Bab 4. Hasil Penelitian, Analisis, dan Pembahasan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab 4. Hasil Penelitian, Analisis, dan Pembahasan"

Transkripsi

1 Bab 4 Hasil Penelitian, Analisis, dan Pembahasan

2 31 IV.1. Pengantar Bagian ini memaparkan hasil penelitian, meliputi hasil analisis dan pembahasan. Analisis dilakukan terhadap data-data berkaitan dengan identifikasi masalah, potensi sumberdaya lokal, kelembagaan sekolah, kontekstualisasi Kurikulum 2013, dan pengembangan model kurikulum dengan mengambil dua kasus penting, yaitu masalah ketersediaan air bersih dan pengembangan sistem transportasi perkapalan. Dua kasus ini diambil dari empat kasus yang dipandang penting oleh warga masyarakat, yaitu kebutuhan air bersih, transportasi perkapalan, pertanian dan perikanan. Berikut ini dipaparkan hasil penelitian, analisis dan pembahasan berbagai persoalan di atas. Termasuk di dalamnya pengembangan model kurikulum berbasis masyarakat sungai yang penting dan mendesak untuk dikembangkan, yaitu masalah ketersediaan dan pengelolaan air bersih dan pengembangan sistem transportasi perkapalan. IV.2. Masalah-Masalah Pembangunan Sebelum meminta responden menyampaikan pendapatnya tentang masalahmasalah pembangunan yang dihadapi, responden diberikan pengantar tentang tujuan dari penelitian ini. Pertama-tama, tentang misi dan orientasi Kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya penguasaan pengetahuan, pengetahuan dalam praktik, untuk mengembangkan keterampilan, dan menumbuhkan sikap religius dan etik sosial. Kedua, tentang perlunya kontekstualisasi Kurikulum 2013 untuk menjawab kebutuhan di masyarakat. Kemudian, ketiga, tentang beberapa informasi penting yang didapatkan dari penelitian ini, yaitu mengenai identifikasi masalah dan kebutuhan; potensi-potensi sumberdaya yang ada untuk mengatasi masalah; kelembagaan sekolah dan implementasi Kurikulum 2013; dan pengembangan model kurikulum akan dilakukan dalam konteks masyarakat sungai. Dari identifikasi masalah yang dilakukan, ditemukan empat masalah penting yang dihadapi warga masyarakat, yaitu masalah pembangunan pertanian, perikanan,

3 32 ketersediaan air bersih, dan masalah transportasi perkapalan. Sebagaimana dikemukakan Bapak Topan, tokoh masyarakat, sebagian besar pekerjaan masyarakat disini adalah bekerja di sektor pertanian dan perikanan. Disarankan, untuk mengatasi masalah ini pendidikan dikembangkan terutama untuk mengatasi masalah produksi pertanian dan perikanan yang kurang memadai. Selain itu, sebagai masyarakat di daerah persungaian diharapkan ada kurikulum untuk pemanfaatan sumberdaya sungai. Gambar 4.1. Air sungai yang keruh tidak dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari Masalah ini juga dikemukakan Bapak Rahyani, tokoh masyarakat, yang menyampaikan bahwa pekerjaan sebagian besar masyarakat Aluh-aluh adalah pertanian dan perikanan. Meskipun, hasilnya mengalami pasang surut sehingga produksi kurang maksimal. Hal ini dikarenakan teknologi yang digunakan masih sederhana dan kultur tanah yang kurang mendukung. Untuk itu perlu muatan kurikulum yang bisa meningkatkan produksi pertanian yang hasilnya sekarang baru 25%. Teknologi pertanian lebih mengarah pada sistem tanah rawa. Konsumsi ikan di Kalimantan Selatan sangat tinggi, oleh karena itu sangat penting diterapkan kurikulum yang lebih menekankan

4 33 teknologi tepat guna untuk meningkatkan produksi perikanan. Di sisi lain, sebagaimana dikemukakan Bapak Rasyid, berkaitan lingkungan terutama kebersihan lingkungan, ketersediaan air bersih, jangkauan PAM yang masih terbatas, pembuangan limbah, seperti sampah dan kotoran ke sungai masih menjadi masalah. Hal sama disampaikan bapak Arsah, tokoh masyarakat, bahwa masyarakat Aluh-aluh tidak ada akses air bersih, sehingga mandi dengan air sungai yang asin. Masalah lain yang menjadi sorotan adalah soal transportasi perkapalan. Bapak Nurdin, seorang tokoh masyarakat, menjelaskan bahwa sarana dan prasarana transportasi masyarakat menggunakan perahu klotok atau kapal-kapal kecil. Jenisnya bermacam-macam tergantung fungsinya, apakah untuk sarana angkut pribadi, umum, barang atau lainnya. Dalam kaitan ini, diharapkan peserta didik dapat memperbaiki mesinnya dan minimal kalau tidak bisa membuat perahunya dapat membuat gambarnya. Soal gambar ini menjadi penting karena hal itu menunjukkan ada kreativitas dan imajinasi di kalangan peserta didik. Gambar 4.2. Kapal Klotok sebagai satusatunya sarana transportasi sungai di Kec. Aluh-Aluh yang perawatan dan pengadaannya terbatas

5 34 Dalam kaitan ini, Ibu Yuni, guru SMAN 1 Aluh-Aluh mengatakan, kebanyakan guru belum mengerti atau memahami Kurikulum Bagaimana mengkaitkan Kurikulum 2013 dengan kurikulum lokal. Misalnya, bagaimana cara membuat kapal karena guru tidak tahu caranya. Menanggapi hal ini, peneliti mengajukan ilustrasi bahwa kapal atau perahu di sini ada karena ada yang membuat yaitu bapak-bapak yang tinggal di sini. Jadi sebenarnya bapak-bapak itu mempunyai kurikulum tetapi tidak tertulis. Seandainya sekolah akan membuat kurikulum dengan materi membuat perahu atau kapal bisa mengundang nara sumber dari masyarakat itu sendiri. Kurikulum 2013 memungkinkan itu dari tekanan penguasaan untuk praktik yang dimiliki. Selain menghormati kearifan lokal, juga melestarikan keahlian yang ada disini, meningkatkan menjadi lebih maju dengan memadukan pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar. Bapak Tupan, Kepala SMA Negeri 1 Aluh-Aluh menyimpulkan melalui praktik Kurikulum 2013 dengan pengetahuan yang diperoleh dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Menyambung hal itu, Bapak Yasin, wakil kepala sekolah bagian kurikulum menanggapi bahwa guru mengimplementasikan muatan kurikulum dalam silabus dan RPP yang akan diajarkan. IV.3. Potensi Sumberdaya Lokal Potensi lokal dimaksud sebagai potensi sumberdaya lokal yang dipunyai dan bisa serta pernah dipergunakan dalam mengatasi masalah di atas. Potensi lokal di masyarakat Aluh-aluh sebenarnya sudah ada, tetapi belum tergali secara maksimal. Misalnya, masyarakat bisa membuat kapal atau perahu, dan juga ada situs-situs peninggalan sejarah, mempunyai banyak sungai sebagai transportasi dan penghasil perikanan serta pertanian. Potensi pertanian belum diberdayakan, sebagai contoh belum pernah dicoba penanaman padi yang bisa panen dalam dua bulan. Praktik pengalaman lainnya adalah dalam pengelolaan air bersih. Masalah ini pernah diatasi dengan menggali kedalaman air di bawah tanah, tetapi tidak didapatkan air bersih. Juga telah dilakukan pembangunan air bersih oleh PDAM namun hanya mencakup tiga desa dan di pinggir jalan besar saja. Demikian pula, telah dilakukan

