BAB I PENDAHULUAN. adalah bank, nasabah, pengembang atau developer, pemerintah, serta Bank

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. adalah bank, nasabah, pengembang atau developer, pemerintah, serta Bank"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) merupakan sebuah kredit bersifat konsumtif yang diberikan oleh pihak bank kepada masyarakat untuk memiliki rumah dengan jaminan atau agunan rumah itu sendiri. Proses pemberian kredit KPR itu sendiri mencakup berbagai pihak, di antaranya adalah bank, nasabah, pengembang atau developer, pemerintah, serta Bank Indonesia (BI) sebagai pembuat kebijakan moneter di Indonesia yang turut serta mengatur beberapa kebijakan atau kebijakan terkait KPR (termasuk ke dalam kebijakan makroprudensial). Sektor properti dan real estate, di Indonesia sendiri, merupakan salah satu bisnis atau industri terbesar, bahkan dapat dikatakan di Asia. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Pengembang Real Estate Indonesia (REI) dan Universitas Indonesia tahun 2011 menunjukkan bahwa sektor properti menyumbang pertumbuhan ekonomi sebesar 28% ditinjau dari pengeluaran konsumsi sektor bangunan. Akan tetapi, meskipun memiliki pertumbuhan yang tinggi dan memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, nilai properti di Indonesia sendiri pada beberapa tahun terakhir telah melambung sangat tinggi hingga 1

2 dikhawatirkan terus meningkatkan harga aset properti di Indonesia yang tidak mencerminkan harga yang sebenarnya (bubble nilai properti). Pertumbuhan sektor properti yang sangat tinggi tersebut menjadi kekhawatiran bagi Bank Indonesia. Hasil survei yang diolah Direktorat Statistik Moneter (DSM) dan Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan (DPNP) Bank Indonesia pada tahun 2012 mencatat bahwa berdasarkan tren historik terdapat keterkaitan erat antara kenaikan jumlah kredit dengan kenaikan harga properti, di mana ketika harga properti naik, kredit properti juga naik hingga di atas 40% pada periode kenaikan harga properti. Sedangkan pada triwulan I tahun 2013 sendiri, hasil Survei Harga Properti Residensial yang dilakukan oleh Bank Indonesia sendiri mengindikasikan harga properti residensial naik 4,78% (qtq) atau 11,09% (yty) (Indonesia, 2013). Di samping itu, penyaluran kredit perbankan terhadap sektor properti tidak hanya KPR yang termasuk ke dalam portofolio kredit konsumer saja, melainkan bank juga menyalurkan kredit untuk konstruksi bangunan kepada sebagian perusahaan properti atau developer. Manurut Survei Harga Properti Residensial pada Triwulan I tahun 2013, berdasarkan komposisi sumber pembiayaan pembangunan properti, sebesar 33,71% pembiayaan pembangunan pada industri properti berasal dari pinjaman bank (Indonesia, Survei Harga Properti Residensial, 2013). Apabila kemudian industri properti collapse karena kemudian harga properti yang mengalami bubble tersebut terkoreksi di pasar sehingga 2

3 harga properti jatuh di bawah nilai intrinsiknya, maka tentu akan berdampak terhadap industri perbankan. Oleh karena itu, Bank Indonesia kemudian menciptakan kebijakan LTV dengan menerbitkan surat edaran BI No 14/10/DPNP. Kebijakan LTV sendiri merupakan salah satu instrumen dalam kebijakan makroprudensial yang berperan menjaga stabilitas sistem keuangan di Indonesia. Berikut ini adalah bagan transmisi kebijakan LTV di Indonesia. Gambar 1.1. Bagan Transmisi Kebijakan LTV di Indonesia Instrumen Target Operasional Target intermediasi Target Akhir LTV untuk KPR Mengurangi risiko KPR Mengurangi demand terhadap pembelian properti Meminimalisir risiko sistemik Sumber : Dokumen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kebijakan LTV KPR merupakan kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia untuk menahan pertumbuhan yang berlebihan di sektor properti dan meningkatkan aspek prudensial bank dalam penyaluran kredit properti (peningkatan aspek manajemen risiko). Adapun surat edaran No. 15/40/DKMP yang diterbitkan pada tanggal 24 September 2013 adalah revisi dari kebijakan 3

4 pembatasan LTV tahun 2012 karena dianggap masih kurang ketat dan belum mampu menekan pertumbuhan kredit kendaraan bermotor dan non performing loan (NPL) nominal. Berikut ini adalah beberapa aspek revisi Bank Indonesia terhadap surat edaran tahun 2012 (SE No. 14/10/DPNP). Tabel 1.1. Revisi Kebijakan LTV KPR No SE No. 14/10/DPNP SE No. 15/40/DKMP 1. Hanya mengatur untuk Mengatur besaran LTV untuk rumah pembiayaan kredit ruman pertama kedua, ketiga dan seterusnya. 2. Penetapan LTV hanya pada bank konvensional Kebijakan LTV juga diterapkan untuk perbankan syariah. 3. Tidak mengatur debitur yang merupakan pasangan suami istri Revisi dilakukan untuk membatasi pembelian ganda antara pasangan suami dan istri sehingga pasangan suami istri diperlakukan sebagai satu debitur. 4. Hanya mengatur tipe bangunan > 70 m 2 Mengatur besaran LTV untuk tipe bangunan 22 m 2-70 m 2 Sumber : SE No. 14/10/DPNP dan SE No. 15/40/DKMP Dalam dokumen Kajian Stabilitas Keuangan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia pada bulan September 2013, Bank Indonesia sudah memiliki kekhawatiran akan pertumbuhan kredit properti yang agresif atau berlebihan sejak bulan April 2013 dan hal ini dapat dilihat dari data jumlah debitur dengan lebih dari satu KPR pada bulan April Meskipun Bank Indonesia sudah memiliki kekhawatiran dan rencana akan revisi kebijakan pembatasan LTV sejak bulan April 2013, namun informasi mengenai revisi kebijakan pembatasan LTV baru diterima oleh pasar pada 11 Juli Tepatnya adalah pada saat Bank Indonesia mengumumkan 4

