAHAN DATABASE (Menggunakan Micrsft Access 2007) A. PENGERTIAN DATABASE Kata Database berasal dari bahasa inggris, dalam bahasa Indnesia database diartikan dengan Pangkalan Data

Lebih terperinci

DESAI EVALU IMPLEM BAB I PENDAHULUAN

DESAI EVALU IMPLEM BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Pertemuan ke : 1 Alkasi waktu : 0,5 Jam Kmpetensi dasar : 1. Mahasiswa mampu memahami pentingnya mempelajari perancangan antarmuka pengguna. Indikatr : 1. Menuliskan dan menjelaskan knsep

Lebih terperinci

DATA & INFORMASI DALAM SISTEM INFORMASI BISNIS ASIH ROHMANI,M.KOM

DATA & INFORMASI DALAM SISTEM INFORMASI BISNIS ASIH ROHMANI,M.KOM DATA & INFORMASI DALAM SISTEM INFORMASI BISNIS ASIH ROHMANI,M.KOM PENGERTIAN DATA Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata. PENGERTIAN DATA Data adalah deskripsi

Lebih terperinci

Outline. 1. Latar Belakang. 2. Superclass/Subclass Relationship. 3. Specialisasi dan Generalisasi. 4. Hierarchy dan Lattice

Outline. 1. Latar Belakang. 2. Superclass/Subclass Relationship. 3. Specialisasi dan Generalisasi. 4. Hierarchy dan Lattice Pemodelan EER 1 Tujuan Pemelajaran Setelah mengikuti pemelajaran pada topik ini, jika diberikan requirement basis data, Anda diharapkan dapat memodelkan basis data dengan tepat mengunakan Enhanced Entity

Lebih terperinci

Hampir UNBK 2017 Matematika IPA

Hampir UNBK 2017 Matematika IPA Hampir UNBK 07 Matematika IPA 6 Agar mx x + = 0 mempunyai akar berbeda, maka Nilai m pada f( x) x m x 9 sumbu x adalah A 6 B 6 C 4 D 4 E agar grafik menyinggung A m 9/4 B m > 9/4 C m 9/4 D m = 4/9 E m

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. yang saling berhubungan yaitu antara sistem dan informasi. Sistem adalah suatu

BAB III LANDASAN TEORI. yang saling berhubungan yaitu antara sistem dan informasi. Sistem adalah suatu BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Pengertian Sistem Informasi Menurut (Wilkinson, 2007:3-4) Sistem informasi berasal dari dua kata yang saling berhubungan yaitu antara sistem dan informasi. Sistem adalah suatu

Lebih terperinci

Apakah yang dimaksud dengan amnesti pajak? Apa saja aspek yang dicakup dalam Amnesti pajak?

Apakah yang dimaksud dengan amnesti pajak? Apa saja aspek yang dicakup dalam Amnesti pajak? FREQUENT ASKED QUESTIONS (FAQ) Apakah yang dimaksud dengan amnesti pajak? Apa saja aspek yang dicakup dalam Amnesti pajak? Apakah asal-usul dana/aset itu tidak dipermasalahkan? Apakah Amnesti Pajak ini

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH

PERATURAN DAERAH NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PERDA 2012 PERATURAN DAERAH NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA PROBOLINGGO TAHUN 2012 ABSTRAK: -bahwa untuk memenuhi ketentuan

Lebih terperinci

Software Requirement (Persyaratan PL)

Software Requirement (Persyaratan PL) Sftware Requirement ( PL) Arna Fariza 1 Rekayasa Perangkat Lunak Tujuan Memperkenalkan knsep persyaratan user dan sistem Menjelaskan persyaratan fungsinal dan nnfungsinal Menjelaskan bagaimana persyaratan

Lebih terperinci

Apa yang seharusnya dilaporkan dengan menggunakan prosedur Angkat Bicara! ini?

