DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG TUJUAN UMUM...6

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN...4 1.1. LATAR BELAKANG...4 1.2. TUJUAN UMUM...6"

Transkripsi

1 KATA PENGANTAR Pada tahun 1991 laporan Safety Series mengenai Budaya Keselamatan yang disusun oleh International Nuclear Safety Advisory Group (INSAG) diterbitkan dengan nama 75-INSAG-4. Sampai sekarang, dokumen ini merepresentasikan deskripsi yang mungkin paling lengkap mengenai konsep budaya keselamatan yang mencakup definisi, fitur, serta manifestasi konkretnya. Segera setelah penerbitan 75-INSAG-4, timbul perhatian apakah mungkin melakukan kajian budaya keselamatan terhadap suatu organisasi tertentu. Kesulitan dalam melakukan tinjauan seperti ini sepatutnya tidak dianggap sepele, karena begitu banyak karakteristik yang terlibat tidak kelihatan. Sudah barang tentu, setiap pemeriksaan yang komprehensif terhadap peralatan, dokumentasi, dan prosedur tidak serta merta akan mengungkapkan kuatnya budaya keselamatan. Agar budaya keselamatan dapat dikaji dengan memadai, perlu diperhatikan kontribusi tiap organisasi yang berpengaruh terhadap hal ini. Oleh karena itu, selagi mengkaji budaya keselamatan terhadap organisasi pelaksana, setidaknya perlu pula mengontrol kesesuaian dengan badan pengawasan lokal, kantor utama korporasi utilitas, dan organisasi pendukung. Panduan ini terutama ditujukan bagi tiap organisasi yang ingin melakukan pengkajian diri terhadap budaya keselamatan. Mereka harus pula melakukan ini sebagai acuan dalam melaksanakan tinjauan seksama internasional mengenai pengkajian diri organisasi yang dilaksanakan melalui misi ASCOT (Assessment of Safety Culture in Organization Team). 1

2 DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG TUJUAN UMUM PENASIHAT ASCOT DAN LAYANAN PENDUKUNG LAYANAN PENASIHAT PILIHAN DALAM LAYANAN PENASIHAT Pilihan 1: Seminar Standard ASCOT Pilihan 2: Expanded ASCOT Seminar Pilihan 3: Tinjauan ASCOT Pilihan 4: Bantuan Pengkajian Diri KONSEP-KONSEP DAN PENILAIAN TERHADAP BUDAYA KESELAMATAN KONSEP-KONSEP STRUKTUR DAN APLIKASI PANDUAN-PANDUAN ASCOT PENGKAJIAN LAPORAN PENGKAJIAN PANDUAN ASCOT: INDIKATOR BUDAYA KESELAMATAN DAN PERTANYAAN PEMERINTAH DAN ORGANISASINYA Komitmen pemerintah terhadap keselamatan Badan Pengawasan ORGANISASI PELAKSANA Tingkat Korporasi Kebijakan keselamatan di tingkat korporasi

3 Praktik keselamatan di tingkat korporasi Tingkat instalasi Menekankan keselamatan Definisi tanggung jawab Seleksi manajer Hubungan antara manajemen instalasi dan pengawas Tinjauan kinerja keselamatan Training Praktik lokal Supervisi lapangan oleh manajemen Beban kerja Sikap manajer Sikap individu ORGANISASI RISET Masukan riset untuk analisis keselamatan ORGANISASI DESAIN Kode mengenai desain aspek keselamatan Proses tinjauan desain APPENDIX I : SEMINAR STANDAR ASCOT APPENDIX II : ASCOT EXPANDED SEMINAR APPENDIX III : TINJAUAN ASCOT DALAM SUATU MISI ASET APPENDIX IV : BAHASAN YANG DIANJURKAN DALAM LAPORAN ASCOT

4 I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG The International Nuclear Safety Advisory Group (INSAG), dalam publikasinya Safety Series No. 75-INSAG-4, mendefinisikan budaya keselamatan sebagai berikut: Budaya Keselamatan merupakan gabungan karakteristik dan sikap dalam organisasi dan individu yang menetapkan bahwa, sebagai prioritas utama, masalah keselamatan instalasi nuklir memperoleh perhatian yang sesuai dengan kepentingannya. Menurut INSAG budaya keselamatan memiliki dua komponen utama dalam manifestasinya: kerangka kerja dalam hasil kerja individu, dan sikap serta tanggapan individu. INSAG memiliki pandangan bahwa meskipun hal-hal seperti gaya dan sikap secara umum tidak nyata, namun dapat memberikan perwujudan yang nyata yang dapat digunakan untuk menguji hal-hal yang mendasar. INSAG juga memiliki pandangan bahwa prosedur dan praktik yang baik tidak sepenuhnya cukup jika hanya dilaksanakan secara mekanik. Hal ini membawa kita pada satu tujuan: budaya keselamatan mengharuskan seluruh kewajiban yang penting bagi keselamatan dilaksanakan dengan benar, dengan kewaspadaan, pikiran yang tepat dan pengetahuan menyeluruh, penilaian yang baik, dan rasa tanggung jawab yang cukup. 4

5 Untuk dapat mengkaji budaya keselamatan dengan baik, kontribusi seluruh organisasi yang dapat memengaruhi budaya keselamatan penting untuk dipertimbangkan. Oleh karena itu, untuk mengkaji budaya keselamatan dalam berbagai jenis organisasi, pemerintah, pelaksana atau pendukung, paling tidak badan pengawas setempat, kantor pusat perusahaan, dan fasilitas nuklir itu sendiri perlu dipertimbangkan. Tinjauan ASCOT biasanya berdasar pada tur fasilitas dan diskusi dengan tuan rumah, setidaknya di badan pengawas, kantor pusat, dan di instalasi. Terutama dilaksanakan di instalasi. Panduan ASCOT terbatas hanya berdasar pada Appendix Safety Series No. 75-INSAG-4. Seluruh pertanyaan pada appendix ini dibahas dan ditampilkan dalam panduan pertanyaan-pertanyaan dan muncul dalam panduan sebagai Pertanyaan INSAG Dasar. Sebagaimana disebutkan dalam referensi dokumen INSAG, pertanyaan tersebut dapat diperluas dan hal tersebut telah dilakukan dalam dokumen ini melalui Pertanyaan Panduan. Indikator Kunci yang juga tercantum dimaksudkan untuk menggambarkan apa yang dianggap sebagai budaya keselamatan yang baik. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa Panduan ASCOT dimaksudkan untuk menguji kesesuaian budaya keselamatan dalam sebuah organisasi dengan prinsipprinsip yang terdapat dalam 75-INSAG-4 dan khususnya dengan indikator yang terdapat dalam appendixnya. Dalam beberapa contoh, jika dianggap sebagai peningkatan pelayanan IAEA, maka Pertanyaan INSAG Dasar mengalami sedikit perubahan. Dalam hal ini, perubahan yang terjadi dengan jelas ditandai melalui penggunaan tanda kurung. 5

6 1.2. TUJUAN UMUM Layanan ASCOT bertujuan untuk meningkatkan dan mendukung studi pengkajian diri atas budaya keselamatan yang dilakukan oleh sebuah organisasi berdasarkan prinsip dan rekomendasi Safety Series No. 75-INSAG-4. Anggota tim layanan ASCOT akan membagi pengalaman dan praktik yang baik, dan jika mungkin memberi usulan yang bermanfaat baik pada tahap persiapan atau pelaksanaan pengkajian budaya keselamatan dan/atau usulan yang berkenaan dengan temuan yang merupakan hasil pengkajian diri. Layanan ASCOT bukanlah sebuah inspeksi atau audit terhadap kumpulan kode dan standard, tetapi lebih menawarkan kesempatan untuk bertukar pengalaman dan pandangan. Bersamaan dengan hal tersebut, juga kesempatan penyebaran praktik yang baik kepada seluruh komunitas nuklir dan untuk memperbaiki konsep budaya keselamatan. 2. PENASIHAT ASCOT DAN LAYANAN PENDUKUNG 2.1. LAYANAN PENASIHAT Tujuan layanan ASCOT yang ditawarkan IAEA adalah menyediakan berbagai pilihan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing Negara Anggota. Tujuan utama IAEA adalah untuk mendukung Negara Anggota untuk melaksanakan pengkajian terhadap budaya keselamatan masing-masing dan untuk menyediakan tenaga ahli, bantuan dan pelatihan yang diminta oleh organisasi tuan rumah. Telah diakui bahwa kebutuhan dan sumber daya dalam melaksanakan pengkajian diri ASCOT dan dalam memperoleh akses kepada praktik terbaik di dunia berbeda-beda di tiap negara. Untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan menyediakan layanan dukungan yang fleksibel, IAEA telah mengembangkan layanan penasehat ASCOT sebagai sarana tambahan dalam memenuhi keperluan Negara Anggota. 6