5 akan memberlakukan pengetatan LTV untuk KPR serta KPA kedua, dan seterusnya. Hingga kemudian Bank Indonesia menerbitkan surat edaran pada tanggal 24 September 2013 yang menggantikan surat edaran pada tanggal 15 Maret Oleh karena itu, peneliti akan menguji pengaruh informasi mengenai kebijakan pembatasan LTV pada dua event date (t=0) yaitu pada saat publik menerima informasi tentang publikasi rencana pengetatan kebijakan pembatasan LTV pada tanggal 11 Juli 2013 yang dipublikasikan melalui artikel berita di internet dan juga peneliti akan menguji pengaruh informasi tentang penerbitan surat edaran Bank Indonesia pada tanggal 24 September 2013 mengenai implementasi kebijakan pembatasan LTV terhadap reaksi pasar. Inti dari surat edaran yang diterbitkan Bank Indonesia pada tanggal 24 September 2013 adalah pembatasan besar loan to value (pada bank konvensional) atau financing to value (pada bank syariah). Loan to value (LTV) atau financing to value (FTV) adalah rasio antara nilai kredit yang dapat diberikan oleh bank terhadap nilai agunan pada saat pemberian kredit. Penetapan besaran maksimal loan to value (LTV) atau financing to value (FTV) untuk kredit atau pemilikan properti dan kredit atau pembiayaan beragun properti sebagai berikut. 5

6 Tabel 1.2. Kebijakan Besaran Maksimal LTV KPR Bank Indonesia No. Fasilitas Kredit Pemilikan Besar Luas Bangunan Rumah/Rumah Susun ke- Maksimal LTV 1. 1 (pertama) >70 m 2 70% 2. 1 (pertama) 22 m 2 70 m 2 80% 3. 2 (kedua) >70 m 2 60% 4. 2 (kedua) 22 m 2 70 m 2 70% 5. 3 (ketiga) dan seterusnya >70 m 2 50% 6. 3 (ketiga) dan seterusnya 22 m 2 70 m 2 60% Sumber : Surat Edaran BI No. 15/40/DKMP Akibat dari terbitnya kebijakan terkait LTV/FTV tersebut adalah masyarakat harus membayarkan uang muka (down payment) KPR yang lebih tinggi untuk memiliki sebuah rumah (rumah tapak) ataupun jenis bangunan lain termasuk rumah susun (griya tawang, apartemen, kondominium, dan flat), rumah toko, rumah kantor, serta pembiayaan lainnya yang beragun properti. Dengan menurunnya daya beli masyarakat untuk memiliki bangunan atau properti melalui fasilitas kredit, maka tentu saja hal ini akan mempengaruhi permintaan akan KPR/KPA (Kredit Pemilikan Apartemen) dan permintaan akan unit bangunan properti, khususnya rumah dan apartemen. Bank memiliki fungsi sebagai lembaga intermediasi, di mana bank menghimpun dana dari masyarakat, baik dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito dan kemudian menyalurkannya kembali kepada pihak ketiga yaitu masyarakat dalam bentuk pinjaman atau kredit, dengan berbagai 6

7 macam bentuk kredit dan salah satunya adalah kredit properti yang terbagi atas tiga jenis yaitu kredit konstruksi, kredit real estate dan KPR/KPA. Bank kemudian mengambil keuntungan melalui selisih bunga antara bunga tabungan, giro, serta deposito terhadap bunga kredit termasuk bunga kredit properti, termasuk bunga KPR/KPA. Semakin banyak dana yang dapat dihimpun bank dari masyarakat dan semakin banyak pihak yang membutuhkan kredit atau pinjaman dari bank maka keuntungan yang diraih oleh bank akan semakin tinggi. Peranan bank sebagai lembaga intermediasi tentu sangat tergantung dari keuntungan yang berasal dari selisih bunga tersebut, termasuk bunga KPR yang dibebankan kepada nasabah, namun di sisi lain, tidak semua bank menawarkan produk KPR kepada masyarakat, melainkan hanya bank-bank tertentu dan nilai total KPR yang ditawarkan masing-masing bank kepada nasabah pun berbeda-beda. Menurut hasil Survei Harga Properti Residensial Triwulan I tahun 2013 yang dilakukan Bank Indonesia, KPR masih menjadi sumber pembiayaan utama pembelian properti residensial (Indonesia, Survei Harga Properti Residensial, 2013). Berikut ini adalah data sumber pembiayaan konsumen berdasarkan hasil survei tersebut. 7

8 Gambar 1.2. Grafik Sumber Pembiayaan Konsumen (dalam Persentase) pada Triwulan I Tahun % 13.07% Tunai Tunai Bertahap KPR 76.46% Sumber : Survei Harga Properti Residensial Triwulan I-2013 Data grafik di atas didapatkan bahwa sebagian besar konsumen (74,76%) masih memilih KPR sebagai fasilitas utama dalam transaksi pembelian properti residensial, khususnya pada rumah tipe kecil. Di samping itu, KPR juga menjadi peluang bisnis yang sangat diincar oleh bank karena memiliki tren yang meningkat setiap tahunnya dan persaingan bank-bank penyalur KPR semakin kompetitif. Dengan pertumbuhan permintaan akan KPR yang sangat tinggi yaitu sebesar 26,68% pada tahun 2012, maka tentu saja pertumbuhan profit atau keuntungan yang diperoleh bank melalui penyaluran KPR juga akan tinggi. Sehingga apabila Bank Indonesia kemudian menerapkan kebijakan pembatasan LTV pada tahun 2013 yang dapat menurunkan permintaan masyarakat akan KPR, maka dampaknya adalah penurunan profit bank 8

9 yang menyalurkan KPR tersebut. Penurunan profit tersebut terutama akan dirasakan oleh bank yang menyalurkan KPR dalam jumlah besar seperti Bank BTN, meskipun pengaruh tersebut akan terjadi selama beberapa waktu dan kemudian penyaluran KPR tersebut akan mulai mengalami stabilitas pada titik tertentu. Selain berpengaruh terhadap sektor perbankan, informasi tentang kebijakan pembatasan LTV/FTV juga akan mempengaruhi sektor properti, khususnya perusahaan pengembang atau developer, di mana informasi tentang kebijakan tersebut akan berpengaruh pada unit penjualan bangunan atau properti, khususnya rumah dan apartemen serta dapat menurunkan profit perusahaan pengembang atau developer. Meskipun konsumen produk KPR/KPA pada umumnya adalah masyarakat dari kalangan menengah ke bawah, di sisi lain perusahaan pengembang atau developer yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah perusahaan pengembang dengan skala besar dan dapat dikatakan sebagian besar konsumen dari perusahaan pengembang besar tersebut adalah masyarakat kalangan menengah ke atas dan pola transaksi masyarakat menengah ke atas adalah melalui pembayaran tunai ataupun tunai bertahap (cicilan), namun tetap saja ada sebagian konsumen baik dari kalangan menengah ke atas yang tetap melakukan pembayaran melalui KPR. Berikut ini adalah data mengenai metode pembayaran konsumen dua developer skala besar yang telah go public yaitu PT Ciputra Surya Tbk dan Lippo Karawaci Tbk. 9