Apa yang seharusnya dilaporkan dengan menggunakan prosedur Angkat Bicara! ini? Tanya jawab tentang pelapran Mengapa AkzNbel mengntrak EthicsPint? Apa peran EthicsPint? Apa yang seharusnya dilaprkan dengan menggunakan prsedur Angkat Bicara! ini? Bagaimana jika hal ini merupakan kndisi

Lebih terperinci

MEMINJAMKAN UANG KEPADA ORANG LAIN

MEMINJAMKAN UANG KEPADA ORANG LAIN MEMINJAMKAN UANG KEPADA ORANG LAIN Oleh: Safir Senduk Dikutip dari Tablid NOVA N. 713/XIV Bu Brt sedang kebingungan. Baru tadi siang ia mendapat telepn dari saudaranya. Ada apa gerangan? Sederhana saja:

Lebih terperinci

Enhanced Entity Relationship. Mata Ajar Basis Data 1

Enhanced Entity Relationship. Mata Ajar Basis Data 1 Enhanced Entity Relationship Mata Ajar Basis Data 1 Tujuan Pemelajaran Setelah mengikuti pemelajaran pada topik ini, jika diberikan requirement basis data, Anda diharapkan dapat memodelkan basis data dengan

Lebih terperinci

Rancang Bangun Aplikasi Pelaporan Perkembangan Ternak Sapi Paguyuban Tani Makmur Berbasis Web

Rancang Bangun Aplikasi Pelaporan Perkembangan Ternak Sapi Paguyuban Tani Makmur Berbasis Web LAPORAN SKRIPSI Rancang Bangun Aplikasi Pelaporan Perkembangan Ternak Sapi Paguyuban Tani Makmur Berbasis Web Laporan ini disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk Menyelesaikan program studi Sistem

Lebih terperinci

KEBUTUHAN PERENCANAAN DATABASE

KEBUTUHAN PERENCANAAN DATABASE KEBUTUHAN PERENCANAAN DATABASE 2.1 TUJUAN PERENCANAAN Sebelum melihat pada masalah-masalah perencanaan khusus dan algoritma, yang terbaik adalah menentukan beberapa tujuan perencanaan. Pada kenyataannya,

Lebih terperinci

TEKNIK ENTITY RELATIONSHIP DIAGRAM (ERD)

TEKNIK ENTITY RELATIONSHIP DIAGRAM (ERD) TEKNIK ENTITY RELATIONSHIP DIAGRAM (ERD) Pertemuan 9 A. Entity Relationship Konsep Teknik Entity Relationship Pada teknik ini akan terdapat dua atau lebih file yg direlasikan dengan kunci relasi (primary

Lebih terperinci

Class Diagram Activity Diagram Entity Relationship Diagram (ERD) MySQL CodeIgniter

Class Diagram Activity Diagram Entity Relationship Diagram (ERD) MySQL CodeIgniter DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i ABSTRAK... ii ABSTRACT... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xii DAFTAR LAMPIRAN... xiv BAB 1 PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah...

Lebih terperinci

Gambar 4.1 Flowchart

Gambar 4.1 Flowchart BAB IV PERANCANGAN SISTEM 4.1. Perancangan Algoritma Dalam merancang proses pada Sistem Informasi ini penulis menggunakan Flowchart dan UML sebagai case tool dalam merancang proses yang terjadi di dalam

Lebih terperinci

Nomor induk pegawai (NIP) diberikan kepada setiap Pegawai Negeri Sipil termasuk calon Pegawai Negeri Sipil.