7 Penasihat ASCOT dan layanan pendukung terdiri dari pilihan sebagai berikut: 1. SEMINAR STANDARD ASCOT meliputi kerangka kerja untuk budaya keselamatan, metodologi pengkajian dan konsep ASCOT (Appendix I mengatur rincian seminar tentang Standard ASCOT). 2. EXPANDED ASCOT SEMINAR meliputi topik keselamatan operasional yang lebih luas, yang terfokus pada praktik terbaik di dunia (Appendix II mengatur rincian expanded seminar). 3. TINJAUAN ASCOT Tinjauan ASCOT yang digabungkan dengan tinjuan IAEA lain seperti ASSET (Assessment of Safety Significant Events Team) atau SRM (Safety Review Mission). (Appendix III mengatur rincian tinjauan lebih lanjut). 4. PENDUKUNG PRAPENGKAJIAN DIRI menyediakan bantuan tenaga ahli dan nasihat sebelum pelaksanaan pengkajian diri ASCOT. PENDUKUNG PASCAPENGKAJIAN DIRI menyediakan bantuan tenaga ahli dan nasihat setelah pelaksanaan pengkajian diri ASCOT. Oleh karena itu, jika Negara Anggota ingin melaksanakan pengkajian diri terhadap efektifitas budaya keselamatan, dianjurkan untuk mengajukan permohonan kepada penasihat ASCOT atau layanan pendukung. Tujuan layanan ini adalah untuk memperkenalkan dan mentransfer metodologi ASCOT kepada suatu negara dan untuk berbagi pengalaman yang didapat selama peninjauan ASCOT dan untuk menyediakan informasi lain yang berhubungan dengan budaya keselamatan atau pelaksanaan pengkajian diri. Bantuan ini juga bisa disediakan jika diminta setelah program pengkajian diri ASCOT dilakukan untuk membantu Negara Anggota dalam merumuskan hasil, penyiapan laporan dan identifikasi penyelesaian atas isu isu yang muncul selama pengkajian. 7

8 Dalam persiapan menghadapi tinjauan ASCOT atau layanan pendukung, peserta dari tuan rumah harus memiliki dan mengerti tentang Safety Series No, 75- INSAG-4 dan Panduan ASCOT sebelum kunjungan dilaksanakan. Demikian juga halnya perwakilan ASCOT harus mengerti segala segi yang berkaitan dengan negara pengaturan negara tuan rumah, utilitas dan organisasi pendukung utilitas yang mungkin perlu pertimbangan khusus selama proses presentasi dan diskusi. Layanan ASCOT ini memberikan Negara Anggota berbagai pilihan yang dirancang untuk memandu anggota pada tahap sebelum ataupun sesudah pengkajian diri dengan campur tangan yang minimal dari pihak luar PILIHAN DALAM LAYANAN PENASIHAT Pilihan 1: Seminar Standard ASCOT Jika suatu negara tuan rumah ingin mempelajari pendekatan ASCOT dan prinsip dasarnya dalam rangka melaksanakan evaluasi diri terhadap organisasinya, alih metodologi dapat diwujudkan melalui seminar tentang Standard ASCOT. Pelayanan ini diperkirakan melibatkan dua orang tenaga ahli ASCOT selama dua hari, yang akan menyajikan pendekatan ASCOT dalam sebuah workshop dalam bentuk perkuliahan, diskusi dan latihan. Tujuan Seminar Saat ini dikenal luas bahwa budaya keselamatan yang baik merupakan sumbangan terhadap pengoperasian PLTN yang aman. Dalam rangka meningkatkan konsep budaya keselamatan dan tingkat kepentingannya, IAEA mengembangkan Seminar tentang Standard ASCOT. Peserta yang berasal dari badan pengawas, 8

9 organisasi pelaksana dan institusi pendukung diharapkan menghadiri seminar. Kegunaan seminar ini adalah: - menyajikan indikator-indikator yang telah dikenal di tingkat internasional akan budaya keselamatan yang efektif - menunjukkan pendekatan dasar dan prinsip ASCOT, yaitu metodologi untuk pengkajian budaya keselamatan - memberikan contoh praktik yang baik ataupun buruk dari berbagai PLTN di dunia untuk memberikan gambaran contoh-contoh praktik yang didapat dari analisis kecelakaan dan tinjauan/seminar ASCOT sebelumnya, pengaruh budaya keselamatan pada keselamatan nuklir, - memperoleh tanggapan atas praktik tingkat nasional melalui diskusi dengan peserta untuk disebarkan lebih lanjut. Seminar berlangsung selama 2-2 ½ hari dalam bentuk workshop, di mana pencapaian tujuan dilakukan dengan cara perkuliahan, diskusi dan latihan. Perkuliahan, diskusi, dan latihan mencakup bahasan berikut: - Konsep budaya keselamatan, - Contoh praktik yang baik dalam budaya keselamatan, - Pembentukan kerangka kerja budaya keselamatan, - Pengkajian budaya keselamatan, - Pertanyaan dan indikator kunci. Rincian lebih lanjut mengenai bahasan tersebut di atas dan penyajiannya tersedia di Appendix I. 9

10 Pilihan 2: Expanded ASCOT Seminar Pilihan berikutnya yang ditawarkan kepada negara anggota adalah expanded ASCOT seminar yang meliputi empat topik utama mencakup isu dan aktivitas keselamatan operasional. Seminar jenis ini diberikan IAEA dan/atau tenaga ahli yang bukan berasal dari IAEA selama empat hari kerja dan akan memberikan cakupan mendalam bersamaan dengan diskusi mengenai praktik terbaik yang mutakhir di dunia. Layanan jenis ini memberikan kesempatan pertukaran praktik yang baik dan menawarkan kepada tuan rumah bahan referensi untuk pengembangan lebih lanjut dan memperkenalkan cara penyelesaian yang baru untuk memperkuat keselamatan nuklir dan budaya keselamatan. Dalam tiga dasawarsa terakhir, peralatan dan cara untuk menjamin keselamatan nuklir berlangsung dengan baik, dan sejalan dengan perubahan ini, penekanan dalam aktivitas keselamatan nuklir IAEA bergerak untuk memenuhi keinginan baru. Sekarang, pada umumnya organisasi telah siap untuk berbagi pengalaman mereka dan juga belajar dari orang lain melalui forum bebas. Struktur yang diajukan di dalam Expanded ASCOT Seminar mengenai Advances in Operational Safety dimasudkan untuk mencapai hal ini. Keselamatan dapat berubah dari waktu ke waktu dan dapat diperkuat jika memperoleh perhatian dan sumber daya yang cukup dan dapat rusak jika tidak dikelola dengan baik. Merupakan kewajiban manajemen untuk memonitor praktik yang baik di seluruh dunia dan kecenderungan baru dalam keselamatan operasional dan melaksanakannya di dalam organisasi. Pengenalan International Nuclear Event Scale (INES) merupakan langkah besar dalam menyampaikan kepada publik akan pentingnya mengetahui kejadian abnormal yang berlangsung di instalasi. Publik dan media menerima pelaksanaan seperti ini dan tampaknya cukup nyaman dengan metode pengukuran tingkat 10

11 keparahan kejadian-kejadian yang dilaporkan di instalasi nuklir. Tugas yang selanjutnya menanti komunitas nuklir adalah memastikan kembali publik dengan menunjukkan bahwa tingkat keselamatan dipantau secara ketat dan dipertahankan sebaik mungkin. Jelaslah bahwa keselamatan perlu dipantau secara transparan, namun penjelasan terbaik adalah dengan tetap menyampaikan pesan ini kepada publik. Titik awal dapat berupa penerbitan buletin rutin yang menggambarkan kemajuan dalam keselamatan operasional, bagaimana tingkat keselamatan dipantau dan apa yang telah dilakukan dalam hal peningkatan keselamatan. Layanan ini dapat meningkatkan budaya keselamatan menjadi lebih aplikatif dan tidak sekadar konsep buram semata, dan pada saat yang sama akan membawa pendekatan baru dalam dimensi konkret keselamatan operasional, yang merupakan manifestasi budaya keselamatan pada tiap organisasi. Expanded ASCOT seminar ditujukan untuk memenuhi tugas ini, melalui pertukaran pengalaman dan penelitian, tanpa melakukan aneka pengkajian atau tinjauan organisasi. Organisasi pelaksanalah yang berkewajiban menerapkan tiap praktik yang baik dan pendekatan-pendekatan baru. Tujuan seminar: Tujuan utama expanded ASCOT seminar adalah sebagai berikut: a) Meningkatkan konsep budaya keselamatan dan manifestasi nyatanya dalam perkembangan keselamatan operasional dengan menyebarkan praktik yang baik dan kecendrungan baru; b) Meningkatkan dan membantu manajemen instalasi dalam persiapan, pelaksanaan, dan tinjauan pengkajian diri atas keselamatan operasional di instalasi mereka; c) Membantu manajemen instalasi dalam persiapan sebelum menerima tinjauan eksternal secara langsung; 11