10 Tabel 1.3. Persentase Konsumen Berdasarkan Metode Pembayaran PT Ciputra Surya Tbk Tahun 2012 No Metode Jumlah Konsumen (%) Pembayaran Angsuran 11, Tunai 14,3 18,4 3. KPR 73,8 50,7 Sumber : Annual Report PT Ciputra Surya Tbk Tahun 2012 Tabel 1.4. Persentase Konsumen Berdasarkan Metode Pembayaran Lippo Karawaci Tbk Tahun 2012 Proyek Jumlah Konsumen (%) Tahun 2012 Angsuran Tunai KPR Lippo Village (Residential) Lippo Cikarang (Residential) Lippo Cikarang (Ligh Industrial) Tanjung Bunga Kemang Village The St. Moritz Sumber : Annual Report Lippo Karawaci Tbk Tahun 2012 Berbeda dengan konsumen kalangan menengah ke bawah yang pada umumnya memanfaatkan KPR untuk kepemilikan rumah pertama (bersifat konsumtif), konsumen kalangan kelas menengah ke atas melakukan pembelian properti tidak hanya untuk konsumsi, melainkan juga untuk investasi, sehingga konsumen tersebut pada umumnya memanfaatkan KPR untuk kepemilikan rumah kedua, ketiga, dan seterusnya; dan implementasi kebijakan pembatasan maksimal LTV/FTV juga berlaku tidak hanya kepemilikan rumah pertama saja, melainkan juga kepemilikan kedua, ketiga, dan seterusnya. Oleh karena itu, informasi tentang kebijakan pembatasan maksimal LTV/FTV terhadap KPR juga akan memengaruhi 10

11 unit penjualan properti dan akan berdampak pada sektor properti, meskipun pengaruhnya akan lebih dirasakan pada perusahaan pengembang atau developer skala menengah. Menurut Hipotesis Pasar Modal yang Efisien, pada pasar modal yang efisien, harga selalu merefleksikan secara penuh semua informasi yang tersedia. Jika suatu informasi baru yang relevan terkait suatu aktiva masuk ke pasar dan diterima oleh investor, maka investor akan menggunakan informasi tersebut untuk menganalisis nilai dari aktiva tersebut. Oleh karena itu, informasi publik mengenai kebijakan LTV akan mempengaruhi keputusan investor, khususnya investor yang memiliki saham di sektor perbankan dan sektor properti, untuk menjual sahamnya karena menilai kebijakan tersebut akan membawa dampak negatif terhadap bisnis properti dan bisnis perbankan. Reaksi investor terhadap pengumuman publik tersebut dapat memengaruhi return saham sektor perbankan dan properti. Hal ini kemudian mengundang pertanyaan lebih lanjut mengenai pengaruh informasi tentang kebijakan tersebut terhadap saham perbankan dan saham properti. Oleh karena alasan tersebut, penulis kemudian melakukan penelitian lebih lanjut mengenai REAKSI PASAR TERHADAP KEBIJAKAN BANK INDONESIA TENTANG PEMBATASAN LOAN TO VALUE PADA KREDIT PEMILIKAN RUMAH : ANALISIS SAHAM SEKTOR PERBANKAN DAN PROPERTI. 11

12 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat ditentukan permasalahan yang ingin diteliti lebih lanjut dalam penelitian ini adalah apakah pasar bereaksi terhadap informasi publikasi rencana pengetatan LTV pada KPR dan informasi tentang penerbitan surat edaran Bank Indonesia pada tanggal 24 September 2013 terkait implementasi kebijakan pembatasan LTV pada KPR. Oleh karena itu dapat dirumuskan permasalahan penelitian yang terangkum dalam enam pertanyaan penelitian berikut ini Rumusan Masalah Pertama a. Apakah pasar bereaksi negatif terhadap informasi tentang rencana pengetatan loan to value Kredit Pemilikan Rumah oleh Bank Indonesia pada 11 Juli 2013 pada saham perbankan? b. Apakah pasar bereaksi negatif terhadap informasi tentang penerbitan surat edaran Bank Indonesia tanggal 24 September 2013 terkait kebijakan pembatasan loan to value Kredit Pemilikan Rumah pada saham properti? Rumusan Masalah Kedua a. Apakah pasar bereaksi negatif terhadap informasi tentang penerbitan surat edaran Bank Indonesia tanggal 24 September 2013 terkait kebijakan pembatasan LTV KPR pada saham perbankan? 12

13 b. Apakah pasar bereaksi negatif terhadap informasi tentang penerbitan surat edaran Bank Indonesia tanggal 24 September 2013 terkait kebijakan pembatasan LTV KPR pada saham properti? Rumusan Masalah Ketiga a. Apakah reaksi negatif pasar lebih kuat untuk bank yang memiliki proporsi KPR tinggi? b. Apakah reaksi negatif pasar lebih kuat pada perusahaan properti yang melayani KPR dibandingkan perusahaan properti yang tidak melayani KPR? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan yang menjadi pokok permasalahan penelitian, yaitu untuk : 1. Menganalisis apakah terdapat reaksi negatif pasar terhadap informasi tentang publikasi rencana pengetatan loan to value Kredit Pemilikan Rumah oleh Bank Indonesia pada 11 Juli 2013 pada saham perbankan dan saham properti. 2. Menganalisis apakah terdapat reaksi negatif pasar terhadap informasi tentang penerbitan surat edaran Bank Indonesia tanggal 24 September 2013 terkait kebijakan pembatasan loan to value Kredit Pemilikan Rumah pada saham perbankan dan saham properti. 13

14 3. Menganalisis apakah reaksi negatif pasar lebih kuat pada bank yang memiliki proporsi KPR tinggi. 4. Menganalisis apakah reaksi negatif pasar lebih kuat pada kelompok perusahaan properti yang menyalurkan KPR dibanding yang tidak menyalurkan KPR Batasan Penelitian Penilitian ini bersifat studi peristiwa dan ada dua peristiwa yang digunakan dalam penelitian ini yaitu publikasi rencana pengetatan LTV oleh para petinggi Bank Indonesia pada tanggal 11 Juli 2013 dan penerbitan surat edaran terkait kebijakan pembatasan loan to value pada Kredit Pemilikan Rumah (KPR) No. 15/40/DKMP pada tanggal 24 September Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat kepada beberapa pihak yang terkait dengan penelitian seperti Bank Indonesia, bank umum maupun bank syariah, perusahaan pengembang atau developer, dan peneliti. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bank Indonesia, sebagai bank sentral, dapat memahami pengaruh dari informasi publik terkait kebijakan loan to value pada KPR terhadap sektor perbankan dan sektor properti, terutama sebagai 14