Nomor induk pegawai (NIP) diberikan kepada setiap Pegawai Negeri Sipil termasuk calon Pegawai Negeri Sipil. Nmr Induk Pegawai Pemberian Nmr Induk Pegawai (NIP) Nmr induk pegawai (NIP) diberikan kepada setiap Pegawai Negeri Sipil termasuk caln Pegawai Negeri Sipil. Fungsi NIP adalah sebagai berikut: 1. Sebagai

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN PERAN PARA TOKOH-TOKOH PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA MELALUI TEKNIK KANCING GEMERINCING

PENINGKATAN PEMAHAMAN PERAN PARA TOKOH-TOKOH PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA MELALUI TEKNIK KANCING GEMERINCING PEIGKATA PEMAHAMA PERA PARA TOKOH-TOKOH PERSIAPA KEMERDEKAA IDOESIA MELALUI TEKIK KACIG GEMERICIG Septia Umun KL, Amir, A.Dakir PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Jalan Slamet Riyadi 449 Surakarta. e-mail:

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat 101 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan : Terdapat hubungan yang mderat antara persepsi tentang perilaku seksual pada tayangan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. lazim disebut classroom action research. Menurut Wiriaatmadja (2006: 13)

BAB III METODE PENELITIAN. lazim disebut classroom action research. Menurut Wiriaatmadja (2006: 13) 44 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Peneliti menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau lazim disebut classrm actin research. Menurut Wiriaatmadja (2006: 13) penelitian tindakan

Lebih terperinci

MODEL DATA DIANA RAHMAWATI MAHENDRA ADI NUGRAHA

MODEL DATA DIANA RAHMAWATI MAHENDRA ADI NUGRAHA AYO BELAJAR!!! MODEL DATA DIANA RAHMAWATI MAHENDRA ADI NUGRAHA DEFINISI MODEL DATA MODEL DATA MERUPAKAN SUATU CARA UNTUK MENJELASKAN TENTANG DATA- DATA YANG TERSIMPAN DALAM BASIS DATA DAN BAGAIMANA HUBUNGAN

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN TEMATIK SEKOLAH DASAR KELAS III SEMESTER 2 TEMA: KEPERLUAN SEHARI HARI

SILABUS PEMBELAJARAN TEMATIK SEKOLAH DASAR KELAS III SEMESTER 2 TEMA: KEPERLUAN SEHARI HARI SILABUS PEMBELAJARAN TEMATIK SEKOLAH DASAR KELAS III SEMESTER 2 TEMA: KEPERLUAN SEHARI HARI Standar I. PKN 3. Memiliki harga diri sebagai individu II. IPS 2. Memahami jenis dan penggunaan uang Dasar PKN:

Lebih terperinci

PEMBAHASAN SOAL UN MATEMATIKA SMK KELOMPOK TEKNOLOGI, KESEHATAN, DAN PERTANIAN PAKET K1C-F02 TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PEMBAHASAN SOAL UN MATEMATIKA SMK KELOMPOK TEKNOLOGI, KESEHATAN, DAN PERTANIAN PAKET K1C-F02 TAHUN PELAJARAN 2013/2014 www.plusind.wrdpress.cm PEMBAHASAN SOAL N MATEMATIKA SMK KELOMPOK TEKNOLOGI, KESEHATAN, DAN PERTANIAN PAKET KC-F0 TAHN PELAJARAN 0/0. ntuk menempuh perjalanan sejauh km, suatu mbil memerlukan bahan bakar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menampilkan karakteristik khusus masing-masing organisasi. Karakteristik

BAB I PENDAHULUAN. menampilkan karakteristik khusus masing-masing organisasi. Karakteristik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi nyata setiap organisasi merupakan kondisi yang mempengaruhi dinamika organisasi dalam mencapai tujuannya karena setiap organisasi akan menampilkan karakteristik

Lebih terperinci

KONTRAK PEMBELAJARAN EKONOMI TEKNIK

KONTRAK PEMBELAJARAN EKONOMI TEKNIK KONTRAK PEMBELAJARAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN EKONOMI TEKNIK Prf. Dr. Rni Kastaman, Ir., M.T. Dr. Dwi Purnm, S.T.P., M.T. n Eknmi Teknik n Dr Dwi Purnm, STP.,MT. n dwighy@gmail.cm n @dwiindrapurnm

Lebih terperinci

PEMODELAN DATA DAN PROSES PENGEMBANGAN DATABASE. Pengolahan Basis Data D3-TI STMIK AMIKOM