12 d) Membantu untuk mulai penerbitan buletin rutin pada publik mengenai status keselamatan nuklir di fasilitas-fasilitas pemerintah. Durasi dan struktur seminar Expanded ASCOT seminar berlangsung selama 4 hari kerja dan melibatkan 3 orang tenaga ahli IAEA dan atau dari pihak luar yang setiap hari akan menangani dengan satu dari beberapa topik seminar berikut: 1) Staf, Manajemen, dan Organisasi (Manajemen dan Organisasi, Budaya Keselamatan, Seleksi Staf dan Training, Training yang Lebih Menyeluruh) 2) Target, Pengamatan dan Pendukung Pelaksana (Operasi dan Kinerja Keselamatan, Prosedur, Indikator, Evaluasi Keselamatan, PSA, Manajemen Kecelakaan, Sistem Dukungan Operator). 3) Perawatan Terkait Keselamatan (Perawatan Tahan Uji, Rencana Pemutusan Aliran Listrik, Penuaan dan Peremajaan). 4) Belajar dari Pengalaman (Pertukaran dan Umpan balik yang didapat dari Pengalaman Operasi, memperbaharui dan meningkatkan sistem-sistem dan peralatan). Setiap hari kerja terdiri atas empat sesi yang kesemuanya membahas topik yang sama: 1. Bahasan tenaga ahli. 2. Presentasi tuan rumah yang bermanfaat bagi praktik-praktik setempat. 3. Ulasan mendalam dan diskusi terstruktur atas isu-isu yang telah dipilih. 4. Diskusi dan penjelasan lebih lanjut atas isu yang dikenali partisipan. Ulasan mendalam atas isu segala isu yang dikenal tuan rumah akan mengisi diskusi terstruktur, termasuk menangani latar belakang, dasar-dasar, pembangunan historis dan praktik terbaik dunia saat ini. Selama proses ini, pengalaman 12

13 internasional akan dijelaskan dan ditawarkan sebagai perbandingan dengan praktikpraktik organisasi tuan rumah. Praktik baik yang dikenal oleh organisasi tuan rumah akan digunakan untuk memperkaya presentasi berikutnya. Penyerahan Seluruh ulasan dan presentasi mendalam yang diberikan oleh tenaga ahli didasarkan pada bahan seminar tertulis yang dipersiapkan sebelumnya oleh tenaga ahli dari IAEA atau luar. Tujuannya adalah secara perlahan mengembangkan materi ulasan ini (handouts) untuk menghasilkan 4 publikasi IAEA, masing-masing meliputi 1 topik. Publikasi ini kemudian dapat dijadikan sumber referensi bagi anggota tuan rumah dalam pengembangan jalan keluar dan/atau sebagai kumpulan praktik-praktik terbaik di dunia dan trend dalam meningkatnya keselamatan nuklir. II. Penjelasan lebih lanjut dari expanded seminar ini disajikan dalam Appendix Pilihan 3: Tinjauan ASCOT Tinjauan ASCOT dapat dikombinasikan dengan layanan IAEA lainnya seperti ASSET (Assessment of Safety Significant Events Teams) atau SRMs (Safety Review Missions). Dalam keadaan seperti ini wakil dari ASCOT akan bergabung dengan tim. Tenaga ahli ini kemudian menarik kesimpulan atas aspek budaya keselamatan dari tinjauannya masing-masing dikombinasikan dengan temuan anggota tim lainnya yang akan, pada saat mengerjakan bagian rutin dari tinjauan mereka, memberikan perhatian lebih terhadap aspek-aspek budaya keselamatan. 13

14 Setelah analisis data budaya keselamatan diperoleh dari materi tinjauan ASSET dan sumber tambahan, temuan ASCOT diberikan pada tim ASSET sebagai tambahan dalam tinjauan kegiatan mereka. Hal ini memudahkan pertukaran informasi tambahan yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat analisis akar permasalahan dan rekomendasi tindakan korektif dari misi ASSET. Dengan cara ini elemen abstrak yang melekat pada suatu kejadian dapat dibuang dan digabung ke dalam manifestasi nyata kejadian keselamatan yang ditangani ASSET. Dalam situasi seperti ini, di mana tinjauan budaya keselamatan dikombinasikan dengan tinjauan IAEA lainnya, lamanya pelaksanaan disesuaikan dengan durasi tinjauan tersebut (normalnya 2 atau 3 minggu). Pelaksanaan tinjauan budaya keselamatan melalui misi IAEA lainnya pada situasi seperti ini dipimpin oleh wakil ASCOT, yang akan mengkoordinasikan interaksi konstan dengan anggota tim lainnya. Karena informasi mengenai budaya keselamatan dapat diperoleh baik secara langsung atau tidak dari tiap bahasan tinjauan lainnya, peninjau akan menerima arahan dan training khusus sesuai kebutuhan pengkajian budaya keselamatan. Bidang tertentu tinjauan dalam organisasi yang pada awalnya tidak termasuk dalam bahasan tinjauan kegiatan akan ditangani oleh wakil ASCOT. Dalam konteks ini, wakil ASCOT disamping bertukar informasi dengan peninjau lainnya, secara terpisah memusatkan perhatian melalui wawancara dengan, sebagai contoh, pekerja perusahaan, dan pemerintah atau organisasi pengawas. Dalam penyelesaian misi gabungan ini, wakil ASCOT akan menyiapkan laporan yang dipresentasikan kepada tuan rumah pada akhir pertemuan kegiatan ini. Laporan ini membahas latar belakang dari tinjauan ASCOT, metodologi yang digunakan, analisis hasil, dan berbagai temuan budaya keselamatan. Laporan ini tunduk kepada protokol yang sama atas kerahasiaan dan distribusi sebagaimana laporan IAEA lainnya. 14

15 III. Penjelasan lebih lanjut atas tinjauan gabungan ini disajikan dalam Appendix Pilihan 4: Bantuan Pengkajian Diri Bantuan Pra-Pengkajian Diri IAEA dapat memberikan layanan bantuan sebelum prapengkajian diri dilakukan untuk membantu Negara Anggota dalam menentukan program pengkajian diri mereka. Keuntungan yang didapat negara anggota adalah mereka memperoleh advis tenaga ahli independen dalam pelaksanaan Panduan ASCOT dan memberikan advis praktis ketika pengkajian dilakukan. Hal ini bila digabung dengan memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan staf negara tuan rumah, akan membantu menjamin diperolehnya pengkajian yang bermakna dan berguna yang dapat digunakan sebagai titik awal dalam mengembangkan keselamatan nuklir. Tim bantuan prapengkajian dilakukan yang terdiri atas 1 hingga 2 orang tenaga ahli normalnya bekerja selama 1 minggu. Selama kurun waktu ini, tim tersebut dapat bekerja dengan semua pihak yang ingin melaksanakan pengkajian budaya keselamatan, dan dengan pihak-pihak dari organisasi yang akan dikaji. Advis praktis yang diberikan akan berhubungan dengan seksi 4 dari panduan ini termasuk pertukaran pengalaman dan pandangan organisasi yang telah melaksanakan pengkajian diri. Bantuan ini dapat berupa: Memperkenalkan praktik-praktik pengkajian diri serta motivasi atau alasan dalam melakukan pengkajian budaya keselamatan. 15

16 Deskripsi metodologi dalam melaksanakan pengkajian diri, termasuk pertimbangan sumber daya, cakupan dan kedalaman, seleksi sampel, metode pengumpulan data, pengembangan kuesioner, investigasi bukti yang kabur, sumber bukti nyata. Deskripsi metode dalam menganalisis data pengkajian berikut formulasi temuan dan kesimpulannya. Presentasi konsep budaya keselamatan kepada bagian organisasi yang akan dikaji dan/atau yang mungkin berhubungan dengan rencana kegiatan. Di akhir layanan prapengkajian diri ASCOT, tim ini akan menyiapkan dan menyajikan laporan konsep ringkasan sebagai bantuan yang diberikan pada wakil tuan rumah, bermacam panduan yang tumbuh serta contoh praktik-praktik baik kepada tim pengkajian tuan rumah. Laporan ini bersifat rahasia sampai diperiksa oleh tuan rumah, disimpulkan oleh tim ASCOT, dan diumumkan oleh negara tuan rumah. Bantuan Pasca-Pengkajian Diri IAEA dapat pula menyediakan layanan berupa bantuan pascapengkajian diri untuk membantu Negara Anggota dalam menganalisis temuan yang didapat dari pengkajian diri budaya keselamatan mereka dan merancang strategi pengembangan. Keuntungan yang didapat Negara Anggota adalah mereka memperoleh advis tenaga ahli independen dalam merumuskan strategi perbaikan dan advis praktis metode mengimplementasikan tindakan menuju perbaikan. Hal ini bila digabung dengan memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan staf negara tuan rumah, akan menjamin keberhasilan rencana tindakan yang dikembangkan. Tim bantuan pascapengkajian yang terdiri atas 1 hingga 2 orang tenaga ahli normalnya bekerja selama 1 minggu. Selama kurun waktu tersebut, tim tersebut dapat dihubungi untuk berdiskusi mengenai data atau temuan pengkajian diri dan/atau 16