6 35 pembuatan teknologi penyulingan air bersih di SMAN 1 Aluh-aluh tetapi masih sangat sederhana dan masih dalam masa percobaan. IV.4. Kelembagaan Sekolah dan Kurikulum Sejalan dengan keberadaan banyak sekolah di sini, dan juga semangat sekolah yang tinggi di kalangan warga masyarakat, serta kelancaran penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan SMA Negeri 1 Aluh-Aluh, perlu dilakukan upaya perbaikan untuk kemajuan sekolah ke depan. Terutama terkait dengan keberadaan sekolah ini di tengah masyarakat sebagai lembaga dalam menjawab kebutuhan pendidikan dan pembelajaran yang lebih bermutu untuk memecahkan masalah lingkungan yang dihadapi masyarakat. Masalah-masalah yang dihadapi sebagaimana dikemukakan di atas, dan juga potensi sumberdaya yang dimiliki, maka lembaga pendidikan penting ditingkatkan mutunya agar lebih berorientasi pada pemecahan masalah di sekitarnya. Potensi-potensi sumberdaya yang ada perlu dikembangkan dan dipergunakan bagi sekolah sebagai bekal untuk mendorong kemajuan pendidikan dan pembelajaran. Kurikulum 2013 memberikan peluang untuk itu dengan berdasar misi dan orientasi yang dimiliki, yaitu untuk penguasaan pengetahuan, praktik pengetahuan, meningkatkan keterampilan dan menumbuhkan sikap religius dan etik sosial di kalangan peserta didik. Penelitian mendapatkan berbagai tanggapan terhadap bagaimana berbagai pihak merespon kebutuhan ini. SMA Negeri 1 Aluh-aluh bukan sekolah yang mengajarkan keterampilan khusus seperti SMK. Meskipun demikian, SMA Negeri 1 Aluh-Aluh mencoba menerapkan pendidikan berorientasi masalah yang lebih menekankan pengetahuan praktik dan juga mampu menjawab berbagai permasalahan di masyarakat. Harapannya, kurikulum dapat diimplementasikan dengan dikaitkan pada bagaimana pemecahan masalah terutama berkaitan dengan soal air bersih, peningkatan produksi pertanian dan perikanan, pemanfaatan sungai untuk transportasi dan cara membuat perahu atau kapal serta perbengkelannya. Selain itu, muncul pula masalah teknis bagaimana melaksanakannya. Bapak Rasyid, ketua komite SMA Negeri 1, mempertanyakan bagaimana biaya operasionalnya

7 36 nanti bila Kurikulum 2013 dilaksanakan? Diharapkan, nantinya lebih menekankan pada keterampilan, peserta didik tidak hanya diberi pengetahuan bersifat teoritis, tetapi bagaimana mempraktikkan pengetahuan yang didapat. Apakah akan disiapkan laboratorium untuk mendukung hal ini? Di sini perlu ada muatan kurikulum lokal terutama tentang perbengkelan. Bapak Yani, tokoh masyarakat lain, menambahkan rencana ke depan harus ada laboratorium perikanan dan sekarang ini sebenarnya sudah disediakan tanahnya untuk laboratorium tersebut. Kendalanya karena belum ada guru yang berlatar belakang pendidikan perikanan. Khusus dalam kaitannya dengan hal itu, Ibu Yuni, guru mata pelajaran Kimia, akan merencanakan praktik penyulingan air bersih. Peran sekolah dituntut lebih luas, tidak hanya memberi pengetahuan teoritik, tetapi juga praktik. Sekolah selama ini belum memberikan manfaat kepada masyarakat, hanya memberikan pengetahuan secara teoritik saja kepada anak. Terhadap kelembagaan sekolah ini, guru Biologi mengharapkan dukungan lebih dari lembaga sekolah, terutama menyiapkan anak bisa melanjutkan kuliah, namun mereka juga sudah disiapkan dengan keterampilan untuk hidup atau life skill. Anak dalam hal ini diharapkan mempunyai pengetahuan dan keterampilan serta mempunyai jiwa wirausaha. Semua mata pelajaran bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Bapak Tupan dalam hal ini mengatakan, sarana yang ada di sekolah, terutama laboratorium IPA masih digunakan bersama untuk mata pelajaran Fisika, Biologi dan Kimia. Sarana dan prasarana yang ada di laboratorium masih kurang memadai. Fasilitas lain seperti perpustakaan memiliki jumlah buku lumayan banyak namun koleksi buku masih terbatas, serta tidak didukung jaringan internet. Keterbatasan sarana menuntut kecakapan Kepala Sekolah dalam mengelola sumber daya yang ada di sekolah agar dapat menggerakkan peran guru, dan ini yang telah dilakukan oleh Kepala SMAN 1 Aluh-aluh. Misalnya, penggunaan modem karena tidak ada jaringan internet, upaya ini dilakukan untuk kelancaran penyiapan bahan ajar. Percobaan penyulingan air bersih dengan alat dan bahan sederhana merupakan terobosan yang sedang dilaksanakan di sekolah ini.

8 37 Gambar 4.3. Sarana dan prasarana pembelajaran di SMAN 1 Aluh-Aluh yang masih jauh dari Standar Nasional IV.5. Pengembangan Model Kurikulum Setelah berdiskusi mengenai permasalahan yang ada di masyarakat, potensipotensi sumber daya lokal dan kaitan dengan kelembagaan sekolah dan kurikulum, maka disepakati kontekstualisasi dan pengembangan model kurikulum untuk SMA Negeri 1 Aluh-aluh hendaknya memperhatikan empat permasalahan dan sekaligus menjadi kebutuhan untuk mendapat jawaban dari praktik pendidikan dan pembelajaran, yaitu: (1) Masalah lingkungan terkait kebutuhan ketersediaan air bersih (2) Masalah sistem transportasi dan ketersediaan sarana transportasi perkapalan (3) Masalah pertanian terkait pengembangan tanaman pangan di daerah rawa-rawa atau pertanian rawa (4) Masalah perikanan terkait pengembangan perikanan air tawar di daerah pertanian rawa-rawa