PEMODELAN DATA DAN PROSES PENGEMBANGAN DATABASE. Pengolahan Basis Data D3-TI STMIK AMIKOM PEMODELAN DATA DAN PROSES PENGEMBANGAN DATABASE Pengolahan Basis Data D3-TI STMIK AMIKOM MODEL DATA Menyatakan hubungan antardata dalam database Ada tiga macam model data dasar Hierarkis Jaringan Relasional

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Definisi Data Data merupakan fakta atau bagian dari fakta yang digambarkan dengan simbol-simbol, gambar-gambar, nilai-nilai, uraian karakter yang mempunyai arti pada suatu konteks

Lebih terperinci

Paulus Artha Sasmita 22/TI Metode DNS Spoofing

Paulus Artha Sasmita 22/TI Metode DNS Spoofing Paulus Artha Sasmita 12111081 22/TI 11-6-2015 Metde DNS Spfing Metde-Metde DNS Attack Serangan DNS Spfing/Cache Pisning DNS spfing atau cache pisning adalah teknik untuk memasukkan atau meracuni cache

Lebih terperinci

BAB 1 DIVIDING HEAD A. Pengertian Dasar Dividing Head B. Pembagian Langsung

BAB 1 DIVIDING HEAD A. Pengertian Dasar Dividing Head B. Pembagian Langsung BAB 1 DIVIDING HEAD A. Pengertian Dasar Dividing Head Serang mekaniker kerap kali harus membagi keliling benda kerja untuk suatu jenis pengerjaan, misalnya : Perlengkapan yang paling sesuai untuk keperluan

Lebih terperinci

MATA PELAJARAN PELAKSANAAN PETUNJUK UMUM

MATA PELAJARAN PELAKSANAAN PETUNJUK UMUM MATA PELAJARAN Mata Pelajaran : Matematika Prgram Studi : IPA PELAKSANAAN Hari/Tanggal : Selasa, April 008 Jam : 0.0.0 PETUNJUK UMUM. Isikan identitas Anda ke dalam Lembar Jawabam Ujian Nasinal (LJUN)

Lebih terperinci

MATA PELAJARAN PELAKSANAAN PETUNJUK UMUM

MATA PELAJARAN PELAKSANAAN PETUNJUK UMUM MATA PELAJARAN Mata Pelajaran : Matematika Prgram Studi : IPA PELAKSANAAN Hari/Tanggal : Selasa, April 008 Jam : 0.0.0 PETUNJUK UMUM. Isikan identitas Anda ke dalam Lembar Jawabam Ujian Nasinal (LJUN)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan berupaya untuk menunjukan keunggulankeunggulannya agar dapat bertahan dalam persaingan bisnis yang semakin ketat, dimana perusahaan dituntut

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI PEKERJAAN. kerja praktek di CV. Sinergi Design adalah melakukan pengenalan terhadap

BAB IV DESKRIPSI PEKERJAAN. kerja praktek di CV. Sinergi Design adalah melakukan pengenalan terhadap BAB IV DESKRIPSI PEKERJAAN 4.1 Identifikasi Masalah Sebelum melakukan prses analisa, tahapan pertama ketika melakukan kerja praktek di CV. Sinergi Design adalah melakukan pengenalan terhadap perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penulisan, tujuan dan manfaat penulisan dan sistematika penulisan makalah.

BAB I PENDAHULUAN. penulisan, tujuan dan manfaat penulisan dan sistematika penulisan makalah. BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini disajikan latar belakang masalah, pembatasan masalah, metode penulisan, tujuan dan manfaat penulisan dan sistematika penulisan makalah. 1.1. Latar Belakang Masalah Sistem

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: RAB, analisa biaya, SNI, bobot, termin, aplikasi. vii. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata kunci: RAB, analisa biaya, SNI, bobot, termin, aplikasi. vii. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Dalam pelaksanaan proyek konstruksi perhitungan bobot dan pembayaran tiap termin sangat penting untuk memperkirakan pengeluaran dana berdasarkan RAB (rancangan anggaran biaya) yang ada. Tujuan