17 rencana tindakan yang telah dirumuskan. Tujuan diskusi adalah saling berbagi pengalaman internasional mengenai pengkajian budaya keselamatan, pertukaran pandangan mengenai rencana peningkatan yang diajukan, dan memberikan bantuan pada tim pengkajian diri dalam membentuk, menyajikan dan mengimplementasikan rencana-rencana peningkatan. Layanan ini juga dapat (bila memungkinkan) membantu dalam mengevaluasi perkembangan rencana tindakan melalui tukar menukar pengalaman dengan Negara Anggota dalam masalah ini. Tim bantuan pascapengkajian diri ASCOT akan menyiapkan dan menyajikan konsep ringkasan laporan pada tuan rumah berupa gambaran bantuan yang diberikan pada wakil tuan rumah, panduan yang diberikan, dan contoh praktik baik kepada tim pengkajian tuan rumah. Laporan ini bersifat rahasia sampai diperiksa oleh tuan rumah, disimpulkan oleh tim ASCOT, dan diumumkan oleh negara tuan rumah. 3. KONSEP-KONSEP DAN PENILAIAN TERHADAP BUDAYA KESELAMATAN 3.1. KONSEP-KONSEP Safety Series No. 75-INSAG-4 mengidentifikasikan suatu pendekatan mendalam terhadap budaya keselamatan. Hal ini merupakan kombinasi dari berbagai karakteristik dan sikap, dari pemerintah hingga setiap individu di instalasi, yang memungkinkan tumbuhnya budaya untuk mengedepankan isu-isu keselamatan sesuai dengan prioritasnya. Pemerintah dan regulator menyediakan panduan keselamatan 17

18 baku yang dibutuhkan. Organisasi yang merancang dan membangun instalasi serta mereka yang memberikan bantuan teknis juga memberikan dampak yang besar terhadap kinerja keselamatan instalasi saat beroperasi. Fasilitas yang ada juga ikut berpengaruh dalam kebijakan masalah-masalah keselamatan. Kemudian instalasi harus berjalan dalam batasan-batasan eksternal yang ditetapkan ini. 75-INSAG-4 dengan jelas menyatakan bahwa budaya keselamatan sering kali berkaitan dengan kinerja individu tetapi di dalam suatu lingkungan yang sangat dipengaruhi dari luar instalasi itu sendiri. Oleh karenanya, penilaian yang efektif terhadap budaya keselamatan mesti pula mempertimbangkan pihak-pihak eksternal instalasi. Budaya keselamatan adalah karakteristik yang dibutuhkan dalam memperoleh keselamatan di instalasi nuklir, sehingga haruslah mungkin untuk selalu dapat mengukur statusnya untuk meningkatkan dan mempertahankan level tersebut seoptimal mungkin. Pengukuran ini harus konsisten dengan tren umum yang berlaku dalam operasi instalasi sejenis, sedemikian sehingga adanya masalah keselamatan operasional dapat ditelusuri hingga masalah budaya keselamatan. Bagaimanapun, tindakan bijaksana yang dapat dilakukan adalah dengan mengantisipasi dan coba mengidentifikasi indikator-indikator yang dapat memberikan peringatan sebelum terjadi suatu masalah. Indikator-indikator ini tidaklah menilai budaya keselamatan pada organisasi tertentu, tetapi mengindikasikan kebutuhan akan proses menemukan kesalahan untuk meningkatkan beberapa dari kontributor berbeda terhadap budaya keselamatan. Proses ini sangat spesifik pada tiap organisasi dan harus saling menghubungkan pengaruh berbeda dengan cara serupa seperti telah dijelaskan sebelumnya. Untuk memperoleh suatu metodologi dalam menilai atau meningkatkan pengetahuan akan budaya keselamatan pada instalasi tertentu, berbagai usaha harus dilakukan untuk menghubungkan sifat dan konsep pada fakta yang terkait dengan operasi suatu instalasi. Bila hubungan ini terjadi, akan memberikan dasar untuk 18

19 menilai keefektifan budaya keselamatan pada kasus-kasus spesifik. Hal ini akan jelas memberi manfaat dalam memahami prinsip-prinsip budaya keselamatan, yang biasanya abstrak STRUKTUR DAN APLIKASI PANDUAN-PANDUAN ASCOT Dalam menentukan keefektifan budaya keselamatan pada suatu instalasi, perlu pula untuk menyertakan organisasi-organisasi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap aktivitas dan pengambilan keputusan dalam operasionalnya. Hal ini termasuk, tapi tidak terbatas pada, agensi-agensi pemerintahan, manajemen perusahaan, dan organisasi pendukung. Tidak ada aturan ketat yang ditetapkan untuk menangani organisasi-organisasi ini, namun, mungkin dibutuhkan pengesahan atau penjelasan dari mereka sebagai respon operasional organisasi. Badan ini mungkin terletak pada jarak yang jauh dari instalasi dan seorang wakil dari tiap badan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan selama pemantauan instalasi. Apapun bentuk komunikasi yang dipilih, pemantau perlu memperoleh gambaran yang jelas akan hal tersebut. Oleh karena sistem pemantauan lainnya meliputi aspek yang lebih konkret akan keselamatan, pemantauan internal ASCOT harus mempertimbangkan faktorfaktor seperti sikap, moral, motivasi, dan komitmen terhadap keselamatan yang biasanya tidak dipertimbangkan dalam pemeriksaan langsung. Tujuannya adalah memperoleh pengetahuan dan pemahaman akan persepsi dan pengalaman yang dapat meningkatkan atau menurunkan kinerja optimal keselamatan. Untuk memperoleh informasi seperti ini, perlu untuk mengumpulkan contoh opini-opini yang dapat mewakili, fakta, dan persepsi dari staf instalasi dan pihak-pihak terkait. Memilih sumber informasi mesti dilakukan secara hati-hati dalam skala waktu yang ditetapkan untuk pemantauan internal ASCOT. Hal ini membutuhkan kerja sama penuh dengan semua pihak yang terlibat. 19

20 Di instalasi, jika perlu, setelah melakukan kunjungan instalasi dan tinjauan dokumentasi, anggota tim harus menjadwal waktu mereka dan memulai diskusi terstruktur dengan manajer dan staf terpilih. Panduan ASCOT mengemukakan contoh berbagai pertanyaan beserta garis besar pertanyaan yang dianjurkan untuk memandu pemantau dalam menentukan sikap-sikap dan persepsi yang memengaruhi budaya keselamatan. Tiap bagian pertanyaan dalam panduan diberikan awalan sebagai mana dinyatakan dalam catatan berikut yang menggambarkan tingkat dan organisasi yang masuk ke dalam cakupan spesifik dari suatu pertanyaan. I M C R S - Individual-Individu (menjalankan instalasi di bawah golongan manajerial) - Management-Manajemen (menjalankan instalasi di atas tingkat individu) - Corporate-Perusahaan (kantor pusat pelaksana) - Regulator/Government-Pengawas/Pemerintah (izin regulator) - Supporting organizations-organisasi pendukung (riset/desain) Hal ini merupakan bidang pertanyaan yang direkomendasi dan dapat diubah untuk menyesuaikan dengan pemantauan ASCOT. Pemantau ASCOT harus mengumpulkan tanggapan dari tiap tingkatan dan informasi alternatif pendukung untuk membangun respon yang akurat dari suatu permasalahan. Pertanyaan yang ada dikembangkan secara spontan oleh tim untuk memastikan bahwa fakta dan pernyataan tersebut sah. Pengamatan yang tepat harus diberikan selama proses ini. Pada interval yang rutin, anggota tim harus membandingkan pengamatan dan mengembangkan strategi untuk menyelesaikan bidang-bidang yang belum diselesaikan dalam penilaian. Tim tersebut sepatutnya 20

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL Bab I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Tujuan Peraturan ini dibuat dengan tujuan menjalankan fungsi pengendalian internal terhadap kegiatan perusahaan dengan sasaran utama keandalan

Lebih terperinci

Catatan informasi klien

Catatan informasi klien Catatan informasi klien Ikhtisar Untuk semua asesmen yang dilakukan oleh LRQA, tujuan audit ini adalah: penentuan ketaatan sistem manajemen klien, atau bagian darinya, dengan kriteria audit; penentuan

Lebih terperinci

2. PERSYARATAN UNTUK PENGKAJIAN KESELAMATAN DALAM PROSES PERIJINAN REAKTOR RISET

2. PERSYARATAN UNTUK PENGKAJIAN KESELAMATAN DALAM PROSES PERIJINAN REAKTOR RISET 2. PERSYARATAN UNTUK PENGKAJIAN KESELAMATAN DALAM PROSES PERIJINAN REAKTOR RISET KRITERIA DAN TANGGUNG-JAWAB PENGKAJIAN 201. Untuk suatu reaktor riset yang akan dibangun (atau mengalami suatu modifikasi

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR (Nuclear Energy Regulatory Agency)

BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR (Nuclear Energy Regulatory Agency) Isu-isu Praktis Utama dalam Memperkuat Budaya Keselamatan (Terjemahan dokumen IAEA Safety Report INSAG 15: Key Practical Issues In Strengthening Safety Culture) The International Atomic Energy Agency (IAEA)

Lebih terperinci

Standar Audit SA 620. Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor

Standar Audit SA 620. Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor SA 0 Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor SA Paket 00.indb //0 :: AM STANDAR AUDIT 0 penggunaan PEKERJAAN PAKAR AUDITOR (Berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai pada

Lebih terperinci

TENTANG : STANDAR AUDIT APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH (APIP) KABUPATEN BADUNG

TENTANG : STANDAR AUDIT APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH (APIP) KABUPATEN BADUNG LAMPIRAN I PERATURAN BUPATI BADUNG PRINSIP-PRINSIP DASAR KEWAJIBAN APIP DAERAH a. APIP Daerah harus mengikuti standar audit dalam segala pekerjaan audit yang dianggap material. Suatu hal dianggap material

Lebih terperinci

ID No EQUIS Input Proses Output Predecessors. Membuat Visi. 3 N/A Membuat Misi 2

ID No EQUIS Input Proses Output Predecessors. Membuat Visi. 3 N/A Membuat Misi 2 ID No EQUIS Input Proses Output Predecessors 1 N/A Perencanaan Visi, Misi, Nilai 2 1.d.2 Daftar pemegang kepentingan, deskripsi organisasi induk, situasi industri tenaga kerja, dokumen hasil evaluasi visi

Lebih terperinci

Panduan audit sistem manajemen mutu dan/atau lingkungan

Panduan audit sistem manajemen mutu dan/atau lingkungan Standar Nasional Indonesia Panduan audit sistem manajemen mutu dan/atau lingkungan ICS 13.020 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata.... ii Pendahuluan... iii 1 Ruang lingkup...