9 38 Terdapat beberapa hal penting terkait pengembangan model kurikulum berorientasi pemecahan masalah ini. Mengingat potensi dan kapasitas kelembagaan sekolah yang ada, tidak semua masalah ini harus mendapat jawaban, meski keempatnya tetap penting dipertimbangkan. Dalam hal ini disepakati untuk dipilih dua masalah, yaitu masalah kesehatan lingkungan melalui ketersediaan air bersih dan pengembangan sistem dan sarana transportasi perkapalan. Namun demikian, dua masalah lainnya bukan berarti harus ditiadakan, tetapi tetap disimpan atau dipertahankan sebagai catatan untuk diberi perhatian sesuai dengan potensi dan kapasitas yang akan berkembang nanti ke depan. Secara khusus terkait dengan dua masalah yang dipilih, yaitu kesehatan lingkungan melalui ketersediaan air bersih dan pengembangan sistem dan sarana transportasi perkapalan untuk sampai ke pengembangan model kurikulum perlu dilakukan pendalaman masalah ini lebih mendetail. Hal itu meliputi empat hal penting yang perlu dijawab, yaitu: (1) seberapa jauh masalah ini sesungguhnya dihadapi; (2) potensi sumberdaya lokal apa saja yang telah digunakan atau diberdayakan untuk mengatasi masalah itu; (3) pembelajaran apa yang bisa dipetik dari apa yang sudah dikembangkan, dan; (4) apa yang bisa dikembangkan ke depan melalui pengembangan model kurikulum terkait kedua masalah tersebut. IV.5.1. Kesehatan Lingkungan melalui Ketersediaan Air Bersih Model kurikulum ini dikembangkan berdasarkan hasil wawancara dengan responden. Dari hasil wawancara, diperoleh kesimpulan terkait masalah ini perlu dikembangkan model kurikulum tematik, yang mengangkat tema kesehatan lingkungan melalui ketersediaan air bersih. Hal itu didasarkan pada penggalian masalah sebagai berikut. Masalah ini terkait dengan masalah relasi manusia-alam-air karena perilaku dan cara hidup warga komunitas di daerah ini tidak terlepas relasi tersebut. Masalah kesehatan muncul dalam kaitannya dengan dimensi relasi ketiganya; manusia-alam-air.

10 39 Air bersih (bukan air pada umumnya, karena air di daerah rawa-rawa ini melimpah, tetapi air bersih sangat langka) merupakan kebutuhan dasar untuk konsumsi minum yang langsung mempengaruhi kesehatan tubuh. Selain itu, air juga diperlukan untuk keperluan di luar konsumsi seperti mandi, keperluan rumah tangga dan lainnya. Dalam hal ini, selain kesehatan tubuh juga terkait dengan kesehatan lingkungan. Khusus dalam kaitan dengan kesehatan tubuh, di daerah ini masih banyak penyakit muntaber karena terkait dengan kurangnya air bersih untuk keperluan minum atau konsumsi. Selain masalah kesehatan, masalah air bersih juga merupakan masalah ketersediaan dan pendistribusian atau terkait dengan soal sosial-ekonomi. Dalam arti, ketersediaan air bersih disini bukan tidak ada sama sekali. Karena kelangkaan itu, sebagian warga masyarakat memperjual dan beli air bersih dalam per satuan liter. Hal itu seperti terjadi di banyak daerah lain yang memiliki kelangkaan air bersih baik di daerah rawa maupun daerah kering. Dua jenis air bersih diperjualbelikan disini, yaitu air diambil Gambar 4.4 Akses PAM yang belum menjangkau seluruh Kec. Aluh-Aluh menyebabkan ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap air bersih yang dijual dalam jerigen

11 40 dari hulu sungai tawar di Martapura dan air bersih dari PDAM. Namun, tentu harganya mahal kurang lebih Rp1.500 per 30 liter pada musim hujan, harga ini mencapai Rp3.000 per 30 liter pada musim kemarau karena air langka. Selain masalah kelangkaan air dan distribusi, akses terhadap air bersih juga menjadi masalah yang dihadapi warga masyarakat. Hal itu terkait infrastruktur yang tersedia, ketika pasang harus memakai kapal melalui sungai dan ketika surut harus memakai sarana darat, sementara keduanya kurang tersedia untuk sarana transportasi umum. Untuk mengatasi berbagai masalah tersebut, selama ini telah dilakukan upaya untuk mendapatkan air bersih dengan berbagai cara. Diantaranya dengan menggali di kedalaman tanah sampai 120 meter tetapi tidak mendapatkan sumber air bersih. Selain itu, juga telah dibangun PDAM tetapi kemampuannya hanya bisa diakses oleh terbatas penduduk yang tinggal di tiga desa sekitar pinggir jalan menuju Kecamatan Aluh-Aluh atau di desa Aluh-Aluh Besar. Selain itu, penduduk sendiri yang belum mendapatkan distribusi air dari PDAM telah berinisiatif untuk menampung air hujan di rumah masingmasing terutama untuk keperluan rumah tangga. Kemudian yang terkini, di SMA Negeri 1 Aluh-Aluh telah diupayakan membuat teknologi penyaringan air bersih dengan teknologi tepat guna atau cara sederhana atas inisiatif kepala sekolah dan praktik dilakukan peserta didik. Memperhatikan berbagai masalah serta upaya yang telah dilakukan itu, dapat ditarik kesimpulan pengembangan model kurikulum di SMAN 1 Aluh-Aluh sebaiknya diarahkan untuk memberikan pengetahuan dan praktiknya secara tematik sebagai bagian dari tanggungjawab pendidikan terhadap lingkungan dan komunitas sekitar. Caranya dengan melakukan pemberdayaan komunitas dalam perspektif lingkungan khususnya pengembangan model kurikulum kesehatan lingkungan melalui pengadaan air bersih. Berdasarkan diskusi dengan guru dan pengurus sekolah, masih perlu didiskusikan lebih lanjut apakah penerapan model ini akan dijadikan tematik tersendiri atau diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran terkait. Penelitian ini menyarankan dibuat mata pelajaran tersendiri secara tematik dengan dipandu oleh guru yang secara kolektif melibatkan materi terkait atau oleh tim pengajar, mengingat potensi dan ketersediaan sumberdaya yang ada.

12 41 IV.5.2. Sarana Perkapalan dan Sistem Transportasi Selain jalan darat, transportasi di daerah ini kebanyakan menggunakan sungai dengan sarana kapal kecil dan sedang, terkadang ada juga kapal besar. Masalah yang dihadapi adalah terbatasnya sarana transportasi kapal. Selain itu, juga masalah dalam sistem transportasi sungai yang masih belum terbangun dengan sarana infrastruktur memadai. Namun demikian, terdapat potensi sumberdaya yang sudah sejak lama digunakan penduduk sebagai sarana transportasi, yaitu kapal dalam sistem transportasi sungai dan laut. Sarana kapal itu dibuat secara mandiri di daerah Alak-Alak tempat para pengrajin kapal berasal. Salah satu responden penelitian ini merupakan anak dari salah satu keluarga yang sejak lama membuat kapal. Penduduk di Alak-Alak memiliki semacam pengetahuan lokal dan kurikulum tersendiri bagaimana membuat kapal dan diajarkan kepada masyarakat sekitar. Pembuatan kapal itu dilakukan dalam bentuk industri rumah tangga atau home industry. Dalam sistem transportasi ini, terdapat berbagai jenis kapal yang dapat dibagi menurut fungsinya, antara lain untuk sarana angkut pribadi, ke pasar, mengangkut barang, dan untuk transportasi umum. Kapal untuk angkutan pribadi kurang lebih berukuran 5 x 50 meter yang dibuat sendiri memuat kurang lebih 4 orang dengan biaya untuk satu kapal tanpa mesin sebesar Rp Bila ditambah mesin seharga Rp atau jika kapal lengkap dengan mesin harganya Rp Kapal jenis ini biasanya dipergunakan sebagai kendaraan pribadi untuk pergi bekerja ke sawah atau berpergian di tempat sekitar. Kapal jenis lain antara lain untuk sarana transportasi umum memuat sekitar 30 orang dan pembuatannya kurang lebih sebesar Rp dan bila ditambah mesin seharga Rp atau keseluruhan sekitar Rp Untuk jenis ini dibuat di Alak-Alak. Salah satu contoh jenis kapal untuk transportasi biasanya dipakai peserta didik dari desa-desa lain untuk pergi ke sekolah di Aluh-Aluh. Dari studi kasus ini, dapat diambil kesimpulan bahwa masalah sarana transportasi perkapalan dan sistem transportasi di Aluh-aluh bisa dikembangkan dengan memberdayakan pengetahuan dan komunitas lokal ditambah dengan pengetahuan dan teknologi yang lebih maju. Penyediaan kapal saja tidak cukup, namun perlu dilengkapi