Lebih terperinci

Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Tehnik Bentuk Contoh Instrumen

Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Tehnik Bentuk Contoh Instrumen SILABUS FISIKA Nama Seklah : SMAN 1 Rantau Mata Pelajaran : Fisika Kelas/Semester/Th.Aj. : XII/1/2013-2014 Standar Kmpetensi : 2. Menerapkan knsep kelistrikan dan kemagnetan dalam berbagai penyelesaian

Lebih terperinci

JURNAL MANAJEMEN OPERASIONAL. Yang dibimbing oleh Roro Arinda Reswanti Julian Pratama, S.E.

JURNAL MANAJEMEN OPERASIONAL. Yang dibimbing oleh Roro Arinda Reswanti Julian Pratama, S.E. JURNAL MANAJEMEN OPERASIONAL Disusun dan diajukkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen Operasinal (Praktikum) Yang dibimbing leh Rr Arinda Reswanti Julian Pratama, S.E. Disusun Oleh :

Lebih terperinci

ER-DIAGRAM (ENTITY RELATIONSHIP DIAGRAM)

ER-DIAGRAM (ENTITY RELATIONSHIP DIAGRAM) BASIS DATA I/2011-GANJIL ER-DIAGRAM (ENTITY RELATIONSHIP DIAGRAM) Oleh Satrio Agung Wicaksono, S.Kom., M.Kom 21 September 2011 BASIS DATA I/2011-GANJIL 1 Model Entity Relationship Model Entity Relationship

Lebih terperinci

Perancangan Basis Data

Perancangan Basis Data Perancangan Basis Data Pertemuan 9 Class Diagram & ORM AER 2013/2014 Universitas Pembangunan Jaya SIF_TIF 1 Tujuan Pertemuan Mahasiswa mampu melakukan disain detailed specification model structure menggunakan

Lebih terperinci

ANALISA PERANCANGAN SISTEM PERENCANAAN PENGENDALIAN PRODUKSI DAN PENGAWASAN BAHAN BAKU (PPIC)

ANALISA PERANCANGAN SISTEM PERENCANAAN PENGENDALIAN PRODUKSI DAN PENGAWASAN BAHAN BAKU (PPIC) 51 Dinamika Teknik Januari ANALISA PERANCANGAN SISTEM PERENCANAAN PENGENDALIAN PRODUKSI DAN PENGAWASAN BAHAN BAKU (PPIC) Firman Ardiansyah Ekanindiy, Antn Adhi Dsen Fakultas Teknik Universitas Stikubank

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Definisi Data Data merupakan fakta atau bagian dari fakta yang digambarkan dengan simbol-simbol, gambar-gambar, nilai-nilai, uraian karakter yang mempunyai arti pada suatu konteks

Lebih terperinci

Jawaban Soal. Uji ANOVA

Jawaban Soal. Uji ANOVA 7 Jawaban Sal Uji ANOVA 185 JAWABAN SOAL TEORI 1. ANOVA pada dasarnya bertujuan untuk menguji hiptesa nl bahwa rata-rata dari tiga atau lebih sebuah ppulasi adalah sama. Asumsi: a. Sampel yang diambil

Lebih terperinci

THE ANALYSIS OF SERVICE QUALITY USING QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT METHOD IN PT. HYUNDAI MOBIL INDONESIA AUTO REPAIR, BANDUNG

THE ANALYSIS OF SERVICE QUALITY USING QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT METHOD IN PT. HYUNDAI MOBIL INDONESIA AUTO REPAIR, BANDUNG THE ANALYI OF ERVICE QUALITY UING QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT METHOD IN PT. HYUNDAI MOBIL INDONEIA AUTO REPAIR, BANDUNG Rr. Rieka F. Hutami, MB. MM chl f Ecnmics and Business Telkm University Bandung,