15 bahan evaluasi atas kebijakan tersebut yang telah dilaksanakan pada September 2013 lalu hingga saat ini dan sebagai pertimbangan dalam melakukan implementasi ataupun perubahan terkait kebijakan serupa di masa depan. 2. Memberikan tambahan pengetahuan bagi bank umum dan perusahaan pengembang properti mengenai sejauh apa pengaruh yang ditimbulkan dari informasi terkait kebijakan loan to value pada KPR terhadap sektor perbankan dan sektor properti yang diukur melalui abnormal return saham. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan informasi mengenai reaksi atau tindakan investor dalam menghadapi informasi publik yang dapat mempengaruhi penyaluran KPR, khususnya mengenai pembatasan loan to value pada KPR. 3. Peneliti memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas mengenai studi peristiwa khususnya pembatasan loan to value pada KPR dan pengaruhnya terhadap abnormal return saham perbankan dan properti serta mengetahui sektor mana yang lebih sensitif terhadap informasi terkait kebijakan tersebut. 15

BAB I PENDAHULUAN. dianggap investasi tersebut menguntungkan. Menurut Tandelilin (2010) investasi

BAB I PENDAHULUAN. dianggap investasi tersebut menguntungkan. Menurut Tandelilin (2010) investasi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seorang investor bersedia menanamkan dananya pada suatu investasi apabila dianggap investasi tersebut menguntungkan. Menurut Tandelilin (2010) investasi dapat diartikan

Lebih terperinci

DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN LOAN TO VALUE (LTV) TERHADAP PERKEMBANGAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH Oleh Tim Riset SMF

DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN LOAN TO VALUE (LTV) TERHADAP PERKEMBANGAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH Oleh Tim Riset SMF DAMPAK PERUBAHAN KEBIJAKAN LOAN TO VALUE (LTV) TERHADAP PERKEMBANGAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH Oleh Tim Riset SMF A. Latar Belakang Perlambatan ekonomi domestik yang terjadi ditengah perekonomian global yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Berdasarkan data yang diperoleh dari

BAB 1 PENDAHULUAN. yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Berdasarkan data yang diperoleh dari BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingginya kebutuhan rumah tinggal di Indonesia masih menjadi suatu masalah yang harus dipikirkan oleh pemerintah. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Pekerjaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan pusat perkantoran (Rusteliana, 2014). Pertumbuhan bisnis properti ini

BAB I PENDAHULUAN. dan pusat perkantoran (Rusteliana, 2014). Pertumbuhan bisnis properti ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan bisnis properti di Indonesia semakin pesat seiring dengan kemajuan perekonomian Indonesia, bisa dilihat dari banyaknya pembangunan perumahan, apartemen,

Lebih terperinci

Analisa Statistik Uang Beredar (M2) dan Perkembangan Dana, Kredit serta Suku Bunga Perbankan

Analisa Statistik Uang Beredar (M2) dan Perkembangan Dana, Kredit serta Suku Bunga Perbankan Analisa Statistik Uang Beredar (M2) dan Perkembangan Dana, Kredit serta Suku Bunga Perbankan ober Uang Beredar dalam arti luas (M2) yang terdiri dari uang kartal dan dana masyarakat di perbankan, pada

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH Perkembangan Perbankan Aceh PERKEMBANGAN PERBANKAN DI ACEH 38 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. ACEH TRIWULAN 2-2013 Perbankan Aceh Kinerja perbankan (Bank

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Inflation Targeting Framework (ITF) tidaklah cukup untuk mengatasi. krisis ekonomi dan keuangan, maka perlu adanya sebuah instrument

I. PENDAHULUAN. Inflation Targeting Framework (ITF) tidaklah cukup untuk mengatasi. krisis ekonomi dan keuangan, maka perlu adanya sebuah instrument I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Krisis ekonomi dan keuangan yang terjadi baik di negara berkembang maupun negara maju dapat menyebabkan stabilitas keuangan dan sistem pembayaran terganggu. Bagi pembuat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berperan sebagai institusi yang memberikan jasa keuangan bagi seluruh pelaku

BAB I PENDAHULUAN. berperan sebagai institusi yang memberikan jasa keuangan bagi seluruh pelaku BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bank merupakan salah satu pelaku utama dari perekonomian negara karena berperan sebagai institusi yang memberikan jasa keuangan bagi seluruh pelaku ekonomi tidak hanya

Lebih terperinci

2018, No dan uang muka untuk kredit atau pembiayaan kendaraan bermotor; d. bahwa penyempurnaan terhadap kebijakan makroprudensial melalui penga

2018, No dan uang muka untuk kredit atau pembiayaan kendaraan bermotor; d. bahwa penyempurnaan terhadap kebijakan makroprudensial melalui penga LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.118, 2018 PERBANKAN. BI. Rasio Loan to Value. Rasio Financing to Value. Uang Muka. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6230) PERATURAN

Lebih terperinci

A. Kondisi Triwulan II-2018

A. Kondisi Triwulan II-2018 TRIWULAN II-218 Pertumbuhan Kredit Menguat Bank Indonesia mengindikasikan pertumbuhan triwulanan kredit baru meningkat pada triwulan II-218. Pertumbuhan kredit tersebut diperkirakan akan semakin menguat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 20/8/PBI/2018 TENTANG RASIO LOAN TO VALUE UNTUK KREDIT PROPERTI, RASIO FINANCING TO VALUE UNTUK PEMBIAYAAN PROPERTI, DAN UANG MUKA UNTUK KREDIT ATAU PEMBIAYAAN KENDARAAN

Lebih terperinci

2 berkeinginan untuk membeli Properti maupun kendaraan bermotor. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pelonggaran Rasio Loan to Value atau Rasi

2 berkeinginan untuk membeli Properti maupun kendaraan bermotor. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pelonggaran Rasio Loan to Value atau Rasi TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI PERBANKAN. BI. Rasio. Loan To Value. Financing To Value. Pencabutan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 141). PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK

Lebih terperinci

A. Kondisi Triwulan III-2018

A. Kondisi Triwulan III-2018 TRIWULAN III-18 Pertumbuhan Kredit Melambat Pada Triwulan III-18 Bank Indonesia mengindikasikan pertumbuhan triwulanan kredit baru cenderung melambat pada triwulan III-18. Hal tersebut tercermin dari Saldo

Lebih terperinci

2 Kredit atau Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tent

2 Kredit atau Pembiayaan Properti dan Uang Muka untuk Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tent LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.141, 2015 PERBANKAN. BI. Rasio. Loan To Value. Financing To Value. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5706). FPERATURAN

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.178, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERBANKAN. BI. Pembiayaan. Kredit. Uang Muka. Properti. Kendaraan Bermotor. LTV. FTV. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/10/PBI/2015 TENTANG RASIO LOAN TO VALUE ATAU RASIO FINANCING TO VALUE UNTUK KREDIT ATAU PEMBIAYAAN PROPERTI DAN UANG MUKA UNTUK KREDIT ATAU PEMBIAYAAN KENDARAAN BERMOTOR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Setiap perusahaan bertujuan untuk memperoleh keuntungan atau laba yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Setiap perusahaan bertujuan untuk memperoleh keuntungan atau laba yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan bertujuan untuk memperoleh keuntungan atau laba yang optimal. Dalam mewujudkan tujuan tersebut perusahaan tidak terlepas dari berbagai masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perumahan sebagai kebutuhan dasar. Rumah merupakan kebutuhan dasar. manusia dalam meningkatkan harkat, martabat, mutu kehidupan dan