13 42 dengan kelengkapan sarana serta komunikasi untuk perbaikan sistem transportasi. Penggunaan potensi dan sumberdaya pengetahuan atau kurikulum lokal yang sudah ada itu, akan dirancang menjadi sebuah model kurikulum baru bisa dikembangkan dan diajarkan di sekolah menengah atas sesuai misi dan orientasi Kurikulum Model kurikulum baru diarahkan untuk penguasaan pengetahuan dalam praktik pengetahuan sehingga tumbuh sikap di kalangan peserta didik. Sikap peserta didik yang semakin bertanggung jawab terhadap diri sendiri dalam menggunakan sarana transportasi dan untuk kepentingan publik di lingkungan sekitar. Sama halnya dengan model kurikulum kesehatan lingkungan melalui ketersediaan air bersih, dalam hal ini apakah materi diberikan dalam mata pelajaran baru yang dirancang secara tematik atau diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang ada. Hal itu masih perlu dipertimbangkan dari segi kelembagaan sekolah dan ketersediaan sumberdaya. Dalam kasus sarana transportasi perkapalan, mengingat ketersediaan sumberdaya yang masih terbatas, sebaiknya dijadikan agenda dulu ke depan. Meski hal itu tetap dijadikan prioritas mengingat pentingnya masalah ini bagi perbaikan sistem transportasi dan ketersediaan sarana transportasi perkapalan yang sangat dibutuhkan di daerah ini.

44 Penelitian ini berangkat dari permasalahan yang dihadapi dan potensi sumberdaya yang dimiliki masyarakat sungai. Hal ini perlu dijadikan acuan untu

44 Penelitian ini berangkat dari permasalahan yang dihadapi dan potensi sumberdaya yang dimiliki masyarakat sungai. Hal ini perlu dijadikan acuan untu Bab 5 Kesimpulan 44 Penelitian ini berangkat dari permasalahan yang dihadapi dan potensi sumberdaya yang dimiliki masyarakat sungai. Hal ini perlu dijadikan acuan untuk dikembangkan menjadi model kurikulum

Lebih terperinci

I.1. Pengantar. Bab 1 - Pendahuluan

I.1. Pengantar. Bab 1 - Pendahuluan Laporan Bab 1 Pendahuluan 3 I.1. Pengantar Laporan pengembangan model merupakan paparan hasil penelitian terhadap praktek pendidikan di masyarakat sungai dalam kaitan dengan kebutuhan untuk mengembangkan

Lebih terperinci

Bab 2. Kerangka Pendekatan dan Teori

Bab 2. Kerangka Pendekatan dan Teori Bab 2 Kerangka Pendekatan dan Teori 15 II.1. Pengantar Kurikulum 2013 dikembangkan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui praktik pendidikan nasional agar peserta didik mampu menjadi warga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan salah satu sumber daya alam yang mutlak diperlukan bagi

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan salah satu sumber daya alam yang mutlak diperlukan bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan salah satu sumber daya alam yang mutlak diperlukan bagi kehidupan manusia. Dalam sistem tata lingkungan, air merupakan unsur utama. Negara Indonesia merupakan

Lebih terperinci

Oleh: Mayang Sari 1, Sidharta Adyatma 2, Ellyn Normelani 2

Oleh: Mayang Sari 1, Sidharta Adyatma 2, Ellyn Normelani 2 JPG (Jurnal Pendidikan Geografi) Volume 3, No 2, Maret 2016 Halaman 33-41 e-issn : 2356-5225 http://ppjp.unlam.ac.id/journal/index.php/jpg PEMANFAATAN AIR SUNGAI ALALAK UTARA OLEH MASYARAKAT DI BANTARAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Logo PDAM Tirtawening Kota Bandung Sumber :Pambdg.co.id (di akses pada tanggal 21 Agustus 2015)

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Logo PDAM Tirtawening Kota Bandung Sumber :Pambdg.co.id (di akses pada tanggal 21 Agustus 2015) BAB I PENDAHULUAN 1.1Gambaran Umum Objek Penelitian Gambar 1.1 Logo PDAM Tirtawening Kota Bandung Sumber :Pambdg.co.id (di akses pada tanggal 21 Agustus 2015) PDAM atau disebut juga Perusahaan Daerah Air

Lebih terperinci

Bab 3. Deskripsi Daerah Penelitian

Bab 3. Deskripsi Daerah Penelitian Bab 3 Deskripsi Daerah Penelitian 25 III.1. Pengantar Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, dengan mengambil studi kasus praktik pendidikan dan pembelajaran

Lebih terperinci

V. ANALISIS DAN SINTESIS

V. ANALISIS DAN SINTESIS V. ANALISIS DAN SINTESIS 5.1 Analisis 5.1.1 Analisis Fisik 5.1.1.1 Analisis Topografi Wilayah Banjarmasin bagian utara memiliki ketinggian permukaan tanah rata-rata 0,16 m di bawah permukaan air laut,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kewibawaan guru di mata peserta didik, pola hidup konsumtif, dan sebagainya

BAB I PENDAHULUAN. kewibawaan guru di mata peserta didik, pola hidup konsumtif, dan sebagainya 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Permasalahan karakter saat ini banyak diperbincangkan. Berbagai persoalan yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan,

Lebih terperinci

Pengaruh Aktivitas Masyarakat di pinggir Sungai (Rumah Terapung) terhadap Pencemaran Lingkungan Sungai Kahayan Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah

Pengaruh Aktivitas Masyarakat di pinggir Sungai (Rumah Terapung) terhadap Pencemaran Lingkungan Sungai Kahayan Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah MITL Media Ilmiah Teknik Lingkungan Volume 1, Nomor 2, Agustus 2016 Artikel Hasil Penelitian, Hal. 35-39 Pengaruh Aktivitas Masyarakat di pinggir Sungai (Rumah Terapung) terhadap Pencemaran Lingkungan

Lebih terperinci

Modul 1: Pengantar Pengelolaan Sumber Daya Air

Modul 1: Pengantar Pengelolaan Sumber Daya Air vii B Tinjauan Mata Kuliah uku ajar pengelolaan sumber daya air ini ditujukan untuk menjadi bahan ajar kuliah di tingkat sarjana (S1). Dalam buku ini akan dijelaskan beberapa pokok materi yang berhubungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pesisir adalah wilayah bertemunya daratan dan laut, dengan dua karakteristik yang berbeda. Bergabungnya kedua karakteristik tersebut membuat kawasan pesisir memiliki

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dengan tidak mengorbankan kelestarian sumberdaya alam itu sendiri.