Lebih terperinci

Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN (Berdasarkan PP 50 Tahun 2012) Nama : Alamat : Jabatan : Lama Bekerja : NO Isi pertanyaan Kel.

Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN (Berdasarkan PP 50 Tahun 2012) Nama : Alamat : Jabatan : Lama Bekerja : NO Isi pertanyaan Kel. Lampiran KUESIONER PENELITIAN (Berdasarkan PP 5 Tahun ) Nama : Alamat : Jabatan : Lama Bekerja : NO Isi pertanyaan Kel. Yang Pemenuhan Keterangan ditanya 3 Ya Tdk 4. PEMBANGUNAN DAN PEMELIHARAAN KOMITMEN..

Lebih terperinci

3. TAHAP TAHAP PENGEMBANGAN BUDAYA KESELAMATAN 3.1. TAHAP I KESELAMATAN YANG BERDASARKAN HANYA PADA PERATURAN PERUNDANGAN

3. TAHAP TAHAP PENGEMBANGAN BUDAYA KESELAMATAN 3.1. TAHAP I KESELAMATAN YANG BERDASARKAN HANYA PADA PERATURAN PERUNDANGAN 3. TAHAP TAHAP PENGEMBANGAN BUDAYA KESELAMATAN Semua organisasi organisasi yang terlibat dalam kegiatan nuklir jelas memiliki perhatian yang sama terhadap pemeliharaan dan peningkatan keselamatan. Tetapi

Lebih terperinci

J udul Dokumen : R IWAYAT REVISI MANUAL SISTEM MANAJEMEN K3 MANUAL K3 M - SPS - P2K3. Perubahan Dokumen : Revisi ke Tanggal Halaman Perubahan

J udul Dokumen : R IWAYAT REVISI MANUAL SISTEM MANAJEMEN K3 MANUAL K3 M - SPS - P2K3. Perubahan Dokumen : Revisi ke Tanggal Halaman Perubahan Kode Dokumentasi : M SPS SMK3 Halaman : 1 dari 2 J udul Dokumen : M - SPS - P2K3 Dokumen ini adalah properti dari PT SENTRA PRIMA SERVICES Tgl Efektif : 09 Februari 2015 Dibuat Oleh, Disetujui Oleh, Andhi

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM MANAJEMEN FASILITAS DAN KEGIATAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM MANAJEMEN FASILITAS DAN KEGIATAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM MANAJEMEN FASILITAS DAN KEGIATAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA

Lebih terperinci

Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk

Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk Piagam Audit Internal PT Astra International Tbk Desember 2010 PIAGAM AUDIT INTERNAL 1. Visi dan Misi Visi Mempertahankan keunggulan PT Astra International Tbk dan perusahaanperusahaan utama afiliasinya

Lebih terperinci

Budaya Keselamatan (Terjemahan dokumen IAEA Safety Report 75-INSAG-4: Safety Culture)

Budaya Keselamatan (Terjemahan dokumen IAEA Safety Report 75-INSAG-4: Safety Culture) Budaya Keselamatan (Terjemahan dokumen IAEA Safety Report 75-INSAG-4: Safety Culture) The International Atomic Energy Agency (IAEA) makes no warranty and assumes no responsibility for the accuracy or quality

Lebih terperinci

SURAT KEPUTUSAN BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI NO.SKB.003/SKB/I/2013

SURAT KEPUTUSAN BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI NO.SKB.003/SKB/I/2013 SURAT KEPUTUSAN BERSAMA DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI NO.SKB.003/SKB/I/2013 TENTANG INTERNAL AUDIT CHARTER (PIAGAM AUDIT INTERNAL) PT ASURANSI JASA INDONESIA (PERSERO) 1. VISI, MISI DAN STRUKTUR ORGANISASI

Lebih terperinci

Standar Audit SA 230. Dokumentasi Audit

Standar Audit SA 230. Dokumentasi Audit SA 0 Dokumentasi Audit SA Paket 00.indb STANDAR AUDIT 0 DOKUMENTASI AUDIT (Berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai pada atau setelah tanggal: (i) Januari 0 (untuk Emiten),

Lebih terperinci

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER)

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT TOBA BARA SEJAHTRA Tbk 2013 Daftar Isi Hal Daftar Isi 1 Bab I Pendahuluan 2 Bab II Pembentukan dan Organisasi 4 Bab III Tugas, Tanggung Jawab dan Prosedur

Lebih terperinci

Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi

Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi IV.1 Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi dengan Val IT Perencanaan investasi TI yang dilakukan oleh Politeknik Caltex Riau yang dilakukan

Lebih terperinci

AUDIT MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI

AUDIT MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI AUDIT MUTU INTERNAL AUDIT MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI JL. RAYA TANJUNG BARAT NO. 11 PS. MINGGU JAKARTA SELATAN TELP. 021 781 7823, 781 5142 FAX. -21 781 5144

Lebih terperinci

Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008

Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008 Checklist Audit Mutu ISO 9001:2000 Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008 :2008 4. 4.1 4.1 4.1 Sistem Manajemen Mutu Persyaratan Umum Apakah organisasi menetapkan dan mendokumentasikan sistem manajemen mutu

Lebih terperinci

MANUAL PROSEDUR AUDIT MUTU AKADEMIK INTERNAL

MANUAL PROSEDUR AUDIT MUTU AKADEMIK INTERNAL MANUAL PROSEDUR AUDIT MUTU AKADEMIK INTERNAL POLITEKNIK LP3I JAKARTA TAHUN 2016 ii iii DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv Bab I Penjelasan Umum... 2 A. Definisi dan

Lebih terperinci

PT INDO KORDSA Tbk. PIAGAM AUDIT INTERNAL

PT INDO KORDSA Tbk. PIAGAM AUDIT INTERNAL PT INDO KORDSA Tbk. PIAGAM AUDIT INTERNAL Halaman 1 dari 5 1. TUJUAN Tujuan utama dari Piagam Audit Internal ( Piagam ) ini adalah untuk menguraikan kewenangan dan cakupan dari fungsi Audit Internal di

Lebih terperinci

Standar Audit SA 300. Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan

Standar Audit SA 300. Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan SA 00 Perencanaan Suatu Audit atas Laporan Keuangan SA Paket 00.indb //0 ::0 AM STANDAR AUDIT 00 PERENCANAAN SUATU AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN (Berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode

Lebih terperinci

Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20%

Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20% Kode Perilaku 2 Vesuvius / Kode Perilaku 3 Pesan dari Direktur Utama Kode Perilaku ini menegaskan komitmen kita terhadap etika dan kepatuhan Rekan-rekan yang Terhormat Kode Perilaku Vesuvius menguraikan

Lebih terperinci

PEDOMAN KNAPPP 01:2005. Kata Pengantar

PEDOMAN KNAPPP 01:2005. Kata Pengantar Kata Pengantar Pertama-tama, kami mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT yang atas izinnya revisi Pedoman Komisi Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP), yaitu Pedoman KNAPPP

Lebih terperinci

Sistem Manajemen Lingkungan (SML) Dr. Ir. Katharina Oginawati MS

Sistem Manajemen Lingkungan (SML) Dr. Ir. Katharina Oginawati MS Sistem Manajemen Lingkungan (SML) Dr. Ir. Katharina Oginawati MS 1 SNI Standar Nasional Indonesia Dikeluarkan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) SNI SNI 19-14001 14001-1997: 1997: Sistem manajemen

Lebih terperinci

LAMPIRAN A KUESIONER. Menetapkan Dan Mengatur Tingkatan Layanan (DS1)

LAMPIRAN A KUESIONER. Menetapkan Dan Mengatur Tingkatan Layanan (DS1) L1 LAMPIRAN A KUESIONER Menetapkan Dan Mengatur Tingkatan Layanan (DS1) 1 Setiap penggunaan sistem informasi harus melaksanakan aturan yang ditetapkan perusahaan 2 Pimpinan masing-masing unit organisasi