BAB I PENDAHULUAN. perumahan sebagai kebutuhan dasar. Rumah merupakan kebutuhan dasar. manusia dalam meningkatkan harkat, martabat, mutu kehidupan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia selain memerlukan sandang dan pangan, juga memerlukan perumahan sebagai kebutuhan dasar. Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia dalam meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dunia perbankan merupakan salah satu institusi yang sangat berperan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dunia perbankan merupakan salah satu institusi yang sangat berperan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dunia perbankan merupakan salah satu institusi yang sangat berperan dalam bidang perekonomian suatu negara, khususnya dalam bidang pembiayaan perekonomian. Menurut UU

Lebih terperinci

BANK INDONESIA SEPTEMBER 2013

BANK INDONESIA SEPTEMBER 2013 1 Penerapan Manajemen Risiko Pada Bank Yang Melakukan Pemberian Kredit Atau Pembiayaan Pemilikan Properti, Kredit atau Pembiayaan Konsumsi Beragun Properti, dan Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seorang investor bersedia menanamkan dananya di suatu investasi jika

BAB I PENDAHULUAN. Seorang investor bersedia menanamkan dananya di suatu investasi jika BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seorang investor bersedia menanamkan dananya di suatu investasi jika investasi itu dianggap menguntungkan. Salah satu pilihan investasi yang menguntungkan yaitu perdagangan

Lebih terperinci

No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September 2013. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September 2013. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September 2013 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit atau Pembiayaan Pemilikan

Lebih terperinci

FREQUENTLY ASKED QUESTIONS

FREQUENTLY ASKED QUESTIONS FREQUENTLY ASKED QUESTIONS (FAQ) PBI NOMOR 20/8/PBI/2018 TANGGAL 1 AGUSTUS 2018 TENTANG RASIO LOAN TO VALUE UNTUK KREDIT PROPERTI, RASIO FINANCING TO VALUE UNTUK PEMBIAYAAN PROPERTI, DAN UANG MUKA UNTUK

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH

PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH Perbankan Aceh PERKEMBANGAN PERBANKAN DI ACEH KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. ACEH TRIWULAN 4-2012 45 Perkembangan Perbankan Aceh Kinerja perbankan (Bank

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Berdasarkan Bank Indonesia, industri properti Indonesia tahun 2011 terus menunjukkan tren meningkat terutama pada sektor konsumsi yang didominasi oleh kredit kepemilikan

Lebih terperinci

Bank Konvensional Syariah Roda 2 20% 20% Roda 3 atau lebih non produktif 25% 25% Roda 3 atau lebih produktif 20% 20%

Bank Konvensional Syariah Roda 2 20% 20% Roda 3 atau lebih non produktif 25% 25% Roda 3 atau lebih produktif 20% 20% FREQUENTLY ASKED QUESTIONS PERATURAN BANK INDONESIA NO.17/10/PBI/2015 TENTANG RASIO LOAN TO VALUE ATAU RASIO FINANCING TO VALUE UNTUK KREDIT ATAU PEMBIAYAAN PROPERTI DAN UANG MUKA UNTUK KREDIT ATAU PEMBIAYAAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. secara umum diukur dari pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Hal ini disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. secara umum diukur dari pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Hal ini disebabkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan perekonomian suatu negara dan tingkat kesejahteraan penduduk secara umum diukur dari pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Lembaga keuangan adalah badan usaha yang aset utamanya berbentuk aset

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Lembaga keuangan adalah badan usaha yang aset utamanya berbentuk aset BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Lembaga keuangan adalah badan usaha yang aset utamanya berbentuk aset keuangan. Secara umum lembaga keuangan dikelompokkan menjadi 2 yaitu lembaga keuangan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 18/16/PBI/2016 TENTANG RASIO LOAN TO VALUE UNTUK KREDIT PROPERTI, RASIO FINANCING TO VALUE UNTUK PEMBIAYAAN PROPERTI, DAN UANG MUKA UNTUK KREDIT ATAU PEMBIAYAAN KENDARAAN

Lebih terperinci

SURVEI PERBANKAN KONDISI TRIWULAN I Triwulan I Perbankan Semakin Optimis Kredit 2015 Tumbuh Sebesar 17,1%

SURVEI PERBANKAN KONDISI TRIWULAN I Triwulan I Perbankan Semakin Optimis Kredit 2015 Tumbuh Sebesar 17,1% Triwulan I - 2015 SURVEI PERBANKAN Perbankan Semakin Optimis Kredit 2015 Tumbuh Sebesar 17,1% Secara keseluruhan tahun 2015, optimisme responden terhadap pertumbuhan kredit semakin meningkat. Pada Triwulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk dapat tetap hidup setiap hari. Setiap manusia butuh makan dan minum.

BAB I PENDAHULUAN. untuk dapat tetap hidup setiap hari. Setiap manusia butuh makan dan minum. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu kebutuhan primer makhluk hidup adalah papan selain sandang dan pangan. Sandang dan pangan merupakan penunjang yang membuat manusia untuk dapat tetap hidup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting bagi pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting bagi pembangunan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri perbankan memegang peranan penting bagi pembangunan ekonomi sebagai Financial Intermediary atau perantara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu bentuk lembaga keuangan adalah bank. Fungsi utama dari sebuah bank

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu bentuk lembaga keuangan adalah bank. Fungsi utama dari sebuah bank BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu bentuk lembaga keuangan adalah bank. Fungsi utama dari sebuah bank adalah sebagai penghimpun dana dari masyarakat dan penyalur dana ke masyarakat.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menyalurkan dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan

I. PENDAHULUAN. menyalurkan dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Fungsi utama perbankan Indonesia adalah menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional, pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau perusahaan yang aktifitas menghimpun dana berupa giro, deposito,

BAB I PENDAHULUAN. atau perusahaan yang aktifitas menghimpun dana berupa giro, deposito, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Undang Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan pada Bab 1 dan Pasal 1 serta ayat 2, bank adalah badan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki penduduk yang mayoritas beragama Muslim. Apalagi, itu, pengembangan perbankan syariah merupakan bagian dari program

BAB I PENDAHULUAN. memiliki penduduk yang mayoritas beragama Muslim. Apalagi, itu, pengembangan perbankan syariah merupakan bagian dari program BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dunia Perbankan akan selalu menjadi sorotan publik, apalagi pada negara berkembang seperti Indonesia, yang dimana perbankan menjadi sektor paling berpengaruh dan diperhatikan