I. PENDAHULUAN. dengan tidak mengorbankan kelestarian sumberdaya alam itu sendiri. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya alam dan jasa lingkungan merupakan aset yang menghasilkan arus barang dan jasa, baik yang dapat dikonsumsi langsung maupun tidak untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kita tidak dapat dipisahkan dari senyawa kimia ini. Berdasarkan UU RI No.7

BAB I PENDAHULUAN. kita tidak dapat dipisahkan dari senyawa kimia ini. Berdasarkan UU RI No.7 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Dalam kehidupan seharihari kita tidak dapat dipisahkan dari senyawa kimia ini. Berdasarkan UU RI No.7 Tahun 2004 tentang

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN Bab ini merupakan kesimpulan terhadap hasil penelitian yang telah diperoleh setelah melakukan pengkajian dan sekaligus memberikan analisis terhadap permasalahan yang dibahas. Kesimpulan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia,

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan unsur penting bagi kehidupan makhluk hidup baik manusia, flora, fauna maupun makhluk hidup yang lain. Makhluk hidup memerlukan air tidak hanya sebagai

Lebih terperinci

KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN AIR DOMESTIK PENDUDUK DESA GIRIMOYO, KECAMATAN KARANGPLOSO, KABUPATEN MALANG

KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN AIR DOMESTIK PENDUDUK DESA GIRIMOYO, KECAMATAN KARANGPLOSO, KABUPATEN MALANG KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN AIR DOMESTIK PENDUDUK DESA GIRIMOYO, KECAMATAN KARANGPLOSO, KABUPATEN MALANG Nelya Eka Susanti, Akhmad Faruq Hamdani Universitas Kanjuruhan Malang nelyaeka@unikama.ac.id, hamdani_af@ymail.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Batu bara

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Batu bara BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sumber daya alam atau biasa disingkat SDA adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan pokok untuk kehidupan manusia dengan segala macam kegiatannya, dipergunakan untuk keperluan rumah tangga, keperluan umum, industri, perdagangan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air adalah sebutan untuk senyawa yang memiliki rumus kimia H 2 O. Air. Conference on Water and the Environment)

BAB I PENDAHULUAN. Air adalah sebutan untuk senyawa yang memiliki rumus kimia H 2 O. Air. Conference on Water and the Environment) 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air adalah sebutan untuk senyawa yang memiliki rumus kimia H 2 O. Air merupakan komponen utama makhluk hidup dan mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidupnya. Dublin,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bumi ini yang tidak membutuhkan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. bumi ini yang tidak membutuhkan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Air merupakan zat kehidupan, dimana tidak satupun makhluk hidup di planet bumi ini yang tidak membutuhkan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65 75% dari berat

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAN PENANGANAN PENYELENGGARAAN AIR MINUM PROVINSI BANTEN Oleh:

KEBIJAKAN DAN PENANGANAN PENYELENGGARAAN AIR MINUM PROVINSI BANTEN Oleh: KEBIJAKAN DAN PENANGANAN PENYELENGGARAAN AIR MINUM PROVINSI BANTEN Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT. Definisi Air Minum menurut MDG s adalah air minum perpipaan dan air minum non perpipaan terlindung yang berasal

Lebih terperinci

POLA DAN PROSES KONSUMSI AIR MASYARAKAT PERMUKIMAN SEPANJANG SUNGAI JAJAR DI KABUPATEN DEMAK (Kecamatan Demak Kecamatan Kebonagung) TUGAS AKHIR

POLA DAN PROSES KONSUMSI AIR MASYARAKAT PERMUKIMAN SEPANJANG SUNGAI JAJAR DI KABUPATEN DEMAK (Kecamatan Demak Kecamatan Kebonagung) TUGAS AKHIR POLA DAN PROSES KONSUMSI AIR MASYARAKAT PERMUKIMAN SEPANJANG SUNGAI JAJAR DI KABUPATEN DEMAK (Kecamatan Demak Kecamatan Kebonagung) TUGAS AKHIR Oleh : MAYANG HAPSARI L2D 304 158 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan, manusia dapat mengembangkan diri untuk menghadapi tantangan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan, manusia dapat mengembangkan diri untuk menghadapi tantangan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peranan pendidikan dalam kehidupan manusia sangatlah penting. Dengan pendidikan, manusia dapat mengembangkan diri untuk menghadapi tantangan hidup. Dengan

Lebih terperinci

BAB VI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENCIPTAKAN PERUBAHAN

BAB VI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENCIPTAKAN PERUBAHAN 68 BAB VI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENCIPTAKAN PERUBAHAN Pengorganisasian lebih dimaknai sebagai suatu kerangka menyeluruh dalam rangka memecahkan masalah ketidakadilan sekaligus membangun tatanan

Lebih terperinci

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR

- 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR - 1 - PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PROVINSI JAWA TIMUR I. UMUM Air merupakan karunia Tuhan sebagai salah satu sumberdaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.2 Visi, Misi, Strategi dan Tujuan

BAB I PENDAHULUAN. 1.2 Visi, Misi, Strategi dan Tujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Sejarah Perusahaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Bandung pada mulanya milik Belanda didirikan tahun 1916 dengan nama Water Leiding Bednif (Perusahaan Air). Seiring dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Air merupakan kebutuhan primer bagi semua makhluk hidup. Di bumi terdapat dua jenis air yaitu air tawar dan air laut. Air tawar tersedia dalam jumlah yang terbatas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini. Terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard Km 3 air dengan persentase 97,5%

BAB I PENDAHULUAN. ini. Terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard Km 3 air dengan persentase 97,5% BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan pokok untuk semua makhluk hidup tanpa terkecuali, dengan demikian keberadaannya sangat vital dipermukaan bumi ini. Terdapat kira-kira

Lebih terperinci

1.2 Perumusan Masalah Sejalan dengan meningkatnya pertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi, maka pemakaian sumberdaya air juga meningkat.

1.2 Perumusan Masalah Sejalan dengan meningkatnya pertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi, maka pemakaian sumberdaya air juga meningkat. 37 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang menjabarkan pembangunan sesuai dengan kondisi, potensi dan kemampuan suatu daerah tersebut.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Muka bumi yang luasnya ± juta Km 2 ditutupi oleh daratan seluas

BAB I PENDAHULUAN. Muka bumi yang luasnya ± juta Km 2 ditutupi oleh daratan seluas 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Muka bumi yang luasnya ± 510.073 juta Km 2 ditutupi oleh daratan seluas 148.94 juta Km 2 (29.2%) dan lautan 361.132 juta Km 2 (70.8%), sehingga dapat dikatakan bahwa

Lebih terperinci

KONDISI UMUM BANJARMASIN

KONDISI UMUM BANJARMASIN KONDISI UMUM BANJARMASIN Fisik Geografis Kota Banjarmasin merupakan salah satu kota dari 11 kota dan kabupaten yang berada dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin secara astronomis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi penyebab bencana bagi petani. Indikatornya, di musim kemarau, ladang

BAB I PENDAHULUAN. menjadi penyebab bencana bagi petani. Indikatornya, di musim kemarau, ladang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam produksi pangan. Jika air tidak tersedia, maka produksi pangan akan terhenti. Ini berarti bahwa sumber daya

Lebih terperinci

SALINAN LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM

SALINAN LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM SALINAN LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81A TAHUN 2013 TENTANG IMPLEMENTASI KURIKULUM PEDOMAN PENGEMBANGAN MUATAN LOKAL I. PENDAHULUAN Muatan lokal, sebagaimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hampir semua kegiatan manusia membutuhkan air, sehingga manusia tidak bisa