Lebih terperinci

Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017

Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017 Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017 Kode etik bisnis Kode etik bisnis ini berlaku pada semua bisnis dan karyawan Smiths Group di seluruh dunia. Kepatuhan kepada Kode ini membantu menjaga dan meningkatkan

Lebih terperinci

GEJALA MELEMAHNYA BUDAYA KESELAMATAN

GEJALA MELEMAHNYA BUDAYA KESELAMATAN GEJALA MELEMAHNYA BUDAYA KESELAMATAN Oleh : Suharno LOKAKARYA BUDAYA KESELAMTAN INSTALASI NUKLIR Jakarta 17 20 Mei 2005 1. PENDAHULUAN Kelemahan dapat memicu terjadinya keadaan keselamatan yang tidak stabil

Lebih terperinci

Manajemen Risiko Kelelahan: Preskriptif versus Pendekatan Berbasis Risiko

Manajemen Risiko Kelelahan: Preskriptif versus Pendekatan Berbasis Risiko Manajemen Risiko Kelelahan: Preskriptif versus Pendekatan Berbasis Risiko Solichul HA. BAKRI, et al Ergonomi untuk Keselamatan, Keselamatan Kerja dan Produktivitas ISBN: 979-98339-0-6 Mengelola Kelelahan

Lebih terperinci

PIAGAM AUDIT INTERNAL

PIAGAM AUDIT INTERNAL PIAGAM AUDIT INTERNAL (INTERNAL AUDIT CHARTER) PT PERTAMINA INTERNASIONAL EKSPLORASI & PRODUKSI DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 3 1.1 Umum... 3 1.2 Visi, Misi, Dan Tujuan... 3 1.2.1 Visi Fungsi Audit Internal...

Lebih terperinci

PIAGAM DEWAN KOMISARIS PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam )

PIAGAM DEWAN KOMISARIS PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam ) PIAGAM DEWAN KOMISARIS PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam ) DAFTAR ISI I. DASAR HUKUM II. TUGAS, TANGGUNG JAWAB DAN WEWENANG III. ATURAN BISNIS IV. JAM KERJA V. RAPAT VI. LAPORAN DAN TANGGUNG JAWAB VII.

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM

LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM LAMPIRAN 1 TATA CARA PENYUSUNAN SMK3 KONSTRUKSI BIDANG PEKERJAAN UMUM BAGI PENYEDIA JASA Elemen-elemen yang harus dilaksanakan oleh

Lebih terperinci

DESKRIPSI JABATAN. Dewan Legislatif Oregon BAGIAN 1. INFORMASI JABATAN. Tanggal Efektif September 2007

DESKRIPSI JABATAN. Dewan Legislatif Oregon BAGIAN 1. INFORMASI JABATAN. Tanggal Efektif September 2007 Dewan Legislatif Oregon DESKRIPSI JABATAN BAGIAN 1. INFORMASI JABATAN Tanggal Efektif September 2007 Tingkat Klasifikasi Nomor Klasifikasi CALA-4, (ini merupakan level keempat dari klasifikasi empat seri)

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.955, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Pedoman. PERATURAN KEPALA PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN

Lebih terperinci

PIAGAM KOMITE AUDIT DAN RISIKO USAHA (BUSINESS RISK AND AUDIT COMMITTEES CHARTER) PT WIJAYA KARYA BETON Tbk. BAGIAN I

PIAGAM KOMITE AUDIT DAN RISIKO USAHA (BUSINESS RISK AND AUDIT COMMITTEES CHARTER) PT WIJAYA KARYA BETON Tbk. BAGIAN I PIAGAM KOMITE AUDIT DAN RISIKO USAHA (BUSINESS RISK AND AUDIT COMMITTEES CHARTER) PT WIJAYA KARYA BETON Tbk. BAGIAN I 1.1. Pengertian Komite Audit dan Risiko Usaha adalah komite yang dibentuk oleh dan

Lebih terperinci

CODES OF PRACTICE. 1. Pendahuluan

CODES OF PRACTICE. 1. Pendahuluan 1. Pendahuluan Codes of Practice ini telah ditulis sesuai dengan persyaratan badan akreditasi nasional dan dengan persetujuan PT AJA Sertifikasi Indonesia yang saat ini beroperasi. PT. AJA Sertifikasi

Lebih terperinci

Nilai-Nilai dan Kode Etik Grup Pirelli

Nilai-Nilai dan Kode Etik Grup Pirelli Nilai-Nilai dan Kode Etik Grup Pirelli Identitas Grup Pirelli menurut sejarahnya telah terbentuk oleh seperangkat nilai-nilai yang selama bertahun-tahun telah kita upayakan dan lindungi. Selama bertahuntahun,

Lebih terperinci

NILAI-NILAI DAN KODE ETIK GRUP PIRELLI

NILAI-NILAI DAN KODE ETIK GRUP PIRELLI NILAI-NILAI DAN KODE ETIK GRUP PIRELLI MISI NILAI-NILAI GRUP PIRELLI PENDAHULUAN PRINSIP-PRINSIP PERILAKU KERJA - SISTEM KONTROL INTERNAL PIHAK-PIHAK YANG BERKEPENTINGAN Pemegang saham, investor, dan komunitas

Lebih terperinci

1.1. Dasar/ Latar Belakang Penyusunan Piagam Audit Internal

1.1. Dasar/ Latar Belakang Penyusunan Piagam Audit Internal Piagam Audit Intern 1.0 PENDAHULUAN 2.0 VISI 3.0 MISI 1.1. Dasar/ Latar Belakang Penyusunan Piagam Audit Internal a. Peraturan Bank Indonesia No.1/6/PBI/1999 tanggal 20 September 1999 tentang Penugasan

Lebih terperinci

Sumber: ISO Environmental Management System Self-Assesment Checklist, GEMI (1996)

Sumber: ISO Environmental Management System Self-Assesment Checklist, GEMI (1996) Sumber: ISO 14001 Environmental Management System Self-Assesment Checklist, GEMI (1996) DAFTAR ISI Pengantar Prinsip-Prinsip Standar ISO 14001 Cara Menggunakan Cheklist Interpretasi Penilaian Standar ISO

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan SNI ISO 9001-2008 Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional SNI ISO 9001-2008 Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1

Lebih terperinci

PIAGAM DIREKSI PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam )

PIAGAM DIREKSI PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam ) PIAGAM DIREKSI PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam ) DAFTAR ISI I. DASAR HUKUM II. TUGAS, TANGGUNG JAWAB DAN WEWENANG III. ATURAN BISNIS IV. JAM KERJA V. RAPAT VI. LAPORAN DAN TANGGUNG JAWAB VII. KEBERLAKUAN

Lebih terperinci

PIAGAM AUDIT INTERNAL PT SILOAM INTERNATIONAL HOSPITALS TBK.

PIAGAM AUDIT INTERNAL PT SILOAM INTERNATIONAL HOSPITALS TBK. PIAGAM AUDIT INTERNAL PT SILOAM INTERNATIONAL HOSPITALS TBK. I. Landasan Hukum Landasan pembentukan Internal Audit berdasarkan kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 56/POJK.04/2015 tanggal 23 Desember

Lebih terperinci

Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk

Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk PT Astra International Tbk Agustus 2016 PIAGAM AUDIT INTERNAL I. Visi & Misi Visi Misi Visi 2020 Menjadi Kebanggaan Bangsa Grup Astra diakui memiliki standar kelas dunia dalam hal tata kelola perusahaan,

Lebih terperinci

Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel

Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel Pedoman KAN 801-2004 Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel Komite Akreditasi Nasional Kata Pengantar Pedoman ini diperuntukkan bagi lembaga yang ingin mendapat akreditasi sebagai Lembaga Sertifikasi

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.996, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN. Manajemen Risiko. Penyelenggaraan. PERATURAN KEPALA PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN NOMOR

Lebih terperinci

DRAFT PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI

DRAFT PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI PEDOMAN MENGENAI HUBUNGAN AICHR DENGAN ORGANISASI MASYARAKAT MADANI As of 14 November 2013 I. Pendahuluan 1. Salah satu tujuan ASEAN seperti yang diatur dalam Piagam ASEAN adalah untuk memajukan ASEAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI CHARTER SATUAN PENGAWASAN INTERN

DAFTAR ISI CHARTER SATUAN PENGAWASAN INTERN DAFTAR ISI CHARTER SATUAN PENGAWASAN INTERN Halaman I. Pembukaan 1 II. Visi dan Misi SPI 2 III. Kebijakan Umum Pengendalian Internal Dan Audit Internal 3 IV. Kedudukan SPI 3 V. Peran SPI 3 VI. Ruang Lingkup

Lebih terperinci

Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan

Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan Ikhtisar Layanan Keterangan Layanan ini ("Keterangan Layanan") ditujukan untuk Anda, yakni pelanggan ("Anda" atau "Pelanggan") dan pihak Dell yang

Lebih terperinci

UNSUR TINDAKAN PELANGGARAN HUKUM OLEH KLIEN

UNSUR TINDAKAN PELANGGARAN HUKUM OLEH KLIEN SA Seksi 317 UNSUR TINDAKAN PELANGGARAN HUKUM OLEH KLIEN Sumber: PSA No. 31 PENDAHULUAN 01 Seksi mengatur sifat dan lingkup pertimbangan yang harus dilakukan oleh auditor independen dalam melaksanakan