Lebih terperinci

Gambar 3.1. Metodologi Penelitian

Gambar 3.1. Metodologi Penelitian BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Bab ini akan menjelaskan tahapan penelitian yang dilakukan dalam membuat sistem informasi. Langkah-langkah penelitian dimulai dari tahap persiapan, tahap analisis sistem informasi,

Lebih terperinci

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Yang menjadi dasar evaluasi untuk menjadikan sistem ptimal di prduksi tekstil pada PT. ISTEM adalah dengan menggunakan metde DMAIC. Define

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. peningkatan profesionalisme dan pengawasan, harus berwawasan global, serta

BAB 1 PENDAHULUAN. peningkatan profesionalisme dan pengawasan, harus berwawasan global, serta BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Hutan sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia merupakan kekayaan yang wajib disyukuri, diurus, dan dimanfaatkan secara

Lebih terperinci

Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) DUNIA MATEMATIKA 1

Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) DUNIA MATEMATIKA 1 MODEL Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) DUNIA MATEMATIKA 1 untuk Kelas 1 SD Berdasarkan Permendiknas Nmr 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Permendiknas Nmr 23 Tahun 2006 tentang Standar

Lebih terperinci

Amnesti Pajak materi lengkap diperoleh dari pajak.go.id

Amnesti Pajak materi lengkap diperoleh dari pajak.go.id Amnesti Pajak materi lengkap diperleh dari pajak.g.id Jul 2016 - Frm: www.itkind.rg (free pdf - Manajemen Mdern dan Kesehatan Masyarakat) 1 Daftar Isi Ruang Lingkup (ringkas)... 3 Tarif... 4 Repatriasi

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak CV. Bintang Anggara Jaya

BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak CV. Bintang Anggara Jaya BAB IV DESKRIPSI KERJA PRAKTEK 4.1 Identifikasi Masalah Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak CV. Bintang Anggara Jaya pada saat kerja praktek, maka dapat diketahui aplikasi pendukung yang dapat mengatasi

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI PEKERJAAN

BAB IV DESKRIPSI PEKERJAAN BAB IV DESKRIPSI PEKERJAAN Semua rganisasi membutuhkan aliran infrmasi yang membantu manajer untuk mengambil bermacam keputusan yang dibutuhkan. Aliran infrmasi ini diatur dan diarahkan dalam suatu sistem

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Data dan Informasi. Sistem Informasi. Komponen sistem informasi. Basis data

PENDAHULUAN. Data dan Informasi. Sistem Informasi. Komponen sistem informasi. Basis data UNIVERSITAS UNIVERSAL BATAM 2016 PENDAHULUAN Data dan Infrmasi Data merupakan nilai (value) yang turut merepresentasikan deskripsi dari suatu bjek atau kejadian (event) Infrmasi merupakan hasil dari penglahan

Lebih terperinci

PERTEMUAN 5. Model Data Relational (Lanjut)

PERTEMUAN 5. Model Data Relational (Lanjut) PERTEMUAN 5 Model Data Relational (Lanjut) -- 1 -- Untuk setiap entity type E pada diagram ER, buat satu relasi R yang mengandung semua simple attribute dari E. Untuk composite attribute, masukkan komponenkomponen

Lebih terperinci

STIKOM SURABAYA BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Penilaian terhadap suatu pekerjaan dalam sebuah perusahaan merupakan

STIKOM SURABAYA BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Penilaian terhadap suatu pekerjaan dalam sebuah perusahaan merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penilaian terhadap suatu pekerjaan dalam sebuah perusahaan merupakan suatu tahap evaluasi kerja yang dapat meningkatkan kualitas pekerjaan bagi kelangsungan

Lebih terperinci

BAB I P E N D A H U L U A N

BAB I P E N D A H U L U A N BAB I P E N D A H U L U A N A. Dasar Pemikiran Bahwa sebagai salah satu upaya untuk memajukan kebudayaan daerah, Perpustakaan, Kearsipan, dan Dkumentasi merupakan wahana pelestarian kekayaan budaya, serta

Lebih terperinci