BAB I PENDAHULUAN. Hampir semua kegiatan manusia membutuhkan air, sehingga manusia tidak bisa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Air merupakan kebutuhan yang paling utama dalam kehidupan manusia. Hampir semua kegiatan manusia membutuhkan air, sehingga manusia tidak bisa hidup tanpa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, keadaan dan mahluk termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. aktivitas mereka sehari-hari. Air memegang peranan penting bagi kehidupan

BAB I. PENDAHULUAN. aktivitas mereka sehari-hari. Air memegang peranan penting bagi kehidupan BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air bersih merupakan salah satu jenis sumberdaya air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas mereka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di wilayah Kalimantan Selatan yang saat ini memiliki posisi yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. di wilayah Kalimantan Selatan yang saat ini memiliki posisi yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Banjarmasin merupakan Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan yang merupakan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), sebagai Kota Pusat Pemerintahan serta sebagai pintu gerbang

Lebih terperinci

Gambar 4. Keadaan sebelum dan sesudah adanya pengairan dari PATM

Gambar 4. Keadaan sebelum dan sesudah adanya pengairan dari PATM IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Lokasi dan Kondisi PATM Gorontalo merupakan salah satu daerah yang menjadi tempat untuk pengembangan sumberdaya lokal berbasis pertanian agropolitan sehingga diperlukan inovasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Guru adalah pelaku utama dalam pendidikan, karena guru yang berinteraksi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Guru adalah pelaku utama dalam pendidikan, karena guru yang berinteraksi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Guru adalah pelaku utama dalam pendidikan, karena guru yang berinteraksi langsung dengan peserta didik. Dalam proses pembelajaran, guru sangat berperan dalam

Lebih terperinci

kabel perusahaan telekomunikasi dan segala macam (Setiawan, 2014).

kabel perusahaan telekomunikasi dan segala macam (Setiawan, 2014). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi yang sangat pesat menyebabkan kemajuan di segala bidang, dan sekaligus menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Dampak kemajuan teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Semua makhluk hidup memerlukan air. Manusia sebagian tubuhnya terdiri

BAB I PENDAHULUAN. Semua makhluk hidup memerlukan air. Manusia sebagian tubuhnya terdiri BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Salah satu sumber daya alam yang pokok dalam kehidupan adalah air. Semua makhluk hidup memerlukan air. Manusia sebagian tubuhnya terdiri atas air. Metabolisme yang

Lebih terperinci

DOKUMEN ATURAN BERSAMA DESA KARANGASEM, KECAMATAN PETARUKAN, KABUPATEN PEMALANG

DOKUMEN ATURAN BERSAMA DESA KARANGASEM, KECAMATAN PETARUKAN, KABUPATEN PEMALANG DOKUMEN ATURAN BERSAMA DESA KARANGASEM, KECAMATAN PETARUKAN, KABUPATEN PEMALANG KONDISI FAKTUAL KONDISI IDEAL ATURAN BERSAMA YANG DISEPAKATI A. LINGKUNGAN 1. Jaringan Jalan dan Drainase Banyak rumah yang

Lebih terperinci

PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH BAGI MASYARAKAT DI PERUMNAS PUCANGGADING TUGAS AKHIR

PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH BAGI MASYARAKAT DI PERUMNAS PUCANGGADING TUGAS AKHIR PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH BAGI MASYARAKAT DI PERUMNAS PUCANGGADING TUGAS AKHIR Oleh: DODY KURNIAWAN L2D 001 412 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Lebih terperinci

R PENGEMBANGAN MODUL INTERAKTIF LITERASI SAINS UNTUK PEMBELAJARAN IPA TERPADU PADA TEMA BIOTEKNOLOGI DI BIDANG PRODUKSI PANGAN

R PENGEMBANGAN MODUL INTERAKTIF LITERASI SAINS UNTUK PEMBELAJARAN IPA TERPADU PADA TEMA BIOTEKNOLOGI DI BIDANG PRODUKSI PANGAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tujuan pendidikan nasional Indonesia secara umum adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pertambahan penduduk Indonesia setiap tahunnya berimplikasi pada semakin meningkatkan kebutuhan pangan sebagai kebutuhan pokok manusia. Ketiadaan pangan dapat disebabkan oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. siswa untuk memahami nilai-nilai warga negara yang baik. Sehingga siswa

BAB I PENDAHULUAN. siswa untuk memahami nilai-nilai warga negara yang baik. Sehingga siswa 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk karakter individu yang bertanggung jawab, demokratis, serta berakhlak mulia.

Lebih terperinci

ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ppbab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahan merupakan sumber daya alam yang memiliki fungsi yang sangat luas dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Di lihat dari sisi ekonomi, lahan merupakan input

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Secara geografis Kota Bekasi berada posisi 106º55 BT dan 6º7-6º15

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Secara geografis Kota Bekasi berada posisi 106º55 BT dan 6º7-6º15 V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Kondisi Objektif Kota Bekasi 5.1.1 Keadaan Geografis Kota Bekasi Secara geografis Kota Bekasi berada posisi 106º55 BT dan 6º7-6º15 LS dengan ketinggian 19 meter diatas

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Hubungan antara manusia dengan lingkungan adalah sirkuler. Perubahan pada lingkungan pada gilirannya akan mempengaruhi manusia. Interaksi antara manusia dengan lingkungannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sumberdaya air bersifat dinamis dalam kualitas dan kuantitas, serta dalam

BAB I PENDAHULUAN. Sumberdaya air bersifat dinamis dalam kualitas dan kuantitas, serta dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Selain sebagai air minum, air juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keperluan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan pembangunan di segala bidang termasuk pembangunan di bidang kesehatan.pembangunan kesehatan

Lebih terperinci

KETAHANAN PANGAN: KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL

KETAHANAN PANGAN: KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL KETAHANAN PANGAN: KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL UU NO 7 TH 1996: Pangan = Makanan Dan Minuman Dari Hasil Pertanian, Ternak, Ikan, sbg produk primer atau olahan Ketersediaan Pangan Nasional (2003)=

Lebih terperinci

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH 4.1. Tujuan dan Sasaran Pembangunan Kota Ambon Pembangunan Kota Ambon tahun 2011-2016 diarahkan untuk mewujudkan Visi Ambon Yang Maju, Mandiri, Religius,

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. transportasi, Wisata air, olah raga dan perdagangan. Karena kondisi lahan dengan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. transportasi, Wisata air, olah raga dan perdagangan. Karena kondisi lahan dengan 252 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Perairan Sagara Anakan memiliki potensi yang besar untuk dikelola, karena berfungsi sebagai tempat pemijahan biota laut, lapangan kerja, transportasi,

Lebih terperinci

2014 EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERTANIAN UNTUK TANAMAN PANGAN DI KECAMATAN CIMAUNG KABUPATEN BANDUNG

2014 EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERTANIAN UNTUK TANAMAN PANGAN DI KECAMATAN CIMAUNG KABUPATEN BANDUNG A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN berikut : FAO dalam Arsyad (2012:206) mengemukakan pengertian lahan sebagai Lahan diartikan sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air, dan

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. wilayah yang merupakan daerah Non-CAT. Sehingga tidak terdapat air tanah