Lebih terperinci

PIAGAM UNIT AUDIT INTERNAL

PIAGAM UNIT AUDIT INTERNAL PIAGAM UNIT AUDIT INTERNAL PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk memandang pemeriksaan internal yang dilaksanakan oleh Unit Audit Internal sebagai fungsi penilai independen dalam memeriksa dan mengevaluasi

Lebih terperinci

DEPARTEMEN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS KEDOKTERAN

DEPARTEMEN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS KEDOKTERAN DEPARTEMEN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS KEDOKTERAN MANUAL PROSEDUR AUDIT MUTU AKADEMIK INTERNAL (AMAI) FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN Baru FAKULTAS

Lebih terperinci

PANDUAN KERJA 1 IMPLEMENTASI PROGRAM INDUKSI BAGI KEPALA SEKOLAH

PANDUAN KERJA 1 IMPLEMENTASI PROGRAM INDUKSI BAGI KEPALA SEKOLAH PANDUAN KERJA 1 IMPLEMENTASI PROGRAM INDUKSI BAGI KEPALA SEKOLAH 1. Pendahuluan Induksi merupakan tahap penting dalam Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPB) bagi seorang guru. Program Induksi Guru

Lebih terperinci

Internal Audit Charter

Internal Audit Charter SK No. 004/SK-BMD/ tgl. 26 Januari Pendahuluan Revisi --- 1 Internal Audit Charter Latar Belakang IAC (Internal Audit Charter) atau Piagam Internal Audit adalah sebuah kriteria atau landasan pelaksanaan

Lebih terperinci

-1- DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU

-1- DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU -1- LAMPIRAN VII PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 27/PRT/M/2016 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM DOKUMEN STANDAR MANAJEMEN MUTU 1. Lingkup Sistem Manajemen

Lebih terperinci

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA SALINAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG

Lebih terperinci

CODES OF PRACTICE. Dokumen: Codes of Practice Edisi / Rev: 1 / 2 Tanggal: 03 April 2017 Hal : Hal 1 dari 7

CODES OF PRACTICE. Dokumen: Codes of Practice Edisi / Rev: 1 / 2 Tanggal: 03 April 2017 Hal : Hal 1 dari 7 1. Pendahuluan Codes of Practice ini telah ditulis sesuai dengan persyaratan badan akreditasi nasional dan dengan persetujuan PT AJA Sertifikasi Indonesia yang saat ini beroperasi. PT. AJA Sertifikasi

Lebih terperinci

PERSYARATAN ISO 9001 REVISI 2008 HANYA DIGUNAKAN UNTUK PELATIHAN

PERSYARATAN ISO 9001 REVISI 2008 HANYA DIGUNAKAN UNTUK PELATIHAN PERSYARATAN ISO 9001 REVISI 2008 HANYA DIGUNAKAN UNTUK PELATIHAN 4. Sistem Manajemen Mutu (=SMM) 4.1 Persyaratan Umum Organisasi harus menetapkan, mendokumentasikan, menerapkan dan memelihara suatu SMM

Lebih terperinci

Respon Pemantauan IFC ke. Audit CAO mengenai investasi IFC di

Respon Pemantauan IFC ke. Audit CAO mengenai investasi IFC di AUDIT PEMANTAUAN DAN LAPORAN PENUTUPAN CAO Audit IFC Kepatuhan CAO C-I-R6-Y08-F096 27 Maret 2013 Respon Pemantauan IFC ke Audit CAO mengenai investasi IFC di Wilmar Trading (IFC No. 20348) Delta Wilmar

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.389, 2015 BAPETEN. Reaktor Nondaya. Keselamatan. Penilaian. Verifikasi. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG VERIFIKASI DAN PENILAIAN

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN KEPALA BAPETEN TENTANG VERIFIKASI DAN PENILAIAN KESELAMATAN REAKTOR NONDAYA

RANCANGAN PERATURAN KEPALA BAPETEN TENTANG VERIFIKASI DAN PENILAIAN KESELAMATAN REAKTOR NONDAYA KP PERKA- 24 OKT 2014 RANCANGAN PERATURAN KEPALA BAPETEN TENTANG VERIFIKASI DAN PENILAIAN KESELAMATAN REAKTOR NONDAYA DIREKTORAT PENGATURAN PENGAWASAN INSTALASI DAN BAHAN NUKLIR BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR

Lebih terperinci

EVALUASI AUDIT INTERNAL LUB PTBN UNTUK MENILAI EFEKTIFITAS IMPLEMENTASI ISO/IEC 17025:2005

EVALUASI AUDIT INTERNAL LUB PTBN UNTUK MENILAI EFEKTIFITAS IMPLEMENTASI ISO/IEC 17025:2005 ISSN 1979-2409 Evaluasi Audit Internal LUB PTBN 2008-2011 Untuk Menilai Efektifitas Implementasi ISO/I 17025:2005 (Masripah) EVALUASI AUDIT INTERNAL LUB PTBN 2008-2011 UNTUK MENILAI EFEKTIFITAS IMPLEMENTASI

Lebih terperinci

Standar Audit SA 240. Tanggung Jawab Auditor Terkait dengan Kecurangan dalam Suatu Audit atas Laporan Keuangan

Standar Audit SA 240. Tanggung Jawab Auditor Terkait dengan Kecurangan dalam Suatu Audit atas Laporan Keuangan SA 0 Tanggung Jawab Auditor Terkait dengan Kecurangan dalam Suatu Audit atas Laporan Keuangan SA Paket 00.indb //0 0:0: AM STANDAR AUDIT 0 TANGGUNG JAWAB AUDITOR TERKAIT DENGAN KECURANGAN DALAM SUATU AUDIT

Lebih terperinci

PEDOMAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN (SMK3)

PEDOMAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN (SMK3) LAMPIRAN I PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PEDOMAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Lebih terperinci

R198 REKOMENDASI MENGENAI HUBUNGAN KERJA

R198 REKOMENDASI MENGENAI HUBUNGAN KERJA R198 REKOMENDASI MENGENAI HUBUNGAN KERJA 1 R-198 Rekomendasi Mengenai Hubungan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Kerangka penelitian ini adalah langkah demi langkah dalam penyusunan Tugas Akhir mulai dari tahap persiapan penelitian hingga pembuatan dokumentasi

Lebih terperinci

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

Kode Etik. .1 Yang Harus Dilakukan Kode Etik Kode Etik Dokumen ini berisi "Kode Etik" yang harus dipatuhi oleh para Direktur, Auditor, Manajer, karyawan Pirelli Group, serta secara umum siapa saja yang bekerja di Italia dan di luar negeri

Lebih terperinci

Rekapitulasi Persyaratan (Standar) SMM ISO 9001:2008

Rekapitulasi Persyaratan (Standar) SMM ISO 9001:2008 Rekapitulasi Persyaratan (Standar) SMM ISO 9001:2008 Klausul 4.0 Sistem Manajemen Mutu 4.1 Persyaratan umum Apakah organisasi telah : (a) Menetapkan proses-proses yang dibutuhkan oleh SMM serta aplikasinya

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP-42/MENLH/11 /94 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN,

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP-42/MENLH/11 /94 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN, KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP-42/MENLH/11 /94 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN, MENIMBANG : 1. bahwa setiap orang yang menjalankan suatu bidang

Lebih terperinci

Struktur Organisasi. PT. Akari Indonesia. Pusat dan Cabang. Dewan Komisaris. Direktur. General Manager. Manajer Sumber Daya Manusia Kepala Cabang

Struktur Organisasi. PT. Akari Indonesia. Pusat dan Cabang. Dewan Komisaris. Direktur. General Manager. Manajer Sumber Daya Manusia Kepala Cabang 134 Struktur Organisasi PT. Akari Indonesia Pusat dan Cabang Dewan Komisaris Direktur Internal Audit General Manager Manajer Pemasaran Manajer Operasi Manajer Keuangan Manajer Sumber Daya Manusia Kepala

Lebih terperinci

FORMAT DAN ISI LAPORAN PENILAIAN KESELAMATAN BERKALA KONDISI TERKINI STRUKTUR, SISTEM, DAN KOMPONEN

FORMAT DAN ISI LAPORAN PENILAIAN KESELAMATAN BERKALA KONDISI TERKINI STRUKTUR, SISTEM, DAN KOMPONEN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG VERIFIKASI DAN PENILAIAN KESELAMATAN REAKTOR NONDAYA FORMAT DAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari Tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca

Lebih terperinci

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal PIAGAM AUDIT INTERNAL PT LIPPO KARAWACI TBK I. LANDASAN HUKUM Landasan pembentukan Internal Audit berdasarkan kepada Peraturan Nomor IX.I.7, Lampiran Keputusan

Lebih terperinci

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SINAR MAS AGRO RESOURCES & TECHNOLOGY Tbk.