Lebih terperinci

SURVEI PERBANKAN PERBANKAN SEMAKIN OPTIMIS KREDIT 2015 TUMBUH SEBESAR 17,1%

SURVEI PERBANKAN PERBANKAN SEMAKIN OPTIMIS KREDIT 2015 TUMBUH SEBESAR 17,1% SURVEI PERBANKAN Y jg brg dia TRIWULAN I-2015 PERBANKAN SEMAKIN OPTIMIS KREDIT 2015 TUMBUH SEBESAR 17,1% Secara keseluruhan tahun 2015, optimisme responden terhadap pertumbuhan kredit semakin meningkat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan perekonomian. Begitu penting perannya sehingga ada anggapan bahwa bank merupakan "nyawa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perbankan, juga tidak lepas dari pengaruh perkembangan di luar dunia bank,

BAB I PENDAHULUAN. perbankan, juga tidak lepas dari pengaruh perkembangan di luar dunia bank, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Kondisi dunia perbankan di Indonesia telah banyak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan ini selain disebabkan oleh perkembangan internal perbankan,

Lebih terperinci

Elastisitas Outstanding Kredit Pemilikan Rumah dan Apartemen Terhadap Indikator Pasar Perumahan. Oleh : Tim Riset

Elastisitas Outstanding Kredit Pemilikan Rumah dan Apartemen Terhadap Indikator Pasar Perumahan. Oleh : Tim Riset Elastisitas Outstanding Kredit Pemilikan Rumah dan Apartemen Terhadap Indikator Pasar Perumahan Oleh : Tim Riset Abstrak Studi ini dilakukan untuk menganalisis tingkat perubahan pada outstanding KPR&KPA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih mengalami gejolak-gejolak

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih mengalami gejolak-gejolak 1 Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih mengalami gejolak-gejolak perekonomian yang mempengaruhi seluruh aspek masyarakat. Salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pesat, karena setiap perbankan terus berusaha eksis dalam kegiatan ekonomi dan

BAB I PENDAHULUAN. pesat, karena setiap perbankan terus berusaha eksis dalam kegiatan ekonomi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perbankan setiap periodenya menunjukkan kemajuan yang sangat pesat, karena setiap perbankan terus berusaha eksis dalam kegiatan ekonomi dan menciptakan inovasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Persaingan yang sangat ketat dan pesatnya perkembangan pasar modal yang terjadi pada saat ini telah mempengaruhi kegiatan perusahaan, baik perusahaan kecil

Lebih terperinci

Pedoman Penilaian dan Laporan Perkembangan Pembangunan Properti terkait LTV

Pedoman Penilaian dan Laporan Perkembangan Pembangunan Properti terkait LTV Lampiran SPI 202 : Pedoman Penilaian dan Laporan Perkembangan Pembangunan Properti terkait LTV 1. Latar Belakang Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/40/DKMP tanggal 24 September 2013 perihal Penerapan

Lebih terperinci

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I PERBANKAN. BI. Pembiayaan. Kredit. Uang Muka. Properti. Kendaraan Bermotor. LTV. FTV. Pencabutan. (Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 178)

Lebih terperinci

No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 15/40/DKMP Jakarta, 24 September 2013 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit atau Pembiayaan Pemilikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. properti residential (IHPR - berdasarkan survey Bank Indonesia). Peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. properti residential (IHPR - berdasarkan survey Bank Indonesia). Peningkatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan bisnis sektor properti meningkat dari tahun ke tahun terutama pada beberapa tahun terakhir ditandai dengan peningkatan indeks harga properti residential

Lebih terperinci

-2- Bank Indonesia akan terus melakukan evaluasi terhadap kebijakan loan to value untuk KP atau financing to value untuk PP dan Uang Muka untuk KKB at

-2- Bank Indonesia akan terus melakukan evaluasi terhadap kebijakan loan to value untuk KP atau financing to value untuk PP dan Uang Muka untuk KKB at TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I PERBANKAN. BI. Rasio Loan to Value. Rasio Financing to Value. Uang Muka. (Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 118) PENJELASAN ATAS PERATURAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini industri perbankan pasca krisis multidimensi yang melanda

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini industri perbankan pasca krisis multidimensi yang melanda 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini industri perbankan pasca krisis multidimensi yang melanda Indonesia telah memperoleh banyak pelajaran berharga tentang pentingnya suatu kebijakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan lainnya (Hanafi dan Halim, 2009). Sedangkan kinerja keuangan bank dapat

BAB I PENDAHULUAN. dan lainnya (Hanafi dan Halim, 2009). Sedangkan kinerja keuangan bank dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kinerja keuangan bank merupakan suatu gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode tertentu, baik mencakup aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dananya. Penilaian

Lebih terperinci

SURVEI PERBANKAN * perkiraan

SURVEI PERBANKAN * perkiraan SURVEI PERBANKAN TRIWULAN IV-217 PERTUMBUHAN KREDIT TAHUN 218 DIPERKIRAKAN MENINGKAT Hasil Survei Perbankan mengindikasikan pertumbuhan kredit baru pada triwulan IV- 217 secara triwulanan (qtq) meningkat.

Lebih terperinci

Pedoman Penilaian dan Laporan Perkembangan Pembangunan Properti terkait LTV

Pedoman Penilaian dan Laporan Perkembangan Pembangunan Properti terkait LTV Pedoman Penilaian dan Laporan Perkembangan Pembangunan Properti terkait LTV 1. Latar Belakang Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/40/DKMP tanggal 24 September 2013 perihal Penerapan Manajemen Risiko pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. utama suatu bank adalah menghimpun dana dari masyarakat melalui simpanan

BAB I PENDAHULUAN. utama suatu bank adalah menghimpun dana dari masyarakat melalui simpanan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam menjalankan usahanya sebagai lembaga intermediasi keuangan, kegiatan bank sehari-hari tidak dapat dipisahkan dari bidang keuangan. Kegiatan utama suatu

Lebih terperinci

BAB I. penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya. dengan bank tanpa bunga (Ascarya & Yumanita, 2005).