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. wilayah yang merupakan daerah Non-CAT. Sehingga tidak terdapat air tanah BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut: a. Keterbatasan sumberdaya air di Kota Tanjungpandan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengembangan dan standarisasi buku ajar kimia sekolah menengah atas (SMA) melalui inovasi materi kimia muatan lokal Sumatera Utara sangat Perlu dilakukan

Lebih terperinci

KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015

KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015 KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015 Topik #10 Wajib Belajar 12 Tahun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Menjawab Daya Saing Nasional Latar Belakang Program Indonesia

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, 00Juni 2015 Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar, Ph.D NIP Panduan Muatan Lokal SMA

KATA PENGANTAR. Jakarta, 00Juni 2015 Direktur Pembinaan SMA, Harris Iskandar, Ph.D NIP Panduan Muatan Lokal SMA KATA PENGANTAR Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun pelajaran 2013/2014 telah menetapkan kebijakan implementasi Kurikulum 2013 secara terbatas di 1.270 SMA sasaran dan sejumlah SMA yang melaksanakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bagi manusia. Bagi kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan air baik

I. PENDAHULUAN. bagi manusia. Bagi kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan air baik I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air memiliki peran penting bagi kehidupan makhluk hidup, tak terkecuali bagi manusia. Bagi kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan air baik untuk menunjang proses metabolisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di masa lalu dimana daya dukung alam masih baik, manusia dapat mengkonsumsi air dari alam secara langsung. Sejalan dengan penurunan daya dukung alam menurun pula

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya pada lahan sawah melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. Pertambahan jumlah penduduk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Air merupakan sumber kehidupan manusia. Ketersediaan air yang aman untuk dikonsumsi adalah sangat penting dan merupakan kebutuhan dasar bagi semua manusia di bumi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini. Manusia merupakan khalayak sasaran media massa, sehingga keberadaan

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini. Manusia merupakan khalayak sasaran media massa, sehingga keberadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Media massa adalah salah satu aspek komunikasi yang penting, terutama pada masa sekarang ini. Manusia merupakan khalayak sasaran media massa, sehingga keberadaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. World Business Council for Sustainable Development (2005), kondisi air di dunia

BAB I PENDAHULUAN. World Business Council for Sustainable Development (2005), kondisi air di dunia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan salah satu sumber daya yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Air berperan utama dalam pemenuhan hajat hidup manusia, khususnya dalam mendukung

Lebih terperinci

BAB II RANCANGAN PELAKSANAAN KEGIATAN PLPBK

BAB II RANCANGAN PELAKSANAAN KEGIATAN PLPBK BAB II RANCANGAN PELAKSANAAN KEGIATAN PLPBK 2.1 KONDISI AWAL KAWASAN PRIORITAS 2.1.1 Delineasi Kawasan Prioritas Berdasarkan 4 (empat) indikator yang telah ditetapkan selanjutnya dilakukan kembali rembug

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. air terbatas maka produksi pangan akan terhambat. Pada dasarnya permasalahan yang

BAB I PENDAHULUAN. air terbatas maka produksi pangan akan terhambat. Pada dasarnya permasalahan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan salah satu unsur penting bagi ketersediaan pangan. Jika ketersediaan air terbatas maka produksi pangan akan terhambat. Pada dasarnya permasalahan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia berkisar antara % dengan rincian 55 % - 60% berat badan orang

BAB I PENDAHULUAN. manusia berkisar antara % dengan rincian 55 % - 60% berat badan orang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air adalah senyawa H2O yang merupakan bagian paling penting dalam kehidupan dan manusia tidak dapat dipisahkan dengan air. Air dalam tubuh manusia berkisar antara 50

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Koordinasi Antara Kelompok Tani dan BPD dalam Penyediaan Pupuk Distribusi pupuk didesa Fajar Baru ini masih kurang, dan sulit untuk didapat. Untuk mendapatkan pupuk petani

Lebih terperinci

VISI, MISI DAN PORGRAM VISI

VISI, MISI DAN PORGRAM VISI VISI, MISI DAN PORGRAM PASANGAN CALON BUPATI DAN WAKIL BUPATI KABUPATEN SORONG (ZETH KADAKOLO,SE,MM DAN H.IBRAHIM POKKO) VISI Terwujudnya Masyarakat yang Sejahtera, Mandiri, Berkarakter, Berahlaq dan Berkeadilan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Demikian juga halnya dengan kemiskinan, dimana kemiskinan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Demikian juga halnya dengan kemiskinan, dimana kemiskinan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia memiliki persoalan kemiskinan dan pengangguran. Persoalan pengangguran lebih dipicu oleh rendahnya kesempatan dan peluang kerja bagi masyarakat. Demikian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi manusia dan

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi manusia dan BAB I PENDAHULUAN 1. Pengantar 1.1. Latar Belakang Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi. Air digunakan untuk keperluan pertanian, perikanan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tanpa air kehidupan di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tanpa air kehidupan di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tanpa air kehidupan di alam ini tidak dapat berlangsung, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Tubuh manusia sebagian

Lebih terperinci

5 KETERLIBATAN TENGKULAK DALAM PENYEDIAAN MODAL NELAYAN

5 KETERLIBATAN TENGKULAK DALAM PENYEDIAAN MODAL NELAYAN 56 5 KETERLIBATAN TENGKULAK DALAM PENYEDIAAN MODAL NELAYAN 5.1 Bentuk Keterlibatan Tengkulak Bentuk-bentuk keterlibatan tengkulak merupakan cara atau metode yang dilakukan oleh tengkulak untuk melibatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk mendorong peran dan membangun komitmen yang menjadi bagian integral

BAB I PENDAHULUAN. untuk mendorong peran dan membangun komitmen yang menjadi bagian integral BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Strategi kebijakan pelaksanaan pengendalian lingkungan sehat diarahkan untuk mendorong peran dan membangun komitmen yang menjadi bagian integral dalam pembangunan kesehatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat. Daerah Irigasi Jatiluhur dibangun oleh Pemerintah Republik

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat. Daerah Irigasi Jatiluhur dibangun oleh Pemerintah Republik 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah Irigasi Jatiluhur terletak di Daerah Aliran Sungai Citarum Provinsi Jawa Barat. Daerah Irigasi Jatiluhur dibangun oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun

Lebih terperinci

MENGELOLA AIR AGAR TAK BANJIR (Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Kamis Kliwon 3 Nopember 2011)

MENGELOLA AIR AGAR TAK BANJIR (Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Kamis Kliwon 3 Nopember 2011) Artikel OPINI Harian Joglosemar 1 MENGELOLA AIR AGAR TAK BANJIR (Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Kamis Kliwon 3 Nopember 2011) ŀ Turunnya hujan di beberapa daerah yang mengalami kekeringan hari-hari ini membuat

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 160 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bagian sebelumnya telah dibahas berbagai temuan yang diperoleh dari penelitian. Pada bagian akhir ini selanjutnya akan dibahas mengenai kesimpulan yang didapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Eka Yuliyanti,2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Eka Yuliyanti,2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Air merupakan salah satu sumber daya alam yang keberadaannya dapat kita temukan di mana saja. Air bisa kita temukan di darat, laut bahkan di udara yang berupa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini banyak program pemberdayaan yang menklaim sebagai program yang berdasar kepada keinginan dan kebutuhan masyarakat, tapi ironisnya masyarakat tetap saja tidak

Lebih terperinci

PROPOSAL POTENSI, Tim Peneliti:

PROPOSAL POTENSI, Tim Peneliti: PROPOSAL PENELITIAN TA. 2015 POTENSI, KENDALA DAN PELUANG PENINGKATAN PRODUKSI PADI PADA LAHAN BUKAN SAWAH Tim Peneliti: Bambang Irawan PUSAT SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN

Lebih terperinci

6 KINERJA OPERASIONAL PPN PALABUHANRATU

6 KINERJA OPERASIONAL PPN PALABUHANRATU 6 KINERJA OPERASIONAL PPN PALABUHANRATU 6.1 Tujuan Pembangunan Pelabuhan Tujuan pembangunan pelabuhan perikanan tercantum dalam pengertian pelabuhan perikanan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan

Lebih terperinci

C. SOSIOLOGI BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

C. SOSIOLOGI BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang C. SOSIOLOGI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pedoman guru mata pelajaran Sosiologi ini dirancang dengan maksud untuk memberikan dasar acuan bagi guru Sosiologi SMA dalam menerjemahkan misi dan orientasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang sangat penting karena pertanian berhubungan langsung dengan ketersediaan pangan. Pangan yang dikonsumsi oleh individu terdapat komponen-komponen

Lebih terperinci

DESKRIPSI PROGRAM DAN KEGIATAN

DESKRIPSI PROGRAM DAN KEGIATAN DESKRIPSI PROGRAM DAN KEGIATAN LATAR BELAKANG Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat, karena berkaitan dengan kesehatan,

Lebih terperinci

5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir

5.1. Analisis mengenai Komponen-komponen Utama dalam Pembangunan Wilayah Pesisir BAB V ANALISIS Bab ini berisi analisis terhadap bahasan-bahasan pada bab-bab sebelumnya, yaitu analisis mengenai komponen-komponen utama dalam pembangunan wilayah pesisir, analisis mengenai pemetaan entitas-entitas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM PDAM TIRTA KAMUNING

BAB II TINJAUAN UMUM PDAM TIRTA KAMUNING BAB II TINJAUAN UMUM PDAM TIRTA KAMUNING 2.1 Sejarah Berdirinya PDAM TIRTA KAMUNING Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Kamuning Kabupaten Kuningan adalah satusatunya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yang

Lebih terperinci

Air Irigasi: Mendatangkan Kemakmuran dan Kesejahteraan Petani Rarang

Air Irigasi: Mendatangkan Kemakmuran dan Kesejahteraan Petani Rarang Air Irigasi: Mendatangkan Kemakmuran dan Kesejahteraan Petani Rarang Segala yang hidup itu dari air (QS Al Anbiya: 30). Semua makhluk hidup butuh air, jadi tiada kehidupan tanpa air. Dengan demikian kedudukan

Lebih terperinci

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH

BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH 4.1. Tujuan dan Sasaran Pembangunan Kota Ambon Pembangunan Kota Ambon tahun 2011-2016 diarahkan untuk mewujudkan Visi Ambon Yang Maju, Mandiri, Religius,

Lebih terperinci

BAB II BEBERAPA BIDANG PERMASALAHAN GAMPONG. peserta KKN ke masyarakat. Sebagai pengabdian diri kepada masyarakat,

BAB II BEBERAPA BIDANG PERMASALAHAN GAMPONG. peserta KKN ke masyarakat. Sebagai pengabdian diri kepada masyarakat, BAB II BEBERAPA BIDANG PERMASALAHAN GAMPONG A. Pendidikan, Agama, Ekonomi, dan Sosial Budaya Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan dengan penerjunan mahasiswa peserta KKN ke masyarakat. Sebagai pengabdian

Lebih terperinci

H., 2014 PROGRAM PENYED IAAN AIR MINUM D AN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT ( PAMSIMAS ) D ALAM MENUMBUHKAN PERILAKU HID UP SEHAT

H., 2014 PROGRAM PENYED IAAN AIR MINUM D AN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT ( PAMSIMAS ) D ALAM MENUMBUHKAN PERILAKU HID UP SEHAT BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tujuan pembangunan nasional secara umum adalah membangun bangsa yang maju, mandiri dan sejahtera. Hal ini sesuai dengan tujuan yang tercantum dalam alinea

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN 5.1 Temuan Studi

BAB 5 KESIMPULAN 5.1 Temuan Studi BAB 5 KESIMPULAN Bab ini merupakan penutup dari studi yang dilakukan dimana akan dipaparkan mengenai temuan studi yang dihasilkan dari proses analisis terutama untuk mencapai tujuan penelitian yang telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peradaban manusia tidak akan mencapai tingkat yang dinikmati sampai saat ini. Air merupakan sumber daya yang sangat diperlukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. peradaban manusia tidak akan mencapai tingkat yang dinikmati sampai saat ini. Air merupakan sumber daya yang sangat diperlukan oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latarbelakang Masalah Air adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan dapat dipastikan tanpa pengembangan sumberdaya air secara konsisten peradaban manusia

Lebih terperinci

2015 MANFAAT PEMBELAJARAN PRAKARYA DAN KEWIRAUSAHAAN DALAM PENUMBUHAN SIKAP WIRAUSAHA SISWA SMAN 1 CIMAHI

2015 MANFAAT PEMBELAJARAN PRAKARYA DAN KEWIRAUSAHAAN DALAM PENUMBUHAN SIKAP WIRAUSAHA SISWA SMAN 1 CIMAHI 1 BAB I PENDAHULUAN Bab I pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah mengenai pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dalam penumbuhan sikap wirausaha siswa yang akan diteliti, rumusan masalah,

Lebih terperinci

ANALISIS PELATIHAN STRATEGI PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH ADIWIYATA BAGI GURU SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PIYUNGAN

ANALISIS PELATIHAN STRATEGI PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH ADIWIYATA BAGI GURU SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PIYUNGAN ISBN 978-602-70471-2-9 ANALISIS PELATIHAN STRATEGI PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH ADIWIYATA BAGI GURU SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PIYUNGAN Siwi Purwanti, Fakultas Keguruan

Lebih terperinci

MENGINTEGRASIKAN MUATAN LOKAL DALAM KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH DASAR

MENGINTEGRASIKAN MUATAN LOKAL DALAM KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH DASAR MENGINTEGRASIKAN MUATAN LOKAL DALAM KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH DASAR Nurul Hidayati Rofiah, M.Pd.I Program Studi PGSD FKIP UAD Email: nurulhidayatirofiah@ymail.com ABSTRAK Muatan lokal merupakan bahan kajian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan masalah yang harus diselesaikan

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan masalah yang harus diselesaikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat sangat membantu proses perkembangan di semua aspek kehidupan bangsa. Salah satunya adalah aspek

Lebih terperinci

INVENTARISASI SUMBER AIR BERSIH KABUPATEN BANYUMAS. Oleh: Puji Harsanto Chrisna Pudyawardhana

INVENTARISASI SUMBER AIR BERSIH KABUPATEN BANYUMAS. Oleh: Puji Harsanto Chrisna Pudyawardhana INVENTARISASI SUMBER AIR BERSIH KABUPATEN BANYUMAS Oleh: Puji Harsanto Chrisna Pudyawardhana Abstraksi Air bersih merupakan salah satu unsur penting bagi pengembangan wilayah di Kabupaten Banyumas, diantaranya

Lebih terperinci