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SINAR MAS AGRO RESOURCES & TECHNOLOGY Tbk. PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SINAR MAS AGRO RESOURCES & TECHNOLOGY Tbk. 1 BAB I DASAR DAN TUJUAN PEMBENTUKAN 1.1. Dasar Pembentukan 1.1.1 PT Sinar Mas Agro Resources & Technology Tbk,

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS METODOLOGI

BAB III ANALISIS METODOLOGI BAB III ANALISIS METODOLOGI Pada bagian ini akan dibahas analisis metodologi pembangunan BCP. Proses analisis dilakukan dengan membandingkan beberapa metodologi pembangunan yang terdapat dalam literatur

Lebih terperinci

K A T A P E N G A N T A R

K A T A P E N G A N T A R K A T A P E N G A N T A R Salah satu tugas Menteri Negara Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi adalah melakukan koordinasi pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan secara nasional untuk memacu

Lebih terperinci

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL. Bab I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Tujuan

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL. Bab I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Tujuan PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL Bab I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Tujuan Peraturan ini dibuat dengan tujuan menjalankan fungsi pengendalian internal terhadap kegiatan perusahaan dengan sasaran utama keandalan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PEMERIKSAAN TEKNIS DALAM RANGKA AUDIT DI BIDANG PERDAGANGAN BERJANGKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Auditing Auditing merupakan ilmu yang digunakan untuk melakukan penilaian terhadap pengendalian intern dimana bertujuan untuk memberikan perlindungan dan pengamanan

Lebih terperinci

Standar Audit SA 402. Pertimbangan Audit Terkait dengan Entitas yang Menggunakan Suatu Organisasi Jasa

Standar Audit SA 402. Pertimbangan Audit Terkait dengan Entitas yang Menggunakan Suatu Organisasi Jasa SA 0 Pertimbangan Audit Terkait dengan Entitas yang Menggunakan Suatu Organisasi Jasa SA Paket 00.indb //0 0::0 AM STANDAR AUDIT 0 PERTIMBANGAN AUDIT TERKAIT DENGAN ENTITAS YANG MENGGUNAKAN SUATU ORGANISASI

Lebih terperinci

7.1.Project Control. Schedule kunjungan ke lapangan dan partisipasi audit. Meninjau ulang temuan audit dan pelaporan perbaikan

7.1.Project Control. Schedule kunjungan ke lapangan dan partisipasi audit. Meninjau ulang temuan audit dan pelaporan perbaikan 7.1.Project Control Proyek Control bertanggung jawab kepada manajer lapangan perwakilan PT.Freeport Indonesia dan Dewan Direksi PT Prima Tunggal Javaland juga bertanggung jawab terhadap semua aktivitas

Lebih terperinci

Penilaian Kapasitas Organisasi

Penilaian Kapasitas Organisasi Penilaian Kapasitas Organisasi Lembar Penilaian Nama Organisasi: Alamat: Visi dan Misi: Aktivitas Utama: Tanggal Penilaian: Penilai: Skala Pemeringkatan 0 Tidak dapat diterapkan atau tidak tersedia cukup

Lebih terperinci

Komite Akreditasi Nasional

Komite Akreditasi Nasional PEDOMAN 501-2003 Penilaian Kesesuaian Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Personel Adopsi dari ISO/IEC 17024 : 2003 Komite Akreditasi Nasional 1 dari 14 Penilaian Kesesuaian - Persyaratan Umum Lembaga

Lebih terperinci

Pedoman Kerja Komite Audit

Pedoman Kerja Komite Audit Pedoman Kerja Komite Audit PT Erajaya Swasembada Tbk & Entitas Anak Berlaku Sejak Tahun 2015 Dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya, Dewan Komisaris wajib membentuk

Lebih terperinci

LAMPIRAN 5. PENJELASAN ATAS PRESEDEN PERJANJIAN KERJA SAMA PELAKSANAAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT YANG DIDUKUNG CSR (versi lengkap)

LAMPIRAN 5. PENJELASAN ATAS PRESEDEN PERJANJIAN KERJA SAMA PELAKSANAAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT YANG DIDUKUNG CSR (versi lengkap) LAMPIRAN 5 PENJELASAN ATAS PRESEDEN PERJANJIAN KERJA SAMA PELAKSANAAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT YANG DIDUKUNG CSR (versi lengkap) 125 Pendahuluan Ulasan berikut ini menjelaskan secara ringkas cara menggunakan

Lebih terperinci

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

Kode Etik. .1 Yang Harus Dilakukan Kode Etik Kode Etik Dokumen ini berisi "Kode Etik" yang harus dipatuhi oleh para Direktur, Auditor, Manajer, karyawan Pirelli Group, serta secara umum siapa saja yang bekerja di Italia dan di luar negeri

Lebih terperinci

SUSTAINABILITY STANDARD OPERATING PROCEDURE. Prosedur Penyelesaian Keluhan

SUSTAINABILITY STANDARD OPERATING PROCEDURE. Prosedur Penyelesaian Keluhan No. Dokumen ID : AGRO-SFM-002-PR Tanggal Terbit Sebelumnya : N/A Halaman : 1 dari 11 1.0 LATAR BELAKANG Grup APRIL ("APRIL") telah mengumumkan Kebijakan APRIL Grup dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

Lebih terperinci

BIDANG MANAJEMEN AIR MINUM SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA BUKU PENILAIAN

BIDANG MANAJEMEN AIR MINUM SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA BUKU PENILAIAN MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI BIDANG MANAJEMEN AIR MINUM SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PAM.MM01.001.01 BUKU PENILAIAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN

Lebih terperinci

STANDAR PERIKATAN AUDIT

STANDAR PERIKATAN AUDIT EXPOSURE DRAFT EXPOSURE DRAFT STANDAR PERIKATAN AUDIT ( SPA ) 300 PERENCANAAN SUATU AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN Exposure draft ini diterbitkan oleh Dewan Standar Profesi Institut Akuntan Publik Indonesia

Lebih terperinci

PT INDO KORDSA TBK PIAGAM KOMITE AUDIT

PT INDO KORDSA TBK PIAGAM KOMITE AUDIT PT INDO KORDSA TBK PIAGAM KOMITE AUDIT Halaman 1 dari 7 1. TUJUAN Tujuan dari fungsi Komite Audit adalah untuk membantu Dewan Komisaris dalam memenuhi kewajibannya mengawasi proses pelaporan keuangan,

Lebih terperinci

PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA DEWAN KOMISARIS PT. BPR KANAYA

PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA DEWAN KOMISARIS PT. BPR KANAYA PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA DEWAN KOMISARIS PT. BPR KANAYA PEDOMAN DAN TATA TERTIB KERJA DEWAN KOMISARIS I. LATAR BELAKANG Dewan Komisaris diangkat oleh Pemegang Saham untuk melakukan pengawasan serta

Lebih terperinci

Naskah Terjemahan Lampiran Umum International Convention on Simplification and Harmonization of Customs Procedures (Revised Kyoto Convention)

Naskah Terjemahan Lampiran Umum International Convention on Simplification and Harmonization of Customs Procedures (Revised Kyoto Convention) Naskah Terjemahan Lampiran Umum International Convention on Simplification and Harmonization of Customs Procedures (Revised Kyoto Convention) BAB 1 PRINSIP UMUM 1.1. Standar Definisi, Standar, dan Standar

Lebih terperinci

Enterprise Foundation. Mengoptimalkan penjadwalan untuk meraih sasaran strategis

Enterprise Foundation. Mengoptimalkan penjadwalan untuk meraih sasaran strategis Enterprise Foundation Mengoptimalkan penjadwalan untuk meraih sasaran strategis Mengoptimalkan penjadwalan dan membantu Institusi Anda meraih sasaran strategisnya dengan memanfaatkan paket penjadwalan

Lebih terperinci

Sistem manajemen mutu Persyaratan

Sistem manajemen mutu Persyaratan Standar Nasional Indonesia Sistem manajemen mutu Persyaratan ICS 03.120.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... iv Pendahuluan... vi 0.1 Umum... vi 0.2 Pendekatan proses...

Lebih terperinci

1. Membangun kemitraan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan

1. Membangun kemitraan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan KODE UNIT : O.842340.003.01 JUDUL UNIT : Menjalin Hubungan yang Positif dengan Pemangku Kepentingan DESKRIPSI UNIT : Unit ini menjelaskan keterampilan, pengetahuan, dan Sikap kerja yang diperlukan untuk

Lebih terperinci

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Dewan Komisaris

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Dewan Komisaris PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Dewan Komisaris 1 BAB I PENDAHULUAN Pasal 1 Definisi 1. Rapat Umum Pemegang Saham ( RUPS ) berarti Organ Perusahaan yang memiliki wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi

Lebih terperinci

LAMPIRAN 3 NOTA KESEPAKATAN (MOU) UNTUK MERENCANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA. (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 3 NOTA KESEPAKATAN (MOU) UNTUK MERENCANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA. (Versi Ringkas) LAMPIRAN 3 NOTA KESEPAKATAN (MOU) UNTUK MERENCANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua

Lebih terperinci

SUB BIDANG PEMELIHARAAN

SUB BIDANG PEMELIHARAAN LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : TANGGAL : STANDAR KOMPETENSI ASESOR KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK SUB BIDANG PEMELIHARAAN KEMENTERIAN ENERGI

Lebih terperinci