BAB I. penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya. dengan bank tanpa bunga (Ascarya & Yumanita, 2005). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bank Syariah atau biasa disebut Islamic Bank adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah, yaitu aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perekonomian di Indonesia pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perekonomian di Indonesia pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perekonomian di Indonesia pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari dunia perbankan. Bank sebagai lembaga keuangan yang berfungsi sebagai intermediasi untuk menghimpun

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Bank

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Bank 8 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Bank Pengertian bank menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 adalah badan usaha

Lebih terperinci

No. 14/ 10 /DPNP Jakarta, 15 Maret 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 14/ 10 /DPNP Jakarta, 15 Maret 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 14/ 10 /DPNP Jakarta, 15 Maret 2012 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan sektor bisnis yang berkembang pesat.bisnis property dan real

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan sektor bisnis yang berkembang pesat.bisnis property dan real BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan perusahaan property dan real estate pada saat ini menggambarkan bahwa sektor property dan real estate di Indonesia merupakan sektor bisnis yang berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tolak ukur kemajuan negara tersebut. Menurut Kasmir (2014) bank adalah

BAB I PENDAHULUAN. tolak ukur kemajuan negara tersebut. Menurut Kasmir (2014) bank adalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bank merupakan lembaga yang memegang peranan penting dalam perekonomian suatu negara. Kemajuan bank di suatu negara dapat dijadikan tolak ukur kemajuan negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Pembiayaan perekonomian suatu Negara membutuhkan suatu institusi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Pembiayaan perekonomian suatu Negara membutuhkan suatu institusi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pembiayaan perekonomian suatu Negara membutuhkan suatu institusi yang dapat berperan dalam mendukung kegiatan perekonomian salah satunya adalah Dunia perbankan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasal 1 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 (Merkusiwati, 2007:100)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasal 1 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 (Merkusiwati, 2007:100) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perbankan memiliki peranan yang sangat strategis dalam menunjang berjalannya roda perekonomian dan pembangunan nasional mengingat fungsinya sebagai lembaga

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Seorang investor dalam melakukan pembelian dan penjualan suatu saham

BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Seorang investor dalam melakukan pembelian dan penjualan suatu saham BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seorang investor dalam melakukan pembelian dan penjualan suatu saham di pasar modal berhubungan erat dengan informasi yang berkembang disekitarnya. Seringkali sebuah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembelian rumah bisa dilakukan dengan cara tunai ataupun kredit.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembelian rumah bisa dilakukan dengan cara tunai ataupun kredit. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembelian rumah bisa dilakukan dengan cara tunai ataupun kredit. Seseorang dapat membeli rumah secara tunai apabila orang tersebut memiliki uang yang nilainya sama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. uang giral serta sistem organisasinya. Lembaga keuangan dibagi menjadi lembaga

BAB I PENDAHULUAN. uang giral serta sistem organisasinya. Lembaga keuangan dibagi menjadi lembaga BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Industri perbankan telah mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir mulai dari praderegulasi sampai pascaderegulasi. Pengklasifikasian perbankan

Lebih terperinci

SURVEI KREDIT PERBANKAN

SURVEI KREDIT PERBANKAN SURVEI KREDIT PERBANKAN B A N K L O A N S U R V E Y TRIWULAN IV-2004 Permintaan dan persetujuan pemberian kredit baru pada triwulan IV- 2004 secara indikatif memperlihatkan peningkatan Peningkatan tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki peranan penting. Menurut Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998

BAB I PENDAHULUAN. memiliki peranan penting. Menurut Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri perbankan sangat penting peranannya dalam perekonomian suatu negara, tidak terkecuali di Indonesia. Dalam industri perbankan sendiri, bank memiliki peranan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan-perusahaan properti di Bursa Efek Indonesia dalam kurun waktu

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan-perusahaan properti di Bursa Efek Indonesia dalam kurun waktu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan terjadinya krisis ekonomi dan moneter di Indonesia sektor properti menjadi salah satu sektor yang paling parah menderita kerugian karena peristiwa tersebut.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. negara. Ketika sektor perbankan terpuruk maka akan berdampak pada

BAB I PENDAHULUAN. negara. Ketika sektor perbankan terpuruk maka akan berdampak pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perbankan sangat penting bagi pembangunan ekonomi di suatu negara. Ketika sektor perbankan terpuruk maka akan berdampak pada perekonomian nasional. Sebaliknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

BAB I PENDAHULUAN. bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekonomi. Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekonomi. Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah 1 A. Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN Di negara seperti Indonesia, bank memegang peranan penting dalam pembangunan karena bukan hanya sebagai sumber pembiayaan untuk kredit investasi kecil,

Lebih terperinci

Grafik 3. Pertumbuhan Per Jenis Kredit Konsumsi. Grafik 2. Perkembangan NPL Per Jenis Kredit (%) 3.0. (%, yoy)

Grafik 3. Pertumbuhan Per Jenis Kredit Konsumsi. Grafik 2. Perkembangan NPL Per Jenis Kredit (%) 3.0. (%, yoy) (%) 3.0 Grafik 2. Perkembangan NPL Per Jenis 2.7 2.6 2.5 2.5 2.6 2.0 1.6 1.5 1.5 1.0 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 2013 2014 Modal Kerja Investasi Konsumsi Sumber: Bank Indonesia (%, yoy) Grafik 3.

Lebih terperinci

% yoy. Jan*

% yoy. Jan* Uang Beredar (M2) dan Faktor yang Mempengar aruhi wa uari Pertumbuhan Uang Beredar (M2) uari meningkat dibanding ember. Posisi M2 tercatat sebesar Rp4.174,2 T, atau tumbuh 14,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan

Lebih terperinci

LIST PERTANYAAN DAN JAWABAN TERKAIT PENERAPAN KETENTUAN LOAN TO VALUE

LIST PERTANYAAN DAN JAWABAN TERKAIT PENERAPAN KETENTUAN LOAN TO VALUE LIST PERTANYAAN DAN JAWABAN TERKAIT PENERAPAN KETENTUAN LOAN TO VALUE (LTV) KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) DAN DOWN PAYMENT (DP) KREDIT KENDARAAN BERMOTOR (KKB) PERBANKAN NO PERTANYAAN JAWABAN I. HAL UMUM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan perkembangan zaman yang mobile dan dinamis mengakibatkan

BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan perkembangan zaman yang mobile dan dinamis mengakibatkan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap individu, perusahaan maupun masyarakat tidak dapat terlepas dari kegiatan komsumsi, baik itu untuk kebutuhan primer, sekunder maupun tersier. Tuntutan perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter Bank Indonesia selaku otoritas moneter. BI Rate merupakan instrumen kebijakan utama untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bahkan untuk keluar dari krisis ekonomi ini, sektor riil harus selalu digerakan

BAB I PENDAHULUAN. Bahkan untuk keluar dari krisis ekonomi ini, sektor riil harus selalu digerakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Masalah pendanaan menjadi tombak dalam dunia usaha dan perekonomian. Bahkan untuk keluar dari krisis ekonomi ini, sektor riil harus selalu digerakan untuk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. hidupnya. Untuk melakukan kegiatan bisnis tersebut para pelaku usaha

BAB 1 PENDAHULUAN. hidupnya. Untuk melakukan kegiatan bisnis tersebut para pelaku usaha BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring dengan semakin memburuknya keadaan perekonomian di Indonesia yang di tandai dengan penurunan nilai tukar rupiah, maka masyarakat mulai banyak mencari penghasilan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1 Bank dan Kredit Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu kunci penting dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang sehat adalah sinergi antara sektor moneter, fiskal dan riil. Bila ketiganya dapat disinergikan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sistem keuangan merupakan salah satu hal yang krusial dalam masyarakat

UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sistem keuangan merupakan salah satu hal yang krusial dalam masyarakat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sistem keuangan merupakan salah satu hal yang krusial dalam masyarakat modern. Sistem pembayaran dan intermediasi hanya dapat terlaksana bila ada sistem keuangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didalamnya sektor usaha. Perbankan sebagai lembaga perantara (intermediate)

BAB I PENDAHULUAN. didalamnya sektor usaha. Perbankan sebagai lembaga perantara (intermediate) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perbankan memiliki peran penting dalam perekonomian suatu negara. Kinerja perbankan yang kuat akan menopang berbagai sektor ekonomi termasuk didalamnya sektor

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Tinjauan Mengenai Bank 2.1.1.1 Pengertian Bank Menurut Undang-undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang

BAB I PENDAHULUAN. Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut undang undang republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, bank adalah badan usaha yang

Lebih terperinci

Tingginya permintaan pada sektor property residensial di tahun 2010 juga diiringi dengan peningkatan penjualan pada sektor tersebut.

Tingginya permintaan pada sektor property residensial di tahun 2010 juga diiringi dengan peningkatan penjualan pada sektor tersebut. BAB I PENDAHULUAN Industri pada sektor real estate dan property di Indonesia pada tahun 2010 mengalami peningkatan yang cukup pesat. Peningkatan ini terjadi akibat pertumbuhan jumlah penduduk dan pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter

BAB I PENDAHULUAN. BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BI Rate yang diumumkan kepada publik mencerminkan stance kebijakan moneter Bank Indonesia selaku otoritas moneter. BI Rate merupakan instrumen kebijakan utama untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban perusahaan untuk mengungkapkan (disclosure) semua informasi

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban perusahaan untuk mengungkapkan (disclosure) semua informasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Isu mengenai Corporate Governance merupakan reaksi terhadap berbagai kegagalan korporasi akibat dari buruknya tata kelola perusahaan. Good Corporate Governance

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masyarakat di negara maju dan berkembang sangat membutuhkan bank

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masyarakat di negara maju dan berkembang sangat membutuhkan bank 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat di negara maju dan berkembang sangat membutuhkan bank sebagai tempat untuk melakukan transaksi keuangannya. Mereka menganggap bank merupakan lembaga keuangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di Amerika Serikat merupakan topik pembicaraan yang menarik hampir di

BAB I PENDAHULUAN. di Amerika Serikat merupakan topik pembicaraan yang menarik hampir di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurunnya nilai indeks bursa saham global dan krisis finansial di Amerika Serikat merupakan topik pembicaraan yang menarik hampir di seluruh media massa dan dibahas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. barang, pesaing, perkembangan pasar, perkembangan perekonomian dunia.

BAB I PENDAHULUAN. barang, pesaing, perkembangan pasar, perkembangan perekonomian dunia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini laju pertumbuhan ekonomi dunia dipengaruhi oleh dua elemen penting yaitu globalisasi dan kemajuan teknologi yang menyebabkan persaingan diantara perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tempat usaha serta rekreasi di kota-kota besar di Indonesia. Hal ini membuka

BAB I PENDAHULUAN. tempat usaha serta rekreasi di kota-kota besar di Indonesia. Hal ini membuka BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Jumlah penduduk yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Indonesia menciptakan kebutuhan akan tempat tinggal yang lebih baik dan juga tempat usaha

Lebih terperinci

(%, SBT) (%, qtq)

(%, SBT) (%, qtq) (%, SBT) (%, qtq) 98.1 39.2 5 85.6 83.4 73.7 78.8 77.9 75 66.7 62.6 25 56.9 24.9 52.9 22.6 5 12.7-15. 31.3-4. -5.2 25 13.7-14.5-25 -18.3 * perkiraan -32.2-5 I II III IV I II III IV I II III IV* SBT Pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan akan sektor properti dan real estate juga mengalami kenaikan sehingga

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan akan sektor properti dan real estate juga mengalami kenaikan sehingga BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan jumlah penduduk yang meningkat menyebabkan kebutuhan akan tempat tinggal, perkantoran, pusat perbelanjaan, taman hiburan, dan kebutuhan akan sektor properti

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi tidak lepas dari peranan sektor perbankan sebagai lembaga pembiayaan bagi sektor riil. Pembiayaan yang diberikan sektor perbankan kepada sektor riil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keuangan. Dimana laporan keuangan tersebut memiliki tujuan salah satunya yaitu. pengambilan keputusan. (Martani dkk, 2012:8)

BAB I PENDAHULUAN. keuangan. Dimana laporan keuangan tersebut memiliki tujuan salah satunya yaitu. pengambilan keputusan. (Martani dkk, 2012:8) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Akuntansi menghasilkan informasi yang menjelaskan kinerja keuangan entitas dalam suatu periode tertentu dan kondisi keuangan entitas pada tanggal tertentu.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan ekonomi suatu negara tidak lepas dari peran penting perbankan. Peranan penting perbankan dalam era pembangunan nasional adalah sebagai sumber permodalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalami kemerosotannya. Hal ini terlihat dari nilai tukar yang semakin melemah, inflasi

BAB I PENDAHULUAN. mengalami kemerosotannya. Hal ini terlihat dari nilai tukar yang semakin melemah, inflasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada awal tahun 1998 yakni pada awal masa orde baru perekonomian Indonesia mengalami kemerosotannya. Hal ini terlihat dari nilai tukar yang semakin melemah,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian 9 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kebijakan kebijakan pemerintah dalam bidang perbankan antara lain adalah paket deregulasi Tahun 1983, paket kebijakan 27 Oktober 1988, paket kebijakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan harganya yang cenderung selalu naik. Kenaikan harga properti

BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan harganya yang cenderung selalu naik. Kenaikan harga properti BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat tertarik menginvestasikan dananya di sektor properti dikarenakan harganya yang cenderung selalu naik. Kenaikan harga properti disebabkan karena harga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Berdasarkan data yang tersedia di idx, jumlah perusahaan yang tercatat sampai dengan bulan Januari 2016 adalah sejumlah 523 emiten (www.idx.co.id).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maka masyarakat mulai mencari penghasilan melalui kegiatan bisnis. Kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. maka masyarakat mulai mencari penghasilan melalui kegiatan bisnis. Kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perekonomian di Indonesia sangat berhubungan erat dengan dunia keuangan dan perbankkan, seiring dengan perekonomian Indonesia yang sedikit memburuk maka masyarakat

Lebih terperinci